DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Pranikah/Pernikahan


Anda dapat membaca 61 artikel terkait masalah pernikahan seperti anugerah dalam pernikahan, ciri-ciri pernikahan sehat, pernak-pernik perjodohan, dan sebagainya. (Total Durasi: 31 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1Mengapa Tuhan Mempertemukan KamiT005A
2Mencari Pasangan HidupT006B
3Memperkuat PernikahanT015A
4Gangguan dalam PernikahanT015B
5Konflik dalam Pernikahan KristenT018A
6Kewajiban dan Kemarahan dalam PernikahanT018B
7Makna Pernikahan GerejawiT025A
8Persiapan PernikahanT026B
9Kejenuhan dalam PernikahanT036A
10Bagaimana Memahami Kebutuhan Pasangan dalam PernikahanT036B
11Topeng dalam PernikahanT049A
12Keterbukaan dalam PernikahanT049B
13Proses Restorasi PernikahanT053A
14Model-Model Pernikahan 1 Faktor Penentu KesuksesanT055A
15Model-Model Pernikahan 2 Faktor Penentu KesuksesanT055B
16Pernak-Pernik Perjodohan 1T063A
17Pernak-Pernik Perjodohan 2T063B
18Makna KesepadananT079A
19Tanda-Tanda KesepadananT079B
20Pernikahan yang Tidak SehatT080A
21Ciri-Ciri Pernikahan SehatT080B
22Tahap Perkembangan Cinta dalam PernikahanT093A
23Menyikapi Perbedaan dalam PernikahanT100A
24Komunikasi dalam PernikahanT100B
25Memahami Pernikahan 1T114A
26Memahami Pernikahan 2T114B
27Mengapa Kita Menikah PriaT133A
28Mengapa Kita Menikah WanitaT133B
29Pertengkaran Racun atau Bumbu dalam KeluargaT139A
30Membentengi PernikahanT139B
31Titik Rawan PernikahanT146B
32Perubahan dalam PernikahanT155B
33Filipi 2 untuk PernikahanT166A
34KompromiT166B
35Tangguh Ditengah BadaiT192A
36Dipanggil untuk MemberkatiT192B
37Mengapa Masalah Pernikahan Sukar SelesaiT208A
38Komitmen PernikahanT208B
39Membangun Kepercayaan Dalam PernikahanT214A
40Membangun Respek Dalam PernikahanT214B
41Anugerah Dalam Pernikahan 1T225A
42Anugerah Dalam Pernikahan 2T225B
43Tahap Penyesuaian Dalam PernikahanT226A
44Pernikahan Yang HampaT226B
45Pernikahan Dihari Tua 1T227A
46Pernikahan Dihari Tua 2T227B
47Sampai Maut Memisahkan KitaT302A
48Sampai Maut Memisahkan Kita IIT302B
49Bertumbuh Bersama IT334A
50Bertumbuh Bersama IIT334B
51Pelancar Komunikasi IT338A
52Pelancar Komunikasi IIT338B
53Pernikahan di Mata TuhanT346A
54Saling Menajamkan IT347A
55Saling Menajamkan IIT347B
56Tahun Pertama Pernikahan 1T352A
57Tahun Pertama Pernikahan 2T352B
58Segitiga CintaT363A
59Cinta Pandangan PertamaT363B
60Penentu Keharmonisan Pernikahan IT379A
61Penentu Keharmonisan Pernikahan 2T379B


1. Mengapa Tuhan Mempertemukan Kami


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T005A (File MP3 T005A)


Abstrak:

Pertemuan antara suami dan istri adalah suatu hal yang penuh dengan keunikan. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan. Demikian juga pertemuan kita dengan calon pasangan kita adalah dalam rencana dan kehendak Tuhan.


Ringkasan:

Pertemuan kita dengan pasangan kita adalah suatu misteri, misteri dalam pengertian sesuatu yang tidak mudah kita nalar atau kita jelaskan secara rasional. Ada unsur-unsur yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar kenapa kita tertarik kepada pasangan kita. Namun kalau dipandang dari sudut kristiani kita percaya dan bersikap bahwa tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan dengan kata lain pertemuan kita dengan pasangan kita itu dalam rencana dan kehendak Tuhan. Pertemuan itu sudah pasti ada campur tangan Tuhan namun di samping campur tangan Tuhan banyak sekali hal-hal yang bersifat natural yang terlibat dalam pemilihan pasangan hidup itu. Hal-hal tersebut adalah ciri-ciri tertentu tentang pasangan kita yang klop dengan kita.

Ada 2 faktor yang mendasari bahwa suatu hubungan dikehendaki Tuhan:

  1. Menikah dengan yang seiman, itu permintaan Tuhan
  2. Menikah dengan yang sepadan, artinya yang cocok dengan kita

Bapak Yakub Susabda pernah mengeluarkan pernyataan yang berkata tidak semua pernikahan Kristen dikehendaki Tuhan. Pernyataan ini masuk kategori yang kedua di atas, adakalanya orang Kristen menikah dengan yang tidak cocok, memang seiman, dalam Tuhan, namun tidak cocok dalam hal-hal yang lain, misalnya kepribadian dan sebagainya. Dalam kasus yang demikian kita harus berani berkata bahwa pernikahan Kristen (dua-duanya orang Kristen) tersebut sebetulnya tidak direstui oleh Tuhan karena adanya ketidakcocokan.

Keharmonisan dalam rumah tangga bukanlah pertanda Tuhan merestui suatu hubungan suami-istri. Contoh: menikah dengan yang tidak seiman, jelas itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, meski di dalam rumah tangga mereka harmonis. Kecocokan memang adalah hal yang sangat indah dan hal yang sangat penting dalam pernikahan, namun tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur bahwa itu adalah pernikahan yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya kalau kedua orang tersebut seiman dan menemukan banyak kecocokan sehingga pernikahan mereka benar-benar solid, kuat, bebas dari konflik dengan mudah kita bisa langsung berkata pernikahan itu memang dikehendaki Tuhan.

Namun jika pernikahan kita mengalami konflik itu juga bukan pertanda Tuhan tidak merestui pernikahan kita. Contoh dalam perjalanan kehidupan Ayub, saat istri Ayub mendorong suaminya menjauhkan diri dari Tuhan. Terjadilah konflik, namun apakah kita berkata bahwa Tuhan sedang tidak memberkati Ayub dan meninggalkan Ayub? Dengan tegas kita bisa berkata tidak! Tuhan hadir bersama Ayub, bahkan tantangan dan pencobaan yang dialami pada saat itu adalah kontrol kedaulatan Tuhan, tidak ada indikasi satupun Tuhan meninggalkan Ayub. Memang adakalanya orang Kristen mempertanyakan mengapa pernikahan ini mengalami konflik, tapi kalau sudah yakin Tuhan yang memimpin jalannya hubungan kita, jangan lagi mempertanyakan hal itu. Kita dengan tegas bisa berkata pernikahan ini dikehendaki Tuhan, percekcokan ini adalah memang bagian dari kehidupan kita untuk membangun hubungan yang serasi.

Yohanes 14:25,26 berkata: "Semuanya itu Kukatakan kepadamu selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu, tetapi penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."

Jadi pada masa berpacaran jangan sampai kita lupa membuka diri terhadap ajaran, bimbingan Roh Kudus sendiri. Sebab Ia akan membimbing kita, tergantung kita mau dengarkan dan taati atau tidak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Tuhan Mempertemukan Kami", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul ada orang yang berpendapat bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, bagaimana tanggapan Pak Paul terhadap ungkapan seperti itu?

PG : Begini Pak Gunawan, kalau kita berkata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, itu adalah suatu pernyataan bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas hidup ini, sehingga bukan saja jodoh di tangan Tuhan api segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita ini semua ada di tangan Tuhan, dalam kedaulatan Tuhan.

Tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini di luar kedaulatan atau penguasaan Tuhan sendiri. Jadi kira-kira seperti itulah maknanya, namun dalam pengertian kita tentang jodoh itu di tangan Tuhan, kita memaknainya seperti ini bahwa meskipun itu dalam kehendak Tuhan namun Tuhan memberikan andil kepada manusia untuk berpartisipasi dalam mewujudkan kehendak Tuhan itu. Sehingga dalam perjodohan kita ini tidak diam, tidak hanya menantikan Tuhan berbuat sesuatu membawa seseorang ke dalam kehidupan kita dan kita berkata inilah jodoh yang Tuhan berikan kepada kita, tidak. Pengertian dalam kehendak Tuhan, kita ini diberikan kesempatan dan juga andil untuk berpartisipasi dalam mewujudkan kehendak Tuhan itu.
GS : Itu berlaku bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus maupun tidak, Pak Paul?

PG : Betul, dalam pengertian ini bahwa Tuhanlah yang memegang kendali penuh atas semua kehidupan dan aktifitas di dalam dunia ini ya, semua hal yang terjadi memang dalam kedaulatan Tuhan sendir, pertanyaan berikutnya adalah apakah semua pernikahan itu adalah pernikahan yang Tuhan setujui dalam pengertian kehendak itu sesuatu yang terjadi tidak ada yang di luar penguasaan Tuhan.

Namun kalau kita masuk ke point berikutnya apakah semua pernikahan itu disetujui oleh Tuhan, ternyata tidak Pak Gunawan.
GS : Kalau begitu pasti ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi sebuah pernikahan itu disetujui atau dikehendaki oleh Tuhan atau pun tidak?

PG : Betul sekali, dan syaratnya sebetulnya Alkitab hanya memberikan dua. Yang pertama Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan menghendaki kita menikah dengan sesama orang percaya, dengan ssama orang yang sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus.

Maka di 1 Korintus 7:39 Rasul Paulus memberikan nasihat bahwa kalau seseorang kehilangan pasangannya karena kematian, boleh menikah lagi dengan siapapun yang dikehendakinya asalkan dia orang percaya. Dalam terjemahan Alkitab yang lain ditulis asalkan dia orang yang di dalam Kristus. Yang kedua adalah saya ambil dari Kejadian 2:18, di sana dikisahkan tentang penciptaan Hawa. Nah kita tahu bahwa Hawa bukan hanya sembarang manusia tapi adalah istri Adam, jadi memang penciptaan Hawa itu harus dilihat dari dua konteks. Konteks penciptaan manusia yang selanjutnya tapi juga dalam konteks pernikahan, ini adalah istri yang Tuhan bawa dalam kehidupan Adam. Istilah yang Tuhan gunakan adalah seorang penolong yang sepadan bagi Adam. Berarti kalau kita boleh menggunakan ayat ini sebagai kriterianya, Tuhan menghendaki kita ini menikah dengan yang cocok, yang sepadan dengan kita, yang bisa terlibat dalam relasi saling tolong sehingga kita mendapatkan bantuan, masukan dari pasangan kita dan demikian pula sebaliknya. Nah dua syarat inilah yang Tuhan sudah tetapkan, jadi kalau kita keluar dari dua syarat ini berarti itu adalah pernikahan yang tidak Tuhan setujui.
WL : Pak Paul, berkaitan dengan pernikahan yang dikehendaki Tuhan, apakah Pak Paul bisa menjelaskan perbedaannya dengan area ketetapan Tuhan. Ketetapan Tuhan yang saya mengerti seperti keselamatan, orang ini dipilih atau tidak dipilih. Saya merasa perlu dijelaskan lebih lagi berkaitan juga dengan pertanyaan Pak Gunawan. Tidak sedikit orang Kristen yang meyakini bahwa memang benar-benar si A jodohnya itu pasti si B. Saya juga pernah membaca sebuah buku yaitu pengalaman seorang Jepang, benar-benar mengasumsikannya seperti itu, bahwa dia yakin di suatu hari kelak di satu hutan tertentu dia akan bertemu dengan jodoh yang ini. Nah, masalahnya kalau ternyata bukan. Saya sendiri juga pernah mengalami, suatu hari di perayaan Natal di gereja lain, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri saya, saya sedang telepon kemudian pria ini berkata: "Kamu adalah jodoh yang dikehendaki oleh Tuhan buat saya," saya terkejut luar biasa, "bagaimana bisa tahu bahwa saya ini jodoh buat kamu. Saya belum kenal kamu, kamu pun belum kenal saya," Pak Paul mungkin bisa menolong untuk menjelaskan?

PG : Contoh Ibu Wulan itu contoh yang baik sekali yaitu contoh penyalahgunaan kehendak Tuhan. Jadi kita mesti berhati-hati agar kita tidak mengklaim inilah kehendak Tuhan, meskipun kita belum mmpunyai buktinya.

Saya pernah mempunyai seorang teman yang mendapatkan pinangan yang sama seperti yang pernah Ibu Wulan alami dulu. Pria ini datang kepadanya dan berkata: "Dalam doa saya mendapatkan wahyu dari Tuhan bahwa engkaulah jodoh untukku." Nah, jawabannya dia adalah sangat baik, dia berkata: "OK, saya akan doakan dan kalau Tuhan juga memberikan wahyu yang serupa kepada saya barulah saya yakin ini adalah kehendak Tuhan, kalau Tuhan tidak memberikan wahyu yang sama berarti memang bukan." Jadi itu salah satu cara untuk menangkal pinangan-pinangan orang yang seperti ini. Tapi yang kedua adalah Tuhan meminta kita berandil di dalam mewujudkan kehendakNya bagi kita untuk menemukan pasangan hidup kita. Tuhan justru tidak menghendaki kita ini menjadi seperti orang yang pasif tidak ikut andil sama sekali, seolah-olah hanya menantikan seseorang dibawa di dalam kehidupan kita. Tidak, andil kita apa, andil kita adalah kita mesti melihat kecocokannya, kita mesti benar-benar menguji apakah relasi ini relasi yang cocok dan ujian ini harus melewati kurun yang tertentu, waktu yang tertentu agar kita bisa meyakini ya bahwa ini adalah pasangan yang cocok untuk kita. Kalau misalkan orang ini seiman dan sama-sama dalam Tuhan, tapi orang ini tidak cocok dengan kita, itu adalah pernikahan yang Tuhan tidak setujui meskipun dia seiman, namun kita dalam menjalani masa-masa perkenalan dengan dia kita pun menyadari waduh.........90% pertemuan kita itu diisi dengan pertengkaran, 10% baru tidak diisi dengan pertengkaran. Seharusnya itu sudah cukup kuat untuk memberitahukan kita bahwa ini bukanlah relasi yang cocok, bukan relasi yang sepadan. Memang sebetulnya kehendak Tuhan itu bisa kita lihat dari berbagai level, meskipun dari mata Tuhan kehendak Tuhan hanya satu tapi dari kacamata manusia seolah-olah kita bisa membeda-bedakan kehendak Tuhan dalam dua atau tiga level. Nah, level yang paling dekat dengan kehendak Tuhan adalah ketetapan langsung misalnya kelahirang Tuhan Yesus, kematian Tuhan Yesus di kayu salib itu yang saya panggil ketetapan langsung namun memerlukan kondisi artinya Tuhan memang sudah tetapkan Tuhan Yesus akan mati di kayu salin, namun ada kondisinya. Kondisinya adalah manusia-manusia itu mengambil bagian dalam mewujudkan kehendak Tuhan yaitu mereka membenci Tuhan, mereka melihat Tuhan Yesus sebagai pengacau dan harus disalibkan, sehingga akhirnya Tuhan benar-benar mati disalib. Itu ketetapan Tuhan namun manusia itu seolah-olah mempunyai bagian di situ dalam mewujudkan kehendak Tuhan. Berbeda dengan misalnya kelahiran Tuhan Yesus langsung, tulah yang Tuhan berikan kepada Mesir langsung, itu ketetapan yang benar-benar langsung. Penciptaan alam semesta ini, itu juga benar-benar ketetapan yang langsung sekali tanpa sedikit pun manusia mempunyai bagian dalam kehendak Tuhan itu. Nah, dalam level yang kedua yang tadi saya berikan contoh tentang kematian Tuhan Yesus jelas adanya andil manusia di situ, terus tentang penyebaran Injil dari Yerusalem ke Yudea dan akhirnya ke seluruh muka bumi ini, itu diawali dengan penganiayaan orang Kristen di kota Yerusalem. Memang Tuhan menghendaki murid-murid Tuhan itu pergi ke seluruh penjuru dunia tapi mereka tidak pergi. Jadi seolah-olah Tuhan itu memakai peristiwa penganiayaan itu untuk membawa murid-muridNya keluar dari Yerusalem. Tapi ada level yang ketiga, level yang yang ketiga adalah seolah-olah tidak ada ketetapan dari Tuhan maka saya sebut ketetapan tidak langsung, tetap ketetapan tapi seolah-olah Tuhan tidak turut campur dengan jelas membisikkan inilah ketetapannya, inilah yang harus terjadi. Kalau Tuhan Yesus sebelum mati Dia pun sudah berkata Dia akan disalibkan, Dia akan dibunuh, tapi dalam berpacaran dan memilih pasangan hidup biasanya itu tidak terjadi, nah seolah-olah Tuhan tidak memberikan ketetapan, sebetulnya ada namun secara tidak langsung dan Tuhan memberikan kesempatan dan andil yang sangat besar kepada manusia untuk terlibat di dalam mewujudkan dan mengetahui dengan pasti akan kehendak Tuhan ini.
WL : Pak Paul, kalau saya boleh mengerti berarti Tuhan memang memberikan hak atau kebebasan kepada manusia untuk memilih pasangannya yang manapun, dengan kata lain sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan Tuhan karena yang sering saya dengar kalau rumah tangga akhirnya berantakan cenderung menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan akhirnya mengijinkan, pernikahan ini bisa terjadi kalau tidak bukankah waktu di altar itu bisa terjadi sesuatu sehingga tidak jadi menikah tapi ini Tuhan berikan kesempatan ini untuk menikah.

PG : Bu Wulan, ada satu kesalahpahaman yang sering kali dimiliki oleh kita sebagai orang percaya, kita ini beranggapan setelah kita ini percaya kepada Kristus maka hidup ini seharusnya mudah. Jdi seolah-olah tujuan hidup itu adalah kebahagiaan, dalam pengertian kemudahan, kegampangan atau keenakan, itu keliru.

Sebab yang Tuhan janjikan dan inginkan dari kita anak-anakNya adalah pertumbuhan, itu jauh menempati porsi besar dalam rencana kerja Tuhan. Justru yang namanya kemudahan, keenakan dan sebagainya, itu tidak pernah Tuhan janjikan. Maka yang Tuhan pernah katakan kalau engkau mengikut Aku, engkau harus menyangkal dirimu dan memikul salibmu, salib itu lambang kematian pada saat itu. Dengan kata lain memang ada penderitaan, ada kuk yang harus kita pikul, Tuhan berkata pikullah kuk meskipun Dia berjanji itu akan ringan. Bukan karena bebannya ringan tapi kekuatan Tuhan yang begitu besar menolong kita memikul kuk itu sehingga kuk itu tidak terlalu memberatkan kita. Tapi kuk itu sendiri bisa berat namun dengan kekuatan dari Tuhan bisa kita pikul, itu maksudnya Tuhan. Jadi intinya Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, keenakan, kelancaran, yang Tuhan inginkan justru adalah pertumbuhan dan kita tahu sebagai manusia bahwa pertumbuhan itu terjadi melewati satu syarat. Syaratnya apa, yaitu kesusahan, krisis, pengujian, nah itu yang memang Tuhan tekankan. Jadi pertanyaan Ibu Wulan adalah bagaimana dengan orang yang sudah menikah yakin ini adalah kehendak Tuhan dan memenuhi syarat, cocok, dan juga sama-sama dalam Tuhan kok masih bertengkar, selama menikah kok masih tidak cocok, seolah-olah ini bukan kehendak Tuhan. Nah, yang pertama saya ingin koreksi adalah konsepnya dulu, kalau kita menikah mengharapkan semuanya lancar berarti kita keliru sebab Tuhan menghendaki pertumbuhan. Dan pertumbuhan biasanya harus melewati proses pengujian.
GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan pertumbuhan itu pertumbuhan apa Pak?

PG : Pertumbuhan rohani jiwa kita, jadi roh kita, jiwa kita makin hari makin matang. Misalkan kita kurang sabar, Tuhan ingin menumbuhkan kesabaran kita. Kita misalkan mudah putus asa, Tuhan ingn menumbuhkan ketangguhan kita, makanya di II Petrus dikatakan tambahkan atas imanmu itu kebajikan, tambahkan juga penguasaan diri, tambahkan juga ketabahan, dari situ nanti akan muncul kesalehan.

Kesalehan akhirnya Tuhan minta tambahkan lagi kasih kepada sesama saudara dan sebagainya. Jadi pertumbuhan baik secara rohani maupun secara karakter.
GS : Dalam rangka maksud Tuhan supaya kita bertumbuh, kadang-kadang kita melihat pada kenyataannya bahwa pasangan yang dijodohkan oleh Tuhan, yang dikehendaki oleh Tuhan itu kelihatannya aneh sekali. Jadi kalau kita tadi berbicara tentang sepadan, kalau kita lihat itu tidak sepadan, misalnya yang satu boros, yang satu sangat hemat, yang satu suka keluyuran, yang satu tidak, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Sudah tentu prinsipnya adalah sewaktu kita menikah, kita memang mau mencari yang sepadan dalam pengertian kalau pun berbeda bedanya tidak terlalu jauh, kalau memungkinkan itu yang diutamakn.

Dan perbedaan itu tidak sampai akhirnya mengganggu dalam pengertian apakah awal-awalnya tidak mengganggu, pasti mengganggu. Namun pada masa perkenalan kita mencoba untuk mencocokkan atau menyesuaikan. Nah, harusnya sebelum kita menikah proses pencocokkan itu sudah terjadi, mesinnya sudah menyala. Kenapa penting mesinnya menyala karena setelah menikah kita akan menemukan banyak lagi ketidakcocokkan. Artinya kita memang harus siap untuk menghadapi ketidakcocokkan itu.
GS : Yang sering kali dialami oleh mereka yang berpacaran itu justru kelihatannya mereka cocok tapi tidak seiman. Karena memang lingkungannya itu yang tidak memungkinkan mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang seiman.

PG : Tadi saya sudah singgung Pak Gunawan, bahwa dua syarat yang harus kita penuhi. Yang pertama adalah pasangan kita harus seiman, yang kedua harus cocok, nah kadang-kadang kita kurang bijaksaa kita hanya melihat faktor seimannya sehingga ketidakcocokkan kita abaikan, akhirnya celakalah yang kita alami, dalam rumah tangga sering bertengkar karena memang dasarnya kurang cocok.

Tapi kesalahan kedua yang sering kita lakukan adalah sudah cocok tapi tidak seiman, kita kompromikan nah itu pun juga bukan pernikahan yang Tuhan setujui karena faktor tidak seimannya itu ada, meskipun kita cocok. Jadi kita harus menjaga keduanya ini harus ada di dalam pernikahan kita, tapi kalau kita sudah yakin keduanya ada dalam pernikahan kita cocok dan seiman, kemudian dalam perjalanannya kita mengalami konflik kita jangan sampai menanyakan kembali, "Tuhan, apakah ini kehendakMu saya menikah dengan pasangan saya." Ini pengalaman saya pribadi juga, pada awal pernikahan kami pun juga harus melewati konflik, nah dalam konflik saya pernah bertanya: "Tuhan, saya salah memilih pasangan hidup atau tidak?" Akhirnya saya memikirkan masalah ini, waktu saya masih berpacaran dengan istri saya apakah saya meyakini ini adalah istri yang cocok dengan saya; ya, apakah dia seiman dengan saya, ya; apakah akhirnya saya simpulkan dia memang pasangan yang Tuhan sediakan untuk saya; ya, kalau begitu sudah saya harus tutup kasus ini, saya tidak boleh bertanya-tanya apakah ini pasangan yang Tuhan berikan sebab kedua syarat ini telah saya penuhi. Berarti yang saya alami dalam pernikahan saya adalah bagian pertumbuhan yang Tuhan tetapkan untuk saya dan istri saya. Nah sekarang setelah hampir 20 tahun saya menikah dengan istri saya kami menikmati relasi yang baik, tidak bisa tidak kami baru bisa melihat ke belakang dan berkata: "O.........ya, pengalaman yang dulu itu memang perlu, harus ada kalau tidak kami tidak akan menanjak, bertumbuh baik dalam karakter kami maupun kerohanian kami." Nah, dengan kata lain maksud Tuhan tercapai, di dalam pernikahan ini akhirnya masing-masing mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan itu kita tahu adalah harus menuju pada sasaran yang sama yakni menjadi serupa dengan Kristus Tuhan kita.
WL : Pak Paul, bagaimana dengan kasus-kasus yang justru tidak seiman tapi harmonis pernikahannya?

PG : Tadi saya sudah singgung, meskipun itu yang terjadi tetap itu bukan pernikahan yang Tuhan setujui.

WL : Ya, tapi agak sulit dimengerti Pak Paul, karena akhirnya banyak orang yang berargumen kalau tidak seiman kemudian menikah dan mereka gontokan-gontokan, ribut, bermasalah akhirnya kita bisa mengerti ya sudah itu kuk yang harus kamu tanggung karena kamu tidak menuruti firman Tuhan. Tapi kalau kebalikannya tidak seiman tapi tetap harmonis, nah orang akan bertanya-tanya Tuhan tidak menghukum mereka kok lalu orang akan lebih setujui maksudnya untuk kasus-kasus berikutnya mereka berkata tidak apa-apa kok kita boleh mencoba.

PG : Tuhan memang tidak menghukum, dalam pengertian Tuhan tidak bertindak secara langsung melakukan sesuatu penghukuman atau menjatuhkan sesuatu yang buruk kepada orang ini. Kenapa, ya saya tidk bisa memastikan rencana Tuhan karena saya yakin sebetulnya ada rencana Tuhan untuk setiap orang, tapi yang bisa saya katakan adalah meskipun mereka memang harmonis tapi tetap berada di luar persetujuan Tuhan.

Nah kalau sampai kita bertanya juga mengapa Tuhan seolah-olah memberkati, mereka tambah hari tambah harmonis apa yang terjadi? Nah kita bisa menyimpulkan nomor satu mereka memang harmonis, memang mereka cocok. Dan yang kedua adalah di dalam kebaikan hati Tuhan, di dalam kemurahan Tuhan, Tuhan memberikan anugerahNya kepada pasangan-pasangan ini. Sebab kenapa, sebab dari pasangan yang tidak seiman ini pun akan lahir anak-anak dan Tuhan menginginkan anak-anak ini bisa menghirup udara yang tenteram dalam keluarga. Nah maka Tuhan juga akan memberikan anugerah itu kepada keluarga tersebut yakni biarkanlah, supaya apa yakni anak-anaknya bisa menikmati ketenteraman hidup. Jadi Tuhan bukanlah Tuhan yang jahat, gara-gara kita melanggar perintahnya, kita menikah dengan yang tidak seiman maka Tuhan langsung akan kutuk sehingga anak-anaknya akan terus hidup di dalam penderitaan, tidak ada kedamaian dan sebagainya tidak selalu begitu. Ada memang yang menikah dengan yang tidak seiman, orang itu berkarakter buruk sehingga pernikahan mereka menjadi sangat-sangat penuh dengan penderitaan, ada yang seperti itu. Tapi saya juga setuju dengan Ibu Wulan, ada yang tidak seperti itu, ada yang harmonis itu adalah anugerah untuk mereka. Tuhan membiarkan itu terjadi, dan Tuhan memelihara anak-anak mereka, Tuhan ijinkan namun tetap saya tegaskan itu di luar persetujuan Tuhan. Sebab firman Tuhan sudah jelas berkata boleh menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya.
GS : Pak Paul, kalau dalam kasusnya Ayub yang istrinya itu marah-marah kepada Ayub bahkan mengatakan kamu menghujat Allahmu saja. Nah di sana kita melihat itu sebenarnya pasangan yang sama-sama beriman kepada Tuhan atau kerena ketidakcocokan atau ada faktor-faktor lain Pak Gunawan?

PG : Nah itu contoh yang baik sekali Pak Gunawan, contoh Ayub dan istrinya adalah contoh klasik manusia yang akhirnya retak di dalam penderitaan yang teramat berat. Sudah tentu istri Ayub juga dalah seorang yang saleh memang Alkitab tidak menuliskan sebelumnya, karena dikatakan di Alkitab pada masa anak-anaknya masih hidup Ayub itu ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya, berdoa untuk anak-anaknya dan tampaknya ini keluarga yang harmonis, anak-anaknya saling mengunjungi, makan bersama penuh kedamaian jadi saya bisa menduga bahwa keluarga ini keluarga yang baik.

Taat pada Tuhan dan harmonis, tapi kenapa istri Ayub sampai berkata seperti itu, dia retak dalam tekanan yang begitu berat sehingga dia berkata kepada Ayub kenapa engkau tidak mengutuk Tuhan, kutukilah dirimu seolah-olah lebih baik kamu mati dan sebagainya. Saya kira dia retak sehingga mengeluarkan kata-kata seperti itu, bukannya dia orang yang yang seperti itu. Tapi bisa kita simpulkan juga bahwa penderitaan yang begitu berat memang membuat hubungan mereka retak, relasi mereka akhirnya tidak lagi harmonis, akhirnya mereka bertengkar. Nah apakah dari sini kita bisa katakan o.....pernikahan Ayub dengan istrinya dari awalnya memang Tuhan tidak berkati, atau Tuhan tidak setujui, tidak. Jadi kita jangan terburu-buru mengaitkan ketidakcocokkan atau pertengkaran di rumah tangga kita selalu dengan Tuhan tidak memberkati kita lagi, belum tentu. Jelas Tuhan memberkati Ayub dan keluarganya dan jelas bahwa ujian yang diberikan Tuhan kepada Ayub bertujuan untuk pertumbuhan Ayub itu sendiri dan ada rencana Tuhan yang lebih besar yang Ayub sendiri pada saat itu tidak bisa melihatnya. Tapi apakah Tuhan menarik berkatNya dari Ayub, tidak. Nah ini saya ingin sampaikan kepada para pendengar kita Pak Gunawan. Sebab saya tahu bahwa dalam penderitaan karena hubungan kita kurang harmonis, kita berkata: "Tuhan itu menarik berkatNya dari kita" belum tentu. Kalau dua-dua berjalan, takut akan Tuhan, mau menyenangkan hati Tuhan tapi kok masih ada pertengkaran itu bukan pertanda Tuhan menarik berkatNya, itu pertanda Tuhan menginginkan kita berdua bertumbuh.
GS : Berarti untuk meyakini bahwa pasangan kita itu pasangan yang Tuhan berikan, itu ada firman Tuhan yang menguatkan kita Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari kitab Yohanes 14:25 dan 26 "Semua itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan iutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."

Nah yang ingin saya garisbawahi adalah Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Bukalah diri kita pada pengajaran Roh Kudus, pada pengajaran Tuhan, dalam masalah yang kita hadapi dengan pasangan kita ada pengajaran Tuhan untuk kita, Tuhan sedang mengajak kita bertumbuh, ini bukan pertanda Tuhan menarik berkatNya, jangan. Jangan terburu-buru berkata begitu, yakinlah kalau ini memang dari Tuhan pernikahan ini juga sudah kita penuhi syarat-syaratnya, ini kehendak Tuhan dan kita tidak lagi bertanya. Dan kalau kita harus bergumul itu pertanda Tuhan menginginkan kita bertumbuh.

GS : Ya berarti sejak awal kita mencari pasangan kita itu, kita harus melibatkan Tuhan di dalam hal taat kepada pimpinan Roh Kudus ini. Terima kasih Pak Paul dan Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Tuhan Mempertemukan Kami." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



2. Mencari Pasangan Hidup


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T006B (File MP3 T006B)


Abstrak:

Anak-anak menyerap banyak hal dari orang tua ketika mereka memilih jodoh. Kalau seorang pria menyukai sikap-sikap mamanya dia akan cenderung mencari wanita yang menyerupai mamanya. Demikian juga dengan wanita, kalau dia menghormati sifat-sifat ayahnya dia juga cenderung untuk mencari pria atau mendekati pria yang menyerupai ayahnya. Namun lebih dari semua itu ada prinsip-prinsip yang perlu dijadikan pedoman dalam memilih pasangan hidup, dan materi ini akan menyajikan prinsip-prinsip tersebut.


Ringkasan:

Seorang anak memilih jodoh sesungguhnya tidak begitu jauh berkisar dari orang tua. Maksudnya anak-anak menyerap banyak hal dari orang tua. Misalnya interaksi orang tua, hal-hal yang mereka sukai atau tidak sukai dari seorang pria atau seorang wanita. Kalau seorang pria menyukai sikap-sikap mamanya dia akan cenderung mencari wanita yang menyerupai mamanya. Demikian juga dengan wanita, kalau dia menghormati sifat-sifat ayahnya dia juga cenderung untuk mencari pria atau mendekati pria yang menyerupai ayahnya.

Pedoman-pedoman atau prinsip yang dapat digunakan untuk mencari pasangan hidup, dipandang dari sudut kristiani adalah sebagai berikut:

  1. Seiman
    1 Korintus 7:39, "Istri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya." Di sini ditekankan hanya boleh menikah dengan yang seiman atau orang percaya/sesama orang Kristen.
  2. Nikahilah orang yang sesuai dengan selera kita. Orang yang kita sukai.
  3. Kejadian 2:18, Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Nah prinsip selanjutnya menikahlah dengan yang sepadan, maksudnya sepadan adalah cocok dengan kita. Kecocokan adalah hal yang penting, tidak harus sama tapi bisa mengimbangi dan bisa menerima perbedaan masing-masing.

Kecocokan yang perlu kita pertimbangkan adalah :

  1. Kecocokan secara emosional, kecocokan secara sifat atau karakteristik, tabiat, perangai. Jangan menikah dengan orang yang sifatnya tidak kita sukai. Memang tidak mudah kita menemukannya karena perbedaan-perbedaannya tidak mudah kita lihat.
    Adakalanya kita dibutakan oleh beberapa faktor yaitu:

    1. Dibutakan oleh impian kita, bahwa nanti akan berubah

    2. Menyangkali perbedaan kita atau ketidakcocokan kita dengan dalih bahwa ketidakcocokan itu adalah bumbu dalam pernikahan, bumbu yang bisa menambah sedapnya makanan pernikahan. Hati-hati dengan pemikiran ini.

Seorang remaja dianjurkan berpacaran setelah lulus SMA, jadi setelah usia 18 tahun. Anak-anak di bawah usia 18 tahun sebetulnya sedang berada pada tahap proses membentuk identitas diri, mereka mulai mencari tahu siapa diri mereka. Kalau dalam usia di bawah 18 tahun anak-anak sudah mulai berpacaran, maka akhirnya bahan-bahan yang seharusnya dia terima dari banyak orang untuk membentuk dirinya itu akan berkurang, karena waktu harus dihabiskannya hanya dengan satu orang saja. Jadi berpacaran di bawah usia 18 tahun tidak begitu sehat bagi pertumbuhan jiwa si anak.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, selama ± 30 menit akan menemani Anda dalam acara perbincangan seputar kehidupan keluarga. Telah hadir bersama saya Bp. Dr. Paul Gunadi seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling yang kini juga aktif mengajar di Sekolah Alkitab Asia Tenggara di Malang. Dan juga telah hadir pula bersama kami Ibu Idajanti Raharjo salah seorang pengurus di Lembaga Bina Keluarga Kristen. Ikutilah perbincangan kami karena kami percaya acara Telaga ini pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua.

Lengkap
GS : Kali ini kami ingin mengajak Pak Paul berbincang-bincang seputar kehidupan remaja khususnya di dalam mereka menentukan pilihan hidupnya atau perjodohan, itu yang sering kali kita dengar. Pembicaraan ini memang sudah sering kali dilakukan tapi selalu menjadi suatu topik yang menarik untuk dibahas, bukan begitu Pak Paul?

PG : Sangat betul Pak Gunawan, bahwa topik berpacaran atau memilih jodoh adalah topik yang selalu enak untuk dibicarakan dan memang sangat penting sekali.

GS : Jadi kami akan memulai mempersoalkan akan apa yang mereka bingungkan. Apakah ada semacam pedoman Pak Paul khususnya bagi remaja-remaja Kristen di dalam menentukan pilihan teman hidupnya?

PG : Ada Pak Gunawan jadi memang secara jelas Alkitab memberikan kita beberapa petunjuk. Namun sebelum kita masuk ke situ Pak Gunawan, saya pikir ini penting sekali agar kita menyadari bahwaanak memilih jodoh tidak begitu jauh atau berkisar dari kita sebagai orang tua.

Maksudnya begini, anak-anak itu sebetulnya melihat dan menyerap banyak sekali dari kita sebagai orang tua. Dati kecil mereka melihat misalnya interaksi kita, hal-hal yang mereka sukai atau tidak sukai pada diri kita sebagai seorang pria atau sebagai seorang wanita. Kalau seorang anak pria menyukai sifat-sifat mamanya, dia akan cenderung mencari seorang wanita yang menyerupai mamanya. Sama juga dengan seorang anak wanita, kalau dia menghormati sifat-sifat ayahnya dia juga cenderung untuk mencari pria atau mendekati pria yang menyerupai ayahnya. Jadi lingkungan hidup anak itu sendiri sebetulnya merupakan pengajaran langsung kepada anak akan jodoh seperti apa yang akan mereka pilih nantinya. Nah saya melihat kadang kala kita mulai mau memberikan petunjuk kepada anak kita setelah anak itu menginjak usia remaja, namun sesungguhnya anak sudah harus belajar tentang pemilihan jodoh itu jauh sebelum usia remaja. Jadi misalkan anak waktu berumur 8, 9 tahun, anak itu sebetulnya sudah mulai belajar dari kita secara informal. Dia mulai sebetulnya diarahkan ke orang-orang tertentu dalam hidupnya yang akan membuat dia tertarik. Contoh yang lain yang negatif misalkan ada seorang ayah yang tidak begitu peka dengan mamanya atau ibunya, nah si anak ini kalau misalkan melihat ketidakpekaan ayah sebagai sesuatu hal yang negatif misalkan dia anak wanita, dia akan cenderung mencari seorang teman hidup yang tidak seperti ayahnya. Jadi sekali lagi memang seseorang itu memilih jodoh sebetulnya berputar-putar pada apa yang dia lihat dalam keluarganya sendiri.
IR : Selaku orang tua Pak Paul, apakah kita perlu mendoakan anak-anak kita supaya dia itu memperoleh jodoh yang seiman, dan itu mulai anak-anak masih kecil atau pada waktu remaja?

PG : Sudah tentu kita perlu mendoakan, jadi baik sekali usulan ibu Ida dan sejak kecil ya kita boleh mendoakan, namun saya kira kita akan lebih intensif mendoakan anak setelah mereka menginjk usia dewasa, usia remaja dan seterusnya.

Sebab di saat itulah anak-anak remaja mulai bereksperimen dalam pergaulan dengan lawan jenisnya. Nah di situ kita memang lebih harus menghabiskan waktu berdoa untuk mereka. Namun sejak kecil sekali lagi anak-anak itu sebetulnya perlu menerima pengarahan dari kita tentang suami atau istri yang seharusnya mereka pilih. Karena hal-hal ini adalah hal yang akan menjadi prinsip mereka di kemudian hari, apalagi kalau pengajaran kita ini didukung oleh kehidupan keluarga yang baik, yang positif baginya. Nah dia akan lebih terdorong untuk hanya mencari jodoh yang seperti itu karena dia melihat ini adalah figur yang positif.
GS : Selain menemukan figur yang positif di dalam diri orang tua, apakah ada pedoman yang lain yang bisa dijadikan semacam pegangan untuk anak-anak itu?

PG : Ada, bagaimana kalau saya langsung berbicara kepada para remaja yang misalkan mendengarkan siaran radio kita ini Pak Gunawan. Jadi anak remaja kalau engkau ingin mencari jodoh, nah ini aya membahasnya sudah tentu dari sudut Kristiani, yakni engkau harus menyadari bahwa Tuhan meminta engkau hanya memilih yang seiman denganmu.

Saya akan membacakan dari Firman Tuhan di 1 Korintus 7:30, "Istri terikat selama suaminya hidup, kalau suaminya telah meninggal dia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya." Nah ini adalah nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, memang secara khusus nasihat ini ditujukan kepada para istri di mana mereka telah menjanda karena kematian suami mereka. Jadi Paulus berkata kalau hendak menikah lagi silakan, namun hanya boleh menikah dengan yang seiman atau orang percaya. Jadi yang dimaksud orang percaya di sini adalah sesama orang Kristen. Jadi saudara-saudara yang usianya masih remaja atau dewasa awal, kita sebagai orang Kristen memang diminta Tuhan untuk memilih jodoh yang seiman, ini prinsip yang pertama yang jelas sekali. Jadi kalau engkau misalkan melihat seseorang, tertarik kepada dia dan memang dia bukan sesama orang percaya, saya akan minta untuk Anda tidak memulai hubungan apapun yang serius dengannya. Kecuali kalau memang orang itu akhirnya tergerak dan menjadi sesama orang Kristen, nah itu baru Anda bisa mulai hubungan yang lebih serius dengannya. Kalau belum jangan Anda terlalu dekat, karena nanti kalau sudah terlanjur cinta susah sekali untuk bisa dijauhkan.
IR : Pak Paul, anak-anak muda sekarang ini banyak yang mengeluh katanya, mereka itu ingin sekali mencari yang seiman, tapi kenyataannya di kalangan di mana dia itu ikut pelayanan mereka sulit untuk mencari yang sesuai dengan seleranya. Karena kadang-kadang mereka tertarik karena kecantikan Pak Paul, dan mereka itu tidak mengutamakan yang seiman.

PG : Betul sekali Bu Ida, maka Firman Tuhan ini sebetulnya yang tadi telah kita baca telah memberikan kita dua prinsip sekaligus yang perlu kita seimbangkan. Jadi Paulus berkata kepada para anda yang suaminya sudah meninggal, engkau bebas menikah dengan siapa saja yang dikehendakinya.

Jadi di sini Paulus memang memberikan kebebasan kita menikah dengan orang yang sesuai dengan selera kita, dan ini penting sekali yaitu nikahilah orang yang kita sukai, tidak bisa kita menikah dengan orang yang tidak kita sukai, tidak sesuai dengan selera kita itu tidak lazim dilakukan dan tidak terlalu baik. Namun di pihak yang lain Paulus memberikan langsung syaratnya, boleh menikah dengan siapa saja sesuai dengan seleramu, ada yang suka tinggi, ada yang suka orang yang agak gemuk, ada yang suka kurus, tergantung orang itu, terserah. Namun langsung Paulus menambahkan asal orang itu adalah seseorang yang percaya. Jadi memang keduanya langsung digabungkan dan saya bisa memahami bahwa adakalanya mencari seseorang yang bisa merupakan gabungan dari keduanya bukan perkara mudah.
GS : Saya melihat peringatan itu sebagai suatu yang perlu artinya sebenarnya itu bukan malah menghalangi seseorang, tapi demi kepentingan orang itu sendiri. Jadi untuk kepentingan dia karena kalau kita berbeda iman itu pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari begitu Pak Paul.

PG : Betul sekali, belum tentu sebetulnya menimbulkan masalah, jadi dalam pengertian begini Pak Gunawan, saya harus terbuka untuk melihat masalah pernikahan secara luas. Apakah mungkin ada oang yang menikah dengan yang tidak seiman dan hidup bahagia, hidup harmonis? Sangat mungkin, sangat mungkin sebab pernikahan itu terdiri dari banyak faktor, persamaan iman adalah salah satu di antaranya namun bukan semuanya.

Jadi kita tidak bisa berkata kebalikannya wah dia sama seiman dengan kita, dia mencintai Tuhan Yesus, melayani Tuhan dan sebagainya sama dengan saya langsung cocok, langsung menikah. Nah itu juga adalah pertimbangan yang tidak dewasa, tidak matang karena banyak faktor lain yang harus dinilai. Jadi kenapa tidak memilih yang bukan seiman, bagi saya alasan terkuatnya bukan untuk menghindari masalah tapi itu adalah perintah Tuhan. Jadi kita dituntut untuk taat, nah pilihan kita di situ hanya dua, taat atau tidak taat. Sebab kalau kita berargumentasi dengan anak-anak kita, nanti hidupmu tidak bahagia, nanti banyak problem dan sebagainya mereka yang sudah pikirannya kritis mungkin sekali akan berkata: "Tidak harus begitu Pa, banyak orang yang menikah sesama Kristen tapi hidupnya kacau-balau, sering bertengkar, nah kenapa saya harus yakin bahwa Papa betul!" Misalnya dia berkata begitu, saya pikir anak itu mempunyai alasan yang tepat, jadi memang tidak menjamin menikah dengan yang seiman berarti pasti harmonis. Tapi ini adalah masalah ketaatan kepada kehendak Tuhan.
GS : Ada banyak yang mengatakan itu setengah memaksakan. Walaupun pasangan saya atau calon pasangan saya tidak seiman, nanti kalau menikah dengan saya bakal jadi seiman dengan saya, begitu Pak Paul. Jadi dia katakan ini ada harapan untuk jadi seiman dengan saya, bagaimana itu Pak Paul?

PG : Ini sebetulnya membuka dua pintu ya, memang ada harapan pasangan saya akan menjadi seiman dengan saya, namun sebetulnya pintu yang satunya juga terbuka, saya pun akan tersedot oleh dia enjadi seiman dengan pasangan saya, alias saya meninggalkan iman saya, itu pun juga mungkin.

GS : Jadi resikonya hampir sama Pak Paul ya?

PG : Sebetulnya resikonya persis 50:50, 50:50. Jadi kita berkata kepadanya, "Engkau menaati perintah Tuhan, ini bukan masalah apakah engkau akan berhasil membawa dia mengenal Tuhan Yesus dansebagainya, itu bukan masalahnya sebab kalau dia mengatakan: "ya mungkin saja".

Jawaban kita pasti adalah mungkin dan memang mungkin. Jadi kalau kita berargumentasi dari sudut ini ya tidak ada jalan keluarnya sebab memang tidak ada yang bisa memastikan masa depan kita. Namun ini adalah masalah ketaatan kepada yang Tuhan sudah minta.
IR : Bagaimana kalau anak ini sudah terlanjur cinta dengan yang tidak seiman Pak Paul, orang tua apa harus kompromi untuk menerima dia?

PG : Ini masalah yang sulit sekali Ibu Ida, sudah tentu kita akan berdoa dengan lebih serius memohon Tuhan untuk campur tangan, sehingga anak kita ini akhirnya bisa mengambil keputusan yang esuai dengan kehendak Tuhan.

Namun di pihak lain saya juga harus mengakui bahwa kalau kita bersikeras dan anak kita sudah kadung cinta, sering kali kita akhirnya tidak bisa memaksakan kehendak kita. Sering kali kita akhirnya harus mundur, kita harus mundur dan berkata kepadanya: "Engkau bertanggung jawab langsung kepada Tuhan, dan ini adalah hidupmu silakan engkau mengambil keputusan. Kami sebagai orang tua hanya bisa memberitahukan hal yang benar, tapi setelah itu engkau yang harus menimbangnya dan menerimanya. Jadi saya pikir ini hal yang sulit sekali Bu Ida, karena sebagai orang tua sudah pasti mau menantu kita itu seiman dengan kita. Namun kalau misalkan dia tidak seiman dan anak kita sudah terlanjur cinta kepadanya dan mau menikahinya ya kita akan berkata terserah dia. Dan hanya bisa meminta kemurahan Tuhan agar suatu hari nanti mereka berdua akhirnya bisa menyembah kepada Tuhan dalam iman yang sama.
GS : Apakah ada pedoman yang lain Pak Paul, di dalam hal memilih pasangan hidup itu?

PG : Ada Pak Gunawan, di kitab Kejadian 2 : 18, "Tuhan Allah berfirman : Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengandia."

Nah prinsip yang diberikan oleh Tuhan di sini adalah, kita ini menikah dengan yang sepadan, maksudnya sepadan adalah cocok dengan kita. Nah dalam hal kecocokan ini kita bisa uraikan dalam banyak faktor. Cocok artinya bukan sama, adakalanya orang suka bertanya apakah baik saya menikah dengan yang sama dengan saya? Nah saya suka berkata: kalau engkau ingin menikah dengan yang sama denganmu, engkau menikah dengan dirimu sendiri, sebab sebetulnya tidak ada yang sama dengan kita. Jadi memang sekilas orang ini mungkin sama mempunyai minat yang sama dengan kita, cara berpikir yang sama dengan kita. Namun setelah menikah saya yakin mereka akan menemukan bahwa dibalik kesamaan-kesamaan yang ada juga ada banyak keunikan masing-masing. Jadi kecocokan adalah hal yang penting, tidak harus sama tapi bisa mengimbangi dan bisa menerima perbedaan masing-masing. Nah kecocokan dalam hal apa yang kita perlu pertimbangkan. Nomor satu yang penting adalah kecocokan secara emosional, kecocokan secara sifat atau karakteristik, tabiat, perangai. Jangan sampai kita menikah dengan orang yang sifatnya tidak kita sukai, misalkan kita tahu bahwa pasangan kita ini, pacar kita ini cepat marah, kurang sabar orangnya. Nah kita mesti tanya apakah kita siap hidup dengan dia selama 50 tahun mendatang dan harus diperhadapkan dengan perangainya yang tidak sabar itu. Nah apakah kita bisa mengimbangi ketidaksabarannya itu. Jangan kita langsung berharap, nanti setelah menikah perangainya akan berubah, dia akan lebih sabar, saya kira itu tidak realistik. Jadi waktu kita mau menikah, kita harus bertanya akan pertanyaan ini apakah saya siap hidup dengan perangai-perangainya yang seperti ini?
IR : Jadi harus memakai logika Pak Paul, sering kali orang selalu memakai perasaan Pak Paul?

PG : Tepat sekali Bu Ida, jadi jangan sampai kita meninggalkan hikmat yang memang Tuhan telah karuniakan kepada kita. Nah kecocokan itu adakalanya ya secara emosional adakalanya tidak mudah ita temukan.

Karena begini atau maksud saya perbedaan-perbedaannya tidak mudah kita lihat adakalanya kita dibutakan. Nah dibutakannya oleh beberapa faktor tadi saya sudah singgung bahwa adakalanya kita dibutakannya oleh impian kita, o.....dia nanti akan berubah, dia tidak akan seperti sekarang, dia akan menjadi lebih sabar atau saya akan membuatnya lebih sabar. Nah ini saya kira adalah ilusi, belum tentu akan terjadi seperti yang kita harapkan. Berikutnya adakalanya kita ini menyangkali perbedaan kita atau ketidakcocokan kita dengan berdalih pada diri kita sendiri bahwa ketidakcocokan itu adalah kita katakan bumbu dalam pernikahan, bumbu yang bisa menambah sedapnya makanan pernikahan, saya kira hati-hati ya dengan pemikiran seperti ini. Sebab perbedaan yang tidak bisa dicocokan, bukannya perbedaan keunikan masing-masing tapi yang tidak bisa dicocokan itu tidak menjadi bumbu, itu menjadi bumbu yang berlebihan pada makanan, bukan melezatkan tapi akan justru merusakkan rasa makanan itu.
GS : Tapi itu mungkin lebih banyak didasari bahwa anak-anak remaja itu bekeksperimen Pak Paul, juga dalam hidup pernikahan mereka mau dieksperimenkan.

PG : Maksudnya Pak Gunawan bagaimana ini?

GS : Sekalipun tidak cocok, tapi mau dicoba Pak Paul.

PG : OK! Saya kira kalau mereka tetap ingin bersatu menikah dengan pasangannya meski telah melihat ketidacocokan, dugaan saya adalah karena mereka itu nomor satu karena sudah terlanjur cinta dan biasanya ketertarikan fisik lebih kuat.

Karena sudah begitu suka dengan penampilan fisik pacarnya jadi akhirnya cenderung meminimalkan hal-hal yang serius, yang sebetulnya perlu dipertimbangkan dengan saksama.
GS : Mungkin salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan itu adalah faktor usia Pak Paul. Menurut Pak Paul kira-kira pada usia berapa remaja pria atau remaja putri itu sudah mulai memasuki tahapan untuk berpacaran bukan lagi berteman?

PG : Saya anjurkan para remaja baru mulai berpacaran setelah lulus SMA, jadi setelah usia 18 tahun. Alasan saya adalah begini, di bawah usia 18 tahun, anak-anak sebetulnya sedang berada padatahap di mana mereka membentuk atau sedang dalam proses membentuk identitas diri.

Mereka mulai mencari tahu siapa diri mereka nah masalahnya adalah kalau pada usia 14, 15 mereka sudah dekat dengan seseorang, tidak bisa tidak kondisi tersebut akan membatasinya bergaul dengan lebih banyak orang, akhirnya bahan-bahan yang seharusnya dia terima dari banyak orang untuk membentuk dirinya akan berkurang karena waktu harus dihabiskan hanya dengan satu orang itu saja. Jadi saya kira kalau berpacaran di bawah usia 18 tidak begitu sehat bagi pertumbuhan jiwa si anak itu. Setelah usia 18 tahun anak-anak remaja mulai memasuki tahap di mana mereka ini membutuhkan keintiman yang lebih pribadi. Jadi setelah SMA, waktu masa berkuliah silakanlah anda mulai mencari pasangan hidup, jangan sebelumnya.
GS : Apakah ini juga berlaku untuk yang putri Pak?

PG : Sama, saya pikir itu berlaku buat putra dan putri.

IR : Tapi kenyataannya yang sekarang Pak Paul, banyak anak yang SMP itu sudah mulai berpacaran, apakah itu namanya cinta monyet Pak Paul?

PG : Saya takut itu memang cinta monyet, namun saya khawatir sekali ini akan menjadi trend yang lebih banyak terjadi di masa yang akan datang. Karena kita harus mengakui bahwa kesibukan kitakita ini sebagai orang tua memberikan atau menciptakan kekosongan-kekosongan tertentu pada diri anak-anak kita.

Mereka butuh sekali keintiman dengan orang tua, namun anak-anak remaja akhirnya bertumbuh besar sendirian. Banyak yang tidak begitu dekat dengan orang tua akibat kesibukan orang tua. Akibatnya kekosongan-kekosongan ini menjadi kekosongan yang perlu diisi pada usia yang terlalu dini. Seharusnya mereka mulai membutuhkan keintiman pribadi satu orang, bukannya dari kelompok yaitu pada dewasa awal yaitu usia 19, 20 tahun dsb. Namun saya takut karena masalah-masalah ini anak-anak akan lebih butuh adanya teman yang intim pada usia yang lebih dini. Mereka lebih butuh ada teman ngobrol yang bisa dijadikan tempat pencurahan isi hati. Kalau kita-kita dulu mungkin yang hidup di generasi sebelumnya tidak memerlukan itu sampai kita usia sudah agak lanjut 19 tahun, 20 tahun sebelumnya kita senang-senang saja bergaul dalam kelompok besar. Jadi saya takut itulah yang akan menjadi trend di masa yang akan datang.
GS : Bagaimana pandangan Pak Paul dengan remaja yang suka berganti-ganti pasangan Pak Paul?

PG : Saya kira kalau dia berganti pasangan dalam konteks dia berteman saja secara ramai-ramai ya tidak apa-apa, tapi kalau kemudian dia berpacaran kemudian ganti lagi pacaran, ganti lagi, saa kira ini menunjukkan kekurangstabilannya dia.

Sehingga dia kurang mengerti apa yang dia mau dan yang paling serius lagi adalah kalau memang dia bergonta-ganti pacar karena kehendak pribadinya, bukan karena dia diputuskan oleh pacarnya saya kira dia kurang memiliki penghargaan terhadap pasangan orang. Bahwa waktu dia memutuskan hubungan pacaran, itu berarti dia melukai hati orang lain. Jadi saya takut orang ini tidak dewasa hanya memikirkan kesenangannya saja, itu yang saya takuti.
GS : Apakah ada faktor dari latar belakang rumah tangganya itu Pak Paul?

PG : Bisa sekali Pak Gunawan, jadi anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang tua, cenderung menganggap gonta-ganti pacar adalah hal yang menyenangkan, menghibur diinya.

Jadi tidak ada pengarahan bahwa pacaran bukanlah untuk menyenangkan hati tapi untuk mempersiapkan diri menuju ke pernikahan.
IR : Bagaimana sikap orang tua menghadapi anak-anak remaja sekarang Pak Paul, yang suka berpacaran, yang suka main-main, bagaimana langkah kita sebagai orang tua?

PG : Kita mesti berbicara dengan mereka dari hati ke hati bahwa yang penting dalam hidup ini bukannya engkau mendapatkan kepuasan karena gonta-ganti pacar, jadi ajar mereka takut kepada Tuha bahwa tindakan mereka itu harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

GS : Jadi seperti tadi kami katakan ini tentu suatu perbincangan yang sangat menarik dan kami berterima kasih perhatian anda sekalian dalam mengikuti perbincangan kami pada acara Telaga kali ini. Apabila anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dengan alamat Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan dukungan anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



3. Memperkuat Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T015A (File MP3 T015A)


Abstrak:

Relasi suami istri termaktub dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan atau sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan minta istri untuk taat, tunduk ini konsep yang penting sekali dalam rumah tangga.


Ringkasan:

Alkitab bukanlah buku keluarga sebab Alkitab adalah Firman Tuhan yang menceritakan tentang siapa Tuhan dan karyanya untuk menyelematkan manusia dari dosa. Tuhan memang tidak mencetuskan secara khusus membahas tentang relasi suami-istri, tapi Tuhan seringkali membicarakan tentang relasi kita dengan sesama kita. Firman Tuhan menegaskan di Matius 22 tentang hukum yang terutama, yaitu "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Jadi relasi suami-istri termaktub dalam hubungan kita atau bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan dan dalam kehendak Tuhan. Dengan kata lain kalau kita bisa hidup di dalam Tuhan dan menuruti Tuhan kita akan secara otomatis bisa memperlakukan suami atau istri kita dengan lebih baik. Keharmonisan sebuah rumah tangga sangat dipengaruhi oleh kedekatan seseorang dengan Tuhan.

1Petrus 3:1-8,9 berkata: "Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman."

Ini adalah pesan Tuhan bagi para istri, ada beberapa hal yang Tuhan tekankan di sini:

  1. Tuhan meminta istri untuk taat, untuk tunduk menghormati suami

  2. Menekankan hidup yang saleh dan kudus.

  3. Para istri jangan terlalu menekankan kecantikan lahiriah artinya hal ini jangan sampai menjadi penekanan yang utama. Sebab ada yang penting dari pada kecantikan lahiriah yaitu kecantikan rohani.

  4. Perlu mempunyai ciri yang lemah lembut dan tenteram, sebab ada kecenderungan kalau tidak hati-hati wanita mudah untuk tidak lemah lembut karena dalam emosi yang tinggi dia dapat mengeluarkan kata yang pedas dan kasar. Dan juga wanita mudah untuk tidak tenteram, tidak tenang, panik.

Firman Tuhan berkata: "Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang." Di sini Firman Tuhan menegaskan atau mengingatkan bahwa

  1. Wanita sebagai pihak yang lemah maka pria haruslah mempertimbangkan istrinya jadi hiduplah dengan bijaksana dapat juga diartikan suami harus "know in" mengerti istri, harus benar-benar melihat dia siapa, jangan semaunya.

  2. Istrimu adalah sesama pewaris kasih karunia, sesama pewaris anugerah Tuhan. Jadi pria diingatkan bahwa Tuhan memberikan hidup yang kekal, keselamatan sama rata baik kepada wanita maupun kepada pria, jadi jangan menganggap diri superior, lebih hebat.

Mengatasi hambatan yang muncul dalam rangka memperkuat hubungan pernikahan adalah kembali kepada Firman Tuhan "Dan akhirnya hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki." Ini adalah nasihat praktisnya, seia sekata berarti berupaya untuk akur, berupaya untuk bisa mencocokkan pandangan, seperasaan artinya mencoba mengerti perasaan yang satunya jangan hanya memikirkan perasaan kita saja. Mengasihi saudara-saudara kita mencoba terus untuk mencintainya, menyayangi dan rendah hati, yang artinya rela untuk mengesampingkan kepentingan diri demi orang lain. Yang praktis lagi di sini janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang. Kali ini kami akan mengajak Anda untuk berbincang-bincang tentang bagaimana "Memperkuat Pernikahan" sesuai dengan petunjuk-petunjuk di dalam Alkitab. Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, tentu menjadi dambaan atau harapan dari semua pasangan suami-istri khususnya pasangan-pasangan Kristen untuk membangun kehidupan pernikahannya itu makin hari makin lebih baik. Dan saya percaya tentu ada banyak bagian di dalam Alkitab yang berbicara tentang itu dan kami sangat mengharapkan Pak Paul bisa memberikan masukan-masukan bagi kami mengenai bagaimana memperkuat pernikahan sesuai Alkitab.

PG : Kadang-kadang saya bertanya-tanya Pak Gunawan, kenapa Alkitab itu tidak terlalu sering membahas tentang masalah keluarga, bukankah keluarga adalah hal yang penting dalam kehidupan ini. udah tentu jawaban yang paling betul adalah bahwa memang Alkitab itu bukanlah buku keluarga sebab Alkitab adalah firman Tuhan yang menceritakan tentang siapa Tuhan dan karyanya untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

GS : Tapi pernikahan itu sendiri adalah lembaga yang diprakarsai oleh Tuhan Allah sendiri Pak Paul ya. (PG : Tepat sekali) jadi pasti ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari Alkitab untuk itu.

PG : Tepat sekali, jadi akhirnya saya temukan satu jawabannya Pak Gunawan yaitu Tuhan memang tidak secara khusus membahas tentang relasi suami-istri, tapi Tuhan sarat atau sering kali membicrakan tentang relasi kita dengan sesama kita.

Bahkan Firman Tuhan sendiri menegaskan di Matius 22 tentang hukum yang terutama, yang sama dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Nah jadi relasi suami-istri termaktub dalam hubungan kita atau bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan cara Tuhan dan dengan atau dalam kehendak Tuhan. Dengan kata lain kalau kita bisa hidup di dalam Tuhan dan menuruti Tuhan saya kira kita akan secara otomatis bisa memperlakukan suami-istri kita dengan lebih baik. Dan sebetulnya boleh saya simpulkan juga kalau masing-masing anak Tuhan hidup dalam kehendak Tuhan dan mempraktekkan yang Tuhan minta sebetulnya tidak perlu lagi teori-teori tentang keluarga Pak Gunawan dan Ibu Ida, tidak perlu lagi teori-teori tentang bagaimana membangun rumah tangga serta yang lain-lainnya. Sebab kalau kita telusuri sebetulnya ilmu terapi keluarga itu sendiri kira-kira baru muncul sekitar 50 tahun yang lalu, baru dibuat populer setengah abad yang lalu, belum terlalu lama sebetulnya.
IR : Jadi keharmonisan sebuah rumah tangga itu sangat dipengaruhi dengan seseorang itu dekat dengan Tuhan atau tidak ya Pak Paul?

PG : Sangat dipengaruhi Ibu Ida, sangat dipengaruhi. Saya berikan satu contoh, suatu hari saya dan istri bertengkar ini beberapa tahun yang lalu, dan saya merasa diri saya benar saat itu, suah pasti kalau kita bertengkar kita merasa diri kita benar ya.

Nah saya jengkel sekali dan istri saya juga marah sekali dengan saya akhirnya dia ke kamar anak-anak, sudah malam ya tidak tidur dengan saya. Saya mencoba tidur tapi tidak bisa tidur karena pikiran saya terganggu, terganggu oleh firman Tuhan. Saya diingatkan kembali bahwa saya seharusnya mencontoh Tuhan Yesus dalam mengasihi jemaatNya dan dalam kasus saya adalah mengasihi istri saya. Nah bagaimanakah Tuhan Yesus mengasihi kita yaitu dengan mengorbankan atau mengesampingkan diriNya seperti tertulis di Filipi 2, jadi Tuhan Yesus itu rela merendahkan diri demi kita, nah jadi saya juga seharusnya sebagai seorang suami Kristen rela mengesampingkan diri saya untuk datang kepada istri saya mengambil inisiatif berdamai dengan dia, namun saya tidak mau saya merasa ini saatnya dia yang harus datang kembali kepada saya, dia yang harus berdamai kembali kepada saya, masak saya yang harus berdamai kepada dia terlebih dahulu. Tapi firman Tuhan terus menegur saya akhirnya saya patuhi, saya ke kamar anak saya dan saya melihat istri saya sedang terduduk di lantai dan menangis, waktu saya melihat istri saya terduduk dan menangis tiba-tiba perasaan bahwa saya benar dan sebagainya sirna, lenyap begitu saja yang muncul dalam hati saya adalah rasa belas kasihan. Saya peluk dia kami berdamai dan sudah beres. Sekarang kalau Ibu Ida tanya saya apa yang diributkan saat itu tidak ingat sama sekali tapi saat itu rasanya perkara itu besar makanya saya tidak rela untuk mundur, namun sekarang ditanya tidak ingat sama sekali.
GS : Ya jadi memang di dalam kehidupan pernikahan itu tentu kita harus dengan sungguh-sungguh membangun pernikahan itu sendiri Pak Paul. Apa firman Tuhan yang secara khusus Pak Paul mau sampaikan dalam hal ini?

PG : Saya ingin mengupas 1 Petrus 3:1-9 yang diawali dengan, "Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepda Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu.

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman." Nah ini adalah pesan Tuhan bagi para istri Pak Gunawan dan Ibu Ida, ada beberapa hal yang Tuhan tekankan di sini, pertama adalah Tuhan meminta istri untuk taat, untuk tunduk, nah ini adalah suatu konsep yang penting sekali dalam rumah tangga. Dan juga di dalam setiap organisasi kita mesti menyadari bahwa keluarga itu merupakan organisasi yang kecil dan di organisasi mana pun mesti ada yang menjadi kepala. Kalau tidak ada yang menjadi kepala yang akan terjadi adalah kekacauan.
(2) IR : Kalau kepala itu hidupnya tidak di dalam kebenaran Pak Paul, bagaimana sorang istri bisa tunduk Pak Paul?

PG : Nah ini adalah rupanya situasi yang dihadapi juga oleh anak-anak Tuhan sewaktu Petrus menulis suratnya ini. Jadi ada anak-anak Tuhan yang menikah dengan orang-orang yang belum percaya pda Tuhan Yasus, nah sudah pasti para istri ini ingin memenangkan suami mereka agar suami mereka pun bisa percaya pada Tuhan Yesus.

Nah Petrus di sini memberikan nasihat jangan menangkan mereka melalui perkataan, jangan mengkhotbahi suami-suami yang memang belum percaya pada Tuhan. Yang harus dilakukan justru adalah tunduk menghormati suami-suami ini, Petrus kemudian menekankan pentingnya hidup yang kudus dalam pengertian biarlah para istri ini menjadi contoh hidup yang sangat baik, contoh hidup yang akhirnya membuat si suami sadar bahwa ada perbedaan yang besar antara hidup saya dengan hidup engkau, yaitu hidupmu saleh, hidupmu itu kudus. Nah sewaktu hidup kita kudus orang akan tahu, kita tidak usah menggembar-nggemborkannya tapi orang akan tahu apalagi suami sendiri. Jadi memang prinsipnya adalah hidup kita ini mestilah hidup yang saleh dan yang kudus. Berikutnya juga adalah memang di sini ditekankan oleh Petrus, kita ini atau para istri ini jangan terlalu menekankan kecantikan lahiriah, tidak berarti perempuan tidak boleh mempercantik diri silakan tapi yang Petrus ingin tekankan adalah jangan sampai itu menjadi penekanan utama. Sebab ada hal yang lebih penting dari kecantikan lahiriah yaitu kecantikan rohani dan ini yang diminta oleh Tuhan, jadi itu adalah beberapa nasihat-nasihat yang Tuhan berikan kepada para istri. Satu hal lain lagi yang harus diingat juga oleh para istri di sini dikatakan yaitu roh yang lemah lembut dan tenteram. Nah, saya kira perempuan atau istri penting sekali mempunyai ciri ini lemah lembut dan tenteram, sebab ada kecenderungan kalau tidak hati-hati wanita itu mudah tidak lemah lembut karena dalam emosi yang tinggi mengeluarkan kata-kata yang pedas dan kasar. Dan yang juga sering terjadi adalah wanita mudah juga untuk tidak tenteram, tidak tenang, panik nah akhirnya malah memancing keributan yang lebih besar. Jadi wanita-wanita Kristen, para istri Kristen harus berusaha menjadi orang yang lemah lembut dan tenteram.
IR : Penguasaan diri itu ya Pak Paul.

PG : Tepat sekali penguasaan diri itu sangat-sangat penting.

GS : Dengan cara bagaimana Pak Paul seorang istri atau seorang wanita itu melatih dirinya supaya dia bisa seperti itu Pak Paul, itu 'kan sesuatu yang alamiah. Pada dasarnya 'kan wanita itu ingin tampil manis, cantik, bersolek dan sebagainya, nah kalau firman Tuhan mengatakan seperti itu tentu ada suatu cara bagaimana dia melatih dirinya itu Pak Paul?

PG : Sekali lagi ini kembali pada seseorang itu harus jelas siapa dirinya di mata Tuhan. Jadi pengetahuan yang jelas tentang siapa dia di hadapan Tuhan juga akan memberikan makna yang jelas enapa dia ada di dalam hidup ini dan ke mana dia akan pergi dalam hidup ini.

Kalau dia jelas dengan hal-hal ini dia menjadi orang yang memang sangat mantap lahir dan batin, dia tidak perlu lagi terlalu bergantung pada hal-hal yang lahiriah. Sekali lagi saya ingin tegaskan ini tidak berarti para wanita Kristen tidak boleh bersolek atau tampil cantik bukan berarti begitu, tapi dia tidak akan bergantung pada kecantikan yang lahiriah karena dia tahu siapa dia di hadapan Tuhan, dia tahu apa misi hidupnya di dalam Tuhan sehingga dia akan mengerti bahwa hal-hal yang lahiriah benar-benar hanyalah lahiriah, hanyalah sebatas kulit saja. Bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting dan lebih berharga yang harus dia kerjakan dalam hidup ini.
IR : Jadi mungkin langkah yang diambil oleh para istri yaitu harus sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan Pak Paul, hidup di dalam kebenaran firman sehingga dia akan memperoleh kebijaksanaan, mempunyai kemampuan untuk menguasai di dalam mendampingi sang suami ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali, sebab di sini memang dituntut para wanita untuk melawan kodratnya, kita tahu bahwa dalam emosi yang tinggi wanita mengalami kesulitan menguasai diri. Nah ada yang akan berata ya memang saya orangnya begini saya mudah marah tapi mudah baik lagi dan sebagainya.

Nah sebagai anak Tuhan saya kira argumen tersebut tidak cukup atau tidak kuat. Dia harus berani melawan dirinya, tadi yang ibu Ida sudah katakan dia harus dekat dengan Tuhan, sebab firman Tuhan yang dibacanya setiap hari, waktu dia bermeditasi, dia saat teduh di hadapan Tuhan itu semua akan memasuki dirinya dan menjadi kekuatan yang baru bagi dia. Nah yang ingin saya tekankan dan anjurkan adalah baik wanita maupun pria sama memang harus menggenangi diri, mengisi diri dengan firman Tuhan. Yang menyedihkan adalah seperti yang kita ketahui juga cukup banyak orang Kristen yang berminggu-minggu ke gereja sampai usia tua dan lanjut namun jarang sekali mengisi diri dengan firman Tuhan, membaca firman Tuhan setiap hari, berdoa kepada Tuhan dengan khusyuk dan itu jarang dilakukan. Hanya melakukan itu seminggu sekali di gereja, makanya tidak heran di luar gereja perilakunya akan kembali lagi seperti manusia yang lama, tidak ada bedanya. Sebab tidak ada lagi isi Tuhan dalam dirinya itu.
IR : Ya betul Pak Paul karena kita baru bisa menemukan janji-janji Tuhan, kekuatan dari Tuhan kalau kita itu mau belajar firman Tuhan sehingga seseorang atau seorang istri itu akan bisa berubah untuk menjadi wanita yang saleh, yang lemah lembut.

PG : Betul, jadi waktu kita diisi oleh firman Tuhan terus-menerus firman Tuhan itulah yang akan menguduskan kita sedikit demi sedikit. Tiba-tiba kita mulai merasakan perbedaannya tanpa kita arus berusaha terus menguasai amarah kita, ya memang perlu tetap menguasai emosi jangan semaunya, namun tiba-tiba kita akan merasakan ada perbedaan.

Ada suatu kekuatan yang akan mencegah kita marah langsung, mengatai langsung dan sebagainya sehingga akhirnya seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan roh yang lemah lembut dan tenteram itu yang justru akan timbul, yang akan dipancarkan dari hidup kita.
IR : Dan mungkin juga karena kita hidup di dalam firman Tuhan kalau kita mau melanggarnya, kita itu mempunyai rasa takut seperti yang saya alami, jadi kalau mau berbuat salah, mau berbuat kasar misalnya kita itu ingat akan firman Tuhan, jadi kita itu mempunyai rasa takut dan tanggung jawab pada Tuhan.

PG : Tepat sekali Bu Ida, tapi Tuhan juga memberikan nasihat kepada para suami ini Pak Gunawan dan saya juga harus mendengar ini.

GS : Supaya jangan hanya sepihak memang untuk memperkuat pernikahan itu harus kedua belah pihak Pak Paul.

PG : Tepat sekali, firman Tuhan berkata demikian: "Juga kamu hai suami-suami hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kash karunia yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang."

Firman Tuhan menegaskan bahwa pria ini haruslah mempertimbangkan istrinya, jadi hiduplah dengan bijaksana dapat juga diartikan seperti orang Jakarta katakan kita ini knowing, mengerti istri kita, kita mempertimbangkan siapa istri kita. Di sini dikatakan sebagai kaum yang lebih lemah, dalam hal misalnya berkelahi jarang sekali wanita bisa mengalahkan pria dan sebagainya. Nah kalau tidak hati-hati pria memang bisa mendominasi rumah tangga melalui kekuatannya baik itu kekuatan fisik ataupun kekuatan uang. Sebab dalam banyak hal wanita itu memang berada di pihak yang lemah, contoh yang paling gampang saja sekarang ini, secara sosial wanita di pihak yang lebih lemah. Pria umur 40-an misalkan kehilangan istrinya menjadi seorang duda, kemungkinan besar dia bisa menikah lagi tapi seorang wanita yang kehilangan suaminya umur 40-an untuk menikah kembali sangat susah sekali karena memang kurang kesempatan tersebut. Jadi perempuan itu memang dalam banyak hal secara ekonomi, secara sosial, secara fisik berada di pihak yang lebih lemah, maka Tuhan nomor satu mengingatkan pria, ingat baik-baik, memang dia lebih lemah tapi engkau harus hidup bijaksana dalam pengertian kau harus mempertimbangan knowing dia, ngertiin dia, kau harus benar-benar melihat dia siapa, jangan semaunya. Bahkan Tuhan memberikan peringatan yang kedua ingatlah bahwa istrimu adalah sesama pewaris kasih karunia, sesama pewaris anugerah Tuhan. Jadi pria di sini diingatkan bahwa wanita itu bukanlah buntut kita, istri itu bukanlah pesuruh kita, bukanlah orang yang nebeng yang hanya menggandol kita mendapatkan kasih karunia Tuhan yaitu anugerah keselamatan dan hidup yang kekal ini, tidak. Tuhan memberikan hidup yang kekal, memberikan keselamatannya sama rata baik kepada wanita maupun kepada pria, jadi Tuhan sekali lagi secara intinya mengingatkan jangan engkau menganggap dirimu superior, jangan pria itu menganggap dirimu itu lebih hebat meskipun Tuhan ingatkan wanita di pihak yang lebih lemah tapi Tuhan ingatkan pria jangan merasa diri superior.
GS : Saya rasa itu suatu konsep yang jelas sekali dari Alkitab mengenai kesetaraan hubungan suami-istri dalam arti kata suami harus menghormati istrinya dan istri harus mengasihi suaminya dan seterusnya dalam arti ada hubungan timbal balik. Dan itu harus terus-menerus dibangun supaya hubungan pernikahan makin kuat dalam arti bukan hanya tidak gampang cerai tetapi bisa mewujudkan kehidupan pernikahan yang sungguh-sungguh Tuhan inginkan. Tetapi dalam rangka memperkuat hubungan pernikahan itu tentu banyak hambatan-hambatannya Pak Paul, banyak kendala-kendala yang kita hadapi, memang ada banyak pasangan suami-istri yang membaca Alkitab mengerti dan memahaminya tetapi melakukannya itu yang berat, itu bagaimana Pak Paul mengatasi hal itu?

PG : Salah satu yang paling penting adalah yang ditulis di pasal yang sama tapi di ayat berikutnya saya akan bacakan terlebih dahulu. "Dan akhirnya hendaklah kamu semua (jadi tadi mula-mula etrus memberikan saran kepada istri dan suami, tapi sekarang kepada semua orang) hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki."

Nah ini adalah nasihat praktisnya Pak Gunawan, seia sekata berarti berupaya untuk akur, berupaya untuk bisa mencocokkan pandangan, seperasaan artinya mencoba mengerti perasaan yang satunya jangan hanya memikirkan perasaan kita saja. Mengasihi saudara-saudara kita mencoba terus untuk mencintainya, menyayangi dan rendah hati, rendah hati artinya rela untuk mengesampingkan kepentingan diri demi orang lain. Yang praktis lagi di sini janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan kadang kala sewaktu kita merasakan pasangan kita tidak benar dengan kita, kita mau membalas supaya dia sakit, nah Tuhan bilang jangan, jangan balas dan juga jangan balas caci maki dengan caci maki, nah secara praktisnya sudah kalau dimaki sudah jangan kita balas mencaci maki dia. Nah ini yang ingin saya tekankan, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati karena untuk itulah kamu dipanggil. Nah konsep memberkati ini sebetulnya saya pelajari dari penulis yang bernama John Trent dan Gary Smalley memberkati artinya di sini adalah membuat pasangan kita itu bahagia. Sebab kata berkat berasal dari kata sukacita Pak Gunawan, jadi memberkati sebetulnya adalah membuat orang lain sukacita, bahagia, jadi kita mencoba carilah hal-hal yang bisa membuat pasangan kita sukacita, senang, sehingga hidupnya menjadi makin hari makin senang itu pada prinsipnya kata berkat itu.
GS : Ya memang firman Tuhan itu bukan sesuatu yang teoritis dan ternyata tadi sudah diuraikan, ada hal-hal yang praktis yang bisa dilakukan, masalahnya berpulang kepada kita, kita mau atau tidak melakukan. Tuhan Yesus mengatakan, yang bijaksana itu orang yang melakukan firman Tuhan di dalam kehidupannya.

PG : Dia harus berani untuk mengalahkan dirinya Pak Gunawan, orang yang mau menikah harus berani mengalahkan dirinya.

GS : Jadi tidak mengutarakan kepentingan-kepentingan dirinya baik itu suami maupun istri Pak Paul ya.

PG : Betul, masalah gengsi memang masalah yang sangat runyam dalam pernikahan.

GS : Kami kaum pria masalahnya gengsi dan sebagainya itu.
IR : Jadi dari diri kita sendiri juga harus berubah terlebih dahulu ya Pak Paul, sebelum kita menuntut orang lain berubah kita dulu yang harus berubah dan pasti pihak lain akan berubah juga biasanya begitu Pak Paul.

PG : Ya betul.

GS : Pembicaraan ini pasti sangat menarik karena semua kita seperti tadi di awal acara ini saya katakan pasti mendambakan suatu hubungan pernikahan yang sehat antara suami dan istri dan itu akan bisa menjadi suatu kesaksian bagi keluarga kita, bagi anak-anak kita, bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Dan kami percaya bahwa Tuhan sendiri akan menolong kita untuk melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan itu. Demikianlah para pendengar telah kita sampaikan sebuah perbincangan tentang bagaimana memperkuat hidup pernikahan dari ayat-ayat firman Tuhan yang tadi dibacakan oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi melalui 1Petrus 3:1-9. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami ucapkan juga banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



4. Gangguan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T015B (File MP3 T015B)


Abstrak:

Dalam topik ini kita akan belajar tentang gangguan apa saja yang kerap kali muncul dalam pernikahan dan salah satu yang dibahas di sini adalah kenangan masa lalu yang sekali waktu muncul dan bagaimana mengatasinya.


Ringkasan:

Berikut adalah kasus seorang wanita yang sudah menikah, tetapi dia sedang mengembalikan kenangan masa lalunya ke dalam hidup dia yaitu kekagumannya terhadap teman lamanya yang dia cintai. Dan hal ini pun pernah dikemukakan kepada suaminya dan suaminya dengan penuh pengertian bersedia mengantarkan istri untuk bertemu dengan orang yang dikasihinya dulu.

Ada beberapa tanggapan yang muncul:

  1. Hubungan suami-istri dalam kasus ini lumayan kuat dan lumayan baik. Tanda-tandanya adalah istri memiliki keterbukaan terhadap suami. Ini menandakan bahwa istri merasa aman dan adanya rasa percaya yang tinggi dengan suami, dia tahu bahwa suami mencintainya.

Peran suami untuk bisa menolong istri adalah:

  1. Dengan penuh pengertian mendengarkan isi hati istri.

  2. Dengan penuh keberanian bertanya kepada si istri, "Apa yang menjadi harapan istri yang tidak terpenuhi pada saya atau dalam hidupnya dengan saya." Dari situ akan ada kesempatan untuk membahas kalau ada hal-hal yang perlu atau bisa diperbaiki oleh suami. Dan misalkan setelah dibahas dan sudah selesai, hanya beberapa hal yang perlu diperbaiki, hendaknya suami meminta kepada istri:

    Pertama, waktu pikiran itu muncul dia tidak usah panik, jangan misalnya menengking-nengking seperti mengusir iblis, diamkan saja biarkan pikiran itu lewat. Kalau kita mencoba melawan pikiran itu lama-lama makin menguat dan dalam diri kita akan ada peperangan batiniah, peperangan mental yang akan menguras daya tahan mental kita sehingga akhirnya itu lebih mudah masuk. Hal ini bukan dimaksudkan untuk membiarkan pikiran itu bertumbuh dan dipelihara namun bagaimana cara yang efektif untuk menghilangkannya. Yang perlu diingat di sini adalah hati-hati dengan rasa bersalah sebab rasa bersalah tidak menolong kita untuk menguasai diri atau untuk mengenyahkan pikiran tersebut. Rasa bersalah makin menguras kekuatan kita dan akhirnya membuat kita makin lemah dan pikiran itu malah makin menguasai kita.

    Kedua, serahkan kepada Tuhan. Bukankah Firman Tuhan di 1 Petrus 5:17 berkata: "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepadaKu maka Aku akan memelihara kamu." Jadi ini adalah bagian dari pergumulan, serahkan kepada Tuhan.

Filipi 4 : 8 berkata: "Jadi akhirnya saudara-saudara semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Jadi di sini Tuhan meminta kita agar dengan terencana berusaha memasukkan hal-hal yang indah ke dalam pikiran kita. Hal yang suci, hal yang indah, hal yang manis. Sebab semua yang baik yang mengisi itu yang mengisi benak kita akhirnya akan menggusur pikiran-pikiran yang mengganggu itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Gangguan terhadap Keharmonisan Keluarga." Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada salah seorang pendengar setia acara Telaga yang menulis surat kepada kami, dan di dalam suratnya itu dia mengajukan permintaan kalau mungkin masalahnya itu bisa diudarakan, jadi dimasukkan di dalam acara bincang-bincang di Telaga ini. Dan kami merasa itu sesuatu yang baik sekali dan kami tidak akan mengudarakan suatu pertanyaan atau persoalan keluarga yang tidak diminta oleh si penulis surat. Jadi karena ini adalah permintaan dan kami rasa ini baik untuk kita ketahui bersama maka tanpa menyebutkan nama, penulis surat dan identitasnya kami akan mencoba mengemukakan ini dalam sebuah perbincangan dengan Pak Paul pada kesempatan ini. Yang menjadi persoalan dari seorang ibu atau seorang istri yang menulis surat kepada kami adalah dia mengatakan bahwa sebenarnya hubungan dia dengan suaminya itu tidak bermasalah Pak Paul, jadi semuanya berjalan dengan baik. Hanya si ibu ini sering kali mengingat akan seorang teman lamanya yang dulu dia pernah ya senang begitu ya, akhirnya tidak jadi sampai menikah, dia sudah membangun rumah tangga sendiri dan itu sangat menggelisahkan kehidupannya. Dia merasa bersalah bahwa dia sebagai seorang istri kok masih terus mengingat-ingat teman lamanya yang dia kagumi atau dia cintai itu. Nah hal itu juga pernah dikemukakan kepada suaminya dan suaminya itu penuh pengertian, bahkan dia bersedia untuk mengantarkan si istrinya ini untuk bertemu dengan orang yang dikasihinya dulu. Nah hal itu membuat dia tambah merasa bersalah lagi sehingga dia merasa perlu untuk menulis surat, sebenarnya bagaimana dia bisa mengatasi masalah itu Pak Paul. Dan kami sudah mencoba menjawab masalah ini lewat surat tetapi kali ini kami ingin kemukakan di dalam sebuah perbincangan lewat acara Telaga ini.

PG : Pak Gunawan sebelum saya menjawab, sekali lagi saya ingin menggarisbawahi yang tadi Pak Gunawan sudah kemukakan yakni kami hanya membicarakan kasus jika memang diminta oleh si penulis surat. Jadi saya ingin memberikan atau kami di Telaga ini ingin memberikan jaminan kepada para pendengar yang menulis surat kepada kami bahwa kami tidak akan membahas kasus yang saudara tulis di dalam acara radio ini.

GS : Ya itu saya rasa penting sekali karena ada hal-hal yang sifatnya sangat pribadi dan kami tentu tidak akan mengemukakan hal itu lewat acara seperti ini.

PG : Betul, jadi kalau misalnya para pendengar merasa bahwa ada pembicaraan kami yang seolah-olah bersangkutan dengan kasus yang saudara pernah tanyakan kepada kami melalui surat yakinlah bahwaitu hanyalah suatu peristiwa yang kebetulan, kami tidak sedang membahas kasus saudara sama sekali.

Kami benar-benar mencoba untuk menghormati kerahasiaan antara saudara dan kami jadi kami hanya membalas secara pribadi. Dan kalau saudara minta agar kasus ini diungkapkan di udara baru kami akan melakukannya. Dan ini pun Pak Gunawan kita perlu jelaskan bahwa kita tidak langsung membahas kasus ini, kami sudah menerima surat ini beberapa minggu yang lalu mungkin lebih dari sebulan, dua bulan, yang lalu ya. Jadi memang kami tidak mau memanfaatkan masalah yang saudara ajukan kepada kami.
GS : Ya saya rasa itu menjadi suatu pertimbangan yang sangat serius untuk kita bahas di dalam acara ini, jadi bagaimana Pak Paul dengan yang tadi itu?

PG : Yang tadi Pak Gunawan sudah uraikan, ada beberapa tanggapan yang langsung muncul dalam benak saya, pertama adalah kesan saya justru keluarga ini atau hubungan suami-istri dalam kasus ini lmayan kuat, lumayan baik.

Tanda-tandanya apa sehingga saya bisa menyimpulkan hubungan mereka lumayan baik, si istri memiliki keterbukaan terhadap si suami sehingga berani menceritakan tentang kesukaannya terhadap seseorang yang pernah disukainya waktu masih sekolah dulu. Nah ini menandakan bahwa si istri merasa aman dengan si suami, dia mengetahui bahwa suaminya mencintainya dan tidak akan marah atau kalab atau meninggalkannya gara-gara dia mulai mempunyai ingatan-ingatan mengeni seseorang yang pernah disukainya dulu. Jadi saya melihat ini suatu komunikasi yang baik karena adanya keterbukaan dan keterbukaan ini menandakan adanya rasa percaya yang tinggi, si istri merasa sangat aman. Dan dari jawaban si suami kita bisa menilai tepatlah apa yang dipikirkan oleh si istri yakni si suami bisa menerima, nah si suami memang sangat akomodatif, berani bahkan mengajak si istri untuk melihat kembali pria tersebut, melihat bukan berarti menjalin hubungan sama sekali tapi hanya untuk melihat dan bertemu saja supaya rasa keingintahuan si istri bisa terpuaskan meski hanya untuk sementara.
GS : Apakah sebenarnya yang timbul di dalam diri si istri itu perasaan kangen?

PG : Ini memang susah saya jelaskan juga saya tidak bisa secara pasti memahaminya Pak Gunawan. Yang menjadi dugaan saya adalah masalah cinta monyet atau cinta pertama kalau kita boleh katakan. aya tidak ingat pastinya umur berapa si istri itu menyukai pria ini, namun kalau tidak salah pada masa yang sangat muda sekali, masa sekolah kalau tidak salah ya.

Dan mereka sebetulnya tidak pernah berpacaran Pak Gunawan jadi hanya (GS : Hanya saling suka begitu saja mungkin) dan bahkan kalau tidak salah si istri ini saja yang menyukai pria tersebut, tidak ada timbal baliknya, tidak ada tanggapan. Jadi tidak pernah ada jalinan kasih antara mereka berdua. Menurut saya dia atau si istri ini mempunyai suatu memori yang indah sekali tentang si pria ini dan yang terjadi adalah memory yang indah ini muncul pada masa usia yang lebih tua dan ini bisa dianggap normal ya wajar. Kadang kala kita ini memasuki fase-fase di mana masa lalu kita itu tiba-tiba mencuat kembali dalam benak kita. Dan tiba-tiba lagi mengingat-ingat masa-masa di SMP atau di SMA dan yang mencuat dalam benak si wanita ini adalah kesukaannya, kekagumannya terhadap orang tersebut. Jadi saya masih menganggap ini sebagai sesuatu yang wajar bukannya wanita ini sedang berselingkuh atau apa itu yang saya lihat.
IR : Atau mungkin si istri ini, mempunyai kecenderungan rasa bosan pada suaminya, apa bisa begitu?

PG : Mungkin, ini memang tidak diungkapkan oleh si istri dalam suratnya jadi memang tidak kami ketahui, tapi mungkin si istri bosan atau hubungannya tidak baik dengan si suami. Namun kesan sayawaktu membaca suratnya justru hubungan dia lumayan baik, sebab adanya keterbukaan yang begitu kuat dan rasa percaya dan terutama sikap si suami yang penuh pengertian, rasanya menimbulkan kesan bahwa sebetulnya mereka lumayan harmonis maka si istri ini merasa sangat bersalah begitu seolah-olah kenapa saya yang dalam hubungan yang harmonis bisa memikirkan kembali seseorang yang lain dalam hidup saya.

Jadi mungkin saja bosan sebab kita harus akui bahwa sebagai manusia waktu kita menjalani kerutinan hidup hari lepas hari dan hidup dengan seseorang yang sama tidak ada gairah yang baru dan sebagainya mungkin saja kita merasa sedikit jemu atau bosan.
IR : Bagaimana Pak Paul kalau dikaitkan dengan firman Tuhan kalau seseorang itu sudah mempunyai suami kemudian masih memikirkan laki-laki lain apakah itu tidak mencobai diri, bahwa dia kemungkinan saja kalau hal itu diteruskan bisa mengakibatkan dia jatuh Pak Paul?

PG : Tepat sekali, saya akan melanjutkan yang tadi saya katakan bahwa yang dialami oleh si istri ini wajar dalam pengertian si istri ini bukanlah seseorang yang (maaf saya menggunakan istilah yng sedikit klinis atau keras) misalnya dia sedang sakit jiwanya, bukan.

Saya menganggap ini bukanlah masalah sakit jiwa atau apa. Jadi entah mengapa memang si istri ini sedang mengembalikan masa lalunya saja ke dalam hidup dia. Dan yang dikembalikan, yang menonjol dari masa lalunya itu adalah kekaguman dia terhadap seseorang. Nah kita ketahui bahwa orang yang kita sukai dari jauh itu selalu lebih cantik, lebih indah daripada orang yang kita kenal dan yang dekat, itu adalah hal yang wajar karena orang yang kita sukai dari jauh menjadi orang yang sangat ideal tidak bisa kita lihat kelemahannya. Jadi si wanita tersebut juga saya kira mengalami hal ini yaitu dia mempunyai kekaguman yang ideal yang tidak realistik sama sekali, tidak didasari atas kenyataan. Dia menyukai, mengagumi orang yang dianggapnya sangat baik, sangat ideal dan mungkin bagi si wanita ini itulah suami ideal yang dia dambakan dalam hidup. Namun yang kita bisa katakan bahwa kalau misalnya si wanita ini berkenalan dengan dekat dan misalnya menjalin hubungan berpacaran dengan pria tersebut dan akhirnya menikah, sudah pasti pria itu tidak akan menjadi pria ideal. Sebab semua orang yang kita kagumi dan kita idealkan ada kelemahan, ada kelebihannya. Masalahnya adalah si wanita ini tidak pernah mencicipi realitas dengan si pria tersebut sebab tidak pernah terjadi, jadi hanya berhenti dalam khayalan. Nah, masalahnya adalah tatkala hanya berhenti pada khayalan si pria tersebut terus menjadi sosok ideal, nah saya hanya sedikit khawatir kalau-kalau si wanita ini memang tetap mendambakan pria idealnya yang seperti itu dan setelah dia menikah dengan si suami yang juga sebetulnya dia cintai, suami yang hidup dengannya hari lepas hari memang berhenti menjadi pria ideal, dia menjadi suami yang realistik, yang nyata yang ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi karena si wanita ini pernah melihat dan pernah mendambakan sosok yang ideal tersebut, sosok ini tidak pernah meninggalkan dia dan sekarang mungkin saja dia mengalami suatu kesenjangan antara suaminya yang dia nikahi dan sosok ideal seorang suami yang pernah dia miliki dalam khayalannya dulu begitu.
GS : Tapi si istri ini 'kan sudah bertekad untuk meninggalkan masa lalunya dan dia juga dengan menulis surat itu ada suatu kesungguhan yang dia mau atasi persoalan-persoalannya ini. Nah Pak Paul dalam hal ini 'kan hubungan mereka kita nilai cukup baik terbuka dan sebagainya, apa peran suami untuk bisa menolong istri ini?

PG : OK! Nomor satu tindakan si suami itu sangat tepat, yakni dengan penuh pengertian mendengarkan isi hati si istri. Nomor dua saya akan memberanikan diri bertanya kepada istri saya kalau misanya ini terjadi pada istri saya.

Apa yang menjadi harapan dia yang tidak terpenuhi pada saya atau dalam hidupnya dengan saya, sebab dugaan saya ada hal-hal yang tak terpenuhi sebab dia ini sekarang membandingkan diri dengan sosok idealnya tersebut. Nah mungkin saja si istri tidak membayangkan atau memikirkan hal ini dengan serius, sebab baginya tidak ada apa-apa, dia merasa bahagia dengan si suami, tapi dugaan saya ada hal-hal yang dia dambakan namun belum dia dapatkan, sehingga dambaan yang dulu itu muncul kembali. Jadi saya kalau sebagai suaminya saya akan bertanya: "Apakah ada hal-hal yang engkau inginkan dari seorang suami yang mungkin tidak engkau temukan pada diri saya." Nah dari situ akan ada kesempatan untuk membahas kalau ada hal-hal yang perlu atau bisa diperbaiki oleh saya sebagai suaminya. Nah kalau misalkan setelah dibahas dan memang sudah selesai, hanya beberapa hal saja yang perlu diperbaiki nah saya akan meminta si istri untuk nomor satu, waktu pikiran itu muncul dia tidak perlu panik. Waktu benaknya diisi lagi dengan gambar si pria tersebut yang dulu jangan panik, jangan misalnya menengking-nengking seperti mengusir iblis ya tidak perlu, diamkan saja, dalam pengertian sudah lewatkan saja biarkan pikiran itu lewat. Kalau kita mencoba melawannya, melawannya, pikiran itu lama-lama makin menguat dan dalam diri kita akan ada peperangan batiniah, peperangan mental yang akan lebih menguras daya tahan mental kita, sehingga akhirnya pikiran itu lebih mudah masuk. Jadi biarkan pikiran itu lewat, nah yang terakhir adalah serahkan kepada Tuhan. Jadi bukannya kita menyalahkan diri saya ini kok bisa berpikir seperti ini, saya ini kok tidak tahu diri dan sebagainya, diamkan saja kemudian serahkan kepada Tuhan. "Tuhan Yesus Engkau tahu inilah pikiranku, inilah yang ada dalam benakku biarlah Engkau ambil, biarlah Engkau yang kuduskan." Jadi setiap kali pikiran itu muncul serahkan kembali kepada Tuhan Yesus sebab bukankah FirmanNya juga berkata di I Petrus 5:7 "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepadaKu, maka aku akan memelihara kamu." Jadi ini adalah bagian dari kekhawatiran, bagian dari pergumulan serahkan kepada Tuhan kita tidak perlu melawan-lawannya, sebab makin dilawan makin menguat makin merasa bersalah, makin terkuras tenaga mental kita dan akhirnya kita makin lemah.
GS : Tapi itu tentu membutuhkan suatu keberanian tersendiri dari pihak si suami Pak Paul untuk kasarnya itu dibandingkan dengan orang lain yang justru menurut si istri itu sosok yang ideal, yang dia sendiri belum tentu tahu akan kelemahan-kelemahan orang yang didambakan itu tadi. Nah dalam hal ini langkah selanjutnya dari si suami setelah dibandingkan dan jelas tahu ada kekurang-kekurangannya, langkah apa yang harus ditempuh oleh suami?

PG : Saya menilai rupanya dia ini suami yang cukup aman, sehingga berani mendengarkan keluhan si istri ini dan juga berani untuk seolah-olah membandingkan diri, makanya dia bersedia mengantar utuk melihat kembali pria yang dulu itu.

Jadi dia memang memiliki kestabilan, nah saya kira si suami sekali-sekali tetap bisa bertanya kepada si istri "Apakah pikiran itu masih terus mengganggu engkau?" Tapi jangan membuat hal itu sebagai pusat perhatian atau pusat percakapan yang harus dibicarakan setiap kali. Sebab semakin terlalu banyak dibicarakan saya takut semakin menjadi-jadi, jadi biarkan, biarkan itu lewat, biarkan itu menjadi suatu peristiwa yang akan dilewati. Sekali-sekali si suami bisa bertanya apakah pikiran itu masih mengganggu engkau dan misalnya tidak ya sudah dan jangan bertanya lebih dalam lagi. Misalnya kalau si suami tidak aman dia akan bertanya, (saya berbicara lebih blak-blakan misalnya si suami karena tidak aman akan mengungkit setelah mereka berhubungan badan), "Apakah tadi waktu berhubungan badan engkau memikirkan pria itu?" Nah saya nasihatkan jangan bertanya-tanya hal seperti itu. Jadi biarkan si istri melewati fase ini, sebab semakin ditanya, diintrogasi, diawas-awasi seperti itu semakin si istri ini hidup dalam bayang-bayang masa lalu atau pikiran ini dan makin menjadi-jadi tidak akan pudar malah makin menguat.
GS : Ya satu hal yang positif itu karena istri ini berani mengemukakan masalahnya kepada si suami Pak Paul. Tapi saya percaya ada banyak istri yang tidak berani berkata seperti itu kepada suaminya, ya tentu dipengaruhi oleh faktor hubungan yang kurang baik/yang kurang sehat. Bagaimana hal itu, itu 'kan pasti mengganggu hubungan pernikahan mereka?

PG : Bahkan saya dapat tambahkan pernikahan yang sehat pun belum tentu mempunyai keberanian kepada si suami, baik suami maupun istri untuk mengemukakan hal-hal seperti ini. Jadi saya kira meman hubungan mereka ini tergolong kuat, sehingga berani bicara.

Bagaimana kalau misalnya pernikahan ini tidak sehat, kalau tidak sehat masalahnya memang menjadi lebih runyam, lebih runyamnya dalam pengertian si istri mendambakan sebetulnya pernikahan yang berbeda, pernikahan yang lain. Karena pernikahan yang sekarang ini menjadi sesuatu yang tidak nyaman baginya, tidak menyenangkan lagi. Jadi khayalan itu seolah-olah menjadi pelarian dirinya dan menjadi suatu ungkapan keinginannya bahwa pernikahannya itu sebetulnya tidaklah terjadi pada orang yang sama ini tapi dengan orang yang lain.
GS : Apakah hal yang sama itu juga bisa dialami oleh suami atau pria itu Pak Paul yang kasusnya sama seperti itu?

PG : Bisa Pak Gunawan, saya ini makin tua menjadi sedikit lebih sentimentil. Saya mengira bahwa yang namanya cinta pertama, kesan pertama itu sering kali kuat Pak Gunawan. Kenapa kuat, karena aa unsur khayalnya itu, ada unsur idealnya.

Pada masa remaja usia 16, 17 dunia itu memang setengah realitas, setengah khayalan. Jadi waktu seseorang mengasihi, menyukai seseorang yang lainnya pada usia 15, 16 misalnya itu biasanya memang meninggalkan dampak atau bekas yang lumayan dalam karena adanya campuran antara realitas dan khayalan. Sebab cinta yang sangat realistik akhirnya menjadi cinta yang matang, cinta yang matang itu menjadi cinta yang bisa diatur tidak liar, tapi cinta yang mengandung unsur khayalan atau fantasi tidak berdasarkan realitas sepenuhnya memang cenderung menjadi cinta yang sangat beremosi tinggi, sangat liar juga, bisa menguasai kita. Maka kita berkata anak remaja kalau sedang jatuh cinta itu benar-benar mabuk kepayang, tidak bisa belajar, tidak bisa mengerjakan tugasnya memikirkan wanita ini telepon terus. Sedangkan kita-kita ini pacaran umur 25, 27, 28 misalnya cinta kita akan berbeda, tidak lagi kita ini memikirkan terus dan kita yang sudah menikah berpuluhan tahun juga akan melihat cinta kita makin berbeda, cinta yang tidak lagi liar.
IR : Pak Paul, kalau orang itu sudah bersuami atau beristri seperti dalam firman Tuhan kalau kita itu mulai tertarik atau baru mempunyai angan-angan yang arahnya itu berselingkuh, apakah itu tidak dikatakan dosa atau perzinahan, kita melihat saja kalau itu menjadi angan-angan katanya kita itu sudah berzinah, entah itu di ayat mana saya pernah membacanya.

PG : Ya memang firman Tuhan melarang kita untuk bernafsu, untuk memiliki seseorang, jadi memang sebetulnya bagian dari khotbah Tuhan di atas bukit di Matius. Dalam kasus si wanita ini saya pribdi tidak menggolongkan itu sebagai berzinah, dalam pengertian dia memang tidak membayangkan hubungan-hubungan apa, tidak, dia hanya membayangkan pria tersebut dia sukai sekali.

Namun saya setuju dengan yang Ibu Ida katakan bahwa kalau tidak dijaga ini menjadi pohon yang besar, sekarang memang hanyalah benih yang kecil sekali, tapi memang bisa bertumbuh besar menjadi sebuah pohon yang akhirnya akan menguasai diri dia dan kalau itu terjadi memang itu suatu perselingkuhan mental, tepat sekali.
IR : Karena biasanya dosa besar 'kan asalnya dari yang kecil Pak Paul?

PG : Dari yang kecil betul sekali Ibu Ida, jadi memang sudah tentu tujuan kita adalah agar pikiran ini bisa lenyap dari benaknya. Nah yang saya berikan tadi adalah bukannya mengizinkan atau memiarkan pikiran ini bertumbuh dan dipelihara sama sekali tidak, namun bagaimana cara yang efektif untuk menghilangkannya.

