DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Orang Tua-Anak


Dalam kategori ini, Anda dapat mendengarkan dan membaca 121 judul artikel yang membahas hal-hal seputar hubungan orang tua dan anak serta seperti apa pola pengasuhan anak yang sesuai dengan firman Tuhan. (Total Durasi: 61 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1Perhatian Orangtua terhadap AnakT004A
2Peran Ayah dalam Pembinaan AnakT011A
3Membangun Respek Anak terhadap OrangtuaT014A
4Pemberontakan Anak terhadap OrangtuaT023A
5Kekecewaan Orangtua terhadap AnakT023B
6Peran Orangtua Menghadapi Anak BerpacaranT024A
7PerjodohanT024B
8Dampak Pertengkaran Orangtua Terhadap AnakT028A
9Korban Melahirkan KorbanT028B
10Wibawa OrangtuaT046A
11Bagaimana Menghadapi Orangtua yang Tidak BerwibawaT046B
12Pengaruh Ejekan atau Olokan Terhadap Perkembangan AnakT050B
13Orangtua TunggalT057A
14Anak yang Diasuh oleh Orangtua TunggalT057B
15Seks dalam BerpacaranT061B
16Anak dan TelevisiT066A
17Anak dan Video GameT066B
18Mengapa Anak Saya Tidak Percaya DiriT067A
19Menanamkan Percaya Diri pada AnakT067B
20Bagaimana Membentuk A Boy A Man 1T070A
21Bagaimana Membentuk A Boy A Man 2T070B
22Bagaimana Membentuk A Girl A Women 1T071A
23Bagaimana Membentuk A Girl A Women 2T071B
24Membantu Anak yang Takut SekolahT075A
25Menjadi Sahabat Buat AnakT075B
26Membantu Anak Mengelola KemarahanT083A
27Membantu Anak Yang CemburuT083B
28Bagaimana Membantu Anak Menghadapi StresT088B
29Ketegasan dalam Mendidik AnakT089A
30Anak FavoritT089B
31Waktu Buat AnakT098A
32Bermain Bersama AnakT098B
33Mengajar Anak BerdoaT102A
34Aku Punya AdikT102B
35Membantu Anak BergaulT105A
36Anak dan TemannyaT105B
37Anak NakalT106A
38Anak Sulit BelajarT106B
39Rasa Bersalah OrangtuaT109A
40Perilaku Manipulatif AnakT109B
41Yang Menyakitkan AnakT110A
42Mengidolakan AnakT110B
43Memuji AnakT113A
44Hadiah Buat AnakT113B
45Orangtua Over ProtectiveT119A
46Memberi Kepercayaan Kepada AnakT119B
47Ibu dan Anak PerempuannyaT121A
48Kebutuhan dan Relasi RomantisT121B
49Mengapa Anak Saya BermasalahT122A
50Tatkala Nasi Sudah Menjadi BuburT122B
51Orang Tua OtoriterT123B
52Anak Baik Anak ManisT128A
53Memahat AnakT128B
54Membangun Keakraban dengan AnakT132A
55Mendisiplin Bukan Menghancurkan AnakT132B
56Keras Kepala dan PenurutT138A
57Mengapa Anak BerbohongT138B
58Mengapa Anak Menjadi AgresifT145A
59Menghitung Pengorbanan OrangtuaT145B
60Mengapa Anak Tidak MenurutT154A
61Kurang Kasih SayangT154B
62Tertawa dengan AnakT163A
63Menangis Bersama AnakT163B
64Mengajarkan KepatuhanT171A
65Mengajar Anak Mengatakan TidakT171B
66Konsep DiriT173A
67Membangun Konsep Diri AnakT173B
68Pelajaran Menjadi Orangtua 1T194A
69Pelajaran Menjadi Orangtua 2T194B
70Disiplin dan Emosi AnakT195A
71Mengendalikan Emosi Anak HiperaktifT195B
72Anak AdopsiT199A
73Masalah Anak AdopsiT199B
74Mengapa Anak Bersikap Negatif 1T207A
75Mengapa Anak Bersikap Negatif 2T207B
76Mengendalikan Diri Sejak DiniT217A
77Menyatakan Kasih Kepada AnakT217B
78Tragedi Pada Anak 1T224A
79Tragedi Pada Anak 2T224B
80Siapakah Anak KitaT230A
81Menjahit Relasi Dengan RemajaT230B
82Dekat Tapi JauhT232A
83Berkomunikasi Dengan RemajaT232B
84Tegas Pada TempatnyaT235A
85Kepercayaan Pada AnakT235B
86Dikasari Susah Dihalusi SusahT237A
87Menanamkan Kebenaran Pada AnakT239A
88Tuntutan Tinggi Kasih RendahT240A
89Kekerasan Dan TuntutanT240B
90Persaingan Antar AnakT251A
91Membangun Saling Tolong Antar AnakT251B
92Tanggung Jawab Anak kepada Orang TuaT262A
93Mengasihi Anak Lebih Dari TuhanT282B
94Tuntutan Yang Menghimpit Anak IT286A
95Tuntutan Yang Menghimpit Anak IIT286B
96Konflik Orang Tua dan Pemberontakan AnakT295A
97Ketidakadilan dan Pemberontakan AnakT295B
98Putusnya Komunikasi dan Pemberontakan AnakT296A
99Hidup yang Rohani dan Pemberontakan AnakT296B
100Membesarkan Anak IT314A
101Membesarkan Anak IIT314B
102Iri Terhadap Saudara SendiriT322A
103Rayakan Kesetiaan IT324A
104Rayakan Kesetiaan IIT324B
105Dampak Kudus pada AnakT331B
106Pemberontakan Anak IT333A
107Pemberontakan Anak IIT333B
108Kepahitan AnakT350A
109Ketika Anak Terlibat MasalahT350B
110Peran Orang Tua dalam Keselamatan Anak 1T357A
111Peran Orang Tua dalam Keselamatan Anak 2T357B
112Pengaruh Ibu Pada AnakT360A
113Berpisah Tidur Dengan AnakT368A
114Mematahkan Sayap AnakT368B
115Trauma Masa KecilT370A
116Mengatasi TraumaT370B
117Kekerasan Terhadap Anak 1T373A
118Kekerasan Terhadap Anak 2T373B
119Kekerasan Terhadap Anak 3T373C
120Kekerasan Terhadap Anak 4T373D
121Kekerasan Terhadap Anak 5T373E


1. Perhatian Orangtua terhadap Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T004A (File MP3 T004A)


Abstrak:

Topik ini menceritakan bagaimana orangtua yang bekerja baik suami maupun istri. Namun tetap dapat memberi perhatian yang sepantasnya diterima oleh anak.


Ringkasan:

Perbedaan masyarakat dahulu dan sekarang yaitu:

  1. Kehidupan sosial masyarakatnya tidak sama.

    Masyarakat dahulu? Hidup dalam suasana komunal artinya hubungan dengan kerabat, sanak keluarga masih lumayan dekat dan tidak jarang ada sanak keluarga yang tinggal di dalam rumah yang sama. Mereka bisa mengisi kekurangan karena kepergian orang tua.

    Masyarakat sekarang? Hidup lebih individualis maksudnya yang di kota-kota besar hidup sendiri-sendiri, banyak yang tidak mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumah mereka, bahkan hubungan dengan sanak saudara juga lumayan jauh.

  2. Tekanan atau gangguan atau godaan dari lingkuangan tidak sama antara waktu dulu dan sekarang. Pada zaman dulu, gangguan atau tekanan dari lingkungan tidaklah sebanyak sekarang, contoh: kemudahan mendapatkan gambar-gambar porno. Zaman sekarang kalau anak kita tinggalkan di rumah sendirian, sementara suami-istri pulang malam, tidak ada di rumah sepanjang hari itu akan menimbulkan dampak yang jauh lebih serius dibandingkan kalau itu terjadi pada 20, 30 tahun yang lampau.

Sehubungan dengan situasi sekarang yang semakin sulit bagi orang tua untuk mengawasi anak-anak maka dalam hal ini interaksi orang tua dan anaklah yang memegang peranan sangat penting sekali, dan hal ini perlu dibina sejak anak-anak masih kecil. Interaksi di bawah usia 6 tahun dapat dikatakan sebagai fondasi, sebagai dasar hubungan orang tua dengan anak.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan anak yang sudah lumayan besar sementara suami-istri bekerja, apa yang dilakukan untuk memaksimalkan interaksi orang tua dengan anak? Ada yang beranggapan bahwa paling penting adalah kwalitas bukan kwantitas, jadi mutu bagaimana kita berinteraksi dengan anak jauh lebih penting daripada kwantitas atau jumlah waktu yang dihabiskan dengan anak. Namun pada prakteknya hal ini susah sekali dilakukan, karena kwalitas hanya bisa muncul dalam keberadaan kwantitas. Kita hanya bisa menjalin hubungan yang baik dengan anak kalau kita memang menghabiskan waktu dengan anak, kalau tidak kita habiskan waktu itu dengan anak, yang bermutu itu tidak muncul. Selanjutnya yang kita anggap berwalitas belum tentu berkwalitas bagi anak, belum tentu itu adalah hal yang dihargai dan dibutuhkan oleh anak kita.

Dua hal yang perlu kita perhatikan untuk mengetahui bahwa anak itu kurang perhatian. Kita bisa mulai mencermati melalui dua tipe anak yaitu:

  1. Tipe anak yang cenderung agresif, yang mengganggu anak lain, yang memberontak, yang tidak sabar, yang mudah meledak.

  2. Tipe anak yang terlalu menarik diri, mengurung diri, tidak sosial, tidak mau bergaul dengan teman-teman dan cenderung menyendiri.

Namun juga perlu diingat bahwa belum tentu anak yang agresif itu dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah. Sedangkan anak yang cenderung menarik diri biasanya ada masalah yang dihadapinya dalam rumah tangganya. Karena apa, sebab pada dasarnya anak kecil adalah anak-anak yang bersifat sosial.

Amsal 11:30 , "Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang." Salah satu golongan atau tujuan kita sebagai orang tua Kristen adalah menjadi orang yang benar, maksudnya melakukan hal yang benar, kalau kita mendidik anak dengan benar, hasilnya adalah pohon kehidupan. Orang tua yang bijak akan mengambil hati anak-anaknya. Anak hanya akan memberikan hatinya kepada kita kalau kita dilihatnya sebagai orang tua yang benar dan yang bijak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th., akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Perhatian Orang Tua terhadap Anak-anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kita sering kali mendengar keluhan orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak jaman sekarang ini sukar diatur, itu tentu saja dibandingkan dengan dirinya sendiri waktu mereka masih kecil dulu. Tetapi kalau kita melihat banyak anak-anak yang merasa juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, sebenarnya masalah perhatian orang tua terhadap anak-anak bagaimana pada zaman ini?

PG : Pak Gunawan, memang kita harus akui adalah zaman mempuyai keunikannya masing-masing, tidak mempunyai kesamaan 100% dengan zaman-zaman sebelumnya. Kalau orang tua berkata kenapa anak-anak skarang ini lebih banyak masalah dibandingkan dengan anak-anak dulu, ada orang tua yang berkata saya dulu tidak pernah berani protes terhadap orang tua, tapi anak-anak sekarang berani protes.

Memang tidak sama, ketidaksamaan misalkan dalam hal keberanian untuk mengutarakan pendapat. Zaman sekarang anak-anak lebih didorong untuk berani mengutarakan pendapat sedangkan pada zaman dulu tidak. Bahkan pada zaman kita sekolah dulu kira-kira 20, 30 tahun yang lalu saya kira kita tidak terlalu diberikan kebebasan untuk mengutarakan pendapat, sekarang lebih banyak diberikan. Nah selain dari itu saya kira salah satu faktor yang membuat anak-anak sekarang ini lebih cenderung atau lebih rawan terhadap masalah adalah perbedaan struktur kehidupan. Misalkan, dulu masyarakat lebih komunal, hidup dalam satu komunitas, hubungan dengan kerabat jauh lebih akrab dan juga sanak keluarga masih sering mengunjungi atau tidak jarang ada yang tinggal dalam rumah kita. Dengan kata lain kalaupun orang tua kita itu pergi karena harus bekerja atau apa, kita itu jarang sendirian di rumah. Saya masih ingat waktu saya masih kecil, nenek saya, kakek saya itu datang ke rumah kami menginap bisa berminggu-minggu, nanti pindah ke rumah saudara kami yang lain nanti tinggal di sana beberapa minggu, nanti tinggal lagi di rumah kami, hal-hal seperti itu sangat umum terjadi. Sehingga dapat dipastikan jarang sekali anak-anak itu bertumbuh tanpa pengawasan atau perhatian orang tua baik ini orang tua kandung atau sanak atau kerabat yang tinggal di rumah yang sama. Sekarang memang zaman tidak sama, sekarang masyarakat lebih individualis, bahkan tidak jarang si anak misalkan yang sudah berusia dewasa tinggal di kota Jakarta tapi orang tuanya masih tinggal di Wonosobo. Ada lagi yang dari luar pulau tapi sekarang tinggal di sini, sanak keluarganya masih tinggal di luar pulau. Nah sekarang masyarakat jauh lebih mobile, lebih sering pindah akibatnya banyak orang yang tinggal sendiri-sendiri sekarang, kita tidak lagi mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumah kita. Jadi akibatnya kalau orang tua tidak di rumah kebanyakan memang sekarang tidak ada lagi sanak keluarga yang ada di rumah, kebanyakan yang tinggal di rumah sekarang pembantu rumah tangga atau suster yang memang kita panggil untuk mengawasi anak-anak. Jadi benar-benar kevakuman itu akhirnya menimbulkan dampak karena perhatian dari orang tua atau sanak keluarga tidak ada lagi.
WL : Maksud Pak Paul, kehadiran suster itu tetap tidak bisa disamakan atau menggantikan peran dari keluarga dekat kita kakek-nenek atau paman, om-tante, begitu Pak Paul?

PG : Saya kira tidak bisa karena suster tahu bahwa dia adalah orang yang digaji untuk mengawasi anak-anak ini dan anak-anak ini juga tahu bahwa suster ini adalah orang yang digaji oleh orang tunya.

Sehingga pada umumnya anak-anak lebih berani dan tidak takut pada suster dan sebagai akibatnya suster pun juga enggan untuk lancang berani memarahi anak atau memberikan teguran kepada anak, dia takut anak ini mengadu kepada orang tuanya dan dia malah disalahkan. Jadi saya kira akhirnya suster juga berjaga-jaga, dia merawat, dia melayani tapi dalam kapasitas sebagai perawat, pemberi bantuan bukan sebagai figur yang memberikan perhatian, kasih sayang, otoritas atau mau tahu kehidupan pribadi si anak. Misalkan si anak ada masalah, saya kira dia juga tidak akan cerita dengan susternya tentang problemnya di sekolah. Jadi relasi suster itu dengan si anak akan terbatas maka tidak bisa menggantikan peranan orang tua itu.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, dalam hal orang tua sudah begitu sibuknya karena tuntutan zaman, apakah orang tua itu juga tidak menyadari bahwa hal itu bisa membuat kerenggangan hubungan dengan anak sehingga anak ini menjadi anak yang sukar diatur?

PG : Saya kira orang tua pada umumnya tidak menyadari sampai anak itu mulai remaja dan mulai memunculkan masalah. Misalkan mulai berani melawan, sudah diberitahukan tidak boleh misalkan pergi dngan temannya, tetap dia pergi; diberitahukan tidak boleh untuk menonton bioskop pada hari sekolah, tetap dia pergi dan menonton.

Nah orang tua biasanya mulai menyadari problem ini pada masa anak-anak sudah mulai remaja, tapi masalahnya adalah dua belas tahun sebelumnya si anak luput dari perhatian orang tua. Orang tua menganggap bahwa anaknya baik-baik saja, sekolah, pulang sekolah dan sebagainya seolah-olah tidak ada masalah. Namun karena perhatian yang seharusnya mereka berikan itu tidak diberikan kepada anak-anak, akhirnya anak-anak tumbuh besar tanpa orang tua, nah masuk usia remaja dia mulai menunjukkan problem.
WL : Tapi banyak orang tua yang menggunakan alasan (maksudnya pada zaman sekarang) untuk mau tidak mau istri juga turut bekerja tidak bisa mengawasi anak-anak. Karena banyak hal yang sudah bukan lagi karena tuntutan, misalnya kalau di Jakarta yang udaranya panas, mau tidak mau harus mempunyai AC itu sudah menjadi kebutuhan bukan menjadi hal yang mewah untuk maksudnya bisa bekerja dengan nyaman, bisa belajar dengan nyaman dan sebagainya, dan tuntutan-tuntutan yang lainnya misalnya harus kredit rumah, kredit mobil, mesin cuci dan sebagainya. Jadi mau tidak mau dua-dua harus bekerja, jadi anak dikorbankan, Pak Paul.

PG : Saya kira ada waktunya orang tua memang harus bekerja, saya mengerti bahwa kebutuhan sekarang makin meningkat dan juga ada wanita yang memerlukan kerja. Tidak semua wanita memang cocok untk diam di rumah terus itu lebih menimbulkan stres baginya, saya kira itu hal yang baik, hal yang memang seharusnya dilakukan.

Yang saya minta adalah kalau itu sudah dilakukan, setelah itu sebisanya di rumah dan waktu di rumah berikan perhatian. Jadi jangan menambah kegiatan-kegiatan yang masih bisa kita kesampingkan, kalau tidak sangat perlu jangan lakukan, sehingga waktu itu masih bisa kita berikan untuk keluarga kita di rumah. Kenapa orang tua sangat perlu memberikan perhatian, ini yang mungkin sering kali diajukan oleh orang tua. Mereka berkata kami dulu di rumah juga tidak ada mama-papa, meski mereka bekerja kami baik-baik saja. Nah yang ingin saya katakan sekarang adalah godaan atau pencobaan dulu dan sekarang tidak sama. Dulu (saya masih ingat waktu saya masih remaja, karena saya juga ikut-ikutan dan melakukan hal yang sama) saya akan pergi ke rumah teman yang lain untuk menonton film-film porno, hal yang salah, hal yang memang Tuhan tidak kehendaki, namun itulah yang saya dan teman-teman lakukan. Dan kami tidak bisa begitu mudah mendapatkan barang-barang porno atau yang salah itu, nah zaman sekarang mereka tidak usah ke mana-mana, di dalam rumah mereka sendiri mereka bisa mengakses gambar-gambar itu dan mereka bisa meminjam video-video dan menontonnya di rumah. Nah bayangkan kalau dari pagi sampai malam orang tua tidak ada di rumah, suster atau orang dalam rumah hanya melihat anak-anak ini di kamar beranggapan anak-anak ini sedang belajar, padahalnya lagi asyik-asyik menonton film-film porno. Jadi hal-hal seperti ini harus disadari oleh orang tua. Hal lainnya lagi yang memang sudah membedakan zaman sekarang dengan zaman dulu adalah chating. Kita tidak tahu anak kita itu chating dengan siapa di internet, nah kadang-kadang ada orang-orang yang memang sangat-sangat tidak waras itu masuk ke internet dan akan menggait anak kita, mereka akan mengajak anak kita, menyuruh anak kita melakukan hal-hal yang gila dan yang salah. Nah masalahnya kalau anak kita tidak mendapatkan pantauan dan pengawasan, mereka akan bebas melakukannya dan mereka tidak menyadari bahwa ini hal yang sangat berbahaya. Jadi di sinilah orang tua sangat perlu lebih memberikan perhatian, jadi bukan hanya buku, gambar-gambar, majalah-majalah, yang porno, tidak baik yang mereka bisa dapatkan sekarang gambar-gambar hidup, film-film hidup bahkan berhubungan langsung dengan orang-orang tersebut melalui internet, itu dapat dilakukan oleh anak-anak kita. Atau orang itu bisa mengirimkan materi kepada anak-anak kita kalau di rumah kita ada mesin fax atau melalui internet itu bisa juga dikirimkan. Jadi benar-benar orang tua itu harus menciptakan pagar, nah pagar itu hanya akan ada kalau mereka ada di rumah juga, memberikan perhatian kepada anak-anaknya.
GS : Pak Paul, di dalam keterbatasan waktu yang sangat singkat itu bersama dengan anak, mungkin Pak Paul bisa mengusulkan perhatian dalam bentuk apa yang bisa orang tua lakukan terhadap anaknya?

PG : Saya kira yang paling penting adalah orang tua harus berinteraksi dengan anak. Saya akhirnya simpulkan begini Pak Gunawan, mudah sekali buat kita berada di rumah tetapi tidak berada dalam ehidupan anak-anak kita, itu tidak sama.

Kita bisa berada di rumah tapi tidak berada di dalam kehidupan anak-anak kita, kenapa? Sebab kita tidak berinteraksi, tidak berbincang-bincang, kita tidak bertanya-tanya kepadanya tentang kehidupannya, tentang apa yang menjadi pergumulannya, tentang kesukaannya dan ketidaksukaannya. Orang tua harus berinisiatif membangun jembatan demi jembatan, sehingga setiap fase dalam kehidupan si anak akan tercipta kontak, komunikasi antara kita dan anak-anak kita. Kalau kita bersifat pasif, kita beranggapan anak-anaklah yang seharusnya mendekati kita dan menjalin komunikasi, saya kira kita keliru. Ada anak yang memang lebih manja, senang ngobrol-ngobrol dengan kita tapi sebagian anak-anak terutama menginjak usia remaja akan bersifat pasif, mereka tidak akan berkata apa-apa, menjelaskan apa-apa kalau kita tidak bertanya. Nah kalau kita tidak mempunyai jalinan relasi dengan si anak itu, otomatis kita akhirnya terpinggirkan dari kehidupan si anak dan kita tidak hadir di dalam kehidupan si anak. Jadi apa yang penting? Kalau boleh saya simpulkan dengan satu kata adalah interaksi.
WL : Pak Paul, kalau ada orang tua yang memang agak pendiam, pada dasarnya pendiam jadi jarang ngomong, jarang ngobrol dan sulit menciptakan topik-topik pembicaraan, mungkin ada usul atau saran dari Pak Paul untuk mencoab berinteraksi dengan anak bagi orang tua seperti ini Pak Paul?

PG : Misalkan si anak sedang mengerjakan sesuatu, nah orang tua bisa berkata bisa saya bantu, mengerjakan pekerjaan tangan misalkan, tanya saja "Boleh papa bantu?" Nah anak ini akan berata terserah.

Terus misalkan si papa langsung ambilkan ini ambilkan kertasnya, guntingnya atau apa, lemnya jadi bekerja sama. Atau si anak sedang membaca buku, si papa berkata: "Papa pernah membaca buku itu." Si anak akan berkata: ""O.....ya?" "Ini ceritanya," nah si papa kemudian ceritakan. Atau si papa membaca satu buku yang pendek kemudian berkata: "Papa, baru saja membaca buku bagus, mau atau tidak papa ceritakan?" Nah dia sendiri mungkin bukanlah seorang pembicara yang luwes tapi dia bisa mengambil bahan-bahan itu untuk dia sampaikan kepada anaknya. Nah dengan cara seperti itulah terjamin komunikasi antara si orang tua dengan si anak. Atau kalau pun sampai-sampai tidak ada percakapan, waktu si anak sedang berada di kamarnya mengerjakan sesuatu, si orang tua bisa berkata: "Boleh saya masuk?" Anaknya pasti berkata ya boleh, terus duduk-duduk di situ, diam-diam temani si anak. Siapa tahu si anak diam-diam begitu akhirnya bertanya sesuatu kepada orang tua. Atau si orang tua terpikir sesuatu dia bertanya lagi. Yang penting si anak melihat orang tua berusaha juga untuk masuk dalam kehidupannya atau kalau di rumah sudah dilakukan masih kurang juga, ajak anak kadang-kadang untuk pergi makan bakso, makan es crim, nah hal-hal kecil seperti itu menciptakan suasana di mana mereka bisa berdialog. Jadi orang tua bisa memberitahukan si anak bahwa kami tertarik kepadamu atau fungsi pemantauan itu sekali-sekali kita lakukan misalkan waktu si anak chating, orang tua langsung bertanya dan melihat apa yang dia tulis, anak itu buru-buru mematikan atau apa kita tanya : "Kenapa? Kamu bicara dengan siapa tadi? Kamu chating dengan siapa?" Kalau anak sama sekali merasakan bahwa dia bebas sepenuhnya di rumah, tidak ada pertanggungjawaban, itu awal dari bencana. Anak-anak akhirnya kalau dibesarkan tanpa pengawasan dia memang akan tumbuh tanpa arah sebab dia tidak tahu benar dan salah dan mudah sekali terjebak dan bisa menjadi liar.
GS : Tapi ada beberapa kasus, orang tuanya sebenarnya sudah memberikan perhatian penuh, istrinya juga tidak bekerja, jadi ibu dari anak ini tidak berkerja jadi memberikan perhatian dan kasih sayang tapi anaknya tetap menjadi anak yang nakal yang menyakitkan hati orang tua dan sebagainya.

PG : Kadang-kadang itu terjadi Pak Gunawan, jadi adakalanya kita sudah melakukan semua yang bisa kita lakukan, secara konsisten kita mendidiknya, memberikan perhatian kepadanya tapi masih tetapnakal, nah kadang-kadang itu akibat dari pilihan si anak itu sendiri.

Dia di luar bertemu dengan teman dia bisa diberikan atau disuguhkan pilihan-pilihan yang berbeda dari orang tuanya pernah diajarkan kepadanya akhirnya dia bisa ikut temannya. Atau dia memang sudah memiliki bahan, bahan yang memang maunya nakal misalkan energinya terlalu tinggi dan dia memang anak yang berani, maunya melakukan hal-hal yang agak nakal, nah hal-hal itu juga akhirnya bisa membawa dia ke dalam perilaku yang tidak sehat. Jadi kadang-kadang itu terjadi, nah orang tua tidak harus langsung menyalahkan dirinya, ini pasti karena kami, ya tidak usah begitu. Tapi yang penting orang tua tahu orang tua telah melakukan tugasnya. Jangan sampai orang tua berpikir seperti ini Pak Gunawan dan Ibu Wulan, "yang penting 'kan bukannya banyak waktu atau jumlahnya waktu yang kami berikan, yang penting 'kan kwalitasnya bukan kwantitas." Nah ini argumen yang saya ingin patahkan, kwalitas itu tidak akan ada di luar kwantitas. Kwalitas itu hanya ada di dalam kwantitas, kalau kita tidak memberikan waktu sama sekali buat anak, ya tidak akan ada waktu yang berkwalitas yang bisa diserap oleh anak, maka harus ada waktunya juga. Kita jangan berkata tidak apa-apa setengah jam yang penting ini bernilai, nah yang memutuskan bernilai sering kali bukan kita tetapi anak kita. Kita boleh menganggap diskusi ini bernilai, tapi bisa jadi besok si anak lupakan sebab bagi dia diskusi ini diskusi yang tidak bernilai. Tapi waktu papanya atau mamanya mengajak dia main, ketawa, bercanda, itu hal yang dia kenang sampai dia besar karena itu adalah tali yang mengikatkan dia dengan orang tuanya, membuat dia tambah sayang kepada orang tuanya. Jadi sekali lagi yang menentukan waktu itu berkwalitas sering kali si anak itu sendiri.
GS : Bagaimana orang tua bisa menyadari bahwa kehadirannya itu memang akan membuahkan sesuatu yang positif bagi anaknya?

PG : Biasanya begini Pak Gunawan, tadi saya sudah singgung bahwa orang tua memang tidak menyadari sampai problem muncul. Jadi apa yang harus menjadi tanda awas bagi orang tua, sehingga waktu prblem muncul orang tua bisa menyadarinya jadi jangan terlalu jauh masalahnya berkembang.

Misalkan anak-anak itu menjadi terlalu agresif, makin susah diatur, makin suka bermasalah, berkelahi di luar dan sebagainya, nah itu bisa jadi problem nah itu bisa jadi sebagai orang tua kurang memberikan perhatian kepada anak-anak, kurang memberikan arahan waktu dia mulai nakal kepada adiknya, kita tidak ada di rumah, mungkin adiknya dia tonjok, mungkin adiknya mau pinjam mainan dia tidak berikan, dia banting mainannya atau apa, kita tidak ada di rumah, kita sama sekali tidak tahu hal-hal seperti itu sehingga dari kecil akhirnya si anak-anak itu mengembangkan sifat-sifat yang kasar. Kita tahunya kapan, waktu di di luar berkelahi dengan anak-anak lain, baru kita sadar. Jadi satu perilaku ekstrim yang menjadi tanda awas kita adalah agresif. Yang satunya adalah perilaku menarik diri, murung, maunya di kamar, susah bergaul dengan orang, tidak mempunyai teman, ketakutan ke mana-mana, nah kita mesti mulai berpikir kenapa anak kita begini. Apakah ada dampaknya dari orang tua, apakah kita ini cukup baik, apakah kita mempunyai masalah, apakah kita sering bertengkar, sehingga anak kita menjadi penuh ketakutan. Nah kalau kita melihat ada masalah-masalah yang muncul kita mesti sadari nah ini sudah perlu bantuan. Apa yang bisa kita lakukan, kita mesti melihat duduk masalahnya apa, penyebabnya apa, apa yang kurang, nah di situ perlu kita perbaiki. Nah salah satunya tadi saya sudah singgung adalah kita mesti berada dalam kehidupan si anak, mesti hadir dalam dirinya, memberikan waktu, berinteraksi dengan si anak.
WL : Pak Paul, saya tertarik dengan penjelasan Pak Paul tentang tanda anah yang agresif tadi. Itu sebenarnya memang dia tipe anak yang agresif atau itu cuma upaya dia supaya menarik perhatian orang tuanya, Pak Paul?

PG : Bisa dua-duanya Bu Wulan, memang ada anak-anak tertentu yang bawaannya agresif sekali, tenaganya tinggi sekali, sehingga mereka ini cenderung terlibat dalam masalah juga. Tapi ada tipe ana yang kedua yang memang bermasalah karena di rumah bermasalah.

Misalkan di rumah orang tua sering bertengkar, berteriak-teriak, sehingga si anak ketakutan, tegang, menyimpan banyak kemarahan pula karena melihat orang tuanya sering bertengkar. Kemarahannya tidak bisa diekspresikan kepada orang tuanya yang lebih besar darinya, nah dia akan ekspresikan di luar rumah dengan teman-temannya, temannya berkata salah langsung dia tonjok, gurunya lagi mengajar dia lempar dengan kapur dan sebagainya. Nah itu merupakan luapan frustrasinya, kemarahannya yang memang harus dia keluarkan, tapi dia mengeluarkannya dengan cara yang tidak sehat.
GS : Pak Paul, ada anak yang terhadap salah satu orang tuanya misalkan terhadap ayahnya dia menaruh hormat, baik kepada ayahnya, tapi begitu dengan ibunya tingkah lakunya berubah. Berani melawan ibunya, berani memukul ibunya dan sebagainya, sebenarnya faktor apa Pak Paul yang menyebabkan hal itu?

PG : Bisa jadi faktor utama adalah memang ibunya terlalu lembek, sehingga si anak tidak menaruh hormat kepada ibunya. Waktu ibunya berkata apa, dia tahu dia bisa lawan dan dia akan lawan dan keetulan sifat anak ini agak keras.

Ada anak-anak yang sifatnya penurut, lebih sensitif perasaannya, anak-anak seperti ini cenderung tidak bersikap kasar kepada ibunya, itu yang pertama. Yang kedua kemungkinannya adalah si anak memang melihat si ayah memarahi si mama dan waktu memarahi si mama berkata hal-hal yang kasar. Saya mengingat sebuah kasus di mana seorang pemuda waktu masih kecil sering melihat papanya memaki-maki mamanya tolol, goblok, sering kali dia lihat dan itu membuat dia marah dan benci kepada papanya. Tapi apa yang terjadi setelah dia mulai remaja dan menginjak dewasa, mamanya sebagai mama kadang-kadang bertanya ini, bertanya itu, mau tahu ini, mau tahu itu, nah dia juga kesal dengan mamanya, nah anak-anak lain kesal dengan mamanya ya sudah diam tidak berani berkata apa-apa. Tapi dia karena melihat papanya sering mengatakan goblok kepada mamanya sekarang waktu mamanya tanya ini, itu, dia langsung meledak dan dia panggil mamanya goblok, tolol. Nah si papa berani atau tidak memarahi si anak, dia dosen yang paling baik di rumah, dia guru yang paling baik mengajar memanggil mamanya tolol, goblok, nah jadi si papa juga akan diam. Akibatnya si anak makin besar makin berani dengan mamanya, nah jadi kadang-kadang penyebabnya yang kedua ini Pak Gunawan.
GS : Juga bisa terjadi sebaliknya Pak Paul, kalau ada anak yang justru iba kepada ibunya yang diperlakukan kasar seperti yang tadi Pak Paul katakan dan anak ini justru tidak senang terhadap ayahnya.

PG : Betul sekali, jadi adakalanya kebalikannya justru dia mau melindungi si mama karena diperlakukan tidak baik oleh papanya. Namun yang tadi itu juga cukup umum, meskipun sayang dan kasihan kpada mama tapi waktu dia marah apa yang telah terekam di benaknya itu langsung keluar dengan otomatis.

Dia sendiri mungkin tidak suka dan malu, merasa bersalah mengatai mamanya goblok dan tolol, tapi karena terekam terlalu kuat di benaknya sering mendengarkan papanya memaki-maki mamanya akhirnya setelah dia besar rekaman itu bermain dengan sendirinya.
WL : Atau ada juga ini Pak Paul, para ibu yang memang menciptakan kondisi seperti itu dia tidak mempunyai power memarahi anaknya selalu memakai kalimat nanti kalau papa pulang begini, begini. Jadi dia melimpahkan kekuasaan itu kepada papa.

PG : Dan melemahkan wibawanya di hadapan anak, betul. Jadi adakalanya karena mama kurang menyadari melakukan hal-hal yang justru makin melemahkan wibawanya sehingga anak makin berani kepadanya.

GS : Padahal sebenarnya idealnya dua-duanya yang harus peduli terhadap anak agar dua-dua dihormati. Dalam hal ini apakah ada ayat firman Tuhan yang menunjang atau mendukung perbincangan kita ini.

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 11:30 , "Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang." Saya senang dengan bagian pertama ayat ini yang erkata hasil orang benar adalah pohon kehidupan, nah saya yakin salah satu tujuan kita sebagai orang tua Kristen adalah menjadi orang yang benar maksudnya kita melakukan hal yang benar, kita mendidik anak-anak dengan benar.

Kita berharap hasil dari perbuatan kita adalah pohon kehidupan, saya kira itu betul, kalau orang tua hidup benar lebih terbuka peluang anak-anaknya itu akan menjadi pohon kehidupan, karena orang tua telah melakukan tugasnya dengan benar. Jangan sampai kita sebagai orang tua tidak melakukan tugas kita dengan benar, melalaikan tanggung jawab kita, tidak memberi perhatian kepada anak-anak kita, saya takutkan nanti hasilnya karena kita tidak hidup benar bukanlah pohon kehidupan, malahan kita akan menanam pohon kematian di rumah kita. Pohon masalah yang tidak habis-habisnya dalam keluarga kita, maka tanamlah kebenaran, tanamlah hidup yang benar di rumah tangga kita sehingga anak-anak kita bertumbuh menjadi pohon kehidupan.

GS : Ya memang tantangannya jauh lebih berat zaman sekarang daripada zaman terdahulu Pak Paul, tetapi firman Tuhan ini pasti menguatkan dan mengarahkan kita semua. Terima kasih Pak Paul dan Ibu Wulan, para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Perhatian Orang Tua terhadap Anak-anak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id dan kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



2. Peran Ayah dalam Pembinaan Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T011A (File MP3 T011A)


Abstrak:

Salah satu peran yang dituntut firman Allah terhadap ayah adalah peran mendisiplin anak. Dalam materi ini diajarkan bagaimana seorang ayah mendisiplin anak yang sesuai dengan firman Tuhan.


Ringkasan:

Efesus 6:4 berkata: "Dan kamu bapa-bapa janganlah bangkitkan amarah hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Ada hal yang menarik dalam ayat ini yaitu yang diminta oleh Tuhan untuk mendidik anak bukanlah ibu tapi ayah.

Kata didik sebenarnya kata mendisiplin. Jadi peran mendisiplin anak-anak adalah tanggung jawab ayah, satu peran yang Tuhan dengan jelas minta adalah peran seorang pendidik atau peran sebagai seorang pendisiplin. Sementara peran membesarkan anak secara fisik, secara emosional lebih berada pada pundak ibu. Mendisiplin memang mempunyai suatu resiko, resikonya adalah membangkitkan amarah bagi yang didisiplin.

Pada prinsipnya kalau kita / seorang ayah mendisiplin anak, harus melihat kedua hal yaitu:

  1. Anak mesti melihat kita adil. Anak boleh tidak setuju tetapi dia melihat keadilan di sini, baik terhadap adik atau kakaknya.

  2. Anak mesti melihat motivasi kita. Sewaktu kita mendisiplin, anak dapat melihat bahwa motivasi kita benar dan baik bukan karena kita sedang memuaskan hasrat marah.

Peran seorang ayah untuk mendidik anak sudah ada sejak lama, di kitab Ulangan Tuhan memberikan perintah kepada orang tua yang pada prinsipnya adalah terapkanlah dan ajarkanlah anak-anak tentang Tuhan, didiklah mereka, besarkanlah mereka dalam Tuhan di setiap keadaan yang kita miliki.

Seorang anak cenderung menerima suatu disiplin kalau dia merasa dekat dengan orang yang mendisiplinkan dia. Namun hal ini memang kurang memungkinkan bagi seorang ayah yang setiap harinya sibuk bekerja. Tapi Tuhan pun tidak menuntut hal yang di luar jangkauan kita, jadi peran mendisiplin ini diberikan memang dalam konteks yang ada batasannya.

Yang perlu diperhatikan manakala seorang ayah harus menghadapi anak yang melakukan kesalahan adalah menjaga emosi. Ada kecenderungan kita sebagai pria memiliki pola pikir kerja yaitu:

  1. Aku memberi instruksi, anak melakukan instruksi

  2. Ayah menganggap anak sudah tahu tanggung jawabnya. Jadi dalam hal ini pengharapan anak sadar itu kuat sekali dalam diri ayah biasanya dan sewaktu anak mengulang perbuatan yang sama cenderungnya kita marah. Kita tidak cukup sabar menoleransi bahwa anak memang cenderung mengulang perbuatan yang sama.

Peran seorang ayah sebagai pendisiplin dapat menimbulkan kesan yang kurang baik pada diri anak. Yaitu bisa menimbulkan terjadinya interaksi negatif dalam keluarga. Interaksi negatif adalah sewaktu kita ini sedang berinteraksi dengan si anak atau sewaktu kita berbicara dengan anak, interaksi tersebut ditandai oleh kemarahan, pendisiplinan atau teguran dan koreksi. Jadi ayah memang harus berupaya dengan keras dekat dengan anak, meskipun terbatas dalam hal waktu. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah setelah mendisiplin perlu mendekati si anak, ngomong dengannya, peluk dia, misalkan kita sadar kita keliru kita sampaikan permintaan maaf kita kepadanya. Nah hal ini akan menetralisir apa yang telah terjadi, jadi menyeimbangkan hubungan kita dengan dia kembali.

Dampak negatif yang terjadi apabila seorang ayah kurang berperan dalam pendidikan anak, sbb:

  1. Anak akan kehilangan peran. Karena anak khususnya anak laki-laki memerlukan model, baik cara dia bersikap, berpikir, dia bertindak, cara dia menanggapi suatu masalah. Kalau seorang ayah tidak berperan, anak akan dirugikan dalam artian tidak cukup bahan yang diserapnya untuk menjadikan dia seorang manusia yang tangguh dan sudah pasti kehilangan peran model ayah yang positif seperti apa.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling, juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan mengajak Anda berbincang-bincang tentang "Peran Ayah dalam Pembinaan Anak". Kami percaya topik ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, di dalam mendidik anak sering kali yang kami jumpai adalah diserahkan kepada istri atau ibu dari anak-anak itu. Sebenarnya pola pendidikan seperti itu secara Kristiani itu bisa dipertanggungjawabkan atau bagaimana Pak?

PG : Kalau dilihat dari sudut Kristiani sudah tentu memang kurang begitu tepat Pak Gunawan, karena Tuhan memang meminta ayah untuk terlibat. Jadi budaya kita memang lebih memberikan tanggung jaab itu kepada para ibu, tapi yang disetujui oleh budaya belum tentu adalah hal yang dikehendaki oleh Tuhan.

Misalkan Pak Gunawan saya bisa kutip dari Firman Tuhan di kitab Efesus 6:4 "Dan kamu bapa-bapa janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Bagi saya hal ini cukup menarik, Pak Gunawan, karena yang diperintahkan oleh Tuhan untuk mendidik anak bukanlah ibu tapi ayah. Nah kata mendidik sebenarnya kata mendisiplin, jadi kalau saya boleh menginterpretasikannya dengan lebih luas, saya berkesimpulan bahwa peran mendisiplin anak-anak adalah tanggung jawab ayah, peran membesarkan anak secara fisik, secara emosional saya simpulkan lebih berada pada pundak ibu seperti itu Pak Gunawan.
GS : Tetapi keduanya harus bekerja sama begitu maksudnya Pak Paul, jadi antara kedisiplinan dan membesarkan itu 'kan harus seimbang dan bersama-sama, padahal ayah kebanyakan sering kali waktunya habis dengan pekerjaannya, dengan kegiatannya di luar dan sebagainya.

PG : Betul, jadi Tuhan memang mendisain peranan ini dengan lengkap dan sempurna, tidak realistik kita ini menuntut ayah untuk bertanggung jawab dalam hal membesarkan anak dalam pengertian membei makan anak, merawat, mengasuh kebutuhan fisiknya, saya kira ayah akan mengalami kesulitan untuk mengatur semua itu karena dia memang sudah bekerja dari pagi sampai sore.

Namun Tuhan memang meminta ayah untuk berperan dalam rumah tangga dan satu peran yang Tuhan dengan jelas minta adalah peran sebagai seorang pendidik atau peran sebagai seorang pendisiplin.
(2) IR : Pak Paul mungkin bisa memberikan contoh-contoh konkret bagaimana seharusnya seorang ayah itu mendisiplin seorang anak?

PG : Nah di sini Tuhan memberikan suatu prasyarat yang bagus ya dan "kamu bapa-bapa janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu." Mendisiplin memang mempunyai suatu resiko IbuIda, resikonya adalah membangkitkan amarah bagi yang didisiplin.

Misalkan kita tempatkan diri sebagai seorang pekerja, sewaktu kita menerima disiplin dari perusahaan atau tempat kita bekerja, biasanya memang membangkitkan amarah dalam diri kita. Meskipun kita tahu kita bersalah dan harus menerima sanksi, namun waktu disiplin itu diberikan oleh atasan kita, kita rasanya tidak mudah menerima hal itu. Dengan kata lain, memang sudah merupakan natur atau sifat kita sebagai manusia yang tidak begitu suka untuk menerima teguran atau disiplin. Karena disiplin itu memang menghalangi keinginan kita atau hasrat kita, membuat kita harus berubah sesuai dengan kehendak orang lain. Namun kita cenderung bisa menerima disiplin atau lebih mudah menerima disiplin kalau kita benar-benar merasa bahwa nomor 1 kita bukan diperlakukan secara semena-mena, dengan kata lain kita merasa adanya keadilan. Kalau kita tidak melihat keadilan atau unsur keadilan itu di dalam disiplin, kita akan marah kita tidak akan senang. Kedua kita lebih mudah menerima disiplin kalau kita memahami dan melihat jelas bahwa motivasi orang tersebut dalam mendisiplin kita adalah baik, dalam pengertian bukan untuk kesenangan pribadinya. Nah misalkan alasan manager kita misalnya mendisiplin kita, meskipun kita tahu ini bukan karena dia mengasihi kita dia mendisiplin kita, tapi kita lebih bisa menerima kalau kita tahu tidak ada konflik pribadi, tidak ada konflik atau bukan kepentingan dia mencoba untuk memuaskan nafsunya saja dalam mendisiplin kita. Nah kalau kita bisa melihat kemurnian hati si pendisiplin, kita lebih mudah menerima disiplin tersebut. Jadi prinsipnya Bu Ida, sebelum kita bahas yang lebih konkret kalau kita mendisiplin anak, anak itu perlu melihat kedua hal tersebut yaitu anak mesti melihat kita adil. Dia boleh tidak setuju tapi dia melihat adil dalam pengertian kalau adik saya yang bersalah, adik juga menerima sanksi yang sama, kakak saya bersalah, kakak menerima sanksi yang sama dan sebagainya, biasanya keadilan itu kita ukur dari sudut perbandingan. Anak kecil gemar sekali membandingkan diri dengan adik atau kakaknya, jadi anak harus melihat unsur keadilan baru lebih mudah menerimanya. Kedua, anak mesti melihat motivasi kita bahwa waktu kita mendisiplin dia bukan karena kita ini sedang memuaskan hasrat marah itu, kita lagi marah dengan siapa akhirnya kita lampiaskan kepada anak, nah 2 hal itu harus ada.
GS : Peranan ayah yang begitu besar itu baru dikenal pada saat Paulus menulis surat atau memang prinsip itu sudah diperkenalkan oleh Tuhan sejak lama Pak?

PG : Sudah sejak lama, sebab misalnya di kitab Ulangan Tuhan memang memberikan perintah kepada orang tua secara keseluruhan, satu unit untuk juga membesarkan anak-anak di dalam Tuhan, mengajarkn anak-anak tentang Tuhan, bahkan digunakan kalimat-kalimat yang sangat konkret pada waktu dia bangun, pada waktu dia tidur atau waktu engkau berjalan, waktu engkau duduk yang sebetulnya semua mengacu pada satu prinsip yaitu terapkanlah dan ajarkanlah anak-anak tentang Tuhan, didiklah mereka, besarkanlah mereka dalam Tuhan di setiap kesempatan yang engkau miliki.

Jadi memang tidak ada pembedaan bahwa ibulah yang harus merawat, ayah yang harus bekerja di luar, pembedaan itu sebetulnya tidak ada di Alkitab. Pembedaan itu atau pembedaan peran itu sebetulnya lebih disebabkan oleh latar belakang budaya kita sendiri.
IR : Pak Paul apakah itu juga dipengaruhi oleh kedekatan seorang ayah dan anaknya Pak Paul? Sebab prakteknya seorang ayah yang sehari bekerja, malam sudah lelah itu sulit sekali untuk bisa berkomunikasi, untuk bisa dekat dengan seorang anak. Sehingga waktu anak itu didisiplinkan si ayah mengalami kesulitan sama sekali Pak Paul.

PG : Itu betul Ibu Ida, jadi anak itu cenderung menerima disiplin kalau dia merasa dekat dengan orang yang mendisiplin dia. Nah faktor ayah yang otomatis akan sedikit jauh dari anak karena faktr pekerjaan tadi, memang merawankan si ayah tatkala mendisiplin anak.

Maka tadi Alkitab berkata dengan jelas, jangan bangkitkan amarah anakmu artinya memang mendisiplin anak mempunyai resiko yang berkebalikan dari yang kita harapkan. Hasilnya tidak produktif malah merugikan, karena membuat anak malah mendendam kepada kita. Kalau dia merasa dekat dengan kita, dia akan lebih cenderung untuk menerima disiplin tersebut, sekali lagi dia mesti juga melihat apakah adil dan juga yang kedua dia mesti melihat bahwa motivasi si ayah ini benar dan baik, bukannya melampiaskan hasrat amarahnya saja, syaratnya begitu Ibu Ida.
GS : Ya tetapi 'kan pada naturnya, kami bapak-bapak ini 'kan agak sulit untuk dekat terutama ketika anak itu masih kecil. Kalau sudah menjelang remaja atau dewasa dia bisa seperti teman dengan kami, tetapi untuk mendidik anak ini dibutuhkan sedini mungkin artinya sejak kecil kita sudah mulai ikut terlibat di dalam pendidikan anak itu. Nah tindakan-tindakan konkret apa yang bisa kami lakukan sebagai ayah?

PG : Saya mengakui bahwa kita sulit sekali berkompetisi dengan istri-istri kita Pak Gunawan dalam hal kedekatan dengan anak, apalagi istri yang memang fulltime di rumah tangga. Jadi saya kira Than pun tidak menuntut hal yang di luar jangkauan kita, jadi memang tidak bisa.

Jadi peran pendisiplin atau peran mendisiplin itu memang kita berikan dalam konteks yang ada batasannya. Waktu kita pulang kita sudah lelah, nah terus kita mendengar misalnya dari istri kita bahwa si anak nakal atau berbuat hal yang tidak benar. Yang mesti kita jaga adalah nomor satu emosi kita, ada kecenderungan kita ini sebagai pria karena dari pagi sampai sore dan bahkan bagi sebagian orang sampai malam, kerja di luar, pola pikir itu sudah menjadi pola pikir kerja. Dan pola pikir kerja adalah aku memberi instruksi engkau melakukan instruksi, kita diperlakukan seperti itu oleh atasan kita, kita berbuat hal yang sama kepada bawahan kita, itu yang pertama. Jadi instruksi - pelaksanaan, instruksi - pelaksanaan polanya seperti itu. Pola yang lain adalah bahwa seharusnya masing-masing sudah tahu tanggung jawabnya itu pola kerja yang sebetulnya kita semua serap tanpa kita sadari. Jadi sewaktu seseorang tidak melakukan tanggung jawabnya sudah dapat dipastikan akan muncul perasaan tidak suka, tidak senang terhadap orang tersebut. Seharusnya engkau sudah tahu tapi engkau melalaikan tanggung jawabmu. Nah dua hal ini biasanya kita bawa pulang Pak Gunawan dan Ibu Ida, kita bawa pulang ke rumah dan kita mengharapkan nomor satu, kita memberi instruksi, anak melaksanakan instruksi. Waktu kita memberi instruksi, anak membantah, kita ini seolah-olah harus tukar gigi kalau naik mobil dari gigi 4 ke gigi 2 glek....glek....glek begitu. Kenapa tukar gigi karena tiba-tiba kita harus belajar menoleransi bantahan. Di tempat kerja istilah bantah itu istilah yang memang haram, kita tidak terima istilah bantah, apalagi kalau itu diberikan oleh atasan. Nah tukar gigi itu tidak gampang Pak Gunawan dan Ibu Ida, ayah itu cenderung susah sekali menukar gigi dan akan membawa pola yang sama. Dan pola yang kedua tadi yang saya sudah sebut adalah ayah itu menganggap anak sudah tahu tanggung jawabnya atau hal ini sudah pernah dibicarakan sebelumnya dulu: "Seharusnya engkau ingat, seharusnya engkau sadar", nah jadi ekspektasi atau pengharapan anak sadar itu biasanya kuat sekali dalam diri ayah, dan sewaktu anak mengulang lagi perbuatan yang sama cenderung kita marah. Kita tidak cukup sabar untuk menoleransi bahwa anak ini memang mengulang perbuatan yang sama berkali-kali sebab di dunia pekerjaan hal itu tidaklah lazim atau tidak ditoleransi. Pekerja yang mengulang perbuatan yang salah berkali-kali akan dikeluarkan, tapi anak tidak bisa kita keluarkan.
GS : Jadi Pak Paul kalau kita sebagai ayah cuma mendisiplin anak, itu bisa timbul kesan bahwa ayah ini kejam begitu, jadi cuma menguraikan hal-hal yang jelek saja, pada hal ibunya yang membesarkan dan sebagainya itu bisa bercitra positif Pak Paul. Nah bagaimana untuk mengatasi hal ini supaya anak itu tidak timbul kesan ayah ini bisanya cuma mendisiplin kami saja?

PG : Betul, itu yang kita sebut interaksi negatif jadi itulah salah satu hal yang harus dicegah dalam kehidupan berkeluarga yakni menciptakan interaksi negatif. Saya jelaskan yang saya maksud dngan interaksi negatif, interaksi negatif adalah sewaktu kita ini sedang berinteraksi dengan si anak atau sewaktu kita berbicara dengan anak, interaksi tersebut ditandai oleh kemarahan, pendisiplinan atau teguran dan koreksi, nah itu yang disebut atau yang dimaksud dengan interaksi negatif.

Kalau si ayah hanya berinteraksi dengan anak secara negatif dalam konteks menegur, mendisiplin si anak, anak pasti akan merasa tidak senang dengan si ayah. Dan memang reaksi yang diberikan oleh si anak adalah marah, jadi betul sekali Pak Gunawan, ayah memang harus berupaya dengan keras dekat dengan anak, meskipun terbatas dalam hal waktu. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah setelah mendisiplin perlu mendekati si anak, itu prinsip yang harus kita pegang. Setelah kita menegur atau memarahi anak berikan tenggang waktu misalnya 5 menit atau 10 menit, setelah itu kita mesti mendekati dia, kemudian kita ajak dia bicara, kita peluk dia atau misalkan kita sadar kita keliru kita sampaikan permintaan maaf kepadanya. Ini untuk menetralisir apa yang telah terjadi, jadi menyeimbangkan hubungan kita dengan dia kembali, kalau tidak takutnya seperti tadi yang Pak Gunawan sebut, yaitu si ayah akhirnya akan dilihat hanya sebagai pendisiplin.
GS : Jadi itu untuk menimbulkan rasa keyakinan bahwa kami itu mendisiplin untuk kebaikannya dan bahwa kita tetap mengasihi dia itu Pak Paul yang mau dicapai dari pendekatan-pendekatan itu. Tapi juga ada masalah Pak Paul, anak-anak yang tumbuh khususnya pada akhir-akhir ini itu 'kan merasa bebas, berbicara dengan orang tua pun dia bebas bahkan menentang orang tua pun dia merasa tidak bersalah sama sekali itu Pak Paul. Nah sedang kami sebagai ayah, sebagai orang tua itu masih terikat dengan pola pikir lama pada waktu kami masih anak-anak itu dididik dengan keras, dengan rotan, dihukum di dalam kamar dan sebagainya itu yang rasanya sekarang sulit untuk diterapkan Pak Paul, nah itu bagaimana kami itu mengatasi kesulitan itu?

PG : Dan memang seharusnya sulit Pak Gunawan, tapi saya harus berkata bahwa metode-metode yang seperti dulu itu kalau terus digunakan sekarang, saya takut lebih berakibat buruk daripada baik. Knapa? Sebab jaman dulu di luarpun dunia seperti itu, jadi benar-benar iklim demokratis tidak ada, semuanya itu benar-benar searah dan bersikap hirarkis.

Nah sekarang kalau anak-anak di rumah dibesarkan seperti itu, apa yang aku katakan engkau lakukan, dengan keras kita ini tidak mengijinkan ruangan untuk berbantah, sedangkan di luar dia mulai melihat kehidupan yang berbeda nah ini akan menimbulkan konflik yang jauh lebih besar. 20-30 tahun yang lalu hal ini tidak terjadi karena di luar pun dia melihat hal yang sama, misalkan figur guru, figur otoritas yang sangat kuat dulu-dulu itu ditakuti sekali. Namun sekarang kita melihat iklim demokratis sudah benar-benar merambah ke mana-mana, sehingga waktu si anak keluar si anak mendapatkan kenyamanan, bebas bicara apa adanya dan sebagainya. Waktu pulang ke rumah tidak bisa bebas seperti itu, dia merasa sangat tertekan karena sekarang muncul konflik antara yang di luar dan yang di dalam. Maka dorongan dia untuk memberontak akan jauh lebih diperbesar, begitu saya melihatnya.
IR : Dan kenyataannya Pak Paul, anak-anak itu kalau dinasihati ayah sekalipun nasihat itu lemah lembut sering tidak bisa menerima tapi kalau si ibu sekalipun marah dia itu bisa menerima, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu saya alami juga Bu Ida, di rumah tangga saya sendiri. Kalau saya yang menegur anak, anak saya itu bereaksi dan saya senang karena di rumah iklim keterbukaan kami coba pelihara, sehingg mereka beritahu saya secara langsung.

"Papa kenapa suaranya keras? Kenapa sih Papa itu mesti marah seperti itu?" walaupun bagi saya suara saya tidak begitu terlalu keras menurut saya, tapi bagi anak-anak mereka mengeluh sekali. Tapi istri saya kalau marah, anak-anak jarang-jarang mengeluh rasanya itu hal yang mereka terima, nah saya hanya bisa menduga, dugaan saya yang pertama faktor waktu, anak itu lebih terbiasa dengan Mama dibandingkan dengan Papa, sehingga anak lebih mengenal emosi Mama yang bisa marah, bisa tidak marah, bisa lembut, bisa keras, karena terbiasa hidup dengan Mama dari pagi sampai malam. Sedangkan dengan Papa kurang, jadi sewaktu Papa pulang misalnya sudah jam 07.00 atau 06.00 sore dan kemudian terjadi sesuatu, ayah marah si anak itu seolah-olah tidak siap, sementara pagi sampai jam 06.00 engkau tak ada di rumah. Nah tiba-tiba sekarang jam 07.00 malam engkau marah. Beda dengan ibu dari pagi sampai malam, ibu bersama-sama dengan kami, dan mungkin sekali dari pagi sampai malam itu dia sudah mendengar mamanya itu berteriak 10 kali atau 5 kali. Jadi sewaktu jam 07.00 malam, mamanya marah lagi itu hanya kemarahan yang ke 6 kali atau ke 11 kalinya jadi anakpun lebih bisa menerima. Yang kedua adalah karena lebih banyak waktu yang diberikan ibu kepada anak, anak itu juga lebih mengenal Mama dibandingkan mengenal Papa. Kita harus sadari bahwa lebih banyak hidup dengan seseorang akan lebih membuat orang itu mengenal kita, jadi anak cenderung lebih mengenal Mamanya dibandingkan mengenal Papanya, karena keterbatasan waktu itu. Mengenal artinya apa? Mengenal artinya tahu Mama itu seberapa marahnya, benar-benar benci atau tidak pada saya, waktu Mama bilang "Kamu jangan berteriak lagi!!" Artinya hanyalah jangan berteriak lagi, tapi bagi si anak waktu mendengar si papa "Kamu jangan berteriak lagi!" nah kemungkinan anak akan bertanya-tanya Papa tidak suka pada saya? Kenapa Papa tiba-tiba marah? Apa yang saya perbuat? Kok Papa moodnya bisa begini sekarang? Lebih banyak pertanyaan karena kurangnya pemahaman atau pengenalan itu. Jadi ini dugaan saya, hal-hal inilah yang membuat anak akhirnya lebih bisa menoleransi kemarahan Mama dibandingkan dengan kemarahan Papa.
IR : Tapi akhirnya si ayah itu kurang berperan di dalam mendidik anak-anak Pak Paul?

PG : Ya, bisa begitu Bu Ida, karena akhirnya ayah bisa berpikir saya ini kalau malam pulang kok jadi ribut dengan anak. Nah kecenderungan kita akhirnya adalah menghindar: "Udah dah kamuyang urus kita," berkata kepada istri kita, sebab daripada kita ribut dengan anak setiap kali pulang akhirnya menghindar.

Nah akhirnya kita kurang berperan itu bisa terjadi juga, sebab kita akhirnya mengakui: "Ya, istri kita lebih efektif, anak lebih bisa terima, anak tidak marah ya sudah, kita jarang di rumah, waktu terbatas ya kita mau manfaatkan waktu yang ada secara positif kita mau membangun hubungan yang baik dengan si anak. Jadi akhirnya dengan rela atau tidak rela kita melemparkan lagi tanggung jawab ke pundak Ibu.
(3) GS : Seandainya itu yang terjadi Pak Paul, sebenarnya apa dampak negatif yang terjadi pada diri si anak kalau ayah itu kurang berperan di dalam pendidikan?

PG : Dampaknya banyak Pak Gunawan, karena pertama-tama anak-anak itu apalagi anak laki, memerlukan model, contoh, dia bersikap, dia berpikir, dia bertindak sebetulnya melalui percontohan. Nah swaktu ayah kurang berperan meskipun secara fisik hadir di rumah tapi tidak banyak bicara dengan dia, tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak, malah hanya diam-diam saja di rumah, si anak akan kehilangan peran, contoh peran yang seharusnya dia dapat.

Bagaimana menyikapi sesuatu bagaimana bereaksi terhadap sesuatu, misalkan si ayah membaca koran kemudian ada 1 berita yang dibaca kemudian si ayah memberikan komentar. Nah mungkin komentar seperti itu biasa saja, tapi bagi anak ini sebetulnya adalah bahan-bahan untuk membangun dia menjadi seorang manusia dewasa yang tangguh. Dia bisa melihat bagaimana si ayah menyikapi hal ini, o......ada perampokan misalnya o....ayah ini berkata gini..gini....gini.....gini, o...misalnya ada keadaan di mana ketidakadilan terjadi, si ayah mengeluarkan komentar seperti ini. Dari semua hal itu si anak akhirnya menimba masukan bagaimana membentuk diri dia itu. Nah saya takutnya kalau ayah tidak berperan, anak akan dirugikan dalam arti tidak cukup bahan yang diserapnya untuk menjadikan dia seorang manusia yang tangguh dan sudah pasti kehilangan peran model itu, ayah yang positif seperti apa, ini saya pikir kerusakan yang paling berbahaya, yang paling besar.
GS : Ya jadi saya melihat bahwa peran pendidikan yang harus dilakukan oleh istri maupun suami atau ayah maupun ibu itu sebenarnya sangat mendasar Pak Paul ya. Jadi kalaupun ayah itu sekarang diminta untuk terlibat dalam pendidikan, itu bukan sesuatu hal yang baru tetapi kita kembali kepada prinsip-prinsip dasar yang Allah sudah berikan kepada kita untuk membina suatu rumah tangga yang baik, begitu Pak Paul?

PG : Betul, jadi yang mesti kita ingat adalah anak kita berdua, jadi tidak benar kalau ada prinsip saya sebagai pria mencari uang, engkau sebagai ibu yang mengasuh anak, membesarkan anak, mendiiplin anak, itu tidak benar.

Budaya kita memang begitu tapi itu bukanlah pengajaran Firman Tuhan.
GS : Menurut Pak Paul adakah contoh-contoh konkret di dalam Alkitab di mana ayah maupun ibu bisa terlibat langsung di dalam pendidikan anak Pak Paul?

PG : Ini yang susah Pak Gunawan, sebetulnya kita cukup sering melihat contoh yang negatif di dalam Alkitab, akan peranan ayah yang kurang.

GS : Tapi justru sebenarnya orang-orang Yahudi khususnya ayah mempunyai peran besar sekali Pak Paul. Seperti Tuhan Yesus itu dididik oleh Yusuf sebagai tukang kayu, sebetulnya itu 'kan ada pengaruhnya?

PG : Ya itu rupanya kita harus sadari Alkitab bukanlah buku keluarga, memang Alkitab menceritakan tentang siapa Allah dan karya Allah bagi keselamatan kita. Jadi memang tidak membahas tentang kluarga dengan mendetail.

Namun dari contoh-contoh yang ada harus diakui Tuhan memberikan kita banyak peringatan melalui contoh-contoh kegagalan para ayah. Misalnya kita melihat Eli, Daud, Salomo, jadi banyak sekali contoh-contoh yang harusnya menjadi pelajaran buat kita, jangan kita mengulanginya lagi.
GS : Jadi kalau kita melihat perkembangan anak-anak sekarang itu kalau sampai terjadi hal-hal yang negatif, sebenarnya peran ayah itu besar sekali andilnya di dalam ikut merusak generasi sekarang Pak Paul ya.

PG : Betul dan memang harus diakui Pak Gunawan, di penjara juga lebih banyak pria daripada wanita, jadi produknya sangat riil.

GS : Ya mungkin karena kegagalan peran ayah di dalam mendidik anak-anak atau anak mereka. Jadi saya rasa perbincangan ini tentu saja akan sangat bermanfaat kalau kita menindaklanjuti dengan suatu tindakan-tindakan konkret, walaupun harus banyak waktu yang kita sisihkan untuk kepentingan anak atau anak-anak kita. Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan ke hadapan Anda tentang peran ayah di dalam pendidikan anak, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga) dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



3. Membangun Respek Anak terhadap Orangtua


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T014A (File MP3 T014A)


Abstrak:

Salah satu hal yang perlu dilakukan orangtua dalam membangun anak untuk menghormati orangtua adalah orangtua menunjukkan bahwa antara perkataan dan tindakan itu sama.


Ringkasan:

Latar belakang yang menyebabkan respek anak terhadap orang tua pada masa sekarang menurun:

  1. Saat ini kita sedang memasuki iklim yang baru yaitu iklim demokrasi. Iklim ini mewabah dan telah benar-benar mempengaruhi dunia secara keseluruhan sehingga akibatnya kita tidak mudah untuk menghormati seseorang berdasarkan statusnya atau siapa.

Kita sekarang cenderung memberikan penghormatan atas dasar karya atau hasil atau perbuatan. Jadi orang yang kita anggap layak untuk menerima penghormatan adalah orang yang telah menghasilkan sesuatu, telah berbuat sesuatu yang memang sepatutnyalah menerima penghormatan. Sementara kalau pada zaman dulu, hidup dalam zaman fiodal. Seseorang mendapatkan pengakuan, penghormatan bukan berdasarkan hasil karyanya tapi atas dasar siapa orang tuanya, contoh seorang raja dipilih karena dia adalah anak dari ayahnya yang adalah penguasa sebelumnya.

Cara menumbuhkan respek anak terhadap orang tua adalah sbb:

  1. Pertama-tama anak itu haruslah anak yang mengenal Tuhan dan takut akan Tuhan. Menghormati orang tua bukanlah pilihan, tetapi merupakan satu dari 10 hukum Tuhan yaitu "hormatilah ayahmu dan ibumu supaya panjang umurmu." Anak yang tidak bisa menghormati orang tua akan sulit sekali menghormati Tuhan. Secara praktis yang harus dilakukan orang tua, sehingga anak-anak bisa hormat kepada orang tua.

  2. Secara prinsip orang tua haruslah menjadi orang tua yang konsisten, orang tua yang sama dalam dan luar, orang tua yang tidak berpura-pura. Tatkala anak menyaksikan ketidakkonsistenan reaksi yang biasanya ditunjukkan adalah kemarahan kepada orang tua, dan kemarahan itu berakhir dengan tidak lagi hormat kepada orang tua.

Tidak hormat, didefinisikan membangkang dengan sengaja melawan otoritas orang tua atau melawan otoritas kita. Dr. James Dobson dari Focus on the Family berkata bahwa kita hanya perlu menghukum anak kalau anak itu membangkang, kalau anak itu berbuat kesalahan sesuai dengan usianya tidak perlu kita hukum sebab anak itu akan berbuat kesalahan.

Mazmur 92:13-16 berkata: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelaratan Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya."

Orang tua seharusnyalah menjadi orang yang benar, orang yang benar bukan orang yang sempurna tapi orang yang terus berusaha untuk hidup benar. Waktu dia salah, dia berbuat kekeliruan seyogyanya dia minta maaf kepada anak, waktu dia tahu dia terlalu cepat emosi seyogyanyalah dia belajar untuk mengekang emosi.
Jadi menghormati berarti juga memelihara mereka, mengasihi mereka, dan tidak mencampakkan tatkala mereka seolah-oah tidak lagi berfungsi untuk kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sebuah paket perbincangan tentang masalah-masalah keluarga yang dikemas oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen, saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK kali ini telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang masalah bagaimana kita sebagai orang tua itu menumbuhkan rasa hormat anak terhadap orang tuanya. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul ada banyak keluhan orang tua pada saat ini yang merasa bahwa anaknya itu kok tidak hormat kepada orang tuanya, mungkin kami orang tua itu merasa bahwa kami dulu dengan orang tua hormat sekali Pak Paul juga terhadap guru, terhadap ayah dan ibu. Anak-anak sekarang ini tidak terlalu seperti kami-kami dulu, apakah keluhan itu memang umum Pak Paul?

PG : Saya kira demikian Pak Gunawan karena kita ini memang memasuki abad yang baru dengan pola pikir dan nilai hidup yang juga bergeser dari yang sebelumnya. Sebelumnya kita hidup dalam zama feodal, baik di negara kita maupun di negara-negara lain.

Dan kita tahu bahwa dalam masa itu seseorang mendapatkan pengakuan, penghormatan dan sebagainya bukan berdasarkan hasil karyanya tapi atas dasar siapa orang tuanya, jadi raja itu dipilih bukan karena dia adalah orang yang bijaksana yang bisa mengatur negara tapi raja itu dipilih karena dia adalah anak dari ayahnya yang adalah penguasa sebelumnya. Nah itu adalah sistem kehidupan pada zaman dulu dan memang terus berdampak hingga mungkin 30-40 tahun yang lalu, tapi setelah itu kita memang memasuki iklim yang baru yaitu iklim demokrasi. Nah iklim ini mewabah dan benar-benar telah mempengaruhi dunia secara keseluruhan sehingga akibatnya kita tidak mudah untuk menghormati seseorang berdasarkan statusnya atau siapa orang tuanya atau karena memang saya seharusnya menghormati dia. Kita cenderung sekarang memberikan penghormatan atas dasar karya atau hasil atau perbuatan. Jadi orang yang kita anggap layak menerima penghormatan adalah orang yang telah menghasilkan sesuatu, telah berbuat sesuatu yang memang sepatutnyalah menerima penghormatan. Kira-kira itulah yang melatarbelakangi Pak Gunawan kenapa ada pergeseran sehingga kalau orang berkata, dulu anak-anak itu jauh lebih hormat kepada guru, kepada orang tua tepat sekali memang demikian. Dan sekarang memang anak-anak tidak terlalu hormat ya memang begitu, sebab penekanannya adalah pada perbuatan bukan pada siapa orang itu.
(2) IR : Nah bagaimana sikap orang tua untuk menumbuhkan respek anak terhadap orang tua, mungkin ada contoh-contoh konkret dari Pak Paul?

PG : Pertama-tama anak-anak kita haruslah anak yang mengenal Tuhan dan takut akan Tuhan, karena menghormati orang tua sebetulnya bukanlah pilihan, bukanlah o.....saya kalau mau menghormati sya menghormati, kalau saya tidak mau ya saya tidak usah menghormati, tidak.

Menghormati orang tua adalah satu dari 10 hukum Tuhan hormatilah ayahmu dan ibumu dan Tuhan juga memberikan janjinya di situ, sebab anak-anak yang menghormati orang tua akan diberikan umur yang panjang. Jadi Tuhan memang sangat memperhatikan aspek penghormatan terhadap orang tua, saya kira alasannya sangat jelas sekali. Anak yang tidak bisa menghormati orang tua sebetulnya akan sulit sekali menghormati Tuhan, jadi anak pertama-tama sebelum bisa menghormati orang lain harus menghormati orang tuanya terlebih dahulu. Sebab orang tualah orang pertama yang dilihatnya, orang tualah orang pertama yang juga merawatnya, orang tualah orang pertama memberikan kebaikan kepadanya. Jadi orang tua adalah orang pertama yang diminta Tuhan untuk dihormati oleh anak-anaknya. Jadi anak-anak kita memang mesti kenal Tuhan dan takut akan Tuhan sehingga terdorong untuk menaati perintah Tuhan, itu yang pertama. Nah secara praktisnya apa yang harus dilakukan oleh orang tua sehingga anak-anak kita itu bisa hormat kepada kita. Secara prinsip orang tua haruslah menjadi orang tua yang konsisten, orang tua yang sama dalam dan luar, orang tua yang tidak berpura-pura. Sebab anak itu adalah orang dalam, anak itu adalah orang yang mengerti sisi lain dari orang tua yang tidak dilihat oleh orang lain di luar, dengan kata lain anak adalah orang yang paling peka dengan kepura-puraan. Nah kalau kita di luar berbuat A di rumah berbuat B yang tahu anak, bukannya orang luar. Nah jadi tatkala anak menyaksikan ketidakkonsistenan, reaksi yang biasanya dirasakan atau ditunjukkannya adalah kemarahan kepada si orang tua. Dan kemarahan yang sebetulnya berakhir pada tidak lagi hormat kepada orang tua, tidak respek karena engkau menampilkan sisi yang sama sekali berbeda dengan keadaan engkau yang sebenarnya di rumah, kira-kira itulah yang akan dilihat oleh anak-anak kita. Jadi kesamaan itu penting sekali, kekonsistenan itu sangat penting sekali.
GS : Mungkin anak menjadi jengkel dengan penampilan kita yang berbeda tadi, dan dari kejengkelan itu lalu tumbuh ketidakhormatan atau tidak respek pada orang tua jadi kalau kita mau anak kita menghormati kita, Pak Paul tadi menyarankan supaya perkataan dan perbuatan kita itu sama. Masalahnya juga adalah pengertian anak terhadap hormat, dia merasa saya itu sudah menghormati orang tua saya, saya sudah hormat pada ayah ibu tapi tuntutannya ini yang melebihi dari apa yang mereka bisa lakukan itu Pak Paul, jadi dia merasa tuntutan kita sudah berlebihan, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Di sini memang diperlukan suatu sinkronisasi ya, penyesuaian sehingga adanya kesamaan definisi, karena adakalanya orang tua menganggap tindakan tertentu tidak hormat, anak menganggap it hormat.

Contoh yang paling klasik adalah anak misalnya tidak senang karena ditegur, kemudian dia mengurung diri di kamar, nah apa yang harus kita lakukan atau apa yang seharusnya menjadi reaksi kita. Apakah tindakan anak ini tidak hormat kepada kita ataukah hormat tapi dia sedang membutuhkan waktu untuk marah, untuk ngambek begitu misalnya. Nah saya kira orang tua juga perlu belajar menerima perspektif yang berbeda bahwa tindakan seperti ini belum tentu menunjukkan ketidakhormatan. Saya cenderung mendefinisikan tidak hormat dengan kata melawan atau membangkang, nah ini saya meminjam dari konsepnya Dr. James Dobson dari Fokus on the Family di Amerika Serikat. Dr. Dobson pernah berkata bahwa kita hanya perlu menghukum anak kalau anak itu membangkang, kalau anak itu berbuat kesalahan sesuai dengan usianya tidak perlu kita hukum sebab anak itu akan berbuat kesalahan. Nah tapi kalau anak membangkang, kita sudah beritahu tapi dia terus membangkang berarti memang anak itu melawan dan sewaktu dia melawan atau membangkang yang terhilang adalah rasa hormat pada diri kita. Nah itu yang perlu kita sambuti atau berikan sanksi kepadanya, jadi saya mendifinisikan tidak hormat secara lebih sempit Pak Gunawan yaitu membangkang dengan sengaja melawan otoritas kita. Nah itu adalah memang tidak hormat, kalau dia hanya ngambek dia marah dan sebagainya saya kira itu belum tentu tidak hormat atau ada anak waktu kita tegur dia juga emosi, dia juga marah berteriak dan sebagainya belum tentu anak itu menunjukkan ketidakhormatannya kepada kita, mungkin saja itu adalah ekspresi ketidaksenangannya yang berlebihan itu saja.
GS : Dan sekaligus kejujuran anak itu Pak ya, jadi kalau tidak puas dia mengekspresikan dalam bentuk seperti itu. Tetapi ada juga kalau diamati rasa hormat atau respek yang semu Pak Paul, yang kelihatannya menghormati orang tuanya pada hal di belakangnya dia tidak mempunyai rasa hormat sama sekali dengan orang tuanya, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu dua kemungkinan Pak Gunawan, yang pertama adalah anak memanipulasi orang tuanya guna mendapatkan keinginannya dia tahu dengan dia bertindak seperti yang diinginkan orang tua dia aka aman dan dia akan mendapatkan yang dia butuhkan.

Atau yang kedua dia takut, jadi bukan lagi hormat tetapi takut dia tahu kalau dia melakukan A atau B orang tuanya akan marah dan menghukum dia dengan berat, nah daripada dia mengalami hukuman tersebut ya dia ikuti saja aturan mainnya tapi di luar dia sama sekali tidak mengindahkan.
GS : Ya tapi itu biasanya memang orang tua tidak menyadari hal itu Pak Paul karena pandainya si anak itu bersandiwara dan bagaimana kita mencegah hal itu terjadi dalam diri kita. Kalau saya misalnya anak saya itu hormatnya semu dan saya tidak merasa bahwa itu suatu rasa hormat yang semu yang ditujukan kepada saya, saya mengambil bagian dalam kesalahan ini.

PG : Betul Pak Gunawan, jadi kita sebagai orang tua memang perlu meneropong diri, mengintrospeksi apakah ada hal-hal yang telah kita lakukan yang akhirnya menghilangkan rasa hormat anak terhdap kita.

Contoh yang klasik, misalkan waktu kita bertengkar dengan pasangan kita baik istri maupun suami kita, misalkan kita mengeluarkan kata-kata yang kasar atau membuat pasangan kita itu nangis dan sebagainya. Nah waktu anak menyaksikan ini anak bisa sekali marah namun tidak berdaya untuk mengungkapkan perasaannya itu. Dalam kemarahan melihat misalkan si ayah melecehkan si mama, si anak akan kehilangan respek, akan sulit sekali menghargai si papa seperti dulunya. Nah meskipun tidak dia ungkapkan tapi perasaan tersebut mulailah terakumulasi, tertimbun dalam hatinya dia mulai sulit untuk bisa dekat dengan si papa atau misalkan kebalikannya si mama kalau marah beremosi tinggi, main seenaknya saja pukul, maki semua orang di rumah nah tidak bisa tidak si anak akan juga kesulitan untuk bisa akhirnya menghormati si mama. Jadi tindakan seperti itu juga menjadi bahan yang akan mengurangi rasa respek anak terhadap orang tuanya.
GS : Ya ada juga orang tua yang merasa kalau dia itu bersenda gurau dengan anak-anak mereka itu membuat anak menjadi tidak respek terhadap orang tuanya, pendapat seperti itu betul atau tidak Pak Paul?

PG : Saya kira bergantung pada senda guraunya seperti apa ya, misalkan teman anak-anak kita datang, terus kita bersenda gurau seperti misalkan contohnya anak kita ini pria, kita ini pria jua, anak-anak wanita datang berkunjung ke rumah kita.

Kemudian kita bercanda dengan teman-teman wanita anak-anak kita, bercandanya seperti kita itu anak remaja juga malahan mulai memegang-megang bahu si anak wanita tersebut, nah anak kita mungkin sekali tidak suka dengan tindakan ayahnya seperti itu. Nah akibatnya dia akan tidak respek pada kita, jadi senda gurau yang melewati batas memang itu bisa membuat anak kehilangan respek pada oran tuanya. Senda gurau yang misalnya melecehkan si anak, misalkan anak itu agak pendek ya, pendek kontet, pendek katek misalnya seperti itu terus sampai anak itu marah tapi si ayah atau si ibu terus meledek seperti itu. Nah si anak akan kehilangan respek, namun senda gurau yang sehat yang alamiah bercanda dan sebagainya saya kira itu hal yang justru menyuburkan hubungan antara orang tua dan anak, dan orang tua tidak perlu takut kehilangan respek.
IR : Mungkin atau tidak Pak Paul kalau si anak terlalu didisiplinkan oleh orang tua, sedang anak sekarang juga menuntut kebebasan, respek terhadap orang tuanya berkurang?

PG : Hukuman yang berlebihan atau disiplin yang tidak kena sasaran, semena-mena itu berpotensi besar menghilangkan respek anak terhadap kita. Sebab tatkala anak menyaksikan orang tua semena-ena terhadapnya, memukul terlalu keras, memaki terlalu kasar dan misalkan kalau marah tidak bisa berhenti pada satu topik terus melebar ke mana-mana misalnya, nah itu berpotensi besar untuk menghilangkan respek anak terhadap orang tua.

Jadi pada intinya kalau boleh saya simpulkan apa itu yang dituntut oleh anak atau diharapkan oleh anak sehingga anak bisa menghormati orang tua adalah kita menjadi orang yang benar. Saya ingat satu firman Tuhan yang diambil dari Mazmur 92:13-16 , "Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon ara di Libanon. Mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita, pada masa tuapun mereka masih berbuah menjadi gemuk dan segar untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar bahwa Dia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya." Jadi intinya adalah orang yang benar itu akan bertunas seperti pohon kurma dan akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon. Orang tua seharusnyalah menjadi orang yang benar, orang yang benar bukan orang yang sempurna tapi orang yang terus berusaha untuk hidup benar, waktu dia salah, dia berbuat kekeliruan seyogyanya dia minta maaf kepada anak. Waktu dia tahu dia terlalu cepat emosi seyogyanyalah dia belajar untuk mengekang emosi. Misalkan kita emosi marah kepada anak, kita tahu kita salah kita minta maaf kepada anak. Namun minggu depan kita berbuat hal yang sama, dan kalau itu berlangsung berkali-kali si anak tidak akan menghargai permintaan maaf kita, sebab bagi dia percuma engkau minta maaf hari ini, minggu depan engkau mau marah engkau akan marah lagi semaumu. Dan anak akan merasa terhina pada akhirnya, siapa memangnya saya ini bisa diperlakukan seenaknya, engkau lagi merasa salah engkau bisa minta maaf, engkau lagi mau marah engkau akan bisa benar-benar menghina saya seperti itu. Nah hal seperti itu memang harus menjadi pergumulan orang tua, orang tua dituntut Tuhan untuk bertumbuh, sama seperti anak juga dituntut Tuhan untuk bertumbuh. Nah orang tuanya dituntut untuk bertumbuh menjadi orang yang benar begitu.
IR : Mungkin juga kasih dan kesabaran ya Pak Paul, kelemahlembutan itu mungkin juga membuat anak itu respek ya terhadap orangtua?

PG : Betul, betul, saya kira perkataan-perkataan yang menghina atau yang kasar itu akan benar-benar memicu kemarahan anak dan akhirnya menghilangkan respek anak terhadap kita.

IR : Kalau pengaruh dari luar Pak Paul, dari teman-teman luar apa itu juga bisa membuat anak itu kadang-kadang melawan pada orang tua?

PG : Bisa misalkan dia mulai melihat bahwa teman-temannya itu mudah keluar rumah, sedangkan anak kita susah keluar rumah harus minta izin. Waktu kita larang mungkin sekali dia marah, karena embandingkan diri dengan teman-temannya dan dia akan menilai kita yang kolot, yang terlalu mudah khawatir dan sebagainya.

Nah bisa sekali itu memang mempengaruhi anak, tapi bagi kita yang penting adalah rumah tangga kita mempunyai aturannya juga misalkan kita sudah mempunyai aturan, pada hari sekolah anak-anak tidak boleh keluar, hanya boleh keluar untuk kegiatan yang bersifat sangat penting sekali. Misalnya ada persekutuan doa hari Rabu dia mau ikut ya silakan selain itu tidak ada acara ke mall atau main bolling atau apa tidak ada dia harus belajar di rumah. Nah dia harus patuhi hal itu tapi kita juga fleksibel atau luwes hari Sabtu dan hari Minggu misalnya kita izinkan dia keluar. Nah hal seperti itu ya tetap kita pegang jangan kita korbankan gara-gara kita ingin disukai oleh anak, sebab ini adalah bahaya yang satunya. Ada orang tua yang sangat takut sekali dimarahi atau tidak disukai oleh anak sehingga berupaya keras supaya disukai oleh anak, nah ini juga bisa menjerumuskan orang tua pada masalah yang sama beratnya.
GS : Memang sebagai orang tua kita yang berusaha untuk menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anak kita antara lain bagaimana anak itu belajar menghormati orang tuanya. Nah apakah kecenderungan saat ini di mana ada banyak orang tua yang betul-betul sudah tua, sudah lanjut usia ditinggalkan oleh anak-anaknya itu merupakan satu bentuk tidak respeknya anak terhadap orang tua Pak Paul?

PG : Bisa jadi, tapi yang lebih pasti menurut perkiraan saya adalah, ini bukti bergesernya nilai hidup manusia. Yakni manusia makin hari makin menghargai yang kita sebut produktifitas sehinga nilai hidup kita makin hari menjadi makin prakmatis.

Yaitu selama berfungsi, selama itu pulalah dia berharga, tidak berfungsi tidak berharga lagi, nah saya khawatir nilai hidup ini makin hari makin merebah ke mana-mana karena apa, karena sering kali nilai hidup seperti ini dikaitkan dengan era modernisasi. Karena masa modern itu sebetulnya didahului oleh yang kita sebut masa industrialisasi. Nah masa industrialisasi adalah masa produktifitas di mana penekanannya benar-benar pada produksi, menghasilkan. Tatkala manusia juga mulai memegang atau mengadopsi nilai hidup seperti itu, saya kira yang tadi Pak Gunawan sebut akan terjadi. Yaitu orang tua akan seolah-olah disingkirkan dari kehidupan karena apa, karena tidak lagi menghasilkan apa-apa.
GS : Bahkan mungkin dirasakan sebagai penghambat produktifitas Pak Paul?

PG : Bisa jadi ini adalah bahaya yang kita mesti memang camkan baik-baik, karena Tuhan benar-benar menekankan hal itu, bahwa hormatilah ayahmu dan ibumu. Jadi menghormati itu berarti juga meelihara mereka, mengasihi mereka, dan tidak mencampakkan mereka tatkala mereka seolah-olah tidak lagi berfungsi untuk kita.

GS : Tapi juga ada firman Tuhan yang mengingatkan khususnya kepada bapak-bapak untuk tidak menyakiti hati anak-anaknya. Jadi saya rasa itu suatu hubungan timbal balik yang Tuhan berikan kepada kita supaya terbentuk suatu keluarga yang harmonis.

PG : Betul, karena kalau tidak si ayah bisa menjadi batu sandungan bagi si anak dengan cara menyakiti anaknya itu.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar sekalian yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga khususnya tentang bagaimana membangun rasa hormat atau respek anak terhadap orang tuanya. Perbincangan kami tadi bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



4. Pemberontakan Anak terhadap Orangtua


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T023A (File MP3 T023A)


Abstrak:

Dalam hal ini kita diajarkan apa yang melatarbelakangi pemberontakan anak terhadap orangtua. Diantaranya adalah tanpa disadari orangtua menciptakan hati yang getir, pahit dalam diri anak yang akhirnya membuahkan kebencian.


Ringkasan:

Ada beberapa faktor yang terlibat mengapa anak memberontak sampai tega melakukan hal-hal kekerasan yang melebihi batas, yaitu:

  1. Anak bermasalah, anak yang bertumbuh besar dengan hati nurani yang lemah, sangat egois, mementingkan diri sendiri, menuntut agar kehendaknya dipenuhi.

  2. Orang tua tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal itu bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya. Firman Tuhan mengingatkan kita

Kolose 3 : 21 , "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu (diterjemahkan janganlah membuat hati anakmu pahit/getir), supaya jangan tawar hatinya."

Beberapa tindakan orang tua yang dapat mengakibatkan hati anak pahit, yaitu:

  1. Anak akan merasa pahit kalau dia ditolak, jadi anak lahir ke dunia dengan suatu permintaan agar orang tua menerimanya, mereka membutuhkan penjagaan, dan uluran tangan orang tuanya. Beberapa bentuk penolakan adalah :

    1. Membandingkan anak.

    2. Penghinaan, kita kadangkala lupa bahwa anak kita punya perasaan dan dalam kemarahan kita keluarlah kata-kata yang menghina dia nah itu sangat mempunyai muatan penolakan yang besar.

  2. Orang tua tanpa merencanakan atau tidak membuat si anak merasa dia adalah bukan bagian dari keluarga itu sendiri.

  3. Tatkala disiplin diberikan, kekerasan diberikan tanpa adanya cinta kasih yang cukup. Disiplin dan cinta kasih adalah dua unsur yang sangat dipentingkan dalam pertumbuhan anak. Cinta kasih yang diberikan tanpa disiplin membuat si anak menjadi anak yang luar biasa egoisnya, kekanak-kanakan, tidak dewasa, menganggap semua orang harus tunduk kepadanya dan harus memenuhi keinginannya.

Kebalikannya disiplin yang diberikan tanpa cinta kasih membuat si anak menjadi anak yang memberontak, membenci orangtuanya.

Lingkungan pun sangat mempengaruhi, anak yang terbiasa dengan kehidupan yang keras, dia terbiasa menyakiti orang, karena dia terbiasa disakiti. Akhirnya gaya hidup yang keras itu menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Jadi bagi dia melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang luar biasa itu adalah hal yang lazim.

Langkah-langkah yang perlu kita lakukan sebagai orangtua untuk mengurangi sifat anak yang memberontak adalah sbb:

  1. Sewaktu kita menghukum anak, kita mesti mengecek apakah kita telah memberikan peringatan kepada si anak. Prinsipnya kita tidak mendisiplin anak dengan pukulan, kalau kita belum memberikan dia peringatan kecuali dalam kasus yang mendadak.

  2. Perhatikan bagaimana kita memukul anak, jadi tidak diperkenankan memukul anak misalnya dengan sekuat tenaga kita, semau kita, dan tidak diperkenankan memukul anak di mana saja yaitu di mukanya, di kepalanya atau dengan apa saja, dengan rotan, dengan kayu, dengan ban. Jadi kalau mau pukul anak, pukullah pantatnya karena itu bagian yang memang tidak terlalu melukai si anak.

  3. Setiap kali kita mau mendisiplin anak, kita harus tanyakan diri kita apakah si anak ini mengerti kenapa si anak itu dipukul. Jadi menuntut kita untuk memberikan waktu setelah kita pukul anak untuk berbincang-bincang dengan kita.

  4. Harus selalu mengecek sudahkah anak itu tahu bahwa dia dicintai oleh kita, cukupkah pengekspresian kasih kita kepadanya. Sebab jangan sampai si anak merasakan bahwa kita hanyalah datang untuk memukulnya, mendisiplinnya tanpa anak itu menyadari bahwa kita mengasihinya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang kebencian seorang anak terhadap orang tuanya. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, maksud baik orang tua untuk mendidik anak dengan memarahi, memukul atau memberi batasan-batasan tertentu, kadang disalahpahami oleh si anak dan tidak jarang itu menimbulkan suatu kebencian bahkan dendam yang berlarut-larut, bahkan tercetus dalam tindakan nyata di mana anak melawan orang tua. Bukan cuma memberontak dan kita dengar akhir-akhir ini ada sebuah pemberitaan tentang seorang anak yang tega membunuh kakak dan orangtuanya. Gejala seperti ini pasti sebuah penyimpangan, namun bagaimana hal itu bisa terjadi, Pak Paul?

PG : Ya memang ada beberapa faktor yang terlibat di dalam peristiwa ini atau secara umum saja saya akan membahasnya. Misalkan kita melihat anak itu sendiri, ada anak yang memang bermasalah, jad ada anak-anak yang akhirnya bertumbuh besar dengan hati nurani yang sangat lemah, egois, mementingkan diri sendiri, menuntut agar kehendaknnya dipenuhi.

Nah, anak-anak seperti ini adalah anak-anak yang bisa melakukan apa saja agar mendapatkan yang dia inginkan bahkan sampai sejauh melukai orangtuanya. Namun yang lebih umum adalah orang tua tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal ini terus bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya. Misalkan kita bisa melihat sendiri Firman Tuhan juga pernah memberikan atau memberikan peringatan yang sejenis kepada kita sebagai orang tua, yang terutama di sini kepada bapak. Saya membacakan dari Kolose 3:21 , "Hai bapak-bapak, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." Kata 'janganlah sakiti hati anakmu' sebetulnya dapat juga diterjemahkan 'janganlah membuat hati anakmu pahit, getir'. Nah saya kira ada kalanya kita sebagai orang tua tanpa disadari menciptakan hati yang pahit dalam diri anak, akhirnya membuahkan kebencian kepada kita. Nah, saya rasa itu salah satu penyebab kenapa ada anak yang bisa begitu sadis dan kejam kepada orang tuanya.
GS : Ya tadi Pak Paul katakan ada tindakan-tindakan orang tua yang tanpa disadari membuat hati anak itu pahit. Mungkin Pak Paul bisa menguraikan kira-kira tindakan-tindakan apa itu yang bisa menyakiti hati anak atau membuat hati anak pahit?

PG : Pada intinya adalah anak akan merasa pahit kalau dia ditolak. Jadi anak lahir ke dunia dengan suatu permintaan agar orang tua menerimanya. Sebab anak-anak itu lahir ke dunia tanpa mereka mminta untuk berada di dunia ini, dan dalam keadaan mereka yang membutuhkan penerimaan, penjagaan dan uluran tangan orang tuanya.

Pada waktu orang menolak si anak, anak itu akhirnya merasa terluka sekali, luka yang mendalam akibat penolakan-penolakan itu bisa membuahkan kebencian pada si anak.
GS : Penolakan itu apakah dalam arti kata kalau dia itu mengusulkan sesuatu itu tidak ditanggapi atau kekurangan rasa kasih sayang?

PG : Dua-duanya betul Pak Gunawan, jadi adakalanya anak-anak merasa ditolak karena apa yang diinginkannya tidak diberikan oleh orang tua. Nah ini bukannya dalam kasus yang wajar tapi adakalanyaorang tua memang tidak memberikan apa yang diinginkan anak demi kebaikan anak itu sendiri.

Namun secara lebih menyeluruh apa yang diminta oleh si anak cenderung ditolak oleh orang tuanya. Atau dalam kasus yang kedua tadi, seperti yang Pak Gunawan singgung adalah si orang tua ini akhirnya juga tanpa merencanakan atau tidak membuat si anak itu merasa dia adalah bukan bagian dari keluarga itu sendiri.
IR : Juga ada faktor lain Pak Paul, misalkan si anak ini kalau dibandingkan dengan saudaranya itu juga menimbulkan rasa sakit hati. Pengalaman saya dulu mengkonseling seorang anak siswa, dia mempunyai sifat yang aneh di dalam kelas. Kemudian waktu saya konseling, dia mengatakan bahwa dia di rumahnya sering dibandingkan dengan kakak perempuannya karena kakak perempuannya ini selalu menurut, selalu di rumah. Dibandingkan seperti itu, dia punya rasa dendam bahkan dendamnya itu sampai ada perasaan membunuh. Jadi karena dibandingkan itu, Pak Paul, dia merasa sakit hati.

PG : Betul sekali, Bu Ida, jadi anak yang dibandingkan memang merasa ditolak, jadi salah satu bentuk penolakan yang tanpa disadari adalah membandingkan anak. Kita kadang-kadang sebagai orang tu membandingkan dengan tujuan memacu untuk memberikan semangat kepada si anak supaya diapun mencontoh kakak atau adiknya atau saudara sepupu misalnya.

Namun seringkali waktu anak dibandingkan tidak merasa terpacu, justru waktu dibandingkan merasa tertolak, bahwa dia merasa tidak bernilai atau tidak berharga. Seolah-olah si anak dibuat merasa bahwa yang berharga di mata orang tuanya adalah tipe seperti kakaknya atau seperti saudara sepupunya. Jadi kesimpulan si anak itu adalah karena saya tidak pas dengan tipe yang diminta atau diharapkan oleh orang tua saya, Jadi saya juga bukanlah bagian dari keluarga ini, saya tidak berharga, saya tidak layak dianggap menjadi anak dari keluarga ini, jadi itu kesimpulan saya. Nah makanya karena itu ada anak yang bisa begitu sadis kepada orang tuanya, saya kira salah satu penyebabnya adalah sebab si anak itu tidak merasa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Sebab kalau dia merasa dia adalah bagian dari keluarga tersebut hati nuraninya tidak akan mengizinkan dia melakukan tindakan yang begitu sadis kepada keluarganya. Nah hal ini hanya dimungkinkan kalau dia memang tidak merasa dekat dan merasa bagian dari keluarga tersebut. Jadi pembandingan itu seringkali menyakitkan sekali.
GS : Orang dewasa pun tidak senang dibanding-bandingkan. Tapi Pak Paul itu 'kan baru disadari setelah anak ini bisa berkomunikasi langsung secara verbal dengan orang tuanya, ataukah jauh sebelum itu dia bisa merasakan bahwa dia sebenarnya ditolak. Maksud saya itu sejak usia berapa anak itu kira-kira mulai menyadari dia ditolak atau diterima oleh keluarga?

PG : Saya cenderung berpikir bahwa anak sudah mulai merasakan penolakan orang tua sejak pada masa dikandung. Memang tidak bisa saya buktikan secara empiris karena saya tidak bisa mengadakan anget atau me"riset" anak-anak.

Tapi anak itu bisa bereaksi misalkan orang tuanya itu jalan seenaknya misalnya tidak memberikan nutrisi yang cukup atau misalnya sering marah-marah. Nah anak dalam kandungan itu adalah bagian dari tubuh si ibu. Sebaliknya kalau si ibu itu dengan suara yang lembut bicara dengan si anak yang ada dalam kandungan, membelai perutnya, maka si anak akan merasakan hal itu juga. Ini salah satu contoh yang konkret, ada seorang ibu yang mengandung kemudian mengalami suatu trauma yang menyakitkan yaitu rumahnya dirampok, dalam ketakutan itu dia menjadi histeris dan setelah peristiwa tersebut anak dalam kandungan yang sudah usianya sudah lumayan besar meninggal dunia, gugur. Sebetulnya 'kan secara fisik anak itu 'kan terawat dengan baik dalam kandungan si ibu, tapi waktu si ibu mengalami peristiwa yang begitu menakutkan anak itu kaget dan jantungnya tidak kuat menahan kekagetan tersebut maka anak itu langsung meninggal. Jadi kita bisa melihat suatu keterkaitan antara emosi kehidupan mental si ibu pada si anak. Jadi saya kira anak itu tahu bahwa dia itu diinginkan atau tidak. Ada anak yang sejak kecil itu dikasihberi makan obat supaya gugur tapi tidak gugur-gugur. Nah obat itu 'kan sebetulnya racun yang dimasukkan ke dalam tubuh, jadi tidak bisa si anak dalam kandungan si ibu itu merasakan rasa sakit atau tidak nyaman yang luar biasa. Karena memang racun itu diberikan untuk membunuhnya namun tidak berhasil membunuhnya tapi karena dia juga manusia yang melekat dalam tubuh si ibu, saya kira keracunan dan rasa sakit sekali. Jadi ada anak-anak yang saya kira tidak diinginkan sejak lahir, sejak dalam kandungan dia memang merasakan penolakan tersebut. Meskipun dia belum mampu mengungkapkannya secara verbal.
IR : Kalau misalnya si ibu itu mengharapkan anaknya itu perempuan tapi nyatanya keluar laki-laki itu juga merasa tertolak, Pak Paul, dan itu seringkali menimbulkan kebencian. Hal ini seringkali terjadi dalam keluarga yang mengharapkan jenis kelamin tertentu biasanya pria. Jadi kasihan sekali anak-anak yang lahir di dunia. Salah satu bentuk penolakan yang lainnya adalah penghinaan. Kita adakalanya lupa bahwa anak kita itu punya perasaan dan dalam kemarahan kita keluarlah kata-kata yang menghina dia. Misalnya kita berkata: "Kamu ini goblok bener bodoh sekali.....!" Atau misalnya kita berkata: "Kamu tidak bisa apa-apa", nah itu kalau kita ucapkan sekali-sekali dalam kemarahan saya kira anak bisa toleransi namun kalau itu cukup sering kita katakan dan memang pedas, kasar dan waktu kita ucapkan kita mengucapkannya juga penuh dengan kemarahan, si anak merasa terhina dan membuat dia merasa tertolak. Dia bukanlah anak dari orang tuanya.
GS : Memang bisa dimengerti perasaan-perasaan seperti itu, Pak Paul, kita pernah jadi anak, kita juga pernah merasa tidak senang dengan orang tua, tapi yang kita lihat akhir-akhir ini adalah ekspresi dari ketidakpuasan anak ini terhadap orang tuanya. Jadi pemberontakan itu dilakukan secara terang-terangan sekali dengan melawan secara fisik terhadap orang tuanya, bahkan membunuh bisa terjadi. Kita itu biasanya merasa dendam tapi tidak sampai melakukan seperti itu.

PG : Sudah tentu anak yang bisa mengambil tindakan sedrastis itu karena anak ini memang sangat bermasalah. Jadi udah pasti hati nuraninya itu sudah ada penyimpangan, tidak wajar, tidak bertumbu semestinya.

Kenapa anak itu sampai membenci orang tuanya seperti itu, kita tadi sudah membicarakan tentang penolakan ya Pak Gunawan. Salah satu hal lain lagi adalah sewaktu disiplin diberikan, kekerasan diberikan tanpa cinta kasih yang cukup. Nah disiplin dan cinta kasih itu dua unsur yang sangat dipentingkan dalam pertumbuhan anak. Cinta kasih yang diberikan tanpa disiplin membuat si anak itu menjadi anak yang luar biasa egoisnya, kekanak-kanakan, mau menang sendiri dan mementingkan diri sendiri, tidak dewasa, menganggap semua orang harus tunduk pada kehendaknya. Dan harus memenuhi keinginannya. Kebalikannya disiplin yang diberikan tanpa cinta kasih membuat si anak itu menjadi anak yang memberontak, membenci orang tuanya. Karena apa? Karena disiplin itu hanya akan efektif untuk membentuk si anak kalau disertai dengan cinta kasih. Tanpa cinta kasih, disiplin menjadi tindakan yang kejam, tindakan kejam. Nah kita cenderung menerima kekerasan atau pukulan dari orang tua kalau kita sadar bahwa orang tua mengasihi kita. Dan kita bisa mengenang saat-saat di mana kita dilimpahkani oleh kasih sayang. Namun tatkala kita dipukul dengan begitu keras, terus kita sendiri tidak bisa mengingat kapan kita ini disayangi oleh orang tua kita. Nah yang muncul bukannya rasa terima bahwa saya telah dipukul tapi rasa benci luar biasa. Sebab pukulan itu sendiri menyakitkan dan segala yang menyakitkan kita cenderung memancing reaksi marah. Tapi marah itu masih bisa dinetralisir kalau ada cinta kasih. Nah yang kadangkala terjadi adalah kita ini tidak berimbang dalam memberikan keduanya; sering mendisiplin tapi kurang menunjukkan atau mendemonstrasikan cinta kasih kita kepada si anak. Nah reaksi yang muncul dari si anak bukannya penerimaan tapi kebencian.
GS : Dan kebencian itu akan berkembang terus ya Pak Paul, kalau tidak ada limpahan cinta kasih tadi. Nah itu biasanya terjadi dalam keluarga yang anaknya sedikit atau bisa banyak atau kedua-duanya bisa terjadi seperti itu?

PG : Bisa terjadi pada segala keluarga, bisa yang anaknya banyak atau anaknya sedikit.

GS : Apakah pengaruh lingkungan itu juga besar Pak Paul, jadi misalnya melalui televisi, melalui lingkungan bermain mereka, persahabatan mereka? Maksud saya apakah itu juga mempengaruhi tindakan-tindakan yang ekstrim?

PG : Sangat mempengaruhi, jadi misalkan si anak itu akhirnya terbiasa dengan kehidupan yang keras, dia terbiasa menyakiti orang, karena dia terbiasa disakiti. Nah akhirnya gaya hidup yang kerasitu menjadi bagian dari kehidupannya sendiri.

Jadi bagi dia melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang luar biasa, itu adalah hal yang lazim.
GS : Tapi yang kita amati di dalam kasus yang baru terjadi di Medan adalah anak itu setelah membunuh 'kan dia merasa menyesal. Dia juga cerita kepada pacarnya tentang hal itu dan dia menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib, bagaimana itu bisa berubah dengan begitu cepat, Pak Paul?

PG : Ini tafsirannya memang kita tidak tahu beritanya secara langsung tapi anak-anak atau kita sebagai manusia dalam kebencian yang tinggi mampu untuk melakukan hal-hal yang di luar batas kemansiaan, jadi kita bisa begitu marahnya sehingga rela menghabiskan nyawa orang lain.

Itu memang berkaitan sekali dengan kebencian. Tapi pengaruh luar saya kira juga penting, Pak Gunawan. Kalau misalnya kita memang benci kepada seseorang atau siapa, tapi misalkan kita memang mendapatkan pengaruh yang positif ya dari Firman Tuhan, kita tahu kita diminta untuk menghormati orang tua. Nah, tidak bisa tidak, Roh Tuhan dalam hidup kita akan mengendalikan tindakan atau rencana kita, keinginan mungkin ada untuk membalas, tapi akhirnya Roh Tuhan lebih berkuasa untuk mencegah kita melakukan hal-hal seperti itu. Jadi dalam kasus tersebut yang bisa saya simpulkan adalah anak itu tidak lagi dikuasai oleh hati nuraninya pada saat dia gelap mata. Sebab peristiwanya luar biasa, bukan saja secara spontan dia membunuh tapi satu persatu dihabiskan.
GS : Tapi kalau kita tidak terlalu tahu detailnya tetapi kita tahu bahwa kalaupun itu dikatakan berencana, pemicunya itu hanya sederhana sebenarnya Pak Paul; dia dipaksa untuk membersihkan rumah lalu marah, lalu menghabisi keluarganya, yang saya lihat itu kebencian yang sudah bertimbun-timbun. Itu hanya pemicu saja bahwa dia marah terhadap ibunya lalu membunuh. Tapi tadi yang saya kurang mengerti itu bagaimana perasaan seseorang itu bisa berubah drastis seperti itu, dari benci yang mendalam lalu tiba-tiba dia bisa menyesal dan menyadari kesalahannya bahkan menyerahkan diri kepada yang berwajib, seolah-olah tidak konsisten itu.

PG : Ya bagaimanapun dalam diri si anak meskipun ada kebencian tapi juga ada perasaan sayang, kalau tidak bisa dikatakan perasaan sayang, sekurang-kurangnya ada perasaan inilah orang tua saya, nilah kakak saya, ini adalah orang-orang yang tidur dengan saya setiap hari, yang merawat saya.

Jadi bagaimanapun waktu akhirnya dia tenang kembali dan kesadarannya mulai timbul. Dia menyadari bahwa dia kehilangan mereka dan kemungkinan sekali rasa kehilangan yang besar itulah yang membuat dia merasa menyesal. Dulu saya bekerja untuk membantu anak-anak yang teraniaya, saya mengunjungi dan juga memantau anak-anak yang dianiaya orang tuanya. Nah yang menarik adalah setiap kali kami datang dan mengunjungi anak-anak yang dianiaya orang tuanya menanyakan, "Maukah engkau kami pindahkan ke rumah asuh?" Saya masih ingat cukup banyak anak yang tidak mau dipisahkan dari orang tuanya meskipun orang tuanya sudah menganiayanya. Nah ini 'kan cukup menarik, kenapa dia tidak mau membebaskan diri dari orang tuanya yang telah menganiaya dia. Nah saya kira memang adanya ikatan batiniah itu antara orang tua dan anak, sejelek apapun si anak tetap tahu bahwa ini adalah orang tuanya. Dan anak itu marah waktu orang tuanya harus kami bawa ke pengadilan. Ini saya ceritakan bukan konteks di Indonesia tapi di Amerika Serikat. Peristiwa ini cukup sering terjadi. Marah karena kamilah yang menyebabkan orang tua mereka itu harus dibawa ke pengadilan, jadi harus menderita karena ulah mereka. Nah mereka tidak bisa melihat bahwa sebetulnya orang tua mereka sendirilah yang menjadi penyebab semuanya ini karena tindakan mereka yang menganiaya anak-anak ini. Jadi sekali lagi ikatan batiniah antara anak dan orang tua biasanya tetap ada, jadi saya menduga kasus tersebut, dalam kasus tersebut yang di Medan akhirnya menyadari kehilangan.
GS : Setelah melihat akibatnya itu yang nampak jelas di muka matanya. Mungkin dia sendiri tidak menyadari waktu melakukan sehingga akibatnya sampai fatal seperti itu. Nah, Pak Paul langkah-langkah apa sebenarnya yang bisa kita lakukan sedini mungkin supaya mengurangi hal-hal yang seperti itu?

PG : Ada beberapa pedoman yang bisa kita ingat sebagai orang tua, Pak Gunawan, yang pertama adalah sewaktu kita ingin menghukum anak, kita mesti mengecek apakah kita telah memberikan peringatankepada si anak itu.

Jadi prinsipnya adalah kecuali dalam kasus yang mendadak dan luar biasa sekali pada umumnya kita tidak mendisiplin anak dengan pukulan, kalau kita belum memberikan dia peringatan. Jadi kita mesti memberitahu dia, kalau kamu terus begini misalkan kita minta dia mandi dia tetap tidak mau mandi, nonton televisi terus. Setelah kita berikan peringatan kalau kamu tidak mau mandi nanti saya pukul, tetap tidak mau mandi baru kita pukul dia. Jadi berikan peringatan terlebih dahulu, kalau belum ya jangan. Yang kedua adalah perhatikan bagaimana kita memukul anak itu, jadi tidak diperkenankan memukul anak misalnya dengan sekuat tenaga, semau kita. Dan tidak diperkenankan memukul anak di mana saja yaitu di mukanya, di kepalanya atau dengan apa saja, dengan rotan, kayu, ban. Jadi kalau mau memukul anak pukullah pantatnya karena itu bagian yang memang tidak terlalu melukai si anak, memang menimbulkan sakit tapi tidak melukai si anak. Itu dua prinsip yang harus kita ingat sewaktu kita mendisiplin si anak. Yang lainnya lagi adalah setiap kali kita mau mendisiplin anak, kita harus tanyakan diri kita, apakah si anak ini mengerti kenapa si anak itu dipukul. Nah, jadi ini menuntut kita untuk memberikan waktu setelah kita pukul anak itu untuk berbincang-bincang dengan kita. Kita hampiri dia lagi, kita jelaskan kenapa tadi kita marah, apa yang kita inginkan dari dia, tindakan perubahan apa yang kita ingin lihat pada dirinya, nah itu juga kita harus lakukan. Dan yang terakhir adalah kita harus selalu mengecek sudahkah anak itu tahu bahwa dia dicintai oleh kita, cukupkah pengekspresian kasih kita kepadanya. Sebab jangan sampai si anak merasakan bahwa kita itu hanyalah datang untuk memukulnya, mendisiplinnya tanpa anak itu menyadari bahwa kita mengasihinya. Jadi empat pedoman itu harus kita pegang.
IR : Jadi kalau anak yang sedang kita didik untuk disiplin itu kita pukul misalnya, setelah itu perlu kita komunikasikan maksud-maksud orang tua mendisiplinkan anak dengan memukul tadi.

PG : Betul sekali. Tanpa ada pendekatan seperti itu kita itu sebetulnya membuat jurang antara kita dengan dia. Sewaktu kita memukul itu sebetulnya jurang, waktu kita dipukul oleh orang tua kitamerasa jauh darinya, nah sewaktu orang tua datang kembali kepada kita bicara dengan kita dengan baik-baik jurang itu tiba-tiba dirapatkan kembali sehingga pukulan itu jauh lebih efektif.

Sebab lain kali si anak akan jauh lebih sungkan untuk mengulang perbuatannya yang salah.
IR : Yang lebih bijaksana itu adalah kalau orang tua itu setelah memukul itu juga menyatakan maaf kalau karena telah melakukan itu.

PG : Betul, kalau memang dia merasa melewati batas dan dia perlu minta maaf silakan, minta maaf.

GS : Nah di situ peran orang tua sangat besar sekali Pak Paul di dalam menentukan jiwa anak ini. Jadi tanggung jawab kita yang dikaruniai oleh Tuhan maupun anak-anak.

PG : Saya masih ingat ada satu judul buku yang bagus sekali yaitu membentuk anak tanpa menghancurkan jiwanya.

GS : Baiklah Pak Paul terima kasih sekali bisa berbincang-bincang pada malam hari ini dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi telah kami persembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang pemberontakan anak terhadap orang tuanya bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK dengan alamat Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



5. Kekecewaan Orangtua terhadap Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T023B (File MP3 T023B)


Abstrak:

Orangtua memiliki tuntutan atau harapan yaitu menghendaki anaknya lebih baik daripada mereka atau sekurang-kurangnya sama. Waktu anak menjadi yang tidak diinginkan seringkali orangtua terluka.


Ringkasan:

Kecenderungan orangtua adalah memiliki tuntutan atau harapan, harapan kita sebetulnya adalah anak kita itu seharusnya lebih baik dari pada kita, atau sekurang-kurangnya sama dengan kita. Waktu anak kita tiba-tiba melakukan atau menjadi yang tidak kita inginkan seringkali kita terluka. Penyebab kenapa orang tua kecewa terhadap anaknya adalah sbb:

  1. Kekecewaan muncul dari konsep yang keliru tentang anak. Dalam ilmu terapi keluarga ada satu istilah yaitu self extension, perpanjangan diri, adakalanya orang tua menjadikan anak sebagai perpanjangan dirinya untuk mengkompensasi atau menambal lubang yang ada pada diri orang tuanya.
    Maksudnya adalah kita ini tidak mampu mencapai standar atau tujuan kita, kita mengharapkan anak kita yang menyambung dan akhirnya berhasil mencapai standar atau tujuan yang kita harapkan. Sewaktu anak-anak tidak mencapai perpanjangan atau mencapai tujuan yang kita dambakan kita merasa kecewa.

Dalam hal ini yang perlu dilakukan orang tua adalah? harus melihat anak kita seperti apa adanya, jadi Tuhan memberikan anak kepada kita dengan rancangan Tuhan bukan rancangan orang tua.

Anak memang titipan Tuhan dan apa yang dia bawa adalah dia bawa dari Tuhan, namun tidak berarti Tuhan mempunyai rencana yang jelek untuknya. Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuknya seperti juga untuk kita.

Cara kita mengenali kemampuan atau karuna anak:

  1. Memberikan kesempatan, yaitu memintanya untuk mencoba.

  2. Berbincang-bincang dengan si anak agar kita tahu minat si anak yang dia sungguh-sungguh senangi.

Cara mengatasi kekecewaan kita sebagai orang tua, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita (misalkan dalam hal anak mencari jodoh) adalah:

  1. Kita harus komunikasikan seperti apa adanya bahwa kita tidak setuju. Dan seharusnya kita mengkomunikasikan seturut dengan Firman Tuhan jadi bukan karena selera pribadi kita tapi memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Misalkan menikah dengan yang tidak seiman, sebab firman Tuhan jelas meminta kita menikah dengan yang seiman bukan dengan yang tidak seiman, jadi alas an itulah yang kita sajikan kepada dia.
    Kita harus telan atau menerima seandainya arahan kita tidak diterima oleh anak. Sebab anak mempunyai kehendak sendiri dan pada akhirnya semua orang tua harus menyadari bahwa anak itu terpisah dengan dirinya. Pada akhirnya kita harus sadari dia adalah seorang individu yang bebas.

  2. Kita harus mengevaluasi tuntutan dan harapan kita. Misalnya tentang konsep perpanjangan diri, perpanjangan diri sebetulnya bersumber dari kita yang belum bisa terima diri kita atau keadaan kita apa adanya. Banyak orang tua harus berdamai dengan dirinya terlebih dahulu yaitu bersedialah menerima diri sehingga tidak menjadikan anak sebagai perpanjangan diri.

Amsal 15:16,17 . "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian."

Jadi saya kira intinya adalah tuntutlah sesimpel mungkin, harapkanlah sesederhana mungkin, nah yang sederhananya itu apa? Saya kira tuntutan nomor satu adalah yang paling sederhana anak kita itu bisa kenal Tuhan Yesus hidup dalam takut akan Tuhan itu yang sederhana.

Jadi Firman Tuhan memang menegaskan lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.

Nah tuntutlah sesederhana mungkin yaitu yang lebih bersifat kehidupannya secara pribadi, karakternya, kehidupan moralnya untuk hal-hal yang lainnya kita hanya bisa giring dia, arahkan dia.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang kekecewaan orang tua terhadap anaknya. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, sebagai orang tua tentu kita punya harapan terhadap anak. Kalau kita sudah punya dua anak laki-laki dan kehamilan yang ketiga kita mengharapkan anak perempuan itu wajar saya rasa Pak Paul. Tapi kenyataannya kalau yang lahir itu laki-laki lagi, itu bisa kecewa dan ada pada etnis tertentu yang mengharapkan anak laki-laki semua lalu lahir anak perempuan sehingga dia kecewa terhadap kelahiran anaknya. Ada juga orang tua yang mengharapkan anaknya itu jadi dokter tapi ternyata dia pilih jadi seniman, orang tua itu pasti kecewa. Ada banyak kekecewaan saya rasa Pak Paul, yang terungkap maupun tidak terungkap yang bisa terjadi dan itu pasti menimbulkan ketidakharmonisan di dalam rumah tangga mereka. Sebenarnya bagaimana harus mengatasi atau mencegah kekecewaan-kekecewaan seperti itu?

PG : Saya akan mengawali dengan pengakuan, Pak Gunawan dan Ibu Ida, saya ini mengakui bahwa salah satu anggota tubuh saya yang tidak saya sukai adalah hidung, sebab sewaktu masih kecil saya ni sering diejek karena hidung saya besar.

Nah, sewaktu saya punya anak saya masih ingat sekali, saya mengharapkan hidung anak saya mancung. Saya benar-benar ingat ada perasaan dalam hati saya. Dan waktu anak saya itu lahir, anak pertama saya lahir, anggota tubuh pertama yang saya lihat adalah hidungnya. Ternyata sama dengan saya. Dan sekarang anak saya itu paling suka kesal dengan saya karena hidungnya, dia suka berkata kenapa harus sama dengan papa. Dan celakanya adalah anak-anak saya yang lain tidak begitu, jadi akhirnya dia suka berkata kenapa sih yang jelek harus dia terima dari saya. Nah saya sudah bisa menerima bagian dari diri saya ini tapi saya harus akui dalam masa-masa remaja saya, hal itu yang mengganggu saya sekali. Kembali pada tadi yang Pak Gunawan sudah bicarakan, kita sebagai orang tua memang memiliki tuntutan atau harapan, harapan kita sebetulnya adalah anak kita yang seharusnya lebih baik dari kita, atau sekurang-kurangnya sama dengan kitalah. Jadi waktu anak kita itu melakukan atau menjadi yang tidak kita inginkan, seringkali kita memang terluka. Nah, dalam ilmu terapi keluarga ada satu istilah yaitu perpanjangan diri, "self-extension", adakalanya orang tua itu menjadikan anak sebagai perpanjangan dirinya. Maksudnya adalah kita ini tidak mampu mencapai standar atau tujuan kita, kita mengharapkan anak kitalah yang menyambung dan akhirnya berhasil mencapai standar atau tujuan yang kita harapkan. Nah, adakalanya sewaktu anak-anak itu tidak mencapai perpanjangan atau mencapai tujuan yang kita dambakan kita merasa kecewa. Jadi kekecewaan bisa muncul dari konsep yang keliru tentang anak. Ada orang tua misalnya dari kecil ingin main piano terus tidak berkesempatan belajar piano, setelah dewasa tidak ada kesempatan lagi belajar piano karena sudah punya anak. Akhirnya anak-anaknya dipaksa untuk belajar piano. Nah, kalau anak itu memang kebetulan berbakat dan mempunyai talenta main piano tidak apa-apa. Tapi masalahnya kalau anak itu tidak berbakat main piano, anak itu akan mendapatkan tekanan yang luar biasa. Dalam kasus ini si anak berfungsi menjadi perpanjangan diri orang tuanya untuk mengkompensasi atau menambal lubang yang ada pada diri orang tuanya.
(2) GS : Berarti ada harapan yang sebenarnya wajar dimiliki oleh orang tua, ada harapan yang berlebihan ya Pak Paul? Sampai sejauh mana batasan-batasannya itu?

