DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Remaja/Pemuda


Dalam kategori ini, Anda dapat menemukan 64 judul artikel yang mengupas tentang siapa remaja dan pemuda serta permasalahan yang dihadapi remaja/pemuda secara umum seperti peran teman dalam kehidupan remaja, peran orang tua dalam pembentukan jati diri remaja, pergolakan rohani remaja, dst.. (Total Durasi: 32 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1Masalah Remaja 1T001B
2Masalah Remaja 2T002A
3Masalah Orangtua dan RemajaT004B
4Remaja yang LariT009A
5Berbicara dengan Anak Remaja KitaT011B
6Mendisiplin RemajaT020B
7Ketergantungan Remaja pada Obat-ObatanT025B
8Pertanyaan-Pertanyaan untuk Mencari Pasangan Hidup 1T040A
9Pertanyaan-Pertanyaan untuk Mencari Pasangan Hidup 2T040B
10Peran Teman dalam Kehidupan RemajaT048A
11Peran Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri RemajaT048B
12Perkembangan Remaja Putra Putri 1T056A
13Perkembangan Remaja Putra Putri 2T056B
14Pembentukan Jati DiriT076A
15Masalah-Masalah yang Dihadapi Remaja dalam Pembentukan Jati DirinyaT076B
16Pemilihan JurusanT092A
17Memilih PekerjaanT092B
18Gejolak Pertumbuhan Remaja 1T103A
19Gejolak Pertumbuhan Remaja 2T103B
20Melihat Kecocokan dalam Masa BerpacaranT104A
21Membatasi Keintiman Selama BerpacaranT104B
22Patah HatiT126A
23Menunggu Atau Mencari Pasangan HidupT126B
24Tatkala Anak Akil BaligT127A
25Pagar Antara Orangtua dan AnakT127B
26Cinta Pertama Mitos atau RealitasT130A
27Kasih yang SejatiT130B
28Mencari yang IdealT135A
29Dampak Kekudusan dalam PernikahanT135B
30Cari Pasangan HidupT142A
31Jika Saya Menikah NantiT142B
32Pemuda dan TantangannyaT143B
33Bersahabat dengan RemajaT150B
34Gaul yang KristianiT175A
35Mengapa Remaja Susah PedeT175B
36Cinta yang Melek MataT187A
37Tatkala Orangtua Tidak SetujuT187B
38Membedakan Cinta dan SukaT188A
39Kehamilan Di Masa RemajaT237B
40Pasangan Yang Mesti Dihindari (I)T252A
41Pasangan Yang Mesti Dihindari (II)T252B
42Pergolakan Rohani Remaja IT269A
43Pergolakan Rohani Remaja IIT269B
44Remaja Putra dan PornografiT273A
45Melindungi Remaja Terhadap PornografiT273B
46Remaja Putri dan Cinta (I)T274A
47Remaja Putri dan Cinta ( II )T274B
48Komitmen dan Keintiman (I)T275A
49Komitmen dan Keintiman (II)T275B
50Mengapa Kita Memilih Dia?T290A
51Dampak UsiaT290B
52Berpacaran dengan Siapa?T293A
53Remaja dan PergaulannyaT293B
54Pemangsa Lewat OnlineT301A
55Persahabatan Lewat OnlineT301B
56Memilih Pasangan Hidup IT312A
57Memilih Pasangan Hidup IIT312B
58Remaja BerbohongT317A
59Proses Berpacaran IT323A
60Proses Berpacaran IIT323B
61Remaja dan ImanT336A
62Pergumulan Iman RemajaT336B
63Kesalahan dalam Memilih Pasangan IT344A
64Kesalahan dalam Memilih Pasangan IIT344B


1. Masalah Remaja 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T001B (File MP3 T001B)


Abstrak:

Masalah remaja itu sangat komplek dan yang paling hakiki atau menjadi dasar munculnya persoalan yang lain adalah terletak pada kerohanian. Kerohanianlah yang menjadi akar dari segalanya.


Ringkasan:

Masa remaja adalah masa yang selalu ditandai dengan pergolakan. Hampir setiap keluarga mengeluhkan betapa susahnya membesarkan anak-anak remaja. Dan kecenderungan yang terjadi adalah orang tua membandingkan bahwa masa remaja mereka atau masa mereka dahulu jauh lebih baik dibandingkan dengan masa sekarang. Namun yang perlu ditekankan adalah ada hal-hal tertentu yang harus diwaspadai dengan zaman sekarang ini yaitu adanya hal-hal yang unik yang hanya ada pada zaman ini, yang tidak ada pada zaman dahulu. Keunikan zaman sekarang ini adalah globalisasi. Sekarang ini dunia disebut sebagai global village artinya kampung global yang artinya juga adalah suatu permukiman yang dihuni oleh semua penduduk dunia.

Ada beberapa hal yang mempersatukan penduduk dunia dalam satu kampung besar yaitu:

  1. Adanya jaringan komunikasi yang canggih. Sehingga batas antara manusia yang bermukim pada tempat yang berbeda menjadi sangat kabur.

  2. Adanya jaringan transportasi yang makin bertambah canggih, sehingga kita bisa terbang dari satu benua ke benua yang lain.

Jadi memang kita menjadi satu permukiman yang besar sekali, jadi bangsa atau budaya yang dominan akan menjadi budaya yang mempengaruhi budaya-budaya lain di dunia ini. Akhirnya mereka ini mempunyai satu budaya universal di kalangan remaja. Globalisasi memang tidak bisa tidak mentransmisikan atau meneruskan budaya dan didalam budaya ada nilai hidup, ada etika-etika tertentu yang memang menjadi bagian dari budaya itu sendiri. Sebab budaya tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai hidup kita atau nilai-nilai moral kita. Dampak globalisasi dalam banyak aspek positif sekali. Misalnya penyampaian dan penerusan ilmu pengetahuan dan wawasan dunia. Dan itu semua diberikan pada para remaja kita dan itu adalah hal yang bermanfaat bagi mereka.

Namun juga perlu diwaspadai juga adalah bahwa budaya-budaya yang masuk ini membawa bobot moral yang adakalanya berlawanan dengan iman kepercayaan kita sebagai orang Kristen.

Di antara sekian masalah-masalah, sebetulnya ada masalah yang paling hakiki atau masalah yang lebih menjadi landasan munculnya masalah-masalah lain yaitu:

  1. Disintegrasi keluarga atau perpecahan keluarga. Karena inilah banyak keluarga atau banyak anak-anak remaja kehilangan arah. Karena mereka menyaksikan kontradiksi-kontradiksi di dalam keluarga, sehingga akhirnya mempengaruhi nilai hidup dan perilaku mereka. Kontradiksi yang dimaksud adalah ketidakcocokan antara apa yang dikatakan orang tua dan yang diperbuat orang tua.

  2. Dan masalah yang lebih dalam lagi adalah masalah kerohanian. Sebab jika kita hidup dalam terang Firman Tuhan, takut akan Tuhan, mau benar-benar mengamalkan Firman Tuhan dalam hidup, maka akan ada banyak masalah yang dapat diselesaikan. Roma 12:1 Roma 12:1 berkata: Hendaklah kita diperbaharui dalam akal budi kita, diperbaharui artinya setelah kita menerima Yesus sebagai Juru Selamat kita dan diisi oleh Roh Tuhan seyogyanyalah kita tidak melihat dunia dan hidup ini dengan kacamata yang sama tapi kita melihatnya dengan perspektif Tuhan sendiri, apa yang Tuhan akan lakukan atau apa yang Tuhan akan katakan dalam situasi-situasi seperti ini.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Remaja Bergolak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, mengapa banyak orang tua yang mengeluh soal anaknya yang mulai memasuki usia remaja?

PG : Ini keluhan yang kita dengar setiap hari Pak Gunawan, sebab rupanya ini adalah masalah yang sangat mengganggu. Banyak orang tua sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada aak remaja mereka.

Karena mereka sudah kehilangan kendali atas anak-anak remaja mereka, mereka tidak bisa lagi mengarahkan si anak-anak remaja, tidak bisa meminta mereka melakukan yang si orang tua harapkan nah benar-benar mereka kehilangan kendali dan seolah-olah mereka melihat masa depan anak remaja mereka benar-benar akan sangat hancur. Dan sering kali juga yang terjadi karena masalah dengan anak-anak remaja ini sudah muncul akhirnya masalah ini terbawa ke dalam relasi suami-istri. Sehingga akhirnya mereka pun bisa turut saling bertengkar jadi akhirnya rumah tangga itu seperti kobaran api yang terus menyala.
GS : Berarti ada suatu perubahan besar yang terjadi di dalam diri seorang anak menuju ke remaja ini Pak?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi pada masa anak-anak menginjak usia remaja dia akan mengalami transisi, masa transisi yang melepaskan mereka dari masa kanak-kanak dan menghantar mereka masukke masa dewasa.

Dan sebagaimana kita tahu semua masa transisi biasanya masa yang sulit, tidak mudah untuk kita lewati. Mengapa, sebab mereka saat itu tidak lagi kanak-kanak tapi belum dewasa. Salah satu hal yang menjadi bahan pertengkaran biasanya adalah permintaan hak yang lebih lebar dan lebih luas, tapi orang tua tidak begitu saja mau memberikan kepada mereka, karena apa, karena mereka memang orang yang masih belum dewasa jadi akhirnya ada pembatasan-pembatasan. Maka akhirnya yang sering kali terjadi adalah bentrokan, bentrokan karena yang satu ingin lebih bebas sedangkan di pihak orang tua masih terus menerapkan pembatasan. Nah, ini memang tidak ada jalan keluar yang mulus, untuk setiap keluarga pasti ada proses-proses penemuan jalan yang paling cocok untuk mereka. Dan jalan yang paling cocok hari ini belum tentu cocok tahun depan karena bisa jadi akan berlainan pula.
GS : Sebaliknya yang terjadi kalau di rumah dia banyak dikekang, justru di luar dia merasakan banyak memperoleh kebebasan, fasilitasnya begitu memungkinkan untuk dia bergerak dengan sangat bebas.

PG : Betul sekali, jadi perbedaan-perbedaan ini memang bisa menambah masalah yang muncul karena anak-anak ini di luar bisa tambah liar karena tidak ada yang mengendalikan. Karena di rumah terlau dikuasai oleh orang tuanya, jadi memang susah masalah-masalah seperti ini.

Kadang kala orang tua terpaksa membatasi karena melihat si anak sudah mulai memasuki daerah berbahaya, namun anak-anak tidak menyadarinya. Nah, karena kita adalah orang tua yang lebih bisa melihat bahaya, kita yang melarang si anak. Meskipun saya juga menyadari ada sebagian orang tua yang berlebihan dalam kekhawatirannya sehingga semua itu dianggap ancaman yang bisa merusak anak-anak. Akhirnya mereka lebih sering membatasi si anak, sehingga si anak merasa terlalu dikekang nah dia ke luar, dia akan menjadi lebih bebas lagi daripada yang orang tua ini pikirkan.
GS : Ya, banyak yang dikeluhkan oleh anak remaja adalah kalau di luar dia memperoleh kebebasan yang demikian besar mengapa kalau di rumah dia mendapatkan kekangan seperti itu. Karena di luar dia misalnya mempunyai fasilitas internet, handphone, di mana dia bisa berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja dan dengan cara-cara yang sangat mudah.

PG : Betul sekali, jadi salah satu unsur yang memang menjadi dasar pertengkaran orang tua dan remaja selain dari soal pembatasan itu adalah hal percaya. Banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa rang tua saya tidak mempercayai saya, kenapa tidak percaya padahal saya tidak berbuat apa-apa, teman-teman saya berbuat saya 'kan tidak.

Nah, di sini memang timbul masalah karena orang tua tidak memberikan kepercayaan itu sebab orang tua menyadari pengaruh luar bisa lebih kuat lagi maka orang tua terpaksa membatasi. Nah, dianggap oleh anak tidak percaya, nah ini masalah-masalah yang umum muncul Pak Gunawan. Sudah tentu orang tua harus lebih siap untuk menerima dan menghadapi semua ini. Tapi saya akan memberikan satu pengamatan saya yang sering kali ini dilakukan oleh orang tua. Orang tua acapkali membandingkan diri mereka dulu sebagai remaja dengan keadaan anak-anaknya sekarang. "Dulu kami tidak perlu diberitahu; kami sudah tahu diri, dulu tidak berani menjawab orang tua saya karena kami hormat; sekarang kamu kok berani menjawab, dulu kami jam 09.00 sudah pulang ke rumah; kamu sekarang jam 09.00 baru mau keluar rumah. Nah saya tidak mengatakan semua pengalaman dulu itu buruk, tapi saya memang harus akui bahwa zaman mempunyai keunikannya masing-masing, tidak sama ada hal-hal yang sudah sangat berbeda, salah satunya misalnya zaman sekarang jauh lebih demokratis artinya orang lebih berani mengungkapkan pendapat termasuk anak-anak kita. Dan bukan saja di luar misalnya di sekolah, anak-anak kita lebih berani mengungkapkan pendapat, di rumah pun dia lebih berani mengungkapkan pendapat, maka ketika dia tidak setuju dengan kita dia lebih berani untuk berbicara. Kita dulu tidak karena memang kita dulu tidak terlalu mempunyai demokrasi yang sebesar dan sebebas sekarang ini.
GS : Berarti sebenarnya perbedaan persepsi itu masih bisa disamakan, Pak Paul?

PG : Masih bisa, tapi memang karena adanya perbedaan-perbedaan itu agak susah maka saya kira penting bagi orang tua sebelum menyamakan persepsi perlu juga mengetahui sebetulnya apa itu yang memedakan zaman sekarang ini di mana anak-anak mereka bertumbuh besar dengan zaman mereka.

Apa yang unik tentang zaman sekarang ini. Sekurang-kurangnya ada dua yang mau saya angkat Pak Gunawan, yang pertama adalah sekarang memang zaman komunikasi. Misalkan handphone sudah begitu canggih sehingga orang bisa mengirim gambar bukan hanya kata-kata melalui SMS dengan kata lain jarak antara manusia makin dekat, mereka bisa langsung mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain. Artinya apa, yang dari luar bisa masuk ke dalam rumah kita jauh lebih mudah sekarang. Dulu tidak bisa diperoleh, sekarang bisa diperoleh dengan sangat mudah contohnya dulu hendak menonton film-film yang porno harus menyewa film-filmnya, sekarang hanya tinggal men-download dari internet, dulu untuk bisa berbicara dengan orang-orang yang mempunyai keanehan-keanehan tertentu tidak bisa karena tidak ada akses, sekarang kita bisa berbicara dengan orang-orang yang seaneh apapun melalui sistem chatting di komputer kita. Berarti apa, yang di luar sekarang hadir di rumah kita, nah anak remaja mesti mempunyai panduan yang jelas dalam hal ini. Apakah kita bisa menutup mereka 100% dari pengaruh luar ini, tidak bisa, tapi kita harus batasi. Misalnya apa yang bisa kita lakukan, misalnya komputer dengan fasilitas modem ke internet ditaruh di luar kamar si anak, kita tidak membiarkan dia bermain komputer berjam-jam di dalam kamar, karena kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan di dalam kamar, kita mesti bisa mempunyai akses melihat dia sedang melihat atau menulis apa di sana.
GS : Tetapi pembatasan seperti itu juga masih bisa diatasi dengan anak ini tidak melakukan akses itu di rumah tapi di warnet misalnya.

PG : Itu bisa saja dilakukan dan memang itulah yang juga sering dilakukan, bukan hanya di warnet atau yang paling gampang adalah di rumah teman mereka. Tapi dengan kita membatasi dia di rumah, ita setidak-tidaknya sudah menambah kesulitannya untuk mengakses sehingga setidak-tidaknya ada pengurangan.

Sudah tentu di luar itu kita mesti juga berbicara dengan si anak, kenapa ini tidak baik bagimu, kenapa kamu harus berhati-hati. Misalkan chatting, dia berbicara dengan seseorang melalui internet, kita harus tahu dengan siapa dia berbicara, apa yang orang ini tanyakan kepada anak kita, kita juga mau tahu jadi kadang-kadang kita bertanya kepada anak kita. "Apa yang kamu bicarakan?" "Oh.......ini, ini." "Tidak, tidak mungkin kalau hanya itu saja sampai berjam-jam, apa yang kamu lakukan coba kamu beritahu." Nah, kadang-kadang dia lagi menulis kita berjalan di belakangnya dan kita mau baca, jadi sekali-sekali kita lakukan itu. Kenapa, anak-anak kita tahu bahwa kita tetap memantau mereka sebab sekali lagi pertanggungjawaban penting. Anak remaja yang tidak memiliki pertanggungjawaban kepada siapapun karena orang tuanya tidak peduli atau tidak di rumah memang lebih cenderung untuk terlibat dalam hal-hal yang salah ini. Tapi anak remaja yang tahu bahwa dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada orang tua karena mereka memantau perbuatan si anak ini dia akan jauh lebih berhati-hati.
GS : Berarti tugas orang tua ini bukan cuma menyediakan fasilitas, tetapi menyiapkan anak menggunakan fasilitas itu dengan baik.

PG : Betul, itu yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak bahwa hal-hal ini baik untuk kamu, untuk hal-hal yang positif tapi benda yang sama ini bisa menjadi hal yang sangat buruk bagimu karen bisa mempengaruhi hidup kamu.

Nah, misalkan kita berikan penjelasan kenapa dengan melihat gambar-gambar porno ini buruk bagimu, kenapa ini bisa menjadi hal yang tidak positif bagi pertumbuhanmu kita harus jelaskan, kamu mengisi pikiran-pikiran kamu dengan hal-hal porno ini berarti hatimu, pikiranmu, setiap menit akan dikuasai oleh hal-hal yang bersifat seksual. Kamu berbicara dengan orang yang tidak kamu kenal dan dia orang dewasa, kamu masih berumur 12 tahun, dia bisa menaruh hal-hal buruk di benakmu dan akhirnya kamu terpengaruh oleh dia. Dan apa yang dia minta kamu lakukan kamu juga harus bisa membedakan baik atau buruk, jadi gunakanlah kesempatan ini untuk mengajarkan hal-hal yang benar kepada anak.
GS : Kemajuan teknologi seperti yang kita bicarakan, itu juga pasti bisa membawa dampak yang positif buat remaja pada masa kini. Mungkin Pak Paul bisa sebutkan dampak-dampak positif apa?

PG : Misalkan apalagi di kota-kota besar saya tahu anak-anak remaja kebanyakan berhandphone, apa dampak positifnya? Kita bisa mengirimkan SMS menanyakan keadaannya, kita di kantor dia mungkin bru pulang sekolah atau dalam perjalanan dengan teman-teman kita bisa saling sapa, kita bisa memberikan ayat firman Tuhan, kita bisa berkata kami mendoakan kamu dalam perjalanan, ada apa-apa mohon hubungi kami.

Jadi dengan kata lain benda-benda komunikasi itu bisa menjadi perlambangan kita di sampingnya kalau kita juga sering-sering menggunakan untuk bersapa dengan anak kita, jadi jangan gunakan handphone terus-menerus untuk memberikan wejangan atau nasihat kepada si anak, si anak lama-lama menjadi kesal juga. Tapi kalau untuk saling bersapa dia akan senang dan dengan kata lain handphone itu menjadi representasi kehadiran kita di sampingnya juga bahwa kita itu masih tetap sekali-sekali bersapa dengan dia dan dia menjawabnya, sehingga bisa mengakrabkan relasi kita dengan anak-anak remaja.
GS : Pak Paul, sering kali gejolak remaja ini justru terlihat atau mencerminkan kondisi orang tua mereka sendiri yang kurang harmonis atau memang seperti itu Pak?

PG : Sering kali begitu Pak Gunawan, meskipun saya ingin mengatakan bahwa tidak semua masalah remaja bersumber dari masalah relasi orang tuanya, belum tentu. Tapi ini juga yang bisa saya kataka kalau orang tua mempunyai relasi yang kuat maka relasi yang kuat itu lebih bisa menahan gejolak si remaja yang sedang bermasalah.

Sebaliknya kalau relasi orang tua tidak kuat maka relasi itu tidak akan kuat menahan gejolak permasalahan si remaja, meskipun tidak selalu masalah remaja muncul dari masalah antara orang tua. Tapi kalau orang tua tidak mempunyai relasi yang kuat itu akan lebih menyulitkan relasi mereka menghadapi gejolak si remaja. Contoh yang gampang misalkan si anak mulai malas membersihkan kamar, tidak membersihkan ranjangnya, barangnya tergeletak di mana-mana, akhirnya terjadilah pertengkaran. Nah, si mama yang marah dan meminta anak remajanya membereskan, si papa tidak marah. Nah, kalau di dalam relasi orang tua memang sudah ada masalah ini, si papa tidak suka karena si mama itu sedikit-sedikit maunya bersih, sedikit-sedikit barang ditaruh di sini dimarahi, nah jadi waktu si papa melihat si mama memarahi si anak tidak bisa tidak dia merasa seolah-olah dia yang dimarahi, sebab di masa lampau atau sampai sekarang pun dia pernah mendapat amarah si istri karena hal yang sama. Akhirnya waktu si anak dan si ibu bertengkar, si ayah akhirnya ya terlibat tapi membela si anak. Apa yang terjadi kemudian, si ibu akan marah sekali karena si ibu merasa ayah tidak mendukungnya malah menjatuhkannya di hadapan si anak, masalahnya adalah pada awalnya atau pada dasarnya si ayah sudah marah pada si ibu karena ketidakcocokannya itu akhirnya masalah tambah ruwet.
GS : Memang di situ remaja sering kali merasa dirinya itu hanya sebagai obyek saja tapi tidak pernah menjadi subyek di dalam rumah itu Pak Paul.

PG : Itu yang sering terjadi Pak Gunawan, karena pada saat-saat ini setiap orang tua merasa khawatir dan mereka mulai bergolak, jadi orang tua seolah-olah itu makin mengeraskan genggaman pada s anak.

Kalau pada masa kanak-kanak justru si anak pergi ke mana, pulang jam berapa dia dijemput, apa yang dimainkan di sana orang tua juga tidak tanya-tanya. Tapi sekarang begitu anak remajan pergi umur 16 tahun atau 15 tahun di pulang orang tua langsung bertanya: "Kamu melakukan apa saja tadi?" Waktu umur 10 tahun, 11 tahun, 12 tahun, pergi-pergi, pulang tidak pernah ditanya: "Kamu melakukan apa saja tadi?" Sekarang umur 15 tahun pergi waktu pulang ditanya: "Kamu melakukan apa tadi?" Nah, apa yang terjadi orang tua memang mulai mengeraskan genggamannya pada si anak. Akhirnya si anak berontak, marah, tidak suka, kenapa saya diperlakukan seperti ini, seolah-olah saya menjadi obyek. Makanya orang tua harus berhati-hati dan salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah orang tua mesti belajar mendengarkan anak remaja, membuka jalinan komunikasi. Seorang pemerhati remaja, seorang hamba Tuhan yang bernama Jay Kessler pernah menulis sebuah buku tentang remaja dan dia mengadakan survey di tengah-tengah remaja. Keluhan apa yang sering diungkapkan oleh anak-anak remaja terhadap orang tuanya. Nomor satu dalam daftar itu adalah keluhan orang tua saya tidak mendengarkan saya, jadi hanya satu arah, hanya sepihak dan kami hanyalah obyek yang harus ikut saja apa yang orang tua inginkan.
GS : Pak Paul, sebenarnya pada saat-saat gejolak seperti ini bukankah anak remaja itu membutuhkan bimbingan dari firman Tuhan dan kegiatan-kegiatan rohani yang membangun dia. Tetapi justru pada saat-saat seperti ini para remaja ini seolah-olah banyak yang menjauhkan diri atau kurang menyukai hal-hal yang berbau rohani, Pak Paul?

PG : Saya berikan contoh dari pengalaman hidup saya pribadi Pak Gunawan, waktu saya SMA saya berambut panjang. Nah, saya itu juga senang memakai baju-baju yang sedikit aneh, nah saya masih inga sekali sewaktu hari minggu saya di kelas sekolah minggu saya diajar oleh seorang guru yang lain, biasanya guru saya adalah guru yang biasa tapi sekarang ada guru lain yang menggantikan.

Guru sekolah minggu saya ini rupanya sangat tidak suka melihat rambut saya yang panjang, jadi sedang membahas topik apa saya tidak tahu tiba-tiba dia memunculkan topik tentang kita harus berubah dan tidak boleh sama dengan dunia ini, dan langsung yang dia tegur adalah rambut panjang. Nah, saya tahu dia sedang membicarakan saya karena di dalam kelas saya itu mungkin hanya satu, dua orang yang berambut panjang salah satunya adalah saya. Saya masih ingat sekali saya tidak suka dengan tegurannya itu, teman saya yang berambut pendek membela dan berkata: "Tapi bukankah Tuhan Yesus pun berambut panjang?" Memang tidak ada bukti Tuhan berambut panjang pada saat itu, hanya gambar-gambarNya sajalah yang menggambarkan Tuhan berambut panjang. Tapi intinya adalah saya tidak suka, sebab memang penekanan pada hal-hal yang lahiriah itu tidak mudah diterima oleh remaja. Kebanyakan remaja pada saat-saat ini mereka lebih membutuhkan penjelasan yang lebih bersifat batiniah, yang lebih pribadi, yang lebih ke dalam bukannya yang di luar atau penampakan. Mereka pada saat-saat remaja memang lebih bersifat idealis sehingga mengabaikan yang di luar dan lebih mementingkan yang di dalam, nah waktu guru sekolah minggu saya menekankan penampakan yang di luar yakni rambut saya, saya tidak terima. Kenapa, sebab memang buat saya rambut tidak mencerminkan siapa saya, jiwa saya seperti apa, sama sekali tidak. Jadi hati-hati orang tua jangan terlalu mudah juga akhirnya terkecoh, terlalu memfokuskan pada yang di luar, penampilan-penampilan lahiriah. Kalau tidak suka dengan anak yang tidak membereskan kamarnya dan sebagainya jangan kita menyerangnya kamu orang jorok, kamu orang malas, kamu orang yang tidak bertanggung jawab dan sebagainya, sebab belum tentu. Bisa jadi dalam hal sekolah anak ini sangat bertanggung jawab, jadi kita hanya katakan kamu perlu membereskan, langsung saja minta tapi tidak usah kita tambahkan kamu tidak bertanggung jawab dan kamu tidak mencerminkan kesaksian Kristen yang baik dan sebagainya, tidak perlu sampai seperti itu.
GS : Juga kadang-kadang nasihat kita sebagai orang tua itu seolah-olah mau menggunakan firman Tuhan dari ayat-ayat Alkitab itu supaya lebih berwibawa, Pak Paul. Tapi ternyata remaja kita tidak bisa menerima itu.

PG : Saya kira intinya adalah penjelasan firman Tuhan itulah yang harus kita lakukan dengan lebih baik sehingga tidak terdengar menghakimi dan tidak hanya memfokuskan pada penampakan luar. Jadikita masuk ke lebih dalam, nah daripada mempersoalkan yang lahiriah saya kira lebih penting membangun kehidupan rohani anak-anak remaja kita.

GS : Tetapi apakah remaja ini sudah bisa membayangkan hal-hal yang ideal seperti itu, Pak Paul?

PG : Kita akhirnya frustrasi ya kenapa kita lempar, kita tanam benih-benih firman itu tapi rasanya tidak ada dampaknya pada diri anak remaja kita. Namun sesungguhnya, firman yang telah mereka dngar itu tertanam pada benak mereka dan karena tertanam suatu hari kelak tatkala dibutuhkan itu akan bertunas dan bisa mengingatkan mereka untuk tidak melakukan hal-hal salah yang sedang mereka pikirkan untuk lakukan.

Jadi jangan kita kecewa, putus asa, tidak ada gunanya, tidak. Firman yang kita tebarkan akan ada hasilnya untuk anak-anak remaja kita.
GS : Ya tetapi itu memang membutuhkan ketekunan, ketelatenan, membutuhkan pendekatan yang baik kepada anak-anak remaja kita. Mungkin Pak Paul bisa menyampaikan ayat firman Tuhan yang bisa menolong orang tua maupun anak remaja.

PG : Firman Tuhan yang akan saya kutib adalah Roma 12:2, ayat yang sangat kita kenal yaitu "Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi hendaklah kita berubah oleh embaharuan akal budi kita.

Tujuannya adalah supaya kita mengenal atau mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan." Nah, saya mau menerapkan ayat ini bukan hanya untuk remaja tapi juga untuk kita Pak Gunawan, kita sebagai orang tua kita juga harus rohani, kalau tidak rohani kita juga tidak mungkin akan mengerti inti firman Tuhan, isi hati Tuhan sendiri, tidak mungkin. Akhirnya kita hanya bisa mengutib dan melontarkan ayat-ayat itu tanpa bisa menerapkannya dalam kehidupan anak-anak kita. Kita mesti diperbaharui dulu, kita mesti mempunyai kehidupan rohani yang baik sehingga dilihat oleh anak-anak remaja kita. Akhirnya waktu kita datang kepadanya, berbicara kepadanya kita pun memiliki wibawa rohani. Sehingga ayat yang kita sampaikan, bimbingan yang kita lakukan kepadanya akan lebih efektif dan dia akan lebih tanggap. Dia mendengarkan masukan dari seorang yang rohani, bukan hanya orang yang bisa berbicara tapi orang yang berbuat, nah ini akan jauh lebih menyentuh hatinya. Dan sekali lagi saya tekankan remaja lebih mudah berubah kalau hatinya tersentuh, jadi penjelasan yang bersifat rasional itu tidak terlalu efektif mengubah remaja, kalau hatinya yang tersentuh dia akan lebih mudah untuk berubah.
GS : Berarti remaja pun bisa mempunyai hati yang lembut sebenarnya, Pak Paul ya.

PG : Bisa, dan firman Tuhan kalau sudah masuk menyentuh hatinya akhirnya bisa mengubah perilakunya pula.

GS : Bukankah pertobatan banyak terjadi pada masa remaja juga.

PG : Tepat sekali.

GS : Terima kasih banyak Pak Paul, untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Remaja Bergolak." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs atau website kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



2. Masalah Remaja 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T002A (File MP3 T002A)


Abstrak:

Dampak kehidupan orangtua dan cara orangtua membesarkan anak benar-benar besar sekali pengaruhnya pada perkembangan anak remaja. Anak remaja membutuhkan kekonsistenan.


Ringkasan:

Dr. James Dobson, beliau adalah pakar konseling Kristen di Amerika Serikat yang dikenal dengan sindikat radionya Fokus on the Family pernah berujar bahwa, tidak ada jaminan bahwa orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik. Maksudnya adalah akan ada kasus di mana anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang solid, yang baik, yang mengasihi mereka, yang mendidik mereka dengan baik dan sehat juga akan memilih jalan yang keliru. Contoh cerita di Alkitab mengenai anak yang hilang.

Anak-anak adalah produk langsung dari orang tua, anak-anak produk tidak langsung dari pendidikan atau sekolah, anak-anak juga bukan produk langsung gereja tapi anak-anak produk langsung orang tua. Jadi kita harus mengakui bahwa dampak kehidupan orang tua dan cara orang tua membesarkan anak benar-benar besar sekali pada perkembangan anak remaja.

Dampak yang terjadi antara orang tua pada anak, sehingga anak itu menjadi produk langsung dari orang tua:

  1. Yang kelihatan/yang nampak
    Orang tua sebetulnya adalah contoh atau model hidup bagi si anak, maksudnya anak-anak itu sebetulnya sejak kecil belum tahu yang namanya gaya berjalan, gaya bicara seperti apa, tetapi anak itu mengetahui bagaimana berjalan dan berbicara dari orang tua.

  2. Yang tidak nampak
    Kalau marah-marah menjadi gaya ekspresi orang tua menghadapi stres, anak tanpa disadari akan mempelajari hal ini, anak akan mengadopsi cara menghadapi stres yakni dengan marah-marah, menggerutu. Misalnya lagi kalau si ibu menangis harus menutup pintu di kamar, tidak mau bertemu dengan ayah atau anak-anak, nah si anak tanpa disadari juga akan mencontoh perilaku itu, yakni kalau lagi sedih, kalau lagi tertekan, mengurung diri di kamar sebab itulah yang mereka saksikan tatkala anak itu masih kecil.

Hal yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam menghadapi anak-anak remajanya adalah:

  1. Orang tua harus memiliki kehidupan yang konsisten.
    Anak-anak remaja menuntut bukti, anak-anak remaja memasuki usia di mana mereka bersifat idealistik. Jadi anak-anak remaja ini membutuhkan kekonsistenan, bukan dalam perkataan tapi dalam hidup itu sendiri. Tatkala anak-anak menemukan kontradiksi dalam keluarga, anak-anak itu akhirnya cenderung untuk membangkang, menolak nilai hidup orang tuanya.

  2. Orang tua harus juga memberikan pengarahan.
    Orang tua harus bisa mengontrol anak, memantau perbuatan si anak. Anak-anak remaja akan melihat orang tua sebagai pengarah hidup mereka. Mungkin anak menolak atau berontak, tapi kalau orang tua bisa memberikan kejelasan akan arah yang benar, si anak-anak remaja sedikit banyak tetap akan mempunyai pegangan bahwa inilah yang diharapkan oleh orang tuanya, inilah jalan yang benar, inilah yang seharusnya dia tempuh.

Yang perlu dilakukan oleh remaja sendiri yaitu:

  1. Menerima orang tua sebagai manusia yang tidak sempurna.

  2. Menyadari bahwa orang tua acap kali mengambil tindakan yang tidak disukai oleh anak remaja karena ketakutan orang tua. Yang biasanya dinyatakan dengan melarang berbuat hal itu atau hal ini.

Amsal 23:22-24 berkata: "Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian. Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau." Ini adalah nasihat dari firman Tuhan, meski orang tua mungkin kurang benar tapi remaja bertanggung jawab untuk hidup benar sesuai dengan yang Tuhan sudah tunjukkan kepadanya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hubungan Remaja dengan Orang Tuanya". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kalau kita mengamati-amati kehidupan rumah tangga atau keluarga-keluarga itu, kadang-kadang ada suatu keluarga yang relatif baik bahkan orang tuanya cukup terpandang dan sebagainya tetapi kita bisa mengamati bahwa anak-anaknya itu nakal-nakal dan bermasalah, entah di sekolah, entah di gereja dan sebagainya. Itu sebenarnya bagaimana Pak Paul?

PG : Apa yang tadi Pak Gunawan katakan itu juga pernah dikatakan oleh Dr. James Dobson, dia adalah seorang pakar keluarga yang bermukim di Amerika Serikat, dia juga pernah membagikan pengamatanya bahwa dia pernah berjumpa dengan anak-anak Tuhan, orang-orang Kristen yang baik, orang tua yang peduli dengan anak, membesarkan anak dengan teliti dengan sebaik-baiknya, tapi setelah anak-anak itu remaja dan besar ternyata ada yang bermasalah.

Rupanya kita tidak bisa memastikan hasil akhirnya Pak Gunawan, memang kita dituntut untuk memberikan yang terbaik, menjaga anak-anak kita, membesarkan mereka dengan sebaik-baiknya. Tapi sebagai orang tua kita harus mengakui bahwa kita terbatas dan anak-anak itu mempunyai pilihannya dan pilihan itulah yang akan menentukan jalan hidup si anak tatkala dia akil baliq.
GS : Tetapi pengaruh kehidupan orang tua ayah maupun ibu pasti sangat besar terhadap kehidupan anak-anak remaja ini, Pak?

PG : Betul sekali, jadi begini Pak Gunawan, saya hendak mengakui bahwa adakalanya anak-anak bertumbuh besar tidak sesuai dengan harapan kita, meskipun dia dibesarkan di dalam rumah tangga yang elatif sehat, yang kuat, tidak sempurna tapi relatif sehat.

Tapi si anak akhirnya mengambil pilihan yang salah dan menimbulkan masalah bagi keluarganya tapi setelah saya mengatakan semua itu saya juga ingin mengatakan satu hal yaitu pada umumnya anak-anak bermasalah merupakan wujud atau akibat dari orang tua yang bermasalah. Dengan kata lain lebih seringnya anak-anak itu bukanlah penyebab masalah dalam keluarga, justru mereka merupakan buah dari masalah yang dialami oleh orang tuanya.
WL : Tapi uniknya begini Pak Paul, saya sering menemukan banyak kejadian yaitu keluarga-keluarga yang cukup baik, misalnya mempunyai 5 anak, yang empatnya OK, sekolahnya bagus, prestasinya bagus, waktu kerja juga bagus, tapi ada satu yang "menyimpang" atau bermasalah, membuat malu keluarga dan sebagainya. Kemudian saya sering mendengarkan komentar entah dari keluarga itu maupun dari yang mengamati mengatakan itu biasa, dari 5 anak ada satu agak lain, itu sudah lumrah sering begitu, bagaimana ya Pak Paul?

PG : Kita tidak bisa menyediakan atmosfir rumah yang persis sama untuk setiap anak Ibu Wulan. Adakalanya misalnya begini pada waktu anak pertama sampai anak keempat, si orang tua itu relatif daam kondisi rumah yang lebih sering berada bersama dengan anak-anak, karena misalkan bisnis mereka belum berkembang besar.

Pada waktu anak kelima lahir, bisnis mereka berkembang akibatnya si orang tua jarang di rumah. Apa yang terjadi, si anak yang bungsu ini paling diabaikan, paling sedikit menerima perhatian dari orang tuanya. Sehingga akhirnya paling tidak menerima pengawasan, pengarahan, tingkah lakunya yang bermasalah di rumah luput dari perhatian orang tuanya, tidak ada yang mengerem si anak itu. Nah akhirnya dia seperti banteng yang liar, nabrak sini, nabrak sana orang tuanya terkejut dan berkata apa yang terjadi, anak pertama sampai yang keempat baik-baik saja kok anak yang kelima bisa begini. Nah, karena kondisi rumah yang sudah berbeda. Contoh yang lain lagi Ibu Wulan, anak pertama hingga anak keempat kebetulan mempunyai tingkat intelegensia yang tinggi, tidak semua anak mempunyai tingkat IQ yang sama. Misalkan anak pertama hingga keempat nilai sekolahnya selalu bagus, karena si orang tua menganggap anak kelima juga pasti sama dengan anak-anak yang sebelumnya, dia akhirnya memasukkan si anak kelima ke sekolah yang menuntut tinggi, nah akibatnya si anak menderita luar biasa. Masalahnya juga adalah si anak menderita tekanan karena tanpa disadarinya si orang tua itu membanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya. Kenapa kamu tidak bisa sementara kakakmu bisa, belum lagi di sekolah mungkin saja guru-guru membandingkan si anak bungsu ini dengan kakak-kakaknya, akibatnya dia tertekan. Dialah yang akhirnya menyimpang dalam pertumbuhannya dan menciptakan masalah.
GS : Berarti faktor terbesar ada pada orang tua di dalam pembentukan anak ini, nah itu seberapa jauh pengaruh orang tua terhadap pertumbuhan anak remaja ini?

PG : Ada dua kategori Pak Gunawan, dampak orang tua pada anak-anaknya. Yang saya sebut yang nampak dan tidak nampak. Yang nampak adalah orang tua itu sebetulnya contoh atau model hidup bagi si nak.

Si anak itu akhirnya akan meniru segalanya yang dilihat pada orang tuanya, cara jalannya, cara bicaranya, cara dia menyampaikan sesuatu, wajahnya, gerak-gerik tangannya, itu hal-hal yang jelas nampak dan itu juga yang akan ditiru oleh si anak. Selain dari yang nampak dan yang jelas itu anak juga sebetulnya akan meniru yang tidak nampak atau yang tidak terlalu langsung. Yaitu apa, si orang tua itu kalau ada masalah dalam waktu sekejab meledak marah, mungkin saja tidak marah dengan si anak tapi marah dengan orang yang sedang bermasalah dengannya. Dia mungkin berteriak, dia mungkin membanting telepon, nah tindakan-tindakan ini juga dilihat oleh si anak dan tidak bisa tidak anak sedikit banyak terpengaruh oleh tindakan orang tua ini. Akibatnya ada hal-hal yang orang tua sebetulnya tidak ingin sampaikan atau berikan kepada si anak, tapi sudah terlanjur diterima oleh si anak karena terlihat oleh si anak. Jadi tanpa disadari hal-hal yang buruk itu menjadi bagian dari si anak, waktu dia sudah mulai besar kalau dia misalkan stres karena sekolah atau apa atau ada urusan dengan temannya, di rumah dia juga uring-uringan dan kalau dia uring-uringan juga banting pintu, banting telepon dan berteriak marah, meledak, nah dari manakah itu dari yang dilihat sebelumnya.
GS : Tapi kedua-duanya terlihat oleh anak, tapi yang Pak Paul pisahkan antara yang terlihat dan tidak terlihat itu apa maksudnya?

PG : Maksud saya begini, yang jelas nampak itu maksud saya yang lebih kelihatan sehari-hari, cara jalan, cara bicara dan sebagainya. Yang namanya marah itu tidak terlihat langsung setiap hari krena si tidak marah setiap hari.

Namun si orang tua baru menyadari bahwa sebetulnya si anak itu sudah mengadopsi gerak marahnya si orang tua. Kapan tahunya, yaitu waktu orang tua melihat si anak marah. Sebelum-sebelumnya si anak tidak marah, biasa-biasa saja sehingga tidak nampak, baru terlihat jelas sewaktu ada masalah.
WL : Misalnya juga kalau orang tua hidup penuh curiga kepada orang lain, mungkin anak walaupun orang tua tidak bilang kamu harus curiga kepada siapa-siapa, tetapi anak mau tidak mau itu langsung menjadi bagian dari diri dia itu ya Pak Paul?

PG : Benar sekali, jadi ada orang tua yang sedikit-sedikit memperingati anaknya, kamu itu jangan percaya dengan si ini, jangan percaya dengan si itu nah akhirnya si anak bertumbuh besar penuh dngan ketidakpercayaan kepada orang yang di sekitarnya.

Nah, orang tua mungkin tidak mengharapkan si anak menjadi orang yang sama sekali tidak bisa percaya kepada manusia, tapi karena itulah yang disuguhkan oleh orang tuanya dan cukup sering, akhirnya si anak bertumbuh besar tidak mempunyai percaya pada orang jadi justru relasi dengan orang-orang sangat dangkal dan sangat sedikit. Nah, orang tuanya yang berbicara seperti itu mungkin masih tetap banyak teman, tetap mempunyai sahabat meskipun ada sebagian yang tidak terlalu dekat dengannya, tapi si anak sama sekali tidak mempunyai sahabat.
GS : Tapi Pak Paul, sebagai remaja bukankah dunianya lebih luas artinya dia melihat lebih banyak orang di sekelilingnya tiap-tiap hari dan dia mulai bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik.

PG : Anak sendiri memang akan juga berinteraksi dengan lingkungannya dan akan menetapkan pilihan-pilihannya. Tapi justru ini yang harus kita sadari Pak Gunawan, si anak itu sering kali tidak meetapkan pilihannya dalam kefakuman nilai, dia sudah mempunyai nilai-nilai tertentu.

Dari manakah dia memperoleh nilai-nilai tersebut? Dari orang tuanya, nah justru nilai-nilai itu yang sudah menggenangi benaknya atau hati nuraninya itu yang nanti akan memandu dia waktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi kalau dalam dirinya sudah ada modal tidak percaya pada orang, dia memang cenderung menafsir perilaku teman-temannya itu sebagai tindakan-tindakan yang tidak bisa dipercaya, janjinya tidak bisa ditepati, kata-katanya tidak konsisten dan sebagainya. Jadi akhirnya si anak makin mengkonfirmasi yang dikatakan oleh orang tuanya bahwa manusia tidak bisa dipercaya. Dengan kata lain apa yang telah tertanam itu cenderung memandu kita waktu kita berinteraksi dengan kehidupan ini.
WL : Pak Paul, anak-anak juga remaja kalau ketemu guru yang pas, yang dia cintai, yang dia hormati pasti segala yang guru itu sampaikan benar-benar dia terima, jadi kalau pas ketemu dengan guru yang baik dan menanamkan nilai-nilai yang baik ya bersyukur, tapi kalau misalnya tidak itu juga parah, berarti ada dampak juga yang tidak langsung dari luar selain dari orang tua, Pak Paul?

PG : Betul, jadi selain orang tua pada akhirnya anak-anak itu akan sangat dipengaruhi oleh para pendidik, maka ya dapat saya simpulkan orang yang berpengaruh besar dalam kehidupan anak sebetulna selain dari orang tua pada akhirnya para pendidik, para guru.

Karena dia akan bertemu dan berinteraksi dengan pendidik berjam-jam setiap hari, jadi benar-benar pendidik mempunyai kesempatan emas untuk bisa menanamkan nilai dan pengaruh yang positif pada diri anak.
GS : Kalau begitu faktor apa yang membuat bahwa pengaruh orang tua itu jauh lebih besar daripada para pendidik atau guru itu, Pak Paul?

PG : Faktor pertama adalah orang tua sudah terlibat pada kehidupan anak sejak usia dini. Secara umum dapat kita katakan bahwa semua yang terjadi di usia dini itu cenderung mempunyai efek mencetk.

Efek mencetak itu artinya efek yang benar-benar menggenggam dan susah dilepaskan. Jadi misalkan ketakutan yang kita alami pada masa dini, kita menonton film misalnya film horor pada usia misalkan baru 4 tahun dan belum bisa memahami bahwa ini sebuah film dan fantasi tapi karena kita mau menonton akhirnya kita mau melihat adegan yang menyeramkan itu. Bisa jadi hal-hal seperti ini yang akhirnya sangat mempengaruhi kita, kita sangat takut dengan ketegangan. Berbeda sekali kalau misalnya kita tidak mengalami hal seperti itu, kemudian pada usia 20 tahun kita menonton film horor nah untuk kita menonton kita akan berkata ini film dan tidak terganggu sedikit pun. Jadi sekali lagi efek yang ditimbulkan pada masa dini biasanya lebih mencetak, lebih menggenggam dan si anak itu akan lebih sukar untuk lepas darinya. Nah orang tua berada di posisi mencetak karena orang tua sudah berada bersama anak sejak awal. Dan yang kedua adalah kenapa pengaruh orang tua lebih besar daripada pengaruh orang-orang di luar rumah, karena orang tua berada dengan anak jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang lain. Dia yang mengurusi anak, dia yang bersama anak pada malam hari atau siang hari dan sebagainya. Dan yang ketiga adalah kenapa pengaruhnya lebih besar, karena justru mereka orang tua jadi si anak mempunyai ikatan batiniah. Dia dimarahi, dia disakiti hati oleh orang lain tidak akan sama dampaknya dengan kalau dia disakiti oleh orang tuanya sendiri. Dia dikatakan bodoh oleh orang di luar ya pasti tidak enak tapi dampaknya tidak akan sama kalau orang tuanya yang menghina dia dan berkata kamu bodoh dan sebagainya. Jadi karena justru ini orang tua adanya ikatan batiniah itu, nah apa yang orang tua lakukan biasanya efeknya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan orang lain.
GS : Tetapi di samping itu Pak Paul, saya juga percaya bahwa faktor si remaja itu sendiri juga menentukan dia menjadi seseorang yang bisa berpola tingkah laku baik atau tidak.

PG : Pada akhirnya si anak remaja akan mendapatkan kesempatan untuk memilih, ini yang tadi saya sudah singgung dari awalnya. Kadang-kadang si anak remaja mengambil pilihan yang keliru karena fator teman-teman, tidak mau kehilangan muka, mau dianggap berani dan sebagainya.

Akhirnya memutuskan dengan keliru dan itulah yang terjadi pada cukup banyak anak-anak kita.
GS : Kalau seandainya dia mau tidak mencontoh orang tuanya ayahnya atau ibunya, apa yang harus dilakukan?

PG : Si anak memang sebelumnya dia bisa lepas dari ini semua, saya memang juga harus kembalikan lagi pada orang tua. Sebab sekali lagi orang tua berpengaruh terlalu besar kepada si anak dan nani saya akan masuk pada apa yang bisa anak-anak lakukan.

Tetapi ada satu hal yang ingin saya tinggalkan pada orang tua yaitu orang tua harus memiliki kehidupan yang konsisten, kalau tidak konsisten itu akan membuka peluang munculnya masalah di rumah. Anak-anak remaja meminta orang tuanya konsisten, apa yang dikatakan mohon itu yang diperbuat, jangan sampai orang tua hanya bisa mengatakan tapi tidak bisa melakukannya. Wah.....itu benar-benar mengurangi wibawa orang tua sehingga anak-anak tidak bisa lagi menghormati, begitu anak-anak remaja tidak lagi menghormati orang tuanya gugurlah otoritas orang tua, gugurlah kemampuan orang tua untuk bisa mengerem tindakan-tindakan si anak yang salah. Jadi jangan sampai kehilangan wibawa karena kehidupan yang tidak konsisten.
WL : Pak Paul, waktu remaja menemukan orang tuanya tidak konsisten seperti itu biasanya terus kecewa. Mereka pada masa itu terus berani ngomong, protes dan sebagainya, cuma sering kali disayangkan banyak orang tua yang tidak mau mengoreksi diri justru marah dan sebagainya, padahal ini moment yang penting sebelum anak justru putus asa sama sekali kemudian beralih ke luar rumah. Maksudnya bagaimana ini orang tua sering kali tidak jeli melihat ini sebagai moment yang penting untuk mereka koreksi diri.

PG : Memang yang sering terjadi adalah ini Ibu Wulan, mereka para orang tua tidak menyadarinya sampai anaknya menimbulkan masalah di luar. Tidak mau sekolah, memakai narkoba, baru orang tua terangun dan berkata oh......anak

saya bermasalah. Nah sering kali orang tua berkata kami tidak tahu anak kami bermasalah, masalahnya bukannya orang tua tidak tahu tapi orang tua memang tidak melakukan fungsi kontrol yang seharusnya. Si orang tua tidak bisa hanya mendiamkan anaknya semaunya pergi dengan siapapun juga, orang tua memang harus terlibat dan melihat semua ini, sehingga tanda-tanda anak-anak mulai bermasalah bisa ditangkap langsung oleh orang tua kalau itu terjadi. Jadi orang tua mesti melakukan fungsinya, tadi saya sudah katakan jangan sampai tidak konsisten, jangan sampai kontradiksi, apalagi kontradiksi antara ayah dan ibu itu akan semakin mempersulit masalah. Yang kedua yang ingin saya tekankan pada orang tua adalah orang tua harus juga memberikan pengarahan, tadi saya sudah singgung fungsi kontrol nah orang tua harus bisa mengontrol anak, memantau perbuatan si anak. Jadi kalau dia mulai melenceng, orang tua bisa langsung melihatnya. Berikutnya orang tua juga harus memberikan pengarahan. Saya tahu ada sebagian orang tua yang begitu demokratis dan berkesimpulan bahwa kami tidak perlu memberikan pengarahan, anak ini bisa memutuskan sendiri. Oh....tidak, kalau kita memberikan pengarahan kepada anak untuk sikat gigi, ya kita harus memberikan pengarahan untuk hal-hal yang lebih penting dari sikat gigi. Kalau untuk mandi kita suruh mandi sehari dua kali, mengapakah untuk yang lebih penting dari mandi kita tidak mau berikan pengarahan, jadi orang tua mesti memberikan pengarahan. Dan anak-anak termasuk anak remaja akan melihat orang tua sebagai pengarah hidup mereka. Mungkin anak menolak, mungkin anak berontak tapi kalau orang tua bisa memberikan kejelasan akan arah yang benar itu si anak-anak remaja sedikit banyak tetap akan mempunyai pegangan itu bahwa inilah yang diharapkan oleh orang tuanya, inilah jalan yang benar, inilah yang seharusnya dia tempuh. Jangan sampai rumah kita menjadi rumah yang vakum pengarahan, anak-anak dibiarkan hidup dan memutuskan sendiri tanpa bimbingan dari kita.
GS : Itu memang sangat ideal tapi sering kali tidak seideal itu Pak Paul, nah apa yang perlu dilakukan oleh si anak remaja ini?

PG : Nah, sekarang kita masuk ke anak remajanya Pak Gunawan, tadi Pak Gunawan sudah menyinggung orang tua tidak ideal, tidak sempurna, anak-anak remaja harus menerima itu bahwa orang tua merekatidak sempurna, tidak seperti yang mereka harapkan, tidak sebaik yang mereka dambakan, tidak sesabar yang mereka impikan, tidak terlalu mempunyai pengertian seperti yang mereka inginkan, nah ini adalah point pertama.

Point yang kedua adalah anak-anak remaja menyadari bahwa orang tua acapkali mengambil tindakan yang tidak disukai oleh anak remaja, tapi orang tua mengambil tindakan itu karena sering kali orang tua mengasihi anak remaja. Mereka takut hal-hal yang buruk itu akan menimpa anak mereka, jadi karena itulah orang tua kadang-kadang misalkan terlalu khawatir, terlalu mau mencampuri urusan anak, nah itu motivasinya adalah karena memang orang tua takut pada hal-hal buruk yang akan menimpa anak-anaknya.
WL : Tapi Pak Paul, dalam usia anak remaja bukankah belum bisa berpikir sejauh orang tua misalnya khawatir begini, begini, nah orang tua lebih bisa melihat ke depannya dan akibatnya. Tapi remaja berpikir aduh....terlalu banyak peraturan, terlalu curiga, takut begini, begini. Sering kali orang tua itu tidak menjelaskan dengan baik, misalnya kalau kamu begini, atau diajak berbincang-bincang seperti orang dewasa, tapi orang tua jangan hanya berkata begini, begini, ABCD sudah, pokoknya peraturannya ini dan kamu harus lakukan, ya akhirnya anak remaja sering kali berontak, Pak Paul?

PG : Itu tepat sekali, dan itulah yang terjadi dalam rumah tangga saya juga Ibu Wulan. Istri saya jauh lebih bisa berbicara dengan anak-anak dan saya itu kalau sedang emosi dan marah benar-bena lebih bersifat metodik, 1, 2, 3, ini.

Nah, anak saya kurang bisa terima, istri sayalah yang menjadi penyambung lidah, menjadi penerjemah, dia yang menjelaskan kepada anak-anak kenapa tadi papa begini, kenapa tadi papa begitu. Nah saya sendiri menyadari kalau suhu saya sudah turun baru saya bisa ngomong dengan lebih baik kepada anak-anak, baru saya bisa menjelaskan, baru saya bisa meminta mereka juga berbicara kepada saya. Jadi betul sekali anak-anak memang membutuhkan penjelasan dari orang tua bukan saja pengarahan.
GS : Dalam hal ini mungkin Pak Paul ada pesan firman Tuhan khususnya terhadap anak-anak remaja kita.

PG : Ada Pak Gunawan, saya akan bacakan dari Amsal 23:22-25, "Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. Belilah kebenarandan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah dia beria-ria dia yang melahirkan engkau." Ini adalah nasihat firman Tuhan, meski orang tua mungkin kurang sempurna, kurang tepat, kurang benar tapi remaja bertanggung jawab untuk hidup benar sesuai dengan yang Tuhan telah tunjukkan kepadanya. Anak remaja tidak bisa berkata karena orang tua saya tidak benar, maka sekarang saya akan hidup tidak benar, oh..tidak, pilihan untuk hidup benar sekarang tetap berada di tangan si remaja, dia tidak bisa melimpahkan tanggung jawab itu kepada orang tuanya.

GS : Dan juga orang tua tidak bisa menuntut anak remajanya tanpa dia memberikan pengarahan dan contoh atau teladan yang baik. Terima kasih sekali Pak Paul dan juga Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hubungan Remaja dengan Orang Tuanya." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id dan perkenankan kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



3. Masalah Orangtua dan Remaja


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T004B (File MP3 T004B)


Abstrak:

Remaja adalah masa yang sedang mengalami pergolakan dan disinilah orangtua harus mengarahkan remaja pada rel yang telah ditetapkan.


Ringkasan:

Dr. James Dobson pernah mengeluarkan satu kalimat bahwa anak yang dibesarkan di keluarga yang baik, sehat belum tentu akan bertumbuh besar menjadi anak yang baik-baik. Sebagai orang tua kita menyadari bahwa kita bukanlah orang tua yang sempurna namun dalam keterbatasan pengakuan kita, kita berupaya sebaik-baiknya menanamkan nilai moral kristiani yang baik kepada anak-anak kita. Tapi tatkala mereka menginjak usia remaja atau dewasa awal mereka berbalik arah. Hal-hal dibawah inilah yang sangat perlu diketahui oleh orang tua, kenapa itu bisa terjadi:

  1. Orang tua harus memahami dinamika pertumbuhan remaja. Remaja adalah usia yang penuh pergolakan, karenanya remaja akan mengalami pergumulan untuk bisa berjalan di rel yang benar atau yang telah ditetapkan oleh orang tuanya. Secara rasional dia sudah sadar apa yang harus dia lakukan, namun gejolak internal dalam dirinya cenderung menghasilkan letupan-letupan keinginan untuk bereksperimen. Kalau dalam hal ini orang tua tidak bisa memahami, bisa terjadi tabrakan muka denga muka, artinya apa, ibarat kambing yang sedang berkelahi, dua-duanya akan mengadukan kepala mereka dan membenturkannya dengan keras. Timbullah sikap memberontak anak. Salah satu kebutuhan hakiki pada diri kita manusia adalah kebutuhan untuk dimengerti. Demikian juga dengan anak, anak butuh dimengerti. Sewaktu dia merasa tidak dimengerti oleh orang tua dia akan mencari orang yang bisa mengertinya, biasanya teman- temannya. Masalahnya adalah kalau dia berteman dengan anak yang kurang baik, dia pasti akan menerima pengaruh atau nilai-nilai moral yang tidak baik juga.

  2. Anak bisa mengalami frustrasi, sewaktu dia merasa ada salah satu orang tuanya yang tidak memahami dirinya dan terus beradu tanduk dengan dia. Dalam hal ini anak cenderung lebih tergoda untuk mengekspresikan rasa frustrasinya di luar.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai orang tua.

  1. Amsal 15:1 , "Jawaban yang lemah lembut, meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." Ini adalah titik awal yang baik yakni sewaktu anak mulai melakukan hal yang tidak kita inginkan sebisanya kita tetap menggunakan kata-kata yang lemah lembut. Artinya kita bukannya tidak boleh marah atau tidak boleh menegur dia, boleh tetapi harus hati-hati.

  2. Rasul Paulus juga menghimbau kepada kaum ayah agar "jangan membangkitkan amarah pada diri anak." Jadi memang harus ada keseimbangan, artinya adalah jangan kita itu segan untuk tegas kepada anak, anak yang perlu dihukum; dihukum. Tapi waktu menghukum jangan menghina sehingga itu membangkitkan kebencian anak kepada kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th., akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Masalah Orang Tua dan Remaja". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, rupanya perubahan yang begitu cepat di dalam diri dari seorang anak menjadi remaja bukan cuma tubuhnya yang berubah dengan cepat, perubahan tingkah lakunya itu sering kali membuat orang tua bertanya-tanya. Rasanya tidak siap menghadapi perubahan yang begitu cepat, nah sebenarnya ketika terjadi perubahan-perubahan seperti itu masalah apa yang bisa timbul antara orang tua dan remaja, Pak Paul?

PG : Sebetulnya pada masa remaja, memang hubungan orang tua-anak itu mengalami ujian. Saya sebut ujian sebab seolah-olah kalau sebelum masa remaja itu hubungan orang tua-anak tidak terlalu kat atau tidak kokoh, pada masa remaja mudah sekali untuk retak.

Karena apa, karena akan ada masalah-masalah yang timbul yang terkait dengan dinamika pertumbuhan si anak itu sendiri sebagai seorang remaja. Nah jadi apa nantinya yang sangat diperlukan oleh orang tua supaya anak remajanya bisa melewati masa remaja ini dengan baik tanpa harus mengorbankan si anak remaja ini maupun relasinya dengan orang tuanya. Saya kira yang pertama adalah orang tua harus memahami dinamika pertumbuhan anaknya, apa sebetulnya yang terjadi pada diri anak-anaknya ini. Nah sesungguhnya orang tua tidak perlu belajar karena mereka pernah remaja dulu, tapi saya perhatikan cukup banyak orang tua setelah mereka menjadi orang tua, mereka lupa bahwa mereka pernah remaja. Misalkan pada masa remaja, apakah anak-anak akan lebih senang belajar atau lebih senang ngobrol dengan temannya? Ya hampir semua anak remaja akan lebih senang ngrumpi, ngobrol dengan teman-temannya, apalagi sekarang sudah ada fasilitas chating di komputer walaupun tadi selama 8 jam di sekolah sama-sama dengan temannya. Tapi memang mereka tidak bisa berbicara banyak hanya pada masa istirahat saja. Pulang ke rumah mau ngomong lagi di telepon atau di internet. Jadi kalau orang tuanya memarahi si anak, ya boleh memarahi tapi jangan memberikan kesan kepada si anak bahwa si orang tua itu tidak pernah remaja. Dia pernah remaja, pahamilah bahwa anak-anak pada masa remaja memang akan begini, menaruh barang sembarangan, tidak mau menaruh di tempatnya, diberitahu, diberitahu tetap saja begitu. Contoh, saya beri tahu anak saya, setiap pagi tolong gorden jendelamu dibuka supaya matahari bisa masuk, saya tidak bisa menghitung lagi saya berbicara seperti itu, dan apa yang terjadi? Sering kali tidak pernah dibuka, jadi sembilan dari sepuluh hari saya yang harus membuka gorden itu. Tapi ada juga yang berhasil, misalkan anak saya dulu memakai kacamata sekarang tidak lagi. Waktu itu dia pakai kacamata saya perhatikan kacamatanya jarang dia cuci, jadi saya saja dari luar bisa melihat kacamata itu berkabut, kotor, mulut saya sampai rasanya capek beritahu dia cuci, cuci, bersihkan kacamatamu. Saya biasakan diri setiap pagi mencuci kacamata saya dan saya ajarkan dia untuk melakukan hal yang sama, tapi tidak dilakukannya. Akhirnya apa yang saya lakukan, saya ambil saya cucikan, saya cucikan sampai bersih sekali. Nah lama-kelamaan apa yang dia alami, ya..ya..kalau dicuci bisa melihat dengan jelas, kalau tidak dicuci berkabut, jadi lama-lama dia sadar tidak enak berkabut, nah lama-lama dia cuci sendiri. Tapi apakah dalam segala hal saya beritahu apa, berhasil dituruti oleh anak saya? Ya tidak, nah orang tua harus menerima hal itu. Kalau hal itu bukan hal yang primer, orang tua hendaknya memahami itulah remaja. Kalau Sabtu maunya pergi dengan teman-teman, tidak mau diajak pergi oleh orang tua, itu pun dinamika remaja. Kita pun waktu masih remaja dulu sudah umur 15, 16 tahun ya lebih senang pergi dengan teman daripada pergi dengan orang tua. Jadi point pertama orang tua harus memahami, kalau tidak mau belajar dari buku-buku ya ingat-ingat saja dulu waktu masih remaja. Tapi saya juga sadari ada sebagian orang tua memang kehidupannya dulu terlalu baik, sehingga tidak mengerti seolah-olah dia sendiri tidak pernah mengalami hal ini. Atau dia hidup di bawah orang tuanya yang luar biasa keras sehingga tidak boleh melakukan apa-apa, jadi akibatnya dia juga memang tidak pernah berbuat apa-apa, bukannya tidak mau mau tapi tidak boleh. Jadi sekarang dia menuntut anaknya juga harus seperti itu, tuntutan yang kurang realistis.
WL : Pak Paul, seberapa jauh orang tua memberi batasan kelonggaran kepada anak remajanya, kalau tadi Pak Paul mengatakan lebih banyak mengertilah. Tapi orang tua juga was-was, bisa keterusan, misalnya tidak belajar, ya sudah tidak apa-apa dia mau ke mall eh......besok ke mall lagi, mau ngobrol, ya sudah ngobrol menjadi keterusan Pak Paul?

PG : Ada beberapa kriteria yang bisa kita gunakan Bu Wulan, pertama kita bisa menggunakan kriteria apakah ini akan membahayakan jiwanya. Misalkan akan kita mempunyai kecenderungan untuk panaan, ngebut-ngebutan, kalau naik mobil dengan kita saja maunya ngebut-ngebutan, sudah orangnya tidak bisa diam, panasan.

Nah saya kira sebisanya kalau kita memang mampu jangan ijinkan dia naik motor, jangan belikan dia motor, kita paksa dia untuk menunggu, "nanti kamu setelah dewasa kamu bisa naik mobil, kami ajarkan kamu untuk mengendarai mobil," kalau misalkan itu memungkinkan. Kenapa, sebab kita tahu kalau kita berikan motor dia ngebut-ngebutan itu bisa membahayakan jiwanya. Misalkan dia mau pergi dengan teman-temannya, jam berapa, jam 12 malam dia baru mau keluar nah kita gunakan prinsip yang kedua. Kalau tadi yang pertama apakah itu membahayakan jiwanya, yang kedua kita bisa berkata apakah ini bisa merusakkan jiwanya. Kalau dia pergi dengan teman-temannya jam 12 malam dan kita mulai sadari bahwa dunia gemerlap atau dugem itu yang sekarang sering dikunjungi oleh anak-anak remaja atau pemuda itu tempat atau sarang obat ekstasi dan sebagainya, nah kita juga harus berkata tidak. Nah kalau kita tahu itu akan merusakkan jiwanya kita juga akan larang. Dan yang ketiga adalah apakah itu akan menjauhkan dia dari Tuhan, kalau hal-hal yang dia lakukan ini menjauhkan dia dari Tuhan kita larang. Meskipun kita mungkin akan mengalami pergumulan dengan dia, perdebatan dengan dia, salahnya apa, kenapa ini tidak boleh, tidak, kamu melakukan seperti ini misalnya kamu berbohong dan waktu kamu berbohong kamu berdosa dan pada waktu kamu berdosa kamu mengambil jarak dengan Tuhan, jangan. Jadi kita harus bertindak, kita harus interfensi kalau anak-anak kita memang akan melakukan hal-hal yang membahayakan jiwanya, merusakkan jiwanya atau menjauhkan jiwanya dari Tuhan, nah kita mau jaga ketiga hal itu secara pokok.
GS : Nah sering kali mereka berkata apakah papa dan mama tidak percaya dengan saya bahwa hal itu tidak akan mengganggu jiwa saya atau hubungan saya dengan Tuhan, begitu Pak Paul?

PG : Kadang-kadang kita akan berkata memang kami tidak percaya, jujur, tidak percaya. Untuk hal yang ini, ini, kami tidak percaya. Mereka akan berkata kenapa tidak percaya? Sebab saya pun atu papa pun atau mama pun kalau dalam posisi kamu tidak percaya dengan diri kami.

Misalkan anak kita umur 18 tahun berkata: "Kami mau ke villa ramai-ramai ke puncak gunung dengan teman-teman perempuan," kita tanya: "Dengan siapa?" "Teman-teman perempuan," jawabnya. Siapa? Disebutkan beberapa teman-temannya, "terus tinggalnya?" "Ya satu villa ramai-ramai." Kita berkata: "Tidak!" "Kenapa tidak, Papa-Mama tidak percaya dengan saya?" "Tidak" "Kenapa?" "Sebab papa-mama pun kalau dalam situasi yang sama tidak percaya dengan diri kami, sebab kami ini manusia, tercemar oleh dosa dan kami bisa dicobai oleh iblis dan oleh nafsu kami sendiri. Nah apakah kamu bebas dari semua itu, kalau kamu bebas dari semua itu ya kamu bisa tidak digodai. Tapi kalau kamu masih terbuat dari daging yang tercemar oleh dosa, bisa digoda oleh pencobaan, nah kamu berarti sama rawannya seperti kami." Kita bisa memberikan pengertian dengan berkata: "Apakah kamu percaya kepada papa, kalau papa berkata kepada kamu papa mau pergi dengan tante ini berduaan ke villa ya kamu percaya tidak papa tidak melakukan apa-apa?" Nah si anak untuk membela diri mungkin berkata: "Saya percaya." Nah kita akan berkata: "Kalau kamu percaya, kamu terlalu polos, kamu tidak mengenal bahwa kita ini manusia yang mempunyai kandungan dosa, kita bisa jatuh ke dalam pencobaan." Nah jadi ada hal-hal dengan jelas yang akan kita katakan seperti itu, "Ya, memang kami tidak percaya, sebab bukan kamunya yang kami tidak percaya, kami tidak percaya pada kemampuan kamu seperti kami tidak percaya pada kemampuan kami untuk terus-menerus bisa melawan dosa atau mengontrol diri kami."
WL : Pak Paul, tapi ada banyak anak remaja juga yang berpikir: "Wah....kalau berkata jujur dilarang, tidak dipercaya, kalau begitu bohong saja," tapi dia tidak bilang bohong. Jadi dia misalnya kalau dari contoh Pak Paul tadi, dia pura-puranya menginap di rumah teman si A padahal akhirnya dia tengah malam terus pergi dugem atau dia ke puncak menginap atau apa, nah kalau begitu bagaimana mengatasinya Pak Paul, bukankah tidak ketahuan?

PG : Kalau kita tidak tahu ya tidak tahu, memang itu tidak bisa dihindari namun kita mesti bisa melihat tanda-tanda awal, tanda-tanda dini pada diri anak kita. Misalkan kita mulai melihat degan siapa dia bergaul, itu penting sekali.

Kalau kita mulai melihat anak kita bergaul dengan orang-orang yang rasanya ini mendatangkan pengaruh buruk buat anak kita, o....kita harus interfensi, kita harus kerasi sikap bahwa kita tidak setuju dia main dengan teman-teman ini. Kita jangan sampai di depan teman-temannya manis-manis, tidak apa-apa, teman-temannya pulang kita marah-marah, tidak, kita katakan jelas kami tidak suka teman kamu datang ke sini, dan mungkin anak kita akan berkata kenapa? Dan kita akan katakan teman kamu tidak benar, teman kamu begini, begini kita berikan bukti-buktinya juga. Nah kita bisa juga mengajarkan anak-anak kita perbedaan antara teman yang baik dan orang yang baik, teman yang baik belum tentu orang yang baik. Nah orang yang baik belum tentu teman kita yang baik juga, tapi yang merupakan bagian dari kebenaran adalah orang yang baik bukan teman yang baik. Sebab sesama perampok pun akan baik dengan sesama perampok. Apakah mereka orang yang baik? Tidak, mereka merampok orang, tapi mereka mungkin sekali teman yang baik. Nah hal seperti ini yang kita mesti jelaskan kepada anak-anak remaja kita. Sebab mungkin sekali mereka juga tidak tahu bagaimana membedakan teman yang baik dengan teman yang tidak baik.
GS : Pak Paul, remaja ini mempunyai sikap atau sifat mencoba sesuatu karena mereka belum tahu, nah bagaimana kita mendampingi anak remaja kita yang mulai mencoba sesuatu yang baru, bukankah memang tidak ada salahnya untuk mengetahui sesuatu yang baru, cuma kalau itu berbahaya buat dia kita pun juga melarangnya.

PG : Misalkan ini yang dilakukan oleh anak-anak saya, mereka itu pernah beberapa kali bertanya-tanya kepada saya tentang minuman beralkohol seperti bir atau anggur. Terus saya berkata kepadamereka: "Suatu hari Papa akan belikan dan saya akan minta kamu coba minum," dan saya benar-benar membeli suatu hari ini mungkin 2 tahun atau 3 tahun yang lalu dan saya suruh mereka minum.

Mereka mulai minum tiba-tiba ada satu yang berkata pahit ya, ada yang bilang lagi ya....ya.....tidak enak, pahit. Saya bilang ya memang pahit. Nah kalau anggur saja kamu rasa pahit tunggu sampai kamu minum bir lebih pahit lagi. O.....gitu, mereka tahu. Bahkan kalau anak saya berkata: "Saya ingin cobai rokok seperti apa sih rasanya," saya akan bersedia belikan 1 batang rokok terus dia cobai, daripada dia coba di luar lebih baik dia coba di depan saya. Sebab saya yakin kesan pertamanya waktu dia merokok akan berkata tidak ada enaknya biasa saja dan saya akan berkata ya betul memang biasa saja. Tapi kalau dia mencoba di luar, teman-temannya semua merokok dan dia coba-coba meskipun tidak enak dia mesti bersikap seolah-olah itu enak, itu yang terjadi pada diri saya. Waktu saya merokok begitu tidak enak di mulut saya panas, saya telan asapnya saya batuk-batuk tapi teman-teman semua merokok, ya saya bersikap seolah-olah saya menikmati rokok ini akhirnya benar-benar jadi merokok. Jadi akhirnya ada hal-hal yang kita ijinkan tapi ada batasnya, jangan sampai orang tua berkata: "Kalau begitu supaya anak saya tahu apa itu seks, saya bawa ke pelacur." Kalau itu kebangetan, jangan berdosa, boleh bereksprerimen tapi jangan berdosa itu prinsip yang kita coba tekankan pada anak-anak kita. Kalau mau mencoba silakan, papa di sini ajarkan, bagaimana rasanya anggur, bagaimana rasanya bir, bagaimana rasanya rokok. Tapi kalau dia bilang film porno atau pelacur, kita berkata tidak. Film porno kenapa, kita katakan ini akan meracuni pikiranmu dan apa yang telah kamu tonton hari ini akan tinggal di benakmu mungkin sampai 20 tahun mendatang tidak hilang-hilang dan akan mengotori dirimu. Sehingga waktu engkau melihat wanita, engkau tidak lagi melihat sebagai manusia tapi hanya melihat objek seksual. Jadi ada hal-hal yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak dalam batas-batas eksperimen yang masih wajar, tapi kalau sudah menyangkut dosa kita katakan stop, tidak boleh.
GS : Tapi memang anak remaja ini biasanya lebih cocok dengan temannya daripada dengan kita, jadi kalau dia ingin mengetahui sesuatu atau mencoba sesuatu kebanyakan bersama-sama dengan teman-temannya yang sebaya, Pak Paul?

PG : Ini sebenarnya konsep yang telah berkembang di kalangan masyarakat bahwa anak-anak itu pada masa remaja sebetulnya lebih senang bersama-sama dengan teman-teman sebayanya karena apa, karna mereka sebaya.

Sebenarnya belum tentu itu benar, sebab pada kenyataannya anak remaja sebetulnya tidak berkeberatan dan bahkan cukup senang berteman dengan orang-orang yang lebih tua darinya bahkan ada perasaan bangga dan sebagainya. Saya kira akhirnya yang membedakaan bukan usianya tapi kemampuan orang mengerti si anak. Kenapa remaja senang bersama-sama dengan temannya karena teman-temannya bisa mengertinya dan sama-sama remaja. Ada seorang penulis Kristen yang bernama Jay Kessler dia pernah menulis buku tentang remaja, dan yang dia tekankan adalah ternyata remaja mengeluhkan nomor satu tentang orang tuanya adalah orang tua tidak mengerti mereka. Jadi mengertilah, mengertilah, sebab anak-anak remaja kalau tahu orang tuanya mau mengertinya akan lebih banyak berbicara dengan kita dan terbuka. Kalau dia tahu orang tuanya sedikit-sedikit bilang tidak, tidak mau mengerti kondisinya dia juga akan malas berbicara dengan orang tuanya.
WL : Pak Paul, kita mengerti bahwa masa remaja memang penuh pergolakan, tetapi ada yang mengherankan ada beberapa walaupun tidak banyak anak-anak remaja yang tenang-tenang saja tidak terlalu bergejolak, menurut saja dengan orang tua, apakah itu sebenarnya agak tidak normal atau bagaimana, Pak Paul?

PG : Ada anak-anak remaja yang memang pas sesuai dengan harapan orang tuanya. Misalkan orang tuanya itu mengharapkan anaknya itu rajin belajar, nah si anak memang kebetulan anaknya pandai, dn perhatiannya terhadap buku sangat tinggi, nah itu tidak ada masalah.

Tapi kadang-kadang kebalikannya, orang tua mengharapkan anaknya rajin belajar, di rumah belajar, tapi anak ini energinya terlalu banyak, senangnya sport, senangnya di luar main sepak bola atau apa, nah orang tua menjadi sering marah kepada si anak, lebih banyak konflik. Jadi memang sekali lagi di sini diperlukan kemampuan orang tua memahami si anak, mengerti si anak, bukan saja mengerti dinamika pertumbuhan sebagai remaja yang akan melewati fase-fase ini tapi juga mengerti apa yang dipikirkan oleh si anak, keunikannya dan salah satunya adalah frustrasinya si anak. Anak-anak remaja itu sering kali adalah kelompok masyarakat yang paling banyak tekanan, mereka sebetulnya cukup menderita banyak tekanan. Nomor satu, sekolah itu sudah memberikan beban yang sangat tinggi kepada anak-anak kita dan jangan kita orang tua berpikir beban sekolah itu lebih ringan daripada bekerja, tidak. Saya sudah pernah sekolah, saya sudah pernah bekerja dan sekarang pun saya bekerja, dan saya katakan lebih gampang bekerja daripada bersekolah. Sekolah ada jatuh tempo ujian yang harus kita pelajari tidak ada ampun tidak bisa berkata besok, makalah harus dikumpulkan dan sebagainya. Tekanan itu tinggi sekali dan kita senantiasa dibandingkan dengan sesama kita, nah itu berarti tekanan yang harus dihadapi oleh remaja. Itu sebabnya mereka pun perlu rekreasi, perlu untuk merilekskan mereka, nah kadang-kadang orang tua tidak bisa mengerti itu. Waktu anak-anak di rumah lagi diam-diam mendengarkan musik, orang tuanya marah: "bukannya belajar," dari jam 7 pagi sampai jam 3 sudah di sekolah untuk belajar, setelah mereka pulang mereka harus belajar lagi. Nah di tengah-tengah belajar mereka mau diam-diam mendengarkan musik, dimarahi oleh orang tuanya, "Kenapa buang-buang waktu dengarkan musik, kok tidak belajar!" seolah-olah anak-anak diharapkan dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam belajar terus. Nah celakanya sebagai orang tua akan berbangga hati dan berkata kepada teman-temannya: "Anak saya belajar sampai jam 12 malam." Siapa yang akan mengatakan itu hal yang sehat kalau anak dari jam 7 pagi sampai jam 12 malam hanya mengurung diri di kamar dan belajar, itu justru hal yang tidak sehat. Nah orang tua perlu mengerti bahwa anak-anak perlu rekreasi, berikan waktu untuk dia mendengarkan musik, dia memerlukan sosialisasi berarti biarkan dia pergi dengan teman-temannya asalkan kita pantau dengan siapa dan kemananya kita tahu. Kita berikan dia kebebasan, dia perlu juga mengembangkan dirinya berarti dia sekali-sekali akan berbeda pendapat dengan kita dan kita biarkan itu terjadi, dia perlu juga belajar bertanggung jawab kita biarkan dia mengambil keputusan tapi kita katakan kamu tanggung resikonya. Nah dengan cara-cara seperti itulah anak-anak akhirnya mengembangkan dirinya.
GS : Pak Paul, kalau kita tahu bahwa anak remaja kita sedang frustrasi, apa yang bisa kita lakukan?

PG : Ada dua hal yang akan saya petik dari ayat firman Tuhan, yang pertama Amsal 15:1 berkata: "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membankitkan marah."

Nah ini yang ingin saya tekankan adalah jawablah atau berbicaralah dengan lemah lembut kepada anak-anak remaja kita. Saya harus akui Pak Gunawan, kadang-kadang ini saya gagal, kadang-kadang saya lagi emosi saya berbicara agak keras kepada anak saya, akhirnya saya sesali, saya minta maaf kepadanya. Tapi saya tahu bahwa anak-anak remaja itu mudah sekali menerima permintaan maaf orang tuanya kalau saja orang tuanya berbicara dengan lemah lembut. Anak remaja juga lebih bisa menerima penjelasan orang tuanya dan permintaan orang tuanya asalkan orang tuanya meminta dengan lemah lembut. Kenapa, sebab lemah lembut pertama-tama memperlihatkan kasih sayang orang tuanya tinggi kepada si anak, dan yang kedua mereka direspek oleh orang tuanya. Anak remaja menuntut orang tuanya respek kepada mereka sebab mereka sudah mulai menginjak usia remaja. Jawaban yang kasar itu akan menunjukkan bahwa orang tuanya tidak respek kepadanya, nah akhirnya si anak berpikiran kalau orang tua tidak respek kepada saya, kenapa saya harus respek kepadanya. Nasihat yang kedua saya ambil dari Efesus 6:4 , "Janganlah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, (dan ini nasihat sebetulnya diberikan kepada para ayah). Artinya apa, kalau kita marah, kalau kita menegur anak atau apa jangan membuat anak itu menjadi benci dengan kita. Kadang-kadang perkataan kita yang menyakitkan hati, menghinanya atau apa itu hanyalah menanamkan bibit kebencian anak kepada kita. Nanti waktu anak marah kepada kita, kita bingung dan kita merasa diri kita tidak bersalah apa-apa padahalnya kitalah yang menanamkan bibit kebencian pada diri anak kita.
GS : Jadi kalau timbul masalah antara orang tua dan remaja itu sebenarnya cukup banyak kasus di mana orang tuanya yang bermasalah, Pak Paul?

PG : Dalam pengertian ya kurang memahami si anak, dinamika pertumbuhannya dan kurang bekerja keras untuk mengerti pikiran si anak, maka akhirnya konflik makin sering terjadi.

GS : Remaja pun enggan dekat-dekat dengan orang tuanya karena setiap kali yang keluar adalah nasihat, dilarang ini, dilarang itu, kemudian dia merasa tidak enak.

PG : Betul, dan kita pun juga dengan jujur harus akui kita pun tidak suka berteman dengan orang yang sedikit-sedikit memberi kita nasihat.

GS : Jadi saya rasa perbincangan ini cukup membekali para orang tua yang mempunyai anak-anak remaja yang tentunya tidak gampang pada saat ini. Terima kasih Pak Paul dan Ibu Wulan. Saudara-saudara pendengar, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Masalah Orang Tua dan Remaja." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id dan kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



4. Remaja yang Lari


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T009A (File MP3 T009A)


Abstrak:

Usia remaja berada atau dia sedang pada tahap percobaan yaitu mulai mengambil tindakan yang mengandung resiko. Kemudian apa dan bagaimana orangtua menyikapinya?


Ringkasan:

Berikut adalah kasus seorang remaja putri yang pergi dengan seorang pria, tanpa sepengetahuan orang tua. Ada beberapa kemungkinan kenapa si anak remaja begitu berani melakukan suatu tindakan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Anak remaja berada pada tahap yang disebut eksperimentasi, tahap percobaan. Maksudnya anak-anak pada usia remaja cenderung melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan bermain dengan api atau mulai mengambil tindakan yang mengandung resiko. Dengan alasan sebetulnya adalah mencoba-coba berapa jauh dia bisa melangkah tanpa dia harus mengalami masalah, berapa jauh dia bisa merenggangkan dirinya dan melangkah sehingga dia benar-benar melihat apa yang bisa dia lakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan. Faktor lingkungan juga berpengaruh di sini.

Reaksi orang tua yang biasanya muncul ketika menghadapi anak remajanya ini adalah:

  1. Panik, sebab kita tidak pernah menduga bahwa anak kita akan melakukan hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
  2. Marah, kita marah karena anak melakukan hal yang bagi kita sangat melewati batas, sangat salah.

Yang harus dilakukan orang tua adalah:

  1. Yang paling tepat pada saat anak baru melakukan untuk pertama kali kita ajak dia bicara, karena anak ini sudah remaja, kita mencari tahu siapa pria itu, mengapa pria itu penting baginya sehingga dia rela pergi tanpa memberitahu, kenapa dia rela melanggar perintah atau permintaan kita hanya karena pria tersebut.

  2. Kita juga perlu tahu apa yang dia lakukan dengan pria tersebut. Mungkin dia akan menutupi, itu reaksi yang natural. Tetapi kita perlu tanya secara spesifik, tujuannya adalah agar kita mendapatkan gambaran dengan jelas apa itu yang dia lakukan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun saudara berada, saya Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen selama ± 30 menit akan menemani saudara dalam acara perbincangan seputar kehidupan keluarga. Telah hadir bersama saya Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang bimbingan dan atif mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Juga telah hadir bersama kami Ibu Melany salah seorang pengurus di LBKK. Ikutilah perbincangan kami, karena kami percaya acara Telaga ini pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua.

Lengkap
ME : Pak Paul dan Bu Ida senang sekali pada saat ini saya bisa ikut berbincang-bincang di sini dan boleh saya katakan bahwa ada salah seorang pendengar yang telah menulis surat kepada kita dan menanyakan permasalahan antara seorang ibu dengan anaknya yang berusia 16 tahun. Jadi ibu ini mempunyai 3 orang anak yang besar, yang pertama adalah wanita umurnya 16 tahun seorang remaja. Anak ini tinggal kost di suatu kota dan pada suatu hari anak ini menelpon ke rumah orang tuanya mengatakan bahwa dia akan pergi dengan temannya ke kota lain. Pada saat itu ibu ini tidak mengizinkan anak ini pergi, selang 30 menit kemudian ibu ini kembali mengecek anaknya di tempat kost ternyata anaknya tidak ada. Keesokan harinya ditelepon lagi juga masih belum pulang, kemudian ibu ini merasa sangat khawatir kepada anak remajanya ini, walaupun anaknya terkenal pendiam tapi rupanya akhir-akhir ini anak ini dikatakan cukup nakal. Mengapa dikatakan nakal, karena anak ini berani pergi dengan seorang laki-laki tanpa pamit walaupun orang tua sudah mengatakan tidak boleh. Saya kira masalah seperti ini tidak jarang terjadi dan melalui surat ini juga, ibu ini menanyakan bagaimana petunjuk atau nasihat dari Pak Paul untuk mengatasi anaknya.

PG : Saya ingin menggarisbawahi akan apa yang tadi Ibu sudah katakan yakni bahwa ini adalah surat dari para pendengar Ibu Melany ya. Saya merasa sangat senang sekali karena kami mendapatkan resons dari pendengar dan ternyata ada beberapa surat yang memang sudah masuk ya Bu dan kami akan berusaha untuk membalasnya.

Surat itu pun saya percaya sudah dibalas secara langsung ya dan melalui radio ini atau acara hari ini memang kami berniat untuk mencoba membahasnya agar para keluarga yang lain bisa menimba manfaat. Dalam membahas masalah yang disajikan pada kami melalui surat, kami akan menyamarkan identitas sehingga tidak dapat dikenali lagi agar kerahasiaan tetap terjamin. Namun kasusnya memang kami akan ungkap secara umum agar teman-teman yang lain juga bisa belajar dari masalah ini. Sudah tentu kasus yang tadi Ibu katakan kasus yang cukup sering terjadi pada masa sekarang ini yakni adanya anak-anak yang memasuki tahap pemberontakan, kalau saya boleh katakan itu. Dalam pengertian anak-anak remaja ini yang tadinya penurut dan mendengarkan nasihat dan permintaan orang tuanya tiba-tiba mulai menunjukkan sikap memberontak, tidak lagi mendengarkan apa yang diminta atau nasihat orang tuanya. Dugaan saya remaja putri ini terlibat dalam hubungan kasih dengan seorang pria, jadi dalam hubungan cinta itu si anak remaja rupanya lebih berat terhadap pacarnya dibanding dengan orang tuanya. Nah pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak ibu itu adalah mengapa anak saya sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti ini yakni keluar dari tempat tinggalnya tanpa memberitahu orang tua dan pergi dengan pria lain, kenapa dia sekarang melakukan hal yang seperti ini. Nah ini memang pertanyaan yang harus kita semua mencoba untuk menjawabnya. Saya kira ada beberapa kemungkinan kenapa si anak remaja ini begitu berani melakukan suatu tindakan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Pertama-tama adalah memang anak remaja berada pada tahap yang disebut eksperimentasi, tahap percobaan. Maksudnya adalah anak-anak pada usia remaja cenderung melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan bermain dengan api atau mulai mengambil tindakan yang mengandung resiko, resiko yang tidak pernah dia ambil sebelumnya, tapi sekarang dia mulai ambil. Nah saya mulai melihat ini juga pada diri anak saya yang menginjak usia remaja, di mana sebetulnya dia selalu menurut apa yang kami minta namun sekarang misalnya dia sudah mulai berani melawan orang tua dan misalnya ingin pergi dengan teman-temannya, jalan-jalan pada hal usianya baru sekitar 12 tahun dan kami sangat khawatir. Tapi dia berkata teman-temannya juga pergi kenapa saya kok tidak boleh. Jadi pada usia remaja anak-anak memang cenderung mengambil tindakan yang beresiko, yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Mengapa dia begitu, mengapa dia mengambil justru tindakan yang beresiko, tidak yang aman-aman seperti yang kita harapkan, nah alasannya adalah karena memang dia sedang bereksperimentasi dalam pengertian dia sedang sebetulnya mencoba-coba berapa jauh dia bisa melangkah tanpa dia harus mengalami masalah, berapa jauh dia bisa merenggangkan dirinya dan melangkah sehingga dia bisa benar-benar melihat apa yang bisa dia lakukan dan apa yang dia tidak bisa lakukan. Sebelumnya pada usia anak-anak dia tidak berpikir seperti itu, dia senantiasa mencoba melakukan yang diminta oleh orang tuanya dia mempercayai perkataan orang tuanya secara mutlak. Jadi yang aman itulah yang dia lakukan, tapi pada usia remaja dia ingin tahu apa itu yang dia bisa lakukan dan yang tidak bisa dia lakukan, oleh karena itulah pada saat ini mulailah dia mengambil tindakan-tindakan yang memang bermain-main dengan resiko. Itulah sebabnya si anak putri ini akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu orang tuanya, pergi dengan diam-diam dan pergi dengan pria lain, suatu tindakan yang memang sangat berani. Nah saya bisa menafsir tindakannya adalah sebagai tindakan mengambil resiko atau bereksperimen, kira-kira itulah yang pertama yang muncul dalam benak saya tatkala mendengar kasus ini.
IR : Nah Pak Paul apakah itu karena pengaruh dari luar, pengaruh teman itu lebih kuat daripada anak itu sendiri Pak Paul?

PG : Saya kira memang pengaruh lingkungan sangat besar di sini Bu Ida, jadi tidak tertutup kemungkinan sebelum dia melakukan hal ini yakni pergi dengan pria lain tanpa memberitahu orang tuanya,saya duga kemungkinan besar remaja putri ini telah melihat kawannya melakukan hal yang serupa, jadi dia sudah melihat contohnya ada temannya yang pergi dengan pacarnya tanpa memberitahu orang tuanya dan OK tidak apa-apa, tidak mendapatkan kecelakaan atau musibah apa-apa.

Dan mungkin dalam kasus temannya, temannya juga kembali dengan keadaan yang utuh dalam pengertian tidak berbuat hal-hal yang melanggar susila atau melanggar Firman Tuhan. Nah mungkin sekali dia melihat contoh-contoh seperti ini kasus yang lain yang lebih mungkin buruk adalah teman-teman yang lain melakukan hal yang memang sudah melanggar Firman Tuhan yaitu pergi dengan pacarnya menginap dan berbuat hal-hal yang tidak senonoh atau berhubungan seksual misalnya. Nah dia terjepit di dalam situasi yang seperti ini, tidak bisa tidak rasa ingin tahunya muncul. Dia mungkin mulai berpikir apa salahnya ya saya coba, bukankah teman saya juga melakukan hal yang sama dan ia tidak apa-apa, nah akhirnya terdorong. Jadi mungkin sekali tadi yang Ibu katakan terjadi pada anak remaja putri ini, dia melihat contoh dan contoh-contoh dari luar dari temannya itu akhirnya membangkitkan keingintahuannya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mencobanya.
IR : Kemudian bagaimana Pak Paul sikap orang tua menghadapi anak yang seperti ini?

PG : Sudah pasti saya percaya Ibu Ida sikap kita ksebagai orang tua remaja putri ini nomor 1 akan kaget, panik sebab kita tidak pernah menduga bahwa anak kita akan berbuat seperti ini. Apalagi alau kita percaya bahwa kita telah mendidik anak kita dalam Tuhan dan kita menganggap anak itu anak yang lumayan baik kok tiba-tiba pergi dengan pria lain tanpa memberitahu kita wah.....saya

hampir yakin reaksi natural yang akan kita tunjukkan adalah panik, panik sekali. Dan setelah panik saya kira reaksi yang berikutnya menyusul adalah marah ya Ibu Ida, jadi kita ini marah sekali karena si anak melakukan hal yang bagi kita sangat melewati batas, sangat salah. Nah sekarang apa sikap kita, apa yang harus kita lakukan terhadap anak kita ini. Saya bisa menyarankan yang paling tepat adalah pada saat anak ini baru melakukannya untuk pertama kali kita ajak dia bicara, kita ajak dia bicara karena anak ini sudah remaja, kita mencari tahu siapa pria itu, mengapa pria itu begitu penting baginya sehingga dia rela untuk pergi dengan pria itu tanpa memberitahu kita. Kalau kita tanyakan apa alasannya engkau pergi tanpa memberitahu kami sebagai orang tua, saya kira alasannya sudah sangat jelas ya, yaitu dia tahu kalau dia beritahu kita dia tidak akan mendapatkan izin kita. Jadi saya kira alasannya adalah ya dia ingin melakukannya, dia ingin pergi bebas dan dia tahu kalau dia minta izin dia tidak akan mendapatkannya, jadi daripada dia terhalang tidak bisa mewujudkan keinginannya ya dia pergi tanpa memberitahu kita. Nah jadi yang perlu kita tanyakan bukan kenapa tidak memberitahu kami sebagai orang tua dan sebagainya, yang perlu kita ketahui adalah kenapa dia rela melanggar perintah kita atau permintaan kita hanya karena pria tersebut, jadi kita mesti tahu juga siapa pria itu, kenapa pria itu begitu penting baginya. Dan kita juga perlu tahu apa yang dia lakukan dengan pria itu, jadi kita perlu mengecek apa saja yang dia lakukan. Mungkin sekali dia akan menutupi sebab itu reaksi yang natural, dan jangan menyerah pada jawaban kami tidak berbuat apa-apa, tanyakan secara spesifik, apakah dia menciummu misalnya seperti itu, apakah dia memegang tubuhmu, bagian tubuh yang mana yang dia pegang dan sebagainya. Kita tanya sespesifik itu tujuannya adalah agar kita mendapatkan gambaran dengan jelas apa itu yang dia lakukan. Nah adakalanya si anak wanita itu sendiri tidak begitu memikirkan perbuatannya secara grafik, secara jelas, karena mungkin terbawa emosi, saat itu dia tidak begitu melihat perbuatannya. Namun tatkala kita memintanya untuk mengakui apa yang dia lakukan secara konkret, itu juga menolong dia untuk melihat dirinya, bahwa dia yang misalnya dari kecil sudah mengenal Tuhan, sudah ke gereja dan sebagainya kok bisa membiarkan dirinya melakukan hal seperti itu. Nah jadi saya pikir ada baiknya kita memang menanyakan dengan spesifik agar dia pun berkesempatan untuk melihat dirinya o......waktu si mama tanya, waktu si papa tanya, apakah engkau membiarkan dia memegang tubuhmu yang privat yang tidak boleh dipegang oleh orang lain misalnya dia akhirnya mengakui, nah pada waktu dia berkata ya tidak bisa tidak dalam benaknya langsung akan terbersit peristiwa itu sendiri dan dia seolah-olah diberikan cermin untuk mengaca bahwa itulah yang dia lakukan. Nah setelah kita menanyakan itu semua baru kita berikan dia kesempatan untuk menjawab pertanyaan kita: "Menurut kamu apakah yang kamu lakukan itu terpuji, apakah yang kamu perbuat itu terpuji?" Dan kita tanya lagi yang keduanya: "Apa yang Tuhan Yesus akan katakan kalau Dia bersama di sana bersama dengan engkau dan pacarmu?" Jadi kita tanya dia seperti itu agar kita kembalikan tanggung jawab kepada dia bahwa dia bertanggung jawab kepada Tuhan. Sebab memang kita harus sadari kita tidak bisa senantiasa mengawasi dia.
IR : Bagaimana kalau dia berbohong Pak Paul?

PG : Kemungkinan yang besar sekali Bu Ida ya, dia pasti atau kemungkinan besar berbohong. Kalau sampai dia berbohong, kalau kita tidak ada jawaban lain ya sudah kita tidak usah paksakan. Misalkn kita tanya dia apa yang engkau perbuat, apakah dia menyentuh tubuhmu dan sebagainya, dia terus menyangkal berkata: "Tidak! saya tidak melakukan itu semua."

Nah sebaiknya dalam keadaan seperti itu kita tidak memaksakan, kita berkata: "Saya tidak tahu jawaban yang paling benar karena saya tidak ada di situ dengan engkau, tapi engkau harus ingat satu hal bahwa di mana pun engkau berada di situ Tuhan berada, kalau engkau mengatakan hal yang benar saya senang, papa atau mama senang tapi kalau engkau tidak mengatakan hal yang betul engkau ingat satu hal, engkau bukan saja sedang berbohong kepada mama atau papa tapi engkau sedang berbohong kepada Tuhan." Nah kita bisa berikan dia contoh tentang Ananias dan Safira Bu Ida dan Bu Melany, di mana mereka berdua berbohong tentang jumlah persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan, dan mereka langsung mendapatkan hukuman Tuhan seketika. Nah kita bisa ingatkan dia tentang cerita itu juga tapi terus kita berkata kepadanya: "Sudah mama atau papa tidak akan memaksa kamu memberikan jawaban yang lain, kalau memang itu jawaban kamu sudah, kami percaya tapi engkau yang bertanggung jawab kepada Tuhan." Jadi biarkan dia itu lebih bertanggung jawab, kalau tidak saya takut dia makin mengelak dan mengelak, dan akhirnya tidak ada habisnya.
ME : Pak Paul, rupanya yang tambah membuat ibu ini sedih ternyata si ayah yaitu suaminya rupanya sudah tidak mau tahu lagi. Jadi anak ini rupanya bukan untuk pertama kali dia pergi tanpa pamit tapi sudah 2, 3 kali sehingga ayahnya sudah merasa tidak mau turut campur, itu urusan ibu begitu. Nah hal ini membuat si ibu pun tambah sedih lagi, seolah-olah dia harus mengatasi masalah anak remajanya ini sendirian. Bagaimana Pak Paul kalau begitu?

PG : Ini memang sering terjadi Ibu Melany, jadi sering saya temukan juga memang masalah yang serupa yakni cukup banyak ibu yang merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari suami mereka daam menghadapi masalah anak-anak mereka.

Saya kira ini memang muncul dari konsep yang tidak tepat yaitu cukup banyak pria atau suami yang beranggapan bahwa tugas mengurus rumah tangga adalah tugas istri atau ibu bukan tugas ayah atau suami. Saya kira ini memang tidak tepat sama sekali sebab Firman Tuhan dengan jelas meminta agar pria itu mendidik anak-anak di dalam Tuhan. Nah justru yang diberikan perintah bukanlah ibu, tapi ayah jadi ayahlah yang ditugasi Tuhan justru untuk mendidik anak-anak dalam rumah. Nah dalam kasus ini mungkin si ayah bukanlah seperti yang tadi saya katakan, dia adalah orang yang memang mencoba untuk mengurus anak-anak dan dalam kasus ini dia sangat frustrasi karena usahanya untuk membenarkan, mengoreksi perbuatan ayahnya tidak membuahkan hasil. Apa yang harus dikerjakan oleh si ibu, si ibu bisa sekali lagi mencoba mengutarakan kelelahannya, nah ini penting sekali saya garis bawahi kata kelelahannya. Si ibu jangan menuntut si ayah untuk bertanggung jawab, untuk mengurus lagi saya kira sering kali tuntutan-tuntutan seperti ini justru berdampak seperti bumerang, tidak membawa hasil, si ayah mungkin makin rasanya ingin lari. Nah jadi saya bisa sarankan sebaiknya si ibu ini hanya meminta si ayah untuk mendengarkannya, bilang saja kepada suaminya: "Saya ingin bicara dengan kamu bisa tidak engkau tolong dengarkan saja keluh kesahku. Aku merasa lelah sekali mencoba mengatasi masalah dengan anak kita ini, aku mengerti engkaupun juga lelah, aku paham engkau pun juga frustrasi tapi bagaimana pun ini anak kita," atau ada yang bisa kita kerjakan misalkan kita bisa memulai dengan mengajak suami itu untuk berdoa, meminta agar Tuhan menolong lagi. Jadi saya kira dengan cara-cara seperti ini si ayah akan lebih siap untuk memberikan bantuannya, kalau dia didesak lagi dan diberikan tuntutan lagi saya khawatir dia malah akan lari.
IR : Atau mungkin meminta bantuan orang ketiga Pak Paul, soalnya pada dasarnya suami itu kalau diberitahu, diajak istrinya kadang kala masih menolak, mungkin kalau bantuan dari orang ketiga mungkin bapak ini akan lebih menurut begitu.

PG : Ya ada kecenderungan memang kita ini malas Bu Ida harus saya akui ya, kalau mungkin orang lainlah yang menangani kita lebih. Jadi memang saya harus akui dalam hal mengurus anak, pria atau uami seperti saya ini cenderung memang berdalih ini 'kan urusan rumah tangga urusanmu bukan urusanku, aku 'kan urusannya di luar bekerja dan sebagainya.

Namun saya pikir dalih itu tidaklah Alkitabiah nomor 1 sebab Tuhan memerintahkan suami atau ayah untuk mendidik anak. Itu tidak diberikan kepada istri atau ibu tapi kepada ayah. Jadi nomor 1 tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, nomor 2 juga kalau kita melihat secara sosial Bu Ida dan Bu Melany bukankah sekarang ini banyak sekali ibu yang bekerja di luar tapi toh tetap waktu pulang ke rumah ibulah yang dituntut untuk mengurus rumah tangga, untuk mengawasi anak dan sebagainya. Jadi konsep ini saya kira tidak tepat ya tugas membesarkan anak, mendidik anak lebih besar sebetulnya diembankan pada ayah. Nah usulan ibu Ida itu baik sekali, adakalanya memang suami kurang tanggap terhadap permintaan istri dan sudah merasa defensif, merasa disudutkan, merasa disalahkan dan sebagainya, jadi kalau ada orang ketiga yang tepat yang bisa diajak masuk ke dalam masalah ini ya tidak ada salahnya Bu Ida. Jadi untuk kasus ini Ibu Melany dan Ibu Ida sudah diketahui bahwa LBKK sudah membalas suratnya dan mencoba menolong, jadi kami juga membuka kesempatan pada para pendengar yang lain kalau memiliki masalah jangan ragu-ragu untuk menulis kepada kami, kami akan mencoba menolong bapak/ibu sekalian. Kami di sini semuanya adalah satu perahu dengan saudara-saudara ya, kami semuanya satu penderitaan, kami semua sama-sama belajar.

IR : Nah demikianlah tadi telah kami persembahkan ke hadapan saudara sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih untuk perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



5. Berbicara dengan Anak Remaja Kita


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T011B (File MP3 T011B)


Abstrak:

Anak remaja cenderung menyempitkan lingkungan mereka karena ini merupakan pembentukan jati dirinya. Dan dalam hal ini orangtua harus benar-benar dapat memahami dan mengerti bagaimana orangtua harus bersikap dan berperan dengan tepat.


Ringkasan:

Ada kecenderungan di dalam diri remaja lebih banyak berdiam diri di hadapan orangtua dibandingkan pada masa kecilnya.

  1. Karena pada masa remaja anak-anak mulai melihat tempat dia, bahwa dia adalah di dalam lingkungan remaja, kesadaran akan identitasnya mulai terbentuk. Sehingga dia akan lebih nyaman kalau dia bicara dengan sebaya.

  2. Dalam proses ini anak remaja sedang membentuk jati dirinya, dia akan lebih diam dengan orang yang dianggapnya tidak sama dengan dia. Tidak sama di sini bukan saja menyangkut masalah usia, kadangkala juga berkaitan dengan cara hidup. Misalnya anak remaja yang baik, yang alim disuruh main dengan anak-anak yang lebih badung, lebih nakal misalnya dia tidak mau, begitu juga kebalikannya anak-anak yang merasa dirinya itu badung, dianggap anak nakal di sekolah, disuruh main dengan anak-anak yang lain yang alim tidak mau. Jadi sering kali anak remaja itu akan menyempitkan lingkup mereka dan memang itu adalah gejala yang wajar.

Sikap kita sebagai orangtua dalam menghadapi remaja adalah:

  1. Menerima, menerima bahwa inilah proses dia menjadi seorang dewasa. Semua yang dilakukannya ini merupakan bagian dari pendewasaan dia dan memang harus dilaluinya.

  2. Memantaunya, jadi peranan kita yang paling-paling krusial adalah bagaimana kita bisa melihat dengan jelas di mana dia pergi, dengan siapa dia pergi, apa yang dia terima dari lingkungannya. Kita juga pantau apa yang dia lakukan kepada orang lain. Kalau kita memang melihat dia mulai bergaul dengan orang-orang yang tidak benar kita mesti memberikan batas meskipun dilawan olehnya. Memantau di sini dalam artian bukan secara aktif memata-matai, namun yang perlu kita lakukan adalah sebisanya membuka pintu rumah, izinkan anak-anak membawa teman-teman ke rumah.

  3. Komunikasi, di sini orang tua yang harus proaktif untuk mencari titik kesamaan dengan remaja tersebut, jadi kitalah yang seharusnya terjun ke dalam dunia dia. Salah satu prinsip yang penting dalam berkomunikasi bukan berapa banyak kata yang diucapkan tapi berapa terbukanya si pembicara itu. Jadi keterbukaan melebihi berapa banyak kata-kata yang diucapkan.

Berkomunikasi dengan remaja lebih tepat secara informal dibandingkan formal. Informal maksudnya adalah dengan ngobrol-ngobrol, cerita-cerita sedikit dan sebagainya. Misalnya kita lihat anak kita sendu, sedih, kita hampiri dia dan kita tanya: "Engkau nampak sendu hari ini, ada yang membuat kau sedih? Nah perhatian kecil seperti itu membuat anak akhirnya sadar bahwa dia diperhatikan.

Kita bisa membicarakan hal yang relevan untuk kehidupan dia, selama itu relevan dan bisa membantu dia kita ceritakan. Salah satu aset atau harta kekayaan yang bisa kita bagikan kepada dia adalah pengalaman hidup kita. kalau kita bisa bagikan dengan cara yang dia bisa terima akan sangat bermanfaat. Dan yang tidak bisa dia terima adalah apabila kita membagikannya seperti seorang guru.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling dan juga seorang dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang masalah bagaimana "Berbicara dengan Anak Remaja Kita" atau para remaja kita. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul Gunadi, sebagai ayah dari 2 orang anak remaja saya merasa/menyadari sebenarnya ada suatu perubahan besar yang terjadi di dalam anak-anak saya dalam pola mereka makan, dalam pola mereka itu berpakaian dan sebagainya. Tetapi yang saya rasa sulit sekali itu adalah masalah berkomunikasi, berbicara dengan mereka itu Pak Paul, saya merasa tidak seperti dulu lagi. Dulu waktu masih anak-anak saya ngomong bisa didengarkan dengan baik dan sebagainya, tanpa memberikan alasan-alasan atau bahkan meninggalkan, nah ini yang terjadi bisa seperti itu. Kadang-kadang dia tetap duduk di depan seolah-olah mendengarkan, tapi saya juga yakin bahwa dia tidak sedang mendengarkan saya berbicara, jadi apakah memang ada pola perubahan di dalam gaya atau pengertian mereka berkomunikasi sejak mereka memasuki usia remaja Pak Paul?

PG : Ada Pak Gunawan, jadi anak-anak remaja cenderung memang berdiam diri lebih banyak di hadapan orang tua dibandingkan pada masa kecilnya. Karena apa? Karena pada masa remaja anak-anak mulai elihat tempat dia, bahwa tempat dia adalah di dalam lingkungan remaja.

Anak kecil masih belum mempunyai perasaan tempat itu, jadi anak kecil diajak ngomong oleh orang dewasa, ya dia jawab, diajak ngomong oleh Ímpek-Ímpek, kakek-kakek dia jawab, diajak main oleh tante-tante umur 50 dia juga main tapi begitu anak-anak remaja diajak main oleh tante-tante umur 50 dia tidak main lagi, malu dia. Diajak pergi oleh orang tuanya, dia juga enggan, jadi perasaan tempat saya itu di sini mulai muncul pada masa remaja.
GS : Jadi kesadaran akan identitasnya itu mulai timbul.

PG : Betul mulai terbentuk di situ, akibatnya memang dia itu akan merasa lebih nyaman bicara dengan yang sebaya, bahkan yang lebih sempit lagi adalah anak-anak remaja karena dalam proses ini di memang sedang membentuk jati dirinya, dia akan lebih diam dengan orang yang dianggapnya tidak sama dengan dia.

Tidak sama bukan saja menyangkut masalah usia, kadang kala juga ini berkaitan dengan cara hidup, misalnya anak remaja yang baik, yang alim disuruh main dengan anak-anak yang lebih badung/lebih nakal misalnya tidak mau. Kebalikannya anak-anak yang merasa dirinya itu badung/dianggap anak nakal di sekolah, disuruh main dengan anak-anak yang lain yang alim, tidak mau. Jadi sering kali anak remaja itu akan menyempitkan lingkup mereka dan memang itu adalah gejala yang wajar. Karena pada tahap inilah mereka membentuk jati diri itu dan jati diri dibentuk secara spesifik bahwa saya ini termasuk anak baik/anak nakal, saya termasuk orang yang suka ngebut naik motor atau naik motornya perlahan-lahan, saya anak yang merokok atau saya anak yang tidak merokok, saya anak yang berani terhadap otoritas sekolah, saya anak yang tidak berani, itu adalah sebetulnya guntingan-guntingan untuk akhirnya mencetak siapa dia itu. Maka orang tua merasa kesulitan berkomunikasi dengan anak remaja karena orang tua itu benar-benar tiba-tiba menjadi orang lain bagi si anak remaja.
(2) IR : Nah bagaimana menyikapi anak yang seperti itu, Pak Paul?

PG : Nomor satu kita mesti menerima Bu Ida, bahwa inilah proses dia menjadi seorang dewasa. Bahwa dia ini bukannya sedang melenceng pergi dan akan menjadi seperti penduduk planet Mars gara-garadia bersikap seperti ini, tidak! Semua yang dilakukannya ini merupakan bagian proses pendewasaan dia dan memang harus dilangkahi semuanya ini.

Nah yang paling penting adalah kita memantaunya, jadi peranan kita yang paling-paling krusial saya kira adalah bagaimana bisa melihat dia dengan jelas. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia pergi dan apa yang dia terima dari lingkungannya, setelah itu baru kita juga pantau apa yang dia lakukan kepada orang lain, nah hal-hal itu perlu kita pantau dengan teliti sekali. Kalau kita melihat memang dia mulai bergaul dengan orang-orang yang tidak benar, nah kita mesti memberikan batas meskipun dilawan olehnya. Nah jadi adakalanya masa remaja memang masa pertempuran antara orang tua dan anak, karena anak tidak akan dengan mudah tunduk. Di sini memang anak-anak mulai membentuk juga kehendak diri, pilihan. Manusia adalah manusia yang memang memiliki pilihan dan anak remaja saat-saat ini mulai menyadari dia punya pilihan dalam pengertian dia tidak harus tunduk kepada orang tuanya. Waktu masih kecil anak-anak tidak mempunyai pilihan untuk melawan, sebab dia melawanpun orang tua bisa angkat dia dan langsung memaksakan kehendak orang tua padanya. Waktu anak remaja dia baru sadar o.....saya punya pilihan melawan, begitu Ibu Ida.
GS : Tapi kalau tadi Pak Paul katakan kita memantau kegiatan anak-anak, dan mereka tahu bahwa kita memantau 'kan mereka merasa dimata-matai terus. Apakah tidak menimbulkan kesenjangan antara kita dan anak-anak remaja kita itu?

PG : OK! Bagus sekali Pak Gunawan, yang saya maksud dengan memantau adalah bukan secara aktif memata-matai, bukan secara aktif dan terus-menerus dengan sering kali menanyakan dengan siapa engka pergi? Di mana? Apa saja yang kamu lakukan? Nah anak-anak pasti akan akhirnya terlatih memberikan jawaban klise alias bohong, supaya mereka lepas, dan orang tuanya senang.

Jadi yang perlu kita lakukan adalah sebisanya membuka pintu rumah, jangan setiap hari, kita juga pusing tapi ijinkan anak-anak membawa teman-teman ke rumah. Ada orang tua yang tidak suka anak-anak main-main di rumah, justru yang paling penting adalah pada usia remaja kita menyadari atau mengetahui jelas dengan siapa dia berteman. Nah waktu anak-anak di rumah sebetulnya kita bisa tahu banyak hal, sebab kita bisa melihat cara mereka menyapa kita (yang saya maksud teman-temannya itu) cara mereka makan, cara mereka bercakap-cakap dengan kita, kita bisa ajak mereka bicara juga, ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dan kadang-kadang kita bisa sedikit banyak nguping/mendengar, kita tidak usah taruh kuping kita di pintu kamarnya tapi kadang-kadang dari percakapan mereka di pelataran rumah dan sebagainya kita mulai bisa mendengar apa yang mereka percakapkan. Nah informasi inilah yang saya maksud dengan pantauan itu Pak Gunawan.
GS : Ya jadi kalau sebatas itu memang mungkin mereka bisa menerima Pak Paul. Tapi masalah berbicara dengan anak-anak sering kali mereka merasa pembicaraan itu tidak menarik buat mereka, misalnya tentang masa depan, tentang mesti giat belajar dan sebagainya nah itu sangat berpengaruh dengan komunikasi-komunikasi yang selanjutnya, begitu Pak Paul.

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, karena komunikasi itu sangat bergantung pada pengalaman hidup, semakin banyak kesamaan antara pengalaman si pihak yang satu dengan pihak yang satunya makin lebih emudahkan terjadinya komunikasi.

Kalau pengalaman hidup sangat berbeda berarti tidak ada lagi yang bisa dipercakapkan, hilanglah titik kesamaan itu. Nah orang tua di sini yang memang harus proaktif untuk mencari titik kesamaan ini, anak remaja kalau dipaksa untuk memahami pikiran kita dan dia yang disuruh harus berubah supaya sama dengan kita dia kehilangan hal yang paling penting yaitu dia kehilangan kesempatan membentuk jati dirinya. Yang memang seperti tadi saya singgung harus melalui tahapan tadi Pak Gunawan, jadi kitalah yang seharusnya terjun ke dalam dunia dia. Hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang sebetulnya tidak terlalu susah Pak Gunawan misalkan sekarang anak saya sudah menginjak remaja, dia mendengarkan kaset-kaset yang juga modern dan saya belikan. Nah saya belikan tapi waktu beli mendengarkan sama-sama dengan dia, saya berikan juga ini bagus, ini tidak bagus, nah bagi saya bagus tidak bagusnya terus-terang bukan dari kata-kata atau liriknya karena saya kira anak-anak juga tidak begitu perhatikan lirik saat-saat ini. Kecuali mereka itu memang berbahasa Inggris terus-menerus baru perhatikan liriknya kalau tidak, anak-anak remaja itu biasanya mendengarkan musik atau memilih musik karena lagunya atau nadanya. Nah waktu saya mendengar lagu-lagu misalnya seperti saya juga sering dengarkan juga misalnya "New Kids on the Block", "Michael Learns to Rock", nah bagi saya misalnya "Michael Learns to Rock" saya cukup senang, meskipun itu bukan lagi selera musik saya, tapi saya senang sebab saya melihat musik ini bagus, dinyanyikan dengan 3, 4 suara secara harmonis waktu saya melihat di video clipnya di televisi juga cukup sopan. Nah jadi waktu anak-anak saya ingin membeli saya ijinkan dan saya tawarkan bagaimana kalau membeli "Michael Learns to Rock" atau misalnya yang sekarang dia suka dengarkan adalah "Barbie Doll" ya tidak apa-apa. Waktu dia mendengar kita juga dengar, sehingga dia tahu ada yang sama antara dia dengan kita.
GS : Itu memudahkan kita berkomunikasi, jadi mau tidak mau harus belajar dengan apa yang mereka sukai artinya berbicara dalam bahasa mereka.

PG : Betul Pak Gunaawan.

GS : Dan itu memang membutuhkan pengorbanan kita sebagai orang tua untuk bisa berbicara dengan mereka dalam bahasa mereka, dan dengan gaya mereka Pak Paul. Kita 'kan lebih condong untuk gengsi Pak Paul supaya mereka itu mendengarkan kita. Tapi memang ada beberapa remaja itu yang senang ngomong, jadi gampang sekali dia ngomong tapi ada juga remaja yang sulit untuk berkomunikasi, juga dengan temannya pun kadang-kadang sulit berkomunikasi, dasarnya memang pendiam. Bagaimana menghadapi kalau berbeda seperti itu, Pak?

PG : Dalam prinsip komunikasi, salah satu prinsip yang penting adalah bukan berapa banyak kata yang diucapkan tapi berapa terbukanya si pembicara itu. Jadi keterbukaan melebihi berapa banyak kaa-kata yang diucapkan.

Nah bagi anak yang memang dasarnya pendiam, yang kita mau arahkan adalah atau yang kita mau cari adalah keterbukaannya. Kalau anak itu terbuka, kalau kita tanya dia jawab jujur, bagi saya itu sudah penting. Sebab ada anak-anak yang begini, cerita dengan mamanya atau papanya, ngomong banyak, tapi dia juga melakukan hal-hal lain yang dia tidak pernah cerita kepada orang tuanya. Jadi dia hanya cerita hal-hal yang ingin dia ceritakan saja tapi di samping itu dia melakukan hal-hal yang tersembunyi dari mata orang tua, itu lebih berbahaya.
GS : Jadi orang tua itu terkelabui oleh banyaknya kata-kata yang diucapkan oleh remaja itu tadi.

PG : Betul, dan mungkin orang tua merasa sangat senang anak-anak sering cerita dengan saya, baik dengan saya, terbuka dengan saya padahalnya banyak hal lain yang dia tidak ketahui.

GS : Yang ditutupi jauh lebih banyak mungkin.

PG : Betul.

IR : Nah anak-anak itu cenderung bebas dalam bergaul seperti tadi yang dikatakan Pak Paul bahwa anak-anak itu sebaiknya terbuka. Tapi kenyataannya anak-anak itu sering di dalam pergaulan dengan teman-temannya itu seolah-olah orang tua itu tidak perlu tahu bahkan kalau sudah cocok dengan teman, sekalipun teman itu tidak baik, si orang tua tidak bisa mencegah untuk tidak bergaul dengan anak itu, dia itu begitu fanatik dengan temannya, nah begitu itu bagaimana Pak Paul?

PG : OK! Memang Sangat sulit mengharapkan anak remaja itu jujur, terbuka sepenuhnya kepada kita, sulit sekali. Karena ada kecenderungan anak remaja akan melakukan hal yang dilarang oleh kita, jdi salah satu ciri remaja adalah bereksperimen pasif, mencoba hal-hal yang baru.

Sebab apa, anak remaja itu sebetulnya ingin tahu berapa jauh saya bisa melangkah, berapa jauh saya melakukan hal yang dilarang oleh orang tua saya, begitu. Jadi dia akan melakukan atau cenderung melakukan hal-hal yang dia tahu tidak diijinkan oleh orang tuanya, maka hal bohong menjadi hal yang cukup sering terjadi pada anak-anak remaja. Tujuannya adalah untuk membuat orang tua itu tetap mengijinkan dia keluar karena kalau dia jujur dia tidak bisa lagi mendapatkan yang dia inginkan itu. Nah jadi kita mesti sadari anak-anak remaja akan cenderung menutupi yang kita sebetulnya larang tapi dia akan tetap lakukan. Nah kembali lagi pada yang tadi Ibu tanyakan bagaimana kita menyikapi kalau misalnya anak kita ini berteman dengan orang yang keliru, kita sadari ini keliru tapi dia tetap ngotot mau main dengan anak itu. Nah saya kalau sudah mencoba bicara dan dia melawan, OK! Saya tahu dia memang tidak mau dengar, selanjutnya yang saya akan lakukan adalah saya tidak akan sebut nama orang itu lagi, sebisanya saya akan justru lebih menyodorkan kepada dia karakteristik orang yang baik, teman yang baik atau karakteristik manusia yang berkenan kepada Tuhan dan sebagainya, itu yang menjadi tekanan utama saya. Sebab kalau saya sodorkan atau saya sebut-sebut nama temannya itu dia akan bereaksi membela diri dan malah menyalahkan kita. Jadi saya akan hindarkan menyebut-nyebut nama temannya itu tapi lebih berbicara tentang karakteristik teman yang baik, orang yang benar dan sebagainya dengan harapan melalui semua itu si anak perlahan-lahan mulai sadar bahwa temannya itu tidak baik. Namun kalau kita tahu bahwa anak kita sedang berteman dengan orang yang sangat tidak baik, sangat berbahaya saya akan ambil tindakan yang lebih tegas, saya akan melarang dia keluar, saya akan pantau dia baik-baik supaya dia jangan bermain lagi dengan orang tersebut. Jadi kita memang harus menilai berapa seriusnya keburukan tersebut.
GS : Ya hal itu berarti bahwa kita itu sebagai orang tua kadang-kadang harus berbicara secara tegas kepada anak remaja kita seperti yang tadi Pak Paul katakan, tapi ada saat-saat tertentu di mana kita itu bisa lebih rileks, lebih santai berbicara dengan mereka dalam bentuk-bentuk yang mungkin tidak terlalu formal.