Nah yang saya tekankan adalah hati-hati dengan rasa bersalah, sebab rasa bersalah tidak menolong kita untuk menguasai diri atau untuk mengenyahkan pikiran tersebut. Rasa bersalah makin menguras kekuatan kita dan akhirnya kita makin lemah dibuatnya, sehingga pikiran itu malah makin menguasai kita. Jadi hilangkan rasa bersalah dalam pengertian anggap ini sebagai sesuatu yang memang sedang mengganggu kita, tapi serahkan kepada Tuhan setiap kali muncul, "Tuhan, inilah pikiran saya biarlah Engkau yang menerimanya kuduskan saya Tuhan," daripada berkata: "Aduh saya orang yang jahat, saya orang yang tidak benar, perempuan yang tidak tahu diri, terus menyalahkan diri. Nah semakin dia begitu, semakin dia terlilit dalam lingkungan rasa bersalah yang akan makin membuka peluang pikiran itu muncul kembali.
IR : Tapi kalau si istri ini mempunyai pikiran mau menghilangkan tapi juga mempunyai rasa syukur, "Tuhan, saya bersyukur karena saya sudah mendapat suami yang baik. (PG :Itu baik) soalnya kalau mendapat suami yang jelek mungkin itu tambah menguasai ya, tapi kalau mendapat suami yang baik tentu lebih bersyukur dan berusaha untuk menghilangkan begitu Pak Paul.

PG : Tepat sekali, jadi ada satu ayat yang ingin saya bagikan, ini diambil dari Filipi 4:8, "Jadi akhirnya saudara-saudara semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."

Jadi di sini Tuhan meminta kita agar dengan terencana berusaha memasukkan hal-hal yang indah ke dalam pikiran kita. Hal yang suci, hal yang indah, hal yang manis, jadi bagi si wanita ini saya sarankan bacalah buku rohani yang baik, bacalah bacaan-bacaan yang baik. Terus misalnya dengarkanlah musik-musik yang baik, musik rohani yang membangun terus genangi pikiran dengan firman Tuhan, terus diisi. Sebab semua yang baik yang mengisi benak kita akhirnya akan menggusur pikiran pria tersebut. Sehingga nanti meskipun pikiran itu muncul pikiran itu akan mudah lenyap dan tidak lagi bertenaga.

GS : Baiklah jadi demikianlah para pendengar telah kami persembahkan ke hadapan Anda sebuah pembicaraan tentang masalah-masalah kehidupan berkeluarga bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Dan bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian dan surat-surat anda dan bagi surat-surat yang belum terbalas kami mohon kesabaran anda tetapi kami tetap menantikan, pertanyaan serta tanggapan anda. Dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



5. Konflik dalam Pernikahan Kristen


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T018A (File MP3 T018A)


Abstrak:

Konflik itu selalu ada dalam hubungan pernikahan Kristen, sebagai suatu hal yang menjadi suatu pergumulan. Namun ada yang perlu kita kerjakan dalam menghadapi konflik agar tidak berubah menjadi suatu pertengkaran.


Ringkasan:

Hidup di dalam Tuhan tidaklah senantiasa berarti bebas dari problem, hidup dalam pernikahan memang benar-benar memberikan peluang bagi kita untuk berkonflik. Karena konflik itu sendiri adalah perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan.

Mitos yang seringkali muncul dalam pernikahan yaitu:

  1. Pernikahan itu dijodohkan Tuhan dan diberkati Tuhan, seharusnya tidak ada lagi konflik dalam hubungan pernikahan.

  2. Konflik akan memperkuat pernikahan, jadi konflik dilihat sebagai sesuatu yang positif.

  3. Cinta merupakan satu-satunya pengikat hubungan pernikahan.

Konflik dalam keluarga seringkali membuahkan pertengkaran.

Perbedaan antara konflik dan pertengkaran adalah kalau konflik sering kali diartikan beda pandangan. Sementara pertengkaran adalah kita dengan emosi yang tinggi mengeluarkan pendapat kita dan mulai menyerang pasangan kita.Pertengkaran sebetulnya tidaklah membawa hal yang positif di dalam pernikahan. Konflik yang terus-menerus dilanda oleh pertengkaran mengakibatkan pondasi pernikahan terkikis. Cinta tidak cukup untuk mempertahankan atau memelihara pernikahan, cinta mungkin cukup untuk membangun pernikahan maksudnya untuk memulai saja cukup cinta, tapi untuk mempertahankan atau memelihara dan apalagi menumbuhkembangkan pernikahan dibutuhkan lebih banyak faktor selain dari cinta atau kasih.

Galatia 6:1 berbunyi: "Saudara-saudara kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan jatuh ke dalam pencobaan."

Jadi ditekankan kalau kita ada masalah dengan yang lain, kita ini seyogyanyalah memimpin dengan lemah lembut bukan menghancurkan atau menyerang.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pandangan-pandangan yang ada seputar kehidupan berkeluarga. Dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, di dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai keluarga, sebagai suami-istri khususnya suami-istri Kristen, sering kali ada pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat bahkan itu cenderung seperti mitos yaitu sesuatu yang dipercayai dari waktu ke waktu sehingga mengkristal. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kalau pernikahan itu sudah diberkati di gereja, itu bisa bebas konflik, jadi pertengkaran-pertengkaran itu tetap ada tetapi tidak berarti Pak Paul. Tapi dalam pengalaman saya khususnya setelah sekian tahun menikah, kadang-kadang juga mengalami pertengkaran yang cukup panas. Kemudian mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu saya menjadi bingung, kita tahu bahwa pernikahan itu diperkenan oleh Tuhan dan diberkati di gereja, tapi konflik itu masih tetap ada, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya juga mengalami yang Pak Gunawan alami, jadi waktu saya baru menikah saya lumayan terkejut sewaktu menyaksikan bahwa saya dan istri saya bisa bertengkar dan bertengkar yang lumayan anas.

Dan itu tidak saya harapkan, kenapa tidak saya harapkan karena adanya mitos tersebut Pak Gunawan, jadi saya pun berkesan bahwa kalau kami ini dijodohkan Tuhan dan hubungan kami diberkati Tuhan, seharusnyalah tidak ada lagi konflik dalam hubungan kami. Ternyata yang terjadi tidaklah demikian, kita acapkali mengidentikkan berkat Tuhan dengan hidup tanpa pergumulan atau hidup tanpa ketegangan atau masalah. Nah, setelah saya menikah dan juga mengamati pasangan-pasangan Kristen lain, saya akhirnya menemukan bahwa hidup dalam Tuhan tidaklah senantiasa berarti bebas dari problem, hidup dalam pernikahan memang benar-benar memberikan peluang bagi kita untuk berkonflik. Karena definisi konflik itu sendiri adalah perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan. Dua orang yang tidak dibesarkan dalam rumah dan keluarga yang sama, sudah tentu mempunyai cara pikir yang berbeda dan cara hidup yang juga tidak sama, otomatis proses pernikahan menjadi proses penyesuaian diri. Dan dalam penyesuaian itu sudah tentu ada tarik ulur, ada rasa tidak senang, ada rasa tidak mau berubah, ada rasa menuntut yang satunya untuk lebih berubah, ada rasa kurang dimengerti dan sebagainya dan semua itu adalah bagian yang alamiah atau yang normal dalam suatu pernikahan. Jadi jangan sampai kita ini terburu-buru melabelkan bahwa karena kami sekarang mengalami konflik berarti pernikahan kami ini tidak dikehendaki Tuhan.
(2) IR : Pak Paul, konflik itu akan selalu terjadi, apakah konflik itu bisa menghancurkan pernikahan atau mungkin juga bisa sebaliknya, memperkuat pernikahan?

PG : Itu adalah mitos nomor dua Bu Ida, yaitu ada di antara kita yang berpandangan bahwa kalau konflik terjadi itu berarti akan memperkuat pernikahan kita, jadi konflik dilihat sebagai sesuau yang positif.

Saya mempunyai suatu pandangan yang sedikit berbeda dari keyakinan tersebut, konflik itu sendiri memang tidak apa-apa, konflik dalam pengertian beda pandang. Namun yang sering kali terjadi adalah konflik akhirnya membuahkan pertengkaran, jadi saya bedakan konflik dengan pertengkaran. Pertengkaran adalah di mana kita dengan emosi yang tinggi mengeluarkan pendapat kita dan mulai menyerang pasangan kita. Saya justru melihat kalau konflik sudah berkembang menjadi pertengkaran, sebetulnya pertengkaran itu tidaklah membawa hal yang positif di dalam pernikahan. Konflik tidak apa-apa, tapi pernikahan kalau terus-menerus dilanda oleh pertengkaran, pernikahan itu justru menjadi goyang. Ibaratnya pondasi pernikahan itu makin terkikis oleh pertengkaran yang terjadi.
(3) GS : Tapi tadi Pak Paul bedakan antara konflik dan pertengkaran, kalau konflik itu cuma berbeda pandangan sedangkan pertengkaran itu sudah diwarnai dengan emosi-emosi yang membuat orang mata gelap dan sebagainya. Tapi konflik itu sendiri, apakah suatu dosa Pak Paul?

PG : OK! Itu pertanyaan yang bagus sekali Pak Gunawan, menurut saya konflik itu sendiri bukanlah dosa, jadi konflik memang muncul secara natural karena kita harus menyesuaikan diri dengan orng yang beda dari kita.

Pertengkaran adalah usaha kita untuk mempertahankan kebenaran kita dengan emosi yang tinggi dan juga adakalanya dengan upaya untuk menyerang atau melemahkan lawan bicara kita. Konflik itu sendiri tidak berdosa dan Alkitab pun tidak memanggil itu dosa, bahkan marah sendiri pun tidak dilabelkan dosa oleh Tuhan. Kita tahu di Efesus 3 dikatakan kalau marah boleh, dipersilakan kita untuk marah, tapi yang diminta agar kita membereskan kemarahan itu sebelum matahari terbenam, yang mempunyai makna janganlah kita menyimpan kemarahan untuk jangka waktu yang berkepanjangan. Jadi konflik itu sendiri saya kira bukanlah dosa Pak Gunawan, sesuatu yang manusiawi sekali.
GS : Sejauh itu tidak diwarnai dengan perasaan-perasaan yang negatif tadi Pak Paul, tapi itu 'kan sulit untuk menghindari hal itu, kalau misalnya saya konflik dengan istri saya, sampai sejauh mana saya bisa mengontrol perasaan itu tadi Pak Paul?

PG : Saya adakalanya juga berkonflik, bertengkar dengan istri saya dan ini yang kami coba lakukan, waktu suami dan istri itu berkonflik atau bertengkar sudah tentu biasanya masing-masing mersa diri benar.

Nah, bagaimanakah orang yang masing-masing merasa diri benar didamaikan, akan sangat sulit sekali Pak Gunawan. Jadi yang kami coba lakukan adalah kami mencoba melihat diri masing-masing tatkala sedang bertengkar itu. Apakah waktu kami bertengkar, kami misalnya menjatuhkan satu sama lain, apakah saya mengucapkan kata-kata yang kasar, ataukah saya mengucapkan kata yang memang benar-benar sepertinya menghina dia. Nah, sejauh saya itu hanyalah mengungkapkan ketidaksenangan saya dan di mana kami berbeda, saya kira itu tidak apa-apa. Tapi sewaktu saya misalnya mulai menggunakan kata-kata yang kasar dan sebagainya kepada dia, di saat itulah saya berdosa.
GS : Mungkin itu yang Pak Paul katakan bahwa yang kita serang itu adalah masalahnya, yang berbeda itu kita selesaikan tapi kita tidak menyerang orangnya yang bisa menimbulkan sakit hati pada pihak yang lain.

PG : Betul, itupun saya pelajari dari istri saya sebelum saya menikah Pak Gunawan dan Ibu Ida. Saya masih ingat kami bertengkar sewaktu kami masih berpacaran, saya masih ingat sekali itu teradi sewaktu kami masih kuliah, saya mengunjungi sekolahnya dan di situ kami berbeda pendapat dan bertengkar.

Dan dia yang memberitahu saya, dia berkata: "Kenapa kamu kalau lagi marah, kamu menyerang saya, kamu tidak membahas problemnya saja," dan di situ baru saya mengerti memang harus dibedakan antara orang dan problem.
GS : Yang sulit dihindari lagi adalah bagaimana kita itu membuat konflik tidak berlarut-larut. Tadi Pak Paul mengambil ayat dari Efesus yang mengatakan harus diselesaikan sebelum matahari terbenam. Nah, biasanya konflik itu justru terjadinya mungkin malam hari karena kalau pagi hari kami tidak sempat membahas banyak masalah Pak Paul, pagi-pagi istri saya juga sibuk, kemudian saya juga mesti ke kantor terus kerja sampai sore. Nah, sore itu justru banyak masalah yang muncul, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Kita mempunyai waktu 24 jam itu sampai besok matahari terbenam lagi. Saya kira yang paling efektif adalah sewaktu kita bertengkar dengan pasangan kita, kita tidak mencoba untuk memaksa asangan kita mengerti apa yang sedang kita lakukan.

Kita tidak mencoba untuk membuat dia setuju dengan kita, sebab usaha-usaha itu saya rasa sering kali gagal atau sia-sia. Jadi yang lebih efektif adalah sewaktu kita akhirnya mulai bertengkar sebaiknya kita melihat apa yang sedang kita lakukan saat itu. Apakah kita mulai bertindak kasar, apakah kita mulai sepertinya menghina dia, nah bagian-bagian itulah kita mesti meminta maaf kepadanya. Jadi tadi saya sudah singgung, misalkan saya tahu saya itu berkata sesuatu yang salah bukan berkaitan dengan solusi atau masalahnya tapi dalam mengungkapkan, ekspresi diri saya marah dan sebagainya saya malah melukai dia, nah untuk hal itu saya minta maaf. Dan yang saya temukan adalah sewaktu saya atau dia meminta maaf, mengambil inisiatif meminta maaf atas cara kita bertengkar tiba-tiba seolah-olah emosi yang sedang tinggi itu langsung turun. Dan biasanya problem itu tidaklah menjadi sebesar tadi.
IR : Nah, untuk itu dibutuhkan penyangkalan diri juga kerendahan hati untuk minta maaf Pak Paul?

PG : Betul, saya kira itu yang susah.

IR : Itu sering kali yang susah dilakukan ya.
GS : Terutama oleh kaum pria ini Pak Paul.

PG : Tapi saya temukan wanita juga begitu, ada pria yang mengeluh aduh istri saya tidak pernah minta maaf.

IR : Dan kalau kita berpikir bahwa jangan sampai pertengkaran ini merusak suasana rumah tangga, terutama kasih untuk mengasihi pasangan kita, itu mungkin satu-satunya jalan untuk meredakan konflik itu Pak Paul?

PG : Betul, saya mau menggarisbawahi yang tadi ibu Ida katakan yaitu penyangkalan diri dalam wujud kerendahan hati. Saya pernah mempunyai pengalaman seperti itu Ibu Ida, ini beberapa tahun yng lalu, kami bertengkar istri saya dan saya bertengkar.

Saya tidak tahu saat itu apa yang menjadi penyebabnya, tapi yang saya ingat adalah saya marah sekali, waktu itu kami masih di Jakarta. Saya marah sekali dan saya merasa kali ini saya tidak mau minta maaf, dia yang harus minta maaf itulah keputusan saya. Dia masuk ke kamar anak saya, saya tetap di kamar kami jadi saya sendirian di kamar mencoba untuk tidur karena itu sudah tengah malam. Saya tidak bisa tidur Bu Ida, kenapa tidak bisa tidur, karena firman Tuhan terngiang-ngiang di telinga saya yaitu dari Efesus 5:22-33 dikatakan "Suami hendaklah engkau mengasihi istrimu seperti Kristus mengasihi jemaatNya." Nah, saya pernah mengkhotbahkan ayat-ayat itu dan saya pernah mengaitkannya dengan Filipi 2:5-11 di mana Yesus mengosongkan diriNya menjadi manusia. Jadi mengosongkan diri dalam bahasa Yunaninya mengosongkan ego, nah saya pernah khotbahkan itu berkali-kali dan tiba-tiba khotbah itu hidup di telinga saya pada malam hari itu. Jadi saya tahu maksud Tuhan, yaitu Tuhan meminta saya untuk berinisiatif, berdamai kembali dengan istri saya, tapi karena jengkelnya saya tidak mau Bu Ida. Saya berkata kepada diri saya, pokoknya harus dia yang minta maaf sekarang ini, saya tidak akan minta maaf. Tapi firman Tuhan terus menegur saya akhirnya saya tidak lagi bisa tidur dengan damai saya terpaksa meminta maaf. Saya gunakan kata terpaksa sebab kalau menuruti isi hati, saya tidak mau minta maaf lebih dulu, sebab saya merasa tidak bersalah sama sekali. Jadi saya datang ke kamar anak saya dan saya melihat dia sedang jongkok di lantai menangis, waktu saya melihat dia menangis tiba-tiba kemarahan saya sirna, tidak ada lagi kemarahan saya justru merasa iba, dan mendekatinya, saya membelai rambutnya dan saya hanya berkata sorry ya dan dia berkata: "Tidak, tidak apa-apa, saya juga sorry." Beres, saya kembali ke kamar saya dia masih mau menangis jadi saya tinggalkan tapi saya kembali ke kamar saya tiba-tiba seperti 10 kilo lebih ringan, tiba-tiba beban itu hilang dari hati saya. Nah, yang saya maksud adalah itu, jadi konflik itu sendiri mungkin belum bisa diselesaikan karena adakalanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri, untuk supaya kita mengerti pasangan kita dan dia mengerti pikiran kita dan sebagainya. Jadi adakalanya konflik memakan waktu yang lebih lama untuk diselesaikan, tapi pertengkaran itu bisa diselesaikan, bisa dihentikan yaitu dengan cara melihat caranya kita bertengkar. Kalau memang kita keterlaluan atau apa jangan ragu mengambil inisiatif dan meminta maaf untuk perlakuan kita.
GS : Tapi sebenarnya unsur yang mendorong Pak Paul sampai mau datang ke kamar sebelah itu tadi menemui istri, sebenarnya 'kan ada sesuatu kekuatan Pak Paul, apa itu yang disebut kasih terhadap pasangan kita atau apa Pak Paul?

PG : Saya jujur Pak Gunawan, saat itu tidak ada kasih sebab saya lagi jengkel.

GS : Tapi firman Tuhan yang tadi tergiang-ngiang itu mengingatkan.

PG : Mengingatkan, jadi motivasi saya adalah menaati firman Tuhan itu saja.

GS : Kalau begitu Pak Paul, anggapan bahwa kasih itu merupakan satu-satunya yang mengikat hubungan pernikahan itu bagaimana?

PG : Ini adalah salah satu mitos juga Pak Gunawan, apalagi di kalangan pasangan muda yang masih berpacaran, mereka acapkali berkata pokoknya cinta semuanya akan beres. Justru saya temukan tiak begitu, cinta tidak cukup untuk mempertahankan atau memelihara pernikahan, cinta mungkin cukup untuk membangun pernikahan maksudnya untuk memulainya saja cukup cinta, tapi untuk mempertahankan atau memelihara dan apa lagi menumbuhkembangkan pernikahan dibutuhkan lebih banyak faktor selain dari cinta atau kasih.

Jadi kalau misalkan kita melihat cinta itu sebagai cinta agape seperti Tuhan mencintai kita otomatis komplet, saya setuju itu memang satu-satunya yang kita perlukan. Tapi kita harus mengakui bahwa tidak semua kita mempunyai cinta agape, seperti cintanya Tuhan mencintai kita tanpa kondisi. Kita adalah manusia yang tetap memiliki tuntutan, pengharapan-pengharapan, jadi cinta kita tidak murni seperti cinta Tuhan kepada kita semua. Jadi apalagi yang diperlukan selain cinta kasih? Ada segudang hal. Pak Gunawan dan Ibu Ida sudah menikah lama bisa meng-iakan, sebetulnya ada segudang hal yang tidak berkaitan dengan cinta yang kita harus hadapi setelah menikah.
GS : Ada yang beranggapan juga bahwa faktor keturunan, jadi kalau kita sudah mempunyai anak-anak konfliknya menjadi makin berkurang Pak Paul?

PG : Bisa jadi, berkurang dalam pengertian teralihkan karena adanya kesibukan dengan anak, dan anak itu menuntut perhatian dari orang tua. Tapi biasanya kalau memang masalah belum sungguh-sugguh selesai, adanya anak hanya akan menunda pertengkaran yang akan nanti muncul kembali.

Biasanya sewaktu anak-anak sudah remaja saat itulah pertengkaran mulai muncul lagi, karena apa, setelah remaja anak-anak tidak terlalu menyita perhatian seperti waktu masih kecil, dan bahkan ada kecenderungan anak-anak pada masa remaja menyita perhatian orang tua secara negatif karena mereka mulai nakal, mulai memberontak dan sebagainya. Jadi akibatnya adalah orang tua menghadapi stres yang ditimbulkan oleh kenakalan anak remajanya. Stres ini sewaktu menekan hubungan yang memang pada dasarnya kurang kuat akan benar-benar bisa menggoyangkan pernikahan itu.
IR : Justru konflik itu kadang-kadang terjadi waktu kita menghadapi anak-anak Pak Paul. karena pandangan atau sudut pandang kita antara suami dan istri berbeda.

PG : Betul, dan yang juga sering terjadi adalah pada masa anak remaja orang tua itu berkonflik dalam pengertian mulai membangkit-bangkitkan penyesalannya yaitu misalnya seorang suami berkata "Engkau terlalu lunak kepada anak," seorang ibu yang berkata: "Engkau terlalu keras kepada anak."

Nah, kenapa masing-masing bisa berkata begitu karena memang adanya ketidakpuasan sebelum anak itu remaja. Namun karena anak itu belum benar-benar bermasalah, konflik bisa dihindarkan. Waktu anak itu akhirnya bermasalah maka muncullah keinginan untuk mempermasalahkan pasangan kita, sebab kita merasa anak menjadi begini gara-gara ulahmu, begitu biasanya yang terjadi.
GS : Itu akan lebih sukar dalam penyelesaian konflik kalau yang menjadi obyek ini anak kita yang sama-sama kita kasihi daripada suatu barang atau apa. Tapi penyelesaiannya bagaimana Pak Paul?

PG : Nomor satu, saya kira yang perlu dilakukan berhenti mempermasalahkan pasangan kita, kita mungkin marah karena mungkin sekali pasangan kita keliru, namun setelah kita marah saya kira yan baik adalah tidak lagi membangkit-bangkitkan kesalahan pasangan kita.

Yang penting sekarang adalah apa yang harus kita lakukan dari titik ini sampai ke depan, apa yang harus dilakukan sudah pasti menyelaraskan kembali bagaimana kedua orang tua ini bisa bersatu dalam menghadapi masalah si anak. Nah, di sini memang yang nomor satu harus dipersatukan bukannya anak dengan orang tua, tapi ayah dan ibu harus bersatu dulu, kalau ayah dan ibu belum bersatu, belum sevisi, belum sependapat dalam menghadapi si anak, anak biasanya terus bermasalah jadi sangat diperlukan kesatuan orang tua.
GS : Konflik-konflik jenis ini yang tidak bisa selesai dalam semalam Pak Paul?

PG : Lama sekali biasanya, sebab waktu anak-anak sudah remaja dan bila memang masalah itu muncul dari hubungan orang tua yang kurang baik, sebetulnya sudah sedikit terlambat untuk bisa dikorksi karena apa, karena anak itu sudah lumayan dewasa.

Jadi untuk memutar kembali jarum jam kehidupan tidak mungkin lagi.
GS : Tapi pasangan suami-istri yang sering kali konflik di depan anak mereka, apa dampaknya bagi anak Pak Paul?

PG : Biasanya akan membuat si anak itu hidup dalam rasa frustrasi, karena ketegangan yang bertubi-tubi dan terus berkepanjangan akan membuat daya tahannya dalam menghadapi stres makin lemah,sehingga dia memerlukan ruang gerak atau tempat untuk bisa bebas dari ketegangan ini.

Nah, biasanya dia akan lari keluar, dia akan mencari teman supaya dia lebih bisa tenang itu yang positif, yang negatif adalah justru dia akan berbuat lebih banyak masalah di luar karena dia juga marah di dalam rumah, tapi tidak bisa mengungkapkannya jadi dia akan keluar dan mengkompensasikannya itu dengan berbuat hal-hal yang lebih bermasalah lagi.
GS : Berarti pasangan-pasangan suami-istri Kristen ini juga tidak kebal terhadap konflik Pak Paul,jadi walaupun diberkati di gereja tetap bisa terjadi konflik. Konflik itu juga tidak selalu memperkuat pernikahan, bisa menghancurkan kalau tidak diselesaikan dengan baik. Apakah ada ayat Alkitab yang Pak Paul siapkan untuk itu?

PG : Saya ingin membacakan dari Galatia 6:1 yang saya kira banyak sekali di antara kita yang sudah mengenalnya. Ayatnya berbunyi: "Saudara-saudara, kalaupun seseorang kedapatan elakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan kena pencobaan."

Jadi di sini ditekankan kalau kita misalnya ada masalah dengan yang lain kita ini seyogyanyalah memimpin, dalam pertengkaran, dalam konflik juga sama memimpin dengan lemah lembut bukan menghancurkan, bukan menyerang jadi kita ikuti prinsip firman Tuhan ini.
IR : Jadi kita itu tidak terlepas sendiri dalam menyelesaikan masalah atau konflik, kalau kita itu dekat dengan Tuhan dan selalu membaca firman pasti telinga kita juga akan terngiang untuk senantiasa merendahkan hati, menyangkal diri, sehingga kita akan mengasihi pasangan kita walaupun mungkin mereka menyakitkan hati kita, kita itu akan bisa mengampuni.

PG : Betul, betul.

GS : Saya setuju sekali dengan apa yang Ibu Ida katakan. Jadi demikianlah tadi saudara-saudara pendengar kami telah persembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga khususnya tentang masalah-masalah mitos yang berkaitan dengan konflik di dalam kehidupan rumah tangga, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Dan bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



6. Kewajiban dan Kemarahan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T018B (File MP3 T018B)


Abstrak:

Setiap pasangan suami istri harus mengkondisikan tanggung jawab masing-masing. Harus sampai pada suatu kesepakatan apa itu yang menjadi tanggung jawab istri dan suami. Kewajiban itu seharusnya dilihat secara fleksibel. Dan tuntutan-tuntutan yang tidak terpenuhi cenderung menimbulkan kemarahan.


Ringkasan:

Masing-masing pasangan suami-istri oleh Tuhan sudah diberikan tanggung jawab atau kewajiban untuk menjalankan perannya atau fungsinya masing-masing. Namun seringkali terjadi perbedaan pandangan di dalam pelaksanaan peran itu sehingga banyak terjadi konflik.

Ada aspek yang melatarbelakanginya:

  1. Adanya anggapan bahwa kalau kita sudah menjalankan kewajiban kita maka rumah tangga kita akan beres, dengan asumsi atau harapan pasangan kita juga akan melakukan bagiannya. Tapi masalahnya adalah hal itu tidak selalu terjadi, sebab memang pada akhirnya tergantung pada komitmen masing-masing pada pernikahan itu, tatkala seorang suami tidak lagi mempunyai komitmen atau dedikasi atau perhatian terhadap pernikahannya dia tidak akan lagi menjalankan kewajibannya.

Ada hal yang perlu kita lakukan untuk dapat menciptakan suasana yang baik antara suami dan istri yaitu:

  1. Sebelum menikah memang kedua belah pihak mulai harus mengungkapkan harapan dan tuntutannya. Saran Norman Wright seorang pakar konseling pernikahan, kepada sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah dalam konseling pranikah, dia meminta kedua orang itu untuk mendaftarkan 50 hal yang dia tuntut dari pasangannya. Misalnya siapa yang akan membawa piring ke meja, waktu engkau mau minum kopi siapa yang akan membuat kopi dsb. Jadi Norman Wright mau membuat pernikahan itu menjadi sangat realistik sekali dan itulah yang disajikannya kepada 2 orang yang akan melangsungkan pernikahan, agar mereka menyadari hal itu.

Ada yang beranggapan bahwa kemarahan merupakan sesuatu yang tidak boleh ada dalam keluarga dan menganggap kemarahan itu seperti bom yang bisa menghancurkan rumah tangga. Kenyataannya justru tidak, jadi kemarahan yang sepantasnya ya diekspresikan dan dibagikan, justru ini suatu channel suatu/penyaluran yang sangat baik. Karena pasangan kita akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal yang mengganggu kita dan karena mengganggunya terlalu berat maka diekspresikan dengan kemarahan. Jadi kemarahan tidaklah harus kita takuti tapi di pihak lain tidak dianjurkan agar kita ini seenaknya saja memarahi pasangan kita.

Galatia 6:2, "Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Ayat 4, Dan baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka dia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." Pelajaran Firman Tuhan yang bisa kita ambil adalah kalau kita mau menikah berarti kita harus siap memikul beban atau problem pasangan kita, jadi di satu pihak kita mesti siap untuk memikul bebannya, problemnya yang memang jelas-jelas bukan problem kita tapi problem dia.

Tapi begitu dia menikah dengan kita problemnya menjadi problem kita pula. Namun di pihak lain lagi adalah tiap orang juga harus menguji pekerjaannya sendiri, dalam pengertian kita mesti bisa juga mengintrospeksi siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Berbahagialah pasangan yang bersedia memikul beban yang satunya dan juga bersedia melihat dirinya dan tidak hanya melihat diri orang lain.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah salah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di kota Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang seputar kehidupan suami-istri khususnya yang sering kali diwarnai dengan pandangan-pandangan yang keliru karena banyaknya pandangan yang beredar di tengah-tengah kita. Kami percaya bahwa acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, setiap pasangan suami-istri itu oleh Tuhan diberikan kewajiban atau tanggung jawab untuk menjalankan perannya atau fungsinya masing-masing Pak Paul. Kadang-kadang saya beranggapan bahwa kalau saya sebagai seorang suami atau seorang ayah sudah menjalankan peran dengan bekerja, memberi nafkah dan sebagainya, saya berharap sebenarnya istri saya juga melakukan fungsinya. Saya sering mengatakan kalau kita itu sudah melakukan fungsi masing-masing kehidupan rumah tangga ini menjadi beres. Karena sering kali terjadi gesekan atau bahkan konflik di sana, saya merasa sudah melakukan fungsi saya dan dia kok enak-enakan atau malah sebaliknya dia pun merasa sudah melakukan fungsinya sebagai seorang istri, seorang ibu dan dia menganggap saya belum melakukan kewajiban atau tanggung jawab saya. Nah, karena perbedaan pandangan seperti ini sering kali menimbulkan konflik Pak Paul, apakah pandangan seperti itu memang umum terjadi di kalangan suami-istri juga pasangan-pasangan Kristen atau bagaimana Pak?

PG : Ada dua aspek dari yang telah Pak Gunawan katakan, memang yang pertama adalah yang tadi Pak Gunawan sudah singgung yaitu adakalanya kita beranggapan bahwa kalau kita sudah menjalankan kwajiban kita, maka rumah tangga kita akan beres, dengan asumsi atau harapan pasangan kita juga akan melakukan bagiannya.

Tapi masalahnya adalah hal itu tidak selalu terjadi, kebanyakan waktu masing-masing menjalankan kewajibannya, rumah tangganya berjalan dengan baik. Tapi ada kasus di mana yang satu menjalankan kewajibannya dengan baik misalnya si istri menjalankan kewajiban sebagai istri yang baik mengurus rumah tangga, memperhatikan kebutuhan anak-anak, menjaga perasaan suami dan benar-benar mencoba memenuhi kebutuhan suami. Tapi di pihak lain suaminya tidak menjalankan kewajibannya misalnya si suami mau pulang malam, dia pulang malam; dia tidak mau pulang ya dia tidak pulang; dia tidak merasa berkewajiban memberitahu istrinya ke mana dia pergi dan sebagainya. Jadi itu yang ingin saya munculkan dalam mitos ini yaitu mitos atau keyakinan yang keliru, yang menganggap bahwa selama saya menjalankan kewajiban saya, pasti pasangan saya juga akan melakukan bagiannya. Tidak selalu begitu, sebab memang pada akhirnya tergantung pada komitmen masing-masing terhadap pernikahan itu, tatkala seorang suami tidak lagi mempunyai komitmen atau dedikasi atau perhatian terhadap pernikahannya dia tidak akan lagi menjalankan kewajibannya.
GS : Berarti pernikahan itu terancam keutuhannya?

PG : Sangat terancam, dan ini yang sering kali membuat frustrasi pihak yang menjalankan kewajibannya. Sebab dia pun sebagai manusia mengharapkan timbal balik dari si suami atau istri setelahdia melakukan kewajibannya dengan begitu sungguh-sungguh.

Tapi di pihak lain dia sudah bekerja begitu keras, dia sudah menjalankan kewajibannya secara sungguh-sungguh, tapi pihak yang satunya masa bodoh tidak mempedulikan dia dan sebagainya. Nah, itu keadaan yang sangat menimbulkan frustrasi yang tinggi.
GS : Tapi Pak Paul, kami sebagai pasangan suam-istri khususnya waktu baru menikah itu tidak dibekali bahwa suami itu tugasnya apa saja, kami paling-paling melihat orang tua kami, pasangan-pasangan yang lain o....itu yang dia lakukan, tapi secara jelas kita tidak pernah mendapatkan atau mungkin membicarakan dengan istri bahwa kewajibanmu itu ini, ini, ini, kewajiban saya ini, ini, tidak seperti itu Pak Paul?

PG : Betul, setiap pasangan suami-istri pada akhirnya harus memformulasi, harus (GS: Mengkondisikan tanggung jawabnya masing-masing) betul. Jadi mereka harus sampai pada suatu kesepakatan ap itu yang menjadi tanggung jawab istri dan tanggung jawab suami.

Sebab secara garis besar memang kita ini akan mengharapkan hal-hal yang lazim dilakukan oleh suami dan istri, sebab kita adalah bagian budaya di mana kita tinggal. Jadi secara garis besar, misalkan kita tahu suami diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, yang menyediakan kebutuhan finansial keluarga dan sebagainya. Dan istri adalah orang yang akan memelihara anak-anak dan memastikan rumah tangga itu bisa berjalan terus, namun selain dari garis besar seperti itu sudah tentu ada segudang masalah kecil-kecil lainnya yang harus juga didiskusikan dan akhirnya disetujui, sehingga ada pembagian peran atau tugas yang jelas. Saya tadi langsung berpikir memang adakalanya terjadi konflik dalam hal pembagian tugas ini, karena bisa jadi yang satu merasa ini tugasmu, yang pihak sana merasa tidak, ini tugasmu, sehingga akhirnya terjadilah kerancuan kewajiban di sini.
GS : Yang Alkitab sampaikan, suami itu kepala keluarga dan istri itu pendamping suami, itu secara prinsip saja Pak Paul?

PG : Betul, tapi penjabaran apa itu yang dilakukan sebagai seorang kepala tidak diberitahukan oleh Alkitab. Karena memang sangat bergantung pada konteks kehidupan.

(1) IR : Nah, mungkin ada faktor-faktor lain Pak Paul, yang bisa Pak Paul berikan supaya masing-masing ini bisa serasi Pak Paul?

PG : Saya kira yang seharusnya dilakukan adalah sebelum menikah memang kedua belah pihak harus mulai mengungkapkan harapan dan tuntutannya. Saya mengingat saran dari seorang pakar konseling ernikahan Norman Wright, waktu saya mengikuti ceramah beliau, beliau berkata sewaktu dia pertama kali berbicara dengan sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah, dalam konseling pranikah dia akan bertanya atau meminta kedua orang itu untuk mendaftarkan 50 hal yang dia tuntut dari pasangannya.

Nah, Norman Wright berkata sering kali mereka bingung, masa ada 50 hal yang saya akan tuntut dari pasangan saya? Tapi Norman Wright memberikan contoh misalnya kalau engkau makan siapa yang akan membawa piring ke meja, siapa yang akan mengambil piring dari meja, waktu engkau ingin minum kopi, siapa yang akan membuat kopi dan sebagainya hal-hal kecil seperti itu. Sampah sudah penuh siapa yang harus membuang sampah itu keluar, misalnya anak sakit siapa yang akan lebih bertanggung jawab untuk membawanya ke dokter dan sebagainya. Jadi Norman Wright mau membuat pernikahan itu menjadi sangat realistik sekali dan itulah yang disajikannya kepada dua orang yang akan melangsungkan pernikahan, agar mereka menyadari hal itu. Jadi menjawab pertanyaan Ibu Ida, seyogyanyalah dua orang yang belum menikah memang berbicara dengan terbuka apa itu yang diharapkannya dari pasangan, siapa yang akan berbuat ini, siapa yang akan melakukan itu dan sebagainya. Sebab sering kali kita mewariskan kebiasaan-kebiasaan dari rumah tangga kita sendiri. Misalkan ada seseorang yang misalnya dibesarkan oleh ayah yang sangat dominan, semua hal diatur oleh si ayah, si ibu itu boleh dikata tahunya hanya masak dan memberi makan anak tidak ada suatu keputusan pun yang didiskusikan dengan si ibu. Nah, kemungkinan si anak akan beranggapan itulah modal keluarga yang ideal baginya, setelah dia menikah dia tidak berkonsultasi dengan si istri sewaktu mengambil keputusan. Sebab dia merasa tidak seharusnya dan tidak perlu dia mengambil waktu bicara dengan istri mengenai soal itu, nah hal ini bisa saja nanti menimbulkan konflik dalam pernikahan.
IR : Jadi faktor komunikasi juga diperlukan Pak Paul?

PG : Betul, keterbukaan dan juga kejelian untuk bisa mengenali apa itu yang kita harapkan dari pasangan kita.

GS : Tapi harapan-harapan atau apa tadi yang Pak Paul ungkapkan misalnya mesti didaftar, itu 'kan bisa berubah Pak Paul oleh karena keadaan. Misalnya saja saat-saat seperti sekarang di mana banyak para suami yang kehilangan pekerjaannya, sehingga dia banyak waktu tinggal di rumah. Kewajiban-kewajiban yang tadinya diharapkan oleh si istri menjadi tidak terpenuhi, misalnya dalam hal mencari nafkah tidak terpenuhi tapi di sisi yang lain dia mempunyai banyak waktu untuk membantu istrinya, itu 'kan mesti diubah lagi.

PG : Betul, di situ dituntut kefleksibelan, kelenturan sikap, jadi kalau kedua belah pihak tidak fleksibel bisa patah. Misalnya si suami tidak fleksibel, dia tidak ada pekerjaan dan harus dim di rumah, nah dia merasa ini adalah suatu aib buatnya.

Dan misalkan kebetulan si istri masih bisa bekerja mencari nafkah, kalau si suami gagal melihat bahwa sekurang-kurangnya ini adalah peran yang harus diembannya sekarang, kalau dia tidak bisa menerima peran ini dia bisa mencelakakan dirinya, maksudnya dia bisa merasa frustrasi dan akhirnya di rumah sering uring-uringan sedangkan si istri sudah lelah sekali bekerja di luar dan juga mengurus rumah tangga, jadi di sini si suami juga diminta untuk fleksibel, di pihak lain si istri juga diminta untuk fleksibel dengan tuntutannya. Sekarang otomatis penghasilan mereka berkurang mungkin setengahnya atau lebih, nah di sini dipaksa si istri untuk tidak melihat si suami sebagai pemberi nafkah atau penyedia kebutuhan fisik bagi keluarganya. Dan di sini diminta agar si istri juga bisa fleksibel dalam konsepnya tentang seharusnya suami itu seperti apa. Jadi betul sekali apa yang Pak Gunawan katakan bahwa peranan-peranan dalam rumah tangga atau kewajiban-kewajiban itu seharusnyalah dilihat secara fleksibel karena memang bergantung besar pada kondisi.
(2) GS : Tapi prinsip yang Alkitab katakan tidak bisa kita ubah Pak Paul, seperti suami adalah kepala keluarga dan istri itu tetap pada peranannya seperti itu. Dan sering kali yang terjadi kalau salah satu pihak itu tidak "memenuhi" kewajibannya itu menimbulkan kemarahan, bisa marah kalau pasangan kita tidak melakukan perannya. Dan apakah kemarahan itu menghancurkan rumah tangga itu Pak Paul?

PG : Ini adalah salah satu mitos juga Pak Gunawan yaitu ada orang beranggapan bahwa kemarahan merupakan sesuatu yang tidak boleh ada dalam keluarga dan dianggap kemarahan itu seperti bom yan bisa menghancurkan rumah tangga.

Kenyataannya justru tidak, jadi kemarahan yang sepantasnya diekspresikan dan dibagikan justru adalah suatu channel atau suatu penyaluran komunikasi yang sangat baik. Karena pasangan kita akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal yang mengganggu kita dan karena mengganggunya terlalu berat diekspresikan dengan kemarahan, nah kemarahan itu sendiri tidak apa-apa dan kita harus siap menerima itu. Saya harus mengaku saya adalah salah seorang yang kurang begitu bisa mendengarkan kemarahan dan ini sering kali menjadi keluhan istri saya. Kadang kala istri saya merasa hidup dengan saya itu tidak bebas, dalam pengertian dia ingin menjadi manusia yang normal, dia ingin bisa marah dan dia ingin sekali-sekali saya bisa menoleransi kemarahannya. Nah, saya mencoba untuk bisa menoleransi kemarahan, namun saya harus akui memang saya bukanlah orang yang terlalu gampang untuk mendengarkan emosi yang tinggi. Kecenderungan saya adalah sewaktu mendengarkan emosi tinggi dalam bentuk kemarahan, saya seolah-olah seperti keong yang langsung menutup diri, menarik diri tidak lagi berkomunikasi dengan dia. Istri saya mencoba menyesuaikan diri sebisanya, dia bicara dengan saya dengan cara yang lemah lembut dan rasional. Dan 99%, 99 kali dari 100 dia berhasil melakukannya, tapi adakalanya dia juga berkata: "Saya kali ini tidak bisa menguasai diri saya, saya mau marah", dan saya akan bilang: "Ya silakan", dan dia akan marah, saya hanya dengarkan, saya sambuti, setelah itu ya sudah. Jadi memang kemarahan tidaklah harus kita takuti seperti itu, tapi di pihak lain juga saya tidak menganjurkan agar kita ini seenaknya saja memarahi pasangan kita, itu pun tidak benar.
GS : Jadi itu semacam kewajiban Pak Paul untuk pasangan, jadi kalau pasangan kita sedang marah kita wajib untuk mendengarkan kemarahannya. Daripada dia marah dengan orang lain, toh itu sesuatu yang harus dia keluarkan, kalau kendaraan bermotor mungkin kenal potnya membuang gas-gas yang tidak berguna. Tapi sejauh kita mendengarkan dan tidak menanggapi, tidak akan timbul pertengkaran yang lebih hebat.

PG : Dengan catatan bahwa memang ini adalah kemarahan dalam batas wajar, sebab saya juga menyadari ada orang yang memang hobynya marah. Dan ada orang yang selalu mau marah di rumah, sedikit al yang mengganggu dia, dia harus memberikan respons dengan kemarahan, sebab dia berharap orang itu harus hidup sesuai dengan kehendaknya, kalau tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya maka meletuslah kemarahannya.

Nah, untuk tipe yang seperti ini saya juga tidak berkata kepada pasangannya duduklah dan dengarkanlah dan terimalah caci makinya, saya rasa itu juga tidak benar.
GS : Jadi korban terus dia nanti.
IR : Jadi harus saling belajar untuk menerima keberadaan masing-masing Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Dalam hal menerima tadi yang Pak Paul katakan, sampai sejauh mana sebenarnya kita itu bisa mentolerier kemarahan pasangan kita. Tadi Pak Paul mengatakan sebatas kemarahan itu wajar, tapi itu 'kan sesuatu yang agak sulit, dan itu relatif. Itu sebenarnya bagaimana Pak Paul kami harus menguraikannya?

PG : Saya kira kita bisa menyimpulkan apakah kita ini pemarah atau marah, jadi yang Tuhan larang dan Tuhan panggil itu dosa bukanlah marah tapi pemarah. Jadi orang yang pemarah adalah orang ang memang bawaannya marah, bahkan di kitab Amsal sendiri pun dikatakan janganlah bergaul dengan si pemarah, dengan orang yang maunya atau bawaannya marah, bertemperamen tinggi.

Sebab apa, sebab memang orang seperti ini dipanggil di Amsal adalah sebagai orang yang bodoh, orang yang tidak bijaksana. Dan Alkitab pun menekankan salah satu buah Roh Kudus atau salah satu aspek buah Roh Kudus adalah penguasaan diri. Jadi orang yang kalau mau marah tidak bisa mengendalikan diri dia mesti marah, dia memang tidak mempunyai buah Roh Kudus, penguasaan diri tersebut dan dia bisa kita kategorikan sebagai orang yang bodoh, orang yang tidak bijaksana. Jadi itu salah satu kriterianya, apakah orang itu pemarah atau tidak, otomatis orang yang pemarah akan berkata saya punya alasan kenapa saya marah, sebab engkau membuatku marah, tidak. Masalahnya adalah bukanlah orang membuat kita marah, masalahnya adalah kita memilih respons marah, setiap kali ada sesuatu yang mengganggu kita, kita itu memilih untuk merespons dengan kemarahan. Jadi dalam pengertian ini tanggung jawab kita, kitalah yang memilih marah seperti itu. Berikutnya adalah yang bisa saya gunakan sebagai kriteria adalah apakah sewaktu dia marah, dia hanya marah berkaitan dengan problemnya dan apakah kita bisa menyimpulkan apakah kemarahannya itu dikeluarkan sesuai dengan problemnya. Untuk hal sekecil itu apakah dia perlu memaki-maki sampai begitu kerasnya, misalnya itu yang bisa kita gunakan. Ada orang yang gara-gara anaknya tersandung dan kemudian memecahkan gelas, bisa marah dan memaki-maki si anak dengan begitu kasarnya, nah dalam hal seperti itu kita berkata tidak semestinya, itu sudah melewati batas kewajaran. Kriteria yang berikutnya adalah lamanya dia marah, kalau misalkan gara-gara satu hal dia bisa marah dan dia bisa berteriak-teriak, memaki-maki selama misalnya 10 menit, ¼ jam, atau ½ jam kita bisa simpulkan dia sudah melewati batas kewajaran. Sebab marah yang wajar adalah untuk hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, kalau mau marah, marahlah selama 5 menit sudah begitu. Kita pun di tempat pekerjaan kalau kita marah semau kita selama 30 menit, kalau bos mendengar lama-lama kita dipecat, di rumah saja kita tidak bisa dipecat, jadi kita lebih seenaknya.
GS : Bagaimana dengan hal menerima kemarahan pasangan kita tadi Pak Paul, apakah setelah kemarahannya mereda kita perlu membicarakannya atau tidak, tentunya hal ini kita lakukan kalau dia sudah mulai tenang, apakah kita perlu menanyakan apa sebetulnya yang menjadi masalah? Ini dalam rangka atau kita kaitkan dengan kewajiban kita untuk meningkatkan mutu hidup pernikahan kita.

PG : Setelah reda saya yakin baik sekali kita berbicara dengan dia dan kita sampaikan dampak perlakuannya kepada kita. Misalkan kita beritahu: "Waktu engkau memarahi saya seperti itu, saya mrasa seperti tidak ada artinya bagimu, saya ini merasa lebih mirip seperti pesuruhmu yang engkau bisa saja marahi seperti itu."

Jadi nomor satu kita sampaikan dampaknya pada diri kita, supaya dia menyadari bahwa kita ini bukanlah terbuat dari besi, yang dimarahi tapi tidak merasakan apa-apa. Berikutnya adalah yang kita bisa sampaikan setelah dia tenang adalah minta dia introspeksi, apakah kemarahanmu itu wajar, pada porsinya, apakah memang tepat targetnya, coba engkau pikirkan. Nah, kita jangan mengoreksi dia sebab ada kecenderungan kalau kita yang mengoreksi, dia tersinggung atau difensif, membela diri. Jadi kita hanya lontarkan agar dia bisa introspeksi, coba kamu pikirkan saja, terus sudah kita tinggalkan dia. Jadi kita tidak meminta dia mengoreksi pada saat itu juga, sebab biasanya dia akan membela diri dan nanti tidak ada hasilnya.
GS : Berarti kita tidak perlu mencari-cari sumber masalah supaya timbul kemarahan, tapi kalaupun kemarahan itu tidak bisa dihindari kita juga tidak perlu lari dari kenyataan itu Pak Paul, karena kemarahan itu sendiri tidak selamanya akan menghancurkan pernikahan.

PG : Dalam batas yang wajar tidak menghancurkan pernikahan, tapi kalau melewati batas kewajaran bisa menghancurkan pernikahan.

GS : Apakah ada ayat Alkitab yang berkaitan dengan hal ini yang ingin Pak Paul bacakan, sebelum kita mengakhiri perbicangan kita pada saat ini?

PG : Ada satu ayat yang saya ambil dari Galatia 6:2, "Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Dan yang ke-empat adalah "Baiklah iap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka dia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."

Dari dua ayat ini saya bisa memetik suatu pelajaran yang indah dari firman Tuhan yaitu kalau kita mau menikah berarti kita harus siap memikul beban atau problem pasangan kita, jadi di satu pihak kita mesti siap untuk memikul beban atau problemnya dan yang jelas-jelas bukan problem kita, tapi problem dia. Tapi begitu dia menikah dengan kita, problemnya menjadi problem kita pula. Namun di pihak lain, jadi ini ekstrim satunya lagi adalah tiap orang juga harus menguji pekerjaannya sendiri, dalam pengertian kita mesti bisa siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Jangan kita ini bisanya hanya melihat pekerjaan orang lain atau kalau saya terjemahkan dalam hubungan keluarga, jangan sampai kita ini hanya bisa melihat orang lain atau istri atau suami kita saja, masing-masing harus melihat diri. Nah, saya kira berbahagialah pasangan yang bersedia memikul beban yang satunya dan juga bersedia melihat dirinya dan tidak hanya melihat diri orang lain.

GS : Ya itulah nasihat firman Tuhan yang saya rasa sangat tepat Pak Paul untuk perbincangan kita kali ini. Dan demikianlah tadi para pendengar, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Apabila Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk tanggapan berupa surat-surat yang sudah sampai pada alamat tersebut. Namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda kami masih sangat menantikannya. Dan dari studio kami mengucapkan selamat berjumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



7. Makna Pernikahan Gerejawi


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T025A (File MP3 T025A)


Abstrak:

Pernikahan bagi orang Kristen adalah suatu kesaksian kepada umum bahwa Tuhan hadir dalam hubungan mereka. Dan intinya adalah pernikahan tersebut memperkenankan hati Tuhan.


Ringkasan:

Kata berkat atau pernikahan yang diberkati di gereja sebetulnya mempunyai beberapa aspek, yaitu:

  1. Aspek pertama adalah diberkati di gereja atau diberkati oleh Tuhan berarti diperkenan oleh Tuhan, jadi pernikahan itu pernikahan yang memang Tuhan setujui. Jadi apa yang Tuhan tidak setujui Tuhan tidak mungkin memberkatinya jadi unsur memperkenankan Tuhan itu penting sekali sebagai prasyaratnya.

  2. Berkat mempunyai arti sebetulnya juga memberikan sukacita sebab kata berkat mengandung arti kebahagiaan, kesukacitaan. Dengan kata lain sewaktu Tuhan memberkati Tuhan itu memang akan menambahkan sukacita akan benar-benar menolong, menyertai pernikahan ini sehingga ini menjadi suatu pernikahan yang pas, yang membahagiakan keduanya.

Yang dapat disimpulkan, jangan kita ini menempatkan berkat dalam pernikahan secara kaku tapi juga tidak tepat, sebaliknya kita jangan meremehkan pernikahan.

Syarat bahwa pernikahan itu memperkenankan hati Tuhan adalah sbb:

  1. Syarat pertama dan mutlak harus dipenuhi adalah keduanya harus seiman, dua-duanya orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan mereka dan telah menjadi juru selamat bagi dosa mereka.

  2. Yang menjadikan suatu pernikahan itu kristen bukanlah upacaranya tapi kehidupan kedua insan ini baik sebelum menikah ataupun setelah menikah.

Apa yang menjadikan pernikahan itu pernikahan kristen, bukan upacaranya tapi kehidupan pernikahan kita itu, apakah kita benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan apakah kehidupan kita itu memperkenankan hati Tuhan. Jadi itu yang terlebih penting dan berkat Tuhan tentang menambahkan sukacita dalam kehidupan kita itu juga diperoleh tidak secara otomatis, tidak karena kita ini menikah di gereja, maka untuk seumur hidup Tuhan akan terus menambahkan sukacita, tidak! Jadi bagaimanakah kita ini berdua hidup, apakah kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan kalau kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan maka berkat Tuhan juga akan Tuhan curahkan. Tapi kalau dua-dua tidak mudah mengalah kalau ada perbedaan pendapat dua-duanya keras kepala, sombong dan sebagainya bagaimanakah berkat Tuhan dicurahkan dalam kehidupan yang tidak suci dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi; beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pemberkatan nikah. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, pada kesempatan ini saya ingin mengajak Pak Paul dan Bu Ida untuk membicarakan tentang makna pemberkatan nikah. Hampir semua kita sebagai pasangan suami-istri Kristen, nikahnya diberkati di gereja tapi juga banyak yang perlu kita ketahui tentang pemberkatan nikah di gereja itu, Pak Paul. Sebagai contoh misalnya mengenai maknanya sendiri. Ada sebagian orang yang mengatakan keunikan pernikahan Kristen itu adalah pemberkatan di gereja, jadi itu yang membedakan pernikahan Kristen dan yang bukan misalnya. Pandangan Pak Paul sendiri bagaimana mengenai pemberkatan nikah di gereja?

PG : Saya kira kita harus melihat dengan perspektif yang berimbang, Pak Gunawan, adakalanya kita ini terlalu memberikan porsi yang terlalu besar terhadap upacara itu sendiri. Tapi di pihak lainsaya tidak ingin kita ini meremehkan makna dari pernikahan gerejawi itu.

Saya akan jelaskan yang saya maksud, ada misalkan orang yang beranggapan bahwa pernikahan Kristen itu kudus karena diberkati di gereja, seolah-olah dengan menikah di gereja dan mendapatkan berkat dari pendeta di gereja, untuk selama-lamanya pernikahan itu menjadi pernikahan yang diberkati. Kata berkat atau diberkati di gereja sebetulnya mempunyai beberapa aspek, aspek yang pertama adalah diberkati di gereja atau diberkati oleh Tuhan, berarti diperkenan oleh Tuhan. Jadi pernikahan itu pernikahan yang memang Tuhan setujui. Otomatis kita harus mengerti apa itu yang Tuhan akan setujui, yang jelas adalah Tuhan menghendaki kita menikah dengan yang seiman. Jadi misalkan ada orang yang ingin menikah dan meminta pemberkatan di gereja tapi pasangannya bukanlah seorang Kristen, secara otomatis pernikahan itu hanyalah menjadi upacara formal namun saya percaya tidak ada berkat Tuhan di pernikahan tersebut, karena jelas-jelas keduanya melakukan sesuatu yang Tuhan tidak setujui. Jadi apa yang Tuhan tidak setujui, Tuhan tidak mungkin memberkatinya. Jadi unsur memperkenankan Tuhan itu penting sekali sebagai prasyaratnya. Yang kedua adalah berkat mempunyai arti sesungguhnya juga memberikan sukacita, sebab kata berkat itu mengandung arti kebahagiaan, kesukacitaan. Dengan kata lain, sewaktu Tuhan memberkati Tuhan itu memang akan menambahkan sukacita akan benar-benar menolong, menyertai pernikahan ini sehingga ini menjadi suatu pernikahan yang cocok, yang membahagiakan keduanya. Jadi saya kira kebanyakan kita lebih menekankan aspek yang kedua, Pak Gunawan, kita ingin menikah di gereja sebab kita ini mengharapkan Tuhan akan membahagiakan kita, tapi kita jangan sampai melupakan aspek yang pertama tadi, yaitu aspek memperkenankan hati Tuhan sebagai pernikahan yang memang Tuhan setujui. Jadi sekali lagi saya mau simpulkan jangan kita ini menempatkan berkat dalam pernikahan secara kaku tapi juga tidak tepat. Sebaliknya saya juga tidak mau kita ini meremehkan pernikahan. Ini banyak dilakukan misalnya oleh para bintang-bintang film yang menikah di gereja-gereja, saya langsung mengingat para bintang film Amerika Serikat, sewaktu mereka menikah, mereka senantiasa mencari gereja untuk menikahkan mereka. Tapi bagi mereka pernikahan gerejawi juga sebetulnya tidak mempunyai dampak apa-apa, mereka tidak mempunyai konsep bahwa nomor 1 pernikahan ini haruslah diperkenankan oleh Tuhan, mereka tidak pusingkan hal itu. Kedua mereka juga tidak pusingkan aspek Tuhan itu memberkati dalam pengertian membahagiakan melalui pernikahan kedua insan itu akan mendapatkan kecocokan dan hidup mereka akan penuh dengan sukacita karena Tuhan memberkatinya. Jadi mereka ini menikah di gereja hanya dengan tujuan tradisi, hal yang biasa dilakukan dan hal yang baik dilihat oleh orang, mereka menganggap bahwa pernikahan itu seolah-olah "belum resmi" kalau belum dilakukan di gereja. Jadi saya kira kita perlu memiliki keseimbangan jangan sampai kita mental dari yang satu ke satunya lagi.
IR : Nah, Pak Paul kalau pernikahan itu mempunyai arti untuk memperkenan hati Tuhan tentunya ada contoh-contoh konkret, syarat-syarat untuk bisa diperkenan oleh Tuhan itu pasangan yang bagaimana, Pak Paul?

(2) PG : Tadi saya sudah singgung bahwa yang pertama dan yang mutlak harus dipenuhi adalah keduanya harus seiman, jadi dua-duanya itu adalah orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan mereka dn telah menjadi Juruslamat bagi dosa mereka.

Yang kedua, menurut saya ini juga penting yaitu yang menjadikan pernikahan itu Kristen, bukanlah upacaranya tapi kehidupan kedua insan ini baik sebelum menikah ataupun setelah menikah. Sekarang saya mau sedikit banyak bergeser ke topik yang memang berdekatan dengan yang sedang kita bicarakan yaitu apa yang menjadikan pernikahan itu pernikahan Kristen. Sering kita beranggapan pernikahan itu pernikahan Kristen, karena dinikahkan atau upacaranya dilakukan secara Kristiani. Nah saya mau menekankan bahwa yang menjadikan pernikahan kita itu pernikahan Kristen bukan upacaranya, tapi kehidupan pernikahan kita itu, apakah benar-benar kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan apakah kehidupan kita itu memperkenankan hati Tuhan. Jadi bagi saya itu yang terlebih penting dan berkat Tuhan yang tadi saya maksud dengan menambahkan sukacita dalam kehidupan kita itu juga diperoleh tidak secara otomatis, tidak karena kita ini menikah di gereja, maka untuk seumur hidup Tuhan akan terus menambahkan sukacita kita, tidak! Jadi bagaimanakah kita ini berdua hidup, apakah kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, kalau kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan maka berkat Tuhan juga akan Tuhan curahkan, jadi kita tidak bisa membatasi pemahaman kita hanya pada upacaranya. Nah ini saya kira anggapan yang beredar sekarang ini, pokoknya menikah secara Kristen, seolah-olah nanti akan terus diberkati saya kira tidak, bergantung bagaimana keduanya hidup setelah mereka menikah. Kalau yang satu hidup tidak sesuai dengan kehendak Tuhan misalkan berfoya-foya, main judi, main perempuan lain dan sebagainya, bagaimanakah bisa mengharapkan berkat Tuhan, tidak mungkin karena hidupnya sudah tidak lagi memperkenankan Tuhan. Atau dua-duanya tidak mudah mengalah kalau ada perbedaan pendapat dua-duanya keras kepala, sombong dan sebagainya, bagaimanakah berkat Tuhan dicurahkan dalam kehidupan yang tidak suci dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi konsep berkat itu saya kira jauh lebih luas dari sekedar diberkati di gereja.
GS : Ya tapi memang betul, Pak Paul, di negara kita pada saat ini salah satu prasyarat untuk bisa mendapatkan surat keterangan pernikahan itu perlu dilakukan pemberkatan di gereja, jadi memang itu banyak unsur formalitasnya. Menanggapi hal itu, bagaimana seharusnya gereja menyikapinya?

PG : Gereja harus tetap melakukan upacaranya tapi sebelumnya perlu menyaring dengan baik, menyeleksi, meneliti, mencermati pasangan yang akan menikah itu. Jangan sampai akhirnya gereja memberkai orang yang tidak memperkenankan Tuhan, apalagi kalau misalnya jelas yang satu itu tidak seiman, yang satu itu tidak hidup dalam Tuhan misalnya, gereja berhak menolak.

Adakalanya saya kira sebagai pendeta mengakui bahwa kami ini adakalanya sungkan, masa orang mau menikah dipersulit dan sebagainya, tapi saya kira kita ini bukannya mau mempersulit tapi mau menegakkan kebenaran Tuhan juga. Jadi jangan sampai kita menjadi lembaga yang begitu sembarangan menikahkan orang, asal mereka senang kita senang ya sudah kita nikahkan mereka, saya kira itu juga salah.
IR : Kalau ada pasangan yang hamil dahulu, bagaimana gereja menolak, kalau ditolak katanya tidak ada pengampunan, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Sementara ini ada beberapa posisi ya Bu Ida, ada gereja yang mewajibkan bagi yang sudah hamil di luar nikah itu untuk menikah misalnya di aula tidak lagi di ruang ibadah atau misalnya di dlam ruang serba guna atau di rumah si mempelai; ada gereja yang mempunyai aturan seperti itu.

Tapi ada juga gereja yang memberikan izin mereka menikah dalam ruang ibadah. Bagi saya secara pribadi, tempatnya bagi saya tidak masalah kalau misalkan gereja memang menetapkan agar tempatnya di luar baik, kalau gereja berpendapat tidak apa-apa di dalam juga baik. Bagi saya yang paling penting adalah gereja perlu melihat bahwa keduanya sudah bertobat. Jadi dalam konseling pranikah kita memang mewajibkan si mempelai untuk memberikan keterangan yang jujur, sudahkah mereka berhubungan suami-istri sebelum menikah. Jangan sampai kita ini akhirnya sebagai hamba Tuhan merasa lega karena tidak hamil, tapi apa bedanya kalau mereka memang tidak hamil tapi karena menjaganya dengan baik misalnya memakai alat-alat kontraseptif, tapi mereka terus berhubungan suami istri sebelum mereka menjadi suami-istri. Jadi saya kira kita hamba Tuhan juga harus berhati-hati jangan sampai terpaku pada yang kasat mata, yang nampak saja, yang tidak nampakpun harus kita lihat. Kalau memang ada bukti mereka sudah berhubungan suami-istri dalam pranikah, dalam bimbingan pranikah kita ketahui hal itu, tugas hamba Tuhan adalah untuk meminta mereka bertobat dan menghentikan perbuatan itu. Mereka sadar apa tidak itu dosa, mereka mau tidak bertobat atas perbuatan mereka. Kalau kita melihat memang mereka tidak mau bertobat, saya sebagai hamba Tuhan akan dengan lega berkata: "Saya tidak akan nikahkan kalian." Jadi gereja berhak menolak, gereja tidak berkewajiban menerima semua orang yang mau menikah di gerejanya, tidak harus, sebab gereja adalah utusan Tuhan dan Tuhan tidak selalu membiarkan orang melakukan hal-hal sekehendak mereka. Tuhan meminta anak-anakNya untuk hidup taat kepadaNya, jadi saya kira gereja sebagai utusan Tuhan di bumi ini harus mewakili Tuhan dengan jelas juga.
GS : Jadi peran bimbingan pranikah itu penting sekali ya Pak Paul khususnya pada saat-saat seperti ini (PG :Betul) untuk memberikan pengertian yang benar. Pak Paul ini ada satu kasus yang disampaikan oleh para pendengar kita dari salah satu kota itu yang pasangan suami-istri ini sudah menikah ± 22 tahun. Nah penulis surat ini adalah seorang ibu yang usianya 42 tahun dan suaminya itu sekitar umur 50 tahun. Mereka dikarunia seorang putri yang kini sudah berusia 21 tahun, 6 tahun yang lalu itu suaminya itu menikah lagi, tapi bukan secara Kristen dalam agama yang lain dan ketika sudah mempunyai anak laki-laki, maka ibu itu membaptiskan anaknya, jadi anaknya itu dibaptiskan di sebuah kota lain dan bahkan dipestakan, diperingati. Lalu si suami itu juga beristri lagi tetapi rupanya mengalami hambatan dalam usahanya, tidak lagi menghiraukan istrinya, Pak Paul. Pertanyaan yang diajukan adalah saat ini status pernikahan antara si ibu ini dengan si suami yang kemudian sudah menikah lagi, bagaimana Pak Paul? Cerai ya tidak, karena mereka khususnya ibu ini sebagai orang Kristen tidak mau melakukan perceraian itu tetapi si suami ini 'kan tidak lagi mencukupi nafkah istrinya itu bagaimana menurut Pak Paul?

PG : OK! Jadi isi surat itu adalah menanyakan tentang suami yang menikah kembali dan menikahnya bukan secara Kristen tapi akhirnya setelah punya anak (GS : anaknya itu dibaptiskan di kota lain ak Paul ya) secara Kristen.

Sebelum saya menjawab saya hanya ingin memberikan penjelasan kepada para pendengar bahwa kami tidak selalu membahas surat yang dialamatkan kepada kami dan kami menganggap semua surat itu adalah hal-hal yang rahasia. Surat ini kami bahas karena diminta Pak Gunawan oleh (GS :Penulis surat ini memang meminta supaya ini mungkin diketahui banyak orang tetapi kita 'kan tidak menyebutkan nama, identitas atau apa). Ya secara rohani dulu Pak Gunawan saya akan bahas, saya akan bacakan dari Markus 10 dan ini adalah suatu percakapan antara Tuhan Yesus dengan murid-muridNya. Di ayat 10 dari pasal 10 "Ketika mereka sudah sampai di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu (yakni tentang perceraian ya) lalu kataNya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain ia berbuat zinah." Di sini kita melihat Pak Gunawan bahwa Tuhan menganggap pernikahan kedua itu dalam konteks tadi sebagai suatu perzinahan. Jadi jelas Tuhan berkata barangsiapa menceraikan istrinya dan kawin dengan perempuan lain dia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Kenapa disebut perzinahan? Sebab pernikahan yang kedua itu Tuhan tidak akui, oleh sebab itulah hubungannya dengan wanita lain tersebut dianggap sebagai suatu perzinahan. Jadi begini maksudnya kalau pernikahan yang kedua itu Tuhan akui sebagai pernikahan yang sah, Tuhan tidak akan panggil itu sebagai suatu perzinahan, dipanggil perzinahan karena dianggap itu adalah hubungan suami-istri atau hubungan seksual di luar pernikahan. Jadi kalau kita membahas pertanyaan ibu tadi dari segi Kristen, rohani jawabannya adalah pernikahan yang kedua itu tidak sah di mata Tuhan. Jelas-jelas sebab si suami ini memang meninggalkan istrinya yang sah untuk menikahi orang lain, jadi pernikahan yang kedua itu tidak sah di mata Tuhan.
GS : Bagaimana dengan anak mereka itu, Pak Paul?

PG : Dalam soal anak secara rohani kalau anak itu anak yang sah, begini soalnya kita tidak bisa menggunakan istilah anak haram, saya kira istilah anak haram itu anak yang tidak adil ya terhadapsi anak.

Sebab yang haram adalah hubungan antara si bapak dan si ibu itu tadi, anak itu sendiri bukanlah anak yang diharamkan (GS : Tetap karunia Tuhan ya Pak ) tetap karunia Tuhan dalam kemurahan Tuhan, Tuhan memberikan anak kepada mereka tapi keduanya itu memang telah melakukan hubungan yang haram. Si anak itu tidak bersalah apa-apa. Jadi apa status anak itu? Tetap anak itu adalah anak yang Tuhan berikan.
GS : Sejauh ini memang ada perasaan yang bersalah, Pak Paul, dalam diri si ibu ini karena dia juga terlibat di dalam pelayanan dan sebagainya, mungkin dia tahu tadi yang Pak Paul katakan bahwa itu sesuatu yang tidak benar di mata Tuhan. Pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa melepaskan perasaan bersalahnya ini, Pak Paul?

PG : Si ibu ini maksudnya si ibu yang istri sah itu, dia tidak membuat suatu kesalahan jadi dalam hal ini si ibu tidak perlu merasa bersalah sedikitpun kecuali memang dia mempunyai andil yang bsar dalam membuat si suaminya itu meninggalkan dia.

Tapi saya percaya tetap begini ya, pernikahan itu tidak bisa tidak akan mengundang problem, kita ini adalah 2 orang yang berbeda sudut pandang jadi pasti ada problem. Tapi Tuhan tidak menginginkan karena ada problem kita cari perempuan lain, jadi tidak ada alasan bagi seseorang berkata: "Karena engkau tidak mengerti aku, aku cari wanita lain," ya tidak bisa, engkau tidak cocok, engkau usahakan agar bisa cocok. Jadi dalam kasus ibu ini saya tidak tahu kasusnya secara mendetail karena memang tidak dijabarkan, namun kalau masalahnya masalah yang manusiawi antara dua orang suami istri saya kira ibu ini tidak usah merasa bersalah, tidak ada kesalahan pada dirinya, yang bersalah adalah si suami, telah meninggalkan istri yang sah menikah dengan orang lain, malahan dia itu menyangkali imannya, karena menikah tidak secara Kristiani. Mungkin dia juga tahu tidak bisa menikah secara Kristiani dan sebagainya, jadi yang jelas salah adalah si suami, si ibu ini mau melayani Tuhan silakan melayani Tuhan, dia tidak ada kesalahan dalam hal ini, yang bersalah adalah si suaminya.
GS : Jadi walaupun tidak ditanyakan Pak Paul saya tergoda untuk bertanya ini, bagaimana seandainya si ibu itu lalu tertarik pada pria lain dan dia menikah dengan pria lain itu Pak Paul?

PG : Dalam hal ini saya menggunakan ayat yang ditulis oleh rasul Paulus di 1 Korintus 7, di situ memang rasul Paulus memberi nasihat kepada para istri yang ditinggalkan oleh suami ereka, dan kebetulan suami mereka adalah orang-orang yang tidak percaya Tuhan.

Nah Paulus justru menegaskan, biarkan mereka pergi sehingga tidak timbul keributan dalam masalah perceraian ini, biarkan mereka pergi mereka adalah orang-orang yang tidak percaya Tuhan, sudah jangan membikin keributan. Paulus menekankan prinsip kedamaian, jadi dalam hal ini saya akan berkata kepada si ibu itu kalau ibu itu bersedia, saya kira biarkan ibu itu melepaskan si suaminya meskipun si ibu itu berat lakukan ini, tapi yang meninggalkan si ibu adalah si suami tersebut dan dia sudah ada istri lain. Ya di mata masyarakat memang diakui sebagai pernikahan yang sah karena sudah menikah, tapi di mata Tuhan Yesus kita tahu tidak diakui. Namun kita bisa menggunakan nasihat rasul Paulus yaitu membiarkan jangan membuat keributan, dia mau tinggalkan engkau ya sudah biarkan dia pergi. Jadi saya katakan kepada ibu ini "Silakan kalau engkau ingin memformalkan perceraianmu dengan suamimu yang telah meninggalkan engkau ini dan sudah kawin dengan orang lain silakan, biarkan." Misalkan dia nanti tertarik dan jatuh cinta dengan seseorang pria yang lain kalau saya pribadi bicara untuk diri saya, saya akan izinkan sebab pertama-tama dia adalah korban dari perbuatan suaminya ini.
GS : Banyak pasangan-pasangan Pak Paul yang mungkin dahulu sebelum jadi orang Kristen sudah menikah, lalu sekarang jadi Kristen dulu punya anak-anak menginginkan agar pernikahan mereka diberkati di gereja. Bagaimana dalam hal ini Pak Paul? Jadi misalnya saya, waktu menikah karena belum Kristen tentu tidak ada pemberkatan di gereja tapi sekarang setelah bertobat dan istri juga bertobat lalu ingin diberkati di gereja dengan pengertian supaya mungkin tadi yang Pak Paul katakan pernikahan ini diberkati.

PG : Jadi bagi saya boleh, ya boleh tidak terserah. Kalau mau diberkati ulang ya silakan, tidak mau ya tidak apa-apa. Sebab Tuhan mengakui institusi atau kelembagaan pernikahan, dilakukan oleh iapapun dalam konteks budaya apapun Tuhan akui sebagai pernikahan yang sah.

Dan sekali lagi saya tekankan berkat Tuhan bukanlah tercurah pada waktu upacara pernikahan itu, tapi pada masa setelah pernikahannya bagaimana kita hidup dengan istri atau suami kita, apakah memperkenankan Tuhan atau tidak.
GS : Memang sebaiknya itu ya, pernikahan muda-mudi kita diberkati di gereja tapi tentu dibutuhkan bimbingan agar mereka betul-betul memahami dengan demikian bisa menghargai makna pemberkatan nikah di gereja itu.

PG : Sebab itu suatu kesaksian, Pak Gunawan, waktu orang Kristen menikah dia memberikan kesaksian kepada umum bahwa Tuhan hadir dalam hubungan mereka, jadi kehadiran Tuhan itu dinyatakan melalu pernikahan Kristiani tersebut, itu maknanya.

GS : Tapi itu juga mengandung konsekuensi logis, Pak Paul, kalau seandainya pernikahan itu tidak harmonis, lalu orang juga menuduh itu lihat orang Kristen hidup berumah tangganya begitu, Pak Paul.

PG : Betul sekali.

GS : Jadi memang itu suatu tantangan juga selain kesempatan untuk bersaksi lewat kehidupan rumah tangga.

Baiklah, demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga dalam hal ini khususnya mengenai pemberkatan nikah, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



8. Persiapan Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T026B (File MP3 T026B)


Abstrak:

Dalam materi ini kita diajak untuk mengetahui, mengerti dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan sebelum kita benar-benar masuk dalam pernikahan. Di antaranya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri untuk dapat hidup bersama dengan harmonis.


Ringkasan:

Persiapan pernikahan yang diperlukan adalah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan, sekarang akan hidup bersama-sama. Bimbingan pranikah sangat diperlukan bagi pasangan muda untuk saat ini dan pelaksanaannya ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan. Persoalan yang tidak terselesaikan dengan tuntas akan muncul lagi pada masa pernikahan, dan kecenderungannya persoalan itu muncul dalam intensitas yang lebih besar, bukan makin berkurang.

Hal ini disebabkan oleh:

  1. Kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali.

Pacaran yang tepat yang perlu dilakukan oleh remaja atau pemuda kita adalah:

  1. Saat pacaran yang terbaik adalah untuk mengenal calon pasangannya ini. Yaitu mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Apakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup? Hal ini dapat dilakukan dengan banyak berkomunikasi.

Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan adalah:

  1. Mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut kepada Tuhan, karena orang yang takut akan Tuhan bagaimanapun juga akan memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, itu fondasi yang terutama.

Materi yang biasa diberikan pada masa pranikah adalah:

  1. Pernikahan dipandang dari sudut pandang Kristen.

  2. Mengenali diri sendiri, siapakah saya ini. Saya mau tidak hubungan dengan orang lain, pengenalan pribadi satu dengan yang lain.

  3. Komunikasi, bagaimana berkomunikasi dengan baik.

  4. Kemarahan, tentang bagaimana menangani kemarahan.

  5. Komitmen, apakah mereka mau komitmen untuk seumur hidup

  6. Pendidikan seksual, juga tentang anak dan harapan-harapan dalam pernikahan.

Yang biasa dianjurkan atu rekomendasi yang diberikan setelah konseling pranikah adalah:

  1. Menyetujui silakan menikah

  2. Menunda, kalau memang mereka belum siap

  3. Meminta dibatalkan, hal ini dilakukan kalau pasangan tersebut dengan jelas-jelas memperlihatkan ketidakcocokan yang sangat parah dan kalau diteruskan tidak akan cocok, bisa jadi tidak sehat sama sekali hubungan mereka itu.

Galatia 6:2, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."

Jadi setiap orang yang ingin menikah harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban dan pasangannya pun membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikulnya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi, mereka adalah para pakar di bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang persiapan pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Ibu Vivian, kami mengenal Ibu sebagai seorang pakar di bidang konseling khususnya konseling pranikah. Dalam kesempatan berharga ini kami ingin tahu lebih banyak bagaimana sebenarnya persiapan pernikahan yang dibutuhkan oleh calon pasangan suami istri itu?

VS : Persiapan pernikahan bagi mereka ialah persiapan bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri, karena selama ini mereka adalah dua pribadi dari latar belakang yang berlainan dan sekarang akan hdup bersama-sama.

Jadi kita mempersiapkan bagaimana mereka nanti bisa secara harmonis hidup bersama-sama.
GS : Tapi pola itu sebenarnya dahulu tidak pernah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, mungkin 20 atau 30 tahun yang lalu. Tetapi sekarang kita mulai melihat ada kebutuhan itu, kalau ditanyakan kepada pasangan-pasangan mereka katakan itu perlu dan baik sekali, mengapa terjadi perubahan seperti itu?

VS : Kalau dilihat dahulu orang itu lebih menerima apa yang terjadi dalam keluarga, mereka terima apa adanya sekarang orang lebih kritis. Jadi kalau terjadi sesuatu mereka cenderung lebih beran berkonfrontasi dengan pasangannya sehingga lebih cepat terjadi perselisihan dan akhirnya terjadi banyak perceraian.

Oleh sebab itu kalau saya melihat keluarga, dahulu saya ingin berkecimpung dalam pranikah karena saya melihat banyak pasangan yang menikah beberapa tahun langsung nanti bercerai. (GS :Itu keluarga Kristen yang Ibu maksudkan, pasangan-pasangan kristen?) ya keluarga Kristen.
IR : Bagaimana sebaiknya diselenggarakan, apakah secara berkelompok atau berpasangan?

VS : Berpasangan, kalau secara kelompok itu kalau kita hanya mau memberikan informasi yang umum tentang apa dalam pernikahan itu, tetapi ada secara pribadi sepasang demi sepasang. Dan juga kala memang ada masalah yang tidak bisa diselesaikan pribadi lepas pribadi, satu orang-satu orang nanti bersama-sama lagi.

(2) GS : Berdasarkan pengalaman Ibu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh calon mempelai itu untuk bimbingan pranikah?

VS : Kalau bimbingan pranikah paling sedikit kalau menurut saya adalah ± 6 kali pertemuan atau 7 kali pertemuan. Pertama kali adalah secara pribadi, pribadi maksudnya per-pasang lalu 5 kali secra kelompok, lalu 2 kali lagi secara pasangan.

Dan itu dilihat kalau memang masalahnya lebih banyak kita akan yang berpasang ini ditambah lagi.
GS : Tapi yang sering kali terjadi di gereja-gereja yang saya alami adalah orang kalau sudah memastikan tanggal pernikahannya, buru-buru ikut bimbingan pranikah, seolah-olah itu semacam katekisasi sebelum baptisan atau prasyarat sebelum mereka itu diteguhkan pernikahannya. Bagaimana kalau ada pandangan seperti itu?

VS : Oleh sebab itu di gereja seharusnya diberi pengumuman jauh sebelumnya. Siapa yang akan menikah, paling tidak 3 bulan sebelumnya sudah harus memberi tahu atau 4 bulan atau ½ tahun sebelumny, sehingga ada persiapan.

GS : Apakah bimbingan pranikah itu harus dilakukan oleh gereja?

VS : Saya kira kalau memang mau diteguhkan di gereja, gereja harus (GS : Harus melakukan itu ya) ya.

GS : Tetapi apakah badan-badan lain seperti Lembaga Bina Keluarga Kristen ini bisa melakukan?

VS : Bisa kalau ada tenaga yang kompeten, tapi paling tidak pendetanya tahu ini gereja apa yang diajarkan jadi mungkin pendetanya menambahkan sedikit-sedikit saja.

GS : Kalau membutuhkan waktu 1 tahun saya rasa memang agak sulit sekarang ini mempelai atau calon mempelai itu menentukan hari H-nya itu untuk menikah. Mereka biasanya memang agak dekat, kurang ½ tahun atau apa baru melakukan itu. Ada juga bimbingan pranikah yang diberikan kepada mereka yang bahkan berpacaran saja belum. jadi seberapa perlu gereja mengajarkan itu? misalnya saja pendidikan seks dan sebagainya.

VS : Kalau itu saya tidak mengatakan sebagai bimbingan pranikah itu adalah kita mengajarkan pergaulan, memang kita ajarkan mulai dari remaja sebelum mereka berpacaran supaya nanti tahu memilih acar yang cocok,.

Tapi bimbingan pranikah ini untuk orang yang akan menikah.
IR : Adakah keterkaitan masalah-masalah sebelum dan sesudah menikah Bu Vivian?

VS : Sebelum dan sesudah menikah biasanya kalau masalah belum diselesaikan sebelum menikah akan terbawa setelah menikah.

GS : Tetapi pandangan umum khususnya calon mempelai itu masalah yang belum terselesaikan pada waktu mereka berpacaran akan bisa diselesaikan setelah mereka menikah.

VS : Itu adalah pandangan yang salah, jadi bukannya tambah selesai tetapi tambah rumit.

GS : Misalnya sudah tahu pacarnya ini seorang yang pemarah atau pemabuk bahkan mungkin dikatakan nanti kalau sudah menikah sama saya, saya akan mencoba merubah dia. Apa betul begitu pengalaman Ibu?

VS : Kalau tidak diselesaikan bagaimana bisa berubah saya kira tidak, harus dibereskan sebelumnya.

GS : Jadi itu dilakukan sebelum mereka betul-betul memutuskan untuk menikah.
IR : Apakah perlu bagi pasangan yang masih baru menikah dapat bimbingan?

VS : Yang baru menikah, evaluasi biasanya ada. Jadi setelah menikah misalnya kalau saya, saya membimbing pasangan-pasangan ini mungkin setahun kemudian saya bertemu mereka kembali secara pribad, bagaimana apa yang terjadi, jadi evaluasi.

GS : Menurut pengalaman Pak Paul bagaimana menghadapi calon-calon mempelai yang sejak awal itu sudah bermasalah, tapi mereka tetap bertekad mau melangsungkan pernikahan? Bahkan mungkin permasalahan itu tidak disetujui orang tua dan sebagainya, konkret saja tidak disetujui misalnya?

PG : Kalau masalahnya hanyalah tidak disetujui orang tua dan tidak langsung berkaitan dengan hubungan mereka berdua, mungkin masih bisa tertangani dengan baik Pak Gunawan. Yang saya lebih cemasan adalah kalau memang mereka mempunyai masalah yang tidak terselesaikan dan terus muncul dalam masa pranikah.

Kemudian mereka menikah, kecenderungannya adalah sama seperti tadi yang disinggung Bu Vivian, masalah itu akan muncul lagi. Dan biasanya waktu muncul pada masa pernikahan muncul dalam intensitas yang lebih karena ada beberapa penyebab. Yang pertama adalah kita menghadapi problem untuk pertama kali, berbeda kalau kita menghadapinya untuk ke 10 kali. Sudah tentu akan timbul rasa bosan dan akhirnya berubah menjadi rasa muak dan lama-lama menjadi rasa masa bodoh, "Ya engkau memang tidak bisa diubah lagi, aku sudah membicarakan hal ini yang ke 10 kalinya dan engkau tetap mau melakukan apa yang engkau lakukan ya sudah, engkau mau berbuat apa aku tidak peduli lagi." Jadi biasanya kalau muncul di masa pernikahan dan sudah pernah ada di masa sebelum menikah, kecenderungannya memang muncul dalam intensitas yang lebih besar atau lebih serius. Kadang kala tadi Pak Gunawan juga sudah singgung, ada kalanya orang yang berpacaran mempunyai suatu harapan mujizat akan terjadi, yaitu setelah menikah tiba-tiba masalah akan terselesaikan. Kadang kala saya bertanya seperti ini kepada pasangan yang sedang menjalani konseling pranikah, mereka tidak cocok dan saya sudah tekankan itu kepada mereka tapi tetap mereka mau menikah. Saya suka menggunakan suatu ilustrasi. Saya suka katakan "Bayangkan engkau sekarang sudah menikah," saya ambil suatu kertas saya berkata: "Bayangkan ini adalah surat nikah engkau, sekarang saya tanya apa yang berubah dalam hubungan kamu berdua?" Dua-dua diam, sebab memang pernikahan adalah seperti itu sebetulnya, yaitu suatu hubungan yang sekarang disahkan tapi hubungan itu sendiri tetap sama, tidak ada yang berubah sebetulnya. Kalau sebelumnya tidak cocok, mempunyai masalah dengan kecemburuan misalnya itu akan menjadi masalah yang menyertai mereka. Tapi adakalanya memang muncul suatu harapan-harapan gaib, seolah-olah semua akan terselesaikan ya tidak. Dengan adanya kertas surat nikah ini apakah ada yang berubah dalam hubungan engkau berdua? Tidak ada persis sama, jadi itu yang saya kira kita ini sebagai orang yang lebih tua atau sebagai konselor pranikah perlu tekankan pada pasangan muda bahwa pernikahan tidak mempunyai atau mengandung solusi yang gaib, yang bisa menyelesaikan problem mereka.
GS : Tadi saya ambil contoh tidak disetujui orang tua karena masih banyak yang terjadi seperti itu dan setelah mereka menikah apalagi setelah mempunyai anak, lalu orang tuanya itu luluh hatinya mungkin sudah menerima. Karena itu yang saya katakan tadi ada masalah sebelum pernikahan kemudian setelah menikah selesai ternyata pernikahan seperti itu. Kalau kasusnya tidak disetujui orang tua, jadi bisa terjadi seperti itu Bu Vivian?

VS : Ya kalau tadi katakan setelah anak lahir lalu disetujui. Itu karena masalah tidak disetujui, tapi kalau masalah yang pribadi, masalah interaksi saya kira tidak akan selesai.

GS : Bahkan mungkin bisa lebih parah karena tidak cocok. Masalahnya sekarang pada saat pacaran tadi yang sebenarnya digunakan untuk saling mengenal. Menurut saran atau pendapat Bu Vivian, yang bisa digunakan oleh remaja kita itu atau pemuda kita yang akan menikah itu bagaimana menggunakan saat-saat pacaran itu?

VS : Saat pacaran adalah saat terbaik untuk mengenal calon pasangannya ini, jadi mengenal pribadinya, karakternya, orangnya, latar belakangnya. Jadi saat yang terbaik adalah mengenal orang ini pakah saya bisa hidup dengan dia seumur hidup.

GS : Contoh konkretnya dengan cara seperti apa Bu?

VS : Lebih banyak berkomunikasi.

GS : Ya kalau ngomong-ngomong masih pacaran bisa sampai lama, tapi masalahnya apa yang mereka omong kita tidak tahu.

VS : Biasanya omong-omong bukan untuk mengenal (GS :Membicarakan sesuatu di luar hubungan mereka) betul.

IR : Tapi sulitnya kalau mereka sudah tahu kalau mereka tidak cocok, tapi tetap pada pendiriannya untuk terus melanjutkan sampai ke pernikahan, apakah ada saran-saran untuk memberikan bekal bagi mereka yang tidak cocok?

VS : Biasanya dengan konseling pranikah. Jadi mereka itu diajak untuk membuka pandangannya mereka, membuka matanya.

GS : Memang sekarang yang banyak terjadi di dalam pembinaan pranikah itu adalah sifat pengajaran, sifat menambah ilmu pengetahuan mereka tentang persiapan-persiapan pernikahan. Tetapi latihan seperti latihan mendengarkan, latihan merasakan perasaan orang lain dan sebagainya itu jarang sekali dilakukan, Bu?

VS : Ya pengajaran memang perlu juga, tapi latihan dalam kelompok kami juga ada. Yang terpenting adalah penyesuaiannya orang dua ini, jadi apa yang selama ini saya selalu tekankan, selama ini ang jadi masalah kalian berdua itu apa? Dan biasanya kelihatan ini orang yang berdua ini duduk ini mereka kelihatan duduk ini dengan damai atau duduk dengan ada masalah bisa kelihatan.

Biasanya saya tanya masalah apa yang tidak beres dari kalian. Jadi itu yang dibereskan sebelum menikah.
GS : Apakah mungkin Ibu punya suatu contoh konkret dari satu calon pasangan suami istri yang tadinya itu memang tidak sepaham atau tidak cocok, lalu melalui bimbingan pranikah ini mereka bisa ditolong untuk menemukan masalahnya Bu?

VS : Ya ada (GS : Misalnya Bu) misalnya ada satu pasangan yang saya bimbing ini mereka kelihatannya tidak cocok karena yang perempuan ini memangnya pendidikannya lebih tinggi dan memang umurnyalebih tua dan dia ini memangnya lebih cepat mengambil keputusan.

Yang laki memangnya lebih lambat mengambil keputusan jadi mereka ini selalu bertengkar karena yang laki dia mengatakan meskipun saya ini umurnya lebih muda, saya ini saya harus jadi kepala keluarga, tetapi dalam kenyataan tidak bisa. Oleh sebab itu mereka bertengkar terus. Setelah konseling pranikah beberapa kali mereka memutuskan menunda dan membereskan, jadi yang perempuan belajar mengungkapkan pendapatnya yang baik itu bukan dengan mendikte suaminya, calon suaminya selalu dia dikte, ini yang membuat calon suaminya marah. Kita belajar bagaimana mengungkapkan pendapat dengan tidak mendikte akhirnya dia berubah, cara berkomunikasinya ini juga berubah menjadi bagaimana bisa menjadi kepala keluarga akhirnya setelah bisa selesai, mereka berubah.
GS : Bimbingan seperti itu tidak bisa dilakukan dalam bentuk kelas Bu?

VS : Itu yang pribadi (GS : harus pribadi ya) ya, jadi saya katakan kelas penting ada diskusi kelompok tetapi juga harus ada untuk pasangan secara pribadi, orang per orang, sepasang dan juga seara kelompok.

GS : Sekarang ini banyak sarana untuk saling mempertemukan seperti biro jodoh, menurut pandangan Ibu Vivian bagaimana kalau orang mengatakan menemukan jodohnya lewat kesempatan-kesempatan yang ada seperti itu. Jadi mereka biasanya tidak ada tindak lanjutnya, bagaimana menurut Ibu?

VS : Kalau itu adalah sesuatu yang tidak mudah, tahu orangnya lewat tulisan, gambaran tetapi menentukan pernikahan dengan cara itu, saya kira kurang bijaksana. Sebaiknya kita harus ketemu orangya, mengenal orangnya dulu.

GS : Tidak ada sistem kilat-kilatan?
(3) IR : Apakah ada Bu Vivian, faktor-faktor yang memperkuat pernikahan?

VS : Faktor-faktor yang memperkuat pernikahan kalau saya melihat, mereka harus mempunyai hati yang sungguh-sungguh takut pada Tuhan, karena orang yang takut pada Tuhan bagaimanapun juga akan beusaha untuk memperbaiki diri dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan.

Itu fondasi yang terutama.

PG : Dalam pengalaman Bu Vivian, apakah ada problem-problem tertentu yang Ibu temukan pada masa konseling pranikah. Yang dapat Ibu gunakan sebagai indikator, apakah pernikahan ini akan berjalan baik atau tidak, apakah ada isu-isu atau masalah-masalah yang sangat krusial yang mereka harus bisa selesaikan dengan baik?

VS : Terutama masalah komunikasi, kalau dalam kelompok biasanya waktu pengajaran, saya biasanya mulai dengan pengajaran itu kalau yang bicara hanya dari dua orang, ini entah laki saja yang perepuan diam saja.

Ini saya kira sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu problemlah di komunikasinya. Atau yang perempuan bicara terus yang suaminya diam saja, itu saya melihat bahwa mereka tidak ada kebersamaan.
GS : Kalau memang yang laki pendiam misalnya, jadi sejak dari awalnya pendiam.

VS : Biasanya memang kalau kami diskusi tetapi saya selalu tanyakan satu kelompok lalu satu pasang. Pandangan kalian berdua apa, selalu yang menjawab ini perempuan saja atau yang laki saja. Inisesuatu yang tidak beres.

(GS: Indikasi yang perlu diwaspadai itu) ya itu harus diwaspadai. Dan juga mungkin dalam cara menjawab itu kelihatan ada kemarahan, satu pasang yang sekarang saya bimbing ini waktu menjawab kelihatan ada kemarahan, ini apa ini, tapi karena waktu itu kelompok saya tidak membicarakan apa-apa setelah kelompok selesai saya panggil. Saya melihat beberapa minggu ini ada kemarahan, ternyata ada yang terpendam lama sekali yaitu kemarahan karena cemburu pada calon istrinya ini.
GS : Bu Vivian, tadi Ibu katakan bisa dalam bentuk kelas jadi bersama-sama dan kelompok diajarkan, mungkin kami boleh tahu materi-materi apa yang biasanya disampaikan dalam bentuk kelas itu?

VS : Yang saya sampaikan itu materi terutama yaitu tentang pernikahan dari sudut pandang Kristen, itu mereka sebagai fondasinya (GS: Harus tahu itu) harus tahu tanggung jawabnya sebagai suami itri dari pandangan firman Tuhan.

Lalu yang saya tekankan juga tentang mereka mengenal diri mereka sendiri, jadi siapakah saya ini dan saya mau menikah ini adalah menurut pandangan Kristen seumur hidup, jadi saya harus hubungan dengan orang, pengenalan pribadi satu dengan yang lainnya. Lalu juga tentang komunikasi bagaimana berkomunikasi dengan baik, lalu juga materi yang lain adalah tentang kemarahan, bagaimanapun juga kita hidup bersama-sama ini tentu ada kemarahan lalu bagaimana menangani kemarahan. Hal yang lain adalah tentang komitmen apa mereka mau komitmen seumur hidup, yang lain lagi adalah tentang pendidikan seksual, anak, harapan-harapan dalam pernikahan karena biasanya waktu pacaran harapannya tinggi-tinggi, kenyataannya tidak tahu, kira-kira seperti itu.
GS : Di samping itu ada latihan-latihan yang tadi Ibu katakan dilakukan sepasang-sepasang atau sendiri-sendiri (VS :Betul). Kalau seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama ya Bu?

VS : Ya, saya katakan paling sedikit 6, 7 kali dan setiap kali itu ada 2 jam.

GS : Biasanya kalau dalam kelompok, pengalaman Ibu, apakah jumlahnya makin lama makin menyusut. Jadi misalnya saat pertama itu bisa sampai 10 pasang, sampai pada pelajaran terakhir tinggal 3 pasang, apa tidak terjadi seperti itu?

VS : Ada yang terjadi seperti itu memangnya kadang-kadang tidak datang. Tapi saya mengatakan kalau kamu tidak datang harus ditambah (GS: Mengikuti yang lain ya) mengikuti yang lain, jadi harus iselesaikan.

GS : Mungkin juga faktor dorongan dari orang tua itu penting untuk menganjurkan mereka ikut.

VS : Ya tapi mereka sendiri kalau saya evaluasi, mereka sendiri mengatakan banyak manfaatnya dan minta ditambah waktunya.

GS : Sebelum mereka memutuskan, mungkin dari bimbingan itu kelihatan bahwa mereka itu ternyata tidak cocok sehingga mereka harus memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih lanjut yaitu pernikahan.

VS : Selama ini saya belum pernah seperti itu, yang saya pernah mengalami yaitu yang tidak cocok tapi bisa ditunda sampai 3 kali. Dan waktu mereka ketiga kali ini apa saya harus tunda sekali lai, ditunda sekali lagi harus batal tetapi ternyata kami bersama-sama membereskan ternyata bisa selesai.

Apa ada pengalaman yang bisa disampaikan Pak Paul?

PG : Memang akhirnya ada 3 rekomendasi yang bisa kita berikan, yang pertama menyetujui silakan menikah seperti yang telah dibicarakan tanggalnya, yang kedua adalah menunda kalau kita rasakan meang mereka belum siap dan yang ketiga adalah meminta dibatalkan, itu mungkin sekali.

Ada pasangan yang sangat jelas memperlihatkan ketidakcocokan dan kalau diteruskan tidak akan bisa cocok, jadi tidak sehat sama sekali hubungan seperti ini. Adakalanya harus langsung kami katakan, "Kalian berdua sama sekali tidak cocok, jadi sebaiknya dibatalkan daripada ditunda 10 tahun, lebih baik bilang terus terang dibatalkan sekarang saja."
GS : Itu menyakitkan sekali Pak Paul, tapi masih lebih baik daripada kalau mereka melanjutkan pernikahan lalu putus di tengah jalan. Sehubungan dengan persiapan pernikahan ini, mungkin Pak Paul ada ayat firman Tuhan atau yang menegaskan bahwa bimbingan pranikah itu sesuatu yang perlu untuk mempersiapkan pasangan karena yang tadi kita lihat ini 'kan menjadi suatu perkembangan baru, yang dulu tidak dirasakan sebagai kebutuhan, sekarang dirasakan sebagai kebutuhan apakah memang seperti itu Pak Paul?

PG : Saya kira memang demikian Pak Gunawan, masyarakat atau kita semua makin hari makin menjadi masyarakat yang berpusat pada kenikmatan pribadi. Kita menikah supaya kita senang, bahagia. Suatukonsep bahwa pernikahan itu tidak selalu membawa kebahagiaan karena itu kita harus memikul beban satu sama lain.

Konsep ini perlu ditanamkan juga pada pasangan-pasangan yang mau menikah. Firman Tuhan yang langsung muncul dalam benak saya adalah Galatia 6:2 "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Jadi saya kira setiap orang yang ingin menikah, harus siap memikul beban pasangannya. Bahwa dia masuk ke pernikahan membawa satu beban, tapi pasangannya membawa satu beban yang lain dan dia harus siap memikul. Sebab dia tidak akan mendapatkan semua yang dia inginkan dan pasangannya itu tidak berkemampuan, tidak harus menyediakan semua kebahagiaan untuknya. Akan ada masalah yang dimiliki pasangannya yang mungkin sebelumnya tidak disadari. Dia harus siap semua itu dan memikulnya sebagai bebannya pula. Jadi konsep terhadap pernikahan dan harapan-harapan yang tersembunyi itu harus dimunculkan dalam konseling pranikah sehingga keduanya bisa menyadari apa yang sebetulnya diharapkan secara tersembunyi. Dan banyak di antara kita mengharapkan kebahagiaan itu, tapi kita yang sudah menikah bisa berkata pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan ada beban yang harus kita pikul.
GS : Ya memang saya rasa ayat itu tepat sekali dan kita perlu belajar dari ayat firman Tuhan tadi. Bu Vivian kalau seseorang itu sudah menjalani persiapan pranikah, apakah ada suatu jaminan bahwa pernikahan mereka itu tidak cocok atau bagaimana?

VS : Konseling pranikah ini hanya membekali mereka tetapi mereka harus bekerja keras untuk melaksanakan dalam pernikahan (GS : Dalam kondisi saling menolong Bu ya) ya jadi harus bekerja keras sumur hidupnya, ini hanya bekal saja.

GS : Tapi itu jauh lebih baik daripada mereka menjalani hidup pernikahan tanpa bekal. Jadi saya rasa khususnya bagi para pendengar yang belum memasuki jenjang pernikahan, apa yang kita bicarakan pada kesempatan ini sangat berguna dan Anda dapat menghubungi baik gereja maupun lembaga-lembaga lain yang bisa dipersiapkan sebelum memasuki dunia pernikahan.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar persiapan kehidupan pernikahan bersama Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



9. Kejenuhan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T036A (File MP3 T036A)


Abstrak:

Kejenuhan sesuatu yang dapat terjadi di dalam pernikahan dan cenderung memunculkan keraguan akan cinta dari masing-masing pasangan, namun hal ini masih dapat untuk diatasi.


Ringkasan:

Tidak bisa disangkali bahwa sebagai manusia kita gampang bosan, baik dalam pekerjaan, dalam situasi tertentu, dalam pelayanan, bahkan juga di dalam pernikahan.

Kejenuhan adalah sesuatu yang bisa timbul pada diri siapa saja. Kejenuhan yang muncul secara berkala dan bukan dalam derajat yang tinggi masih bisa dimaklumi. Meskipun idealnya, kalau itu muncul kita harus melihat hal itu sebagai tanda awas dan kemudian mengevaluasi diri, kenapa sampai muncul perasaan jenuh seperti itu. Sebab kalau pernikahan itu diisi dengan hal-hal yang dinamis dan menyenangkan seharusnya kejenuhan itu tidak muncul.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya rasa jenuh:

  1. Problem yang tak terselesaikan
  2. Harapan yang tak terpenuhi

Jadi dengan kata lain pernikahan itu seperti suatu keseimbangan, suatu equilibrium dimana harus ada keseimbangan antara dua faktor itu. Perlu diingat bahwa pada dasarnya pernikahan perlu dipupuk, agar kuat dan supaya kita yang menjadi insan nikah bisa merasakan keamanan. Rasa aman perlu ditanamkan dan dipupuk dalam pernikahan. Satu hal yang juga perlu saya kemukakan, cinta itu bisa padam. Ada orang yang beranggapan dan berharap, sekali mencintai akan selama-lamanya mencintai. Atau sekali dicintai selama-lamanya akan dicintai. Kenyataannya tidaklah demikian, kita bisa kurang mencintai dan kebalikannya pasangan kita bisa kurang mencintai kita pula.

Kalau cinta itu sampai padam, sulit untuk menghidupkannya kembali. Jauh lebih sulit daripada memupuk hubungan pernikahan agar cinta itu tidak padam. Kita perlu membangun suatu hubungan yang saling mengisi. Maksudnya, mengisi kebutuhan mendasar, sehingga waktu kita diperhatikan dan dicintai kita merasakan diri ini berharga.

Pernikahan yang bisa terhindar dari kejenuhan adalah pernikahan yang mengisi. Kalau boleh saya gunakan istilah tabungan, orang yang rajin menabung, yaitu si suami rajin menabung dan si isteri rajin menabung, maka tabungan pernikahannya akan penuh. Itulah yang sangat berharga. Orang yang memberikan waktu untuk pasangannya adalah orang yang menabung.

Saya melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mempunyai 2 sisi yang kelihatannya paradoks:

  1. Kita menikah karena pernikahan itu memenuhi kodrat kita sebagai manusia sosial, kita inginkan kedekatan dan keintiman, itu sebabnya kita menikah.
  2. Di pihak lain, sebetulnya pernikahan itu mempunyai sisi yang berlawanan dengan kodrat manusiawi, yaitu kita adalah orang yang tidak tahan lama dengan sesuatu yang sama.

Matius 4:1 dicatat: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti", tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah."

Yesus Tuhan kita sudah tentu dalam problem yang besar karena tidak makan setelah 40 hari 40 malam berpuasa. Dan jalan pintas yang tercepat adalah memerintahkan batu menjadi roti, dan Ia mampu melakukannya. Tapi disini Tuhan Yesus memberikan suatu jalan keluar yang lebih panjang yaitu mempercayakan problem atau kesulitan hidupnya kepada Allah. Sebab yang lebih penting daripada jalan pintas adalah mentaati firman yang keluar dari mulut Allah sendiri. Bagi siapa yang sedang mengalami kejenuhan, kebosanan, atau godaan. Nasihat Firman Tuhan, adalah pentingkan dan taatilah yang keluar dari mulut Allah. Sekalipun jalan Allah mungkin lebih panjang tidak seperti jalan pintas yang ditawarkan oleh si iblis, tapi ini yang membawa kita pada kebahagiaan sejati.

Firman Tuhan merupakan salah satu hal yang sangat penting di dalam menyuburkan kehidupan pernikahan, supaya pasangan jangan cepat bosan dan mengokohkan ikatan pernikahan mereka. Jadi membaca firman Tuhan bersama-sama dan mensharingkannya antara suami dan isteri itu penting sekali.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga ). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini kami akan berbincang-bincang tentang kebosanan atau kejenuhan di dalam pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, tidak bisa disangkali, bahwa kita sebagai manusia mudah bosan, baik di dalam pekerjaan, di dalam situasi tertentu, di dalam pelayanan bahkan juga di dalam pernikahan. Sebenarnya hal itu wajar atau tidak wajar, Pak Paul?

PG : Kejenuhan adalah sesuatu yang bisa timbul pada diri kita, Pak Gunawan, jadi saya kira kejenuhan yang muncul secara berkala dan bukan dalam derajat yang tinggi masih bisa dimaklumi dalampernikahan.