PG : Kita memang harus melihat anak kita seperti apa adanya, jadi Tuhan memberikan anak kepada kita dengan rancangan Tuhan bukan rancangan orang tua. Tanpa kita sadari kita itu memang merancng anak kita untuk menjadi seperti yang kita inginkan, tapi kita selalu harus mengingatkan diri kita bahwa si anak itu lahir ke dunia sudah membawa rancangan Tuhan untuk dirinya.

Contoh yang pernah saya dengar dalam suatu kesaksian ada seorang pemuda yang sejak kecil merasa dibandingkan dengan kakaknya. Karena kakaknya itu pemain football di Amerika. Di Amerika Serikat pemain football dikenal sebagai orang-orang yang jantan, badannya besar-besar( kebetulan si kakak begitu). Si adik tubuhnya kurus kerempeng, bukan senangnya main bola, senangnya baca buku di rumah. Si ayah senangnya main bola juga, akhirnya si ayah itu dekat dengan si kakak. Pada suatu saat, malam hari si kakak itu meninggal dunia. Si ayah begitu terpukul sekali karena kematian anaknya. Tapi masalahnya adalah dalam suatu percakapan atau pertengkaran pernah terlontar meskipun tidak secara langsung perkataan si ayah yang seolah-olah mengharapkan yang mati bukannya si kakak tapi si adik misalnya seperti itu. Nah si anak ini bertumbuh besar dengan perasaan yang sangat luka, dia merasa anak yang tidak diinginkan oleh si ayah, akhirnya dia menjadi seorang pendeta. Dan setelah dia menjadi pendeta dia tetap menyimpan luka yang dalam itu terhadap si ayah. Sampai suatu ketika si ayah sakit berat dan dia datang mengunjungi si ayah. Waktu dia mengunjungi si ayah, si ayah membuka mata, kebetulan ada seorang suster perawat di situ tiba-tiba si ayah berkata: "Suster, saya mau kenalkan engkau dengan anak saya, dia seorang pendeta." Dan si anak ini bercerita dalam kesaksiannya pertama kali dalam hidupnya dia itu mendengar suara si ayah yang bangga terhadapnya, sampai seperti itu. Jadi bertahun-tahun memang dia merasa si ayah itu tidak pernah bangga karena si anak itu tidak mencapai standar apa yang diharapkannya. Jadi si ayah gagal melihat siapa si anak itu seperti yang Tuhan sudah desain, rancang. Sebab si ayah mengharapkan anak itu seperti rancangannya, nah setiap orang tua harus menyadari apa yang dibawa oleh si anak tatkala dia hadir dalam dunia ini dan kita harus mendidiknya, membentuknya sesuai dengan bawaannya itu, sebab bawaannya itu adalah titipan dari Tuhan. Dia senang musik, dia senang apakah itu adalah bawaan dari Tuhan, ke sanalah kita akan kembangkan dia, bukan sesuai dengan rancangan kita.
GS : Berarti setiap orang tua itu diharapkan sudah siap mental sebelum anak itu lahir ke dunia. Tapi tetap masih boleh punya harapan-harapan, Pak Paul?

PG : Tetap boleh asalkan memang bisa dicapai oleh si anak. Nah, saya kira kita sekarang sedang membicarakan hal yang spesifik, bukan hal yang umum seperti kita mengharapkan anak kita baik, tdak nakal, itu harapan umum.

Tapi yang secara spesifik memang kita biasanya mempunyai harapan tersembunyi. Ibu Ida bagaimana sebagai orang tua?
IR : Jadi harus belajar menerima anak apa adanya, dan mengarahkan sesuai dengan bakat dia.

PG : Betul. Kita kadang-kadang susah menerima anak itu kalau anak itu mencerminkan kelemahan kita. Tadi dalam kasus yang berkenaan dengan diri saya sendiri, saya menganggap kelemahan secara isik adalah hidung saya.

Justru saya ingin supaya anak-anak saya tidak ada yang seperti saya. Ternyata ada yang seperti saya, kenapa saya tidak mau? Sebetulnya bukan supaya anak itu tidak menderita, salah satu motivasi saya adalah supaya tidak ada lagi yang lemah dalam keluarga saya, tidak ada lagi yang harus merasa malu dengan anggota tubuhnya itu. Jadi adakalanya kita ini kecewa dengan anak karena anak kita itu seolah-olah menyingkapkan kelemahan kita kepada dunia luar, itu yang tidak kita inginkan.
GS : Tapi apakah kekecewaan seperti itu bisa berkembang lagi dengan menyalahkan, karena itu ciptaan Tuhan?

PG : Bisa kalau kita memang memiliki konsep yang salah tentang Tuhan. Sebab anak itu memang titipan Tuhan dan apa yang dia bawa adalah dari Tuhan, namun tidak berarti Tuhan mempunyai rencanayang tidak baik untuknya.

Meskipun kita melihat tidak seperti yang kita inginkan, belum tentu itu tidak baik baginya. Sebab kita harus selalu ingat bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuknya, seperti juga untuk kita. Jadi Tuhan adalah Tuhannya pula, Tuhan Yesus bukan hanya Tuhan kita tapi Tuhan anak kita pula.
GS : Memang kalau secara fisik itu, kita tidak bisa merubah atau mungkin kalau mau dipaksakan bisa dengan operasi plastik dan sebagainya, tetapi itu terlalu jauh. Ada hal-hal yang sebenarnya itu bisa kita ubah Pak Paul, misalnya dalam hal anak memilih hobynya atau jurusan pendidikannya, sebenarnya sampai sejauh mana orang tua itu boleh mengintervensi anak?

PG : Kita harus mengenali kemampuan si anak, karunia si anak itu dengan cara apa. Dengan cara memberikan kesempatan. Salah satu cara untuk mengetahui anak itu mempunyai karunia atau tidak unuk bidang tertentu adalah dengan memintanya untuk mencoba.

Tidak apa-apa, misalkan kita ini belum tahu anak kita berbakat musik atau tidak, silakan ajarkan dia musik. Dalam perkembangannya kita lihat apakah dia memang bisa atau tidak, kalau memang tidak bisa dan tidak berminat kita relakan. Terus kita coba lagi untuk hal yang lain, misalnya olah raga kita minta dia untuk ikut lagi jadi kita harus mencoba dan uji coba, ini berlangsung bukan hanya seminggu atau dua minggu bisa bertahun-tahun.
GS : Jadi di sana dibutuhkan pengamatan orang tua terhadap anak?

PG : Betul, pengamatan sekaligus juga pendengaran yang baik yaitu berbincang-bincang dengan si anak agar kita tahu minat si anak apa yang dia sungguh-sungguh senangi begitu.

GS : Masalahnya kalau kita sudah punya konsep, walaupun itu salah, Pak Paul, kita cenderung untuk memaksakan itu kepada si anak. Konsep saya adalah anak saya itu menjadi pemain piano misalnya tadi yang Pak Paul katakan, dengan berbagai cara saya akan paksakan dia untuk jadi pemain piano.

PG : Kalau dia tidak mempunyai bakat ya kasihan si anak, kalau si anak itu memang punya bakat tidak apa-apa. Saya masih ingat saya pernah punya teman yang memang sekarang menjadi dokter, ters saya bertemu dengan ibunya.

Ibunya berkata, ibunya seorang suster/perawat, anak saya memang sudah saya didik untuk menjadi dokter. Si ibu itu benar-benar mendorong si anak untuk mencapai gelar dokter. Tapi anak itu memang pandai dan dia mampu, ibunya pun perawat jadi memang rupanya ada bakat ke arah itu. Kalau anak itu tidak berbakat kasihan sekali, dampak-dampaknya adalah si anak merasa tertolak lagi di situ.
IR : Jadi bagi setiap orang tua harus rela kalau memang itu tidak sesuai dengan kemampuan anak, kita harus dengan besar hati menerima apa yang diinginkan anak ya, Pak Paul?

PG : Ya, seringkali memang harus ada keseimbangan juga ya Bu Ida, misalkan dia ingin mengambil suatu bidang yang kita tahu sulit untuk dia kembangkan dan sulit untuk dia gantungkan sebagai mta pencahariannya.

Adakalanya memang kita harus berpikir praktis pula, tidak bisa terlalu idealis. Nah yang bisa kita lakukan adalah bukannya melarang dia memasuki bidang tersebut, tapi kita bisa mendorong dia untuk misalnya mengembangkan keterampilan yang mungkin dia juga sukai, meskipun tidaklah sebesar bidang yang pertama itu. Jadi kesukaannya pada bidang yang kedua sedikit lebih rendah tapi tidak apa-apa, yang penting adalah kita tidak melarangnya memasuki bidang tersebut. Namun kita minta dia untuk juga mengembangkan bidang yang lainnya, yang lebih praktis maksud saya sehingga akhirnya dia bisa mendapatkan juga mata pencaharian itu.
GS : Tetapi kalau hal yang agak lebih serius, kita bicara tentang anak-anak kita yang sudah mulai menjadi dewasa dalam hal mereka berpacaran kita pun sebagai orang tua punya idealisme tertentu, saya mengharapkan menantu saya itu seperti ini. Ternyata yang dipilih itu berbeda dengan apa yang kita harapkan, mungkin berbeda agama, suku, tingkat sosial yang kita harapkan. Sampai sejauh mana yang kita bisa ungkapkan kepada anak kita?

PG : Idealnya adalah kita mulai memberitahukan anak apa itu yang menjadi suami atau istri yang baik, ciri-ciri apa yang baik. Kita sudah melakukan itu sejak anak kecil, sebetulnya kita sudahmulai berkomunikasi dengan dia, suami yang baik seperti apa, istri yang baik seperti apa.

Informasi ini akhirnya akan mulai tertanam pada diri si anak dan pada waktu nanti dia mencari pasangan hidup, tanpa dia sadari informasi ini menjadi seperti panduan, pedoman baginya yang akan mengarahkannya untuk mendapatkan seperti yang kita inginkan. Kalau dia menemukan yang sama seperti yang kita inginkan sebetulnya dia akan senang karena dia tahu ini akan menyenangkan hati orang tuanya. Kalau dia kebetulan jatuh cinta dengan yang tidak disetujui orang tua dan dia tahu orang tua pasti menolak, sebetulnya dalam diri dia sendiri ada konflik itu. Nah kadang kala kita berpikir anak itu sengaja mendapatkan pasangan yang tidak kita kehendaki, tapi sebetulnya hampir semua kasus yang saya kenal, yang saya ketahui, mereka tidak sengaja memilih orang seperti itu, kebetulan saja jatuh cinta dengan orang seperti itu. Jadi memang cara untuk mengaturnya, membimbing dia itu perlu sekali penanganan yang khusus dan kelembutan. Betul sekali kata Pak Gunawan, kita akhirnya memang bisa kecewa dengan pilihan anak kita, saya hampir percaya bahwa pada umumnya orang tua itu pada awalnya kecewa dengan pilihan anaknya. Saya hampir percaya itulah yang terjadi.
GS : Kenapa bisa terjadi seperti itu, Pak Paul?
IR : Justru memilih orang yang tidak sesuai dengan selera.

PG : Pertama, kita cenderung mengukur orang dengan diri kita. Kedua, kita cenderung menginginkan anak kita lebih bahagia daripada kita, jadi kita cenderung menginginkan anak kita memilih pasngan hidup yang lebih baik daripada kita dan hidupnya nanti akan lebih baik daripada hidup kita sekarang ini.

(3) GS : Lalu mengatasi kekecewaan itu bagaimana Pak Paul, kalau kenyataannya tidak sesuai dengan harapan kita misalnya tidak seiman, banyak hal yang tidak sesuai?

PG : Saya kira kita harus mengkomunikasikan seperti apa adanya bahwa kita tidak setuju karena hal-hal ini. Nah sebaiknya dan seharusnyalah yang kita komunikasikan itu seturut dengan Firman Than, jadi bukan karena selera pribadi kita, tapi memang sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Misalnya menikah dengan yang tidak seiman sebab Firman Tuhan jelas meminta kita menikah dengan yang seiman, bukan dengan yang tidak seiman. Jadi alasan itulah yang kita sajikan kepada dia, waktu kita mulai menyajikan alasan-alasan yang di luar Alkitab tapi memang mengandung kebenaran kita mesti berhati-hati. Misalkan anak yang ingin menikah dengan seorang wanita yang sakit-sakitan, si orang tua tahu bahwa nanti si anak akan menderita menikah dengan wanita ini karena tubuhnya yang lemah. Terus kita katakan kamu jangan menikah dengan dia nanti kamu akan menderita. Nah si anak yang dalam usia muda dan sedang jatuh cinta tidak bisa mengerti perkataan kita. Saya kira reaksi yang pertama kali muncul dari bibirnya adalah "Papa-Mama kok begitu sebagai orang Kristen, bukankah Papa-Mama mengajarkan kepada saya harus mengasihi orang yang lemah. Nah sekarang ini orang lemah kenapa saya tidak boleh mengasihi dia?" Nah, memang dalam kondisi yang idealis seperti itu anak tidak mungkin mengerti yang kita katakan. Jadi cara kita mengkomunikasikan konsekuensi pernikahannya jangan dalam bentuk larangan seperti itu, karena sudah pasti mengundang reaksi yang keras dari dirinya. Yang bisa kita lakukan adalah, dalam percakapan sekali sekali kita bisa berkata kepada dia, "Anakku saya harap kamu akan siap," "Siap apa, Pa, siap apa, Ma?" "Siap untuk kamu berkorban, itu yang saya minta. Saya tahu kamu mencintai dia dan kamu mau menikahi dia silakan, dia anak yang baik, tapi memang tubuhnya lemah. Nah akan banyak hal yang nanti kamu ingin lakukan tidak bisa kamu lakukan karena istrimu lemah, kamu harus siap berkorban." Hal seperti itu, dengan cara-cara seperti itulah si anak dibuat berpikir, jadi bukannya dia menerima serangan dari orang tua justru orang tua seolah-olah mencerahkan pikirannya sehingga lebih terbuka wawasannya, itu lebih efektif.
GS : Itu berarti bahwa kekecewaan itu tidak perlu kita sembunyikan tapi kita komunikasikan dengan anak-anak kita itu. Kalau kita punya harapan seperti ini tetapi yang dia lakukan seperti itu Pak Paul, sambil memberikan arahan lagi. Tetapi kalau arahan itu ditolak, kekecewaan kita makin bertambah.

PG : Dan kita harus terima itu, sebab anak itu yang mempunyai kehendak sendiri dan pada akhirnya semua orang tua menyadari bahwa anak itu terpisah dari dirinya. Kita cenderung berpikir bahwaanak itu tetap terikat dengan kita dan masih bersambungan dengan kita.

Tapi pada akhirnya kita harus sadari dia adalah seorang individu yang bebas.
GS : Atau mungkin kita perlu mengevaluasi lagi apakah harapan kita itu memang realistis ya Pak Paul, apakah yang kita harapkan itu sesuatu yang realistis kadang-kadang harapan kita itu 'kan tidak realistis. Sehingga sekalipun dikomunikasikan, dinasihati tetap ditolak karena memang bukan salah yang menolak tapi salah yang menuntut. Jadi di dalam mengatasi kekecewaan ini Pak Paul, selain tadi kita bisa komunikasikan dsb, apakah ada langkah lain yang bisa kita ambil?

PG : Saya kira langkah yang pertama adalah kita harus mengevaluasi tuntutan dan harapan kita. Tadi saya sudah singgung tentang konsep perpanjangan diri, perpanjangan diri sebetulnya bersumbe dari satu hal, Pak Gunawan dan Ibu Ida, yaitu kita belum bisa menerima diri kita atau keadaan kita apa adanya.

Sebabnya adalah kalau kita sudah menerima apa adanya diri kita, kita tidak merasa perlu untuk membuat anak itu sebagai perpanjangan diri kita. Untuk meraih tujuan yang kita dambakan, tidak perlu lagi jadi saya kira banyak orang tua yang harus berdamai dengan dirinya terlebih dahulu yaitu bersedialah menerima diri sehingga tidak menjadikan anak sebagai perpanjangan diri atau ada yang pakai istilah anak itu adalah untuk meningkatkan kehidupan kita atau nama baik kita, meninggikan reputasi kita dsb. Kalau kita sendiri sudah bisa terima apa adanya, anak akan bertumbuh dengan bebas, tidak dibebani lagi misi untuk mengangkat harkat atau nama baik orang tuanya. Anak tidak berkewajiban mengangkat harkat orang tuanya, orang tua wajib mengangkat nama baik kita sendiri.
IR : Tapi orang tua juga menuntut anak melakukan kebenaran Firman Pak yang seringkali justru ditolak, bagaimana itu Pak Paul? Boleh kalau orang tua itu menuntut anak berbalik pada Tuhan. Jadi kalau memutuskan sesuatu itu yang sesuai dengan Firman Tuhan, apakah itu salah?

PG : Tidak itu betul, jadi Firman Tuhan di kitab Ulangan yang meminta kita untuk mengajarkan ketetapan Tuhan pada waktu kita tidur, bangun, berjalan, duduk yang semuanya mengandung satu artiyaitu kapan saja, di mana saja coba ajarkanlah tentang Firman Tuhan, jadi silakan.

Namun yang penting juga Bu Ida bagaimana kita menyampaikannya, sebab pada anak-anak yang sudah remaja atau menginjak usia dewasa, instruksi-instruksi tidak bisa efektif lagi, anak itu tidak lagi tanggap terhadap perintah-perintah orang tua. Jadi yang lebih cocok sistem bimbingan, kita minta dia ingat Tuhan, kita ingatkan dia untuk berdoa, membaca Firman Tuhan, kita ceritakan pengalaman kita dengan Tuhan, terus kita juga sampaikan kepada dia bahwa kita mendoakan dia setiap hari. Nah hal-hal itulah yang bisa kita lakukan, tetapi kalau kita perintahkan biasanya ditolak.
GS : Jadi mengenai kekecewaan Pak Paul, semua orang tua itu pada dasarnya mengharapkan anak itu menjadi anak yang baik dan seterusnya, tetapi tidak semua harapan itu bisa tercapai baik untuk kita, belum tentu baik untuk anak itu. Nah apakah ada pedoman Firman Tuhan yang bisa menguatkan kita sebagai orang tua di dalam membinanya?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 15:16-17 . "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayu dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian."

Jadi saya kira intinya adalah tuntutlah sesimpel mungkin, harapkanlah sesederhana mungkin, nah yang sederhananya itu apa? Saya kira tuntutan nomor satu adalah yang paling sederhana anak kita itu bisa kenal Tuhan Yesus, hidup dan takut akan Tuhan. Jadi Firman Tuhan memang menegaskan lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta dengan disertai kecemasan. Tuntutlah sesederhana mungkin yaitu yang lebih bersifat kehidupan secara pribadi, karakternya, kehidupan moralnya Untuk hal-hal yang lainnya kita hanya bisa menggiring, mengarahkan dia. Dia mau capai kita senang, dia tidak mencapai kita coba mencarikan jalan yang lain bagi dia. Saya kira orang tua semakin anak besar semakin harus melepaskan genggamannya, kalau tidak dia akan kecewa berat.

GS : Supaya dia pun terbentuk sesuai apa yang Tuhan inginkan dan tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan suasana atau kondisi yang memungkinkan anak itu bertumbuh. Sekalipun itu tidak sesuai dengan harapan-harapan kita sendiri ya Pak Paul. Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kasihi kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang kekecewaan dan harapan orang tua terhadap anak bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK dengan alamat Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk surat-surat yang sudah dikirimkan kepada kami, namun saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



6. Peran Orangtua Menghadapi Anak Berpacaran


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T024A (File MP3 T024A)


Abstrak:

Materi ini mengarahkan orangtua untuk menyampaikan pesan-pesan moral secara positif jauh sebelum anak masuk dalam jenjang berpacaran. Juga membahas bagaimana sikap orangtua ketika mengetahui anak berpacaran dengan yang tidak seiman.


Ringkasan:

Yang membedakan berpacaran dengan berteman akrab adalah:
Perbedaan utamanya adalah ketertarikan secara romantis dan emosional. Persahabatan biasanya diikat oleh rasa kebutuhan, kebutuhan emosional yang dipenuhi oleh seorang sahabat. Sedangkan berpacaran mengandung unsur suatu ketertarikan secara romantis.

Teman juga memberikan pengaruh dalam kehidupan remaja, apalagi kalau mereka mulai berteman secara eksklusif. Misalkan pada usia 15 tahun, mayoritas teman-teman belum berpacaran, biasanya anak-anak remaja mulai berpacaran secara eksklusif pada usia 16 tahun ke atas. Waktu umur 15, 14 mulai mengembangkan persahabatan yang eksklusif dengan lawan jenis, dia juga malu untuk membuka fakta itu di hadapan teman-temannya. Jadi kecenderungan anak remaja juga menyembunyikan fakta tersebut, karena malu di hadapan teman-teman dianggap terlalu dini berpacaran dan sebagainya.

Yang perlu dilakukan orangtua kalau mengetahui anaknya sudah mulai berpacaran:

  1. Jauh sebelum anak kita berpacaran, kita seharusnya sudah mulai berbicara pada dia tentang calon pacarnya, tentang suami atau istri yang baik. Sehingga anak kita mempunyai kerangka atau standar atau tolok ukur sewaktu dia akhirnya mulai dekat dengan seorang pria, tanpa disadarinya prinsip-prinsip atau kriteria yang kita berikan itu melekat padanya dan menjadi panduan yang dia akan gunakan.

Ada kecenderungan anak justru tertarik kepada yang tidak seiman, sebetulnya dipengaruhi oleh kematangan iman, kematangan usia dan jiwa anak. Artinya ada anak-anak yang usia 11-12 tahun, 13 tahun yang memiliki kematangan rohani. Tapi pada umumnya kalau kita lihat secara umum, kebanyakan kita ini mulai memikirkan dengan serius akan iman, akan Tuhan pada umumnya sekitar usia 17, 18 tahun ke atas. Artinya pada usia sebelumnya hal-hal rohani itu kurang menempati posisi yang penting di dalam kehidupannya, dan pada umumnya pintu pertama yang menjadi penghubungnya antara kita dengan yang kita sukai adalah ketertarikan fisik. Soal kedua kecocokan kepribadiannya, sifat-sifatnya.

Melalui hal ini kita bisa tarik kesimpulan bahwa sewaktu anak menjalin hubungan dengan lawan jenisnya yang kebetulan tidak seiman itu dilakukannya tidak dengan sengaja, bukannya dia sengaja mencari yang tidak seiman tapi karena prosesnyalah memang begitu. Dari situ baru mulai memusingkan faktor-faktor lainnya, sifat-sifatnya, kebaikan hatinya, kecocokannya dan nanti yang terakhir yang dia akan pikirkan barulah kesamaan iman. Orang tua yang mengetahui anaknya pacaran dengan yang tidak seiman, reaksi pertamanya adalah panik dan kita takut itu akan membawa kerugian bagi si anak.

Yang perlu orang tua lakukan adalah pertama, berdialog dengan dia, larangan yang keras kurang begitu efektif. Salah satunya kita bisa membacakan satu ayat yang ditulis oleh Amsal 19:14 , "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Kita dapat bertanya: "Dapatkah engkau mempertanggungjawabkan keputusanmu ini dan berkata bahwa dia adalah pemberian Tuhan." Sebab sebagai orang Kristen kita harus berkata bahwa pasangan hidup kita itu adalah pemberian Tuhan, pemberian Tuhan berarti sesuai dengan kehendak Tuhan. Firman Tuhan meminta kita menikah dengan yang seiman, kita tidak diizinkan untuk menikah dengan yang tidak seiman.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang berpacaran, kami percaya bahwa topik ini sudah sering Anda dengar dan dibahas namun kami akan berusaha pada kesempatan perbincangan ini juga akan menyuguhkan sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat bagi Anda sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, tentu sebuah proses pernikahan itu diawali dengan berpacaran. Kita pernah mengalami dan mungkin kita sekarang menghadapi anak-anak kita mulai terlibat dalam proses berpacaran. Sebenarnya yang membedakan antara berpacaran dan berteman akrab itu selain hanya perbedaan jenis kelamin, apakah ada hal-hal lain yang sifatnya lebih spesifik, Pak Paul?

PG : Ada Pak Gunawan, jadi yang menjadi perbedaan utama adalah ketertarikan secara romantis dan emosional. Persahabatan biasanya diikat oleh rasa kebutuhan emosional yang dipenuhi oleh seorang ahabat.

Sedangkan berpacaran mengandung unsur suatu ketertarikan secara romantis, Pak Gunawan.
GS : Ya itu saya ajukan karena begini, Pak Paul, sering kali kalau anak-anak itu ditanyakan, "Kamu pacaran dengan itu ya?" Dia cuma menjawab: "Tidak, kami cuma berteman saja!" Kalau berteman biasanya kita biarkan saja, tapi kalau berpacaran kita harus memperhatikan lebih serius hubungan mereka.

PG : Kecenderungannya memang anak-anak remaja pada awal-awalnya tidak berterus-terang bahwa dia memiliki ketertarikan secara romantis terhadap teman lawan jenisnya. Jadi yang biasa dia ungkapka adalah "Kami hanya berteman", tujuannya adalah untuk menghindari larangan dari orang tua, Pak Gunawan, jadi orang tua itu cenderungnya tidak memberikan izin kepada anak remajanya untuk berpacaran.

Oleh karena itulah mereka tidak menyebutnya itu pacar, hanya teman saja. Tapi sebetulnya dalam hati si anak remaja itu mengakui bahwa ada rasa ketertarikan secara romantis.
GS : Apakah kalau mereka sering pergi berduaan dan mengambil kesempatan-kesempatan hanya berdua saja, kemudian kita bisa mengatakan mereka sedang berpacaran?

PG : Kemungkinan kalau dengan lawan jenis dan sudah mulai bepergian berdua, saya kira sudah menjurus ke situ. Sebab dalam persahabatan sering kali tidak kita lakukan, biasanya kita bersahabat iu berdua, bertiga apalagi pada anak-anak remaja jarang sekali yang eksklusif hanya berdua dengan lawan jenis.

Jadi kalau mulai berdua dengan lawan jenis mungkin juga mereka pada awalnya mengatasnamakan itu persahabatan, namun dalam hati saya menduga meskipun mereka belum tentu mau mengakuinya mereka sudah memiliki ketertarikan yang romantis, tapi karena untuk penjajakan pada tahap awal masing-masing tidak mau mengungkapkan perasaan sebetulnya. Jadi mereka hanya bepergian dan berpikir ini adalah persahabatan, tapi biasanya setelah melewati satu jangka waktu tertentu mereka makin menyadari betapa bergantungnya mereka pada satu sama lain, betapa butuhnya kehadiran pasangannya itu. Jadi akhirnya mungkin salah satu akan mengungkapkan isi hatinya dan resmilah mereka menjadi pacaran.
IR : Seringkali yang kita dengar dari anak-anak bilang saya tidak ada apa-apa, tapi dari pergaulan yang selalu berduaan itu sudah menjurus ke pacaran ya Pak Paul?

PG : Betul, jadi kita bisa bedakannya dari segi berapa eksklusifnya persahabatan itu, sebab kalau dengan lawan jenis dan usianya tidak jauh berbeda dan eksklusif kemungkinan besar itu adalah bepacaran.

GS : Mungkin juga mereka khawatir disebut gonta-ganti pacar kalau mereka disebut berpacaran karena itu mereka katakan berteman. Kalau berteman mau gonta-ganti tidak apa-apa.

PG : Betul sekali, sebab ada pengaruh juga tekanan dari teman-teman apalagi kalau mereka mulai berteman secara eksklusif itu pada usia yang relatif muda. Misalkan pada usia 15 tahun mayoritas eman-temannya belum berpacaran.

Biasanya anak-anak remaja mulai berpacaran secara eksklusif itu pada usia 16 tahun ke atas. Nah waktu dia umur 15 tahun, 14 tahun mulai mengembangkan persahabatan yang eksklusif dengan lawan jenis, dia juga merasa malu untuk membuka fakta itu di hadapan teman-temannya. Jadi ada kecenderungan anak remaja juga menyembunyikan fakta tersebut, karena malu juga di hadapan teman-teman dianggap terlalu dini berpacaran dan sebagainya.
(2) GS : Nah kalau seandainya kita tahu memang anak ini /anak kita itu sudah mulai menjurus ke berpacaran, Pak Paul, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua?

PG : Nomor satu adalah jauh sebelum anak kita mulai berpacaran, kita seharusnya sudah mulai berbicara kepada dia tentang calon pacarnya, tentang suami atau istri yang baik. Jadi itulah yang hars kita tekankan jauh sebelum dia itu akhirnya berpacaran.

Misalkan kita mulai berbicara tentang hal-hal seperti ini secara rileks, santai itu kira-kira pada waktu anak usia sekitar 9, 10 tahun. Nah ini tidak harus dilakukan secara terencana dan sistematik tapi kita bisa lakukan serileks mungkin, namun juga mengandung pesan moral yang jelas. Misalkan belum lama ini saya berdua dengan salah satu putri saya dan saya berkata kepada dia: "Nanti saya mengharapkan kamu akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari saya." Dia seperti terkejut mendengar perkataan tersebut, "Lebih baik dari Papa?" Saya bilang: "Ya"; "Maksudnya?" "Ya kamu akan menemukan orang yang lebih baik dari saya, jangan mengira bahwa sayalah orang yang terbaik! Akan ada pria yang lebih baik daripada saya. Terus saya bilang: "Saya hanya minta kamu memilih seseorang yang sangat mencintai Tuhan Yesus dan sangat mencintai kamu dengan sepenuh hati." Itu saya ucapkan kepada dia secara sepintas waktu kami sedang berduaan, berbincang-bincang. Hal-hal inilah yang kita perlu mulai sampaikan kepadanya, sehingga dia mempunyai kerangka atau standar atau tolak ukur sewaktu dia akhirnya mulai dekat dengan seorang pria tanpa disadarinya prinsip-prinsip tersebut atau kriteria tersebut sudah melekat padanya dan menjadi panduan yang dia akan gunakan. Nah itu yang pertama yang seharusnya kita lakukan jadi jauh sebelum anak remaja kita mencapai usia berpacaran kita sudah mulai harus berbicara. Nah sebaiknya pembicaraan kita itu juga tidak bernada instruksi, larangan, keharusan atau menggurui, jangan sampai kita menggunakan kata-kata: "Kamu tidak boleh menikah dengan ini, kamu harus begini dan sebagainya." Nah itu larangan-larangan bagi saya bisa efektif namun dampaknya bagi saya kurang begitu konstruktif, karena anak itu cenderung tidak begitu tanggap terhadap larangan-larangan. Justru bisa-bisa anak itu merasa ingin tahu mengapa tidak boleh berpacaran dengan orang yang dilarang oleh orang tuanya. Akhirnya melakukannya, jadi sampaikanlah pesan-pesan moral kita itu secara positif bukannya secara negatifnya. Itu saya kira langkah awalnya, Pak Gunawan.
GS : Tapi apakah mereka tidak canggung, Pak Paul, untuk diajak bicara seperti itu. Kalau umur 9 atau 10 tahun tanggapannya tidak serius kadang-kadang.

PG : Memang ada kecenderungan anak tidak akan menunjukkan sikap bahwa dia itu sungguh-sungguh memperhatikan karena ada rasa malu. Jadi ada kecenderungan dia akan menganggap itu sepertinya tidakserius, tapi sebetulnya dalam hatinya dia akan dengarkan dengan serius.

Sebagai contoh lagi saya juga berduaan dengan salah satu anak saya dan saya berkata kepada dia: "Waktu saya masih kecil saya berkata, saya ini menyukai seorang wanita, tahu tidak umur saya berapa saat itu?" Dia sepertinya tidak menghiraukan saya, sepertinya lagi berkonsentrasi dengan hal yang lain tapi terus dia jawab dia tanya saya, "Berapa umur papa?" Saya bilang: "Saya kira-kira umur 9 tahun, 10 tahun saat itu, saya menyukai sekali gadis itu. Saya bilang : "Ya, tapi akhirnya setelah saya besar ya udah, saya tidak menyukai dia lagi dan saya tidak menikahi dia, sebab saya sekarang menikah dengan mama kamu," dia diam aja. Terus saya sambung, saya bilang "Ya itulah yang terjadi pada kita, adakalanya kita menyukai seseorang." Sesudah itu saya diam, saya tidak sambung lagi, tidak tanya-tanya juga tidak korek-korek dari dia. Tujuannya adalah saya mau memberitahu dia bahwa natural, alamiah bagi dia untuk suatu hari kelak menyukai seseorang yang berlawanan jenis dan tidak perlu dia merasa malu. Saya bertujuan mengambil inisiatif mengungkit, memunculkan hal ini agar dia akhirnya mempunyai keberanian untuk bercerita kepada saya, itu tujuannya.
GS : Di situ, Pak Paul, tidak membedakan misalnya ayah harus bicara dengan anak putra, atau ibu dengan anak putri, apakah tidak ada pengaruhnya?

PG : Tidak, dua-duanya sebenarnya boleh saja tapi sebaiknya memang dua-dua, jangan hanya satu sebab ada kecenderungan ayah akan berkata : "Ini tugas ibu." Saya kira justru tidak, ini ugas dua-duanya.

IR : Kalau kadang-kadang orang tua sudah menanamkan seperti yang dikatakan, Pak Paul, tadi tapi kadang-kadang sesudah anak ini menginjak dewasa, sudah waktu pacaran yang saya sering ketahui itu, mereka justru tertarik pada orang-orang yang dikatakan tidak seiman. Kalau ditanya kenapa kamu justru tertarik dengan yang tidak seiman. Mereka menjawab karena yang seiman itu kadang-kadang kurang cantik. Bagaimana kalau menurut, Pak Paul?

PG : Sebetulnya yang harus kita akui adalah kematangan iman kita yang sering kali memang dipengaruhi oleh kematangan usia dan jiwa kita, maksud saya begini, ada memang anak-anak remaja yang usi 11-12 tahun, 13 tahun yang memiliki kematangan rohani.

Tapi pada umumnya kalau kita lihat secara umum, kebanyakan kita ini mulai memikirkan dengan serius akan iman kita, Tuhan itu pada umumnya sekitar usia 17 tahun, 18 tahun ke atas, bukan di bawahnya. Dan saya kira ini cukup alamiah jadi jangan kita ini merasa anak kita kurang rahani, sebab ada tahapannya. Biasanya memang setelah usia 17 tahun, 18 tahun anak-anak itu baru mulai memikirkan dengan lebih serius tentang hal-hal yang rohani. Artinya apa? Artinya adalah pada usia sebelumnya hal-hal rohani itu kurang menempati posisi yang penting di dalam kehidupannya, kecenderungannya adalah dia ikut dengan kita ke gereja karena kewajiban. Pada masa dia belum memiliki kematangan rohani ini dan di mana hal-hal yang rohani itu penting baginya mungkin saja dia tertarik dengan lawan jenisnya. Nah harus kita akui bahwa pada umumnya pintu pertama yang menjadi penghubung antara kita dengan yang kita sukai adalah ketertarikan fisik Bu Ida, kita harus akui itulah yang seringkali menjadi daya tarik pertama. Seringkali adalah syukur-syukurlah kalau dia juga sesama iman terutama orang percaya, tapi seringkali unsur percaya atau tidak itu soal kedua sama juga dengan unsur misalnya kecocokan kepribadian, sifat-sifatnya. Seringkali pada anak-anak remaja itu bukan faktor yang penting, jadi ketertarikan mereka lebih didasari atas ketertarikan fisik. Nah dari pengertian ini kita bisa belajar atau menyimpulkan satu hal ya Bu Ida, bahwa sewaktu anak kita itu menjalin hubungan dengan lawan jenisnya yang kebetulan tidak seiman. Bukannya dia sengaja mencari yang tidak seiman tapi karena memang prosesnyalah seperti itu, rasa ketertarikan karena menyukai penampilan fisiknya. Dari situ baru dia akan mulai memusingkan faktor-faktor lainnya, sifat-sifatnya, kebaikan hatinya, kecocokannya dan nanti yang terakhir yang dia akan pikirkan barulah kesamaan imannya. Sehingga sering terjadi anak-anak remaja yang kita didik dari kecil di dalam Tuhan akhirnya berpacaran dengan yang tidak seiman.
GS : Kalau kita sudah tahu yang tadi Pak Paul katakan tanda-tandanya cukup jelas bahwa mereka sedang berpacaran dengan yang tidak seiman, padahal sejak dini kita sudah menanamkan norma-norma itu. Nah apa yang harus kita lakukan karena sering kali kita itu panik mengapa pacaran dengan orang yang tidak seiman atau tidak sesuku atau yang lain-lain yang tidak sesuai dengan kita?

PG : Ya itu reaksi yang umum, Pak Gunawan, kita merasa panik karena (GS : Tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan). Dan kita takut ini menjadi kerugian pada si anak. Nomor satu adalah kita mncoba untuk berdialog dengan dia, makin hari makin saya menyadari bahwa larangan yang keras kurang begitu efektif, justru anak-anak itu kalau kita larang dengan keras berbalik malah membela pacarnya dan merasa bahwa kita itu tidak adil.

Nah jadi yang saya akan lakukan adalah saya akan mengembalikan tanggung jawab ini pada pundaknya dan saya akan mendorongnya untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu di hadapan Tuhan, ini penting sekali kita lakukan. Kecenderungan kita adalah kita ini memaksakan si anak supaya si anak menuruti permintaan kita. Anak remaja sedang berada pada tahap pemberontakan, sering kali anak remaja itu melakukan hal yang justru tidak disukai oleh orang tuanya. Nah waktu kita lebih menekankan "Mama tidak setuju, papa tidak setuju kamu menikah dengan dia karena dia bukanlah seorang yang percaya dan sebagainya." Ada kecenderungan si anak ini tidak mendengarkan kita, jadi cara yang saya anjurkan adalah kita beritahu si anak, "Anakku ini adalah keputusanmu, pada akhirnya yang menikah adalah engkau tapi hendaknya kamu yakin satu hal, dapatkah engkau mempertanggungjawabkan pilihanmu di hadapan Tuhan?" Jadi kita memaksa dia atau menggiring dia kembali berhadapan dengan Tuhan bahwa dia harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu di hadapan Tuhan. Misalkan kita bisa membacakan satu ayat yang ditulis oleh Amsal 19:14 , "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Nah saya akan tanya kepada dia, "Dapatkah engkau mempertanggungjawabkan keputusanmu ini dan berkata bahwa dia adalah pemberian Tuhan." Sebab sebagai seorang Kristen kita harus berkata bahwa pasangan hidup kita itu adalah pemberian Tuhan. Pemberian Tuhan berarti yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tahu bahwa firman Tuhan meminta kita menikah dengan yang seiman, kita tidak diizinkan untuk menikah dengan yang tidak seiman, tapi sekali lagi kita tidak menekankan pada kehendak kitanya tapi kita menekankan pada engkau sekarang bertanggung jawab secara langsung kepada Tuhan. Jadi itulah yang kita harus lebih tekankan sehingga dia tidak melawan kita, jadi kalau dia mau melawan dia tahu dia melawan Tuhannya sendiri.
GS : Itu 'kan menambah beban buat dia itu sebenarnya ya Pak Paul, dia 'kan sedang dalam kebingungannya. Dia tahu sebenarnya bahwa ini tidak boleh, karena sejak dini sudah ditanamkan norma-norma itu tapi kenyataannya yang tadi Pak Paul katakan dia tertarik secara fisik dengan orang yang tidak seiman. Sekarang kita kembalikan kepada dia, kamu pergumulkan sendiri dengan Tuhan, cari kehendak Tuhan. Tetapi itu saya rasa makin memberatkan dia, Pak Paul?

PG : Dan ada baiknya, memberatkan dia dalam pengertian agar dia sekarang mulai memikul tanggung jawab itu. Sebab kita harus berhati-hati jangan sampai masalah ini menjadi konflik antara dia denan kita, dia melawan kehendak kita.

Yang kita mau beritahukan kepada dia adalah "Engkau sudah melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan, nah apa keputusanmu?" Itu fakta yang harus kita berikan kepada dia. Namun setelah itu kita juga mau berdialog dengan dia misalkan sekali waktu kita tanya kita bisa berkata: "Engkau tertarik kepada dia sebab pasti ada hal-hal yang baik tentang dia yang kau sukai, boleh saya tahu apa saja yang kau sukai tentang dia?" Dengan cara itu kita ini memberikan kesan kepada anak kita bahwa kita juga tertarik atau kita ini merasa berkepentingan mendengarkan sisi dia. Sebab adakalanya si anak merasa orang tua belum apa-apa sudah menjatuhkan fonis tidak boleh, tapi tidak mengerti pergumulan dia, nah ini yang kita mau tunjukkan kepadanya bahwa kita pun mau memahami dirinya, bahwa dia menyukai orang ini karena ada hal-hal yang memang baik tentang orang tersebut, yang dia sukai. Nah waktu kita dengarkan dia bercerita tentang apa yang dia suka mengenai atau tentang orang tersebut dia akan merasa setidak-tidaknya orang tua mau mendengarkan sisi dia. Setelah dia cerita begitu kita bisa misalkan berikan komentar, "Saya mengerti ini pergumulan yang besar bagi kamu. Di satu pihak kamu mau mengikuti kehendak Tuhan, di pihak lain orang ini kurang pas dengan kamu dan kamu sangat menyukainya. Nah adakalanya itulah yang harus kita hadapi dalam hidup dan di situlah Tuhan meminta kita untuk kembali kepadaNya dan menyerahkan masalah ini kepadaNya dan tidak berjalan sesuai dengan kehendak kita saja. Jadi kita beri panduan seperti itu, jadi bukan dengan sikap yang frontal, konfrotatif tapi dengan sikap memandu, membimbing dia.
GS : Pak Paul, bisa katakan dia mengambil keputusan untuk putus dengan pacarnya yang tidak seiman itu, lalu ada perasaan bahwa ternyata dia tidak berani lagi untuk pacaran. Dia memilih supaya dia tidak terluka lagi hatinya lalu tidak pacaran lagi dia, itu bagaimana cara kita menolongnya?

PG : Ya kita bisa sampaikan kepadanya bahwa setelah kita putus, luka itu akan terus tinggal dalam hati kita untuk jangka waktu yang lama, jadi sudah sepantasnya kalau dia itu tidak mau mencoba embali namun kita bisa beritahu dia.

"Setelah lukamu sembuh nanti keinginan itu akan muncul juga secara lebih alamiah, makanya engkau perlu lebih berhati-hati lain kali." Misalkan kita bisa bagikan pengalaman kita. Saya secara pribadi sejak masih SMA mempunyai kriteria istri seperti apa yang saya inginkan. Setelah saya kuliah dan saya lahir baru saya menambahkan kriteria saya bahwa orang itu harus orang percaya. Jadi saya tidak lagi mempedulikan lawan jenis saya yang tidak seiman dengan saya, sebab saya tidak mau mencari penyakit. Mungkin bisa saya berikan firman Tuhan, dari Amsal 20:18 , "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan sebab itu berperanglah dengan siasat," jadi rancangan terlaksana oleh pertimbangan sebab itu berperanglah dengan siasat. Ayat ini bisa kita bagikan kepada anak kita bahwa lain kali engkau harus mempertimbangkan dengan baik sebelum melangkah masuk dalam hubungan yang lebih serius, karena yang terluka adalah kita dan Tuhan mau melindungi kita, luka dan kerugian-kerugian. Oleh sebab itulah sebelum kita melangkah, kita dasari dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang.
IR : Tapi sebaliknya, Pak Paul, kalau mereka putus, tapi kalau si anak ini berdialog dengan orang tua mengatakan kebaikan-kebaikan sang pacar. Tapi misalnya dari sumber luar ada sisi-sisi yang negatif tentang pacarnya, apa yang dilakukan orang tua terhadap anak ini?

PG : Kita harus sampaikan tapi dengan nada bukan memaksakan. Kita bisa beritahu dia bahwa saya mendengar begini, saya juga tidak tahu benar apa tidak, namun saya sampaikan kepada kamu supaya kau perhatikan saja.

Sebab waktu kita menyampaikannya seperti itu si anak biasanya akan dengar, dia akan pikir apalagi kalau dia percaya dengan perkataan kita.
IR : Soalnya biasanya kalau orang sudah jatuh cinta itu keburukannya tidak dipikirkan ya Pak Paul. (PG : Betul sekali) terus mengeraskan hati, tidak mau menghadapi untuk putus cinta itu rasanya dia takut, biasanya begitu.

PG : Betul, kita juga pernah muda ya Bu Ida, mengerti hal ini juga.

GS : Memang di sini kita melihat bahwa peranan orang tua itu sangat besar sekali, dan kita sebagai orang tua tidak bisa lepas tangan begitu saja, kalau ada orang tua yang mengatakan, sesuka anaknyalah pilih pasangannya sendiri, itu sebenarnya kurang bertanggung jawab ya Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Jadi semoga perbincangan yang kita sudah lakukan pada saat ini bisa berguna bagi para pendengar kita. Demikianlah tadi saudara-saudara pendengar kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang kehidupan berpacaran bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengucapkan terima kasih untuk Anda yang sudah mengirim surat kepada kami namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda masih sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



7. Perjodohan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T024B (File MP3 T024B)


Abstrak:

Kita belajar tentang siapa atau criteria yang bagaimana yang Tuhan kehendaki untuk menjadi pasangan hidup kita. Perjodohan memang di tangan Tuhan tetapi dalam prosesnya kita harus memperhatikan 3 hal yang disampaikan dalam topik ini.


Ringkasan:

Ada beberapa faktor yang membuat pernikahan pada masa lalu itu langgeng dibandingkan dengan pernikahan pada zaman sekarang.

  1. Faktor tekanan sosial, jadi pada masa dulu itu lingkup di mana kita tinggal, orang-orang di sekitar kita mempunyai pengaruh yang kuat terhadap tindakan kita. Jadi kalau lingkup kita itu tidak menyetujui yang kita lakukan kita lebih tertekan untuk melakukannya karena pada umumnya pada masa lampau kita masih hidup dalam sistem komunal atau sistem di mana kita ini cukup terkait dengan orang lain. Sekarang kita ini lebih individual, orang tidak lagi terlalu mengenal siapa yang tinggal di sebelah mereka, akibatnya kita juga tidak terlalu tunduk pada sorotan masyarakat seperti dulu.

  2. Karena kehidupan masa lalu lebih simpel, sekarang hidup jauh lebih komplek dibandingkan dahulu.

Kita perlu menyadari bahwa Alkitab tidak memberikan kita kriteria yang spesifik tentang jodoh kita bahkan kalau kita melihat dengan saksama Alkitab tidak secara langsung menceritakan kisah di mana Tuhan menentukan jodoh orang. Dalam cerita Alkitab hanya satu saja di mana Tuhan turut turun tangan secara langsung dalam menentukan jodoh yaitu pada kisah Ishak, tetapi yang lainnya tidak. Seolah-olah Tuhan memberikan kebebasan kepada anak manusia untuk memilih jodohnya.

Prinsip-prinsip atau kriteria yang Tuhan tentukan tentang pasangan hidup bagi kita:

  1. 2Korintus 5 : 17 , "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Sebagai orang kristen kita harus bersanding dengan orang yang sudah mengalami kelahiran baru. I Korintus 7 : 39 , "Istri terikat selama suaminya hidup, kalau suaminya telah meninggal ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya asal orang itu adalah seorang yang percaya." Sekali lagi ini ditekankan bahwa Tuhan menghendaki kita menikah dengan sesama orang yang percaya.

  2. Kita diberikan kebebasan menikah dengan siapa saja yang kita kehendaki artinya sesuai dengan selera kita.

  3. Prinsip ketiga diambil dari Kejadian 2 yaitu pilihlah istri atau suami yang juga sepadan dengan kita, yang cocok, yang pas. Ini menyangkut kecocokan sifat dan karakteristik.

Dalam prosesnya kita terus-menerus meminta pimpinan Tuhan sebab di kitab Yakobus mengatakan siapa yang tidak punya hikmat mintalah hikmat kepada Tuhan. Jadi dalam masa berpacaran kita perlu meminta hikmat Tuhan agar bisa melihat dengan jelas, apakah orang ini cocok atau tidak dengan kita meskipun seiman, meskipun sesuai selera kita tapi kalau tidak cocok bukan kehendak Tuhan. Perjodohan memang di tangan Tuhan itu betul, tapi dalam prosesnya Tuhan meminta kita memperhatikan ketiga hal ini.

Usia yang cocok untuk mulai berpacaran adalah usia perguruan tinggi, usia kuliah, jangan di bawah karena di bawah usia perkuliahan sebetulnya masih dalam masa remaja. Dan masa remaja adalah masa pembentukan diri remaja, remaja masih mencari-cari jati diri dan di saat itulah remaja juga bergaul dengan luas sehingga anak remaja mengenal orang-orang juga dengan luas. Setelah mengenal dengan luas barulah akhirnya mereka siap untuk memulai hubungan yang lebih eksklusif yaitu berdua. Jadi waktu memasuki hubungan eksklusif itu mereka merasakan juga siap karena sudah cukup mengenal orang lain.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang jodoh. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1)+(2) GS : Pak Paul, sering kali satu hal yang membingungkan banyak orang juga orang-orang Kristen pada kehidupannya itu masalah perjodohan. Kebingungan ini mungkin sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang sebagian besar mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan. Tetapi nyatanya banyak pernikahan yang hancur, artinya mereka cerai dan sebagainya. Lalu orang bertanya-tanya apakah kalau jodoh itu memang dari Tuhan lalu menimbulkan kesengsaraan seperti itu sampai mereka harus bercerai dan sebagainya. Sehingga timbul keraguan dan sekaligus kerancuan pikir tentang perjodohan itu. Zaman dulu orang dijodohkan, kadang-kadang oleh orang tua mereka dan bisa langgeng, bisa sampai punya cucu dan sebagainya, padahal yang menjodohkan itu orang tua, Pak Paul. Nah sekarang di era kita dan anak-anak kita ini sebenarnya pandangan iman Kristen tentang perjodohan atau jodoh itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Saya akan berkomentar terlebih dahulu tentang masa lampau, tadi Pak Gunawan singgung bahwa di masa lampau orang itu dijodohkan dan pernikahan mereka langgeng sampai akhirnya. Ada beberapa aktor yang membuat pernikahan mereka langgeng dibandingkan dengan pernikahan pada zaman sekarang ini.

Yang pertama adalah faktor tekanan sosial, jadi pada masa dulu lingkup di mana kita tinggal, orang-orang di sekitar kita mempunyai pengaruh yang kuat terhadap tindakan kita. Jadi kalau lingkup kita itu tidak menyetujui yang kita lakukan, kita lebih tertekan untuk tidak melakukannya, karena apa? Karena pada umumnya pada masa lampau kita masih hidup dalam sistem komunal atau sistem di mana kita ini cukup terkait dengan orang lain. Sekarang kita ini lebih individual, orang tidak lagi terlalu mengenal siapa yang tinggal di sebelah mereka, akibatnya kita juga tidak terlalu tunduk pada sorotan masyarakat seperti dulu kala, itu sebabnya perceraian lebih mudah muncul pada zaman sekarang ini karena apa? Karena manusia ini tidak lagi diikat oleh norma-norma sosial seperti pada masa lampau. Yang kedua, kenapa pada zaman dulu pernikahan itu relatif lebih langgeng dibandingkan sekarang karena kehidupan dahulu lebih simpel, sekarang hidup jauh lebih komplek. Jadi saya kira dua hal ini yang membedakan kenapa pernikahan dulu itu lebih langgeng dibandingkan dengan sekarang. Nah kembali pada tadi yang Pak Gunawan tanyakan, apa artinya perjodohan itu di tangan Tuhan, kalau setelah menikah terus mengalami percekcokan-percekcokan dan akhirnya ada yang bercerai bahkan di kalangan orang-orang Kristen sendiri. Saya pun mempunyai pengalaman pribadi, Pak Gunawan dan Ibu Ida, waktu saya mulai bertengkar dengan istri saya pada awal-awal pernikahan kami, saya suka bertanya-tanya apa yang salah; saya yang salah menginterpretasikan kehendak Tuhankah? Atau saya ini melawan kehendak Tuhan atau saya salah pilih atau apa ini. Saya kira ini pertanyaan-pertanyaan yang baik ya, pada dasarnya kita harus kembali pada konsep apa itu yang dimaksud dengan perjodohan di tangan Tuhan. Pertama adalah kita harus menyadari bahwa Alkitab tidak memberikan kita kriteria yang spesifik tentang jodoh, bahkan kalau kita mau melihat dengan seksama Alkitab tidak secara langsung menceritakan kisah di mana Tuhan menentukan jodoh orang, yang kita tahu dengan pasti di mana Tuhan campur tangan dan menentukan jodoh untuk seseorang adalah dalam kisah Ishak. Eliezer bawahan dari Abraham ayah Ishak pergi untuk mencarikan jodoh buat anak majikannya Ishak itu, dan dia meminta tanda dari Tuhan dan Tuhan menjawab sesuai dengan tanda yang diminta. Dan datanglah Rifkah, akhirnya Ishak menikah dengan Rifkah. Dalam cerita Alkitab hanya satu saja di mana Tuhan turut campur tangan secara langsung dalam menentukan jodoh. Yang lainnya tidak, seolah-olah memang Tuhan memberikan kebebasan kepada anak manusia untuk memilih jodohnya. Jadi yang saya akan gunakan adalah prinsip-prinsip atau kriteria yang Tuhan sudah tentukan buat kita. Yang pertama adalah kita ambil di 2 Korintus 6:14 , "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" Jadi Tuhan memang menghendaki agar kita menjalin hubungan yang akrab, membentuk pasangan yang kuat dengan yang seiman. Sebab bagaimanakah mungkin kita dipersatukan dengan yang tidak seiman, saya bacakan misalnya di 2 Korintus 5:17 , "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang." Nah dari ayat ini kita bisa simpulkan sebagai orang Kristen kita adalah ciptaan yang baru dan tidak masuk akal yang baru itu disandingkan dengan ciptaan yang lama. Jadi ciptaan yang baru di dalam Tuhan seharusnyalah bersatu dengan ciptaan yang baru juga di dalam Tuhan. Jadi ayat-ayat ini saya kira cukup kuat apalagi ditambah dengan 1 Korintus 7:39 , "Istri terikat selama suaminya hidup, kalau suaminya telah meninggal ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya asal orang itu adalah seorang yang percaya" Sekali lagi ditekankan bahwa kita menikah dengan yang percaya pada Tuhan Yesus. Jadi prinsip pertama adalah Tuhan menghendaki kita menikah dengan sesama orang percaya. Prinsip kedua adalah yang saya juga petik dari 1 Korintus 7:39 tadi itu, kita ini diberikan kebebasan menikah dengan siapa saja yang kita kehendaki (selain dari orang percaya, maksudnya orang percaya itu) artinya sesuai dengan selera kita. Jadi kita tidak harus menikah dengan tipe tertentu, tidak! Kita ini masing-masing mempunyai keunikan dan selera yang juga unik dan berbeda jadi silakan kita mau yang pendek silakan, yang tinggi ya silakan, yang kurus silakan tidak harus seragam, Tuhan memberikan 2 prinsip itu. Kemudian prinsip yang ketiga yang kita juga tahu adalah diambil dari Kejadian 2 yaitu Tuhan meminta kita atau Tuhan menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan untuk kita. Jadi pilihlah istri atau suami yang juga sepadan dengan kita, yang cocok itu artinya yang pas, ini menyangkut sebetulnya kecocokan sifat dan karakteristik. Jadi Alkitab sebetulnya hanya memberikan kita tiga garis besar, tiga pedoman dalam mencari jodoh. Dalam prosesnya kita terus-menerus meminta pimpinan Tuhan sebab dikatakan di kitab Yakobus juga siapa yang tidak punya hikmat mintalah hikmat kepada Tuhan. Jadi dalam masa berpacaran kita perlu meminta hikmat Tuhan agar bisa melihat jelas itu yang sering saya tekankan. Melihat jelas apakah orang ini cocok atau tidak dengan kita meskipun seiman, meskipun sesuai selera kita tapi kalau tidak cocok bukan kehendak Tuhan. Nah jadi kita kembali pada prinsip ini, Pak Gunawan, perjodohan itu di tangan Tuhan itu betul, tapi dalam prosesnya Tuhan meminta kita memperhatikan ketiga hal ini. Seringkali kita ini gagal melihat faktor yang ketiga tadi, kita hanya melihat dia seiman, cocok pasti dengan kita Tuhan izinkan, kedua dia sesuai dengan selera saya, saya suka dengan orang yang seperti dia dan sebagainya. Tapi kita gagal melihat dengan jelas kecocokan kita, akhirnya kita menikah dengan seseorang yang tidak cocok dan kita sering bertengkar, salah pengertian, kita rasanya lebih banyak susahnya daripada senangnya dengan dia. Tapi karena dia sesuai selera kita, kita tidak rela meninggalkan atau memutuskan hubungan dengan dia, akhirnya kita menikah dan kita berharap bahwa Tuhan akan mengubah dengan otomatis sifat-sifat yang tidak cocok itu dengan kita, itu tidak terjadi. Kebanyakan Tuhan akan berkata ya, "Silakan kalau engkau tetap ingin menikah, "Tuhan sudah tunjukkan kepada kita ketidakcocokan ini, seringnya bertengkar, seringnya mempertengkarkan hal yang sama, seringnya kita merasa tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi kita, tapi tetap kita melangkah masuk ke pernikahan, Tuhan akan diamkan namun nanti kita mulai menuai buahnya betapa tidak cocoknya kita. Dan pada saat itulah kita bertanya-tanya, "Tuhan, salah," sebetulnya bukan salah Tuhan tapi memang kita kurang melihat atau memperhatikan ketidakcocokan itu.
IR : Jadi selama mencari jodoh itu, Pak Paul, selain terus bergumul dengan Tuhan juga harus menjajaki kira-kira siapa yang cocok. Jadi tidak harus satu atau hanya dua orang saja ya Pak, jadi harus membandingkan dengan yang lain.

PG : Dalam pengertian kita bukannya berpacaran secara majemuk, banyak begitu. Dalam pengertian kita bergaul dengan luas maka kalau orang bertanya usia berapa sih yang cocok untuk mulai berpacarn.

Menurut saya usia Perguruan Tinggi, usia kuliah jangan di bawahnya, karena apa? Karena pada usia di bawah usia perkuliahan kita itu sebetulnya masih dalam masa remaja. Dan masa remaja adalah masa pembentukan diri kita, kita masih mencari-cari jati diri dan di saat itulah kita juga bergaul dengan luas sehingga kita mengenal orang juga dengan luas. Setelah kita mengenal dengan luas barulah akhirnya kita siap untuk memulai hubungan yang lebih eksklusif yaitu berdua. Jadi kita waktu memasuki hubungan eksklusif itu kita merasakan juga siap karena kita cukup mengenal orang-orang lain. Saya merasa kasihan kalau ada seorang pemuda atau pemudi yang mulai berpacaran sejak usia misalnya 15 tahun, secara praktis dia tidak mengenal orang lain secara dekat. Terus pacaran sampai umur 25, 26. 10 tahun lebih terus menikah, saya takut kalau-kalau nanti setelah dia menikah baru dia akhirnya menyadari saya baru tahu ada orang lain selain dia yang lebih cocok tapi sudah terlambat.
GS : Itu ada masa yang sangat kritis di dalam menentukan jodoh itu ya Pak Paul, banyak orang yang meminta tanda dari Tuhan. Misalnya saja kalau orang tuanya menghendaki, itu dianggap sebagai pertanda bahwa itu memang kehendak Tuhan. Atau misalnya bahkan ada, pokoknya dia dapat pekerjaan tadinya tidak bekerja masih baru lepas kuliah, pokoknya saya dapat kerjaan berarti ini jodoh saya sudah tiba. Pemikiran seperti itu bagaimana menurutPak Paul?

PG : Saya pernah mendengarkan khotbah mantan rektor sekolah saya, mantan rektor seminari saya Headen Robinson. Dia bercerita dan membahas tentang mencari kehendak Tuhan. Ada bahayanya kalau kit itu sedikit-sedikit meminta kehendak Tuhan.

Dia memberikan contoh, dia bilang saya baru berbicara dengan seorang mahasiswi, mahasiswi ini berkata: "Saya sedang mencari kehendak Tuhan boleh tidak main ski. Nah saya sudah menetapkan tandanya kalau orang tua saya mengirimkan uang berarti itu tanda saya main ski, kalau tidak dikirimkan uang saya tidak main ski." Lalu dosen saya berkata: "Engkau salah meminta tanda, kalau engkau meminta tanda dari Tuhan, mintalah tanda yang mustahil dilakukan manusia dan hanya Tuhan yang bisa lakukan." Jadi dia bilang: "Jangan berharap bahwa orang tuamu mengirimkan uang, kamu harus beri tanda kalau besok presiden Amerika Serikat mengirimkan saya uang main ski, itu tanda dari Tuhan. Dia bilang soalnya dengan tanda seperti itu kita tidak mungkin salah menilai ini dari Tuhan atau kebetulan." Dia berikan contohnya Gideon, bagaimana tanda yang Gideon minta adalah tanda yang berlawanan dengan hukum alam. Dan kita juga tahu raja Hosea waktu dia ingin meninggal dunia terus Tuhan menambahkan usianya bayangan berjalan mundur, jadi sesuatu yang memang tidak mungkin dilakukan manusia, jadi itu pesan dosen saya yang saya rasa juga baik. Pada umumnya memang Tuhan tidak bercampur tangan seperti itu, memberikan tanda-tanda khusus dalam mencari jodoh tapi Tuhan memimpin kita melalui hikmat. Seringkali manusia itu sebetulnya cukup melihat tapi tidak memiliki hikmat untuk mau mengakuinya. Misalkan saya pernah membimbing sepasang sejoli yang sedang berpacaran, lebih banyak bertengkar daripada bersukacita, tapi dua-dua tetap mau bersama-sama. Jadi saya langsung berkata saya tidak setuju engkau ini tidak cocok, engkau sendiri yang mengatakan lebih sering bertengkarnya dan susah hatinya, tapi kenapa tidak bisa memisahkan diri, karena itu faktor yang kedua tadi sesuai dengan selera kita begitu. Jadi kembali lagi, kita memang perlu sekali minta bimbingan Tuhan yang lebih bersifat hikmat bukannya minta tanda-tanda seperti itu. Kalau meminta tanda saya anjurkan adalah tanda yang mustahil dilakukan oleh manusia atau terjadi secara kebetulan.
IR : Dan hikmat itu pasti sesuai dengan firman Tuhan ya Pak Paul?

PG : Ya, Tuhan akan beritahu kita, misalkan kita ini makin jauh dari Tuhan, tidak semangat pelayanan di gereja. Itu adalah gejala-gejala, tanda-tanda yang Tuhan sedang dikirimkan pada kita.

IR : Soalnya ini ada kasus, Pak Paul, ada seorang bergumul dia itu harus pergi karena dia itu ditawari suatu pekerjaan. Dia minta tanda dari Tuhan dan memang secara ajaib Dia berikan misalkan kemudahan-kemudahan dan fasilitas-fasilitas yang rasanya mustahil. Tapi ini bertentangan bahwa dia meninggalkan tanggung jawab keluarga, ini tidak benar Pak Paul?

PG : Betul, jadi itu adalah salah satu contoh di mana kita bergantung pada "tanda" yang sebetulnya belum tentu tanda. Jadi hikmat selalu mendahului hal-hal yang supernatural seperti iu.

Kecuali supernaturalnya yang spektakuler, yang luar biasa. Misalkan seperti tadi contohnya Gideon meminta tanda yang benar-benar tidak bisa dilakukan manusia. Kalau tandanya hanya kemudahan-kemudahan tapi terus dia meninggalkan keluarganya, melalaikan keluarganya. Saya kira dia tidak lagi berimbang dalam mengerti atau mengikuti kehendak Tuhan, itu bahayanya. Tapi memang Pak Gunawan saya harus akui dalam masa berpacaran kita ini karena terlalu cintanya dan sesuai dengan selera kita, kita cenderung memang memaksakan kehendak dan menciptakan tanda-tanda yang pro keputusan kita. (GS: Rasionalisasi ya Pak) merasionalisasi itulah sifat kita.
GS : Ya memang, Pak Paul, sekarang kalau kita melihat dari peran orang tua tadi yang tentu menghendaki anak-anaknya bahagia, kita sebagai orang-orang yang beriman itu boleh tidak, Pak Paul, katakan itu seperti menjodohkan anak kita dengan seseorang atau keluarga yang kita sukai?

PG : Saya sangat setuju, kita boleh sekali memperkenalkan anak kita dengan orang yang kita tahu baik dan kita tahu dari keluarga yang baik, seiman dengan kita.

GS : Tanpa membuat ikatan apa-apa, Pak Paul? (PG : Ya tanpa membuat ikatan apa-apa) sejauh itu perkenalan biasa, kalau mereka suka ya terus.

PG : Betul, karena tidak bisa tidak, Pak Gunawan, kita-kita ini yang sudah mulai berumur akan mengakui bahwa latar belakang keluarga berpengaruh pada si anak, kita menyadari hal ini, tapi anak-nak kita belum menyadari hal itu.

Misalkan kalau anak kita ini ingin menikah dengan seorang gadis yang kebetulan gadis itu mempunyai ayah yang menyeleweng dan akhirnya menikah dengan wanita lain. Mungkin si gadis tersebut masih menyimpan trauma ya, ketakutan terhadap suami yang menyeleweng dan karena ayahnya telah pergi meninggalkan keluarganya, dia itu juga rasanya sulit percaya pada pria. Jadi kalau dia dekat dengan seorang pria, dia ingin memastikan pria ini 100% untuknya, karena ketakutannya itu. Nah anak kita kemungkinan tidak mengerti hal-hal ini, dia hanya melihat anak ini baik sesuai dengan seleranya, penampilannya dan kasihan, dia tidak punya papa, papanya dulu mengkhianati keluarganya. Kesulitan kita sebagai orang tua, karena kalau kita menyampaikan hati-hati engkau dengan dia, anak kita bisa menuduh kita itu kejam tidak berperikemanusiaan. Anak yang ditinggal oleh ayah harusnya 'kan dikasihani bukannya malah dijauhkan, tapi anak kita memang belum bisa melihat yang kita lihat, maka penting bagi kita dengan cara yang dialogis tidak memaksakan kehendak, memberikan dia informasi yaitu "Anakku memang dia anak yang baik, dia adalah orang yang mencintai kamu dan kamu mencintai dia, papa dan mama senang dengan dia secara pribadi. Tapi ada hal-hal yang mama atau papa minta engkau perhatikan mulai dari sekarang yaitu dia perlu belajar untuk tidak terlalu posesif misalnya itu." "Kenapa? Dia tidak posesif dengan saya dan sebagainya." "Ya, sekarang mungkin tidak tapi ada kemungkinan dia akan posesif sebab biasanya anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang tidak utuh lagi dan adanya kasus penyelewengan mungkin mempunyai rasa curiga yang lebih besar, sulit percaya pada orang itu masuk akal karena dia pernah terluka. Jadi ketakutan itu terus menghantui dia, jadi engkau juga perlu memperhatikan hal ini, sebab nanti kalau dia terlalu posesif kepadamu, yang susah engkau. Pada masa berpacaran engkau senang karena engkau melihat dia begitu mencintaimu, engkau pulang jam berapa dia tanya, engkau sudah menikah engkau sebel. Setiap kalau engkau pulang jam berapa dia tanya, ini sekarang yang engkau belum bisa lihat tapi aku beritahu engkau, agar engkau mulai perhatikan hal-hal ini." Biarkan dia mulai perhatikan dan biarkan dia gumulkan.
GS : Sebagian orang ada yang bersikap pasif, Pak Paul, di dalam menantikan pasangan hidupnya karena mereka berpikiran/berpendapat bahwa jodoh itu nanti Tuhan sendiri yang kirim akan diberikan, kalau memang belum waktunya tidak. Padahal usianya bertambah terus dan dia makin enggan untuk melakukan pendekatan pada lawan jenis.
IR : Dan biasanya kalau bertambah tua itu bertambah rewel dalam memilih jodoh, banyak tuntutannya.

PG : Bisa jadi saya rasa juga kesalahan konsep ya Pak Gunawan dan Ibu Ida, kita 'kan tidak sepasif itu dalam mencari pekerjaan. Kita juga tidak sepasif itu dalam mencari rumah yang cocok. Denga kata lain Tuhan mengharapkan kita ini berfungsi secara normal untuk hal-hal yang rutin, aktifitas-aktifitas yang memang kita harus lakukan, kita lakukan, termasuk aktifitas mencari jodoh.

Kalau rumah kita cari, pekerjaan kita cari, jodoh kita tidak cari saya rasa itu tidak cocok pengertiannya.
GS : Tapi mungkin budaya kita memang tidak mendukung khususnya untuk yang putri, Pak Paul, kalau yang putri yang tadi istilah kita mencari, yang aktif begitu ya lalu orang itu pandangannya lain, negatif.

PG : Betul, bahkan di budaya Barat wanita pun tetap tidak sama dengan pria dalam hubungan berpacaran. Saya suka menggunakan istilah kalau pria mencari jodoh, wanita melihat jodoh. Sebab memang alau wanita mencari-cari dianggap tidak cocok untuk budaya kita, kasihan sih memang.

Tapi wanita harus lebih pasif dalam budaya kita ini, jadi dia menantikan dan dia berdoa, menyanggupi uluran-uluran atau inisiatif-inisiatif dari pria.
GS : Sekarang 'kan ada banyak program-program yang diadakan untuk mempertemukan orang-orang yang belum menikah dan sebagainya, itu dampaknya bagaimana Pak Paul sebenarnya?

PG : Saya rasa sih baik ya, tapi saya minta ini juga dalam konteks yang seiman (GS: Prinsip-prinsip tadi harus tetap menjadi acuan yang kuat begitu Pak Paul) betul, jadi jangan sampai kita jug sembarangan mengikuti biro jodoh, kita ikuti yang diadakan gereja kita misalnya itu lebih baik.

GS : Di sana mungkin peran gereja besar sekali ya Pak Paul.

PG : Betul, ini memang masalah Pak Gunawan, saya sering ke gereja-gereja dan saya menemukan rata-rata (di setiap gereja) surplus gadis dan kekurangan pria, itu dia masalahnya. Jadi akhirnya banak wanita lajang yang tidak ada jodoh dan karena tidak ada jodoh di gereja mereka mencari jodoh di luar.

GS : Lain halnya kalau memang Tuhan menghendaki dia untuk melajang, Pak Paul, itu ada orang-orang yang memang secara khusus dipanggil Tuhan untuk itu. Tapi pada umumnya kita memang perlu hikmat Tuhan untuk mencari jodoh yang Tuhan sediakan karena kita membutuhkan teman di dalam menjalani kehidupan ini.

Jadi saya rasa demikian tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang perjodohan bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



8. Dampak Pertengkaran Orangtua Terhadap Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T028A (File MP3 T028A)


Abstrak:

Anak yang dibesarkan di tengah keluarga yang tidak harmonis, tidak bisa tidak sendi-sendi keluarga akan tergoyahkan, sudah tidak lagi berfungsi dengan semestinya. Dan hal ini akan berakibat pada anak khususnya melumpuhkan daya fantasi anak dan akan membuat pertumbuhan anak itu terhambat.


Ringkasan:

Salah satu indikator atau tanda keluarga yang tidak harmonis adalah seringnya terjadi pertengkaran. Tidak bisa tidak pertengkaran merupakan suatu tanda tidak sehatnya hubungan suami-istri atau hubungan orang tua. Ibarat mobil kalau misalkan mesinnya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik kita tahu itu membuat mobil tidak akan bisa berjalan dengan baik. Seluruh fungsi mobil itu akan terpengaruh, semikian juga dengan anak-anak yang dibesarkan dalam rumah di mana orang tua tidak hidup dalam keadaan yang harmonis, tidak bisa tidak sendi-sendi keluarga tersebut sudah tergoyahkan, sudah tidak lagi berfungsi dengan semestinya.

Anak belum memiliki kekuatan untuk bisa menerima dan mengintegrasikan suatu tindakan pertengkaran yang keras ke dalam hidupnya. Karena keterbatasan pengalaman, keterbatasan daya fungsi yang memang belum berkembang dengan matang, otomatis tidak begitu mampu untuk menahan gempuran pertengkaran tadi. Dia tidak mampu untuk bisa memasukkan pertengkaran ke dalam jiwanya. Dan hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, pertumbuhan anak menjadi terhambat atau hal-hal yang seharusnya bertumbuh dengan natural malah terdistorsi atau terselewengkan, jadi tidak bisa bertumbuh dengan semestinya.

Aspek-aspek pertumbuhan yang mempengaruhi anak adalah:

  1. Anak-anak itu yang pasti adalah karena tidak memiliki ketenteraman lagi dalam rumah, dia akan hidup dalam ketakutan atau ketegangan. Hal ini bisa dikurangi dalam pengertian si anak diberikan suatu keterangan bahwa inilah kehidupan rumah tangga yang normal, yang seharusnyalah diterima oleh si anak. Si anak tidak bisa tidak akan beradaptasi, dalam beradaptasi pun tetap terjadi gangguan yaitu, yang terganggu adalah rasa percaya pada orang lain, maksudnya si anak sukar sekali untuk bisa membangun hubungan dengan orang yang dilandasi atas rasa percaya yang seadanya, yang terbuka, yang diberikan secara sukarela

  2. Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah seperti itu setelah dewasa mempunyai masalah dengan pengendalian emosi. Maksudnya dia menjadi anak yang akhirnya mudah bereaksi, mudah marah sebab dalam hatinya sudah tergenang perasaan tegang.

  3. Anak juga cenderung sulit untuk menghadapi stres, dasarnya sudah tegang sehingga sudah tidak lagi bisa menahan tambahan stres, tambahan tekanan. Ada dua kemungkinan yang terjadi pertama, menjadi anak yang reaktif, dalam arti pemarah, eksplosif, mudah meledak. Dan kebalikannya adalah dia mudah patah, tidak ada semangat hidup.

2 Korintus 5 : 17 berkata: 'Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

Ini salah satu ayat yang menghibur kita bahwa setelah kita menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus kita diberikan kesempatan untuk memperbaharui hidup kita. meskipun masa lalu kita itu mempunyai cengkeraman yang kuat tapi sekarang di dalam Tuhan kita tidak lagi berkelahi sendirian. Kita ditemani oleh Tuhan yang hidup dalam diri kita agar kita bisa melepaskan cengkeraman itu sedikit demi sedikit.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang dampak pertengkaran orang tua terhadap pertumbuhan anak. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, saya begitu terkesan atau masih membekas di dalam ingatan saya secara tidak disengaja melihat kedua orang tua saya pernah bertengkar, cukup seru juga. Tapi kesan itu adalah kesan yang menakutkan sehingga sampai sekarang walaupun mereka berdua sudah tiada, membekas sekali, Pak Paul. Lalu saya berpikir kalau saya sekarang bertengkar dengan istri saya, kami berusaha mencari tempat yang tersembunyi, misalnya di kamar. Tapi pernah anak-anak melihat, lalu mereka ketakutan dan lari ke kamarnya. Saya sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak, Pak Paul, tentang pengaruhnya kalau orang tua itu bertengkar, baik sengaja maupun tidak sengaja anak melihat orang tuanya bertengkar, padahal mereka sekarang ini pada masa pertumbuhan.

PG : Sebagai seorang konselor, Pak Gunawan, saya memang kebanyakan berhubungan dengan orang dewasa, tidak terlalu banyak anak kecil yang datang pada saya, dan saya melihat itu bukan karunia saya. Tapi yang mau saya katakan adalah meskipun hampir semua yang datang dengan masalah pribadi mereka adalah orang dewasa namun kebanyakan masalah mereka bersumber dari masa kecil. Dan kebanyakan dari mereka yang sekarang bermasalah adalah anak-anak atau mereka itu adalah anak-anak yang dulunya dibesarkan dalam rumah tangga yang kebetulan tidak harmonis. Salah satu indikator atau tanda keluarga yang tidak harmonis adalah seringnya terjadi pertengkaran; pertengkaran itu merupakan suatu tanda tidak sehatnya hubungan suami istri atau hubungan orang tua. Ibarat mobil kalau misalkan kita lihat mesinnya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, kita tahu mobil tidak akan bisa berjalan dengan baik pula. Seluruh fungsi mobil itu akan terpengaruh, demikian juga dengan anak-anak yang dibesarkan dalam rumah di mana orang tua tidak hidup dalam keadaan yang harmonis. Sendi-sendi keluarga tersebut sudah tergoyahkan, sudah tidak lagi berfungsi dengan semestinya, jadi yang tadi Pak Gunawan katakan memang tepat sekali, apa yang anak-anak alami terutama hal-hal negatif yang mereka terima atau alami dari orang tuanya sering kali membekas. Yang terutama akan kita fokuskan pada hari ini adalah bekas-bekas yang muncul dari pertengkaran dan seperti tadi Pak Gunawan sudah singgung, dampak pada si anak yang langsung pada saat itu adalah ketakutan.

GS : Begini Pak Paul, yang membekas itu justru pertengkarannya. Berbaikan kembali itu seolah-olah memang biasa sebagai suami istri seharusnya begitu Pak Paul, tetapi pertengkaran itu justru yang membekas, memang begitu, Pak Paul?

PG : Memang begitu, karena pertengkaran yang terlalu keras bukanlah sesuatu yang bisa dicerna oleh anak. Dalam keterbatasan anak untuk mencerna semua yang terjadi di sekitarnya, anak memang belm memiliki kekuatan untuk bisa menerima dan mengintegrasikan suatu tindakan pertengkaran yang keras ke dalam hidupnya.

Kita yang sudah dewasa karena telah mengalami bentukan hidup, ketegangan dan sebagainya lebih terkondisi untuk mampu menoleransi ketegangan yang keras. Walaupun demikian sebetulnya meskipun kita terbiasa atau lebih kuat dari anak-anak seharusnya kita tidak begitu menyukai hal-hal yang terlalu menegangkan meskipun lebih mampu untuk menahannya. Nah, anak-anak karena keterbatasan pengalaman, kemampuan daya fungsi yang memang belum berkembang dengan matang, otomatis tidak begitu mampu untuk menahan gempuran pertengkaran tadi. Dia tidak mampu untuk bisa memasukkan pertengkaran itu ke dalam jiwanya. Jadi otomatis jiwanya akan menolak, namun karena belum kuat gempuran itu biasanya langsung menohok ke dalam jiwanya.
IR : Dan situasi yang seperti itu sangat mempengaruhi akan pertumbuhan anak?

PG : Betul sekali Ibu Ida, gempuran-gempuran dari luar misalnya adalah pertengkaran yang keras akan melumpuhkan sebagian dari daya fungsi anak dan akan membuat pertumbuhan anak itu terhambat atu hal-hal yang seharusnya bertumbuh dengan lurus atau natural menjadi terdistorsi, terselewengkan, jadi tidak lagi bertumbuh dengan lurus atau sebagaimana semestinya.

GS : Padahal sekarang ini kita melihat kekerasan itu ada di mana-mana. Juga disiarkan di televisi, bahkan di jalan pernah kita jumpai. Kalau anak-anak melihat kejadian nyata seperti itu, dampaknya lebih besar di keluarga atau di luar atau sama, Pak Paul?

PG : Seharusnya sama kalau derajat pertengkaran atau kekerasan itu terlalu berlebihan, dampaknya bisa sama. Yang seringkali membedakan adalah orang tua bertengkar dalam pengertian tidak sekali jadi anak harus hidup terus-menerus dengan pertengkaran orang tua.

GS : Dan mungkin juga ada ikatan emosional?

PG : Tepat sekali, jadi ikatan emosional itu lebih membuat si anak menolak untuk mengakui dan melihat adanya pertengkaran. Suatu kali saya dan istri saya sedang berargumen, kami tidak berteriaktapi nada suara kami mulai meninggi.

Saya masih ingat sekali anak saya waktu itu masih berusia sekitar 7 tahun, tiba-tiba dia datang dan berkata: "Kalian bertengkar lagi ya? Sudah jangan bertengkar!" Nah memang anak-anak cukup bebas untuk mengekspresikan diri kepada kami, tapi yang jelas adalah saat itu si anak merasa tidak nyaman bahkan hanya dengan nada suara yang mulai meninggi. Meskipun kami tidak memukul, tidak berteriak-teriak tapi nada suara yang mulai meninggi pun sudah membuat si anak merasa tidak nyaman. Sekali lagi itu karena memang ada ikatan emosional yang sudah terjalin.
GS : Yang saya alami kalau raut muka saya menunjukkan kemarahan, anak saya bisa merasakan itu dan beberapa hari kemudian menanyakan, "Apakah papa marah pada waktu itu?" Dan saya katakan "ya," jadi tanpa kata-kata tapi sudah dirasakan sebagai kemarahan. Anak masih belum bisa menerima itu sampai usia berapa kira-kira, Pak Paul?

PG : Saya duga secara umum anak-anak itu mulai bisa mengembangkan dirinya dengan lebih baik setelah dia melewati usia remaja. Jadi anak-anak itu mulai bisa menerima hal-hal yang keras sekitar stelah usia mungkin 16, 17 tahun, sebelum itu saya rasa masih sulit.

(2) IR : Kira-kira aspek pertumbuhan apakah yang mempengaruhi anak itu?

PG : Ada beberapa, Ibu Ida. Yang pertama adalah karena tidak memiliki ketenteraman lagi dalam rumah, dia akan hidup dalam ketakutan atau ketegangan. Nah, tadi Pak Gunawan memberikan contoh peruahan wajah yang langsung dirasakan oleh anak, saya bisa bayangkan saat itu waktu anak-anak melihat perubahan wajah Pak Gunawan, mereka harus mengatur tindakan mereka.

Misalkan mereka (GS : Menyingkir biasanya) betul misalkan mereka ingin bicara lebih keras dengan adik atau kakaknya mereka tidak berani, mereka ingin bermanja-manja dengan kita juga tidak berani dan sebagainya. Jadi anak yang diperhadapkan dengan situasi rumah yang penuh pertengkaran, tidak menjadi anak yang natural, itu sudah pasti. Kita pun hidup seperti sekarang ini di dalam keadaan yang cukup tegang ya karena keadaan politik dan sosial yang tidak menentu, kita tidak hidup secara natural; mau pergi ke mana berpikir dulu, (GS : Takut-takut) takut-takut dan sebagainya. Bayangkan anak-anak harus hidup seperti itu 24 jam sehari, sehingga mereka menjadi anak-anak yang tidak natural. Selain dari ketidakberaturan itu yang muncul dari dalam diri anak adalah mereka menjadi anak yang was-was, mudah tegang. Karena apa? Karena mereka harus selalu siap menantikan ledakan lagi di rumah. Kalau anak-anak hidup di dalam situasi di mana mereka tidak bisa lagi memprediksi apa yang terjadi selanjutnya, mereka menjadi anak yang tegang, senantiasa bersiap siaga. Maksudnya anak-anak jangan sampai merasa rileks kemudian tiba-tiba orang tua bertengkar lagi, nah mereka kaget. Karena mereka terlalu kaget, lain kali mereka tidak mengizinkan lagi diri mereka untuk terlalu rileks, santai, dekat, manja, karena adanya rasa takut. Jangan-jangan nanti ada apa-apa, lagi manja meledak lagi, timbul lagi pertengkaran antara orang tua, itulah yang biasanya dialami oleh anak-anak.
GS : Pak Paul, apakah hal itu bisa dikurangi pengaruhnya kalau orang tua itu menjelaskan kepada anak atau anak-anak mereka, bahwa memang kehidupan suami istri itu pasti pernah bertengkar. Apakah ada pengaruhnya kalau dijelaskan seperti itu?

PG : Ada, dalam pengertian si anak seolah-olah sekarang diberikan suatu keterangan bahwa inilah kehidupan rumah tangga yang normal, yang seharusnya diterima oleh si anak. Lalu anak dapat beradatasi namun dalam beradaptasi pun tetap terjadi gangguan, misalnya yang terganggu adalah rasa percaya pada orang lain; maksudnya si anak itu sukar sekali untuk bisa membangun hubungan dengan orang yang dilandasi atas rasa percaya yang seadanya, yang terbuka, yang diberikan secara sukarela sukar sekali untuk dia mempercayai orang.

Nah dalam kehidupannya kelak kalau tidak ada perubahan yang berarti, dia menjadi seorang anak atau seorang pria atau wanita yang sukar sekali bisa intim dengan orang. Harus diketahui bahwa keintiman itu dilandasi atas kepercayaan, nah mungkin Ibu Ida dan Pak Gunawan bertanya muncul dari mana itu rasa kurang percaya, sebetulnya yang terjadi adalah hubungan antara dia dengan orang tua yang sekarang ternoda. Tatkala anak menyaksikan orang tua bertengkar dengan keras, jadi yang saya maksud bertengkar bukan sekali-sekali kita berargumentasi. Hubungan orang tua dengan si anak tercemar dalam pengertian terjadilah suatu pengkhianatan sebetulnya. Pengkhianatan karena si anak seolah-olah merasa sekarang dikhianati oleh orang tua. Setiap anak lahir ke bumi seolah-olah mempunyai suatu asumsi bahwa dia akan dibesarkan di rumah yang tenteram dan dikasihi oleh orang tuanya dan akan bertumbuh besar dalam keluarga yang penuh kasih sayang, tidak ada keributan yang menegangkan. Itu adalah asumsi yang dibawa oleh setiap anak atau harapannya. Sewaktu si anak harus menghadapi pertengkaran-pertengkaran, tiba-tiba memang dia merasa tidak lagi bisa mempercayai orang tuanya. Sebab yang seharusnya baik tidak baik, yang seharusnya saling mencintai tidak mencintai, maka hubungan mereka itu akan berdampak dan merugikan mereka. Ini semuanya otomatis terjadi bukan secara sadar mereka ketahui semua yang saya paparkan tadi. Dan tentang rasa percaya ini mereka juga kurang bisa mempercayai orang lain karena akhirnya mereka menjadi orang yang tidak bisa mempercayai orang tua, jadi seolah-olah kalau tidak bisa mempercayai orang tua sendiri apalagi orang lain.
GS : Lalu apa ada yang lain Pak, jadi bagaimana dengan pola pikir dia dan bagaimana dengan emosinya?

PG : Kebanyakan anak-anak yang dibesarkan dalam rumah seperti ini setelah dewasa mempunyai masalah dengan pengendalian emosi. Maksudnya adalah dia menjadi anak yang akhirnya mudah bereaksi, mudh marah apa sebabnya? Sebab dalam hatinya sudah tergenang perasaan tegang.

Ini bukannya tegang yang muncul sebulan sekali tatkala orang tua agak ribut, tidak. Yang saya bicarakan adalah orang tua yang ribut, bertengkar seminggu 2 kali, 3 kali, nah itu sudah cukup untuk menggenangi hati si anak dengan suatu ketegangan. Akhirnya si anak berfungsi dalam hidup sehari-hari secara tegang. Seperti kita misalnya menarik karet, kalau menarik sampai cukup panjang, otomatis kalau kita sentuh karet itu tegangannya tentu akan lebih besar dibandingkan kalau karet itu kita lemaskan. Anak yang dibesarkan dalam rumah yang penuh pertengkaran cenderung bertumbuh besar menjadi anak yang reaktif (GS: Emosional maksudnya begitu Pak?) emosional karena emosinya sudah lumayan tinggi meskipun tidak ada apa-apa.
IR : Dan anak yang mengalami demikian itu, bagaimana daya tahannya menghadapi stres, Pak Paul?

PG : Kecenderungannya adalah anak ini sulit untuk menghadapi stres, karena apa? Karena dasarnya sudah tegang sehingga tidak bisa lagi menahan stres dan tambahan tekanan. Jadi apa yang bisa terjdi sebetulnya ada dua reaksi yang ekstrim dari satu sumber yang sama.

Si anak bisa menjadi reaktif dalam arti pemarah, eksplosif, mudah meledak, kebalikannya adalah dia mudah patah, mudah depresi. Misalkan mudah mau bunuh diri, mudah untuk merasa tidak ada harapan hidup, tidak ada semangat hidup, jadi akhirnya anak-anak ini memang tidak bisa menahan stres, sedikit stres dialami maka reaksinya bisa cepat meledak atau dia mudah patah.
GS : Itu terbawa sampai nanti dia dewasa, Pak Paul, kalau tidak ada unsur yang positif?

PG : Betul, kalau tidak ada unsur positif yang lain, yang memasuki dirinya dia kira-kira akan menjadi seperti itu.

GS : Lalu apakah kalau dia pria akan memperlakukan istrinya juga seperti itu?

PG : Sering kali begitu (GS : Melihat contoh orang tuanya Pak Paul ya) betul. Dan mungkin kita bertanya kenapa munculnya di dalam keluarga kita ya, seringkali waktu kita belum menikah hal-hal ii justru tidak muncul.

Hal yang perlu kita ingat adalah bahwa keluarga kita, hubungan kita dengan istri kita ini sebetulnya merupakan replika suatu jiplakan dari hubungan kita dengan orang tua dulu. Sebab waktu kita hidup dengan orang tua kita sebetulnya mulai mencontoh dan akhirnya memasuki peran suami dan istri, kalau kita pria kita memasuki peran si papa, kalau kita wanita kita memasuki peran si mama. Jadi saya berikan contoh yang lain, misalkan ada seorang ayah yang tidak setia kepada si istri, pada si ibu. Si anak wanita melihat ketidaksetiaan si ayah, dia memasuki diri si ibu, kasihan si mama ini dikhianati oleh suaminya. Tanpa disadari tatkala dia besar, dia juga sudah membawa peran si ibu atau jiwa si ibu itu ke dalam dirinya sehingga nanti setelah dia misalkan menikah tanpa dia sadari dia mulai merasakan rasa was-was terhadap si suami. Jangan sampai suamiku ini mempunyai wanita lain, nah ini sebetulnya tidak masuk akal, belum ada apa-apa, suaminya baik-baik saja, sudah ada perasaan was-was. Yang terjadi sebetulnya adalah karena si anak itu, si ibu/si wanita tersebut sewaktu kecil telah mengadopsi figur si ibu ke dalam hidupnya sehingga hal itu dia bawa dan munculkan sewaktu dia menjadi seorang istri.
GS : Misalnya ada sebuah keluarga yang bertengkar, lalu anaknya itu sebagian membela ayahnya sebagian membela ibunya. Memang di dalam pertengkaran itu tidak ada hanya salah satu yang betul, kedua-duanya mungkin salah tetapi tanggapan anak bisa berbeda-beda Pak Paul, apakah itu karena dia anak laki lalu membela ayahnya, bagaimana Pak Paul kalau sampai terjadi pengelompokan seperti itu?

PG : Ada beberapa kemungkinan, yang pertama adalah memang ada yang salah, jadi ada yang salah dalam pengertian yang satu ini kalau marah cenderung kasar, yang satu marah tidak kasar. Jadi sebetlnya meskipun yang tidak kasar yang salah, tapi waktu terjadi pertengkaran yang kasar itu dilihat salah oleh anak-anak, sehingga anak-anak lebih memihak kepada yang tidak kasar, misalkan seperti itu.

Kedua adalah pengaruh dari kedekatan, misalkan si anak ini dekat dengan si papa, adiknya dekat dengan mamanya. Secara otomatis dia akan membela yang dekat dengannya, itu juga bisa terjadi. Yang berikutnya juga adalah si anak akhirnya harus memihak karena dia melihat sendiri bahwa misalkan si ayah itu sayang, memperhatikan si anak/anak-anaknya sedangkan si ibu kurang memberikan perhatian kepada anak-anak. Dalam hal misalnya pertengkaran itu si ayah yang salah, tapi sekali lagi karena yang lebih banyak memberi perhatian adalah si ayah, maka dia yang dibenarkan.
GS : Pak Paul, kalau memang dampaknya sangat luas, kompleks sekali, mungkin Pak Paul dapat menjelaskan bagian dari firman Tuhan yang bisa dijadikan pedoman untuk orang tua atau mungkin anak di dalam menghadapi hal itu.

PG : Saya akan bacakan dari II Korintus 5:17 , ayat yang saya kira kita kenal. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesunggunya yang baru sudah datang."

Ini adalah salah satu ayat yang menghibur kita bahwa setelah kita menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus, kita diberikan kesempatan untuk memperbaharui hidup kita. Meskipun masa lalu kita mempunyai cengkeraman yang kuat, bukannya tidak kuat, tapi sekarang di dalam Tuhan kita tidak lagi berkelahi sendirian. Kita ditemani oleh Tuhan yang hidup dalam diri kita agar kita bisa melepaskan cengkeraman itu sedikit demi sedikit. Jadi janji Tuhan saya kira sangat menguatkan bagi kita semuanya.
GS : Jadi kita sangat tergantung oleh seseorang itu dilahirkan baru, diciptakan baru oleh Tuhan, jadi mungkin sifatnya, pola pikirnya, tindak tanduknya akan diperbarui ya, Pak Paul?

PG : Betul, meskipun tetap ada pergumulan Pak Gunawan, saya saksikan itu tapi saya juga melihat di tengah-tengah kekalahan dan pergumulan ada kemenangan-kemenangan yang bisa mereka catat.

GS : Yang tadi Pak Paul singgung-singgung, kalau tidak ada sesuatu yang khusus dan ternyata firman Tuhan tadi mengatakan dari kuasa Tuhan orang akan mengalami dampak yang sangat negatif dari pertengkaran orang tuanya, Pak Paul?

PG : Betul, dampaknya luas sekali Pak Gunawan, memang kita harus bicarakan lagi pada kesempatan lain, karena nanti setelah mereka menikah kecenderungannya adalah mengulang kembali proses yang mreka alami, sekalipun mereka benar-benar berusaha untuk menyingkirkan dari kehidupan mereka, tiba-tiba muncul lagi di depan mata mereka.

GS : Tadi firman Tuhan mengatakan kalau yang baru itu sudah terbit maka yang lama itu lenyap Pak Paul, itu adalah suatu pengharapan yang sangat perlu dimiliki baik oleh orang tua maupun oleh anak-anak itu?

PG : Betul, tapi ini perlu proses ya Pak Gunawan.

GS : Melalui proses yang panjang, melalui suatu pergumulan yang mungkin jatuh bangun, karena di dalam setiap keluarga pasti pernah terjadi pertengkaran yang tanpa kita kehendaki tentunya muncul.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang pengaruh pertengkaran orang tua terhadap pertumbuhan anak. Kami percaya bahwa tema ini sangat berguna bagi para pendengar sekalian dan perbincangan kami tadi bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



9. Korban Melahirkan Korban


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T028B (File MP3 T028B)


Abstrak:

Pertengkaran orangtua mempunyai pengaruh terhadap hubungan atau relasi seseorang. Anak yang dibesarkan dalam rumah yang sarat dengan pertengkaran akan mengalami gangguan dalam hubungannya dengan orang lain.


Ringkasan:

Kisah nyata sebuah keluarga: di mana suami suka bertengkar dengan istrinya dan jika bertengkar dia itu suka menghakimi istrinya dan itu dilakukan di hadapan anak-anaknya. Kemudian setelah anak dewasa dia mulai meniru atau mencontoh sikap ayahnya dan dia juga suka marah dan juga suka menghakimi persis seperti ayahnya menghakimi ibunya.

Lingkaran setan yang sebetulnya mengandung arti suatu kesinambungan yang jahat ini yang seringkali terjadi dalam keluarga-keluarga yang tidak harmonis yang penuh dengan kekerasan atau pertengkaran.

Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga seperti itu sebetulnya dalam hati berjanji tidak mau menjadi seperti orang tua mereka, tapi acapkali mereka cenderung mengulang perbuatan dan tindakan yang mereka waktu masih kecil saksikan, seolah-olah cengkeraman itu sudah begitu masuk ke dalam hidup mereka sehingga waktu mereka dewasa mereka akhirnya menjadi tiruan langsung dari orang tua mereka.

Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah yang sarat dengan pertengkaran akan mengalami gangguan dalam hubungannya dengan orang lain.

Ada dua hal yang terjadi pada diri anak yaitu:

  1. Si anak menjadi anak yang berusaha menguasai keadaan, jadi mengontrol semuanya.

  2. Si anak menjadi anak yang bergantung pada orang lain.

Dua sifat ini seolah-olah bertolak belakang, tapi sesungguhnya muncul dari satu sumber yang sama yaitu dia adalah anak yang penuh ketakutan karena pertengkaran orangtua yang membuat dia tegang dan takut.

Dua cara untuk menguasai ketakutan yaitu:

  1. Menguasai keadaan sehingga keadaan itu selalu bisa dia kendalikan, karena dalam keadaan yang tak terkendali kita merasa lebih tegang, lebih takut. Atau kebalikannya menjadi orang yang luar biasa lemahnya, selalu menyajikan diri yang lemah yang perlu dilindungi, akhirnya dia menggelendot hanya bisa menempel orang lain yang diharapkan bisa melindunginya.

  2. Kita mesti mulai mencari tahu kebutuhannya, apa kebutuhan yang spesifik yang dimiliki oleh si anak. Pada umumnya dia memerlukan ketenangan. Dan salah satu hal yang sering dibutuhkan si anak adalah :

    1. Dia membutuhkan kepermanenan. Sebab dia hidup dalam ketidakpermanenan artinya ketidakmenentuan, begitu sering orangtuanya meledak tanpa dia bisa duga, nah dia perlu hidup dalam rumah yang bisa dia duga.

    2. Dia sangat membutuhkan melihat figur orangtua, hubungan suami istri yang baik. Karena kalau tidak, dia nanti setelah menikah akan mempunyai suatu bayang-bayang bahwa dia pun nanti akan seperti orangtuanya. Dan tidak bisa tidak bayang-bayang itu akan menghantuinya, berpuluhan tahun dia hidup dengan ayah ibu yang terus tidak rukun, harapan bahwa dia nanti akan rukun dengan istri itu mudah sekali pupus tatkala mereka misalkan bertengkar.

2Korintus 5:19 , "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan dirinya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka."

Setiap kita yang dirundung oleh masalah kita tahu kita orang yang penuh dengan pelanggaran. Biarlah Firman Tuhan mendamaikan atau menenangkan kita bahwa Allah tidak memperhitungkan pelanggaran kita, jadi artinya apa yang sudah ya sudah dan kita mencoba hidup yang baru.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kali ini akan kami beri judul Korban melahirkan Korban. Judul ini merupakan perbincangan yang menjadi kelanjutan perbincangan kami beberapa waktu yang lalu yaitu pengaruh pertengkaran orang tua terhadap pertumbuhan anak, namun kami akan berbicara secara lebih spesifik lagi bahwa korban itu melahirkan korban berikutnya. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Perbincangan ini akan diawali dengan sebuah kisah nyata yang akan disampaikan oleh Ibu Idajanti Raharjo.
IR : Pak Paul dan Pak Gunawan, saya pernah menemui sebuah keluarga di mana sang suami suka bertengkar dengan istrinya dan jika bertengkar dia suka menghakimi istrinya dan itu dilakukan di hadapan anak-anaknya. Kemudian setelah anak ini dewasa dia mulai mencontoh sikap dari ayahnya dan dia juga suka marah. Yang saya heran si anak ini kalau marah terhadap ibunya, suka menghakimi persis seperti ayahnya menghakimi ibunya. Jadi si ibu ini seolah-olah sudah kehilangan wibawa di hadapan anak-anaknya, seperti jadi korban, menurut Pak Paul bagaimana?

PG : Tepat sekali seperti ungkapan lingkaran setan ya Bu Ida, sebab lingkaran setan sebetulnya mengandung arti suatu kesinambungan yang jahat. Yang tadi Ibu Ida katakan seringkali terjadi daam keluarga-keluarga yang tidak harmonis yang penuh dengan kekerasan atau pertengkaran.

Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga seperti itu sebetulnya dalam hati berjanji tidak mau menjadi seperti orang tua mereka, tapi yang acapkali terjadi adalah mereka menjadi seperti orang tua yang tidak mereka sukai itu. Mereka mengulang perbuatan dan tindakan yang ketika mereka masih kecil sangat membencinya, tapi seolah-olah cengkeraman itu sudah masuk ke dalam hidup mereka sehingga waktu mereka sudah dewasa akhirnya menjadi tiruan langsung dari orang tua mereka.
GS : Apakah anak itu adalah anak laki-laki, Bu?
IR : Perempuan, justru anak laki-lakinya sayang kepada ibunya.
GS : Usianya kira-kira? Sepertinya remaja.
IR : Anaknya itu remaja, tapi sekarang sudah menikah.
GS : Kenapa bisa mencontoh ayahnya Pak? Tadi saya pikir anak perempuan cenderung mencontoh ibunya tetapi anak perempuan kenapa bisa mencontoh sikap ayahnya yang begitu keras terhadap istrinya?

PG : Dalam hal ini memang bergantung pada proses identifikasi. Siapa yang diidentifikasi oleh si anak itu, yang saya maksud dengan identifikasi adalah si anak menempatkan dirinya di pihak sipa.

Dalam contoh tadi si anak wanita menempatkan dirinya di pihak si papa, mungkin yang terjadi adalah si anak wanita memiliki cukup banyak kesamaan dengan si papa. Contoh kalau si anak itu cukup rasional dan si papa juga cenderung orang yang sangat rasional, sedangkan si mama orang yang lumayan emosional kurang rasional. Otomatis kesamaan ini mendekatkan mereka dan si anak lebih bisa mengerti si papa. Papa marah karena mama tidak mudah mengerti misalnya, papa marah karena mama itu lemah, terlalu mudah dipengaruhi oleh emosinya, jadi yang lebih bisa mengerti adalah si anak wanita sehingga dia seolah-olah membenarkan tindakan si papa kepada si mama. Dan ini yang sebetulnya lebih berbahaya, si anak akhirnya mengakui kelemahan si mama, bahwa si mama itu seharusnya tidak demikian. Karena si mama itu lemah, seolah-olah sudah selayaknyalah menerima ganjaran-ganjaran itu. Akhirnya si anak mengikuti jejak si papa, karena apa? Karena sama-sama tidak tahan juga dengan sikap si mama yang misalnya emosional, lama-kelamaan si anak yang lebih mirip dengan si papa juga merasa tidak tahan dengan mamanya, jadi akhirnya kebenciannya mulai tumbuh juga terhadap si mama.
GS : Dalam hal ini yang jadi korban mama tadi ya?

PG : Betul.

IR : Ini bagaimana Pak Paul, untuk memperbaiki hubungan ini, karena saya tahu rasanya kalau komunikasi kedua orang antara anak dan ibu tidak pernah cocok, setiap ibunya punya ide selalu ditolak.

PG : Jadi si ibu itu, dulu harus menghadapi si ayah, sekarang harus menghadapi si anak, jadi diteruskan satu generasi selanjutnya.

GS : Tapi kalau tadi kita bicara, Pak Paul bahwa korban melahirkan korban, apakah tidak mungkin bahwa ibu itu yang sekarang kita lihat menjadi korban. Apakah tidak mungkin bahwa orang tuanya, orang tua si ibu ini dulu juga mengalami hal yang sama, Pak?

PG : Sangat mungkin, sebab si anak wanita ini nanti kalau jadi ibu dia akan cenderung juga seperti itu, misalkan dengan suaminya atau dengan anaknya dia cenderung sangat reaktif sekali dan mdah sekali marah terhadap hal-hal yang tidak bisa dia toleransi.

(1) GS : Berarti pertengkaran orang tua itu akan punya pengaruh pada hubungan atau relasi seseorang?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi anak-anak yang dibesarkan dalam rumah yang sarat dengan pertengkaran akan mengalami gangguan dalam hubungannya dengan orang lain. Pada kesempatan yang lal kita bicara tentang kurangnya rasa percaya diri, was-was terhadap orang lain.

Ada dua kecenderungan, Bu Ida dan Pak Gunawan, yang pertama adalah si anak ini menjadi anak yang berusaha menguasai keadaan, jadi mengontrol semuanya. Yang kedua kebalikannya anak ini menjadi anak yang bergantung pada orang lain, seolah-olah ini dua sifat yang bertolak belakang tapi sesungguhnya muncul dari satu sumber yang sama yaitu dia adalah anak yang penuh ketakutan karena pertengkaran orang tua itu membuat dia tegang dan takut. Nah orang tidak bisa hidup dalam ketakutan terus-menerus, akhirnya yang dia lakukan adalah mencoba untuk menguasai ketakutannya itu. Ada dua cara untuk menguasai ketakutan, yang pertama tadi saya singgung menguasai keadaan sehingga keadaan itu selalu bisa dia kendalikan, karena dalam keadaan yang tidak terkendali kita merasa lebih tegang, lebih takut. Orang seperti ini sukar sekali berelasi dengan orang lain karena kecenderungannya menguasai orang lain sehingga reaksi orang akan seperti yang dia inginkan, kalau tidak seperti yang dia inginkan maka dia bisa marah dan sebagainya. Atau kebalikannya dia menjadi orang yang luar biasa lemahnya, selalu menyajikan diri yang lemah yang perlu dilindungi, akhirnya dia menjadi seperti lintah, dia hanya bisa menempel pada orang lain, yang diharapkan bisa melindunginya. Supaya apa? Supaya dia tenang, jadi sekali lagi sumbernya sama yaitu dia takut, tegang dan sangat membutuhkan keamanan.
(2) GS : Tadi Pak Paul katakan memang itu seperti lingkaran setan Pak Paul ya, tapi dengan pertolongan Tuhan pasti ia mau mencoba untuk memutuskan lingkaran itu supaya proses ini berhenti, supaya tidak berkelanjutan. Tentunya dalam hal ini kita akan lebih condong untuk menolong si anak, kalau katakan orang tuanya mungkin lebih susah. Seandainya kita mau menolong si anak yang mengalami kondisi keluarga seperti itu, hal-hal apa yang bisa kita lakukan terhadap anak itu, Pak Paul?

PG : Pertama-tama si anak perlu diberikan wadah atau kesempatan agar dia bisa mengekspresikan perasaan-perasaannya. Biasanya dilakukan melalui proses terapi yang lebih terkendali dan juga bekesinambungan.

Jadi maksudnya si anak menyimpan banyak perasaan, baik itu kebencian, kemarahan, ketakutan, ketegangan. Masalahnya adalah dalam rumah tangga dia tidak berkesempatan mengutarakannya, karena apa? Tidak ada yang mau mendengar, orang tua sudah sibuk dengan problem mereka sendiri jadi si anak akhirnya terpaksa menyimpan, memendam semuanya. Oleh sebab itulah kalau memang dia mempunyai karakter yang agak keras, sewaktu anak ini remaja, akhirnya dia melampiaskannya di luar dengan berkelahi, memukul misalnya.
GS : Tapi tadi Pak Paul juga katakan bahwa anak yang mengalami problem seperti ini sulit sekali untuk mengekspresikan emosinya, lalu bagaimana cara kita menolong anak ini, Pak Paul?

PG : Yang bisa dilakukan misalnya dalam terapi kita mengajak dia berbicara, kalau usianya masih relatif kecil bisa digunakan terapi permainan misalnya kreatifitas menggambar. Dari gambar, kaya tangannya si anak mulai mencetuskan perasaannya, misalkan dia menggambar ibu yang besar, ayah yang kecil.

Terus ditanya oleh si terapis, kenapa menggambar ibumu begitu besar, mungkin dia berkata sebab mama itu menakutkan misalnya, si papa misalnya pendiam jadi tidak menakutkan bagi dia. Dengan cara itulah si anak mulai mengekspresikan dirinya.
IR : Mungkin ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan, Pak Paul?
GS : Selain memberikan saluran supaya anak itu mengutarakan emosinya?

PG : Yang berikutnya adalah kita harus mulai mencari tahu kebutuhannya, apa kebutuhan spesifik yang dimiliki oleh si anak. Pada umumnya dia memerlukan atau membutuhkan ketenangan, tapi salahsatu hal yang juga sering dibutuhkan si anak adalah dia membutuhkan kepermanenan.

Sebab dia hidup dalam ketidakpermanenan artinya ketidakmenentuan, begitu sering orang tuanya meledak tanpa bisa diduga maka dia perlu hidup dalam rumah yang bisa dia duga. Jadi kita tahu kalau anak ini membutuhkan kepermanenan. Misalkan kita adalah penolong bagi si anak itu. Kita bisa memperhatikan kata-kata kita misalnya kalau kita berjanji kita tepati, kalau kita berkata minggu depan jam berapa kita ketemu maka kita datang pada jam yang sudah kita janjikan. Jadi kekonsistenan kita itu membawa dia masuk ke dalam alam yang dia inginkan yaitu adanya kepermanenan, keteraturan sesuatu yang bisa diduga, itu menolong dia untuk hidup dalam dunia atau alam yang berbeda, sehingga dia belajar untuk menyesuaikan diri dengan hidup seperti itu. Kebutuhan lainnya yang biasanya dimiliki oleh anak yang seperti ini adalah dia sebetulnya sangat membutuhkan untuk melihat figur orang tua, hubungan suami-istri yang baik. Karena kalau tidak, nanti setelah menikah dia akan mempunyai suatu bayang-bayang bahwa dia akan seperti orang tuanya. Pasti bayang-bayang itu akan menghantuinya, berpuluhan tahun dia hidup dengan ayah-ibu yang terus tidak rukun, harapan bahwa dia nanti akan hidup rukun dengan istri itu mudah sekali pupus tatkala mereka misalkan mulai bertengkar. Bagi pasangannya pertengkaran itu biasa, tapi tidak bagi dia yang tidak mau bertengkar karena ingin mempunyai hidup yang berbeda dari hidup orang tuanya. Dia kaget sewaktu dia bertengkar dengan si istri, misalnya dia tidak bisa lagi menoleransi kenapa saya bisa bertengkar, tidak seharusnya saya bertengkar. Anak ini perlu melihat hubungan yang baik itu seperti apa, hubungan yang baik itu tidak berarti bebas dari konflik, tapi pencetusan konfliknya adalah yang baik. Dengan kata lain si anak akhirnya perlu belajar untuk mengutarakan amarahnya dengan baik dan menerima reaksi marahnya itu juga dengan lebih wajar, kebutuhan tentang kasih sayang juga merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan. Orang tua yang sibuk berkelahi pasti kurang memperhatikan kepentingan anak, kurang melihat perasaan anak karena mereka pun sudah dirundung oleh masalah.
IR : Bahkan mungkin juga mudah marah terhadap anak-anak ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, mudah sekali marah karena sudah banyak kekesalan dalam hidupnya, jadi tidak bisa lagi diganggu oleh si anak.

GS : Kalau begitu langkah yang berikut tadi yang Pak Paul katakan itu lebih sulit dari yang pertama, kalau yang pertama tadi mungkin dia bisa diasingkan sejenak untuk mengutarakan emosinya. Tapi yang berikutnya Pak Paul, itu bersangkutan langsung dengan orang tuanya. Maksudnya sekalipun dia sudah dibekali dan sebagainya, sudah diminta untuk mengutarakan emosi, sampai di rumah dia menjumpai orang tuanya bertengkar lagi. Apakah anak ini harus diasingkan Pak Paul?

PG : Kalau diasingkan, kita harus memastikan ada rumah tangga yang memang bisa menyediakan suasana yang sangat baik ya. Tapi ini yang paling sering saya temukan Pak Gunawan, Ibu Ida, bahwa aak-anak seperti ini yang terus-menerus melihat pertengkaran orang tua mereka, tidak mau dipisah dari orang tua.

Jadi tetap ikatan batiniah antara anak dan orang tua itu begitu kuat. Akibatnya meskipun hidup tidak bahagia di rumah, tapi tetap di rumah lebih bahagia daripada di luar rumah.
GS : Berarti sebenarnya kalau memang kita mau menolong anak itu, tidak bisa terlepas dari orang tuanya juga, jadi orangtuanya harus ditolong juga untuk mengurangi frekwensi pertengkaran mereka?

PG : Betul, dan ini yang sulit karena seringkali orang tua menolak untuk ditolong. Kita juga perlu melihat ya Pak Gunawan dan Ibu Ida dalam relasinya dia sekarang dengan orang-orang lain siaa yang berfungsi menjadi pemenuh kebutuhannya.

Si anak yang sudah dewasa ini sekarang misalkan dari anak wanita itu. Waktu dia sudah menikah dia sebetulnya mempunyai suatu kebutuhan, kebutuhan yang diharapkan dipenuhi oleh orang-orang yang dekat dengan dia sekarang, baik itu suaminya maupun anaknya. Jadi dalam kasus tadi misalkan dia tidak bisa menoleransi kehidupan mamanya yang terlalu emosional. Nah waktu dia sudah menikah, dia akan menuntut orang di rumahnya baik suami maupun anak-anaknya menjadi orang-orang yang relatif tidak beremosi. Jadi artinya apa? Dia sukar menoleransi kenaikan emosi atau turun naiknya emosi baik itu dari pihak suami maupun anak, itu yang ke satu. Kedua, dia juga akan menuntut supaya orang-orang di rumahnya bersumbangsih menenangkan dia ketika dia sendiri tidak harus beremosi turun naik. Jadi bukan saja dia mau melihat orang-orang di rumahnya itu relatif tenang tidak beremosi, dia pun menuntut orang di rumahnya menyediakan itu untuk dia. Sebab sebetulnya dia sendiri juga karena lahir dari rumah tangga yang penuh pertengkaran, seharusnya dia itu mudah tegang, mudah beremosi jadi dia akan menuntut supaya orang di rumahnya menjadi orang-orang yang menenangkan dia. Ini yang harus dilihat oleh orang tersebut, siapa yang sekarang berfungsi sebagai pemenuh objek atau pemenuh kebutuhannya. Karena apa? Tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhannya, itu intinya.
GS : Apa tidak menimbulkan masalah baru lagi?

PG : Tepat sekali.

GS : Tidak mungkin karena orang serumah harus memenuhi semuanya, itu korban melahirkan korban lagi.

PG : Tepat sekali, itu sebabnya cukup banyak terjadi contoh misalnya anak wanita melihat papanya tidak setia pada mamanya. Dan sering melihat orang tuanya bertengkar karena urusan wanita lai misalnya, setelah dia dewasa menikah tiba-tiba dia mempunyai ketakutan yang sama bahwa suaminya nanti akan mempunyai wanita lain.

Yang dia tuntut adalah nomor satu si suami tidak boleh dekat sedikit pun dengan wanita lain. Jadi dia sangat menjaga hubungan si suami dengan wanita lain, itu ke satu. Kedua dia akan menuntut si suami membuat dia tenang, jangan sampai dia itu harus merasa was-was, contoh konkretnya dia meminta si suami atau menuntut si suami untuk melimpahkan cinta kasih yang membuat dia merasa sangat tenang karena sangat dicintai. Kita semua tahu ini tugas yang mustahil bisa dilakukan oleh siapapun.
GS : Tapi kalau si suami itu sebenarnya tahu latar belakang istrinya atau calon istrinya, itu akan banyak menolong ya, Pak Paul?

PG : Betul, tapi memang harus ada kesadaran dari orang yang bersangkutan, jadi dia harus sadar "Sebetulnya inilah yang terjadi. Saya menuntut jangan sampai saya seperti orang tua saya yang tdak saya sukai dan yang kedua saya menuntut supaya orang-orang membuat saya menjadi orang yang berbeda."

IR : Orang yang seperti itu tentu bagi Tuhan tidak ada yang mustahil Pak Paul. Pak Paul mungkin bisa memberikan saran yang terkait dengan firman Tuhan bagaimana mengatasi orang yang mempunyai sifat seperti itu?

PG : Saya akan bacakan dari 2 Korintus 5:19 , "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan dirinya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka." Waktu saya membaca bagin belakang dari ayat ini hati saya penuh dengan pengucapan syukur Bu Ida, yaitu Allah tidak memperhitungkan pelanggaran kita.

Setiap kita yang dirundung oleh masalah yang tadi kita bicarakan, kita tahu bahwa kita ini penuh dengan pelanggaran. Biarlah firman Tuhan mendamaikan, menenangkan kita bahwa Allah tidak memperhitungkan pelanggaran kita, jadi artinya apa yang sudah biarlah dan kita coba hidup yang baru.
GS : Tapi mungkin langkah awal yang bisa kita lakukan adalah berdamai dulu dengan Allah ya Pak (PG : Tepat sekali) kita akan berdamai dengan diri kita sendiri dan berdamai dengan orang lain.

PG : Betul, dan memang Alkitab menegaskan kita hanya bisa didamaikan dengan Allah melalui Kristus Yesus. Ia adalah penebus semua hukuman dosa kita sehingga melalui Tuhan Yesus kita didamaika dan kalau kita sudah damai dengan Allah, kita memang lebih mudah damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain pula.

GS : Hanya dengan cara itu yang tadi kita sebut sebagai lingkaran setan itu akan berhenti ya, Pak Paul.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi bahwa sekalipun pada umumnya korban melahirkan korban, tapi kita tahu bahwa di dalam Tuhan, di dalam kita percaya kepada Tuhan Yesus ada sesuatu pengharapan yang memungkinkan kita keluar dari lingkaran setan itu dan tidak perlu menjadi korban-korban berikutnya. Itulah sebuah perbincangan tentang pengaruh pertengkaran orang tua terhadap pertumbuhan anak dan juga kehidupan kita selanjutnya bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk No. 58 Malang. Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih untuk semua surat-surat yang ditujukan kepada kami. Namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda masih sangat kami nantikan. Dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



10. Wibawa Orangtua


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T046A (File MP3 T046A)


Abstrak:

Wibawa orangtua muncul bukan dari kemampuan orangtua mencukupi kebutuhan finansial anak tetapi muncul dari kehidupan orangtua yang sesuai dengan peranan dan tugasnya sebagai orangtua. Dan wibawa orangtua muncul dipandang dari kualitas hubungan suami istri. Waktu orangtua mempunyai hubungan yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa tidak akan memandang orangtua dengan penuh hormat.


Ringkasan:

Beberapa tindakan harus dilakukan oleh orang tua, supaya dia mempunyai wibawa yang tepat, sedini mungkin sejak anak itu masih kecil.

Pertama-tama, saya akan paparkan yang bukan wibawa tapi sering kali dianggap wibawa, yaitu:

  1. Faktor uang. Seringkali orang tua beranggapan kalau saya mampu mencukupi kebutuhan fisik, finansial, anak-anak atau istri atau suami saya maka otomatis saya layak untuk dihormati oleh anak-anak.

  2. Adakalanya orang tua beranggapan dengan semakin keras perlakuannya kepada anak, semakin berwibawalah dia. Justru sebetulnya reaksi yang tersembunyi pada diri anak sewaktu anak menjadi ketakutan terhadap orang tua ialah rasa tidak suka, rasa tidak hormat, bahkan rasa benci kepada orang tua.

Langkah-langkah yang harus dilakukan orang tua di dalam membangun wibawa:

  1. "Hai istri-istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." Kolose 3:18
    Ingin saya tekankan bahwa wibawa orang tua muncul kalau orang tua hidup sesuai dengan peranan dan tugasnya sebagai orang tua. Waktu orang tua mempunyai hubungan yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa tidak akan memandang orang tua dengan penuh hormat. Jadi wibawa yang pertama muncul dari kualitas hubungan suami-istri, ini tidak bisa ditawar-tawar.