PG : Misalnya dengan teman yang tidak baik tersebut, kita bisa mulai mencari titik temu yaitu kita mulai dengan menanyakan apa yang baik tentang teman tersebut. Sebab ada yang dia sukai dari tean tersebut, nah, kita mulai dari situ.

Titik pijaknya kalau sudah mulai terbentuk kita bisa mulai menjalin komunikasi, kita misalnya bisa berkata o....dia itu orangnya setia kawan ya, itu sebabnya kamu senang berteman dengan dia misalnya anak kita bilang "Ya, sebab saya percuma berteman dengan si A, si B yang di luarnya baik tapi padahalnya orangnya tidak setia kawan, tidak membela saya waktu saya ada masalah di sekolah dengan teman saya yang lain mereka diam-diam saja, justru teman saya yang ini yang membela saya." Nah hal-hal itu kita komentari, kita bisa beritahu dia "Ya, dia anaknya baik ya, dia itu bisa membela kamu seperti itu," nah kalau bisa kalau memungkinkan memang kita ajak orang itu ke rumah kita, ajak ngomong, ajak bicara-bicara dengan kita supaya kita juga bisa komunikasi langsung dengan dia, lebih mengenal teman anak kita. Nah perlahan-lahan kalau anak itu sudah sadar bahwa kita di pihak dia mungkin dia akan lebih terbuka melihat dengan jelas temannya itu, sisi negatif dan sisi positifnya. Sebab tidak ada persahabatan yang murni 100% menyenangkan hati anak atau hati kita tidak ada. Mungkin hari ini tidak, tapi mungkin minggu depan akan muncul hal-hal yang si anak tidak sukai tentang temannya itu, nah di situ baru kita bisa mengajarkan dia karakteristik teman yang baik atau orang yang berkenan kepada Tuhan. Misalnya teman kita itu membohongi orang lain, meskipun dia tidak membohongi kita, nah kita bisa beritahu dia bahwa berbohong kepada orang lain tidak diperkenankan oleh Tuhan, maksudnya begitu.
GS : Bagaimana Pak Paul dengan remaja pria dan remaja wanita, apakah ada perbedaan di dalam mereka mendekati kita sebagai orang tua, artinya yang saya tanyakan itu apakah memang kalau remaja pria itu lebih gampang bicara dengan ayahnya atau sebaliknya ada pengaruhnya atau tidak Pak Paul?

PG : Sebetulnya tidak ada pengaruhnya, pada usia remaja sebetulnya anak-anak itu memberikan kesempatan yang sama kepada orang tua untuk mengenalnya. Sebab pada masa-masa remaja, anak-anak itu basanya pulang sekolah sudah jam 03.00

sekarang ini. Jam 03.00 mungkin dia les atau apa, jam 04.00, jam 05.00 jadi sebetulnya anak-anak remaja baru bersama-sama orang tua pada malam hari setelah PR selesai dan sebagainya. Nah justru pada usia remaja, suami dan istri sudah memiliki kesempatan yang sama sebetulnya, nah siapa yang bisa lebih dianggap dekat oleh anak adalah dia yang mencoba mengerti si anak dengan lebih baik. Kalau si anak merasa berbicara dengan papa kena/nyambung dia akan berbicara dengan Papanya. Kalau berbicara dengan papa justru dimarahi, dikoreksi, dipersalahkan, dia tidak berbicara lagi dengan Papanya. Kalau dia berbicara dengan Mamanya justru diterima, diberikan nasihat yang baik, dia akan berbicara lagi, begitu.
GS : Dan itu kalau tidak didapatkan dari kedua orang tuanya dia akan lari ke temannya begitu Pak Paul?

PG : Ke temannya betul, bahkan didengarkan pun oleh orang tua tetap akan berbicara dengan teman juga. Jadi kita mesti menyadari kebanyakan anak-anak remaja akan lebih percaya pada temannya dibading dengan kita.

GS : Tapi dengan dia berbicara dengan temannya kalau masih memakai telepon misalnya kita bisa agak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi kalau dia sudah mulai keluar rumah Pak Paul, jadi untuk bisa berbicara dengan temannya itu dia memerlukan keluar rumah, dia cuma bilang kepada kita "Pa mau pergi ke sana, Pa mau pergi ke sana" itu habis waktu kita Pak Paul.

PG : Saya akan sarankan agar kita menetapkan hukum atau aturan dalam rumah tangga kita, misalkan hari-hari biasa kita larang anak kita keluar, pokoknya pulang sekolah pulang ke rumah sebab tugamu adalah belajar.

Nah akhir pekan, Sabtu dan Minggu baru kita ijinkan dia keluar, ada jam-jam tertentu dia boleh keluar.
GS : Itu dalam rangka mendisiplin tapi juga di dalam kita punya kesempatan lebih banyak Pak Paul untuk berkomunikasi dengan anak-anak remaja ini.

PG : Dan saya pikir komunikasi dengan remaja lebih tepat secara informal dibandingkan formal. Ada orang yang berkata begini, ya saya akan ajak anak saya makan, saya khawatir si orang tua merasasenang seolah-olah telah melakukan tanggung jawabnya bersama-sama dengan keluarga makan, namun tujuan akhirnya tidak tercapai.

Jadi informal yang saya maksud adalah dengan ngobrol-ngobrol, ketok pintu anak kita, masuk ke kamarnya ngobrol-ngobrol, cerita-cerita sedikit. Contoh yang gampang adalah misalkan kita melihat anak kita sendu, sedih, nah kita hampiri dia kita tanya: "Kok engkau nampaknya sendu hari ini, ada yang membuat kau sedih?" Nah perhatian kecil seperti itu membawa anak akhirnya sadar bahwa dia diperhatikan. Nah mungkin hari ini kita tanya dia, dia tidak menjawab, tapi mungkin minggu depan waktu dia sangat tertekan dan kita tanya, dia menjawab begitu.
GS : Apakah hal itu berarti juga bahwa kita itu boleh membicarakan apa saja dengan anak remaja kita sebagai topik pembicaraan itu, Pak Paul?

PG : Apa saja dalam pengertian hal yang memang relevan untuk kehidupan dia, selama itu relevan dan bisa membantu dia kita ceritakan. Salah satu asset ya, harta kekayaan yang bisa kita bagikan kpada dia adalah pengalaman hidup kita.

Kalau kita membagikannya dengan cara yang bisa dia terima, sangat bermanfaat, yang tidak bisa dia terima adalah kalau kita membagikannya seperti seorang guru. "Saya dulu waktu masih muda harus kerja keras makanya kamu juga harus kerja keras", itu tidak akan didengar oleh si anak. Tapi misalkan kita menceritakan kegagalan kita "Saya dulu juga pernah patah hati," dia akan kaget "O....Mama pernah patah hati?" Sebab dia tidak menyangka mamanya itu juga sama seperti dia dulu. Jadi kalau Mamanya dulu berkata: "Mama dari dulu hati-hati pilih teman, Mama tidak mau pria yang seperti begini, seperti begini, seperti begini," nah si anak justru tidak bisa dekat dengan si Mama, nah itu boleh disambung, itu boleh diberitahukan kepada si Mama. Tapi bukan berarti melulu itu saja yang diberitahu.
IR : Tapi biasanya Pak Paul, anak-anak itu berkomunikasi kalau dengan ibu, sekali waktu mereka itu bisa terbuka sekali. Nah bagaimana kita itu bisa memberikan masukan kepada para Papa, seorang ayah untuk bisa berkomunikasi dengan lebih dekat pada anak ya Pak Paul?

PG : OK! Saya anjurkan begini, kalau Papa itu cenderungnya memang berorientasi pada program aktifitas. Ajak anak untuk pergi berdua, misalkan ajak kencan, misalnya waktu itu saya ajak anak sayayang paling besar untuk saya bilang kencan.

Kami berdua pergi makan es, ngobrol-ngobrol, terus setelah pulang saya bilang saya tadi berkencan denganmu saya bilang, sebab saya ingin mengajarkan kamu berkencan itu seperti apa. Dan supaya nanti lain kali waktu kamu berkencan dengan teman kamu, kamu tahu itulah yang kamu lakukan. Jadi saya pikir itu bisa dilakukan, ajak anak itu pergi berdua misalkan anak perempuan dengan si ayah bisa atau anak laki dengan si ayah juga tidak apa-apa pergi berdua, terus di sana bisa ngobrol-ngobrol, tukar pikiran tentang film yang ditonton misalnya. Bagaimana menurut pandanganmu, ajak dia ngomong nah anak-anak biasanya apalagi anak laki kalau ditanya tentang hal-hal pribadi dia tidak mau ngomong, akhirnya ya film itu menjadi jembatan, bahan percakapan nah itu bisa juga menolong ayah akhirnya dekat dengan si anak begitu. Dan si anak pun belajar mengenal si ayah, karena mungkin di rumah dia dimarahi, ditegur dia tidak begitu kenal si ayah siapa, tapi waktu dia bicara tentang film yang ditontonnya itu o....dia sadar ayahnya itu pikirannya luas dan sebagainya.
(3) GS : Ya memang salah satu topik yang agak sulit dibicarakan dengan remaja itu justru masalah-masalah seks Pak Paul, yang bersifat pribadi tadi. Jadi kami mengatasinya dengan cara seperti apa Pak Paul?

PG : Kalau seks, saya punya prinsip ya kita ini secara proaktif memberitahu dia, sebab kalau kita menunggu dia bertanya pada usia remaja tidak bakalan terjadi. Anak hanya bertanya tentang seks ada masa dia kecil, setelah itu dia stop bertanya, sudah remaja kita yang mesti beritahu dia.

GS : Jadi mungkin itu satu topik menarik yang lain kali atau lain kesempatan kita bisa coba akan angkat di dalam perbincangan kita bagaimana berbicara masalah seks dengan anak-anak remaja kita.

PG : Baik topik yang penting sekali Pak Gunawan.

GS : Jadi para pendengar sekalian, demikianlah tadi telah kami persembahkan sebuah perbincangan seputar masalah keluarga khususnya masalah berbicara dengan para remaja kita. Anda tadi telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga) dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



6. Mendisiplin Remaja


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T020B (File MP3 T020B)


Abstrak:

Pukulan bukanlah cara disiplin yang seharusnya diberikan pada remaja. Dan apa yang pantas dilakukan orangtua untuk mendisiplin remajanya? Topik ini akan menjelaskannya.


Ringkasan:

Disiplin dengan pukulan seharusnya dilakukan sampai batas anak berusia 10, 11 tahun. Melewati usia itu anak tidak lagi tepat untuk didisiplin dengan pukulan, sebab pukulan tidak akan menimbulkan reaksi yang diinginkan yaitu kepatuhan dan perubahan perilaku, malah seringkali menimbulkan perasaan benci anak terhadap orang tua. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kejiwaannya.

Pada masa kecil kalau diperlukan kita mendisiplin anak dengan pukulan tapi setelah anak mulai remaja tidak lagi. Waktu anak kecil boleh dipukul juga dalam pengertian kita menyadari atau memahami tindakan apa yang boleh menerima disiplin dengan pemukulan sebab tidak semua tindakan anak boleh didisiplin dengan pemukulan. Pemukulan boleh dilakukan untuk hal yang memang tepat. Dr. James Dobson menekankan bahwa disiplin dengan pemukulan hanya dilakukan untuk tindakan yang memberontak atau membangkang.

Untuk anak-anak remaja pendisiplinan dapat dilakukan dengan :

  1. Dengan dialog, berarti kita mesti sering berbicara dengan anak-anak sebelum ada pendisiplinan. Jadi kita mesti membuka ruang komunikasi yang luas dengan anak-anak sehingga dia bisa bebas mengutarakan dirinya kepada kita. anak-anak remaja cenderung responship terhadap upaya untuk menjangkaunya melalui dialog, sebab mereka merasa adanya penghargaan. Komunikasi antara anak dan orang tua sangat dipengaruhi oleh adanya keterbukaan di antara mereka. Semakin orang tua nyaman membuka diri kepada anak semakin anak akan merasa dekat dengan orang tua

  2. Cara sanksi, sanksi adalah memberikan konsekuensi atas perbuatannya tatkala dia melanggar larangan kita. Contoh bentuk sanksi : tidak memberikan uang jajan selama dua hari. Untuk memberikan sanksi dengan efektif atau menjalankan metode sanksi dengan efektif kita perlu memberitahukan dia terlebih dahulu sebelum sanksi itu diberikan.

Disiplin sangat perlu dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu antara ayah dan ibu. Sebab disiplin kalau memang disetujui atau disepakati oleh kedua orang tua menjadi disiplin yang sangat solid, sangat kuat. Sedangkan disiplin yang hanya diberikan oleh satu saja oknum tidak akan menjadi disiplin yang kuat atau yang solid.

Kemarahan yang efektif adalah kemarahan yang tidak diulang-ulang. Amsal 17:10 berkata: "Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian daripada seratus pukulan pada orang bebal."

Di sini ditekankan bahwa orang yang berpengertian atau orang yang bijaksana, berhikmat, akan bisa menghargai satu hardikan tapi orang yang bebal atau orang yang tidak bijaksana meski seratus pukulan sekalipun tidak bisa membuat dia berubah. Kalau kita terapkan dalam rumah tangga, tugas utama kita adalah kita harus menjadikan anak-anak kita orang yang berhikmat, yang berpengertian. Sehingga lain kali kita hanya cukup memberikan dia satu hardikan dan dia sudah langsung tanggap, salah satu cara membuat anak itu berhikmat adalah dengan kitanya sendiri memulai menjadi orangtua yang berhikmat. Karena anak akan mencontoh, meniru semua perilaku orang tuanya baik yang positif maupun yang negatif.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana mendisiplin anak remaja kita. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kedua anak kami juga sudah remaja, kami juga marasakan perlunya kami mendisiplin mereka. Tetapi ada satu kesulitan, karena mereka sudah lebih besar, kalau dahulu kami sering melakukan disiplin dengan memukul mereka, sekarang rasanya itu tidak pantas. Selain badannya sudah besar, saya sendiri kadang-kadang khawatir kalau mereka melawan. Nah, sebenarnya sampai di usia berapa seorang anak itu baik pria maupun wanita, bisa kita disiplin dengan pukulan Pak Paul?

PG : Secara garis besar anak-anak itu masih bisa kita disiplin dengan pukulan dalam batas yang wajar Pak Gunawan, sampai kira-kira usia 10, 11 tahun. Melewati usia itu anak-anak sebetulnya tdak lagi tepat untuk didisiplin dengan pukulan, sebab pukulan tidak akan menimbulkan reaksi yang diinginkan yaitu kepatuhan dan perubahan perilaku, justru sering kali menimbulkan perasaan benci pada si anak terhadap kita orang tuanya.

GS : Itu dikarenakan faktor pertumbuhan tubuhnya atau pertumbuhan kejiwaannya?

PG : Pertumbuhan kejiwaannya, jadi begini Pak Gunawan, kita ini sebetulnya mempunyai (saya gunakan istilah) daerah jadi kita ini mempunyai rasa kepemilikan atas daerah hidup kita. Misalkan kta berbicara dengan seseorang, biasanya dibatasi atau dalam jarak sekitar 1 meter.

Kalau kita bicara dengan seseorang dalam jarak 30 cm kita akan merasa terlalu dekat/tidak nyaman. Dengan kata lain memang kita mempunyai teritori atau rasa akan daerah yang kita miliki itu, termasuk juga dengan tubuh kita Pak Gun, jadi kita tidak akan terlalu suka misalkan orang memukul atau menepuk pundak kita dan kita menganggap orang itu tidak terlalu akrab dengan kita. Jadi tubuh kita pun tidak untuk disentuh oleh orang dengan sembarangan. Nah, anak-anak kecil belum memiliki rasa teritori ini secara jelas, namun makin dewasa anak makin menyadari dan mempunyai perasaan memiliki akan teritori tubuhnya ini. Dan biasanya pada waktu anak usia pra remaja dan remaja 11, 12 tahun mulailah dia merasakan teritori tubuhnya ini, oleh sebab itulah sewaktu orang tua memukul dia (dan sudah tentu memukul itu 'kan tanpa seizin si anak) dia akan merasa adanya suatu insansi, adanya suatu penyerangan terhadap tubuhnya atau teritorinya. Itu sebabnya anak-anak yang sudah usia remaja kalau dipukul bereaksi, meskipun tidak langsung misalnya dengan mengeluarkan kemarahan di hadapan si orang tua tapi dalam hati dia biasanya menyimpan rasa sakit hati yang berat, karena rasa teritorinya sudah dilanggar oleh si orang tua, di mana tanpa seizinnya orang tua menggunakan pukulan yang keras untuk mendisiplin dia.
(1) GS : Kalau begitu pola kita mendisiplin anak remaja ini harus berubah Pak Paul?

PG : Pada masa kecil kalau diperlukan memang kita menggunakan disiplin dengan pukulan, tapi setelah anak mulai remaja tidak lagi. Nah, saya akan menjelaskan kategorinya atau penjabarannya. Tdi saya berkata, waktu anak kecil boleh dipukul itu juga dalam pengertian kita menyadari atau memahami tindakan apa yang boleh menerima disiplin dengan pemukulan, sebab tidak semua tindakan anak boleh didisiplin dengan pemukulan.

Contohnya, anak menumpahkan segelas air sewaktu dia sedang makan, misalkan anak itu berusia sekitar 8 tahun. Nah, saya tidak menganjurkan orang tua memarahinya dengan keras atau memukulnya, karena menumpahkan segelas air. Karena apa? Karena memang itulah anak-anak, jadi menumpahkan segelas air adalah hal yang memang dikaitkan dengan sifat kekanak-kanakan. Ya kita saja yang usianya sudah puluhan tahun ini kadang kala menyenggol gelas dan menumpahkan air, apalagi anak kecil yang rasa koordinasinya belum begitu bertumbuh dengan matang, adakalanya anak-anak itu memang sukar mengendalikan perasaannya sewaktu dia sedang senang, dia sedang bercerita tangannya bergerak akhirnya gelas tumpah. Ada orang tua yang tidak menyadari hal ini, dia melihat anaknya menumpahkan gelas langsung dia marah dan memukulnya, jadi itu tidak tepat. Memang pemukulan boleh dilakukan untuk hal yang tepat, nah yang tepat itu seperti apa, saya di sini mengutib perkataan Dr. James Dobson seorang psikologi Kristen yang memang dikenal luas di Amerika Serikat. Dr. James Dobson menekankan bahwa disiplin dengan pemukulan hanya dilakukan untuk tindakan yang memberontak atau membangkang. Jadi misalkan anak itu meski umur 4 tahun pun kalau dengan jelas-jelas membangkang kita misalnya matanya menyoroti kita dan mukanya marah terhadap kita dan langsung melakukan lagi dengan sengaja hal yang kita larang, meski dia usianya hanya 4 tahun kita boleh pukul, misalnya kita pukul pantatnya atau kita pukul tangannya supaya dia sadar bahwa kita tidak menyetujui tindakannya itu. Jadi saya setuju sekali dengan Dr. Dobson yaitu anak yang membangkang boleh diberikan pukulan, kalau tidak membangkang sebetulnya tidak usah, teguran pun sudah cukup, nah itu untuk kasus anak-anak. Untuk menjawab yang tadi Pak Gunawan tanyakan, kalau sudah remaja bagaimana? Nah, saya menawarkan 2 istilah untuk anak-anak remaja, yang pertama adalah dialog dan yang kedua adalah sanksi. Yang pertama dialog, dialog berarti kita mesti sering berbicara dengan anak-anak sebelum ada pendisiplinan. Jadi kita mesti membuka ruang komunikasi yang luas dengan anak-anak, sehingga dia bisa bebas mengutarakan dirinya kepada kita. Sampai titik di mana kita harus mendisiplin dia nah kita juga menggunakan dialog yaitu berbicara untuk membujuk dia supaya dia jangan melakukan hal yang dia lakukan atau dia akan lakukan. Nah, anak-anak remaja cenderung responship terhadap upaya untuk menjangkaunya melalui dialog, sebab apa? Sebab dia merasa adanya penghargaan. Kita saja yang sudah dewasa misalkan atasan kita di tempat pekerjaan langsung memarahi kita, kita akan merasa tidak suka, namun kalau dia itu mencoba berdialog dengan kita dan menjelaskan apa yang dia inginkan dan di mana letak kesalahan kita, kita cenderung lebih bisa menerimanya. Nah, salah satu faktor kenapa kita bisa menerimanya adalah faktor penghargaan dan anak remaja sudah mempunyai kebutuhan untuk penghargaan seperti itu.
IR : Jadi komunikasi orang tua dan anak itu harus sesering mungkin Pak Paul. Tapi bagaimana sekarang kalau salah satu orang tua ini pendiam misalnya si ayah itu pendiam sedangkan ibu banyak bicara sehingga hubungannya anak dengan si ayah ini pun berbeda dengan si ibu, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu bisa menjadi masalah, meskipun tidak harus selalu akhirnya menjadi masalah. Yang saya maksud adalah tidak semua orang berkepribadian sama yaitu komunikatif, suka berbicara. Ada memag di antara kita yang lebih pendiam daripada yang lainnya, yang penting adalah bukannya berapa banyak tetapi berapa terbukanya.

Jadi komunikasi antara orang tua-anak sangat dipengaruhi oleh keterbukaan si orang tua terhadap si anak. Semakin orang tua nyaman membuka diri kepada anak, semakin anak akan merasa dekat dengan orang tua. Saya berikan contoh misalkan si anak sedang mulai bertumbuh dewasa dan kita mulai meraba-raba bahwa dia mungkin mengalami tekanan-tekanan dari teman atau yang biasa disebut peer pressure. Nah, ada baiknya kita memanggil si anak meskipun kita pendiam, kita memanggil si anak dan berkata: "Ayah ingin bicara dengan engkau," "Apa Pa?" Terus kita beritahu: "Saya menyadari engkau sekarang mulai menginjak usia remaja dan ayah menyadari adakalanya sebagai remaja kita terpaksa melakukan hal-hal yang kita sebetulnya tidak ingin lakukan, tapi tetap kita lakukan karena kita tidak mau dianggap seperti banci atau penakut oleh teman-teman kita, apakah kamu juga merasakan hal yang sama?" Nah, misalkan si anak berkata: "Tidak, saya tidak merasa begitu." Ayah bisa berkata: "Baik, bagus kalau misalnya engkau tidak merasakan hal itu." Tapi terus si ayah menyambung dengan berkata: "Ayah pernah mengalami hal-hal itu sewaktu ayah seusia engkau, ayah pun adakalanya melakukan hal yang sebetulnya tidak ayah sukai tapi terpaksa ayah lakukan. Misalkan sebetulnya ayah tidak mau merokok karena ayah tahu itu tidak baik tapi terpaksa ikut merokok, awal-awalnya karena apa? Karena semua teman-teman merokok. Jadi daripada ayah dikatakan penakut atau banci ayah ikut merokok, nah akhirnya setelah ayah lebih dewasa ayah sadari kenapa ayah harus ikut-ikutan mereka, jadi akhirnya ayah stop merokok. Nah, mungkin engkau juga akan melalui masa seperti itu dan ayah hanya ingin memberitahu engkau. Kalau sampai engkau mengalami hal seperti itu ayah ingin engkau merasa bebas bicara dengan ayah, sebab mungkin ayah bisa memberikan masukan-masukan karena ayah pun mengalami hal-hal yang seperti itu dulu." Nah, saya kira keterbukaan seperti ini merupakan tanda, merupakan suatu sinyal yang menyambut si anak atau membuka pintu kepada si anak untuk masuk ke dalam hidup si ayah. Sehingga lain kali si anak merasa lebih bebas sebab sudah diundang untuk masuk ke dalam kehidupan si ayah.
GS : Tapi saya itu kadang-kadang khawatir Pak Paul, kalau cuma diberitahu dengan kata-kata atau diajak dialog kita itu tidak dianggap oleh anak-anak remaja kita. Karena saya melihat orang tuanya masih memukul, apakah kekhawatiran itu beralasan sebenarnya?

PG : Untuk anak-anak tertentu itu betul, jadi akan ada anak-anak yang bisa tanggap dan tunduk kepada kita melalui dialog tapi ada juga anak-anak remaja yang keras kepala, jadi setelah kita brdialog dengan dia pun tidak ada hasilnya, dia tetap melakukan hal yang kita larang.

Nah untuk anak seperti itu saya kira ada cara yang lain yaitu cara sanksi, sanksi adalah memberikan konsekuensi atas perbuatannya tatkala dia melanggar larangan kita. Sanksinya seperti apa, saya bisa berikan contoh misalkan kita tidak memberikan dia uang jajan selama dua hari, nah untuk memberikan sanksi dengan efektif atau menjalankan metode sanksi dengan efektif ini kita perlu memberitahu dia terlebih dahulu sebelum sanksi itu diberikan. Jadi misalnya kita meminta anak kita pulang sebelum jam 11.00 atau paling lama jam 11.00 malam pada hari Sabtu misalnya. Kemudian dia tetap pulang jam 12.00, jam 12.30 pagi nah kita beritahu dia tetap dia melakukan hal yang sama, nah kita berikan dia sanksi. Kita beritahu dia hari Sabtu ini jikalau engkau tetap pulang di atas jam 11.00, selama 3 hari setelah hari Sabtu engkau tidak akan mendapatkan uang jajan sama sekali. Nah, sanksi seperti itu memang bertujuan untuk membuat anak dirugikan, nah ini lain lagi dengan anak-anak kecil. Anak kecil memang perlu sedikit banyak merasakan sakit, sakit secara fisik misalnya pada waktu dia nakal dipukul pantatnya. Tapi setelah anak-anak remaja, yang lebih efektif adalah waktu anak merasa dirugikan, dibatasi, sehingga yang dia bisa nikmati tidak bisa lagi dia nikmati karena telah diambil. Jadi 3 hari tidak dapat uang jajan itu sudah lumayan menyakiti dia atau merugikan dia. Misalkan dia melakukannya lagi setelah itu, nah kita bisa beritahu kalau engkau melakukannya lagi selama seminggu engkau tidak dapat uang jajan. Jadi kita berikan dia waktu yang lebih lama agar dia merasakan sulitnya seminggu sekolah tanpa uang jajan sama sekali. Nah, selain dari sanksi ini waktu kita memarahi dia kita memang tidak usah lagi memukul dia tapi kita perlu memarahi dia dengan nada yang tegas, nah di sinilah ayah berperan besar. Waktu anak remaja terutama pada masa remaja yang lebih harus terlibat dalam mendisiplin anak adalah si ayah jadi firman Tuhan yang kita ketahui di Efesus 6:4 itu memang menugaskan ayah untuk mendisiplin anak, terutama anak remaja. Sebab anak remaja pada umumnya lebih takut kepada ayah daripada ibu.
IR : Nah, ini dibutuhkan waktu Pak Paul, kalau si ayah itu pulang sudah sore habis bekerja rata-rata itu tidak ada waktu lagi untuk mendisiplinkan anak, jadi seolah-olah tanggung jawab disiplin itu terletak pada si ibu ini kesulitan sekali Pak Paul.
GS : Waktu kita bekerja si anak ini melakukan indisipliner, apakah pada waktu itu tadi yang ibu Ida katakan ibu harus bertindak atau tunggu ayah atau bagaimana Pak Paul?

PG : Ibu harus bertindak, jadi saya tidak setuju dengan metode yang mendelegesikan kepada ayah, maksud saya begini ada ibu yang misalnya berkata kepada anaknya: "Nanti setelah ayah pulang kau akan dimarahi," nah bagi saya kalimat itu justru melemahkan posisi si ibu di hadapan si anak.

Sebab seolah-olah si ibu itu tahu bahwa dia lemah dan tidak lagi berpengaruh untuk menegur atau menangani si anak. Jadi saran saya kalau misalkan anak itu berbuat kesalahan di depan mata si ibu tetap si ibu memarahi, harus bertindak dan tidak usah berkata: "Nanti ayahmu pulang kamu akan kena," tidak usah tapi setelah ayah pulang malam nanti memang ibu harus berbicara dengan ayah tentang tindakan itu kalau misalnya memang perlu diketahui oleh si ayah. Dan si ayah langsung bebicara dengan si anak juga dan memberikan teguran yang keras kepada si anak. Jadi dengan kata lain si anak akhirnya tahu bahwa waktu dia salah mama atau ibu akan menegur dan nanti setelah ayah pulang dia juga akan kena teguran. Nah, di situ dia akan melihat kekompakan ayah dan ibu dan ini penting sekali, sebab disiplin kalau memang disetujui atau disepakati oleh kedua orang tua menjadi disiplin yang sangat solid, sangat kuat. Sedangkan disiplin yang hanya diberikan oleh satu oknum saja tidak akan menjadi disiplin yang kuat atau yang solid, jadi sebaiknya memang dua-dua menyepakati dan si anak akan merasa tidak berkutik lagi.
GS : Tapi akibatnya memang mungkin tadi ibu Ida benar, ibu itu yang lebih banyak bicara Pak dengan anaknya?

PG : Ya bicara dalam pengertian memang lebih banyak waktu daripada si ayah yang pulang sore atau malam kita tidak bisa berkompetisi maksudnya ayah-ayah ini dengan para ibu karena cukup banya di antara ibu yang menjadi ibu rumah tangga secara penuh waktu.

Jadi saran saya adalah meskipun tidak banyak waktu tapi si ayah menyempatkan diri secara berkala untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang dengan si anak, mencari tahu tentang si anak, tentang minatnya, hobynya dan sekali-sekali mengajak si anak pergi berdua. Waktu saya remaja, ayah saya hampir setiap minggu suka mengajak saya nonton film, mungkin 2 minggu sekali atau kadang-kadang seminggu sekali dan berdua saja dengan saya nonton terus pulang lagi. Dan saya menyadari bahwa itu adalah caranya dia untuk mendekatkan diri dengan saya, sudah tentu itu tidak saya sadari waktu saya remaja, saya hanya menikmati saja diajak nonton. Tapi akhirnya baru saya sadari itulah upayanya dia untuk dekat dengan saya.
IR : Sehingga si anak pun juga terbuka dengan si ayah Pak Paul?

PG : Nah, terbuka atau tidaknya anak tergantung pada terbuka atau tidaknya kita terhadap anak, jadi sering kali anak itu tidak mendahului kita pada masa remaja. Pada masa kecil anak-anak ituterbuka cerita apa saja tapi setelah remaja anak-anak memang cenderung menyembunyikan informasi-informasi tertentu tentang kehidupannya dan itu adalah hal yang wajar, tidak apa-apa.

Namun kalau kitanya terbuka dengan mereka, mereka pun akan lebih merasa nyaman terbuka dengan kita, semakin kitanya enggan membicarakan topik-topik tertentu, mereka juga akan enggan.
(2) GS : Ada suatu pola yang saya lihat Pak Paul, kalau ibu itu memarahi anaknya dengan kata-kata, itu cenderung diulang-ulang nanti suami atau ayah datang ibu akan cerita Pak Paul, anak itu dimarahi lagi. Besok paginya ketika ayahnya sudah pergi anak itu masih dimarahi lagi. Nah, anak ini menjadi jenuh Pak Paul kalau ayah itu sekali berbicara tapi jarang-jarang nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Yang efektif adalah kemarahan itu tidak diulang-ulang jadi memang kebetulan ada firman Tuhan yang saya kutib dari kitab Amsal 17:10 , "Suatu hardikan lebih masuk pada orang erpengertian daripada 100 pukulan pada orang bebal."

Di sini ditekankan bahwa orang yang berpengertian atau di Amsal ditekankan orang yang bijaksana atau berhikmat akan bisa menghargai satu hardikan, tapi orang yang bebal atau orang yang tidak bijaksana bahkan 100 pukulan pun tidak bisa membuat dia itu berubah. Nah, kalau kita terapkan ini dalam konteks rumah tangga antara orang tua dan remaja yang tugas utama kita adalah kita harus menjadikan anak-anak kita orang yang berhikmat, yang berpengertian. Sehingga lain kali kita hanya cukup memberikan dia hardikan dan dia sudah langsung tanggap, nah salah satu cara membuat anak itu berhikmat adalah dengan kitanya sendiri memulai menjadi orang tua yang berhikmat. Karena anak itu akan mencontoh, meniru semua perilaku orang tuanya baik yang positif maupun yang negatif. Kalau mereka melihat atau anak itu melihat bahwa orang tuanya adalah orang tua yang bijaksana mereka juga akan belajar untuk hidup bijaksana. Nah, salah satu hal yang penting dalam mendisiplin anak adalah kita tidak mengulang-ulang kemarahan kita atau hati kita yang sedang kesal itu kita terus tumpahkan pada si anak. Sebab memang akan kehilangan dampaknya dan akhirnya apa kita ngomel-ngomel selama 2, 3 jam tidak ada hasilnya.
GS : Tapi kalau kita harus menghardik anak mestinya pada saat dia salah Pak Paul, pada saat dia salah kita hardik dia. Tapi pada waktu dia salah ayah tidak ada di rumah, jadi kesulitan Pak Paul untuk mengambil saat yang tepat, yang mestinya dihardik tapi kita tidak di rumah kemudian si ibu yang menghardik tapi kalau cara menghardiknya diulang-ulang, anak merasa bosan atau bahkan tidak menganggap itu kata-kata ibunya.

PG : Sering kali begitu, jadi ibu perlu menghardik langsung, menegur langsung tapi sekali saja, jangan diulang-ulang. Dan setelah pulang, ayah bisa memanggil si anak dan menegurnya kembali aas kesalahan yang tadi itu.

Jadi misalkan ayah berkata: "Tadi ibu sudah menceritakan kepada saya apa yang engkau lakukan, ayah ingin tahu kenapa engkau berbuat itu?" Jadi tanya lagi, sebaiknya memang ayah sebelum memarahi atau menegur memberikan kesempatan kepada si anak untuk menjelaskan, jadi jangan sampai belum apa-apa langsung memarahi dia. Ada kalanya kita lupa kita langsung memarahi, sebaiknya tidak, memang sebaiknya kita memberikan dia kesempatan, dengan cara itu si anak juga merasa diperlakukan adil. Bahwa dia diberi kesempatan untuk menyajikan sisinya, sisi ceritanya itu sebelum akhirnya kita memarahi dia. Dan yang kedua kenapa penting kita meminta dia menyajikan ceritanya kepada kita, supaya kita pun sebagai ayah tidak dilihat anak sebagai aparat ibu atau antek ibu yang menurut saja, ibu bilang apa ikut terus. Sebab kalau kita dilihat anak (kita maksudnya ayah) dilihat anak sebagai ayah yang menurut saja apa yang ibu mau kita sebetulnya akan dianggap remeh olehnya, kita akan dilecehkan. Dan itu justru akan merugikan kita tatkala kita harus mendisiplin dia.
GS : Tapi itu berarti membuka peluang untuk anak itu berargumentasi Pak Paul, 'kan pasti dia membela dirinya, dia akan mengadukan kepada kita. Kalau tadi Pak Paul tanyakan sebenarnya apa masalahnya dan sebagainya dia tentu akan membela diri.

PG : Kalau masalahnya jelas dia salah meskipun dia telah menyajikan ceritanya kita tetap tekankan tanggung jawabnya itu. Namun kenapa saya toh lebih menyetujui adanya dialog atau argumentasidibandingkan tidak ada sama sekali.

Sebab memang pada usia remaja anak-anak itu ingin sekali diberikan kesempatan untuk menyajikan argumennya, dia ingin sekali dimengerti dan dia akan merasa lebih dihargai kalau kesempatan itu diberikan kepadanya, jadi itu adalah hal yang sehat saya kira.
GS : Jadi memang si ayah tidak perlu khawatir kehilangan wibawa Pak Paul dan dengan mendengarkan alasan-alasan anak atau bahkan mungkin bisa saja dalam pandangan si ibu memang anak itu salah sehingga dimarahi, tapi ketika anak itu menguraikan alasan-alasannya si ayah ini berpendapat sebenarnya kamu tidak salah, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Bisa terjadi, kalau memang si ibu misalnya overact, bereaksi berlebihan. Nah, dalam hal itu kita sebaiknya tetap berdiri di atas kebenaran, sebab istri kita bukanlah manusia yang sempura dan bisa salah.

Untuk kesalahan yang sangat kecil istri kita bisa sangat marah karena lagi tertekan dan sebagainya, dan kita bisa berkata kepada si anak "OK! Ayah sudah mendengar dan ayah memang melihat mama bereaksi berlebihan terhadap kamu, saya tadi kebetulan tahu kenapa mama begitu. Mama lagi ada sedikit masalah dengan ini, ini, dan adakalanya kita berbuat hal yang sama kalau kita lagi tertekan akhirnya menumpahkan kemarahan kita pada orang lain. Jadi dalam hal ini saya kira memang keliru dan mungkin saya akan berbicara dengan mama supaya mama mungkin bisa berbicara dengan kamu dan kalau perlu meminta maaf kepada kamu. Nah, tapi selain dari pihak mama yang memang salah, dari pihak kamu sendiri apa tanggung jawabmu," misalkan dia memang juga berbuat kesalahan meskipun kecil, nah kita bisa tekankan: "meskipun sebetulnya kesalahanmu sangat kecil tapi tetap itu adalah suatu pelanggaran, nah bagaimana kalau engkau juga meminta maaf." Jadi saya kira jangan sampai kita membabi buta membela pasangan kita jadi kalau memang kita sadari yang benar adalah anak kita, kita harus berkata hal yang benar juga. Dari situlah respek anak terhadap orang tua bertumbuh begitu.

GS : Ya, saya percaya sekali bahwa ada banyak anak remaja yang mendambakan orang tua yang mau bicara dengan mereka Pak Paul, khususnya pada saat-saat ini yang bukan cuma dimarahi tetapi juga mau didengar. Demikianlah tadi para pendengar telah kami persembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK dengan alamat Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



7. Ketergantungan Remaja pada Obat-Obatan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T025B (File MP3 T025B)


Abstrak:

Buah dari masalah yang beredar di masyarakat yaitu mulai pecahnya atau rapuhnya pernikahan atau keluarga. Dan hal ini lahir dari sistem dari keluarga yang bermasalah. Dalam materi ini juga dijelaskan tentang jenis-jenis obat yang biasa dipakai.


Ringkasan:

Dewasa ini banyak anak-anak remaja, anak muda yang hidupnya tergantung dengan obat-obatan terlarang. Ini merupakan salah satu buah dari masalah yang beredar di masyarakat yaitu mulai pecahnya atau rapuhnya pernikahan atau keluarga.

Tahap-tahap seorang anak bisa menjadi pecandu obat-obatan, yaitu:

  1. Tahap coba-coba, pada tahap ini anak remaja mencoba karena melihat teman-temannya menggunakan atau ditantang oleh temannya sehingga dia coba.

  2. Tahap pemakaian sosial atau rekreasional, jadi orang-orang mulai menggunakan obat-obat ini bukan untuk coba-coba lagi tapi untuk konteks atau suasana yang bersifat rekreasi, pesta dengan teman.

  3. Sudah mulai ada usaha untuk mendapatkan, namun tetap pada tahap ketiga ini sebetulnya pemakaiannya belum begitu kronis dan akut sehingga pemakaiannya lebih dari sosial tapi mulai membeli untuk kepentingan sendiri.

  4. Yang lebih serius adalah orang ini mulai mecandu dan pada nuansa dia tidak mendapatkan obat, hidupnya akan sangat terpengaruh, dia tidak bisa tenang, terganggu sekali.

Ada beberapa jenis obat adalah sebagai berikut:

  1. Halusinogen, adalah obat-obat yang bisa menimbulkan efek halusinasi yaitu membayangkan sesuatu yang tidak nyata. Waktu orang memakainya dia seolah-olah merasakah hidup di dalam dunia yang lain merupakan visi, impian yang tiba-tiba sangat indah sekali, jadi dia dibawa ke dunia impian. Misalnya LSD, PCP, Angel dust atau debu-debu malaikat.

  2. Opiet, termasuk morfin. Opiet membuat kita rasanya tidak lagi merasakan perasaan-perasaan kita yang tidak enak, yang menyakitkan, yang menyedihkan. Kita itu dibuat seolah-olah kebal tidak lagi merasakan kehidupan yang nyata.

  3. Stimulan, misalnya kokain. Kokain ini efeknya adalah membuat kita lebih bersemangat, berenergi, kokain ini juga membuat kita terangsang lagi untuk mencipta, memikirkan hal-hal yang harus diciptakan.

  4. Yang cukup terkenal adalah heroin, heroin sebetulnya mempunyai efek seperti opiet yaitu membawa kita tidak lagi terlalu merasakan perasaan-perasaan, kita menjadi tenang. Dan yang sejenis, mempunyai efek yang serupa adalah ganja atau yang lebih terkenal dengan nama mariwana, mariwana juga membawa kita menerawang tapi efeknya tidak seperti halusinasi atau yang ditimbulkan halusinogen.

  5. Yang paling umum dipakai adalah obat-obat ekstasi, biasanya obat ini dikonsumsi oleh orang-orang yang berada, yang punya uang sebab ekstasi mahal.

Ciri-ciri anak yang terkena obat-obatan, sbb:

  1. Adanya perubahan perilaku, tiba-tiba anak ini tidak suka bergaul dengan teman-temannya yang dulu.

  2. Mereka lebih banyak meminta uang, biasanya kalau tiba-tiba anak remaja membutuhkan uang yang banyak ada kecenderungan dia mulai menggunakan obat.

  3. Mereka mulai berbohong

  4. Perilakunya mulai melawan kita kalau keinginannya tidak dituruti.

Hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai orangtua adalah:

  1. Kita paksa dia mengaku, kemungkinan dia nggak akan mengaku jadi cara terampuh adalah tidak memberikan uang lagi.

  2. Membawanya ke seseorang untuk dibimbing secara pribadi, dan kalau dia sudah mecandu perlu dilakukan ditoksifikasi yaitu pelepasan dari ketergantungan.

  3. Setelah pelepasan, kita masuk ke akar masalahnya misalnya masalah dengan keluarga, dia tidak diterima atau dia terlalu diberikan kebebasan yang berlebihan jadi kita koreksi.

  4. Merehabilitasi dia kembali terjun ke masyarakat. Untuk hal ini kita harus melengkapi diri dengan keterampilan hidup yang lain, keterampilan mengatasi stres yang lain.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan mengajak Anda berbincang-bincang tentang ketergantungan obat di kalangan remaja. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita tahu bahwa akhir-akhir ini nampak dengan jelas makin banyak saja remaja atau anak-anak muda yang hidupnya itu tergantung pada obat-obat bius. Mereka yang bahkan sampai berani mencuri uang orang tuanya untuk membeli obat bius yang memang tidak murah. Sebenarnya gejala ini, gejala yang bagaimana Pak Paul?

PG : Sebetulnya ini merupakan buah dari masalah yang beredar di masyarakat yaitu mulai pecahnya atau rapuhnya pernikahan di keluarga, Pak Gunawan. Jadi sering kali kasus-kasus penggunaan alkoho atau obat-obat terlarang itu muncul dalam sistem keluarga yang bermasalah, di mana akhirnya pengawasan orang tua terhadap anak menjadi tidak efektif atau berkurang dan anak-anak itu akhirnya mulai bisa melakukan hal-hal yang melanggar hukum.

Jadi saya kira masalah ini akan menjadi masalah yang lebih serius di tahun-tahun mendatang, karena kita menyaksikan juga makin banyak keluarga yang bermasalah dan makin sedikit waktu yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.
GS : Tapi sebenarnya kalau kita tanyakan kepada mereka awalnya itu mereka cuma coba-coba atau takut dikatakan banci dan sebagainya.

PG : Betul, jadi sebetulnya pemakaian obat-obat ini mempunyai tahapannya, Pak Gunawan, tahapan yang pertama adalah yang disebut tahap coba-coba, jadi seperti yang tadi, Pak Gunawan katakan. Pad tahap coba-coba ini anak remaja mencoba karena melihat teman-temannya menggunakan atau ditantang oleh teman-temannya sehingga dia coba.

Biasanya kalau hanya pada tahap coba, ini tidak menjadi suatu ketergantungan yang permanen. Tahapan yang berikutnya adalah tahap pemakaian sosial atau rekreasional, jadi orang-orang mulai menggunakan obat-obat ini bukan untuk coba-coba lagi tapi untuk konteks atau suasana yang bersifat rekreasi, pesta dengan teman, nah mulailah mereka memakan ekstasi pada waktu pesta bersama-sama dengan teman. Mungkin mereka hanya pakai seminggu sekali dan kalaupun makan paling hanya satu pil, pada tahap ini memang belum terjadi ketergantungan. Nah, pada level berikutnya di sini sudah mulai ada usaha untuk mendapatkan itu, namun tetap pada tahap ketiga ini sebetulnya pemakaiannya belum begitu kronis dan akut sehingga pemakaiannya lebih dari sosial tapi mulai membeli untuk kepentingan sendiri. Tahap yang berikutnya atau tahap keempat yang lebih serius adalah di mana orang mulai mencandu dan pada nuansa dia tidak mendapatkan obat untuk hidupnya itu akan sangat terpengaruh, dia tidak bisa tenang, terganggu sekali. Jadi obat bius atau alkohol menjadi bagian hidupnya yang sangat sentral, tidak bisa tidak, dia harus mendapatkan obat itu.
GS : Itu yang disebut ketergantungan itu ya Pak Paul, jadi tanpa itu rasanya dia tidak bisa hidup lagi.

PG : Betul, itu tahap yang sudah sangat serius.

(2) IR : Dan mungkin, Pak Paul, bisa menjelaskan jenis-jenis dan apa jenis yang paling populer, Pak Paul?

PG : OK! Rupanya di setiap negara lain-lain dan di setiap status sosial juga berbeda. Jadi misalkan kita ini mengenal ada beberapa jenis obat yang disebut pertama adalah halusinogen. Halusinoge ini adalah obat-obat yang bisa menimbulkan efek halusinasi, apa itu halusinasi? Membayangkan sesuatu yang tidak nyata, jadi mendengar suara yang sebetulnya tidak nyata itu yang kita sebut halusinasi.

Ada obat-obat tertentu yang menimbulkan efek halusinasi, jadi waktu orang memakainya dia seolah-olah merasakan hidup di dalam dunia yang lain mendapatkan visi, impian yang tiba-tiba sangat indah sekali dan sebagainya, jadi dia dibawa ke dunia impian. Waktu tahun 60-an mungkin, Pak Gunawan dan Ibu Ida, mungkin pernah mendengar nama obat yang disebut LSD, itu yang dipakai pada tahun 60-an yang populer sekali. Dan biasanya ini dipakai oleh generasi 60 tahunan di Amerika Serikat. LSD itu termasuk halusinogen. Sekarang kalau di Amerika yang terkenal disebutnya PCP itu istilah medis sebetulnya (saya juga tidak bisa mengingat namanya sekarang) tapi biasanya disebut dengan bermacam-macam nama misalnya "Angel Dust" atau debu-debu malaikat, namanya bagus-bagus, itu efeknya adalah halusinasi, bisa membuat orang menerawang ke mana-mana. Ada jenis yang berikutnya yang disebut jenis opiet, itu termasuk dalamnya morfin, jadi kita mengenal morfin sebagai obat sebetulnya yang digunakan pada operasi atau perawatan medis untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi akhirnya morfin yang harusnya digunakan di rumah sakit, dibocorkan keluar dan dipakai oleh banyak orang di luar rumah sakit. Efeknya tadi kita sudah sebut opiet itu memang membuat kita rasanya tidak lagi merasakan perasaan-perasaan kita yang tidak enak, menyakitkan, menyedihkan dan lain-lain. Seolah-olah orang dibuat kebal, tidak lagi merasakan kehidupan yang nyata ini,namun efekya tidak seperti halusinasi yang disebabkan oleh halusinogen tadi. Jenis berikutnya yang disebut stimulans misalnya kokain, kokain itu salah satu obat yang termahal sebetulnya, maka kokain itu sebetulnya dinikmati oleh kalangan ekonomi ke atas bukan yang di bawah, kokain ini efeknya adalah membuat kita lebih bersemangat, berenergi. Maka para bintang film, penyanyi-penyanyi di negeri Barat yang saya tahu ya banyak sekali yang menggunakan kokain karena mereka itu harus performa, harus tampil sedangkan tubuh mereka capek, ide-ide mereka sudah habis kokain itu membuat mereka terangsang lagi untuk mencipta, untuk memikirkan hal-hal yang mereka harus ciptakan, membuat lagu dan sebagainya; jadi kokain yang mereka gunakan. Berikutnya lyang cukup terkenal adalah heroin, jadi heroin itu sebetulnya mempunyai efek seperti opiet, yaitu membawa kita tidak lagi terlalu merasakan perasaan-perasaan, kita menjadi lebih tenang. Dan yang sejenis dan mempunyai efek yang serupa juga adalah ganja atau yang lebih terkenal dengan nama mariyuana, mariyuana juga memang membawa kita menerawang tapi efeknya tidak seperti halusinasi atau yang ditimbulkan halusinogen tadi. Di sini yang umum apa yang saya kira paling umum adalah obat-obat seperti ekstasi itu sekarang ini yang paling umum dipakai orang, dan juga pil-pil lain. Nah, selain dari itu yang cukup umum digunakan di kalangan mungkin yang tidak terlalu atas adalah ganja sebab ekstasi tetap mahal, jadi biasanya orang mengkonsumsi ekstasi adalah orang-orang yang punya uang, yang tidak punya uang kebanyakan akan menggunakan seperti yang saya sebut tadi ganja/mariyuana karena memang lebih murah.
GS : Ya dari uraian Pak Paul itu sebenarnya kita tahu bahwa yang dicari mereka itu adalah ketenangan walaupun bersifat sementara, ya Pak Paul. Yang semu juga itu, Pak Paul, apakah itu memang menjadi kebutuhan dasar untuk para remaja ini?

PG : Saya kira ya, saya kira mereka itu menggunakan obat ya, pada akhirnya untuk melarikan diri. Memang awalnya mencoba, semua awalnya mencoba, tapi kalau sampai tergantung saya kira tema utamaya adalah mereka melarikan diri dari dunia yang tidak nyaman, tidak tenteram sebab mereka bisa hidup untuk sementara dalam dunia yang relatif aman, tenang, bebas dari problem jadi itu.

GS : Karena kehidupan remaja itu 'kan penuh dengan gejolak, Pak Paul, yang terjadi di dalam dirinya mungkin mereka melarikan diri ke situ. Kalau di rumah mereka tidak mendapatkan ketenangan atau kasih sayang larinya 'kan ke situ. Tapi yang saya ketahui, saya dengar bahwa obat-obatan itu yang mereka gunakan konsumsi itu dosisnya makin lama makin tinggi, betul begitu Pak Paul?

PG : Betul karena tubuh kita itu akan mengembangkan toleransi, jadi misalkan kita pada awalnya menggunakan dosis yang kecil, lama-lama dosis tersebut tidak cukup untuk menimbulkan efek yang sam oleh karena itu harus dikonsumsi lagi dengan dosis yang lebih besar.

Jadi biasanya ketergantungan itu akhirnya mempengaruhi segenap sendi kehidupan orang tersebut, bukan saja secara emosional dia membutuhkan obat itu untuk melarikan diri dari kefrustrasian hidupnya. Dia juga membutuhkan obat tersebut karena tubuhnya pun membutuhkan, karena tubuhnya itu sudah biasa berfungsi dengan obat-obat itu. Sehingga kalau tidak diberikan dia akan terganggu sekali begitu.
(3) IR : Pak Paul, untuk mengetahui anak-anak yang terkena obat itu, tentu punya ciri-ciri. Bagaimana Pak Paul ciri-ciri orang yang kena obat itu?

PG : Pada anak-anak remaja kita akan melihat perubahan perilaku Bu Ida, jadi tiba-tiba anak ini tidak suka bergaul dengan teman-temannya yang dulu. Misalkan dia sebelumnya aktif di gereja, tibatiba sekarang tidak mau lagi ke gereja dan teman-temannya pun mulai berubah.

Kita harus perhatikan kalau berubah ke arah yang baik tidak apa-apa, tapi misalkan berubah dia mulai berteman dengan teman-teman yang kita lihat tidak benar, itu kita harus waspadai. Kedua, misalnya dia lebih banyak meminta uang, kita pikir untuk apa ya kita tanya, jawabannya untuk beli ini, beli itu dan sebagainya. Biasanya kalau tiba-tiba anak remaja itu membutuhkan uang yang banyak ada kecenderungan dia mulai menggunakan obat. Karena memang obat-obat itu mahal sekali, secara realistik satu minggu kalau mereka pakai cukup sering, bisa habis ratusan ribu, jadi biaya yang sangat besar. Jadi kalau dia mulai minta uang, mulai minta uang kita harus mulai berpikir untuk apa ini dan biasanya yang ketiga adalah mereka mulai berbohong. Mereka berkata mau pergi ke mana tapi terus tidak ke sana, dan tentang uang misalnya kita tanya "Mana benda yang engkau akan beli, mana barang yang engkau akan beli?" Tidak jadilah, tadi dicuri tidak beres ini, ada yang bohong, jadi itu yang ketiga. Yang keempat adalah kita melihat perilakunya itu mulai melawan kita kalau keinginannya tidak dituruti. Dulu tidak, dulu biasa-biasa saja tapi sekarang kalau kita tolak permintaannya terutama yang berkaitan dengan uang, dia marah sekali, dia harus mendapatkan uang itu. Keempat hal ini saya kira cukup baik untuk kita gunakan guna menilai apakah anak kita ini mulai bermain-main dengan obat terlarang itu. Biasanya orang tua itu baru menyadari anaknya itu memakai sampai anaknya itu sudah benar-benar mencandu obat-obat ini, baru akhirnya ketahuan anak ini sudah mencandu, dan biasanya kalau sudah cukup parah.
GS : Apakah berat tubuhnya itu akan turun drastis?

PG : Biasanya karena nafsu makannya itu akan terganti dengan kebutuhan dia untuk mengkonsumsi obat-obat itu.

GS : Padahal sebenarnya anak-anak remaja kita itu kalau makan 'kan banyak sekali Pak Paul?

PG : Ya, ya contoh lainnya lagi adalah pada waktu dia tidak pakai, dia sering ingusan. Nah antara masa pakai ke pakai yang berikutnya mereka sering ingusan, jadi hal ini kita harus waspadai kenpa ingusan dua hari sekali atau 3 hari sekali ingusan.

Hari ini ingusan nanti hilang tapi dua hari kemudian muncul lagi ingusan.
GS : Ada, ya saya dapat pengalaman dari salah seorang teman saya itu mengatakan anaknya itu tiba-tiba sering pakai baju tangan panjang, Pak Paul, yang tadinya tidak terbiasa dan setelah dipaksa untuk membuka lengan bajunya ternyata lengannya penuh dengan suntikan-suntikan.

PG : Betul, jadi seringkali kalau mereka menyuntik mereka menyembunyikan tanda suntikan itu. Namun sekarang masalahnya ya Pak Gunawan, yang menyuntik mungkin dugaan saya tidak sebanyak yang mengunakan cara lain (GS : Karena itu membekas ya Pak Paul, mereka tidak menyukai rupanya).

Dan efeknya lamban, jadi disuntikan masuk ke dalam tubuh itu sampai ke otak perlu waktu. Makanya kebanyakan orang itu kalau di Amerika digunakan istilah snort, snort itu seperti disedot dari hidung. Jadi hidung itu ditutup sebagian, terus yang satunya dimasukkan bubuknya sedot langsung ke otak. Mula-mula orang tidak bisa begitu, bisa benar-benar dia pingsan tapi kalau sudah kecanduan akhirnya dihisap dengan rokok tidak lagi berfungsi, disuntik juga masih terlalu lama, harus disedot waktu di 'snort' memang langsung ke otak cepat sekali efeknya. Itu memang bahaya, bahayanya adalah tidak ketahuan, snort itu tidak ada dampak apa-apa. Dirokokpun, dihisap dengan rokokpun tidak ada dampaknya maksudnya tidak ada bekasnya. Jadi sekarang memang orang tidak terlalu menggunakan suntikan juga ya karena efeknya juga tidak terlalu cepat dan bisa kelihatan orang lain.
GS : Mungkin kalau anak remaja itu masih sekolah, kita juga bisa melihat dari prestasinya di sekolah ya Pak Paul?

PG : Ya bagus sekali, Pak Gunawan, jadi mereka cenderung akhirnya tidak lagi berkonsentrasi untuk belajar, mutu pelajarannya menurun sekali.

(4) GS : Kalau tanda-tanda itu sudah mulai tampak Pak Paul dan kita tidak menghendaki anak remaja kita terjerumus lebih dalam itu, langkah apa sebenarnya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua?

PG : Pertama adalah kita harus paksa dia mengaku, kemungkinan besar dia tidak akan mengaku, jadi cara terampuh adalah tidak memberikan dia uang lagi. Waktu dia tidak ada uang, dia akan mulai meberikan reaksi karena dia itu butuh uang, Waktu uang itu kita pegang, kita tidak berikan kepada dia misalnya sebulan dia akan bereaksi sekali, dia akan mulai marah, melawan kita, dia akan menuntut kita memberikan uang.

Di saat itulah kita paksa dia mengaku. Kamu sudah makan obat, kamu sudah mencandu ya agar dia mengaku, nah biasanya orang tidak akan mengaku dengan langsung.
GS : Apakah pengakuan itu begitu penting, Pak Paul, kalau kita memang sudah tahu bahwa misalnya memergoki dia di tasnya atau dia di lemarinya itu memang ada pil yang dia simpan itu Pak Paul.

PG : Penting sekali ya tidak, dalam pengertian kalau kita tahu dia sudah pakai. Penting secara emosional buat dia ada, yaitu dia perlu mengakui bahwa dia mempunyai masalah bahwa dia memang bergntung pada obat-obat ini.

Jadi untuk menyelesaikan masalah (GS: Biar sadar dulu ya akan keadaannya pada waktu itu, langkah berikutnya apa Pak Paul?) Dia itu tidak bisa dirawat dengan pembimbingan biasa, jadi kita tidak bisa bawa dia ke seseorang untuk dibimbing secara pribadi. Jadi kalau dia sudah mencandu, dia harus dilepaskan dulu, istilahnya adalah ditoksifikasi. Ditoksifikasi adalah pelepasan dari ketergantungan itu, dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa atau rumah-rumah perawatan dan di sana kebanyakan yang dilakukan adalah menurunkan kadar ketergantungannya secara bertahap sehingga mungkin setelah 4, 5 hari atau seminggu dirawat di rumah sakit itu dia benar-benar bisa lepas, tapi itu bagian pertama dari perawatan. Setelah dia lepas dari ketergantungan barulah harus dibimbing secara lebih intensif apa duduk masalahnya. Sebab dari jenis obat yang dia gunakan sebetulnya kita bisa mengetahui juga apa yang sedang menjadi pergumulan hidupnya. Misalkan orang menggunakan kokain, kokain itu adalah stimulans membuat orang itu tiba-tiba bersemangat, kemungkinan besarnya memang mempunyai hidup yang begitu menjenuhkan, tidak ada lagi semangat hidup dia. Sehingga kokain dia butuhkan untuk memberikan variasi atau semangat dalam hidupnya. Kebalikannya orang-orang yang menggunakan misalnya mariyuana atau heroin atau opiet-opiet, opium-opium seperti morfin dan sebagainya, mereka adalah orang-orang yang memang mau tenang, melarikan diri dari masalah-masalah hidupnya. Sama juga dengan alkohol saya tadi lupa menyebut di sini saya kurang tahu ya, tapi di Amerika Serikat obat yang paling banyak digunakan drugs jadinya banyak digunakan adalah alkohol, minum-minum alkohol itu. Sebab alkohol itu yang terkandung dalam bir atau minuman keras itu mempunyai efek melumpuhkan daya kesiagaan dalam otak kita, makanya itu orang yang minum alkohol terus menabrak orang ya tidak bisa cepat mengerem, sebab daya reaksinya lambat sekali. Nah untuk apa? Ya untuk membuat dirinya itu tidak terlalu merasakan penderitaannya, kefrustrasiannya, jadi alkohol itu melumpuhkan. Jadi dari jenis obat yang dia pakai kita bisa tahu kira-kira apa yang menjadi pergumulan hidupnya, dia melarikan diri dari apa sekarang. Nah setelah dia mulai lepas dari obat itu baru kita masuk ke akar masalahnya, misalkan masalahnya dengan keluarga dia tidak diterima atau dia terlalu diberikan kebebasan yang berlebihan dan sebagainya itu yang kita coba koreksi. Dan langkah yang terakhir adalah kita mau merehabilitasi dia kembali terjun ke dalam masyarakat. Untuk ini kita harus memang melengkapi diri dengan ketrampilan hidup yang lain, ketrampilan mengatasi stress yang lain. Karena selama ini dia kalau stress obat, kita harus melatih dia bagaimana bisa menggunakan cara lain yang sehat. Dan bagaimana akhirnya memisahkan diri dari teman-temannya karena faktor teman, faktor lingkungan luar biasa kuatnya. Biasanya orang-orang ini begitu keluar kembali ke lingkungan yang sama, kembali memakai obat begitu.
GS : Pak Paul, mengenai rehabilitasi tadi ya, kita tahu ada beberapa gereja yang menampung atau Yayasan Kristen yang menampung mereka atau anak-anak remaja yang tergantung dengan obat-obat bius ini, itu bagaimana menurut pandangan Pak Paul mungkin di Amerika juga ada wadah seperti itu Pak Paul?

PG : Ada, jadi memang sangat dibutuhkan, Pak Gunawan, ada beberapa model perawatan dari yang berobat jalan, sampai Ĺ rawat inap, sampai rawat inap dan bahkan ada yang harus masuk ke rumah sakitjiwa yang ada unit untuk ketergantungan obat itu.

Tapi sekarang di Amerika Serikat ada model yang baru yang ini bagi saya sangat menarik yaitu yang disebut "ranch". "Ranch" itu sebetulnya adalah rumah di pedesaan di mana misalnya ada hewan atau kuda, ada ladang untuk gandum dan sebagainya. Anak-anak ini ditempatkan di tempat seperti itu dan dalam rumah itu ada bapak dan ibu yang merawat mereka tetapi bukan orang tua kandungnya. Jadi mereka itu diintegrasikan dalam kehidupan keluarga dan model perawatannya pun lebih manusiawi karena tidak lagi seperti rumah sakit dan sebagainya, benar-benar rumah biasa, namun memang jauh dari keluarganya. Dan di sana dia dilatih misalnya merawat binatang, karena ada yang belum pernah bagaimana rasanya merawat, mencurahkan kasih sayang pada anak-anak yang memang sudah mempunyai bakat untuk antisosial, tidak ada perasaan tenggang rasa dan sebagainya. Mereka dilatih untuk memberi makan hewan atau bekerja di ladang. Hal itu akhirnya menumbuhkan hal-hal yang kurang dalam diri mereka. Kasih sayang, kelembutan, memperhatikan orang dan juga karena hidup dalam keluarga akhirnya mereka belajar juga untuk mengerti tanggung jawab dan sebagainya.
GS : Tapi tetap dilakukan terapi terhadap pasien itu?

PG : Tetap, tetap namun saya harus akui, Pak Gunawan, bahwa tingkat keberhasilan untuk mengurus orang-orang yang tergantung pada obat, agak kecil. (GS : Masalahnya apa Pak?) lingkungan. Dulu saa bekerja di rumah sakit jiwa dan memang ada unit yang merawat (GS :anak-anak yang tergantung pada obat bius) luar biasa susahnya.

Jadi alkoholik atau yang kami sebut di sana drugs abuses itu seringkali (GS :kembali lagi)
GS : Ya padahal mungkin perlu disadarkan kepada anak-anak remaja kita bahwa tubuh kita ini diberikan oleh Tuhan itu sangat unik dan menjadi bait Allah yang Kudus Pak Paul dalam firman Tuhan ada yang mengatakan begitu yang sebenarnya harus dijaga, bagaimana uraian atau mungkin Pak Paul ada firman Tuhan yang lain yang bisa digunakan untuk membekali khususnya para remaja kita?

PG : Para remaja yang memakai obat-obatan dan akhirnya tergantung adalah para remaja yang sudah tidak peduli lagi dengan tubuh mereka, keluarga mereka, dengan reputasi keluarganya, dengan pandagan masyarakat.

Mereka dapat kita simpulkan adalah orang-orang yang tidak peduli.
GS : Bahkan dengan Tuhan sendiri dia rasanya, mereka rasanya tidak takut ya.

PG : Tidak peduli, mereka hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan obat agar hidup mereka bisa berjalan lagi hari lepas hari, hanya itu saja. Kalau mereka ingin sembuh memang harus ada kemaun dalam diri mereka untuk hidup berbeda, itu penting sekali,.

Dan bagi yang belum terlibat, kita harus benar-benar memperhatikan perintah Tuhan. Jadi misalkan saya bacakan dari Mazmur 119:9 "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, dengan menjaganya sesuai dengan FirmanMu." Jadi artinya apa, kita dari awalnya tidak mencoba dari awalnya kita mau melakukan jalan Tuhan, firman Tuhan, jadi kita menjaga kelakuan kita bersih. Sekali kita kotori kemungkinan kita kotori kedua kalinya, sangat besar, itu yang terjadi.
IR : Cuma pada umumnya anak-anak sekarang cari kenikmatan, Pak Paul, karena banyak tekanan.

PG : Dan cari jalan pintas akhirnya, bagaimana bisa nikmat dan lega dengan semudah mungkin.

GS : Mereka mengatakan sebenarnya mudah untuk meninggalkan tadinya, dia pikir mudah, tapi ternyata kalau sudah terjerat sulit Pak Paul.

PG : Betul, karena tubuhnya sangat membutuhkan.

GS : Dan kalau itu tidak terpenuhi lalu terjadi reaksi-reaksi yang tadi Pak Paul katakan.

PG : Betul, bisa keringat dingin, gemeteran, ingusan, emosinya mudah meledak.

GS : Sebenarnya itu sangat rentan terhadap anak-anak umur berapa, Pak Paul?

PG : Remaja, jadi biasanya pengguna pertama itu sekitar usia 14, 15 tahun.

GS : Mereka mulai berani dan lingkungannya itu.

PG : Betul.

IR : Dan itu pasti efeknya badannya kurus ya, Pak Paul?

PG : Kalau sudah pakai secara teratur biasanya ya, maksudnya teratur itu kalau setiap hari memakainya dalam dosis yang besar, nafsu makannya juga akan sangat terganggu.

GS : Bagaimanapun juga tentu lebih baik itu mencegah daripada harus mengobati atau memulihkan kesehatan, karena kesehatan ini dikaruniakan Tuhan dan kita harus hargai betul-betul itu.

Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang ketergantungan anak remaja terhadap obat-obat bius, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



8. Pertanyaan-Pertanyaan untuk Mencari Pasangan Hidup 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T040A (File MP3 T040A)


Abstrak:

Pertanyaan-pertanyaan untuk mencari & menolong untuk menemukan seorang pendamping atau pasangan hidup yang tepat yaitu yang diperkenan oleh Tuhan. Dengan beberapa pedoman atau tolok ukur yang dapat digunakan.


Ringkasan:

Kita semua menyadari betapa pentingnya menemukan seorang pendamping atau pasangan hidup yang tepat, dan tentunya yang diperkenan oleh Tuhan. Tetapi masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana kita menemukan pasangan itu. Berulang kali saya menemukan kasus-kasus mana masalah yang terjadi di antara suami-istri adalah masalah yang mereka bawa dari awal pernikahan dan seharusnya hal-hal itu sudah mereka sadari sebelum mereka menginjak ke jenjang pernikahan. Tapi karena tak terselesaikan akhirnya mereka harus bergumul dengan masalah yang sama tahun demi tahun.

Kalau kita mendefinisikan pernikahan secara praktis, sebetulnya pernikahan adalah hidup bersama, karena mencintai hidup bersama, kita ingin membagi hidup dan sukacita dengan seseorang. Jadi kalau orang bertanya apa tujuan berpacaran, tujuannya adalah menjajaki apakah kita bisa hidup bersama atau tidak, itu intinya berpacaran. Pacaran bukanlah untuk menikmati satu sama lain, pacaran bukanlah untuk menikmati malam yang indah, pacaran bukanlah agar ada orang yang kita kunjungi pada hari Sabtu malam atau Minggu malam. Pacaran bukanlah untuk membagi sukacita kita dengan seseorang, pacaran bukanlah supaya kita dicintai oleh orang lain. Tapi masa pacaran adalah masa kita menjajaki, belajar dan melihat dengan baik-baik apakah kita bisa hidup bersama dengan dia untuk selama-lamanya atau tidak.

Beberapa pertanyaan yang patut dijadikan tolok ukur atau pedoman untuk menemukan pasangan hidup.

  1. Apakah waktu kita berpacaran justru kita ini merasa didekatkan dengan Tuhan? Apakah kedua belah pihak itu saling menolong untuk bertumbuh dan hidup lebih dekat dengan Tuhan? Kalau kita makin hari makin jauh dari Tuhan gara-gara berpacaran, maka jelas itu bukan suatu hubungan yang diperkenan Tuhan. Sebab prinsipnya ialah segala hal yang kita lakukan haruslah memuliakan Tuhan. Jadi kalau dalam berpacaran kita tidak memuliakan Tuhan, yaitu terbukti dengan makin menjauhnya kita dari Tuhan, dapat kita pastikan bahwa hubungan itu bukanlah hubungan yang Tuhan restui.

  2. Seberapa banyakkah perbedaan yang membuat kita semakin sulit berkomunikasi? Berkomunikasi adalah aspek yang sangat penting. Karena berbicara satu sama lain akan menunjukkan banyak hal. Misalnya: Kesamaan minat, kalau keduanya tidak memiliki kesamaan minat mereka akan susah bicara panjang lebar.

  3. Seberapa mampukah kita bekerja sama? Salah satu wujud kerjasama bisa dilihat dari kemampuan pasangan mengambil keputusan bersama pada waktu menghadapi masalah. Kalau mungkin yang sering timbul justru adalah perbedaan pendapat, berarti mereka harus mampu mengambil keputusan bersama. Dengan demikian berarti mereka "lulus" dalam faktor kebersamaan.

  4. Apakah kita mampu untuk berekreasi atau menikmati waktu luang bersama? Jangan sampai pasangan kita itu sangat berbeda dengan kita, sehingga benar- benar tidak ada titik temu untuk menikmati hidup bersama. Misalkan yang satu senangnya nonton bola, yang satu senangnya dengar lagu-lagu rock and roll, yang satu senangnya ramai dan berkumpul, yang satu senangnya diam di rumah, akhirnya apa yang terjadi tidak pernah menikmati hidup bersama. Yang penting adalah bukan memulai kesamaan, tetapi bagaimana mencocokkan diri dalam perbedaan itu dan saling menghargai perbedaan yang ada.

  5. Apakah teman-teman kita bisa diterima oleh pasangan kita dan apakah kita juga bisa menerima teman-teman pasangan kita? Salah satu dari pasangan pada suatu saat harus mengajak calonnya untuk diperkenalkan kepada sahabat-sahabatnya. Jadi masing-masing harus melihat dengan jelas siapakah teman-teman pasangannya, karena itu mencerminkan siapa dia sebenarnya. Prinsipnya adalah kita harus berpasangan dengan orang yang bisa kita presentasikan ke hadapan orang lain. Kita tidak bisa berpasangan dengan seseorang yang ingin kita sembunyikan dari khalayak ramai karena kita merasa malu. Kita harus memiliki kebanggaan waktu bersanding dengan dia, jalan dengan dia, dan mempresentasikan dia di hadapan lingkungan kita, entah ditengah-tengah teman-teman, keluarga, maupun kolega kita.

  6. Apakah kita berdua mempunyai nilai moral yang sama? Sebab nilai moral itu sebetulnya merupakan poros dan keputusan-keputusan kita dalam hidup adalah jari-jarinya. Sama seperti poros, nilai moral itu sangat penting sekali. Itu akan menentukan apakah misalnya kita akan membeli rumah yang besar atau yang kecil.

  7. Apakah kita bisa menerima dan menghargai keluarga masing-masing? Ini merupakan salah satu pertanyaan yang penting sekali, apalagi dalam konteks kita di Timur. Kita yang menikah tidak bisa berkata, saya hanya menikahimu dan sebodoh amat dengan keluargamu.

  8. Apakah faktor ekonomi kita mempunyai perbedaan yang terlalu jauh? Perbedaan kemampuan ekonomi yang terlalu jauh akan mempengaruhi kehidupan pernikahan.

  9. Apakah masalah-masalah di masa lalu kita sudah diselesaikan dan dituntaskan? Sebaiknya pasangan kita mengetahui dengan jelas siapa kita, termasuk masa lalu kita. Kalau masa lalu kita sangat kelam, misalnya sebelum kita bertobat kita hidup dalam kehidupan seksual yang sangat bebas. Kita harus mengakui semuanya dengan jujur karena itu penting untuk diketahui oleh pasangan atau calon kita.

  10. Apakah kita bisa menghadapi dan menyelesaikan pertengkaran bersama-sama? Dalam masa berpacaran pertengkaran tidak harus dihindari. Sebab ada orang berkonsep bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Sebetulnya hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas pertengkaran, tapi hubungan yang sehat juga bukanlah yang sarat dengan pertengkaran, itu sama-sama tidak sehatnya. Indikasi hubungan yang sehat adalah hubungan yang kadang-kadang ada pertengkaran tapi yang pasti bisa diselesaikan. Jadi kata kuncinya justru adalah bisa diselesaikan bersama-sama.

  11. Apakah kita mau membicarakan dan bisa merencanakan masa depan bersama? Masa depan bersama adalah hal yang baik untuk dibicarakan, jadi dua-duanya harus membicarakan aspirasi ke depan. Saling bertanya dan membahas nanti ke depan mau apa, apa yang kau rindukan dalam hidup ini, apa yang dikejar dalam hidup. Itu penting.

Amsal 27:1,2 mengatakan: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri."

Dua hal dalam ayat ini akan saya kaitkan dengan hubungan berpacaran:

  1. Yang pertama adalah janganlah memuji diri karena esok hari, jadi jangan terlalu bermegah akan esok hari. Banyak orang yang berpacaran terlalu positif akan hari esok, bahwa hubungan mereka itu akan cemerlang, pasti cocok, pasti tidak ada masalah, karena kami saling mencintai. Tidak, jangan terlalu memuji diri akan hari esok. Lihatlah hari esok dengan realistik.

  2. Yang kedua, biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu. Ini akan saya artikan jangan kita ini sebagai pasangan berkata bahwa hubungan kita paling kuat, paling sehat karena kita saling mencintai. Biar orang lain yang memuji kita, jadi artinya terimalah dan mintalah tanggapan-tanggapan dari orang lain. Semakin sehat suatu hubungan, semakin berani mereka menerima masukan dari orang lain. Suatu hubungan semakin tidak sehat dan rapuh bila mereka takut menerima masukan dari orang lain.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan pedoman untuk mencari pasangan hidup. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami ucapkan selamat menikmati.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita semua menyadari betapa pentingnya menemukan seorang pendamping atau pasangan hidup yang tepat dan tentunya itu yang diperkenan oleh Tuhan. Tetapi masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana kita menemukan pasangan itu. Pada kesempatan ini kami mencoba membantu para pendengar tentunya, karena kita semua sudah berkeluarga, sudah menemukan pasangan hidup itu. Tetapi banyak dari para pendengar itu membutuhkan suatu pedoman kira-kira apa yang bisa dijadikan semacam tolok ukur atau pedoman bimbingan untuk menemukan pasangan hidup itu. Yang pertama-tama adalah mengenai saling kerjasama antara yang satu dengan pasangan yang lain, pertanyaannya adalah apakah kalian itu menolong satu dengan yang lain untuk bertumbuh dan hidup lebih dekat dengan Tuhan, menanggapi pertanyaan seperti ini jawabannya apa, Pak Paul?

PG : Sebelum saya menjawab, saya akan menggarisbawahi apa yang tadi Pak Gunawan sudah sampaikan. Betul sekali Pak Gunawan, bahwa perlu bagi para pemuda-pemudi menyadari hal-hal yang harus meeka perhatikan di dalam memilih pasangan hidup.

Dalam praktek konseling saya berulang kali menemukan kasus-kasus di mana masalahnya adalah masalah yang mereka bawa dari awal pernikahan. Seharusnya hal-hal itu sudah mereka sadari sebelum mereka menginjak ke pernikahan, tapi karena tidak terselesaikan akhirnya mereka harus bergumul dengan masalah yang sama tahun demi tahun. Dan biasanya kalau masalah yang sama terus-menerus menghiasi rumah tangga kita, biasanya makin lama akan makin berakar dan makin susah untuk dibereskan. Maka saya kira yang Pak Gunawan akan tanyakan ini sangat bermanfaat dan mudah-mudahan para pendengar menjadikannya panduan bagi mereka untuk mencari pasangan hidup. Yang pertama tadi apakah waktu kita berpacaran justru kita ini merasa didekatkan dengan Tuhan atau tidak, saya kira itu salah satu pertanyaan yang baik untuk dijadikan tolok ukur. Kalau kita makin hari makin jauh dari Tuhan, karena berpacaran dengan dia, saya berani berkata bahwa itu bukan suatu hubungan yang diperkenankan Tuhan sebab prinsipnya adalah segala hal yang kita lakukan haruslah memuliakan Tuhan. Jadi kalau dalam berpacaran, kita tidak memuliakan Tuhan dengan makin menjauhnya kita dari Tuhan, dapat kita pastikan bahwa hubungan itu bukanlah hubungan yang Tuhan restui. Itu kira-kira jawabannya, Pak Gunawan.
GS : Masalah itu Pak Paul, jadi sebenarnya dengan berpacaran kebanyakan mereka itu rutin saja, seminggu sekali datang ke gereja, pacaranpun seminggu sekali, bukan menjauh tapi rutin, bagaimana kalau begitu Pak Paul?

PG : Kalau rutin tidak apa-apa, yang lebih baik adalah dimana saling menguatkan, saling mendorong, saling membangun sehingga makin hari hubungan ini bertumbuh kepada Tuhan, makin ada ketergatungan kepada Tuhan.

Contoh : Mendorong satu dengan yang lain, saling menguatkan, saling memberikan teguran rohani, memberikan dorongan rohani untuk terus percaya kepada Tuhan, untuk melihat suatu masalah dari sudut Tuhan, untuk melihat apakah hal yang dilakukan itu memuliakan Tuhan atau tidak. Jadi segala hal kalau memang ada dalam suatu hubungan berpacaran saya kira akan memperkokoh kerohanian individu itu. Tapi kalau misalnya salah satu, pacarnya bukan anak Tuhan, dapat kita pastikan hubungan itu tidak akan memuliakan Tuhan dan mereka tidak akan bertemu dalam Tuhan. Sebab yang satunya otomatis tidak akan bisa memberikan dorongan-dorongan rohani kepada pasangannya. Misalkan kalau hari Minggu, yang percaya ke gereja, yang tidak percaya mengajak pacarnya jalan-jalan rekreasi dll. Jadi hal-hal seperti itu bisa menjauhkan orang yang percaya itu dari Tuhan. Maka di Perjanjian Lama dengan jelas Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk tidak menikah dengan bangsa-bangsa yang tidak seiman, karena hati mereka bisa dibawa pergi jauh.
IR : Dan juga dalam pembicaraanpun sangat terbatas ya, Pak Paul?

PG : Otomatis topik rohani tidak bisa lagi mereka bahas.

GS : Padahal di masa pacaran, biasanya banyak berbicara, ya Pak Paul. Tetapi masalahnya adalah apa yang mereka bicarakan. Pak Paul, kembali ke masalah tadi makin dekat dengan Tuhan dan lain sebagainya, biasanya kalau pada masa pacaran itu yang satu menuruti saja kemauan pasangannya, kalau itu menolong mereka untuk makin akrab Pak Paul. Tapi setelah mereka menikah menjadi lain, itu yang seringkali terjadi.

PG : Betul, saya mengingat perkataan James Dobson seorang psikolog dari AS yang mengatakan bahwa sebaiknya hubungan pacaran itu dilandasi oleh dua cinta yang sama, jangan sampai yang satu sagat mencintai dan sangat bergantung pada pasangannya dibandingkan sebaliknya.

Saya kira pasangan seperti itu pasangan yang tidak seimbang, kalau cintanya yang satu melebihi, secara berlebihan dari pasangan yang satunya otomatis kebergantungan sangat kuat sehingga tadi kata Pak Gunawan dia akan cenderung mengikuti kehendak pasangannya untuk menyelamatkan hubungannya itu. Jangan sampai dia kehilangan pacarnya dan itu sangat berbahaya, sebab suatu hubungan nikah haruslah didasari oleh kesetaraan. Di mana dua-duanya itu sama.
GS : Berarti ada panduan lain yang dipakai, apakah selama mereka berpacaran, mereka bisa berbicara dengan enak, Pak Paul, berbicara secara seimbang, itu yang kedua.

PG : Betul, saya kira aspek dalam berkomunikasi sangat penting. Berbicara satu sama lain itu menunjukkan banyak hal, misalnya kesamaan minat. Kalau kita tidak memiliki kesamaan minat susah bcara panjang lebar, kesamaan berpikir, pola pikir yang sama kecenderungan kita untuk bisa berbicara dengan panjang lebar.

Yang berikutnya lagi adalah kemampuan untuk memahami apa yang dibicarakan oleh pasangannya, itu juga ditunjukkan oleh berapa mampunya mereka berbicara sehingga hal-hal itu akan dapat menambah keakraban mereka. Sebab kenyataannya di lapangan, ada pasangan-pasangan yang benar-benar sangat susah berbicara dan kalau ditanya kenapa tidak berbicara, tidak ada yang dibicarakan.
(2) GS : Apakah itu faktor pendidikan, jadi kalau kesenjangan pendidikan itu terlalu jauh mungkin pola mereka berbicara juga akan berbeda?

PG : Faktor pendidikan, faktor IQ akan berpengaruh Pak Gunawan, jadi jangan sampai terlalu berbeda jauh karena kalau terlalu berbeda jauh tidak akan menemukan kesamaan atau titik temu di antra mereka.

GS : Mungkin bisa dijadikan pedoman, semakin banyak perbedaan di antara mereka semakin sulit mereka itu berkomunikasi, Pak?

PG : Betul, semakin sulit mereka mencapai titik temu di dalam komunikasi.

IR : Kemudian kalau mereka itu tidak seiman Pak Paul, di dalam mereka bekerja sama pun akan mengalami banyak kesulitan juga, Pak Paul?

PG : Ya salah satu hal penting yang juga harus menjadi tolok ukur adalah berapa mampunya mereka bekerja sama. Sudah tentu kalau tidak seiman akan membawa dampak dalam kerjasama mereka. Memutskan suatu masalah memerlukan kesamaan nilai-nilai hidup apabila hidupnya sudah berbeda akan mengganggu nantinya dalam memutuskan masalah.

IR : Misal dalam persepuluhan.

PG : Betul sekali, yang satu rela memberikan persepuluhan kepada Tuhan, yang satunya sangat mungkin keberatan. Yang satu ingin melayani Tuhan lebih aktif lagi, yang satunya enggan sekali melpaskan pasangannya ke gereja.

IR : Yang satu mungkin menghalalkan segala cara, yang satunya takut akan Tuhan.

PG : Betul sekali.

(3) GS : Sebetulnya kalau tadi disinggung tentang kerjasama ya, Pak Paul. Bagaimana pasangan yang baru ini, artinya belum pasangan masih saling menjajaki, kedua pemuda yang sudah berpacaran ini menjalin kerjasamanya. Dalam bentuk apa mereka bisa mulai menjalin kerjasamanya, Pak Paul?

PG : Salah satu wujud kerjasamanya adalah pengambilan keputusan, jadi salah satu hal yang perlu dilihat adalah berapa mampunya mereka mengambil keputusan. Tadi Pak Gunawan sudah singgung adapasangan yang tidak mengalami masalah karena yang satu menuruti secara total kehendak pasangannya.

Sudah tentu hal itu tidak sehat, jadi yang lebih sehat adalah dua-dua harus berani mengemukakan pendapat. Kemudian berikan kesempatan untuk mengambil keputusan bersama, apakah mereka mampu bekerja sama dalam pengambilan keputusan itu, apakah yang mungkin sering timbul justru adalah perbedaan pendapat. Kalau yang sering timbul adalah perbedaan pendapat berarti mereka lulus dalam faktor kebersamaan ini.
GS : Jadi di dalam menghadapi masalah berdua, ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali, sebab masalah itu mengundang kita atau bahkan mengharuskan kita mengambil keputusan. Jadi masalah timbul, bagaimana kita harus menghadapinya, keputusan apa yang kita ambil mereka harus mengambilnya berdua.

Saya temukan bahwa banyak orang bisa mengambil keputusan sendiri, tapi sulit mengambil keputusan berdua, akhirnya banyak pasangan yang tidak melalui tahapan yang sehat ini. Mereka mengambil jalan pintas yaitu yang satu memaksakan kehendak dan yang satunya menerima kehendaknya. Nah, seolah-olah kita melihat dari luar aman, tentram, harmonis namun sebetulnya ada unsur keterpaksaan, memang menyelesaikan sedikit, banyak masalah tidak dengan ribut, tetapi ada yang menderita, ada yang tertekan. Yang lebih sehat justru memang mensinkronkan sehingga akhirnya bisa belajar bekerjasama. Memang jauh lebih susah, Pak Gunawan dan Ibu Ida, justru jauh lebih mudah yang satu memaksakan dan yang satunya hanya menuruti.
GS : Otoriter jadinya.

PG : Betul.

GS : Di dalam berpacaran itu orang tidak lepas dari berekreasi misalnya nonton, shopping ke toko, atau pergi bersama-sama, apakah itu bisa dijadikan pedoman juga, bagaimana dia berekreasi di dalam masa berpacaran itu?

PG : Betul, salah satu tolok ukurnya adalah apakah pasangan itu mampu untuk berekreasi bersama artinya menikmati waktu luang bersama. Jangan sampai pasangan kita itu sangat berbeda dengan kia sehingga benar-benar tidak ada titik temu untuk menikmati hidup bersama.

Misalkan yang satu senangnya nonton bola, yang satu senangnya mendengar lagu-lagu 'rock and role', yang satu senangnya ramai, yang satu senangnya diam di rumah, akhirnya apa yang terjadi tidak pernah menikmati hidup bersama, yang penting bukan memulai kesamaan, yang penting adalah bagaimana mencocokkan diri dalam keperbedaan itu dan saling menghargai perbedaan itu. Waktu saya baru menikah dengan istri saya, kami mempunyai perbedaan yang cukup besar dalam hal menikmati hidup rekreasi ini. Istri saya senang sekali dengan lautan, pantai, saya senang dengan gunung, berbeda sekali itu. Sebab memang tidak banyak yang ada dua-duanya (laut dan gunung), tapi akhirnya setelah menikah belasan tahun sekarang saya menikmati pantai, saya tahu dia suka ke pantai jadi saya juga memberikan waktu untuk pergi ke pantai dan karena memberikan saya kesempatan sering-sering ke pantai lama-lama sangat menikmati pantai dan dia pun lama-lama sangat menikmati pegunungan. Jadi sekali lagi intinya bukan mencari yang persis sama dengan kita, tapi kita mencari yang bisa memahami dan menyesuaikan hidupnya dengan kita.
IR : Juga di dalam berteman ya Pak Paul, kalau mereka itu yang satu seiman yang satu tidak, di dalam bertemanpun juga terbatas. Ada seorang anak remaja yang mempunyai pacar tidak suka dengan teman-teman yang di gereja, itu juga sangat sulit, ya Pak Paul?

PG : Betul sekali Bu Ida, jadi salah satu tolok ukur lain yang perlu kita juga camkan adalah masa pertemanan ini ya, apakah teman-teman kita bisa diterima oleh pasangan kita, apakah kita jug bisa menerima teman-teman pasangan kita.

Acap kali itu memang terjadi. Kalau memang ada perbedaan iman, sebab yang satu biasa bermain, bergaul dengan teman-teman di gereja, yang satu mungkin tidak merasa cocok dengan teman-teman di gereja karena percakapannya pun, tadi sudah kita bahas, akan berbeda pula sehingga tidak ada titik temu dan mungkin pasangan yang satunya merasa orang asing di tengah-tengah teman-teman orang gereja. Sebaliknya yang memang orang percaya juga mungkin tidak nyaman kalau temannya membawa dia ke disko, night club. Sebab itu bukan jiwanya, nah orang yang berpacaran harus melihat faktor ini, kadang mereka berkata tidak apa-apa yang paling penting kita berdua, bisa hidup berdua. Kita yang sudah menikah menyadari bahwa kita hidup di tengah-tengah masyarakat dan tidak bisa lepas dari orang lain yaitu teman-teman kita sendiri, jadi penting kita bertanya dapatkah pasangan kita masuk dalam lingkungan, diterima oleh teman-teman kita dan sebaliknya.
GS : Tapi bila kedua orang ini memang mempunyai latar belakang berbeda, pasti teman-teman mereka berbeda sekali, Pak Paul?

PG : Betul, yang penting bukan lagi kesamaan teman, tapi bisa menerima tidak, bisa mencocokkan diri atau tidak? Pasti akan bertemu dengan sekelompok teman yang baru, tapi bisa tidak masuk daam kesamaan iman misalnya sama-sama orang percaya dia akan mudah masuk ke dalam satu kelompok bersama orang Kristen.

Faktor itu memang sangat penting.
GS : Berarti misalnya yang pria suatu saat harus mengajak calonnya, anak gadis ini untuk memperkenalkan kepada sahabat-sahabatnya.

PG : Betul, sebab pendapat saya, siapa teman-teman kita sebetulnya mencerminkan siapa kita, siapa yang kita pilih menjadi sahabat kita sedikit banyak mencerminkan siapa diri kita. Jadi seseoang itu harus melihat dengan jelas siapakah teman-teman pasangannya karena itu mencerminkan siapa dia.

Misalnya teman-temannya ini benar-benar orang yang hidupnya tidak benar, brengsek dan lain sebagainya tapi ia mengaku dia hidupnya benar, mungkin sekali dia hidupnya benar tapi kalau dia bersahabat dengan orang-orang yang seperti itu, yang brengsek, sedikit banyak mencerminkan siapa dia bahwa dia masih menyenangi kehidupan seperti itu. Dia harus melihat apakah cocok misalnya teman-temannya adalah orang yang pulang kerja suka main ke night club atau karaoke dsb. Nah dia harus melihat apakah dia mau hidup dalam lingkungan yang seperti itu, karena pada akhirnya dia tidak bisa memisahkan pasangannya dari lingkup teman-temannya.
GS : Kalau itu yang terjadi, ya Pak Paul, apakah tidak sulit pasangan ini, apakah mereka harus memutuskan hubungan, Pak Paul?

PG : Saya kira kalau sampai mempengaruhi mereka, sampai benar-benar mereka tidak bisa masuk ke dalam lingkup sosial, pasangannya harus berani karena itu pertanda sebetulnya, meskipun tidak nmpak, mereka itu tidak cocok, tapi secara permukaan tampaknya cocok.

Saya mengenal seseorang yang kuat dalam Tuhan, tapi akhirnya menyukai seorang pria, teman yang bukan dalam Tuhan. Akhirnya dia bersedia untuk menguji coba apakah dia cocok dengan pasangannya ini. Kebetulan pasangannya yang tidak seiman tinggal di kota yang lain. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke kota di mana pria itu tinggal, tidak tinggal bersama dengan pria itu tapi tinggal dengan temannya yang lain dan dia mengunjungi pria itu selama seminggu atau dua minggu. Di situ dia baru melihat gaya hidup temannya itu yaitu pulang kerja tidak ke rumah, pulang kerja main-main dulu ke night club sampai malam jam 11, 12 malam baru pulang ke rumah. Nah melihat gaya hidup seperti itu, dia pulang kembali ke kotanya dengan suatu keputusan yang sangat jelas, dia harus putus.
GS : Berarti ikatan pertemanan itu memang kuat ya.

PG : Betul sekali.

GS : Bagaimana dengan ini Pak, terhadap perasaan pasangan kita itu juga dipakai sebagai pedoman. Bagaimana kita itu bangga, atau merasa kecewa, atau malu dengan pasangannya 'kan bisa begitu, Pak Paul?

PG : Prinsipnya adalah kita berpasangan dengan orang yang bisa kita presentasikan ke hadapan orang lain. Kita tidak bisa berpasangan dengan seseorang yang ingin kita sembunyikan dari khalaya ramai karena merasa malu.

Kita harus memiliki kebanggaan waktu bersanding dengan dia, untuk jalan dengan dia, dan mempresentasikan dia di hadapan lingkungan kita, teman-teman, keluarga dan lain-lain. Tidak sehat sekali kalau belum menikah kita sudah merasa malu berjalan dengan dia dan menyembunyikan dia.
GS : Itu tentu berbeda pada awal masa mereka berpacaran, Pak Paul. Biasanya pada awal- awal mereka berpacaran justru disembunyikan entah mau membuat kejutan atau apa, tetapi ada perasaan begitu, Pak Paul?

PG : Betul pada awalnya.

GS : Pada awal-awalnya begitu tetapi itu tidak boleh berlanjut, jadi ada saatnya kita harus berani mempresentasikan.

PG : Sebab kalau kita sampai malu, maka yang terjadi adalah kita akan menjadikan hubungan kita ini tidak seimbang. Hubungan kita ini nomor satu akan menjadi terlalu eksklusif, kalau kita hana berani berduaan di luar khalayak ramai.

Yang lebih serius lagi adalah kita tidak berani mempresentasikan dia di depan orang lain, karena sebetulnya kita menyadari banyak hal tentang dirinya yang tidak dapat diterima oleh orang dan sebetulnya kita pun tidak bisa menerimanya. Sebab kalau kita bisa menerimanya kita akan berani berjalan dengan dia, masalahnya walaupun tidak nampak dengan jelas, ya kita sendiri tidak terima, kita sendiri tidak suka akan hal itu. Jadi dengan perkataan lain, kita harus memilih orang yang bisa kita terima dan kita tidak malu menerimanya, itu penting sekali.
GS : Artinya kita harus menemukan sesuatu yang bisa membuat kita bangga terhadap calon ini?

PG : Betul, dia tidak harus menjadi orang yang paling tampan atau paling cantik, tapi yang penting kita tidak malu berjalan dengan dia dan kita tidak malu dikenal sebagai suami atau istrinyananti.

GS : Ada banyak hal ya Pak Paul, yang bisa menjadikan orang bangga terhadap pasangannya?

PG : Betul, bisa kualitas kehidupannya, bisa juga status sosialnya, macam-macam itu, bisa keterampilannya.

(4) IR : Kalau ada seorang pemuda yang juga mengalami seperti itu, sebetulnya ia sadar bahwa dia itu tidak cocok, malu untuk memperkenalkan. Dia merasa tidak di terima oleh teman-temannya atau keluarganya, tapi karena cintanya terlalu kuat rasanya mereka itu sulit untuk memutuskan?

PG : Betul, justru itu adalah hubungan yang tidak sehat, tapi sangat sulit untuk bisa lepas antara satu sama lain, karena apa? Karena dia tidak bisa mempresentasikan pasangannya di hadapan oang-orang.

Mereka berdua menjadi orang yang sangat saling bergantung pada satu sama lain. Seolah-olah kebutuhan mereka tidak bisa dipenuhi oleh orang lain, hanya oleh pasangannya. Ini berbahaya, sebab kita harus menyadari bahwa setelah kita menikah, pasangan kita tidak bisa memenuhi setiap kebutuhan kita, tidak realistis dan kalaupun itu terjadi sangat membebani pasangan kita. Kita menjadi seperti orang yang benar-benar bersandar sepenuhnya kepada pasangan kita. Itu tidak sehat sebab tidak memberikan kepada pasangan kita kesempatan untuk bergerak. Ini yang bahaya sebab hubungan itu menjadi sangat eksklusif, sangat bergantung pada satu sama lain, sehingga tidak bisa menerima masukan-masukan, membuka diri terhadap masukan orang lain.
GS : Tapi kadang-kadang pasangan seperti ini atau calon suami istri seperti ini, kadang- kadang mengatakan yang penting kita berdua, orang lain bisa kita atur nanti, alasannya seperti itu, apakah hal itu bisa kita terima untuk melandasi suatu pernikahan yang sehat?

PG : Sama sekali tidak. Sebetulnya kita menyadari kita hidup di tengah-tengah orang lain kita harus berelasi dengan orang lain. Betapa banyaknya kita melihat hal seperti itu sekarang, misalna dia seolah-olah merasa cocok dengan istrinya, tetapi istrinya tidak bisa cocok dengan satu manusia pun di luar atau suaminya tidak bisa cocok dengan satu manusia pun di luar.

Setiap kali berkumpul dengan orang, selalu ribut, selalu tidak cocok dan sebagainya. Nah siapa yang menderita? Pasangan kita, dia tidak cocok dengan orang tuanya, dengan adik iparnyalah, yang menderita adalah pasangan itu sendiri.
IR : Nanti kalau sudah menikah baru menyesal, begitu ya Pak Paul?

PG : Seringnya begitu, sudah terlambat.

GS : Jadi begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan untuk mengintrospeksi, yang bisa dijadikan pedoman, khususnya bagi pasangan-pasangan yang merintis hubungan pernikahan mereka. Tetapi yang terpenting, pasti adalah berpedomankan pada firman Tuhan, itu yang jelas bisa memberikan petunjuk bagi kita. Mungkin sebelum kita mengakhiri bagian ini, Pak Paul akan menyampaikan sebagian firman Tuhan.

PG : Saya akan bacakan Yakobus 1 : 5 . "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah yang memberikan kepada semua orang denga murah hati dan tidak membangkit-bangkit maka hal itu akan diberikan kepadanya."

Saya sering menasihati orang yang sedang berpacaran bahwa salah satu doa yang harus mereka panjatkan, minta kepadaTuhan adalah hikmat, hikmat untuk bisa melihat. Saya kira pertanyaan-pertanyaan yang tadi Pak Gunawan dan Ibu Ida ajukan adalah pertanyaan yang baik dan seringkali terpikirkan oleh banyak pasangan, tapi mereka tidak bisa melihat jawabannya karena mata mereka kabur, seolah-olah terbutakan oleh amuk cinta. Jadi mintalah hikmat sehingga hikmat itu bisa menjernihkan mata mereka agar mereka dapat melihat dengan jelas jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang tadi Ibu Ida dan Pak Gunawan tanyakan.

GS : Dan jawaban itu datang dari Tuhan.

PG : Dan Tuhan akan membisikkan jawaban-jawaban itu.

GS : Namun demikian masih banyak Pak Paul pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan, jadi nanti kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang, semoga ini akan lebih membantu lagi karena seperti yang tadi Pak Paul katakan mengajukan pertanyaan mungkin ada, tetapi jawabannya yang mereka butuhkan. Namun, untuk kali ini kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan tentang pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa dijadikan pedoman untuk mencari pasangan hidup dan pembicaraan ini telah kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran serta pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dari studio kami bertiga mengucapkan sampai jumpa di acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T 40 A

  1. Hal apakah yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan hidup?
  2. Apakah faktor pendidikan juga berpengaruh terhadap pola komunikasi mereka?
  3. Dalam bentuk-bentuk apakah pasangan pemuda-pemudi yang berpacaran ini bisa menjalin suatu kerja sama?
  4. Bagaimana dengan perasaan bangga, kecewa, atau malu terhadap pasangan sehubungan dengan pengakuan kita di depan khalayak ramai?
  5. Seorang pemuda malu untuk memperkenalkan pasangannya di depan umum, namun dia juga sangat mencintai dan sulit untuk memutuskannya, nah dalam kasus seperti ini kondisi apa yang sedang terjadi?


9. Pertanyaan-Pertanyaan untuk Mencari Pasangan Hidup 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T040B (File MP3 T040B)


Abstrak:

Lanjutan dari T40A


Ringkasan:

Kita semua menyadari betapa pentingnya menemukan seorang pendamping atau pasangan hidup yang tepat, dan tentunya yang diperkenan oleh Tuhan. Tetapi masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana kita menemukan pasangan itu. Berulang kali saya menemukan kasus-kasus mana masalah yang terjadi di antara suami-istri adalah masalah yang mereka bawa dari awal pernikahan dan seharusnya hal-hal itu sudah mereka sadari sebelum mereka menginjak ke jenjang pernikahan. Tapi karena tak terselesaikan akhirnya mereka harus bergumul dengan masalah yang sama tahun demi tahun.

Kalau kita mendefinisikan pernikahan secara praktis, sebetulnya pernikahan adalah hidup bersama, karena mencintai hidup bersama, kita ingin membagi hidup dan sukacita dengan seseorang. Jadi kalau orang bertanya apa tujuan berpacaran, tujuannya adalah menjajaki apakah kita bisa hidup bersama atau tidak, itu intinya berpacaran. Pacaran bukanlah untuk menikmati satu sama lain, pacaran bukanlah untuk menikmati malam yang indah, pacaran bukanlah agar ada orang yang kita kunjungi pada hari Sabtu malam atau Minggu malam. Pacaran bukanlah untuk membagi sukacita kita dengan seseorang, pacaran bukanlah supaya kita dicintai oleh orang lain. Tapi masa pacaran adalah masa kita menjajaki, belajar dan melihat dengan baik-baik apakah kita bisa hidup bersama dengan dia untuk selama-lamanya atau tidak.

Beberapa pertanyaan yang patut dijadikan tolok ukur atau pedoman untuk menemukan pasangan hidup.

  1. Apakah waktu kita berpacaran justru kita ini merasa didekatkan dengan Tuhan? Apakah kedua belah pihak itu saling menolong untuk bertumbuh dan hidup lebih dekat dengan Tuhan? Kalau kita makin hari makin jauh dari Tuhan gara-gara berpacaran, maka jelas itu bukan suatu hubungan yang diperkenan Tuhan. Sebab prinsipnya ialah segala hal yang kita lakukan haruslah memuliakan Tuhan. Jadi kalau dalam berpacaran kita tidak memuliakan Tuhan, yaitu terbukti dengan makin menjauhnya kita dari Tuhan, dapat kita pastikan bahwa hubungan itu bukanlah hubungan yang Tuhan restui.

  2. Seberapa banyakkah perbedaan yang membuat kita semakin sulit berkomunikasi? Berkomunikasi adalah aspek yang sangat penting. Karena berbicara satu sama lain akan menunjukkan banyak hal. Misalnya: Kesamaan minat, kalau keduanya tidak memiliki kesamaan minat mereka akan susah bicara panjang lebar.

  3. Seberapa mampukah kita bekerja sama? Salah satu wujud kerjasama bisa dilihat dari kemampuan pasangan mengambil keputusan bersama pada waktu menghadapi masalah. Kalau mungkin yang sering timbul justru adalah perbedaan pendapat, berarti mereka harus mampu mengambil keputusan bersama. Dengan demikian berarti mereka "lulus" dalam faktor kebersamaan.

  4. Apakah kita mampu untuk berekreasi atau menikmati waktu luang bersama? Jangan sampai pasangan kita itu sangat berbeda dengan kita, sehingga benar- benar tidak ada titik temu untuk menikmati hidup bersama. Misalkan yang satu senangnya nonton bola, yang satu senangnya dengar lagu-lagu rock and roll, yang satu senangnya ramai dan berkumpul, yang satu senangnya diam di rumah, akhirnya apa yang terjadi tidak pernah menikmati hidup bersama. Yang penting adalah bukan memulai kesamaan, tetapi bagaimana mencocokkan diri dalam perbedaan itu dan saling menghargai perbedaan yang ada.

  5. Apakah teman-teman kita bisa diterima oleh pasangan kita dan apakah kita juga bisa menerima teman-teman pasangan kita? Salah satu dari pasangan pada suatu saat harus mengajak calonnya untuk diperkenalkan kepada sahabat-sahabatnya. Jadi masing-masing harus melihat dengan jelas siapakah teman-teman pasangannya, karena itu mencerminkan siapa dia sebenarnya. Prinsipnya adalah kita harus berpasangan dengan orang yang bisa kita presentasikan ke hadapan orang lain. Kita tidak bisa berpasangan dengan seseorang yang ingin kita sembunyikan dari khalayak ramai karena kita merasa malu. Kita harus memiliki kebanggaan waktu bersanding dengan dia, jalan dengan dia, dan mempresentasikan dia di hadapan lingkungan kita, entah ditengah-tengah teman-teman, keluarga, maupun kolega kita.

  6. Apakah kita berdua mempunyai nilai moral yang sama? Sebab nilai moral itu sebetulnya merupakan poros dan keputusan-keputusan kita dalam hidup adalah jari-jarinya. Sama seperti poros, nilai moral itu sangat penting sekali. Itu akan menentukan apakah misalnya kita akan membeli rumah yang besar atau yang kecil.

  7. Apakah kita bisa menerima dan menghargai keluarga masing-masing? Ini merupakan salah satu pertanyaan yang penting sekali, apalagi dalam konteks kita di Timur. Kita yang menikah tidak bisa berkata, saya hanya menikahimu dan sebodoh amat dengan keluargamu.

  8. Apakah faktor ekonomi kita mempunyai perbedaan yang terlalu jauh? Perbedaan kemampuan ekonomi yang terlalu jauh akan mempengaruhi kehidupan pernikahan.

  9. Apakah masalah-masalah di masa lalu kita sudah diselesaikan dan dituntaskan? Sebaiknya pasangan kita mengetahui dengan jelas siapa kita, termasuk masa lalu kita. Kalau masa lalu kita sangat kelam, misalnya sebelum kita bertobat kita hidup dalam kehidupan seksual yang sangat bebas. Kita harus mengakui semuanya dengan jujur karena itu penting untuk diketahui oleh pasangan atau calon kita.

  10. Apakah kita bisa menghadapi dan menyelesaikan pertengkaran bersama-sama? Dalam masa berpacaran pertengkaran tidak harus dihindari. Sebab ada orang berkonsep bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Sebetulnya hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas pertengkaran, tapi hubungan yang sehat juga bukanlah yang sarat dengan pertengkaran, itu sama-sama tidak sehatnya. Indikasi hubungan yang sehat adalah hubungan yang kadang-kadang ada pertengkaran tapi yang pasti bisa diselesaikan. Jadi kata kuncinya justru adalah bisa diselesaikan bersama-sama.

  11. Apakah kita mau membicarakan dan bisa merencanakan masa depan bersama? Masa depan bersama adalah hal yang baik untuk dibicarakan, jadi dua-duanya harus membicarakan aspirasi ke depan. Saling bertanya dan membahas nanti ke depan mau apa, apa yang kau rindukan dalam hidup ini, apa yang dikejar dalam hidup. Itu penting.

Amsal 27:1,2 mengatakan: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri."

Dua hal dalam ayat ini akan saya kaitkan dengan hubungan berpacaran:

  1. Yang pertama adalah janganlah memuji diri karena esok hari, jadi jangan terlalu bermegah akan esok hari. Banyak orang yang berpacaran terlalu positif akan hari esok, bahwa hubungan mereka itu akan cemerlang, pasti cocok, pasti tidak ada masalah, karena kami saling mencintai. Tidak, jangan terlalu memuji diri akan hari esok. Lihatlah hari esok dengan realistik.

  2. Yang kedua, biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu. Ini akan saya artikan jangan kita ini sebagai pasangan berkata bahwa hubungan kita paling kuat, paling sehat karena kita saling mencintai. Biar orang lain yang memuji kita, jadi artinya terimalah dan mintalah tanggapan-tanggapan dari orang lain. Semakin sehat suatu hubungan, semakin berani mereka menerima masukan dari orang lain. Suatu hubungan semakin tidak sehat dan rapuh bila mereka takut menerima masukan dari orang lain.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga ). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen. Kali ini kami akan melanjutkan bincang-bincang kita beberapa waktu yang lalu tentang pertanyaan-pertanyaan untuk mencari pasangan hidup dan kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah berbincang-bincang tentang beberapa pertanyaan yang bisa digunakan untuk menentukan apakah kita ini cocok dengan pasangan hidup kita. Misalnya saja pernah ditanyakan apakah dengan hubungan itu masing-masing bisa lebih dekat dengan Tuhan, bagaimana mutu komunikasinya, lalu juga mengenai minatnya dsb. Tetapi ternyata masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bisa digunakan untuk lebih memantapkan hubungan misalnya saja penilaian kita terhadap suatu nilai kehidupan ini, moral dsb. Itu sebenarnya bagaimana Pak Paul, kita bisa mempertanyakan seperti apa dan jawabannya bagaimana?

PG : OK! Kalau kita mendefinisikan pernikahan secara praktis sebetulnya pernikahan adalah hidup bersama. Jadi praktisnya pernikahan adalah hidup bersama, karena mencintai maka hidup bersama,kita ingin membagi hidup, sukacita hidup ini dengan orang itu.

Jadi intinya adalah hidup bersama. Kalau orang bertanya apa tujuan berpacaran, jawaban saya adalah untuk menjajaki apakah kita bisa hidup bersama atau tidak. Jangan sampai pada waktu masa pacaran kita kehilangan arah atau tujuan hakiki ini. Pacaran bukanlah untuk menikmati satu sama lain, pacaran bukanlah untuk menikmati malam yang indah, pacaran bukanlah agar ada orang yang kita kunjungi pada hari Sabtu malam atau Minggu malam. Pacaran bukanlah untuk membagi sukacita kita dengan seseorang, pacaran bukanlah supaya kita dicintai oleh orang lain. Tapi masa pacaran adalah masa kita menjajaki, belajar dan melihat dengan baik, apakah kita bisa hidup bersama dengan dia atau tidak, untuk selama-lamanya. Dalam konteks inilah kita juga perlu melihat apakah kita berdua mempunyai nilai moral yang sama. Sebab nilai moral itu sebetulnya adalah poros dan keputusan-keputusan kita dalam hidup adalah jari-jarinya. Sehingga kalau porosnya itu sudah tidak ada atau porosnya itu tidak lagi sama untuk berimbang, sudah tentu jari-jarinya juga akan kacau.
GS : Berputarnya juga tidak betul, ya?

PG : Betul, jadi poros itu sangat penting. Nilai moral itu yang akan menentukan misalnya, kita akan membeli rumah yang besar atau yang kecil. Kebetulan kita mempunyai orang tua yang juga memutuhkan rumah, kita berkata orang tua saya juga memerlukan uang ini, bagaimana kalau kita membeli rumah yang sedang dulu, jangan yang terlalu besar nanti kalau ada uang yang lebih banyak kita beli yang lebih besar.

Lalu pasangan kita bertanya untuk apa uang itu? Kita berkata mau saya berikan kepada orang tua saya, karena ini penting buat mereka. Pasangan kita kalau tidak mempunyai nilai hidup yang sama akan bisa menolak dan marah. Jadi sekali lagi nilai moral atau nilai kehidupan itu sangat luas sekali jangkauannya.
GS : Berkaitan dengan nilai moral, Pak Paul, ada juga gaya hidup dari muda-mudi. Tadi Pak Paul katakan pernikahan itu pada hakekatnya hidup bersama. Kalau mereka itu mengujicobakan sebelum sah menjadi suami istri dengan hidup bersama, apa itu suatu nilai moral juga, Pak?

PG : Betul, itu disebut kumpul kebo, dan hasilnya tidak pernah efektif. Jadi saya pernah membaca suatu hasil studi di AS yang memperlihatkan justru tingkatan perceraian dengan pasangan yang ernah kumpul kebo lebih tinggi dari pasangan yang tidak pernah kumpul kebo.

Sangat menarik sekali kenapa mereka yang kumpul kebo, hidup bersama akhirnya lebih rawan terhadap perceraian dibandingkan mereka yang tidak pernah hidup bersama. Saya kira salah satu jawaban hakikinya adalah karena pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, suci, dan kalau dicemar-cemarkan, diremeh-remehkan, dibuang-buang seperti sampah akhirnya mereka berdua melihat masing-masing seperti sampah juga dan kurang sekali penghargaan terhadap satu sama lain. Sudah pasti hidup bersama tidak dikehendaki Tuhan dan Tuhan tidak memberkatinya karena itu melanggar firman Tuhan, yaitu jangan kita bercabul atau berzinah.
IR : Jadi jelas Pak Paul. Kalau mereka sudah tidak takut dalam kumpul kebo, dalam hal berceraipun mereka tidak akan takut, ya?

PG : Betul sekali, kalau mereka tidak takut untuk kumpul kebo berarti tidak takut juga untuk bercerai.

GS : Itu suatu nilai moral yang bisa dipakai sebagai pedoman, bagaimana pandangan dia terhadap itu?

PG : Betul sekali, dan adakalanya memang yang satu sangat tidak berkeberatan untuk melakukannya. Dulu kita beranggapan bahwa sudah pasti yang akan berinisiatif untuk kumpul kebo atau berhubugan seksual sebelum menikah, adalah pria tapi kenyataan di lapangan sekarang mulai berbeda.

Mulai terdengar dan cukup banyak di mana wanita berani sekali meminta untuk berhubungan seksual sebelum menikah.
GS : Tadi kita sudah membicarakan tentang seks. Apakah itu bisa juga dijadikan semacam pedoman, Pak Paul. Bagaimana pasangan itu bisa mengendalikan hasrat seksualnya sebelum mereka resmi menikah?

PG : Bisa sekali, jadi hubungan yang terlalu ditandai dengan kontak fisik akan menjadi hubungan yang tidak sehat, tidak seimbang karena mereka berdua tidak akan berkesempatan melihat problemproblem lain dengan obyektif.

Seks itu membawa kenikmatan, sehingga kalau seks sudah menjadi pusat hubungan itu, seks akan menutupi masalah-masalah yang sebetulnya ada dalam hubungan mereka berdua. Itu faktor yang pertama. Faktor kedua, kalau mereka sudah berhubungan seks dan hubungan mereka itu terjadi karena yang satu kurang bisa menguasai diri. Saya kira hal itu akan membuat pasangannya bertanya-tanya kalau nanti dia bersama orang lain. Setelah saya menikah dengan dia dan kebetulan harus berdua dengan orang lain apakah mampu atau tidak dia menguasai dirinya, dengan kata lain ketidakmampuan dia menguasai diri bisa mengurangi rasa percaya, belum lagi mengurangi rasa hormat atau respek karena kita harus jujur dengan diri kita. Kita sebetulnya menghormati pasangan kita yang justru bersikeras menjaga kesuciannya. Kita memang akan menikmati pasangan yang sepertinya sembarangan dengan tubuhnya, tapi tidak terlalu kita hormati. Kita jauh lebih menghormati pasangan yang berani konsekuen dengan kekudusannya.
(2) GS : Tapi memang itu menjadi pelik Pak Paul, karena seringkali ditanyakan baik dalam ceramah, seminar dan sebagainya. Sampai sejauh mana kami boleh mengungkapkan hasrat seksual kami?

PG : Secara umum saya akan meminta sebaiknya jangan sampai berciuman di bibir, sebab bibir itu adalah organ tubuh yang sangat erotis. Kalau sudah masuk pada ciuman-ciuman di bibir, biasanya kan mengundang tindakan-tindakan lain yang lebih serius.

Jadi kalau bisa berpegangan tangan, berpelukan dari samping. Sebaiknya juga jangan berpelukan dari depan karena akan mengundang reaksi birahi pula. Memang kita berbicara begini akan terdengar sangat kolot ya, Pak Gunawan dan Bu Ida, oleh banyak pemuda. Tapi saya kira, saya mengatakan begini dari pengalaman saya sendiri yang harus bergumul dengan hal-hal seperti itu waktu saya masih berpacaran. Selain itu saya ingin supaya mereka yang mendengarkan kita, akhirnya tidak harus jatuh ke dalam dosa dan merasa mereka telah melakukan hal yang salah.
GS : Memang justru itu yang dikhawatirkan mereka, kalau mereka tidak melakukan seperti orang-orang yang sebaya dengan mereka, misalnya tadi Pak Paul katakan berciuman di bibir, buat mereka biasa dilakukan dan mereka melihat itu biasa. Bila mereka tidak melakukan itu, mereka khawatir dicap oleh calon pasangannya sebagai orang yang kolot dan sebaliknya, yang perempuan khususnya khawatir dicap atau ditengarai sebagai orang yang dingin, sehingga mereka melakukan itu.

PG : Hal itu bisa dihindari dengan komunikasi yang terbuka ya, yaitu masing-masing mengatakan baiklah kita menjaga diri, langkah-langkah inilah yang kita berdua ambil. Kalau sudah ada pengerian seperti itu, seharusnya tidak ada lagi tempat untuk salah paham di situ.

Justru mereka akan lebih bangga dengan hubungan yang seperti itu.
GS : Jadi sama-sama menentukan targetnya, ya Pak Paul?

PG : Betul sekali.

GS : Di situlah akan kelihatan bagaimana mereka bekerjasama untuk saling menjaga kesucian mereka.

PG : Betul dan itu patut dijadikan tolok ukur, Pak Gunawan. Karena misalkan dari pihak wanita yang terutama sewaktu dia melihat pasangan prianya terlalu bernafsu kepadanya, setidak-tidaknya ia akan bertanya-tanya, pacarku ini mencintaiku atau mencintai tubuhku, itu dua hal yang berbeda.

IR : Kemudian di dalam mencari pasangan itu juga ada pertanyaan bagaimana mereka itu bisa menerima atau menghargai keluarga masing-masing, itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Ini penting sekali Ibu Ida, apalagi dalam konteks kita di Timur ya. Kita menikah tidak bisa berkata saya hanya menikahimu dan masa bodoh dengan keluargamu. Sekali lagi saya berbicara dai pengalaman, hal ini seringkali menjadi duri dalam hubungan pernikahan mereka.

Berkali-kali saya menyaksikan ini dalam praktek saya juga yaitu akhirnya hubungan suami istri sangat terganggu karena masalah keluarga masing- masing. Dan yang biasanya terjadi adalah yang satu tidak menghargai keluarga pasangannya. Memang tidak berarti kita harus dengan buta menghargai keluarga pasangan kita, ada orang yang bermasalah misalnya, ada papa mertua yang bermasalah, ibu mertua yang bermasalah, tapi kita harus menyadari juga bahwa bagaimanapun mereka bermasalah, mereka adalah bagian dari kehidupan pasangan kita. Dan pasangan kita itu pasti tetap akan mau sedikit banyak menghargai mereka, sebab penghinaan terhadap keluarganya sama juga merupakan penghinaan terhadap dirinya. Jadi sebaiknya kita memang menikah dengan seseorang yang keluarganya dapat kita hargai itu jauh lebih baik.
(3) GS : Tapi kadang-kadang di dalam masa mereka berpacaran itu sulit Pak Paul, kalau mereka sudah terlanjur saling senang kemudian ada salah satu dari orang tuanya entah yang pria, entah yang wanita yang tidak menyetujui atau merestui. Nah sebagai orang Kristen, yang beriman kepada Tuhan, bagaimana sikap yang sebenarnya, Pak Paul?

PG : Ini sering ditanyakan, Pak Gunawan, saya selalu bertanya begini apakah orang tuamu jelas melihat pasanganmu. Sebab adakalanya orang tua mempunyai frase posisi atau anggapan-anggapan yan kurang jelas, kita harus tahu dulu apakah orang tua jelas melihat pasangan kita.

Tugas kitalah memberikan penjelasan itu selengkap-lengkapnya, seobyektif mungkin. Kedua, kita selalu harus memberikan penghargaan terhadap masukan orang tua, sebab apa? Kita harus selalu kembali pada fakta motivasi. Saya kira ada orang tua yang susah melepaskan anaknya untuk menikah sehingga siapapun yang menjadi pasangan si anak akan dicelanya, sepertinya tidak cukup baik. Tapi pada umumnya orang tua tidak seperti itu dan pada umumnya orang tua menginginkan agar anak-anak mereka bahagia. Jadi kalau sampai orang tua menentang, biasanya karena keprihatinan orang tua bahwa pasangan itu tidak cocok dengan anak dan mungkin ini yang tidak bisa dilihat oleh si anak. Jadi anak perlu menghargai masukan orang tua sebab pada umumnya orang tua tidak berniat jahat, justru berniat untuk kebaikan si anak. Ini yang perlu dipelajari oleh si anak kenapa orang tuanya menentang dia, harus melihat dengan obyektif hal-hal itu.
GS : Misalnya saja tentang perbedaan etnis, Pak Paul yang kerapkali terjadi, karena pergaulan ini begitu terbuka. Dengan alasan perbedaan etnis, orang tua itu melarang anaknya menikah. Nah, sebagai anak-anak tadi harus menghormati petunjuk atau permintaan orang tuanya atau karena dia melihat banyak pasangan yang berbeda etnis tetap berbahagia, mereka tetap ngotot, nah itu bagaimana?