Meskipun idealnya kalau itu muncul, kita seharusnya melihat hal itu sebagai tanda awas agar kita melihat kenapa sampai muncul perasaan seperti ini. Sebab kalau pernikahan itu diisi dengan hal-hal dinamis dan menyenangkan kita, seharusnya kejenuhan itu tidak muncul. Tapi sekali lagi saya tekankan kalaupun sampai muncul dalam derajat yang tidak terlalu tinggi dan hanya sekali-sekali, jarang-jarang, saya kira itu masih bisa dimaklumi.
(1) GS : Ya, tapi pada awalnya kita itu menggebu-gebu, bersemangat tinggi untuk menikah. Setelah menikah justru setelah sekian tahun mungkin kita merasa bosan, merasa jemu dengan pernikahan itu sendiri. Sebetulnya faktor-faktor apa yang menyebabkan timbulnya perasaan bosan atau jemu itu, Pak Paul?

PG : Kita ini manusia yang memang mempunyai daya tarik, atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode trtentu akan kehilangan daya tariknya misalkan segi kecantikan, kita mencintai istri kita karena dia cantik, tapi setelah melewati periode tertentu kecantikannya itu tidak lagi terlalu memukau kita seperti dahulu kala, kita mencintai pria ini juga, salah satu faktor adalah kegantengannya dan kelembutannya tapi lama-kelamaan itu menjadi suatu yang biasa, memang itu adalah kodrat manusiawi.

Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula.
GS : Apakah kegiatan-kegiatan yang monoton di dalam rumah tangga itu akan menimbulkan rasa bosan dalam hubungan pernikahan, Pak Paul?

PG : Adakalanya hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat kita jenuh dalam pernikahan ini. Tapi sebetulnya ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan kejenuan tersebut.

GS : Misalnya apa, Pak Paul?

PG : Hubungan yang saling mengisi, menyuburkan, menggairahkan, seharusnya mengimbangi kecenderungan kita untuk merasa jenuh. Jadi dengan kata lain, pernikahan itu seperti suatu keseimbangan,suatu equilibrium di mana harus ada keseimbangan antara dua faktor itu.

Di satu pihak memang kecenderungan manusia secara kodrati adalah untuk merasa bosan. Dengan cara itulah pernikahan kita akan langgeng.
GS : Berarti setiap pasangan yang memasuki pernikahan sebenarnya diharapkan sadar bahwa kalau dia tidak siap diri atau siap mental, mereka akan terjebak dengan kebosanan itu sendiri.

PG : Ya, tapi Pak Gunawan, selain dari hal-hal yang normal, alamiah, yang bisa membuat kita bosan, sebetulnya yang sering terjadi adalah pernikahan kita itu tidaklah sebaik yang kita harapkan. Dengan kata lain waktu kita melihat hal-hal yang tidak kita sukai tentang pasangan kita, perasaan-perasaan tidak menyukai itu, akhirnya mulai menggerogoti kita, lalu timbul perasaan kurang menyukai pasangan kita itu. Akhirnya yang tidak suka makin menguat, makin banyak, makin melemah pulalah rasa suka kita karena tidak mungkin kita menyukai dan tidak menyukai dalam jumlah yang sama. Biasanya yang satunya akan tambah banyak, yang satunya akan tambah kurang.

IR : Kalau mengalami hal seperti itu, bagaimana cara mengatasinya?

PG : Kita memang harus menyadari apa yang tidak kita sukai. Saya harus mengakui dalam pernikahan saya pribadi, pada awal-awalnya saya terbiasa untuk tidak mengutarakan yang tidak saya sukai epada istri saya.

Saya mempunyai anggapan bahwa yang tidak saya sukai saya simpan, yang saya sukai saya beritahu. Istri saya jauh lebih terbuka untuk dua-duanya. Yang dia sukai diekspresikan, yang dia tidak sukai juga dinyatakan kepada saya. Akhirnya saya perhatikan yang saya alami adalah rasa ketertekanan, kadang-kadang bisa meletus, meledak dalam situasi yang lain. Jadi kita perlu menyadari apa yang tidak kita sukai dan kita harus akui. Ya memang ada yang tidak kita sukai, setelah itu kita coba komunikasikan dengan pasangan kita agar bisa mulai kita selesaikan, tidak berarti pasti selesai, namun dengan kita buka mudah-mudahan kesempatan untuk menyelesaikannya lebih ada.
GS : Kebosanan itu terkait erat dengan emosi kita, dengan perasaan kita ya Pak Paul, apakah kalau timbul kebosanan lalu ada perasaan lain yang sebenarnya mengatakan, jangan-jangan kamu ini tidak mencintai pasanganmu lagi?

PG : Ya, itu dugaan yang acapkali muncul Pak Gunawan, jadi kita ini cenderung beranggapan bahwa pasangan kita itu sudah berubah tidak lagi seperti dulu, cintanya kepada kita mulai berkurang.Jadi saya mau katakan bahwa pada dasarnya pernikahan itu memang perlu dipupuk agar kuat, supaya kita yang menjadi insan nikah itu merasakan keamanan.

Rasa tidak aman cenderung membuat kita berpikir apakah dia masih mencintai kita atau tidak. Tapi rasa aman tidak menggugah kita untuk mempertanyakan hal-hal seperti itu. Rasa aman sesuatu yang perlu ditanamkan dan dipupuk dalam pernikahan itu. Nah otomatis ini berkaitan dengan perasaan dicintai itu. Satu hal yang saya juga perlu kemukakan adalah cinta itu bisa padam, jadi ada orang yang beranggapan sekali mencintai, akan selama-lamanya mencintai. Sekali dicintai selama-lamanya akan dicintai, ini harapan pada pasangan kita. Kenyataan itu tidak demikian, cinta itu bisa padam, kita bisa kurang mencintai dan kebalikannya pasangan kita bisa kurang mencintai kita pula.
(2) IR : Apa akibat dari kejenuhan itu, Pak Paul?

PG : Salah satunya karena kejenuhan atau biasanya juga yang sering terjadi adalah karena adanya problem yang tidak terselesaikan atau harapan yang tidak terpenuhi. Jadi dua hal itu seringkal menjadi penyebab munculnya rasa jenuh atau padamnya cinta kita.

Ya saya ulang lagi, dua hal itu adalah problem yang tidak terselesaikan dan harapan yang tidak terpenuhi.
GS : Padahal kalau cinta itu sampai padam, untuk menghidupkan kembali sulit Pak Paul, jauh lebih sulit daripada tadi yang Pak Paul katakan memupuk hubungan pernikahan supaya cinta itu tidak padam.

PG : Ya betul, jadi yang sudah padam untuk dihidupkan lagi sangat susah. Harus saya akui lebih susah menghidupkan yang sudah padam.

(3) GS : Kalau tadi Pak Paul sudah menyinggung sedikit tentang memupuk hubungan pernikahan supaya kebosanan itu jangan menjadi-jadi atau menguasai kehidupan kita, hal apa yang bisa kita lakukan?

PG : Kita memang perlu membangun suatu hubungan yang saling mengisi. Saya mau tekankan kata mengisi ini, sebab saya mau mengibaratkan kita ini seperti wadah yang kosong yang perlu diisi. Sebtulnya kita datang ke pernikahan, tidak bisa tidak mengharapkan pasangan kita mengisi kita.

Meskipun kita orang yang mandiri, orang yang sudah sehat tetapi tetap terbersit ya, harapan akan pasangan kita untuk mengisi kita. Saya maksudkan adalah kita mengharapkan, nomor satu ya, pasangan kita itu bisa mengerti kita, kita adalah orang yang sangat butuh akan pengertian, supaya kita ini merasakan hidup ini masuk akal. Kalau kita hidup di tengah-tengah orang yang tidak bisa mengerti kita, kita merasakan hidup ini tidak masuk akal. Dan kedua kita merasa kesendirian atau sepi, tidak ada yang bisa benar-benar memahami kita. Salah satu hal yang mendasar yang kita harapkan dari pasangan kita adalah dimengerti. Seperti yang pernah kita singgung juga dalam siaran radio yang lampau, adakalanya problem belum bisa selesai pada hari yang sama, tapi kalau kita merasakan bahwa pasangan kita sudah mengerti yang ingin kita sampaikan atau kemukakan, kita merasa lebih lega sebetulnya. Jadi kebutuhan untuk dimengerti itu penting sekali, ini adalah salah satu dari jumlah kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. Mengisi artinya adalah mengisi kebutuhan mendasar seperti itu, membuat kita misalnya merasakan kita ini berharga, waktu kita ini dicintai, diperhatikan kita merasakan diri kita berharga, itu salah satu kebutuhan. Jadi sebetulnya pernikahan yang bisa terhindar dari kejenuhan adalah pernikahan yang mengisi atau kalau boleh saya gunakan istilah tabungan, orang yang rajin menabung, si suami rajin menabung, istri rajin menabung sehingga tabungannya akan penuh. Itulah tabungan pernikahan yang sebetulnya sangat berharga.
GS : Tapi justru yang sering terjadi Pak Paul, kalau salah satu mulai bosan, pasangannya itu akan sangat mudah terpengaruh untuk jadi bosan sekali, Pak Paul, sehingga sulit diharapkan untuk mengisi yang bosan itu tadi.

PG : Ya, betul sebab seperti ada pepatah bilang, kita tidak bisa bertepuk sebelah tangan Pak Gunawan. Jadi waktu kita merasakan usaha-usaha kita tidak disambut, akhirnya mulai kecil hati da berhenti, lalu tidak mengambil inisiatif lagi.

Salah satu hal yang bisa membunuh pernikahan adalah keputusasaan, Pak Gunawan. Keputusasaan karena kita merasa bahwa yang kita harapkan tidak terpenuhi, yang kita harapkan misalnya pengisian, itu yang tadi sudah saya sebut atau mengharapkan pasangan kita berubah, mungkin dia berubah nanti kalau pekerjaannya lebih baik. Jadi kita senantiasa membuat skenario yang mengharapkan pasangan kita akan berubah, masalahnya adalah kalau dia tidak berubah.
GS : Ya, jadi putus asa.

PG : Kita akan jadi sangat putus asa.

IR : Dan juga faktor waktu ya Pak Paul? Seringkali kalau suami sudah terlalu sibuk, tidak ada waktu untuk berduaan misalnya dengan istrinya, itu bisa juga membuat hubungan bosan ya, Pak Paul?

PG : Betul, itu adalah salah satu faktor pengisian juga Bu Ida, jadi tabungan. Orang yang memberikan waktu untuk pasangannya adalah orang yang menabung sebetulnya. Sebab tidak bisa disangkalbahwa pepatah kita 'semakin kenal akan semakin mencintai' itu memang betul.

Makin kita jauh makin hilanglah ingatan atau memori kita tentang pasangan kita. Makin kuat ingatan kita, apalagi kalau ingatan itu ingatan yang positif makin menghangatkan hati kita, makin mencintai dia. Itu sebabnya hubungan jarak jauh cenderung mengeringkan relasi/hubungan suami istri.
IR : Soalnya ada pengakuan dari pasangan suami istri ya, sudah kawin beberapa puluh tahun. Tapi mereka masih mesra Pak Paul, karena selalu menyediakan waktu, jalan-jalan berdua tanpa anak, keliling, ke pasar juga berdua itu membangun keintiman, Pak Paul sehingga satu dengan yang lainnya itu katanya merasa tidak bosan begitu, masih tetap akrab.

PG : Betul sekali, memang ada orang yang berkata jangan sering-sering ketemu, nanti sering cekcok. Tapi sebetulnya itu menandakan hubungan yang dangkal ya Bu Ida, justru hubungan yang baik sperti yang tadi Bu Ida ceritakan, yaitu hubungan yang dilandasi oleh interaksi, yang cukup sering.

Mereka jarang ketemu akhirnya makin mematikan pohon itu.
GS : Mungkin yang dibutuhkan di sana kreatifitas ya Pak Paul, dari suami istri itu untuk membuat supaya pasangannya itu tidak bosan. Tadi Pak Paul katakan di awal pembicaraan kita bahwa kecenderungan setiap kita itu adalah menyenangi hal-hal yang baru. Masalahnya di sana Pak Paul, kita tidak terbiasa untuk berkreasi di dalam hubungan pernikahan.

PG : Betul, Pak Gunawan, saya melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mempunyai 2 sisi. Sebetulnya dua sisi yang kelihatannya paradoks. Kita menikah karena pernikahan itu memenuhi kodrat kit sebagai manusia sosial, kita menginginkan kedekatan, keintiman itu sebabnya kita menikah.

Dan pernikahan itu memberikan wadah untuk terpenuhinyalah kebutuhan keintiman tersebut. Di pihak lain sebetulnya pernikahan itu mempunyai sisi yang berlawanan dengan kodrat kita yaitu kita ini memang orang yang tidak tahan lama dengan sesuatu yang sama, sejak kecil kita terbiasa hidup dengan yang baru. Mainan yang lama yang tidak kita sukai akan kita singkirkan, kita minta dibelikan mainan yang baru. Tiba-tiba kita sekarang sudah besar kita menikah dengan orang yang kita cintai, tapi lama-kelamaan mulai ada problem, ada konflik. Cinta itu tidak lagi segemerlap yang sebelumnya, kejenuhan itu muncul. Tapi kita tidak bisa mengatakan ya karena engkau barang bekas, aku sudah bosan aku hendak melepaskan engkau dan mencari yang baru. Itu bertentangan dengan yang Tuhan minta, tapi sesungguhnya kita harus mengakui itu dalam kodrat manusiawi kita. Kita tidak suka mempertahankan barang yang lama terus-menerus karena kehilangan daya tariknya. Mobil kita pakai hanya 5, 6 tahun, 10 tahun kemudian kita mengganti dengan mobil yang baru. Seenak apapun mobil itu kalau kita sudah memakainya lama-lama kita merasa bosan. Jadi pernikahan memang mempunyai sisi atau aspek yang paradoks dan kita harus bekerja keras untuk mempertahankannya dan melawan sifat manusiawi kita itu. Tadi yang Pak Gunawan singgung, yaitu kita harus kreatif, Pak Gunawan dan Ibu Ida, agar kita bisa mengatasi kodrat manusiawi kita yang cenderung jenuh. Sebetulnya saya harus berkata bahwa yang namanya kreatif tidak memerlukan kreatifitas yang sangat tinggi, yang tadi Ibu Ida contohkan berjalan berdua, pergi belanja berdua, itu sesuatu yang bisa dilakukan baik oleh yang lulusan SD, yang tidak sekolah maupun yang lulusan perguruan tinggi, itu bisa dilakukan oleh semua orang sebetulnya.
(4) GS : Pak Paul, kebosanan itu sebenarnya tidak datang tiba-tiba ya Pak Paul, sebenarnya sebagai pasangan kita bisa mengenali tanda-tanda bahwa pasangan kita sedang bosan dalam pernikahan itu. Dan tanda-tanda apa yang lazimnya muncul?

PG : Salah satu tanda adalah kita cepat merasa terganggu dengan pasangan kita. Yang saya maksud adalah kita misalkan ditanya oleh pasangan kita kenapa pulangnya terlambat, kita terganggu, kia jengkel, kita marah.

Saya kira itu suatu tanda bahwa kita ini bosan atau tidak lagi menikmati hubungan ini. Misalkan kita pulang belum makan atau sudah makan, ditanyai oleh pasangan kita, sudah makan belum, mau makan, kita kemudian marah terganggu, kalau saya mau makan saya beritahu kamu, tidak perlu kamu tanya- tanya. Kalau dulu hal itu tidak mengganggu sekarang tiba-tiba mengganggu, saya kira itu tanda awas, kemungkinan yang terjadi adalah pasangan kita tidak terlalu menikmati kita lagi. Saya identikkan tidak menikmati kita sama dengan mulai merasa jenuh atau jemu dengan kita, tidak ada lagi yang menarik tentang kita seperti dulu atau mungkin ya tetap ada tapi sudah sangat berkurang.
GS : Tapi kalau kemarahan seperti itu, ketersinggungan itu faktornya banyak, Pak Paul. Mungkin di kantor ia baru dimarahi atasannya atau tidak cocok dengan temannya lalu dibawa pulang ke rumah, bisa seperti itu tandanya.

PG : Kalau terjadinya secara periodik ya, berkala memang pasangan lagi ada masalah di kantor, kita pulang kemudian merasa terganggu, saya rasa itu wajar, itu adalah bagian dari kehidupan kita. Yang berbahaya adalah kalau itu makin sering terjadi, apapun yang ditanyakan atau dikomentari oleh pasangan kita, cukup membuat kita terganggu. Saya kira sudah memasuki tahap yang tidak sehat.

GS : Biasanya adalah kita tidak mau mengakui bahwa kita itu sedang bosan Pak Paul, kalaupun seandainya pasangan kita menanyakan secara terbuka, walau kita sedang bosan, sulit mengatakan kita sedang bosan, nanti dia tersinggung.

PG : Sebaiknya kita tidak menggunakan kata bosan, jadi bagus sekali yang Pak Gunawan tanyakan, sebaiknya kita langsung masuk kepada problemnya. Sebab kejenuhan harus saya identikkan dengan roblem, ada hal-hal yang tidak kita sukai, sebetulnya itu intinya.

Baik itu keinginan kita atau kebutuhan kita yang tidak terpenuhi ataupun problem yang kita lihat. Itu adalah problem, jadi masalah dan akhirnya membawa kita kepada kejenuhan. Jadi langsung saja soroti pada problemnya, apa yang kita harapkan yang tidak terpenuhi, problem apa yang belum terselesaikan dalam hubungan kita ini, apa yang tidak kita sukai tentang dirinya, yang terus-menerus kita harus terima, nah hal-hal itu langsung harus kita bicarakan.
GS : Jadi berani membuka masalah, ya Pak Paul? Jadi menyelesaikan masalahnya, bukan kebosanannya.

PG : Betul, jadi kita langsung masuk ke permasalahannya.

GS : Apakah dengan menyelesaikan masalah itu, lalu kebosanan bisa sirna, Pak Paul?

PG : 50% sudah sirna.

GS : 50% teratasi karena kebosanan timbulnya juga dari problem itu tadi?

PG : Betul, tapi memang harus ada langkah-langkah lainnya untuk menambah kesuburan pernikahan kita.

(5) GS : Pak Paul, di dalam kebosanan yang mulai timbul, itu biasanya mudah sekali untuk orang ketiga masuk ke sana. Bagaimana hal itu bisa diatasi oleh pasangan suami istri yang salah satu mungkin atau bahkan dua-duanya sedang dilanda oleh kebosanan.

PG : Saya ingin mengutip satu bagian firman Tuhan, Pak Gunawan, yang mungkin bisa menjadi kesimpulannya juga. Ini adalah cerita tentang pencobaan Tuhan Yesus di gurun pasir. Yang dikatakan oeh si pencoba atau Iblis itu kepada Tuhan kita, dicatat di Matius 4 : 1 ini adalah "Jika Engkau Anak Allah perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti", tetapi Yesus menjawab "ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Yesus Tuhan kita sudah tentu dalam problem yang besar yaitu tidak makan setelah 40 hari 40 malam berpuasa. Dan jalan pintas yang tercepat adalah memerintahkan batu menjadi roti, dan Ia mampu melakukannya. Tapi Tuhan Yesus di sini memberikan suatu jalan keluar yang lebih panjang tidak sepintas seperti tadi itu, yakni mempercayakan problem hidup ini, kesulitan hidup ini kepada Tuhan. Sebab yang lebih penting daripada jalan pintas ini adalah menaati perintah Tuhan itu sendiri. Maka Dia berkata yang lebih penting adalah firman yang keluar dari mulut Allah sendiri. Bagi siapa yang sedang mengalami kejenuhan, kebosanan, godaan untuk mencicipi yang lebih besar di luar, luar biasa besarnya dan itu jalan pintas yang akan mengobati kejenuhan kita, akan menyemarakkan kehidupan kita, tapi masalahnya itu tidak keluar dari mulut Allah, itu keluar dari mulut si Iblis. Nasehat dari Tuhan adalah pentingkanlah yang keluar dari mulut Allah, memang jalannya lebih pintas tapi itu keluar dari mulut si Iblis. Jalan Allah mungkin lebih panjang tapi keluar dari mulut Allah sendiri.
GS : Jadi memang dibutuhkan ketaatan kepada firman Tuhan itu, Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Supaya kita tidak mudah menyerah.
IR : Tidak jatuh dalam pencobaan.

PG : Ya betul.

IR : Soalnya seringkali kalau sudah jenuh, ada orang ketiga yang bisa menyegarkan seringkali orang itu jatuh ke situ, Pak Paul?

PG : Ya.

GS : Saya rasa pasti awalnya ini sesuatu yang baru, orang ketiga ini.

PG : Betul, dan dia akan lebih wangi karena kita ketemu dia hanya dalam beberapa waktu yang pendek itu, suasana yang memang sudah terkondisi untuk wangi dan baik ya.

GS : Saya percaya sekali bahwa firman Tuhan itu merupakan salah satu hal yang sangat penting di dalam menyuburkan kehidupan pernikahan itu Pak Paul, supaya jangan cepat bosan dan sebagainya, untuk mengokohkan ikatan pernikahan dari firman Tuhan. Jadi membaca firman Tuhan bersama-sama artinya sharing dari firman Tuhan antara suami istri itu penting sekali Pak Paul.

PG : Betul, akhirnya memang ketakutan atau takut kita akan Tuhanlah yang memandu kehidupan kita, kita tidak mengambil jalan pintas seperti yang tadi kita bicarakan sebelum siaran ini. Ada orng yang menanyakan melalui surat ya dalam ceramah saya.

Apakah boleh menceraikan pasangan saya karena hubungan seksual kami tidak lagi memuaskan.
GS : Mungkin mereka bosan dengan hubungan seksualnya itu.

PG : Betul, dan jawabannya tidak boleh. Sebab kalau boleh saya gunakan firman Tuhan ini manusia tidak hidup dari hubungan seksual saja, tapi dari firman Tuhan yang keluar dari mulut Allah sediri.

GS : Pengertian tentang pernikahan itu yang penting buat mereka. Jadi tidak menekankan pada hubungan seksualnya itu, ya Pak Paul?

PG : Betul, meskipun kebutuhan itu ada dan perlu dipenuhi, harapan kita yang tidak terpenuhi pasti melukai kita. Namun kita harus berjaga-jaga jangan terlalu cepat mengambil jalan pintas.

GS : Ya, saya percaya Tuhan akan menolong kita masing-masing untuk bisa keluar dari kejenuhan, dari kebosanan dan bergairah kembali di dalam hubungan pernikahan kita.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang kebosanan atau kejenuhan di dalam hidup pernikahan kita, dan perbincangan kita ini kami selenggarakan bersama Bp. Pdt. DR. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Dari studio kami mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T 36 A

  1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan timbulnya perasaan bosan atau jemu.....?
  2. Apa penyebab munculnya kejenuhan.....?
  3. Hal apa yang perlu dilakukan untuk memupuk hubungan pernikahan.....?
  4. Bagaimana mengenali tanda-tanda bahwa pasangan kita sedang bosan....?
  5. Bagaimana mencegah atau mengatasi masuknya orang ketiga di dalam kehidupan suami istri yang sedang mengalami kebosanan....?


10. Bagaimana Memahami Kebutuhan Pasangan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T036B (File MP3 T036B)


Abstrak:

Memahami dan mengerti pasangan dengan memikirkan dan memperhatikan kepentingan pasangan lebih dari kepentingan diri sendiri.


Ringkasan:

Ada bagian Alkitab yang terkenal sekali dan saya rasa hampir seluruh pasangan Kristen pernah mendengar atau membaca ayat yang seperti ini:

"Hai istri, tunduklah kepada suamimu...."
"Hai suami, kasihilah istrimu....

Efesus 5:22-25

Tetapi yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana mengaplikasikan ayat ini di dalam kehidupan suami-istri. Karena kadang-kadang yang terjadi itu, bukan istri tunduk pada suami tapi menanduk suami, dan suami bukan mengasihi istri tetap membenci istrinya. Dan yang lebih parah lagi: Ada istri yang kurang menghormati suami sendiri tapi lebih menghormati suami orang lain. Suami bukannya mengasihi istri sendiri tapi istri orang lain. Dalam Efesus 5:33 tertulis: "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Khusus untuk istri, Tuhan meminta agar mereka tunduk kepada suami.

Ada 2 aspek dalam kehidupan istri yang dapat menunjukkan rasa hormat atau tunduk kepada suami.

  1. Yang pertama adalah bagaimana istri itu berbicara kepada si suami.
    Jadi bagaimana cara kita berbicara sangatlah menunjukkan rasa hormat kita kepada suami, dan suami cenderung menyukai gaya bicara yang seperti itu.

  2. Yang kedua bagaimana istri bisa menghargai suami.

Tadi dikatakan, suami harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri. Yang bisa dilakukan suami untuk mewujudkan rasa kasih kepada istri adalah dengan cara membuatnya merasa spesial atau istimewa.

  1. Membuat istri merasa spesial sebetulnya bersumber dari berapa banyak perhatian yang kita berikan. Kita tidak bisa berdalih dan berargumentasi: "Saya tetap mencintaimu dan kau adalah yang teristimewa dalam hidupku...." Tapi kenyataannya kita jarang berbicara dengan isteri, atau pada waktu dia berbicara kita tidak mendengarkan.

  2. Mengistimewakan istri di atas wanita atau orang lain, maupun hal lain merupakan hal yang penting sekali. Saingan itu tidak harus berbentuk wanita lain, saingan itu bisa berbentuk pekerjaan atau hobby. Waktu kita dahulukan dia dan berkata: "Ya tidak apa-apa, saya lepaskan yang lain sebab saya mau mengutamakan kamu." Itu memberikan suatu pesan yang sangat jelas kepada istri kita bahwa dia istimewa.

  3. Mengerti kelemahan istri. Sebetulnya isteri mempunyai kebutuhan mendasar, yaitu ingin suami bisa menerima kelemahannya. Kelemahan yang saya maksud disini adalah, wanita itu cenderung mudah beremosi. Yang dibutuhkan oleh wanita atau isteri adalah pengertian si suami akan emosinya. Waktu dia marah, tidak berarti dia membenci suaminya. Waktu dia bicara dengan nada tinggi, tidak berarti dia menggurui si suami. Jadi yang dibutuhkan adalah, terimalah aku, jangan tolak aku karena aku mempunyai perasaan-perasaan seperti ini.

Tuhan menciptakan kita baik suami maupun istri masing-masing mempunyai kebutuhan. Dan kita diberikan pasangan supaya pasangan bisa saling mengisi kebutuhannya. Kita semua terpanggil untuk melaksanakan firman Tuhan, kalau kita keluar dari apa yang Tuhan tetapkan, pasti akan menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangga kita.

Filipi 2:4 "...dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Dalam ayat ini rasul Paulus meminta agar kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri kita saja. Ini harus ditanamkan dalam setiap pernikahan. Harus.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana memahami kebutuhan dari pasangan di dalam hubungan pernikahan. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, ada bagian dalam Alkitab yang terkenal sekali. Saya rasa hampir seluruh pasangan Kristen pernah mendengar atau membaca ayat itu yang mengatakan kepada suami, Tuhan memerintahkan agar mengasihi istrinya, sedang kepada istri Tuhan mengatakan untuk tunduk kepada suaminya, itu yang terlintas di pikiran saya Pak Paul, lengkapnya mungkin nanti Pak Paul bisa bacakan. Tetapi yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana mengaplikasikan ayat ini di dalam kehidupan suami istri, karena kadang-kadang yang terjadi itu, bukan istri tunduk pada suami tapi menanduk pada suaminya dan bukan suami mengasihi tapi bisa membenci istrinya. Kenyataannya begitu Pak Paul.

PG : Dan lebih parah lagi suami bukan mengasihi istri, tapi mengasihi istri orang lain.

GS : Istri orang lain, padahal kita terpanggil bukan hanya membaca dan menghafal ayat itu tetapi melakukan di dalam kehidupan rumah tangga kita, Pak Paul?

PG : Kebalikannya juga betul, Ibu Ida dan Pak Gunawan, yaitu ada istri yang kurang menghormati suami sendiri, lebih menghormati suami orang lain. Ayat yang tadi Pak Gunawan kutip, diambil dai Efesus 5 : 33 yang berbunyi, "bagaimanapun juga bagi kamu masing-masing berlaku kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya."

Tadi Pak Gunawan menanyakan secara konkretnya bagaimanakah kita bisa mengaplikasikan firman Tuhan ini. Khusus untuk istri ya, Tuhan meminta agar mereka tunduk kepada suami. Saya bisa sekurang-kurangnya mengidentifikasi dua aspek dalam kehidupan yang dapat menunjukkan rasa hormat atau tunduk mereka kepada suami. Yang pertama adalah bagaimana istri itu berbicara kepada si suami. Kadang-kadang saya perhatikan ada masalah-masalah yang timbul bukan karena perbedaan isi percakapan atau prinsip, yang menjadi problem adalah bagaimana si istri mengucapkan atau menyampaikan permintaannya itu. Suami sebagai pria peka sekali akan cara bagaimana si istri menyampaikan pendapatnya, nah kalau istri bisa mengungkapkan dirinya dengan cara yang pas kepada si suami, suami cenderung untuk menerimanya.
GS : Contohnya bagaimana Pak Paul?

PG : Contohnya adalah ini, misalkan si istri itu meminta supaya anak dijemput. Adakalanya tanpa disadari si istri misalnya memintanya dengan, "kamu jangan lupa jemput anak- anak." Misalkan sja hal itu kurang disukai oleh si suami karena apa? Karena ada suami-suami atau pria-pria yang susah sekali mendengar instruksi dari pihak wanita.

GS : Nadanya itu nada memerintah?

PG : Betul, ini adakalanya memang bagian dari kehidupan wanita, kita tidak bisa 100% mengatakan ini salah wanita, sebab wanita adalah seorang pemberi instruksi dalam perannya sebagai seoran mama, seorang ibu dan bagaimanapun juga mengidentifikasi diri dengan mamanya dulu.

Dan mama yang dikenalnya adalah mama yang memberikan instruksi, mamalah yang seringkali memberikan instruksi kepada anak-anak jadi itulah yang dikenalnya dan diserapnya. Waktu dia sudah besar, ada kecenderungannya juga menggunakan metode bicara yang serupa seperti dia berbicara kepada anaknya, dia perlakukan itu juga kepada suaminya. Suami atau pria cenderung kurang bisa tanggap dan menerima cara bicara yang bernada instruksi dari pihak istrinya.
IR : Sebaiknya bagaimana Pak Paul, cara penyampaiannya, biasanya minta tolong ya?

PG : Bagus sekali Ibu Ida, jadi salah satu contohnya adalah itu, bukannya pria ini gila hormat. Tapi pria itu membutuhkan hormat, tidak gila hormat, pada umumnya hanya membutuhkan hormat. Jai dengan memberikan permintaan tolong itu saya kira menolong sekali si suami.

Atau misalkan contoh yang lainnya lagi adalah dalam pengambilan keputusan, adakalanya memang suami tidak seberhikmat istrinya kita harus akui itu ya. Adakalanya suami tidak melihat hal-hal yang dilihat oleh istri dalam pengambilan keputusan, ada baiknya si istri tidak mengatakan kamu harus begini-begini, kamu masa tidak melihat ini, kamu seharusnya sudah pikirkan ini. Perkataan-perkataan dengan nada seperti itu cenderung membuat si suami defensif, menutup diri, dan malahan ingin membenarkan diri dan yang terjadi selanjutnya adalah pertengkaran, sebab si suami itu tidak menerima tanggapan atau usulan si istri. Si istri marah karena ia memang memberikan usulan yang baik. Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini, saya menganjurkan agar si istri menggunakan kalimat pilihan, daripada memberikan satu pilihan kamu kenapa begini, kamu 'kan seharusnya pikir ini. Kita berkata menurutmu bagaimana ya, apa yang baik kita kerjakan ini, ini, ini atau yang ini, ini dulu yang kita kerjakan. Jadi kita memberikan dia 2,3 pilihan untuk memilih. Misalkan si suami itu egonya sangat besar dan tidak mau mengakui hikmat dari si istri. Dia mungkin tidak menjawab, dia mungkin mempertahankan pendapatnya tapi sekurang-kurangnya 3 pilihan yang diberikan oleh si istri itu akan diingatnya, dan mungkin akan dia ambil nanti, akan dia terima dan akan dia lakukan. Dan karena si istri memberikan misalnya 2 atau 3 pilihan, waktu si suami melakukan salah satu di antaranya si suami tidak terlalu merasa terhina.
GS : Tidak merasa diperintah atau didikte ya, Pak Paul?

PG : Betul, kalau dia menerima satu saja pilihan yang diberikan oleh si istri, si suami akan merasa terhina sebab saya itu benar-benar mengikuti nasihat istri saya. Tapi kalau ada 2 atau 3 plihan, dia merasa lebih baik, ada ruang gerak, saya memilih sendiri misalnya.

IR : Putusan dari sang suami ya?

PG : Sang suamilah sekarang yang merasa dia yang mengambil keputusan tersebut. Jadi sekali lagi bagaimana kita berbicara sangatlah menunjukkan rasa hormat kita kepada suami, dan suami cenderng memang menyukai gaya bicara yang seperti itu.

(2) GS : Sebaliknya dikatakan suami itu harus mengasihi istrinya, dikatakan tadi sebagaimana Pak Paul bacakan, seperti mengasihi dirinya sendiri bahkan.

PG : Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan rasa kasih kepada istri adalah dengan cara membuatnya merasa spesial, merasa istimewa, Pak Gunawan, itu salah satu intinya saya kia.

GS : Contoh konkretnya Pak Paul?

PG : Membuat orang merasa spesial sebetulnya bersumber dari perhatian, berapa banyak perhatian yang kita berikan. Kita tidak bisa berdalih, berargumentasi, saya ini tetap mencintaimu dan kauyang spesial dalam hidupku, tapi jarang berbicara dengan dia, tidak memperhatikan kebutuhannya, ulang tahunnya dilupakan, tidak mendengarkan dia pada waktu dia berbicara kepada kita, jadi sudah pasti hal-hal seperti itulah yang diminta oleh si istri.

Misalkan saya berikan contoh ini yang sangat-sangat segar. Kemarin kami hendak menonton video film drama. Istri saya ini senang dengan film drama, jadi sesekali saya meminjam film-film drama supaya kami berdua bisa menikmatinya bersama setelah anak-anak tidur. Sudah kira-kira jam setengah sebelas malam hampir jam sebelas kami baru sempat nonton di televisi kami, di video kami. Tiba-tiba kami dapat telepon dari seseorang yang membutuhkan pertolongan, dan memang dia sangat butuh sekali pertolongan. Jadi istri saya pun setuju pergi agar menolong orang tersebut. Setelah saya pergi mungkin saya pulang sekitar 45 menit kemudian atau hampir satu jam kemudian, sudah hampir jam 12 malam film itu hampir habis. Jadi pada waktu saya pulang, saya lihat dia masih menonton, saya tidak mau mengganggu dia, jadi saya katakan saya ingin tidur di kamar anak-anak saya, sebab saya tidak bisa tidur di kamar saya, berisik dengan adanya video itu. Film itu hampir habis, akhirnya dia berkata, kenapa kamu tidak mau berbicara dengan saya, tidak mau duduk di sebelah saya. Saya mengatakan saya ini justru mau ke kamar anak-anak supaya tidak mengganggu kamu, tapi dia mengatakan kamu 'kan tidak bicara apa-apa, pulang langsung diam, langsung mau tidur, tadi kita sudah berjanji untuk nonton sama-sama, saya menantikan engkau, sebetulnya berat bagi saya melepaskan engkau pergi, tapi kini kamu sudah kembali malah tidak mau duduk di sebelah saya; memang jelas terjadi kesalahpahaman. Saya mau dengan diam-diam pindah kamar karena tidak mau mengganggu dia, saya kira dia lagi nonton ya jangan diganggu.
GS : Padahal kebutuhannya lain.

PG : Kebutuhannya bukan nonton, omong-omong, jadi kebersamaan itu. Jadi sekali lagi itulah yang diminta oleh istri yaitu perhatian, kebersamaan. Dan memang bagi pria hal ini sepertinya hal kcil, hal sepele, tapi justru itu yang akan membuat dia istimewa.

IR : Memang istri, Pak Paul, kalau diperhatikan dan suaminya itu romantis, itu dibutuhkan setiap istri, pengakuan setiap istri itu demikian, Pak Paul?

PG : Saya sadari bahwa memang istri itu membutuhkan suami yang romantis, tapi kenyataannya adalah di dunia ini pria yang romantis sebetulnya tidak banyak. Kebanyakan pria itu pragmatis, pragatis artinya berpikir secara rasional, yang bermanfaat bagi saya itulah yang saya lakukan, yang tidak bermanfaat itu buang waktu, jadi itu benar-benar sangat bertentangan dengan kebutuhan istri.

Salah satu hal lain lagi yang saya pikir, Pak Gunawan dan Ibu Ida, tentang mengistimewakan istri adalah mengistimewakan dia di atas wanita atau orang lain atau hal lain, itu penting sekali bagi seorang istri. Saingan itu tidak harus berbentuk wanita lain, saingan bisa berbentuk pekerjaan, hobby. Waktu kita dahulukan dia dan berkata ya tidak apa-apa saya lepaskan yang lain sebab saya mau mengutamakan dia, itu memberikan suatu pesan yang sangat jelas kepada istri kita bahwa dia istimewa. Jadi memang keistimewaan itu harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata, kalau kita katakan kamu istimewa, kamu spesial tapi kita perlakukan dia persis seperti kita memperlakukan orang lain, maka tidak ada istimewanya. Ini juga saya pelajari dari pernikahan saya sendiri. Terus terang awal-awal pernikahan karena saya banyak teman dan lain sebagainya, saya memperlakukan semua orang sama. Saya masih ingat istri saya berkata, saya tidak mau engkau perlakukan sama seperti orang lain, saya minta engkau perlakukan aku berbeda, sebab aku istrimu. Saya baru disadarkan, ya betul keistimewaannya hanya ada dalam perbandingan dengan perlakuan saya terhadap orang lain.
GS : Tapi 'kan dikatakan oleh firman Tuhan mengasihi istri itu seperti dirinya sendiri, pada hal kita belum tentu punya kebutuhan seperti istri kita itu Pak Paul? Dalam hal diperhatikan, dan apa mungkin kita tidak terlalu pusing dengan itu?

PG : Betul pada akhirnya Pak Gunawan, kita harus mementingkan yang dianggap penting olehnya. Ini sebetulnya dua belah pihak ya, bukan saja istri. Tapi saya pikir suami juga sama, suami inginistri memperhatikan hal yang penting bagi suami pula, hal-hal kecil, memang macam-macam ya.

Misalkan ada suami yang senang handuk itu langsung ditaruh dengan rapi, waktu dia minta kepada istrinya 2, 3 kali diminta tidak dilakukan dia merasa jengkel. Itu penting bagi si suami. Istrinya berkata itu hal kecil bisa mengambil sendiri, jadi sekali lagi betapa pentingnya hal itu.
IR : Dan itu membutuhkan pengorbanan ya Pak Paul, seperti ada kasus ya kesaksian juga dari seorang suami, istri yang memperhatikan hobby suaminya. Sekalipun si istri tidak menyukai, tapi dia mau mementingkan suaminya. Misalnya nonton sepak bola, si istri tidak senang tapi karena dia mengasihi dan menghormati suaminya dia menemani, membuatkan makanan kecil, jadi hal-hal itu Pak Paul yang membuat si suami itu dihargai.

PG : Betul sekali, itu membawa kita kepada bentuk yang lain untuk menyatakan tunduk atau hormat kepada suami, yaitu bagaimana istri bisa menghargai suami, tidak bisa tidak wujud dari tunduk tau hormat adalah dalam hal menghargai.

Salah satu bentuknya tadi ya, Bu Ida sudah ceritakan, menghargai bisa diutarakan dengan mementingkan hal yang penting bagi si suami, waktu dia melakukan itu ya nonton sepak bola bersama suaminya, tidak bisa tidak, si suaminya merasa sangat dihargai.
IR : Tapi Tuhan itu memberkati Pak Paul, akhirnya si istri itu juga ikut menikmatinya, akhirnya dia suka padahal sebelumnya tidak suka.

PG : Betul, jadi akhirnya memperkaya wawasan si istri juga. Demikian juga kalau suami memperlakukan hal yang sama kepada istrinya.

IR : Akhirnya terbalas, dulu suaminya tidak senang kalau istri itu hobby menanam tanaman, tapi karena si istri itu mendahului, mementingkan kepentingan si suami, akhirnya si suami juga ingin membalasnya. Jadi hobby si istri juga dipenuhi, dibelikan tanaman, jadi akhirnya dia yang membelikan tanaman dan si suami juga menikmati bahwa tanaman itu juga indah. Hubungan itu jadi bagus, semakin baik, jadi ada pengorbanan di antara keduanya.

PG : Betul, dan kalau sudah tahap ini pernikahan tersebut juga menjadi pernikahan yang sangat kuat sebetulnya, karena suami istri tidak lagi berputar-putar pada soal kebutuhan, tapi berputarpada yang lebih tinggi yaitu hal-hal yang menyenangkan masing-masing.

Jadi melakukan hal yang bukan hanya menyenangkan pasangannya, yang sebetulnya kalau tidak adapun tidak apa-apa, kalau tidak ditemani nonton sepak bola ya tidak apa-apa, kalau tidak dibelikan tanaman juga tidak apa-apa. Tapi karena hubungan ini sudah begitu baik sehingga sekarang kebutuhannya meningkat kepada hal-hal yang diidamkan, yang bonus-bonus dan itu akan sangat memperkaya hubungan pernikahan tersebut.
(3) GS : Karena saya pikir memang betul apa yang Ibu Ida katakan, setiap suami akan merasa senang kalau istrinya itu mau melayani. Bukan dalam hal tertentu tetapi pada semua segi kehidupannya, Pak Paul. Memang sulit seorang suami mau mengatakan, kamu harus melayani saya, nanti dia tersinggung dipikirnya pelayan, tapi bagaimanapun juga sebagai seorang suami itu punya kebutuhan untuk dilayani oleh istrinya.

PG : Betul, dan itu akan membuat si suami merasa dihargai, ya Pak Gunawan, waktu istri melayani suami.

GS : Tapi itu boleh dikatakan dengan spontan, terus terang, dan istri bisa tersinggung ya Pak Paul?

PG : Betul, jadi sekali lagi masalah komunikasinya, mengutarakannya. Adakalanya suami itu menuntut untuk dilayani, tapi karena tidak berani berterus terang, apa kebutuhannya yang dia inginka, keluar dari mulutnya justru dalam bentuk perintah.

Kamu lakukan, jangan banyak tanya ini yang aku minta, masa kau tidak tahu apa yang aku butuhkan. Nada-nada perintah seperti itu membuat istri merasa sebagai pelayan, dan akhirnya tidak bisa memberikan secara spontan dan suka rela. Yang lainnya lagi yang bisa dilakukan oleh suami ya dalam wujudnya mengasihi si istri selain dari membuat si istri merasa spesial adalah mengerti kelemahan istri. Istri itu sebetulnya mempunyai kebutuhan mendasar yaitu ingin suami bisa menerima kelemahannya. Kelemahan yang saya maksud di sini adalah wanita itu cenderung mudah beremosi, karena emosi wanita lebih peka dibandingkan pria. Oleh sebab itulah pada umumnya, ya tidak semuanya, pada umumnya wanita lebih bisa mengalami kelabilan, naik turun emosinya dan kebanyakan wanita menyadari hal ini. Ini adalah sesuatu yang seharusnya lebih baik, lebih diperbaiki, lebih stabil. Yang dibutuhkan oleh wanita atau istri adalah pengertian si suami akan emosinya. Bahwa waktu dia marah, tidak berarti dia membenci si suami, waktu dia bernada tinggi, tidak berarti dia sedang menggurui si suami, jadi yang dibutuhkan adalah "terimalah aku, jangan tolak aku karena aku mempunyai perasaan-perasaan seperti ini". Itu sebetulnya kebutuhan pokok istri, kalau si suami bisa memberikan itu, aku menerimamu apa adanya, aku tahu bahwa waktu engkau berkata begitu, engkau tidak benar-benar bermaksud seperti itu, itu karena emosimu saja. Suami yang bisa memberikan perlakuan seperti itu akan membuat istrinya sangat aman. Dia tahu suaminya itu mencintai dia dan hubungan ini sangat kuat. Jadi apapun yang dilakukan, suaminya akan menerima dia.
GS : Jadi suami bukan saja dituntut untuk menerima kelemahan istri, tapi juga melindungi istri itu. Memang sifat-sifatnya dibuat seperti itu, Pak Paul? Jadi istri yang lemah lembut dan sebagainya agar suami memberikan perlindungan.

PG : Betul sekali, pengayoman itu akan membuat istri merasa sangat tenang dan aman. Tapi adakalanya istri kebablasan akhirnya tidak tepat dalam mengutarakan kebutuhannya ini, bukannya dia megakui terus terang inilah diri saya, tapi saya tidak bermaksud seperti itu atau saya tadi beremosi.

Yang istri lakukan adalah dia meminta si suami untuk seolah-olah tidak boleh menuntut, jangan menuntut apa-apa.
GS : Tapi istri boleh menuntut.

PG : Tapi istri boleh menuntut, itu kadangkala yang terjadi ya, si istri akhirnya benar-benar menutup pintu kepada si suami untuk menuntut atau meminta apapun. Karena apa? Karena si istri measa dia tidak bisa mencapai standar yang diharapkan oleh si suami, dia merasa sangat tidak aman.

Daripada dia dituntut lagi dan dia tambah stres tidak bisa memenuhi tuntutan tersebut, dia benar-benar menutup mulut. Berkata kepada suaminya jangan menuntut-nuntut lagi, jangan minta macam-macam lagi, sudah ini saya apa adanya, mau terima baik tidak mau terima ya sudah. Nah sebetulnya sekali lagi yang dibutuhkan oleh si istri adalah rasa aman, tapi karena akhirnya masalah dalam keluarga, rasa aman itu dia peroleh dengan cara menutup mulut si suami.
GS : Mungkin bukan hanya menutup mulut saja, pergaulan si suami pun bisa dibatasi Pak Paul supaya tidak terlalu sering keluar rumah atau sibuk dengan kegiatan di luar. Lalu seolah-olah si istri ini agak mengekang suaminya.

PG : Betul, betul supaya rasa amannya lebih terjamin.

GS : Apakah yang diperlukan begitu, lalu si suami malah mengasihi istrinya, Pak?

PG : Cenderungnya justru tidak, justru si suami tidak memperlakukan istri dengan istimewa dan spesial, nah itu berkaitan. Jadi akhirnya si suami justru memperlakukan istri sebagai orang yangjahat.

Tapi adakalanya memang ada problem juga dari pihak si suami yang berkaitan dengan kebutuhannya tadi itu. Tadi sudah kita sebutkan memang pria itu ingin sekali dihargai dan dihormati; ini berkaitan dengan perasaan bisa, mampu, sanggup. Pria adalah makhluk yang butuh merasa bisa, dia sangat malu kalau dia tidak bisa, apalagi di depan istrinya. Akhirnya kalau dia tidak mantap, tidak aman, yang keluar dari mulutnya adalah "tutup mulut kamu, jangan beritahu apa-apa, aku bisa, aku mengerti, ini urusan pria." Nah itu contoh-contoh yang mungkin kita pernah dengar, "ini dunia laki-laki, kamu tidak mengerti dagang, jangan banyak mulut" dan sebagainya. Sebetulnya yang dibutuhkan oleh suami adalah perasaan aku bisa, jadi sekali lagi perasaan-perasaan atau kebutuhan-kebutuhan alamiah dalam pernikahan yang tidak sehat benar-benar menjadi hancur. Destruktif sekali, saling merusakkan.
(4) IR : Nah Pak Paul, suami yang selalu melibatkan misalkan dalam kariernya, keputusannya selalu melibatkan si istri berarti itu juga memperlakukan istrinya spesial, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, tepat sekali orang yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan akan merasa dihargai, itu betul.

IR : Sekalipun keputusannya nanti diambil oleh sang suami tapi pokoknya diutarakan, dibicarakan, istri sudah sangat merasa dihargai, ya Pak Paul?

PG : Betul, ini adakalanya memang yang dianggap atau dimiliki oleh para pria yaitu pria adakalanya menganggap dia itu di atas istri. Tuhan memang meminta pria itu menjadi kepala, tapi bukanlh kepala yang searah ya, yang hanya memberikan perintah dari atas ke bawah, tidak sama sekali.

Sebab yang Tuhan inginkan adalah hubungan cinta, hubungan kasih-mengasihi bukan hubungan kerja. Kadangkala pria yang mempunyai konsep yang keliru, seperti hubungan kerja, saya bos engkau bawahan. Engkau harus menuruti perintah, adakalanya pria yang rasanya terdesak menggunakan senjata Alkitab. Engkau harus taat kepada suamimu, engkau menjadi istri yang tidak taat. Tapi sebetulnya ini bukan hubungan kerja, ini hubungan kasih, dan dalam hubungan kasih memang tidak ada yang menggurui, yang ada adalah saling menghormati, itu sebetulnya yang harus terjadi dalam pernikahan Kristen.
GS : Karena di dalam Tuhan menciptakan kita, baik suami maupun istri masing-masing mempunyai kebutuhan, ya Pak Paul. Dan diciptakan pasangan, dan diberikan pasangan supaya pasangan itu bisa mengisi kebutuhannya dan sebaliknya. Saya rasa begitu.

PG : Betul sekali.

GS : Jadi menggarisbawahi firman Tuhan yang tadi Pak Paul bacakan dari Efesus itu tentunya kita semua terpanggil untuk betul-betul melaksanakan firman Tuhan dalam kehidupan suami istri. Karena kalau kita keluar dari apa yang Tuhan tetapkan ini, pasti akan menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan rumah tangga kita.

PG : Betul dan saya teringat akan satu ayat di Pilipi 2, di mana Rasul Paulus meminta agar kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri kita saja. Nah ini yang harus ditanamkan dalam setiap ernikahan.

Harus kita akui bahwa kecenderungan kita memikirkan kepentingan kita yang tidak terpenuhi, yang dilanggar, dan kurang mementingkan kepentingan pasangan kita.
GS : Jadi memang kalau mau belajar berkorban, di dalam rumah tangga itu Pak Paul, di dalam hubungan suami istri kita betul-betul mewujudkan, mempraktekkan kasih yang nyata itu.

PG : Betul.

IR : Mengutamakan kepentingan orang lain, terutama keluarga ya Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Jadi saya rasa demikianlah perbincangan kita dalam kesempatan ini Pak Paul, kita percaya bahwa Tuhan pasti akan menolong setiap anak-anaknya yang mau sungguh- sungguh melakukan kebenaran firman Tuhan ini.

Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang bagaimana kita memenuhi kebutuhan pasangan kita suami istri. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih untuk surat-surat, saran-saran serta pertanyaan yang ditujukan kepada kami. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami bertiga mengucapkan sampai berjumpa lagi pada acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T 36 B

  1. Bagaimana mengaplikasikan Efesus 5 bahwa istri harus tunduk kepada suami?
  2. Bagaimana mengaplikasikan Efesus 5 bahwa suami harus mengasihi istri seperti dirinya sendiri?
  3. Bagaimana cara mengutarakan keinginan kita sebagai suami terhadap istri, bahwa sesungguhnya suami senang dilayani oleh istri?
  4. Melibatkan istri dalam setiap pengambilan keputusan, karier, apakah merupakan wujud dari perlakuan istimewa dari seorang suami?


11. Topeng dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T049A (File MP3 T049A)


Abstrak:

Topeng pernikahan di sini merupakan diri yang kita sajikan kepada pasangan hidup kita, sebab kita berkeyakinan bahwa itulah diri yang diharapkan oleh pasangan kita.


Ringkasan:

Topeng di sini bukanlah sesuatu yang negatif, topeng bukanlah untuk menyembunyikan diri, tapi topeng lebih merupakan diri yang kita sajikan kepada pasangan hidup kita, sebab kita berkeyakinan bahwa itulah yang diharapkannya.

Harapan saya, dalam pembahasan ini kita bisa mengerti bahwa:

  1. Topeng adalah sesuatu yang wajar asal bukan dengan tujuan untuk memanipulasi atau menipu pasangan kita.

  2. Kita harus siap menerima diri pasangan kita yang berubah, yang tidak sama dengan seperti yang kita kenal sebelumnya.

Tujuan seseorang menggunakan topeng pada awal pernikahannya: Sebuah upaya untuk mengesankan hati pasangan kita, kita akan melakukan hal-hal yang akan membuat dia tertarik kepada kita. Sudah tentu hal-hal yang akan membuat dia tertarik kepada kita adalah hal-hal yang dia sukai, yang memang menjadi nilai hidupnya. Biasanya di situlah fokus perhatian kita pada awal perkenalan. Jadi sekali lagi topeng di sini bukanlah upaya untuk menyembunyikan diri, tapi untuk menyajikan diri sesuai dengan harapan pasangan kita. Kalau boleh saya pakai istilah restoran, kita berusaha menyajikan atau memberi makanan sesuai dengan pesanan atau apa yang diinginkannya. Saya kira itu memang menjadi bagian alamiah dalam perkenalan antara 2 pribadi.

Dengan memakai topeng walaupun itu positif, pasti akan menimbulkan resiko atau kekurangan yang terjadi pada diri seseorang atau pasangan itu. Pada intinya ada dua resiko yang timbul:

  1. Yang pertama, kita mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai yang ada pada pasangan kita.

  2. Yang kedua, kita akhirnya gagal menyoroti kebutuhan kita sendiri karena fokus perhatian lebih tertuju pada pasangan kita.

Perlu diakui bahwa perlahan-lahan topeng yang kita pakai akan dilepaskan juga. Lepasnya topeng adalah merupakan hasil interaksi dari kedua belah pihak. Di mana kedua-duanya akhirnya melepaskan topeng dan ini bukanlah proses satu arah. Kita memunculkan keinginan dan kebutuhan kita, pasangan mulai mengenal kita yang sebenarnya.

Beberapa langkah untuk mengatasi hal-hal yang mengecewakan karena memakai topeng:

  1. Seseorang harus belajar menyadari dan mengemukakan kebutuhannya.

  2. Semasa masih muda dan belum memasuki pernikahan perlu persiapan. Seseorang harus lebih berani dan jujur dengan dirinya, dan yakin bahwa jodoh itu benar-benar di tangan Tuhan, dan kalau memang ini memang pasangan yang tepat untuknya, jangan takut kehilangan pasangan tersebut.

  3. Kita perlu belajar untuk menerima keberadaan pasangan kita.

Kalau dalam pernikahan pasangan itu, kedua-duanya gagal melepaskan topengnya maka hubungan mereka akan terhenti dan tidak bertumbuh lagi.

Ini akan berpengaruh kepada anak-anak mereka, karena anak-anak akan melihat:

  1. Hubungan orang tua mereka terlalu ideal. Tidak riil sama sekali, di mana keduanya selalu cocok dan terus mencocokkan diri dalam peranan tersebut.

  2. Orang tua mereka selalu menghindarkan atau membatasi diri dari topik-topik yang terlalu dalam karena kalau terlalu intim membicarakan topik-topik tertentu akan terjadi ketidak cocokan dan pertengkaran.

Mazmur 41:2-3a bisa kita jadikan pegangan: "Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, Sehingga ia disebut berbahagia di bumi;"

Alkitab menjelaskan bahwa salah satu natur Allah yang terutama adalah penuh belas kasihan. Waktu kita melihat pasangan kita berubah dan menunjukkan kelemahannya, kebutuhannya, dan sebagainya, maka kita harus menyambut dengan belas kasihan. Kebalikannya waktu kita menyadari kebutuhan kita dan menginginkan pasangan kita untuk memperhatikan dan memenuhinya, jangan kita mengutarakannya dengan sombong atau ketinggian hati, apalagi dengan paksaan, supaya dia mengerti kita dan memberikan apa yang kita butuhkan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan memberi tema pada perbincangan kami yaitu Topeng Pernikahan. Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul sendiri menetapkan tema yang sangat menarik untuk perbincangan kita pada saat ini yaitu tentang topeng pernikahan. Tentunya para pendengar acara ini ingin tahu lebih jauh sebenarnya melalui judul ini apa yang hendak kita perbincangkan Pak Paul?

PG : Yang pertama saya harus memberikan penjelasan bahwa topeng di sini bukanlah sesuatu yang negatif, topeng bukanlah upaya untuk menyembunyikan diri, tapi topeng lebih merupakan diri yang kit sajikan kepada pasangan hidup kita, sebab kita berkeyakinan bahwa itulah diri yang diharapkannya.

Nah, saya kira hampir semua pasangan atau boleh dikatakan semua pasangan pada awal-awal perkenalan mereka akan memiliki topeng di dalam hubungan mereka. Nah, dengan berjalannya waktu tidak bisa tidak topeng itu akan copot. Harapan saya adalah dalam bincang-bincang ini kita bisa mengerti bahwa, pertama topeng adalah sesuatu yang wajar asal bukan dengan tujuan untuk memanipulasi atau menipu pasangan kita. Dan yang kedua, kita mesti siap menerima diri pasangan kita yang berubah, yang tidak sama dengan seperti yang kita kenal sebelumnya dan bahwa perubahan ini pada akhirnya kalau bisa kita selesaikan, justru akan memperkuat dan memperkaya hubungan nikah kita.
GS : Ya dalam hal ini Pak Paul karena kita bicara tentang topeng itu sesuatu yang di luar diri kita, apakah mungkin juga pada awal pernikahan itu orang menggunakan bermacam-macam topeng. Tadi Pak Paul katakan topeng itu tidak selamanya negatif tapi pada lain kesempatan dia memakai topeng yang justru negatif, itu bisa terjadi atau tidak Pak Paul?

PG : Bisa, jadi akan ada orang yang memang dengan sengaja menutupi dirinya atau menyembunyikan dirinya dan menampilkan diri yang sama sekali bukanlah dirinya dengan satu tujuan atau mendapatkangadis atau pria yang diinginkannya itu.

Jadi ada yang memang tidak berhati lurus seperti itu.
(2) GS : Nah, kita bicara yang positif Pak Paul karena tadi dari awalnya kita bicara topeng yang baik. Nah sebenarnya apa tujuan seseorang menggunakan topeng pada awal pernikahannya?

PG : Biasanya kita ini mulai menyadari apa yang diinginkan oleh pasangan kita, apa yang dihargainya, dan apa yang disukainya. Jadi pada masa awal ini kita akan cukup sibuk dengan upaya untuk megesankan hati pasangan kita, kita akan melakukan hal-hal yang membuat dia tertarik kepada kita.

Nah, sudah tentu hal-hal yang akan membuat dia tertarik kepada kita adalah hal-hal yang dia sukai, hal-hal yang memang menjadi nilai hidupnya, nah biasanya di situlah fokus perhatian kita pada awal perkenalan.
IR : Apa pasti Pak Paul, awal pernikahan seseorang itu pasti mereka itu memakai topeng?

PG : Saya kira ya, jadi sekali lagi topeng di sini bukanlah upaya untuk menyembunyikan diri, tapi diri yang kita sajikan, yang kita berikan pada pasangan kita, kalau saya boleh gunakan istilah estoran atau makanan sesuai dengan pesanannya yang diharapkan apa, itulah yang akan kita berikan kepadanya.

Jadi saya kira memang itu menjadi bagian alamiah dalam perkenalan antara 2 orang.
IR : Jadi itu suatu pengorbanan juga, Pak Paul?

PG : Maksudnya?

IR : Maksudnya kalau orang yang memakai topeng itu 'kan maksudnya harus berkorban untuk menyajikan pada pasangannya.

PG : Betul sekali, jadi ada harga yang harus dibayar, jadi ada hal-hal yang akan dia korbankan nah sudah tentu yang dia akan korbankan di sini adalah misalnya dia akan mengorbankan kebutuhannya dia tidak akan memfokuskan pada dirinya dan kebutuhannya, namun lebih memfokuskan pada kebutuhan pasangannya, jadi itu harga yang harus dibayarnya.

GS : Apakah hal itu tidak dilakukannya semasa mereka berpacaran Pak Paul?

PG : Saya kira dalam pasangan, pada pasangan yang sehat hal ini sudah mulai dilakukan, jadi setelah mulai berkenalan beberapa bulan, proses pencopotan topeng itu mulailah berjalan namun tidak bsa tuntas karena memang belum tinggal serumah.

Waktu sudah tinggal serumah, saya kira situasi tinggal serumah itu lebih mempercepat copotnya topeng.
GS : Sebetulnya kalau kita melihat dari sisi pasangannya Pak Paul, apakah pasangannya juga mengharapkan partnernya itu memakai topeng-topeng atau sebenarnya keinginannya yang polos saja.

PG : Saya kira secara alamiah kita akan mempunyai dua sisi atau dua kubu yang dalam hal ini, di satu pihak kita menginginkan pasangan kita menjadi dirinya sendiri, memberikan apa adanya kepada ita, tapi saya kira di pihak lain sebagai manusia kita sesungguhnya lebih menginginkan yang kita sukai.

Jadi kalau ada bagian diri dia yang memang apa adanya namun tidak kita sukai saya kira kita cenderung untuk tidak mau melihat seperti itu dan harapan ini akan tersirat dan dikomunikasikan oleh kita kepadanya bahwa sesungguhnya kita tidak begitu senang melihat dirinya yang memang apa adanya itu, sebab tidak sesuai dengan standar atau selera kita.
IR : Jadi topeng ini akhirnya juga membentuk suatu jati diri dalam relasi hubungan suami istri Pak Paul?

PG : Tepat sekali bu Ida, jadi waktu seseorang mulai memainkan peran sesuai dengan yang diharapkan pasangannya peran itu lama kelamaan menjadi bagian dirinya. Sebagai contoh seorang gadis yang engetahui bahwa calon suaminya menginginkan istri yang penurut, nah dia akan memainkan peran istri yang penurut kalau dia juga sadar suaminya menginginkan seorang istri yang konvensional, yang lebih sering di dapur, masak, nah dia mungkin akan banyak mencurahkan waktu untuk berada di dapur dan memasak.

Nah lama-kelamaan ini akan menjadi bagian dirinya, peranan yang dimainkannya itu bukan lagi sebagai peranan tapi memang jadi bagian rutin dari kehidupannya; nah dalam hal inilah topeng tersebut akhirnya menjadi jati dirinya, menjadi bagian siapa dirinya itu.
GS : Tetapi dengan memakai topeng walaupun itu positif Pak Paul, pasti ada sesuatu yang menimbulkan resiko maksud saya ada sesuatu yang kurang atau terjadi pada diri pasangan itu Pak Paul.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi pada umumnya kita akan kehilangan kesempatan atau mungkin secara jujur kita memang tidak mau melihat kesempatan tersebut, yakni kita gagal melihat hal-hal yag tidak kita sukai pada diri pasangan kita itu.

Sekali lagi pada awal-awal perkenalan fokus yang utama adalah menyenangkan hati pasangan kita dan memfokuskan mata pada apa yang disukainya dan oleh karena itu kita mencoba melakukan hal-hal yang disukainya itu. Karena mata kita tertuju pada hal-hal itu, mata akhirnya tidak begitu jeli untuk menilik hal yang tidak kita sukai, kalaupun kita melihat kecenderungannya adalah kita mengabaikannya. Mungkin kita akan merasionalisasi dengan berkata o....hal itu tidak akan terlalu mengganggu nantinya akan selesai dengan sendirinya dsb. tapi intinya memang kita mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai itu, itu yang pertama. Yang kedua kita akhirnya gagal menyoroti kebutuhan kita sendiri karena sekali lagi fokus perhatian lebih tertuju pada pasangan kita, sehingga apa itu yang sebetulnya kita inginkan, kita butuhkan, apa itu yang tidak kita setujui, apa itu yang tidak kita sukai, agak sukar kita kemukakan. Nah, ini sebenarnya pengorbanan yang sebetulnya nanti akan beresiko dalam hubungan nikah.
GS : Tapi 'kan seseorang itu mempunyai kemampuan untuk tidak bisa terus-menerus hidup di dalam semacam kepura-puraan itu Pak Paul, masalah-masalah yang tadinya diabaikan itu sebenarnya 'kan tetap ada Pak Paul?
IR : Nah itu berarti topeng itu perlahan-lahan juga akan lepas Pak Paul?

PG : Tepat sekali Ibu Ida.

IR : Karena keinginan kita itu juga tidak bisa dikesampingkan.

PG : Betul, jadi waktu keinginan atau kebutuhan kita mulai menampakkan diri, topeng-topeng itu juga akhirnya mulai retak karena di situlah diri kita mulai keluar, saya minta ini, saya tidak suk itu.

Contoh misalnya kalau seorang pria memberikan kesan dia adalah seorang yang tenang, yang mantap, yang mengayomi, nah setelah menikah mungkin sekali ada sisi dirinya yang tidak terduga oleh si pasangan yaitu apa, sisi diri yang sebetulnya membutuhkan seorang konsultan, seorang yang bisa memberi dia nasihat. Pada masa berpacaran si prialah yang sibuk melindungi, membuat keputusan bagi si pasangannya; setelah menikah muncullah sisi di mana si pria ini mulai bertanya-tanya, menurut pendapatmu bagaimana, dan ini bisa jadi menimbulkan kebingungan pada pihak istrinya kenapa engkau itu kurang percaya diri, kenapa engkau itu ragu-ragu, dulu saya melihat engkau sebagai orang yang tahu masa depanmu, tahu langkahmu, sekarang kamu tidak seperti itu. Nah sisi inilah yang mulai memunculkan diri dalam pernikahan dan seperti kata Ibu Ida, topeng tersebut akhirnya mulai lepas, mulai retak dengan sendirinya.
GS : Dalam hal ini memang kita yang tadinya memakai topeng itu kemudian melepaskan topengnya atau karena pasangan kita memang lebih mengenal kita sehingga dia tahu asli kita yang sebenarnya?

PG : Bagus sekali pengamatan Pak Gunawan, jadi lepasnya topeng memang merupakan hasil interaksi dari kedua belah pihak. Kita memunculkan keinginan dan kebutuhan kita, pasangan mulai mengenal kia, nah otomatis dalam kasus di mana pasangan itu merasa aman dengan kita atau maksud saya kita merasa aman dalam hubungan ini kita akan lebih berani juga memunculkan sifat dan keinginan-keinginan kita itu.

GS : Nah, kalau sudah lepas walaupun saya yakin itu tidak bisa lepas 100% Pak Paul ya, nah apa yang terjadi dalam pasangan ini selanjutnya?

PG : Yang seharusnya terjadi adalah kedua-duanya mulai melepaskan, sebab ini bukannya proses searah.

GS : Interaksi yang tadi Pak Paul katakan itu.

PG : Hasil interaksi keduanya, di mana masing-masing akhirnya melepaskan topeng. Yang indah adalah sebetulnya dia tidak akan memunculkan lagi diri yang awal-awalnya sekali, misalkan 10 tahun yag lalu sebelum dia menikah, tidak.

Sebab sekali lagi saya ingin ingatkan bahwa topeng ini sudah menjadi bagian dirinya, sudah menjadi identitasnya, sehingga tidak bisa lagi dilepas, sudah menyatu dengan siapa dirinya. Tapi sekarang yang akan keluar adalah bagian dirinya yang mempunyai kebutuhan, yang mempunyai selera, keinginan, tuntutan dan harapan, nah bagian diri ini akan mulai keluar. Yang seharusnya terjadi sebetulnya kita akan membentuk diri yang baru tidak persis sama sebelum kita menikah dan tidak persis sama juga dengan topeng yang telah kita perankan selama awal-awal pertemuan kita. Jadi diri yang baru itu merupakan perpaduan antara topeng dan diri asli kita yang dulu. Nah kalau keduanya berhasil membentuk diri yang baru ini, barulah pernikahan mereka itu akan cocok.
GS : Tapi kemampuan pasangan atau bahkan kemampuan pribadi-pribadi itu bukankah berbeda-beda, Pak Paul. Nah seandainya yang terjadi adalah topeng pihak yang pria itu sudah lepas dulu, tapi yang perempuan atau istrinya itu masih tetap bertahan dengan topengnya. Nah kalau tidak pas seperti itu apa dampaknya, Pak Paul?

PG : Kalau sampai tidak pas memang ada beberapa kemungkinan, biasanya yang harus melihat topeng itu lepas bisa membentuk perasaan kecewa atau frustrasi. Contohnya si suami mengharapkan istri yag penurut, yang konvensional, yang di dapur, yang memasak dan sebagainya.

Akhirnya si istri berkata dengan terus terang bahwa idamannya adalah bukan seperti itu, ya masak sekali-sekali dia akan lakukan, namun dia tidak bisa membayangkan atau tidak ingin membayangkan peran sebagai istri adalah sebagai ibu yang memasak di dapur terus-menerus dan dia juga mulai membantah, dulu memang ia meng-iakan semua yang dikatakan si suami, sekarang dia mulai mengutarakan pendapat pribadinya, nah pada saat ini si suami mulai melihat perubahan. Yang sering kali terjadi adalah si suami tidak terima, sebab itulah yang diimpikannya sejak dahulu istri yang penurut, istri yang akan mengiakan, tapi dia tidak akan mengatakan seperti itu, ia mengatakan kepada istrinya bahwa saya membutuhkan istri yang mendukung saya, istilah bagusnya. Mendukung artinya ya mengiakan, tidak melawan atau membantah dia atau memberikan pendapat yang berbeda. Nah, biasanya timbul reaksi di sini Pak Gunawan, yaitu kemarahan, kekecewaan, merasa salah pilih. Jadi cukup umum dalam kasus-kasus pernikahan muda muncul atau adanya rasa salah pilih, saya keliru menilai, bukankah dulu tidak ada sisi seperti ini, nah di situlah memang ada kesenjangan dan kalau tidak benar-benar cepat-cepat dibereskan niscaya menimbulkan problem.
GS : Artinya gampang disusupi pihak ketiga yang menjadi idamannya, Pak Paul?

PG : Bisa.

GS : Tapi apakah mungkin seseorang itu mempertahankan topengnya sampai akhir hayatnya, Pak Paul?

PG : Kadang kala terpaksa, jadi bukannya atas keinginan sendiri, (sebab tadi saya sudah singgung bahwa yang alamiah seharusnya topeng itu lepas), jadi kalau tidak lepas berarti ada sesuatu yangmemaksa, sehingga topeng itu tidak boleh dilepas.

Nah, biasanya yang terjadi adalah pihak yang satunya tidak mengizinkan topeng itu berubah, jadi diri yang diinginkan adalah diri yang harus dipertahankan. Jadi sekali lagi yang alamiah dan yang sehat memang topeng itu secara bertahap harus lepas, harus berubah, namun adakalanya keadaan tidak memungkinkan.
IR : Nah, untuk mengatasi itu Pak Paul, hal-hal yang membuat kecewa karena memakai topeng itu, apakah yang harus dilakukan?

PG : Ada beberapa langkah, langkah pertama adalah seseorang ini harus belajar menyadari kebutuhannya dan belajar mengemukakan kebutuhannya. Ada orang yang begitu enggan, sungkan atau takut mengtarakan keinginannya karena misalkan dia terbiasa dengan perannya, misalnya peran yang dimainkannya adalah peranan orang yang kuat, yang menerima semuanya, menjadi penopang bagi pasangannya.

Nah, bukankah tersirat dalam peran tersebut dia sebagai orang yang tidak mempunyai kebutuhan, sekarang dia harus mulai mengatakan kebutuhannya, nah ini sesuatu yang tidak biasa baginya. Nah, dalam hal ini dia harus belajar untuk mulai menyadari inilah yang dibutuhkannya dan tidak apa-apa untuk mulai meminta agar kebutuhan itu dipenuhi, karena itu penting.
GS : Ya memang hampir sama dengan yang Ibu Ida tanyakan yang tadi ingin saya tanyakan; keterampilan seperti itu Pak Paul, bukankah seharusnya sudah ada sebelum mereka memasuki pernikahan, nah masalahnya apakah yang harus dipersiapkan semasa dia masih pemuda bahkan mungkin waktu remaja?

PG : Yang perlu dipersiapkan adalah dia harus lebih berani dan lebih jujur dengan dirinya, bahwa jodoh itu benar-benar harus diyakini di tangan Tuhan, dan kalau ini memang pasangan yang tepat utuknya, jangan takut kehilangan pasangan tersebut.

Sering kali yang memotivasi kita untuk tidak berani mengutarakan pendapat, ketidaksukaan kita dan sebagainya adalah rasa takut kehilangan pasangan kita. Nah, jadi seorang Kristen sejak awal, sejak remaja, sejak pemuda mesti meyakini kebenaran ini bahwa hidup kita dipelihara Tuhan. Jadi waktu Tuhan berkata rambut di kepalamu itu terhitung oleh Tuhan, bahwa burung-burung pun tidak ada yang tidak terawat oleh Tuhan, mereka semua bisa makan dengan cukup. Itu seharusnyalah membuat kita yakin, makanya Tuhan di Matius berkata: "Engkau yang beriman kecil, kalau Tuhan memelihara semua itu tidakkah Tuhan akan memelihara engkau?" Jadi intinya percaya, soal jodoh, soal pasangan hidup, itu semua di tangan Tuhan, dan Tuhan hanya akan memberikan yang cocok untuk kita, jadi jangan takut kehilangan dirinya. Artinya apa, beranilah mengutarakan ketidaksetujuan kita, keinginan kita yang sebenarnya, jangan takut resiko ditinggalkan oleh pasangan kita.
IR : Juga perlu ya Pak Paul kita belajar untuk menerima keberadaan pasangan kita?

PG : Tepat, tepat sekali, jadi kita belajar menerima bahwa dia memang mulai berubah, dan bukannya kita menuntut dia untuk tetap sama karena itu tidak realistik, kita juga menyesuaikan diri dengn pembentukan dirinya itu, pembentukan diri yang baru, yang telah kita singgung yang merupakan perpaduan antara topeng dan diri yang awal-awalnya itu.

GS : Kalau pasangan atau kedua-duanya ini gagal melepaskan topengnya, apakah yang terjadi, Pak Paul?

PG : Hubungan itu akan berhenti Pak Gunawan, hubungan itu macet, tidak bertumbuh lagi, hubungan itu akan hanya berada pada titik di mana mereka awali dulu. Yaitu sangat formal, dangkal, dan tidk ada keberanian untuk mengutarakan pendapat, tidak ada keberanian untuk menjadi diri sendiri, sebab masing-masing bermain sandiwara, masing-masing memainkan peran untuk sesuai dengan pesanan pasangannya.

Jadi hubungan itu akhirnya memang tidak akan bertumbuh dengan baik.
GS : Dan itu akan berpengaruh pada anak-anak mereka.

PG : Saya kira demikian, karena anak-anak pertama yang mereka akan lihat adalah hubungan yang terlalu ideal, yang tidak riil sama sekali di mana kedua orang tua ini selalu cocok. Dan tidak bisatidak untuk mencocokkan diri dalam peranan tersebut kedua orang ini harus menghindarkan diri dari topik-topik yang terlalu dalam.

Menghindarkan diri memang sebetulnya membuat mereka tidaklah terlalu intim, karena kalau terlalu intim akan membicarakan topik-topik yang tertentu yang bisa saja menimbulkan pertengkaran, akan tidak cocok, jadi akhirnya membatasi diri.
GS : Atau saling menghindar, Pak Paul.

PG : Ya, jadi saling menghindar supaya masing-masing tetap bisa pada peranan tersebut. Nah ini menjadi tidak sehat.

GS : Jadi kehadiran anak itu tidak menolong mereka untuk melepaskan topengnya?

PG : Ya, walaupun seharusnya menolong, sebab waktu anak lahir seharusnya sekali lagi kesempatan diberikan supaya topeng itu lepas, waktu kita membesarkan anak, cara-cara kita, nilai-nilai hidupkita itu akan tertuang kembali dan pasangan kita pun akan melakukan hal yang sama sehingga nilai-nilai hidupnya, keinginannya akan tertuang pula.

Jadi sekali lagi kesempatan itu ada agar topeng-topeng itu lepas.
IR : Nah kalau topeng itu lepas, berarti mereka tidak bisa menerima keberadaan wajah masing-masing, dan akibatnya bisa perceraian Pak Paul?

PG : Kalau tidak terselesaikan bisa, jadi yang biasanya terjadi kalau kita tidak bisa menerima adalah perseteruan, kita akan sering bertengkar. Sebab sekali lagi pertengkaran itu sebetulnya merpakan tuntutan agar pasangan kita tetap sama seperti dulu, kita seolah-olah memesan menunya seperti ini, kenapa sekarang menu ini berubah.

Pesanan saya tidak saya dapatkan, akhirnya kita akan terus menuntut pesanan yang dulu mana, dua-duanya saling menuntut akhirnya yang terjadi adalah perseteruan dan bisa berakhir dengan perceraian.
GS : Jadi walaupun seperti tadi kita sudah bicarakan, topeng yang kita perbincangkan ini sesuatu yang positif, tapi kalau terlalu lama digunakan artinya semestinya sudah harus dilepas tapi tetap digunakan itu malah menimbulkan masalah begitu Pak Paul ya?

PG : Betul

(3) GS : Dalam hal ini apa tuntunan firman Tuhan yang bisa dijadikan pegangan?

PG : Saya akan membacakan dari Mazmur 41:2, "Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah, Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka. Tuhan akan melindungi dia dan memlihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi."

Alkitab menjelaskan salah satu natur, sifat Allah yang terutama adalah sifat Allah yang penuh belas kasihan. Saya kira pasangan Kristen juga harus mempunyai sifat yang sama yaitu penuh belas kasihan. Waktu kita melihat pasangan kita berubah dan menunjukkan kelemahannya, kebutuhan dan sebagainya dia harus menyambut dengan belas kasihan. Kebalikannya waktu kita menyadari kebutuhan kita dan kita menginginkan pasangan kita untuk memenuhi dan memperhatikan kebutuhan kita, jangan kita mengutarakannya dengan sombong, dengan paksaan, dengan ketinggian hati, supaya dia mengerti kita dan memberikan apa yang kita butuhkan. Waktu kita meminta, mintalah dengan belas kasihan, waktu kita memberi, berilah dengan belas kasihan. Firman Tuhan berkata: "Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah," pada dasarnya pasangan kita termasuk kita adalah orang yang lemah sebab kita mempunyai banyak kebutuhan, jadi sekali lagi belas kasihan harus menjadi ciri utama pasangan Kristen.
GS : Dan saya percaya bahwa Tuhan juga menghendaki agar setiap pasangan itu berbahagia, orang memasuki pernikahan dengan harapan kebahagiaan dan kuncinya jelas yaitu mengasihi pasangan kita.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang Topeng Pernikahan, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 49 A

  1. Apa yang dimaksud topeng dalam pernikahan...?
  2. Apa tujuan seseorang menggunakan topeng di awal pernikahannya...?
  3. Bagaimana pasangan Kristen menghadapi topeng pernikahan ini menurut firman Allah...?


12. Keterbukaan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T049B (File MP3 T049B)


Abstrak:

Keterbukaan atau kejujuran dalam pernikahan itu sangat penting, meski kejujuran mungkin akan melukai tapi janganlah sengaja melukai dengan berkata hal-hal yang jujur. Dan keterbukaan berkaitan erat dengan kepercayaan dan kedewasaan hubungan itu sendiri.


Ringkasan:

Keterbukaan dalam pernikahan sangat berkaitan dengan 2 hal:

  1. Pertama berkaitan erat dengan kepercayaan, jadi kalau kita tahu pasangan kita terbuka kepada kita, level kepercayaan juga akan meningkat.

  2. Kedua, keterbukaan sangat berkaitan dengan berapa dewasa atau matangnya hubungan kita. Maksud saya hubungan yang dangkal seringkali juga diikuti dengan ketertutupan, tapi keterbukaan yang tuntas menunjukkan hubungan ini adalah hubungan yang matang karena masing-masing pihak bisa menerima pasangannya dengan baik.

Keterbukaan bisa mencakup 2 hal:

  1. Keterbukaan dengan masa sekarang atau perasaan kita saat ini, yaitu keterbukaan dengan perasaan atau diri kita apa adanya saat ini. Pasangan yang mau bertumbuh tidak bisa tidak pada akhirnya akan menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup dengan hanya menyoroti keinginan pasangannya. Dia juga harus mulai menyadari keinginannya dari pasangannya dan membicarakannya, ini yang dimaksud dengan keterbukaan.

  2. Keterbukaan terhadap masa lalu kita.

Jadi bukan saja kita terbuka dengan perasaan dan diri kita sekarang ini, kita pun terbuka dengan masa lalu kita. Kalau kita menyembunyikan bagian masa lalu kita dari pasangan kita dan akhirnya dia mengetahui itu dari pihak lain, maka yang akan langsung tertohok adalah rasa percayanya kepada kita, sehingga dia akan mulai membuat prasangka. Idealnya masa lalu yang negatif diketahui bukan setelah menikah tapi pada masa berpacaran yang serius. Sehingga pada masa berpacaran itu keduanya berkesempatan membereskan masalah itu.

Kita perlu bijaksana dalam memberikan informasi tentang masa lalu kita, dan prinsip yang harus kita anut yaitu:

  1. Kita tidak boleh sedikitpun berniat membohongi pasangan kita.
    Kalau sampai ada hal yang belum kita sampaikan itu bukan karena niat membohongi tapi memang kita tidak ingat. Kalau kita ingat dan kita tahu ini penting untuk dia ketahui, dia harus ketahui, kita harus beritahukan ke dia.

  2. Keterbukaan tidak harus selalu berarti detail atau rinci-rincinya.
    Keterbukaan dari sisi yang lain yaitu latar belakang keluarga juga perlu dibukakan dalam hubungan pernikahan.

Keterbukaan di dalam sisi keuangan juga harus diwujudkan. Dalam hal ini suami istri 100% harus terbuka, kalau sampai seseorang tidak berani terbuka sekali lagi masalahnya menurut saya bukan terletak pada keuangan tapi pada hubungan itu sendiri yang nampaknya belum dewasa. Di masa pacaran keterbukaan sudah harus mulai dilakukan, tapi pada waktu pernikahan kebiasaan dan kesepakatan untuk saling terbuka itu harus tetap dibina. Namun keterbukaan bukanlah suatu lisensi atau izin untuk menyakiti pasangan kita. Saya berikan contoh misalnya, kita ini mengharapkan suami kita jadi manager, sampai sekarang masih belum, masih karyawan terus-menerus. Lalu atas nama keterbukaan kita berkata, saya sangat kecewa sekali kamu kok dari dulu tidak pernah jadi manager, terus jadi karyawan.

Efesus 4:25 berkata : "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Alkitab meminta kita jujur, terbuka, berkatalah yang benar tidak ada alasan untuk kejam atau untuk sengaja menyakiti. Kejujuran mungkin akan melukai tapi jangan sampai sengaja melukai dengan berkata hal-hal yang jujur itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan membahas tentang "Keterbukaan dalam Pernikahan". Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita sering mendengar orang berbicara tentang keterbukaan apalagi sekarang ada istilah transparansi, terbuka dan sebagainya nah sebenarnya dalam pernikahan itu apakah makna dari sebuah keterbukaan itu?

PG : Keterbukaan sangat berkaitan dengan dua hal, Pak Gunawan. Yang pertama adalah berkaitan erat dengan kepercayaan, jadi kalau kita tahu pasangan kita terbuka kepada kita, level kepercayaa juga akan meningkat.

Kedua, keterbukaan sangat berkaitan dengan berapa dewasa atau matangnya hubungan kita. Maksud saya hubungan yang dangkal sering kali juga diikuti dengan ketertutupan, tapi keterbukaan yang tuntas menunjukkan hubungan ini adalah hubungan yang matang karena masing-masing pihak bisa menerima pasangannya dengan baik. Jadi ada dua hal yang memang sangat berkaitan dengan keterbukaan; yang pertama kepercayaan dan yang kedua adalah kedewasaan hubungan itu sendiri.
GS : Kita melihat tentang kepercayaan Pak Paul, di awal pernikahan di mana kita belum terlalu saling mengenal pasangan kita bukankah tidak mungkin kita bisa percaya sepenuhnya. Artinya keterbukaan itu sangat kecil sekali kesempatannya.

PG : Betul, keterbukaan bisa mencakup dua hal Pak Gunawan, yang pertama keterbukaan pada masa sekarang dengan perasaan kita saat ini dan yang kedua keterbukaan terhadap masa lalu kita. Misalan yang pertama adalah keterbukaan dengan perasaan atau diri kita apa adanya saat ini.

Ada kecenderungan memang karena kita ingin menyenangkan hati pasangan dan menyajikan diri seperti yang dipesannya, seperti yang diinginkannya kita tidak begitu terbuka dengan diri kita, apa yang kita harapkan darinya, yang kita tuntut darinya, kita setuju atau tidak setuju tidak kita tonjolkan dalam masa-masa awal pernikahan, atau masa awal perkenalan kita. Yang kita fokuskan adalah bagaimana dia itu terkesan dengan kita karena kita mencukupi yang diinginkannya. Nah pasangan yang mau bertumbuh tidak bisa tidak pada akhirnya akan menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup dengan hanya menyoroti keinginan pasangannya, dia juga harus mulai menyadari keinginannya dari pasangannya, nah mulailah dia mengatakannya, ini yang dimaksud dengan keterbukaan. Waktu dia tidak setuju dengan kesibukan pasangannya dia beritahukan, waktu dia tidak suka dengan model rambut pasangannya dia katakan, waktu dia tidak suka dengan gaya pakaian pasangannya dia mulai katakan. Nah keberanian ini sebetulnya akan mendewasakan hubungan itu.
GS : Jadi untuk seseorang itu bisa percaya terhadap pasangannya bukankah dibutuhkan pengalaman, yaitu pengalaman kehidupan bahwa memang pasangannya itu bisa dipercaya Pak Paul. Kita tidak bisa hanya berkata: "Percaya saja sama saya, saya ini 'kan suamimu atau istrimu," tapi dibutuhkan suatu bukti konkret bahwa memang dia bisa dipercaya. Nah di dalam hal-hal apakah sebenarnya kita itu bisa memberikan kepercayaan atau bisa percaya, Pak Paul?

PG : Saya kira hal ini berkaitan dengan aspek kedua dari keterbukaan yaitu bukan saja kita terbuka dengan perasaan dan diri kita sekarang ini, kita pun terbuka dengan masa lalu kita. Kalau kta menyembunyikan bagian masa lalu kita dari pasangan kita dan akhirnya dia mengetahui itu dari pihak lain, yang langsung akan tertohok adalah rasa percayanya kepada kita, dia akan mulai membuat prasangka.

Kalau dia menyembunyikan ini, apalagi yang disembunyikannya kesatu, kedua dia akan mulai bertanya apalagi yang akan dia sembunyikan di kemudian hari. Jadi keterbukaan tentang masa lalu itu juga penting.
IR : Nah Pak Paul, misalnya masa lalu yang negatif kalau dibuka apakah itu tidak membuat luka bagi pasangan itu, Pak Paul? Dan kecenderungannya adalah kalau suatu saat berkelahi sering kali masa lalu itu diungkit-ungkit.

PG : Maka idealnya hal ini diketahui pada masa berpacaran yang serius bukan setelah menikah, sehingga pada masa berpacaran itu keduanya berkesempatan membereskan masalah itu. Kalau misalkan alam masa berpacaran masa lalu tersebut diungkit-ungkit nah jelas ini harus dibereskan, kita harus meminta kepada pasangan kita untuk tidak mengungkit atau menggunakannya untuk menyerang kita.

Kalau dia tidak mempedulikan dan tetap menggunakannya untuk menyerang kita, nah dalam masa berpacaran itulah kita berkesempatan untuk memutuskan ini tidak cocok buat saya, saya mau mengawini orang yang bisa menerima saya, memaafkan saya, bukan terus-menerus menusuk-nusuk saya dengan senjata itu. Jadi memang kita perlu bijaksana dalam hal memberikan informasi tentang masa lalu kita, tapi prinsipnya harus kita anut yaitu yang pertama kita tidak boleh sedikitpun berniat membohongi pasangan kita, kalau sampai ada hal yang belum kita sampaikan itu bukan karena niat membohongi, tapi memang kita tidak ingat. Kalau kita ingat dan kita tahu ini penting untuk dia ketahui, dia harus ketahui, kita harus beritahukan ke dia. Prinsip yang kedua adalah keterbukaan tidak harus selalu berarti detail atau rinci-rincinya. Misalnya kalau kita pernah berhubungan seksual sebelum menikah dengan orang lain, kemudian kita berpacaran dengan calon istri kita dan akhirnya kita mengakui bahwa kita telah berhubungan, nah saya kira sepantasnya si pria memberitahukan atau si wanita memberitahukan bahwa dia telah berhubungan dengan pacarnya. Namun dia tidak perlu menceritakan detail hubungan itu, sebab detail hubungan itu hanya akan mengganggu perasaan si pasangannya ini untuk waktu yang sangat lama dan yang bisa lebih parah lagi adalah merosotnya respek terhadap si pasangan. Jadi dia harus mengakui hal seperti itu, jangan sampai setelah menikah baru dia sadari, bahwa istrinya misalkan sudah pernah berhubungan dengan pacarnya dulu. Atau suaminya sekarang tidak lagi suci karena pernah berhubungan dengan orang lain dulu, tapi kita harus bedakan dengan hal yang penting meskipun juga bersifat detail, kalau hal ini memang harus diketahui oleh pasangan kita. Contoh calon istri kita bukan saja sudah berhubungan tapi dia sudah pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Nah si suami-istri tidak cukup hanya berkata saya telah berhubungan dengan pacar saya yang dulu, dia juga harus memberitahukan bahwa dia pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Dan jangan dia berpikir, saya sudah beritahukan saya sudah menjalin hubungan ya sudah cukup, tidak. Sebab informasi yang baru itu tatkala nanti diketahui oleh si suami, saya kira bukan saja mengejutkan tapi bisa-bisa mengoyakkan respeknya terhadap si istri, nah biarlah hal ini terjadi sebelum mereka menikah, sehingga keduanya berkesempatan untuk menyelesaikan perasaan-perasaan yang tertinggal akibat informasi-informasi ini.
GS : Tapi biasanya istri itu menghendaki justru uraian yang detail Pak Paul atau menanyakan ulang-ulang, sesuatu yang pernah diinformasikan.

PG : Nah saya kira di sini diperlukan kedewasaan, sebab seseorang yang dewasa seharusnya mengertilah, tidak usah saya mengetahui detailnya yang penting saya sudah tahu dia setelah berhubunga, misalnya seperti itu.

Dia tidak usah menceritakan apa yang dilakukan dalam hubungan itu, lain perkara kalau si pria berkata: "Saya ini pernah berpacaran, sebelum saya dengan engkau," nah istrinya atau calon istrinya bertanya: "Siapa yang menjadi pacarmu?" nah jangan sampai si calon suami berkata: "Itu tidak perlu kau ketahui." Itu keliru, nah seyogyanya si istri atau calon istri ini tahu siapa yang pernah menjadi pacar suaminya; namanya siapa, kenal di mana, nah hal-hal seperti itu saya kira memang harus diberitahukan.
GS : Dikhawatirkan itu tadi Pak Paul, kalau dia mengetahui informasi ini dari orang lain, kalau kita tidak memberitahukannya.

PG : Betul, sebab ada kecenderungan kalau informasi ini tidak diberitahukan dan diketahui di kemudian hari, kita akan merasa tertipu dan memang bisa muncul perasaan tertipu itu. Misalkan kit bertemu dengan seorang pria yang merupakan aktifis gerejawi, seorang Kristen yang rajin dalam pelayanan di geraja dan kita tertarik sebab melihat sisi kesuciannya, kesalehannya, setelah itu kita berpacaran dengannya, kita menikah.

Nah, setelah menikah akhirnya baru kita ketahui bahwa sebetulnya pria ini sudah pernah berhubungan seksual dengan mantan pacarnya, tapi tidak diketahui oleh si istri. Nah, saya kira informasi ini bisa sangat menggoyahkan sendi respek si istri kepada si suami. Sebab sekali lagi kita tidak lepas dari (saya gunakan istilah) peranan atau harapan akan pasangan kita. Pada waktu kita menikahi dia kita melihat dia seorang aktifis Kristiani; jadi inilah yang saya harapkan, dalam paket Kristiani itu kita harapkan dia kudus tidak pernah berhubungan dan sebagainya. Nampaknya orang inipun alim dan juga baik-baik tapi ternyata pernah seperti itu. Nah, hal ini memang bisa menggoyahkan persepsi atau citra si suami di mata si istri, berbeda kalau dia ketahui sebelum menikah hal ini bisa diluruskan kembali.
(2) GS : Kalau keterbukaan dari sisi yang lain yaitu dari latar belakang keluarga bagaimana Pak Paul, masing-masing tentunya mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda, nah apakah itu perlu dibukakan dalam hubungan pernikahan?

PG : Saya kira perlu, apalagi kalau memang ada masalah khusus dalam keluarga kita, nah ini memang makin membuat kita cemas untuk menceritakan kepada pasangan kita, sebab kita takut dia akan enjauhi kita.

Tapi harus ya, misalkan kalau kita mempunyai adik atau kakak yang cacat, cacat mental saya kira itu perlu dikomunikasikan atau ibu atau ayah kita pernah masuk misalkan rumah sakit jiwa karena ada masalah khusus dengan stres dan sebagainya. Saya kira itu hal yang perlu diberitahukan atau ayah kita mempunyai kehidupan yang tidak baik misalnya terlibat perkara kriminal atau sudah mempunyai istri kedua atau ketiga, hal seperti itu perlu kita komunikasikan. Jangan sampai kita tutupi setelah menikah baru kita beritahu, sebab sekali lagi bisa membuat pasangan kita merasa terperdaya dan sudah terperangkap. Nah ini tidak sehat sebab kedua orang yang menikah haruslah merasakan inilah pilihan saya dengan bebas, saya memilih dia dalam kebebasan bukan dalam keterpaksaan; kalau sudah menikah baru diberitahu memang dia harus terima namun dalam keterpaksaan.
GS : Tadi kita bicarakan keterbukaan dalam pernikahan Pak Paul, yang tadinya mungkin juga sudah pernah diungkapkan pada waktu pacaran namun hanya pada permukaannya, begitu menikah 'kan makin dalam, makin sering berkunjung ke tempat keluarga, dan sebagainya nah di sana baru kelihatan latar belakang keluarga itu yang sebenarnya, nah apa itu bisa juga menimbulkan kekecewaan?

PG : Saya kira kalau memang 100% baru tidak kita ketahui sebelumnya akan menimbulkan kekecewaan dan bukan saja kekecewaan, kita akan mulai meragukan pasangan kita; jangan-jangan dia sengaja enutupinya.

Nah, sekali lagi sewaktu kita mempunyai perasaan yang jangan-jangan dia sengaja menutupinya, yang mulai goyah adalah kepercayaan kita kepadanya, apalagi yang ditutupi adalah tentang masa lalunya. Dan pertanyaan berikutnya adalah apalagi yang akan dia tutupi di kemudian hari? Jadi akan menggoyahkan sekali lagi.
GS : Tadi Pak Paul katakan ada dua faktor selain kepercayaan adalah kedewasaan. Kalau seseorang itu sudah mencapai kedewasaan tertentu apakah dia tidak bisa menerima kenyataan seperti itu, bukankah pasangannya itu tidak bisa menceritakan semuanya Pak Paul?

PG : Saya kira memang yang perlu diceritakan yang besar, yang penting itu, yang memang khusus-khusus otomatis akan banyak detail-detail yang terlewatkan tentang pamannyalah, kakek, cowoknyalh apalah segala macam itu memang bisa terlewatkan.

Dan tidak perlu kita harus mengingatnya, jadi saya kira seorang suami atau istri perlu menerima bahwa hal-hal itu tidak dibicarakan sebelumnya karena memang dianggap tidak penting, tapi menanggapi yang tadi Pak Gunawan katakan bahwa keterbukaan mencerminkan atau menjadi tolok ukur kedewasaan hubungan itu. Sebab ini memang penting sekali Pak Gunawan, kita memasuki pernikahan dengan banyak kebutuhan jadi kalau kita mempunyai penghargaan diri yang negatif, kita menganggap diri kita ini banyak kurangnya, sehingga dicintai oleh pasangan kita itu seperti luar biasa, anugerah yang begitu indahnya. Kita bisa merasa takut kehilangan dia, kita takut kalau-kalau dia nanti tidak suka kepada kita, nah kecenderungannya kalau seseorang terlalu takut kehilangan pasangannya dia akan menyetel tindakannya sedemikian rupa sehingga dia hanya akan memberikan satu sisi atau satu aspek saja tentang dirinya. Yang lainnya dia tidak ceritakan, jadi keterbukaan otomatis akan mulai berkurang di sini, dia tidak suka dengan sesuatu dia tidak katakan; dia ingin sesuatu, tidak dia kemukakan; jadi dia akan mulai menyembunyikan bagian tertentu dalam hidupnya. Karena dia ketakutan kalau-kalau pasangannya tidak menyukainya lagi. Nah, hal ini sekali lagi menandakan hubungan yang tidak dewasa karena dia takut kalau dia kemukakan, nanti pasangannya tidak akan menganggap dia seperti yang dulu lagi. Jadi hubungan yang makin terbuka membuat kita makin berani menyampaikan apa adanya diri kita, juga menandakan kedewasaan hubungan itu sendiri kalau keduanya dapat menerima dengan baik.
GS : Ada pasangan yang mengharapkan pasangannya lebih dahulu terbuka Pak Paul, jadi dia merasa keenakan dia nanti saja, sudah terbuka seluruhnya dia menutupi terus, dia tahu rahasia saya, saya tidak tahu rahasia dia. Bagaimana pandangan Pak Paul untuk hal ini?

PG : Kalau sampai ada perasaan seperti itu yang terjadi adalah memang level kepercayaan di antara mereka memang tidak begitu kuat, sebab seharusnya semakin lama mereka berpasangan semakin kut rasa percaya terhadap satu sama lain, sehingga mereka berani membukakan diri terhadap pasangannya, sebab dia tahu pasangannya akan menerimanya.

Jadi kalau sampai yang satu tidak mau karena takut, saya kira yang harus dibereskan memang bukan soal keterbukaan tapi yang harus dibereskan adalah kepercayaan di antara keduanya. Kenapa kedua orang itu tidak mempercayai satu sama lain, mungkin ada masalah yang membelakangi ini semua.
IR : Kalau salah satu pasangan itu mempunyai sesuatu yang harus diutarakan, tapi kadarnya itu sudah kedaluarsa, sudah puluhan tahun, apakah itu masih perlu dikomunikasikan?

PG : Tidak, kalau sesuatu yang terjadi begitu lama dan tidak berpengaruh pada hubungan kita tidak usah lagi. Jadi keterbukaan tidak berarti kita harus menggali-gali tambang emas di dalam pert bumi kita, tidak usah.

(3) GS : Keterbukaan di dalam sisi yang lain yaitu di dalam sisi keuangan Pak Paul, nah sejauh mana pasangan suami-istri harus terbuka di dalam mengelola keuangannya?

PG : 100% harus terbuka, nah kalau sampai seseorang tidak berani terbuka, sekali lagi masalahnya menurut saya bukan terletak pada keuangan tapi pada hubungan itu sendiri yang nampaknya belu dewasa.

Dan kecurigaan itu yang perlu kita soroti mengapa dia mencurigai pasangannya, misalkan ya yang menjadi alasan klasik adalah kalau dia tahu uang saya nanti dia akan mulai mengatur-ngatur, dia mulai akan meminta-minta, menuntut-nuntut, jadi sebaiknya saya tidak beritahukan. Atau ada istri yang berprinsip uang kita terima kita simpan dan jangan beritahukan pada suami karena suami itu kadang-kadang akan mengkhianati kita jadi kita mesti mempunyai simpanan uang, kalau pria 'kan simpanannya istri lain, kalau istri sering kali simpanannya uang. Sebetulnya maksudnya tidak jahat yaitu kalau sampai suami meninggalkannya dia masih punya simpanan untuk bisa hidup.
IR : Kalau pasangan itu level imannya tidak sama Pak Paul, misalnya salah satu itu memiliki kerinduan untuk memberikan persembahan, kemudian yang satu itu tidak. Apakah itu juga harus ada keterbukaan, Pak Paul?

PG : Saya kira demikian harus ada keterbukaan, karena prinsip Alkitab memang berkata keduanya akan bersatu dan menjadi satu daging jadi tidak mungkin tangan kanan berbuat sesuatu tangan kiritidak tahu, tidak mungkin, jadi keterbukaan itu memang haruslah ada secara tuntas dalam pernikahan.

Karena konsep Alkitab itu penyatuan dua menjadi satu.
IR : Tapi sering kali terjadi gap Pak Paul, yang satu itu memang kerinduan misalnya untuk memberikan persembahan, dia terbeban tapi karena takut pada suaminya dia lalu tidak memberitahukan pada suaminya itu tidak benar ya Pak Paul?

PG : Saya kira ya kurang, lebih baik kita beritahukan meskipun akhirnya tidak disetujui tapi kita terus berkata: "OK! Karena kamu tidak setujui dan memang ini uang kita bersama saya akan ikui."

Dan kita tidak usah takut kehilangan kredit di mata Tuhan, Tuhan tahu duduk masalahnya dan Tuhan sudah tahu itulah uang yang kita persembahkan kepada Tuhan namun dalam kondisi tidak diizinkan oleh pasangan kita.
IR : Tapi sering kali tersiksa, Pak Paul.
GS : Sejalan dengan itu juga mungkin dalam membantu keluarga, membantu orang tua, adik atau kakak itu, itu sering kali juga sembunyi-sembunyi memberikannya.

PG : Saya kira itu yang sering terjadi, namun waktu itu terjadi hubungan suami-istri sebetulnya mulai berhenti. Kalau saya lebih setuju, biarlah kita beritahukan dan biarlah kita mungkin bereteru atau bertengkar pada awal-awalnya namun dengan bertengkar itu kita sampai pada kedewasaan yang lebih tinggi, sehingga keduanya lebih rela untuk memberikan dan menemukan jalan keluar.

Saya tahu itu memang sering terjadi, ada istri yang memberikan uang kepada keluarganya tanpa pemberitahuan kepada suami, suami memberikan kepada keluarganya tanpa memberitahukan kepada istri, saya rasa itu tidak sehat. Bagi saya biar bertengkar tidak apa-apa, tapi akhirnya mereka naik ke jenjang hubungan yang lebih tinggi.
GS : Tapi rasa-rasanya dari pembicaraan ini saya merasakan kalau pada saat awal keterbukaan itu dilakukan akan sering terjadi salah paham, Pak Paul.

PG : Jadi keterbukaan tidak berarti kemulusan hubungan, justru hubungan yang terbuka pada awal-awal pernikahan ini akan mengalami gejolak-gejolak, tidak bisa tidak. Justru kalau kita menutup dan hanya menyajikan diri untuk pasangan kita, gejolak juga akan berkurang.

Waktu kita mulai membuka diri, manunjukkan siapa kita, meminta yang kita inginkan dan sebagainya sudah tentu akan ada pergolakan. Maka idealnya ini terjadi bukan setelah kita menikah namun tatkala masih berpacaran, jadi hubungan kita menjadi hubungan yang bertumbuh.
GS : Jadi di masa pacaran sudah mulai dilakukan keterbukaan tapi pada waktu pernikahan juga harus tetap dibina kebiasaan itu, kesepakatan untuk saling terbuka Pak Paul.

PG : Betul namun keterbukaan bukanlah suatu lisensi atau izin untuk menyakiti pasangan kita; misalkan saya berikan contoh, kita ini mengharapkan suami kita jadi manager, sampai sekarang ya msih belum, masih karyawan terus-menerus dan atas nama keterbukaan kita berkata: "Saya sangat kecewa sekali, kamu kok dari dulu tidak pernah jadi manager, terus jadi karyawan."