  2. "Hai suami-suami kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." Kolose 3:19
    Ini mengandung 2 unsur:

    1. Yang pertama adalah perintah, yakni kasihilah istrimu. Sekali lagi anak-anak akan menghormati ayah dan ayah menjadi ayah yang berwibawa waktu anak-anak melihat ayah mengasihi mama. Ini adalah hal yang penting sekali untuk dilihat si anak. Dan waktu ayah dilihat mengasihi mama, anak-anak cenderung akan menghormati papa.

    2. Yang kedua adalah larangan, jangan berlaku kasar terhadap istri. Tuhan juga tegaskan larangan jangan memperlakukan istrimu dengan kasar.

  3. "Hai bapa-bapa janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." Kolose 3:21 .

Terhadap istri, Tuhan hanya memberikan satu perintah, ayah malah tiga, memang pria itu perlu banyak dilarang. Yang dimaksud menyakiti hati itu sebetulnya mempunyai arti, jangan membuat hati anak itu menjadi pahit. Pahit itu mencakup unsur tersinggung, benci, tidak ada lagi gairah untuk dekat dengannya, tidak mempedulikan orang ini, masa bodoh dengan orang ini.

Pahit intinya berarti kita memasukkan yang pahit ke dalam hatinya. Adakalanya orang tua atau dalam hal ini khususnya ayah bisa membuat hati anak pahit biasanya, yang pertama melalui disiplin yang berlebihan. Dan yang kedua adalah ayah kalau marah cenderung melihat anak itu sebagai "sparring partnernya" kecenderungan pria memang berkelahi, sejak kecil makanya yang sering berkelahi secara fisik adalah anak pria.

Salah satu kasus di Alkitab, di mana Absalom itu memberontak kepada Daud, itu adalah contoh wibawa hilang sebagai akibat perbuatan Daud sendiri. Daud memberikan contoh hidup yang tidak berintegritas. Orang tua harus memiliki kehidupan yang benar, bukan saja kualitas hubungan suami-istri harus baik, bukan saja perlakuan terhadap anak tidak memahitkan perasaan anak, tapi kehidupan orang tua juga harus berintegritas.

Pada akhirnya harus kita sadari, bahwa kewibawaan itu datang dari pihak Tuhan, dan itu harus kita kelola dengan baik. Untuk membina hubungan yang harmonis suami istri maupun terhadap anak, jadi tetap dibutuhkan wibawa. Yang harus kita camkan adalah, wibawa tidak datang dengan sendirinya, wibawa itu bergantung pada perbuatan kita sebagai ayah dan ibu. Jadi yang terutama adalah orangtua harus hidup takut akan Tuhan. Sekali dia takut akan Tuhan, dia lebih takut untuk memperlakukan istri atau suami, dan anak-anak dengan lebih baik, sehingga hidupnya pun akan lebih benar. Jadi semuanya itu saya kira adalah hal-hal yang membangun wibawa orang tua.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Wibawa Orang Tua". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, ada banyak keluhan dari orang tua khususnya pada akhir-akhir ini mereka merasa anak-anak mereka itu sudah tidak menghormati mereka lagi. Tidak sopan dan sebagainya karena terlalu berani dalam berkata, bersikap, dibandingkan dengan keadaan orang tua pada waktu mereka itu masih anak-anak. Lalu mereka mengatakan apa kami ini memang sudah tidak berwibawa lagi dihadapan mata mereka itu, nah sebenarnya apa Pak Paul wibawa itu?

PG : Saya ingin menanggapi yang tadi Pak Gunawan singgung memang saya kira ada pengaruh dari luar Pak Gunawan, pengaruh dalam pengertian kita sekarang hidup di alam demokratis. Nah, alam demokrtis tidak bisa tidak akan mempengaruhi cara kita hidup atau cara kita melihat hidup.

Salah satu hal yang menjadi unsur penting dalam konsep demokrasi adalah bahwa kita ini sama rata, kita ini mempunyai hak yang sama, kita ini mempunyai kewajiban yang sama, jadi keistimewaan itu tidak diberikan secara otomatis karena faktor kelahiran, atau faktor hal-hal yang bersifat jabatan. Sesuatu itu menjadi istimewa kalau memang ada keistimewaan dalam sumbangsihnya, dalam perbuatannya, nah alam pikir anak-anak sekarang tidak bisa tidak dipengaruhi oleh alam demokrasi atau budaya demokrasi yang makin hari memang makin meluas di dalam hidup kita ini. Oleh sebab itulah anak-anak sekarang memang tidaklah setakut pada orang tua seperti anak-anak dulu, ini juga adalah keluhan yang sering kali saya dengar, sebab memang kita sadari pada waktu dulu anak-anak takut sekali untuk misalnya membangkang orang tua, melawan atau kurang ajar dan sebagainya. Nah, saya kira ada pengaruh faktor budaya juga Pak Gunawan.
GS : Tapi apakah itu membuat orang tua harus mengorbankan wibawanya terhadap anak-anak Pak Paul?

PG : Nah, oleh karena adanya alam dari luar, alam demokrasi yang memang melanda masuk ke dalam rumah tangga kita oleh karena itulah orang tua sekarang mempunyai tuntutan tugas yang lebih berat,untuk membuktikan dirinya sebagai orang-orang yang layak untuk dihormati oleh anak-anak mereka.

Kalau dulu pokoknya begitu menjadi seorang tua, begitu mempunyai anak sudah mendapatkan suatu wibawa tertentu, namun sekarang, orang tua seolah-olah harus membuktikan dirinya layak mendapatkan wibawa itu, barulah anak-anak akhirnya lebih bisa hormat kepada mereka.
(2) GS : Nah, kalau memang begitu Pak Paul tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan oleh orang tua, tentu sedini mungkin sejak anak itu masih kecil. Supaya dia mempunyai wibawa yang tepat Pak Paul, jadi bukan ditakuti oleh anak-anak mereka tetapi memang anak-anak ini hormat kepada kedua orang tuanya ini.

PG : Pertama-tama Pak Gunawan, saya akan paparkan yang bukan wibawa tapi sering kali dianggap wibawa. Pertama adalah saya kira faktor uang Pak Gunawan, sering kali orang tua beranggapan kalau sya mampu mencukupi kebutuhan fisik, finansial anak-anak atau istri atau suami saya, maka otomatis saya layak untuk dihormati oleh anak-anak.

Nah point pertama adalah sebetulnya keuangan bukanlah ukuran, yang paling penting bukanlah soal berapa besarnya, tapi dalam soal uang berapa bertanggungjawabnya. Jadi adakalanya konsep kita ini keliru dalam hal wibawa. Adakalanya orang tua beranggapan selama saya masih bisa menyediakan uang kepada anak-anak, anak-anak seharusnyalah hormat kepada saya. Jadi bukan soal berapa besar jumlahnya namun berapa bertanggungjawabnya si orang tua, berapa rajinnya dia, itu yang akan membuahkan wibawa pada dirinya, itu yang pertama.
IR : Kemudian sikap yang lain, Pak Paul?

PG : Nah yang kedua ini Bu Ida, adakalanya orang tua beranggapan dengan semakin keras perlakuannya kepada anak, semakin berwibawalah dia. Tadi sebenarnya Pak Gunawan sudah singgung anak-anak taut pada orang tua atau istilahnya ketakutan kepada orang tua.

Anak-anak menjadi ketakutan kepada orang tua karena perlakuan orang tua yang sangat keras sekali, nah ini juga anggapan yang keliru Bu Ida, sebab membuat anak-anak ketakutan sebetulnya tidaklah melahirkan wibawa. Justru sebetulnya reaksi yang tersembunyi pada diri anak sewaktu anak menjadi ketakutan terhadap orang tua ialah rasa tidak suka, rasa tidak hormat, bahkan rasa benci kepada orang tua. Nah ini adalah faktor kedua yang acapkali kita kaitkan dengan wibawa, maka orang tua merasa anak-anak tidak menghormatinya; biasanya ya langkah pertama adalah memarahi, berteriak-teriak, memukul anak tambah hari tambah keras, nah dengan harapan wibawa itu akan dibangkitkan kembali, terbalik justru tidak ada wibawa.
GS : Tapi yang selalu menjadi alasan adalah mau menegakkan disiplin, orang tua itu mau menegakkan disiplin terhadap anak, Pak Paul?

PG : Memang secara lahiriah yang diharapkan akan tercapai, karena ketakutan anak-anak akan taat melakukan yang dikehendaki oleh orang tuanya. Tapi saya kira ini akan berpengaruh pada usia tertetu atau sampai usia tertentu misalkan sewaktu anak-anak ini remaja dan sudah mampu melawan, dia melawan atau karena tidak mampu melawan di depan orang tua dia akan mengulang perbuatannya di belakang orang tua.

IR : Kadang-kadang sikap disiplin ini ditunjukkan dengan sikap yang keras Pak Paul, pada usia-usia tertentu untuk membiasakan supaya anak ini disiplin, tapi apakah itu bisa terpengaruh atau terbawa terus sampai usia dewasa?

PG : Disiplin itu sendiri memang mutlak diperlukan, jadi orang tua mesti mendisiplin anak tapi berapa kerasnya dia mendisiplin dan berapa adilnya dia mendisiplin, itu 2 hal yang sangat penting ang harus dilihat oleh anak.

Dan kita tidak boleh sedikitpun melupakan bahwa disiplin hanya efektif kalau sebelum disiplin diberikan, anak merasa dicintai dan setelah disiplin diberikan anak juga merasa dicintai. Jadi disiplin itu tidak berdiri sendiri, disiplin harus didampingi oleh kedua belah pihak oleh cinta kasih sebab waktu anak-anak dikasihi dan dia tahu dikasihi kemudian didisiplin, disiplin itu efektif. Tapi setelah anak didisiplin anak-anak ini akan merasa terbuang, tersingkirkan, tidak diinginkan, karena dimarahi dengan begitu keras oleh orang tua, perlu cinta kasih diungkapkan lagi kepada si anak, perlu diberikan lagi suatu kesan bahwa aku mencintaimu, apa yang aku perbuat tadi tidak mengubah cintaku kepadamu. Jadi pasca disiplin atau setelah disiplin, cinta kasih juga harus diberikan, dengan cara inilah wibawa orang tua akan bisa ditegakkan. Jadi sekali lagi yang kedua ini yang sering kali disalahfahami oleh orang tua adalah soal disiplin yang keras barulah wibawa saya ini akan ada, kalau tidak ada ini tidak bisa. Jadi 2 hal ini memang sering kali menjadi anggapan yang keliru.
GS : Ada pendapat Pak Paul, kalau kita ini bergurau berlebihan kita itu bisa kehilangan wibawa, bagaimana pendapat Pak Paul?
IR : Kadang-kadang bisa dikatakan orang bisa kurang ajar Pak Paul.
GS : Jadi dia bersikap diam, kalau ngomong seperlunya, dengan tujuan supaya lebih berwibawa katanya.

PG : Adakalanya memang bercanda yang terlalu bebas bisa mengurangi wibawa orang tua itu betul, jadi saya kira dalam bercanda dengan anak mesti ada batasnya. Contoh misalkan si orang tua (maaf mnggunakan istilah ini) suka kentut di muka si anak, lama-lama si anak sengaja kentut di muka si orang tua, bapaknya atau mamanya, nah saya kira bercanda seperti ini tidak cocok untuk bercanda dikalangan orang tua-anak.

Jadi memang ada bercanda-canda yang jangan lagi digunakan tapi bercanda dalam hal humor yang masih segar dan memang tidak menyinggung seseorang, harga diri seseorang silakan. Nah, adakalanya yang sering kali orang tua perbuat dan keliru adalah misalnya menggoda anak, tapi menggodanya benar-benar keterlaluan, begitu keterlaluannya sehingga anak marah dan marahnya itu tidak menghormati lagi orang tua. Jadi memang dalam bercanda kita mesti menjaga diri juga, jangan sampai keterlaluan.
GS : Adat orang Timur biasanya akan marah kalau misalnya kepala kita dipegang-pegang oleh anak, Pak Paul; tapi sekarang ini biasanya sering kali terjadi seperti itu, apakah itu harus dihindari atau bagaimana, Pak Paul?

PG : Ya saya kira kalau memang sekali-sekali anak memegang kepala kita, tidak apa-apa, tapi misalnya anak memegang-megang terus kemudian mendorong-dorong kepala si ayah, si ibu, saya kira itu sdah tidak sopan lagi.

(3) GS : Jadi bagaimana Pak Paul di dalam membangun wibawa itu apa atau langkah-langkah apa yang orang tua harus lakukan?

PG : Saya akan bacakan dari kitab Kolose 3:18 "Hai istri-istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." Nah, yang ingin saya tekankan yang pertamaadalah bahwa wibawa orang tua muncul kalau orang tua hidup sesuai dengan peranan dan tugasnya sebagai orang tua.

Waktu orang tua mempunyai hubungan yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa tidak akan memandang orang tua dengan penuh hormat, jadi wibawa yang pertama muncul dari kualitas hubungan suami istri, ini tidak bisa ditawar-tawar. Yang pertama adalah istri memang atau mama diharapkan untuk menjadi mama yang tidak kurang ajar, menjadi mama yang bisa menghormati suaminya. Waktu anak-anak melihat mama adalah mama yang tidak kurang ajar, menghormati dan taat kepada suami, pada papa mereka, otomatis ini akan melahirkan respek terhadap mama. Waktu anak-anak melihat mama adalah mama yang berani memaki papa, menunjuk-nunjuk hidung papa, menjelek-jelekkan papa, meskipun papa punya kelemahan, kecenderungannya adalah anak-anak bukannya turut menghina papa saja tapi akan turut menghina mama pula. Saya gunakan kata saja karena memang kalau papanya itu mempunyai banyak masalah, kelemahanlah misalnya main judi dan sebagainya tapi misalnya mamanya terlalu menghina di depan anak-anak memang anak-anak akan menghina si papa karena melihat papanya tidak bertanggung jawab, hidupnya tidak benar. Tapi yang aneh adalah reaksi berikutnya anak-anak acapkali tidak menghormati mama, jadi tetap sejelek apapun, suami istri jangan sampai terlalu menjelek-jelekkan si suami di depan anak-anak, sebab sering kali anak-anak bukan saja menghina papanya tapi juga tidak hormat terhadap mamanya.
GS : Langkah yang lain Pak Paul, setelah istri itu menghormati suaminya?

PG : Kalau tadi Tuhan memberi satu perintah kepada istri, di ayat berikutnya Tuhan memberikan 2 perintah kepada suaminya. Saya bacakan dari pasal 3, Kolose 3:19 "Hai suami-sumi kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia."

Jadi memang ada 2 unsur Pak Gunawan, yang pertama adalah perintah yakni kasihilah istrimu dan yang kedua adalah larangan jadi larangan jangan berlaku kasar terhadap istri. Nah sekali lagi anak-anak akan menghormati ayah dan ayah menjadi ayah yang berwibawa waktu anak-anak melihat ayah mengasihi mama, ini adalah hal yang penting sekali untuk dilihat si anak dan waktu ayah dilihat mengasihi mama, anak-anak cenderung akan menghormati papa. Dan yang kedua, yang Tuhan juga tegaskan adalah yang berupa larangan jangan memperlakukan istrimu dengan kasar. Kita tahu kecenderungan pria adalah untuk agresif bisa berlaku kasar secara kata-kata, ucapan dan juga secara tindakan yaitu secara fisik misalnya memukul istri dan sebagainya. Nah, otomatis kalau anak melihat papa memukuli mama, anak-anak akan takut untuk waktu tertentu, setelah itu anak-anak akan berani membangkang, berani melawan, dan yang terutama adalah tidak akan hormat kepada papanya. Jadi sekali lagi kualitas hubungan suami istri adalah faktor pertama yang menentukan apakah mereka orang tua yang berwibawa atau tidak.
GS : Ya mungkin memang perlu ada 2 hal yang disampaikan kepada para suami atau ayah karena perannya sebagai kepala keluarga itu Pak Paul?

PG : Betul, dan perintah Tuhan mengasihi istri sebetulnya dalam wujud nyata atau konkretnya ialah mendahulukan istri di atas yang lain-lainnya. Jadi sewaktu ayah itu mengutamakan kerja di atas stri, nah dia tidak memberi cinta kepada istri, waktu si ayah mendahulukan kakek dan neneknya atau bibi dan pamannya di atas istri, anak-anak melihat ayah tidak begitu mengasihi istri.

Bahkan waktu ayah terlalu mengasihi anak-anak di atas istri, anak-anak pun melihat ayah tidak mengasihi mama, nah ini adalah wujud-wujud konkret dari cinta sebab cinta pada dasarnya adalah mengutamakan di atas yang lain-lainnya. Jadi sebagai ayah, kita diingatkan untuk mengutamakan istri kita, dan waktu anak-anak melihat bahwa ayah mengutamakan istri, wibawa ayah akan muncul. Dan waktu ayah memperlakukan istri dengan penuh hormat, penuh kasih sayang, tidak menghina, tidak memaki-maki, anak-anak itu juga akan lebih menghormati ayah.
GS : Ada satu ayat yang mengingatkan saya yang mengatakan "Hai bapa-bapa jangan sakiti hati anakmu."

PG : Betul, nah ini adalah ayat yang selanjutnya ayat 21 "Hai bapa-bapa janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." Jadi terhadap istri, Tuhan memberikan dua perintah emudian untuk anak, ada lagi yang Tuhan berikan kepada ayah.

Jadi benar-benar wanita hanya dapat satu perintah, ayah malah tiga, memang pria itu perlu banyak dilarang.
GS : Yang dimaksud di sana menyakiti hati itu bagaimana Pak?

PG : Begini, sebetulnya menyakiti hati mempunyai arti jangan membuat hati anak itu menjadi pahit.

IR : Tersinggung itu Pak Paul ya?

PG : Betul, pahit itu mencakup unsur tersinggung, mencakup unsur benci, mencakup tidak ada lagi gairah untuk dekat dengannya, mencakup unsur tidak mempedulikan orang ini, masa bodoh dengan oran ini, nah jangan sampai anak mempunyai perasaan tersebut kepada kita sebagai ayah.

Nah, janganlah membuat tawar hatinya, sama kata-katanya jadi jangan membuat hati anak kita itu pahit. Pahit berarti begini sebetulnya kita memasukkan yang pahit ke dalam hatinya itu kira-kira intinya. Apa yang kita masukkan ke dalam hati anak kita, ini yang perlu kita lihat kepahitan atau yang manis, yang baik atau justru yang pahit, yang negatif. Nah adakalanya orang tua atau termasuk dalam hal ini ayah bisa membuat hati anak pahit biasanya melalui tadi yang sudah kita bahas, disiplin yang berlebihan. Dan yang kedua adalah ayah kalau marah cenderung melihat anak itu sebagai "sparring partnernya" kecenderungan pria memang berkelahi sejak kecil, makanya yang sering berkelahi secara fisik adalah anak pria. Waktu orang tua atau waktu ayah sudah mulai agak tua anak-anak sudah mulai besar, ayah itu mulai melihat anak sepertinya melawan, menantang, dia merasa ditantang. Nah, ibu tidak melihat anak itu menantang, mengajak duel, tidak, tapi ayah cenderung menyoroti kelakuan anak yang nakal sebagai tantangan untuk seolah-olah diajak berduel. Jadi akhirnya si ayah bukan mendidik, tapi justru mengeluarkan kata-kata yang memancing amarah si anak, seolah-olah ayah itu ingin mengajak anaknya berduel, kalau engkau berani silakan lawan saya, soalnya menunggu kesempatan kapan anak ini bisa dihajar lebih keras lagi. Seperti dalam perkelahian, nah inilah yang akan menjadikan anak pahit yaitu penghinaan-penghinaan untuk membuat anak itu mengaum dan melawan si ayah, nah itulah kesempatan yang ditunggu oleh si ayah. Si anak seolah-olah menanggapi tantangannya untuk supaya bisa dihajar lebih keras lagi, nah hinaan-hinaan inilah yang memahitkan hati anak.
IR : Tadi Pak Paul katakan bahwa seorang suami yang keras terhadap istrinya membuat orang tua ini tidak juga berwibawa. Tapi juga ada kasus yang lain yaitu sering kali menghakimi, memarahi istrinya di hadapan anak-anak, tapi anak-anak itu akhirnya menganggap mamanya itu tidak berwibawa lagi, bahkan anaknya ini berani menghakimi ibunya, kalau ibunya salah. Nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu juga akan terjadi, itu betul sekali Bu Ida, jadi kalau ayah menghina ibu terlalu sering, meremehkan ibu terlalu sering, anak-anak juga akan menghina ibu. Misalkan ayah selalu berkata kpada ibu, goblok kamu, goblok kamu, jangan kaget kalau anak-anak itu sudah dewasa atau sudah besar tiba-tiba akan berkata hal yang sama kepada ibunya.

Goblok kamu mama, kenapa.... sebab, perkataan goblok itu sudah terlalu terekam dalam pikiran si anak, sehingga yang terekam mudah muncul di mulut kita secara natural.
IR : Yang heran si anak ini sebetulnya justru menyalahkan si ayah, si ayah itu sebenarnya tidak berwibawa, tapi yang menjadi korban itu ibunya Pak Paul?

PG : Sebetulnya dua-duanya, dia benci kepada si ayah tapi juga pada akhirnya tidak hormat pada si mama, meskipun dengan mama terjadilah konflik perasaan. Di satu pihak tidak hormat, di pihak yag lain sangat kasihan dengan mama karena mama itu korban perlakuan ayahnya.

Nah, kenapa si anak itu kok bisa turut tidak menghormati mamanya, karena memang si mama punya kelemahan juga yang seharusnya tidak diperlakukan kasar oleh si ayah. Misalkan mamanya agak lamban, nah dalam kelambanan itulah si ayah memaki-makinya luar biasa. Nah, anak memang akan tetap melihat mamanya lamban dan tanpa disadari dia akan juga bereaksi seperti papanya bereaksi. Atau misalnya mamanya suka tanya papanya, ke mana kamu, pulang jam berapa kamu, nah waktu si anak mendengar mama bertanya hal yang sama kepadanya, reaksinya sama terhadap mamanya, mama terlalu cerewet, mengurus saya dan dia memaki mamanya juga.
GS : Pak Paul, dalam kasusnya Daud di mana Absalom itu memberontak kepada dia, itu sebenarnya apa kesalahan Daud, Pak Paul?

PG : Bagus sekali pertanyaan itu Pak Gunawan, sebab itu adalah contoh wibawa yang hilang atas perbuatan Daud sendiri. Yaitu apa Daud memang memberikan contoh hidup yang tidak berintegritas dan ni adalah hal ketiga yang harus ditegakkan di rumah.

Yaitu orang tua harus memiliki kehidupan yang benar bukan saja kualitas hubungan suami istri harus baik, bukan saja perlakuan terhadap anak tidak memahitkan perasaan anak, tapi yang ketiga adalah kehidupan orang tua harus berintegritas. Kalau orang tua baik kepada anak, baik kepada suami istri tapi tukang tipu uang orang, menggencet, membohongi orang dan sebagainya, anak-anak tidak akan menghormati. Daud melakukan kesalahan yang sangat fatal waktu menikahi Batsyeba atau meniduri Batsyeba secara ilegal kemudian membunuh Uria; nah itu sudah diketahui oleh khalayak ramai dan bahkan yang pasti oleh anak-anaknya sendiri. Dan Absalom adalah anak yang salah satu atau mungkin yang tertua dari anaknya Daud itu, jadi dia melihat perbuatan papanya yang seperti itu maka tidak ada lagi rasa hormat.
IR : Jadi yang terutama adalah orang tua harus hidup takut akan Tuhan ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, takut akan Tuhan, dia lebih takut untuk tidak memperlakukan istri atau suami dengan baik dan anak-anak yang lebih baik dan hidupnya pun akan lebih benar. Jadi tiga hal itu saa kira adalah hal-hak yang membangun wibawa orang tua.

GS : Tadinya saya pikir begini Pak Paul, orang lain saja yang bukan anaknya Daud hormat kepada Daud, karena Daud seorang raja, tapi kenapa anaknya justru tidak menghormati dia?

PG : Betul, itu yang terjadi juga dengan anak-anak Imam Eli dia dihormati oleh rakyat Israel tapi....

GS : Anaknya tidak menghormati dia.

PG : Tidak menghormati dia, dan yang menarik anak-anak Samuel pun tidak menghormati Samuel, sehingga hidup mereka tidak benar. Pada awalnya Samuel melihat contoh Eli, dia tinggal di rumah Eli tpi dia mengulang kesalahan yang sama, kita manusia memang penuh dengan kelemahan Pak Gunawan.

IR : Tapi juga pengaruh lingkungan Pak Paul, sering kali membuat anak-anak itu kadang berontak terhadap orang tua, kadang melawan orang tua, apakah itu juga karena pengaruh orang tua itu?

PG : Ada, pasti ada tapi meskipun kalau terjadi seperti itu ada pengaruh dari luar, namun kalau ketiga faktor wibawa itu ada di rumah, anak tidak bisa bergerak terlalu jauh juga, tidak bisa bererak terlalu jauh.

Sering kali anak itu hanya bisa menjajah orang tua kalau memang sistem rumah tangganya sudah runtuh.
GS : Jadi memang pada akhirnya kita bisa menyadari bahwa kewibawaan itu datang dari pihak Tuhan yang harus kita kelola dengan baik supaya untuk membina hubungan baik suami istri maupun terhadap anak, tetap dibutuhkan wibawa.

PG : Betul, dan ini yang harus kita camkan Pak Gunawan, wibawa tidak datang dengan sendirinya, wibawa itu bergantung pada perbuatan kita sebagai ayah dan ibu.

GS : Mungkin kali ini kita akhiri pembicaraan kita dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang "Wibawa Orang Tua", bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 46 A

  1. Apakah sebenarnya wibawa itu...?
  2. Apa yang harus dilakukan orang tua supaya memiliki wibawa yang tepat bagi anak-anaknya..?
  3. Langkah-langkah apakah yang perlu dilakukan untuk membangun wibawa sesuai dengan firman Tuhan...?


11. Bagaimana Menghadapi Orangtua yang Tidak Berwibawa


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T046B (File MP3 T046B)


Abstrak:

Sebagai seorang anak kita harus tetap tidak boleh semena-mena menutup telinga terhadap apa yang dikatakan orangtua kita. Betapa pun buruknya orangtua kita tidak semuanya dari mereka buruk. Tuhan meminta kita tetap membuka kesempatan kepada orangtua memberi petuah kepada kita.


Ringkasan:

Beberapa waktu yang lalu kita membahas tentang bagaimana orangtua membangun wibawanya, baik terhadap pasangan hidupnya maupun terhadap anak-anaknya. Faktor- faktor yang akan dilihat dan dijadikan ukuran untuk menghormati orang tua adalah:

  1. Kualitas hubungan papa mamanya. Apakah ayah ibu memiliki hubungan yang baik saling menghormati, saling mencintai, tidak berlaku kasar satu sama lain.

  2. Perlakuan orang tua terhadap anak, apakah adil, apakah sepatutnya, apakah juga orangtua menghormati mereka.

  3. Dan yang ketiga adalah integritas hidup orang tua, apakah mereka hidup dengan benar di hadapan Tuhan atau tidak, apakah mereka orang-orang yang hidup munafik tidak sama luar dan dalamnya.

Ketiga hal ini mutlak perlu dilihat oleh anak-anak, barulah anak-anak cenderung menghormati orang tua.

Tapi memang harus saya akui, adakalanya orang tua bersifat atau bersikap kekanak-kanakan, tidak berarti sewaktu seseorang menjadi orangtua jiwa dan karakternya akan menjadi matang sesuai dengan usia dan tanggung jawabnya. Ada orang tua yang kekanak-kanakan, mempunyai kebutuhan yang bahkan lebih besar dari anak-anak mereka, contoh misalnya kebutuhan untuk disayangi seharusnya 'kan orang tua yang menyayangi anak, memberikan kepada anak kasih sayang. Tapi ada orang tua yang begitu tidak aman dengan dirinya, karena kemungkinan besar, masa lalunya sehingga dia menjadi orang tua yang akan memanipulasi anak untuk senantiasa menyayangi, mengutamakan dia.

Dalam keadaan seperti itu, dimana kondisi orang tua sudah sedemikian buruknya di mata anak itu, yang seharusnya dilakukan anak adalah:

  1. Anak-anak perlu melihat dengan jelas di mana duduk masalahnya, sebab ada kecenderungan anak-anak ini akan terjerat di dalam hubungan yang tidak sehat. Di sini anak-anak perlu melihat dengan pikiran yang jernih di mana duduk masalahnya, tempatkan masalahnya di tempat yang sebenar-benarnya. Amsal 23:22 , "Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau dia sudah tua."
    Di sini ada dua kata yang perlu diperhatikan:

    1. Yang pertama ialah kata mendengarkan. Mendengarkan dalam pengertian kita tidak semena-mena menutup telinga terhadap apa yang dikatakan oleh orangtua kita.

    2. Yang kedua, Tuhan berkata jangan menghina ibumu kalau dia sudah tua. Sebetulnya dengarkanlah dan jangan menghina sebetulnya dua sisi dari satu logam yang sama. Menghina artinya kalau memang orang tua salah, dan memang mereka punya kelemahan-kelemahan, Tuhan meminta kita jangan menghina, menginjak-injak, atau memaki-maki mereka.

  2. Yang kedua adalah, anak harus berani untuk memisahkan diri dari orang tua secara emosional dan kalau perlu secara fisik. Artinya begini, adakalanya karena kita sudah menjadi bagian keluarga, kita akhirnya tidak berani untuk pisah atau misalnya mandiri karena kita merasa kita ini harus bertanggung jawab berbuat sesuatu dan sebagainya untuk mereka.

  3. Yang ketiga adalah, anak harus melihat ayah dan ibu secara spesifik sekali.

  4. Anak harus mengampuni. Kita mengampuni bukan berarti tidak mengakui kemarahan kita, kita perlu mengakui luka yang ditimbulkan oleh orang tua kita bahwa kita telah diciderai olehnya.

Kita harus kembali pada Tuhan, orang yang sungguh-sungguh beriman tidak akan mengukur untung rugi dalam menghormati dan memperlakukan orang tua dengan baik.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini perbincangan kami mungkin kami tujukan kepada para remaja dan pemuda, karena kali ini kami akan membahas tentang bagaimana menghadapi orang tua yang tidak lagi berwibawa di mata Anda. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita berbincang-bincang tentang bagaimana orang tua itu membangun wibawanya baik terhadap pasangan hidupnya maupun terhadap anak-anaknya. Dan masalahnya adalah sekalipun orang tua itu berusaha membangun kemungkinan keliru, salah langkah dan sebagainya sehingga di depan mata anak-anaknya mereka atau salah satu dari kedua orang tua itu sudah tidak lagi berwibawa, anaknya berani melawan orang tuanya dan kata-katanya pun tidak di anggap. Nah, sebenarnya akar permasalahannya di mana Pak Paul?

PG : Seperti yang telah kita bicarakan Pak Gunawan, bahwa yang anak-anak akan lihat dan akan dijadikan ukuran untuk menghormati orang tua atau tidak adalah yang pertama kualitas hubungan papa mmanya.

Apakah ayah ibu memiliki hubungan yang baik saling menghormati, saling mencintai, tidak berlaku kasar satu sama lain. Yang kedua adalah perlakuan orang tua terhadap anak apakah adil, apakah sepatutnya, apakah juga orang tua menghormati mereka. Dan yang ketiga adalah integritas hidup orang tua, apakah mereka hidup dengan benar di hadapan Tuhan atau tidak, apakah mereka orang-orang yang hidup munafik tidak sama luar dan dalam dan sebagainya. Nah ketiga hal ini mutlak perlu dilihat oleh anak-anak barulah anak-anak cenderung menghormati orang tua, tapi dalam perjalanan hidup memang adakalanya kita tidak sempurna. Yang saya temukan Pak Gunawan, kebanyakan anak-anak sebetulnya siap untuk menerima orang tua dan memaafkan orang tua kalau orang tua kadang-kadang berbuat kesalahan dalam perlakuannya, dalam disiplinnya kepada anak-anak dan sebagainya. Tapi adakalanya anak-anak akan sukar sekali untuk menerima orang tua, nah saya tidak berbicara tentang kasus di mana memang yang bersalah adalah anak-anaknya, tapi saya bicara di mana yang bermasalah adalah orang tua. Nah, akhirnya anak-anak tidak bisa menerima atau menoleransi orang tua, biasanya karena perbuatan itu di ulang-ulang, yang keliru itu, yang salah itu, baik misalnya cara papa memperlakukan mama, cara mama memperlakukan papa, cara memperlakukan anak yang semena-mena atau hidup mereka yang tidak benar. Nah, hal yang terjadi berulang-ulang akhirnya membuat anak-anak tidak bisa menoleransi dan tidak bisa menerima orang tua, sehingga akhirnya mereka harus menyadari dan menerima fakta bahwa inilah orang tua mereka. Yang berikutnya Pak Gunawan kita harus juga camkan bahwa dengan menjadi orang tua artinya menjadi ayah ibu, tidak berarti mempunyai kedewasaan sebagai orang tua. Kita harus benar-benar berhati-hati di sini, jangan sampai para pendengar yang remaja atau yang pemuda langsung berkesimpulan mama saya, papa saya tidak dewasa, saya yang benar dari dulu. Nah, saya juga tidak mau para remaja, para pemuda yang mendengarkan program ini langsung mengambil kesimpulan yang begitu cepat. Tapi memang saya harus akui adakalanya orang tua bersifat atau bersikap kekanak-kanakan, tidak berarti sewaktu seseorang menjadi orang tua jiwa dan karakternya akan menjadi matang sesuai dengan usia dan tanggung jawabnya. Ada orang tua yang kekanak-kanakan, mempunyai kebutuhan yang bahkan lebih besar dari anak-anak mereka, contoh misalnya kebutuhan untuk disayangi seharusnya 'kan orang tua yang menyayangi anak, memberikan kepada anak kasih sayang. Tapi ada orang tua yang begitu tidak aman dengan dirinya, karena kemungkinan besar, masa lalunya sehingga dia menjadi orang tua yang akan memanipulasi anak untuk senantiasa menyayangi, mengutamakan dia. Kalau anak misalnya mulai merdeka, mulai mandiri, misalkan si orang tua akan memelas, akan membuat anak merasa bersalah meninggalkan dia di rumah sendirian, sehingga anak tidak bisa pergi harus di rumah, jadi di sini yang kekanak-kanakan memang si orang tua. Nah adakalanya itu yang terjadi dan anak-anak terpaksa hidup dalam keadaan seperti ini.
(2) GS : Dalam hal seperti itu Pak Paul, kondisi orang tua sudah sedemikian katakan buruknya di hadapan mata anak itu, apa yang seharusnya anak itu lakukan?

PG : Yang pertama adalah anak-anak perlu melihat dengan jelas, di mana duduk masalahnya sebab apa, ada kecenderungan anak-anak ini akan terjerat di dalam hubungan yang tidak sehat ini sehingga aktu si orang tua berkata engkau tidak sayang kepada papa, engkau tidak sayang kepada mama, engkau kok tega-teganya meninggalkan mama di rumah atau apa, si anak merasa bersalah, si anak merasa ya saya yang jahat, saya yang tidak baik, saya yang harus diam di rumah.

Atau contoh si anak tidak bisa keluar, disimpan di rumah terus, sudah umur 22 tahun tapi tidak keluar rumah, harus pulang sore, tidak boleh pergi dengan teman-teman. Waktu dia mau keluar dengan teman-teman, orang tua langsung memarahinya, nah akhirnya si anak jadi bertanya-tanya saya salah ini ya, saya seharusnya memang di rumah, saya seharusnya memang tidak keluar dengan teman-teman. Nah anak-anak perlu melihat dengan jelas di mana duduk masalahnya, yang lain lagi yang juga klasik, orang tua yang sering bertengkar, terus bertengkar, anak-anak kadang-kadang beranggapan merekalah pokok pertengkaran antara orang tua. Mungkin waktu masih kecil ada peristiwa di mana orang tua bertengkar, dan memang melibatkan si anak, misalkan si anak terlalu nakal atau si anak kurang bertanggung jawab dalam studinya, akhirnya si mama marah, si papa membela ribut besar, mungkin pernah terjadi sekali-sekali. Tapi sebetulnya mereka bertengkar terus-menerus karena memang kualitas hubungan suami istri yang tidak baik, namun si anak karena pernah merasa dia menjadi pokok pertengkaran orang tua akhirnya beranggapan setiap kali orang tua bertengkar pasti salahnya. Jadi apa yang terjadi, si anak merasa dia anak yang tidak baik, karena dialah orang tua menjadi susah hati, apalagi kalau orang tua berkata kenapa kamu membuat susah kami, kamu kenapa begitu jahat pada kami, tidak memperhatikan kami dan sebagainya. Nah, di sini anak-anak perlu melihat dengan pikiran yang jernih di mana duduk masalahnya, tempatkan masalahnya di tempat yang sebenar-benarnya. Kalau memang bukan mereka sebagai anak, tapi pada orang tua, anak-anak harus berkata memang ini masalah mereka. Ada contoh yang klasik misalnya yang terjadi, ada anak-anak yang sampai tidak berani tinggal di luar rumah, karena mereka selalu sadar, kalau dulu keluar rumah orang tua pasti berkelahi, jadi anak-anak harus di rumah terus. Sehingga akhirnya tidak berani keluar rumah dalam pengertian sudah akil balig, umur sudah 30 tahun tidak berani menikah, tidak berani punya pacar, kalaupun punya pacar atau punya istri diharapkan tinggal di rumah; misalnya seperti itu karena harus menjadi penjaga orang tua terus-menerus. Nah saya kira anak-anak harus tempatkan problemnya ini di mana.
IR : Tapi sebaliknya Pak Paul, ada orang tua yang tidak dewasa membuat anak itu justru tidak betah di rumah, tidak kerasan di rumah. Kadang-kadang untuk menghilangkan kejenuhan itu dia naik bus dari ujung kota satu ke kota yang lain, keujung yang satu lagi kemudian dia pulang. Tapi kalau dia di rumah lagi mendapatkan situasi di mana orang tuanya tidak dewasa minta dikasihani terus dia tidak ingin pulang, dia pergi.

PG : Betul, yang tadi pun anak-anak yang di rumah terpaksa di rumah sebetulnya tidak betah di rumah, tapi terpaksa di rumah. Ada yang terpaksa di rumah untuk menjadi pendamai atau terpaksa di rmah karena kehadiran anak-anak setidaknya mencegah orang tua berkelahi atau bertengkar.

Atau sengaja di rumah supaya misalnya ayah tidak memukuli ibu, namun sebetulnya mereka di rumah secara terpaksa, nah kalau bisa mereka ingin keluar. Tapi waktu ingin keluar rasa bersalahnya dibangkitkan kembali sehingga tidak berani keluar, jadi yang berani keluar seperti tadi itu masih lebih bagus.
GS : Masih tersalurkan.

PG : Masih tersalurkan, betul.

GS : Tapi Pak Paul, ada khususnya ini yang mendapat pendidikan iman sejak kecil terus diajarkan untuk menghormati orang tuanya, nah itu kadang-kadang sulit untuk mengekspresikan bagaimana dia harus menghormati orang tuanya. Kepada siapa mereka itu tidak respek, tidak menaruh rasa hormat lagi Pak Paul, padahal 'kan perintah itu jelas hormatilah ibu bapakmu.

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 23:22 , "Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau dia sudah tua." Nah ada dua kata di sini yang pelu diperhatikan, pertama ialah kata mendengarkan.

Nah, mendengarkan dalam pengertian kita tidak semena-mena menutup telinga terhadap apa yang dikatakan oleh orang tua kita, mungkin mereka mempunyai sifat kekanak-kanakan, tapi mereka sebagai manusia yang hidup lebih tua dari kita dan sebagai manusia yang sebetulnya juga mencintai kita sebagai anak mereka pasti memberikan kita sumbangsih. Ada hal-hal yang mereka bisa sampaikan dan kita bisa pelajari dari mereka, jadi betapa buruknya pun orang tua kita, mereka tidak semuanya buruk, tidak seluruh tentang diri mereka itu buruk. Nah, Tuhan meminta kita tetap membuka telinga untuk memberikan kesempatan kepada orang tua memberikan petuah kepada kita. Yang kedua, Tuhan berkata jangan menghina ibumu kalau dia sudah tua, dengarkanlah dan jangan menghina, sebetulnya dua sisi dari satu logam yang sama. Menghina artinya memang mereka salah misalkan, memang mereka punya kelemahan-kelemahan tapi Tuhan meminta kita jangan menghina, menginjak-injak, memaki-maki, itu adalah contoh-contoh menghina, jadi tetap yang Tuhan minta jangan kita menghina mereka. Tapi dalam prakteknya apa yang bisa kita lakukan, tadi saya sudah singgung yang pertama adalah kita mesti jelas tempatkan masalahnya di mana seharusnya berada. Yang kedua adalah kita juga mesti berani untuk memisahkan diri dari orang tua secara emosional dan kalau perlu secara fisik, artinya begini, adakalanya karena kita sudah menjadi bagian keluarga ini, kita akhirnya tidak berani untuk pisah atau misalnya mandiri karena kita merasa haruslah kita ini bertanggung jawab berbuat sesuatu dan sebagainya untuk mereka. Nah, yang saya mau tekankan adalah jangan terlalu berharap bahwa kita akan bisa mengubah mereka, kadang kala saya harus berkata kepada para pemuda atau siapa yang tinggal dalam rumah atau tinggal dengan orang tua yang memang bermasalah berat. Saya harus berkata biarlah orang tuamu mengurus masalah mereka sendiri, sebab mereka sudah hidup dalam masalah ini berpuluhan tahun dan jangan jadikan dirimu korban berikutnya, lebih baik tali ini diputuskan dalam pengertian bukannya tidak menjadi anak lagi, tapi jangan sampai korban ini dilanjutkan yaitu kepada engkau. Karena kalau tidak, engkau akan hidup dalam ikatan yang tidak sehat dan pasti akan mempengaruhi kehidupan keluargamu nanti dengan istri atau dengan suami ataupun dengan anak-anakmu nanti. Jadi langkah kedua adalah kita memang mesti berani mengambil langkah untuk pisah, untuk mandiri dan berkatalah biarkanlah orang tua menyelesaikan masalah mereka, dan saya harus membangun keluarga sendiri sekarang. Memang kedengarannya egois, apalagi kita sebagai orang Kristen rasanya kok tidak seharusnya berkata demikian, tapi kita memang berkewajiban pertama-tama untuk membangun keluarga kita sekarang, yang sudah terjadi dengan orang tua ya sudah terjadi, begitu. Misalnya mama kita sering dipukuli oleh ayah kita dan sebagainya, waktu kita mandiri kita ajak mama untuk pergi dengan kita, tinggal dengan kita biarkan papa tinggal sendiri supaya dia tidak bisa memukuli mama lagi, daripada kita semua masih tinggal di situ misalnya.
GS : Dalam rangka peringatan Tuhan tadi bahwa kita sebagai anak tidak boleh menghina orang tua Pak Paul, yang kita alami sekarang adalah anak-anak kita pendidikannya lebih tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari orang tuanya. Sehingga kalau mereka berbicara, kalau anak-anak ini membicarakan sesuatu kadang-kadang tidak pas, orang tua tidak bisa menanggapi dan itu di hadapan mata anak-anak sering kali mengurangi wibawa orang tua, bagaimana pandangan Pak Paul tentang hal ini?

PG : Adakalanya memang masalah ini muncul kalau anak dan papa misalnya bekerja di satu perusahaan yang sama. Anak lebih sekolah tinggi, lebih mengerti sistem managemen yang baru, orang tua misanya ingin mempertahankan managemen yang sudah dipakai sejak seratus tahun yang lalu misalnya.

Nah, memang sering kali menjadi masalah di sini, tapi tetap Tuhan meminta tidak boleh menghina, jadi silakan berbeda pandang, silakan beritahukan yang seharusnya dia kerjakan tapi kalau orang tua tidak setuju dan memang sampai saat ini merekalah empunya perusahaan saya kira anak harus mengikuti. Kalau anak mungkin berkata bagaimana kalau perusahaannya rugi ya biarkan, memang ini adalah keputusan orang tua, biar orang tua melihat sendiri, nah nanti karena dia melihat rugi, ya keliru, dia akan bisa berkata anak saya betul. Tapi justru kalau anak itu misalnya memaki-maki orang tua karena dianggap kolotlah apa dan sebagainya, meskipun rugi, keliru pun orang tua enggan mengakuinya, gengsi. Tapi kalau anak tidak menghina orang tua, hanya memaparkan jalan yang seharusnya dilakukan dia akan lebih berani mengakui keunggulan si anak, dan nanti malahan mendayagunakan si anak.
GS : Apakah cukup bijaksana kalau anak itu memberitahukan kepada orang tuanya entah ayah atau ibunya atau keduanya itu, apa yang dia inginkan orang tuanya itu lakukan untuk dia?

PG : Boleh, silakan kalau memang orang tuanya masih bisa mendengar, kalau tidak bisa mendengarkan lagi karena tidak mampu juga untuk mendengarkan, karena terlalu memikirkan diri mereka sangat eois dan kekanak-kanakan saya pikir tidak perlu terlalu bersemangat memberitahukan kepada orang tua apa yang menjadi kebutuhannya, sebab mungkin tidak bisa didengar malahan menjadi bumerang dipersalahkan oleh orang tua.

Kamu kok tidak bisa melihat orang tua sudah susah, jadi salah lagi ya lebih baik sudah diamkan. Terimalah kondisi orang tua yang memang begini.
GS : Ya memang kadang-kadang agak sulit Pak Paul, kondisinya itu misalnya ada anak yang mengatakan kepada ayahnya, sebenarnya saya itu respek kepada ayah, hormat, menghargai wibawa ayah, kalau ayah mau menceraikan istri yang kedua dan sebagainya dan tinggal bersama kami di rumah ini. Nah, apakah permintaan seperti itu cukup wajar, Pak Paul? 'Kan ini ayahnya sudah terlanjur punya istri kedua dan sebagainya, si anak ini tidak bisa respek kepada orang tuanya terutama ayahnya karena punya istri kedua dan dia merasa ibunya yang menjadi korban, diapun menjadi korban.

PG : Nah ini membawa kita kepada point yang ketiga Pak Gunawan, tadi saya katakan point pertama adalah kita tempatkan duduk masalahnya dengan jelas dan yang berikutnya adalah kita memisahkan dii dari problem orang tua dan yang ketiga adalah kita harus melihat ayah dan ibu kita ini secara spesifik sekali.

Sebab kita tidak bisa dengan mudah seolah-olah melabelkan papa mama baik atau tidak baik, tidak bisa, jadi dalam kasus seperti ini kita harus melihat seolah-olah ayah ibu kita itu terdiri dari kepingan-kepingan, kepingan-kepingan sifat kualitas atau perbuatan. Lihatlah dengan jelas perbuatan, sifat atau sikapnya yang tidak benar sekaligus lihatlah yang juga benar. Jadi point yang ketiga adalah untuk tetap berhadapan atau berhubungan dengan orang tua yang bermasalah carilah hal-hal yang memang tetap masih bisa kita hormati dan yang baik, dan hormatilah mereka untuk hal-hal tersebut. Sebab jalan yang sering kali ditempuh oleh anak-anak adalah ekstrim, ada anak-anak yang membela buta orang tuanya, orang tua salah seperti apapun pokoknya dia bela buta, dia akan menjaga kehormatan keluarganya, nah itu juga keliru. Tidak bisa melihat kelemahan orang tua atau ada anak yang membuang orang tuanya sama sekali, orang tua yang jahat, tidak baik, yang buruk nah saya kira kita perlu di tengah dalam pengertian melihat jelas setiap perbuatan, kelakuan atau sifat sikapnya. Adakah yang baik, adakah yang memang sangat menunjang kita dulu, yang kita hargai, di situlah kita menghargai mereka, di situlah kita menghormati mereka.
GS : Tapi biasanya memang khalayak masyarakat itu bisa menerima Pak Paul, kalau anaknya tidak menghormati orang tua karena ulah dari orang tuanya sendiri, masyarakat itu masih bisa menerima. Ada anak yang sampai ketika ayahnya meninggal dia tidak mau hadir pada saat penutupan peti maupun pemakamannya, karena ayahnya sudah menyakiti hati dia, dan dia sama sekali tidak respek terhadap ayahnya. Tapi kalau itu kita kaitkan dalam kehidupan kekristenan 'kan sangat bertentangan Pak Paul, orang sudah mati masih dibenci, dendamnya itu kok sampai segitu Pak Paul, seolah-olah tidak ada pengampunan sama sekali.

PG : Ini membawa kita ke point berikutnya Pak Gunawan, yaitu pada akhirnya tidak bisa tidak kita harus mengampuni. Kita mengampuni bukan berarti tidak mengakui kemarahan kita, kita perlu mengaki luka yang ditimbulkan oleh orang tua kita bahwa kita telah diciderai olehnya.

Dan bahkan dalam kasus-kasus tertentu ada yang cacat oleh karena orang tua, namun setelah kita akui luka yang ditimbulkan, kita akui kemarahan kita bahwa kita memang marah mendapatkan perlakuan seperti itu, langkah selanjutnya memang harus mengampuni. Sebab tetap kalau kita kembali kepada Tuhan, Tuhan selalu memisahkan orang dari perbuatan memang susah sekali, karena antara orang dan perbuatan memang menyatu. Tapi Tuhan mencintai orang berdosa dan membenci dosa, jadi kita juga akan diminta Tuhan pada akhirnya untuk sampai ke situ, tapi sekaligus saya juga akan menekankan silakan marah, silakan menangis karena cidera-cidera yang telah ditimbulkan oleh orang tua. Namun sekaligus ampuni mereka, ya nanti bisa marah silakan, tapi setelah itu coba ampuni lagi, jadi memang langkah yang terakhir menghadapi orang tua yang bermasalah, kita akhirnya tetap harus berlutut dalam doa dan mengampuni mereka.
GS : Memang biasanya anak itu hormat atau menaruh hormat kepada orang tuanya ketika orang tuanya itu masih kuat, masih punya penghasilan dan sebagainya. Tetapi kalau anak itu mulai merasa bahwa orang tuanya itu menjadi beban, rasa hormat itu lama-lama luntur, dia mengharapkan orang tuanya yang menghormati dia sekarang, karena seolah-olah orang tua ini yang bergantung pada dia Pak Paul.
IR : Itu apa karena sikap egois Pak Paul?

PG : Bisa egois, tapi mungkin juga bisa karena sikap manusia yang berdosa, yaitu kita cenderung mengukur dari segi keuntungan. Nah, waktu kita merasa kita yang memberi keuntungan kepada orang ta, seolah-olah orang tua yang harus berterima kasih kepada kita dan menghormati kita.

Dan memang dunia ini diukur oleh nilai sistem material, kita harus akui itu sehingga yang beruang yang berkuasa, yang beruang yang mempunyai kehormatan. Jadi kadang-kadang orang tua pun terjebak dalam sistem itu, anak yang kaya lebih dihormati, menantu yang kaya lebih disanjung-sanjung, yang kurang, kurang diperhatikan.
IR : Tapi juga harus kembali pada Tuhan ya, kalau orang yang sungguh-sungguh beriman mungkin tidak mengukur untung rugi Pak Paul?

PG : Betul, jadi anak-anak yang mempunyai orang tua bermasalah akhirnya ditantang, ini kesimpulannya Pak Gunawan, ditantang apakah akan hidup bermasalah atau hidup benar, dan pada akhirnya ada ua pilihan.

Dan pilihan ini tanggung jawab anak-anak, pada titik terakhir anak-anak tidak bisa berkata saya begini karena orang tua seperti itu, tidak bisa. Sebab sekarang setelah dewasa anak-anak memiliki pilihan untuk hidup benar atau untuk hidup bermasalah seperti orang tua. Jadi tetap pilihan yang seharusnya adalah hidup benar, hidup berintegritas meskipun orang tua dulu tidak berintegritas atau tidak benar.
GS : Tetapi di dalam memilih, justru itu yang sulit Pak Paul untuk merealisasikan, karena rasa hormat itu sudah tidak ada.

PG : Meskipun tidak ada lagi, tadi yang berikutnya yang saya tekankan adalah carilah yang positif, yang baik, tetap dia harus memilih hidup benar, dia harus tidak tunduk pada masa lalunya. Jangn sampai dia meneruskan masalah yang sama itu.

GS : Mungkin dia harus lakukan karena mungkin Tuhan yang memerintahkan dia untuk melakukan itu Pak Paul ya.

PG : Seperti firman Tuhan katakan bahwa setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia tidak bisa berkata di Sorga nanti: "Tuhan, saya begini, karena papa saya dulu begini, tidak bisa.

Jadi titik akhirnya adalah kepada siapakah kita harus bertanggungjawab dan jawabannya kepada Tuhan.
IR : Jadi masing-masing harus bertanggungjawab Pak Paul, segala sikap dan perbuatan yang dilakukan?

PG : Betul, waktu dia terus hidup di dalam masa lalunya dan menyalahkan orang tua, dia menjadi seperti orang tua yang kekanak-kanakan.

GS : Dan kesalahan itu akan berulang kembali, padahal kita terpanggil untuk memutuskan hal-hal yang tidak benar seperti itu dan berjalan pada jalan kebenaran firman Tuhan.

PG : Betul.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan tentang bagaimana kalau kita berhadapan dengan orangtua yang di mata kita sudah tidak berwibawa lagi. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET 46 B

  1. Apakah yang melatarbelakangi orangtua kehilangan wibawa...?
  2. Apa yang harus dilakukan seorang anak dalam menghadapi...?
  3. Apa yang harus dilakukan seorang anak dalam menghadapi orangtua yang demikian...?


12. Pengaruh Ejekan atau Olokan Terhadap Perkembangan Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T050B (File MP3 T050B)


Abstrak:

Pada dasarnya ejekan teman berdampak lumayan terhadap perkembangan jiwa si anak. Dan hal ini cenderung membuat anak memiliki perasaan minder.


Ringkasan:

Besar kecilnya pengaruh olok-olok atau ejekan terhadap perkembangan anak memang tergantung pada beberapa faktor, namun pada dasarnya ejekan teman sangat berdampak terhadap perkembangan jiwa si anak.

Amsal 12:18 , "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang."

Dampak ejekan atau olokan bergantung pada beberapa faktor yaitu:

  1. Idealnya sebelum anak-anak masuk ke sekolah kira-kira 4, 5 tahun pertama dalam kehidupannya, anak itu mendapatkan kasih sayang yang kuat dari orang tuanya dan menerima tanggapan-tanggapan positif dari orang tuanya tentang keberadaan dirinya. Sehingga waktu dia masuk ke kancah sekolah pada usia 5, 6 tahun, sedikit banyak dia sudah menerima bekal dari orang tua yang mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah seorang manusia yang berharga. Dengan bekal itulah dia memasuki pergaulan sosial yang lebih luas daripada di rumah, yakni di sekolah.

  2. Yang berbahaya adalah kalau anak tidak mendapatkan bekal dari orang tua, dia justru sering merasa dirinya tidak berharga karena tidak dikasihi, kurang diperhatikan. Kalau di sekolah mendapatkan ejekan-ejekan yang menyakiti hati seperti itu, itu benar-benar menjadi suati vonis kebenaran bahwa dirinya adalah memang seperti hewan, seperti babi, seperti kerbau, dan sebagainya. Akhirnya konsep dirinya langsung terpengaruh oleh label-label yang telah diterimanya dari teman-temannya itu.

  3. Biasanya anak akan malu sekali karena ditertawai oleh teman-teman, selain dari malu anak juga merasa sakit hati.

Anak-anak cenderung untuk takut sekali bercerita kepada orang tua, kalau orang tua itu bersikap dua ekstrim:

  1. Anak akan takut dan enggan bercerita kalau orang tua tidak menunjukkan perhatian. Mereka akan berpikir daripada bercerita orang tua tidak menanggapi, lebih baik dia tidak usah bercerita.

  2. Orang tua yang terlalu protektif juga bisa memadamkan keinginan anak untuk bercerita kepadanya, karena seolah-olah orang tuanya itu seperti Srikandi atau pendekar. Si anak tahu kalau saya cerita, mama akan datang ke sekolah seperti pendekar membawa pedang dan akan siap membabat anak-anak yang mengejek saya. Dia akan ketakutan sebab dia takut masalahnya bertambah runyam.

Ada orang tua yang memberi tekanan bahwa bagaimanapun juga anak ini adalah karunia Tuhan jadi diciptakan oleh Tuhan suatu ciptaan Tuhan yang pasti akan dihargai oleh Tuhan sendiri. Inilah yang perlu kita komunikasikan kepada anak dan yang penting sejak kecil orang tua memang harus mempunyai komunikasi yang akrab.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Pengaruh Ejekan atau Olokan terhadap Perkembangan Anak." Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kalau kita mempunyai anak yang masih kecil tentu kita akan sayang kepada mereka dan kita panggil dengan nama yang baik; tentunya supaya dia bangga dengan namanya. Tetapi masalahnya timbul ketika anak ini mulai bersosialisasi keluar rumah dan sekolah. Sering kali kita mendengar sendiri, anak kita itu diolok-olok entah karena fisiknya, entah karena tingkah lakunya, dengan ucapan-ucapan yang kadang kita sebagai orang tua mendengarnya itu sakit hati Pak Paul, karena anak yang demikian baik, diolok-olok seperti itu. Sebenarnya pengaruhnya besar atau tidak olokan itu terhadap perkembangan anak ini?

PG : Besar kecilnya memang tergantung pada beberapa faktor Pak Gunawan, namun memang pada dasarnya ejekan teman berdampak lumayan terhadap perkembangan jiwa si anak. Saya kira anak-anak ini memng bisa kejam dalam mengolok-olok sesama temannya, dan saya mengingat firman Tuhan di Amsal 12:18 berkata: "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang," memang ada orang-orang yang senang mengejek teman supaya justru hatinya disenangkan oleh ejekan.

Saya masih ingat waktu saya bekerja di rumah sakit jiwa, ada pasien yang menderita gangguan yaitu merasa sangat minder sekali dan salah satu hal yang dia katakan adalah sejak kecil dia dikata-katai orang, nah dalam hal ini karena dia gemuk dikata-katai orang gendut-gendut, gembrot dan sebagainya. Jadi ejekan-ejekan yang menertawakan fisiknya biasanya itu akan berdampak pada si anak, dan juga anak yang dikatai dengan julukan-julukan hewan, nah biasanya yang akan lebih terkena adalah anak-anak perempuan. Pada umumnya anak-anak perempuan itu tatkala memasuki usia remaja akan sangat peka dengan penampilan fisiknya, karena memang tidak bisa disangkal bahwa masyarakat atau teman-teman sejawatnya akan menyoroti penampilan fisik seorang gadis. Oleh karena itulah ada kecenderungan anak-anak remaja yang wanita mengalami krisis konsep diri pada masa remaja, karena salah satu penyebabnya itu, dia tahu dia akan dinilai berdasarkan penampilan fisik jadi harus tampil menarik. Nah apa yang terjadi kalau dia tak menarik, dia akan menerima julukan atau ejekan yang seperti tikaman pedang, yang bukan saja menusuk hatinya tapi juga merobek penilaian dirinya yang positif menjadi negatif.
GS : Tapi bukankah sudah menjadi sifat anak-anak Pak Paul, dalam keriangan mereka, sebetulnya mereka tidak terlalu serius, mengolok dan diolok begitu Pak Paul?

PG : Betul, tadi Pak Gunawan bertanya sampai berapa besar dampaknya, nah dampak itu memang bergantung pada beberapa faktor, Pak Gunawan. Faktor yang pertama adalah idealnya sebelum anak-anak mauk ke sekolah jadi kira-kira 4, 5 tahun pertama dalam kehidupannya anak itu mendapatkan kasih sayang yang kuat dari orang tuanya dan menerima tanggapan-tanggapan positif dari orang tuanya tentang keberadaan dirinya.

Sehingga waktu dia masuk ke kancah sekolah pada usia 5, 6 tahun sedikit banyak dia sudah menerima bekal dari orang tua, bekal yang mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah seorang manusia yang berharga. Waktu dia dicintai, waktu dia diperhatikan, tidak bisa tidak yang dia terima adalah suatu keyakinan bahwa dia seseorang yang berharga, begitu berharganya sehingga orang tua meluangkan waktu untuk mengasihi dan memperhatikannya. Dengan bekal itulah dia memasuki pergaulan sosial di rumah yakni sekarang di sekolah, waktu teman-teman mulai mengejek-ejeknya, ejekan itu tentu akan tetap menyakiti hatinya namun bekal dari rumah itu yang dia terus-menerus juga alami seiring dengan perkembangan usianya akan menjadi seperti tameng yang menolong dia melawan atau tidak menerima ejekan dari teman-temannya. Yang berbahaya adalah kalau anak ini tidak mendapatkan bekal dari orang tua, dia justru sering merasa dirinya tidak berharga karena tidak dikasihi, kurang diperhatikan, terus di sekolah mendapatkan ejekan-ejekan yang menyakiti hati seperti itu. Nah ejekan itu benar-benar menjadi suatu vonis kebenaran bahwa engkau adalah memang seperti kerbau, seperti hewan, seperti babi dan sebagainya. Nah akhirnya konsep dirinya langsung akan menjiplak label-label yang telah diterimanya dari teman-temannya itu.
GS : Kalau dalam hal ini Pak Paul, kita tidak bisa melarang anak orang lain untuk mengolok-olok anak-anak kita itu, sekalipun dia sudah dibekali di rumah sebelum dia sekolah tapi ketika diejek biasanya apa reaksi anak itu, Pak Paul?

PG : Anak biasanya malu, malu sekali karena dia ditertawakan oleh teman-teman, selain dari malu anak juga merasa sakit hati. Namun sekarang masalahnya adalah ada anak yang bisa membalas, nah kaau dia mempunyai kekuatan tertentu terus mempunyai kelompok teman-teman tertentu dan dia lumayan percaya diri dia akan membalas ejekan tersebut atau dia akan tidak mengakui ejekan tersebut.

Dengan berkata saya tidak begini, kamu yang begini dan sebagainya, nah perlawanan itu sedikit banyak akan menolongnya, akan melindunginya. Yang kasihan adalah kalau ini terjadi pada anak yang tidak berdaya melawan, nah anak-anak tidak semua sama, tapi anak-anak yang lebih aman adalah anak yang mempunyai banyak kesamaan dengan teman-teman sejawatnya. Yang lebih merepotkan adalah kalau memang dia itu lebih banyak kelainannya atau perbedaannya dibandingkan dengan kesamaannya, karena apa, anak-anak yang sama akan berkelompok dan menyudutkan yang paling berbeda itu. Dan yang berbeda sendirian tidak akan mampu untuk melawan kelompok teman-temannya yang mengeroyoknya itu, nah pada kasus seperti ini biasanya si anak akan mengalami tekanan yang luar biasa. Namun sering kali anak-anak pada usia misalnya 8, 9 tahun sampai 12, 13 tahun apalagi remaja jarang memberitahukan orang tua, kebanyakan dia simpan sendiri.
GS : Alasannya apa, Pak Paul?

PG : Saya kira salah satu alasannya adalah begini, dia sudah diejek-ejek berarti dia itu sudah diperlakukan sebagai pihak yang lemah oleh teman-temannya dan dia pun tahu dia lemah karena dia tau dia lemah karena dia tidak melawan keroyokan dari teman-temannya.

Kalau dia pulang mengadu pada mamanya, mamanya datang besok ke sekolah membela dia, hari lusanya dia makin diejek-ejek karena dia merasa dirinya benar-benar seperti anak mama yang makin melemahkan di hadapan teman-temannya. Jadi sering kali dalam posisi terjepit seperti ini si anak merasa tertekan luar biasa tidak bisa mengadu ke rumah tapi tidak berdaya melawan keroyokan teman-temannya.
IR : Nah untuk mengatasi itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Yang menjadi masalah adalah anak-anak ini sering kali tidak cerita Ibu Ida. Saya ingat suatu kisah yang positif di mana anak itu bercerita, ini dikisahkan oleh seorang pendeta memang dia brmukim di Amerika namanya pendeta Bill Halburst.

Suatu malam dia itu sedang bersiap-siap nonton acara televisi kegemarannya, tatkala dia sedang mau turun menonton dia melihat putranya sedang murung dan hanya tiduran di atas ranjang. Kemudian dia bertanya kepada si anak, kenapa kamu murung sekali, si anak diam tidak menjawab jadi akhirnya dia memutuskan untuk membaringkan diri di sebelah si anak itu. Dia tanya lagi ada apa, si anak tetap murung tidak mau cerita, nah pendeta Bill Halburst mulailah mengalami konflik di sini, terus menemani si anak yang tidak mau diajak bicara atau turun menonton acara televisi kegemarannya. Dia sangat berdebat turun nonton atau jangan sebab si anak juga tidak mau diajak ngomong, tapi akhirnya dia memutuskan tidak jadi nonton, dia tetap membaringkan diri di sebelah si anak. Setelah itu dia hanya diam membaringkan diri, tidak lagi bertanya, tiba-tiba si anak menoleh kepadanya dan setengah berteriak berkata: "Tadi di sekolah teman saya mengejek saya," nah saya lupa ejekannya apa. Tapi setelah dia berkata begitu si anak menangis terisak-isak dengan sedihnya. Nah di situlah pdt. Bill Halburst berkesempatan menghibur si anak, menguatkan si anak. Memang dalam cerita tersebut pdt. Bill Halburst harus memberikan prioritas kepada anak-anaknya, tapi intinya pada saat itu si anak memang terbuka, nah kenapa terbuka karena si orang tua menyediakan dirinya. Anak cenderung akan takut sekali bercerita kepada orang tua, kalau orang tua itu bersikap dua hal yang ekstrim. Pertama anak akan takut dan enggan bercerita kalau orang tua itu tidak menunjukkan perhatian, nah daripada bercerita orang tua tidak menanggapi, lebih baik tidak perlu cerita. Bagaimana menunjukkan kesungguhan tersebut, ya orang tua bisa mengajak bicara anak pada kesempatan-kesempatan yang muncul, menanyakan tentang keberadaan si anak di sekolah, dalam pergaulan dan sebagainya meskipun tidak terlalu sering. Nah itu menunjukkan kesungguhan orang tua atau kesanggupannya untuk mendengarkan si anak. Tapi ada reaksi orang tua yang kedua, yang juga bisa memadamkan keinginan anak untuk bercerita kepadanya, yang kedua adalah orang tua yang terlalu protektif, jadi seolah-olah orang tuanya itu seperti Srikandi, pendekar. Dan si anak tahu kalau saya cerita, mama akan datang seperti pendekar ke sekolah membawa pedang dan akan siap membabat anak-anak yang mengejek saya. Nah dia akan ketakutan juga, sebab dia takut masalahnya tambah runyam nanti, begitu.
(2) GS : Ada orang tua yang mengatakan tidak usah dianggap, teman-temanmu itu cuma main-main saja, tanggapan seperti itu bijaksana atau tidak, Pak Paul?

PG : Saya kira yang bijaksana adalah mengakui bahwa itu melukai hati si anak, nah tahunya bagaimana, orang tua harus bertanya, bagaimana perasaanmu sewaktu dia berkata hal itu kepadamu. Nah ana akan berkata ya saya tidak mau dia berkata begitu dan orangt ua bisa bertanya, kamu marah, ya; terus bisa bertanya juga kamu sedih, ya; kamu malu juga, ya.

Nah waktu kita bertanya dan mengadakan konfirmasi bahwa si anak memang terluka, kita memberikan rasa pengertian kita dengan berkata saya mengerti atau mama papa mengerti engkau pasti sakit hati dan memang orang tidak boleh berkata-kata seperti itu kepada siapapun. Itu perkataan yang sangat menusuk hati orang dan dia harus menyadari hal itu, nah kita bisa berkata seperti itu, misalkan kita melihat anak kita di keroyok, apa yang harus kita lakukan, kita bisa bertanya kepada anak apa yang bisa kita lakukan, biar anak memberitahu kita. Nah kita bisa menawarkan bantuan kita, kita bisa berkata: "Perlu tidak papa sama mama ke sana untuk bicara dengan teman-temanmu?" Kalau dia berkata dengan cepat: "Jangan, mama jangan datang nanti mereka akan tambah mengejek saya," sudah dan kita berkata: "OK! Mama tidak akan datang sebab mama percayakan kamu untuk menghadapinya tapi di rumah kalau kamu cerita, silakan cerita pada mama." Nah dengan kesepakatan itu si anak lain kali lebih mempunyai keberanian bercerita pada orang tuanya.
IR : Jadi harus menanyakan dulu atau menawarkan ya Pak Paul, sebab kasihan kalau anak itu lemah tidak dibela akan sakit terus-terusan.

PG : Entah mengapa di dalam kelas selalu ada satu, dua anak yang ditunjuk sebagai sasaran ejekan. Saya melihat setiap kelas tidak pernah kosong dan di situlah kita bisa melihat bahwa manusia bedosa bahkan sejak kecil.

Dia tahu itu menyakiti hati orang, tapi demi kesenangan bersama tetap diejek-ejek, tetap diolok-olok seperti itu.
GS : Pak Paul, seandainya ejekan atau olokan itu tadi tidak mendapatkan tanggapan yang positif, artinya anak tidak dibekali di rumah dan diapun juga tidak berani melawan anak ini, pengaruhnya apa untuk kehidupan dia selanjutnya?

PG : Dia melihat dirinya dengan negatif bahwa dia adalah orang yang jelek, tidak menarik, seburuk itulah seperti yang dikatakan teman-temannya, dengan kata lain, dia akan mempercayai olokan temnnya.

Nah di sinilah orang tua harus berfungsi, sebab orang tualah yang bisa menetralisir ejekan tersebut supaya ejekan itu tidak menjadi bagian konsep diri si anak tentang siapa dirinya. Kalau orang tua tidak masuk di sini, takutnya anak akan memasukkan yang mengintegrasikan olokan tersebut sebagai bagian dari dirinya, dia adalah orang yang jelek, tidak menarik sehingga akan benar-benar menghancurkan kepercayaan dirinya nanti, terutama dalam kaitan dengan lawan jenisnya dia akan menjadi orang yang takut dan tidak percaya diri.
GS : Apakah mungkin yang terjadi sebaliknya Pak Paul, dia akan membuktikan bahwa dia tidak seperti yang dikatakan oleh teman-temannya?

PG : Kebanyakan anak yang akan membuktikan, yang bereaksi dengan gagah adalah anak yang memang sudah gagah, memang dia sudah mempunyai keyakinan diri yang lumayan baik. Tapi justru untuk anak yng lemah, ejekan-ejekan itu benar-benar akan merusakkan dia.

GS : Dan itu akan terbawa terus sampai dia dewasa?

PG : Mungkin tidak sampai dewasa, tapi sekurang-kurangnya sampai masa usia remaja, nah mudah-mudahan setelah dia usia remaja akan terjadi perubahan, baik perubahan fisiknya misalnya dia menjadigemuk sekarang makin kurus makin ramping, wajahnya dulu kurang menarik sekarang makin hari semakin menarik dan sebagainya.

Atau perubahan lingkungan di mana lingkungannya yang baru, di sekolah yang baru misalnya lebih menerima dia, jadi perubahan-perubahan itu akan menolong. Nah hal lain juga yang penting adalah pertumbuhan rohaninya, sebab tatkala dia bertumbuh dalam Tuhan, mengerti siapa dirinya dalam Tuhan dan mendapatkan kekuatan dari firman Tuhan, apalagi penerimaan yang hangat dari rekan-rekan segerejanya itu akan menetralisir olokan-olokan yang pernah dia dengar dulu.
(3) GS : Nah, bagaimana kalau olokan atau ejekan itu justru terjadi di dalam rumah, dilakukan oleh saudaranya atau bahkan oleh orang tuanya, yang mengolokkan bodoh atau apa bukankah itu bisa terjadi Pak Paul dalam sebuah rumah tangga?

PG : Betul.

GS : Beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas tentang Yusuf, Yusuf itu selalu diolok-olok sebagai pemimpi kalau tidak keliru.

PG : Ya, kalau terjadi dalam rumah Pak Gunawan, sudah tentu efeknya lebih pribadi, efeknya akan lebih masuk ke dalam, benar-benar lebih memberikan dampak yang negatif. Sebab kalau terjadi di seolah saja dia lemah tak berdaya, setiap hari dia ke sekolah, dia sebetulnya merasa tertekan, tapi dia masih bisa berkata jam 12.00

saya pulang atau jam 3.00 saya pulang dan saya tidak usah bertemu dengan teman-teman itu. Atau dia masih bisa berkata ada teman-teman yang masih menerima saya, namun kalau di rumah, ini yang susah dia tidak bisa lagi melarikan diri dari rumah sebagai anak kecil, dia terpaksa mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh ibu atau bapaknya atau kakaknya dan sebagainya, dampaknya lebih menghancurkan dia. Tapi manusia itu memang lentur Pak Gunawan, manusia itu tidak hanya terdiri dari satu sisi, jadi dalam anugerah Tuhan, bisa saja seperti ini, di rumah tidak mendapatkan dukungan malah dihina, tapi di sekolah justru diterima dan mendapatkan pengakuan atau keberhasilannya secara akademik dan sebagainya. Nah itu sedikit banyak akan menetralisir. Nah anak-anak yang di rumah mendapatkan banyak tekanan atau penghinaan, sedangkan di luar mendapatkan pengakuan dan penerimaan, hampir dapat dipastikan pada waktu dia remaja dia mulai akan jarang berada di rumah, dia akan habiskan kebanyakan waktunya di luar rumah. Karena di situlah ia mendapatkan rumah yang sesungguhnya.
GS : Mungkin memanggil anak yang paling tepat dengan namanya itu Pak Paul, supaya tidak terjadi salah tafsir atau apa.

PG : Betul, anak-anak itu peka, kita harus selalu sadari dan jangan beranggapan bahwa perasaan anak sama dengan perasaan orang tua, kadang kala orang tua berpikir seperti itu. Orang dewasa suda memiliki kemampuan berasionalisasi atau kemampuan menjelaskan suatu peristiwa, suatu keadaan yang abstrak, anak-anak belum bisa.

Jadi waktu dikatai atau dipanggil-panggil dengan olok-olokan yang menggelikan tapi sebetulnya merendahkannya dia tidak bisa menjelaskan itu, dia hanya bisa menerimanya. Kalau orang dewasa bisa berkata o... tidak begitu, buat apa saya dengar, habis perkara, anak-anak tidak bisa berdalih seperti itu. Apalagi usia-usia di bawah 12 tahun di mana daya pikiran abstraknya masih lemah, dia terpaksa menerima apalagi yang memanggil orang tua sendiri. Yang dia percayai sebagai orang yang paling tahu kebutuhannya dan yang membesarkannya, jadi dia akan menerima itu sebagai suatu kebenaran.
IR : Tapi kalau itu sifatnya senda gurau misalnya kalau anak kecil makannya terlalu lama kamu itu seperti 'mak; moh bukan, bukan mak, begitu bagaimana?

PG : Kalau dia memang menunjukkan sikap tidak suka, saya kira jangan diulang lagi. Sebab sekecil apapun anak-anak itu sudah bisa meminta penghargaan, waktu kita tidak melakukannya lagi, dia tah dia dihargai.

Kecuali memang untuk atau dalam kasus-kasus yang bercanda secara jarang-jarang dan diapun juga menolaknya secara bercanda, nah itu lain tidak apa-apa. Sebab dia tahu kita tidak memanggilnya seperti itu. Yang berbahaya adalah yang mengejek dengan nada sinis atau untuk mengatai dia, untuk menekankan bahwa engkau itu seperti itu bodohnya dan sebagainya, itu yang berbahaya, itu benar-benar akan membuat anak sangat terhina.
GS : Tapi olokan di antara saudara kandung atau apa, biasanya itu terjadi karena iri hati Pak Paul, seperti kasusnya Yusuf itu. Tapi itu sampai sekarang pun seperti itu, misalkan kakaknya iri terhadap adiknya dia memanggil adiknya itu dengan olokan atau sebaliknya, jadi menutupi rasa irinya tadi dengan olokan, nah itu sebagai orang tua harus bersikap apa?

PG : Kalau memang itu akan berdampak, kita tahu itu menyakiti hati anak kita, kita harus memarahi, kita harus memberitahu kepada si kakak atau si adik, tidak boleh mengolok seperti itu lagi. Na waktu mereka mengulangnya kita patut memarahi.

Jadi kita membela yang ditindas, yang lemah itu, saya kira itu yang penting, sehingga si anak merasa bahwa dia memang dihargai.
GS : Memang kita harus hati-hati menggunakan kata-kata kita, Pak Paul?

PG : Betul, karena memang sekali lagi anak-anak itu peka dan saya mau tekankan bahwa anak membentuk konsep dirinya melalui informasi yang dia dengarkan dari orang lain. Jadi anak-anak itu waktulahir tidak memiliki informasi tentang siapa dia, informasi tersebut dia peroleh dari lingkungannya, teman-teman atau orang tua atau kakak adiknya.

Nah dari informasi tersebutlah dia mulai membentuk gambar atau membentuk konsep siapa saya, jadi yang akan masuk tidak bisa tidak olokan juga masuk itu menjadi bagian dari dalam konsep dirinya. Namun kalau memang dia mempunyai banyak kekuatan dan dukungan dia akan bisa menetralisir yang negatif tersebut dan hanya mempertahankan yang positif. Tapi kalau dalam dirinya kurang dukungan orang tua yang bisa memahami dan menerimanya, serangan dari luar itu dengan kuat menguasai konsep dirinya, dan itu akan melumpuhkan keyakinan dirinya di kemudian hari.
GS : Ada orang tua yang memberi tekanan bahwa bagaimanapun juga anak ini adalah karunia Tuhan, diciptakan oleh Tuhan, suatu ciptaan Tuhan yang pasti akan dihargai oleh Tuhan sendiri ya Pak Paul?

PG : Betul, itu yang perlu kita komunikasikan kepada anak dan yang penting sejak kecil orang tua memang harus mempunyai komunikasi yang akrab dengan anak. Dan sekali-sekali bertanya, apakah temn-temanmu mengolokmu, pernah tidak mereka meledekmu atau apa sejak usia kecil, sehingga dari usia kecil dia mulai berani berbicara dan dia tahu kita tidak akan merugikannya atau mempermalukannya di depan teman-temannya.

Sehingga dia merasa aman dan mulai cerita sebab meskipun dia diolok di sekolah, kalau di rumah dia bisa bercerita dan mendapatkan pil penawar dari orang tua, itu benar-benar akan menawarkan ya, akan menetralisir dampak negatif yang dia terima dari sekolah.
GS : Dan di situ memang dibutuhkan pengorbanan orang tua baik dalam hal waktu maupun perhatiannya Pak Paul?

PG : Tepat sekali.

GS : Jadi saya rasa kita semua pasti mengharapkan anak-anak kita bertumbuh dengan baik menghadapi ejekan dan sebagainya itu dengan kita memberikan respons yang positif terhadap anak-anak kita, Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan tentang pengaruh ejekan atau olokan terhadap pertumbuhan anak. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilahkan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 50 B

  1. Seberapa besar dampak atau pengaruh olokan terhadap perkembangan anak..?
  2. Tindakan bijaksana apakah yang perlu dilakukan orangtua terhadap olokan yang dialami anak....?
  3. Apa dampaknya kalau olokan itu justru muncul di rumah oleh orangtua atau saudaranya..?


13. Orangtua Tunggal


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T057A (File MP3 T057A)


Abstrak:

Orangtua tunggal terjadi akibat adanya beberapa hal di antaranya karena pasangan yang meninggal, pasangan pergi jauh, atau pun perceraian. Dan hal ini sangat berakibat atau berpengaruh bagi keluarga tersebut terutama berpengaruh pada anak.


Ringkasan:

Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya orang tua tunggal adalah:

  1. Jikalau pasangan hidup kita meninggal dunia, otomatis itu akan meninggalkan kita sebagai orang tua tunggal.

  2. Jika pasangan hidup kita meninggalkan kita atau untuk waktu yang sementara namun dalam kurun yang panjang. Misalkan ada suami yang harus pergi ke pulau lain atau ke kota lain guna mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

  3. Yang lebih umum yakni akibat perceraian.

Dari ketiga kasus di atas yang memungkinkan terjadinya orang tua tunggal, sebenarnya yang berdampak paling negatif ialah perceraian. Dan yang juga sama negatifnya, kalau salah seorang dari orang tua kita itu harus mendekam di penjara.

Pada dasarnya kehilangan figur ayah atau ibu dalam rumah tangga pasti membawa akibat pada pertumbuhan anak-anak dan juga pada yang ditinggalkan itu.

Ada beberapa akibat langsung yaitu:

  1. Yang pertama ialah hilangnya interaksi langsung dari orangtua. Hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan si anak, karena si anak sebetulnya sangat memerlukan pembicaraan, tukar pikiran, dialog dengan si ayah. Dia juga harus mendapatkan banyak informasi atau bagaimana menjdi seseorang dalam hal ini seorang pria dari figur si ayah.

  2. Yang kedua adalah hilangnya kesempatan untuk meneladani perilaku atau sikap orangtua yang tidak ada lagi. Anak belajar bukan saja dari pembicaraan yang dilakukannya dengan orang tua, tapi anak terutama belajar dari apa yang dilihatnya.

  3. Yang ketiga, orang tua yang tertinggal atau yang hidup bersama si anak akan kehilangan kesempatan untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan dan ia pun akan memiliki kebutuhan emosional yang besar akibat kesendiriannya itu.

Dalam kasus kedua orang tua hilang dalam sekejab atau mendadak, misalnya karena kecelakaan, itu dampaknya akan lebih parah bagi si anak. Waktu kedua orang tua tidak ada lagi, yang direnggut pergi darinya adalah keamanannya.

Dalam hal seperti ini yang perlu kita lakukan adalah

  1. Yang pertama, bisa kita sampaikan adalah bahwa hidup ini tidak hanya di bumi.

  2. Yang kedua, tekankan bahwa kita akan hidup bersama Tuhan di Sorga. Hidup bersama di Sorga adalah hidup yang jauh lebih baik dari hidup di masa sekarang ini di bumi.

  3. Yang berikutnya kita juga harus menekankan bahwa hidup ini sementara, bahwa kita tidak akan selalu bersama dia, dan kita tidak mengetahui kapan kita akan meninggalkan mereka. Dan sebaliknya mereka pun sementara, itu juga kita bisa tunjukkan kepada mereka bahwa suatu haru kelak mereka pun akan meninggalkan kita atau meninggalkan bumi ini. Perlahan-lahan konsep ini bisa kita sampaikan, namun tidak sekaligus.

Lukas 18:7,8 , "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya dan adakah Dia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka. Aku berkata kepadamu Ia akan segera membenarkan mereka akan tetapi jika anak manusia datang adakah Ia mendapati iman di bumi?" Yang ingin saya tekankan disini adalah, Allah akan membenarkan orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya, dan Allah tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menolong mereka. Bagi orang tua tunggal memang bebannya sangat besar tapi kita mesti mengingat firman Tuhan ini bahwa Allah akan membenarkan orang tua tunggal, bahwa Allah juga akan menolong mereka dan tidak akan mengulur-ulur waktu, sebab Allah memperhatikan mereka dengan beban yang mereka pikul itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Orang Tua Tunggal". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, istilah orang tua tunggal, 'kan sebenarnya kita dilahirkan karena ada ayah dan ibu, tetapi dalam perjalanan kehidupan ini kadang-kadang memang harus ada salah satu yang meninggalkan keluarga itu. Nah sebenarnya apa saja Pak Paul yang menyebabkan terjadinya orang tua tungga?

PG : Sebetulnya ada beberapa Pak Gunawan yang dapat saya pikirkan adalah 3 di antaranya. Yang pertama adalah jikalau pasangan hidup kita meninggal dunia, nah otomatis itu akan meninggalkan kitasebagai orang tua tunggal.

Yang kedua adalah pasangan hidup kita meninggalkan kita untuk waktu yang sementara, namun dalam kurun yang panjang. Misalnya ada suami yang harus pergi ke pulau lain atau ke kota lain guna mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Atau ada anak yang dikirim di kota lain atau bahkan ke negara lain di mana akhirnya si ibu pergi menemani si anak untuk belajar dan si ayah tetap di kotanya. Atau mungkin yang lebih bersifat tragedis, jikalau seorang pria misalkan ditangkap dan dipenjarakan, dan istrinya terpaksa harus diam di rumah dan membesarkan anak-anak mereka. Itu semua masuk dalam kategori kedua, jadi di mana salah satu dari orang tua harus meninggalkan keluarga karena suatu hal. Yang ketiga ini adalah yang lebih umum yakni perceraian dan saya kira melihat apa yang terjadi saat ini akan lebih banyak orang tua tunggal yang muncul dari kategori yang ketiga yakni perceraian.
(2) IR : Nah, kalau dalam satu keluarga sudah ada yang meninggalkan atau hanya mempunyai orang tua tunggal tentu mempunyai akibat ya Pak Paul; akibat langsung dari keluarga itu bagaimana Pak Paul?

PG : Ada beberapa akibat langsung Ibu Ida, namun pada dasarnya adalah kehilangan figur ayah atau ibu dalam rumah tangga pasti membawa akibat pada pertumbuhan anak-anak dan juga pada yang ditingalkan itu.

Misalkan di sini yang harus pergi adalah si ayah dan yang tinggal adalah si ibu, dampaknya juga akan mempengaruhi si ibu yang ada di rumah. Yang pertama yang bisa sekali terjadi adalah hilangnya interaksi langsung dari orang tua tersebut, waktu si ayah misalkan tidak ada otomatis anak-anak hanya akan berinteraksi dengan ibu. Nah tidak dapat tidak, ini sebetulnya akan mempengaruhi pertumbuhan si anak, kenapa mempengaruhi karena si anak itu sebetulnya sangat memerlukan pembicaraan, tukar pikiran, dialog dengan si ayah pula. Dia juga harus mendapatkan banyak informasi atau bagaimana menjadi seseorang dalam hal ini seorang pria dari figur si ayah tersebut. Nah tatkala figur ayah tidak ada lagi dalam rumah, nah terjadilah kepincangan di sini.
GS : Pak Paul, sebelum kita melanjutkan tentang akibat langsung tadi Pak Paul, saya teringat ada seseorang yang kebetulan ini wanita, yang mengadopsi anak walau tidak secara legal, mungkin kalau legal persyaratannya harus suami-istri. Nah dia menganggap anak dari saudaranya itu sebagai anaknya sendiri. Nah dalam hal ini bisa dikategorikan sebagai orang tua tunggal atau tidak Pak?

PG : Dapat, jadi itu adalah suatu kategori yang tidak saya cakup tadi, namun dengan pasti saya bisa kategorikan itu adalah kasus orang tua tunggal. Memang itu terjadi dan saya kira lebih umum trjadi di negara-negara Barat, sebab waktu saya sekolah, dulu ada salah seorang dosen saya sebagai seorang wanita yang tidak menikah dia mengadopsi seorang anak dan membesarkan anak tersebut sampai kuliah dan sebagainya dan dianggap sebagai anaknya sendiri.

GS : Nah dalam hal ini kalau kita kembali kepada akibat, selain hilangnya interaksi langsung tadi yang Pak Paul sudah singgung, akibat apalagi Pak Paul ya bisa dialami?

PG : Yang kedua adalah hilangnya kesempatan untuk meneladani perilaku atau sikap orang tua yang tidak ada lagi itu, nah ini adalah hal yang sangat penting. Anak belajar bukan saja dari pembicaran yang dilakukannya dengan orang tua, tapi anak belajar terutama dari apa yang dilihatnya, bagaimana orang tua mengerjakan sesuatu, bagaimana si orang tua bergerak, bersikap, bagaimana mengekspresikan kejengkelan, bagaimana menghadapi kesedihannya, bagaimana orang tua itu menghadapi atau mengatasi pertengkaran di antara mereka.

Bagaimana orang tua mendisiplin si anak, itu semua adalah aspek-aspek dalam kehidupan yang tidak bisa kita berikan melalui buku pelajaran. Itu adalah aspek-aspek dalam kehidupan yang riil, yang hanya bisa dipelajari melalui pengalaman langsung, nah jadi dengan tidak adanya orang tua yang telah meninggalkan keluarga itu si anak akan mengalami kerugian yang besar. Dia akan kehilangan kesempatan untuk memotret dan merekam semua sikap dan perilaku orang tua tersebut.
GS : Tapi mungkin juga dia bisa belajar dari pihak lain, dari orang yang lain selain ayahnya atau ibunya, mungkin kakeknya, neneknya atau saudara dari orang tuanya.

PG : Jadi kalau memang ada orang lain di rumah yang sedikit banyak bisa turut terlibat dalam kehidupan si anak, itu akan sangat membantu Pak Gunawan. Sebab memang betul dia akan sedikit banyak ertolong, dia akan mendapatkan model-model dari figur seorang kakek, neneknya atau pamannya.

Namun tetap tidak bisa menggantikan kehilangan orang tuanya tersebut, kadang memang tidak sama.
GS : Itu mungkin dalam hubungan emosi, Pak Paul?

PG : Orang tua yang tertinggal atau yang hidup bersama si anak akan kehilangan kesempatan untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan dan iapun akan memiliki kebutuhan emosional yang besar akiat kesendiriannya itu.

Misalkan yang meninggalkan adalah si ayah dan yang tertinggal untuk mengurus anak adalah si ibu, si ibu akan kehilangan rekan atau mitra untuk bertukar pikiran. Kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri dalam banyak hal kita bisa namun hidup ini penuh dengan keputusan yang harus kita ambil dari hal yang penting hingga hal yang sepele. Namun kita sebetulnya sudah sangat terbiasa untuk mendiskusikannya dengan pasangan hidup kita; nah ini saya memang harus jelaskan, yang saya maksud adalah orang tua yang tadinya memang bersama-sama, kemudian sekarang kehilangan pasangan hidupnya. Nah waktu dia masih lajang dia terbiasa mengambil keputusan sendiri, tapi setelah menikah pernikahan itu akan mengubah gaya hidup seseorang. Dari biasa mengambil keputusan sendiri sekarang harus berembuk dengan pasangannya. Nah setelah menjalani hidup bersama-sama dengan pasangannya tiba-tiba pasangannya itu tidak ada lagi, nah akan terjadi kehilangan. Bagi yang lajang mungkin tidak terlalu merasa kehilangan tersebut karena memang terbiasa sendiri. Namun bagi yang biasa menikah dan biasa mengambil keputusan bersama-sama kehilangan itu akan dirasakannya, sehingga menimbulkan kepincangan. Biasanya si ibu ini akan merasa kurang yakin dengan keputusannya, dia akan bertanya-tanya atau mempertanyakan pertimbangannya apakah saya mengambil keputusan yang benar. Meskipun itu hal yang sangat sepele misalnya setelah anaknya lulus SD dia memikirkan untuk memindahkan anaknya ke sekolah yang lain, hal yang sebetulnya relatif sederhana. Tapi karena dia terbiasa mendiskusikan hal itu dengan pasangannya, sekarang tidak ada lagi, dia akan sedikit banyak meragukan apakah dia telah mengambil keputusan yang tepat untuk si anak. Dengan kata lain dia akan sedikit banyak mengalami ketakutan, jangan-jangan saya mengambil keputusan yang salah untuk anak ini. Kalau ada pasangannya hal ini akan jauh berkurang karena bukankah kita akan merasa lebih lega atau tidak terlalu terbeban, kalau mengambil keputusan bersama. Sebab kita akan menanggung keputusan itu juga bersama atau berdua namun sekarang semua beban tiba-tiba diletakkan pada pundak kita seorang diri, sehingga kita takut sekali kita akan mengacaukan atau merugikan kehidupan si anak sampai sedemikian besarnya. Oleh karena itulah ada kecenderungan ibu tunggal kalau memang waktunya mengizinkan akan menjadi ibu yang jauh lebih protektif dibandingkan kalau ada suaminya. Nah ini bersumber dari ketakutan tadi yang saya sebut, juga tadi saya singgung dia mempunyai kebutuhan yang lumayan besar, karena sekali lagi dia sudah terbiasa mengalami pemenuhan atau dipenuhi kebutuhannya oleh pasangannya. Nah sekarang tiba-tiba pasangannya tidak ada lagi, jadi ada banyak kebutuhan-kebutuhan yang biasanya dipenuhi oleh si suami misalnya sekarang tidak lagi dipenuhi oleh si suami. Nah ada kebutuhan yang memang dia bisa memperoleh pemenuhannya di luar, tapi ada beberapa kebutuhan yang sangat khusus yang sangat-sangat unik yang hanya dapat dipenuhi oleh suaminya. Jadi ada beberapa hal yang tetap akan terhilang, meskipun dia akan berusaha menggantikannya atau mendapatkan pemenuhannya melalui jalan lain yang lebih sehat juga.
IR : Kalau si istri itu komunikasinya dengan suami tidak baik Pak Paul, apa juga sama dampaknya dengan orang tua tunggal?

PG : Kalau hubungan dia tidak baik dengan si suaminya otomatis kehilangan tersebut tidaklah sebesar kalau hubungannya sangat akrab dengan si suami. Nah tapi saya harus akui juga meskipun hubungn dengan si suami misalkan tidak terlalu baik, namun tetap akan ada beberapa kebutuhan yang telah dipenuhi oleh si suami.

Contoh yang mudah sekali, dia terbiasa dengan adanya seorang pria di rumah, misalkan ada orang datang meminta uang atau orang misalnya sedikit banyak ingin membuat perkara dengannya. Dengan adanya suami di rumah dia akan bisa memanggil si suami keluar dari rumah dan menghadapi orang tersebut. Nah jadi akan banyak hal-hal kecil yang sebetulnya sudah menjadikan dia lumayan bergantung pada si suami, meskipun hubungannya tidak terlalu baik.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, ada anak yang tiba-tiba ditinggal oleh ayahnya atau ibunya, anak itu menjadi pendiam Pak Paul, nah itu sebenarnya apa yang terjadi di dalam diri anak itu?

PG : Kalau anak itu memang lumayan dekat dengan si ayah, misalkan si ayah yang telah meninggalkan mereka, kediaman si anak sebetulnya menandakan rasa kehilangan dia. jadi rasa kehilangan itu tiak bisa diungkapkan secara verbal, secara ucapan oleh si anak karena dia masih kecil.

Jadi dia tidak bisa menyalurkan secara langsung, yang dia lakukan adalah menunjukkan perilaku kehilangannya. Maka itulah dia diam terlebih banyak seolah-olah mengurung diri, yang dia lakukan sebetulnya adalah dia sedang mencoba keluar dari kesedihannya namun dengan caranya itu karena dia belum mengerti cara yang lain yang lebih positif. Misalkan dengan dia bicara atau menceritakan isi hatinya kepada orang lain atau orang tuanya.
GS : Nah dalam kasus itu memang meninggal, jadi orangtuanya itu meninggal, ibunya juga kesulitan untuk menjelaskan kepada si anak bahwa ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya apa yang harus dikatakan atau disampaikan oleh ibu ini?

PG : Dalam kasus di mana seseorang meninggal saya berprinsip si orang tua yang masih ada harus mengatakan apa adanya, yakni misalkan di sini ayah, ayah telah meninggal. Artinya apa ayah meninggl nah misalnya kita harus menerangkan pada seorang anak yang baru berusia 4 tahun yang belum begitu memahami tentang kematian.

Kita misalnya berkata meninggal artinya pergi dan tidak akan kembali, pergi ke mana dia akan bertanya nah kita bisa menjelaskan tentang kematian itu sendiri, dia misalnya bilang apa itu kematian. Kita bisa gunakan hewan yang mati, nah kita katakan hewan ini tidak lagi dapat bergerak artinya dia mati. Tapi kalau hewan mati dia hanya akan dikubur di tanah, tapi kalau ayahmu ini tubuhnya dikubur di tanah, tapi di dalam tubuhnya yang namanya roh itu akan dibawa oleh Tuhan, nah jadi ayah sekarang bersama dengan Tuhan. Nah hal-hal seperti itu kita bisa jelaskan pada anak-anak kita tapi prinsip saya kita harus katakan apa adanya, yakni ayah telah meninggal.
GS : Dari ketiga kasus tadi Pak Paul ya, di mana memungkinkan terjadinya orang tua tunggal, sebenarnya yang paling berdampak itu yang mana, Pak Paul?

PG : Yang berdampak secara negatif atau positif

GS : Positif

PG : Kalau secara negatif, saya kira perceraian itu berdampak paling negatif dan kedua yang juga sama negatifnya, kalau salah seorang dari orang tua kita itu harus mendekam di penjara. Itu jugaberdampak negatif bagi si anak, karena si ibu ini suatu kali harus menjelaskan kenapa si ayah tidak di rumah yaitu si ayah mendekam di penjara.

Saya duga kecenderungan adalah ibu-ibu ini tidak akan menjelaskan kepada si anak, namun kalau si ibu ini terus-menerus menutupi, si anak lama-kelamaan akan mencurigainya sebab semua penjelasan itu tidak akan lagi masuk akal. Nah pada titik itu si ibu harus mengatakan terus terang bahwa si ayah memang mendekam di penjara.
GS : Tadi Pak Paul singgung sedikit, apakah memang ada dampak positifnya Pak Paul? Tadi kok Pak Paul menanyakan positif atau negatif itu?

PG : Ada sedikit yang positif dalam kasus memang si ayah sangat berperilaku negatif, sangat merusakkan keluarga tersebut. Nah kepergiannya akan membawa kelegaan, contoh setiap kali di rumah diaberkelahi dengan istrinya, memukuli istrinya, mengancam anaknya, mau membunuh anaknya, itu kasus-kasus yang kadang kala terjadi.

Dalam peristiwa itu kepergian si ayah justru akan membawa dampak positif pada si anak.
GS : Ada kemungkinan Pak Paul kalau kedua-duanya hilang dalam sekejab itu, artinya mendadak misalnya karena kecelakaan, itu dampaknya akan lebih parah?

PG : Dampaknya akan lebih parah bagi si anak.

GS : Langsung kehilangan kedua orang tuanya, Pak Paul?

PG : Karena anak memang sangat membutuhkan orang tua, itu adalah sumber keamanannya, jadi waktu kedua orang tua tidak ada lagi, yang dia renggut pergi darinya adalah keamanannya. Tiba-tiba dia erasakan bahwa hidup ini menjadi sangat tidak aman mengakibatkan dia kehilangan pegangan.

Nah dalam keadaan seperti itu pertolongan harus diberikan segera.
IR : Tapi juga ada dampak positifnya, Pak Paul, anak-anak itu bisa mandiri atau tidak?

PG : Kalau dia memang sudah mampu mandiri pada usia yang lebih dewasa, mungkin dampaknya tidaklah senegatif kalau anak-anak itu masih kecil. Tapi tetap saya harus akui meskipun anak itu berusia16 atau 17 tahun, kehilangan orang tua secara sekaligus, tetap membawa dampak shock atau trauma pada si anak.

Karena kematian yang tiba-tiba sering kali membuat si anak atau si individu tersebut tidak mempersiapkan dirinya. Kita ini adalah orang yang tidak suka kejutan, waktu kita tahu bahwa misalkan orang tua kita akan meninggalkan kita dalam waktu beberapa bulan karena penyakit yang sedang diidapnya sedikit banyak kita bisa mulai mempersiapkan diri kita. Kita mau menyisakan dan melalui sisa waktu ini sebaik dan seindah-indahnya. Nah bagi seseorang yang tidak memiliki kesempatan tersebut karena kematian mendadak dia akan merasakan kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa dalam hal ini si ayah atau si ibu tidak ada lagi. Sehingga tidak ada lagi waktu yang indah yang bisa dikenangnya dengan begitu khusus, nah itu sebabnya meskipun dia dipaksa untuk mandiri namun kehilangan orang tua sekaligus tetap biasanya cukup menggoncangkan si anak.
GS : Pak Paul, sekarang yang terjadi biasanya anak itu tidak terlalu akrab dengan orang tuanya, karena orang tuanya sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya, nah kalau sampai terjadi orang tua tunggal apakah dampaknya sama beratnya atau bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau hubungannya tidak terlalu akrab memang dampaknya tidaklah terlalu besar, namun waktu saya mengucapkan kata terlalu besar, tidak berarti tidak besar. Dulu saya bekerja di dinas yang mngawasi dan merawat anak-anak yang dianiaya orang tuanya, hal ini saya saksikan berulang kali Pak Gunawan.

Waktu kami hendak membawa keluar dari rumah dan ditempatkan biasanya di rumah asuh, meskipun dia itu dianiaya oleh orang tua, meninggalkan orang tua atau meninggalkan rumahnya, meskipun rumah itu rumah yang sangatlah negatif baginya. Nah saya sudah pernah mengunjungi rumah yang sangat berantakan sekali, di mana misalkan si ayah peminum, suka berkelahi dengan si ibu, si ayah tidak menjadi peran yang positif bagi si anak. Tapi tetap waktu si anak dipisahkan tetap dia akan sebetulnya berontak, di satu pihak dia tahu dia harus keluar dari rumah ini dan ini baik untuk dia. Tapi di pihak lain dia tetap harus bergumul, jadi sering kali kita harus menyadari bahwa figur si orang tua itu sangat penting bagi si anak. Meskipun mungkin mereka berperan negatif tapi toh tetap dibutuhkan oleh si anak.
GS : Memang hal itu sulit diperkirakan lebih dulu Pak Paul, terjadinya perpisahan dan sebagainya itu, tetapi kalau kita menyadari bahwa hal itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Nah, sebenarnya apa yang bisa dilakukan orang tua sementara mereka masih bersama-sama Pak Paul, maksud saya di dalam hal mempersiapkan anak yang sudah mengerti diajak berbicara?

PG : Saya kira itu adalah suatu pikiran yang baik Pak Gunawan, dengan catatan kita tidak terlalu sering membicarakannya karena kalau terlalu sering membicarakannya kita akan menimbulkan rasa taut yang berlebihan pada si anak.

Sehingga dia menjadi anak-anak yang senantiasa bertanya-tanya kapankah ayahnya atau ibunya itu akan diambil pergi oleh Tuhan. Yang pertama yang bisa kita sampaikan adalah bahwa hidup ini tidak hanya di bumi, namun setelah itu yang kedua, kita akan hidup bersama Tuhan di Surga. Yang harus kita tekankan adalah bahwa kita hidup bersama di Surga adalah hidup yang jauh lebih baik dari hidup di masa sekarang ini di bumi. Kita juga harus menekankan bahwa Tuhan ialah Tuhan yang baik, Tuhan yang mencintai kita, memelihara kita, dan sebagai bukti cinta-Nya untuk kita Dia rela mati untuk dosa kita. Kenapa saya mau tekankan kedua hal ini, sebab anak-anak perlu untuk mempunyai konsep yang betul tentang kematian, tentang orang tua dipanggil Tuhan. Kalau tidak, dia akan mengembangkan konsep yang negatif terhadap Tuhan, mengapa Tuhan tega mengambil papa atau mama dan kami harus ditinggalkan oleh ayah atau ibu. Nah jadi kita senantiasa harus menanamkan konsep itu, yang berikutnya kita juga harus menekankan bahwa hidup ini sementara, bahwa kita tidak akan selalu bersama dia, dan kita tidak mengetahui kapan kita akan meninggalkan mereka. Dan sebaliknya merekapun sementara, itu juga kita bisa tunjukkan kepada mereka bahwa suatu hari kelak mereka pun akan meninggalkan kita atau meninggalkan bumi ini. Jadi perlahan-lahan konsep itu bisa kita sampaikan, namun kita sampaikan tidak sekaligus. Sekali-sekali secara berkala waktu topiknya muncul dalam saat teduh bersama itu kita munculkan, sehingga mereka akhirnya dibuat lebih realistik dalam hidup ini. Nah dengan cara itulah saya kira anak akan lebih bersiap hati jikalau memang benar-benar harus meninggalkan mereka.
IR : Nah mungkin ada firman Tuhan yang bisa disampaikan Pak Paul, untuk memberikan saran pada anak, atau orang tua yang tunggal ini?

PG : Saya akan bacakan dari Lukas 18:7, 8 . "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya dan adakah Dia mengulur-ulur waktu sebelm menolong mereka.

Aku berkata kepadamu Ia akan segera membenarkan mereka akan tetapi jika anak manusia datang adakah Ia mendapati iman di bumi?" Yang ingin saya tekankan di sini adalah Allah akan membenarkan orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya, dan Allah tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menolong mereka. Bagi orang tua tunggal memang bebannya sangat besar tapi kita mesti mengingat firman Tuhan ini bahwa Allah akan membenarkan orang tua tunggal, bahwa Allah juga akan menolong mereka dan tidak akan mengulur-ulur waktu, sebab Allah memperhatikan mereka dengan beban yang mereka pikul itu.
GS : Jadi memang berat juga untuk menjadi orang tua tunggal tetapi juga buat anak, itu juga berat. Tapi firman Tuhan tadi saya rasa sangat menguatkan dan mengingatkan kita akan peran kita masing-masing. Dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi telah kami persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tetang orang tua tunggal. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.
PERTANYAAN KASET T 57 A
  1. Apa yang menyebabkan terjadinya orangtua tunggal...?
  2. Akibat apa yang timbul dari orangtua tunggal...?


14. Anak yang Diasuh oleh Orangtua Tunggal


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T057B (File MP3 T057B)


Abstrak:

Pengaruh atau akibat secara langsung maupun tidak langsung pasti akan terjadi terutama bagi anak. Akan ada kebutuhan-kebutuhan tertentu yang tidak dapat terpenuhi, namun ada hal-hal juga yang sangat perlu dilakukan bagi orangtua tunggal di dalam mendidik putra-putrinya.


Ringkasan:

Dampak tidak langsung yang dirasakan oleh anak-anak ketika diasuh oleh orang tua tunggal adalah sbb:

  1. Yang pertama anak-anak ini sebetulnya akan mempunyai kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Contohnya yang pergi meninggalkan mereka adalah si ibu, biasanya mereka akan kehilangan kasih sayang yang khas dari seorang ibu. Kalau misalkan yang tidak ada adalah ayah, yang akan juga terhilang dalam keluarga ialah disiplin yang khas seorang ayah.

    Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah orang tua tunggal cenderung pada masa remajanya mengekspresikan perilaku pelampiasan, "acting out behavior". Dari kata pelampiasan kita bisa menarik kesimpulan itu merupakan perilaku untuk unjuk rasa, perilaku untuk menunjukkan atau memperlihatkan kebutuhannya, di mana kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.

  2. Yang kedua, si ibu atau si ayah yang ditinggal harus berhati-hati agar tidak mendewasakan anak terlalu dini sehingga dia kehilangan masa kanak-kanaknya. Ini tidak sehat karena pada masa atau usia yang relatif muda si anak belum sanggup untuk memikirkan masalah kehidupan ini dengan begitu kompleknya. Dan belum sanggup untuk memikul kesedihan dan beban yang berat.

    Kalau si anak jadi nakal karena kehilangan figur mendisiplin, maka langkah yang harus dilaksanakan oleh orang tua tunggal adalah terus-menerus memelihara keintiman, jangan sampai ini berkurang. Kedekatan dengan si anak adalah modal yang sangat berperan besar untuk mengurangi potensi konflik sewaktu anak-anak itu menginjak usia remaja.

Saya ajak kita perhatikan Lukas 19 yaitu cerita tentang Zakeus, di sini saya akan kutip perkataan Tuhan Yesus, di ayat ke 5.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu Dia melihat ke atas dan berkata : " Zakeus segeralah turun...! sebab hari ini Aku akan menumpang di rumahmu." Zakeus seorang pemungut cukai dan disingkirkan dari kehidupan masyarakatnya, dia dianggap orang yang jahat oleh orang Yahudij saat itu. Namun Tuhan Yesus melihat hatinya yang ingin bertemu dengan-Nya, yang bisa kita petik dari pelajaran ini adalah Tuhan memperhatikan orang yang tersingkirkan dan ingin menumpang di rumah saudara pula. Jadi bagi orang-orang percaya, tidak pernah ada istilah tunggal dalam arti kata yang sebenarnya karena Tuhan Yesus pasti menggantikan peran itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan ini merupakan lanjutan dari perbincangan pada beberapa waktu yang lalu tentang orang tua tunggal. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, pada kesempatan beberapa waktu yang lalu kita telah membicarakan tentang orang tua tunggal, mengenai latar belakang penyebabnya dan sebagainya dan akibat langsungnya. Dan kita mencoba membicarakan dari sisi yang lain kalau ada akibat yang langsung dari orang tua tunggal ini tentu dampak yang paling dirasakan oleh anak. Nah apakah dampak yang tidak langsung dirasakan oleh anak itu, Pak Paul?

PG : Yang pertama Pak Gunawan, anak-anak ini sebetulnya akan mempunyai kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Sebagai contoh kalau misalkan yang pergi meninggalkan mereka adalah si ibu, bisanya mereka akan kehilangan kasih sayang yang khas dari seorang ibu.

Kalau misalkan yang tidak ada adalah ayahnya yang akan juga terhilang dalam keluarga tersebut ialah disiplin yang khas seorang ayah. Saya berikan contoh Pak Gunawan, beberapa waktu yang lalu, istri saya karena ada suatu keperluan meninggalkan kami sekeluarga selama 4 hari kalau tidak salah pergi ke Jakarta. Nah saya masih ingat sekali bahwa suasana rumah kami menjadi sangat berbeda dengan tidak adanya istri saya. Istri saya sangat dekat dengan anak-anak, saya pun mencoba dekat dengan anak-anak tapi ternyata pada waktu istri saya tidak ada di rumah saya benar-benar baru disadarkan bahwa yang sebetulnya menjadi titik sentral, pusat dari kehidupan keluarga kami bukanlah saya, tapi istri saya. Itulah sebabnya waktu dia tidak ada di rumah, tiba-tiba seolah-olah roda keluarga kami berhenti berputar, ketiga anak-anak saya lebih diam, tidak banyak interaksi dan bahkan salah seorang dari ketiga anak saya yang begitu kehilangan istri saya, sampai menangis-nangis setiap hari mencari mamanya. Nah ini harus dibandingkan dengan peristiwa sewaktu saya meninggalkan rumah, saya sudah pernah meninggalkan rumah selama kira-kira sebulan tidak bertemu dengan keluarga saya dan menurut laporan dari istri saya tidak ada seorangpun anak saya yang menangisi saya. Ternyata memang yang menjadi poros atau titik sentral dari kehidupan keluarga adalah seorang ibu, nah ibu itu akan banyak berperan dalam kehidupan si anak, memberikan dan menyediakan kebutuhan emosional si anak yang tidak dapat dijabarkan, didaftarkan satu persatu karena terlalu banyaknya. Nah semua ini waktu tidak lagi di terima oleh si anak akan menimbulkan atau meninggalkan suatu lubang dalam diri si anak. Dan kalau yang terhilang adalah si ayah atau yang meninggalkan mereka si ayah juga akan menimbulkan lubang pada si anak meskipun tidak sebesar kalau si ibu yang meninggalkan mereka.
GS : Apa itu Pak Paul yang menghilang kalau seandainya si ayah itu yang pergi?

PG : Yang akan terhilang biasanya adalah disiplin, jadi salah satu peranan ayah yang penting dalam rumah tangga adalah peran sebagai pendisiplin. Oleh sebab itulah firman Tuhan di Kolose mengaskan bahwa ayah itu harus membesarkan anak dalam takut akan Tuhan.

Sebetulnya kata membesarkan yang digunakan di situ mengandung makna mendisiplin anak dalam takut akan Tuhan. Jadi memang suara ayah yang lebih berat, tubuh ayah yang lebih besar, mencerminkan otoritas atau disiplin bagi anak. Nah itu sebabnya rumah tangga yang kehilangan figur ayah cenderung pada nantinya setelah anak-anak itu sudah mulai remaja direpoti oleh ulah si anak. Karena si anak seolah-olah hidup tanpa pagar, dia berani untuk melawan si ibu, sebab memang ibu lebih melambangkan peranan cinta kasih dalam rumah tangga.
(2) IR : Kalau boleh memilih Pak Paul, si anak ini lebih baik kehilangan ibu atau kehilangan ayah?

PG : Kalau boleh memilih, saya akan memilih kehilangan ayah daripada kehilangan ibu. Sebab sebagaimana tadi telah saya singgung, ibu mempunyai peranan yang begitu sentral dalam kehidupan si nak.

Ibu benar-benar adalah titik pusat yang menggerakkan roda keluarga, kalau tidak ada lagi roda keluarga itu juga akan terganggu, sangat terganggu. Kadang kala yang terjadi adalah seperti ini dan ini sering kali terjadi, sewaktu ayah meninggalkan keluarga si ibu terpaksa mengurus anak-anak sendirian. Sebab kemungkinan si ibu menikah kembali tidaklah terlalu besar, apalagi kalau dia sudah berusia 40 tahun ke atas. Kebanyakan kalau si ayah yang masih hidup, ibu yang sudah meninggalkan mereka, si ayah akan menikah kembali. Nah masalahnya adalah kalau si ayah menikah kembali, anggapannya adalah bahwa akan ada 2 orang yang akan memelihara anak-anak. Tapi anggapan ini tidak selalu benar, kadang kala benar, ada juga ibu tiri yang juga sayang mencintai anak-anaknya. Namun kita tidak bisa mengesampingkan naluri keibuan, dalam pengertian naluri keibuan yang dimiliki oleh seorang ibu terhadap anak kandungnya. Sewaktu yang dirawatnya bukan anak kandung biasanya memang akan ada perbedaan dibandingkan kalau dia merawat anak kandungnya sendiri. Jadi kalau si ayah menikah kembali, sebetulnya si anak-anak itu lebih seringnya kehilangan kedua orang tuanya. Sebab si ayah pada umumnya tidak terlalu dekat pada si anak dan harus bekerja di luar, si anak ditinggalkan dengan si ibu tiri, sedangkan si ibu tiri pun tidak terlalu dekat dengan anak-anak. Nah sekali lagi saya tetap memberikan catatan, saya tahu ada ibu tiri yang sangat mencintai anak-anak tiri mereka, itu ada. Ini bukan untuk ibu tiri yang sangat mencintai anak-anak tiri mereka, tapi saya berbicara secara global saja.
IR : Tapi saya pernah mengamati satu keluarga Pak Paul, yang karena kehilangan ibunya, si suami ini kawin lagi dan dia sangat tidak peduli dengan anaknya. Bahkan harta warisannya itu diberikan pada istri mudanya sehingga anaknya ini terlantar Pak Paul.

PG : Ya sangat menyedihkan sekali Ibu Ida, dan kadang kala itu terjadi, kadang kala si ayah yang menikah dengan istri yang baru merasa hidup itu begitu semarak, begitu indahnya mendapatkan itri yang baru sehingga melalaikan tanggung jawabnya.

Atau si ayah ini menggantungkan diri pada si istri yang baru ini untuk mengasuh anak-anaknya, tapi masalahnya adalah si istri itu bukanlah ibu kandung dari anak-anaknya. Sehingga tidak bisa atau lebih sulit memberikan dirinya sepenuhnya kepada anak-anak yang bukan anak kandungnya. Nah apalagi kalau nanti ditambah dengan anak kandung, secara natural dia akan jauh lebih dekat pada anak kandungnya.
GS : Ada orang tua tunggal yang mencoba Pak Paul, bertekad untuk merangkap jabatan, kalau dia ditinggal oleh istrinya dia katakan saya berfungsi sebagai ayah sekaligus ibu dan seterusnya. Itu ada pengaruhnya atau tidak Pak Paul terhadap anak-anak?

PG : Misalkan si ibu yang harus mengambil peranan ganda Pak Gunawan, biasanya dia akan cukup tertekan, karena menjadi ayah dan ibu sekaligus bukanlah tugas yang mudah. Misalkan kalau ada aya dan ibu di rumah, si ayah memarahi anak-anak, akan ada figur si ibu yang sedikit banyak menenangkan rumah atau menjadi seseorang yang menyambut si anak waktu si anak sedih atau takut dan sebagainya, nah sekarang tidak ada lagi peranan seperti itu, jadi si ibu harus keras tapi sekaligus harus menjadi orang yang dekat dengan anak-anak.

Nah kadang-kadang 2 peranan ini tidak begitu mudah untuk dilakukannya sekaligus. Biasanya ibu-ibu itu akan kesulitan menghadapi perilaku-perilaku si anak tatkala si anak menginjak usia remaja. Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah orang tua tunggal cenderung pada masa remajanya mengekspresikan perilaku pelampiasan, "acting out behavior". Perilaku pelampiasan dari kata pelampiasan, kita bisa menarik kesimpulan perilaku pelampiasan merupakan perilaku untuk unjuk rasa, perilaku untuk menunjukkan atau memperlihatkan kebutuhannya, di mana kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Namun dia akan menunjukkan perilaku yang lain untuk mendapatkan kebutuhan tersebut, malangnya biasanya perilaku itu perilaku yang negatif. Jadi seorang anak yang merindukan cinta kasih di rumahnya akan cenderung mencari cinta kasih di luar. Seorang anak yang kekurangan disiplin karena tidak ada ayah di rumah, akan juga menunjukkan perilaku pelampiasan, dia akan melanggar batas, melanggar pagar-pagar yang didirikan oleh ibunya. Karena dia merasa tidak ada lagi yang harus ditakuti, jadi akan banyak muncul perilaku pelampiasan seperti ini. Nah waktu si ibu yang harus merangkap tugas dia akan lumayan kerepotan untuk mengatasi perilaku pelampiasan ini. Pada umumnya orang tua tunggal yang misalnya wanita ini, biasanya mereka tidak terlalu bermasalah memberikan cinta kasih, karena itu terbiasa diberikan oleh para ibu. Namun mereka akan kesulitan menerapkan disiplin bagi si anak, sebab memang ibu bukanlah figur disiplin dalam rumah tangga.
GS : Berapa kali saya jumpai seperti itu, lalu ibu itu menggunakan, menarik belas kasihan anak dengan sering kali berkata ayahmu itu sudah tidak ada, aku ini sendirian coba kamu mengerti saya dan sebagainya itu Pak Paul, tapi anak tetap sulit menghadapi hal itu.

PG : Sering kali itu yang dilakukan, betul Pak Gunawan jadi akhirnya memelas supaya dibelaskasihani agar si anak berubah. Namun saya setuju juga dengan pengamatan Pak Gunawan, kenyataannya aalah anak-anak hanya berubah sementara saja, setelah dia keluar rumah bertemu dengan kawan-kawannya lagi dia lupa akan belas kasihannya tadi, dia akan terbawa lagi oleh teman-temannya.

Nah memang ini suatu dilema dan ini banyak sekali terjadi dalam rumah di mana hanya ada orang tua tunggal. Saya melihat gejala ini di Amerika Serikat, banyak sekali orang tua tunggal di sana, karena pria-pria itu misalkan menceraikan istrinya, atau ada yang menikah lagi dengan wanita lain dan sebagainya. Atau hamil di luar nikah, tidak ada suami sehingga membesarkan anak sendiri, nah ini cukup banyak terjadi di sana. Dan yang umum dilakukan oleh anak-anak ini adalah pada waktu mereka sudah menginjak remaja, mereka bermasalah, kebanyakan terlibat dalam perilaku-perilaku negatif ikut dengan gang, memakai obat, minum dan yang paling umum adalah tidak bisa melanjutkan sekolah. Misalkan pada usia 15 tahun, 16 tahun sudah dropped-out, putus sekolah.
GS : Di samping memang masalah pembiayaan mungkin Pak Paul ya?