PG : Saya akan menceritakan sebuah kesaksian yang saya dengar dari seorang pendeta berkulit putih di AS. Suatu hari putrinya datang kepadanya dan berkata : "Papa saya akan menikah", si papa ilang ya baik, bagus dengan siapa? Terus putrinya berkata : "dengan seorang berkulit hitam, seorang Negro".

Si papa itu bijaksana sekali, dia berkata : "Silahkan tidak apa-apa, tapi saya minta kamu melakukan suatu hal, saya minta kamu selama (saya lupa ya dalam jangka waktu 6 bulan atau setahun) saya minta engkau tinggal bersama dengan keluarga pria itu, orang tua pria itu", anak itu menyetujui dia tinggal berbulan-bulan dengan keluarga si pria itu. Setelah berbulan-bulan, dia kembali ke rumah papanya dan berkata : "Papa saya batal, tidak jadi menikahi pasangan saya". "Kenapa?" "Sebab ternyata perbedaan etnis memang berdampak pada suatu hubungan, bukan masalah etnisnya tapi masalah gaya hidup dan cara-cara hidup, nilai-nilai hidup, kebiasaan-kebiasaan hidup semua itu perlu diperhitungkan". Secara Alkitab tidak boleh seorang Kristen melarang anaknya menikah dengan orang yang berlainan etnis karena memang Tuhan tidak menghendaki hal itu. Tuhan melihat semua orang sama. Yang Tuhan bedakan adalah seiman atau tidak. Tuhan meminta itu dengan jelas, kalau masalah etnis yang berbeda Tuhan tidak akan mempersoalkan karena semua adalah ciptaan Tuhan. Namun disamping itu kita harus menyadari bahwa setiap golongan masyarakat mempunyai pola hidup, kebiasaan hidup yang unik untuk masing-masing kelompok itu. Bahkan status ekonomi tinggi dengan status ekonomi rendah, mempunyai gaya hidup yang sangat berlainan meskipun satu etnis. Jadi kalau anak mereka menikah, mereka juga harus melihat dengan jelas, hal-hal apa yang mungkin bisa menjadi duri dalam pernikahan mereka. Jadi saran saya atau masukan saya sama, untuk yang berbeda etnis bukan masalah etnisnya, tapi dia harus menyadari perbedaan-perbedaan gaya hidup itu dan bagaimana dia bisa menyesuaikannya.
GS : Tapi saya rasa pemecahan yang sangat bijaksana dari orang tua itu Pak Paul ya. Sehingga bukan dia yang melarang, tapi anak itu sendiri yang memutuskan untuk membatalkan atau melanjutkan hubungan mereka ke tahap pernikahan, begitu ya Pak Paul?

PG : Ya, betul.

IR : Pak Paul tadi mengatakan juga bahwa perbedaan faktor ekonomi yang terlalu jauh satu dengan yang lain, juga mempengaruhi, ya Pak Paul?

PG : Biasanya mempengaruhi apalagi kalau yang lebih rendah yang pria, sebab pria cenderung mengukur harga dirinya dari segi keberhasilan ekonominya. Sewaktu dia menikah dengan wanita yang jah melampaui status ekonominya, biasanya dia akan merasa minder.

Orang minder bisa mempunyai dua perilaku yang berbeda atau yang ekstrim. Yang pertama menjadi penurut sekali, mengikuti semua kehendak si istri dan kehendak keluarga si istri. Perilaku yang kedua justru kebalikannya, melarang si istri dekat dengan keluarganya, memerintah si istri, menjadi bos dan orang Jakarta mengatakan 'memoroti' uang si istri, misalnya ada yang seperti itu juga.
IR : Dan pernah ada kejadian Pak Paul, setelah si suami itu berhasil, mungkin dulu dia pernah dihina oleh keluarga si perempuan, dia membalas dendam, bisa ya Pak Paul?

PG : Bisa sekali Ibu Ida, sungguh menyedihkan ya kalau akhirnya seperti itu.

IR : Akhirnya timbul permusuhan.

PG : Rupanya dia menyimpan dendam, dan otomatis dia akan merasa peka, cepat tersinggung, sebab mungkin saja si keluarga wanita tidak menghina. Tapi kadang-kadang ada perkataan yang agak senstif mungkin ya, karena dia sudah peka mungkin mudah dendam akhirnya.

IR : Kemudian di dalam mencari pasangan hidup apakah masalah-masalah masa lalu perlu dituntaskan Pak?

PG : Sebaiknya demikian Ibu Ida, jadi sebaiknya pasangan kita mengetahui dengan jelas siapa kita, termasuk masa lalu kita. Kalau masa lalu kita sangat kelam misalkan sebelum kita bertobat, kta hidup dalam kehidupan seksual yang sangat bebas misalnya.

Kita tidak perlu menjelaskan dengan detail apa-apa saja dalam perbuatan kita yang kita lakukan, kita bisa secara garis besar mengatakan apa yang telah kita lakukan, perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik itu. Namun tidak harus menjelaskan sedetail-detailnya. Karena itu bisa mengganggu memori atau ingatan pasangan kita untuk waktu yang lama, tapi yang penting dia harus tahu dengan jujur semuanya itu. Jangan sampai setelah menikah baru istrinya tahu kalau itu bekas pacarnya dulu. Jadi istri bingung berapa banyak 'koleksi' si suami itu dulu.
IR : Cuma kalau pihak lain itu menanyakan yang sedetail-detailnya, bagaimana Pak Paul apakah itu harus dijawab?

PG : Saya kira kalau misalkan hubungan-hubungan yang tidak senonoh seperti itu sebaiknya jangan. Jadi beri tahu saja secara garis besar apa yang telah terjadi dulu sebelum berhubungan, sebelm berkenalan dengan pasangannya ini.

Tapi tidak perlu membangkit-bangkitkan semuanya, saya kira itu tidak bijaksana.
GS : Ya kadang-kadang itu bisa dijadikan alasan pertengkaran, ya Pak Paul?

PG : Betul.

(4) GS : Menimbulkan pertengkaran, tetapi apakah di dalam masa berpacaran pertengkaran itu harus dihindari, Pak Paul?

PG : Pertanyaan yang bagus Pak Gunawan, sebab ada orang berkonsep bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Sebetulnya hubungan yang sehat bukanlah hubungan yan bebas dari pertengkaran, dan hubungan yang sehat juga bukanlah hubungan yang sarat dengan pertengkaran, itu sama-sama tidak sehatnya.

Yang sehat adalah hubungan yang kadang-kadang ada pertengkaran, tapi yang pasti bisa diselesaikan, jadi kata kuncinya adalah bisa diselesaikan.
GS : Nah itu harus diselesaikan bersama-sama, ya Pak Paul?

PG : Ya, akhirnya dituntaskan dengan pengampunan dan penerimaan.

GS : Itu salah satu indikasi bahwa pasangan itu hubungannya sehat atau tidak?

PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi hubungan yang tidak mampu menyelesaikan masalah, hubungan yang sebetulnya sangat lemah. Kadangkala orang menganggap selesai masalah karena dua-duanya sudh terlalu capek bertengkar, ya sudah, terserah kamu sudah terserah.

Terus 2, 3 hari lupa masalahnya, baik lagi. Sebetulnya itu tidak sehat, harus ada kemampuan untuk mencari jalan keluar, solusi itu selalu harus ada dalam hubungan yang sehat. Ini salah satu yang paling penting di antara pertanyaan-pertanyaan yang tadi kita telah bahas, Pak Gunawan.
GS : Tadi kita sudah membicarakan tentang masa lalu yang harus dituntaskan, ya Pak Paul? Tapi seseorang itu di dalam perjalanan hidupnya selain mempunyai masa lalu juga mempunyai masa depan. Apakah hal itu juga perlu dibicarakan?

PG : Itu adalah hal yang baik untuk dibicarakan, jadi dua-dua harus membicarakan aspirasi ke depannya mau apa, apa yang kau rindukan dalam hidup ini, hidup seperti apa, apa yang kaurindukan,itu penting.

Misalnya yang satu merindukan rumah dan terus diam di rumah untuk waktu yang sama, tidak perlu pindah-pindah, pekerjaan asal memadai ya cukup tidak apa-apa. Yang satu tidak terima, yang satu pokoknya mau mengejar jenjang-jenjang karier yang lebih tinggi. Kalau perlu pindah rumah, kalau perlu pindah kota, ya tidak apa-apa, hal-hal seperti itu memang harus dibicarakan. Apa itu yang akan dikejar dalam hidup?
(5) GS : Sekarang mungkin banyak diselenggarakan, baik di gereja maupun di tempat lain, suatu program bina pranikah ya Pak Paul, yang mempersiapkan calon-calon pasangan suami istri. Apakah itu memang diperlukan saat-saat ini?

PG : Pribadi sangat diperlukan, secara pribadi saya harus berkata begitu, karena adanya bina pranikah saya kira jemaat lebih diperlengkapi dengan pengetahuan-pengetahuan sebab memang tidak aa kuliah pernikahan.

Berhitung kita dipersiapkan, menikah tidak. Padahal kita lebih banyak menikah daripada berhitung, tapi justru tidak dipersiapkan. Jadi saya kira program bina pranikah di gereja sangat dibutuhkan.
GS : Cuma kadang-kadang programnya yang harus memang dibuat sedemikian rupa sehingga betul-betul mempersiapkan mereka.

PG : Betul, salah satu cara yang terbaik dan sebetulnya sangat efisien adalah mendayagunakan para anak-anak Tuhan sendiri, majelis, atau tua-tua gereja yang mempunyai hubungan nikah yang bai, yang sehat.

Mereka sajalah yang diminta untuk memberikan bimbingan, memberikan masukan-masukan dari pengalaman hidup mereka, itu sangat bermanfaat.
GS : Karena dari situ mereka juga belajar dari kebenaran firman Tuhan, Pak Paul.

PG : Betul.

GS : Mungkin Pak Paul mau menyampaikan sebagian dari firman Tuhan yang bisa dijadikan pedoman.

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 27 : 1- 2

"Janganlah memuji diri, karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri."

Dua hal ini saya akan kaitkan dengan hubungan berpacaran Pak Gunawan. Yang pertama adalah janganlah memuji diri karena esok hari, jadi jangan terlalu bermegah akan esok hari. Banyak orang yang berpacaran terlalu positif akan hari esok, bahwa hubungan mereka itu akan cemerlang, pasti cocok, tidak ada masalah karena kami saling mencintai. Tidak, jangan terlalu memuji diri akan hari esok. Lihatlah hari esok dengan realistik. Kedua, biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu. Ini saya artikan jangan kita sebagai pasangan berkata hubungan kita paling kuat, sehat karena kita saling mencintai. Biar orang lain yang memuji kita, jadi artinya terimalah dan mintalah tanggapan-tanggapan dari orang lain. Semakin sehat suatu hubungan, semakin berani mereka menerima masukan dari orang lain. Semakin tidak sehat dan rapuh hubungan itu, semakin takut mereka menerima masukan dari orang lain. Jadi itu prinsipnya.

GS : Ya, memang tentunya banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain di benak pendengar, Pak Paul. Tentunya kami juga berharap mereka tidak ragu-ragu untuk mengontak, menulis surat kepada kami sehingga pada kesempatan yang lain kita akan bisa membahas lebih lanjut pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa dijadikan pedoman sebelum memutuskan hubungan pacaran itu ke pernikahan.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan ke hadapan Anda, sebuah percakapan seputar pertanyaan-pertanyaan untuk mempersiapkan pernikahan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sekali lagi bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda untuk menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami ucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T 40 B

  1. Penilaian kita terhadap kehidupan atau pun moral, apakah penting untuk diperhatikan dalam pacaran?
  2. Sampai sejauh mana pasangan yang sedang berpacaran boleh mengungkapkan hasrat seksualnya?
  3. Sikap apa yang dilakukan sebagai pemuda atau pemudi Kristen, untuk menyikapi ketidaksetujuan orang tua terhadap hubungan kita?
  4. Haruskah pertengkaran dihindari pada masa pacaran?
  5. Apakah bina pranikah itu penting untuk dilakukan?


10. Peran Teman dalam Kehidupan Remaja


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T048A (File MP3 T048A)


Abstrak:

Secara alamiah seorang anak membutuhkan teman. Untuk bermain bersama bila waktu masih kecil dan membutuhkan teman untuk berdialog, mencurahkan isi hati ketika sudah menginjak remaja. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat kita pelajari peranan teman dalam tema ini. Baik sebagai pembanding, pemantul, maupun penguji.


Ringkasan:

Anak-anak secara natural atau secara alamiah memang membutuhkan teman. Pada masa kecil teman itu lebih berfungsi sebagai teman main, mereka sebetulnya jarang berdialog atau berinteraksi secara rasional. Namun begitu dia beranjak dewasa mulailah teman berganti peran atau dengan kata lain mulailah teman-teman itu mempunyai suatu misi khusus dalam pertumbuhan remaja.

Sekurang-kurangnya ada 3 peranan yang penting sekali, yang dimainkan oleh teman dalam kehidupan remaja, terutama dalam hal pembentukan jati dirinya:

  1. Teman berfungsi sebagai pembanding, artinya dengan adanya teman si anak remaja itu mulai membandingkan diri dengan sesamanya.

  2. Teman berfungsi sebagai pemantul atau reflektor, yang merefleksikan siapa diri kita. Kalau kita hidup sendiri, dinding di sekitar kita tidak bisa merefleksikan siapa kita. Tapi teman-teman bisa merefleksikan atau memberi cerminan siapa kita. Yang paling penting adalah anak remaja ini memproses semua masukan itu untuk menciptakan pendapatnya sendiri tentang siapa dirinya. Dan komentar-komentar yang ia perlukan itu hanya bisa diperoleh kalau dia bergaul dengan teman-temannya. Di sinilah teman-teman bersumbangsih besar dalam memberikan dia pantulan atau cerminan yang memang dia butuhkan. Remaja itu memang sudah memiliki suatu konsep diri tentang siapa dia dan tidak lagi mendengarkan masukan dari orang lain, sikap ini bisa positif dan juga negatif. Positif dalam arti, dia tidak mudah diombang-ambingkan, dia sudah mempunyai gambaran yang jelas. Negatif dalam arti, kalau dia menutup diri terus-menerus itu tidak baik.

  3. Teman berfungsi sebagai penguji. Penguji artinya, teman-teman ini akan memberikan tantangan pada si remaja.

Peran teman sebagai pembanding, reflektor, dan penguji juga harus didapatkan oleh si remaja di tengah-tengah keluarga. Keluarga adalah titik atau 'basis' pertama dimana dia mendapatkan ketiga hal itu.

Salah satu pedoman untuk berteman yang bisa digunakan khususnya oleh para remaja: I Korintus 15:33 , "Pergaulan yang buruk (atau sebetulnya bisa juga diterjemahkan teman-teman yang buruk) merusakkan kebiasaan yang baik." Kata kebiasaan sebetulnya berasal dari kata karakter, jadi kalau saya terjemahkan bebas: "teman-teman yang buruk merusakkan karakter yang baik." Jadi teman bisa buruk bisa baik, Tuhan meminta kita memilih dengan tepat. Kriterianya, bukan teman itu baik kepada saya atau tidak, tapi dia itu orang yang secara keseluruhan baik atau tidak menurut standar Tuhan. Pengertian ini harus dimiliki oleh anak remaja, sehingga dia bisa menilai orang dengan tepat.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Peran Teman Dalam Kehidupan Remaja. Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kalau kita mengamati kehidupan para remaja saat-saat ini dan juga mungkin pada waktu-waktu yang lampau itu, usia-usia mereka itu ditandai dengan banyaknya teman yang mereka miliki Pak Paul; kadang-kadang ketika mereka itu bermain-main di rumah terasa bising sekali di rumah itu, tapi kadang-kadang kalau anak-anak meninggalkan rumah, kami orang tua itu kepikiran, apa yang mereka perbuat di luar. Nah sebenarnya apa perlunya mereka itu berteman Pak Paul, dulu kami juga pernah merasakan itu tetapi 'kan tidak pernah memikirkannya.

PG : Saya akan membawa kita kembali ke masa yang lebih awal Pak Gunawan, sebetulnya anak-anak itu secara natural, secara alamiah memang sudah membutuhkan teman. Jadi kalau sampai ada anak yag tidak mau berteman, yang maunya menyendiri itu bukanlah sesuatu yang alamiah, itu adalah suatu penyimpangan.

Jadi yang lebih alamiah adalah anak-anak membutuhkan teman. Peranan teman dalam kehidupan remaja memang tidak selalu sama Pak Gunawan, pada masa kecil teman-teman itu lebih berfungsi sebagai teman main, jadi mereka sebetulnya jarang berdialog atau berinteraksi secara relasional, secara hubungan. Sebab mereka itu lebih sering bergerak bersama atau memainkan mainan bersama, tapi memang itulah yang dibutuhkan pada masa kecil. Anak-anak pada masa kecil tidak terlalu membutuhkan teman dialog, teman untuk mencurahkan hati dan sebagainya, tidak terlalu memerlukan hal itu. Nah, Tuhan sudah mendesain kehidupan ini dengan begitu sempurnanya, maka anak-anak yang memang belum begitu fasih mengungkapkan perasaannya, dalam membentuk atau mengkonsepkan pikirannya supaya bisa disampaikan kepada temannya. Nah, dalam kekurangmampuannya itu Tuhan memang melihat dan mendesain bahwa yang dibutuhkan anak-anak kecil adalah teman main. Begitu dia menginjak dewasa mulailah teman berganti peran atau dengan kata lain mulailah teman-teman itu mempunyai suatu misi khusus dalam pertumbuhan remaja itu. Sekurang-kurangnya ada 3 peranan yang penting sekali yang dimainkan oleh teman dalam kehidupan si remaja, terutama dalam hal pembentukan jati dirinya. Yang pertama adalah teman itu berfungsi sebagai pembanding Pak Gunawan, artinya dengan adanya teman si anak remaja itu mulai membandingkan diri dengan sesamanya, nah ini tidak sama dengan misalkan dia membandingkan diri dengan adik atau kakaknya atau bahkan dengan orang tuanya, tidak sama, sebab dia perlu membandingkan diri dengan teman sebayanya.
GS : Makanya pada waktu semasa itu mereka masih berteman dengan teman yang sejenis, yang perempuan dengan yang perempuan, yang pria dengan yang pria itu mungkin salah satu wujudnya.

PG : Ya pada masa remaja awal mereka cenderung berkelompok dengan yang sejenis, tapi memasuki masa remaja pertengahan serta remaja akhir. Remaja awal itu kira-kira usia 11 - 13, 14, tengah skitar 15 - 16, 17, remaja akhir adalah mulai usia 17 - 18 hingga 20 tahun.

Nah, pada usia remaja tengah dan akhir mulailah masuk lawan jenis, nah itu menambah kekomplekan usia remaja dengan sesamanya. Tapi yang penting adalah baik itu secara sejenis maupun lawan jenis dia mempunyai rekan untuk membandingkan dirinya.
GS : Tetap dibutuhkan ya?

PG : Tetap dibutuhkan, misalnya dia melihat bahwa dia tidak setinggi temannya atau dia tidaklah seramping temannya atau dia tidaklah seatletik temannya dalam cabang- cabang olah raga atau tiaklah sepandai atau seganteng temannya.

Nah, informasi- informasi ini dia perlukan, supaya dari informasi-informasi yang dia temukan melalui perbandingan diri dengan orang-orang lain itu, dia akan mempunyai gambaran tentang siapa dia, gambaran inilah yang membentuk jati dirinya atau konsep tentang siapa dirinya.
GS : Tapi prosesnya bagaimana sampai dia bisa menemukan jati dirinya lewat perbandingan itu Pak Paul, apakah dia tidak semakin mengetahui kelemahan-kelemahan dirinya dan dia menjadi anak yang rendah diri Pak Paul?

PG : Nah, di sini peranan orang tua memang sangat penting, untuk bisa mengkomunikasikan penerimaan. Sebab anak yang sejak kecil diterima oleh orang tua apa adanya, orang tua memang menuntut emacu anak, tapi yang paling penting anak tahu bahwa dia diterima apa adanya oleh orang tua.

Nah dalam keadaan seperti itu dia diterima sepenuhnya oleh orang tua meskipun dia menemukan dirinya kurang dibandingkan dengan teman-teman yang lain, perasaan atau pengetahuan bahwa dia kurang ini tidaklah akan menghancurkan dirinya, sebab dia tahu dia masih mempunyai suatu basis di rumah; makanya penting sekali basis itu di rumah yang bisa benar-benar membuka tangan dan merangkul dia. Atau dia tahu dia kurang dalam hal-hal tertentu tapi dia menyadari dia kuat juga dalam hal-hal yang lainnya, nah ini akan menyeimbangkan perasaannya tapi yang Pak Gunawan katakan memang betul, itu sebabnya adakalanya remaja pada masa tertentu seolah-olah merasa tidak bersemangat, dirundung kesedihan karena apa, karena dia melihat temannya kok lebih pandai, lebih bagus; dia diterima lebih populer di kalangan teman-temannya, nah ini membuat perasaannya menjadi kecil hati dan sebagainya.
IR : Kemudian anak-anak remaja di dalam bergaul Pak, mereka itu setia sekali kepada temannya, kalau sampai temannya diganggu oleh orang lain, mereka tidak terima, itu pengaruh apa Pak Paul?

PG : Begini Ibu Ida, yang Ibu Ida katakan memang itu betul pengamatan yang tepat sekali, setiap kita sebetulnya mempunyai milik yang dapat kita katakan milikku, jadi waktu masih kecil mainanmainanlah yang kita sebut sebagai milikku, baik itu boneka, kuda-kudaan, mobil-mobilan, itu menjadi milikku.

Begitu menginjak usia remaja, memang masih ada benda yang kita kaitkan dengan diri kita sebagai milik kita. Tapi dengan bertambahnya usia si anak dan memasuki usia remaja ini si remaja sebetulnya mulai memindahkan atau mengalihkan kepemilikannya, dari memiliki benda ke memiliki teman. Dulu dia dikenal sebagai yang punya playstation, yang punya video, yang punya sepeda, waktu dia menginjak usia dewasa akan dikenal sebagai temannya si Amir, temannya si Ina. Nah jadi pada usia remaja, anak-anak remaja ini mengaitkan diri dengan teman dan mereka seolah-olah menjadi miliknya, bukan kepunyaan tapi maksudnya milik kepanjangan dirinya, itu sebabnya teman menjadi sangat penting.
IR : Dan mereka tidak selektif Pak Paul, di dalam memilih teman?

PG : Nah ini yang sering terjadi, betul Ibu Ida kenapa kok remaja itu kurang selektif ini yang sering menjadi pertanyaan kita. Begini Bu Ida, kebanyakan anak remaja itu belum bisa mendefiniskan teman yang baik secara betul.

Kebanyakan mereka mendefinisikan teman yang baik adalah seseorang yang baik kepadaku. Dia belum bisa menilai bahwa seseorang itu baik kepadaku, tapi sangat tidak baik kepada orang tuanya, sangat tidak baik kepada gurunya, sangat tidak baik kepada teman-temannya yang lain, nah anak-anak remaja belum bisa melihat sekomprehensif itu secara menyeluruh, sehingga akhirnya dia hanya akan menilai seseorang ini baik kepada saya sebagai dasar ini adalah teman yang baik. Itu sebabnya Ibu Ida punya anak remaja juga, Pak Gunawan juga punya anak remaja yang juga pasti pasti bergumul dalam hal ini. Upaya kita untuk memberitahu si anak, jauhilah dia, temanmu ini bukan orang yang baik, tidak bisa diterima oleh si anak sebab definisinya dia adalah dia baik kepadaku.
GS : Nah selain berperan sebagai pembanding Pak Paul, hal apalagi yang bisa dilakukan oleh seorang teman itu?

PG : Yang kedua, teman juga berfungsi sebagai pemantul, sebagai reflektor yang merefleksikan siapa kita, kalau kita hidup sendiri dinding di sekitar kita tidak bisa merefleksikan siapa kita.Tapi teman-teman bisa merefleksikan atau memberi cerminan siapa kita, misalnya teman berkata kamu kok orangnya cepat tersinggung ya, masa baru begitu saja kamu sudah marah atau teman memberikan komentar kamu pantang menyerah itu sikap yang bagus, memang seharusnyalah orang itu pantang menyerah.

Atau teman berujar saya kagum kepada kamu, kamu orangnya disiplin, belajarnya tekun, kamu orangnya lurus kalau bicara tidak berbelit-belit, tidak bengkok-bengkok nah informasi-informasi yang dilontarkan teman sebetulnya saat itu berfungsi sebagai pemantul, merefleksikan siapa kita, nah akhirnya dari informasi ini sekali lagi, kita mencatat secara tidak sadar data-data pribadi kita dan data inilah yang akan kita gunakan menyusun kerangka jati diri kita. O.......saya ini orang yang lurus, saya ini adalah orang yang disiplin dan sebagainya.
GS : Tapi ada kemungkinan dalam menerima refleksi itu Pak Paul, orang menyebut kepada temannya misalnya kamu disiplin tetapi temannya yang lain mengatakan kamu ini tidak disiplin, apa itu tidak menimbulkan kebingungan buat dia?

PG : Bisa jadi menimbulkan kebingungan, itupun baik, itupun tidak apa-apa, karena apa? Itulah bagian dari kehidupan, dia akan mendapatkan penilaian tertentu dari sebagian teman tapi ada sebaian orang yang memberikan penilaian yang berlawanan, yang berbeda.

Apa yang terjadi, yang Pak Gunawan katakan dia mungkin bingung, nah dalam kebingungannya dia mungkin akan mencari orang tua atau pembimbing atau gurunya dan akan bertanya menurut engkau saya ini orangnya seperti apa, atau dia akan mencari teman yang lain yang netral bukan dari 2 kelompok itu dan bertanya, saya ini menurut kamu seperti apa, nah yang terjadi adalah bisa-bisa 2 kelompok sudah memberikan penilaian yang berbeda, jadi dia bertanya ke kelompok ketiga, eh..... kelompok ketiga memberikan penilaian yang sama sekali berlainan dari dua kelompok tadi, itu membuat tambah bingung. Tapi inilah indahnya kehidupan yaitu apa, di dalam kebingungan dan di tengah tarik-menarik ini dia akhirnya harus kembali kepada dirinya, dia akhirnya harus menyimpulkan saya tidak begitu ah, ah saya tidak setuju dengan penilaian kelompok A, saya juga tidak begitu pas dengan penilaian kelompok B, dengan penilaian kelompok C ada yang saya setuju ada yang saya tidak setuju juga, tapi yang paling penting dia memproses semua masukan ini untuk menciptakan pendapatnya sendiri tentang siapa dia. Tapi dia memerlukan komentar-komentar itu yang hanya dia bisa peroleh kalau dia bergaul dengan teman-teman, nah di sinilah teman-teman bersumbangsih besar, memberikan dia pantulan atau cerminan yang memang dia butuhkan.
GS : Tapi ada ulah remaja yang acuh begitu saja, wah kamu ngomong apa saja terserah kamulah, saya tidak pusing dengan itu, nah pendapat seperti itu bagaimana?

PG : Tergantung ya, kalau dia memang sudah memiliki suatu konsep diri siapa dia dan tidak lagi mendengarkan masukan yang lain, bisa positif, bisa negatif. Bisa positif berarti dia tidak muda diombang-ambingkan, dia sudah mempunyai gambaran yang jelas.

Sering kali anak-anak yang dibesarkan di rumah tangga yang kuat memiliki konsep diri yang lumayan baik bahkan sebelum dia terjun berteman dengan rekan-rekan sebayanya. Tapi kalau dia menutup diri juga terus-menerus itupun tidak baik karena apa, karena dia juga tetap memerlukan masukan, diri adalah sesuatu yang dinamis, yang tidak permanen, yang kaku yang mati. Diri itu senantiasa akhirnya diperbaharui dengan bertambahnya usia.
GS : Nah kita sudah berbicara tentang 2 peran tadi Pak Paul, tadi Pak Paul katakan sebenarnya ada 3 peran, nah yang ketiga itu apa, Pak Paul?

PG : Yang ketiga adalah teman-teman itu berfungsi sebagai penguji. Penguji artinya apa, teman-teman ini akan memberikan tantangan pada si remaja, kamu sanggup atau tidak mengerjakan ini, kam berani atau tidak melakukan itu, nah secara positifnya tantangan teman-teman ini akan memaksanya membuktikan diri yang yang positif yang bisa keluar dari proses ini adalah keyakinan diri.

Dari keyakinan diri inilah si remaja akan mulai berani melangkah masuk ke dalam kehidupan, sebab dia tahu batas kemampuannya. Anak yang tidak bergaul dengan teman-teman remajanya, tidak bisa mengembangkan batas kemampuannya secara maksimal dan secara meluas dalam konteks teman-temannya itu. Dia mungkin membuktikan dirinya sebatas pelajaran sekolah, nah sebatas di rumah dengan orang tuanya, tapi kita tahu bahwa untuk hidup di masyarakat, dia memerlukan lebih banyak ujian-ujian, tantangan-tantangan dan itu seyogyanya dia peroleh dari teman-teman sebayanya. Misalnya yang negatif, kau berani tidak dengan saya naik motor, ya kita di Jawa Timur tahu yang namanya Trawas atau Tretes. Nah kalau si remaja berkata berani saya naik motor sama yuk ikut rame-rame nah mereka akan pergi. Nah waktu pulang memang ada rasa takut, orang tua tidak tahu, kalau tahu pasti dimarahi, tapi di pihak yang sama ada rasa bangga bahwa saya berhasil naik motor ke Tretes.
IR : Bagaimana Pak Paul, kalau tantangan itu sifatnya negatif misalnya, berani atau tidak kamu merokok, minuman keras, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Kadang kala hal-hal ini memang tidak bisa dihindarkan oleh remaja, karena apa, memang mereka sangat membutuhkan pengakuan dari teman-temannya. Meskipun teman-temannya tidak menantang pu waktu dia berhadapan dengan teman-teman yang sedang merokok itu sudah menjadi tantangan bagi si remaja, saya berani tidak merokok.

Waktu dia mulai merokok nah dia merasa bahwa dirinya berani. Atau yang negatif yang lain adalah di Jawa Timur kita tahu trek-trekan, balapan motor. Nah balapan motor memang akan membawa perasaan bangga, dia sanggup naik motor dengan kecepatan yang tinggi tapi kita tahu itu memang beresiko tinggi sekali, bisa membahayakan jiwanya. Jadi di sinilah peranan orang tua sangat dibutuhkan, waktu orang tua melihat dia sering naik motor dan kalau naik motornya mulai kelihatan cepat-cepat orang tua harus mulai memberitahu si anak. Ada hal-hal yang boleh kamu lakukan untuk menguji batas kemampuanmu, tapi ada hal-hal jangan kau coba, sebab kalau engkau terus coba resikonya sangat besar, bisa suatu kali kau akan cedera atau bahkan kehilangan nyawamu dan di sini orang tua memang harus berperan lebih aktif.
GS : Nah Pak Paul 3 peran teman tadi, jadi sebagai pembanding, sebagai reflektor, maupun sebagai penguji apakah itu tidak bisa didapatkan oleh si remaja di tengah-tengah keluarga, entah itu lewat kakaknya atau adiknya Pak Paul?

PG : Dia harus mendapatkannya dari keluarga, itu adalah titik pertama, basis pertama dia sebetulnya harus mendapatkan ketiga hal itu dari keluarganya dulu. Dan dari keluarga ini dia sudah muai memiliki sedikit banyak konsep tentang siapa dia, baru terjun ke teman-temannya.

Maka kalau orang tua baru mau dekat dengan anak waktu anak usia 16 tahun sudah mulai terlambat karena apa, seharusnya orang tua sudah terlibat dalam kehidupan si anak pada usia yang masih lebih kecil sehingga si orang tua sudah memasukkan ke dalam diri si anak, menanamkan pada diri si anak, pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi tentang siapa dia dan apalagi dibungkus dengan penerimaan yang penuh, yang orang tua bisa berikan kepada si anak. Itu menimbulkan rasa aman dan kemantapan pada diri si anak, waktu dia terjun ke arah teman-teman atau ke dalam teman-temannya dia tidak terjun dalam kehampaan dan kekosongan. Yang bahaya adalah anak-anak yang di rumah tidak akrab dengan orang tua atau orang tua dua-dua tidak punya waktu untuk diberikan kepada anak-anak, sehingga anak-anak bertumbuh besar dari umur 0 sampai usia 14 tahun itu relatif kekurangan masukan tentang siapa dia itu, sebab orang tuanya tidak memberikan kepadanya. Waktu dia terjun ke kancah teman-teman sebayanya, teman-temannya memberikan masukan, kalau masukannya betul dan positif ya baik, tapi kalau kebetulan tidak positif pengujiannya juga negatif, dia terseret arus.
GS : Tapi kelihatannya memang anak tunggal yang tidak punya saudara itu, agak sulit untuk bergaul dengan teman-temannya, apa memang begitu Pak Paul?

PG : Ada kecenderungan demikian meskipun tidak harus begitu, sebab kalau orang tua ini pandai-pandai membawa si anak ke teman-teman sejak kecil ke saudara misalnya itu akan mengkompensasi, tpi kalau tidak si anak akan kehilangan kesempatan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.

Kalau dia ada adik atau ada kakak dia terpaksa ya misalkan meminjamkan mainannya, dia terpaksa untuk tidak memakai kamar mandi karena sedang dipakai oleh adiknya, nah hal-hal ini baik buat pertumbuhan si anak. Kalau tidak ada itu semuanya dia akan kehilangan kesempatan tersebut, nah biasanya karena dia tidak biasa membagi dirinya atau miliknya dengan orang lain waktu nanti berhadapan dengan teman-teman dia juga menerapkan perilaku yang sama, tidak mau membagi, mau menang sendiri akhirnya teman-temannya tidak cocok dengan dia. Diapun tidak cocok dengan teman-teman karena tidak biasa membagi hidup dengan orang lain.
(2) GS : Tapi ada anak itu yang memang sejak kecil sulit sekali untuk bergaul, nah ini sebenarnya apa penyebabnya itu? Bersaudara saja kadang-kadang ya, yang satu itu gampang sekali bergaul, sehingga temannya banyak tapi yang satu itu dia lebih menyendiri, mainannya mainan-mainan yang sendiri.

PG : Ada yang introvert ada juga anak yang ekstrovert. Kecenderungannya memang introvert itu tidak memiliki banyak teman namun tidak apa-apa yang penting dia berteman, jadi tidak semua anak ama.

Yang berteman banyak biarlah dia berteman banyak, yang tidak berteman banyak biarlah dia berteman dengan beberapa. Kita sebagai orang tua harus mengambil inisiatif, jadi sejak ia kecil kita mengajak dia ke rumah temannya atau membawa temannya ke rumah kita, sehingga mereka bisa bermain bersama. Jadi yang paling penting bukan soal kwantitas berapa banyak jumlah temannya, tapi dia berteman atau tidak, bahkan dengan beberapa pun itu sudah cukup baik.
GS : Pada masa remaja itu biasanya mereka suka berganti-ganti teman, sebentar dengan temannya yang ini biasanya sekelas, lalu naik kelas berikutnya ganti lagi temannya, itu ada pengaruhnya tidak Pak Paul, maksud saya itu dampaknya lebih baik kalau gonta-ganti atau dengan orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi temannya?

PG : Yang ideal adalah untuk misalkan 1 periode remaja misalkan kita bagi dalam 2 kategori besar, usia SMP dan usia SMA. Sebaiknya selama 3 tahun itu ada beberapa teman yang menjadi teman pemanen kemudian tahap berikutnya waktu SMA akan ada lagi beberapa teman yang menjadi teman-teman yang lumayan permanen, saya kira itu yang baik.

Di luar teman-teman yang permanen ini yang biasanya hanya 2, 3 orang silakan dia bergonta-ganti teman karena itu memang bagian dari kehidupan dan pertumbuhan itu akan muncul dari gonta-ganti teman. Kadang-kadang mereka dipaksa berganti teman karena perselisihan atau mereka ditinggalkan oleh teman yang sekarang, mau main dengan teman-teman yang lain itu pun baik meskipun bisa rasa kecewalah, tertolaklah, tapi dalam kehidupan si anak remaja itu justru itu hal yang positif asalkan dia bisa bicara dengan orang tua, orang tua bisa mengarahkan sehingga dia bisa mengatasi rasa kecewanya karena ditinggalkan teman.
IR : Pada usia remaja Pak Paul, biasanya anak-anak itu lebih senang pergi dengan teman daripada dengan keluarga, apa itu karena pengaruh teman itu lebih kuat daripada dengan keluarga?

PG : Betul sekali Bu Ida, pada usia remaja itu menjadi penentu harga dirinya, jadi penilaian dari orang tua tetap mereka hargai tapi tidaklah memiliki bobot sebesar pendapat teman-temannya. an itu hal yang memang sudah Tuhan desain pula, sebab masa remaja masa persiapan si anak itu memasuki usia akil baliq.

Memasuki usia di mana dia akhirnya akan terlepas dari orang tua. Jadi memang si anak remaja harus mulai menggali sumber dayanya sendiri di luar orang tuanya, waktu dia sudah dewasa dia akan lebih banyak memanfaatkan atau mendayagunakan nara sumber atau sumber-sumber kekuatan dari lingkungannya bukan dari orang tuanya. Dan demikianlah memang alur kehidupan yang alamiah.
GS : Saya percaya bahwa di dalam Alkitab banyak pedoman yang bisa digunakan khususnya oleh para remaja untuk berteman, mungkin Pak Paul bisa menyampaikannya.

PG : Saya akan kutip 1 Korintus 15 : 33 , "Pergaulan yang buruk (atau sebetulnya bisa juga diterjemahkan teman-teman yang buruk) merusakkan kebiasaan yang baik." Kata kebiasaan sbetulnya berasal dari kata karakter, jadi kalau saya terjemahkan bebas teman-teman yang buruk merusakkan karakter yang baik.

Jadi teman bisa buruk atau baik, Tuhan meminta kita memilih dengan tepat. Nah kriterianya adalah bukan teman itu baik kepada saya atau tidak, kriterianya adalah dia orang yang baik atau tidak secara keseluruhan dan menurut standar Tuhan. Itu yang harus anak miliki sehingga dia bisa menilai orang dengan tepat bukan menilai secara subyektif. Selama dia baik kepada saya dia orang yang baik itulah yang dia mesti jadikan temannya, sebab orang yang baik itu juga akan berpengaruh positif terhadap karakternya, nah di sinilah orang tua berperan besar untuk menjelaskan kriteria Alkitab pada anak itu.
GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang peranan teman di dalam kehidupan remaja, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 48 A

  1. Apa manfaat teman bagi remaja...?
  2. Apa yang menyebabkan anak sulit bergaul...?


11. Peran Orangtua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T048B (File MP3 T048B)


Abstrak:

Jati diri di dalam anak tidak terjadi sewaktu anak menginjak usia remaja, tetapi itu harus terjadi sewaktu anak mulai usia dini. Jadi orangtualah yang harus berperan aktif baik sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, sebagai cermin maupun sebagai pihak yang memberikan pengarahan pada anak.


Ringkasan:

Jati diri adalah suatu pengetahuan tentang siapa kita ini. Pengetahuan seperti ini sangat penting sekali dan perlu dimiliki oleh remaja. Sebab anak-anak remaja yang memasuki kancah usia remaja tanpa memiliki bekal sama sekali tentang siapa dia, dan yang tidak berdaya untuk mengevaluasi masukan atau bujukan teman-temannya, akan cenderung mengikuti saja yang dikatakan temannya.

Supaya anak remaja memiliki konsep diri yang jelas, diperlukan masukan yang terutama dari pihak orang tua sendiri atau dari keluarga. Ini tidak bisa otomatis terjadi sewaktu anak sudah menginjak usia remaja, melainkan harus terjadi mulai dari usia yang paling dini. Contoh, sewaktu anak pada masa bayi digendong oleh orang tua, orang tua berkata aduh senyummu bagus, atau aduh ketawanya kok lucu. Nah ini adalah masukan, si bayi belum tahu apa yang dikatakan oleh orang tuanya tapi ia bisa merasakan bahwa yang dikatakan orang tuanya itu sesuatu yang baik dan menyenangkan. Karena meskipun bayi itu belum bisa memahami perkataan, dia sudah bisa merasakan ungkapan perasaan, jadi perasaan yang baik yang disalurkan kepada si bayi membuat si bayi juga merasa tenang. Sejak bayi dia harus mulai mendapatkan suatu perasaan bahwa orang tua menerimanya.

Beberapa hal yang bisa dan seharusnya dimasukkan oleh orang tua ke dalam diri anak:

  1. Orang tua perlu menanamkan kepada anak bahwa anak adalah seseorang yang mereka kasihi, yang bukan saja mereka sambut tapi sangat mereka kasihi. Dengan kata lain, mereka ini adalah anak-anak yang berharga di mata orang tua. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka itu penting dan berharga.

  2. Orang tua juga perlu mengarahkan anak ke mana dia harus pergi, dengan siapa dia harus bergaul, bagaimana dia harus bertindak, hidup seperti apa yang baik. Kita perlu mengkomunikasikan pada anak, engkau ini sebetulnya siapa dan engkau seharusnya menjadi seperti apa. Yang menarik untuk diperhatikan adalah, ada anak yang pada waktu memasuki usia remaja mempunyai 2 sisi yang berbeda. Di rumah dia kelihatan manis sehingga menyukakan hati orang tua, tapi kemudian orang tua mendapat laporan yang bertolak belakang dari gurunya atau teman-teman mereka.
    Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini:

    1. Kemungkinan pertama adalah dia kebetulan berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai gaya atau nilai hidup yang sangat berbeda dengan yang dianut oleh orang tuanya.

    2. Anak-anak remaja memang sedang memasuki usia di mana dia mulai berpikir sendiri.

  3. Orang tua perlu memberitahukan pada anak-anak bahwa mereka mempunyai kemampuan atau keunikan tertentu. Di sinilah orang tua berfungsi sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, atau sebagai cermin yang bisa memberitahukan anak: "Inilah yang seharusnya kamu miliki dan inilah keadaanmu sekarang." Anak-anak perlu mengetahui apa kesanggupan, kebiasaan, keunikan, dan kekhususan yang dimilikinya.

Amsal 1:8-9 mengatakan: "Hai anak-Ku dengarlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu." Tuhan meminta anak-anak untuk mendengarkan didikan orang tua, ibaratnya seperti karangan bunga atau kalung bagi leher si anak yang akan menghiasinya. Tugas dari Tuhan untuk orang tua sudah pasti, yaitu tidak berhenti memberi didikan dan ajaran kepada anak-anak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Peran Orang Tua dalam Pembentukan Jati Diri Remaja. Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul kita sering kali mendengar istilah jati diri, sebenarnya apa Pak Paul jati diri itu?

PG : Suatu pengetahuan tentang siapa kita ini, jadi setiap kita mesti mempunyai gambaran siapa kita ini. Memang gambaran ini tidak selalu sama, karena akan dipengaruhi juga oleh hal-hal yang kia alami pada masa yang akan datang.

Tapi kita mesti mempunyai gambaran bahwa kita adalah orang yang seperti ini dan yang seperti ininya itu cukup permanen.
(2) GS : Seberapa penting pengetahuan itu perlu dimiliki oleh seorang remaja Pak Paul?

PG : Sebetulnya sangat penting sekali, seperti yang sudah kita bahas pada siaran TELAGA yang lampau, anak-anak remaja yang memasuki kancah usia remaja tanpa memiliki bekal sama sekali tentang sapa dia, niscaya bisa langsung dipengaruhi oleh teman-temannya, dan dia tidak berdaya untuk mengevaluasi masukan teman-temannya atau bujukan teman-temannya, dia akan cenderung mengikuti saja yang dikatakan oleh teman-temannya.

(3) GS : Tapi bagaimana caranya supaya anak remaja memiliki konsep diri yang jelas seperti yang tadi Pak Paul katakan?

PG : Jadi yang diperlukan di sini adalah masukan dari orang tua sendiri atau dari keluarga terutama yang saya maksud keluarga adalah dari pihak orang tua. Nah, otomatis ini tidak bisa terjadi swaktu anak sudah menginjak usia remaja.

Ini harus terjadi bahkan pada usia yang paling dini. Contoh sewaktu anak digendong oleh orang tua pada masa bayi, orang tua berkata aduh senyummu bagus, aduh ketawanya kok lucu, nah ini adalah masukan, si bayi belum tahu apa yang dikatakan orang tuanya tapi si bayi bisa merasakan bahwa yang dikatakan orang tuanya itu sesuatu yang baik, sesuatu yang menyenangkan. Karena bayi itu meskipun belum bisa memahami perkataan, dia sudah bisa merasakan ungkapan perasaan, jadi perasaan yang baik yang disalurkan kepada si bayi membuat si bayi juga merasa tenang. Itu sebabnya kalau anak-anak menangis waktu masih bayi seorang ibu biasanya akan mencoba menenangkan si bayi dengan bernyanyi lagu yang lembut atau mengajaknya bicara atau bersenandung. Tidak ada bayi yang sedang menangis dicoba ditenangkan dengan hardikan-hardikan atau dengan suara yang lantang-lantang, keras-keras tidak karena anak bisa menangkap getaran, emosi si ibu itu. Nah, dari hal-hal kecil seperti itu sebetulnya orang tua sudah mulai berkomunikasi dengan si anak meskipun ini komunikasi yang sepihak dan belum melibatkan kemampuan berpikir yang canggih, tapi ini pun penting.
GS : Nah itu dalam proses pembentukan jati diri anak, Pak Paul?

PG : Itu cikal bakalnya, dia harus mulai mendapatkan suatu perasaan bahwa orang tuanya menyambut dia, orang tuanya menerima dia. Berbeda dengan yang kalau mulai menangis yang diperolehnya bukanah pelukan, bukanlah suara yang lembut malah hardikan, kemarahan, karena si orang tua merasa terganggu.

Nah, meskipun si anak belum bisa mengerti apa yang dikatakan si orang tua dia sudah bisa merasakan bahwa orang tuanya tidak menyambutnya, tidak sabar terhadap anaknya. Sekali lagi ini hal-hal yang tidak bisa diungkapkan karena belum mempunyai kemampuan mengekspresikan seperti kita ini orang dewasa. Tapi pesan-pesan ini yang diterimanya itu sedikit banyak mulai mempengaruhi sikap si anak pada orang tua, maksud saya begini kalau si anak mendapatkan pelukan atau kata-kata yang tenang dan menyejukkan waktu dia menangis waktu dia mulai besar kalau dia merasa susah atau sedih dia akan mencari ayah atau ibunya. Tapi kalau dari kecil dia terlalu sering mendengarkan hardikan, waktu dia menangis dia akan menciptakan rasa takut. Dalam dirinya yang timbul bukan rasa rindu dan ingin dekat dengan orang tua, justru sejak kecil dia tidak mau terlalu dekat dengan orang tua, karena secara naluriah dia tidak ingin berdekatan dengan seseorang yang justru membuatnya merasa takut atau tegang, justru dia akan mencoba menghindarkan. Nah interaksi seperti ini menjadi interaksi yang tidak positif, interaksi yang justru membuat jarak antara si anak dan orang tua dan yang paling penting adalah orang tua mulai kehilangan kesempatan untuk memberikan masukan-masukan kepada si anak, karena anak sudah mulai menjaga jarak darinya.
IR : Juga kalau orang tua terlalu sibuk Pak Paul, anak tidak bisa dekat dengan orang tua?

PG : Betul, misalkan dia bicara, dia bertanya, ibu atau bapaknya mendengarkan kemudian menjawab, lain kali dia akan bertanya sebab dia tahu dia akan didengarkan dan dijawab. Tapi kebalikannya jga betul, kalau dia bertanya orang tua tidak memperhatikan apalagi menjawabnya 2, 3 kali terjadi lama-lama dia akan enggan bertanya, sebab yang dia inginkan tidak dia peroleh, orang tua tidak mendengarkan apalagi menjawabnya.

Kalau komunikasi sudah tercipta dari kecil, komunikasi sudah ada jalurnya, sudah tersedia, nah orang tua sudah mulai bisa memberikan masukan-masukan atau gizi-gizi kepada si anak, memasukkan informasi, nasihat, kata-kata tanggapan supaya si anak mulai mengerti siapa dia. Nah, saya kira ada beberapa hal yang orang tua bisa dan seharusnya memasukkan ke dalam diri anak. Yang pertama adalah orang tua perlu menanamkan kepada anak bahwa anak adalah seseorang yang mereka kasihi, yang bukan saja mereka sambut tapi sangat mereka kasihi. Dengan kata lain anak-anak ini adalah anak-anak yang berharga di mata orang tua, anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka itu penting, mereka itu berharga. Waktu mereka berkata saya ikut, orang tua tidak selalu berkata di rumah jangan ikut, tapi kadang kala orang tua bisa berkata yuk silakan ikut, orang tua misalnya berkata yuk kita pergi rekreasi, yuk kita pergi beli mainan untukmu, yuk kita rayakan hari ulang tahunmu. Jadi hal-hal yang kecil, aktifitas-aktifitas kehidupan seperti itu sebetulnya merupakan berita, pesan kepada si anak bahwa engkau itu kami kasihi dan engkau itu penting serta berharga bagi kami. Nah, inilah cikal bakal secara generik atau umum, nanti secara lebih spesifik anak-anak mulai membutuhkan tanggapan yang juga lebih spesifik untuk kehidupannya, tapi dasar ini harus anak peroleh.
GS : Nah dalam rangka orang tua berkomunikasi dengan anak Pak Paul, itu yang agak sulit pada masa kecil sering kali kita itu tanpa sengaja mengolok-olok anak kita, ada dampaknya tidak Pak Paul, kalau itu dilakukan terus-menerus. Mengolok-olok misalnya saja sejak kecil itu sudah digundul rambutnya jadi rambutnya sudah dipotong habis, kemudian anak itu tidak dipanggil dengan namanya tapi dipanggil dengan gundulnya itu tadi.

PG : Saya kira olok-olokan seperti itu lebih banyak dampak negatif daripada positifnya, ada anak-anak yang misalkan dipanggil si gendut. Waktu ia masih kecil umur 3 tahun dia belum bisa mengert, tapi pada waktu dia usia 8, 9 tahun di saat dia baru mulai mengerti apa itu namanya malu, saya kira dipanggil gundul-gundul itu atau gendut-gendut itu akan menciptakan rasa malu padanya dan bahwa dia itu bukanlah seorang anak yang menarik.

Jadi orang tua perlu memberikan masukan yang mengkonfirmasikan bahwa si anak itu baik, anak itu berharga, bukannya bahan lelucon atau ejekan.
GS : Tapi sebenarnya mulai kapan anak itu membutuhkan konsep diri yang jelas, mempunyai jati diri yang jelas?

PG : Dia mulai membutuhkan serius pada masa dia memasuki usia remaja, jadi pada masa usia sekitar 12 tahun, di situlah anak-anak sebetulnya sudah harus memiliki secara mendasar gambaran tentangsiapa dia barulah dia bisa masuk ke dalam usia remajanya dengan lebih aman.

Kalau ada masukan-masukan dari teman yang bertolak belakang dari yang dia sudah terima dari orang tuanya, dia berkesempatan untuk membandingkan dan mengevaluasi mana yang benar. Kalau orang tua tidak memberikan sama sekali masukan kepadanya, dia akan mencaplok yang dia terima dari teman-temannya.
GS : Tadi Pak Paul sudah katakan, dasarnya itu dibangun mulai kecil Pak Paul, nah sampai usia ke 12 apa peran orang tua Pak Paul?

PG : Selain dari tetap mengkomunikasikan bahwa mereka penting, mereka berharga dan mereka dikasihi, orang tua juga perlu memberikan dasar yang kedua kepada anak-anak, peranannya di sini adalah ahwa kamu baik, tetapi kamu bisa lebih baik.

Di sini maksudnya adalah orang tua perlu mengarahkan anak ke mana dia harus bertindak atau pergi dengan siapa dia bergaul, hidup seperti apa yang baik. Nah, engkau ini sebetulnya siapa dan engkau seharusnyalah menjadi seperti apa, nah inilah hal-hal yang perlu dikomunikasikan pada si anak dan ini bisa disampaikannya dengan cara yang sangat informal orang tua mulai memasukkan kata-kata yang membuat anak mengerti seharusnya dia itu seperti apa. Jadi kalau yang tadi yang pertama mengasihi anak supaya anak tahu bahwa dirinya adalah seorang yang dikasihi, seseorang yang berharga. Disiplin, teguran atau nasihat dan pengarahan itu sebetulnya merupakan upaya orang tua untuk mengatakan kepada si anak, engkau baik tapi engkau masih bisa lebih baik lagi, engkau lebih bisa menjadi orang yang seharusnya Tuhan kehendaki bagimu. Nah, di sini peranan orang tua untuk mulai mengarahkan si anak melakukan hal yang benar.
IR : Nah Pak Paul, tentu banyak orang tua yang sudah memberikan pengarahan-pengarahan yang baik kepada anak-anaknya dan waktu di rumah anak juga rasanya menurut. Tapi ketika dia bergaul keluar, anak ini kadang-kadang berubah Pak Paul, jadi anak ini yang dulu manis, anak yang menurut dan orang tua juga sudah mengarahkan semaksimal mungkin tapi kadang-kadang waktu bergaul di luar dia bisa keluar dari rel, sehingga itu mengejutkan orang tua.

PG : Saya mengibaratkan anak-anak itu seperti anak-anak yang berenang di kolam renang yang kecil, dia akan berkata saya bisa berenang, saya bisa berenang dan kita memang sudah mengajarkan dia brenang dengan gayanya dia berenang.

Tapi waktu kita taruh dia di lautan, di tepi laut dan menyuruhnya berenang di tengah gelombang, saya kira ceritanya akan lain, dia akan diombang-ambing oleh gelombang tersebut. Jadi saya mau katakan di rumah si anak memang sama-sama di air, seperti dia di lautan tapi di rumah itu seperti kolam kecil yang boleh dikata tidak ada gelombangnya begitu diterjunkan di tepi laut di mana ada gelombang besar kemampuan berenangnya tiba-tiba diuji ulang dan akan ada waktu di mana dia akan dihempaskan oleh gelombang itu. Namun kalau dia memang sudah bisa berenang pada akhirnya dia akan berenang lagi melalui ombak-ombak itu sehingga tidak diseret oleh ombak.
GS : Saya tertarik tadi yang ibu Ida katakan, jadi ada memang remaja, ini sudah masuk remaja yang punya 2 sisi yang berbeda. Di rumah dia kelihatan manis sehingga menyukakan hati kita sebagai orang tua, tapi kita dapat laporan dari gurunya atau dari teman-teman kita, anakmu itu gini, gini, gini yang bertolak belakang, nah bagaimana hal itu terjadi Pak Paul?

PG : Ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah dia kebetulan berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai gaya hidup atau nilai hidup sangat berbeda dengan yang dianut oleh orang tuana.

Nah, kalau kebetulan mirip atau sama biasanya gejolaknya tidak terlalu besar, tapi kalau teman mempunyai nilai hidup atau gaya hidup yang sangat berlainan dengan orang tua, si anak cenderung akan mulai terseret-seret. Contoh orang tua hemat, orang tua mengajarkan untuk hanya membeli barang yang baru kalau barang yang lama sudah rusak. Tapi teman-teman di sekolah misalkan mempunyai filsafat kehidupan belilah barang yang menjadi modenya atau trendnya, nah yang mana dia harus ikuti menunggu baju yang sama yang dia pakai 3 tahun yang lalu sampai rusak baru beli baju baru atau dia beli baju baru meskipun dia belum perlu baju baru. Kenapa dia beli, karena memang trendnya, nah ini saja biasanya menimbulkan suatu konflik; masalahnya kalau dia tidak memakai baju baru trend yang sekarang ini, dia akan dilihat kuno dan itu sangat memalukannya, dia merasa di luar dari kelompoknya. Jadi adakalanya kita mesti waspada untuk mengerti anak juga bahwa memang teman-teman tidak mempunyai gaya hidup atau nilai hidup yang sama dengan kita.
GS : Nah, kalau sampai terjadi begitu apakah kita sebagai orang tua kemudian berkesimpulan wah saya ini salah mendidik anak, sehingga tidak terbentuk jati diri yang sesuai dengan yang kita harapkan, begitu Pak Paul?

PG : Tidak jadi ada waktu memang si anak ini seperti tadi berenang di laut, sehingga mulai dihempaskan oleh ombak, tapi kok saya percaya kalau orang tua terus memantau, terus memberikan masukanini tidak benar, kamu baru beli baju sekarang mau beli baju lagi dan baju ini begini mahal bukan harga yang murah, mama sendiri, papa sendiri tidak membeli baju yang begini mahal, saya tidak keberatan membeli baju yang mahal tapi jangan sekarang, tunggu sebulan lagi misalnya seperti itu.

Nah, si anak sedikit banyak akan mendapatkan rem dan dia tidak terlalu terhempas oleh teman-temannya.
IR : Jadi paling tidak dia masih ingat akan pesan-pesan dan pengarahan orang tua itu paling tidak masih membekas ya Pak Paul?

PG : Betul dan bekas-bekasnya tidak menguap begitu saja Ibu Ida, sebetulnya masih ada tapi memang dia harus bergumul untuk mengikuti kehendak orang tuanya sebab dia memang harus melawan arus ditengah-tengah temannya itu.

Jadi adakalanya memang sikap anak bertolak-belakang karena lingkungan atau teman-temannya mempunyai gaya hidup yang terlalu jauh berbeda dengan kehidupan kita orang tua. Tapi ada yang lain juga kenapa anak-anak akhirnya bisa bertolak belakang. Yang kedua anak-anak remaja memang sedang memasuki usia di mana dia mulai berpikir sendiri, sebelumnya mereka berpikir melalui pikiran orang tua, apa yang dikatakan orang tua itulah yang dianggap paling benar. Pada usia remaja dia sudah mulai berpikir abstrak dan kritis dan mulailah dia mempertanyakan yang sudah digariskan orang tuanya, nah ini adalah suatu bagian yang normal, alamiah dalam pertumbuhan remaja. Dia mulai mempertanyakan, mulailah dia berdebat memang, mulailah dia seolah-olah tidak mau terima apa yang dikatakan orang tuanya, tapi sampai batas yang wajar ini adalah hal yang sehat karena dia benar-benar mulai mengepakkan sayapnya. Mulai mau berpikir sendiri, nah orang tua perlu menghadapinya dengan bijaksana, jangan menggempur dia, engkau mau mengkhianati kami, engkau mau membuang nilai-nilai iman kami, atau cara-cara hidup kami, engkau sekarang berubah, engkau sudah dirusak oleh teman-temanmu; jangan kita menggempurnya seperti itu. Lebih baik kita dengarkan kenapa dia mempertanyakan, kita harus menjawabnya selogis mungkin sebab jawaban yang pokoknya inilah yang saya maksud, saya minta itu sudah diterima oleh si anak. Jadi kita juga harus menjawab dengan logis dan kita juga memasuki jiwanya dengan berkata ya sayapun juga kadang kala misalnya mempertanyakan kenapa kok begini ya, kenapa kok begitu ya, kenapa misalnya kalau Tuhan mengasihi kita kok Tuhan membiarkan kita menderita, saya pun kadang-kadang tidak mengerti itu. Jadi kita pun harus mulai berani mengidentifikasi diri dengan mereka, sehingga mereka bisa melihat orang tua bukanlah seperti Hitler, seperti tirani yang memaksakan kehendaknya tapi bisa juga memahami pergumulan mereka, sebab memang dia akan mulai mempertanyakan. Sehingga kadang-kadang membuat orang tua merasa aduh yang saya ajarkan kok hilang.
GS : Ya, bahkan kita kadang frustrasi, yang sudah diajarkan yang baik, tapi buahnya kok tidak kelihatan.

PG : Tapi sebetulnya, saya harus tekankan tidak hilang begitu saja dan jangan bosan, jangan sampai memberikan pantauan. Sebab di tengah-tengah kancah mereka kancah kehidupan remaja, suara kita etap harus bisa mereka dengar, jangan sampai kita tidak berdengung.

(4) GS : Makanya beberapa waktu yang lalu kita pernah menyajikan dalam acara TELAGA ini peranan teman dalam kehidupan remaja. Nah, di sini Pak Paul di dalam pembentukan jati diri itu 'kan tidak luput dari peranan teman, tapi tetap sebagai orang tua itu peranannya apa?

PG : Secara spesifik, selain dari memberitahukan bahwa mereka yang dikasihi, mereka adalah anak yang penting buat kita terus kemudian mereka adalah anak-anak yang bisa lebih baik lagi dengan meberikan pengarahan, kita mulai bisa memberitahukan kepada mereka bahwa mereka mempunyai kemampuan-kemampuan atau keunikan-keunikan tertentu.

Jadi di sinilah fungsi orang tua yaitu sebagai pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, sebagai cermin yang bisa memberitahukan anak inilah yang seharusnya kamu miliki dan inilah keadaanmu sekarang. Jadi kesanggupan apa, kebiasaan apa, keunikan apa, apa yang spesial tentang tubuhnya, tentang caranya dia bicara, tentang cara dia bergaul dengan orang, inilah anak-anak yang perlu ketahui. Sebagai contoh saya pernah berkata kepada salah satu anak saya, bahwa dia akan menjadi seorang guru yang baik, ini saya katakan pada beberapa tahun yang lalu, dia bertanya kenapa papa berkata demikian, saya bilang kamu orang yang sangat ramah, dan kamu orang yang senang menolong, nah seorang guru perlu mempunyai sikap ramah dan mau menolong, dia pasti disenangi muridnya. Kedua kamu adalah seorang anak yang kreatif kamu bisa menggambar dengan baik, itu adalah kemampuan yang dihargai oleh seorang anak-anak didik, mereka akan senang kalau gurunya itu bisa menggambar, bisa kreatif. Nah, yang saya lakukan adalah saya mulai menanamkan arah hidupnya, saya tidak tahu pasti dia akan menjadi apa nanti itu urusan Tuhan, tapi sebagai orang tua kita perlu mulai menanamkan secara spesifik arah hidupnya dengan membukakan kepada si anak, kemampuannya, keunikan yang khusus itu. Sehingga anak mulai melihat o.....ini nanti bisa menjadi guru, kadang-kadang waktu saya bicara dengan dia, dia berkata nanti saya mau jadi guru. Nantinya dia mau jadi guru atau tidak, itu sekali lagi di tangan Tuhan, yang paling penting dia mengerti bahwa hidupnya itu menuju pada suatu titik atau arah tertentu nah itu yang penting. Jangan sampai anak-anak kita itu tidak tahu tentang keunikan dirinya, sehingga juga hidupnya seperti layang-layang yang sudah putus.
GS : Pak Paul, apakah kita sebagai orang tua itu bisa tahu apakah anak kita itu sudah menemukan jati dirinya atau belum; itu bisa tahu tidak Pak Paul?

PG : Saya kira kita bisa mendeteksinya dengan cara berapa mudahnya dia terombang-ambing. Anak yang mudah terombang-ambing dan misalkan dia terombang-ambing oleh temannya bertahun-tahun itu sayakira memperlihatkan bahwa proses pembentukan jati dirinya memakan waktu yang lebih lama, tidak semua anak sama, ada yang lebih lamban, ada yang lebih cepat.

Ada yang lebih lamban, mungkin saja karena kecenderungannya memang untuk sedikit lebih nakal, lebih badung dan sebagainya. Sehingga membuat dia lebih banyak bergumul untuk menggabungkan masukan dari orang tua dan masukan dari teman-temannya.
GS : Apakah benar seorang anak perempuan, remaja putri itu lebih cepat menemukan jati dirinya dibandingkan remaja pria?

PG : Seharusnya tidak, seolah-olah karena biasanya yang menunjukkan problem atau perilaku bermasalah adalah anak-anak pria, tapi sebetulnya bisa dikatakan sama, semua orang tidak bisa sama tapisaya kira pria dan wanita sama.

GS : Nah, apakah seseorang yang sekali menemukan jati dirinya dia akan tetap di situ atau dia bisa berubah nanti suatu saat, Pak Paul?

PG : Dia akan mempertahankan kira-kira bagian dasar dari dirinya itu tapi dia akan terus memolesnya dan menambahkannya dengan masukan yang baru, yang tidak relevan lagi dia akan tinggalkan, kemdian dia masukkan lagi yang baru terus-menerus menjadi suatu proses yang dinamis.

GS : Sehubungan dengan pembentukan jati diri ini yang sangat besar peranannya adalah orang tua, apa yang Alkitab itu katakan kepada kita Pak Paul?

PG : Amsal 1:8 berkata : "Hai anak-Ku dengarlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu dan suatu kalung bagi lhermu."

Jadi memang Tuhan meminta anak-anak mendengarkan didikan orang tua ibaratnya seperti karangan bunga atau kalung bagi leher si anak yang akan menghiasi si anak. Nah, tugas orang tua sudah pasti adalah memberi didikan dan memberikan ajaran tidak boleh berhenti, itu memang tugas yang Tuhan embankan sampai anak akhirnya menerima ini menjadi suatu karangan bunga untuk kepalanya serta kalung untuk lehernya.
GS : Mungkin yang agak sulit bagi orang tua yang dulunya, waktu masa remajanya dia sendiri kesulitan di dalam menemukan jati dirinya sehingga sekarang di dalam melakukan bantuan terhadap anaknya untuk menemukan jati dirinya juga sulit Pak Paul?

PG : Kita bisa melakukannya dengan cara yang sederhana yaitu mulailah melihat kualitas si anak yang sederhana, yang simpel-simpel misalkan kesabarannya, ketekunannya, dari situlah kita mulai, kta berikan tanggapan kamu anak yang tekun, kamu anak yang rajin ya, saya tahu pasti kau anak yang rajin, anak yang tekun kebanyakan bisa mencapai banyak dalam hidupnya.

Nah, itu jati diri o....saya tekun ya, o....saya rajin ya jadi mulailah dengan hal-hal sederhana seperti itu namun sangat bermakna bagi pertumbuhan si anak.
GS : Jadi terutama hal-hal yang positif yang dimiliki anak itu yang kita tumbuh kembangkan dalam diri anak itu.

PG : Betul.

GS : Saya percaya itu memang panggilan Tuhan kepada kita sebagai orang tua untuk generasi yang akan datang ini.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang Peranan Orang Tua di dalam Pembentukan Jati Diri Remajanya, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 48 B

  1. Apa sebenarnya jati diri itu....?
  2. Seberapa penting seorang remaja perlu mengetahui jati dirinya...?
  3. Bagaimana cara remaja memiliki konsep diri yang jelas....?
  4. Apa peranan orang tua dalam pembentukan jati diri remaja...?


12. Perkembangan Remaja Putra Putri 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T056A (File MP3 T056A)


Abstrak:

Remaja adalah suatu dunia yang agak terpisah dari dunia dewasa dan dunia anak-anak. Dunia remaja adalah dunia tersendiri yang mempunyai kekhasannya. Di sinilah masa terjadinya perubahan secara fisik maupun secara hormonal, hal-hal unik lah yang terjadi pada masa remaja.


Ringkasan:

Yang disebut remaja adalah anak-anak yang berusia sekitar 11 hingga 20 tahun. Masa remaja adalah masa pertumbuhan, jadi anak-anak remaja ini belum mencapai bentuk akhir dari tubuhnya.

Bagi remaja pria, ada waktu-waktu tertentu suaranya akan berubah, itu bagian dari perubahan fisik yang khas bagi pria. Yang penting hal ini dirayakan, dalam pengertian dimengerti dan disambuti. Jangan sampai si anak pria ini menjadi malu karena dilolok-olok oleh orangtuanya, suaramu kok jadi begini sebentar kecil, sebentar keras, sebentar tinggi, sebentar rendah, sebentar seperti perempuan, kok tidak pecah seperti pria lainnya. Hal seperti ini sebaiknya jangan dipermasalahkan oleh orangtua.

Remaja putri pun juga mengalami suatu perubahan yang besar, ketika dia mengalami masa haidnya yang pertama. Perubahan yang paling utama dan yang pasti terjadi dalam diri remaja, baik yang putra atau putri adalah terjadi perubahan hormonal. Di mana mulailah diproduksi hormon-hormon pria pada diri si anak atau remaja pria. Misalnya hormon testosteron, akibat hormon ini remaja pria mengalami perubahan pada suaranya juga perubahan pada bentuk tubuh akan muncul bagian-bagian tubuh yang sebelumnya tidak ada pada remaja putra. Tanda jelas lainnya adalah pada umumnya dengan adanya perubahan hormon tersebut si remaja putra mulai mengembangkan rasa ketertarikan kepada lawan jenisnya, yaitu wanita. Dan rasa ingin dikagumi serta disukai oleh wanita, ini adalah salah satu ciri yang dominan dalam perkembangan remaja putra. Sebenarnya ini merupakan suatu masa yang unik bagi manusia yang menginjak remaja putri dan remaja putra. Karena menurut teori dan memang kenyataannya kita lihat, secara fisik perempuan itu pada masa ini tingginya, ukuran badannya bisa jauh lebih tinggi duluan dari remaja putra.

Ada perbedaan antara remaja putra dan putri dalam hal siapa yang akan disukai. Remaja putri, cenderung menyukai remaja putra yang matang, lebih besar dan suaranya lebih berat serta pikirannya juga lebih matang, dia akan memiliki daya tarik yang kuat. Karena kebanyakan remaja putri menyenangi figur-figur pria yang seperti itu.

Yang mungkin menjadi masalah adalah tidak semua remaja pria itu bisa bertumbuh tinggi dan juga tidak semua remaja putri itu tubuhnya langsing-langsing. Di sini peranan orangtua cukup penting:

  1. Pertama, mereka harus peka, bahwa hal-hal yang bersifat fisik itu sangat berpengaruh dalam perkembangan jiwa si remaja.

  2. Kedua, yang kita tekankan kepadanya adalah bahwa yang akhirnya menjadi kunci keberhasilan dia diterima, bukanlah bentuk tubuhnya tapi isi hatinya.

Mazmur 119:41,42 , "Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku ya Tuhan, keselamatan daripadamu itu sesuai dengan janjimu. Supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada Firman-Mu."

Anak-anak remaja penting sekali mempunyai konsep diri yang benar dan konsep yang benar itu berasal dari pengenalan yang benar akan siapa Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang mendatangkan kita atau mendatangi kita dengan kebaikan-Nya. Tuhan yang mengasihi kita dan menciptakan kita. Jadi konsep diri itu jangan sampai berkisar dari firman Tuhan sehingga dikatakan aku bisa memberi jawab kepada orang yang mencela aku. Pada masa remaja saya kira banyak celaan-celaan terhadap diri sendiri, maka ia harus percaya pada yang Firman Tuhan katakan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Dr. Rahmiati Tanudjaya dan mereka adalah dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga banyak melayani konseling, bimbingan kepada para remaja. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang tentang remaja, baik remaja putra maupun remaja putri. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, apakah sebenarnya ciri-ciri remaja itu?

PG : Yang pertama adalah bahwa remaja itu adalah anak-anak yang berusia sekitar 11 hingga 20 tahun. Memang ada yang membagi remaja di usia sekitar 13 atau 14 tahun, tapi sebetulnya sejak anak-aak hingga memasuki usia remaja itu berlangsung kira-kira sampai usia 20 tahun.

(2) GS : Nah apakah itu berlaku sama baik putra maupun putri, jadi usia remaja yang Pak Paul katakan tadi 11 sampai 20 tahun itu Pak Paul. Kalau ciri-ciri fisiknya bagaimana?

PG : Pada dasarnya masa remaja adalah masa pertumbuhan, jadi anak-anak remaja ini belum mencapai bentuk akhir dari tubuhnya. Misalkan ada kecenderungan pada masa-masa pertumbuhan ini bentuk tubhnya itu tidak proporsional, di mana kadang-kadang kita melihat badannya sedikit lebih kurus dan kepalanya lebih besar, misalkan seperti itu.

Karena dengan adanya latihan atau olah raga dan sebagainya, bentuk tubuh remaja itu akan lebih disempurnakan, jadi kita mulai melihat produk akhir bentuk tubuh remaja itu di sekitar 20 tahun.
GS : Tapi Ibu Rahmiati, kalau kami melihat akhir-akhir ini ada kecenderungan remaja putri kita itu khususnya senang pada badan yang kecil-kecil begitu ya Bu?

RT : Saya pikir itu merupakan satu produk daripada budaya yang memang kalau dilihat kebanyakan budaya ini menghendaki seseorang itu bertubuh langsing. Saya pikir bukan hanya putri, putra juga. aya ingat saya mempunyai teman yang anaknya tadinya tidak terlalu perhatian tentang tubuh, tapi begitu mencapai remaja dia mulai melihat teman-temannya dan apa yang didengarnya mengenai budaya langsing ini, dia langsung hati-hati sekali dengan apa yang dia makan.

GS : Tapi kalau yang pria Pak Paul, saya menjumpai pada anak saya sendiri, dia menjadi rajin berlatih di fitness center supaya tubuhnya terbentuk. Sebenarnya apakah itu juga diharapkan oleh seorang remaja pria?

PG : Ya, saya kira tadi yang dikatakan Ibu Rahmiati betul, bahwa remaja itu sasaran atau target dari produk-produk yang ditawarkan dalam tayangan-tayangan televisi, kita akan melihat begitu banaknya produk-produk yang sebetulnya disasarkan untuk para remaja.

Dan kita melihat tipe-tipe orang atau remaja yang digunakan biasanya yang bertubuh atletis, yang tidak gemuk, yang langsing. Bahkan sekarang banyak sekali sinetron, hampir kita tidak pernah melihat bintang sinetron yang agak gemuk tidak pernah, apalagi yang masih muda-muda dan yang menjadi idola remaja umumnya yang pria bertubuh atletis, yang wanita bertubuh langsing.
GS : Yang saya alami anak saya yang pria itu pada waktu-waktu tertentu itu suaranya berubah, apakah itu bagian dari perubahan fisik itu Pak Paul?

PG : Betul sekali, ini adalah bagian yang khas pria, saya kira wanita tidak terlalu mengalaminya. Wanita biasanya mempunyai suara yang memang khas wanita sejak masa kecil, memang akan terjadi prubahan dari suara kanak-kanak wanita kemudian suara remaja wanita dan akhirnya suara dewasa wanita.

Kalau pria akan terjadi perubahan yang sangat drastis, dari suara kanak-kanak yang kewanita-wanitaan akhirnya berubah menjadi lebih berat. Nah pada masa peralihan itu yang terjadi adalah suatu bentuk transisi di mana kadang-kadang waktu dia berbicara, suaranya tinggi tapi dalam waktu sekejab suaranya turun menjadi lebih rendah. Jadi hal-hal seperti itu biasanya dialami pada remaja pria usia sekitar 11 sampai 13 tahun.
GS : Ini kita sama-sama pria Pak Paul, kita perlu konfirmasikan ke Bu Atik yang pernah mengalami, bagaimana Bu?

RT : Ya, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pak Paul, karena saya melihat dari segi teori, kalau berhubungan dengan suara biasanya laki-laki yang dibicarakan. Dan dari prakteknya ternyaa pengalaman dari melihat perempuan tidak mengalami perubahan seperti yang dialami oleh laki-laki.

GS : Apakah itu berarti memang pita suaranya tidak berubah untuk yang putri itu?

RT : Waduh.... kalau itu saya tidak tahu.

GS : Bagaimana, Pak Paul?

PG : Saya sendiri kurang tahu Pak Gunawan, tapi memang yang berubah pada putri bukan jenis suaranya tapi memang warna suaranya.

GS : Nah yang pria itu ditandai dengan keluarnya jakun di lehernya, sedang yang putri tidak. Apa karena pengaruh itu?

PG : Pengaruh buah yang dimakan oleh Adam itu ya.

RT : Nanti kapan-kapan mesti memanggil dokter THT sebagai nara sumber.

GS : Betul, saya rasa memang perlu diketahui oleh para orang tua supaya bukan menjadi suatu kejutan atau keheranan Pak Paul.

PG : Dan yang penting hal-hal ini dirayakan, saya menggunakan istilah dirayakan dalam pengertian dimengerti dan disambuti. Jangan sampai si anak pria ini menjadi malu karena diolok-olok oleh orng tuanya, suaramu kok menjadi begini sebentar kecil, sebentar keras, sebentar tinggi, sebentar rendah, sebentar seperti perempuan, kok seperti perempuan, kok tidak pecah seperti orang-orang pria lainnya.

Nah saya kira hal-hal seperti ini tidak perlu dipermasalahkan oleh orang tua atau oleh adik atau kakaknya. Jadi sewaktu orang tua melihat kakaknya atau adiknya menertawakan dia karena suaranya mulai turun naik atau mulai pecah-pecah sebaiknya orang tua melarang dan orang tua mengatakan kepada mereka justru kita harus syukuri Tuhan memimpin anak kita ini sehingga dia melewati masa atau mulai memasuki remajanya, dan ini ditandai dengan perubahan suara. Jadi sebaiknya orang tua bersikap seperti itu menyambuti dan kalau misalkan si anak tidak pecah-pecah suaranya juga jangan dikritik. Jangan sampai orang tua terlalu khawatir kok anak saya suaranya masih seperti dulu, seperti kanak-kanak, sedangkan usianya sudah 13 tahun tidak apa-apa, sebab kita tahu tidak semua pria akan mengembangkan suara berat atau suara bas. Ada pria yang tetap suaranya tenor dan sangat tinggi, jadi sambutlah suara anak kita apa adanya.
GS : Tetapi saya rasa juga ada suatu perubahannya yang besar dalam diri seorang remaja putri ketika dia mengalami masa haid yang pertama. Apakah itu menjadi suatu pertanda Ibu Atik, masa meninggalkan anak-anak ke remaja.

RT : Berhubung masa datangnya haid yang pertama ini beragam pada putri ya, tidak sama pada setiap putri, itu juga tidak bisa dipakai sebagai penentuan, saya melihat kadang masih kanak-kanak tap sudah mengalami haid.

GS : Sedang kalau yang pria itu jelas Pak Paul, kalau pita suaranya berubah anak kita sudah memasuki usia remaja, 'kan jarang sekali anak-anak yang suaranya berubah pada masa anak-anak.

PG : Betul, biasanya suara itu dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur meskipun tidak senantiasa. Karena adanya anak-anak yang sudah mencapai usia 11 tahun, 12 tahun suaranya tetap kanak-anak dan belum pecah.

Tentang haid saya setuju dengan Ibu Atik bahwa sekarang ini susah sekali digunakan sebagai tolok ukur. Pada mungkin 20 tahun yang lalu anak-anak remaja putri biasa mengalami masa haid pertamanya sekitar usia 11 hingga 12 tahun. Tapi sekarang biasanya anak-anak remaja mulai mengalami haid pertama pada usia 9 tahun.
GS : Nah itu pasti ada yang terjadi dalam dirinya itu Pak Paul, baik yang remaja putra atau putri, nah itu sebenarnya perubahan apa yang terjadi, Pak Paul?

PG : Yang paling utama adalah terjadi perubahan yang kita sebut hormonal, jadi mulailah diproduksi hormon-hormon pria pada diri si anak atau si remaja pria ini. Misalkan hormon-hormon yang kitatahu adalah testosteron, jadi akibatnya perubahan hormon inilah yang membawa perubahan juga pada suaranya dan juga pada bentuk tubuhnya dan akan memunculkan bagian-bagian tubuh yang sebelumnya tidak ada pada si remaja putra ini.

GS : Dalam hal ini saya rasa sama dengan yang putri ya, jadi ada perubahan hormon. Bagaimana akibat yang lain Pak Paul dari adanya perubahan hormon itu selain dari secara fisik memang kelihatan?

PG : Yang jelas adalah pada umumnya pada masa remaja ini, karena adanya perubahan hormon tersebut si remaja putra mulai mengembangkan rasa ketertarikan kepada lawan jenisnya, yaitu wanita. Dan asa ingin dikagumi serta disukai oleh wanita, nah ini adalah salah satu ciri yang dominan dalam perkembangan remaja putra.

Seolah-olah dulu wanita itu tidak begitu menjadi pusat perhatiannya, namun tiba-tiba sekarang pada masa remaja si anak wanita menjadi begitu penting bagi si anak pria dan mulai menjadi pusat perhatiannya. Dan si pria itu akan mulai berulah di hadapan si wanita untuk mendapatkan perhatian si wanita. Dan yang kita juga harus ketahui kesukaan wanita atau ketertarikan pada si remaja putra itu sebetulnya berperan besar dalam pengembangan jati diri si pria itu. Rasa kepercayaan dirinya kalau dia adalah seorang pria yang ok! Yang bisa menarik hati remaja putri. Sedangkan pria yang pada masa remajanya merasa tidak pernah mengalami hal itu, anak putri tidak tertarik kepadanya, sering kali mengalami keragu-raguan tentang dirinya. Jadi kalau sampai masa remaja itu dilewati tanpa rasa ketertarikan dari putri terhadap dirinya, ada kecenderungan dia akan mempertanyakan akan keyakinan dirinya, apakah saya seseorang yang ok! Atau tidak. Jadi dalam pergaulan dengan lawan jenis kalau dia mendapatkan sinyal-sinyal bahwa si wanita tertarik kepadanya itu biasanya berpengaruh positif pada pengembangan dirinya.
GS : Nah memang kalau menghadapi remaja pria seperti itu Bu Atik, biasanya tanggapan remaja putri itu bagaimana?

RT : Ini sebenarnya, sungguh ini merupakan suatu masa yang unik bagi remaja putri atau bagi manusia yang menginjak remaja putri dan remaja putra. Karena menurut teori dan memang kenyataannya kia lihat ya, secara fisik perempuan itu pada masa ini tingginya, ukuran badannya bisa jauh lebih tinggi duluan dari laki-laki, dari remaja putra.

Sehingga akhirnya mengakibatkan si remaja putri ini tentu akan mencari idealnya yang lebih tinggi dari dirinya, jadi mau tidak mau dia akan mencari yang lebih tua. Karena kalau teman-teman sebayanya kelihatannya masih kecil-kecil, jadi dia melihat ke atas akhirnya teman-temannya ini yang juga butuh perhatian dari teman-teman putrinya, jadi remaja putra yang butuh remaja putri sepertinya betul-betul tersaingi oleh kakak-kakaknya, jadi mereka biasanya remaja-remaja putri ini kalau lmelihat ihat bisa lihat yang sudah mahasiswa, kelihatannya sudah lebih mapan dan kemudian lebih bisa jadi idola daripada kelihatan teman-temannya kok masih kecil-kecil secara fisik.
GS : Tapi sebaliknya pria itu kurang suka Pak Paul dengan adik-adiknya yang lebih dibawah contohnya saya dulu tidak pernah tertarik, waktu SMA misalnya dengan adik-adik SD atau bahkan adik-adik SMP tidak tertarik, Pak Paul.

PG : Ya karena biasanya pada masa-masa SMP itu tidak tertarik pada yang SD, sebab yang SD khususnya yang putri ini belum berkembang. Jadi benar-benar kita belum bisa tertarik pada mereka, karen mereka masih kanak-kanak.

Tapi dugaan saya waktu si remaja putra sudah menginjak usia 16, 17 tahun dia bisa tertarik pada remaja putri yang berusia 14 atau 15 tahun. Karena pada saat itu si remaja putri sudah berkembang sebagai seorang wanita, jadi sudah kelihatan bentuknya. Nah kita harus sadari bahwa remaja putra atau putri pada umumnya mudah sekali tertarik pada yang nampak, yang bersifat fisik. Itulah sebabnya pada SMP dia susah tertarik pada yang masih SD, karena yang SD itu memang masih kanak-kanak. Tentang yang tadi Pak Gunawan tanyakan memang rupanya ada perbedaan antara remaja putra dan putri dalam hal siapa yang akan disukai. Yang tadi disinggung oleh Bu Atik memang betul, remaja putri cenderung menyukai remaja putra yang matang, lebih besar dan suaranya lebih berat misalnya serta pikirannya juga bisa lebih matang, dia akan memiliki daya tarik yang kuat. Karena kebanyakan remaja putri menyenangi figur-figur pria yang seperti itu, tapi kebalikannya tidak sama Pak Gunawan, ternyata remaja putri yang matang lebih dulu lebih cenderung mendapatkan kesulitan dalam pergaulannya. Maksudnya misalkan dia mulai mengembangkan bagian-bagian tubuh diatasnya yaitu payudaranya dan sebagainya. Nah pada saat misalnya dia baru berumur sekitar 10 tahun tapi sudah mengembangkan bagian tubuh seperti itu dan tampak sekali dia itu seperti wanita, nah dia akan mengalami kesulitan. Karena di hadapan teman-teman sebayanya dia cenderung menjadi obyek ledekan karena tubuhnya yang sudah matang itu. Dan untuk bermain, remaja putri seusianya dia merasa agak canggung, karena yang lain usia 9, 10 tahun masih seperti kanak-kanak sedangkan dia nampaknya kok seperti gadis, jadi dia merasa canggung. Dia akhirnya cenderung mau bergaul dengan yang lebih tua darinya itu misalnya 4, 3 tahun di atasnya. Nah kalau dia sendiri belum mantap, belum mempunyai kematangan dan bergaul dengan yang lebih tua bisa dipengaruhi secara negatif. Jadi memang tidak sama, kebalikannya memang juga ini kita harus ketahui, kalau pria misalkan matangnya lebih dini dari yang kita katakan dia mempunyai banyak keuntungan menjadi daya tarik yang khusus bagi para wanita. Bagaimana kebalikannya kalau justru dia itu matangnya terlambat, jadi badannya kecil suaranya seperti suara kanak-kanak, teman-teman pria sebayanya sudah berbentuk seperti pria nah inilah masalah bagi si remaja putra. Karena dia justru akan menjadi ledekan teman-teman prianya atau bahkan teman-teman wanitanya yang akan meledek dia, kok tubuhnya kecil, kok suaranya seperti suara wanita. Jadi memang yang lebih dulu atau yang lebih belakang memang kita perlu perhatikan, sebab kadang-kadang mempunyai dampak yang berbeda bagi perkembangan jiwanya.
GS : Untuk yang putri Bu Atik, apakah secara tidak disadari dia mencari yang lebih senior atau yang lebih mantap dalam rangka cari perlindungan.

RT : Mungkin juga ya, jadi jawabannya bisa ya dan tidak dalam arti kalau memang dia dari latar belakang kehidupan yang memang membutuhkan figur-figur yang seperti itu bisa juga oleh karena hal tu maka dia mencari.

Tapi kalau secara umum dia sendiri sudah cukup mendapatkan figur-figur yang seperti itu, tapi secara normal seorang remaja putri saya pikir dia tentu saja ingin seperti tadi. Sekarang kalau suatu produk yang ditawarkan di budaya itu memberikan suatu idola atau suatu panutan seorang laki-laki yang hebat. Ini remaja 'kan masih mencari suatu yang ideal, yang istilahnya bisa menjadi suatu idola dia, nah sekarang kalau laki-laki terus yang namanya idola adalah laki-laki yang kemudian tubuhnya atletis, tinggi, lalu tidak punya sifat kekanak-kanakan, seperti remaja putra yang belum berkembang, akhirnya dia mengikuti, istilahnya arus daripada trend ini.
GS : Trend yang ada dilingkungannya ini.

RT : Betul, karena dia ingin dianggap sama dan dia ingin mendapatkan pengakuan ya dari yang menganggap bahwa dia mempunyai pacar yang keren.

GS : Memang mungkin menjadi masalah Pak Paul, tidak semua remaja pria itu bisa bertumbuh tinggi dan juga tidak semua remaja putri itu tubuhnya langsing-langsing. Nah di sana peranan orang tua itu sebenarnya apa?

PG : Orangtua harus pertama-tama peka, bahwa hal-hal yang bersifat fisik itu sangat berpengaruh dalam perkembangan jiwa si remaja. Mungkin sekali si remaja tidak membicarakannya, tapi kalau orag tua melihat bahwa anaknya tidak sama dengan anak-anak lain dalam hal perkembangan tubuhnya.

Nah hal ini perlu diperhatikan, baik yang matang lebih pagi atau pun yang matang terlambat, dua-duanya perlu mendapat perhatian dari orang tua. Nah anak-anak jarang sekali mengambil inisiatif untuk berbicara pada orang tuanya dan membeberkan keluh kesahnya tentang tubuh mereka ini; nah di sinilah orang tua perlu peka dan mulai berbicara kepada si anak. Bahwa kami mengerti engkau mempunyai pergumulan seperti ini dan kami mau menekankan bahwa ini tidak apa-apa. Dulu saya pernah mengalami hal yang sama untuk hal yang mungkin berbeda, tapi kebanyakan anak-anak remaja memiliki karagu-raguan terhadap bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, itu hal yang sangat normal sekali. Dan yang kedua kita tekankan kepadanya adalah bahwa yang akhirnya menjadi kunci keberhasilan dia diterima bukanlah bentuk tubuhnya tapi isi hatinya. Sebab kita bisa contohkan kepada dia seindah-indahnya tubuh seseorang kalau mempunyai hati yang sangat hitam tidak akan diterima oleh lingkungannya, malah akan dijauhi. Tapi seseorang yang berbentuk tubuh yang tidak terlalu menarik tapi mempunyai hati yang sangat indah, akhirnya dia justru menjadi orang yang ingin didekati oleh teman-temannya. Nah hal-hal seperti ini kita sering kali harus munculkan dalam percakapan dengan anak-anak remaja.
GS : Pengalaman Bu Atik kalau menghadapi anak remaja yang risau, remaja putri maksud saya yang risau dengan tubuhnya bagaimana Bu Atik biasanya?

RT : Seperti tadi yang sudah diulas oleh Pak Paul, saya juga akan mengajak mereka untuk melihat pertama pengakuan siapa yang jauh lebih penting di dalam kehidupan ini, kita semua butuh pengakuan. Tapi pengakuan siapa yang terpenting dan kemudian kita arahkan juga tentang perbedaan antara pengakuan yang didasarkan pada suatu dasar yang benar dengan pengakuan yang palsu. Jadi kalau dia katakan, tapi teman-teman juga penting, nah sekarang kita jelaskan kepada dia perbedaan antara teman yang baik dan teman yang tidak baik. Kalau teman yang baik tentu akan menghargai dia apa adanya, tapi kalau teman hanya menghargai dia secara fisik saja, berarti dia teman semacam itu jadi berdasarkan penilaian kita bisa tahu orang ini orang yang seperti apa. Jadi kita ajak dia bahwa di mata Tuhan dia dinilai karena dia adalah gambar Allah. Nah sebagai gambar Allah, nilai Allah itu ada pada citra Allah itu sendiri, jadi bukan karena fisiknya, karena apa yang dia pakai itu sangat berpengaruh pada remaja mengenai pakaian.

GS : Nah biasanya memang remaja itu ngomongnya ke ibunya atau ayahnya.

RT : Tergantung, ada yang saya dengar secara umum itu kepada ayah, perempuan senang bicara pada ayahnya, tapi saya lihat ada juga yang putri kepada ibunya. Jadi begini pengalaman saya ada yang ibicarakan dengan ayah, ada yang dibicarakan dengan Ibu.

GS : Tergantung materi pembicaraannya, tergantung tanggapan dari si ayah atau si ibu begitu Pak Paul?

RT : Ya tergantung topiknya.

PG : Betul sekali, ada anak-anak yang memang menyenangi, membicarakan hal tertentu dengan ibunya dan hal-hal yang lain dengan ayahnya. Itu dengan catatan hubungan dia dengan ayah dan ibu relati baik, kalau misalkan tidak, ya bisa juga anak-anak wanita itu lebih cenderung berbicara dengan ibunya karena faktor ayahnya lebih absen di rumah.

Jadi yang tersedia yang ada di rumah adalah ibu, dengan sendirinya dia akan berbicara dengan ibunya.
GS : Biasanya soal izin, kebutuhan finansial itu ngomongnya ke ayah.

RT : Kalau dia tahu ayahnya akan kurang menyetujui ya lewat ibunya, supaya ibunya yang berbicara kepada ayahnya.

(3) GS : Nah, bagaimana Pak Paul mengenai perasaan takut di dalam diri remaja itu tentang masa depan atau apa saja yang dia takuti, itu sebenarnya perkembangannya bagaimana?

PG : Remaja putra mulai memiliki ketakutan karena dia mulai merasa bahwa ada hal-hal tentang dirinya yang tidak dia mengerti, tidak semua tentang dirinya dia pahami. Jadi sangat umum sekali pad masa remaja ini anak-anak remaja putra mengalami kebingungan-kebingungan, yang sebetulnya dia ingin sekali mendapatkan jawabannya dari orang dewasa, tapi takut.

Takut nanti dicela, takut nanti dikatai apa atau apa, jadi akhirnya mereka membicarakannya di kalangan teman-teman. Nah ketakutan apa yang biasanya mereka alami, ketakutan misalnya apakah mereka itu nanti bisa menghidupi keluarganya, nah hal-hal ini mulai muncul di benak para remaja pria meskipun sebelumnya itu tidak pernah dipikirkan, nah pada masa remaja tiba-tiba pikiran ini bisa muncul. Atau mulai membicarakan tentang nanti engkau mau menjadi apa, apa cita-citamu, nah tiba-tiba anak remaja ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada masa depan. Pada masa kanak-kanak, anak-anak itu cenderung belum mengerti konsep masa depan atau masa yang akan datang, anak-anak kecil mulai bisa melihat adanya masa sekarang dan masa lalu. Meskipun juga masa lalu itu kurang begitu segar dalam ingatannya, tapi pada masa remaja anak-anak ini mulai mengembangkan kemampuan untuk melihat yang namanya masa depan. Nah waktu melihat masa depan dan mulai membicarakan tentang mau menjadi apa dan sebagainya, si anak yang belum mengerti mau menjadi apa biasanya mulai mengembangkan kecemasan-kecemasan. Nanti saya menjadi apa ya, saya bisanya apa ya, kemampuan saya di mana ya, nah hal-hal itu adalah bagian-bagian hidup para remaja. Selain itu mereka juga merasa aneh dengan dirinya karena emosi mereka yang turun naik Pak Gunawan, jadi adakalanya mereka ingin bisa menyendiri, tidak mau dengan teman-teman, adakalanya mereka butuh sekali berbicara dengan teman-teman. Nah mereka mulai bisa mengintrospeksi, melihat diri mereka dengan jelas. Sebetulnya kemampuan melihat diri itu sudah mulai berkembang sekitar usia 9 tahun. Tapi memasuki usia remaja mereka lebih mampu melihat diri dan pada waktu melihat diri mereka mulai bingung kok saya seperti ini, kok tidak konsisten, dulu begini, sekarang kok begini. Nah semua itu adalah bagian perkembangan dan gejolak remaja.
GS : Nah apakah ketakutan yang sama juga menimpa atau dialami oleh remaja putri, Bu Atik?

RT : Itu tadi waktu saya dengar Pak Paul bicara, saya juga berpikir apakah ketakutannya itu sama, kalau kita melihat jarak dari usia remaja yakni 11 sampai 20 tahun, saya pikir kalau bisa dibag mungkin remaja yang usia lanjut yang mulai berpikir ke sana.

Jadi pada akhir-akhir masa remajanya itu maka remaja putri pun mulai berpikir. Namun saya pikir bobotnya karena kembali soal budaya tadi, pria tekanannya lebih besar dari perempuan. Bukan saya tidak menghargai soal persamaan derajat perempuan dan laki-laki, tapi tuntutan daripada masyarakat, laki-laki yang harus bekerja, kalau perempuan tidak juga tidak apa-apa. Jadi saya pikir tekanannya itu lebih berat kepada laki-laki, jadi si perempuan itu jadi bebas. Jadi biasa kalau pertandingan itu tidak ada beban mental.
GS : Jadi saya rasa memang itu Pak Paul, jadi kita semasa remaja pun sudah tahu, bakal dituntut seperti itu, tuntutan yang lebih berat, daripada remaja putri. Memang akan ada banyak hal yang masih harus kita bicarakan tentang perkembangan remaja ini, jadi kami sangat berharap untuk sesi yang akan datang Pak Paul dan juga Ibu Atik akan bersama-sama dengan kami untuk melanjutkan perbincangan ini. Namun sebelum kita menyudahi pembicaraan ini mungkin Pak Paul akan sampaikan sesuatu dari firman Tuhan.

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 119:41-42 , "Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku ya Tuhan, keselamatan daripadamu itu sesuai dengan janjimu. Supaya aku dapat memberi jawab epada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu."

Anak-anak remaja penting sekali mempunyai konsep diri yang benar dan konsep yang benar itu berasal dari pengenalan yang benar akan siapa Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang mendatangi kita dengan kebaikan-Nya. Tuhan yang mengasihi kita dan menciptakan kita. Jadi konsep diri itu jangan sampai berkisar dari firman Tuhan, sehingga dikatakan aku bisa memberi jawab kepada orang yang mencela aku. Pada masa remaja saya kira banyak celaan-celaan terhadap diri sendiri. Nah dia harus percaya pada yang firman Tuhan katakan.
GS : Ya terima kasih, jadi demikian tadi Para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Rahmiati Tanudjaya dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang perkembangan remaja, baik remaja putra maupun remaja putri. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat buat kita semua, dari studio kami mohon juga tanggapan saran serta pertanyaan-pertanyaan dari Anda yang bisa Anda kirimkan melalui surat ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 56 A

  1. Sebenarnya siapa yang disebut seorang remaja...?
  2. Ciri-ciri fisik apakah yang menyertai seorang remaja...?
  3. Perasaan takut apakah sebenarnya yang terjadi pada remaja...?


13. Perkembangan Remaja Putra Putri 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T056B (File MP3 T056B)


Abstrak:

Lanjutan dari T56A


Ringkasan:

Ada beberapa hal yang terjadi pada remaja:

  1. Yang pertama adalah perubahan-perubahan fisik. Secara fisik dia akan mengembangkan tubuhnya dan akan memakan waktu kira-kira dari usia 11 tahun hingga 20 tahun hingga akhirnya dia mencapai bentuk akhir atau bentuk final tubuhnya.

  2. Juga akan ada perubahan hormonal, akan ada hormon-hormon seksual yang diproduksi oleh tubuhnya, sehingga dia mulai sekarang mengembangkan ketertarikan kepada lawan jenis.

Orang tua sering kali mengalami kebingungan menghadapinya, maka yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendampingi remaja mereka adalah mengajak anak remaja itu tetap berkomunikasi dengan dia. Dengan catatan komunikasi ini sudah mulai berjalan dengan baik sejak anak-anak. Jadi jalinan kepercayaan bahwa orang tua bisa menyimpan rahasia, jalinan kepercayaan bahwa orang tua bisa memahami saya, jalinan kepercayaan bahwa orang tua akan menerima saya tanpa harus mencela-cela saya. Itu sudah harus terbentuk pada masa kanak-kanak, sehingga sewaktu si anak memasuki usia remaja dia hanya perlu meneruskan yang sudah dibina pada masa kanak-kanaknya. Kalau baru dimulai pada usia remaja saya kira kurang begitu efektif.

Untuk menghadapi remaja putri yang suka menyendiri kalau sedang bermasalah, orang tua perlu memberi waktu kepada remaja itu. Kalau kelihatannya emosinya sudah mulai reda atau dia sudah dalam suasana yang akan mau berbicara bisa kemudian ditanya, tapi jangan dipaksa untuk berbicara. Karena kadang ada suatu rasa daripada remaja putri di mana dia tidak mau 'privacy' nya diganggu. Di sini orang tua juga perlu belajar untuk menghargai 'privacy' dari si anak. Kuncinya ialah orang tua perlu menghargai interest daripada anak. Semua perkembangan itu juga bisa mempengaruhi kerohaniannya, bergantung apakah remaja ini siap atau tidak menghadapi tekanan-tekanan ini. Maka kalau orang tuanya lalai, remaja ini bisa dipersiapkan di gereja. Misalnya pendidikan seks yang juga diadakan di gereja, sehingga paling tidak kemudian si remaja ini siap dan bisa menilai dari sudut pandang Firman Tuhan. Dengan kata lain dia mendapatkan suatu pengertian yang benar. Remaja penting sekali mengetahui konsep diri yang benar.

Ada beberapa ketakutan remaja pria yang harus disadari oleh orang tua:

  1. Remaja putra takut sekali ditolak.

  2. Kedua, remaja putra itu takut sekali dihina.

Dihina ini bisa muncul dari beberapa sumber. Adakalanya remaja putra takut dihina, karena misalkan dia dianggap seperti banci, jadi pria itu takut dikatakan kamu seperti wanita, kamu banci. Artinya dia tidak bisa melakukan sesuatu yang diharapkan oleh teman-temannya, nah remaja putra itu peka dengan perkataan engkau tidak bisa, engkau tidak sanggup, engkau itu banci. Baginya itu merupakan suatu penghinaan yang besar sekali.

Mazmur 119:9-11 , "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu, dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." Kita harus bersyukur anak-anak kita bisa memasuki usia itu sekalipun memang lebih banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itulah sejak anak-anak kecil firman Tuhan harus ditanamkan. Sebab sekalipun pada masa remaja seolah-olah dia mulai menolak atau mulai tidak menunjukkan minat pada hal-hal rohani, namun firman yang telah mereka dengarkan sejak kecil akan tetap tertanam dalam hatinya dan bisa berfungsi sebagai pengawas, sebagai pemandu bagi hidupnya. Jadi firman Tuhan menegaskan bahwa taruhlah firman Tuhan di dalam hatinya atau di dalam hati kita agar kita tidak berdosa, jadi inilah rahasia firman-Nya mempertahankan kelakuannya dengan bersih itu menjaganya sesuai dengan firman Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Ibu Dr. Rahmiati Tanudjaya dan mereka adalah dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan juga banyak melayani konseling, bimbingan kepada para remaja. Dan kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kita tentang remaja, baik remaja putra maupun remaja putri. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, berbicara tentang perkembangan remaja seperti yang telah kita lakukan pada beberapa waktu yang lalu, kita coba mengulang sebentar apa yang kita bicarakan. Sebenarnya apa keunikan dari remaja yang kadang-kadang membuat orang tua itu kebingungan menghadapinya?

PG : Saya kira remaja adalah suatu dunia yang agak terpisah dari dunia dewasa dan dunia anak-anak, dengan kata lain dunia remaja adalah dunia tersendiri yang mempunyai kekhasannya. Nah orang tu kadang kala mengalami kesulitan mengerti si anak remaja ini, karena tiba-tiba komunikasi antara orang tua dan anak mulai terputus sehingga pengenalan si orang tua akan apa yang dilakukan oleh si anak remaja makin terbatas.

Ada beberapa hal yang terjadi pada remaja, yang pertama adalah perubahan-perubahan fisik. Nah secara fisik dia akan mengembangkan tubuhnya tapi ini akan memakan waktu yang panjang, kira-kira dari usia 11 tahun hingga 20 tahun, hingga akhirnya dia mencapai bentuk akhir atau bentuk final dari tubuhnya itu. Juga akan ada perubahan hormonal, akan ada hormon-hormon seksual yang diproduksi oleh tubuhnya, sehingga dia mulai sekarang mengembangkan ketertarikan kepada lawan jenis. Nah oleh karena adanya ketertarikan tersebut, dan tahu bahwa diapun menjadi obyek ketertarikan dari lawan jenisnya, perilakunya pun mulai terpengaruh. Dia akan mulai melakukan hal-hal tertentu agar diperhatikan oleh lawan jenisnya dan sebagainya, jadi hal-hal ini adalah hal-hal yang unik sekali pada masa remaja.
(2) GS : Kalau hal itu sudah terjadi Pak Paul, bukankah orang tua sering kali kebingungan menghadapi hal itu, sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh orang tua di dalam mendampingi remaja mereka.

PG : Saya kira salah satu yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah mengajak anak remaja itu tetap berkomunikasi dengan dia. Dengan catatan komunikasi ini sudah mulai berjalan, dan berjalan denan baik sejak anak-anak, kalau baru dimulai pada masa remaja, pada umumnya tidak berhasil.

Jadi jalinan kepercayaan bahwa orang tua bisa menyimpan rahasia, jalinan kepercayaan bahwa orang tua bisa memahami saya, jalinan kepercayaan bahwa orang tua akan menerima saya tanpa harus mencela-cela saya. Nah itu sudah harus terbentuk pada masa kanak-kanak, sehingga sewaktu si anak memasuki usia remaja dia hanya perlu meneruskan yang sudah dibina pada masa kanak-kanaknya. Kalau baru dimulai pada usia remaja saya kira kurang begitu efektif.
GS : Tapi bukankah sering kali terjadi begini Pak Paul, anak-anak atau mereka ini kelihatan manis, anak-anak ini memang menjadi gampang diatur dan sebagainya, mendengar. Tapi begitu memasuki masa remaja, mereka mulai menjauh dan mulai berani melawan itu kasarnya.

PG : Menjauhnya mereka dari kita sebetulnya bukanlah sesuatu yang keliru atau yang salah, justru adalah sesuatu yang seharusnya. Jadi anak-anak remaja itu mulai mengembangkan hidup terpisah dar orang tua, dalam konteks itulah si anak remaja akan mulai menyimpan rahasia-rahasia tertentu, mulai tidak membicarakan hal-hal yang dialaminya, mulai menutupi sesuatu yang menimpa dirinya.

Karena apa, karena dia merasa ini adalah yang terjadi pada hidupku, jadi konsep hidupku mulai berkembang pada usia remaja. Pada masa kanak-kanak konsep yang dikenal adalah hidup kita, hidup antara si orang tua dan si anak-anak secara bersamaan. Nah waktu dia mengembangkan konsep hidupku inilah, si anak remaja mulai memisahkan dirinya dari orang tua dan kecenderungannya adalah memang menjauhkan diri dari orang tua.
GS : Nah apakah itu juga terjadi pada remaja putri Bu Atik, menjauhkan diri atau berani menantang orang tua dan sebagainya?

RT : Ya saya pikir itu secara umum berlaku pada remaja baik putra maupun putri, karena ada satu saat bukan anak kecil lagi. Jadi ada saat di mana saya ingin dihargai sebagai manusia yang mandir, tidak ingin lagi bergantung istilahnya "bergantung" ya waktu masih remaja kepada orangtua, jadi itu yang terjadi memang.

GS : Nah itu biasanya diekspresikan dalam bentuk apa, Bu Atik?

RT : Biasanya, kalau tadinya orang tuanya pergi ke mana kita diajak selalu ikut, tidak diajak malah nangis begitu ya, nah sekarang diajak tidak mau, dipaksa-paksa pun tidak mau ikut. Dia bilangah...

saya mau di rumah saja, saya ingin baca buku saja sendiri, saya ingin dengar radio saja, melihat TV saja.
GS : Nah kadang-kadang itu kami melihat anak remaja yang mulai menyendiri Pak Paul, sebenarnya apa yang terjadi dalam pikiran anak remaja ini?

PG : Waktu anak-anak remaja menyendiri atau tidak mau ikut dengan orang tuanya, memang di satu pihak kita bisa melihat itu adalah wujud keinginannya terpisah dari orang tua. Namun di pihak lainorang tua juga jangan terlalu cepat menginterpretasi bahwa si anak ini tidak suka dengan mereka, si anak ini kok sekarang mulai melawan mereka, belum tentu.

Sebab yang terjadi biasanya adalah si anak akan melihat ke mana orang tua akan pergi. Pada masa kanak-kanak si anak belum bisa membayangkan atau memproyeksi sesuatu yang belum terjadi dengan jelas. Tapi pada masa remaja kemampuan berpikir anak sudah abstrak, sehingga dia mulai bisa memproyeksi o....mau ke rumah si paman itu, di sana ada anak siapa ya, tidak ada atau ada anak, anak kecil wah....saya tidak bisa main dengan dia, mainannya apa ya, o....mainannya mainan anak-anak kecil, mainan anak-anak remaja ada tidak, tidak ada. Atau mau pergi ke sana, di sana ada apa ya, o....adanya hanya kolam renang, setelah itu ya sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah si anak mulai mengembangkan kemampuan memproyeksikan dirinya ke masa depan, ke hal-hal yang akan dilakukan bersama dengan orang tuanya. Dan otomatis dia akan merasa tidak ada yang menarik, buat apa saya ke sana, dengan siapa saya berbicara, nah kitapun juga begitu, nah inilah skill atau keterampilan yang kita miliki sekarang, tapi sebetulnya kita mulai kembangkan pada masa remaja. Jadi tidak selalu anak remaja itu menolak pergi dengan orang tua, karena tidak suka pergi dengan orang tuanya, belum tentu, kemungkinan sekali dia senang pergi dengan orang tua, tapi tidak senang pergi ke tujuan tersebut. Kalau orang tua berkata, dulu kamu senang pergi, ya dulu waktu masih kanak-kanak dia masih bermain ayunan misalnya tapi sekarang tidak lagi. Kalau orang tua berkata 'kan ada si itu, umurnya sama kamu hampir sama, hampir sebaya, kamu bisa bicara, si anak mulai berpikir memproyeksikan ke depan lagi o....anak itu kuper, saya tidak bisa berbicara dengan dia, mau apa saya pergi. Nah orang tua kadang-kadang tidak mengerti dan di sini perlu komunikasi, apa yang membuat engkau tidak mau pergi ke sana, tolong beritahu. Nah si anak remaja juga berkewajiban untuk memberikan penjelasan kepada orang tua sehingga orang tua tidak salah paham.
GS : Di dalam hal menjadi kesedihan, entah karena apa, bertengkar dengan teman dan sebagainya, biasanya remaja putri itu suka masuk kamar, menyendiri itu bagaimana Bu Atik?

RT : Kembali bergantung pada si remaja putrinya ya, tidak bisa dipukul rata. Ada remaja putri yang tersinggung, langsung berbicara, tapi ada tipe yang seperti itu, terus masuk kamar menyendiri.Nah kalau yang begitu, dari si orang tua yang pada saat yang tepat perlu aktif, tapi kalau remaja putrinya yang terbuka, tidak ada masalah.

GS : Mungkin yang terbuka lebih gampang penanganannya tapi kalau sudah diam lalu kita itu, apalagi ayah untuk mendekati remaja putrinya itu agak kesulitan, apa sebetulnya yang sedang dipikirkan, yang sedang dijadikan persoalan ini. Karena pada saat-saat itu yang nampak adalah kemarahan, seperti makan atau apa lalu ditinggalkan dan sebagainya.

RT : Saya pikir pada saat-saat seperti itu, kita perlu memberi waktu kepada remaja putri itu sehingga kalau kelihatannya emosinya sudah mulai mereda atau bagaimana, dia kelihatannya sudah ada dlam suasana yang akan berbicara, tapi jangan dipaksa untuk berbicara.

Karena kadang ada suatu rasa daripada remaja putri juga atau remaja itu di mana dia tidak mau "privacynya" diganggu. Karena ada hal-hal tertentu yang sedang berkecamuk di mana dia tidak mau orang tuanya tahu. Jadi saya pikir di sini orang tua juga perlu belajar juga untuk menghargai "privacy" daripada si anak, sama juga dengan tadi hubungannya dengan anak yang tidak mau pergi dengan orang tuanya. Saya pikir kuncinya orang tua juga perlu menghargai interest daripada anak. Kadang orang tua suka mengakatan kamu pokoknya harus begitu ya, padahal kita juga akan memilih dan memutuskan kalau mau pergi ke mana dan saya pikir kita juga perlu menghargai interest dari si anak.
GS : Kadang-kadang kita sebagai orang tua itu memang tidak bisa menerima alasan yang dia kemukakan, dulu mau kok sekarang tidak mau, misalnya itu. Dulu dia tidak bermasalah dengan apa, sekarang menjadi masalah lalu marah-marah. Apakah memang itu menjadi salah satu ciri remaja gampang marah dan sebagainya itu?

PG : Saya kira tidak semua remaja, tapi ada kecenderungan pada masa remaja si anak remaja akan lebih peka daripada biasanya. Pekanya remaja itu sebetulnya bukannya berarti bahwa perasaannya itumenjadi lain, tapi kepekaannya lebih berkaitan dengan kesadaran dia akan penilaian orang terhadap dirinya.

Pada masa kanak-kanak mereka acuh saja, lari ke sana pakai baju compang-camping, kotor tidak merasa apa-apa karena kurang begitu menyadari penilaian orang terhadapnya. Namun pada masa remaja dia mulai sangat menyadari apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, nah pada masa remaja yang terjadi adalah bukan saja si remaja menyadari apa yang dipikirkan orang terhadapnya, dia terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Sesuatu terjadi temannya tidak mengajak dia pergi misalnya, tapi mengajak teman yang lainnya, dia sudah merasa ditolak, dikhianati dan sebagainya, tanpa perlu mencari tahu kok sampai temannya tidak mengajak dia. Jadi kepekaan perasaan remaja itu lebih bersumber dari kesadaran yang terlalu berlebihan, akan penilaian orang terhadap dirinya. Nah orang tua kadang kala di sini perlu mengerti, kalau kurang mengerti juga bisa menjadi masalah. Kadang kala orang tua yang kurang mengerti akan berkata, jangan pusingkan orang lain, apa yang mereka pikirkan tidak usah kau dengarkan. Nah masalahnya adalah tidak semudah itu, karena justru pada masa usia remaja mereka sangat butuh tahu bahwa mereka itu ok! Di mata teman-temannya. Dan waktu mereka merasakan bahwa teman-temannya tidak memandang mereka ok! Itu sangat menggoncangkan mereka. Itu sebabnya perasaan-perasaan remaja bisa turun naik dengan cepat. Yang lainnya lagi yang membuat kepekaan itu bertambah ialah remaja merasa bahwa mereka itu unik, dan tidak bisa dimengerti oleh orang dewasa, nah ini perasaan remaja, hanya merasa bisa dimengerti oleh teman-teman sebayanya. Oleh karena itulah sewaktu orang tua mengeluarkan komentar atau guru mengeluarkan komentar yang dirasakan menyakiti hatinya, wah.....si remaja bisa sangat tersinggung luar biasa. Padahal komentarnya tidak terlalu menyakitkan hati atau apa, tapi dianggap sudah melecehkan dia, tidak menghargai dia dan sebagainya. Sebab memang sudah ada frase posisi itu, sudah ada konsep bahwa orang dewasa tidak mengertinya, jadi kalau tidak mengerti jangan berbicara apa-apa. Nah sudah tidak mengerti, berbicara apa-apa hal ini akan memicu kemarahan dia, pasalnya dia langsung melawan orang tuanya, melabrak orang tuanya, menganggap engkau tak mengerti tapi engkau sekarang berkata-kata seperti ini. Maka sering kali terjadi pertengkaran antara orang tua dan anak remaja di sini.
(3) GS : Jadi memang terjadi banyak sekali perubahan di dalam diri remaja baik secara fisik maupun emosional. Nah lalu bagaimana atau apa yang terjadi dengan perkembangan kerohaniannya itu, Bu Atik?

RT : Nah itu juga bisa mempengaruhi kerohaniannya, bergantung apakah remaja ini siap atau tidak menghadapi tekanan-tekanan ini. Makanya kalau istilahnya remaja ini bisa dipersiapkan misalnya pedidikan seks yang juga diadakan di gereja kalau orang tuanya lalai, sehingga paling tidak si remaja ini siap dari sudut pandang firman Tuhan.

Dengan kata lain dia mendapatkan suatu pengertian yang benar seperti yang tadi Pak Paul katakan, remaja ini penting sekali mengetahui konsep diri yang benar. Nah konsep diri yang benar ini sekarang kita dapatkan dari mana, kalau akhirnya kemudian kita abaikan. Saya melihat kecenderungan sekarang misalnya, orang tua lebih prihatin kalau remajanya dapat matematika 5, nilai merah, mereka langsung sibuk mencari guru les, untuk supaya angka ini naik. Tapi apakah mereka juga seprihatin itu, sekuatir itu kalau anaknya kemudian salah mengerti tentang Alkitab, tidak apa-apalah kamu tidak tahu Alkitab ya tidak apa-apalah, asal matematika kamu 10 begitu 'kan. Nah sering akhirnya karena perhatian yang seperti ini dan kemudian dari segi kerohanian dia tidak dibina atau kemudian memberikan satu modal konsep diri yang jelas dari sudut terang firman Tuhan, nah akhirnya yang sering saya lihat terjadi, remaja-remaja yang konsultasi atau orang tua-orang tua yang konsultasi kepada saya menjadi terlambat, karena memang si remaja ini tidak dipersiapkan oleh orang tuanya, oleh gereja untuk mengerti tentang siapa dirinya, dari sudut pandang firman Tuhan dan apa pengertian pengakuan yang benar dari sudut pandang firman Tuhan. Jadi saya pikir sebaiknya itu dipersiapkan, jadi pada waktu anak ini meningkat atau harus menghadapi hal yang seperti itu sudah siap. Yang sudah siap pun tidak mudah, apalagi yang nggak siap.
GS : Ya itu memang menjadi masalah besar Pak Paul, khususnya untuk anak-anak remaja, nah secara praktis, biasanya bagaimana orang tua itu memberikan bimbingan?

PG : Pertama adalah orang tua perlu mengerti perkembangan remaja secara rohani, begini ada kecenderungan pada masa remaja anak-anak itu mulai menunjukkan perubahan minat. Dulunya disuruh ke seklah minggu datang, ayo saja, tapi tiba-tiba memasuki usia remaja si anak ini mulai menunjukkan sedikit sekali minat terhadap hal-hal rohani.

Misalkan disuruh berdoa enggan, disuruh baca Alkitab tidak mau, jadi ada kecenderungan pada masa remaja memang anak-anak ini berubah, tidak seperti dulu rajin ke sekolah minggu, sekarang disuruh ke persekutuan remaja dia malas. Kita harus mengerti mengapa ini penting sekali, sebab kita tidak bisa menggeneralisasi, menyimpulkan bahwa penyebabnya anak kita sekarang ini murtad, belum tentu. Jadi kekurangan minat ini bisa dipicu oleh beberapa penyebab, pertama adakalanya bagi anak remaja konsep tentang Tuhan menjadi sesuatu yang asing. Sebelumnya karena dia percaya pada omongan orang tua, dia hanya melaksanakan apa yang dia percayai oleh orang tuanya, dia hanya meneruskan apa yang diyakini oleh mereka. Tapi pada usia remaja kemampuan berpikir abstraknya sudah berkembang si anak remaja mulai mempertanyakan apakah benar ada Tuhan misalnya seperti itu. Kenapa saya harus percaya kepada Tuhan, bagaimana Tuhan menolong saya, saya tidak melihat dia menolong saya, atau kami sudah berdoa kok orang ini atau anak ini tidak disembuhkan, katanya Tuhan menyembuhkan seperti yang dikatakan di Alkitab, kenapa tidak terjadi? Jadi pada masa ini anak-anak remaja mulai bertanya dan tindakan orang tua adalah mengertinya bukan memadamkan semangat si anak. Kadang kala orang tua langsung memarahi si anak, kamu ini kurang beriman, kamu jangan bicara seperti itu kepada Tuhan dan sebagainya, tidak, justru orang tua harus bergumul bersama dengan si anak. Ya...ya...mama juga tidak mengerti, kenapa Tuhan tidak menyembuhkan seperti yang kita doakan, nah kita terus bisa berkata, memang ternyata Tuhan tidak menyembuhkan semua orang, sebagian Tuhan sembuhkan, sebagian tidak Tuhan sembuhkan. Nah kalau kamu tanya kenapa kok tidak, sedangkan anak itu anak yang baik, akhirnya Tuhan kok membiarkan, misalnya sampai meninggal dunia, tidak tahu. Dan jangan kita menjawab karena Tuhan sayang kepada dia maka Tuhan ambil dia pulang ke Surga, si anak remaja akan berpikir wah.....Tuhan ini kalau Dia sayang Dia akan cabut nyawanya. Jadi menimbulkan konsep yang tambah keliru, nah lebih baik kita memberikan jawaban yang apa adanya sesuai dengan taraf pemikirannya. Bahwa kita pun tidak mempunyai jawaban terhadap hal ini, tapi yang kita tahu adalah kita sampaikan, Tuhan mendengar doa kita ini yang dikatakan dalam firman-Nya di Alkitab. Tuhan juga akan menjawab kita sesuai dengan kehendak-Nya dan pada waktu-Nya, nah kapan itu waktu-Nya sering kali juga kita tidak tahu. Nah jadi saya pikir pengertian kita sampaikan dan jawaban-jawaban yang jujur tanpa embel-embel, kita ini seolah-olah mempunyai jawaban semuanya, itu kita perlu sampaikan kepada si anak, sehingga dia akhirnya mengerti ini adalah bagian pertumbuhan iman, bagian pergumulan hidup sebagai seseorang yang percaya pada Tuhan Yesus.
GS : Nah memang itu menjadi kesulitan besar buat orang tua sekalipun itu orang tua Kriste, menghadapi anak-anak remaja yang biasanya dipasrahkan ke gereja dan sebagainya. Nah di gereja pun kadang-kadang anak-anak remaja mendengarkan khotbah yang sebenarnya bukan porsi untuk anak remaja itu. Nah, menurut Bu Atik sebenarnya khotbah-khotbah atau firman Tuhan apa yang cocok untuk anak-anak remaja ini?