Nah saya kira kalau itu sudah pernah terungkap sekali ya sudah jangan diulang-ulang jadi jangan sampai kita mengatasnamakan keterbukaan terus menyalahgunakannya untuk menyakiti pasangan kita. Kita tahu istri kita misalnya punya bakat gemuk, dia makannya sedikit, tapi terus gemuk, jangan kita atas nama terbuka kita berkata saya sebel dengan kamu karena kamu gembrot, kenapa tidak bisa kurus-kurus dan sebagainya; nah itu bukanlah keterbukaan, itu kejam. Jadi keterbukaan bukanlah lisensi atau izin untuk kita berbuat kejam pada pasangan kita.
IR : Jadi harus bijaksana ya Pak Paul, seperti kalau pasangan suami-istri, si istri itu juga selalu ada perhatian untuk keluarga suami, pasti suami itu juga akan mengizinkan kalau istri memberikan untuk keluarganya.

PG : Tepat, biasanya begitu, betul.

(4) GS : Di samping mengatasnamakan keterbukaan sering kali orang mengatasnamakan kejujuran. Ini jujur saja saya bilang, tapi jujurnya itu lalu menyakiti hati pasangan Pak Paul. Dalam hal ini apa yang firman Tuhan sampaikan pada kita?

PG : Firman Tuhan di Efesus 4:25 berkata : "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Nah jadi pertama Alkitabmeminta kita jujur, terbuka, berkatalah yang benar tidak ada alasan untuk kejam atau untuk sengaja menyakiti.

Kejujuran mungkin akan melukai tapi jangan sampai sengaja melukai dengan berkata hal-hal yang jujur itu, jadi tidak sama saya kira. Adakalanya untuk atau dengan tujuan menyakiti hati, kita mengatakan hal itu, itu sudah salah. Kalau kita ingin mengatakan yang benar, namun akhirnya harus melukai dia itu tidak apa-apa, itu akan terjadi, jangan kita balik kita mau menyakiti dia maka kita mengatakan hal ini kepadanya, terus mengatasnamakan saya hanya jujur. Alkitab mengatakan kita sesama anggota, istri dan suami juga adalah suatu kesatuan.
GS : Kalau firman Tuhan dengan tegas mengatakan buanglah dusta Pak Paul, itu sering kali 'kan masih muncul lagi walaupun kita sudah membuangnya dan bertekad untuk tidak lagi mendustai, tapi dusta itu muncul lagi Pak Paul, apakah itu harus dilakukan berulang-ulang begitu maksudnya?

PG : Dan setiap kali berdusta dan kita sadari kita berdusta, kita harus akui itu di depan pasangan kita, bahwa saya telah berdusta lagi, sebab dusta yang tidak kita akui cenderung akhirnya mngundang dusta-dusta yang lebih banyak, tapi kalau kita harus membayar harga kita harus akui, kita lebih kapok untuk berdusta.

GS : Ya saya rasa itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri, mempunya tekad yang sama untuk saling terbuka di dalam mewujudkan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang keterbukaan dalam kehidupan suami istri, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 49 B

  1. Apa makna keterbukaan dalam pernikahan...?
  2. Dalam hubungan pernikahan perlukah latar belakang masing-masing keluarga dibuka terhadap pasangan kita...?
  3. Sampai sejauh manakah pasangan suami istri harus terbuka dalam mengelola keuangan...?
  4. Bagaimana pandangan firman Tuhan mengenai keterbukaan dalam pernikahan ini...?


13. Proses Restorasi Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T053A (File MP3 T053A)


Abstrak:

Merestorasi atau membangun kembali suatu pernikahan yang sudah rusak memang memerlukan waktu yang lama dan memerlukan usaha yang sangat keras.


Ringkasan:

Restorasi, ada dua hal yang terkandung dalam kata-kata tersebut, kata restorasi itu sendiri mencerminkan pemugaran atau pembenahan atau pembangunan kembali. Jadi yang tersirat dalam kata restorasi adalah adanya sesuatu yang telah rusak sehingga perlu untuk dipugar kembali. Kata proses menunjuk pada waktu dan usaha, karena memang untuk memugar atau membangun kembali suatu pernikahan yang sudah rusak akan memerlukan waktu yang lama dan memerlukan usaha yang sangat keras.

Ada beberapa hal yang dapat kita gunakan untuk menilai berapa parahnya hubungan nikah atau seberapa rusaknya pernikahan itu.

  1. Kita melihat dari sudut ada tidaknya keintiman.

  2. Dilihat dari sudut ada tidaknya respek.

  3. Ukuran yang dapat kita gunakan ialah kepercayaan. Kepercayaan itu menyangkut pada kebebasan yang diberikan pada pasangan kita.

Jadi pernikahan dapat kita katakan sudah rusak, apabila keintiman sudah hilang, respek sudah pudar dan akhirnya kepercayaan pun sudah punah.

Ada orang-orang tertentu yang tidak ingin pernikahannya hancur, mereka pasti berusaha untuk berbuat baik kembali, orang-orang tersebut biasanya adalah:

  1. Orang yang pertama, orang yang banyak investasinya dalam pernikahan.

  2. Ia yang lebih memikirkan keutuhan keluarga terutama anak-anak.

  3. Orang yang takut akan Tuhan

Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk merestorasi pernikahan yaitu sbb:

  1. Pertama-tama mereka berdua harus berbicara dari hati ke hati dan menanyakan masing-masing pihak apakah bisa dicapai suatu kesepakatan untuk memberikan suatu kesempatan kepada hubungan mereka ini untuk diperbaiki.

  2. Langkah kedua adalah bahwa mereka bukanlah pasangan yang unik dan kasus mereka juga bukan kasus yang unik.

  3. Langkah berikutnya adalah agar pernikahan yang sudah rusak bisa pulih kembali seperti sedia kala saya duga memerlukan kurun 3 sampai 5 tahun, benar-benar untuk kembali pulih.

    1. Kita perlu menumbuhkan harapan dalam diri mereka, bahwa pernikahan mereka masih bisa diperbaiki atau masih bisa ditolong.

    2. Mereka harus memikirkan Tuhan, mereka tidak bisa melepaskan Tuhan dalam aspek kehidupan mereka yang khusus ini.

Dellast dan Ruby Vricent dalam bukunya membagikan pengalaman mereka. Ternyata sering kali pasangan nikah itu memang sudah kehilangan harapan dan merasa bahwa apapun yang dilakukan tidak akan lagi membawa hasil.

Menurut Dr. dan Mrs. Vricent sekurang-kurangnya ada tiga fase yang harus dilewati oleh pasangan suami istri ini.

  1. Fase pertama adalah meragukan akan ketulusan pasangan kita, jadi pertanyaannya adalah apakah dia sungguh-sungguh ingin berubah itu yang seringkali dipertanyakan oleh pasangan suami istri ini.

  2. Fase yang kedua, yaitu dia akan meragukan kesanggupan pasangannya. Jadi pertanyaan yang diajukan di sini adalah apakah ia mampu berubah dan apakah dia ini sungguh-sungguh ingin berubah atau tidak.

  3. Fase yang terakhir adalah fase meragukan ketahanan atau kepermanenan perubahan tersebut. Jadi pertanyaan yang ditanyakan di sini ialah berapa lamakah ia akan mempertahankan perubahan itu. Ya dia sekarang berubah, tapi tahun depan bagaimana?

1Petrus 4:8, "Tetapi yang terutama kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." Pasangan kita mungkin sekali telah melanggar dan melakukan banyak pelanggaran, di sini Tuhan menantang kita sebagai manusia yang telah ditebusnya untuk tetap mengasihi. Sebab Tuhan berkata kasih akan menutupi banyak dosa. Harus ada faktor pengampunan, setiap hari. Kita percaya bahwa bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mau memperbaiki hubungan pernikahannya, pertolongan Tuhan pasti akan datang pada waktunya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang proses restorasi pernikahan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, biasanya kita bicara tentang restorasi itu terhadap bangunan Pak Paul, tetapi tema kali ini menarik sekali yaitu proses restorasi pernikahan. Sebenarnya apa maknanya Pak?

PG : Ada dua hal yang terkandung dalam kata-kata tersebut Pak Gunawan, kata restorasi itu sendiri memang mencerminkan pemugaran atau pembenahan atau pembangunan kembali. Jadi yang tersirat dala kata restorasi adalah adanya sesuatu yang telah rusak sehingga perlu untuk dipugar kembali.

Kata proses menunjuk pada waktu dan usaha, karena memang untuk memugar atau membangun kembali suatu pernikahan yang sudah rusak akan memerlukan waktu yang lama dan memerlukan usaha yang sangat keras.
GS : Pernikahan yang sudah rusak yang Pak Paul maksudkan itu seperti apa?

PG : Ada beberapa kriteria Pak Gunawan yang dapat kita gunakan untuk menilai berapa parahnya hubungan nikah itu. Yang pertama adalah memang kita bisa melihat dari sudut tidak adanya keintiman, adi salah satu tanda yang dapat kita cermati adalah keintiman yang telah terhilang, benar-benar keintiman merupakan barometer pernikahan.

Kita bisa melihat dua orang hidup serumah dan seolah-olah akur tapi kalau kita tidak melihat keintiman sebetulnya pernikahan itu tidaklah kuat lagi. Jadi yang menjadi barometer adalah keintiman, keintiman itu sudah tentu diperlihatkan dalam bentuk kemesraan, perhatian, keinginan untuk membagi waktu dengan pasangan kita, memberikan yang paling baik untuk pasangan kita, memikirkan yang paling baik untuk pasangan kita, dan sebagainya. Nah itu memang barometer pertamanya, Pak Gunawan. Yang kedua yang dapat kita gunakan adalah respek, respek dalam pengertian apakah masih ada rasa hormat, menyegani pasangan kita, yang lebih ideal adalah memang kita memiliki keyakinan terhadap pasangan kita apakah hal-hal yang memang kita hormati, kita kagumi pada pasangan kita itu. Jikalau pernikahan tidak lagi memiliki unsur respek maka pernikahan itu sudah mulai sakit, sudah mulai rusak. Dan yang ketiga ukuran yang dapat digunakan kepercayaan Pak Gunawan, kepercayaan itu menyangkut pada kebebasan yang diberikan pada pasangan kita, kepercayaan untuk membiarkan dia tidak ada di depan kita. Tidak usah bertanya-tanya apakah yang dia katakan itulah yang dia memang maksudkan, nah itu semuanya berkaitan dengan faktor kepercayaan. Jadi pernikahan dapat kita katakan sudah rusak, apabila keintiman sudah hilang, respek sudah pudar dan akhirnya kepercayaan pun sudah punah.
GS : Dalam kondisi seperti itu bukankah orang akan lebih gampang memutuskan untuk ya sudah biarkan hancur saja daripada harus merestorasi lagi yang pasti jauh lebih sulit, Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi sebetulnya lebih mudah memelihara, menjaga suatu pernikahan daripada merestorasinya atau membenarkannya. Sebab waktu kita ini memulai pernikahan biasanya kit memulai dalam status yang lumayan baik.

Waktu sudah menjadi sangat rusak sekali yang terjadi adalah memerlukan waktu yang jauh lebih panjang dan usaha lebih keras untuk mendirikan kembali pernikahan yang sudah rusak itu. Jadi betul sekali yang tadi Pak Gunawan sudah singgung, untuk membetulkan, memugar pernikahan yang sudah rusak memang jauh lebih susah. Itu sebabnya cenderung orang-orang sekarang ini berkata buat apa saya susah-susah memugar kembali yang sudah rusak seperti ini, lebih baik yang diputus.
IR : Tapi seseorang itu bukankah sebenarnya tidak ingin pernikahannya itu hancur, dan juga pasti ada orang yang berusaha untuk berbuat baik kembali. Nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Biasanya memang itu terjadi, jadi sering kali dua orang mempunyai masalah tapi satu yang lebih bersemangat atau lebih termotivasi untuk membereskan masalahnya. Cenderungnya akan ada satu oang yang bersifat masa bodoh yang tidak lagi memiliki keinginan untuk memperbaiki pernikahan ini.

Biasanya yang akan bersikeras membereskan masalah ini adalah orang yang pertama, orang yang banyak investasinya dalam pernikahan ini. Jadi kalau sampai dia kehilangan pernikahan ini, dia yang lebih dirugikan, nah sebagai pihak yang lebih dirugikan dia lebih berkepentingan untuk menjaga jangan sampai pernikahan itu runtuh. Pihak berikutnya yang sering kali memikirkan pernikahan adalah ia yang lebih memikirkan keutuhan keluarga terutama anak-anak. Orang tua yang tidak lagi menghiraukan anak-anak sebab terlalu memikirkan dirinya sendiri, dia akan lebih cepat mengambil keputusan misalnya cerai. Jadi orang tua yang lebih memikirkan kepentingan anak cenderung akan lebih termotivasi untuk mempertahankan pernikahan itu. Dan yang ketiga sudah tentu adalah orang yang takut akan Tuhan, adalah orang yang tidak menginginkan perceraian, tapi orang yang tidak takut akan Tuhan, otomatis lebih mendengarkan nalurinya sendiri, dorongan hatinya sendiri, tidak lagi mempedulikan apakah ini yang Tuhan kehendaki atau tidak.
IR : Jadi kalau dihitung-hitung Pak Paul tentu lebih rugi kalau mereka itu berpisah, bukankah kalau mereka mau kembali akan lebih untung?

PG : Betul sekali, yang jauh lebih positif adalah kalau pernikahan itu dapat diperbaiki, kalau bercerai sudah tentu akan banyak konsekuensi yang mereka harus tanggung. Anak-anak yang harus hidu tanpa orang tua, dibesarkan tanpa adanya ayah atau ibu dalam rumah tangga dan sebagainya.

Jadi memang sebetulnya akan ada banyak hal yang mereka harus alami setelah perceraian tersebut, jauh lebih baik kalau mereka mencoba bertahan. Nah sebagai konselor atau sebagai orang-orang yang Tuhan tugaskan untuk menolong orang-orang yang dalam masalah, kita memang berkewajiban pada tahap pertama ini menumbuhkan pengharapan mereka, Ibu Ida. Sebab sekali lagi yang dirasakan biasanya adalah keputusasaan karena yang mereka minta, yang mereka harapkan dari pasangan mereka itu tidak pernah terwujud dan masalah atau yang dilakukan oleh pasangan itu malah diulang-ulang bukannya berkurang, malah makin bertambah. Akhirnya hal-hal itu membuat seseorang merasa tidak tahan lagi.
(2) GS : Jadi katakanlah ada salah satu pasangan suami-istri yang mau memulai untuk merestorasi pernikahan mereka yang sudah hancur Pak Paul, langkah apa yang mula-mula harus diambil?

PG : Pertama-tama mereka berdua memang harus berbicara dari hati ke hati dan menanyakan masing-masing pihak apakah bisa dicapai suatu kesepakatan untuk memberikan suatu kesempatan kepada hubungn mereka ini untuk diperbaiki.

Jadi kita akan tetapkan suatu jangka waktu misalnya 6 bulan atau setahun, mari kita berdua datang ke konselor pernikahan dan kita bereskan, dan berikan waktu yang panjang ini untuk selama setahun. Kadang waktu saya menghadapi pasangan yang sedang menghadapi masalah besar, saya juga mengajukan pertanyaan seperti itu. Apakah saudara bersedia memberikan waktu misalkan untuk 6 minggu, 2 bulan atau 3 bulan atau 6 bulan agar saya diberikan kesempatan untuk menolong saudara. Nah kadang kala saya melihat pasangan itu sudah tidak sabar lagi, jadi reaksinya adalah kenapa kami harus menunggu begitu lama. Nah sering kali saya berkata begini, apa ruginya memberikan 6 bulan ini, apa ruginya memberikan setahun ini, sebab kalau saudara sekarang berpisah atau bercerai saudara tidak akan bisa lagi kembali atau lebih susah lagi untuk kembali. Tapi kalau saudara memberikan waktu beberapa bulan ini, bukankah nantinya kalau pernikahan ini dapat diperbaiki, saudara yang dapat menikmati faedahnya. Jadi kenapa tidak memberikan 6 bulan lagi, berikan waktu sebab ini yang perlu kita tekankan kepada mereka bahwa proses harus menjadi bagian dalam konseling ini. Perlu waktu yang lama dan perlu usaha keras mereka, tapi kita perlu dorongan bahwa ada bayak pernikahan yang akhirnya bisa diselamatkan. Jadi kasus mereka bukan kasus yang unik, itu adalah langkah kedua yang sering kali kita harus tegaskan pada pasangan yang bermasalah bahwa mereka bukanlah pasangan yang unik. Kadang kala mereka beranggapan o....hanya suami saya yang aneh seperti ini atau hanya istri sayalah yang bermasalah seperti ini. Kenyataannya adalah semua pasangan nikah harus bekerja keras untuk menyatukan dua individu yang berbeda itu, jadi berikan mereka gambaran bahwa banyak orang yang harus melalui yang mereka lewati ini, jadi perlu ketekunan dan kesabaran. Jadi untuk menjawab yang tadi ditanyakan Pak Gunawan memang perlu kesepakatan, perlu komitmen itu, bisa tidak memberikan waktu tersebut. Kalau dari awalnya keduanya atau salah satu di antaranya berkata tidak mau lagi, memang sudah sangat sulit sekali.
GS : Langkah berikutnya Pak Paul, kalau katakan mereka sudah memberi waktu 6 bulan, tapi kita itu tidak tahu persis kapan masalah itu terselesaikan Pak Paul?

PG : Betul, untuk sampai masalah pernikahan yang sudah rusak bisa pulih kembali seperti sedia kala, saya duga memerlukan kurun 3 sampai 5 tahun, benar-benar untuk kembali pulih. Tapi setelah adnya bantuan dari luar misalnya konseling, mereka bisa mulai melihat adanya perbaikan.

Nah sering kali meskipun perbaikan hanya sedikit, cukup untuk memberikan mereka pengharapan bahwa kalau ini sudah berubah dan ada perbaikan kemungkinan akan ada perbaikan yang lebih lanjut lagi.
GS : Jadi menumbuhkan harapan dalam diri mereka, bahwa pernikahan mereka masih bisa diperbaiki atau masih bisa ditolong, Pak Paul?

PG : Betul, itu langkah yang sangat penting, jadi itu langkah yang selalu harus kita tekankan. Dan kedua yang selalu saya tekankan adalah bahwa mereka harus memikirkan Tuhan, jadi mereka tidak isa melepaskan Tuhan dalam aspek kehidupan mereka yang khusus ini.

Dalam hal pekerjaan dan lain-lain mereka mungkin mencari kehendak Tuhan, mencari apa yang Tuhan sungguh inginkan. Nah dalam hal pernikahan mereka yang sudah bermasalah ini, saya meminta mereka untuk memikirkan Tuhan. Apa yang Tuhan inginkan dari mereka, masihkah mereka mempedulikan kehendak Tuhan dalam hal ini, jadi kita perlu ingatkan pasangan bahwa tetap mereka berdua bertanggungjawab kepada Tuhan. Nah sering kali ingatan bahwa memang mereka harus bertanggungjawab kepada Tuhan, menolong mereka untuk tidak tergesa-gesa atau menuruti keinginan mereka baik yang ingin meninggalkan atau yang merusakkan pernikahan itu. Sering kali keduanya akhirnya tidak begitu lagi memikirkan tentang Tuhan.
IR : Dan mereka juga membutuhkan kekuatan dari Tuhan juga Pak Paul ya, untuk bisa mengembalikan hubungan mereka?

PG : Betul, sebab memang secara manusiawi rasanya mustahil, apalagi seseorang yang sudah melewati luka yang terlalu dalam. Bagaimana bisa nomor satu memaafkan, kedua membangun kembali keintiman rasa cinta, respek dan kepercayaan kepada pasangannya.

Rasanya mustahil jadi sungguh betul yang Ibu Ida katakan, secara manusia tidak bisa dilakukan hanya bisa dilakukan dengan kuasa Tuhan, jadi benar-benar hari lepas hari bergantung kepada Tuhan untuk memberikannya kekuatan.
GS : Jadi ada semacam pertolongan ganda Pak Paul, di samping menolong pernikahannya sendiri tetapi juga membangun iman mereka?

PG : Ya, sebab hidup ini kadang kala menyajikan kita dengan situasi-situasi yang tidak kita harapkan, makin saya tua, saya makin menyadari bahwa sedikit sekali dalam hidup ini yang bisa kita kedalikan.

Benar-benar kita ini seperti seseorang yang sedang naik suatu kendaraan dan di depan kita tidak bisa kita lihat apa yang akan muncul. Nah masalahnya adalah sering kali kita tidak bisa mengelak dari apa yang akan datang atau yang menghampiri kita, kita harus bisa menyambutnya. Nah itulah saya kira seninya hidup Pak Gunawan yaitu bukan saja kita menyambut tapi kita akhirnya bisa mengatasinya. Orang yang senantiasa mengelak akhirnya akan menemukan banyak masalah, sebab hidup itu harus kita sambut, termasuk dalam hal ini adalah masalah dalam pernikahan. Adakalanya masalah muncul yang sudah tentu tidak kita harapkan, namun ya itulah bagian dari kehidupan kita, kita harus menyambutnya dan bagaimana mengatasinya.
GS : Biasanya yang Pak Paul lakukan, kalau mereka sudah mulai melihat ada tanda-tanda bahwa pernikahan mereka masih bisa ditolong, apa yang bisa dilakukan selanjutnya?

PG : Ada suatu buku konseling pernikahan Pak Gunawan, yang ditulis oleh Dellast dan Ruby Vricent, dalam buku itu mereka membagikan pengalaman mereka. Ternyata sering kali pasangan nikah itu memng sudah kehilangan harapan dan merasa bahwa apapun yang dilakukan tidak akan lagi membawa hasil.

Tapi tuan dan nyonya Vricent ini mempunyai suatu metode atau strategi yang mereka bisa lakukan, yaitu mereka menggambarkan suatu grafik dan di depan pasangan atau kedua orang yang sedang konseling itu tuan dan nyonya Vricent ini memberikan penjelasan bahwa yang memang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dari pasangan masing-masing. Namun diingatkan bahwa perasaan itu tidak mudah berubah, jadi misalkan seorang suami mengharapkan istrinya lebih memperhatikan dia, memperhatikan kebutuhannya dan sebagainya. Nah waktu dia sudah minta berkali-kali tapi tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, harapan tersebut sudah pupus. Nah peran konseling untuk merestorasi pernikahan ini sudah tentu yang dituntut atau diharapkan oleh si suami seyogyanya dipenuhi oleh si istri. Nah dalam proses si istri memenuhi dia akan menunjukkan perubahan perilaku, tapi masalahnya adalah meskipun si istri sudah berubah, si suami tidak otomatis akan mempunyai perasaan yang berbeda terhadap istrinya. Misalkan dia sudah merasa sangat jauh dan dingin dari si istri, tidak ada lagi gairah, tidak ada lagi keintiman dan sebagainya. Nah bisa-bisa yang terjadi adalah meskipun si istri sudah mulai berubah misalkan cukup lama misalkan sudah 2 bulan berubah, lebih memperhatikan kebutuhan si suami dan sebagainya, tetap si suami merasa sama, dia itu dingin. Nah mungkin sekali setelah dua bulan konseling, si suami akan berkata tidak ada hasilnya, saya tetap merasakan tidak ada gairah lagi terhadap istri saya, tidak ada keinginan untuk mencintainya, sedangkan si istri berkata saya sudah berubah, saya sudah melakukan yang diminta oleh suami saya. Nah tuan dan nyonya Vricent menekankan bahwa itulah prosesnya bahwa perasaan itu tidak berjalan seiring dengan realita. Realita sudah berubah tapi perasaan sering kali tidak berubah, nah itu yang ditunjukkan pada pasangan nikah yang mau mulai proses restorasi ini oleh Dr dan Mrs. Vricent ini. Jadi mereka menyadari bahwa itulah yang mereka harus lewati.
GS : Dalam hal ini yang berubah istrinya Pak Paul, jadi istri memang faktanya berubah tapi perasaan si suami belum berubah itu yang Pak Paul katakan. Tapi itu 'kan dua pribadi yang tidak mungkin disatukan?

PG : Betul, logikanya adalah perasaannya mati atau dingin karena perbuatan-perbuatan si istri yang tidak menyenangkannya. Nah jadi kalau kita ikuti logikanya, kalau si istri berubah seharusnya erasaan si suami kembali seperti semula, kenyataannya tidak.

Jadi sering kali perasaan itu tertinggal di belakang, tidak dengan cepat mengikuti perubahan fakta, nah ini yang sering kali diinterpretasi tidak ada hasilnya atau percuma.
GS : Tapi ada faktor yang membuat seperti itu, yang membuat perasaan si suami tidak bisa mengikuti perubahan yang dilakukan oleh istrinya.

PG : Saya kira sering kali dalam misalnya kasus ini, seperti suami ini dia sudah pernah mempertaruhkan kepercayaannya atau pengharapannya. Namun setelah berulang kali mengalami peristiwa yang sma dia akhirnya menyimpulkan ya sudah, saya harus menerima ini faktanya, istri saya tidak akan berubah.

Jadi akhirnya yang terjadi si suami itu tidak lagi mengijinkan perasaannya untuk hangat untuk hidup kembali, karena takut dia kecewa. Nah menurut Dr. dan Mrs. Vricent sekurang-kurangnya ada tiga fase Pak Gunawan yang harus dilewati oleh pasangan suami-istri ini. Fase pertama adalah meragukan akan ketulusan pasangan kita, jadi pertanyaannya adalah apakah dia sungguh-sungguh ingin berubah itu yang sering kali dipertanyakan oleh pasangan suami-istri ini. Kenapa sampai timbul pertanyaan seperti itu, kenapa dia masih meragukan ketulusan pasangannya, ya dia takut diperdaya lagi, tidak mau dilukai ulang. Nah setelah fase yang pertama itu dia harus melewati fase yang kedua, yaitu dia akan meragukan kesanggupan pasangannya, apakah ia mampu berubah, jadi pertanyaannya adalah dia ini pertama sungguh-sungguh ingin berubah atau tidak, OK-lah si suami berkata istri saya sungguh-sungguh ingin berubah. Tapi pertanyaan kedua yang akan muncul adalah kalaupun istri saya berubah dan tulus ingin berubah, mampu atau tidak. Nah kecenderungannya setelah mengalami problem yang berlanjut, kita ini akhirnya berkesimpulan bahwa pasangan kita tidak bisa atau tidak sanggup berubah. Memang dia ditakdirkan seperti itu, memiliki keterbatasan seperti ini, jadi apapun yang dilakukan tidak akan berubah. Nah kenapa sampai meragukan kesanggupan pasangannya untuk berubah, karena memang dia tidak yakin bahwa seseorang yang telah dibentuk seperti itu akan mampu berubah. Nah fase yang terakhir adalah fase meragukan ketahanan atau kepermanenan perubahan tersebut. Jadi pertanyaan yang ditanyakan di sini ialah berapa lamakah ia akan mempertahankan perubahan itu, ya dia sekarang berubah, tapi tahun depan bagaimana. Jadi motivasinya adalah dia ingin meminta bukti sebanyak-banyaknya, nah ini yang sering kali saya harus ingatkan bahwa kita berjalan memang dalam iman, tahun depan seperti apa memang kita tidak tahu, yang kita mau pegang adalah hari ini pasangan kita sudah mulai berubah dan kita terus menjaga supaya perubahan ini bisa dipertahankan. Otomatis akan memerlukan kerja sama kedua.
GS : Memang pengalaman masa lalu itu rasanya memang tidak mudah dilupakan Pak Paul, namun dalam hal ini saya percaya ada firman Tuhan yang bisa membimbing pasangan suami-istri itu, bukan kata-kata manusia tapi Allah sendiri yang berbicara.

PG : Saya akan bacakan dari 1 Petrus 4:8, "Tetapi yang terutama kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." Sudah tentu doa di sini memang dosa terhadap Tuhan, tapi dosa bisa kita kategorikan pelanggaran terhadap diri kita atau terhadap perasaan kita.

Nah pasangan kita mungkin sekali telah melanggar dan melakukan banyak pelanggaran dan Tuhan di sini menantang kita sebagai manusia yang telah ditebusnya untuk tetap mengasihi. Sebab Tuhan berkata kasih akan menutupi banyak dosa jadi apakah kita akan fokuskan pada dosa pasangan kita ataukah kita akan mencoba untuk mengasihi dia kembali. Nah kedua orang yang sedang mengalami masalah yang besar ini harus mulai dari titik mereka mau untuk merestorasi pernikahan itu, mereka mulai harus memfokuskan mata mereka pada usaha untuk mengasihi, bukan usaha untuk menyoroti dosa-dosa pasangannya. Nah ini harus dimulai kalau masih terus menyoroti dosa-dosa pasangannya, tidak akan maju-maju.
IR : Jadi juga faktor pengampunan ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali, Ibu Ida.

IR : Kalau tak diampuni, dia sendiri tidak diampuni oleh Tuhan.

PG : Ya dan setiap hari memang akhirnya harus mengampuni.

GS : Ya jadi memang sebuah usaha harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk merestorasi sebuah pernikahan, tapi kita percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti akan datang pada waktunya bagi orang yang sungguh-sungguh mau memperbaiki hubungan pernikahannya.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan tema tentang proses restorasi pernikahan. Dan pembicaraan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Dari studio kami mohon juga tanggapan saran serta pertanyaan-pertanyaan dari Anda yang bisa Anda alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 53 A

  1. Apakah makna restorasi pernikahan.....?
  2. Apakah maksud pernikahan yang sudah rusak....?
  3. Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk merestorasi pernikahan ini...?


14. Model-Model Pernikahan 1 Faktor Penentu Kesuksesan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T055A (File MP3 T055A)


Abstrak:

Berdasarkan gaya atau cara dalam penyelesaian sebuah konflik yang unik dan berbeda kita akan mempelajari tiga macam model (gaya berelasi) dalam pernikahan. Di mana ketiga gaya tersebut dapat berjalan dengan baik untuk tujuan mewujudkan keberhasilan di dalam mempertahankan pernikahan.


Ringkasan:

Saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik sekali, buku itu berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan bisa sukses atau gagal. Buku yang ditulis oleh John Gartmand ini memaparkan bahwa sebetulnya pernikahan itu sangat unik sekali, seperti baju yang kita pakai itu tidak bisa pas untuk semua orang. Baju itu bisa pas untuk saya tapi mungkin tidak pas untuk orang lain, nah demikian juga dengan pernikahan.

Ada 3 model pernikahan berdasarkan gaya menyelesaikan konflik, tiga model tersebut adalah:

  1. Model pertama disebut "validating", pasangan yang "validating" adalah pasangan yang saling mengukuhkan, saling menguatkan satu sama lain.

    Dalam proses menyelesaikan konflik sekurang-kurangnya ada 3 tahapan:

    1. Tahap pengukuhn, mereka akan duduk bersama, memberikan kesempatan untuk pasangannya mengeluarkan unek-uneknya dan mereka saling mendengarkan.

    2. Tahap pembujukan, masing-masing mencoba meyakinkan lawan bicaranya akan kebenaran pendapatnya. Dengan kata lain masing-masing membujuk pasangannya untuk bisa mengakui bahwa dia benar.

    3. Tahap kompromi, masing-masing mencoba untuk mengalah atau menemukan titik temu atau jalan keluar dari masalah mereka.

    Yang mereka lakukan secara konkret adalah:

    1. Mereka senantiasa berupaya memelihara komunikasi, jadi kalau ada apa-apa yang mengganjal, mengganggu mereka tidak mencoba untuk membicarakannya.

    2. Mereka berupaya untuk saling terbuka.

    3. Mereka tetap berusaha mesra satu dengan yang lain.

    4. Berupaya membagi waktunya dengan pasangan, mengerjakan aktivitas atau hobbynya secara bersama-sama. Dengan kata lain mereka mencoba untuk menjaga kebersamaan tersebut.

    Kelemahan model ini adalah: Suami-istri cenderung mengorbankan minat pribadinya demi kebersamaan dengan pasanganya.

  2. Model kedua adalah volatile berarti tidak stabil mudah naik turun. Pasangannya ini kalau marah, marah tapi kalau mesra luar biasa mesranya.

    Ciri pasangan dalam kategori ini adalah:

    1. Seringkali terjadi pertengkaran tapi mereka juga pasangan yang lumayan hangat dan saling mencintainya.

    2. Tidak saling mendengarkan, dan tidak memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mengutarakan unek-uneknya.

    Ada beberapa tindakan konkret yang tampak nyata dalam model ini yaitu:

    1. Sangat menekankan kejujuran dan keterbukaan.

    2. Mereka sarat dengan kemarahan, namun juga penuh dengan kemesraan.

    Kelemahannya adalah kalau marah mereka langsung bicara apa yang mereka rasakan dan akan menjatuhkan pasangannya, kalau tidak hati-hati akhirnya melewati batas, mereka akan saling menghancurkan dengan kata-kata yang mereka lontarkan.

  3. Model ketiga disebut "avoidant" yaitu pasangan nikah yang cenderung menghindarkan diri dari pertengkaran.

    Cirinya adalah:

    1. Menekankan falsafah setuju untuk tidak setuju. Artinya untuk menghindari pertengkaran mereka cenderung menyetujui meskipun mereka tidak setuju.

    2. Berupaya mengakui perbedaan, tapi tidak berupaya meyakinkan pasangan akan kebenaran pendapatnya.

    Tindakan konkret yang dilakukan pasangan ini adalah:

    1. Yang pertama, saling menghindarkan. Mereka akan menyelesaikan masalah dengan pola menghindar atau meminimalkan problem.

    2. Yang kedua mereka akan menekankan pada apa yang disukai bukan pada apa yang tidak disukai.

    Kelemahan model ini adalah masalah akhirnya tidak diselesaikan dan itu akan mengganggu terus. Segi positifnya pasangan ini tidak saling menyakiti.

Contoh-contoh yang konkret untuk pasangan masing-masing model itu adalah sbb:

  1. Pasangan yang "volatile", pasangan yang tidak stabil, pasangan yang penuh emosi, mereka memang cukup sering bertengkar, namun kalau cinta dan kemesraan mereka 5 kali lebih banyak dari pertengkaran, pernikahan mereka akan kuat.

  2. Pasangan yang "validating" yang saling mengukuhkan, yang saling memberikan pengakuan, dengan kepala dingin dalam menghadapi problem memang tingkat ketegangannya sedang-sedang, tapi cinta dan kehangatan juga sangat tinggi.

  3. Yang terakhir adalah pasangan "avoidant" yang menghindar memang sepintas kurang menunjukkan kemesraan atau kedalaman hati. Tapi yang positifnya adalah sangat sedikit kritikan atau penghinaan, atau pelecehan.

Tindakan atau hal-hal positif dan negatif menurut penemuan Dr. Gartman ternyata menarik sekali.

Tindakan yang negatif:

  1. Ternyata yang dimaksud dengan tindakan negatif bukanlah kemarahan melainkan mencela dan menghina.

  2. Membenarkan diri tidak mau mengalah, defensif dan akhirnya misalkan menarik diri, mengucilkan diri tidak mau kontak dengan pasangannya.

  3. Menolak untuk berbicara dengan pasanganya.

  4. Dan yang terakhir dari tindakan negatif, kesepian dan kesendirian.

Tindakan yang positif
Yang dimaksud dengan tindakan positif adalah:

  1. Memperlihatkan ketertarikan pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita.

  2. Menunjukkan kemesraan, misalnya kita menyentuhnya, berpegangan tangan, bercerita tentang masa lalu yang indah, terus menunjukkan kebersamaan kita dengan pasangan, waktu menghadapi problem kita tidak menyalahkan pasangan. Tapi kita berkata ini problem kita berdua, yuk kita hadapi bersama, atau melakukan hal-hal yang simpatik.

  3. Perhatian bisa kita berikan misalnya dengan membelikan sesuatu yang disenangi oleh pasangan kita.

  4. Juga di dalam menghargai pernikahan itu sendiri, misalnya kita mengingat-ingat kebaikannya dia. Bahwa dia adalah seorang istri yang telah mengabdi, berkorban untuk kita dan kita sampaikan pujian itu.

  5. Tindakan yang mencerminkan penghargaan adalah, kita tidak sedikit-sedikit melawan, berdebat dengan dia, tidak setuju.

  6. Kadang-kadang bercanda juga bisa mengakrabkan dan saling mendekatkan.

  7. Kalau memang kita telah menyusahkannya atau melukainya, permintaan maaf itu sangat dibutuhkan.

  8. Yang lain lagi misalnya adalah menerima dan menghormati pandangannya meskipun kita berbeda pandang.

Efesus 4:1, "Sebab itu aku menasehatkan kamu, aku orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu." Jadi pada intinya lepas dari model pernikahan, siapa kita, dan apa kepribadian kita, kita dipanggil Tuhan hidup untuk sepadan dengan panggilan Tuhan itu. Jadi tetap tolok ukurnya adalah Tuhan apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan memang kehendaki itulah yang coba kita lakukan.

Efesus 4:25,26 "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah berikan kesempatan kepada Iblis."

Firman Tuhan memberikan kita beberapa petunjuk, yang sangat jelas:

  1. Tuhan meminta kita untuk jujur, jangan berbohong.

  2. Tuhan juga berikan ruangan adanya kemarahan dalam kehidupan manusia, tapi yang Tuhan tekankan adalah jangan sampai kemarahan ini berubah menjadi suatu dosa.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Model-model Pernikahan". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik sekali, buku itu berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan bisa sukses atau justru berantakan atau gagal. Teryata ada beberapa hal yang indah yang bisa saya temukan dari buku tersebut.

Buku yang ditulis oleh John Gartmand ini memaparkan bahwa sebetulnya pernikahan itu sangat unik sekali, seperti baju yang kita pakai itu tidak bisa pas untuk semua orang. Baju itu bisa pas untuk saya tapi mungkin tidak pas untuk orang lain, nah demikian juga dengan pernikahan. John Gartmand sebelum dia menulis buku ini dia melakukan penelitiannya dan dari penelitiannya itu dia mendapatkan sekurang-kurangnya 3 model pernikahan, nah nanti inilah yang akan kita bahas bersama Pak Gunawan dan Ibu Ida.
(1) GS : Yang dimaksud model itu dalam arti kata apa, Pak Paul?

PG : Model adalah gaya berelasi, namun secara spesifik yang menjadi tolok ukurnya John Gartmand ini adalah gaya menyelesaikan konflik. Jadi dari gaya menyelesaikan konflik yang unik dan berbda inilah dia membagi kira-kira ada 3 model pernikahan.

Di mana tiga-tiganya sebetulnya bisa berjalan dengan baik, adakalanya kita beranggapan bahwa pernikahan yang kuat atau yang sehat haruslah mengikuti pola tertentu atau gaya hidup tertentu, atau gaya membereskan konflik yang tertentu pula. Ternyata bagi Gartmand pandangan itu tidak tepat, dari risetnya dia menemukan ada beberapa model pasangan yang mempunyai cara hidup yang berbeda namun toh berhasil mempertahankan pernikahan mereka dengan lumayan baik, dengan lumayan sehat. Jadi bukannya karena keterpaksaan mereka saling setia dalam pernikahan tapi memang masing-masing bisa menikmati pernikahan itu dan bisa berkata ini pernikahan yang sehat. Namun caranya justru sangat berbeda dari cara yang biasa kita anggap sebagai yang sehat itu.
IR : Contoh konkretnya model seperti apa saja, Pak Paul?

PG : Ada 3 Bu Ida, jadi kita akan bahas mungkin yang pertama dulu sekarang. Yang pertama adalah disebut "validating", pasangan yang "validating" adalah pasangan yang saling mengukuhkan, salig menguatkan satu sama lain.

Jadi ada beberapa cirinya pasangan yang seperti ini, pertama dia tekankan pasangan ini sangat menekankan komunikasi dengan kepala dingin. Jadi mereka tidak berteriak, tidak marah-marah namun kalau ada problem mereka mencoba duduk bersama dan membereskannya dengan kepala dingin. Dan mereka biasanya mampu mendengarkan dan memahami pendapat atau perasaan pasangan-pasangannya walaupun tidak harus menyetujuinya. Jadi dalam pendiskusian masing-masing dengan bebas boleh mengutarakan perasaannya, namun dijaga jangan sampai diskusi itu berubah menjadi suatu pertengkaran yang hangat.
GS : Dalam hal ini, dalam model yang pertama ini apakah mereka bisa saja berbeda pendapat Pak Paul, tapi diutarakan dengan kepala dingin. Tapi bukankah itu sulit untuk orang bisa terus-menerus kepala dingin pada saat dia itu justru marah, berbeda pendapat dengan pasangannya?

PG : Rupanya memang orang-orang yang masuk dalam kategori "validating", yang saling mengukuhkan ini adalah orang-orang yang relatif mampu untuk menguasai perasaannya. Jadi memang kita harus kui ada orang yang lebih mudah untuk beremosi, ada yang lebih lamban beremosi, jadi reaksinya itu tidak terlalu cepat.

Waktu ada hal-hal yang mengganjal dan menjengkelkannya ya pasti jengkel, tapi dia tidak terlalu mudah atau cepat bereaksi secara emosional. Nah rupanya ini yang dimaksud oleh John Gartmand ada orang-orang yang memang seperti ini tidak cepat bereaksi, sehingga mereka mampu duduk bersama dan mengungkapkan perasaan-perasaan mereka tanpa harus saling marah.
GS : Lalu bagaimana mereka itu menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka?

PG : John Gartmand berhasil mengidentifikasi sekurang-kurangnya ada 3 tahapan dalam proses menyelesaikan konflik. Yang pertama adalah mereka akan duduk bersama memberikan kesempatan untuk paangannya mengeluarkan unek-uneknya dan ya mereka akan saling mendengarkan unek-unek tersebut.

Nah waktu mereka mendengarkan dan memberi kesempatan kepada pasangannya mengeluarkan unek-unek ini yang disebut olehnya "validation" memberikan pengukuhan, mengakui bahwa inilah yang menjadi unek-unekmu. Langkah kedua, setelah saling mendengarkan dan saling mengeluarkan unek-unek, masing-masing akan mencoba meyakinkan lawan bicaranya akan kebenaran pendapatnya. Kenapa dia bersikap seperti ini dan inilah alasan-alasannya, jadi dengan kata lain masing-masing akan berupaya membujuk pasangannya untuk bisa mengakui bahwa dia benar. Nah tahapan ini disebut oleh John Gartmand tahap pembujukan. Yang terakhir adalah di mana masing-masing mencoba OK-lah ini pendapatmu, ini pendapatku bagaimana sekarang kita bernegosiasi, berkompromi, nah ini tahapan yang disebut memang tahap kompromi. Jadi masing-masing mencoba untuk mengalah atau menemukan titik temu atau jalan keluar dari masalah mereka.
GS : Apakah dengan model seperti itu, selalu akan tercapai kompromi, Pak Paul?

PG : Saya duga tidak selalu, tapi kemungkinan tercapainya saya kira lumayan besar, karena masing-masing berkesempatan untuk mendengarkan posisi pasangannya dan juga masing-masing merasa bahw dia dimengerti oleh pasangannya.

Bahwa yang dia katakan itu sudah didengarkan dimengerti, nah sekarang masalahnya adalah bagaimana mencapai titik temunya. Meskipun tidak ada jaminan mereka pasti menemukan titik temu, namun saya kira kemungkinan besar mereka akan mencapai titik temu itu.
GS : Tapi dalam tahap yang saling mempengaruhi itulah saya rasa bisa lama, bisa sebentar Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi bisa kalau masalahnya tidak terlalu prinsip bisa diselesaikan dengan cepat, tapi kalau masalahnya yang cukup prinsip, bisa berlangsung berhari-hari, Pak Gunawan.

GS : Karena bukankah masing-masing akan meyakinkan lawan bicaranya itu untuk menerima argumentasinya.

PG : Tepat sekali, namun rupanya sampai titik tertentu setelah mereka rasakan tidak bisa lagi saling mempengaruhi, maka keduanya akan bersedia (saya garis bawahi kata bersedia), bersedia untk mundur selangkah agar keduanya bisa menemukan titik temu di antara keduanya itu.

IR : Nah kira-kira tindakan konkret apa Pak Paul?

PG : Yang mereka lakukan secara konkretnya adalah mereka senantiasa berupaya memelihara komunikasi, jadi kalau ada apa-apa yang mengganjal, mengganggu, mereka tidak dengan sengaja menyembunykannya, tapi mereka mencoba untuk membicarakannya.

Yang lainnya lagi adalah mereka berupaya untuk saling terbuka, jadi tidak mau menutup-nutupi apa yang sedang mengganjalnya. Berikutnya mereka secara konkret untuk tetap mesra dengan satu sama lain, meskipun ada perbedaan, mereka tetap menjaga adanya kemesraan di antara mereka. Dan yang terakhir tindakan konkretnya adalah pasangan yang "validating" ini berupaya membagi waktunya dengan pasangan, mengerjakan aktivitas atau hobbynya secara bersama-sama, jadi dengan kata lain mereka mencoba untuk bisa menjaga kebersamaan tersebut.
GS : Apakah model "validating" ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan atau kematangan pribadi dari keduanya atau apa, Pak Paul?

PG : Saya kira semuanya itu mempengaruhi Pak Gunawan, jadi kematangan pasti mempengaruhi, latar belakang keluarga atau sosial juga mempengaruhi, lingkungan bagaimana dia dibesarkan juga mempngaruhi.

Tapi saya kira juga secara biologis kepribadian mereka juga mempengaruhi, karena ada orang-orang yang memang mudah untuk menguasai perasaannya, karena memang secara biologis dia adalah orang yang lebih reaktif. Nah yang menarik bukankah model ini adalah model ideal dan kita senantiasa berupaya menjadikan pernikahan kita seperti ini. Nah, John Gartmand mengakui ini model yang baik, model yang sehat tapi ternyata ini model yang punya kelemahannya pula. Jadi toh tidak sempurna dan bahkan yang dia tekankan dalam buku itu adalah model-model yang lainnya sama absahnya, sama-sama baiknya. Sebab masing-masing punya kekuatan dan juga kelemahannya.
GS : Apa kelemahannya Pak Paul dari model seperti itu?

PG : Yang paling utama adalah suami-istri cenderung mengorbankan minat pribadinya demi kebersamaan dengan pasangannya. Nah dalam pernikahan ini saya menggunakan istilah pernafasan pernikahan istilah ini sebenarnya dikeluarkan oleh Dr.

James Dobson seorang Psikolog Kristen dari Amerika Serikat. Nah Dr. James Dobson menekankan bahwa pernikahan yang sehat perlu memiliki yang dia sebut pernafasan pernikahan atau maksudnya adalah ruangan untuk bergerak. Adakalanya pernikahan itu menjadi sepertinya lintah yang menempel di badan manusia sangat akrab, nah justru yang ditekankan oleh James Dobson adalah pernikahan yang sehat tidak senantiasa harus lekat atau dekat. Adakalanya dekat, adakalanya harus mundur supaya apa, supaya pasangannya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan hidup pribadinya dan ini yang disebut nafas pernikahan, bisa dekat, bisa agak mundur. Jadi saya kira model pertama ini akan kehilangan kesempatan bagi si individu, masing-masing individu untuk mengembangkan kehidupan pribadinya. Sebab hampir semua hal akan diukur dari satu ukuran yaitu kebersamaan. Waktu seseorang misalnya si istri mulai mengembangkan minat pribadinya, si suami mungkin akan merasa engkau mulai meninggalkan saya, kok kita tidak bersama-sama lagi. Waktu si suami mau pergi sekali-kali dengan teman-teman prianya ke gereja, si istri akan berkata kenapa tidak mengajak istrimu, kalau mau pergi ajak istri juga dong. Jadi dengan kata lain sangat mengidealkan, mengagungkan kebersamaan. Nah dalam batasan tertentu itu sehat, tapi saya sangat menyetujui konsep yang ditawarkan dari James Dobson, bahwa pernikahan itu atau pernikahan yang sehat justru tidak senantiasa harus bersama terus-menerus. Adakalanya justru berikan ruangan bagi pasangan kita untuk mengembangkan hidupnya secara pribadi. Kita tahu kapan kita bersama-sama, kita tahu kita adalah pasangan yang kuat, saling memperhatikan, tapi adakalanya kita juga perlu untuk bernafas bersama-sama dengan teman kita juga, nah itu baik.
GS : Saya rasa kadang-kadang itu perlu untuk menghindari kejenuhan, tapi memang dibutuhkan pengorbanan. Tapi bukankah semestinya semua bisa dilakukan oleh istri, tapi karena kita membiarkan dia pergi atau memberi kesempatan dia pergi supaya terjadi nafas, pekerjaannya akhirnya kita yang ambil alih, Pak Paul. Seperti menanak nasi mungkin dan sebagainya?

PG : Betul, dan saya setuju dengan Pak Gunawan bahwa itu justru ada faedahnya, tidak selalu jelek. Saya berikan contoh, beberapa waktu yang lalu istri saya meninggalkan kami satu keluarga unuk pergi ke Jakarta selama kira-kira 4 hari.

Nah sepulangnya istri saya, istri saya berkata aduh saya ini merasa sangat senang, dia bilang terima kasih ya memberi saya izin pergi ke Jakarta. Dia bisa bertemu dengan teman baiknya, ngobrol dan sebagainya tanpa direcoki/diganggu oleh anak-anak. Nah ini adalah kemajuan besar buat istri saya, sebelumnya dia tidak pernah bisa melakukan hal ini. Dan selalu merasa bersalah kalau tidak bersama-sama keluarga, dia harus bersama-sama dengan anak-anak, kalau saya dan istri sering berpisah kadang-kadang saya pergi keluar pulau atau apa tapi dia tidak pernah berpisah dengan anak-anak. Ini baru pertama kali dan dia kembali justru merasa sangat senang dan dia berkata ini pun baik buat anak-anak, karena anak-anak sangat kehilangan dia, sangat menghargai kehadirannya. Jadi dia berkata, ya kalau saya di rumah terus-menerus anak-anak ini tidak menghargai saya, bagus jugalah saya pergi, benar-benar mereka menghargai saya.
IR : Jadi perlu di coba, Pak Paul?
GS : Jadi kesimpulannya apa Pak Paul dari tipe ini atau model ini?

PG : Kesimpulannya ini model yang baik, jadi banyak pernikahan yang seperti ini dan bertahan lama. Namun kita mesti ingat kelemahannya, kelemahannya adalah masing-masing tidak bisa mengembankan kehidupan pribadinya.

Bahkan ada kecenderungan kalau seorang mulai mengembangkan kehidupan pribadinya dia akan merasa bersalah, seolah-olah kok saya berbuat ini, melakukan hal ini, tidak bersama keluarga saya atau istri saya atau suami saya. Dia merasa sangat bersalah lagi, nah otomatis yang saya maksud bukan perbuatan dosa. Nah adakalanya baik bisa mengembangkan kehidupan pribadi tapi juga hati-hati yaitu adakalanya justru karena yang satunya merasa kurang aman dia akan berupaya untuk memancing atau menimbulkan rasa bersalah dari pasangannya. Kenapa engkau tidak mengajak saya, kenapa engkau sekarang egois, nah tidak seharusnya dan tidak selalu tindakan-tindakan yang mengembangkan kehidupan pribadi dianggap sebagai tindakan yang egois. Karena pada akhirnya sewaktu dua-dua merasa sangat cukup dan sangat puas, dia akan memberikan sumbangsih yang justru lebih sehat pada pernikahan itu sendiri.
IR : Nah kira-kira model yang berikutnya apa, Pak Paul?

PG : Model berikutnya adalah ini dia yang sangat menarik, model yang sering kali dianggap sangat-sangat destruktif, sangat berpotensi menghancurkan keluarga. Yakni dalam bahasa Inggrisnya diebut model "volatile".

"Volatile" itu berarti tidak stabil mudah naik turun. Nah dia memberikan beberapa ciri pada pasangan yang masuk dalam kategori model "volatile" ini. Yang pertama adalah sering kali pasangan ini bertengkar, jadi pertengkaran itu bukannya jarang tapi lumayan sering, misalkan seminggu sekali mereka bisa bertengkar. Dan yang menarik adalah pertengkaran itu biasanya berkaitan dengan hal-hal yang sepele, kenapa handuk ditaruhnya begini, kenapa tadi engkau tidak mengajak saya, kenapa jalan tidak melihat sampai nyenggol begitu. Jadi hal-hal yang kecil-kecil akhirnya menjadi sumber keributan, tapi ciri yang unik dari pasangan ini adalah meskipun mereka lumayan bertengkar, namun mereka itu berhasil mengkompensasikan pertengkaran-pertengkaran tersebut dengan kehangatan dan keakraban. Maksudnya begini, mereka menjadi pasangan yang lumayan sering bertengkar tapi mereka adalah pasangan yang hangat, yang sangat mesra, saling memperhatikan, saling mengetahui kebutuhan pasangannya dan mencoba untuk memenuhinya jadi seolah-olah sangat kontras sekali naik turunnya. Di satu pihak bertengkar dan kalau bertengkar lumayan panas, namun luar biasa hangatnya dan saling mencintainya.
GS : Dalam hal tipe atau model seperti itu, bagaimana caranya mereka itu kalau menyelesaikan konflik, karena seringnya terjadi konflik?

PG : Yang menarik adalah mereka itu langsung ke sebetulnya ke tahapan yang kedua kalau kita tadi membahas bahwa pasangan yang pertama "validating" itu pasti akan memulai dengan mendengarkan asangannya, mengeluh, mengeluarkan unek-unek, di mana masing-masing mengkomunikasikan apa itu yang mengganggu dirinya.

Nah pasangan yang "volatile", yang naik turun ini, yang kurang stabil, tidak. Tidak ada lagi waktu saling mendengarkan, dua-duanya mungkin bicara pada waktu yang bersamaan. Dan dengan nada yang tinggi, artinya apa, mereka tidak memberikan kesempatan untuk mendengarkan dan tidak memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mengutarakan unek-uneknya juga. Sebab masing-masing akan sibuk untuk saling membela dirinya, tahap kedua membenarkan tindakannya, menuntut pasangannya untuk begini dan begitu. Tapi aneh bin ajaibnya adalah pada akhirnya mereka itu seolah-olah bisa menyelesaikan problemnya dalam pengertian ya melalui konfrontasi, argumen-argumen yang keras, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tapi akhirnya mereka bisa mengerti bahwa itulah yang diminta oleh pasangannya dan yang satunya akan berkata OK-lah saya akan setujui. Jadi mungkin kali panas tapi akhirnya bisa terselesaikan karena yang satu mengerti, yang satu mengalah, OK-lah saya akan ikuti. Nah itulah tipe pertengkaran dan tipe bagaimana mereka membereskan pertengkaran itu.
IR : Tapi itu dibutuhkan jiwa yang sportif, Pak Paul.....?

PG : Betul sekali, itu hal yang penting sekali Ibu Ida. Jadi kalau masing-masing itu mau menang sendiri sama sekali tidak mau mengalah, ya tidak bisa memang, jadi jiwa sportif itu harus ada.

GS : Tindakan konkret apa Pak Paul yang dibutuhkan atau tampak nyata di dalam pasangan, dengan model seperti itu?

PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah orang-orang ini sangat menekankan kejujuran dan keterbukaan. Jadi kalau ditanya apa falsafah pernikahan saudara, falsafahnya pasti adalah jjur dan terbuka begitu, pokoknya ada apa-apa harus ngomong langsung.

Nah berikutnya adalah tindakan yang biasanya kita lihat dalam hubungan mereka, mereka memang sarat dengan kemarahan, namun juga penuh dengan kemesraan. Banyak moment yang menyakitkan, tapi banyak moment-moment yang indah pula begitu.
GS : Mungkin tipe ini pernah terlihat itu ada pasangan yang sering bertengkar, konflik tapi anaknya banyak, mungkin karena itu. Tadi Pak Paul katakan seperti yang pertama tadi 'kan tiap-tiap model pernikahan itu punya kelemahan Pak Paul, sekalipun itu berhasil mengatasi konflik kelemahannya bagaimana....?

PG : Nah pasangan yang "volatile" ini titik kelemahannya adalah yaitu mereka langsung bicara apa yang mereka rasakan, kalau tidak hati-hati dan akhirnya melewati batas mereka akan saling menhancurkan.

Jadi kata-kata yang mereka lontarkan benar-benar seperti pisau yang tajam dan menghujam ulu hati pasangannya, nah itu bahaya. Jadi pasangan yang pertama memang memiliki kelemahan, kelemahannya cukup serius sebetulnya, sebab orang yang kehilangan dirinya atau kehidupan pribadinya lama-lama bisa berontak sehingga menimbulkan masalah yang besar dalam pernikahan itu. Kalau yang "volatile" yang memang penuh emosi ini kelemahannya adalah kadang-kadang mereka akan keceplosan membicarakan dengan kasar dan keras, saling caci maki. Nah kita tahu hal-hal yang dikatakan oleh pasangan kita yang kasar dan menghina kita, pasti akan merusak dan merobek-robek hati kita dan bukan saja menimbulkan luka tapi kebencian pada pasangan kita. Dan biasanya waktu kita dirobek-robek kita tidak tinggal diam akan balas merobeknya pula dan akhirnya memang pasangan ini kalau tidak menjaga batas dalam kemarahannya, dalam waktu sekejap karena emosi yang tinggi bisa berkata OK! Kita pisah, misalnya seperti itu. OK! Saya tidak butuh engkau lagi atau silakan engkau keluar dari rumah, aku tak butuh engkau lagi, nah itu kata-kata bisa terlontar dengan sangat mudah. Dan yang fatal adalah OK! kita cerai sekarang, saya tidak takut hidup tanpa engkau, yang satunya menimpali saya juga tidak takut hidup tanpa engkau. Akhirnya dua-duanya saking emosi kebablasan, kelewatan.
GS : Tapi mungkin selama mereka masih membicarakan masalahnya, bukan orangnya, mereka masih bisa berkomunikasi, Pak Paul?

PG : Betul, masalahnya adalah pasangan yang "volatile" ini mereka akhirnya mudah sekali tersedot kepada orangnya yang diserang. Karena sekali lagi emosi yang begitu tinggi akhirnya ya membua dia lupa daratan dah, bahkan ini adalah model pasangan yang kalau tidak hati-hati akan berakhir dengan pemukulan, kekerasan jadi akhirnya saling menampar, saling mendorong, akhirnya saling memukul atau yang satu dipukuli oleh yang satunya.

GS : Ada yang berpendapat bahwa kalau orang suka ceplas-ceplos seperti ini, kalau ada orang lain yang mengatai dia, lebih tahan katanya, Pak Paul. Jadi tidak gampang tersinggung dibandingkan dengan orang yang diam.

PG : Mungkin maksudnya tidak tersinggung dalam pengertian dia tidak mengingat-ingat karena dia langsung balas dan dia keluarkan perasaannya, mungkin tidak tersinggung dalam pengertian itu. Tpi saya duga waktu diserang, tetap dia marah, tetap dia tersinggung, namun bedanya adalah dia langsung keluarkan kembali kemarahan tersebut, dia tidak simpan.

Sehingga kemungkinan memang kemarahan itu akhirnya reda dan dia tidak lagi mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh orang lain itu.
IR : Tapi kalau pertengkaran itu terus-menerus Pak Paul 'kan memang bahaya, bisa menjurus ke perceraian.

PG : Betul, saya sangat berkeyakinan bu Ida bahwa pertengkaran itu bukanlah bumbu pernikahan, pertengkaran itu sebenarnya adalah racun dalam pernikahan. Sebab saya bukannya membicarakan perbdaan pendapat, saya bicara pertengkaran yang saling ribut, saling marah dan sebagainya.

Sebab biasanya waktu kita bertengkar seperti itu kita menyakiti pasangan kita, kita menyakiti dan menyakiti, itu sama dengan merobek, jadi semakin sering bertengkar, semakin besar robekannya.
GS : Itu belum lagi dampaknya ke anak-anak, yang melihat itu Pak Paul?

PG : Betul, dan untuk menjahit robek yang sudah besar itu memerlukan waktu yang lama.

GS : Pak Paul, saya rasa memang masih ada tipe yang lain yang harus kita bicarakan tapi ini rupa-rupanya waktu kita juga tidak banyak, namun pada kesempatan yang akan datang pasti kita akan bicarakan itu. Tapi mungkin Pak Paul bisa sebutkan tipe yang ketiga itu Pak Paul.

PG : Tipe yang ketiga adalah tipe "avoidant", model "avoidant" adalah pasangan yang justru ya mencoba menghindarkan diri dari pertengkaran, jadi kebalikannya dari yang "volatile" itu.

GS : Itu nanti akan kita bicarakan pada kesempatan yang akan datang dan kami harapkan tentu para pendengar yang sudah mengikuti acara ini akan bisa mengikuti pada kesempatan yang akan datang. Nah sehubungan dengan model-model seperti ini Pak Paul yang tentunya pasti kamu percaya Tuhan yang menjodohkan mereka bagaimanapun juga dan itu tidak akan keliru Pak Paul. Nah apa yang firman Tuhan itu mau katakan?

PG : Saya akan bacakan dari kitab Efesus 4:1 dimulai di firman Tuhan, "Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orng yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu."

Jadi pada intinya lepas dari model pernikahan dan siapa kita dan apa kepribadian kita, kita dipanggil Tuhan hidup untuk sepadan dengan panggilan Tuhan itu. Jadi tolok ukurnya tetap adalah Tuhan apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan memang kehendaki itulah yang coba kita lakukan.
GS : Kita tidak perlu mencontoh bentuk yang lain Pak Paul ya, sesuai dengan yang Tuhan anugerahkan kepada kita?

PG : Betul

GS : Jadi para pendengar yang kami kasihi demikianlah tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang model pernikahan dan baru dua model yang bisa kami sampaikan namun Anda bisa mengikutinya pada kesempatan yang akan datang 'tuk kelanjutan perbincangan kami pada saat ini. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 55A

  1. Apakah yang dimaksud model dalam pernikahan...?
  2. Apa sajakah model-model tersebut...?



15. Model-Model Pernikahan 2 Faktor Penentu Kesuksesan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T055B (File MP3 T055B)


Abstrak:

Lanjutan dari T55A


Ringkasan:

Saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik sekali, buku itu berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan bisa sukses atau gagal. Buku yang ditulis oleh John Gartmand ini memaparkan bahwa sebetulnya pernikahan itu sangat unik sekali, seperti baju yang kita pakai itu tidak bisa pas untuk semua orang. Baju itu bisa pas untuk saya tapi mungkin tidak pas untuk orang lain, nah demikian juga dengan pernikahan.

Ada 3 model pernikahan berdasarkan gaya menyelesaikan konflik, tiga model tersebut adalah:

  1. Model pertama disebut "validating", pasangan yang "validating" adalah pasangan yang saling mengukuhkan, saling menguatkan satu sama lain.

    Dalam proses menyelesaikan konflik sekurang-kurangnya ada 3 tahapan:

    1. Tahap pengukuhn, mereka akan duduk bersama, memberikan kesempatan untuk pasangannya mengeluarkan unek-uneknya dan mereka saling mendengarkan.

    2. Tahap pembujukan, masing-masing mencoba meyakinkan lawan bicaranya akan kebenaran pendapatnya. Dengan kata lain masing-masing membujuk pasangannya untuk bisa mengakui bahwa dia benar.

    3. Tahap kompromi, masing-masing mencoba untuk mengalah atau menemukan titik temu atau jalan keluar dari masalah mereka.

    Yang mereka lakukan secara konkret adalah:

    1. Mereka senantiasa berupaya memelihara komunikasi, jadi kalau ada apa-apa yang mengganjal, mengganggu mereka tidak mencoba untuk membicarakannya.

    2. Mereka berupaya untuk saling terbuka.

    3. Mereka tetap berusaha mesra satu dengan yang lain.

    4. Berupaya membagi waktunya dengan pasangan, mengerjakan aktivitas atau hobbynya secara bersama-sama. Dengan kata lain mereka mencoba untuk menjaga kebersamaan tersebut.

    Kelemahan model ini adalah: Suami-istri cenderung mengorbankan minat pribadinya demi kebersamaan dengan pasanganya.

  2. Model kedua adalah volatile berarti tidak stabil mudah naik turun. Pasangannya ini kalau marah, marah tapi kalau mesra luar biasa mesranya.

    Ciri pasangan dalam kategori ini adalah:

    1. Seringkali terjadi pertengkaran tapi mereka juga pasangan yang lumayan hangat dan saling mencintainya.

    2. Tidak saling mendengarkan, dan tidak memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mengutarakan unek-uneknya.

    Ada beberapa tindakan konkret yang tampak nyata dalam model ini yaitu:

    1. Sangat menekankan kejujuran dan keterbukaan.

    2. Mereka sarat dengan kemarahan, namun juga penuh dengan kemesraan.

    Kelemahannya adalah kalau marah mereka langsung bicara apa yang mereka rasakan dan akan menjatuhkan pasangannya, kalau tidak hati-hati akhirnya melewati batas, mereka akan saling menghancurkan dengan kata-kata yang mereka lontarkan.

  3. Model ketiga disebut "avoidant" yaitu pasangan nikah yang cenderung menghindarkan diri dari pertengkaran.

    Cirinya adalah:

    1. Menekankan falsafah setuju untuk tidak setuju. Artinya untuk menghindari pertengkaran mereka cenderung menyetujui meskipun mereka tidak setuju.

    2. Berupaya mengakui perbedaan, tapi tidak berupaya meyakinkan pasangan akan kebenaran pendapatnya.

    Tindakan konkret yang dilakukan pasangan ini adalah:

    1. Yang pertama, saling menghindarkan. Mereka akan menyelesaikan masalah dengan pola menghindar atau meminimalkan problem.

    2. Yang kedua mereka akan menekankan pada apa yang disukai bukan pada apa yang tidak disukai.

    Kelemahan model ini adalah masalah akhirnya tidak diselesaikan dan itu akan mengganggu terus. Segi positifnya pasangan ini tidak saling menyakiti.

Contoh-contoh yang konkret untuk pasangan masing-masing model itu adalah sbb:

  1. Pasangan yang "volatile", pasangan yang tidak stabil, pasangan yang penuh emosi, mereka memang cukup sering bertengkar, namun kalau cinta dan kemesraan mereka 5 kali lebih banyak dari pertengkaran, pernikahan mereka akan kuat.

  2. Pasangan yang "validating" yang saling mengukuhkan, yang saling memberikan pengakuan, dengan kepala dingin dalam menghadapi problem memang tingkat ketegangannya sedang-sedang, tapi cinta dan kehangatan juga sangat tinggi.

  3. Yang terakhir adalah pasangan "avoidant" yang menghindar memang sepintas kurang menunjukkan kemesraan atau kedalaman hati. Tapi yang positifnya adalah sangat sedikit kritikan atau penghinaan, atau pelecehan.

Tindakan atau hal-hal positif dan negatif menurut penemuan Dr. Gartman ternyata menarik sekali.

Tindakan yang negatif:

  1. Ternyata yang dimaksud dengan tindakan negatif bukanlah kemarahan melainkan mencela dan menghina.

  2. Membenarkan diri tidak mau mengalah, defensif dan akhirnya misalkan menarik diri, mengucilkan diri tidak mau kontak dengan pasangannya.

  3. Menolak untuk berbicara dengan pasanganya.

  4. Dan yang terakhir dari tindakan negatif, kesepian dan kesendirian.

Tindakan yang positif
Yang dimaksud dengan tindakan positif adalah:

  1. Memperlihatkan ketertarikan pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita.

  2. Menunjukkan kemesraan, misalnya kita menyentuhnya, berpegangan tangan, bercerita tentang masa lalu yang indah, terus menunjukkan kebersamaan kita dengan pasangan, waktu menghadapi problem kita tidak menyalahkan pasangan. Tapi kita berkata ini problem kita berdua, yuk kita hadapi bersama, atau melakukan hal-hal yang simpatik.

  3. Perhatian bisa kita berikan misalnya dengan membelikan sesuatu yang disenangi oleh pasangan kita.

  4. Juga di dalam menghargai pernikahan itu sendiri, misalnya kita mengingat-ingat kebaikannya dia. Bahwa dia adalah seorang istri yang telah mengabdi, berkorban untuk kita dan kita sampaikan pujian itu.

  5. Tindakan yang mencerminkan penghargaan adalah, kita tidak sedikit-sedikit melawan, berdebat dengan dia, tidak setuju.

  6. Kadang-kadang bercanda juga bisa mengakrabkan dan saling mendekatkan.

  7. Kalau memang kita telah menyusahkannya atau melukainya, permintaan maaf itu sangat dibutuhkan.

  8. Yang lain lagi misalnya adalah menerima dan menghormati pandangannya meskipun kita berbeda pandang.

Efesus 4:1, "Sebab itu aku menasehatkan kamu, aku orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu." Jadi pada intinya lepas dari model pernikahan, siapa kita, dan apa kepribadian kita, kita dipanggil Tuhan hidup untuk sepadan dengan panggilan Tuhan itu. Jadi tetap tolok ukurnya adalah Tuhan apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan memang kehendaki itulah yang coba kita lakukan.

Efesus 4:25,26 "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah berikan kesempatan kepada Iblis."

Firman Tuhan memberikan kita beberapa petunjuk, yang sangat jelas:

  1. Tuhan meminta kita untuk jujur, jangan berbohong.

  2. Tuhan juga berikan ruangan adanya kemarahan dalam kehidupan manusia, tapi yang Tuhan tekankan adalah jangan sampai kemarahan ini berubah menjadi suatu dosa.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan melanjutkan perbincangan kami beberapa waktu yang lalu tentang "Model-model Pernikahan," dan kami juga akan membicarakan tentang "Faktor-faktor Penentu Keberhasilan di dalam Pernikahan". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang model-model pernikahan dan baru dua model waktu itu sempat kita perbincangkan, dan kita akan melanjutkan perbincangan itu pada kesempatan ini. Nah, supaya para pendengar bisa mengikuti seluruh pembicaraan ini bagaimana kalau Pak Paul bisa ulangi sejenak secara cepat yang pernah kita bicarakan beberapa waktu yang lalu.

PG : Bahan diskusi sebenarnya diambil dari sebuah buku yang berjudul "Why Marriages Succeed or Failed", mengapa pernikahan itu sukses atau gagal. Penulisnya adalah Dr. John Gartmand, nah dalm buku tersebut beliau memang memaparkan hasil temuannya berdasarkan riset yang telah beliau lakukan.

Ternyata bahwa suatu pernikahan itu tidak harus mengambil bentuk-bentuk yang spesifik untuk sukses, pernikahan itu bisa sukses meskipun mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda. Jadi dengan kata lain dia menemukan bahwa kepribadian orang itu tidak sama, cara hidupnya tidak sama. Nah, akhirnya ketidaksamaan itu membentuk suatu keunikan dalam pernikahan dan masing-masing keunikan tersebut bisa menjadi suatu relasi nikah yang kuat, meskipun masing-masing juga punya kelemahannya. Nah beliau memberikan sekurang-kurangnya 3 model pernikahan yang memang ditemukan cukup sukses untuk bisa terus dibawa. Yang pertama adalah model yang dia sebut model "validating". Model "validating" adalah model yang saling mengukuhkan. Jadi bagaimana pasangan ini kalau sedang berkonflik mencoba dengan kepala dingin duduk bersama, saling mendiskusikan problem, mendengarkan apa yang menjadi unek-unek pasangannya dan pada akhirnya bersama bernegosiasi, berkompromi untuk menemukan jalan tengah. Kelemahan dari model ini adalah model ini cenderung terlalu menekankan kebersamaan, jadi kalau si suami mulai mengembangkan kehidupan pribadinya, sedikit di luar si istri, si istri merasa terancam. Atau kebalikannya kalau si istri mulai sering pergi dengan teman-teman wanitanya, si suami merasa tidak aman karena berkata kita harus bersama-sama. Jadi yang penting adalah bagaimana bisa memberikan ruangan kepada pasangan untuk juga mengembangkan kehidupan pribadi. Model yang kedua adalah yang disebut "volatile" adalah model yang sebetulnya berarti tidak stabil, mudah naik turun. Pasangan ini kalau marah, marah, tapi kalau mesra luar biasa mesranya. Nah dalam menghadapi konflik mereka biasanya tidak saling mendengarkan, sebab masing-masing sibuk untuk membenarkan diri dan biasanya disertai dengan kemarahan. Namun pada akhirnya mereka berhasil membereskan konflik, ya memang saling marah, saling menuduh dan saling membenarkan, tapi akhirnya satu sama lain bisa mengerti apa yang diminta dan dituntut oleh pasangannya dan mencoba untuk melakukannya. Nah ini model yang kedua model yang memang bisa bertahan lama tapi juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya ialah kalau mereka marah dan kelewatan batas akan menghancurkan pasangannya karena mereka akan menjatuhkan pasangannya, nah itu model yang sudah kita bahas Pak Gunawan.
GS : Dan kalau dari kedua model itu saling bertolak belakang Pak Paul, tapi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya maka kali ini kita akan membahas model yang ketiga, apakah itu Pak Paul?

PG : Model ini disebut "avoidant", jadi model pasangan nikah ini cenderung menghindarkan diri dari pertengkaran itu kira-kira intinya. Nah model ini mempunyai ciri-ciri yang pertama adalah mdel ini menekankan falsafah setuju untuk tidak setuju.

Artinya mereka akan tidak setuju, mereka akan mengatakan saya tidak bisa menerima usulanmu atau apa tapi masing-masing akan berkata ya silakan engkau lakukan tidak apa-apa. Jadi daripada bertengkar mereka cenderung atau menyetujui meskipun mereka mengungkapkan baha mereka tidak setuju. Mereka juga cenderung mengecilkan keseriusan konflik dan menghindarkan pembicaraan yang akan berakhir dengan buntu. Artinya kalau mereka tahu bahwa yang akan mereka percakapkan ini berpotensi atau berkembang menjadi suatu pertengkaran mereka cenderung menghindarkannya, daripada bertengkar lebih baik tidak usah dibicarakan. Atau kalaupun dibicarakan mereka cenderung mengecilkan keseriusannya atau tuntutan mereka dan akan berkata misalnya kalau engkau tidak mau ya tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa engkau. Atau saya tidak setuju tapi ya terserah engkau lakukan itu atau tidak. Jadi mereka cenderung tidak mau mengatakan apa yang sebetulnya mengganggu mereka dan apa yang sungguh-sungguh mereka inginkan dari pasangannya. Jadi mereka akhirnya cenderung menitikberatkan pada persamaan, kalau ditanya mereka akan berkata ya kami bertengkar tapi tidak terlalu berat, ya kami mengakui kami tidak sama, kami ini berbeda tapi kami mempunyai banyak kesamaan yang lain, kami masih bisalah menoleransi satu sama lain jadi tidak apa-apa, pernikahan ini bisa terus bisa langgeng.
GS : Rupa-rupanya itu mengambil jalan tengah dari kedua model yang ekstrim tadi Pak Paul. Nah tetapi bukankah pertengkaran itu tak terhindarkan, saya rasa suatu saat walaupun memakai model ini pasti mereka akan mengalami konflik, Pak Paul. Nah kalau sampai itu terjadi apa yang mereka lakukan?

PG : Biasanya mereka akan memberikan kesempatan pada pasangannya untuk mengeluarkan unek-unek, mereka akan mencoba mendengarkan pula tapi bedanya dengan pasangan yang pertama yang kita sebut"validating", pasangan yang "avoidant" ini saling menghindarkan diri, tidak membiarkan diri mereka untuk terlibat secara emosional.

Jadi benar-benar jarak itu dijaga dan pembicaraan itu sangat bersifat rasional, tidak melibatkan perasaan. Kedua, mereka juga akan berupaya mengakui perbedaan, tapi tidak berupaya meyakinkan pasangan akan kebenaran pendapatnya. Jadi mereka akan berkata saya tidak sama dengan kamu, saya tidak melihatnya seperti itu, namun mereka akan berkata ya terserah engkau tidak mau setuju dengan saya ya terserah engkau, akupun tidak harus setuju dengan engkau. Jadi masing-masing tidak berupaya meyakinkan pasangan atau membujuk pasangan, nah akhirnya yang terjadi adalah memang tidak ada titik kompromi, mereka tidak akan saling bernegosiasi, mencari jalan tengah dengan kata lain problem itu tidak dipecahkan, diapakan jadinya, dikesampingkan begitu.
IR : Nah kira-kira apakah tindakan konkretnya, Pak Paul?

PG : Pada dasarnya pasangan yang "avoidant" ini, saling menghindarkan ini akan "menyelesaikan masalah dengan pola menghindar" atau meminimalkan problem. Jadi kalau ditanya berapa seringnya brtengkar, mereka akan berkata kami jarang bertengkar, mereka mencoba menghindarkan pertengkaran.

Dan yang kedua mereka itu akan menekankan pada apa yang disukai bukan pada apa yang tidak disukai. Jadi kalau sudah menikah bertahun-tahun akan ditanya apa yang engkau tidak sukai pada pasanganmu, dengan jujur mungkin mereka akan berkata tidak ada atau sedikit sekali. Karena apa, karena mereka mencoba untuk tidak mengingat yang tidak mereka sukai, yang hanya mereka sukai sajalah yang mereka akan ingat. Dan yang tidak disukai mereka akan terima, tidak suka caranya tidur, tidak suka gaya hidupnya kalau malam tidur jam dua pagi bangun jam 10 pagi misalnya, mereka tidak suka tapi mereka terima. Nah saya kira falsafah ini sering kita dengar dari orang tua dulu, yang baik-baiknya, yang jelek-jeleknya jangan dipikirkan. Tapi kita bisa melihat kakek-nenek, orang tua kita itu langgeng menikah berpuluhan tahun dengan model seperti ini.
IR : Tapi tidak menyelesaikan masalah, Pak Paul?

PG : Tepat, itu kelemahannya masalah akhirnya tidak diselesaikan.

GS : Dan masalah itu akan terus mengganggu Pak Paul?

PG : Betul, ini kelemahannya; jadi kelemahannya adalah masalah tadi tidak selesai dan bisa mengganggu terus. Kalau mereka berhasil menekannya baik tidak apa-apa, namun kalau tidak berhasil mnekannya akan menggerogoti mereka.

Nah pasangan pecah, meledak karena tidak bisa lagi ditahan, dua-dua tidak terlatih untuk memecahkan masalah, karena dua-dua tidak benar-benar belajar keterampilan untuk membereskan problem di antara mereka. Kecenderungannya selama ini adalah menghindari problem, nah jadi ditambah dengan kadar kebersamaan mereka itu memang tidak terlalu banyak bersama-sama seperti pasangan yang "volatile" sangat mesra itu. Jadi waktu ada problem besar menerpa resiko pernikahan hancur cukup besar.
GS : Mungkin mereka tidak akan saling mengenal Pak Paul, kalau mereka mau menghindari masalahnya itu, sebetulnya pasangan itu seperti apa, bukankah mereka tidak bisa tahu pasangan yang lain?

PG : Betul, jadi mungkin kita bisa simpulkan hubungan mereka baik, kuat, tapi mungkin tidak terlalu dalam, itu yang Pak Gunawan maksud ya. Karena dimensi-dimensi yang biasanya muncul akibat danya penyesuaian dari pertengkaran tidak ada, mereka akhirnya tidak pernah masuk ke dimensi-dimensi seperti itu.

GS : Tapi memang segi positifnya tidak saling menyakiti.

PG : Betul, dan saya kira anak-anak akan lumayan senang mempunyai orang tua seperti ini.

IR : Pada hal di dalam hati orang tuanya ada ganjalan, karena masalah itu tidak pernah terselesaikan.

PG : Betul, jadi tidak terselesaikan, tapi akhirnya mencoba menghibur diri dan berkata siapa sih yang sempurna, semua pasangan ada problemnya, ya dia lemah di sini, tapi dia kuat di sini, yasudah saya terima yang lemah itu.

GS : Kalau tadi kita sudah membicarakan 3 model pernikahan, atau mungkin bisa lebih tapi apakah ada satu keluarga itu murni mengikuti satu model, satu pola atau campuran?

PG : Ternyata yang ditemukan oleh Dr. John Gartmand ini memang tidak ada yang murni Pak Gunawan, jadi yang terjadi adalah masing-masing itu sebetulnya campuran dari beberapa model ini. Dalamsituasi tertentu kita cenderung menjadi "volatile" atau yang satu lagi menjadi "validating" dan sebagainya.

Namun pada umumnya ada satu yang menjadi ciri khas yang dominan.
GS : Yang sering kali diambil atau sikap yang sering kali diambil.

PG : Betul.

GS : Nah padahal masing-masing model itu mempunyai kelemahannya Pak Paul, bagaimana secara umum mereka itu mempertahankan pernikahannya?

PG : Nah dalam penemuan Dr. Gartmand ini ternyata yang penting bukan modelnya, jadi justru Dr. Gartmand ini menemukan model ini kreatif, tidak harus sama untuk setiap pasangan. Tapi yang terenting adalah harus ada perbandingan 5:1, antara situasi yang positif dibandingkan dengan situasi yang negatif.

Maksudnya kalau ada suatu pertengkaran harus diikuti dengan 5 kemesraan misalnya seperti itu, nah selama perbandingannya selalu 5:1 pernikahan ini akan langgeng dan kuat. Yang akan menjadi bahaya adalah kalau perbandingannya bergeser misalnya 5:3, 4:5, 5:6 yang bahaya adalah 5:6 atau 5:7. Yang positif 5 yang negatif bisa 7, 8 itu akan merusak pernikahan, jadi akhirnya disimpulkan oleh Dr. Gartmand modelnya tidak menjadi masalah, yang paling penting adalah perbandingan antara yang positif dan negatif itu.
GS : Berarti di sana ada faktor-faktor yang menentukan suatu pernikahan itu bisa berhasil atau berantakan?

PG : Betul.

GS : Nah untuk pasangan masing-masing model itu tadi 'kan ada contoh-contoh yang konkret, untuk faktor-faktornya apa saja Pak Paul?

PG : Misalnya pasangan yang "volatile", pasangan yang tidak stabil, pasangan yang penuh emosi itu, mereka memang cukup sering bertengkar, namun kalau cinta dan kemesraan mereka 5 kali lebih anyak dari pertengkaran, pernikahan mereka akan kuat.

Atau yang lainnya pasangan yang "validating" yang saling mengukuhkan, yang saling memberikan pengakuan, dengan kepala dingin dalam menghadapi problem memang tingkat ketegangannya sedang-sedang, tapi cinta dan kehangatan juga sangat tinggi. Mereka saling menekankan kebersamaan, harus sama-sama, meskipun mereka itu kadang-kadang berargumen, tidak setuju dan sebagainya, namun banyak kebersamaannya. Perbandingannya menurut Gartmand 5:1 mereka akan cukup jalan. Yang terakhir adalah pasangan yang menghindar, memang sepintas kurang menunjukkan kemesraan atau kedalaman hati. Tapi yang positifnya adalah sangat sedikit kritikan atau penghinaan, atau pelecehan, sehingga sekali lagi ada perbandingan 5:1 di situ.
GS : Cuma masalahnya Pak Paul faktor-faktor ini unaccountable, sulit untuk diukur dengan angka, bagaimana kita tahu ini sudah sampai 5 dan bagaimana 1?

PG : Mungkin yang bisa dijadikan tolok ukur adalah perasaan subyektif, kita sendiri harus bisa menghitung, misalnya begini kita bertanya kapan kita bertengkar, o ya saya bertengkar terakhir ali 2 minggu yang lalu.

Nah sekarang kapan kita bertengkar lagi, sekarang ini 2 minggu setelah yang terakhir, nah antara yang terakhir dan sekarang apakah ada hal-hal yang enak, yang mesra kebersamaan yang kita lakukan bersama. O....ya kami pergi ke sana, kami mendengarkan lagu bersama, kami saling berdoa bersama, kami pergi dengan anak-anak, dihitung-hitung, o....ya....ya ada 10 hal positif yang kami lakukan dalam 2 minggu ini. Jadi apa kesimpulannya, saya bertengkar hanya sekali dalam 2 minggu, tapi hal-hal yang positif mungkin ada 10 kali kami lakukan. Nah saya kira kalau kita pikirkan bisa dihitung sebetulnya.
GS : Dan itu harus disadari oleh kedua belah pihak, Pak Paul?

PG : Ya tepat sekali, harus disadari oleh kedua belah pihak.

GS : Nah mengenai perasaan-perasaan atau tindakannya bagaimana Pak Paul di antara mereka?

PG : Begini yang dimaksud dengan yang positif dan negatif Pak Gunawan, yang pertama adalah yang negatif apa itu tindakan yang negatif. Menarik sekali penemuan Dr. Gartmand ini ternyata yang imaksud dengan tindakan negatif bukan kemarahan melainkan mencela dan menghina itu adalah tindakan yang negatif.

Jadi sering kali kita berpikir kemarahan itu sangat negatif, ternyata tidak, kemarahan yang tidak disertai dengan celaan dan hinaan justru dampaknya tidak terlalu buruk. Yang juga negatif misalnya adalah membenarkan diri tidak mau mengalah, defensif dan akhirnya misalkan menarik diri, mengucilkan diri tidak mau kontak dengan pasangannya. Menolak untuk berbicara dengan pasangannya itu termasuk dalam tindakan yang negatif pula. Dan yang terakhir dari tindakan negatif, kesepian dan kesendirian. Jadi waktu pasangannya mendiamkan, kesepian, itu menjadi hal yang negatif buat pernikahan. Pasangannya mengabaikan tidak mempedulikannya lagi, dia di rumah sendirian, nah itu adalah hal-hal yang negatif.
GS : Mungkin yang kedua dan yang ketiga itu mungkin putusnya komunikasi, Pak Paul?

PG : Betul sekali, karena putusnya komunikasi akhirnya mereka tidak lagi bisa mengisi kehadiran.

GS : Jadi mereka sengaja memutuskan komunikasi itu. Nah sebaliknya kalau tindakan yang positif apa Pak Paul?

PG : Misalnya yang pertama adalah memperlihatkan ketertarikan pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita. Jadi ini tidak harus duduk atau berjalan tapi yang dimaksud oleh Gartmand adalah kit ini misalnya bertanya o....ya.....ya....begitu

ya, kenapa hampir terjadi seperti itu, atau menanyakan apa yang terjadi tadi sewaktu engkau pergi, bertemu dengan temanmu di kantor. Jadi kita menunjukkan ketertarikan, berminat pada apa yang dikatakan oleh pasangan kita melirik dia, melihat wajahnya sewaktu dia bicara. Jangan membaca koran, dia bicara kita acuhkan, nah itu tidak sehat. Yang lainnya lagi adalah misalnya menunjukkan kemesraan, misalnya kita menyentuhnya, berpegangan tangan, bercerita tentang masa lalu yang indah, terus menunjukkan kebersamaan kita dengan pasangan, waktu menghadapi problem kita tidak menyalahkan pasangan. Tapi kita berkata ini problem kita berdua, ayo kita hadapi bersama, atau melakukan hal-hal yang simpatik. Nah ini beberapa contoh hal-hal yang kita bisa lakukan untuk pasangan kita yang akan berdampak positif baginya.
GS : Nah apakah yang terjadi, kalau memang dalam pertengkaran itu bisa disalahartikan jadi hal-hal positif ini harus dilakukan pada waktu mereka tidak bertengkar Pak Paul?

PG : Tepat, ini adalah hal-hal yang harus dilakukan secara rutin, secara teratur.

GS : Lalu bagaimana dengan perhatian yang bisa kita berikan Pak Paul?

PG : Misalkan kita menunjukkan perhatian dengan membelikan sesuatu yang disenangi oleh pasangan kita. Hal kecil misalkan dia senang dengan mainan, anak-anak perempuan biasanya suka hal-hal yng kecil, kita belikan.

Suami kita suka makanan tertentu itu juga bisa kita belikan, nah itu semua menunjukkan perhatian kita pada kebutuhan dia dan saya kira semua orang akan senang diperhatikan.
GS : Saya rasa itu menjadi kebutuhan.

PG : Tepat sekali.

IR : Dan juga di dalam menghargai pernikahan itu sendiri bagaimana, Pak Paul?

PG : Misalnya kita mengingat-ingat kebaikannya dia Bu Ida, bahwa dia adalah seorang istri yang telah mengabdi, berkorban untuk kita dan kita sampaikan pujian itu. Terus misalkan juga yang bia mencerminkan penghargaan kita adalah kita tidak sedikit-sedikit melawan, berdebat dengan dia, tidak setuju.

Ya hal-hal yang tidak principle setujuilah, jangan kita itu begitu tertarik untuk mengemukakan pandangan kita, saya mempunyai ide, saya juga. Yang tidak principle dengarkan dan setujui saja, ia-kan, nah itu salah satu bentuk penghargaan terhadap pasangan kita.
GS : Kadang-kadang bercanda itu juga bisa mengakrabkan kita Pak Paul?

PG : Bagus sekali, bercanda saya kira akan saling mendekatkan.

IR : Juga permintaan maaf ya, Pak Paul?

PG : Jadi kalau kita memang telah menyusahkannya atau melukainya, permintaan maaf itu sangat dibutuhkan.

GS : Kalau kita melihat tadi Pak Paul, sebenarnya ada banyak tindakan positif yang bisa dilakukan, dibandingkan yang negatif.

PG : Tepat sekali, dan sebetulnya kalau kita melihat-lihat tidak terlalu sukar ya, yang lain lagi misalnya adalah menerima dan menghormati pandangannya meskipun kita berbeda pandang. Atau kia mencoba memahami perasaannya, membagikan sukacita kita dengannya itu bukan hal-hal yang terlalu sulit.

GS : Cuma kita ini tidak terlatih.

PG : Betul mungkin tidak terbiasa. Sebetulnya hal yang sangat sederhana tapi memang kita tak terbiasa. Kadang-kadang dalam konseling pernikahan Pak Gunawan dan Ibu Ida, saya bertanya apakah apak atau Ibu mencintai pasangan Bapak? O....tentu,

masa menikah begini lama tidak mencintai, jawabannya seperti itu. Kadang-kadang saya langsung mencoba untuk mengakrabkan mereka dengan cara meminta masing-masing menyatakan bahwa mereka mencintai pasangannya. Nah yang menarik adalah ternyata tidak terlalu mudah bagi seseorang menyatakan aku menyayangimu. Sedangkan kita tahu pernikahan itu diikat dan didasari oleh cinta kasih, jadi kalau tidak ada itu, pernikahan akan sangat kering sekali. Tapi hal yang begitu mendasar ternyata sulit dilakukan padahal tidak susah berkata aku mengasihimu. Hal yang sangat sederhana.
IR : Jadi harus melatih diri ya Pak Paul?

PG : Betul, dan tidak bersembunyi dengan alasan memang saya tidak biasa kok, yang penting perbuatan saya. Saya kira banyak orang rindu mendengar perkataan tersebut, bukan saja melalui perbuaan.

GS : Dengan begitu banyak model tapi ternyata ada faktor-faktor yang Tuhan berikan kepada kita supaya pernikahan itu tetap utuh dan itu yang menjadi harapan Tuhan dan harapan kita semua tentunya. Nah apa yang Alkitab katakan Pak Paul, tentang hubungan ini.

PG : Firman Tuhan yang akan saya bacakan diambil dari Efesus 4:25-26 "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota. pabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah berikan kesempatan kepada Iblis."

Nah firman Tuhan memberikan kita beberapa petunjuk, yang pertama yang sangat jelas adalah Tuhan meminta kita untuk jujur, jangan berbohong. Jadi dalam pernikahan prinsip yang harus kita junjung tinggi adalah kejujuran dalam berkomunikasi, dalam hidup kita harus jujur. Dan yang kedua adalah sekali lagi Tuhan juga berikan ruangan adanya kemarahan dalam kehidupan manusia, tapi yang Tuhan tekankan adalah jangan sampai kemarahan ini berubah menjadi suatu dosa. Nah dosa dalam pengertian memang sesuatu yang akhirnya melewati batas kewajaran, melukai hati orang dan akhirnya menghancurkan hati atau diri pasangan kita. Sebab Tuhan memanggil kita satu sama lain bukan menghancurkan satu sama lain. Seiring dengan ini buku Dr. John Gartmand menyimpulkan bahwa ternyata yang merusakkan pernikahan bukan kemarahan, yang merusakkan pernikahan adalah penghinaan. Orang boleh marah tapi jangan menghina pasangan, jangan melecehkan pasangan, itu adalah satu unsur yang diidentifikasi oleh Dr. Gartmand yang sangat-sangat fatal. Nah saya kira firman Tuhan juga dengan jelas berkata hal yang sama, tapi jangan berdosa. Nah kalau saya boleh gabungkan, berdosa di sini sering kali menjadi racun dalam kemarahan kita. Yaitu kita menghancurkan, menghina orang lain, nah kemarahan itu saya kira menjadi kemarahan yang berdosa. Kebalikannya menurut Dr. Gartmand justru yang membangun pernikahan ialah kasih dan respek. Itu dua unsur yang paling kuat membangun pernikahan dan bagi kita orang kristen 2 hal ini bukanlah hal yang asing, Tuhan memanggil kita untuk saling menghargai dan perintah utama Tuhan adalah mengasihi satu sama lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
GS : Jadi cukup banyak prinsip-prinsip di dalam Alkitab yang diajarkan oleh Tuhan kita itu mempertahankan atau bahkan menumbuhkembangkan pernikahan ini.

PG : Betul.

GS : Para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan kami pada beberapa waktu yang lalu tentang beberapa point faktor penentu di dalam keberhasilan pernikahan. Dari studio kami mohon juga tanggapan saran serta pertanyaan-pertanyaan dari Anda yang bisa Anda alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



16. Pernak-Pernik Perjodohan 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T063A (File MP3 T063A)


Abstrak:

Menentukan pasangan hidup merupakan suatu proses yang kompleks dan panjang, semuanya harus disatukan secara konsisten, setelah itu barulah kita mendapatkan damai dalam hati untuk melangkah masuk ke dalam mahligai pernikahan.


Ringkasan:

Sebelum menjawab pertanyaan apa artinya kalau orang berkata bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, saya ingin memberikan penjelasan tentang cara kerja Tuhan:

  1. Yang pertama, Tuhan bisa bekerja melalui penetapan yang langsung, maksudnya waktu Tuhan menciptakan alam semesta ini terjadilah siang, malam, matahari dsb itu adalah kerja Tuhan yang langsung terjadi.

  2. Yang kedua, adakalanya Tuhan melakukan pekerjaanNya secara tidak langsung namun melalui kondisi atau situasi yang tertentu.

  3. Yang ketiga, Tuhan bekerja secara tidak langsung namun tanpa kondisi, perjodohan di sini merupakan cara kerja Tuhan yang tidak langsung dan tanpa harus adanya suatu kondisi tertentu.

Tuhan memberikan kita dua rambu yang sangat-sangat jelas dalam firmanNya:

  1. Adalah sesama orang percaya. 1Korintus 7:39 dikatakan bahwa janda-janda yang sudah kehilangan suaminya bebas menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya. Bahwa kita tidak boleh berpasangan dengan orang yang tidak seiman dengan kita. Dan secara status yaitu 2Korintus 5:17 disebutkan kita adalah ciptaan yang baru, orang yang tidak dalam Tuhan Yesus bukanlah ciptaan yang baru di mataNya.

  2. Kejadian 2:18, yaitu Tuhan menciptakan Hawa sebagai seorang penolong yang sepadan bagi Adam. Artinya hubungan nikah, haruslah menjadi hubungan saling tolong, yang cocok, yang pas. Dalam dua rambu itu Tuhan memberikan kebebasan untuk menyukai, mencintai dan mau hidup bersama dengan orang tsb. Dalam kategori itulah kita melihat perjodohan di tangan Tuhan.
    Sudah tentu peran manusia adalah:

    1. Pertama, kita harus meminta pimpinan Tuhan.

    2. Kedua, kita harus mentaati yang telah Dia tetapkan dengan jelas. Misalkan Dia meminta kita menikah dengan sesama orang percaya dan itu tidak bisa kita tawar-tawar.

    3. Ketiga, kita harus mencari orang yang sesuai dan yang cocok, sehingga hubungan kita nanti menjadi hubungan yang penuh dengan saling tolong-menolong.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa memang ini orang yang disediakan atau dikehendaki Tuhan sebagai pasangan hidup kita?

  1. Pertama, Tuhan ingin kita pilih yang seiman.

  2. Kedua, Tuhan meminta kita mencari pasangan yang cocok dengan kita, yang pas dengan kita.

  3. Ketiga, gunakan tanda atau konfirmasi dari sesama orang percaya.
    Beberapa pertanyaan berikut ini juga bisa menjadi evaluasi bagi hubungan kita:

    1. Berapa sering kita bertengkar, apakah kita sering bertengkarnya daripada berbaikan?

    2. Apakah kita harus menjadi diri orang lain kalau bersama dengan pacar kita?

    3. Apakah kita kehilangan diri kita waktu bersama dengan dia, gara-gara dia mempunyai permintaan yang tidak sama dengan yang kita inginkan?

    4. Ataukah kita justru merasa kita ini terus-menerus memberi, kita tidak menerima dari hubungan itu, sehingga hubungan itu menjadi hubungan yang tidak seimbang.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sebetulnya ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan untuk bisa berkata inilah kehendak Tuhan, inilah jodohku sesuai dengan yang Tuhan desain untuk saya.

"Suatu jerat bagi manusia adalah kalau ia tanpa berpikir mengatakan kudus dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar." Amsal 20 : 25

Dalam firman Tuhan ini ditekankan bahwa kita harus menimbang berpikir panjang sebelum memberikan stempel inilah kehendak Tuhan. Atau sebelum memberikan stempel itu pasti untuk Tuhan dan dari Tuhan, jangan Tuhan meminta kita menimbang-nimbang terlebih dahulu. Biarlah orang yang ingin menikah menimbang dan menimbang dan menimbang sebelum memberikan stempel kudus atau ini dikuduskan Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Pernak-Pernik Perjodohan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, memang beberapa waktu yang lalu kita pernah membahas tentang perjodohan, tapi rupanya memang ada banyak hal yang harus dibicarakan dan itu terbukti ada tanggapan dari pendengar yang menanyakan beberapa hal yang tentunya baik untuk kita perbincangkan pada kesempatan kali ini. Antara lain yang ditanyakan itu adalah apa artinya kalau orang berbicara bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, sebenarnya apa maksudnya?

PG : Saya kira konsep yang berlaku di masyarakat adalah bahwa Tuhanlah yang menentukan dan menyediakan jodoh kita secara langsung. Maksudnya secara langsung ibaratnya kalau kita berdoa memohon gar Tuhan menyediakan pekerjaan kepada kita, keesokan harinya kita mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan tersebut.

Kita dapat dengan hati nurani yang tenang berkata Tuhanlah yang menyediakan pekerjaan itu, saya kira adakalanya kita mempunyai anggapan seperti itu tentang jodoh adalah di tangan Tuhan. Seolah-olah Tuhanlah yang langsung menyediakan jodoh itu, sama seperti Tuhan menyediakan pekerjaan yang kita minta. Untuk bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih tuntas, Pak Gunawan, saya pertama-tama ingin memberikan penjelasan tentang cara kerja Tuhan. Yang pertama, Tuhan bisa bekerja melalui penetapan yang langsung, maksudnya misalkan waktu Tuhan menciptakan alam semesta ini terjadilah siang, malam, matahari, dan sebagainya, itu adalah kerja Tuhan yang langsung terjadi. Adakalanya Tuhan melakukan pekerjaanNya secara tidak langsung, namun melalui kondisi atau situasi yang tertentu. Yang saya maksud di sini misalkan di Kisah Para Rasul pada waktu Petrus berkhotbah kepada orang-orang Israel dan kepada orang-orang dari negeri lain yang berkumpul pada hari Pentakosta. Petrus di situ memberikan penjelasan bahwa waktu kalian membunuh Yesus, itu sebetulnya dalam rencana Allah. Nah, dari perkataan tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kondisi atau situasi membuat Tuhan Yesus dibunuh atau terbunuh oleh orang-orang yang tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Mereka berpikir mereka membunuh seseorang yang bernama Yesus karena Dia mengaku sebagai Anak Allah, namun tanpa mereka sadari sebetulnya mereka menggenapi rencana Allah bahwa memang Yesus harus mati untuk menebus dosa-dosa kita. Nah, itu yang saya maksud dengan cara kerja Tuhan yang tidak langsung namun melalui kondisi tertentu. Yang ketiga adalah Tuhan bekerja secara tidak langsung namun tanpa kondisi, misalkan Tuhan sudah menetapkan bahwa manusia akan makan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang Tuhan sediakan buat kita. Tuhan sudah menetapkan bahwa akan ada matahari yang bersinar dan bulan yang bersinar dan akan ada air yang terus-menerus merupakan bagian dari kehidupan atau ekosistem dalam hidup ini. Hal-hal seperti itu sudah terjadi dan Tuhan tetapkan untuk terus berlangsung secara alamiah. Dalam kategori ini saya bisa memasukkan pernikahan atau perjodohan, yang saya maksud di sini adalah perjodohan merupakan cara kerja Tuhan yang tidak langsung dan tanpa harus adanya suatu kondisi tertentu. Perjodohan adalah sesuatu yang memang merupakan bagian alamiah dalam kehidupan manusia. Waktu manusia bertemu seseorang, dia tertarik kepadanya dan dia akan berusaha mendekati orang tersebut dan akhirnya mereka membangun suatu rumah tangga bersama. Jadi dalam kontak ini kita berkata Tuhanlah yang menentukan secara langsung, Tuhan menentukan secara tidak langsung namun dengan kondisi tertentu. Dan yang ketiga Tuhan menentukan dengan tidak langsung dan tanpa kondisi tertentu, ketiga-tiganya tetap mengandung pimpinan Tuhan, tidak ada yang lepas dari pimpinan Tuhan. Namun yang paling akhir tadi yang saya maksud pimpinan Tuhan tidak langsung dan tanpa kondisi memang memberikan ruang gerak yang sangat besar kepada manusia untuk mengambil keputusan, siapakah jodoh yang ingin dinikahinya. Nah, Tuhan hanya memberikan kita dua rambu yang sangat-sangat jelas di firman Tuhan. Yang pertama misalkan kita bisa melihat di 1 Korintus 7:39 di mana dikatakan oleh Paulus bahwa janda-janda itu yang sudah kehilangan suaminya bebas menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya. Alasannya dibahas di 2 Korintus 6 di mana di sana dikatakan bahwa kita tidak boleh berpasangan dengan orang yang tidak seiman dengan kita. Alasannya di pasal ke 6 itu juga yang dikatakan, orang yang tidak seiman mempunyai tujuan hidup yang berbeda dari kita, tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah menyenangkan hati Tuhan. Dan secara status di pasal 5 ayat 17 dari 2 Korintus itu disebut juga kita adalah ciptaan yang baru, orang yang tidak dalam Tuhan Yesus bukanlah ciptaan yang baru di mataNya. Jadi kita tidak bisa dan tidak boleh berpasangan dengan yang tidak seiman, jadi rambu yang Tuhan tetapkan itu sesama orang percaya. Dan rambu yang kedua kita bisa menariknya di kitab Kejadian 2:18 yaitu Tuhan menciptakan Hawa sebagai seorang penolong yang sepadan bagi Adam. Artinya hubungan nikah, haruslah menjadi hubungan saling tolong, yang cocok. Dalam dua rambu itu Tuhan memberikan kebebasan untuk menyukai, mencintai dan hidup bersama dengan orang tersebut. Nah dalam kategori itulah kita melihat perjodohan di tangan Tuhan.
GS : Tapi mungkin yang menjadi masalah justru karena Tuhan memberikan peluang yang lebih besar itu Pak Paul, di mana unsur emosi dan sebagainya itu masuk di sana, lalu yang menjadi pertanyaan adalah peran manusia itu sendiri, peran kita sampai di mana karena ruang geraknya itu terlalu bebas?

PG : Sudah tentu peran manusia yang pertama adalah dia harus meminta pimpinan Tuhan. Sebagai orang Kristen kita percaya dan kita tahu bahwa tidak ada hal yang terjadi pada kita di luar kedaulatn, kekuasaan dan kehendak Tuhan.