PG : Di sana sebetulnya tidak masalah, karena mereka bisa mendapatkan tunjangan dari negara dan sampai SMA sekolah tidak bayar. Jadi sebetulnya mereka bisa sekolah.

GS : Jadi memang niatnya sendiri untuk tidak sekolah. Dalam hal-hal seperti itu bukankah sering kali terjadi antara pendapat ibu dan pendapat anak berbeda, sehingga mau tidak mau akan memungkinkan timbulnya konflik Pak Paul, nah bagaimana kalau sampai itu terjadi?

PG : Itu pengamatan yang betul sekali Pak Gunawan, orang tua akhirnya harus menjadi sasaran kemarahan si anak, sebab konflik akan benar-benar bersifat frontal berhadapan langsung. Kalau ada rang tua yang satunya terjadilah segitiga di mana waktu si anak marah pada si ayah, si ibu juga bisa mendukung si ayah atau si ibu bisa menenangkan si anak atau kebalikannya juga bisa terjadi.

Jadi bola itu tidak langsung dilempar ke satu sasaran, jadi bola itu sepertinya berkisar pada ketiga titik ini atau sudut ini, pada orang tua tunggal tidak ada lagi orang ketiga, jadi benar-benar sering terjadi konflik yang frontal. Segala kefrustrasian dilimpahkan pada si orang tua itu, ini yang sering kali menambah stres yang luar biasa beratnya pada si orang tua tunggal ini. Dia kehilangan suami bukan karena kesalahannya namun sekarang dia harus memikul beban yang begitu berat, terutama nantinya pada anak-anak remaja. Pada waktu anak remaja, di mana si anak-anak cenderung mulai memberontak dan melampiaskan kemarahannya pada si orang tua tunggal itu.
(3) IR : Nah kira-kira saran apa Pak Paul yang harus diberikan?

PG : Yang pertama Bu Ida, si orang tua yang masih ada ini harus mengakui kehilangan itu dihadapan anak. Jadi si orang tua misalnya bisa berkata saya mengerti engkau kehilangan papamu, saya mngerti betapa indahnya kalau kita bisa pergi bersama dengan ayahmu, betapa indahnya kalau bisa pergi ke gereja bersama-sama, betapa indahnya kalau nanti engkau lulus ayahmu hadir.

Jadi akui hal-hal seperti itu, anak-anak sering kali tidak akan berinisiatif untuk mengakui hal-hal tersebut, kemungkinan sekali dia memang belum bisa mengakui secara verbal sebagaimana kita bisa melakukannya. Nah setelah kita mengakui itu kita bisa mengajak anak untuk mengatasi kehilangan itu dengan bersama-sama. Si ibu misalnya bisa berkata meskipun kamu kehilangan, mama juga kehilangan ayah, tapi ayo kita bersama-sama menghadapinya, ayo kita bersama-sama mengatasinya, kita masih bisa mengatasinya sebab Tuhan akan mendengarkan doa kita, menjaga kita, memelihara kita, Dia Bapa kita. Jadi si ibu jangan sampai menutup jalur komunikasi dan misalnya memarahi si anak waktu si anak lemah atau kehilangan ayahnya. Kadang kala si ibu bersikap demikian dengan tujuan baik yaitu membuat si anak kuat, jangan sampai membuat si anak lemah. Sebab kalau dia lemah dia tidak bisa langsung, dia tidak bisa melangsungkan hidupnya atau bertahan dalam hidup ini. Atau adakalanya si ibu ini mungkin takut dia sendiri akan menjadi lemah atau dibuat lemah sewaktu dia membiarkan dirinya merasakan kesedihan karena kehilangan pasangannya atau suaminya. Nah yang saya maksud dengan mengakui di sini, mengakui pengaruh atau akibat kehilangan tersebut. Biar si ibu juga mengakui dia kehilangan si ayah, diapun sedih, diapun mengerti si anak sedih karena kehilangan ayahnya, nah tapi bersama-sama ayo kita hadapi ini, itulah langkah pertama yang sangat penting.
GS : Langkah berikutnya apa, Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah si ibu atau dalam hal ini si ayah yang ditinggal harus berhati-hati untuk tidak mendewasakan anak terlalu dini, sehingga dia kehilangan masa kanak-kanaknya. Nah ada keenderungan dan ini saya bisa memahami, ada kecenderungan misalkan si ibu yang ditinggal dia akan bergantung pada anak yang lebih tua untuk menjaga adik-adiknya.

Waktu yang lebih tua ini ingin bermain-main dia juga yang ditekan oleh ibunya dengan mengatakan kok kamu ini tidak bertanggung jawab, tiak mau membantu saya, bukankah ayahmu tidak ada lagi sekarang, seharusnyalah engkau yang menjadi pengganti. Kadang kala ini diletakkan pada pundak anak laki, engkau sekarang pengganti ayahmu, nah masalahnya adalah anak ini baru merumur 10 tahun, dia tidak mungkin menggantikan tugas dan peran ayahnya. Jadi sebaiknya jangan berkata kepada si anak engkaulah sekarang yang menggantikan ayahmu, ini adalah tugas yang melampaui kemampuan si anak untuk dilakukan, jadi sebaiknya jangan. Orang tua tunggal harus berhati-hati jangan sampai mengkarbit si anak menjadi terlalu dewasa pada usia yang masih kecil, nah sekali lagi ini tidak sehat, karena pada masa atau usia yang relatif muda ini si anak belum sanggup untuk memikirkan masalah kehidupan ini dengan begitu kompleksnya. Belum sanggup untuk memikul kesedihan dan beban yang berat ini, nah kita mungkin berkata tapi kok bisa, ya bisa tapi sebetulnya jiwanya akan sedikit dipengaruhi oleh tekanan-tekanan yang semestinya belum dipikulnya itu.
GS : Bagaimana halnya kalau si anak itu menjadi nakal, karena tadi sudah kita bicarakan kehilangan figur yang mendisiplin dia, lalu dia menjadi nakal. Nah itu bagaimana tindakan orang tua, khususnya ibu?

PG : Langkah yang harus dilaksanakan terus-menerus adalah memelihara keintiman, jadi ini jangan sampai berkurang. Saya menyadari memelihara keintiman tidaklah mudah karena orang tua tunggal ering kali harus memikul beban finansial keluarga.

Jadi di satu pihak dia harus menjadi mama di rumah yang harus memasak untuk anak-anak, namun dia harus bekerja di luar pula, biasanya dia akan pulang sore atau malam, dan waktu dia pulang dia sudah sangat letih sekali. Dengan kata lain akan ada banyak keterbatasan untuk menjalin komunikasi dengan si anak tapi harus tetap dilakukan. Misalkan seminggu sekali pastikanlah dia dan anak-anak keluar bersama, bisa ngobrol-ngobrol bersama, kalau tidak bisa menghabiskan waktu yang panjang sekurang-kurangnya setiap malam 0,5 jam saja sebelum tidur bisa ngobrol-ngobrol dari hati ke hati dengan anak-anak. Jadi kedekatan dengan si anak adalah modal yang sangat berperan besar untuk mengurangi potensi konflik sewaktu si anak-anak itu menginjak usia remaja. Dengan kata lain kita mau mengurangi potensi munculnya perilaku pelampiasan yang tadi kita sudah singgung itu.
GS : Cuma biasanya memang karena tersita waktunya untuk pekerjaan dan rasa lelah itu, kontrolnya itu hilang Pak Paul dari si ibu itu?

PG : Ya memang itu dilematis sekali Pak Gunawan dan jalan keluarnya tidak mudah namun saya tetap berpendapat sedikit pengorbanan. Misalkan 0,5 jam saja setiap malam dan seminggu sekali kelua bersama, itu akan berkhasiat besar sekali.

Kalau tidak ada itu semuanya waktu remaja anak-anak akan lebih berani melanggar permintaan orang tua tunggalnya itu, karena memang dia merasa tidak terlalu dekat. Kalau dia merasa dekat sedikit banyak dia akan merasa sungkan kepada ibunya misalnya, jadi sudah tentu ibu ini harus berkorban besar tapi saya kira khasiatnya akan jauh lebih besar kalau dilakukan sekarang.
GS : Nah biasanya di dalam pembicaraan itu dengan anak Pak Paul, bukankah anak mempunyai kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya, itu bagaimana menanggapinya Pak?

PG : Yang pertama adalah menyambut, jadi kita sebagai orang tua tunggal jangan sampai menyumbat anak-anak itu, biarkan dia mengeluarkan unek-uneknya, kesusahannya, kepincangannya dan terimalh dengan hati yang terbuka.

Ada kecenderungan orang tua tunggal akan lumayan difensive atau cepat tersinggung sewaktu anak mengeluh kepada dia, karena dia sendiri membutuhkan penghargaan, dia sudah berkorban begitu berat e....anak ini kok sekarang menyerangnya, mengkritiknya sehingga dia lebih difensive. Ini harus diwaspadai, lebih baik dia mendengarkan dan mengakui itulah pergumulan dan unek-unek si anak.
GS : Biasanya anak akan mengatakan bahwa dia berbeda dengan teman-temannya yang punya ayah dan sebagainya itu Pak Paul, itu tanggapan apa yang bisa disampaikan oleh ibu?

PG : Akui bahwa dia memang berbeda, akui bahwa dia memang kehilangan hal-hal yang dinikmati oleh teman-temannya. Namun ajak si anak untuk menerima fakta ini, bahwa hidup tidak selalu lengkapdan adakalanya memang tidak lengkap.

Namun ketidaklengkapan tidak berarti membuat kita jadi orang yang tidak lengkap pula, itu yang kita tekankan kepada si anak. Bahwa engkau dibesarkan di rumah yang tidak lengkap, ayahmu tidak ada, namun engkau tidak harus bertumbuh menjadi anak yang tidak lengkap. Engkau masih bisa lengkap, nah caranya adalah kita memang harus lebih terlibat dengan orang-orang lain, di gereja, di persekutuan, dengan sanak saudara kita supaya si anak bisa juga menyerap masukan-masukan dari figur-figur pamannya, kakeknya dan sebagainya. Nah itu sedikit banyak akan mengkompensasikan kehilangannya yang dialaminya.
GS : Pak Paul, itu kalau meninggal mungkin bisa kita hadapi seperti itu, tetapi bagaimana halnya kalau itu perceraian dan orang tua masih tinggal dalam kota yang sama, apakah baik bagi si ibu itu menyarankan kepada anak untuk sekali-sekali menjenguk ayahnya atau bagaimana?

PG : Yang dianjurkan adalah meskipun sudah bercerai si ayah tetap mempunyai bagian dalam mendidik si anak. Jadi kontak dengan si ayah itu sebaiknya tetap dipelihara. Kecuali dalam kasus di mna ayah itu adalah seseorang yang sangat membahayakan jiwa si anak, nah dalam hal seperti itu sebaiknya tidak ada kontak.

Namun kalau karena hanya misalnya ketidakcocokan antara orang tua dan sebagainya tetap dua-dua menjadi orang tua bagi si anak. Jadi perceraian tidak mengubah status orang tua, perceraian mengubah status nikah orang tuanya.
GS : Apa itu tidak membingungkan anak, Pak Paul?

PG : Membingungkan, sudah tentu. Namun daripada dia kehilangan kontak dari orang tuanya dengan ayahnya, lebih baik dia ada kontak dengannya. Sebab nanti dibutuhkan peranan si ayah untuk mendsiplin si anak pada waktu anak itu remaja.

GS : Itu sejauh masing-masing belum menikah lagi Pak Paul?

PG : Bahkan setelah menikahpun juga begitu, orang tua itu tetap harus menjadi orang tua bagi si anak.

IR : Ikut bertanggung jawab begitu?

PG : Betul, mereka berdua harus bertanggung jawab.

GS : Nah Pak Paul dalam kaitan seperti ini, apa yang firman Tuhan itu katakan?

PG : Saya akan bacakan dari Lukas 19 . Lukas 19 adalah cerita tentang Zakeus, di sini saya akan membacakan perkataan Tuhan Yesus, di ayat ke 5. "Ketika Yesus sampai e tempat itu Dia melihat ke atas dan berkata : "Zakeus segeralah turun...!

sebab hari ini Aku akan menumpang di rumahmu." Zakeus seorang pemungut cukai dan disingkirkan dari kehidupan masyarakatnya, dia dianggap orang yang jahat oleh orang Yahudi saat itu. Namun Tuhan Yesus melihat hatinya yang ingin bertemu dengan-Nya, nah yang bisa kita petik dari pelajaran ini adalah Tuhan memperhatikan orang yang tersingkirkan dan ingin menumpang di rumah saudara pula.
GS : Jadi bagi orang-orang percaya tidak pernah ada istilah tunggal dalam arti kata yang sebenarnya Pak Paul ya karena Tuhan Yesus pasti menggantikan peran itu. Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang anak yang diasuh oleh orangtua tunggal yang merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 57 B

  1. 1.Dampak apakah yang timbul dari orangtua tunggal, yang dapat dirasakan oleh anak-anak....?
  2. 2.Kalau boleh memilih, lebih baik mana kehilangan ayah atau kehilangan ibu...?
  3. 3.Saran apakah atau hal apakah yang perlu dilakukan ketika orangtua tunggal menghadapi kemarahan anak akibat perasaan kehilangan...?


15. Seks dalam Berpacaran


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T061B (File MP3 T061B)


Abstrak:

Seorang pria dan seorang wanita yang berpacaran dalam abad ini menghadapi tantangan yang luar biasa beratnya. Baik yang berasal dari luar maupun dari dalam diri kita. Namun yang menjadi pertanyaan sampai sejauh mana kita sebagai kaum muda Kristen menyikapi masalah ini.


Ringkasan:

Seorang pria dan seorang wanita yang berpacaran dalam abad ini memang menghadapi suatu tantangan yang luar biasa beratnya. Dari luar tantangan sudah begitu berat, dari dalam dirinya gangguan atau gejolak seksual juga memang sedang pada puncaknya. Bagaimana mereka menahan diri menghadapi semua ini memang merupakan perjuangan yang sangat besar, jauh lebih besar dari pada perjuangan kita 20 tahun lebih yang lalu.

Tuhan memanggil kita baik yang pria maupun yang wanita, untuk menjaga kesucian kehidupan ini. Karena dorongan dan godaan itu begitu besar, maka sekarang kita harus melakukan beberapa hal yang bersifat pencegahan:

  1. Yang pertama adalah saya anjurkan bagi yang sedang berpacaran dari awalnya baik perempuan maupun si pria harus menentukan batas fisik, seberapa dekat mereka akan mendekatkan diri. Dalam pengertian dua-dua harus menyepakati hal apa yang boleh dilakukan dan hal apa yang tidak boleh dilakukan. Misalnya: tidak boleh menyentuh bagian-bagian tubuh yang erotis, membatasi diri dalam berpelukan, menjaga berapa jauh atau berapa panas berciuman. Sebagai orang Kristen kita harus menghormati bahwa tubuh pasangan kita adalah kudus. Sewaktu saya memegang-megang sembarangan, itu berarti saya mencemari tubuh yang kudus tersebut. Saya mau mengingatkan baik kepada pria maupun yang wanita, waktu engkau memberikan tubuh sembarangan yakinlah satu hal bahwa engkau telah membuat dirimu sangat murah di hadapan pasanganmu. Seorang pria pada umumnya akan menghormati wanita yang tidak bersikap sembarangan.

  2. Bagi yang sedang berpacaran ingatlah prinsip ini, semakin lambat semakin baik. Artinya jangan mengawali pacaran dengan hal-hal seksual atau jangan mengawali masa pacaran dengan tindakan fisik yang terlalu berani, terlalu cepat. Sebab kalau pada kali pertama sudah begitu cepat, tinggal tunggu waktu sebelum akhirnya melakukan hubungan seksual.

  3. Prinsip yang berikutnya yakni kita harus mempunyai tanggung jawab yang sama, yang konsisten antara di depan orang banyak, di depan publik dan hanya di antara kita berdua. Artinya janganlah kita melakukan hal-hal yang tidak berani kita pertanggungjawabkan secara umum.

Seks yang terlalu menjadi bagian dalam masa berpacaran akan mengaburkan perspektif orang yang sedang berpacaran. Mungkin ada ketidakcocokan yang seharusnya mereka sadari, tidak mereka sadari karena seks telah mengikat mereka. Mungkin ada hal-hal yang harus mereka tegaskan kepada pasangannya, tidak mereka tegaskan, karena seks telah memenuhi kebutuhan mereka.

I Korintus 6:19 , "Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri."

Sekali lagi firman Tuhan menegaskan bahwa tubuh kita adalah rumah Allah, oleh karena itu tidak bisa kita berbuat sembarangan dengan rumah Allah.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang seks dalam berpacaran. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu ada salah seorang pendengar setia kita yang mengajukan sebuah pertanyaan, permasalahan, saya rasa cukup up-to-date untuk kita bicarakan saat ini yaitu tentang sampai seberapa jauh sebenarnya seseorang boleh melakukan hubungan seksual atau kontak-kontak dengan pasangannya itu, Pak Paul. Nah untuk membahas lebih jauh pertanyaan ini, persoalan ini, apakah ada yang Pak Paul ingin sampaikan?

PG : Pertama saya ingin membuka dengan cerita saya sendiri. Sebelum saya berpacaran saya dapat dikatakan tidaklah mengalami gangguan atau tidaklah mengalami suatu ketegangan menghadapi doronganseksual.

Saya lahir baru dan setelah lahir baru saya bisa menguasai hidup saya dengan relatif baik, tapi saya masih ingat sekali sewaktu saya mulai berpacaran, saya akhirnya mengalami pergumulan dalam hal membatasi hubungan saya secara fisik dengan pacar saya yang sekarang adalah istri saya. Permasalahan timbul karena sebelum berpacaran tidak ada orang di sebelah saya, namun sekarang setelah berpacaran ada orang di sebelah saya, dengan kata lain sekarang saya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa saya lakukan sebelumnya. Dulu memang tidak ada pacar, tidak ada yang di sebelah saya, sekarang sudah ada orang di sebelah saya. Nah, masa-masa berpacaran menjadi masa-masa yang penuh dengan pergumulan buat kami berdua, karena kami senantiasa harus menjaga batas sampai seberapa jauh kami harus menahan diri kami. Saya harus akui bahwa itu adalah masa yang berat buat saya secara pribadi. Nah, sekarang saya ingin menempatkan diri saya sebagai seorang pemuda di abad ke 21 ini. Saya kira situasinya sudah sangat berbeda dengan waktu-waktu ketika saya masih berusia 20 tahun, ya lebih dari 20 tahun yang lalu. Sekarang kita bisa melihat begitu banyak adegan seksual melalui internet, melalui komputer yang ada di rumah kita sendiri, tidak lagi kita harus mencari-cari film-film porno di luar, kita bisa mendapatkannya dengan begitu mudah dalam jangkauan hampir setiap anak-anak, remaja atau pemuda dewasa ini. Dengan kata lain, saya harus mengakui bahwa godaan atau gangguan secara seksual meningkat berkali-kali lipat untuk generasi sekarang ini. Berikutnya saya harus menempatkan diri dalam generasi sekarang ini dan mengakui bahwa godaan itu begitu besar, karena dulu misalkan pada 20 tahun yang lalu kalaupun si pria ingin melakukannya, pada umumnya para wanita itu akan dengan cepat menolak usaha-usaha pria untuk melakukan hubungan seksual dengannya. Namun seperti kita bahas pada kali yang terakhir, nilai-nilai moral sudah begitu sangat berubah sehingga sekarang bukan saja pria yang menganggap hubungan seksual itu tidak apa-apa, sekarang makin banyak kaum wanita yang menganggap itu juga tidak apa-apa, sehingga cukup banyak wanita, baik yang remaja maupun yang sudah pemudi, bersedia untuk melakukan hubungan seksual. Nah dari dulu prianya mau, dari dulu prianya siap, tapi dulu wanita tidak siap, sekarang wanitanya lebih siap untuk menyambut ajakan si pria untuk berhubungan seksual dengannya. Oleh karena itu sekarang bagi seorang pemuda, pada usia belasan tahun hingga usia 20-an dorongan seksualnya memang sedang mencapai puncaknya. Jadi saya bisa katakan seorang pria dan seorang wanita yang berpacaran dalam abad ini memang menghadapi suatu tantangan yang luar biasa beratnya. Dari luar tantangan sudah begitu berat, dari dalam dirinya gangguan atau gejolak seksual juga memang sedang pada puncaknya. Nah bagaimana dia menahan diri menghadapi semua ini memang merupakan perjuangan yang sangat besar, jauh lebih besar daripada perjuangan kita 20 tahun lebih yang lalu, sewaktu kita masih menjadi seorang pemuda.
(1) GS : Tapi panggilan Tuhan terhadap kita justru menjaga kesucian kehidupan ini, Pak Paul, baik yang pria maupun yang wanita. Tadi Pak Paul katakan dorongan itu begitu besar, godaan itu begitu besar, lalu apa yang harus dilakukan, Pak Paul?

PG : Nah, sekarang kita harus melakukan beberapa hal yang bersifat pencegahan, yang pertama adalah saya anjurkan bagi yang sedang berpacaran dari awalnya baik wanita maupun si pria harus menentkan batas fisik seberapa dekat mereka akan mendekatkan diri.

Dalam pengertian begini, dua-dua harus menyepakati hal apa yang boleh dilakukan dan hal apa yang tidak boleh dilakukan. Misalkan sudah tentu baik si pria dan si wanita harus menyepakati mereka tidak boleh menyentuh bagian-bagian tubuh yang erotis misalnya seperti payudara ataupun alat-alat kelamin mereka. Jadi dua daerah itu menjadi daerah yang tertutup, dua-duanya harus saling mengingatkan bahwa dua daerah ini adalah daerah yang tidak boleh mereka langgar. Yang berikutnya mereka juga harus membatasi diri dalam hal misalnya berpelukan, sebab waktu pria dan wanita berpelukan ke depan-depan sudah tentu akan ada sentuhan dengan anggota tubuh yang erotis, nah itu perlu juga dicegah. Jauh lebih baik berpelukan misalkan dari samping atau tidak mengenai bagian tubuh yang erotis tersebut. Yang berikutnya yang bisa dilakukan juga adalah menjaga berapa panas, berapa jauh berciuman, ciuman bisa menjadi sesuatu yang sangat lembut, tapi bisa menjadi sesuatu yang sangat bersifat erotis atau panas sekali. Nah, ciuman-ciuman yang lebih ke arah erotis itu yang harus dijaga, jadi saya menganjurkan bagi pasangan yang sedang berpacaran, dari awal dua-dua harus sudah membicarakan batas-batas apa yang harus dihormati kedua belah pihak.
GS : Jadi sebenarnya masing-masing harus tahu bagaimana caranya menjaga begitu Pak Paul yang satu pasangan berbeda dengan pasangan yang lain tentunya.

PG : Memang bisa berbeda, tapi saya berharap bedanya tidak terlalu besar, jadi bagi kita orang Kristen kita harus menghormati bahwa tubuh pasangan kita adalah kudus. Sewaktu saya memegang-megan sembarangan saya mencemari tubuh yang kudus tersebut, jadi baik pria maupun wanita harus melihat tubuhnya sebagai tubuh Tuhan yang kudus sehingga tidak boleh sembarangan mencemarinya.

Nah saya kira kalau dua orang ini, sudah kehilangan perspektif bahwa tubuh adalah tubuh Kristus yang kudus itu, dia akan mudah sekali mencemarinya. Tapi kalau dia menyadari bahwa ini adalah tubuh Tuhan yang kudus, dia lebih didorong untuk tidak melanggarnya atau mencemarinya. Dan yang lainnya lagi adalah bukankah waktu kita bisa sembarangan memegang tubuh pacar kita sesungguhnya respek kepada dia pun menurun, karena kita menganggap dia 'gampangan' dan segalanya yang gampangan tidak terlalu berharga. Jadi saya mau mengingatkan baik kepada pria maupun wanita, waktu memberikan tubuh sembarangan yakinlah satu hal bahwa engkau telah membuat dirimu sangat murah di hadapan pasanganmu. Nah, janganlah membuat diri kita menjadi begitu murah, hormati diri kita; kalau kita tidak menghormati diri kita, jangan berharap orang akan menghormati diri kita. Jadi mulai dengan menghormati diri sendiri baru orang akan menghormati diri kita. Kalau kita sembarangan memberikan tubuh kita, sama saja dengan kita berkata bahwa tubuh kita memang murah, silakan engkau berbuat sesukanya.
IR : Itu juga tergantung dengan iman seseorang ya Pak Paul, kalau iman mereka tidak kuat mungkin juga mudah untuk melakukan hubungan seks itu.

PG : Tepat sekali, kalau ada pasangan yang tidak mempunyai keyakinan sama seperti tadi telah saya paparkan, seks menjadi sesuatu yang bagi mereka boleh dilakukan asal keduanya sama-sama senang.Sebab tidak ada kaitannya dengan kehendak Tuhan.

GS : Nah, Pak Paul biasanya kaum pria itu lebih cepat terangsang, untuk menghindari hal-hal seperti itu pasti si wanita juga harus pandai-pandai menjaga jarak atau juga bahkan menolak. Tetapi seringkali yang menjadi permasalahan itu ada kekhawatiran juga dari pihak wanita, nanti kalau ditolak malah ditinggalkan.

PG : Betul sekali, jadi adakalanya wanita memberikan tubuhnya karena takut kehilangan pacarnya, nah ini adalah hal yang sangat salah dan saya juga mengerti ada pria yang sengaja memanfaatkan ha ini.

Misalnya pria yang mengancam bahwa kalau engkau mencintai saya, serahkan tubuhmu, jika engkau tidak memberikan tubuhmu berarti engkau tidak mencintai diriku. Nah, hal-hal seperti itu adalah tipuan, itu tipu daya, jadi kalau ada pria yang mengatakan seperti itu, si wanita harus langsung dengan tegas berkata engkau sedang menipu dirimu sendiri dan engkau tidak bisa menipu aku, sebab cinta tidak identik dengan penyerahan tubuh sebelum pernikahan. Cinta mengandung unsur menghormati, kalau kita mau memakai, mau mencemari tubuh orang, maka kita tidak menghormati orang tersebut. Nah, jadi wanita di sini juga harus bersikap tegas jangan sampai termakan oleh tipuan pria yang seperti itu. Pak Gunawan dan Ibu Ida mungkin juga pernah mendengar kasus-kasus di mana bukankah kalau sudah berhubungan seksual dan putus sebelum menikah, siapa yang paling dirugikan?
IR : Wanita.

PG : Tepat sekali, wanita yang langsung mengalami kerugian yang terbesar, nanti dia berpacaran dengan pria yang lain dia harus mengakui, sebab memang mempunyai bekasnya. Jadi akhirnya yang cuku sering terjadi adalah kalau hubungan ini sudah ditandai dengan hubungan seksual dan putus, si wanita itulah yang depresi berat.

Sampai-sampai ada yang kehilangan jati dirinya, sampai-sampai depresi tidak mau makan, bahkan ada yang akhirnya berpikiran untuk mengakhiri hidupnya, karena merasa hidupnya tidak ada lagi gunanya, semua yang berharga telah diberikan kepada pacarnya. Sekarang pacarnya pergi. Yang terutama, seorang pria pada umumnya akan menghormati wanita yang tidak bersikap sembarangan, justru kalau wanita itu bersikap begitu dan sembarangan memang si pria akan menikmatinya sebab dia akan mendapatkan kepuasan yang dia inginkan itu. Tapi dalam lubuk hatinya dia tidak lagi menghormati wanita itu. Jadi di hadapan si pria, wanita itu tidak ada lagi harganya.
IR : Wanita murahan, bisa dikatakan begitu, Pak Paul?

PG : Betul sekali dan dianggap sebagai wanita yang tidak lagi ada harganya. Jadi hati-hati dengan rayuan dan tipuan pria yang seperti itu. Untuk membuktikan cinta, berikan tubuhmu; jangan, itu dalah ancaman yang sama sekali salah.

IR : Nah, Pak Paul kalau sudah bercacat seperti itu, bagaimana tanggung jawab si laki-laki itu?

PG : Kalau memang mereka itu sudah berpacaran, saya kira yang harus dilakukan adalah mereka harus menikah. Namun saya juga mau mengatakan kalau mereka adalah dua orang yang tidak cocok, tidak aa kesamaan kepribadian, lebih sering diisi dengan pertengkaran, saya lebih menganjurkan mereka untuk tidak menikah.

Sebab dosa telah dilakukan itu betul, tapi jangan menimbun dosa dengan dosa-dosa yang lebih parah lagi. Nah saya mengetahui akhirnya ada kasus-kasus di mana karena dua-dua sudah saling berhubungan ya sudahlah langsung menikah, padahalnya tidak cocok sama sekali. Dua-duanya tidak cocok namun akhirnya terjerat oleh masalah seksual. Menikah dalam ketidakcocokkan, dalam waktu beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun persoalan mereka akhirnya menggurita, makin banyak problem, makin banyak percekcokan dan sekarang ada anak-anak. Akhirnya apa yang terjadi makin merugikan anak-anak dan akhirnya bercerai. Jadi saya juga mau berpikir lebih panjang lagi, memang seolah-olah menikahkan adalah hal yang paling benar, tapi saya yakin bukan untuk setiap kasus, karena kalau tidak cocok itu akan menimbulkan problem lain yang jauh lebih besar di kemudian hari.
GS : Saya rasa bukan cuma sekadar tidak cocok Pak Paul, kadang-kadang mereka masih terlalu muda untuk menikah.

PG : Betul, betul, bukankah adakalanya ini yang terjadi, misalkan umur 17 tahun berhubungan dan akhirnya hamil, kemudian orang tua biasanya langsung berkata dua-duanya harus dikawinkan. Itu belm tentu merupakan solusi yang paling baik untuk keduanya, belum tentu sama sekali ya, kalau memang tidak ada kecocokan, tidak ada kematangan, belum siap untuk menikah dan kita nikahkan, kita hanya memang bisa menutupi rasa aib kita untuk sejenak.

Tapi sebetulnya kita memunculkan problem lain yang lebih besar.
GS : Nah, sebagai makhluk sosial kalau sudah sampai terjadi hubungan yang sejauh itu, apakah ada dampaknya terhadap masyarakat yang ada disekelilingnya Pak Paul, maksud saya apakah masyarakat sekelilingnya itu bisa menerima keadaan seperti itu atau menolaknya atau bagaimana, Pak?

PG : Biasanya kalau sudah misalnya hamil sebelum nikah, biasanya akan tetap menjadi pergunjingan masyarakat. Nah, sudah tentu pergunjingan ini akan lebih banyak memberikan tekanan pada pasanganmuda ini.

Tapi itu memang konsekuensi yang harus dihadapi. Namun saya juga mau meminta agar kita di pihak Gereja tidak terus-menerus memberi sanksi sosial seperti itu, kita tidak menyetujui perbuatan tersebut tapi kita juga dipanggil Tuhan untuk mengampuni dan menerima kembali orang yang telah berdosa dan bertobat. Jadi jangan sampai kita bersifat kritis, mengucilkan mereka dan terlalu menghakimi, saya kira kita perlu juga menyambut mereka.
GS : Karena kadang-kadang kejadian itu sampai menimpa mereka, itu karena desakan orang-orang yang di sekelilingnya, masyarakat itu, Pak Paul. Mendesak pasangan yang masih muda ini, yang masih sedang berpacaran untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh mereka lakukan sebelum pernikahan, jadi dalam hal ini sebenarnya masyarakat juga punya tanggung jawab.

PG : Tepat sekali, tepat sekali, saya setuju dengan yang Pak Gunawan katakan sebab kita harus akui bahwa kita-kita ini memang yang lebih tua, kita-kita yang lebih dewasa, adakalanya tidak membeikan contoh yang baik pula.

Dan contoh-contoh yang tidak baik itu memberikan penguatan perilaku seksual anak-anak muda yang lebih bebas sekarang, jadi memang kita orang-orang yang lebih tua tidak bisa semena-semena hanya menyalahkan anak-anak remaja. Kita harus melihat juga diri kita, apa yang kita telah lakukan, apakah kita memang merintangi mereka, atau tanpa disadari kita seolah-olah mengijinkan mereka untuk berbuat seperti itu.
GS : Katakanlah kita menemui pasangan di jalan atau di mana, yang agak terlalu berlebihan kita pun segan untuk menegur mereka, Pak Paul.

PG : Jadi memang akhirnya kita juga yang menoleransi perbuatan itu.

GS : Ya semacam itu, sekarang seringkali kita melihat pasangan muda-mudi, yang pacaran di tempat umum dengan sangat demonstratif, berlebihan sekali, tapi tetap masyarakat bisa menerima itu.

PG : Jadi Pak Gunawan menyarankan agar kita lebih kritis, lebih berani untuk menegur hal-hal yang memang sudah melewati batas kewajaran.

GS : Tapi buat pasangan muda-mudi ini dianggap sesuatu yang wajar, pacaran ya seperti itu. Itu yang mereka lihat di TV, mereka lihat di film dan sebagainya.

PG : Maka kita sebagai orang tua Kristen, kita dipanggil untuk memberikan bimbingan pada anak kita ya, mungkin kita tidak bisa menegur dan membimbing anak-anak orang lain tapi kita minimal dipaggil untuk membimbing anak-anak kita sendiri.

Saya juga mau mengingatkan nasihat yang lainnya Pak Gunawan, bagi yang sedang berpacaran ingat prinsip ini, semakin lambat semakin baik, artinya jangan mengawali pacaran dengan hal-hal seksual atau jangan mengawali masa pacaran dengan tindakan fisik yang terlalu berani, terlalu cepat. Sebab kalau pada kali pertama sudah begitu cepat, tinggal tunggu waktu, sebelum akhirnya melakukan hubungan seksual. Jadi dari awalnya jangan mulai terlalu cepat, mulai bergandengan tangan, pertahankan bergandeng tangan selama mungkin. Misalkan yang lainnya mulai dengan mengecup pipi, pertahankan selama mungkin hanya mengecup pipi, jadi pertahankan tidak menaikkan kadarnya dan itu akan menolong kita. Sekali kita langgar, sekali kita kebablasan, kita akan minta yang lebih dari itu pada kemudian harinya; jadi ini prinsip yang harus disadari oleh yang sedang berpacaran.
GS : Tetapi mungkin kita-kita yang pernah mengalami berpacaran, hal itu semacam suatu petualangan Pak Paul, jadi kalau yang itu-itu juga itu akan cepat membosankan dan kita selalu dituntut lebih dari itu.

PG : Saya setuju sekali karena dorongan itu memang dari dalam diri kita dan rasa ingin tahu begitu besar, maka saya mau memberikan prinsip yang berikutnya yakni kita harus mempunyai tanggung jaab yang sama, yang konsisten antara di depan orang banyak, di depan publik dan hanya di antara kita berdua.

Artinya janganlah kita melakukan hal-hal yang tidak berani kita pertanggungjawabkan secara umum. Kalau misalkan kita sudah memegang-megang anggota seksual daripada pasangan kita sudah tentu kita tidak akan berani membicarakan ini di depan umum karena ini hal yang bagi kita salah. Nah prinsipnya adalah di depan umum dan berdua harus sama, kalau ada yang tidak sama berarti ada yang sudah terlalu jauh kita lakukan, itu berarti kita harus mundur kembali. Seks yang terlalu menjadi bagian dalam masa berpacaran akan mengaburkan perspektif orang yang sedang berpacaran. Mungkin ada ketidakcocokkan yang seharusnya mereka sadari, tidak mereka sadari karena seks telah mengikat mereka. Mungkin ada hal-hal yang harus mereka tegaskan kepada pasangannya, tidak mereka tegaskan, karena seks telah memenuhi kebutuhan mereka. Ada banyak hal yang akan dikaburkan oleh seks oleh karena itu kalau masa berpacaran terlalu diisi dengan seks, biasanya setelah menikah problem akan muncul dengan begitu banyaknya, karena ada banyak hal yang seharusnya diperhatikan tidak lagi diperhatikan, semua luput dari perhatian karena seks telah mengisi aktifitas berpacaran.
IR : Jadi itu termasuk membutakan, ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali Bu Ida, jadi membutakan mata karena yang di dapat itu terlalu nikmat, jadi kenapa harus pusing-pusing memikirkan pertengkaran yang lainnya. Semua langsung ditutupi dengan hubugan seks, malangnya setelah menikah, seks tidak lagi menempati posisi yang begitu tinggi dalam pernikahan, sebab semuanya menjadi biasa.

Nah pada saat itulah kita makin menyadari bahwa kita ini tidak cocok dengan pasangan kita, itu sebabnya masa berpacaran sebaiknya dan seharusnya tidak diisi dengan aktifitas seksual untuk kepentingan kedua orang ini pula.
GS : Nah, bagaimana Pak Paul kalau terjadi misalnya di dalam hal berpacaran ada pihak yang memang menyerahkan dirinya terhadap pasangan yang lain, apa sebenarnya yang mendorong atau melatarbelakangi si remaja itu, dia terang-terangan memberikan dirinya.

PG : Kadangkala hal itu dilakukan karena si remaja berpikir inilah yang harusnya dilakukan pada masa berpacaran.

GS : Pengertian yang keliru begitu saja.

PG : Pengertian yang keliru, nah jadi ini yang harus kita tegaskan. Orang yang berpacaran seharusnya tidak berhubungan seksual. Nah nilai moral sekarang sudah begitu bergeser sehingga ada anakanak remaja yang berpikir ini bagian dari berpacaran, kalau tidak ini justru bukan bagian berpacaran.

Dan yang tadi Pak Gunawan sudah singgung ada anak-anak yang takut kehilangan pacarnya sehingga akhirnya melakukan hubungan seksual untuk mengikat hubungan yang memang tidak kuat ini.
GS : Nah sejauh ini, Pak Paul, apa yang Firman Tuhan itu mau berikan sebagai bekal, sebagai pedoman khususnya bagi saudara-saudara kita yang sedang berpacaran.

PG : Saya akan ingatkan dari 1 Korintus 6:19 , "Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwakamu bukan milik kamu sendiri."

Jadi sekali lagi Firman Tuhan menegaskan bahwa tubuh kita adalah rumah Allah, oleh karena itu tidak bisa kita berbuat sembarangan dengan rumah Allah. Kalau kita membaca Firman Tuhan pada Perjanjian Lama, kita tahu Tuhan sangat tegas dengan kekudusan rumah Allah dengan yang namanya persembahan-persembahan di rumah Allah, itu sebabnya kedua anak Harun langsung meninggal karena memberikan persembahan dengan tidak benar. Anak-anak Imam Eli dihukum dengan kematian pula, melakukan hal yang tidak benar dalam peribadatan rumah Allah, raja Manasye mengotori rumah Allah dan Tuhan menghakiminya, jadi Tuhan sangat serius dengan rumah-Nya. Nah tubuh kita rumah Allah, jadi kita harus sadar bahwa kita tidak boleh main-main dengan rumah Allah, yakni tubuh yang Tuhan huni ini. Nasihat saya yang terakhir adalah meskipun kita bergumul jangan menyerah, hari ini kita menyerah, besok lawan lagi, jangan sampai kita berkata ya memang sudah nasib saya, saya tidak bisa menguasai nafsu saya, memang inilah saya, malangnya saya tidak, jangan menyerah dan jangan menurunkan standar Tuhan, yang tidak boleh tetap tidak boleh. Meskipun kita bergumul jangan sampai kita menyerah, ini nasihat saya.
IR : Dan kalau sudah melakukan, mereka harus bertobat, Pak Paul?

PG : Betul, jadi kalau sudah melakukan mereka harus berhenti, karena apa jangan sampai menyerah, ingat ini adalah tubuh Tuhan, rumah Tuhan harus dihormati.

GS : Saya percaya sekali bahwa perbincangan kita ini sebagian besar tentu akan menjawab pertanyaan dari salah seorang pendengar yang begitu perhatian dengan acara ini dan telah mengirimkan surat kepada kami, kami ucapkan terima kasih melalui kesempatan ini kepada saudara kita yang mengajukan pertanyaan yang sangat relevan ini. Dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang seks dalam berpacaran. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



16. Anak dan Televisi


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T066A (File MP3 T066A)


Abstrak:

Banyak pengaruh atau dampak yang muncul akibat adanya televisi. Baik itu berdampak positif maupun berdampak negatif khususnya bagi anak-anak.


Ringkasan:

Kehadiran televisi dan acara-acaranya itu pasti membawa dampak dan pengaruh pada anak, khususnya anak-anak yang masih di bawah usia 10 atau 9 tahun. Pada saat ini kita perlu sedikit memeriksa apa dampak televisi pada anak-anak. Untuk memulai hal itu, kita perlu melihat siapakah dan apakah keadaan anak, terutama yang berusia di bawah 10 atau 9 tahun tadi.

  1. Pertama yang harus kita ketahui adalah anak-anak pada usia-usia segitu berada pada tahap pemikiran yang konkret, mereka belum mampu berpikir dengan abstrak. Pada usia-usia ini anak-anak belum bisa memisahkan yang fiksi dari yang realitas.
    Contoh-contoh tentang anak-anak belum bisa membedakan yang fiksi dan yang riil:

    1. Dalam film ada anak yang diculik, anak ini mudah sekali mempunyai anggapan bahwa penculikan itu terjadi di mana-mana, bahwa anak-anak kecil itu korban penculikan, jadi dia senantiasa harus berhati-hati.

    2. Anak-anak ikut-ikutan orangtua menonton sinetron, misalnya kisah perselingkuhan, anak kecil bisa mengembangkan pikiran bahwa semua pria itu tidak setia pada istrinya, atau dia juga mengembangkan pikiran bahwa papanya juga salah seorang kandidat ketidaksetiaan.

    3. Kehidupan para tokoh di sinetron yang super mewah, nah anggapan si anak kalau tidak hati-hati adalah nanti kalau saya sudah besar saya pun akan kaya seperti itu.

  2. Kedua, anak-anak ini berada pada tahap pembentukan moralitas. Prinsip di sini adalah apa yang dilakukan pahlawannya adalah apa yang benar. Pada saat pembentukan moralitas inilah si anak mulai menentukan apa yang benar, apa yang salah.
    Dalam rangka pembentukan moralitasnya, anak menganggap apa yang dilakukan oleh pahlawannya itu selalu benar. Contoh konkret misalnya:

    1. Kalau pahlawannya itu menembak atau membunuh atas nama kebenaran, si anak akan senang sekali. Tanpa disadari si anak mempunyai suatu nilai atau moralitas bahwa selama kita membunuh penjahat itu adalah tindakan yang benar.

    2. Menghancurkan musuh itu tidak salah malah seolah-olah dianjurkan. Misalnya dalam film Rambo, anak-anak akan mempunyai pikiran tidak apa-apa asal kita berada di pihak yang benar.

    3. Di fim-film kecenderungan ditonjolkan bahwa orang miskin selalu berada di pihak yang dirugikan atau menjadi pihak yang benar, sedangkan seorang kaya selalu di pihak yang salah. Padahal dalam kehidupan tidaklah selalu demikian, kalau tidak hati-hati anak-anak mulai mengembangkan pikiran bahwa orang kaya itu jahat, orang kaya itu suka menghina dan menekan orang miskin. Dsb.

Kuncinya terletak pada setiap orangtua: Bagaimana kita mengatur waktu kapan boleh atau tidak boleh menonton televisi, serta memberikan pengarahan dsb. Saran saya adalah orangtua duduk bersama anak-anak waktu menonton acara anak- anak sehingga kita mempunyai gambaran kira-kira apa sih yang ditonton. Secara keseluruhan banyak manfaat yang televisi berikan, asal kita sortir acaranya dan kita bimbing anak-anak kita.

Filipi 4:8 , "Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Tuhan menginginkan kita memasukkan hal yang baik, yang indah ke dalam pikiran kita, jangan sampai kita mengotori pikiran kita. Maka kita yang harus melindungi anak-anak kita dari pikiran-pikiran yang bisa mencemari mereka. Baik seks yang terlalu dini, film yang terlalu menegangkan, atau kisah kehidupan yang tidak riil sama sekali, semua itu perlu anak-anak kita sadari dan ditangkal olehnya sehingga tidak menyerapnya dan membabi buta. Memang semakin lama semakin sulit dilakukan, tetapi tanpa seleksi itu akan lebih sulit untuk memperbaiki kehidupan anak itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang acara televisi dan anak. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Televisi rupanya sudah umum ada di setiap rumah, bahkan sampai di pelosok-pelosok pun ada pesawat televisi, ya Pak Paul. Dan sekarang makin banyak saluran-saluran televisi dan acaranya makin beragam. Nah, kehadiran televisi dan acara-acaranya itu pasti membawa dampak pada anak, khususnya anak-anak yang masih di bawah usia 10 atau 9 tahun. Menurut pengamatan Pak Paul bagaimana itu terjadinya, Pak?

PG : Televisi adalah sesuatu yang menayangkan kisah-kisah yang menarik, menggugah dan memang dikemas sedemikian rupa untuk bisa menarik para pemirsanya. Saya kira pada saat ini kita perlu meeriksa apa dampak televisi pada anak-anak.

Nah untuk memulai hal itu, Pak Gunawan, kita perlu melihat pertama-tama siapakah atau bagaimanakah keadaan anak terutama pada anak-anak yang berusia di bawah 10 atau 9 tahun tadi. Yang pertama adalah anak-anak pada usia itu berada pada tahap pemikiran yang konkret, mereka belum mampu berpikir dengan abstrak. Maksudnya anak-anak ini belum mampu untuk melihat hal yang tidak tampak dan hal yang tampak. Dengan kata lain, bagi si anak apa yang dilihat adalah apa yang terjadi, misalkan dia melihat hal yang menakutkan, ada laba-laba yang bisa memakan manusia. Nah, bagi si anak itu adalah hal yang terjadi yakni laba-laba itu bisa memakan manusia, karena pada usia-usia ini anak-anak belum bisa memisahkan yang fiksi dari yang realitas.
IR : Kalau ada acara silat, pembunuhan, yang ada di bayangan si anak juga terjadi, ya Pak Paul?

PG : Betul, jadi pada anak-anak yang masih kecil itu waktu dia melihat seseorang terbunuh dalam film, baginya orang itu memang terbunuh. Karena dia belum bisa mengetahui lebih jelas bahwa in adalah suatu adegan yang dimainkan oleh para aktor, ini adalah sesuatu yang sangat riil sekali.

Karena itulah yang dia lihat dalam kehidupannya sehari-hari, misalkan dia melihat teman-temannya bermain bola, yang dia lihat adalah teman-teman yang bermain bola itu yang riil bagi dia, dia melihat adiknya menangis, itulah yang riil bagi dia. Dan misalkan kita memarahi dia karena adiknya menangis, dia perlu tahu apa yang dia lakukan sehingga membuat adiknya menangis. Jadi kita pun mengajar anak-anak di bawah usia 9 tahun haruslah secara konkret, itu sebabnya kita mengatakan pada anak kita kalau engkau membuat adikmu menangis karena tadi engkau atau kemarin engkau tidak memberikan mainanmu kepadanya sehingga dia masih terluka dan dia sekarang memintanya kembali padamu. Nah bagi dia hal yang terjadi kemarin itu sesuatu yang tidak lagi riil, dia akan mengalami kesukaran untuk melihat perbuatannya kemarin yang mempunyai dampak pada adiknya sekarang. Sekali lagi apa yang dilihat, apa yang terjadi dia belum bisa membedakan dengan yang dalam bayangan atau yang fisik dari yang realitas.
GS : Di sana peranan orang tua itu besar sekali, orang tua bisa mengatakan itu bohong-bohongan dan sebagainya.

PG : Meskipun orang tua bisa berkata itu bohong-bohongan, tapi dampak emosional dari apa yang dilihatnya sudah terlanjur menggetarkannya dan sudah terlanjur tercetak pada dirinya. Jadi misalan kepada anak-anak itu disajikan tontonan yang terlalu menakutkan untuk ukurannya, dampak ketakutan atau ketegangan itu sudah terlanjur diterimanya.

Contoh yang paling mudah sekali di kalangan kita, orang-orang dewasa suka menceritakan kisah-kisah hantu pada anak-anak kecil. Nah, kita semua tahu bahwa setelah kita beranjak lebih dewasa, kisah-kisah itu tidak benar dan tidak masuk akal. Tapi kita harus mengakui bahwa dampak dari hantu yang diceritakan orang tua kepada kita terlanjur terserap dan itu sebabnya membawa dampak dalam kehidupan kita. Misalkan kita takut melewati kuburan pada malam hari, sebab pada waktu kecil kita terlalu sering mendengarkan kisah-kisah yang menakutkan tentang kuburan yang banyak hantunya dan sebagainya. Kita sekarang sudah dewasa dan mengerti itulah cerita yang dibuat orang pada kita dan itu tidak benar, tapi sebetulnya kita juga bukan orang yang terlalu senang untuk pergi ke kuburan pada malam hari.
GS : Selain anak belum bisa membedakan antara yang fiksi dan riil, apa ada hal lain yang membuat anak harus waspada terhadap dampak televisi ini, Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah anak-anak berada pada tahap pembentukan moralitas, prinsipnya di sini adalah apa yang dilakukan pahlawannya adalah apa yang benar. Anak-anak sekali lagi berada pada taap pemikiran yang konkret dan pada saat pembentukan moralitas ini si anak mulailah menentukan apa yang benar, apa yang salah.

Apa yang benar apa yang salah itu diserapnya bukan saja dari yang orang tua katakan, apa yang guru Sekolah Minggu katakan, tapi juga apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Nah, termasuk dalam hal ini adalah apa yang dia tangkap dari televisi. Jadi cerita-cerita yang dia tonton biasanya mempunyai figur pahlawan, apa yang pahlawannya lakukan dianggapnya sebagai suatu hal yang benar. Dia belum mempunyai kemampuan untuk menyortir, misalnya yang kita sebut etika situasi, juga dia belum bisa mengerti bahwa ada etika yang absolut. Pokoknya apa yang dilakukan oleh pahlawannya atau istilah kita jagoannya, itu sudah pasti benar.
GS : Sekalipun itu membunuh orang, Pak Paul?

PG : Ya, jadi karena pola pikirnya yang masih konkret itulah yang menjadi kebenarannya.

GS : Bagaimana halnya kalau yang dilihat itu adalah sebuah film kartun. Di situ ada gambar, tapi ada juga tokoh-tokohnya, dari situ sebenarnya anak sudah bisa membedakan mana yang fiksi dan mana yang benar.

PG : Dari film-film kartun memang dampak riilnya sangat berbeda dari film yang lebih nyata, karena film yang nyata lebih mirip dengan kehidupan yang dilaluinya. Film kartun lebih mudah diterma anak sebagai sesuatu yang tidaklah riil di dalam kehidupannya.

Namun tetap harus saya ingatkan bahwa apa yang dilihatnya tetap akan diserapnya. Dia tidak menyerapnya secara langsung, otomatis dia akan menyerapnya tanpa sadar. Nah apa yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kartunnya, tanpa disadari akan dianggap sebagai sesuatu yang benar.
IR : Kalau seringkali anak-anak itu melihat hal-hal yang buruk, dampaknya itu apa, Pak Paul?

PG : Kalau dia melihat hal-hal yang buruk misalnya dia melihat gambar-gambar yang penuh kekerasan, kekelaman, saya kira akan membuat dia melihat bahwa dunia adalah sesuatu yang penuh dengan ekejaman sehingga bisa membuat dia merasa tidak aman.

Atau dia merasa, dia harus melakukan hal yang sama kepada orang lain.
GS : Kalau apa yang dilihatnya itu terjadi berulang-ulang, nah lama-kelamaan akan muncul semacam keyakinan di dalam dirinya. Bagaimana itu?

PG : Biasanya waktu anak melihat sesuatu secara berulang kali, yang terjadi adalah toleransi. Dia mulai menoleransi bahwa yang terjadi itu sesuatu yang memang biasa, sesuatu yang harus diharpkannya terjadi dalam hidup ini.

Reaksi-reaksi yang seharusnya muncul misalnya reaksi jijik, reaksi ini tidak benar, akan hilang. Jadi misalkan cerita pembunuhan, seseorang ditusuk, bagi si anak mula-mula dia akan memberikan reaksi yang sangat keras terhadap tindakan tersebut, tapi kalau dia terlalu sering menyaksikannya, maka terbentuklah toleransi, dia mulai merasa bahwa itu biasa dan tidak lagi menimbulkan reaksi yang tidak enak pada dirinya.
GS : Maksudnya kebal, Pak Paul?

PG : Betul jadi terjadilah proses pengebalan pada perasaannya, dia tidak lagi merasa terganggu dengan yang dilihatnya itu.

GS : Apa yang ditayangkan di televisi tidak semuanya jelek, ada juga acara untuk anak-anak. Tadi kita bicarakan dari sisi negatif, Pak Paul, apa sisi positifnya ada?

PG : Sudah tentu banyak Pak Gunawan, jadi televisi itu mempunyai unsur-unsur hiburan, rekreasional dan itu bisa memberikan anak kesempatan untuk merasa santai, tidak terlalu tegang. Jadi apayang dilihatnya bisa membawa penghiburan baginya, kesenangan hatinya, menenangkan jiwanya, itu merupakan hal yang positif.

Tapi saya mau tegaskan sekali lagi bahwa orang tua perlu menolong anak menyeleksi apa yang dilihatnya. Saya tidak menginginkan orang tua panik atau mengalami reaksi histeris, anak tidak boleh nonton televisi, bukan itu maksud saya. Tujuan saya adalah orang tua bisa selektif memberikan tayangan yang sesuai dengan usia anak. Saya berikan contoh untuk kasus yang pertama tadi, Pak Gunawan, tentang anak-anak yang belum bisa membedakan yang fiksi dan yang realitas atau riil. Misalkan di dalam film ada anak yang diculik, anak ini mudah sekali mempunyai anggapan bahwa penculikan itu terjadi di mana-mana. Bahwa korban penculikan adalah anak-anak kecil, jadi dia senantiasa harus berhati-hati. Kita tahu bahwa penculikan terjadi, tapi kita tahu itu tidak terjadi pada setiap anak atau terjadi di mana-mana, tapi anak-anak belum bisa berpikir secara abstrak seperti itu. Contoh yang lain lagi untuk kasus yang konkret misalnya anak-anak ikut-ikutan orang tua menonton sinetron, nah saya memperhatikan cukup banyak sinetron yang berisikan kisah perselingkuhan dan biasanya si suami yang berselingkuh. Anak kecil bisa mengembangkan pikiran bahwa semua pria itu tidak setia pada istrinya, nah saya khawatir si anak mulai mengembangkan pemikiran pula bahwa papanya juga salah seorang kandidat ketidaksetiaan, bahwa papanya bisa-bisa mempunyai wanita lain. Jadi misalkan si anak melihat papanya berbicara dengan seorang wanita, yang muncul dalam hatinya adalah suatu kecurigaan, nanti papa tertarik pada wanita itu, atau misalkan nantinya ada pertengkaran di rumah, si anak langsung mengaitkan bahwa tadi papa bertengkar karena ada wanita lain, ini harus kita waspadai. Sekali lagi karena apa apa yang dilihatnya dari film atau sinetron itu ialah pria berselingkuh, pria tidak setia, jadi anggapannya semua pria seperti itu. Yang lainnya lagi juga saya lihat di televisi terutama di sinetron bahwa kehidupan para tokoh-tokoh itu kehidupan yang super mewah, mobil yang sangat mewah, rumah yang sangat mewah, baju, berlian yang sangat mewah. Anggapan si anak kalau tidak hati-hati adalah nanti kalau sudah besar, dia akan berpikiran kaya seperti itu. Karena anak belum bisa mengerti bahwa tidak semua orang akan kaya dan untuk kaya seperti itu memerlukan usaha yang keras, kerja yang memang benar-benar harus serius dan kesempatan, tanpa adanya peluang mungkin tidak mendapatkan pekerjaan seperti itu dan sebagainya. Dia belum bisa mengerti seperti itu, pada anak-anak kecil yang dilihat adalah orang-orang ini sesudah dewasa menjadi kaya. Sebab memang kita tahu dalam film atau sinetron-sinetron itu kebanyakan tokohnya adalah orang dewasa, jarang anak kecil, jadi anggapannya setelah dewasa saya juga akan menjadi kaya, itu sesuatu yang otomatis akan saya alami. Nah sekali lagi ini disebabkan oleh pola pikir anak yang sangat konkret. Hal-hal ini kalau ditonton oleh anak, orang tua harus menetralisirnya. Misalnya dengan berkata bahwa tidak seperti itulah kehidupan, berkat Tuhan untuk masing-masing orang, tidak semua orang akan secantik para bintang film itu, tidak semua ibu tiri jahat. Bukankah kita seringkali mempunyai pikiran, praduga bahwa semua ibu tiri itu jahat dan pasti akan membuang anak-anak kandung dari ayahnya. Bukankah karena memang dari bacaan atau film yang kita tonton, jadi sekali lagi itu semua mempengaruhi kita. Saya sendiripun waktu masih kecil dipengaruhi pikiran bahwa semua ibu tiri jahat, karena selalu ditayangkannya seperti itu, nah ini dampak-dampak yang perlu kita ketahui.
GS : Kalau yang kedua Pak Paul, tadi dikatakan bahwa anak dalam rangka pembentukan moralitasnya sehingga apa yang dilakukan oleh pahlawannya itu dianggap benar, bagaimana contoh-contoh konkretnya di televisi?

PG : Yang bisa saya pikirkan misalnya kalau pahlawannya itu menembak atau membunuh atas nama kebenaran si anak akan senang sekali, jadi tanpa disadari si anak mempunyai suatu nilai atau moraitas bahwa selama kita ini membunuh penjahat itu adalah tindakan yang benar.

Jadi benar salahnya anak sangat kaku sekali, karena didasari atas apa yang dilakukan oleh tokoh jagoannya atau tokoh pahlawannya. Misalnya seseorang dihina kemudian jagoannya datang, jagoannya langsung memukul yang menghina itu, nah kita mungkin bertepuk tangan dalam hati kita senang, kita mengunggulkan jagoan kita memukul orang yang menghina orang yang lemah tadi. Ini menjadi konsep kebenaran si anak, ini menjadi nilai moralnya si anak, nanti di sekolah kalau ada temannya yang lemah sepertinya diejek-ejek oleh teman yang lebih kuat dia mungkin langsung tergoda untuk membela dengan membabi buta dan memukul atau berkelahi dengan teman dan sebagainya. Jadi itu adalah salah satu hal yang perlu kita waspadai. Yang lain misalnya menghancurkan atau membasmi musuh itu tidak salah seolah-olah dianjurkan, apalagi kalau anak kecil menonton film Rambo. Rambo itu pahlawan yang bisa menghancurkan, membumihanguskan musuhnya dan sebagainya. Anak-anak akan mempunyai pikiran tidak apa-apa asalkan kita berada di pihak yang benar, kita boleh membasmi, membumihanguskan, membakar dan membunuh. Sekali lagi moralitas film ditransfer kepada si anak dan anak mempunyai pikiran tidak apa-apa membasmi orang sampai habis, asalkan kita merasa berada di pihak yang benar. Itu sangat berbahaya sekali sebab nantinya dia di pihak yang benar, lawannya juga bisa berpikir saya di pihak yang benar pula misalnya. Yang lainnya lagi adalah konteks orang miskin dan orang kaya, bukankah di film-film ada kecenderungan ditonjolkan bahwa orang yang miskin selalu berada di pihak yang dirugikan atau menjadi pihak yang benar. Sedangkan orang yang kaya selalu di pihak yang salah, nah kita tahu dalam kehidupan tidaklah selalu demikian, yang miskin tidak secara otomatis berada di pihak yang benar. Kalau tidak hati-hati anak-anak mulai mengembangkan pemikiran bahwa orang kaya itu jahat, orang kaya itu suka menghina dan menekan orang-orang miskin. Tapi di pihak lain dia juga ingin kaya, tadi saya sudah singgung ya. Jadi hal-hal itu tidak sehat kalau tidak dikoreksi oleh orang tua.
IR : Kalau anak itu melihat berkali-kali dan apa yang paling sering dilakukan itu sama dengan apa yang seharusnya dilakukan, akibatnya apa, Pak Paul?

PG : Anak-anak seringkali begini, Bu Ida, waktu dia melihat sesuatu yang sering ditayangkan, sering dilakukan, dia beranggapan itu yang seharusnya dia lakukan, jadi sering dilakukan identik engan seharusnya dilakukan.

Misalnya dia melihat orang berbohong, asalkan tidak merugikan orang lain boleh saja. Tapi selama berbohong itu tidak merugikan, misalkan dibuat bergurau ya tidak apa-apa atau berbohong itu membuat suasana lebih riang, lebih lucu. Jadi karena sering dilakukan dia menganggapnya sebagai sesuatu yang memang seharusnyalah dilakukan, normal, sesuatu yang biasa. Yang lainnya lagi contohnya kalau tidak hati-hati anak-anak juga mulai menonton adegan-adegan seks, nah mungkin muncul suatu keyakinan bahwa seks dibolehkan asal dilakukan karena cinta dan seharusnya dilakukan setelah kencan pertama. Kalau tidak hati-hati, anak-anak akan membentuk keyakinan seperti ini, sebab anak-anak di bawah usia-usia 9-10 tahun ini sedang berada pada tahap pembentukan keyakinan, kepercayaan-kepercayaan seperti ini. Dia melihat di film 2 orang bertemu, berkencan kemudian tidur bersama-sama. Nah dia menonton ini misalnya 1 tahun seratus kali, dari umur misalnya 7, 8 tahun sampai dia umur 18 tahun misalnya sudah 10 tahun, 10x100 kali berarti 1000 kali dia melihat adegan seperti ini, tidak bisa tidak, hal itu sudah dipatrikan pada benaknya. Nanti dia umur 25, tujuh tahun kemudian misalkan dia sudah nonton ini dari awalnya sampai umur 25 sudah 2000 kali, waktu dia pertama kali kencan, tanpa disadari godaan itu sudah ada pada dirinya. Kencan pertama seolah-olah harus diikuti oleh sikon atau urutan ranjang, jadi itu adalah hal-hal yang berpotensi membentuk keyakinan anak. Yang lainnya lagi dalam tahapan pembentukan keyakinan misalnya menerima perbedaan adalah segalanya, sikap menghakimi dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Jadi kesimpulannya, anak-anak akan bisa berkata o.... jangan menerapkan konsep benar salah artinya jangan menghakimi. Yang lebih dianjurkan adalah menerima, tidak apa-apa orang berbuat seperti apapun itu, orang bebas mempunyai keyakinannya, moralitasnya. Jadi akhirnya anak-anak bertumbuh besar tanpa keyakinan benar salah lagi yang absolut. Sebab segala sesuatunya akan jadi relatif, tergantung pada pelakunya karena tayangan-tayangan yang ditontonnya memberikan pesan-pesan seperti itu, tidak apa-apa, yang penting kita bisa saling menerima, menoleransi dan menghormati. Oleh karena itu orang tua perlu waspada dan mengoreksinya.
GS : Jadi memang kuncinya terletak pada orang tua itu, bagaimana mengatur jam televisi itu boleh dilihat dan memberikan pengarahan. Masalahnya orang tua jarang mendapat bimbingan untuk itu.

PG : Saran saya adalah orang tua duduk bersama anak-anak waktu menonton acara anak-anak sehingga kita mempunyai gambaran kira-kira yang ditonton. Saya dan istri saya juga tidak senantiasa meonton bersama anak, tapi ada beberapa kali misalnya seminggu kami akan duduk bersama, sehingga kita bisa menilai apakah cocok ditontonnya dan apakah perlu toleransi, perlu koreksi yang kita harus berikan pada anak kita.

GS : Dan biasanya di sana anak juga akan menyangkal atau membantah apa yang orang tua katakan, Pak Paul?

PG : Betul, itu menjadi ajang diskusi, hal yang positif, saya setuju dengan Pak Gunawan. Televisi tidak semuanya jelek, banyak hal yang bagus dan memang sangat bermanfaat. Saya secara keseluuhan berkata televisi banyak manfaatnya asalkan kita sortir dan bimbing anak-anak kita.

GS : Dalam hal ini, Pak Paul, tentu ada Firman Tuhan yang bisa menjadi pegangan dan menjadi pedoman bagi orang tua khususnya.

PG : Saya akan bacakan dari Filipi 4:8 , "Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap idengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."

Jadi memang Tuhan menginginkan kita memasukkan hal yang baik, yang indah ke dalam pikiran kita. Jangan sampai kita mengotori pikiran kita. Kita harus melindungi anak-anak kita dari pikiran-pikiran yang bisa mencemarinya, baik itu seks yang terlalu dini, baik itu film yang terlalu menegangkan atau baik itu kisah kehidupan yang tidak riil sama sekali. Anak-anak kita perlu menyadari dan menangkalnya sendiri sehingga tidak menyerapnya dan membabi buta.
GS : Memang semakin lama semakin sulit dilakukan Pak Paul, tetapi tanpa seleksi akan lebih sulit untuk memperbaiki kehidupan anak itu.

PG : Tepat sekali.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang acara televisi dan anak. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



17. Anak dan Video Game


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T066B (File MP3 T066B)


Abstrak:

Video games dan play-station merupakan suatu benda baru yang dekat dengan anak-anak. Benda ini tidak harus berkonotasi negatif atau jelek. Karena benda ini juga dapat berperan positif bagi anak-anak. Tetapi di sini orangtualah yang perlu berperan untuk mengatur sebaik mungkin agar tidak merugikan anak.


Ringkasan:

Ada orang memanggil abad kita sekarang ini sebagai abad informasi, abad telekomunikasi, atau abad teknologi tinggi. Saya memanggil abad ini adalah abad layar karena kalau kita perhatikan banyak hal yang sekarang kita lakukan, itu dilakukan di depan layar. Yang sekarang lagi marak dan populer adalah permainan video game atau play-station.

Biasanya video game dan play-station ada beberapa jenis:

  1. Adalah untuk hiburan. Ada game yang memang hanya bersifat hiburan, tidak ada tantangan-tantangan dan yang diperlukan hanya konsentrasi.

  2. Adalah unsur misteri, cukup banyak video game dan play-station game yang memuat aspek-aspek misteri.

Yang cukup sering dimainkan sekarang adalah jenis pertandingan, pertandingan ini bisa 2 orang bertanding atau berkelahi. Ada juga game yang memang khusus dibuat untuk mendidik, misalnya ada yang melatih anak untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Sekali lagi, dalam hal ini peran orang tua itu sangat besar. Saran yang bisa saya sampaikan kepada para orang tua, supaya kalau anak-anaknya memainkan video game atau play-station, mereka bisa memainkan itu dengan aman, adalah: Kita perlu memperhatikan dampak game itu pada anak-anak kita karena semua anak unik tidak sama. Ada anak yang memang dasarnya agak pasif, agak lembut, agak penurut, tapi ada anak yang dasarnya agak keras dan bersifat fisik sekali alias dia akan bersifat agresif.

Beberapa dampak yang mungkin orangtua perlu perhatikan:

  1. Anak menjadi lebih agresif setelah menonton pertandingan atau memainkan game.

  2. Anak menjadi menang sendiri.

  3. Anak jadi malas untuk pergi atau bergaul dengan teman-teman.

  4. Daya khayal yang semakin meningkat. Misalnya mencari harta karun bahwa di hutan itu banyak harta dsb, dia pikir itu hal yang riil.

Kadang-kadang anak-anak harus dipaksa untuk keluar dari keterikatan dan pengaruh permainan itu. Anak-anak perlu mendapatkan pembatasan waktu. Ada dua alasan mengapa kita harus membatasi mereka:

  1. Yang pertama, menggunakan mata yang berlebihan di depan layar itu tidak sehat.

  2. Yang kedua, bermain di depan televisi atau di depan game pasti akan mengurangi waktunya dia bermain atau berinteraksi dengan kita.

Permainan seperti ini bisa menimbulkan sifat individualistis yang lebih tinggi, karena anak kekurangan kesempatan untuk bersosialisasi. Itu pasti akan mengakibatkan ketimpangan, dia kurang bisa menempatkan diri pada orang lain, tidak bisa mengerti pemikiran orang lain, atau pun berempati pada perasaan orang, karena dia hanya melihatnya dari sudutnya terus-menerus.

Filipi 3:17 , "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu."

Paulus dengan berani berkata kepada jemaat di Filipi, ikutilah teladanku. Dengan kata lain Paulus berani berkata seperti itu karena dia telah memberikan contoh hidup yang baik. Dengan modal itulah dia bisa menegur dan mengoreksi jemaat di Filipi. Orang tua juga harus seperti ini, sebelum dia bisa menegur anak, orangtua juga perlu memberikan contoh yang baik.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Anak dan Video Game". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang pengaruh televisi terhadap anak, nah di televisi anak itu memang banyak pasif, banyak melihat saja, tetapi sekarang ada bentuk-bentuk permainan baru yang disukai anak-anak seperti video game, play-station, dan sebagainya di mana anak itu aktif di sana Pak Paul. Nah itu pengaruhnya bagaimana terhadap anak Pak Paul?

PG : Pak Gunawan dan Ibu Ida, ada orang memanggil abad kita sekarang ini abad informasi atau abad telekomunikasi, abad teknologi tinggi, saya memanggil abad ini adalah abad layar karena kala kita perhatikan banyak hal yang sekarang kita lakukan, kita lakukan di depan layar.

Misalnya hiburan mayoritas sekarang ini kita peroleh melalui atau dari televisi depan layar juga. Pekerjaan kita di kantor apalagi yang bekerja dalam bidang-bidang teknik atau banking, tidak bisa tidak berhadapan di depan layar pula. Nah di rumah kita mau mengecek e-mail, kita mau mengirim surat kepada teman, kita mau dapatkan informasi juga layar. Yang masih menjadi pelajar layar komputer juga, mengetik paper, mendapatkan masukan atau data semua dari komputer, di depan layar juga. Untuk rekreasi juga di depan layar, kita main video game, kita main play-station itu semua di depan layar, jadi benar-benar saya memanggil abad ini abad layar. Nah salah satu yang sekarang marak, yang tadi Pak Gunawan sudah singgung adalah permainan video game atau yang sekarang populer adalah play-station. Dulu anak-anak waktu kita masih kecil bermainnya di playgram sekarang mainannya di play-station, ya dulu kita mainnya di lapangan, lari, petak umpet dan sebagainya. Sekarang kita main petak umpetnya ya di play-station mencari musuh dan sebagainya. Nah dampaknya apa terhadap anak-anak, saya kira yang pertama harus kita sadari adalah bahwa benda-benda ini sebetulnya tidak harus berkonotasi atau berarti negatif atau jelek. Jadi saya juga tidak setuju dengan reaksi yang berlebihan dari orang yang mengenyahkan play-station atau video game, banyak hal-hal yang baik dari benda-benda ini asalkan kita tahu bagaimana mengaturnya dan memanfaatkannya.
GS : Nah selain berfungsi sebagai hiburan, Pak Paul ya apa sebenarnya yang bisa diperoleh oleh anak-anak itu dengan memainkan permainan-permainan itu...?

PG : Biasanya video game dan play-station itu mempunyai beberapa jenis Pak Gunawan, tadi Pak Gunawan sudah singgung, yang pertama adalah hiburan. Jadi ada game yang hanya memang bersifat hibran, tidak ada challenges ya tidak ada tantangan-tantangan yang diperlukan hanya konsentrasi.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin lebih 10 tahun yang lalu diperkenalkan misalnya packman yang makan-makan, nah dari packman ini dikembangkan banyak sekali game yang ia tidak memerlukan banyak sekali tantangan hanya yang penting konsentrasi. Yang penting adalah ada unsur hiburannya setelah kita menang, kita main kita senang dapat berapa skor dan sebagainya. Yang berikutnya adalah unsur misteri Pak Gunawan, jadi cukup banyak video game dan play-station game yang memuat aspek-aspek misteri. Di sini si pemain harus misalnya mencari jalan keluar atau misalkan ada yang mencari harta karun dia harus melalui begitu banyak jebakan dan harus melewati hal-hal yang berbahaya supaya bisa sampai di tujuannya mendapatkan harta karun itu, dia harus pecahkan banyak sekali persoalan-persoalan karena tidak gampang untuk direka, jadi si anak harus berpikir, harus mencoba ini itu, jadi perlu konsentrasi yang tinggi dan bisa menaklukkan tantangan. Ini saya kira aspek yang positif bagi anak sebetulnya.
GS : Kreatifitas anak itu bisa tumbuh di sana, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, jadi memang yang memuat misteri bisa mengasah kreatifitas anak dan daya pemecahan problemnya. Sehingga dia harus memikirkan banyak unsur dari banyak sudut, sebab jalan kelarnya itu muncul dari tempat-tempat yang biasanya tak terduga, itu yang harus dia pikirkan tidak ada yang boleh luput dari pengamatannya.

GS : Nah Pak Paul, penggemarnya itu juga banyak anak-anak di bawah usia 10 tahun, nah beberapa waktu yang lalu, waktu kita membicarakan televisi dan ana, kesimpulannya adalah anak tidak bisa membedakan yang fiktif dan yang riil, nah dalam hal ini bagaimana, Pak Paul?

PG : Seperti kita bahas pada waktu yang lalu kalau itu kartun memang lebih mudah buat si anak untuk mencernanya sebagai sesuatu yang tidak riil. Karena dia tahu dia bukanlah kartun dan kartu bukanlah dia, sehingga dia memang masih bisa memisahkan dirinya di kartun itu.

Jadi video game dan play-station game setahu saya masih menggunakan kartun nah jadi dampaknya tetap tidak sekuat kalau itu benar-benar diperankan oleh manusia.
GS : Walaupun yang akhir-akhir ini animasinya makin halus saja seperti manusia.

PG : Betul, makin halus sekali apalagi ada tiga dimensinya dan sebagainya.

GS : Jenis permainan apa lagi yang bisa diperoleh Pak Paul?

PG : Yang cukup sering dimainkan sekarang adalah jenis pertandingan, jadi pertandingan ini bisa 2 orang bertanding, berkelahi, nah ini kadang-kadang cukup sadis. Misalnya dipukul kemudian kealanya copot, atau waktu ditusuk darahnya muncrat meskipun kartun tetap cukup sadis dan cukup berdarah (saya panggil itu).

Pertandingan juga bisa misalnya hendak mengalahkan musuh perang di udara dengan pesawat terbang atau memasuki benteng musuh dengan cara-cara yang pandai, jadi pertandingan pada intinya adalah berusaha mengalahkan musuhnya. Nah bisa juga mempunyai dampak kalau misalnya dia terlalu sering dan bermain hal-hal yang bersifat keras, perkelahian-perkelahian, pukul-memukul nah itu kita mesti waspadai apakah itu bisa membawa dampak pada si anak.
(1) IR : Apakah ada segi pendidikannya, Pak Paul?

PG : Ada juga game yang memang khusus dibuat untuk mendidik misalnya ada yang melatih anak untuk berbicara dalam bahasa Inggris misalnya mengerti kata-kata khusus artinya apa, nah itu bisa dklik, diklik sehingga nanti dijelaskan artinya apa.

Waktu dia mengklik yang betul dipuji kamu telah melakukannya dengan tepat sekarang mulai lagi yang baru. Atau misalnya program yang menolong anak untuk mengasah kemampuan matematisnya jadi diberikan contoh atau soal dan si anak harus memecahkannya kemudian diberitahu bagaimana menyelesaikan masalahnya, nah hal-hal itu adalah hal-hal yang positif. Belum lagi anak-anak bisa juga melihat gambar tentang bumi tentang apa dan sebagainya sehingga menambah wawasan anak, jadi ada game yang memang bersifat sangat edukatif, nah itu pun juga baik untuk dilihat oleh anak-anak kita.
(2) GS : Nah sekali lagi di sana peran orang tua itu sangat besar Pak Paul, nah hal-hal apa yang bisa kita berikan atau sampaikan kepada para orang tua khususnya yang menjadi para pendengar setia kita supaya kalau anak-anaknya memainkan video game atau play-station, mereka bisa memainkan itu dengan aman, Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah kita perlu memperhatikan dampak dari game itu pada anak-anak kita, semua anak unik tidak sama. Ada anak yang memang dasarnya agak pasif, agak lembut, agak penurut, tpi ada anak yang dasarnya agak keras dan bersifat fisik sekali alias dia akan bersifat agresif.

Nah menonton pertandingan yaitu memainkan game yang bersifat pertandingan berkelahi, memukul sampai kepalanya copot dan sebagainya, bisa berdampak, bisa pula tidak. Nah kalau mulai berdampak, orang tua misalnya menegur si anak dan berkata, saya melihat sejak kau menonton game ini atau memainkan game ini engkau menjadi lebih agresif, engkau maunya memukul adikmu, engkau mau memukul kakakmu, saya berikan peringatan. Kalau engkau masih begitu baik di rumah maupun di sekolah tidak boleh lagi menonton atau memainkan game ini. Nah dengan teguran-teguran itu si anak dilatih untuk mengontrol dirinya, impulsenya itu sehingga tidak terlalu agresif. Tapi kalau tetap masih agresif setelah kita berikan teguran kita mulai kurangi, kita berkata : hari ini engkau tidak boleh main, engkau hanya boleh main besok jadi 2 hari sekali. Masih agresif lagi kita kurangi 3 hari sekali jadi kita tidak 100% ya 'cut', tidak boleh main sama sekali, tapi kita menguranginya supaya si anak bisa belajar untuk mengendalikan energinya itu.
GS : Nah bagaimana kalau ada anak itu yang karena main, lalu menjadi mau menangnya sendiri terus Pak Paul. Pernah tadi dalam salah satu permainan itu 'kan anak berusaha menang dan itu pasti menang, nah itu terbawa di dalam kehidupannya.

PG : Itu pun perlu diperhatikan orang tua Pak Gunawan, sebab cukup banyak permainan-permainan ini yang menyuburkan insting kompetitif anak. Artinya jangan sampai kalah engkau harus menang, nh kalau tidak hati-hati si anak memang akan mulai menyerap insting kompetitif ini dengan berlebihan, sehingga dalam kehidupannya dia susah mengalah.

Orang tua perlu mengamati perilaku anak, apakah makin susah mengalah, kalau makin susah mengalah, kita langsung kaitkan dengan permainan-permainan ini dan kita katakan saya akan kurangi, sehingga kita menggunakan permainan untuk memberikan sanksi atau untuk membentuk perilakunya. Jadi kita memanfaatkan sebab memang bisa kita manfaatkan untuk membentuk perilaku anak.
IR : Juga dalam bergaul Pak Paul, kalau sudah melihat itu rasanya malas untuk pergi atau bergaul dengan teman-teman.

PG : Betul, ini sering kali saya jumpai pada anak-anak saya, teman-temannya datang berjam-jam duduk di depan layar televisi main game, kalau dulu main lari ke sana, ke situ. Nah kadang-kadan mereka lakukan berjam-jam hanya duduk di depan televisi main game.

Jadi unsur main ini juga harus kita seimbangkan, jangan sampai kita terlalu cepat puas kalau anak-anak kita bisa duduk diam-diam di depan gamenya, kita perlu anjurkan dia untuk bermain keluar, untuk lari ke sana, ke sini karena itulah yang sehat buat anak-anak.
GS : Kalau sifat yang tidak mau kalah Pak Paul, yang dikhawatirkan itu dia menghalalkan segala cara untuk dapat menang, Pak Paul.

PG : Betul, sebab memang kita sendiri kalau main ya kita mau menang, kita harus sadari itu tapi memang kita tidak terlalu ditantang seperti kalau kita main video game. Waktu pertandingan kit kalah, teman kita menang, waduh....kita

rasanya panas, kita mau menang lagi, menang lagi, apalagi mainnya berdua. Nah saya melihat yang Pak Gunawan katakan yaitu akan muncul godaan menghalalkan segala cara itu betul sekali, yaitu dengan menonjok dengan cepat supaya kita bisa meng-KO-kan dia itu 'kan kita lakukan. Nah di sini orang tua memang perlu memperhatikan dampak itu semua pada perilaku dan nilai-nilai hidup si anak. Kalau mulai-mulai luber keperilakunya, mulai kelihatan, orang tua perlu membuat sanksi-sanksi seperti tadi kita telah bahas.
IR : Dan anak bisa berkhayal Pak Paul dengan seringnya dia main itu.

PG : Bisa, karena memang daya khayal anak memang kuat Bu Ida, dan pada saat ini anak-anak memang masih hidup dalam khayalannya belum hidup 100% dalam dunia realitasnya, kalau tidak hati-hat memang dia mengkhayalkan bahwa itulah kenyataannya dalam hidup, misalnya mencari harta karun bahwa di hutan itu banyak harta dan sebagainya, nah dia pikir itu hal yang riil.

GS : Kadang-kadang terbawa sampai ke mimpi Pak Paul, sehingga dia sebenarnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, terbangun pada tengah malam.

PG : Bisa jadi, betul, jadi dampak pada anak-anak ini seperti susah tidur atau khayalannya makin menggila, harus diperhatikan orang tua. Kalau memang khayalannya makin liar kita mesti kurang, dan kita juga mesti pilihkan game yang dia mainkan itu.

GS : Tadi Pak Paul berikan contoh ada saatnya bermain di depan layar, karena ini era layar, tetapi juga kadang-kadang harus dipaksa untuk keluar. Nah dalam hal ini bagaimana kita membagi waktunya Pak Paul?

PG : Anak-anak perlu mendapatkan pembatasan waktu, jadi tidak ada namanya main sepuasnya bahkan dalam hari libur pun anak-anak perlu mendapatkan batasannya, pembatasan. Jadi kita mesti membtasi sekurang-kurangnya karena 2 hal, yang pertama adalah menggunakan mata yang berlebihan di depan layar itu tidak sehat, dan kita semua tahu itu.

Bahkan yang sudah dilakukan dibuatkan suatu layar tambahan untuk mengurangi radiasi tapi tetap saya kira akan ada yang terpancarkan keluar. Dan kalau anak berjam-jam menghabiskan waktu di depan televisi saya kira itu akan membawa dampak. Kita tahu bahwa mata itu justru terlatih dengan baik kalau sering melihat jauh, makanya orang-orang yang tinggal di alam yang masih asri kecenderungannya adalah mempunyai mata yang baik, karena dia melihat jauh sekali. Sedangkan anak-anak yang hidup di kota-kota besar yang disuruh belajar, membaca, menulis atau membuat paper di depan komputer biasanya akan memakai kacamata pada usia muda. Misalkan saya mengamati, saya tidak ada data pastinya, saya melihat begitu banyak orang Singapura yang memakai kacamata, itu kesan saya yang saya lihat jelas sekali, begitu banyak orang-orang di sana pakai kacamata, dan orang dewasa juga sangat banyak yang pakai kacamata. Jadi saya kira itu semua dampak dari melihat dengan dekat, nah layar televisi kita akan dilihat dari jarak yang dekat, video game dan sebagainya kita melihat dengan jarak misalnya 1 meter sampai 2 meter. Berjam-jam dan kita jumlahkan dalam 1 minggu, dalam 1 tahun dan sebagainya akan bisa merusak mata anak, itu yang pertama. Yang kedua adalah bermain di depan televisi atau di depan game tidak bisa tidak, akan mengurangi waktunya dia bermain atau berinteraksi dengan kita, jarang atau makin kecillah peluang anak ngobrol-ngobrol dengan kita, karena dia akan sibuk bermain. Dan kita tahu permainan itu benar-benar mencandu tidak bisa lepas-lepas sampai dia ketemu jalannya baru dia puas, jadi akan mengurangi sekali waktu interaksi di rumah, nah orang tua harus bisa menjaga keseimbangan ini, boleh main tapi dibatasi. Dalam rumah kami anak-anak itu pulang sekolah habis makan biasanya kami ijikan main selama 1 jam sampai 2 jam paling lama, setelah itu mulailah belajar atau les sampai malam. Nah kalau sudah malam biasanya kami tidak ijinkan lagi dia main.
GS : Ada orang tua yang berpendapat daripada anaknya bergaul atau berinteraksi dengan orang-orang yang dia tidak kenal, orang tua ini merasa lebih save, merasa lebih aman kalau anaknya di rumah, main video game.

PG : Itu ada betulnya daripada anak kita keluyuran ke mana-mana tidak ada arahnya lebih baik di rumah. Tapi toh orang tua harus mengerti apa yang dilakukan anak di rumah, karena apa yang dilkukan anak di rumah itu juga penting.

Kalau dia menghabiskan berjam-jam di depan layar monitor memainkan gamenya saya kira itu juga tidak sehat. Sangat tidak sehat, dia kehilangan waktu untuk sosialisasi.
IR : Sebenarnya manfaatnya itu apa, Pak Paul?

PG : Sudah tentu ada manfaat hiburannya Ibu Ida, jadi anak-anak itu pulang sekolah ingin sekali santai, dia telah terbebani oleh pelajaran selama 7 jam, ada yang 8 jam. Jadi pada waktu dia plang dia ingin sekali santai, dan kita harus menerima fakta bahwa anak-anak kita sekarang mempunyaai jam kerja yang lebih banyak daripada orang tuanya.

Sebab di sekolah saja sudah sekitar 7 jam, dia pulang ke rumah ada les-les dan sebagainya, bisa tambah 2 jam, atau 3 jam selama mengerjakan PRnya. Jadi total antara 10 sampai 11 jam setiap hari, kecuali hari Sabtu mungkin ya, karena sekolah biasanya lebih pagi. Tapi kira-kira 5 hari seminggu dia itu bisa menghabiskan sekitar 45 jam untuk bekerja, nah orang-orang dewasa ada yang bekerja seperti itu, ada yang lebih juga tapi cukup banyak yang bekerja misalnya 5 jam perhari 40 jam misalnya perminggunya. Jadi anak-anak kita itu lumayan mempunyai tanggung jawab yang berat, otaknya diperas terus-menerus, di sekolah diperas, pulang ke rumah diperas lagi, belum lagi orang tua yang getol mengeleskan anak bermain pianolah, bermain gitarlah, belajar bahasa Inggrislah, belajar bahasa Mandarinlah dan segala macam. Anak-anak itu akhirnya sangat perlu hiburan, jadi video game menjadi hiburannya, itu manfaatnya yang bisa saya lihat juga.
GS : Tapi di samping itu juga, di dalam pergaulan antar anak itu Pak Paul, kalau teman-temannya bicara tentang video game, tentang materi yang baru dia bisa ikut bicara di sana. Kalau dia tidak pernah main, dia merasa terasing.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi permainan-permainan ini membantu dia masuk untuk diterima oleh teman-temannya, kalau tidak bisa menggunakan bahasa-bahasa game ini betul kata Pak Gunawan,dia akan terpinggirkan dari teman-temannya.

IR : Tapi kasihan bagi mereka yang tidak punya, Pak Paul?

PG : Itu tadi yang kita bicarakan sebelum dimulainya acara ini, saya tadi bercerita bahwa saya bercerita dengan tukang bakmi gerobak di pinggir jalan di kota Malang ini yang sedang bicara-biara dengan saya mengeluhkan tentang anak-anaknya yang terlalu sering bermain play-station di rumahnya, jadi berarti dia membeli play-station.

Saya langsung tercengang memikirkan tukang bakmi yang mungkin hanya bisa memperoleh penghasilan mungkin Rp. 200.000, Rp. 300.000 per bulan harus membeli play-station yang harganya dua ratusan ribu, tapi toh akhirnya saya melihat rela untuk membeli benda itu demi anaknya. Sehingga memang alokasi uang dari keluarga begitu besar dicurahkan untuk benda ini buat anak-anak, memang buat si anak rupa-rupanya sangat penting.
GS : Biasanya anak menyukai permainan seperti itu sampai usia berapa, Pak Paul?

PG : Nah ini sebetulnya terus berlanjut ya, banyak anak-anak yang sudah kuliah pun ya hobby sekali main. Tetapi memang kegandrungan makin berkurang, makin banyaknya kesibukan di luar dan halhal lebih nikmat otomatis dia akan mulai meninggalkan permainan-permainan ini.

GS : Yang namanya permainan ini suatu saat akan membuat orang itu bosan juga Pak Paul.

PG : Betul, masalahnya di Indonesia kita mendapatkan kemudahan yaitu VCD-VCD itu semua copy-an, bajakan dan harganya cuma Rp. 6000, Rp. 7000 sedangkan aslinya saya tahu di Amerika Serikat yag baru itu $50, Rp.

350.000 untuk satu. Jadi orang memang tidak bisa sering membeli, jadi belinya itu 3, 4 bulan sekali baru beli 1 game, di Indonesia, 3 hari sekali beli 1 game.
(3) GS : Selain murah masih bisa menyewa lagi, tidak usah membeli itu memang memudahkan prasarana-prasarana seperti itu menjadi lebih mudah Pak Paul. Belum lagi sarana di komputer sendiri kita bisa main di situ tanpa membeli perangkat yang baru. Nah masalahnya memang bagaimana orang tua mengatur waktu anak ini antara belajar, bermain, bersosialisasi, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Anak-anak harus dilibatkan dalam pergaulan, dalam rekreasi dengan orang tuanya sendiri. Jadi kalau orang tuanya hanya bicara kamu harus begini, kamu harus itu, tidak ada hasilnya. Jadiajak anak-anak keluar bermain bersama-sama, ajak rekreasi bersama-sama, jadi dengan cara itulah anak-anak akan bergaul, ajak ke rumah temannya atau ajak ke rumah teman kita yang mempunyai anak-anak sebaya dengan dia, sehingga dia juga bermain.

Sehingga anak-anak melihat pola hidup kita, itulah pola hidup kita yang kita anggap sehat dan seimbang biarlah dia mencontohnya dan mengikutinya pula. Kalau kita juga di rumah, kita pun dari jam 5 sampai jam 11 malam di depan televisi, tidak bisa tidak anak kita akan berkata, itu pola yang akan saya turuti juga. Bedanya saya bukan layar televisi tapi layar monitor untuk main play-station, jadi kembali kepada orang tua, apa itu yang akan dilakukan oleh orang tua akan dicontoh oleh anaknya, jadi orang tua tidak bisa memarahi anak kamu main play-station berjam-jam, anak akan berkata mama dan papa juga 5 jam, 6 jam setiap malam di depan televisi.
GS : Apakah permainan seperti ini bisa menimbulkan sifat individualistis yang lebih tinggi lagi, Pak Paul?

PG : Karena kekurangan sosialisasi tidak bisa tidak akan mengakibatkan ketimpangan, dia kurang bisa menempatkan diri pada orang lain, mengerti pemikiran orang lain, berempati pada perasaan oang karena dia hanya melihatnya dari sudut dia terus-menerus.

Jadi sekali lagi jangan sampai play-station itu membunuh kesempatan si anak untuk bermain dengan teman-temannya.
GS : Pak Paul, selain nasihat-nasihat dari orang tua tentu kita juga mau mendengar nasihat dari Alkitab itu apa, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Filipi 3:17 , "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu." Paulus dengan berani erkata pada jemaat di Filipi ikutilah teladanku, dengan kata lain Paulus berani berkata seperti itu karena dia telah memberikan contoh hidup yang baik.

Nah dengan modal itulah dia bisa menegur jemaat Filipi, dia bisa mengoreksi jemaat di Filipi. Nah orang tua juga harus seperti ini sebelum dia bisa menegur anak jangan terlalu banyak waktu di depan layar monitor dan sebagainya, orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik. Dia harus misalnya membaca, dia harus juga menunjukkan bahwa dia berminat untuk menambah pengetahuannya dengan cara-cara yang sehat. Kalau dia hanya menyuruh anak belajar, sedangkan dia sendiri berjam-jam di depan televisi tampaknya akan berkurang, otoritasnya pun tidak akan terlalu kuat. Jadi anak-anak perlu melihat teladan orang tuanya terlebih dahulu.
GS : Itu dalam arti kata, baik ayahnya atau ibunya, Pak Paul.

PG : Tepat, dua-duanya betul.

GS : Tapi kalau pengaruh kakaknya bagaimana, Pak Paul?

PG : Bisa, tetap ada pengaruhnya karena kakaknya boleh kenapa saya tidak, anak cenderung membandingkan diri dengan kakaknya atau adiknya.

GS : Atau sebaliknya kalau kakaknya memang sudah dilatih sejak dini sehingga dia bisa mengatur waktu dengan baik maka adiknya pun akan mengikuti langkah-langkah kakaknya itu.

PG : Betul, akan jauh lebih mudah.

GS : Jadi memang di dalam era layar ini Pak Paul, rasanya peran orang tua makin berat saja.

PG : Betul, akan dituntut semakin terlibat Pak Gunawan dan bertanggung jawab.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Video Game dan Anak". Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



18. Mengapa Anak Saya Tidak Percaya Diri


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T067A (File MP3 T067A)


Abstrak:

Dalam hal ini kita akan mengetahui bagaimana anak itu dapat mempunyai percaya diri dan sejauh mana kepercayaan dirinya tersebut.


Ringkasan:

Percaya diri pada anak berkaitan langsung dengan tugas-tugas akademiknya, jadi biasanya kepercayaan diri anak itu berkaitan dengan tugas-tugas sekolah. Kalau ia mendapatkan konfirmasi bahwa dia adalah seorang pelajar yang baik, kemungkinan besar kepercayaan dirinya akan tertopang.

Pada masa remaja kepercayaan diri seorang anak mulai bercabang, bukan saja pada segi yang bersifat akademik tetapi juga:

  1. Penampilan fisiknya, jadi anak-anak yang mempunyai penampilan fisik yang baik dan dihargai oleh teman-temannya karena penampilan fisiknya itu juga akan mengalami dukungan.

  2. Cabangnya adalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan sosialnya, jika ia diterima dengan baik maka harga dirinya pun atau kepercayaan dirinya akan tertopang pula.

Kepercayaan diri anak sangat bertalian dengan perlakuan orang tua pada si anak justru di masa-masa sebelum dia bersekolah. Dengan kata lain apa yang kita berikan kepada anak-anak di usia-usia di bawah misalnya 5, 6 tahun akan sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya sewaktu dia nanti memasuki sekolah. Perlakuan orang tua yang penuh kehangatan itu adalah suatu modal yang akan memberikan si anak kekuatan melangkah keluar dari lingkup rumahnya memasuki tempat yang asing baginya.

Semakin seorang anak kuat berakar karena dia tahu dicintai dan diterima apa adanya di rumahnya sendiri, dia seolah-olah akan mendapatkan lebih banyak energi untuk melangkah keluar menghadapi tantangan dan tuntutan dari luar. Kebalikannya, anak yang mengalami banyak ketegangan dan perlakuan orang tua lebih bersifat kritis, memarahinya atau hidup di mana orang tua mempunyai hubungan nikah yang tidak baik, anak justru tidak mempunyai kekuatan, dia justru merasa lemah, akhirnya waktu dia harus melangkah keluar dia bukannya berani tapi justru merasa takut.

Mengenali anak-anak ini mempunyai rasa percaya diri yang cukup:

  1. Kita harus mempunyai perspektif yang jelas tentang yang kita maksud dengan kurang percaya diri. Seorang anak mempunyai keunikan masing-masing, anak yang bawaannya adalah anak yang perasa, lebih peka artinya waktu dia merasa cemas atau takut dia lebih merasakan kecemasannya. Nah kita harus berhati-hati untuk tidak melabelkan anak yang perasa ini anak yang tidak percaya diri.

Penyebab anak-anak gagal dalam mengerjakan tugas ujian di sekolah, pada halnya anak itu mampu adalah:

  1. Kemungkinan yang umum adalah anak tegang pada waktu mengerjakan ujiannya.

  2. Ada anak yang waktu belajar menyimpan informasi di dalam 'short memory' memori jangka pendek, bukan masuk ke dalam memori jangka panjang. Sehingga pada saat sore sudah belajar besoknya memori jangka pendeknya sudah menguap. Kalau kasusnya seperti ini ada beberapa yang bisa dilakukan:

    1. Menyimpan informasi belajarnya dalam memory jangka panjang.

    2. Belajar dengan sistem cicilan atau tabungan maka informasi tersebut bisa diselipkan dalam memori jangka panjangnya.

    3. Melatih anak ulangan di rumah.

Mazmur 49:17,18 , "Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambahm sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia."

Tuhan memberikan pesan di sini yaitu milikilah perspektif hidup yang tepat, bahwa kemuliaan seseorang tidaklah bergantung pada kekayaannya, dengan kata lain hati-hati sebagai orang tua agar kita tidak menempatkan harta atau hal yang bersifat sangat fisik pada porsi yang terlalu besar, karena itu justru akan menimbulkan tekanan yang berlebihan pada anak dan akan justru membunuh kepercayaan dirinya bukan menumbuhkannya. Justru yang penting bagi kepercayaan diri anak adalah perlakuan orangtua yang penuh kasih dan penuh penerimaan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang mengapa anak saya tidak percaya diri. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Berbicara tentang percaya diri yang dimiliki oleh orang dewasa, anak-anak pun rasanya juga punya rasa percaya diri, persisnya itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Percaya diri pada anak berkaitan sekali dengan tugas-tugas akademiknya, jadi biasanya kepercayaan diri anak itu berkaitan dengan tugas-tugas sekolah. Kalau ia mendapatkan konfirmasi baha dia adalah seorang pelajar yang baik, kemungkinan besar kepercayaan dirinya akan tertopang.

Nah, nanti pada masa-masa yang lebih besar lagi, terutama pada masa remaja kepercayaan diri seorang anak mulai bercabang. Jadi bukan saja pada segi-segi yang bersifat akademik, akan juga bercabang misalnya penampilan fisiknya. Jadi anak-anak yang mempunyai penampilan fisik yang baik dan dihargai oleh teman-temannya akan mengalami dukungan. Yang kedua, cabangnya adalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan sosialnya, jikalau ia diterima dengan baik maka harga dirinya pun atau kepercayaan dirinya akan tertopang pula. Jadi kita memang harus menyoroti pada kira-kira fase yang mana dalam pertumbuhan anak. Kepercayaan diri pada mulanya, pertama-tama di SD, biasanya memang sangat berkaitan dengan prestasi akademik anak itu.
(1) GS : Ya memang yang banyak berbicara tentang percaya diri atau PD itu anak-anak remaja, tapi sejak dia belum bersekolah apakah kita di rumah bisa menumbuhkembangkan akan percaya diri anak, Pak Paul?

PG : Sebetulnya kepercayaan diri anak itu sangat bertalian dengan perlakuan orang tua pada si anak pada masa sebelum dia bersekolah. Dengan kata lain, apa yang kita berikan kepada anak-anak i usia-usia misalnya di bawah 5, 6 tahun akan sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya sewaktu dia nanti memasuki sekolah.

Yang saya maksud adalah perlakuan orang tua yang penuh kehangatan, itu adalah suatu modal yang akan memberikan si anak kekuatan melangkah keluar dari lingkup rumahnya memasuki tempat yang asing baginya. Semakin seorang anak kuat berakar karena dia tahu dicintai dan diterima apa adanya di rumahnya sendiri, dia seolah-olah akan mendapatkan lebih banyak energi untuk melangkah keluar menghadapi tantangan dan tuntutan dari luar, yakni dalam hal ini teman-teman maupun guru-guru sekolahnya. Kebalikannya kalau si anak mengalami banyak ketegangan dan perlakuan orang tua lebih bersifat kritis, memarahinya atau dia hidup di mana orang tua mempunyai hubungan nikah yang tidak baik atau misalnya rumahnya sangat kacau sekali, terlalu banyak orang dan sebagainya. Anak ini justru tidak mempunyai kekuatan, dia justru merasa lemah meskipun mungkin dia tidak menyadarinya, jadi akhirnya waktu dia melangkah keluar, ke sekolah, dia bukannya berani, tapi justru merasa takut. Rasa takut ini tidak selalu dimanifestasikan dalam bentuk ketakutan, tapi bisa juga dalam bentuk pelampiasan yaitu menjadi lebih nakal, melakukan hal-hal yang negatif yang tidak diinginkan oleh pihak sekolah atau pun keluarganya.
GS : Kadang-kadang ada orang tua yang mungkin karena ingin anaknya punya rasa percaya diri itu sejak kecil, lalu dipaksakan untuk masuk ke ruangan-ruangan yang gelap, melewati lorong yang gelap. Yang terjadi anak ini tidak malah percaya diri, tapi ketakutan seperti yang tadi disinggung Pak Paul.

PG : Betul sekali, anak justru akan menumbuhkembangkan percaya dirinya dalam suasana aman, bukan kebalikannya yaitu dalam suasana yang penuh ketegangan dan ancaman. Memang kadang-kadang oran tua berpikir kalau anak dipaksakan, maka dia akan lebih berani, sebetulnya kalau anak itu dipaksakan dan dia mampu mengalahkan tantangan itu memang dia akan berani.

Sebaliknya kalau anak dipaksakan mengalahkan tantangan itu dan memang dia tidak sekuat itu, dia bukannya dikuatkan. Jadi cara-cara seperti memaksakan anak untuk berdiam dalam ruangan yang gelap seringkali memang membuat anak bisa bertahan dalam kegelapan karena tidak ada jalan keluar. Dia harus berada dalam ruangan yang gelap, lama-lama dia akan menahan dirinya ada dalam ruangan yang gelap. Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah dia tidak menghilangkan ketakutannya, dia hanya untuk sejenak mengesampingkannya. Ketakutan itu akan muncul dan mempengaruhi lebih banyak aspek kehidupannya, jadi di luar bukannya menjadi seorang anak yang berani, kebalikannya dia justru menjadi anak yang mempunyai lebih banyak ketakutan. Namun dia belajar untuk menyembunyikan ketakutannya, karena dia tahu ketakutan ini adalah sesuatu yang tidak ditoleransi, misalkan oleh orang tuanya atau lingkungannya. Jadi dia hanya belajar lebih pandai menyembunyikan ketakutannya, tapi sesungguhnya di dalam dirinya yang mengalir dengan deras justru adalah ketakutan dan keragu-raguannya, bukannya kepercayaan diri yang kita dapatkan, kita justru akan menuai keragu-raguan dirinya.
IR : Kalau anak kecil itu sudah dibekali misalnya keterampilan atau les, komputer, bahasa Inggris atau lainnya, apa ini juga merupakan salah satu faktor untuk membekali anak supaya percaya diri, Pak Paul?

PG : Orang tua adakalanya mempunyai anggapan semakin banyak kita membekali anak dengan keterampilan pada usia yang makin dini, maka dampaknya akan makin positif. Misalnya anak akan menumbuhkmbangkan keyakinan diri yang lebih kuat, padahal tidak sama sekali.

Jadi keterampilan-keterampilan yang kita berikan pada anak-anak usia dini, sebetulnya belum mempunyai dampak yang langsung dengan kepercayaan dirinya. Sebab sekali lagi pada usia-usia misalkan 12 tahun, yang jauh lebih berperan adalah kemampuan akademik si anak itu, kalau di sekolah dia mendapatkan nilai yang bagus kecenderungannya adalah dia mulai memupuk kepercayaan dirinya. Keterampilan misalnya berbahasa Inggrisnya, kalau memang berguna dalam pelajaran sekolahnya sudah tentu akan memberikan sumbangsih. Namun sebetulnya tidak secara langsung menumbuhkan kepercayaan dirinya atau kemampuan dia bermain musik atau misalnya berenang sudah tentu akan menjadi hal yang baik, yang positif tapi bukanlah mutlak diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri seorang anak.
GS : Ada juga yang memberikan pujian secara berlebihan dengan tujuan anak itu bangga akan dirinya sendiri, bagaimana itu, Pak Paul?

PG : Pujian sudah tentu adalah hal yang positif, saya boleh ibaratkan pujian dengan vitamin. Tapi kita tahu kebanyakan dosis vitamin pada tubuh kita, bukannya bekerja untuk kebaikan malah mejadi racun bagi tubuh kita.

Kepercayaan diri akan sangat tertolong dan akan bertumbuh dari pujian yang diterima oleh seorang anak, namun pujian dalam dosis yang sepatutnya dan untuk hal yang memang sepatutnya. Jadi hindarkan pujian yang berlebihan dalam pengertian mengidolakan anak, misalkan kata-kata "engkau anak yang tercantik, engkau anak yang tertampan, tidak ada anak lain yang sebagus engkau, tidak ada orang yang bajunya seindah bajumu". Hindarkan perkataan pujian yang memberikan kesan si anak itu terbaik, terbagus dan sebagainya, karena kita tahu itu adalah hal yang memang tidak benar dan tidak realistis. Bahayanya si anak melihat dirinya sebagai yang ter....., yang paling. Waktu dia di luar tidak mendapatkan yang terbaik atau mendapatkan konfirmasi yang terbagus, dia sulit menerima dan dia cenderung menangkap atau menafsir perlakuan orang sebagai penolakan terhadap dirinya. Atau dia merasionalisasi dengan berkata orang-orang yang tidak bisa menghargainya adalah orang-orang yang lebih bodoh darinya. Oleh sebab itulah mereka tidak bisa menghargai kekhususan atau kespesialannya. Jadi sekali lagi hindarkanlah pujian-pujian yang terlalu berlebihan. Berikutnya tentang pujian yang juga harus diwaspadai oleh orang tua adalah jangan terlalu sering memuji anak atas karakteristik yang memang dia sudah miliki dari awalnya, maksudnya lebih bersifat bawaan. Contoh kalau memang dia seorang anak yang pandai, karena memang sudah pandai, sudah tentu sekali-sekali kita boleh dan sebaiknyalah kita mengutarakan bahwa engkau seorang anak yang pandai, namun jangan terlalu sering. Karena kepandaian bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang anak, kepandaian adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada seseorang tatkala dia masuk ke dalam dunia ini. Atau kita berkata tubuhmu itu bagus sekali, tinggi, tinggi bukanlah sesuatu yang dia kerjakan, tinggi adalah sesuatu yang dia sudah bawa sejak lahir, matamu bagus sekali, sekali lagi mata adalah sesuatu yang dia sudah bawa sejak lahir. Saya tidak berkata jangan memberikan pujian sama sekali atas hal-hal ini, silakan namun jangan terlalu sering. Yang lebih sering adalah pujian yang dikaitkan dengan usahanya, dengan yang dia lakukan misalnya ulangan bagus, bukannya kita memuji-muji dia pandai tapi kita memuji dia bekerja keras. Jadi dengan kata lain, pujian itu lebih dikaitkan dengan perbuatan, sekali-sekali silakan memuji hal-hal yang berkaitan dengan bawaannya tapi lebih sering kita memuji dia atas perbuatannya. Ini menolong seorang anak untuk menempatkan dirinya dalam perspektif yang lebih benar, jadi tadi yang Pak Gunawan sudah katakan memang sangatlah tepat, anak-anak yang mendapatkan pujian yang berlebihan mempunyai konsep diri yang akhirnya terlalu menggelembung dan menuntut orang memberi pengakuan bahwa dia sebesar itu. Waktu orang tidak mengakui sebesar itu, sehebat itu, dia cenderung menafsirnya sebagai orang menolak dia atau orang-orang tidak bisa menghargai keunikannya, kehebatannya.
IR : Dan anak tersebut dapat dikatakan sombong, ya Pak?

PG : Tepat sekali, dia mudah sekali mengembangkan sifat kesombongan dan saya khawatir sifat itu akan menghambat pertumbuhan sosialnya, sebab anak-anak yang lain enggan berteman dengan anak sperti dia, karena tidak akan bisa akrab dengannya.

Yang berbahaya adalah semakin dia terkucil dari lingkup pergaulan, semakin dia mengembangkan konsep diri yang tidak realistik, yang terlalu menggelembung bahwa orang harus mengerti dirinya, itu yang terjadi pada sebagian anak-anak yang bertumbuh kembang dalam lingkup seperti itu. Jadi mereka setelah mulai remaja akhirnya kesulitan bergaul, menuntut orang untuk bisa memahaminya, mengertinya dan mengalah. Tidak bisa dia mengalah, orang lain yang harus mengalah terus-menerus, orang yang harus memberi jalan di depan. Akhirnya keterampilan pergaulannya akan terganggu, nanti sesudah besar saya khawatir masalah-masalah pribadinya makin lebih merugikannya.
(2) GS : Untuk anak-anak, Pak Paul, bagaimana kita bisa mengenali bahwa anak-anak ini mempunyai rasa percaya diri yang cukup?

PG : Pertama-tama kita harus menjelaskan atau mempunyai perspektif yang jelas tentang yang kita maksud dengan kurang percaya diri. Seringkali Pak Gunawan, kita ini pertama-tama tidak bisa meihat keunikan anak karena tidak semua anak itu sama.

Ada anak yang dari bawaannya adalah anak yang perasa, lebih peka. Artinya waktu dia merasa cemas atau takut, dia lebih merasakan kecemasannya. Nah, kita harus berhati-hati untuk tidak melabelkan anak yang perasa ini sebagai anak yang tidak percaya diri. Otomatis kalau anak ini kurang perasa waktu dia merasa cemas karena misalkan dia harus bernyanyi di depan kelas, dia tidak begitu merasakan kecemasannya dan memang tingkat kepekaannya lemah. Sebaliknya anak yang tingkat kepekaannya tinggi akan jauh lebih merasakan ketegangannya dan dampak negatifnya, dia akan lebih terlumpuhkan oleh ketegangannya itu. Jangan sampai orang tua mengidentikkan itu dengan kurang percaya diri, sebab sekali lagi dua hal ini tidak bisa langsung berhubungan atau berkaitan. Jadi menjawab pertanyaan Pak Gunawan tadi, bagaimanakah kita mengenali anak ini percaya diri atau tidak. Pertama-tama prinsipnya jangan terlalu cepat mengaitkan ini dengan kepercayaan diri. Waktu anak tidak berani menyanyi di depan, jangan terburu-buru menganggap anak kita ini kurang percaya diri. Waktu dia tidak mau disuruh gurunya bermain drama, jangan kita sebagai orang tua tergesa-gesa berkata anak saya ini tidak percaya diri, sekali lagi kita harus lihat tipe anak kita, perasa atau memang kurang perasa. Atau ada anak yang memang merasa memasuki dunia yang baru seperti main drama adalah sesuatu yang sangat-sangat asing buat dia dan dia tidak mengetahui apakah dia bisa atau tidak. Dan kecemasan itu adalah kecemasan yang sangat wajar, jadi sekali lagi ini juga bawaan, ada anak yang senang drama tapi sangat gugup di depan/muka umum. Artinya apa, anak ini memang anak yang lebih, misalkan kita katakan anak yang introvert, anak yang lebih ke dalam, otomatis anak yang introvert tidak nyaman diawasi oleh berapa puluh atau ratusan mata, ini hal yang memang bersifat bawaan. Kita sekarang yang sudah dewasa tahu bahwa tidak semua kita ini berani berbicara di depan umum, ada yang rasanya gugup, ada yang rasanya lebih nyaman, itu memang berkaitan sekali dengan sifat-sifat bawaan kita. Orang yang extrovert akan lebih senang untuk berdiri di depan umum dan menjadi sorotan umum. Orang tua perlu membedakan sifat dan keunikan anak, jangan sampai mengaitkan introvert, sifat introvert dengan kurang percaya diri. Anak yang introvert akan tetap introvert, yang extrovert memang extrovert. Kita tidak harus membuat semua anak extrovert, seolah-olah anak yang extrovert ini yang percaya diri. Jadi kita terima dia, makin kita desak-desak dia supaya menjadi extrovert makin gugup, makin tidak percaya diri.
GS : Berkaitan dengan prestasi anak di sekolah, di bidang akademis ada anak yang sebenarnya mampu, mampu dalam arti kata diberikan soal-soal di rumah dia bisa mengerjakan itu dengan baik. Tapi tiba gilirannya ulangan, ujian atau apa dia selalu gagal, dia lupa semua yang dia pelajari di rumah itu. Apa itu karena rasa percaya dirinya yang kurang atau ada masalah lain yang sedang dihadapi?

PG : Itu bisa terjadi karena beberapa sebab, Pak Gunawan. Yang pertama adalah kemungkinan yang umum, si anak tegang pada waktu mengerjakan ujiannya. Kalau orang tua berkata kenapa harus tegag, mungkin orang tua lupa suasana ujian.

Jika orang tua sedikit saja mengingat-ingat masa ujian, seharusnya orang tua lebih toleran terhadap anak yang tegang pada masa ujian atau ulangan. Bukankah suasana ulangan itu menegangkan, semua tenang tidak ada yang boleh berbicara, si guru terus menatap anak-anak yang sedang mengerjakan tugasnya. Suasana tegang itu memang sangat dihidupkan pada waktu ujian, tidak bisa tidak anak akan merasa takut. Jadi suasana tegang memang bisa memberikan pengaruh, sehingga akhirnya dia lupa dalam ketegangannya. Atau yang kedua, ada anak yang waktu belajar menyimpan informasi di dalam yang kita sebut "short memory"nya. Jadi memory jangka pendeknya, bukan masuk ke dalam memory jangka panjang. Kira-kira besok, misalkan dia belajar sore ini, besok kira-kira berapa belas jam kemudian dia mengambil test-nya, memory jangka pendeknya itu sudah menguap, tidak ada yang tersisa, akhirnya waktu dia mengerjakan ujian dia lupa semuanya. Nah kalau itu memang kasusnya dia harus belajar mencicil, karena dengan sistem cicilan atau tabungan maka informasi tersebut bisa diselipkan dalam memory jangka panjangnya, itu cara yang kedua. Untuk cara yang ketiga yang bisa kita gunakan dengan melatih anak ulangan di rumah. Jadi minta anak siapkan kertas kita berikan waktunya, ayo ulangan sekarang sama Mama atau sama Papa, kita berikan ujian dan minta dia selesaikan. Kita katakan tidak boleh bicara, suasana kita buat lebih sunyi di rumah, nah kita latih dia mengambil ulangan itu di rumah. Jadi bukan saja memberikan penjelasan kemudian dia mengertinya, tapi kita memberikan dia ulangan di rumah. Nah suasana ulangan itu akan lebih menyiapkan dia keesokan harinya pada waktu mengerjakan ulangan di sekolah.
GS : Tapi biasanya anak mengambil jalan pintas dan berkata minta les saja, begitu Pak Paul, pihak orang tua sebenarnya tidak keberatan itu, cuma dia melihat anaknya mampu sebenarnya, itu problemnya.

PG : Sekarang saya kira hampir semua orang tua tidak percaya diri bukan saja si anak, tapi semua orang tua tidak percaya diri dengan menggunakan guru les. Jadi orang tua beranggapan bahwa seandai apapun anak saya, tanpa les tidak akan bisa, harus dileskan.

Jadi seolah-olah les itu menjadi suatu kewajiban yang mutlak, sesuatu hal yang memang harus dimiliki atau bisa diberikan kepada anak-anak yang tidak selalu bisa menyerap pelajaran yang diberikan di sekolah, sehingga memerlukan bantuan ekstra dari guru les. Dan yang lebih sering lagi adalah sebetulnya alasannya orang tua sendiri tidak lagi mempunyai energi atau mempunyai kemampuan memberikan bantuan tersebut kepada anak-anak. Sebab kita ketahui pelajaran sekarang sudah sangat berbeda dengan pelajaran yang kita dulu terima pada masa SD misalnya, jadi kepercayaan diri kita akhirnya kita limpahkan kepada guru les.
IR : Tapi itu juga mengakibatkan anak tidak percaya diri, Pak Paul?

PG : Tidak harus, bisa tidak percaya diri. Dalam pengertian kalau dia akhirnya terlalu bergantung pada guru les, justru itu adalah hal yang negatif, menghambat pertumbuhan dan tanggung jawabsi anak.

Tapi bisa jadi karena dia bisa waktu dia mengambil ujiannya, dia justru makin memiliki kepercayaan dirinya bahwa dia mampu melakukannya. Jadi sekali lagi saya ingin menegaskan kepada anak-anak terutama di SD, prestasi akademik sangat penting dan dapat dikatakan tiang yang menopang kepercayaan dirinya. Pada waktu dia memasuki usia remaja barulah kepercayaan dirinya itu dibangun di atas dua tiang yang lainnya, meskipun prestasi akademik tetap penting. Dua tiang yang lainnya lagi adalah pergaulan sosialnya, dapat diterima atau tidak, dan juga penampilan fisiknya, kalau dia punya penampilan yang baik, dia akan lebih mudah diterima.
GS : Ya itu suatu pokok yang menarik untuk dibahas lebih panjang lebar pada perbincangan yang akan datang. Kalau kita kembali pada rasa percaya diri anak, ada anak TK yang sudah ditunjuk oleh ibu gurunya untuk menjadi ketua kelas, memimpin teman-temannya. Dari situ bisa tumbuh rasa percaya diri juga, Pak Paul?

PG : Bisa, tapi sekali lagi ini sangat bergantung pada tipe si anak. Kalau memang dia dasarnya introvert, meskipun dia diberikan kesempatan memimpin dia tidak terlalu menikmatinya, justru bai dia itu adalah kewajiban yang harus dia kerjakan.

Dia tidak ragu-ragu, tapi juga dia tidak terlalu menikmatinya, justru kalau dia diminta akan cenderung berkata tidak mau. Jadi anak-anak yang pada dasarnya introvert akan menghindarkan diri dari tugas-tugas yang mengharuskan dia berada di tengah-tengah umum. Kalau anak itu memang extrovert, seolah-olah kita akan berkata dia semakin berkembang karena diberikan posisi sebagai ketua kelas atau pemimpin. Tapi sekali lagi saya ingin orang tua memperdalam definisi atau pemahaman akan kepercayaan diri anak, jangan terlalu mudah mengaitkan perilaku atau sikap extrovert dengan kepercayaan diri. Anak yang introvert pun tetap bisa percaya diri, namun sekali lagi karena dia introvert dia tidak memperlihatkan rasa percaya dirinya secara lebih nyata, itu bedanya.
GS : Tapi tetap dapat dikenali ya Pak Paul, bahwa anak yang introvert ini punya rasa percaya diri kalau dilihat dari prestasi akademiknya?

PG : Ya, dari prestasi akademiknya atau perilakunya yang lebih berani untuk mengambil resiko dapat kita gunakan sebagai tolok ukur bahwa dia mempunyai keberanian atau kepercayaan diri. Tapi ekali lagi saya mau memperdalam itu ya Pak Gunawan, jangan sampai kita terlalu mudah mengaitkan, berani ambil resiko dengan kepercayaan diri.

Sebab anak-anak yang introvert cenderung memang tidak terlalu mau ambil resiko, tapi juga tidak berarti dia tidak percaya diri, percaya diri jadinya lebih mengacu kepada apa kebisaannya dan apa ketidakbisaannya, apakah dia mengenali kedua aspek dalam kehidupan dan berhasil menerimanya. Anak yang berhasil menerima keduanya, apa yang dia bisa dan apa yang dia tidak bisa, kita katakan dia adalah anak yang percaya diri.
GS : Tapi kita sebagai orang tua punya tugas untuk menciptakan rasa aman di sekitar anak itu, supaya rasa percaya dirinya tumbuh ya Pak Paul?

PG : Betul sekali.

GS : Sehubungan dengan perbincangan kita ini, Firman Tuhan mengatakan apa, Pak?

PG : Saya akan membacakan dari Mazmur 49:17-18 , "Janganlah takut apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu matinya semua itu tida dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia."