RT : Saya setuju tadi yang dikatakan oleh Pak Paul, jadi kita mengangkat tema-tema yang memang menjadi interest mereka pada waktu itu. Yang saya pernah lakukan justru saya meminta mereka, jadi aya membuat suatu pertanyaan buat mereka apa yang menjadi unek-unek atau yang ada dipikiran mereka tentang apa yang mereka percaya selama ini, Kekristenan dan Tuhan Yesus.

Sehingga dari apa yang mereka tanyakan itu yang menjadi kebingungan lalu kita angkat tema-tema itu sehingga mereka sungguh menantikan, karena itu ditanyakan mereka coba kaitkan dengan pelajaran di sekolah juga sekarang sudah dipelajari banyak hal, entah mereka juga diajarkan teori evolusi, sehingga pada waktu itu diangkat, mereka menjadi tertarik. Mereka ingin tahu menurut firman Tuhan bagaimana ini dengan teori ini, menurut firman Tuhan bagaimana dengan yang disebut "bank theory" ini yaitu seperti itu. Jadi ada baiknya kalau pengurus daripada remaja ini sungguh mencoba menggali apa yang menjadi interest daripada remaja dan apa trendnya sekarang sehingga acara-acara, dibuatlah acara-acara yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan, tapi bisa dijadikan suatu sarana 'kan itu ada cara-cara yang sifatnya tidak mutlak, memang harus begitu mengikuti pola tertentu dan itu bisa menarik remaja untuk datang, karena itu sesuai dengan trend yang ada.
GS : Nah dari pertanyaan itu Bu Atik, biasanya masalah-masalah apa yang paling sering mereka pertanyakan?

RT : Yang selama ini dalam pengalaman pelayanan saya yaitu mereka sekarang sudah mulai belajar misalnya matematika segala macam lalu mereka mulai ingin membandingkan antara apa yang dikatakan d Alkitab dengan ilmu pengetahuan.

Jadi mereka ingin melihat keabsahan Alkitab, apalagi mereka sekarang sudah anak SMA, sudah masuk ke laboratorium, mereka bisa kemudian membuat percobaan-percobaan, mereka lalu ingin melihat bagaimana dengan Alkitab. Dan juga tema seperti apakah Allah ada, bagaimana Allah ada, bagaimana Alkitab ini bisa kita percaya dan sebagainya.
GS : Mungkin mereka mengharapkan atau mengharapkan jawaban apakah sebenarnya kekristenan itu relevan dengan kehidupan ini?

RT : Betul, dan satu hal yang ingin saya tambahkan, hal-hal yang mereka hadapi dalam realita kehidupan, bukankah dalam setiap zaman ada arusnya yang berbeda, trendnya berbeda, itu harus dimengeti oleh pengurus remaja dan itu perlu diangkat karena mereka perlu menghadapinya.

Seperti sekarang ini kasus narkoba, nah itu perlu diangkat hal yang seperti itu.
GS : Pak Paul, memang kalau tadi menyinggung narkoba dan sebagainya, ada kecenderungan remaja itu suka yang adventurir, yang berpetualangan. Nah apakah itu memang menjadi ciri remaja itu?

PG : Terutama remaja pria Pak Gunawan, jadi ada beberapa ketakutan remaja pria yang harus disadari oleh orang tua. Pertama saya kira mungkin ini wanita juga sama, Ibu Atik bisa memberikan inforasi, remaja putra itu takut sekali ditolak.

Kedua remaja putra itu takut sekali dihina, nah dihina ini bisa muncul dari beberapa sumber. Adakalanya remaja putra takut dihina, karena misalkan dia dianggap seperti banci, jadi pria itu takut dikatakan kamu seperti wanita, kamu banci. Artinya apa dia tidak bisa melakukan sesuatu yang diharapkan oleh teman-temannya, nah remaja putra itu peka dengan perkataan engkau tidak bisa, engkau tidak sanggup, engkau itu banci, nah itu suatu penghinaan yang besar sekali. Jadi saya tekankan remaja pria itu mempunyai dua ketakutan besar tersebut, takut ditolak oleh teman-temannya dan takut dihina. Nah supaya tidak ditolak dan supaya tidak dihina, akhirnya dia akan melakukan hal-hal yang dia tahu salah, yang dia tahu orang tua melarangnya. Tapi dia akan mencoba melakukannya supaya mendapatkan penerimaan dan penghargaan, tidak dihina oleh teman-temannya termasuk memakai obat-obat terlarang tadi. Sebab sekarang yang menjadi trend obat-obat tersebut, seolah-olah kalau tidak memakai obat itu tidak jantan, seolah-olah kalau dia tidak memakai obat itu dia menjadi orang yang tidak lagi berani. Nah pria atau remaja pria kadang-kadang terjebak, tergoda oleh tantangan seperti ini dan untuk membuktikan dirinya akhirnya dia memakai. Nah hal ini perlu kita bahas di rumah, jangan atau tidak cukup orang tua hanya berkata engkau tidak boleh memakai ini, orang tua harus menjelaskan kenapa tidak boleh pakai. Sama dengan hal-hal rohani yang tadi Pak Gunawan sudah diskusikan dengan Ibu Atik, saya kira sebetulnya tidak terlalu susah orang tua menjalankan tugas sebagai pembimbing rohani bagi anak-anak. Orang tua sendiri harus mempertanyakan dirinya dan kerohaniannya, harus menerapkannya sedetail mungkin. Misalkan gampang orang tua berkata percaya pada Tuhan, artinya apa percaya itu, nah bagikan pergumulan dia, waktu dia misalkan mencari pekerjaan dan sebagainya. Nah hal-hal itulah yang perlu dikomunikasikan sehingga anak mengerti artinya apa itu percaya.
GS : Memang kita harus bersyukur anak-anak kita bisa memasuki usia itu namun memang lebih banyak tantangan yang harus dihadapi, nah sehubungan dengan itu mungkin Pak Paul bacakan dari firman Tuhan.

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 119:9-11 , "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku akumencari engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu, dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau."

Pada masa remaja kita akan melihat bahwa anak-anak remaja itu mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungan. Termasuk mudah untuk melakukan dosa, tadi kita sudah singgung sedikit, melakukan hal-hal yang memang tidak sehat. Nah oleh karena itulah sejak anak-anak kecil harus ditanamkan firman Tuhan, karena pada masa remaja meskipun seolah-olah dia mulai menolak atau mulai tidak menunjukkan minat pada hal-hal rohani, namun firman yang telah mereka dengarkan akan tetap tertanam dalam hatinya dan bisa berfungsi sebagai pengawas, sebagai pemandu bagi hidupnya. Jadi firman Tuhan menegaskan bahwa taruhlah firman Tuhan di dalam hatinya atau di dalam hati kita agar kita tidak berdosa, jadi inilah rahasia firman-Nya mempertahankan kelakuannya dengan bersih yaitu menjaganya sesuai dengan firman Tuhan.
GS : Jadi demikianlah tadi sebuah perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Dr. Rahmiati Tanudjaya dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami percaya acara ini pasti bermanfaat buat kita semua, dari studio kami mohon juga tanggapan saran serta pertanyaan-pertanyaan dari Anda yang bisa Anda alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 56 B

  1. Apa sebenarnya keunikan dari remaja....?
  2. Apa yang harus dilakukan orang tua dalam menghadapi remaja...?
  3. Bagaimanakah dengan perkembangan kehidupan rohani bagi remaja dan apakah yang harus dilakukan orang tua dalam hal ini...?


14. Pembentukan Jati Diri


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T076A (File MP3 T076A)


Abstrak:

Ini adalah proses pembentukan diri remaja, suatu proses yang alamiah, yang seharusnya terjadi dan itu baik. Secara natural remaja mulai banyak mempertanyakan keputusan yang kita yakini dan itu adalah untuk membangun dirinya dengan melewati fase tertentu baik fase pembedaan maupun fase perbandingan.


Ringkasan:

Biasanya kita menggolongkan remaja pada usia sekitar 11-12 tahun hingga 20 tahun, ada yang menyebut usia 11-12 sebagai pra remaja, ada yang sudah memasukkan sebagai kategori remaja.

Ciri remaja:

  1. Berbeda dengan anak-anak, dalam pegertian kemampuan berpikirnya jauh lebih abstrak dibandingkan pada masa kanak-kanak yang sangat konkret.

  2. Berteman juga merupakan ciri yang khas pasa masa remaja, di mana sebelumnya remaja menggantungkan konsep dirinya pada anggapan yang diberikan orang tua sedangkan pada masa remaja sangat menggantungnya konsep dirinya pada penilaian yang diberikan oleh teman-temannya. Sehingga kita melihat pada masa remaja mereka lebih mementingkan teman daripada orangtua.

Dalam pembentukan jati dirinya, remaja harus melalui sekurang-kurangnya dua fase:

Dalam menghadapi remaja melalui proses yang berat seperti itu, orang tua harus berperan dengan bijaksana.

  1. Kita harus memahami apa yang sedang dilewati oleh remaja. Misalkan remaja mulai memberontak, jangan lekas-lekas kita mau menggilasnya, melarangnya, makin mengencangkan genggaman kita pada dia, itu makin merusakkan si remaja. Makin membuat si remaja itu tertekan dan ciut. Jadi orang tua harus menerima fakta bahwa remaja akan mulai melawan mereka, mempertanyakan, memberontak dan kalau kita bisa sesuaikan justru merupakan hal yang sehat bagi si remaja, menjadikan dia sebagai seorang yang dewasa.

  2. Bimbingan rohani harus kita berikan pada mereka. Yang penting adalah anak-anak remaja perlu tahu bahwa dia bertanggung jawab langsung kepada Tuhan.

Lukas 12:31 , "Tetapi carilah kerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu."

Masa remaja masa yang bisa berpotensi menimbulkan kecemasan karena remaja mulai memikirkan masa depan, mulai memikirkan hal-hal yang biasanya mereka yakini. Ditandai dengan banyak pergumulan, pergolakan, kecemasan, pertanyaan, dan kekhawatiran. Kita bisa menegaskan terus-menerus kepada anak remaja, bahwa tugas utamanya adalah mencari kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semua yang mereka khawatirkan, pikirkan nanti akan Tuhan atur dan akan Tuhan jawab. Jadi penting sekali bagi orang tua membimbing anak remaja untuk mulai menyerahkan hidupnya kepada Tuhan di mana kecemasan dan kekhawatiran adalah bagian dari hidup ini.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pembentukan jati diri. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, mungkin banyak di antara para pendengar, khususnya pecinta acara Telaga ini yang punya anak remaja. Yang disebut anak remaja baik pria maupun wanita itu batasannya bagaimana, Pak?

PG : Biasanya kita menggolongkan remaja pada usia sekitar 11-12 tahun hingga 20 tahun, ada yang menyebut usia 11-12 sebagai pra remaja dan ada yang sudah memasukkannya sebagai kategori remaja.

GS : Itu yang terukur dari usia, tetapi apakah ada hal-hal yang bisa diindikasikan dalam diri seorang remaja?

PG : Secara fisik remaja memang dibedakan dari anak-anak yaitu kita bisa melihat dari pertumbuhan yang cukup pesat pada usia-usia sekitar 11-12 tahun, terus sampai usia sekitar 18 hingga 20 tahn.

Jadi pada usia sebelumnya tidak melihat perbedaan yang terlalu mencolok namun tatkala memasuki usia sekitar 11-12, tiba-tiba kita melihat anak kita seperti menggelembung, makin membesar dengan begitu cepat, itulah salah satu ciri fisiknya. Dari pertumbuhan yang pesat itu remaja dibedakan dari anak-anak dalam pengertian, kemampuan berpikirnya jauh lebih abstrak dibandingkan pada masa kanak-kanak yang sangat konkret. Pada masa ini anak-anak remaja mampu untuk melihat ke depan, membayangkan apa yang terjadi di masa yang akan datang. Mulai bisa bercita-cita, kalau anak kecil memang bisa bicara atau berkata saya mau jadi dokter, menjadi insinyur namun sebetulnya belum mempunyai gambaran yang begitu pasti atau jelas tentang yang dikatakannya itu. Berbeda dengan anak-anak remaja pada usia belasan tahun, waktu dia berkata saya akan menjadi apa atau apa, dia sudah mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang apa yang diinginkannya pada masa depan. Selain itu masa remaja diidentikkan dengan masa mempertanyakan nilai-nilai kepercayaannya, nilai-nilai moralnya, mempertanyakan yang sudah diwariskan kepadanya, kenapa harus seperti ini, kenapa bukan seperti itu, nah itu adalah bagian kehidupan remaja yang relatif wajar. Berteman juga merupakan ciri yang khas pada masa remaja di mana sebelumnya remaja menggantungkan konsep dirinya pada anggapan yang diberikan orang tua, sedangkan pada masa remaja anak-anak sangat menggantungkan konsep dirinya pada penilaian yang diberikan oleh teman-temannya. Sehingga kita melihat pada masa remaja mereka lebih mementingkan teman daripada orang tua. Ada banyak hal lain yang saya kira bisa kita ungkap tentang masa remaja, Pak Gunawan.
GS : Kalau kita pernah atau sedang punya anak yang memasuki usia remaja, pada umumnya sebagai orang tua kita mengeluh betapa sulitnya mendidik dan mendampingi remaja. Tapi sebaliknya remaja pun saya rasa mempunyai pergumulan-pergumulannya sendiri, sejauh mana hal itu terjadi, Pak Paul?

PG : Apa yang Pak Gunawan katakan memang tepat sekali, pada masa remaja orang tua memasuki suatu fase yang sangat berbeda dari fase sebelumnya. Jadi memang pernikahan itu dibagi dalam fase-fase fase sebelum mempunyai anak, fase tatkala anak berusia balita hingga 12 tahun, dan fase berikutnya adalah pada waktu anak-anak berusia remaja.

Fase anak-anak berusia remaja merupakan fase yang sangat menantang bagi orang tua, karena orang tua akan menerima tantangan dari remaja, mereka akan mempertanyakan kenapa saya tidak boleh pergi. Pada usia sebelumnya, anak-anak kecil tidak akan bertanya seperti itu, kenapa saya harus di rumah, kenapa saya tidak boleh ke rumah si ini dan sebagainya. Orang tua yang tidak terbiasa dengan sikap remaja akan mempertanyakan apa yang mereka telah putuskan, biasanya bereaksi dengan cukup keras ya, bisa-bisa remaja itu ditekan supaya tidak mempunyai suara atau kalau sudah kehilangan akal ada orang tua yang akhirnya lepas tangan, membiarkan anak remaja berbuat semaunya. Nah, kita tahu kedua sikap yang ekstrim itu tidak tepat, Pak Gunawan. Jadi penting sekali agar orang tua mampu berdiri di tengah, mengatur agar remaja itu mulai bisa mengembangkan sayap, belajar mandiri, atau otonom di pihak lain tapi tetap tunduk pada instruksi atau permintaan orang tuanya.
GS : Mungkin kita sebagai orang tua, misalnya sampai 10 tahun bisa seperti ini, remaja 'kan 11-12 tahun. Maksudnya selama 10 tahun kita terbiasa mendidik anak dengan hal-hal yang seperti kita diktekan dan dia menurut, dia manis. Lalu tiba-tiba tadi Pak Paul katakan, anaknya menggelembung terlalu cepat dan kita tidak siap untuk mengantisipasi seperti itu. Apakah itu yang terjadi pada diri orang tua juga?

PG : Saya kira demikian Pak Gunawan, jadi orang tua maupun remaja tiba-tiba merasakan bahwa mereka tidak siap untuk hidup dengan satu sama lain. Tiba-tiba baik anak maupun orang tua merasakan bhwa di pihak yang satu, maksudnya di pihak yang lainnya mereka merasa tidak dimengerti.

Jadi anak-anak remaja merasakan orang tua tidak mengerti diri mereka dan tidak mau mengerti tentang mereka. Saya pernah membaca satu buku yang ditulis kalau tidak salah oleh Jay Cassler menekankan bahwa remaja mempunyai satu keluhan utama. Dan keluhan itu, keluhan utama remaja namun di pihak lain saya sekarang sebagai orang tua anak remaja bisa berkata bahwa kita-kita pun sebagai orang tua tidak merasa dimengerti oleh anak remaja kita.
GS : Nah, Pak Paul banyaknya pertanyaan yang muncul di dalam diri anak itu sebenarnya dalam rangka apa?

PG : Sebetulnya semua itu adalah proses pembentukan dirinya, Pak Gunawan dan itu justru adalah suatu proses yang alamiah, yang seharusnya terjadi dan yang baik. Justru kalau tidak terjadi, sebeulnya itu bukanlah gejala yang kita harapkan.

Jadi pada masa ini remaja secara natural akan mulai banyak mempertanyakan, mempertanyakan keputusan yang kita yakini, dan itu adalah untuk membangun dirinya juga.
(2) GS : Nah kalau Pak Paul katakan tadi. itu dalam proses pembentukan dirinya tentu saja tidak terjadi sekaligus, yang dinamakan proses tentunya bertahap. Dalam proses pembentukan diri remaja itu ada berapa tahap?

PG : Untuk membentuk jati diri remaja, remaja itu harus melalui sekurang-kurangnya dua fase, Pak Gunawan. Fase yang pertama saya sebut fase pembedaan. Pembedaan artinya remaja mulai melihat dirnya berbeda, tidak mau dilihat terlalu sama dengan orang tua.

Misalkan dulu orang tuanya meminta dia berpakaian pakaian-pakaian yang tertentu ya, dia akan memakainya dan menurut kata-kata orang tuanya. Pada usia remaja dia mulai menolak, dia akan berkata kuno, bukan modelnya, ibu tidak mengerti zaman dan sebagainya. Dengan perkataan lain, anak remaja mulai ingin dibedakan dari orang tua, nah ini sekaligus adalah hal yang positif bukan hal yang negatif. Karena memang dia mulai mengepakkan sayap keluar dari sarang, jadi salah satu caranya untuk lepas dari naungan orang tua adalah tampil beda dari orang tuanya. Selain dari membedakan diri dengan orang tua, remaja juga mencoba membedakan diri dengan teman-temannya. Di sini ada dua hal yang terjadi sekaligus, di satu pihak remaja ingin seperti teman-temannya, jadi pada umumnya dia ingin seperti teman-temannya tidak mau terlihat terlalu berbeda, namun untuk hal-hal tertentu dia sesungguhnya ingin tampil beda dari teman-temannya. Jadi misalkan seorang anak remaja yang tinggi badannya, hampir sama dengan rekan-rekan seusianya mungkin misalnya waktu bergaul dengan teman-teman putrinya dia akan tampil lebih diam padahal dia bukan orang yang terlalu diam. Tapi waktu dia lihat teman-temannya ramai di depan teman-teman putri dia sengaja untuk diam, dia tidak mau terlalu ramai seperti teman-temannya atau hal-hal yang lainnya kecil-kecil seperti itu yang dia bisa lakukan. Pada intinya adalah dia ingin dilihat berbeda, nah ini terutama dia ingin dilihat berbeda di hadapan teman-teman putri sebab menjadi oknum atau faktor yang penting dalam pembentukan jati dirinya pada saat-saat seperti ini.
GS : Kalau kesadaran bahwa memang dia berbeda secara lawan jenis itu sudah lampau atau juga masuk pada saat ini?

PG : Dia sudah melewatinya, jadi pada usia remaja anak-anak itu sudah tahu bahwa dia itu berbeda dengan lawan jenisnya. Perbedaan lawan jenis itu biasanya disadari pada usia sekitar 4, 5 tahun.

GS : Kalau dengan saudara-saudaranya, apakah dia merasa berbeda?

PG : Nah ini juga sama, jadi lain dari orang tua yang berkaitan dengan keluarga adalah hal yang harus dia bedakan. Dia tidak begitu suka kalau ibunya atau ayahnya memberikan baju yang sama, kecali anak kembar yang mungkin tidak ada pilihan lain.

Tapi kalau tidak anak kembar, orang tua memberikan baju yang sama, sepatu yang sama, pada umumnya anak remaja tidak terlalu suka, karena sekali lagi dia mau dibedakan. Jadi dengan perkataan lain, dia melihat dirinya itu istimewa atau melihat dirinya itu unik. Nah pembentukan jati diri harus dilandasi dengan fondasi yang pertama yaitu fondasi keunikannya, keistimewaannya yang lain dari keistimewaan yang lain-lainnya. Saya bisa berikan contoh dari anak-anak saya sendiri Pak Gunawan, saya mempunyai 3 anak. Kadang-kadang dalam percakapan kami berkata kepada satu anak, kamu ini mempunyai kemampuan misalnya saya sebut apa dan ini kemampuan yang baik sekali. Nah hampir dapat dipastikan saudaranya akan langsung bertanya, "kalau saya apa", "kalau saya apa". Dan kalau misalkan kami berkata: "o... sama, engkau juga mempunyai kemampuan yang sama" saya bisa melihat wajah yang kecewa, sebab yang mereka harapkan adalah sesuatu yang berbeda.
GS : Itu adalah tahap atau fase yang pertama Pak Paul, tadi Pak Paul katakan sedikitnya ada 2 fase, fase yang berikutnya apa Pak?

PG : Fase berikutnya adalah fase perbandingan, nah setelah remaja itu melewati fase pembedaan bahwa dia itu berbeda dari orang lain dan disitulah dimulai proses pembentukan jati dirinya untuk mmasuki fase perbandingan.

Perbandingan maksudnya dia menyoroti dirinya dari segi persamaannya dengan orang lain, sebab akhirnya dia menyadari bahwa tidak terlalu banyak hal yang membedakan dari orang lain. Mayoritas yang akan dia temukan justru persamaan, ini baru disadari oleh remaja pada fase berikutnya. Dia melihat dia bisa bermain gitar, temannya bisa bermain gitar, dia bisa berenang, temannya bisa berenang, jadi pada masa-masa berikutnya justru dia menemukan kesamaan-kesamaan antara dia dan temannya. Namun dalam hal kesamaan ini, dia juga mulai membandingkan kualitas kemampuannya. Kualitas artinya berapa baiknya atau berapa buruknya. Misalkan sama-sama suka matematika, nah dia mulai mengukur siapa yang lebih tinggi angka matematikanya. Berenang, dia mengukur siapa yang berenang lebih cepat dan sebagainya, nanti misalnya sudah umur 17, 18 tahun mulai menyukai lawan jenisnya baik pria maupun wanita misalnya. Mulai jugalah terjadi persaingan di sini, siapa yang disukai oleh si gadis atau si pria tersebut, dia mencoba untuk bersaing karena dia menemukan bahwa dia menyukai orang yang sama dengan temannya. Di sini remaja tidak bisa tidak harus membandingkan dirinya, namun dalam hal yang sama dan dari segi kualitasnya, Pak Gunawan.
GS : Sering kali di kamar anak-anak remaja ada gambar-gambar yang rasanya menjadi idola dia, baik pria maupun wanita. Nah itu adalah fase membandingkan atau membedakan?

PG : Sebetulnya itu adalah fase membandingkan, Pak Gunawan, jadi dia ingin menjadi seperti orang lain yang dia anggap mempunyai kesamaan dengan dia. Misalnya waktu dia memilih penyanyi, dia memlih penyanyi yang kebetulan menyanyikan lagu-lagu yang dia gemari, jadi tipe lagunya memang yang dia gemari, dia akan mencoba untuk menjadi seperti dia, pada usia-usia remaja hal ini adalah hal yang wajar.

Namun kalau si remaja akhirnya tidak bisa menerima bahwa dia itu kurang, dibandingkan temannya misalnya tadi tentang matematika bahwa temannya lebih tinggi daripada dia, dia bisa mengalami goncangan di sini. Yang ideal atau yang sehat adalah si remaja berhasil menerima keterbatasannya bahwa "ya saya dengan dia sama-sama menyenangi matematika tapi dia lebih baik, kami sama-sama tinggi tapi dia lebih tampan daripada saya, kami sama-sama naik motor tapi motornya lebih bagus daripada motor saya." Nah hal-hal seperti itu harus menjadi pergumulan remaja sebab awalnya dia ingin tetap istimewa. Ini adalah bawaan dari fase sebelumnya itu fase beda, fase istimewa saya ini unik. Lama-kelamaan dia mulai melihat dia tidak terlalu unik, jadinya banyak sama dengan orang-orang lain. Dalam kesamaan itu dia sebetulnya tetap ingin menonjol, tetap ingin istimewa, nah dengan cara mengukur diri, mudah-mudahan kualitasnya atau kemampuannya lebih baik daripada temannya. Kalau tidak berhasil mencapainya maka dia harus mengakuinya, ini yang sehat, belajar menerima keterbatasannya. Jadi dengan perkataan lain, Pak Gunawan, fase pertama kalau berhasil dilewati dia berhasil membedakan dirinya, mengakui keunikannya, dia akan bisa menemukan siapa dia berdasarkan keistimewaan atau keunikannya. Namun harus disertai dengan fase berikutnya yakni dia bisa mengakui keterbatasannya atau kekurangannya dan mampu menerima dirinya meskipun dia melihat kekurangan pada dirinya itu. Keduanya ini menjadi suatu keseimbangan, Pak Gunawan, keseimbangan yang akan membuat dirinya itu diri yang utuh. Jadi memang harus ada keseimbangan antara keduanya, nah inilah jati diri yang sehat, Pak Gunawan.
(3) GS : Jika remaja sedang dalam proses yang berat, peran orang tua sebaiknya sejauh mana?

PG : Peran yang pertama adalah dia harus memahami, ini yang sedang dilewati oleh remaja. Jadi misalkan remaja mulai memberontak, jangan tergesa-gesa kita mau menggilasnya, melarangnya, makin megencangkan genggaman kita pada dia, saya kira itu makin merusak si remaja.

Makin membuat si remaja itu tertekan, mengkerut kalau dia tidak bisa melawan dan dia akan mencari-cari kesempatan di luar pengetahuan orang tua atau kalau dia merasa kuat dan memang dia berkarakter lebih keras dia lawan, berontak sehingga hari lepas hari akan diisi dengan pertengkaran, itu juga tidak sehat. Jadi orang tua harus menerima fakta bahwa remaja akan mulai melawan mereka, mempertanyakan, memberontak dan kalau kita bisa sesuaikan justru merupakan hal yang sehat bagi si remaja, menjadikan dia sebagai seseorang yang dewasa.
GS : Cuma memang pada masa-masa itu kekhawatiran orang tua menjadi lebih besar, Pak Paul, karena dia sudah mulai besar, bisa pergi sendiri, ketergantungannya makin berkurang, seolah-olah kita sebagai orang tua kehilangan kontrol terhadap anak remaja kita.

PG : Saya kira perasaan hilang kontrol akan kita alami sebab tiba-tiba dia tidak lagi kasat mata, dulu ke mana-mana kita yang pegang tangannya, kita yang antar, sekarang dia pergi sendiri, tibatiba dia pulang.

Berjam-jam dia tidak hadir di depan mata kita dan itu memang mencemaskan dan kita mulai merasakan ada yang terhilang di sini. Kita seolah-olah tidak bisa lagi menjaga atau mengontrolnya, tapi seharusnyalah memang begitu, Pak Gunawan. Jadi yang penting adalah perbedaan antara sebelum remaja dan sesudah memasuki fase remaja, orang tua lebih menuntut pertanggungjawaban. Artinya lebih diberikan kebebasan kepada remaja melalui prosesnya, kita tidak perlu terlalu mencampuri langkah demi langkah proses itu. Kita lebih meminta dia memberikan tanggung jawabnya, misalnya dia ingin pergi dengan teman-temannya, nah kita perlu tahu dengan teman-temannya yang mana, itu baik buat kita. Jadi jangan sampai remaja pergi dan hanya berkata dengan teman, o... tidak, teman punya nama, teman punya orang tua, teman juga punya rumah, kita ingin tahu itu semuanya. Tapi setelah itu dan kita tahu dia mau pergi ke mana ya sudah, kemungkinan besar dia akan mengatakan pergi ke tempat misalnya nonton film. Tapi kebanyakan remaja tidak hanya mengunjungi bioskop, dalam perjalanan dan setelah pulang dari bioskop mungkin akan ada 3,4 tempat lain yang akan mereka kunjungi. Kita tidak perlu terlalu mencari-cari informasi tempat-tempat apa itu, misalkan kita tahu anak-anak kita memang bergaul dengan anak-anak yang baik dan kita bisa mencari tahu dengan lebih santai di waktu yang lain. Waktu dia pulang kita tidak perlu menginterogasi dari mana saja, ke mana saja, sudah pasti kebanyakan remaja akan pergi ke rumah teman-temannya, ke rumah si A, ke rumah si B, baru nanti nonton. Dari nonton pergi makan dulu atau minum dulu atau apa baru akhirnya pulang ke rumah. Jadi tuntutlah pertanggungjawaban, dia mengatakan akan pulang jam 12.00 kita minta dia pulang jam 12.00, apabila dia lalai kita perlu menegurnya. Tapi untuk detailnya kita lebih berikan dia kebebasan, sekali-sekali dalam pembicaraan kita bisa menanyakan "Kamu ke mana saja kalau pergi?" "O.....kami kadang-kadang ke rumah si A, rumah si B", Baik, asal kita tahu jalurnya sudah benar kita tidak perlu terlalu mencampuri detail-detailnya.
GS : Selain itu bimbingan rohani apa yang bisa kita berikan pada anak kita? Kita sebagai orang yang percaya tentu ingin menanamkan konsep-konsep spiritual yang benar.

PG : Yang penting adalah anak-anak remaja perlu tahu bahwa dia bertanggung jawab langsung kepada Tuhan. Dan konsep ini kita tanamkan sebelum dia menginjak usia remaja, artinya dia bertanggung jwab bukan saja kepada orang tua tapi kepada Bapanya yang di surga.

Bahwa ada hal-hal yang dia akan lakukan yang sebetulnya melanggar peraturan kita, tapi kita memang tidak bisa mengetahuinya dengan pasti, namun ada Allah Bapa yang mengawasinya. Hal itu perlu diingat oleh anak remaja dan perlu ditanamkan dari kecil, bahwa ada Tuhan yang mengawasi mereka dan mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan.
GS : Seringkali di dalam pertanyaan-pertanyaan dia mempertanyakan imannya, mempertanyakan Allah dan sebagainya, kadang-kadang sebagai orang tua tidak bisa menjawab semuanya, Pak Paul. Nah apa seharusnya yang dilakukan orang tua kalau sudah begitu?

PG : Kalau tidak bisa menjawab, kita bisa berkata, "Boleh tidak nanti Mama atau Papa mencari jawabannya dulu". Kami akan belajar atau bertanya pada hamba Tuhan, atau kita ajak dia bersama-sama ertanya kepada seorang hamba Tuhan atau seorang majelis yang lebih mengerti tentang firman Tuhan, nah itu bisa kita jadikan proyek bersama.

Atau kita bisa katakan terus terang memang saya tidak bisa katakan dengan apa adanya kepada dia. Ketakutan kita salah satunya adalah anak kita akan meninggalkan iman kepercayaan kita, kita sangat mengkhawatirkan itu, tapi saya kira yang paling penting dari kecil kita tanamkan, kita tanamkan terus-menerus bibit firman Tuhan dalam hidupnya. Waktu sudah remaja kita bimbing dia, kalau dia memang mulai goyah atau apa ingat baik-baik jangan sampai kita datang kepadanya dengan palu dan godam, kemudian kita menghantamnya supaya dia jera, takut dan tidak berani meninggalkan iman kita, saya kira caranya bukan begitu. Biarkan dia bergumul, biarkan dia bertanya tapi selalu tegaskan bahwa Tuhan mengasihi dia, bahwa Tuhan telah mati untuk dosanya dan Tuhan tidak akan meninggalkan dia. Jadi itu yang kita tekankan pada dia, dengan cinta kasih kita berikan pada dia.
GS : Mungkin mereka lebih banyak juga berkumpul dengan teman-temannya dan sebagainya, sering kali terjadi banyak anak-anak lain dari latar belakang agama yang berbeda lalu mulai mempertanyakan imannya itu tadi, Pak Paul. Tetapi itu juga dalam rangka dia membentuk jati dirinya sebagai seseorang yang utuh nantinya.

PG : Betul, jadi dalam tanya jawab dengan remaja, sewaktu dia mempertanyakan tentang iman kepercayaan yang lain. Saya kira penting bagi kita memberikan sikap yang positif, artinya tidak baik kia ini menjelek-jelekkan iman kepercayaan yang lain.

Sebab apapun yang kita katakan kalau kita menjelek-jelekkan iman kepercayaan yang lain, anak-anak kita atau remaja-remaja di rumah kita akan bisa berkata, "Engkau memiliki kasih Tuhan tetapi engkau menjelekkan orang seperti itu". Jadi kita benar-benar tidak akan mencerminkan firman Tuhan yang meminta kita mengasihi orang, hati-hati dalam hal seperti ini. Jadi sikap yang positif saya kira penting untuk kita berikan kepada anak-anak remaja kita.
GS : Pada masa-masa itu mereka juga mulai senang untuk berdiskusi atau berdebat Pak Paul, apa itu memang masanya?

PG : Memang masanya dan silakan jawab serasional mungkin, seobjektif mungkin. Saya bisa maklum karena kadang mungkin kita juga bisa tertantang untuk tidak sabar dan sedikit jengkel karena kadan-kadang mereka memojokkan kita, sengaja membuat kita marah atau apa, yang secara natural mungkin kita marah-marah lagi.

Tapi sebisanya kita tidak berdebat, kita hanya paparkan dan kalau memang selesai, ya selesai. Kita tidak tahu, ya tidak tahu, sehingga si remaja akhirnya melihat yang paling penting adalah contoh kehidupan arang tuanya. Bahwa orang tuanya bukan saja membicarakan tentang Tuhan, tapi orang tuanya mempunyai Tuhan dalam hidupnya. Nah ini yang akan berbicara sangat keras, sangat-sangat efektif ke dalam kehidupan seorang remaja.
GS : Memang sulit bagi orang tua maupun bagi remaja sendiri pada masa-masa seperti itu. Dan saya yakin sekali bahwa Tuhan juga memberikan bimbingan melalui firmanNya, baik kepada kita maupun kepada para remaja. Mungkin ada firman Tuhan yang mau dibagikan kepada kita, Pak Paul?

PG : Saya akan membacakan dari Lukas 12:31 , "Tetapi carilah kerajaanNya maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu." Masa remaja adalah masa yang bisa berpotensi menmbulkan kecemasan, karena remaja mulai memikirkan masa depan, hal-hal yang biasanya mereka yakini.

Jadi ditandai dengan banyak pergumulan, pergolakan, kecemasan, pertanyaan, dan kekhawatiran juga bisa mulai muncul. Kita bisa menegaskan sekali lagi dan terus-menerus kepada anak remaja bahwa tugas utamanya adalah mencari kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semua yang mereka khawatirkan, pikirkan nanti akan Tuhan atur, nanti akan Tuhan jawab. Jadi penting sekali bagi orang tua membimbing anak remaja untuk mulai menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, di mana kecemasan dan kekhawatiran adalah bagian dari hidup ini.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang pembentukan jati diri remaja. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



15. Masalah-Masalah yang Dihadapi Remaja dalam Pembentukan Jati Dirinya


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T076B (File MP3 T076B)


Abstrak:

Yang menjadi salah satu penyebab kegagalan bagi seorang remaja memenuhi proses pembentukan jati dirinya adalah keminderan baik secara fisik dan terlebih keminderan dalam setiap aspek kehidupannya.


Ringkasan:

Kata kunci: membangun diri remaja Membangun diri remaja bukanlah dimulai pada saat anak itu menginjak remaja, membangun diri remaja dimulai jauh lebih dini pada masa anak-anak itu kecil. Waktu dia mulai menyadari kebisaannya, kemampuannya, kekhususannya, itu menjadi fondasi, menjadi informasi yang dia akan gunakan membentuk jati dirinya bahwa dia mempunyai keistimewaan.

Seandainya remaja itu gagal menerima keterbatasan dirinya atau kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, dan dia tidak mengakui itu sebagai suatu kekurangan. Ada dua reaksi yang akan muncul:

  1. Reaksi pertama, dia akan menyangkali keterbatasannya, dia mencoba menutupi kekurangannya
  2. Reaksi kedua, dia justru akan menyoroti atau membesarkan keterbatasannya, dia akan membesar-besarkan kebisaannya di mana dia itu bisa dikenali atau dihargai. Ini kebalikan dari yang pertama, di sini dia mencoba untuk mendapatkan pengakuan atas kelebihan-kelebihannya itu.
Dengan kata lain kedua reaksi ini merupakan 2 ekstrim: Yang pertama ciut, tidak berani keluar sama sekali, menutup diri dan menjauhkan diri dari pergaulan. Yang kedua menggelembung atau mekar karena dia mencoba membesarkan dirinya.

Keminderan itu ada dua jenis:

Dalam masa-masa seperti ini peran mereka yang lebih senior, baik orang tua, guru pendampingnya, atau pembina rohaninya besar sekali.

Namun saya kira, kita perlu juga melihat perlakuan negatif yang kadang kala dilakukan baik oleh orang tua maupun oleh guru:

  1. Tanggapan negatif seperti celaan-celaan, penolakan-penolakan yang diberikan kepada si anak itu akhirnya bukan saja membuat dia merasa tidak memiliki keistimewaan, dia malahan merasa tidak mempunyai apapun yang positif, karena celaan sering kali dia dengar, kritikan sering dilontarkan, kemarahan atas kekurangannya sering juga diekspresikan.
  2. Adakalanya orang tua sibuk, karena sibuk tidak terlalu banyak bergaul dengan anak, akhirnya kurang memberikan tanggapan kepada anak.
  3. Yang terakhir adalah yang juga sama bahayanya adalah tanggapan yang positif tapi berlebihan.

Lukas 12 : 42 "Jadi siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana, yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang."

Penekanan di sini adalah hamba yang melakukan tugasnya itu. Kita sebagai orang tua juga dituntut untuk tetap setia kepada Tuhan dalam melakukan tugas kita. Tugas kita nomor satu adalah mendidik anak-anak di rumah, jangan sampai Tuhan datang dan waktu Tuhan menanyakan tentang anak-anak kita kaget. Kita kaget karena anak-anak kita tahu-tahu sudah begitu jauh dari Tuhan dan mempunyai nilai-nilai hidup yang berkebalikan dari yang Tuhan berikan kepada kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang masalah-masalah yang dihadapi remaja dalam pembentukan jati dirinya. Bagian ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu, tentang pembentukan jati diri remaja. Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita sudah memperbincangkan tentang pembentukan jati diri remaja. Dan sebelum kita masuk kepada pembahasan mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh para remaja di dalam pembentukan jati dirinya, mungkin secara singkat Pak Paul bisa mengulang apa yang kita bicarakan pada waktu itu.

PG : Ada 2 fase yang harus dilewati oleh remaja untuk membangun jati dirinya. Yang pertama adalah fase pembedaan. Dalam fase pembedaan ini dia melihat dirinya berbeda baik dari orang tua, kkak adiknya maupun dari teman-temannya.

Nah kalau dia berhasil melihat bahwa dirinya itu berbeda dan ada hal-hal yang membedakan antara dia dengan orang lain, maka mulailah terbentuk rasa keunikan bahwa dengan adanya dia merupakan sesuatu yang khusus atau istimewa. Setelah itu dia akan memasuki fase berikutnya yaitu fase perbandingan, perlahan-lahan dia menyadari bahwa ternyata dia dan orang lain lebih banyak kesamaannya daripada perbedaannya. Dalam hal kesamaan itulah dia juga membandingkan dirinya untuk mengetahui siapa yang lebih baik. Misalkan dia suka matematika dan temannya juga suka matematika, nah dia mulai akan bersaing siapa yang lebih tinggi angkanya. Kalau dia menemukan bahwa dirinya tidak sebaik temannya, sudah tentu akan merasa sedikit kecewa atau apa tapi itu adalah hal yang wajar dan seharusnya, karena pada fase ini tugas utama remaja adalah menerima keterbatasannya. Jadi kalau yang pertama dia melihat keunikannya, yang kedua adalah dia perlu juga menyadari dan menerima keterbatasan atau kekurangannya. Kedua hal ini menjadi suatu keseimbangan yang membuat jati dirinya itu lengkap, utuh dan tidak berat sebelah.
(1) GS : Di dalam proses itu tadi Pak Paul katakan kalau dia berhasil, itu berarti ada kemungkinan dia tidak berhasil atau gagal di dalam proses yang pertama maupun yang kedua. Apakah yang menjadi masalahnya, Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi kalau remaja itu berhasil dia akan keluar dari fase ini sehingga mempunyai jati diri yang sehat dan kuat. Kalau dia gagal akan ada problem. Misalkan kalau dia gaal melewati fase yang pertama yaitu fase pembedaan, dia tidak melihat dirinya istimewa, dia tidak melihat dirinya itu memiliki keunikan, dia merasakan dirinya tidak mempunyai apa-apa yang bisa sedikit menyenangkan atau dia banggakan.

Nah apa hasilnya tatkala anak remaja sampai pada kesimpulan seperti ini, tidak bisa tidak dia akan merasa dirinya minder, tidak punya apa-apa, tidak ada yang bisa dia banggakan atau tidak ada yang bernilai. Tindakan apa yang dia akan lakukan, karena orang tidak bisa hidup dalam kekosongan dan merasa diri itu jelek. Biasanya dia akan mengadopsi diri yang lain, dia hanya akan menelan bulat-bulat dari temannya, idolanya, pemimpin kelompoknya atau dia menjadi suatu anggota kelompok. Dia akan menjadikan jati diri kelompoknya, "trade mark" kelompoknya seolah-olah seperti dia. Maka sering kali kita bicara bahwa anak-anak yang lemah, yang jati dirinya tidak kuat mudah sekali dipengaruhi oleh anak-anak yang lain, dan itu memang betul. Karena diri yang belum terbentuk belum melihat keunikan atau keistimewaannya, sering kali mencari diri yang lain untuk diadopsinya yang dijadikan penggantinya, sehingga akhirnya dia tetap merasa punya diri, punya keistimewaan. Meskipun sebetulnya bukan dia yang istimewa, namun diri idola itulah atau kelompoknyalah yang dianggap istimewa, tetapi semuanya itu seolah-olah dia transfusikan kepada dirinya sehingga dia tetap merasa istimewa juga.
GS : Sebenarnya itu adalah sesuatu yang merugikan untuk si remaja, Pak Paul. Kalau kita sebagai orang tua mengetahui bahwa anak remaja kita sedang kesulitan dari pembedaan keistimewaan di dalam dirinya, apakah tepat kalau suatu saat kita memberikan masukan kepadanya bahwa sebenarnya dia sangat menonjol di salah satu bidang atau di dalam dirinya?

PG : Itu sangat baik sekali, Pak Gunawan dan seyogyanya hal ini sudah diberikan orang tua jauh hari sebelumnya. Jadi kalau baru diberitahukan setelah anak itu berusia 15 tahun sudah terlamba sebetulnya, karena sudah terlanjur dia merasa dirinya kosong dan untuk mengisinya susah.

Jadi memang membangun diri remaja bukanlah dimulai pada saat anak itu menginjak remaja. Membangun diri remaja dimulai jauh lebih dini yaitu pada masa anak-anak itu kecil. Waktu dia mulai menyadari kebisaannya, kemampuannya, kekhususannya, nah itu menjadi fondasi, menjadi informasi yang dia akan gunakan untuk membentuk jati dirinya bahwa dia mempunyai keistimewaan itu. Bagaimana kalau kita terlambat, kita baru menyadarinya sekarang tapi anak kita sudah terlanjur tidak mempunyai diri, ikut-ikutan teman sehingga benar-benar teman-temannya itu seperti Tuhannya. Apa yang dikatakan teman selalu diikuti, temannya pakai apa ya dia ikut, atau kelompoknya seperti apa, dia harus seperti apa. Apa yang harus kita lakukan? Kalau dia mulai terlibat dalam hal-hal yang membahayakan jiwanya atau merusakkan dirinya, misalnya terlibat dalam narkoba, saya kira kita harus dengan tangan yang keras memisahkan dia dari kelompoknya. Tidak ada pilihan lain kalau memang anak kita sudah mulai terjerumus ke dalam hal-hal yang sangat destruktif. Tapi kalau kita lihat memang belum sejauh itu, saya kira pendekatan yang lebih baik bukanlah pendekatan yang langsung, yang keras tapi pendekatan yang lebih lembut, yang lebih mau membuat dia bersahabat dengan kita. Sering bicara, ajak dia pergi, berbicara dari hati ke hati dan dari situ kita mulai membuka jalur komunikasi untuk menyampaikan kepadanya tentang kekhususannya, keistimewaannya dan kita adalah orang yang benar-benar menghargai kekhususannya itu. Dan kita mau dia menyadari dan mengetahui bahwa dia adalah orang yang memiliki keistimewaan tersebut. Saya pikir itu caranya, jadi jangan terlalu keras memisahkan dia, kecuali memang dia sudah jauh terlibat dalam kasus-kasus yang sangat destruktif.
GS : Jadi sebenarnya peranan orang tua masih bisa berguna di sana untuk menolong anak menemukan jati dirinya atau kembali kepada proses yang benar ya, Pak Paul?

PG : Pasti bisa, betul.

(2) GS : Bagaimana kalau remaja itu gagal menerima keterbatasan dirinya atau kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya dan dia tidak mengakui itu sebagai suatu kekurangan, Pak Paul?

PG : Ada dua reaksi Pak Gunawan, kalau dia gagal untuk mengakui keterbatasannya. Reaksi yang pertama adalah dia akan menyangkali keterbatasannya, dia mencoba menutupi kekurangannya. Nah, bis juga karena dia takut sekali kekurangannya diketahui, dia menarik diri dan dia bersembunyi dengan cara menutup dirinya.

Ini merupakan jalan aman untuknya, supaya kekurangannya tidak diketahui dan dia tidak harus merasa malu. Namun ekstrim satunya adalah dia akan justru menyoroti atau membesarkan keterbatasannya, dia akan membesar-besarkan kebisaannya dimana dia bisa dikenali atau dihargai. Jadi kebalikan dari yang pertama dia justru di sini mencoba untuk mendapatkan pengakuan atas kelebihan-kelebihannya itu. Dengan perkataan lain, dua ekstrim itu yang pertama mengecil, sedangkan yang kedua menggelembung, karena dia mencoba membesarkan dirinya. Kadang-kadang kita melihat kasus ini pada anak-anak yang bermasalah, yang suka berkelahi, yang tidak bisa sekolah tapi justru bermulut besar. Membanggakan diri seolah-olah dia adalah murid yang paling pandai sedunia dan sebagainya. Nah, salah satu cirinya, membesarkan diri. Namun dalam dirinya yang dibesar-besarkan itu sesungguhnya terdapat satu jiwa yang sangat miskin, yang tidak percaya diri sama sekali, yang tidak tahu siapa dirinya. Reaksi yang pertama adalah tidak berani keluar sama sekali, menutup diri dan menjauhkan diri dari pergaulan.
GS : Kedua-duanya tidak mencerminkan dirinya sendiri ya, Pak Paul?

PG : Tepat.

GS : Karena yang satu mengecilkan, yang satunya lagi membesar-besarkan. Nah bagaimana remaja itu akan mengatasi yang tadi Pak Paul katakan, kalau tidak menemukan dia akan rendah diri atau minder?

PG : Pertama-tama saya ingin menjelaskan sedikit tentang keminderan, Pak Gunawan. Keminderan itu ada dua jenis, jenis yang pertama saya sebut sajalah keminderan lokal. Keminderan lokal adala rasa kurang pada hal yang spesifik, misalnya: kita merasa kurang bisa memimpin kelompok diskusi, kita kurang bisa berdiri di muka umum, kita kurang bisa untuk bernyanyi.

Saya kira perasaan-perasaan seperti itu tidak apa-apa karena untuk hal yang spesifiklah, kita merasa terbatas atau kurang bisa atau minder. Yang berbahaya atau yang tidak sehat adalah keminderan global yaitu keminderan menyeluruh di mana hampir dalam setiap aspek kehidupan kita merasa tidak bisa apa-apa dan anggapan kita tentang siapa kita sangat negatif. Kita merasa kita ini tidak ada nilainya, tidak ada harganya, tidak berarti sama sekali, hina begitu. Akhirnya kita ini paling sering merendah-rendahkan diri kita sendiri, bahwa kita orang yang paling malang di dunia ini. Yang saya maksud tentang keminderan lebih kepada keminderan global ini, Pak Gunawan. Jadi seseorang yang akhirnya benar-benar menjelekkan dirinya dalam segala aspek kehidupan, dia tidak mempunyai nilai. Ini biasanya adalah produk dari kegagalan remaja melewati dua fase itu, fase pembedaan dan perbandingan. Nah biasanya Pak Gunawan, pada fase-fase atau pada kondisi keminderan ini dia justru akan menuntut orang memperhatikannya, tuntutan ini bisa tersirat, bisa langsung tersurat. Ada yang tersurat jadi benar-benar bertingkah, membuat ulah, melakukan banyak persoalan, menciptakan problem di rumah tangga, di sekolah, di masyarakat. Ini adalah suatu tindakan menuntut perhatian dari orang secara tersurat, secara langsung tapi ada juga remaja yang kasusnya dia itu menciut ya, dia tidak berani menutupi semua kelemahan-kelemahannya sehingga tidak berani keluar. Dia sebetulnya minta perhatian dengan cara memelas, menjadi kecil dan perlu dikasihani, tapi dua-duanya sebetulnya adalah contoh jelas di mana mereka meminta perhatian dari orang lain.
GS : Tapi memang menjadi ciri dari remaja itu minta diperhatikan atau menarik perhatian orang, Pak Paul, baik dengan tingkah lakunya yang ekstrim maupun yang tadi Pak Paul katakan dengan memelas dan seterusnya.

PG : Yang wajar adalah seperti ini Pak Gunawan, remaja itu seolah-olah menganggap dia sedang berada di atas panggung dan orang sedang memperhatikannya. Jadi yang lebih wajar adalah seperti tu, dia bukan meminta orang memperhatikannya, tapi dia menganggap orang sedang memperhatikannya.

Maka kadang-kadang dia akan berpakaian aneh, bersikap aneh, potongan rambut aneh karena dia menganggap orang memperhatikannya. Dia itu seorang aktor yang sedang berada di atas panggung, yang saya bicarakan tadi bukannya menganggap orang memperhatikan justru kebalikannya Pak Gunawan, dia menganggap orang tidak memperhatikannya.
GS : Sehingga dia perlu membuat sesuatu untuk menarik perhatian orang. Nah itu akan berdampak nanti kalau dia sudah masuk ke usia dewasa atau pemuda, Pak Paul.

PG : Biasanya akan terus dibawa kalau dia tidak melewati fase ini dengan baik. Misalnya dia berhasil masuk ke sekolah yang lebih baik, sehingga kepercayaan dirinya terobati, teman-temannyapu berbeda atau yang paling drastis atau radikal adalah pertobatan, ini sering terjadi.

Pertobatan memang akan mengubah cara pandang seseorang, nilai hidup seseorang dan tujuan hidup seseorang sehingga hal-hal itu akan membawa dia ke jalur yang sangat berbeda atau kebalikan dari yang sebelumnya.
GS : Itu memang ada yang mengamati, mengatakan pertobatan itu banyak terjadi pada masa remaja dan pemuda Pak Paul, sebenarnya apa kaitannya?

PG : Karena pada masa-masa itu gejolak hidup biasanya cukup berat di kalangan anak-anak remaja, karena hidup itu menjadi tidak terlalu bisa dia kuasai. Dia tidak begitu bisa menguasai kecemaannya akan hari depan.

Orang biasa sebetulnya juga mempunyai kecemasan yang sama, misalkan tentang hari depan namun orang dewasa atau yang lebih matang lebih tidak terlalu khawatir, itu yang kita lihat. Misalkan saya berikan contoh waktu kita melewati krisis moneter dari tahun 1998-2000 saya kira cukup banyak orang tua yang pernah melewati perang tahun '45-an yang tidak terlalu mengkhawatirkan, seperti kita-kita ini yang mungkin lebih muda, karena apa, karena makin tua makin melihat hidup, makin bisa berkata ya tidak sejelek ini atau ya meskipun jelek tapi tetap masih bisa kita lewati. Nah itu berdasarkan pengalaman hiduplah kita bisa berkata seperti itu, remaja belum mempunyai pengalaman hidup seperti itu, belum punya modal untuk bisa beriman seperti itu. Akibatnya bisa lebih cemas, takut akan masa depan dan sebagainya. Pada masa-masa gejolak dan takut ini, mereka cenderung lebih bisa juga menerima bahwa ada Tuhan yang memperhatikan mereka dan yang kedua adalah remaja itu dalam proses pembentukan, pengolahan. Jadi diri mereka belum terlalu kaku, dia belum terlalu menancap sehingga masih bisa berubah dan berpikir. Sehingga waktu dia mendengar firman, mendengar Injil akhirnya dia bisa bertobat kembali.
GS : Kemudian kalau seandainya waktu dia menuntut orang memperhatikan dia tetapi itu pun tidak diperoleh, lalu bagaimana Pak Paul?

PG : Nah ini memasuki tahap yang sakit atau tahap yang tidak sehat, kalau dia tetap merasa orang tidak memperhatikan dia. Reaksinya memang bisa dua, yaitu dia bisa menjadi problem yang lebihbesar bagi masyarakat dengan membuat ulah yang lebih berat lagi, yang lebih serius lagi atau dia mengalami depresi.

Dia murung kehilangan semangat bekerja, tidak ada semangat juang dan menarik diri dari kehidupan dan mengurung diri akhirnya. Sehingga juga menjadi masalah bagi orang lain, biasanya pada tahap itu dia merasakan usahanya untuk memperoleh pertolongan tidak mencapai hasil, semua sia-sia tidak ada yang memperhatikannya dan tidak ada yang mengulurkan tangan untuk menolongnya. Ya sudah percuma.
GS : Sebenarnya dalam masa-masa seperti ini peran mereka yang lebih senior, baik itu orang tua, guru pendampingnya, pembina rohaninya itu besar sekali, ya Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, nah sebelum kita melihat peran positifnya saya kira perlu juga kita melihat peran negatif yang kadangkala dilakukan baik oleh orang tua maupun oleh guru. Yang ertama adalah tanggapan negatif Pak Gunawan, jadi celaan-celaan, penolakan-penolakan yang diberikan kepada si anak itu akhirnya bukan saja membuat dia merasa tidak memiliki keistimewaan, dia malahan merasa tidak mempunyai apapun yang positif, karena celaan sering kali dia dengar, kritikan sering dilontarkan, kemarahan atas kekurangannya sering juga diekspresikan.

Apa yang akan menjadi dampaknya atau hasilnya? Dia sungguh-sungguh merasa tidak ada yang positif tentang dirinya, celakanya sering kali anak-anak remaja ini akan mengadopsi perlakuan orang tua atau gurunya itu. Dia menjadi orang yang mengkritik dirinya sendiri, dia adalah orang yang memarahi, menghina dirinya sendiri. Itu adalah sikap atau tindakan yang keliru, yang kadang-kadang orang tua lakukan atau guru-guru lakukan, sebetulnya dampaknya sangat destruktif. Yang lainnya, adakalanya orang tua sibuk ya Pak Gunawan, karena sibuk tidak terlalu banyak bergaul dengan anak, akhirnya kurang memberikan tanggapan kepada anak. Anak seolah-olah tumbuh besar sendiri, tanpa ada yang memberikan dia masukan apa yang dia bisa, apa yang dia tidak bisa, apa yang dia harus ambil, keputusan apa yang jangan dia ambil, dan sebagainya, dia tidak tahu. Nah apa hasilnya, dia akan terus mencari-cari keunikan dirinya, istimewanya, saya bisa apa, sehingga meskipun usianya sudah 21, 22 tahun masih tidak tahu dirinya siapa, masih ingin mencari-cari dirinya. Sebentar melakukan ini sebentar berhenti, melakukan yang lain sebentar berhenti, sekolah setengah tahun dia berhenti, masuk lagi ke jurusan yang lain berhenti, terus begitu. Dan yang terakhir adalah yang juga sama bahayanya adalah tanggapan yang positif, tapi berlebihan. Ada orang tua atau guru yang memuja-muja anak, seolah-olah dia itu seperti superman yang paling hebat di dunia ini. Nah keistimewaan yang berlebihan, membuat si anak benar-benar merasa di atas orang lain dan dia akan menuntut orang-orang lain untuk menghargai dia terus-menerus, mendengarkan instruksinya dan mentaati permintaannya. Ini juga akhirnya mencelakakan si remaja itu, jadi itu adalah perlakuan yang negatif yang bisa dilakukan oleh orang tua ataupun guru kepada anak-anak.
GS : Mungkin kalau terlalu disanjung dan sebagainya itu dia gagal, ketika dia mengkonfirmasikan bahwa apa yang dia lihat dalam realita hidupnya itu tidak sesuai dengan apa yang dia dengar.

PG : Tepat, tepat dan pada saat itu bisa-bisa dia ambruk karena dia kaget dia tidak seperti yang dia pikir atau dia menolak menerima fakta. Dan dia akan membuang komentar-komentar yang seola-olah tidak setuju dengan komentar atau pandangan tentang dirinya sendiri.

Dia akan mendistorsi pandangan orang lain bahwa orang lain itu semuanya salah, bahwa dialah yang benar. Semua orang tidak bisa mengerti dia, sebab dialah yang paling tahu apa yang benar, sikap yang juga akhirnya tidak bisa bergaul dengan orang.
GS : Ya memang kesulitan kalau para guru, mungkin karena waktunya terbatas Pak Paul. Mereka terbatas sekali mengenali anak didiknya. Tetapi orang tua itu sering kali juga kurang memberikan perhatiannya dalam perkembangan anaknya, sehingga tidak tahu masalah-masalah yang terjadi dalam diri si anak remaja ini, Pak Paul.

PG : Saya kira itu masukan yang baik sekali Pak Gunawan, jadi kita harus akui bahwa memang kita kurang mengenal anak-anak kita, kurang memberikan waktu untuk berdialog dengan mereka. Kita selah-olah mempunyai anggapan mereka akan bertumbuh dengan sendirinya, bahwa dengan yang kita lakukan mereka akan bertumbuh.

Dalam konteks kehidupan dulu dimana hidup jauh lebih sederhana, tidak banyak masukan problem seperti sekarang ini, tidak sekompleks seperti sekarang, saya kira anak bisa bertumbuh dengan cukup baik tanpa harus dibimbing dan diarahkan, karena masyarakat pun mempunyai andil dalam membimbing anggota masyarakatnya. Tapi sekarang masyarakat cukup tercerai berai, individualis, saya kira masukan orang tua menjadi lebih dibutuhkan dan lebih penting, karena di luar hampa, kosong. Dulu di luar masih ada masyarakat dan sebagainya, tetap bisa campur tangan dalam kehidupan anggotanya, tapi sekarang memang jadi lebih berkurang. Jadi orang tua lebih dibutuhkan untuk memberikan bimbingan itu kepada anak.
GS : Atau mungkin orang tua harus lebih ketat bersaing dengan masukan-masukan yang diterima oleh remaja di luar, Pak Paul, dari televisi, film, dimana pergaulan yang sudah katakan mengglobal. Itu yang membuat orang tua kadang-kadang kewalahan, sudah tidak sempat lagi mengejar ketinggalannya.

PG : Dan hal-hal ini sering kali bisa luput dari perhatian atau pengamatan kita, bahkan di gereja pun begitu. Saya berikan satu data yang saya dengar dari sebuah gereja, sangat mengejutkan skali karena di gereja tersebut diadakan angket di kalangan remaja dan pemudanya tentang nilai moral, seks sebelum nikah.

Yang mengejutkan adalah saya lupa mungkin di atas 80% atau di atas 90% para remaja pemuda yang diangket berkata: "pokoknya orang tua sudah meminta, kalau sudah meminta atau sudah diminta berarti boleh berhubungan seksual, meskipun belum menikah". Hasil angket yang mengejutkan gereja terutama hamba Tuhannya, karena bukankah hal-hal ini diberitakan minggu demi minggu baik melalui sekolah minggu, komisi remaja, kebaktian umum, tapi tiba-tiba ada generasi yang baru di mana 80% atau 90% di antara mereka berpikiran yang paling penting adalah sudah resmi diminta orang tua maka kami bebas melakukan hubungan seksual dan tidak apa-apa. Para remaja ini berkata seperti itu karena kurangnya perhatian kita, sehingga banyak hal yang luput dari perhatian atau pengamatan kita. Justru tadi Pak Gunawan sudah menegaskan bahwa kita dituntut untuk lebih proaktif, bersaing dengan masukan-masukan dari luar itu. Sebab masukan dari luar cukup ampuh dan berkuasa dalam kehidupan ini, khususnya di kalangan remaja.
GS : Nah dalam hal ini Pak Paul, bimbingan firman Tuhan berbicara apa? Karena tentu saja para pendengar kita, para remaja kita juga sangat membutuhkan bimbingan firman Tuhan itu.

PG : Saya akan membacakan dari Lukas 12:42 "Jadi siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana, yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk membeikan makanan kepada mereka pada waktunya.

Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang." Penekanan di sini adalah hamba yang melakukan tugasnya itu, saya kira meskipun dalam konteks kita tetap setia kepada Tuhan, namun untuk orang tua kita juga dituntut Tuhan melakukan tugas kita. Tugas kita nomor satu saya kira adalah menjaga anak-anak di rumah kita ini, jangan sampai Tuhan datang dan Tuhan menanyakan kita, kita terkejut. Kita terkejut karena anak-anak kita sudah begitu jauh dari Tuhan dan mempunyai nilai-nilai hidup yang berkebalikan dari yang Tuhan berikan kepada kita. Jadi saya kira ayat ini menggugah kita untuk berhati-hati terhadap anak kita. Tugas kita yang pertama adalah ini anak-anak kita dulu, apakah mereka sudah menerima bimbingan kita dalam Tuhan, apakah kita sudah mengajarkan tentang jalan Tuhan, jangan sampai Tuhan datang dan mendapati kita sedang lengah dan kita terkejut melihat hasilnya.
GS : Sering kali kita justru memperhatikan anak orang lain, tapi anak kita sendiri tidak terlalu diperhatikan ya, Pak Paul. Tapi saya percaya bahwa pendengar setia dari acara Telaga ini tentu akan lebih berhati-hati, lebih bijaksana di dalam menangani para remajanya.

Demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang masalah-masalah yang dihadapi para remaja dalam rangka pembentukan jati dirinya. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK, Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



16. Pemilihan Jurusan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T092A (File MP3 T092A)


Abstrak:

Dalam judul ini kita akan melihat juga 3 kelompok siswa yang mengalami masalah dalam pemilihan jurusan dan bagaimana seharusnya kita memilih jurusan.


Ringkasan:

Ada 3 kelompok siswa yang mengalami masalah dalam pemilihan jurusan, yaitu:

  1. Para siswa yang mempunyai banyak talenta atau mempunyai banyak kebisaan. Mereka adalah anak-anak yang sering kali kebingungan menentukan pilihan jurusan mana yang mereka akan masuki.

  2. Orang-orang yang sama sekali tidak tahu karena tidak mengerti apa talentanya, apa kebisaannya. Kebingungan yang bersumber dari ketidaktahuan akan diri mereka, akan kemampuan mereka.

  3. Anak-anak yang mempunyai satu kebisaan yang menonjol. Jadi dari sejak SMU atau dari sekolah lanjutan atas mereka sudah bisa melihat jelas kira-kira saya akan memasuki jurusan apa.

Prinsip-prinsip pemilihan jurusan yang tepat adalah:

  1. Kita mesti mengingat bahwa jurusan studi hanyalah satu bagian dari proses pencapaian karier. Yang mau saya tekankan adalah jurusan studi itu tidaklah 100% menentukan masa depan hidup kita. Jangan sampai kita ini terlalu menitikberatkan pada jurusan studi, seolah-olah kalau kita memilih jurusan yang keliru maka hancurlah hidup kita selama-lamanya. Jadi kita orang tua harus menempatkan masalah ini dalam perspektif yang tepat.

  2. Jurusan studi merupakan bagian persiapan yang penting. Persiapan baik itu secara informasi, ilmu-ilmu yang harus dikuasai untuk bidang tersebut atau membentuk pola pikir kita agar lebih siap memasuki bidang-bidang tertentu.

  3. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan kemampuan dan minat kita. Masuk ke jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan kita sudah pasti akan membuat kita terhuyung-huyung, kalau tidak kita akan berhenti di tengah jalan karena tidak sanggup untuk meneruskannya. Jangan juga masuki bidang yang kita mampu tapi kita tidak berminat, kita tidak mempunyai ketertarikan ke situ sebab kalau kita memasukinya biasanya kita juga tidak bertahan lama.

  4. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan kepribadian kita. Pekerjaan yang nanti kita akan lakukan seyogyanya sesuai dengan kepribadian kita. Misalnya orang mau jadi dokter tapi paling takut melihat darah misalnya, begitu melihat darah dia pingsan nah bagaimana menjadi dokter.

  5. Waktu memilih jurusan kita perlu bertanya kepada diri sendiri dapatkah saya melakukan pekerjaan yang sama ini selama 10 tahun.

  6. Kita juga mesti bertanya apakah saya bisa membiayai kehidupan saya dengan karier ini, jika tidak kita mesti memilih misalnya kalau memungkinkan dua jurusan sekaligus, agar kita dapat memperoleh pekerjaan yang lebih memadai.

Mazmur 37:23-26 , "Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh tidaklah sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan-Nya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti. Tiap hari Ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman dan anak cucunya menjadi berkat."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan berbincang-bincang dengan satu topik kali ini "Pemilihan Jurusan", perbincangan ini pasti akan sangat menarik dan bermanfaat. Kami harapkan Anda sekalian bisa mengikutinya dengan saksama. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, hampir setiap akhir tahun ajaran atau bahkan sebelum itu, banyak orang tua khususnya yang anak-anaknya sudah di SMU kelas III yang akan meninggalkan bangku sekolah SMU itu, selalu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan untuk mencarikan lanjutan pendidikan dari anak-anak mereka. Karena sering kali anak-anak mereka pun tidak tahu dengan jelas ke mana mereka harus melanjutkan, kecuali mereka yang dari SMK itu lebih terarah tetapi yang dari SMU kebanyakan ini menjadi masalah yang cukup besar, Pak Paul. Bahkan bisa mengganggu pekerjaan orang tuanya dan sebagainya, sehingga mereka betul-betul sangat disibukkan, kadang-kadang tidak tahu kepada siapa mereka harus bertanya. Melalui perbincangan ini Pak Paul, mungkin Pak Paul bisa memberikan uraian sedikit bagaimana seharusnya memilih jurusan yang tepat itu.

PG : Sebelum kita masuk ke topik itu Pak Gunawan, saya akan memberikan sedikit gambaran tentang 3 kelompok siswa yang mengalami masalah dalam hal ini. Kelompok pertama adalah para siswa yang mepunyai banyak talenta atau kebisaan.

Mereka adalah anak-anak yang sering kali kebingungan menentukan pilihan jurusan mana yang akan mereka masuki. Kebingungan itu bersumber dari fakta bahwa memang mereka mempunyai banyak kebisaan. Kelompok kedua adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu karena tidak mengerti apa talentanya, kebisaannya, nah anak-anak ini juga mengalami kebingungan. Kebingungannya bersumber dari ketidaktahuan akan diri mereka dan kemampuannya. Kelompok ketiga adalah anak-anak yang mempunyai satu kebisaan yang menonjol, jadi sejak dari SMU atau dari sekolah lanjutan atas mereka sudah bisa melihat kira-kira saya akan memasuki jurusan apa. Setelah mengetahui tentang 3 kelompok tersebut, kita akan melihat prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan, Pak Gunawan. Yang pertama adalah kita harus mengingat bahwa jurusan studi hanyalah satu bagian dari proses pencapaian karier. Yang mau saya tekankan di sini adalah jurusan studi, jadi tidaklah 100% menentukan masa depan hidup kita. Jangan sampai kita terlalu menitikberatkan pada jurusan studi, seolah-olah kalau kita memilih jurusan yang keliru maka hancurlah hidup kita selama-lamanya. Apalagi kita sebagai orang tua perlu untuk menempatkan masalah ini dalam perspektif yang lebih berimbang. Kenyataan lain yang harus saya paparkan adalah dewasa ini sekolah-sekolah, baik itu sekolah-sekolah kejuruan ataupun tingkatan universitas tidak lagi mampu untuk melengkapi para siswanya atau mahasiswanya untuk memasuki dunia pekerjaan. Sebab dewasa ini dunia pekerjaan sudah begitu berkembang dan menjadi begitu banyak, sehingga tidak ada sekolah atau jurusan-jurusan yang akan cukup melengkapi kita untuk memasuki dunia pekerjaan. Jadi sekali lagi kita harus menempatkan masalah ini dalam perspektif yang tepat. Seseorang yang memasuki jurusan A, mungkin sekali nanti dalam kariernya akan memasuki lapangan pekerjaan B. Sebab memang itulah yang akan ditawarkan dan dia akan bisa melakukannya juga, jangan terlalu kaku sekali dalam hal jurusan studi ini.
GS : Tetapi sekalipun itu tidak menentukan tapi akan membentuk pola pikir sedini mungkin, itu yang diharapkan Pak Paul. Jadi kalau dia keliru memilih jurusan maka cukup merugikan buat siswa yang bersangkutan ini.

PG : Betul, adakalanya Pak Gunawan memang ini masuk kepada prinsip yang kedua bahwa jurusan studi itu merupakan bagian persiapan yang penting. Persiapan baik itu secara informasi, ilmu-ilmu yan harus dikuasai untuk bidang tersebut atau membentuk pola pikir kita agar lebih siap memasuki bidang-bidang itu.

Dan memang kita tahu ada beberapa profesi yang tidak mungkin dimasuki tanpa tanda kelulusan dari bidang tersebut, contoh bidang kedokteran. Ya memang hanya yang lulus dengan gelar kedokteranlah yang bisa memasukinya, kalau misalkan gelar-gelar yang lainnya tidak terlalu mutlak sebetulnya. Misalnya saya tahu di Amerika Serikat, kita tidak harus lulus sekolah hukum untuk menjadi seorang pengacara, asalkan kita bisa lulus ujian yang diselenggarakan oleh negara untuk menjadi seorang pengacara, kita bisa menjadi seorang pengacara. Hal yang lain juga saya tahu misalnya ada di Singapura, untuk menjadi seorang Akuntan Public tidak harus mempunyai gelar Akuntansi, asalkan kita bisa lulus ujian negaranya kita akan bisa mengklaim diri sebagai seorang Akuntan Public. Jadi memang cukup banyak bidang-bidang yang cukup fleksibel, tetapi ada bidang tertentu yang mensyaratkan kita untuk lulus dalam bidang itu.

ET : Mungkin kalau keadaan seperti ini tidak akan menjadi masalah buat orang-orang yang termasuk kelompok pertama yang Pak Paul katakan tadi, karena dia punya banyak kemampuan dan kebisaan. Jusru yang sering kali menjadi masalah dari golongan kedua, yang begitu salah masuk jurusan lalu keluar, bingung juga.

Nanti mau bekerja di bidang yang lain kesulitan, di bidang yang dia sekolah juga kesulitan, lalu di bidang yang di luar juga kesulitan, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Yang Ibu Esther katakan itu sangat betul dan kita sebetulnya melihat banyak kasus-kasus seperti itu, makanya yang namanya college dropped-out itu cukup banyak terjadi. Anak-anak yang masukke bidang elektro misalnya di tengah jalan tahun kedua berhenti, terus keluar menjadi salesman atau yang lain-lainnya karena apa? Sebab mungkin sekali waktu memasuki bidang atau jurusan tersebut orang-orang ini tidak benar-benar mengetahui kemampuannya dengan baik.

Nah apa yang bisa kita lakukan untuk anak-anak yang memang tidak jelas apa karunianya atau kemampuannya. Saya menganjurkan agar pada waktu SMU kelas II atau SLTA kelas II sebisanya anak-anak yang memang kurang tahu akan apa kemampuannya, disarankan untuk mengikuti test bakat yang sekarang cukup banyak tersedia. Test bakat tersebut berguna agar anak-anak ini bisa lebih mengenal kemampuannya. Yang lainnya juga adalah dalam masa pertumbuhan, seyogyanya orang tua lebih berperan secara aktif memberikan tanggapan-tanggapan pada anak-anak waktu mereka masih kecil apa yang bisa mereka lakukan dengan baik. Nah sekali lagi ini mungkin akan merupakan proses yang panjang dan informasi yang orang tua sampaikan itu merupakan kepingan-kepingan, tapi nanti akan diuntai oleh si anak menjadi suatu pemahaman tentang siapa dirinya dan keyakinan bahwa dia mempunyai kebisaan tertentu. Contoh kepada anak yang mampu untuk mengutak-atik elektronik dan si orang tua melihat hal itu. Orang tua jangan berdiam diri, sebaiknya mengeluarkan komentar kepada anaknya: "Anakku, kamu pandai sekali dalam hal elektronik, kamu bisa mengutak-atiknya dari tidak berbunyi menjadi berbunyi" misalnya. Atau ada anak yang jago sekali membuat desain-desain. Orang tua jangan hanya berdiam diri, sebaiknya orang tua mengeluarkan komentar 'Kamu pandai sekali membuat desain', nah hal-hal ini akan menjadi kepingan-kepingan yang nanti akan diuntai oleh si anak menjadi suatu keyakinan, pengetahuan, kesadaran bahwa saya bisa berbuat ini, saya mampu dalam hal ini. Nanti dengan sendirinya kebisaan-kebisaan itu akan terkoneksikan dengan lapangan kerja. Memang pada usia 7-10 tahunan tidak akan terwujud, tapi waktu anak-anak ini menginjak bahkan SMU kelas I, SMU kelas II informasi yang telah dia terima dari orang tua akan kebisaan-kebisaannya itu mulai dihubungkan atau dikaitkan dengan lapangan pekerjaan yang di luar sana, itu gunanya. Waktu dia melihat seseorang menjadi seorang insinyur, dia mulai melihat o....ada yang namanya insinyur elektro, ada yang namanya seorang insinyur mekanik dan sebagainya. Nah dia mulai kaitkan kebisaannya itu dengan lapangan pekerjaan yang ada di luar.

ET : Jadi memang informasi orang tua sangat penting ya, tapi di sisi lain tidak sedikit kita melihat justru ada orang tua yang sengaja menutup informasi-informasi itu supaya anaknya berjalan seuai dengan jalur orang tuanya.

Jadi bukannya hanya tidak dikomentari tentang kebisaannya di bidang elektro, misalnya malah dilarang karena itu bukan jalur yang dibayangkan oleh orang tua, Pak Paul.

PG : Itu pun terjadi Bu Esther, sebab saya tidak bisa 100% menyalahkan orang tua, kadang kala orang tua bisa melihat juga bahwa bidang yang diminati anaknya itu bukan bidang yang terlalu subur tau terlalu baik sehingga si anak diarahkan.

Atau orang tua melihat anaknya kurang berkemampuan dalam hal itu, jadi digiring untuk memasuki bidang yang lain. Tapi bisa jadi seperti yang Ibu Esther katakan, memang orang tua sebetulnya mempunyai selera tersendiri, menginginkan anak menjadi seperti mereka idamkan dan tidak mau tahu kebisaan anak itu apa, itu memang akan merugikan si anak. Sebab pada intinya adalah saya akan mengutip suatu peribahasa yang pernah saya dengar 'Jadilah dirimu namun jadilah dirimu yang terbaik', nah yang terbaik hanyalah kalau kita menjadi diri kita sepenuhnya. Anak tidak mungkin menjadi yang terbaik kalau dia harus menjadi diri orang lain.
GS : Tapi kenyataannya memang yang banyak juga pengaruh dari teman Pak Paul, kalau di dalam teman sepergaulannya itu memilih jurusan A, anak ini bisa terpengaruh untuk ke situ walaupun dia tahu kurang berminat atau kemampuannya kurang, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Ini benar-benar saya alami Pak Gunawan, waktu SMA saya masih ingat sekali SMA I pertengahan tahun itu diadakan test, nama testnya XYZ. Saya jelas dikatakan masuk ke jurusan sosial tapi say tidak mau masuk ke jurusan sosial, sebabnya kenapa? Sebab teman-teman saya yang pria itu tidak banyak yang masuk ke sosial, kebanyakan masuk ke ilmu pasti, kalau dulu istilahnya paspal.

Nah angka saya kebetulan mencukupi masuk ke bidang ilmu pasti jadi saya menolak masuk ke sosial, masuk ke ilmu pasti. Benar saja tingkat II saya mengalami kesukaran sebab otak saya memang bukan otak yang didesain untuk Fisika, Mekanika dan sebagainya. Tapi saya masih ingat sekali waktu saya SMA kelas II, kalau orang-orang bertanya mau sekolah apa? Saya selalu menjawabnya mau sekolah Mekanik, saya bilang Mekanika. Padahal saya itu tidak pernah bisa membetulkan mesin atau apa, saya memang tidak punya kemampuan di bidang itu. Kenapa saya sebut itu, karena saya tidak tahu mau masuk yang mana, teman-teman saya yang pria kebanyakan mau masuk teknik, elektro, mesin, sipil. Daripada saya bilang masuk ke psikologi yang sangat aneh buat mereka, jadi saya bilang masuk ke teknik mesin. Memang tadi Pak Gunawan memberikan masukan yang penting sekali dan harus kita sampaikan kepada para pendengar kita, terutama kalau mereka masih remaja yaitu hati-hati, jangan sampai terbawa oleh arus atau idealisme yang lagi beredar di kalangan mereka, sebab belum tentu itu adalah kebisaannya atau panggilan hidupnya yang telah Tuhan berikan kepadanya.
GS : Kalau begitu bagaimana seharusnya sikap seorang siswa yang akan menjadi mahasiswa di dalam memilih jurusannya, Pak?

PG : Nah ini membawa kita ke prinsip yang ketiga Pak Gunawan, yaitu pilihlah jurusan yang sesuai dengan kemampuan dan minat kita. Saya mau gabungkan 2 kata ini Pak Gunawan, yang harus benar-benr disimak baik-baik oleh para remaja.

Mau masuk ke jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan kita, sudah pasti akan membuat kita terhuyung-huyung. Bisa-bisa kita akan berhenti di tengah jalan karena tidak akan sanggup untuk meneruskannya. Kalau memang itu bukan kemampuan kita jangan masuk ke sana, pilihlah jurusan yang memang kita mampu untuk lakukan. Contohnya tadi waktu saya cerita, waktu saya masih SMU memang saya lebih mampu dalam hal-hal yang bersifat sosial. Tapi saya malu masuk ke sosial karena angka saya cukup untuk masuk ke pasti alam, jadi akhirnya saya tidak naik kelas waktu SMA kelas II. Kata yang berikutnya adalah sesuai dengan minat, ketertarikan kita, jadi jangan masuk ke bidang yang kita mampu tapi kita tidak berminat, tidak mempunyai ketertarikan ke situ. Sebabnya kalau kita memasukinya, biasanya kita tidak bertahan lama, jadi sekali lagi kita coba gabungkan kedua hal ini, sesuai tidak dengan kemampuan kita dan sesuai tidak dengan minat kita.

ET : Tapi bicara soal minat ini, saya mengamati kebanyakan yang dialami oleh para remaja adalah kurangnya pengetahuan, kurangnya informasi tentang bidang-bidang yang ada. Sering kali mereka menatakan dengan mudah saya tidak berminat, tetapi sebenarnya kalau kita mau melihat lebih jauh bukannya tidak berminat tetapi memang belum tahu apa yang dipelajari atau dikerjakan dalam bidang tersebut.

Jadi rasanya memang perlu informasi sebanyak-banyaknya dalam masalah minat ini.

PG : Itu sangat betul sekali Bu Esther, dan itu tidak bisa disajikan melalui satu seminar atau satu sesi kelas, seharusnya memang secara kontinu. Saya berikan contoh saya masih ingat sekali waku anak-anak saya bersekolah di Amerika, sejak anak-anak itu kelas II atau kelas III atau kelas I(saya lupa ya), nah si guru ini meminta kesediaan orang tua murid untuk dalam satu tahun itu datang ke kelas memberikan penjelasan tentang profesinya.

Jadi yang insinyur, yang pemadam kebakaran, yang dokter, diminta kesediaannya secara sukarela untuk menjelaskan tentang profesinya kepada anak-anak yang masih berumur 6, 7 tahun. Dengan kata lain sejak berumur masih begitu dini, anak-anak ini sudah diberikan gambaran sebagai petugas kerjaannya apa, begini, begini, saya sebagai suster pekerjaan saya begini-begini, sehingga akan menjadi rangkaian informasi yang memberikan kejelasan. O..... kerja ini seperti apa, kerja itu seperti apa, sebaiknya memang orang tua dengan proaktif mencari data-data tentang jenis-jenis pekerjaan, jangan bergantung sepenuhnya pada sekolah untuk melakukan itu pada anak-anak mereka.
GS : Dan masing-masing anak dari remaja yang sudah SMU itu punya suatu sifat atau kepribadian tersendiri, pengaruhnya sejauh mana terhadap pemilihan jurusan, Pak?

PG : Prinsip keempat adalah pilihlah jurusan yang sesuai dengan kepribadian kita. Jadi tepat sekali yang Pak Gunawan tadi munculkan, yaitu pekerjaan yang nanti kita lakukan seyogyanya sesuai degan kepribadian kita.

Kalau kita mau menjadi seorang insinyur pertambangan tapi kita orang yang tidak suka kotor, tidak tahan panas, bersihnya luar biasa, baju tidak boleh lecek, sepatu harus disikat terus-menerus, nah mungkin sekali kita senang dengan nama-nama kimia di oli atau di hasil bumi atau apa, tapi kalau kitanya sendiri tidak mempunyai kepribadian yang cocok dengan tugas pekerjaan itu sebaiknya jangan. Atau orang mau menjadi dokter tapi paling takut melihat darah misalnya, begitu melihat darah dia pingsan, nah bagaimana menjadi dokter. Atau mau menjadi pengacara tapi orang ini mudah stres, mudah tegang, nah sedangkan kita tahu pengacara itu suatu pekerjaan yang menuntut ketebalan urat saraf, beradu argumen, berkonfrontasi dan sebagainya. Hal-hal seperti ini memang menuntut kepribadian yang sesuai, jadi sebaiknya kita juga memilih bidang yang kita tahu, kita bisa kerjakan untuk waktu yang lama karena itu sesuai dengan jiwa kita, kepribadian kita, sebab tidak ada pekerjaan yang bisa kita pertahankan dengan lama kalau tidak kita sukai. Dan yang biasanya kita sukai adalah yang sesuai dengan siapa diri kita ini.

ET : Kalau saya melihat ada beberapa teman saya waktu kuliah yang mempunyai idealisme yang cukup tinggi, sesuai dengan bidang studinya mereka. Setelah lulus, mencari-cari kerja, tapi tidak sesui dengan kuliahnya.

Misalnya yang lulusan dari insinyur, teknik mesin, lalu akhirnya kerja di bank. Apakah hal ini juga berkaitan dengan orang yang tidak cukup informasi atau bagaimana kalau menurut Pak Paul?

PG : Bisa beberapa faktor yang menyebabkan itu, Bu Esther, memang adakalanya orang itu merasa jenuh dan memang dia mempunyai talenta yang lain sehingga dia bisa menyeberang ke bidang yang lainna.

Sebab dalam teori karier dibuka kemungkinan tersebut bahwa kita ini bisa kuat dalam satu bidang dan bisa kuat dalam bidang yang bersebelahan dengan bidang utama kita itu, jadi itupun bisa terjadi. Atau kita bisa menyeberang cukup jauh karena memang kita mempunyai kemampuan yang banyak, itupun bisa. Tapi yang cukup banyak terjadi juga adalah karena keterpaksaan, karena situasi akhirnya dia harus mengambil pekerjaan yang lain, yang lebih bisa menyokong kehidupannya. Nah saya langsung saja membawa kepada prinsip yang kelima, waktu memilih jurusan kita perlu bertanya kepada diri sendiri dapatkah saya melakukan pekerjaan yang sama ini selama 10 tahun. Saya memberikan waktu 10 tahun dengan dua tujuan. Yang pertama adalah kita harus mampu untuk mengerjakan pekerjaan itu dalam kurun yang cukup lama, 10 tahun bukan waktu yang cepat jadi jangan sampai kita berkata o.....saya hanya bisa bekerja itu mungkin hanya setahun, dua tahun setelah itu saya harus pindah. Jadi memang kita harus membangun karier kita dari awal, tahap pertahap, tidak bisa lompat terus-menerus. Sepuluh tahun dalam pengertian begini, pada kenyataannya kita dalam sepanjang hidup ini akan berganti profesi beberapa kali, jarang orang yang selama 45 tahun bertahan pada satu profesi dan pada satu perusahaan jarang sekali, kebanyakan kita akan pindah kerja. Jadi makanya saya bertanya dapatkah kita melakukan pekerjaan yang sama ini selama 10 tahun.
GS : Selain di bidang karier Pak Paul, sebenarnya sejak memilih jurusan itupun kadang-kadang orang terpaksa memilih jurusan itu. Jurusan yang diidamkan itu ternyata tidak menampung, karena keterbatasan dana atau tidak ada di kota itu, atau memang ketika test dia tidak lulus masuk ke situ.

PG : OK! ini membawa kita ke point yang keenam dan point yang terakhir yaitu kita juga harus bertanya apakah saya bisa membiayai kehidupan saya dengan karier ini, jika tidak kita harus memilih isalnya kalau memungkinkan dua jurusan sekaligus, agar kita dapat memperoleh pekerjaan yang lebih memadai.

Atau kalau tidak bisa kita dahulukan jurusan yang lebih mudah mendapat pekerjaan, setelah kita lulus dan bekerja barulah kita perdalam bidang yang kita minati misalkan kalau ada keterbatasan dana juga sama prinsipnya. Jadi memang kadang kala situasi menuntut kita untuk mengambil bidang yang bisa siap pakai, dan bidang yang sungguh-sungguh kita minati atau mau perdalam harus kita tunda untuk sementara waktu.

ET : Dalam hal ini sepertinya harus ada rencana A, rencana B, supaya ada persediaan tapi kadang-kadang ada orang yang hanya satu bidang sehingga susah untuk menyeberang ke yang lainnya, Pak Paul?

PG : Betul, jadi saya kira di sini yang diperlukan adalah kefleksibelan karena memang tidak selalu hidup ini sempurna seperti yang kita inginkan.

GS : Nah Pak Paul, dalam hal pemilihan jurusan ini, tentunya baik saudara-saudara kita yang masih di SMU maupun orang tuanya pasti membutuhkan suatu bimbingan dari firman Tuhan, bagaimana sebenarnya dia harus bersikap di dalam memilih jurusan ini, Pak?

PG : Tadi saya cerita sedikit, saya pernah mengalami kebingungan karena masa SMA. Kemudian waktu saya masuk perguruan tinggi saya dimuridkan, dibina oleh kelompok hamba-hamba Tuhan. Saya masuk e LPMI, pelayanan mahasiswa di situ.

Nah di sana saya diajarkan bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk hidup saya dan hidup saya adalah untuk memuliakan Tuhan. Untuk pertama kalinya saya tenang, saya belum tahu pasti jurusan apa yang harus saya masuki. Tapi saya tahu apapun itu, nanti saya jadi apapun, tugas saya hanya untuk memuliakan Tuhan, setelah itu Tuhan memimpin langkah demi langkah. Jadi saya akan bacakan dari Mazmur 37:23-26 . "Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya, apabila ia jatuh tidaklah sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tanganNya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti. Tiap hari Ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman dan anak cucunya menjadi berkat." Sekali lagi ayat yang ingin saya garis bawahi bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya.
GS : Ya tetapi juga ada yang salah menafsirkan mungkin mengertinya atau memahaminya dia bersikap pasif saja Pak Paul, nanti pasti Tuhan yang menetapkan. Kalau saya test di sana dan masuk, itu berarti Tuhan menghendaki saya sekolah di situ, kalau tidak pasti bukan kehendak Tuhan. Nah itu sikap yang pasif sekali Pak Paul?

PG : Saya kira kita harus lebih aktif yaitu misalnya mencari informasi sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya tentang bidang-bidang yang ada dan kemampuan kita. Kita mempunyai akses sekarang kpada psikolog untuk mendapatkan test-test karier, nah itupun dapat kita manfaatkan.

Jadi kita memang harus bersikap lebih proaktif dan Tuhan akan menuntun, kalau kita keliru karena kita sudah meminta pimpinanNya Dia akan menghadirkan situasi untuk kita menyadari bahwa kita telah keliru mengambil langkah itu.

GS : Ya saya percaya sekali bahwa perbincangan ini akan sangat menolong saudara-saudara kita, teman-teman kita juga orang tua yang saat-saat ini mungkin juga kebingungan baik mau melanjutkan sekolah atau bahkan mengarahkan anak-anak mereka untuk melanjutkan sekolah. Jadi sekali lagi terima kasih Pak Paul dan juga Ibu Esther. Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memilih Jurusan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



17. Memilih Pekerjaan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T092B (File MP3 T092B)


Abstrak:

Memilih pekerjaan bukanlah suatu hal yang mudah, perlu adanya langkah-langkah atau prinsip-prinsip yang harus kita terapkan atau persiapkan di dalam memilih pekerjaan. Supaya pekerjaan yang kita peroleh benar-benar cocok dengan kita dan kita melakukannya tidak dengan keterpaksaan.


Ringkasan:

Prinsip dalam memilih pekerjaan yaitu:

  1. Sedapat mungkin pilihlah pekerjaan pertama kita yang paling mendekati jurusan studi, asal jurusan itu memang tepat dengan kemampuan kita. Kalau sesuai dengan minat kita dan kemampuan kita, setelah lulus jangan menyeberang terlalu jauh, carilah pekerjaan yang mendekati bidang studi kita. Alasannya adalah kita telah siap pakai, kita sedikit-sedikitnya sudah 4 tahun lebih dipersiapkan untuk bisa menguasai bidang itu.

  2. Jangan terlalu memilih-milih pekerjaan pertama. Selama pekerjaan itu mendekati jurusan kita meski gajinya tidak besar atau misalkan pekerjaan itu kok letaknya agak jauh dari rumah atau harus ke kota lain saya anjurkan sebisanya terima, jangan terlalu memilih pekerjaan pertama.

  3. Sedapat mungkin pilihlah pekerjaan yang membuka peluang bagi kita mengembangkan keahlian yang spesifik.

  4. Ingatlah sikap kita terhadap pekerjaan itu akan mempengaruhi performa kerja kita. Apalagi bagi para pemula jangan menyepelekan pekerjaan kita dan berkata pekerjaan begini untuk sementara saja, untuk ngisi waktu saja. Karena apa yang kita hasilkan juga akan bernilai sepele atau disepelekan tidak akan membawa kepuasan buat kita ataupun kepuasan bagi orang yang telah mengkaryakan kita. Jadi sikap itu penting sekali, semakin tinggi penghargaan kita terhadap pekerjaan kita, semakin tinggi dan bernilai performa kerja kita, yang kita hasilkan akan jauh lebih bermutu.

  5. Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan ketahanan tubuh kita. Misalnya kita diminta untuk bekerja selama 12 jam dan gajinya besar, nah jangan memilih pekerjaan itu kalau kita memang tidak bisa tahan dengan 12 jam kerja.

  6. Pilihlah pekerjaan yang mendukung keseimbangan hidup. Karena kalau pekerjaan membawa tekanan yang terlalu besar, itu akan menjungkirbalikkan keseimbangan hidup kita. Akhirnya akan berakibat pada keluarga kita, kehidupan emosional kita, belum lagi kehidupan rohani kita jadi jauh dari Tuhan.

Kolose 3:17 , "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita." Jadi pertama, apapun yang kita kerjakan lakukan untuk Tuhan Yesus, artinya berikan yang terbaik karena kita mau memberikannya untuk Tuhan Yesus. Kedua, sikap kita dalam melakukannya, sikap mengucap syukur, sikap berterima kasih karena kita tahu kita memberikan ini untuk Tuhan dan dari Tuhan. Sikap penuh pengucapan syukur akan membuat kita bekerja dengan lebih baik dengan lebih bersemangat dan akan memancarkan keramahtamahan kepada orang di sekitar kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Memilih Pekerjaan". Kami percaya perbincangan ini akan sangat bermanfaat bagi Anda sekalian dan kami harapkan Anda bisa mengikutinya dengan seksama. Maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kalau orang sudah selesai sekolah tujuannya pasti kerja. Tetapi memang kadang-kadang apa yang dicita-citakan ketika masih remaja, pemuda, mahasiswa realitanya itu berbeda dengan apa yang dihadapinya. Karena tidak ada pilihan, maka banyak yang mengatakan "Pokoknya saya kerja dulu apa saja tidak apa-apa". Kalau kita bisa memilih tentu saja kita memilih yang kita sukai tapi kadang-kadang sulit, kita cuma diperhadapkan dengan sesuatu yang mau tidak mau harus kita ambil. Sebenarnya bagaimana dalam hal memilih pekerjaan ini, Pak Paul?

PG : Tidak bisa tidak Pak Gunawan, saya sekarang ini jadi membandingkan masyarakat kita pada umumnya dengan masyarakat di Amerika Serikat. Masyarakat di Amerika Serikat lebih berorientasi paa pekerjaan, masyarakat kita di sini lebih berorientasi pada sekolah.

Dengan kata lain anak-anak di sana setelah lulus SMA tidak terlalu didesak untuk masuk perguruan tinggi, mereka lebih didesak untuk melakukan sesuatu atau bekerja. Jadi mereka itu kebanyakan sudah tahu mau menjadi apa barulah memikirkan sekolah, agar sekolah itu mendukung atau mempersiapkan mereka mencapai tujuannya. Saya melihat anak-anak di sini kebalikan, setelah lulus SMA lalu memilih jurusan apa, nanti jadi apa tidak ya tidak tahu dan jika ditanya mau jadi apa juga tidak tahu. Ini memang suatu penekanan yang keliru menurut saya, yang lebih tepat adalah kita harusnya berorientasi pada kariernya, pekerjaannya mau jadi apa. Nah sekolahlah sesuai dengan mau jadi apa nantinya, jangan sampai terbalik. Kenapa banyak anak mengatakan asal sekolah sebabnya orang tua mengharapkan kita mempunyai gelar, nanti jadi apa? Ya tidak tahu, lihat nanti pekerjaannya apa. Jadi hal-hal ini saya kira memang perlu diluruskan karena ini adalah cara berpikir yang tidak tepat.
GS : Tapi memang mungkin mencari sekolah itu jauh lebih mudah daripada mencari tempat kerja di sini, di tempat negara kita ini Pak Paul. Sekolah misalnya, masih ada yang negeri kalau tidak diterima di negeri masih bisa lari ke swasta. Sedang di tempat kerja itu sudah hampir penuh dan orang jarang membuka lapangan kerja baru. Di samping itu remaja-remaja kitapun kurang dipersiapkan untuk menciptakan lapangan kerja baru, sehingga memang kecenderungannya ke situ tadi Pak Paul, sekolah dulu nanti kerjanya terserah apa saja.

PG : Memang itu juga merupakan masalah, Pak Gunawan, yaitu lapangan pekerjaannya kurang diciptakan, tapi saya rasa gelar itu memang begitu penting. Jadi kalau sudah lulus SMA yang terpikir lngsung adalah bagaimana mendapatkan gelar lanjutan, nantinya jadi apa tidak ya tidak tahu.

Jadi sekali lagi saya mau menempatkan masalah ini dalam perspektif yang lebih tepat yaitu seorang anak remaja sebisanya harus lebih tahu nanti mau jadi apa, mau mengerjakan profesi apa. Maka pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat atau panggilan mau menjadi apa nantinya.

ET : Kalau saya amati rasanya latar belakang kehidupan ekonomi cukup mempengaruhi juga dalam hal ini, Pak Paul. Kalau saya melihat orang-orang yang keluarganya lebih sulit dalam arti belum tntu bisa membiayai sekolah, justru hal ini lebih menjadi motivasi buat anak-anak.

Anak-anaknya kalau mencari sekolah difokuskan misalnya bagaimana supaya cepat selesai, lalu cepat dapat pekerjaan. Jadi mereka mungkin lebih berorientasi kepada pekerjaan itu dibandingkan dengan yang orang tuanya dari tingkat ekonomi yang lebih mampu yaitu pokoknya lulus SMA, yang penting sekolah dulu selama masih ada yang mampu membiayai, pekerjaannya nomor sekian.

PG : Betul, sayang sebetulnya sebab kalau kita tidak tahu apa yang ingin kita kerjakan nanti, kita cenderung akan memilih jurusan yang sembarangan dan ini yang lebih drastis, yang lebih para adalah motivasi bersekolah menjadi sangat lemah.

Ini yang saya lihat sekali lagi dengan yang di Amerika yaitu anak-anak sekolah di sana jarang mencontek, yang mencontek di sana adalah mahasiswa asing yang membawa kebiasaan buruk dari negaranya yang masuk ke Amerika. Tapi orang Amerika sendiri jarang mencontek, karena apa? Sebab mereka memang tidak harus bersekolah, karena mendapatkan pekerjaan sebagai tukang sampahpun memberikan gaji yang cukup buat mereka, sebagai sopir trukpun mempunyai gaji yang cukup buat mereka. Kalau mau sekolah berarti memang sungguh-sungguh mau sekolah, karena mau mendapatkan bekal ilmunya itu. Nah saya kira tidak semuanya seperti itu di masyarakat kita. Biasanya orang mau menjadi dokter harus masuk sekolah kedokteran umum, itu cukup spesifik. Orang mau menjadi dokter tahu bahwa dia harus masuk sekolah kedokteran, tapi tidak semua bidang seperti itu. Contoh lain yang saya tahu juga sangat spesifik adalah sekolah Theologi, seseorang mendapat panggilan menjadi seorang hamba Tuhan, nah dia masuk ke Sekolah Tinggi Theologi, mempersiapkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Namun sekali lagi cukup banyak bidang-bidang lain yang tidak seperti itu.
GS : Itu peran tempat kerja, cara majikan dalam hal ini menilai pegawainya juga sangat berpengaruh kepada mereka yang sekolah. Karena banyak di tempat kerja gelar itu dihargai dan bukan pekerjaannya itu. Jadi ada 2 orang yang baru masuk, yang satu sarjana, yang satunya lulusan SMA. Katakan yang SMA ini lebih mampu kerjanya tetapi gajinya akan lebih rendah daripada yang sarjana tadi.

PG : Itu memang masalah Pak Gunawan, sebab sekali lagi masyarakat kita terlalu berorientasi pada gelar. Jadi saya berikan satu contoh, ini sungguh-sungguh terjadi. Ada seseorang yang hampir eninggal dunia karena penyakit terminal di Amerika kemudian dia banyak menonton film-film lucu lalu sering ketawa, sering ketawa lama-lama penyakit terminalnya itu sembuh.

Dan dia banyak melakukan penelitian tentang kaitan hati yang gembira, tertawa dengan kesembuhan, dia akhirnya direkrut sebagai salah satu dosen di sekolah kedokteran di UCLA (University of California at Los Angeles) sekolah yang sangat bergengsi di Amerika, tidak punya gelar dokter medis sama sekali sebetulnya. Ini contoh memang suatu perkecualian juga, sebab pada umumnya dosen di sekolah kedokteran memang dokter. Tapi intinya adalah masyarakat di sana menghargai kemampuan, gelar itu memang dinomorduakan. Sayang sekali kita tidak begitu.
GS : Belum lagi pengaruh orang tua, orang tua pasti bangga kalau anaknya bergelar daripada tidak bergelar walaupun sudah bekerja.

PG : Betul.

ET : Dan akhirnya kadang-kadang juga ada unsur keterpaksaan, misalnya karena saya sudah kuliah ini maka mau tidak mau saya harus bekerja ini. Padahal sebenarnya kalau kita mau kaitkan denganminat, kepribadian ya tidak cocok tetapi karena sudah terlanjur akhirnya menjalaninya dan saya yakin tidak akan efektif juga.

(1) PG : Betul, kalau memang itu bukan bidang kita lalu kita paksakan, kita akan kesulitan nantinya. Tapi apa yang Ibu Esther tadi baru munculkan membawa kita pada prinsip yang pertam dalam memilih pekerjaan, yaitu sedapat mungkin pilihlah pekerjaan pertama kita yang paling mendekati jurusan studi, asal jurusan itu memang tepat dengan kemampuan kita ya Bu Esther, kalau memang tidak tepat maka kita akan frustrasi di tengah jalan.

Tapi memang kalau sesuai dengan minat dan kemampuan kita, setelah lulus jangan menyeberang terlalu jauh, carilah pekerjaan yang mendekati bidang studi kita. Alasannya apa? Alasannya adalah kita telah siap pakai, kita sedikitnya sudah 4 tahun lebih dipersiapkan untuk bisa menguasai bidang itu. Dan saya mau mengingatkan bahwa karier itu suatu jenjang, suatu anak tangga, kita hanya bisa naik ke anak tangga ke 10 kalau kita sudah menaiki yang ke 1, ke 2 sampai ke 9. Nah sekolah adalah anak tangga pertama sebetulnya, jadi kita itu sudah melewati anak tangga pertama. Sekarang kita masuk ke anak tangga ke 2, yaitu anak tangga yang masih berkaitan dengan anak tangga yang sebelumnya. Jangan sampai kita mencari tangga yang lain karena kita sudah bangun tangga itu jadi harus dilanjutkan. Nasihat saya adalah kepada yang mau mencari pekerjaan, pertama carilah pekerjaan yang mendekati jurusan studi kita jangan langsung ambil atau langsung terima, kalau bisa carilah yang mendekati jurusan kita.

ET : Tapi banyak orang mengatakan bahwa pendidikan S1 itu sendiri sebenarnya lebih kepada pembentukan pola pikir daripada memang sungguh-sungguh siap pakai pada bidang itu, Pak Paul?

PG : Sudah tentu keahlian itu akan perlu waktu, perlu pengalaman dan sebagainya. Namun tetap kita harus akui bahwa jenjang pertama selama 4 tahun itu sudah merupakan bekal suatu fondasi yangmemang belum dapat dipanggil pakar dalam bidang itu, tapi sudah merupakan anak tangga awal-awal yang bisa kita lanjutkan dari situ.

Jadi point saya adalah kita sudah investasi, kita sudah menanam selama 4 tahun ini sebaiknya kita teruskan tanaman itu. Jangan kita lompat ke tangga yang baru kecuali memang kita sadari kita telah memilih jurusan yang sangat keliru pada awalnya, ya silakan kita konsekuen memulai yang baru.
GS : Prinsip yang lain apa Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah jangan terlalu memilih-milih pekerjaan pertama, memang seolah-olah ini berkontradiksi yang baru saja kita bicarakan. Begini, selama pekerjaan itu mendekati jurusan kit walaupun gajinya tidak besar atau misalkan pekerjaan itu letaknya agak jauh dari rumah atau harus ke kota lain, saya anjurkan sebisanya diterima.

Ingat prinsip bahwa kita ini sedang membangun karier dan karier dibangun di atas pengalaman kerja, karier tidak dibangun di atas gelar, karier tidak dibangun di atas sepucuk kertas, tanda kelulusan, karier juga tidak dibangun di atas pengetahuan teoritis. Jadi untuk pengalaman pekerjaan pertama, saran saya jangan terlalu memilih gajinya harus begini dan sebagainya, harus dekat dengan rumah, jangan pusingkan hal itu berkorbanlah, terimalah meskipun lebih susah harus berkorban lebih besar. Karena tahun-tahun pertama itu penting sekali, biasanya di perusahaan atau majikan yang lain akan melihat pengalaman kerja kita, mampu atau tidak kita membuktikan diri dalam pengalaman itu. Waktu melihat resume atau CV kalau orang ini setahun pindah, setahun pindah, setahun pindah kesimpulannya adalah orang ini memang tidak mantap, lebih bisa bertahan misalnya dalam pekerjaan pertama 5 tahun, ini membuktikan kepada perusahaan yang berikutnya bahwa kandidat ini memang mampu bertahan dalam pekerjaan, mampu bertanggung jawab, mampu bertahan. Jadi sekali lagi semua orang harus membuktikan diri dalam pengalaman pekerjaan pertama itu.

ET : Justru sepertinya ini yang kadang-kadang dilupakan, karena dalam hal ini kebanyakan sarjana-sarjana baru ini ada seperti satu idealisme tersendiri bahwa saya sudah sekolah susah-susah mnimal saya harus mempunyai gaji sekian, jenis pekerjaannya seperti ini dan lingkunganpun rasanya mempengaruhi ya, misalnya ada teman yang ini, teman yang sama-sama berjuang kenapa bisa dapat segitu kenapa saya tidak bisa, jadi akhirnya membuat mereka pilih-pilih pekerjaan.

PG : Ya itu sering terjadi dan memang saya harus akui, Bu Esther, adakalanya perusahaan itu memanfaatkan para pelamar pertama, para pemula ini karena yang mereka tahu para pemula ini akan tepaksa menerima pekerjaan-pekerjaan itu bahkan dengan gaji yang rendah.

Tapi memang inilah dunia di mana kita hidup, banyak orang yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Jadi mereka akan mencoba memanfaatkan atau yang bisa mereka manfaatkan, tapi sekali lagi kita memerlukan pengalaman kerja pertama itu.
GS : Ya saya melihat di situ Pak Paul, khususnya untuk mereka yang baru mulai bekerja setelah lulus sekolah itu ternyata peran orang tua cukup besar. Ada orang tua yang menganggap bahwa setelah anaknya bekerja dia bebas, tidak memberikan apa-apa lagi khususnya dana, kamu sekarang sudah bekerja biayai hidupmu sendiri. Padahal kenyataannya dengan gaji awal yang dia terima itu untuk membayar kost saja habis, jadi sebenarnya pada saat-saat awal seperti itu minimal 1 atau 2 tahun orang tua harus tetap mensubsidi anaknya, supaya dia bisa bertahan dengan gaji yang kecil itu tadi ya, Pak Paul?

PG : Itu masukan yang berharga sekali Pak Gunawan, mudah-mudahan para pendengar kita khususnya orang tua bisa mengingat bahwa anak-anak tidak bisa dilepaskan begitu mendapatkan pekerjaan. Seab memang gaji awal biasanya tidak memadai, itu betul sekali.

GS : Dan kebutuhannya masih cukup besar, nah prinsip yang lain apa Pak?

PG : Prinsip yang ketiga adalah sedapat mungkin pilihlah pekerjaan yang membuka peluang bagi kita mengembangkan keahlian yang spesifik. Dengan bertambahnya jenis pekerjaan, dewasa ini spesiaisasi menjadi semakin penting, dunia kita ini sudah melahirkan mungkin beribuan jurusan bahkan dalam universitas yang besar-besar terdapat ratusan jurusan sekarang.

Dulu jurusan itu sangat sedikit sekarang ada ratusan. Berarti apa, sekali lagi spesialisasi menjadi hal yang penting. Dulu orang bisa semuanya sedikit-sedikit dihargai sekarang tidak, orang bisa sedikit dalam banyak hal, dianggapnya apa? Tidak bisa apa-apa. Dan dikatakannya apa yang dia tanggung, bisanya sedikit dangkal, tidak dihargai lagi tapi yang dihargai adalah orang yang bisa satu namun sangat bisa, sangat ahli dalam bidang itu. Jadi carilah kalau misalnya kita mempunyai beberapa pilihan pekerjaan yang memberi kita peluang, mengembangkan kemampuan kita yang spesifik itu, kita bisa mendalami satu bidang tertentu. Perdalamlah, jadilah pakar dalam satu bidang itu.

ET : Berarti memang ada baiknya ini sudah diawali pada waktu kuliah untuk mempunyai suatu spesifikasi, fokus kepada suatu bidang supaya nanti ada nilai jualnya.

PG : Tepat sekali, karena semakin kita lebih jelas pada awalnya maka waktu belajarnyapun kita lebih memfokuskan pada bidang itu.

GS : Ya tetapi memang tuntutan di waktu belajar yaitu mata kuliah yang harus dia selesaikan itu memang banyak. Kalau dia hanya menekuni satu bidang tertentu memang agak berat, kalau dia sudah bekerja sebenarnya akan banyak peluang, asal pekerjaannya memang sesuai. Nah apakah ada prinsip yang lain Pak Paul, yang sangat dibutuhkan di dalam seseorang itu memilih pekerjaan?

PG : Prinsip yang keempat adalah ingatlah sikap kita terhadap pekerjaan itu akan mempengaruhi performa kerja kita. Jadi apalagi bagi para pemula jangan menyepelekan pekerjaan kita dan berkat pekerjaan begini untuk sementara saja, untuk mengisi waktu saja.

Karena apa? Karena apa yang kita hasilkan juga akan bernilai sepele atau disepelekan, tidak akan membawa kepuasan buat kita ataupun kepuasan bagi orang yang telah mengkaryakan kita. Jadi sikap itu penting sekali, semakin tinggi penghargaan kita terhadap pekerjaan kita, semakin tinggi dan bernilai performa kerja kita sehingga yang kita hasilkan akan jauh lebih bermutu. Nah, sekali lagi orang akan mau melihat kwalitas. Tadi saya sudah memberikan komentar bahwa memang masyarakat kita ini masih berorientasi pada gelar, namun masyarakat kita mulai bergeser itu harus saya akui. Makin besar penekanan pada kemampuan atau kwalitas. Jadi sekali lagi di sini penting meskipun pekerjaan itu kita anggap biasa-biasa saja, lakukan dengan sebaik-baiknya. Karena ini akan menjadi nilai-nilai tambah bagi majikan kita untuk melihatnya, nah siapa tahu nanti ada lainnya yang akan bisa dia diberikan kepada kita.
GS : Bagaimana dengan ketahanan fisik seseorang Pak Paul, karena kadang-kadang ada yaitu sudah lama tidak dapat pekerjaan lalu dia katakan tidak apa-apa di sini padahal dia misalnya saja tidak tahan debu, pekerjaan itu menuntut dia justru untuk tiap hari kumpul sama debu.

PG : Ya prinsip yang kelima jadinya memang itu Pak Gunawan, pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan ketahanan tubuh kita. Misalkan kita diminta untuk bekerja selama 12 jam dan gajinya besar, jngan memilih pekerjaan itu kalau kita memang tidak bisa tahan dengan 12 jam kerja.

Akhirnya kita sering sakit atau kita jadi sering stres, nah tubuh kita tidak bisa menanggungnya. Pilihlah pekerjaan yang memang bisa kita tanggung secara fisik, seperti tadi tentang debu. Ada juga orang yang memang tidak tahan untuk misalnya terlalu banyak di luar, di lapangan, terkena angin yang menyebabkan dia sering sakit atau jenis pekerjaannya, batas temponya, batas waktunya terus-menerus diburu misalnya seperti wartawan. Ada orang yang memang cocok, dia tidak bisa harus kerja sampai larut malam karena ada deadline. Jadi meskipun bagus, menggiurkan tapi kalau memang tubuh kita tidak mampu untuk melakukannya kita harus terima fakta itu.

ET : Tapi adakalanya tuntutan itu tidak langsung diberikan saat itu juga ketika seseorang mulai bekerja. Kaitannya dengan prinsip yang yang keempat tadi tentang sikap terhadap pekerjaan, kebnyakan mungkin awalnya hanya 8 jam rasanya mampu tetapi kemudian karena oleh bos atau majikan ini dilihat dia sikapnya baik, positif dan biasanya yang seperti ini kemudian akan dipercayakan lebih dan lebih lagi akhirnya tanpa disadari dalam waktu beberapa bulan yang tadinya 8 jam jadi 10 jam dan seterusnya bertambah.

Padahal ketahanan ini masalahnya, jadi bagaimana mengkombinasikan prinsip yang keempat dengan kelima ini, Pak Paul?

PG : Saya kira perlu keterbukaan baik dengan diri kita maupun dengan pekerjaan atau atasan kita yaitu kita mengakui kita terbatas, kita tidak bisa, tubuh kita tidak bisa menanggungnya dan kia harus jujur juga dengan atasan kita.

Kita mau melakukannya tapi tidak bisa sebanyak itu dan terserah dia, apakah mau mempertahankan kita atau tidak. Nah ini sebetulnya membawa kita kepada prinsip yang terakhir, yang keenam yaitu pilihlah pekerjaan yang mendukung keseimbangan hidup. Makin tua makin saya menyadari pentingnya kita menyadari ritme hidup kita, irama hidup kita, keseimbangan kita ini. Karena kalau pekerjaan membawa tekanan terlalu besar, itu akan menjungkirbalikkan keseimbangan hidup kita. Akhirnya akan melimpah ruah misalnya dalam keluarga, kehidupan emosional kita, belum lagi kehidupan rohani kita menjadi jauh dari Tuhan dan sebagainya. Ada orang yang harus hidup dengan lingkungan yang sangat-sangat tidak mengenal Tuhan, main perempuan terus-menerus, akhirnya dia ikut terbawa dan tidak bisa lepas. Nah langkah yang harus diambil sebenarnya adalah melepaskan pekerjaan itu, karena dia tahu dia tidak bisa lepas dari kecanduan misalnya minum atau main perempuan atau narkoba, jadi yang dia harus lepaskan adalah pekerjaannya. Atau terlalu tersita waktunya di luar sehingga tidak punya waktu lagi untuk keluarganya. Dia harus menyadari hidupnya tidak lagi seimbang, jadi ada baiknya kalau pendengar-pendengar kita ini kebetulan adalah para eksekutif muda, ada baiknya kita berhenti sejenak, melihat, introspeksi apakah kita telah hidup seimbang, cukup waktu untuk diri sendiri, cukup waktu untuk anak dan istri atau suami kita. Dan terutama cukup waktu atau tidak untuk pekerjaan Tuhan yang kita akan bawa ke sorga nanti sudah tentu bukan jam-jam kerja kita, tapi apa yang kita perbuat untuk Tuhan.

ET : Masalahnya kadang-kadang kalau untuk orang yang baru mulai meniti karier menganggap ini sebagai sementara, Pak Paul. Ya ini sementaralah karena saya sedang meniti, nanti kalau sudah samai pada titik tertentu saya akan lebih memperhatikan keseimbangan hidup, tapi nyatanya semakin dituntut maka semakin tidak seimbang.

PG : Ada seorang hamba Tuhan yang saya kenal setiap 5 tahun dia akan pergi menyendiri selama beberapa saat berdoa meminta petunjuk Tuhan. Dia akan mengevaluasi pelayanannya 5 tahun terakhir ni dan secara spesifik dia akan meminta Tuhan menunjukkan apa yang dia harus kerjakan buat Tuhan 5 tahun mendatang.

Dan dia telah melakukan itu sejak dari awal pelayanannya. Saya kira ini semua kita bisa pelajari dan contoh, evaluasilah yang telah kita lakukan apakah kita terus-menerus dalam proses meniti, sampai kapan kita akan selesai meniti dan apakah dalam penitian ini kita akhirnya akan menggoncangkan keseimbangan hidup. Ada orang yang harus mengorbankan keluarganya, kehidupan dirinya sendiri menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya, penuh tekanan akhirnya menjadi pemarah. Penuh tekanan sehingga akhirnya lari ke hal yang berdosa, jadi akhirnya kita harus evaluasi diri. Jadi jangan sampai kita memilih pekerjaan yang akan menghancurkan kehidupan kita.
GS : Ya memang prinsip-prinsip yang Pak Paul sampaikan sangat penting untuk kita camkan dengan baik dan khususnya juga bisa dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari, nah dalam hal ini firman Tuhan mengatakan apa, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Kolose 3:17 , "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap sykur oleh Dia kepada Allah Bapa kita."

Yang pertama apapun yang kita kerjakan lakukan untuk Tuhan Yesus, artinya berikan yang terbaik karena kita mau memberikannya untuk Tuhan Yesus. Dan yang kedua sikap kita dalam melakukannya, sikap mengucap syukur, sikap berterima kasih karena kita tahu kita memberikan ini untuk Tuhan dan dari Tuhan. Sikap penuh pengucapan syukur akan membuat kita bekerja dengan lebih baik, bersemangat dan akan memancarkan keramahtamahan kepada orang di sekitar kita pula.

GS : Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada, Pak Paul dan Ibu Esther, untuk saran dan perbincangan kita malam ini. Saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memilih Pekerjaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



18. Gejolak Pertumbuhan Remaja 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T103A (File MP3 T103A)


Abstrak:

Masa remaja adalah masa di mana seseorang membentuk atau mulai membangun siapa dirinya atau jati dirinya.


Ringkasan:

Masa remaja adalah masa di mana seseorang membentuk atau mulai membangun siapa dirinya atau jati dirinya.

Perbedaan masa kanak-kanak dengan masa remaja adalah:

  1. Secara fisik anak remaja sudah mengalami beberapa perubahan hormonal misalkan munculnya hormon-hormon seksual yang membuat mereka itu menjadi makhluk atau menjadi manusia yang harus bergumul dengan gejolak seksualnya.

  2. Mereka makin dewasa pola pikirnya bertambah abstrak, pola pikir ini membuat mereka mempertanyakan nilai-nilai yang mereka telah anut sebelumnya.

  3. Para remaja juga mudah sekali mengikuti trend, mengikuti apa yang sedang 'in' di kalangan mereka. Dan mungkin sekali apa yang sedang 'in' atau trend itu tidak cocok dengan yang kita sukai akibatnya sering kali terjadi pertengkaran, membuat hubungan orang tua-anak sering kali tegang.

Yang dikatakan remaja, dipandang dari segi usia adalah anak usia sekitar 11 - 12 tahun hingga usia sekitar 20 tahun.

Sekurang-kurangnya ada 3 tahapan yang harus dilewati oleh seorang remaja:

  1. Usia sekitar 12 - 14 tahun. Pada tahap ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan diri secara jasmaniah. Biasanya yang menjadi masalah adalah dia tidak menyukai bagian-bagian tubuhnya atau dia tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Kegagalan untuk bisa menerima diri secara fisik, bisa membuahkan kekurangpercayaan diri.

  2. Usia sekitar 15 - 18 tahun. Pada usia ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam kelompok mereka. Ini sering kali menjadi dilema buat kita sebagai orang tua, karena adakalanya kelompok anak akan memaksakan anak kita melakukan hal-hal yang kita tidak setujui. Nah kita harus berhati-hati dengan respons kita sebagai orang tua, adakalanya kita terlalu terburu-buru memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak itu tidak pernah benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada anak yang justru kebalikannya terjun masuk ke dalam kelompoknya dan menanggalkan nilai-nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.

  3. Usia 19 tahun hingga 20 atau 21 tahun. Ini memang sudah tumpang tindih dengan tahapan dewasa awal, sebab memang transisinya masuk ke tahapan dewasa awal. Pergumulan remaja pada tahap ini berkisar pada kemampuan pribadinya membangun karier. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi pergumulannya adalah mampukah saya masuk ke sekolah tertentu, mampukah saya masuk ke jurusan yang saya inginkan. Atau kalau dia ingin bekerja, mampukah saya memulai pekerjaan saya, mampu tidak saya meniti karier saya. Pada tahap ini ada 2 kata yang perlu diperhatikan oleh para remaja yaitu :

    1. kata kemampuan dan
    2. kata kesempatan

Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dan tidak seorang pun mempunyai kesempatan yang sama.

Ada tiga kemungkinan penyebab yang membuat remaja akhirnya menemui jalan buntu, dia tidak tahu mau sekolah apa.

  1. Adakalanya remaja mempunyai kemampuan yang terlalu besar, banyak beragam, nah dia mungkin mengalami kebingungan mau pilih yang mana.

  2. Dia tidak menyadari dia bisa apa, dia tidak tahu dia mampu di mana, sebab yang dia tahu semuanya dia tidak suka dan semuanya dia tidak bisa.

  3. Kasus yang ketiga, dia sebetulnya tahu dia bisa apa, tapi dia bisa itu bukan hal yang dia sukai, karena dia menganggap yang dia bisa itu hal yang tidak dihormati atau hal yang tidak begitu dihargai oleh masyarakat atau yang dia bisa itu tidak bisa menghasilkan uang dengan cepat.

Dalam hal ini bimbingan orang tua yang sangat penting, bukan sekolah atau guru tapi orang tua dari sejak anak masih jauh lebih muda, jauh lebih kecil orang tua sudah mulai memantulkan pada anak apa yang menjadi bakat dan kemampuan si anak.

Peran kita sebagai orang tua adalah:

  1. Orang tua harus mengenal anaknya dengan baik, sehingga dia bisa melihat anaknya itu dengan tepat. Kemampuannya apa, bisanya apa kira-kira pengarahan seperti apa.

  2. Orang tua mesti memiliki hubungan yang baik dengan anak, ini penting sekali sebab mustahil anak mendengar orang tua kalau hubungannya dengan orang tua tidak positif. Hubungan yang baik juga adalah wadah di mana anak lebih berani untuk mengemukakan pergumulannya, ketidakbahagiaannya, ketertekanannya, penderitaannya.

  3. Si anak juga mesti mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan saja orang tua kenal anak dengan baik, orang tua dekat dengan anak, tapi si anak perlu dekat dengan Tuhan, itu bekal yang sangat penting sekali, tanpa itu tidak bisa maju.

Bagi remaja yang perlu dilakukan adalah:

  1. Berdamai, berdamai pertama dengan keterbatasan fisik. Berdamai artinya terima fisikmu seperti itu memang terbatas tidak usah malu, tidak usah dilebih-lebihkan.