Jadi hal yang tidak mengenakkan sekalipun, tetap terjadi dalam kehendak dan naungan Tuhan. Kadang-kadang susah kita terima ya, namun yang ingin saya tegaskan adalah bahwa sebagai orang percaya kita tahu Tuhan itu memimpin kehidupan kita sehingga yang terjadi pun di dalam kehendak Tuhan. Dengan siapa kita bertemu itu memang selalu dalam naungan Tuhan, apakah itu berarti bahwa waktu kita bertemu dengan seseorang kita langsung menabraknya dan berkata Tuhan yang menghadirkan orang itu kepada kita. Tidak, kita harus berdoa meminta pimpinan Tuhan, namun yang kedua kita harus menaati yang telah Dia tetapkan dengan jelas. Misalkan Dia meminta kita menikah dengan sesama orang percaya dan itu tidak bisa kita tawar-tawar dan berkata saya mendapatkan pimpinan Roh Tuhan yang berbeda, sehingga saya harus menikahi orang yang belum percaya, itu tidak bisa. Jadi hukum Tuhan yang tertulis merupakan standar acuan kita yang paling dasar, Tuhan meminta kita memilih pasangan hidup yang cocok, yang saling menolong. Kalau kita rasakan tidak cocok, tidak saling menolong, kita harus juga berkata ini bukan pasangan hidup saya. Jadi yang pertama, apa yang perlu dilakukan oleh manusia, kita harus meminta pimpinan Tuhan, yang kedua kita harus menaati perintah Tuhan yang tertulis dan yang sudah jelas. Nah, yang ketiga peranannya adalah kita memang harus mencari orang yang sesuai dan yang cocok dengan kita, sehingga hubungan kita itu menjadi hubungan yang penuh dengan saling tolong-menolong.
IR : Tadi Pak Paul mengatakan bahwa segala sesuatunya itu ada dalam kedaulatan Tuhan, tapi kalau seseorang itu melawan kehendak Tuhan dan akhirnya mencari pasangan yang tidak seiman dan akhirnya jadi. Apakah itu termasuk kehendak Tuhan atau karena orang itu mengeraskan hati?

PG : Saya akan berkesimpulan orang itu mengeraskan hati. Jadi dalam kasus tersebut misalkan orang itu menikah, saya berkata dalam peristiwa ini Tuhan membiarkan dia, bukannya Tuhan menghendaki ernikahan terjadi.

Memang jadi dalam kehendak Tuhan kita melihat ada beberapa sisi atau beberapa lapisan, ada yang langsung merupakan kehendak Tuhan dan memang Tuhan kehendaki itu harus terjadi. Ada yang Tuhan izinkan terjadi meskipun dalam kehendak Tuhan, dan yang ketiga yang paling rendah adalah Tuhan membiarkan hal itu terjadi meskipun melawan kehendak Dia. Jadi yang pertama dan kedua Tuhan menetapkan kehendakNya dan yang kedua Tuhan mengizinkan itu masih dalam kategori kehendak Tuhan sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun yang ketiga Tuhan membiarkan, biasanya itu mengandung konotasi hal yang melawan kehendak Tuhan, tapi tetap Tuhan biarkan. Nah orang yang menikah dengan yang tidak seiman memang Tuhan biarkan.
IR : Tapi tidak menutup kemungkinan, mungkin suatu saat juga bisa bertobat, Pak Paul?

PG : Betul, jadi kalau kita membicarakan tentang apakah ada kemungkinan, jawabannya selalu akan ada kemungkinan. Tapi sekali lagi prinsipnya adalah kita tidak bisa menjadikan itu sebagai dasar,bahwa kita mau menikah dengan orang tersebut karena bukankah ada kemungkinan orang itu akan bertobat di kemudian hari.

Kita harus mengambil keputusan yang sesuai dengan yang sudah Tuhan telah tetapkan, sebab bagaimana kalau orang itu tidak bertobat, itu menjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga mereka nantinya.
(2) GS :Yang juga seringkali menjadi pertanyaan sehubungan dengan hal mencari kehendak Tuhan adalah bagaimana kita bisa tahu bahwa memang orang ini yang disediakan oleh Tuhan bagi kita atau sebagai pasangan hidup kita, Pak Paul?

PG : Pertanyaan ini seringkali diajukan dan saya melihat pertanyaan ini sebagai itikad baik dari begitu banyak anak-anak Tuhan. Jangan sampai kita ini salah memilih, kita mau berhati-hati dan bsa mencerna kehendak Tuhan dengan tepat.

Sekali lagi yang pertama tadi sudah saya singgung, kalau kita bersama dengan orang-orang yang bukan sesama orang percaya kita tidak usah repot-repot berdoa dua hari dua malam menanyakan kehendak Tuhan. Sudah pasti bukan kehendak Tuhan, karena Tuhan tidak akan melawan kehendak yang sudah Dia tuliskan. Kedua, Tuhan meminta kita mencari pasangan yang cocok dengan kita untuk saling menolong, sebab sebetulnya kalau kita melihat pernikahan dan kalau kita mau memandangnya dari sudut yang pragmatis atau praktis, bukankah pernikahan itu sebetulnya suatu hubungan tolong-menolong. Ujung-ujungnya pernikahan merupakan hubungan tolong-menolong, jadi kalau seseorang bisa merasakan menolong dan ditolong itu merupakan suatu tanda adanya kecocokan dalam hubungan mereka itu. Kecocokan memang bersifat sangat luas sekali, dalam hal ini perlu waktu untuk melihat dan menguji apakah kecocokan itu bisa benar-benar diterapkan dalam sebanyak-banyaknya aspek kehidupan mereka. Kalau cocoknya hanya ngobrol-ngobrol dalam hal yang menyenangkan, tapi untuk hal-hal yang sulit berkelahi, itu berarti tidak cocok untuk aspek yang lebih serius. Cocoknya hanya untuk ramai-ramai, rekreasi, seru, cerita, tertawa-tertawa cocok, di luar itu membicarakan keputusan-keputusan yang harus diambil mereka bertengkar. Jadi kecocokan harus meresap ke dalam semua aspek kehidupan, untuk itu memang diperlukan waktu yang panjang, jadi biarlah waktu berjalan sehingga kecocokan itu bisa diuji coba dalam segenap aspek kehidupan kita. Yang berikutnya lagi biasanya saya gunakan tanda atau konfirmasi dari sesama orang percaya, kalau teman-teman sesama orang percaya memberikan kita konfirmasi cocok memang, sesuai dengan kita, itu bagi saya suatu sumbangsih juga yang menguatkan kita. Misalkan juga berapa sering kita bertengkar, apakah kita sering bertengkarnya daripada berbaikan, apakah kita harus menjadi diri orang lain kalau bersama dengan pacar kita, apakah kita kehilangan diri kita waktu bersama dengan dia. Karena dia mempunyai permintaan yang tidak sama dengan yang kita inginkan ataukah kita justru merasa kita ini terus-menerus harus memberi, kita tidak menerima dari hubungan itu, hubungan itu menjadi hubungan yang tidak seimbang. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa sebetulnya ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan untuk bisa berkata inilah kehendak Tuhan, inilah jodohku sesuai dengan yang Tuhan desain untuk saya. Jadi kalau orang mengharapkan jawaban yang lurus, yang sederhana saya kira saya tidak punya jawaban seperti itu. Jadi menentukan pasangan hidup memang merupakan suatu proses yang kompleks dan panjang. Semuanya harus disatukan secara konsisten, setelah konsisten barulah kita akan mendapatkan damai dalam hati kita untuk melangkah masuk ke dalam mahligai pernikahan.
GS : Ya memang sulit ada satu kasus yang pernah ada, yang saya tahu dengan betul, kedua orang itu seiman itu sudah pasti, kelihatan cocok setelah berpacaran selama 1, 2 tahun mereka tidak ada masalah. Tetapi pada tahun yang kedua itu tiba-tiba orang tua dari pihak perempuan tidak menyetujui hubungan mereka dan akhirnya mereka berpisah dengan baik-baik. Selama dua tahun kedua-duanya yakin ini kehendak Tuhan hanya tinggal tunggu waktu saja untuk melangsungkan pernikahan, tapi akhirnya batal sehingga kedua-duanya kehilangan kepercayaan bahwa apa yang diyakini selama ini sebagai kehendak Tuhan itu cuma semu saja. Bagaimana cara kita menolong dalam kasus seperti itu?

PG : Dalam kasus itu saya kira kita bisa melihat bahwa konsep kehendak Tuhan yang keliru akan membawa kebingungan di dalam hidup kita. Saya seringkali melihat hal seperti itu Pak Gunawan, karen itu tadi waktu Pak Gunawan menanyakan pertanyaan pertama apakah jodoh itu di tangan Tuhan, ini adalah konsep yang memang beredar dengan begitu meluasnya di tengah-tengah kita.

Saya perlu menjelaskan secara spesifik apa yang saya maksud dengan perjodohan di tangan Tuhan, saya tidak berniat memberikan jawaban yang memudahkan, sebab akhirnya saya kira kita bisa kecewa. Misalkan kita dengan begitu naif menyimpulkan ini kehendak Tuhan karena apa, misalnya sesama orang Kristen dan kita menganggap dia cinta Tuhan, saya cinta Tuhan, setelah 3 bulan kita langsung menikah. Setelah menikah baru kita sadari bahwa orang ini mengapa sangat berbeda dari saya, saya tidak mengerti dia, dia tidak mengerti saya, kalau berkomunikasi tidak pernah ketemu, hanya bisa bertemu kalau bicaranya tentang Tuhan. Bicara hal yang lain misalnya belanja, beli rumah, makanan pasti bertengkar, hanya bicara tentang Tuhanlah baru tidak bertengkar. Di sini kita melihat bahwa kecocokan itu sangat sempit, hanya di dalam hal-hal rohani. Tapi hidup bukan hanya hal-hal rohani, hidup itu mencakup cakupan yang lebih luas, nah apakah itu kehendak Tuhan, saya menyimpulkan ya bukan. Jadi orang tersebut yang 2 tahun berpacaran kemudian orang tuanya berkata tidak ini bukan jodohmu apakah itu pasti kehendak Tuhan, saya belum bisa mengatakannya. Yang manakah yang kehendak Tuhan itu, yang dua tahun pertama ataukah keputusan orang tuanya. Saya belum bisa pastikan, sebab saya harus mengetahui lebih detail kenapa orang tuanya berkeberatan, apakah memang mereka mempunyai alasan yang sangat tepat untuk melarang anak-anak mereka menikah.
GS : Ya katakan alasannya kurang tepat, nyatanya mereka patuh artinya lebih menempuh jalan tidak meneruskan hubungan mereka, supaya orang tuanya juga puas, begitu Pak Paul dan tidak mencari masalah di sana, lalu mereka jalan sendiri menikah dengan pasangan mereka masing-masing lagi.

PG : Dalam hal itu mereka jadinya mengambil keputusan. Menurut saya juga sangat sepihak, sebab mereka tidak lagi melihat aspek hubungan mereka yang sudah berjalan dengan begitu baik. Sekali lag saya tidak tahu kenapa orang tuanya tidak setuju dan itu menurut saya hal yang penting untuk diketahui.

Apakah memang benar beralasan, kalau memang berdasar dan anak-anak ini menyetujui, memang kami tidak cocok ya orang tua itu hanyalah memberikan stempel, melegitimasi memang kalian tidak cocok. Tapi ketidakcocokan itu sudah mereka rasakan sejak awalnya. Tapi kalau mereka cocok dalam hampir semua aspek kehidupan mereka dan hanya karena orang tua tidak setuju atas hal-hal yang tidak berdasar, saya kira mereka mengambil keputusan yang terlalu pagi, hanya demi menghormati keputusan orang tua mereka.
GS : Tetapi masalahnya pernikahan itu jadi kompleks Pak Paul, bukan hanya mereka berdua, ada pihak keluarga masing-masing yang terlibat di sana. Mereka mengatakan kalau dilanjutkan akan bertambah parah.

PG : Dalam hal itu saya akan berikan kebebasan, tidak apa-apa, sebab pernikahan memang adalah suatu hal yang serius, berlangsung seumur hidup dan mempengaruhi banyak orang dalam keluarga. Kalaukedua orang ini beranggapan dan akhirnya berkesimpulan lebih baik kami berpisah daripada seumur hidup membuat masalah bagi keluarga kami dan kami tidak siap untuk menghadapi resiko itu, ya lebih baik kami berpisah, saya pikir ya tidak apa-apa.

Dan menurut saya kalau itu yang terjadi, Tuhan pun tidak keberatan sebab saya lebih mempunyai prinsip dalam soal perjodohan memang Tuhan memberikan kita ruang gerak yang sangat besar, asalkan rambu-rambunya itu kita patuhi. Namun benar-benar sesuai dengan selera kita itu adalah hal yang luas.
IR : Bagaimana sebaliknya Pak Paul, kalau anak ini mengeraskan hati tetap melangsungkan hubungan mereka padahal kedua orang tuanya itu tidak setuju. Biasanya alasan orang tua karena anak ini tidak seiman, tapi kalau dia ingin tetap menikah, bagaimana sikap orang tuanya terhadap anaknya itu?

PG : Saya kira orang tua bisa dengan tegas berkata kami tidak menyetujui pernikahan ini, karena ini bukanlah pernikahan yang Tuhan berkati. Yang kedua adalah orang tua harus mengambil keputusanapakah orang tua akan memutuskan hubungan ini ataukah tetap menerima si anak.

Meskipun tidak menyetujui dengan tegas mengkomunikasikan itu kepada mereka, namun setelah itu apakah orang tua tetap mau menjalin hubungan sebagai orang tua dan anak, memang ini keputusan yang harus diambil oleh orang tua. Bagi saya orang tua yang dengan tegas menolak juga tidak apa-apa, orang tua berkata kami tidak setuju. Tapi kami tetap akan menjalin hubungan dengan kamu, karena kamu tetap anak kami, itupun juga baik. Jadi saya kira ini tergantung bagaimana orang tua menanggapi hal ini, boleh tegas tidak mau ikut campur dan tidak mau menghadiri pernikahan tersebut atau kita berkata kami tidak setuju tapi tetap kami menganggap kamu anak karena tidak ada yang bisa mengubah hal itu, bagi saya dua-duanya tidak apa-apa.
GS : Tapi baru-baru ini ada satu peristiwa, yang saya sendiri masih meragukan kebenarannya. Pasangannya memang belum seiman dari pihak yang perempuan orang Kristen, tapi yang laki belum. Menjelang pernikahan orang tua dari anak perempuan ini berkata kamu boleh menikah dengan anak saya asal kamu jadi orang Kristen, kamu dan segenap keluargamu, artinya orang tuanya juga. Nah saya yakin dengan terpaksa mereka itu jadi orang Kristen, dalam hal ini bagaimana Pak Paul?

PG : Saya pribadi juga cenderung beranggapan bahwa kemungkinan mereka menjadi Kristen dengan tulus itu kecil. Kemungkinan yang lebih besar adalah mereka mengikuti permintaan orang tua si wanitaitu menjadi orang Kristen dan saya sayangkan hal itu.

Jadi orang tua si wanita bagi saya akhirnya mengambil jalan pintas seolah-olah damai dihadapan Tuhan karena anaknya tetap dalam kehendak Tuhan, namun di pihak lain sebetulnya mungkin mereka pun sadar bahwa keluarga si pria ini tidaklah menjadi Kristen secara sukarela. Bagi saya buat apa itu, artinya hanya untuk menyenangkan hati orang tua dan dilihat orang sebagai hal yang baik.
GS : Masalahnya mereka itu sudah agak lama berpacaran. Jadi dari pihak si pria, keluarganya itu merasa kalau sampai bubar, bukan cuma sayang tetapi juga mereka merasa malu, Pak. Tuntutan itu mau tidak mau dipenuhi saja, mereka jadi orang Kristen, masuk ke gereja dan sebagainya diberkati di gereja. Tapi saya agak meragukan, terus terang yang tadi Pak Paul katakan ketulusan mereka untuk menjadi orang Kristen, jadi setengahnya terpaksa ya, Pak Paul?

PG : Betul mudah-mudahan dalam kasus tersebut anugerah Tuhan dilimpahkan kepada mereka, sehingga meskipun awalnya mereka terpaksa menjadi orang Kristen tapi akhirnya mereka mengerti cinta kasihTuhan dalam hidup mereka sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus.

GS : Alasan yang sama juga seringkali dikemukakan oleh pasangan-pasangan yang tidak seiman, jadi berharap kemurahan Tuhan itu berlaku atas pasangannya, suatu saat dia akan menjadi orang Kristen yang betul-betul lahir baru.

PG : Orang yang berprinsip seperti itu juga harus siap menghadapi resikonya kalau-kalau pasangannya tidak menjadi pengikut Kristus. Dia boleh berharap pada kemurahan Tuhan, tapi saya kira dia jga harus siap menghadapi kemungkinan yang satunya.

Memang Tuhan penuh anugerah, jadi meskipun anak Tuhan kadangkala nakal, adakalanya atau sering kita melihat Tuhan melimpahkan kemurahanNya, itu memang terjadi. Tapi sebagai anak yang mencintai dan taat kepada Tuhan, seharusnya kita tidak menggunakan hal tersebut untuk memaksakan kehendak kita. Jadi janganlah kita seolah-olah memanfaatkan kebaikan Tuhan untuk kepentingan kita, tetapi yang Tuhan inginkan kita ini menaati kehendakNya, itu yang lebih indah.
GS : Ini memang masih banyak hal Pak Paul yang harus kita bicarakan tentang pernak-pernik perjodohan, tapi mungkin kita akan bicarakan pada kesempatan yang lain. Namun sebelum kita mengakhiri pembicaraan ini saya rasa ada baiknya Pak Paul membacakan sebagian dari firman Tuhan yang memberikan bimbingan kepada kita.

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 20:25 "Suatu jerat bagi manusia adalah kalau ia tanpa berpikir mengatakan kudus dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar." Di sini diteankan bahwa kita harus berpikir panjang sebelum memberikan stempel inilah kehendak Tuhan.

Sebelum memberikan stempel itu pasti untuk Tuhan dan dari Tuhan, Tuhan meminta kita menimbang-nimbang terlebih dahulu. Biarlah orang yang ingin menikah menimbang dulu sebelum memberikan stempel kudus atau ini dikuduskan Tuhan.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang pernak-pernik perjodohan. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



17. Pernak-Pernik Perjodohan 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T063B (File MP3 T063B)


Abstrak:

Kelanjutan dari T63A


Ringkasan:

Keraguan yang muncul pada saat menjelang pernikahan dibagi dalam beberapa fase:

  1. Fase pertama, yaitu pada awal kita bertemu dan berpacaran, seyogyanya yang lebih natural sering terjadi adalah tidak ada keraguan, kita berpikir inilah jodoh kita, dialah yang paling cocok dengan kita, ini pasti kehendak Tuhan dsb.

  2. Fase kedua adalah fase di mana justru timbul keragu-raguan karena di situlah mereka mulai menemukan bahwa mereka tidak sama dengan pasangan mereka, dan pasangan mereka tidak bisa selalu mengerti diri mereka. Pada saat itu keragu-raguan biasanya muncul dan itu hal yang baik, ini adalah hal yang justru kita harus terima sebagai suatu bagian dari masa berpacaran yang sehat.

  3. Fase ketiga antara 6 bulan sampai setahun sebelum pernikahan, seharusnya mereka justru merasa damai dan lebih banyak tenteramnya daripada keragu-raguan.

Fase-fase berpacaran dari yang paling umum sampai yang spesfik:

  1. Pertama, saya ini menganjurkan kita ini bergaul dengan luas, maka saya tidak setuju anak SMP atau SMA berpacaran.

  2. Setelah itu kita mulai mengenal pasangan kita atau orang tersebut dalam kelompok kecil, jalinlah hubungan dengan dia namun dalam kelompok 2, 3, 4, sehingga kita mulai bersahabat dengan dia.

  3. Setelah kita mengenal dia dengan lebih baik, menjadi sahabat dia dengan baik, dalam kelompok kecil baru kita mulai persahabatan dengan dia secara pribadi. Kita ajak dia mulai berdoa dan tetapkan suatu jangka waktu, bagaimana selama 6 bulan kita saling mendoakan, saling mengenal.

  4. Setelah 6 bulan kita akan duduk bersama dan mengevaluasi apakah kita cocok, apakah engkau tetap mempunyai perasaan yang sama atau makin bertambah atau tidak.

  5. Setelah masa itu berlangsung dan kita merasakan makin cocok, dua-dua bisa berkata OK.....sekarang kita tuntaskan kita memasuki masa berpacaran.

Di sinilah orang tua harus berperan, artinya sejak anak kecil orang tua sesungguhnya sudah harus mulai menanamkan benih-benih kriteria yang baik. Siapakah istri yang baik, apakah suami yang baik, kriteria-kriteria itu harus mulai kita tanamkan pada diri anak kita. Sebagai orang tua kita harus mengakui bahwa kita mempunyai tugas, tapi wewenang kita terbatas, ini kita harus sadari.

Beberapa panduan karakteristik orang-orang yang cocok untuk menikah:

  1. Kita menikahi orang yang kita hormati, jadi jangan sampai kita menikah dengan seseorang yang tidak kita hormati atau tidak kita segani. Sebaliknya kita pun harus jadi orang yang disegani, dihormati oleh pasangan kita.

  2. Kita menikahi orang yang kita percayai, demikian juga sebaliknya kita pun harus jadi orang yang dipercayai oleh pasangan kita.

  3. Kita harus menikahi orang yang kita cintai, orang yang layak dan dapat dicintai, orang yang mempunyai karakteristik "lovable" yang kita kagumi, yang membuat kita sayang kepada dia. Sebaliknya demikian juga kita harus menjadi orang yang "lovable."

  4. Kita menikahi orang yang siap untuk meninggalkan kehidupan lajangnya. Artinya kita harus menikahi orang yang memang siap untuk terikat.

  5. Kita menikahi orang yang siap berkeluarga. Artinya siap menjadi suami-istri, siap menjadi ayah atau ibu. Orang yang siap menjadi ayah dan ibu, orang yang siap membagi dan mengorbankan hidupnya.

  6. Kita menikahi orang yang fleksibel atau orang yang bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan.

Amsal 31:30 mengingatkan "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Saya coba balik untuk yang pria di sini, kegantengan adalah bohong dan ketampanan adalah sia-sia, tetapi suami yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Jadi sekali lagi jangan kita ini dibutakan oleh penampilan fisik, kita harus pegang prinsip yang paling penting, yaitu carilah istri atau suami yang takut akan Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pernak-pernik perjodohan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita sudah membicarakan tentang pernak-pernik perjodohan, tapi namanya pernak-pernik makin dibicarakan makin banyak yang muncul. Kelanjutan pembicaraan itu saya akan mulai dengan menanyakan salah satu pertanyaan dari pendengar. Pada masa pacaran atau menjelang pernikahan bahkan seseorang itu menjadi ragu-ragu, apakah ini jodohnya. Keraguan yang muncul yang sebenarnya tadinya tidak ada, apakah suatu hal yang normal atau sebenarnya tidak boleh terjadi, Pak Paul?

PG : Saya kira itu tergantung pada kapan munculnya keragu-raguan itu. Seyogyanya yang bagi saya lebih natural adalah pada waktu bertemu, awal-awal kita berpacaran yang seringnya terjadi adalah idak ada keraguan, kita berpikir inilah jodoh kita, dialah yang paling cocok dengan kita, ini pasti kehendak Tuhan dan sebagainya.

Namun setelah melewati fase pertama itu mungkin hanya berlangsung katakanlah 6 bulan pertama, seyogyanya setelah itu mereka mulai memasuki fase kedua. Fase kedua adalah fase yang justru timbul keragu-raguan karena disitulah mereka mulai menemukan bahwa mereka tidak sama dengan pasangan mereka dan pasangan mereka tidak bisa selalu mengerti diri mereka. Pada saat itu keragu-raguan biasanya muncul dan ini adalah hal yang justru kita harus terima sebagai suatu bagian dari masa berpacaran yang sehat. Namun kalau hubungannya memang kuat dan harmonis seyogyanya mereka mulai dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga pada waktu memasuki fase ke 3 mereka justru merasakan banyak kecocokan. Sehingga pada masa yang saya sebut dengan fase ke 3 antara 6 bulan sampai setahun sebelum pernikahan, seharusnya mereka justru merasa damai dan lebih banyak tentramnya daripada keragu-raguan atau lebih banyak pertanyaan apakah ini pasangan untuk saya atau bukan, baru memasuki pernikahan. Dengan kata lain tergantung kapan munculnya keragu-raguan itu, kalau dari awal muncul, fase kedua muncul, fase ketiga bisa akhirnya lepas dan tentram itu lebih aman. Tapi yang celaka adalah fase pertama dan fase kedua misalnya tidak ada keragu-raguan, fase ketiga sebelum menikah penuh keragu-raguan, saya bisa menyimpulkan mereka belum siap menikah. Apakah jodoh mereka, apakah mereka cocok, tidak tahu pasti, tapi yang pasti adalah mereka belum siap menikah pada saat itu. Sebab seyogyanya kira-kira 6 bulan atau setahun sebelum pernikahan justru mereka merasakan mantap tidak ragu-ragu, tapi sekali lagi harus didahului oleh fase ragu-ragu itu, mempertanyakan karena munculnya perbedaan-perbedaan. Kalau perbedaan tidak muncul sama sekali saya cenderung skeptik, saya cenderung mempertanyakan kenapa tidak muncul, apakah terlalu disembunyikan sehingga tidak terbuka antara satu sama lain ataukah kalau muncul dihindarkan sehingga tidak pernah diselesaikan atau membutakan mata atau apa. Jadi saya cenderung mempertanyakan kalau tidak ada sama sekali keragu-raguan itu.
GS : Kalau Pak Paul tadi sebutkan fase-fase seperti itu, yang seringkali terjadi masa pacaran itu tidak selama yang Pak Paul sebutkan tadi fase-fasenya?

PG : Itu sebabnya saya memang berasumsi, tersirat dalam perkataan tadi, masa berpacaran jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lama. Misalkan saya selalu berkata kalau mau minimum, orang itu brpacaran tidak boleh kurang dari setahun, tapi setahun bagi saya terus terang terlalu singkat, yang ideal menurut saya orang berpacaran itu sekurang-kurangnya 2 tahun sampai 3 tahun atau 4 tahun.

Tapi jangan pacaran terlalu lama, 15 tahun misalnya.
IR : 5 tahun juga ideal.

PG : Ya, sampai kira-kira 5 tahun itu baik.

(2) IR : Pak Paul, sebagai anak Tuhan apa boleh berganti-ganti pacar?

PG : Pertanyaan ini memang susah dijawab, apakah boleh kita ini berganti pacar sebagai anak Tuhan, otomatis kalau berganti-ganti terlalu sering tidak baik. Karena kita harus menyadari bahwa aka ada dampak perasaan-perasaan akan menjadi korban, jadi berganti-ganti sudah tentu saya kira jangan karena tidak baik.

Namun apakah boleh berganti pacar, boleh sebab justru pacaran adalah waktu untuk menentukan kecocokan atau ketidakcocokan kita. Jadi jangan sampai kita diikat secara tidak perlu karena sudah berpacaran satu kali dengan orang ini, kita harus bertanggung jawab, kita harus menikah dengan dia, tidak. Saya percaya kita harus mempunyai pikiran pada waktu kita berpacaran, kita memang mau menjalankan hubungan ini sampai ke mahligai pernikahan, jadi jangan sampai orang berpacaran dengan pikiran mau main-main saja, mau coba-coba saja. Sebab kita sedang berhubungan dengan orang atau manusia, dengan perasaannya, harga dirinya, reputasinya, semua itu akan terkait dalam hubungan berpacaran, jadi kita jangan sembarangan. Namun walaupun tadi saya katakan kita serius membawa pacaran ini sampai ke mahligai pernikahan, tidak berarti kita harus membelenggu diri kita. Jadi salah kalau orang berkata karena saya sudah berpacaran, saya sudah berjanji saya akan menikahi dia, saya sudah mencintai dia, tapi terus kita melihat tidak cocok tapi terus mempertahankan, itu juga salah. Jadi berganti-ganti pacar itu jangan, kalau berganti dan memang harus berganti silakan dan harus berani untuk berkata tidak cocok.
(3) GS : Mungkin juga pengertian pacaran itu seringkali orang melihat kalau kita sudah pergi berdua terus dengan seseorang yang tertentu. Orang mengatakannya mereka pacaran, padahal sebenarnya itu baru tahap perkenalan, saling mengenal tapi karena terlalu sering yang satu mau saja diajak pergi dan yang satu juga senang mengajak ke mana-mana, lalu timbul konsep pacaran. Nah sebenarnya pacaran itu sendiri seperti apa, Pak Paul?

PG : Saya memberikan fase-fase dari yang paling umum sampai akhirnya ke yang spesifik, berpacaran serius. Tahap pertama saya menganjurkan kita ini bergaul dengan luas, maka saya tidak setuju ank SMP, SMA berpacaran.

Kalau mau berpacaran setelah SMA, setelah memasuki usia dewasa karena pada saat itulah kebutuhan kita untuk mempunyai teman yang khusus, yang akrab baru mulai timbul. Sebelum itu pada masa SMP, SMA memang pada tahap pertumbuhan, kita memang telah didesain Tuhan untuk mampu berkawan secara banyak, silakan berkawan dengan luas agar bisa mengenal baik laki-laki maupun perempuan. Setelah itu kita mulai mengenal pasangan kita atau orang tersebut dalam kelompok kecil, jalinlah hubungan dengan dia namun dalam kelompok 2, 3, 4, sehingga kita mulai bersahabat dengan dia. Dan dari jarak kelompok ini kita mulai memantau siapa dia, mulai mengerti siapa dia, jadi kita mulai mencocok-cocokkan, bisakah kita cocok atau tidak dan ini yang penting dalam kelompok kecil itu kita menjalin persahabatan. Sebab saya sangat-sangat menekankan pentingnya menjadikan persahabatan sebagai pendahuluan masuk ke dalam masa berpacaran. Nah yang seringkali terjadi kebalikannya, sekarang cinta yang didahulukan. Baru nanti pusingkan persahabatan, yang tidak cocok akhirnya dicocok-cocokan, kita membuta-butakan mata karena sudah terlanjur cintanya, tertariknya, itu hal yang keliru. Jadi langkah pertama justru adalah persahabatan, nah itu dimulai dari kelompok kecil, setelah kita mengenal dia dengan lebih baik, menjadi sahabat dia dengan baik, mulailah persahabatan dengan dia secara pribadi. Pada tahap ini saya anjurkan untuk mengatakan langsung kepada pasangan itu, pada orang tersebut bahwa kita berminat kepada dia tapi kita tidak tahu apakah memang ini kehendak Tuhan, jadi kita ajak dia mulai berdoa dan tetapkan suatu jangka waktu, bagaimana selama 6 bulan kita saling mendoakan, saling mengenal. Dan setelah 6 bulan kita akan duduk bersama dan mengevaluasi apakah kita cocok, apakah engkau tetap mempunyai perasaan yang sama atau makin bertambah atau tidak. Kalau tidak kita harus dua-dua konsekuen berkata memang bukanlah kehendak Tuhan, kita akan berpisah baik-baik. Jadi memang ada kejelasan masa 6 bulan ini masa evaluatif, masa yang digunakan untuk menguji coba, setelah 6 bulan itu berlangsung dan kita merasakan makin cocok dua-dua bisa berkata sekarang kita tuntaskan kita memasuki masa berpacaran. Tentukan 2 tahun 3 tahun dimuka sebagai masa berpacaran kita, dalam masa berpacaran itu tetap dimungkinkan kita berpisah kalau memang tidak cocok. Tapi kita tahu ini adalah persiapan kita untuk memasuki pernikahan, nah nanti tahap terakhir barulah kita menikahi dia.
GS : Tapi problemnya selama orang mulai suka dengan lawan jenisnya, emosinya lebih besar daripada akal sehatnya, Pak Paul. Untuk bisa mencapai pada tahapan berpacaran itu, orang seharusnya menggunakan akal sehatnya. Bagaimana mempersiapkan orang yang belum memasuki masa pacaran itu, Pak?

PG : Di sinilah orang tua harus berperan, artinya sejak kecil orang tua sesungguhnya sudah harus mulai menanamkan benih-benih kriteria yang baik. Siapakah istri yang baik, apakah suami yang bai, kriteria-kriteria itu harus mulai kita tanamkan pada diri anak kita.

Kita akan katakan kita mau mereka menikah dengan sesama orang yang percaya, sesama orang yang dalam Tuhan Yesus. Inilah orang yang cocok, inilah orang yang baik dan sebagainya. Kita mulai tanamkan hal-hal seperti itu, sehingga anak-anak dari kecil mulai mempunyai konsep yang saya inginkan adalah yang seperti ini. Itu menolong sekali, waktu dia sudah dewasa dan dia mulai mendekati atau didekati oleh seseorang tidak bisa tidak, kriteria itu yang telah tertanam akan dihidupkan. Namun kalau Pak Gunawan bertanya tapi apakah mungkin anak-anak yang kita perlengkapi seperti itu, akhirnya bisa lupa sewaktu bertemu dengan yang disukai, itupun bisa dan memang terjadi, seperti "buta".
GS : Kecenderungannya mungkin bukan buta, Pak Paul tetapi pengaruh-pengaruh lingkungan yang dia terima dari temannya, kehidupan di luar yang dia lihat itu membuat dia bingung sebenarnya, Pak Paul. Tetapi tidak sempat atau tidak mau bertanya pada orang tuanya, lalu dia mengambil kesimpulan tersendiri bahwa ini yang terbaik buat dia.

PG : Betul, itu sebabnya kita sebagai orang tua harus mengakui dan menyadari bahwa kita mempunyai tugas tapi wewenang kita terbatas. Tugas kita orang tua adalah memberikan dan menanamkan benih-enih itu, namun orang tua pasti akhirnya sampai pada satu kesadaran bahwa wewenangnya terbatas.

Wewenang maksud saya adalah tangannya tidak cukup panjang untuk terus bisa mengatur perilaku dan keputusan anaknya. Pada satu titik orang tua harus mengatakan tanganku hanya bisa menjangkau sampai disini, setelah itu tanganku tidak bisa menjangkaumu. Wewenang kita berhenti di situ, pada waktu wewenang kita berhenti anak memang mempunyai kebebasan memilih sesuai dengan yang dia kehendaki dan adakalanya dia memilih orang yang tidak sesuai, yang keliru.
GS : Pak Paul, tadi katakan jangkauan orang tua itu terbatas ya, tetapi kenyataannya di dalam pernikahan seringkali campur tangan orang tua itu besar sekali untuk meneruskan pacaran itu sampai ke pernikahan atau membatalkannya. Sebetulnya bagaimana hal itu ditinjau dari segi Kekristenan?

PG : Saya percaya bahwa kita bertugas memberikan didikan, penjelasan, pengarahan, namun keputusan terakhir memang ada di tangan anak kita. Karena mereka adalah orang yang dewasa, jadi waktu ana kita mengambil keputusan yang sangat bertentangan dengan kehendak kita dan kita tahu ini bertentangan juga dengan kehendak Tuhan, saya rasa kita dan Tuhan dua-duanya akan bersedih hati.

Namun kita terpaksa bersikap seperti Tuhan yaitu membiarkan, sebab ini nanti adalah hidupnya dan tanggungjawab akan ada pada pundaknya.
GS : Itu kalau ditinjau dari segi orang tua, sekarang kalau kita tinjau dari segi anaknya, Pak Paul. Anak itu seringkali juga diteror oleh lingkungannya yang mengatakan itu permintaan ayahmu atau ibumu yang sudah tua, apakah kamu tidak mau memenuhi permintaan itu, apa sulitnya. Misalnya justru orang tua ini bukan memutuskan untuk menjodohkan dengan seseorang lain yang dia rasa tidak cocok, tetapi demi menuruti orang tuanya, menghormati orang tuanya, maka dia jalani saja.

PG : Sebisanya, saya ini tidak bisa terlalu dogmatik dalam hal ini, tapi saya menghimbau sebisanya anak itu mengambil keputusan tidak didasari semata-mata atas permintaan orang tua. Dia harus uga memikirkan masa depannya apakah memang cocok, tapi sekali lagi saya mau gariskan ini dalam rambu-rambu Kristiani ya.

Jadi tidak bisa anak berkata saya mau menikahi orang yang tidak cocok dengan saya dan juga tidak seiman, itu tidak boleh. Tapi yang saya maksud misalnya orang ini tidak cocok, tidak sesuai tapi orang tua terus bersikeras kita harus menikahi orang itu karena utang budi atau apa, saya kira anak seharusnya tetap berkata tidak. Karena nanti yang akan menanggung resiko pernikahan ini bukan orang tua tapi si anak.
IR : Juga sebaliknya Pak Paul, kalau anak itu juga sering diteror oleh teman-teman sekelilingnya kalau orang tuanya melarang seringkali juga lingkungan memaksa, kamu 'kan bukan anak mama?

PG : Bisa, jadi adakalanya memang kemandirian itu kalau tidak terwujud dengan penuh tanggung jawab akan melenceng jauh sekali karena dipengaruhi oleh lingkungan.

GS : Memang masih ada sisa-sisa tempo dulu mungkin Pak Paul, dimana orang tua selalu berkata Papa dan Mama dulu juga dijodohkan oleh kakek nenekmu, dan ternyata bisa harmonis, kenapa kamu tidak mau coba permintaan ini.

PG : Saya akan kembalikan pertanyaan itu atau komentar tersebut dengan pertanyaan, kalau Papa dan Mama dulu diberikan dua pilihan, satu ditentukan kedua menentukan sendiri, jodoh yang mana Pap Mama akan pilih? Ditentukan atau menentukan sendiri, bukankah orang tua akan berkata, "ya sebetulnya kalau bisa menentukan sendiri."

(4) GS : Nah sebenarnya, Pak Paul dalam hal hubungan ini yang tadi orang tua mencarikan jodoh dan tidak cocok itu, sebenarnya apakah memang ada tipe kepribadian yang memang tidak cocok kalau mereka menikah, Pak Paul?

PG : Saya akan memberikan beberapa panduan karakteristik orang-orang yang cocok untuk menikah. Yang pertama adalah kita menikahi orang yang kita hormati, jadi jangan sampai kita ini menikah denan seseorang yang tidak kita hormati, tidak kita segani, sebaliknya kita harus menjadi orang yang disegani, dihormati oleh pasangan kita.

Kedua kita menikahi dengan orang yang kita percayai, dia tidak akan menyeleweng, menipu. Kalau kita tidak mempunyai rasa percaya itu jangan nikah, sebaliknya kita pun harus jadi orang yang dipercayai oleh pasangan kita. Yang ketiga, kita harus menikahi orang yang kita cintai, jadi orang itu layak dan dapat dicintai, dalam bahasa Inggrisnya orang itu mempunyai karakteristik yang "lovable". Yang kita kagumi yang membuat kita sayang kepada dia, sebaliknya kita juga harus menjadi orang yang layak dicintai yang lovable bagi pasangan kita. Berikutnya kita menikahi orang yang siap untuk meninggalkan kehidupan lajangnya, artinya kita harus menikahi orang yang memang siap untuk terikat. Ada orang yang berkata saya siap menikah, tapi tidak siap mengakhiri hidup lajangnya, masih mau pergi sembarangan, malam baru pulang dan tidak bisa ditegur oleh pasangannya, berkata ini hidup saya, orang itu belum siap mengakhiri hidup lajangnya, jangan nikahi orang seperti itu. Berikutnya kita menikahi orang yang siap berkeluarga artinya kalau mengakhiri hidup lajang tadi, siap menjadi suami dan istri, ini artinya siap menjadi ayah atau ibu. Ya artinya orang yang siap menjadi ayah dan ibu, adalah orang yang siap membagi dan mengorbankan hidupnya. Kalau orang pelit mengorbankan hidupnya, waktunya, dirinya untuk orang lain dia belum siap menjadi ayah atau ibu, dia belum siap berkeluarga. Jadi satu karakteristik yang penting dalam berkeluarga adalah siap untuk mengorbankan diri, jadi kita nikahi orang yang siap berkeluarga. Dan yang terakhir kita menikahi orang yang fleksibel, orang yang artinya bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan, jangan kita menikahi orang yang kaku, yang tidak bersedia berubah meskipun keadaan sudah menuntutnya. Dalam segala hal dia mengharapkan orang lain yang berubah sesuai dengan keadaan atau tuntutan dia, kita akan kesulitan menikah dengan orang yang tidak fleksibel. Jadi kita ingat-ingatlah panduan-panduan tersebut dalam memilih pasangan hidup kita.
GS : Kalau perbedaan karakteristik atau kepribadian seseorang seperti yang sanguin dengan melankolik, itu semuanya masih bisa cocok ya Pak Paul?

PG : Semuanya masih bisa cocok asalkan memang kita ini bisa menerima bahwa ada hal-hal yang kita akan sulit kita terima karena perbedaan itu, tapi bisa dicocokkan. Nah misalkan kita senang dengn orang yang plegmatik karena apa kita katakan, dia orang yang mantap, tenang tidak terpengaruh keadaan.

Kita menikah dengan dia 5 tahun kemudian setelah menikah kita mengatakan capek menikah dengan dia, dia tidak peduli, tidak mau tahu orang, jadi karakteristik yang kita kagumi seringkali setelah menikah berubah menjadi karakteristik yang mengganggu atau menjengkelkan kita.
GS : Nah Pak Paul, itu semua membutuhkan kematangan di dalam diri seseorang ya, walaupun bukan sebuah pedoman yang mati tetapi sebagai macam pedoman. Tadi Pak Paul katakan setelah SMA seseorang itu baik untuk mulai berpacaran dan sebagainya. Kenyataannya sekarang itu lebih dini dari itu, jadi misalnya SMP akhir itu sudah mulai pacaran, sebenarnya pengaruhnya itu di mana, Pak?

PG : Kalau dia berpacaran pada usia dini, pertama-tama dia akan kehilangan kesempatan bergaul dengan lebih luas karena berpacaran itu menuntut energi, waktu, hanya diberikan pada satu orang. Jai dia kehilangan kesempatan bergaul dan mengenal orang lebih banyak lagi.

Yang kedua adalah pertumbuhannya sendiri pun akan terganggu karena pergaulan yang luas memperkaya jiwa kita. Sejak dini kita sudah berpacaran berarti jiwa kita tidak bisa bertumbuh dengan luas, akan terikat atau akan terbatasi.
GS : Tapi sebaliknya Pak Paul, kalau ada orang yang mulai pacaran sudah agak lanjut itu sekarang sudah mulai banyak Pak Paul, karena kesibukan masing-masing merintis karier di beberapa negara. Mereka sebetulnya dapat dikatakan berpacaran sudah agak terlambat. Sebenarnya apa itu pengaruhnya, Pak Paul?

PG : Dari segi kematangan memang kita berkata orang yang memulai berpacarannya pada usia yang sudah 30-an ke atas ya, akan lebih matang pertimbangan-pertimbangannya, saya setujui. Tapi yang say takuti adalah unsur-unsur pertimbangan rasional itu akan bisa mengalahkan kespontanannya, spontanitas cinta karena segalanya itu terlalu dipikirkan secara seolah-olah bisnis, keuntungannya, kerugiannya itu yang menjadi motivasi terutama di dalam membina hubungan berpacaran ini.

Jadi saya kira kalau terlalu tua juga tidak baik.
GS : Memang ini menjadi masalah yang timbul karena lingkungan masing-masing juga, Pak Paul; jadi sebelum kita mengakhiri pembicaraan kita pada kali ini, mungkin Pak Paul akan sampaikan ayat firman Tuhan?

PG : Saya akan mengacu kepada tadi yang Pak Gunawan katakan, bahwa Ibu Ida tadi juga singgung yaitu adakalanya anak-anak kita meskipun sudah tahu firman Tuhan namun setelah tergila-gila dengan eseorang akhirnya kehilanganlah pegangan yang sebetulnya dia sudah miliki.

Firman Tuhan di Amsal 31:30 mengingatkan "kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Saya boleh membaliknya untuk yang pria disini ya, kegantengan adalah bohong dan ketampanan adalah sia-sia, tetapi suami yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Jadi sekali lagi jangan kita dibutakan oleh penampilan fisik, kita harus pegang yang paling penting yaitu carilah istri atau suami yang takut akan Tuhan.
GS : Saya percaya sekali Pak Paul bahwa masih ada banyak pendengar kita yang mempunyai banyak pertanyaan, melalui kesempatan ini mungkin kita bisa mengundang mereka untuk menyampaikan pertanyaan saran dan sebagainya kepada kita dan mungkin kita bisa bahas lagi pada kesempatan yang akan datang.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja melanjutkan perbincangan tentang pernak-pernik perjodohan. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



18. Makna Kesepadanan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T079A (File MP3 T079A)


Abstrak:

Salah satu arti atau implikasi dari kesepadanan untuk kita anak-anak Tuhan adalah seiman. Jadi nilai kepercayaan siapa yang kita percaya itu mutlak harus sama. Kesepadanan adalah kecocokan karakter dan gaya hidup yang bisa kita terima menjadi bagian dari hidup kita. Di mana karakter dan gaya hidup itu menjadikan kita orang yang lebih baik.


Ringkasan:

Kejadian 2:18, " Tidak baik manusia seorang diri saja dan Aku akan menjadikan seorang penolong yang sepadan baginya."

Sebelum membahas arti sepadan saya akan menguraikan terlebih dahulu beberapa hal yaitu:

  1. Kesepadaan tidak identik dengan kesamaan, adakalanya kita menyamakan keduanya yaitu sepadan berarti sama, adakalanya ini prinsip yang kita gunakan untuk mencari pasangan hidup yaitu mencari yang sama. Tapi kita perlu menyadari bahwa yang Tuhan maksud kesepadanan tidak sama dengan kesamaan.

  2. Kesepadanan tidak identik dengan penjiplakan, maksudnya adalah salah satu pihak menanggalkan dirinya dan menjadi seperti yang diharapkan pasangannya. Dan penjiplakan ini tidak akan berlangsung lama. Hubungan suami-istri harus dimulai dalam rasa aman, bukan dalam rasa takut. Kalau sudah ada rasa takut, saya takut kehilangan dia, karena saya sangat bergantung pada dia itu sudah menjadikan hubungan suami-istri ini hubungan yang tidak kuat. Jadi sebaiknya orang yang ingin menikah memasuki hubungan nikah ini dalam rasa tenang, tenteram.

Jadi yang dimaksud dengan sepadan adalah kecocokan bukan sama. Cocok ini artinya adalah :

  1. Kita cocok dengan karakternya dan bisa menerima gaya hidupnya. Maksudnya cocok dengan karakternya adalah kita ini tidak rasa bahwa karakternya itu mengganggu kita, menyusahkan kita, menghalangi kita tapi justru menganggap karakternya itu sedikit banyak saling membantu, saling melengkapi dengan karakter kita.

  2. Kita melihat bahwa gaya hdupnya itu sesuatu yang bisa kita terima, artinya terima di sini adalah kita bisa hidup bersama dia dengan gaya hidupnya yang seperti itu.
    Cocok mengandung dua cakupan yaitu:

    1. Dari segi karakter
    2. Segi gaya hidup

    Karakternya mesti cocok dengan kita artinya pas dan gaya hidupnya juga mesti cocok dengan kita. Dr. Archibald Hart mantan dekan fakultas Psikologi di Fuller Seminary, di California mengemukakan teorinya bahwa kedua orang yang menikah sesungguhnya memulai pernikahan dengan ketidakcocokan, dengan berjalannya waktu masing-masing belajar mencocokkan diri akhirnya berhasil hidup harmonis.
    Yang dimaksud dengan perkataan beliau adalah kalaupun cocok itu berarti:

    1. Cocok untuk hal-hal tertentu, yang lain-lainnya belum tergali, belum tereksplorasi karena memang belum hidup serumah.

    2. Kecocokan itu masih bersifat dangkal, setelah menikah baru sadar dalam-dalamnya dan barulah terlihat bahwa dia tidak cocok dengan pasangannya.

    Pernikahan menjadi wadah untuk memuliakan Tuhan bukan memalukan Tuhan. Ini sedikit banyak akan menolong pasangan kita bekerja keras, untuk menyesuaikan diri mengharmoniskan hubungan mereka. Karena mereka sadar pernikahan adalah salah satu hal yang mereka bisa persembahkan kepada Tuhan untuk memuliakan-Nya, bukan untuk memalukan nama Tuhan.

  3. Kesepadanan berarti juga kita ini akan menerima pertolongan pasangan kita agar kita menjadi orang yang lebih baik. Jadi karakter pasangan kita yang mungkin berbeda dari kita, gaya hidup pasangan kita yang juga berbeda dari kita akan Tuhan pakai untuk membentuk kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi orang yang lebih baik.

Galatia 5:22-23, "Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." Tidak ada akhirnya kalau kita mencari kecocokan terus-menerus, salah satu prinsip yang langsung bisa diingat adalah Galatia 5:22,23 yaitu buah Roh Kudus. Apakah pasangan kita memiliki karakter Roh Kudus. Nah saya kira kalau dia bisa melakukan dan mempunyai ciri-ciri itu, kita ini cukup aman bersama dengan dia karena kita tahu dia orang yang dikuasai Roh Kudus. Jadi kalaupun masih ada ketidakcocokan, dengan modal ini keharmonisan lebih bisa dijamin.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang makna kesepadanan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kadang-kadang kita melihat ada suatu pasangan yang serasi kelihatan baik di luar tetapi kalau kita mau mengamati lebih jauh ternyata mereka mengeluhkan tentang ketidakcocokkan mereka dan kita juga membaca dari bagian Alkitab bahwa Allah memberikan pasangan yang sepadan, sebenarnya pengertian yang sepadan itu sendiri seperti apa, Pak Paul?

PG : Yang tadi Pak Gunawan katakan memang banyak yang terjadi seperti itu, yaitu adakalanya kita melihat orang-orang yang nampaknya serasi tapi sesungguhnya waktu mereka bercerita barulah kia ketahui bahwa mereka itu tidak cocok atau merasa tidak sepadan.

Nah masalahnya adalah mereka berpikir bahwa mereka sepadan, karena kalau tidak pernah merasa sepadan tentunya tidak akan menikah. Jadi saya kira memang sudah waktunya kita membicarakan tentang kata sepadan dengan lebih saksama. Pertama-tama kita akan kembali pada Firman Tuhan yang tadi Pak Gunawan sudah singgung yaitu Kejadian 2:18, di mana Firman Tuhan berkata: "tidak baik manusia seorang diri saja dan Aku akan menjadikan seorang penolong yang sepadan baginya". Nah apa artinya "yang sepadan", sebelum kita membahas arti sepadan di situ, saya ingin menguraikan terlebih dahulu hal yang bukan makna sepadan. Yang pertama adalah kesepadanan itu tidak identik dengan kesamaan. Adakalanya kita ini menyamakan keduanya sepadan berarti sama, inilah prinsip yang digunakan oleh orang, Pak Gunawan, dalam mencari pasangan hidup yaitu mencari yang sama. Sudah tentu banyaknya persamaan akan menolong pernikahan itu sendiri, nah kalimat ini pernah ditegaskan oleh seorang pakar keluarga Kristen bernama Norman Wright. Memang beliau menegaskan bahwa banyaknya persamaan di antara 2 orang akan membantu mengharmoniskan pernikahan itu. Tapi kita perlu menyadari bahwa yang Tuhan maksud dengan kesepadanan tidak sama dengan kesamaan, itu point pertamanya, Pak Gunawan.
GS : Kalau tidak sama itu sampai seberapa jauh ketidaksamaan itu boleh ada. Tadi Pak Paul mengutip dari pakar keluarga yaitu Norman Wright, dia katakan makin banyak kesepadanan makin mudah mereka untuk cocok. Tetapi semua orang juga menyadari, tidak mungkin ada orang yang bisa cocok 100% satu dengan yang lain, Pak Paul?

PG : Salah satu hal yang bisa kita katakan penting supaya bisa sama, misalnya mempunyai nilai-nilai moral yang sama. Saya kira itu kesamaan yang penting dan seharusnya ada dalam sebuah pasanan.

Kalau ada kesamaan interest sangat menolong juga, misalkan yang satu senang dengan aktifitas di luar rumah, aktifitas di alam terbuka kebetulan dia bertemu dengan seseorang yang juga menyukai semua kegiatan di alam terbuka. Nah itu akan mengeratkan mereka, tapi saya kira kita tidak bisa memastikan dalam bentuk prosentase. Memang kesamaan hobby, kesamaan interest dan terutama kesamaan nilai moral itu akan sangat membantu mengharmoniskan hubungan suami istri. Nah yang saya ingin tekankan di sini adalah memang waktu kita mencari pasangan hidup, kita mencoba mencari yang cocok dengan kita dan yang sepadan dengan kita. Tapi kita juga harus berhati-hati, kita tidak bisa menemukan yang 100% cocok dengan kita atau sama dengan kita, itu tidak mungkin. Jadi akan ada suatu waktu di mana kita berkata ya begini, artinya tidak semuanya sama, namun cukup banyak yang sama dan kita harus berkata," Ya sudah saya akan terima selebihnya yang tidak sama itu".
GS : Tapi dalam hal iman, Kitab Suci dengan tegas mengatakan harus seiman, kesepadanan itu di dalam pengertian sama imannya, Pak Paul?

PG : Betul, jadi salah satu arti atau implikasi dari kesepadanan untuk kita anak-anak Tuhan adalah kita harus mencari yang seiman. Jadi kalau orang berkata saya ini rasanya cocok dengan dia alam semua hal, hanya satu yang tidak sama yaitu soal iman.

Sebenarnya kita harus berkata bahwa itu tidak sepadan, jadi nilai kepercayaan adalah hal yang mutlak harus sama.
GS : Lalu hal yang lain mengenai kesepadanan itu apa, Pak Paul?

PG : Yang berikutnya adalah kesepadanan itu tidak identik dengan penjiplakan. Yang saya maksud dengan penjiplakan adalah salah satu pihak menanggalkan dirinya dan menjadi seperti yang diharakan pasangannya.

Adakalanya seseorang terjebak ke dalam keinginannya sendiri, dia begitu ingin bersama dengan misalkanlah gadis itu. Dan dia mengetahui gadis ini mengidamkan pria yang seperti apa, nah dia juga menyadari bahwa dia tidak seperti yang diidamkan oleh gadis tersebut. Dalam usahanya merebut hati si gadis dia berhari-hari menjadi orang yang berbeda, dia menjadi seperti yang diharapkan oleh si gadis tersebut dengan menanggalkan dirinya. Nah ini saya sebut menjiplak, jadi benar-benar mencontoh apa yang diinginkan oleh gadis tersebut. Saya kira meskipun secara sementara mereka berdua itu bisa sepadan, bisa cocok jalan sama-sama dan rasanya akur-akur saja. Namun saya bisa berkata itu tidak akan bisa berlangsung lama, akan ada suatu waktu dimana yang menjiplak itu akan berkata "saya tidak bisa terus-menerus menjadi diri yang lain, saya harus akhirnya mengakui ini bukan saya". Nah waktu dia memunculkan dirinya, tidak bisa tidak pasangannya akan berkata engkau begitu berbeda, jadi penjiplakan tidak akan berlangsung lama.
GS : Tetapi kadang-kadang penjiplakan itu terpaksa dilakukan karena dia khawatir kehilangan pasangannya atau yang dikasihinya, Pak Paul.

PG : Sering kali itu memotivasinya, Pak Gunawan, jadi karena dia takut kehilangan maka dia menjiplak dirinya menjadi orang seperti yang diharapkan oleh pasangannya. Nah saya harus tekankan bhwa hubungan suami istri harus dimulai dengan rasa aman, bukan dengan rasa takut.

Kalau sudah ada rasa takut, saya takut kehilangan dia karena saya sangat bergantung pada dia, itu sudah menjadikan hubungan suami istri yang tidak kuat. Jadi sebaiknyalah orang yang ingin menikah harus memasuki hubungan nikah dalam rasa tenang, tenteram. Dia tidak harus ketakutan kehilangan pasangannya karena dia tahu dengan aman bahwa pasangannya itu menerima dia apa adanya, jadi kalau seseorang masih meragukan dan masih belum bisa berkata pasangannya menerimanya apa adanya, bagi saya ini adalah suatu tanda hubungan yang belum kuat. Sebab yang kuat seyogyanya memberi rasa aman sehingga seseorang bisa menjadi dirinya apa adanya.
GS : Di satu sisi memang ada pasangan yang khawatir kehilangan pasangannya, tapi di sisi yang lain adalah sisi yang menekan pasangannya supaya pasangannya menjadi seperti orang lain ya, Pak Paul?

PG : Saya kira akan ada tarik-menarik karena kita menginginkan pasangan kita sama seperti kita, jadi saya kira itu keinginan yang natural. Kenapa kita menginginkan pasangan kita sama sepertikita, tujuan akhirnya adalah untuk memudahkan hidup kita.

Kalau dia berbeda dengan kita berarti kita harus banyak menyesuaikan diri dengan dia, harus repot menjelaskan diri kita kepada dia agar dia bisa mengerti kita dengan lebih baik, jadi merepotkan. Maka jalan pintasnya adalah kita akan berusaha mencetak dia menjadi seperti yang kita inginkan, yaitu sama dengan kita supaya bisa langsung membaca pikiran kita dan mengerti kita dengan segera dan tepat.
(2) GS : Ada orang yang mengatakan saya cocok dengan pasangannya. Sebenarnya kata cocok itu sendiri apa, Pak Paul?

PG : Pak Gunawan, yang dimaksud dengan sepadan adalah cocok, bukan sama. Nah cocok itu artinya adalah kita ini cocok dengan karakternya dan bisa menerima gaya hidupnya. Maksudnya cocok denga karakternya adalah kita ini tidak merasa bahwa karakternya itu mengganggu kita, menyusahkan kita, menghalangi kita.

Kita justru menganggap bahwa karakternya itu sedikit banyak saling membantu, saling melengkapi dengan karakter kita. Yang kedua adalah kita juga melihat bahwa gaya hidupnya itu sesuatu yang bisa kita terima, artinya terima di sini adalah kita bisa hidup bersama dia dengan gaya hidupnya yang seperti itu. Nah yang kita maksud dengan cocok, saya berikan contohnya kalau misalkan saya tahu bahwa pasangan saya ini tidak bisa bangun pagi dan kalau bangun jam 10 pagi, nah pertanyaannya adalah apakah saya bisa menerima gaya hidup itu. Menerima di sini bukan berarti tidak apa-apa bangun jam 10 pagi, menerima berarti dapatkah saya hidup dengan orang yang bangun paginya jam 10.00 dan tidak bisa bangun jam 06.00. Artinya tidak bisa bangun untuk misalnya mempersiapkan makanan, mengantar anak-anak ke sekolah dan sebagainya. Jadi sekali lagi kita harus bertanya apakah gaya hidupnya bisa menjadi bagian dari hidup saya atau tidak bisa menjadi bagian hidup saya, berarti memang kita tidak terima, berarti memang kita tidak cocok. Jadi cocok mengandung dua cakupan, Pak Gunawan, yang pertama adalah dari segi karakter dan yang kedua adalah segi gaya hidup. Nah karakternya harus cocok dengan kita dan gaya hidupnya juga harus cocok dengan kita.
GS : Tapi kecocokan itu kadang-kadang hanya mereka rasakan pada awal pernikahan, jauh sebelum itu yaitu pada saat mereka berpacaran. Nah setelah memasuki sekian tahun masa pernikahan mereka, mereka merasa tidak cocok, bagaimana itu Pak Paul?

PG : Ada beberapa hal yang mungkin terjadi, Pak Gunawan, yang pertama adalah memang dua-duanya itu pada awalnya menemukan kecocokan, kemudian dalam perjalanan pernikahan masing-masing mulai engembangkan hobby yang berbeda.

Masing-masing mulai mengembangkan interest-interest yang lain dan akhirnya muncullah gaya hidup yang lain. Saya berikan contoh, pada masa awal pernikahan misalkan si suami itu karena belum mempunyai banyak uang, setiap kali pulang kerja pulang ke rumah. Nah lama-kelamaan karena dia sudah mempunyai uang, pulang kerja dia tidak pulang ke rumah tapi dia pergi berkaraoke ria atau ke pub dan ke cafe, pulangnya jam 12 malam. Waktu ditanya istrinya dia menjawab "o.... saya hanya senang-senang dengan teman-teman saya tidak ada apa-apa, hanya senang-senang, ini cara saya melegakan diri dari stres". Nah dengan perkataan lain, si pria di sini akhirnya di tengah jalan memungut kebiasaan baru, kebiasaan yang sangat tidak diterima oleh istrinya. Di sini tidak bisa tidak mereka dituntut lagi untuk saling mencocokkan diri, jadi itu yang pertama. Kemungkinan kedua adalah pada masa berpacaran mereka belum benar-benar menggali sampai ke dalam, akibatnya mereka lebih berputar di permukaan, kurang mengenal sifat dan kebiasaan pasangannya. Misalkan tentang bangun tidur tadi, si istri tidak sadar dan tidak tahu bahwa pacarnya tidak bisa bangun pagi, kalau bangun jam 10.00 pagi. Dia juga tidak pernah menanyakan, setelah menikah baru dia ketahui. Jadi adakalanya dua hal itu terjadi, tapi lepas dari 2 kemungkinan itu saya ingin sekali lagi mengingatkan perkataan dari Dr. Archibald Hart beliau mantan dekan Fakultas Psikologi di Fuller Seminary, di California. Beliau mengemukakan teorinya bahwa dua orang yang menikah sesungguhnya memulai pernikahan dengan ketidakcocokan, dengan berjalannya waktu masing-masing belajar mencocokkan diri akhirnya berhasil hidup harmonis. Yang dimaksud oleh perkataan beliau adalah kalaupun cocok itu berarti nomor 1 cocok untuk hal-hal tertentu, yang lain-lainnya belum tergali, belum tereksplorasi karena memang belum hidup serumah. Jadi tidak mungkin menemukan faktor-faktor yang lainnya secara sekaligus pada masa sebelum menikah. Yang kedua memang kecocokan itu tidak bisa tidak masih bersifat dangkal pada masa sebelum menikah, setelah menikah baru sadar dalam-dalamnya dan barulah terlihat bahwa dia tidak cocok dengan pasangannya. Nah di sini diperlukan proses pencocokan yang memang panjang.
GS : Mungkin yang perlu dilihat adalah visi mereka tentang pernikahan itu sendiri Pak Paul, tujuan mereka menikah kalau mereka mempunyai tujuan yang sama saya rasa kecocokan itu akan mudah mereka bina.

PG : Saya setuju Pak Gunawan, jadi kedua orang yang sudah memiliki konsep yang betul tentang pernikahan dan ke manakah seharusnya pernikahan itu ditujukan dan kesamaan visi itu. Maksud saya egini, kalau dia tahu bahwa pernikahan itu menjadi wadah untuk memuliakan Tuhan bukan memalukan Tuhan.

Sedikit banyak akan menolong pasangan kita bekerja keras untuk menyesuaikan diri dan mengharmoniskan hubungan mereka. Karena mereka sadar pernikahan adalah salah satu hal yang mereka bisa persembahkan kepada Tuhan untuk kemuliaanNya, bukan untuk memalukan nama Tuhan. Berikutnya seseorang atau maksud saya kedua orang ini menyadari bahwa pernikahan adalah alat yang Tuhan pakai untuk membentuk dirinya. Dengan kesadaran ini, dia akan lebih bisa bersedia menerima benturan, menerima tantangan dari pasangannya agar dia juga menyesuaikan diri dan dia tidak terburu-buru untuk berkata wah saya salah pilih karena dia sadar bahwa memang dia berbeda dengan pasangannya dan Tuhan sedang memakai upaya mencocokkan ini sebagai tangan Tuhan yang sedang membentuknya. Nah, dengan pengertian seperti ini, dia akan lebih mampu untuk menyelesaikan ketidakcocokannya.
GS : Tadi Pak Paul menyinggung bahwa melalui pernikahan itu salah satu atau kedua-duanya dibentuk, nah maksudnya itu bagaimana dalam kaitannya dengan kesepadanan, Pak Paul?

PG : Nah berikutnya Pak Gunawan, jadi kesepadanan itu juga berarti kita ini akan menerima pertolongan pasangan kita agar kita menjadi orang yang lebih baik. Jadi karakter pasangan kita yang ungkin berbeda dari kita, gaya hidup pasangan kita yang juga berbeda dari kita akan Tuhan pakai untuk membentuk kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi orang yang lebih baik.

Saya kadang mengingatkan pasangan untuk menengok ke belakang 5 tahun sekali atau 10 tahun sekali terakhir ini. Sebab pernikahan memang mempunyai dampak yang besar terhadap pertumbuhan kita, kalau pernikahan kita itu sehat, baik, kita pun akan disehatkan dan kita menjadi orang yang lebih baik. Meskipun kebalikannya juga betul, Pak Gunawan, kalau kita sehat, kepribadian kita sehat, jiwa kita sehat kita akan menyehatkan pernikahan kita, jadi memang timbal balik. Tapi intinya adalah pernikahan akan dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi orang yang lebih baik. Kalau kita menjadi orang yang lebih buruk dari 5 tahun yang lalu setelah kita menikah, saya kira kesimpulannya sangat jelas yaitu kita telah melewati hubungan nikah yang buruk sehingga kita pun akhirnya menjadi orang yang lebih buruk.
GS : Tetapi dalam hal pertumbuhan pribadi, yang menjadi lebih baik kadang-kadang di dalam hubungan suami istri itu cukup satu saja, tapi yang satunya kelihatannya kalau tidak statis malah mundur, nah itu bagaimana bisa terjadi demikian.?

PG : Kalau dia dalam hal-hal yang bertambah buruk hanya satu saja bertambah baik tetap saya akan kategorikan dia bertambah buruk. Sebab seyogyanya dia akan bertumbuh dapat dikatakan dalam seala aspek kehidupannya bukan hanya 1 aspek.

GS : Maksud saya suaminya saja atau istrinya saja yang menjadi bertambah baik, Pak Paul namun pasangannya itu tidak.

PG : OK! Maaf saya salah mengerti, kalau itu yang terjadi memang ada 2 kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah orang yang memang bertumbuh, dia menerima bentukan meskipun dia harus mendrita, dia yang harus lebih banyak berinisiatif untuk menyesuaikan diri sehingga dia makin bertumbuh.

Dia menjadi orang yang lebih baik, nah belum tentu pasangannya bertambah baik karena apa? Pasangannya tidak mau bertumbuh, jadi kemungkinan itu juga ada. Tapi bisa jadi juga kemungkinan kedua yaitu memang dari awalnya yang satu itu sudah baik, sudah sehat, sedangkan yang satu memang dari awalnya tidak sehat. Dan pernikahan ini dapat dikatakan tidak berubah, karena yang tidak sehat itu tidak mau menjadi sehat sedangkan yang sehat tetap jadi sehat, memang ada kemungkinan itu. Namun pada umumnya, Pak Gunawan, orang yang tidak sehat mempunyai pengaruh yang kuat membuat pasangannya yang sehat jadi tidak sehat. Jadi kecenderungannya adalah orang yang sehat kalau dirongrong terus-menerus oleh yang tidak sehat, lama-kelamaan jadi tidak sehat.
GS : Dalam hal kesepadanan atau kecocokan tadi, sering kali juga sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita. Ada pasangan muda-mudi yang tadinya merasa belum yakin betul cocok, tapi teman-teman di sekelilingnya selalu mengatakan kamu itu cocok sekali dengan dia, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Bagus sekali yang Pak Gunawan utarakan, memang ini harus diwaspadai terutama oleh kita yang hidup dalam persekutuan-persekutuan, sebab adakalanya ini yang terjadi baik teman-teman di seolah maupun teman-teman di gereja, aduh....dua-duanya

aktivis Kristen cocok sekali kalau menikah. Yang menyatukan mereka memang adalah keaktifan mereka di dalam persekutuan Kristen, namun dalam hal-hal lain belum tentu cocok. Jadi peringatan atau tanda awas kepada anak-anak muda jangan sampai tunduk pada tekanan dari teman-teman. Meskipun mereka bermaksud baik dan menginginkan kita bahagia, tapi kita tetap harus teliti melihat apakah kita cocok dengan pasangan kita itu atau tidak?
GS : Nah, di dalam menentukan masa depan seseorang untuk menikah nantinya, apakah firman Tuhan memberikan pedoman untuk mendapatkan kesepadanan di dalam pasangan hidup kita?

PG : Saya akan membacakan dari Galatia 5:22-23, "Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan dri, tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."

Pak Gunawan tidak ada akhirnya kalau kita ini mencari kecocokan terus-menerus, salah satu prinsip yang kita langsung bisa ingat adalah Galatia 5:22-23 yaitu buah Roh Kudus. Kita cari apakah pasangan kita memiliki karakter Roh Kudus ini. Apakah dia orang yang penuh kasih, penuh sukacita, penuh damai sejahtera, penuh kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan orang yang bisa menguasai diri. Nah saya kira kalau dia bisa melakukan dan mempunyai ciri-ciri itu, kita ini cukup aman bersama dengan dia karena kita tahu dia orang yang dikuasai Roh Kudus. Jadi kalaupun masih ada ketidakcocokan, dengan modal ini keharmonisan lebih bisa dijamin.
GS : Saya rasa itulah yang menyebabkan Tuhan berkata pasangan kita harus sepadan dalam arti kita seiman, karena hanya melalui Roh Kudus itu tanda-tanda tadi keluar Pak Paul, bukan sesuatu yang bisa diusahakan.

PG : Betul, betul sekali.

GS : Baiklah jadi saya percaya sekali pedoman itu akan sangat penting bagi para pendengar kita. Saudara pendengar demikianlah tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang makna kesepadanan. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



19. Tanda-Tanda Kesepadanan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T079B (File MP3 T079B)


Abstrak:

Kesepadanan tidak bisa hanya diukur dari segi kwantitas berapa banyak, yang paling penting adalah kwalitas kecocokan itu. Di dalamnya ada suatu penghargaan terhadap keunikan masing-masing pasangan, adanya rasa dimengerti antara satu dengan yang lain tidak merasa dihakimi dan juga adanya upaya atau niat untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan serta adanya suatu pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif.


Ringkasan:

Kesepadanan tidak boleh diukur dari segi kwantitas berapa banyak, sebab yang paling penting adalah kwalitas ketidakcocokan itu. Jarang bertengkar dengan pasangan kita memang suatu indikator yang baik namun harus kita juga teliti motivasi kenapa kok jarang bertengkar, sebab ada kasus di mana orang jarang bertengkar karena memang mengelakkan diri dari pertengkaran.

Pertengkaran seharusnya terjadi sebab justru itu baik, bisa menolong mereka menyelesaikan problemnya. Tapi kalau pertengkaran itu kita nggak pernah menyelesaikannya, berarti ini adalah aspek yang kita harus teliti sebab kalau ada hal-hal yang kita pertengkarkan, tak bisa kita selesaikan ini akan kita bawa ke dalam pernikahan. Kalau hal yang kita pertengkarkan tak bisa kita selesaikan, ini menandakan kemampuan kita berdua untuk menyelesaikan pertengkaran belum ada, belum cukup kuat, jadi sangat rawan sekali untuk memasuki pernikahan.

Suatu hubungan yang dipenuhi dengan pertengkaran itu pertanda buruk, itu pertanda bahwa:

  1. Kita sangat berbeda dan berbedanya ini dalam segala hal.

  2. Kalau kita terus-menerus bertengkar itu menandakan tahap pengertian kita, tahap penerimaan kita akan pasangan kita sangat lemah.

Tanda-tanda kesepadanan yaitu:

  1. Kita menghargai perbedaan bukan membenci keunikan pasangan kita. Orang yang sepadan dengan pasangannya, ketidakcocokan itu tidak membuahkan kebencian. Kalau membuahkan kebencian itu berarti memang karakternya atau gaya hidupnya tidak bisa kita terima.

  2. Rasa dimengerti, bukan dihakimi oleh pasangannya. Kita diterima, dimengerti oleh pasangan bagi saya ini salah satu indikasi memang kita ini sepadan dengan pasangan kita.

  3. Adanya upaya atau niat baik untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan. Kalau kita sepadan hubungan kita ini harmonis ya, adanya niat baik dari pihak kita untuk menyesuaikan diri. kalau yang seringkali muncul adalah perasaan masa bodoh, peduli amat dengan dia nah itu mengkhawatirkan, membuat saya berpikir jangan-jangan tidak sepadan.

  4. Adanya pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif, bukan malah kemerosotan ke arah negatif. Artinya begini setelah kita berpacaran beberapa bulan, kita ini bisa berkata : Tuhan memakai hubungan ini untuk membentuk kita. Kita menjadi orang yang lebih sabar, kita menjadi orang yang lebih murah hati, kita menjadi orang yang lebih menguasai diri, kita menjadi orang yang sukacita, kita menjadi orang yang lebih penuh kasih, kita menjadi orang yang lemah lembut, yaitu 9 aspek dalam buah Roh Kudus.

Jadi yang saya mau tekankan adalah kalau kita makin memunculkan buah Roh Kudus dalam hidup kita, gara-gara kita makin dekat dengan pasangan kita, dapat kita simpulkan ini pasangan yang cocok dengan kita, sepadan dengan kita. Namun kalau sebaliknya yang terjadi kita makin tidak murah hati, tambah sempit hati, bukannya lemah lembut makin kasar, bukannya makin bisa menguasai diri makin nggak bisa menguasai diri, bukannya makin penuh kasih, makin penuh iri hati. Nah ini saya kira pertanda pasangan ini tidak sepadan dengan kita atau kita memang tidak sepadan dengan dia.

Efesus 5:1, "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai korban persembahan dan korban yang harum bagi Allah."

Jadi yang ditekankan di sini adalah jadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Kalau kita sepadan dengan pasangan kita, kita akan mirip dengan Allah, dengan Tuhan Yesus sendiri kita menjadi penurut-penurut Allah. Jadi kalau kita memang sepadan makin hidup di dalam kasih bukan makin hidup dalam kebencian, kepahitan, kekecewaan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang tanda-tanda kesepadanan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita telah membahas atau Pak Paul sudah menyampaikan tentang makna kesepadanan dan kini kita akan membahas lebih lanjut tentang tanda-tanda kesepadanan. Namun supaya para pendengar kita memperoleh gambaran yang lengkap tentang kesepadanan ini, mungkin Pak Paul bisa mengulang sejenak, sekilas tentang makna dari kesepadanan itu.

PG : Yang pertama kesepadanan itu tidak identik dengan kesamaan, meskipun kesamaan adalah hal yang penting dan makin banyak persamaan makin mudah untuk mengharmoniskan diri dengan pasangan kita tapi yang namanya sepadan tidak identik dengan kesamaan.

Kesepadanan juga tidak identik dengan penjiplakan yaitu kita menanggalkan diri kita agar bisa menjadi seperti yang diharapkan oleh pasangan kita. Kita sepenuhnya, menjadi seperti yang diidamkan oleh pasangan kita, itu bukan kesepadanan. Kesepadanan adalah kecocokan, kecocokan yang berarti karakternya cocok dengan kita dan gaya hidupnya bisa kita terima menjadi bagian hidup kita. Kesepadanan juga berarti bahwa karakter dan gaya hidupnya dipakai Tuhan untuk membentuk kita, menjadi orang yang lebih baik. Jadi dengan kata lain karakter dan gaya hidupnya itu tidak menjadikan kita ini orang yang lebih rusak atau lebih buruk malah menjadikan kita menjadi orang yang lebih baik, kira-kira itulah makna kesepadanan.
GS : Nah, sebelum kita masuk ke tanda-tanda kesepadanan mungkin kita juga perlu melihat salah pengertian seseorang tentang kesepadanan itu sendiri, Pak Paul. Sering kali orang rancu tentang kesepadanan, nah mungkin Pak Paul bisa jelaskan terlebih dahulu.

PG : Ada orang yang berkata o... saya dalam hal ini saja tidak cocok dengan dia, dalam hal-hal yang lainnya kami sangat cocok, nah saya ingin menegaskan bahwa kesepadanan tidak boleh diukur dar segi kwantitas berapa banyak.

Sebab yang paling penting adalah kwalitas ketidakcocokan itu, misalkan saya berikan contoh kita berkata o... saya cocok dengan dia, dua-dua senang pergi, senang bernyanyi, dua-dua orangnya terbuka kalau ada apa-apa langsung dibicarakan. Namun kalau lagi marah dua-dua saling memukul, kalau lagi marah dua-dua saling mencaci maki, nah ini kwalitas, meski hanya satu yang sangat buruk dan satu kwalitas ini tidak bisa tidak akan membawa pengaruh pada aspek-aspek lain dalam kehidupannya. Sebab satu masalah ini pada akhirnya akan memerosotkan wibawa atau penghormatan pada pasangannya. Waktu dicaci maki, balas mencaci maki, tidak bisa tidak respek sudah sangat hancur, hati sudah sangat terluka akibat caci maki itu, dan itu akan mempengaruhi hidup mereka dalam aspek-aspek yang lainnya. Jadi sekali lagi kita jangan berkata o... hanya satu saja kami tidak cocok yang lainnya cocok, kita harus melihat seberapa besarnya tidak cocok dan dalam hal apa tidak cocoknya itu. Sebab itupun bisa mempengaruhi aspek-aspek yang lainnya.
GS : Karena memang sulit juga Pak Paul, membuat semacam daftar untuk melihat mana yang cocok dan mana yang tidak cocok.

PG : Betul, jadi kita memang tidak bisa dengan tepat dan objektif mendaftarkan semua kecocokan dan ketidakcocokan. Yang bisa kita lakukan adalah kita hanya merefleksikan selama ini, apakah selaa ini kita meributkan satu hal yang sama dan satu hal itu begitu mempengaruhi kita sehingga kalau meributkan soal itu kita benar-benar merasa tidak mau dekat dengan pasangan kita, kita diamuk oleh amarah kita bahkan rasanya benci dengan dia untuk misalnya berhari-hari.

Kalau itu yang terjadi kita bisa dengan cukup tepat berkata bahwa hal tersebut sangat mengganggu kehidupan kita, bahwa satu hal itu sudah sangat membawa warna yang tertentu kepada hubungan kita ini. Jadi memang kita tidak bisa mendaftar semuanya, tapi ingat saja secara umum hal apa yang paling sering kita ributkan.
GS : Nah mengenai ribut atau pertengkaran kalau pasangan itu jarang sekali ribut, apakah dengan sendirinya kita bisa berkata bahwa pasangan itu cocok?

PG : Belum tentu, Pak Gunawan, jadi adakalanya kita ini terpedaya oleh jarangnya atau hilangnya pertengkaran di antara kita dan kita dengan cepat berkata o... kami sangat sepadan kami jarang betengkar.

Jarang bertengkar memang suatu indikator yang baik, namun harus kita juga teliti melihatnya kenapa jarang bertengkar. Sebab ada kasus di mana orang itu jarang bertengkar dan kenapa jarangnya bertengkar karena memang mengelakkan diri dari pertengkaran. Ada masalah namun tidak mau didiskusikan sebab dia tahu kalau didiskusikan pasti mengundang pertengkaran. Jadi dalam hal ini pertengkaran itu seharusnya terjadi sebab justru baik, bisa menolong mereka menyelesaikan problemnya. Nah mungkin ada yang berkata kalau kami bertengkar, kami tidak pernah bisa menyelesaikannya. Berarti ini adalah aspek yang kita harus teliti sebab kalau ada hal-hal yang kita pertengkarkan, tidak bisa kita selesaikan maka akan kita bawa ke dalam pernikahan. Dan kalau hal-hal yang kita pertengkarkan tidak bisa kita selesaikan, ini menandakan kemampuan kita berdua untuk menyelesaikan pertengkaran atau perbedaan belum ada, belum cukup kuat. Jadi sangat rawan sekali kalau kita memasuki pernikahan dengan modal keterampilan yang seperti ini.
GS : Jadi bukan masalah pertengkarannya itu yang menentukan mereka cocok atau tidak, tapi bagaimana mereka menyelesaikan masalahnya itu ya, Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi yang penting memang bukannya pertengkaran sebab perbedaan pendapat akan selalu ada, tapi bisa atau tidak kita menyelesaikan pertengkaran itu. Tapi sebaliknya juga hrus saya katakan begini, kalau hubungan kita itu terus dipenuhi dengan pertengkaran itu pertanda buruk, itu pertanda bahwa nomor satu kita sangat berbeda dan berbedanya ini dalam segala hal.

Kedua, kalau kita terus-menerus bertengkar itu menandakan tahap pengertian kita, tahap penerimaan kita akan pasangan kita sangat lemah, itu sebabnya kita masing-masing ingin membuat dia seperti kita dan mengerti kita atau ada banyak hal tentang dia yang tidak kita sukai. Jadi kita sulit sekali mengoreksinya, banyaknya pertengkaran meskipun akhirnya bisa diselesaikan juga pertanda awas, kita perlu perhatikan hal itu.
GS : Ada juga orang yang berkata saya mencintai pasangan saya ini jadi bagaimana bisa tidak cocok karena kalau ditanya kamu itu tidak cocok, tapi dia menjawab saya mencintainya.

PG : Ini jebakan berikutnya Pak Gunawan, yang membuat orang akhirnya keliru menilai kesepadanan, wah... memang saya mencintai dia, dia mencintai saya pasti cocok, belum tentu. Kenapa? Cinta memng bisa menutupi ketidaksepadanan, namun cinta tidak menyelesaikan ketidaksepadanan, cinta membuat kita melupakan ketidaksepadanan.

Cinta cenderung mengecilkan ketidaksepadanan karena apa, cinta ingin memiliki orang yang kita cintai, cinta membuat kita ingin dekat dengan dia. Dan kita tahu ketidaksepadanan yang harus diselesaikan membuat kita undur sementara agak jauh dengan pasangan kita. Waktu kita berselisih pendapat dan sebagainya, bukankah itu akan menciptakan jarak antara kita berdua. Karena cinta kita begitu bergebu-gebu, kita tidak bisa menoleransi jarak antara kita dengan pasangan kita, itu sebabnya akhirnya kita seolah-olah menutup mata terhadap ketidakcocokan kita itu. Nah jadi hati-hati dengan yang namanya cinta, sebab cinta yang kuat adalah cinta yang mengakui ketidakcocokan dan nomor dua cinta yang kuat adalah cinta yang berani memunculkan dan berupaya menyelesaikan ketidakcocokan itu. Sebab cinta yang kuat tahu bahwa cinta ini tidak akan luntur oleh adanya ketidakcocokan itu. Nah kalau cintanya takut membahas ketidakcocokan itu, maka menandakan hubungan yang memang belum matang.
GS : Mungkin yang belum matang merasa memang pasangannya belum siap, jadi untuk apa dimunculkan perbedaan. Adanya perbedaan tetap diakui dan dia mencintai pasangannya, tapi dia tidak berani memunculkan perbedaan itu menjadi sesuatu yang terbuka, Pak Paul.

PG : Saya kira untuk kadar tertentu atau sampai titik tertentu, kita bisa berkata saya akan tunda dululah karena rasanya dia belum siap. Jadi hikmat selalu dibutuhkan dalam menjalin hubungan, kta tidak bisa berkata pokoknya saya ingin bicara saya bicarakan, kau siap tidak siap bukan urusan saya.

Nah itu tidak berhikmat, orang yang berhikmat harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memunculkan suatu masalah. Harus tahu juga apakah memang pasangannya siap atau tidak siap mendengarkannya. Namun kalau kita memang merasakan bahwa hal ini penting buat kita dan kita tahu kapan harus dimunculkan, meskipun akan ada reaksi yang lumayan kuat dari pasangan kita seperti marah, terluka, mungkin sedikit marah, tidak mau bicara dengan kita atau menyalahkan kita tapi kita dapat mengkomunikasikan kepadanya bahwa ini demi kita berdua, bukan untuk meninggalkanmu, bukan untuk membuatmu sengsara tapi untuk kebaikan hubungan kita berdua, ini motivasinya. Dan ini harus dikedepankan, setelah itu baru dibicarakan apa yang sedang mengganggu kita itu.
(1) GS : Pak Paul, setelah kita membicarakan tentang salah pengertian dalam kesepadanan itu tadi Pak Paul, tentunya kesepadanan itu bisa dilihat melalui tanda-tandanya. Tanda-tanda yang ada di dalam pasangan yang saling mengasihi dan yang sepadan, tanda-tandanya itu apa saja, Pak Paul?

PG : Sekurang-kurangnya ada 4, Pak Gunawan; yang pertama adalah kita menghargai bukan membenci keunikan pasangan kita. Orang yang sepadan dengan pasangannya meskipun rasanya tidak sama, tidak ccok, namun seyogyanya ketidakcocokan itu tidak membuahkan kebencian.

Kalau membuahkan kebencian itu berarti memang karakternya atau gaya hidupnya tidak bisa kita terima. Yang namanya sepadan, tadi kita telah singgung adalah berhasil menerima karakter dan gaya hidupnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Jadi kalau sampai kita membencinya, itu bagi saya pertanda memang kita belum bisa menerima dan belum sepadan, yang sepadan adalah kita bisa menghargainya, o... memang dia seperti itu ya tidak apa-apa, o.... memang dia lebih ekspresif, emosinya lebih tinggi, saya emosinya lebih tenang. Tapi saya menghargai tidak apa-apa, itu berarti memang sudah sepadan karena kemungkinan besar waktu emosinya tinggi tidak menyerang dia, emosi tinggi tidak sama dengan melecehkan dia hanya beremosi saja misalnya seperti itu. Jadi adanya penghargaan bahwa yang berbeda itu tidak langsung adalah suatu kejelekan, justru itu adalah suatu perbedaan saja.
GS : Tapi kebencian itu kadang-kadang timbul karena berulang kali Pak Paul, ya pertama kita bisa mengerti dan masih menghargai tapi karena hal yang sama itu terjadi berulang kali, lalu timbul rasa benci.

PG : Kalau ini telah kita lihat pada masa berpacaran, memang dapat kita katakan atau dapat saya katakan belum sepadan dalam hal itu. Seyogyanya hal itu memang dibereskan. Saya mengerti hidup meang tidak ideal, jadi akan ada bagian-bagian yang berhasil kita sepadankan dan juga ada hal-hal yang tidak berhasil kita sepadankan sepenuhnya.

Saya kira itu bagian kehidupan yang wajar. Namun harapan saya adalah bagian itu tidak terlalu banyak, jadi akhirnya kita tidak dipenuhi dengan kebencian. Biarlah kadang-kadang kita merasa tidak suka dengan hal-hal yang dilakukan, yang tidak cocok dengan kita namun saya berharap hanya berhenti sampai merasa tidak suka, tidak sampai akhirnya merasa benci. Jadi seyogyanya pada masa berpacaran hal yang berbeda dari kita itu tidak kita benci hanya sedikit tidak suka, tetapi tidak kita benci. Namun yang menjadi karakter dominan adalah menghargai perbedaan itu, jadi kita tidak melihat perbedaan itu atau pasangan kita yang berbeda itu sebagai orang yang bermasalah, orang yang aneh bisa mempunyai pikiran atau sifat atau kehidupan seperti ini. Kalau masih belum menikah kita sudah melabelkan pasangan kita aneh, sakit, orang tidak benar, nah itu bagi saya pertanda tidak sepadan. Sebab seyogyanya sebelum menikah pada masa berpacaran, yang kuat justru menghargai pasangannya meskipun berbeda.
GS : Di dalam hubungan suami istri yang saya pikirkan, bahwa pasangan saya ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya.

PG : Itu cara berpikir yang sangat bagus sekali Pak Gunawan, sangat bagus sekali sebab kita menyadari hidup kita dipimpin Tuhan dalam mencari pasangan hidup.

GS : Nah tanda yang lain apa, Pak Paul?

PG : Yang kedua adanya rasa dimengerti, bukan dihakimi oleh pasangannya. Jadi kalau kita merasa kuat sekali ya kita dimengerti olehnya, bahwa kita memang tidak sama dengan dia, kadangkala bisa erselisih pendapat.

Namun waktu berselisih, waktu tidak sama dia bisa mengerti kenapa kita tidak sama dengan dia. Dia tidak menghakimi kita, dia tidak membuat kita itu menjadi pesakitan, orang yang bermasalah karena mempunyai gaya hidup atau karakter seperti ini. Kita diterima, dimengerti olehnya, nah bagi saya ini adalah salah satu indikasi memang kita ini sepadan dengan pasangan kita.
GS : Dimengerti itu dalam arti kata segala kelemahan dan kelebihannya ya, Pak Paul?

PG : Betul, kita bukan saja menerima penghargaan atas kekuatan kita tapi kita juga menerima pelukannya, menerima kita apa adanya atas hal-hal yang kita anggap sebagai kelemahan kita.

GS : Apakah tanda yang ketiga, Pak Paul?

PG : Adanya upaya atau niat baik untuk menyesuaikan diri, bukan memasabodohkan pasangan. Kalau kita sepadan hubungan kita ini harmonis, adanya niat baik dari pihak kita untuk menyesuaikan diri.Kalau yang sering kali muncul adalah perasaan masa bodoh, peduli amat dengan dia nah itu mengkhawatirkan saya, itu membuat saya berpikir jangan-jangan ini tidak sepadan.

Dan sekali lagi saya mau mengulang definisinya adalah tidak cocok ini kita tidak bisa menerima karakternya dan tidak bisa menerima gaya hidupnya. Itu sebabnya pada akhirnya kita tidak mau lagi menyesuaikan diri, kita lebih bersikap atau mengambil sikap memasabodohkan, terima ya terima, tidak terima ya sudah. Nah kalau sudah sampai sebegitu, saya menyimpulkan bahwa mereka belum bisa menerima karakternya masing-masing dan belum bisa menerima gaya hidupnya.
GS : Tapi menyesuaikan diri itu dalam hal-hal yang positif, Pak Paul? Kalau dalam hal-hal yang negatif tidak bisa dilakukan itu.

PG : Betul, jadi dalam hal-hal yang negatif sudah tentu diminta pasangan kitalah yang menyesuaikan diri, kalau dalam hal yang negatif itu dialah yang lebih bermasalah. Jadi kalau memang kita tau dia mempunyai kebiasaan yang negatif, sedang kita memintanya untuk berubah dia tidak berubah dan kita tidak terima, itu suatu sikap yang sebetulnya positif, tidak menerima aspek yang negatif dari dirinya.

Misalnya kita tahu pasangan kita menggunakan narkoba, kita memintanya berhenti tidak mau berhenti malah pakai lagi. Nah saya kira penolakan kita menerima gaya hidupnya adalah hal yang positif, tapi sekali lagi ini menunjukkan tidak sepadan, bahwa memang dia bukan pasangan kita sebab kita tidak mau dan memang seharusnyalah tidak mau menerima gaya hidupnya itu.
GS : Tanda yang keempat yang tadi Pak Paul katakan paling sedikit ada 4 tanda, yang keempat apa, Pak Paul?

PG : Keempat adalah adanya pertumbuhan pribadi ke arah yang lebih positif, bukan malah kemerosotan ke arah negatif. Artinya begini Pak Gunawan, setelah kita berpacaran beberapa bulan, kita ini isa berkata, Tuhan memakai hubungan ini untuk membentuk kita.

Kita menjadi orang yang lebih sabar, murah hati, menguasai diri kita, penuh sukacita, penuh kasih, lemah lembut, nah itu semua adalah kesembilan aspek dari buah Roh Kudus. Jadi saya mau tekankan kalau kita makin memunculkan buah Roh Kudus dalam hidup kita, maka kita makin dekat dengan pasangan kita. Dapat kita simpulkan ini pasangan yang cocok dengan kita, sepadan dengan kita. Kalau sebaliknya yang terjadi kita makin tidak murah hati tambah sempit hati, bukannya lemah lembut tapi makin kasar, bukannya makin bisa menguasai diri tapi makin tidak bisa menguasai diri, bukannya makin penuh kasih tapi makin penuh iri hati. Nah saya kira itu pertanda pasangan ini tidak sepadan dengan kita atau kita memang tidak sepadan untuk dia, jadi itu indikasi yang keempat, Pak Gunawan.
GS : Jadi tolok ukurnya kesepadanan ini memang ada di dalam Alkitab ya Pak Paul. Jadi apa yang Alkitab katakan sehubungan dengan perbincangan kita saat ini, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari kitab Efesus 5:1 "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus jugatelah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai korban persembahan dan korban yang harum bagi Allah."

Jadi yang saya ingin tekankan adalah menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Satu hal yang bisa saya simpulkan di sini adalah kalau kita sepadan dengan pasangan kita, kita akan lebih mirip dengan Allah yaitu Tuhan Yesus sendiri, kita menjadi penurut-penurut Allah. Jadi jangan sampai kita semakin berpacaran semakin jadi pembangkang Allah, tapi justru menjadi penurut Allah. Bukan kita menjadi anak-anak yang penuh kejengkelan, kepahitan, tapi justru firman Tuhan berkata seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Jadi kalau memang sepadan maka kita makin hidup di dalam kasih bukan makin hidup dalam kebencian, kepahitan, kekecewaan, kira-kira inilah prinsip firman Tuhan yang bisa kita ingat, Pak Gunawan.

GS : Terima kasih Pak Paul. Demikianlah tadi saudara pendengar kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang tanda-tanda kesepadanan. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



20. Pernikahan yang Tidak Sehat


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T080A (File MP3 T080A)


Abstrak:

Pernikahan merupakan suatu relasi yang harus kita bina secara terus-menerus. Kalau kita gagal membinanya yang terjadi adalah pernikahan kita mengalami sakit. Di mana di dalamnya terjadi penurunan gairah atau minat masing-masing pasangan, kehidupan tidak lagi menampakkan keceriaan dsb. Kata kunci: terjangkit penyakit depresi


Ringkasan:

Pernikahan bukanlah suatu keadaan yang sempurna dan permanen. Pernikahan merupakan suatu relasi dan relasi itu adalah sesuatu yang perlu dibina terus-menerus, maka adakalanya setelah kita melewati suatu jangka waktu tertentu kalau kita gagal membinanya dengan baik mulailah kita memetik buah-buah negatifnya alias kalau kita tidak menjaga tubuh kita dengan baik, memberi makanan yang bergizi dan merawatnya maka setelah melewati suatu jangka tertentu mulailah tubuh kita memunculkan tanda-tanda sakit.

Tanda-tanda pernikahan yang sedang terjangkit penyakit depresi adalah:

  1. Menurunnya gairah atau minat. Jadi di sini yang terlihat adalah suami kekurangan gairah terhadap istri, istri kehilangan gairah terhadap suami atau dalam kasus yang lebih serius orangtua juga mulai kehilangan gairah terhadap anak-anak. Tidak ada lagi kegembiraan, keceriaan dalam pernikahan itu.
    Gejalanya adalah:

    1. Dia lebih menikmati hal-hal yang di luar, sementara yang di dalam dia tidak bisa nikmati.

    2. Si suami atau si istri atau bahkan anak-anak lebih sering diselimuti oleh perasaan murung. Jadi benar-benar mereka itu tidak lagi menampakkan keceriaan pribadinya yang dulu misalkan suka guyon sekarang seringnya diam, seringnya merenung, menyendiri, pandangannya agak kosong.

  2. Hilangnya harapan akan masa depan, artinya dia akan berhenti berharap, dia tidak bisa lagi membayangkan adanya masa depan yang cerah atau yang baik.

Penyebab seseorang bisa depresif dalam hidup pernikahannya:

  1. Kemarahan yang tak terungkapkan, kemarahan yang tak terungkapkan seolah-olah menjadi energi dalam hati, dalam diri kita yang menekan kita.

  2. Perasaan tidak berdaya, tidak berdaya menghadapi keadaan yang menekan. Perasaan tak berdaya ini perasaan yang benar-benar membuat kita frustrasi berat, apalagi kalau kita beranggapan tidak seharusnya kita begini, tidak seharusnya kita mengalami hal ini atau kita berkata seharusnya engkau mengerti.

Matius 17:12, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi dari seluruh hukum taurat dan kitab para nabi."

Firman Tuhan mengajarkan kita yaitu:

  1. Pertama-tama kita harus menyadari bahwa kita harus mulai perbuatan yang baik terlebih dahulu, sebelum pasangan kita melakukannya kepada kita. Jadi kalau kita mengharapkan dia bisa mengasihi kita, kita mengasihi dia, kalau kita mengharapkan dia bisa mengerti perasaan kita, kita mencoba mengerti perasaannya.

  2. Firman Tuhan bisa berkata: silakan mengharapkan, boleh mengharapkan suami kita atau istri kita berbuat hal-hal yang kita inginkan, tapi syaratnya adalah kita mesti berbuat hal yang sama. Berapa banyak di antara kita yang meminta pasangan kita untuk sabar tapi kitanya mudah marah, berapa banyak kita meminta pasangan kita untuk mengertilah, saya lagi kesal, jangan banyak ngomong tapi kita pun tidak mengerti dia seperti yang kita harapkan untuk mengerti kita.

  3. Firman Tuhan mendorong kita untuk langsung berbuat, bukan hanya berkata-kata tapi berbuat yang engkau harap orang berbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepadanya.

Ini saya menyebutnya sebagai hukum relasi. Setiap pernikahan harus didirikan di atas hukum relasi seperti yang telah Tuhan ajarkan, kalau saja setiap pasangan melakukan hal ini saya percaya bahwa akan banyak pernikahan tidak harus lagi melewati penyakit depresi dalam pernikahan mereka.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat. Perbincangan kali ini kami beri judul pernikahan yang tidak sehat, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Di dalam realita kehidupan sehari-hari kita melihat ada pernikahan yang nampaknya serasi, manis dan sebagainya tapi ada juga yang sebaliknya. Banyak orang kesulitan untuk membedakan sampai sejauh mana pernikahan itu disebut sehat atau tidak sehat, mungkin Pak Paul bisa mengulasnya.

PG : Pernikahan itu bukanlah suatu keadaan yang sempurna dan permanen, dalam pengertian bahwa sekali atau kita mencapai suatu tahap tertentu maka pernikahan kita akan terus-menerus seperti itu.Suatu pernikahan merupakan suatu relasi dan relasi itu adalah sesuatu yang perlu dibina terus-menerus.

Maka adakalanya setelah kita melewati suatu jangka tertentu kalau kita gagal membinanya dengan baik, mulailah kita memetik buah-buah negatifnya. Kalau kita tidak menjaga tubuh kita dengan baik, memberi makanan yang bergizi dan merawatnya maka setelah melewati suatu jangka tertentu mulailah tubuh kita itu memunculkan tanda-tanda sakit. Nah pernikahan juga seperti itu, Pak Gunawan.
GS : Pak Paul menganalogikan pernikahan dengan tubuh manusia tadi, kalau tubuh kita mau sakit biasanya terasa sejak awal misalnya kelihatan tanda-tanda lesu, tidak suka makan. Apakah itu bisa ditengarai secara dini, Pak Paul?

(2) PG : Bisa Pak Gunawan, saya menyebutnya pernikahan yang depresif. Jadi memang bisa banyak bentuk, kita bisa berkata bahwa pernikahan ini tidak lagi sehat karena si suami mempunyai wanita lan dan sebagainya, tapi bisa juga kita ini menggolongkan penyakitnya sebagai penyakit depresi.

Kira-kira apa tanda-tanda suatu pernikahan yang telah terjangkiti penyakit depresi? Tadi Pak Gunawan sudah menyinggung sedikit yaitu yang pertama menurunnya gairah atau minat. Jadi di sini yang terlihat adalah suami kekurangan gairah terhadap istri, istri kehilangan gairah terhadap suami atau dalam kasus yang lebih serius orang tua juga mulai kehilangan gairah terhadap anak-anak. Nah kalau itu sudah berlangsung, biasanya akan ada juga kehilangan gairah terhadap minat atau hobby-hobby yang biasa dilakukan oleh si suami atau si istri atau bahkan si anak. Jadi dalam pernikahan yang depresif di mana pernikahan ini sendiri seolah-olah menjalani suatu keadaan depresif, salah satu tanda yang bisa kita lihat adalah kehilangan minat atau gairah di mana seolah-olah tidak ada lagi kegembiraan, keceriaan dalam pernikahan itu.

ET : Pak Paul, tapi mungkin kehilangan gairah ini yang jadi pertanyaan buat saya, apakah itu memang hanya terhadap pasangan atau di dalam diri sendiri juga maksudnya untuk bekerja atau hanya di rumah saja, tidak ada semangatnya?

PG : Sering kali gejala yang pertamanya memang di rumah, jadi misalkan kita melihat ada orang yang tidak begitu senang ke rumah atau diam di rumah karena dia lebih senang di luar. Begitu dia puang ke rumah, ia merasa rumah itu sepertinya tempat yang penuh dengan kesusahan, membuat dia rasanya tidak bersemangat, jadi lebih baik dia menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya di luar rumah.

Jadi biasanya itu gejala yang pertama, dia masih bisa menikmati hal-hal yang di luar, tapi yang di dalam tidak bisa lagi dia nikmati. Namun tidak tertutup kemungkinan kalau memang dia itu sebetulnya tetap ingin membereskan masalah keluarganya namun tidak mampu, jadi lama-kelamaan sikapnya atau minatnya terhadap hal-hal yang di luar pun terpengaruh misalnya semangat kerjanya, minatnya terhadap hobby-hobbynya yang bisa dia lakukan di luar itu juga bisa terpengaruhi sehingga tidak lagi mau pergi dan sebagainya. Misalkan seorang istri yang biasa terlibat dalam kegiatan gerejawi, ikut paduan suara sekarang enggan dan dia berkata lebih baik saya di rumah saja, di rumah pun tidak bahagia, tapi dia tidak bisa lagi menikmati menyanyi, memuji Tuhan di gereja.
GS : Ada teman saya dulu sebelum menikah itu seorang yang periang. Artinya suka bergurau dan sebagainya dengan kami, tapi setelah sekian tahun dia menikah, tiba-tiba menjadi seorang pendiam, Pak Paul.

PG : Saya kira itu salah satu gejala yang lainnya Pak Gunawan, tanda dari pernikahan yang depresif di mana si suami atau si istri atau bahkan anak-anak lebih sering diselimuti oleh perasaan muung.

Jadi benar-benar mereka itu tidak lagi menampakkan keceriaan pribadinya yang dulu misalkan suka berguyon sekarang seringnya diam, seringnya merenung, menyendiri, pandangannya agak kosong. Jadi sungguh-sungguh pernikahan itu mempunyai dampak yang besar terhadap seseorang dan terutama suasana hatinya. Jadi itu adalah tanda yang lainnya dari suatu pernikahan yang telah terkena depresi.

ET : Seperti pribadi yang berbeda sama sekali jadinya ya, Pak Paul?

PG : Betul, Bu Esther jadi akhirnya diri yang dulu itu tidak lagi mereka miliki, adakalanya ini yang mereka ungkapkan tatkala mereka datang menemui seorang konselor mereka akan berkata: "Saa melihat diri saya sekarang sebagai seorang yang lain, saya kehilangan diri saya, sebelum menikah saya seorang yang ceria, suka bercanda, suka pergi, nah sekarang tidak ada lagi keinginan seperti itu", jadi perasaannya adalah perasaan yang murung.

Ya kadangkala akan ada masa senang, ada rasa sukacita namun itu hanyalah percikan, yang lebih sering adalah perasaan murung.
GS : Tapi kalau kami sebagai teman pernah menanyakan kepada teman yang tadi saya katakan itu, dia selalu berkata memang ada masalah, semua orang punya masalah, apa kamu sendiri punya masalah dia katakan begitu. Jadi dia tidak mau terbuka, Pak Paul.

PG : Salah satu reaksi orang setelah hidup dalam problem untuk waktu yang lama adalah menjadi apatis dalam pengertian tidak berdaya lagi. Sebab dia sudah mencoba cara, bukannya dia tidak mau mecoba.

Justru kalau kita memberikan saran atau masukan sedikit saja, dia defensif atau tersinggung karena seolah-olah dia dituduh, dia tidak mencoba cukup keras. Nah kenyataannya dalam keterbatasan mereka sepasang suami istri ini sebetulnya telah mencoba untuk memperbaiki rumah tangganya. Namun ternyata yang mereka harapkan tidak menjadi kenyataan, terus-menerus masalah itu muncul, yang mereka harapkan untuk berubah tidak berubah. Dalam keadaan seperti itu, biasanya orang merasa tidak berdaya dan waktu tidak berdaya perasaan yang muncul adalah perasaan apatis seperti tadi.
GS : Hal itu sepihak dari pihak yang merasa depresif itu atau kedua-duanya bisa merasa seperti itu, Pak Paul?