Tuhan memberikan pesan di sini yaitu milikilah perspektif hidup yang tepat, bahwa kemuliaan seseorang tidaklah bergantung pada kekayaannya. Dengan kata lain, kalau saya boleh terjemahkan dalam konteks yang kita sedang bahas ini, hati-hati sebagai orang tua agar kita tidak menempatkan harta atau hal yang bersifat sangat fisik pada porsi yang terlalu besar, karena justru akan menimbulkan tekanan yang berlebihan pada anak dan akan justru membunuh kepercayaan dirinya, bukan menumbuhkannya. Sekali lagi justru yang penting bagi kepercayaan diri anak adalah perlakuan orang tua yang penuh kasih dan penuh penerimaan.

GS : Terima kasih Pak Paul, jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang mengapa anak saya tidak percaya diri. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



19. Menanamkan Percaya Diri pada Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T067B (File MP3 T067B)


Abstrak:

Dalam hal ini kita akan megetahui beberapa kiat atau beberapa cara menanamkan rasa percaya diri pada anak. Dan juga tingkat kepercayaan diri anak yang dibagi dalam 3 kategori.


Ringkasan:

Beberapa cara menanamkan rasa percaya diri pada anak:

  1. Orang tua perlu mengenal jelas kemampuan anaknya, dengan melihat apakah anak kita berada di lingkup akademik yang dalam jangkauannya. Jangan sampai anak kita berada di lingkup akademik yang menuntutnya di luar batas kemampuannya, karena akan menyebabkan anak bukannya terpacu malah akan lebih terbenam. Jadi kepercayaan diri bertumbuh dalam suasana aman, bukan kebalikannya suasana yang mencekam, yang mengancam, yang menakutkan justru akan menurunkan kepercayaan diri anak.

  2. Orang tua harus memeriksa tuntutannya sendiri. Kadang kala tanpa disadari orang tua telah mengkomunikasikan tuntutan yang sangat tinggi kepada anak-anaknya.

  3. Orang tua hendaknya tidak menjadikan rumah sebagai sekolah dan jangan sampai kita ini menjadi ibu guru atau kelanjutan dari ibu guru atau bapak guru di sekolah. Jadi saran saya adalah setelah anak mengerjakan tugasnya dan kita tahu dia sudah mencoba, sudah jangan lagi terlalu dipaksa, bermainlah dengan anak, bercandalah dengan anak, ciptakan suasana rumah yang lebih santai sehingga anak merasakan perbedaan yang besar antara sekolah dan rumah.

Kepercayaan diri anak di bagi dalam 3 sumber:

  1. Prestasi akademiknya.

  2. Penampilan fisiknya.

  3. Kemampuan bergaulnya, diterima atau tidaknya di pergaulan.

Prestasi akademik merupakan dasarnya, anak-anak pada masa-masa usia di bawah 12 tahun pada masa SD sangat menumpukan kepercayaan dirinya pada keberhasilan akademiknya. Namun pada masa remaja modal itu satu tidak cukup dia perlu dua modal yang lainnya, dua tonggak yang lainnya yakni penampilan fisiknya dan juga keterampilan bergaulnya.

Amsal 3:5,6 menekankan di situ adalah jangan kita itu menjadikan diri kita sebagai tolok ukur terakhir dalam menentukan langkah hidup kita, ada Tuhan yang menjadi penentu akhir. Kita ini hanyalah orang yang mengerti sedikit, mengetahui sedikit, Tuhan yang mengetahui semuanya. Maka Dia minta akuilan jalanmu maka Ia akan meluruskan jalanmu, akuilah Tuhan dalam segala aspek kehidupanmu artinya kita memang menyadari Tuhanlah yang menjadi penentu akhir. Kepercayaan pada diri berarti kita mengerti kesanggupan kita dan ketidaksanggupan kita.

Amsal 13:4 , "Hati si pemalas penuh keinginan tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." Penekanannya di sini adalah pemalas banyak keinginannya tapi sia-sia karena dia tidak akan mau dan bertenaga untuk meraihnya, sedangkan orang yang rajin akan memiliki banyak karena dia rajin pula bekerja untuk mendapatkannya. Saya kira lebih penting dari kepandaian atau apa, yang perlu kita tanamkan pada anak adalah bahwa dia bisa maju, bahwa dia mempunyai kewajiban atau mencoba. Nah itu lebih penting dari prestasinya, selagi dia masih mau coba, dia punya itu kerajinan dia akan percaya bahwa dia bisa maju, dia bisa melangkah ke depan. Yang berbahaya adalah kalau anak sudah beranggapan saya tidak akan bisa maju memang tidak mempunyai kemampuan untuk melangkah, itu akan mematikan dia.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang beberapa kiat menanamkan percaya diri pada anak, dan perbincangan ini merupakan kelanjutan perbincangan kami beberapa waktu yang lalu. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Beberapa waktu yang lalu kita telah berbincang-bincang tentang mengapa anak saya tidak percaya diri dan Pak Paul sudah menguraikan banyak hal. Kita akan melanjutkan perbincangan itu dengan memberikan atau membahas beberapa kiat atau beberapa cara menanamkan rasa percaya diri pada anak, ada berapa hal yang mungkin Pak Paul bisa sampaikan?

PG : Yang pertama Pak Gunawan, orang tua itu perlu melihat apakah anak kita berada di lingkup akademik yang dalam jangkauannya. Jangan sampai anak kita berada di lingkup akademik yang menuntut i luar batas kemampuannya, karena kalau itu yang terjadi si anak bukannya terpacu malah akan lebih terbenam.

Satu prinsip yang harus diingat oleh kita semua adalah memacu anak, memang kita harus memberikan tuntutan sedikit lebih besar atau sedikit lebih tinggi dari kemampuannya. Kalau kita memberikan tuntutan atau tantangan di bawah kemampuannya, dia tidak akan mengembangkan diri. Kalau kita memberikan tantangan sesuai dengan kemampuannya, dia hanya akan mempertahankan yang dia telah miliki. Tapi kalau kita memberikan tantangan sedikit di atas kemampuannya, dia akan dipacu untuk meraih lebih daripada yang sudah dimilikinya sekarang. Yang penting adalah orang tua mengenal jelas kemampuan anaknya, jangan sampai orang tua beranggapan bahwa anak saya pandai. Nah, saya cenderung mengira bahwa kebanyakan orang tua pada awalnya menganggap anak-anak kita pandai, jarang sekali saya mendengar orang tua mengeluh pada awalnya bahwa anak itu bodoh. Kalau akhirnya sekolahnya gagal dan sudah terlanjur mempermalukan orang tua, barulah orang tua berkata anak saya ini bodoh. Tapi pada umumnya orang tua cenderung beranggapan anak itu pintar sebetulnya tapi, tapinya itu misalkan gurunyalah ini, sekolahnyalah itu, teman-temannyalah ini, jadi kita cenderung memang memberikan bobot kesalahan pada pihak-pihak di luar si anak itu. Jadi kembali lagi, tadi saya katakan memang perlu memberi tantangan sedikit di atas kemampuan si anak tapi jangan berlebihan. Kalau anak dimasukkan sekolah yang memang menuntut sangat tinggi dan kemampuannya tidak mencapai tuntutan tersebut, saran saya adalah kita harus menyesuaikan diri. Misalnya kita memindahkan dia ke sekolah yang lebih memberikan tuntutan sepadan dengan kemampuannya atau sedikit di atas kemampuannya, itu yang perlu kita lakukan yang pertama. Yang berikutnya lagi adalah kita harus mengingat di dalam sekolah yang sangat bagus biasanya suasana kompetitif itu sangat kuat. Artinya kita harus menyadari bahwa dalam suasana kompetitif, anak-anak itu dipacu untuk mengadu diri dengan teman-temannya, suasana belajar atau suasana kelas menjadi suatu suasana yang mencekam dan menegangkan. Tidak semua anak mampu mengatasi ketegangan, ada anak yang perasaannya sangat peka dan lebih mudah termakan atau dikuasai oleh ketegangannya. Ada anak yang memang tidak terlalu peka sehingga dia pun lebih bisa mengalahkan ketegangannya itu. Artinya apa, sekali lagi orang tua harus melihat apakah anak saya mampu mengatasi ketegangan, suasana kompetitif yang sangat tinggi itu, kalau dia tidak sanggup jangan dipaksakan. Jadi sekali lagi orang tua harus mengenali kemampuan anak. Nah, mungkin orang tua yang mendengarkan kita bercakap-cakap sekarang berkata kalau begitu bagaimanakah saya bisa memacu kepercayaan diri anak. Justru yang saya mau tekankan adalah kepercayaan diri bertumbuh dalam suasana aman, bukan kebalikannya suasana yang mencekam, yang mengancam, yang menakutkan justru akan menurunkan kepercayaan diri anak. Itu langkah pertama yang kita harus ambil untuk memupuk kepercayaan diri pada anak-anak.
GS : Tapi biasanya orang tua kadang-kadang salah tafsir dan mengatakan kamu ini bukan bodoh tapi malas. Jadi bukan menyalahkan lingkungan luar, mengatakan anaknya itu sebetulnya bisa, cuma malas atau terlalu banyak bermain. Bagaimana hal ini menurut Pak Paul?

PG : Nah di sini orang tua harus memeriksa dirinya sendiri dan memeriksa suasana rumah, apakah memang si anak itu malas. Kadang-kadang orang tua melabelkan anaknya malas guna mempertahankan konep bahwa si anak itu tetap pandai, daripada mengakui anaknya tidak sepandai itu.

Seringkali orang tua lebih rela mencap anaknya malas, jadi orang tua harus realistik dan harus berani terbuka. Bagaimanakah cara menumbuhkan kepercayaan pada anak, langkah berikutnya lagi adalah orang tua harus memeriksa tuntutannya sendiri. Kadangkala orang tua tanpa disadari telah mengkomunikasikan tuntutan yang sangat tinggi kepada anak-anaknya. Kalau dia sampai tidak bisa, justru dikatakan malas, kadangkala ini yang terjadi. Si anak bukannya malas dia telah mengerjakan sebisanya, tapi sebisanya hanya sampai di situ. Nah orang tua harus menerima, jadi kalau tidak bisa menerima malah terus membebani anak dengan tuntutan dan hal ini bukan menumbuhkan kepercayaan diri tetapi makin mematahkan. Jadi orang tua perlu realistik, kalau anak mengatakan, "Saya sudah belajar, Ma" dan kita pun mengakui, kita melihat dia sudah belajar, jangan lagi mengatakan engkau malas. Kalau engkau sedikit lebih rajin, engkau akan mencapai lebih tinggi lagi, kalau memang sudah dilakukan sebisanya, orang tua harus menerimanya dengan realistik.
GS : Apakah ada langkah-langkah lain Pak Paul, yang praktis dan harus diketahui orang tua?

PG : Yang berikutnya adalah saya mau meminta orang tua untuk tidak menjadikan rumah sebagai sekolah, yang kedua jangan sampai kita ini menjadi ibu guru atau kelanjutan dari ibu guru atau bapak uru di sekolah.

Sekarang ini saya kira orang tua harus berjuang keras melawan dorongan untuk menjadi guru kedua atau bapak guru kedua. Memang kita hidup dalam suasana atau lingkup yang sangat menekankan bobot akademik sehingga di rumah pun yang lebih mendominasi kehidupan anak-anak adalah pekerjaan rumah (PR). Kita pernah membahas bahwa anak-anak sangat memerlukan waktu yang santai, yang menyegarkan, yang membuat dia akhirnya bisa berfungsi dengan lebih bebas. Selain dari kesempatan bermain yang dapat mengembangkan kreatifitas juga keterampilan bergaulnya, nah hal-hal itu memang sangat berkurang dalam kehidupan anak-anak dewasa ini. Jadi saran saya, setelah anak mengerjakan tugasnya dan kita tahu dia sudah mencoba, jangan lagi terlalu dipaksa. Bermainlah dengan anak, berguraulah dengan anak, ciptakan suasana rumah yang lebih santai sehingga anak merasakan perbedaan yang besar antara sekolah dan rumah. Jangan sampai dia tidak betah di sekolah, juga tidak betah di rumah, itu sebabnya kalau usia sudah meningkat lebih dewasa atau masa-masa remaja dia tidak betah di sekolah, dia betah di mall, di jalan-jalan sama temannya. Jadi ciptakan suasana rumah yang lebih santai, berguraulah, ngobrollah dengan anak-anak, bermainlah dengan anak-anak, ini adalah hal-hal yang sangat tidak menegangkan anak. Anak-anak yang santai diterima orang tua seperti ini justru lebih mempunyai energi untuk belajar. Anak-anak yang terlalu dipaksa-paksa melebihi kemampuannya, tenaganya habis sehingga semakin tidak konsentrasi untuk belajar, apalagi kalau berlangsung tahun demi tahun.
IR : Tapi kalau sebaliknya, Pak Paul, ada anak yang selalu minta diajari itu bagaimana kira-kira?

PG : Kalau anak minta diajari, memang pertama-tama kita harus menyediakan diri kita, kita tidak langsung berkata jangan atau tidak mau. Kita harus tahu dulu apa duduk masalahnya, sehingga anak ni tidak mengerti pelajarannya.

Kalau memang dia tidak mengerti dan kita sudah menanyakan pada gurunya kalau di sekolah dia mendengarkan, tapi di rumah tidak bisa mengerjakan tugasnya, nah kita ingin tahu apakah kalau kita menjelaskannya dengan cara yang lain si anak bisa mengerti. Kalau si anak ternyata mengerti, kita mulai bisa menebak duduk masalahnya yaitu di kelas entah mengapa dia tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh si guru, mungkin caranya yang berbeda. Di rumah dengan cara misalkan yang lebih konkret atau apa si anak bisa mengerti, nah untuk itulah kita perlu memberikan penjelasan-penjelasan kepadanya, supaya nanti waktu dia di sekolah dia lebih bisa menggunakan pola pikir yang telah kita berikan untuk mencerna pelajaran yang diberikan di sekolahnya. Berikutnya kepada anak kadang-kadang meminta mamanya untuk mengajari dia, sebetulnya anak memerlukan sosialisasi, dia sudah lelah di sekolah belajar sendirian, tidak bisa kerja sama dengan teman. Di rumah dia ingin sosialisasi dengan orang tuanya tidak bisa, orang tuanya berkata duduk di sana kamu belajar, berarti apa dia disekolahkan lagi di rumah, maka ada kalanya teriakan atau permintaan anak "temani saya belajar", bukannya terlalu bersifat akademik tapi lebih bersifat emosional. Anak meminta Mama untuk dekat, untuk bisa bersama-sama dia, sebab kalau tidak mamanya tidak menemani dia atau papanya tidak menemaninya, sibuk dengan kesibukan masing-masing dan dia terpaksa harus sekolah lagi di rumah selama 3 jam begitu.
IR : Apakah itu anak yang ambisi Pak Paul, yang mengatakan saya besok ulangan Ma, ayo Ma aku diajari?

PG : Kalau anak-anak itu meminta dukungan mamanya untuk ulangan besok, saya bisa menafsirkan itu dari dua sudut. Yang pertama memang dia memerlukan kedekatan dengan mamanya, dia merasa ada kontk sosial ketika mamanya ada disampingnya.

Kedua mungkin sekali dia mendapatkan bantuan dari mamanya, jadi si mama berhasil memberikan dia, baik itu kekuatan moral atau penjelasan-penjelasan intelektual yang menolong dia lebih memahami pelajarannya. Hal-hal itu memampukan dia untuk melakukan tugasnya dengan baik.
GS : Kalau sejak dini tidak punya rasa percaya diri yang bagus, lalu dia beranjak menjadi remaja apakah rasa percaya dirinya itu bisa goyah karena sesuatu masalah?

PG : Kalau saya boleh bagi kepercayaan diri itu dari 3 sumber seperti yang telah kita bahas pada pertemuan yang lampau, saya akan membaginya dalam 3 kategori. Sumber pertama untuk percaya diri nak adalah prestasi akademiknya, sumber yang kedua adalah penampilan fisiknya dan yang ketiga adalah kemampuan bergaulnya, diterima atau tidak di dalam pergaulan.

Yang pertama adalah dasarnya, anak-anak pada masa usia di bawah 12 tahun (SD) sangat menumpukan kepercayaan dirinya pada keberhasilan akademiknya. Namun pada masa remaja modal itu tidak cukup, dia perlu dua modal yang lainnya, dua tonggak yang lainnya yakni penampilan fisiknya dan juga keterampilan bergaulnya. Kalau saya boleh bagi dalam prosentase, 30% untuk masing-masing itu semuanya, Pak Gunawan, jadi anak-anak yang berhasil secara akademik dia telah memiliki modal 30% untuk menumbuhkembangkan kepercayaan dirinya. Waktu nanti dia bisa mengembangkan tubuh yang baik, wajah yang lumayan itu menambahkan 30% lagi. Kalau kebetulan juga dia luwes bisa bergaul dengan baik dan diterima oleh teman-temannya itu 30%nya lagi, sehingga semuanya itu akan mencakup kepercayaan dirinya.
GS : Tapi yang jadi masalah yang kedua berkaitan dengan penampilan dirinya, bukankah itu dibawa sejak lahir, Pak Paul?

PG : Harus saya akui bahwa penampilan diri berdampak, maka tadi saya kategorikan itu sebagai salah satu sumber pemberi kekuatan kepercayaan diri anak. Kalau memang dia misalnya terlalu besar tuuhnya dan justru sejak dari masa-masa remaja dia jadi bahan ejekan, olok-olokan teman, akhirnya itu akan menggerogoti kepercayaan dirinya.

Meskipun misalnya sebelumnya dia telah berhasil menumbuhkembangkan kepercayaan diri yang positif atas dasar prestasi akademiknya, begitu dia memasuki tahap remaja dan penampilan tubuhnya itu tidak disambut malah dikritik dan diolok-olok,itu bisa akhirnya menggerogoti kepercayaan diri sudah ada pada dirinya. Malah membuat dia misalnya terkesan ragu-ragu, susah untuk konsentrasi di kelas atau enggan ke sekolah atau mulai mengaitkan sekolah dengan sesuatu yang pahit, yang tidak enak sehingga dia menjadi malas ke sekolah. Mudah-mudahan dia mendapatkan dorongan-dorongan dari temannya atau dari keluarganya, sehingga dia tetap berani untuk ke sekolah dan menghadapi olok-olokan temannya itu.
GS : Mungkin itu akan bisa ditutupi, katakan itu dengan prestasi akademiknya dan mudahnya dia bergaul dengan teman-teman yang lain sehingga diterima oleh lingkungannya.

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, sehingga anak-anak akhirnya harus sedikit banyak berkompensasi dari kekurangan yang satu pada kelebihan yang satunya, itu akan lebih menyeimbangkan kepercayaan diinya.

Namun saya tetap harus berkata bahwa kekurangan pada salah satu tonggak tersebut tetaplah kekurangan, misalnya dalam hal penampilan diri meskipun secara sosial dia diterima, baik kemampuan bergaulnya yang luwes, prestasi akademiknya juga lumayan, tetapi dalam hal penampilan diri dia tetap akan merasakan lebih banyak keragu-raguan. Dia misalnya tidak begitu berani untuk mendekati lawan jenisnya, tetap itu merupakan defisit dalam pertumbuhannya, tapi akan sangat terobati dengan keberhasilan dalam 2 bidang yang lainnya.
GS : Atau dia menggunakan pakaian atau asesoris yang lain untuk menutupi kekurangannya itu, Pak Paul?

PG : Bisa jadi, kadang-kadang memang orang yang lebih banyak defisit atau kekurangannya cenderung "over-acting", lalu memakai asesoris yang terlalu berlebihan.

GS : Di situ bisa terjadi kesalahpahaman lagi dengan orang tua, Pak Paul. Masalahnya kita sebagai orang tua harus bersikap bagaimana kalau sudah begitu?

PG : Saya kira sebaiknya kita munculkan. Kalau memang kita melihat anak kita memiliki kekurangan secara fisik, kita munculkan bahwa orang mungkin melihat engkau kurang dalam hal misalnya tubuhm terlalu kurus atau terlalu kecil atau terlalu besar atau matamu terlalu sipit atau terlalu besar.

Orang tua sebaiknya memunculkan kekurangan anak dengan santai, jangan membuat itu sesuatu yang menegangkan, kemudian berkata tapi tidak berarti engkau jelek. Bahwa engkau itu mempunyai kekurangan dalam hal A atau hal B, tidak berarti dalam semua hal engkau kurang dan engkau tidak dinilai berdasarkan hal A atau hal B belaka. Engkau dinilai oleh orang berdasarkan hal-hal yang lain misalnya keramahanmu, kesiapanmu menolong orang, kerajinanmu, ketabahanmu, kepandaianmu, itu semua hal-hal yang orang akan hargai dan begitu banyak hal yang orang hargai tentang dirimu. Dan bukankah teman-temanmu juga menghargaimu atas hal-hal itu, jadi kita munculkan dan kita sadarkan bahwa anak-anak kekurangan dalam 1 hal atau 2 hal tidak akan mengalahkan hal-hal yang baik misalnya yang berjumlah 10 sampai 20.
GS : Pak Paul, saya pernah mendengar suatu keluhan atau yang disampaikan oleh orang tua sebenarnya kita sebagai orang Kristen, tidak boleh percaya pada diri kita sendiri, tapi percayanya kepada Tuhan. Saya terus terang agak kurang sependapat, saya setuju tapi tidak setuju 100%. Itu bagaimana sebenarnya, Pak Paul?

PG : Saya kira prinsip yang tepat adalah kita gunakan dari Firman Tuhan; di kitab Amsal 3:5-6 yang ditekankan di situ adalah jangan kita itu menjadikan diri kita sebagai tolak ukurterakhir dalam menentukan langkah hidup kita.

Ada Tuhan yang menjadi penentu akhir, kita hanyalah orang yang mengerti sedikit, Tuhan yang mengetahui semuanya. Oleh karena itu, Dia minta akuilah jalanmu maka Ia akan meluruskan jalanmu, akuilah Tuhan dalam segala aspek kehidupanmu artinya kita memang menyadari Tuhanlah yang menjadi penentu akhir. Kepercayaan pada diri berarti kita mengerti kesanggupan kita dan ketidaksanggupan kita, kesanggupan kita pun secara spesifik kita mengerti berapa sanggupnya kita. Kita menyadari dan menerima ada orang yang lebih sanggup dari kita, atau kita menyadari sedikit lebih sanggup dari yang lain, jadi semakin tepat kita menilai diri kita dan menerimanya semakin percayalah kita pada diri kita. Tidak berarti atau bertentangan dengan kita percaya pada Tuhan, sebab kita tahu Tuhan yang tetap menentukan semua yang kita miliki, kesanggupan yang telah kita punyai, itu pun pemberian Tuhan. Jadi memang keduanya tidak harus bertentangan, orang yang mempercayai diri tetap bisa bertumpu pada Tuhan yang memelihara dan menentukan hidupnya, kepercayaan dirinya itu tidak mengeluarkan/mengesampingkan Tuhan dalam keputusan-keputusan hidupnya.
(2) IR : Bagaimana Pak Paul kalau kita menghadapi anak yang beberapa kali gagal sehingga dia kadang-kadang putus asa, sebagai orang tua sikap apa yang kita berikan pada mereka?

PG : Pertanyaan yang baik sekali Ibu Ida, kita ini sebetulnya sudah termakan oleh budaya kompetisi, begitu termakannya kita, sehingga menurunkan suasana kompetisi itu di rumah kita. Terutama paa anak-anak kita, sehingga tanpa kita sadari kita lebih sering memperlakukan anak-anak seperti kuda pacu.

Kalau berhasil kita senang, berteriak hore..hore, bila anak kita tidak menang kita kecewa sekali. Yang penting sebagai orang tua kita menerima kegagalan anak dengan lapang, jangan sampai kita memberikan sikap yang berlebihan, seolah-olah kegagalannya dia masuk ke sekolah A misalnya menjadi pertanda buruk bahwa sepanjang hidup nasibnya itu sudah tentu buruk, tidak akan ada lagi keberhasilan yang akan dicicipinya atau kegagalan dia untuk naik kelas kita katakan itu seolah-olah pertanda anak yang paling bodoh. Jadi janganlah kita memberi sikap yang berlebihan pada kegagalan anak, kita harus menerimanya. Yang penting kita tekankan engkau telah mengerjakan tugasmu, kalau memang dia tidak mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab itu bagian yang kita soroti, apakah memang dia kurang bertanggung jawab dan perlu lebih rajin, jadi sekali lagi kita soroti pada aspek perbuatannya. Kalau tidak hati-hati kita terlalu mengatakan dia bodoh makanya tidak naik kelas, dia akhirnya akan mengidentikkan kata gagal dengan dirinya. Jadi kalau dia ingat tentang dirinya kata yang pertama kali meloncat adalah takut gagal, percayalah yang dia hasilkan bukan potensi maksimalnya, justru potensi yang sangat jauh dari kemaksimalannya. Dia makin takut mengeluarkan kebiasaannya untuk mencoba karena dia takut gagal. Jadi sekali lagi peluklah anak waktu dia gagal, kalau perlu tegur pada perbuatannya namun dorong dia melakukan apa yang dia sanggup lakukan.
IR : Kalau sebaliknya Pak Paul, anak yang sebenarnya tidak mampu dan orang tua mengetahui anak-anak ini tidak mampu, tapi dia mempunyai cita-cita yang menurut orang tua tidak mampu, bagaimana sikap kita?

PG : Kita bisa berkata cita-citamu itu sangat tinggi dan sangat baik. Papa, Mama akan senang sekali kalau engkau bisa mencapainya. Jadi yang saya katakan di sini adalah kita jangan terlalu cepa memadamkan semangat anak, jadi biarkan anak menargetkan sesuatu yang tinggi.

Silakan kamu coba, Papa, Mama ada di belakangmu. Tapi misalkan dia sudah gagal beberapa kali dia coba, mungkin kita bisa berkata Tuhan tidak memberikan karunia yang sama pada setiap orang, memang temanmu atau saudaramu memiliki karunia itu, tapi Tuhan tidak memberikan kepadamu berarti kita harus menerimanya bahwa ini memang bukanlah karunia Tuhan, artinya ada yang lain, yang kau bisa kerjakan ayo kita cari yang lainnya itu. Jadi kita mengajak anak mengeksplorasi karunia Tuhan yang sudah diberikan kepadanya, sehingga dengan cara itu anak akan kita salurkan ke karunia yang lebih tepat untuknya.
GS : Jadi rasa percaya diri itu saya rasa memang penting sebagai bekal untuk dia memasuki masa dewasanya juga, Pak Paul?

PG : Tepat sekali.

GS : Dalam hal ini Firman Tuhan berkata apa, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 13:4 , "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." Penekanannya di sini adalah pemalas anyak keinginannya, tapi sia-sia karena dia tidak akan mau dan berusaha untuk meraihnya, sedangkan orang yang rajin akan memiliki banyak karena dia rajin bekerja untuk mendapatkannya.

Saya kira lebih penting dari kepandaian atau apa, yang perlu kita tanamkan pada anak adalah bahwa dia bisa maju, dia mempunyai kewajiban dan mencoba. Nah itu lebih penting dari prestasinya, selagi dia masih mau mencoba, dia punya kerajinan dia akan percaya bahwa dia bisa maju, dia bisa melangkah ke depan. Yang berbahaya adalah kalau anak sudah beranggapan saya tidak akan bisa maju, saya memang tidak mempunyai kemampuan untuk melangkah, itu akan mematikan dia.

GS : Firman Tuhan yang sudah dibacakan pasti akan menjadi dasar yang sangat kuat, landasan yang sangat kuat untuk mengembangkan cara-cara menumbuhkan percaya diri pada anak. Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang beberapa kiat untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK, Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



20. Bagaimana Membentuk A Boy A Man 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T070A (File MP3 T070A)


Abstrak:

Membentuk atau membesarkan secara khusus anak laki-laki kita menjadi seorang pria dewasa yang kita harapkan dan diharapkan oleh Tuhan juga. Dan dalam hal ini arahan dari seorang ayah sangatlah diperlukan di dalam mentransfer kualitas yang diinginkan masuk di dalam anaknya. pria dewasa/sigap.


Ringkasan:

Seorang anak laki-laki perlu mendapatkan didikan, arahan dari ayahnya sebab apa-apa yang telah diterima dari si ayah itulah yang akan membentuk dia menjadi seorang pria yang diharapkan dan yang memang diharapkan oleh Tuhan.

Peranan seorang ayah pada anak laki-lakinya:
Bahwa anak-anak perlu menyerap sifat kelaki-lakian dari seorang ayah. Proses ini disebut identifikasi yaitu proses memasukkan sifat-sifat perilaku, pola tingkah laku atau pola pikir atau pengungkapan emosi dari ayah ke dalam diri anak. Contoh: ayah kalau bicara menggunakan gerakan-gerakan tangan, tanpa disadari kita mulai menyerap perilaku tersebut. Atau kalau ayah lagi marah cenderung diam, anak-anak cenderung juga menyerap sifat-sifat seperti itu.

Kalau anak tidak mendapatkan dari ayahnya dia akan mendapatkan dari pihak-pihak luar baik itu teman maupun tokoh-tokoh di televisi. Dalam hal ini seorang ayah sangat perlu memberikan waktu terlibat hadir dalam kehidupan si anak, sering bermain, bergaul, berkomunikasi dengan si anak.

Hal yang perlu kita berikan atau hal yang perlu kita ajarkan secara terencana kepada anak laki-laki kita:

  1. Kita mesti mengajar anak mengambil keputusan. Mengajarkan proses mengambil keputusan yang benar. Menekankan bahwa seorang pria sebaiknya menjadi pemula atau menjadi orang yang mengambil inisiatif, jangan menjadi pria yang pasif, yang hanya menantikan orang untuk mengambilkan keputusan.

  2. Di dalam melaksanakan tugas seorang pria diharapkan bersifat sigap bukan malas-malasan atau lamban.

Hal yang lain juga yang perlu kita perhatikan adalah jangan kita mengajarkan hal-hal yang negatif, yaitu dalam bentuk kemarahan-kemarahan, mencela-mencela si anak. Sebab sifat negatif bukannya membangun si anak untuk menjadi seperti yang kita harapkan, seringkali justru menjadi bumerang, menjadi kebalikan dari yang kita harapkan.

Sehubungan dengan sosialisasi anak laki-laki kita dengan lawan jenisnya, kita perlu dan sepatutnya mengajarkan kepada anak laki-laki untuk melindungi wanita, yaitu mempunyai sikap atau persepsi yang tepat terhadap wanita yaitu melindunginya bukan memanfaatkannya.

Sehubungan kalau anak laki-laki kita berhubungan dengan sesamanya atau pria lain, kita perlu sebagai seorang ayah perlu mengajarkan anak laki kita bahwa dia setara dengan pria lain. Adakalanya anak laki-laki itu merasa dia baik, kalau merasa dirinya lebih hebat dia itu superior dari teman prianya atau kalau anak minder dia merasa dia kecil, teman-teman prianya yang lain lebih besar dari padanya. Kita perlu mengajar anak laki kita untuk setara, untuk bersikap sama bahwa dia tidak lebih dan dia tidak kurang dari orang-orang lain. Sebagai seorang ayah perlu memunculkan hal yang spesifik misalnya tentang kebaikan anak, kita mesti tunjukkan sesuatu yang memang dia lakukan dan lumayan baik, sehingga itu menjadi bekal dia menempatkan diri sejajar dengan pria-pria lainnya.

Seorang anak usia remaja sering kali mencoba-mencoba, bereksperimen. Dukungan yang bisa kita berikan sebagai orang tua adalah kita menekankan bahwa keberanian mengambil resiko adalah sifat pria yang baik yang dihormati, justru sifat pria yang takut mengambil resiko itu menjadi sesuatu yang tidak dihargai oleh orang lain. Jadi anak-anak pria perlu mendapatkan dorongan dari ayahnya untuk mengambil resiko meskipun dia itu bisa keliru, bisa dirugikan tapi kita bisa dorong dia kenapa tidak mencoba, otomatis dalam hal yang benar.

Kadang kala anak-anak takut mengambil resiko karena:

  1. Takut gagal
  2. Takut disalahkan

Ketakutan gagal dan ketakutan disalahkan adalah hal yang wajar dan tidak apa-apa tapi kalau berlebihan akan melumpuhkan si anak. Jadi sekali lagi sebagai ayah kita harus berhati-hati jangan terlalu cepat mengevaluasi, mengkritik, mencela, menjatuhkan anak kita, waktu dia mengambil resiko melakukan sesuatu.

Kita perlu mengarahkan anak untuk menjadi pria dewasa yang bisa mengontrol emosinya. Salah satu kualitas pria yang dihargai oleh lingkungan adalah stabil, kestabilan emosi itu adalah suatu ciri pria yang baik. Pria yang emosinya turun naik cenderung mendapatkan kesukaran dan kurang mendapatkan penghargaan dari lingkungannya. Jadi sebagai ayah kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk mempunyai emosi, jangan sampai tidak punya emosi, jadi silakan beremosi, silakan marah, silakan kecewa tapi kita ajarkan dia menyatakan emosi tersebut dengan benar.

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam membimbing anak laki-laki kita menjadi seorang pria dewasa yang baik, yaitu:

  1. Jangan sampai kita terlalu terjebak dalam pembedaan antara feminin, maskulin. Contoh: ada orang tua atau ayah yang berkata anak laki tidak usah cuci piring itu pekerjaan wanita, itu tidak benar. Silakan dia mencuci piring dan tidak ada salahnya anak laki mencuci piring, anak laki tidak boleh menangis itu wanita, tidak apa-apa anak laki menangis, anak laki-laki kadang-kadang perlu menangis.

  2. Jangan menghina anak laki-laki, jadi anak laki-laki itu peka terhadap penghinaan. Misalkan penghinaan menyamakan dia dengan wanita, memanggil dia dengan wanita atau kata-kata banci, anak laki mempunyai satu ketakutan yang total yaitu takut disamakan dengan wanita. Atau misalnya kita tempeleng dia, menunjuk-nunjuk dahinya dengan telunjuk kita di depan temannya itu sangat menghina dia. Anak laki yang merasa terhina, cenderung menyimpan rasa terhinanya dan menjadi dendam kesumat pada dirinya terhadap kita sebagai ayah.

  3. Jangan mengharuskan anak laki kita menyukai hobby kita atau dengan kata lain jangan sampai kita mencoba untuk mencetaknya menjadi jiplakan kita. Misalnya kita sebagai ayah melihat anak kita kok tidak senang sepak bola, kemudian mulailah kita meremehkan dia, nggak mau dekat dengan dia, itu adalah penolakan yang sangat menohok penolakan diri si anak. Dia akan merasa menjadi pria yang tidak lengkap karena ayahnya menolak dia, dan dia akan melihat figur ayahnya adalah figur pria yang lengkap, keren, ayahnya menolak dia seakan-akan dia bukan pria yang lengkap, itu tidak positif dan tidak baik.

Amsal 20:18 , "Sekalipun emas dan permata banyak tetapi yang paling berharga adalah bibir yang berpengetahuan." Pengetahuan itu diidentikkan dengan berhikmat jadi yang kita ingin berikan kepada anak kita adalah yang paling berharga yakni hikmat. Yakni hikmat menjadi seorang pria, menjadi seorang yang takut Tuhan, mengenal Tuhan dan bisa hidup di tengah-tengah lingkungannya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Bagaimana Membentuk A Boy menjadi A Man. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kita mau membicarakan bagaimana membentuk a boy (anak laki-laki) menjadi a man (pria dewasa). Apakah tidak dengan sendirinya bisa terjadi, Pak Paul?

PG : Itu adalah asumsi orang pada umumnya, memang akan terjadi. Jadi anak-anak yang dibesarkan, diberikan makanan yang cukup akan berkembang menjadi seorang pria dewasa. Tapi persoalannya adlah pria dewasa macam apakah itu, oleh karena itu akan kita bicarakan.

Jadi bukan masalah ya, anak-anak pasti akan berkembang menjadi pria dewasa, tapi pria dewasa seperti apakah nantinya.
(1) GS : Ya seperti apa kira-kira, Pak Paul? Saya sendiri juga kurang jelas.

PG : Maksud saya adalah sebagai seorang ayah, kita memikul tanggung jawab untuk memberikan kepada anak laki-laki kita, membesarkannya secara khusus agar anak laki kita dapat bertumbuh besar enjadi seorang pria dewasa yang memang kita harapkan dan juga diharapkan oleh Tuhan.

Nah saya kira itu adalah inti yang akan kita bicarakan pada hari ini.
GS : Jadi penciptaan Tuhan terhadap pria dewasa itu pasti sangat unik ya Pak Paul, maksudnya pasti berbeda sama sekali dengan yang wanita.

PG : Saya kira akan ada perbedaan antara seorang pria dan seorang wanita. Apa yang ayah berikan, saya kira tidak dapat diberikan oleh ibu, nah sudah tentu apa yang ibu berikan tidak dapat jua diberikan persis oleh seorang ayah.

Tapi khusus untuk anak laki-laki, saya berpendapat bahwa seorang ayah memegang peranan yang sangat besar untuk diberikan kepada si anak.
(2) GS : Padahal biasanya kami menjadi ayah agak jarang atau kurang terlibat di dalam pembinaan anak semasa kecil, Pak Paul.

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, kita memang sebagai pria harus memberikan banyak waktu di luar untuk bekerja. Tapi saya kira ada baiknya, pada kesempatan ini kita memperhatikan dengan lebih sksama, sebetulnya apa peranan seorang ayah pada anak laki-lakinya.

Yang pertama, yang penting kita ketahui adalah bahwa anak-anak itu perlu menyerap sifat kelaki-lakian dari kita sebagai ayahnya. Nah, proses ini disebut identifikasi, jadi identifikasi adalah proses memasukkan sifat-sifat, perilaku, pola-pola, tingkah laku atau pikir atau pengungkapan emosi dari ayah kita atau dari orang tua kita ke dalam diri kita. Saya berikan contoh, kalau kita melihat bahwa ayah itu waktu bicara sering kali menggunakan misalnya gerakan-gerakan tangan, tanpa kita sadari kita mulai menyerap perilaku tersebut. Atau kalau ayah kita sedang marah dia cenderung diam, nah anak-anak yang dibesarkan oleh ayah yang seperti itu cenderung juga menyerap sifat-sifat seperti itu. Waktu misalnya ibu marah-marah atau ngomel-ngomel sedikit, ayah juga tidak menanggapi dengan emosionalnya tapi mencoba untuk memberikan penjelasan dan lebih tenang. Nah sifat atau perilaku tersebut akan diserap pula oleh seorang anak pria, jadi hal-hal seperti itulah yang akan diserap oleh seorang anak. Sifat-sifat tersebut akhirnya masuk ke dalam diri si anak dan menjadi bagian dirinya sendiri, itulah yang kita sebut identifikasi. Nah proses ini penting sekali harus diterima oleh seorang anak laki-laki.
GS : Kalau begitu harus direncanakan oleh si ayah itu, ya Pak Paul. Hal-hal apa yang akan ditanamkan di dalam diri anaknya itu, apa tidak perlu direncanakan atau secara alamiah begitu atau bagaimana, Pak Paul?

PG : Saya kira pada dasarnya semua ini akan berjalan dengan alamiah, namun kita juga harus membuat suatu perencanaan untuk hal-hal tertentu. Misalkan kita mau memberikan dia petunjuk dalam mnghadapi hal seperti ini, sebaiknya kita begini.

Kita tidak perlu terlalu menekankan kata-kata seorang pria harus begini, itu bisa kita lontarkan secara natural. Namun yang penting memang secara umum kita menyadari betapa pentingnya kita di dalam anak pria kita, apa yang kita katakan dan apa yang kita kemukakan, karena itu akan diserap oleh dia. Kalau kita kurang banyak berada di rumah dan kalaupun di rumah kita jarang sekali dilihat oleh anak, jarang sekali bergaul dengan anak, yang saya maksud jarang dilihat misalkan kita pulang terus kita makan, kita mandi atau terus kita diam di kamar, nonton televisi atau ke meja komputer melihat pesan-pesan di e-mail kita dan sebagainya sampai malam hari atau melakukan pekerjaan kita di rumah, kita menjadi ayah yang tidak dilihat oleh anak kita. Nah, otomatis yang akan dia lihat orang lain, dalam hal ini bisa jadi sifat mamanya yang akan dia lihat. Jadi sifat-sifat feminin mama yang akhirnya lebih menyerap dalam dirinya atau waktu dia menginjak usia yang lebih besar, dia akan menyerap sifat-sifat yang dia lihat dari orang lain. Di sekolah dari teman-temannya, atau ini yang paling umum yaitu karena dia sering nonton televisi yang dia lihat adalah tokoh-tokoh di dalam televisi tersebut dan itulah yang dia akan serap pula. Jadi yang ingin saya katakan adalah kalau kita jarang dilihat di rumah, anak akan menyerap dari orang lain yang dilihatnya. Kembali lagi pada apa yang saya katakan pada awalnya yaitu masalahnya bukan apakah anak kita akan bertumbuh besar menjadi seorang pria dewasa, tapi pria dewasa seperti apakah nantinya, pria itu akan menjadi seperti apa, nah ini tergantung pada peranan kita.
GS : Di dalam hal menyerap pasti ada yang baik maupun yang buruk dari sifat-sifat kita, tingkah laku kita sebagai pria dewasa juga diserap oleh anak itu, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, misalkan kita pada waktu jengkel mudah sekali untuk bersikap ketus, kita mungkin tidak berteriak-teriak, tidak emosional tapi kita ketus. Lama kelamaan anak-anak akan menyrap dan akan bersikap ketus.

Apapun yang kita lakukan, baik yang buruk ataupun yang baik, memang akan mudah sekali diserap oleh anak kita. Tapi kembali lagi kepada yang tadi Pak Gunawan sudah tekankan, bahwa kita harus terlibat, kita harus hadir, jadi itu kuncinya. Nah, secara otomatis kita sebaiknya tidak memberikan pengaruh yang buruk kepada anak-anak kita, tapi yang paling penting adalah kita harus hadir dalam kehidupannya itu.
GS : Biasanya kehidupan anak sejak bayi itu di pelukan ibunya terus, Pak Paul?

PG : Betul, biasanya anak-anak yang pria pada usia 0 hingga usia mungkin 7-8 tahun cenderung dekat dengan ibunya. Menginjak usia pra remaja anak-anak pria itu lebih bisa dekat dengan ayahnya karena biasanya pada usia menjelang dewasa itu anak-anak mulai bereaksi juga terhadap ibunya karena pada umumnya tidak semua ibu itu cenderung protektif, cenderung banyak memberi instruksi dan kadang-kadang suka diajak berdialog dengan logis misalnya.

Nah adakalanya sifat-sifat yang seperti itu ditolak oleh seorang anak pria remaja atau pra remaja dan dia akan lebih merasa nyaman bicara dengan ayahnya, disinilah ayah itu bisa berperan sangat besar sekali. Jadi persiapan pertama, ya Pak Gunawan seorang ayah itu memang harus hadir dan terlibat dalam kehidupan si anak. Pada masa yang lebih kecil si ayah bisa bermain dengan anak, anak sangat senang bermain dengan ayahnya. Nah, waktu bermain dia bisa melihat juga kejujuran ayahnya, apakah ayahnya itu sportif atau tidak. Sifat-sifat seperti itu yang akan dia contoh, bermain dengan anak dan yang lainnya adalah berkomunikasi, hal-hal kecil seperti bagaimana hari ini, sekolah bagaimana apa yang terjadi dan ini yang menjadi favorit saya di rumah yaitu malam hari sebelum tidur temani anak, berikan waktu setengah sampai satu jam sebelum tidur untuk berbincang-bincang dengan anak-anak kita. Terutama dalam hal ini, kalau kita seorang ayah dengan anak pria kita, ajak dia bicara begini-begitu dan pada waktu dia menginjak usia remaja kita bisa memunculkan percakapan tentang berhubungan dengan teman wanita misalnya. Belum lama ini dalam saat teduh keluarga, saya menceritakan tentang pengalaman waktu masih SMP di mana saya dipermalukan oleh seorang teman wanita. Nah, hal-hal seperti itu yang kita perlu bagikan, kita komunikasikan dengan anak-anak kita, dalam waktu-waktu itulah si anak akhirnya menyerap apa yang ayahku lakukan menghadapi hal seperti itu, apa yang ayahku lakukan sewaktu dia tertekan, apa yang ayahku lakukan sewaktu dia dipermalukan. Nah inilah ilmu-ilmu yang perlu diserap oleh seorang anak laki-laki dari ayahnya.
GS : Memang biasanya kita kaum pria kurang memperhatikan hal-hal seperti itu, ya Pak Paul. Nah, dampaknya kalau anak nanti sudah menyerap hal-hal yang positif dan negatif dan mencontoh ayahnya itu, apakah itu tidak membuat dia kesulitan dalam terjun ke masyarakat nantinya?

PG : Tidak, karena yang dia terima atau serap dari ayahnya itu menjadi bekal, bekal yang dia bawa kalau nanti dia terjun ke masyarakat. Otomatis kalau dia menyerap yang buruk, yang buruk ituakan berbenturan waktu dia bergaul di luar dengan hal-hal yang dituntut oleh orang lain yang baik-baik.

Misalkan dia mudah sekali beremosi, dia keluar dia beremosi pula nah dia akan berbenturan dengan orang lain, jadi sifat atau bekal yang dia terima itu dipaksa untuk berubah. Nah memang tergantung pada dirinya, apakah dia akan bersedia mengubah dirinya atau tidak, tapi dengan kata lain semua yang kita bawa dari rumah memang akan diuji coba dan akan mengalami bentukan-bentukan kalau tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh orang di luar.
(3) GS : Nah, Pak Paul, sesuai dengan perkembangan usia anak itu, hal-hal apa yang mula-mula sekali kita bisa berikan kepada anak laki-laki khususnya?

PG : Yang pertama adalah kita harus mengajar anak kita mengambil keputusan. Saya tekankan bahwa seorang pria sebaiknya menjadi pemula atau menjadi orang yang mengambil inisiatif, itu yang saa coba tekankan pada anak laki-laki saya.

Jangan sampai kita menjadi pria yang pasif, yang hanya menantikan orang untuk mengambilkan keputusan bagi kita. Dorong anak kita untuk mulai mengambil keputusan, otomatis keputusan hanya bisa diambil jikalau ada pilihan. Nah di sini penting bagi ayah untuk tidak mempermalukan atau melecehkan si anak sewaktu misalnya si anak tidak bisa mengambil keputusan. Contoh kita mengajak dia pergi untuk membeli sesuatu kemudian dia bertanya kepada kita mana yang harus saya pilih, ada dua ini sama-sama bagusnya. Nah kita bisa jelaskan proses pengambilan keputusan, kita bisa jelaskan materi, misalnya kita mau membelikan dia baju, materi baju ini lebih bagus daripada yang satunya dan jahitannya lebih bagus juga daripada yang satunya. Harganya lebih mahal tapi kalau bahannya lebih bagus dan jahitannya lebih bagus berarti akan tahan lebih lama. Nah bukan saja lebih enak dipakai tapi akan lebih lama dipakai, nah bagaimana membeli yang ini meskipun sedikit lebih mahal. Yang ingin saya tekankan di sini adalah sekali lagi bukan memberikan jawaban langsung kepada si anak, tapi mengajarkan kepada anak proses pengambilan keputusan itu sendiri, sehingga nanti waktu dia menghadapi situasi yang sama bahkan yang berbeda dia mulai menerapkan metodenya atau rumusannya tadi yang telah kita ajarkan kepadanya. Waktu dia mulai bisa mengambil keputusan karena dia sudah mengerti rumusannya dia akan lebih berani mengambil inisiatif. Kebanyakan anak-anak yang takut mengambil inisiatif sebetulnya takut salah, takut salah sebetulnya takut dihukum karena kesalahannya. Di sini pentingnya seorang ayah berhati-hati dengan celaan, pelecehan, kritikan, "Begini saja tidak bisa, kok kamu begitu", yang penting adalah mengajarkan proses mengambil keputusan yang benar. Sehingga dia mempunyai bekal untuk mengambil keputusan dan lebih berani untuk mengambil inisiatif, karena dia tahu keputusannya itu kemungkinan besar akan benar.
GS : Tapi kadang-kadang kita sebagai orang tua tidak sabar, Pak Paul, menunggu anak mengambil keputusan rasanya lama sekali untuk hal-hal yang sederhana. Bagaimana kita mengutarakan hal-hal seperti itu kepada anak, Pak Paul?

PG : Sudah tentu dalam hal-hal sederhana dan kecil, sekali-sekali tidak apa-apa kita ambilkan keputusan untuk dia, tapi untuk hal-hal yang lain kita berikan dia waktu, kita dengan sengaja megundurkan diri supaya dia bisa maju dan mengambil keputusan.

Nah perlahan-lahan kita juga bisa katakan kepada dia, sebagai pria kita harus belajar untuk mengambil inisiatif karena itu merupakan sikap pria yang baik. Hal seperti itu kita boleh katakan kepada dia secara positif, jangan sampai kita utarakan dengan negatif. Misalnya "kamu pria tidak bisa ambil keputusan seperti ini, memalukan saja kamu ini, pria macam apa kamu nantinya", nah itu diungkapkan dengan negatif, bukan malah membangun, malah meruntuhkan harga dirinya.
GS : Tapi memang kadang-kadang kita ini kesulitan, Pak Paul, dalam hal kita memutuskan sesuatu hal. Misalnya tadi Pak Paul sudah singgung baju, baju yang dipilih menurut hemat kami sebagai orang tua kalau dari mutu kain dan sebagainya bagus, warnanya itu kadang-kadang yang mencolok sekali sehingga akhirnya kita merasa agak kurang pas melihat anak kita seperti itu, lalu bagaimana memberitahukannya?

PG : Saya akan beritahukan pendapat kita sendiri tidak apa-apa ya, jadi saya kira warnanya mencolok sekali, menurut kamu kalau kamu pakai baju ini di sekolah apa kira-kira reaksi teman-teman Misalnya dia berkata tidak apa-apa, memangnya ini umum, teman-teman memakai baju seperti ini tidak apa-apa, ya sudah kalau memang menurut kamu tidak apa-apa silakan.

Jadi adakalanya kita membiarkan anak kita mengambil keputusan yang memang menurut kita kurang pas, tapi selama kita tahu memang bukannya berkaitan dengan dosa dan tidak membahayakan jiwanya, saya kira sekali-sekali biarkan. Dengan cara itulah dia akan lebih berani mengambil inisiatif, karena kalau kita terus memastikan dia mengambil keputusan, justru dia akan mencari tahu apa pendapat kita sebelumnya dia berani mengambil keputusan.
GS : Atau diserahkan kepada kita, "Terserahlah Papa mau belikan yang mana", seperti itu Pak Paul?

PG : Tepat sekali, nah adakalanya kita terjebak dalam masalah itu, Pak Gunawan. Tanpa kita sadari kita malah melumpuhkan daya keberaniannya untuk mengambil keputusan, akhirnya ia tidak bertubuh menjadi anak yang berinisiatif malah menjadi anak yang pasif.

Nah, kita tahu di kalangan pria seperti kita kualitas atau karakteristik pasif itu bukanlah hal yang dianggap baik untuk seorang pria. Jadi saya kira itu tanggung jawab kita sebagai ayah untuk menanamkan dan menumbuhkannya. Sekali lagi saya harus garis bawahi Pak Gunawan, jangan mengajar anak secara negatif, itu yang seringkali kita lakukan, "Kamu ini begini saja tidak bisa, pria macam apa kamu nantinya, harus berinisiatif bikin malu saya saja kamu....", nah akhirnya anak tambah tidak berani berinisiatif, tambah takut berinisiatif.
GS : Atau keputusannya lalu jadi sama terus, maksud saya begini, Pak Paul, kalau kita makan di luar misalnya di restoran. Ditanya kamu mau makan apa, suatu saat dia memilih salah satu menu misalnya nasi goreng. Kita setuju dengan hal itu, lain kali dia memilih suatu menu yang memang mahal, kita katakan jangan ini terlalu mahal, uangnya tidak cukup, dia akhirnya kembali ke nasi goreng lagi. Lain kali kalau ditanyai lagi mau makan apa, langsung dia katakan nasi goreng, dan setiap kali makan nasi goreng, nasi goreng, seolah-olah tidak ada menu yang lain, Pak Paul.

PG : Sekali-sekali kita harus merentangkan anak untuk berani mengambil keputusan yang berbeda. Jadi misalkan dalam contoh tadi kita tidak bisa belikan menu yang dia inginkan, nah kita ingat tu misalnya minggu depannya kita makan dia berkata nasi goreng saja sudah cukup, sudah kita diamkan.

Tapi berikutnya karena kita sudah tahu pola berikutnya waktu dia pesan nasi goreng, kita katakan 2 minggu yang lalu kamu pernah ingin pesan ini, tapi Papa tidak punya uang, sekarang Papa punya uang ayo kita pesan itu, tidak....tidak usah, tidak usah. Tidak apa-apa Papa juga ingin coba sedikit, nah kita dorong dia sehingga akhirnya dia berani merentangkan dirinya, tidak hanya berada di dalam kotak yang aman.
(4) GS : Tapi makin dewasa seorang anak, makin banyak yang dia harus putuskan, ya Pak Paul. Nah itu kadang-kadang membingungkan dia juga. Sebenarnya peranan kita sebagai orang tua sampai sejauh mana, Pak Paul?

PG : Kita memang harus mengikuti anak, kalau kita tidak mengikuti anak, maka kita bisa memberikan dia kebebasan yang keliru dalam hal mengambil keputusan ini. Misalnya kita karena tidak mengkuti perkembangannya, dia mau pergi kita ijinkan saja, dia pergi dengan siapapun kita tidak tahu, nah akhirnya kita bisa menjerumuskan dia ke dalam pergaulan yang salah.

Jadi kuncinya adalah kita harus mengikuti perkembangannya, jadi saya berikan pengibaratan dia melangkah satu langkah ke depan kita pun segera melangkah bersama dengan dia ke depan, sehingga kita bisa mengetahui dia menghadapi keputusan seperti apa sekarang ini. Nah sekali lagi penting sekali ada komunikasi, kalau tidak ada komunikasi kita tidak bisa mengikuti perkembangannya, waktu ada komunikasi kita bisa mulai masuk memberikan dia sinyal-sinyal keputusan apa yang baik karena begini-begini. Anak pada umumnya kalau merasakan kita tidak menghakimi dia, tidak mencela dia, cenderung mau terbuka dengan kita. Satu tindakan orang tua yang paling umum dan yang paling membuat anak tidak mau berbicara pada orang tua adalah celaan, teguran. "Kenapa kamu begini, seharusnya begitu, kamu seharusnya sudah pikirkan itu", nah kata-kata seperti itu memadamkan anak untuk bercerita di kemudian hari kepada kita. Jadi ikuti perkembangan anak sehingga kita bisa memantau keputusan-keputusan yang harus dibuatnya dan sekali lagi yang paling penting kita mengajarkan dia proses pengambilan keputusan itu sendiri. Kenapa harus mengambil keputusan seperti ini, kenapa bukan yang itu, nah kita ceritakan jalan pikiran kita, sehingga itu yang dia serap, yang paling penting. Jangan kita hanyalah memberikan solusi atau jawaban langsung.
(5) GS : Karena memang lebih mudah menjawab langsung itu Pak Paul, daripada membimbing seperti itu, tapi bagaimana dengan tugas-tugas atau pekerjaan seorang anak laki-laki itu, Pak Paul?

PG : Dalam menghadapi tugas, saya kira seorang anak laki-laki diharapkan menjadi anak atau orang yang sigap. Saya kira kualitas atau ciri pria yang lamban bukanlah sifat yang dihormati. Jadidi kalangan pria, sifat atau sigap itu jauh lebih positif.

Nah kita sebagai pria perlu memberikan masukan, didikan kepada anak-anak kita untuk menjadi orang yang sigap. Saya mengakui adakalanya kalau kita sudah sigap, kita orang yang sigap melihat anak kita lamban itu luar biasa menjengkelkan kita, kita meminta sesuatu dilakukan tapi tidak dilakukan, atau kita meminta ini dilakukan dengan segera, dilakukannya dengan sangat santai. Nah, itu benar-benar sangat menjengkelkan kita, ya saya mengakui, Pak Gunawan, kadangkala saya pun tidak sesabar itu, adakalanya yang keluar dari mulut saya adalah kemarahan, menegur anak laki-laki saya, kamu lamban sekali, kamu harus lebih sigap. Seorang pria diharapkan untuk sigap, jangan terlalu lamban, nah kadang-kadang itu keluar dari mulut saya karena saya ingin mendorong dia untuk sigap. Tapi saya kira yang lebih banyak seharusnya bukan celaan tadi, yang lebih banyak seharusnya adalah mendorong dia untuk lebih cepat dengan kata-kata yang positif. Misalnya tolong kerjakan sekarang ya atau ayo kerjakan sama-sama atau dengan nada yang lebih mendorong dia mengerjakannya dengan lebih cepat, ayo harus kerjakan sekarang. Nah itu tanpa disadari akan melatih dia untuk menjadi orang yang lebih sigap, lebih cekatan.
GS : Ya, biasanya anak itu minta contoh dari kita sebagai orang tua, tapi kita merasa terganggu atau merasa lebih enak kalau kita kerjakan sendiri pekerjaan itu.

PG : Untuk hal-hal yang memang harus kita kerjakan sendiri dan lebih cepat silakan kerjakan tidak apa-apa. Yang bisa kita delegasikan dan seharusnyalah kita delegasikan kita harus berikan it kepada dia, jadi anak laki-laki terutama perlu diberikan tanggung jawab, misalnya tanggung jawab meletakkan sepatu di rak sepatu, mengembalikan, membersihkan atau apa, itu hal-hal yang rutin yang harus diberikan.

Jangan karena punya pembantu, kita tidak memintanya melakukan itu. Kita harus mengajarkan selesai makan, taruh piring di dapur, jangan tinggalkan di meja makan. Meskipun ada pembantu yang akan bisa mengambilnya, sebaiknya kita meminta anak membawanya ke dapur. Bukan kita ini menyusahkan atau menyengsarakan anak, tapi kita sedang mendidik dia apa yang harus dilakukannya setelah makan. Jadi untuk hal-hal yang memang kita harus kerjakan dengan cepat ya silakan, tapi kalau memang dia bisa kerjakan biarkan dia kerjakan.
GS : Memang kadang-kadang yang sulit di sini adalah memberikan teladan pada anak itu seperti tadi pengambilan keputusan maupun bekerja dengan sigap Pak Paul, kadang-kadang kita menyadari kekurangan diri kita sendiri sebagai orang tua, saya sendiri tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat, bekerja dengan sigap lalu menuntun anak kita melakukan itu kita tidak berani.

PG : Itu betul sekali dan yang seringkali anak lihat akhirnya bukanlah perkataan kita, tapi perbuatan kita. Saya berikan contoh, beberapa waktu yang lalu anak kami meminta dibelikan celana utuk berolah raga di sekolahnya.

Nah, mula-mula tidak begitu saya perhatikan apakah hari itu dia harus mempunyai celana tersebut. Malam hari sebelumnya dia baru memberitahu kami bahwa besok harus ada celana ini, ya sudah tentu menjengkelkan kami karena malam-malam baru cerita. Tapi memang kami bisa mengerti juga beberapa jam sebelum itu ada temannya datang, jadi dia main dengan temannya sehingga malam hari baru ingat. Nah mula-mula kami katakan sudah pakai yang lain saja, terus saya tanyakan lagi ternyata memang gurunya sudah mengatakan harus dipakai hari esok. Jadi yang saya lakukan adalah meskipun sudah hampir jam 8, maka saya katakan ayo kita pergi, kita beli. Jawabnya, tidak...... tidak usah. Saya katakan tidak, saya mau membelikan karena ini penting buat kamu, saya belikan, waktu saya pulang saya katakan pada dia, tahu tidak kenapa tadi Papa paksa kita beli juga malam ini? Dia bilang tidak. Sebab Papa tidak mau kamu dipermalukan, saya bisa bayangkan besok kalau kamu tidak pakai celana ini dan guru kamu berkata kamu tidak pakai celana ini, tidak boleh ikut olah raga, kamu duduk sendirian di situ, kamu akan merasa dipermalukan dan saya tidak mau kami dipermalukan. Nah sikap seperti itu, saya kira menunjukkan kesigapan juga saya langsung pergi dengan dia. Itu memang perlu kita bagikan kepada anak-anak kita.
GS : Di samping itu Pak Paul, firman Tuhan mengatakan apa dalam hal ini?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 22:6 "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." Inilah yangkita perlu ingat, tanamkan pada anak-anak kita jalan yang benar, sampai tua dia tidak akan menyimpang dari jalan itu.

GS : Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membentuk a boy menjadi a man. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



21. Bagaimana Membentuk A Boy A Man 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T070B (File MP3 T070B)


Abstrak:

Lanjutan dari T70A


Ringkasan:

Seorang anak laki-laki perlu mendapatkan didikan, arahan dari ayahnya sebab apa-apa yang telah diterima dari si ayah itulah yang akan membentuk dia menjadi seorang pria yang diharapkan dan yang memang diharapkan oleh Tuhan.

Peranan seorang ayah pada anak laki-lakinya:
Bahwa anak-anak perlu menyerap sifat kelaki-lakian dari seorang ayah. Proses ini disebut identifikasi yaitu proses memasukkan sifat-sifat perilaku, pola tingkah laku atau pola pikir atau pengungkapan emosi dari ayah ke dalam diri anak. Contoh: ayah kalau bicara menggunakan gerakan-gerakan tangan, tanpa disadari kita mulai menyerap perilaku tersebut. Atau kalau ayah lagi marah cenderung diam, anak-anak cenderung juga menyerap sifat-sifat seperti itu.

Kalau anak tidak mendapatkan dari ayahnya dia akan mendapatkan dari pihak-pihak luar baik itu teman maupun tokoh-tokoh di televisi. Dalam hal ini seorang ayah sangat perlu memberikan waktu terlibat hadir dalam kehidupan si anak, sering bermain, bergaul, berkomunikasi dengan si anak.

Hal yang perlu kita berikan atau hal yang perlu kita ajarkan secara terencana kepada anak laki-laki kita:

  1. Kita mesti mengajar anak mengambil keputusan. Mengajarkan proses mengambil keputusan yang benar. Menekankan bahwa seorang pria sebaiknya menjadi pemula atau menjadi orang yang mengambil inisiatif, jangan menjadi pria yang pasif, yang hanya menantikan orang untuk mengambilkan keputusan.

  2. Di dalam melaksanakan tugas seorang pria diharapkan bersifat sigap bukan malas-malasan atau lamban.

Hal yang lain juga yang perlu kita perhatikan adalah jangan kita mengajarkan hal-hal yang negatif, yaitu dalam bentuk kemarahan-kemarahan, mencela-mencela si anak. Sebab sifat negatif bukannya membangun si anak untuk menjadi seperti yang kita harapkan, seringkali justru menjadi bumerang, menjadi kebalikan dari yang kita harapkan.

Sehubungan dengan sosialisasi anak laki-laki kita dengan lawan jenisnya, kita perlu dan sepatutnya mengajarkan kepada anak laki-laki untuk melindungi wanita, yaitu mempunyai sikap atau persepsi yang tepat terhadap wanita yaitu melindunginya bukan memanfaatkannya.

Sehubungan kalau anak laki-laki kita berhubungan dengan sesamanya atau pria lain, kita perlu sebagai seorang ayah perlu mengajarkan anak laki kita bahwa dia setara dengan pria lain. Adakalanya anak laki-laki itu merasa dia baik, kalau merasa dirinya lebih hebat dia itu superior dari teman prianya atau kalau anak minder dia merasa dia kecil, teman-teman prianya yang lain lebih besar dari padanya. Kita perlu mengajar anak laki kita untuk setara, untuk bersikap sama bahwa dia tidak lebih dan dia tidak kurang dari orang-orang lain. Sebagai seorang ayah perlu memunculkan hal yang spesifik misalnya tentang kebaikan anak, kita mesti tunjukkan sesuatu yang memang dia lakukan dan lumayan baik, sehingga itu menjadi bekal dia menempatkan diri sejajar dengan pria-pria lainnya.

Seorang anak usia remaja sering kali mencoba-mencoba, bereksperimen. Dukungan yang bisa kita berikan sebagai orang tua adalah kita menekankan bahwa keberanian mengambil resiko adalah sifat pria yang baik yang dihormati, justru sifat pria yang takut mengambil resiko itu menjadi sesuatu yang tidak dihargai oleh orang lain. Jadi anak-anak pria perlu mendapatkan dorongan dari ayahnya untuk mengambil resiko meskipun dia itu bisa keliru, bisa dirugikan tapi kita bisa dorong dia kenapa tidak mencoba, otomatis dalam hal yang benar.

Kadang kala anak-anak takut mengambil resiko karena:

  1. Takut gagal
  2. Takut disalahkan

Ketakutan gagal dan ketakutan disalahkan adalah hal yang wajar dan tidak apa-apa tapi kalau berlebihan akan melumpuhkan si anak. Jadi sekali lagi sebagai ayah kita harus berhati-hati jangan terlalu cepat mengevaluasi, mengkritik, mencela, menjatuhkan anak kita, waktu dia mengambil resiko melakukan sesuatu.

Kita perlu mengarahkan anak untuk menjadi pria dewasa yang bisa mengontrol emosinya. Salah satu kualitas pria yang dihargai oleh lingkungan adalah stabil, kestabilan emosi itu adalah suatu ciri pria yang baik. Pria yang emosinya turun naik cenderung mendapatkan kesukaran dan kurang mendapatkan penghargaan dari lingkungannya. Jadi sebagai ayah kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk mempunyai emosi, jangan sampai tidak punya emosi, jadi silakan beremosi, silakan marah, silakan kecewa tapi kita ajarkan dia menyatakan emosi tersebut dengan benar.

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam membimbing anak laki-laki kita menjadi seorang pria dewasa yang baik, yaitu:

  1. Jangan sampai kita terlalu terjebak dalam pembedaan antara feminin, maskulin. Contoh: ada orang tua atau ayah yang berkata anak laki tidak usah cuci piring itu pekerjaan wanita, itu tidak benar. Silakan dia mencuci piring dan tidak ada salahnya anak laki mencuci piring, anak laki tidak boleh menangis itu wanita, tidak apa-apa anak laki menangis, anak laki-laki kadang-kadang perlu menangis.

  2. Jangan menghina anak laki-laki, jadi anak laki-laki itu peka terhadap penghinaan. Misalkan penghinaan menyamakan dia dengan wanita, memanggil dia dengan wanita atau kata-kata banci, anak laki mempunyai satu ketakutan yang total yaitu takut disamakan dengan wanita. Atau misalnya kita tempeleng dia, menunjuk-nunjuk dahinya dengan telunjuk kita di depan temannya itu sangat menghina dia. Anak laki yang merasa terhina, cenderung menyimpan rasa terhinanya dan menjadi dendam kesumat pada dirinya terhadap kita sebagai ayah.

  3. Jangan mengharuskan anak laki kita menyukai hobby kita atau dengan kata lain jangan sampai kita mencoba untuk mencetaknya menjadi jiplakan kita. Misalnya kita sebagai ayah melihat anak kita kok tidak senang sepak bola, kemudian mulailah kita meremehkan dia, nggak mau dekat dengan dia, itu adalah penolakan yang sangat menohok penolakan diri si anak. Dia akan merasa menjadi pria yang tidak lengkap karena ayahnya menolak dia, dan dia akan melihat figur ayahnya adalah figur pria yang lengkap, keren, ayahnya menolak dia seakan-akan dia bukan pria yang lengkap, itu tidak positif dan tidak baik.

Amsal 20:18 , "Sekalipun emas dan permata banyak tetapi yang paling berharga adalah bibir yang berpengetahuan." Pengetahuan itu diidentikkan dengan berhikmat jadi yang kita ingin berikan kepada anak kita adalah yang paling berharga yakni hikmat. Yakni hikmat menjadi seorang pria, menjadi seorang yang takut Tuhan, mengenal Tuhan dan bisa hidup di tengah-tengah lingkungannya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami tentang membentuk a boy menjadi a man yang kami tayangkan beberapa waktu yang lalu. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah membicarakan tentang bagaimana membentuk a boy menjadi a man, tetapi mungkin ada sebagian dari para pendengar kita yang setia pada acara ini justru kurang mengikuti atau belum mengikuti yang lalu, mungkin Pak Paul bisa menjelaskan secara singkat apa yang kita perbincangkan waktu yang lalu itu?

PG : Pada dasarnya seorang anak laki-laki perlu mendapatkan didikan, arahan dari ayahnya sebab yang telah diterima dari si ayah itulah yang akan membentuk dia menjadi seorang pria yang diharpkan.

Kalau tidak mendapatkan dari ayahnya, dia akan mendapatkannya dari pihak-pihak luar, baik itu teman maupun tokoh-tokoh di televisi. Bagaimana caranya ayah mentransfer atau memindahkan kualitas yang diinginkan masuk ke dalam anaknya, tidak ada jalan lain selain daripada memberikan waktu terlibat hadir dalam kehidupan si anak, sering bermain, bergaul, berkomunikasi dengan si anak. Dan secara terencana juga mulai mengajarkan beberapa hal yang memang penting. Nah terakhir kali kita telah membahas sekurang-kurangnya 2 hal yang perlu ayah itu secara terencana ajarkan kepada anaknya. Yang pertama adalah dalam hal pengambilan keputusan, seorang pria diharapkan menjadi seorang pria yang berinisiatif bukan pasif, ini aspek yang perlu ayah berikan atau ajarkan pada anak laki-lakinya. Dan yang kedua adalah seorang pria, diharapkan dalam melaksanakan tugasnya dia bersifat sigap bukan malas-malasan, lamban. Itu merupakan sifat yang perlu ditanamkan oleh seorang ayah kepada anaknya. Kita tekankan juga pada kesempatan yang lalu, jangan sampai kita mengajarkan hal-hal ini dalam hal negatif, yaitu dalam bentuk kemarahan, mencela si anak. Sebab sifat negatif bukannya membangun si anak untuk menjadi seperti yang kita harapkan, seringkali justru menjadi bumerang, menjadi kebalikan dari yang kita harapkan. Karena dia itu bereaksi terhadap kemarahan-kemarahan atau celaan-celaan kita, sehingga yang kita ingin sampaikan tidak lagi diserapnya.
(1) GS : Nah menanggapi tentang tujuan konkret Pak Paul, yang kita sudah bicarakan pada kesempatan yang lalu, pengambilan keputusan dan melaksanakan tugas itu anak juga perlu dipersiapkan bagaimana anak bersosialisasi. Yang bukan hanya berhubungan dengan para pria saja atau laki-laki saja tapi juga ada yang wanita, nah apa yang kita ajarkan kepada anak kita?

PG : Seorang ayah sepatutnya mengajarkan kepada anak laki-lakinya untuk melindungi wanita, jadi ajarkan anak laki-laki untuk mempunyai sikap atau persepsi yang tepat terhadap wanita, yaitu mlindunginya bukan memanfaatkannya.

Adakalanya anak laki-laki terjebak oleh pengaruh-pengaruh luar misalkan di acara-acara tontonan atau apa sehingga melihat bahwa perempuan itu dimanfaatkan dan seringkali itu yang kita bisa saksikan. Misalkan dalam film-film di mana ada seorang penjahat duduk dikelilingi oleh para wanita cantik yang mengelus-elusnya, itu memberikan kesan kepada si anak bahwa pria seharusnyalah bersikap seperti itu. Seperti jagoan di mana wanita itu tunduk dan menyembah-nyembahnya dan hanya untuk dimanfaatkan, untuk kesenangan, itu sikap yang salah, nilai hidup yang keliru. Seorang ayah perlu untuk mengajarkan bahwa tugasnyalah melindungi wanita dari serangan orang, ancaman orang, eksploitasi orang, dan dari pemanfaatan orang lain serta terutama jangan sampai dia menjadi seorang pria yang memanfaatkan wanita. Yang lainnya juga tentang wanita, adakalanya pria menyerap pandangan atau nilai-nilai hidup yang mengajarkannya untuk memang bukan mengeksploitasi atau memanfaatkan tapi meremehkan wanita, melecehkan bahwa wanita itu seolah-olah tolol, tidak bisa apa-apa, terlalu emosional, tidak mandiri, nah itu juga persepsi yang kita harus juga tekankan pada si anak bahwa kau sebagai pria tidak boleh meremehkan, melecehkan atau menghina wanita, kau harus melindunginya. Itu yang Tuhan minta kepada kita di I Petrus bahwa jangan sampai doa kita terhalang kalau kita ini tidak memperlakukan istri kita dengan benar.
GS : Pak Paul, di dalam sikap seperti itu terhadap wanita biasanya anak akan melakukan hal itu, melindungi temannya wanita di sekolah, di pergaulan, atau di gereja. Tapi anehnya atau uniknya saya katakan, terhadap adiknya sendiri yang perempuan misalnya dia enggan melakukan hal itu, apa yang menyebabkannya, Pak Paul?

PG : Saya kira anak-anak itu seperti kita ya, kalau dengan orang luar kita tidak bisa melihat dalam-dalamnya orang, jadi kita cenderung lebih positif dengan orang lain. Kalau dengan orang yag serumah dengan kita, kita melihat begitu banyak tentang orang tersebut sehingga sukar untuk benar-benar mempunyai citra yang positif terhadap orang yang serumah dengan kita.

Jadi anak juga begitu dengan orang luar dia melihatnya lebih baik daripada adiknya di rumah, karena adiknya itu mengganggu dia, membuat dia marah. Orang luar mungkin tidak seperti itu terhadap dia. Yang penting juga adalah anak seperti kita, ingin disukai oleh orang, sehingga dia cenderung melakukan hal-hal yang diharapkan oleh orang lain di luar, sebab dia membutuhkan reaksi yang positif dari orang terhadap dirinya. Sedangkan kepada adiknya dia tidak perlu bersikap terlalu baik, karena dia tidak membutuhkan penerimaan adiknya atau disukai oleh adiknya, sehingga sifat dasarnya lebih mudah ke luar. Yang kita bisa lakukan adalah kita mulai menumbuhkan rasa belas kasihan kepadanya, misalnya anak laki-laki kita dalam pertengkaran dengan si adik atau menghukum dia karena memukul kakak atau adik wanitanya. Tapi kita mengajak dia merefleksikan tindakannya bahwa adiknya atau kakaknya yang wanita itu sakit akibat pukulannya dan dia adalah seorang pria yang mempunyai tenaga yang jauh lebih besar daripada adik wanitanya itu. Dan pukulan yang menyakitkan itu akan membuat orang sedih dan juga kesakitan, nah anak laki-laki perlu menyadari hal itu. Waktu dia menyadari dampak perilakunya itu, pukulannya pada adiknya bahwa itu menyakitkan dan membuat adiknya menangis, belas kasihan yang mulai muncul akan dapat bertahan, menahan dia untuk tidak memukul adiknya lagi pada kesempatan yang lain, karena dia sadar itu akan sangat menyusahkan adiknya.
GS : Karena kelihatannya tidak pas, Pak Paul, orang lain dia lindungi, dia bantu tapi keluarga sendiri tidak. Apakah hal itu akan malah merenggangkan hubungan antara kakak adik itu, Pak Paul?

PG : Saya kira ya dan tidak. Ya dalam pengertian adiknya mungkin marah si kakak membela orang, tidak membelanya, tapi saya kira itu dinamika kehidupan bersaudara yang nanti akan bisa dihilankan atau hilang dengan sendirinya.

Sehingga hal-hal yang positif yang lebih banyak akan mendominasi hubungan mereka sebagai kakak adik.
(2) GS : Sekarang bagaimana halnya kalau anak laki-laki ini berhubungan dengan pria lain begitu?

PG : Kita sebagai ayah perlu mengajarkan anak laki kita bahwa dia setara dengan pria lain. Adakalanya anak laki-laki itu merasa dia baik. Kalau merasa dirinya lebih hebat, dia itu superior dri teman prianya atau kalau anak minder dia merasa dia kecil, teman-teman prianya yang lain lebih besar daripadanya.

Kita perlu mengajar anak laki kita untuk setara, bersikap sama bahwa dia tidak lebih dan dia tidak kurang dari orang lain. Dua-duanya bisa salah, dua-duanya bisa menjerumuskan anak kita ke dalam masalah yang lebih besar. Anak laki-laki yang menganggap dirinya hebat bisa merasa paling kuat dan sebagainya, itu akan mempunyai masalah dengan teman-temannya. Jadi kita perlu tekankan kalau kita mulai melihat sifat tersebut pada anak kita, bahwa itu bukan sikap yang baik, kita harus menghormati orang lain, bahwa mereka itu bukanlah orang yang harus kita lecehkan, misalnya pria ini tidak bisa ini, tidak bisa itu. Nah sebaliknya dia merasa dia tidak bisa apa-apa, teman-temannya lebih hebat daripadanya. Kita harus katakan tidak ada ini dalam dirimu, tidak ada itu dari dirimu, sehingga dia mulai membangun percaya diri dia bisa sesuatu. Waktu dia mengetahui dia bisa sesuatu, mulailah menempatkan dirinya setara dengan orang lain. Jadi kita sebagai ayah perlu memunculkan hal yang spesifik tersebut, jangan hanya berkata wah... engkau punya kelebihan, anak kita akan bertanya: "apa kelebihannya?" Ya tidak tahu pokoknya ada kelebihan, setiap orang itu ada kelebihannya nah itu tidak bisa, kita harus tunjukkan sesuatu yang memang dia lakukan dan lumayan baik, sehingga itu menjadi bekal dia menempatkan diri sejajar dengan pria-pria lainnya.
GS : Tapi juga ada kemungkinan dia merasa lebih tinggi, tadi yang Pak Paul utarakan, dia merasa rendah diri dan sebagainya. Ada yang terlalu yakin dengan dirinya, kalau Pak Paul katakan harus setara bukankah itu pun harus diredam?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi sebagaimana saya singgung tadi adakalanya anak justru menempatkan dirinya berlebihan di atas anak-anak lainnya, terutama anak-anak pria lainnya. Dan mungkin sekai dia mempunyai kelebihan tersebut misalnya wajahnya tampan sehingga dari kecil guru-guru selalu memuji ketampanannya atau orangnya pandai sehingga dari kecil dia menerima pujian dari kecemerlangan pikirannya.

Nah kita harus lebih tekankan bahwa wajahmu, kepandaianmu itu anugerah Tuhan. Entah mengapa Tuhan memilih memberikannya kepadamu bukan kepada anak lain, tapi engkau tidak pernah mendapatkannya karena engkau itu bekerja keras, tidak. Wajahmu memang sudah Tuhan berikan seperti itu, kepandaianmu memang Tuhan sudah berikan seperti itu, itu bukan karena pada waktu dalam kandunganku engkau sudah belajar melebihi anak-anak lain. Jadi kita terus tekankan hal seperti itu dan kalau dia bersifat atau memunculkan sifat sombong, melecehkan pria lain kita tegur dia. Jadi di sini orang tua terutama ayah harus bersikap lebih proaktif, kita marahi, kita tegur tidak boleh kamu melecehkan anak lain. Apalagi misalnya anak yang lemah yang memang tidak bisa apa-apa atau anak yang kurang berada. Nah kita harus tekankan kau jangan melecehkan mereka. Kau harus menghormati mereka, itu hal-hal yang seorang ayah bisa lakukan untuk anak prianya.
GS : Ada juga ini Pak Paul, anak-anak seusia mereka itu seringkali mencoba-coba bereksperimen. Apa dukungan orang tua dalam hal itu atau apa dukungan orang tua khususnya ayah terhadap anak laki-lakinya?

PG : Saya kira keberanian mengambil resiko adalah sifat pria yang baik dan dihormati, justru sifat pria yang takut mengambil resiko itu menjadi sesuatu yang tidak dihargai oleh orang lain. Jdi anak-anak pria perlu mendapatkan dorongan dari ayahnya untuk mengambil resiko meskipun dia itu bisa keliru, bisa dirugikan tapi kita bisa mendorong dia untuk mencoba.

Otomatis mencoba dalam hal yang benar, bukan mencoba memakai obat dan sebagainya. Kadangkala seperti yang kita telah bahas pada kesempatan yang lalu, anak-anak takut mengambil resiko karena takut gagal atau yang kedua seperti yang kita bahas takut disalahkan. Nah, ketakutan gagal dan ketakutan disalahkan adalah hal yang wajar dan tidak apa-apa, tapi kalau berlebihan akan melumpuhkan si anak. Jadi sekali lagi sebagai ayah kita harus berhati-hati jangan terlalu cepat mengevaluasi, mengkritik, mencela, menjatuhkan anak kita, waktu dia mengambil resiko melakukan sesuatu. Jadi biarkan dia mengambil resiko itu, misalnya orang Jakarta ke dunia fantasi melihat roller coaster, kita di situ merasa takut untuk naik, anak kita berkata Pa... saya ingin coba, biarkan anak kita mencobanya kalau memang usianya memadai. Jangan kita tergesa-gesa berkata, jangan nanti kamu jatuh atau apa, jadi kita ini mentransfer ketakutan kita padanya sehingga dia takut mengambil resiko. Biarkan dia mencoba kalau dia berkata mau mencoba, silakan tidak apa-apa. Sebagai contoh yang lain adalah kami, kita-kita yang tinggal di Malang mungkin lebih beruntung daripada yang tinggal di kota besar. Anak saya kadang-kadang berkata bolehkah saya pergi ke sini, boleh tidak saya pergi ke sana, mula-mula terus terang saya agak takut, nah yang saya lakukan adalah saya meminta dia pergi dengan temannya yang sudah tahu bagaimana menggunakan angkutan umum. Nah dia pergi sekali dia sudah mengetahuinya, lain kali saya akan ijinkan dia, tapi kadang-kadang dia berkata boleh tidak saya naik sepeda ke sana, agak takut dalam hati saya tapi saya kira-kira tahu dia akan bisa, saya biarkan. Saya berkata silakan, nah hal-hal seperti itu mendorong si anak untuk mengambil resiko mengunjungi tempat yang dia belum pernah kunjungi, berjalan lebih jauh daripada biasanya, naik kendaraan umum yang dia belum pernah naiki sebelumnya, hal-hal seperti itu menjadi modal baginya untuk menumbuhkan sikap yang berani mengambil resiko.
GS : Tetapi sebagai orang tua biasanya kita memberitahukan resiko-resiko apa, karena kita sudah tahu terlebih dahulu, misalnya tadi bawa sepeda. Sudah sejak awal kita mengingatkan supaya sepedanya dikunci, supaya jalan di sebelah kiri, dll. Pak Paul, apakah hal itu tidak membuat anak lalu merasa dirinya digurui oleh kita?

PG : Kalau kita lakukan pada usia yang kecil seharusnya tidak, anak-anak cenderung merasa lebih sering digurui pada masa usia remaja. Jadi biarkan anak-anak yang masih kecil menerima instruki kita.

Contoh tentang naik sepeda, saya mengajak anak saya naik sepeda beberapa tahun yang lalu, nah saya tidak membiarkan dia naik sepeda sendirian di jalanan, jadi mula-mula saya naik sepeda di depan dia, dia di belakang saya dan kalau ada mobil atau apa saya beritahu dia, di perempatan saya minta dia berhenti. Jadi saya ajak dia, saya ajarkan dulu selama berkali-kali baru saya merasa aman dan saya biarkan dia pergi sendiri. Jadi orang tua juga perlu untuk menimbang-nimbang berapa besar resiko yang bisa dihadapi oleh si anak, jangan sampai juga kita menghalangi si anak.
(3) GS : Biasanya melalui pengalaman-pengalaman itu emosi anak itu bertumbuh Pak Paul, ya senang, susah, marah dan sebagainya. Bagaimana kita mengarahkan supaya nanti dia bisa menjadi pria dewasa yang bisa mengontrol emosinya?

PG : Saya kira salah satu kualitas pria yang dihargai oleh lingkungan adalah stabil, kestabilan emosi itu adalah suatu ciri pria yang baik. Pria yang emosinya turun naik itu cenderung mendaptkan kesukaran dan kurang mendapatkan penghargaan dari lingkungannya.

Jadi kita sebagai ayah, kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk mempunyai emosi, jangan sampai tidak punya emosi, jadi silakan beremosi, silakan marah, silahkan kecewa, itu jangan dipupus tapi kita ajarkan dia untuk menyatakan emosi tersebut dengan benar. Contoh bukan saja kemarahan yang diluap-luapkan, tapi adakalanya kemarahan yang disimpan, dipendam sehingga menjadi seperti bom waktu. Adakalanya kita lihat pada diri anak kita, dia marah dia tidak suka sesuatu tapi dia simpan wajahnya seperti batu, tidak mau diajak bicara. Nah kita bisa ajak dia bicara, kita bisa ajak dia berkomunikasi. Kita tegur dia, kita katakan sikap seperti ini tidak baik kalau engkau marah, engkau simpan wajahmu seperti ini, engkau mendiamkan orang itu bukan sikap pria yang baik. Silakan lontarkan kata-kata seperti itu, sehingga anak tahu dia perlu belajar mengekspresikan emosinya dengan lebih benar. Sudah tentu kita ajarkan dia untuk mengekspresikan emosi dengan kata-kata tapi bukan dengan tindakan fisik memukul. Hal-hal yang kasar seperti itu justru yang kita harus tekankan supaya tidak dilakukannya. Kadangkala anak-anak dipengaruhi oleh tayangan atau tontonan di luar atau mungkin pengaruh dari teman-teman marah langsung pukul, nah hal yang seperti itu harus kita menegurnya. Namun kita sendiri sebagai seorang ayah jangan memberi contoh yang sama, sedikit-sedikit kita pukul dia, ya dia akan mengikuti kita.
GS : Pak Paul, di dalam memberikan bimbingan terhadap anak karena kita punya kerinduan membimbing seorang anak laki-laki menjadi pria dewasa yang baik, hal-hal apa lagi yang perlu kita perhatikan?

PG : Ada 3 hal, Pak Gunawan, yang kita harus waspadai. Yang pertama adalah jangan sampai kita terlalu terjebak dalam pembedaan antara feminin, maskulin. Misalnya ada orang tua atau ayah yangberkata anak laki tidak perlu cuci piring karena itu pekerjaan wanita, saya kira itu tidak benar.

Silakan dia mencuci piring dan tidak ada salahnya anak laki mencuci piring. Anak laki tidak boleh menangis, itu seperti wanita, tidak apa-apa anak laki-laki menangis, anak laki-laki kadang-kadang perlu menangis, anak laki yang terus-menerus menangis itu menandakan emosi yang tidak stabil. Tapi sekali-sekali menangis karena kesedihan silakan atau misalnya kalau anak laki itu diajarkan hanyalah pasang lampu itu baru sifat pria, kalau menyapu itu bukan sifat pria, jangan. Jangan sampai kita terjebak dalam pembedaan feminin maskulin yang tidak ada dasarnya.
GS : Atau mengatai dia seperti perempuan saja.

PG : Nah itu kadang-kadang bisa keluar, betul Pak Gunawan, dalam kejengkelan. Itu juga tidak tepat Pak Gunawan, karena perkataan kamu seperti wanita itu sekali lagi tidak membangun, malah leih meruntuhkan dia dan yang cenderung terjadi dia tidak menyerap sikap yang kita inginkan malahan dia akan bereaksi, memberontak terhadap kita, melakukan yang kebalikannya.

Karena dia bereaksi terhadap kemarahan kita atau pelecehan kita tersebut.
GS : Tadi Pak Paul katakan ada 3 yang kedua apa, Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah tadi sudah saya singgung sedikit yakni jangan menghina anak laki-laki, jadi anak laki-laki itu peka terhadap penghinaan. Misalnya yang tadi ya penghinaan menyamakan di dengan wanita, memanggil dia dengan wanita atau kata-kata banci, anak laki mempunyai satu ketakutan total yaitu takut disamakan dengan wanita, takut sekali anak pria.

Jadi jangan lontarkan kata-kata seperti itu atau misalnya kita di luar marah terhadap anak laki kita, kita tempeleng dia, itu sangat menghina anak atau kita menunjuk-nunjuk dahinya dengan telunjuk kita di depan temannya, itu sangat menghina dia. Atau kita memarahi dia semau kita di depan temannya apalagi di depan teman wanitanya, itu sangat menghina dia. Anak laki merasa terhina, yang merasa terhina cenderung menyimpan rasa terhinanya itu dan yang sering terjadi menjadi dendam kesumat pada dirinya terhadap kita sebagai ayah. Jadi berhati-hati dengan kata atau tindakan-tindakan yang menghina harga dirinya, kita sebagai pria mengerti bahwa kita peka dengan harga diri kita, kita peka dengan penghinaan, kita mungkin tidak berkeberatan lelah bekerja, berkeringat pulang sampai sore atau malam tapi jangan dihina. Pria seperti kita tidak mau dihina, anak laki pun tidak mau dihina.
GS : Tapi sering kali kita sebagai orang dewasa berdalih, begitu saja kamu tersinggung, jangan cepat tersinggung. Pernyataan seperti itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Kita harus menimbang apakah sewajarnya anak kita tersinggung kalau sewajarnya dia tersinggung ya kita perlu minta maaf. Kalau memang tidak sewajarnya karena sungguh-sungguh terlalu keci ya kita ajarkan dia, kamu tidak sepatutnya kamu bereaksi seperti itu karena itu tidak terlalu menyinggung kamu.

Ya kita bisa ajarkan dia juga.
GS : Sedang hal yang ketiga, Pak Paul?

PG : Yang ketiga ini, jangan mengharuskan anak laki kita menyukai hobby kita atau dengan kata lain jangan sampai kita mencoba untuk mencetaknya menjadi jiplakan kita. Ada anak-anak laki yangsenang membaca buku, tidak begitu senang untuk berpetualang, sepak bola begitu.

Jangan kita sebagai pria merasakan anak laki kita tidak seperti kita senang main sepak bola dan kita mulailah meremehkan dia, tidak mau dekat dengan dia, itu penolakan yang sangat menohok diri si anak. Dia akan merasa tidak menjadi pria yang lengkap karena ayahnya menolak dia, dan dia akan melihat figur ayahnya adalah figur pria yang lengkap karena ayahnya menolak dia seakan-akan dia bukan pria yang lengkap, nah itu tidak positif, tidak baik. Saya ingat ada suatu cerita tentang seorang pendeta di Amerika Serikat yang dari kecil sering diremehkan oleh ayahnya yang senang dengan permainan sepak bola tapi dia sendiri tidak senang, dia senang membaca buku. Nah selalu dia itu dipermalukan tapi sampai titik terakhir sebelum ayahnya meninggal dunia di rumah sakit si anak yang sudah menjadi pendeta tersebut mengunjungi si ayah. Dan si ayah memanggil seorang suster dan berkata: "Ini anakku dia seorang pendeta," dengan bangga dia mengatakannya. Nah si anak itu bercerita atau memberikan kesaksian ya pertama kali dalam hidupnya dia merasakan ayahnya bangga kepada dia. Jadi seorang ayah berperan besar terhadap anak prianya meskipun anak pria seolah-olah tidak begitu membutuhkan kita, tapi sebetulnya sangat membutuhkan kita dan dia akan senang kalau kita bangga dengan dia sebagai anak laki-laki kita.
GS : Tentunya kita sebagai ayah, sebagai orang tua itu menghendaki anak-anak kita, anak laki-laki kita khususnya tumbuh berkembang menjadi pria dewasa yang bisa berguna dan bisa mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Nah dalam hal ini Pak Paul, firman Tuhan mengatakan apa?

PG : Saya ambil dari Amsal 20:18 , "Sekalipun ada emas dan permata banyak tetapi yang paling berharga adalah bibir yang berpengetahuan." Pengetahuan ini diidentikkan dengan berhimat jadi yang kita ingin berikan kepada anak kita, sekali lagi bukannya emas, bukannya permata yang ingin kita berikan kepada anak kita.

Yang paling berharga yakni hikmat. Dalam hal ini hikmat menjadi seorang pria, menjadi seorang yang takut Tuhan, mengenal Tuhan dan bisa hidup di tengah-tengah lingkungannya.

GS : Saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan hikmat kepada kita khususnya para pendengar yang juga sungguh rindu untuk membimbing anak-anaknya agar menjadi pria dewasa yang baik. Nah saudara-saudara pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan kami tentang bagaimana membentuk a boy menjadi a man. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



22. Bagaimana Membentuk A Girl A Women 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T071A (File MP3 T071A)


Abstrak:

Seorang perempuan sangat perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang wanita yang dewasa, dan dalam hal ini ibu sangat berperan, sang ayah pun sangat diperlukan di dalam ikut membentuk anak perempuannya karena ayah sudah terlebih dahulu mengenal wanita-wanita yang sudah dewasa. Sehingga dia dapat memberitahu bagaimana seorang pria berpikir, seorang pria mengungkapkan diri, perasaan dan sebagainya.


Ringkasan:

Membesarkan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal-hal yang prinsiple memang tidak ada beda tapi dalam hal-hal yang menyangkut budaya dan keadaan sosial akan ada perbedaan. Bagi orang tua yang membesarkan anak perempuan cenderung memiliki ketakutan yang lebih spesifik. Pada anak laki-laki, mungkin orang tua mempunyai ketakutan tertentu misalnya kalau anak itu jadi nakal, tidak sekolah, memakai obat terlarang atau pada masa kecil kita takut misalnya anak kita mendapatkan kecelakaan. Tapi khusus untuk anak-anak perempuan, orang tua rupanya mempunyai ketakutan yang lebih spesifik yaitu jangan sampai anak perempuan kita ini menderita kerugian-kerugian, ada yang melukai atau merugikan dia.

Apa yang harus dilakukan orangtua untuk memantau anak:

  1. Kita melihat dengan siapa dia pergi atau ke rumah siapa dia bermain. Jadi yang kita ingin tahu dengan siapanya, apa yang dia lakukan itu kita perlu ketahui secara garis besar. Jangan sampai sebagai orang tua melewati garis yaitu terlalu mau tahu dan bertanya-tanya ngomongin apa, bicara apa dsb.

  2. Kita ingin memantau atau memonitor teman-temannya dengan cara lebih banyak berbicara tentang karakter teman. Siapakah teman yang baik, siapakah orang yang baik sebab ada perbedaan antara teman yang baik dengan orang yang baik. Teman yang baik belum tentu orang yang baik karena teman yang baik bisa saja sama-sama rusaknya dengan kita. Kita perlu tegaskan orang yang baik adalah orang yang mencintai Tuhan, takut akan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menjerumuskan teman-temannya dalam hal yang jahat atau yang salah.

Seorang anak perempuan itu memang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang wanita. Yang paling tepat untuk mempersiapkannya adalah:

  1. Nomor 1 ibunya sendiri, karena ibu sudah menjadi seorang wanita.

  2. Nomor 2 ayahnya, sebab seorang ayah adalah seorang anak laki-laki yang telah mengenal wanita-wanita yang sudah dewasa, sehingga dia pun bisa memberitahukan si anak bagaimanakah seorang pria berpikir, bagaimana seorang pria mengungkapkan dirinya atau perasaannya atau kebutuhannya. Dengan kata lain masukan-masukan dari si ayah ini akan menolong si anak wanita mengerti tentang pria sehingga waktu dia sudah mulai besar dia tidak akan terlalu asing bergaul dengan pria.

Amsal 3:1-4 , "Hai anak-Ku, janganlah engkau melupakan ajaran-Ku dan biarlah hatimu memelihara perintah-Ku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu."

Ada dua hal yang bisa ditinggalkan oleh orangtua pada anak di sini yaitu kasih dan setia, jadi itu mungkin juga yang bisa kita tinggalkan kepada anak-anak wanita kita, apapun yang terjadi kita perlu mempunyai kasih dan setia di dalam hidup ini. Karena mengasihi orang dan setia adalah dua karakteristik yang kekal yang pasti akan bisa menjembatani hubungan dia dengan siapapun.

Prinsip yang diberikan kepada anak-anak wanita dalam bergaul dengan teman-teman prianya: adalah sebaiknya tidak pacaran terlalu dini, karena itu akan membuka peluang kontak seksual yang lebih pagi, terlalu prematur.

Wanita perlu diajarkan untuk mandiri secara emosional karena:

  1. Sebab ada kecenderungan kalau seorang wanita terlalu bergantung itu bukannya menjadi daya tarik baginya, justru itu menjadi kelemahan baginya. Kelemahan dalam pengertian pria sebetulnya menghargai wanita yang mandiri, justru wanita yang terlalu bergantung pada akhirnya kurang dihormati oleh pria.

  2. Sebab dia membuka peluang untuk dimanfaatkan, tatkala seorang pria melihat dia adalah wanita yang begitu membutuhkan pria. Jadi mudah sekali dimasuki oleh pria yang bermaksud buruk dan akhirnya memanfaatkan. Jadi saya kira sejak kecil atau sejak usia remaja penting bagi seorang ibu dan ayah menanamkan konsep ini kepada mereka. Engkau seorang yang lengkap, engkau memerlukan pria sama seperti pria memerlukan engkau, tapi engkau tetap adalah seorang yang matang dan lengkap, meskipun kalau misalnya nanti engkau sendirian tanpa pria.

Wanita cenderung memiliki rasa bersalah yang lebih besar dari pada pria, hal ini disebabkan:

  1. Dipengaruhi oleh emosi.

  2. Sejak kecil anak wanita sudah dididik untuk lebih bertanggung jawab. Kita orang tua cenderung membolehkan anak pria tidak terlalu bertanggung jawab, terutama dalam hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan rumah. Sedangkan anak wanita lebih dituntut untuk bertanggung jawab akan pekerjaan rumahnya.

Amsal 3:11,12 , "Hai anak-Ku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan perintahnya atau peringatannya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi."

Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah memberikan teladan kepada anak-anaknya. Dan saya kira teladan, berbicara jauh lebih banyak dari pada perkataan atau instruksi-instruksi. Jadi bagaimana orangtua hidup, bagaimana dia memperlakukan satu sama lain dan juga orang-orang di luar, bagaimana dia melakukan tanggung jawab di rumah dan juga di luar, itu semua merupakan didikan atau ajaran yang akan diserap oleh anak-anak kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Kali ini kami juga didampingi oleh seorang Amerika Ibu Collins Martin istri dari seorang hamba Tuhan yang melayani di kota Malang ini. Kami akan berbincang-bincang "Membentuk A Girl menjadi A Woman". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita berbincang-bincang tentang bagaimana membentuk a boy menjadi a man. Nah sekarang pada kesempatan ini bersama-sama ibu Collins Martin kita akan mencoba memperbincangkan tentang bagaimana membentuk a girl menjadi a woman. Sebenarnya menurut Pak Paul apakah ada perbedaan yang hakiki di sana?

PG : Saya kira dalam hal-hal yang prinsiple memang tidak ada beda tapi dalam hal-hal yang menyangkut budaya dan keadaan sosial saya kira akan jelas sekali ada perbedaan antara membesarkan ank yang laki-laki dan anak perempuan.

Nah untuk itulah kita merasa keperluan untuk mengundang Ibu Collins Martin untuk memberikan masukan-masukan karena beliau adalah seorang ibu yang mempunyai anak remaja yang juga wanita.
GS : Ya, Ibu Collins saya dengar tadi ada dua anak pria dan satu anak wanita. Pengalaman Ibu membesarkan anak wanita Ibu, apa yang Ibu alami selama ini?
CM : Mengenai membesarkan anak wanita.
GS : Jadi sejak a girl ya, sekarang putrinya sudah berusia berapa Bu?
CM : Baru 15 tahun.
GS : Ya tentu selama 15 tahun ada pengalaman yang spesifik yang bisa dibagikan.
CM : Ya ada yang menarik karena memang laki-laki lain daripada perempuan dan anak perempuan berbeda daripada saya juga. Jadi untuk membesarkan dia saya harus belajar apa yang cocok untuk dia.

(2) PG : Kalau boleh saya tanya Ibu Collins, menurut Ibu apakah pada dewasa ini para ibu rumah tangga mempunyai ketakutan-ketakutan tertentu dalam membesarkan anak-anak wanitanya?

CM : Memang untuk wanita kita harus menjaga mereka dengan lebih baik karena ada yang mau ambil kesempatan. Dan waktu dia masih kecil saya berdoa supaya Tuhan melindungi dia supaya waktu dia menjadi lebih besar Tuhan melindungi dia. Tapi sekarang saya tidak takut, saya tahu Tuhan menolong dia dan waktu dia kecil saya melihat dia waktu tidur, dan saya tidak tahu mungkin ada ketakutan meninggal dunia atau ada sesuatu, saya harus belajar percaya kepada Tuhan.

PG : Jadi ada ketakutan yang spesifik Ibu Collins, kalau orang tua mempunyai ketakutan tertentu terhadap anak lakinya misalnya kalau anak itu menjadi nakal, tidak sekolah misalnya memakai obt terlarang atau pada masa lebih kecil kita takut anak kita misalnya mendapatkan kecelakaan.

Tapi khusus untuk anak-anak perempuan orang tua rupanya mempunyai ketakutan yang lebih spesifik yaitu jangan sampai anak perempuan kita ini menderita kerugian-kerugian, ada yang melukai atau merugikan dia.
CM : Sebetulnya kami tidak mempunyai banyak ketakutan waktu dia kecil, tapi sekarang sejak dia menjadi remaja lebih banyak ketakutan. Dan memang tergantung kalau tinggal di kota harus menjaga dia dan kami membuat peraturan waktu dia menjadi remaja, mengenai laki-laki saya sedikit lebih cepat tapi selain itu kami tidak mempunyai ketakutan yang terlalu.
IR : Apakah Ibu Collins juga mempunyai tuntutan untuk anak perempuannya di dalam pergaulan, dia harus bergaul dengan siapa?
CM : Memang ada, kami tidak sering menyuruhnya, tapi kami mencoba membimbing waktu mereka kecil tidak boleh ini, harus ini, makin besar mereka makin dilepaskan. Tetapi tetap membimbing dan bertanya banyak hal itu yang kami coba lakukan dengan memakai open comunication, komunikasi yang terbuka. Supaya kami mengetahui apa yang mereka perlukan. Dan kalau kami terbuka kepada mereka, mereka lebih terbuka kepada kami. Kalau saya melihat dia dengan orang yang mungkin tidak cocok atau mungkin orang yang mau menyakiti dia, kami berbicara tentang itu. Dan mungkin cukup sekarang.
GS : Saya pernah mengalami ketakutan sedikit Pak Paul terhadap anak perempuan saya yang mungkin bagi sebagian orang agak tidak wajar yaitu ketika dia mulai memasuki masa remaja, tetapi masa haidnya itu agak terlambat Pak Paul, teman-teman seusia dia sudah mengalami masa haid dan dia belum. Itu timbul suatu ketakutan atau kekhawatiran tersendiri, itu masih wajar atau tidak Pak Paul?

PG : Saya kira wajar, sebab kita ini tidak mau anak kita terlalu berbeda dari anak-anak lain. Tapi sebetulnya Pak Gunawan dari segi psikologis seorang anak perempuan yang sedikit terlambat brkembang dalam hal ini misalnya haidnya terlambat dan dapat juga disimpulkan jika haidnya terlambat pembentukan tubuhnya tidak secepat anak-anak yang lainnya.

Itu sebetulnya merupakan keuntungan bagi anak-anak wanita sebab anak-anak wanita yang bertumbuh lebih dini alias matang lebih cepat sering kali mengalami tekanan-tekanan psikologis yang lebih banyak. Misalnya karena tubuhnya terbentuk dengan lebih cepat dia menjadi sorotan teman para prianya, dia menjadi bahan ejekan, bahan guyonan dan sudah tentu tubuhnya itu akan menjadi juga sasaran untuk dilihat oleh para teman prianya pada usia yang lebih muda itu. Itu sebabnya anak-anak wanita yang matang lebih cepat mempunyai tingkat kerawanan yang lebih tinggi untuk terlibat dalam hal-hal yang negatif. Karena apa, karena dia merasa ditolak oleh teman-teman usia sebayanya yang pria karena menjadi bahan ejekan, di kalangan teman wanita pun dia merasa dirinya berbeda karena teman-teman wanita yang lain belum berkembang seperti dia. Akibatnya dia mencari teman yang lebih tua darinya nah kalau kebetulan teman-teman wanitanya yang lebih tua itu tidak terlalu baik dia juga akan terbawa arus oleh mereka. Jadi justru anak wanita yang berkembangnya sedikit terlambat itu adalah faktor keuntungan baginya bukan kerugian.
GS : Kekhawatiran yang lain yang pernah saya alami adalah ketika dia mulai bergeser, tadinya dia dekat dengan saya tetapi pada usia remaja dia agak menjauh, menjauh dan makin dekat kepada ibunya, apakah gejala itu umum Pak Paul?

PG : Saya kira semua remaja pada umumnya akan menjauh dari orang tua karena apa, karena pada saat-saat itu mereka mulai membentuk diri mereka yang terpisah dari orang tua. Jadi akan ada kebuuhan untuk lebih privat, untuk lebih tersendiri tidak lagi terlalu suka menceritakan banyak kepada orang tua atau memberikan kesempatan kepada orang tua untuk tahu tentang dirinya.

Jadi kadang kala anak remaja itu tidak terlalu mau menceritakan banyak kepada orang tuanya bukan karena tidak percaya kepada orang tua, bukan karena tidak sayang kepada orang tua, tapi hendak menutup pintu jangan sampai orang tua terlalu tahu tentang diri mereka. Sebab kebutuhan untuk merahasiakan makin membesar seperti itu.
(3) IR : Bagaimana tindakan orang tua di dalam memantau anak perempuannya?

PG : Apakah kira-kira yang bisa dilakukan Ibu Collins, sebagai orang tua untuk memonitor anak, jangan sampai dia bergaul dengan teman-teman yang keliru ya.

CM : Itu sangat penting, saya baru membaca salah satu artikel di majalah mengenai seorang anak yang dibunuh di Amerika dan dia salah satu yang ditanya apakah kamu orang Kristen dia bilang ya. Tapi cerita latar belakang dia menarik dan ibunya katakan dulu mereka tidak terlalu mengecek dia bergaul dengan siapa, lalu dia sadar dia harus lebih tahu, dia harus tahu mengenai itu, karena kalau tidak tahu anak akan bergaul dengan yang menyakiti mereka.

PG : Jadi penting sekali untuk memonitor dengan siapa anak-anak kita bergaul.

CM : Dan baik juga kalau kita ada hubungan cukup baik dengan anak-anak, undang mereka mendorong anak-anak untuk mengundang teman ke rumah dan jangan terlalu tegas pada anak lain yang mungkin mereka datang karena tidak rapi atau sesuatu, tapi kenali anak itu supaya kita tahu dengan siapa mereka bergaul.
(4) GS : Tadi yang kami dengar dari Pak Paul memang itu faktanya, anak-anak mulai menjauhkan dirinya dari orang tua itu satu sisi. Sisi yang lain tadi kita mendengar bahwa kita harus memonitor mereka, nah itu sejauh mana kita bisa lakukan sebagai orang tua Pak Paul?

PG : Saya kira memonitornya dari dua cara, cara pertama adalah kita melihat dengan siapa dia pergi atau ke rumah siapa dia bermain. Jadi kita ingin tahu dengan siapanya, apa yang dia lakukanitu kita perlu ketahui secara garis besar, nah jangan sampai kita sebagai orang tua melewati garis yaitu terlalu mau tahu dan bertanya-tanya apanya, bicara apa, tadi kok lama benar.

Jadi apa sekali-sekali boleh ditanyakan dan seharusnya ditanyakan, tapi apanya jangan menjadi sorotan utama. Yang paling penting kita tahu dengan siapanya, nomor dua adalah kita ingin memantau atau memonitor teman-temannya dengan cara lebih banyak berbicara tentang karakter teman. Siapakah teman yang baik, siapakah orang yang baik, sebab ada perbedaan antara teman yang baik dengan orang yang baik. Teman yang baik belum tentu orang yang baik karena teman yang baik bisa saja sama-sama rusaknya dengan kita. Nah di situ peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk menjelaskan kepada anak apa itu orang yang baik, nah kita bisa tegaskan orang yang baik adalah orang yang mencintai Tuhan, takut akan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menjerumuskan teman-temannya dalam hal yang jahat atau yang salah. Nah orang yang baiknya itu yang kita tekankan, sehingga anak kita mempunyai standar nilai, waktu dia memilih teman dia akan memilihnya dengan yang tadi kita telah sebutkan. Saya mungkin bisa bertanya kepada Ibu Collins secara spesifik, apakah yang Ibu lakukan misalnya kalau Ibu melihat anak Ibu mulai berteman dengan teman pria yang kurang baik?
CM : Yang pertama saya bicara tentang dia, siapa dia dan dari mana apakah satu kelas, cuma tanya sedikit-sedikit dari pada menjelekkan teman. Saya membaca di buku dan sudah mengalami itu, kalau menjelekkan teman anak remaja kita, mereka tidak terima dan mereka akan membela teman, dari pada menerima pendapat orang tua. Jadi kalau saya langsung bertanya siapa itu dia kelihatan orang yang tidak terlalu baik, macam-macam, jadi kami tanya dulu. Lalu mereka tak bisa bicara, kami belum mengalami yang terlalu susah di kehidupan keluarga kami karena kami bisa lewat komunikasi, lewat bicara, kami bisa stop sebelum menjadi terlalu jelek. Jadi itu sebabnya saya memilih jangan terlalu sibuk kalau saya ke luar karena saya tidak kerja full time, saya tidak banyak ke luar rumah kalau anak pulang dari sekolah, saya berusaha ada. Supaya kalau ada sesuatu saya bisa melihat dan menolong, dari waktu mereka lebih besar saya bebas tapi sekarang walaupun mereka remaja masih perlu orang yang memonitor mereka.
(5) IR : Apakah juga seorang tua membekali anak-anak itu dalam pendidikan seks untuk mempersiapkan mereka?

PG : Apakah hal ini menurut Ibu Collins perlu dilakukan, membicarakan tentang seks kepada anak wanita?

CM : Lebih baik dari orang tua dari pada dari luar, waktu anak perempuan kami ada di Amerika kami 4 tahun di Indonesia dan 1 tahun di Amerika, waktu itu dia kelas 6 SD. Mereka ada kelas untuk itu dan saya takut karena ini sekolah umum mereka mau mengajar anak saya apa. Jadi saya sempat ketemu dengan guru dan bicara apa yang mereka ajarkan. Tapi kami sudah bicara cukup baik. Saya pikir orang tua tidak harus menjelaskan mengenai semua karena mereka tidak bisa membawa beban sebesar itu. Dan mengenai seks kami juga sangat hati-hati dengan vidio acara televisi, majalah, buku-buku yang anak baca sejak kecil. Kami bicara mengenai hal begitu karena apa yang mereka membaca, melihat, mendengar musik juga itu akan mempengaruhi mereka. Tapi kalau anak tidak mendengar seks dari orang tua mereka mendengar dari mana. Dari teman atau mereka ingin tahu dan ingin belajar dan itu tidak sehat melalui pengalaman mereka belajar. Dan kalau kami mengajar mengenai seks itu seperti menjaga mereka, mereka mengritik kalau laki-laki mau mendekati mereka, mereka sudah tahu o.... itu tidak boleh orang tua sudah beritahukan. Jadi itu sangat menolong mereka.

PG : Saya ada kesan bahwa para ibu dewasa ini melihat anak perempuannya seperti domba di tengah-tengah serigala, tapi serigalanya para pria-pria ini. Dan kebetulan anak kita sebagian juga pria, apakah memang seperti itu bahwa kita harus menjaga anak perempuan kita dari serangan para serigala ini?

CM : Saya menganggap kalau saya belum memakai istilah itu dan saya tidak mau nama anak saya serigala saya tidak mau takut laki-laki tapi harus cukup takut supaya dia sadar apa yang bisa terjadi. Kami bersyukur karena dia tidak ada keinginan untuk terlalu dekat dengan laki-laki yang tidak baik, kami bersyukur dan saya pikir itu karena kebaikan Tuhan dan juga karena pendidikan waktu kecil. Kami mulai mendidik mereka semua mengenai Allah dan mengenai moral sejak kecil, tapi kalau tunggu sampai mereka remaja memang itu terlalu terlambat. Bukan tidak bisa tapi memang lebih susah, laki-laki bukan serigala tapi bisa jadi begitu.

PG : Jadi jangan kita mengajar anak untuk takut kepada laki-laki tapi untuk waspada dengan kelemahan laki-laki jadi itu yang Ibu tekankan ya. Bukan laki-lakinya tapi waspadalah terhadap keleahan laki-laki.

CM : Harus hormati laki-laki tetapi harus ada batasan juga, boleh bilang tidak.
GS : Pak Paul, ada sebagian ibu yang mempunya anak perempuan memang lebih banyak mengkhawatirkan masa depan dari si anak daripada masa sekarangnya, padahal tadi dikatakan sedini mungkin anak itu dipersiapkan untuk masa depan. Nah masalahnya hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh orang tua baik oleh ayah maupun ibu untuk mempersiapkan anak yang wanita ini a girl ini untuk masa depannya Pak Paul?

PG : Saya kira anak perempuan itu memang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang wanita, nah yang paling tepat untuk mempersiapkannya adalah nomor 1 ibunya sendiri karena ibunya sudah menjai seorang wanita.

Tapi seorang ayah menurut saya juga mempunyai tugas untuk mempersiapkan anak perempuannya menjadi seorang wanita pula. Sebab seorang ayah adalah seorang anak laki-laki yang telah mengenal wanita-wanita yang sudah dewasa, sehingga diapun bisa memberitahukan si anak bagaimanakah seorang pria itu berpikir, bagaimanakah seorang pria itu mengungkapkan dirinya atau perasaannya atau kebutuhannya. Dengan kata lain masukan-masukan dari si ayah ini akan menolong pula si anak wanita mengerti tentang pria sehingga waktu dia sudah mulai besar dia juga tidak akan terlalu asing bergaul dengan pria karena masukan-masukan dari ayahnya telah membekali dia. Bahwa misalnya pria kalau marah tidak senantiasa mengungakapkan perasaannya, cukup banyak pria yang marah kemudian diam. Sedangkan yang lebih umum di kalangan wanita waktu marah mengekspresikan dirinya. nah hal kecil ini misalkan dia sadari waktu dia sudah menginjak usia dewasa dengan sendirinya dia juga akan lebih bisa membawa diri dengan pria. Waktu pria itu tidak berkata apa-apa dan diam bukan berarti pria itu pasti menyetujui yang dia lakukan atau dia katakan, mungkin saja pria itu tidak setuju nah dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan misalnya dia bisa langsung bertanya lebih spesifik, engkau setuju atau tidak, engkau tampaknya tidak senang. Sehingga hal-hal itu lebih membekali dia dalam berkomunikasi dan bergaul dengan pria, nah peranan seorang ibu juga sangat dibutuhkan di sini, sudah tentu. Menyambung yang tadi Ibu Collins katakan tentang seks, istri saya memberi informasi tentang seks kepada anak-anak wanita kami pula, jadi anak-anak perempuan kami belum mengalami haid istri saya sudah mulai memberitahukan bahwa suatu hari mungkin tahun ini, mungkin tahun depan kamu melalui suatu perubahan fisik yang tidak pernah kamu alami sebelumnya yaitu kamu akan mengalami haid. Dan istri saya menjelaskan apa itu haid dan sebetulnya apa yang terjadi secara konkret sekali, dengan tujuan supaya anak kami tidak kaget dan ketakutan waktu pertama kali mengalami haid. Nah setelah itu juga akan dibimbing bagaimana menghadapi haidnya dan sebagainya dan istri saya pun juga mulai membicarakan mengenai hubungan perempuan dengan laki-laki. Jadi apa itu yang harus dilakukan dengan anak laki-laki dan sebagainya. Saya juga bersyukur anak wanita saya cukup terbuka, menyambung yang tadi Ibu Collins katakan penting sekali komunikasi yang terbuka. Kadang anak perempuan saya membicarakan tentang teman prianya pula, perilaku teman-teman prianya yang nakal seperti ini itu, nah saya juga harus berhati-hati tidak memberikan gambaran yang terlalu buruk tentang pria karena saya juga harus memaklumi itulah perilaku pria. Terutama pada usia-usia remaja yang cenderung nakal, yang cenderung genit yang mau menggoda anak wanita dan sebagainya. Nah jadi saya hanya memberikan masukan supaya dia berhati-hati, waspada dan sebagainya tapi saya juga tidak memberikan gambaran pria itu adalah makluk yang sangat buruk sehingga engkau harus menjauhkan diri dari pria. Nah saya kira hal-hal ini penting dipahami oleh anak wanita kita sehingga dia waktu dewasa dia mempunyai pandangan yang lumayan tepat tentang pria. Nah adakalanya orang tua mempunyai pengalaman yang buruk dengan pasangan hidupnya misalnya sehingga memberikan banyak informasi yang negatif tentang pria, nah itu yang akan dibawa oleh anak-anak wanita ini sewaktu mereka besar. Sehingga tatkala anak wanita itu besar gambaran tentang pria tidak ada lagi yang positif, pria adalah makluk yang selalu harus dicurigai misalnya. Kita di situ telah berjasa membentuk seorang anak wanita yang tidak lagi mempunyai perspektif yang sehat tentang pria, jadi saya kira hal-hal ini perlu dibicarakan, diberitahukan kepada anak-anak sehingga waktu dia dewasa dia menjadi seorang wanita yang sehat.
GS : Ibu Collins, pengalaman Ibu yang mempunyai dua anak pria dan satu anak wanita apakah mereka bisa bermain bersama-sama ibu?
CM : Ya memang baru sebelum saya datang mereka main, mereka main walaupun sudah remaja mereka main dan mengganggu satu dengan yang lain. Dan anak perempuan, tidak belum mempunyai pacar tapi ada laki-laki teman baik bisa main bersama mereka dan sama dengan Pak Paul katakan memang saya juga melihat itu kalau wanita ada kesempatan bargaul dengan laki-laki dan mereka belajar sifat laki-laki. Karena memang berbeda dan anak laki-laki sama wanita mereka main bersama-sama.

PG : Ibu Collins, saya mau tanya apakah kita juga perlu mempersiapkan anak wanita kita bergaul dengan sesama wanita, apakah ada isu-isu tertentu yang perlu disadari.

CM : Itu beda karena anak perempuan kami sudah tidak punya adik atau kakak perempuan jadi dia harus belajar dan itu memang lebih susah untuk dia kadang-kadang, karena dia punya satu adik dan satu kakak yang laki-laki. Jadi kami bicara tentang itu mengenai wanita karena mereka berbeda yang positif sekali dan kadang-kadang ada yang negatif juga, wanita kadang-kadang lebih lemah lembut dan mereka tertawa dan suka shoping berbelanja tapi juga ada wanita yang suka memanipulasi dan dari pengalaman saya dan saya membaca. Wanita lebih bersifat begitu dari pada laki-laki dan saya bicara kepada dia harus hati-hati, harus baik, sopan, kepada mereka tapi juga harus hati-hati dengan hal begitu. Dan dia ada beberapa teman yang baik sekali Tuhan memberi kepada dia dan dia belajar bagaimana menjadi wanita lebih baik lewat teman-teman.

PG : Menarik sekali sebab istri saya pun pernah mengutarakan hal yang serupa yaitu dia pernah menyinggung bahwa wanita itu mampu untuk dia tidak menggunakan kata manipulasi tapi seperti itulh.