  2. Berdamai dengan keterbatasan teman, artinya ada teman yang akan terima, ada teman yang tidak akan terima kamu, gara-gara kamu misalnya Minggu mau ke gereja kamu tidak bisa pergi dengan teman-teman, ada sebagian yang tidak menjadi temanmu dan terimalah itu tidak apa-apa.

  3. Berdamai dengan keterbatasan kemampuan dan kesempatanmu.

Mazmur 139:16 , "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya." Firman Tuhan menegaskan kita dibentuk oleh Tuhan, dibuat oleh Tuhan, mata Tuhan melihat kita selagi kita bukan saja anak, waktu kita bakal anak belum menjadi anak. Firman Tuhan menegaskan Dialah yang menciptakan kita jadi Tuhan tidak membuat kesalahan. Mungkin tubuh kita tidak pas, mata kita, hidung kita, telinga kita tidak pas, mungkin juga kita tidak terlalu pas diterima teman-teman tapi ingat bahwa Tuhan tidak membuat kesalahan.

Mazmur 125:1 , "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya." Percayakan masa depanmu kepada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Gejolak Pertumbuhan Remaja." Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, semua kita terutama yang mempunyai anak remaja pasti memahami atau melihat tingkah laku remaja, ada sesuatu yang berbeda dengan masa kanak-kanak maupun dengan masa remajanya. Sebenarnya perbedaannya apa itu Pak Paul?

PG : Ada beberapa hal Pak Gunawan, secara fisik anak remaja ini sudah mengalami beberapa perubahan hormonal, misalkan yang paling jelas adalah munculnya hormon-hormon seksual yang membuat merek itu menjadi makhluk atau menjadi manusia yang harus bergumul dengan gejolak seksualnya.

Nah ini salah satu hal yang sering kali menjadi problem bagi para remaja maupun orang tua yang mengawasi mereka. Hal lainnya juga adalah karena mereka makin dewasa pola pikir mereka bertambah abstrak, pola pikir yang bertambah abstrak ini membuat mereka mempertanyakan nilai-nilai yang mereka telah anut sebelumnya. Kalau sebelumnya pada masa kecil mereka menerima begitu saja apa yang kita katakan, apa yang kita yakini sebagai kepercayaan kita atau iman kita, sebagai kebenaran. Pada masa remaja mereka tiba-tiba menggugat apa yang telah kita tekankan sebelumnya. Atau yang lainnya lagi adalah para remaja ini juga akan mudah sekali mengikuti trend, mengikuti apa yang sedang 'in' di kalangan mereka. Dan apa yang sedang 'in' atau trend itu mungkin sekali tidak cocok dengan yang kita sukai, akibatnya sering kali terjadi pertengkaran. Nah hal-hal seperti itu saya kira menandai masa remaja, menjadi masa yang khas sekali karena hal-hal tersebut membuat hubungan orang tua-anak sering kali tegang. Kamar tidak dibersihkan, musik terlalu keras, rambut dipotong seperti itu, gaya bicaranya seperti ini, belajar dari mana semua itu dan sebagainya.
(2) GS : Biasanya yang disebut masa remaja itu, ketika anak pria atau anak wanita itu memasuki usia berapa Pak?

PG : Ada beberapa pandangan Pak Gunawan, namun saya secara pribadi mengkategorikan remaja itu dari usia sekitar 11 atau 12 tahun hingga usia sekitar 20 tahun jadi rentang yang cukup panjang antra 8- 10 tahun.

GS : Ya dibandingkan masa kanak-kanak, mungkin yang remaja ini bisa lebih panjang Pak?

PG : Ya betul sebab kalau kita melihat masa kanak-kanak di atas balita adalah sekitar usia 5 tahunan.

GS : Nah apakah seseorang itu memasuki masa remajanya sekaligus atau bertahap?

PG : Sering kali bertahap Pak Gunawan, jadi kita mulai bisa menyimpulkan sekurang-kurangnya ada 3 tahapan yang harus dilewati oleh para remaja, yang memasuki usia remaja dari usia 11, 12 sampaiusia 20 tahun.

(3) GS : Tahapan-tahapannya bagaimana Pak?

PG : Saya akan jelaskan ada tiga, nah yang pertama adalah usia sekitar 12-14 tahun, pada tahap ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan diri secara jasmaniah. Pada usia ini reaja peka sekali dengan komentar orang terhadap tubuhnya, penampilan fisiknya.

Kita seakan-akan melihat remaja terobsesi sekali dengan penampilan fisiknya, begitu terobsesinya sehingga mereka itu mengharapkan setiap anggota tubuh mereka itu bisa pas. Pas untuk ukuran mereka sendiri maupun pas untuk ukuran teman-teman di mana mereka bergaul. Jadi kalau misalkan anggota tubuhnya itu tingginya saja tidak pas, nah itu menjadi masalah buatnya, akan ada perilaku kompensasi yang biasanya ditunjukkan oleh remaja yang tingginya tidak pas. Lebih beranilah, lebih ributlah, lebih bawellah atau lebih jantanlah atau mau lebih menariklah, lebih cantiklah, lebih beranilah dalam berdandan dan sebagainya. Ukuran tubuh menjadi masalah atau besarnya tubuh itu kekurusan, kegemukan, atau besarnya atau panjangnya tangan, panjangnya kaki, masuk atau tidak masuknya hidung kita alias pesek atau mancung, sipit atau besarnya mata kita dan sebagainya. Jadi pada usia pertama itu sering kali remaja memang bergumul dengan penampilan fisiknya, nah sebagai orang tua kita mesti menyadari hal ini sehingga kita lebih berhati-hati, kadang-kadang orang tua karena kurang menyadari hal ini mengeluarkan komentar yang menusuk hati remaja. "Kamu sudah pendek, masih banyak laga lah," nah itu kata-kata yang benar-benar menampar hatinya si remaja sebab itulah pergumulan dia. Nah pada masa kecil hal itu memang tidak pernah menjadi masalah, tapi pada usia sekitar 12, 14 tahun penampilan fisik menjadi hal yang begitu penting baginya.
GS : Ya padahal yang saya amati itu anak perempuan, pertumbuhan tubuhnya lebih cepat dibandingkan pria, Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan dan ini bisa-bisa menjadi masalah, jadi riset memperlihatkan anak wanita yang bertumbuh secara fisik terlalu cepat itu sering kali lebih rawan terhadap masalah, karena di menjadi sorotan anak-anak laki seusianya atau yang lebih tua darinya.

Dia dianggap seperti wanita, mulailah komentar-komentar seksual dilontarkan terhadapnya sehingga membuat dia tidak nyaman. Atau karena tubuhnya mulai membentuk dia merasa tidak nyaman sekali bersama-sama dengan teman-teman wanita seusianya yang tubuhnya masih belum membentuk, nah itu sendiri membuat dia canggung. Nah kita mungkin berpikir para gadis ini bangga dengan tubuhnya yang telah matang atau lebih cepat dari usianya, tapi sesungguhnya ada tekanan-tekanan tersendiri yang harus dilewati oleh para gadis ini.
GS : Padahal sulit sekali untuk mencapai tubuh yang ideal menurut pikiran dia Pak Paul, mesti ada saja hal-hal yang membuat si remaja ini tidak puas. Kalau sampai itu terjadi apa dampaknya terhadap si anak remaja ini?

PG : Biasanya anak-anak remaja akan sukar menerima diri, dia seolah-olah akan bermusuhan dengan dirinya sendiri. Bermusuhan dalam pengertian dia merasa tubuhnya ini seharusnyalah bukan tubuhnyadan kalau bisa tawar-menawar dengan Tuhan, mungkin dia meminta tubuh yang lain.

Nah, saya memanggil atau menyebut proses ini adalah dia gagal berdamai dengan kekurangan pribadinya, dia gagal bersalaman dengan kekurangan dirinya. Nah biasanya ini akan melahirkan kekurangpercayaan diri, jadi dia akan gamang, ragu-ragu tampil di depan orang, dia kurang berani untuk berbicara, untuk bergaul dengan lebih bebas dan sebagainya, karena dia memang mempunyai beban mental bahwa dia kurang menarik, bahwa dia itu tidak sama dengan teman-temannya yang lain. Dia senang kalau temannya wanita, yang cantik, yang menarik kalau misalnya ada wanita mau bergaul dengan dia. Tapi sekaligus itu tekanan buatnya karena dia harus bergandengan tangan dengan temannya yang cantik atau kalau dia pria tubuhnya terlalu berbeda dari temannya yang lain, dia akan senang kalau teman prianya yang lumayan ganteng mau bergaul dengan dia, tapi sekaligus merasakan ada tekanan juga sebab wanita akan melirik temannya dan tidak melirik dia. Nah biasanya sekali lagi saya tekankan Pak Gunawan, akan muncul perilaku kompensasi, ini yang harus diperhatikan oleh kita sebagai orang tua. Perilaku kompensasi biasanya adalah perilaku untuk menambal kekurangan-kekurangan itu sebab adanya kekurangan atau kekurangpercayaan diri itu. Nah kita harus menjaga agar perilaku kompensasi itu masih dalam batas kewajaran, misalkan kalau sudah tidak wajar seperti ini, anak wanita kita terus menelepon teman-teman prianya nah kita mungkin bisa sensitif juga, kita bisa mengetahui bahwa dia mungkin rindu sekali teman prianya telepon dia tapi memang tidak ada yang menelepon. Jadi akhirnya dia yang menelepon, atau teman prianya kok tidak ada yang datang ke rumah sedangkan di sekolah dia mendengar teman-temannya bercerita "wah...si ini ke rumah saya, o..... si itu ke rumah saya." Dan teman-teman pria juga berkata: "o...kita ngumpul yuk!"; "Kita ngumpulnya di mana?" Di rumah teman wanita yang tertentu. Nah hal-hal itu menekan bagi si wanita, jadi kita orang tua harus peka dan sekaligus mengawasi agar jangan sampai perilaku kompensasi mereka itu lewat batas kewajaran.
GS : Tapi apakah orang tua bisa melihat itu perubahan yang terjadi kalau anaknya tertekan seperti itu?

PG : Saya kira bisa Pak Gunawan, meskipun ini menuntut satu hal yaitu kejelian dan orang tua mesti sedikit banyak di rumah. Karena kalau orang tua tidak di rumah mustahil baginya melihat perubaan-perubahan ini.

Saya berikan contoh yang saya pernah juga paparkan dalam ceramah-ceramah saya yaitu kisah Pdt. Bill Hyble, waktu malam-malam dia ingin menonton acara favoritnya dia melihat anaknya yang masih kecil di tempat tidur berbaring dengan wajah yang begitu murung, dia terus bergumul dia temani anaknya atau tidak, akhirnya dia iseng-iseng dia bertanya: "Kenapa kau begitu murung?" anak itu tidak menjawab, terus mendiamkan dia. Dia bertanya lagi: "Kenapa kau murung? Kenapa kau murung?" Anak itu tidak menjawab. Nah akhirnya dia bingung dia harus turun nonton televisi atau tidak, tapi akhirnya dia putuskan tidak menonton dia temani anaknya. Dia hanya berbaring di samping si anak tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Tapi tiba-tiba si anak menengok ke arahnya dan bercerita bahwa tadi pagi di sekolah temannya mengejek dia, nah dia langsung menangis terisak-isak. Nah sekali lagi moment itu tidak datang setiap hari, nah kadang-kadang memang orang tua berkata: "Yang penting, saya memberi waktu yang berkwalitas", tapi masalahnya kapan waktu yang berkwalitas itu datang, tidak bisa kita ciptakan, datangnya tanpa diduga. Jadi kalau orang tua memperhatikan seharusnya orang tua bisa melihat perubahan itu dan nada kita janganlah nada yang menghakimi, tapi nada yang menerima. Dan kalau kita tahu bahwa dia bergumul dengan penampilan tubuhnya berhati-hati jangan sampai keluar kata-kata yang lebih menekan dia. Yang paling klasik adalah soal makan Pak Gunawan, misalkan anak kita agak sedikit gemuk, anak kita misalkan wanita, saya kira benar kalau kita menjaga anak kita makannya lebih sehat dan sebagainya tapi jangan sampai keluar kata-kata yang makin menjatuhkan dia, "dasar kamu gembrotlah, dasar kamu rakuslah, kamu tidak sadar tubuh kamu sudah gemuk seperti itu" dan sebagainya, itu makin memukul si anak sebab dia sendiri bergumul dan mau lebih kurus tapi tidak begitu mudah, jadi lebih baik kita membangunnya, mendorongnya.
GS : Nah tahapan berikutnya apa Pak Paul, kalau yang tadi kita sudah dengar itu?

PG : Tahap kedua adalah usia sekitar 15-18 tahun Pak Gunawan, nah pada tahap ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya. Nah pada masainilah orang tua sering kali berkelahi atau bertengkar dengan si anak karena si anak lebih mendengarkan penilaian teman-temannya, omongan teman-temannya, sehingga orang tua akhirnya sering kali harus bertengkar dengan dia.

Pada tahap ini anak-anak takut sekali dikucilkan Pak Gunawan, dia takut sekali menjadi orang yang dikeluarkan dari lingkungan pergaulan. Wah kalau dia datang ke sekolah hari lepas hari tapi tidak ada tempat berkumpulnya, wah sangat-sangat membuat dia sedih jadi memang ini adalah kebutuhan dia pada usia sekitar 15-18, dia butuh sekali diterima oleh teman-temannya.
GS : Nah apakah itu berkaitan dengan fase yang pertama tadi Pak Paul?

PG : Saya kira berkaitan, jadi kalau sebelumnya dia merasa nyaman dengan dirinya, bisa mempercayai apa adanya dirinya itu, bisa menerima kekurangannya OK-lah dia terlalu gemuk, OK-lah dia terlau kurus, OK-lah rambutnya tidak seperti temannya tapi dia bisa merima.

Nah penerimaannya itu akan menolong dia untuk bisa bergaul dengan teman-temannya, kalau dia sudah merasa tidak diterima karena penampilan tubuhnya tidak pas, nah dia mulai menjauhkan diri dari teman-teman berarti dia mulai tersingkirkan, jadi berkaitan.
GS : Nah sebenarnya seberapa penting lingkungan itu buat si remaja pada tahap yang kedua ini Pak?

PG : Wah....itu sangat penting Pak Gunawan, sangat penting sekali sebab boleh dikata pada usia ini remaja hanya eksis kalau dia mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari teman-temannya. Jadi kaau kita menuntut remaja untuk berbeda dari teman-teman itu sulit, sulit sekali sebab dia harus datang hari lepas hari ke sekolah atau ke tempat dia berkumpul dan tidak menerima uluran tangan, tidak ada yang menyambutnya, tidak ada yang mengajak dia bicara, wah itu sangat-sangat menyulitkan.

Beruntunglah kalau misalkan ada yang seperti dia beberapa orang itu akan sangat menolong. Tapi kalau kebetulan semuanya begitu berbeda dari dirinya wah itu akan menyulitkan dia.
GS : Itu berarti rasa kesetiakawanannya lebih tinggi dari rasa persaudaraan secara daging ya Pak?

PG : Betul, jadi pada tahap ini orang tua seolah-olah merasa mereka kok tidak lagi berharga di mata si anak, tidak lagi dipandang oleh si anak, tidak lagi dihormati oleh si anak. Ya dari satu ssi memang itulah yang terjadi, tapi di sisi lain kita mesti mengerti bahwa si anak sebetulnya bergumul dihimpit oleh dua kekuatan ini, orang tua atau temannya.

Misalkan dia sudah berjanji untuk pergi dengan teman-temannya terus orang tua tidak memberikan ijin misalkan dia berjanji naik motor mau jalan-jalan, kalau di Jakarta misalnya mau ke Puncak, kalau kita di Jawa Timur misalkan mau ke Batu atau ke Tretes, Trawas. Nah kita berkata tidak boleh naik motor dengan teman-temanmu ke tempat yang jauh, itu tidak boleh, dia sudah terlanjur berjanji dengan teman-temannya. Wah....betapa sulitnya bagi dia untuk memberitahukan teman-temannya "maaf ya saya tidak bisa pergi denganmu karena.....(ini alasannya yang sulit dikemukakan) yaitu orang tua saya tidak mengijinkan." Sebab teman-temannya akan langsung tertawa mengejek dan berkata: "Kamu seperti anak kecil, kamu pergi begitu saja tidak boleh," nah yang langsung dipikirkan apa? Lain kali kalau dia mau pergi lagi dengan teman-temannya ke Tretes atau kalau di Jakarta ke Puncak, dia tidak akan memberitahukan orang tuanya. Lebih baik dia pergi diam-diam, pagi-pagi dia pulang terus berbohong kepada orang tuanya dan berkata baru saja dari rumah temannya. Jadi sekali lagi perilaku-perilaku seperti berbohong, itu akan muncul pada tahap ini pada usia sekitar 15-18, tapi saya kira saya perlu ingatkan orang tua bahwa kita tidak menoleransi kebohongan si anak, tapi kita perlu mengerti kenapa dia berbohong. Sebab barangkali memang dia terjepit di antara 2 nilai, 2 tuntutan dan dia itu harus hidup di tengah teman-temannya juga, itu dilemanya.
GS : Ya tentu sebagai orang tua yang kita permasalahkan itu adalah kalau lingkungannya itu bagus, baik, yang bisa menunjang dia, tapi kalau justru dia berada di lingkungan yang kurang baik Pak Paul?

PG : Betul, jadi adakalanya dilema ini memang susah untuk dipecahkan tapi saya mau memberikan satu masukan di sini yaitu hati-hatilah dengan 2 ekstrim atau 2 reaksi yang ekstrim. Pada satu sisiremaja akhirnya ada yang menyembunyikan nilai pribadinya dan terjun masuk ke nilai-nilai teman-temannya, pokoknya apa yang dilakukan teman-teman dia ia-kan dan lakukan.

Nah apa yang dia yakini, apa yang dia percaya dia sembunyikan, ia tidak berani mengutarakannya karena takut ditolak teman-temannya, itu tidak sehat. Sebaliknya yang juga tidak sehat adalah, anak-anak remaja yang pokoknya hanya mempedulikan nilai-nilainya sendiri, dia pokoknya bela apapun yang dikatakan oleh orang tuanya dan menghindarkan diri untuk bertemu dengan nilai-nilai yang berbeda dari nilai-nilai yang dianutnya, saya kira ini juga tidak sehat. Sebab yang lebih ideal adalah anak-anak remaja memang harus mulai menghadapi dunia yang berbeda dari yang sudah dia kenal. Jadi untuk bertumbuh dengan sehat si anak remaja harus hidup di tengah-tengah tarik-menarik ini, tarik-menarik antara nilai-nilai orang tua dan nilai teman-teman atau lingkungannya yang mungkin berbeda dari nilai-nilai keluarganya. Sebaiknya dia hidup di antara dua tarik-menarik ini dan belajar untuk menyesuaikan, ada yang dia harus sesuaikan, ada yang harus dia singkirkan, ada yang dia harus tolak dan sebagainya, tapi ini adalah proses yang sebetulnya sangat bermanfaat.
GS : Tetapi juga sebagai orang tua saya rasa perlu mengetahui lingkungan anaknya, jadi tidak cepat-cepat menentukan, memvonis mengatakan lingkungan itu jahat atau jelek tanpa dia tahu sebenarnya apa. Sering kali anak remaja itu justru membela teman-temannya di hadapan orang tuanya ini.

PG : Betul, jadi waktu kita mau mengatakan lingkunganmu jahat atau tidak benar, kita seyogyanya bisa menunjukkan satu hal atau 2 hal yang spesifik tentang temannya yang memang tidak baik itu. Dripada kita mengkategorikan secara umum temanmu jahat, nah dia yang merasakan temannya baik, dia yang hidup bersama temannya itu dan dia tahu temannya membela dia.

Bagaimanakah dia bisa memanggil orang yang membelanya jahat, tidak bisa jadi kita harus sangat spesifik waktu kita berkata ini bukanlah teman yang baik, dalam hal apakah tidak baiknya. Tapi intinya adalah orang tua mesti memantau, melihat lingkungannya, kalau kita tahu si anak akan terjerumus karena tidak bisa sama sekali untuk berdiri tegak pada prinsipnya, nah di situ kita memang harus memikirkan perlukah kita menyelamatkan dia dan melindungi dia. Saya kira akan ada titik-titik di mana orang tua harus langsung intervensi dan berkata tidak boleh, engkau tidak boleh ke sana, engkau tidak boleh bertemu dengan dia lagi karena itu sudah sangat-sangat membahayakan si anak. Tapi kalau masih belum silakan anak itu bergumul, tapi kita dari belakang atau dari sampingnya memberikan dia arahan dan dorongan. Sebab dengan cara itulah si anak akan bertumbuh dengan lebih kuat, dengan lebih sehat, bertumbuh dari dalam bukan hanya sekadar mengikuti perintah atau permintaan orang tuanya.
GS : Ya mungkin pada usia-usia ini para remaja baik putra maupun putri sering kali membentuk kelompok-kelompok Pak Paul, sehingga bisa juga terjadi yang negatif yaitu biasanya pada usia-usia seperti ini tawuran antar kelompok.

PG : Betul, sebab sekali lagi lingkungan yang penting sekali buat dia dan akan dia bela adalah kelompoknya atau lingkungannya itu. Nah sekali lagi kita mau fokuskan pada perilaku kompensasi PakGunawan, sebab anak yang tidak diterima bagaimanapun akan menderita, dan dia cenderung akan melakukan kompensasi yang kurang positif, kurang sehat maka ada anak-anak yang misalkan tidak diterima, salah satu reaksinya adalah mengucilkan diri, mengurung diri, tidak berani keluar, tidak berani ke sekolah, tidak mau ke sekolah, itu salah satu reaksi yang buruk.

Itu juga hal yang tidak sehat atau reaksi yang kebalikannya karena tidak diterima dia akan membuat ulah supaya bisa diterima, supaya bisa diperhatikan oleh temannya atau oleh gurunya. Jadi sebagai orang tua kita mesti waspada dengan perilaku kompensasi ini. Mungkin anak kita tidak diterima dengan baik atau dia tidak tahu bagaimana caranya bergaul dan membangun relasi, sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam lingkungan teman-temannya. Kalau kita sadari itu mungkin kita mengambil inisiatif membawa dia ke rumah temannya, mengajak temannya ke rumah kita atau apa, sehingga kita memberikan pertolongan sebelum masalah akhirnya terlanjur menjadi buruk.
GS : Ya kadang-kadang tingkat sosial itu membuat anak itu sukar diterima di lingkungannya Pak Paul?

PG : Bisa, karena misalkan tingkat sosial di bawah susah untuk menanjak dan diterima oleh tingkat sosial yang di atasnya dan sebaliknya. Jadi kadang-kadang memang dalam dunia remaja mereka mempnyai aturannya tersendiri, aturan yang menerima atau mengeluarkan orang dari kelompok itu.

GS : Nah, Pak Paul 'kan masih ada satu tahapan lagi karena tadi Pak Paul katakan 3, tetapi kita baru membicarakan 2 dan ini rupanya waktunya tidak mencukupi kalau kita membicarakan yang ketiga. Cuma mungkin Pak Paul bisa menyebutkan saja nanti kita akan membahasnya pada kesempatan yang akan datang.

PG : Yang nanti kita akan bahas adalah remaja pada usia sekitar 19-21 tahun, kita akan melihat apa saja yang menjadi pergumulannya dan kita akan membahas beberapa saran-saran praktis yang bisa iterapkan untuk mengawasi dan menolong remaja melewati tahapan-tahapan ini.

GS : Ya memang ini suatu pembicaraan yang perlu pembahasan yang panjang lebar, jadi kami sangat mengharapkan para pendengar yang sudah mengikuti bagian yang pertama dari gejolak pergaulan remaja ini akan bisa mengikuti pada kesempatan yang akan datang. Namun Pak Paul, sebelum kita mengakhiri perbincangan kita mungkin ada ayat atau bagian dari Alkitab yang Pak Paul akan bacakan yang bisa membantu kita untuk merangkum pembicaraan ini.

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 139:16 , "MataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari paanya."

Firman Tuhan menegaskan, bahwa kita dibentuk oleh Tuhan, dibuat oleh Tuhan, mata Tuhan melihat kita selagi kita bukan saja anak, waktu kita bakal anak belum menjadi anak. Jadi dalam firman Tuhan, Tuhan menegaskan Dialah yang menciptakan kita jadi Tuhan tidak membuat kesalahan. Mungkin tubuh kita tidak pas, mungkin mata kita, hidung kita, telinga kita tidak pas, mungkin juga kita tidak terlalu pas diterima teman-teman, tapi ingat bahwa Tuhan tidak membuat kesalahan.

GS : Ya, katakan tidak ada seorang sahabatpun, Tuhan Yesus sendiri berkata Dia mau menjadi sahabat bagi kita Pak Paul. Jadi firman Tuhan ini saya percaya akan menguatkan kita semua, dan kalaupun ada anak remaja yang mendengarkan perbincangan ini saya rasa mereka pun akan termotivasi untuk bisa menerima apa yang Tuhan sudah berikan bagi dirinya. Jadi terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kita saat ini. Dan saudara-saudara pendengar, demikian tadi kami telah menyampaikan sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang gejolak pertumbuhan remaja bagian yang pertama, dan kami mengharapkan Anda sekalian bisa mengikuti bagian yang selanjutnya yaitu bagian yang kedua pada kesempatan yang akan datang. Namun bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



19. Gejolak Pertumbuhan Remaja 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T103B (File MP3 T103B)


Abstrak:

Lanjutan T103A


Ringkasan:

Masa remaja adalah masa di mana seseorang membentuk atau mulai membangun siapa dirinya atau jati dirinya.

Perbedaan masa kanak-kanak dengan masa remaja adalah:

  1. Secara fisik anak remaja sudah mengalami beberapa perubahan hormonal misalkan munculnya hormon-hormon seksual yang membuat mereka itu menjadi makhluk atau menjadi manusia yang harus bergumul dengan gejolak seksualnya.

  2. Mereka makin dewasa pola pikirnya bertambah abstrak, pola pikir ini membuat mereka mempertanyakan nilai-nilai yang mereka telah anut sebelumnya.

  3. Para remaja juga mudah sekali mengikuti trend, mengikuti apa yang sedang 'in' di kalangan mereka. Dan mungkin sekali apa yang sedang 'in' atau trend itu tidak cocok dengan yang kita sukai akibatnya sering kali terjadi pertengkaran, membuat hubungan orang tua-anak sering kali tegang.

Yang dikatakan remaja, dipandang dari segi usia adalah anak usia sekitar 11 - 12 tahun hingga usia sekitar 20 tahun.

Sekurang-kurangnya ada 3 tahapan yang harus dilewati oleh seorang remaja:

  1. Usia sekitar 12 - 14 tahun. Pada tahap ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan diri secara jasmaniah. Biasanya yang menjadi masalah adalah dia tidak menyukai bagian-bagian tubuhnya atau dia tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Kegagalan untuk bisa menerima diri secara fisik, bisa membuahkan kekurangpercayaan diri.

  2. Usia sekitar 15 - 18 tahun. Pada usia ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam kelompok mereka. Ini sering kali menjadi dilema buat kita sebagai orang tua, karena adakalanya kelompok anak akan memaksakan anak kita melakukan hal-hal yang kita tidak setujui. Nah kita harus berhati-hati dengan respons kita sebagai orang tua, adakalanya kita terlalu terburu-buru memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak itu tidak pernah benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada anak yang justru kebalikannya terjun masuk ke dalam kelompoknya dan menanggalkan nilai-nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.

  3. Usia 19 tahun hingga 20 atau 21 tahun. Ini memang sudah tumpang tindih dengan tahapan dewasa awal, sebab memang transisinya masuk ke tahapan dewasa awal. Pergumulan remaja pada tahap ini berkisar pada kemampuan pribadinya membangun karier. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi pergumulannya adalah mampukah saya masuk ke sekolah tertentu, mampukah saya masuk ke jurusan yang saya inginkan. Atau kalau dia ingin bekerja, mampukah saya memulai pekerjaan saya, mampu tidak saya meniti karier saya. Pada tahap ini ada 2 kata yang perlu diperhatikan oleh para remaja yaitu :

    1. kata kemampuan dan
    2. kata kesempatan

Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dan tidak seorang pun mempunyai kesempatan yang sama.

Ada tiga kemungkinan penyebab yang membuat remaja akhirnya menemui jalan buntu, dia tidak tahu mau sekolah apa.

  1. Adakalanya remaja mempunyai kemampuan yang terlalu besar, banyak beragam, nah dia mungkin mengalami kebingungan mau pilih yang mana.

  2. Dia tidak menyadari dia bisa apa, dia tidak tahu dia mampu di mana, sebab yang dia tahu semuanya dia tidak suka dan semuanya dia tidak bisa.

  3. Kasus yang ketiga, dia sebetulnya tahu dia bisa apa, tapi dia bisa itu bukan hal yang dia sukai, karena dia menganggap yang dia bisa itu hal yang tidak dihormati atau hal yang tidak begitu dihargai oleh masyarakat atau yang dia bisa itu tidak bisa menghasilkan uang dengan cepat.

Dalam hal ini bimbingan orang tua yang sangat penting, bukan sekolah atau guru tapi orang tua dari sejak anak masih jauh lebih muda, jauh lebih kecil orang tua sudah mulai memantulkan pada anak apa yang menjadi bakat dan kemampuan si anak.

Peran kita sebagai orang tua adalah:

  1. Orang tua harus mengenal anaknya dengan baik, sehingga dia bisa melihat anaknya itu dengan tepat. Kemampuannya apa, bisanya apa kira-kira pengarahan seperti apa.

  2. Orang tua mesti memiliki hubungan yang baik dengan anak, ini penting sekali sebab mustahil anak mendengar orang tua kalau hubungannya dengan orang tua tidak positif. Hubungan yang baik juga adalah wadah di mana anak lebih berani untuk mengemukakan pergumulannya, ketidakbahagiaannya, ketertekanannya, penderitaannya.

  3. Si anak juga mesti mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan saja orang tua kenal anak dengan baik, orang tua dekat dengan anak, tapi si anak perlu dekat dengan Tuhan, itu bekal yang sangat penting sekali, tanpa itu tidak bisa maju.

Bagi remaja yang perlu dilakukan adalah:

  1. Berdamai, berdamai pertama dengan keterbatasan fisik. Berdamai artinya terima fisikmu seperti itu memang terbatas tidak usah malu, tidak usah dilebih-lebihkan.

  2. Berdamai dengan keterbatasan teman, artinya ada teman yang akan terima, ada teman yang tidak akan terima kamu, gara-gara kamu misalnya Minggu mau ke gereja kamu tidak bisa pergi dengan teman-teman, ada sebagian yang tidak menjadi temanmu dan terimalah itu tidak apa-apa.

  3. Berdamai dengan keterbatasan kemampuan dan kesempatanmu.

Mazmur 139:16 , "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya." Firman Tuhan menegaskan kita dibentuk oleh Tuhan, dibuat oleh Tuhan, mata Tuhan melihat kita selagi kita bukan saja anak, waktu kita bakal anak belum menjadi anak. Firman Tuhan menegaskan Dialah yang menciptakan kita jadi Tuhan tidak membuat kesalahan. Mungkin tubuh kita tidak pas, mata kita, hidung kita, telinga kita tidak pas, mungkin juga kita tidak terlalu pas diterima teman-teman tapi ingat bahwa Tuhan tidak membuat kesalahan.

Mazmur 125:1 , "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya." Percayakan masa depanmu kepada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang lalu yaitu "Gejolak Pertumbuhan Remaja". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita sudah memperbincangkan tentang gejolak pertumbuhan remaja ini dan Pak Paul membagi masa remaja itu dalam 3 tahapan. Tahapan yang pertama dan kedua kita sudah sempat membicarakan, namun supaya para pendengar kita mempunyai gambaran yang utuh, mungkin tidak sempat mendengar rekaman kita yang terdahulu, mungkin Pak Paul bisa membantunya dengan menguraikan apa yang sudah kita bicarakan pada beberapa waktu yang lalu.

PG : Masa remaja adalah masa di mana seseorang membentuk atau mulai membangun siapa dirinya atau jati dirinya. Sekurang-kurangnya ada 3 tahapan yang akan dilewati oleh seorang remaja, yang pertma tahapan sewaktu dia berusia sekitar 12-14 tahun.

Pada masa itu pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan akan dirinya secara fisik. Biasanya yang menjadi masalah adalah dia tidak menyukai bagian-bagian tubuhnya atau dia tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Kegagalan untuk bisa menerima diri secara fisik atau kegagalan menyukai dirinya secara fisik bisa membuahkan kekurangpercayaan diri, justru dia itu tidak lagi berdamai dengan dirinya justru memusuhi dirinya kok tubuhku seperti ini, kok penampilanku seperti ini. Tahapan kedua usia sekitar 15-18 tahun, pada tahapan ini biasanya pergumulan remaja berkaitan dengan penerimaan teman-temannya. Jadi kalau tahap pertama tadi penerimaan diri terhadap diri sendiri yang didasari atas penampilan fisik, sekarang penerimaan teman-teman terhadap dirinya, apakah teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam kelompok mereka. Nah biasanya ada hal-hal yang kelompok lakukan yang diharapkan anggota kelompok untuk berani melakukannya juga atau memenuhi kriteria tertentu yang sudah dianut oleh kelompok itu. Nah sekali lagi ini sering kali menjadi dilema buat kita sebagai orang tua, karena adakalanya kelompok anak akan memaksakan anak kita melakukan hal-hal yang kita tidak setujui. Nah, kita harus berhati-hati dengan respons kita sebagai orang tua, adakalanya kita terlalu terburu-buru memisahkan anak dari lingkungannya, sehingga anak itu tidak pernah benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada anak yang justru kebalikannya terjun masuk ke dalam kelompoknya dan menanggalkan nilai-nilai yang telah dianutnya supaya teman-teman bisa menerimanya. Ini juga hal yang tidak sehat, jadi yang sehat adalah remaja berada di tengah-tengah ketegangan itu, di antara kubu yang saling tarik-menarik. Dari pergumulan inilah remaja akan bertumbuh menjadi seorang pribadi yang tangguh, kalau dia berhasil dia akan menjadi anak yang kuat. Anak yang kuat sering kali justru akan mendapatkan penerimaan dan respek dari teman-temannya, tapi anak-anak yang terseret arus yang tidak mempunyai ketangguhan dalam dirinya justru cenderung ditolak atau dipermainkan atau tidak dihargai oleh lingkungannya, nah inilah yang akan membuahkan kekurangpercayaan diri si anak remaja itu, ini yang akan dibawa masuk ke tahapan yang ketiga.
GS : Tahapan yang ketiga itu apa, Pak Paul?

PG : Saya memasukkan tahapan ketiga ini dalam usia 19 tahun hingga 20 atau 21 tahun, jadi memang ini sudah tumpang tindih dengan tahapan dewasa awal, sebab memang transisinya masuk ke tahapan dwasa awal.

Biasanya pergumulan remaja pada tahap ini berkisar pada kemampuan pribadinya membangun karier, jadi pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi pergumulannya adalah mampukah saya masuk ke sekolah tertentu, mampukah saya masuk ke jurusan yang saya inginkan. Atau kalau dia ingin bekerja, mampukah saya memulai pekerjaan saya, mampu atau tidak saya ini meniti karier, nah ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan pribadinya, ini yang tiba-tiba menjadi penting buat seseorang yang berusia sekitar 19-21 tahun.
GS : Nah, kita biasanya menyebut masa itu sudah masa pemuda Pak Paul, apa Pak Paul memang mengkategorikan ini masih di remaja?

PG : Ya, jadi saya akan mengkategorikan sampai usia sekitar 20 sebetulnya itu masih bisa kita panggil remaja atau sekaligus kita panggil dewasa awal. Memang tahapan yang sangat tumpang tindih.

GS : Saat-saat peralihannya itu Pak Paul ya? Tadi Pak Paul katakan mengenai sekolah, mengenai pekerjaan dan sebagainya apakah yang putri juga demikian?

PG : Saya kira demikian, jadi pada masa-masa usia sekitar 19, 20, 21 tahun sekolah bagi lingkungan tertentu sangat penting. Jadi akan ada banyak pertanyaan ya sewaktu orang bertemu dengan temanbaru: "sekolah di mana, atau sekolah apa, jurusan apa."

Nah bayangkan kalau seseorang, baik itu putra maupun putri tidak bisa menyebut kata-kata emas itu "o....saya kuliah atau saya sedang studi apa", nah itu membuat remaja sedikit banyak merasa terlempar keluar dari lingkungannya. Sebab sekali lagi ini berkaitan dengan kemampuan pribadinya dia bisa atau tidak masuk ke sana atau misalkan dia bekerja, ditanya bekerja apa. Kariernya meskipun pada tahap awal itu sudah mulai menjadi hal yang penting bagi dirinya maupun lingkungannya.
GS : Tapi kalau mengenai sekolah, pasti dia itu sangat tergantung pada kemampuan orang tuanya, kemampuan finansial orang tuanya untuk menyekolahkan dia pada sekolah yang menurut dia sangat penting buat dia.

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi pada tahap ini ada 2 kata yang harus disimak baik-baik oleh para remaja yaitu kata kemampuan dan kesempatan. Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama an tidak seorangpun mempunyai kesempatan yang sama.

Jadi kadang-kadang remaja itu mesti disadarkan, karena kalau tidak dia menganggap bahwa seyogyanya saya mempunyai kemampuan yang dimiliki oleh teman saya juga, padahalnya dia tidak memiliki kemampuan itu. Nah ini menjadi topik bahasan pada masa anak-anak berusia sekitar 18, SMA kelas III, mulai menentukan jurusan mau sekolah apa, mudah sekali remaja jatuh ke dalam kolam ikut-ikutan.
GS : Apakah itu karena dia memang sejak awal tidak pernah memikirkan atau karena apa Pak Paul, kok biasanya sampai ke kelas III pun ditanyakan mau ke mana? Sekalipun orang tuanya mampu menyekolahkan, si remaja ini masih tetap bingung Pak Paul?

PG : Ada beberapa penyebab, yang pertama adalah adakalanya remaja mempunyai kemampuan yang terlalu tersebar, banyak beragam, nah dia mungkin mengalami kebingungan mau memilih yang mana itu kasu pertama, tapi ini kasus yang lebih baik daripada kasus yang kedua yaitu dia tidak menyadari dia bisa apa, dia tidak tahu dia mampu di mana, sebab yang dia tahu semuanya dia tidak suka dan semuanya dia tidak bisa, nah itu yang paling payah.

Atau yang ketiga kasusnya adalah dia sebetulnya tahu dia bisa apa, tapi dia bisa itu bukan hal yang dia sukai, karena dia menganggap yang dia bisa itu hal yang tidak dihormati atau hal yang tidak begitu dihargai oleh masyarakat, atau yang dia bisa itu tidak bisa menghasilkan uang dengan cepat. Jadi bisa ada 3 kemungkinan ini yang membuat remaja akhirnya tiba-tiba menemui jalan buntu, dia tidak tahu mau sekolah apa, nah di sini pentingnya bimbingan. Nah, saya selalu pulangkan bimbingan adalah tanggungjawab pertama dari orang tua, bukan sekolah atau guru, tapi orang tua dari sejak anak masih jauh lebih kecil, orang tua sudah harus mulai memantulkan pada anak, "engkau bagus di sini, engkau kuat di sini." Sekali lagi orang tua perlu terlibat dan dekat dengan anak-anak, kalau tidak ya tidak mungkin orang tua bisa tahu anaknya itu kuat di mana. Nah, pantulan dari orang tua ini sedikit banyak menjadi sasaran, menjadi petunjuk buat si anak, "O... OK, saya kira-kira kuat di sini, nanti saya akan lebih perhatikan dalam bidang ini, saya memang bisa atau tidak, saya memang kuat atau tidak?" Nah dari misalnya SD, SMP, SMA dia sudah mulai menyempitkan minat dan kebisaannya itu.
GS : Ya, tapi kadang-kadang juga terkesan anak remaja ini kurang serius, kurang sungguh-sungguh, menggampangkan seolah-olah nanti saja kalau sudah kelas I, nanti kalau kelas III baru diputuskan. Sampai kelas III pun dia akhirnya tidak bisa menentukan, jadi menggampangkan semuanya.

PG : Ada yang memang begitu. Pada kasus-kasus seperti ini sekali lagi kita bisa menggunakan bantuan profesional misalkan pada masa SMA kelas II dia itu bisa mengikuti test bakat atau test karier. Di situ kita melihat kira-kira apa kemampuannya dan kita mulai mengarahkan, tapi yang terpenting adalah kita harus melihat juga apakah dia siap untuk menerima kemampuannya itu, apakah dia juga siap menerima keterbatasannya, ini yang sering kali menjadi pergumulan remaja. Ada remaja yang tidak bisa menerima bahwa dia terbatas dalam bidang ini dan dia mau masuk ke bidang yang dia terbatas itu. Bidang yang dia lebih bisa dia tidak mau, dia tidak hargai nah orang tua di sini berperan untuk menerima si anak. Sebab kadang kala orang tua, memang saya harus akui, mengeruhkan situasi karena orang tua juga mempunyai standar, mempunyai permintaan seharusnya anak saya masuk ke bidang ini, kok masuknya ke sini. Contoh yang paling gampang saja masuknya ke A1, A2, atau A3; nah orang tua inginkan anak-anak semuanya masuk ke A1 misalnya, aduh masuk ke A2 apalagi masuk ke A3 tidak dipandang, jadi orang tua yang memberikan tekanan tambahan. Jadi si anak tahu sebaiknya dari kecil, memang orang tua memberikan dorongan kepada anak-anak untuk belajar sebaik mungkin, bertanggung jawab atas tugas tapi tentang bidang jurusannya, orang tua akan berkata nanti kamu masuk ke mana kalau memang itu adalah yang Tuhan berikan kepada kamu, terima jadilah terbaik pada bidang itu. Sikap seperti itu menolong anak, jangan sampai dari kecil orang tua terlalu menjejali anak dengan filsafatnya kamu harus masuk sekolah ini, kamu harus menjadi ini, padahalnya anaknya tidak mempunyai kemampuan untuk itu.

GS : Adapula anak remaja yang selepas sekolah itu langsung memutuskan bekerja Pak Paul, jadi tidak lagi melanjutkan kuliah tapi bekerja, sebenarnya apa yang melatarbelakangi pikirannya?

PG : Bisa ada beberapa kemungkinan Pak Gunawan, yang lebih sehat adalah dia memang merasa dia belum siap untuk kuliah maka dia bekerja dulu, dia mengambil waktu setahun, dua tahun baru dia akanteruskan kuliah dan ini tidak salah.

Seperti mungkin saya pernah katakan sebelumnya di Amerika Serikat ada program, program tunda, jadi anak-anak itu sengaja menunda lulus SMA, jadi tidak lulus dulu, tapi sengaja dia untuk keluar dari sekolah mencari pengalaman setahun atau dua tahun baru kembali ke bangku SMA. Lulus SMA nanti baru meneruskan mau sekolah di mana.
GS : Ya tapi masalahnya biasanya kalau sudah bekerja dan dapat uang kemudian menjadi malas untuk sekolah lagi Pak.

PG : Bisa, jadi ada sebagian yang memang akhirnya tidak mau sekolah lagi, itu sebabnya kita orang tua sering kali berkata langsung saja sekolah. Tapi sekali lagi tidak semua anak siap untuk kulah pada usia 18 tahun, belum tentu, jadi kita juga harus siap kalau misalkan anak kita berkata: "Ma atau Pa, saya rasanya kok belum siap untuk kuliah sekarang".

Nah kita bisa menimbang-nimbang memang apakah dia mempunyai kemampuan untuk study seperti itu atau tidak. Intinya di sini adalah kalau remaja gagal berdamai dengan kemampuan dan keterbatasannya, ini akan membuat dia frustrasi. Frustrasi sekali sebab dia memaksakan harus begini, harus bisa itu dan sebagainya, nah saya khawatir ke sesuatu yang tidak realistis, akhirnya dia memaksakan untuk masuk ke bidang yang bukan kemampuannya atau sebaliknya dia akan kecewa, dia akan putus asa, dia akan kehilangan semangat juang sebab dia tidak bisa meraih impiannya itu, jadi ada dua ekstrim yang bisa menjadi perilaku kompensasi remaja.
GS : Setelah kita membahas mengenai fase-fase atau tahapan-tahapan yang seperti itu Pak Paul, tentu peran orang tua ini besar sekali, tadi berkali-kali Pak Paul sudah singgung, nah apa saran Pak Paul dalam hal ini?

PG : Pertama memang orang tua harus mengenal anaknya dengan baik, itu intinya; sehingga dia bisa melihat anaknya itu dengan tepat, kemampuannya apa, bisanya apa, kira-kira pengarahannya sepertiapa, nah itu didasari atas pengenalan yang baik terhadap anak.

Kedua orang tua mesti memiliki hubungan yang baik dengan anak, ini penting sekali sebab mustahil anak mendengar orang tua kalau hubungannya dengan orang tua tidak positif. Apapun yang orang tua akan lontarkan mÍntal kembali tidak bisa masuk ke dalam diri si anak, jadi hubungan yang baik itu penting sekali. Hubungan yang baik juga adalah wadah di mana anak lebih berani untuk mengemukakan pergumulannya, ketidakbahagiaannya, ketertekanannya, penderitaannya nah siapa lagi kalau bukan orang tua yang paling cocok untuk dia bisa bagikan. Sebab orang tua adalah orang yang telah melewati masa remaja, sehingga mampu untuk memberikan masukan-masukan. Sayangnya saya harus akui saya pun kadang-kadang bisa terbawa emosi yaitu kita akhirnya tidak menempatkan diri di sisi dia, di sisi anak yang sedang bergumul. Kita akhirnya waktu berbicara dengan si remaja menempatkan diri di seberangnya bukan di sampingnya, di seberangnya sebagai orang yang sudah lewat, sudah sukses melewati masa itu. Dan kita seolah-olah menudingnya kenapa harus begini, kenapa kamu tidak bisa begini, tidak, kita mesti peka itulah keadaan dia sekarang dan dia sedang bergumul. Jadi sadarilah bahwa pada masa yang pertama anak remaja akan bergumul dengan penampilan fisiknya, jangan terburu-buru menimbun anak dengan ayat-ayat dari firman Tuhan: "Kamu 'kan ciptaan Tuhan kamu harus bersyukur, tubuh masih begini, begini," ya dia mengerti itu secara intelektual, secara rasional. Tapi kenyataannya itu mengganggu dia dalam hal diterima oleh temannya, dalam hal dia menerima dirinya terus juga pergumulan dia dengan teman-temannya. Sebaiknya orang tua memang tidak langsung memarahi si anak: "Kamu kok ikut-ikutan temanmu," sebaiknya lebih berempatilah dan berkata: "Saya mengerti kamu mengalami kesulitan, terjepit, kamu juga ingin melakukan yang teman-temanmu lakukan dan kalau kamu tidak ikut dengan mereka kamu akhirnya terlempar keluar dari pergaulan, itu susah buat kamu saya mengerti," tapi kita tekankan jangan sampai berdosa. Dan jangan mendekatkan diri kepada dosa sebab adakalanya memang teman belum berbuat dosa, anak kita belum berbuat dosa tapi tindakan-tindakannya itu sudah mengarah dan mendekatkan dia dengan dosa, kita akan berkata hati-hati jangan mendekatkan diri kepada dosa. Jadi sekali lagi hubungan yang baik membuka peluang terjadinya komunikasi antara orang tua dan anak. Dan yang ketiga adalah si anak juga mesti mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan saja orang tua mengenal anak dengan baik, orang tua dekat dengan anak, tapi si anak perlu dekat dengan Tuhan, itu bekal yang sangat penting sekali, tanpa itu tidak bisa maju.
GS : Nah, ada orang tua yang suka menceritakan pengalaman masa lalunya semasa dia masih remaja, apakah itu bisa diterima di dalam nalar anak itu?

PG : Tergantung bagaimana kita menyampaikannya, kalau kita menyampaikannya dengan nada "Dulu Papa juga mengalami ini, tapi Papa begini". Anak-anak cenderung melihat papa hidup di zama apa, mama hidup di zaman apa, saya hidup di zaman apa sekarang.

Jadi anak-anak akan berkata: "Lain zamannya Pa!" Nah, itu memang betul. Jadi yang kita bagikan adalah bukan menekankan kita ini berhasil, kita bisa begitu, tidak! Kita tekankan bahwa: "Saya pun bergumul, jadi saya mau mengerti pergumulanmu, saya tidak bisa mengerti sepenuhnya, tapi saya mau mengerti pergumulanmu tolong beritahu papa, tolong beritahu mama, seperti apakah pergumulanmu."
GS : Kemudian kalau saran Pak Paul terhadap para remaja yang sedang bergejolak hidupnya ini apa Pak Paul?

PG : Yang pertama saya minta remaja berdamai Pak Gunawan, kalau sekarang saya berbicara dan kebetulan ada para remaja yang mendengarkan, saya minta kepada kamu, berdamai pertama dengan keterbatsan fisikmu, berdamai artinya terima fisikmu seperti itu memang terbatas tidak usah malu, tidak usah dilebih-lebihkan saya harus lebih begini, lebih begitu, tidak! Terima memang terbatas.

Memang kamu tidak setinggi temanmu, memang kamu tidak seramping temanmu, memang gigimu tidak serata temanmu dan sebagainya, akui memang kamu terbatas, tapi terima dirimu, berdamailah dengan dirimu. Yang kedua adalah saya akan minta kepada kamu remaja berdamai dengan keterbatasan teman, artinya ada teman yang akan menerima kamu, ada teman yang tidak akan menerima kamu, gara-gara kamu misalnya Minggu mau ke gereja kamu tidak bisa pergi dengan teman-teman, ada sebagian yang tidak menjadi temanmu dan terimalah itu tidak apa-apa. Karena kamu tidak mau berbohong dengan teman-temanmu sedangkan mereka mau berbohong, akan ada teman-teman yang tidak mau menjadi teman kamu dan saya mau berkata kepada kamu tidak apa-apa, berdamai dengan keterbatasan teman. Tidak semua menjadi teman kamu, betul tapi Tuhan akan sediakan sebagian untuk kamu. Dan yang ketiga saya akan katakan berdamailah dengan keterbatasan kemampuan dan kesempatanmu. Ya mungkin kamu tidak memiliki kemampuan yang dimiliki oleh orang yang kamu senangi atau kamu idamkan, mungkin kamu tidak mempunyai kesempatan bersekolah di sekolah yang lebih bagus karena mahal, mungkin itu yang menjadi masalahmu, tapi berdamailah bahwa memang itulah porsimu, memang itulah yang Tuhan berikan, kesempatan yang Tuhan bukakan sekarang ini ya hanya itu. Berdamailah jangan memarahi diri, jangan memarahi Tuhan, jangan memarahi orang tua atau memarahi orang lain. Jadi ini nasihat saya Pak Gunawan pada para remaja, yang pertama berdamailah.
GS : Di dalam hal berdamai ini Pak Paul, padahal dirinya sendiri sedang bergejolak bagaimana seharusnya dia sebagai anak remaja itu bisa mewujudkan damai itu, sedangkan di dalam dirinya sendiri sedang bergejolak?

PG : Yang saya akan berikan adalah yang kedua, yaitu saya akan bacakan dari firman Tuhan yang telah saya bacakan pada acara yang sebelumnya yaitu Mazmur 139:16 , "MataMu meliha selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun dari padanya."

Yakinlah, ini nasihat saya, Tuhan tidak membuat kesalahan. Memang remaja itu mungkin merasa aduh ini kesalahan, saya kok dilahirkan di keluarga yang misalnya tidak mempunyai mobil, yang harus naik kendaraan umum atau saya kok IQ-nya 100, teman saya 135 aduh kesalahan ini. Atau teman saya kok pintar main basket, saya tidak bisa-bisa main basket, larinya cepat saya kok larinya lambat dan sebagainya. Sekali lagi yakinlah Tuhan tidak membuat kesalahan, kalau itu yang Tuhan ciptakan itu berarti memang maksud Tuhan menciptakan itu, jadi Tuhan tidak membuat kesalahan dengan diri seorang remaja.
GS : Bagaimana dengan iman anak itu sendiri Pak Paul?

PG : Saya akan meminta para remaja untuk mempercayakan masa depannya kepada Tuhan, ini sebagai nasihat yang terakhir. "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yangtidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya," ini firman Tuhan di Mazmur 125:1 .

Saya meminta kepada remaja untuk mempercayakan masa depanmu kepada Tuhan, pada masa remaja, pada awal-awal usia 20 tahun, 21 tahun kita mulai memikirkan masa depan kadang-kadang membingungkan nanti mau menjadi apa, kok saya hanya bisanya seperti ini, serahkan kepada Tuhan. Dia sudah berkata: "Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaKu, maka Aku akan memelihara kamu." Tuhan juga berkata, burung pipit di udara Dia pelihara apalagi kita manusia, Tuhan akan memelihara kita. Dan tadi firman Tuhan sudah berkata, orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. Semakin bingung, semakin meragukan Tuhan, semakinlah kita menjadi seperti pohon yang ditiup angin, tapi semakin kita mantap mempercayakan masa depan kepada Tuhan, kita seperti gunung, gunung Sion yang tidak akan goyang.
GS : Demikian juga dengan kebingungan remaja terhadap pasangan hidupnya Pak Paul, sering kali memasuki usia-usia remaja akhir mereka itu sudah mulai memikirkan tentang teman hidup dan itu sering kali membingungkan juga Pak Paul?

PG : Apalagi yang merasa ada keterbatasan secara fisik Pak Gunawan, saya kok tidak didatangi teman pria saya atau kalau dia pria dia datang ke teman wanita ditolak atau diterima. Jangan takut, uhan menyediakan, Tuhanlah yang menjaga masa depan kita.

GS : Jadi terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini, dengan demikian kita sudah merampungkan pembicaraan tentang gejolak yang ada dalam diri remaja ini dalam dua bagian dan saya berharap para pendengar bisa mengikuti perbincangan ini dengan baik.

Saudara-saudara pendengar baru saja Anda mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Gejolak Pertumbuhan Remaja" bagian kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



20. Melihat Kecocokan dalam Masa Berpacaran


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T104A (File MP3 T104A)


Abstrak:

Makna atau tujuan dari berpacaran adalah untuk mengetahui apakah kita bisa hidup bersama kelak dalam pernikahan, atau masa untuk memastikan apakah kita akan dapat hidup harmonis dengan pasangan kita.


Ringkasan:

Makna atau tujuan berpacaran adalah untuk mengetahui apakah kita bisa hidup bersama kelak dalam pernikahan, jadi sungguh-sungguh berpacaran adalah masa untuk memastikan apakah kita akan dapat nanti hidup harmonis dengan pasangan kita itu. Berpacaran mempunyai suatu tujuan yang jelas yaitu pernikahan.

Ada tiga hal besar yang perlu diperhatikan selama masa berpacaran yaitu:

  1. Kebiasaan hidup, satu pertanyaan yang kita harus tanya adalah apakah kita dapat hidup dengan dia setelah kita mengetahui kebiasaan-kebiasaan hidupnya dan kebalikannya juga sama apakah dia bisa hidup dengan kita setelah dia mengetahui kebiasaan-kebiasaan hidup kita.

  2. Kesungguhan hidup, kesungguhan hidup ini mencakup bagaimanakah sikap kita terhadap hidup. Masuk dalam kategori ini adalah tanggung jawab, apakah kita orang yang bersungguh-sungguh bertanggung jawab kalau mendapatkan tugas, kalau mendapatkan kepercayaan. Jadi kita mau melihat apakah pasangan kita mempunyai kesungguhan hidup, apakah dia mempunyai ketahanan untuk bisa tetap berdiri dalam keadaan yang susah ataukah dia orang yang langsung lari, langsung bersembunyi, langsung menutupi diri dari problem nah kita mau melihat itu.

  3. Kekudusan hidup, kekudusan hidup di sini pertama-tama menyangkut apakah dia dan saya mempunyai iman yang sama, iman pada Tuhan kita Yesus Kristus, sebab itulah yang Tuhan amanatkan kepada kita, kita harus menikah dengan yang seiman dengan kita. Kekudusan hidup juga mengacu kepada bukan saja pengakuan secara intelektual saya percaya kepada Tuhan, tapi apakah kita memang menguduskan Tuhan dalam hidup kita ini artinya apakah kita menghormati Tuhan dan apakah Tuhan itu menempati porsi yang besar dalam hidup kita, kita tahu hal itu.

Amsal 19:22 , "Sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya, lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong."

Ada 2 hal di sini:

  1. Kesetiaan itulah satu sifat yang sangat-sangat indah dan ini yang harus kita cari pada pasangan kita kalau saya boleh rangkumkan.

  2. Firman Tuhan berkata lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong artinya menikahlah dengan orang yang jujur.

Jadi waktu mencari pasangan hidup juga diperhatikanlah apakah dia orang yang setia, yang akan terus bertahan tidak akan meninggalkan kita dan apakah dia orang yang jujur sehingga dia tidak membohongi kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Melihat Kecocokan dalam Masa Berpacaran". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pengistilahan berpacaran itu Pak Paul, kadang-kadang rancu dengan persahabatan atau pertemanan atau ya memang berpacaran, sebenarnya batasannya sampai di mana Pak Paul?

PG : Saya akan tambahkan lagi Pak Gunawan, sering kali pada masa sekarang terutama anak-anak muda yang berpacaran, memang tidak mengerti apa sebetulnya makna dan tujuan berpacaran. Mereka haya melihatnya dari sudut bersenang-senang, bergengsi-gengsian, beraksi-aksian, dan menikmati masa muda, tapi sungguh-sungguh makna berpacaran itu sudah sangat-sangat kabur atau bergeser dari makna sebenarnya.

(2) GS : Jadi apa Pak Paul makna yang sebenarnya dari berpacaran itu?

PG : Makna atau tujuan berpacaran adalah untuk mengetahui apakah kita bisa hidup bersama kelak dalam pernikahan, jadi sungguh-sungguh berpacaran adalah masa untuk memastikan apakah kita aka dapat nanti hidup harmonis dengan pasangan kita itu.

Saya sering kali berkata kepada orang yang hendak menikah, apakah engkau bisa membayangkan hidup bersama dia dengan harmonis selama 50 tahun. Kalau misalnya orang berkata saya rasa saya tidak mungkin hidup dengan dia karena dia begini-begini ya sudah berarti memang engkau tidak cocok dengan dia. Jadi salah satu pertanyaan yang biasanya saya ungkapkan adalah itu.
GS : Nah, kalau begitu harus disadari oleh kedua-duanya bahwa mereka sedang berpacaran Pak Paul?

PG : Betul, jadi berpacaran itu bagi saya adalah suatu masa yang memiliki tujuan yang sangat spesifik. Sekali lagi bukan untuk bersenang-senang, bukan sekadar untuk mengisi waktu, bukan sekaar untuk mengusir kesepian, tidak.

Berpacaran adalah masa yang mendahului pernikahan, jadi bagi saya berpacaran mempunyai suatu tujuan yang jelas yaitu ke pernikahan. Apakah kita akan sampai ke pernikahan, itu memang hal yang berikutnya sebab belum tentu kita akan sampai kepada pernikahan, sebab bisa jadi gara-gara berkenalan dalam masa berpacaran ini kita akhirnya menyadari bahwa kita tidak cocok untuknya atau dia tidak cocok untuk kita.
(3) GS : Jadi hal-hal apa Pak Paul yang perlu diperhatikan selama masa berpacaran itu?

PG : Ada 3 yang besar Pak Gunawan, saya akan membahas satu persatu. Yang pertama adalah kebiasaan hidup, satu pertanyaan yang kita harus tanyakan adalah apakah kita dapat hidup dengan dia seelah kita mengetahui kebiasaan-kebiasaan hidupnya, dan kebalikannya juga sama apakah dia bisa hidup dengan kita setelah dia mengetahui kebiasaan-kebiasaan hidup kita ini.

GS : Maksudnya kebiasaan seperti apa, Pak Paul?

PG : Banyak hal Pak Gunawan, misalnya kebiasaan dalam pengertian bagaimanakah kita mengisi waktu kita sehari lepas sehari, apakah kita misalkan orang yang bekerja, apakah kita bangun pada ja yang tertentu, pergi kerja pada jam yang tertentu dan kita pulang pada jam yang tertentu.

Ataukah kita orang yang kerja pada jam-jam yang tidak tertentu, pulang juga tidak tertentu, nah apakah pasangan kita bisa hidup dengan itu atau apakah kita bisa hidup dengan pasangan kita kalau waktu hidupnya seperti itu. Apa yang dilakukan misalkan ada waktu luang atau ada waktu senggang, apakah dia mempunyai hobby bermain olah raga, main tennis atau main golf, dan itu memakan waktu 10 jam, bagaimanakah dia mengisi waktu-waktu yang luang itu, apakah dia memelihara burung dan dia akan berjam-jam membersihkan kandang burung serta memandikan burung, nah kita harus bertanya dengan jelas tentang kebiasaan hidup pasangan kita itu.
GS : Kalau tempat tinggalnya berjauhan bagaimana mereka bisa saling mengetahui itu Pak Paul?

PG : Ini susah, jadi saran saya selalu adalah sebisanya sebelum menikah sepasang sejoli ini seharusnya tinggal di kota yang sama atau di daerah geografis yang berdekatan selama kurang lebih etahun.

Tujuannya adalah untuk mengenal lebih jelas kebiasaan hidup itu. Contoh yang lainnya lagi adalah yang bisa kita selidiki misalnya kebiasaan dalam hal menggunakan uang, atau membayar benda-benda kesukaannya, apakah itu kebiasaannya, dia bisa rela mengeluarkan uangnya yang sangat besar untuk hobbynya, nah apakah kita bisa hidup dengan kebiasaan hidupnya yang seperti itu. Misalnya lagi yang lain, dia terbiasa juga kalau mengalami sedikit masalah di jalanan misalnya langsung memaki-maki orang atau kalau orang tidak setuju dengan dia langsung dia keras atau dia mungkin memukul orang. Nah, hal-hal itu kita harus selidiki bagaimanakah dia menghadapi kemarahan, bagaimanakah dia menghadapi stres, apa kebiasaannya kalau dia menghadapi stres, apa yang akan dia lakukan kalau orang tidak bersesuai pandang dengan dia, apa yang dia akan lakukan kalau orang melukainya atau menyakiti hatinya, kita mau tahu kebiasaan-kebiasaan hidup seperti itu.
GS : Apakah itu tidak terlalu jauh lalu menimbulkan kesan seolah-olah mencampuri urusan orang lain Pak Paul, sedang mereka baru berpacaran?

PG : Sudah tentu ini berjalan secara bertahap, tidak bisa kita ketahui pada masa-masa awal. Namun tetaplah buka mata baik-baik, lihatlah secara alamiah waktu kita berkenalan, bagaimanakah di melakukan semua itu.

Contoh yang mudah sekali, pria cenderung suka dengan wanita yang manja misalnya, manja itu kolokan dan si pria itu merasa dibapakkan oleh si anak dan masalahnya adalah kebiasaan hidup itu kalau sudah bertahan akan terus berlalu sampai ke pernikahan. Apakah nanti setelah menikah si pria itu akan selalu siap untuk memanjakan si anak atau istrinya ini maksud saya. Nah, sekali lagi itu kebiasaan si istri, dia terbiasa menjadi seorang anak kecil di mana semuanya disediakan oleh keluarganya atau oleh ayah-ibunya dan dia mengharapkan suaminya melakukan hal yang sama untuk dia. Nah apakah kita bisa hidup dengan kebiasaan hidupnya itu.
GS : Selain memperhatikan kebiasaan hidup, ada hal lain Pak Paul?

PG : Hal yang kedua adalah yang saya sebut kesungguhan hidup, kesungguhan hidup ini mencakup bagaimanakah sikap kita terhadap hidup. Masuk dalam kategori ini adalah tanggung jawab, apakah kia orang yang bersungguh-sungguh bertanggung jawab kalau mendapatkan tugas, kalau mendapatkan kepercayaan, kita harus memperhatikan pasangan kita apakah dia juga seperti itu.

Apakah dia orang yang menggampangkan oh...nanti bisa beres akhirnya tidak dikerjakan, tertundalah atau apa atau tentang masalah-masalah finansial oh.....nanti gampang bisa pinjam atau nanti datang sendiri uang. Apakah orang ini bersungguh-sungguh dengan hidup, saya tidak mengatakan bahwa kita harus senantiasa serius dengan hidup jam demi jamnya, tidak, kita perlu juga menyegarkan jiwa dengan berekreasi dan tertawa, tapi kita tahu bahwa hidup memang menuntut pertanggungjawaban dan kesungguhan hidup itu sangat penting. Jadi kita mau melihat juga apakah pasangan kita mempunyai kesungguhan hidup, apakah dia mempunyai ketahanan untuk bisa tetap berdiri dalam keadaan yang susah ataukah dia orang yang langsung lari, langsung bersembunyi, langsung menutupi dirinya dari problem nah kita mau melihat itu. Apakah pasangan kita mempunyai kesungguhan hidup seperti itu.
GS : Tapi itu tidak bisa dilihat dalam satu kasus atau satu kali peristiwa saja Pak Paul?

PG : Sering kali memang kita harus mengamati suatu pola dan sekali memang tidak cukup, kalau sudah terjadi berkali-kali saya kira kita cukup bukti. Contoh orang yang berkata: "o....maaf lupa" nah kalau setiap kali lupa, kita akhirnya berpikir ini bukan lagi suatu kebetulan, tapi memang bagian dari hidup dia memang dia cenderung lupa dan tidak bersungguh-sungguh mengingat apa yang kita katakan.

Jadi sekali lagi ini bagian dari kesungguhan hidup, berapa bertanggung jawabnya kita dalam hidup, berapa bersungguh-sungguhnya kita ini mau bekerja, mau menuntut sesuatu dalam hidup agar kita bisa mencapainya.
GS : Tapi biasanya tanggung jawab itu juga dikaitkan dengan usia seseorang Pak Paul, jadi kalau dia masih muda yang sedang berpacaran ini mungkin pihak pasangannya juga mengatakan: ah tidak apa-apa, nanti kalau usianya sudah bertambah tanggung jawabnya bertambah, apakah memang betul begitu?

PG : Ya saya kira ada benarnya pernyataan tersebut, namun sekali lagi kita tidak buta 100% kita masih bisa menilik, melihatnya karena setiap orang menghadapi tanggung jawab meskipun kecil. Msalkan pada masa-masa usia 20-an tahun dan masa berkuliah bukankah kita bisa menilai dia dari kesungguhannya berkuliah.

Apakah dia main-main, apakah dia mempersiapkan tugas, atau PR atau ujiannya dengan sebaik-baiknya, jadi kita mau melihat sungguh-sungguh apakah dia mempunyai yang tekad kekuatan internal atau kekuatan batiniah untuk mau maju untuk tidak hanya melayang-layang seperti daun yang ditiup oleh angin. Dan saya kira ini kwalitas yang perlu dicari oleh semua orang yang sedang berpacaran. Kalau orang yang kita sedang dekati orang yang benar-benar seperti daun ditiup ke kiri, ke kanan dan mudah menyalahkan orang, tidak mempunyai tekad, kesungguhan untuk hidup dan melawan tantangan hidup, saya kira kurang cocok.
GS : Nah bagaimana dengan ciri yang lain Pak Paul atau dengan hal yang lain yang perlu kita perhatikan?

PG : Yang terakhir adalah selain dari kebiasaan hidup, kesungguhan hidup, yang terakhir adalah kekudusan hidup. Kekudusan hidup di sini pertama-tama menyangkut kepada apakah dia dan saya memunyai iman yang sama, iman pada Tuhan kita Yesus Kristus sebab itulah yang Tuhan amanatkan kepada kita, kita harus menikah dengan yang seiman dengan kita.

Dan kekudusan hidup juga mengacu kepada bukan saja pengakuan secara intelektual saya percaya kepada Tuhan, tapi apakah kita memang menguduskan Tuhan dalam hidup kita ini artinya apakah kita menghormati Tuhan dan apakah Tuhan itu menempati porsi yang besar dalam hidup kita, kita mau tahu hal itu. Sebab sekali lagi bukannya saya berkata pastilah orang yang seperti ini tidak akan jatuh ke dalam dosa, kita manusia dari daging dan darah dan memang sudah tercemar dengan dosa, kita bisa jatuh ke dalam dosa. Tapi setidak-tidaknya kita bisa berkata orang yang takut akan Tuhan akan takut berdosa, orang yang tidak takut akan Tuhan idak terlalu takut untuk berdosa, berarti peluangnya untuk jatuh ke dalam dosa juga lebih besar. Jadi kekudusan hidup mengacu kepada berapa hormatnya dia pada Tuhan.
GS : Di dalam masa berpacaran Pak Paul, biasanya hal-hal seperti itu memang kurang diperhatikan karena masing-masing terlibat dalam luapan emosi dan melihat semuanya itu serba baik, itu bagaimana Pak?

PG : Biasanya harus melewati fase atau melewati waktu Pak Gunawan, karena perasaan sangat cinta, perasaan yang begitu mendebar-debarkan jantung itu tidak berlangsung seumur hidup. Jadi seseoang yang jatuh cinta akan melewati fase dibuai-buai oleh cinta itu paling lama 3 bulan, setelah 3 bulan dia akan mengalami fase penurunan, nah inilah fase yang sering kali langsung ditafsir saya tidak lagi mencintai dia.

Ya memang semua perasaan cinta datangnya dengan kuat, tapi setelah itu perasaan cinta itu akan mulai mengempis, nah setelah mulai turun akhirnya yang sehat adalah akan melewati sebuah plato artinya melewati suatu jalan yang rata, kalau dia terus turun sampai tidak ada lagi perasaan cinta itu baru mengkhawatirkan. Tapi yang sehat atau yang normal adalah setelah melewati fase yang kuat sekali, dia akan masuk ke fase dataran tidak turun, tidak hilang, tapi juga memang tidak terlalu menggebu-gebu. Ini yang lebih wajar, nah pada tahap wajar itulah ketiga hal yang tadi saya singgung itu lebih bisa kita amati, pada tahap 3 bulan pertama mata kita memang terlalu berkunang-kunang tidak melihat dengan jelas.
GS : Nah, masalah-masalah seperti ini perlu diperhatikan Pak Paul, tadi Pak Paul katakan membutuhkan waktu. Sedangkan kadang-kadang seseorang itu bertemunya di usia yang sudah cukup untuk dikatakan sudah lewat masa mudanya, sehingga mereka cepat-cepat memutuskan untuk menikah, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Selalu tidak dianjurkan. Pernikahan harus dipersiapkan dan yang dipersiapkan maksud bukannya hari acara, upacara pernikahannya tapi kesiapan untuk bersama-sama hidup dengan pasangan kita. Jadi saya meminta paling kurang kita ini berkenalan atau berpacaran selama setahun untuk bisa mengenal dengan baik. Ya kalau misalnya bisa lewat dari setahun saya kira itu lebih baik.

GS : Apakah perlu juga mengenal keluarganya dalam masa berpacaran itu?

PG : Saya kira juga perlu, karena bagaimanapun pasangan kita tumbuh besar dalam keluarganya, ini bagian dari kebiasaan hidup, apakah orang tua mempunyai kebiasaan tertentu yang diwariskan keada anaknya dan kita mau melihat itu, bisa atau tidak kita hidup dengan dia yang sudah memiliki kebiasaan tersebut dari orang tuanya.

Orang yang bersih sekali, o......akhirnya kita sadar orang tuanya begitu bersih, orang yang begitu teratur o...kita sadar orang tuanya begitu teratur, kita akhirnya mengerti pasangan kita seperti itu, tapi kembali lagi kita harus bertanya apakah saya siap untuk hidup dengan orang misalnya seteratur itu.
GS : Nah, sering kali muda-muda yang sedang berpacaran ini mengira bahwa pasangannya bisa berubah atau diubah bahkan setelah nanti menikah Pak Paul?

PG : Betul, ada 2 hal yang sering kali muncul pada benak kita pada masa berpacaran. Pertama adalah dia akan berubah atau saya bisa mengubahnya atau yang kedua adalah problem itu akan hilang engan sendirinya, o.....nanti

akan hilang dengan sendirinya. Ah, kenyataannya adalah pasangan kita tidak terlalu berubah banyak dari hari pertama kita menikahinya. Dan yang kedua adalah sering kali problem yang menjadi duri dalam pernikahan kita sekarang adalah problem yang sebetulnya kita sudah mulai alami tatkala masih berpacaran. Mungkin bentuk-bentuknya berbeda tapi jenisnya bisa sama, contoh kalau dari masa berpacaran kurang adanya rasa percaya, hampir dapat dipastikan setelah menikah nanti hal itu akan muncul kembali dan menjadi pusat problem, hampir dapat dipastikan problem-problem yang lainnya adalah problem penggembira, problem yang hanya sebagai pendamping, problem utama biasanya adalah dalam kasus itu kurang percaya, jadi pangkalnya sama.
GS : Beberapa waktu yang lalu Pak Paul pernah mengatakan bahwa semasa pacaran hal-hal yang kelihatannya indah, menyenangkan buat kita, nanti pada waktu pernikahan bisa terbalik itu, nah itu bagaimana?

PG : Hal yang kita sukai sering kali adalah hal yang menjadi duri dalam pernikahan kita, contohnya adalah kalau kita menyukai dia orangnya diam, tenang, sabar sering kali setelah menikah kit berkata kamu orangnya membosankan, menjenuhkan, tidak banyak aktifitas, tidak banyak yang engkau katakan, kita tidak pernah berkomunikasi jadi hal yang persis sama itulah yang akhirnya menjengkelkan kita.

GS : Padahal waktu pacaran itu dilihat sebagai sesuatu yang positif Pak Paul, jadi kita bisa menerima sikap itu.

PG : Betul, dan sebetulnya ke positif itu tetap ada setelah kita menikah, namun sisi negatifnyalah yang sekarang mengganggu kita. Pada masa berpacaran karena kita tidak hidup serumah denganna sisi negatif itu tidak terlalu mengganggu kita, kita tidak berbicara dengan dia hanya 1 jam, 2 jam tapi sekarang 24 jam serumah dengan dia.

Kita menemukan dia begitu pendiam, jarang berbicara, nah itu sangat mengganggu kita. Meskipun tetap benar dia orangnya stabil, emosinya tidak mudah turun-naik, kalau berpikir sangat rasional, tapi ada sisi lainnya lagi. Jadi sekali lagi ini hal yang mesti kita terima.
GS : Pak Paul, sering kali pada masa berpacaran mungkin karena tadi Pak Paul katakan orang menyelidiki, ingin mengetahui dalamnya, kemudian orang cenderung untuk menutupi dirinya dengan hal-hal yang baik dan menyenangkan pasangannya, nah ini 'kan menyulitkan bagi pasangan atau mereka yang sedang berpacaran ini.

PG : Memang ada orang yang sangat tidak aman dan merasa malu dengan dirinya, sehingga terdoronglah dia untuk menutupi dirinya, kalau sampai itu yang terjadi saya kira dia bukan saja merugika pasangannya, diapun akan merugikan dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya waktu pasangan menyadari bahwa dia seperti itu, pasangannya tidak lagi menghormatinya, apalagi kalau pasangannya tahu bahwa dari awalnya dia seperti itu, tapi disembunyikan wah...makin besar rasa marahnya, merasakan bahwa ini adalah suatu tipuan yang akhirnya merugikan diri sendiri. Jadi pada prinsipnya pada masa berpacaran terbukalah apa adanya dengan diri kita, sehingga pasangan kita bisa dengan jelas melihat siapa kita dan kita pun bisa melihat dia juga dengan lebih jelas.
GS : Ya memang ada anjuran dari seorang pakar, pada saat berpacaran itu buka matamu lebar-lebar, tetapi setelah menikah tutup matamu.

PG : Betul, dalam pengertian setelah menikah jangan persoalkan lagi.

GS : Tentunya para muda-mudi kita yang sedang berada dalam masa pacaran itu sangat membutuhkan suatu pedoman dari firman Tuhan, Pak Paul bisa bagikan itu untuk kita semua.

PG : Tadi saya sudah singgung 3 kategori besar yang harus kita perhatikan yakni kebiasaan hidup, yang kedua kesungguhan hidup dan yang ketiga kekudusan hidup. Dalam hal kekudusan saya juga snggung tentang menghormati Tuhan yang akhirnya dampaknya pada diri sendiri, apakah kita menjaga hidup yang kudus.

Nah, firman Tuhan memberikan kita satu hal yang indah di antara banyak hal lainnya lagi yaitu saya mengambil dari Amsal 19:22 "Sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya, lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." Nah ada 2 hal di sini, pertama kesetiaan itulah satu sifat yang sangat-sangat indah dan ini yang harus kita cari pada pasangan kita. Dan yang kedua adalah firman Tuhan berkata lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong, artinya menikahlah dengan orang yang jujur. Dua modal ini, setia dan jujur, ada orang yang setia tapi tidak jujur, ada orang yang jujur tapi tidak setia. Tuhan memberi kita panduan setia dan jujur, dua kwalitas yang sangat indah pada diri manusia. Jadi waktu mencari pasangan hidup, perhatikanlah apakah dia orang yang setia, yang akan terus bertahan tidak akan meninggalkan kita dan apakah dia orang yang jujur, sehingga dia tidak membohongi kita, nah itu yang saya bisa bagikan pada para pendengar kita.
GS : Itu tentu sangat berharga sekali Pak Paul karena kita semua berharap bahwa pasangan-pasangan yang sedang berpacaran nantinya akan membina suatu rumah tangga yang bahagia tentu itu menjadi harapan mereka dan harapan kita semua.

Jadi terima kasih sekali Pak Paul untuk kesempatan perbincangan kali ini, saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi kami telah menyampaikan ke hadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melihat Kecocokan dalam Masa Berpacaran." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



21. Membatasi Keintiman Selama Berpacaran


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T104B (File MP3 T104B)


Abstrak:

Keintiman fisik seharusnya bagian terbelakang atau terakhir dalam masa persiapan memasuki pernikahan. Jadi keintiman yang harus dikedepankan pada masa berpacaran adalah keintiman yang bersifat emosional.


Ringkasan:

Keintiman seksual itu atau keintiman fisik seharusnya bagian terbelakang atau terakhir dalam masa persiapan memasuki pernikahan. Jadi keintiman yang harus dikedepankan pada masa berpacaran adalah keintiman yang bersifat emosional. Misalnya kepribadian kita dengan dia, diri kita dengan dia apakah bisa menyatu, apakah bisa saling mengerti dan mengisi satu sama lain, itu yang paling penting. Terakhir keintiman seksual, ini dilakukan pada masa pernikahan, kalau terbalik kita hanya mengundang bencana di kemudian hari.

Akibat orang mengedepankan keintiman seksual lebih daripada yang lainnya adalah:

  1. Akan melahirkan beberapa perasaan negatif, rasa bersalah. Kalau kita mempunyai nilai moral yang melarang kita untuk berhubungan seksual sebelum menikah, melakukan hubungan seksual sebelum menikah tidak bisa tidak akan melahirkan rasa bersalah.

  2. Menimbulkan perasaan cemas, rasa cemas ini terutama dialami oleh para wanita karena mereka takut akan kehamilan, mereka takut sekali ini akan membuahkan sebuah atau seorang bayi.

  3. Perasaan takut, rasa takut karena terutama juga dialami oleh wanita. Setelah dia memberikan tubuhnya dia takut sekali pasangannya itu akan meninggalkan dia, nah kalau dia wanita dan dia ditinggalkan, pertanyaannya adalah kalau saya nanti berpacaran atau menikah dengan orang lain, penjelasan apa yang akan saya berikan?

Pernikahan harus dilandasi perasaan yang positif, kalau waktu berpacaran diisi dengan perasaan-perasaan negatif itu modal yang tidak positif, tidak baik untuk membangun pernikahan. Masa berpacaran masa yang membawa kita ke masa berikutnya yaitu pernikahan, jadi kalau diisi dengan perasaan-perasaan kecewa, marah, benci, tidak hormat, perasaan khawatir, takut kehilangan dia, perasaan cemas akhirnya bukankah itu akan menjadi perasaan-perasaan yang tidak sehat dalam pernikahan nantinya.

Anjuran bagi yang sedang berpacaran:

  1. Kita jangan memulai, jangan menyentuh-nyentuh, melihat-lihat bagian badan yang memang sangat erotis.

  2. Hindarkan pertemuan di tempat tertutup, jangan sampai kita memulai kebiasaan buruk yaitu selalu bertemu di tempat di mana tidak ada orang.

Amsal 5:21 , "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan dan segala langkah orang diawasinya." Kalau kita mempunyai kesadaran yang terus-menerus bahwa Tuhan mengawasi kita dan langkah hidup kita ini terbuka di hadapan Tuhan, saya kira kita menjadi orang yang lebih kudus, lebih berhati-hati dalam kekudusan kita. Jadi ingat bahwa Tuhan mengawasi, bahwa Tuhan melihat, kita mungkin berpikir tidak ada yang melihat, Tuhan melihat dan nanti Tuhan yang akan menuntut pertanggungjawaban kita. Apapun yang kita lakukan itu akan mengundang konsekuensi dan konsekuensi itu nanti kita jugalah yang harus menanggungnya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Membatasi Keintiman Selama berpacaran". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Orang yang sedang berpacaran Pak Paul, kadang-kadang lupa batas-batasnya sampai di mana dia harus intim dengan pasangannya. Dan sering kali kita juga mempunyai pendapat kalau intim itu mesti hubungan secara kontak tubuh bahkan sampai hubungan seksual. Sebenarnya bagaimana Pak Paul yang dikatakan keintiman selama masa berpacaran itu?

PG : Keintiman seksual atau keintiman fisik seharusnya bagian terbelakang atau terakhir dalam masa persiapan memasuki pernikahan. Jadi keintiman yang harus dikedepankan adalah keintiman yangbersifat emosional.

Misalnya kepribadian kita dengan dia, diri kita dengan dia, apakah bisa menyatu, apakah bisa saling mengerti dan mengisi satu sama lain, itu yang paling penting. Yang terakhir adalah keintiman seksual dan itu dilakukan pada masa pernikahan, kalau terbalik prioritasnya maka tidak ada lagi kata yang bisa saya tegaskan di sini. Yang sering kali menjadi masalah adalah kalau urutan itu terbalik. Pada dasarnya kita langsung masuk ke arah-arah seksual, kita terlalu dekat secara seksual, masalah-masalah yang tadinya ada kita tutupi dan akhirnya akan muncul lagi, jadi kalau sampai terbalik kita hanyalah mengundang bencana di kemudian hari.
GS : Kalau menurut pengamatan Pak Paul, kenapa akhir-akhir ini sering kali terjadi kasus-kasus hubungan seksual pranikah?

PG : Banyak sekali sebabnya Pak Gunawan, memang secara global tatanan masyarakat berubah, jadi di mana-mana masyarakat menjadi masyarakat yang lebih kendor. Karena lebih kendor masyarakat it akhirnya lebih toleran dalam hal-hal penyimpangan atau pelanggaran, manusia akhirnya berkata itu dilakukan oleh semua orang dan tidak apa-apa.

Jadi melihat banyaknya orang melakukan pelanggaran itu seolah-olah memberikan kita ijin untuk melakukan hal yang sama. Sanksi sosial juga sudah berkurang banyak sekali, dulu kalau sampai ada orang menikah karena hamil atau hamil di luar nikah wah itu menggemparkan satu kota, tapi sekarang karena sudah terlalu banyak akhirnya orang makin hari makin berkata ya itu memang hal yang wajar, kita akan terima saja. Saya bukannya berkata kita harus perlakukan dengan sangat brutal, tidak, tapi memang harus ada peringatan-peringatan, harus ada juga reaksi-reaksi kok sampai terjadi meskipun kita tetap menerima mereka. Jadi sanksi-sanksi seperti itu saya kira semestinya masih ada. Yang lainnya lagi adalah tidak bisa tidak kita ini sangat dipengaruhi dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Media massa melalui film-film dan sebagainya sudah sangat mengeksploitasi seks, sehingga seks itu menjadi bagian yang sangat-sangat integral dalam industri film sekarang ini. Nah akhirnya kita melihat itu dan apa yang kita lihat Minggu demi Minggu atau bulan demi bulan membuat kita terbiasa dengan hal-hal itu dan kita kehilangan kepekaan bahwa hal ini adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Sebab dalam film-film itu dilakukan dengan begitu mudahnya, kita akhirnya terbawa, terbiasa kehilangan kepekaan dan melakukan hal yang sama.
(2) GS : Kalau sampai terjadi hal yang seperti itu Pak Paul, orang mengedepankan keintiman seksual lebih daripada yang lainnya, apa akibatnya Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah ini akan melahirkan beberapa perasaan negatif, saya akan uraikan Pak Gunawan, yang pertama adalah perasaan negatif rasa bersalah. Kalau kita mempunyai nilai moral yag melarang kita untuk berhubungan seksual sebelum menikah, melakukan hubungan seksual sebelum menikah tidak bisa tidak akan melahirkan rasa bersalah, kenapa kok saya melakukan itu.

Nah, yang paling celaka adalah kita sudah merasa bersalah, tapi tidak bisa lepas dari jeratan itu, terus-menerus mengulangnya, makin merasa bersalah. Bahayanya adalah makin merasa bersalah, kita makin merasa tidak berdaya untuk melawan godaan itu, akhirnya terus-menerus melakukannya lagi.
GS : Sering kali perasaan bersalah itu makin lama makin berkurang Pak Paul, jadi melakukan pertama kali mungkin akan timbul perasaan bersalah, tetapi untuk yang kedua, ketiga dia anggap itu sebagai suatu hal yang wajar.

PG : Betul, jadi ada yang akhirnya merasionalisasi dengan berkata itu wajarlah atau ya siapa yang tidak punya masalah seperti ini atau ya kita manusia memang mempunyai kebutuhan secara jasmaiah, kebutuhan haus, minum, kebutuhan makan, kebutuhan seksual, apa salahnya dengan ini, nah akhirnya kita membolehkan diri kita.

Tapi saya kira kebanyakan orang apalagi yang masih ada rasa takut terhadap Tuhan sebetulnya merasa bersalah, namun disembunyikan atau dinetralisir dengan rasionalisasi yang tadi itu.
GS : Perasaan yang lain apa?

PG : Rasa cemas, rasa cemas ini terutama dialami oleh para wanita karena mereka takut akan kehamilan, mereka takut sekali ini akan membuahkan seorang bayi. Jadi meskipun dilakukan tetapi sellu ada kecemasan, sebab kita tahu meskipun digunakan alat-alat kontraseptif tidak ada yang 100% aman yang bisa pasti berhasil untuk tidak membuahkan bayi, jadi biasanya ada rasa cemas.

Kalau prianya juga adalah seorang yang bertanggung jawab dan baik, diapun akan dihantui oleh rasa kecemasan itu, aduh.........apakah dia akan hamil, apakah yang saya lakukan ini akan membuahkan seorang anak atau tidak, hal-hal seperti itu.
GS : Apakah ada perasaan negatif yang lain Pak Paul selain rasa bersalah dan rasa cemas itu?

PG : Yang lain adalah rasa takut, takut ini terutama dialami oleh para wanita. Setelah dia memberikan tubuhnya, dia takut sekali pasangannya itu akan meninggalkan dia. Nah kalau dia wanita dn dia ditinggalkan, pertanyaannya adalah kalau saya nanti berpacaran atau menikah dengan orang lain, penjelasan apa yang akan saya berikan? Apakah saya akan jujur, terbuka, aduh......kalau

harus terbuka berarti saya malu sekali. Jadi hubungan seksual sebelum menikah cenderung melahirkan respons yang akhirnya terlalu menguasai pasangannya. Karena apa? Karena sudah ada rasa takut itu, jangan-jangan nanti engkau akan meninggalkan saya, jadi karena adanya rasa takut, respons yang natural adalah lebih menguasai. Itu sebabnya riset memperlihatkan ini di Amerika, kalau anak muda berpacaran kemudian putus, yang satu misalnya mau bunuh diri, hampir dapat dipastikan sudah terjadi hubungan seksual. Kalau belum terjadi hubungan seksual jarang sampai anak itu mau mengakhiri hidupnya. Dan kebanyakan kalau sampai ada kasus mengakhiri hidup atau percobaan mengakhiri hidup, itu disebabkan karena sudah adanya hubungan seksual. Sekali lagi ini riset di Amerika, negara yang bebas, di mana hubungan seksual sebelum menikah itu sudah begitu umum di sana. Tapi ternyata kita tidak bisa membohongi diri meskipun secara rasional kita membolehkan, mengijinkan, tapi ternyata waktu kita putus dengan pacar, riset memperlihatkan anak-anak muda inilah yang mau mengakhiri hidup, sebabnya sangat jelas mereka sudah menginvestasikan dirinya atau hidupnya. Jadi seks sekali lagi bukannya aktifitas fisik belaka, seks adalah suatu penyerahan hidup yang sangat intim dan kita tidak mungkin membohongi diri dengan berkata o....itu hanyalah gerakan-gerakan yang bersifat fisik, tidak ada makna apapun di belakangnya, o.......tidak, kalau tidak ada makna apapun di belakangnya kenapa mau bunuh diri, jadi memang sangat bermakna.
GS : Ada reaksi yang biasanya juga terjadi pada para gadis, pada anak-anak perempuan yang melakukan hubungan seks pranikah, yang mula-mula itu dia sangat mencintai pasangannya atau pacarnya ini. Tapi setelah itu terjadi, setelah mereka melakukan hubungan seksual, kemudian dia membenci sekali Pak Paul?

PG : Rasa marah atau benci itu timbul karena dia merasakan pasangannya itu hanyalah tertarik pada tubuhnya, dia tidak merasakan bahwa pasangannya tertarik dengan dirinya dan apa yang mau diasampaikan atau katakan, dia melihat pasangannya itu datang hanya mencari satu, yaitu kepuasan.

Nah, kalau sudah diberikan kepuasan ya sudah, jadi akhirnya si wanita akan merasa saya ini seperti pelacur, saya hanyalah sebagai pemuas hasrat pasangan saya dan kalau sudah dipuaskan ya sudah. Nah, apa yang kau berikan kepadaku, tidak ada; apakah engkau tertarik pada diriku, pada pikiranku, tidak ada, tertariknya hanya pada satu hal saja yaitu seks. Nah, itu yang sering kali menciptakan rasa benci dan marah. Yang lainnya adalah cukup banyak wanita yang berhubungan seksual sebetulnya tidak menginginkan hubungan seksual. Pria memang bisa berkata o.....dia juga sama-sama terangsang kok, manusia dari daging dan darah waktu dirangsang akan merasa terangsang, tapi belum tentu itu adalah keinginannya. Jadi cukup banyak wanita melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, karena yang pertama kasihan dengan pacarnya, daripada dia sengsara kasihan sekali, akhirnya dia menyerahkan dirinya. Atau dia tidak enak menolak pacarnya itu, tidak sopanlah rasanya atau sungkan masa menolak, pacarnya sudah begitu baik kepada dia, akhirnya terpaksa dia lakukan. Atau yang terakhir karena takut kehilangan pasangannya, jadi intinya sesungguhnya banyak wanita tidak ingin berhubungan seksual, tidak ingin karena dia tahu dia akan sangat dirugikan kalau terjadi apa-apa nantinya, namun terpaksa dia berikan karena hal tadi itu. Itu sebabnya sebagian wanita sudah mulai mengembangkan kebencian pada masa berpacaran. Dia mungkin tidak menyadari itu, tapi dia sudah menyimpan rasa marah terhadap pasangannya, "kenapa kok aku tidak mau engkau tetap mau melakukannya", seolah-olah ada suatu perampokan yang telah terjadi atau pemanfaatan dan dia harus menyerah karena ketakutan atau karena sungkan dan sebagainya.
GS : Atau ada juga yang mengatakan ini, toh saya nanti pasti menjadi istrinya, dia sudah terlalu yakin dengan itu Pak Paul, bahwa dia pasti menjadi istrinya, jadi dia merasa tidak apa-apa melakukan ini.

PG : Ada yang memang mengelabui dirinya dengan berkata: sudah pasti saya akan menjadi istrinya. Saya katakan mengelabui, sebab faktanya adalah siapa yang bisa memastikan mereka akan menikah,tidak ada yang bisa memastikan.

Dan sudah terlalu banyak kasus di mana yang sudah berhubungan seksual akhirnya tidak menikah. Jadi kemarahan biasanya juga adalah salah satu respons yang dialami oleh para wanita. Yang bisa dialami juga oleh pria dan wanita adalah perasaan yang negatif berikutnya yakni rasa kecewa, mungkin para pendengar kita bertanya-tanya kenapa kok kecewa, bukannya senang karena sudah bisa berhubungan seksual. Pertama, bagi si wanita dia kecewa kepada pasangannya yang pria karena pasangannya yang pria itu tidak semulia yang dia pikir, maunya itu saja, maunya hubungan seksual saja. Jadi apa itu yang luhur, yang mulia, tiba-tiba tidak ada lagi sekarang. Nah, bagi yang pria ini juga menarik, pria waktu bisa berhubungan seksual dengan pasangannya akan beranggapan bahwa pasangannya itu murahan. Sebab pria kalau jujur ditanya engkau memilih wanita yang menolak hubungan seksual denganmu ataukah memilih wanita yang dengan mudah memberikan tubuhnya kepadamu, yang mana yang engkau akan hormati, semua akan berkata saya akan menghormati yang menolak berhubungan seksual dengan saya. Dia tidak suka, betul, tapi dia akan hormati, jadi waktu si pria melihat wanita ini mudah saja memberikan tubuhnya, dalam hatinya sebetulnya telah terjadi penurunan respek, sudah tentu dia tidak akan katakan kepada si wanita, tidak enaklah atau nanti dia akan dirugikan, wanitanya tidak akan mau berhubungan dengan dia. Tapi sebetulnya itu sudah mulai terjadi, jadi rasa kecewa terhadap pasangannya tidak semulia yang dipikirnya.
(3) GS : Semua perasaan itu 'kan terjadinya setelah mereka melakukan hubungan seksual Pak Paul, tapi apakah ada dampak yang lebih besar lagi kalau seandainya mereka melanjutkan hubungan itu ke pernikahan?

PG : Pernikahan harus dilandasi oleh perasaan positif, kalau waktu masa berpacaran diisi dengan perasaan-perasaan negatif, itu modal yang tidak positif, tidak baik untuk membangun pernikahan Jadi kalau kita mau menanam pohon, kita mencari bibit yang bagus, yang kuat, yang sehat.

Kalau kita sudah menanamkan dengan bibit yang bermasalah, berpenyakit, berhama, tidak akan tumbuh pohon-pohon yang kuat, jadi sama dengan masa berpacaran ini. Masa berpacaran masa yang membawa kita ke masa berikutnya yaitu pernikahan, jadi kalau diisi dengan perasaan-perasaan kecewa, marah, benci, tidak hormat, perasaan khawatir, takut kehilangan dia, perasaan cemas akhirnya bukankah itu akan menjadi perasaan-perasaan yang tidak sehat dalam pernikahan, nantinya.
GS : Ya, apakah itu akan menjadi masalah kalau mereka jadi menikah dan itu terus diungkit-ungkit lagi Pak Paul?

PG : Betul, misalkan seorang pria dituduh berselingkuh oleh istrinya. Kemudian si pria ini berkata: "Tidak, saya tidak berselingkuh dengan wanita itu, saya hanya bersama dengan dia di kamar api tidak berbuat apa-apa."

Kalau pada masa berpacaran mereka sudah berhubungan seksual, karena si wanita melihat si pria itu tidak bisa menguasai dirinya, si wanita atau si istri itu tidak akan percaya pada perkataan si suami. Saya tidak berbuat apa-apa, sebab yang paling tahu siapa? Si istri, tahunya dari mana? Ya waktu masih berpacaran engkau tidak bisa menguasai diri, kenapa sekarang saya harus percaya engkau bisa menguasai diri. Dan sekali lagi kalau misalkan sudah terjadi penurunan respek, itu akan dibawa ke dalam pernikahan. Pasangan kita tidak lagi menjadi orang yang kita kagumi, dia sudah menjadi orang yang cacat dan celakanya kitalah yang mencacatkan dia.
GS : Nah, ini hubungannya dengan beberapa waktu yang lalu, kita berbicara tentang kecocokan di dalam masa berpacaran, itu sejauh mana Pak Paul?

PG : Seks adalah suatu aktifitas dan suatu obsesi yang sangat-sangat ampuh, sangat berkuasa, sangat 'powerful' oleh karena itu seks dengan kenikmatan yang disajikannya berpotensi menutupi keidakcocokan kita.

Kita seolah-olah dibutakan dan kita rela membutakan mata demi kemungkinan mencicipi kenikmatan itu. Nah, ini bahaya yang kedua kenapa jangan berhubungan seksual sebelum menikah, sebab ada banyak hal yang seharusnya kita fokuskan dan bahas dan hadapi, tapi tidak kita lakukan, karena semua tiba-tiba tersapu bersih oleh satu tindakan seksual, satu hubungan seksual. Nanti ada masalah lain lagi tidak apa-apa soalnya ada penebusannya, ada bayarannya yaitu hubungan seksual sebelum menikah. Masalahnya setelah menikah hubungan seksual tidak lagi terlalu 'glamour' seperti pada masa berpacaran, yang akan terlihat jelas adalah problem-problem itu. Maka sekali lagi masa berpacaran kalau diisi dengan hubungan atau tindakan seksual, bahayanya sangat besar. Problem-problem yang tersembunyi mulai bermunculan nanti setelah menikah dan baru kita sadari o....ini pasangan saya, o......ini sifatnya kok saya dulu tidak lihat, ya karena dulu hanya dilihat pada hubungan seksual saja.
(4) GS : Kalau begitu apa anjuran Pak Paul untuk mereka yang sedang berpacaran pada saat ini?

PG : Yang pertama adalah kita jangan memulai, jadi jangan kita menyentuh-nyentuh, melihat-lihat bagian badan yang memang sangat erotis, karena apa? Karena kalau kita sudah memulai akan sukarsekali untuk mundur, pria itu mempunyai satu kelemahan yaitu kalau sudah terangsang pria susah mundur, wanita meskipun terangsang misalkan dia dipeluk dan sebagainya maka rangsangan itu akan bisa reda dengan pelukan-pelukan.

Tapi pria sewaktu terangsang dia tidak akan reda dengan sendirinya, justru dia akan terdorong untuk mencapai klimaksnya, nah kalau dia tidak mencapai klimaksnya dia merasa sangat frustrasi sekali. Maka saya memang tidak ingin memberikan kesan seolah-olah saya ini lebih memberatkan wanita, tapi saya meminta, saya menghimbau kepada para wanita jaga diri baik-baik, sebab pria memang sangat lemah dalam hal ini kalau sudah terangsang susah untuk mundur lagi. Jadi jangan biarkan awalnya itu terjadi, jangan biarkan dia menyentuh tubuhmu, jangan biarkan dia melihat tubuhmu karena hal itu akan menjadi masalah nantinya.
GS : Anjuran yang lain apa Pak Paul?

PG : Hindarkan pertemuan di tempat tertutup, jangan sampai kita ini memulai kebiasaan buruk yaitu selalu bertemu di tempat di mana tidak ada orang. Kalau kita sudah mempunyai kebiasaan itu, tu berarti kita sudah merencanakan dan kita harus sadar kita memang ingin melakukan itu, semua orang yang berpacaran saya kira akan tergoda secara alamiah, jadi kita harus melawannya dengan berkata kalau saya di tempat terbuka peluang itu akan lebih kecil, jadi biasakan untuk bertemu di tempat terbuka, jangan di tempat yang tertutup.

GS : Ya tetapi mungkin bukan cuma tempat yang terbuka biasa Pak Paul, tetapi mungkin ada orang yang lalu-lalang, yang sering kali lewat dan sebagainya. Karena sekarang ini kalau kita melihat justru di surat kabar-surat kabar itu berhasil difoto dan sebagainya, muda-mudi yang berpacaran di tempat terbuka, di tepi sungai atau apa, tapi bahkan di sudut-sudut mall tapi mereka melakukan hal-hal yang seperti itu Pak Paul, kontak fisik walaupun tidak kontak seksual tetapi arahnya ke sana.

PG : Jadi memang yang terhilang adalah pertanggungjawaban Pak Gunawan, jadi mereka merasa di tempat terbuka yang terlalu publik itu tidak ada yang mengawasi. Jadi manusia selalu bisa menciptkan jalan kalau memang sudah menginginkannya.

Jadi ini kesadaran sendiri, kesadaran bahwa saya lemah dan saya harus menjaga diri jangan saya menciptakan peluang-peluang itu.
GS : Lalu bagaimana hubungannya kalau dia seorang yang beriman kepada Tuhan?

PG : Kalau memang dia mengakui dia bergumul dengan hal ini, pasangan dan dia harus berdua berdoa. Jadi bersama-sama berdoa memohon Tuhan melindungi mereka, menjaga mereka dan jangan takut unuk datang kepada Tuhan, walaupun sudah bergumul tetap berdoa, walaupun mungkin tergoda sudah mulai melewati batas tetap berdoa.

Jangan sampai kita berada di satu titik dan berkata: "Yah.....buat apa berdoa, tidak ada gunanya," jangan! Sebab dalam doa kita akan diingatkan dan didorong lagi untuk kudus, dalam doa kita berhadapan lagi dengan Tuhan. Jadi melalui doa Tuhan juga bisa menguatkan kita dan berdoa bersama juga membuat kita berdua mengaku ini problem kita bersama, harus kita hadapi.
GS : Memang lebih baik kita melakukan pencegahan atau tindakan preventif seperti itu daripada terlanjur kemudian menyesal. Tapi saya percaya ada bagian firman Tuhan yang akan menegaskan hal ini Pak Paul.

PG : Saya akan bacakan Amsal 5 : 21 "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata Tuhan dan segala langkah orang diawasinya." Kalau saja kita bisa mempunyai kesadaran yang teus-menerus bahwa Tuhan mengawasi kita dan langkah hidup kita ini terbuka di hadapan Tuhan, saya kira kita menjadi orang yang lebih kudus, lebih berhati-hati dalam kekudusan kita.

Nah, jadi ingat bahwa Tuhan mengawasi, bahwa Tuhan melihat, kita mungkin berpikir tidak ada yang melihat, Tuhan melihat dan nanti Tuhan yang akan menuntut pertanggungjawaban kita. Dan sekali lagi apapun yang kita lakukan itu akan mengundang konsekuensi dan konsekuensi itu kita jugalah yang harus menanggungnya. Jadi ingat bahwa Tuhan melihat dan mengawasi kita.

GS : Jadi kalau memang itu disadari benar saya rasa dan saya yakin sekali bahwa kita akan terhindar dari dosa perbuatan perzinahan ini yang melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan kita pada saat ini. Dan saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi kami telah menyampaikan sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membatasi Keintiman Selama Berpacaran." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



22. Patah Hati


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T126A (File MP3 T126A)


Abstrak:

Patah hati merupakan reaksi terhadap putusnya relasi cinta. Seperti halnya dengan hidup, kita harus menempatkan patah hati dalam kerangka pimpinan Tuhan atas hidup kita. Tidak ada hal yang terjadi di luar kuasa dan kehendak Tuhan.


Ringkasan:

Ada orang yang tidak mengalami kesukaran apa pun dalam mencari pasangan hidup; sekali berpacaran, langsung melangkah ke pelaminan. Namun ada orang yang tidak seberuntung itu; mereka harus mengalami putus cinta berkali-kali sebelum akhirnya menikah.

Bagaimanakah caranya menyikapi patah hati?

  1. Patah hati merupakan reaksi terhadap putusnya relasi cinta. Beberapa gejalanya adalah, murung, tidak bersemangat menghadapi hidup, khawatir akan masa depan, marah dan frustrasi, atau kehilangan arah hidup. Sebagaimana kita ketahui, cinta adalah emosi yang kuat yang bersifat mempersatukan. Jadi, dalam relasi cinta, kita merasakan penyatuan dengan pasangan kita dan faktor inilah yang membuat patah hati begitu sulit untuk dilalui. Kita sukar melepaskan diri dari orang yang telah menjadi bagian hidup kita. Hidup kita dan hidupnya telah bertali-temali, kita membagi aktifitas sehari-hari dan mungkin kita pun telah membagi rencana masa depan.

  2. Patah hati seyogyanya sembuh seiring dengan berjalannya waktu, tetapi kadang patah hati menimbulkan masalah lainnya. Misalnya ada yang hendak bunuh diri atau bahkan membunuh pasangannya; ada yang lumpuh dan tidak bisa berfungsi dalam hidup; dan ada yang kehilangan kepercayaan diri. Pada umumnya komplikasi yang timbul merupakan wujud dari problem yang lebih serius yang berakar dari rasa dirugikan. Misalnya, dirugikan karena telah berhubungan seksual, merasa telah dimanfaatkan, merasa dipedaya, hilangnya kesempatan "emas" atau hilangnya tujuan hidup.

  3. Sebagaimana hal lainnya dalam hidup, kita mesti menempatkan patah hati dalam kerangka pimpinan Tuhan atas hidup kita. Tidak ada hal yang terjadi di luar kuasa dan izin Tuhan. Berdasarkan prinsip ini, kita mesti berani mengajukan beberapa pertanyaan penting, misalnya:

    1. Apakah Tuhan berkenan dengan hubungan ini? Jika tidak, terimalah fakta ini sebagai cara Tuhan memisahkan kita dari ikatan yang tidak dikehendaki-Nya. Jika Tuhan berkenan dengan hubungan ini (namun tetap putus), terimalah fakta ini sebagai bagian dari pimpinan Tuhan atas hidup kita yang tidak kita mengerti.

    2. Apakah Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu kepada kita? Mungkin kita berandil dalam putusnya relasi ini mungkin juga tidak. Jika kita berandil, terimalah pelajaran yang telah kita peroleh meski harus melalui kepahitan. Jika memang kita tidak berandil, lihatlah pasangan kita dengan obyektif dan ampunilah dia.

  4. Pada akhirnya kita mesti kembali bersandar kepada Tuhan. Patah hati dapat menggoncangkan keseimbangan hidup dan membuat kita mempertanyakan maksud baik Tuhan. Ingatlah, obat patah hati bukanlah kepastian bahwa Tuhan pasti "menggantikan dengan yang lebih baik." Obat patah hati adalah Roma 8:28 , "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Apa pun perasaan kita-tidak ada harapan lagi, kosong, ditinggalkan oleh Tuhan-ingatlah bahwa Ia sedang bekerja melalui peristiwa ini (Ia terlibat) dan tujuan dari segalanya jelas yakni untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang 'Patah Hati', kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ini suatu tema yang menarik khususnya bagi para muda-mudi tentang patah hati Pak Paul. Memang tidak semua orang mengalami itu, tapi sebenarnya apakah yang disebut dengan patah hati itu sendiri?

PG : Patah hati merupakan reaksi terhadap putusnya relasi cinta. Jadi ada beberapa gejala yang sering kali dikaitkan dengan patah hati Pak Gunawan, yaitu murung (biasanya orang yang patah hati ering kali murung), tidak bersemangat menghadapi hidup atau ada yang bahkan menjadi sangat khawatir akan masa depannya, nah ada juga yang bereaksi marah dan frustrasi, melakukan hal-hal yang salah yang tidak dipikirkan panjang, atau ada di antara mereka yang kehilangan arah hidup.

Jadi reaksi-reaksi ini biasanya merupakan wujud dari bergejolaknya jiwa yang disebabkan oleh patah hati tadi itu.
GS : Tetapi gejala itu tidak sama pada kedua pemuda dan pemudi itu Pak Paul, walaupun mereka sama-sama mengalami patah hati?

PG : Ternyata memang tidak selalu sama. Jadi misalkan ada yang cenderung murung tapi ada yang cenderung frustrasi dan marah, jadi biasanya reaksi kita itu juga bisa dipengaruhi oleh kepribadiankita secara umum.

Kalau kita memang pemarah misalkan dan kita berdarah panas nah patah hati bisa saja membuat kita makin mudah marah dan tidak sabar. Tapi kalau kita agak melankolis, nah bisa jadi waktu kita patah hati reaksi kita lebih turun ke bawah kita akhirnya lebih sering murung.
GS : Ya, patah hati itu dialami seseorang ketika calon pasangan hidupnya itu mengatakan bahwa dia tidak mau melanjutkan hubungan itu lagi atau karena sebab yang lain itu Pak Paul?

PG : Biasanya itu yang terjadi Pak Gunawan, memang kita tidak bisa mengerti dengan pasti. Ada orang-orang yang mudah sekali mendapatkan pasangan hidup dan akhirnya menikah, sekali berpacaran lagsung melangkah ke pelaminan.

Tapi ada juga orang yang harus jatuh bangun berpacaran baru akhirnya menemukan pasangan yang cocok dan bisa menikah dengannya. Nah patah hati adalah putus cinta, seseorang berkata: "Saya tidak lagi mau meneruskan hubungan ini dan saya ingin berhenti." Nah patah hati sudah tentu bisa merupakan kesepakatan dari kedua belah pihak tapi bisa jadi juga tindakan yang diambil oleh satu pihak saja. Nah sudah tentu yang lebih menyakitkan hati, jika diputuskan oleh satu pihak. Kalau kedua belah pihak setuju untuk menghentikan meskipun bisa jadi ada efek sampingannya, ada rasa patah hati tapi kalau kedua belah pihak menyutujui biasanya efeknya tidak sedramatis atau tidak sehebat kalau diputuskan oleh satu pihak saja.
GS : Ya, tapi kalau sejak awal sebenarnya salah satu dari mereka itu sudah tidak berniat untuk meningkatkan hubungan mereka pada tingkat pacaran Pak Paul, apakah itu bisa dikatakan sebagai patah hati?

PG : Kalau memang satu orang sudah tidak lagi bersedia untuk meneruskan hubungan, saya kira akan sulit sekali meneruskan hubungan itu. Relasi cinta didirikan di atas dua pribadi bukan satu jadiada istilah atau pribahasa, tidak bisa kita ini bertepuk sebelah tangan, saya kira itu betul.

Jadi meski ada kesediaan dari kedua belah pihak untuk membina atau melanjutkan hubungan ini. Memang patah hati itu sulit sekali dilalui Pak Gunawan, kenapa sulit? Sebab ini yang harus kita mengerti tentang kodrat atau sifat dari cinta. Cinta itu menyatukan, jadi waktu kita mencintai seseorang kita disatukan dengan orang itu. Apa yang saya maksud disatukan dengan orang itu? Sewaktu kita mencintai seseorang, orang tersebut masuk menjadi bagian dari diri kita. Dia menjadi bahan pemikiran kita tiap hari, mungkin kita hari lepas hari membagi aktifitas dengan dia, dalam kondisi yang lebih jauh kita mungkin mulai memikirkan masa depan bersama dengan dia. Dengan kata lain orang yang kita cintai masuk menjadi bagian hidup kita dan kita tidak lagi hidup sendiri, meskipun secara fisik kita masih sendiri dan belum menikah dengan dia namun sesungguhnya secara emosional kita telah melebur menjadi satu dengan dia. Makin dalam hubungan cinta itu makin melebur, makin lama dan makin dekat hubungan cinta itu juga makin meleburlah kita berdua. Nah putus cinta seolah-olah seperti ini, orang tersebut direnggut atau ditarik keluar dengan paksa dari dalam hati kita, jadi benar-benar akan merobek-robek hati. Itu sebabnya orang yang patah hati merasakan hatinya itu seperti dirobek-robek, seperti ada yang sedang berdarah di dalam hatinya ada yang luka. Nah itu sebabnya karena orang tersebut yang hadir dalam hati kita dipaksa keluar dan akhirnya harus merobek hati kita itu. Akibatnya adalah hati itu sepertinya bolong, meninggalkan luka atau lubang. Nah sebetulnya yang juga memberatkan untuk melewati fase patah hati ini adalah lubang itu sendiri. Jadi perobekan waktu orang itu meninggalkan kita itu satu luka, itu satu pukulan yang berat, namun yang membuat patah hati itu begitu menyakitkan dan berkepanjangan adalah efek setelah dirobek itu yaitu terciptanya lubang yang besar dalam hati kita. Nah lubang yang kosong inilah yang akhirnya menimbulkan rasa hampa dalam diri kita dan ini yang harus kita hadapi hari lepas hari.
GS : Tetapi baik luka maupun lubang itu Pak Paul, pada saatnya nanti akan bisa sembuh Pak Paul?

PG : Seyogyanya kita akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Namun kadang kala yang terjadi adalah kita tidak sembuh-sembuh bahkan terjadi komplikasi. Misalnya apa, masalah-masalah lain yng bisa muncul ada yang hendak bunuh diri misalnya atau bahkan ya benar-benar bunuh diri.

Atau yang kita tahu adalah kalau mau membunuh atau membunuh pasangannya. Ada lagi yang menjadi lumpuh secara sosial, secara mental tidak bisa keluar rumah, tidak bisa menghadapi orang, mengurung diri di kamar, tidak bisa bekerja. Ada juga yang tidak lagi mempunyai kepercayaan diri, benar-benar meragukan dirinya, apakah dia masih berharga, tidak lagi percaya pada pertimbangannya bahwa saya ini bisa salah, saya ini pasti juga keliru, atau ada orang yang kehilangan penghargaan dirinya, benar-benar merasa seperti sampah, tidak lagi mempunyai nilai. Nah itu adalah komplikasi dari patah hati atau efek-efek sampingan yang berkembang menjadi problem tersendiri akibat dari patah hati.
GS : Ya biasanya malah problem sampingan itu yang menimbulkan dampak yang jauh lebih negatif itu Pak Paul.

PG : Betul sekali, jadi kalau komplikasi ini tidak terawat, akhirnya komplikasi ini menjadi problem yang lebih serius. Misalkan kalau kita mendengar kabar atau membaca surat kabar adanya orang ang gelap mata membunuh mantan kekasihnya, bukankah itu tindakan yang luar biasa merugikan banyak orang.

Tapi kenapa sampai bisa begitu? Nah penyebabnya adalah orang merasa dirugikan. Jadi saya kira akar dari komplikasi adalah kita merasa dirugikan. Contohnya apa, contohnya adalah ini salah satu penyebab kenapa orang akan mau bunuh diri atau lumpuh secara mental, secara sosial, secara emosional, tidak bisa berfungsi lagi, hidupnya sungguh-sungguh hancur setelah patah hati, salah satu penyebab umum dari reaksi-reaksi tadi adalah sudah adanya hubungan seksual. Nah biasanya ini lebih sering dialami oleh para wanita, sebab mereka sudah memberikan tubuhmereka kepada pacar-pacarnya ini, kemudian pacarnya meninggalkannya. Nah tidak bisa tidak wanita ini akan mulai berpikir, nanti bagaimana, siapa yang akan bersedia menikahi saya, apakah saya harus mengakui problem saya ini dengan orang lain. Nah kadang-kadang itulah yang terjadi, jadi orang tersebut atau wanita tersebut merasa dirugikan sekali. Waktu dia merasa dirugikan karena terus ditinggali oleh pasangannya, nah komplikasi bisa terjadi. Dirugikan yang lain misalnya ada orang yang merasa dipedaya, karena dia sudah begitu percaya tahu-tahu pasangannya mempunyai pacar lain. Benar-benar dia merasa dipedaya, nah itu bisa membuat dia marah sekali, sakit hati sekali. Nah sakit hati itulah yang membuat dia terus-menerus berkubang dalam depresi untuk waktu yang berkepanjangan. Ada juga orang yang dimanfaatkan, dia merasa bertahun-tahun berpacaran dia yang harus mengeluarkan banyak biaya, mengokosi pacarnya dsb kemudian ditinggalkan begitu saja. Nah ini juga bisa membuatnya merasa marah sekali sehingga akhirnya depresi berkepanjangan. Ada yang lainnya lagi misalnya ada yang merasa kehilangan kesempatan emas. Artinya dia melihat pasangannya ini adalah hadiah yang terbaik yang dia peroleh selama hidup ini, kemudian hadiah terbaik itu menolak dia, meninggalkan dia dan dia tidak lagi mempunyai kesempatan emas bersama dengan orang yang dia dambakan atau idealkan ini. Nah bisa jadi sebagai reaksi dia patah hati, dan bisa mau bunuh diri, bisa benar-benar hidupnya hancur tidak lagi merasakan adanya harapan untuk masa depan dia. Sehingga dia bisa kehilangan tujuan hidup, kehilangan penghargaan diri, putus asa dan sebagainya. Jadi sekali lagi biasanya kalau komplikasi terjadi, biasanya penyebabnya adalah seseorang merasa dirugikan.
GS : Nah Pak Paul, supaya tidak terjadi komplikasi seperti itu yang tentunya tidak kita harapkan, sebenarnya apa yang Pak Paul sarankan kalau ada pemuda atau pemudi yang mengalami patah hati?

PG : Sebagaimana hal lainnya dalam hidup, kita pun perlu menempatkan patah hati dalam kerangka pimpinan Tuhan. Maksud saya begini Pak Gunawan, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kuasa atau zin Tuhan, apapun yang terjadi itu masih dalam koridor izin atau kuasa Tuhan, termasuk putusnya pacar kita, termasuk ditinggalkannya kita ini oleh pacar kita.

Nah jadi apakah sikap kita, ya setelah kita menyadari bahwa ini pun, patah hati ini pun masuk dalam kerangka pimpinan Tuhan. Ada dua prinsip yang saya mau timba dari pernyataan ini, yang pertama adalah dari pemahaman bahwa Tuhan memimpin kita. Sesungguhnya kita harus mengajukan pertanyaan, pertama apakah Tuhan berkenan dengan hubungan ini, apakah Tuhan berkenan. Artinya begini Pak Gunawan, kalau Tuhan tidak berkenan misalkan kita bersama dengan orang yang tidak seiman, Tuhan jelas tidak berkenan meskipun kita anggap tidak apa-apa. Atau hubungan ini penuh dengan tipu muslihat, kebohongan-kebohongan, Tuhan tidak berkenan. Atau pasangan kita ini mempunyai kehidupan yang tidak bermoral, kita tahu hubungan seperti ini tidak diperkenan Tuhan, kita tahu kita terlalu sering berkelahi, lebih banyak berkelahi daripada tidak berkelahinya. Kita bisa simpulkan bahwa ini bukan kehendak Tuhan tapi kita tetap mempertahankannya. Nah kalau memang kita tahu Tuhan tidak berkenan, terima fakta ini sebagai cara Tuhan memisahkan kita dari ikatan yang Tuhan tidak kehendaki. Namun jika kita berkata hubungan ini Tuhan perkenan, anak ini atau pacar kita juga anak Tuhan dan relasi kita baik-baik saja kok akhirnya putus dan sebagainya, nah kita terima fakta ini sebagai bagian dari pimpinan Tuhan atas hidup kita yang kita tidak mengerti. Kita tidak mengerti kenapa dia putuskan hubungannya dengan kita, dia orang yang baik, dia mencintai Tuhan kok bisa dia akhirnya tidak cocok atau dia akhirnya memilih orang lain. Kita berkata: "Saya tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan, tetapi saya terima ini sebagai pimpinan Tuhan" meskipun kita tidak memahaminya. Jadi itu pertanyaan pertama Pak Gunawan, pertanyaan berikutnya adalah kita bertanya apakah Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu kepada kita. Maksudnya begini, mungkin sekali kita berandil dalam putusnya relasi ini, tapi mungkin juga tidak. Nah jika kita akui kita berandil, kita juga yang memicu problem-problem ini sehingga pacar kita meninggalkan kita, kita terima pelajaran yang telah kita peroleh ini meskipun harus melalui kepahitan menerimanya. Atau jika kita memang tidak berandil, kita akui tidak memang kita tidak berandil. Dia yang lemah, dia yang akhirnya jatuh lagi meninggalkan kita, kita melihat pasangan kita dengan obyektif, kita melihat kelemahan dia dengan apa adanya kita tidak usah tutup-tutupi, kita tidak usah besar-besarkan, tidak usah kecil-kecilkan apa adanya kita lihat kemudian ampuni dia. Saya kira hanya itu yang bisa kita lakukan.
GS : Ya biasanya 'kan orang yang pacaran itu selalu mengatakan ini kehendak Tuhan, saya ketemu dengan kamu, ini sudah dijodohkan Tuhan begitu Pak Paul. Nah sehingga untuk mengintrospeksi diri, atau merefleksikan diri dengan pertanyaan seperti itu buat dia menjadi sulit sekali.

PG : Kehendak Tuhan di dalam pemilihan pasangan hidup harus diuji, dicermati melalui proses waktu. Tadi saya sudah singgung bahwa bisa jadi orang ini atau pacar kita ini sesama orang seiman, kia pikir kurang apa lagi.