PG : Sudah tentu memang setiap kasus mempunyai keunikan dan tidak akan sama, bisa jadi dua-duanya. Nah ini dalam pengertian dua-dua memang sungguh-sungguh ingin membangun rumah tangga, tapi menalami masalah karena tidak bisa saling mengerti atau menyesuaikan diri.

Perbedaan-perbedaan itu tidak bisa terselesaikan sehingga menjadi duri dalam hubungan mereka. Kalau yang satu tidak lagi mau membangun rumah tangga ini karena dia sudah mempunyai orang lain atau dia memang masa bodoh, nah otomatis yang akan lebih terpengaruh adalah yang mau membereskan masalah rumah tangganya. Dia itu yang akan lebih merasakan pukulan-pukulan, dia yang akan merasa tertekan sehingga mungkin sekali sistem depresinya itu lebih nyata pada dirinya.

ET : Tapi tidak jarang saya melihat pasangan-pasangan yang mungkin seperti Pak Gunawan katakan tadi, masing-masing menganggap tidak ada masalah tapi yang terjadi mungkin seperti perang dingin d rumahnya, seperti sudah ya sudahlah, tidak ada apa-apa.

PG : Saya kira itu sering terjadi Bu Esther, jadi cukup banyak pernikahan sebetulnya tidak bahagia namun tidak terlalu menderita sehingga harus berpisah. Nah jadi ini pernikahan yang tergantungdi tengah-tengah atau yang mengapung-apung dikatakan tidak bahagia sekali ya tidak, dikatakan bahagia sudah pasti juga tidak.

Biasanya manusia itu beradaptasi karena tidak bisa lagi hidup dalam kesusahan, kejengkelan terus-menerus akhirnya yang mereka lakukan seolah-olah mematikan perasaan-perasaan tertentu. Ya sudah hal ini tidak bisa lagi saya harapkan, saya harus terima dia begini terus sampai mungkin waktu yang lama, ya sudah saya terima. Jadi dengan perkataan lain, seolah-olah dia minum pil pahit karena tidak ada pilihan lain. Nah kalau ditanya orang jawabannya biasa-biasa saja, semua orang juga punya masalah maka orang lainpun juga hanya bersimpati, tidak bisa menolong dia. Namun kita bisa melihat bahwa pernikahannya adalah pernikahan yang depresif, tidak ada lagi keceriaan.
GS : Ada yang untuk menutupi masalah yang demikian itu lalu dia mencari kesibukan-kesibukan di dalam hal lainnya atau kepada anaknya, Pak Paul.

PG : Salah satu cara orang untuk bisa tetap melangsungkan hidupnya, untuk bisa bertahan adalah berkompensasi. Jadi sering kali memang dalam keadaan seperti ini dia akan mencari hal-hal yang lai, objek-objek pemuasan yang lain.

Nah, biasanya dia akan menguburkan dirinya dalam pekerjaan sehingga waktu bersama istrinya atau suaminya menjadi lebih sedikit. Sehingga dia tidak perlu lagi merasakan sakit hatinya atau dilampiaskan kepada anak-anak. Anak-anak menjadi penghibur dirinya, nah ini salah satu penyebabnya, Pak Gunawan dan Ibu Esther, cukup sering pernikahan itu goyang, benar-benar goyang dan hampir runtuh setelah anak-anak dewasa, ini salah satu sebabnya. Sebetulnya yang menyebabkan mereka itu runtuh bukan karena anak-anak itu pergi meninggalkan mereka, tetapi yang menyebabkan mereka runtuh adalah keadaan pernikahan mereka yang sebetulnya tidak stabil. Namun tertutupi oleh kehadiran anak karena anak itu orang ketiga, jadi kita selalu bisa mengalihkan kemarahan atau kejengkelan atau ketidakpuasan kita pada anak. Nah setelah anak-anak tidak ada, berarti tidak ada lagi peralihan dan harus berhadapan langsung dengan kenyataan yang tidak mengenakkan itu. Biasanya disitulah mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri. Kalau tidak berhasil menyesuaikan diri setelah anak-anak dewasa, maka akan parah sekali karena motivasi untuk bersatu pun sudah luntur, karena anak-anak sudah besar semua.

ET : Dan mungkin jalan keluar seperti perceraian itupun buat orang-orang seperti itu rasanya tetap alternatif terakhir. Jadi walaupun sudah goyah mereka masih mencoba alternatif yang lain walauun sebenarnya mereka tidak menemukan dalam situasi yang seperti itu, saya cuma membayangkan betapa letih dan menyakitkan harus bersama-sama dengan orang yang masa depannya mau dibawa ke mana itu mungkin.

PG : Betul, nah biasanya Bu Esther, pada saat seperti itu biasanya orang mencoba untuk tidak lagi merasakannya dengan kata lain mematikan perasaan. Sebab orang tidak bisa hidup dengan rasa saki untuk waktu yang berkelanjutan, untuk waktu yang terlalu lama dia tidak sanggup, sampai suatu titik dia harus berkata cukup, saya tidak akan lagi membiarkan diri saya disakiti seperti ini.

Biasanya apa dia akan berhenti berharap nah memang ini adalah salah satu ciri depresi, penyakit depresi yang kita kenal ditandai oleh hilangnya harapan akan masa depan. Benar, sebab dia tidak bisa lagi membayangkan adanya masa depan yang cerah atau yang baik, jadi terpaksa dia harus hilangkan semuanya. Namun berhubung tidak ada lagi masa depan, dia juga akan menjadi orang yang tidak bersemangat. Benar-benar hidup itu dilalui ibarat roda yang diputar saja.
GS : Apakah tidak mungkin seseorang itu menjadi kebal, Pak Paul?

PG : Saya kira ya, sampai titik tertentu dia akan kebal terhadap perasaan-perasaan tertentu. Misalnya rasa sedih dan susah membuat dia menangis, kadang-kadang kita mendengar ungkapan tidak ada agi air mata, nah saya kira itu maksudnya, tidak bisa lagi merasa sedih.

Bahkan marahpun susah, nah kalau kita pernah melihat orang yang depresi berat sekali, orang yang depresi berat sekali yang aneh adalah hampa perasaan. Benar-benar wajahnya itu datar dan tidak ada lagi perasaan apa-apa, marah ya tidak, sedih ya tidak, kecewa ya tidak. Kalau ditanya apa yang kamu rasakan tidak tahu, benar-benar tidak ada perasaan. Dan pernikahan yang depresif juga seperti itu, si suami atau si istri melalui hidup ini yang seperti itu tadi, tidak ada lagi perasaan, tidak ada semangat, sudah tentu tidak ada energi, merasa letih hari lepas hari dilalui seolah-olah seperti memikul beban yang berat sekali. Nah, biasanya akan muncul perilaku kompensasi, misalnya muncul masalah dengan anak-anak, ya anak-anak bertambah besar memberontak atau terlibat narkoba sehingga orang tua terpaksa mengalihkan problem mereka berdua sekarang pada problem anak-anak misalnya atau suaminya menderita gangguan apa, istrinya menderita gangguan apa, nah akan muncul kompensasi-kompensasi seperti itu.
(3) GS : Sebenarnya yang menyebabkan seseorang bisa depresif dalam hidup pernikahannya itu apa, Pak Paul?

PG : Ada banyak faktor, Pak Gunawan, tetapi saya akan hanya menyoroti perasaan yang menyimpulkan segala faktor tersebut. Yang pertama adalah rasa marah, jadi adakalanya kita ini marah namun tidk bisa mengekspresikan kemarahan itu.

Contoh kalau suami kita itu keras misalkan tidak bersedia mendengarkan keluh kesah kita, nah waktu kita berkeluh-kesah suami langsung marah, marah mengancam kita untuk tutup mulut. Nah apalagi kalau suami itu ringan tangan, kita tetap membuka mulut langsung dia menampar kita, setidak-tidaknya ini memberikan kita pelajaran lain kali jangan menampakkan kemarahan kita kepada dia.

ET : Jangan menyulut api maksudnya?

PG : Jangan menyulut api kalau tidak mau terbakar begitu. Nah, akhirnya apa yang terjadi terpaksa si istri ini menimbun perasaan marahnya. Apapun kekesalannya tidak boleh diungkapkan, atau kebaikannya pada si suami misalnya dia kesal sama istrinya karena dia minta ini minta itu, tolong perhatikan rumah, tolong perhatikan anak, hal-hal yang wajar yang bisa engkau lakukan, tolong engkau lakukan, jangan semua menunggu saya misalnya seperti itu.

Tapi tidak dipenuhi oleh si istri, hari demi hari persoalannya sama tidak berubah, bulan demi bulan, tahun demi tahun terus sama. Si suami akhirnya merasa benar-benar putus asa, apapun yang dia katakan tidak bisa membuahkan hasil, namun kalau dia marah misalnya si istri menangis, dua, tiga hari marah tidak berbicara dengan dia, nah dia yang sengsara. Atau yang lebih klasik, ini kadang-kadang juga terjadi misalkan si suami ini juga aktivis gereja yang melayani dengan sungguh-sungguh, dia mengetahui bahwa dia tidak seharusnya berbuat kasar pada istrinya. Jadi akhirnya dia merasa bersalah kalau dia marah pada si istri, bukankah saya seorang aktivis gereja, seharusnya saya lebih sabar jadi dia segera minta maaf. Tapi dia minta maaf cepat-cepat tidak menyelesaikan apa-apa karena perbuatan yang sama akan diulang lagi. Akhirnya apa yang terjadi perasaan marah itu seolah-olah terus menumpuk menjadi suatu batu yang menekan pada dirinya. Kita tahu salah satu penyebab depresi adalah kemarahan yang tidak terungkapkan. Kemarahan yang tidak terungkapkan itu seolah-olah menjadi energi dalam hati, dalam diri kita yang menekan kita. Akhirnya apa yang terjadi ya sudah kita marah tidak bisa, sedih tidak bisa, tidak lagi mengharapkan apa-apa.
GS : Tapi ada yang mengatakan katanya kemarahan kalau ditumpuk suatu saat dia akan meletus seperti gunung api.

PG : Biasanya begitu jadi ditumpuk-tumpuk akhirnya meledak. Nah tapi kalau misalkan meledak terus mendapatkan reaksi yang lebih buruk lagi, ya akhirnya dia belajar untuk sebisa-bisanya tidak meedak, sebisa-bisanya tetap dikontrol.

ET : Jadi sepertinya usaha untuk meredakan kemarahan itu justru sebenarnya sedang menumpuk kemarahan ya, jadi tampaknya reda tapi di dalamnya dia tumpuk lagi semakin banyak.

PG : Betul, semakin dia berusaha mengekang kemarahannya sebetulnya dia lagi menyumbangsihkan kemarahan ke dalam.

ET : Ke dalam gudang kemarahan itu?

PG : Betul, jadi mengisi lagi dengan amunisi kemarahan-kemarahan itu.

GS : Mungkin itu sebabnya firman Tuhan mengatakan jangan biarkan amarahmu sampai matahari terbenam.

PG : Tepat sekali, tepat sekali sebab Tuhan mengerti bahwa semua kemarahan yang disimpan untuk waktu yang lama benar-benar menjadi racun, menjadi suatu kepahitan. Dan kepahitan susah berubah, kmarahan masih bisa diredakan masih bisa dirubah, tapi kepahitan susah berubah atau susah untuk dinetralisir.

GS : Kalau penyebab yang lain, Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah perasaan tidak berdaya, tidak berdaya menghadapi keadaan yang menekan. Jadi biasanya sewaktu kita ingin melakukan sesuatu tidak ada responnya kita merasa tidak berdaya.Selain dari perasaan marah, yang kedua adalah perasaan tidak berdaya (powerless).

Nah, perasaan tidak berdaya ini merupakan perasaan yang benar-benar membuat kita frustrasi berat, apalagi kalau kita beranggapan tidak seharusnya kita begini, tidak seharusnya kita mengalami hal ini atau kita berkata seharusnya engkau mengerti begitu. Contohnya mudah, misalkan seorang istri melihat suaminya mampu memberikan perhatian kepada orang, tapi tidak memberikan perhatian pada dirinya. Nah hal itu akan membuat si istri luar biasa frustrasinya, dia meminta perhatian tapi tidak bisa menerimanya. Namun melihat si suami memberikan perhatian kepada orang lain, benar-benar membuat perasaannya tidak berdaya. Atau suami yang menginginkan istri lebih mencintainya, tapi si istrinya begitu dingin tidak bisa mencintainya, namun dia melihat istrinya itu bisa dekat dengan kakaknya, mengasihi anak luar biasa. Kadang-kadang dia berharap dialah anak itu, tapi kenapa istrinya tidak bisa memberikan kasih sayang seperti itu kepadanya. Dia minta-minta, dia berikan cara apa dan sebagainya tetap tidak ada perubahan, akhirnya tidak berdaya. Nah, dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim dan lebih negatif misalnya melibatkan tindakan-tindakan yang lebih destruktif atau yang lebih merusakkan misalnya berjudi. Misalkan si suami yang berjudi si istri yang meminta, memohon untuk jangan berjudi lagi tapi suaminya tetap berjudi. Uang dihabiskan, disimpan, disembunyikan, diketahui oleh suaminya diambil lagi, barang dijual lagi, nah perasaan-perasaan yang akhirnya muncul adalah perasaan tidak berdaya. Nah perasaan tidak berdaya itu perasaan yang luar biasa menekannya dan akhirnya bisa membuat orang akhirnya putus asa, tidak lagi mengharapkan apa-apa dan mematikan perasaannya. Pada saat seperti ini pernikahan saya sebut mengalami proses depresi.

ET : Saya tertarik dengan yang tadi Pak Paul katakan, bisa dilakukan kepada orang lain tetapi tidak dilakukan kepada pasangannya. Mungkin itu rasanya fenomena yang cukup sering tampak pada kelurga-keluarga Kristen, di luar rumah rasanya menjadi seorang pribadi yang penuh perhatian, di gereja terlibat dalam pelayanan tetapi begitu di rumah tidak peduli dengan keadaan yang ada di rumah.

Pasti akan membuat si pasangan itu menjadi tidak berdaya melihat keadaan seperti itu.

PG : Sebab waktu dia tidak mendapatkan dan dia melihat orang lain mendapatkannya, maka akan mengganggu sekali. Kalau dia tidak mendapatkan, lalu orang lain pun tidak mendapat apa-apa dari pasanannya, sedikit banyak akan mengobati lukanya.

Waktu dia melihat orang mendapatkan dia tidak, itu benar-benar seperti luka yang diberi garam dan ditusuk-tusuk, makin perih.

ET : Makanya sering ada ungkapan saya lebih senang melihat suami istri di tengah orang banyak, jadi rasanya di tengah orang banyak begitu menyenangkan tapi begitu cuma berdua jadi menyebalkan. engan perkataan lain, menjadi pribadi yang berbeda karena langsung tidak ada apa-apanya di antara mereka itu.

PG : Betul, inilah contoh pernikahan yang depresif ya Ibu Esther. Saya kadang-kadang memberikan contoh yaitu saya melihat pasangan-pasangan yang pergi makan di restoran. Cukup menarik sekali kaau saya mengamati perilaku mereka, suami istri duduk berhadapan tapi tidak melihat satu sama lain dan tidak berbicara terhadap satu sama lain, mata mereka itu ke atas, ke samping tapi tidak ke depan.

Dan saya pernah melihat satu keluarga dengan anak-anak, anak-anaknya pun tidak bicara, anak-anaknya pun hanya melihat keliling-keliling ke atas, ke bawah tidak ada yang bicara dengan satu sama lain. Nah, ini tadi sudah Ibu Esther kemukakan, saya kira intinya adalah pernikahan itu sudah kehilangan energinya, benar-benar sudah mengalami depresi.
GS : Pak Paul, sebenarnya kalau melihat ciri-ciri seperti itu, kalau kita amati sekilas saja dari apa yang tadi kita bicarakan cukup banyak keluarga yang mungkin dinilai sehat tapi ternyata tidak sehat. Mungkin seperti kita merasa dirinya sehat, begitu dicek di laboratorium dan ke dokter ternyata ada banyak hal. Nah sebenarnya dalam hal ini bimbingan firman Tuhan apa yang Pak Paul mau sampaikan?

PG : Saya akan bacakan dari Matius 17:12, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi dari seluruh hukm taurat dan kitab para nabi."

Firman Tuhan itu saya kira mengajarkan pertama-tama kita harus menyadari bahwa kita harus mulai perbuatan yang baik terlebih dahulu, sebelum pasangan kita melakukannya kepada kita. Jadi kalau kita mengharapkan dia bisa mengasihi kita, kita mengasihi dia, kalau kita mengharapkan dia bisa mengerti perasaan kita, kita mencoba mengerti perasaannya. Jadi Tuhan memberikan tanggung jawab pertama kepada kita untuk melakukan yang kita inginkan orang perbuat kepada kita. Yang kedua adalah saya kira dari firman Tuhan ini kita bisa berkata silakan mengharapkan, boleh mengharapkan suami kita atau istri kita berbuat hal-hal yang kita inginkan, tapi syaratnya adalah kita harus berbuat hal yang sama. Nah ini yang kita tahu hal yang normal, yang wajib, tapi kita tidak selalu melakukannya. Berapa banyak di antara kita yang meminta pasangan kita untuk sabar, tapi kita mudah marah, berapa banyak kita meminta pasangan kita itu untuk mengertilah saya lagi kesal, jangan banyak bicara, tapi kita tidak mengerti dia seperti yang kita harapkan untuk mengerti kita. Jadi firman Tuhan dengan jelas berkata boleh berharap asal berbuat hal yang sama. Dan yang terakhir adalah firman Tuhan di sini mendorong kita untuk langsung berbuat, bukan hanya berkata-kata tapi berbuat yang engkau harapkan orang berbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepadanya. Nah Pak Gunawan dan Ibu Esther, saya panggil ini hukum relasi. Setiap pernikahan harus didirikan di atas hukum relasi seperti yang telah Tuhan ajarkan. Kalau saja setiap pasangan melakukan hal ini, saya percaya bahwa akan banyak pernikahan tidak harus lagi melewati penyakit depresi dalam pernikahannya.

GS : Saya percaya ini suatu hukum yang sangat penting, Pak Paul, di mana kita temukan di Perjanjian Lama lalu dikutip kembali di Perjanjian Baru. Jadi itu menjadi dasar di dalam kita membangun relasi khususnya dalam hubungan suami istri. Kita baru berbincang-bincang tentang pernikahan yang tidak sehat, tentunya pada kesempatan yang akan datang kita akan membicarakan yang sehat yang bagaimana ya Pak Paul, supaya tidak melihat yang tidak sehat saja. Jadi kita sangat mengharapkan para pendengar kita bisa mengikuti program ini untuk kesempatan yang akan datang. Nah saudara-saudara pendengar, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang pernikahan yang tidak sehat. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



21. Ciri-Ciri Pernikahan Sehat


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T080B (File MP3 T080B)


Abstrak:

Pernikahan yang sehat itu adalah pernikahan yang tidak sempurna, di dalamnya ada 7 aspek yang akan menerangkan pernikahan yang sehat. Dan salah satunya adalah adanya suatu pertengkaran, namun kita dituntut untuk bagaimana bisa menyelesaikan pertengkaran itu dengan baik.


Ringkasan:

Pernikahan yang sehat itu adalah pernikahan yang tidak sempurna. Saya membaginya dalam 7 kategori yaitu:

  1. Pernikahan yang sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar, namun bisa menyelesaikan pertengkaran sehingga tidak berlarut-larut. Nah salah satu keterampilan yang mesti dimiliki oleh setiap pasangan adalah keterampilan menyelesaikan pertengkaran. Pernikahan yang terus-menerus diganggu oleh pertengkaran akan menjadi pernikahan yang sakit, yang tidak sehat, ibarat pertengkaran itu seperti virus yang akan meracuni dan membuat daya tahan tubuh pernikahan kita itu lemah.

  2. Pernikahan yang sehat bukan berarti tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, tidak pernah sedih, atau tidak pernah menyesal. Setiap orang yang menikah saya kira akan mengalami kekecewaan, rasa marah dsb namun yang penting adalah setelah merasakan semua itu kita masih bisa menerimanya kembali.

  3. Pernikahan yang sehat bukannya selalu mesra, penuh kasih. Setelah menikah beberapa waktu, kemesraan dan penyataan kasih sayang tidak lagi sesemarak pada masa berpacaran. Tapi meskipun perasaan-perasaan mesra itu tidak lagi bermunculan dengan semarak tapi lebih sering ada perasaan sayang. Jadi perasaan itu harus ada, pernikahan yang sehat ditandai oleh adanya perasaan sayang bahwa pasangan kita adalah seseorang yang berharga dalam hidup kita.

  4. Pernikahan yang sehat bukan berarti selalu seia sekata, namun meskipun tidak selalu seia sekata, kita masih menghormati pandangan pasangan kita dan lebih banyak keberhasilan menemukan titik temu. Jadi meskipun kita berbeda pandang jangan sampai menghina dia. Mengakui memang berbeda tapi nggak harus disertai dengan caci maki terhadap perbedaan tersebut.

  5. Pernikahan yang sehat juga tidak selalu anak-anaknya tidak bertengkar, kadang-kadang bertengkar tetapi yang penting adalah kita dapat mendamaikan pertengkaran mereka sebagai orangtua dan mereka pun anak-anak itu relatif bisa dengan cepat mendamaikan pertengkaran mereka.

  6. Pernikahan yang sehat ditandai oleh hormat anak terhadap orangtua. Artinya orangtua itu memang dianggap sebagai figur yang konsisten, figur yang mereka bisa hormati. Mereka kadang-kadang marah dan kadang-kadang meletup emosinya terhadap kita, tapi tidak kurang ajar karena masih menghormati kita. Pernikahan yang tidak sehat biasanya kehilangan hormat anak-anak, tidak lagi menggubris orangtua, meskipun takut dalam hati tapi tidak lagi menghormati mereka.

  7. Keluarga yang sehat juga ditandai dengan kerukunan antara anak-anak.

Kalau ciri-ciri di atas tidak terpenuhi dalam suatu pernikahan yang sehat yang muncul adalah perasaan kecewa, marah, perasaan bahwa kita ini seolah-olah berseberangan dengan pasangan kita. Kita tidak lagi bersatu dengan dia terpecahlah kita, nah dalam keadaan seperti ini kita perlu berdamai, berekonsilisasi.

Matius 18:21-22, "Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Pernikahan harus dilandasi atas hukum rekonsiliasi ini, jika ada pihak yang meminta ampun atau bertobat dan ada yang memberi ampun alias ada yang berbelaskasihan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat. Perbincangan kali ini kami beri judul ciri-ciri pernikahan sehat, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita telah membicarakan pernikahan yang tidak sehat atau pernikahan yang depresif, tentunya kita juga ingin tahu pernikahan yang sehat itu yang bagaimana.

(2) PG : OK! Pak Gunawan, yang pertama-tama saya ingin tekankan bahwa pernikahan yang sehat itu adalah pernikahan yang tidak sempurna. Jadi jangan sampai kita ini mempunyai idealisme yang tidakrealistik tentang pernikahan itu, saya membaginya dalam 7 kategori.

Yang pertama adalah pernikahan yang sehat bukannya berarti tidak pernah bertengkar namun bisa menyelesaikan pertengkaran sehingga tidak berlarut-larut. Nah, salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap pasangan adalah keterampilan menyelesaikan pertengkaran. Pertengkaran saya kira sesuatu yang tidak bisa kita hindarkan. Nah waktu saya baru menikah, saya sendiri terus terang Pak Gunawan, mempunyai harapan bahwa istri saya dan saya tidak harus bertengkar. Waktu kami mulai bertengkar hal itu cukup mengganggu saya. Jadi harapan saya, saya kira itu sangatlah tidak realistik akhirnya saya belajar untuk menerima fakta bahwa orang yang saling mencintaipun bisa bertengkar. Jadi yang harus dikuasai, dimahiri oleh suami atau istri adalah keterampilan untuk menyelesaikan pertengkaran itu sendiri. Pasangan yang tidak bisa atau tidak mempunyai keterampilan untuk menyelesaikan pertengkaran tinggal menunggu waktu sampai pernikahan itu benar-benar retak. Karena pernikahan yang terus-menerus diganggu oleh pertengkaran akan menjadi pernikahan yang sakit dan tidak sehat. Ibarat pertengkaran itu seperti virus, Pak Gunawan, yang akan meracuni dan membuat daya tahan tubuh pernikahan kita itu lemah.
GS : Menyelesaikan pertengkaran dalam hal ini betul-betul menghadapi dan menyelesaikannya, Pak Paul, bukan melarikan diri atau menganggap tidak ada dan sebagainya.

PG : Ya, jadi jangan sampai kita ini menyangkali seolah-olah tidak ada masalah di antara kita, kalau ada masalah harus diakui memang ada. Namun khusus untuk masalah pertengkaran, saya juga haru akui bahwa ada masalah yang bisa kita selesaikan dengan segera, ada masalah yang kita bisa selesaikan dalam waktu yang agak panjang bisa berhari-hari bahkan bisa berminggu-minggu.

Juga akan ada masalah atau perbedaan yang belum ada jalan keluarnya, jadi ini bisa makan waktu bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Tapi harapan saya atau harapan kita semua adalah yang ketiga itu tipe yang berat sehingga tidak bisa diselesaikan haruslah sangat sedikit, yang lebih banyak adalah yang bisa kita selesaikan dengan segera. Yang makan waktu boleh ada, namun juga tetap dalam jumlah yang sedikit. Yang tidak bisa kita selesaikan dan harus berlangsung untuk waktu yang panjang boleh ada, tapi benar-benar kita minimalkan misalkan hanya satu atau dua saja. Tadi Pak Gunawan sudah singgung bahwa kita harus menghadapinya, jangan lari, saya kira Pak Gunawan, kita memang mempunyai beberapa reaksi terhadap pertengkaran. Ada orang yang tidak suka pertengkaran sehingga waktu masalah muncul dan pertengkaran sudah diambang pintu, misalnya dia akan melarikan diri tidak mau menghadapinya. Atau dia menekan pasangannya supaya tidak mengeluarkan keluh kesahnya sehingga tidak terjadi pertengkaran. Atau yang ketiga ada orang yang cepat-cepat mengikuti permintaan pasangannya agar tidak terjadi pertengkaran. Ketiganya itu bukan berarti semuanya salah dan selalu salah, ada waktunya kita sudah mendiamkan, ada waktunya kita menuruti kehendak pasangan kita. Namun kita tahu cara yang lebih sehat bukanlah itu, cara yang lebih sehat adalah memang masing-masing pihak membicarakan harapan tuntutannya kenapa tidak suka dan apa yang dia minta, baru setelah itu mencoba untuk dikompromikan. Jadi sekali lagi keterampilan menyelesaikan pertengkaran harus ada, baru pernikahan itu bisa sehat.
GS : Salah pengertian yang lain apa, Pak Paul?

PG : Saya kira pernikahan yang sehat bukannya berarti tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, tidak pernah sedih, atau tidak pernah menyesal. Setiap orang yang menikah saya kira akan mengalamikekecewaan, rasa marah dan sebagainya, namun yang penting adalah setelah merasakan semua itu kita masih bisa menerimanya kembali.

Yang parah adalah kalau kita sampai ke titik dimana setelah kecewa benar-benar tidak ada lagi penghiburan yang ditawarkannya kepada kita, nah ini yang parah setelah merasa menyesal menikah dengan dia benar-benar kita menutup pintu. Pernikahan yang sehat saya kira tidak sampai pada kadar seperti itu. Jadi belum sampai separah itu, pernikahan yang sehat mungkin mempunyai perasaan-perasaan kecewa, marah, dan sebagainya namun setelah itu terjadi masih bisa menerima pasangan kita. Artinya apa, artinya nomor 1 adalah kita tidak terlalu sering merasa begitu, kalau terlalu sering merasa kecewa, kesal, menyesal, otomatis makin susahlah untuk menerima dia kembali. Jadi pernikahan yang sehat memang tidak terus-menerus dilanda oleh krisis yang membuat kita marah, membuat kita menyesal menikah dengan dia, membuat kita sedih. Terlalu banyak krisis yang menimbulkan perasaan-perasaan ini, makin menyulitkan kita di kemudian hari menerima pasangan kita apa adanya.

ET : Rasanya memang komunikasi dua arah ini yang menjadi kunci, karena pasti itu akan terjadi. Kalau memang seseorang merasa kecewa, marah, sedih dan dia tidak sempat mengungkapkannya tapi dipedam sendiri, ataupun dia ungkapkan tapi tidak mendapatkan reaksi yang memadai dan yang diharapkan dari pasangannya untuk memahami kalau saya sedang kecewa tidak terjadi, maka mereka bertengkar.

Kalau sampai tidak ada pemahaman, akhirnya bisa susah untuk menerima perasaan-perasaan itu.

PG : Betul, betul, jadi waktu dia merasa marah, sedih dan sebagainya, yang dia harapkan adalah respon yang sesuai dari pasangannya. Kalau dia marah tidak digubris, dia sedih, dia dimasabodohkan dia kecewa malah dikatakan mau terima syukur kalau tidak mau terima ya masa bodoh, akhirnya dia seolah-olah harus menelan kembali perasaan-perasaan kecewa itu.

Akhirnya dia susah sekali menerima perbuatan pasangannya. Atau adakalanya yang terjadi Ibu Esther, pasangan kita memang melakukan hal yang sangat salah, itu bisa terjadi juga, tidak banyak sekali atau dua kali tapi melakukan hal yang sangat salah. Kecewa kita terlalu dalam, marah kita terlalu dalam, rasa menyesal kita terlalu dalam. Dengan perkataan lain, memang hati kita terkoyak, robek. Nah untuk menjahitnya, bisa menerima dia kembali memang akan susah. Jadi pernikahan yang sehat harus dijaga, jangan sampai melukai sedalam itu karena kalau sudah sedalam itu pasangan akan susah menerima kita kembali.

ET : Susah menjahitnya ya?

PG : Susah menjahitnya, betul, jadi pernikahan yang sehat memang pernikahan yang dijaga. Pernikahan tidak dengan otomatis bertumbuh dengan sehat, harus dijaga dengan hati-hati, kalau tidak dijaa lalu ada yang robek susah dijahit kembali.

GS : Tetapi kedekatan secara fisik ya Pak Paul, apakah menjamin bahwa pernikahan itu akan sehat?

PG : Nah ini membawa kita ke butir yang ke-3, Pak Gunawan, yaitu ternyata pernikahan yang sehat bukannya selalu mesra penuh kasih seperti di film-film, itu hanya terjadi di film saja. Pada awalawal pernikahan masih ada seperti itu, tapi saya kira setelah menikah beberapa waktu kemesraan dan penyataan kasih sayang tidak lagi sesemarak pada masa berpacaran.

Tapi ada tapinya, di sini meskipun perasaan-perasaan mesra itu tidak lagi bermunculan dengan semarak, tapi lebih sering ada perasaan sayang. Jadi jangan sampai tidak ada lagi perasaan sayang, tidak ada lagi perasaan mesra begitu. Saya berbicara dengan istri saya beberapa waktu yang lalu tentang perasaan kami, tentang pernikahan kami, apa yang membuat kami sampai sekarang terus saling mencintai. Nah kami memang membicarakan beberapa hal, intinya adalah kami tidak menyerah, kami terus berusaha, bekerja, yang perlu kami poles kami poles, yang perlu dibereskan kami bereskan dan itu akhirnya mulai membuahkan hasil. Dan waktu membuahkan hasil ini yang kami mulai petik yaitu perasaan sayang. Jadi saya mengintisarikannya waktu saya berbicara dengan istri saya, kalau di masa lampau saya seolah-olah tergila-gila dengan dia waktu saya masih berpacaran, sekarang setelah saya menikah 16 tahun kalau dia tidak disamping saya sudah benar-benar seperti orang gila karena benar-benar hidup ini sengsara kalau tidak ada dia. Jadi dengan perkataan lain, saya mengasihi dia seolah-olah seperti barang yang berharga, dulu mengasihi dia seperti barang yang menarik pada masa berpacaran, sekarang sebagai barang yang berharga karena memang dia telah menjadi begitu berharga buat kehidupan saya. Nah, jadi saya kira perasaan itu harus ada, pernikahan yang sehat ditandai oleh adanya perasaan sayang bahwa pasangan kita adalah seseorang yang berharga dalam hidup kita.

ET : Saya pikir ini mungkin memang satu ciri yang kadang-kadang disalahmengerti, maksudnya banyak pasangan muda ukuran cinta kasihnya itu kemesraan dan rasanya selalu harus apinya berkobar-kobar. Jadi ketika mungkin sudah mulai memasuki tahap yang wajar untuk tidak seperti itu, malah sepertinya ini tanda pernikahan kita jadi tidak sehat karena kita sudah tidak semesra dulu lagi, tidak berkobar-kobar seperti dulu lagi, jadi konsep ini sepertinya terbalik untuk kebanyakan orang.

PG : Betul, betul jadi memang harus mengantisipasi bahwa perasaan tidak bertahan terus-menerus pada level tertentu. Perasaan marah tidak terus-menerus ada, kita marah dua hari, hari ketiganya eda.

Perasaan sedih 2, 3 hari setelah itu normal lagi, jadi perasaan sayang juga begitu. Hari Valentine hanya setahun sekali bukan setahun 365 kali, jadi terimalah ini sebagai bagian yang nyata dan tidak apa-apa. Namun tetap saya harus ingatkan meskipun perasaan yang berbunga-bunga itu tidak ada lagi atau jarang ada namun perasaan sayang bahwa dia adalah seorang yang berharga dalam hidup kita, saya kira tetap harus ada. Kalau tidak ada sama sekali memang berarti pernikahannya mulai bahaya.
(2) GS : Bagaimana dengan pertengkaran Pak Paul, apakah mereka yang tidak bertengkar atau jarang sekali bertengkar itu sehat?

PG : Wah, saya sungguh-sungguh berharap Pak Gunawan, saya dan istri saya bisa senantiasa seia sekata dalam segala hal terutama dalam pengambilan keputusan. Tapi kenyataannya tidak demikian, mislkan contoh yang paling sederhana hari ini anak kami sekolah atau tidak karena sedikit sakit.

Yang satu berkata sekolah, yang satu berkata biar dia diam di rumah. Misalkan yang paling mudah lagi waktu menyuruh anak-anak untuk turun makan sekarang sudah jamnya makan, yang satu berkata biarkan dia main dulu, dia lapar akan makan sendiri, yang satu akan berkata ini jamnya makan semua harus makan. Sudah berbeda dan itu keputusan yang begitu ringan Pak Gunawan, apalagi yang lebih serius. Jadi memang pernikahan yang sehat bukannya berarti selalu seia sekata, namun meskipun tidak selalu seia sekata, kita masih menghormati pandangan pasangan kita dan lebih banyak keberhasilan menemukan titik temu. Jadi meskipun kita berbeda pandang jangan sampai menghina dia. Pernikahan yang tidak sehat ditandai oleh penghinaan. Waktu beradu pandangan tidak setuju, pandangan pasangannya tidak saja dianggap sebagai pandangan yang berbeda tapi langsung dicap pandangan yang salah, pandangan yang memang sempit, tidak melihat banyak, pandangan yang bodoh dan sebagainya, nah saya kira pernikahan yang sehat tidak demikian. Mengakui memang berbeda tapi ya sudah berbeda, tidak harus disertai dengan caci maki terhadap perbedaan tersebut. Meskipun ada perbedaan namun lebih banyak kesuksesan menemukan titik temunya, kalau terus-menerus tidak ada titik temu, tidak seia sekata saya kira pernikahan itu mudah sekali retak.
GS : Bagaimana dengan anak-anak kalau ada di tengah-tengah mereka?

PG : Wah, ini salah satunya Pak Gunawan, saya kira kita sebagai orang tua berharap anak-anak hidup rukun dan kalau kita perintahkan mau menurut, tidak membangkang. Nah kenyataannya tidak demikin, anak-anak itu kadang-kadang bertengkar, kadang-kadang tidak mendengarkan perintah kita.

Namun yang penting adalah kita dapat mendamaikan pertengkaran mereka sebagai orang tua dan mereka pun anak-anak itu relatif bisa dengan cepat mendamaikan pertengkaran mereka. Jadi kalau anak-anak sudah dihinggapi oleh semangat bermusuhan sehingga mudah sekali bertengkar dan susah sekali berdamai, saya kira kita perlu evaluasi kembali pernikahan kita. Apa yang terjadi sehingga anak-anak mempunyai sikap yang mudah marah dan susah sekali memaafkan. Memang tidak selalu anak-anak mengikuti perintah kita, tapi pernikahan yang sehat ditandai oleh rasa hormat anak terhadap orang tua. Artinya orang tua itu memang dianggap sebagai figur yang konsisten, figur yang bisa mereka hormati. Mereka kadang-kadang marah dan kadang-kadang meletup emosinya terhadap kita, tapi tidak kurang ajar karena masih menghormati kita. Pernikahan yang tidak sehat biasanya kehilangan rasa hormat anak-anak, mereka tidak lagi menggubris orang tua meskipun takut dalam hati, tapi tidak lagi menghormati mereka.

ET : Nah, mungkin itu yang sering kali terabaikan yaitu masalah dihormati, karena cukup banyak saya mendengar orang tua yang mengatakan pokoknya kalau saya di rumah anak-anak tidak bertengkar. api begitu orang tuanya tidak di rumah anak-anak perang dan selalu begitu yang terjadi, mungkin anak-anak hanya takut kalau ada figur orang tuanya tetapi belum tentu rasa hormat itu ada.

PG : Betul dan saya harus tetap berkata kalau anak-anak sering bertengkar kita di rumah ataupun tidak di rumah, saya kira kita perlu mengevaluasi kenapa. Sebab seharusnya kalau kita sebagai orag tua berhasil menciptakan iklim yang harmonis di rumah tangga kita, seyogyanya anak-anak meskipun kadangkala bertengkar seharusnya bisa menyelesaikannya dengan relatif cepat.

Kalau hampir bermusuh-musuhan kemungkinan kita harus memeriksa diri kita apakah kita kurang campur tangan, kurang mendidik mereka untuk bisa menyelesaikan konflik mereka. Jadi keluarga yang sehat saya kira juga ditandai dengan kerukunan antara anak-anak.
(3) GS : Nah ini khususnya di kalangan keluarga Kristen Pak Paul, ada yang setiap malam atau setiap pagi mereka mengadakan ibadah keluarga bersama. Apakah itu otomatis mencerminkan keharmonisan, Pak Paul?

PG : Saya kira tidak selalu kita ini bisa bersekutu, adakalanya saya juga dengan anak-anak dan istri saya tidak bersekutu bersama. Akhirnya kami misalnya ada yang mengganjal tidak berdoa bersam, kadang-kadang itu kami lakukan.

Tapi memang jarang, yang penting adalah meskipun jarang terjadi kami tahu itu salah, kami tahu keesokan harinya harus kami bereskan. Jadi kami tidak mendiamkan diri kami dalam suasana tidak enak berhari-hari, sehingga tidak bisa bersekutu bersama. Kalaupun harus kehilangan satu hari saja, keesokan harinya kami berusaha kembali untuk bisa bersekutu dan berdoa bersama.
GS : Memang cukup banyak ciri-ciri tentang pernikahan yang sehat, nah kalau seandainya itu tidak terpenuhi akibatnya apa, Pak Paul?

PG : Saya kira kalau tidak terpenuhi perasaan yang timbul adalah perasaan kecewa, marah, perasaan bahwa kita ini seolah-olah berseberangan dengan pasangan kita. Kita tidak lagi berdua, bersatu engan dia terpecahlah kita ini.

Dalam keadaan seperti itu saya kira kita perlu untuk berdamai, berekonsiliasi sebab kalau itu semua terjadi kita tidak lagi bersatu dengan istri kita atau suami kita, tentu tinggal tunggu waktu pernikahan kita ini akan retak.
GS : Tapi bukankah itu harus ada yang memulai lebih dahulu, yang menjadi pemula untuk mau berinisiatif itu siapa. Semua berkata dalam hati, suami merasa bukan saya yang salah, istri juga merasa seperti itu apalagi anak-anak. Lalu kapan bisa terjadi rekonsiliasinya?

PG : Saya akan bacakan dari Matius 18:21-22 "Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuatdosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."

Nah pada waktu itu orang-orang Israel mempunyai keyakinan batas maksimum orang memaafkan adalah tujuh kali sebab tujuh dianggap angka sempurna. Tuhan menambahkan tujuh puluh kali tujuh artinya di atas yang sempurna masih ada yang sempurna. Pada batas engkau mengampuni engkau berkata: tidak bisa lagi mengampuni, masih bisa mengampuni, itu kira-kira intinya yang Tuhan ingin katakan. Saya kira pernikahan harus dilandasi atas hukum rekonsiliasi, ini yang saya berikan judul pada ayat-ayat tadi. Rekonsiliasi terjadi jika ada pihak yang meminta ampun atau bertobat dan ada yang memberi ampun atau ada yang berbelaskasihan. Jadi memang kalau orang tidak mau berubah atau tidak mau berkata saya salah minta ampun, susah terjadi rekonsiliasi. Seseorang harus maju ke depan dan berkata saya salah, mohon maaf, dan yang satunya berkewajiban memberikan pengampunan. Dan yang kedua adalah pengampunan yang tidak terbatas menandakan hati yang penuh belas kasihan, nah ini yang kadangkala susah untuk kita miliki kalau sudah terlalu sering dilukai. Untuk ini saya kira kita perlu berdoa minta kuasa Tuhan, karena hanya kuasa Tuhan yang bisa memunculkan kembali belas kasihan kalau hati kita sudah mengeras. Jadi pertanyaannya maukah kita berdoa meminta Tuhan mengaruniakan belas kasihan itu kepada diri kita dulu, bukan kepada pasangan kita yang bersalah kepada kita misalnya. Maukah kita berdoa meminta Tuhan memberikan belas kasihan dalam hati kita, agar kita berbelaskasihan kepada pasangan kita yang telah bersalah kepada kita, jadi itu langkahnya. Nah yang terakhir adalah kita perlu mengintrospeksi diri artinya bukankah kita ini sama-sama orang yang pernah bersalah baik kepada sesama kita ataupun kepada Tuhan. Dan bukankah kita orang yang sama-sama telah menerima anugerah pengampunan, kita adalah orang yang telah ditebus, diampuni oleh Tuhan Yesus. Jadi Tuhan meminta kita mengingat bahwa kita juga penerima pengampunan, ingatlah kita sama seperti dia, kita juga harus memberikan pengampunan pada pasangan kita. Nah sekali lagi ini memang mudah kita ucapkan secara teoritis, kenyataannya akan sangat susah sekali. Tapi langkah pertama adalah berdoa meminta Tuhan memberikan kita belas kasihan lebih dulu, kalau tidak ada belas kasihan yang lain-lainnya tidak akan muncul.
(4) GS : Sebagai pria kadang-kadang memang sulit, Pak Paul untuk mengakui kesalahan kepada istri apalagi kepada anak, itu sebenarnya apa yang melatarbelakanginya?

PG : Saya kira kita menganggap bahwa sebagai seorang kepala keluarga kita harus berwibawa dan berwibawa berarti tidak salah, kalau salah kita kehilangan wibawa. Maka kita takut mengakui kesalahn, takut kalau-kalau akan mengurangi wibawa kita.

Tapi saya kira justru wibawa diperoleh bukan dari mempertahankan kalau kita salah, wibawa justru akan kita dapatkan kalau kita berani mengakui kita salah. Apakah dia nanti akan memanfaatkan pengakuan kita bahwa kita salah, itu tergantung kita. Kalau dia memanfaatkannya kita tidak harus menerimanya. Kita tetap bisa menolak dia untuk menggunakan pengakuan kita untuk menyerang kita kembali. Dan yang paling penting harus kita ingat, kita bertanggung jawab kepada Tuhan, yang Tuhan minta adalah kita mengampuni atau memberikan pengakuan kalau kita salah. Itu yang Tuhan minta, tindakan orang terhadap kita itu tanggung jawabnya kepada Tuhan, yang penting kita telah melakukannya untuk Tuhan.

ET : Dan yang saya lihat kalau memang kepala keluarga bisa punya sikap yang seperti itu dampaknya luar biasa, kebaikan seperti ini akan tertular. Kalau anak-anak melihat papanya dengan besar hai bisa minta maaf dan juga memaafkan, otomatis ke istri, ke mamanya anak juga akan belajar hal sama, ini saya lihat kekuatan dari pengampunan ini.

PG : Betul, betul kalau orang tua tidak menularkannya kepada anak-anak, maka anak-anak tidak tertularkan. Saya lihat memang pucuknya di suami atau kepala keluarga. Sering kali istri belajar dar kita sebagai suami, anak-anak pun belajar dari kita sebagai papanya.

GS : Dan itu harus diucapkan dengan sungguh-sungguh Pak Paul, kadang-kadang sambil bergurau, "sorry-sorry" tapi cara seperti itu tidak berdampak.

PG : Betul, karena orang akan melihat kita tidak tulus.

GS : Tidak serius, tidak tulus dan Tuhan Yesus sendiri mengajarkan doa Bapa kami, "ampuni kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami".

PG : Betul.

ET : Tapi itu justru bisa dipelencengkan jadi begini, misalnya salah satu pihak suami atau istri katakanlah misalnya suami merasa saya selalu baik, tidak pernah menyakiti. Jadi sepertinya tidaktimbal balik, kecuali mungkin yang Pak Paul katakan sama-sama berhutang pengampunan rasanya lebih mudah mengampuni.

Kalau salah satu merasa lebih baik, rasanya sangat susah untuk mengampuni pasangannya itu.

PG : Betul, kecenderungan kita memang menghitung berapa kali kita telah mengaku salah, berapa kali dia telah mengaku salah, kalau tidak sebanding antara debet dan kreditnya kita menjadi jengkel.

ET : Tidak terima ya?

GS : Bisa negatif nanti saldonya. Jadi saya rasa itu suatu pembicaraan, perbincangan kita yang sangat menarik tentang ciri-ciri pernikahan yang sehat dan saudara-saudara pendengar demikian tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang ciri-ciri pernikahan yang sehat. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



22. Tahap Perkembangan Cinta dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T093A (File MP3 T093A)


Abstrak:

Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik atau dengan lebih tajam. Ada ketiga jenis kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta, di mana ketiganya akan dikaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga.


Ringkasan:

Kata kunci: perkembangan cinta

Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta. Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik dengan lebih tajam, oleh karena itulah ketiga jenis kata yang digunakan ini dapat kita kaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga. Ada beberapa yang kita akan bahas adalah:

  1. Kasih Eros, dari kata eros muncullah kata erotik. Jadi kata eros itu sendiri berarti sebetulnya kasih yang didasari atas ketertarikan jasmaniah secara fisik. Juga saya gunakan istilah ini adalah cinta yang lebih ke arah saya sendiri secara pribadi, jadi cinta ini cinta searah, namun arahnya adalah dari orang kepada kita karena orang memberikan sesuatu yang kita inginkan atau menyenangkan hati kita. Boleh juga digunakan istilah cinta terpesona, benar-benar kita rasanya terpesona dengan penampakannya, kehadirannya. Unsur eros ini adalah unsur yang juga penting dalam pernikahan. Dengan kata lain tanpa adanya unsur eros cinta itu juga akan kehilangan unsur 'passion' yaitu suatu ketertarikan suatu pendambaan yang kuat. Suatu hasrat, keinginan untuk intim.
  2. Tahap Phileo, dalam bahasa Yunani kata phileo berarti kawan, persahabatan. Phileo ini adalah kasih persahabatan jadi pada tahap ini relasi diikat oleh kecocokan, berbeda dengan eros di mana relasi diikat oleh ketertarikan. Dengan kata lain kita bergerak meninggalkan eros yang bersifat jasmani masuk ke dalam relasi yang lebih bersifat non-jasmaniah, kecocokan sifatnya, karateristiknya, kesamaan berpikir, bisa mengerti kita, kita bisa mengertinya. Kalau saya boleh intisarikan cinta phileo adalah cinta yang berkata: aku senang bersamamu, sebab kita sepadan. Phileo akan menempati porsi yang besar dalam pernikahan misalkan 2, 3 tahun pertama adalah porsi eros boleh dikata setelah sampai 40 tahun yang akan mengikat kedua orang ini adalah phileo, persahabatan.
  3. Tahap Agape, inilah puncaknya dan sudah tentu tahapan ini tidak berarti hanya bisa ada di akhir pernikahan kita. Kasih agape, kasih searah sama seperti eros namun bedanya arahnya itu terbalik. Kalau eros arahnya dari dia kepadaku, kasih agape adalah arahnya dari aku kepada dia, kepada pasangan kita. Inilah kasih yang kita sebut kasih tanpa kondisi, sifat utamanya adalah memberi tanpa menghiraukan respons penerimanya.
Untuk mengetahui bahwa kita mulai memiliki cinta agape adalah:
  1. Yang muncul dalam hati kita adalah perasaan tadi yang saya sebut sayang kepada pasangan kita, sayang bahwa dia itu berharga buat kita.
  2. Kita benar-benar tahu tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk kita tapi toh kita ingin memberikan diri kita kepadanya.

Markus 9 : 35, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Kasih agape diwujudnyatakan dalam bentuk yang nyata yaitu sebagai pelayan dan mendahulukan orang lain dan dengan rela kita ini yang terbelakang. Dalam pernikahan kita mesti ingat prinsip Tuhan, Tuhan pun datang untuk melayani dan mendahulukan yang dilayaninya yaitu kita manusia. Jadi hendaklah sebagai suami-istri kita juga mewujudnyatakan cinta Tuhan dalam hidup kita, mendahulukan pasangan kita dan melayani dia.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini kami beri judul "Tahap Perkembangan Cinta dalam Pernikahan". Kami percaya perbincangan ini akan sangat menarik dan bermanfaat bagi Anda sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, di dalam bahasa Indonesia mungkin kita hanya mengenal kata cinta atau kasih yang sering kali kita gunakan sehari-hari tapi kalau tidak salah saya mendengar dalam bahasa Yunani itu ada beberapa istilah. Apa benar seperti itu, Pak Paul?

PG : Benar Pak Gunawan, jadi dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang digunakan untuk melukiskan makna cinta. Kita akan bicarakan pada kesempatan ini yaitu 3 kata cinta itu, Pak Gunawan.

(2) GS : Itu kaitannya dengan cinta yang kita rasakan atau kita alami di dalam hubungan suami-istri bagaimana, Pak Paul?

PG : Bahasa Yunani menyoroti cinta secara lebih spesifik dan lebih tajam, oleh karena itulah ketiga jenis kata yang digunakan ini dapat kita kaitkan dengan perkembangan cinta di dalam keluarga.Ada beberapa, yang pertama akan kita bahas adalah kasih eros, dari kata eros muncullah kata erotik.

Jadi kata eros itu sendiri sebetulnya adalah kasih yang didasari atas ketertarikan jasmaniah secara fisik.

ET : Sebenarnya kalau ketertarikan seperti itu dibenarkan atau tidak, Pak Paul?

PG : Tidak apa-apa sebetulnya, Bu Esther, jadi ketertarikan secara fisik adalah sesuatu yang alamiah bukan sesuatu yang salah dan Tuhan pun tidak memarahi kita karena kita tertarik kepada seseoang secara fisik.

Bahkan seorang hamba Tuhan yang lain bernama George McDowell menegaskan bahwa unsur eros adalah unsur yang juga penting dalam pernikahan. Dengan kata lain tanpa adanya unsur eros cinta itu juga akan kehilangan unsur "passion" ya, unsur "passion" itu kalau diterjemahkan bukannya nafsu tapi suatu ketertarikan atau pendambaan yang kuat. Mungkin juga suatu hasrat, keinginan untuk intim dan sebagainya, karena adanya ketertarikan secara fisik.
GS : Secara naluri memang manusia dibekali dengan itu ya, Pak?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi karena kita ini manusia yang mempunyai hormon-hormon memang sudah dibekali Tuhan untuk bisa menyukai orang karena ketertarikan secara fisik itu.

GS : Tetapi ada orang yang tertarik dengan sesama jenisnya, apakah itu tergolong di situ juga?

PG : Itu juga sama, jadi masuk dalam kategori eros yaitu ketertarikan secara jasmaniah. Pada esensinya, tahap ini adalah tahap awal dalam menjalin hubungan. Kita menyukai seseorang karena ada hl-hal tentang dirinya secara fisik yang kita sukai.

Dapat kita katakan dalam satu kalimat, cinta eros adalah cinta yang berkata: "Aku tertarik kepadamu sebab engkau memberikan sesuatu yang aku inginkan." Nah boleh juga saya gunakan istilah ini adalah cinta yang lebih ke arah saya sendiri secara pribadi, jadi cinta ini cinta searah. Namun arahnya adalah dari orang kepada kita karena orang memberikan sesuatu yang kita inginkan atau menyenangkan hati kita.

ET : Jadi fokusnya lebih kepada diri sendiri dulu Pak Paul, mungkin seperti keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini.

PG : Mungkin tidak melulu keuntungan tapi sesuatu yang menyenangkan hati secara jasmaniah, mungkin wajahnya, tubuhnya, penampakannya yang memang membuat kita senang, jadi benar-benar searah dar dia untuk kita.

Boleh juga kita gunakan istilah ini adalah cinta terpesona, benar-benar rasanya kita terpesona dengan penampakannya, kehadirannya.

ET : Mungkin dari situ muncul suatu istilah jatuh cinta pada pandangan pertama berarti tergolong eros juga ya, Pak Paul?

PG : Betul, cinta pada pandangan pertama pastilah cinta eros karena kita belum mengenal orang itu tapi kita sudah menyukainya, jadi yang kita sukai biasanya adalah yang kita lihat. Cinta eros ii adalah cinta yang bersifat sementara, karena kita tidak mungkin terpesona terus-menerus.

Sebagus apapun pasangan kita atau seindah apapun pasangan kita setelah kita hidup bersamanya untuk jangka yang panjang, magnet itu makin mengecil tidak bisa kita hindari. Kita bukannya akan kehilangan cinta, tapi rasa terpesona itu memang akan berkurang, ini yang kadang-kadang membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa saya sudah tidak lagi mencintainya. Ya kadang-kadang kita menggunakan istilah cinta ala Hollywood. Sebab para bintang Hollywood itu dikenal secara negatif sebagai orang-orang yang kawin cerai dengan begitu mudah, mencintai seseorang setahun, 2 tahun kemudian bercerai. Karena sebagian dari orang-orang ini berkata tidak ada lagi cinta semula itu, nah yang mereka maksud sebetulnya adalah unsur terpesonanya tidak ada lagi. Justru yang mau kita tekankan di sini adalah memang unsur terpesona itu bersifat sementara, jarang bisa terus berlangsung untuk waktu yang sangat lama karena kita akan terbiasa dengan pasangan kita. Pada kesempatan ini yang ingin kita bahas adalah cinta itu sebetulnya akan mengalami progresi, perubahan wujud, perkembangan atau pertumbuhan dan meninggalkan terpesona memasuki tahapan yang lain.
GS : Apa itu Pak Paul, jadi tahapan berikutnya setelah eros itu tadi mulai berkurang?

PG : Yang tahap berikutnya adalah tahap phileo, ini bahasa Yunani berarti kawan, persahabatan. Dari kata inilah muncul sebuah nama kota di Amerika Serikat Filadelfia itu. Phileo adalah kasih pesahabatan, jadi pada tahap ini relasi diikat oleh kecocokan, berbeda dengan eros di mana relasi diikat oleh ketertarikan.

Pada tahap phileo, relasi kita dengan pasangan diikat oleh kecocokan. Dengan kata lain kita bergerak meninggalkan eros yang bersifat jasmani masuk ke dalam relasi yang lebih bersifat non-jasmaniah, kecocokan sifatnya, karakteristiknya, kesamaan berpikir, bisa mengerti kita, kita bisa mengertinya. Kalau kita bilang kecocokan berarti memang ini timbal balik. Kalau tadi satu arah dari pasangan kepada kita, sekarang timbal balik kita ke dia dan dia ke kita, saling mengisi, saling cocok, saling menyegarkan. Kalau saya boleh intisarikan cinta phileo adalah cinta yang berkata aku senang bersamamu, sebab kita sepadan.

ET : Dan untuk urusan sepadan ini memang perlu waktu untuk bisa menguji kecocokan itu. Dengan kata lain, kalau orang-orang pada masa-masa eros sudah langsung mungkin buat komitmen sampai ke pernikahan, jangan-jangan nanti sampai pernikahan juga belum sampai sebenarnya ke tahap untuk phileo dan untuk kecocokan ini, Pak?

PG : Betul, nah Ibu Esther memunculkan suatu point yang bagus ya, orang-orang dulu itu menikah secara "paksa" karena ditentukan oleh orang tua mereka. Tidak pernah mengenal tapi orangsering berkata kenapa pernikahan mereka bisa langgeng sampai meninggal dunia, sekarang berkenalan lama tapi akhirnya bubar.

Nah bedanya adalah begini, dulu kemungkinan besar memang cinta itu tidak pernah sampai ke tahap phileo pada awal-awalnya karena belum kenal. Tapi ikatan sosial sangat kuat sehingga sanksi sosial sangatlah menyakitkan dan besar bagi mereka yang bercerai, karena itulah pasangan-pasangan ini dipaksa untuk tetap tinggal dalam ikatan nikah. Karena dipaksa mereka akhirnya memaksa diri untuk mengembangkan kasih itu mulai dari eros ke phileo. Sedangkan zaman sekarang bisa jadi yang tadi Ibu Esther katakan, masalahnya menjadi ketertarikan secara eros, secara erotis senang dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah langsung mengikatkan diri dalam pernikahan e....setelah menikah baru menyadari betapa banyaknya ketidakcocokan, phileo tidak pernah terbentuk di situ sehingga eros pudar. Kita hanya bisa terpesona untuk jangka waktu tertentu, tapi kalau tidak digantikan oleh phileo memang berbahaya sekali.
GS : Pernikahan itu dari dua pribadi yang menikah, katakan satu dari mereka itu sudah mencapai ke tahap phileo tetapi yang satunya itu masih di tahap eros, bagaimana Pak?

PG : Menjadi pincang, sebab bisa jadi yang satu tidak menemukan kecocokan pada yang lainnya. Atau yang menekankan aspek eros akan berkata engkau tidak terpesona lagi kepadaku, bisa jadi memang khirnya muncul kepincangan di sini.

Jadi seyogyanya memang setelah melewati fase pertama itu yang mungkin berlangsung secara singkat 2, 3 tahun ya, seyogyanyalah yang akan mengikat kedua pasangan suami-istri ini adalah kasih phileo, persahabatan. Dan sebetulnya phileo ini akan menempati porsi yang besar dalam pernikahan misalkan 2, 3 tahun pertama adalah porsi eros boleh dikata setelah itu bisa sampai 40 tahun yang akan mengikat kedua orang ini adalah phileo, persahabatan. Ya erosnya makin pudar, tapi yang mengikat adalah persahabatan, dia bisa mengerti saya, saya bisa mengerti dia, bahu-membahu, saling menolong, membesarkan anak dan sebagainya.
GS : Tapi sampai ke tahap phileo itu Pak Paul, apakah kasih eros itu sudah tidak ada lagi di dalam pasangan itu?

PG : Sewaktu saya di seminari saya masih ingat sekali ada seorang teman yang usianya sudah lanjut, tapi dia bersekolah kembali sebagai seorang pendeta. Dan dia memberikan satu komentar yang bags sekali sewaktu membicarakan hal seksual dalam pernikahan.

Dia memberikan suatu bahasa kiasan "Semakin tua, semakin mengecil ranjang pengantin kami". Jadi maksudnya adalah ketertarikan secara jasmaniah dan kebutuhan untuk pemenuhan hasrat seksual memang makin menyusut, sehingga harus ada yang menggantikannya dan seyogyanyalah yang menggantikan itu adalah persahabatan. Sudah tentu bagi yang berpacaran jangan berkata o...ini tumbuhnya nanti setelah menikah o.....tidak, justru aspek phileo ini sudah harus mulai dirintis sejak masih berpacaran. Dapatkah pasangan kita itu menjadi sahabat kita, bukan saja seseorang yang membuat kita tertarik terhadapnya, tapi seseorang yang menjadi teman kita, bisa kita ajak bicara, kalau berkomunikasi bisa mengena. Jangan sampai karena masih berpacaran tidak bisa berkomunikasi, sering bertengkar tapi eros begitu kuat, saling tertarik secara fisik akhirnya menikah. Nah pernikahan seperti itu umumnya tidak akan langgeng.

ET : Mungkin atau tidak pasangan itu mengawali relasi dengan phileo terlebih dahulu sebelum adanya eros, Pak Paul?

PG : Bisa jadi, tapi tidak bisa murni sebab bagaimanapun kita ini tertarik kepada seseorang biasanya pada hal-hal yang bersifat fisik terlebih dahulu. Kalau kita sudah tidak punya perasaan sukamelihat penampakannya, sukar bagi kita untuk dekat dengan dia, jadi bukannya tergila-gila dia itu seperti apa gantengnya dan cantiknya ya tidak harus begitu eros, tapi senang melihat penampakannya, penampilannya begitu.

GS : Perselingkuhan itu juga timbul dorongan, jadi terhadap istrinya mungkin dia sudah ke tahap phileo tetapi lalu timbul rangsangan lagi, desakan lagi tertarik pada orang lain. Nah itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Inilah yang menjadi masalah besar Pak Gunawan, dan Pak Gunawan telah memunculkan pertanyaan yang sangat relevan. Bukankah ini yang sering kali dicari oleh sebagian orang yaitu setrum, setrm romantis, eros dan mereka berkata: "Hambar hubunganku dengan istriku atau hubunganku dengan suamiku."

Tapi sekarang setelah aku bertemu dengan si dia hidupku ini menjadi bersemarak, bergairah, bersemangat lagi, rasanya tidak ada hidup sebelumnya seperti sekarang hidupku kembali." Betul, eros itu memang mempunyai sifat memberikan energi, memompa energi, memberikan kita suatu kesenangan kembali untuk menikmati hidup tapi sekali lagi hal ini tidak akan permanen. Kalau kita boleh berbicara langsung kepada mereka yang pernah berselingkuh dan tanyakan apakah api selingkuh itu ada pada tahap pertama perkenalan mereka, dugaan saya tidak ada. Jadi mereka yang mencari setrum-setrum romantis ini memang cenderung akhirnya terjebak dalam konsep yang keliru o....tidak ada lagi hubungan cinta dengan istri saya, harus mencarinya di luar. Padahalnya dengan yang di luar pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama.

ET : Dapatkah kita mengatakan kalau orang-orang yang ingin mencari setrum baru itu besar kemungkinannya kwalitas phileonya ini memang mulai diragukan, jadi mungkin memang kedekatan persahabatan dengan pasangan ini rasanya perlu dievaluasi ya, Pak Paul?

PG : Sudah tentu itu bisa menjadi sumbang sih yang besar sekali, Bu Esther, jadi orang-orang ini memang sudah mempunyai masalah dalam pernikahan. Tapi saya tidak bisa menyangkali juga ada kasusdi mana hubungan nikahnya lumayan baik, namun orang-orang ini seolah-olah keranjingan dengan setrum-setrum romantis, setrum-setrum erotis ini sehingga akhirnya tetap mencari-cari yang di luar.

GS : Apa ada tahapan berikutnya?

PG : Ada yaitu tahap agape, inilah puncaknya dan sudah tentu tahapan ini tidak berarti hanya bisa ada di akhir pernikahan kita. Kasih agape adalah kasih searah sama seperti eros, namun bedanya rahnya itu terbalik.

Kalau eros arahnya dari dia kepadaku, kasih agape adalah arahnya dari aku kepada dia, kepada pasangan kita. Inilah kasih yang kita sebut kasih tanpa kondisi, sifat utamanya adalah memberi tanpa menghiraukan respons penerimanya. Jadi sungguh-sungguh kasih di sini hanya ingin memberikan tanpa menghiraukan apakah yang menerima kasih itu menunjukkan respons seperti yang kita inginkan. Kalaupun tidak memberikan respons seperti yang kita inginkan, cinta kita tetap kita berikan, jadi kita katakan agape itu tidak mementingkan diri sendiri. Agape hanya memikirkan dan berbuat sesuai dengan kepentingan si penerima kasih itu. Itu sebabnya penulis Alkitab menggunakan istilah agape untuk menggambarkan kasih Tuhan kepada manusia.
GS : Tapi manusiapun juga bisa melakukan sampai ke tingkat kasih agape itu, Pak?

PG : Bisa, karena sering kali bukan akibat pilihan kita, tapi akibat tempaan hidup dan akibat kuatnya dasar phileo. Jadi tanpa ada dasar phileo dapat saya katakan mustahil untuk menyempurnakan asih ini menjadi kasih agape.

Contohnya kita menghadapi badai kehidupan, diterjang oleh PHK misalnya atau kematian anak yang kita kasihi atau kehilangan rumah dan sebagainya. Namun suami-istri bahu-membahu menghadapi terjangan hidup yang begitu berat, saling menguatkan. Akhirnya apa yang terjadi misalkan kita adalah orangnya, kita akan benar-benar tersentuh dengan bantuan, cinta kasih, pengertian dari pasangan kita. Akibat dari semua itu adalah muncul kasih agape yaitu kasih yang ingin melindungi, memberikan dan menyayanginya. Meskipun akhirnya kita bertambah tua, tapi perasaan yang muncul bukannya justru mau menyingkirkan, tetapi menyayanginya sebagai sesuatu yang berharga, sebab dia berharga buat kita. Kita tidak lagi terpesona karena memang usia makin menanjak dan sebagainya, tapi kita merasakan dia adalah berharga buat kita, dia pernah begitu baik dan menolong kita sebagai sahabat.

ET : Kalau ternyata ini hanya sepihak saja bagaimana, Pak Paul?

PG : Itu bisa terjadi Bu Esther, yang satu tidak mempunyai kemampuan dan kematangan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki yaitu memberikan kasih agape, akhirnya pincang kalau seperti itu. Jadi trus-menerus cinta itu merupakan transaksi bagi mereka-mereka ini, aku memberikan engkau memberikan, aku berikan satu engkau berikan satu, ya susah.

Namun seharusnya melalui tempaan-tempaan hidup orang dibentuk Tuhan untuk memiliki kasih agape ini, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang tidak matang-matang, terus-menerus berhitungan seperti itu.

ET : Saya hanya membayangkan mungkin misalnya salah satu pihak memang benar-benar murni tanpa mengharapkan balasan tetapi pasangannya tidak tahu diri, malah mungkin mencari ke yang lain dan memerlakukan yang mengasihi dengan agape ini justru dengan perlakuan yang buruk ya.

PG : Itu yang kadang-kadang harus kita temui dalam hidup ini, di mana ada seseorang mengasihi pasangannya dengan kasih agape, memberikan tanpa kondisi sedangkan pasangannya tidak tahu diri, menalahgunakan kasih yang begitu besar.

Tapi dalam situasi seperti itu, kasih yang tetap ada adalah kasih agape sebab sungguh-sungguh dia tidak menerima apapun, tidak ada lagi yang dia bisa katakan inilah timbal baliknya dari yang saya berikan, tapi dia tetap mengasihi. Di sinilah cintanya menjadi seperti cinta Tuhan kepada manusia, meski kita berdosa tetap memberikan dirinya kepada kita.
GS : Tapi kalau tadi Pak Paul katakan eros itu tidak kekal, artinya bukan untuk jangka panjang apakah agape itu untuk jangka panjang, Pak Paul?

PG : Semakin cepat kita membentuk kasih agape, sebetulnya semakin memperkuat ikatan nikah kita. Tapi sekali lagi saya harus mengakui, Pak Gunawan, bahwa kita ini tidak bisa menciptakan kasih agpe dengan sendirinya.

Kita hanya bisa melewati situasi-situasi kehidupan dan taat kepada Tuhan melalui masalah-masalah yang kita hadapi dan tiba-tiba tanpa kita sadari kapan munculnya, cinta agape itu barulah mulai keluar. Tahunya dari mana kita mulai memiliki cinta agape? Nomor satu yang muncul dalam hati kita adalah perasaan tadi yang saya sebut sayang kepada pasangan kita, sayang bahwa dia itu berharga buat kita. Yang berikutnya kita benar-benar tahu tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk kita, tapi kita ingin memberikan diri kita kepadanya. Saya berikan satu contoh, Pak Gunawan dan Ibu Esther, saya pernah mendengar suatu kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang istrinya terkena penyakit sehingga lumpuh, harus diberikan makan, disuapi dan sebagainya tapi ke mana-mana dia bawa istrinya itu. Dan dia pernah berkata dalam bahasa Inggrisnya 'Biasanya istri itu dikatakan seperti tumbuh-tumbuhan, vegetable tapi dia berkata istri saya adalah tomat yang paling manis, jadi meskipun istrinya tidak bisa memberikan apapun untuk dia tapi tetap dia cintai. Nah itulah contoh kasih agape, yang kalau dia sendiri ciptakan saya rasa tidak mungkin. Tapi melewati peristiwa kehidupan itulah dia bisa memunculkannya.
GS : Jadi orang yang merasakan sentuhan kasih Allah dengan kasih agape, saya rasa akan menyalurkan kasih itu juga kepada pasangannya ya, Pak Paul. Tadi Pak Paul katakan di dalam Alkitab itu sering kali digunakan istilah agape, sebelum kita mengakhiri perbincangan kita mungkin ada bagian Alkitab yang bisa mendukung itu.

PG : Saya akan bacakan Markus 9:35, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Kasih agapediwujudnyatakan dalam bentuk yang nyata yaitu sebagai pelayan dan mendahulukan orang lain dan dengan rela kita ini yang terbelakang.

Dalam pernikahan kita harus ingat prinsip Tuhan, Tuhan pun datang untuk melayani dan mendahulukan yang dilayaninya yaitu kita manusia. Jadi hendaklah sebagai suami istri kita juga mewujudnyatakan cinta Tuhan dalam hidup kita, mendahulukan pasangan kita dan melayani dia. Dan kalau dua-dua bisa melakukan seperti itu, betapa indahnya pernikahan mereka.
GS : Kalau melihat sifat dari kasih agape itu bukan hanya ditujukan kepada pasangan kita, bisa ke anak, bisa ke keluarga lain, bisa ke orang lain yang bukan sanak keluarga kita. Apa betul seperti itu, Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi cinta yang memang kita sebarkan kepada semuanya.

GS : Terima kasih, Pak Paul dan Ibu Esther, untuk perbicangan kita saat ini dan saudara-saudara pendengar Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang suatu topik yaitu "Tahap Perkembangan Cinta dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



23. Menyikapi Perbedaan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T100A (File MP3 T100A)


Abstrak:

Perbedaan-perbedaan dalam pernikahan itu tidak otomatis akan hilang. Dan perbedaan itulah yang seringkali memikat kita sewaktu sebelum menikah. Akan tetapi kebalikannya setelah menikah perbedaan adalah hal-hal yang seringkali memisahkan kita dengan pasangan kita.


Ringkasan:

Di dalam pernikahan perbedaan-perbedaan itu tidak otomatis hilang. Saya ingin memberikan suatu catatan yaitu, pada waktu sebelum menikah perbedaan sering kali adalah hal-hal yang memikat kita. Kebalikannya setelah kita menikah perbedaan adalah hal-hal yang seringkali memisahkan kita. Kalau kita berhasil menyatukan diri kita, perbedaan-perbedaan itu akan melengkapi dan memperkuat. Itu betul sekali, tapi kalau kita tidak berhasil menyatukan diri kita dan mengharmoniskan hubungan kita, perbedaanlah yang akan menghancurkan pernikahan kita.

Masing-masing orang, khususnya suami dan istri harus mengambil sikap atau respons terhadap perbedaan, yang saya singkat dengan 3T :

  1. Akan ada perbedaan yang kita terima dengan hati lapang, kita senang dengan perbedaan itu karena perbedaan itu menguntungkan kita.

  2. T kedua adalah toleransi. Ada hal-hal yang harus kita toleransi, toleransi di sini tidak berarti saya bisa tidak menghiraukannya. Hal yang kita toleransi adalah hal yang menjengkelkan kita. Dalam hal ini dibutuhkan pengorbanan karena hati harus terus-menerus disakiti dan kesal. Ada hal-hal yang memang harus kita kompromikan dan sesuaikan dengan pasangan kita, tapi ada hal-hal yang mungkin itulah kekhasan kita dan tidak mudah untuk diubah. Orang yang selalu mengusahakan pasangannya berubah akan membuat pasangannya itu kehilangan dirinya, individualitasnya.

  3. T yang ketiga yaitu tolong. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita berubah hanya melalui perkataan, kita harus menolong dia berubah. Artinya kita harus terlibat dalam problem sehingga dia akhirnya bisa keluar dan memperbaiki atau berubah seperti yang kita harapkan.

Ada beberapa cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk menolong pasangan untuk berubah:

  1. Kita perlu memberikan penjelasan sedemikian rupa sehingga pasangan kita mengerti. Sering kali kita memberikan penjelasan melalui kaca mata kita, kita harus tanggalkan kaca mata kita, beri penjelasan melalui kaca mata pasangan kita.

  2. Bantu dia kerjakan atau usahakan bersama-sama. Dalam hal ini kita turut terlibat untuk melakukan pekerjaan bukan hanya dalam bentuk perintah saja. Kita perlu kerelaan hati untuk melakukannya, kita harus mengalahkan diri untuk berusaha ikut-ikut susah, karena akhirnya kita harus turun tangan.

  3. Menolong dalam pengertian memberikan ingatan atau mengingatkan. Ada hal-hal yang harus kita ingatkan hanya sekali, tapi ada hal yang harus kita ingatkan 1000 kali dan belum tentu ada perubahan. Jadi dalam pernikahan memang akan ada hal-hal yang sulit sekali berubah. Tapi ada hal yang bisa kita terima dengan mudah, kita sambut karena itu menguntungkan kita. Ada hal yang harus kita toleransi, ada hal yang kita ingin ubah.

Yang menjadi kunci, wujud atau bukti keharmonisan keluarga sebetulnya bukan berapa banyak yang kita terima, juga bukan berapa banyak yang kita toleransi karena itu menjengkelkan, tapi berapa banyak yang berhasil kita ubah melalui proses tolong-menolong.

Galatia 6:2, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Ayat ini indah sekali dan cukup keras, sebab firman Tuhan berkata kita memenuhi hukum Kristus tatkala kita saling menolong dan menanggung beban. Itu adalah wujud nyata, wujud konkret menanggung beban sesama kita, saling menolong dan dengan cara itulah kita memenuhi hukum Kristus. Jadi pernikahan adalah suatu ajang atau kesempatan untuk kita saling tolong.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Menyikapi Perbedaan dalam Pernikahan". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, di dalam kehidupan berkeluarga suami-istri maupun juga dengan anak-anak tetapi terutama di dalam hubungan suami-istri karena kita mempunyai latar belakang yang memang berbeda, karakter kita mungkin juga berbeda, hobby kita juga berbeda, dan banyak hal yang sebenarnya berbeda tetapi tetap memutuskan untuk menikah. Kemudian di dalam hubungan pernikahan perbedaan-perbedaan itu tidak otomatis hilang Pak Paul, nah masalahnya bagaimana kita harus menyikapinya?

PG : Saya setuju dengan pengamatan Pak Gunawan. Meskipun pada awalnya kita berkata memahami pasangan kita dan sudah menerima apa adanya, tapi kenyataannya setelah menikah kita tetap bergumulluar biasa untuk bisa hidup dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita berdua dan itu tidak mudah.

Jadi kali ini saya kira kita perlu melihat secara realistik, apa yang kita lakukan itu yang seharusnya kita lakukan dengan hal-hal yang membedakan kita. Sebelum kita mulai saya ingin memberikan suatu catatan, yaitu pada waktu sebelum menikah perbedaan adalah hal-hal yang sering kali memikat kita. Kebalikannya setelah kita menikah, perbedaan adalah hal-hal yang sering kali memisahkan kita.
GS : Contoh konkretnya itu bagaimana, Pak?

PG : Misalkan sebelum menikah seorang wanita menyukai pria karena orangnya teguh, stabil, tidak mudah diombang-ambingkan. Tapi setelah menikah kita menemukan bahwa yang namanya teguh, tidak udah diombang-ambingkan ternyata orang yang perasaannya kurang peka, orangnya agak kaku, nah orangnya itu memang jarang atau kurang bisa berkomunikasi dengan dia di rumah.

Jadi akhirnya setelah dia menikah justru hal yang dia sukai tentang suaminya yang teguh itu, sekarang dia cela bukannya dia panggil teguh tapi dia bilang kepala batu dan hatinya seperti kawat, kurang mempunyai perasaan. Atau seorang pria yang menyukai istrinya, mungkin istrinya itu orang yang bisa menghargai banyak hal, bisa menghargai keindahan, dia senang sekali. Setelah menikah rumahnya juga didandani dengan indah dan rapi, tapi setelah menikah setahun, dua tahun dia benar-benar tidak tahan lagi, kenapa? Sebab si istri mengatur semua hal dengan begitu sempurnanya, sehingga dia benar-benar tidak bisa sedikitpun rileks di rumah. Barang harus ditaruh dengan sempurna, jangan sampai ada yang kotor sedikitpun, nah nanti anak-anak sudah lahir lebih-lebih lagi muncul masalah. Sedikitpun anak tidak boleh bajunya lecek atau kotor, anak-anak tidak boleh mengotori dinding, akhirnya dia tidak tahan. Jadi hal yang justru memikat dia menjadi hal yang memisahkan dia nantinya.

ET : Padahal banyak orang tua mengatakan biasanya yang menyatukan itu memang harus ada perbedaan, katanya kalau orang yang bawel ketemu orang bawel nanti rumahnya terlalu ramai sehingga lebi baik salah satunya banyak bicara, satunya pendiam supaya seimbang.

Bagaimana dengan pandangan ini Pak Paul?

PG : Kalau kita berhasil menyatukan diri kita, perbedaan-perbedaan itu akan melengkapi dan memperkuat itu betul sekali. Tapi kalau kita tidak berhasil menyatukan diri kita, mengharmoniskan hbungan kita, perbedaanlah yang akan menghancurkan pernikahan kita.

Dan sekali lagi saya ingin memberikan catatan meskipun pada awalnya kita berkata banyak samanya saya dengan dia, senang musik, keindahan, seni, tapi setelah menikah tetap akan menemukan banyak hal yang berbeda. Meskipun dulu tinggalnya satu gang, sama-sama di satu komisi remaja, pemuda, kebaktian umum dan sebagainya. Tapi setelah menikah kita baru sadar, ternyata yang membedakan jauh lebih banyak daripada yang membuat kita sama dengan dia.
(1) GS : Nah kemudian kita kembali lagi bagaimana masing-masing suami-istri itu harus mengambil sikap?

PG : Saya akan berikan 3 respons yang saya singkat dengan 3T, inisialnya semua dimulai dengan huruf T. Yang pertama adalah akan ada perbedaan yang kita terima dengan hati lapang, justru kitasenang dengan perbedaan itu karena perbedaan itu menguntungkan kita.

Misalnya kita orang yang tidak bisa mengatur keuangan, misalnya saya berkata: "Aduh saya kalau pegang uang Rp. 1.000,- hari itu pasti habis. Nah misalkan saya menikah dengan seseorang yang begitu cakap dalam memegang keuangan, akhirnya dia yang mengatur keuangan sehingga saya bisa menabung. Perbedaan itu harus dihargai misalnya disambut, jangan mengkritik, karena perbedaan yang kita terima dengan hati lapang pasti menguntungkan kita.
GS : Dalam hal itu yang diuntungkan bisa menerima, tapi yang pihak satunya akan merasa misalnya itu tadi justru si istri yang mengelola keuangan. Dia bisa merasa bebannya diberikan kepadanya, kamu enak saja cuma cari lalu semua dipasrahkan ke saya.

PG : Nah untuk si istri misalkan tadi ya Pak Gunawan, saya akan masuk ke T yang kedua adalah toleransi. Ada hal-hal yang harus kita toleransi, toleransi di sini tidak berarti mencuekkan, tidk menghiraukan.

Hal yang kita toleransi adalah hal yang menjengkelkan kita, dalam contoh tadi si istri harus menoleransi si suami yang tidak bisa pegang uang. Dia sudah ajarkan, dia sudah beritahukan sampai berapa kali tetap si suami tidak bisa pegang uang dan tidak bisa mengatur uang. Akhirnya si istri misalkan terpaksa menerima dengan bersungut-sungut sisi suaminya yang memang mengganggu dia.
GS : Di situ dibutuhkan pengorbanan ya Pak Paul, kalau sudah sampai ke toleransi?

PG : Pengorbanan karena hatinya harus terus-menerus disakiti dan kesal.

GS : Cuma masalahnya apa dia bisa bertahan lama, bisa mentolerir seumur hidup?

PG : Saya kira ada yang bisa, ada yang tidak tapi adakalanya ada hal-hal yang terpaksa kita toleransi untuk waktu yang lama.

ET : Berarti kalau begitu, toleransi dalam waktu yang lama bisa atau tidak akhirnya dia sudah masuk ke T yang pertama itu tadi, Pak Paul?

PG : Dia terima tapi bukan dihargai ya, jadi tetap T yang kedua. Satu hari kami pernah mengadakan sebuah retreat dan dalam retreat itu yang bicara adalah Pdt. Robert Coleman. Dia seorang Proessor Theologi di sebuah sekolah di Amerika Serikat.

Dia dan istrinya datang, saya senang sekali dengan apa yang dikatakan oleh istrinya tentang bagaimana menjaga hubungan suami-istri, mereka usianya sudah lanjut 60-an lebih. Nah istrinya berkata ada hal-hal yang tidak mudah berubah dan akan terus menjadi bagian hubungan suami-istri untuk waktu yang sangat lama. Mereka sudah menikah mungkin 40 tahunan dan tetap dia berkata ada hal-hal yang tidak mudah berubah dan sampai sekarang masih mengganggu. Saya kira itu dalam kategori hal yang harus dia toleransi. Hal yang harus kita toleransi tidak selalu menjadi hal yang buruk untuk pernikahan, karena begini Pak Gunawan dan Ibu Esther, seseorang memerlukan ruang untuk menjadi dirinya, ruang ini saya sebut individualitas. Ada hal-hal yang memang kita harus kompromikan, sesuaikan dengan pasangan kita, tapi ada hal-hal yang mungkin kekhasan kita dan tidak mudah untuk kita ubah. Orang yang selalu mengusahakan pasangannya berubah akan membuat pasangannya itu kehilangan diri, individualitasnya. Jadi ada hal-hal yang kita terpaksa toleransi, kadang-kadang itu juga berguna untuk keharmonisan pernikahan itu sendiri sebab orang yang kehilangan individualitasnya, kehilangan dirinya mungkin akan menjadi pasangan yang sangat tidak bahagia dan makin membuat hati kita kesal. Waktu kita memberikan ruang buat dia menjadi dirinya, meskipun menjengkelkan kita tapi akhirnya berimbas positif untuk pernikahan kita.

ET : Tapi mungkin ada orang yang mengatakan, saya akan toleransi sampai batas tertentu. Kalau ternyata sudah sampai di sini tidak, rasanya tetap saja, tidak berubah, karena bukannya malah leih baik tapi sepertinya malah makin lebih tidak peduli atau semakin bagaimana, begitu.

Jadi bagaimana untuk orang yang mengeluhkan toleransi seperti itu?

PG : Sudah tentu saya kira kecenderungan mendasar kita adalah mencoba mengubah, saya kira itu yang akan kita lakukan ya, yang kita tidak bisa toleransi akan coba kita ubah. Nah ini yang sayakira perlu kita perhatikan, kecenderungan kita waktu mau mengubah pasangan, kita melakukannya dengan cara memintanya berubah.

Kita menyampaikan "Saya tidak suka kamu berbuat ini...ini dan saya mengharapkan kamu berbuat itu..itu." Masalahnya yang saya sudah temukan, orang tidak berubah hanya melalui pemberitahuan, jadi dengan cara apakah orang berubah? Saya kira masuk ke T yang ketiga yaitu tolong. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita berubah hanya melalui perkataan kita, berubahlah kamu seperti yang saya kehendaki, kita harus menolong dia berubah. Artinya kita harus terlibat dalam problem (yang kita anggap problem itu) sehingga akhirnya dia bisa keluar dan memperbaiki atau berubah seperti yang kita harapkan.

ET : Berarti dalam hal ini komunikasi ya Pak Paul, yang sering saya lihat orang merasa punya harapan atau pikiran maka dia harusnya mengerti dengan sendirinya. Kita sudah sekian tahun menika, seharusnya dia mengerti kalau saya berharap dia berubah.

Jadi keinginan untuk saling berharap perubahan ini tidak pernah dikomunikasikan.

PG : Kadang kala tidak dikomunikasikan, jadi disimpan saja hanya dia mengharapkan pasangannya bisa mengerti dengan sendirinya dan sebenarnya itu keliru. Yang kita harapkan harus kita sampaikn, jangan berpikir tanpa saya sampaikan dia sudah seharusnya mengerti.

Jadi kalau mau mendapatkan kita harus minta, itu prinsipnya. Tapi saya juga mengerti Ibu Esther, mungkin ada orang-orang yang berkata saya sudah berusaha keras tapi tetap begitu. Nah untuk orang seperti ini saya ingin meminta dia mengecek ulang, apakah yang dia lakukan meminta atau menolong, sebab sering kali yang kita lakukan meminta, saya sudah sampaikan, saya sudah minta dia berubah, seperti yang tadi diusulkan ya tapi tidak berubah juga. Saya kira salah satu kuncinya adalah kita kurang terlibat dan menolong pasangan kita untuk berubah.
(2) GS : Ya mungkin kalau ada pasangan yang sebatas meminta Pak Paul, tadi Bu Esther katakan karena dia yakin sebenarnya pasangannya bisa itu berubah, makanya diminta-minta terus. Tetapi kenyataannya tadi yang Pak Paul katakan juga, dimintapun dia tidak akan berubah, lalu Pak Paul katakan tolong dan cara menolongnya itu bagaimana?

PG : Ada beberapa cara kreatif yang bisa kita lakukan. Yang pertama adalah kita perlu memberikan penjelasan sedemikian rupa sehingga pasangan kita mengerti. Sering kali kita memberikan penjeasan melalui kacamata kita, kita harus tanggalkan kacamata kita, beri penjelasan melalui kacamata pasangan kita.

Contohnya begini, seorang istri berkata kepada suaminya: "Kamu harus lebih memperhatikan saya jangan memperhatikan orang di luar" nah suami itu mungkin tidak begitu mengerti yang benar-benar dimaksud oleh istrinya. Jadi apa yang bisa dilakukan oleh si istri misalkan begini, si istri kemudian memberikan contoh "Suamiku, boleh atau tidak saya berikan contoh untuk melukiskan perasaan saya, misalkan kamu itu mendapatkan promosi bersama dengan 9 rekan-rekanmu. Sembilan rekanmu mendapatkan promosi mobil, kamu satu-satunya yang mendapatkan promosi tapi hanya diberikan sepeda motor, apa rasanya? Kamu akan merasa bahwa atasanmu itu tidak adil, lebih memperhatikan yang 9 rekan itu. Itu yang saya rasakan, sewaktu engkau memberikan perhatian yang lebih besar kepada pekerjaanmu atau orang di luar dibandingkan saya di sini. Saya merasa saya itu kamu yang hanya mendapatkan sepeda motor dan orang lain di luar mendapatkan mobil." Nah contoh-contoh seperti itu memang perlu pemikiran kreatif, tapi contoh seperti itulah yang lebih bisa ditangkap oleh seseorang.

ET : Masalahnya nanti istrinya merasa kalah, misalnya tadi kasusnya istri yang mengeluh lalu istrinya bilang: "Wah....saya bicara seperti ini nanti suami lebih pintar bicara, jadinya saya kaah."

PG : Bisa jadi ya, tapi kalau saya kira istri bicara dengan baik-baik dan berkata: "Ini yang saya rasakan," kemudian diam, biarkan suaminya pikir. Saya kira ilustrasi tadi akan bicara jelas epada si suami.

Atau misalnya si suami yang mempunyai masalah, dia merasa istrinya lebih mendengarkan nasihat kakaknya, orang tuanya dibandingkan dari masukan dia. Kalau dia memberikan pendapat istrinya bilang OK, lalu dia tanya sama papanya, tanya sama mamanya, tanya sama kakaknya dan bertentangan dengan pendapat si suami, si istri mengikuti pendapat keluarganya. Nah si suami bisa berkata kepada istrinya, "Istriku, ini perasaan saya kepadamu sewaktu saya memberikan masukan, engkau lebih mendengarkan nasihat kakak atau orang tuamu. Misalkan engkau itu sudah memilihkan sebuah dasi untukku yang bagus dan kau suka dengan dasi itu, kamu berkata kepada saya: "Ini bagus sekali dan cocok untukmu" kemudian saya itu menengok ke salesgirlnya yang menjual dasi dan bertanya kepada dia: "Dasi mana yang cocok buat saya?". Salesgirl menunjuk dasi yang lain dan kemudian di depan di depan mata istri si suami itu memilih dasi yang dipilih oleh si salesgirl tersebut, bagaimana perasaanmu?" Jadi si suami bisa menjelaskan kepada si istri "Ini perasaan saya sewaktu kamu tidak menghargai masukan saya malah mendengarkan masukan orang lain, sama seperti kamu memberikan dasi kemudian menyuruh memakainya, terus saya memilih dasi yang diberikan oleh salesgirl, itu perasaannya." Contoh-contoh ini memang harus dipikirkan, tapi saya kira kalau tepat lebih komunikatif.
GS : Selain menggunakan ilustrasi-ilustrasi, apakah yang bisa dilakukan karena mencari ilustrasi itu juga agak sulit, Pak Paul?

PG : Yang lain adalah bantu dia, kerjakan bersama-sama. Jadi misalkan pasangan kita itu kamarnya agak berantakan, kita bisa berkata: "Ayo....saya bantu kamu untuk membereskannya," jadi meman kita harus bekerja juga, repot juga, tapi sering kali lebih efektif daripada kita hanya perintahkan "Kamu bersihkan kamarmu biar rapi!" nah kalau kita berkata: "Barang ini ditaruh di mana, ini taruh di mana, sebaiknya simpan di mana" dan kita kerjakan bersama dengan dia, kemungkinan itu akan terjadi.

Mungkin perlu berkali-kali, tapi tetap hal itu akan lebih berhasil daripada kita sekadar memarahi dia untuk lebih rapi.

ET : Dengan kata lain kerelaan hati mungkin Pak Paul, biasanya kalau sudah jengkel kita menuntut ayo mengerti dong, berarti memang mengalahkan diri untuk kemudian berusaha ikut-ikut. Susah kalau begitu ya?

PG : Itu yang susah karena akhirnya kita harus turun tangan, tapi tetap tingkat keberhasilan akan jauh lebih tinggi kalau kita turun tangan, menolong, bekerja sama-sama dibandingkan kita hana menyuruhnya melakukan itu.

Misalkan kita minta suami kita mengganti lampu, kita mengeluh sampai 5 bulan juga tidak diganti. Nah yang bisa kita lakukan adalah kita beli lampu itu kemudian kita membawa tangga masuk ke dalam rumah dan minta dia: "Tolong bawa tangga ini ke bawah lampu itu," Pasti suami kita langsung membawanya dan lampu itu kita berikan supaya dibetulkan. Setelah dia turun "Tolong taruh tangga di belakang ya." Jadi memang harus ada yang dia lakukan dan dilakukannya bersama-sama, itu lebih bisa saya kira.

ET : Bagaimana dengan istri yang merasa harusnya dia sadar, tapi dengan cara itu dia membawa tangga sendiri dan naik sendiri (PG: Akan menggerutu terus-menerus). Berarti bukan menolong juga ya?

PG : Bukan menolong.

GS : Tetapi sesaat itu bisa teratasi tetapi ada juga hal-hal yang sifatnya agak menetap, misalnya kebiasaan jelek dan sebagainya itu pasangannya tidak mau dirubah. Nah dalam hal itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Ini hal yang ketiga Pak Gunawan, dalam pengertian memberikan ingatan, mengingatkan. Nah saya harus bicara realistik, ada hal yang harus kita ingatkan hanya sekali, tapi ada hal yang hars kita ingatkan 1000 kali.

Dan ini yang lebih tidak enak, ada hal yang harus kita ingatkan 10.000 kali dan belum tentu ada perubahan. Jadi dalam pernikahan memang akan ada hal-hal yang sulit sekali berubah. Tapi sekali lagi, ada hal yang bisa kita terima, kita sambut dengan mudah karena itu menguntungkan kita. Ada hal yang harus kita toleransi, hal-hal yang ingin kita ubah, kita tolong untuk dia berubah tapi proses menolong dia untuk berubah itu bisa berlangsung mungkin berpuluhan tahun.

ET : Tadi Pak Paul katakan ada yang perlu satu kali saja dan 10.000 dan seterusnya, bedanya bagaimana Pak Paul, kapan yang memang sudah cukup sekali ya sudah?

PG : Misalkan kita sudah mencoba berikan melalui ilustrasi yang jelas beberapa kali belum ada perubahan. Kita mencoba membantu, kerja sama yang tadi saya sudah bagikan juga tetap tidak dilakkan, susah benar bergeraknya.

Nah akhirnya apa yang bisa kita lakukan terus ingatkan, tolong ini, ini kerjakan lagi terus begitu. Setiap kali kita harus minta, setiap kali kita harus ingatkan dan setelah kita ingatkan baru dikerjakan, selalu begitu dan mungkin itu akan terus berlangsung sampai berpuluhan tahun.
GS : Tapi mungkin orang lebih mengambil jalan pintasnya daripada mengingatkan lebih baik dia kerjakan sendiri, lebih cepat selesai dan sudah tidak perlu bingung, Pak Paul?

PG : Akhirnya ada yang begitu juga dan ada yang harus kita lakukan seperti itu daripada kita ribut-ribut ya sudah kita kerjakan sendiri.

GS : Tapi saya rasa sikap seperti itu tidak membantu pasangannya untuk bertumbuh, untuk menjadi baik karena berarti kita tinggalkan dia.

PG : Betul, jadi yang memang menjadi kunci atau wujud atau bukti keharmonisan keluarga sebetulnya bukan berapa banyak yang kita terima, yang kita terima itu memang ya sudah ada dan memang meguntungkan kita.

Juga bukan berapa banyak yang kita toleransi karena itu menjengkelkan, tapi sebetulnya berapa banyak kita berhasil ubah melalui proses tolong-menolong. Saya kira ini memang konsep yang Alkitabiah, Alkitab berkata Tuhan menciptakan wanita agar menjadi penolong bagi suami. Jadi hubungan pernikahan pada dasarnya hubungan saling menolong.
GS : Apa ada ayat yang bisa menjadi suatu kesimpulan atau mendasari pembicaraan itu, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Galatia 6:2 "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus". Indah sekali dan cukup keras ayat ini Pak Gunawan, ebab firman Tuhan berkata kita memenuhi hukum Kristus tatkala kita saling menolong dan menanggung beban.

Itu adalah wujud nyata, wujud konkret menanggung beban sesama kita, saling-menolong dan dengan cara itulah kita memenuhi hukum Kristus. Jadi pernikahan saya kira adalah suatu ajang, kesempatan untuk kita saling menolong, harus dua belah pihak karena kalau satu pihak saja yang menolong yang satunya diam-diam akan meletihkan. Jadi memang dua-dua harus sadar, dua-dua harus saling membantu dan turun tangan, pasti mengotori tangan, tidak bisa tangan bersih kalau hanya menyuruh-nyuruh pasangan kita berubah, itu tidak akan terjadi.
GS : Dan pihak yang ditolong harus rendah hati untuk mau ditolong ya Pak Paul, karena tanpa itu tidak akan memenuhi hukum Kristus.

ET : Selain rendah hati mungkin kepekaan juga. Jadi orang benar-benar tidak merasa ketika diajak, ketika mau diberi ilustrasi tidak mengerti, diajak juga tidak mengerti, memang harus membuka hati ya?

PG : Ya, peka penting sekali di situ, kalau sudah tidak peka seolah-olah pintu sudah ditutup, apapun yang kita lakukan tidak bisa masuk lagi.

GS : Jadi terima kasih, Pak Paul untuk pembicaraan ini. Saya rasa ini akan membantu banyak pasangan di dalam kehidupan keluarganya yang tidak terbebas dari perbedaan-perbedaan yang ada.

Saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi kami telah menyampaikan ke hadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menyikapi Perbedaan dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



24. Komunikasi dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T100B (File MP3 T100B)


Abstrak:

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam pernikahan, bahkan dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah denyut pernikahan. Dan setiap orang tentu akan bertanya atau ingin melakukan bagaimana sebenarnya komunikasi yang baik dan benar itu, terutama komunikasi dengan pasangan kita.


Ringkasan:

Komunikasi sangatlah penting, komunikasi itu saya sebut sebagai denyut pernikahan.
Komunikasi terbagi dalam 2 jenis:

  1. Komunikasi verbal, yakni kata-kata yang kita ucapkan.

  2. Komunikasi non-verbal, yaitu bukan melalui kata-kata yang kita ucapkan tapi kita berkomunikasi melalui bahasa tubuh kita.
    Contoh, kita menunjukkan mimik muka tidak suka sewaktu istri kita mengutarakan pendapatnya, kita belum mengatakan apa-apa terus istri kita sudah melihat perubahan mimik wajah kita. Bahasa non-verbal ini jauh lebih besar atau lebih kuat pengaruhnya di dalam memberi makna komunikasi. Ini lebih mempunyai dampak dibandingkan bahasa verbal. Kita menafsir makna dari yang dikatakan oleh orang sebetulnya bukan berdasarkan ucapannya, kita lebih menafsir berdasarkan bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh bisa jadi juga merupakan sikap secara langsung.

Ada satu istilah yang ditemukan oleh para ahli komunikasi yaitu berkomunikasi secara asertif. Bahasa Inggrisnya "assertive" yang muncul dengan arti kata "to assert" itu berarti menyatakan pendapat. Jadi asertif berarti utarakan isi hati dengan tepat dan tidak agresif.

Ada 5 hal tentang komunikasi asertif:

  1. Orang yang berkomunikasi secara asertif adalah orang yang mengutarakan perasaannya. Perasaan memegang peranan yang besar sekali dalam komunikasi. Karena lawan bicara kita ingin tahu perasaan kita saat kita mengutarakan pandangan atau pendapat kita. Orang yang berkomunikasi dengan asertif pertama-tama harus jelas dulu dengan perasaan hatinya dan itu yang dia komunikasikan kepada pasangannya.

  2. Sampaikan permintaan atau harapan kita dengan jelas. Dalam berkomunikasi hindarilah memberi peluang bagi pasangan kita untuk mereka-reka maksud kita, tujuan dan maksudnya harus kita sampaikan dengan jelas. Kalau kita mengharapkan pasangan kita berubah dalam hal tertentu, kita sampaikan dengan jelas, jangan ngomongnya mutar-mutar.

  3. Bagikan pengamatan kita. Jadi waktu kita berbicara apalagi dalam hubungan suami-istri, jangan kita menuduh orang dengan cepat dan hindarkan penggunaan kata-kata kamu-kamu, kamu begini, kamu begitu, jangan! Sebaiknya adalah kita katakan saya merasa kecewa karena ini.......

  4. Silakan atau bersedialah memeriksa ulang pengamatan kita. Yang kita katakan belum tentu dilakukan dengan sengaja oleh pasangan kita. Dan maksud dia melakukan itu mungkin sekali berbeda dari yang kita duga. Bersedialah memeriksa ulang, benar tidak yang saya katakan tadi, betul tidak yang tadi saya amati, betul tidak yang saya lihat.

  5. Jangan gunakan kata-kata yang kasar. Berusahalah sebaik mungkin untuk menguasai diri di dalam kata-kata maupun di dalam bahasa tubuh. Meskipun kita telah melakukan semua yang tadi kita bicarakan, tidak tertutup kemungkinan kita akan bertengkar. Kalau sampai terjadi pertengkaran, jangan gunakan kata-kata yang kasar. Hindarkanlah pemakaian kata-kata seperti itu, dan salah satu saran saya yang harus kita lakukan setelah pertengkaran adalah jangan lupa untuk menyampaikan penghargaan.

Jika di dalam pertengkaran yang diserang justru pribadinya, bukan masalahnya, itu akan membuat luka yang dalam.

Efesus 4:29, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."

Pakailah kata-kata yang membangun, bukan kata-kata yang kotor. Ini adalah permintaan Tuhan pada kita semua. Supaya orang yang mendengarnya beroleh kasih karunia. Yang kita harus ingat, kita adalah pemberi kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan perbincangan kami kali ini akan kami beri judul "Komunikasi dalam Pernikahan". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, masalah komunikasi dalam pernikahan memang cukup sering dibahas, tetapi karena ini menjadi suatu masalah yang sering kali timbul di dalam hubungan pernikahan khususnya suami-istri, maka saya rasa pada pendengar kita tentu juga ingin banyak tahu lebih banyak tentang komunikasi. Nah sebenarnya seberapa penting komunikasi itu di dalam hubungan pernikahan?

PG : Sangat penting sekali, Pak Gunawan, komunikasi saya sebut sebagai denyut pernikahan. Kita tahu bahwa dalam pernikahan yang bermasalah, komunikasi menjadi bermasalah, tapi kebalikannya jga bisa betul yakni komunikasi bermasalah melahirkan pernikahan yang bermasalah.

Jadi sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa komunikasi sangatlah penting, itu adalah denyut pernikahan kita.
GS : Dalam hal pengertian seperti yang tadi Pak Paul katakan, apakah komunikasi itu hanya kalau kita berbicara satu dengan yang lain atau kalau lagi bertengkar. Bertengkarpun bisa disebut komunikasi ya Pak, nah apakah hal-hal seperti itu yang dimaksudkan?

PG : Komunikasi terbagi dalam 2 jenis, yang pertama kita sebut komunikasi verbal yakni kata-kata yang kita ucapkan dan yang kedua komunikasi nonverbal. Yaitu bukan melalui kata-kata yang kit ucapkan tapi kita berkomunikasi melalui bahasa tubuh.

(ET : Contohnya bagaimana Pak Paul?), komunikasi nonverbal biasanya begini Bu Esther, kita menunjukkan mimik muka tidak suka sewaktu istri kita mengutarakan pendapatnya, kita belum mengatakan apa-apa lalu istri kita sudah melihat perubahan mimik wajah kita. Selagi kita berkata-kata menyampaikan pendapatnya, sebetulnya dia juga berusaha untuk menangkap reaksi kita. Nah waktu kita menunjukkan mimik wajah yang berubah itu, dia sudah mendapatkan jawabannya, misalnya jawabannya bagi dia adalah kita tidak suka dengan pendapatnya itu. Namun yang keluar dari mulut kita adalah "Ya silakan kalau kamu mau jalani", nah mungkin si suami misalkan kita yang menjadi suami berpikir dengan berkata seperti itu kita sudah berusaha mencapai titik netral, kita tidak menghalangi istri kita, kita juga tidak mendorong, kita hanya berkata silakan. Misalkan setelah kita berkata silakan kalau engkau ingin jalani, terjadilah reaksi yang keras dari istri kita dan dia berkata: "Kenapa kamu tidak suka kalau saya hendak melakukan ini dan itu, nah kita mungkin menjawab: "Saya tidak bilang tidak suka, saya bilang silakan kalau engkau ingin jalani,"; "Tapi tidak, saya memang tahu kalau kamu tidak suka." Yang terjadi adalah istri membaca bahasa tubuh kita. Bahasa tubuh kita sudah mengkomunikasikan ketidaksetujuan pada pendapatnya itu, meskipun yang muncul dari mulut kita akhirnya adalah silakan, tapi sudah terlanjur dibaca oleh istri kita adalah kita tidak setuju. Nah itu cukup memicu untuk terjadinya pertengkaran.