Jadi bisa mengatur tindakan dan perilakunya agar apa yang dia inginkan itu bisa dia dapatkan, rupanya Ibu Collins juga mempunyai kesan yang sama ya, tapi inilah sesuatu yang perlu disadari oleh anak wanita kita pula. Dan mungkin yang harus kita tekankan kepadanya adalah sebaiknya dia tidak begitu ya. Sebaiknya dia lebih terbuka, apa adanya dan tidak usah bermain-main sandiwara.
CM : Dan kami sering usul dan mendorong untuk boleh mengungkapkan perasaan tidak boleh manipulasi atau pakai kata-kata yang memaksa orang membuat apa yang dia mau, tapi juga kalau tidak setuju dengan sesuatu harus sopan untuk mengungkapkan itu, kalau tidak setuju boleh tapi harus sopan.

PG : Pak Gunawan apakah juga mempunyai kesan yang sama?

GS : Ya saya rasa memang seperti itu Pak Paul, tapi ngomong-ngomong di dalam Alkitab itu banyak bicara tentang anak-anak pria dan sebagainya Pak Paul, tetapi kenyataannya Tuhan menciptakan pria dan wanita. Nah bimbingan firman Tuhan terhadap orang tua yang mempunyai anak wanita, dikaruniai anak wanita supaya orang tua bisa membimbing anaknya menjadi perempuan dewasa yang baik itu bagaimana Pak Paul?

PG : Alkitab sebetulnya tidak begitu banyak membicarakan tentang anak-anak wanita Pak Gunawan, jadi memang ada firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita harus memperlakukan yang wanita lebih mda itu sebagai adik kita sebagai saudari kita ya.

Tapi selain itu petuah bagaimana orang tua memperlakukan anak wanitanya dan sebagainya memang hampir tidak ada. Ada juga I Korintus tentang anak wanita yang mau menikah, jadi saya akan gunakan saja prinsip yang umum yang bisa berlaku pula bagi anak wanita maupun pria. Saya akan bacakan dari Amsal 3:1-4 , "Hai anakKu, janganlah engkau melupakan ajaranKu dan biarlah hatimu memelihara perintahKu, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu." Ada dua hal yang ingin ditinggalkan oleh orang tua kepada anaknya di sini yaitu kasih dan setia, jadi itu mungkin juga yang bisa kita tinggalkan kepada anak-anak wanita kita, apapun yang terjadi kita perlu mempunyai kasih dan setia di dalam hidup ini. Karena memang mengasihi orang dan setia adalah 2 karakteristik yang kekal yang pasti akan bisa menjembatani hubungan dia dengan siapapun.

GS : Jadi berdasarkan kebenaran firman Tuhan itu tentu tidak betul, faham yang mengatakan anak laki-laki itu lebih berharga daripada anak wanita karena tanggung jawabnya tetap sama Pak Paul. Jadi demikian tadi saudara-saudara pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Collins Martin dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan kami tentang 'Bagaimana Membentuk A Girl Menjadi A Woman". Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



23. Bagaimana Membentuk A Girl A Women 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T071B (File MP3 T071B)


Abstrak:

Dalam topik ini kita akan mempelajari bagaimana mendidik anak-anak wanita kita khususnya di dalam pergaulan dengan lawan jenisnya. Dalam usia berapa dan dengan siapa.


Ringkasan:

Membesarkan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal-hal yang prinsiple memang tidak ada beda tapi dalam hal-hal yang menyangkut budaya dan keadaan sosial akan ada perbedaan. Bagi orang tua yang membesarkan anak perempuan cenderung memiliki ketakutan yang lebih spesifik. Pada anak laki-laki, mungkin orang tua mempunyai ketakutan tertentu misalnya kalau anak itu jadi nakal, tidak sekolah, memakai obat terlarang atau pada masa kecil kita takut misalnya anak kita mendapatkan kecelakaan. Tapi khusus untuk anak-anak perempuan, orang tua rupanya mempunyai ketakutan yang lebih spesifik yaitu jangan sampai anak perempuan kita ini menderita kerugian-kerugian, ada yang melukai atau merugikan dia.

Apa yang harus dilakukan orangtua untuk memantau anak:

  1. Kita melihat dengan siapa dia pergi atau ke rumah siapa dia bermain. Jadi yang kita ingin tahu dengan siapanya, apa yang dia lakukan itu kita perlu ketahui secara garis besar. Jangan sampai sebagai orang tua melewati garis yaitu terlalu mau tahu dan bertanya-tanya ngomongin apa, bicara apa dsb.

  2. Kita ingin memantau atau memonitor teman-temannya dengan cara lebih banyak berbicara tentang karakter teman. Siapakah teman yang baik, siapakah orang yang baik sebab ada perbedaan antara teman yang baik dengan orang yang baik. Teman yang baik belum tentu orang yang baik karena teman yang baik bisa saja sama-sama rusaknya dengan kita. Kita perlu tegaskan orang yang baik adalah orang yang mencintai Tuhan, takut akan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menjerumuskan teman-temannya dalam hal yang jahat atau yang salah.

Seorang anak perempuan itu memang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang wanita. Yang paling tepat untuk mempersiapkannya adalah:

  1. Nomor 1 ibunya sendiri, karena ibu sudah menjadi seorang wanita.

  2. Nomor 2 ayahnya, sebab seorang ayah adalah seorang anak laki-laki yang telah mengenal wanita-wanita yang sudah dewasa, sehingga dia pun bisa memberitahukan si anak bagaimanakah seorang pria berpikir, bagaimana seorang pria mengungkapkan dirinya atau perasaannya atau kebutuhannya. Dengan kata lain masukan-masukan dari si ayah ini akan menolong si anak wanita mengerti tentang pria sehingga waktu dia sudah mulai besar dia tidak akan terlalu asing bergaul dengan pria.

Amsal 3:1-4 , "Hai anak-Ku, janganlah engkau melupakan ajaran-Ku dan biarlah hatimu memelihara perintah-Ku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu."

Ada dua hal yang bisa ditinggalkan oleh orangtua pada anak di sini yaitu kasih dan setia, jadi itu mungkin juga yang bisa kita tinggalkan kepada anak-anak wanita kita, apapun yang terjadi kita perlu mempunyai kasih dan setia di dalam hidup ini. Karena mengasihi orang dan setia adalah dua karakteristik yang kekal yang pasti akan bisa menjembatani hubungan dia dengan siapapun.

Prinsip yang diberikan kepada anak-anak wanita dalam bergaul dengan teman-teman prianya: adalah sebaiknya tidak pacaran terlalu dini, karena itu akan membuka peluang kontak seksual yang lebih pagi, terlalu prematur.

Wanita perlu diajarkan untuk mandiri secara emosional karena:

  1. Sebab ada kecenderungan kalau seorang wanita terlalu bergantung itu bukannya menjadi daya tarik baginya, justru itu menjadi kelemahan baginya. Kelemahan dalam pengertian pria sebetulnya menghargai wanita yang mandiri, justru wanita yang terlalu bergantung pada akhirnya kurang dihormati oleh pria.

  2. Sebab dia membuka peluang untuk dimanfaatkan, tatkala seorang pria melihat dia adalah wanita yang begitu membutuhkan pria. Jadi mudah sekali dimasuki oleh pria yang bermaksud buruk dan akhirnya memanfaatkan. Jadi saya kira sejak kecil atau sejak usia remaja penting bagi seorang ibu dan ayah menanamkan konsep ini kepada mereka. Engkau seorang yang lengkap, engkau memerlukan pria sama seperti pria memerlukan engkau, tapi engkau tetap adalah seorang yang matang dan lengkap, meskipun kalau misalnya nanti engkau sendirian tanpa pria.

Wanita cenderung memiliki rasa bersalah yang lebih besar dari pada pria, hal ini disebabkan:

  1. Dipengaruhi oleh emosi.

  2. Sejak kecil anak wanita sudah dididik untuk lebih bertanggung jawab. Kita orang tua cenderung membolehkan anak pria tidak terlalu bertanggung jawab, terutama dalam hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan rumah. Sedangkan anak wanita lebih dituntut untuk bertanggung jawab akan pekerjaan rumahnya.

Amsal 3:11,12 , "Hai anak-Ku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan perintahnya atau peringatannya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi."

Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah memberikan teladan kepada anak-anaknya. Dan saya kira teladan, berbicara jauh lebih banyak dari pada perkataan atau instruksi-instruksi. Jadi bagaimana orangtua hidup, bagaimana dia memperlakukan satu sama lain dan juga orang-orang di luar, bagaimana dia melakukan tanggung jawab di rumah dan juga di luar, itu semua merupakan didikan atau ajaran yang akan diserap oleh anak-anak kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Bersama dengan kami Ibu Collins Martin seorang ibu dari 3 orang anak, dua pria dan satu wanita, dan beliau saat ini sedang mendampingi suaminya, seorang hamba Tuhan dan melayani di kota Malang ini. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam pembentukan a girl menjadi a woman. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

(1) PG : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang masalah-masalah atau keadaan yang spesifik dalam membesarkan seorang anak wanita. Memang ada banyak orang yang bekata dikaruniai anak laki atau perempuan itu sama saja.

Tapi saya rasa dalam hal membesarkan anak pria dan wanita itu tentu mempunyai masalah-masalah yang tersendiri, Pak Paul. Pak Paul juga punya anak wanita, jadi tentu masalah-masalah apa sebenarnya yang seringkali dihadapi oleh orang tua, Pak Paul?

(2) PG : Yang umum sekali difokuskan adalah masalah dengan teman-teman pria, tapi saya kira orang tua perlu menyadari masalah dengan pria adalah satu dari sejumlah masalah lainnya. Kaau tidak hati-hati kita akhirnya terlalu menitikberatkan pada pria, pilihlah pria yang baik dan sebagainya.

Sedangkan dalam hidup ini kita sadari ada sejumlah hal-hal lain yang perlu juga diketahui oleh anak wanita kita. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk melengkapi anak-anak wanita kita untuk bertumbuh besar menjadi wanita dewasa yang bijaksana. Nah untuk itulah pada hari ini kita mengundang seorang ibu yang bernama Ibu Collins Martin yang kebetulan anak wanitanya sudah remaja. Mungkin saya bisa langsung saja bertanya-tanya kepada Ibu Collins Martin, yang kita tanyakan sudah tentu sedikit tumpang tindih dengan apa yang sudah kita bicarakan pada waktu yang lampau. Bisa Ibu jelaskan lagi, kira-kira prinsip apa yang harus diberikan kepada anak-anak wanita kita dalam bergaul dengan teman-teman prianya?
CM : Kami di rumah ada beberapa peraturan tapi salah satunya kami tekankan, walaupun tidak terlalu tegas kami tidak izinkan laki-laki di dalam kamar anak kami, kami tidak izinkan anak laki-laki di rumah kami tanpa ada orang tua. Karena bisa terjadi sesuatu tanpa mungkin mereka memikirkan sesuatu dulu, tapi untuk mencegah masalah itu, satu peraturan yang sangat menolong.

PG : Bagaimana kalau dia berkata : "Ma.... saya ingin pergi dengan....," nah dia sebut teman prianya dan anak ibu, saya tahu baru berusia 15 tahun, apakah ibu akan mengizinkan?

CM : Belum, kecuali dengan beberapa teman lain, baru minggu lalu kami bicarakan itu dan anak mengatakan, "O.... Mami kami sudah minta izin dan anak laki-laki umur 17 tahun", kami bilang o.... kalau ada yang cocok dan macam-macam. Tapi untuk anak perempuan kami bilang belum bisa, kecuali dalam kelompok besar dan tampak aman.

PG : Apa alasannya jangan dulu sebelum usia-usia tertentu itu?

CM : Kami bicara kepada mereka. Dulu sebelum kami terlalu mengetahui mengenai membesarkan remaja, kami katakan waktu umur 16 tahun mereka boleh mulai pergi satu laki-laki satu perempuan. Tapi sekarang kami katakan bahwa kita lihat kedewasaan mereka dan kami usul supaya mereka jangan berdua dulu karena dari data-data dan statistik-statistik anak remaja yang mulai berpacaran lebih muda lebih banyak masalah yang mereka alami, lebih banyak kesempatan tentang seks pada waktu itu kalau mereka bergaul terlalu cepat. Dan juga untuk menjaga mereka kami menjelaskan bahwa kami mengasihinya.

PG : Jadi berpacaran terlalu dini membuka peluang kontak seksual yang lebih pagi, terlalu prematur. Saya setuju dengan Ibu Collins, Pak Gunawan dan Ibu Ida, di rumah kami pun, kami jauh-jauhhari mengatakannya bahwa mereka tidak boleh berpacaran sampai setelah lulus SMA.

Jadi kami mengatakannya itu bukan sekarang waktu anak kami berusia 14 tahun, tapi kami katakan itu beberapa tahun sebelumnya. Jadi mereka jauh-jauh hari sudah tahu bahwa tidak ada lagi kemungkinan mereka berpacaran. Jadi kemungkinan itu seharusnya mereka sudah tutup jauh hari, alasan saya sangat simpel sekali, secara psikologis seorang anak memang memerlukan teman yang banyak pada usia-usia remaja, justru teman yang banyak itu akan menyumbangkan masukan-masukan yang berguna dalam dia membentuk jati dirinya. Semakin dia terpisah dari teman-temannya yang banyak dan eksklusif dalam hubungannya semakin terasing dan semakin sedikit masukan dari teman-teman sebayanya. Jadi saya kira ada baiknya dan seharusnyalah kita menegaskan pada anak-anak kita, tidak boleh berpacaran sampai setelah lulus SMA.
IR : Orang tua juga akan mengekspresikan emosi anak itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Saya kira untuk anak wanita memang kita perlu juga belajar memberikan arahan. Saya secara pribadi, sehubungan dengan anak-anak saya di rumah, saya tidak begitu melihat perbedaan yang mecolok antara pengekspresian emosi anak wanita dan anak laki-laki.

Maksud saya kalau marah ya dua-duanya marah, ya sama. Tapi saya kira saya tidak tahu, Ibu Collins, apa setuju atau tidak, saya kira pada umumnya anak wanita lebih sensitif daripada anak laki-laki, sehingga dalam pengaturan emosi anak wanita mungkin sekali memerlukan tenaga atau kekuatan ekstra untuk mengontrol emosinya, jangan sampai terlalu peka. Dan akhirnya dia dibawa, dia diayun-ayunkan oleh perasaannya. Itu yang saya bisa lihat pada anak-anak wanita saya dibandingkan dengan anak pria saya. Jadi misalkan ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, anak wanita saya cenderung memang untuk berubah, untuk berdiam di kamar dan agak susah untuk mengatur perasaannya. Mungkin itu yang menjadi perbedaannya atau bagaimana komentar, Ibu Collins?
CM : Untuk laki-laki dan perempuan memang ada perbedaan. Waktu anak kami perempuan, dia masih kecil walaupun kami harus pukul pantatnya dia jarang menangis, anak laki-laki lebih menangis. Tapi setelah menjadi remaja memang ada perbedaan besar, dia tidak menangis terus, tapi ada waktu dimana dia lebih merasa sedih ketika kakek saya meninggal dunia, itu sangat mengganggu dia lebih daripada laki-laki.

PG : Dan kalau ada sesuatu yang terjadi di luar, misalkan di sekolah dengan teman-teman, saya lihat itu lebih berdampak pada anak wanita dibandingkan pada anak laki-laki. Anak-laki-laki lebi bisa memasabodohkan, mengacuhkan sedangkan saya melihat anak wanita lebih mudah untuk dipengaruhi oleh apa yang terjadi, temannya berkata ini, temannya berbuat ini, nah dia pulang akan bisa sedikit murung dan terpengaruh.

IR : Di dalam rumah Pak Paul, apakah orang tua juga perlu melatih kemandirian seorang anak perempuan. Misalnya sekalipun mereka itu ada pembantu, apakah dia dididik untuk melakukan pekerjaannya sendiri?

PG : Saya kira ada baiknya anak-anak wanita juga dipersiapkan untuk hidup mandiri, sudah tentu tanggung jawab rumah tangga perlu kita limpahkan. Saya pribadi setuju, tidak hanya pada anak waita tapi juga pada anak pria.

Namun dalam hal kemandirian saya percaya anak wanita perlu dipersiapkan untuk mandiri, bahwa dia akan menikah tidak berarti dia seharusnya tidak mempersiapkan diri untuk mandiri, saya kira itu pandangan yang keliru. Jadi saya sangat percaya anak wanita harus bisa hidup sendiri, meskipun dia menikah dia tetap bisa hidup sendiri, misalkan ada apa-apa dengan suaminya. Jadi jangan sampai anak wanita itu berpikir nanti hidup saya akan dipelihara oleh suami saya, jadi buat apa saya berusaha mandiri sekarang. Tidak tahu bagaimana pandangan Ibu Collins?
CM : Untuk saya dan suami, anak itu sangat penting untuk belajar mandiri dan khususnya juga wanita karena sekarang kami membesarkan anak dalam abad baru, anak perempuan juga mau ke Universitas, mereka mungkin mau ada pekerjaan sendiri. Walaupun saya sendiri menganggap menjadi ibu itu penting dan kami menyiapkan supaya dia bisa mandiri di rumah, dia harus bekerja sama seperti laki-laki, tapi dia harus belajar lebih banyak memasak dan macam-macam begitu. Supaya dia bisa membantu di rumah bukan hanya membantu, tapi harus masak sendiri. Dan kami ingin anak kami mandiri waktu dewasa, tapi masih ada hubungan erat dengan kami. Jadi harus ada keseimbangan, kami berusaha supaya ada keseimbangan, dia bisa mandiri tapi masih mengasihi kami.
GS : Mungkin ada sedikit perbedaan yang saya lihat, Pak Paul, terhadap anak-anak saya. Yang pria, kemandirian itu nampak di luar rumah, di luar rumah misalnya dia bisa mengendarai sepeda motor sendiri, pergi sendiri, lepas dan kami merasa masih tetap aman, dulu diantar. Nah sedang kemandirian di dalam rumah itu lebih banyak didominasi atau dikuasai oleh anak perempuan, Pak Paul. Jadi dalam hal mengatur kamar dan sebagainya rasanya dia lebih terampil, lebih bisa, apakah itu membedakan anak pria dan anak wanita, Pak Paul?

PG : Mungkin dalam hal itu ada pengaruh budaya ya Pak Gunawan, jadi kita ini sebagai orang tua cenderung lebih mengharapkan anak wanita terlibat dalam pekerjaan rumah apalagi di kalangan orag tua kita atau kakek-nenek kita.

Saya kira budaya itu jauh lebih kuat dan sekarangpun masih ada tekanan budaya yang seperti itu. Mungkin itu sebabnya anak-anak laki-laki tidak merasa dia harus terlalu terlibat dalam pekerjaan rumah, dia merasa ada sedikit hak untuk mendelegasikannya kepada orang tuanya atau adik perempuannya atau kakak perempuannya. Lebih dari kemandirian sosial dan karier, saya juga mengharapkan anak-anak wanita bisa mandiri secara emosional. Dalam pengertian dia tetap menjadi seorang yang lengkap, meskipun sendiri, jangan sampai anak wanita bertumbuh besar dengan suatu konsep bahwa hidupnya barulah lengkap kalau dia dicintai oleh seorang pria dan dinikahi oleh seorang pria. Adakalanya konsep itu cukup menguasai para anak wanita kalau belum menikah, berarti ada yang kurang dalam dirinya. Jadi ketergantungan emosional telah dipupuk dalam hidup anak wanita sejak kecil. Hal ini yang saya kira anak-anak perlu belajar dan tidak harus mendapatkan cinta atau disukai oleh pria barulah dia menjadi seorang wanita yang lengkap. Ini saya coba tekankan, kalau Ibu Collins sendiri bagaimana tentang hal ini?
CM : Saya setuju dan sebetulnya tadi saya memikirkan kalau kita mau wanita yang dewasa, dewasa penuh, mereka bukan cuma lulus dari SMA dan masuk ke Universitas dan sebagainya. Mereka harus tahu siapa diri mereka dan mereka sudah lengkap, saya sangat setuju dengan apa yang Pak Paul katakan.

PG : Ya, sebab ada kecenderungan kalau seorang wanita terlalu bergantung itu bukannya menjadi daya tarik baginya, justru itu menjadi kelemahan baginya. Kelemahan dalam pengertian pria sebetunya menghargai wanita yang mandiri, justru wanita yang terlalu bergantung pada akhirnya kurang dihormati oleh pria.

Memang pada awalnya pria akan senang dengan wanita yang manja, tapi saya yakin kemanjaan itu hanya mempunyai daya tarik pada masa berpacaran. Setelah menikah kalau wanitanya terus manja dan semua harus disediakan oleh prianya, sifat tersebut tidak lagi menjadi daya tarik, justru menjadi hal yang mengganggu si pria. Kedua, kenapa saya kira wanita perlu diajar untuk mandiri secara emosional, sebab dia membuka peluang untuk dimanfaatkan, tatkala seorang pria melihat dia adalah wanita yang begitu membutuhkan pria. Jadi mudah sekali dimasuki oleh pria yang bermaksud buruk dan akhirnya memanfaatkan. Saya kira sejak kecil atau sejak usia remaja penting bagi seorang ibu dan ayah menanamkan konsep ini kepada mereka. Engkau seorang yang lengkap, engkau memerlukan pria sama seperti pria memerlukan engkau, tapi engkau tetap adalah seorang yang matang dan lengkap, meskipun kalau misalnya nanti engkau sendirian tanpa pria.
GS : Tetapi ada orang tua yang berpandangan kalau wanita terlalu dominan bisa menyalahi kodratnya sebagai wanita.

PG : Saya kira itu ketakutan dan dilema wanita yang harus saya akui sebetulnya ditimpakan kepada wanita secara tidak adil. Wanita merasa terjepit antara mandiri dan dituduh dominan, kalau di terlalu mandiri dikatakan dia dominan, sedangkan di kalangan pria, anak pria yang mandiri itu dianggap sebagai suatu karakteristik yang baik.

Dan dominan pada pria justru dianggap sesuatu yang juga baik, tapi sebetulnya dua hal itu tidak harus sama, tidak harus dalam satu paket yang sama. Di sini saya juga harus bersimpatik dengan wanita, sebab karena dia ingin mandiri, dia dituduh dominan, kalau dia terlalu bergantung dituduh seperti lintah, menempel terus pada pria. Jadi wanita benar-benar diharapkan mempunyai peranan yang sempurna dan pas sekali, tidak terlalu dominan, tidak terlalu lemah, barulah dia menjadi wanita yang pas.
IR : Itu memang sangat sulit, biasanya kalau anak wanita itu mandiri menjadi dominan, Pak?

PG : Dituduhnya begitu ya Bu, padahal tidak harus begitu, bagaimana pandangan Ibu Collins?

CM : Saya suka laki-laki yang bisa menerima wanita yang mandiri, mungkin istilah yang bisa dipakai, mereka masih bersandar kepada teman-teman dan suami, masih saling menolong tapi tidak menganggap dominan, tapi masih bisa diterima. Dan itu tidak, saya mengritik apa yang Pak Paul katakan mengenai wanita harus sempurna, harus tidak boleh terlalu ini, tidak boleh terlalu itu, ini memang susah untuk wanita. Misalnya ada sifat suka menjadi pemimpin sering kali tidak diterima dan kasihan karena Tuhan memberi karunia yang berbeda-beda untuk setiap orang.

PG : Jadi mungkin seorang ibu terutama di sini seorang ibu perlu memberikan lebih banyak petuah kepada anak wanita, bukan melarang anak wanita menjadi mandiri tapi mengajarkan anak wanita baaimana menempatkan diri.

Menempatkan diri terutama dengan pria. Maksudnya begini, pada umumnya pria senang jika pendapatnya didengarkan terlebih dahulu. Pria tidak terlalu berkeberatan dengan argumentasi, perdebatan yang rasional, yang mempunyai landasan-landasan buktinya. Namun pada umumnya berkeberatan dengan wanita yang belum apa-apa sudah mengedepankan pandangannya, tanpa wanita itu memberikan kesempatan pada si pria untuk mengutarakan pikirannya. Jadi dalam hal ini si ibu bisa mengajarkan kepada anak wanita bahwa jika engkau nanti menikah dengan suamimu, dalam proses pengambilan keputusan mintalah pandangan suamimu terlebih dahulu. Dan dengarkan pandangannya sebaik mungkin setelah itu barulah berikan pandanganmu, nah jadi di sini saya kira kita tidak perlu membuat si wanita itu bergantung, tapi kita juga bisa membuat dia mandiri yang pas, sehingga bisa diterima penuh oleh suaminya. Karena kalau tidak kita juga bisa menciptakan anak wanita kita menjadi wanita yang susah diterima di mana-mana. Sebab sekali dia berpikir apa, langsung dia lontarkan, dia merasakan apa dia langsung lontarkan. Pada umumnya pria keberatan bersama wanita yang terlalu ekspresif dengan ide-idenya dan kurang memberikan kesempatan kepada pria untuk mengutarakan pikirannya. Hal ini memang bukan soal benar salah, tapi itulah kenyataan dalam kehidupan sosial kita. Jadi kita perlu mempersiapkan anak wanita kita pula agar bisa hidup dan diterima dalam masyarakat. Bagaimana pandangan Ibu Collins?
CM : Tadi saya katakan mandiri dan saya bermaksud itu suatu hal yang positif dan bukan mandiri dari laki-laki atau suami, tapi ada keseimbangan. Saya perhatikan kalau wanita memakai cara dan tidak terlalu memaksa ide-ide mereka, mereka mau mendengar dulu itu sangat menolong laki-laki karena memang kita beda. Dan saya perhatikan mengenai hal-hal membesarkan anak atau membentuk a girl menjadi a woman, kita sebagai ibu-ibu harus menjadi teladan terhadap anak-anak supaya mereka belajar bagaimana mereka bergaul dengan laki-laki, bagaimana bergaul dengan suami, itu sangat penting. Dan mereka bisa belajar dan itu tidak mudah, saya ingat waktu saya hamil anak pertama, saya sadar aduh anak ini akan menjadi seperti saya, O..... Tuhan tolong ubah saya dan Dia menolong, belum sempurna, tapi Dia beri saya baca buku, ada teman yang memberi nasihat dan Dia memberi hikmat lewat firmanNya, supaya saya menjadi teladan buat anak perempuan saya, karena itu tanggungjawab saya.
(3) GS : Pak Paul, baik anak pria maupun anak wanita itu pasti melakukan kesalahan, cuma yang saya amati adalah rasa bersalah dari anak perempuan itu bisa berkepanjangan, lebih daripada anak pria itu, mengatasinya bagaimana ya Pak Paul, yang pria itu katakan berkelahi pasti dua-dua salah, tapi yang pria itu menganggap sudah tidak ada apa-apa, yang wanita ini masih terus saja. Entah menyalahkan dirinya, entah menyalahkan orang lain, tapi menghadapi rasa bersalah seperti ini bagaimana kita sebagai orang tua?

PG : Sebelum saya jawab, saya ingin mendapatkan juga konfirmasi dari Ibu Collins dan juga Ibu Ida, apakah ibu-ibu ini melihat yang tadi Pak Gunawan katakan bahwa wanita memang cenderung mempunyai rasa bersalah yang lebih daripada pria?

IR : Ya.

PG : Kenapa begitu?

IR : Karena terpengaruh emosi ya Pak Paul?

PG : Emosi juga akan mempengaruhi sekali di situ.

CM : Tapi mungkin kebudayaan juga.

PG : Maksudnya apa, budaya?

CM : Karena cara kami dibesarkan, laki-laki sering kali diberi kesempatan bicara, saya baru dengar ada wanita bilang dia memakai suara kecil, laki-laki selalu benar, wanita selalu salah.

PG : Ya, saya tidak akan menyangkal yang ibu-ibu katakan, sebab itu betul ya. Itu yang sering kali terjadi di dalam masyarakat kita. Ada satu penyebab yang lain yaitu sejak kecil anak wanitasudah dididik untuk lebih bertanggung jawab, itu memang kenyataannya.

Kita sebagai orang tua cenderung membolehkan anak pria tidak terlalu bertanggung jawab, terutama dalam hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan rumah. Sedangkan anak wanita lebih dituntut untuk bertanggung jawab akan pekerjaan rumahnya. Jadi saya kira orang tua perlu berhati-hati, jangan menambahkan beban rasa bersalah pada anak, jangan terlalu sering berkata kamu anak wanita kamu harus tahu diri, kamu anak wanita jangan kalau mau berkata kamu harus berhati-hati, jangan ditambah embel-embel kamu anak wanita. Sebab seharusnyalah memang sama, jadi jangan sampai menambahkan beban rasa bersalah itu pada anak-anak kita.
GS : Memang Pak Paul kalau sepanjang yang kita bisa amati, yang kita bisa monitor lewat kehidupan ini, sering kali anak perempuan bermasalah untuk menjadi "a woman" itu justru karena pola dari orang tuanya. Karena itu apa yang firman Tuhan ajarkan kepada kita, khususnya orang tua di dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan anak perempuan kita itu?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 3:11-12 "Hai anakku janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan perintahnya atau peringatannya. Karena Tuhan memberiajaran kepada yang dikasihiNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi."

Tadi Ibu Collins mengatakan bahwa yang penting adalah seorang ibu atau seorang ayah memberi teladan kepada anak-anaknya. Dan saya kira teladan berbicara jauh lebih banyak daripada perkataan atau instruksi-instruksi, jadi bagaimana orang tua hidup, bagaimana dia memperlakukan satu sama lain dan juga orang-orang di luar, bagaimana dia melakukan tanggung jawab di rumah dan juga di luar, itu semua merupakan didikan atau ajaran yang akan diserap oleh anak-anak kita. Nah firman Tuhan jelas meminta orang tua memberikan pengajaran-pengajaran itu kepada anak-anak, jadi memang orang tua tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab tersebut. Tapi sekali lagi terlebih penting daripada perkataan, hiduplah yang akan lebih efektif menjadi ajaran bagi anak-anak kita.

GS : Jadi demikian tadi saudara-saudara pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Collins Martin dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang masalah-masalah dalam membentuk a girl menjadi a woman. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



24. Membantu Anak yang Takut Sekolah


Info:

Nara Sumber: Esther Tjahja, S.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T075A (File MP3 T075A)


Abstrak:

Takut sekolah bukan hanya terjadi pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin sudah satu minggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan tiba-tiba takut sekolah. Dan dalam hal ini orangtua sangat perlu memperhatikan kira-kira apa yang menjadi dasar penyebabnya.


Ringkasan:

Takut sekolah terjadi bukan hanya pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah, tetapi ada anak-anak yang mungkin seminggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan pertama sekolah tiba-tiba menjadi takut sekolah.

Ciri-ciri anak yang takut sekolah ini sbb:

  1. Ciri-ciri secara fisik, kadang-kadang anak mau berangkat sekolah baru bangun, pagi-pagi sudah dibangunkan oleh orang tua, sudah mulai mengeluh baik sakit perut, pusing, rasanya ingin ke belakang. Kadang sudah sampai di sekolah begitu masuk pagar ada yang bilang mau muntah, sakit perut dsb.

  2. Ciri yang lain menangis, nggak mau pisah dengan orang tuanya. Untuk yang ikut antar jemput mungkin untuk naik ke mobil jemputan juga sudah mulai ketakutan dan menangis.

  3. Bisa juga yang tadinya tidak ngompol jadi ngompol

  4. Nilainya juga mulai merosot.

Anak merasa takut sekolah biasanya disebabkan oleh:

  1. Bagi anak-anak yang pertama kali sekolah misal masuk play group atau TK rasanya memang pengalaman berpisah cukup lama dengan orangtua, ini menjadi hal yang tidak enak buat anak-anak.

  2. Masuk dalam sebuah lingkungan baru yang belum diketahui sama sekali, teman-temannya baru, guru-gurunya baru, ruangannya baru. Jadi itu menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak.

  3. Bagi yang sudah sekolah mungkin pengalaman menghadapi guru yang galak, dimarahi atau ditegur guru.

  4. Memiliki teman yang agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu.

  5. Anak-anak yang takut dengan pelajaran tertentu misalnya matematika, atau terhadap guru tertentu guru olah raga.

  6. Anak takut ke sekolah karena anak takut meninggalkan rumah. Ada anak yang tahu bahwa di rumah itu orangtua sering bertengkar, ada anak yang mengkhawatirkan misalnya ayahnya akan memukuli ibunya. Sehingga waktu dia ke sekolah dia merasa cemas, dia merasa tidak tenang, selanjutnya dia menjadi enggan ke sekolah sebab dia merasa dia bertugas untuk ada di rumah.

Hal-hal di atas bisa menjadi pemicu dari ketakutan anak-anak.

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menolong anak yang takut ke sekolah tersebut:

  1. Mencari penyebabnya. Sebagai orang tua kita sangat perlu terlibat untuk kita lebih bisa mengenal apa itu yang menjadi penyebab perilaku anaknya. Jadi kedekatan itu penting sekali, kalau anak tidak merasa dekat dengan orang tua, dia mungkin juga enggan untuk bilang terus-terang apa itu yang membuat dia tidak mau ke sekolah. Jadi sekali lagi keterbukaan dan hubungan yang erat antara orang tua anak memang sesuatu yang mutlak, bukan suatu pilihan yang boleh ada atau boleh tidak ada.

  2. Anak tetap dianjurkan untuk ke sekolah, jangan sampai orangtua membiarkan atau mengizinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah kecuali memang keluhan fisik yang dialami demikian berat misalnya buang air terus, muntah-muntah dsb. Namun pendampingan amat sangat tetap diperlukan oleh anak.

  3. Kita mau mengakui bahwa ketakutan itu adalah reaksi yang wajar, tidak ada yang harus malu dengan rasa takut ini dan ketakutan terhadap penyebab itu adalah hal yang wajar pula.

  4. Secara rohani, mungkin orang tua bisa mengajak anak untuk berdoa bersama atau membaca satu atau dua ayat Alkitab sebelum berangkat ke sekolah, ini akan menolong si anak.

Galatia 6:1 , "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut." Orang tua perlu memimpin anak kembali ke jalan yang benar, tidak hidup dalam ketakutan tapi lakukanlah dalam roh lemah lembut, jangan malah memarah-marahi anak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Pada hari ini kami bersama dengan Ibu Esther Tjahja seorang sarjana psikologi alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang saat ini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga sebagaimana biasanya juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi bersama-sama dengan kami akan berbincang-bincang mengenai suatu topik yaitu membantu anak yang takut sekolah. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak orang tua yang menjadi pendengar dari TELAGA ini yang sudah mempunyai anak dan sudah waktunya harus masuk sekolah. Tetapi mereka kesulitan karena anaknya merasa takut atau enggan pergi ke sekolah. Di zaman seperti ini di mana anak-anak disediakan sarana sekolah pada usia sedini mungkin, sebenarnya kita sebagai orang tua bisa mengenali secara dini anak yang enggan atau takut masuk sekolah.

PG : Yang Pak Gunawan tadi ungkapkan adalah memang kenyataan, Pak Gunawan, jadi di tempat kami ada beberapa orang tua yang datang membawa anak-anak mereka dan rupanya anak-anak itu mengeluh,bukan saja keluhan-keluhan yang bersifat emosional tapi keluhan yang bersifat fisik pula.

Kebetulan di klinik kami yang menangani masalah ini adalah staf psikologi yang bernama Ibu Esther Tjahja. Jadi kami sangat bersenang hati pada hari ini dapat mengundang beliau untuk hadir bersama kita, Pak Gunawan. Nah mungkin secara langsung kita bisa bertanya kepada Ibu Esther Tjahja, bagaimana ciri anak-anak yang takut sekolah?

ET : Memang ada beberapa ciri-ciri yang cukup jelas pada anak-anak tertentu. Tapi sebelum saya katakan ciri-ciri itu, saya ingin jelaskan terlebih dahulu bahwa takut sekolah itu bukan hanya erjadi pada anak-anak yang baru pertama kali sekolah.

Tetapi ada anak-anak yang mungkin seminggu, dua minggu atau bahkan beberapa bulan pertama sekolah baik-baik saja, sampai pada suatu titik tiba-tiba jadi takut sekolah. Nah ciri-cirinya seperti yang dikatakan Pak Paul tadi, mungkin nyata dari fisik, kadang-kadang mau berangkat sekolah mungkin baru dibangunkan pagi-pagi oleh orang tua sudah mulai mengeluh, baik sakit perut, pusing, rasanya ingin ke belakang ya. Kadang-kadang begitu masuk pagar sekolah, juga ada yang mengatakan mau muntah dan sakit perut, itu kira-kira ciri fisiknya. Dan kalau mau dianggap main-main, ya sebenarnya kalau diamati memang sungguh-sungguh anak itu sakit, kadang-kadang ada yang sampai pucat dan berkeringat dingin untuk masuk ke sekolah. Selain itu juga ada ciri-ciri yang nampak yaitu biasanya menangis tidak mau berpisah dengan orang tuanya, kalau yang ikut antar jemput mungkin untuk naik ke mobil jemputan juga sudah mulai ketakutan dan menangis, belum sampai sekolah, baru mau masuk ke mobil antar jemput sudah menangis. Beberapa anak TK juga mungkin memperlihatkan pada malam hari yang tadinya sudah tidak ngompol tiba-tiba jadi mengompol. Lalu kalau yang tadi saya katakan sudah sekolah, lalu tiba-tiba takut sekolah, biasanya salah satu nilainya mulai merosot, kira-kira itu ciri-ciri yang menandakan anak-anak ini punya masalah dengan sekolah.

PG : Apakah biasanya mereka dengan teman-temannya bisa bergaul dengan baik, Bu Esther?

ET : Nah tergantung juga Pak Paul, penyebabnya apa.

PG : Jadi apakah ada misalnya yang di sekolah jadinya tidak bergaul, tapi di rumah bergaul biasa dengan adik dan kakaknya. Atau karena masalah ini, di rumah pun jadinya menarik diri tidak ma bergaul dengan kakak dan adiknya.

ET : Kalau kebanyakan kasus yang saya lihat rasanya memang orang tua punya kesan anak-anak ini sepertinya "jago kandang". Mungkin di rumah nakal, malah kadang-kadang mengekspresikan ketakutanya di sekolah, sepertinya nakal di rumah tetapi di sekolah dia jadi penakut.

Jadi cenderung menarik diri jadi penonton tidak mau bergaul dengan teman-temannya.
IR : Dan apakah anak yang ketakutan itu bisa terus terang dengan orang tuanya?

ET : Ada yang mengatakan memang keluhan-keluhan tertentu, mungkin kepada gurunya atau teman-temannya. Tetapi ada anak-anak yang langsung begitu saja mau ke sekolah dengan tanda-tanda sepertiyang saya katakan tadi, tapi dia tidak bisa mengatakan takut kepada apa dan kepada siapa.

PG : Bisa apa tidak Ibu Esther memberikan kepada kami gambaran penyebabnya secara umum?

ET : Kalau untuk anak-anak yang pertama kali sekolah, misal pertama kali masuk play group atau TK rasanya memang pengalaman berpisah cukup lama dengan orang tua. Ini yang menjadi hal yang tiak enak buat anak-anak tersebut, karena selama ini sebelumnya selalu ada di rumah dekat dengan orang tua, di dalam keluarga yang aman, tetapi sekarang mereka harus masuk ke sebuah lingkungan baru yang belum diketahui sama sekali, teman-temannya baru, gurunya baru, ruangannya baru.

Jadi itu menimbulkan kecemasan atau hilangnya rasa aman pada anak-anak itu. Selain itu kalau yang sudah sekolah bisa juga karena pengalaman menghadapi guru yang galak, dimarahi atau ditegur guru. Atau terus ada teman yang cenderung agresif, begitu dia di sekolah dipukuli atau diancam dengan hal-hal tertentu atau mungkin ada anak-anak yang takut dengan pelajaran tertentu misalnya pelajaran matematika, atau terhadap guru tertentu guru olah raga, itu juga bisa menjadi pemicu dari ketakutan anak-anak.
GS : Bagaimana dengan anak yang pada dasarnya penakut, jadi artinya memang sukar untuk bergaul dengan teman-temannya. Kalau dia pertama kali dibawa ke sekolah dengan langsung menemukan lingkungannya yang dia bisa cocok berarti tidak ada masalah, tapi anak ini memang dasarnya di rumah itu sendirian, tidak punya saudara dan sebagainya, apakah itu bisa menjadi penyebab anak enggan ke sekolah?

ET : Ya, itu bisa menjadi penyebab karena kalau kita lihat cukup banyak anak-anak lain yang rasanya mempunyai guru galak atau mungkin diancam oleh teman atau pelajaran-pelajaran tertentu sult tapi tetap bisa survive, tetap bisa bertahan mengikuti sekolah.

Tetapi ada anak-anak tertentu yang memang dasarnya juga mungkin istilahnya nyalinya kecil, begitu ketemu kesulitan langsung mengkerut. Memang anak-anak yang seperti ini mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menghadapi masalah ketakutan di sekolah.
GS : Ada juga pengalaman orang tua yang anaknya pertama kali bisa masuk sekolah dengan mudah, kemudian setelah satu minggu dia memutuskan tidak mau masuk sekolah karena dia merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dalam hal seragam. Seperti kita ketahui bahwa sejak di TK pun anak memakai seragam tiap hari. Anak ini kebetulan belum jadi seragamnya, Bu Esther, sehingga dia memutuskan tidak mau ke sekolah, nah pengalaman seperti itu bagaimana?

ET : Ya, saya pikir untuk anak-anak seperti itu hanya karena tidak mau berbeda dengan teman-temannya. Tapi mungkin kalau penyebabnya hanya itu, dengan diberikan seragam saja mungkin masalahna sudah selesai.

GS : Tapi awalnya tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tidak mau sekolah biasanya tiap hari mau, menemukan penyebabnya itu yang sulit.

ET : Betul, karena itu sebenarnya memang diharapkan adanya kerjasama antara orang tua dan pihak guru, juga pihak di sekolah, kira-kira hasil pengamatan di sekolah bagaimana. Dan juga kalau T biasanya masih ditunggu, ada orang tua atau ada yang mengantar yang bisa mengamati, mulai bisa menangkap gejalanya atau menerka-nerka kira-kira apa penyebabnya.

IR : Bagaimana sebaiknya orang tua mengatasi anak-anak yang seperti itu, Ibu Esther?

ET : Ya memang yang pertama-tama Pak Gunawan katakan tadi, ya susah-susah gampang, dicari dulu penyebabnya. Masalah penyebabnya ini yang kadang-kadang memang butuh waktu lama juga ya. Ada ank-anak yang kalau ditanya, "o...

tidak guru saya baik, teman-teman saya baik", tapi tetap takut sekolah. Ternyata memang setelah dilihat-lihat lagi ada unsur nyalinya kecil itu tadi, gurunya pernah memarahi anak-anak yang lain, ditanya tidak pernah kena tegur langsung, tapi melihat guru menegur atau menghukum teman-temannya sudah mengkerut juga hatinya. Jadi memang mencari penyebab ini yang tidak mudah, tapi itu sebenarnya nomor satu yang perlu kita ketahui penyebabnya.
GS : Nah Pak Paul dalam keadaan sekarang itu sering kali anak pergi ke sekolah, seperti tadi Ibu Esther juga katakan diantar jemput, di rumah sudah dilepas. Sampai di sekolah pun oleh pengemudinya dibiarkan turun sendiri atau yang agak lebih bagus diantarkan oleh baby sitternya atau pembantu rumah tangganya dan sebagainya. Tetapi orang tua tidak terlibat di sana. Padahal Bu Esther tadi katakan, kerja sama antara orang tua dan guru itu penting sekali, bagaimana pemecahannya menurut, Pak Paul?

PG : Saya kira orang tua memang perlu lebih terlibat. Kalau orang tua terlalu mendelegasikan tugas pada suster atau pembantu, dia akan kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal apa yang menjdi penyebab perilaku anaknya sekarang ini.

Jadi kedekatan itu penting sekali, kalau anak tidak merasa dekat dengan orang tua, dia mungkin juga enggan untuk mengatakan terus-terang apa yang membuat dia tidak mau ke sekolah. Jadi sekali lagi keterbukaan dan hubungan yang erat antara orang tua dan anak memang sesuatu yang mutlak, bukan suatu pilihan yang boleh ada atau boleh tidak ada. Saya ingin menambahkan satu hal juga, Pak Gunawan dan Ibu Ida, tadi kita membicarakan hal-hal yang bersumber dari sekolah yang membuat si anak itu takut ke sekolah. Ada kemungkinan pula yang terjadi kebalikannya, jadi anak-anak yang takut ke sekolah karena takut meninggalkan rumah. Nah pertanyaannya kenapa takut meninggalkan rumah? Ada anak yang tahu bahwa di rumah itu orang tua sering bertengkar, ada anak yang mengkhawatirkan misalnya ayahnya akan memukuli ibunya. Sehingga waktu dia ke sekolah dia mengkhawatirkan keadaan rumah, akibatnya waktu dia ke sekolah dia merasa cemas dan merasa tidak tenang. Yang terjadi selanjutnya adalah dia menjadi enggan ke sekolah, sebab dia merasa dia bertugas untuk ada di rumah. Seolah-olah dia mempunyai anggapan dengan dia ada di rumah, dia bisa melindungi misalnya adiknya atau mamanya yang berada di pihak yang lemah dari misalkan serangan ayahnya. Atau dia merasa anak yang bisa membuat ayahnya tidak marah dengan dia ada di rumah, dia bisa mencegah ayahnya untuk meledak dan sebagainya. Jadi hal-hal ini bisa membuat si anak akhirnya khawatir dan tidak mau ke sekolah. Mengapa anak tidak mau ke sekolah? Bisa muncul dari sekolah sebagai sumbernya atau bisa juga muncul dari rumah. Ada anak-anak yang terlalu sering mendengar orang tuanya bertengkar sehingga dia peka dengan amarah. Waktu dia bersekolah, dia mendengar gurunya marah kepada temannya dia takut sekali. Karena seolah-olah dia mengalami ketakutan yang sudah dia alami di rumah, akhirnya takut ke sekolah karena ada trauma tertentu yang dialaminya. Tapi bisa juga kebalikannya karena dia terbiasa mendengar orang tuanya bertengkar di rumah, waktu dia ke sekolah dia mendengar gurunya marah-marah, dia justru tidak merasa terganggu karena sudah kebal, apakah Ibu Esther juga pernah mengalami kasus yang serupa?

ET : Ya, ya itu biasanya kondisinya lebih kompleks lagi dan biasanya memang lebih susah untuk kita temukan apa penyebab ketakutannya, yang pasti dia di sekolah tidak tenang, di rumah juga tiak tenang.

PG : Apakah Ibu Esther pernah menemukan bahwa anak-anak yang takut ke sekolah ternyata di rumah mempunyai problem tertentu, bukan dia yang bermasalah tapi antara orang tuanya juga ada masalh.

ET : Ya, saya pernah cuma ini bukan anaknya langsung, tapi cerita ketika dia lebih besar ya. Pengalaman dia ketika lebih mudanya. Jadi katakan ketika dia umur 5, 6 pada saat itu orang tuanyabercerai.

Lalu ada ketakutan karena pada waktu itu terjadi perebutan adiknya akan ikut siapa sebagai hasil perceraian itu. Akhirnya ia takut berangkat ke sekolah karena dia takut setibanya di rumah nanti adiknya sudah diambil oleh pihak ibunya, sehingga begitu berat meninggalkan rumah untuk bersekolah.

PG : OK. Memang masalah-masalah ini bisa kompleks sekali dan tugas kita adalah untuk mencari tahu penyebabnya, baru kita bisa menyelesaikan masalahnya. Kalau yang lainnya lagi, Bu Esther, ap yang bisa kita lakukan untuk membantu si anak yang mengalami ketakutan ini.

Apakah kita perlu memaksa dia untuk tetap ke sekolah, memarahi dia supaya dia lebih tegar lagi atau apakah ada cara yang terbaik?

ET : Soal memaksakan ke sekolah mungkin bukan istilah dipaksakan, tetapi sedapat mungkin anak dianjurkan ke sekolah. Kecuali memang keluhan fisiknya sudah demikian rupa beratnya, misalnya di harus buang air terus, atau dia sampai muntah-muntah, rasanya juga mungkin sulit orang tua untuk meninggalkannya di sekolah.

Tapi tanpa keluhan fisik yang seperti itu, sedapat mungkin orang tua jangan sampai membiarkan atau mengizinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah. Karena untuk anak-anak seperti ini begitu diijinkan untuk tidak ke sekolah, biasanya akan mengalami kemunduran ketika saatnya harus sekolah. Jadi waktu dia harus masuk lagi, biasanya justru gejala-gejalanya akan lebih macam-macam lagi, mungkin dia harus mulai dari nol. Usulan untuk tetap sekolah harus, tetapi pendampingan itu sangat diperlukan oleh si anak. Jadi pengakuan dari orang tua bahwa rasa takut itu adalah wajar, maksudnya sah-sah saja untuk kamu merasa takut, bahwa orang tua memahami kalau anak ketakutan sangat berarti buat si anak. Bukannya dia takut sendirian, kadang-kadang orang tua suka bicara tidak perlu takut, masa begitu saja takut! Atau pengecut! Atau makin diberikan label-label yang bukannya mendorong anak untuk berani malah semakin menciutkan hatinya, Pak Paul.

PG : Jadi penting sekali orang tua tidak menambah ketegangan anak, karena dengan orang tua memarahi anak sebetulnya akan menambah ketegangan anak. Dan ketegangan tidak meredakan ketakutan, mlah membuat ketakutan makin membesar.

ET : Tapi kalau dia diberi pendampingan, pengakuan, waktu untuk menyesuaikan diri mungkin dia bisa mengatasi penyebab-penyebab ketakutan, itu akan lebih menolong buat si anak.

PG : Jadi kita mau mengakui bahwa ketakutan itu adalah reaksi yang wajar, tidak ada yang harus malu dengan rasa takut dan ketakutan terhadap penyebab itu adalah hal yang wajar pula. Misalkantakut karena ada teman-teman yang suka mengganggunya, melecehkannya dan kebetulan teman-temannya itu jumlahnya lebih banyak atau tubuhnya lebih besar sehingga dia merasa takut.

Mungkin sebagai orang tua ada baiknya kita mengakui juga ketakutan terhadap hal seperti itu, karena itu adalah hal yang wajar.

ET : Jadi cukup realistis kalau mungkin papa atau mama menjadi seperti kamu, papa mama juga akan ketakutan, tetapi bagaimana cara kita untuk mengatasinya. Itu akan sangat menguatkan sekali bat si anak.

IR : Jadi paling tidak sebagai orang tua harus tega untuk anaknya, misalnya terpaksa ya harus dipaksa berpisah dengan orang tua selama di sekolah. Ini ada pengalaman dahulu, waktu anak saya juga takut sekolah. Ruangan kelasnya sudah ditutup, tetapi dia buka jendela lalu dia melompat. Akhirnya dipaksa oleh gurunya untuk masuk lagi. Kami sebagai orang tua sebenarnya juga tidak tega, bagaimana menurut, Bu Esther?

ET : Ada sekolah tertentu yang rasanya masih mengizinkan paling tidak orang tuanya ada di depan kelas untuk anak-anak kasus seperti itu, sehingga kalau dia buka jendela atau dia mengintip jedela dia lihat o..

ada mama, cuma memang tidak semua sekolah mengizinkan seperti itu, jadi memang harus tega.

PG : Sebetulnya yang lebih baik yang mana Bu Esther, membiarkan anak itu di sekolah sendirian atau untuk sementara orang tua menemani. Jadi orang tua berada di dalam gedung sekolah meskipun idak langsung di kelas, tapi ada di pekarangan.

Sehingga si anak tahu ibunya atau ayahnya berada di pekarangan sekolah, sebetulnya mana yang lebih baik?

ET : Kalau menurut saya, apalagi kalau anak itu punya masalah nyali seperti yang kita katakan tadi, ada baiknya pendampingan orang tua di dalam kompleks itu. Karena dari beberapa kasus yang aya hadapi dengan sekolah mengizinkan seperti itu, prosesnya juga ternyata lebih cepat.

Dalam waktu beberapa minggu anak sudah tidak keberatan untuk ditinggalkan orang tuanya, tetapi memang minggu-minggu pertama sangat berat. Pertama dia harus yakin orang tua harus ada di depan kelas, lama kelamaan yang penting dia tahu mama ada di pekarangan, lama-lama yang penting waktu istirahat saya bisa ketemu mama dan akhirnya sekarang ditinggal sudah tidak apa-apa. Jadi prosesnya malah lebih positif daripada dipaksa seperti itu, mungkin kalaupun bisa butuh waktu yang lebih panjang lagi bagi si anak.
IR : Akhirnya anak itu selama 3 bulan menangis terus di kelas.

ET : Lebih sulit, tapi mungkin ada cara lain juga dengan kalau memang sekolah tidak mengizinkan kita bisa menggunakan pendekatan teman-teman yaitu sebagai orang tua kita coba carikan teman yng mungkin rumahnya dekat cukup terjangkau, kenalan dengan orang tuanya.

Kemudian kalau memungkinkan diundang ke rumahnya atau mungkin anak ini dibawa main ke rumah teman-teman itu, supaya sedikit demi sedikit dia merasakan ada rasa aman, ada orang-orang yang dia cukup kenal di kelas begitu. Mungkin proses ini juga membantu mengurangi ketakutan kalau memang orang tua dilarang untuk menemani di dalam kelas.
GS : Sebenarnya ada baiknya juga kalau menurut saya, Bu Esther, ada masa-masa persiapan. Jadi sebelum tahun ajaran dimulai, anak sudah mulai dikenalkan dengan sekolah. Jadi artinya sering diajak lewat di depan sekolah atau kadang-kadang ada kesempatan masuk di dalam sekolah, diperkenalkan seperti tadi Pak Paul katakan, teman-temannya yang dekat rumahnya sudah sekolah di sana, itu juga akan sangat membantu saya rasa.

ET: #9;Ya, bisa tapi kalau memang ternyata ada pengalaman-pengalaman trauma tertentu nanti ketika dia sekolah tetap akan muncul.

GS : Itu sebagai upaya saja untuk mengurangi kecanggungan anak untuk masuk ke sekolah, cuma masalahnya memang agak jarang sekolah-sekolah khususnya TK yang memberikan hari-hari tertentunya itu bisa terbuka untuk umum, di mana beberapa anak khususnya calon murid diperbolehkan masuk. Juga ada teman-teman dari orang tuanya ini seolah-olah mengejek atau melecehkan si orang tua ini, kenapa anakmu itu penakut sekali dan sebagainya. Lalu orang tua menjadi jengkel sehingga anaknya yang jadi sasaran untuk dipukuli dan sebagainya, dipaksa untuk masuk sekolah tadi, bagaimana seharusnya, Pak?

PG : Karena si anak mempermalukan mereka ya? Saya kira orang tua sebagai manusia seperti kita semua tidak lepas dari tekanan perbandingan. Dalam perbandingan itu kita ingin anak-anak kita nomal-normal atau justru di atas dari yang normal, jadi waktu anak kita di bawah yang normal kita pasti merasa malu.

Namun penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap anak itu tidak sama. Tadi Ibu Esther sudah menekankan bahwa ada anak yang sejak lahir membawa karakteristik keras, kuat, ada anak yang sejak lahir membawa karakteristik agak lembut sehingga agak takut dan sebagainya. Orang tua harus menerima anak apa adanya, sehingga tidak tunduk pada tekanan-tekanan di luar harus seperti anak-anak yang lain. Ibu Esther, bagaimana secara rohani sebagai orang Kristen, apakah ada cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menolong anak-anak yang takut ke sekolah ini?

ET : Sebenarnya ini juga kalau memang keluarganya kuat dari segi rohani, juga bisa dijadikan seperti sebuah pokok doa di dalam keluarga, berdoa untuk yang namanya siapa agar bisa sekolah denan berani, misalnya.

Jadi kalau memang keluarga itu punya jam doa bersama, bisa dijadikan pokok doa yang rutin setiap malam atau ketika anak sebelum berangkat ke sekolah misalnya diajak baca satu ayat Alkitab yang katakan jangan takut atau yang menguatkan seperti itu dan diajak berdoa. Saya rasa dengan pendekatan seperti itu, anak juga merasa bahwa papa mama sangat memperhatikan dia, papa mama juga berdoa untuk dia. Selain itu sebenarnya Sekolah Minggu juga bisa menjadi wadah untuk membantu anak-anak yang secara karakternya lemah tadi. Jadi mereka sejak kecil sudah diperkenalkan dengan komunitas di luar keluarga, dengan membiasakan anak-anak ke Sekolah Minggu dari kecil. Saya pikir itu juga termasuk salah satu cara mempersiapkan anak untuk sekolah khususnya yang pra sekolah sampai dengan TK, SD. Pengalaman sekolah biasanya menolong buat mereka.

PG : Ya lain lagi, Bu Esther, kalau benar-benar memang ada orang atau teman yang jahat, nakal, apa yang harus dilakukan orang tua?

ET : Ya, ini memang tidak mudah karena itu anak orang lain, tidak bisa langsung kita marahi tapi paling tidak kita bisa mengajarkan, memberikan tips-tips tertentu kepada si anak bagaimana meghadapi teman-teman yang agresif.

Misalnya kalau memang anaknya bukan yang cukup berani, lebih baik menghindari teman-teman yang nakal misalnya. Atau kalau misalnya sampai diserang mungkin perlu dilatih juga untuk membela diri, maksudnya diberitahu kapan memang dia diserang dalam arti kalau sudah dipukul dan disakiti yang berbahaya, kapan memang dia harus bertindak, bukan hanya berdiam diri.

PG : Atau orang tua mungkin harus datang ke sekolah dan memberitahukan guru atau menegur langsung anak tersebut agar tidak mengganggu anaknya.

GS : Pak Paul, dalam hal ini tentunya para pendengar juga mengharapkan ada pegangan dari firman Tuhan. Pak Paul bisa bacakan ayat untuk itu?

PG : Saya akan bacakan dari Galatia 6:1 "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang bear dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan".

Meskipun konteksnya di sini adalah dalam tubuh Kristus dan dosa, tapi kita bisa terapkan untuk hal-hal yang sudah kita bahas. Orang tua perlu memimpin anak ke jalan yang benar, tidak hidup dalam ketakutan tapi lakukanlah dalam roh lemah lembut. Jangan malah memarah-marahi anak.

GS : Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Ibu Esther Tjahja dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak yang takut sekolah. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



25. Menjadi Sahabat Buat Anak


Info:

Nara Sumber: Esther Tjahja, S.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T075B (File MP3 T075B)


Abstrak:

Setiap anak memerlukan seorang sahabat, terlebih bersahabat dengan orangtuanya. Dalam topik ini dikupas tentang bagaimana orangtua dapat menjadi sahabat buat anak.


Ringkasan:

Untuk mengawali agar orang tua bisa bersahabat dengan anak:

  1. Sebagai orangtua harus terlebih dahulu mempunyai sikap yang benar terhadap anaknya. Siapa sih anak saya sesungguhnya, maksudnya apakah hanya sebatas pelanjut keturunan atau marga saja supaya tidak sampai hilang, atau lebih dari sekadar penyambung keturunan. Ulangan 11 : 18, 19, "Tetapi kamu harus menaruh perkataan-Ku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu. Kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Jadi di sini Tuhan meminta kita untuk mewariskan iman kita kepada anak, jadi anak adalah pewaris iman kita, itu adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang tua. Jangan sampai melihat anak hanya penyambung keturunan belaka dan juga penting supaya kita menyadari bahwa anak itu bukanlah beban.

  2. Perlu sekali bagi orang tua untuk memasuki dunia anak. Dalam hal ini pertama-tama kita mesti pahami tahap perkembangan anak dulu dan pola pemikirannya. Dengan kita tahu dia usia berapa dia mampu berpikir seperti apa baru kita bisa masuk dan dengan tahu pola pemikirannya kita juga bisa menggunakan bahasa-bahasa yang memang dipahami oleh anak-anak seusianya. Matius 7 : 12, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi hukum taurat dan kitab para nabi." Jadi mengertilah anak-anak mempunyai perasaan-perasaan seperti kita meskipun situasinya berbeda dan komunikasikan pengertian kita itu kepada mereka.

Sebagai orang tua peran yang harus kita berikan kepada anak adalah:

  1. Kita perlu menerima kelemahan anak kita sendiri. Artinya jangan kita itu melecehkannya karena kelemahannya, justru kalau kita melecehkannya dia tidak merasakan kita sahabatnya sebab kita pun tidak mau bersahabat dengan orang yang melecehkan kelemahan kita.

  2. Kita bersama dia menikmati kesukaannya. Contoh kesukaan anak akan lagu-lagu modern. Hal lainnya lagi kita bisa bermain bersama anak, misalnya berfantasi, main masak-masakan, main boneka dsb.

Jadi persahabatan tidak dibentuk pada usia anak sudah berusia 11 tahun, persahabatan itu dibentuk melewati proses waktu dan harus dimulainya dari bawah. Dari umur sedini mungkin dan waktu kita berhasil membangunnya tahap demi tahap, kita mulai memetik hasil atau buahnya nanti di kemudian hari pada anak-anak remaja.

Untuk menjadi sahabat anak, kita mesti memainkan dua peran yaitu:

  1. Di satu pihak kita memang sahabat, seolah-olah selevel

  2. Di pihak lain kita jangan sampai melupakan status kita sebagai orang tua jadi itupun kita harus pertahankan.

Maksudnya apa? Jadilah orang tua dalam pengertian pertama, kita mesti memberikan cinta kasih kepada anak, kita tidak boleh melupakan bahwa tugas kita adalah mengasihi mereka, memperhatikan dan mendisiplin mereka. Kadang-kadang ada orang tua yang merasa saya dekat dengan anak, bersahabat dengan anak, tapi sampai tidak mendisiplin anak waktu anak berbuat salah. Saya kira ini kesalahan, jadi penting orang tua berfungsi sebagai orang tua yang mendisiplin anak-anak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Pada hari ini kami bersama dengan Ibu Esther Tjahja seorang sarjana psikologi alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang saat ini menjadi staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga sebagaimana biasanya juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi bersama-sama dengan kami akan berbincang-bincang mengenai suatu topik yaitu menjadi sahabat buat anak. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Ibu Esther, sebagai anak sering kali membutuhkan sahabat dan sering kali kita juga orang tua tidak bisa atau tidak terbiasa mungkin ya, menjadi sahabat bagi anak kita sendiri. Kita lebih mudah bersahabat dengan orang yang sebaya dengan kita, tetapi anak yang di rumah dan begitu dekat dengan kita kehilangan atau tidak mempunyai seorang sahabat. Tentunya akan lebih baik kalau orang tua bisa menjadi sahabat buat anak-anaknya. Tetapi masalahnya bagaimana atau dari mana kita itu sebagai orang tua memulainya, Bu Esther?

ET : Memulai untuk menjadi sahabat, yang pertama saya pikir sebagai orang tua tentunya orang tua harus terlebih dahulu mempunyai sikap yang benar terhadap anaknya. Siapa anak saya ini sesungguhya, maksudnya apakah anak itu hanya sebagai pelanjut keturunan atau marga saja supaya tidak sampai hilang.

Apalagi kalau itu hanya misalnya anak laki satu-satunya, atau justru ada sesuatu yang lebih dari sekadar penyambung keturunan.

PG : Nah saya berprinsip, Pak Gunawan, bahwa anak itu bukan penyambung keturunan semata, sebab misalkan kalau kita baca dari kitab Ulangan 11:18,19 dikatakan di sini: "Tetapi amu harus menaruh perkataan-Ku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu.

Kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Jadi di sini kita melihat Tuhan meminta kita untuk mewariskan iman kita kepada anak, jadi anak adalah pewaris iman kita. Seharusnya itu adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang tua. Jangan sampai melihat anak hanya penyambung keturunan belaka dan juga penting supaya kita menyadari bahwa anak itu bukanlah beban. Karena adakalanya anak itu dilihat sebagai beban yang menyebabkan pengeluaran bertambah besar. Misalnya karena ada anak saya tidak bisa melanjutkan sekolah, karena ada anak saya harus berhenti bekerja, karena ada anak saya tidak bisa lagi pergi ke kafe, pergi dengan istri ke kafe karena harus bersama dengan anak pada malam hari. Nah adakalanya sebagian dari kita melihat anak justru sebagai beban, itu keliru sekali, sebab bisa kita baca juga di kitab Ulangan 7:12-13 dikatakan di sini "Dan akan terjadi karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia maka terhadap engkau Tuhan Allahmu akan memegang perjanjian dan kasihnya yang diikrarkan dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Dia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak, dia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu dan sebagainya." Jadi Tuhan berkata kalau kita mendengarkan firman Tuhan, menaati perintahNya, Dia akan memberkati buah kandungan kita dan ini jelas berkat untuk anak-anak kita. Jadi justru mempunyai anak merupakan berkat buat orang Israel saat itu, justru Tuhan memberikan anak sebagai tanda Dia memberkati anak-anaknya, Dia memberkati kita sebagai orang tua. Jadi sikap yang benar adalah sebagaimana yang disinggung oleh Ibu Ester tadi, yaitu menghargai anak sebagai pemberian Tuhan, pewaris iman kita dan berkat yang Tuhan berikan kepada kita.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, sering kali orang tua menjaga jarak, justru dengan anaknya supaya bisa melakukan amanat tadi. Dia tidak mau anaknya kurang ajar kepada dia, ada kekhawatiran seperti itu sebenarnya, bagaimana sikap seperti itu Pak Paul?

PG : Adakalanya orang tua memang takut kalau-kalau saya ini tidak dihormati oleh anak, jadi menjaga jarak atau justru bersikap lebih otoriter kepada anak, saya kira sikap-sikap seperti itu tida perlu.

Wibawa orang tua diperoleh bukan dari sikap menjauhkan diri dari anak, justru anak yang merasakan orang tuanya dekat dengan dia akan lebih bisa menghormati orang tuanya. Justru orang tua yang terlalu jauh menjadi orang tua yang mungkin sekali ditakuti, tapi belum tentu dihormati sebab anak menghormati orang tua yang dekat dengan dia dan yang akrab dengan dia.
GS : Sebenarnya apakah memang ada kebutuhan untuk mempunyai sahabat dalam diri seorang anak, Pak Paul?

PG : Saya kira seorang anak mempunyai kerinduan untuk dekat dengan orang tua dan mau sekali orang tua itu menjadi sahabatnya. Saya masih ingat waktu saya masih SMP, SMA, saya mempunyai teman, tdak banyak.

Ada teman saya yang cerita bahwa mereka itu dengan orang tuanya sangat akrab dan dekat sekali, misalnya bisa bergurau dan sebagainya. Saya kira itu adalah suatu kebanggaan tersendiri karena bisa bermain bersama-sama. Kebetulan saya juga cukup akrab dengan orang tua, misalnya bisa bergurau dengan ayah saya. Beliau kebetulan dulu tubuhnya cukup gemuk, jadi kadang-kadang saya suka bergurau memegang perutnya dan sebagainya. Jadi hal-hal seperti itu membuahkan rasa dekat dan menghormatinya, justru kalau dia terlalu berjaga-jaga saya kira reaksi saya tidak hormat kepadanya.
IR : Jadi kita perlu masuk dalam dunia anak ya Pak Paul, menerima kesukaannya atau kelemahannya?

PG : Betul sekali, jadi memang untuk menjadi sahabat anak saya kira perlu sekali seseorang itu memasuki dunia anak. Nah mungkin di sini Bu Esther, bisa memberikan masukan kepada kita, karena measuki dunia anak terutama anak-anak yang kecil, saya kira cukup susah.

Mungkin sedikit lebih mudah dengan yang beranjak dewasa atau remaja, Ibu Esther bisa memberikan masukan kepada kita semua.

ET : Saya rasa pertama kita harus pahami tahap perkembangannya dulu, dengan kita tahu dia usia berapa dan kemampuan berpikir seperti apa, baru bisa kita masuk begitu. Masalahnya kadang-kadang kta sebagai orang tua suka lupa bahwa kita ini sudah sekian langkah di depan anak kita.

Kadang-kadang kita menuntut dia untuk sepertinya berjalan sejajar dengan kita. Kalau kita punya pola pikir yang seperti itu, artinya kita tidak masuk ke dalam dunianya. Pernah ada orang tua yang mengeluh seperti ini "aduh Bu, anak saya ini sama sekali tidak bertanggung jawab, tidak bisa disiplin" dan keluhan-keluhan seperti itu langsung saya tanya ya "anaknya usia berapa tahun Bu?" 3 tahun. Jadi saya langsung berpikir kenapa ibu ini tidak berpikir, masa anak kecil sudah mengerti yang namanya tanggung jawab. Kadang-kadang kita ini mempunyai label yang sama, tuntutan yang sama seperti kita. Jadi yang pertama-tama untuk masuk ke dunianya ini adalah kita pahami tahapan perkembangannya dan pola pemikirannya. Kalau memang anak masih tahunya yang konkret, lalu kita menyuruh dia memberikan ilustrasi atau kita menjelaskan kepada dia sesuatu dengan cara yang abstrak seperti "Nak, papa mama ingin jadi sahabatmu", sahabat itu apa, jadi mereka belum mengerti. Jadi dengan kita memahami pola pemikirannya, kita juga bisa menggunakan bahasa yang memang dipahami oleh anak-anak seusianya.
GS : Dan memahami pola pikirnya itu tentu saja kita harus banyak terlibat dengan dia, karena tidak mungkin kalau waktu kita sangat singkat bisa langsung mengerti pola pikirnya.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi memang memberikan bukan saja pengertian kita namun waktu adalah hal yang penting. Satu hal lagi yang kadang-kadang kita juga lupakan ya, tadi sudah disinggun oleh Ibu Esther.

Karena kita ini sudah cukup melangkah lebih dulu dan kita lupa tentang masa kecil kita, akhirnya kita mengabaikan sudut pandangnya, perasaannya, dan situasinya yang membuat dia bereaksi seperti itu. Misalkan bagi anak-anak tidak diajak main adalah hal yang sangat mengganggu, menyedihkan, membuat dia terbuang. Ya untuk kita sekarang tidak ada yang main memang tidak merasakan seperti itu. Tapi bukankah sama kalau misalnya kita ini di tempat kerja merasa bahwa teman-teman itu membuat klik dan kita itu tidak dimasukkan dalam klik mereka, ada yang main basket, ada pertandingan apa, semua main kita tidak diundang. Ada pesta semua diundang tapi kita tidak diundang, bukankah kita juga merasa disisihkan, nah anak-anak juga mempunyai perasaan yang sama, perasaan yang namanya tersisihkan, terbuang. Anak-anak akan bereaksi terhadap situasi-situasi seperti itu, jangan sampai kita sebagai orang tua berkata kepada anak-anak kita masak begitu saja kamu sudah marah, sedih, cengeng. Tidak apa-apa teman-teman kamu tidak ada yang mengajak kamu bermain, kamu bisa main sendiri, jangan hiraukan teman-teman yang tidak mengajak kamu main, kamu bisa ciptakan permainan sendiri. Bagi saya itu adalah kalimat atau perkataan yang tidak realistik, sebab kitapun dalam keadaan kita sekarang kalau tersisihkan akan merasa sedih, terbuang, nah anak memang situasinya berbeda tapi perasaannya tetap sama. Jadi saya mau mengingatkan kita semua sebagai orang tua untuk berbuat kepada anak seperti yang kita kehendaki orang berbuat kepada kita pula, ini yang disebut atau prinsip hukum emas yang terambil dari Matius 7:12 yang kalau saya boleh bacakan berbunyi "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi hukum taurat dan kitab para nabi." Jadi mengertilah bahwa anak-anak mempunyai perasaan-perasaan seperti kita, meskipun situasinya berbeda dan komunikasikan pengertian kita itu kepada mereka.
GS : Di ayat tadi yang Pak Paul bacakan itu, penekanannya adalah perbuatan dari orang dan juga kita melakukan apa yang orang mau lakukan pada kita. Nah perbuatan apa yang seharusnya cocok atau yang tepat kita lakukan terhadap anak itu?

PG : Saya kira kalau kita dalam situasi seperti itu, kita tidak mau orang malah memarahi atau mempermalukan kita atau melecehkan kita. Misalkan kita diajak ke pesta oleh teman-teman, tetapi tidk diajak pertandingan basket.

Kita pasti merasa sedih dan kita tidak ingin orang menyudutkan kita. Masak begitu saja kamu sedih, kamu ciptakan permainan sendiri, kita pasti tidak mau orang begitu kepada kita. Kita mau orang berbuat kepada kita seperti apa? Menerima kita, mengerti perasaan kita yang tersisihkan. Nah perbuatlah hal yang sama kepada anak-anak kita. Yang mereka butuhkan adalah pengertian bukan penyudutan atau pelecehan.
IR : Kalau kita sebagai orang tua, Pak Paul, peran apa yang harus kita berikan pada anak-anak kita?

PG : Saya kira yang pertama seperti yang Ibu Ida sudah singgung yaitu kita perlu menerima kelemahan anak kita sendiri. Anak mempunyai kelemahannya, tidak semua yang dia miliki adalah kekuatanny, artinya jangan kita ini melecehkannya karena kelemahannya, justru kalau kita melecehkannya dia tidak merasakan kita sahabatnya, sebab kita pun tidak mau bersahabat dengan orang yang melecehkan kelemahan kita.

Misalkan sebagai anak remaja dia memang kurang begitu bisa bergaul, agak sedikit malu, nah yang penting adalah kita memberitahukan anak kita engkau perlu berusaha dan kalau dia sudah berusaha dan memang sifatnya pendiam kita harus menerima itu juga. Jangan malahan mencerca dia, mengata-ngatai dia karena dia di rumah, tidak pergi. Jadi boleh dorong dia, tapi jangan mencecar dan menghina kelemahannya, anak akan merasa ditolak oleh orang tua yang justru seolah-olah melecehkan kelemahannya. Mungkin dalam hal ini, Ibu Esther, juga bisa memberi masukan ya, apa yang bisa orang tua lakukan dalam hal menerima kelemahan anak yang lebih kecil?

ET : Yang pasti orang tua harus bisa melihat dari sisi anak. Saya jadi teringat pada sebuah ilustrasi tentang seorang anak yang mengatakan dia sedang menggambar mama, tapi ketika dilihat yang trlukis dalam gambar adalah kaki yang panjang dengan rok saja.

Lalu orang yang lain memprotesnya, kamu bilang menggambar mama ini cuma kakinya, lalu dia katakan memang hanya segitu yang dia lihat. Memang jarak pandangannya hanya segitu, jadi itulah yang dia gambar. Kita sebagai orang tua memang perlu tahu bahwa memang cara dia melihat hanya seperti itu. Jadi untuk bisa melihat kelemahan, kita juga perlu lihat juga kelemahan itu apakah memang sungguh-sungguh kelemahan si anak dalam arti memang dia belum bisa atau kelemahan dalam arti orang tua yang berambisi, anak saya untuk melakukan ini tetapi kenapa belum bisa begitu.
GS : Memang untuk anak-anak saya rasa yang penting itu adalah peragaan dari tindakan kita yang mereka bisa terima. Jadi kalau kita cuma bicara itu rasanya akan sulit mereka itu menjadi sahabat kita, karena persahabatan adalah sesuatu yang abstrak sekali Pak Paul, tapi tindakan-tindakan nyata apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

PG : Yang bisa dilakukan orang tua adalah kita ini bersama dia menikmati kesukaannya. Kadangkala orang tua merasa canggung untuk bermain bersama dengan anak dan menikmati kesukaan anak, tapi unuk menjadi sahabat anak kita harus belajar menikmati kesukaannya.

Sebagai contoh, kalau misalkan setiap kali anak kita mendengar lagu-lagu modern yang dinyanyikan oleh misalnya Backstreet boys atau Bon Jovi atau yang sekarang lagi populer adalah Westlife, kita berkata lagu macam apa ini, kita marahi dia, nah sulit bagi anak merasa bahwa kita ini sahabatnya. Jadi saya kira orang tua tidak begitu memahami hal ini, sering orang tua berkata saya ingin menjadi sahabat anak saya, sering mengeluhkan kenapa anak-anak tidak mau dekat dengan saya, tidak mau terbuka cerita apa adanya kepada saya. Tapi di pihak yang lain orang tua tidak membangun jembatan, malah membakar jembatan-jembatan itu dengan mencela-cela, memarah-marahi misalnya selera si anak. Nah saya kira kita perlu menikmatinya bersama dia, kita bisa berkata lagu ini nadanya enak atau kata-katanya bagus, sehingga waktu satu kali kita mendengar lagunya yang kurang bagus dan kita berkomentar si anak bisa menerima. Sebaliknya kalau semua lagunya kita cela kebetulan ada yang kurang bagus dan kita akhirnya mau mengoreksinya, dia juga terlanjur membangun persepsi bahwa orang tuanya memang tidak suka pada semua lagu saya, dan dia pasti tidak akan lagi mengindahkan koreksi kita. Nah mungkin pada usia lebih kecil, Ibu Esther juga bisa memberikan masukan di mana orang tua juga bisa turut menikmati kesukaan anak.

ET : Saya sering mendengar banyak orang tua mengatakan, "aduh saya sudah tidak bisa main dengan anak saya karena memang menghabiskan waktu", tetapi mereka tidak menyadari bahwa sebenanya justru dengan berusaha bermain dengan anak umur segitu itulah mereka benar-benar menjadi sahabat dan selain menjadi sahabat sebenarnya itu membantu di dalam proses belajar mereka.

Jadi kadang-kadang orang tua enggan untuk berfantasi, main masak-masakan, main boneka, sementara memang buat anak-anak itulah teman-teman yang memang dunianya. Tapi kalau orang tua bisa meluangkan sedikit waktu untuk bisa bermain bersama mereka, ikut terjun di dalam fantasinya itu akan sangat berarti buat anak, juga sampai dalam tahap berikutnya.
GS : Saya rasa justru dalam pendekatan-pendekatan seperti itu, kita tahu kapan dia sangat membutuhkan kita, Pak Paul dan justru pada saat-saat dia membutuhkan kita ada di sana, persahabatan itu akan terjalin.

PG : Betul sekali Pak Gunawan jadi persahabatan tidak dibentuk pada usia misalkan anak itu sudah berusia 11 tahun, tidak. Persahabatan itu dibentuk melewati proses waktu dan harus dimulainya dai bawah.

Dari umur sedini mungkin dan waktu kita berhasil membangunnya tahap demi tahap, kita mulai memetik hasil atau buahnya nanti di kemudian hari pada waktu anak-anak remaja. Jadi orang tua yang berpikiran mau menjadi sahabat anak setelah anak itu berusia 16 tahun sering kali tidak mendapatkannya, karena memang sudah lewat waktunya. Satu hal Pak Gunawan, yang ingin saya tekankan untuk menjadi sahabat anak, kita harus memainkan 2 peran. Di satu pihak kita memang sahabat, seolah-olah selevel, di pihak yang lain kita jangan sampai melupakan status kita sebagai orang tua, jadi itupun kita harus pertahankan. Nah maksudnya apa, jadilah orang tua dalam pengertian yang pertama kita harus memberikan cinta kasih kepada anak, kita tidak boleh melupakan bahwa tugas kita adalah mengasihi mereka, memperhatikan dan mengkomunikasikan cinta kita kepada mereka. Kita juga jangan melupakan tugas kita mendisiplin mereka, kadang-kadang ada orang tua yang merasa, saya dekat dengan anak, bersahabat dengan anak sampai tidak mendisiplin anak sewaktu anak berbuat salah. Saya kira ini kesalahan, jadi penting orang tua berfungsi sebagai orang tua yang mendisiplin anak-anak. Kenyataannya adalah anak yang tidak menerima disiplin dari orang tua justru makin kurang respek pada orang tua, orang tua yang dihormati anak adalah orang tua yang mengasihi anak dan juga mendisiplin anak. Nah sudah tentu tadi Pak Gunawan sudah singgung, orang tua perlu menjadi contoh yang hidup, panutan yang baik, teladan yang bisa dicontoh oleh anak-anak. Kalau orang tua hanya bisa memberikan instruksi, tapi tidak bisa menyatakan kebenaran itu dalam kehidupannya, dia juga kehilangan wibawa dan akhirnya anak tidak bisa lagi menghormati mereka. Sewaktu anak tidak lagi menghormati orang tua, dia tidak bisa membuat orang tua sebagai sahabatnya. Anak-anak perlu menghormati orang tua baru bisa menjadikan orang tua itu sahabatnya. Saya mungkin bisa mendapatkan masukan dari Bu Esther tentang hal ini.

ET : Banyak orang tua suka mengeluh begini, "aduh anak saya itu keras kepala, kalau sudah melakukan kesalahan disuruh mengaku atau disuruh minta maaf itu susah sekali". Terus ketika dselidiki, ditanya, kita bicara lebih jauh, memang orang tua tidak pernah memberikan contoh seperti itu.

Kadang-kadang orang tua menganggap masa orang tua harus meminta maaf kepada anak, tapi sebenarnya itu adalah nilai yang begitu tinggi yang dapat diajarkan pada anak. Kita bisa berbuat salah dan perlu meminta maaf sekalipun orang tua kepada anak dan juga dalam hal yang tidak sebenarnya kadang-kadang. Kalau di kota besar seperti di Jakarta banyak orang yang menggunakan kalimat yang penting kwalitas daripada kwantitas, jadi walaupun jumlah pertemuan saya dengan anak sedikit yang penting mutunya. Tapi kalau kita mau melihat lebih jauh, itu suatu yang mustahil. Mana mungkin ada kwalitas waktu yang baik tanpa adanya jumlah waktu yang dihabiskan bersama dengan anak, terlebih kalau kita memang mau menunjukkan cinta kasih, disiplin dan contoh kehidupan itu tadi.
GS : Memang seperti Ibu Esther katakan, seperti dikatakan orang yang penting kwalitasnya bukan kwantitasnya. Tapi nyatanya orang yang berkata begitu justru memberi makanan anaknya cukup banyak, Pak Paul, tidak pernah cuma diberikan makanan pokok yang bergizi cuma satu sendok begitu, ternyata agak dualisme orang itu. Tetapi kalau kita betul-betul berpegang pada prinsip yang tadi Pak Paul dan Ibu Esther sudah katakan, ternyata tidak perlu orang tua itu merasa takut untuk dekat atau bahkan menjadi sahabat anaknya lalu dikurangajari oleh anaknya. Buktinya Tuhan Yesus sendiri tidak segan-segan berkata kepada muridNya: "Kamu adalah sahabatku, kamu bukan hamba tapi sahabat", itu sesuatu yang luar biasa, Pak Paul.

PG : Saya kira Tuhan Yesus melambangkan keakraban sekaligus wibawa. Keakraban, Dia dekat hidup bersama dengan muridNya. Wibawa karena dia tidak segan-segan menegur pada waktu murid-muridNya beruat hal yang salah.

Nah, selain dari Dia bisa menegur Dia juga hidup sesuai dengan teguran itu, sehingga Dia itu mewakili atau melambangkan integritasnya yang sempurna. Jadi orang tua yang bisa menegur, tetapi tidak hidup sesuai dengan tegurannya, dia justru akan kehilangan wibawa. Jadi sekali lagi kalau kita boleh simpulkan, orang tua yang menjadi sahabat anak adalah orang tua yang dekat dengan anak namun sekaligus juga bisa menegur dan mendisiplin anak serta hidup sesuai dengan tegurannya itu. Sebagai penutup Pak Gunawan, saya ingat ceritanya Dr. James Dobson, dia sangat menghormati ayahnya dan dia menganggap ayahnya adalah sahabatnya. Nah kenapa dia menganggap ayahnya sebagai sahabatnya, ayahnya itu berbuat banyak untuknya, ayahnya adalah penasihatnya buat dia, kalau ada masalah atau apa dia harus menelpon ayahnya dan bertukar pikiran. Jadi unsur orang tua berbuat untuk anak itu hal yang penting. Di zaman sekarang saya kira ini tantangan buat kita, karena orang tua sering kali mendelegasikan tugas kepada orang lain untuk mengurus anak. Sehingga waktu anak besar anak kehilangan memori ingatan kapan orang tua berbuat sesuatu untuknya, berbuat hal yang baik untuknya. Kapan dia bisa mengenang Ibu memasak buat saya, kapan dia bisa mengenang ayah mengantar saya untuk pergi ke sekolah atau yang lain-lainnya. Nah memori ini adalah memori yang akan membentuk perasaan-perasaan yang positif dari anak terhadap orang tua, sehingga dapat menjadikan orang tua mereka sebagai sahabat.
GS : Kalau kita sebagai orang tua tidak menghendaki anak kita bersahabat dengan orang yang tidak kita senangi sebenarnya peran orang tua besar sekali, Pak Paul untuk bisa menjadi sahabat buat mereka.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Ibu Esther Tjahja dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang menjadi sahabat buat anak. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



26. Membantu Anak Mengelola Kemarahan


Info:

Nara Sumber: Esther Tjahja, S.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T083A (File MP3 T083A)


Abstrak:

Seorang anak sangat membutuhkan penerimaan dari orangtua bahwa marah adalah bagian emosi manusia yang merupakan hal yang manusiawi. Dan hal yang bisa dimiliki oleh setiap orang.


Ringkasan:

Pengekspresian kemarahan ada dua:

  1. Secara aktif misalnya dengan memakai komunikasi verbal. Yaitu dengan kata-kata memaki, menghina orang, mengumpat bahkan juga dengan berteriak. Atau kalau tidak dengan verbal biasanya dilakukan dengan tindakan, misalnya membanting barang, memukul sesuatu, bahkan menendang sesuatu.

  2. Diekspresikan dengan pasif, biasanya ditandai dengan sikap menarik diri, berdiam diri, dengan sengaja tidak mau bertemu dengan orang lain, tidak mau berbicara, atau juga diekspresikan dalam bentuk menangis.

Hal yang menyebabkan anak marah adalah:

  1. Yang paling mendasar sering kali nampak pada anak-anak yang masih kecil, yang belum terlalu bisa mengkomunikasikan apa yang dia mau. Biasanya kalau mereka lagi sakit, badannya tidak enak, mereka tidak bisa bilang apa yang dia rasakan, bawaannya rewel, bawaannya marah.

  2. Kegagalan kadang-kadang juga bisa menimbulkan kemarahan dalam diri seorang anak. Kegagalan yang terus-menerus biasanya membuat seseorang frustrasi, perasaan frustrasi biasanya juga terus tidak tahu harus berbuat apa, tidak bisa keluar dari rasa kegagalan atau frustrasi itu biasanya berbuntut kepada kemarahan.

  3. Mungkin juga ada seorang anak itu membutuhkan perhatian dan tidak mendapatkannya, ini bisa menjadi penyebab kemarahan dalam dirinya. Reaksi orang tuanya melihat dia berbuat ini itu tidak seperti yang dia bayangkan, akhirnya mengkompensasikan diri, marah-marah supaya yang dia butuhkan itu bisa dia peroleh.

Banyak hal yang bisa menyebabkan anak marah, namun orang tua pun bisa memberikan tanggapan atau reaksi yang kurang tepat pada anak di antaranya:

  1. Yang cukup sering terjadi adalah banyak orang tua yang beranggapan marah itu dosa, jadi kemarahan itu identik dengan dosa, jadi orang tidak boleh marah.

  2. Ada juga orang tua yang malah membiarkan anaknya marah, kalau mau marah, marah sana sampai kamu bosan. Jadi orang tua merasa dan berharap dengan dia biarkan begitu saja kemarahan anak mereda.

Orang tua seharusnya bertindak dengan bijaksana. Anak sangat membutuhkan penerimaan dari orang tua bahwa marah itu adalah bagian dari emosi manusia yang manusiawi.

Jadi penerimaan itu penting, orang tua perlu menerima hal itu dan orang tua sendiri perlu mengenali ada tidak kemarahan-kemarahan dalam diri orang tua yang mungkin juga belum terselesaikan. Orang tua bisa membantu dengan mencoba mengajak anak mencari apa sebenarnya yang membuat dia marah. Pada saat anak marah memang sulit mengajak dia untuk mencari penyebab kemarahannya, biasanya itu bisa dilakukan setelah kemarahan si anak itu reda. Tetapi pada saat anak itu sedang marah-marahnya sebaiknya yang dilakukan orang tua adalah dengan tenang dan sabar menghadapinya. Mungkin kita tidak berharap dia akan menceritakan semuanya sekaligus pada saat itu. Tetapi biasanya kalau anak-anak merasa orang tuanya bisa menerima kemarahannya, ia akan mudah diajak kerja sama. Dan sebaiknya juga anak dibantu untuk bisa mengungkapkan kemarahannya dan kenapa dia marah. Itu bisa dipelajari dari orang tuanya, misalnya ibu menceritakan saya marah karena kamu pulang terlambat, tidak minta izin, jadi anak juga bisa belajar.

Amsal 14:29 , "Orang yang sabar besar pengertiannya tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." Yang ditekankan di sini adalah bahwa tidak apa-apa marah, yang harus kita ajarkan kepada anak adalah bukannya tidak boleh marah, tapi cara marah yang tepat.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. Beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti menarik dan bermanfaat. Ibu Esther Tjahja akan mengulas tentang bagaimana membantu anak mengelola kemarahan. Perbincangan ini tentu akan sangat berguna bagi kita sekalian khususnya Anda yang punya anak-anak kecil yang perlu bantuan dalam hal ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Ibu Esther, seorang anak pasti bisa marah tetapi bagaimana sebenarnya cara mereka mengungkapkan atau mengekspresikan kemarahannya itu?

ET : Sebenarnya bukan hanya anak-anak, semua manusia pasti bisa marah, baik anak-anak, orang dewasa sampai orang tua bahkan bayi juga. Dan kemarahan itu sebenarnya dapat diekspresikan secaraaktif.

Misalnya secara verbal yaitu dengan kata-kata memaki, menghina orang, mengumpat bahkan juga dengan berteriak atau kalau tidak secara verbal dengan misalnya membanting barang, memukul sesuatu bahkan menendang, biasanya yang sering menjadi objek kemarahan adalah binatang-binatang piaraan, anjing ditendang, mobil ditendang. Kemarahan juga dapat diekspresikan dengan pasif, biasanya ditandai dengan sikap menarik diri, tidak suka bersama-sama dengan orang lain, lebih baik menyendiri, berdiam diri, jadi memang dengan sengaja tidak mau bertemu orang lain, dengan sengaja tidak mau berbicara dan satu ciri yang lain dari kemarahan yang pasif dapat diungkapkan dalam bentuk menangis, jadi diekspresikannya dengan air mata.
GS : Nah apakah seorang anak yang biasanya mengekspresikan kemarahan secara pasif, dia akan selalu mengekspresikannya dengan cara seperti itu atau keluar juga yang aktif?

ET : Kalau saya melihat biasanya ada pola yang lebih, istilahnya lebih permanen, lebih sering dalam bentuk seperti itu, kalau orang yang cenderung aktif biasanya dia akan selalu seperti itu.Kalau orang yang memang pola kemarahannya pasif, biasanya disuruh marah dengan mengeluarkan perkataan seperti misalnya memaki itu susah, biasanya semarah-marahnya akhirnya menangis.

Tapi kadang-kadang bisa kalau dalam situasi tertentu dengan cara yang sebaliknya, cuma biasanya lebih mayornya ya itu.

PG : Atau kadang kala juga ada pengaruh kepada siapakah dia marah. Saya memperhatikan di rumah, istri saya dibandingkan dengan saya. Saya ini bertaring jadi anak-anak lebih takut dengan saya kalau tidak ada saya, istri saya sering berkata anak ini tadi marah kepada saya, berani begini begitu kepada saya, tapi begitu saya pulang dan bicara dengan dia, dia tidak berani begitu kepada saya.

Dan istri saya pun melihat perbedaannya dan itu sering kali menjengkelkan dia, "mengapa dengan saya dia berani dengan kamu tidak berani". Kita sadari kadang-kadang manusia akan memilih sasaran yang lebih empuk sebagai tempat pengekspresiannya.

ET : Selain itu juga obyeknya, misalnya seperti dimarahi oleh guru, dimarahi oleh orang tua biasanya lain, adakalanya dengan orang tua berani menjawab tapi kalau dengan guru paling-paling haya berdiam diri karena kalau membalas berarti tidak naik kelas.

GS : Yang penting mungkin dia bisa menyalurkan kemarahannya, entah itu secara pasif atau aktif.

ET : Intinya diekspresikan cuma dengan cara bagaimana, memang kalau secara aktif ya aktif tetapi yang tepat secara pasif. Jadi intinya kadang-kadang orang mempermasalahkan tentang ekspresi krena takut kebablasan, tapi di sisi lain juga kebanyakan jadi makan dalam, memang ada dua sisi di sini.

(2) GS : Tapi sebenarnya yang penting adalah mengetahui penyebab kemarahan anak, Bu?

ET : Ya betul sekali.

GS : Nah itu apa saja?

ET : Banyak hal yang bisa menyebabkan anak-anak marah, yang paling mendasar sering kali biasanya nampak pada anak-anak yang masih kecil, yang belum terlalu bisa mengkomunikasikan apa yang di mau.

Biasanya kalau mereka sedang sakit, badannya tidak enak juga tidak bisa mengatakan apa yang dia rasakan, bawaannya mau marah, rewel. Dan biasanya kalau anak sudah lebih besar dan ada rasa sakit juga bisa membuat seseorang marah, cuma biasanya kalau sudah lebih besar sakitnya bukan hanya sakit secara fisik, bisa jadi sakit hati, secara emosi terganggu dia bisa marah-marah, dan apa yang menyebabkan mereka bisa sakit hati atau secara emosi terganggu biasanya juga macam-macam seperti mungkin menghadapi orang tua yang tidak konsisten. Maksudnya, di satu hari dia melakukan sesuatu tidak diapa-apakan, keesokan harinya dia melakukan hal yang sama kena marah atau kadang-kadang dimarahinya hanya ditegur tetapi dengan kelakuan yang sama bisa dihukum dengan keras. Jadi orang tua yang seperti itu bisa membuat anak sakit hati.

PG : Berbicara tentang badan yang sakit Bu Esther, saya kira bukan hanya anak kecil saja kalau sedang sakit mau marah. Saya akui saya pun juga begitu (ET : Apalagi sakit gigi ya?) ya, tubuh tidak enak, kenapa emosi rasanya lebih mudah untuk meletup ya?

ET : Jadi lebih sensitif rasanya, sepertinya syaraf-syaraf kita ini siap buat beraksi terhadap hal-hal yang tidak nyaman.

PG : Rasanya memang daya tahan kita menurun ya, sehingga kemampuan untuk mengontrol emosi menjadi lebih tipis, rupanya itu juga yang kita bawa dari kecil sampai sekarang.

ET : Apalagi kalau misalnya sakitnya juga tidak jelas di mana, biasanya membuat kita juga lebih emosional.

PG : Betul.

GS : Tadi pada awalnya Bu Esther sudah mengatakan bahwa semua orang bisa marah termasuk kita yang sudah dewasa dan menjadi orang tua. Nah anak-anak sering kali memperhatikan kalau kita marah, apakah itu berpengaruh pada pola kemarahan si anak?

ET : Ya itu bisa sekali, karena mereka melihat bagaimana orang tuanya, itu mempunyai kemungkinan yang besar untuk membuat anak meniru pola kemarahan orang tuanya. Jadi kalau misalnya anak seing dimaki-maki walaupun mungkin belum tentu balik memaki orang tuanya, tapi biasanya di luar dia juga akan lebih mudah memaki-maki.

Dan biasanya kata-kata makiannya mirip dengan yang dia dengar dari orang tuanya. Atau kalau misalnya orang tua yang melarang anak membuat marah, biasanya nanti juga akan merasa tidak nyaman dengan orang lain yang marah-marah.
GS : Dan itu sebenarnya berbahaya, mungkin buat orang dewasa tidak terlalu berbahaya mengekspresikan kemarahan seperti itu tapi buat anak kadang-kadang itu bisa berbahaya sekali, Bu Esther?

ET : Ya betul sekali, saya pernah mendengar ada satu orang tua menceritakan tentang suatu hari dia ditelepon oleh pembantu di rumah, jadi ibu ini sedang di kantor ditelepon oleh pembantunya.Dan pembantunya mengeluhkan bahwa anak ini sedang marah kepada adiknya sambil membawa-bawa pisau.

Jadi memang kadang-kadang tidak selalu dari orang tua tapi bisa juga meniru dari apa yang dia lihat dari TV, yang dia dengar. Nah pola-pola seperti itu juga bisa memberi ide pada si anak bagaimana mengekspresikan kemarahannya, kalau memang tidak pernah diarahkan dengan tepat.
GS : Atau mungkin kegagalan, apakah itu bisa menimbulkan kemarahan dalam diri seorang anak?

ET : Ya, kegagalan yang terus-menerus biasanya membuat seseorang frustrasi, perasaan frustrasi biasanya juga bisa membuat tidak tahu harus berbuat apa, tidak bisa keluar dari rasa kegagalan tau frustrasi itu biasanya berbuntut kepada kemarahan.

Misalnya seseorang yang merasa tidak mampu di satu bidang padahal itu dituntut terus-menerus misalnya anak yang memang matematikanya lemah tapi terus dituntut harus mendapat nilai 8, 9, 10 sementara jelas-jelas dia tidak bisa mendapat nilai seperti itu. Hal itu kalau tidak dipahami juga bisa menghasilkan kemarahan buat si anak.
GS : Saya pernah mengalami ada seorang anak yang marah karena dia merasa tidak bersalah tapi dituduh bersalah. Orang tuanya atau kakaknya memarahi dia padahal dia sendiri merasa tidak salah, lalu dia bereaksi dengan keras, nah apakah itu disebut ekspresi kemarahan atau membela diri atau bagaimana?

ET : Kemarahan itu sendiri bisa campuran, biasanya karena merasa diperlakukan tidak adil, karena memang sepertinya jadi kambing hitam, itu juga bisa mengakibatkan kemarahan.

PG : Kalau yang lainnya Bu Esther, seorang anak yang membutuhkan perhatian dan tidak mendapatkannya, apakah ini bisa menjadi penyebab kemarahannya?

ET : Ingin mendapatkan perhatian tetapi tidak dia dapatkan, bisa sekali mengakibatkan dia marah.

PG : Bisa sekali ya, jadi yang dia harapkan reaksi orangtuanya melihat dia berbuat ini itu tidak seperti yang dia bayangkan, jadi akhirnya mengkompensasikan diri, marah-marah supaya yang diabutuhkan itu bisa dia peroleh.

ET : Misalnya orang tua terlalu sibuk, jadi dia minta diperhatikan dengan cara baik-baik rasanya tidak didapatkan, setelah mencapai puncaknya dia mungkin bisa melampiaskan tapi tidak beranilangsung ke orang tuanya.

Misalnya terhadap mainannya, terhadap orang di sekitarnya intinya sebagai protes bagaimana memanfaatkan kemarahannya ini untuk mendapatkan yang dia butuhkan dari orang tua. Jadi biasanya hal ini dipelajari dari waktu kecil, pokoknya begitu dia minta sesuatu tidak didapatkan wah dia marah. Akhirnya pola ini yang dipelajari, semakin besar sepertinya cara itu yang digunakan sebagai senjata supaya dipenuhi keinginannya, dengan dia marah. Dan begitu marah orang tua biasanya kalah, akhirnya diberikanlah apa yang dia inginkan. Dan akhirnya itu terus yang menjadi senjata, senjata untuk mendapatkan hal-hal yang dia inginkan.
GS : Ya kadang-kadang ada yang sampai jongkok di depan toko atau sampai di lantai berguling-guling karena keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Nah masalahnya sekarang adalah setelah kita tadi mengungkapkan banyak hal ternyata yang bisa menyebabkan anak marah; apa reaksi orang tua dalam menghadapi anak-anak yang sedang marah?

ET : Ya, kita akan membahas lebih dahulu cara-cara yang selama ini kurang tepat, yang sering kali dilakukan orang tua. Yang cukup sering terjadi adalah sempat saya singgung sedikit yaitu banak orang tua yang beranggapan marah itu dosa, jadi kemarahan itu identik dengan dosa sehingga orang tidak boleh marah.

Karena dia menerapkan hal itu pada dirinya dia akan mengatakan kepada anak juga tidak boleh marah. Jadi kalau anak sampai marah malah dihukum, sehingga itu justru membuat anak tidak bisa menyalurkan kemarahannya. Sudah sakit hati, mau mengungkapkan dengan marah justru dimarahi lagi tambah sakit lagi. Dan anak juga semakin tidak tahu seharusnya bagaimana, karena pada kenyataannya tidak bisa begitu saja memadamkan amarah yang ada di dalam hatinya.

PG : Seperti memencet/menekan balon ya, kita pencet atau kita tekan di sini akan melejit di sana. Jadi orang tua yang meredam kemarahan anaknya seolah-olah menghilangkan kemarahan, namun sesngguhnya hanyalah memindahkan sasaran kemarahan si anak.

Tadinya mungkin kemarahan tersebut harus dialamatkan kepada orang tuanya, tapi karena tidak boleh dan orang tuanya lebih besar, lebih berdaya, lebih bertaring terpaksa dia harus simpan. Dan akan dia lampiaskan misalkan kepada adiknya, kepada yang lain di luar rumah, jadi sama sekali bukan solusi yang baik, merantai anak untuk tidak boleh marah sama sekali.

ET : Ya apalagi tidak ada alternatif, tidak diberikan alternatif pokoknya jangan marah! Dengan kata jangan marah, anak tidak tahu mesti berbuat apa lagi.

GS : Nah ada juga orang tua yang justru membiarkan anaknya marah, bagaimana dengan hal seperti itu Bu Esther, kalau mau marah, marahlah begitu?

ET : Sampai dia bosan begitu ya, jadi orang tua membiarkan begitu saja berharap kemarahannya mereda. Tapi kalau ternyata penyebab kemarahan itu tidak tersentuh sebenarnya sama saja. Mungkin ada saat itu sepertinya dia merasa puas.

Puas dalam arti mengungkapkan kemarahannya pada saat itu, hanya sesaat, sepertinya reda tapi karena tujuannya belum tercapai, kebutuhannya belum terpenuhi, suatu saat bisa muncul lagi.
(3) GS : Bagaimana orang tua seharusnya bertindak, Bu Esther?

ET : Memang yang kebalikan melarang anak untuk marah adalah anak sangat membutuhkan penerimaan dari orang tua bahwa marah itu adalah bagian dari emosi manusia yang merupakan hal yang manusiai.

Hal yang dimiliki setiap orang itulah emosi. Kalau orang bisa bahagia, orang bisa senang kenapa orang tidak bisa marah itulah bagian dari emosi yang Tuhan berikan juga buat manusia. Jadi memang yang pertama penerimaan, orang tua perlu menerima hal itu dan orang tua sendiri perlu mengenali ada atau tidak kemarahan-kemarahan dalam diri orang tua yang mungkin juga belum terselesaikan. Nah itu kadang-kadang bisa jadi penghambat, mungkin misalnya orang tua sendiri masih berjuang dengan perasaan-perasaan marahnya, jadi dia sendiri sedang merasa tidak suka maksudnya masih terus bergumul dengan perasaan marah, lalu melihat orang lain seperti itu jadi maunya tidak usah marah supaya jangan sampai menghalangi seperti apa yang dialami orang tua. Tapi kalau orang tua sendiri bisa memahami kemarahannya, dia dapat juga menerima emosi kemarahan anak.
GS : Memahami dalam hal ini apakah itu berarti mentolerir kemarahan anak?

ET : Mentolerir maksudnya bagaimana, Pak?

GS : Kita setuju dengan kemarahan itu walaupun berkali-kali dia marah atau sampai memecahkan barang dan sebagainya.

ET : Kita menerima bahwa anak itu bisa marah dan memang sedang marah, itu yang pertama, tapi tidak berarti kita membiarkan cara dia mengekspresikan dengan seenaknya. Kadang-kadang anak-anak ang kemarahannya sampai sekian derajat itu memang yang tidak pernah dipenuhi keinginannya, tidak pernah tahu cara mengekspresikan kemarahan dengan tepat biasanya akan menjadi destruktif, akan ada saja barang-barang yang rusak.

Kadang-kadang anak dengan sengaja melakukan hal tersebut misalnya mereka tahu ini barang kesukaan orang tua, sengaja dia rusakkan supaya bisa membalas dendam, bisa mendapatkan yang dia inginkan. Kalau hal-hal seperti itu tentu saja tidak dapat ditolerir, jadi memang kalau ekspresi kemarahannya arahnya sudah destruktif baik dalam diri sendiri ataupun ke orang lain tentunya orang tua perlu mengendalikan situasi tersebut dan tidak membiarkan ekspresi yang seperti itu. Tapi orang tua bisa membantu dengan mencoba mengajak anak mencari penyebabnya, sebenarnya apa yang membuat dia marah.
GS : Tetapi pada saat anak marah memang sulit mengajaknya untuk mencari penyebab kemarahan dan sebagainya, itu biasanya bisa dilakukan nanti setelah kemarahan si anak reda. Tetapi pada saat anak itu sedang marah-marahnya, apa biasanya atau sebaiknya apa yang perlu dilakukan oleh orang tua?

ET : Memang mungkin kita tidak berharap untuk dia menceritakan semuanya sekaligus pada saat itu, tetapi biasanya kalau anak-anak yang merasa orang tuanya bisa menerima kemarahannya, bisa memhami kemarahannya dan ini memang perlu latihan, anak perlu diajar untuk: "Memang kamu marah tidak apa-apa, tetapi kamu marah kepada siapa? Karena apa?" ini memang perlu dilatih kepada anak.

Kadang-kadang latihan ini tidak terjadi karena begitu anak marah, orang tua sudah ikut tegang atau pusing juga, anak marah orang tua ikut marah jadi saling marah berdua, mana lebih kuat akhirnya anak akan semakin marah karena merasa tidak dipahami. Sebaliknya ketika anak merasa papa atau mama atau orang tua atau orang-orang yang lebih dewasa mengerti kemarahannya, menerima kemarahannya, mereka biasanya akan lebih komunikatif, lebih-lebih kalau kemampuan tersebut sudah dilatih.
GS : Biasanya kemarahan itu akan menjadi-jadi kalau ditanggapi, lalu kemarahannya tambah berkobar-kobar tapi kalau didiamkan seolah-olah merasa tidak ditanggapi, tidak mendapat respon, kemudian kemarahan si anak itu reda sendiri.

ET : Ya memang ini tergantung dengan usia juga, kalau anak sudah lebih bisa diajak komunikasi, mungkin kalau memang dia sedang marah-marah, sekali dibiarkan dia akan menenangkan diri dulu suaya orang tua bisa tenang, anak juga bisa tenang, orang tua bisa berpikir juga langkah apa yang bisa diambil.

Dan ketika dia bisa lebih tenang, mungkin sudah bisa diajak komunikasi, apa yang menyebabkan dia marah.
GS : Apakah tanda-tanda kemarahan itu bisa dilihat sejak awal, misalnya pulang dari sekolah wajahnya merengut atau apa, lapar, kadang-kadang membuat dia cepat marah juga, apakah kita bisa kenali hal itu?

ET : Anak-anak biasanya lumayan ekspresif, apalagi kalau anak-anak yang biasanya ceria suatu saat pulang dengan murung, ditanya tidak mau menjawab ataupun pulang bawaannya dibanting-banting,biasanya sudah bisa kita deteksi ada sesuatu yang terjadi pada anak.

Nah justru ketika kita sebagai orang tua sudah melihat hal ini, orang tua bisa membantu. Kadang-kadang tidak setiap anak bisa dengan spontan bercerita, aku marah atau apa yang dia rasakan. Tapi misalnya kalau memang orang tua bisa menanyakan: sepertinya sedang tidak enak, bertanya dengan cara yang memang memberikan kenyamanan, itu akan membuat anak lebih bisa mengaku, lebih bisa menceritakan, dari pada anak pulang dengan marah-marah terus orang tuanya juga "Kenapa pulang-pulang seperti itu!" Langsung disemprot wah bisa bertambah marah lagi.
GS : Mungkin pola kemarahan kita sebagai orang tua perlu dijaga Bu Esther, khususnya kalau kita marah ada anak-anak di depan kita. Kita menjadi tontonan mereka, kita mesti hati-hati rupanya.

ET : Karena mereka belajar dari apa yang mereka lihat juga. Sebenarnya bukan berarti sebaiknya anak tidak pernah melihat orang tua bertengkar, tidak juga, atau tidak pernah melihat orang tuaya marah itu juga tidak ada contohnya.

Tapi yang perlu adalah mereka melihat bagaimana orang tua mengekspresikan kemarahannya. Bukan berarti ada banyak orang tua yang merasa tidak boleh, kita tidak boleh marah, tidak boleh menunjukkan kejengkelan padahal anak ya tidak belajar. Dan sebaiknya memang anak perlu dibantu untuk bisa mengungkapkan kemarahannya dan kenapa dia marah. Itu bisa dipelajari dari orang tuanya misalnya ibu marah karena kamu pulang terlambat, tidak minta izin, jadi anak juga bisa belajar seperti itu.

PG : Bu Esther, apakah bijaksana bagi orang tua memperlihatkan rapuhnya dia waktu si anak marah, misalnya waktu si anak marah dia ikut menangis, dia memelas pada si anak untuk jangan marah, apakah tindakan itu baik?

ET : Rasanya kalau memang itu menjadi satu cara yang dipakai orang tua supaya anak reda marahnya tidak baik ya. Karena sebaliknya itu orang tua yang memanipulasi anak kalau tadi anak yang meanipulasi orang tua untuk mendapatkan keinginannya; ini orang tua yang sepertinya memanipulasi anak untuk mendapatkan kepentingannya, dalam arti orang tua merasa tidak nyaman dengan kemarahan anak.

Jadi seperti itu tapi kalau misalnya peristiwanya adalah peristiwa yang sangat besar dalam arti memang sungguh-sungguh menyakitkan misalnya anak mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan orang tua mungkin memang tidak apa-apa dalam situasi tertentu orang tua memperlihatkan bahwa orang tua sakit atau sedih. Mungkin dalam situasi-situasi tertentu tapi bukan menjadi pola.

PG : Jadi kita tetap harus mempertahankan wibawa sebagai orang tua, jangan sampai kita ini tunduk pada kemarahan anak. Sebab itu adalah awal dari berkuasanya anak atas orang tua.

ET : Jadi posisinya terbalik, saya setuju karena ada beberapa anak yang akhirnya justru tidak menunjukkan rasa hormat ketika orang tua merasa ini adalah cara pendekatan yang sepertinya mau mngajak anak memikirkan perasaan papa, mama tapi kalau itu terjadi terus-menerus akhirnya anak tidak hormat lagi kepada orang tuanya.

GS : Tapi walaupun anak-anak itu mudah marah, rupanya marahnya lebih cepat reda juga dibandingkan kita yang dewasa. Mengapa seperti itu? Kadang-kadang marah dengan temannya sampai ramai, tetapi mereka cepat bermain lagi. Nah kita sulit untuk seperti itu.

ET : Kalau saya melihat mungkin lebih kepada unsur asam garam ya, maksudnya anak-anak yang seperti itu adalah anak-anak yang memang di rumahnya juga cukup nyaman. Jadi untuk memaafkan juga lbih mudah, sementara kalau kita sudah terlalu banyak pengalaman-pengalaman tidak enak.

Dibohongi, disakiti sehingga lebih susah untuk mengampuni.
GS : Nah Pak Paul, sehubungan dengan ini yang tentunya suatu pembicaraan yang cukup penting bagi kita yang sudah dewasa, apa firman Tuhan yang bisa kita temukan?

PG : Saya membacakan dari Amsal 14:29 "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." Saya kira sekali lagi yang ditekankan Ibu Esther disini adalah bahwa tidak apa-apa marah, yang harus kita ajarkan kepada anak adalah bukan tidak boleh marah, tapi cara marah yang tepat.

Nah ini yang orang tua harus selalu tekankan, orang tua tidak melarang anak marah, orang tua melarang anak marah-marah dengan cara yang tidak sehat misalnya membanting barang atau apa. Tapi marah dalam pengertian menaikkan suara, menunjukkan sikap marah dan misalnya sedikit melawan orang tua itu adalah hal yang memang ekspresi normal dari kemarahan. Nah jadi kita bisa tekankan pada anak, marah tidak apa-apa asal jangan melewati batas, dalam pengertian membuat keributan dan sebagainya. Dan yang kedua adalah kita perlu setelah itu berbicara pada anak, kenapa dia marah dan apakah ada cara lain yang bisa dia gunakan selain tadi menunjukkan kemarahannya. Dengan cara itu anak diajarkan untuk belajar bersabar, nah anak yang diajarkan belajar bersabar, Firman Tuhan berkata akan memperlebar pengertiannya atau hikmatnya atau kebijaksanaannya. Dengan perkataan lain, orang tua yang tidak memberikan waktu mengajar anak untuk bersabar sama juga menyempitkan ruangan untuk dia menjadi bijaksana.

GS : Terima kasih Pak Paul, saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak mengelola kemarahannya. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



27. Membantu Anak Yang Cemburu


Info:

Nara Sumber: Esther Tjahja, S.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T083B (File MP3 T083B)


Abstrak:

Setiap orangtua perlu membantu anak menggali asetnya sebenarnya keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan apa yang mereka miliki, apa yang bisa mereka kembangkan itulah yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain.


Ringkasan:

Perasaan cemburu biasanya muncul dari adanya perasaan pada seorang anak bahwa dia tidak cukup baik, tidak cukup dikasihi, atau juga merasa tidak yakin apakah dia akan diterima atau akan disayang. Pada umumnya rasa cemburu yang cukup kuat seringkali terjadi pada seorang anak ketika ia mendapatkan adik. Jadi ketika si adik baru muncul, anak ini merasa ia yang dulunya menjadi pusat perhatian setiap orang kalau datang ke rumah sekarang tidak lagi diperhatikan.

Reaksi anak yang cemburu bisa macam-macam:

  1. Kalau konteksnya dengan adik baru, awal-awalnya mungkin bisa muncul rasa tidak suka dengan kehadiran si adik. Karena tidak suka dengan adiknya, tidak mau dekat-dekat. Yang makin parah adalah kemungkinan kalau nanti adiknya ini mulai diisengin, disakiti atau dilukai.

  2. Atau mungkin hal-hal yang dulunya dan biasanya sudah biasa dia lakukan sendiri sekarang jadinya tidak mau dilakukan atau tidak bisa lakukan lagi. Dulu sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi sendiri, buang air sendiri, sekarang tidak mau, mungkin tidur minta ditemani atau malah ngompol.

  3. Anak yang mengalami cemburu dan tidak ditanggapi dengan tepat oleh orang tua juga bisa menjadi anak yang marah kepada orang-orang di sekitarnya.

Cemburu seorang anak terhadap kakaknya bisa juga terjadi, biasanya ini disebabkan karena kakak lebih memiliki kesempatan-kesempatan tertentu. Karena sudah lebih besar juga lebih dipercaya boleh melakukan ini itu, tapi dia karena masih kecil biasanya orang tua akan lebih menahan, jangan dulu, akan menghasilkan kecemburuan. Banyaknya pujian-pujian yang diberikan orang tua kepada kakaknya itu juga bisa membuat si adik cemburu kepada kakaknya.

Intinya, setiap pembandingan bisa membuat anak cemburu. Kita orang dewasa juga merasa tidak nyaman kalau kita dibandingkan dengan orang lain. Anak-anak sebenarnya juga sudah merasakan hal tersebut dibandingkan dengan siapapun tidak akan suka. Jadi setiap orang tua harus sadar bahwa ketika pembandingan itu terjadi, biasanya sudah bisa jadi bibit rasa cemburu pada anak.

Sebagai orang tua kita seharusnya sadar dan berusaha, jangan sampai kita bersikap lebih sayang kepada satu anak dibanding anak yang lain. Kita sebagai orang tua harus introspeksi diri, apakah sikap menganakemaskan itu ada pada diri kita. kalau memang benar ada, orang tua harus sadar mengenali dan mengakuinya. Kalau kita tahu anak ini sedang cemburu dengan saudaranya dalam hal kemampuan, kita bisa bantu dengan mencari kemampuan dirinya. Jadi kembali lagi ke keunikan setiap anak. Jadi memang ada baiknya setiap orang tua membantu anak menggali asetnya sebenarnya keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan apa yang mereka miliki, apa yang bisa mereka kembangkan itulah yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain.

Amsal 15:13 "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." Saya kira intinya adalah setiap orang harus mempunyai hati yang gembira, baru bisa menjadi anak atau menjadi orang yang merdeka dan bebas. Anak-anak juga harus mempunyai hati yang gembira, dan untuk mempunyai hati yang gembira anak-anak mesti menyenangi dirinya. Agar anak memulai menyenangi dirinya, tidak ada jalan lain yang pertama adalah orang tualah yang perlu untuk menyenangi anak itu, mengkomunikasikan rasa sayang itu kepada si anak. Anak yang disayangi akan belajar mulai menyayangi dirinya, anak yang disenangi orang tua akan belajar juga untuk menyenangi dirinya, jadi itu awalnya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Esther Tjahja, S.Psi., beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti menarik dan bermanfaat. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang membantu anak yang cemburu dan Ibu Esther Tjahja akan menguraikan hal-hal yang penting dalam topik bahasan kali ini. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Ibu Esther, anak pasti mempunyai perasaan cemburu, iri dan sebagainya. Apakah ada hal-hal tertentu yang sering kali menyebabkan seorang anak bisa menjadi cemburu.

ET : Perasaan cemburu ini biasanya muncul karena adanya perasaan pada seorang anak bahwa dia tidak cukup baik atau tidak cukup dikasihi atau juga merasa tidak yakin apakah saya akan diterimaatau akan disayang atau bahkan yang mungkin paling intinya curiga.

Nanti kalau saya begini curiga tidak diterima atau ditolak oleh orang lain, jadi intinya merasa tidak aman seperti ini bisa membuat orang menjadi cemburu atau iri hati.
GS : Biasanya ini yang sering kali terjadi, rasa cemburu muncul dalam diri anak ketika seorang anak mendapatkan adik. Jadi ketika ada adik yang baru muncul, mahkluk yang mungil, dulunya setiap orang kalau datang ke rumah mungkin dia yang menjadi pusat perhatian, sekarang kalau ada tamu datang ke rumah, yang dicari adik kecilnya ini dan mendapat kado banyak. Sehingga ini akan membuat orang merasa jangan-jangan kalau begini terus saya tidak akan diterima begitu. Atau misalnya nanti ternyata si adik lebih lucu berarti saya tidak lagi selucu dulu, jadi akhirnya akan memicu rasa cemburu pada anak.

PG : Rasa cemburu di sini, Bu Esther, boleh kita katakan sebagai perasaan yang alamiah ya, sebab bukankah secara manusiawi kita ingin menjadi pusat perhatian dan kalau kita sudah menjadi pust perhatian, menjadi orang yang disayangi tiba-tiba harus membagi rasa sayang dengan adik kita, kita sedikit banyak tidak rela begitu.

ET : Apalagi kalau ternyata bukan hanya kemunculannya, mungkin muncul saja sudah menjadi ancaman, ternyata kemunculannya langsung wah....lebih hebat begitu, jelas akan menghasilkan cemburu.