Memang Tuhan meminta kita memilih orang yang sesama orang percaya, kita sudah lakukan itu dan semuanya berjalan dengan baik tidak ada masalah. Tapi tiba-tiba pacar kita berubah hati, pacar kita akhirnya mencintai orang lain atau cintanya kepada kita tiba-tiba hilang tidak ada lagi. Nah apa yang bisa kita simpulkan, apakah orang ini bukan orang yang Tuhan perkenan. Tapi rupanya relasi ini memang bukanlah untuk kita, jadi kita harus terima meskipun ini bagian dari pimpinan Tuhan yang kita tidak mengerti.
GS : Pak Paul, kalau kita sebagai orang tua melihat anak kita sudah mulai pacaran dsb, apakah benar-benar kalau kita mengatakan kamu siap-siap juga lho untuk hubungan ini bisa tidak terus, artinya dia harus menyiapkan dirinya untuk mengalami patah hati itu. Apakah tepat itu Pak?

PG : Saya kira sekali-sekali atau mungkin ya sekali kita berbicara begitu tidak apa-apa, yang penting kita tidak terus-menerus mengatakannya. Sebab kalau terus-menerus mengatakannya saya takut ita menciptakan ketakutan yang irasional pada anak kita.

Namun pada prinsipnya adalah orang yang mencintai, perlu siap untuk terluka itu tidak bisa dihindari, orang yang mencintai siap untuk terluka bahkan kita bisa mengakui dalam pernikahan kita, kita sudah menikah, saling mencintai, ada komitmen yang kuat kadang-kadang kita terluka gara-gara kita terlibat dalam sebuah hubungan yang sangat pribadi, sangat-sangat dekat dengan hati kita, kita mencintai istri kita atau suami kita. Jadi orang yang tidak siap untuk terluka dan tidak mau misalnya sampai harus sakit hati ya tidak bisa menjalin hubungan cinta.
GS : Nah sering kali kita jumpai juga orang yang pernah patah hati itu lalu untuk memulai lagi berpacaran itu sulit sekali, itu kenapa Pak Paul?

PG : Sering kali akan ada fase-fase yang harus dilewati misalnya yang pertama fase mempertanyakan ketulusan cinta orang yang baru ini (sungguh-sungguh tidak ya dia mencintai saya) nah dulu mungin tidak sekuat itu, sudah pasti ada pertanyaan sungguh-sungguh atau tidak orang ini mencintai saya.

Namun setelah kita dikecewakan dan patah hati perasaan tidak yakin itu lebih kuat, sungguh-sungguh atau tidak dia itu mencintai kita. Atau kita bertanya sungguh-sungguh atau tidak dia dapat mencintai kita terus-menerus, sekarang dia memang mencintai kita tapi apakah akan berlangsung untuk waktu yang lama. Jadi kita mau hati-hati, dan ini bukan hal yang buruk sebab kita tidak mau terluka kedua kali. Jadi kita cenderung bersiap-siap, kita cenderung lebih berhati-hati agar jangan terluka untuk kedua kalinya. Jadi sampai titik tertentu tidak apa-apa, kita tidak langsung meng-iakan, kita melihat ketulusan dan kekuatan cintanya untuk jangka waktu yang lebih panjang. Saya kira itu hal yang alamiah, yang normal.
GS : Tapi bagaimana kita bisa memberikan semangat Pak Paul, kepada entah itu anak kita, entah itu teman kita supaya dia itu mau memulai lagi. Tidak merasa kapok atau jera dengan pengalamannya itu?

PG : OK! Point yang pertama adalah kita memang mesti juga peka dengan kondisinya sekarang ini. Kalau dia berada dalam kondisi yang tidak siap sebaiknya ya kita tidak memaksakan melewati kemampunnya saat ini.

Tapi kalau memang kita merasa kok ini berlama-lama dan terlalu panjang, saya kira kita perlu mengajaknya bicara dan menggali sebetulnya apa yang dia takuti, apa yang menjadi masalahnya sekarang ini. Nah tadi saya sudah singgung kalau sampai terlalu lama atau muncul komplikasi, kemungkinan ada masalah yang lebih serius di belakang ini semua bahwa ini bukan sekadar patah hati. Nah mungkin ada hal-hal yang lain yang telah terjadi yang membuat pemuda atau pemudi itu merasa dirugikan sekali. Jadi untuk dia memulai lagi sangat sulit, nah ini tadi saya sudah singgung dirugikan ini dalam berbagai bentuk. Namun intinya kita harus menggali, apa itu yang terjadi yang membuat dia merasa dirugikan sekali. Nah dari situ barulah kita bisa membantunya untuk keluar dari jeratan itu.
GS : Ada pasangan Pak Paul, artinya dalam pacaran, sekalipun mereka sudah berpisah tapi mereka itu bertekad untuk tetap menjalin hubungan itu tetap baik, sehingga masih tetap berhubungan dengan orang tuanya, sering telepon dsb tapi akibatnya luka itu tidak sembuh-sembuh Pak Paul?

PG : Itu sebabnya setelah putus, penting sekali kedua belah pihak itu bisa dengan realistik menentukan langkah berikutnya. Jika satu pihak tidak bersedia untuk melanjutkan kontak sebagai teman,pihak yang satunya seyogyanya menghormati.

Karena memang seperti yang tadi Pak Gunawan singgung bisa memperpanjang luka. Nah daripada memperpanjang luka ya jangan. Tapi yang satunya akan berkata tapi saya hanya mau mempertahankan persahabatan, betul, tapi kalau pacar atau teman kita tidak siap itu lebih melukai hatinya, kita harus menghormati permintaannya itu.
GS : Tapi buat si orang yang berniat untuk tetap menjalin hubungan itu, apakah juga tidak merasa dirugikan Pak Paul?

PG : Sesungguhnya ya, tapi inilah manusia Pak Gunawan, yaitu kadang-kadang kita ini daripada tidak sama sekali ya masih bisa menikmati hubungan meskipun bukan sebagai pacar itupun tetap mengobai.

Jadi adakalanya orang-orang ini mempertahankan kontak atau relasi-relasi dengan mantan pacarnya meskipun sudah berubah. Tapi buat dia lebih baiklah daripada tidak sama sekali. Nah saya anjurkan untuk waktu tertentu, misalnya bulan-bulan pertama masih OK, tapi setelah itu saya kira sebaiknya dia harus mulai melepaskan. Sehingga lukanya bisa sembuh, memang susah sekali.
GS : Kadang-kadang masih terbersit harapan itu siapa tahu nanti masih berbaikan kembali itu Pak Paul?

PG : Betul, kadang-kadang itu yang muncul. Nah ini membawa kita kepada point berikutnya yaitu ini Pak Gunawan, kadang-kadang orang berkata: "O.....Tuhan pasti punya kehendak dan Tuhan akanmenggantikan dengan yang lebih baik."

Saya kira penghiburan ini kurang tepat, sebab belum tentu Tuhan akan memberikan secepat itu atau belum tentu akan ada orang yang sebaik itu atau pun yang lebih baik dari itu dan sebagainya. Jadi bagi saya obat penawarnya bukanlah meyakinkan diri Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih baik saya kira jangan, obat penawar yang saya mau tawarkan adalah di Roma 8:28 firman Tuhan berkata: "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Apapun perasaan kita, misalkan perasaan kita itu tidak ada harapan lagi, kosong, atau kita merasa ditinggalkan oleh Tuhan, kita mesti mengingat bahwa Tuhan sedang bekerja melalui peristiwa ini bahwa putusnya hubungan ini belum tentu memang didesain oleh Tuhan dsb tapi Tuhan bekerja dalam peristiwa itu, Tuhan terlibat dan janji Tuhan adalah tujuan dari segalanya termasuk peristiwa yang buruk. Tujuan dari segalanya adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Jadi meskipun pahit kita mesti percaya nantinya akan mendatangkan kebaikan bagi kita, kita tidak tahu itu apa. Tapi yang baik itu belum tentu Tuhan menggantikan pacar kita dengan pacar yang lebih baik itu belum tentu.
GS : Jadi dalam kondisi patah hati, kondisi yang sangat sulit seperti ini kita bisa menganjurkan agar mereka itu justru lebih dekat dengan Tuhan itu Pak Paul?

PG : Betul, jadi justru bersandar kepada Tuhan dan di sinilah iman bertumbuh sebab kalau kita mendapatkan terus yang kita inginkan, iman sulit bertumbuh. Iman bertumbuh justru di tengah-tengah etidakjelasan tapi kita tetap bersandar, kita percaya Tuhan akan mendatangkan kebaikan dan Tuhan terlibat atas semua ini.

Nah di situlah iman kita pada Tuhan bertumbuh.

GS : Kita tahu bahwa ini sesuatu hal yang memang menyakitkan tapi itu suatu realita dan kita yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang-orang yang sungguh mau bersandar kepadaNya. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan saya rasa ini sangat menolong khususnya bagi para pemuda-pemudi yang mungkin saat-saat ini mengalami patah hati. Para pendengar sekalian terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Patah Hati". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



23. Menunggu Atau Mencari Pasangan Hidup


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T126B (File MP3 T126B)


Abstrak:

Sebelum menikah, ada fase-fase yang harus dilewati yaitu menemukan pasangan, menentukan pasangan dan mempersiapkan rumah tangga. Dalam materi ini akan dikupas secara gamblang tentang fase-fase tersebut.


Ringkasan:

Sebelum pernikahan, ada tiga fase dan tugas yang harus kita lewati:

  1. menemukan pasangan,
  2. menentukan pasangan, dan
  3. mempersiapkan rumah tangga.

Menentukan pasangan berkaitan dengan mengenali sifat dan gaya hidup pasangan serta menguji kecocokan.

Mempersiapkan rumah tangga berkenaan dengan upaya menyiapkan hidup bersama misalnya pekerjaan dan tempat tinggal. Namun sebelum kedua hal ini dapat terwujud, kita harus menemukan pasangan terlebih dahulu. Berhubungan dengan tugas pertama ini, adakalanya kita bertanya, apakah kita harus secara aktif mencari pasangan hidup ataukah kita hanya menunggu kedatangannya? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah, mencari dengan sikap menunggu. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa prinsip yang termaktub dalam jawaban ini.

  1. Beradalah di posisi di mana kita dapat bertemu dengan orang-orang yang menjadi target harapan kita. Ingat, menempatkan diri di tempat yang salah membuka peluang untuk kita bertemu dengan orang yang salah pula. Ingatlah prinsip Abraham: "...engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan..." ( Kej 24:3 ) dan Paulus, "asal orang itu adalah seorang percaya." ( 1Kor 7:39 ).

  2. Jalinlah relasi dan jadilah teman; nikmatilah persahabatan itu dan jadikan persahabatan-bukan pernikahan-sebagai tujuan kita berelasi. Orang cenderung menarik diri tatkala tahu bahwa ia adalah target operasi perburuan kita.

  3. Perbaiki diri agar kita pun menyukai diri sendiri. Jangan berharap orang akan menyukai kita dengan mudah bila kita sendiri membenci diri. Fokuskan pada manusia batiniah kita: jika suka marah, belajarlah sabar; andaikan suka mengkritik, belajarlah menahan diri; jika kurang pengetahuan, bacalah buku; di samping meningkatkan penampilan fisik.

  4. Hiduplah sepenuhnya sebagai seorang lajang, bukan sebagai setengah lajang, setengah kawin. Jangan hidup berdasarkan "andai saya menikah nanti." Ingatlah firman Tuhan, "Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri." ( Mat 6:34 )


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Menunggu atau Mencari Pasangan Hidup", kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Memang ini suatu pertanyaan yang sangat relevan Pak Paul, khususnya bagi para muda-mudi yang menanyakan apakah kita itu seharusnya menunggu atau mencari pasangan hidup ini. Di satu sisi kita percaya bahwa Tuhan itu sudah menyediakan dan pasti memberikan kepada kita, tetapi ada juga yang merasa terlalu lama, umurnya bertambah terus, usianya bertambah terus tapi pasangannya tidak kunjung datang sehingga menimbulkan kegelisahan, nah sebenarnya yang benar yang mana, Pak Paul?

PG : Sebelum saya memberikan jawaban itu, saya mau sedikit memberikan pandangan saya tentang konsep Tuhan sudah menyediakan pasangan hidup untuk kita. Karena apa? Ya karena saya kira tidak selau Tuhan menyediakan pasangan hidup untuk kita.

Adakalanya memang tidak, jadi itu sebabnya kita katakan orang yang tidak menikah itu bisa tidak menikah karena pilihannya, dia ingin hidup untuk Tuhan dia tidak mau menikah atau karena keadaan, keterpaksaan jadinya. Dia ingin menikah, dia rindu sekali mempunyai pasangan hidup tapi memang tidak ada. Nah apakah itu berarti Tuhan menyediakan pasangan hidup buat semua? Saya kira tidak. Nah kembali lagi kepada topik kita yaitu apakah kita perlu menunggu, apakah itu sikap kita ataukah kita harus dengan aktif mencari pasangan hidup kita. Jawaban saya adalah ini, mencari dengan sikap menunggu. Saya akan mencoba kembangkan sebelum saya memberikan prinsip-prinsipnya. Saya akan kembangkan dulu tentang fase-fase yang harus kita lewati sebelum kita menikah. Fase pertama adalah kita perlu menemukan pasangan hidup, kalau tidak buat apa berbicara tentang pernikahan, jadi harus menemukan pasangan hidup. Kedua, fase yang kita lewati adalah menentukan pasangan hidup dan yang terakhir adalah sebelum kita menikah kita mempersiapkan rumah tangga kita. Nah nanti panjang lebar kita akan bahas yang pertama, jadi saya akan bahas yang kedua, yang ketiga yaitu setelah kita menemukannya kita perlu melewati fase atau kita mempunyai tugas untuk menentukan apakah dia ini pasangan yang cocok buat kita atau tidak, jadi kita uji kecocokan, ketidakcocokan kita. Kita melihat sifatnya, kita melihat sifat kita, kita melihat gaya hidupnya, kita melihat gaya hidup kita dan kita uji kecocokan, bisa atau tidak kita hidup bersama dengan dia nantinya? Jadi memang fase ini fase yang lebih berkaitan dengan penyesuaian gaya hidup dan pengenalan akan karakter masing-masing. Kalau itu bisa lewat nah bagian terakhir dari berpacaran adalah mempersiapkan rumah tangga. Artinya sebelum kita memasuki rumah tangga mesti ada persiapan, persiapan apa yang bisa kita lakukan misalkan secara keuangan, secara finansial kita harus siap. Kita mesti siap juga misalkan dengan di manakah kita nantinya akan tinggal, apa yang akan menjadi pekerjaan kita nantinya, apakah bisa disenangi, disetujui oleh pasangan kita, apakah kita juga bisa menyetujui pekerjaannya dia. Nah itu aspek-aspek mempersiapkan rumah tangga kita di kemudian hari, nah dua fase itu harus kita lewati. Namun kembali lagi pada topik kita sekarang ini yaitu langkah pertama tetap haruslah menemukan dulu pasangan hidup ini.
GS : Itu biasanya para pemuda-pemudi kalau ditanyakan mengenai pasangan hidupnya itu atau apa yang diyakini dalam hidupnya kebanyakan mengatakan ya dia akan menikah Pak Paul, jadi jarang sekali yang berkata memang Tuhan menghendaki saya tidak menikah sehingga konsepnya adalah dia akan menikah dan dia harus mencari atau menunggu pasangan hidup itu tadi. Nah itu tadi yang Pak Paul katakan mencari dan menunggu sekaligus Pak Paul. Nah kesulitannya memang di dalam menemukan, nah ini bagaimana Pak Paul?

PG : OK! Tadi saya katakan jawabannya adalah mencari dengan sifat menunggu, nah dari konsep ini saya akan petik beberapa pelajaran. Yang pertama adalah secara praktisnya kita mesti berada di poisi di mana kita dapat bertemu dengan orang-orang yang menjadi target harapan kita.

Maksudnya apa, begini kita harus berada bersama dengan orang, bergaul dengan orang, kita harus bersinggungan dengan orang. Kita tidak mungkin menemukan pasangan hidup kalau kita mengurung diri di kamar, kita harus keluar, harus bergaul. Apakah salah misalnya ikut kegiatan gereja silakan, misalkan ada retreat untuk orang-orang yang belum menikah silakan ikut, ada kegiatan bakti, ada kegiatan olah raga, ada kegiatan rekreasi silakan ikut, ada kegiatan komisi silakan ikut. Dengan kata lain tempatkan diri kita di tempat di mana kita akan bersinggungan dengan orang namun bukan hanya bersinggungan dengan orang tapi bersinggungan dengan orang yang menjadi target harapan kita. Saya sering berkata seperti ini, kalau kita ingin membeli berlian kita tidak mencari-carinya di tong sampah, kita akan ke toko perhiasan. Demikian juga kalau kita ingin mencari sesama orang percaya, orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan kita tidak lari-lari ke tempat-tempat yang kita tahu di sana orang-orang percaya tidak akan hadir. Jadi kita tempatkan diri di mana orang-orang yang menjadi harapan kita itu berada. Gunakan prinsip Abraham, Abraham berkata kepada budaknya Eliezer sebelum Eliezer pergi mencarikan jodoh buat anaknya Ishak. Abraham berkata: "Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan." Abraham mementingkan menantunya itu harus dari kaumnya sendiri, dengan kata lain dia tidak mau anaknya menikah dengan orang-orang yang tidak sama, tidak seiman dengan dia. Juga Paulus mengatakan hal yang sama di 1 Korintus 7:39 , asal orang itu adalah seorang percaya, prinsip yang Tuhan berikan kepada kita. Jadi tempatkan diri di mana orang-orang percaya berada, itu yang pertama.
GS : Ya tetapi untuk para muda-mudi sekarang ini agak sulit Pak Paul, meskipun mereka tahu konsep itu bahwa mereka harus menikah dengan orang yang seiman itu sudah diajar sejak mereka kecil. Tapi kesempatan untuk itu terbatas sekali, mereka hanya Minggu datang ke gereja atau Sabtu ke persekutuan, selebihnya waktunya habis di kampus, itu kalau dia masih mahasiswa. Dan di kampus itu bermacam-macam karena teman-temannya banyak sekali di sana. Atau kalau pun dia sudah bekerja, lingkungan bekerja pun terdiri dari orang yang bermacam-macam, nah itu bagaimana mengatasinya?

PG : Sudah tentu kita harus bergaul dengan semua orang, kita harus menjadi terang di tempat mana pun Tuhan menaruh kita. Tetapi di dalam membina relasi yang lebih serius yang kita harapkan bisaberkembang menjadi hubungan cinta, saya kira kita memang dari awalnya harus selektif.

Jangan kita memulai sesuatu yang kita tahu kita tidak akan bisa selesaikan nantinya. Jadi bagi saya jauh lebih penting dari awalnya kita memang mempunyai kriteria yang jelas yaitu kalau mau melanjutkan hubungan, kita mau yang seiman, kalau tidak kita hanya berteman biasa.
GS : Justru menentukan kriterianya itu yang mungkin agak sulit bagi para muda-mudi ini.

PG : Dengan kata lain memang perlu kesungguhan, jadi waktu kita tahu tidak seiman kita akan langsung menjaga jarak dan kita akan berkata : "Dia hanya akan menjadi teman saya, dan tidak aka saya buka peluang supaya ini berkembang."

Jadi kita memang mempunyai posisi yang jelas dalam hal ini. Sekali lagi tujuannya memang kita mau menaati Tuhan, Tuhan sudah berkata kita menikah dengan siapa saja bebas asalkan orang itu orang yang percaya, jadi kita mau menaati Tuhan.
GS : Di dalam hal mencari itu biasanya memang pihak pria yang lebih aktif Pak Paul, yang wanita itu kebanyakan menunggu. Tapi sekarang ini sudah hampir sama aktifnya, nah apakah itu suatu perkembangan yang positif atau negatif?

PG : Saya melihat positif, kalau pihak wanita pun juga bersedia untuk aktif saya kira itu hal yang baik. Sehingga dari kedua belah pihak bisa saling menunjukkan interest, sudah tentu kalau satuya tidak memiliki interest yang sama kita harus menerima fakta itu.

Nah ini membawa kita kepada prinsip yang berikutnya Pak Gunawan, tadi saya sudah katakan kita mencari, kita tidak bisa pasif, kita mencari namun dengan sikap menunggu. Nah maksudnya apa, yang saya ingin munculkan adalah kita menjalin relasi dengan orang dan jadilah teman bagi teman-teman kita, nikmati persahabatan itu dan jadikan persahabatan sebagai tujuan kita berelasi, bukan pernikahan. Jadi maksud saya begini, kita terbuka dan bergaul dengan semua, jadikan diri kita teman dan mereka teman kita juga, nikmati persahabatan itu jangan kita ini ke mana-mana seolah-olah mata kita hanya menyoroti siapa yang menjadi istri saya, siapa yang menjadi suami saya, seperti kita ini sedang berburu mencari mangsa. Saya perhatikan orang cenderung lari kalau kita mengejar-ngejar, memburu mangsa, orang tidak suka. Jadi kebanyakan orang akan senang dengan relasi yang berkembang secara alamiah dan diawali dengan pertemanan. Saya perhatikan pria juga mempunyai perasaan yang sama, pria kalau dari awalnya dikejar-kejar misalnya sudah tentu kalau orang itu sesuai dengan seleranya dia akan senang. Tapi meskipun orang itu sesuai dengan seleranya, tapi kalau dia itu dikejar-kejar dari awalnya saya kira sebagian besar pria tidak nyaman juga. Saya melihat wanita juga sama, kalau pria langsung begitu agresif hanya memikirkan bagaimana wanita ini bisa menjadi pacarnya saya kira wanita juga akan berhati-hati. Sebab dia ingin bisa melewati fase-fase permulaan itu menjadi teman dulu. Jadi prinsipnya adalah carilah teman, carilah persahabatan, bukan mencari pasangan hidup dari awalnya, jangan, binalah persahabatan. Tujuan kita berteman adalah untuk membangun persahabatan ini bukan untuk langsung memikirkan ke pernikahan, nah hal-hal seperti ini kadang-kadang kita lupakan apalagi kalau usia kita sudah mulai menanjak, kita langsung buru-buru mencari mangsa seolah-olah itu makin membuat orang lari dari kita.
GS : Tapi banyak faktor memang Pak Paul, terutama faktor sosial dari orang tuanya atau dari lingkungannya itu yang memang mendesak dia untuk mengejar, Pak Paul.

PG : Itu sebabnya saya tekankan prinsipnya adalah mencari dengan sikap menunggu, artinya kita tidak mencari dengan sikap berburu, mengejar-ngejar mencari mangsa, tidak. Kita mencari tapi dengansikap menunggu, kita membangun persahabatan dulu.

Artinya apa, setelah persahabatan baru naik ke tingkat yang berikutnya, kalau memang tidak bisa naik ke tingkat berikutnya kita terima. Dan tidak apa-apa, sebab kita memang mencari persahabatan itu.
GS : Nah itu yang dikaburkan sering kali di tingkat persahabatan mereka itu menampakkan diri seolah-olah sudah pacaran Pak Paul, jadi ke mana-mana berdua dsb. Bukankah kalau persahabatan tidak seperti itu.

PG : Jadi memang pada tahap-tahap ini kita tidak eksklusif, jadi kadang-kadang kita pergi dengannya, tapi kadang-kadang kita pergi dengan teman-teman yang lainnya juga. kadang-kadang kita pergiberdua, kadang-kadang kita pergi berlima atau berenam, tapi kadang-kadang pun kita pergi dengan orang lain.

Dan hal ini dimengerti bahwa kita memang sedang membangun sebuah persahabatan kita tidak mengikatkan diri dalam ikatan yang eksklusif ini. Satu hal yang juga saya anjurkan adalah begini, kalau dalam persahabatan berkelompok itu kita sudah mulai nyaman, dan kita pun merasakan dia pun juga mungkin mempunyai perasaan yang sama dengan kita ya masuk ke tahap berikutnya kita bisa berkata kepada dia: "Bersedia tidak engkau mendoakan hubungan ini?" dan kemudian kita menentukan jangka waktu misalkan tiga bulan, dia berdoa, kita berdoa. Kita benar-benar meminta pimpinan Tuhan dan biarkan perasaan kita ini menjadi perasaan yang lebih tenang, lebih jernih karena dengan pikiran dan perasaan yang tenang kita baru bisa melihat dengan jelas juga. Setelah tiga bulan kita berdoa, baru lihat kesiapan kita kalau dia siap, kita siap baru kita lanjutkan ke fase berpacaran. Jadi tadi itu saya tidak sebut berpacaran, ya boleh juga kita menyebutnya pra-pacaran. Pada masa pra-pacaran itu kita dengan sungguh-sungguh mendoakan tapi tidak ada ikatan dulu, namun tidak berarti dalam masa pra-pacaran itu kita galang-gulung dengan orang lain, nah kita tidak menunjukkan keseriusan kita. Jadi pada masa pra-pacaran selama tiga bulan itu kita tidak galang-gulung dengan orang, kita sungguh-sungguh mendoakan dia tapi belum ada komitmen. Setelah masa itu lewat baru kita memasuki masa komitmen berpacaran, dan berpacaran inilah yang tadi saya bilang, kita sudah menentukan pasangan hidup kita kira-kira dia dan kita mau menguji kecocokan kita, fase menguji itulah yang kita sebut fase berpacaran.
GS : Kenapa dalam fase menguji itu Pak Paul, ada pemuda atau pemudi itu yang selalu bimbang untuk memutuskan, dia selalu punya pendapat siapa tahu nanti ada yang lebih baik daripada yang sekarang, jadi dia berani memutuskan lagi, dia masih menunggu lagi nanti, mencari lagi begitu.

PG : Cinta memang sesuatu yang bisa memperdaya kita karena cinta itu melibatkan perasaan, tapi sekaligus cinta juga bisa kita manfaatkan sebagai bel, sebagai pertanda bahwa memang ini hubungan ang sungguh-sungguh kita inginkan atau tidak.

Maksudnya begini, kalau kita mencintai dia dan cinta kita cukup besar seharusnya cinta yang besar itu akan membuat kita bertahan mencintai dia untuk waktu yang lama. Dan yang kedua adalah cinta yang besar itu akan menolong kita untuk bertahan melewati misalnya masa-masa penyesuaian itu, namun kita harus juga membuka mata terhadap fakta, jadi cinta bukan satu-satunya kriteria untuk menentukan dia adalah pilihan kita atau pasangan kita. Cinta boleh besar tapi kalau akhirnya kita secara rasional mengakui tidak cocok ini sering berkelahi, lebih jarang kita tidak berkelahi kita harus berkata tidak bisa diteruskan meskipun cinta itu kuat. Jadi harus ada keseimbangan antara cinta dan kecocokan, kadang-kadang orang melupakan hal itu. Wah...pokoknya jalan saja terus. Jadi kembali kepada pertanyaan Pak Gunawan tadi, kalau masih bingung kemungkinan cinta itu memang tidak kuat, dan perlu cinta yang lebih kuat untuk mengikatkan diri kita dalam pernikahan.
GS : Tapi akibatnya lalu berlarut-larut dia tidak pernah menemukan jodohnya.

PG : Nah kalau itu masalahnya, mungkin saya harus berkata bahwa memang dia belum waktunya menikah. Sampai kapan? Ya sampai dia siap, sampai cintanya begitu besar sehingga dia bisa bertahan di dlam relasi cintanya.

Kalau memang tidak bisa bertahan, dua bulan, tiga bulan menyusut lagi berarti memang dia belum siap.
GS : Tapi faktor di lingkungan dia mendesak dia terus untuk cepat-cepat menikah jadi dia agak sulit posisinya Pak Paul.

PG : Sering kali itu yang terjadi, jadi orang tidak mengerti dan buru-buru meminta dia menikah.

GS : Lalu upaya lain apa yang bisa dilakukan, Pak Paul?

PG : Yang lainnya lagi adalah kita mesti memperbaiki diri agar kita pun menyukai diri sendiri. Jangan berharap orang akan menyukai kita dengan mudah, bila kita sendiri membenci diri. Jadi maksu saya begini, kita melihat diri kita, kita melihat kekurangan kita, kita perbaiki.

Sebab orang tidak mudah menyukai kita kalau kita sendiri tidak suka dengan diri kita ini. Kalau kita orangnya pemarah, ya belajar sabarlah, kita orangnya mudah mengkritik, ya belajar menahan dirilah, kita kurang pengetahuan, ya belajar bukulah, terus misalnya cara berpakaian kita ya kita perhatikan, penampilan fisik juga kita perlu perbaiki. Dengan kata lain pada masa kita mencari dengan sikap menunggu, kita mau memperbaiki diri kita. Bagaimana kalau setelah memperbaiki diri tetap tidak ada pasangan hidup? Ya tidak apa-apa 'kan tidak ada salahnya dan tidak ada ruginya kita memperbaiki diri kita. Kita tidak bisa bergaul, tidak bisa cara berbicara, ya kita belajar caranya bergaul, caranya memulai percakapan, itu hal yang baik buat kita juga. Jadi seraya kita mencari dan menunggu kita memperbaiki diri.
GS : Faktor atau unsur yang berikutnya yang menentukan itu apa saja Pak Paul, yang perlu diperhatikan?

PG : OK! Ini penting sekali, yaitu hiduplah sepenuhnya sebagai seorang lajang, bukan setengah lajang atau setengah kawin. Maksud saya begini Pak Gunawan, adakalanya kita terjebak di dalam pemikran andai kata saya sudah menikah, andaikan nanti saya berpasangan, tidak.

Kita tidak hidup berdasarkan andaikan, kita hidup berdasarkan fakta sekarang ini, jadi kalau memang kita masih sendiri hiduplah sebagai seorang yang sendiri, hiduplah sebagai orang yang lajang jangan kita akhirnya tidak berani bertindak, tidak berani mengambil langkah karena tetap berpikir nanti kalau saya begini, nanti bagaimana saya dapat jodoh, kalau saya begitu nanti siapa yang akan bisa saya nikahi. Kita hidup seperti biasa sepenuh-penuhnya.
GS : Dalam hal itu Pak Paul, dalam hal menentukan sikap seperti itu apakah tidak sulit. Bukankah dia mempunyai cita-cita nanti kalau menikah bagaimana dan sebagainya, harapan-harapan itu akan terus memenuhi pikirannya?

PG : Tidak bisa tidak saya kira pikiran itu tetap ada, tapi jangan sampai pikiran itu menguasai kita. Hiduplah sebagai seseorang yang single, yang lajang sepenuhnya. Memang saya mengerti mungki saya juga tidak bisa mengerti sepenuhnya karena saya sekarang ini sudah menikah, tapi saya bisa memahami dah bahwa orang yang ingin menikah tidak bisa tidak akan terus diganggu oleh pikiran ini.

Namun saya mau memberikan dua pilihan, hidup diganggu oleh pikiran ini atau hidup bebas, nah jadilah orang yang bebas, pilihlah yang bebas itu, hiduplah sepenuhnya sebagai seorang lajang, berikan waktu kita untuk pekerjaan Tuhan, kita dedikasikan hidup kita juga untuk melayani Tuhan, menjadikan diri kita berkat buat lebih banyak orang, nah hidup sepenuhnya seperti itu. Kalau di dalam perjalanan hidup kita seperti itu, kita bertemu dengan orang nah di situlah kita akan bisa menjalin hubungan. Kita tidak bisa selalu bertanya-tanya kapan orang itu datang, dan kitanya tidak berjalan ke mana-mana. Hidup sepenuhnya dalam perjalanan, hidup sepenuhnya itu kalau kita bertemu ya puji Tuhan kita bisa menikah dengan dia, kalau tidak bertemu ya tetap puji Tuhan karena kita bisa terus hidup dengan bebas dan sepenuhnya.
GS : Nah Pak Paul, itu masa-masa yang sulit dan sangat menentukan untuk arah hidup selanjutnya. Kita sebagai orang tua kalau sudah mengetahui anak kita memasuki proses seperti itu, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan Pak Paul?

PG : Kita ingatkan dia bahwa tujuan hidup yang terutama bukan menikah, jadi anak-anak dari lebih awal usianya mesti mengerti konsep ini, tujuan hidup adalah untuk memuliakan Tuhan. Tujuan hidupadalah untuk bisa menjadi intim dan menikmati Tuhan di dalam kehidupan kita ini.

Menikah adalah salah satu hal yang bisa terjadi pada diri kita tapi belum tentu harus terjadi pada diri kita juga. Nah dengan konsep yang jelas ini barulah kita bisa berjalan dengan lebih bebas, kalau tidak takutnya nanti anak-anak kita terus memikirkan saya pasti harus menikah. Dan kita sebagai orang tua juga tidak memberikan pressure atau tekanan yang tidak semestinya. Jadi ingatlah anak-anak kita ya boleh tapi jangan menekan, jangan sampai mereka akhirnya merasa tertekan dan mengambil keputusan yang justru keliru.
GS : Bukankah kebanyakan para muda-mudi itu agak enggan membicarakan dengan orang tua bahwa mereka sedang berpacaran, Pak Paul? Nah padahal kita sebagai orang tua tahu bahwa mereka sedang berpacaran, nah apa sikap kita?

PG : Saya kira kita memang harus mempunyai siasat, taktik, waktu bertanya juga tidak mencari-cari, tidak introgasi, kita langsung mengeluarkan komentar saja, misalnya kita berkata: Tampaknya ank itu baik juga ya, kita katakan begitu saja.

Dan nanti kita melihat reaksi anak kita, apakah dia mau bicara, menceritakannya kepada kita. Atau kita berkata kita bisa menceritakan pengalaman kita, dia tidak bertanya tapi kita ngomong-ngomong, menceritakan saya dulu begini, papa dulu begini, terus ceritakan saja, terus tunggu dia nanti berikan masukan kepada kita.
GS : Tentunya bagi para muda-mudi pedoman firman Tuhan itu yang sangat dibutuhkan, mereka memerlukan untuk menjalani masa-masa yang sulit ini, mungkin Pak Paul bisa sampaikan itu?

PG : Di dalam kita mencari pasangan hidup dengan sikap menunggu, firman Tuhan untuk kita adalah ini "Sebab itu janganlah kamu khawatir tentang hari besok, karena hari besok mempunyai kesushannya sendiri."

Jadi jangan khawatir hidup sepenuhnya untuk Tuhan, besok bagaimana, besok ada pimpinan Tuhan, anugerah Tuhan cukup buat hari besok.
GS : Mungkin pengaruh-pengaruh pergaulan mereka atau pengaruh media masa dan sebagainya itu memberikan suatu rangsangan atau dorongan tersendiri untuk mereka cepat-cepat mau pacaran, Pak Paul?

PG : Betul, itu sering terjadi kalau tidak mempunyai pacar, merasa tidak berharga. Itu keliru, harga kita ditentukan oleh Tuhan bukan oleh manusia.

GS : Terima kasih sekali Pak Paul, untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menunggu atau Mencari Pasangan Hidup". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



24. Tatkala Anak Akil Balig


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T127A (File MP3 T127A)


Abstrak:

Pada masa anak akil baliq, orang tua akan harus mengalami perpisahan dengan anak-anak mereka. Dan hal ini memerlukan persiapan dengan baik supaya tidak menimbulkan gejolak dalam kehidupan keluarga.


Ringkasan:

Sekarang ini terjadi perubahan trend, di masa lampau anak-anak tidak keluar kota untuk bersekolah, kebanyakan mereka tidak bersekolah lagi, setelah SMA membantu orang tua dan sebagainya. Tapi sekarang anak-anak biasanya kuliah dan cukup banyak di antara anak-anak itu berkuliah di tempat yang jauh dari rumah. Dengan kata lain orang tua akan harus mengalami perpisahan dengan anak-anak mereka.

Kalau perpisahan ini tidak dipersiapkan dengan baik, perpisahan ini bisa menimbulkan gejolak dalam keluarga, pada orang tua yang ditinggalkan atau bisa juga menimbulkan masalah pada si anak yang pergi jauh dari rumah.

Dampak perpisahan bagi yang belum siap adalah:

  1. Kalau hubungan kita dengan anak baik, perpisahan hanya akan menciptakan rasa sedih dan rasa kehilangan.

  2. Kalau hubungan kita dengan anak tidak baik, perpisahan akan menimbulkan perasaan-perasaan bercampur dan saling bertentangan.

Amsal 27:23-27 , "Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu, karena harta benda tidaklah abadi. Apakah mahkota tetap turun-temurun? Kalau rumput menghilang dan tunas muda nampak, dan rumput gunung dikumpulkan, maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang, pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk menghidupkan pelayan-pelayanmu perempuan."

Kata perhatikanlah sebetulnya adalah perhatikanlah dengan penuh hati-hati, dengan cermat. Dengan kata lain kita bertugas sebagai orang tua mengenal anak kita, memperhatikan anak kita sedekat dan sebaik-baiknya, saatnya tiba mereka pergi kita melepaskan mereka dengan lega, mereka pun meninggalkan kita juga dengan lega, kita akan memetik hasilnya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tatkala Anak Akil Baliq'', kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, saya melihat sering kali terjadi pada keluarga-keluarga saat ini, saya sendiri juga mengalami di mana ketika anak-anak itu akil baliq atau remaja itu sudah harus meninggalkan rumah Pak Paul, artinya untuk jangka waktu yang lama berpisah dengan kita. Nah kami merasa ada masalah-masalah yang muncul dan saya rasa itu juga akan dialami oleh banyak keluarga. Apakah memang begitu, Pak Paul?

PG : Memang benar Pak Gunawan, jadi yang tadi Pak Gunawan kemukakan sekarang ini terjadi perubahan trend, di masa lampau, anak-anak itu tidak keluar kota untuk bersekolah, kebanyakan mereka tidk bersekolah lagi setelah SMA misalnya, membantu orang tua berdagang dan sebagainya.

Tapi sekarang anak-anak biasanya kuliah dan cukup banyak di antara anak-anak itu yang berkuliah di tempat yang jauh dari rumah. Dengan kata lain orang tua akan harus mengalami perpisahan dengan anak-anak mereka dan kalau tidak dipersiapkan dengan baik memang perpisahan ini bisa menimbulkan gejolak dalam kehidupan keluarga, bisa menimbulkan gejolak pada orang tua yang ditinggalkan atau bisa juga menimbulkan masalah pada si anak yang pergi jauh dari rumah.
GS : Bahkan kalau saya sendiri memang mengalami ketika anak kami sudah lulus SMA Pak Paul, tetapi saya juga melihat banyak teman-teman saya itu yang anaknya SMA saja sudah pisah dari orang tuanya, apakah itu dampaknya bisa lebih besar atau sama atau bagaimana Pak?

PG : Sudah tentu kita harus melihat masalah ini kasus per-kasus, jadi saya tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa kalau anak dipisahkan pada usia remaja misalnya SMA dari orang tuanya pasti brdampak negatif pada si anak, memang belum tentu.

Secara umum saja sebagai prinsip saya menyarankan kalau memungkinkan anak tidak dipisahkan dari orang tua setidak-tidaknya sampai lulus SMA, dengan kata lain sampai dia menginjak usia 18, 19 tahun. Namun saya juga menyadari terjadi adanya perkecualian, ada keadaan-keadaan yang memaksa kita untuk berpisah dengan anak pada usia yang lebih dini. Nah sudah tentu pertimbangan itu harus dilAndasi atas faktor kesiapan si anak itu juga. Kalau memang dia belum mampu dan dipisahkan pada usia yang dini, bisa berdampak buruk pada si anak itu. Nah dengan kata lain memang sebaiknya orang tua tetap bisa memantau perkembangan anak, sampai anak-anak itu menginjak akil baliq.
GS : Kalau ada akibat yang buruk atau dampak yang buruk Pak Paul, dampak apakah itu Pak Paul?

PG : Pertama-tama kita melihat dampaknya itu ternyata bergantung pada kwalitas relasi orang tua-anak itu sendiri. Bila relasi orang tua-anak relatif positif, biasanya perpisahan hanya akan mencptakan rasa sedih dan rasa kehilangan.

Jadi kalau keluarga kita sehat, hubungan kita dengan anak baik, pada waktu anak meninggalkan rumah yang biasanya akan kita alami hanyalah rasa kehilangan atau rasa sedih. Dengan kata lain perasaan kita cukup homogen, terkonsentrasi satu warna. Sebaliknya kalau hubungan kita dengan anak tidak baik, ada masalah-masalah, kekurangserasian, sering bertengkar antara kita dengan anak dan sebagainya, kepergian anak akan menimbulkan perasaan-perasaan yang bercampur dan justru sering kali saling bertentangan. Saya jelaskan, maksud saya adalah begini, adakalanya sewaktu anak itu pergi kita akan merasa lega di satu pihak dia itu pergi berarti kita tidak usah harus bertengkar dengan dia lagi, tapi di samping rasa lega misalkan juga ada rasa takut kalau-kalau nanti dia di sana membuat masalah yang baru, kalau-kalau dia itu nanti karena kita tidak bersamanya akan mengambil keputusan yang salah, membuat masalah lagi. Jadi kepergiannya di satu pihak membuat kita lega, kita tidak usah lagi bertengkar dengannya namun di pihak lain menimbulkan kecemasan, sehingga setiap hari kita bukan saja merasa lega tapi merasa cemas, misalkan seperti itu. Atau rasa sayang kita berpisah dengan dia karena dia anak kita, kita sayang meskipun sering bertengkar dengan dia, tapi kepergiannya juga memancing rasa marah dari hati kita. Sebab misalnya kita tidak setuju dia pergi, karena kita anggap dia belum cukup dewasa tapi dia sudah memaksakan diri mau pergi, kalau tidak pergi berarti masalah baru buat kita di rumah. Nah jadi di satu pihak kita sedih karena dia anak kita dan kita menyayanginya, tapi di pihak lain kita juga marah karena kok dia pergi, nah itulah beberapa contoh Pak Gunawan di mana perpisahan dalam keluarga yang kurang serasi akan menimbulkan perasaan-perasaan bercampur dan juga saling berlawanan.
GS : Ya memang biasanya perasaan kehilangan itu lebih besar daripada perasaan leganya Pak Paul, itu yang saya alami.

PG : Pasti ya, tapi biasanya kehilangan itu karena memang hubungan kita relatif dekat, namun kalau hubungan kita itu tidak terlalu dekat tapi sering bertengkar, selain rasa kehilangan juga akanada rasa lega bahwa dia pergi dan kita tidak lagi harus bertengkar.

Misalkan, dia sering bertengkar dengan istri kita sehingga akhirnya kita juga susah di tengah-tengah memisahkan istri dan anak, nah sekarang dia pergi berarti kita tidak harus lagi menjadi penengah antara istri dengan dia. Jadi di satu pihak kita akan merasa senang, lega, damai, tapi di pihak lain juga merasa kehilangan, di pihak lain juga kita kesal kenapa si anak sampai harus pergi gara-gara hubungan dengan istri kita kurang baik, misalkan seperti itu. Nah jadi itulah contohnya di mana kepergian si anak justru menimbulkan perasaan-perasaan yang begitu bercampur dan saling bertentangan.
GS : Nah kalau kita melihat dari sisi kita sebagai orang tua, nah perasaan anaknya itu sendiri bagaimana, Pak Paul?

PG : Saya kira juga akan mirip, kalau anak itu dibesarkan di keluarga yang sehat, dia justru akan menanti-nantikan masanya dia pergi. Ini berbeda dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang kuang serasi misalkan orang tuanya terlalu membatasinya, atau anak ini memang cenderung mau bebas, mau berontak sehingga orang tua harus membatasinya.

Nah kalau anak ini menikmati hubungan yang serasi dengan orang tuanya dia akan menanti-nantikan waktunya dia pergi. Tapi dia menantikannya secara tepat, maksudnya misalkan orang tua sudah memberitahukan bahwa nanti waktu kamu kuliah, kamu akan pergi, kuliah di mana misalnya. Nah si anak sudah mulai memikirkan kepergiannya, namun dia nantikan itu dengan suatu sikap yang positif. Kira-kira alasannya seperti ini, kalau si anak dibesarkan di keluarga yang sehat, hubungan dengan orang tuanya hangat, dia akan membangun rasa percaya pada dunia ini, pada hidup ini, jadi dia akan siap untuk melangkah keluar rumah bertemu dengan orang-orang yang belum dikenalnya, sebab bagi dia dunia ini positif, dunia ini masih ada kebaikannya sebab dia mengalami kebaikan itu di dalam rumah tangganya sendiri. Kebalikannya pada anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang bermasalah misalkan, dia tidak merasakan kasih sayang dari orang tuanya atau bahkan dia mengalami banyak penolakan dari orang tuanya, akibatnya dia justru sudah mempunyai persepsi bahwa dunia ini atau hidup ini tidaklah simpatik, tidaklah ramah, dunia ini akan menyakitinya. Jadi dia akan pergi keluar rumah, di satu pihak dia ingin keluar supaya dia bebas, di pihak lain dia keluar dengan juga pertanyaan yang besar, dengan keragu-raguan, dengan ketidakpercayaan, dengan kecurigaan, dengan sikap bermusuhan kepada dunia luar. Atau dalam contoh yang lainnya dia tidak bisa lagi menunggu untuk buru-buru keluar rumah karena tidak tahan lagi dalam rumah, jadi selalu berpikir untuk keluar rumah, namun beda dengan keluarga yang sehat tadi. Yang dari keluarga yang sehat, dia menantikan keluar rumah dengan sikap positif, bahwa hidup ini ada kebaikannya dan dia ingin menjadi bagian dari hidup, memberikan sumbangsih kepada hidup. Tapi pada anak-anak yang dibesarkan di rumah yang bermasalah sudah terbangun rasa tidak suka dengan hidup atau dunia ini, jadi dia akan melangkah keluar rumah juga dengan konsep bahwa hidup ini tidak baik, nah dia harus berhati-hati karena kalau tidak dia akan dirugikan oleh orang-orang di luarnya.
GS : Pak Paul, kalau keduanya itu siap untuk berpisah dalam arti kata sementara karena studi dan sebagainya itu saya rasa lebih gampang mengatasinya. Tetapi bukankah tidak semua keluarga yang baik itu dari pihak orang tua maupun si anak ini yang siap untuk berpisah seperti itu. Tetapi kalau itu toh harus dilakukan apakah menimbulkan dampak yang buruk?

PG : Saya kira kalau orang tua atau anak tidak siap bisa menimbulkan dampak yang buruk, itu sebabnya nasihat saya adalah sedini mungkin dipersiapkan. Saya berikan contoh dengan diri saya sendir Pak Gunawan, dalam waktu setahun setengah kalau Tuhan menghendaki anak saya yang paling besar akan lulus SMU berarti dia akan meninggalkan rumah juga untuk studi.

Sejak kira-kira setahun yang lalu saya sudah sering memikirkan kepergiannya, dan istri saya sering membicarakan mengenai moment di mana kami harus melepaskannya. Dan saya harus akui belum pergi, pikiran bahwa dia akan pergi saja cukup untuk membuat saya menangis, jadi kadang-kadang saya akan meneteskan air mata memikirkan waktu di mana saya harus melepaskan dia. Nah kami juga mulai menyiapkan diri dengan cara membiarkan diri kami berduka dari sekarang atau bahkan dari setahun yang lalu saya sudah mulai memikirkan ini dan kadang-kadang saya juga akhirnya bersedih hati. Sudah tentu saya sadar bahwa pada saatnya saya akan tetap sedih kehilangan dia, namun karena saya sudah mulai mempersiapkan diri setidak-tidaknya peristiwa itu tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan saya dan akan menggoncangkan hidup saya karena saya sudah persiapkan mulai dari sekarang. Saya pun juga dengan istri mulai mempersiapkan anak kami, jadi secara berkala tidak setiap hari, tidak setiap minggu, tidak dua minggu sekali tapi secara berkala kami memunculkan topik perpisahan ini. Kadang-kadang kami munculkan dengan nada bercAnda, kadang-kadang kami munculkan dengan nada sedih, kadang-kadang saya berkata kepada dia: "Nanti kalau saya kehilangan kamu, boleh tidak saya ke kamar kamu dan berdiam mengingat-ingat kamu di kamar kamu?" Nah hal-hal seperti itu saya kadang-kadang ungkapkan. Nah jadi saya masih ingat sekali anak saya pun mulai berani mengutarakan pikiran dan perasaannya tentang perpisahan ini. Saya ingat suatu hari dia pernah berkata begini : "Saya menanti-nantikan waktu saya akan pergi sekolah karena saya senang bisa pergi sekolah dsb, tapi dia berkata : tapi saya sangat senang bisa berada di rumah ini, saya menikmati sekali ada di sini jadi saya juga percaya karena nanti saya tinggalkan rumah saya juga akan kehilangan rumah." Nah dengan kata lain dia pun juga mulai membicarakan hal ini. Dan kami juga memunculkan topik ini dengan adik-adiknya, kami katakan misalnya: "Nanti setelah kakakmu pergi, kamu pasti akan kehilangan dia ya?" Dia akan berkata: "Ya." Atau saya bicara dengan adiknya lagi adiknya berkata: "Ya mungkin saya akan kehilangan, tapi kakak akan lebih kehilangan kami," dan sebagainya. Jadi kami mulai memunculkan secara natural, tidak sering-sering tapi ada waktu-waktu di mana kami memunculkan. Harapan kami adalah masing-masing mulailah menatap, mulailah memikirkan masa di mana kami harus berkata selamat tinggal.
GS : Ya sering kali justru disibukkan atau banyak disita waktu kita untuk mempersiapkan hal-hal yang sifatnya seperti materi atau sekolah mana yang dituju, tetapi unsur-unsur yang jauh lebih penting seperti itu sering kali tidak mendapat porsi yang cukup Pak Paul.

PG : Betul, sering kali kita ini tidak terlalu memikirkan keterampilan untuk hidup mandiri dan kita tidak memikirkan membekali anak dengan keterampilan untuk hidup mandiri. Jadi kalau kita tahuya bahwa anak kita nanti akan kita sekolahkan di tempat yang agak jauh, terpisah dari rumah mulailah dari misalnya dua, tiga tahun sebelumnya secara sadar dan terencana kita mulailah memberikan bekal-bekal itu.

Nanti kalau ini terjadi begini atau kita mulai ajarkan dia cara masak, menyiapkan masakan untuk makan pagi, makan siang dan kita mulai ajarkan tipe-tipe orang misalkan seperti itu, tipe teman, kita bicarakan hal-hal seperti ini. Dengan kata lain kita terus mulai secara terencana mulai membekali anak sehingga pada waktunya dia lebih siap. Sebab kalau anak belum siap untuk pergi dan hidup mandiri, dia juga nanti akan menyusahkan orang lain di sana atau dia tidak mau pergi justru karena dia sangat bergantung kepada kita. Jadi kita janganlah sampai terlalu menggiring anak bergantung kepada kita.
GS : Nah itu memang tadi Pak Paul katakan anak kadang-kadang tidak mau pergi Pak Paul, karena tidak terlalu percaya diri atau bagaimana, kok dia merasa tidak saya di rumah saja.

PG : Kadang-kadang kalau rumah terlalu nyaman anak memang bisa kurang motivasi untuk pergi. Itu sebabnya sebaiknya kalau kita memang merencanakan anak pergi kuliah agak jauh, dari jauh-jauh har saya sarankan misalkan tiga, empat tahun sebelumnya kita sudah membicarakan hal ini, seolah-olah ini adalah suatu ketetapan yang harus dia ikuti sehingga dia tidak memikirkan alternatif yang lain.

Jadi kita sudah arahkan bahwa inilah yang akan terjadi, ini jalurnya engkau akan pergi sekolah. Ini lebih baik daripada 6 bulan di muka baru kita katakan, bisa jadi si anak memang kurang siap. Kita juga karena dari jauh hari sudah mempersiapkan, kita pun mulai memikirkan situasi kehidupan kita, jadwal hidup kita, aktifitas sehari-hari, nah kita mulai pikirkan nanti apa yang akan kita lakukan, apalagi kalau semua anak kita sudah pergi, saran kita kosong nah apa yang akan kita lakukan. Kita sudah harus mulai memikirkan hal-hal itu, jangan sampai barulah kita pikirkan setelah anak pergi. Kita bingung, ini waktu kita mau kemanakan atau apakan nah itu akhirnya bisa menimbulkan gejolak yang baru di antara hubungan suami-istri.
GS : Tetapi justru kadang-kadang Pak Paul, hubungan kita sebagai suami-istri itu yang kurang baik, dan kita mengharapkan anak yang ada di tengah-tengah kita itu bisa menjadi semacam penengah, kita bisa berbicara dengan dia karena mau berbicara langsung dengan pasangan kita ini bermasalah.

PG : Adakalanya hubungan suami-istri buruk dan hubungan suami-istri itu hanya bisa berjalan kalau ditopang oleh anak, anak berfungsi sebagai penengah, sebagai pendamai, sebagai penghibur, sebagi tempat curahan hati.

Nah adakalanya dalam keluarga seperti ini kepergian anak akan menimbulkan gejolak yang besar dalam keluarga bermasalah ini. Karena apa? Ya karena yang mendamaikan tidak ada lagi, yang menjadi tempat curahan hati tidak ada lagi, yang melindungi, misalkan si ibu sering dicaci maki atau mungkin dipukul oleh suaminya, nah kehadiran anaklah yang melindungi si ibu dari tindakan penganiayaan dari suami. Bagaimanakah si anak pergi sekarang? Nah sering kali ini menimbulkan masalah baik pada relasi orang tua atau pun pada diri si anak. Si anak pergi dengan ketakutan, dengan ketegangan dia cemas memikirkan orang tuanya di rumah, apa jadinya mereka tanpa saya di rumah. Apalagi kalau dia sudah berfungsi sebagai kakak yang mengurus adik-adiknya juga, jadi bukan saja dia memikirkan orang tua dia juga memikirkan adik-adiknya. Nah kalau pada anak-anak bisa menimbulkan dampak seperti ini, dampak pada orang tua juga bisa cukup parah, mereka bisa lebih sering bertengkar, sekarang tidak ada lagi yang mengontrol. Misalkan si suami sekarang bisa berkata tidak ada lagi anakmu yang bisa membelamu dan sebagainya. Atau dalam keluarga yang lain kehadiran anak berhasil menutupi problem, kadang kala ini yang terjadi Pak Gunawan. Rumah tangga ini sebetulnya menyimpan potensi konflik yang besar, namun tertunda oleh kehadiran anak dan anak hadir di tengah-tengah hubungan orang tua untuk waktu yang lama, berbelasan tahun. Setelah anak pergi problem yang lama itu muncul nah itu sebabnya kita melihat salah satu usia di mana orang sering bercerai adalah usia paro baya. Memang usia yang pertama adalah usia awal pernikahan, di mana kedua orang harus menyesuaikan diri dengan susah payah. Tapi kelompok usia kedua di mana orang sering bercerai adalah usia paro baya, usia di antara 45 hingga 55-an. Mengapa sampai terjadi? Sebab salah satunya problem itu sebetulnya tersimpan namun tertunda karena adanya anak. Sekarang anak-anak tidak ada lagi problem akhirnya meledak keluar.
GS : Pak Paul, kalau ada orang tua yang menyekolahkan anaknya hanya sekadar karena melihat teman-temannya itu menyekolahkan anaknya baik keluar pulau bahkan keluar negeri, sebenarnya mereka itu siap atau tidak Pak Paul?

PG : Saya takut kalau orang tua hanya ikut-ikutan, orang tua gagal melihat kondisi anak secara realistik, jadi jangan sampai orang tua tidak melihat kondisi anaknya. Saya kebetulan dulu sekolahdi luar negeri, saya berjumpa dengan cukup banyak anak-anak muda yang sebetulnya tidak siap pergi, yang memang begitu bersemangat menyekolahkan adalah orang tuanya.

Akhirnya disekolahkan bertahun-tahun, sekolah di luar negeri, menghabiskan uang yang begitu besar tapi pulang tidak membawa satu gelar pun, itu cukup banyak saya saksikan di sana.
GS : Bukankah itu bisa menimbulkan masalah baru buat keluarga itu Pak?

PG : Saya setuju, mungkin ya mereka atau orang tua ini berpikir anak-anak saya bermasalah di sini, biarlah saya kirim keluar mudah-mudahan terjadilah mujizat di sana anak saya berubah. Apakah aa yang berubah? Ya ada, saya harus akui juga ada.

Ada anak-anak di sana bertobat menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya dan mengalami hidup yang baru. Tapi saya juga melihat ada sebagian lagi yang tidak bertobat malah hidup tidak benar dan menghabiskan banyak uang orang tuanya.
GS : Pak Paul, apakah dalam perpisahan ini, jarak itu mempunyai pengaruh Pak Paul. Maksud saya begini 'kan ada yang berpisah tapi jaraknya tidak terlalu jauh hanya dalam radius 100, 200 Km, tapi ada juga yang sampai keluar pulau bahkan keluar negeri.

PG : Saya kira jarak berpengaruh, karena secara spsikologis anak tetap merasa terpantau kalau jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi begitu misalkan menginjak luar pulau, anak akan merasakan sekali ekarang pantauan itu sudah sangat tipis, apalagi menginjak keluar negeri wah....pantauan

itu benar-benar lepas dari orang tua. Jadi adakalanya anak-anak yang tidak siap justru setelah meninggalkan rumah mengalami goncangan, perubahan-perubahan, yang tadinya rajin ke gereja sekarang tidak ke gereja sama sekali. Jadi di sinilah orang tua mempersiapkan anak untuk berpisah dan hidup mandiri jauh-jauh hari, menilai, mengamati perkembangan emosinya dan kehidupan kerohaniannya benar-benar membekali mereka sehingga waktu menginjak keluar rumah mereka telah siap.
GS : Makanya ada yang menggunakan cara waktu SMA, mereka berpisah tapi tidak jauh-jauh Pak Paul, baru nanti setelah Perguruan Tinggi agak lebih jauh lagi.

PG : Cara begitu masuk akal tapi sebetulnya tidak perlu, karena sekali lagi kalau anak itu menerima bekal yang cukup dari kita, disayangi, tapi juga menerima disiplin yang baik dari kita pada satnya dia harus pergi, dia akan siap pergi.

GS : Dan ada orang yang mengatakan kalau sekali anak itu pergi meninggalkan rumah kita, dia tidak akan balik kembali dalam arti kata dia tidak akan tinggal bersama dengan kita seterusnya Pak Paul.

PG : Kadang-kadang itu yang akan terjadi tapi tidak selalu sebab adakalanya anak kembali untuk tinggal dengan kita karena kita yang membutuhkan mereka untuk merawat kita, adakalanya itu yang tejadi.

GS : Nah Pak Paul dukungan firman Tuhan untuk perbincangan kita ini apa Pak?

PG : Saya akan ambil dari Amsal 27:23-27 , "Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu, karena harta benda tidaklah abadi. Apakah mahkota tetap trun-temurun? Kalau rumput menghilang dan tunas muda nampak, dan rumput gunung dikumpulkan, maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang, pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk penghidupan pelayan-pelayanmu perempuan."

Saya senang sekali bagian pertama ini kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu. Sebetulnya kata perhatikanlah itu perhatikanlah dengan penuh hati-hati, dengan cermat dengan kata lain kita bertugas sebagai orang tua mengenal anak kita, memperhatikan anak kita sedekat dan sebaik-baiknya, saatnya tiba mereka pergi kita melepaskan mereka dengan lega, mereka pun meninggalkan kita juga dengan lega, kita akan memetik hasilnya.

GS : Terima kasih sekali Pak Paul, untuk perbincangan kali ini. Nah para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tatkala Anak Akil Baliq". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



25. Pagar Antara Orangtua dan Anak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T127B (File MP3 T127B)


Abstrak:

Konflik antara orang tua dan anak tidak lagi bisa dicegah, dikarenakan orang tua terlalu mencampuri anak. Sebenarnya ada pagar yang memisahkan orang tua dan anak-anak.


Ringkasan:

Latar belakang:

Adakalanya konflik antara orang tua dan anak tidak lagi bisa dihindari, dikarenakan orang tua terlalu mencampuri urusan anak. Waktu anak-anak masih kecil seharusnyalah orang tua mencampuri anak, tapi ketika anak-anak sudah besar, sudah menikah, sudah berkeluarga, orang tua tidak boleh lagi mencampuri anak. Adakalanya orang tua tetap memperlakukan mereka seperti anak-anak sehingga yang terjadi justru adalah konflik.

Waktu anak-anak sudah akil baliq seharusnyalah mereka membuat rumah dan memisahkan diri dari kita, rumah dalam pengertian secara emosional di mana ada pagar yang memisahkan kita dengan anak-anak. Sehingga kita menghormati anak, anak-anak juga menghormati kita.

Tiga peran dan fungsi orang tua:

  1. Pengasuh, berarti orang tua memberikan gizi, baik gizi jasmaniah atau pun gizi batiniah kepada anak, sehingga anak bisa bertumbuh besar menjadi orang yang stabil dan cukup sehat.

  2. Pengarah dan pendamping, artinya pada masa ini orang tua akan menjadi konselor bagu anak, memberikan arahan-arahan dan secara aktif orang tua memantau perkembangan anak.

  3. Penasihat atau konsultan, secara pasif orang tua memberikan masukan kepada anak. Yang dimaksud dengan pasif adalah pada masa anak-anak sudah dewasa biarkan anak yang datang mencari kita, barulah kita memberikan masukan tatkala mereka datang kepada kita.

Beberapa gaya bahasa yang perlu diperhatikan orang tua:

  1. Gaya bahasan instruksi, pada masa anak-anak kecil gaya bahasa kita sebagai orang tua adalah gaya bahasa instruksi.

  2. Pada masa anak-anak sudah remaja, orang tua menggunakan gaya bahasa persuasi

  3. Pada masa anak-anak dewasa, orang tua menggunakan gaya bahasa diskusi.

Amsal 10:21 , "Bibir orang benar menggembalakan banyak orang."

Pelajaran bagi orang tua:

Kalau kita mau menggembalakan anak dan anak-anak mau digembalakan oleh kita prasyaratnya harus kita penuhi, kita harus menjadi orang yang benar, harus menjadi orang yang hidup dalam Tuhan, takut akan Tuhan dan mempunyai hikmat juga dari Tuhan. Dengan cara itulah anak-anak akan hormat kepada kita, kita bisa menggembalakan mereka.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang 'Pagar antara Orangtua dan Anak', kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Pak Gunawan, saya mengamati adakalanya konflik antara orang tua dan anak tidak lagi bisa dicegah, dikarenakan orang tua terlalu mencampuri anak. Nah kalau anak-anak masih kecil saya kira sharusnyalah orang tua mencampuri anak, tapi adakalanya anak-anak ini sudah besar, sudah menikah, sudah berkeluarga tapi tetap diperlakukan seperti anak-anak oleh orang tuanya, sehingga lama-kelamaan yang terjadi justru adalah konflik.

Itu sebabnya kita akan membahas masalah ini dan kita memberikan judul pagar. Sebab saya percaya pada saat anak-anak itu sudah akil baliq seharusnyalah mereka membuat rumah dan memisahkan diri dari kita, ini saya membicarakannya secara alegoris, rumah dalam pengertian secara emosional di mana ada pagar yang memisahkan kita dengan anak-anak. Sehingga kita menghormati anak, anak-anak juga menghormati kita.
GS : Jadi masing-masing mempunyai teritorialnya sendiri-sendiri.

PG : Tepat, dengan kata lain kelanggengan atau keserasian hubungan orang tua dan anak pada usia yang sudah dewasa ini bergantung sekali pada apakah kedua belah pihak menghormati pagar ini. Kala salah satu pihak tidak lagi menghormati pagar ini dan lompat pagar masuk ke rumah sudah tentu akan timbul masalah.

GS : Ya, memang yang sering kali harus jujur kita akui sebagai orang tua, kita sebagai orang tua sering kali terlalu masuk ke dalam wilayah anak itu, Pak Paul.

PG : Ya kita susah sekali untuk menyadari bahwa peran dan fungsi kita berubah seiring dengan bertambahnya usia kita dan juga usia anak. Saya akan paparkan secara garis besar 3 peran dan fungsi rang tua.

Pada masa anak-anak kecil orang tua berfungsi sebagai pengasuh, pengasuh berarti orang tua memberikan gizi, baik itu gizi jasmaniah atau pun gizi batiniah kepada anak, sehingga anak bisa bertumbuh besar menjadi orang yang stabil, yang cukup, yang sehat. Orang tua juga akan melindungi anak-anaknya pada usia yang memang kecil ini, dengan kata lain orang tua bertugas menjauhkan anak dari bahaya, memisahkan anak dari hal-hal yang bisa merenggut nyawanya atau membahayakan keselamatannya nah itu semua tugas orang tua sebagai pengasuh dan pelindung. Namun setelah anak-anak menginjak usia remaja, orang tua harus mulai menyesuaikan diri dengan keadaan ini, mereka tidak lagi bisa berfungsi sebagai pelindung atau sebagai pengasuh. Mereka berubah fungsi yang saya panggil ini adalah sebagai pengarah dan pendamping. Artinya apa? Artinya pada masa ini orang tua akan menjadi konselor bagi anak, yang memberikan arahan-arahan dan secara aktif orang tua memantau perkembangan anak. Jadi jangan sampai orang tua terlalu memberikan kebebasan kepada anak tanpa memantaunya. Orang tua pada anak-anak yang masih remaja ini harus secara aktif memantau perkembangannnya. Dengan siapa mereka pergi, siapa teman-temannya jadi kita sebagai orang tua membimbing anak agar berjalan pada jalur yang benar. Nah pada saat anak dewasa, mereka sudah bekerja, mereka sudah mencari mata pencaharian sendiri, orang tua berperan sebagai penasihat atau konsultan. Nah dalam pengertian begini, secara pasif memberi masukan kepada anak, jadi yang saya maksud dengan pasif adalah pada masa remaja orang tualah yang secara aktif datang memantau anak tapi pada masa-masa anak-anak sudah dewasa biarkan anak yang datang mencari kita, barulah kita memberikan masukan tatkala mereka datang kepada kita, nah ini kira-kira secara garis besarnya Pak Gunawan.
GS : Kesulitan kita sebagai orang tua justru pada waktu alih peran itu Pak Paul, pada saat kalau kita alih peran dari yang pertama, kedua itu sudah kesulitan maka yang dari kedua, ketiga itu tambah sulit lagi Pak Paul.

PG : Betul sekali, kalau kita sudah tidak bisa mengalihkan peran sebagai pengarah dan pendamping pada masa remaja, hampir dapat dipastikan pada masa anak-anak dewasa kita akan terus berusaha mejadi pengasuh dan pelindung si anak, tetap mencampuri urusan si anak atau terus melindungi si anak.

GS : Saya melihatnya justru ini Pak Paul, pada waktu kita memberi gizi istilah Pak Paul tadi menjadi orang yang terus bisa menasihati dan memberikan pengarahan dan itu diterima oleh anak, kita merasa nyaman dengan peran seperti itu Pak Paul, kita merasa dibutuhkan, kita merasa dihargai. Sehingga pada waktu mau beralih peran menjadi pendamping itu kesulitan Pak Paul.

PG : Betul, kita cenderung susah berubah dan saya kira Tuhan memang sudah mendisain anak-anak tatkala menginjak usia dewasa mereka cenderung ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya kita tidak lkukan atau hal-hal yang baru bagi mereka.

Dengan kata lain anak-anak juga menolong kita untuk bertumbuh dewasa dalam peranan-peranan kita ini. Salah satu cara untuk bisa mengetes Pak Gunawan, menguji apakah kita ini sudah mulai mengalihkan peran atau tidak ataukah kita kesulitan mengalihkan peran adalah dengan cara melihat gaya bahasa kita. Pada masa anak-anak kecil gaya bahasa kita sebagai pelindung anak adalah gaya bahasa instruksi, kita memberitahukan anak, kita menyuruh anak, kita melarang anak, kita meminta anak, nah itu semua adalah gaya bahasa instruksi. Dan seharusnyalah anak-anak pada masa kecil itu berkomunikasi dengan kita dengan gaya bahasa instruksi. Pada masa remaja, kita tidak lagi berkomunikasi dengan anak dengan gaya bahasa instruksi. Anak remaja tidak suka diperintah-perintah seperti itu lagi. Maka gaya bahasa yang kita gunakan adalah gaya bahasa persuasi, kita membujuk anak atau menggiring anak agar melangkah di jalan yang benar atau melakukan yang kita kehendaki. Tapi sekali lagi tidak bisa menggunakan gaya bahasa instruksi, kita gunakan gaya bahasa persuasi, membujuk, mengarahkan. Pada masa anak-anak dewasa, kita menggunakan gaya bahasa diskusi, kita berubah di situ. Mereka datang kepada kita, bertanya kepada kita tapi kita mengajukan pendapat kita dalam konteks kitalah konsultan bagi dia. Kita tidak memaksakan kehendak kita mungkin ada unsur persuasi juga tapi benar-benar lebih banyak diskusinya, kita ingin tahu juga pendapatnya, kita menghargai masukannya, nah kita mau berinteraksi dengan pemikirannya itu.
GS : Nah kita itu sebagai orang tua tidak bisa begitu cepat mengubah gaya bahasa ini Pak Paul, karena tahap yang pertama itu kita merasa masih kurang, belum sempurna, masih ada banyak yang harus diinstruksikan dan seterusnya itu Pak Paul?

PG : Saya menyadari itu, kita cenderung berpikir bahwa masih terlalu banyak pelajaran yang masih bisa kita ajarkan kepada anak-anak, jadi kita akan terus bersemangat memberikan pelajaran itu keadanya.

Tapi kita harus menyadari bahwa hidup ini akan Tuhan pakai mendidik anak-anak kita juga. Bahwa dia akan belajar dari pengalamannya dan Tuhan akan membukakan matanya untuk melihat hal-hal yang perlu dipelajarinya. Saya ingat sekali nasihat dari pendeta saya pada waktu dia memberikan pesan kepada saya sebelum saya meninggalkan rumah untuk studi. Dia berkata: "Paul, nanti kamu akan bertemu dengan banyak orang dan kamu akan mengalami banyak peristiwa, kamu harus mau belajar, kamu harus teachable," itu yang dia tekankan kwalitas teachable dia bilang itu penting sekali. Karena dengan kwalitas atau sifat mau belajar inilah kita akhirnya akan matang, kita akan belajar banyak hikmat melalui peristiwa yang kita alami. Jadi kita juga sebagai orang tua harus memiliki keyakinan seperti itu Pak Gunawan, biarkan anak-anak kita belajar dari pengalaman hidupnya itu.
GS : Ya kadang-kadang terasa juga waktu itu kok terlalu cepat, tiba-tiba dia sudah dewasa, tiba-tiba lagi dia sudah mau meninggalkan kita, begitu Pak Paul. Kita belum sempat untuk istilahnya tidak mau menyempatkan diri untuk berubah itu Pak Paul, mengubah peran itu tadi.

PG : Betul, jadi sering kali kita memang protective sehingga sampai anak-anak sudah akil baliq pun, sudah berkeluarga pun kita masih ingin berfungsi sebagai pelindung atau sebagai seorang pengauh baginya.

Dan ini tidak sehat karena kalau kita terus berfungsi sebagai seorang pelindung bagi anak-anak, dia akan terus bergantung kepada kita dan ini tidaklah membangunnya ini malah mengkerdilkannya. Jadi sampai kapanpun anak itu selalu datang kepada kita, minta ini, minta itu, terus saja menggelendot. Mungkin kitanya senang, seolah-olah tidak ada perpisahan tapi sesungguhnya kita merugikan si anak. Atau tadi yang Pak Gunawan sudah singgung, ada orang tua yang terus-menerus dengan senang hati mencampuri urusan si anak dan kalau si anak sudah menikah ini berpotensi menimbulkan masalah dengan pasangannya. Kita sebagai mertua ikut campur urusan mereka akhirnya menantu kita marah kepada kita, akhirnya hubungan kita dengan anak jadi rusak nah itu adalah hal yang cukup sering terjadi.
GS : Jadi kalau kesiapan itu hanya pada pihak orang tua, anaknya tidak siap untuk ditingkatkan ke periode berikutnya seperti itu bagaimana?

PG : Biasanya akan timbul masalah Pak Gunawan, anak-anak itu akhirnya terus-menerus mau bersembunyi dibawah kepak sayap orang tuanya. Nah itu sebabnya nasihat untuk orang tua adalah belajarlah elepaskan anak tapi persiapkan anak untuk bisa lepas.

Karena kalau kita hanya menyuruh anak untuk lepas dari kita, namun kita tidak mempersiapkannya untuk lepas dari kita ya kita merugikan dia. Nah kemandirian itu tidak bertumbuh secara tiba-tiba, kemandirian harus melewati proses waktu, jadi secara bertahap kita mesti mempersiapkan anak untuk mandiri bukan sebaliknya. Ada orang tua yang malah menggiring anak untuk terus mencari dan bergantung kepadanya itu tidak benar. Jadi setahap demi setahap berilah kemandirian, misalnya dalam hal-hal yang kecil misalnya model rambut. Biarkan anak itu memilih model rambutnya, kita bisa dan seharusnya memberikan pendapat pada masa anak-anak remaja, namun sekali lagi gaya bahasa kita persuasi. Kita katakan seharusnya atau sebaiknya begini dan sebagainya. Kalau anak-anak berkata: "Saya tidak mau," kita tanya kenapa, dia sebutkan alasannya. Jadi ada hal-hal yang kita akan katakan tidak apa-apa meskipun itu bukanlah sesuai dengan selera kita. Kalau hanya berkaitan dengan masalah gaya hidup, biarkan, tapi kalau menyangkut hal-hal yang bersifat moral, nah itulah waktunya kita bersikap tegas kita tidak berkompromi. Nah dengan cara-cara itu kita mulai mempersiapkan anak untuk lepas dari kita, kita juga mempersiapkan dia untuk mengambil keputusan, ini salah satu hal yang penting diajarkan orang tua kepada anak. Kadang-kadang anak bingung bagaimana mengambil keputusan, prosesnya mereka tidak tahu, nah orang tua berkewajiban memberitahukan kepada anak. Lihat baik-baik tanyakan cari pendapat, carilah informasi sebanyak-banyaknya kemudian bandingkan untung ruginya, baik-buruknya, prospeknya, masa depannya dan sebagainya, kesanggupan kita, nah hal-hal itu yang kita ajarkan kepada anak. Nah sehingga waktu mereka harus mandiri mereka sudah siap.
GS : Kalau di sisi yang lain Pak Paul, saya justru melihat kadang-kadang ada orang tua itu memaksakan anaknya supaya sedini mungkin bisa mandiri Pak Paul, padahal sebenarnya belum usianya, tapi dia sudah diserahi tanggung jawab yang berlebihan Pak Paul.

PG : Adakalanya keadaan keluarga memaksa anak-anak untuk mandiri misalkan kalau salah satu orang tuanya tidak ada di rumah karena perceraian atau karena bekerja di luar kota atau karena meninggl dunia.

Nah pada umumnya dalam kondisi seperti itu akan ada anak-anak yang dipaksa untuk mandiri lebih dini, nah itu adalah bagian kehidupan yang tidak bisa kita tolak, kita harus terima. Dan kemandirian juga bergantung pada budaya Pak Gunawan, budaya kita di sini cukup memberi waktu yang panjang untuk anak bergantung kepada orang tua. Tapi misalkan di budaya Amerika Serikat hal ini tidaklah terlalu panjang, begitu anak-anak lulus SMA mereka memang diminta untuk keluar rumah. Saya tahu ada kasus-kasus di mana anak-anak yang lulus SMA masih tinggal di rumah diminta untuk membayar sewa kamar oleh orang tuanya. Nah mereka memang dalam budaya Amerika itu sangat menekankan kemandirian sebab apa, sebab mereka tidak menghargai orang yang bergantung. Mereka menghormati orang yang bisa mencukupi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain, jadi memang sejak kecil anak-anak didorong, dipaksa untuk mandiri. Contoh lain lagi sejak anak-anak masih kecil, anak-anak sudah harus tidur sendiri, dipisahkan dari kamar orang tuanya, nah hal-hal yang memang saya sendiri tidak lakukan. Tapi di budaya Amerika hal itu yang diharapkan dilakukan oleh para orang tua supaya anak-anak itu mandiri. Saya kira kemandirian harus dijaga dengan baik, karena kemandirian yang terlalu dini akan membuat anak tidak terlalu intim dengan kita, sebaliknya tanpa kemandirian anak-anak akhirnya akan menjadi terlalu intim dan bahkan terlalu melekat dan bergantung kepada kita, jadi mesti ada keseimbangan antara kemandirian dan juga keintiman.
GS : Apakah kemandirian sama dengan kesempurnaan itu Pak Paul?

PG : Tidak, nah ini kadang-kadang disalah mengerti oleh orang tua. Orang tua berkata kalau saya siap melepaskan kamu, itu berarti saya tahu kamu bisa melakukan semuanya dengan benar, nah saya kra itu konsep yang keliru.

Kita sendiri pun tidak selalu sempurna, kita tidak selalu membuat keputusan yang tepat untuk setiap masalah. Jadi biarkanlah anak belajar juga dari kesalahannya, jangan sampai kita terlalu memproteksi anak, menutup segala kemungkinan anak membuat kekeliruan. Adakalanya biarkan, biarkan dia tersandung, dia jatuh, biar dia belajar dari pengalaman yang negatif agar pengalaman ini menjadi bekal dan guru bagi dia.
GS : Cuma kemandirian di sini Pak Paul, sering kali itu terjadi secara emosional mungkin bisa mandiri dan sebagainya, tetapi secara finansial masih tetap tergantung pada orang tuanya Pak Paul.

PG : Memang adakalanya hal-hal ini tidak bisa kita cegah Pak Gunawan, adakalanya memang kita sebagai orang tua lebih kuat secara finansial dibandingkan dengan anak-anak kita, sampai usia tertenu barulah anak-anak itu lebih mampu lagi.

Jadi saya kira sampai batas tertentu kalau orang tua masih bisa membantu dan anak-anak juga menghargai bantuannya, tidak menjadi begitu bergantung pada orang tua tidak ada salahnya. Tapi sekali lagi jangan sampai karena orang tua sudah memberikan bantuan ekonomi, kemudian menggunakan bantuan ekonomi itu untuk menggencet si anak misalnya, untuk memanipulasi si anak. Jadi tetap prinsip pagar ini kita terapkan, ya kita memberikan bantuan tapi selama kita tahu si anak melakukan tugasnya dengan baik, hidup dengan baik, sudah kita jangan ikut campur dalam kehidupan keluarganya terlalu dalam. Ini yang sering terjadi kalau orang tua memberikan bantuan keuangan kepada anak, orang tua merasa mempunyai hak terlibat secara detail dalam kehidupan anaknya.
GS : Nah maksudnya bagaimana mendidik anak supaya anak itu juga siap untuk mandiri secara finansial, Pak Paul?

PG : Sudah tentu pendidikan yang cocok atau sesuai dengan anak ini harus kita perhatikan. Adakalanya anak memilih bidang yang tidak tepat, adakalanya kitalah yang memaksakan anak memilih bidangyang kita kehendaki namun tidak begitu dikuasai oleh anak.

Jadi pada masa-masa remajalah anak-anak ini mulai kita arahkan, bidang apa yang sesuai, yang dia sungguh-sungguh kuasai, yang dia juga inginkan nah ini tugas orang tua mulai membicarakan hal-hal seperti ini. Kedua, pada saatnya anak-anak mulai berkerja sekali lagi yang penting adalah kita melihat anak kita berusaha, apakah si anak akan menghasilkan uang seperti yang kita harapkan, itu memang kadang-kadang tidak bisa kita pastikan. Jadi kita harus berserah juga kepada Tuhan bahwa Tuhan akan memeliharanya dan kita pasrahkan, kita biarkan yang penting dia melakukan pekerjaan yang baik yang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya itu.
GS : Pak Paul, kita sebagai orang tua itu kadang-kadang bukan merasa kita itu melanggar pagar atau melampaui batas yang sudah disepakati bahwa kita sudah masuk ke wilayah anak. Kita berpendirian bahwa ini adalah untuk kebaikan anak kita itu.

PG : Itu sering saya dengar Pak Gunawan, jadi orang tua mendapatkan pembenaran melakukan atau mencampuri urusan anaknya sedemikian jauh karena merasa saya berniat baik untuk kepentinganmu saya egini, untuk kebaikanmu saya begini.

Sudah tentu ada waktunya, ada tempatnya bagi orang tua mengemukakan pandangannya, memberikan arahannya kepada anak, sudah tentu itu semua ada. Namun sampai titik terakhir orang tua harus berkata terserah engkau, engkau putuskan engkau bertanggung jawab jadi jangan sampai orang tua mau terus terlibat dan membenarkan keputusannya dengan berkata saya memang berniat baik jadi tetap kita menghormati teritori si anak itu.
GS : Nah kalau hal itu tidak bisa diterima oleh anak tetapi orang tua tetap memaksakan campur tangannya ini bagaimana jadinya Pak?

PG : Bahayanya begini, kalau orang tua terlalu campur tangan misalkan si anak mengalami problem si anak nanti yang akan menyalahkan orang tua, semua gara-gara salah papa-mama, sebab papa-mama yng minta saya begini.

Nah kita mendidik si anak untuk dewasa, dewasa berarti berani memikul tanggung jawab atas konsekuensinya itu, nah kalau kita terlalu campur tangan mengurusi anak seperti itu kita benar-benar membuka peluang menjadi orang yang akan disalahkan oleh si anak. Jadi saya kira kita mesti belajar dari Tuhan, Tuhan sudah tahu sebelum manusia diciptakan bahwa manusia akan berdosa. Tapi itu toh tidak menghentikan Tuhan menciptakan manusia dan itu pun tidak menghentikan Tuhan memberikan kehendak atau kesanggupan untuk memilih pada manusia, Dia tetap berikan itu dan ternyata memang benar-benar manusia memilih yang salah, manusia memilih dosa tapi tetap Tuhan memberi kebebasan itu kepada manusia. Sebab makna patuh dan makna kasih hanya akan ada di dalam kedewasaan, di dalam kemerdekaan untuk berpikir, untuk berkehendak, untuk memilih nah itu harus menjadi prinsip kita juga dalam membesarkan anak-anak.
GS : Tetapi memang ada beberapa etnis tertentu yang sejak kecil anaknya itu diajari hormat kepada orang tua sampai dia dewasa pun tetap hormat dalam pengertian, apapun yang dikatakan orang tua itu benar.

PG : Itu memang sering kita dengar Pak Gunawan, tapi kita berbicara apa adanya, bukankah kita sebagai orang tua mengakui bahwa kita tidak selalu mengambil keputusan yang benar, kita tidak selal tahu pasti apa yang seharusnya kita perbuat.

Jadi kita bukanlah orang yang tidak bisa berbuat salah, kita bisa berbuat salah nah bagian ini juga harus kita tunjukkan kepada anak-anak dan tidak menanamkan konsep kepada anak-anak bahwa kita orang tua pasti benar dan pasti tahu apa yang paling baik untuk anak-anak, kita tidak selalu tahu pasti.
GS : Jadi unsur saling menghargai ini harus betul-betul kita kembangkan di dalam kehidupan berkeluarga ini Pak Paul. Nah ayat firman Tuhan yang mendukung ini apa Pak Paul?

PG : Saya akan bagikan dari Amsal 10:21 , "Bibir orang benar menggembalakan banyak orang." Kata menggembalakan ini dari kata to nourish, memberikan gizi, memberikan makanan. Jadi kalau orang bisa mengucapkan, mengatakan hal-hal yang benar, hal-hal yang baik karena orang itu adalah orang yang benar maka tindakan atau kata-katanya itu akan memberikan gizi, menyenangkan, menguatkan, membangun orang-orang di sekitarnya dan akhirnya kita bisa menggembalakan. Jadi sebagai orang tua pelajaran bagi kita adalah kalau kita mau menggembalakan anak dan anak-anak mau digembalakan oleh kita prasyaratnya harus kita penuhi, kita harus menjadi orang yang benar, harus menjadi orang yang hidup dalam Tuhan, takut akan Tuhan dan mempunyai hikmat juga dari Tuhan. Dengan cara itulah anak-anak akan hormat kepada kita, kita bisa menggembalakan mereka. Justru kalau kita campur tangan, mengaduk-aduk hidup mereka sering kali akibatnya lebih negatif, mereka tidak mau digembalakan oleh kita, mereka akhirnya mengambil jalan yang serong.

GS : Dan itu mungkin jadi penyesalan buat orang tua yang sudah terlanjur. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pagar antara Orang Tua dan Anak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



26. Cinta Pertama Mitos atau Realitas


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T130A (File MP3 T130A)


Abstrak:

Apakah cinta pertama riil atau mitos belaka? Jika mitos, mengapa begitu banyak orang yang mengalaminya dan berhasil mempertahankannya sampai ke pernikahan? Sebaliknya bila riil, mengapa begitu banyak yang hanya mengalaminya secara sementara? Materi ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.


Ringkasan:

Apakah cinta pertama riil atau mitos belaka? Jika mitos, mengapa begitu banyak orang yang mengalaminya dan berhasil mempertahankannya sampai pernikahan? Sebaliknya, bila riil, mengapa begitu banyak yang hanya mengalaminya secara sementara?

"Cinta atau kasih merupakan suatu fenomena yang kompleks untuk dijelaskan namun begitu nyata dan mudah untuk dialami. Alkitab sendiri tidak pernah memberikan definisi cinta; 1Korintus 13 hanyalah menjabarkan karakteristik kasih.

  1. Cinta tidak dapat terlepas dari unsur suka; rasa suka melahirkan ketertarikan dan rasa ketertarikan yang bertambah kuat akan menimbulkan kebergantungan. Kebergantungan membuahkan keintiman dan pada akhirnya keintiman membawa kita kepada penyatuan. Cinta mulai berawak dari titik suka dan mencapai puncaknya pada penyatuan.

  2. Cinta pertama sebenarnya rasa ketertarikan yang kuat yang didasari atas rasa suka. Sebelum kita berjumpa dengan orang tersebut, sesungguhnya kita sudah membawa cetak biru pasangan yang kita dambakan. Cetak biru ini bisa kita sadari namun dapat pula tidak kita sadari. Pertemuan dengan orang tersebut sebenarnya adalah realisasi cetak biru yang kita miliki. Itu sebabnya sebagian orang melaporkan bahwa tatkala mereka bertemu dengan pasangannya untuk pertama kali, mereka langsung "tahu" bahwa orang itulah yang akan menjadi pasangan hidupnya.

  3. Cinta pertama boleh dianggap sebagai cinta, boleh juga dipanggil hanya sebagai ketertarikan; yang penting adalah, apa pun yang akan kita perbuat dengan perasaan ini haruslah kita lakukan dengan penuh tanggung jawab. Tindakan yang saya sarankan adalah:

    1. Jangan membuat komitmen permanen atau memberi janji kepastian pada tahap ini sebab ketertarikan ini didasari atas hal-hal yang kita sukai yang kita temukan pada dirinya. Kita belum menemukan hal-hal yang tidak kita sukai dan kita belum tahu apa reaksi kita selanjutnya jika menemukan hal-hal yang tidak kita sukai. Bertemanlah dulu dan berilah satu kurun untuk mengenalnya lebih dalam. Berdoalah meminta petunjuk Tuhan.

    2. Jika rasa ketertarikan ini stabil dan malah makin bertumbuh, misalkan setelah beberapa bulan, ajaklah dia untuk mendoakan relasi ini. Jika ia bersedia, tentukan satu periode di mana masing-masing mendoakan relasi ini. Pada tahap ini, jangan membuat komitmen apa pun selain komitmen untuk mendoakan saja.

    3. Jika ia pun memiliki perasaan yang sama setelah mendoakan relasi ini, barulah buat komitmen untuk menjalani masa berpacaran. Masa berpacaran adalah masa penjajakan dan persiapan menuju pernikahan. Berpacaran bukan menikah, jadi, bila tidak menemukan kecocokan, silakan berpisah. Di pihak lain, berpacaran bukanlah masa berkenalan yang sepele; ini adalah masa yang menuntut keseriusan dan tanggung jawab pula.

    4. Relasi yang bertumbuh adalah relasi yang berkembang dari Tahap Suka ke Tahap Ketertarikan, ke Tahap Kebergantungan, ke Tahap Keintiman, dan akhirnya ke Tahap Penyatuan.

Firman Tuhan: Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan penzinah akan dihakimi Allah. Ibrani 13:4


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Cinta Pertama". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak ungkapan tentang cinta pertama yang menjadi pengalaman dari banyak orang, tetapi sebenarnya apa yang disebut dengan cinta pertama itu Pak Paul?

PG : Ok....saya akan menjabarkan terlebih dahulu tahapannya Pak Gunawan, dan nanti di tengah-tengah itu baru saya akan panggil yang mana yang disebut cinta pertama. Pada awalnya kita itu sebetunya menyukai seseorang, jadi rasa sukalah yang pertama-tama dirasakan.

Rasa sukalah yang menimbulkan ketertarikan dan nanti kita akan melihat lagi bahwa ketertarikan itu akan berbuah menjadi kebergantungan, dari kebergantungan akhirnya keintiman, dari keintiman akhirnya penyatuan. Nah yang biasanya disebut cinta pertama sebetulnya adalah fase ketertarikan yang sangat kuat atas dasar rasa suka, jadi kita menemukan hal-hal yang kita sukai pada seseorang dan itu membuat kita tertarik kepadanya. Biasanya itu kita alami untuk pertama kalinya, belum pernah sebelumnya kita menemukan hal seperti ini nah itu yang biasanya disebut cinta pertama.
GS : Nah Pak Paul, kalau rasa suka itu bukankah bisa kita rasakan terhadap teman sejenis kita itu Pak Paul, yang pasti tidak akan menjadi cinta pertama nantinya karena kita sejenis?

PG : Bukan, jadi yang dimaksud di sini adalah cinta antara lawan jenis dan kita menemukan hal-hal yang kita sukai itu pada lawan jenis kita.

GS : Ya, nah prosesnya seseorang dari suka itu karena dia mengamati atau karena tiba-tiba saja suka atau bagaimana Pak Paul?

PG : Sebetulnya sebelum kita bertemu dengan orang tersebut, kita itu sudah mempunyai yang saya sebut cetak biru atau blue print atau daftar selera idaman, dan ini sudah kita bawa ke mana-mana. ungkin kita sadari, mungkin juga kita tidak menyadarinya.

Nah waktu kita bertemu dengan seseorang yang sesuai dengan cetak biru yang kita miliki itu, tergugahlah perasaan kita. Nah ini yang disebut misalnya cinta pada pandangan pertama, tiba-tiba kita bisa begitu tertarik, kita begitu yakin dengan orang tersebut, nah orang inilah yang akan menjadi pasangan hidup kita. Jadi sebetulnya cetak biru itulah yang membuat kita ketemu dengan orang yang kita sukai.
GS : Pak Paul, cetak biru itu proses terbentuknya bagaimana Pak Paul, apakah misalnya seorang laki-laki karena melihat image ibunya atau gambaran dari ibunya lalu terbentuk cetak biru atau bagaimana?

PG : Pada umumnya kita memang akan terpengaruh dengan orang-orang penting di dalam hidup kita di masa lampau. Dan biasanya orang-orang penting itu adalah orang tua kita. Kalau hubungan kita bai dengan orang tua yang berlawanan jenis, ada kecenderungan kita akan memilih pasangan hidup yang sama dengan orang tua kita yang berlawanan jenis itu.

Sebaliknya jikalau hubungan kita buruk, kita tidak suka dengan orang tua kita yang berlawanan jenis itu, ada kecenderungan kita memilih yang berkarakteristik terbalik dari apa yang kita temukan pada orang tua kita itu. Nah bisa juga cetak biru terbentuk melalui apa yang kita pelajari, misalnya kita belajar bahwa seorang suami yang mengasihi istrinya adalah suami yang baik, seorang suami yang memperhatikan anak-anaknya, suami yang baik, seorang suami yang bertanggung jawab adalah suami yang baik. Nah kita akan menggunakan kriteria tersebut dan menjadikannya bagian dari cetak biru kita. Kita mungkin bertemu dengan orang-orang lain dalam hidup kita dan kita mengagumi karakter yang ada pada orang itu dan itu akan kita masukkan lagi dalam daftar cetak biru kita itu. Nah itulah yang terjadi dan kita akhirnya membawa cetak biru itu dalam relasi dengan orang lain.
GS : Pak Paul, biasanya cetak biru itu yang ada dalam diri kita itu tentunya sesuatu yang ideal, ideal sekali buat kita khususnya. Nah di dalam kenyataannya kita sulit sekali menemukan orang yang sesuai dengan cetak biru kita itu.

PG : Kadang-kadang memang kita sulit menemukan orang yang persis sama dengan cetak biru kita itu, tapi sering kali ada beberapa hal dalam cetak biru kita itu yang menonjol. Nah pada umumnya kit tertarik dengan orang yang memiliki sifat-sifat yang menonjol itu.

Mungkin sekali setelah kita bersamanya kita akhirnya menyadari bahwa orang itu juga memiliki sifat-sifat lain yang tidak kita sukai, nah itu yang akhirnya akan harus kita hadapi. Kemampuan kita berdua menghadapinya akan sangat menentukan apakah relasi ini berlanjut atau tidak.
GS : Tahunya kita, tahunya seseorang itu dari rasa suka kemudian dia menjadi tertarik apakah begitu Pak Paul?

PG : Pada umumnya secara alamiah rasa suka itu akan melahirkan rasa tertarik. Karena apa, kita secara alamiah akan mau bersama dengan hal-hal yang kita sukai, secara alamiah kita akan menjauhka diri dari hal-hal yang tidak kita sukai.

Jadi waktu kita bertemu dengan seseorang yang memiliki hal-hal yang kita sukai, secara alamiah kita akan tersedot kepadanya, mau bersamanya, mau mengenalnya lebih dalam lagi. Dan biasanya yang kita akan lakukan adalah kita mulai bergaul dengannya, nah hati-hati pada tahap ini untuk jangan sampai kita itu berkesimpulan bahwa ini cinta, sudah pasti ini, ini yang harus kita jaga. Kita boleh memanggilnya cinta, kita boleh memanggilnya ketertarikan tapi kita mesti berhati-hati kita harus bertanggung jawab.
GS : Ketertarikan itu tentunya harus direspons oleh pihak yang satunya Pak Paul, kalau tidak ada respons itu berarti selesai sampai di sana.

PG : Ya pada umumnya kalau kita tidak mendapatkan sambutan dari pasangan kita, akhirnya cinta kita itu atau ketertarikan kita itu makin pudar. Karena sekali lagi ketertarikan itu cenderung akanmakin kuat jika mendapatkan balasan, jikalau tidak lama-lama memang akan punah.

GS : Berarti di sana bertemunya dua cetak biru itu yang memenuhi kebutuhan masing-masing Pak Paul?

PG : Dan kadang-kadang tidak bertemu, dalam pengertian bisa jadi pasangan atau lawan jenis kita itu mempunyai cetak biru yang berbeda dengan kita sehingga tidak ketemu. Dan akhirnya dua-dua hars berkata tidak bisa.

Meskipun kita berkata engkaulah orang yang cocok denganku tapi kalau yang satunya berkata engkau bukan orang yang cocok denganku ya kita harus terima itu.
GS : Pak Paul, setelah ketertarikan itu kita menjadi lebih sering bertemu dan sebagainya, tahap berikutnya apa Pak Paul?

PG : Tahap berikutnya adalah kebergantungan, jadi masa berpacaran sebetulnya adalah masa di mana dimulailah kebergantungan itu. Ketertarikan membawa kita dekat dengan pasangan kita, kita mulai enjalin relasi dengannya.

Semakin menjalin relasi semakin kita mengalami kebergantungan kepada dia, karena apa, karena kita akan melihat dan merasakan sumbang sih perannya dalam kehidupan kita. Waktu kita sedang sedih kita ngomong dengannya rasanya kok enak, kita merasa terhibur. Waktu kita merasakan kita kehilangan arah hidup, pasangan kita bisa memberikan kita masukan nah kita merasakan kembali arah yang jelas dalam hidup kita dan sebagainya. Nah waktu kita mulai mengalami hal-hal itu semua dimulailah proses kebergantungan. Yang perlu saya tambahkan di sini adalah kebergantungan itu seharusnya atau sebaiknya mencakup banyak aspek dalam kehidupan kita. Kita ini sebagai manusia dapat dibagi dalam beberapa ruangan atau aspek. Ada yang namanya ruangan emosional, ada ruangan kognitif atau pikir jadi kita senang sekali bisa tukar pikiran dengan pasangan kita saling mengasah. Ada yang namanya ruangan sosial, jadi kita bisa pergi bersama-sama pasangan kita menikmati pergaulan dengan teman-teman, teman-temannya bisa menerima kita, teman-teman kita pun bisa menerimanya, keluarga kita dan keluarganya bisa saling menerima. Ada juga ruangan rekreasi, kita bisa saling menyegarkan, kehadirannya, menyegarkan kita dan sebaliknya juga dan kita berdua bisa menikmati kegiatan yang sama, hoby-hoby yang serupa. Ada lagi ruangan rohani, di mana kita berdua bisa bersatu dalam iman, dalam doa, dalam pelayanan kepada Tuhan. Dan yang lainnya lagi adalah ruangan seksual atau jasmani, di mana akhirnya kita merasakan kita bisa menikmatinya juga secara seksual dan ini dilakukan setelah pernikahan. Nah seyogyanyalah semua ruangan ini bertumbuh, bertumbuh dalam pengertian kita makin akrab dan makin merasakan kebergantungan. Misalnya orang yang sudah menikah lama dan saling bergantung sekali, sewaktu pasangannya tidak ada dia akan merasakan kepincangan. Misalkan secara sosial dia pergi ke mana dengan temannya dia merasa tidak enak tidak ada pasangannya, waktu dia sedih dia tidak bisa membagi hidupnya, waktu dia sukacita dia tidak bisa membagi juga, nah kebutuhan emosionalnya tak terpenuhi karena apa, kebergantungannya itu. Jadi relasi yang sehat relasi di mana semua aspek yang tadi saya sebutkan itu akhirnya mulai bertumbuh, bertumbuh dalam hal salah satunya adalah kebergantungan. Waktu kebergantungan itu terus bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh kita masuk ke aspek keintiman Pak Gunawan. Keintiman artinya kita merasa dia adalah orang yang paling dekat dengan kita, kalau dia tidak ada kita merasa sangat goncang sekali, sehingga kita membutuhkan sekali kehadirannya, kita benar-benar menganggap dia itu belahan jiwa kita. Nah akhirnya kita konsumasikan dalam pernikahan yaitu penyatuan, nah sekali lagi saya tekankan di sini masa berpacaran dimulai dari kebergantungan tadi. Dan seyogyanya selama masih berpacaran dua orang itu bertumbuh dari kebergantungan masuk kepada keintiman. Setelah mereka menikah barulah keintiman itu dikembangkan lagi sampai menuju kepada penyatuan. Dan kita yang sudah menikah tahu bahwa penyatuan itu tidak terjadi sebulan setelah menikah, dua bulan setelah menikah, itu usaha sepanjang masa. Jadi pernikahan adalah suatu perjalanan yang diawali dari keintiman terus sampai kepada penyatuan.
GS : Di dalam hal kebergantungan Pak Paul, kita yang tadinya biasa mandiri jadi artinya sudah biasa sendiri-sendiri, setelah tertarik itu kita bisa menjadi tergantung itu bagaimana Pak Paul, seolah-olah ada sesuatu yang kurang di dalam hidup kita ini.

PG : Karena kita menerima sumbang sihnya, kita menerima bantuannya, kasih sayangnya, penghiburannya kita menerima manfaat dari kehadirannya dalam hidup kita. Apa-apa yang dilakukan dalam hidup ita itu akan bisa mengisi kebutuhan atau memperkaya hidup kita.

Jadi memang dari dua segilah seseorang itu akhirnya masuk ke dalam hidup kita, ada kebutuhan-kebutuhan yang dia akan penuhi. Tapi ada hal-hal yang memang tidak bersifat kebutuhan namun dia bisa isi kepada kita yaitu hal-hal yang menambah semaraknya hidup kita. Misalkan kita cukup dikasihi oleh orang-orang di sekitar kita, tapi kehadirannya dia itu membuat hidup kita menjadi penuh dengan tantangan, penuh dengan sukacita bersama. Nah hal-hal itu menjadi suatu yang kita antisipasi, kita mau raih dan sekali lagi itu semua diawali dengan kehadirannya dia, hal yang tadinya tak terpikir, kita pikirkan sekarang, kita mau capai bersama, jadi sekali lagi kebergantungan muncul karena nomor satu orang itu mulai memenuhi kebutuhan kita dan yang kedua orang itu menambah semaraknya hidup kita.
GS : Jadi cinta pertama yang menjadi topik pembicaraan kita kali ini, kalau kita pertama kali mengalami hal itu Pak Paul?

PG : Betul, jadi cinta pertama seolah-olah ini semua sebelumnya tak pernah kita rasakan kemudian kita rasakan, nah di situlah seolah-olah cinta itu bertumbuh pertama kalinya atau sungguh-sunggu mengalami sesuatu yang berbeda tidak pernah kita alami sebelumnya.

Dan sudah tentu ini akan meninggalkan bekas yang sangat dalam, dalam jiwa kita.
GS : Nah di situ Pak Paul, untuk seseorang itu mengalami cinta pertama apakah faktor usia itu mempunyai peranan. Karena sekarang kita melihat kenyataannya banyak anak-anak yang masih remaja sekali mengatakan dia jatuh cinta kepada teman yang lawan jenis itu Pak Paul, tetapi kita tahu bahwa ini yang disebut cinta monyet dan sebagainya Pak Paul?

PG : Sekali lagi ini memang semua bergantung pada definisinya cinta itu sendiri. Apakah kita akan mendefinisikan cinta secara luas ataukah kita akan bersedia memanggil ketertarikan itu yang didsari atas rasa suka sebagai cinta.

Anak-anak remaja memang pada awalnya akan tertarik, tapi apakah mungkin bahwa dari rasa tertarik itu mereka terus membina hubungan dan akhirnya bertambah-bertambah menjadi kebergantungan dan sebagainya, sangat mungkin. Tapi secara pribadi memang saya tidak menganjurkan remaja tidak berpacaran sebelum lulus SMA atau SMU. Alasan saya adalah pada masa-masa remaja sampai usia sekitar 18, 19 tahun yang diperlukan oleh remaja bukanlah relasi eksklusif, justru dia memerlukan sebuah relasi yang luas dengan begitu banyak orang karena dia memerlukan masukan-masukan dari semua teman-temannya itu untuk memperkaya jiwanya. Kalau dia mengikat diri, menyempitkan skup relasinya dia akan memiskinkan pengalamannya dan memiskinkan masukan-masukan yang seharusnya dia terima. Jadi memang bisa berkembang menjadi cinta tapi saya kira lebih baik setelah dia mencapai usia dewasa atau akil baliq setelah misalnya mencapai usia 19 tahun.
GS : Itu berkenaan tanggung jawabnya juga Pak Paul?

PG : Betul. Jadi intinya Pak Gunawan, yang paling penting adalah apakah kita tidak usah lagi mempersoalkan apakah ini benar-benar cinta, cinta pertama itu benar-benar cinta ataukah mungkin ini anya perasaan-perasaan saja.

Yang penting apa yang kita lakukan dengan perasaan itu, kalau kita bersedia bertanggung jawab nah itu yang baik. Apa maksudnya dengan bertanggung jawab, jangan kita langsung memanggilnya cinta yang benar-benar dan langsung membuat janji-janji, kita pasti akan bersama dengannya, jangan. Jadi saran saya adalah langkah pertama selalu kita berdoa, kita biarkan perasaan ini bertumbuh dulu apakah akan makin kuat, apakah hilang. Kalau misalnya setelah melewati jangka waktu tertentu tidak hilang malah makin bertumbuh, nah berarti kita lebih pasti perasaan ini memang tidak hanya melintasi kita tapi memang akan menghuni kita.
GS : Nah ketergantungan tadi Pak Paul katakan bisa membuahkan keintiman, nah di sini kadang-kadang pasangan itu yang sudah merasa yakin bahwa ini pasangannya, keintimannya itu lalu kebablasan Pak Paul.

PG : Itu yang harus dijaga Pak Gunawan, sebab sudah tentu kita ini sekarang menghadapi dua tekanan, yaitu dari dalam dan dari luar. Sebagai remaja gejolak hormonal akan sangat kuat sehingga dorngan untuk intim secara fisik akan sangat besar, rasa ingin tahu juga sangat kuat sekali dan itu mesti dijaga.

Dan dari luar adalah lingkungan makin permisif jadi orang-orang makin banyak yang berhubungan sebelum menikah, kita harus jaga. Dan apa-apa yang kita tonton juga bisa mempengaruhi kita, membuat kita berpikir tidak apa-apa melakukannya sekarang, jadi kita harus jaga sebab kita tahu Tuhan melihat, meskipun manusia tidak melihat tapi Tuhan melihat dan, apa yang Tuhan tidak perkenan maka Tuhan tidak berkati.
GS : Tadi Pak Paul, juga singgung di dalam masa-masa seperti itu kita perlu mendoakan hubungan ini dan sebagainya. Nah doa itu dinaikkan secara pribadi-pribadi atau bersama-sama atau bagaimana Pak Paul?

PG : Nah setelah kita secara pribadi mendoakan, dan kita melihat perasaan kita memang tetap ada atau tidak hilang, kita hampiri kita ngomong dengan orang tersebut dan kita katakan kita menyukaiya.

Dan kita menanyakan apakah dia bersedia mendoakan relasi ini, kita minta dia untuk mempertimbangkan apakah kitalah orang yang akan dicintainya juga. Mungkin sekali saat itu dia tidak memiliki perasaan apa-apa kepada kita tapi kita tantang dia untuk berdoa bersama. Kalau dia berkata dia bersedia tentukan satu kurun misalkan tiga bulan, tiga bulan kita tetap berelasi sebagai teman tapi dua-dua berdoa, nah tidak ada ikatan di situ. Kalau setelah tiga bulan yang satu berkata maaf perasaan saya hilang ya terima, tapi misalkan setelah tiga bulan perasaan itu tetap ada dan dua-duanya makin merasakan perasaan tertarik setelah berdoa, OK kita resmikan sebagai pacar, barulah nanti kita arungi masa berpacaran ini bersama-sama.
GS : Ada orang yang saling tertarik itu Pak Paul menggunakan cara untuk berpisah secara fisik betul-betul, jadi mereka tidak lagi berhubungan selama beberapa hari atau beberapa minggu untuk menguji apakah dia memang betul-betul tertarik atau tidak, itu bagaimana Pak Paaul?

PG : Saya kira ada baiknya kalau misalkan seseorang ingin menguji seperti itu tidak apa-apa sebab adakalanya ketertarikan pada penampilan fisik terlalu kuat sehingga mengalahkan faktor-faktor linnya.

Jadi kalau misalkan seseorang ingin berpisah sementara untuk benar-benar bisa dengan tenang memeriksa hatinya ya tidak apa-apa juga. Yang paling penting adalah kita memiliki kejelasan bahwa orang inilah yang kita sukai bukan hanya karena penampilannya tapi hal-hal yang lainnya pula.
GS : Memang yang sulit di situ adalah mengatasi perasaannya itu Pak Paul, karena ketertarikan ini lebih banyak didominasi oleh faktor emosional sehingga dia sulit sekali kadang-kadang menanyakan apakah betul ini calon jodoh saya begitu.

PG : Ya kadang-kadang itu yang terjadi Pak Gunawan, jadi kita harus menyadari keterbatasan kita itu maka masukan dari teman, dari keluarga perlu kita dengarkan karena sekali lagi kita bisa sangt-sangat subjektif dan kehilangan perspektif.

Orang yang justru defensif tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain mengawatirkan saya, justru membuat saya bertanya-tanya kenapa harus begitu defensif tidak mau menerima masukan dari orang lain. Justru orang yang aman dengan relasinya lebih rela, lebih bersedia mendengarkan masukan dari orang lain.
GS : Nah Pak Paul, tentunya masukan yang diharapkan oleh anak-anak muda kita adalah dari orang tuanya, tetapi mereka juga kadang-kadang enggan membawa sebut sajalah pacarnya itu untuk bertemu dengan orang tuanya begitu Pak Paul.

PG : Justru orang yang terlalu melindungi relasi pacarnya dari orang tua dan sebagainya saya juga menjadi khawatir. Justru kalau dia aman dia akan bersedia pacarnya dinilai oleh orang tuanya da dia berani mempertanggungjawabkannya.

Nah ini membawa kita kepada satu lagi point yaitu pacaran adalah masa persiapan untuk menikah, pacaran bukan hanya mengenal, kalau hanya mengenal tadi fase yang sebelumnya, fase yang sebelumnya saya sudah jabarkan. Pacaran adalah masa penjajakan apakah kita bisa hidup bersamanya nanti dalam pernikahan dan sekaligus masa persiapan. Jadi akhirnya berpacaran itu mempunyai satu tujuan yang sangat jelas kita akan menikah. Kalau dalam masa berpacaran itu kita tidak cocok silakan berpisah, jangan merasa kita tidak boleh berpisah pada masa berpacaran. Tapi sekaligus juga jangan kita memandang remeh masa berpacaran ini dan bergonta-ganti pacar seenaknya karena yang kita akan pengaruhi adalah perasaan orang dan hidup orang, jangan kita mempermainkan hidup orang lain. Jadi serius, namun sekali lagi kalau memang tidak cocok dua-dua harus dewasa dan berkata tidak cocok dan sebaiknya berpisah.
GS : Kapan saat yang tepat itu untuk memperkenalkan pacar kepada orang tua?

PG : Saya kira sewaktu kita mulai mengalami ikatan-ikatan yang kuat, jadi kita sudah dari rasa suka masuk ke fase ketertarikan, dari ketertarikan pada kebergantungan. Nah dalam perjalanan dari ebergantungan sampai keintiman di situlah kita memperkenalkan pasangan kita.

Kita benar-benar melihat dia adalah bagian hidup kita, kita bagian hidupnya, kita yakin inilah orang yang akan kita nikahi nantinya silakan kita kenalkan.
GS : Nah itu tentunya menjadi suatu pergumulan di dalam diri seseorang yang mau diperkenalkan kepada katakan calon mertuanya itu Pak Paul.

PG : Ya saya kira demikian, tapi sekali lagi kalau memang dia yakin dengan relasinya sebetulnya tidak ada yang harus dia khawatirkan, jadi silakan ketemu berani bertanggung jawab. Di pihak lainsaya juga mau jikalau memang kita rasakan kecocokan dengan dia dan kita mau membawa kepada orang tua kita juga tidak apa-apa.

Mungkin ada yang perlu orang tua kita lihat yang kita mungkin tidak lihat. Jadi pada masa awal orang tua kita juga bisa memberikan masukan, kalau itu yang kita butuhkan dari mereka juga tidak apa-apa jadi mulai berpacaran kita kenalkan pada orang tua.
GS : Padahal orang tua juga mempunyai blue print tersendiri Pak Paul, terhadap calon menantunya itu?

PG : Itu yang acapkali menjadi bahan konflik antara anak dan orang tua karena tidak ketemu, nah sudah tentu pada akhirnya nomor satu dua-dua harus melihat apakah inilah pasangan yang Tuhan kehedaki, apakah orang ini orang yang bertanggung jawab, mencintai kita.

Jadi selalu yang saya katakan secara ringkas bagaimana memilih pasangan hidup saya katakan pertama carilah orang yang mencintai Tuhan, yang kedua orang yang mencintai kita.
GS : Pak Paul, bagaimana dengan ungkapan yang mengatakan bahwa cinta pertama itu tidak bisa mati?

PG : Akan meninggalkan bekas yang dalam sebab semuanya yang terjadi pertama kali akan meninggalkan bekas yang dalam dan biasanya akan kita bawa untuk waktu yang lebih lama, itu betul.

GS : Apakah itu akan berpengaruh kalau seandainya hubungan mereka itu putus, lalu mereka memulai lagi tentunya dengan yang kedua dan mungkin bisa juga dengan yang ketiga?

PG : Biasanya ya, kalau berakhirnya positif, dampak negatifnya lebih kecil. Kalau berakhirnya dengan negatif misalkan dikhianati, dampak negatifnya lebih besar. Kita lebih takut memulai dengan rang lain karena memang takut dikhianati lagi.

Tapi kalau berakhir dengan baik-baik, dengan penuh pengertian seharusnya dampak negatifnya lebih kecil. Kalau cinta pertama itu diakhiri karena kematian yang tragis dan orang itu orang yang cocok dengan kita pasti dampaknya akan berat, kita akan terus membandingkan orang dengan pasangan kita yang pertama itu.
GS : Berarti cinta yang pertama itu bukan sekadar mitos tapi suatu kenyataan Pak Paul?

PG : Saya kira demikian.

GS : Pak Paul, di dalam hal ini apakah ada ayat firman Tuhan yang menguatkan kita?

PG : Saya akan bacakan dari Ibrani 13:4 , "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan, dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan penznah akan dihakimi Allah."

Saya akan garis bawahi yang pertama, hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan. Nah saya kira kita hormatilah perkawinan itu dari masa persiapannya juga kita hormati, kita tidak sembarangan berpacaran, kita mau baik-baik melewati masa berpacaran itu. Kita tidak main-main dengan cinta, kita anggap itu sesuatu yang serius di hadapan Tuhan dan kita akan bertanggung jawab dengan baik.

GS : Ya terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan kali ini, dan ini tentu akan sangat bermanfaat khususnya bagi para muda-mudi yang mendengarkan acara ini, tapi juga tidak kurang manfaatnya bagi kita yang sudah dewasa. Nah para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Cinta Pertama". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat mengirimkan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



27. Kasih yang Sejati


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T130B (File MP3 T130B)


Abstrak:

Semua orang bisa mencintai, yang membedakan satu dengan yang lain adalah bagaimana kita mencintai. Karena cinta sesungguhnya ada yang menghancurkan dan ada yang membangun.


Ringkasan:

Semua orang bisa mencintai; yang membedakan satu dengan yang lain adalah bagaimana kita mencintai. Amnon pun mencintai Tamar, adik tirinya, namun setelah ia memperkosanya, cintanya terhadap Tamar lenyap, "... bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu daripada cinta yang dirasakannya sebelumnya." ( 2 Samuel 13:15 )

Cinta dapat dibagi dalam dua golongan besar:

  1. cinta yang menghancurkan dan
  2. cinta yang membangun.

Cinta yang menghancurkan:

  1. Menguasai-tidak memberi ruang gerak untuk menjadi diri apa adanya.
  2. Manipulatif-menggiring orang untuk memenuhi kepentingan pribadi saja.

Cinta yang membangun ( 1 Korintus 13 )
Sabar, Murah hati (kind), Tidak cemburu, Tidak memegahkan diri dan tidak sombong, Tidak melakukan yang tidak sopan (not rude), Tidak mencari keuntungan diri sendiri, Tidak pemarah, Tidak menyimpan kesalahan orang lain, Tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, Menutupi segala sesuatu (always protects), Percaya segala sesuatu (always trusts), Mengharapkan segala sesuatu (always hopes), Sabar menanggung segala sesuatu (always perseveres).

Kesimpulan:

  1. Tidak mementingkan diri sendiri, memfokuskan pada pasangan-apa yang baik dan benar baginya.
  2. Menghormati pasangan, memberinya ruang gerak menjadi dirinya sendiri
  3. Mengampuni dan menerima kelemahannya.
  4. Menjaganya.
  5. Mempercayainya.
  6. Bersedia menderita dengannya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya ditemani oleh ibu Wulan S.Th, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Kasih yang Sejati". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, semua orang itu sering kali bilang saya mengasihi kamu, saya mencintai kamu dan seterusnya, tetapi ujung-ujungnya itu kadang-kadang motivasinya itu tidak betul Pak Paul. Dia justru memanipulir orang yang dia sebut dikasihi dan dicintai, bagaimana bisa terjadi seperti itu Pak Paul?

PG : Cinta itu dapat kita golongkan dalam dua bagian besar Pak Gunawan, yaitu cinta yang keluar dari kebutuhan, jadi benar-benar kenapa kita mencintai orang ini karena orang ini memenuhi semua ebutuhan kita.

Dan yang kedua adalah cinta yang membagi agar kita bertumbuh bersama. Jadi cinta yang kedua ini cinta yang membagi hidup, membagi kekuatan agar kita berdua bisa makin hari makin bertumbuh. Jadi yang pertama itu bertujuan untuk bisa bertahan hidup how to survive, jadi cinta untuk membuat kita bisa survive dalam hidup ini. Sedangkan level yang kedua atau cinta jenis kedua adalah cinta yang benar-benar membuat kita grow, bertumbuh tidak sama. Cinta yang manipulatif masuk dalam kategori cinta yang keluar dari kebutuhan makanya kita hanya memikirkan diri sendiri agar yang diberikan orang itu bisa kita serap untuk kepentingan diri sendiri saja.
GS : Nah Pak Paul, apakah ada contoh konkret dari Alkitab mengenai cinta yang manipulatif tadi?

PG : Kitab II Samuel 13, di situ tercatat tentang dua anak Daud, memang dari dua mama tapi satu ayah yaitu Daud sendiri. Yang pria bernama Amnon dan adik wanitanya bernama Tamar. Di situ diceriakan Amnon mencintai Tamar sehingga dia ingin meniduri Tamar adik tirinya itu, dengan akal bulus dia pura-pura sakit kemudian dia meminta Daud untuk mengirim Tamar, menyediakan makanan buatnya.

Dalam kamar yang tertutup itulah dia memperkosa Tamar. Nah setelah dia memperkosa Tamar bukannya dia menaungi Tamar, dia malah mengusir Tamar dan dikatakan di sini di Alkitab bahkan lebih besar rasa benci yang dirasanya kepada gadis itu daripada cinta yang dirasakan sebelumnya. Nah cinta berubah dalam sekejap dalam kasus Amnon ini, tadi sebetulnya mencintai sekarang menjadi benci dan bencinya lebih besar daripada cintanya. Cinta seperti apakah ini, ini yang masuk dalam kategori yang pertama tadi Pak Gunawan, cinta yang keluar dari kebutuhan, ingin mendapatkan sesuatu untuk kepentingan atau kebutuhan kita.
GS : Jadi setelah kebutuhannya itu terpenuhi ternyata bisa berbalik seperti itu.

PG : Betul, setelah kebutuhannya tak terpenuhi orang ini tidak lagi berfungsi jadi tidak ada lagi gunanya, tidak ada lagi harganya buat kita, makanya Amnon langsung mengusir Tamar.

GS : Apakah itu membuktikan keegoisannya Amnon Pak Paul?

PG : Dan ketidakdewasaannya, betul-betul ketidakdewasaannya dia hanya memikirkan dirinya sendiri.

WL : Lucu sekali Pak Paul, saya pernah mendengar atau membaca buku tentang teori yang mengatakan bahwa kalau kita belum pernah membenci seseorang, sebenarnya kita belum sungguh-sungguh mencintai dia, terus kaitannya dengan cinta ini bagaimana?

PG : Memang kalau kita mencintai seseorang terus orang itu mengecewakan kita atau melukai kita, rasa cinta itu bisa berubah menjadi sangat-sangat benci, memang bisa seperti itu juga. Karena apa karena cinta itu seperti investasi, semakin besar cinta semakin besar investasi kita, jadi kalau orang itu mengecewakan kita misalnya tidak setia kepada kita, kita memang akan sangat-sangat terluka dan dari luka itu kita akhirnya marah sekali kepada dia.

Jadi seolah-olah besarnya marah itu sepadan dengan besarnya cinta yang pertama nah itu bisa terjadi karena sekali lagi cinta itu suatu investasi. Kita sudah sajikan begitu besar kemudian dikecewakan ya kita marah. Tapi dalam kasus Amnon ini saya kira memang itu berbeda, sebab Tamar tidak melakukan apapun yang melukai hatinya, Tamar bahkan berkata yang engkau lakukan kepadaku sekarang yaitu mengusirnya lebih buruk daripada yang engkau lakukan sebelumnya yaitu perkosaannya. Jadi setelah Amnon memperkosa Tamar, dia mengusirnya dan sebelum diperkosa malahan Tamar berkata kepada Amnon: "Minta kepada ayah, dia akan mengizinkan engkau menikahi aku." Jadi rupanya pada saat itu pernikahan antara adik tiri masih diizinkan, pada saat zaman Daud itu. Kenapa Amnon bisa begitu berubah, Tamar tidak berbuat hal yang salah setelah itu Tamar tidak marah, memaki-makinya, Tamar hanya menangis (menangisi nasibnya itu) tapi dia begitu marah dan dia mengusirnya. Memang lain, Amnon tidak memberi investasi sedikit pun di sini, tidak ada cinta yang kita akan bahas nanti cinta ini benar-benar cinta yang egois, cinta yang muncul dari kebutuhannya saja.
GS : Tapi ada orang itu yang tadinya tidak senang dengan seseorang Pak Paul, tapi dengan berjalannya waktu dia akhirnya menyukai orang itu dan bahkan mencintainya.

PG : Pada pertemuan yang lampau kita membicarakan tentang cinta Pak Gunawan, dan cinta itu diawali oleh rasa suka, dari rasa suka akhirnya menimbulkan rasa tertarik. Nah tadi saya juga bicara bhwa kadang-kadang kita itu tertarik karena menyukai beberapa hal yang kita lihat pada pasangan kita, setelah kita menjalani relasi itu barulah kita melihat hal-hal lainnya lagi yang tidak kita sukai.