ET : Sepertinya bahasa nonverbal lebih besar pengaruhnya, lebih kuat memberi makna di dalam komunikasi ya, Pak Paul?

PG : Memang demikian, sebetulnya bahasa nonverbal jauh lebih berpengaruh, lebih mempunyai dampak dibandingkan bahasa verbal. Kita menafsir makna dari yang dikatakan oleh orang sebetulnya bukn berdasarkan ucapannya, kita lebih menafsir berdasarkan bahasa tubuhnya.

Bahasa tubuh bisa jadi, misalnya sikap secara langsung kita misalnya tidak melihat, kita tidak menoleh sewaktu suami kita sedang berbicara. Kita tidak begitu suka dengan yang dia katakan, kita hanya menoleh dan kita misalkan mengerjakan tugas kita yang lain, menyirami tanaman atau apa, nah suami kita kemudian marah misalnya berkata: "Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataan saya" misalkan si istri berkata: "Saya dengarkan,"; "Ya tapi kamu menyiram!"; "Ya tapi saya dengarkan." Nah itulah yang biasanya menjadi pertengkaran di rumah kita, sekali lagi yang dibaca adalah bahasa tubuh dan ternyata memang bahasa tubuh itu luar biasa berpengaruhnya.
GS : Ya tetapi bisa saja orang itu salah membaca bahasa tubuh dari partnernya?

PG : Betul, jadi kadang-kadang memang muncul kesalahan, menafsir bahasa tubuh itu bisa terjadi. Tapi yang lebih sering terjadi, sebetulnya bahasa tubuh dan bahasa ucapan tidak sama, tidak klp.

Tadi yang saya sudah paparkan contohnya si suami berkata: "Ya silakan kalau kamu mau jalani," seolah-olah dia memberikan kebebasan mau pilih yang mana ya silakan. Tapi dengan bahasa tubuhnya menunjukkan dia tidak suka, terjadilah di sini ketidakklopan antara yang diucapkan dan bahasa tubuh yang ditunjukkan. Kita melihat dari contoh tadi, si istri mendasari kesimpulannya bukan atas bahasa ucapan tapi atas bahasa tubuh. Jadi memang yang sering kali menjadi masalah kalau tidak sinkron dan kalau tidak sinkron sering kali kita mendasari kesimpulan kita atas bahasa tubuh, bahasa ucapan kita kesampingkan.
GS : Ada yang lebih pandai lagi di dalam mengemukakan pendapatnya ini Pak Paul, sehingga kelihatannya sinkron antara kata-katanya dan bahasa tubuhnya. Tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya itu ada faktor yang bertentangan sebenarnya.

PG : Betul, ini salah satu masalah dalam komunikasi Pak Gunawan, ada orang yang misalkan sebagai contoh pasif dan sewaktu misalnya istrinya mengutarakan pandangan atau pendapat, bertanya: "Kmu setuju tidak?" dia menjawab: "Saya setuju" dan waktu dia menjawab saya setuju bahasa tubuhnya juga menunjukkan OK saya setuju.

Masalahnya adalah dia orang yang tidak bereaksi dengan cepat apalagi terhadap ketidaksetujuan, dia perlu waktu lebih lama untuk memikir ulang yang telah dia dengarkan tadi. Nah seminggu kemudian tiba-tiba dia marah, dia marah karena dia berkata kepada istrinya: "Kamu terlalu mendesak saya!" si istri terkejut: "Kapan saya mendesak kamu?"; "Minggu lalu"; "Minggu lalu apa yang terjadi?"; "Ya waktu kamu mengutarakan pendapatmu, saya tidak setuju". Nah si istri marah dan berkata: "Kenapa engkau tidak bilang?"; "Ya saya tidak bisa bilang, sebab kamu mendesak saya" nah itu juga sering terjadi Pak Gunawan, sinkron tapi kesinkronan yang tidak merefleksikan isi hati.

ET : Walaupun tampaknya secara natural kita sering kali lebih berusaha menutupi bahwa memang sebenarnya bahasa tubuh kita sudah berbicara dengan verbal, kita masih katakan: "O.....tidak sayatidak apa-apa atau OK saya setuju" dan ketika orang sudah menebak kita tetap menyangkali.

PG : Betul, jadi memang kalau kita sudah menyadari pentingnya kesinkronan bahasa tubuh dan bahasa ucapan, kita berusaha menyinkronkan untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin kita tunjukkan. ering kali kita begitu, Bu Esther.

(2) GS : Kalau begitu bagaimana komunikasi yang baik dan benar itu?

PG : Ada satu istilah yang ditemukan oleh para pakar komunikasi yaitu berkomunikasi secara asertif bahasa Inggrisnya "assertive" yang muncul dengan arti kata to assert, itu berarti menyataka pendapat.

Jadi asertif berarti mengutarakan isi hati dengan tepat dan tidak agresif, kira-kira itu definisi umumnya. Saya akan mencoba jabarkan, Pak Gunawan, kira-kira ada 5 hal tentang komunikasi asertif. Yang pertama, orang yang berkomunikasi secara asertif adalah orang yang mengutarakan perasaannya. Tadi dalam contoh-contoh yang telah kita bahas, kita sudah membahas bahwa orang atau pasangan kita menafsir tindakan kita, perbuatan kita, bahasa tubuh kita baru menyimpulkan artinya. Jadi kata-kata yang kita ucapkan itu dinomorduakan, nah apa yang ditafsir sewaktu bahasa tubuh itulah yang dilihat, yang ditangkap? Ternyata perasaan. Jadi dengan kata lain perasaan memegang peranan yang besar sekali dalam komunikasi. Karena lawan bicara kita akan ingin tahu perasaan kita saat kita mengutarakan pandangan atau pendapat kita. Kalau suami kita melihat kita memang sudah punya perasaan tidak suka dengan yang dia tuturkan, itu akan cenderung mewarnai komunikasinya. Jadi orang yang berkomunikasi dengan asertif, pertama-tama harus jelas dulu dengan perasaan hatinya dan itu yang dia komunikasikan kepada pasangannya. Ya misalkan dia berkata: "Saya tidak suka dengan tindakan itu atau saya tidak bahagia melihat ini atau saya kecewa sekali,". Jadi kita perlu mengenali dulu apa perasaan kita dan itu yang kita bagikan, sehingga pasangan kita jelas tahu apa yang ada dalam isi hati kita. Kalau misalkan kita merasa netral, kita juga bilang terus terang saya merasa netral tentang hal ini, namun saya ingin memaparkan pandangan saya tapi saya netral terus terang. Itulah perasaan kita dan itu yang ingin didengar oleh pasangan kita. Contoh lain lagi yang bisa kita lakukan adalah kita berkata: "Saya akan mengatakan yang saya katakan ini, tapi terus terang saya ini merasa susah sekali mengatakannya karena memang saya tidak suka mengatakan hal-hal seperti ini." Jadi pasangan kita tahu bahwa waktu kita mengatakan misalnya kritikan itu kita bukan sedang menikmati menyakiti hatinya, dan bahwa mengkritik adalah hal yang sulit buat kita.
GS : Tapi tidak semua orang itu bisa menerima keterusterangan kita Pak Paul, kalau masalah-masalah seperti itu misalnya kita sedang marah atau jengkel kita utarakan apa adanya, belum tentu pasangan bisa menerima.

PG : Sering kali ini perlu dilatih, Pak Gunawan, sebab memang kita ini tidak dikondisikan untuk mengutarakan pasangan kita dengan jelas. Kita menjadi orang yang sering kali bingung dengan peasaan kita, nah kalau kita saja sudah bingung dengan perasaan kita apalagi orang terhadap perasaan kita.

Saya berikan contoh yang klasik yang sering kali terjadi, Pak Gunawan. Seorang istri menunggu suaminya pulang, janji pulang jam 06.00 tidak pulang sampai jam 09.00, tapi tidak menelepon dulu. Begitu pulang jam 09.00 apa yang akan terlontar dari mulut si istri? Kemarahan: "Kenapa kamu tidak telepon, saya menunggu-nunggu khawatir," marah. Sebetulnya waktu 3 jam itu dia menantikan si suami yang dia rasakan apa, kecemasan, takut kalau-kalau suaminya mengalami kecelakaan, tapi begitu suaminya pulang yang muncul adalah perasaan marah. Nah sekali lagi di sini kita tahu memang kita kadang-kadang enggan mengatakan saya takut kehilangan kamu, malu bicara seperti itu, lebih nyaman langsung memaki-maki pasangan kita. Sekali lagi inilah yang akan menjadikan komunikasi kita itu bermasalah, kalau kita tidak jelas dengan perasaan kita. Kita bisa bayangkan betapa mulusnya komunikasi itu kalau si istri misalnya langsung berkata: "Tiga jam kamu tidak memberikan kabar kepada saya, saya menunggu dalam ketegangan dan ketakutan, saya khawatir kamu mengalami kecelakaan," itu bisa langsung diselesaikan.

ET : Tapi mungkin ini berkaitan dengan budaya tertentu mungkin, yang sepertinya mentabukan perasaan-perasaan negatif. Kalau memang merasa cemas, merasa marah ya jangan disampaikan begitu.

PG : Saya kira berpengaruh sekali, itu saya setuju. Budaya-budaya tertentu memang tidak mendorong orang untuk mengenali apalagi mengekspresikan perasaannya. Namun kalau kita melihat dari seg komunikasi yang sehat di mana kedua orang bisa berelasi dengan akrab dan tepat, tidak bisa disangkali mengutarakan perasaan adalah hal yang penting dalam komunikasi yang efektif.

PG : Selain perasaan, apa Pak Paul yang penting di dalam komunikasi?

PG : Menyampaikan permintaan atau harapan kita, hindarilah peluang pasangan kita mereka-reka maksud kita. Jadi tujuannya apa, maksudnya apa harus kita sampaikan dengan jelas. Kalau kita mengarapkan pasangan kita berubah dalam hal apa, kita sampaikan juga jangan bicara berputar-putar misalnya.

Kalau kita memang dengan tujuan tidak mau mengkritik dia secara kasar, kita cuma tidak tahu bagaimana memilih kata-katanya, kita sampaikan juga. "Mungkin yang ingin saya sampaikan ini tidak tepat, karena saya tidak tahu memilih kata-kata yang pas, jadi maaf kalau kata-kata saya terlampau menyakiti hati kamu." Nah tujuannya saya bukan untuk menyakiti kamu, ini yang saya ingin katakan baru kita bicara. Jadi waktu berbicara jelaskan juga tujuan kita. Sering kali masalah timbul dalam komunikasi karena pasangan kita harus mereka-reka maksudnya apa dia berbicara seperti ini, maksudnya mau menyakiti saya, maksudnya ingin merendahkan saya, maksudnya tidak menghargai saya. Nah yang ditangkap maksud-maksud itu belum tentu benar dan orang akan bereaksi sewaktu membaca maksud-maksud tersebut.

ET : Seperti halnya dengan perasaan, sepertinya memang si komunikatornya juga memang harus sungguh tahu apa yang dia maksudkan juga ya Pak Paul. Karena kadang-kadang orang juga asal ceplas-cplos kemudian baru, jadi yang kamu maksudkan seperti ini? "O.....tidak,

saya tidak bermaksud seperti itu." Ternyata memang dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan dengan komunikasi itu.

PG : Kadang-kadang atau sering kali itu yang terjadi, Bu Esther, jadi kita memang tidak begitu menyadari apa maksud kita. Karena sekali lagi kita juga tidak terbiasa berkomunikasi seperti in, jelas dengan maksud atau tujuan kita.

Tapi sekali lagi untuk membangun sesuatu yang baru dan yang sehat akan perlu waktu dan membiasakan diri. Saya kira meskipun susah namun bisa, jadi sebelum kita melancarkan kata-kata kita, kita harus jelas dulu tujuannya apa saya berbicara ini, sampaikan tujuan itu, terutama misalnya dalam menyampaikan kritikan atau saran atau teguran. Orang cenderung defensif, jadi sebelum kita sampaikan itu kita juga harus beritahu tujuan saya adalah ini.

ET : Yang lebih mudah dan yang sering terjadi adalah menyalahkan orang lain daripada mengakui ini maksud saya, selalu kamu memang begini, engkau memang begitu.

PG : Sering kali itu yang kita lakukan, jadi kita lebih nyaman melempar bola ke lapangannya dan menyalahkan dia.

GS : Ada unsur yang lain Pak Paul di dalam berkomunikasi?

PG : Yang lain adalah membagikan pengamatan kita, waktu kita berbicara apalagi dalam hubungan suami-istri ini kita jangan menuduh orang dengan cepat dan hindarkan penggunaan kata-kata kamu, amu begini, kamu begitu, jangan! Sebaiknya yang kita katakan saya merasa kecewa karena, nah karena ini jangan berkata karena kamu menyakiti saya! nah orang langsung bereaksi membela diri karena dituduh kamu menyakiti saya.

Lebih baik berkata saya kecewa karena tadi waktu saya bicara kamu langsung keluar, nah tindakan kamu keluar kamar begitu saja benar-benar membuat saya itu kehilangan muka. Jadi sekali lagi kita hanya mencoba memaparkan peristiwanya, faktanya secara objektif, kesampingkan kesimpulan, jangan tergesa-gesa menyimpulkan tindakan orang.
GS : Kadang-kadang di dalam komunikasi itu kita melihat bahwa pasangan kita itu agak ragu-ragu apa yang kita katakan itu ya Pak Paul, apakah bisa kita itu balik bertanya kamu itu mengerti yang saya katakan?

PG : Itu saya kira saran yang baik sekali Pak Gunawan, ini membawa kita ke butir berikutnya dalam komunikasi dengan asertif yaitu silakan atau bersedialah mengecek ulang pengamatan kita. Sebb yang kita katakan ini yang saya lihat tadi belum tentu yang memang dilakukan dengan sengaja oleh pasangan kita dan maksudnya dia melakukan itu mungkin sekali berbeda dari yang kita sudah duga.

Jadi sekali lagi bersedialah mengecek ulang, benar atau tidak yang saya katakan tadi, betul atau tidak yang tadi saya amati, betul atau tidak yang saya lihat. Biarkan pasangan kita memberikan masukan juga sebab belum tentu memang tepat.

ET : Tampaknya dalam hal ini memang kejujuran juga sangat penting Pak Paul, rasanya memang untuk menyampaikan pengamatan atau mengecek ulang ini kadang-kadang bisa terjadi kesalahan dan kalau ada rasa gengsi misalnya atau nanti dianggap tidak mengerti jadi akhirnya melenceng dari tujuan semula ya?

PG : Manusia tidak ingin dipersalahkan, Bu Esther, itu sifat dasar kita mulai dari Adam sampai kita, kita tidak membuat perbaikan dalam hal ini. Karena kita tidak suka dipersalahkan kalau kia sudah melihat bahwa kita akan dipersalahkan, dari awalnya kita akan membenarkan diri, itu yang sering kali terjadi.

Jadi betul yang Ibu Esther tadi katakan, kita memang tidak nyaman tanpa kejujuran.
GS : Ketidaknyamanan itulah yang justru kadang-kadang menimbulkan pertengkaran Pak Paul, bagaimana kita berusaha sebaik mungkin, menguasai diri di dalam kata-kata maupun di dalam bahasa tubuh waktu kita bertengkar?

PG : Salah satu prinsipnya adalah membawa kita ke butir yang terakhir dalam berkomunikasi asertif. Meskipun kita telah melakukan yang tadi kita bicarakan, tidak tertutup kemungkinan kita aka bertengkar.

Kalau sampai terjadi, jangan gunakan kata-kata yang kasar. Hindarkanlah pemakaian seperti itu, kata-kata seperti itu dan ini salah satu saran saya setelah pertengkaran apa yang harus kita lakukan? Nah, setelah pertengkaran jangan lupa untuk menyampaikan penghargaan. Kenapa? Begini sebabnya, orang memang berkata pertengkaran adalah bumbu tapi saya kira bumbu yang kebanyakan selalu membuat sakit perut, saya kira pertengkaran yang kebanyakan juga akan merusakkan pernikahan. Tapi meskipun pertengkaran tidak banyak, saya kira semua orang akan bisa setuju bahwa satu pertengkaran cukup berat untuk kita tanggung, satu pertengkaran itu seolah-olah mengikis kemesraan atau perasaan positif pada pasangan kita. Makanya kalau sering terjadi pertengkaran lama-lama perasaan mesra atau yang positif itu akhirnya punah. Jadi saya ingin agar kita memikirkan hal-hal yang baik, yang positif, kata-kata yang membangun atau menghargai untuk disampaikan setelah pertengkaran itu reda. Karena kita perlu menambal lubang-lubang yang telah kita ciptakan melalui pertengkaran itu.

ET : Rasanya yang lebih sering orang perhatikan point kedua yang Pak Paul sampaikan ini tentang menambalnya ya, tapi lupa bahwa sebenarnya lubangnya lebih dalam dari yang dia tambal. Karena da orang yang temperamental, kalau marah memaki-maki lalu sesudah itu dia meminta maaf, tetapi dia lupa bahwa makiannya tadi sebenarnya lebih menyakiti daripada permintaan maaf yang dia sampaikan.

PG : Dan lama-lama tidak dihiraukan lagi. Tapi permintaan maaf sebetulnya tidaklah identik dengan penghargaan. Permintaan maaf karena kita bersalah, sesuatu yang seharusnya dilakukan dan sebtulnya tidak ada nilai tambah.

Tapi mengucapkan kata-kata yang menghargai itu mempunyai nilai positif. Jadi misalkan setelah kita bertengkar kita diam bicara yang lainnya lalu kita sampaikan "Kamu tahu atau tidak yang saya hargai tentang kamu apa?" terus kita sebut: "Saya menghargai kamu karena kamu orangnya terbuka untuk belajar, meskipun tadi agak sulit kamu terima tapi waktu kamu sadari bahwa ini benar, kamu dengan siap mengakui bahwa itu benar dan menerima pendapat saya. Saya hargai sekali kamu jadi orang sangat terbuka untuk belajar." Nah sekali lagi itu tambalan, tapi memang betul kalau lubangnya terlalu besar nambalnya lebih susah.
GS : Sering kali memang di dalam pertengkaran yang diserang itu justru pribadinya yang membuat luka yang dalam, bukan masalahnya.

PG : Betul, dan kalau luka itu disebabkan oleh serangan terhadap pribadi, sembuhnyapun lebih lama.

GS : Nah dalam hal ini firman Tuhan berbicara apa, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Efesus 4:29 "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yan mendengarnya, beroleh kasih karunia."

Kata-kata yang membangun, bukan kata-kata yang kotor itu adalah permintaan Tuhan pada kita semua. Kenapa kata-kata yang membangun? Karena firman Tuhan berkata orang yang mendengar beroleh kasih karunia. Jadi itu yang harus kita ingat, kita adalah pemberi kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita. Jangan sampai pasangan kita tidak menerima kasih karunia tapi kutukan-kutukan kita. Gunakan kata-kata membangun, hindarkan kata-kata kasar apalagi kotor.

GS : Ya mungkin ayat itu memang sudah sering dibaca, tetapi kini tiba saatnya kita mempraktekkan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari karena bagaimanapun juga tiap hari kita melakukan komunikasi dan khususnya terhadap pasangan kita. Tentunya kita berharap ada suatu komunikasi yang asertif seperti tadi yang Pak Paul katakan. Terima kasih banyak Pak Paul.

Saudara-saudara pendengar, demikianlah Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Komunikasi dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



25. Memahami Pernikahan 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T114A (File MP3 T114A)


Abstrak:

Pernikahan adalah satu-satunya lembaga yang Tuhan sendiri berinisiatif untuk kebaikan manusia. Dan pernikahan itu sendiri adalah sebuah ikatan sekaligus juga pernikahan adalah sebuah perjajian.


Ringkasan:

Pengertian pernikahan adalah :

  1. Pernikahan adalah sebuah ikatan, di mana suami-istri atau kedua orang itu menjadi satu kesatuan dan menjadi sebuah relasi yang begitu unik dan sangat eksklusif. Landasan Alkitab yang kita gunakan adalah Efesus 5:31 yang berkata: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging."

    Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kesatuan antara suami dan istri merupakan kesatuan yang paling intim, yang paling dekat, tidak ada lagi kesatuan yang bisa menyamai kesatuan suami dan istri ini.

  2. Pernikahan adalah suatu perjanjian, artinya bahwa kedua belah pihak menyetujui untuk mengemban tanggung jawab dan tuntutan yang terkandung di dalamnya. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia.

Efesus 5:33, "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Perjanjian artinya masing-masing berkata inilah tanggung jawab saya dan inilah tuntutan saya jadi masing-masing juga berusaha untuk memenuhi tanggung jawab tuntutan itu. Kadangkala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melakasanakan tanggung jawab kita.

"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Keduanya itu menjadi satu daging, pernikahan adalah suatu ikatan yang sangat eksklusif, setelah menikah kita tidak bisa memperlakukan orang sama seperti sebelum menikah, harus ada batas tidak bisa sama. Dengan kata lain kita tidak boleh mengikat diri dengan eksklusif dengan orang-orang lain lagi, hanya satu yaitu dengan istri atau suami kita.

Karakteristik pernikahan yaitu:

  1. Bahwa Institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. Satu rujukan yang lain institusi yang berasal dari Allah yakni pemerintahan. Roma 13:1, "Pemerintah berasalah dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pulalah Allah campur tangan dalam pernikahan. Alkitab menegaskan bahwa Allah campur tangan maka dikatakan di Matius 19:6, "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali bahwa Allah menegaskan Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.

  2. Pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakekalan di dunia ini. Tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namun di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal. Matius 19:19, "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan.

  3. Relasi suami-istri untuk menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini tugas suami. Tugas istri di Efesus 5:22-23, "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri.

Konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan, yaitu:

  1. Adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencintai, mencintai puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.

  2. Bahwa pernikahan adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan bahwa kita bisa berhubungan seksual.

  3. Pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dalam perjanjian dengan pasangan kita, punya anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.

  4. Pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan. Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya nggak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, itu keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan.

  5. Pernikahan dianggap sebagai asuransi kehidupan, pernikahan bukanlah sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan.

Prinsip penting yang perlu kita perhatikan adalah barangsiapa memberi dia akan menerima. Banyak di antara kita yang masuk ke pernikahan mengharapkan untuk menerima dan tidak memikirkan untuk memberi. Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi. Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, S. Psi, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Memahami Pernikahan", suatu tema yang cukup luas karenanya kami akan membagi perbincangan kami pada dua sesi. Dan kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan inilah sesi yang pertama tentang memahami pernikahan.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, sebelum kita lebih jauh memahami tentang pernikahan, tentunya kita mau tahu dulu batasan atau definisi atau pengertian pernikahan itu sebenarnya apa Pak Paul?

PG : Ini sebuah pertanyaan yang baik Pak Gunawan, kenapa kita akan mengangkat topik ini sebab saya mengamati adanya kedangkalan pemahaman tentang pengertian pernikahan. Jadi saya kira ini adlah sesuatu yang penting untuk kita bicarakan.

Dan sudah tentu karena kita ini adalah anak-anak Tuhan sebagai orang Kristen kita akan kembali menggunakan rujukan pada firman Tuhan. Nah, apa itu pernikahan, pernikahan adalah sebuah ikatan, artinya suami-istri atau kedua orang itu menjadi satu kesatuan dan kesatuan ini menjadi sebuah relasi yang begitu unik dan sangat eksklusif. Sehingga relasi nikah ini menjadi sesuatu yang berbeda, terpisah dari relasi lainnya. Landasan Alkitab yang saya gunakan adalah Efesus 5 : 31, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kesatuan antara suami dan istri merupakan kesatuan yang paling intim, yang paling dekat, tidak ada lagi kesatuan yang bisa menyamai kesatuan suami dan istri ini. Nah itu sebabnya pernikahan merupakan sebuah ikatan karena keduanya menjadi satu dan diikat sehingga tidak bisa lagi terlepas.
GS : Pengertian meninggalkan ayahnya dan ibunya itu seperti apa Pak Paul?

PG : Dalam pengertian, bahwa pada waktu seseorang itu menikah dia itu memulai sebuah keluarga yang baru, dia tidak lagi menjadi seorang anak dari orang tuanya. Dalam pengertian dia bukan lag menjadi anak secara biologis tapi status sudah tentu dia adalah seorang anak.

Namun terjadi perubahan, perubahan dalam relasi antara dia dan orang tuanya. Dia dulu adalah seorang anak yang bergantung pada orang tuanya, namun sekarang dia tidak lagi menjadi seseorang yang bergantung pada orang tuanya baik secara fisik maupun secara emosional, sebab dia sekarang memulai atau menciptakan sebuah rumah tangga yang baru.

ET : Namun tampaknya di dalam budaya tertentu ada kesulitan untuk sungguh-sungguh melakukan hal ini Pak Paul?

PG : Saya kira betul Bu Esther, ada budaya-budaya yang sangat menekankan pengabdian kepada orang tua, bahkan pengabdian itu diatas pengabdian hubungan suami-istri. Nah saya kira ada baiknya ita membahas hal ini dengan lebih seksama.

Adakalanya kita ini menempatkan budaya di atas Alkitab, ini keliru. Otoritas firman Tuhan berada di atas segalanya termasuk norma-norma budaya kita. Meskipun pengabdian kepada orang tua adalah sesuatu yang baik, namun pada akhirnya Tuhan menegaskan bahwa waktu seseorang menikah, pengabdian yang begitu tinggi tersebut memang harus beralih, bukan lagi kepada orang tua namun kepada pasangannya, kepada keluarganya sendiri. Sudah tentu di sini tidak berarti Tuhan meminta kita untuk melalaikan tanggung jawab sebagai anak, tidak mempedulikan orang tua kita, bukan itu. Kita akan mengingat teguran Tuhan Yesus kepada orang Farisi, kepada mereka yang mengajarkan bahwa kalau engkau hendak memberikan korban kepada orang tua tapi mereka itu tidak mau, karena mungkin ada sakit hati terhadap orang tua nah kemudian mereka memisahkan uang tersebut dan hanya memberikannya kepada Tuhan. Tuhan berkata itu salah, dalam pengertian meskipun seolah-olah terdengar dan terlihat mulia memberikan persembahan kepada Tuhan. Namun kalau itu adalah uang yang seharusnya diberikan kepada orang tua, Tuhan tidak senang dengan cara seperti itu. Sebab Tuhan juga menuntut seorang anak memperhatikan orang tuanya, sebetulnya bukan hanya orang tuanya tapi juga orang lain. Nah kalau orang lain Tuhan tuntut perhatikan apalagi orang tua sendiri. Jadi saya tegaskan bukan berarti kita tidak lagi memperhatikan orang tua, namun kepentingan keluarga sendiri sekarang menjadi yang teratas sebab kita memulai sebuah keluarga yang baru. Maka Alkitab menggunakan penggambaran seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya jadi ada suatu tindakan, ada sesuatu perubahan bahwa dia sekarang masuk ke dalam sebuah keluarga yang lain.
GS : Jadi sekalipun secara fisik mereka masih tinggal serumah, konsep itu tetap masih bisa dijalankan?

PG : Bisa sekali meskipun saya mengerti kalau serumah bisa jadi perubahan ini agak sulit, karena sedikit banyak ikatan itu antara orang tua dan anak tetap terjalin dan susah sekali untuk menubahnya.

Tapi sekali lagi saya ingin tekankan biarlah konsep ini benar-benar dimiliki oleh kita semuanya. Saya pernah memberikan sebuah ceramah Pak Gunawan dan Ibu Esther, dalam ceramah itu saya menegaskan konsep ini, selesai ceramah diberikan kesempatan untuk orang memberikan kesaksian. Dan saya masih ingat ada seorang pria paro baya yang memberikan kesaksian dan berkata: "Ya, tadi saya sudah mendengar dan saya sudah memahami apa yang Tuhan katakan di Alkitab, tapi saya kira tetap orang tua itu yang paling penting," dia berkata demikian. Alasannya (ini yang sangat menarik), dia berkata: "Orang tua tidak bisa diganti, istri itu bisa diganti". Jadi sebuah konsep yang sangat salah, tapi begitu mendarah daging dalam pemikiran orang tersebut dan mungkin sebagian orang yang terikat oleh budaya mereka. Orang tua tidak bisa diganti, istri bisa diganti itu keliru sekali, sebab Alkitab tidak pernah mengatakan: "Hai anak, hai orang tua menyatulah!" yang dikatakan keduanya bersatu menjadi satu daging adalah suami dan istri, anak keluar dari orang tua. Tadinya satu akhirnya menjadi dua, pernikahan kebalikan dari konsep tersebut, dua orang melebur menjadi satu, jadi yang benar adalah dua menjadi satu dan itu suami-istri. Nah, kalau seorang anak dan orang tua tetap memelihara tali ari-ari ini berarti memang tidak pernah ada suatu pemisahan sedangkan itu yang dimaksudkan oleh Tuhan.

ET : Jadi memang rasanya hal ini juga sangat perlu dipertimbangkan oleh orang tua Pak Paul, karena mungkin si anak mau melakukannya, tetapi hambatannya adalah orang tua yang belum rela untukkeluar dan membangun rumah tangga itu.

PG : Adakalanya itu yang terjadi Ibu Esther, jadi orang tua mempertahankan otoritasnya kepada si anak dan menuntut pengabdian kepada orang tua, nah ini sering terjadi. Sewaktu si anak misalkn mulai bergeliat mulai menentang, menggugat keputusan orang tua, orang tua kemudian menggunakan serangan-serangan yang menimbulkan rasa bersalah pada si anak, "Kamu sudah saya besarkan dari kecil sekarang mentang-mentang sudah mempunyai istri atau mempunyai suami berani-beraninya melawan saya."

Nah ini juga sering saya lihat Bu Esther dalam kasus di mana orang tuanya tunggal. Misalkan seorang ibu yang membesarkan anak-anak laki, karena suaminya meninggal pada masa atau pada waktu anak itu muda, akhirnya si anak begitu menyayangi si mama karena mama bekerja keras merawat membesarkan anak-anak sendirian. Nah, adakalanya ini dibawa terus sampai setelah menikah, sehingga bagi si anak tetap yang terpenting adalah mama bukan istrinya, mama berkata apa itu yang akan dia dengarkan, istri berkata apa dia tidak akan dengarkan nah itu keliru, meskipun kita tetap menyayangi mama yang telah membesarkan kita tanpa adanya papa, namun tetap setelah menikah kita mesti mengutamakan keluarga kita. Bukannya tidak mempedulikan orang tua lagi tetap mempedulikan, tapi sekarang kita mengutamakan keluarga kita sendiri.
GS : Tetapi juga ada anak yang begitu tergantung kepada orang tuanya, baik dari segi finansial maupun kebiasaan. Kadang-kadang dia sudah terlanjur terbiasa dan suka dengan makanan yang dibuatkan oleh mamanya atau, sehingga ketika istrinya membuatkan makanan dia masih tetap kembali ke rumah orang tuanya, hanya untuk makan.

PG : Kalau secara insidentil saya kira itu tidak apa-apa, adakalanya anak itu kembali ke rumah orang tua untuk menikmati makanan mama karena terbiasa dan senang. Saya kira sekali-sekali hal tu dilakukan ya wajar, namun kalau sampai tidak mau makan di rumah dan hanya mau makan di rumah orang tua saya kira itu keliru.

Tadi Pak Gunawan memunculkan suatu ide atau pemikiran yang memang tepat yaitu adakalanya kalau anak bekerja untuk orang tua atau bergantung secara finansial pada orang tua, masalah menjadi lebih kompleks. Karena kalau misalnya kita bekerja pada orang tua kita atau satu perusahaan dengan orang tua, sering kali dalam perusahaan itu kita tetap anak, nah ini pergumulan banyak orang yang harus bekerja sama dengan orang tuanya. Kalau mereka ingin menuntut gaji yang lebih besar, mereka akan merasa sungkan karena ini perusahaan orang tua. Dan orang tua kadang-kadang menggunakan kata-kata yang cepat sekali menimbulkan rasa bersalah. Misalnya: "Kamu 'kan pemilik, kamu nanti yang mempunyai semua ini, kenapa menuntut begini, begini karena nanti ini menjadi milik kamu". Jadi si anak tidak bisa berbicara padahal dia ingin mendapatkan imbalan yang lebih besar untuk keperluannya dan sebagainya. Kalau dia ingin bekerja dengan orang lain dia merasa bersalah karena orang tuanya akan berkata: "Kamu lebih pentingkan orang lain, orang tuamu sendiri yang membutuhkan kamu tidak kamu tolong". Nah, ini sekali lagi hal-hal yang kurang sehat, orang tua seharusnya bisa memberikan kebebasan kepada anak, di manakah dia ingin bekerja. Tidak harus dia meneruskan pekerjaan orang tuanya, tapi saya tahu dalam budaya tertentu ada konsep bahwa harta kita ini harus diteruskan ke generasi selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Tuhan memelihara kita satu generasi, demi satu generasi, kita tidak perlu memikirkan harta untuk generasi selanjutnya, Tuhan akan memelihara anak kita seperti Tuhan memelihara kita. Jadi konsep ini harus berubah, kalau anak bekerja dengan orang tua, orang tua mesti mempunyai kejelasan apa yang diharapkan oleh anak, mereka juga harus bisa negoisasi dengan anak, dalam pengambilan keputusan. Sehingga anak akhirnya bisa mandiri dan independen tidak merasa dia itu ditekan atau harus bergantung pada orang tua.
GS : Nah, selain konsep bahwa pernikahan itu adalah ikatan tadi Pak Paul, apakah ada yang lain?

PG : Pernikahan adalah suatu perjanjian, jadi yang pertama sebuah ikatan yang kedua sebuah perjanjian. Artinya bahwa kedua belah pihak menyetujui untuk mengemban tanggung jawab dan tuntutan ang terkandung di dalamnya.

Saya akan dasarkan ini pada Efesus 5:33,"Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Kadang kita tidak melihatnya sebagai sebuah perjanjian, tapi pernikahan sebetulnya adalah sebuah perjanjian. Perjanjian artinya masing-masing berkata: inilah tanggung jawab saya dan inilah tuntutan saya jadi masing-masing juga berusaha untuk memenuhi tanggung jawab dan tuntutan itu. Sekali lagi ini konsep yang kadang kala kurang dipahami oleh sebagian orang terutama oleh pria Pak Gunawan. Maksudnya, cukup banyak pria yang beranggapan bahwa menikah itu mempunyai pembantu untuk seumur hidup, yakni saya tidak perlu lagi memasak, saya tidak perlu mencuci piring, saya tidak perlu mencuci pakaian, saya tidak perlu mengurus rumah sebab sudah ada yang mengurus itu semuanya. Dan orang ini juga memenuhi kebutuhan emosional saya serta seksual saya. Nah, seolah-olah semua tanggung jawab ada pada pundak si istri, tidak ada pada pundak si suami nah ini adalah fenomena yang saya sering lihat di mana-mana yaitu gagalnya seorang pria menyadari tanggung jawabnya. Tapi dalam diskusi ini saya akan perlebar, saya juga percaya ada wanita yang gagal melihat tanggung jawab itu. Dia menganggap misalnya dia seperti ratu kecantikan, memasuki pernikahan berharap si suami akan menyediakan semua kebutuhannya dan dia tidak perlu berbuat apa-apa, si suami akan selalu mengagungkan dan mencintainya, tidak. Pernikahan adalah sebuah perjanjian, artinya ada tanggung jawab, ada tuntutan yang harus dipenuhi.

ET : Jadi sepertinya kebanyakan kita hanya melihat sepotong dari ayat ini Pak Paul, maksudnya pria hanya melihat yang penting istri harus hormat kepada suami dan melupakan bahwa suami harus engasihi dan istri juga merasa selalu dikasihi, lupa bahwa dia harus menghormati suaminya.

PG : Ya, kadang kala kita memang melihatnya hanya sebelah, misalnya dari satu pihak dan sudah tentu kita melihatnya dari sudut yang menguntungkan kita Bu Esther. Bukankah sebagai suami kita kan senang kalau istri menghormati kita tanpa syarat.

Seseorang harus membaca Alkitab atau kita harus membaca Alkitab dengan utuh, perintah Tuhan itu atau yang Tuhan berikan itu ternyata ada syaratnya. Suami kalau mau mendapatkan hormat dari istri dia harus mengasihi istrinya, itu syaratnya. Istri kalau engkau ingin dikasihi oleh suami syaratnya engkau harus menghormati suami. Ini yang sering kali kita gagal melihatnya, kita beranggapan dengan otomatis saya menerima langsung kasih sayang itu, penghormatan itu, o....tidak. Tuhan jelas memberikan syaratnya, ada yang harus kita lakukan untuk mendapatkan yang kita dambakan itu.
GS : Pak Paul, kalau pernikahan itu dianggap semacam perjanjian, dan yang kita kenal dalam perjanjian kalau salah satu pihak tidak memenuhi apa yang dijanjikan, perjanjian itu batal Pak Paul?

PG : Bagus sekali point ini Pak Gunawan, saya kira kita harus berbicara dengan jelas kepada para pendengar kita agar tidak terjadi kesalahpahaman. Yaitu sering kali orang hanya menekankan sau aspek yaitu jangan bercerai, artinya jangan sampai kita meninggalkan perjanjian itu.

Tapi Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa perjanjian harus ditaati oleh kedua belah pihak, tidak bisa hanya oleh satu pihak saja. Jadi penekanan pada jangan bercerai saja saya kira adalah sesuatu yang tidak berimbang harus ada penekanan pada yang lainnya yaitu hendaklah kita memelihara pernikahan ini. Hendaklah kita melaksanakan tanggung jawab kita dalam rumah tangga ini, sebab bagi saya kalau kita tidak lagi mempedulikan tanggung jawab kita dalam rumah tangga itu sudah sama dengan saya sudah bercerai. Jadi memelihara pernikahan itu satu paket dengan jangan bercerai. Saya berikan contoh misalkan ada seorang pria yang kerap kali memukuli istrinya tatkala marah, sedikit-sedikit langsung memukul istrinya, dan istri akhirnya tidak tahan lagi dan ingin bercerai. Nah, misalkan si suami lari ke Alkitab yang telah berkata: Alkitab tidak mengijinkan kita bercerai, Tuhan menginginkan kita menikah sampai selama-lamanya. Nah konsep ini salah, dia menggunakan firman Tuhan untuk kepentingannya sendiri, dia gagal melihat firman Tuhan secara utuh bahwa Tuhan menuntut dia untuk mengasihi istrinya bukan memukuli istrinya, kasus ini saya kira juga bisa kita terapkan secara lebih luas dan ada buktinya di Alkitab. Yaitu Tuhan dan umat-Nya mengikat diri dalam perjanjian, sebuah hubungan yang eksklusif antara umat Tuhan orang Israel dan Tuhan. Namun waktu orang Israel membangkang dan menyembah dewa-dewa lain, dengan sabar Tuhan mengirim nabi demi nabi memberi peringatan tapi mereka tidak mendengarkan peringatan Tuhan, apa yang Tuhan lakukan? Membuang mereka. Jadi dengan kata lain perjanjian itu tidak bisa dipertahankan kalau satu pihak tidak lagi mau mempertahankannya. Maka ada firman Tuhan yang berkata: meskipun manusia tidak setia, Tuhan tetap setia. Tuhan tidak mungkin melanggar perjanjian itu, yang melanggar adalah manusia jadi akhirnya perjanjian itu runtuh, tidak ada lagi ikatan, umat Israel tidak lagi mengakui Tuhan sebagai Tuhannya, jadi dalam Alkitab kita melihat tema yang sama. Demikian pulalah dalam pernikahan, sebab ikatan antara suami dan istri merupakah ikatan yang melambangkan ikatan antara Tuhan dengan kita pula. Kita harus menjaga, memelihara pernikahan ini. Yang tidak lagi mau menjaganya sebetulnya sudah sama dengan berkata: dia ingin menceraikan pasangannya, itu sudah satu paket. Tidak ada penekanan hanya pada jangan bercerai, jangan bercerai terus semau-maunya, seenak-enaknya memperlakukan pasangannya itu tidak ada. Perjanjian harus dijaga, disepakati dan harus dipelihara.
GS : Kalau kita melihat itu, pernikahan itu tentu suatu lembaga yang diprakarsai dan dibentuk oleh Tuhan sendiri Pak?

PG : Betul, memang Tuhan terlibat maka kita itu harus selalu menyadari bahwa waktu dia berbuat sesuatu yang tidak baik, yang jahat kepada pasangannya, Tuhan terlibat di sana. Tuhan bukannya enciptakan kemudian berkata masa bodoh, o....tidak,

Tuhan terlibat maka orang harus berhati-hati menjaga pernikahannya, bagaimanakah dia memperlakukan pasangannya harus dia jaga baik-baik.
GS : Pak Paul, perbincangan kita tentang memahami pernikahan ini tentu masih panjang, jadi masih ada banyak hal yang harus kita bicarakan dan baru kita berbicara tentang pokok-pokok definisi dari pernikahan itu sendiri. Namun sebelum perbincangan bagian yang pertama ini kita akhiri mungkin ada ayat yang Pak Paul bisa bacakan?

PG : Saya ingin lagi bacakan, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Pernikahan adalah suatu ikata yang sangat eksklusif, setelah menikah kita tidak bisa memperlakukan orang sama seperti sebelum menikah, harus ada batas tidak bisa sama.

Dengan kata lain kita tidak boleh mengikat diri secara eksklusif dengan orang-orang lain lagi, hanya satu yaitu dengan istri atau suami kita. Jadi sekali lagi saya tekankan setelah menikah, satu-satunya hubungan yang paling eksklusif adalah hubungan suami-istri, dengan orang lain tidak boleh lagi kita menjadikannya eksklusif. Kebalikannya juga saya tekankan, Tuhan memasukkan pernikahan sebagai hubungan eksklusif, jangan kita membuat pernikahan kita hubungan yang inklusif, masa bodoh, longgar, tidak mempedulikan. Pernikahan memang harus dekat, harus intim, harus eksklusif.

GS : Ya terima kasih Pak Paul juga Ibu Esther, tentu kita berharap para pendengar setia dari acara Telaga ini akan mengikuti juga pada sesi yang kedua, pada siaran yang akan datang untuk melanjutkan perbincangan tentang pernikahan ini. Tapi karena keterbatasan waktu kita harus akhiri terlebih dahulu pada sesi yang pertama ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memahami Pernikahan" bagian yang pertama dan kami sekali lagi mengharapkan Anda akan mengikuti perbincangan kami pada bagian yang berikutnya. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan fasilitas e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



26. Memahami Pernikahan 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T114B (File MP3 T114B)


Abstrak:

Lanjutan T114B


Ringkasan:

Pengertian pernikahan adalah :

  1. Pernikahan adalah sebuah ikatan, di mana suami-istri atau kedua orang itu menjadi satu kesatuan dan menjadi sebuah relasi yang begitu unik dan sangat eksklusif. Landasan Alkitab yang kita gunakan adalah Efesus 5:31 yang berkata: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging."

    Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kesatuan antara suami dan istri merupakan kesatuan yang paling intim, yang paling dekat, tidak ada lagi kesatuan yang bisa menyamai kesatuan suami dan istri ini.

  2. Pernikahan adalah suatu perjanjian, artinya bahwa kedua belah pihak menyetujui untuk mengemban tanggung jawab dan tuntutan yang terkandung di dalamnya. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia.

Efesus 5:33, "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." Perjanjian artinya masing-masing berkata inilah tanggung jawab saya dan inilah tuntutan saya jadi masing-masing juga berusaha untuk memenuhi tanggung jawab tuntutan itu. Kadangkala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melakasanakan tanggung jawab kita.

"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging." Keduanya itu menjadi satu daging, pernikahan adalah suatu ikatan yang sangat eksklusif, setelah menikah kita tidak bisa memperlakukan orang sama seperti sebelum menikah, harus ada batas tidak bisa sama. Dengan kata lain kita tidak boleh mengikat diri dengan eksklusif dengan orang-orang lain lagi, hanya satu yaitu dengan istri atau suami kita.

Karakteristik pernikahan yaitu:

  1. Bahwa Institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. Satu rujukan yang lain institusi yang berasal dari Allah yakni pemerintahan. Roma 13:1, "Pemerintah berasalah dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pulalah Allah campur tangan dalam pernikahan. Alkitab menegaskan bahwa Allah campur tangan maka dikatakan di Matius 19:6, "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali bahwa Allah menegaskan Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.

  2. Pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakekalan di dunia ini. Tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namun di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal. Matius 19:19, "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan.

  3. Relasi suami-istri untuk menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini tugas suami. Tugas istri di Efesus 5:22-23, "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri.

Konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan, yaitu:

  1. Adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencintai, mencintai puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.

  2. Bahwa pernikahan adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan bahwa kita bisa berhubungan seksual.

  3. Pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dalam perjanjian dengan pasangan kita, punya anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.

  4. Pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan. Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya nggak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, itu keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan.

  5. Pernikahan dianggap sebagai asuransi kehidupan, pernikahan bukanlah sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan.

Prinsip penting yang perlu kita perhatikan adalah barangsiapa memberi dia akan menerima. Banyak di antara kita yang masuk ke pernikahan mengharapkan untuk menerima dan tidak memikirkan untuk memberi. Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi. Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, S. Psi, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami pada acara Telaga yang lalu yaitu tentang "Memahami Pernikahan", dan kami masuk pada bagian yang kedua. Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan inilah sesi yang pertama tentang memahami pernikahan.

Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah berbincang-bincang tentang definisi pernikahan di dalam memahami pernikahan ini. Dan sebelum kita melanjutkan perbincangan pada saat ini, apakah Pak Paul mau mengulang sejenak apa yang kita perbincangkan pada saat yang lalu?

PG : Saya akan menjelaskan mengapa kita memutuskan untuk mengangkat topik ini Pak Gunawan, alasannya adalah bahwa saya melihat adanya kedangkalan pandangan atau pengertian kita terhadap pernkahan.

Karena adanya kedangkalan itulah maka banyak sekali masalah yang muncul dari pernikahan dan akhirnya sudah tentu akibat fatalnya yaitu perceraian. Jadi kita berharap apa yang akan disampaikan pada kesempatan ini akan menjadi berkat bagi para pendengar kita. Pertama-tama kita mau melihat apa itu pernikahan, pernikahan adalah sebuah ikatan, sebuah ikatan yang mengandung pengertian bahwa dua orang itu memilih untuk terikat. Dan terikat berarti dia akan terbatasi dalam relasinya dengan orang-orang lain dan Alkitab menegaskan bahwa memang pernikahan adalah sebuah ikatan yang sangat dan paling intim. Itu sebabnya dikatakan keduanya menjadi satu daging, tidak ada lagi ikatan yang seintim dan sedekat itu. Kedua pernikahan adalah sebuah perjanjian artinya masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi tuntutan pernikahan itu. Jadi jangan sampai seseorang memasuki pernikahan berpikir bahwa pasangannyalah yang harus melayani dia, itu tidak benar. Pernikahan sebuah perjanjian di mana masing-masing harus memenuhi tanggung jawabnya, nah yang kita telah bahas pada kesempatan yang lalu adalah kadang kala kita hanya menekankan satu aspek dari perjanjian itu yakni jangan sampai kita bercerai atau membatalkan perjanjian itu dan kita lalai menekankan bagian yang satunya yakni kita harus menjaga perjanjian itu dengan cara melaksanakan tanggung jawab kita, nah itulah kira-kira yang telah kita bicarakan Pak Gunawan.
GS : Ya dan kali ini kita akan membicarakan tentang dua hal penting Pak Paul, yaitu tentang karakteristik pernikahan dan konsep-konsep yang keliru tentang pernikahan. Nah kalau berbicara tentang karakteristik pernikahan Pak Paul, hal apakah yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Yang pertama adalah bahwa institusi pernikahan tidak terlepas dari campur tangan Allah. Nah, saya ingin memberikan satu rujukan yang lain yaitu institusi yang juga dikatakan berasal dar Allah yakni pemerintahan.

Jadi di Roma 13:1, dikatakan bahwa: "Pemerintah berasal dari Allah dan tidak ada pemerintahan yang tidak ditetapkan oleh Allah." Artinya Allah turut campur tangan dalam pembentukan, dalam penghadiran sebuah pemerintahan, demikian pula Allah itu campur tangan dalam pernikahan. Nah ini sesuatu yang kita mesti sadari sebab kadang kala kita melihat pernikahan itu sebagai suatu fenomena manusiawi antara saya dan orang yang saya kasihi, dan kedua orang ini kemudian menjalin sebuah hubungan dalam pernikahan, tidak. Ternyata Alkitab menegaskan bahwa Allah itu campur tangan maka di katakan di Matius 19:6, "Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Menarik sekali Allah menegaskan bahwa Dialah yang menyatukan orang untuk akhirnya tertarik kepada satu sama lain dan membangun sebuah pernikahan.
GS : Apakah hal itu termasuk juga kalau pernikahan itu adalah pernikahan yang dijodohkan oleh orang tua?

PG : Alkitab mengatakan bahwa pernikahan itu dipersatukan oleh Allah dan tidak ada penjelasan yang lainnya, boleh kita katakan ya. Ternyata kalau itu terjadi, itu terjadi dalam izin Allah. Bhwa entah mengapa Allah mengizinkan kedua orang itu akhirnya menikah dalam suatu saat.

Tapi Pak Gunawan, saya kira kita perlu memberikan penjelasan sedikit tentang hal ini sebab kalau tidak, kita akan masuk dalam sebuah pola pikir yang sangat pasif bahwa semua pernikahan betapa pun buruk dan sebagainya sudah pasti itu adalah dalam kehendak Allah. Saya ingin juga memberikan keterangan di sini, bahwa manusia itu juga bisa keliru dan bisa membuat kesalahan. Jadi adakalanya dalam memilih bidang studi kita keliru memilihnya, memilih pekerjaan kita bisa keliru memilihnya. Apakah kita bisa keliru memilih pasangan hidup kita? Sudah tentu bisa. Adakalanya kesalahan itu baru kita sadari setelah kita menikah dan kita menyesali pilihan kita itu. Nah kekeliruan bisa terjadi namun sekali lagi entah mengapa Tuhan menegaskan bahwa meskipun telah terjadi kekeliruan, tapi Allah terlibat di dalamnya, ada faktor Tuhan yang terlibat dalam pembentukan sebuah pernikahan. Nah saya mau melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif yaitu betapa buruk pun pernikahan kita sekarang ini ternyata tetap ada Allah yang melihat dan mau menolong kita asalkan kita sekali lagi melibatkan Allah di dalam pernikahan kita ini. Jadi saya tidak mau kita ini berkubang dalam penyesalan, kenapa saya menikah dengan dia, saya mau kita ini justru melangkah ke depan setelah mendengar firman Tuhan yang berkata: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah bahwa Allah itu terlibat, kita melihatnya secara positif ke depan bahwa Allah terlibat. Jadi Allah akan mau menolong kita untuk bisa keluar dari kemelut ini, faktor Allah faktor yang tidak bisa diabaikan dalam sebuah pernikahan Kristen.

ET : Bagaimana halnya kalau misalnya salah satu pasangan itu meninggalkan Pak Paul, misalnya selingkuh kemudian memilih untuk menikahi orang yang lainnya?

PG : Saya kira dalam kasus seperti itu tadi saya telah bahas bahwa dalam kasus seseorang tidak lagi menjalankan peran, tidak lagi menunaikan tanggung jawabnya untuk memelihara pernikahan diasudah memutuskan ikatan nikah itu.

Saya berpendapat pengadilan sebetulnya tidak menceraikan pernikahan, pengadilan mengesahkan sesuatu yang memang sudah terjadi. Yang menceraikan adalah orang yang tidak mau bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban dalam pernikahan dia sudah menceraikan pernikahan itu, waktu dia tidak lagi menjalani tugasnya. Nah apa hubungannya dengan Allah berarti dia adalah orang yang telah juga mengingkari janjinya kepada Allah. Sebab faktor Allah terlibat dalam pernikahan menandakan bahwa kita bukan hanya berjanji pada pasangan kita tapi kita berjanji kepada Allah bahwa kita mau setia, mau menjaga pernikahan ini. Sewaktu kita berselingkuh akhirnya kita ini mempunyai istri yang kedua atau simpanan yang lain, kita mengingkari janji kita kepada Allah ini yang harus disadari oleh manusia bahwa sekali lagi pernikahan bukanlah melulu atau hanya perkara atau relasi antara dua orang, tapi ini adalah sebuah relasi di mana Allah hadir di dalamnya. Konsep ini menarik sekali sebab Alkitab tidak mengatakan yang sama dalam hubungan kita dengan orang lain, misalkan dengan teman kita, dengan sahabat kita, tidak ada ayat yang mengatakan bahwa Allahlah yang mempersatukan kita dan teman kita atau sahabat kita. Tapi dalam kasus pernikahan, Tuhan secara khusus mau menegaskan bahwa Dia terlibat, untuk hal yang sepenting ini Dia terlibat. Jadi orang tidak boleh sembarangan memperlakukan pasangannya, sewaktu dia mulai sembarangan memperlakukan pasangannya dia sebetulnya sembarangan memperlakukan Tuhan karena Tuhan hadir dalam pernikahannya.
GS : Apakah ada karakteristik pernikahan yang lain Pak Paul selain itu?

PG : Yang berikutnya lagi adalah pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan kekekalan di tengah-tengah ketidakkekalan di dunia ini. Kita tahu tidak ada yang kekal dalam dunia ini, namn di antara yang tidak kekal itu Tuhan menetapkan lembaga pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat kekal.

Maka firman Tuhan berkata di Matius 19:9, "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain dia berbuat zinah." Menarik sekali firman Tuhan ini, bagaimanakah mungkin kita yang misalkan telah menceraikan istri kita kemudian menikah lagi dikatakan berzinah. Bukankah kita telah dengan sah menceraikan istri kita kenapa dikatakan zinah kalau kita mempunyai istri yang lain setelah kita bercerai. Kita hanya bisa memaknai ayat ini dalam pengertian bahwa Tuhan menganggap pernikahan itu kekal, itu sebabnya waktu kita menikah dengan orang lain, Tuhan melihat itu sebagai sebuah perzinahan. Jadi sekali lagi saya mau tekankan, di mata Tuhan pernikahan itu Tuhan desain untuk menjadi sesuatu yang kekal dan permanen. Begitu permanennya sehingga meskipun orang itu akhirnya menikah dengan orang lain setelah dia bercerai, Tuhan berkata dia berzinah. Nah sekali lagi Tuhan mau menekankan bahwa pernikahan itu permanen, nah itu sebabnya orang yang hendak menikah harus menyadari konsep ini dengan baik. Pernikahan bukanlah baju yang bisa dipakai kemudian tidak suka boleh dibuang, pernikahan bukanlah rumah yang kita tempati kemudian kita bisa menjual kembali. Pernikahan adalah sebuah ikatan, perjanjian yang bukan saja eksklusif tapi dimaksudkan Tuhan untuk menjadi sesuatu yang permanen, selamanya.
GS : Berarti hubungan atau relasi antara suami dan istri ini dua orang ini menjadi sangat khusus sekali Pak Paul?

PG : Betul, karena tidak ada hubungan yang lain yang dimaksudkan Tuhan menjadi begitu permanennya. Bahkan tadi dikatakan atau kita sudah membaca ayatnya, laki-laki akan meninggalkan ayahnya an ibunya, Alkitab tidak pernah berkata laki-laki meninggalkan istrinya, tidak pernah.

Justru orang meninggalkan orang tuanya menjadi satu dengan istri, tapi tidak ada ayat yang berkata suami meninggalkan istrinya, tidak itu harus permanen.
GS : Dengan apaakah atau bagaimanakah eratnya hubungan itu digambarkan oleh Tuhan Pak Paul?

PG : Digambarkan oleh Tuhan itu sebetulnya sebagai satu daging. Bagaimanakah dua orang itu menjadi satu daging itu menjadi penggambaran yang sangat-sangat akrab, satu daging bukan lagi dua dn tidak bisa lagi dipisahkan karena keduanya menjadi satu daing.

GS : Adakah karakteristik yang lain dari pernikahan?

PG : Yang ketiga adalah relasi suami dan istri menjadi contoh konkret relasi antara Allah dan manusia. Firman Tuhan di Efesus 5:25-27 berkata : "Hai suami, kasihilah istrimu sebgaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela," ini adalah tugas suami. Tugas istri Efesus 5:22-23, Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Dengan kata lain hubungan suami-istri seyogyanya melambangkan atau mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dan manusia. Dan tidak ada hubungan lain yang didisain lain untuk mencontohkan dengan konkret hubungan antara Allah dengan manusia selain dari hubungan suami-istri ini. Suami harus mengasihi istri dengan penuh pengorbanan dan merawat istrinya dengan begitu halus dan lembut, sehingga dikatakan menjadi kudus dan tidak bercela sebagaimana Allah memelihara kita. Dan istri diminta Tuhan menghormati dan tunduk kepada suaminya sama seperti kepada Tuhan. Jadi sekali lagi pernikahan dimaksudkan Tuhan menjadi perlambangan bagaimanakah Tuhan bersikap kepada kita dan kita bersikap kepada Tuhan.
(3) GS : Pak Paul, kalau kita sudah membicarakan tentang konsep-konsep yang benar sesuai dengan Alkitab, sesuai dengan firman Tuhan sendiri, apakah masih ada konsep-konsep yang keliru yang ada di dalam kehidupan sehari-hari itu Pak?

PG : Ada beberapa Pak Gunawan dan Ibu Esther, yang pertama adalah adanya anggapan bahwa pernikahan merupakan puncak dari sebuah gunung yang disebut cinta. Jadi seolah-olah setelah kita mencitai, mencintai, puncaknya adalah pernikahan itu tidak salah, tapi tidak lengkap.

Memang pernikahan itu sebaiknya dan seharusnya didirikan di atas cinta tapi pernikahan bukan hanya puncak dari cinta, pernikahan sebuah ikatan, sebuah perjanjian bukan hanya sebuah cinta.

ET : Kalau sudah sampai pada puncak gunung bisa turun berarti Pak Paul ya?

PG : Sampai puncak gunung takutnya turun, sebab kalau cintanya turun berarti ya saya harus turun gunung juga, jadi pernikahan lebih dari sekadar puncak cinta. Kedua ada konsep bahwa pernikahn adalah wadah penyaluran hasrat seksual, itu adalah efek atau keuntungan yang bisa kita raih dalam pernikahan kita bisa berhubungan seksual.

Tapi jangan sampai orang mempunyai anggapan o....saya menikah sebab saya ingin mempunyai seorang rekan, partner di mana saya bisa berhubungan seksual dengan dia, o...pernikahan jauh lebih dalam dan agung dari pada itu.

ET : Tapi saya pernah mendengar ada orang mempunyai konsep ini katanya didasarkan oleh pandangan Paulus yang mengatakan, kalau memang tidak bisa menahan diri, tidak bisa menahan hawa nafsu lbih baik menikah jadi mereka menggunakan alasan ini Pak Paul.

PG : Paulus mengatakan itu memang tidak dalam konteks menjelaskan tentang pernikahan. Dia menjelaskan pernikahan dengan begitu terinci di Efesus 5:25-33 itu. Nah yang Paulus katakan di I Korntus yang tadi Ibu Esther sudah kutib maksudnya adalah kita harus menjaga kekudusan kita.

Nah ada orang yang mungkin ingin menikah tapi berkata saya mau menjaga kekudusan saya tidak mau menikah, nah mungkin sekali dia sudah mencintai seseorang tapi akhirnya karena mau menjaga diri dan tidak mau menikah nah Paulus berkata menikahlah, tidak apa-apa menikah, jadi dalam konteks tidak ada salahnya menikah silakan. Tapi bukannya itu menjadi motif utama kenapa kita menikah.
GS : Tetapi ada yang mengatakan dengan menikah lalu dia tidak bisa bebas lagi Pak Paul.

PG : Ya itu adalah yang tadi saya katakan, pernikahan sebuah ikatan yang eksklusif jadi tidak bisa memperlakukan orang sama seperti dia memperlakukan pasangannya.

GS : Pengertian yang keliru tentang pernikahan, apa lagi Pak Paul?

PG : Yaitu pernikahan sebagai wahana untuk memperoleh keturunan, ada orang yang begitu dan ada budaya yang begitu juga. Ya tidak punya anak dari istri pertama pilihlah istri kedua atau istriketiga supaya punya keturunan.

Tidak pernah Tuhan berkata pernikahan adalah satu-satunya wadah untuk memperoleh keturunan. Mempunyai keturunan atau tidak adalah hak preriogatif Tuhan, kita menikah karena kita mau mengikatkan diri kita dan mengikatkan diri dalam perjanjian dengan pasangan kita, itu intinya. Mempuyai anak atau tidak itu adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan untuk hidup kita.
GS : Jadi ada orang yang beralasan bercerai karena tidak punya keturunan bagaimana Pak?

PG : Itu sangat salah karena memang itu tidak menjadi syarat untuk kita menikah bahwa harus punya anak baru menikah, itu tidak pernah menjadi syarat dari Tuhan. Dan yang terakhir adalah konsp bahwa pernikahan sebagai pemuas dahaga manusia akan kebahagiaan.

Ada orang yang beranggapan saya mau menikah karena saya tidak bahagia, saya menikah supaya saya bahagia, nah ini juga keliru. Pernikahan bukanlah pemuas kedahagaan kita akan kebahagiaan, sekali lagi pernikahan adalah sebuah perjanjian dan sebuah ikatan di mana kita bersama dengan pasangan kita melewati segala fase kehidupan yang menggembirakan dan yang tidak menggembirakan.
GS : Ada orang yang menikah dengan alasan supaya kehidupannya lebih terjamin itu Pak Paul?

PG : Ada, jadi memang pernikahan dianggap sebagai sebuah asuransi kehidupan, itu juga keliru Pak Gunawan. Pernikahan bukannya sebuah peningkatan kesejahteraan hidup atau asuransi kehidupan, idak.

Pernikahan adalah sebuah ikatan dan sebuah perjanjian di mana Tuhan hadir di dalamnya.
(4) GS : Dari perbincangan kita selama dua sesi ini Pak Paul mungkin ada suatu prinsip yang sangat penting dalam pernikahan Pak Paul?

PG : Prinsipnya adalah barangsiapa memberi dia akan menerima, nah saya kira ini perlu dicamkan oleh kita semua. Banyak di antara kita yang datang, masuk ke pernikahan mengharapkan untuk meneima dan tidak memikirkan untuk memberi.

Ini adalah awal dari perpecahan dalam pernikahan. Pernikahan hanya bisa dipelihara dengan cara masing-masing memberi. Saya mengatakan pada para pemuda-pemudi yang belum menikah dan ingin menikah seperti ini, mungkin bagi saudara pada saat memilih pasangan saudara berkata : Aduh susah benar memilih pasangan hidup, tapi sebetulnya yang tersusah bukan bagian memilih pasangan, yang tersusah adalah bagian mempertahankan pernikahan itu. Memilih pasangan hidup memang tidak terlalu mudah tapi yang lebih susah adalah mempertahankan pasangan hidup kita itu supaya tetap mencintai kita dan kita mencintai dia dan bersatu dalam pernikahan.

GS : Ya Pak Paul, terima kasih sekali untuk perbincangan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat di dalam acara Telaga, dalam dua sesi kita sudah berbincang-bincang cukup banyak tentang memahami pernikahan ini, jadi terima kasih sekali Pak Paul dan juga Ibu Esther bersama-sama dengan kami. Dan para pendengar sekalian kami ucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memahami Pernikahan" bagian yang kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



27. Mengapa Kita Menikah Pria


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T133A (File MP3 T133A)


Abstrak:

(Materi ini diambil dari hasil rekaman khotbah Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam suatu acara retreat.) Sebagai salah satu prasyarat agar pernikahan diberkati atau berbahagia, sebagai suami, Tuhan meminta kita mengasihi istri. Apa artinya mengasihi istri, materi ini akan memberikan pengertian kepada kita tentang apa itu mengasihi istri.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya, Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini juga bersama Ibu Wulan, S.Th. akan menghadirkan kehadapan para pendengar yang kami kasihi, sebuah rekaman khotbah dari Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kali ini rupanya kita bukan melakukan suatu perbincangan, tetapi mendengarkan sebuah rekaman. Tapi sebelumnya Pak Paul, apakah Pak Paul bisa memberikan sedikit latar belakang mengenai rekaman ini?

PG : Rekaman ini diambil pada suatu retreat yang diselenggarakan oleh Pelangi Kristus di Surabaya. Judulnya adalah tugas suami yang akan kita bahas nanti. Jadi kita akan melihat firman Tuhan, aa yang firman Tuhan katakan tentang tugas seorang suami.

Nah, mudah-mudahan pada akhirnya dapat meluangkan waktu sedikit untuk membicarakannya.
GS : Terima kasih Pak Paul, dan para pendengar sekalian kita ikuti bersama rekaman yang berikut ini.

Pdt.Dr.Paul Gunadi

Saudara sekalian untuk apakah kita menikah, mengapakah kita menikah? Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa kita menikah karena kita mencintai istri kita dan suami kita. Namun saudara, itu adalah alasan kita sebagai manusia kenapa kita menikah. Di mata Tuhan, mengapakah kita menikah mempunyai satu jawaban yang sangat-sangat indah. Kita menikah, sebab Tuhan hendak memberkati kita melalui pernikahan itu. Saudara, Tuhan bisa memberkati kita dengan berbagai cara, tapi salah satu berkat Tuhan yang bisa Tuhan berikan kepada anak-anakNya adalah berkat pernikahan. Ada suatu berkat tersendiri yang bisa kita miliki melalui berkat itu, berkat pernikahan. Jadi Saudara, dengan kata lain Tuhan benar-benar ingin memberkati kita melalui pernikahan ini.

Nah Saudara, apakah artinya berkat. Berkat berasal dari satu kata yang sangat sederhana yaitu sukacita. Maka kalau Saudara membaca kitab, misalnya Matius 5 yakni khotbah di atas bukit, kata yang digunakan adalah berbahagialah. Namun sesungguhnya Saudara, kata berbahagia itu diterjemahkan di dalam bahasa Inggrisnya "Blessed" diberkatilah. Jadi kita bisa melihat bahwa memang kata berkat atau diberkatilah bermakna sama dengan berbahagialah. Jadi Saudara, kalau kita simpulkan kenapakah kita menikah. Kita menjawab, karena Tuhan ingin memberkati kita melalui pernikahan ini. Kita boleh berkata dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan menghendaki kita berbahagia melalui dan di dalam pernikahan ini. Itulah asal tujuan yang asli dari pernikahan itu sendiri. Tuhan ingin melimpahkan kebahagiaan di dalam hidup kita melalui istri dan suami kita. Tapi Saudara, untuk bisa mencapai berkat atau kebahagiaan yang Tuhan janjikan bagi pernikahan kita, kita mesti hidup di dalam kehendak-Nya. Kalau kita tidak hidup di dalam kehendakNya, mustahil kehendak atau tujuan mulia dari pernikahan itu digenapi dalam hidup pernikahan kita. Inilah yang menjadi penyebabnya kenapa sebagian dari anak-anak Tuhan tidak mempunyai pernikahan yang diberkati atau tidak bisa mencicipi pernikahan yang membahagiakannya. Alasannya adalah karena kita tidak hidup sesuai dengan kehendakNya. Saudara, malam hari ini saya mengajak kita semua kembali merenungkan dan belajar kehendak Tuhan untuk kita sebagai pasangan Kristen. Saudara, saya akan gunakan istilah janji untuk menguraikan perintah Tuhan atau kehendak Tuhan bagi kita semuanya. Saudara, inilah janji suami yang saya ambil dari firman Tuhan di Efesus 5. Yang pertama adalah sebagai suami seharusnyalah kita berjanji untuk mengasihi istri kita, sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaatNya. Saudara, ini adalah salah satu prasyarat agar pernikahan kita diberkati atau berbahagia. Sebagai suami, Tuhan meminta kita mengasihi istri kita. Saudara, apakah artinya mengasihi. Saya dulu berpikir mengasihi berarti memberitahukan istri saya, saya mengasihi dia, ternyata itu tidak cukup. Ternyata saya pelajari, kasih tidak berdiri di dalam kefakuman. Saya belajar bahwa kasih berdiri di dalam perbandingan. Artinya, saya hanya bisa mengatakan saya mengasihi istri saya, jika saya memperlihatkan atau membuktikan bahwa didalam perbandingan dengan orang lain, saya lebih mengasihi dia. Saudara, kasih mengandung unsur perbandingan. Jadi kasih mengandung unsur mengutamakan atau mendahulukan. Saudara, mustahillah kita bisa berkata bahwa kita dikasihi oleh pasangan kita, tapi pasangan kita jauh lebih sering mendahulukan orang lain daripada kita. Itulah akhirnya yang saya pelajari dalam pernikahan saya. Saya tidak cukup berkata kepada istri saya: "saya mengasihimu". Saya mesti menunjukkan kepadanya, bahwa dibandingkan dengan orang lain, saya lebih mendahulukan engkau. Di saat itulah istri saya baru mengerti bahwa saya mengasihi dia. Saudara, tidak selalu istri kita menunjukkan ketidak-senangan, dengan dia banyak menuntut kita agar terus-menerus lebih mendahulukan dia, di atas orang lain, pelayanan atau pekerjaan atau anak atau mertuanya. Saya menemukan kebanyakan wanita akan puas, kalau saja secara berkala dia melihat bahwa suaminya mendahulukannya. Saudara, misalkan saya berikan suatu contoh, saya seharusnya pergi ke suatu tempat pada hari itu. Tapi saya melihat bahwa sebetulnya istri saya ingin sekali saya berada di rumah dengannya. Saudara, saya menimbang-nimbang pergi-jangan, pergi-jangan, pergi-jangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak pergi. Istri saya terkejut dan berkata: kenapa? Saya berkata: ya tidak apa-apa, saya mau diam di rumah saja dengan kamu. Saudara, apakah setiap kali saya harus pergi, istri saya menahan saya, tidak. Tapi secara sekali-sekali, secara berkala. Sewaktu saya melakukan hal seperti itu, dia diyakinkan bahwa di atas semua orang, dialah yang paling-paling saya utamakan di dalam hidup saya. Saudara mungkin berkata, bukankah kita harus mengutamakan orang tua kita? tidak Saudara. Alkitab tidak pernah memerintahkan suami untuk bersatu kembali dengan orang tuanya. Alkitab meminta suami meninggalkan orang tuanya, bersatu dengan istrinya. Anak dibesarkan oleh orang tua untuk berpisah bukan menyatu. Tapi dua orang pria dan wanita menjadi pasangan suami istri untuk menyatu bukan untuk berpisah. Nah, jadi Saudara, kasih adalah menunjukkan dia paling utama dalam hidup kita. Dan sekali lagi, saya ingin memberikan penghiburan kepada kita yang kaum pria. Jangan takut istri akan menguasai. Menjaga Saudara menuntut tidak ada habis-habisnya, tidak demikian. Justru saya temukan, sewaktu kita memberikan kasih yang cukup kepadanya, dia semakin aman, dia semakin tenteram dan dia semakin tidak banyak menuntut. Justru istri yang merasa tidak amanlah yang terus menuntut suaminya memberikan lebih banyak kasih kepadanya. Itu yang Tuhan minta dari kita sebagai suami. Yang kedua, Tuhan meminta suami untuk menyerahkan diri kita kepadanya dan menanggalkan ego kita. Saudara, Firman Tuhan dengan jelas berkata seperti itu, menyerahkan diri dengan cara seperti apa saudara, menanggalkan ego kita, itu saya ambil dari Filipi pasal 2. Saudara, Tuhan meminta suami menyerahkan dirinya kepada istri. Wah, ini hal yang sedikit menakutkan bagi para suami. Saya tidak mau dikuasai istri saya, saya tidak mau menjadi budak istri saya, saya tidak mau menjadi anak kecil di mata istri saya. Tuhan berkata seperti Yesus Kristus mengasihi jemaatNya dan menyerahkan hidupnya dan jemaat-Nya. Jadi kita perlu menyerahkan diri kita kepada istri kita. Saudara, ini hal yang sedikit sulit. Jangan terlalu berbicara panjang-panjang Saudara. Saya langsung saja mengatakan "to the point", Seberapa banyak dari Saudara yang berani terbuka memberitahukan istri Saudara, berapa penghasilan Saudara. Saya tahu sebagian suami tidak pernah mau memberitahukan istrinya berapa penghasilannya. Bagaimanakah menyerahkan diri, kalau uang saja tidak menyerahkannya kepada si istri. Saudara, menyerahkan diri bukan hal yang mudah bagi pria. Pria mempunyai ego yang kuat, dan memang Tuhan meminta pria sebagai Pemimpin, kepala keluarga. Wow......bagaimanakah sebagai kepala, saya menyerahkan hidup saya, diri saya, kepada istri saya. Justru Tuhan meminta kita menyerahkan diri Saudara. Menyerahkan atau menanggalkan ego kita. Saya ambil ini dalam Filipi 2 saudara. Sebab Tuhan Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu yang harus dipertahankan, tapi Dia mengosongkan diriNya menjadi manusia. Itulah cara Tuhan mengasihi kita. Mengosongkan diri. "Diri" dalam bahasa Yunaninya itu "ego". Mengosongkan ego. Mungkin saya pernah cerita kepada saudara ya, pengalaman saya beberapa tahun yang lalu. Saya bertengkar dengan istri saya. Malam itu kami bertengkar hebat sekali, waktu kami di Jakarta dan kami tidak tidur bersama. Dia ke kamar anak-anak saya, saya di kamar saya. Saya mencoba tidur, saya tidak bisa tidur karena apa, firman Tuhan dari Filipi 2 mengiang-ngiang di telinga saya. "Paul, engkau mengasihi istrimu, engkau harus menanggalkan egomu, datanglah kepada dia, berdamailah pada dia". " Tidak mau Tuhan, dia yang salah dia harus minta maaf dulu." "Paul, tanggalkan egomu, hampiri dia, berdamai dengan dia", Tidak mau Tuhan, sebentar-sebentar saya dulu yang minta maaf, sebentar-sebentar saya dulu yang minta maaf. Sekarang harus dia, ingat-ingat saya, kok dari dulu saya saja yang minta maaf. sekarang dia yang harus minta berdamai." "Paul, engkau sudah khotbahkan ini, sekarang engkau lakukan," (aduh, makanya jangan sembarangan khotbah, Saudara), Firman Tuhan menegur kita yang pernah mengkhotbahkan itu. Saya akhirnya tidak bisa tidur Saudaraku, bukan karena mau taat. Saya terus diganggu oleh firman Tuhan. Saya menaati Tuhan, sehingga saya ke kamar anak saya. Saya melihat istri saya, duduk di lantai dan menangis. Saya hampiri dia, karena saya tidak punya lagi perasaan marah. Kemarahan tiba-tiba hilang semua. Saya mulai merangkulnya dan saya berkata, "Siang" "saya tidak apa-apa", "saya tidak apa-apa". Kami baikan lagi. Besok paginya baikan lagi, besok paginya baikan lagi. Sekarang kalau ditanya apa sih masalahnya saat itu, tidak ingat Saudara. Tapi saat itu rasanya perang dunia ke II bisa meledak lagi di rumah karena begitu besarnya masalah saat itu, tapi sekarang sudah lupa.

Saudara, perlu keberanian untuk menanggalkan ego sebagai pria. O......Saudara, Tuhan meminta pria menjadi pemimpin melalui satu cara yang sangat-sangat dramatis dan paradoks, berlawanan dengan cara dunia, bukan menguasai, tapi menyerahkan diri. O.....betapa kelirunya kita para pria ini, kita sudah begitu dirasuki oleh budaya bahwa kita sebagai pemimpin harus menguasai yang menjadi bawahan kita, ya 'kan? O....tidak pernah Tuhan berkata begitu, Tuhan memang menempatkan kita sebagai kepala, tapi bagaimanakah kita mengepalai tubuh ini dengan cara menyerahkan diri, menanggalkan ego. Kita berkata: "ah......susah itu Paul", "betul susah", "ah....tidak mungkin itu Paul". "Mungkin", harus dilewati satu pergumulan, demi satu pergumulan. Saya melihat Saudara, banyak pernikahan dihalangi oleh satu hal, satu kata, "gengsi". Itu salah satu racun pernikahan, "gengsi". Nah, sebagai kepala yang Tuhan tetapkan, Tuhan meminta kita sebagai suami menanggalkan ego, mengosongkan ego, menyerahkan diri, rela. Kalau Saudara rela, inilah jalan menuju kehidupan pernikahan yang diberkati, yang berbahagia.

Berikutnya Saudara, Tuhan meminta kepada suami untuk menguduskannya agar ia menjadi istri yang kudus dan tidak bercela. Saudara, Tuhan meminta suami bukan saja mengasihi, bukan saja menyerahkan dirinya. Tuhan meminta suami bertanggung jawab menguduskan istrinya, sehingga istrinya tidak bercacat cela, sempurna. Saudara, Alkitab menggunakan metafor, persembahan. Tuhan memerintahkan orang Israel memberi persembahan yang tanpa cacat. Tidak boleh yang matanya copot, yang kakinya patah, tidak Tuhan meminta umat Israel memberikan persembahan hewan yang terbaik, tanpa cacat. Nah, seolah-olah itulah yang Tuhan minta dari suami. Agar suami bisa mempersembahkan kepada Tuhan istrinya. Nah, Saudara harus ingat baik-baik bahwa nanti di sorga persembahan Saudara yang Tuhan akan tuntut adalah bukan uang, tapi istri Saudara. Bisa tidak kita sebagai suami membawa persembahan yang adalah istri kita tanpa cacat ataukah kita di sorga membawa istri kita yang babak belur, yang hitam legam, yang benjut-benjut, yang penuh luka-luka, yang matanya sembab-sembab karena terlalu sering menangis. Persembahan seperti apakah yang kita akan bawa kepada Tuhan nanti. Saudara, saya berharap kita membawa persembahan istri yang tanpa cacat, yang tidak ada sembab-sembab, babak belur, sempurna. Kenapa? Sebab dia istri yang kita kuduskan, kita jaga. Saudara, kata kudus mengandung arti memisahkan, mengistimewakan, menjaganya, melindunginya sehingga dia terpisah tidak terkena kotoran. Saudara, itulah tugas kita sebagai suami. Saya berharap kita tidak akan malu di sorga mempersembahkan istri kita nanti sebab kita akan membawa istri yang tanpa cacat, yang hatinya tetap bulat bukan terobek-robek oleh karena perbuatan kita.

WL : Pak Paul, kalau saya berpikir banyak wanita dan istri-istri mendengarkan khotbah barusan dari Pak Paul ya, pasti mengidam-idamkan pria atau suami yang seperti Pak Paul jelaskan tadi begitu. Nah, tadi saya berpikir itu bagaimana mengantisipasi untuk dapat suami seperti itu. Apakah sejak pacaran kira-kira, o......ada tipe-tipe tertentu atau kita sudah bicarakan dulu. Kira-kira hal-hal seperti ini yang memang Alkitab tuntut, seperti apa sih Pak Paul?

PG : Bu Wulan, saya sering kali memberikan satu pegangan kepada para kawula muda, bagaimanakah memilih pasangan hidup. Saya berkata carilah seseorang yang mencintai Tuhan dan yang mencintai dirmu.

Sebab waktu seseorang mencintai Tuhan dengan segenap hatinya, dia akan rela mendengarkan Tuhan. Kita semua masih dalam tahap pertumbuhan, kita belum mencapai kematangan tapi modalnya adalah bersediakah kita belajar. Ada orang yang keras hati tidak bersedia belajar, ada orang yang cinta Tuhan dan bersedia belajar. Nah, kita cari yang seperti itu. Dan yang mencintai diri kita, artinya karena dia mencintai diri kita, dia juga rela mendengarkan kita, rela untuk melakukan sesuatu bagi kita pula. Jadi saya kira itu pedoman umum, sederhana mudah-mudahan bisa dititipkan kepada para pendengar kita waktu mereka bertemu dengan orang-orang dan nantinya mereka mungkin akan menikah dengan mereka.
WL : Tapi realitanya Pak Paul, di dalam kehidupan sehari-hari, dia mengatakan dia cinta Tuhan. Tapi realita kehidupan suami-istri, tidak seindah seperti yang tadi Pak Paul jelaskan. Apalagi mendengar kesaksian yang Pak Paul alami sendiri dengan istri. Terus bagaimana firman Tuhan begitu menegur, akhirnya Pak Paul ya "mengalah" terhadap otoritas firman Tuhan itu begitu. Apakah karena memang label Pak Paul sebagai hamba Tuhan, itu tadi yang Pak Paul juga tekankan 'kan makanya jangan sembarangan khotbah begitu". Apakah berarti, kalau begitu kita cari pasangan yang hamba Tuhan sajalah, kan lebih aman. Apakah orang awam tidak bisa seperti itu, atau hamba Tuhan itu jaminan atau bagaimana Pak Paul?

PG : Tidak ada jaminan. Kita semua sebagai anak-anak Tuhan harus bergumul. Saya tidak selalu menang. Jadi kita atasi satu pergumulan, demi satu pergumulan. Adakalanya kita kalah, adakalanya kit menang.

Tapi kita berusaha ya untuk taat kepada Tuhan. Nah, saya sangat percaya bahwa di dalam hidup kita, kita memiliki Tuhan dan kalau kita mendengarkan suara Tuhan, Tuhan akan hidup melalui diri kita. Nah, waktu Tuhan hidup melalui diri kita, dan Tuhan hidup melalui diri pasangan kita, tidak bisa tidak ya, kedua orang itu akan makin menyatu dan kehidupan mereka akan makin diberkati pula.
GS : Sebenarnya setiap suami itu punya tekad awal itu seperti yang tadi Pak Paul sampaikan dalam ceramah itu. Tapi dalam perjalanan memang tadi Ibu Wulan katakan realitanya tidak seindah itu Pak Paul. Jadi ini pergumulan terus-menerus mungkin sampai mati pun belum tentu mencapai ideal itu. Tetapi saya melihat ada satu target, ada satu pedoman yang harus dicapai dari kebenaran firman Tuhan, bukan begitu Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, dan ini nasihat yang bisa menghibur kita semua. "Semakin taat kita kepada Tuhan, semakin lebih mudah taat. Semakin kita bisa taat dalam lebih banyak aspek keidupan kita.

Jadi benar-benar, saya mengutip perkataannya Richard Foster, kepatuhan melahirkan kepatuhan. Semakin kita patuh, lebih mudah patuh. Nah, maka awalnya itu penting sekali kita menunjukkan kita patuh kepada Tuhan. Kita kadang-kadang gengsi dengan pasangan kita, tapi kita tahu ini Tuhan yang meminta kita, jadi kita mungkin bisa berkata kepada pasangan kita, kalau menuruti hati, tidak akan saya berbicara, tetapi saya tahu, saya harus menaati Tuhan. Tuhan menuntut saya untuk berinisiatif, berbicara dulu dengan kamu, maka saya ngomong. Nah, waktu istri melihat suami taat kepada Tuhan seperti itu, yang akan muncul dalam dirinya adalah hormat kepada suaminya, sebab dia tahu suaminya takut kepada Tuhan. Dan suami yang seperti inilah suami yang saleh dan dia lebih mendengarkan suami yang saleh.
GS : Tadi yang Pak Paul bahas, yang disampaikan tadi kan menyoroti sisi suami, Pak Paul. Apakah Pak Paul juga akan bahas dari menyoroti sisi istri itu Pak Paul.

PG : Ya, jadi nanti kita akan melanjutkan lagi diskusi kita Pak Gunawan dan kita akan dengarkan tugas istri yang Tuhan sudah juga titipkan kepada kita.

GS : Terima kasih, Pak Paul juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian tentu kita berharap Anda bisa mengikuti acara Telaga ini pada kesempatan yang akan datang karena kami akan mendengar rekaman ceramah lagi dari Pak Paul yang ditinjau dari sisi istri. Dan ini menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kehidupan suami-istri. Para pendengar yang kami hormati, terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Anda baru saja mendengarkan sebuah rekaman ceramah dari hamba Tuhan ini. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang



28. Mengapa Kita Menikah Wanita


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T133B (File MP3 T133B)


Abstrak:

(Materi ini diambil dari hasil rekaman khotbah Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam suatu acara retreat.) Tugas seorang istri mengandung sebuah janji yaitu berjanji untuk tunduk kepada suami seperti tunduk kepada Tuhan.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kita akan bersama-sama mendengarkan sebuah rekaman, rekaman ceramah yang dibawakan oleh Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Pemutaran ulang rekaman ini merupakan suatu kelanjutan dari pemutaran rekaman beberapa waktu yang lalu, jadi kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah bersama-sama mendengarkan diputarnya rekaman ulang yang Pak Paul sampaikan dalam bentuk ceramah, tetapi waktu itu hanya membahas tentang peran suami. Nah kali ini tentang apa, Pak Paul?

PG : Kali ini kita akan melanjutkan dengan membahas peranan istri yaitu kita akan melihat Alkitab, apa yang firman Tuhan katakan kepada para istri, apa yang harus mereka perbuat untuk suami merka.

GS : Sebenarnya ini rekaman ceramah di mana Pak Paul?

PG : Di Pelangi Kristus, di sebuah retreat pada tahun 2002 di Surabaya.

GS : Apakah pada waktu itu banyak pasangan suami-istri yang ikut hadir di sana?

PG : Betul, memang itu khusus untuk para suami-istri.

GS : Jadi kalau begitu baiklah para pendengar sekalian, kita ikuti saja rekaman ceramah dari Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi.

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Nah sekarang mari kita melihat tugas istri, supaya istri tidak kecewa jauh-jauh hari saya beritahukan, ternyata tugas istri tidak sebanyak tugas suami. Saudara, ini tugas yang dalam bentuk janji, saya berjanji untuk tunduk kepada suami saya seperti kepada Tuhan. Saudara menundukkan diri merupakan kesusahan tersendiri bagi para istri, kenapa? Sebab istri adalah rekan, mitra, istri bukanlah pesuruh suami dan semua istri tahu itu, oleh karena itulah menundukkan diri kepada rekan menjadi sangat susah sebab dia bukanlah atasan kita, kita tahu itu, dia bukanlah yang menggaji kita, kita tahu itu, dia adalah rekan kita jadi susah untuk tunduk kepadanya. Saudara, kita susah tunduk juga sebab kadang kala kita melihat tindakannya tidak bijaksana, otomatis kalau kita tahu suami kita melakukan hal yang sangat tidak bijaksana dan bisa menghancurkan keluarga kita, penundukan kita juga harus berakhir. Misalkan saudara kalau suami kita menipu-nipu orang, ke kanan-ke kiri menipu koleganya satu persatu, nah saudara sebagai istri sudah seyogyanyalah kita tidak mendukung dia dan tunduk kepadanya. Misalkan kalau dia meminta kita turut menipu bersama dengan dia karena itu berdosa, jadi tunduk memang ada batasnya yaitu batas tidak berdosa. Tapi saudara yang menarik adalah Alkitab berkata tunduk di dalam segala sesuatu, artinya memang tadi saya juga katakan ada batasnya namun di dalam parameter di mana Tuhan menghendaki istri tunduk, istri memang diminta Tuhan untuk tidak terlalu sering mempertanyakan suami. Saudara, suami sebagai kepala akan mengalami kesulitan melangsungkan tugas dan kewajibannya kalau setiap tindakannya dipertanyakan oleh istrinya. Tunduk berarti berkata begini: "Engkau memang tidak sempurna, aku mungkin tidak setuju denganmu di sini, tapi demi menjaga relasi kita ini saya mau pilih tunduk kepada Tuhan melalui tunduk kepadamu. Saya ulang lagi, saudara saya kira tidak mudah ya untuk tunduk kepada orang lain apalagi kalau kita berpikir kita mempunyai pendapat yang lebih baik daripada pasangan kita. Nah, tapi karena Tuhan meminta kita tunduk dan kita susah tunduk kepada suami, saya meminta kita melakukannya dengan cara yang berbeda yaitu dengan berkata saya tunduk kepada Tuhan melalui engkau. Sekali lagi saudara saya jelaskan, tidak tunduk membabi buta dalam hal-hal yang sangat salah dan berdosa, tidak. Namun dalam hal keputusan-keputusan yang memang harus diambil dalam keluarga, istri lebih siaplah berkata OK saya akan dengarkan, OK saya akan ikuti, nah kalau suami itu juga suami yang takut kepada Tuhan dan mengasihi istrinya dia akan memberikan kesempatan kepada istri memberikan pandangannya. Sebab si suami ingin tahu pula pendapat istrinya, nah istri bisa berkata: "Bolehkah saya memberikan masukan, bolehkah saya memberikan pendapat," di saat itulah suami bisa mendengarkan masukan istri yang bisa menambah informasi dan ketepatannya dalam memutuskan suatu masalah. Saudara kalau tidak tunduk, biduk keluarga tidak bisa berjalan. Keluarga adalah organisasi yang terkecil di dalam masyarakat dan kita tahu semua organisasi membutuhkan kepemimpinan dan ketundukan dari yang dipimpinnya. Saya sering kali menggunakan ilustrasi ini, bagi saudara yang bekerja sebagai karyawan apakah saudara selalu menyetujui keputusan atasan saudara, tidak ya, apakah kadang-kadang atasan saudara membuat keputusan yang keliru untuk perusahaannya, ya, tapi apakah saudara tunduk kepada tuntutannya, ya, kenapa? Perusahaan hanya bisa berjalan kalau ada pemimpin dan ketundukan pada pemimpin itu. Demikian pulalah dengan keluarga kita, kita harus bisa tunduk, tanpa ketundukan keluarga kita tidak berjalan. Yang kedua, Tuhan meminta istri untuk menghormati suami, Tuhan berkata: "Hai istri, hormatilah suamimu." Saudara, hormat adalah cara kita berelasi dengan orang, sekali lagi hormat adalah cara kita berelasi dengan orang. Kita boleh tidak setuju dengan pendapatnya, tapi kita tidak harus kurang ajar atau kasar. Saudara salah satu hal yang bisa meracuni keluarga atau hubungan suami-istri adalah jika istri kasar atau kurang ajar kepada suaminya. Sulit sekali keluarga itu akan bisa bahagia dan diberkati kalau sedikit-sedikit istri marah memaki si suami atau kalau ngomong tidak ada sopan santun, tidak ada penghormatan sama sekali. Sekali lagi saya tekankan, si suami tidak selalu benar, suami bisa salah tapi walaupun suami bisa salah dan kita berbeda pendapat dengan dia, jangan sampai kita kasar dan kurang ajar. Saudara, saya tahu istri yang kalau suaminya bicara dia tidak suka, dia berteriak-teriak memaki-maki suaminya menyuruh suaminya diam, tutup mulut. Saudara itulah salah satu contoh ketidakhormatan, jadi Tuhan meminta kepada istri hormatilah suami. Dan yang terakhir ini adalah janji untuk suami-istri, saya memberikan janji ini saya ambil dari kitab Ibrani, menghormati perkawinan kami dan tidak mencemarkan ranjang pernikahan kami, janji kepada suami dan kepada istri, dua-dua harus membuat janji yang sama, kalau tadi spesifik untuk suami dan istri sekarang berdua. Saudara kita harus menghormati pernikahan kita sedemikian rupa sehingga kita tidak mau mengotorinya dengan ketidaksetiaan. Jangan sampai kita mencemarkan ranjang pernikahan kita. Saudara ke mana-ke mana saya pergi saya selalu mendapatkan laporan anak-anak Tuhan yang terlibat dalam pelayanan dan kemudian jatuh ke dalam perzinahan, terlalu sering saudara antara aktivis Kristen dengan sesama aktivis Kristen. Saudara, kita harus menghormati pernikahan kita dengan cara tidak mencemarkan ranjang kita. Saudara, hampir semua kesalahan yang lain lebih mudah diterima oleh pasangan kita kecuali kesalahan dalam hal mencemarkan ranjang kita, itu akan sangat sulit.

GS : Pak Paul, kita telah bersama-sama mengikuti siaran ulang atau diputarnya ulang sebuah rekaman yang Pak Paul sudah bawakan dalam bentuk ceramah. Kalau pada kesempatan yang lalu Pak Paul sudah membahas tentang peran atau tanggung jawab suami, maka pada kesempatan kali ini lebih banyak dibahas tentang tanggung jawab seorang istri Kristen tentunya. Nah yang ingin saya tanyakan Pak Paul dalam kesempatan ini, konsep pernikahan itu yang diberikan oleh Tuhan kepada suami maupun istri itu 'kan sudah lama sekali Pak Paul, bagaimana hal-hal seperti ini masih tetap relevan untuk kita yang hidup pada zaman ini?

PG : Semua tetap relevan Pak Gunawan, karena yang menarik adalah meskipun kita ini telah berada di muka bumi ribuan tahun tapi kebutuhan kita tetap sama. Kita boleh berevolusi dalam hal berapa esar, tinggi badan kita, warna rambut kita, warna mata kita, tapi kita tidak pernah berevolusi di dalam hal kebutuhan mendasar kita.

Kita tetap membutuhkan dikasihi, kita membutuhkan dihormati, nah itulah kebutuhan pokok yang dibawa oleh manusia ke dalam pernikahan. Tuhan meminta suami mengasihi istri karena itu kebutuhan pokoknya, Tuhan meminta istri menghormati suaminya itulah kebutuhan pokok si suami. Dan melewati abad demi abad kebutuhan tersebut tetap sama, jadi perintah Tuhan atau resep Tuhan tentang pernikahan yang Tuhan berkati juga akan tetap sama sampai kapan pun.
GS : Itu sifatnya universal Pak ya? (PG : Betul). Ada beberapa etnis tertentu itu yang istri ketertundukannya kepada suami itu bisa kita nilai agak berlebihan Pak Paul, jadi betul-betul tunduk dan menyerahkan dirinya itu total, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira kita harus membedakan antara akuisisi dan penyatuan. Saya sering mengatakan bahwa pernikahan Kristen bukanlah salah satu bentuk akuisisi. Akuisisi berarti yang satu menelan atau enguasai yang satunya, sehingga yang ditelan atau dikuasai tidak lagi mempunyai suara atau hak, tidak, itu bukan konsep pernikahan Kristen.

Pernikahan Kristen adalah penyatuan dua individu, berarti dua-dua akan meleburkan diri, dua-dua akan harus memotong, mengorting dirinya supaya kedua diri ini bisa menyatu, itulah yang Tuhan inginkan.
WL : Pak Paul, saya teringat pada session sebelumnya, Pak Paul jelaskan tentang tugas suami yang sepertinya lebih banyak dibandingkan tugas istri yang tadi Pak Paul jelaskan hanya sedikit. Saya pikir unik sekali ya Tuhan menuntut seperti itu dibandingkan dengan realita yang sebenarnya (maksudnya dunia sudah jatuh dalam dosa mungkin karena itu). Realitanya istri-istri lebih banyak tugasnya dalam rumah tangga, terus kalau ada masalah dalam pernikahan atau dengan anak itu pasti yang disalahkan kebanyakan istri, padahal Alkitab menuntutnya tidak seperti itu.

PG : Alkitab mempunyai standar yang memang berkebalikan dari standar yang dianut oleh dunia. Tuhan pernah berkata bahwa orang-orang di dunia atau majikan-majikan di dunia akan menuntut orang unuk tunduk kepadanya dan dia akan melakukan itu dengan kekuasaannya, tapi tidaklah demikian dengan kamu, kata Tuhan, kamu harus melayani.

Dengan kata lain konsep memimpin adalah konsep yang identik dengan melayani. Siapa yang hendak menjadi besar, hendaklah menjadi pelayanmu. Nah karena Tuhan memberikan tugas kepada suami sebagai pemimpin maka dia memang bertugas sebagai pelayan, artinya lebih banyak hal yang harus dia korbankan demi keluarganya, demi orang-orang yang memang bernaung di bawahnya. Tapi dunia memberikan konsep yang keliru, karena dia kepala berarti haknya lebih besar, berarti semua orang-orang harus mengikuti kehendaknya sebab dialah kepalanya. Dan sama sekali tidak ada pengertian bahwa sebagai kepala dia justru seharusnya menjadi pelayan bagi semua anggota keluarganya, itu konsep yang terhilang dalam dunia ini. Itu sebabnya di Alkitab kita bisa membaca tugas seorang suami memang sangat banyak, lebih banyak daripada tugas seorang istri karena apa, sejajar dengan konsep pelayan tadi. Kalau saya boleh tambahkan juga Ibu Wulan, Tuhan memberikan tugas kepada pria untuk mendisiplin anak, memang membesarkan anak-anak itu adalah lebih merupakan tugas seorang ibu karena secara alamiah dia yang melahirkan, dia yang menyusui dan sebagainya. Tapi waktu anak itu mulai besar yang lebih diberikan tugas untuk mendidiknya bukannya ibu, firman Tuhan secara konsisten mengatakan: "Hai bapak! Hai Bapak! Didiklah anakmu dalam takut akan Tuhan. Hai bapak, janganlah sakiti hati anakmu." Jadi di Perjanjian Lama juga ada yang seperti itu, intinya adalah tugas itu diembankan kepada bapak. Nah sekarang apa yang terjadi, para bapak mendelegasikannya kembali kepada para ibu, nah itu keliru justru memang banyak sekali tugas yang diberikan Tuhan kepada para pria.
GS : Nah sekarang ini makin banyak wanita yang sadar dan merasa bahwa dia sebenarnya mempunyai hak yang sama dengan kaum pria Pak Paul, nah ini di dalam hubungan suami-istri bagaimana Pak Paul?

PG : Nah ini mesti kita cermati dengan baik-baik, dua-dua memang harus tunduk kepada Tuhan, ini syarat utamanya. Jangan sampai ada dua orang dan tidak tunduk kepada Tuhan, mesti ada titik tenga, titik tengahnya adalah Tuhan sendiri.

Berarti apa yang Tuhan katakan dua-dua akan berusaha untuk menaatinya apapun itu yang Tuhan minta dia lakukan. Nah sekarang memang ada konsep egalitarian yaitu pria membawa 50%, wanita membawa 50% dan semua hal harus didiskusikan sehingga tidak ada lagi yang menjadi pemimpin, itu juga salah. Sebab sebagaimana kita sudah dengar tadi bahwa keluarga adalah organisasi yang terkecil dan semua organisasi harus memiliki pemimpin, tidak ada kepemimpinan berarti kekacauan. Maka saya kira salah satu penyebab mengapa tingkat perceraian makin meningkat adalah konsep yang mulai berubah itu, tetap mesti ada yang mengepalai dan Tuhan memberikan tugas itu kepada si suami. Namun si suami dalam mengepalai dia harus melakukannya dengan jiwa seorang pelayan itu yang dituntut oleh Tuhan. Dan kalau suami sudah mencoba melakukan itu, istri juga harus selalu lebih siap menundukkan diri daripada menyatakan kehendaknya yang selalu berbeda dari suaminya. Jadi keduanya memang saling mengimbangi, jadi tidak bisa kita katakan suami dulu mulai baru istri mulai, tidak, dua-duanya harus mulai pada waktu yang bersamaan.
GS : Ya tetapi di dalam pernikahan, sekalipun pada awalnya suami itu menjadi kepala keluarga, tetapi di dalam perjalanan hidup mereka ternyata memang kelihatan bahwa sebenarnya istri itu lebih dominan, jadi dia itu lebih mampu sebenarnya untuk menjadi pemimpin sehingga suaminya pun berkata kamu saja yang menjadi pemimpin di rumah ini. Itu bagaimana sebenarnya?

PG : Istri yang memang lebih bijaksana dari suaminya atau lebih bisa dalam banyak hal daripada suaminya harus benar-benar bisa menempatkan dirinya. Jadi di depan keluarga, di depan anak-anak da sebagainya istri lebih harus menahan diri.

Di belakang dalam privasi mereka, si istri bisalah memberikan masukan-masukan kepada si suami. Cara yang lainnya lagi adalah istri jangan langsung memberikan perintah, menurut saya ini dan ini yang harus dilakukan, jangan. Meskipun dia tahu yang benar dan si suami mungkin keliru, saran saya adalah berikan pilihan kepada si suami, menurut kamu mana yang lebih baik nah si istri karena lebih pandai misalkan, lebih bijaksana, dia memberikan dua, tiga pilihan. Dan dari dua, tiga pilihan itu jelas yang paling baik yang mana, nah dari dua, tiga pilihan itu si suami nanti yang diminta untuk mengambilnya, akhirnya suami yang mengambil keputusan. Nah suami merasakan juga istrinya menghormati dia, sehingga dia yang tetap diberikan hak untuk mengambil keputusan itu. Tapi siapakah yang sebetulnya menyediakan pilihan-pilihan itu, si istri nah jadi kalau ini bisa dilakukan saja, saya kira meskipun si istri lebih bijaksana tetap kepemimpinan di tangan si suami dan si istri tetap menunjukkan hormat kepada si suaminya.
WL : Pak Paul, menyambung pertanyaan Pak Gunawan, kalau misalnya si istri tidak tahu tentang hal-hal seperti ini, lalu dia juga dibesarkan di tengah-tengah keluarga di mana ibunya memang lebih dominan, lebih banyak kelebihan, kemampuannya lebih dibandingkan ayahnya dan ternyata tidak ada masalah selama ini, papanya juga cukup OK dengan situasi itu bahkan malah "menikmati". Nah yang perempuan ini memang melihat o...suami-istri seperti itu begitu, nah waktu dia masuk ke pernikahan mungkin dia akan kesulitan kalau ketemu pria yang bukan seperti papanya maksudnya memang ya seharusnya suami yang memimpin begitu.

PG : Itu sering terjadi Bu Wulan, jadi memang kita ini produk dari lingkungan, apa yang telah kita lihat pada masa-masa pertumbuhan akhirnya tertempel di benak kita dan itu yang kita akan bawa alam rumah tangga kita.

Itu sebabnya sekali lagi saya ingin ingatkan bimbingan pranikah itu penting dalam masa-masa berpacaran, sehingga masing-masing bisa mengenali pola-pola bagaimana mereka dibesarkan dulu. Sebab pola-pola itulah nanti yang akan mereka nanti bawa dalam pernikahan. Nah sudah tentu waktu dia menikah dengan pria yang berbeda dari ayahnya akan banyak sekali penyesuaian yang harus dia lakukan karena si suami mungkin sekali tidak akan terima dengan cara-cara otoriter istrinya. Sudah tentu akan terjadi konflik tapi kalau dua-dua memang serius mau menyatukan relasi ini ya bisa berubah.
GS : Tapi memang sering saya temukan dalam banyak contoh itu pasangan suami-istri, saya lihat ini ada suatu keahlian istri itu untuk bisa menguasai suaminya Pak Paul, sehingga banyak teman-teman itu yang berkata wah ini suami yang takut istri dan sebagainya. Dalam hal seperti itu Pak Paul, ternyata orang lain bisa membaca memang sekalipun suaminya itu sebagai kepala keluarga, tetapi yang sangat berperan itu istrinya. Nah tentu buat si suami ini menjadi suatu cela tersendiri, dia merasa dipermalukan, itu bagaimana mengatasinya Pak Paul?

PG : Kalau dia menyadari itu dia mesti membicarakannya dengan istrinya dan berkata kepada istrinya: "Saya menghargai masukan kamu sebab saya melihat dalam hal-hal seperti ini kamu yang lebh tepat dibandingkan dengan saya, tapi mohon jangan sampai mempermalukan saya."

Nah Tuhan memang memberikan karunia kepada anak-anakNya laki-laki dan perempuan, jadi dari konsep ini saja kita bisa simpulkan bahwa tidak semua hal dilakukan dengan baik oleh satu orang dalam hal ini si suami, akan ada hal-hal tertentu yang dilakukan dengan sangat baik oleh seorang wanita atau istrinya. Nah pernikahan yang sehat pernikahan yang bisa memberi ruangan munculnya karunia-karunia ini dengan bebas dan kedua orang suami-istri itu bisa saling menghargai. Jadi suami minta kepada istrinya: silakan saya senang dengan masukan kamu, asal penyampaian kamu harus tepat, di mana kamu sampaikan harus juga dilihat-lihat, bagaimanakah cara kamu menyampaikannya mohon diperhatikan jangan sampai akhirnya melecehkan saya, kalau itu bisa disetujui saya kira rumah tangga mereka akan tetap berjalan dengan baik.
GS : Ya tetapi ada istri malah bangga, cerita sama teman-temannya o....kalau suamiku itu takut sama saya. Itu sebenarnya apakah kebutuhan atau keinginan untuk menguasai orang lain itu tercermin di sana?