PG : Dulu kita memanggil, Mama langsung datang, dulu kita berteriak Papa langsung datang sekarang kita panggil 4, 5 kali belum datang-datang. (ET: Sementara si adik sekali menangis.... langsng dicari) ya betul jadi reaksi itu memang diharapkan dalam pengertian wajar dan seyogyanya orang tua tidak harus terlalu kaget melihat reaksi si anak yang seperti itu.

Biasanya reaksi seperti apa itu, Bu Esther?

ET : Bisa macam-macam, kalau misalnya mula-mula mungkin bisa seperti rasa tidak suka dengan kehadiran kalau memang konteksnya dengan adik baru. Mungkin tidak suka dengan adiknya, tidak mau dkat-dekat, yang makin parah lagi adiknya mulai diganggu atau dilukai, disakiti, mungkin hal yang lain biasanya dengan hal-hal yang dulunya dia sudah biasa lakukan sendiri sekarang dia tidak mau melakukan atau tidak bisa melakukan lagi.

Dulu sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi sendiri, buang air sendiri, sekarang tidak mau, mungkin malah ngompol, tidur minta ditemani. Lalu juga karena, sebelum ini kita juga pernah membahas tentang anak yang marah, anak yang mengalami cemburu dan tidak ditanggapi dengan tepat oleh orang tua juga bisa menghasilkan anak yang marah kepada orang-orang di sekitarnya.
GS : Kalau cemburu seorang anak terhadap kakaknya biasanya karena apa? Tadi terhadap adiknya yang baru lahir, kalau dengan kakaknya biasanya karena apa?

ET : Kalau dengan kakak biasanya karena kesempatan-kesempatan yang lebih banyak dimiliki si kakak. Karena sudah lebih besar, lebih dipercaya, boleh melakukan ini itu sementara dia karena mash kecil biasanya orang tua akan lebih menahan ya, jangan dulu, biasanya itu akan menghasilkan kecemburuan.

Atau karena kakak sudah lebih besar tentunya juga pengalaman hidupnya lebih banyak, sehingga lebih mahir melakukan beberapa hal sementara dia belum bisa, itu juga bisa. Kalau dia tidak menerima keadaannya atau selalu dibandingkan bisa menjadi cemburu.

PG : Bisa atau tidak karena pujian-pujian yang diberikan orang tua kepada kakaknya bahwa dia bisa begini, dia bisa begitu, sedangkan si adik ini belum membuktikan dirinya apakah itu juga membuat si anak atau si adik itu juga cemburu kepada kakaknya?

ET : Intinya setiap pembandingan buat kita orang dewasa juga tidak nyaman, kita dibandingkan dengan orang lain. Anak-anak sebenarnya juga sudah merasakan hal tersebut dibandingkan dengan siaa pun tidak akan suka.

Jadi ketika pembandingan itu terjadi, biasanya sudah bisa menjadi bibit rasa cemburu pada anak.

PG : Apakah mungkin juga begini Bu Esther, ada orang tua tanpa disadari menyenangi anak yang satu lebih daripada anak yang lainnya.

GS : Meng-anakemas-kan begitu, ya?

ET : Memang ada beberapa orang tua juga dengan terbuka, dengan jujur pernah mengakui memang di antara dua atau tiga anaknya, ada satu anak yang sejak lahir itu sudah lebih sayang, ada perasan yang lebih kuat kepada anak ini.

Jadi waktu anaknya menjadi lebih besar tetap terbawa, memang mereka sendiri mengatakan tidak tahu apa sebabnya tiba-tiba sudah begitu, rasanya lebih senang. Yang pasti dengan sistem atau cara berpikir seperti ini dari orang tua, kecenderungan-kecenderungan ini juga disadari atau tidak disadari oleh orang tua dapat dirasakan oleh anak.
GS : Dan makin anak itu menjadi lebih besar dia tidak lagi di dalam rumah, tetapi sudah mulai keluar rumah entah ke sekolah, entah bergaul itu juga menampakkan kadang-kadang rasa cemburunya terhadap teman-temannya yang lain, bisa seperti itu, Bu Esther?

ET : Ya bisa, misalnya menemukan bahwa orang lain lebih populer dari dia atau orang lain lebih bisa dari dia, itu juga bisa menghasilkan perasaan cemburu. Dan yang paling nyata biasanya kala anak sudah mulai keluar dari rumah, ia juga mulai bisa merasakan yang namanya kecemburuan sosial.

Mulai bisa membanding-bandingkan dulu mungkin di rumah sudah bisa menerima, tetapi ketika keluar dia melihat teman mempunyai mainan lebih baik, teman mempunyai sepatu/barang-barang yang lebih baik, yang lebih mahal sementara orang tuanya tidak bisa memberikan, itu juga bisa menimbulkan perasaan cemburu atau iri hati.
(2) GS : Dan bagaimana halnya dengan anak tunggal yang tidak mempunyai kakak, tidak mempunyai adik, dia sendiri tidak ada alasan sebenarnya untuk cemburu.

ET : Sama saja bahwa intinya secara natural dia ingin menjadi pusat perhatian, jadi ketika anak tunggal ini mempunyai saingan lain, bisa jadi saudara sepupu atau teman yang tampak lebih daridia juga bisa, walaupun tidak kepada kakak atau adik tapi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Biasanya ini juga yang terjadi, anak-anak tidak mau datang ke pesta ulang tahun temannya, karena temannya bisa dipestakan seperti itu namun dia tidak. Perasaan-perasaan seperti ini juga muncul, dia juga mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Atau ada yang mereka miliki yang saya tidak miliki, kesempatan apa yang mereka dapatkan saya tidak dapatkan.
(3) GS : Nah itu kalau terbawa terus sampai anak ini remaja bahkan pemuda atau dewasa akan sangat merugikan, baik buat si anak maupun lingkungannya. Nah kita sebagai orang tua apa seharusnya yang kita perbuat, Bu Esther?

ET : Ya, pertama mungkin orang tua itu sendiri, seperti yang Pak Paul katakan tadi tentang kemungkinan orang tua untuk lebih sayang kepada satu anak dibanding anak yang lain, tentunya kita sbagai orang tua mesti melihat dahulu benar atau tidak, ada atau tidak pada diri kita.

Kalau memang benar ada, kepada yang mana, rasanya mau tidak mau orang tua harus sadar dulu, kenali dulu dan mengakui kalau memang ada. Lalu kalau misalnya ada seperti itu, apa kita rela untuk membiarkan dampaknya nanti pada anak-anak, kalau kita ingat contoh di Alkitab terlepas dari campur tangan Allah yaitu kejadiannya Ishak dengan Ribka terhadap anak-anaknya Esau dan Yakub, mungkin juga ada favoritisme pada orang tua yang akhirnya membuat mereka sepertinya ingin bersaing, Yakub ingin mendapatkan haknya Ishak. Jadi kecemburuan itu juga terjadi karena dari orang tua sudah memilih anak mana yang lebih dikasihi.

PG : Jadi waktu anak menuduh orang tua dalam kemarahan: "Papa lebih sayang kepada adik, mama lebih sayang kepada dia daripada saya." Nah daripada orang tua memberikan jawaban klasik: "Tidak,kami semua sayang dengan kalian.

Secara rata tidak ada yang kami bedakan," mungkin yang Ibu Esther katakan adalah ada baiknya orang tua memeriksa diri juga. Sebab mungkin yang mereka lihat tanpa disadari oleh orang tua itu adalah benar.

ET : Karena anak sudah bisa membaca sendiri walaupun kita mati-matian mengatakan seperti itu dan juga nyatanya tidak pernah memperbaiki sikap itu, anak bisa merasakan dan biasanya akan lebihsakit hati lagi.

Dan ini sering kali yang lebih berat terjadi, kalau pada keluarga dengan dua anak misalnya, satu disayangi Papa, satu disayangi Mama rasanya masih tidak apa-apa, kamu anak Papa, saya anak Mama. Tapi biasanya kalau sudah lebih dari dua yang satu biasanya mempertanyakan saya disayang siapa, itu biasanya lebih menyakitkan buat si anak.
GS : Dan itu bisa menimbulkan kebencian di antara anggota keluarga yang lain, seperti Yusuf dan saudara-saudaranya, karena Yusuf itu dijadikan anak emas ayahnya. Tentu kita sebagai orang tua mencoba belajar untuk mengasihi mereka sama rata supaya sama-sama tidak timbul masalah ini, tetapi seperti yang Ibu Esther tadi juga sudah singgung bahwa sejak kecilpun kadang-kadang kita merasa lebih dekat dengan si anak sulung daripada si anak bungsu, nah ini bagaimana mengatasinya, Bu Esther?

ET : Ya kalau misalnya memang hal itu sudah diakui oleh orang tua, kalau memang mempunyai perasaan-perasaan seperti itu. Ya kadang-kadang tidak bisa disalahkan juga itu natural terjadi begit saja.

Cuma pertanyaan berikutnya adalah apakah dia memang rela kalau nanti anak-anaknya yang kurang dikasihi ini akan merasa cemburu akhirnya malah seperti kisah Yusuf, dicemburui oleh saudara-saudaranya, akhirnya hubungan mereka tidak baik lagi. Jadi tentunya orang tua perlu belajar, memang di dalam hal ini untuk langsung mungkin juga susah tapi belajar untuk bisa memperlakukan sama, belajar untuk menerima keunikan setiap anak. Saya pernah membaca cerita tentang orang tua yang pada dasarnya kurang mengasihi anak, jadi setiap kesalahannya, setiap kelemahannya itu akan tampak lebih menonjol. Misalnya karena secara fisik dia kurang menyenangkan, hidungnya mungkin tidak seperti hidung si Mama karena hidungnya pesek, lalu mata, jadi penampilan fisiknya tidak seperti yang diharapkan oleh orang tua, jadi itu yang terus menonjol. Tapi kelebihan-kelebihan yang lainnya tidak pernah diakui, tidak pernah dipuji, selalu yang dilihat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak itu. Tentunya kalau sudah seperti itu bawaannya ke sana, mana lebih disayang, mana kurang disayang, yang lebih disayang setiap kelebihan akan diangkat, yang kurang disayang setiap kelebihan diabaikan. Jadi kalau memang mau menyamaratakan ya berusaha untuk melihat kelebihan, juga keunikan pada setiap anak.

PG : Ada orang tua yang berkata begini, Bu Esther, kami hanya mau memotivasi anak kami, jadi caranya adalah misalnya si orang tua ini menonjolkan kelebihannya si sulung dengan harapan supayasi bungsu lebih termotivasi.

Jadi apakah itu cara yang baik, Bu Esther?

ET : Ya kalau kebetulan memang sisi kekuatannya sama ya, maksudnya memang orang tua jelas-jelas menyadari dalam hal tertentu sama-sama punya bakat, cuma si kakak lebih rajin latihan, si adikkurang rajin, mungkin itu maksudnya pembandingan yang nyata.

"Ayo... kamu rajin latihan". Yang fatal akibatnya kalau ternyata berbeda, memang kelebihan yang dimiliki si kakak ini tidak dimiliki oleh si adik. Dia sampai kapanpun tidak akan bisa mengejar kemampuan kakak, ini akan mengakibatkan anak selain cemburu juga frustrasi dan akhirnya penghargaan terhadap dirinya juga kurang karena dia akan selalu merasa kurang, padahal belum tentu. Bisa jadi di aspek lain dia mempunyai banyak kelebihan yang si kakak tidak miliki, tapi juga tidak dilihat oleh orang tua. Karena kelebihan yang dimiliki si kakak itu lebih menghasilkan satu kebanggaan buat orang tua.

PG : Dan kadang masalahnya adalah orang tua yang tidak mau menerima hal itu, jadi orang tua tetap mengharapkan bahwa anaknya yang lain-lain juga akan mewarisi yang bagus itu, yang dimiliki oeh si kakak.

Misalnya si kakak bisa main musik, nah orang tua mengharapkan adiknya pun bisa main musik seperti kakaknya, tidak mau menerima fakta bahwa bakat musik tidaklah dimiliki oleh setiap anak.

ET : Jadi kalaupun misalnya orang tua nekat ya, nekat dalam arti tetap memaksa semua anaknya belajar musik ya nanti sampai akhirnya tetap saja orang tua akan frustrasi, sama-sama frustrasi krena tidak pernah ketemu dengan yang menjadi harapannya.

GS : Nah kita semua tentu menghindari kondisi seperti itu sampai terjadi di tengah-tengah keluarga kita Bu Esther, tapi faktanya biasanya anak-anak yang bisa mengerti kita, anak-anak yang bisa mengambil hati kita entah membantu di rumah dan sebagainya itu mau tidak mau menyebabkan kita terbawa atau lebih memprioritaskan dia, lebih memperhatikan dia. Tanpa kita sengaja menimbulkan kecemburuan pada anak yang lain, hanya karena kedekatan saja. Mungkin yang bungsu atau yang sulung itu lebih dekat dengan kita.

ET : Biasanya juga ada orang tua yang mempunyai alasan-alasan khusus misalnya karena anak yang lebih dikasihi itu mungkin secara fisik lebih lemah, dari kecil sakit-sakitan. Punya kekurangankekurangan tertentu, yang akhirnya kasih sayangnya lebih dicurahkan, itu juga biasanya mengakibatkan kecemburuan bagi saudara yang lainnya.

GS : Ya tapi kalau sakit mungkin, yang saya tahu itu dalam satu keluarga anak yang terakhir, anak yang bungsu itu sering sakit dan mendapatkan perhatian khusus. Tapi kakak-kakaknya bisa menerima itu, kakak-kakaknya masih bisa menerima, melihat memang si bungsu ini sering sakit dan badannya kurus dan sebagainya, kakak-kakaknya masih bisa mengerti.

ET : Ya biasanya penerimaan itu akan lebih mudah ditunjukkan oleh saudara-saudara yang lain ketika memang kebutuhan mereka pun tercukupi, terpenuhi. Kalau sampai sama sekali tidak, benar-benr hanya diasuh oleh pembantu, biasanya sekalipun mereka secara rasio mengatakan bisa menerima, maksudnya secara pikirannya mereka bisa mengatakan ya, memang Papa Mama lebih sayang karena dia sakit.

Mungkin mereka bisa berbicara seperti itu tetapi rasa kehilangan, rasa cemburu itu pasti sebenarnya ada di dalam hati mereka, cuma mungkin tidak setiap anak bisa mengemukakan hal itu.
GS : Kalau kita tahu o.... anak kita ini sedang cemburu dengan saudaranya, apa yang bisa kita lakukan terhadap anak ini?

ET : Kalau memang dia cemburu dalam hal kemampuan ya anak bisa dibantu dengan mencari apa kemampuannya sendiri. Jadi kembali lagi kepada keunikan setiap anak, "OK! mungkin si kakak unggul, bik dalam hal ini, kamu mungkin tidak baik tetapi ayo kita cari mana kelebihan kamu mungkin dalam bidang yang lain."

Kalau memang anak dibantu seperti ini anak juga akan lebih percaya diri kalau memang kita tahu sisi-sisi di mana dia kurang dan kita bantu di situ. Anak yang kalah populer juga kita ajarkan dia sebenarnya bagaimana cara berkomunikasi menjalin hubungan dengan orang lain yang baik, supaya kamu lebih diterima. Dan juga tidak harus anak ini sepopuler kakaknya, karena kadang-kadang kalau anak-anak yang introvert seperti itu ya memang tidak selalu menonjol di kalangan orang-orang, tapi tidak berarti dia kalah baik dibandingkan dengan si kakak.
GS : Memang ada yang mengatakan, anak yang cemburu itu diekspresikan dengan kata-kata langsung kepada ibunya waktu itu, lalu ibunya mengatakan makanya kamu jadilah seperti itu. Lalu anak itu terdiam tidak bisa menjawab, nah apakah itu menyelesaikan masalah atau menambah masalah sebenarnya?

ET : Itu diam sambil hatinya pasti luka, karena kembali lagi dibandingkan.

GS : Tapi yang memicu itu dia sendiri, dia mengemukakan itu kepada orang tuanya.

ET : Karena memang ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama bisa jadi karena kecemburuan yang tidak riil dalam arti sama, kita mempunyai sifat dosa yang sebenarnya sama yaitu iri, "bukakah rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri."

Lalu kalau memang seperti itu tidak perlu selalu ditanggapi, dalam arti dia perlu belajar bahwa ada sifat-sifat dosa, iri hati ini perlu diatasi. Tetapi kalau memang pernyataan itu dalam arti setelah orang tua mengevaluasi diri memang ada kekurangan waktu kita berbicara, sebenarnya 'menembak' anak juga, dia sudah mengemukakan yang sebenarnya, tetapi kita katakan "kamu jangan protes", padahal sebenarnya ada kebenaran dibalik protesnya si anak.
GS : Ya tapi tadi seperti yang Pak Paul katakan sebenarnya ibu ini di dalam keterbatasannya ingin memacu anak supaya lebih termotivasi lagi. Cuma mungkin salah pengekspresiannya atau bagaimana?

ET : Jadi memang ada baiknya setiap orang tua membantu anak menggali asetnya mereka, sebenarnya apa yang mereka miliki, keunikan-keunikan, kelebihan-kelebihan mereka, apa yang bisa mereka kebangkan yang menjadi kebanggaan dirinya, sehingga dia tidak perlu iri lagi kepada orang lain karena dia sendiri juga mempunyai, orang lain tidak mempunyai; orang lain punya dia tidak punya.

Jadi artinya setiap orang bertumbuh di dalam keunikannya masing-masing.

PG : Misalkan Ibu Esther, ada seorang ibu datang kepada Ibu Esther menceritakan mengenai dua anaknya, dua-dua wanita. Si kakak misalkan sangat cantik, langsing, luar biasa sosialnya, populersekali di mana-mana dikenal, anak laki datang ke rumahnya menelepon dia dan sebagainya.

Si adik sejak kecil gemuk, lari susah, olah raga tidak pernah bisa baik, akhirnya di sekolah dikenal sebagai si gemuk, anak laki tidak ada yang menelepon dia, hanya berteman dengan satu, dua orang saja sehingga si anak kecil ini selalu merasa sangat terpojok dengan kakaknya yang begitu populer. Apa yang bisa orang tua lakukan melihat kasus seperti ini, Bu Esther?

ET : Memang secara tampak luar fisiknya dan jumlah teman-teman yang dimiliki jelas-jelas sepertinya si adik ini kalah, banyak sekali ketertinggalannya, tapi sekali lagi saya tetap meyakini trlepas dari masalah fisiknya sang adik ini, pasti ada sisi-sisi lain yang menjadi aset dirinya yang masih bisa kita bantu untuk ditemukan.

Walaupun mungkin secara fisik dia gemuk, tapi pasti ada kelebihannya yang lain, misalnya mungkin bukan selalu dalam hal yang menonjol dengan teman-teman mungkin lebih di belakang layar. Misalnya dia mempunyai kelebihan dalam menulis atau dia mempunyai kelebihan dalam keterampilan-keterampilan yang lainnya yang perlu kita bantu untuk mengenalinya supaya dia tidak selalu bertanding dengan si kakak dalam hal itu, sudah jelas si adik kita ajak untuk melihat dirinya yang lain yang memang itu adalah dirinya.

PG : Selain daripada menemukan aset, apakah orang tua juga perlu misalnya mendorong si adik untuk mengikuti program diet. Kalau kamu mau ya kamu harus diet seperti kakakmu, jangan makan terllu banyak dan sebagainya.

Apakah orang tua seharusnyalah memberikan kata-kata seperti itu kepada si anak yang sedang bermasalah dengan kegemukannya ini?

ET : Susah juga ya, karena kalau selama perkataan: kamu mau seperti si kakak, artinya kita masih terus (GS: Membandingkan) ya, masih di dalam arena lomba, sepertinya dilombakan siapa yang meang, siapa yang kalah.

Tapi kalau orang tua mendorong anak untuk diet dalam arti demi kebaikanmu sendiri, ya saya setuju tapi kalau mendorong untuk diet supaya menyamai si kakak, kembali ke pembandingan itu lagi dan ya kalau berhasil, kalau tidak berhasil dia tidak lagi (GS: membuat dia kurang percaya diri lagi), tidak berhasil dalam upaya menemukan dirinya.
(4) GS : Nah apakah rasa cemburu ini selalu negatif atau bisa berdampak positif, Bu Esther?

ET : Pada anak-anak tertentu, biasanya orang mengatakan itu sindrom anak kedua, anak kedua yang cemburu dengan keberhasilan si kakak lalu dia berusaha untuk juga menyamai dalam arti memang da mempunyai kemampuan itu, itu biasanya bisa menjadi sebuah pemicu semangat buat menemukan kelebihan-kelebihannya.

Tapi kalau memang tidak bisa, ya rasanya kebanyakan cemburu memang tetap hal yang negatif.
GS : Tapi justru di situ peran orangtua untuk meyakinkan anak yang kedua ini bahwa memang orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, seperti tadi yang Bu Esther katakan.

ET : Ya kalau memang ternyata tidak bisa dalam banyak hal, kadang ada anak-anak yang memang punya kemiripan dalam bidang-bidang tertentu, ada kesamaan dengan adanya rasa itu membuat mereka brsaing secara sehat, sama-sama bertumbuh sama-sama belajar, itu juga ada cemburu tetapi bisa ditambah dengan penerimaan tentunya ya, membuat dia bisa memicu dirinya juga.

Tapi kalau ada rasa cemburu dan dibanding-bandingkan lagi, biasanya semakin terpuruk.
GS : Jadi sebenarnya peran orangtua di sini adalah mengawasi sampai sejauh mana kecemburuan itu bisa berdampak positif dalam diri anak-anak mereka. Karena menghilangkan sama sekali kecemburuan itu saya rasa tidak mungkin, pasti ada rasa kecemburuan itu. Jadi kita mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin seperti itu maka yang kita lakukan adalah mengelolanya saja, mendampingi mereka supaya jangan termakan sendiri, kecemburuan yang merugikan dirinya sendiri.

ET : Ya akhirnya membuat dia merasa cemburu tapi tidak melakukan apa-apa, ya.

GS : Malah merugikan. Nah Pak Paul, dalam mengatasi atau mengelola kecemburuan pada diri anak ini apakah yang firmanTuhan katakan kepada kita...?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 15:13 "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." Saya kira intinya adalah kita harus mempunyai hti yang gembira baru bisa menjadi anak atau menjadi orang yang merdeka dan bebas.

Nah, anak-anak juga harus mempunyai hati yang gembira, nah untuk mempunyai hati yang gembira anak-anak mesti menyenangi dirinya kalau tidak menyenangi dirinya tidak mungkin dia mempunyai hati yang gembira. Nah, bagaimanakah anak memulai menyenangi dirinya, tidak ada jalan lain yang pertama adalah orangtualah yang perlu untuk menyenangi anak itu, mengkomunikasikan rasa sayang itu kepada si anak. Anak yang disayangi akan belajar mulai menyayangi dirinya, anak yang disenangi orangtua akan belajar juga untuk menyenangi dirinya, jadi itu awalnya.
GS : Ya di awal Alkitab itu, ada kisahnya Kain dan Habel, dikatakan Kain itu cemburu terhadap Habel, sebenarnya apa yang dicemburui Kain terhadap Habel itu Pak...?

PG : Yang dicemburui adalah Habel memberikan yang terbaik kepada Tuhan sedangkan Kain memberikan yang sembarangan kepada Tuhan. Dan kemudian Tuhan dengan jelas menerima persembahan Habel dantidak menerima persembahan Kain.

Jadi yang menjadikan Kain marah adalah kenapa Tuhan tidak menerima persembahannya. Dia gagal melihat apa andilnya, apa tindakannya yang membuat Tuhan menolak persembahannya. Jadi memang setiap anak atau setiap orang perlu berkaca kembali untuk melihat apa andilnya sehingga perlakuan orang terhadapnya seperti itu, demikian juga anak-anak kita tidak bisa menciptakan rumah tangga yang bebas dari perbandingan 100% karena di luar sana juga akan ada perbandingan. Yang penting memang di rumah itu kita juga melimpahi anak-anak dengan cinta kasih dan penerimaan.

GS : Saya rasa itu sesuatu yang sangat penting buat kita semua dan demikianlah tadi saudara-saudara pendengar Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Ibu Esther Tjahja dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang membantu anak yang cemburu. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



28. Bagaimana Membantu Anak Menghadapi Stres


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T088B (File MP3 T088B)


Abstrak:

Dalam hal ini orangtua sangat perlu sekali memberikan suasana yang menerima dan memahami anak serta dapat memberikan suatu lingkungan di mana anak merasa terlindung dan merasa aman.


Ringkasan:

Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar daya tahan terhadap stres yaitu:

  1. Kita perlu memperbaiki cara kita memandang lingkungan di sekitar kita, cara memandang realita di sekitar kita secara lebih utuh dan realistis.

  2. Kita perlu berpikir secara rasional dan lebih sehat di dalam menghadapi kegagalan, baik itu peristiwa yang kurang menyenangkan yang kita alami dsb.

  3. Kita memandang situasi lingkungan dengan cukup realistis, itu kalau kita mempunyai kehidupan yang baik di dalam kehidupan rohani kita. Dalam hal ini kita perlu setiap hari membaca, merenungkan firman Tuhan, karena di dalam firman Tuhan banyak memberikan kepada kita suatu pandangan yang sehat, cara-cara yang baik di dalam menghadapi situasi di sekitar kita yang tidak selalu baik.

Faktor yang menyebabkan anak stres, dibedakan berdasarkan tingkatannya adalah:

  1. Pada tingkatan sedang, kalau misalnya anak harus ikut pindah rumah, pindah sekolah. Kemudian kalau orang tua bertengkar terus-menerus, anak menghadapi kelahiran adiknya, kalau orang tua menikah lagi, kalau anak harus bekerja pada usia yang masih muda, kalau orang tua jarang di rumah semua itu menimbulkan stres bagi anak.

  2. Pada tingkatan berat, kalau misalnya anak harus diopname dan dioperasi di rumah sakit, kemudian kalau orang tua bercerai, kalau anak mengalami perkosaan atau pelecehan seksual.

  3. Pada tingkat yang terberat adalah kematian beberapa anggota keluarga sekaligus atau kalau ada bencana alam atau ada peperangan misalnya kerusuhan dan sekarang mereka harus hidup di pengungsian, ini sebetulnya stres tingkat yang terberat.

Gejala-gejala perubahan tingkah laku akibat stres adalah sbb:

  1. Perubahan tingkah laku menjadi lebih tegang, lebih rewel, lebih gelisah, lebih cemas, lebih cengeng, mundur ke tingkat perkembangan sebelumnya.

  2. Selain itu gejala-gejala yang berakibat fisik. Misalnya pada anak-anak usia 3 tahun bisa sakit lambung, muntah-muntah kemudian demam dan juga sampai usia-usia selanjutnya hal ini bisa terjadi misalnya gangguan tidur, mimpi buruk dsb.

Yang harus kita lakukan untuk menciptakan suasana yang mendukung anak tahan menghadapi stres adalah:

  1. Menciptakan suasana rumah yang harmonis, yang bisa memberikan rasa aman bagi seluruh anggotanya.

  2. Hendaknya jangan sampai di dalam keluarga mempunyai anak di bawah usia 3 tahun lebih dari 2 orang. Supaya mengurangi kemungkinan untuk stres pada anak.

  3. Memerlukan seorang ibu yang responsif terhadap anak, ibu perlu mengetahui hal-hal yang umum mengenai perawatan anak.

  4. Orang tua tidak banyak cekcok

  5. Kondisi rumah bersih dan teratur

  6. Orang tua perlu hadir secara teratur di dalam kehidupan anak.

Yang perlu orangtua lakukan adalah :
  1. Prinsip utama kita perlu memberikan suasana yang menerima, bisa memahami anak dan bisa melihat masalah dari sudut anak.

  2. Kedua, orang tua harus memberikan satu lingkungan, di mana anak merasa terlindung dan merasa aman.

  3. Ketiga, orang tua menciptakan suasana ibadah di rumah sehingga anak terbiasa untuk berdoa, dan minta perlindungan Tuhan dan selalu bersandar kepada Tuhan.

Mazmur 23:4 , "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku. Gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku." Daud semasa hidupnya banyak mengalami stres tetapi dia memberikan banyak ayat-ayat yang indah dan salah satunya adalah dari Mazmur 23 tersebut.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bapak Heman Elia, M.Psi. dan beliau berdua adalah pakar konseling di bidang keluarga dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu yaitu bagaimana menghadapi stres, tetapi kali ini kami akan lebih memusatkan perhatian kami pada masalah bagaimana "Membantu Anak Menghadapi Stres". Jadi kami sangat percaya bahwa Anda bisa mengikuti acara ini dengan baik, maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita bicara tentang bagaimana menghadapi stres dan sekarang kita akan membicarakan bagaimana membantu anak menghadapi stres. Tapi sebelum kita bisa membantu anak menghadapi stres, saya rasa Pak Heman kalau boleh menjelaskan bagaimana kita itu bisa meningkatkan daya tahan diri kita sendiri sebagai orang tua agar kita tidak stres menghadapi anak yang stres itu, Pak?

HE : Saya kira ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar daya tahan kita sendiri terhadap stres. Yang pertama yaitu kita perlu memperbaiki cara kita memandang lingkungan sekitar kit, cara memandang realita di sekitar kita secara lebih utuh dan realistis.

Misalnya kita tidak membesar-besarkan ancaman, tidak menghantui atau menakut-nakuti diri kita sendiri. Kita menyaksikan sesuatu lalu menganggap sesuatu itu pasti akan menimpa diri kita setiap saat. Saya ambil contoh misalnya kita mendengar ada kenalan kita yang mengalami kecelakaan lalu lintas, lalu setelah itu kita benar-benar tidak berani keluar rumah, karena merasa tidak lama lagi saya pasti juga akan mengalami kecelakaan serupa. Tampaknya ini kurang realistis, kalau misalnya kita sudah melakukan pencegahan supaya kecelakaan tidak kita alami, kita tidak perlu takut secara berlebihan untuk keluar rumah. Ketakutan yang tidak realistis seperti ini sering kali merupakan beban stres bagi kita. Ada banyak contoh yang lain seperti kalau kita menghadapi atau pernah mengalami kejahatan tertentu misalnya ditodong dan sebagainya, lalu kita selamat dari penodongan itu, biasanya kita akan merasa gentar untuk keluar rumah karena merasa bahwa seolah-olah setiap kali saya keluar rumah pasti saya diincar, padahal belum tentu seperti itu. Tentu saja penjahatpun tidak setiap kali akan menghadang kita di jalan yang sama dan pada situasi yang sama. Kemudian hal lain yang juga kita perlu perbaiki adalah cara kita berpikir secara rasional dan lebih sehat di dalam menghadapi baik itu kegagalan, baik itu peristiwa yang kurang menyenangkan yang kita alami dan sebagainya. Sering kali apa yang kita alami itu tidak selalu harus membuat kita terpuruk atau merasa gagal dan sebagainya. Tetapi kita harus membisikkan ke dalam diri kita sendiri bahwa kita harus bangkit dari hal-hal seperti itu. Cara berpikir yang rasional berarti kita tidak mengalahkan diri kita dengan menambahkan pikiran-pikiran yang negatif di dalam diri kita. Dan untuk itu semua baik yang pertama maupun yang kedua yang lebih penting lagi adalah yang ketiga bagaimana kita bisa mempunyai cara berpikir yang rasional, sehat dan juga bisa memandang situasi lingkungan dengan cukup realistis, itu kalau kita mempunyai kehidupan yang baik di dalam kehidupan rohani kita. Dalam hal ini kita perlu sering kali membaca, merenungkan firman Tuhan, karena di dalam firman Tuhan banyak memberikan kepada kita suatu pandangan yang sehat, cara-cara yang baik di dalam menghadapi situasi di sekitar kita yang tidak selalu baik. Sering kali apa yang kita alami adalah sesuatu yang kurang menyenangkan, tetapi Alkitab memberikan suatu dasar bagi kita untuk menghadapinya. Terutama di dalam kehidupan iman, saya memberikan contoh misalnya di I Raja-raja. Di situ dicantumkan nabi Elisa dikepung oleh tentara Aram. Dan Gehazi sebagai pelayan dari Elisa itu merasa sangat ketakutan. Waktu itu terjadi Elisa berdoa meminta supaya Tuhan membuka mata Gehazi dan saat itu juga Gehazi melihat di sekitar bukit itu banyak sekali tentara sorga bersama dengan kereta yang berapi. Nah hal-hal seperti ini perlu kita yakini, bahwa apapun yang kita alami itu ada dalam tangan kuat kuasa Tuhan yang menjadi Tuhan dan Allah Bapa kita. Dengan adanya rasa aman, rasa tenang karena kepercayaan kita, keyakinan kita yang teguh kepada Tuhan bahwa apapun tidak akan menimpa kita kalau tidak seizin Tuhan, kita juga akan lebih tenang di dalam menjalani hidup ini dan lebih wajar di dalam menjalani hidup ini.
GS : Masalahnya kita mungkin lebih cenderung mendengar suara orang di sekitar kita daripada suara Tuhan melalui Alkitab, Pak. Karena dalam hubungannya dengan anak itu sering kali pasangan-pasangan muda itu semacam ditakut-takuti. Seharusnya tujuannya bukan menakut-nakuti tetapi ibu-ibu yang lebih senior itu sering kali menceritakan tentang waduh anak ini nakal, bagaimana sulitnya mendidik anak dan sebagainya sehingga ibu muda ini belum-belum sudah stres duluan. Bisa terjadi seperti itu ya, Pak Heman?

HE : Ya bisa terjadi seperti itu, karena itu menjadi orang tua juga harus memahami bahwa adakalanya apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan itu akan memberikan dampak kepada orang lain.Dalam hal ini perkataan tertentu akan membuat anak-anak itu bertambah stres, bukannya memperbesar daya tahan dia terhadap stres tetapi memperbesar stres dari anak.

Demikian juga apa yang kita lakukan dan kita katakan itu juga bisa merupakan suatu stres bagi diri kita sendiri.
(2) GS : Jadi kalau kita sekarang ke topik yang tadi kita sudah sampaikan yaitu bagaimana membantu anak menghadapi stres. Sebenarnya di usia berapa anak-anak mulai bisa mengalami stres di dalam kehidupannya?

HE : Bahkan kalau saya berpikir dari sejak dalam kandungan anak itu sudah bisa mengalami stres. Biasanya kalau ibu yang mengandung itu mengalami tekanan berat, lalu menghadapi misalnya suasaa keluarga yang kurang menyenangkan dan tidak harmonis itu akan berdampak kepada janin.

Dan menurut penelitian janin-janin yang dikandung oleh ibu yang mengalami stres cukup berat, pada masa kelahirannya anak ini akan cenderung lebih banyak mengalami kegelisahan dan ini akan terbawa sampai remaja. Waktu remaja mereka akan cenderung lebih banyak mengalami kecemasan dan lebih cengeng dan sebagainya.

(3) ET : Kalau yang waktu di dalam kandungan ibunya tidak mengalami stres, tapi tetap anak mempunyai potensi untuk stres ya Pak Heman, biasanya apa yang menyebabkan mereka terserang stres atau mengalami stres?

HE : Banyak sekali faktor yang menyebabkan anak itu stres, jadi kalau sekalian saya golongkan menurut tingkatannya secara umum apa yang bisa menyebabkan anak stres pada tingkatan sedang itu isalnya kalau anak harus ikut pindah rumah.

Jadi pindah rumah pun bagi anak itu stres, bagi orang dewasa mungkin pindah rumah tidak terlalu meskipun ada tetapi pada anak ini sudah tingkatan sedang, kemudian pada anak juga kalau dia pindah sekolah. Karena itu tidak diharapkan orang tua mengancam anaknya untuk memindahkan sekolah, tidak begitu saja untuk memindahkan sekolah. Kemudian kalau orang tua bertengkar terus-menerus biasanya juga menimbulkan stres yang cukup berat, tingkatan sedang. Kalau anak menghadapi kelahiran adiknya, kalau orang tua menikah lagi, kalau anak harus bekerja pada usia yang masih muda, kalau orang tua jarang di rumah itu semua menimbulkan stres bagi anak. Sedangkan tingkat yang berat itu misalnya anak harus diopname dan dioperasi di rumah sakit, kemudian kalau misalnya orang tua bercerai itu berat bagi anak dan kalau anak mengalami perkosaan atau pelecehan seksual. Dan stres pada tingkat yang terberat itu adalah kematian beberapa anggota keluarga sekaligus atau kalau ada bencana alam atau kalau ada peperangan misalnya kerusuhan dan sekarang mereka harus hidup di pengungsian, ini sebetulnya stres tingkat yang terberat. Dan tingkatan-tingkatan ini berguna bagi kita untuk kurang lebih memperkirakan begitu, gangguan tingkah laku apa yang akan kita akan hadapi. Semakin berat tentunya semakin besar potensi gangguan tingkah laku yang akan muncul.

ET : Tapi selain dari tingkah laku sebenarnya ada apa tidak hal-hal lain yang terjadi pada anak, yang membuat kita mulai bisa menduga misalnya jangan-jangan dia sedang mengalami stres, Pak Heman?

HE : Mulai dari perubahan tingkah laku dulu, gangguan tingkah laku yang dialami misalnya adalah adanya perubahan tingkah laku menjadi lebih tegang, lebih rewel, lebih gelisah, lebih cemas, lbih cengeng, mundur ke tingkat perkembangan sebelumnya, misalnya tadinya sudah tidak ngompol sekarang ngompol lagi dan sebagainya.

Nah ini semua adalah gejala-gejala perubahan tingkah laku akibat stres dan sekali lagi sebagai catatan ini adalah perubahan. Jadi bukan keadaan yang wajar dari sehari-harinya, mungkin lebih depresi, lebih pemurung, lebih pendiam dan sebagainya. Selain itu masih ada misalnya gejala-gejala yang berakibat pada fisik misalnya pada anak-anak usia 3 tahun itu bisa sakit lambung, muntah-muntah kemudian demam bahkan begitu. Dan juga sampai usia-usia selanjutnya hal ini bisa saja terjadi, gangguan tidur, mimpi buruk dan sebagainya.
GS : Jadi timbulnya stres pada anak itu lebih banyak diakibatkan karena anak itu merasa tidak aman karena pindah lingkungan, karena orang tua bertengkar, Pak?

HE : Yang jelas pada diri anak, anak itu berbeda dengan orang dewasa. Dia sangat bergantung kepada orang dewasa di sekelilingnya, dalam hal ini juga terutama orang tuanya. Jadi memang orang ua itu bisa menjadi sumber stres bagi anak, tetapi sekaligus orang tua juga berperan menjadi orang yang bisa memperbesar daya tahan anak terhadap stres.

Membuat anak itu merasa aman, membuat anak merasa kuat di dalam menghadapi situasi stres di lingkungannya.

ET : Jadi memang peran orang tua di sini sangat penting karena kadang-kadang bisa jadi perubahan itu tidak diperhatikan. Mungkin tidak terlalu dekat hubungannya, jadi anak mengalami perubaha-perubahan tingkah laku ataupun keluhan-keluhan tertentu yang luput akhirnya memang anak sudah mengalami stres di luar pengaruh orang tua.

Dengan luputnya perhatian itu bisa jadi anak semakin stres lagi karena tidak dipahami ya, Pak Heman?

HE : Betul, memang orang tua mempunyai peran yang besar.

GS : Ya orang tua dan anak lingkup hidupnya itu di dalam rumah, di dalam rumah tangga mereka. Suasana bagaimana yang sebenarnya bisa mendukung seorang anak supaya dia lebih tahan menghadapi stres?

HE : Kalau bisa di rumah itu adalah rumah yang harmonis, yang bisa memberikan rasa aman bagi seluruh anggotanya. Itu yang akan memberikan suatu bekal bagi anak untuk menghadapi lingkungan leih baik.

Selain itu juga misalnya saya akan memberikan beberapa contoh di mana anak akan mengalami stres yang lebih besar adalah kalau misalnya keluarga itu mempunyai anak di bawah usia 3 tahun lebih dari 2 orang. Jadi artinya setiap tahun itu muncul seorang anak begitu, kalau bisa jarak antar anak itu agak diperenggang supaya mengurangi kemungkinan untuk stres pada anak, agak dijauhkan begitu. Kemudian kalau bisa waktu menikah ini ada kepribadian yang lebih baik dulu dari masing-masing pasangan, karena seorang ibu dalam hal ini pengasuh utama bagi anak itu mempunyai peran penting. Kalau misalnya sang ibu itu mudah mengalami gangguan tingkah laku atau rentan terhadap stres, ini akan berpengaruh terhadap anak juga. Di samping itu seorang ibu perlu juga responsif terhadap anak, nah ini akan memperbesar daya tahan anak. Ibu juga perlu mengetahui hal-hal yang umum mengenai perawatan anak dan kemudian kalau bisa orang tua tidak banyak cekcok, kondisi rumah sebaiknya bersih dan teratur. Banyak rumah yang kondisi rumahnya tidak teratur sehingga kadang menimbulkan stres yang lebih berat. Satu hal lagi yang juga penting adalah orang tua perlu hadir secara teratur di dalam kehidupan anak. Banyak sekali yang kita saksikan keluarga sekarang, ayah ibu tidak tahu kapan pulang dan sebagainya, dan ini merupakan stres yang berat bagi anak. Karena anaknya terus menanti kapan orang tua saya pulang, bagaimanapun anak perlu ada orang dewasa yang bisa menampung keluhan-keluhannya juga rasa takutnya dan sebagainya. Nah ini beberapa hal yang akan membantu anak untuk menghadapi stres yang dialaminya.
(5) GS : Ya itu tadi sifatnya preventif, jadi untuk mencegah saja. Tapi kalau seandainya ada anak di dalam rumah tangga kita yang mengalami tekanan, mengalami stres, lalu apa yang bisa lakukan terhadap anak ini sebagai orang tuanya?

HE : Prinsip yang utama adalah kita perlu memberikan suasana yang menerima, bisa memahami anak itu dan bisa melihat masalah dari sudut anak itu. Kalau anak itu mengaku sesuatu ketakutan dan ebagainya, janganlah anak itu ditolak atau direndahkan atau diejek apa lagi, nah itu akan memperbesar stres dia.

Kemudian juga hal yang tidak kurang pentingnya, orang tua harus memberikan satu lingkungan di mana anak itu merasa terlindung dan merasa aman. Nah sering kali orang tua kurang bisa memberikan suasana seperti itu, suasana bagi anak merasa terlindung. Kalau anak misalnya pulang mempunyai masalah di sekolah dan sebagainya, adakalanya kita sebagai orang tua cenderung tidak sabar, cenderung cepat marah dan itu akan berakibat anak stresnya tidak terselesaikan. Itu beberapa hal yang saya kira penting dan juga satu hal yang juga saya pikir sangat penting adalah bagaimana kita harus menciptakan suasana ibadah di rumah. Jadi kalau anak pada saat itu tidak di dalam pengawasan kita dan sedang menghadapi suatu masalah, dia sudah terbiasa untuk berdoa, minta perlindungan Tuhan dan selalu bersandar kepada Tuhan, saya kira itu yang penting.

ET : Saya pernah bertemu dengan anak-anak yang mungkin kalau dikatakan keluarganya disiplin, maksudnya kalau tadi Pak Heman katakan kriterianya tentang kehadiran orang tua hadir, tapi juga mnerapkan disiplin itu dengan keras sekali.

Jadi tidak boleh salah ya, semuanya harus benar, segala sesuatu diletakkan di tempat yang tepat, harus melakukan kegiatan tertentu pada waktu yang pas. Kalau memang kita katakan kepada orang tua, orang tua mengatakan itu hal yang baik untuk menciptakan keteraturan di rumah ya. Tapi saya lihat dampaknya juga ke anak, anaknya jadi stres begitu. Jadi dalam hal ini saya melihat banyak orang tua juga sebenarnya kebingungan, di satu sisi mereka ingin melakukan yang terbaik tapi di sisi lain tanpa disadari yang mereka anggap baik itu ternyata menimbulkan tekanan-tekanan tertentu buat anak. Mungkin kalau dalam hal ini, apakah Pak Heman punya masukan atau saran jalan tengahnya bagaimana supaya yang orang tua anggap baik juga tertangkap baik oleh anaknya, anak yang diharapkan baik juga dipahami begitu oleh orang tua?

HE : Yang pertama orang tua perlu memandang atau belajar memandang apa yang dipandang dari sudut anak, jadi sering kali orang dewasa beranggapan anak itu adalah orang dewasa juga cuma dalam entuk mini.

Nah itu yang sering kali secara tidak sadar kita lakukan. Dan akibatnya adalah anak-anak tidak berkembang menurut perkembangannya yang wajar. Saya ambil contoh misalnya soal disiplin, anak usia 3 tahun itu tidak bisa disuruh duduk lebih dari 15 menit, untuk 10 menit duduk diam saja itu sudah bagus sekali. Nah anak usia 3-5 tahun misalnya dia membutuhkan banyak sekali gerakan, harus lari ke sana ke sini jadi kalau dia harus belajar kemudian menulis masih dimarahin lagi otomatis dia tidak suka untuk belajar. Dan kita harus terus berusaha melihat begitu dari sudut anak ini dan yang kedua adalah orang tua perlu belajar untuk memahami perkembangan anak atau psikologi perkembangan anak dengan orang tua mengetahui pada tahap-tahap atau usia berapa saja anak mengalami hal-hal tertentu, maka orang tua akan lebih banyak menghargai anak. Dalam hal disiplin mungkin kita perlu satu topik khusus untuk membicarakan ini, tetapi prinsipnya adalah orang tua harus membedakan antara ketidakbisabertanggungjawaban anak dengan ketidakmampuan anak bertanggung jawab. Apakah anak tidak mengikuti perintah kita itu karena dia belum bisa karena belum matang, belum cukup matang ataukah karena anak itu memang sengaja tidak mau dan menentang begitu, itu harus dibedakan. Jadi kalau kita tahu bahwa dia memang belum bisa bertanggung jawab kita tidak boleh menerapkan disiplin dengan ketat, kita harus melatih dia, setahap demi setahap, itu kira-kira prinsipnya.

ET : Saya punya satu pertanyaan lagi mungkin kalau misalnya memang kita tahu anak itu sedang mengalami stres, memang katakanlah orang tua sudah berusaha untuk melihat dengan cara pandang ana, lalu dia sudah mulai lebih memahami yang dari sisi yang lain lalu para orang tua ini mulai melihat ada saat-saat tertentu anak mengalami stres begitu.

Apakah sebaiknya setiap kali anak mengalami permasalahan, orang tua perlu turun tangan dalam rangka supaya dia tidak sampai stres, tidak sampai stresnya lebih berat atau jangan sampai dia mengalami stres, sebaiknya apa yang harus dilakukan oleh orang tua, Pak Heman?

HE : Saya lebih suka bagi kita orang tua untuk pencegahan, melakukan tindakan preventif dalam arti begini, lebih baik kita memberikan suasana di dalam keluarga kita supaya satu dengan yang lin bisa berkomunikasi secara terbuka tanpa rasa takut.

Nah kalau itu sudah terjalin baik, bagaimanapun juga kalau anak menghadapi satu stres tertentu yang dia tidak bisa atasi, dia tidak bisa diam dan dia akan dengan sendirinya meminta kita untuk membantu dia entah bagaimana caranya. Dan kalau itu terjadi maka kita bersama-sama dengan dia mencoba memecahkan masalah tersebut begitu. Jadi kalau memang ada suasana yang baik di dalam satu rumah tangga, maka biasanya kita tidak perlu selalu melihat gejala anak ini stres atau tidak dan selalu kita harus intervensi untuk bercampur tangan begitu. Adakalanya dengan diskusi atau komunikasi seperti itu kita bisa memperbaiki cara anak memandang dan memperkuat daya juangnya, sehingga dia mau berlatih mengatasi masalahnya sendiri. Misalnya anak yang baru belajar bersepeda dan dia mau kita latih untuk ke sekolah sendiri dengan sepedanya. Pada saat permulaan tentu ada stres yang cukup besar begitu, pada saat itu kalau komunikasi berjalan baik maka kita bisa menghibur anak itu misalnya dengan memberikan contoh bahwa dulu papa atau mama juga seperti ini tegang dan sebagainya tapi lama-lama kalau sudah terbiasa tentu akan lebih baik dan bisa mengatasi ketegangan ini.
GS : Jadi rupanya stres itu memang bisa dialami oleh siapa saja dan tidak selamanya itu jelek karena ada juga yang positif tinggal bagaimana kita me-managenya, mengaturnya, mengelolanya supaya menjadi baik, baik bagi diri kita terutama juga untuk anak-anak kita yang masih butuh banyak pengalaman untuk bagaimana mengelola stres yang mereka alami. Tetapi saya sangat yakin bahwa firman Tuhanlah yang akan memberikan pedoman yang paling tepat untuk hal-hal seperti ini. Pak Heman bisa bagikan sebagian dari firman Tuhan yang cocok untuk ini.

HE : Daud semasa hidupnya banyak mengalami stres dan juga dikejar-kejar oleh Saul yang dihormatinya tetapi dia memberikan banyak ayat-ayat yang indah salah satunya dari Mazmur 23 :4 "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku.

GadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku."

GS : Jadi demikianlah tadi saudara-saudara pendengar Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dan juga Ibu Esther Tjahja, S.Psi. Kami baru saja berbincang-bincang tentang bagaimana membantu anak menghadapi stres. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran serta pertanyaan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



29. Ketegasan dalam Mendidik Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T089A (File MP3 T089A)


Abstrak:

Salah satu masalah dasar di dalam pendidikan anak adalah pergumulan untuk menyeimbangkan antara membiarkan anak sehingga anak bisa mengembangkan dirinya atau membatasi anak yaitu anak tidak bisa semau-maunya. Dan kedua hal ini perlu sekali ada keseimbangan.


Ringkasan:

Dalam mendidik anak, jika tidak berhati-hati, mudah sekali bagi orang tua untuk jatuh ke dalam salah satu sikap yang tidak sehat. Ada orang tua yang terlalu menekankan anaknya sehingga anak kehilangan kebebasan untuk mengembangkan dirinya. Di pihak lain, ada orang tua yang terlalu membiarkan anak berlaku semaunya sehingga anaklah yang mengemudikan orang tuanya.

Kita akan melihat prinsip-prinsip bagaimana menegakkan ketegasan, yang akan diambil dari cerita Alkitab yaitu:
I Samuel 2: 12-14 , dari latar belakang kisah yang dicatat ini kita bisa melihat bahwa kedua anak Eli hidup dalam dosa yang sangat serius.
I Samuel 2:22-24 , kita juga bisa melihat, anak Eli yang seharusnya menjadi suri tauladan ternyata menjadi perintis perbuatan dosa di kalangan umat Israel dan sebagai imam dia telah melakukan begitu banyak hal yang jahat dan berdosa.
I Samuel 2:29 , Tuhan menegur Eli, dari bagian Alkitab ini kita melihat suatu kisah yang tragis tentang seorang hamba Tuhan yang gagal membesarkan anak-anaknya dengan baik di hadapan Tuhan.

Yang dapat kita pelajari adalah:

  1. Eli gagal menetapkan batas hak pada anak-anaknya dalam hal ini hak sebagai imam. Dengan kata lain Eli gagal menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak-anaknya.
    Ada dua hal yang perlu kita perhatikan di sini adalah:

    1. Hak harus disertai kewajiban dan kewajiban berasal dari tanggung jawab yang diserahkan kepada anak. Misalnya hak untuk dicintai orang tua berjalan seiring dengan kewajiban menghormati orang tua.

    2. Tidak ada hak yang tak terbatas, semua hak mempunyai batasnya. Misalnya ada hak untuk memiliki uang saku, tidak berarti dia dapat membeli apa saja yang diinginkannya, ada hak menyuruh pembantu rumah tangga, tidak berarti si anak boleh menyuruh apa saja dan kapan saja.

  2. Prinsip kedua, Eli melakukan pelanggaran yang sama yakni turut mengambil bagian dalam dosa anak-anaknya, dengan kata lain Eli tidak konsisten. Ketidakkonsistenan merupakan pembunuh orang tua yang nomor satu.
    Dua aspek tentang kekonsistenan orangtua:

    1. Orang tua tidak melakukan pelanggaran yang sama atau melakukan hal negatif yang dilarangnya.

    2. Orang tua melakukan hal yang positif yang diharapkannya.

  3. Eli tidak menghukum anak-anaknya. Menghukum anak berarti mendidik anak bahwa tindakan membawa akibat. Hukuman memang perlu dipertimbangkan:

    1. Hukuman diberikan harus sesuai usia anak, jangan memukul keras pada anak yang masih kecil. Dianjurkan pukullah pantat anak jangan badan atau kepalanya.

    2. Hukuman harus sakit namun tidak boleh melukai tubuhnya atau merendahkan martabatnya.

    3. Hukuman diberikan dengan segera setelah pelanggaran dilakukan.

    4. Hukuman diberikan setelah peringatan diberikan atau konsekuensinya diketahui oleh anak.

Amsal 22:6 , "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." Buah ketidaktegasan tidak terlihat dengan segera, buah ketidaktegasan muncul di kemudian hari. Jadi kuncinya adalah jadilah tegas tanpa harus menjadi beringas dan mulailah sejak dini.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kali ini kami beri judul "Ketegasan dalam Mendidik Anak", dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, khususnya mungkin bagi pasangan-pasangan muda yang baru dikaruniai anak, pendidikan anak merupakan sesuatu yang tidak mudah. Jadi melalui perbincangan ini mungkin kita bisa memberikan saran dan sebagainya, tapi sebenarnya apa yang menjadi masalah dasar di dalam pendidikan anak itu, Pak?

PG : Salah satu masalah dasar adalah pergumulan untuk menyeimbangkan antara membiarkan anak sehingga anak juga bisa mengembangkan dirinya atau membatasi anak yaitu anak tidak bisa berbuat seaunya.

Semua orang tahu bahwa kita perlu menyeimbangkan kedua hal ini, namun pada kenyataannya kita tidak terlalu berhasil menyeimbangkan. Kadang-kadang kita menjadi terlalu keras, sehingga menekan anak atau kadang-kadang justru kita terlalu longgar sehingga membiarkan anak berbuat semaunya.
GS : Yang menyebabkan ketidakberhasilan itu apa, Pak Paul?

PG : Biasanya dalam diri kita apalagi yang baru punya anak pertama, rasa sayang luar biasa besarnya sehingga keinginan menyenangkan hati anak sungguh-sungguh juga sangat kuat. Nah apalagi watu anak memberikan sikap atau respons seperti yang kita inginkan kita menjadi tambah senang, sehingga kita ini menjadi tidak tega membatasi perilaku anak.

Yang kedua, kadang-kadang saya kira orang tua sibuk, karena sibuk tidak mempunyai banyak waktu di rumah sehingga adakalanya memberikan sikap yang ekstrim. Yang pertama adalah keras, marah pada anak, tegas sehingga anak-anak merasa sangat tertekan. Atau karena sibuk tidak banyak waktu bisa diluangkan untuk anak, apapun yang anak minta diberikan supaya tidak ada masalah. Nah jadi saya kira 2 hal tadi sering kali menjadi penghambat orang tua memberikan perlakuan yang seimbang kepada anak-anak.
GS : Pak Paul, apakah menjadi masalah bahwa kadang-kadang hanya ketidakseimbangan itu tadi, hanya ibunya saja yang mendidik anak dan ayahnya lepas tangan atau sebaliknya ayahnya yang terlalu banyak terlibat sedang ibunya mungkin bekerja atau sebagai wanita karier.

PG : Bisa terjadi seperti itu Pak Gunawan, jadi orang tua akhirnya juga tidak mempunyai kesetaraan atau memberikan waktu yang cukup untuk mendidik anak. Bisa jadi yang satu sangat-sangat perisif memberikan kebebasan, yang satu agak represif, agak keras.

Nah biasanya kalau itu yang terjadi akan membawa dampak terhadap si anak, si anak akan tahu misalnya kepada siapakah dia harus meminta sesuatu, kepada siapakah dia harus mendapatkan yang dia inginkan itu.
GS : Ya atau mungkin ini Pak Paul, neneknya atau bahkan orang luar dalam hal ini baby-sitter atau yang mau bertindak keras juga tidak berani dia.

PG : Betul, betul karena dia tahu dia di bawah otoritas orang tua dan hanya mewakili orang tua. Betul sekali itu.

ET : Tapi rasanya memang gejala ini justru yang malah semakin parah karena kebanyakan anak-anak justru sekarang dibesarkan bukan oleh orang tuanya sendiri, yang bukan orang tua langsung ya Pk Paul.

Maksudnya pembantu ataupun mungkin keluarga yang lain sehingga mungkin kalau orang tuanya pulang justru manis-manis di depan orang tuanya, tetapi begitu orang tuanya tidak ada nah dia yang menjadi penguasa.

PG : Betul Bu Esther, jadi ada kecenderungan sekarang ini karena orang tua mendelegasikan pengawasan anak pada suster, anak-anak ini menjadi penguasa-penguasa kecil di rumah. Dan ini juga cuup sering saya lihat sewaktu saya misalkan berada di tempat umum, melihat orang tua dengan anak.

Saya menyaksikan banyak orang tua yang lemah sekali terhadap anak, sehingga bukannya orang tua mengemudikan anak malah si anak yang mengemudikan orang tua. Jadi intinya adalah saya kira orang tua perlu mempunyai ketegasan dalam mendidik anak supaya tidak menimbulkan masalah.

ET : Yang pernah saya lihat juga banyak orang tua muda yang keduanya bekerja, jadi memang tidak setiap saat full bersama dengan anak. Kalau anaknya rewel justru si ibu ini langsung memanggilsusternya, begitu anaknya tidak mau makan, susternya yang disuruh menangani karena dia sudah tidak tahu harus berbuat apa.

(2) PG : Betul sekali dan itu seharusnya yang terjadi, Bu Esther. Jadi saat ini yang akan kita lakukan, Pak Gunawan dan Ibu Esther, adalah kita mau melihat kembali prinsip-prinsip bagimana menegakkan ketegasan.

Dan untuk itu saya akan mengungkit satu cerita di Alkitab yang bisa kita jadikan bahan diskusi. Nah, cerita ini menyangkut kehidupan seorang imam bernama Eli. Eli mempunyai 2 orang putra dan seharusnya kedua putranya ini menggantikan Eli nantinya sebagai seorang imam. Saya akan bacakan beberapa bagian dari firman Tuhan yang terambil dari I Samuel. Yang pertama diambil dari 1 Samuel 2:12-14 ini akan memberikan kita latar belakangnya. "Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila, mereka tidak mengindahkan Tuhan ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo." Dari latar belakang ini kita bisa melihat bahwa kedua anak Eli ternyata hidup dalam dosa yang sangat serius. Sebagai imam, Tuhan sudah menentukan bagian-bagian hewan yang boleh diambil dan ada bagian-bagian yang tidak boleh diambil misalnya lemak itu adalah bagian yang tidak boleh diambil oleh imam, harus diserahkan untuk menjadi korban bakaran, tapi ternyata anak-anak Eli ini memakannya, mengambilnya dengan paksa. Dan juga dikatakan di Alkitab bahwa anak-anak Eli ini tidur dengan para perempuan-perempuan yang menjaga kemah pertemuan. Nah kita bisa melihat lagi di kitab 1 Samuel 2:22-24 "Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu kemah pertemuan, berkatalah ia kepada mereka : "Mengapa kamu melakukan hal-hal begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku, bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat Tuhan melakukan pelanggaran." Jadi kita bisa lihat sekali lagi anak Eli yang seharusnya menjadi suri tauladan ternyata menjadi perintis perbuatan dosa di kalangan umat Israel dan sebagai imam dia telah melakukan begitu banyak hal yang jahat dan berdosa. Namun yang terakhir adalah saya ingin membacakan dari 1 Samuel 2 : 29 di mana kita bisa melihat Tuhan menegur Eli. Ternyata Eli ini juga mempunyai kesalahan dan inilah teguran Tuhan: "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihanKu dan korban sajianKu yang telah Kuperintahkan. Dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari padaKu sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umatKu Israel." Nah dari bagian Alkitab ini kita melihat suatu kisah yang tragis, Pak Gunawan dan Ibu Esther, tentang seorang hamba Tuhan, seorang imam yang gagal membesarkan anak-anaknya dengan baik di hadapan Tuhan.
GS : Ya kita tentu bersyukur bahwa Alkitab tidak perlu menutup-nutupi sesuatu yang memang perlu untuk kita pelajari pada saat ini. Dari bagian ini sebenarnya kita bisa belajar apa, Pak Paul, khususnya di dalam pendidikan anak itu?

PG : Yang pertama Pak Gunawan, Eli ini gagal menetapkan batas hak pada anak-anaknya dalam hal ini hak sebagai imam. Ada 2 hal yang perlu kita perhatikan di sini pertama adalah hak harus disetai kewajiban dan kewajiban berasal dari tanggung jawab yang diserahkan kepada anak.

Jadi misalnya hak untuk bermain perlu diimbangi dengan kewajiban menyelesaikan tugas sekolah. Contoh lain lagi hak untuk dicintai orang tua berjalan seiring dengan kewajiban menghormati orang tuanya. Jadi dengan kata lain yang dimaksud di sini adalah Eli itu gagal menetapkan batas hak, dalam pengertian Eli gagal menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak-anaknya. Kita sebagai orang tua jangan sampai melupakan hal itu juga, anak-anak memang mempunyai hak untuk dicintai, diperhatikan oleh kita dan sebagainya, tapi anak-anak juga mempunyai kewajiban dan kewajiban hanya muncul kalau kita sebagai orang tua melimpahkan tanggung jawab kepadanya. Sudah tentu akan terjadilah tarik ulur, kita tahu anak-anak tidak mudah melakukan perintah kita atau melaksanakan tanggung jawabnya. Tapi inilah tugas orang tua untuk melimpahkan tanggung jawab dan menuntut anak untuk melaksanakan tanggung jawab itu. Yang saya takut adalah kita sebagai orang tua apalagi di zaman yang sangat sibuk ini akhirnya gagal melimpahkan tanggung jawab kepada anak. Kita mendelegasikan itu kepada orang-orang lain, anak-anak kita bertumbuh besar tanpa diberikan tanggung jawab sehingga akhirnya tidak menyadari kewajiban, semua akan bisa diselesaikan oleh orang tua dengan jalan pintas. Tidak naik kelas, mudah bagi orang tua menyogok gurunya, misalnya pindahkan ke sekolah yang lain atau apa, sehingga anak benar-benar tidak pernah mendapatkan tanggung jawab itu sehingga tidak melaksanakan kewajiban. Hak tanpa kewajiban sangat berbahaya, ini berarti si anak-anak memang hanya akan mampu menuntut haknya.
GS : Tapi memang lebih mudah memberikan hak kepada anak daripada kita memberikan kewajiban, Pak Paul. Tanpa kita mengenal anak dengan baik, kadang-kadang memberikan kewajiban itu terlalu berat atau terlalu ringan sehingga tidak pas pada proporsi untuk anak itu, Pak Paul.

PG : Bagus sekali masukan Pak Gunawan, jadi memang orang tua harus cukup mengenal anak sehingga tahu berapa porsi yang bisa dia laksanakan dan juga mengerti kondisi si anak sehingga tidak sebarangan menuntut anak, itu betul sekali.

Ada kecenderungan juga orang tua yang memang memberikan tanggung jawab terlalu ringan kepada anak-anaknya. Tapi intinya selalu konsep ini jangan sampai dilupakan oleh orang tua, ada hak perlu ada kewajiban. Yang berikutnya lagi tentang ini, Pak Gunawan, tentang membatasi hak, anak-anak Eli dikatakan dia tidak menyadari batas haknya. Jadi yang kedua adalah tidak ada hak yang tidak terbatas, semua hak mempunyai batas. Misalnya ada hak menyuruh pembantu rumah tangga, tidak berarti si anak ini boleh menyuruh apa saja dan kapan saja, misalnya begitu. Atau yang lainnya adanya hak untuk memiliki uang saku, tidak berarti dia dapat membeli apa saja yang diinginkannya. Anak-anak kami juga dapat uang saku, kadang-kadang dititipkan uang atau diberikan uang waktu ulang tahun oleh kakek neneknya. Kadang-kadang mereka menuntut membeli barang yang ia inginkan dan berkata ini uang saya, saya dan istri saya berkata: "kamu tidak bisa membeli barang semau kamu, kami sebagai orang tua mempunyai kewajiban dan hak untuk menuntun kamu agar bisa membeli barang yang cocok, kami tidak akan membiarkan kamu semaunya menghabiskan uang ini." Jadi hak tetap mempunyai batas, jangan sampai orang tua melalaikan dan lupa akan hal ini, seolah-olah anak-anak itu selalu bisa saja melakukan apa saja. Pembantu misalkan di rumah untuk membantu rumah, membantu tugas-tugas rumah tangga, jadi si anak sepatu dipakaikan, kaos kaki dipakaikan, sudah umurnya misalnya 12 tahun tidak masuk akal jika hal itu masih dilakukan. Jadi si orang tua di sini bertugas berkata: "engkau yang harus memakai sendiri, misalkan piring habis makan. Kenapa orang tua tidak mendidik anak untuk membawa piring ke dapur meskipun ada pembantu yang bisa mencucikan atau mengambil dari meja makan, paksa anak untuk membawakan piringnya ke dapur, jadi tidak berarti dia punya hak dia bisa pakai hak itu tanpa batas. Nah ini yang terjadi pada anak-anak Eli tidak mengenal batas, haknya itu seolah-olah terus bisa saja dia pergunakan.

ET : Tapi kalau kita lihat di bagian yang tadi Pak Paul bacakan 1 Samuel 2:22-24 bukankah di sana dikatakan Eli juga mencoba untuk menegur anak-anaknya, itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Bagus sekali Bu Esther, memang ternyata Eli ini pernah menegur anaknya, betul, pertanyaannya kenapa di bagian berikutnya Tuhan menegur Eli bahwa Eli itu lebih menghormati anak-anaknya dripada Tuhan.

Dan ternyata di sini ada jawabannya, Tuhan berkata: "Engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihanKu dan korban sajianKu." Ini prinsip kita yang kedua yang kita bisa pelajari dari kisah Eli dan anak-anaknya. Yaitu Eli melakukan pelanggaran yang sama, yakni turut mengambil bagian dalam dosa anak-anaknya. Dia tegur ya tegur, memarahi anaknya ya memarahi anaknya, tapi jelas-jelas Eli itu dimarahi Tuhan, ditegur Tuhan karena dia berpartisipasi dalam dosa anaknya. Rupanya anak-anaknya mengambil makanan yang begitu sedap dan dibawa ke rumah Eli ikut makan, jadi dengan kata lain yang bisa kita simpulkan Eli itu tidak konsisten. Ketidakkonsistenan merupakan pembunuh otoritas orang tua yang nomor 1. Nah saya mau menjabarkan 2 aspek tentang kekonsistenan. Yang pertama, orang tua tidak melakukan pelanggaran yang sama jadi orang tua yang konsisten. Contoh orang tua yang sering pulang larut malam tidak akan berwibawa melarang anaknya pulang larut malam. Dia sendiri pulang jam 01.00, jam 02.00 habis karaoke, nah anaknya pulang jam 01.00, jam 02.00 apakah dia bisa memarahi si anak, menegur si anak? Tidak mungkin. Dan si mama misalkan yang pergi keluar itu si papa, si mama tidak bisa menegur si anak pula karena si anak bisa langsung berkata: "Papa pulang jam 02.00 kenapa saya dimarahi pulang jam 02.00, begitu. Contohnya yang lain tentang kekonsistenan ini, orang tua perlu memberi contoh kehidupan yang dituntutnya itu. Misalnya orang tua yang jarang membaca akan mengalami kesulitan memaksa atau menuntut anaknya untuk sering-sering membaca. Jadi kalau seorang ayah mengharapkan anaknya rajin membaca, dia perlu memberikan contoh itu juga, dianya sendiri juga rajin membaca. Kalau dia berkata kepada anak-anaknya jangan buang waktu, kamu buang-buang waktu saja tapi si anak melihat si papa jam 08.00-an, jam 09.00-an kedatangan teman-temannya, tamu-tamunya untuk mengobrol, nah apa yang si anak lihat, si papa membuang-buang waktu. Jadi dengan kata lain yang namanya konsisten adalah memberikan contoh itu sendiri sehingga si anak mudah untuk mentaati contoh itu. Jadi dengan kata lain, kekonsistenan orang tua berarti ada 2 aspek di sini, tidak melakukan hal negatif yang dilarangnya dan melakukan hal positif yang diharapkannya. Eli gagal di sini, Eli ikut makan makanan-makanan yang dibawa oleh anaknya itu, jadi dia ikut berdosa. Apakah dia bisa menegur si anak dengan wibawa? Tidak bisa, tegurannya tidak dihiraukan oleh anak-anaknya. Dan Eli sendiri tidak memberikan contoh yang baik yang dia inginkan, dia ikut makan. Jadi orang tua juga harus menyadari kalau sampai anak-anak itu tidak mendengarkan dan tidak menghiraukan otoritasnya, mungkin sebagian itu adalah kesalahan yang ada pada diri orang tua sendiri.
GS : Ada orang tua yang mengatakan dengan kata-kata mungkin itu agak memudahkan, lalu dia katakan lho jangan contoh ayahmu misalnya, jangan contoh seperti ibumu, apakah kata-kata itu cukup berarti buat anak?

PG : Jangan contoh dalam pengertian memang itu hal yang buruk dari si ayah itu, si ibu itu memberikan contoh yang positif yang bagus, mungkin itu berdampak positif pula karena si anak akan mlihat yang berbicara tidak melakukannya begitu.

Tapi tetap akan jauh lebih baik kalau ayah dan ibu sama-sama tidak melakukannya, sehingga tuntutan mereka menjadi tuntutan yang bisa dihormati oleh si anak.

ET : Kalau tadi Pak Paul juga sempat menyinggung soal kesibukan orang tua, rasanya ini masalah krisis untuk zaman sekarang. Karena yang mau dicontoh juga apa ya, waktu bertemu dengan orang tuapun begitu singkat sehingga berbagi hidup, contoh hidup yang nyata itu rasanya memang mungkin sulit didapatkan oleh anak-anak untuk zaman sekarang ya, Pak Paul?

PG : Betul sekali, itu masukan yang baik Bu Esther. Jadi orang tua akan juga kesulitan menuntut dari anak-anak karena anak-anak tidak bisa melihat orang tua itu melakukannya juga, sebab jarag bertemu.

Jadi sekali lagi perlu meluangkan waktu yang lebih banyak pada anak-anak, sehingga anak-anak bisa melihat orang tuanya dengan lebih banyak pula.
GS : Apakah ada hal-hal lain Pak Paul yang kita bisa pelajari dari sikap Eli terhadap anak-anaknya?

PG : Yang ketiga adalah Eli tidak menghukum anak-anaknya, Pak Gunawan. Dosa perzinahan menuntut hukuman mati pada saat itu, bukan hanya pencopotan jabatan imam. Nah Eli tidak melakukan dua-danya, tidak mencopot jabatan imam pada anak-anaknya dan tidak menghukum anak-anaknya.

Menghukum anak tidak berarti kejam, adakalanya ini konsep yang dimiliki oleh sebagian orang tua, menghukum anak berarti mendidik anak bahwa tindakan membawa akibat. Ini adalah pelajaran yang penting dalam hidup, tindakan membawa akibat. Salah satu tanda kedewasaan ialah keberanian untuk menanggung akibat perbuatan kita, jadi anak-anak perlu didewasakan. Salah satu cara mendewasakan anak adalah mengajarkannya bahwa tindakannya membawa akibat, pelanggaran mengundang hukuman. Tapi memang kita perlu mempertimbangkan beberapa faktor tatkala memberikan hukuman kepada anak, misalnya yang pertama hukuman diberikan harus sesuai usia anak, jangan memukul keras pada anak yang masih kecil. Dan selalu saya anjurkan pukullah pantat anak jangan badannya atau kepalanya, dan jangan dengan benda-benda yang tajam atau yang keras. Misalnya yang kedua, hukuman harus sakit, namun tidak boleh melukai tubuhnya atau merendahkan martabatnya. Kalau tidak sakit bukan hukuman, harus sakit, namun jangan sampai melukai tubuhnya. Waktu anak-anak saya masih lebih kecil kadang-kadang saya memukul anak saya dengan sapu lidi, tapi tidak saya minta membuka bajunya atau celananya karena sakit sekali kalau kena kulit. Dengan adanya baju atau celana, waktu dipukul dengan sapu lidi suaranya terdengar keras tapi tidak terlalu sakit, begitu. Dan juga jangan merendahkan martabatnya misalnya menjambak, dengan telunjuk menekan-nekan dahi si anak atau menggampar si anak, itu merendahkan martabat si anak. Nah akhirnya akan menimbulkan kebencian pada si anak (ET : Atau di depan orang lain juga ya) atau misalnya memukul di depan orang lain, memakinya di depan orang lain. Yang ketiga adalah hukuman diberikan dengan segera setelah pelanggaran dilakukan, jangan sudah dua hari baru diingat dan baru dihukum, makin cepat makin baik, sehingga anak tahu inilah konsekuensi perbuatannya. Dan yang keempat adalah hukuman diberikan setelah peringatan diberikan atau konsekuensinya diketahui oleh anak, jangan jadinya tidak ada peringatan atau tidak ada penjelasan sebelumnya apa yang dituntut oleh orang tua, tiba-tiba orang tua langsung memukuli anak, itu saya kira tidak tepat.
GS : Rupanya ketidaktegasan setiap orang tua termasuk Eli itu bukan cuma berdampak pada anak-anaknya, juga bisa berdampak pada lingkungannya ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi dalam kasus Eli kita melihat dampak itu begitu luas, apa saja dampaknya? Yang pertama kita tahu dalam kisah Eli itu, kedua anak Eli membawa bangsa Israel untuk pergi erperang, tapi karena Tuhan tidak bersama dengan anak-anak Eli yang sudah berbuat dosa akhirnya bangsa Israel kalah perang dikalahkan oleh bangsa Filistin dan kehilangan 30.000

pasukannya, 30.000 orang meninggal dunia. Berikutnya dampak yang bisa kita lihat adalah kedua anak Eli itu akhirnya meninggal dalam perang, yang berikutnya lagi dampaknya menantu Eli meninggal karena terkejut mendengar suaminya meninggal. Begitu tahu suaminya meninggal, dia lagi hamil tua dan langsung melahirkan anaknya dan meninggal. Dan yang keempat dampaknya adalah Eli sendiri mati setelah mendengar bahwa tabut perjanjian Allah dirampas bangsa Filistin. Dia terkejut lalu jatuh langsung dan meninggal, yang terakhir ini dampak yang serius secara spiritual, tabut perjanjian Allah direbut oleh bangsa Filistin, sedangkan itu adalah simbol kehadiran Allah. Jadi kita bisa melihat ketidaktegasan Eli membawa dampak yang begitu luas terhadap satu kerajaan Israel dan membawa akibat-akibat yang begitu tragis.
GS : Jadi kalau kita melihat saat ini banyaknya kenakalan remaja dan sebagainya itu orang tua cukup besar andilnya, Pak Paul?

PG : Saya kira demikian, maka mengatasi masalah yang muncul di tengah kita anak-anak remaja yang narkoba dan lain sebagainya, saya kira orang tua tidak bisa lepas tangan. Karena kalau memangdari awal dari sejak dini bisa dideteksi dan ditangani dengan lebih baik maka masalah ini tidak meluas juga.

GS : Jadi sebagai kesimpulan dari seluruh pembicaraan kita ini, apa yang firman Tuhan katakan Pak Paul?

PG : Firman Tuhan mengingatkan kita dari Amsal 22:6 yaitu "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan tu."

Buah ketidaktegasan tidak terlihat dengan segera, buah ketidaktegasan muncul di kemudian hari. Nah tidak mudah mengatasi masalah yang timbul akibat ketidaktegasan orang tua sebab polanya itu sudah terlanjur terjalin. Jadi kuncinya adalah jadilah tegas tanpa harus menjadi beringas dan mulailah sejak dini.

GS : Jadi terima kasih sekali Pak Paul dan juga Ibu Esther untuk masukan ini dan saya rasa ini sangat bermanfaat sekali bagi para pendengar kita yang dengan setia mengikuti acara ini. Saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi beserta Ibu Esther Tjahya, S.Psi. Dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Ketegasan dalam Mendidik Anak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



30. Anak Favorit


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T089B (File MP3 T089B)


Abstrak:

Anak favorit merupakan anak yang dibanggakan oleh orangtua, sehingga dia menerima perhatian yang paling besar dari orangtuanya.


Ringkasan:

Walaupun orang tua berusaha mengasihi anak secara sama rata, namun padda kenyataannya, orang tua tidaklah selau berhasil melakukannya. Pada akhirnya orang tua merasakan kedekatan yang khusus dengan anak tertentu dan tidak jarang seorang anak mengeluh bahwa orang tuanya lebih mengasihi saudaranya, ketimbang dirinya. Anak kesayangan atau anak favorit sering kali merupakan fenomena yang umum bukan perkecualian.

Contoh di Alkitab yaitu Ishak dan Ribka di Kejadian 25:27-33 , "Lalu bertambah besarlah kedua anak itu, Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang tetapi Yakub adalah seorang yang tenang yang senang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau sebab ia suka makan daging buruan tetapi Ribka kasih kepada Yakub."

Ada beberapa prinsip yang bisa kita pelajari yaitu:

  1. Ribka dan Ishak gagal menerima anak apa adanya. Kesukaan atau standar mereka mendahului keberadaan anak sehingga anak yang sesuai selera merekalah yang mereka terima, yang tidak sesuai tidak mereka terima. Tidak bisa disangkal, hal-hal seperti kesamaan sifat yang kita senangi dan capaian anak yang terpuji akan mempengaruhi perlakuan kita terhadap anak. Namun kita perlu berhati-hati agar tidak menunjukkan kekhususan itu di hadapan anak yang lainnya.

  2. Perlakuan yang berbeda menimbulkan iri hati. Itu sebabnya Yakub menginginkan hak kesulungan kakaknya, seakan-akan ia ingin menjadi anak sulung yang diberkati oleh ayahnya.

  3. Gara-gara anak, mereka hidup terpisah dan tidak lagi membela kepentingan suami-istri. Pada akhirnya mereka membela kepentingan anak dan melawan satu sama lain. Poros keluarga adalah hubungan suami-istri, bukan orang tua-anak; jadi, penting bagi orang tua memupuk hubungan suami-istri yang kuat dan sehat.

Sebagai kesimpulan, ada beberapa dampak yang bisa kita pelajari:

  1. Pertama adalah terjadinya penipuan antara keluarga, yang jelas di sini adalah Ribka menggunakan Yakub anaknya untuk menipu suaminya sendiri.

  2. Kedua, kebencian Esau yang melahirkan niat untuk membunuh Yakub, adiknya sendiri.

  3. Ketiga, keluarga itu terpecah dan Yakub harus meninggalkan rumahnya selama bertahun-tahun. Keempat, Yakub hidup dalam ketakutan selama berbelasan tahun. Dan Esau selama berbelasan tahun itu hidup dalam kebencian.

Maka penting untuk kita sadari, tugas orang tua ialah menyayangi anak bukan menciptakan anak kesayangan. Ingat firman Tuhan yang berkata, "Janganlah engkau menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Amsal 3:27


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dan beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini, kami beri judul "Anak Favorit" dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, istilah anak favorit ini seperti ada makanan favorit, ada sekolah favorit, nah sebenarnya anak favorit ini apa, Pak Paul?

PG : Begini Pak Gunawan, walaupun orang tua berusaha mengasihi anak secara sama rata namun pada kenyataannya orang tua tidak selalu berhasil melakukannya. Pada akhirnya orang tua biasanya measakan kedekatan yang khusus dengan anak tertentu dan tidak jarang ada anak yang mengeluh bahwa orang tuanya lebih mengasihi saudaranya daripada dirinya.

Jadi anak kesayangan atau anak favorit sering kali merupakan fenomena yang umum bukan perkecualian, sering terjadi pada kita-kita ini sebagai orang tua.
GS : Nah itu bisa terjadi pada anak kembar juga, Pak Paul?

PG : Bahkan pada anak kembar, karena adanya kedekatan yang khusus itu misalkan kita menerima atau menyukai karakternya atau kelebihannya yang kita agungkan, yang kita hargai.

ET : Makanya ada istilah ini anak mama, yang itu anak papa.

PG : Betul sekali.

GS : Itu masih lebih baik kalau cuma satu yang menjadi anak mama dan papa, lalu yang satunya tidak kebagian apa-apa jadi susah, Pak Paul?

PG : Betul, jadi adakalanya ada anak yang menjadi favorit kedua orang tuanya, dan ada anak yang sama sekali tidak menjadi favorit orang tuanya. Biasanya anak yang menjadi anak favorit adalahanak yang dapat dibanggakan, meskipun ada kesamaan-kesamaan atau apa namun pada intinya anak favorit adalah anak yang dibanggakan oleh orang tua, sehingga menerima perhatian yang paling besar dari orang tuanya.

GS : Ya memang kadang-kadang ada anak atau kebetulan saya punya 2 anak itu yang satu memang pandai mengambil hati. Jadi kalau lelah mijit-mijit dan sebagainya, suka menolong sehingga mau tidak mau kadang-kadang kita terpancing untuk memperhatikan dia atau mengasihi dia.

PG : Betul sekali, maka saya tidak menyoroti hal ini sebagai sesuatu yang tidak wajar atau abnormal atau sangat salah. Karena saya kira sebagai manusia kita memang mudah terpancing untuk dekt dengan orang yang lebih mengerti kita, lebih memberikan banyak kepada kita, lebih bisa membuat kita merasa bahagia, itu saya kira fenomena yang umum.

Jadi terhadap anakpun ada kecenderungan itu, jadi yang akan kita ungkit saat ini adalah bagaimana kita bisa menyadari diri kita, apakah kita memang mempunyai kedekatan khusus itu dan juga kita harus memahami dampak-dampaknya pada anak sehingga kita lebih bijaksana, saya kira ini tidak bisa dihilangkan 100%.

ET : Jadi memang seperti disuruh menyukai sesuatu yang dasarnya sebenarnya biasa-biasa saja. Mungkin seperti orang yang tidak suka pada makanan tertentu kemudian disuruh menyukai makanan tersebut, begitu ya Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Apa ada contoh konkretnya di Alkitab, Pak Paul?

PG : Ada Pak Gunawan, seseorang yang bernama Ishak dan istrinya Ribka. Ini diambil dari Kejadian 25 , saya akan bacakan ayat 27 hingga 33 "Lalu bertambah besarlah kedua anak itu anak dari Ishak dan Ribka) Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang yang senang suka tinggal di kemah.

Ishak sayang kepada Esau sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka sayang kepada Yakub." Jadi jelas sekali di sini kita bisa membaca bahwa ada kesamaan tertentu antara si bapak dan anak pertamanya Esau, antara si ibu yang juga adalah seseorang yang menyukai rumah sebagai ibu rumah tangga dengan Yakub yang rupanya juga senang tinggal di rumah. Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub "Berikan kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom tetapi kata Yakub "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu," sahut Esau "Sebentar lagi aku akan mati apa gunanya bagiku hak kesulungan itu." Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku", maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijuallah hak kesulungannya kepadanya. Jadi di sini kita melihat ada suatu transaksi yang sebetulnya sangat penting, Esau menyerahkan hak kesulungannya sebagai anak yang paling besar kepada adiknya. Nah terus kita melihat ada kepanjangan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada rumah tangga Ishak dan Ribka dan semua ini bersumber dari fakta ayah sayang dengan anak sulung, ibu sayang dengan anak bungsu. Di Kejadian 27:6-10 berkatalah Ribka kepada Yakub anaknya : "Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau kakakmu, bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak supaya kumakan dan supaya aku memberkati engkau di hadapan Tuhan sebelum aku mati. "Maka sekarang anakku," kata Ribka. "Dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu, pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana 2 anak kambing yang baik maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu seperti yang digemarinya. Bawalah itu kepada ayahmu supaya dimakannya agar dia memberkati engkau sebelum ia mati." Jadi di sini Ribka menyuruh anaknya Yakub untuk menipu ayahnya, menipu dengan cara memakai bulu domba dan membawa makanan yang dipesan oleh ayahnya kepada si kakak yaitu Esau supaya Yakub akhirnya yang menerima berkat sebagai anak sulung itu. Sebab berkat anak sulung adalah sesuatu yang sangat istimewa, nah apa akibatnya semuanya ini Kejadian 27:41 mengatakan, Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya lalu dia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi, artinya ayah sudah tua dan dia akan meninggal tidak lama lagi, pada waktu itulah Yakub adikku akan kubunuh." Seperti itulah perjalanan rumah tangga Ribka dan Ishak yang membeda-bedakan anak, yang memfavoritkan anak, kita bisa melihat ujung-ujungnya begitu runyam.
GS : Tapi rasanya di sana terjadi persekongkolan antara si Ribka dan si Yakub. Nah kalau kita mencoba perhatikan hubungan mereka itu, apa yang bisa kita pelajari dari hubungan Ribka dan Yakub?

PG : OK! Kalau saya bilang hubungan Ribka dan Yakub itu hubungan yang tidak sehat, tidak sehat dalam pengertian Ribka sampai-sampai berkenan untuk menjerumuskan anaknya dalam penipuan, jadi tu sangat tidak sehat sekali.

Apakah Ribka dan Ishak memiliki hubungan yang baik, meskipun Alkitab tidak mengatakan apa-apa, saya menduga kemungkinan tidak terlalu baik. Karena Ribka sebagai istri mau menipu suaminya sendiri dan menggunakan si anak Yakub. Saya kira ini mencerminkan hubungan suami-istri yang tidak terlalu baik lagi pada saat itu.
(2) GS : Seharusnya bagaimana mereka menghadapi masalah ini, Pak Paul?

PG : Begini, saya kira ada beberapa prinsip yang bisa kita pelajari Pak Gunawan, yang pertama adalah ternyata sebagai orang tua Ribka dan Ishak gagal menerima anak apa adanya. Saya kira itu ang menjadi duduk masalah pertamanya, kesukaan atau standar mereka mendahului keberadaan anak atau siapa anak apa adanya.

Sehingga anak yang sesuai merekalah yang mereka terima, yang tidak sesuai tidak mereka terima. Karena Esau mempunyai hobby yang sama dengan ayahnya sehingga dia yang disayang, sedangkan Yakub mempunyai hobby yang sama dengan ibunya sehingga dia yang disayang oleh ibunya. Saya mengakui tidak bisa disangkal bahwa hal seperti kesamaan sifat yang kita senangi atau capaian anak yang terpuji akan mempengaruhi perlakuan kita terhadap anak. Namun kita perlu berhati-hati agar tidak menunjukkan kekhususan itu di hadapan anak yang lainnya. Jangan sampai di depan anak lainnya kita memuji-muji si anak yang paling bungsu atau anak yang paling sulung itu, sehingga kalau didengar oleh adiknya akan menimbulkan perasaan saya dibedakan, kenapa saya tidak menerima pujian seperti itu. Kalau mau memuji karena hal yang sangat khusus sebaiknya secara pribadi, itu lebih bijaksana.

ET : Sulitnya memang hal-hal seperti ini sungguh-sungguh tidak disadari dan pujian seperti itu lebih mudah muncul ketika memang ternyata yang dibandingkan itu memang terlalu jauh, memang tidk sepadan untuk dibandingkan.

Jadi rasanya memang sudah di mata anak ini kurang begitu untuk mendapatkan pujian, ya kecil sekali kemungkinannya.

PG : Dan mungkin sekali awalnya motivasi orang tua adalah untuk memacu si anak dengan membandingkannya dengan kakaknya misalnya, tapi sangat menekan sebetulnya. Belum lagi di sekolah, kalau ia bersekolah di sekolah yang sama, kalau si kakak itu prestasi belajarnya sangat tinggi, guru-guru akan cenderung membandingkannya juga.

Jadi seperti ibu Esther tadi katakan hal-hal seperti ini dilakukan tanpa disengaja atau disadari, omongan atau celotehan ini baru anak mama, ini baru anak papa itu sering kita lontarkan tapi saya kira itu bukan tindakan yang bijaksana, dan ini yang terjadi pada keluarga Ishak dan Ribka, kesamaan sifat yang akhirnya melekatkan mereka dan standarnya adalah kesamaan-kesamaan. Seharusnya Ishak lebih menerima atau menerima Yakub apa adanya, seharusnya Ribka juga menerima Esau meskipun tidak sama dengan dia. Jadi harus ada usaha ekstra yang mereka keluarkan untuk menunjukkan atau mengkomunikasikan penerimaannya terhadap si anak yang berbeda itu, kalau tidak jarak makin jauh. Karena tidak bisa disangkal hobby yang sama mendekatkan itu betul. Jadi orang tua harus berusaha mendekatkan diri meskipun hobbynya berbeda. Kalau tidak secara natural, secara alamiah jarak ini makin membesar.
GS : Nah hal itu sebenarnya dibawa anak sejak lahir atau karena kedekatan mereka dengan orang tuanya, misalnya tadi Esau dan Ishak. Apakah karena mereka dekat lalu mereka punya hobby yang sama berburu, makan enak dan sebagainya, juga demikian Yakub dengan ibunya apa itu tidak terbawa sejak kecil mereka akrab begitu.

PG : Bisa juga, tapi bisa juga karena memang ada kecenderungan bawaan dari dasarnya Esau adalah anak yang aktif, berani, orang yang di luar "outdoor", Yakub orang yang lebih "indoor" di dala rumah, lebih tenang.

Memang bisa sekali ini bawaan dari lahirnya pula.
GS : Nah dalam hal ini Pak Paul, bagaimana orang tua itu selanjutnya bisa mengatasi supaya kesenjangan itu tidak terlalu melebar?

PG : Saya kira secara sadar orang tua itu tidak kembali kepada point pertama, tidak membesar-besarkan kesamaannya itu. Wah.... lihat dong dia suka ini, papa juga suka ini, atau dia suka ini ama juga suka ini.

Jangan membesar-besarkan kesamaan-kesamaan itu, kalau mau membicarakan, bicarakan berdua saja jangan di depan anak yang lainnya. Pelajaran yang kita bisa tarik yang lainnya adalah ini Pak Gunawan dan Ibu Esther, perlakuan yang berbeda menimbulkan iri hati, itu sebabnya Yakub menginginkan hak kesulungan kakaknya seakan-akan dia ingin menjadi anak sulung yang diberkati oleh ayahnya. Kalau kita pikir-pikir apa alasannya Yakub meminta Esau menjual hak kesulungannya, sewaktu Esau meminta kacang merah itu. Seharusnya Yakub sudah cukup senang dia anak yang disayangi oleh ibunya, tapi kenapa dia meminta. Saya menduga meskipun spekulatif Alkitab tidak menjelaskannya, Yakub ingin menjadi anak yang sulung. Jadi saya menduga Yakub merasa dibedakan: "Kenapa papa sayang kepada kakak, tidak seperti kepada saya." Jadi waktu dia meminta hak kesulungan itu menunjukkan keinginannya menjadi anak sulung, menjadi yang disayangi dan diberkati oleh ayahnya sendiri dan itu yang tidak dia terima dari ayahnya.
GS : Atau mungkin berkaitan bahwa anak sulung mempunyai hak yang lebih besar di dalam rumah tangga pada waktu itu?

PG : Betul sekali, anak sulung memang akan mendapatkan hak yang lebih besar, pelimpahan-pelimpahan warisan juga akan lebih besar, tapi apakah itu seharusnya menjadi motivasi Yakub yang terutma.

Sebab dia juga mendapatkan perhatian yang begitu besar dari ibunya sendiri, mungkin ada motivasi ingin lebih, memperoleh lebih dari Yakub saya kira itu bisa ada. Tapi saya juga melihat unsur yang satunya, dia menjadi anak yang tertolak oleh ayahnya sebab ayahnya memang sangat dekat sekali dengan kakaknya begitu.

ET : Mengikuti yang spekulatif tadi, mungkin juga jangan-jangan walaupun tidak dituliskan di Alkitab sesudah itu rasa iri berikutnya adalah dari Esau kepada adiknya. Karena dapat pembelaan sdemikian rupa dari ibu sampai dia harus kehilangan hak kesulungannya.

Jadi rasa iri yang dari Yakub kepada kakak, kakak kepada adik juga sebenarnya.

PG : Bisa jadi, sebab memang Esau juga merasakan bahwa ibunya itu tidak dekat dengan dia. Maka dikatakan di Alkitab pada bagian yang lain, Esau akhirnya menikah dengan seseorang dari bani Isael, sebelumnya dia menikah dengan orang di luar kaum Israel kenapa? Sebab ibunya yang mengeluh.

Seolah-olah dia juga ingin menyenangkan hati ibunya, dia menikah salah satu keturunan Ismael. Jadi mungkin sekali yang Ibu Esther katakan memang tepat, akhirnya si kakak juga menginginkan perhatian yang sama dari ibunya, si adik menginginkan perhatian yang sama dari ayahnya. Dan itu bibit iri hati sudah tertanam dan membuahkan persoalan yang lebih parah nantinya.
GS : Jadi sebenarnya anak itu mengharapkan kedua orang tuanya ya Pak Paul, untuk mengasihi dia secara utuh?

PG : Betul, jadi waktu dia merasakan bahwa si ayah atau si ibu tidak mempunyai kasih yang sama, reaksi pertama adalah dia akan berjuang mendapatkan kasih itu. Tatkala dia tidak mendapatkanny barulah memunculkan reaksi-reaksi negatif iri hati, marah, berontak, itu reaksi yang kedua.

Kalau kita melihat dalam sebagian keluarga-keluarga bermasalah itu yang muncul, namun reaksi pertama adalah perjuangan mereka mendapatkan setetes cinta kasih atau perhatian dari orang tuanya itu.
GS : Pak Paul, walaupun tidak di depan anak yang lain kalau kita memuji-muji anak yang kita favoritkan atau memberi dia sesuatu, apakah kita tidak risau Pak Paul, nanti anak itu bercerita pada saudaranya, tadi mama atau ibu saya memberi sesuatu yang kamu tidak diberi saya anak favoritnya lho. Itu sudah dilakukan di luar sepengetahuan saudaranya, tapi namanya anak pasti suka cerita begitu, Pak Paul?

PG : Kalau memberikan sesuatu saya sarankan kita memberikan sama, kalau hanya dalam bentuk pujian, kita bisa sampaikan secara privat. Namun kalau kita hendak memberikan hadiah atau apa, berian secara sama.

Maksud saya begini, kalau kita hendak memberikan persenan misalnya Natal berikan dalam jumlah yang sama, kalau anak-anak kita memang usianya itu setara. Atau kita ini kebalikannya jangan misalnya yang satu kita berikan yang lebih besar, yang satu lebih kecil. Yang satu kalau ulang tahun kita berikan yang sangat mewah, yang satu biasa-biasa saja. Nah dalam hal pemberian yang bisa dilihat secara konkret dan bisa dipertontonkan kepada yang lainnya. Saya kira penting orang tua sensitif untuk tidak memberikan pemberian-pemberian yang berbeda, itu sangat menyakitkan dan selalu bisa diingat oleh si anak karena bendanya terlihat.
GS : Tapi kadang-kadang sebagai orang tua itu melihat kebutuhannya memang berbeda Pak Paul. Katakan itu sudah sebaya, dua-dua mahasiswa tapi kebutuhan anak perempuan itu lebih banyak ternyata daripada yang pria.

PG : Kalau si anak kita melihat, tidak mempunyai rasa iri atau dipinggirkan oleh orang tuanya tidak apa-apa, karena si anak akan mengerti bahwa orang tua dua-dua mengasihi mereka dengan samabegitu.

Namun kalau kita sudah mengetahui adanya persaingan dan yang satu mengeluhkan bahwa si kakak lebih didahulukan, kita lebih harus berhati-hati meskipun memang dia lebih memerlukan. Jadi kalau kita tahu ada yang merasakan kurang dikasihi atau apa, justru itu bagi saya sinyal agar kita lebih memberikan perhatian kepadanya. Misalkan kita memuji dalam hal pujian juga sama, kita memuji anak yang mempunyai sifat yang sama dengan kita. Jangan sampai kita lupa memberikan pujian yang lain kepada anak yang satunya, sehingga kalaupun dia banggakan tentang pujian itu, yang satunya akan bisa berkata: "Ya, tapi mama juga puji saya tentang ini, begitu."

ET : Tadi sebelumnya Pak Paul sempat mengatakan mungkin hubungan Ishak dengan Ribka ini juga tidak begitu baik ya, kira-kira seberapa jauh pengaruhnya terhadap masalah yang kemudian muncul ini?

PG : Ini menjadi masalah yang berat, jadi begini karena si Ribka dan Ishak ini hidupnya terpisah dengan anak-anak. Yakub harus lari, jadi akhirnya masalah menjadi lebih kompleks. Ribka dan Ihak tidak lagi mementingkan hubungan suami-istri atau kepentingan suami-istri, malah membela kepentingan anak dan melawan satu sama lain dengan menggunakan anak.

Poros keluarga adalah hubungan suami-istri bukan hubungan orang tua-anak, jadi penting bagi orang tua memupuk hubungan suami-istri yang kuat dan sehat, jangan sampai terbalik. Hubungan orang tua-anak yang dipentingkan, suami-istri itu akhirnya terbelah nah ini yang terjadi pada keluarga Ishak dan Ribka.
GS : Sebagai kesimpulannya Pak Paul, apa dampak yang bisa kita pelajari di sini, dampak yang tentunya tidak perlu terjadi pada kita sekarang ini?

PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah terjadinya penipuan antara keluarga, yang jelas di sini adalah Ribka menggunakan Yakub anaknya untuk menipu suaminya sendiri. Kedua, kebencan Esau karena ditipu yang melahirkan niat untuk membunuh Yakub, adiknya sendiri.

Yang ketiga, keluarga itu terpecah dan Yakub harus meninggalkan rumahnya selama bertahun-tahun. Kita tahu untuk menikahi istri yang pertamanya dia butuh 7 tahun, untuk menikah yang berikutnya perlu 7 tahun, sekurang-kurangnya 14 tahun dan kemungkinan besar lebih dari itu sampai anak-anaknya sudah cukup besar. Jadi mungkin berbelasan tahun Yakub harus melarikan diri, keluarga mereka akhirnya berantakan dan yang terakhir adalah dampaknya Yakub hidup dalam ketakutan selama berbelasan tahun itu. Dan Esau selama berbelasan tahun itu hidup dalam kebencian, itulah dampak yang begitu fatal. Maka kita penting menyadari tugas orang tua ialah menyayangi anak, bukan menciptakan anak kesayangan. Nah kalau orang tua misalnya memang mempunyai kebutuhan yang besar untuk disayangi oleh anak, dia akan mudah atau lebih mudah terjerumus ke dalam masalah ini. Kalau ada anak yang bisa mengambil hati, wah dia akan lebih senang karena memang dia dari dulu butuh disayangi, dia kurang kasih sayang sejak dari dulunya. Nah sudah tentu kalau hubungan suami-istri bermasalah, menambah masalah ini karena misalkan si istri kurang disayangi suaminya dia akan lebih membutuhkan kasih sayang dari si anak, si suami kurang dihargai istrinya dia akan lebih membutuhkan penghargaan dari si anak. Jadi memang karena anak hubungan suami-istri bisa terpecah, tapi bisa juga yang lebih sering terjadi karena hubungan orang tua yang sudah mulai renggang sehingga akhirnya meresap masuk ke dalam hubungan orang tua-anak dan anak akhirnya digunakan, sehingga semua keluarga terpecah belah.

(3) ET : Tadi Pak Paul mengatakan yang penting sekarang menyadari kalau memang ada unsur itu. Kalau memang setelah para pendengar yang menjadi orang tua menemukan ternyata memang ada terjadi dalam keluarga saya yaitu favoritisme, bagaimana saran Pak Paul?

PG : Yang langsung adalah dengan anak yang kita sudah dekat itu janganlah menjadikan hubungan itu eksklusif, khusus. Kita harus lebih membagi diri dengan yang lainnya, jangan pergi berduaan,bicara berduaan, paling enak kalau berduaan dengan si anak ini jangan.

Pergi ramai-ramai dan secara khusus ajak anak yang lainnya untuk pergi berdua dengan kita, bicara berdua dengan kita, belikan sesuatu untuk dia juga, peluk dia lebih banyaklah memberikan perhatian kepada yang satunya lagi. Nah mudah-mudahan kalau anak kita masih relatif kecil rasa dibedakan itu bisa mulai menipis dengan perjalanan waktu.
GS : Tapi nanti kalau agak besar menginjak masa remaja itu biasanya memang anak yang laki itu dekat dengan kita yang Bapak ini, lalu anak yang perempuan itu juga agak menjauhi kita lalu dekat ke ibunya, nah itu sulit dihindarkan Pak.

PG : Betul, tapi kalau dasarnya sudah kuat dia tahu dia dikasihi juga, dia tidak akan menuntut itu sebagai sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Dia menerima itu sebagai sesuatu yang alamiah bhwa sebagai seorang gadis dia akan dekat dengan ibunya, sebagai seorang pria dia akan lebih dekat dengan ayahnya, begitu.

GS : Dan itu mungkin ada juga ibu yang cenderung untuk terus mendekati anak prianya Pak Paul, walaupun anak prianya itu sudah menghindar.

PG : Ya ini saya kira perlu disadari oleh si ibu bahwa menjauhnya si anak bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kalau memang dari dahulu dekat, ini adalah bagian yang alamiah si anak pria it untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang pria.

Dan lebih membutuhkan masukan dari figur ayahnya juga, begitu.
GS : Dalam hal ini Pak Paul apakah yang firman Tuhan katakan?

PG : Amsal 3:27 berkata: "Janganlah engkau menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Menahan kebaikan bisa juga kita terpkan dalam hubungan orang tua-anak kalau orang tua memang bisa melimpahkan kebaikan kepada semua anak, kenapa tidak, jangan hanya 1, 2 anak saja yang memang mempunyai kesamaan sifat dengan kita atau yang kita banggakan.

Beri kebaikan kepada mereka sebab semua anak-anak kita berhak menerimanya dan kita mampu untuk memberikannya, jadi berilah dengan murah hati kebaikan kita kepada semua anak.
GS : Ya itu kalau anaknya relatif banyak Pak Paul, misalnya lima makin sulit orang tua itu untuk menentukan favoritnya?

PG : Meskipun ada 4 atau 5 kadang-kadang itu terjadi, ada saja yang satu rasanya mengerti saya, dekat dengan saya begitu.

GS : Tapi kasusnya bisa tidak disenangi oleh saudara-saudara yang lain, seperti Yusuf dengan kakak-kakaknya itu Pak?

PG : Tepat sekali, itu salah satu contoh yang sangat tragis. Karena Yusuf akhirnya mau dibunuh oleh semua kakaknya.

GS : Tapi saya yakin sekali firman Tuhan tadi sudah mengingatkan kita dengan terang dan kita akan melakukan sesuai apa yang Dia tunjukkan kepada kita.

Nah saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Anak Favorit". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



31. Waktu Buat Anak


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T098A (File MP3 T098A)


Abstrak:

Kehadiran orangtua itu sangat berarti bagi anak dan memiliki makna tersendiri, karena kehadiran itu sendiri mengandung arti pemberian orangtua yang sangat berarti bagi anak.


Ringkasan:

Kehadiran orangtua itu sangat berarti bagi anak, karena kehadiran itu sendiri mengandung beberapa arti pemberian orang tua yang sangat berarti bagi anak.

Makna kehadiran orang tua bagi si anak:

  1. Misalnya perlindungan dan perhatian

  2. Orang tua bisa berfungsi sebagai seseorang yang mengisi hidup anak

  3. Orang tua juga memberi arah hidup dan penanaman nilai-nilai

  4. Orang tua berfungsi untuk mempermudah anak melepaskan diri dari orang tua ketika dewasa kelak, atau akan memudahkan anak untuk lebih mudah mandiri di kemudian hari.

  5. Hubungan keluarga akan lebih baik kalau orangtua mempunyai waktu yang cukup bagi anak.

Dampak negatif kalau orang tua kekurangan waktu untuk menyediakan diri buat anak:

  1. Anak tumbuh dewasa dan dia menjadi kurang bisa mengontrol diri mereka karena mereka tidak dikontrol sewaktu mereka masih kecil.

  2. Mereka tumbuh tanpa pengawasan dan tanpa didikan atau pun tanpa arahan orang tua.

  3. Seharusnya seorang anak yang tumbuh berkembang dengan sehat itu mempunyai identitas diri yang mantap dan memadai. Kalau tanpa orang tua di samping mereka, mereka akan merasa kurang aman dengan diri mereka sendiri, mereka kekurangan kemantapan terhadap identitas diri mereka sendiri.

  4. Menyebabkan anak memiliki perasaan kesepian dan haus akan perhatian orang lain.

  5. Komunikasi antara anak dengan orang tua terhambat. Hal ini bisa berakibat terhadap anak pada masa dewasanya, anak akan kurang hormat kepada orang tua dan orang tua pun akan kehilangan kontrol terhadap anak-anaknya.

  6. Anak juga akan kehilangan pegangan dan kekurangan tokoh yang dapat memberi arah hidup bagi mereka, akibatnya anak dikhawatirkan menyimpang jalannya dari pada yang diharapkan oleh orang tua.

Yang perlu dilakukan orang tua untuk dapat meluangkan waktu buat anak di tengah-tengah kesibukan, yaitu:

  1. Perlu mencatat seluruh kegiatan dan waktu yang kita habiskan selama dua minggu.

  2. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus penggunaan waktu kita bersama anak selama seminggu dan sehari yang akan datang. Tujuan umum misalnya menciptakan hubungan yang lebih baik dengan anak. Tujuan khusus adalah misalnya ngobrol dengan anak mengenai berbagai hal.

  3. Kita prioritaskan dulu hal-hal yang kita anggap lebih penting, misalnya: mau menyelesaikan tugas apa begitu yang lebih penting, tetapi juga tidak meninggalkan prioritas waktu untuk anak.

  4. Catatlah hal-hal yang terlaksana sesuai rencana kalau itu sudah dilakukan, ini akan memberikan kepuasan karena kita mengetahui bahwa kita telah melakukan sesuatu yang benar-benar produktif.

  5. Amati kapan saatnya anda merasa paling produktif berdasarkan catatan-catatan tadi dan kemudian jadwalkan kegiatan anda yang terpenting pada masa produktif tersebut.

  6. Nilai kembali jadwal anda apakah terlalu banyak hal yang ingin dikerjakan sekaligus, seringkali karena terlalu bernafsu kegiatan yang direncanakan menjadi berlebihan.

Ulangan 6:4-9 , "Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Heman Elia, M.Psi. akan bersama-sama membahas masalah yaitu "Waktu buat Anak". Kami percaya perbincangan kami saat ini akan bermanfaat bagi Anda sekalian dan juga dengan keluarga Anda khususnya, dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, kalau kita berbicara tentang waktu buat anak memang harus diakui makin jarang saja kita mempunyai waktu dengan anak. Tetapi kalaupun kita bisa sempatkan meluangkan waktu buat anak, sebenarnya apa pengaruhnya kepada anak itu, Pak?

HE : Saya kira pengaruhnya cukup besar, jadi kalau orang tua bisa menyediakan waktu secara khusus buat anaknya, itu menunjukkan bahwa orang tua hadir di dalam kehidupan anak. Kehadiran orang tu sangat berarti bagi anak, karena kehadiran itu sendiri mengandung beberapa arti pemberian orang tua yang sangat berarti bagi anak.

Misalnya tentang perlindungan dari orang tua, perhatian. Orang tua juga berfungsi sebagai seseorang yang mengisi hidup anak sehingga anak tumbuh dewasa dan tidak merasa kosong, kesepian di dalam kehidupannya. Kemudian juga orang tua memberi arah hidup dan penanaman nilai-nilai. Selain itu orang tua juga berfungsi untuk mempermudah anak melepaskan diri dari orang tua ketika dewasa kelak. Dalam arti memang pertumbuhan seorang anak pada mulanya itu bergantung kepada orang tua tetapi kalau orang tua hadir, anak akan lebih mudah menjadi mandiri di kemudian hari. Dan hubungan keluarga akan lebih baik kalau orang tua mempunyai waktu yang cukup bagi anak-anaknya.
GS : Sebelum kita lebih jauh Pak Heman, anak ini dalam pengertian usia berapa?

HE : Anak yang sangat membutuhkan waktu dari orang tua tentu saja pada usia balita dan semakin berkurang ketika menjelang remaja. Dan pada waktu remaja meskipun orang tua masih dibutuhkan oleh nak remajanya, kebutuhan anak remaja untuk waktu orang tua semakin berkurang.

GS : Jadi kalau memang waktu itu ditujukan kepada anak, tapi tadi Pak Heman katakan di bagian terakhir salah satu maknanya yaitu hubungan keluarga menjadi lebih baik. Maksudnya bagaimana Pak?

HE : Kalau misalnya orang tua jarang hadir di dalam kehidupan anak, anak mungkin tidak akan protes pada waktu mereka masih terlalu kecil. Tetapi semakin besar semakin anak itu mengerti bahwa orng tua sebetulnya "Lebih memperhatikan diri mereka sendiri daripada memperhatikan anak-anak", anak-anak ini akan menjadi pemberontak-pemberontak dan ada kemungkinan hal ini akan mempengaruhi hubungan suami-istri maupun orang tua dengan anak.

(2) GS : Pada dasarnya memang saya percaya banyak orang tua yang ingin meluangkan waktunya untuk anak, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Kalau ditanyakan selalu ada saja alasannya, tapi sebenarnya alasan yang timbul dalam diri orang tua ketika dia dituntut katakan harus meluangkan waktu untuk anak-anaknya.

HE: Kalau diamati orang tua kebanyakan mempunyai alasan, misalnya orang tua sibuk karena mencari nafkah dan memang kalau kita melihat sebagian betul juga bahwa keadaan ekonomi sekarang kurang mnguntungkan, sehingga banyak suami-istri yang harus bekerja.

Tetapi saya pikir ini tidak khas pada zaman krismon seperti sekarang ini, karena pada waktu keadaan ekonomi lebih baikpun banyak orang tua yang sangat sibuk untuk mencari kebutuhan materi yang lebih baik. Selain itu juga banyak orang tua saat ini berpendapat bahwa kehadiran orang tua bisa digantikan oleh baby sitter, pembantu, sopir atau mereka hidup bersama opa, oma, om, tante. Bahkan sebagian orang tua merasa cukup memberikan anak-anaknya televisi, playstation dan sebagainya. Sebetulnya ini anggapan keliru yang akan membuat banyak orang tua merasa tidak terlalu perlu untuk meluangkan waktu bagi anak-anak. Sebagian orang tua juga ada yang beranggapan bahwa mereka sudah cukup menyediakan banyak waktu bagi anak-anak mereka, padahal sebetulnya tidak demikian. Jadi ini memang seharusnya dilihat dari sudut pandang anak, bukan dari sudut pandang orang tua. Kemudian ada lagi orang tua yang sebagian lagi tidak merasa berminat terhadap anak-anak, jadi masalah anak-anak didorong tanggung jawabnya dan diserahkan kepada orang lain atau pasangannya. Nah ini masih sedikit lebih baik atau ke orang lain yang bukan orang tua dari anak-anak ini. Ini beberapa alasan yang umumnya dikemukakan oleh orang tua.
GS : Ada juga yang mengatakan kalau anaknya masih 1, anak saya ini sudah 3 dan kecil-kecil sehingga merasa kesulitan untuk mengatur waktunya, Pak Heman?

HE : Ya betul, ini memang suatu masalah yang memang tidak bisa selesai, tapi kita harus mengupayakan semampu kita, sebisa kita.

GS : Ada juga yang mengirim anaknya sekolah sedini mungkin, umur 2 tahun bahkan, setengahnya itu penitipan anak-anak, saya pikir karena tidak ada pendidikan apa-apa di sana. Tetapi sementara orang tuanya bekerja, anaknya dititipkan di situ, apa mempunyai dampak yang negatif, Pak?

HE : Kalau di dalam perkembangan anak, sebetulnya kalau seorang anak itu lebih baik waktu balita jangan diasuh oleh terlalu banyak orang, paling banyak 2 orang atau 3 orang. Kalau seorang anak erlalu banyak berganti-ganti pengasuh, anak juga akan kurang sehat tingkat perkembangannya.

Kalau misalnya anak dititipkan di tempat pengasuhan anak yang tidak ada pendidikannya sama sekali, yang saya khawatirkan adalah anak-anak ini tumbuh dengan kurang perhatian maupun kurang kasih sayang dari seseorang yang bisa diandalkan. Kita bisa bayangkan tempat penitipan anak, tentu 1 pengasuh dengan berapa anak sekaligus.
(3) GS : Pak Heman, kalau begitu pasti ada dampak negatif yang bukan cuma sekadar sering kita lihat kalau kita itu kekurangan waktu untuk anak sebagai orang tua, nah dampak-dampak negatifnya apa saja, Pak?

HE : Cukup banyak, misalnya saja anak tumbuh dewasa dan dia menjadi kurang bisa mengontrol diri mereka, karena mereka tidak dikontrol sewaktu mereka masih kecil. Mereka tumbuh tanpa pengawasan,didikan, dan arahan.

Kemudian juga seharusnya seorang anak yang tumbuh berkembang dengan sehat itu mempunyai identitas diri yang mantap dan memadai. Kalau tanpa orang tua di samping mereka, mereka menjadi bertanya-tanya mungkin sepanjang hidup mereka akan merasa kurang aman dengan diri mereka sendiri, mereka kekurangan kemantapan terhadap identitas diri mereka sendiri. Selain itu juga misalnya lagi hal yang lain yang bisa mempengaruhi, menghambat perkembangan anak adalah perasaan kesepian dan haus akan perhatian orang lain. Ada suatu hasil dari survey yang menunjukkan bahwa anak-anak yang pada masa kecilnya kurang perhatian dari orang tua, pada waktu dewasa akan terus haus dan mencari perhatian orang lain. Biasanya dengan tingkah laku yang menjengkelkan, kemudian juga dampak yang lain adalah komunikasi anak dengan orang tua terhambat dan ini dampaknya panjang sekali. Kalau kita melihat nanti di dalam kehidupan anak pada masa dewasanya dan sebagainya, anak akan kurang hormat kepada orang tua dan orang tua pun akan kehilangan kontrol terhadap anak-anaknya. Anak juga kehilangan pegangan nantinya dan kekurangan tokoh yang dapat memberi arah hidup bagi mereka. Apalagi sekarang dengan pengaruh media massa, kemudian pengaruh-pengaruh lain yang lebih besar dari teman-teman dan sebagainya, berakibat anak akan dikhawatirkan menyimpang jalannya daripada yang diharapkan oleh orang tua. Kira-kira itu dampak yang bisa disebutkan bagi perkembangan jiwa anak, kalau misalnya orang tua kurang meluangkan waktu bagi anak-anaknya.
GS : Ya, jadi cukup banyak dan saya rasa itu sangat serius karena dampaknya sampai anak ini menjadi orang dewasa pun masih terasa seperti tadi yang Pak Heman katakan itu.

HE : Betul.

(4) GS : Mungkin Pak Heman mempunyai saran kepada orang tua khususnya, supaya bisa meluangkan waktunya di tengah-tengah segala kesibukannya untuk anak-anak mereka?

HE : Ini memang tidak mudah apalagi bagi orang tua yang sangat sibuk, tapi bagi orang tua yang mempunyai komitmen ini harus diusahakan. Saya menyarankan seperti ini untuk mengatur waktu orang ta bersama anak itu mirip-mirip dengan pengolahan jadwal kerja di kantor.

Yang pertama kita perlu mencatat seluruh kegiatan dan waktu yang kita habiskan selama dua minggu, kemudian yang kedua kita menentukan tujuan umum dan tujuan khusus penggunaan waktu kita bersama anak selama seminggu dan sehari yang akan datang, jadi hari ini kemudian besok. Tujuan umum misalnya itu menciptakan hubungan yang lebih baik dengan anak, tentu saja bisa dikembangkan lebih lanjut. Contoh tujuan khusus adalah misalnya mengobrol dengan anak mengenai berbagai hal, apa saja tidak usah ditentukan saya kira untuk ini. Kemudian yang ketiga kita prioritaskan dulu hal-hal yang kita anggap lebih penting, misalnya kita mau menyelesaikan tugas apa, tetapi juga tidak meninggalkan prioritas waktu untuk anak. Keempat, catatlah hal-hal yang terlaksana sesuai rencana kalau itu sudah dilakukan, ini akan memberikan kepuasan karena kita mengetahui bahwa kita telah melakukan sesuatu yang benar-benar produktif. Dan kelima amati kapan saatnya Anda merasa paling produktif berdasarkan catatan-catatan tadi dan kemudian jadwalkan kegiatan Anda yang terpenting pada masa produktif tersebut. Sebagian orang merasa paling produktif mengobrol dengan anak dan sebagainya itu pada saat pagi, sebagian lagi pada waktu malam, yaitu misalnya saja sebelum anak-anak pergi tidur. Keenam, nilai kembali jadwal Anda apakah terlalu banyak hal yang ingin dikerjakan sekaligus, sering kali karena terlalu bernafsu kegiatan yang direncanakan menjadi berlebihan. Akibatnya bukan saja banyak hal yang dilakukan setengah-setengah, kita pun menjadi stres karena merasa diburu-buru. Dalam hal ini lebih baik sedikit hal yang kita lakukan namun dilakukan dengan baik, untuk itu kita kembali perlu melakukan prioritas. Dan untuk menciptakan waktu yang berkwalitas, perencanaan waktu ini merupakan hal yang sangat penting, meskipun demikian harus cepat ditambahkan bahwa kita pun perlu fleksibel, luwes, tidak setiap kali penggunaan waktu dapat direncanakan atau terlaksana sesuai rencana. Misalnya saja pada anak-anak di bawah usia 12 bulan banyak waktu yang tidak bisa direncanakan dengan baik dan juga pada saat-saat misalnya anak menderita sakit atau mempunyai masalah tertentu di sekolah yang perlu kita selesaikan. Ada saatnya kita perlu menjadi sahabat yang siap mendengar dan menghibur anak-anak kita. Kadang-kadang mereka datang tepat pada saat yang sebenarnya tidak kita harapkan, misalnya waktu kita lagi capek atau kita sendiri menghadapi masalah, nah dalam hal ini kepekaan kita sebagai orang tua diperlukan. Kalau misalnya mau menyediakan waktu dalam kondisi demikian, boleh jadi ini merupakan waktu yang sangat berkwalitas, dengan kata lain kita tidak sekadar pasif di dalam menjalankan tugas kita sebagai orang tua, tetapi sebagai orang tua yang juga penuh dengan perhatian.
GS : Ya memang intinya itu mengelola waktu tadi Pak Heman, bagaimana kita bisa mengelola waktu. Tapi kadang-kadang kenyataannya ada orang yang begitu pandai mengatur waktunya di kantor atau di tempat kerja, tapi justru di rumah dia tidak mampu melakukan itu Pak Heman, sebenarnya apa yang menyebabkan?

HE : Saya pikir ada beberapa hal yang pertama yaitu prioritas, biasanya karena kita menganggap bahwa kita cenderung meremehkan waktu kita bersama dengan keluarga. Kita berpikir tiap hari masih isa bertemu, masih ada hari esok, tidak ada target dan sebagainya.