Nah setelah kita menemukan hal-hal yang tidak kita sukai bisa jadi mulailah hubungan kita itu goyang, karena kita harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Bisa jadi juga terbalik Pak Gunawan, jadi pada awalnya kita tidak suka sebab kita melihat beberapa hal yang tidak kita sukai. Namun setelah kita terus berteman dengan orang tersebut mulailah kita menjumpai hal yang kita sukai nah di situlah akhirnya kita mulai tertarik.
GS : Nah proses itu Pak Paul, kalau tadi kita melihat si Amnon itu begitu jahatnya setelah kebutuhannya terpenuhi lalu si Tamar ini diusir begitu saja Pak Paul, apakah itu bukan sesuatu yang merusak buat dirinya sendiri?

PG : Sudah tentu ini adalah tindakan yang sangat menghancurkan, merusak tapi memang bukannya merusak Amnon tapi merusak Tamar. Memang pada akhirnya kita tahu, kakak dari Tamar kakak kandungnya bsalom membalas dendam dan membunuh Amnon jadi tindakannya itu pada akhirnya menghancurkan dirinya juga.

Tapi cintanya Amnon ini cinta yang menghancurkan. Jadi izinkanlah saya membagi cinta iyang tadi saya bagi dua saya golongkannya seperti ini, cinta yang dari kebutuhan saja itu berpotensi menjadi cinta yang menghancurkan. Tapi cinta yang keluar dari keinginan membagi hidup agar bisa bertumbuh bersama itu saya panggil cinta yang membangun, yang berlawanan dengan cinta yang menghancurkan. Cinta yang menghancurkan adalah cinta yang menguasai Pak Gunawan, itu ciri-ciri pertamanya menguasai sehingga tidak memberi ruang gerak kepada pasangan untuk menjadi dirinya sendiri. Kita akan mau mendiktenya, menjadikan dia itu seperti burung dalam sangkar kita harus sama persis seperti yang kita kehendaki, kalau tidak kita akan marah, kita akan menuntut dia untuk membuktikan cintanya dengan cara apa, menjadi seperti yang kita inginkan.
GS : Jadi maksud saya Pak Paul, orang yang terus-menerus berlaku seperti itu akhirnya dia tidak bisa memiliki cinta yang sebenar-benarnya itu?

PG : Tepat betul sekali, orang seperti itu mungkin sekali akan mendapatkan kepatuhan tapi jarang yang bisa mendapatkan cinta yang sebenarnya atau yang sejati.

WL : Pak Paul, orang sering berbicara dengan memakai alasan "demi cinta" justru karena saya mencintai dia makanya saya mau dia menjadi begini-begini, itu yang terbaik bagi dia. Padahal itu maksudnya berdasarkan penjelasan Pak Paul itu justru cinta yang menghancurkan, yang mau menguasai dia.

PG : Betul, menguasai tanpa mengindahkan keinginan pasangannya, tanpa kerelaan memberinya ruang menjadi dirinya sendiri. Saya tidak berkata bahwa kita tidak boleh menyampaikan keinginan kita, sdah tentu relasi itu bertumbuh sewaktu masing-masing mulai menyampaikan harapannya, keinginannya dan mencoba untuk memenuhi, menyesuaikan dan sebagainya.

Tapi tetap ada kerelaan untuk membiarkan pasangan kita menjadi dirinya sendiri, ada orang yang tidak bisa menerima hal itu, dia harus mengontrol. Nah celakanya begini Ibu Wulan, pada masa-masa awal orang akan senang mempunyai pacar yang seperti ini, senangnya karena diperhatikan, wah dia merasa benar-benar seperti orang yang paling berharga di dunia ini, seperti barang yang berharga. Tapi lama-kelamaan seharusnya dia sadar bahwa bukan hanya penghargaan yang dia dapat tapi juga penguasaan. Ini yang berbahaya penghargaan sudah tentu baik tapi kalau peghargaan disertai penguasaan yang seperti itu ini tidak sehat, ini benar-benar cinta yang menghancurkan, cinta yang muncul keluar dari kebutuhan belaka. (WL : Seperti seorang yang ditaktor begitu Pak Paul?) betul, seperti ditaktor sehingga pasangannya tidak lagi memiliki dirinya, tidak lagi memiliki hidupnya sepenuhnya hanya untuk dirinya, diri pasangan itu.
GS : Tapi orang yang sudah terbiasa dengan pola hidup seperti itu Pak Paul, kalau diperlakukan sebaliknya malah dia merasa tidak dicintai lagi oleh pasangannya.

PG : Itu adalah ironinya Pak Gunawan, ini yang sering saya lihat misalnya ada seorang anak wanita dibesarkan di rumah oleh ayah yang luar biasa kerasnya, menguasai anaknya sampai-sampai anaknyatidak bisa mengembangkan dirinya atau keunikannya, nah dia tidak suka dengan ayah yang seperti ini, tapi di pihak lain dia terbiasa.

Nah akhirnya dia itu dekat dan menikah dengan pria yang seperti ayahnya, yang sangat menguasainya sebab dia katakan itulah cinta yang dia kenal, sebab ayahnya mungkin sering berkata: "Papa begini, sebab Papa mengasihi kamu". Jadi akhirnya dia identikkan kekerasan dan keotoritasan ayahnya itu sebagai cinta kasih. Akhirnya dia akan bertemu dan menikah dengan pria yang seperti ayahnya jadi penderitaannya akan terus dilestarikan.
GS : Dan beberapa waktu yang lalu ketika berbicara tentang cinta itu Pak Paul, orang itu mempunyai cetak biru nah apakah pengalaman pahit bersama ayahnya tidak mendorong dia untuk membuat cetak biru yang lain dengan apa yang dia alami dengan orang tuanya?

PG : Adakalanya dia akan berhasil membuat cetak biru yang lain, tapi adakalanya tidak berhasil. Sebab apa, sebab yang pertama adalah dia terbiasa, meskipun ayahnya sangat otoriter tapi itulah pia yang dikenalnya, dan itulah pengungkapan kasih yang juga dipahaminya, dia tidak mengenal cara yang lain.

Jadi akhirnya dia mencari yang sejenis. Yang kedua adalah alasannya kemungkinan ayahnya itu punya kelebihan-kelebihan yang lain karena ayahnya begitu otoriter menguasai dirinya, ayahnya sangat juga memperhatikan kebutuhan anaknya. Apa yang dimintanya akan dia berikan, apa yang belum dimintanya ayahnya juga akan berikan. Nah jadi dia juga menikmati hal-hal yang baik dari sikap ayahnya yang terlalu menguasai dirinya. akhirnya dia menikah dengan pria yang seperti ayahnya juga, karena dia melihat atau dia pernah mencicipi sisi baiknya itu.
GS : Kalau begitu cinta yang sebenarnya atau cinta yang sejati itu seperti apa Pak Paul?

PG : Saya akan dasari itu dari I Korintus 13 firman Tuhan memberi ciri-ciri kasih yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopn, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Nah inilah ciri-ciri cinta yang diberikan oleh Rasul Paulus di I Korintus 13 ini. Dari semua ini Pak Gunawan ada beberapa karakteristik yang akan saya angkat. Yang pertama adalah cinta sejati itu tidak mementingkan diri sendiri, cinta sejati memfokuskan pada pasangannya yakni apa yang baik bagi pasangannya dan apa yang benar bagi pasangannya. Dengan kata lain kita sudah tentu membawa diri kita, keinginan kita, kebutuhan kita tapi itu bukan lAndasannya, bukan fokusnya. Relasi yang bertumbuh relasi yang didominasi oleh pasangan kita, kita mau memberikan kepadanya apa yang baik baginya dan kita tidak mau dia melakukan hal yang tidak benar, kita mau dia melakukan yang baik dan yang benar. Kita tidak ingin dia berdosa, kita ingin dia hidup dalam Tuhan, dengan kata lain sekali lagi kita ingin yang baik-baiklah yang terjadi pada pasangan kita dan kita ingin menjadi saluran dari kebaikan Tuhan untuknya. Sebaliknya cinta yang tidak dewasa adalah cinta yang menghancurkan, itu hanya berfokus pada diri sendiri, apa yang saya bisa dapatkan, apa yang engkau harus berikan kepadaku nah itu dia, tapi cinta yang membangun menjadi apa yang aku bisa berikan kepadamu.
WL : Pak Paul, kalau ketemu pasangan yang justru memanfaatkan seperti tadi ini yang Pak Paul jelaskan, kita 'kan tidak mementingkan diri kita sendiri, kita justru selalu memikirkan yang bagus dan baik buat dia nah dia tahu begitu sehingga dia memanfaatkan kita, fokusnya harus dia nah bagaimana sebaiknya kita?

PG : Kalau kita bertemu dengan orang seperti itu, pertama-tama harus mengutarakan ketidaksukaan kita, kita harus berani berbicara karena sekali lagi cinta sejati itu berjalan di dalam kebenaran kita tidak akan enak-enakan saja di jalan yang tidak benar jadi kita harus berani berbicara yang benar.

Yang kedua adalah kita juga harus berani mengungkapkan harapan kita, kita harus berani menyampaikan kepadanya permintaan-permintaan kita. Sebab kalau kita tidak benar-benar akan kehilangan diri kita, semuanya untuk dia sedangkan tadinya kita sudah sadar cintanya yang seperti itu, cinta yang tidak dewasa, cinta yang manipulatif yang menggiring kita untuk melakukan dan memenuhi kebutuhannya saja. Kalau setelah kita lakukan semua itu dia berubah, dia juga mulai memperhatikan kita nah berarti relasi itu bisa berjalan, sebaliknya kalau tidak berubah orang itu tidak mau memperhatikan kita terus hanya berfokus pada dirinya sendiri, terpaksa kita harus berkata tidak bisa lagi dan jangan kita nikahi.
GS : Pak Paul, sebenarnya kalau kita menganggap orang itu yang kita kasihi sebagai sesama kita bukankah kita tidak akan memperlakukan dia dengan cara-cara yang seperti itu tadi Pak Paul?

PG : Sebetulnya idealnya seperti itu Pak Gunawan, jadi cinta sejati itu juga cinta yang menghormati pasangan, kita memberikan ruang gerak menjadi dirinya sendiri. Tadi Pak Gunawan menganggap di itu setara, kita tidak menganggap dia itu bawahan kita yang harus memenuhi kebutuhan kita, tidak menjadi setara dengan kita.

Keinginan kita harus dihormati juga, ketidaksukaan kita juga harus didengarkan sehingga tidak hanya berjalan satu arah. Dia terus yang memperhatikan keinginan kita dan ketidaksukaan kita. Jadi sekali lagi saya tekankan kalau kita merasakan pasangan kita tidak menghormati diri kita, itu berarti bukan pasangan yang baik untuk kita dan cintanya bukan cinta yang baik, cinta yang sejati tapi cinta yang sangat dimotivasi oleh kebutuhannya saja.
WL : Pak Paul, tadi Pak Paul beberapa kali menekankan untuk kita belajar menghargai pasangan, supaya dia menjadi dirinya sendiri, apakah yang Pak Paul maksudkan menjadi dirinya sendiri? Karena terkadang sebenarnya apa yang kita anggap baik dengan ABCD kita, kriterianya dengan pasangan kita itu lain. Nah bagaimana Pak Paul menjelaskannya?

PG : Sudah tentu ini berjalan dalam proses, karena adakalanya yang terjadi kita ini tidak begitu sadar juga seperti apa diri kita, maunya apa kita, dan kita masih mengalami proses perubahan. Tai pasangan yang baik tidak langsung menjegal kita, tidak langsung seolah-olah menampar tangan kita dan berkata : "Bukan begitu, kamu salah," tidak.

Pasangan yang baik juga mau bersama-sama dengan kita mengembangkan diri kita, sama-sama tidak tahunya ya tidak apa-apa, tapi dia tidak menjadi orang yang sok tahu dan berkata: kamu bukan begitu, nah dia juga akan bersama-sama dengan kita mengeksplorasi, mencari tahu siapa diri kita dan dengan cara itulah kita berdua bertumbuh. Sebab saya kira inilah ciri-ciri relasi yang sehat, apakah waktu kita menikah dengan pasangan kita, kita sudah menjadi orang yang matang finish product, ya tidak. Kita bukan jenis produk yang sudah selesai, kita terus produk dalam proses, Tuhan masih membentuk kita. Nah pasangan yang menghormati kita adalah pasangan yang mau berkata: ayo kita mencari bersama, kita kembangkan bersama, kita bertumbuh bersama, seperti nanti Tuhan pimpin kita itu yang menjadi ciri-cirinya.
GS : Nah Pak Paul, di dalam proses itu tadi kemungkinan pasangan kita atau bahkan kita sendiri itu melakukan kesalahan-kesalahan Pak Paul, bagaimana sikap dari seseorang yang memiliki kasih yang sejati?

PG : Kasih yang sejati mempunyai satu ciri yang sangat penting yaitu berani mengampuni, berani menerima kelemahan pasangan kita. Ini ciri yang penting sekali Pak Gunawan, sebab kalau cinta itu ukan cinta sejati susah menoleransi kelemahan atau susah memberi pengampunan.

Jadi benar-benar orang dituntut untuk seperti dirinya, nah tadi saya katakan ini adalah ciri yang penting karena orang yang memiliki cinta yang menghancurkan tadi itu tidak bisa mengampuni dengan mudah. Karena apa, karena orang seolah-olah berkewajiban memenuhi kebutuhannya. Kalau tidak memenuhi kebutuhannya dia marah, kalau tidak sempurna, salah, wah dia marah. Kematangan cinta sering kali diperlihatkan oleh adanya kemampuan untuk mengampuni dan menerima kelemahan dan berkata: Inilah hidup, kita tidak sempurna, masing-masing ada kelemahan, saya juga ada kelemahan, ya sudah kita bangun bersama-sama, nah itu cinta yang sejati Pak Gunawan.
WL : Pak Paul, kalau mengampuni itu tadi rasanya tidak mudah dilakukan terutama untuk hal-hal yang amat sangat menyakitkan. Misalnya yang ekstrim saya berikan contoh istri atau suaminya berselingkuh, nah itu batasannya mengampuni bagaimana. Lalu pasangan mengatakan, itu memang kelemahan saya di situ, saya sulit kalau ketemu dengan wanita yang cantik atau bagaimana segala macam. Terus kita sebagai orang Kristen dituntut kamu harus mengampuni suamimu, mengampuni istrimu wah setengah mati itu.

PG : Betul, dan pernikahan itu harus dijaga oleh kedua belah pihak Bu Wulan, dalam contoh tadi itu kalau misalnya seorang pria yang berkata saya lemah, saya kalau melihat wanita tidak tahan, akirnya jatuh lagi, jatuh lagi.

Yang bisa kita simpulkan juga adalah pria itu tidak menghormati istrinya, jadi ciri yang kedua tadi menghormati itu penting sekali. Sebab kalau kita menghormati kita tidak sembarangan, kita tidak berkata ini kelemahan saya kamu harus terima, tidak. Jadi bagaimana ya kalau kasus seperti itu, berarti yang satu memang tidak lagi memelihara pernikahan sedangkan pernikahan seperti manusia harus ada dua kaki, kalau satu kaki ya akan jatuh. Nah dua-dua harus menjaga pernikahannya bukan satu orang, jadi kalau yang satu terus sengaja berbuat salah, tAndanya hanya satu dia tidak menghormati pernikahan ini dan dia tidak menghormati pasangan.
WL : Tapi terkadang dalam realita hidup ada Pak Paul orang-orang seperti itu, lalu istrinya seolah-olah masuk dalam "jebakan" itu tidak bisa keluar, masakan dia mau cerai. Mau tidak mau ya selalu memakai stAndar mengampuni, mengampuni terus.

PG : Ya karena mungkin dia tidak mempunyai pilihan lain, terpaksa dia mengampuni juga. Kita mengampuni sudah tentu harus, itu yang Tuhan minta seberapa besarpun kesalahan orang, Tuhan meminta kta mengampuni.

Tapi sekali lagi menoleransi atau tidak perbuatan yang terus-menerus berulang seperti itu, saya kira tidak, kita tidak mau menoleransinya, kita katakan engkau tidak menghormati pernikahan ini lagi, jadi saya kira ada batasnya.
GS : Apakah ada ciri yang lain Pak Paul?

PG : Pernikahan itu harus dijaga, jadi berkaitan dengan yang tadi Ibu Wulan tanyakan Pak Gunawan. Cinta sejati itu cinta yang mau menjaga relasi cinta ini, jangan sampai jatuh, jangan sampai teserang, jangan sampai dicemari.

Kita mau melindungi pernikahan ini, cinta ini, kita mau melindungi orang yang kita cintai juga. Nah jadi dengan kata lain kalau kita mau melindunginya kita tidak sembarangan juga mau melukainya, mau membuatnya pahit, kita benar-benar dengan hati yang murni ingin memagarinya.
GS : Jadi bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keutuhan dari pernikahan itu.

PG : Tepat sekali, itulah ciri cinta yang sejati. Sebaliknya dengan cinta yang menghancurkan Pak Gunawan, sebetulnya tidak ada unsur menjaga sebab kita tidak menjaga pasangan kita hanya menjagadiri sendiri agar kebutuhan kita terpenuhi.

Tapi cinta sejati cinta yang menjaga pasangan kita dan diri kita sehingga relasi ini bertumbuh. Kalau kita melihat pasangan kita tidak bahagia karena apa yang kita telah perbuat, kita mau tahu, kita mau perbaiki karena kita mau menjaganya, beda dengan relasi atau cinta yang menghancurkan tadi. Kita hanya menjaga kepentingan kita.
GS : Ya, kita mau menjaga tapi di lain pihak kita juga memberi kebebasan pada pasangan kita untuk menjadi dirinya sendiri berarti itu ada suatu unsur kita harus mempercayai pasangan kita Pak.

PG : Betul, jadi I Korintus 13 sangat menekankan tentang mempercayai itu, tidak curiga, berangkatnya bukannya dari ketakutan. Cinta sejati berangkatnya dari rasa percaya, percaya bahwa engkau mncintaiku, bahwa engkau baik kepadaku, bahwa engkau akan setia kepadaku.

Nah cinta seperti itulah yang akan menumbuhkan cinta itu, kalau cinta diawali dengan ketakutan, kecurigaan lama-lama mati.
GS : Nah Pak Paul, di dalam proses-proses seperti itu bukankah tidak selalu berjalan mulus Pak Paul. Ada banyak hal, ada banyak rintangan yang harus dihadapi bersama-sama dan itu sering kali menimbulkan penderitaan, kesakitan, air mata dan seterusnya lalu bagaimana pasangan itu?

PG : Cinta sejati jadinya cinta yang bersedia menderita, tidak hanya menikmati masa-masa sukacita tapi juga berani bersama dengan pasangan kita pada masa-masa menderita. Maka janji nikah yaitu etap setia pada masa sakit, pada masa sehat itu mulia sekali.

Sebab cinta sejati memang pada akhirnya cinta yang berani menderita, tidak hanya mau bersuka-suka.
GS : Ya kadang-kadang kita berkata biar saya saja yang menderita asal pasangan saya tidak menderita itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira salah satu wujud cinta yang murni, cinta yang sejati bahwa kita mau menanggung penderitaan pasangan kita karena kita tidak ingin melihat pasangan kita susah atau menderita.

GS : Baik terima kasih sekali Pak Paul, untuk perbincangan ini dan juga Ibu Wulan yang sudah bersama kami pada saat ini. Nah para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kasih yang Sejati". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



28. Mencari yang Ideal


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T135A (File MP3 T135A)


Abstrak:

Dalam mencari pasangan hidup acap kali kita diperhadapkan dengan pertanyaan: "Sejauh manakah seharusnya kita mengkompromikan standar? Hal-hal apakah yang dapat kita kompromikan dan hal-hal apakah yang tidak dapat kita kompromikan?" Materi ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.


Ringkasan:

Dalam mencari pasangan hidup acap kali kita diperhadapkan dengan pertanyaan, "Sejauh manakah seharusnya kita mengkompromikan standar? Hal-hal apakah yang dapat kita kompromikan dan hal-hal apakah yang tidak dapat kita kompromikan?"

Hal-Hal yang Tidak Dapat Kita Kompromikan:

  1. Apakah ia sungguh-sungguh mencintai Tuhan? Ini adalah masalah kepatuhan pada firman Tuhan, bukan masalah pilihan atau preferensi. Cintanya kepada Tuhan akan membuatnya lebih terbuka terhadap pimpinan Tuhan, misalnya untuk meminta maaf, untuk bermurah hati, untuk bertanggung jawab terhadap keluarganya, dan untuk hidup kudus dan benar.

  2. Apakah ia sungguh-sungguh mencintai kita? Bedakan antara ucapan dan perbuatan; mengatakan cinta tidak sama dengan mengorbankan diri demi cinta. Berapa relanya ia mendahulukan kepentingan kita di atas kepentingan hal dan orang lain. Juga pantau perkembangan cintanya lewat proses waktu: Apakah cintanya makin luntur atau makin kuat? Apakah makin hari makin berharga kita diperlakukannya?

Hal-Hal yang Dapat Dikompromikan:

  1. Penampilan fisik. Meski bisa dikompromikan namun mesti tetap ada unsur ketertarikan.

  2. Pendidikan. Yang lebih penting daripada pendidikan adalah kesamaan minat dan tingkat inteligensia. Kedua hal ini akan mempengaruhi komunikasi dan pada akhirnya, keintiman.

  3. Kekayaan. Yang lebih penting daripada kekayaan adalah kerajinan dan tanggung jawab.

  4. Keromantisan. Yang lebih penting daripada keromantisan adalah persahabatan. Dapatkah kita berkata bahwa dia adalah sahabat kita di atas fakta bahwa dia adalah kekasih kita?

Prinsip Umum

  1. Pilihlah yang terbaik. Jangan terlalu mudah mengkompromikan nilai karena desakan orang, desakan usia, atau desakan pasangan sendiri. Pernikahan merupakan keputusan yang penting dan akan mempengaruhi hidup kita untuk kurun yang panjang, jangan cepat-cepat menurunkan standar. Berikanlah yang terbaik untuk diri sendiri.

  2. Fokuskan bukan hanya pada kuantitas kelemahannya tetapi juga kualitas kelemahannya. Lihatlah aspek yang buruk pada pasangan kita dan bertanyalah, "Seberapa buruknyakah hal itu?" Satu hal yang teramat buruk akan dapat merusakkan aspek positif lainnya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Mencari yang Ideal", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, sekalipun banyak orang yang berkata bahwa jodoh dari Tuhan, tetapi faktanya kita juga perlu berusaha untuk mendapatkannya. Nah di dalam rangka mendapatkan itu tentunya setiap orang punya idealnya sendiri-sendiri, sebenarnya apa yang bisa dikategorikan sebagai ideal itu Pak Paul?

PG : Biasanya begini Pak Gunawan, kita ini mempunyai kriteria seperti apakah istri atau suami yang kita dambakan. Nah biasanya nanti kita bertemu dengan seseorang, kalau kita mendapatkan yang ssuai dengan kriteria yang kita miliki kita bisa berkata kita telah mendapatkan yang ideal dan sesuai dengan yang kita inginkan.

Tapi duduk masalahnya adalah adakalanya kita bertemu dengan seseorang yang memenuhi beberapa kriteria, tetapi tidak memenuhi beberapa kriteria lainnya. Nah kadang-kadang kita bingung ini yang mana yang harus kita pilih, kriteria yang mana yang bisa kita kesampingkan, kriteria yang mana yang harus kita pertahankan. Dan biasanya inilah pergumulan yang harus kita hadapi.
GS : Nah Pak Paul, kita sebagai orang yang beriman, yang percaya kepada Tuhan Yesus itu apakah ada kriteria-kriteria tertentu yang sifatnya memang mendasar, Pak Paul?

PG : Saya kira yang tidak boleh kita kompromikan sekurang-kurangnya ada dua Pak Gunawan. Yang pertama adalah yang memang bersifat rohani yang tadi Pak Gunawan sudah singgung, yaitu kita mesti brtanya apakah pasangan saya sungguh-sungguh mencintai Tuhan.

Nah bagi saya ini adalah hal yang mendasar dan sangat penting, saya tahu atau saya juga memahami bahwa bagi sebagian orang ini bukan hal yang terlalu penting, tapi kita sebagai orang yang beriman, kita percaya pada Tuhan Yesus kita mesti menaati perintah-Nya sebab ini adalah perintah Tuhan, ini bukannya pilihan kita, kesukaan kita, preferensi kita, nah jadi kita harus bertanya apakah dia sungguh-sungguh mencintai Tuhan.
WL : Berarti tidak semua orang Kristen ya, karena tidak semua orang Kristen mencintai Tuhan sungguh-sungguh. Nah pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengetahuinya Pak Paul, sebab waktu pacaran otomatis yang ditampilkan itu yang baik-baik?

PG : Saya kira salah satu hal yang bisa kita perhatikan adalah kita bisa melihat apakah orang itu mendahulukan Tuhan, apakah orang itu dalam pertimbangannya, dalam tindakannya memikirkan tentan kehendak Tuhan.

Kalau dia selalu melakukan hal-hal yang dia ingin lakukan tanpa mempertimbangkan kehendak Tuhan saya kira memang tidak ada cinta pada Tuhan sebab cinta pada Tuhan berarti mendahulukan Tuhan, ingin tahu apakah kehendak Tuhan nah itu saya kira salah satu bentuk nyatanya bahwa kita itu mencintai Tuhan.
GS : Pengertian di sana Pak Paul, mencintai Tuhan itu apakah harus orang yang kelihatan aktif di gereja atau apa Pak Paul?

PG : Tidak sama sekali Pak Gunawan, nah memang kadang kala kita bisa terpedaya oleh penampilan-penampilan seperti itu, saya kira itu bukan ukuran, itu bukan kriteria. Yang menjadi kriteria memag haruslah sesuatu yang lebih personal, lebih pribadi misalkan saya berikan contoh dia akan lebih terbuka terhadap pimpinan Tuhan, dia juga lebih bersedia misalnya meminta maaf kalau dia salah, dia lebih bermurah hati kepada orang yang kurang, dia bertanggung jawab terhadap keluarganya dan dia ingin hidup kudus dan benar, itu adalah ciri-ciri orang yang mencintai Tuhan dan itulah yang seharusnya kita cari pada pasangan kita apakah dia memiliki kriteria itu.

Apakah orang yang mencintai Tuhan adalah orang yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan, belum tentu, apakah orang itu pasti cocok dengan kita, belum tentu, kita harus juga mempertimbangkan faktor-faktor lainnya. Tapi saya kira ini faktor mendasar, kalau orang mencintai Tuhan dia terbuka terhadap suara Tuhan dan terbuka terhadap apa yang Tuhan kehendaki. Jadi meskipun kadang-kadang terlibat pertengkaran misalnya, tapi kalau dia tahu dia harus berinisiatif berdamai dengan pasangannya, dia akan lebih bersedia berdamai dengan pasangannya. Tapi orang yang mengeraskan hati, tidak peduli dengan kehendak Tuhan dia tidak juga merasakan dorongan untuk misalkan berinisiatif berdamai dengan pasangannya. Jadi intinya adalah ini penting sekali, jangan sampai kita tidak menggunakan kriteria ini.
GS : Tapi untuk mengetahui kriteria itu jelas dibutuhkan waktu yang agak panjang Pak Paul, melalui kita berinteraksi dengan dia, pergi bersama, ngomong-ngomong itu baru kemudian kita bisa sedikit tahu tentang dia.

PG : Saya setuju, jadi hal-hal ini tidak bisa terlihat dalam waktu sekejap, kita harus melalui proses waktu dan bersama dengan dia akhirnya kita makin menyadari apakah orang ini memiliki kwalits-kwalitas seperti yang Tuhan inginkan.

GS : Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa memang dia kerohaniannya belum setinggi saya itu mungkin Pak Paul, lalu dia berpandangan nanti kalau sudah menikah saya akan bimbing dia begitu.

PG : Saya kira pikiran seperti itu pikiran yang baik yaitu kita ingin membantu, menolong pasangan kita, tapi intinya adalah kita sebaiknya memilih pasangan yang setara dengan kita. Kita menikahbukannya untuk membimbing pasangan kita, kita menikah itu untuk saling mengisi, saling membantu menghadapi hidup ini, jadi kalau nantinya kita harus membantu pasangan kita ya tidak apa-apa tapi dari awalnya janganlah itu menjadi motivasi pertama.

WL : Pak Paul, katakanlah orang yang diidam-idamkan, yang ideal ini akhirnya kita temukan walaupun sudah susah, kita doakan. Eh........tidak tahunya orang itu tidak suka dengan kita Pak Paul?

PG : Seperti itu kita harus terima, jadi kalau memang ini harus timbal balik jadi kalau memang tidak ada tanggapan ya sudah berarti memang bukan.

WL : Berarti kriteria selanjutnya apa Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah ini, kita mesti bertanya apakah dia sungguh-sungguh mencintai kita. Nah ini kriteria yang tidak boleh kita kompromikan. Jadi yang harus kita lakukan adalah membedakan antra ucapan dan perbuatan, yang kita ingin dengar atau kita ingin lihat bukanlah perkataannya saya mencintai engkau, tapi perbuatannya.

Apakah misalkan dia rela mengorbankan dirinya demi cintanya kepada kita, apakah dia rela mendahulukan kita dalam kehidupannya, apakah dia rela mendengarkan keluh kesah kita, permintaan kita, apakah dia memikirkan kepentingan kita dan bukan hanya kepentingan dirinya. Nah itu adalah hal yang bisa kita lihat, selain itu saya kira kita bisa juga mengukur dari segi kadar, melewati proses waktu apakah cintanya makin luntur atau makin kuat. Nah jangan sampai setelah kita berpacaran dengan dia setahun kok kita merasakan justru cintanya kepada kita makin luntur. Nah kalau itu yang terjadi kita mesti bertanya apakah dia sungguh-sungguh mencintai kita, sebab seyogyanya dengan berjalannya waktu cinta makin berakar, memang mungkin tidak terlalu berbunga-bunga tapi makin berakar, dia makin serius dengan kita, makin benar-benar menghargai kita bahwa kita barang yang berharga buat dia.
WL : Berarti sebaiknya jangan menikah buru-buru Pak Paul, kira-kira menurut Pak Paul berapa tahun sebaiknya masa berpacaran itu?

PG : Secara umum saya kira sebaiknya sekurang-kurangnya setahun dan tinggal di kota yang sama, di letak geografis yang sama. Jadi setahun itu bukan yang satu di kota yang mana yang satu di kotayang lainnya.

Jadi sekurang-kurangnya setahun kalau bisa lebih saya kira lebih baik antara misalnya dua hingga tiga tahun. Karena banyak hal tidak terlihat kalau kita tidak bersamanya.
GS : Mengenai pernyataan, tindakan-tindakan cinta Pak Paul, itu sering kali pada saat berpacaran memang kelihatannya memang bagus sekali, dia mau berkorban, dia mau mengalah, dia mau menuruti apa keinginan kita, tetapi apakah itu sudah mencerminkan yang sesungguhnya?

PG : Itu sebabnya diperlukan waktu Pak Gunawan, sebab memang kalau misalkan hanya tiga, empat bulan cinta masih hangat-hangatnya akan banyak hal-hal yang mulia yang dia akan lakukan demi cintana kepada kita.

Tapi misalkan sudah berjalan dua tahun apakah dia masih melakukan hal yang sama. Penurunan mungkin akan ada, saya kira itu wajar tapi tidak sampai misalnya mengabaikan, tidak mempedulikan lagi. Jadi kalau sudah berpacaran misalkan selama dua tahun kita merasa dia itu makin tidak peduli dengan kepentingan kita, dengan pertimbangan kita, atau makin tidak menghargai pandangan kita, makin mengabaikan perasaan kita nah itu adalah saya kira sinyal-sinyal yang kita harus tangkap dan kita harus tilik apakah sungguh-sungguh dia mencintai kita, sebab kalau dia sungguh-sungguh mencintai kita, cintanya itu seharusnya konsisten jangan sampai turun sebegitu jauhnya.
GS : Pak Paul baru saja memberikan kriteria yang tidak bisa dikompromikan yaitu mencintai Tuhan dan mencintai kita. Kalau begitu apakah sebenarnya ada hal-hal yang bisa dikompromikan?

PG : Ada Pak Gunawan, ada beberapa yang bisa saya paparkan. Pertama adalah penampilan fisik, jadi penampilan fisik itu saya kira masih boleh kita turunkan, kita kompromikan. Tapi tetap saya hars tekankan mesti ada unsur ketertarikan.

Kita tidak bisa hidup dengan seseorang yang kita itu sebel melihat dia itu, sebel melihat wajahnya kita bukan saja tidak tertarik tapi tidak suka, tidak bisa. Kita memang bisa turunkan atau kompromikan hal penampilan fisik ini, tapi tetap harus ada unsur ketertarikan. Saya senang sekali dengan penguraian dari Josh McDowell seorang hamba Tuhan yang menguraikan bahwa cinta dalam relasi suami-istri seharusnya mencakup ketiga aspek cinta yang dipaparkan oleh bahasa Yunani. Yaitu adanya unsur agape yaitu cinta yang berkorban tanpa kondisi, tanpa syarat, cinta phileo cinta persahabatan di antara teman dan yang ketiga adalah cinta eros yaitu ketertarikan jasmaniah. Nah jadi meskipun pasangan kita itu tidak secantik atau setampan yang kita dambakan, tapi kita mesti memiliki ketertarikan terhadap penampilan fisiknya.
WL : Bagaimana dengan yang dijodohkan Pak Paul?

PG : Ya dalam kasus itu seperti, saya masih ingat nenek saya, nenek menikah dengan kakek saya tidak pernah melihat satu sama lain sampai hari pernikahan mereka, mereka pada saat itu dipaksa untk menikah, dijodohkan.

Mereka menikah sampai meninggal dunia karena memang struktur masyarakat sangat kuat saat itu dan tidak ada ruang bagi pilihan pribadi di situ, jadi orang menerima apa adanya dan tidak mempertanyakan. Tapi sekarang kita hidup di jaman yang berbeda di mana ruang untuk bertanya diberikan oleh masyarakat dan oleh budaya, tapi saya kira konsep itu mungkin sulit diterima oleh kebanyakan orang sudah kuno jadi susah, kalau tidak menyukai ya susah untuk tinggal bersamanya.
GS : Ya dari segi fisik ini saya juga mengamati perlunya kita sendiri tidak merasa malu kalau berjalan dengan dia, Pak Paul.

PG : Itu point yang baik Pak Gunawan, jangan sampai kita malu keluar dengan dia jadi kita harus sembunyikan dia di rumah kita terus-menerus. Jadi kita mesti ada rasa bangga berjalan dengan dia an itu memang penting.

GS : Selain penampilan fisik apa Pak Paul?

PG : Pendidikan, ini kadang-kadang menjadi kriteria ya bagi sebagian orang, misalnya harus pendidikan sarjana dan sebagainya. Saya kira itu tidak harus, yang penting atau yang lebih penting darpada pendidikan adalah kesamaan minat dan tingkat intelegensia.

Kesamaan minat ini adalah faktor yang mengikat kita kalau kita mempunyai kesamaan minat dengan pasangan kita, kita lebih mudah intim dengan dia karena akan banyak hal-hal yang kita kerjakan bersama, lakukan bersama. Istri saya dan saya senang menonton tembang kenangan setiap hari Minggu malam, dan setiap Minggu malam itulah acara kami, kami akan duduk berdua, berjanji bersama menonton dan menikmati saat-saat itu. Kami berdua juga senang bernyanyi jadi kadang-kadang kami bernyanyi, bermain piano dan sebagainya. Jadi kesamaan minat memang mengikat kita dan itu lebih penting daripada pendidikan. Dan juga tingkat intelegensia, tidak semua orang berkesempatan bersekolah tinggi tapi sebagian dari kita meskipun tidak bersekolah tinggi, kita memiliki tingkat kepandaian yang baik, kita cukup berpengetahuan luas sehingga bisa menolong kita untuk bergaul dengan semua orang pada segala lapisan sehingga kita tidak merasakan nantinya kita di bawah orang lain.
WL : Pak Paul, saya setuju sekali dengan pendapat Pak Paul, cuma saya sering mendengar pendapat yang sangat berbeda Pak Paul, justru ada orang-orang tertentu mencari pasangan orang yang berbeda sekali, dengan alasan saling melengkapi. Dan ternyata langgeng Pak Paul?

PG : Memang kalau perbedaan itu bisa diterima sebagai pelengkap, betul hubungan itu akan intim. Tapi ada satu hal yang perlu kita juga sadari perbedaan itu menuntut penyesuaian. Jadi semakin bayak perbedaan semakin banyak penyesuaian yang harus dilakukan, ini yang juga menjadi suatu kesimpulan dari seorang pakar pernikahan yang bernama Norman Wright dia berkata begitu.

Memang perbedaan bisa melengkapi tetapi dia juga mengingatkan perbedaan menuntut penyesuaian. Jadi ada penyesuaian yang mudah kita lakukan tetapi ada penyesuaian yang susah untuk kita lakukan, yang mudah-mudah bisa kita lewati, tapi yang susah-susah akan menuntut lebih banyak usaha dan kalau tidak berhasil menimbulkan pertengkaran. Nah yang dikatakan oleh Norman Wright adalah kesamaan sebetulnya justru yang akan lebih mengikatkan orang.
GS : Nah dari faktor pendidikan ini Pak Paul, kalau kesenjangannya ini terlalu jauh misalnya yang satu sarjana, yang satu SD, apakah itu tidak menjadikan masalah?

PG : Secara teoritis menjadikan masalah, tapi secara faktanya belum tentu. Ada orang-orang yang memang tidak berkesempatan bersekolah tinggi tapi berpikiran sangat luas. Sebagai contoh Pak Gunaan, beberapa kali saya naik taxi dan berbincang-bincang dengan pengemudi taxi dan saya cukup terkejut dengan pengetahuan sopir taxi ini, yang kemungkinan besar hanya misalnya lulusan SMP atau SMA.

Saya pernah juga ngomong-ngomong dengan seorang pemilik warung, nah dia juga tidak bersekolah tinggi tapi pengetahuannya sangat luas. Dia membaca dengan sangat banyak, dan cukup mengejutkan saya anak-anaknya disekolahkan di universitas, jadi ada orang-orang yang seperti itu. Jadi yang penting memang kesamaan minat dan tingkat intelengensia, pengetahuan yang luas itu. Nah itu menjadi modal komunikasi antara kita dan pasangan, nah komunikasi nyambung berarti itu adalah bonus untuk keintiman.
GS : Selain kedua faktor itu yang bisa kita kompromikan, apakah masih ada lagi Pak Paul?

PG : Yang lain adalah kekayaan, saya kira ini bisa kita kompromikan. Sudah tentu ada orang-orang yang dengan sengaja mencari pasangan hidup yang mapan secara ekonomi, apakah salah ya tidak salah. Saya kira sedikit orang di dunia ini yang siap untuk hidup susah, lebih banyak orang yang sebetulnya siap untuk hidup senang. Jadi tidak apa-apa pikiran seperti itu, namun jangan sampai itu menjadi patokan. Sebab ada banyak hal yang lebih penting daripada kekayaan atau kemampuan ekonomi. Salah satu hal yang lebih penting daripada kekayaan adalah kerajinan dan tanggung jawab. Ada orang yang kaya karena orang tuanya kaya, tapi kalau kita melihat dia tidak bertanggung jawab, malas, saya kira itu bukan pasangan yang kita perlu pertimbangkan. Tapi misalkan dia tidak terlalu kaya, dia orang yang biasa-biasa tapi pekerja keras, bertanggung jawab nah itu calon yang lebih baik menurut saya. Jadi modal seperti itulah yang kita mau cari dan itu jauh lebih penting daripada kemapanan ekonominya sekarang ini.

WL : Pak Paul, di kalangan anak muda ada slogan seperti ini, kalau mencari pasangan zaman sekarang ini tidak usah mencari yang kaya, yang penting pribadinya. Mobil pribadi, rumah pribadi, helikopter pribadi seperti itu Pak Paul.

PG : Ya saya kira itu manusiawi, saya tadi sudah singgung kita ingin hidup senang, ya kita tahu dengan adanya harta kita bisa membeli kesenangan-kesenangan itu tapi itu hal yang bisa kita komprmikan sebab yang lebih penting daripada kekayaan adalah tanggung jawab dan kerajinan.

GS : Biasanya kadang-kadang dari pihak orang tua Pak Paul, tidak mau anaknya itu menikah dengan orang yang kekayaannya tidak sepadan atau malah lebih rendah dari dia.

PG : Ya saya bisa mengerti, sekali lagi orang tua memikirkan kepentingan anak, masa depan anak jadi mempertimbangkan faktor kekayaan ini. Namun saya sudah bertemu Pak Gunawan dengan kasus-kasusyang seperti ini yaitu seseorang menikah dengan pasangan yang memang berada, beruang karena orang tuanya kaya.

Tapi setelah menikah beberapa tahun, bermasalah sekali karena kenapa bermasalah karena suaminya ini memang tidak bisa bekerja, tidak bertanggung jawab, malas dan itu menimbulkan masalah dalam keluarga.
GS : Kira-kira ada faktor lain Pak Paul yang bisa dikompromikan?

PG : Satu hal lagi yang bisa saya kemukakan ialah keromantisan. Nah ini biasanya yang diminta oleh wanita, tapi sebagian pria juga mendambakan istri yang romantis. Saya kira ini bisa dikompromian, saya mengatakan ini bukan karena saya sendiri orang yang kurang romantis ya istri saya sering kali mengeluhkan hal ini, ada yang lebih penting daripada keromantisan yaitu persahabatan.

Bisakah kita berkata bahwa dia adalah sahabat kita, di atas fakta bahwa dia adalah kekasih kita. Saya kira ini penting sebelum menjadi kekasih, dia menjadi sahabat jangan sampai kebalik, dia menjadi kekasih kita terus kita berusaha keras mencocokkan diri menjadi sahabat kita, oh tidak, seharusnya dia menjadi sahabat dulu akhirnya berkembang menjadi kekasih kita. Dia mungkin kurang romantis, tapi dia teman yang baik, teman bicara, membagi rasa, saling menolong, bisa memahami kita, mendahulukan kita, mengasihi kita, saya kira itu yang lebih penting daripada tindakan-tindakan romantis mengajak kita makan malam dengan lilin terang dan sebagainya, itu boleh dan silakan lakukan sekali-sekali tapi jangan jadikan itu syarat.
WL : Pak Paul, saya mempunyai beberapa teman tidak cuma satu, dua pasang, sudah pacaran sekitar 7 sampai 8 tahun tapi setelah itu putus, bubar begitu. Orang lain bingung di luar nampaknya mereka sudah bisa bertahan sekian lama berarti bisa menerima faktor-faktor tadi, eh......tahu-tahunya begitu saja putus, membingungkan sekali Pak Paul.

PG : Kalau kita berpacaran sampai 7, 8 tahun memang kita itu memasuki daerah yang sangat berbahaya, sangat rawan yaitu apa? Pada masa 7, 8 tahun kita sudah mengenal pasangan kita sangat dekat. rtinya kita sudah tahu kekuatan dan kelemahannya dan sudah tentu kelemahan hal yang tidak kita sukai.

Nah kalau sudah 7, 8 tahun berpacaran tapi belum menikah berarti ikatan itu tidak ada, nah waktu melihat kekurangan-kekurangan itu kita tergoda sekali untuk melepaskan diri dari hubungan tersebut dan tidak ada ikatan saat itu jadi memang masih bisa lepas. Maka saya anjurkan jangan berpacaran sampai 7, 8 tahun sebab setelah 2, 3 tahun mesti ada ikatan yang kuat nah ikatan itulah yang menolong orang untuk berkata ya saya tidak suka, ya ada perbedaan ini tapi saya harus mencocokkan diri atau menoleransi atau mengubahnya.
GS : Itu faktor kebosanan juga Pak Paul ya kalau terlalu lama.

PG : Bisa, betul, maka perlu ikatan itu yaitu ikatan nikah.

GS : Pak Paul, kalau begitu pasti ada suatu prinsip-prinsip umum yang bisa kita jadikan pedoman di dalam memilih yang ideal ini Pak?

PG : Ada dua yang akan saya bagikan Pak Gunawan. Yang pertama pilihlah yang terbaik. Saya selalu mengingatkan orang yang lagi bergumul memilih pasangannya karena pasangannya banyak kekurangan ii itu dan sebagainya.

Saya katakan engkau berhutang kepada diri sendiri untuk memberikan yang terbaik, jadi sebisanya cari yang terbaik. Jangan terlalu mudah mengkompromikan nilai karena desakan orang, orang-orang berkata ini itu atau desakan usia atau desakan pasangan sendiri kenapa kamu tidak menerima saya dan sebagainya, jangan. Pernikahan merupakan keputusan yang penting dan akan mempengaruhi hidup kita untuk kurun yang panjang jadi jangan cepat-cepat menurunkan standar, nah ini pesan saya yang pertama prinsipnya.
WL : Penginnya begitu Pak Paul, tapi banyak terutama wanita kalau sudah usia tertentu kekhawatirannya menjadi bertambah besar. Terus sering keluar omongan seperti ini, saya ini sudah "diobral" tapi ya tetap tidak laku-laku, begitu Pak Paul.

PG : Saya sudah melihat orang yang menderita karena pernikahan yang buruk, saya juga sudah melihat orang yang menderita karena tidak menikah kesepian. Tapi harus saya katakan, orang yang lebih enderita adalah orang yang menderita dalam pernikahannya.

Jadi lebih baik kalau memang tidak ketemu dan terlalu jauh di bawah standar jangan, kita berhutang untuk memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.
GS : Prinsip yang kedua apa Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah fokuskan bukan hanya pada kwantitas kelebihannya, tapi juga kwalitas kelemahannya. Jadi kita melihat aspek yang buruk pada pasangan kita dan kita perlu bertanya seberapa uruknyakah hal itu, ingat satu hal prinsip yang teramat buruk akan dapat merusakkan aspek positif lainnya.

Misalkan kita berkata o....dia baik kok, kelemahannya hanya satu, apa? Kalau lagi marah memukul. Nah itu bukan hanya satu itu benar-benar masalah yang besar dan akan mempengaruhi segala aspek dalam relasi kita jadi lihat kwalitas keburukan itu, seberapa buruknya.
WL : Bagaimana Pak Paul, kalau orang itu mempunyai kecenderungan saviour syndrome jadi justru ingin menolong, saya ini yang bisa menolong yang lain tidak.

PG : Sekali lagi saya akan ingatkan bahwa pernikahan bukanlah suatu relasi untuk menyelamatkan orang, pernikahan ini hal yang memang dua belah pihak harus seimbang, setara saling mengisi, membeikan.

Jadi jangan sampai kita terjebak dengan keinginan tersebut.
GS : Jadi kalau hanya faktor kasihan segala itu lebih baik dipikirkan ulang Pak Paul? (PG: Setuju). Pak Paul segala yang kita bicarakan yang Pak Paul sampaikan tentu mmepunyai dasar Alkitab yang bisa kita pegang di dalam kehidupan ini.

PG : Saya akan dasarkan ini pada Amsal 20:12 "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat." Jadi saya boleh gunakan juga perkataan yang brbeda di sini, rancangan pernikahan terlaksana oleh pertimbangan jadi menikahlah dengan siasat.

Artinya pikirkan baik-baik, pertimbangkan baik-baik, semakin matang pertimbangan semakin lebih tinggilah keberhasilan pernikahan kita.
GS : Ada kekhawatiran semakin ditimbang semakin ragu Pak dia melangkah.

PG : Tidak ada yang sempurna tapi carilah yang mendekati.

GS : Tentu apa yang sudah kita perbincangkan kali ini tentu sangat bermanfaat bagi para muda yang dengan setia mengikuti acara ini, jadi terima kasih sekali Pak Paul dan Ibu Wulan untuk perbincangan yang menarik ini. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mencari yang Ideal". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



29. Dampak Kekudusan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T135B (File MP3 T135B)


Abstrak:

Seks adalah bagian kodrati dari kemanusiawian kita dan sebagaimana aspek lainnya, seks pun mencari pengekspresiannya. Masa berpacaran adalah masa yang rawan terhadap pengekspresian seksual, itu sebabnya melalui bagian ini kita diajak untuk lebih mencermati masalah ini.


Ringkasan:
"Dampak Kekudusan pada Pernikahan" oleh Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Pernikahan didirikan di atas tiga tonggak: percaya, respek, dan kasih. Ketiganya terpisah sekaligus terkait sehingga kehilangan salah satu di antaranya akan menimbulkan goncangan pada relasi. Kekudusan bertalian erat dengan percaya, respek, dan cinta. Kehilangan kekudusan pada masa pranikah akan berdampak pada pernikahan, sebaliknya kekudusan sebelum pernikahan akan memperkokoh kerangka pernikahan. Berikut akan dipaparkan hubungan di antara ketiga unsur ini.

Seks dan Cinta Kita tahu bahwa Tuhan melarang hubungan seksual di luar pernikahan (Keluaran 20:14). Alkitab memanggilnya, perzinahan. Namun kita pun tidak mudah untuk menguasai gejolak seksual, terutama pada masa berpacaran. Selain dari gejolak yang bersumber dari tubuh itu sendiri, sesungguhnya dorongan seksual berkaitan erat dengan cinta.

Cinta selalu mencari penyempurnaannya dalam keintiman dan kita tahu bahwa keintiman tertinggi adalah penyatuan. Seks adalah ekspresi cinta dan juga simbol penyatuan dua individu. Itu sebabnya dalam kondisi mencintai, kita akan menjumpai dorongan kuat untuk menyatu.

Sungguhpun demikian ada sesuatu yang terjadi tatkala seks dilakukan di luar nikah. Di dalam pernikahan dampak seks ialah menyatukan, tetapi di luar nikah dampak seks adalah menguasai. Di sini kita melihat adanya penyimpangan. Sekilas keduanya (menyatu dan menguasai) tampak sama namun pada hakikinya tidaklah demikian. Menyatu didasari atas cinta sedangkan menguasai didasari atas takut kehilangan. Takut kehilangan yang dibawa masuk ke dalam pernikahan akan berdampak negatif

Seks dan Percaya Saling percaya adalah tonggak pernikahan yang mutlak harus ada; tanpa percaya, tidak akan ada pernikahan sejati. Seks di dalam pernikahan seyogianya makin mengokohkan saling percaya sebab seks merupakan keterbukaan dan kerentanan pada puncaknya.

Satu hal yang menarik terjadi ketika seks dilakukan di luar nikah. Ternyata di luar nikah seks bukan memperkuat rasa percaya tetapi justru mengeroposkannya. Sewaktu sesuatu yang tidak seharusnya diberikan, diberikan kepada seseorang, dampaknya pada diri kita adalah kita kehilangan kepercayaan kepadanya. Seolah-olah dengan dia mengambil sesuatu yang tidak seharusnya diambil (meski dengan persetujuan kita), dia telah melakukan kesalahan dan mengkhianati kepercayaan kita kepadanya.

Sebaliknya bila kita dapat menjaga kekudusan pada masa berpacaran, maka rasa percaya akan menguat. Sesuatu yang tidak seharusnya diambil, tidak diambil; sebagai akibatnya rasa percaya kita pun makin bertumbuh.

Seks dan Respek Respek pada diri maupun pasangan cenderung menurun drastik setelah melakukan hubungan seks sebelum pernikahan. Kendati kita mungkin berpandangan bahwa seks adalah kontak fisik semata, pada kenyataannya tatkala seks dilakukan-apalagi dengan mudah-respek terhadap pasangan merosot. Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa seks berkaitan erat dengan penghargaan diri.

Namun masalahnya lebih jauh dari itu. Bukan saja seks sebelum nikah mengerosi respek terhadap pasangan, seks sebelum nikah juga mengurangi respek terhadap diri sendiri. Sekonyong-konyong kita melihat diri kurang bernilai, bahkan murah. Reaksi ini, tidak bisa tidak, mempengaruhi relasi kita. Kesimpulan Tuhan melarang perzinahan untuk kebaikan kita. Ia menghendaki kita untuk saling mengasihi, percaya, dan menghormati satu sama lain. Inilah desain Tuhan untuk kita. Itu sebabnya Ia berfirman, "Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus." (Imamat 19:2)


Transkrip:

"Dampak Kekudusan pada Pernikahan" oleh Pdt.Dr.Paul Gunadi

Lengkap

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun anda berada, anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dampak Kekudusan pada Pernikahan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Judul ini mungkin kurang populer, tapi ternyata sangat penting untuk dibicarakan, karena kekudusan menentukan mutu dari hidup pernikahan, Pak Paul. Tapi bagaimana dampak kekudusan ini di dalam pernikahan itu sendiri, Pak Paul?

PG : Yang Pak Gunawan katakan betul sekali, yaitu topik ini sekarang menjadi topik yang langka dan makin banyak orang yang beranggapan "Kenapa tidak boleh berhubungan seksual sebelum pernikahan Bukankah ini merupakan wujud cinta dan bukankah ini hanyalah kontak fisik dan tidak ada kaitannya dengan kerohanian serta Tuhan".

Dengan makin melonggarnya nilai-nilai ini saya kira sudah waktunya kita kembali melihat tentang kekudusan dalam masa-masa berpacaran. Ternyata kekudusan ini sangat mempengaruhi tiga tonggak pernikahan. Pernikahan itu didirikan diatas tonggak kasih/cinta, tonggak percaya dan tonggak respek. Ketiganya ini sekilas tampaknya tidak berkaitan dengan kekudusan, apa kaitannya pada masa-masa sebelum menikah? Nanti kita akan lihat bahwa kekudusan berpengaruh besar sekali terhadap tiga tonggak ini. Dengan kata lain saya bisa menyimpulkan kalau pada masa berpacaran kita tidak menjaga kekudusan, nantinya akan mempengaruhi tonggak-tonggak pernikahan dan sudah pasti nantinya akan mempengaruhi pernikahan itu sendiri.
GS : Pengertian kekudusan ini bukan hanya karena kontak fisik artinya berhubungan seksual sebelum menikah, tetapi juga melihat gambar-gambar porno dan sebagainya, itu juga akan sangat berpengaruh, Pak Paul?

PG : Betul sekali. Jadi kita memang mementingkan sebuah kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan baik yang nyata dilihat orang atau pun yang kita lakukan. Jadi kekudusan bukan hanya di mata mansia tapi terutama di hadapan Tuhan.

GS : Bagaimana hubungan antara, misalnya hubungan seksual dengan cinta sendiri?

PG : Begini Pak Gunawan, pertama saya mau mengatakan saya mengerti bahwa pada masa berpacaran, menjaga kekudusan itu tidak mudah karena begitu kuatnya dorongan-dorongan seksual dalam diri kita,dan sekarang ada orang di sebelah kita.

Jadi kita mempunyai partner atau rekan dimana kita bisa mudah sekali terjebak di dalam hubungan seksual. Jadi saya mengerti ini gejolak yang susah ditangani. Namun kita perlu bisa mengatasinya karena memang nantinya akan berkaitan dengan hal cinta. Kita tahu ujung dari cinta ialah menemukan bentuk sempurnanya pada keintiman dan keintiman yang paling puncak adalah penyatuan. Itu sebabnya cinta selalu bergerak dari keterpisahan menuju kepada kesatuan, itulah pergerakan cinta. Jadi kalau kita mencintai seseorang memang pergerakan kita adalah menuju kepada penyatuan keintiman yang sempurna yaitu penyatuan. Kita tahu bahwa secara simbolik penyatuan antara kedua pribadi dalam pernikahan itu dilambangkan dalam hubungan seksual. Itu sebabnya pada masa berpacaran tatkala kita bersama dengan orang yang kita cintai, kita ingin sekali untuk intim dengannya dan akhirnya bersatu dengannya. Ini yang dilarang oleh perintah Tuhan sebab Tuhan dengan jelas memanggil hubungan seksual di luar pernikahan sebagai perzinahan, Keluaran 20:14 memuat hukum Tuhan, "Jangan berzinah". Ini yang Tuhan larang dan pertanyaannya adalah apa kaitan dan apa dampaknya? Seyogianya cinta menemukan kesempurnaannya di dalam sebuah keintiman tapi kita melihat ada penyimpangan jikalau kita melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, bukannya menyatu akhirnya yang terjadi justru menguasai, sekali lagi cinta akan mencari bentuk sempurnanya dalam penyatuan tapi kalau kita melakukan hubungan seksual di luar pernikahan bukannya cinta yang saling menyatukan yang nanti kita akan cicipi, justru kebalikannya yang kita akan saksikan adalah upaya-upaya untuk menguasai satu sama lain. Ini yang sering terjadi di dalam masa berpacaran Pak Gunawan, jadi yang satu akan merasa "Saya tidak mau kehilangan kamu, maka saya harus menguasaimu." Jadi akhirnya ujung-ujungnya yang menjadi dasar atau penggerak atau motivasi bukanlah cinta lagi tapi takut, takut kehilangan, "Kamu sudah mengambil dari saya, sesuatu yang sangat berharga, saya tidak boleh kehilangan kamu" maka tindakan-tindakannya adalah berupa menguasai pasangan.
GS : Memang kadang-kadang banyak orang merasa tidak apa-apa di dalam pacaran, "Saya tidak akan melakukan itu". Tapi proses penyatuan itu begitu cepatnya terjadi, jadi mereka katakan, "Aku tidak sadar melakukan ini?" tapi sebenarnya apakah mereka tidak sadar melakukan itu?

PG : Sudah tentu dalam kesadaranlah perbuatan ini dilakukan namun kalau mereka mengatakan "Kami tidak merencanakannya!" itu saya percaya. Sebab tadi sudah saya singgung gejolak seksual memang bgitu kuat dan pada masa berpacaran kita memang mencintai dan cinta memiliki kadar yang hangat maka keinginan untuk intim dan bersatu begitu kuat sekali, namun kita mesti menjaganya sebab reaksi yang biasanya muncul setelah hubungan seksual pada masa berpacaran adalah takut, takut kehilangan sebab kita telah memberikan yang belum semestinya diberikan akhirnya kita mau menjaga agar pasangan kita tidak kemana-mana, akan terus setia kepada kita sebab dia harus bertanggungjawab.

Sehingga akhirnya relasi cinta yang seharusnya menumbuhkan relasi dengan lebih alamiah, cinta bertumbuh dengan lebih alamiah tidak lagi bertumbuh alamiah. Cinta tiba-tiba disusupi oleh rasa takut yang tadinya mau menyatukan malahan desakannya kuat sekali, lebih agresif ingin menguasai. Dengan kata lain, pertumbuhan relasi cinta itu sudah terkontaminasi.
GS : Tapi yang ingin menguasai bukan dari pihak wanita yang dikatakan telah kehilangan kesuciannya itu tadi, tapi juga dari pihak pria yang melakukannya, dia merasa sudah menguasai partnernya?

PG : Tepat sekali. Jadi bukan dialami oleh si wanita saja sebab ini juga sering dialami oleh si pria karena dia merasa "Sekarang engkau saya punya, saya telah menidurimu" dan dia telah menikmatnya sehingga dia tambah ingin menguasai pasangannya, jangan sampai kemana-mana.

Jikalau relasi berkembang ke arah itu, itu sangat tidak sehat sebab bukankah dalam masa berpacaran kedua orang ini seyogianya saling melihat kecocokan, saling menyesuaikan diri sehingga akhirnya dua individu bisa menyatu yang berbeda latar belakangnya. Namun kalau sudah ada susupan ketakutan mau menguasai dan sebagainya, tidak bisa tidak upaya menyesuaikan yang seharusnya itu berlangsung secara alamiah terganggu. Kadang kita melihat tidak cocok, kadang kita disadarkan hal ini tidak seharusnya kita teruskan tapi karena sudah berhubungan seksual kita takut kehilangan dia, kita ingin menguasainya dan kita berkata, "Itu mudah, itu bisa selesai sendiri, nanti dalam pernikahan semua itu bisa selesai". Kita mulai meminimalkan perbedaan dan masalah yang ada diantara kita. Bukankah ini berbahaya sekali untuk pernikahan pada akhirnya.
GS : Jadi kalau seseorang mengatakan dia mengasihi partnernya, sebenarnya dia harus mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah?

PG : Betul sekali, justru demi menjaga kesehatan relasi itu sendiri, sebab bukankah nanti merekalah yang memetiknya juga dan seringkali takut kehilangan dan tindakan menguasai kita bawa ke dala pernikahan bukan saja berlangsung pada masa berpacaran tapi kita bawa ke dalam pernikahan.

Jadi akhirnya pola relasi kita sudah terbentuk pada masa berpacaran, pola takut, pola ingin menguasai dan akhirnya tidak aman dan tidak aman. Kalau kita tidak aman, kita menuntut pasangan menciptakan rasa aman itu untuk kita, kita akan membatasi dia, memonitornya, meminta dia memperlakukan kita dengan lebih spesial dan sebagainya karena sudah ada benih tidak aman. Jadi dari sudut cinta saja seks dalam berpacaran sebelum pernikahan memang akan merusakkan dan kerusakannya dibawa sampai nanti ke pernikahan.
GS : Pak Paul, sekarang apa hubungannya seks dengan kepercayaan pada seseorang?

PG : Tadi kita sudah singgung tonggak berikut dalam pernikahan adalah percaya dan kita tahu saling percaya itu mutlak harus ada. Tanpa adanya saling percaya sebetulnya tidak ada pernikahan yangsejati.

Di dalam pernikahan seks justru makin mengokohkan saling percaya sebab bukankah seks itu merupakan puncak keterbukaan kita dan puncak kerentanan kita, apa adanya kita tidak bisa lagi ditutupi atau dilihat oleh pasangan dan dalam keintiman yang paling dalam itu benar-benar kita akan membuka diri. Dan di dalam kondisi seperti itulah kerentanan dan keterbukaan sehingga kepercayaan makin dipupuk sebab kita hanya bisa memberi diri serentan dan seterbuka itu pada orang yang kita percaya. Makin kita bisa melakukannya dan mendapatkan yang kita inginkan dengan baik, makin tumbuhlah rasa percaya itu. Ternyata kalau kita lakukan itu di luar pernikahan misalnya pada masa berpacaran maka efeknya justru kebalikannya bukannya menguatkan rasa percaya justru mengeroposkannya, Pak Gunawan. Kenapa? Sebab sewaktu sesuatu yang tidak seharusnya diberikan malah diberikan kepada seseorang dampaknya pada diri kita adalah kita kehilangan kepercayaan kepadanya, seolah-olah begini Pak Gunawan, kita itu tahu ini berharga sekali yaitu kesucian kita, kekudusan kita dan seharusnya tidak diambil, meskipun kita memberikannya dengan persetujuan tapi kenapa diambil juga oleh pasangan kita dan itu mengecewakan dan efeknya juga justru mengeroposkan rasa percaya kita kepada dia. "Saya memberikan kepada kamu, dan kamu dengan mudah mengambil", dengan kata lain justru kita mau melihat respons pasangan yang sebaliknya yaitu "Tidak saya tidak mau, saya mau menjaga, saya tidak mau mengambil apa yang bukan milik saya sekarang ini". Kalau pasangan justru bersikap seperti itu kita akan malah mempercayai, merasa lebih aman karena kita akan diyakinkan bahwa pasangan kita itu tidak sembarangan, hanya akan mengambil sesuatu yang memang miliknya, kalau bukan waktunya untuk dia memilikinya, dia pun menolak dan ini akan memperkuat kepercayaan. Jadi justru kalau seks dilakukan sebelum pernikahan maka kepercayaan itu akan makin hilang.
GS : Tetapi ada dari pihak wanita yang mengatakan, Pak Paul, dia memberikan kehormatannya itu supaya pasangannya percaya bahwa dia sungguh-sungguh mencintai calon suaminya itu tadi.

PG : Mungkin saja dalam hal itu betul, calon suami itu akan berkata "Baiklah, sekarang saya percaya kamu mengasihi saya". Mungkin saja, tapi keuntungannya yang kecil itu dibayarnya terlalu mahal. Sebab kenapa? Sebab pertama kalau seorang pria sampai berkata "Saya baru percaya kamu mencintai saya jikalau kamu memberikan tubuhmu", ini bukanlah seorang pria yang baik, ini seorang pria yang manipulatif. Dia memang ingin berhubungan seksual tapi dia menjebak si perempuan dengan cara meyakinkannya kamu harus membuktikan cinta lewat memberikan tubuhmu. Salah! Bukti cinta justru adalah kesetiaan bukan penyerahan tubuh. Waktu pasangannya tidak berbuat apa-apa, tidak mengkhianatinya dan sebagainya tetap setia kepadanya, ini justru bukti yang nyata bahwa dia mencintai. Bukan justru menyerahkan tubuh. Ini yang pertama yang kita harus sadari dan harganya terlalu mahal, dan justru rasa percaya si pria ini hilang. Kenapa? Sebab dia akan berkata dalam hatinya, "Perempuan ini mudah sekali, saya tipu begitu saja mau." Apa yang terjadi, dia mulai berpikir, "Jangan-jangan dulu dia dengan pacarnya seperti itu juga, okelah sekarang dia masih gadis tapi tidak tahu sudah seberapa jauh dia berhubungan sebab dia begitu mudah, saya minta begitu saja dia mau berikan tubuhnya". Kepercayaan mulai hilang, jadi dari si pria pun hilang kepercayaan itu dan si wanita pun yang menyerahkan tubuhnya akan berkata "Iya pasangan saya belum apa-apa sudah meminta hubungan seksual sebagai bukti cinta, apakah dia akan berbuat hal yang sama kepada orang lain nantinya atau sebelum-sebelumnya", meskipun dia berkata dia tidak berbuat apa-apa waktu berpacaran dulu tapi sekarang minta ini kepada saya, jangan-jangan itu pun yang dia minta kepada pacar-pacarnya yang terdahulu, dan kalau dia meminta itu sebagai bukti cinta dari orang-orang yang terdahulu tidak menutup kemungkinan dia akan meminta yang sama kepada perempuan-perempuan lain yang nanti akan ditemukannya.

GS : Jadi hubungan seks pranikah ini, bukan mengokohkan kepercayaan tapi malah justru mengeroposkan kepercayaan antara mereka berdua, Pak Paul?

PG : Tepat sekali. Jadi akhirnya mereka memasuki mahligai pernikahan justru dengan modal sudah tidak percaya, sudah mawas diri, sudah berhati-hati dan ini sebetulnya sudah tidak sehat. Bukankahmasuk ke dalam pernikahan seharusnyalah dengan modal percaya "Saya aman denganmu", tapi justru malah sudah berhati-hati, "Kamu jangan-jangan sudah berbuat, kamu jangan-jangan akan mengulang lagi, kamu mengambil sesuatu yang belum waktunya kamu ambil".

Justru mulailah kropos, hilanglah kepercayaan itu dan nanti akan mudah sekali meletup dalam pernikahan. Pulang terlambat, saat ditanya kenapa terlambat? Selalu penjelasannnya tidak mudah diterima dan makin banyak hal-hal seperti itu yang nanti muncul tapi mereka tidak menyadari sebetulnya itu akibat hilangnya kekudusan dalam masa berpacaran.
GS : Dan di dalam hal ini pihak wanita yang lebih banyak dirugikan dari pada pihak pria, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.

GS : Lalu sekarang apa hubungannya dengan tonggak yang ketiga yaitu respek, Pak Paul?

PG : Respek pada diri maupun pasangan cenderung menurun drastik setelah melakukan hubungan seks sebelum pernikahan. Meskipun kita ini mungkin berpandangan liberal "Tidak apa-apa hubungan seks dn sebagainya", tapi saya percaya orang yang berpandangan liberal seperti itu pun kalau ditawarkan, dua orang untuk menjadi pasangan yang satu menjaga kekudusan, yang satu mudah sekali tidur dengan dia, manakah yang lebih dihormatinya? Saya percaya, meskipun pandangannya begitu bebas dan sebagainya tapi di hati kecil dia akan berkata, "Saya lebih respek pada yang menjaga kekudusan".

Disitu kita bisa melihat satu hal yang penting, Pak Gunawan, ternyata memang seks itu berkaitan dengan respek, dengan penghargaan diri. Jadi ini modal yang teramat penting untuk kita bawa ke dalam pernikahan sebab nantinya kalau kita tidak lagi punya respek pada satu sama lain, yang lain-lainnya cepat rontok. Dalam pertengkaran pun kita akan lebih mudah mengatakan kata-kata yang kasar, menghina dia dan sebagainya. Jadi respek itu mempengaruhi relasi dengan sangat-sangat dominan, jadi perlu kita jaga, kalau kita tidak jaga, kita jadi hilang respek. Pada siapa yang mudah memberikan tubuhnya kita kehilangan respek tapi ada efek yang juga menarik, kita pun juga kehilangan respek pada diri kita. Justru kalau kita melihat kita itu bisa bertahan, kita melihat diri semakin positif tapi kalau kita melihat pasangan kita dan kita mudah sekali berbuat, respek kepada dua-duanya akhirnya merosot. Kadang-kadang kita temukan hal-hal yang menyakitkan misalnya ada orang yang menjaga kekudusan baik-baik, bertahan setengah mati dan akhirnya bertemu dengan seorang, dia berpacaran dan dia berpikir dia orang baik-baik dan memang dia orang baik-baik, anak-anak Tuhan, pelayanan dan sebagainya tapi dalam berpacaran akhirnya pasangannya cerita, "Maaf saya mau berbuka dengan kamu, sebelum saya bertemu dengan kamu, saya berpacaran dan saya sudah melakukan hubungan seks". Apa yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah menjaga kekudusan akhirnya mendengar kabar bahwa pacarnya yang dianggapnya baik padahalnya jatuh begitu dalam. Nomor satu kecewa, luka, sedih tapi ini yang penting sekali, respeknya berkurang. Saya tidak berkata berarti tidak ada lagi pengharapan, tidak! Tuhan bisa mentransformasi seseorang, Tuhan memberi ampun kepada kita karena kita ini tidak sempurna dan berdosa, kita bisa memulai hal yang baru, itu betul. Tapi saya kira awalnya dia akan kehilangan respek pada pasangannya.
GS : Dan untuk membangun respek itu kembali, itu menjadi suatu pekerjaan atau tugas yang sangat sulit, Pak Paul?

PG : Sangat sulit sebab begini, Pak Gunawan, biasanya kalau kita sudah kehilangan respek pada orang, yang seringkali muncul adalah kebencian meskipun dalam tahap yang lebih kecil tapi sudah muli ada rasa benci, rasa sedikit muak, jijik dan rasa seperti itu sudah ada.

Akhirnya nanti akan mudah sekali menambahkan minyak, api pertengkaran dalam rumah tangga karena sudah tersimpan rasa kurang menghargai, rasa jijik muak, sehingga nanti perasaan itu keluar meskipun kita seolah-olah tidak mau menyebut-nyebut karena kita takut melukai hati pasangan kita. Tapi itu sebetulnya yang terkandung adalah kita menganggap kita murahan, dan kita tidak lagi menghormatinya sebagai orang yang kita kagumi. Dan kita pun melihat diri kita sebagai orang yang murahan, kita orang yang gampangan, kita pun dengan diri sendiri tidak senang ada rasa benci. Apa yang akan kita lakukan kalau kita dengan diri sendiri sudah tidak senang, sudah tentu akan berdampak pada relasi, kita lebih sering marah-marah, emosi kita lebih suka turun naik karena kita sendiri sudah tidak senang dengan diri, sudah tidak menghargai diri dan kita cenderung menuntut pasangan untuk membuat kita lebih nyaman, "Kamu yang harus bertanggung jawab harus membuat saya merasa lebih enak sekarang", karena hatinya sudah tercabik tidak lagi menghargai diri.
GS : Tapi dalam hal ini yang merasa tidak dihargai atau yang merasa tidak patut dihormati itu adalah kedua belah pihak. Jadi baik yang berinisiatif untuk melakukan seks pranikah maupun yang menjadi korban dari hubungan seks pranikah itu Pak, kedua-duanya sama?

PG : Tepat sekali, jadi kehilangan penghargaan diri ini biasanya akan dialami oleh kedua belah pihak, Pak Gunawan. Jadi kehilangan respek terhadap satu sama lain terjadi dan kehilangan respek trhadap diri sendiri pun terjadi.

Akhirnya ini yang kita bawa ke dalam pernikahan dan bagaimanakah membangun pernikahan tanpa respek lagi kepada pasangan. Bukankah kecenderungan kita nantinya itu menghinanya, merendahkannya. Ini benar-benar sebuah tabungan yang sangat negatif kita bawa masuk ke dalam pernikahan.
GS : Jadi hanya dengan melakukan satu perbuatan yaitu melakukan hubungan seks pranikah ini, tiga tonggak itu langsung hancur semua, Pak Paul?

PG : Betul sekali. Kita akan benar-benar merapuhkan tonggak-tonggak ini sehingga nanti waktu menghadapi tantangan hidup ke dalam pernikahan mudah sekali rubuh, Pak Gunawan. Akhirnya kita menyalhkan satu sama lain tapi sesungguhnya relasi itu sudah salah, sudah menjadi sangat rapuh sejak masa berpacaran gara-gara hilangnya kekudusan itu.

GS : Jadi kalau sudah begitu Pak Paul, apakah sebaiknya hubungan ini dilanjutkan ke jenjang pernikahan atau dibatalkan saja?

PG : Saya menganjurkan di tahap itu untuk dibekukan, dirawat dulu, diobati dulu. Datanglah ke seorang pembimbing, akuilah dosa yang telah diperbuat, akuilah semua perasaan-perasaan cinta itu da coba untuk nanti dibangun lagi relasi yang sudah hancur ini dan kita lihat dalam pertumbuhannya apakah berhasil menumbuhkan, kalau berhasil menumbuhkan ketiga tonggak ini barulah nanti masuk ke dalam pernikahan.

Jangan berpikir bahwa pernikahan bisa menyulap semuanya tiba-tiba menjadi baik dan bagus lagi.
GS : Padahal biasanya pihak keluarga itu mendorong supaya mereka itu cepat-cepat menikah, Pak Paul?

PG : Itu tidak tepat karena memang untuk menutupi aib dan sebagainya, tapi tinggal tunggu tanggal mainnya pernikahan ini nanti yang akan rontok.

GS : Jadi ini sesuatu yang penting untuk diperhatikan baik oleh muda-mudi maupun oleh orang tua, apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Di Imamat 19:2 Tuhan berfirman, "Kuduslah kamu, sebab Aku TUHAN, Allahmu, kudus". Tuhan meminta kita kudus supaya kita itu sama sepertiNya, Tuhan mau menaikkan kita ke standartNya tapi inijuga untuk kepentingan kita, tadi kita sudah lihat.

Justru kekudusan akan menciptakan berkat demi berkat bagi pernikahan kita dan bukankah kita nanti yang akan memetik buah-buahnya. Jadi inilah kebaikan Tuhan, tatkala Dia memberikan perintah kepada kita, memang pertama untukNya tapi sebetulnya juga untuk kita.

GS : Ya terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dampak Kekudusan pada Pernikahan". Bagi anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, kami juga mengundang anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



30. Cari Pasangan Hidup


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T142A (File MP3 T142A)


Abstrak:

Kita bebas menikah dengan siapa saja, tapi pernikahan yang seiman itulah yang Tuhan minta.. Tujuan hidup kita juga jelas untuk Tuhan Yesus, kalau kita menikah dengan yang tidak seiman otomatis tujuan-tujuan itu tidak akan sama. Oleh karena itu banyak hal penting yang harus kita ketahui dan kita sangat membutuhkan pimpinan Tuhan di dalamnya.


Ringkasan:

Konsep yang keliru dalam mencari pasangan hidup:

  1. Beranggapan Tuhan menunjukkannya kepadaku. Sering kali waktu kita berkata begitu kita mendasari kehendak Tuhan atas perasaan kita.

  2. Aku merasa damai dengan pilihan ini. Kedamaian juga bisa merupakan kerja dari perasaan kita belaka bukan benar-benar menemukan yang cocok, tapi kita menemukan yang sesuai dengan yang kita inginkan.

  3. Kalau bertemu yang cocok, pasti saya ketahui. Masalahnya adalah kecocokan tidak terjadi pada pertemuan pertama, kecocokan harus dibuktikan melewati proses waktu yang panjang atas dasar pergaulan, persahabatan yang intens.

Perjodohan

  1. Mengenal cara kerja Tuhan:

    Sekurangnya ada tiga cara untuk melihat pimpinan Tuhan:

    1. Penetapan "Langsung"
      1. Penciptaan alam semesta ( Kej. 2:1-3 )
      2. Hukuman atas Mesir ( Kej. 5-15 )
      3. Kelahiran Tuhan Yesus ( Lukas 1-2 )
    2. Penetapan "Tidak Langsung", dengan kondisi
      1. Kematian Tuhan Yesus ( Kis. 2:22-23 )
      2. Penyebaran Injil ( Kis. 8:1-4 )
    3. Penetapan "Tidak Langsung", tanpa kondisi
      1. Kelangsungan hidup dan alam ( Kejadian 1:29-30 )
      2. Pernikahan

  2. Kehendak Allah dalam kita memilih pasangan hidup: Tuhan meminta kita menikah dengan sesama orang percaya ( 1 Korintus 7: 39 )

    Alasannya, kalau kita menikah dengan seseorang yang tidak seiman dengan kita berarti kita berbeda dalam:

    1. Tujuan hidup ( 2 Korintus 5:15 ). Hidup untuk Kristus
    2. Status hidup ( 2 Korintus 5:17 ). Memiliki hidup yang baru
    3. Substansi hidup ( 2 Korintus 6:14-15 ). Substansi di dalam Kristus adalah terang.

  3. Peran dan Tugas Manusia dalam pencarian dan penetapan pasangan hidup:
    1. Mencari yang cocok dan dapat saling menolong ( Kejadian 2:18 )
    2. Mencari yang sesuai selera ( 1 Korintus 7:39 )
    3. Meminta pimpinan Tuhan ( Kejadian 24:12-14 )


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mencari pasangan hidup", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, masalah mencari pasangan hidup ini menjadi suatu topik yang menarik khususnya bagi para muda-mudi kita yang saat-saat ini justru terlibat langsung di dalam hal mencari pasangan hidup. Dan ini suatu masalah yang sangat menentukan bagi perjalanan hidup seseorang untuk waktu-waktu yang selanjutnya dan ini bukan masalah yang gampang, sering kali banyak pasangan yang merasa keliru dengan memilih pasangannya. Sebenarnya Pak Paul, apakah ada suatu pengertian atau konsep yang kurang tepat di antara orang yang mencari pasangan hidupnya Pak Paul?

PG : Sebelum saya menjawab itu Pak Gunawan, saya ingin mengiyakan yang tadi Pak Gunawan katakan yakni mencari pasangan hidup adalah hal yang sangat penting. Saya percaya bahwa Tuhan menyediaan keluarga kepada kita salah satu tujuannya adalah agar kita bisa mencicipi rasanya surga melalui keluarga kita itu.

Dalam keluarga yang sehat yang penuh kasih dan hangat kita akan mendapatkan sukacita dan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh hal-hal lain. Nah saya percaya itulah nantinya surga, surga adalah sebuah ketenangan, kebahagiaan, sukacita, berada bersama dengan Tuhan. Jadi kalau saya boleh simpulkan terbalik dari yang saya katakan tadi kalau rumah tangga kita tidak bahagia, kita akhirnya sadari bahwa kita memilih orang yang keliru, keluarga kita itu benar-benar merupakan kebalikan dari surga yaitu neraka, sangat-sangat membakar, sangat-sangat tidak memberikan kita kedamaian. Maka topik ini saya kira topik yang penting sekali. Nah tadi Pak Gunawan menanyakan apakah ada konsep-konsep keliru yang mendasari pemikiran orang dan konsep-konsep ini akhirnya menjerumuskan orang ke dalam kegagalan pernikahan. Ada beberapa yang bisa saya kemukakan Pak Gunawan, yang pertama adalah orang kadang beranggapan oh Tuhan menunjukkannya kepadaku, Tuhan mengatakan dialah orangnya, dialah memang pasangan hidupku. Nah masalahnya adalah sering kali waktu kita berkata begitu kita mendasari kehendak Tuhan atas perasaan kita sendiri. Nah sering kali memang kita tertarik pada orang tersebut, kita seolah-olah hanyalah menggunakan nama Tuhan sebagai stempel. Yang kedua yang sering kali orang juga kemukakan dan keliru adalah orang berkata aku merasa damai dengan dia dengan pilihan ini. Nah sekali lagi kedamaian juga bisa merupakan kerja dari perasaan kita belaka bukan benar-benar menemukan yang cocok, tapi kita menemukan yang sesuai dengan yang kita inginkan. Nah karena kita menemukan yang sesuai dengan kita inginkan itu maka perasaan kita damai. Kita langsung berkesimpulan kalau merasa damai ini pasti adalah orang yang cocok untuk saya. Saya ingin menekankan di sini bahwa sesuai selera tidak berarti cocok itu dua hal berbeda. Jadi kedamaian tidak bisa juga digunakan sebagai ukuran. Ketiga konsep yang keliru adalah orang berkata oh kalau bertemu yang cocok pasti saya ketahui, dari mana tahunya ya pokoknya tahu saja. Nah masalahnya adalah kecocokan itu tidak terjadi pada pertemuan pertama, kecocokan harus dibuktikan melewati proses waktu yang panjang atas dasar pergaulan, persahabatan yang intens. Sehingga kita bisa melihat perbedaan dan bisa juga melihat kecocokan kita dan akhirnya kita bekerja keras untuk menyesuaikan diri, pada titik akhir barulah kita bisa berkata bahwa orang ini pas dengan saya. Nah sekali lagi kuncinya adalah proses waktu yang panjang. Jadi ketiga konsep ini acapkali berperan besar dalam proses penentuan pasangan hidup dan karena ini keliru, orang yang menggunakannya akhirnya terjebak ke dalam pernikahan yang tidak serasi.
GS : Masalahnya itu adalah setelah sekian lama berhubungan mereka berpacaran seperti itu tetapi baik dari si pria maupun wanita itu tidak punya suatu kemantapan bahwa mereka dijodohkan Pak Paul, sehingga mereka akhirnya minta tanda dari Tuhan. Nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira kita mesti terus-menerus meminta Tuhan memimpin kita, daripada langsung menggunakan tanda-tanda yang bisa juga keliru saya kira doa kita harus spesifik meminta Tuhan memimpin ita.

Nah pertanyaannya adalah bagaimanakah Tuhan memimpin kita. Nah ini yang sering kali juga menjadi masalah sebab kita tidak mengerti bagaimanakah Tuhan memimpin kita. Saya akan menjelaskan bahwa sekurangnya ada tiga cara untuk melihat pimpinan Tuhan. Meskipun pada dasarnya pimpinan Tuhan adalah satu, namun kita bisa memahaminya dari tiga sudut atau tiga dimensi. Yang pertama adalah yang saya sebut penetapan langsung. Misalkan waktu Tuhan menciptakan alam semesta sebagaimana yang tercatat di Kejadian 2 , itu adalah kehendak Tuhan dinyatakan secara langsung dan spesifik. Terjadilah hari, hari pertama, hari kedua, hari ketiga, terus sampai hari keenam penciptaan-penciptaan Tuhan itu mulai dari terang dan sebagainya sampai akhirnya ke manusia. Nah yang kedua misalkan contohnya tentang penetapan langsung ini Tuhan menghukum Mesir, Tuhan melalui Musa dan hambanya Harun berkata kepada Firaun bahwa Tuhan akan mengeluarkan umat Israel keluar dari Mesir tapi mereka menolak, akhirnya Tuhan menjatuhkan sepuluh tulah sebagaimana dicatat dalam kejadian juga. Nah akhirnya bangsa Mesir terpaksa membiarkan orang Israel keluar dari Mesir. Nah ini juga penetapan langsung, Tuhan berkata apa dan langsung terjadi. Yang ketiga misalkan kelahiran Tuhan Yesus sudah ditetapkan melalui atau dikabarkan melalui para nabi Tuhan di Perjanjian Lama. Nah pada waktu Tuhan Yesus dilahirkan di bumi ini, itu adalah bagian dari penetapan langsung. Nah kira-kira itu adalah satu dimensi untuk melihat pimpinan Tuhan Pak Gunawan.
GS : Nah itu aplikasinya di dalam penetapan jodoh itu seperti apa Pak Paul?

PG : Nah biasanya ini bukan cara yang Tuhan gunakan, Tuhan tidak menetapkan jodoh seperti Tuhan menetapkan tulah untuk Mesir. Tuhan tidak menetapkan jodoh kita sebagaimana Tuhan menetapkan klahiran Tuhan Yesus melewati mulut para nabi-Nya.

Jadi biasanya bukan cara itu yang Tuhan gunakan. Salah satu cara lagi sebelum kita masuk ke cara Tuhan menetapkan pasangan kita adalah yang saya sebut penetapan tidak langsung dengan kondisi, (ini sedikit membingungkan tapi saya berikan contohnya) misalkan Tuhan Yesus mati di kayu salib, orang-orang berpikir merekalah yang membunuh Tuhan Yesus, merekalah yang mengakhiri kehidupan Tuhan Yesus tapi ini adalah sesuatu yang juga Tuhan telah tetapkan sebelumnya. Maka sebetulnya bukannya saja manusia mengakhiri kehidupan Tuhan Yesus tapi memang sudah ditetapkan Tuhan Yesus itu harus mati untuk menanggung dosa-dosa manusia. Namun tangan manusialah yang digunakan atau kondisi saat itulah yang dibiarkan atau digunakan Tuhan untuk menggenapi rencana Tuhan, untuk menebus dosa manusia. Nah dengan kata lain ini yang saya maksud dengan penetapan tidak langsung dan ada kondisinya yaitu ada situasi tertentu yang terjadi misalkan juga tentang penyebaran injil, gara-gara orang kristen dianiaya maka mereka meninggalkan Yerusalem. Nah penganiayaan itu menjadi kondisi yang Tuhan biarkan atau ijinkan terjadi, sehingga kehendak Tuhan yakni agar para hamba-Nya keluar dari Yerusalem dan membawa Injil ke bangsa-bangsa lain bisa terjadi. Nah ini yang saya maksud dengan penetapan tidak langsung dengan kondisi.
GS : Ya itu bisa terjadi di dalam perjodohan Pak Paul, jadi tadinya kita tidak tertarik tetapi karena suatu kondisi tertentu kita bisa tertarik dengan seseorang Pak Paul?

PG : Kadang-kadang itupun terjadi, jadi ada kondisi-kondisi tertentu sehingga akhirnya kita dibawa ke dalam situasi tersebut. Namun saya juga memperingati agar kita berhati-hati sebab kadangkala ini yang saya dengar dari orang, tidak mungkin saya ini bertemu dengan dia secara kebetulan benar-benar Tuhan sudah atur, masa...pada

jam ini, detik ini kami bisa bertemu dan sebagainya. Nah akhirnya apa yang terjadi tiga bulan kemudian mereka sudah putus sebelum menikah masih dalam tahap berpacaran tiga bulan kemudian sudah putus artinya taksiran bahwa kondisi ini adalah kondisi yang Tuhan sedang gunakan, taksiran itu keliru. Jadi jangan kita juga terlalu percaya diri menetapkan pilihan kita atas dasar kondisi-kondisi ini. Kita tidak bisa atau jangan menggunakan kondisi-kondisi ini karena cukup berbahaya untuk membuat kita keliru. Jadi yang saya ingin tawarkan adalah metode ketiga ini dalam cara Tuhan bekerja, Tuhan sering kali juga menggunakan metode yang saya sebut penerapan atau penetapan kehendak Tuhan secara tidak langsung dan tanpa kondisi. Misalkan begini Pak Gunawan, setelah Tuhan menciptakan alam semesta ini Tuhan membiarkan hidup ini berjalan (sudah tentu dalam kedaulatan dan pemeliharaan Tuhan), namun hidup berjalan berputar adanya sistem ekologi dan sebagainya. Ini yang saya maksud dengan penetapan tidak langsung dan tanpa kondisi apa-apa. Nah saya berpendapat bahwa pernikahan termasuk di dalam metode atau kategori yang ketiga ini yakni penetapan tidak langsung dan tanpa kondis. Maksudnya apa, maksudnya sudah tentu ada unsur penetapan tapi bukan secara langsung melalui titah, melalui suara yang kita dengar, melalui pemberitaan seorang nabi kamu akan menikah dengan si siapa; bukan, dengan cara tidak langsung bukan langsung seperti tadi dan tanpa kondisi jangan kita menggantungkan penetapan pada kondisi-kondisi, oh saya tidak mungkin kebetulan ketemu dia, ini pasti dalam pengaturan Tuhan kami harus bertemu dan sebagainya. Jadi berhati-hatilah jangan menggunakan kondisi, maka saya beranggapan pernikahan masuk dalam kategori yang ketiga ini yakni penetapan tidak langsung tanpa kondisi. Kita melihat kita kemudian mencoba mencocokkan menyesuaikan diri dan atas dasar semua itu kita menetapkan apakah ini memang pasangan yang cocok atau tidak.
GS : Tapi sebenarnya di hadapan Tuhan jodoh kita itu sudah ditetapkan Pak Paul?

PG : Nah kalau kita berkata jodoh sudah ditetapkan itu betul, dalam pengertian semua yang terjadi di dunia ini tidak ada satupun yang terlepas dari genggaman tangan Tuhan. Nah tapi apakah daam pengertian itu kita berkata ditetapkannya secara langsung (memang ini masalah semantik), saya berikan contoh waktu kita hendak berkuliah kita mencoba memikirkan apa kira-kira bidang studi yang cocok untuk kita.

Nah bukankah kita melewati proses pemikiran, pertimbangan, meminta masukan, melihat kemampuan kita, ketidakmampuan kita dalam bidang apa. Melalui proses ini akhirnya kita sampai pada satu kesimpulan, o....ini bidang studi yang kira-kira baik untuk saya. Nah apakah Tuhan tidak memimpin, Tuhan memimpin secara langsung atau tidak. Nah ini memang masalah semantik masalah kita melihatnya dari sudut manusiawi yakni seolah-olah tidak secara langsung karena Tuhan memberikan kesempatan kepada kita terlibat menetapkan pilihan bidang studi itu. Dan tidak ada kondisi tertentu yang membuat kita berkata ini bidang studinya, tidak kita melewati proses pemikiran dan pertimbangan dengan menggunakan akal sehat. Nah saya percaya pernikahan masuk dalam kategori ini, akal sehat sangat diperlukan dalam penetapan pasangan hidup.
GS : Di dalam hal ini Pak Paul, apakah hubungan seseorang dengan Tuhan itu menjadi sangat menentukan Pak Paul di dalam mencari pimpinan Tuhan ini?

PG : Saya kira demikian, kalau kitanya memang dengan Tuhan tidak dekat bagaimanakah kita mengharapkan bisa mendapatkan pimpinan itu, maka kita mesti juga mempunyai relasi yang dekat dengan Than agar kita akhirnya bisa mengenal apa itu kehendak Allah.

Nah saya akan berikan apa yang menjadi kehendak Allah dalam kita memilih pasangan hidup Pak Gunawan. Kehendak Allah sebetulnya sangat-sangat spesifik yakni Tuhan meminta kita menikah dengan sesama orang percaya, itu yang Tuhan katakan melewati atau lewat hamba-Nya Paulus. Kamu bebas menikah dengan siapapun, namun dengan sesama orang percaya. Jadi itu dicatat di 1 Korintus 7:39 . Nah pertanyaannya kenapa Tuhan meminta kita menikah dengan orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Nah sekurang-kurangnya ada tiga penjelasan, pertama kalau kita menikah dengan seseorang yang tidak seiman dengan kita, berarti tujuan hidupnya berubah, tidak sama 2 Korintus 5:15 berkata: Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." Jadi sebagai orang yang percaya pada Kristus tujuan hidup kita adalah satu kita hidup untuk Kristus. Nah kalau kita menikah dengan orang yang tidak seiman, sudah tentu dia tidak mempunyai tujuan itu. Status hidup juga berbeda, misalkan saya kutip dari 2 Korintus 5:17 , "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Nah ditekankan di sini siapa yang ada di dalam Kristus, dengan kata lain memang itu syarat, di dalam kristus baru kita memiliki hidup yang baru. Sudah tentu kalau kita menikah dengan seseorang yang tidak seiman dia tidak dalam Kristus. Jadi status hidupnya juga berbeda dengan kita, dia bukanlah ciptaan yang diperbarui oleh Tuhan Yesus. Dan yang ketiga kenapa Tuhan meminta kita menikah dengan yang sesama iman adalah substansi hidup juga berbeda kalau kita bersama dengan yang tidak seiman. Di 2 Korintus 6:14 tercatat: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" Substansinya di dalam Kristus kita adalah terang, maka kita harus juga bersama dengan orang yang di dalam Kristus.
GS : Nah pengertian sesama orang percaya, itu sering kali disempitkan hanya pokoknya dia anggota gereja, apakah itu bisa dibenarkan Pak Paul?

PG : Tidak. Jadi yang membuat seseorang masuk dalam kategori orang percaya, sudah tentu bukan saja berdasarkan pengakuan mulutnya, saya orang Kristen, sudah tentu itu harus ditunjukkan lewatperbuatannya, lewat kehidupannya.

Jadi kita harus menilik buah-buah Kristiani dalam hidupnya, misalkan apakah dia orang yang memang sabar, penuh kemurahan, penuh kasih, nah itu buah-buah roh. Atau apakah dalam mengambil keputusan dia memikirkan, mempertimbangkan kehendak Tuhan, kalau dia mengaku dia orang Kristen tetapi dalam perbuatan dan pengambilan keputusan tidak menghiraukan kehendak Tuhan dia masuk dalam kategori dia bukan orang Kristen. Sangat sederhana sebab memang melalui buahnyalah kita itu dikenal. Nah jadi ukurannya sudah tentu bukan apa agama kita di KTP, atau dimanakah keanggotaan gereja kita bukan, tapi pada buah iman yang nyata dalam kehidupan.
GS : Sering kali orang juga berpikiran nanti kalau kami sudah menikah dia akan menjadi seiman dengan saya Pak Paul.

PG : Kadang-kadang ada harapan seperti itu. Nah saran saya adalah sebelum menikah memang orang ini harus bergumul bersama dengan yang tidak seiman itu supaya yang tidak seiman bisa akhirnya ampai pada iman Kristiani tapi bukan karena ingin menikah, sudah tentu bukan karena desakan dan paksaan.

Tapi memang dia sendiri yang mempelajari apa itu iman Kristiani dan akhirnya dia berkata saya mau menjadi pengikut Kristus. Nah dasar itulah yang kita bisa terima sebagai alasan orang itu memang sungguh-sungguh mau menjadi seorang Kristen. Nah jangan sampai sekali lagi kita melegalkan segala cara demi pernikahan ini. Kita bisa mengubah status di mata manusia namun kita tidak bisa mengelabuhi Tuhan. Kalau memang kita tidak memiliki iman pada Tuhan sudah tentu Tuhan tahu. Nah jadi tidak bisalah kita itu mendustai Tuhan, Dia tahu apa yang sebenarnya ada di hati kita.
GS : Pak Paul, kalau kita mengimani bahwa perjodohan itu ditentukan oleh Tuhan dengan kehendak Tuhan, dengan pimpinan Tuhan, lalu apakah atau sejauh mana peran manusia terlibat dalam pernikahan itu?

PG : Pertanyaan yang bagus Pak Gunawan, sebab meskipun Tuhan sudah menetapkan kriterianya yaitu kita diminta menikah dengan yang seiman, Tuhan juga memberikan tugas dan peran kepada manusia alam pencarian dan penetapan pasangan hidup ini.

Jadi tidak bisa manusia itu duduk di kamar terus-menerus berdoa dan mengharapkan Tuhan membawa seseorang kepadanya. Nah sekurang-kurangnya ada tiga peran dan tugas manusia. Pertama Tuhan memang sudah mengatakan bahwa Tuhan akan menciptakan Hawa untuk Adam, dan dalam penciptaan Hawa itu Tuhan juga menegaskan bahwa dia itu akan menjadi penolong yang sepadan untuk Adam. Jadi Tuhan menciptakan istri bagi Adam yang bertugas, berfungsi sebagai penolong yang juga sepadan, cocok. Jadi dari firman Tuhan ini saya akan simpulkan bahwa tugas kita mencari pasangan hidup yang cocok dan dapat saling tolong-menolong dengan kita. Dengan kata lain apakah relasi kita cocok atau tidak, itu menjadi pertanyaan yang harus kita jawab. Nah dalam kesempatan rekaman berikutnya baru kita akan bahas hal ini Pak Gunawan. Tapi intinya adalah cocok atau tidak, cocok bukan berarti sama, cocok berarti meskipun berbeda namun pertama-tama saling menerima perbedaan itu. Dan kedua meskipun berbeda bukan saja saling menerima namun bisa saling mengimbangi, menghargai perbedaan itu, dan mengimbanginya. Sehingga akhirnya perbedaan itu tidak menjadi duri yang saling menusuk, malahan saling menolong. Artinya apa, kita menjadi orang yang lebih baik dengan kehadiran pasangan kita sudah tentu ini harus dua arah, sebab saya juga bertemu dengan kasus seperti ini Pak Gunawan yang satu berkata saya menjadi orang yang lebih baik, karena pasangan saya terus-menerus menolong saya, namun pasangan ini justru menjadi manusia yang lebih buruk. Karena dia tidak mendapatkan pertolongan sama sekali, jadi hanya searah saja pertolongan itu. Tidak bisa, pertolongan atau saling menolong harus dua arah.
GS : Berarti melalui pernikahan nantinya diharapkan bahwa dua pribadi ini sama-sama bertumbuh Pak Paul?

PG : Tepat sekali, jadi salah satu tanda atau kriteria, apakah pernikahan ini atau pasangan ini pasangan yang serasi adalah mereka bertumbuh, mereka menjadi orang-orang yang lebih baik karen adanya unsur saling tolong itu.

Yang menolong menjadi lebih baik karena dia mendapatkan pertolongan juga dari yang ditolongnya itu. Nah di situlah kita melihat kecocokan, kadang-kadang kita melihat orang yang tidak cocok, tidak saling tolong malah saling menghancurkan, namun terlanjur suka nah itu yang kadang-kadang terjadi. Terlanjur cinta, tergila-gila tidak bisa melepaskan orang itu dari pikirannya tapi tidak cocok sebetulnya. Relasi mereka penuh pertengkaran karena tidak saling menolong malah saling menusuk nah sudah tentu meskipun sukanya besar tetap ukurannya adalah bahwa ini tidak cocok. Dan yang kita gunakan sebagai kriteria bukannya cintanya tapi cocoknya itu yang lebih penting.
GS : Biasanya suka seperti itu hanya didasarkan pada fisik saja Pak Paul.

PG : Sering kali begitu Pak Gunawan.

GS : Lalu bagaimana dengan tugas yang lain dari manusia ini Pak Paul?

PG : Tuhan juga lewat Paulus berkata kita ini bebas menikah dengan siapa saja yang kita sukai, namun seiman dengan kita. Nah prinsip kedua adalah saya ambil dari 1 Kor 7:49 ini,silakan mencari yang sesuai dengan selera, jangan hanya mencari yang sesuai dengan misalkan harapan dari orang tua kita, bukan, kita yang harus hidup dengan dia jadi setelah seiman dengan dia itu kriteria yang paling dasar setelah seiman ukuran berikutnya adalah cocok atau tidak, setelah cocok atau tidak kita juga harus bertanya sesuai selera kita atau tidak, sesuai dengan tipe yang kita idamkan atau tidak.

Jadi ini penting jangan sampai kita menikah dengan orang yang kita katakan aduh.....cocok dengan saya, orangnya rohani cinta Tuhan, tapi kita tidak suka melihat dia, wajahnya tidak kita sukai, penampilannya tidak kita sukai, nah ya repot, kita harus hidup serumah dengan dia bagaimanakah bisa hidup serumah dengan dia dalam kondisi seperti itu.
GS : Sering kali memang orang menekankan pokoknya kerohaniannya baik Pak Paul, tapi akhirnya belakangnya agak merepotkan di dalam pernikahan itu.

PG : Betul sekali jadi untuk bisa mendirikan pernikahan yang kokoh kita harus menampakkan kecocokan di dalam semua aspek kehidupan bukan hanya kerohanian, kerohanian salah satu aspek, tapi ukan satu-satunya aspek.

Yang terakhir adalah tugas kita adalah meminta pimpinan Tuhan, nah ini memang sebagai pengakhir saya akan gunakan firman Tuhan terambil dari Kejadian 24:12 , ini adalah doa Eliezer kepada Tuhan, lalu berkatalah ia: "Tuhan, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham." Ini doa seorang hamba yang ditugaskan Abraham mencari jodoh untuk anaknya Ishak, nah dia berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan menunjukkan jalan. Nah inilah doa kita sebagai orang percaya setiap tahap dalam pertemuan, perjumpaan, pembinaan relasi minta pimpinan Tuhan kalau lebih banyak tidak cocoknya jangan, lebih banyak pertengkarannya jangan, tidak ada saling tolong-menolongnya jangan, sudah tentu tadi paling dasar adalah kalau tidak seiman juga jangan.

GS : Ya terima kasih Pak Paul, telah menyampaikan beberapa prinsip penting di dalam mencari pasangan hidup ini, tetapi ini tentu suatu perbincangan yang masih belum selesai Pak Paul yang akan kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Namun melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih, Pak Paul sudah berkenan untuk berbincang-bincang dengan kami. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mencari Pasangan Hidup". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mngucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



31. Jika Saya Menikah Nanti


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T142B (File MP3 T142B)


Abstrak:

Bagi para muda-mudi atau mereka yang saat ini sedang mencari pasangan hidup atau sedang di dalam pergumulan untuk mendapatkan pasangan hidup, akan memperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana dan siapa pasangan hidup yang cocok dan dikehendaki oleh Tuhan. Dalam materi ini akan dibahas beberapa ciri yang akan menolong kita menentukan orang seperti apakah pendamping hidup kita nanti.


Ringkasan:

Jika saya menikah, saya akan menikah dengan:

  1. Orang yang dapat saya hormati (respectable), yaitu orang yang memiliki karakteristik yang kita kagumi. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang respectable.

  2. Orang yang dapat saya percaya (trustworthy), artinya orang ini jujur, terbuka. Prinsipnya adalah jangan menikah atau memilih orang yang tidak bisa kita percaya. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang trustworthy.

  3. Orang yang dapat saya kasihi (lovable). Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang lovatable.

  4. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan (flexible). Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang flexible.

  5. Orang yang telah siap mengakhiri hidup lajang. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang siap mengakhiri hidup lajang (siap menjadi suami/istri seseorang dimiliki seseorang).

  6. Orang yang telah siap berkeluarga. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang siap berkeluarga (siap menjadi ayah/ibu membagi hidup).

Kriteria Pasangan Hidup digolongkan dalam beberapa faktor, yaitu:

  1. Faktor IBADAH
    1. Apakah ia seiman?
    2. Apakah ia memiliki kematangan rohani yang setara?
      1. Berapa pentingnya Tuhan dalam kehidupannya?
      2. Berapa berminatnya ia pada hal-hal rohani?
      3. Berapa relanya ia berkorban bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya?

  2. Faktor CINTA
    1. Apakah ia mencintai saya atau membutuhkan saya?
    2. Apakah ia mengutamakan kepentingan saya di atas kepentingan orang lain?

  3. Faktor RESPEK
    1. Apakah ia menghargai saya atau memanfaatkan/memakai saya?
    2. Apakah ia mempertanyakan pertimbangan?
    3. Apakah ia dapat menerima saya?
      1. diri saya
      2. keluarga saya
      3. teman pergaulan saya
      4. masa lalu saya
      5. masa depan saya
    4. Seberapa jauhkah ia berani mengabaikan pikiran, pendapat, perasaan saya?
    5. Apakah ia mengagumi saya?

  4. Faktor PERCAYA
    1. Apakah ia dapat mempercayai saya:
      1. dalam kesendirian tanpa kehadirannya
      2. dalam pengambilan keputusan
      3. dalam hubungan dengan lawan jenis
    2. Apakah ia dapat mempercayakan rahasia dan kelemahan hidupnya kepada saya?

  5. Faktor KEINTIMAN
    1. Apakah ia tertarik kepada saya dan ingin berdekatan dengan saya?
    2. Apakah ia dan saya dapat saling mendengarkan dan membagikan hidup?
    3. Apakah ia dapat berkomunikasi dengan saya tanpa harus frustasi?
    4. Apakah ia dapat mengambil keputusan dengan saya?
    5. Apakah ia dapat menyentuh perasaan saya?


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Jika saya menikah nanti", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan kita kali ini adalah kelanjutan dari perbincangan kita beberapa waktu yang lalu tentang mencari pasangan hidup. Nah, supaya para pendengar kita yang mungkin tidak sempat mengikuti pada kesempatan yang lalu bisa mengikuti perbincangan kita kali ini dengan baik, mungkin Pak Paul bisa secara singkat menguraikan tentang hal-hal yang sangat penting mengenai mencari pasangan hidup.

PG : Yang pertama adalah meskipun kita harus melibatkan Tuhan dalam proses pencarian pasangan hidup, namun kita harus berhati-hati jangan sampai kita menetapkan kriteria yang keliru atas nama Than.

Jadi berhati-hatilah dengan kata-kata seperti ini pimpinan Tuhan, ini kehendak Tuhan dan sebagainya. Pada dasarnya Tuhan memimpin kita melewati proses penggunaan akal sehat, penggunaan pertimbangan, penggunaan hikmat dalam melihat, kita cocok atau tidak cocok dengan orang yang kita kasihi itu. Berikutnya Tuhan meminta dengan sangat jelas bahwa kita menikah dengan sesama orang percaya dan kenapa kok harus sesama orang percaya, karena memang kehidupan kita adalah kehidupan yang sudah diperbaharui oleh Tuhan Yesus. Tujuan hidup kita juga jelas kita hidup untuk Tuhan Yesus, kalau kita menikah dengan yang tidak seiman otomatis tujuan-tujuan itu juga akan tidak sama. Jadi kira-kira itulah intisari yang telah kita bicarakan pada kesempatan yang lampau Pak Gunawan.
GS : Ya, dan sekarang kita mencoba untuk lebih riil membicarakan ini dengan membayangkan kalau seandainya saya menikah nanti orang seperti apa, person seperti apa yang akan menjadi pendamping hidup kita atau pasangan hidup kita. Itu bagaimana Pak Paul?.

PG : Ada enam yang bisa saya bagikan Pak Gunawan, yang pertama jika saya menikah nanti saya akan menikah dengan yang pertama orang yang dapat saya hormati, orang yang dalam bahasa Inggrisnya &qot;respectable" orang yang memang saya kagumi.

Kenapa saya kagumi, karena memang ada sifat karakteristik yang membuat saya angkat topi, salut dengan dia. Nah jadi jangan menikah dengan orang yang tidak kita kagumi, tidak ada satupun tentang dirinya yang membuat kita salut atau angkat topi. Nah pilihlah orang yang waktu kita mengenalnya kita angkat topi, makin mengenalnya makin angkat topi. Karena kita melihat sifat atau karakteristik yang benar-benar mengagumkan kita. Nah itu yang pertama Pak Gunawan.
GS : Ya, berarti hormat itu bukan sambil lalu kita lakukan penghormatan seperti itu, tetapi kekaguman atas sifatnya yang baik itu yang tidak kita jumpai pada orang lain mungkin.

PG : Betul, dan ini bukan hanya terjadi satu kali atau pada awal perkenalan, tetapi sesuatu yang memang menjadi bagian hidupnya sehingga kita melihat itu terus-menerus, berulang-ulang kali dan tulah yang menggugah kekaguman kita orang ini kok begini sabarnya, begini tolerannya dengan saya, orang ini begitu tegas, begitu berprinsip pada kebenaran dan sebagainya.

Jadi kekaguman seperti itulah yang harusnya ada, bukan aduh bulu matanya kok lentik, aduh matanya kok belok, atau besar. Itu keindahan-keindahan yang tidak kuat untuk menggugah kekaguman pada kalbu kita.
GS : Apakah ada ciri yang lain Pak Paul?

PG : Yang kedua adalah jika saya menikah nanti, saya akan menikah dengan orang yang dapat saya percaya, artinya orang ini jujur, terbuka. Kita tidak usah mereka-reka menebak-nebak apa yang sebearnya dia lakukan atau yang sebenarnya dia rencanakan, tidak usah kita reka orang ini jelas terlihat.

Dengan kata lain kita merasa aman karena kita bersama dengan seseorang yang dapat kita andalkan. Jadi prinsipnya adalah jangan menikah atau memilih orang yang tidak bisa kita percaya, setiap kali dia pergi kita memikirkan dia akan berbuat apa, setiap kali dia berkata-kata kepada kita, kita mencurigai dia, menyembunyikan apa dari kita. Nah kalau itu sudah menjadi relasi kita atau yang terjadi dalam relasi kita itu pertanda buruk, jadi percaya itu penting sekali, salah satu pilar dalam pernikahan.
GS : Nah apakah untuk mengetahui calon pasangan hidup kita itu pantas dipercaya atau tidak, apakah kita perlu melakukan suatu tes atau bagaimana Pak Paul?

PG : Sebetulnya tidak usah, jadi dengan berjalannya waktu dalam perjalanan berteman dengan dia kita akan bisa melihat apakah pembicaraannya konsisten/sama, apakah yang dia katakan itulah yang bnar.

Nah itu akan terlihat maka sekali lagi perlu waktu. Jangan menikah dengan seseorang yang baru kita kenal tiga hari atau tiga bulan. Lewati waktu yang lebih panjang agar kita bisa mengenalnya, orang ini layak dipercaya atau tidak.
GS : Tadi Pak Paul katakan setidaknya ada enam, ini baru dua yang lainnya apa Pak Paul?

PG : Yang ketiga adalah jika saya menikah, saya akan menikah dengan orang yang dapat saya kasihi. Artinya orang ini loveable bisa dan layak saya kasihi, kenapa kok bisa saya kasihi, orang ini mmang baik, menyenangkan kita, bukan hanya dia baik kepada kita tetapi orang ini menyenangkan, sehingga tidak bisa tidak dekat dia kita itu ingin menghujani dia dengan cinta-kasih, dengan hal-hal yang indah, dengan pengalaman-pengalaman yang positif.

Jadi kebalikannya adalah jangan memilih orang yang kita itu tidak senang berada dekat dia, bukannya menimbulkan rasa senang malah rasa tidak senang. Kita bukannya terpancing atau tergugah untuk melimpahkan dia dengan kemesraan dan hal-hal yang indah. Kita justru tidak peduli dia mendapatkan kemesraan atau kesenangan dari kita atau tidak. Nah kalau itu yang kita rasakan berarti itu pertanda ini bukan relasi yang baik, bukan orang yang cocok untuk kita. Nah jadi ini salah satu pertanda saya akan menikah dengan orang yang bisa saya kasihi, orang ini memang loveable orang yang menyenangkan.
GS : Pada hal Pak Paul untuk bisa merasakan itu sebenarnya kita sendiri harus bisa dihormati, harus bisa dipercaya dan harus bisa mengasihi orang lain Pak Paul?

PG : Tepat sekali rumus ini memang harus dua arah. Jadi bukan saja kita melihat pasangan kita seperti itu diapun mesti melihat kita seperti ini, kita ini bisa dipercaya, kita ini juga orang yan layak dikasihi.

Jadi ini dua arah semuanya Pak Gunawan. Nah yang keempat adalah jika saya menikah nanti saya akan menikah dengan orang yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, alias orang ini fleksibel. Dia bisa mengerti kita, memahami alam pikiran kita, bisa memahami perasaan kita, nah itu modal pertama. Modal kedua orang ini juga bisa dan bersedia mengubah dirinya menyesuaikan diri dengan keberadaan kita. Jadi kalau orang kebalikannya tidak mau berubah dan sangat kaku dan berkata kamu mau terima saya atau tidak terserah kamu, tapi saya orangnya seperti ini, di dalam setiap kasus selalu berkata begitu. Orang ini memang susah menyesuaikan diri dengan kita. Dan orang yang susah untuk menyesuaikan diri, bukanlah kandidat yang paling cocok untuk menikah karena pernikahan menuntut orang bersedia menyesuaikan diri.
GS : Mungkin yang sulit itu adalah menyesuaikan diri dengan lingkungannya Pak Paul, dengan lingkungan barunya nanti, biasanya dia akan kesulitan.

PG : Bisa jadi, kadang-kadang kita memang ditempatkan di dalam kondisi yang berbeda. Nah itu juga diperlukan kesediaan dan kebisaan untuk menyesuaikan diri kalau itu tidak bisa kita lakukan kit akan mengundang masalah masuk ke dalam rumah tangga kita.

GS : Ya dan dia harus siap-siap juga untuk menyesuaikan diri bahwa dia tidak lagi seperti waktu sebelum menikah Pak Paul ya?

PG : Ya jadi memang itu proses yang berlangsung terus-menerus.

GS : Ada ciri yang lain Pak Paul?

PG : Yang kelima adalah jika saya menikah nanti, saya akan menikah dengan orang yang telah siap mengakhiri hidup lajang. Maksudnya dia itu bersedia mengakhiri hal-hal yang biasa dia lakukan sebgai seorang lajang.

Dia siap menjadi suami atau istri seseorang, artinya dia siap dimiliki seseorang. Ada orang hanya mau menikah, tidak mau dimiliki, nah ini tidak benar karena pernikahan itu relasi yang eksklusif. Alkitab mengatakan bahwa suami, tubuhmu bukan milikmu lagi tapi milik istrimu. Istri tubuhmu bukan milikmu lagi tapi milik suamimu. Jadi Tuhan memang menegaskan dalam pernikahan terjadi penyatuan sehingga hak milik juga berpindah tangan. Suami menjadi bagian dan milik istri, istri menjadi bagian dan milik suami. Nah kalau kita tidak bersedia dimiliki oleh pasangan kita, diatur oleh pasangan kita, maka kita juga akan mengalami kesulitan dalam pernikahan.
GS : Ya itulah sebabnya kadang-kadang orang merasa tidak mau menikah karena merasa terikat Pak Paul?

PG : Betul sekali, dan kalau memang orang belum bersedia terikat, jangan menikah sebab pernikahan sebuah tali, ikatan, orang harus berada dalam bukan di luar tali ikatan itu.

GS : Dan yang terakhir Pak Paul, yang keenam?

PG: Saya akan menikah dengan orang yang telah siap berkeluarga artinya apa siap berkeluarga, siap menjadi ayah atau ibu, siap membagi hidup dengan pasangan kita dan anak-anak kita. Kadang-kadan kita mendengar kisah seperti ini Pak Gunawan, seorang ayah diminta mengantar anaknya ke rumah temannya, tidak mau, karena lebih baik menonton televisi di rumah.

Nah artinya orang itu belum siap berbagi hidup. Berbagi hidup artinya berbagi aktivitas, sehingga yang dia ingin lakukan kadang-kadang tidak bisa sepenuhnya dia lakukan, dia harus bagi itu dengan adanya kehadiran orang di rumah tangganya. Nah orang yang mau menikah seharusnyalah dia siap untuk berbagi hidup, dia menjadi ayah atau ibu bagi anak-anaknya.
GS : Dan rupanya siap berkeluarga ini juga bisa ditinjau dari faktor ekonomi segala macam Pak Paul?

PG : Bisa, kalau memang secara ekonomi memungkinkan itu berarti lampu hijau kita melanjutkannya ke jenjang pernikahan, kalau memang masih belum sebaiknya kita menantikan lagi, menunggu lagi.

GS : Ya dalam hal ini Pak Paul persetujuan orang tua itu dimana tempatnya?

PG : Persetujuan orang tua pada umumnya adalah petunjuk umum yang harus kita dengarkan, petunjuk yang perlu kita pertimbangkan dengan serius, sebab nomor satu orang tua mengenal kita dengan bai dibandingkan orang lain.

Jadi ada masukan-masukan yang bisa orang tua berikan yang orang lain tidak bisa berikan. Nah berikutnya orang tua pada umumnya berniat baik, tidak mau menjerumuskan anaknya ke kancah problem, maka ada kalanya kekhawatiran orang tua itu memang bisa sulit diterima oleh si anak, tapi sebaiknya diperhatikan mengapa karena memang pada dasarnya mereka berniat baik untuk kita. Lalu pada prinsipnya petunjuk orang tua sesuatu yang mau kita pertimbangkan dengan sangat serius. Namun yang saya katakan itu setelah kita dengarkan petunjuk orang tua kita juga perlu untuk mempertimbangkan kembali kriteria-kriteria yang tadi telah saya paparkan dan nanti juga akan saya paparkan, sehingga keduanya bisa klop dijadikan satu bahan pertimbangan.
GS : Jadi Pak Paul kalau kita sudah punya gambaran tentang siapa calon pasangan hidup kita Pak Paul, itu sebenarnya kriteria yang jelas di dalam menentukan pasangan hidup ini seperti apa Pak Paul?

PG : Ada lima Pak Gunawan dan akan saya bahas secara sekilas, yang pertama saya gunakan istilah faktor ibadah, apakah dia seiman; harus seiman, apakah dia memiliki kematangan rohani yang setara artinya berapa pentingnya Tuhan dalam kehidupannya.

Dia boleh berkata dia Kristen, tapi tidak peduli dengan Tuhan berarti memang tidak matang secara rohani. Berapa berminatnya dia pada hal-hal rohani, itu juga kriteria yang perlu kita perhatikan. Berapa relanya dia berkorban bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Kalau dia tidak rela berkorban, perhitungan sekali dengan pekerjaan Tuhan berarti dia tidak memiliki kematangan rohani yang baik. Nah ini perlu kesetaraan kematangan rohani.
GS : Ya itu di dalam hal mengatur keuangan segala kalau kematangan rohani tidak seimbang ini bisa jadi masalah juga Pak Paul?

PG : Sangat bisa karena yang satu bersedia memberikan persembahan, yang satu tidak bersedia.

GS : Yang satu justru ingin berboros-boros, berfoya-foya.

PG : Atau itu yang terjadi.

GS: Pandangannya berbeda Pak Paul. Tetapi apakah ibadah itu menjadi satu-satunya kriteria di dalam pasangan hidup ini?

PG : Ternyata tidak Pak Gunawan. Kriteria yang kedua adalah faktor cinta, apakah dia mencintai saya atau hanya membutuhkan saya, bedakan keduanya. Mencintai untuk kepentingan kita, membutuhkan anya untuk kepentingan dia, apakah dia mencintai atau hanya membutuhkan saya.

Apakah dia mengutamakan kepentingan saya di atas kepentingan orang lain, sebab cinta diukur dari perbandingan kalau dia berkata dia mencintai kita, apakah kita paling penting dalam hidupnya sudah tentu di bawah Tuhan. Jadi faktor cinta ini penting sekali.
GS : Ini sering kali ditempatkan pada faktor yang seolah-olah paling menentukan Pak Paul, pokoknya ada cinta segala sesuatunya akan beres Pak Paul?

PG : Dan ternyata tidak benar, bukan satu-satunya. Ada yang lain lagi Pak Gunawan, misalkan faktor ketiga yakni respek yaitu apakah dia menghargai saya, ataukah dia hanya memanfaatkan atau memaai saya, jangan sampai relasinya relasi pemanfaatan.

Bukan, yang respek adalah yang menghargai saya, apakah dia mempertanyakan pertimbangan saya waktu saya mengemukakan pendapat dan sebagainya apakah dia mempertimbangkan ataukah dia justru mempertanyakan, meragukan terus-menerus pertimbangan kita. Kalau itu yang terjadi dia memang kurang menghargai kita, berikutnya apakah dia dapat menerima saya, diri saya apa adanya, keluarga saya apa adanya, teman-teman pergaulan saya bisa atau tidak dia terima, masa lalu saya bisa atau tidak dia terima, dan masa depan saya; saya mau menjadi apa bisa atau tidak dia terima, nah itu perlu kita perhatikan. Misalkan lagi seberapa jauhkah dia berani mengabaikan pikiran, pendapat atau perasaan saya, kalau dia menghargai, respek pada saya seharusnyalah dia tidak mengabaikan pikiran saya. Apakah dia mengagumi saya, sebab mengagumi adalah cikal bakal respek terhadap saya juga.
GS : Ini menyangkut rasa hormat Pak Paul ya? Rasa hormat terhadap calon pasangan kita itu.

PG : Betul, kalau menghormati berarti mempertimbangkan pendapat kita dan sebagainya.

GS : Faktor yang lain Pak Paul, yang harus dipertimbangkan?

PG : Faktor keempat adalah percaya. Apakah dia dapat mempercayai saya, ini perlu kita tanya. Misalkan dalam kesendirian tanpa kehadirannya, kalau dalam kesendirian tanpa kehadirannya membuat di mencurigai, cemburu pada kita berarti dia tidak percaya pada kita, sedangkan kita tidak berbuat apa-apa.

Apakah dia mempercayai saya dalam pengambilan keputusan, bisa atau tidak dia mempercayai pertimbangan kita atau apakah dia dapa mempercayai saya dalam hubungan dengan lawan jenis, bukan kita dicemburui terus-menerus tapi dia percaya kita bisa jaga diri dengan baik. Nah dalam faktor percaya juga termaktub apakah dia dapat mempercayakan rahasia dan kelemahan hidupnya kepada saya. Kalau dia menyembunyikan diri terus-menerus berarti dia tidak percaya pada saya.
GS : Di dalam kecemburuan itu sering kali orang mengatakan karena saya itu sangat mengasihi kamu maka saya itu cemburu kalau kamu itu dengan orang lain, bukan saya tidak percaya tetapi kecemburuan itu ada karena saya itu cinta kamu, bagaimana itu Pak Paul?