Sehingga kita tidak betul-betul menyusun jadwal bersama dengan anak-anak kita. Dan kemudian hal yang lain adalah adakalanya orang tua terlalu tegang, karena merasa sudah mengatur jadwal, harus bermain bersama anak atau meluangkan waktu bersama anak sehingga kelihatannya pekerjaan yang serius. Padahal kalau saya pikir orang tua juga perlu mengadakan waktu secara rileks bersama dengan anak-anaknya.
GS : Jadi kalaupun seseorang itu orang tua yang sudah mampu mengatur waktunya sedemikian rupa dan dia punya waktu untuk anaknya, apa yang bisa dilakukan untuk anak itu?

HE : Nah sehubungan dengan tadi jangan terlalu tegang, orang tua bisa saja melakukan banyak hal dan banyak cara. Misalnya kalau anak-anak lagi banyak ulangan, lagi bersekolah bisa belajar bersaa-sama dengan anak, orang tua mungkin belajar atau membaca sendiri, anak juga belajar sendiri atau orang tua mengajar anaknya.

Bisa juga bermain bersama, bernyanyi bersama, jalan-jalan bersama, mungkin sekadar ngobrol atau tertawa bersama, berdoa bersekutu bersama. Selain itu orang tua juga harus sering memberikan nasihat dan mendidik atau bahkan membantu anak pada waktu memerlukan pertolongan. Dia perlu bantuan kita untuk menggergaji tripleks misalnya atau mengikat atau mengajar dia mengikat tali sepatu, menyemir sepatu dan sebagainya dan juga mungkin sekadar menghibur dia sewaktu kita melihat dia lagi sedih.
GS : Kebanyakan waktu-waktu seperti itu digunakan orang tua untuk menasihati anaknya itu Pak, sehingga anaknya itu juga merasa kurang senang, setiap kali ketemu orang tua khususnya ayahnya yang dia dengarkan itu cuma nasihat-nasihat saja.

HE : Ya betul dan itu yang menyebabkan hubungan orang tua dan anak menjadi tegang, orang tua sendiri tegang karena merasa bahwa waktu yang dia sediakan buat anak-anak menjadi terasa sia-sia karna anak-anak ini menolak orang tua, tampaknya seperti itu.

GS : Dan kebanyakan orang tua punya prinsip Pak, jadi tidak perlu terlalu lama meluangkan waktu untuk anak, tapi yang penting dia katakan asal dalam waktu yang sedikit itu dia bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Jadi kwalitasnya itu yang dia tekankan, bagaimana pendapat yang demikian, Pak?

HE : Saya kalau boleh mengutip kata-kata doktor Dobson, dia seorang psikolog yang terpandang di Amerika. Dia pernah mengatakan bahwa waktu berkwalitas itu tidak ada, kalau misalnya kita tidak bsa menyediakan jumlah waktu yang cukup banyak.

Ini masuk akal karena bagaimana kalau kita mau bicara dengan seseorang yang selalu terburu-buru misalnya. Jadi itu harus diupayakan di dalam waktu yang banyak, di dalam waktu yang banyak itu ada waktu yang kemudian bisa ditemukan waktu yang berkwalitas.
GS : Kalau tadi Pak Heman katakan waktu yang banyak, seberapa banyakkah waktu yang cukup untuk bisa dekat dengan anak kita?

HE : Nah ini memang agak sulit dijawab, tetapi sebaiknya yang lebih baik adalah kalau bisa suami-istri bergantian hadir bersama-sama dengan anak sebanyak mungkin dalam kehidupan anak. Yang tadisaya katakan adalah balita perlu waktu yang jauh lebih banyak dan ketika anak-anak masuk sekolah kalau bisa waktu anak pulang dari sekolah mereka melihat salah satu orang tuanya di rumah.

Sehingga pada saat-saat mereka memerlukan pertolongan kita dan ingin bertanya sesuatu, ingin perlindungan orang tua mereka menemukan ada seseorang di situ. Dan tentu saja waktu anak memasuki usia yang semakin besar dan memasuki usia remaja nantinya, mereka dengan sendirinya tidak terlalu membutuhkan lagi kehadiran kita dan waktu itu kita sudah boleh mengurangi lebih banyak lagi waktu bersama-sama dengan anak-anak.
GS : Apakah kita bisa tahu kira-kira, apakah hasil pertemuan kita dengan anak kita itu membawa hasil yang positif atau tidak, Pak?

HE : Kira-kira kita bisa bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri, jadi ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi petunjuk bagi kita apakah sebetulnya kita telah banyak menyediakan waktu agi anak-anak.

Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya begini, apakah kita tahu apa yang paling disukai dan yang tidak disukai oleh anak kita. Kadang-kadang orang tua tidak tahu apa yang disukainya, kalau begini dia tersinggung, kalau begitu dia merasa senang dan sebagainya. Apakah makanan kesukaannya atau makanan yang tidak disukainya, ada orang tua yang tidak tahu, nah ini berarti orang tua kurang mengenal anaknya, berarti waktu yang dia sediakan mungkin kurang atau kurang berkwalitas. Apakah bakat dan keterampilan anak kita yang paling menonjol juga harus kita ketahui, apa sifat positif dan apa sifat negatifnya. Apa yang paling suka dilakukannya bersama dengan kita sebagai orang tua, apa hal yang paling sering dilakukannya, siapa nama gurunya, siapa teman terbaiknya, nah kalau kita sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, besar kemungkinan kita sudah lumayanlah bersama dengan anak-anak kita. Tetapi di samping itu kita juga bisa melanjutkan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain misalnya saja, apakah anak kita cukup terbuka dan tidak takut mengungkapkan isi hatinya kepada kita. Kalau misalnya kita melihat anak itu canggung-canggung kemudian lebih suka berbicara kepada orang lain rahasia pribadinya, ada kemungkinan kita kurang dekat dengan anak-anak kita. Apakah ada rasa saling berbagi perasaan bisa kita berbicara dengan anak kita. Apakah anak kita mau cerita perasaannya yang terdalam dan apakah kita juga merasa nyaman mendengar perasaan dan mengemukakan perasaan kita. Apakah kita cukup bisa menangkap perasaan-perasaan anak kita, kadang-kadang orang tua tidak tahu apa yang dirasakan anak. Apakah anak kita cukup menghormati kita sebagai orang tua mereka, apakah kita mampu bergurau dengan anak-anak kita, pada saat-saat tertentu, nah ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk menguji apakah kita cukup menginvestasikan waktu kita untuk anak kita. Pasti investasi itu tidak sia-sia dan itu perlu untuk mengajar mereka dalam kebenaran firman Tuhan.
GS : Ya memang itu membutuhkan suatu perhatian khusus terhadap anak-anak sementara kita meluangkan waktu dan sebagainya. Padahal memang cukup banyak lagi yang kita harus ingat, sehingga kadang-kadang hal-hal yang detail sekalipun bisa kita ingat di kantor tetapi yang di rumah yang tadi Pak Heman sebutkan itu terluputkan juga. Jadi kita tidak tahu nama gurunya, barangkali anak kita sudah kelas 3 sudah ganti guru tapi kita ingatnya dengan guru yang kelas 1 dulu dan seterusnya. Nah saya melihat kedekatan Tuhan Yesus dengan murid-muridnya karena Tuhan Yesus sendiri meluangkan waktu begitu banyak terhadap murid-muridnya, mungkin mereka tiap-tiap hari berkumpul. Apakah ada suatu peristiwa yang bisa kita pelajari yang menunjukkan kedekatan antara Tuhan Yesus dengan muridnya itu, Pak Heman?

HE : Kedekatan Tuhan Yesus dengan para murid itu sudah demikian erat sehingga kalau kita lihat teguran-teguran Yesus itu begitu keras terhadap murid-muridnya. Misalnya terhadap Petrus dan sebaginya, begitu tidak sampai membuat Petrus itu mundur dari hadapan Tuhan Yesus.

Di samping itu kita melihat dampak dari pengalaman pribadi murid-murid bersama Tuhan Yesus sedemikian erat, sehingga murid-murid itu membawa pengalaman bersama Tuhan Yesus dan mereka begitu mengasihi Tuhan.
GS : Tetapi sejak di Perjanjian Lama Tuhan itu memperingatkan orang tua, bangsa Israel ini khususnya untuk dekat dengan anaknya ya Pak? Nah mungkin Pak Heman bisa singgung hal itu.

HE : Saya akan bacakan dari Ulangan 6:4-9 dan ini menunjukkan perintah Tuhan kepada kita umat Tuhan tentang bagaimana kita harus bersama dengan anak kita dan mengajar mereka. "Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu."

GS : Saya rasa perintah Tuhan ini masih sangat relevan untuk kita saat ini Pak Heman, dan terima kasih untuk kesempatan perbincangan kali ini. Saudara-saudara pendengar demikian tadi perbincangan kami dengan tema "Waktu buat Anak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



32. Bermain Bersama Anak


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T098B (File MP3 T098B)


Abstrak:

Orangtua yang bermain bersama anak sesungguhnya akan memberi arti penting bagi relasi orangtua dengan anak. Dan orangtua yang bersama anak adalah orangtua yang senantiasa dekat dan hadir di dalam keseharian anak-anak.


Ringkasan:

Ketika orang tua bermain bersama anak itu akan memberi arti penting bagi relasi orang tua dengan anak. Orang tua yang bersama anak itu adalah orang tua yang dekat dan hadir di dalam keseharian anak-anak kita.

Dampak kalau orang tua tidak bisa bermain-main dengan anak yaitu:

  1. Ada jarak yang membatasi, ada gap antara orang tua dengan anak.

  2. Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi komunikasi yang serius dan formal semata-mata. Dengan demikian anak tidak berani mengemukakan isi hatinya pada orang tua.

  3. Hubungan antara anak dengan orang tua menjadi hubungan yang hanya terjadi kalau ada kepentingan yang mendesak.

  4. Anak mungkin saja merasa orang tuanya tidak menyayangi mereka sekalipun sebetulnya orang tua tidak bermaksud tidak menyayangi tetapi akan dipandang anaknya sebagai tidak menyayangi.

Ada beberapa arti penting bermain bagi seorang anak yaitu :

  1. Bisa hanya sekadar semacam kesenangan dan kegembiraan. Itu sangat penting dan sehat untuk kehidupan anak-anak.

  2. Memberikan pelepasan dari beban stres anak sehari-hari, dia mempunyai alternatif untuk mengalihkan perhatiannya.

  3. Sebagai sarana belajar, secara sosial, jadi dia belajar bagaimana berelasi dengan orang lain tetapi lewat mainan dan dia juga belajar keterampilan pada umumnya.

  4. Dapat membuat atau membuka minat dan peluang anak untuk memasuki dunia orang dewasa. Misalnya main dokter-dokteran, penjual dan pembeli dsb.

Orang tua yang bermain dengan anak pun bisa mendapat manfaatnya yaitu:

  1. Dia bisa menikmati suatu keadaan rileks, oran gtua sebetulnya juga mendapat selingan dan hiburan kalau dia pulang kantor capek.

  2. Dia bisa menimbulkan suatu suasana yang lain, orang tua juga bisa menunjukkan dirinya betul-betul sebagai manusia biasa yang bisa sekali-sekali kalah dan juga harus mengakui kelemahan dan keterbatasannya. Dengan demikian orang tua juga bisa merasa lebih dekat dengan anaknya.

  3. Orang tua juga bisa mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi stres.

Melalui permainan orangtua bisa mendidik anak:

  1. Memberi dan memilihkan berbagai jenis permainan yang merangsang perkembangan kecerdasan dan keterampilan anak sejak masih kecil.

  2. Dengan bermain bersama anak sesungguhnya orang tua bisa mengontrol jadwal anak-anak. Sehingga mereka belajar berdisiplin diri, dan memperhatikan waktu bermain dengan waktu tidur, waktu belajar, waktu makan dsb.

  3. Orang tua juga bisa mengajarkan anak-anak strategi bermain, sehingga mereka menjadi bisa bermain dengan terampil, sekaligus juga dengan jujur.

  4. Mengarahkan mereka ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan, seperti menipu, berbuat curang, ngambek karena kalah, berebut mainan dsb.

Ada anak yang enggan bermain dengan orang tuanya, hal ini disebabkan karena
  1. Anak merasa malu atau merasa tidak cocok bermain bersama orang tuanya.

  2. Anak merasa tidak akrab dengan orang tuanya.

Usaha yang perlu dilakukan orang tua adalah:
  1. Mengajak anak ngobrol dan bercerita apa saja tanpa memberi nasihat-nasihat lebih dulu.

  2. Mengajak anak jalan-jalan santai

  3. Sekali-sekali lakukan sentuhan-sentuhan fisik dengan lembut, misalnya dengan memegang tangan atau bahu anak.

  4. Mulailah dengan permainan-permainan sederhana yang disukai anak dan tunjukkan seolah-olah anda memiliki kemampuan bermain yang sedikit di bawah anak anda.

  5. Ciptakan hubungan yang harmonis dengan pasangan anda karena itulah yang akan membuat anak anda menikmati permainan dengan anda sebagai orang tuanya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Heman Elia seorang M.Psi. yang saat ini juga mengajar atau menjadi dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Bermain Bersama Anak", maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, pada dasarnya kita memang senang bermain sebelum waktu pemuda, waktu awal pernikahan sampai kadang-kadang lupa bahwa kita sudah dikaruniai anak dan kita masih mau bermain dengan teman-teman yang sebaya dengan kita. Setelah pulang kantor masih bermain-main sehingga pulangnya malam dan anak kita sudah tidur. Tetapi juga pernah berpikir anak kita masih kecil, tidak cocok kalau kita main-main dengan anak kita. Nah sebenarnya apa memang penting bermain dengan anak itu?

HE : Saya kira penting, karena ketika orang tua itu bermain bersama anak akan memberi arti penting bagi relasi orang tua dengan anak. Orang tua tidak semata-mata bersikap polisi yang selalu beusaha menegakkan aturan atau guru yang mengajar secara otoriter, dengan marah-marah dan yang harus selalu mengarahkan anak bahkan mungkin juga yang tidak mau tahu tentang kebutuhan anak-anaknya.

Orang tua yang bersama anak itu adalah orang tua yang dekat dan hadir di dalam keseharian anak-anaknya.
(2) GS : Kalau begitu memang alasannya cukup penting sekali meluangkan waktu untuk bisa bermain-main dengan anak kita. Tapi kalau tidak terpenuhi artinya kita tidak bisa bermain-main dengan anak kita, apa dampak pada si anak?

HE : Ada beberapa contoh dampak, misalnya ada jarak yang membatasi, ada gap antara orang tua dengan anak. Orang tua dengan anak ini hidup seolah-olah di dalam dunia sendiri-sendiri sehingga mesipun hidup di bawah satu atap, tapi masing-masing merasa kesepian.

Kemudian kemungkinan yang lain adalah komunikasi antara orang tua dan anak menjadi komunikasi yang serius dan formal semata-mata. Dengan demikian anak itu tidak berani mengemukakan isi hatinya pada orang tua. Hal lain lagi yaitu hubungan antara anak dengan orang tua menjadi hubungan yang hanya terjadi kalau ada kepentingan yang mendesak. Jadi misalnya kalau anak membutuhkan sesuatu, anak baru bicara dengan orang tua atau orang tua mau meminta anak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua, orang tua baru bicara dengan anaknya. Hubungan yang demikian memungkinkan terjadinya saling manipulasi antara anak dengan orang tua. Bahkan mungkin anak yang dekat dengan ibunya akan lebih mau bicara dengan ibunya, anak yang dekat dengan ayahnya meminta sesuatu kepada ayahnya dan seterusnya. Dan hal yang lain lagi adalah mungkin saja anak merasa orang tuanya tidak menyayangi mereka karena orang tuanya kalau ketemu dengan anak selalu marah-marah, menasihati, sekalipun orang tua sebetulnya tidak bermaksud tidak menyayangi tetapi akan dipandang anaknya kalau tidak menyayangi.
(3) GS : Artinya hubungan orang tua dengan anak ini menjadi renggang ya Pak, padahal sebenarnya diharapkan ada keakraban antara orang tua dan anak. Nah sebenarnya apa arti penting bermain bagi anak, Pak?

HE : Ada beberapa arti penting bermain bagi seorang anak yaitu bisa hanya sekadar semacam kesenangan dan kegembiraan. Dan saya kira itu sangat penting dan sehat untuk kehidupan anak-anak. Dan kmudian bisa berarti memberikan pelepasan dari beban stres anak sehari-hari, dia mempunyai alternatif untuk mengalihkan perhatiannya.

Kemudian juga sebagai sarana belajar, baik secara sosial jadi dia belajar bagaimana berelasi dengan orang lain tetapi lewat mainan dan juga dia belajar keterampilan pada umumnya. Ada banyak keterampilan yang bisa anak pelajari melalui bermain, kemudian bermain ini juga bisa membuat atau membuka minat dan peluang anak untuk memasuki dunia orang dewasa. Jadi misalnya permainan pura-pura, permainan dokter-dokteran, permainan antara penjual dengan pembeli dan sebagainya itu membuka minat anak untuk bidang-bidang pekerjaan nantinya bila sudah dewasa.
GS : Apakah dalam permainan itu mendapat manfaat, yang mendapat manfaat itu anak atau orang tua?

HE : Orang tua juga bisa mendapatkan manfaat.

GS : Misalnya apa Pak?

HE : Misalnya orang tua itu kalau bermain bersama anaknya dia bisa juga menikmati suatu keadaan rileks, jadi orang tua sebetulnya juga mendapat selingan dan hiburan kalau misalnya pulang dari kntor capek atau habis bekerja atau habis bertengkar dengan relasi dan sebagainya.

Kalau bermain dengan anak bisa menimbulkan suatu suasana yang lain. Kemudian perlu juga kita ingat bahwa orang tua itu adalah manusia biasa. Di dalam bermain, orang tua bisa menunjukkan dirinya betul-betul seperti manusia biasa yang bisa sekali-sekali kalah dan juga harus mengakui kelemahan dan keterbatasannya. Dengan begitu orang tua akan merasa lebih dekat dengan anak yang diajaknya bermain. Dan selain itu orang tua juga bisa mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi stres. Jadi misalnya kalau dia harus bekerja lagi keesokannya, dia sudah mendapat tenaga yang baru dan semangat yang baru.
GS : Dalam hal bermain ini, apakah orang tua harus menyesuaikan dirinya dengan anak, Pak Heman?

HE : Kita perlu menyesuaikan diri dengan anak-anak kita, tapi di samping itu juga sebetulnya permainan ini bisa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengarahkan, mendidik anak-anaknya.

GS : Tadi bukan sekadar bermain ya Pak, jadi orang tua sering kali mau memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk pendidikan anaknya. Jadi dalam bermain itu orang tua masih punya kesempatan untuk mendidik ya Pak?

HE : Betul, jadi ini manfaatnya bermain antara orang tua dengan anak, permainan itu sendiri bisa dimanfaatkan untuk mendidik anak-anak. Biasanya orang tua berpendapat bahwa bermain ya bermain, alau belajar ya belajar tetapi sebetulnya antara bermain dengan belajar itu bisa dipadukan, bahkan akhir-akhir ini ada beberapa metode yang menggabungkan antara bermain dengan belajar, karena dengan demikian anak-anak belajar dengan satu minat yang besar dengan satu kesenangan.

GS : Contohnya apa Pak?

HE : Jadi katakanlah bermain dengan beberapa permainan misalnya monopoli. Monopoli itu ada strateginya, ada keterampilannya dan juga orang tua sebetulnya bisa mengarahkan anak-anak ini dari seg emosi.

Misalnya kalau mereka kalah kemudian mengambek, kita bisa mengarahkan mereka, atau mengarahkan relasi mereka misalnya tidak boleh menipu, tidak boleh berbuat curang. Orang tua dengan bermain bersama anak ini sekaligus bisa mengontrol jadwal anak-anak kita. Misalnya mengingatkan atau membantu mereka sehingga mereka bisa belajar berdisiplin diri dan memperhatikan juga waktu bermain. Mereka bisa mengatur waktu bermain dengan waktu tidur, dengan waktu belajar, waktu makan dan sebagainya. Kemudian orang tua juga sekaligus bisa mengajarkan anak-anak strategi bermain, sehingga mereka menjadi bisa bermain dengan terampil, tetapi sekaligus juga dengan jujur.
GS : Ya kalau kita memang secara sadar mau mengajak mereka bermain sekaligus belajar tentunya ada jenis-jenis permainan tertentu yang cocok untuk hal ini, yang bisa menunjang tujuannya, tetapi juga ada permainan-permainan yang kurang menunjang tujuan ini. Jadi membuat anak bermain dan belajar, mungkin Pak Heman bisa sampaikan kepada para pendengar, kepada kita semua ini, bagaimana memilih mainan yang cocok untuk anak?

HE : Mainan yang kita pilih itu bukan berarti harus selalu mainan yang mahal dan canggih. Ada beberapa mainan yang sederhana-sederhana saja, tetapi bisa mengajarkan banyak hal dan dilakukan berama anak tanpa rasa bosan.

Bukan selalu mainan harus kita beli, misalnya tadi sudah disebutkan tentang monopoli, catur, jengga, kemudian permainan pasang-pasangan nah itu semua ada alatnya ya. Tetapi kita juga bisa bermain dengan anak dengan permainan pura-pura seperti tadi penjual dan pembeli, bahkan mungkin juga kadang-kadang bergulat bersama anak, terus orang tua berpura-pura kalah dan sebagainya. Ada beberapa mainan yang perlu kita waspadai karena dampak negatifnya yang bersifat merusak, jadi kita harus mewaspadai mainan-mainan yang membawa dampak kekerasan dan juga pornografi yang saat ini banyak sekali. Misalnya beberapa permainan playstation, computer games yang sangat sadis dan sangat riil, sebaiknya itu tidak diberikan kepada anak-anak, demikian juga senjata-senjata yang bisa membahayakan, bisa menembakkan peluru dan sebagainya itu akan berdampak buruk bagi anak-anak kita. Nah beberapa alternatif yang lain itu misalnya kita bisa memberikan anak-anak kita permainan memasang lego, memasang lasi, 'jigsaw-puzzle' bahkan teka-teki silang kemudian bermain sandiwara bersama mereka, permainan-permainan yang tradisional misalnya petak umpet, memancing ikan, mendaki gunung, berlayar dan sebagainya. Ini semua bisa dipakai orang tua untuk bermain bersama anak sekaligus mendidik mereka.
GS : Anak itu sifatnya pembosan, dia tidak tahan lama-lama misalnya monopoli, sering kali kita masih lagi seneng-senengnya main apalagi menang tetapi si anak ini sudah mulai bosan. Nah kalau kita sudah melihat tanda-tanda kebosanan di dalam diri anak itu, apa yang sebaiknya kita lakukan, Pak?

HE : Memang kita harus mencari variasi dan mencari permainan-permainan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, tidak bisa kita memberikan permainan-permainan yang terlalu rumit atau terlau sulit bagi anak-anak.

Demikian juga kita tidak bisa memberikan permainan yang jauh di bawah tingkat perkembangan usia mereka, jadi memang tidak terlalu mudah tetapi bisa diupayakan. Berikan permainan yang cukup bervariasi, juga berikan permainan yang sesuai dengan tingkat perkembangan usia mereka.
GS : Jadi harus ada suatu tantangan terhadap anak. Tetapi kalaupun kita sudah berusaha sedemikian rupa, anak itu merasa lebih senang bermain dengan teman-temannya daripada dengan kita, lalu bagaimana kita harus bersikap Pak?

HE : Ini memang suatu hal yang tidak mudah untuk dipecahkan tetapi ada beberapa usaha yang bisa disarankan di sini. Yang bisa kita lakukan sebagai pendahuluannya itu kita harus membina kembali ubungan akrab dengan anak terlebih dulu.

Jadi supaya anak-anak ini bisa dekat dengan kita terlebih dulu. Biasanya begini orang tua sudah mempunyai hubungan yang agak kaku atau mungkin orang tua terasa angker bagi anak-anaknya, sehingga ketika orang tua mengajak anak bermain, anak itu seperti kaget dan atau kurang mau dekat dengan orang tua. Untuk itu kita perlu upayakan dulu dengan beberapa cara misalnya mengajak anak bicara, cerita-cerita, tanpa memberikan nasihat-nasihat, mungkin beberapa kali mengajak anak itu jalan-jalan, kemudian waktu jalan-jalan kita juga mengajak mereka bercerita, kita tanya mereka dan sebagainya. Sekali-kali lakukan sentuhan-sentuhan fisik dengan lembut, misalnya memegang tangan anak kita, menggandengnya, memegang bahunya dan kemudian kita mulai dengan permainan-permainan sederhana yang disukai dengan anak. Dan jangan menunjukkan kita itu jauh di atas mereka, jadi kita harus menyesuaikan diri dengan tingkat kemampuan mereka, bahkan kalau perlu kita bermain sepertinya kita berada sedikit di bawah mereka. Kadang-kadang kita "kalah" sehingga anak itu tidak merasa frustrasi, kalau anak terus-menerus kalah dia tidak mau bermain dengan orang tuanya lagi. Dan juga yang sangat penting adalah ciptakan hubungan yang harmonis dengan pasangan Anda, karena itulah yang membuat anak bisa menikmati permainan bersama orang tuanya. Kalau ada hubungan yang tidak harmonis antara suami dan istri, maka anak tidak menikmati bermain dengan orang tuanya.
GS : Jadi bisa melibatkan istri atau berdua, orang tua bermain dengan anak-anak sekaligus ya Pak?

HE : Bisa atau sendiri-sendiri. Yang memang sangat bisa dinikmati kalau misalnya semua satu keluarga bisa terlibat.

GS : Nah itu di dalam permainan ya Pak, sering kali kadang-kadang di pihak anak itu timbul pertengkaran atau marah dan sebagainya. Bagaimana menyikapi kalau pada waktu suasana senang lalu ada anak yang marah?

HE : Dalam hal ini orang tua jangan menganggap serius tentang kemarahan anak, kalau orang tua terlalu tegang dengan kemarahan anak, akhirnya anak tidak bisa menikmati lagi permainan seperti itu Jadi yang kita perlu usahakan adalah rileks saja, hadapi kemarahan anak dengan wajar-wajar saja dan kemudian kita mungkin dengan tertawa sebentar, kemudian kita berhenti bermain lalu kita katakan misalnya: "Ya tidak semua orang menang setiap waktu, dan kamu lihat Papa atau Mama juga pernah kalah, apakah Papa terus marah-marah, apakah Papa terus mengambek,tidak.

Nah kamu juga harus belajar menguasai diri, kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah dan itu tidak masalah namanya permainan," seperti itu yang bisa kita katakan.
GS : Jadi tetap memotivasi anak untuk tetap dekat dengan kita, tetapi bagaimana halnya kalau memang anak itu tidak senang dengan jenis mainan atau permainan yang kita tawarkan ke dia, Pak?

HE : Ya kalau anak tidak mau bermain dengan mainan-mainan yang kita tawarkan, mungkin kita perlu ketahui dulu penyebabnya apa. Kadang-kadang anak tidak mau bermain dengan mainan-mainan yang kit rasakan menarik dan mahal, padahal kita sudah upayakan dan rasakan berguna bagi mereka.

Yang pertama kemungkinan suasana di rumah itu panas. Kalau suasana di rumah tidak harmonis, anak-anak itu dengan cepat bosan meskipun mainan itu sangat menarik, tetapi rasanya anak ingin marah saja sehingga dia tidak mau bermain. Yang kedua adalah anak-anak ini melihat teman-temannya mempunyai permainan-permainan yang lebih bagus, lebih canggih. Dengan demikian anak-anak ini merasa apa yang diberikan orang tuanya tidak memuaskan mereka. Nah ini beberapa sebab, dalam hal ini anak perlu diajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang bisa orang tua sediakan dan dengan apa yang diberikan kepada mereka. Penguasaan diri ini tentunya juga perlu kita ajarkan kepada mereka di dalam kesempatan-kesempatan misalnya kita bicara bersama mereka, kita bercerita mendongeng ketika malam sebelum tidur dan sebagainya. Yang ketiga adalah mainan yang kita pilihkan itu kurang sesuai dengan tingkat usia mereka, sehingga mereka malas bermain. Jadi di dalam hal ini kita perlu melihat, menyesuaikan dengan tingkat usia mereka juga. Yang keempat kemungkinan kita memberikan mainan-mainan yang terasa monoton, itu-itu saja, kurang bervariasi juga akan menyebabkan anak kurang suka bermain. Kalau bisa berikan kepada mereka mainan-mainan yang mempunyai banyak sekali kemungkinan untuk dimainkan, jadi ada cukup banyak permainan yang bisa dimainkan dengan berbagai cara. Saya kira akan lebih menarik perhatian mereka untuk bermain.
GS : Jadi menuntut anak untuk lebih kreatif juga, selain kita juga harus kreatif menyediakan mainan itu. (HE: betul) tetapi apakah pengaruh teman-temannya itu sangat besar Pak, jadi kalau temannya punya mainan A dia juga inginnya dapat mainan yang seperti A itu tadi, paling tidak yang mirip-mirip. Tapi kalau bedanya terlalu jauh dia tidak mau.

HE : Kuncinya di sini sebetulnya hubungan akrab antara orang tua dengan anak yang tadi saya sudah singgung. Kalau orang tua ini akrab dengan anaknya, umumnya anak akan lebih kooperatif dengan oang tua.

Anak akan bisa memahami orang tuanya, jadi selain orang tua memahami anak, anak juga tidak menuntut, tidak memaksa. Dan pengalaman kami, anak itu senang bermain dengan sesuatu yang kelihatannya hanya itu-itu saja, tetapi yang dia cari sebetulnya adalah keakraban itu tadi.
GS : Setelah bermain bersama biasanya orang tua langsung pergi karena ada kesibukan, mungkin harus terima telepon dan sebagainya lalu bilang itu tolong dibersihkan, tolong diatur lagi. Tetapi dia tinggal begitu saja, jadi orang tuanya meninggalkan arena bermain itu lalu anaknya yang diperintahkan untuk membersihkan malah meninggalkannya. Bagaimana itu Pak Heman?

HE : Sebaiknya untuk membersihkan dan membereskan mainan juga perlu dilatihkan kepada anak dan kalau bisa orang tua bersama-sama dengan anak merapikan. Memang nantinya kita berharap bahwa anak ama-kelamaan bisa merapikan mainan sendiri, tetapi pada mulanya anak perlu dibantu.

Jadi kita memberikan contoh dan kita mengajak anak-anak itu untuk bersama-sama merapikan mainan, ini jauh lebih baik.
GS : Sehubungan dengan contoh itu tadi, memang keteladanan itu sesuatu yang bicara cukup keras, memberikan kesan yang cukup keras kepada anak dan kepada kita semua bahkan yang sudah dewasa ini. Apakah Tuhan Yesus juga melakukan hal yang sama terhadap para murid?

HE : Saya kira ya dan ada contoh yang menarik, sebaiknya saya bacakan saja ada suatu kisah tentang Tuhan Yesus berjalan di atas air dari Matius 14:25-33 . "Kira-kira jam tiga mlam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-muridNya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila itu Engkau, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan berkata: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tanganNya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Nah di sini kita melihat beberapa hal yang menarik yaitu kenapa Tuhan perlu-perlunya berjalan di atas air sampai mengejutkan murid-muridNya dan spontan murid-muridNya ini mengatakan itu hantu, nah ini seolah-olah seperti orang tua yang bermain ciluk ba dengan anak-anaknya. Tetapi di balik ini ada permintaan Petrus yang juga tampaknya kekanak-kanakan, Petrus ini minta kepada Tuhan untuk berjalan di atas air, ini cukup lucu seperti kalau saya juga pingin sekali kalau bisa berjalan di atas air. Ternyata inipun dipenuhi oleh Tuhan Yesus, Tuhan Yesus mengatakan datanglah, dan di sini kita melihat ada pengajaran yang luar biasa berharga setelah itu dan Tuhan Yesus dengan seolah-olah "bermain-main" seperti itu, ternyata mengajarkan pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh Petrus, berjalan di atas air hampir tenggelam dan kemudian mengajarkan kepadanya tentang iman.
GS : Jadi memang itu suatu keteladanan yang baik sekali dan seharusnya kita sebagai orang tua yang dikaruniai Tuhan dengan anak-anak sungguh-sungguh berusaha menyediakan waktu bagaimanapun sibuknya kita, bagaimanapun lelahnya kita, Pak Heman. Dan saya percaya sekali banyak pendengar kita setelah ini akan lebih banyak memberikan perhatian kepada anak-anak, karena anak-anak memang membutuhkan itu bahkan kita sendiri sebagai orang dewasa juga membutuhkan suasana yang akrab, rileks, melepas ketegangan itu.

Jadi banyak terima kasih Pak Heman, untuk perbincangan kali ini dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang suatu pokok yaitu "Bermain Bersama Anak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran serta pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



33. Mengajar Anak Berdoa


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T102A (File MP3 T102A)


Abstrak:

Berdoa adalah perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Dengan doa, anak akan selalu merasa bahwa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan.


Ringkasan:

Berdoa sesungguhnya perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong, kita mengajak mereka bercakap-cakap, atau juga kita selipkan doa-doa kita sehingga anak-anak meskipun belum mengerti tapi mereka menghayati suasana doa.

Yang perlu kita lakukan untuk mengajar anak berdoa:

  1. Yang pertama, kita perlu perhatikan adalah contoh dari orangtua lebih dulu. Meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.

  2. Kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anak-anak sudah mulai berkata-kata anak diajak untuk menhafal doa.

  3. Kita ajak anak-anak untuk mendoakan misalnya temannya, mendoakan kakak atau adiknya, mendoakan ayah atau ibunya.

  4. Kita juga bisa mengajarkan doa Bapa Kami, dan kita juga harus membiasakan anak untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan.

Dampak positif dari kita mengajarkan anak berdoa adalah dengan doa, anak selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-masa indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.

1 Samuel 1:27-28 , "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."

Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orangtua yaitu bagaimana orangtua itu menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kali ini bersama Bp. Heman Elia, M. Psi., beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang; kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat, dan perbincangan kami kali ini kami beri judul 'Mengajar Anak Berdoa". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, kita tahu bahwa berdoa atau mendidik anak untuk bisa berdoa dengan baik itu penting sekali, karena kita sendiri juga sudah merasakan manfaatnya. Tetapi masalahnya kapan mau dimulai atau bagaimana caranya kita memulai itu yang kadang-kadang banyak orang tua agak kesulitan. Sebenarnya bagaimana mengajar anak untuk bisa berdoa sendiri?

HE : Ya tentu perlu tahapan-tahapan Pak Gunawan, karena anak itu perlu dibiasakan dari kecil untuk berdoa, misalnya kalau menunggu dia remaja baru kita mengajarkan mereka berdoa mungkin akanada rasa malu, rasa segan bagi anak-anak ini.

Karena itu perlu mulai mengajar mereka berdoa sejak dini, sejak kecil.
GS : Nah masalahnya ini Pak Heman, doa itu 'kan seolah-olah kita sedang berbicara pada seseorang, nah kesulitannya adalah bagaimana mengajarkan kepada anak ini untuk berbicara pada sesuatu yang dia sendiri tidak lihat.

HE : Pertama-tama yang perlu kita perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu, meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan lngsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.

Bukan yang terutama orang tua menjelaskan dulu kepada siapa kita berdoa dan sebagainya, karena itu tidak relevan dan tidak akan dimengerti oleh anak, justru akan menimbulkan berbagai pertanyaan yang kurang perlu. Jadi pertama-tama adalah kita mengajarkan kebiasaan berdoa lebih dulu.
GS : Mereka sering melihat kita berdoa, ikut memejamkan mata dan sebagainya, tetapi pada gilirannya kita meminta anak kita itu untuk berdoa begitu. Nah sebaiknya pada kesempatan apa itu Pak Heman, pada waktu acara makan bersama atau waktu mau tidur atau apa, Pak Heman?

HE : Ya itu yang paling dasar saya kira waktu makan, waktu tidur dan sebagainya. Sebetulnya masalah berdoa ini kita bisa mengajarkan sejak anak itu masih bayi, saat dia belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong anak-anak ini, kita mengajak mereka bercakap-cakap, kadang-kadang di dalam percakapan ini kita tanya sendiri, kita jawab sendiri dan di antara itu kita selipkan doa-doa kita. Dengan demikian anak-anak ini meskipun belum mengerti, tapi mereka menghayati suasana doa dan kemudian ketika anak ini semakin besar, ketika mereka sudah bisa diajak berkomunikasi meskipun mereka belum bisa berbahasa atau berbicara dengan bahasa yang kita gunakan, mereka kita ajak untuk misalnya melipat tangan, menutup mata dalam sikap berdoa dan kita sendiri yang berkata-kata.

GS : Di situ peran ibu sangat besar Pak, karena anak lebih banyak waktunya dengan ibu. Nah, bagaimana peran ayah di sana?

HE : Ayah juga penting sebetulnya, kelihatannya memang ayah tidak sering, mungkin tidak sering merawat si bayi seperti ibunya, tetapi ayah ini juga perlu mendoakan anaknya. Terutama waktu maam anak mau tidur, nah ayah bisa mengajak anaknya itu untuk berdoa.

GS : Tentu anak ini dengan pola pikir yang sederhana, dengan kalimat-kalimat yang sederhana mungkin Pak Heman bisa memberikan contoh, Pak Heman?

HE : Pada waktu anak-anak masih sangat muda dan mulai bisa berkata-kata, kita bisa mengajarkan misalnya terima kasih Tuhan atau terima kasih Bapa, amin! Hanya itu saja kata-kata yang pendek-endek, waktu makan misalnya Tuhan berkati makanan ini, amin! Hanya kata-kata yang pendek-pendek dulu.

Ketika anak semakin besar dan dia semakin banyak perbendaharaan katanya kita boleh tambahkan lebih panjang dan lebih panjang.
GS : Ya itu biasanya bertambah sendiri sesuai dengan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak itu, tetapi apakah itu bisa mendorong atau memotivasi si anak ini supaya tanpa pengawasan kita pun dia secara keinginannya sendiri itu berdoa, Pak?

HE : Itu baru pada anak-anak yang sudah lebih besar. Yang penting di sini adalah kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anakanak sudah bisa mulai berkata-kata, anak diajak untuk menghafal doa.

Mulanya memang begitu perkembangannya, jadi anak-anak ini belajar menghafal, lalu kita juga ajak anak-anak ini untuk mendoakan misalnya mendoakan temannya, mendoakan kakaknya atau adiknya, mendoakan ayah ibunya. Dan menurut pengalaman saya anak waktu usia misalnya 3 tahun pun dia sudah bisa mendoakan orang lain dengan baik, meskipun kadang-kadang masih pelo-pelo.
GS : Biasanya sekalipun dia sudah terbiasa di rumahnya sendiri memimpin atau berdoa, kadang-kadang kalau ada temannya atau saudaranya yang menginap di rumah, kemudian menjadi enggan, malu atau bagaimana itu Pak?

HE : Ya kita mesti bertahap, mungkin kita berikan contoh lebih dulu, kita katakan bahwa setiap orang di sini memimpin doa secara bergiliran. Jadi ayahnya berdoa lebih dulu dengan kata-kata yng pendek, singkat, supaya anaknya tidak minder, kemudian ibunya juga berdoa dan kemudian giliran anak dan kemudian tamunya.

Jadi mudah-mudahan dengan cara ini anak lebih tertolong dari rasa malunya, kalau misalnya itu tidak jalan orang tua dapat memimpin doa, "OK, mungkin kamu masih malu ya" misalnya begitu, kita berdoa sama-sama jadi ayah atau ibu yang memimpin doa kemudian diikuti oleh anak-anak.
GS : Anak-anak mempunyai daya ingat yang cukup kuat, Tuhan Yesus 'kan mengajarkan sebuah doa yang cukup panjang mungkin bagi anak yaitu doa Bapa Kami. Sering kali kita melihat di Sekolah Kristen khususnya juga atau sekolah Katolik dan sebagainya, anak diajar menghafalkan sebuah doa, itu bagaimana Pak?

HE : Saya kira itu baik-baik saja dan memang itu perlu dilakukan. Doa Bapa Kami misalnya itu memberitahukan bagaimana seharusnya kita berdoa. Paling sedikit di sana banyak prinsip-prinsip yag kita bisa pegang dengan demikian kita juga akan lebih mudah mengajarkan anak-anak ini bagaimana seharusnya berdoa dan apa saja yang perlu ada dalam suatu doa.

Juga memberi arah pada anak ini, bagaimana berdoa secara bebas.
GS : Ya tapi seringkali justru itu Pak, karena dia sudah hafal lalu diucapkan seperti otomatis gitu Pak? Nah itu apa tidak membawa suatu dampak yang negatif buat anak itu sendiri?

HE : Saya kira kita selain mengajarkan Doa Bapa Kami, kita harus membiasakan anak juga untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja epada Tuhan.

Kita katakan kepada mereka bahwa Tuhan itu adalah selain Dia itu Raja di atas segala raja yang kita harus betul-betul hormati, kita harus hidup kudus dihadapanNya sebelum kita berdoa, tetapi dia juga sayang kepada anak-anak. Dia juga dekat kepada anak-anak dan Dia juga mengasihi kita semua, Dia adalah seorang Bapak yang penuh kasih. Nah kita sebagai anak Tuhan boleh meminta apa saja dan boleh berkata-kata apa saja sama seperti anak-anak ini berkata-kata kepada ayah ibunya sendiri. Dan kemudian kita juga perlu tegaskan kepada anak-anak bahwa Yesus itu sangat menghargai anak-anak, sehingga Dia pernah mengatakan bahwa yang di kerajaan sorga ini ya seperti anak-anak ini. Dengan demikian anak-anak yang polos, yang selalu berdoa dengan kejujuran hatinya ini merasa dikuatkan dan mereka akan lebih berani untuk mengucapkan doa, meskipun dengan kesalahan-kesalahan kita harus maklumi itu.
GS : Masalah kesalahan itu pernah terjadi Pak, seorang anak itu memimpin dalam doa makan, tetapi ada juga saudara-saudaranya di situ, dia bukan anak tunggal. Nah di tengah-tengah doanya mungkin dia kehabisan kata-kata atau apa lalu terdiam jadi dia tidak bisa melanjutkan doanya, nah kakak-kakaknya ini yang mentertawakan. Oorang tua memang sudah tidak menghiraukan itu dan orang tuanya juga bersikap cukup positif, tapi sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh orang tua seandainya hal itu terjadi Pak?

HE : Begitu anak ini terdiam, kemudian ditunggu sementara waktu misalnya (ini di luar bahwa anak ini sudah ditertawakan oleh saudaranya) katakan dia belum ditertawakan, orang tua boleh membatu dengan melanjutkannya kemudian langsung diakhiri.

Kalau misalnya dia sudah ditertawakan, orang tua wajib untuk mendidik, mengatakan kepada anak-anak yang lain, jangan ditertawakan karena kita semua tidak ada yang berdoa dengan sempurna dan Alkitab mengatakan Roh Kudus sering kali membantu kita berdoa dalam kata-kata yang kita sendiri tidak bisa ucapkan. Nah kita katakan bahwa kita harus betul-betul hormat di hadapan Tuhan dan bahwa Tuhan menghargai apapun doa kita, meskipun itu dengan ada kesalahan-kesalahan seperti itu.
GS : Ya memang yang dikhawatirkan adalah anak yang ditertawakan itu lain kali tidak mau lagi memimpin doa, agak trauma.

HE : Ya kita harus memuji anak ini bahwa bagaimanapun juga kamu sudah berusaha dengan baik, dan Tuhan menghargai doa kamu, Tuhan mendengar doa kamu, tidak sempurna tidak apa-apa. Ya memang iulah kamu belajar di sekolah dan sebagainya itu 'kan juga harus tahap demi tahap begitu.

GS : Sebenarnya bagi si anak, pengaruh positif atau dampak positif apa itu Pak yang membuat dia dipersiapkan untuk masa depannya?

HE : Ya dengan doa, anak ini akan selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-mas indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.

Kita tidak selalu bisa mengawasi anak-anak kita, tetapi kalau anak-anak kita terbiasa hidup di dalam doa dia akan hidup di hadapan Tuhan dan Tuhan sendiri yang akan mengawasi dia pada saat kita tidak bisa mengawasi kehidupan mereka.
GS : Apakah hal-hal yang dilakukan di masa kecil ini punya suatu kenangan atau pengaruh untuk masa depannya, Pak?

HE : Ya, pasti ada kenangan-kenangan yang indah ketika anak ini berdoa, meskipun misalnya suatu ketika mereka meragukan apakah doa saya didengar, mungkin juga kadang-kadang anak ini ketika tmbuh remaja mereka berpikir apakah Tuhan sungguh-sungguh ada dan sebagainya.

Tetapi kenangan-kenangan ini akan mengingatkan mereka, ada doa-doa yang pernah dijawab, ada doa yang membuat kita semua merasa terharu dan itu yang diharapkan akan menjadikan anak-anak kita itu selalu ingat untuk hidup di dalam doa.
GS : Dalam hal berdoa seperti ini Pak, anak itu meminta sesuatu kepingin mainan atau kepingin dibelikan apa, ingin mendapatkan sesuatu. Nah orang tuanya berkata ya kamu berdoa pada Tuhan, nah kalau seandainya ternyata apa yang diinginkan oleh si anak ini tidak terkabul atau tidak terwujud bagaimana seharusnya sikap orang tua Pak?

HE : Kita katakan kepada anak demikian, kita tidak boleh menjanjikan pada anak bahwa apa yang didoakan itu pasti akan terkabul. Nah kita harus belajar, kita semua harus belajar pada doa Tuha Yesus di Taman Getsemani, di mana Dia berdoa agar Dia tidak usah minum cawan pahit itu, tetapi biar kehendak Tuhan yang terjadi.

Jadi anak-anak sering kali mengajukan keinginan kekanak-kanakannya akan suatu mainan, nah kita katakan bahwa kalau misalnya sesuatu itu entah berbahaya, entah tidak berguna atau kadang-kadang Tuhan memikirkan sesuatu yang lebih dari itu, maka ada kemungkinan permintaan itu tidak dipenuhi. Dan dalam situasi-situasi demikian kita bisa mengajar kepada anak-anak untuk lebih berpikir secara dewasa, untuk menahan diri, dan berdoa tidak hanya sekadar memuaskan hawa nafsu seperti yang dikatakan oleh Alkitab.
GS : Nah, sebaliknya kalau apa yang didoakan itu terkabul atau terwujud di dalam hidupnya. Bagaimana kita mengajarkan kepada anak bahwa doanya itu sudah dijawab oleh Tuhan?

HE : Kalau misalkan doa anak ini sudah terkabul, kita bisa katakan bahwa kita harus mengucap syukur. Karena sering kali kita mengajar anak untuk berdoa waktu dia sakit dan kita sering kali lpa ketika anak itu sudah sembuh kita minta anak untuk mengucap syukur.

Nah, di sini kita mengingatkan bahwa ketika anak sembuh, nah ini Tuhan sudah menjawab doa, meskipun itu misalnya lewat dokter dan sebagainya, tetapi yang jelas bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk sembuh, karena banyak orang juga tidak bisa sembuh. Dan kemudian kita mengajak dia berdoa dan mengucap syukur dengan demikian anak ini tahu bahwa doanya sudah dikabulkan.
GS : Jadi peranan orang tua di sini sebenarnya besar sekali Pak. Di dalam memberikan contoh nyata buat anak-anak, kita itu kadang-kadang juga kepingin waktu berdoa itu tidak dilihat orang termasuk anak-anak kita sendiri. Jadi kita lebih suka menyendiri, itu bagaimana Pak?

HE : Saya kira di dalam kehidupan kita adakalanya anak-anak perlu melihat orang tuanya berdoa dan berdoa ini 'kan tidak sekadar waktu makan, waktu mau tidur tetapi anak-anak perlu melihat keidupan doa dari kehidupan nyata orang tuanya.

Saya ingat tentang ayah saya, setiap pagi sebelum saya bangun, beliau sudah bangun dan berlutut berdoa, ayah saya sudah meninggal tetapi kehidupan doanya ini sangat berkesan di dalam kehidupan saya dan saya tahu ketika ayah saya berlutut di situ dia mendoakan setiap anaknya termasuk saya, dan mendoakan masa depan saya dan sebagainya. Ada satu hal juga yang saya berkesan sekali dari kehidupan ibu saya, ibu saya mengatakan sejak di dalam kandungan ketika ibu saya tahu bahwa dia hamil, maka dia sudah mendoakan saya. Jadi seumur hidup menyerahkan diri saya dan itu sangat mengharukan saya.
GS : Jadi keteladanan yang nyata yang perlu diperagakan, diperagakan di depan anak supaya mereka melihat dan bisa mencontoh begitu Pak. Nah apakah ada hal-hal penting lain yang perlu disampaikan dalam hal ini?

HE : Saya kira ada, sikap doa kita yang perlu kita ajarkan pada anak-anak. Sering kali anak-anak ini karena mereka masih suka bermain, sehingga mereka tidak bersikap hormat. Nah kita harus aarkan kepada mereka bahwa sikap hormat waktu berdoa itu sangat penting dan kemudian juga kita harus ajarkan tentang kerendahan hati dan kekudusan, waktu kita berdoa di hadapan Tuhan.

Kita ingat saja waktu Yesus memberi perumpamaan tentang membandingkan kehidupan doa orang Farisi dengan pemungut cukai, nah di situ mengajarkan tentang kerendahan hati seorang pemungut cukai yang doanya diterima oleh Tuhan. Demikian juga tentang kekudusan, ketika ada dosa di dalam diri kita, kita tidak bisa berdoa dengan baik di hadapan Tuhan. Ini saya kira penting kita ajarkan kepada anak ketika kita ingin supaya mereka berdoa.
GS : Apakah ada ayat Alkitab yang tepat Pak yang bisa mendasari atau menjadikan suatu kesimpulan dari pembicaraan kita saat ini?

HE : Saya akan bacakan dari 1 Samuel 1:27-28 , "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari padaNya. Maka akupun menyerahkanya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."

Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua ini menyerahkan anak-anaknya ini kepada Tuhan. Di dalam doanya orang tua mengatakan demikian, seumur hidup terserah anak saya mau dipakai Tuhan seperti apa, nah saya kira ini penting sekali. Dan ada hal lain juga yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak mengenai doa yaitu di dalam doa kita tidak hanya semata-mata meminta sesuatu dari Tuhan, tetapi juga misalnya bersyukur, mungkin juga memuji-muji kebesaran Tuhan atau hanya sekadar berdiam diri, merenungkan kebesaran Tuhan dan berdiam di hadapanNya. Saya kira kehidupan ini yang kita perlu ajarkan kepada anak-anak kita.

GS : Saya percaya bahwa pembicaraan kita ini penting sekali khususnya pada generasi yang sekarang ini di mana banyak kesibukan orang tua, tetapi juga tidak bisa memberikan suatu teladan yang nyata kepada anak-anak mereka untuk berdoa dan sebagainya. Kehidupan doa ini kita tahu sesuatu yang penting sekali dan saya percaya bahwa para pendengar kita dan kita sekalian juga akan memulai bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun beratnya, tetapi itulah panggilan yang Tuhan berikan kepada kita. Saya melihat doa itu sebagai suatu hak istimewa kita yang sebenarnya Tuhan berikan untuk setiap anak-anakNya. Jadi terima kasih sekali, Pak Heman untuk perbincangan kita pada saat ini. Saudara-saudara pendengar, kami baru saja berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. di dalam sebuah judul yaitu mengajar anak berdoa. Kami percaya Anda telah mengikuti perbincangan kami dalam acara TELAGA ini dengan seksama. Namun kalau Anda masih berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, Anda dapat mengalamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



34. Aku Punya Adik


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T102B (File MP3 T102B)


Abstrak:

Memiliki anak lagi memang suatu anugerah dan karunia yang menggembirakan sekali bagi orang tua. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan munculnya suatu masalah terutama bagi anak yang sulung, karena kecenderungannya kemunculan adik atau anak kedua akan menimbulkan masalah bagi si kakak.


Ringkasan:

Punya anak lagi itu sering kali merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Tapi apakah ini juga akan terjadi pada anak kita yang akan jadi kakak? Belum tentu, dan kebanyakan anak akan mengalami stres, meskipun awalnya sebagian anak merasa senang. Masalah yang banyak dialami orang tua adalah sang kakak menjadi lebih manja, cengeng, rewel, pemarah, dan mengalami kemunduran perkembangan.

Perasaan semacam ini sudah hampir pasti akan timbul. Tugas kita adalah memberi pengertian yang justru tidak memperberat masalahnya, melainkan membantu anak melihat dari sudut pandang yang positif, bahwa kita tetap menganggapnya sebagai kekasih kita, sekalipun harus berbagi kasih dengan orang lain.

  1. Siapkan sang kakak menghadapi kelahiran adik.
  2. Ketika adik lahir, orang tua bergantian memberi perhatian pada masing-masing anak.
  3. Utamakan kakak di hadapan para tamu.
  4. Ajak anak Anda untuk membantu Anda.

Satu prinsip di sini adalah kita tidak boleh membuat anak merasa dibanding-bandingkan satu dengan lainnya, baik secara eksplisit maupun implisit. Prinsip lain adalah kita harus membuat anak merasa diperlakukan secara adil. Bukan berarti kita harus memperlakukan semua anak secara sama, melainkan kita perlu menyeimbangkan hak dan kewajiban setiap anak sesuai dengan usia mereka. Dengan demikian kita akan mengurangi problem iri hati antar saudara kandung.

Mazmur 133 , "Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Heman Elia, M. Psi. beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan selama 30 menit ke depan dan perbincangan kami kali ini kami beri judul "Aku Punya Adik". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita sekalian.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, tentu sebagai orang tua akan merasa senang kalau tahu bahwa kita bakal dikaruniai anak yang berikutnya, jadi kita sudah punya anak yang pertama lalu istri kita hamil lagi. Tetapi masalahnya bagaimana mempersiapkan anak yang sulung atau anak yang mendahuluinya itu karena ada banyak masalah yang sering kali muncul. Anak saya sendiri dulu ketika dia tahu bahwa dia punya adik malah dianggap menjadi saingannya dia dan anak kami beda usianya tidak terlalu jauh cuma 15 bulan, nah itu bagaimana sebenarnya Pak Heman, menolong orang tua yang mengalami masalah seperti ini?

HE : Untuk menolong orang tua seperti ini saya kira di sini orang tua ada peran untuk mengurangi beban pikiran, beban perasaan pada sang kakak. Ada tahapan-tahapan yang perlu kita persiapka untuk sang kakak ini sejak si adik ini belum lahir, jadi disiapkan langkah demi langkah supaya lama kelamaan si kakak ini sudah bisa menerima kenyataan akan lahirnya adik.

Dan yang perlu diingat orang tua sebagai prinsip di sini adalah orang tua membantu anak yaitu sang kakak ini untuk bisa mengangkat beban, beban ini tetap harus ada tetapi beban ini bisa diangkat oleh si anak.
GS : Mungkin ketika adiknya masih di dalam kandungan itu tidak terlalu menimbulkan masalah, apa memang begitu Pak?

HE : Ya kadang-kadang begitu, karena bagaimanapun si kakak ini misalnya terutama pada anak pertama dia mendapat perhatian yang cukup meskipun ibu ini sudah hamil tetapi seluruh perhatian mash ada pada sang kakak, dengan demikian sang kakak belum terlalu merasa kehilangan perhatian dan sebagainya.

GS : Tapi begitu adiknya lahir, dia mulai merasakan bahwa perhatian orang tua mulai terpecah mungkin itu yang dirasakan.

HE : Betul dan anak-anak ini akan mengalami berbagai masalah.

(2) GS : Biasanya apa reaksi anak terhadap situasi seperti itu Pak?

HE : Anak ini akan bisa lebih manja, lebih cengeng, rewel, pemarah dan juga kadang-kadang mereka ini mengalami berbagai kemunduran perkembangan. Sebagai contoh misalnya tadinya sudah tidak nompol, wah...ini

ngompolnya sering sekali misalnya, atau misalnya anak ini tadinya sudah bisa bicara dengan lumayan jelas, sekarang kembali lagi ternyata bicaranya wah menjadi kacau atau pun kembali lagi pada tahap sebelumnya di mana dia masih belum bisa bicara dengan jelas.
GS : Nah menurut pengamatan Pak Heman, makin jauh jarak usianya makin timbul masalah atau bagaimana Pak?

HE : Kalau misalnya terpaut di atas 5 tahun antara kakak dengan adik, nah ini masalahnya tidak akan sebesar misalnya kalau beda seperti anaknya Bapak tadi terpaut 15 bulan. Karena apa? Karen selain kematangan berpikir anak, juga anak-anak usia 5 tahun itu sudah disibukkan oleh sekolah-sekolahnya, pelajaran di sekolahnya sehingga dia tidak begitu perhatian kepada masalah dengan adiknya ini.

GS : Ya tapi mungkin kalau baru 1 maksudnya saya 15 bulan atau sampai 18 bulan itu, anak itu lebih cepat diajak, ditarik perhatiannya untuk hal-hal yang lain dibandingkan dengan mereka yang beda 2 tahun atau 3 tahun malah jadi lebih sulit begitu.

HE : Jadi maksud Bapak kalau misalnya ditarik perhatian, boleh Pak Gunawan memberikan contoh mungkin?

GS : Misalnya sementara ibunya menyusui adiknya, nah dia bisa diajak ke tempat bermain yang lain, kita bisa mendampingi dan dia sudah istilahnya keslimur, jadi dia lupa akan masalah itu, dia tidak menghiraukan itu lagi begitu.

HE : Itu adalah salah satu contoh sebetulnya dan menurut saya ada baiknya itu dilakukan oleh kedua pasangan misalnya pada saat ibu ini harus sibuk dengan bayinya, sang ayah harus cepat-cepatmengambil bagian untuk lebih banyak memperhatikan si kakak dan harus putar begitu.

Ketika si ayah harus melayani si baby, nah ibunya ini lebih banyak memperhatikan sang kakak.
GS : Ya jadi memang ada semacam perjanjian, ada kesepakatan begitu Pak?

HE : Ya, dan ini bahkan bisa dilakukan sejak sebelum bayi lahir, pada waktu sang bayi belum lahir si ayah perlu menjalin hubungan yang lebih dekat dengan si kakak ini untuk persiapan kalau msalnya si ibu ada di rumah sakit, kemudian si ibu melayani babynya lebih banyak, jadi ada kedekatan antara si ayah dengan sang kakak ini.

GS : Tapi biasanya itu pun tidak berlangsung terlalu lama Pak Heman, jadi ada jangka waktu tertentu kemudian semuanya seperti dia memang sudah menerima kenyataan itu dan semuanya berjalan lagi seperti biasa.

HE : Ya ada beberapa kejadian seperti itu, tapi tidak sepenuhnya juga didalam arti ada beberapa anak yang kemudian karena terus-menerus melihat kehadiran adiknya yang masih bayi dan dia akanmerasa bahwa adiknya ini begitu rewelnya dan dia akan kesel sekali ketika baru saja mau bermain dengan ibunya, adiknya sudah menangis dan ibunya harus berlari-lari meladeni si bayi, nah ini dia akan menjadi bermasalah begitu.

GS : Jadi di sana sebenarnya yang bermasalah juga orangtuanya Pak ya, jadi orangtua terlalu mencurahkan perhatiannya atau kasih sayangnya kepada anak yang baru lahir ini dibandingkan dengan kakaknya itu.

HE : Ya di dalam pandangan anak seperti itu, meskipun sering kali ini tidak bisa dihindari oleh orang tua. Nah kita bisa bayangkan misalnya tentang anak, sang kakak ini bisa kita ibaratkan sperti orang tua misalnya suami-istri.

Nah si suami misalnya membawa pulang seorang kekasih dan dia mengatakan kepada si istri, pasangannya bahwa ini saya membawa pulang ini, tolong diperlakukan dengan baik jangan ganggu dia. Ketika kemudian si suami bersama kekasih ini menonton TV, si istri ini masuk dan si suami bilang kepada istri jangan ganggu kami, kami sedang menonton TV dan sebagainya, nah perasaan-perasaan ini 'kan menimbulkan perasaan jengkel kepada si istri atau sebaliknya juga si istri membawa kekasihnya, bagi suami ini suatu hal yang buruk sekali. Demikian juga perasaan si kakak ini ketika adiknya lahir kira-kira seperti itu perasaannya. Dan perasaan ini pasti sulit diatasi oleh sang kakak, otomatis itu akan terjadi sehingga sang kakak selalu menaruh suatu kejengkelan terhadap orang tua meskipun orang tua tidak bermaksud demikian.
(3) GS : Itu kira-kira membutuhkan waktu berapa lama Pak Heman biasanya untuk anak bisa menerima adiknya yang baru lahir itu?

HE : Ini tidak bisa dipastikan, tetapi bisa terjadi sampai dengan kalau misalnya si adik sudah bisa diajak main, biasanya ini akan berkurang. Tetapi perlakuan orang tua memperlakukan sang kaak dan sang adik ini juga akan mempercepat atau memperlambat proses penyesuaian ini.

GS : Apakah itu ada pengaruhnya Pak misalnya kakaknya itu laki lalu lahir adiknya yang perempuan atau sebaliknya lahir laki-laki, sama-sama laki, itu ada pengaruhnya atau tidak?

HE : Pengaruhnya saya rasa tidak terlalu beda menyolok, unsur perasaan tingkah laku mungkin bisa berbeda antara laki dan perempuan. Tetapi reaksinya itu hampir sama.

GS : Nah itu sebaiknya bagaimana Pak kalau misalnya tidur begitu ya, apakah kakak dan adik ini nanti dijadikan satu kamar atau dipisahkan dalam tempat masing-masing, itu sebenarnya bagaimana Pak?

HE : Saya kira sebaiknya memang kalau anak sudah sampai pada usia misalnya 4 tahun di mana dia sudah bisa mengatur dirinya, baik ada adik maupun tidak ada adik dia sudah harus dipisah. Masalhnya adalah kita mesti memberi pengertian kepada sang kakak bahwa si adik seperti juga sang kakak waktu bayi harus ditemani dan harus mendapat banyak bantuan.

GS : Itu akan lebih membuat si kakak menerima biasanya?

HE : Ya kita akan berusaha supaya sang kakak itu bisa memandang dari sudut yang lain bukan dari sudut bahwa perhatiannya itu dialihkan atau direbut, itu prinsipnya.

GS : Nah kita sebagai orang tua tentu menginginkan anak ini bukan cuma sekadar menerima adiknya, tetapi juga mengasihi adiknya, nah ini bagaimana Pak kita bisa mengajarkan hal ini?

HE : Langkah demi langkah pada saat si adik belum lahir, masih di dalam kandungan, orang tua membantu anak ini misalnya kadang-kadang bilang "O.... adiknya lagi bergerak-gerak ini coba pegan, disayang, disayang" begitu, dan orang tua mungkin bisa membelikan binatang peliharaan atau boneka yang lucu-lucu supaya anak ini mempunyai rasa sayang terhadap hal-hal yang demikian.

Dan kemudian juga anak ini dibawa ke rumah sakit untuk melihat baby, untuk menyayangi baby-baby ini atau kadang-kadang boleh mengajak ke tempat panti asuhan dan sebagainya untuk mengasihi orang lain, untuk mengasihi anak-anak kecil. Dan kemudian meminta supaya anak bersama-sama mendoakan si baby ini supaya dia lahir dengan selamat dan ketika si baby sudah betul-betul lahir akan dibawa pulang kita bisa ajak anak juga untuk membantu, dan kita puji anak ini supaya anak ini bisa timbul rasa sayangnya kepada adik ini. Memang ada masa-masa di mana sang kakak ini tidak bisa diberitahu dari sudut pandang yang lain, tetapi dengan cara-cara demikian mudah-mudahan si kakak perlahan-lahan bisa menyayangi adiknya.
GS : Nah, bagaimana kalau ada tamu yang lagi berkunjung, tentu saja tamu ini ingin melihat si bayi yang baru lahir itu, dan perhatian tamu 'kan tercurah semua kepada bayi dan ibunya pasti. Nah, anak ini merasa dia tidak diperhatikan nah itu bagaimana Pak?

HE : Ya ini point yang baik sekali, jadi pada saat semua tercurah kepada si adik, orang tua harus peka terhadap hal ini, yang saya bisa sarankan kepada orang tua adalah ketika tamu-tamu datag yang pertama kali diperkenalkan adalah sang kakak dan sang kakak ini perlu dipuji di depan tamu-tamunya, baru kemudian mereka diajak untuk melihat sang adik.

GS : Maksudnya pujian itu seperti apa pak?

HE : Ya bahwa kakak ini sudah pinter menyanyi misalnya dia juga sayang kepada adiknya dan seterusnya, kita bisa saja mencari berbagai keunggulan dari sang kakak.

GS : Ada juga juga orang tua itu yang mungkin maksudnya mendekatkan sang kakak dengan adiknya, kemudian ketika ibunya ada keperluan atau sibuk sebentar kakaknya disuruh menjaga adiknya, pada hal sama-sama kecil, hanya kakaknya lebih besar sedikit, tapi beda usianya tidak terlalu jauh, dan anak ini kadang-kadang tidak tahu bahayanya begitu Pak. Ada kakak yang berusaha memberikan botol minuman kepada adiknya, karena dia melihat ibunya juga melakukan itu, nah akhirnya adiknya tersedak karena itu masuk ke hidung. Nah ini sebenarnya bagaimana?

HE : Ya kita mesti peka juga terhadap hal ini, bahwa yang memegang tanggung jawab utama untuk mengasuh anak itu adalah orang tua, jadi ketika anak diminta bantuan itu bukan betul-betul kita ngin minta pertolongan dari sang kakak, tetapi hanya supaya sang kakak ini lebih dekat kepada adiknya.

Soalnya sangat besar kemungkinan ketika terjadi kesalahan sang kakak ini dimarah-marahi, kalau sudah dimarahi sang kakak akan jera bahkan semakin jengkel, semakin sakit hati terhadap adiknya.
GS : Jadi seolah-olah adiknya itu yang menjadi penyebab dia dimarahi, padahal tadinya untuk membuat supaya si kakak ini punya atau ada semacam kebanggaan, anak ini juga kepingin berbuat seperti yang ibunya lakukan tapi malah mencelakakan.

HE : Ya betul begitu, jadi orang tua hendaknya melatih, tetapi bukan berarti anak ini dibiarkan, dibiarkan melakukan tugas mengasuh seperti itu.

GS : Nah, Pak Heman dalam hal itu 'kan perlu perencanaan yang cukup matang, sekalipun kita bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Tetapi sebaiknya berapa jarak usia yang normal atau ideal antara kakak dan adik itu Pak?

HE : Ya tadi saya katakan kalau bisa di atas 5 tahun terpaut usianya, ini akan lebih baik. Memang adakalanya ini tidak bisa diatur, kadang-kadang memang kita bisa di dalam jangka 5 tahun iniada 3 anak yang lahir berturut-turut begitu.

GS : Ya itu 'kan merepotkan itu bagaimana?

HE : Ya ini memang merepotkan dan ini merupakan tekanan tersendiri bagi anak, tetapi kalau kita dapat mempersiapkan semuanya dan kita bisa melakukan langkah-langkah ini. Sebagai contoh, misanya ketika anak bertengkar dan sebagainya kita bisa memperlakukan mereka dengan bijaksana, mereka akan menjadi saudara-saudara yang sangat akrab dan mereka akan saling menolong satu dengan yang lain.

GS : Biasanya yang laki bersama yang laki kalau mereka ada temannya, saudaranya yang sejenis itu, lalu yang satunya ini agak-agak tersingkir, apakah itu bisa terjadi Pak?

HE : Ya bisa terjadi seperti yang kita saksikan misalnya dalam Alkitab, keluarganya Yusuf. Yakub memperlakukan saudara-saudaranya Yusuf itu berbeda dengan Yusuf. Jadi di sini saya kira orangtua itu juga memegang peran dan orang tua perlu berhati-hati untuk tidak memperlakukan istimewa salah satu anak.

GS : Dan proses ini akan berjalan terus, saya rasa anak itu akan merasa iri seperti tadi yang Pak Heman katakan, itu akan terus berjalan Pak, jadi merasa diperlakukan tidak adil dan sebagainya, nah itu orang tua harus bersikap bagaimana Pak?

HE : Ada satu prinsip di sini yaitu kita tidak mungkin bisa memperlakukan semua anak sama persis, yang dikatakan sebagai keadilan kalau misalnya itu digugat maksud saya oleh anak-anak, biasaya yang digugat itu adalah "kok saya diperlakukan tidak sama dengan saudara ya."

Nah prinsipnya di sini bukan sama perlakuan, tetapi menyeimbangkan antara hak dan kewajiban. Jadi misalnya kakak mendapatkan hak lebih banyak, dalam arti boleh tidur lebih malam, dapat uang jajan dan sebagainya. Nah kalau dia menuntut kewajiban yang seperti adiknya yang kurang maka kita harus juga menuntut haknya dikurangi begitu. Kalau dia tidak mau haknya dikurangi, kewajibannya harus sebesar itu. Dan kemudian juga yang satu prinsip lagi yaitu orangtua jangan sampai membanding-bandingkan satu anak dengan yang lain. Kadang-kadang secara implisit ya/tidak sengaja itu dikemukakan.
GS : Ya memang kadang-kadang kita terpancing untuk membandingkan kakak dengan adiknya atau sebaliknya, dengan motivasi mendorong yang agak ketinggalan ini Pak. Awalnya maksudnya seperti itu, tapi rupanya berdampak negatif Pak. Sebagai orang tua tentunya kita ingin sekali melihat anak-anak kita sebagai satu saudara hidup rukun. Apakah ada ayat Alkitab Pak yang mendukung ini?

HE : Ada ayat-ayat yang bagus dari Mazmur 133 dan ini boleh kita bacakan kepada anak-anak kita yang bersaudara ini. "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudaa diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan leher jubahnya.

Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya."

GS : Ya memang sering kali ayat ini ditujukan pada orang-orang yang sudah dewasa Pak, yang seiman, segereja dan sebagainya. Tapi rupanya juga tepat kalau itu diterapkan atau diaplikasikan kepada kehidupan anak-anak kita Pak. Ya tentu kita juga senang kalau anak-anak itu hidupnya rukun seperti itu, dan dikatakan Tuhan itu memerintahkan berkatNya untuk datang ke situ. Dan berarti itu menjadi berkat bagi rumah tangga kita masing-masing. Terima kasih sekali Pak Heman untuk perbincangan kali ini dan tentunya ini tidak membuat kita kemudian mempunyai anak tanpa direncanakan, tetapi setelah kita tahu bahwa memang ada banyak hal yang bisa timbul di dalam diri kakak-kakak yang mendapatkan adik baru ini, kita juga harus memperhitungkan dan harus mempersiapkan kakak-kakak ini dengan lebih baik. Jadi saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Aku Punya Adik." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



35. Membantu Anak Bergaul


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T105A (File MP3 T105A)


Abstrak:

Memberikan bantuan kepada anak agar mereka bergaul itu adalah menciptakan suasana juga di dalam keluarga yaitu suasana di mana interaksi antara orangtua-anak dan sesama saudara bisa berjalan dengan baik.


Ringkasan:

Serius-tidaknya keengganan anak untuk bergaul bergantung pada apakah perilaku ini berjangka panjang ataukah tidak. Untuk itu, kita perlu mengetahui latar-belakang mengapa anak tidak mau bergaul. Bila anak tidak mau bergaul pada satu situasi atau tempat tertentu dan bergaul baik di tempat lain, ini berarti masalah tidak begitu serius. Sebaliknya, bila anak tidak mau bergaul pada semua situasi, mungkin kita perlu membantunya mengembangkan diri lebih baik.

Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial. Dengan demikian, anak yang sehat juga adalah anak yang suka bersahabat. Memang ada anak yang cenderung pendiam dan ada yang aktif. Tetapi mereka tetap suka bersahabat. Anak yang pendiam dan introvert cenderung mempunyai satu dua sahabat yang sangat akrab. Anak yang sangat aktif cenderung mempunyai banyak sahabat. Jadi kalau anak tidak menyenangi pergaulan, kita perlu selidiki sebabnya dan kalau perlu dikoreksi.

Tanda-tanda serius yang kita perlu perhatikan bila anak sulit bersahabat. Kita dapat membandingkan tingkah laku anak di rumah dan di luar rumah. Bila di rumah ia lincah dan banyak bicara, dan sebaliknya bila berada di luar rumah ia menolak untuk berbicara dengan temannya atau gurunya; maka masalah ini perlu kita amati lebih lanjut. Kita juga dapat membandingkan tingkah laku anak biasanya atau dulunya dan akhir-akhir ini. Bila anak biasanya suka bersahabat dan tiba-tiba mengeluh tidak punya sahabat, masalah ini juga perlu diselidiki lebih lanjut. Artinya, kalau ada perubahan dari keadaan yang baik normal dan baik menuju ke arah kurang baik, ini tandanya kita perlu memperhatikan lebih seksama? Ya. Terjadinya perubahan ini dapat disebabkan oleh beberapa peristiwa yang penting, misalnya karena ejekan berlebihan dari teman-teman, ancaman, hukuman, konflik, dan sebagainya yang membuat anak berpikir lebih baik menghindari persahabatan karena berteman itu tidak menyenangkan.

Bagaimana bila sejak kecil anak memang tidak mau bergaul dan tidak bisa bergaul? Ini juga masalah yang perlu menjadi perhatian. Beberapa kemungkinan yang perlu kita pertimbangkan dalam hal ini adalah bahwa anak mengalami depresi sejak bayi, tidak terpenuhi kebutuhan psikologisnya sejak kecil, atau kurangnya latihan-latihan yang mempertajam keterampilan bergaulnya. Kemungkinan lain adalah anak menderita perasaan rendah diri yang parah.

Yang perlu orang tua lakukan menghadapi anak yang sulit bergaul adalah:

  1. Orang tua harus menciptakan interaksi yang baik dan menyenangkan di rumah. Ini adalah keterampilan persahabatan yang paling mendasar, sekaligus juga wahana bagi anak untuk menyampaikan kelebihan dan kekurangannya dalam berelasi.

  2. Orang tua perlu menyediakan sarana persahabatan di rumah maupun di luar rumah. Orang tua dapat menggunakan kesempatan berkunjung ke rumah saudara dan keluarga sahabat Anda sebagai sarana bergaul. Sekolah minggu dan taman kanak-kanak juga adalah tempat yang baik bagi anak untuk belajar bersahabat.

  3. Orang tua perlu mengajarkan cara bergaul yang baik dan bertenggang rasa ketika anak melanggar etika dan tata-cara bergaul.

  4. Orang tua sedapat mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anak, seperti kasih, rasa aman, rasa berharga, dan didikan-arahan orangtuanya.

  5. Beri kesempatan kepada anak untuk memperhatikan dan memberi bantuan kepada saudaranya dan kepada teman-temannya.

Amsal 17 : 17 , "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbinang-bincang bersama Bp. Heman Elia, M. Psi., beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang; perbincangan kami kali ini tentang "Membantu Anak Bergaul". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, kita sebagai orang tua tentu akan merasa senang kalau anak-anak mempunyai pergaulan yang luas Pak Heman, itu tentu harapan semua orang tua. Tetapi masalahnya bagaimana kita bisa memberikan bantuan itu kepada anak-anak itu?

HE : Memberikan bantuan kepada anak-anak agar mereka bergaul adalah menciptakan suasana juga di dalam keluarga, suasana di mana interaksi antara orang tua-anak dan sesama saudara itu bisa bejalan dengan baik, dengan demikian anak-anak juga akan belajar dari sana bagaimana berinteraksi dan bergaul satu dengan yang lain.

GS : Ya, yang kami jumpai itu kadang-kadang ada anak itu yang pendiam, tadinya kami kira memang pada dasarnya anak itu pendiam apakah memang begitu Pak?

HE : Ya, adakalanya memang ada anak yang pendiam, tetapi sebetulnya kalau misalnya seorang anak sama sekali tidak mau bergaul, nah ini kemungkinan ada masalah di sana.

GS : Biasanya dia merasa pernah disakiti atau pernah dirugikan Pak, sehingga anak itu enggan bergaul dengan teman-temannya atau dengan saudaranya sendiri.

HE : Ya betul, ada kemungkinan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan waktu dia bergaul dengan orang lain itu membuat dia menjadi enggan untuk bergaul dengan orang lain. Tetapi kalau mialnya pendiam itu adalah suatu sifat, yang penting adalah kita melihat kalau anak itu pendiam, meskipun dia pendiam dia masih tetap mau bergaul.

Mungkin bergaulnya tidak dengan banyak orang, satu dua orang tetapi dengan satu dua orang ini dia bisa bergaul dengan akrab dan dia bisa berinteraksi dengan baik dengan orang-orang itu.
GS : Sebenarnya sejak usia berapa anak itu mulai bersosialisasi seperti itu yang bisa kita amati Pak?

HE : Yang kita bisa amati sebetulnya sejak bayi pun anak-anak sudah bisa diamati, interaksinya dengan orang lain. Jadi misalnya saja kalau orang tua itu mau bercakap-cakap dengan anak meskipn anak belum mengerti, belum tahu tentang bahasa tapi kadang-kadang orang tua ini mengajak anak ini atau si bayi berbicara, dia bertanya sendiri, menjawab sendiri.

Kita akan melihat perkembangan yang baik sekali dari seorang anak yaitu si bayi ini akan lebih cepat tersenyum menanggapi pembicaraan dan mengeluarkan suara-suara seolah-olah dia sedang berkomunikasi.
GS : Jadi kalau ada bayi atau anak yang masih terlalu kecil itu sering kali ditinggal oleh orang tuanya atau bahkan para pengasuhnya, akibatnya apa Pak?

HE : Akibat yang paling buruk dia bisa lumpuh di dalam hal keterampilan sosialnya, jadi memang sebaiknya orang tua atau pengasuh itu sebanyak mungkin mengajak anak untuk bercakap-cakap atau erinteraksi sekalipun anak ini belum mengerti akan bahasa.

GS : Ya, setelah anak itu sudah mulai belajar, mulai berjalan, biasanya memang dunianya mulai luas Pak, bukan lagi di box atau di apa. Nah, bagaimana kita itu membantu dia yang sudah mulai berkeliaran ini supaya bisa terjadi pergaulan yang sehat Pak?

HE : Kita berinteraksi saja dengan anak seperti cara-cara yang biasa, pada anak-anak usia seperti ini dia mungkin memerlukan banyak pelukan, kemudian juga tetap seperti biasa diajak bercakapcakap dan kalau dia misalnya ke sana-ke sini mengeksplorasi lingkungannya nah kita bantu dia dan kita banyak bersama-sama dengan dia.

Ini adalah satu sarana bagi orang tua untuk membuat anak ini terampil dalam berinteraksi dengan orang lain sejak bayi.
(2) GS : Apakah memang ada tanda-tandanya Pak Heman kalau seorang anak itu nantinya akan sulit di dalam pergaulan, apakah kelihatan itu Pak?

HE : Adakalanya tidak langsung bisa terlihat, tetapi kalau kita meliha seorang anak sejak bayi misalnya waktu diajak berinteraksi, dia tidak ada kontak mata atau pun kontak matanya miskin keudian dia lebih suka asyik dengan dirinya sendiri dan dengan mainannya.

Dia tidak bisa dengan sedemikian mudah distimulasi atau ditarik perhatiannya sewaktu kita bermain-main dengan dia, berusaha menarik perhatian dia, ada kemungkinan anak ini di kemudian hari akan mengalami beberapa gangguan di alam interaksi sosialnya.
GS : Ya, sulitnya kalau anak di rumah itu lincah sekali gampang bermain dengan saudaranya, tapi begitu keluar rumah misalnya di sekolah atau di tetangga-tetangganya dia menjadi anak yang pendiam Pak?

HE : Ya, biasanya yang seperti ini bisa terjadi karena beberapa hal, kemungkinan yang paling besar adalah bahwa anak ini merasa tidak aman berada di lingkungan sosial tertentu, sehingga dia ebih cenderung diam atau bersembunyi, jadi dia tidak bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

GS : Tapi akhirnya akan bisa, kalau sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya tapi akhirnya akan terbiasa Pak?

HE : Anak memang berbeda-beda, ada anak yang bisa dengan cepat menyesuaikan diri, jadi setelah selang beberapa hari, dia sudah mempunyai teman yang banyak dan dengan lincah dia bergaul tetap ada juga anak-anak yang memang lambat di dalam bergaul.

Memang ada bermacam-macam anak, bermacam-macam tipe, nah yang kita harus jaga adalah jangan sampai misalnya anak sama sekali menolak berbicara atau pun bergaul dengan anak lain di luar keluarganya, nah ini berarti ada kemungkinan sesuatu yang serius telah terjadi.
GS : Bagaimana halnya kalau ini Pak, jadi dia itu hanya bisa bergaul dengan anak-anak tertentu saja, padahal kita itu mengharapkan supaya pergaulannya luas dia bisa bergaul dengan sebanyak mungkin anak, selama itu pengaruhnya tidak negatif. Tapi anak ini cenderung memilih satu anak di mana dengannya dia bisa akrab, tapi dengan yang lainnya kurang bisa akrab.

HE : Saya cenderung di satu sisi melihat ini bukan sesuatu yang terlalu serius karena ada kemungkinan anak ini memang mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dia tidak bisa cocok dengan ebiasaan-kebiasaan lainnya.

Nah, untuk membantu anak-anak yang demikian ada baiknya anak-anak ini dibiasakan dari kecil untuk mengalami berbagai lingkungan yang bervariasi, jadi misalnya dia mengenal apa itu perkumpulan olah raga, misalnya renang dan sebagainya dia mengenal juga dunia sekolah, dia mengenal sekolah minggu, dia mengenal berkunjung ke rumah tetangga atau pun rumah saudara-saudaranya dan dia belajar bergaul dengan anak-anak yang lain, dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Kalau anak sudah mengenal banyak lingkungan yang berbeda-beda seperti ini anak akan lebih berani untuk mencoba bergaul dengan orang-orang yang berbeda dari dirinya.
GS : Hanya masalahnya biasanya orang tua justru agak malas mengajak anaknya untuk ke tempat-tempat yang seperti itu Pak, dianggap itu sangat merepotkan. Anak kadang-kadang 'kan suka melakukan hal-hal yang justru merepotkan orang tuanya.

HE : Ya betul Pak Gunawan, jadi memang perlu ada sedikit pengorbanan dari orang tua supaya anaknya ini mempunyai dasar yang baik untuk bisa berinteraksi sosial. Dan kita tahu bahwa relasi soial ini sangat penting terutama ketika seseorang beranjak dewasa, dan kemudian dia harus memasuki dunia yang bervariasi yang di mana-mana kita perlukan keterampilan sosial itu.

GS : Nah, pergaulan ini makin lama 'kan makin meningkat Pak, sampai seberapa jauh seorang anak itu mengembangkan pergaulannya? Maksud saya biasanya hanya terhadap teman sejenisnya saja mereka mau berkumpul, yang laki berkumpul dengan yang laki. Sementara dia akan bertumbuh terus dan nantinya temannya bukan hanya laki, tetapi ada yang wanita, ini bagaimana Pak?

HE : Ini adalah menurut perkembangan jiwa seorang anak, jadi pada mulanya dia hanya asyik dengan dirinya sendiri. Meskipun dia bermain bersama-sama dengan anak lain, tetapi dia masih mengikui peraturan dan iramanya sendiri.

Dia seolah-olah tidak berinteraksi dengan orang lain di alam satu permainan. Lama-kelamaan dia mulai mengenal orang lain dan bisa bermain bersama orang lain, tetapi dari yang sejenis. Dan kemudian lama-lama dia juga mengenal lawan jenis, tetapi mungkin pada suatu saat terjadi semacam permusuhan, namun itu tidak sungguh-sungguh bermusuhan tetapi semacam klik. Dan kemudian makin besar, makin besar, ketika organ-organ seksualnya sudah mulai berkembang, pada saat pra remaja dan kemudian remaja, anak sudah mulai tertarik dengan lawan jenis tapi masih malu-malu. Dan pada masa remaja tengah, remaja madya, sudah semakin banyak yang berpasangan atau berpacaran dan mereka sudah mulai berusaha untuk mendekat antar lawan jenis. Mulanya berkelompok kemudian semakin lama, semakin intim dan kemudian berpasangan.
GS : Jadi itu memang ada tahapan-tahapannya Pak, untuk sampai terus berkembang seperti itu ya?

HE : Ya betul, tahapan ini harus dilalui.

(3) GS : Nah, itu peran orang tua sebenarnya Pak, keinginan kita sebagai orang tua itu memberikan bantuan, memberikan dorongan, memberikan pengarahan dan sebagainya, itu sebenarnya sampai sejauh mana kita itu boleh memberikan bimbingan itu. Kadang-kadang anak itu merasa tidak enak sendiri kalau orang tuanya itu terus mencampuri pergaulannya, dia merasa kurang senang Pak.

HE : Dalam hal ini saya kira sebagai orang tua yang terpenting kita menciptakan atau membuat dasarnya, dasar interaksi bagi anak, daripada menyuruh-nyuruh anak untuk banyak bergaul, anak sebiknya menciptakan interaksi yang baik dan menyenangkan serta akrab di rumah.

Dan saya kira ini adalah keterampilan persahabatan yang paling mendasar lebih-lebih kalau di dalam keluarga ada hubungan yang akrab, ini merupakan sarana atau wahana bagi anak sehingga bisa dilihat kekurangan dan kelebihannya di dalam berelasi, ini yang perlu dilakukan oleh orang tua.
GS : Sedang keakraban itu sendiri membutuhkan waktu, membutuhkan perhatian yang mungkin saat ini orang tua semakin sulit menyediakan semua itu.

HE : Ini memang kendala yang dialami banyak keluarga, tetapi kalau kita misalnya mengurangi kebutuhan anak untuk berelasi, ini mengurangi sarana-sarana yang bisa kita sediakan dampaknya adalh anak menjadi kurang pengalaman di dalam berelasi.

Dan kita tahu bahwa di dalam relasi sosial bukan hanya pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, yang manis, yang baik, yang harus diperoleh seorang anak, tetapi juga pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Baru misalnya kalau anak mempunyai pengalaman seperti ini orang tua bisa mengarahkan anaknya, bisa menghibur anak pada waktu kesepian, orang tua mendampingi, memberitahu kekurangannya di dalam berelasi, memberitahu juga kelebihannya dan dia bisa mengembangkan terus keterampilan-keterampilan ini. Tanpa waktu, tanpa pengorbanan, tanpa pengalaman, anak akan menjadi miskin di dalam keterampilan sosialnya.
GS : Nah, katakanlah orang tua sudah membantu sampai sejauh itu artinya menciptakan suasana yang kondusif, memberikan kesempatan bergaul dengan kita dan seterusnya, nah langkah berikutnya apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

HE : Kalau bisa orang tua perlu menyediakan sarana persahabatan di luar rumah, sebagai contoh seperti tadi telah saya katakan bahwa adakalanya kunjungan ke rumah saudara atau pun keluarga saabat orang tua itu adalah suatu sarana yang baik di dalam bergaul.

Anak akan melihat bagaimana orang dewasa bergaul satu dengan yang lain secara akrab, kemudian juga anak bisa bergaul dengan sesama sebaya mereka. Mungkin juga tempat-tempat yang bisa kita kunjungi atau bisa kita sediakan bagi anak misalnya Sekolah Minggu, lingkungan sekolah, nah lingkungan sekolah kita juga perlu berhati-hati di dalam memilih, menyeleksi, sehingga anak mempunyai sarana bergaul yang baik di sekolah itu. Dan banyak tempat-tempat lain sebagai contoh perkumpulan-perkumpulan tertentu misalnya olah raga tertentu, nah di sana anak-anak bisa belajar bergaul berlatih bersama kemudian mendengar instruksi-instruksi guru dan mereka bisa belajar berinteraksi.
GS : Sebenarnya kalau kita amati Pak, anak itu begitu bertemu dengan teman sebayanya yang tadinya tidak kenal itu kok bisa cepat akrab, dibandingkan kita yang orang dewasa. Mungkin kalau sama-sama orang tua membawa anaknya, mungkin anaknya sudah akrab bermain kita orang tua masih basa-basi, itu kenapa Pak?

HE : Ya ada beberapa hal, ini hal yang unik dan juga kelihatannya lucu. Anak-anak itu secara naluri mereka lebih spontan, mereka tanpa prasangka. Kalau orang dewasa mungkin sudah mendapat inoktrinasi atau pikiran-pikiran negatif macam-macam atau banyak prasangka, sehingga membuat adanya satu penghalang antara kita dengan orang lain.

Sedangkan anak-anak ini tidak membedakan warna kulit asalkan kelihatan sebaya, bahasa isyaratpun jadi. Karena spontan, anak-anak tidak begitu banyak hambatan di dalam berinteraksi dengan anak-anak yang lain, ini yang menyebabkan anak-anak kelihatan lebih cepat akrab dan kelihatan lebih tulus, karena orang dewasa umumnya banyak topeng ya.
GS : Katakanlah anak itu berasal dari dua bangsa yang berbeda dan bertemu, apakah mereka bisa bergaul?

HE : Ya, bisa asalkan tidak ada hambatan-hambatan dari orang tuanya, misalnya orang tuanya melarang seorang anak bergaul dengan suku bangsa yang lain. Secara umum kalau anak dilepas, anak-ank akan bergaul dengan akrab, ini salah satu cara membuat anak-anak tidak banyak berprasangka.

Mereka tumbuh di dalam suasana yang baik yang tidak berprasangka terhadap suku lain ataupun orang dari agama yang lain. Dengan mengumpulkan mereka bersama-sama untuk dididik di suatu dunia pendidikan yang sama, tanpa suatu hambatan, tanpa suatu nasihat yang tidak membolehkan bergaul dengan orang yang macam begini dan sebagainya.
GS : Tapi tetap kita melihat kadang-kadang di dalam pergaulan, ternyata anak tersesat atau keliru di dalam bergaul, sehingga menjadi kurang baik atau bahkan mencelakakan masa depannya. Dan kalau kita mengetahui hal itu, apa yang harus dilakukan orang tua agar hal itu tidak terjadi?

HE : Sekali lagi dasarnya adalah di dalam rumah dulu, jadi kalau kita mau mencegah semua itu kita harus mempunyai keluarga yang kokoh. Kemudian kita mengajarkan kepada anak-anak apa yang bai, apa yang tidak baik.

Dan nantinya ketika anak lebih banyak bergaul di luar rumah, mendapatkan banyak pengaruh dari luar maka anak sudah tahu dari lingkungannya dan dia bisa bercerita di rumah: "O...tadi saya diajak begini, begini, o....tadi si anu berbicara begini, begini," nah dari dirinya sendiri anak akan bisa memilih mana yang baik yang harus dia lakukan, mana yang kurang baik. Jadi itu boleh kita ajarkan dan kita arahkan di rumah.
GS : Ya sebenarnya itu akan sangat menolong orang tua, kalau anak setelah bergaul atau pulang dari bermain-main di luar kemudian menceritakan pengalamannya kepada kita Pak. Jadi melalui anak bercerita, kita dapat mengetahui bagaimana pola atau bentuk pergaulan mereka di luar.

HE : Ini point yang bagus sekali Pak Gunawan, jadi memang orang tua harus menciptakan komunikasi yang baik di rumah. Dengan komunikasi yang terbuka dan tidak saling mencela maka anak akan leih berani untuk bercerita segala sesuatu yang terjadi di luar dengan teman-temannya, dengan interaksi dia dengan gurunya dan orang lain dia akan ceritakan.

Dan ketika ini diceritakan kita mempunyai kesempatan untuk mengarahkan anak di dalam berelasi, ini suatu sarana yang baik.
GS : Ya tetapi kita tahu bahwa pedoman yang terbaik itu tentu datang dari firman Tuhan Pak. Apakah firman Tuhan membicarakan sesuatu tentang peran orang tua di dalam membina pergaulan si anak ini?

HE : Ada satu ayat yang mengesankan hati saya tentang seorang sahabat, bagaimana sifat dari seorang sahabat. Saya ambil dari Amsal 17:17 , "Seorang sahabat menaruh kasih setiap wktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."

Semoga ini bisa menjadi suatu sarana atau bekal bagi oran tua baik di dalam pergaulannya sendiri maupun di dalam mengarahkan anak-anaknya untuk bergaul dengan orang lain.
GS : Ya jadi pertama-tama bagaimana kita mempersiapkan anak-anak bisa menjadi sahabat bagi orang lain, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua itu?

HE : Adalah kasih, jadi ada suasana saling mengasihi di rumah membuat anak itu memperoleh kasih dan belajar juga mengasihi orang lain. Dan kita tahu dari ayat tadi bahwa yang dimiliki oleh sorang sahabat adalah kasih setiap waktu.

GS : Biasanya buat anak-anak itu yang saya amati juga, kalau dia dalam kesukaran dan ditolong oleh sahabatnya itu rasanya lebih berkesan dari pada kita orang tua yang menolong dia, kok bisa begitu Pak?

HE : Ya itulah seorang sahabat, kadang-kadang bisa menjadi seorang saudara di dalam kesukaran seperti ayat firman Tuhan katakan.

GS : Ya jadi kita bisa tekankan atau beritahukan kepada anak-anak kita bahwa setiap orang itu suatu saat membutuhkan orang lain. Jadi bagaimana dia menjadi sahabat orang lain, tapi dia juga bisa menerima orang lain bersahabat dengan dia. Jadi itu yang saya rasa saat ini sangat dibutuhkan sekali, karena kalau tidak mereka akan mencari persahabatan yang seadanya aja, karena makin hari rasanya makin sulit mencari sahabat yang baik di sekeliling kita.

Jadi terima kasih sekali, Pak Heman untuk kesempatan perbincangan kali ini, dan saudara pendengar sekalian terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan dengan Bapak Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membantu Anak Bergaul".. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menghubungi kami lewat e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



36. Anak dan Temannya


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T105B (File MP3 T105B)


Abstrak:

Anak perlu menerima ajaran yang baik di rumah, kalau dasar pengajaran di rumah sudah kuat, akan tidak mudah bagi anak untuk terpengaruh dengan lingkungan atau teman-teman di sekelilingnya, karena nilai itu sudah ditanamkan sedari kecil, sehingga anak akan terbentuk. Dengan mengajarkan hal-hal yang baik di rumah, anak akan tahu bahwa temannya melakukan hal-hal yang baik atau pun tidak baik.


Ringkasan:

Adakalanya anak kita sudah kita ajarkan peraturan dan tata-cara yang baik di rumah ternyata dipengaruhi oleh temannya sehingga membawa pulang kata-kata yang tidak senonoh dan sebagainya. Lebih jauh lagi, sering kali anak kita sudah telanjur bergaul dengan teman yang tidak kita sukai. Umumnya anak atau terlebih remaja akan bereaksi membela teman, ketika temannya itu kita cela. Karena itu, sebaiknya kita jangan serta-merta mencela dan melarang kita bergaul dengan teman yang tidak kita sukai.

Saya mengusulkan agar orang tua melakukan hal sebagai berikut:

  1. Tetapkan peraturan mengenai pertemanan, termasuk mengenai waktu berkunjung. Misalnya, setiap anggota keluarga harus memberitahukan ke mana mereka pergi dan dari jam berapa sampai jam berapa. Hal yang sama juga berlaku untuk teman anak kita yang berkunjung ke rumah kita.

  2. Bukalah komunikasi dengan anak Anda sehingga anak tidak mempunyai hambatan apa-apa untuk membicarakan temannya. Untuk itu sedapat mungkin orangtua jangan memberi nasihat apa-apa lebih dulu dan lebih banyak mendengar komentar-komentar anak kita. Arahan sebaiknya diberikan secara umum tanpa menyebut nama dan kalau bisa dilakukan pada kesempatan berbeda, misalnya ketika ngobrol bersama anak. Pendapat kita secara langsung dapat kita sampaikan ketika anak menanyakan pendapat kita mengenai temannya itu.

  3. Kita perlu membedakan masalah moral dengan masalah kebiasaan yang berbeda yang tidak terkait dengan moralitas.

Jadi sebaiknya kita orang tua menaruh perhatian dan menanggapi terutama mengenai perilaku anak kita lebih daripada perilaku temannya, karena seringkali teman anak kita di luar wewenang dan jangkauan kita untuk menegur dan mengoreksinya.

Tips bagaimana mencegah pengaruh buruk teman sehingga anak kita dapat menjaga diri:

  1. Kita perlu mengajar anak-anak kita mengenai pergaulan dan menyediakan sarana bergaul bagi mereka. Sekolah Minggu dan Persekutuan Remaja yang baik akan membantu anak kita bergaul secara sehat.

  2. Sedapat mungkin usahakan untuk memperoleh lingkungan sekolah yang baik bagi anak.

  3. Penuhi kebutuhan psikologis mereka sehingga mereka tidak merasa harus mencarinya di luar rumah, terutama dengan teman-teman mereka yang tidak sesuai dengan ajaran yang mereka terima di rumah. Anak yang terpenuhi kebutuhan psikologisnya akan mempunyai kepercayaan diri lebih baik, sehingga mampu menolak pengaruh negatif teman-temannya.

  4. Ciptakan suasana keluarga yang harmonis. Dengan adanya suasana rumah yang menyenangkan, anak tidak punya alasan untuk lari pada pergaulan yang tidak baik di luar rumah.

  5. Doakan anak-anak kita senantiasa, agar mereka terhindar dari jeratan pergaulan buruk.

Mazmur 28:3 , "Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan. "

"Biarlah doa Daud ini menjadi doa kita juga, dan semoga kita beroleh kekuatan untuk terus bertahan hidup kudus di tengah lingkungan yang tidak kudus sekalipun."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang bersama Bp. Heman Elia, M. Psi., beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang; kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Anak dan Temannya, kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Heman, ada satu pengalaman saya yang agak kurang menyenangkan waktu itu adalah saya sudah mempersiapkan anak saya sedemikian baik, mencoba sedemikian baik di dalam pergaulan, dalam tutur kata dan sebagainya. Tetapi tiba-tiba suatu saat saya dikejutkan ketika dia memaki dengan perkataan yang menurut saya itu sudah agak kelewatan sehingga pada waktu itu saya tanyakan "lho kamu tahu dari mana kata-kata seperti itu?" Dan dia katakan "itu driver (karena diantar jemput) driver itu suka mengatakan itu kalau marah" lalu dia juga melampiaskan kemarahannya dengan cara seperti itu Pak Heman. Nah, pada satu sisi saya sebenarnya merasa percuma atau sia-sia, sekian tahun saya sudah mendampingi dan mengarahkan dia, nyatanya kata-kata yang seperti itu tercetus juga, nah ini bagaimana Pak Heman?

HE : Kekecewaan Pak Gunawan dapat saya maklumi dan saya kira ini bukan sesuatu hal yang istimewa atau perkecualian di dalam salah satu keluarga. Keluarga saya juga pernah mengalami hal seperi ini.

Dan ini terjadi karena anak mudah sekali meniru kebiasaan-kebiasaan lingkungannya, tetapi di dalam hal ini saya kira Pak Gunawan juga mengalami ini tapi tidak akan berlangsung seterusnya, kalau misalnya anak-anak ini sudah mempunyai kebiasaan yang baik di rumah. Jadi dia akan kembali lagi pada kebiasaan lamanya yang baik yang telah dilakukan, dipupuk di rumah.
GS : Ya, saya tahu bahwa dia tidak sungguh-sungguh mengucapkan atau bahkan tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Ketika saya tanyakan: "Kamu mengerti atau tidak apa yang kamu katakan?" Dia katakan "tidak!" Cuma kalau orang marah, (drivernya yang marah itu) suka berbicara seperti itu, jadi dia hanya meniru Pak, apa itu yang terjadi?

HE : Ya, jadi dia mungkin melihat bahwa drivernya itu berbicara begitu dan ternyata menimbulkan reaksi tertentu dari orang lain. Dan kalau dia ingin menimbulkan reaksi kejengkelan atau menark perhatian seseorang, maka dia keluarkan kata-kata seperti itu.

Kadang-kadang ini betul seperti yang Pak Gunawan katakan, anak tidak mengerti betul apa arti kata-kata yang dia lontarkan itu, nah di dalam keadaan seperti ini kita tidak perlu langsung gusar, kalau kita tahu bahwa anak belum tentu mengerti akan apa yang dia katakan. Ya kita tanyakan saja dengan tenang tetapi tegas, "Apakah kamu tahu arti kata-kata itu? Coba Papa atau Mama ingin tahu, apa yang kamu katakan tadi artinya apa?" Kalau misalnya dia tidak tahu artinya, kemudian kita mengetahui artinya kita boleh memberi tahu dan yang penting adalah kita beritahu kepada dia bahwa itu adalah kata-kata yang tidak baik, bisa menyakitkan hati orang dan membuat orang tidak suka dengan kamu. Dan dengan tegas kita harus larang mereka menggunakan kata-kata itu lagi di manapun juga dan terutama di rumah.
GS : Ya mungkin itu masalahnya di dalam anak yang mempunyai teman lewat pergaulan mereka. Jadi di satu sisi sebenarnya kita sebagai orang tua juga ingin anak kita itu bisa bergaul dengan sebanyak mungkin orang, tetapi di sisi lain kita itu juga was-was nanti ada pengaruh-pengaruh yang buruk yang bisa mempengaruhi anak kita. Jadi ini dilematis Pak sebenarnya.

HE : Betul, dilematis memang, dan memang kita harus mengajarkan kepada anak, sehingga anak nantinya bisa memilih-milih di mana atau dengan siapa dia harus bergaul. Pada mulanya memang agak slit karena seperti itu tadi, anak memerlukan pergaulan dan kita juga perlu mendorong anak untuk bergaul.

Tetapi pada suatu ketika, ketika anak memperoleh pengaruh-pengaruh yang negatif, di situ kita harus bereaksi untuk mencegah hal-hal yang buruk mempengaruhi anak kita.
(1) GS : Ya itu bagaimana Pak Heman, apakah kita memberikan semacam kriteria kepada anak kita, kamu kalau bergaul dengan teman, carilah teman yang seperti ini, ini, ini atau bagaimana Pak?

HE : Sebaiknya secara natural saja, dalam arti kita mengajarkan hal-hal yang baik di rumah. Dengan mengajarkan hal-hal yang baik di rumah, anak akan tahu bahwa temannya ini melakukan hal-halyang tidak baik.

Saya berikan contoh: pernah terjadi anak saya itu waktu dia di kelompok bermain, membawa pulang mainan yang ada di sekolah, kemudian dia membawa pulang itu dan mengeluarkan kemudian bermain pasang-pasangan itu, lego itu. Kemudian istri saya mengajarkan kepada dia: "Ini namanya mencuri, kamu tidak boleh mengambil begitu saja, ayo besok dikembalikan." Keesokan harinya anak ini diantar dan mengembalikan mainan itu dan dia mengaku bahwa teman-temannya melakukan hal yang sama dan tidak ada reaksi. Memang mungkin karena tidak ketahuan, dan sebetulnya bukan saja dia tidak melakukan itu lagi dia bisa menasihatkan teman-temannya untuk tidak berbuat demikian. Jadi saya kira kita perlu mengarahkan anak-anak di dalam bergaul dan ketika kebiasaan yang baik terbentuk di rumah, maka anak-anak ini akan mempengaruhi anak-anak yang lain.
(2) GS : Ya itu memang sangat bijaksana tindakan seperti itu Pak Heman, tetapi kalau sampai tanpa sepengetahuan kita anak itu terlanjur berteman dengan teman yang kurang baik, kita sudah tahu bahwa ternyata mereka berteman. Nah kalau kita beritahu temanmu itu tidak baik, dia akan merasa sakit hati temannya kok dikatakan tidak baik tetapi kita ingin anak itu mengerti bahwa temannya itu tidak baik, itu bagaimana Pak?

HE : Ini memang dilematis terutama pada anak-anak yang sudah lebih besar yang sudah relatif mempunyai kemandirian dan keinginannya sendiri, juga terutama pada remaja yang sering kali bereaks untuk membela temannya ketika temannya itu dikritik atau dicela.

Jadi sebaiknya kita sebagai orang tua jangan serta merta mencela atau melarang anak kita bergaul dengan teman mereka yang sebetulnya tidak kita sukai. Ada baiknya orang tua melakukan hal seperti ini, tidak mencela teman dari anak kita karena mereka akan bela mati-matian, tetapi sebaliknya kita memberikan peraturan yaitu peraturan mengenai bagaimana berteman, di dalam arti termasuk misalnya kapan boleh pergi ke rumah teman, kapan mengundang temannya ke rumah kita. Kemudian juga misalnya di dalam keluarga harus ada peraturan semua anggota keluarga termasuk ayah dan ibu kalau misalnya mau pergi ke mana dari jam berapa sampai jam berapa, itu harus diberitahukan kepada semua anggota yang lain, sehingga satu dengan yang lain itu bisa saling kontak. Dan untuk anak-anak ini masih harus ditambah dengan satu batasan yaitu mengenai permintaan ijin, pada anak-anak diharapkan minta ijin kepada orang tuanya kalau dia mau berkunjung ke rumah temannya. Nah, tujuan dari peraturan-peraturan ini adalah ketika ia bergaul dengan siapa kita bisa tahu itu dan kemudian kita bisa membuat suatu peraturan-peraturan, peraturan itu tidak ditujukan kepada temannya secara khusus tetapi peraturan ini berlaku secara umum dengan siapapun anak ini bergaul. Dan juga kenapa kita harus tahu ke mana dia pergi dan pada jam berapa dia pergi, kita perlu dan kita punya hak untuk melarang anak-anak ini untuk pergi ke suatu tempat-tempat yang mempunyai godaan yang terlalu besar, agar anak tidak jatuh ke dalam dosa. Jadi kita harus mencegah kalau misalnya anak akan pergi ke diskotik karena ini akan membuat pergaulan anak menjadi kacau balau.
GS : Kadang-kadang anak itu juga agak ragu tentang temannya Pak, lalu dia tanyakan kepada kita "Menurut Papa atau Mama, kalau saya bergaul dengan dia bagaimana? Temanku itu bagaimana?" Itu kadang-kadang terlontar juga pertanyaan seperti itu. Bagaimana kita harus menyikapi itu, kadang-kadang kalau kita berbicara terlalu keras atau apa seolah-olah kok menghakimi orang lain dan sebagainya. Tapi anak ini membutuhkan suatu pendapat kita, itu bagaimana Pak?

HE : Ini suatu pertanyaan yang baik sekali dan saya kira kalau misalnya di dalam keluarga ada komunikasi yang indah, yang baik antara orang tua dengan anak, hal-hal seperti ini akan terjadi an hal ini sesungguhnya suatu hal yang baik sekali, di mana kita bisa langsung mempunyai kesempatan untuk berbincang dengan anak soal temannya tanpa anak merasa terlalu banyak bertahan atau defensif.

Juga anak merasa tidak terlalu perlu untuk melindungi temannya ini, nah kalau misalnya anak bertanya kepada kita bagaimana pendapat kita tentang temannya, maka kita perlu katakan mungkin mulai dengan hal-hal yang positif dulu dan kemudian kita juga tanyakan kalau menurut kamu bagaimana, jadi anak juga berpendapat lalu kita juga menghargai temannya ini. Nah, pada saat tertentu misalnya anak bisa bertanya lagi, "tapi dia begini-begini" nah waktu kita tanggapi lagi misalnya anak ini mengatakan, "tapi dia suka mengadu-adu saya dengan teman saya, dengan sahabat saya." "Setiap orang memang mempunyai kekurangan, kalau kamu menjadi sahabat dari seseorang, kamu jangan mengadu-adu mengatakan hal-hal yang jelek mengenai temanmu yang lain dan sebagainya." Nah, dengan demikian kita bisa mengarahkan anak ini, tapi sekali lagi kalau bisa kita berbicara secara umum artinya sifat manusia yang secara umum bisa merusak persahabatan atau justru memupuk persahabatan, bukan tertuju kepada orang tertentu, karena kalau kita sudah menyerang orang tertentu apalagi yang akrab dengan anak kita maka kita akan cenderung memperoleh tanggapan atau pembelaan dari anak kita.
GS : Sering kali yang kita saksikan atau yang kita alami, anak-anak ini untuk jangka waktu yang panjang perilaku, kata-katanya, atau tindakannya itu bisa berubah Pak. Jadi kadang-kadang mirip-mirip dengan temannya, apakah itu pengaruh seringnya mereka bergaul atau bagaimana Pak?

HE : Lingkungan memang sangat besar pengaruhnya di dalam pembentukan pola kebiasaan kita, kalau misalnya kita pindah dari Jawa Timur ke Jakarta, logat-logat kita pun akan berubah, kebiasaan-ebiasaan kita juga akan berubah.

Tapi yang lebih penting dari kebiasaan-kebiasaan seperti itu adalah sebenarnya masalah moral, jadi kalau misalnya hanya sekadar masalah kebiasaan yang berbeda misalnya kebiasaan makan, tidur, cara belajar, minat, hobby dan sebagainya itu masih boleh kita tolerir, sampai sejauh mana batas kita bisa mentolerirnya. Tetapi kalau misalnya sudah menyangkut hal-hal yang moralitas, menyangkut dosa dan sebagainya kita sebaiknya tidak tolerir hal itu dan kita harus mencegah hal itu sebelum berlanjut.
GS : Dalam hal ini Pak Heman, tentu yang sangat dibutuhkan oleh semua orang tua khususnya pada pendengar yang setia ini, mungkin Pak Heman bisa memberikan beberapa pedoman atau tips atau semacam arahan, apa sebetulnya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mencegah pengaruh-pengaruh yang buruk terhadap anak kita.

HE : Kalau bisa sebelum anak-anak terlanjur besar dan anak-anak ini sudah bisa memilih sarana-sarana pergaulannya sendiri, kita arahkan dulu dan kita sediakan alternatif-alternatif pergaulanyang sehat.

Misalnya saja kita bawa mereka ke Sekolah Minggu atau ke persekutuan remaja atau pun gereja di mana orang tua di sana juga bisa bersekutu dengan baik juga dengan anak-anak. Dan kita perlu menyadarkan mereka bahwa ada teman-teman yang baik sekali secara umum, dan mereka dapat dijadikan sahabat, tetapi ada juga anak-anak atau teman-teman yang buruk yang bisa menjerumuskan dan membuat kita terseret di dalam kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Kemudian hal yang lain yang boleh kita usahakan adalah memperoleh atau mencari lingkungan sekolah yang baik bagi anak, karena lingkungan sekolah ini sering kali tidak ada pelajaran, kemudian anak-anaknya suka berkelahi dan sebagainya mempengaruhi pergaulan anak-anak kita, sehingga merusak kebiasaan baik yang telah dimiliki oleh anak kita. Kemudian hal lain lagi yang perlu sekali kita penuhi adalah kebutuhan psikologis anak-anak kita, dengan demikian anak-anak yang telah puas di rumah tidak akan mencari-cari di luar, apalagi berusaha menarik perhatian teman-temannya karena mereka sudah mempunyai kepercayaan diri yang baik. Sehingga dengan kepercayaan diri yang baik ini anak-anak juga mampu menolak pengaruh negatif teman-temannya dan yang penting lagi adalah kita perlu menciptakan suasana keluarga yang harmonis. Dengan adanya suasana harmonis anak tidak punya alasan untuk lari pada pergaulan yang tidak baik di luar rumah dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya kita harus mendoakan anak-anak kita senantiasa agar mereka terhindar dari jeratan pergaulan yang buruk.
GS : Ya, dari sekian atau beberapa tips yang Pak Heman katakan untuk mencarikan pergaulan, anak biasanya sudah berkeliaran sendiri, mencari tempat bermain sendiri, teman-teman sendiri itu bagaimana Pak?

HE : Ya, kalau misalnya sudah terlanjur memang ini lebih sulit diatasi. Kalau bisa kita siapkan dulu hal-hal ini sebelum anak beranjak dewasa, sebelum anak beranjak remaja. Memang ada beberaa hal yang tidak terlalu mudah dijawab karena biasanya anak-anak yang sudah terlibat dengan kelompok-kelompok "pembuat onar" itu biasanya mempunyai latar belakang yang kurang menguntungkan, salah satunya misalnya keluarga tidak berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan utama atau pemenuh kebutuhan psikologis utama bagi anak-anaknya.

Dan anak-anak ini biasanya kekurangan dukungan sosial ekonomi, nah ini yang agak sulit. Tetapi bagaimanapun juga kalau misalnya kita bisa menyiapkan, kadang-kadang sebetulnya anak-anak ini bukan menolak apa yang dianjurkan orang tuanya, tetapi masalahnya mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Jadi ada baiknya orang tua berusaha merancang misalnya ada pembesukan dari gereja, dari orang-orang tertentu dan berkenalan dengan anak ini secara wajar, secara alami kemudian mengajak anak ini bersama-sama, ada kemungkinan anak-anak ini dengan bangga akan terlibat dengan pergaulan yang lebih sehat.
GS : Demikian juga dengan sekolah Pak Heman, kita itu memang ingin mengarahkan ke sekolah yang baik, tetapi anak-anak juga dipengaruhi oleh teman-temannya ke mana teman-temannya melanjutkan studinya, kebanyakan dia akan mengikut ke situ Pak?

HE : Ya kadang-kadang memang kita inginkan anak kita bisa sekolah di sekolah tertentu tetapi berhubung teman-temannya banyak ke sekolah lain dia ikut. Nah kalau bisa kita arahkan, misalnya sbelum kita mencari informasi tentang sekolah ini dan kemudian anak ini dibawa ke sekolah yang berbeda dan kemudian melihat lingkungannya, berbincang-bincang dengan 2 atau 3 murid di sana, berkenalan mungkin cari nomor teleponnya dan sebagainya.

Nah dengan adanya beberapa pilihan sekolah kemungkinan anak juga mau mencoba.
GS : Masalahnya mungkin ini Pak, kalau dia pindah ke suatu sekolah di mana teman-temannya tidak sekolah di situ dia enggan kalau harus mencari teman baru.

HE : Ya, ini harus kita antisipasi mungkin jauh-jauh hari sebelumnya anak ini perlu diberi bekal, bagaimana supaya dia bisa menyesuaikan diri lebih cepat dengan lingkungan pergaulan baru. Didalam hal ini yang bisa kita siapkan adalah anak ini diperkenalkan dengan berbagai lingkungan yang bervariasi dan dari yang tadinya asing, belum kenal kita dorong mereka, kita berikan keberanian kepada mereka, tantangan bahwa kamu kalau bisa memperoleh satu atau dua teman di situ di dalam jangka waktu sekian misalnya kamu berarti anak yang berani, anak yang bisa sukses nantinya sebagai bekal untuk menjadi pemimpin di masyarakat dan sebagainya.

Nah, anak-anak diberi tantangan-tantangan yang seperti itu.
GS : Tetapi kita melihat bahwa memang teman-teman anak-anak kita atau teman-teman kita itu pengaruhnya luar biasa besarnya untuk masa depan dari si anak ini. Nah, dalam hal ini Pak Heman, apakah yang dikatakan oleh firman Tuhan sebagai suatu pedoman bagi kita untuk memberikan bimbingan pada anak-anak kita di dalam mencari teman?

HE : Ada satu permohonan doa dari Daud, saya akan bacakan dari Mazmur 28 : 3 , "Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik atau pun dengan orang yang melakukan kejahaan, yang ramah dengan teman-temannya tetapi yang hatinya penuh kejahatan."

Biarlah doa Daud ini juga menjadi doa kita dan semoga kita terus beroleh kekuatan untuk terus hidup kudus di tengah lingkungan yang tidak kudus sekalipun.
GS : Saya rasa memang peranan doa ini luar biasa besarnya juga terhadap pengaruh anak-anak kita, kadang-kadang kita cuma memberikan kebutuhan-kebutuhan psikologisnya, kebutuhan-kebutuhan jasmaninya, tapi ada suatu kebutuhan spiritual yang sebetulnya harus dipenuhi dan kita bisa membantu mereka di dalam doa. Dan apakah itu harus mereka ketahui Pak?

HE : Ya, saya kira ada baiknya kalau misalnya ayat ini menjadi ayat hafalan dari kita dan anak kita.

GS : Jadi kita bersama-sama menghafalkan ayat itu di dalam suasana makan atau suasana ibadah keluarga begitu Pak.

HE : Betul, dan saya kira ini baik sekali untuk mengingatkan kepada anak-anak bahwa ada teman-teman yang bisa menjerumuskan.

GS : Saya rasa orang tua juga harus lebih berhati-hati di dalam memilih teman-temannya sendiri Pak karena itu akan menjadi suatu cermin, suatu teladan yang nampak nyata di dalam diri anak-anak ini. Mereka akan melihat siapa teman-teman papanya atau siapa teman-teman dari ibunya itu.

Terima kasih sekali Pak Heman untuk perbincangan kali ini, dan saudara pendengar sekalian terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang anak dan temannya. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menghubungi kami lewat e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



37. Anak Nakal


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Orangtua-Anak
Kode MP3: T106A (File MP3 T106A)


Abstrak:

Kita orangtua tidak bisa memberikan label nakal begitu saja kepada anak kita, karena adakalanya anak hanya menunjukkan keisengan atau juga karena dia seorang anak yang aktif bergerak. Kita orangtua harus berhati-hati memakai istilah nakal ini terhadap anak-anak kita.


Ringkasan:

Cap nakal atau label nakal sebaiknya tidak disebut untuk anak, ada beberapa alasan yaitu:

  1. Karena kita tidak tahu apakah benar secara sengaja anak melakukan pelanggaran dan secara terus-menerus sedang memanipulasi kita, kecuali kalau kita memang sungguh-sungguh mengetahui bahwa anak sedang memanipulasi. Itu pun yang kita lakukan bukan memberikan cap tetapi kita melakukan tindakan-tindakan untuk menghentikan tingkah laku mereka.

  2. Karena label nakal ini tidak jelas menunjukkan suatu perilaku tertentu, sehingga anak tidak tahu perilaku apa yang harus dikoreksi dsb. Label nakal tidak akan banyak mengubah tingkah laku anak menjadi lebih baik.

  3. Ketika kita memberi label kepada anak, label ini dipakai sebagai suatu cap anak itu sendiri terhadap dirinya. Hukum perilaku ada kecenderungan, kalau saya menganggap diri saya itu nakal saya akan berperilaku sesuai dengan julukan saya yaitu nakal. Jadi ada kemungkinan anak semakin berperilaku bandel dan banyak melanggar peraturan.

Penyebab anak menjadi nakal:

  1. Orang tua yang tidak harmonis, yang menyebabkan orang tua ini menghukum anak secara sewenang-wenang. Akibatnya anak banyak menderita luka batin, mereka merasa frustrasi dan dalam kondisi ini akan menyebabkan pemberontakan yang hebat dari anak.

  2. Karena kebutuhan emosi dan psikologis utamanya tidak terpenuhi. Misalnya kebutuhan akan kasih dan perhatian dari orang tua, kebutuhan untuk rasa aman atau merasa terlindungi oleh orang tua, kebutuhan untuk mandiri dan hal-hal ini tidak terpenuhi.

  3. Orang tua kurang tegas kalau anak melakukan pelanggaran, banyak dibiarkan atau malah orang tua ikut tertawa karena merasa lucu.

  4. Orang tua yang selalu mengikuti kemauan anaknya, sehingga sewaktu tidak bisa memenuhi kemauan a