PG : Sudah tentu kita harus introspeksi diri, kalau kita memang mempunyai latar belakang gonta-ganti pacar, nah pacar kita akan lebih mudah mencemburui kita. Nah itu kita harus jaga, maka kalausekarang kita tidak lagi gonta-ganti pacar kita harus tunjukkan kepada pacar kita, bahwa kita ini eksklusif dengan dia, sungguh-sungguh tidak ada orang lain.

Atau kita memang terlalu mudah larut dalam pergaulan dengan lawan jenis, meski tidak ada apa-apa dalam hati kita tapi karena sekarang kita sudah berpacaran, berarti kita memang harus mengurangi intensitas relasi dengan lawan jenis. Karena memang itulah yang seharusnya kita lakukan. Tapi kalau kita melakukan semua itu terus pacar kita itu mencurigai, tidak percaya pada kita nah di situlah kita mesti mulai memikirkan ulang. Kenapa kok dia memiliki problem ini, berarti problemnya bukan hanya pada saya tapi pada dirinya yang tidak aman itu. Nah kita bisa bertanya kepadanya, apa yang harus saya lakukan untuk memberikan rasa aman itu kepadamu. Kalau dia tidak bisa memberikan jawaban atau jawabannya adalah kita harus seolah-olah memutuskan semua hubungan dengan orang termasuk lawan jenis kita, wah ini berarti memang masalah. Dia mempunyai problem dengan rasa percaya, sehingga nantinya dia tidak bergandengan tangan dengan kita, nantinya dia akan mengikat kita, membelenggu kita dan itu menjadi hal yang tidak sehat.
GS : Ya, kriteria yang kelima mungkin Pak Paul?

PG : Yang terakhir ini Pak Gunawan adalah keintiman, jadi pertanyaannya apakah dia tertarik kepada saya dan ingin berdekatan dengan saya. Jangan sampai kita merasa dia tidak tertarik, tidak suk dekat-dekat dengan saya, dan tidak mau menikmati saya.

Apakah dia dan saya dapat saling mendengarkan dan membagikan hidup. Nah ini keintiman emosional, bisa atau tidak dia mendengarkan, bisa atau tidak dia juga mengerti perasaan saya. Nah itu penting kita ketahui, berikutnya apakah dia dapat berkomunikasi dengan saya tanpa harus merasa frustrasi. Ini penting kalau komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik sudah tentu tidak akan ada keintiman. Apakah dia dapat mengambil keputusan dengan saya, artinya kalau ada persoalan kita harus mengambil keputusan bersama, bisa atau tidak; kalau tidak bisa berarti kita akan sering bertengkar dengan dia. Nah kalau sering bertengkar berarti nilai hidupnya berbeda, pandangannya berbeda, dan kita belum memiliki keterampilan menyatukan perbedaan itu nah itu berarti tanda awas. Dan yang terakhir keintiman adalah apakah dia dapat menyentuh perasaan saya, apakah dia seperti batu yang tidak bisa menyentuh perasaan saya, kalau tidak bisa sama sekali memang berarti orang ini sulit untuk menjalin keintiman.
GS : Pak Paul sudah menyampaikan lima kriteria, nah di dalam hal kita menentukan pasangan hidup, kita itu rasanya sulit untuk mencapai kelima-limanya itu terpenuhi Pak Paul. Bagaimana kalau misalnya memang yang tiga terpenuhi, tapi yang dua tidak, bagaimana Pak Paul?

PG : Sebetulnya hal kelimanya harus ada Pak Gunawan, jangan sampai ada yang tidak ada. Misalkan kalau yang tidak ada misalkan respek, tidak bisa kita membangun pernikahan tanpa respek, misalkantidak ada ibadah yang sama, tidak bisa kita membangun pernikahan tanpa ibadah kepada Tuhan, tidak ada keintiman, apa yang akan tertinggal dalam pernikahan kita.

Jadi kelimanya memang harus ada, seolah-olah sukar tapi kalau kita bertemu dengan yang cocok nantinya kita kerja keras menemukan yang cocok itu, kita akan menemukan kelima hal ini. Sudah tentu ada yang kuat ada yang lemah. Nah itu perlu kita terima, toleran dan kita mencoba perbaiki.
GS : Ada orang yang sedang berpacaran, salah satunya itu sudah mengatur-atur Pak Paul, dia tidak menguasai katanya, cuma diatur karena ini memang tidak bisa kalau tidak diatur.

PG : Saya kira harus ada batasnya dalam pengaturan itu, artinya apakah pengaturan itu membuat pasangannya kehilangan diri sama sekali, kalau itu yang terjadi memang itu tidak sehat. Meskipun paangannya itu tidak keberatan dia kehilangan dirinya, namun itu tidak sehat karena takutnya suatu hari kelak dia akan berontak, sebab dia tidak bisa terus-menerus hidup sesuai dengan tuntutan atau harapan pasangannya.

Dia pun ingin hidup sesuai dengan keinginannya sendiri suatu hari kelak, nah hal-hal seperti itu menjadi hal-hal yang tidak sehat.
GS : Pak Paul, apakah di dalam hal ini ketika orang mulai mencari persamaan untuk menemukan kriteria ini, itu apakah mereka masih tetap menantikan pimpinan Tuhan?

PG : Harus Pak Gunawan, jadi saya kembalikan lagi kepada firman Tuhan yang Tuhan ucapkan sewaktu dia menciptakan istri bagi Adam, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadkan penolong baginya yang sepadan dengan dia, artinya Tuhan terlibat aku akan menjadikan seorang penolong yang sepadan baginya.

Libatkan Tuhan, jangan takut libatkan Tuhan itu untuk kebaikan, Tuhan berbicara kepada kita melalui banyak cara, salah satunya orang yang kita kenal orang tua yang menyayangi kita dan sebagainya. Dengarkan masukan itu jangan sampai kita takut, sehingga menyembunyikan hubungan ini, mengisolasi relasi kita dari orang lain sehingga semua masukan kita tangkal. Nah relasi yang seperti itu tidak sehat karena apa, kita menutup pintu terhadap campur tangan Tuhan. Jadi buka pintu, biarkan Tuhan berbicara menuntun hidup kita melalui orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang kita alami. Yang kedua yang saya mau tekankan adalah jujur, jujur artinya dengarkan hati yang terdalam. Kalau kita hidup dalam Tuhan, Tuhan akan berbicara lewat hati kita yang paling dalam bukan saja lewat orang atau peristiwa dari luar hidup kita. Kalau hati yang terdalam berkata ini tidak cocok, ini bukan untukmu, akui dengan jujur, dengarkan baik-baik. Berapa orang yang mengeraskan telinga, menutup telinga, tidak mau mendengar suara Tuhan dari dalam hatinya. Akhirnya harus menuai penyesalan setelah menikah.
GS : Ya, memang sering kali kita berkata cinta itu buta lalu juga buta terhadap pimpinan-pimpinan Tuhan ini, ini yang celaka Pak Paul.

PG : Betul.

GS : Jadi saya percaya perbincangan ini akan sangat menolong para muda-mudi atau mereka yang saat ini sedang mencari atau sedang mencari di dalam pergumulannya untuk mendapatkan pasangan hidup, tetapi kita percaya juga bahwa Tuhan pasti akan menolong dan memberkati mereka. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini.

Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih bahwa anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Jika Saya Menikah Nanti". Bagi anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silahkan anda menghubungi kami lewat surat alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mngucapkan terima kasih atas perhatian anda sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



32. Pemuda dan Tantangannya


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T143B (File MP3 T143B)


Abstrak:

Pemuda harus melewati masa yang penuh kebingungan, penuh tantangan, banyak keputusan yang harus diambil, termasuk karier dan berkeluarga. Jangan sampai tantangan itu membuat kita kehilangan kesetiaan dan tanggung jawab.


Ringkasan:

Persiapan Berkeluarga

Tahap Pertumbuhan (Erik Erikson)

  1. Pembentukan Ego vs Kebingungan Peran
    Jika berhasil: memiliki peran sosial yang jelas; nyaman dengan karier, keluarga, relasi, dan jatidiri seksualnya; menjadi bagian dari lingkungannya; menikmati hidup dan kegiatan sehari-harinya; memahami dengan jelas siapa dirinya; terintegrasi dengan masa lampau dan masa depannya.
    Jika gagal: tidak nyaman dengan perannya; merasa terhilang dalam kelompok dan lingkungannya; menjalani perannya dengan penuh keraguan; pindah-pindah kerja atau tempat tinggal.

  2. Keintiman vs Kesendirian
    Jika berhasil: membangun relasi intim dengan pasangan dan teman; bisa curhat dan bersama dengan mereka; mampu membagikan kemesraan.
    Jika gagal: terpisah dari teman, pasangan, menghindar dari relasi intim dengan orang; menyendiri atau sebaliknya, malah sangat sosial; relasi dengan orang sebetulnya formal dan dangkal.

Kesimpulan

  1. Masa kebingungan dan ketakutan namun harus tetap mempertahankan integritas, secara spesifik, kejujuran.

  2. Masa pertumbuhan iman: Melibatkan atau tidak melibatkan Tuhan dalam pencarian pasangan hidup. Inilah momen di mana kematangan jiwa dan iman kita teruji dengan gamblang; berapa rohani atau matangnya kita terlihat jelas dalam hal penentuan pasangan hidup.

Pertumbuhan Karakter

Fokus Utama: Setia dan bertanggung jawab

Pada masa inilah kesetiaan mendapatkan ujian terberatnya: setia kepada Tuhan dan setia kepada orang yang telah kita pilih. Demikian pula dengan tanggung jawab: Apakah kita akan bertanggung jawab dengan janji yang telah kita berikan, tugas yang telah kita emban, dan pilihan yang telah kita buat?

Contoh dalam Alkitab: Yusuf ( Kejadian 37-50 )

  1. Karier: Gembala, budak, tahanan, perdana menteri.
  2. Relasi: Tetap bagian dari keluarga; beristri satu.
  3. Karakter: Setia dan bertanggung jawab.

"Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan...." Kejadian 50:19-20


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pemuda dan Tantangannya", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, hidup sebagai pemuda memang banyak tantangannya. Kita pernah membicarakan beberapa waktu yang lalu bagaimana pemuda harus bergumul menentukan karier yang harus dia jalani atau profesi yang harus dia tekuni, tetapi selain profesi dan karier tentu ada masalah lain yaitu masalah menentukan pasangan hidup atau teman hidupnya. Nah ini 'kan merupakan bagian yang cukup sulit yang harus dihadapi oleh pemuda. Apa yang Pak Paul bisa berikan kepada kita semua itu Pak Paul?

PG : Pertama kita akan mencoba melihat dahulu tahapan sebelum masuk ke usia pemuda yakni usia remaja Pak Gunawan. Sebab apa yang terjadi di masa pemuda sebetulnya sudah mulai terjadi di masa reaja dan di masa remajalah kita meletakkan fondasinya.

Menurut seseorang bernama Erik Erikson, pada masa remaja seseorang itu berkesempatan membangun jati dirinya, siapakah dia itu. Nah, kalau dia berhasil menemukan dan membangun jati dirinya dia menjadi seseorang yang mantap. Dia tahu siapa dia di tengah-tengah kerumunan teman-temannya. Dia tidak terhilang di lautan teman. Tapi sebaliknya juga dia memiliki konsep diri yang juga realistik, sehingga dia tidak menjadi seseorang yang menonjol dan besar sendirian di tengah-tengah kerumunan temannya. Dengan kata lain dia tahu dirinya dengan pas, kekurangannya, kelebihannya, kebisaannya, keterbatasannya, dan dia bisa merangkul keduanya dengan luwes. Kalau dia bisa menemukan ini semuanya dia akan memasuki usia dewasa dan membangun yang kita sebut keintiman. Sebaliknya kalau dia tidak menemukan dirinya dan dia bingung terus dengan siapa dirinya waktu memasuki usia dewasa bukannya keintiman yang dia bangun malah dia mulailah menarik diri, mengisolasi diri dari orang-orang yang sebetulnya mau dekat dengan dia. Dengan kata lain Pak Gunawan, kita hanya berani intim atau dekat dengan orang kalau kita memiliki kepercayaan diri yang cukup, kalau kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup, kita takut dekat dengan orang. Kita takut nanti orang ini mengetahui siapa kita, nanti orang ini menolak mengetahui keterbatasan kita dan sebagainya. Nah, ada orang yang mengisolasi dirinya secara blak-blakan, menyendiri, tidak mau bertemu dengan orang, dan sebagainya, teman-temannya pun tidak ada. Tapi ada sebagian orang yang mengisolasi dirinya secara kamuflase tidak terlihat yaitu dia menjadi orang yang sebetulnya sosial, banyak teman, bergaul, namun semua pertemanannya itu sangat dangkal. Dia menutup pintu sehingga teman-temannya tidak bisa masuk dan mengenal siapa dia. Nah, apapun gaya atau caranya intinya adalah dia memisahkan diri dari lingkungannya sehingga tidak bisa menjalin keintiman. Nah, faktor ini yang akan berpengaruh besar nantinya dalam hal kesiapan seseorang untuk berkeluarga. Sebab berkeluarga menuntut satu syarat yaitu kemampuan kita untuk membagi hidup, untuk dekat dengan orang dan membiarkan orang dekat dengan kita.
GS : Ya sebagai orang tua kita tentunya mau melakukan sesuatu untuk menolong anak kita khususnya yang remaja dalam masa yang begitu sulit, tetapi apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua Pak Paul?

PG : Ini memang sedikit sulit Pak Gunawan, kalau orang tua baru menyadari masalah si anak tatkala anak sudah berusia belasan tahun atau bahkan 20 tahunan. Kenapa sulit, sebab memang biasanya ank-anak itu harus melewati tahapan-tahapan secara alamiah dan kita tidak bisa mengkarbitkannya.

Misalkan tadi saya sudah katakan bahwa apa yang terjadi di masa pemuda sebetulnya itu fondasinya sudah diletakkan di masa remaja, pembentukan jati dirinya itu. Tapi sesungguhnya juga sebelum masa remaja ada masa kanak-kanak dan di situpun masa kanak-kanak sebetulnya juga harus melewati tahapannya dengan baik. Karena kalau tidak akan mempengaruhi masa remajanya. Saya berikan contoh yang lebih kongkrit. Kalau seorang anak mempunyai banyak teman pada masa kecil masa SD misalkan. Dia akan mulai nyaman dia merasa nyaman berada dengan anak-anak lain. Dia diterima dia bisa bermain dengan mereka dia bisa bermain dengan adil, dengan jujur sehingga teman-temannya suka dengan dia. Sehingga dari masa SD dia sudah persahabatan dengan teman-teman. Memasuki masa-masa remaja SMP, SMA anak ini sudah sedikit banyak mengenal siapa dirinya, sehingga dia lebih bisa masuk juga dengan teman-temannya. Teman-temannya memberikan tanggapan lebih banyak lagi tentang siapa dia. Sehingga sekeluarnya dia dari masa remaja dia mempunyai gambaran yang lumayan jelas tentang siapa dia, kebisaan, ketidakbisaan, dan sebagainya. Nah, ini menjadi modal buat dia memasuki masa pemuda. Dia bisa dekat dengan orang karena dia berani dilihat apa adanya oleh teman-temannya. Sebaliknya kalau anak-anak itu dari kecil memang kurang mendapatkan bimbingan, minder, takut sama orang-orang dan orang tuanya juga tidak peduli tidak membimbingnya sehingga dia terus hidup seperti dalam rimba tersesat, tidak tahu arah. Memasuki masa remaja tambah tersesat. Nah, kalau misalkan teman-temannya memberikan pengaruh buruk dia masuk ke jalur yang buruk atau dia menjadi anak yang terlempar keluar dari lingkungannya. Nah misalkan dia tidak pernah punya teman, dengan lawan jenispun tidak ada pergaulan waktu memasuki usia pemuda orang tuanya baru sadar, nah itu memang sudah sedikit terlambat. Orang tua bisa berkata: "kamu pergi, kamu bergaul, kamu jangan di rumah saja", masalahnya si anak tidak berani dan dia tidak tahu bagaimana cara membangun sebuah pertemanan. Akhirnya dia lebih menarik diri, temannya bicara apa dianggapnya menghina dia, dianggapnya setiap orang sedang mau menyudutkan dia dan sebagainya. Jadi apa yang orang tua bisa lakukan, pada masa pemuda memang sudah sangat sedikit dan memang harus diawali pada masa-masa yang lebih kecil.
GS : Ya Pak Paul, ada yang masa anak-anaknya sudah diupayakan untuk diberikan suatu arahan yang baik, tetapi memang perjalanan hidup ini kadang-kadang sulit ditebak Pak Paul, karena suatu masalah orang tuanya itu bangkrut, jatuh miskin. Anak ini yang tadinya gampang bergaul tiba-tiba dia menarik diri dari lingkungan temannya.

PG : Itu bisa terjadi, karena memang bagaimanapun pengaruh kejatuhan orang tuanya ada pada perkembangan jiwanya. Namun kalau anak ini sudah memiliki konsep diri yang sehat, mempunyai pergaulan ang baik dengan temannya seharusnya kejatuhan ini hanya bersifat sementara dia mungkin menarik diri sebulan, dua bulan namun teman-temannya tidak membiarkan, teman-temannya akan mencoba menghiburnya karena memang relasinya sehat dia berani ngomong apa adanya, teman-temannya juga baik dengan dia, simpati kepadanya, dia ditarik keluar tidak sempat untuk menguburkan diri di dalam lubang.

Karena teman-temannya mendukung dia. Nah kebalikannya kalau memang pada dasarnya dia tidak mempunyai jaringan pertemanan yang kuat seperti itu seolah-olah tidak ada penahannya. Waktu dia jatuh ya dia jatuh sendirian dan tidak ada yang mengangkatnya.
GS : Nah kalau dengan modal dia bisa intim dengan teman-temannya, apakah itu mempermudah dia menemukan pasangan hidupnya Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, kalau dia sudah memiliki keberanian untuk menjadi dirinya, dilihat apa adanya, membiarkan orang dekat kepadanya, dan mengerti bagaimana dekat dan mengasihi orang,orang-orang ini akan lebih siap memasuki ikatan nikah.

Karena mereka siap untuk membagi hidup. Nah, sudah tentu tidak selalu mulus kadang kala tetap orang-orang atau kita juga harus melewati fase-fase kebingungan ya Pak Gunawan. Kadang kala ada juga ketakutan, aduh bagaimana ini ya dalam masa berpacaran, cocok atau tidak, nanti bagaimana. Namun yang saya ingin tekankan adalah ya kalaupun ada ketakutan dan kebingungan tidak apa-apa kita mesti tetap mempertahankan integritas kita. Kenapa saya menekankan ini sebab ada sebagian kita karena takut tidak mendapat jodoh, kita tahu seharusnya kita dapat jodoh akhirnya kita berpura-pura kita menggunakan topeng, sehingga orang tidak tahu siapa kita. Orang hanya tahunya kita seperti ini, kita mengikuti apa yang orang minta. Kita kehilangan diri sendiri atau ada orang yang berbohong jelas-jelas berbohong karena ingin mendapatkan orang yang dikasihinya. Akhirnya masuk dalam ikatan pernikahan, namun sudah menyimpan masalah, ada orang yang misalkan ini wanita menyerahkan tubuhnya takut kehilangan pasangannya supaya apa pasangannya tidak meninggalkannya. Nah akhirnya menikah juga, jadi saya mau tekankan berhati-hatilah dalam masa persiapan berkeluarga jangan sampai kita mengkompromikan integritas diri kita. Kita mesti berani muncul apa adanya, ditolak apa tidak tetap berani integritas kita, kita pertaruhkan. Jangan berkompromi mengambil jalan-jalan pintas yang tidak benar.
GS : Ya, mungkin perlu diketahui bahwa masing-masing kita itu memang diciptakan secara unik Pak Paul ya, jadi kita tidak perlu kuatir atau harus menyamai orang lain.

PG : Betul sekali. Memang pada masa pemuda ini tekanannya cukup besar Pak Gunawan. Karena ada yang sudah mulai sukses kelihatan arahnya, menanjak kariernya. Nah, misalkan kita melihat diri kitakok masih di bawah nah hati-hati dengan godaan-godaan untuk menutupi diri kita, mengkamuflase diri kita nah hati-hati itu.

Ada orang yang karena ingin tampil bergaya, mampu, beruang justru memeras orang tuanya memberi dia banyak uang padahal orang tuanya tidak punya uang. Supaya apa, di hadapan pacarnya dia tampil orang yang mampu, mempunyai uang yang cukup. Nah, ada godaan-godaan seperti itu jangan ya, yang saya ingin tekankan adalah berdoa, bersandar pada Tuhan, pertahankan integritas diri kita, percayakan hidup kepada Tuhan termasuk dalam hal pasangan hidup ini.
GS : Ya, kalau begitu Pak Paul sudah menyinggung masalah karakter seseorang khususnya pemuda ini Pak Paul, ini bagaimana Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan. Jadi memang tidak bisa tidak persiapan-persiapan menuju kepada kehidupan berkeluarga juga melibatkan faktor karakter-karakter kita. Apakah kita ini menjadi pemudayang setia dan bertanggung jawab.

Nah, saya kira dua hal itu setia dan bertanggung jawab adalah dua karakter yang menjadi tantangan terbesar pemuda, kenapa, sebab pada masa inilah seorang pemuda itu diuji kesetiaannya. Misalkan setiap ada pacarnya dia sudah memberikan komitmen dan pacarnya memang menyayangi dia dan diapun menyayanginya. Hubungan itu baik, tapi sekarang melihat yang lain, terus memikirkan yang lain-lain. Nah dia gonta-ganti pacar, sehingga kesetiaan itu dengan mudah ditanggalkan. Pada masa pemuda inilah kesetiaan menjadi ujian bagi seorang pemuda, bisa atau tidak dia setia. Setia ini juga berkaitan dengan pekerjaannya, dia sudah menekuni satu bidang yang dia memang cocok apakah dia akan terlalu mudah tergiur dengan tawaran-tawaran yang lain. Bisakah dia berpikir dengan jernih dan tenang dan melihat apakah dia memang harus pindah, apakah semua keputusan didasari atas kriteria finansial saja. Apakah tidak bisa kita mendasarinya atas faktor kenyamanan bekerja, pertemanan dengan teman-teman yang baik. Nah, di sinilah kesetiaan diuji. Nah tadi saya sudah singgung selain kesetiaan yang juga akan menjadi ujian bagi pemuda adalah faktor bertanggung jawab. Apakah kita itu dengan mudah melepaskan tanggungjawab, berkelit dari tuntutan, pokoknya yang penting kita selamat, nah ini masa pemuda diuji. Kalau kita menaruh fondasi berkelit terus-menerus, cuci tangan terus-menerus, kita akan membawa kebiasaan ini untuk masa-masa selanjutnya. Tapi kalau dari masa pemuda kita sudah menetapkan kita mau bertanggung jawab, apa yang kita katakan kita pegang dan apa yang kita janjikan kita coba penuhi. Nah kita akan membawa fondasi ini masuk ke dalam karier kita nantinya.
GS : Ya tapi dalam rangka ini menemukan tempat kerja yang tepat untuk dia, bukankah dia memerlukan kesempatan untuk bisa berpindah dari satu pekerjaan ke tempat pekerjaan yang lain?

PG : Tepat sekali, memang perlu adanya keseimbangan di sini Pak Gunawan, sudah tentu boleh seseorang itu pindah kerja, boleh meningkatkan kesejahteraan. Namun yang saya ingin tekankan adalah jagan sampai kita mengambil keputusan hanya atas dasar itu.

Kita mesti juga mempertimbangkan faktor-faktor lain. Ada kalanya memang ini kesempatan terbuka namun kalau kita ambil misalkan kita harus berpisah dengan pacar kita. Nah kita tahu bahwa prioritas kita bukan hanya bekerja tapi juga membangun relasi. Kalau kita pindah ke kota yang berbeda kita harus berpisah dari pacar kita, kemungkinan kita akan kehilangan waktu bersama untuk saling mengenal. Kalau kita digelapkan mata kita digelapkan hanya fokus pada pokoknya pekerjaan ini lebih bagus, uang lebih besar. Nah mulailah kita kehilangan perspektif ya yang namanya kesetiaan dan bertanggung jawab nah itu mulai kita kurangi. Nah ini yang mesti kita jaga. Banyak orang memulai masa pemudanya dengan modal setia dan tanggung jawab yang lumayan banyak, dengan berjalannya waktu makin hari makin kurang. Karena semua dikompromikan untuk kepentingan pribadi supaya mendapatkan yang diinginkan. Nah inilah yang harus kita jaga.
GS : Pak Paul, apakah ada contoh kongkret di dalam Alkitab tentang orang-orang yang setia dan bertanggung jawab itu?

PG : Kebetulan ada Pak Gunawan. Salah satunya yang menarik perhatian saya adalah kehidupan Yusuf. Yusuf adalah seseorang yang mengalami perubahan hidup cukup besar. Dan dapat kita katakan karienya juga tukar-menukar dengan cukup drastis.

Pertama dia adalah seorang gembala yang menjaga ternak dia diminta oleh ayahnya membantu kakaknya karena itulah mungkin yang dilakukan oleh keluarganya. Setelah itu apa yang terjadi, yusuf harus ditangkap oleh saudaranya sendiri, dijual sebagai budak akhirnya menjadi seorang budak. Setelah menjadi budak menjadi budak yang baik. Tapi akhirnya difitnah oleh nyonya majikannya dibuang lagi masuk sebagai seorang tahanan. Ganti lagi profesi menjadi seorang tahanan. Dari tahanan akhirnya Tuhan mempromosikan dia menjadikan dia seorang perdana menteri. Dengan kata lain kita melihat lonjakan-lonjakan perubahan hidup dan karier dalam hidup Yusuf ini.
GS : Ya tapi kalau kita melihat tokoh Yusuf yang tadi Pak Paul sampaikan itu kan keadaan memang memaksa dia, Tuhan itu menggunakan situasi dan kondisi saat itu untuk menggiring dia menjalani sekian banyak karier Pak Paul?

PG : Betul, memang itu adalah cara Tuhan membawa Yusuf ke Mesir dengan tujuan pada akhirnya membawa Yusuf ke Mesir untuk menyediakan kebutuhan orang Israel dalam masa kelaparan. Yusuf tidak tah itu namun kita melihat di sini satu karakter Yusuf setia dan bertanggung jawab.

Waktu dia di rumah disuruh oleh ayahnya menemui kakak-kakaknya yang sedang menjaga hewan. Sebetulnya dia bisa langsung pulang setelah menemukan bahwa kakaknya tidak ada di tempat itu. Namun waktu dia tanya-tanya di mana kakaknya berada dia tahu kakaknya berada bermil-mil jauhnya dari tempat dia di situ. Dia mengambil waktu berjalan begitu jauh untuk menemui kakaknya, membawa makanan untuk mereka. Dengan kata lain dari kecil kita melihat setia dan bertanggung jawab. Yusuf memang begitu. Waktu dia dibuang sebagai seorang budak bekerja di rumah Potifar, dia menjadi orang yang dipercaya, kenapa dipercaya, karena dia setia dan bertanggung jawab. Kesetiaannya terbukti waktu istri Potifar menggodanya. Dia berkata: "Semua hal di rumah ini dipercayakan kepada saya oleh suamimu. Hanya satu yang tidak yaitu engkau karena engkau miliknya. Masakan aku berbuat hal yang seperti ini kepada suamimu dan (ini yang ditekankan) masakan aku berdosa atau berbuat jahat kepada Tuhan." Nah, jadi kita melihat Yusuf seorang yang setia. Waktu dia di penjara juga seperti itu dia menjadi tahanan dia tetap menjadi orang yang baik. Temannya mimpi bingung dia mencoba mendoakan, dia mencoba mencari jawaban mimpi itu. Jadi kita melihat di dalam posisi apapun karier apapun yang harus dilewati oleh Yusuf baik itu karier yang baik maupun yang sangat buruk. Dia tetap setia dan bertanggung jawab.
GS : Bagaimana dengan relasi dia dengan sesamanya Pak Paul?

PG : Nah kita bisa juga menyoroti Yusuf dari sudut relasi Pak Gunawan. Yaitu ini dia tetap menjadi bagian dari keluarganya meskipun dia disakiti oleh kakak-kakaknya pada akhirnya dia tetap meneima keluarganya.

Dia tidak marah kepada mereka, dia tetap memeluk mereka sebagai bagian dirinya. Dan salah satu orang yang memang dikenal beristrikan satu adalah Yusuf di Alkitab di Perjanjian Lama ini. Nah Yusuf memang tidak dikenal sebagai orang yang mempunyai lebih dari satu istri, dia setia juga pada satu istrinya. Jadi dalam hal berelasi Yusuf pun menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawabnya. Waktu kakak-kakaknya datang setelah ayahnya meninggal ya takut Yusuf akan marah kepada mereka. Yusuf berkata tidak. Dan Yusuf berjanji akan mencukupi kebutuhan mereka bertanggung jawab. Jadi dalam setiap relasi sifat atau karakter setia dan tanggung jawab diperlihatkan oleh Yusuf.
GS : Karakter setia dan bertanggung jawab ini Pak Paul itu memang terbentuk sejak kecil atau sejak lahir?

PG : Saya percaya bahwa karakter ini bentukan dari keluarganya ada dari ayahnya dan yang kedua dari kecil Yusuf memang sudah menunjukkan satu sikap takut akan Tuhan. Jadi takut akan Tuhan yangakhirnya membentuk seseorang untuk bertangung jawab dan setia.

Kalau kita sudah tidak takut akan Tuhan, kita tidak lagi mempedulikan kesetiaan atau sikap bertanggung jawab. Yang penting kita bebas, kita selamat, kita mementingkan diri sendiri, hanya itu. Jadi saya kira Yusuf memperlihatkan sikap takut akan Tuhan dari awalnya.
GS : Padahal kalau kita melihat keluarganya Pak Paul, kita tahu Yakub misalnya yang dikenal sebagai penipu, lalu kakak-kakaknya juga tidak mendukung itu tapi kok bisa terbentuk suatu sikap yang begitu bagus dalam diri Yusuf ya Pak Paul?

PG : Begini Pak Gunawan, memang kelurga Yakub adalah keluarga yang jauh dari ideal. Yakub tidak menyayangi istrinya, dia hanya menyayangi satu dari empat istrinya itu yakni Rachel yang lainnya emang tidak.

Dia menikah dengan Lea karena terpaksa dan Lea akhirnya menyerahkan budaknya kemuadian Rachel juga menyerahkan budaknya, jadilah Yakub mempunyai empat istri. Tapi yang sangat dia kasihi sebetulnya hanya satu, maka anak-anak dari Rachellah yang paling dikasihinya. Dengan kata lain anak yang dikasihinya menerima sangat banyak darinya, anak yang tidak dikasihinya tidak menerima apa-apa bahkan Yakub menciptakan kebencian pada diri saudara-saudara Yusuf. Nah, kalau kita bisa sedikit sejenak untuk kesampingkan relasi Yakub dengan anak-anaknya yang lain kita hanya fokuskan pada relasi dia dengan Yusuf dan Benyamin, kita bisa memetik suatu pelajaran di sini Pak Gunawan, bahwa anak menyerap banyak dari orang tua yang mengasihinya. Bahkan dalam hal ini anak-anak Yakub yang bernama Yusuf dan Benyamin ini terutama Yusuf ya menyerap sifat-sifat rohani papanya. Jadi apa yang menjadi keyakinan apa yang menjadi keyakinan si ayah, apa yang menjadi gaya hidup rohaninya itu diwariskan kepada anaknya. Kenapa, sebab memang Yusuf menerima kasih sayang dari papanya itu. Jadi kalau kita balikkan situasinya kalau seorang ayah tidak menunjukkan kasih kepada sianak ya jangan terlalu berharap tinggi si anak akan mewarisi iman kepercayaan kita juga. Kira-kira itulah yang terjadi dalam keluarga Yusuf Pak Gunawan.
GS : Ya tentu kita berharap Pak Paul, banyak pemuda-pemuda menjadi Yusuf pada jaman ini, tetapi apakah ada bagian firman Tuhan khususnya dalam konteks itu yang menguatkan kita?

PG : Saya akan bacakan dari Kejadian 50:19-20 , Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jaht terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan," pemuda harus melewati masa yang penuh kebingungan, tantangan, banyak keputusan yang harus diambil pada masa pemuda, termasuk karier dan berkeluarga.

Nah, jangan sampai tantangan-tantangan itu melumpuhkan kerohanian kita, jangan sampai tantangan itu akhirnya membuat kita kehilangan kesetiaan dan tanggung jawab. Untuk bisa terus mempertahankannya kita harus hidup takut akan Tuhan. Yusuf selalu takut akan Tuhan dan itulah yang telah menyelamatkan dia melewati perubahan karier dan perubahan hidup yang begitu drastis. Dia tetap setia kepada keluarganya kepada istrinya dan terakhir kepada Tuhan.

GS : Baik, terima kasih sekali untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pemuda dan Tantangannya". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



33. Bersahabat dengan Remaja


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T150B (File MP3 T150B)


Abstrak:

Anak remaja sangat membutuhkan seseorang yang bisa diajak curhat, cerita-cerita, dll. Sebagai orangtua seharusnya kita lebih banyak bersikap sebagai sahabat bagi anak remaja kita ketika dia mengalami kesulitan, memerlukan bantuan kita. Karena hal ini akan dapat membawa dampak yang besar, baik untuk anak remaja itu sendiri maupun orang tuanya.


Ringkasan:

Orang tua perlu menjalin persahabatan dengan anak remajanya, karena:

  1. Pada masa remaja anak mempunyai kebutuhan yang lebih besar untuk bersikap mandiri dan untuk mendapatkan ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusannya sendiri.

  2. Remaja sudah memperoleh pengaruh yang lebih besar dari teman-temannya. Dengan menjalin persahabatan dengan remaja pengaruh baik orang tua dapat mencegah remaja terikat pada nasihat teman-teman yang belum tentu baik dan benar.

Manfaat bagi orang tua:
Dengan persahabatan, remaja dapat terbuka soal apa saja kepada orang tuanya. Jadi kita bisa segera mengetahui apa yang mereka alami baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk. Bersahabat tidak selalu berarti berbicara, kadang-kadang bersahabat hanya duduk diam, mungkin tidak terlalu banyak yang dibicarakan, tetapi kehadiran dari sahabat itu yang penting.

Langkah-langkah yang perlu orang tua lakukan:
Jangan terlalu banyak berkomentar kalau kita berbicara dengan anak. Terutama komentar-komentar yang negatif.

Amsal 17:17 , "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." Kita sebagai orang tua harus lebih banyak bersikap sebagai sahabat bagi anak remaja kita, maka kita perlu belajar untuk menjadi seorang yang mendampingi ketika anak mengalami kesulitan, kesukaran. Bagian itu yang lebih banyak daripada kita memberikan nasihat-nasihat kita dan perintah-perintah kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bersahabat dengan Remaja", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Heman, memang setiap orang membutuhkan sahabat, tetapi apakah kita sebagai orang tua juga perlu bersahabat dengan anak remaja. Pengertian anak remaja di sini apakah anak kita sendiri atau anak remaja pada umumnya atau bagaimana?

HE : Dalam konteks tema ini yang lebih saya bicarakan adalah orang tua yang bersahabat dengan anaknya yang sudah mencapai usia remaja.

GS : Karena ada gejala juga orang yang sudah dewasa kumpulannya itu dengan anak-anak remaja yang jauh di bawah usianya. Tetapi justru dengan anaknya sendiri dia tidak akrab, Pak Heman?

HE : Adakalanya seperti itu, tetapi dalam konteks pembicaraan kita saya akan lebih mengarahkan bahwa perlu orang tua atau kita sebagai orang tua menjalin persahabatan dengan anak remaja kita sediri.

GS : Alasan Pak Heman?

HE : Pertama, karena anak yang dulunya masih kanak-kanak sekarang sudah berkembang ke arah dewasa dan pada masa remajanya ini anak mempunyai kebutuhan yang lebih besar untuk bersikap mandiri da untuk mendapatkan ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusannya sendiri.

Kemudian yang kedua, pada masa ini remaja sudah memperoleh pengaruh yang lebih besar dari teman-temannya. Nah, kalau kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka, pengaruh baik orang tua dapat mencegah remaja terikat pada nasihat teman-temannya yang belum tentu baik dan benar.
WL : Maksud Pak Heman, persahabatan ini baru dimulai pada saat anak mencapai usia remaja atau memang pada usia sebelumnya belum terjadi persahabatan, atau bagaimana?

HE : Tidak persis seperti itu, pada waktu mereka masih anak-anak biasanya cara kita memperlakukan mereka akan berbeda. Kita misalnya lebih banyak memberikan nasihat, kita misalnya lebih banyak enginstruksikan ini dan itu, kita melarang ini dan itu.

Pada saat mereka mulai menjadi besar mereka tidak bisa lagi menerima cara-cara yang kita lakukan pada waktu mereka masih kanak-kanak.
WL : Nah, itu tadi keuntungan buat remaja karena mempunyai kebutuhan untuk dijadikan sahabat, kalau manfaat buat orang tua itu sendiri ada atau tidak, Pak Heman?

HE : Tentu saja ada dan besar sekali manfaatnya. Pertama dengan persahabatan, remaja dapat terbuka soal apa saja kepada orang tuanya, mereka merasa aman, nyaman bercerita. Jadi kita juga bisa sgera mengetahui apa yang mereka alami baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk.

Sehingga kalau misalnya terjadi hal yang buruk kita bisa mencegah dari awalnya.
WL : Saya mempunyai teman yang bercerita seperti ini, dia mempunyai anak remaja dua putri, yang satu bisa berbicara seperti yang tadi Pak Heman katakan, dia cerita apa saja. Ada cowok yang naksir dia, atau apa dia selalu cerita kepada mamanya, tetapi anak yang kedua itu selalu tidak mau berbicara apa-apa, walaupun ditanya, dipancing, tidak mau terbuka sampai mamanya khawatir sekali padahal pihak orang tua memperlakukan mereka sama, memperlakukan mereka sebagai orang yang dewasa, bersahabat, mengapa bisa seperti itu Pak Heman?

HE : Kadang-kadang memang ciri anak berbeda-beda, ada anak yang lebih mudah untuk berbicara ada yang lebih sulit. Tetapi tetap kita dapat mencari peluang untuk bersahabat dengan mereka dan tida selalu bersahabat itu berarti berbicara.

Kadang-kadang bersahabat hanya duduk diam, mungkin tidak terlalu banyak yang dibicarakan, tetapi kehadiran dari sahabat kita itu yang penting. Memang adakalanya seperti ini, anak tidak nyaman berbicara pada saat-saat tertentu, tetapi kalau kita sabar menunggu dan kita lebih banyak mendengarkan, saat itu akan muncul dia kemudian bertanya sesuatu, nah itu kesempatan yang lebih baik untuk kita bisa menggali dirinya lebih jauh.
GS : Ada orang tua yang merasa khawatir untuk menjadi terlalu dekat dengan anaknya atau menjadi sahabat buat anaknya. Yang dikhawatirkan adalah nanti kalau sudah terlalu dekat anak ini menganggap orang tuanya seperti temannya, kemudian dia tidak dihargai lagi, tidak dihormati lagi sebagai orang tua atau kurang ajar begitu Pak Heman.

HE : Ya problem itu memang ada kemungkinan bisa terjadi, tetapi kalau kita pernah menanamkan respek kepada anak kita waktu mereka kanak-kanak, sehingga mereka pernah merasakan wibawa orang tua ada waktu mereka kanak-kanak, mereka tidak demikian saja sembarangan dengan kita sekalipun kita adalah sahabat mereka.

GS : Berarti melalui persahabatan itu sebenarnya orang tua tidak perlu merasa khawatir bahwa anak tidak akan menghormati dia lagi, Pak Heman?

HE : Betul, apalagi kita sendiri juga menjaga supaya persahabatan kita dengan mereka itu tidak dimanfaatkan untuk mereka manipulasi.

GS : Jadi sangat dimungkinkan persahabatan antara orang tua dan anak, yang tadinya kita berpikir, kalau anak sahabatnya ya anak, kalau orang tua sahabatnya orang tua.

HE : Betul, mungkin tidak persis bisa disejajarkan tapi bisa dianalogikan seperti persahabatan antara Allah dengan manusia yang percaya, seperti Tuhan Yesus dengan kita. Tuhan Yesus mengatakan alau kamu adalah sahabatKu, kamu menaati perintaKu, seperti itu jenis persahabatannya.

GS : Tapi di dalam setiap persahabatan itu ada hambatannya. Dengan yang sebaya saja kita sering kali menemui hambatan, nah bagaimana hambatan yang muncul antara kita dengan anak remaja kita?

HE : Memang ada beberapa hambatan yaitu, bahwa kita itu berada pada generasi yang berbeda dengan anak kita dan itu sendiri sudah otomatis membuat anak seolah-olah merasa bahwa orang tuanya tida mengerti dunia mereka, nah itu salah satu kendalanya.

Dan hal lain lagi adalah kemungkinan orang tua dahulu pernah memperlakukan anak dan membuat anak sakit hati kepada orang tuanya, entah itu salah paham atau itu memang fakta bahwa kita pernah melakukan sesuatu yang membuat anak sakit hati. Kemungkinan hal-hal seperti itu membuat anak juga kurang bisa dekat dengan kita.
GS : Tetapi memang faktanya kita itu sulit memasuki dunia remaja walaupun itu anak kita sendiri, baik dalam cara bicara, mengambil keputusan atau menggunakan peralatan, kadang-kadang kita sulit untuk memahami mereka.

HE : Ya, dan di sini kuncinya sekali lagi adalah kesabaran. Memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Memang ini adalah dua dunia yang berbeda tetapi kalau kita sabar, anak juga bsa belajar memahami dunia kita ketika kita mulai belajar memahami dunia mereka.

GS : Tetapi buat mereka pun rupanya ada banyak hambatan untuk bisa menjalin persahabatan dengan orang tuanya?

HE : Karena secara natural mereka pada saat ini sudah lebih banyak dekat dengan teman-temannya. Nah, kenapa mereka dekat dengan temannya, antara lain karena teman-temannya mungkin lebih menerim mereka, lebih menghargai mereka.

Nah, orang tua dalam hal ini, nah ini bedanya ketika mereka kanak-kanak. Sebagai orang tua, pada saat mereka remaja kita harus sudah mulai juga lebih banyak menghargai mereka dan menerima mereka, ini tentu bukan hal yang mudah karena mungkin ada hal-hal yang kita kurang sukai. Nah di sini kita perlu membedakan dan memberi toleransi tentang hal-hal yang tidak terlalu prinsip tetapi kita bisa menerima mereka.
WL : Ya, sering kali terjadi kesalahpahaman antara orang tua dan anak remajanya, ketika anak remaja lebih membela teman-temannya apalagi kalau hal-hal itu berlawanan dengan apa yang dilarang oleh orang tuanya. Misalnya model rambut, model baju, pasti anak-anak ini lebih membela teman-temannya bahwa temannya yang benar. Nah, orang tua tidak memahami bahwa ini yang sebenarnya wajar terjadi, bahwa ini gejolak masa remaja, butuh penerimaan dari teman-temannya, jadi orang tua sakit hati. Orang tua harusnya bagaimana Pak, apakah perlu diperlengkapi lagi begitu?

HE : Ya, jadi seperti ini yang sering kali terjadi, tentu kalau misalnya kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka, hal-hal seperti ini akan lebih mudah diselesaikan. Nah, gaya kita berbicaa, nada suara kita, itu juga mempengaruhi hubungan kita dengan mereka.

Membuat mereka merasa apakah mereka itu diterima atau tidak, jadi kita tidak perlu serta merta datang langsung dengan nasihat, kita nadanya bertanya dan kita menghargai pendapat-pendapat mereka. Pada suatu saat nanti dia akan meminta sendiri nasihat kepada kita, kalau kita dekat dengan mereka.
GS : Ya ini tentu membutuhkan suatu langkah-langkah awal, kalau ada orang yang memang mau dekat atau menjadi sahabat dari anak remajanya. Pak Heman, mempunyai usulan untuk hal itu?

HE : Ada beberapa hal yang kita harus tahan dari diri kita yaitu yang pertama kita jangan terlalu banyak berkomentar kalau kita berbicara dengan anak. Terutama di dalam hal ini komentar-komenta yang negatif, dan kita lebih banyak menanggapi mereka dengan nada dan suara yang menunjukkan pemahaman atau penerimaan.

Salah satu contoh misalnya, anak berbicara tentang temannya. "Oh......teman saya ini suka iri dengan orang dan sebagainya." Nah, kita tidak perlu memberi komentar: "Ya, belum tentu, kamu periksa dulu apa benar seperti itu, jangan-jangan kamu terlalu banyak curiga." Nah, itu kita tahan dulu, lebih baik kita katakan dengan nada suara seperti ini, "O.....ya, em......temannya begitu ya," supaya ia lebih banyak bercerita. Semakin banyak ini dilakukan, anak semakin terbuka kepada kita.
GS : Tapi kadang-kadang keterbukaan itu Pak Heman, menuntut suatu perhatian yang besar untuk mendengar. Saya pernah digelontor oleh cerita seperti itu dan akhirnya juga tidak tahan, mendengar (yang kebetulan anak perempuan) cerita itu rasanya tidak ada habisnya. Padahal saya sebagai orang tua sulit membayangkan situasi yang dia ceritakan itu.

HE : Ya, di sini keberhasilan Bapak untuk menjalin persahabatan dengan anak Bapak ditunjukkan oleh anak merasa nyaman sekali cerita apa saja. Di lain pihak memang kadang-kadang kita bisa kehilagan kesabaran untuk mendengarkan lebih banyak.

GS : Kesabaran mungkin tidak, tapi konsentrasinya yang hilang, tidak bisa berkonsetrasi lagi hanya didengarkan begitu saja. Kemudian kita mengerjakan sesuatu yang lain yang tidak menyinggung perasaannya.

HE : Ya mungkin kejenuhan, di dalam hal kejenuhan kita bisa saja segera mengalihkan pembicaraan. Atau dengan cara kita melihat ke arah lain seperti agak menunjukkan sedikit bosan dengan topik yng itu.

Tetapi ini jangan sering-sering dilakukan sehingga anak merasa bahwa orang tuanya bosan dengan dia. Tetapi ini petunjuk bahwa anak merasa senang bersahabat dengan Bapak.
GS : Ya, kadang-kadang saya alihkan ke ibunya kemudian dia cerita ke ibunya. Ibunya itu ke mana-mana diikuti terus, sehingga ibunya yang merasa risi, ke dapur, ke kamar cerita terus karena memang agak jarang ketemu, sehingga dilampiaskan semua itu.

HE : Dan mungkin ini yang lebih baik daripada anak tidak pernah cerita apa-apa kepada orang tuanya, karena mungkin merasa orang tuanya tidak dekat dengan mereka.

GS : Saya memberikan batasan, jadi kalau sudah waktunya kita alihkan ke pembicaraan lain dan nanti dilanjutkan. Saya suruh dia untuk simpan dulu, saya berikan waktu lagi beberapa jam kemudian atau keesokan harinya.

HE : Ya kalau misalnya persahabatan sudah terjalin dengan baik biasanya bisa lebih terus-terang seperti itu, tapi pada awalnya biarkan dia bercerita dulu.

WL : Tapi ada beberapa kasus di mana anak justru menolak orang tuanya, tidak seindah seperti yang Pak Gunawan ceritakan. Itu bagaimana Pak?

HE : Kita perlu mengetahui apa penyebabnya, karena kemungkinan sebabnya bermacam-macam. Kemungkinan pertama, anak merasa jera ngomong-ngomong dengan orang tuanya, karena setiap kali ngomong orag tua lebih banyak mencela mereka, kemudian kadang-kadang orang tua terlalu ingin ikut campur dengan urusan mereka.

Nah, untuk yang ini orang tua perlu belajar untuk sabar, tidak terlalu mendesak anak supaya anak bercerita banyak tentang masalah-masalah mereka. Jadi biarkan anak bercerita secara natural nanti, dan orang tua lebih banyak menunggu. Nah, ada hal yang lain yang bagi orang tua seolah-olah seperti penolakan padahal sebetulnya bukan. Misalnya saja pada masa remaja kadang kala anak itu merasa ingin menyendiri, sedang tidak mood dan tidak ingin bicara dengan siapapun. Nah untuk yang demikian memang mereka perlu diberi ruang untuk itu, biarkan mereka menyendiri seperti itu nanti kalau kita merasa mereka sudah lebih baik dan mereka menginginkan kontak dengan kita, kita katakan seperti ini: "Papa atau Mama, melihat kamu hari ini murung," atau dengan cara yang lain, "Kalau kamu suka Papa atau Mama akan mendengarkan pengalaman kamu hari ini." Tapi kalau anak misalnya tetap menolak untuk berbicara, saya kira biarkan saja dan kita menunggu saja.
GS : Pak Heman, ada orang tua itu yang sudah berusaha mendekati anak remajanya untuk bisa menjalin persahabatan, tapi hasilnya tidak terlalu memuaskan dia, sebenarnya kenapa Pak Heman?

HE : Penyebab yang paling umum adalah anak pernah merasa sakit hati dengan kita, baik ini terjadi dengan kita sadari atau tidak. Nah, kadang-kadang juga anak merasa sepertinya orang tua pilih ksih dan dia adalah anak yang tidak dikasihi, nah waktu remaja anak sudah berani memperlihatkan kemarahannya secara terbuka.

Kadang-kadang kalau hal ini begitu sulit untuk diselesaikan, kita perlu minta pertolongan pihak ketiga misalnya konselor yang bereputasi baik, jadi konselor itu bisa menengahi konflik antara orang tua dan anaknya.
GS : Jadi itu ada suatu permusuhan yang tidak disadari oleh orang tuanya, tetapi anak menganggap ada permusuhan, Pak?

HE : Ya, bisa terjadi, orang tua sebetulnya tidak merasa apa-apa tetapi anaknya merasa bahwa ada sesuatu yang menghalangi misalnya rasa sakit hati itu.

WL : Terkadang juga ada kasus-kasus di mana anak merasa disalahpahami oleh orang tua, jadi seolah-olah orang tua sudah berusaha tapi anak tetap jaga jarak, menjauh karena disalahpahami. Ini saya pernah alami sendiri, tapi setelah dewasa baru saya mengerti bahwa itu masa yang wajar, untuk "berontak". Berontak artinya saya berani ngomong, berani protes yang tadinya diam. Akhirnya saya dilabelkan atau disalahartikan bahwa saya ini menjadi anak pemberontak, karena mereka cukup terkejut, sebelumnya saya anak yang diam tapi setelah remaja saya berani ngomong. Sekarang setelah mengerti banyak saya baru mengerti bahwa itu sebenarnya masa yang wajar, karena setelah itu saya reda sendiri setelah masa itu. Tapi waktu saya ingat-ingat masa itu benar-benar bergejolak dan disalahpahami oleh orang tua, Pak Heman.

HE : Ibu Wulan menggambarkan dengan baik sekali pikiran remaja, dan saya kira ini perlu dimengerti juga oleh para orang tua.

GS : Pak Heman, ada orang tua itu yang hubungannya tidak harmonis antara suami-istri. Nah, apakah anak itu tidak akan kesulitan, nanti kalau dia akrab dengan ayahnya, ibunya tidak senang hati tapi kalau dia dekat dengan ibunya, ayah yang tidak senang hati. Sehingga anak ini agak kesulitan.

HE : Saya kira ini point yang penting di dalam kita menjalin persahabatan dengan anak remaja kita, bahwa kita harus mendahulukan atau menyelesaikan masalah-masalah pernikahan kita. Kalau masala pernikahan ini masih berlangsung, ada konflik antara suami-istri yang begitu besar maka memang ada kesulitan yang cukup besar untuk kita bisa bersahabat dengan remaja.

Karena anak remaja kemungkinan tidak akan kerasan di rumah dan dia akan lebih dekat dengan teman-temannya yang lain.
GS : Apakah ada suatu batasan atau ada suatu pedoman bagi kita, kapan kita itu bersahabat dengan anak remaja kita atau kapan kita harus membatasi diri. Karena bagaimana pun juga yang namanya anak remaja statusnya bagi kita masih seorang anak, Pak?

HE : Betul, memang tidak bisa disepadankan antara persahabatan antara orang tua dan orang dewasa yang lainnya dengan persahabatan orang tua dengan anak remajanya. Benar bahwa ada perintah yang elas supaya anak menghormati dan menaati orang tuanya di dalam segala hal.

Adakalanya kita juga perlu memberikan nasihat kepada anak tanpa mereka minta, adakalanya kita meminta atau bahkan memaksa agar mereka taat kalau mereka sudah terlalu jauh dari jalan kebenaran. Tetapi kalau sungguh sudah terjalin hubungan yang erat dengan mereka, segalanya tampak menjadi lebih mudah.
WL : Pak Heman, ada orang tua yang tetap menggunakan pukulan secara fisik terhadap anak yang walaupun sudah remaja. Menurut Pak Heman itu dampaknya seperti apa terhadap anak remaja ini?

HE : Saya berpikir dan saya setuju dengan pendapat Dr. James Dobson seorang Psikolog Kristen yang terkenal, yang berpendapat bahwa pukulan atau hukuman fisik bagi anak remaja itu lebih merupaka penghinaan bagi mereka.

Selain itu hukuman fisik berdampak buruk karena saat ini remaja sudah berani menentang, jadi kita harus meyelesaikan bagian besar dari mendidik anak, mendisiplin anak, itu pada waktu anak belum sampai pada masa remajanya. Dengan demikian persahabatan itu akan terjalin lebih mudah dengan anak remaja.
WL : Jadi lebih banyak memakai omongan.

HE : Dan sungguh-sungguh kita harus berhati-hati dengan omongan kita. Lebih perlu bagi kita menggunakan kata-kata yang menguatkan, menghibur, dan memahami anak remaja.

GS : Pak Heman, apakah ada ayat Alkitab yang mengajarkan kepada kita itu tentang betapa pentingnya suatu persahabatan termasuk dengan anak remaja itu.

HE : Ada suatu nats dari Amsal 17:17 tentang seorang sahabat, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." Saya mengartikan alau kita sebagai orang tua harus lebih banyak bersikap sebagai sahabat bagi anak remaja kita, maka kita perlu belajar untuk menjadi seseorang yang mendampingi ketika anak mengalami kesulitan, kesukaran, nah bagian itu yang lebih banyak daripada kita memberikan nasihat-nasihat kita dan perintah-perintah kita.

GS : Memang itu menimbulkan kesan yang sangat dalam, jadi kalau dia mengalami kesulitan dan kita membantunya bahkan menyelesaikan masalah, itu memberikan kesan yang sangat dalam. Misalnya anak saya pernah mengalami kehilangan SIM, saya dampingi terus, sampai ketemu dan dia memiliki SIM lagi dan itu tidak terlupakan buat dia. Jadi terima kasih sekali Pak Heman dan juga Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bersahabat dengan Remaja". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs atau website kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



34. Gaul yang Kristiani


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T175A (File MP3 T175A)


Abstrak:

Tatkala kita membahas tentang pergaulan remaja, ada beberapa pertanyaan yang biasanya kita ajukan. Berikut ini adalah beberapa di antaranya: Apakah remaja boleh bergaul dengan siapa saja? Apakah remaja boleh bergaul dengan teman yang tidak seiman? Seberapa dekatnya remaja boleh menjalin relasi dengan lawan jenisnya? Apakah remaja boleh bebas menentukan tempat dan aktivitas yang ingin dilakukannya?


Ringkasan:

Masa remaja adalah masa yang penting dalam kehidupan karena di masa inilah kita menjembatani masa kanak-kanak dan masa dewasa. Di samping itu, masa remaja adalah masa yang penting karena masa ini juga merupakan masa:

Prinsip Pergaulan

Tatkala kita membahas tentang pergaulan remaja, ada beberapa pertanyaan yang biasanya kita ajukan. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Nasihat Firman Tuhan: Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Amsal 22:6


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Gaul yang Kristiani". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pergaulan rupanya sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya para remaja. Tetapi tentunya kita perlu mendapatkan bimbingan bagaimana kita bisa bergaul secara sehat dan bergaul secara kristiani.

PG : Saya kira Pak Gunawan, dewasa ini salah satu ketakutan orangtua yang terbesar adalah dampak pergaulan bagi anak-anak mereka. Dan saya kira orangtua beralasan memiliki ketakutan sepertiini karena kita melihat begitu banyak contoh, anak-anak yang terpengaruh oleh pergaulan yang buruk dan akhirnya mengikuti contoh buruk itu.

Jadi sebaiknya kita mempunyai suatu kejelasan tentang apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua dengan anak-anak kita. Salah satu masalah yang sering kali muncul sebetulnya adalah ada sebagian orangtua yang terlalu keras, terlalu mengekang anak dan sebaliknya ada orangtua yang terlalu membiarkan anak. Baik orangtua yang terlalu mengekang maupun yang terlalu membiarkan keduanya tidak sehat dan mesti mempunyai suatu kejelasan di tengah, apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua sehingga anak-anak kita bisa bertumbuh sehat, tidak kehilangan kesempatan bergaul, karena pergaulan satu bagian yang penting dalam pergaulan anak remaja tapi sekaligus menjaga anak remaja kita sehingga akhirnya tidak terseret dalam pergaulan yang buruk.
GS : Nah itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Kita mesti menyadari pertama-tama bahwa sebetulnya apa yang terjadi pada masa remaja. Saya mencoba memberikan kerangka pikir terlebih dahulu. Masa remaja sebetulnya adalah masa pengujin Pak Gunawan, pengujian adalah pengujian nilai-nilai, yang tadinya dianut oleh si anak tanpa tanya dan tanpa keraguan, namun sekarang dipertanyakan kebenarannya.

Dengan kata lain si anak mulai mempertanyakan nilai-nilai yang dianutnya karena dia melihat kenyataannya tidak selalu sama, realitasnya berbeda dari apa yang dianut atau diyakininya. Atau dia juga memang bertemu dengan begitu banyak pengalaman-pengalaman yang baru yang tidak dicakup, tidak dibahas di dalam keyakinannya atau di dalam nilai-nilai iman kristianinya. Nah hal-hal yang baru ini akhirnya membuat dia bertanya-tanya apakah yang saya percaya itu cukup atau lengkap atau benar, sebab saya sekarang melihat yang seperti ini atau seperti itu. Saya berikan beberapa contoh misalnya banyak anak remaja yang mulai mempertanyakan mengapakah tidak boleh berbohong, apakah tidak boleh berbohong itu senantiasa tidak boleh berbohong atau hanya dalam kasus tertentu. Misalkan lagi, mengapa tidak boleh berhubungan seksual sebelum menikah, nah anak-anak remaja mungkin berkata: "apakah salahnya, bukankah ini hanyalah kontak fisik, kenapa kontak fisik mempunyai dampak atau makna rohani, sehingga Tuhan harus mencegahnya." Mungkin mereka juga melihat teman-teman mulai melakukannya, tetapi kenapa kami tidak boleh melakukannya. Contoh yang lain lagi yang mungkin mereka juga pertanyakan adalah mengapa tidak boleh berpacaran dengan yang tidak seiman, apa salahnya, kenapa tidak boleh bukankah yang penting saling mencintai dan sebagainya. Nah di dalam gejolak remaja ini, orangtua perlu memberinya ruang untuk bertanya, jangan terlalu cepat memadamkan api pertanyaan anak. Jangan langsung berkata: "Kenapa kamu murtad, kenapa kamu tidak percaya dan sebagainya." Saya kira itu tindakan yang tidak bijaksana, jangan sampai kita menutup pintu untuk anak masuk ke dalam rumah kita (secara simbolik) dan mempertanyakan nilai-nilai yang dianutnya. Kita mesti memberikan jawaban yang jujur namun benar.
GS : Pertanyaan-pertanyaan para remaja ini sering kali ditanggapi sebagai suatu pemberontakan oleh orangtua, itu bagaimana?

PG : Ini memang perlu dipandang dari sudut yang berbeda. Itu sebabnya tadi saya memunculkan kerangka pikir, sebab inilah yang diperlukan oleh orangtua mempunyai kerangka pikir yang jelas, mmahami inilah yang memang harus terjadi dalam diri anak.

Justru karena dia mempertanyakan dan kita menjawabnya seyogyanya keyakinannya makin bertambah kuat, makin bertambah mendalam. Sebab pertanyaan-pertanyaan itu merupakan ujian terhadap keyakinan yang telah dimilikinya. Tanpa ujian, keyakinan itu menjadi sebuah keyakinan yang sangat kaku, sangat legalistik dan saya takutnya tidak realistik. Sehingga waktu nanti akhirnya menemukan goncangan atau benturan akhirnya patah, benar-benar anak kita itu membuang iman kepercayaannya dan malah memeluk keyakinan yang bertolak belakang dari keyakinannya yang semula itu. Jadi saya kira penting orangtua memahami bahwa ini bukanlah bentuk pemberontakan, ini adalah bagian pertumbuhan remaja, bagian yang kita sebut masa pengujian.
GS : Kalau pengujian itu disampaikan dalam bentuk pertanyaan atau mengajak diskusi, kadang-kadang orangtua masih bisa menerimanya walaupun kadang-kadang kewalahan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan para remaja. Yang dikhawatirkan kalau masa pengujian ini digunakan dalam bentuk mencoba Pak Paul, dan langsung mempraktekkan tanpa kita tahu. Nah ini bagaimana?

PG : Kadang-kadang itu yang dilakukan oleh remaja, karena dia sebetulnya sudah mempunyai pertanyaan-pertanyaan itu namun tidak berkesempatan menanyakannya kepada orangtua atau dia akhirnya erpengaruh oleh teman-temannya dan langsung melakukan tanpa berpikir panjang.

Nah itu kadang-kadang yang dilakukan oleh remaja. Apa yang bisa kita lakukan? Sudah tentu kalau itu sudah terjadi kita tak bisa mengubah yang telah terjadi, kita hanya bisa mencoba untuk mengajarkan kepadanya bahwa ini adalah hal yang keliru, jadi jangan dilakukan kembali. Yang pertama yang telah terjadi kami maafkan tapi jangan sampai terulang lagi. Dan kenapa jangan sampai terulang lagi? Ini penyebabnya, ini alasan-alasan kami. Hal-hal seperti inilah yang perlu orangtua komunikasikan kepada anak. Tapi ada juga yang bisa orangtua lakukan agar anak tidak sampai menguji coba pertanyaan-pertanyaannya itu. Memang rasa keingintahuan anak sangat tinggi pada usia-usia remaja ini, mereka ingin sekali mencoba sebab bagi mereka pengalaman itulah guru yang terbesar. Jadi mereka lebih mempercayai pengalaman langsung daripada apa yang telah didengar dari orangtua mereka atau dari hamba-hamba Tuhan di gereja mereka. Jadi kalau misalkan anak-anak kita ini sudah memiliki nilai-nilai yang baik, yang kuat dan sebagainya, saya kira orangtua bisa secara proaktif membicarakan pertanyaan-pertanyaannya ini sebelum si anak mengajukannya. Dengan kata lain orangtua yang dalam percakapan membicarakan tentang mengapa tidak boleh berhubungan seksual sebelum menikah, kenapa Tuhan melarangnya, mengapa merokok bisa mempunyai dampak yang buruk bagi kesehatan manusia, apakah sikap seorang anak remaja ketika ditawari untuk merokok baik rokok biasa maupun rokok-rokok yang berisikan seperti ganja dan akhirnya menggunakan narkoba, mengapa tidak baik melakukan hal-hal seperti itu. Nah ini semua sebaiknya dimunculkan oleh orangtua sehingga si anak berkesempatan menguji keyakinannya di dalam lingkungan yang aman ini. Saya kira itu yang bisa juga dilakukan oleh orangtua.
GS : Selain faktor atau unsur pengujian itu apakah ada faktor yang lain?

PG : Yang kedua adalah masa remaja merupakan masa pembangunan, yang saya maksud adalah remaja sudah mengumpulkan kepingan-kepingan informasi siapa dirinya sejak dia kecil. Dari orangtua, dai teman-teman dan sebagainya, dia mulai mendengar komentar-komentar tentang dirinya.

"Kamu kok berani, kamu terlalu berhati-hati, kamu pengecut, kamu kurang percaya diri dan sebagainya, kamu bisa musik, kamu jago olahraga." Itu semua informasi-informasi yang dikumpulkan oleh remaja sejak masih kecil. Pada masa remaja si anak akan mengikat semua informasi itu menjadi sebuah gambar tentang siapa dirinya. Gambar yang baik adalah gambar yang seharusnya konsisten, misalkan si anak itu tahu bahwa dirinya pemberani dan anak yang cenderung misalkan mempunyai jiwa petualang. Nah pemberani dan petualang adalah dua informasi yang kita sebut koheren atau konsisten. Yang tidak sehat adalah kalau anak remaja mempunyai dua informasi yang bertolak belakang, misalkan dia mendengar kata-kata atau komentar dari teman-temannya dia pemberani sedangkan di rumah, orangtuanya sering memarahi dia dan berkata kamu pengecut. Nah dua informasi yang bertolak belakang ini bisa membingungkan anak remaja, sehingga dia kesulitan membentuk jati dirinya atau konsep dirinya. Itu sebabnya penting bagi orangtua mempunyai pengenalan yang dalam tentang anaknya, sehingga orangtua dapat memberikan informasi yang tepat tentang diri anaknya itu. Sebab siapakah orang pertama yang dekat dengan si anak dan yang paling mengenal si anak selain dari orangtuanya. Saya kira orangtua memang memegang kunci, mempunyai tempat yang sangat strategis untuk bisa memberitahukan tentang siapa dirinya. Nah inilah yang saya maksud dengan masa pembangunan, masa di mana anak membangun gambar dirinya, mengenal siapa dirinya dan konsep diri inilah yang nanti dibawa oleh si anak memasuki dunia orang dewasa.
GS : Jangankan dengan pihak luar Pak Paul, kadang-kadang antara suami dan istri saja bisa memberikan masukan yang berbeda terhadap anak?

PG : Ini sesuatu yang sering terjadi, karena kadang-kadang orang itu memberikan masukan dari satu sudut pandang, sedangkan orang lain memberikan masukan yang berbeda dari sudut pandang yangberlainan pula.

Itu sebabnya saya tidak mengatakan si anak sama sekali tidak boleh mengalami kebingungan adanya informasi yang bertolak belakang. Sampai titik tertentu ketidaksesuaian ini sebetulnya ada baiknya buat si anak remaja sehingga dia lebih serius, lebih mendalam lagi memikirkan sebetulnya siapakah dirinya. Dia bisa mulai menanyakan kepada orang lain, menggali lagi siapa dirinya sehingga dia akhirnya lebih mengkristal, konsep dirinya akan lebih mengkristal. Kira-kira inilah yang seharusnya dilalui oleh remaja.
GS : Kalau seandainya si remaja sampai hampir habis masa remajanya dia masih belum menemukan jati diri yang sebenarnya itu bagaimana?

PG : Biasanya ini akan menjadi masalah pada masa dewasanya, sebab dia seperti perahu yang berlayar tapi tidak mempunyai arah, benar-benar terombang-ambing. Dia misalkan menjadi bahan bulan-ulanan atau dia menjadi obyek suruan dari teman-temannya karena dia tidak mempunyai pendapat atau pendirian yang independen, yang mandiri atau kokoh.

Atau karena itu dia menjadi anak yang kurang percaya diri, selalu menempel pada orang lain agar dia bisa merasa aman dan tahu kemanakah arah hidup yang harus ditempuhnya.
GS : Masa remaja itu selain masa untuk pengujian dan pembangunan, apakah ada yang lain?

PG : Yang berikutnya atau yang terakhir adalah yang saya sebut masa perluasan. Pada masa remaja anak sebetulnya mulai membagikan dirinya dengan lebih banyak orang. Pergaulannya meluas dan mngenal lebih banyak orang, bukan saja teman-teman di kelasnya, dia mulai mengenal teman-teman di kelas lain, di kelas bawah atau di kelas atas dan bahkan mulai mengenal teman-teman dari sekolah yang lain.

Misalkan teman SD-nya pindah ke SMP yang berbeda, nanti teman-teman SMP-nya pindah ke SMA yang berbeda dan selanjutnya, pergaulan si anak makin meluas dan akibatnya si anak akan lebih sering dan lebih banyak menerima masukan dari lingkungannya. Karena pergaulannya meluas maka dia juga lebih sering menerima masukan-masukan dari orang lain. Nah ini yang akan memperluas dirinya karena semakin banyak teman-teman, semakin banyaklah masukan yang akan diterimanya. Bahkan dapat saya katakan sesungguhnya berapa luasnya diri seseorang tergantung pada seberapa luas pergaulannya. Kalau anak remaja tidak mempunyai pergaulan yang luas, saya khawatir dirinya pun juga akan sempit. Cara pandangnya juga akan sangat terbatas, toleransinya juga akan sangat lemah dan pengambilan keputusannya pun nanti akan menjadi terlalu sederhana. Jadi memang baik anak remaja mempunyai pergaulan yang luas.
GS : Di dalam pergaulan yang luas itu, apakah berarti bahwa anak remaja ini boleh bergaul dengan siapa saja?

PG : Nah ini pertanyaan yang baik Pak Gunawan, dan jawabannya adalah sudah tentu tidak. Kita tidak mengijinkan anak remaja kita bergaul dengan siapa saja. Prinsip ini sebetulnya bukanlah prnsip yang hanya kita gunakan untuk remaja, sebab bukankah kita pun sebetulnya tidak bebas bergaul dengan siapa saja.

Ada orang-orang tertentu yang seharusnya masuk dalam daftar orang yang akan kita jauhi, tidak semua orang kita akan jadikan teman dan tidak seharusnya semua orang kita jadikan teman, jadi perlu selektif. Saya akan memberikan beberapa contoh, teman yang memanfaatkan kita, jangan jadikan teman; anak remaja perlu tahu apakah teman ini teman yang baik atau teman yang memanfaatkan dia. Yang berikutnya adalah teman yang berupaya menjerumuskan kita ke dalam perbuatan yang melanggar hukum manusia atau hukum Allah. Misalnya merampok, mencuri, berbohong, mencontek dan sebagainya, nah itu hal-hal yang kita tahu melanggar hukum manusia dan melanggar hukum Allah. Teman-teman yang meminta dan mendorong kita melakukan hal-hal seperti itu, kita memang harus jauhkan. Misalnya lagi, teman yang tidak membangun tapi kerap melecehkan kita, kita tidak harus menerima teman itu sebagai teman kita kalau teman itu terus-menerus merendahkan kita, melecehkan kita, meragukan kita dan sebagainya. Kita tak terbangunkan oleh teman seperti itu, seyogyanyalah kita menolak teman yang seperti ini. Saya kira tugas orangtua adalah menolong remaja memiliki sistem kriteria yang tepat sehingga si anak dapat memilah teman dengan benar.
GS : Bagaimana pergaulan dengan orang yang tidak seiman Pak Paul? Apakah anak diperbolehkan?

PG : Jawabannya ialah boleh Pak Gunawan, remaja boleh bergaul dengan teman yang tidak seiman jika teman itu tidak masuk dalam daftar teman yang harus dijauhi, tadi saya sudah jabarkan beberpa di antaranya.

Kendati teman berbeda iman kepercayaan, seyogyanya remaja diijinkan menjalin pertemanan dengannya. Alasannya adalah ada banyak persamaan di antara kita sebagai sesama insan ciptaan Allah dan di atas landasan kesamaan ini kita dapat menjalin relasi yang kuat, kita dapat saling mengisi dan memperkaya kehidupan kita masing-masing di samping menjadi saksi bagi Kristus. Teman-teman yang tidak seiman melihat o.......ini seorang Kristen, o.......ini seorang yang takut pada Tuhan. Namun dalam hal berpacaran dengan yang tidak seiman batasnya adalah tidak boleh, kenapa tidak boleh karena Tuhan menghendaki kita menikah hanya dengan yang seiman. Ini tercatat di I Korintus 7:39, bebas menikah dengan siapa saja asalkan dia adalah sesama orang percaya.
GS : Berarti remaja ini pun akan memasuki tahap pacaran, pengenalan dengan lawan jenis yang lebih dekat, nah ini bagaimana?

PG : Saya memang mempunyai pendapat Pak Gunawan, bahwa sebaiknya remaja tidak menjalin relasi romantis sampai dia berusia misalkan 19 atau 20 tahun, memasuki masa pemuda barulah dia berpacaan.

Tapi pada usia-usia sekitar 13, 14 sebaiknya tidak, namun saya juga ingin mengatakan remaja boleh menjalin relasi yang dekat dengan lawan jenis sebagai teman saja. Kenapa? Karena ada begitu banyak kekayaan yang hanya dapat diperoleh dari perkawanan kelompok namun akan langsung hilang bila kita mengikatkan diri ke dalam relasi ekslusif atau relasi berpacaran. Itulah sebabnya saya hendak mengatakan kepada para remaja juga, inilah saatnya remaja mengenal lawan jenis dalam lingkup yang aman yakni lingkup yang bebas alias pertemanan yang biasa tanpa ada ikatan-ikatan romantis.
GS : Tadi Pak Paul sudah singgung bahwa masa remaja itu masa perluasan, nah remaja ini bisa pergi ke mana saja yang dia sukai entah sendiri atau bersama-sama dengan temannya. Orangtua kadang-kadang was-was, di mana anaknya berada, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau orang bertanya apakah boleh remaja bebas menentukan tempat dan aktifitas yang ingin dilakukan, saya tidak setuju, tidak boleh. Mengapa? Karena ada tempat dan aktifitas yang tidakseharusnya dikunjungi atau dilakukan oleh remaja.

Misalnya jangan mengunjungi tempat pelacuran, meskipun teman yang pergi kita hanya diajak dan mengantar, jangan. Kali ini tidak tergoda, minggu depan tidak tergoda, mungkin dua minggu lagi kita tergoda dan akhirnya kita jatuh, melakukan hal yang salah dan berdosa. Jangan menonton film porno, melihat gambar-gambar porno meskipun kemungkinan besar banyak teman-teman kita melakukannya. Jangan, karena endapan dosa itu akan terus menempel di benak kita dan mengacaukan atau pun mencemari jiwa kita. Yang lainnya jangan memulai kebiasaan yang buruk, yang mencandu seperti merokok atau menenggak minuman keras atau bersumpah serapah atau berjudi. Ini adalah aktifitas-aktifitas yang harus dihindari oleh remaja, karena hal ini bukan saja berdosa, tapi juga akan merusak kehidupannya.
GS : Tetapi kadang-kadang tekanan dari teman itu luar biasa besarnya sehingga dia bisa ingin ikut.

PG : Betul sekali, dan memang ketakutan remaja adalah kalau dia nanti dikucilkan oleh teman-temannya yang melakukan hal-hal atau aktifitas yang salah itu. Saya ingin berkata kepada remaja, angan lakukan meskipun teman-teman melakukannya tetap jangan lakukan.

Karena ini adalah tindakan berdosa di mata Tuhan dan yang kedua ini adalah tindakan yang merusak diri kita. Mengapakah kita mau melukai hati Tuhan dan berdosa kepadaNya, mengapakah kita mau merusakkan diri kita, nah jagalah diri kita dengan baik. Ada hal-hal yang dilakukan nanti berakibat buruk dan disesali oleh remaja sampai nanti tua, jadi jangan kita terjebak dengan perilaku seperti itu.
GS : Memang di dalam menentukan aktifitas ini sering kali remaja ingin coba-coba, ingin mencari pengalaman, nah orangtua kalau cuma melarang tetapi tanpa mengarahkan anak ini seharusnya ke mana, anak remaja akan mengalami kesulitan juga.

PG : Tepat sekali, maka kuncinya adalah remaja perlu mendengar jawaban yang jujur tapi benar. Kalau orangtua juga pada masa remajanya pernah mengalami atau melewati pergumulan yang serupa yng sekarang dialami oleh remaja, bagikanlah, ceritakanlah, jangan sampai orangtua beranggapan bahwa agar anak remaja dapat mendengarkannya maka saya harus memberikan citra saya sempurna, saya ini tak pernah mengalami godaan-godaan ini, ini justru membuka jarak yang terlalu jauh antara orangtua dan si anak.

Sehingga si anak merasa orangtuaku tak akan bisa mengerti karena orangtuaku tak pernah mengalami semua ini padahal si orangtua pun pernah remaja dan kemungkinan besar pernah melewati pergumulan yang serupa. Jadi pentinglah bagi orangtua menceritakan, membagikan pengalamannya, ketidakberhasilannya, tidak hanya keberhasilannya dan sekaligus membagikan apa yang firman Tuhan katakan. Sehingga anak remaja bisa melihat masalah yang dihadapinya dengan prespektif yang lebih tepat.
GS : Kita sebagai orangtua tentu membutuhkan pedoman dari firman Tuhan di dalam membimbing para remaja ini. Nah dalam hal ini firman Tuhan apa yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Sekali lagi saya akan bagikan dari Amsal 22:6 , ini adalah firman Tuhan untuk para orangtua "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya un ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."

Tugas orangtua adalah mendidik, tapi kenalilah cara mendidik yang pas untuk anak kita. Dan yang kedua, bukan hanya didik dengan pertimbangan atau hikmat pribadinya, didiklah menurut firman Tuhan sehingga anak sampai tua tidak akan menyimpang dari jalan itu.
GS : Memang ada perubahan pola mendidik dari ketika anak kita masih anak-anak dan ketika mereka sudah remaja.

PG : Betul sekali, pada masa kecil anak-anak memang tidak terlalu membutuhkan penjelasan-penjelasan yang logis tapi pada masa remaja dia sangat membutuhkan. Jadi anak remaja perlu dilibatka dalam proses pemikiran dan pengambilan keputusan ini.

GS : Dan tanggung jawab mendidik ini bukan hanya pada ibu tapi juga pada ayah.

PG : Betul sekali, ini adalah tugas yang Tuhan embankan kepada kedua orangtua bukan hanya satu.

GS : Terima kasih Pak Paul untuk kesempatan perbincangan kali ini, para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Gaul yang Kristiani". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



35. Mengapa Remaja Susah Pede


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T175B (File MP3 T175B)


Abstrak:

Salah satu krisis yang sering kali menerpa remaja adalah krisis kepercayaan diri. Ada beberapa nasehat untuk bertindak dalam mengurangi krisis kepercayaan diri yaitu : senantiasa bertanya, meminta pendapat teman yang lebih berhikmat, dsb.


Ringkasan:

Salah satu krisis yang sering kali menerpa remaja adalah krisis kepercayaan diri. Remaja yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba mengalami masalah kejiwaan dan perilaku yang bersumber dari hilangnya kepercayaan diri. Berikut ini akan diuraikan beberapa keterangan yang dapat membantu remaja memahami dan melewati krisis ini.

Kepada remaja saya ingin memberikan beberapa nasihat dalam bertindak:


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Remaja Susah PD". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Mungkin supaya para pendengar kita mengerti, bahwa PD ini bukan persekutuan doa tapi percaya diri. Dan sering kali para remaja mendapatkan kesulitan, nah ini bagaimana kaitannya dengan kepercayaan diri seseorang?

PG : Saya ingin menjelaskan terlebih dahulu makna kepercayaan diri. Sebetulnya percaya diri mempunyai makna mempercayai penilaian diri, mempercayai suara hati dalam diri kita, mempercayai pndapat atau opini sendiri, mempercayai perasaan sendiri.

Jadi kalau kita katakan seseorang percaya diri artinya itu bahwa dia mempercayai penilaian dirinya sendiri sehingga dia tidak terlalu bergantung pada penilaian orang, opini orang, dia tidak harus ragu pada waktu orang lain mengatakan yang sebaliknya, itu maksudnya dengan percaya diri. Remaja memang sering kali mengalami krisis dalam hal kepercayaan diri ini. Ini memang cukup mengejutkan Pak Gunawan, sebab kadang-kadang orangtua itu bingung kenapa anak saya yang tadinya baik-baik saja sekarang menginjak remaja menjadi bermasalah. Perilakunya bermasalah, kejiwaannya bermasalah, melakukan hal-hal sepertinya aneh-aneh, menarik perhatian yang tidak-tidak, nah orangtua dibuat bingung oleh perilaku remaja ini. Salah satu sumbernya sebetulnya adalah krisis kepercayaan diri, karena dia kurang percaya diri maka akhirnya dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak lazim agar menarik perhatian orang, sehingga dari perhatian-perhatian orang itu dia merasa lebih aman dan bisa lebih kuat membangun kepercayaan dirinya. Itu sebabnya saya kira kita perlu memahami masalah kepercayaan diri ini.
GS : Tapi memang sebenarnya sejak awal para remaja ini belum mempunyai kepercayaan diri yang mantap, bukankah dia sedang membangun itu.

PG : Tepat sekali, jadi memang sebelum-sebelumnya remaja atau anak-anak hidup dalam dunia yang relatif kecil dan terlindungi. Pada masa remajalah dia mulai terjun ke dalam lingkup yang lebi luas, bertemu dengan lebih banyak orang dengan berbagai jenis, biasanya di saat inilah remaja mengalami goncangan-goncangan, kebingungan, keraguan, dan memang ini adalah waktunya mereka mengalami gempuran-gempuran ini sehingga diri yang asli, yang mereka bawa dari kecil mendapatkan pembentukan atau menerima pembentukan dan akhirnya kalau dia melewati masa ini, dia akan keluar menghasilkan sebuah diri yang realistik dan kokoh.

GS : Pak Paul, dalam hal ini apakah orangtua bisa berperan aktif untuk menolong putra-putrinya yang remaja ini untuk memperoleh rasa kepercayaan diri yang bagus?

PG : Saya kira besar sekali sumbang sih orangtua dalam hal ini Pak Gunawan. Misalnya yang ingin saya bagikan adalah orangtua perlu memahami bahwa sesungguhnya krisis kepercayaan diri merupaan fenomena yang alamiah dan sesuai perkembangan remaja.

Artinya krisis ini sendiri bukanlah suatu problem yang permanen dan akan merusak pembentukan jati diri remaja. Kadang-kadang orangtua terlalu panik melihat anak-anak mulai meragukan diri, kekurangpercayaan dirinya itu nampak begitu jelas. Dan orangtua marah, kenapa kamu penakut, kenapa ragu-ragu dan sebagainya, sebaiknya jangan terlalu bereaksi terhadap hal-hal ini karena ini adalah bagian yang alamiah. Jika krisis ini terus berlanjut sampai masa dewasa barulah kita dapat memandangnya sebagai problem yang menuntut suatu penyelesaian klinis.
GS : Sebetulnya bagaimana lahirnya atau proses terbentuknya kepercayaan diri ini?

PG : Sebetulnya kepercayaan diri ini lahir dari proses pembentukan jati diri remaja, di mana pada saat ini remaja mendasarkan penilaian dirinya atas penilaian kolektif. Yang saya maksud penlaian kolektif adalah data-data yang diperoleh remaja dari teman-temannya.

Jadi dia akan bergaul dengan banyak orang dan akan menerima banyak masukan dari teman-temannya. Sangat masuk akal jika pada masa ini remaja tidak mempercayai penilaiannya sendiri dan malah bergantung pada pendapat teman-temannya. Ini bukanlah hal yang buruk sebaliknya ini adalah bagian dari proses yang alamiah dan sesuai dengan perkembangan remaja. Jadi justru yang lebih alamiah adalah remaja mendasari pendapatnya atau opininya atas dasar masukan teman-teman secara kolektif. Kalau dari awalnya tidak mau mendapatkan masukan dari teman-teman malah menutup diri dan sebagainya, ini justru menunjukkan tanda-tanda yang tidak sehat. Jadi sekali lagi saya ingin tekankan kalau remaja tidak bia mengambil keputusan sendiri dan harus bertanya, jangan kita panik, jangan kita malah memarahinya seolah-olah ada masalah besar dalam diri anak kita. Saya ingin justru mengatakan kepada para orangtua, ini adalah bagian yang alamiah biarkan mereka bertanya, biarkan mereka mengambil keputusan secara kolektif, karena inilah yang memang dilakukan oleh remaja sesuai dengan usianya.
GS : Walaupun sama-sama remaja tetapi rupanya ada sebagian remaja yang bisa dengan cepat mengenali identitas dirinya sehingga dia mempunyai kepercayaan diri yang begitu kokoh, tetapi ada juga yang tidak, itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Memang ada sebagian yang dari kecil mempunyai kejelasan tentang apa yang diyakininya. Anak-anak ini bisa saja melewati masa remaja dengan lebih mudah karena dia sudah memiliki pandanga yang jelas, sehingga dia lebih mempercayai penilaian dirinya.

Atau dia memang sejak kecil diberikan kesempatan oleh orangtuanya untuk berdialog dan orangtuanya juga memberikan arahan-arahan sehingga pada usia yang relatif muda si anak ini cukup mengenal apa sebenarnya yang diyakininya, apa sebenarnya yang disukainya, apa yang tidak disukainya, apa yang salah dan sebagianya. Tapi ada sebagian anak lain yang kita justru perlu perhatikan, yaitu anak-anak yang sama sekali tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain, sama sekali tertutup. Ini justru mengkhawatirkan saya, sebab kalau si anak sama sekali tertutup mendengarkan masukan dari teman-temannya berarti dia terisolasi, berarti dia tidak melewati fase yang seharusnya dilewati yakni fase di mana seharusnya dia diperkaya oleh masukan yang didengarnya dari teman-teman. Jadi ini adalah sesuatu yang kita mesti pikirkan dan kita amati sehingga anak-anak kita akhirnya tidak terjebak di dalam sebuah ruang isolasi dan terpisah dari teman-temannya.
GS : Anak remaja yang khususnya mengisolasi diri ini justru dianggap sombong oleh teman-temannya.

PG : Sering kali dianggap sombong atau yang lebih serius lagi dianggap aneh, karena dia sama sekali tidak mau berkonsultasi dengan teman-temannya atau ngobrol minta pendapat dan sebagainya palagi mendengarkan masukan dari teman-temannya.

Saya khawatir nanti anak-anak ini setelah dewasa benar-benar hidup dalam dunianya sendiri, tidak lagi mengikutsertakan orang lain dalam dunianya sehingga nanti pandangan-pandangannya justru makin melenceng karena makin terlepas dari realitas.
GS : Di sini rupanya faktor kecerdasan atau kepandaian anak rupanya berpengaruh juga, anak-anak yang pandai kebanyakan cepat menentukan identitas dirinya, apakah memang betul begitu?

PG : Saya kira demikian, karena anak-anak yang mempunyai intelegensia yang tinggi seharusnya melihat lebih banyak, kemampuannya untuk melihat juga lebih besar. Dan melihat lebih dalam, dan ering kali juga melihat dengan lebih tepat karena tingginya tingkat intelegensia yang dimilikinya.

Jadi betul sekali memang ini bisa mempengaruhi. Dan juga ada faktor yang perlu kita ingat yaitu anak-anak yang pandai cenderung mendapatkan masukan atau penilaian yang positif dari orangtua, dari guru, dari teman-temannya sehingga dia lebih mempercayai penilaiannya. Oleh sebab itulah yang bisa kita katakan anak-anak yang pandai cenderung mempunyai penilaian diri atau kepercayaan diri yang lebih kokoh.
GS : Selain Pak Paul tadi memberikan arahan kepada orangtua tentang menghadapi anak remaja yang sedang mencari jati dirinya supaya dia memperoleh kepercayaan diri. Apakah Pak Paul juga memberikan masukan kepada para remaja kita.

PG : Ada beberapa yang ingin saya sampaikan kepada para remaja. Yang pertama adalah senantiasa bertanyalah apakah yang Tuhan kehendaki dalam hal ini. Para remaja, saya ingin berkata, "Jika indakan yang engkau akan ambil itu melawan kehendak Tuhan jangan lakukan kendati semua teman melakukannya.

Beranikan diri untuk menolak, jangan selalu meng-iakan tindakan teman-teman. Sebaliknya jika tindakan yang engkau akan ambil sesuai dengan kehendak Tuhan, lakukanlah meski teman-teman tidak menyetujuinya. Saya berikan contoh: misalkan semua teman menghendaki kita membalas memukul seseorang, teman-teman berkata misalkan "Balas, pukul dia masakan kamu takut, masakan setelah diejek kamu diam saja, pukul dia." Nah ini yang ingin saya katakan jangan lakukan, sebaliknya beritahukan mereka bahwa seharusnyalah kita mengampuni perbuatannya." Saya kutib ayatnya di Matius 6:14,15 , "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Dengan kata lain prinsip yang digunakan di sini adalah takutlah akan Tuhan dan jangan menomorsatukan teman di atas Tuhan, ini prinsip yang mesti diingat oleh remaja. Firman Tuhan berkata, "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal yang Maha Kudus adalah pengertian," Amsal 9:10 . Firman Tuhan tidak berkata permulaan hikmat adalah takut akan manusia dan mendengarkan kata-kata manusia, dan makin mengenal manusia. Tidak demikian, firman Tuhan dengan jelas berkata: "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal yang Maha Kudus adalah pengertian." Jadi jangan menomorsatukan teman di atas Tuhan, ingatlah tugas pertama remaja adalah takut akan Tuhan. Jadi dalam bertindak selalu bertanya apakah yang Tuhan kehendaki di dalam hal ini.
GS : Untuk bisa melakukan apa yang Tuhan kehendaki lakukan, bukankah seseorang itu harus membaca kitab sucinya.

PG : Saya kira ini merupakan kewajiban dan keharusan, kalau remaja sendiri tidak mengenal apa yang Tuhan katakan, mustahil dia bisa melakukannya. Maka dia perlu mengenal firman Tuhan sehinga dia dapat mengerti kehendak Tuhan, dan ini juga yang akan menjadi panduannya di dalam bertindak.

Saya masih ingat bahwa waktu saya belum lahir baru, apapun yang saya lakukan, saya lakukan karena ini baik dan ini ingin saya lakukan kalau tidak ingin saya lakukan ya tidak saya lakukan. Tapi saya tidak mengaitkan itu dengan kehendak Tuhan, saya ingat sekali setelah saya lahir baru yang muncul dalam benak saya adalah pertanyaan, "Apakah yang saya lakukan ini sesuai dengan kehendak Tuhan?" Pertama kali dalam hidup saya, saya memikirkan kehendak orang lain yaitu kehendak Tuhan dan bukan kehendak saya. Saya kira inilah ciri-ciri orang percaya dalam Kristus, selalu memikirkan apakah yang Tuhan Yesus katakan dan yang Dia kehendaki atau yang sebaliknya yang Dia tidak kehendaki. Atas dasar panduan ini barulah kita memutuskan bertindak atau tidak bertindak.
GS : Dan hal itu perlu dikembangkan di dalam diri remaja ini, rasa kasih terhadap Tuhan itu yang pertama.

PG : Betul sekali.

GS : Apakah ada hal lain yang ingin Pak Paul berikan kepada para remaja?

PG : Saya ingin mengatakan ini kepada remaja, "Pertimbangkanlah dampak tindakanmu pada orang lain. Jangan hanya melihat dampak sesaat atau menganggap bahwa pastilah orang dapat menerima ata memaafkan kita."

Misalkan, kita ingin ngebut-ngebutan karena kita sedang ingin ngebut-ngebutan dan kita lupa dampaknya pada orang lain. Kalau kita menabrak orang, orang bisa mengalami kerugian yang besar bahkan ada orang yang sampai kehilangan nyawa oleh karena kita sebagai anak remaja tidak berhati-hati dalam mengendarai kendaraan kita. Atau ada anak remaja yang menghamili temannya, apa akibatnya, akhirnya temannya sekarang menuntut tanggung jawab. Orangtuanya menuntut tanggung jawab dan anak ini harus dinikahi. Cocok pun tidak, tapi harus bertanggung jawab untuk menyelamatkan reputasi atau nama baik keluarga. Akhirnya apa yang terjadi? Yaitu kemalangan demi kemalangan yang harus dituai oleh keluarga muda yang memang belum siap untuk menikah ini. Jadi jangan sampai bertindak dan melupakan dampak tindakan kita pada orang lain. Ada anak remaja yang tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah karena tidak suka lagi sekolah, yang penting pengalaman, mencari uang dan sebagainya. Melupakan bahwa banyak hal yang dapat dipelajari di sekolah dan memang salah satu prasyarat memasuki dunia kerja adalah ijazah atau keterampilan tertentu. Nah ini hal-hal yang perlu remaja pikirkan, jangan beranggapan hidup gampang, orang pasti bisa, pasti mengerti, orang pasti memaafkan. Tidak demikian, tidak semua orang mengerti, tidak semua orang bisa memaafkan dan hidup tidak selalu gampang, kadang-kadang akan sangat susah. Jadi terapkanlah prinsip yang diambil dari Matius 17 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."
GS : Ya sering kali remaja berdalih, kami masih banyak dipenuhi emosi kami daripada akal kami, Pak Paul.

PG : Dan itu memang betul bahwa remaja masih mengalami gejolak-gejolak emosional yang kuat dan itu akan sangat mempengaruhinya. Tapi itu bukanlah sebuah dalih untuk melepaskan tanggung jawa penguasaan diri, sebab dia tetap masih bisa memilih mengambil keputusan yang benar dan menjauhi keputusan dan tindakan yang salah, itu masih bisa dilakukan oleh remaja.

Ini penting sekali, karena banyak remaja tidak memikirkan dampaknya pada orang lain dan juga pada masa depannya. Banyak remaja terlalu memikirkan dengan pola pikir sesaat, yang penting sekarang ini, yang penting sekarang seru, sekarang enak dan sebagainya, tidak memikirkan dampaknya baik pada dirinya sekarang maupun pada masa depannya atau dampak pada diri orang lain. Terlalu banyak masalah muncul karena remaja gagal memikirkan dampak perbuatannya.
GS : Itu sangat berkaitan erat dengan keputusan yang diambil, padahal remaja mengalami kesulitan yang besar di dalam mengambil keputusan. Sering kali dia ragu-ragu dan tidak tahu keputusannya itu benar atau salah.

PG : Itu sebabnya kepada remaja saya juga ingin menasihati, jangan ragu untuk mencari hikmat dari orang lain, tanyalah, mintalah masukan dari orang lain terutama dari teman-teman atau orangorang yang lebih berhikmat dari kita.

Carilah masukan dari berbagai sudut, jangan hanya mencari masukan dari sudut yang kita sukai atau seturut dengan ide atau pandangan kita. Kita mesti menggunakan prinsip yang saya ambil dari Amsal 11:14 , "Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada. Saya akan garis bawahi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada. Maka jangan hanya mencari masukan dari satu orang, carilah lebih banyak karena orang melihat dari berbagai dimensi. Itulah dimensi-dimensi yang luput kita pandang atau kita lihat kita perlu timba dari semua ini, sehingga akhirnya semua pandangan-pandangan ini memperkaya kita. Sekilas memang membingungkan tapi ini menuntut kita untuk memikirkan dengan lebih kritis dan mendalam, sehingga pada akhirnya kita bisa memunculkan keputusan yang lebih bijaksana.
GS : Biasanya di dalam mencari pendapat atau masukan dari orang lain, remaja cenderung mencari orang yang sesuai dengan pola pikirnya, yang bisa mendukung ide-idenya sehingga ini bisa dijadikan alasan ketika ada orang yang menentang ide ini, dan berkata: "Orang itu mendukung saya dan setuju dengan pendapat saya."

PG : Di sini memang diperlukan keluasan hati seseorang Pak Gunawan, kalau si anak remaja itu memang tidak mempunyai hati yang luas, dia hanya mencari dukungan saja dan tidak mau menerima maukan yang lain.

Maka ini membawa kita ke prinsip berikutnya yang ingin saya bagikan kepada remaja yaitu belajarlah dari orang yang lebih tua. Sering kali remaja hanya mau mendengarkan masukan dari anak-anak sebayanya, belajarlah dari orang yang lebih tua dari kita termasuk orangtua, guru-guru dan para rohaniwan di gereja kita, belajarlah dari mereka. Karena pengalaman hidup mereka adalah guru yang baik, baik keberhasilan maupun kegagalan mereka akan dapat menambah hikmat kita. Firman Tuhan di Amsal 4:1 berkata,"Dengarlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian." Jadi pada akhirnya percaya diri di sini dibentuk dari kekayaan hikmat yang telah kita serap dan kita yakini kebenarannya, baik dari firman Tuhan maupun dari orang berhikmat lainnya.
GS : Tapi memang harus diakui dengan jujur, kadang-kadang remaja menjadi bingung, dia tidak gampang mempunyai kepercayaan diri itu karena kesalahan kita generasi yang lebih tua ini.

PG : Karena waktu kita menyampaikan masukan kepada remaja, sering kali dalam bentuk kemarahan, teguran, suruhan, perintah akhirnya remaja tidak suka mendengarkan masukan kita meskipun sebetlnya masukan kita itu baik.

Maka orangtua perlu mawas diri, perlu bercermin, "Sebetulnya waktu saya menyampaikan wejangan saya menyampaikannya dengan cara seperti apa." Orangtua sering kali beranggapan: "Saya bermaksud baik, ini untuk kebaikan anak, seharusnyalah anak terima." Tapi bukankah semua hal yang baik misalkan makanan yang lezat sekalipun kalau disampaikan dengan cara yang tidak tepat, tetap tidak bisa diterima. Kalau kita melempar makanan itu atau kita bungkus dengan daun atau dengan bungkusan yang sudah kotor, makanan seenak apapun tidak akan diterima oleh orang. Jadi orangtua perlu mawas diri bagaimanakah mereka menyampaikan wejangan itu kepada anak remaja. Saya kira kalau orangtua bisa menyampaikan dengan cara yang tepat, anak remaja sebetulnya akan senang mendapatkan masukan dari orangtuanya.
GS : Dan remaja ini juga membutuhkan teladan dari kita atau contoh konkret. Itu yang sering kali juga membingungkan remaja.

PG : Ini tepat sekali, memang remaja hampir masuk menjadi seorang dewasa dan sebagai orang yang hampir dewasa mereka mengerti bahwa kredibilitas itu penting. Artinya dia hanya akan rela menrima dan mendengarkan masukan kalau orang itu mencontohkan atau memberikan teladan dalam kehidupannya.

Kalau orang itu tidak memberikan teladan, remaja akan menolak melakukan hal itu. Sebab bukankah ini yang kita lakukan sebagai orang dewasa, kita tak mau mendengarkan masukan orang yang kita anggap, engkau hanya bisa bicara tapi tak bisa melakukannya, nah remaja juga sama. Jadi betul sekali yang Pak Gunawan katakan bahwa orangtua mesti memberikan contoh kehidupan yang baik.

GS : Jadi memang untuk percaya diri saja sudah susah, jangan kita ini membuat lebih susah lagi remaja untuk mempunyai percaya diri. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Remaja Susah PD". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



36. Cinta yang Melek Mata


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Remaja/Pemuda
Kode MP3: T187A (File MP3 T187A)


Abstrak:

Untuk memilih pasangan hidup kita mesti melek mata, sayangnya ada sebagian orang yang malah menutup mata sewaktu memilih pasangan hidup. Ada beberapa hal kenapa kita menutup mata dan apa yang harus kita lakukan agar kita dapat melek mata dalam mencari pasangan hidup?


Ringkasan:

Apakah mungkin kita salah memilih pasangan hidup? Mungkin! Itu sebabnya penting sekali bagi kita untuk memilih pasangan hidup dengan saksama; dengan kata lain, kita mesti melek mata. Sayangnya ada sebagian orang yang malah menutup mata sewaktu memilih pasangan hidup.

Tanda Tutup Mata

Sebetulnya hanya ada satu tanda utama "tutup mata" yakni gagal melihat dengan jernih dan realistik. Dengan kata lain, kita tidak melihat kekurangannya, tidak melihat perbedaan, tidak melihat bahwa kita tidak sesuai untuknya.

Penyebab Tutup Mata

Apa yang Harus Dilakukan?

Sudah tentu kita mesti melek mata yaitu melihat dengan jernih dan realistik.
Bagaimanakah caranya kita melihat dengan jernih dan realistik?


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Cinta yang Melek Mata". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, cukup banyak orang yang rupanya setelah menikah sekian lama, kemudian dia merasa jangan-jangan pilihan saya atas pasangan saya ini keliru. Kenapa bisa terjadi seperti itu Pak Paul?

PG : Memang kita ini manusia Pak Gunawan, kita tidak selalu sempurna, kita tidak selalu bisa tepat di dalam menilai sesuatu jadi saya kira apakah terbuka kemungkinan kita salah memilih pasanganhidup, saya kira "YA".

Dalam konseling-koseling yang saya lakukan akhirnya saya simpulkan, kita tidak selalu tepat dalam menilai, dan adakalanya memang jelas-jelas keliru memilih. Ini sesuatu yang perlu kita waspadai, nah inilah tujuannya kita membahas topik ini pada kesempatan ini.
GS : Kalau ada kemungkinan seperti itu, sebenarnya faktor-faktor apa yang menyebabkan kita bisa salah pilih?

PG : Saya kira banyak faktor penyebabnya, tapi kalau boleh saya rangkumkan dengan satu kata yaitu, kita itu 'buta', kita itu membutakan mata sehingga kita tidak cukup melek untuk melihat dengantepat.

GS : Jadi kalau ada ungkapan bahwa cinta itu buta, apakah itu betul?

PG : Saya kira ada benarnya Pak Gunawan, jadi orang-orang tertentu itu sewaktu jatuh cinta akhirnya tidak dapat melihat dengan jelas. Yang saya maksud dengan melek mata yaitu bisa melihat denga jelas, bisa melihat perbedaan, bisa melihat kekurangan pada diri pasangannya.

Dan bisa juga melihat bahwa saya tidak sesuai untuk dia dan dia pun tidak sesuai untuk saya. Orang yang buta matanya tidak melihat perbedaan, tidak melihat kekurangan, tidak melihat bahwa pasanganya tidak sesuai untuk dia dan sebaliknya.
GS : Apakah mungkin faktor emosi yang berlebihan, Pak Paul?

PG : Sering kali itu yang terjadi Pak Gunawan, jadi kadang-kadang kita itu saking dikuasai oleh emosi akhirnya tidak bisa melihat dengan jelas. Nah pertanyaan berikutnya adalah kenapa emosi kit bisa begitu kuat.

Memang ada beberapa penjelasan, tapi saya kira yang paling utama adalah kita akhirnya dikuasai oleh kebutuhan kita. Ada sesuatu yang mendesak, misalnya usia yang lanjut; ada orang karena sudah cukup usia tapi belum mempunyai pasangan, akhirnya membabi buta memilih pasangan tanpa melihat dengan jelas kecocokannya. Yang lainnya juga adalah tekanan lingkungan atau tekanan keluarga yang mengharuskan menikah dengan si ini, menikah dengan si itu, akhirnya menikah tapi tidak melihat dengan jelas. Atau karena sudah hamil; karena sudah hamil akhirnya harus menikah, padahal banyak sekali perbedaan di antara mereka. Atau yang lainnya lagi yang cukup sering terjadi adalah hidupnya tidak bahagia, tertekan dalam keluarganya sehingga buru-buru mau ke luar dari rumah. Nah kebutuhan inilah yang akhirnya mendorong dia untuk memilih pasangan dengan sembarangan. Ini salah satu penyebab kenapa untuk sebagian orang buta sewaktu memilih pasangan.
GS : Kadang-kadang ada seseorang yang pacaran itu hanya satu dua bulan, kemudian menikah?

PG : Ada juga yang begitu karena misalkan ada orang itu hidupnya dipenuhi dengan impian, ilusi bahwa, "Saya itu kalau bertemu dengan dia, benar-benar dia itu paling cocok dengan saya, paling sepurna maka semuanya akan beres dan saya tidak perlu melewati masa perkenalan yang panjang."

Jadi ada sebagian dari kita beranggapan bahwa kita diperkecualikan dari tuntutan yang normal, yang seharusnya atau yang wajar sehingga kalau kita memilih pasti akan langgeng seumur hidup. Orang lain memang harus melewati masa perkenalan 2, 3 tahun, 4 tahun dan sebagainya, tapi kita tidak perlu. Akhirnya bertemu sebulan langsung menikah. Atau karena memang sudah terlalu mendambakan, impian seperti itu, kemudian mendapatkan jadi langsung tabrak begitu saja padahal dibalik impian itu ada banyak kenyataan yang seharusnya disadarinya, tapi tidak disadarinya akhirnya menikah dan berantakan.
GS : Tetapi ada pula orang yang persyaratannya terlalu tinggi, sehingga dia pacaran itu selalu putus. Ketika ditanya, mereka memang tidak memenuhi tuntutannya, katanya.

PG : Ada orang yang sebaliknya betul, jadi standar terlalu tinggi namun dalam hal-hal tertentu standar tinggi ini saya kira ada baiknya asalkan jangan sampai kaku. Standar tinggi kita yang mest kita tetapkan misalkan menikah dengan orang yang percaya pada Tuhan Yesus, terus standar tinggi kita adalah kita mesti menikah dengan orang yang cocok dengan kita, itu dua hal yang kita tidak bisa kompromikan.

Hal-hal lainnya mungkin masih bisa kita kompromikan, maka belajarlah untuk fleksibel. Dalam hal membutakan mata ini saya kira orang-orang ini memang tidak mempunyai standar, atau kalaupun mmepunyai standar, standarnya itu dangkal. Sehingga waktu menemukan seseorang, "Wah.......ini benar-benar jawaban dari kebutuhan saya," sehingga langsung ditabrak, nah setelah menikah baru menyadari. Dalam praktek konseling saya cukup sering mendengar perkataan seperti ini, "Ya......waktu masih pacaran tidak terlihat setelah menikah baru terlihat. Betul, tidak semua hal bisa kita lihat pada masa berpacaran tapi sesungguhnya kita itu harus sudah bisa menggambarkan kerangkanya siapakah pacar kita itu dan kira-kira apakah perbedaan yang ada, sehingga penyesuaian seperti apa yang harus kita lakukan di dalam pernikahan, seharusnya itu sudah ada. Tapi ada sebagian orang yang tidak memiliki gambaran seperti itu sama sekali dan tiba-tiba setelah menikah dibuat terkejut oleh banyak hal-hal yang baru, dan berkata sekarang baru saya lihat. Nah pertanyaannya, apa yang dilakukan pada masa berpacaran itu, sehingga tidak bisa melihat.
GS : Ya, tapi soal melihat dan tidak melihat itu bukankah tidak ditentukan oleh lamanya dia berpacaran, Pak Paul?

PG : Betul sekali, lama memang tidak menjamin seseorang mengenal pasangannya dengan dalam, tapi di pihak lain juga harus saya akui bahwa kedalaman itu sering kali harus melewati proses waktu, sbab relasi tidak bisa dikarbit untuk menjadi matang dengan waktu yang relatif singkat.

Tidak demikian, relasi bertumbuh bersama dengan berjalannya waktu, kita menghabiskan waktu menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita bersama, saling mengecek bagaimana kita menghadapinya, bagaimana kita bereaksi; itu yang akan mematangkan pengenalan kita akan pasangan kita.
GS : Mungkin ada tanda-tanda tertentu yang bisa kita tahu bahwa pasangan kita ini cocok buat kita, Pak Paul?

PG : Saya kira tanda-tandanya misalkan kita terlalu eksklusif, itu tanda bahwa kita buta atau kita tidak bisa melihat dengan jelas bahwa kita sebenarnya tidak cocok dengan dia. Kalau orang suda terlalu eksklusif, tidak mau lagi bersama-sama bersosialisasi dengan orang, itu menimbulkan tanda tanya, "kenapa harus eksklusif seperti itu?" Sering kali karena mereka tidak siap mendengar komentar dari orang-orang di sekitarnya dan daripada harus mendengar tanda-tanda itu atau mendengar masukan dari teman-temannya, tidak usah bergaul.

Atau tanda orang itu buta adalah mereka menjadi pasangan yang defensif artinya saling menutupi dan membela. Kita tidak bisa mengatakan satu hal yang negatif pun tentang pasangannya, dia bisa marah, menutup diri dan membela pasangannya, itu pertanda kemungkinan sekali terjadi kebutaan. Tanda lainnya lagi tentang kebutaan adalah kalau berbicara dengan pasangannya terlalu muluk, tidak ada sedikit pun hal yang tidak disenanginya tentang pasangannya itu, semua terlalu baik buat dia. Nah buat saya hal-hal seperti itu membuat saya bertanya-tanya, sebetulnya apakah yang terjadi, kenapa dia melihat pasangannya itu sepertinya solusi/jawaban terhadap persoalan hidupnya. Nah itu tanda-tanda membutakan mata dalam masa berpacaran.
GS : Kebutaan itu saya rasa juga dipengaruhi oleh kebutuhan seksual dari pria maupun wanita ini, Pak Paul?

PG : Itu point yang bagus Pak Gunawan, sering kali penyebab kenapa kita buta salah satunya adalah ikatan seksual. Karena seks itu sesuatu yang memang colourfull, sangat mempunyai kekuatan sehinga akhirnya relasi berpacaran diisi dengan seks terus-menerus.

Tujuannya bertemu adalah untuk memuaskan hasrat seksual. Hal lain menjadi tidak penting, karena yang penting adalah pemuasan hasrat seksual itu sendiri. Misalkan adanya perbedaan, tapi sengaja atau tidak sengaja diabaikan, kenapa? Sebab kalau ribut menjadi tidak bisa berhubungan seksual. Tidak enak berbicara tentang hal yang berat-berat, nanti menjadi ribut dan tidak bisa berhubungan seksual. Jadi hal-hal seperti itu jadinya diabaikan. Atau orang ini berkata, "Tidak apa-apa ada perbedaan-perbedaan, yang penting kami itu cocok secara seksual, nah nanti semuanya bisa beres, karena kami saling mencintai dan hubungan seksual kami begitu baik." Hal-hal itu yang akhirnya menggelapkan mata, sehingga akhirnya kita masuk dalam pernikahan dengan pengenalan yang sangat minim akan pasangan kita. Saya kira itulah salah satu sebab mengapa Tuhan melarang hubungan seksual di luar nikah, sebab Tuhan mengerti jelas bahwa seks memang mempunyai potensi yang begitu kuat untuk membutakan penilaian kita, sehingga relasi itu tidak bertumbuh dengan sehat sebab hanya diisi melulu oleh seks. Jadi betul sekali yang tadi Pak Gunawan sudah katakan bahwa akhirnya pasangan itu buta, tidak melihat apa-apa lagi sebab seks menjadi kebutuhan, dan yang dilakukan hanyalah memuaskan kebutuhan seks itu.
GS : Tapi kenapa setelah mereka menikah resmi kemudian kelihatan bahwa mereka tidak cocok?

PG : Karena setelah menikah resmi, tiba-tiba seks itu (apalagi setelah melewati satu masa) tidak lagi menggebu-gebu, tidak lagi mempunyai daya tarik sekuat pada waktu sebelum menikah. Kenapa, mngkin saja faktor pertama pada masa awal, masih baru mengekplorasi, seks menjadi sesuatu yang sangat dinanti-nantikan, tapi setelah biasa mengalaminya; seks menjadi biasa juga buat mereka.

Akhirnya karena seks tidak lagi penting, mereka mulai melihat dengan lebih jernih, yang terlihat adalah perbedaan-perbedaan. Jadi dengan kata lain relasi yang diisi dengan seks apalagi sebelum menikah, hampir dapat dipastikan nantinya setelah menikah akan mengalami banyak sekali badai.
GS : Memang kita baru menyadarinya setelah menikah, tapi bukankah kita tidak mungkin melakukan perceraian hanya karena perbedaan-perbedaan seperti itu, nah ini bagaimana Pak Paul?

PG : Jadi jawabannya adalah kita memang harus melek mata, artinya melihat dengan jernih, melihat dengan realistik, dengan tepat. Apa yang harus kita lakukan supaya bisa melihat dengan jernih da realistik, sekurang-kurangnya ada tiga yang akan saya paparkan.

Yang pertama adalah kita mesti menyadari motivasi yang terkandung dalam diri kita dan dalam diri pasangan kita. Maksudnya adalah kita mesti mengajukan pertanyaan, mengapakah kita memilihnya, apa motivasi yang terkandung di dalam pemilihan, mengapa dia memilih kita; kita mesti juga menyadari apakah motivasi yang terkandung dalam pilihannya terhadap kita. Dengan kata lain kita mesti benar-benar mengenal diri kita dan mengenal dirinya dengan sangat mendalam, sehingga kita bisa melihat, "O.......dia memilih kita, sebab dia membutuhkan arah dan kita memang orang yang berpikir panjang sehingga kita bisa memberikan arah." Kalau begitu kesimpulannya adalah dia orang yang kurang terarah, maka dia membutuhkan kita yang bisa memberikan arah. Jadinya kita harus bertanya, "Kalau dia orang yang kurang terarah, mengapakah dia orang yang kurang terarah, apa yang membuat dia kurang terarah." Dalam menjawab pertanyaan itu akhirnya kita akan menemukan lebih banyak hal tentang pasangan kita. "O......dia kurang terarah karena emosinya terlalu labil, saking kuat emosinya sehingga dia selalu diombang-ambingkan oleh emosi." Kita juga harus menilai diri kita dengan tepat, kenapa kita memilih dia. Misalkan kita memilih dia karena kita tidak berani memilih yang lain, maksudnya kita memang kurang percaya diri. Kita tidak berani memilih orang yang lebih setara dengan dia, kita mau memilih orang yang di bawah kita, supaya kita bisa merasa diri kita berharga, berguna baginya, ada fungsi dalam hidupnya. O.....sebetulnya itu yang kita butuhkan, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah sebabnya kita menjadi orang yang kurang percaya diri, kenapa kita tidak merasa cukup layak untuk bersama dengan orang yang lebih setara dengan kita, apa penyebabnya. O.....misalkan kita melihat diri kita negatif, kita tidak melihat ada yang baik pada diri kita. Nah hal-hal ini menolong kita melihat dengan lebih jernih. Memang waktu kita menggunakan kacamata pikir seperti ini Pak Gunawan, tiba-tiba cinta itu mulai kehilangan pamornya, bunga-bunga cinta itu mulai redup, sebab kita memang tidak lagi mau hidup dalam impian, kita mau hidup dalam realitas. Cinta yang sehat, cinta yang nanti akan terus bertumbuh kuat, cinta yang didasari atas realitas. Memang realitas akan menepis bunga-bunga cinta, tapi tidak apa-apa justru ini sesuatu yang sehat.
GS : Itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan, akan jauh lebih mudah kalau mungkin ada orang yang membantu kita memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Pak Paul?

PG : Betul, memang sebaiknya kalau kita mau menikah kita datang ke gereja minta bimbingan pranikah. Dalam bimbingan pranikah akan ada orang lain misalnya konselor atau hamba Tuhan yang dapat meolong kita melihat tentang siapakah kita dan kenapa kita menikahi dia, apa yang menjadi dorongan atau motivasi utamanya.

Dengan cara-cara itu kita akhirnya mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
GS : Tapi ada pula orang yang merasa khawatir kalau kelihatan seperti itu, kemudian nanti putus, dan dia sudah jemu atau tidak berniat untuk memulai lagi.

PG : Ini memang sering kali dialami oleh pasangan-pasangan Pak Gunawan, apalagi pasangan yang misalkan takut nanti putus lagi sedangkan sudah berkali-kali putus. Atau oleh orang yang susah mendpat pasangan, eh...ada

yang mau, jangan pusingkan hal-hal yang lain nanti menjadi masalah, nanti tidak jadi menikah. Jadi dengan kata lain orang yang memang mempunyai kepentingan yang besar, takut sekali relasi ini akan putus kalau menyadari perbedaannya. Tapi justru untuk kita melek mata dalam masa berpacaran kita mesti menyadari, menyadari perbedaan bukan membutakan mata dan menganggap semua pasti akan beres, yang penting menikah dulu, nanti masalah kita selesaikan setelah menikah. Jangan, justru memang kita harus membuka mata terhadap perbedaan-perbedaan ini. Caranya bagaimana untuk menyadari perbedaan, beranikan diri untuk bertanya kepada orang, teman, sahabat, orangtua, pendeta kita, minta pendapat mereka tentang relasi kita. Apakah dia orang yang cocok atau tidak, seperti apakah pasangan kita, seperti apakah kita ini. Kadang-kadang kita takut bertanya, nanti orang berkata terus-terang bahwa, "Kamu tidak cocok dengan dia, kamu orangnya terlalu spontan, dia orangnya terlalu kaku, kami bisa bayangkan nanti kamu akan terus berkelahi. Dia orangnya sangat kaku, semua harus tepat sementara kamu orangnya begitu bebas dan cenderung urakan. Sekarang ini kalian memang saling melengkapi, nanti saling tabrakan, coba pikirkan bagaimana cari yang lebih sesuai, yang lebih mirip dengan kamu." Kita kadang-kadang tidak siap mendengar realitas seperti itu dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Jadi jangan mengecilkan perbedaan, sebaliknya juga jangan membesarkan kesamaan. Ada orang yang seperti itu Pak Gunawan, perbedaan dikecil-kecilkan tapi kesamaan dibesar-besarkan. Kalau orang sudah begitu berarti dia buta, tindakan-tindakan ini akhirnya menjauhkan kita dari realitas.
GS : Pak Paul, kalau orang sudah buta seperti itu diingatkan orang lain juga tidak dianggap karena dia sudah pada pendiriannya. Kemudian apakah itu pasti akan menjadi masalah kalau mereka terus menikah?

PG : Sebetulnya kalau kita katakan apakah pasti akan menjadi masalah, jawabannya adalah 'ya' pasti akan ada masalah, namun apakah masalah itu sudah pasti akan menghancurkan pernikahan mereka, nh ini belum tentu.

Kenapa belum tentu, sebab orang bisa berubah (ini fakta). Ada orang-orang yang setelah menghadapinya dalam pernikahan, benar-bener berusaha sekeras mungkin menyelesaikannya, dua-dua berusaha menyelesaikannya atau dua-dua mencari bimbingan dari orang lain untuk menolong mereka menyelesaikannya. Atau mereka bener-bener berlutut lagi datang kepada Tuhan, memohon pertolongan Tuhan, ada orang-orang yang begitu dan akhirnya bisa. Tapi intinya tetap sama yaitu problemnya lumayan besar.
GS : Tadi Pak Paul melibatkan Tuhan di dalam hal ini, sering kali orang mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan, "Nah saya sudah ketemu dengan dia, pasti Tuhan yang mempertemukan."

PG : Hati-hati kalau kita mempunyai prinsip seperti itu, sebetulnya kita bisa berkata juga terhadap orang lain, sebab kita akan dipertemukan Tuhan dengan begitu banyak orang. Bukan maksud Tuhanmempertemukan kita bahwa ini jodoh buat kita, Tuhan tetap menuntut kita untuk membuka mata, meminta hikmat kepadaNya agar akhirnya kita dapat memilih dengan tepat.

Dan dalam proses itu ada satu hal yang mesti kita lakukan yaitu beriman, memercayakan diri hidup kita, masa depan kita pada pemeliharaan Tuhan. Kenapa orang buta mata di dalam memilih pasangan hidup, saya kira salah satu akarnya adalah kita takut; kita takut nanti masa depan kita suram kalau kita tidak mempunyai pasangan, kita takut kalau melihat perbedaan nanti menjadi putus, kita takut nanti pasangan kita melihat diri kita apa adanya nanti ada apa. Jadi saya kira akarnya adalah kekurangan kita daam hal beriman, maka kita mesti memercayakan hidup sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan. Jangan takut kehilangan pacar, takutlah kehilangan rencana Tuhan dalam hidup kita, itu yang harus lebih kita takuti. Jangan sampai lebih takut kehilangan pacar, takutlah kehilangan rencana Tuhan atas hidup kita. Saya ingatkan dengan firman Tuhan yang tercantum dalam Matius 6:25 dan 33, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu,....Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Semuanya termasuk masa depan kita dalam hal pernikahan, semua akan Tuhan tambahkan Tuhan akan pelihara, jangan kuatir. Jadi bagaimana melawan kebutaan ini? Yaitu benar-benar beriman, hidup ini dalam pemeliharaan Tuhan dan kita percayakan hidup ini kepadanya.
GS : Jadi sebenarnya orang itu lebih baik tidak usah menikah daripada membutakan mata memilih pasangannya, Pak Paul?

PG : Yang akhirnya keliru betul sekali, banyak orang berkata begini Pak Gunawan, ini juga karena stigma sosial, tekanan dari masyarakat, "Tidak apa-apalah menikah, nanti bercerai yang penting prnah menikah."

Jangan, kita tidak hanya melibatkan diri kita tapi kalau kita sudah mempunyai anak itu akan berdampak buruk pada anak-anak kita. Jadi berpikirlah panjang bukan hanya memikirkan diri sendiri.

GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini, saya rasa perbincangan ini akan membukakan lebih banyak mata saudara-saudara kita yang sedang berada pada masa pacaran. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi pada acara