PG : Saya kira itulah yang memang tersirat dari firman Tuhan kepada istri, istri tunduklah kepada suamimu, sebab memang sifat dasar manusia sebetulnya tidak mudah tunduk baik pria maupun wanita Jadi karena istri yang diminta tunduk memang tidak mudah tunduk, yang lebih enak adalah kalau orang lain yang tunduk kepada kita, jadi perjuangan yang sangat keras sekali.

Kenapa Tuhan memberi perintah kepada pria, kasihilah istrimu sebab saya yakin tersirat dalam perintah itu, cukup banyak pria terlalu cinta pada dirinya sangat egois. Jadi mencintai orang lain, mendahulukan orang lain, buat sebagian besar pria sangat sulit, jadi itulah yang menjadi latar belakang kenapa Tuhan juga memberikan perintah-perintah yang berbeda itu kepada suami dan istri.
WL : Pak Paul, kita sering mendengar istilah ya bolehlah si suami menjadi kepala, tapi siapa dulu jadi lehernya. Leher itu 'kan yang menggerakkan kepala mau ke kiri, ke kanan ke mana begitu jadi penting sekali istri itu memahami benar sampai seberapa porsinya dia di hadapan suami.

PG : Betul, makanya ada peribahasa yang berkata di belakang seorang suami yang sukses, ada seorang istri yang bijaksana. Itu juga betul saya kira.

GS : Jadi terima kasih sekali, saya rasa kalau pasangan suami-istri mengikuti pedoman yang sudah Tuhan berikan melalui kebenaran firman-Nya, kehidupan rumah tangga mereka khususnya dalam hubungan suami-istri pasti akan mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan dan ceramah yang boleh kita dengar bersama pada kesempatan ini, juga Ibu Wulan terima kasih untuk kehadiran Ibu bersama kami. Para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti acara ini acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja mengikuti sebuah penayangan ulang rekaman ceramah dari Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



29. Pertengkaran Racun atau Bumbu dalam Keluarga


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T139A (File MP3 T139A)


Abstrak:

Dalam berkeluarga pasti terjadi pertengkaran dan harus diselesaikan dengan berbagai macam solusi. Pertengkaran itu ada beberapa bentuk antara lain konflik, pertengkaran, perkelahian. Selain itu banyak orang mengatakan kalau habis bertengkar justru makin mesra, benarkah seperti itu?


Ringkasan:

Segala jenis perselisihan sebenarnya merupakan bentuk-bentuk perbedaan pendapat. Yang membedakannya adalah cara penyelesaiannya. Ada tiga jenis perselisihan dalam keluarga dan akan diurutkan dari ringan ke berat:

  1. Konflik. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui argumentasi atau perdebatan-persuasi verbal.

  2. Pertengkaran. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui tuduhan dan ancaman yang bermuatan emosi-persuasi emosional.

  3. Perkelahian. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui pemukulan-persuasi fisik.

Pasangan yang rawan konflik:

  1. Terlalu berbeda: Sulit menyesuaikan diri.

  2. Tidak dewasa: Menuntut pasangan untuk memenuhi kebutuhannya.

  3. Telanjur mengadopsi metode penyelesaian konflik yang melibatkan kekerasan emosional atau fisik: Jika marah harus berteriak atau memukul.

  4. Tidak takut akan Tuhan: Menghalalkan segala cara.

  5. Berkepribadian bermasalah: Memakai orang, mencintai benda dan diri sendiri.

Sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik:

  1. Kerendahan hati: Menyadari bahwa kita pun bisa keliru dan tidak melihat masalahnya dengan tepat.

  2. Berbelas kasihan: Tidak sampai hati menyakiti hati pasangan dan membuatnya bersedih.

  3. Mengampuni: Mengakui kita pun memerlukan pengampunan dari Tuhan dan sesama.

Firman Tuhan, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" Matius 7:1-3


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pertengkaran, Bumbu atau Racun dalam Keluarga", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, meski kehidupan suami-istri itu normal-normal saja pasti pernah terjadi pertengkaran di antara suami dan istri itu, bahkan orang mengatakan kalau tak pernah bertengkar itu belum keluarga yang sesungguhnya atau kadang-kadang antara orang tua dan anak, tetapi kalau keseringan juga tidak sehat. Nah bagaimana kita bisa menentukan bahwa ini masih dalam taraf yang wajar Pak Paul?

PG : Sebetulnya segala jenis pertengkaran merupakan bentuk-bentuk dari perbedaan pendapat Pak Gunawan, jadi memang suami-istri dengan latar belakang yang berbeda tidak bisa tidak mereka menjalai jalan hidup bersama dan relasi mereka makin mendalam makin merasa bebas untuk mengekspresikan diri, nah akan keluarlah pandangan-pandangan atau sikap-sikap yang memang kalau dalam situasi biasa tidak keluar akhirnya waktu keluar ternyata tidak sama dengan pasangannya nah itulah sebetulnya yang menimbulkan perselisihan.

Sebetulnya semua perselisihan merupakan bentuk perbedaan pendapat, yang membedakan adalah cara penyelesaiannya Pak Gunawan. Jadi kita akan membahas sekurang-kurangnya ada tiga jenis. Sebetulnya segala jenis perselisihan merupakan upaya untuk menyelesaikan perbedaan pendapat itu, jadi secara positifnya kita bisa katakan semua perselisihan merupakan upaya untuk menyelesaikan, tapi memang kita akan melihat bahwa ternyata tidak semua cara-cara itu merupakan cara-cara yang sehat.
GS : Bentuknya apa saja yang disebut pertengkaran itu Pak Paul?

PG : Yang paling rendah, yang paling ringan adalah yang kita sebut konflik, konflik merupakan perbedaan pendapat dan biasanya dicoba diselesaikan melalui argumentasi atau perdebatan, dengan kat lain saya simpulkan yang menjadi metode untuk menyelesaikan konflik adalah persuasi secara verbal, jadi kita hanya berbicara membawakan argumen dukungan kita dan sebagainya itu yang paling rendah dan yang paling ringan.

Pada tahap menengah saya panggil pertengkaran, pertengkaran di sini ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui misalkan tuduhan, ancaman yang bermuatan emosi, ledakan-ledakan suara, kemarahan-kemarahan, wajah yang mengeras, merah, mata melotot dan mungkin kata-kata yang kasar di sini saya juluki atau saya katakan pertengkaran merupakan persuasi emosional, jadi orang mencoba menyelesaikan perbedaannya itu melalui persuasi tapi secara emosional. Nah tahap yang paling berat yang kita sebut perkelahian, di sini perbedaan pendapat diselesaikan melalui tindak pemukulan, menggampar, menjambak, mendorong, menendang, nah ini yang saya sebut persuasi fisik jadi mencoba menyelesaikan persoalan tapi dengan persuasi fisik, kira-kira inilah tiga jenis perselisihan dari ringan sampai ke beratnya.
WL : Pak Paul saya sering mendengar banyak wanita terutama istri-istri mengatakan kalau habis bertengkar, cuma mereka tidak menjelaskan perbedaan antara tiga ini yang mana, pokoknya dia mengatakan kalau habis bertengkar justru kami lebih mesra loh katanya begitu, nah apakah benar seperti itu atau justru itu pola yang tidak sehat Pak Paul?

PG : Sebetulnya sangat bergantung sekali pada faktor penyelesaiannya kalau mereka bertengkar dan kemudian menemukan solusinya, betul mereka akan merasakan kedekatan yang tidak dirasakan sebelumya jadi ada betulnya kalau orang berkata pertengkaran itu bisa memperkaya, memperdalam relasi suami-istri tapi tergantung sebetulnya bukan pada pertengkarannya tapi pada solusinya.

Misalkan ada suami yang memang menggunakan metode perkelahian, metode yang paling berat tadi kalau berselisih pendapat dengan istrinya dia pukul dia gampar istrinya, istrinya akan diam nah apakah si istri akan merasakan dekat dengan si suami setelah digampar dan dipukuli, sudah pasti tidak, jadi tidak akan membawa perkembangan atau kemajuan dalam relasi mereka. Yang membawa kemajuan adalah tatkala keduanya mendapatkan solusi yang mereka memang cari, baik itu melalui cara yang pertama konflik, perbedaan bisa diselesaikan melalui persuasi verbal atau yang kedua mungkin ada marah-marahnya tapi akhirnya ketemu juga solusinya, yang ketiga tadi saya kira tidak akan pernah menemukan solusi.
GS : Tapi di sana di dalam penyelesaian masalah atau pencarian solusi itu 'kan masih sering kali terjadi perselisihan pendapat lagi Pak Paul?

PG : Betul jadi ini bukan sesuatu yang sekali ditemukan akan bisa bertahan untuk selama-lamanya, jadi setelah kita menemukan satu solusi untuk masalah kita ini di kemudian hari akan muncul lagimasalah yang lain dan kita harus bekerja dengan keras lagi untuk menemukan solusi itu.

Tapi ini catatan yang harus kita garisbawahi semakin banyak keberhasilan menemukan solusi, semakin memudahkan kita menemukan solusi, jadi kalau kita balik juga betul semakin sulit, semakin jarang menemukan solusi semakin tidak akan mudah kita menemukan solusi jadi relasi yang baik, yang sehat makin hari makin sehat, merelasi yang buruk bertahan pada level seburuk itu saja sudah susah sebab kecenderungannya makin hari makin memburuk.
WL : Apakah benar kalau saya menganggap orang yang berani konflik atau bertengkar itu berarti orang yang berani maksudnya bukan pengecut, karena kalau misalnya dia menyampaikan kesannya atau beda pendapat itu 'kan ada resiko yang harus dia tanggung, ada penolakan jadi justru malah tegang dan sebagainya dibandingkan misalnya ah sudahlah diamkan saja ya sudah berlalu begitu saja akhirnya tidak selesai lagi nanti muncul lagi masalah lain.

PG : Dari salah satu segi memang betul, kita bisa melihatnya sebagai tindak keberanian, berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya dan tidak hanya menyimpannya, tapi dari segi yang lain saya uga harus mengatakan bahwa ada orang-orang yang sangat ketakutan, ketakutan kehilangan pasangannya dan akan menggunakan suara keras pemukulan dan sebagainya untuk mengontrol supaya pasangannya tidak ke mana-mana.

Jadi sebetulnya kekerasan suara dan pemukulannya itu wujud dari ketakutannya, namun dia kamuflase, dia tutupi tindakan-tindakan kasar seperti itu agar dia bisa mengontrol pasangannya agar tidak ke mana-mana.
GS : Penyelesaian masalah yang berbeda tadi, jadi misalnya tadi yang Ibu Wulan katakan si istri itu menghendaki menyelesaikan dengan diam tapi si suami menghendaki dengan verbal itu 'kan sudah tidak ketemu, yang satu bilang saya diam saja nanti kita selesaikan lain kali atau bahkan dilupakan, tapi yang laki-laki minta hari ini juga harus selesai nah itu 'kan mesti dicarikan solusinya lagi Pak Paul?

PG : Nah, dalam kasus seperti itu keduanya memang mesti menyepakati bahwa misalkan tidak bisa segera sebagaimana diharapkan si suami, tapi juga tidak boleh selambat sebagaimana diharapkan oleh i istri.

Betul si istri tidak bisa langsung mengeluarkan isi hatinya dan mencoba menyelesaikannya pada saat itu juga, ok! Kalau begitu disepakati misalkan sampai kapan hari ini, besoknya atau paling lama misalkan sampai besok tapi harus dibicarakan. Jadi si suami juga harus menahan diri, dia tidak bisa memaksa istrinya langsung berbicara karena ada orang yang memang tidak bisa langsung berbicara tapi sebaliknya dalam kasus ini si istri juga tidak boleh terus-menerus merasa nyaman dalam kepompongnya dan tidak keluar dan berkata inilah saya, saya tidak biasa untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran saya nah tentukan besoknya harus bicara, jadi itulah yang harus disepakati oleh kedua belah pihak.
GS : Ya, itu kalau masalah verbal dan diam Pak Paul, tapi kalau tadi yang ketiga tentang perkelahian di mana si suami memukul menggunakan kekerasan padahal si istri diam itu 'kan sudah penganiayaan Pak Paul?

PG : Betul ini cukup sering terjadi, saya ingat jurnal perempuan edisi yang dua edisi yang lalu sebelumnya kita berbicara hal ini memang memuat satu tema yaitu tentang kekerasan dalam rumah tanga dan itu memang menjadi masalah di tengah-tengah masyarakat kita, banyak sekali istri yang menjadi korban penganiayaan suami mereka.

GS : Pak Paul ada pasangan-pasangan tertentu yang sering kali bertengkar, tapi ada pasangan yang lain yang mungkin bertengkar tetapi tidak terekspos keluar sehingga kita tidak melihat, itu apa Pak Paul?

PG : Kendati memang banyak faktor yang bisa berpengaruh tetapi ada beberapa Pak Gunawan yang bisa kita kenali kenapa pasangan-pasangan ini mudah bertengkar. Yang pertama adalah memang terlalu brbeda, itu memudahkan orang untuk bertengkar karena terlalu berbeda penyesuaiannya memakan lebih banyak waktu dan usaha, makanya pakar pernikahan seperti Norman Wright menekankan bahwa kesamaan dalam pernikahan itu sebetulnya faktor plus, faktor yang menguntungkan karena lebih sedikit hal-hal yang harus disesuaikan lebih banyak perbedaan akan lebih banyak upaya dan waktu yang harus dikeluarkan untuk menyesuaikan diri, nah itu salah satu faktor yang membuat orang rawan untuk bertengkar.

WL : Sering kali saya mendengar slogan justru perbedaan itu saling melengkapi itu berarti salah Pak Paul?

PG : Tidak salah sepenuhnya, perbedaan kalau saya boleh koreksi perbedaan yang akhirnya dapat berubah menjadi saling melengkapi itu yang memang positif tapi dari perbedaan mengubahnya menjadi sling melengkapi itu perlu usaha yang tidak mudah cukup susah itu kalau bisa mencapai titik di mana saling melengkapi ya sangat indah sekali kelemahan kita dikompensasikan oleh kekuatan pasangan kita namun untuk bisa sampai ke titik itu perlu upaya yang sangat keras, nah dalam upaya ini tidak jarang mereka akan konflik besar.

GS : Contoh perbedaannya apa Pak Paul?

PG : Misalkan ada orang yang tadi itu Pak Gunawan katakan ya pendiam tidak bisa mengutarakan pikirannya, perasaannya secara langsung pasangannya kebalikannya semua akan dikeluarkan, dibicarakan dan marah detik ini harus marah, kalau bertengkar detik ini juga harus selesai, harus ada penyelesaiannya kalau tidak; tidak bisa tidur nah itu berarti kan dua perbedaan yang sangat jauh itu nah untuk si pasangan yang diam untuk bisa bicara itu sangat sulit karena dia tidak terbiasa nah untuk memaksa besoknya dia juga harus berbicara itu juga sangat sulit kebalikannya buat si pasangannya yang satunya dia biasa mengumbar mau selesai sekarang tiba-tiba harus diam dan tunggu sampai besok, wah dia bisa tidak bisa tidur dia bisa tidak konsentrasi seharian tegang, gelisah nah akhirnya dia menuntut mesti bisa bicara sekarang juga nah itu untuk sampai ke tengahnya menjadi sangat-sangat sulit

WL : Tapi Pak Paul saya sering menemukan banyak pasangan yang justru "terjebak" tidak melihat ini sebagai perbedaan yang membahayakan, tapi justru melihat perbedaan itu sebagai poin yang membuat dia tertarik misalnya seorang pria tidak pandai bergaul terus bertemu wanita wah supel sekali begitu nah justru dia tertarik dengan wanita ini mungkin merasa ini yang defisit/kurang pada saya, saya bisa temukan atau dapat dari dia, tapi akhirnya jadi fatal nah itu sering sekali Pak.

PG : Tepat sekali yang Ibu Wulan katakan yakni memang perbedaan itu dianggap sebagai sesuatu yang bisa melengkapinya yang bisa menguntungkan dirinya dia tidak sadarii bahwa perbedaan itu nantina mengganggu dia.

Nah jadi rumus yang bisa kita katakan universal; hal-hal yang membuat kita tertarik kuat kepada pasangan kita adalah hal-hal yang akan sangat menggangu kita dalam pernikahan kelak.
WL : Kalau yang berbeda itu maksudnya.

PG : Betul karena perbedaan itu memang akhirnya mengganggu kita, dan kita tidak mudah untuk menerima begitu saja.

GS : Apakah ada apa ciri yang lain Pak Paul?

PG : Ada Pak Gunawan, yang lain adalah kalau tidak dewasa atau ada individu yang tidak dewasa kemudian menikah, apa yang dilakukan olehnya? Dia akan menuntut pasangan untuk memenuhi kebutuhanny, dia tidak pernah belajar bertanggungjawab tidak pernah menghidupi, menafkahi, hidupnya selalu tidak ada tujuannya dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, tidak bekerja untuk waktu yang lama dan tidak pernah ada masalah karena dicukupi misalkan oleh orang tuanya.

Nah sekarang dia menikah dan dia akan bawa itu kebiasaannya dan dia tidak merasa salah dia tidak bekerja, dia tidak mencukupi, dia akan minta dari siapa dari orang tuanya dari mertuanya dan dia minta misalkan pasangannya harus mencukupi atau ada orang yang memang membawa kebutuhan untuk dimanja, tidak bisa itu kalau tidak dimanja, orang harus senantiasa mengerti keinginannya dan temperamennya nah akhirnya dia menuntut orang untuk memenuhi keinginan untuk dimanja itu. Nah itu kalau pasangan ada satu saja yang tidak dewasa mudah sekali terjadi konflik kecuali yang satunya bersedia mengikuti semua keinginannya, tidak akan ada pertengkaran tapi itu adalah pernikahan yang memang tidak sehat.
WL : Pak Paul yang mengherankan justru banyak sekali yang menikah seperti dengan pasangan orang yang tadi Pak Paul sebutkan nah saya berpikir apa waktu berpacaran itu tidak ketahuan begitu ya, sepertinya kalau waktu berpacaran justru ketahuan kan pasti pasangannya juga tidak mau 'kan, tapi sepertinya bisa muncul kebalikannya begitu si pria ini misalnya dengan ciri-ciri tersebut tapi dia bisa tidak kelihatan hal-hal seperti itu dia bisa memenuhi kebutuhan pasangannya bisa muncul sebagai orang yang baik dan lain sebagainya begitu itu kenapa Pak Paul?

PG : Karena ada hal-hal yang menguntungkan yang enak, yang baik, yang bisa diberikan oleh sifat itu meskipun negatifnya banyak tapi ada hal yang memang cukup memberikan kenyamanan bagi pasanganya misalkan tipe orang yang susah sekali bekerja, tidak bertanggungjawab hidupnya, ini punya banyak waktu untuk memberikan perhatian mengantarkan pacarnya shopping membeli sandal 10 jam pun dia akan rela banyak-banyak waktu untuk ngobrol di cafe menunggu pacarnya beli sandal 10 jam, nah si pacarnya akan berkata senang punya pacar seperti ini sabar menunggu saya 10 jam.

Nah sudah kawin baru dia sadar bahwa pacar saya bukan hanya sabar tapi juga malas, pengangguran, nah yang manja yang satu akan berkata ya enak pacaran dengan dia kolokan minta ini itu wah dia merasa dihargai sekali seperti orang paling spesial dalam hidupnya karena dimanja seperti itu. Lama-lama baru dia sadar wah saya berpacaran dengan orang yang manja tapi sangat kekanak-kanakan meminta semua dipenuhi, jadi biasanya ada hal-hal yang enaknya itu pada masa berpacaran. Yang kedua adalah kebanyakan orang akan berpikir begini ya siapa sih yang sempurna, tidak ada yang sempurna, kekurangan-kekurangan ini ya terimalah nanti juga orang bisa berubah, nah akhirnya harapan-harapan itu menguat dalam masa berpacaran yang membuat dia optimis nanti akan berubah ternyata tidak berubah seperti itu.
GS : Jadi kalau yang satu kekanak-kanakan pasangannya itu keibuan atau kebapakan begitu mungkin aman Pak?

PG : Ya untuk sementara lama-lama akan terjadi konflik.

GS : Bagaimana kalau ada orang itu yang mencoba menyelesaikan masalahnya itu dengan mencontoh keluarga yang lain atau pasangan yang lain, apa otomatis bisa Pak Paul?

PG : Nah ini salah satu penyebab Pak Gunawan kenapa mereka rawan konflik, ada pasangan yang sudah terlanjur mencontoh perilaku orang tuanya bertengkar, marah berteriak kalau ada apa-apa langsun harus marah tidak bisa menahan diri jadi dia akan ikut atau apa-apa lari dari rumah nah dia akan mengadopsi cara-cara yang tidak sehat itu, nah kalau dia bawa ke pernikahannya ya itu menjadi suatu bahan.

Saya langsung saja Pak Gunawan dan Ibu Wulan dengan beberapa ciri yang lain misalnya ada orang yang memang tidak takut akan Tuhan, orang yang tidak takut akan Tuhan cenderung menghalalkan segala cara, semua juga boleh mau berbohong lah apalah nah akhirnya ketahuan pasangannya berkelahi lagi karena tidak ada integritas, tidak ada standart moral semua boleh ya berzinah juga boleh nah akhirnya pasangannya tahu itu dan terjadilah pertengkaran.
GS : Ya mungkin pasangan itu mengira oh ini sudah Kristen, ini seiman dengan saya pasti takut akan Tuhan begitu pikirnya.

PG : Otomatis memang betul Pak Gunawan, ada orang yang memang mengklaim diri sebagai orang Kristen tapi tidak peduli dan tidak takut akan Tuhan, nah akan menghalalkan segala cara akhirnya terjailah banyak pertengkaran di rumah tangga mereka.

GS : Walaupun yang satunya takut akan Tuhan Pak Paul?

PG : Betul karena lama-lama dia tidak tahan juga dibohongi terus-menerus, pasangannya berjudi terus-menerus jadi bahan-bahan pertengkaran. Dan yang terakhir adalah berkepribadian bermasalah, ad orang yang saya sebut memakai orang mencintai benda dan diri sendiri, orang harusnya dicintai; tidak; orang dia pakai, benda harusnya dia pakai; tidak; dia cintai, dirinya sendiri juga sangat dicintai nah kepribadian bermasalah seperti ini kalau menikah tidak bisa tidak akan mudah sekali menimbulkan banyak pertengkaran di rumah karena sekali lagi dia hanya memikirkan dirinya, kepentingannya, semua berpusat pada dirinya sendiri, semua harus ikuti kehendaknya, pasangan tidak bisa tahan hidup dengan dia.

GS : Memang kalau salah satunya atau bahkan kedua-duanya mengalami gangguan kejiwaan seperti itu pasti memang bermasalah Pak Paul.

PG : Betul sekali mungkin sekarang pertanyaan yang mesti kita munculkan ialah bagaimana menyelesaikan konflik ini, saya kira tidak ada yang baru yang akan saya katakan Pak Gunawan dan Ibu Wulanprinsip-prinsip yang memang Firman Tuhan sudah ajarkan kepada kita.

Yang pertama adalah mesti ada kerendahan hati, saya sering mengatakan banyak masalah tidak selesai karena tidak ada kerendahan hati, tapi kalau ada kerendahan hati banyak masalah bisa selesai. Misalkan ya menyadarilah bahwa kitapun bisa keliru, kita tidak selalu melihat masalah dengan tepat, tidak selalu kita benar, kalau ada orang berpikiran saya pasti benar kamu pasti salah itu sudah dapat diduga pernikahannya akan banyak sekali ketidakcocokkan.
WL : Pak Paul cara ini apakah hanya efektif untuk yang konflik dan pertengkaran saja, tapi kalau untuk yang sudah sampai perkelahian, penganiayaan secara fisik segala apakah bisa memakai teori kamu rendah hati, kamu juga bisa salah dan sebagainya?

PG : Sudah tentu ada selalu ruangan untuk memeriksa diri bahkan yang dianiaya itupun perlu memeriksa diri apa yang saya lakukan, apakah saya juga benar, apakah saya mungkin terlalu cepat marah an menuduh, jadi ada ruangan untuk memeriksa diri tapi sudah tentu yang memukul itulah yang lebih harus mengingat prinsip kerendahan hati ini bahwa dia bukannya penjajah, dia bukannya penguasa, dia bukannya beli istri sebagai barang yang boleh dia perlakukan semau-maunya, dia harus menghormati pasangannya sebagai pasangan yang setara dengannya.

WL : Bukannya kalau lagi tenang memang suami-suami sering kali sadar akan hal ini tapi kalau lagi emosinya naik ke ubun-ubun Pak Paul langsung itu seperti reflek langsung tangannya mukul.

PG : Ya karena tidak ada ada rasa hormat pada pasangannya, kalau kita misalkan bertemu orang yang kita takuti, kita hormati, meskipun kita marah kita berusaha sekeras mungkin menahan emosi kita.

GS : Takut Pak Paul masalahnya, ini pun begitu kerendahan hati itu ada sebagian orang yang takut dinilai oleh pasangannya sebagai orang yang lemah Pak Paul.

PG : Ya intinya kalau kita sadari memang ya saya salah di sini, saya melihat ini keliru ya jadilah orang pertama yang berkata maaf ya, yang rendah hati untuk memulai dulu, berbicara dulu, nah iu langkah pertamanya.

Langkah kedua adalah berbelas kasihan, berbelas kasihan artinya kita harus mempunyai perasaan tidak sampai hati menyakiti pasangan kita, tidak sampai hati membuatnya bersedih, itu harus ada dalam diri kita. Dan yang terakhir adalah mesti bisa mengampuni, artinya apa mengakui kitapun memerlukan pengampunan Tuhan dan pengampunan dari sesama kita tidaklah bebas dari hutang ampunan, kita semua adalah penghutang pengampunan kita pernah bersalah dan diampuni oleh orang kenapa tidak mengampuni pasangan kita. Tapi sekali lagi ini memang saya harus ingatkan juga bagi istri yang sering dipukuli, dianiaya oleh pasangannya, bukan masalah mengampuni atau tidak, sudah tentu dia mengampuni suaminya yang memukulinya tapi dia harus pikirkan ya kesejahteraan, keselamatan jiwanya dan anak-anaknya, apakah sehat hidup dengan seseorang yang menegangkan menghancurkan jiwa dirinya dan anak-anaknya seperti itu jadi bukan masalah pengampunan lagi tapi masalah kesejahteraan hidup yang harus dia pelihara.
GS : Pak Paul ada suami sering kali berkelahi dengan istrinya, artinya memukuli istrinya lalu saat itu juga dia menyadari bahwa dia salah dia minta maaf bahkan minta ampun kepada istrinya dan istrinya mengampuni, tapi tidak lama berselang juga tetap terulang lagi begitu, itu kelainan atau bagaimana Pak Paul?

PG : Suatu pola pemukulan kalau sudah terbentuk akan susah sekali hilang jadi itu yang sering terjadi ya, seseorang memukuli istrinya merasa bersalah, meminta maaf menyesali istrinya memaafkan unggu tinggal nanti terjadi pertengkaran lagi memukul lagi, jadi bukannya kelainan tapi mungkin itu adalah cara yang telah diadopsinya dari masa kecilnya dulu dan dia melihat itu di rumahnya sehingga akhirnya sekarang menjadi bagian dari hidupnya dalam menyelesaikan konflik.

GS : Nah itu susahnya si istri juga menganggap dia akan mengampuni terus seperti yang Firman Tuhan katakan tujuhpuluh kali tujuh katanya.

PG : Betul makanya saya tekankan masalahnya bukan pada mengampuni atau tidak mengampuni, sudah tentu si istri mengampuni tapi dia harus pikirkan apakah ini baik untuk dirinya, untuk anak-anakny dan untuk hal-hal itu dia harus mengambil tindakan yang lebih tegas.

GS : Dalam hal ini apakah ada sabda Tuhan Yesus yang akan disampaikan?

PG : Saya bacakan Matius 7:1-3 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" Intinya Tuhan ingin berkata: lihat diri dulu, orang yang melihat diri menyadari dirinya, kelemahan, kekurangannya lebih bisa melihat orang dengan tepat, orang yang tidak bisa melihat dirinya akan melihat orang dengan tidak tepat penuh kekurangan dan sebagainya. Nah orang seperti itu memang akan sangat sulit sekali untuk berumahtangga dengan harmonis
GS : Jadi kesimpulannya Pak Paul, pertengkaran itu bisa jadi suatu bumbu di dalam keluarga tapi juga bisa menjadi racun ya?

PG : Tepat kalau tidak terselesaikan, dan makin hari makin memburuk itu akan menjadi racun.

GS : Jadi cara penyelesaian itu yang harus didasarkan pada Firman Tuhan yang tadi Pak Paul bacakan.

PG : Tepat sekali

GS : Terima kasih Pak Paul, terima kasih juga Ibu Wulan dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pertengkaran Bumbu atau Racun dalam Keluarga." Bagi anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang



30. Membentengi Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T139B (File MP3 T139B)


Abstrak:

Ada 2 macam ancaman dalam pernikahan, yaitu ancaman dari dalam dan ancaman dari luar. Cinta yang tidak dipelihara dengan baik akan mati. Oleh karena itu kita harus membentenginya agar kehidupan rumah tangga senantiasa harmonis.


Ringkasan:

Sebagai manusia yang berkodrat emosional, kita masih dapat tertarik dengan orang lain setelah kita menikah. Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi pernikahan kita?

  1. Jangan panik! Perasaan suka memang bisa datang namun perasaan ini juga bisa pergi. Syaratnya satu: Jangan menyediakan pot untuk bibit cinta ini. Misalkan, jangan pergi berdua dengannya, jangan sengaja meneleponnya, jangan membicarakan hal-hal yang pribadi, jangan menunjukkan kesan bahwa kita menyukainya, jangan memberi perhatian ekstra.

  2. Jagalah keseimbangan hidup: cukup istirahat, cukup kerja, cukup olahraga, cukup rekreasi, cukup berteman.

  3. Maksimalkan madu pernikahan sendiri. Perbaiki kerusakan yang ada, sampaikan harapan yang belum terpenuhi, perbuatlah hal-hal yang menyenangkan pasangan kita.

  4. Takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan tidak berkenan dengan perzinahan dan Ia akan menghukum kita.

Hati-hati terhadap:

  1. Ajakan kencan berduaan dari lawan jenis meski ia adalah teman baik.
  2. Sikap yang terlalu baik dan penuh perhatian darinya.
  3. Pertanyaan-pertanyaan yang terlalu pribadi.
  4. Sentuhan yang lembut.
  5. Ajakan mengerjakan tugas bersamanya.
  6. Orang yang sedang dalam keadaan butuh secara emosional.
  7. Orang yang tidak takut akan Tuhan.

Firman Tuhan

"Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu." Amsal 3:6-8


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Membentengi Pernikahan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, walaupun sekarang kita jarang kelihatan benteng tetapi kita mengerti, kita bisa memahami bahwa orang yang ada di dalam benteng itu lebih aman hidupnya daripada yang di luar benteng. Nah hidup pernikahan kita sering kali mendapat ancaman-ancaman dari luar, nah apakah ada ancaman yang sangat serius terhadap hidup pernikahan ini?

PG : Ada Pak Gunawan, memang ada dua jenis ancaman dari dalam dan dari luar. Dari dalam adalah konflik-konflik internal yang tak terselesaikan, dari luar adalah munculnya ketertarikan kepada orng lain, nah itu adalah ancaman yang saya kira sekarang ini paling besar mengancam dan menghancurkan banyak rumah tangga.

GS : Artinya kita ditarik untuk keluar dari benteng itu sendiri Pak Paul, jadi bagaimana kita harus berusaha supaya kita tidak mudah tertarik dan terperosok pada bujuk rayu seperti itu?

PG : Ada beberapa hal Pak Gunawan yang bisa kita lakukan, yang pertama adalah nasihat saya untuk kita semuanya yaitu jangan panik, jangan panik artinya begini kita ini memang manusia emosional ita mudah untuk hanyut, emosi kita mudah terpengaruh waktu kita menerima pemenuhan kebutuhan kita dari orang-orang tertentu, tidak bisa tidak perasaan kita tergugah kita merasakan senang bersama dengan dia, kita enak berbicara dengannya, dia mengerti kita, kita juga merasa suka bersama dengan dia, nah karena kita memang manusia yang masih bersifat emosional kita senang bersama orang yang bisa memenuhi kebutuhan emosional kita.

Yang lainnya lagi kita juga makhluk seksual artinya apa, memang kita mempunyai ketertarikan kepada lawan jenis kita dan ketertarikan itu bersifat romantis dan seksual, maka kita akan bisa tertarik kepada orang-orang yang lain bukan saja kepada pasangan kita. Nah setelah menikahpun kita memang masih bisa mengalami ketertarikan itu maka nasihat pertama adalah jangan panik kalau sampai tiba-tiba kita menyadari kita tertarik kepada seseorang yang bukanlah istri kita atau suami kita. Nah yang saya mau katakan ini perasaan suka memang bisa datang, namun perasaan ini juga bisa pergi sebab pada prinsipnya semua perasaan yang tak dipelihara lama-lama akan hilang atau mati, maka kalau kita kembalikan ke dalam pernikahan kita juga sama apakah cinta dalam pernikahan akhirnya bisa mati; bisa, cinta yang tak dipelihara ya diberikan cukup pupuk dan sebagainya lama-lama mati demikian juga dengan perasaan suka kepada orang lain nah kalau tidak dipelihara akan mati, maka prinsipnya jangan menyediakan pot untuk bibit cinta. Kalau sudah ada bibit cinta, ketertarikan jangan kita sediakan pot maksudnya pot disini adalah misalkan jangan pergi berdua dengannya, jangan sengaja meneleponnya, jangan membicarakan hal-hal yang pribadi kepada orang itu, jangan menunjukkan kesan kita menyukainya, memuji-mujinya dan sebagainya atau jangan memberi perhatian ekstra, sedikit-sedikit kita bertanya kok kamu tidak datang, kok kamu tampaknya lagi lesu, kamu kok ada masalah apa, wah jangan itu memberikan pot pada bibit cinta, jangan memberikan pot, bibit yang jatuh ke tanah tidak ada potnya lama-lama akan mati.
WL : Pak Paul, kalau bisa tertarik seperti yang Pak Paul jelaskan apakah itu merupakan indikasi bahwa pernikahannya memang ada masalah atau pernikahan yang tidak apa-apapun memang tetap bisa tertarik dengan orang lain lagi begitu?

PG : Nah ini pertanyaan yang bagus, sering kali orang beranggapan kalau sampai tertarik kepada orang lain pasti relasi nikahnya lagi kurang baik, ada hal-hal yang tidak terpenuhi, ternyata memag tidak.

Sudah tentu kalau pernikahannya buruk, nah itu lebih menambah kerawanan, lebih mudah kita akhirnya mencari orang lain di luar yang bisa memenuhi kebutuhan kita, tapi sekalipun pernikahan kita sehat perasaan tertarik masih akan bisa muncul sebab apa, sebab profil pasangan kita yang kita sukai itu tidak hanya ada dalam diri pasangan kita, profil itu bisa ada pada diri orang lain yang nanti mungkin akan bersinggungan jalan dengan kita, kita ketemu dengan orang yang seperti pasangan kita yang kita sukai sifat-sifatnya otomatis perasaan sukalah yang akan muncul dalam diri kita.
GS : Kepanikan itu Pak Paul mungkin tidak akan timbul pada awal-awalnya tetapi setelah hubungan itu menjadi agak lebih jauh apalagi ketika orang-orang mulai kasak-kusuk berbicara kamu dekat dengan ini, banyak orang-orang itu berbicara kok terlalu dekat, nah dia mulai sadar dan dia paniknya itu kok sudah begitu jauh hubungannya.

PG : Bisa, jadi karena dia sadar kok sudah terlalu jauh, dia kaget, dia panik. Bisa juga ada orang yang tidak bisa menerima kok saya bisa tertarik, kemudian melakukan hal-hal yang tidak naturalmencoba membuang mukalah, apalah justru hal-hal seperti itu bukannya melemahkan malah makin menguatkan perasaan tertarik itu.

Jadi tidak perlu dibuat-buat seperti itu, natural saja, alamiah saja, bergaul saja dengan biasa asal tadi jangan berikan pot, jangan bertanya-tanya yang tidak perlu, yang pribadi-pribadi, jangan menunjukkan perhatian-perhatian ekstra seperti itu nah itu yang jangan dilakukan, biarkan saja melewati beberapa waktu, lama-lama bisa berbulan-bulan perasaan-perasaan ini akhirnya kembali ke kodrat semulanya biasa saja.
WL : Pak Paul ada orang justru bisa tertarik pada orang yang definisinya atau kriterianya jauh lebih rendah dari istrinya begitu lebih jelek padahal istrinya lebih cantik, terus pendidikannya dan sebagainya, tapi justru tertarik pada orang seperti itu dan akhirnya memang ada beberapa kasus yang akhirnya berselingkuh Pak Paul?

PG : Sudah tentu dalam kasus seperti itu dia tidak tertarik kepada penampilan fisiknya, itu sudah pasti dia tertarik kepada kecantikan batiniahnya yang di dalamnya itu, dia mungkin sekali tidaktemukan pada istrinya dan dia temukan pada wanita itu.

GS : Selain kita tidak boleh panik, apakah ada hal lain yang perlu kita lakukan untuk membentengi pernikahan ini?

PG : Yang kedua adalah jagalah keseimbangan hidup, makin tua saya makin menyadari penting sekali mempunyai keseimbangan hidup misalnya cukup istirahat, cukup kerja, cukup olahraga, cukup rekreasi, cukup bergaul, cukup berteman, nah kecukupan yang berimbang itu membuat jiwa kita relatif lebih stabil kalau kita tidak mempunyai kehidupan yang berimbang dalam kelabilan itu kita lebih mudah sekali terhanyut oleh perasaan kita yang menyukai orang lain, tapi hidup yang lebih stabil memberi kita kekuatan untuk bisa mengendalikan perilaku dan perasaan kita

GS : Maksudnya kalau berimbang itu memang agak sulit Pak Paul, kadang-kadang kita terjebak pada salah satu ekstrimnya begitu, tetapi usaha-usaha apa yang bisa kita lakukan supaya hidup ini berimbang, misalnya pada saat kita masih bekerja tentu jam kerja kita itu akan memakan waktu tenaga dan perhatian kita lebih banyak daripada jam istirahat kita.

PG : Kalau misalkan pada hari kerja itu yang harus terjadi kita memang harus membuat prioritas setelah kita bekerja harus ada waktu di mana kita bisa beristirahat. Misalkan kalau kita memang haus bekerja seperti itu karena diminta oleh perusahaan dan kita tidak ada pilihan lain, hal-hal ekstrakurikuler lainnya yang kita harus kurangi, sehingga akan ada satu hari kita benar-benar bisa tidur dengan pulas tanpa diganggu apa-apa dan tidak banyak kegiatan lainnya.

Nah hal kecil seperti itu yang kita mesti kotak-katik untuk mengembalikan keseimbangan hidup.
GS : Ya itu biasanya kadang-kadang setelah sibuk dengan pekerjaan orang mau rileks, rileksnya adalah misalnya berolahraga Pak Paul, nah ini tidak melibatkan pasangannya lagi atau pergi ke karaoke atau apa yang tanpa melibatkan pasangannya Pak Paul 'kan makin jauh juga.

PG : Kalau sekali-sekali dan secara rutin sejam dua jam tidak melibatkan pasangan tidak apa-apa, yang penting hidupnya seimbang lagi sebab waktu dia seimbang dia pulang ke rumah dia akan menjad seorang pasangan atau seorang istri atau suami yang juga efektif, asalkan kita melakukan hal-hal yang benar bukannya kita mengendorkan diri dengan melakukan hal-hal yang berdosa.

GS : Yang lainnya apa Pak Paul?

PG : Yang ketiga ialah maksimalkan madu pernikahan sendiri maksudnya apa, perbaiki kerusakan yang ada kalau ada masalah coba selesaikan, ungkapkan yang kita inginkan pasangan kita supaya ketahu, harapan-harapan kita dan perbuatlah hal-hal yang menyenangkan pasangan kita yang kita tahu dia senangi cobalah kita lakukan, beli barang kecil-kecil untuk menyenangkan hatinya juga, jadi benar-benar maksimalkan madu pernikahan kita itu nah dengan cara ini kita tidak terlalu mudah terseret oleh emosi kita dan tertarik kepada orang lain.

GS : Jadi di sini harus ada upaya juga dari pihak pasangan yang satunya Pak Paul ya untuk menahan pasangannya supaya tidak keluar benteng begitu Pak Paul?

PG : Betul sekali, karena memang semakin kering rumahtangga kita, semakin rawan kita untuk bisa hanyut dan tertarik kepada orang lain maka tergantung pada kerja keras dua orang ya suami dan isti untuk bisa menikmati madu pernikahan itu.

WL : Pak Paul, kalau ada orang yang maksudnya pasangan "salah menikah," begitu ya sebenarnya waktu pacaran kurang mengenal sungguh-sungguh pasangannya nah waktu menikah baru ketahuan beda jauh segala macam, pemikirannya jadi banyak sekali ketidakpuasan begitu. Nah ini kalaupun diusahakan misalnya melakukan hal-hal yang menyenangkan, tetap bagi pasangannya ini merupakan hal yang menyebalkan Pak Paul. Bagaimana itu celahnya sangat besar untuk bisa ke orang lain.

PG : Saya harus akui kalau dalam kasus seperti itu memang orang bisa salah pilih, kita bisa salah memilih jurusan, salah membeli rumah, termasuk bisa salah memilih pasangan hidup. Akan sangat-sngat sukar menikmati madu pernikahan itu karena akhirnya yang terjadi adalah terlalu banyak pertengkaran.

Nah saya kira kalau dalam kasus seperti itu tidak bisa selesai, harus cari orang ketiga yaitu seorang hamba Tuhan atau seorang psikolog atau seorang konselor, memohon bantuan mungkin ada standar-standar yang memang harus kita korbankan, sudah kita akan terima mungkin sampai matipun kita tidak bisa mencicipi itu, kita terima, tetapi yang bisa kita nikmati ya kita nikmati sebab asumsinya adalah pada masa awal atau masa berpacaran pasti ada hal-hal yang dia nikmati makanya dia nikahi orang itu. Berarti masih ada, itu yang kita investasikan yang tidak ada dan tidak bisa diberikan oleh pasangan, kita tidak investasikan waktu kita di sana lagi jadi kita hanya investasi waktu dan tenaga kita pada hal-hal yang memang akan menghasilkan buah dan yang telah kita cicipi sebelumnya.
WL : Jadi kita tidak bisa tolerir Pak maksudnya di dalam kekristenan, kalau kasus seperti itu terus justru dia ketemu satu orang katakanlah yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dia rindukan, "memang saya tidak menemukan di istri saya, bisanya dengan si ini." Lalu ditinggalkan begitu, di Kristen kalau dia sudah menikah berarti tidak bisa Pak Paul?

PG : Sudah tentu kalau ibu Wulan bertanya kepada saya hal itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan kalau sampai terjadi dalam kelemahan orang akhirnya tidak tahan lagi hidup dengan pasanganna yang tidak memenuhi kebutuhannya, dia tinggalkan pasangannya, ya itu suatu perbuatan yang keliru.

Tapi apakah Tuhan tidak memaafkan, Tuhan tidak bisa menerima dia kembali, saya kira ya tetap kalau ada hati yang mau datang, mengakui dan bertobat, Tuhan akan bisa mengerti dan mengampuni ya hidup memang penuh dengan ketidaksempurnaan.
GS : Makanya dalam hal ini Pak Paul saya rasa Tuhan itu yang menjadi benteng yang paling kuat di dalam melindungi kita khususnya hidup pernikahan kita, memang begitu Pak Paul?

PG : Betul sekali, ini adalah langkah keempat Pak Gunawan yaitu takut akan Tuhan, tidak boleh sampai tidak ingatlah bahwa Tuhan tidak berkenan dengan perzinahan dan dia akan menghukum kita jadikalau masih ada takut akan Tuhan itu mengerem, kita mau melakukan hal-hal yang salah tapi kita tahu Tuhan mengawasi kita, kita lebih bisa mengerem diri kita.

GS : Jadi kalau pada awalnya kita takut akan Tuhan itu harus terus dipelihara, ditumbuhkembangkan terus.

PG : Betul

GS : Jadi apakah kita harus waspada terhadap hal-hal tertentu di dalam menghadapi gangguan atau cobaan-cobaan seperti itu?

PG : Ada beberapa hal langkah praktis yang bisa saya kemukakan Pak Gunawan, jadi berhati-hatilah terhadap misalkan yang pertama ajakan kencan berduaan dari lawan jenis meski ia adalah teman baik. Hampir semua perselingkuhan diawali dengan pertemanan bukannya permusuhan, jadi sudah tentu orang yang kita senangi bercengkerama, tukar pikiran meskipun kita berkata tidak ada apa-apa kok, jangan mulai, jangan pergi-pergi berdua, berkencan pulang kerja dengan lawan jenis kita nah itu jangan, jangan terima ajakannya meskipun rasa sungkan, tidak enak hati tetap tolak kalau itu pergi berduaan tetap tolak.

WL : Kalau bukan atas nama kencan, misalnya yang wanita minta diantar ke suatu tempat yang memang dia tidak punya siapa-siapa yang mengantar, begitu?

PG : Kalau dalam keadaan memang terpaksa misalkan kita dari mana begitu urusan apa terus memang pulang malam dan dia harus pulang sendiri, kendaraan umum dan kita memang punya kendaraan ya sayakira sifat manusiawi kita harus kita perlihatkan, bahwa kita kasihan dia pulang sendiri naik kendaraan umum ya kita antar, tapi ya sudah stop di situ jangan sampai kita jadikan itu sebagai sebuah kebiasaan ya nah itu yang jangan kita lakukan.

GS : Biasanya Pak Paul yang terjadi di antara rekan kerja karena bukan kebetulan ketemu di suatu tempat tetapi memang ini tiap hari sudah rutenya seperti itu begitu Pak Paul?

PG : Nah kalau rutenya seperti itupun juga kita memang ya sebisanya tidak menawarkan setiap kali ikut saya pulang saya antar, tidak juga maka langkah yang kedua yang saya mau katakan adalah berati-hatilah terhadap apa, terhadap sikap yang terlalu baik dan penuh perhatian darinya.

Nah kadang-kadang wanita melihat ini pria baik menawarkan, saya antar, saya jemput pulang sekalian jalan kok, jangan ya terlalu baik seperti itu dan penuh perhatian seperti itu jangan kita terima sebab sekali lagi segala jenis perselingkuhan munculnya dari hal-hal kecil seperti ini.
WL : Pak Paul, ada suami yang berusaha berbuat baik di rumah tetapi "mêntal" tidak dihargai oleh istrinya, justru kalau di kantor ada orang-orang yang bisa mengekspresikan kebutuhan untuk bisa berbuat baik juga. Tapi justru berakibat fatal ya Pak Paul?

PG : Bisa betul, jadi kalau si suami ingin mendapatkan pujian dan perasaan nyaman karena dihargai berbuat baik, banyak gelandangan di jalanan kenapa tidak tolong mereka dihargai kok, jadi tidakusah terlalu berbuat baik kepada perempuan cantik teman sekerja kita.

GS : Mungkin unsurnya bukan cantik tetapi unsurnya kadang-kadang kasihan Pak Paul?

PG : Tapi sekali lagi itulah salah satu penyebab perselingkuhan dan kadang-kadang yang satu itu menikmati daripada dia naik kendaraan umum berdesak-desakan diantar jemput siapa yang tidak mau, api sekali lagi ini salah satu awal yang paling umum.

Yang ketiga adalah berhati-hati juga terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu pribadi. Saya ini sadari sekali orang kalau mulai bertanya hal-hal yang pribadi tentang dirinya, apalagi tentang kebiasaan-kebiasaan pribadi di rumah itu memang menunjukkan adanya ketertarikan sebab kalau kita ketemu dengan encim-encim (nenek-nenek) yang kita tidak suka, kita tidak bertanya-tanya dia mandi berapa kali segala macam pasti kita hanya bertanya kepada orang yang kita rasa tertarik hal pribadi itu.
GS : Mungkin bukan ditanya Pak Paul tapi ada orang yang memang menceritakan hal-hal yang sifatnya pribadi itu kepada rekannya itu.

PG : Kalau dia memang senang cerita kita dengarkan tidak apa-apa, tapi berhati-hatilah terhadap orang yang mau tahu lebih banyak tentang kehidupan pribadi kita, nah itu menunjukkan adanya hal-hl yang lebih sebab dia bertanya seperti itu kepada kita apakah dia bertanya seperti itu kepada orang yang lain dan kita tahu misalkan tidak, berarti ini mempunyai nilai tambah bahwa dia memang menyukai kita.

GS : Yang saya lihat semacam ini Pak Paul, kalau dia sudah menceritakan hal yang pribadi dia mengharapkan teman bicaranya itu juga akan memberikan atau menceritakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi.

PG : Saya setuju itu bisa jadi, harapannya dia bertanya pribadi, dia cerita-cerita pribadi supaya dia juga mendapatkan imbalannya itu, jadi berhati-hati kita menjawab seperlunya, kalau memang tdak terlalu dekat ya jangan.

Jadi salah satu prinsip yang saya gunakan adalah kalau mau cerita problem kita yang pribadi, cerita kepada sesama jenis jangan kepada lawan jenis yang kita tahu berpotensi membuat kita tertarik kepadanya. Yang lainnya adalah berhati-hatilah terhadap sentuhan yang lembut baik kepada pria maupun wanita sama, jadi berhati-hatilah kalau orang sudah mulai menyentuh kita; kita mesti jaga diri, kita mesti berkata atau kita lain kali elakkan dari sentuhannya atau kita berkata: "Oh maaf, saya tidak mau disentuh". Karena sekali lagi sentuhan-sentuhan itu berbicara sangat-sangat kuat kepada hati kita dan kita memang orang yang mempunyai perasaan jadi mudah sekali tergugah kalau kita mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut seperti itu jadi kita mesti jaga jangan terima sentuhan-sentuhan lembut seperti itu.
WL : Ada pengaruh budaya tidak Pak Paul kalau misalnya orang-orang yang Western gitu kan sangat biasa, ke mana-mana misalkan mau menyeberang digandeng, tapi memang nothing spesial begitu Pak Paul?

PG : Saya kira ada pengaruh budaya ya kalau memang budayanya lebih umum biasa juga begitu, tapi saya juga harus katakan perselingkuhan sangat-sangat menjamur di negara barat jadi saya kira teta kalau ada batas lebih baiklah.

GS : Saya mengamati saja Pak Paul, ada beberapa wanita kalau berbicara itu suka mukul-mukul, bukan sentuhan lembut tetapi dipukulkan atau sedikit mukul, sedikit mukul begitu.

PG : Itu tidak apa-apa saya kira itu soalnya tindakan reflek, keramahannya tepak-tepakkan tapi yang mesti dijaga adalah yang lembut-lembut itu, itu yang berbahaya.

WL : Tapi kalau bagi pria yang justru lagi kehausan cinta di rumahnya Pak Paul seperti itu juga disalahtafsirkan?

PG : Jadi tepak-tepak itu adalah tetap sentuhan buat dia, mesti berhati-hati juga. Yang lainnya lagi adalah yang kelima hati-hatilah terhadap ajakan mengerjakan tugas bersama, ini sering dikemuakan sering digunakan yuk kita kerjakan sama-sama ini belum selesai yuk kita kerjakan kita ke mana atau di kantor dulu berduaan atau apa nah itu hati-hati, kalau mau kerjakan sama-sama ya ramai-ramai jangan berduaan setelah itu pulang ramai-ramai juga, jadi hati-hati dengan ajakan seperti ini.

GS : Di dalam hal mengerjakan tugas memang kadang-kadang dituntut seperti itu tapi yang lebih berbahaya itu kalau diajak pergi bersama-sama harus tugas ke luar kota dan sebagainya Pak Paul itu kontrolnya lebih susah.

PG : Wah betul sekali, susah itu.

GS : Pada hal sekarang itu sering kali terjadi tuntutan-tuntutan pekerjaan yang seperti itu.
GS : Betul, maka atasan yang baik seharusnya tahu tentang hal-hal seperti ini dan tidak sengaja menugaskan laki-laki dan wanita pergi berduaan untuk ke luar kota, tinggal di hotel yang sama dan sebagainya. Mula-mula hotelnya sama kamar berbeda, lama-lama hotelnya sama kamarnya pun sama, jadi berbahaya sekali.
GS : Apakah ada petunjuk praktis yang lain?

PG : Yang lainnya adalah orang yang sedang dalam keadaan butuh secara emosional, itu yang kita juga harus berhati-hati. Misalkan kita tahu teman kita sedang melewati masa pernikahan yang sangatsusah, jangan kita ini mau tahu terus dekat-dekati dia, berhati-hati karena banyak juga perselingkuhan dimulai dengan open-openan, sharing-sharingan seperti ini, membuka diri, cerita-cerita, akhirnya bertambah simpati, tambah simpatik.

Yang satu merasa istri saya tidak mengerti kok kamu paling mengerti saya, nah akhirnya terlibat secara emosional jadi mesti berhati-hati. Dan yang terakhir Pak Gunawan, berhati-hatilah terhadap orang yang tidak takut akan Tuhan tetap ini saya kembalikan pada faktor Tuhan, orang yang tidak takut Tuhan menghalalkan segala cara, kalau dia mau dengan kita, kita sudah bersuamipun dia tidak perduli dia tetap memaksa masuk, jadi berhati-hati terhadap orang yang tidak takut akan Tuhan di dalam hidupnya.
GS : Jadi memang ada petunjuk-petunjuk praktis yang tadi Pak Paul sudah sampaikan tetapi pasti ada petunjuk dari Firman Tuhan yang juga perlu kita perhatikan, apakah Pak Paul bisa sampaikan?

PG : Saya akan bacakan dari Amsal 3:6-8 "Akuilah dia dalam segala lakumu, maka ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejhatan, itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu."

Akuilah Tuhan dalam segala lakumu artinya libatkan Tuhan dalam setiap jengkal kehidupan kita bahkan dalam relasi kita dengan lawan jenis kita harus libatkan Tuhan. Waktu kita tertarik pun kepada orang libatkan Tuhan, akui di hadapan Tuhan: "Saya tertarik kepada dia Tuhan, tolong saya agar saya tidak menyediakan pot bagi bibit kasih ini," dan Tuhan berjanji kalau kita mengundang Tuhan terlibat dalam setiap jengkal kehidupan kita maka Tuhan akan meluruskan jalan kita artinya apa, Tuhan akan menghindarkan kita dari problem, dari masalah-masalah perselingkuhan seperti ini. Dan nasihat Tuhan yang kedua jangan engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan artinya ada orang yang berkata tidak apa-apa kok teman saja kok, biasa saja kok, tidak ada apa-apa kok, saya hanya bantu dia, saya hanya mendengarkan dia tidak apa-apa. Menganggap diri bijak, menganggap diri kuat akhirnya benar-benar kejeblos jadi mesti berhati-hati jangan menganggap diri itu kuat dan Tuhan berkata takutlah akan Tuhan artinya benar-benar kita takut, Tuhan itu bisa membalas kalau sudah tidak ada rasa takut akan Tuhan semua hal akan kita berani lakukan dan itu yang berbahaya.

GS : Bagi para pendengar yang mau melihat ayat tadi yang dibacakan Pak Paul dari Amsal 3:6-8 mungkin itu sesuatu yang menarik untuk anda catat dan bisa dibaca lagi karena kitab Amsal penuh dengan nasihat-nasihat yang sangat berguna. Jadi terima kasih sekali Pak Paul dan Ibu Wulan untuk perbincangan ini juga para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga) kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membentengi Pernikahan". Bagi anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda sampai jumpa pada acara telaga yang akan datang.



31. Titik Rawan Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T146B (File MP3 T146B)


Abstrak:

Setelah pernikahan berjalan 1,15,30 tahun, dikatakan di saat itulah disebut titik rawan pernikahan. Maka sebagai pasangan yang baru menikah harus mengetahui apa yang perlu ditanamkan untuk mengimbangi perbedaan-perbedaan. Karena tugas pernikahan adalah menyesuaikan diri agar kita bisa hidup bersama, hidup harmonis dengan pasangan kita.


Ringkasan:

Kita harus melindungi dan memupuk pernikahan kita, karena seperti pohon atau tanaman yang tidak diberikan pupuk, tidak dirawat, tidak diberikan cukup matahari dan air, lama-lama tanaman itu juga akan kering dan akhirnya mati. Pernikahan seperti itu pula, kita harus senantiasa menjaganya.

Tiga fase atau kurun waktu dalam pernikahan yang harus kita cermati, supaya kita tidak mengalami masalah yang lebih besar pada fase-fase ini:

  1. Usia 1 - 3 tahun setelah menikah, tahun-tahun pertama merupakan tahun yang rawan karena pada masa-masa ini kita belum cukup untuk mempunyai akar. Dengan kata lain fondasi pernikahan kita belum cukup kuat. Dan penyesuaian diri mencapai puncaknya justru pada tahap awal ini.

    Yang perlu kita lakukan adalah menanamkan lebih banyak investasi emosional. Artinya jangan sampai lalai melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Lakukan hal-hal bersama dengan pasangan kita, tunjukkan cinta kasih lebih banyak.

  2. Usia 15 - 20 tahun setelah menikah:

    1. Masa di mana anak-anak pada umumnya menginjak usia remaja. Mengapa dikatakan pada usia ini rawan? Karena anak remaja dalam masa-masa pergolakan, mereka cenderung untuk memberontak dan menantang otoritas orang tua. Ini adalah masa yang kritis karena tidak sama antara tugas membesarkan anak dan tugas memadamkan pemberontakan anak. Kalau suami-istri tidak kuat, tidak bisa menyesuaikan diri dalam hal memadamkan pemberontakan anak, mereka rawan sekali mengalami perpecahan.

    2. Masa di mana suami atau istri sudah mapan di dalam karier. Sehingga rawan sekali terhadap perselingkuhan.

    Tindakan apa yang bisa dilakukan?
    Suami-istri harus mulai mempersiapkan diri sebelumnya. Yaitu dengan investasi emosional, lakukan hal-hal yang baik, tunjukkan kasih sayang dan kemesraan satu sama lain pada masa-masa ini.

  3. Usia 30 tahun setelah menikah, masa di mana anak-anak sudah berkeluarga dan akhirnya mereka benar-benar lepas dari kita. Dan kita sebagai orang tua 100% hidup berduaan, kita diperhadapkan dengan satu sama lain. Suami-istri dituntut lagi untuk menyesuaikan diri, tanggung jawab rumah tangga mesti dibagi baik-baik karena dua-dua lebih terfokus pada rumah sendiri, tidak ada orang lain dan lebih melihat pasangan dengan jelas.

1 Tawarikh 17:27, "Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk semala-lamanya."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S. Th., akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Titik Rawan Pernikahan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, dari topik perbincangan kita pada kesempatan ini tentang titik rawan pernikahan. Apa atau ada seberapa banyak titik rawan di dalam pernikahan itu atau maknanya apa Pak Paul?

PG : Begini Pak Gunawan, sudah tentu kita harus selalu berjaga-jaga, melindungi pernikahan kita, kita juga harus memupuk pernikahan kita karena seperti pohon atau tanaman yang tidak diberikan ppuk, tidak dirawat, tidak diberikan cukup matahari dan air lama-lama tanaman itu juga akan kering dan akhirnya mati.

Pernikahan itu seperti itu pula, kita harus senantiasa menjaganya. Tapi saya perhatikan sebetulnya ada masa-masa tertentu di mana pernikahan kita itu sebetulnya terlebih rawan dibandingkan masa-masa yang lainnya.
GS : Ya, maksudnya ada suatu rentang waktu tertentu atau setelah pernikahan itu berjalan sekian waktu lamanya pasangan ini akan menemui hidup pernikahan yang sulit begitu Pak Paul?

PG : Betul sekali. Ini memang saya bagi dalam tiga frase, tiga kurun waktu. Yang pertama adalah yang saya sebut usia pertama yaitu usia 1 tahun sampai 2 atau 3 tahun setelah kita menikah. Keduaadalah usia 15 tahunan setelah kita menikah.

Dan yang ketiga adalah usia 30 tahunan setelah kita menikah. Dengan kata lain yang saya panggil ini masa 1, 15, dan 30. Jadi 3 fase yang harus kita cermati agar jangan sampai kita mengalami masalah yang lebih besar pada fase-fase itu.
WL : Berdasarkan apa Pak Paul mengategorikan 3 fase ini angka 1 misalnya terus 15 dan 30. Nanti orang pikir ini angka keramat.

PG : Sudah tentu memang tidak ada dasar empirisnya dari pihak saya untuk mengatakan ketiga masa ini sebagai masa yang rawan. Tapi saya akan jelaskan mengapa saya mengatakan ketiga masa ini rawan. Yang pertama yang saya sebut tadi masa usia tahun pertama setelah kita menikah. Tahun-tahun pertama merupakan tahun yang rawan karena pada masa-masa ini kita belum cukup untuk mempunyai akar. Dengan kata lain fondasi pernikahan kita belum cukup kuat. Kita baru memulainya. Tapi di saat memang fondasi ini belum kuat kita dikejutkan dengan perbedaan-perbedaan yang kita temukan pada pasangan kita. Dengan kata lain penyesuaian diri ini mencapai puncaknya justru pada tahap awal ini. Benar-benar kita melihat kok berbeda, kok seperti ini. Meskipun sebelum menikah kita sudah menemukan bahwa kita tidak sama. Tapi setelah tidur serumah 24 jam sehari, akhirnya kita menemukan betapa tidak samanya kita. Jadi saya mengulang lagi yang pernah dikatakan oleh dekan atau mantan dekan psikologi. Fuller Seminary di Amerika. Archibald Hart yang mengatakan bahwa sebetulnya kita mengawali pernikahan kita di dalam perbedaan atau ketidakcocokan. Nah, tugas pernikahan adalah menyesuaikan diri agar kita bisa hidup bersama, hidup harmonis dengan pasangan kita. Dengan kata lain pada awal pernikahanlah kita benar-benar dihadapkan pada fakta-fakta bahwa kita itu tidak sama. Tapi pada saat yang bersamaan modal atau akar kita itu masih belum kuat kita baru memulai sehingga investasi emosional kita itu relatif masih kecil.

WL : Pak Paul, bukannya justru masa-masa awal pernikahan orang bilang itu masih masa bulan madu, masih semua manis, suami juga baik, istri juga baik. Tapi justru menurut penilaian Pak Paul ini masa rawan?

PG : Betul Bu Wulan. Memang betul tahun pertama itu merupakan tahun bulan madu tapi sebetulnya kalau kita perhatikan manisnya bulan madu itu tidak berlangsung selama setahun sebetulnya. Dalam bnak kita kadang-kadang kita berpikiran wah masih panjang setahun lebih.

Tapi bukankah kenyataannya bahwa kita sungguh-sungguh berada di puncak ikatan romantis itu. Mungkin hanya beberapa bulan saja. Setelah beberapa bulan sebetulnya kita mulai menuruni gunung emosi itu dan masuk ke lembah kenyataan hidup. Dan lembah kenyataan hidup adalah bahwa kita berbeda. Jadi betul adanya getaran-getaran, listrik-listrik emosional, cinta-cinta yang masih kuat, betul itu ada. Tapi sesunguhnya itu tidak berlangsung terlalu lama.
GS : Ya, tapi biasanya pada awal-awal tahun itu pasangan ini masih punya optimisme yang tinggi untuk bisa mempertahankan rumah tangga mereka Pak Paul, jadi sekalipun mereka tahu banyak perbedaan dan cekcok mereka akan tetap bertahan karena itu jarang kita melihat pasangan yang satu tahun lalu bercerai begitu Pak Paul?

PG : Betul sekali. Jadi yang saya maksud dengan satu itu memang tidak secara saklak berarti satu tahun, tetapi tahun-tahun pertama. Saya memang rentangkan antara satu hingga sekitar lima tahun.Betul sekali bahwa pada tahun pertama itu sewaktu kita menemukan perbedaan ikatan atau komitmen kita yang baru menikah itu masih segar, sehingga kita masih mempunyai tenaga untuk berkata ya pastilah kita bisa menyelesaikan masalah ini, perlu waktu yang lebih banyak, lebih panjang, dan sebagainya.

Namun kalau kita tidak berhasil menyesuaikan diri antara satu sama lain dan mulailah kita memasuki tahun kedua, tahun ketiga, apalagi tahun keempat dan tahun kelima biasanya tidak sampai tahun kelima pun frustrasi itu akan meninggi sekali. Karena memang kita tidak sesabar itu juga, secara alamiah kita itu ingin menyaksikan, memetik hasil, kita ingin melihat adanya penyelesaian atau perubahan. Kalau sudah tahun kedua tahun ketiga ribut hal yang sama terus-menerus, itu bisa mulailah mengecilkan api semangat kita bahwa ini akan selesai dengan segera akhirnya kita mulai disadarkan bahwa masalah-masalah ini tidak akan selesai dengan segera dan cukup banyak yang tidak selesai dengan segera. Kalau selesai dengan segera masih sedikit mungkin kita masih bisa bertahan, tapi kalau kita sadari kok banyak dan bertambah maka tahun kedua, tahun ketiga makin berat sekali beban yang kita pikul itu.
WL : Pak Paul, tadi Pak Paul menyebutkan bahwa masa ini banyak masa istilahnya kaget-kaget, terkejut oleh munculnya perbedaan-perbedaan. Perbedaan mungkin yang tidak terduga karena dia itu terkejut dan kalau terduga berarti 'kan tidak terkejut. Berarti saya pikir besar pengaruhnya pada masa sebelumnya pada masa pacaran, masa pengenalan, kualitas pengenalan satu sama lain itu besar sekali ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali Bu Wulan. Kebanyakan kita ini pada masa berpacaran keinginan kita untuk memiliki pasangan kita itu besar. Oleh karena itu kita akan mengalami pertentangan antara menjadi diri endiri atau menjadi seperti yang diharapkan pasangan kita.

Nah biasanya pada masa berpacaran yang lebih kuat adalah menjadi seperti yang diharapkan pasangan kita. Itu yang lebih kuat. Karena kita masih menyimpan keinginan untuk memiliki pasangan kita itu. Jadi kita kompromi meskipun kita tidak setuju kita simpan kita tidak ungkapkan. Banyak hal-hal yang seperti itu atau kita berpikir ah mungkin nanti bisa selesai dengan sendirinya. Jadi ini kombinasi dari semua itu yang membawa kita ke dalam tahun pertama pernikahan yang akhirnya bisa memunculkan hal-hal yang tak terduga itu.
GS : Nah, kalau demikian apa yang harus dilakukan oleh pasangan yang masih baru menikah ini Pak Paul?

PG : Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah kita harus menanamkan lebih banyak investasi emosional. Karena apa, sudah tentu kita mencoba menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita, mengkomunikaikannya, membicarakannya, dan sebagainya.

Nah, sudah tentu kalau ini kita lakukan lebih banyak pada masa-masa awal berpacaran hasilnya akan kita petik setelah kita menikah. Kalau kita lebih berani menunjukkan siapa kita, menunjukkan pendapat kita yang mungkin berbeda dengan pasangan kita, justru kalau kita berani begitu pada masa berpacaran seyogyanya setelah berpacaran 2 tahun 3 tahun seharusnya perbedaan-perbedaan itu makin mengecil. Sehingga waktu kita memasuki pernikahan tugas mengharmoniskan tidaklah terlalu berat lagi. Tapi kalau misalkan memang kita tidak terlalu bekerja keras pada masa berpacaran, pada masa pernikahanlah kita bekerja keras menyesuaikan diri. Tapi ingatlah atau camkanlah bahwa tidak apa-apa jalani terus jangan putus asa, jangan mundur, terus jalani karena kalau dua-dua jujur, dua-dua terbuka berani menjadi diri sendiri juga berani untuk menyesuaikan diri demi pasangan, lama kelamaan kita makin menemukan titik temu. Jadi itu tugas pertama yang harus kita lalui. Namun yang kedua itu yang saya awali yang saya katakan adalah tanamkan investasi emosional artinya jangan sampai lalai melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Lakukan hal-hal bersama dengan pasangan kita. Tunjukkan cinta kasih lebih banyak meskipun minggu lalu mungkin kita baru bertengkar, jangan merasa aduh saya baru bertengkar, saya tidak mau mesra-mesraan. Jangan. Justru munculkan dan bagikan kemesraan itu. Lakukanlah hal-hal yang manis untuk pasangan kita. Karena itu yang akan menancapkan akar kita meskipun nanti kita akan ada pertengkaran tapi fondasi kita makin hari makin kuat.
GS : Ya, kalau titik rawan yang berikutnya yang Pak Paul tadi sebutkan pada usia ke 15 dari pernikahan itu sebenarnya apa tantangan yang dihadapi oleh pasangan suami istri itu?

PG : Nah, ini usia pernikahan ke 15 antara 15 tahun hingga 20 tahun adalah masa di mana anak-anak pada umumnya menginjak usia remaja. Ya mungkin usia 15 tahun atau 16 tahun, 17 tahun, mengapa kk saya katakan ini masa rawan.

Masa remaja kita tahu masa penuh pergolakan, anak-anak cenderung memberontak terhadap pengawasan orang tua. Nah, ada perbedaan yang besar antara membesarkan anak dan memadamkan pemberontakan anak. Itu dua hal yang tidak sama. Pada masa anak-anak kecil usia 7 sampai 8 tahun atau 9 tahun ya ada pemberontakan, tapi tidak bisa kita samakan dengan pemberontakan pada masa remaja. Sebab pada masa remaja anak-anak itu benar-benar menantang otoritas kita. Pada masa lebih kecil mungkin anak-anak itu tidak menaati perintah kita. Itu saja tidak turut perintah kita suruh mandi tidak mau mandi dan sebagainya. Tapi pada masa remaja mereka menantang otoritas kita sebagai orang tua. Maka tadi saya katakan ini masa yang kritis sebab tidak sama antara tugas membesarkan anak dan tugas memadamkan pemberontakan anak. Pada masa-masa ini kalau suami istri tidak kuat-kuat, tidak bisa menyesuaikan diri lagi dalam hal memadamkan pemberontakan anak, mereka rawan sekali mengalami perpecahan. Di sini ini perbedaan-perbedaan yang tadinya tidak terlihat memang karena tidak pernah mengalami masa ini bisa muncul dengan sangat jelas. Sebagai contoh ada orang yang dengan kekerasan memadamkan pemberontakan ada orang yang mencoba membujuk untuk memadamkan pemberontakan. Nah dua metode ini rawan sekali menimbulkan konflik di antara suami dan istri.
GS : Jadi itu masalahnya adalah orang tua terhadap anak pada mulanya itu Pak?

PG : Pada mulanya itu.

GS : Apakah kerawanan ini juga akan dialami oleh pasangan yang tidak dikaruniai anak misalnya?

PG : Pada usia-usia ini sebetulnya tidak. Karena memang mereka tidak mempunyai pemicunya. Kalau memang mereka berhasil menyelesaikan perbedaan mereka pada tahun-tahun pertama pernikahan seharusya memasuki ulang tahun ke 15 pernikahan mereka, mereka tidak harus menghadapi masalah seperti yang dihadapi oleh pasangan yang mempunyai anak-anak remaja.

WL : Saya sering mendengar Pak Paul, ada orang-orang bilang kalau punya anak itu justru mempererat pernikahan kita, jadi suami kita kalau mau selingkuh juga akan berpikir dua kali, terus kaitannya dengan penjelasan ini bagaimana Pak Paul?

PG : Sebetulnya yang Ibu Wulan katakan memang tepat bahwa anak itu mempererat relasi orang tua, itu betul sekali. Jadi di samping anak-anak memicu keluarnya lagi perbedaan antara orang tua tapidi saat yang bersamaan kehadiran anak-anak ini sudah cukup memberikan akar yang dalam pada pernikahan ini.

Jadi memang pada masa ini meskipun mereka rawan konflik tapi akar itu sudah tertancap dengan kuat. Sehingga pada akhirnya kalau saja mereka bisa bersabar, membicarakan cara yang lebih efektif, memadamkan pemberontakan si anak, seharusnya mereka bisa melewati fase ini. Dan tidak haruslah perbedaan ini memecah belah mereka.
GS : Ini biasanya pada usia yang ke 15 ini Pak Paul, karier dari si suami atau mungkin kalau istri bekerja mengambil suatu karier tertentu itu sudah mapan-mapannya Pak Paul, tadi Bu Wulan menyinggung masalah perselingkuhan. Pada usia-usia seperti ini justru saya melihat sering terjadi perselingkuhan di antara mereka.

PG : Sering kali memang perselingkuhan terjadi pada pasangan yang mencapai usia pernikahan yang ke 15. Jadi secara usia merekanya sendiri itu berusia 40 sampai 50 tahun. Usia di mana mereka sudh berada pada posisi mapan dalam karier mereka.

Jadi memang mereka apalagi pria di sini menjadi tokoh yang diidamkan oleh lawan jenis karena kemapanannya itu. Jadi ini juga salah satu bahaya yang harus diwaspadai oleh pasangan nikah.
GS : Ya, Pak Paul, kalau begitu pada pernikahan usia 15 ini tindakan apa yang bisa diambil oleh suami maupun istri?

PG : Pertama-tama memang suami-istri harus mulai mempersiapkan diri sebelumnya. Karena pada masa anak-anak kecil mereka bergantung kepada kita. Jadi kebergantungan anak kepada kita sebagai oran tua itu akan mengeratkan kita dengan anak dan sekaligus antara kita dengan pasangan kita.

Begitu anak menginjak usia remaja kebergantungan mereka berkurang dan sangat drastis berkurangnya. Karena bukan saja mereka tidak bergantung merekapun mulai menghalau kita kalau kita terlalu dekat-dekat mau tahu urusan mereka dan sebagainya. Berarti orang tua mulai kehilangan perannya di sini sebagai orang tua yang biasa mengasuh anak-anak. Dan itu berarti juga ikatan yang mengakrabkan mereka tiba-tiba mulai kendor sekarang. Meskipun akarnya ada dan sebagainya tadi yang telah kita bahas. Tapi tak bisa disangkal bahwa ikatan itu mulai kendor. Karena fungsi mereka juga mulai berkurang. Kalau dulu mereka bisa duduk bersama membicarakan manis-manisnya si anak sekarang membicarakan problem pemberontakan si anak ini. Jadi dalam pengertian ini orang tua harus mengantisipasi jauh hari sebelumnya bahwa anak-anak makin tidak bergantung kepada kita. Nah apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan diri kita. Nah sekali lagi mau anjurkan orang tua investasi emosional ini penting lakukan hal-hal yang baik, tunjukkan kasih sayang dan kemesraan satu sama lain bahkan pada masa-masa ini.
GS : Bagaimana dengan titik rawan yang ke 3 yang tadi Pak Paul katakan?

PG : Yang terakhir adalah kelanjutan dari masa remaja Pak Gunawan, yaitu masa di mana anak-anak kita itu sudah berkeluarga, akhirnya mereka benar-benar lepas dari kita dan kita sebagai orang tu 100% hidup berduaan kita diperhadapkan dengan satu sama lain.

Nah, biasanya karena kitapun telah mengalami perubahan-perubahan melewati fase waktu yang panjang nah pada usia agak tua yaitu 60-an dan sebagainya, tidak bisa tidak akhirnya kita juga mempunyai tuntutan yang berbeda pada pasangan kita. Kita mempunyai selera yang sedikit berbeda dari dulu 40 tahun yang lalu dan sebagainya. Nah artinya apa, kita dituntut lagi untuk menyesuaikan diri, tanggung jawab rumah tangga mesti dibagi baik-baik karena dua-dua lebih terfokus pada rumah sendiri tidak ada orang lain dan lebih melihat pasangan dengan sejelas-jelasnya. Karena tidak ada lagi anak-anak di rumah.
WL : Pak Paul, benar atau tidak yang orang-orang katakan, pada usia pernikahan seperti ini kami memang sudah seperti kakak adik begitu maksudnya relasinya sedikit saja dia bergerak saya sudah tahu apa yang dia lakukan. Sepertinya sudah mengenal dengan jelas tapi seperti yang Pak Paul jelaskan justru kan terbalik justru ini masa rawan?

PG : Rawan dalam pengertian memang masalah-masalah itu tidak terselesaikan dengan baik pada masa-masa sebelumnya. Tapi kalau semua terselesaikan dengan baik tentu akan ada penyesuaian tetap aka ada.

Namun pada masa-masa itu karena sudah banyak yang terselesaikan sedikit sekali yang harus kita selesaikan atau menyesuaikan diri. Biasanya yang paling umum adalah penyesuaian dalam hal tanggung jawab rumah tangga. Karena dua-dua sering di rumah sekarang. Jadi dua-dua mesti punya teritori dulu boleh dikata pagi sampai jam 5, jam 6 itu teritori rumah itu dikuasai oleh si istri sekarang si suami pulang lebih pagi atau bahkan tidak bekerja lagi sudah pensiun berarti teritori harus dibagi. Biasanya itu merupakan konflik yang utama. Tapi kalau yang sebelumnya terselesaikan seharusnya konflik itu tidak berlangsung lama hanya perlu penyesuaian mungkin ya beberapa bulan. Setelah itu mereka akan masuk lagi pada jalur pernikahan mereka.
GS : Ya, sering kali mereka menemui masalah itu apa yang harus mereka kerjakan gitu Pak Paul? Jadi si istri juga merasa risih ada suami yang terus di rumah dan suami pun mungkin mengalami sindrom kehilangan kekuasaan dan sebagainya.

PG : Betul, jadi pada masa-masa ini kalau tidak hati-hati kehadiran pasangan memang menjadi gangguan. Dulu sebelumnya kepulangan si suami dari kerja itu menjadi hal yang dirindukan, sekarang keadiran suami di rumah terus-menerus menjadi gangguan bagi si istri.

Sebaliknya demikian pula dengan si suami dulu jam 6, jam 7 malam dia terburu-buru ingin pulang karena merindukan rumahnya mau bertemu dengan istrinya tetapi setelah pensiun dia melihat istri dari pagi sampai malam itu bisa menjadi gangguan. Jadi tepat yang Pak Gunawan katakan. Jadi memang di sini diperlukan penyesuaian kembali. Melakukan apa bersama-sama sehingga kita bisa mengisi waktu. Jadi memang dua-dua harus berbicara dengan terbuka membicarakan hobi masing-masing. Kadang-kadang ada masalah di sini sebab tiba-tiba si suami menyadari hobinya istri sama sekali dia tidak sukai. Sebelumnya dia tidak begitu peduli karena dia sering di luar rumah. Sekarang dia baru sadar hobi istrinya dia tidak suka si istri juga tahu hobi suami dan dia tidak suka. Nah itu menjadi bahan-bahan konflik yang mereka harus pecahkan.
WL : Mereka berdua mungkin perlu kreatif untuk menciptakan kegiatan berdua bersama-sama yang disetujui dan disukai bersama-sama.

PG : Betul, dan memang tidak mungkin menyelaraskan semua sehingga semua bisa dilakukan bersama-sama. Tapi setidak-tidaknya dua-dua berani mengalah untuk bersedia melakukan hal-hal yang disenang oleh pasangannya dan sudah dilakukan.

Jadi bergantian untuk menyenangkan pasangannya.
GS : Ada sepasang suami-istri yang seperti itu Pak Paul, istrinya lebih memilih ditinggal di rumah anaknya yang kebetulan tinggal di luar kota. Suaminya ditinggalkan begitu saja. Nanti berapa bulan dia datang lagi. Cuma sebentar dia keluar lagi ke anaknya yang lain.

PG : Kemungkinan besar dalam kasus seperti itu Pak Gunawan memang pada dasarnya dari awalnya mereka tidak berhasil menyelaraskan perbedaan mereka. Jadi pada masa akhir pada masa tua itu perbedan itu benar-benar muncul pada puncak-puncaknya dan kelihatan semua dan sudah terlambat karena sudah berakar dan ini susah diapa-apakan.

Akhirnya banyak juga pasangan yang mengambil sikap seperti itu. Kita berdamai dengan satu syarat jangan terlalu sering bertemu.
GS : Pak Paul, untuk perbincangan ini apakah ada ayat firman Tuhan yang menguatkan kita semuanya.

PG : Saya akan bacakan doa Daud 1 Tawarikh 17:27, Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab apa yag Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk selama-lamanya.

Saya kira ini harus menjadi doa semua pasangan Kristiani dari awal pernikahan meminta Tuhan untuk terus memberkati pernikahan kita. Sudah tentu kita hanya akan menerima berkat dari Tuhan dalam pernikahan kita kalau kitapun menaati yang Tuhan inginkan, jadi harus rendah hati ya rendah hati, harus minta maaf ya minta maaf harus mau belajar dari pasangannya dan sebagainya. Nah, kalau kita lakukan semua itu doa kita saya percaya akan Tuhan kabulkan. Tuhan akan melimpahkan berkatNya pada kita untuk selamanya.
GS : Tapi kalau kita melihat faktanya itu anak-anak Daud bermasalah di dalam hidup pernikahan mereka?

PG : Karena Daud memang tidak menaati Tuhan dengan sepenuh hati. Ada hal-hal yang dia lakukan yang sangat salah dalam kehidupan keluarganya. Dan itu yang menanamkan dendam pada diri anak-anakny dan sudah tentu Daud tidak lagi bisa mengawasi anak-anaknya dengan benar karena dia terlalu banyak mempunyai istri dan sebagainya.

GS : Tentu kita bersyukur bahwa hal-hal semacam itu dicatat dalam Alkitab sehingga kita bisa belajar dari pengalaman Daud dan keluarganya Pak Paul. Terima kasih untuk perbincangan kali ini juga Ibu Wulan terima kasih untuk kehadirannya pada perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Titik Rawan Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



32. Perubahan dalam Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T155B (File MP3 T155B)


Abstrak:

Hidup bersama dalam pernikahan menuntut adanya perubahan dan penyesuaian diri. Karena itulah diperlukan suatu karakteristik yang disebut fleksibel, artinya dua-dua harus sanggup mengubah diri agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pasangan.


Ringkasan:

Norman Wright menjabarkan beberapa karakteristik yang diperlukan oleh orang yang ingin hidup dalam pernikahan. Salah satunya adalah fleksibel. Mengapa demikian? Hidup bersama senantiasa menuntut perubahan dan penyesuaian diri. Fleksibel berarti sanggup mengubah diri agar sesuai dengan pengharapan pasangan.

Perubahan Internal dalam Pernikahan

  1. Perubahan usia-bertambah tua dan tidak semenawan dulu.
  2. Perubahan kesehatan-menderita sakit yang memerlukan perawatan khusus.
  3. Perubahan cara pikir dan nilai kehidupan-akibat tempaan kehidupan atau pekerjaan yang kita geluti.

Perubahan Eksternal dalam Pernikahan

  1. Lingkungan hidup-pindah kota.
  2. Lingkungan kerja-pindah kerja.
  3. Kualitas kehidupan-penurunan penghasilan.
  4. Masalah anak-memberontak atau meninggalkan rumah.

Bagaimana Menghadapinya?

  1. Bedakanlah apakah perubahan ini sesuatu yang harus diterima atau dilawan.
  2. Hiduplah sesuai fakta, artinya sesuaikan hidup dengan realitas.
  3. Fokuskan perhatian pada solusi bukan penyebab problem.
  4. Bangunlah jaringan pendukung-sahabat jauh sebelum problem muncul.
  5. Pelihara keterbukaan di antara suami-istri.

Firman Tuhan, "Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu." Amsal 10:5


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Perubahan dalam Pernikahan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat menjabarkan beberapa karakteristik yang diperlukan oleh orang yang ingin hidup dalam pernikahan, salah satunya adalah fleksibel.

GS : Melalui pernyataan itu, sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Norman Wright itu?

PG : Begini Pak Gunawan, hidup bersama menuntut perubahan dan penyesuaian diri. Fleksibel berarti sanggup mengubah diri agar sesuai dengan pengharapan pasangan. Kita tidak bisa senantiasa mengiuti pengharapan pasangan, tapi di pihak lain kita juga tidak bisa menolak pengharapan pasangan sama sekali.

Jadi kalau kita orang yang kurang fleksibel, kita akan menolak permintaan pasangan, kita berkata inilah saya dan saya akan menjadi saya sampai kapan pun. Nah, kalau kita memiliki prinsip seperti itu, ini menandakan kita orang yang kaku dan tidak fleksibel. Nah, ternyata karakteristik fleksibel itu mutlak diperlukan untuk membangun pernikahan. Kalau kita kaku dan tidak fleksibel berarti kita memang kekurangan modal yang besar untuk bisa membangun sebuah pernikahan.
GS : Biasanya justru pada masa pacaran atau sampai awal masa pernikahan, siapapun itu gampang sekali fleksibel di dalam hidup pernikahannya itu. Mengalah, mau menuruti permintaannya, tetapi makin lama fleksibelitasnya itu berkurang, kenapa Pak Paul?

PG : Dari satu sisi kita memandang itu sebagai sesuatu yang wajar Pak Gunawan, jadi pada titik-titik awal dalam relasi kita, kita itu memang cenderung karena ingin memenangkan ya, memenangkan tofi yaitu pasangan kita, kita rela berkorban.

Dengan kata lain kita rela mengabaikan kepentingan, kehendak, keinginan dan selera kita sendiri demi mendapatkan pasangan kita itu, demi mencocok-cocokkan diri dengannya. Nah setelah kita mendapatkan dan setelah relasi itu memasuki jalur yang lebih lurus, dan tidak lagi bergejolak dan bergelora dengan cinta-cinta yang masih hangat, kita itu biasanya mulai berpikir dengan lebih obyektif. Kenapa dulu saya terus mengalah, dulu saya tidak pernah menyuarakan isi hati saya, ah.....sekarang tidak lagi, saya tidak lagi mau mengalah begitu saja, saya akan mencoba berargumen. Atau dulu saya ikuti saja permintaannya tanpa memikirkan dampaknya pada diri saya, tidak ah......sekarang saya mau menghitung-hitung dulu apa dampaknya pada diri saya. Dengan kata lain, memang kita melihat relasi kita dengan lebih oyektif maka dari satu sisi sebetulnya ini adalah sesuatu yang wajar dan baik. Karena relasi kita itu sekarang memasuki fase berikutnya, fase yang lebih realistik. Kalau sebelumnya fase yang penuh dengan fantasi, namun sekarang kita benar-benar hidup dalam realitas, lebih oyektif, lebih jernih, meskipun ada harga yang harus kita bayar. Karena kita lebih memunculkan siapa kita, akibatnya pertengkaran tidak bisa dihindari, kadang-kadang muncul. Tapi sekali lagi kalau kita berhasil mengatasi pertengkaran itu dan berhasil hidup dengan diri kita bersama dengan pasangan kita sehingga kita tidak kehilangan diri 100%, sebetulnya pernikahan kita itu memasuki dimensi yang baru yang lebih kuat dan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama.
GS : Tapi biasanya memang kita itu sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi Pak Paul, dengan berjalannya umur pernikahan kita itu 'kan banyak sekali yang terjadi di sekeliling kita, nah yang terutama perubahan-perubahan seperti apa itu Pak Paul?

PG : Saya bagi perubahan itu dalam dua kategori, yang pertama perubahan internal dan yang kedua perubahan eksternal. Saya akan coba jabarkan beberapa perubahan internal terlebih dahulu. Pertamaadalah perubahan usia, kita makin bertambah tua berarti kita tidaklah semenarik sewaktu kita muda, tubuh kita tidaklah selangsing sewaktu kita muda, kulit kita tidaklah semulus waktu kita masih muda, nah penampilan akhirnya turut menurun.

Ini perubahan, bisa atau tidak kita nanti menatap perubahan ini dan menerimanya. Apakah kita akan lari dari perubahan ini, ataukah kita akan menekan pasangan kita supaya tetap seperti semula ataukah kita fleksibel menerima bahwa inilah pasangan kita. Kita misalkan melihat dulu pasangan kita memang ada sedikitlah bawaan gemuk, tapi belum. Meskipun kita melihat misalkan papanya atau mamanya memang agak gemuk karena bertulang besar, tapi kita selalu berandai-andai bahwa pasangan kita ini tidak akan seperti mamanya atau papanya. Tapi setelah menikah 5 tahun, tiba-tiba kita baru sadar bahwa pasangan kita akan seperti ibu atau bapaknya yang agak gemuk itu, nah apapun yang dilakukannya, dilihat seperti apapun tetap saja bertambah besar. Nah, apa yang kita lakukan? Di sini dibutuhkan fleksibel, terimalah ini memang bagian hidup jangan dipermasalahkan.
GS : Jadi saya rasa yang harus menerima ini bukan hanya pasangannya Pak Paul, yang bersangkutan pun juga harus menerima perubahan yang terjadi itu.

PG : Itu point yang baik sekali, jadi bukan saja pasangan yang menerima perubahan dalam diri kita, kita pun meski berhasil menerimanya. Ada orang yang akhirnya dirundung kemurungan terus-meneru gara-gara perubahan pada tubuhnya itu.

GS : Bahkan tidak jarang karena bertambahnya usia, muncul bermacam-macam penyakit di dalam diri kita itu Pak Paul.

PG : Nah, ini perubahan yang kedua Pak Gunawan, yaitu perubahan kesehatan. Kita tidak makin sehat tapi makin rentan, makin rapuh, kita akhirnya bisa menderita suatu penyakit yang akhirnya memerukan perawatan khusus.

Misalkan diabetes, gara-gara pasangan kita terkena diabetes itu akan mempengaruhi kita. Makanan yang kita sediakan di rumah juga harus disesuaikan dengan dia, dulu pergi makan di luar gampang di mana saja bisa, sekarang harus pilih tempat karena jenis makanan tidak bisa dicicipi oleh pasangan kita. Dulu kita bisa travel jauh-jauh, sekarang karena kondisinya yang kurang prima tidak bisa lagi. Hal-hal seperti itu adalah bagian dari perubahan yang berkaitan dengan kesehatan dan kita juga dituntut untuk menghadapinya.
GS : Ya, kadang-kadang juga sering lupa karena bertambahnya usia, dan itu sangat mempengaruhi hubungan suami-istri Pak Paul.

PG : Betul, betul sekali, misalkan teleponnya itu dipakai oleh pasangannya nanti kita cari ke mana-mana tidak ketemu, karena dia juga lupa taruh di mana. Mau pergi terburu-buru, mana kuncinya, idak ketemu cari kuncinya baru ketemu.

Atau ada janji dengan orang, lupa si pasangannya yang harus mengingatkan, kamu ada janji dengan orang ini dan sudah terlambat. Semua itu memang memancing reaksi kesal atau marah, akhirnya kalau tidak tahan-tahan bisa meledak dan marah. Dan ini adalah hal yang memang harus dilewati.
GS : Apakah juga berpengaruh pada pengambilan keputusan dan sebagainya Pak Paul?

PG : Sering kali ya Pak Gunawan, jadi perubahan internal juga mencakup perubahan cara pikir dan nilai-nilai kehidupan. Kenapa bisa berubah? Karena tempaan kehidupan atau pekerjaan yang kita gelti.

Misalkan dulu kita berpikir yang gampang-gampang saja, praktis-praktis saja tapi sekarang karena pekerjaan kita harus hati-hati dan sebagainya kita mulai berubah, kita tidak sepraktis dulu, kita lebih banyak tanya, mencari informasi, meminta keterangan dan itu bisa mengganggu pasangan kita. Dulu kita lebih spontan, sekarang karena jabatan kita (misalnya kita menjadi orang terhormat) sehingga kita lebih berjaga-jaga jangan sampai orang melihat kita kurang sopan, kurang baik, jadi akhirnya kita kehilangan kespontanan kita. Dulu berani mengambil resiko, berpetualang, sekarang tidak berani lagi. Jadi nilai hidup juga berubah, cara pandang juga bisa berubah. Kita dulu sangat memperhatikan perasaan, namun dalam pekerjaan kita, kita harus menjadi pimpinan, mengatur begitu banyak orang yang mungkin gaya hidupnya berbeda dengan kita, sehingga kita tidak bisa berdialog, memberikan penjelasan, tidak bisa. Dengan bawahan-bawahan kita, kita harus menggunakan pendekatan yang lebih tegas, yang lebih searah, pokoknya ini yang diminta, lakukan. Nah akhirnya setelah bekerja dalam bidang itu selama bertahun-tahun, kita pun mulai terpengaruh, kita pun mulai berubah, di rumah pun kita akhirnya memperlakukan pasangan kita seperti itu. Kamu harus lakukan, jangan berbantah dengan saya dan sebagainya, kalau engkau berbantah artinya engkau tidak menghormati saya. Nah itu perubahan cara pandang kita dan nilai-nilai kehidupan kita.
GS : Itu baru perubahan-perubahan yang terjadi secara internal di dalam diri kita Pak Paul, tadi Pak Paul katakan ada juga perubahan yang terjadi karena faktor eksternal, apa saja itu Pak Paul?

PG : Ada beberapa, yang pertama adalah perubahan lingkungan hidup. Kadang-kadang kita itu harus pindah dari satu daerah ke daerah yang lain, berarti kehilangan dukungan, kehilangan orang-orang ang kita kenal.

Tempat-tempat yang kita kenal, dulu mau rekreasi ke mana tahu sekarang tidak tahu atau dulu ada tempat rekreasi sekarang tidak ada tempat rekreasi. Jadi perubahan lingkungan itu juga akan membawa stres dalam keluarga. Nah ini bagian dalam kehidupan rumah tangga yang harus kita hadapi, tidak bisa tidak. Yang lainnya juga misalkan sedikit banyak berkaitan dengan lingkungan hidup adalah perubahan lingkungan kerja. Kadang-kadang karena kita kerja kita harus bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang berbeda, ini bisa membawa perubahan. Dulu pasangan kita mengenal teman kerja kita, sekarang tidak mengenal. Dulu dia nyaman, percaya pada rekan-rekan kerja sekarang rasanya dia kurang nyaman. Dia mulai tanya ini siapa kok perilakunya seperti ini dan itu, belum lagi kita sendiri juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru itu, orang-orang yang baru itu. Nah itu membawa perubahan dan stres juga dalam keluarga yang tidak bisa tidak harus kita hadapi.
GS : Krisis ekonomi yang berkepanjangan ini sering kali membuat orang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya atau gaji yang tidak naik dan sebagainya, itu juga merupakan faktor eksternal juga Pak Paul?

PG : Betul sekali, ini yang saya sebut perubahan kwalitas kehidupan. Dulu kita itu di strata yang lebih tinggi sekarang kita turun ke strata yang lebih rendah. Dulu bisa membeli barang-barang yng kita inginkan, sekarang harus menunda dan tidak bisa tidak ini perubahan yang memang menyergap kita dan harus kita hadapi, dan kadang-kadang berat.

Karena hal-hal yang terbiasa kita miliki dengan mudah, sekarang tidak bisa kita miliki dan harus menunggu sampai waktu yang lama agar dapat memilikinya.
GS : Itu biasanya perubahan karena penghasilan yang tadi Pak Paul sebut dengan kwalitas kehidupan, bukankah itu tidak hanya berpengaruh pada diri orang yang mengalami tapi juga pasangannya Pak Paul?

PG : Betul sekali, karena bagaimanapun kita serumah dengan dia. Dulu misalkan kita bisa belikan dia apa sekarang tidak bisa lagi. Dulu dia ingin apa bisa terwujud, sekarang tidak bisa terwujud.Jadi memang itu menimbulkan stres dan memang kalau tidak hati-hati bisa meretakkan relasi kita.

GS : Apakah faktor anak itu juga bisa disebutkan faktor eksternal?

PG : Bisa, jadi di luar dari si suami dan si istri, misalkan masalah anak. Anak-anak yang mulai memberontak, dulu mudah diatur sekarang susah diatur. Atau dalam masa akil baliq, anak-anak ke lur rumah, pergi kuliah atau apa sekarang tinggal kita berdua, itu perubahan lagi.

Dulu gampang mengalihkan fokus kalau misalkan ada apa-apa dengan istri kita atau suami kita ya kita alihkan ke anak. Kita ngobrol-ngobrol dengan anak-anak sampai suasana hati kita reda kembali. Sekarang tidak bisa karena tidak ada anak-anak, berarti pasangan kita harus kita hadapi dengan langsung.
GS : Dengan adanya begitu banyak faktor perubahan di dalam kehidupan suami-istri itu, bagaimana sebenarnya pasangan suami-istri itu harus menghadapi situasi yang sulit ini?

PG : Pertama adalah kita mesti bisa membedakan apakah perubahan ini susuatu yang harus diterima atau dilawan. Misalkan, perubahan bahwa kita itu bertambah tua, saya kira kita harus terima, peruahan fisik kita itu kita harus terima jangan permasalahkan, termasuk perubahan pada pasangan kita yang tidak lagi semenarik dulu.

Terima dan tetap hargai. Tapi ada perubahan yang harus kita lawan, misalkan anak kita menjadi bermasalah sekali, dulunya baik tapi sekarang menjadi bermasalah, mulai keluar malam, mulai menikmati kehidupan di luar rumah, kita harus lawan. Kita tidak membiarkan anak kita terseret arus dibawa oleh kawan-kawannya, hidupnya tidak benar, tidak, kita harus lawan, kita harus menangkan anak kita kembali. Misalkan pasangan kita mulai dekat dengan orang lain, karena di tempat pekerjaannya ada seorang rekannya yang sepertinya suka dengan pasangan kita, kita tidak terima begitu saja, kita mesti melawannya, kita mesti ngomong dengan pasangan kita, kita utarakan kekhawatiran kita, kita sampaikan permintaan kita agar dia tidak lagi atau tidak memberikan angin kepada orang tersebut. Jadi intinya adalah kita mesti bisa membedakan apakah perubahan ini sebagai sesuatu yang harus kita terima ataukah harus kita lawan.
GS : Ada orang yang memang menerima kondisi bahwa dia menjadi lebih tua Pak Paul, sebenarnya dia bisa tampil dengan lebih menarik kalau dia itu masih memperhatikan dan merawat tubuhnya itu dengan benar.

PG : Nah sudah tentu itu betul sekali Pak Gunawan, nah ini masuk ke point berikutnya atau saran berikutnya yaitu hiduplah sesuai fakta. Artinya kita menyesuaikan hidup dengan realitas, tadi PakGunawan munculkan tentang pengaruh usia, kita makin tua memang tubuh kita tidak lagi seprima dulu.

Namun masih ada yang bisa kita lakukan dalam batas yang wajar, misalkan kita berolah raga dengan teratur. Sehingga meskipun tubuh kita menua namun kita tetap tampak segar. Misalkan ada yang ingin memakai alat-alat kosmetik tertentu dalam kadar yang wajar, silakan misalkan itu bisa menambah peluang untuk meremajakan kulit dan sebagainya. Tapi kita hidup sesuai dengan fakta, memang ini faktanya kita ya sudah kita terima, apa yang bisa kita lakukan untuk menguranginya kita lakukan, tapi kita terima ini jangan kita lawan.
GS : Karena kalau berlebihan juga menjadi aneh. Apakah ada saran lain Pak Paul?

PG : Yang lainnya lagi adalah fokuskan perhatian kita pada solusi, bukan pada penyebab problem. Kita tidak lagi memfokuskan pada mengapa, mengapa, mengapa. Perubahan itu kadang-kadang harus ada di luar kemampuan kita kadang-kadang untuk kita bisa menangkisnya.

Nah, daripada menyalah-nyalahkan kenapa begitu, kenapa ini bisa terjadi, kenapa anak kita bisa begini, tidak akan ada habisnya kalau kita hanya memfokuskan pada penyebabnya. Maka saran saya kalau kita sudah tahu penyebabnya apa ya sudah mari kita fokuskan pada solusinya. OK! Sekarang anak kita memberontak, anak kita ini sekarang tidak lagi taat pada kita apa yang menyebabkannya, kita akui, dan mari kita mencari solusinya. Kita berdua mesti berpadu mengatasi si anak, jangan sampai terpecah belah, kita harus meminta bantuan orang, mencari masukan-masukan dan sebagainya. Jadi sekali lagi kita tidak memfokuskan pada yang lampau tapi memfokuskan pada yang di depan kita.
GS : Bagaimana dengan hubungan sosialnya Pak Paul, seseorang yang mengalami perubahan?

PG : Saya kira sebelum terjadi apa-apa, sebelum ada masalah, kita memang harus membangun jaringan persahabatan dengan orang-orang di sekitar kita. Karena kalau sampai ada apa-apa, jaringan pershabatan ini menjadi pendukung kita dan bukankah ini adalah gaya hidup yang sehat ya mempunyai kawan, sahabat, bisa berteman, bisa bercanda ria, bisa pergi bersama, bisa saling curhat.

Nah, itu sebenarnya aset-aset yang kita perlukan dalam hidup ini. Orang yang tidak mempunyai lingkungan yang mendukungnya, dia hidup sendirian dan orang yang hidup sendirian akhirnya cenderung misalnya bisa egois, bisa kurang tahu bagaimana menghadapi kita dan sebagainya. Maka sebagian kita itu memang mempunyai teman-teman dekat, sahabat-sahabat, atau kakak-adik, kerabat yang bisa menjadi bagian dalam hidup kita.
GS : Kalau begitu peran persekutuan itu besar sekali Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, orang yang terpisah dari persekutuan dan hanya hidup sendirian tidak akan bisa memahami orang lain, tidak akan bisa menyesuaikan hidup dengan orang lain, dia hany melihatnya dari kacamata sendiri.

Nah, itu menambah kesulitan waktu menghadapi perubahan-perubahan dalam hidup ini. Ia tidak bisa lagi mendengarkan masukan pasangannya, sebab kehendaknyalah yang dia anggap paling benar.
GS : Ya, tapi juga ada beberapa orang yang memang mengalami kesulitan untuk bergabung di dalam persekutuan Pak Paul. Dengan berbagai alasan, di sana cuma gosip saja, di sana cuma mengeluarkan uang saja.

PG : Nah, sudah tentu kita bisa terlibat, tapi sejauh mana kita terlibat ya kita nanti yang tentukan. Apakah memang itu tempat kita, orang-orangnya cocok dengan kita atau tidak, namun sekali lai yang ingin saya tekankan adalah kita mesti mempunyai teman.

Saya sudah melihat orang-orang yang tidak mempunyai teman, menjalani kehidupannya sampai usia tua, saya lihat mereka bukan tambah bahagia, tambah tidak bahagia. Setiap perubahan bukannya disambut tapi malah dihindari, atau perubahan itu dipaksa untuk tidak ada perubahan, tidak boleh ada perubahan harus sama seperti dulu semuanya. Akhirnya dia menyusahkan orang lain, menyusahkan anak-anak, menyusahkan pasangannya, karena dia sendiri tidak bahagia. Namun kasihan orang-orang yang hidup dengan dia, turut-turut tidak bahagia.
GS : Teman yang terdekat dngan kita kalau kita menikah itu tentu pasangan kita, nah dalam hal ini bagaimana hubungan kita?

PG : Saya kira dari awalnya kita mesti memelihara keterbukaan antara kita dan pasangan kita. Ini modal, modal yang begitu besar dalam rumah tangga kita waktu menghadapi perubahan-perubahan. Kit bisa bicara apa adanya, contoh, anak saya yang paling besar dalam waktu beberapa bulan akan meninggalkan kami pergi studi.

Kami sudah lama membicarakan hal ini saya dan istri saya. Kami menceritakan ketakutan kami, kami menceritakan pengharapan kami, apa nanti ya, bagaimana nanti. Dan kami mulai membicarakannya, bahkan kadang-kadang saya dan istri membicarakan masa di mana kami harus hidup berdua tanpa anak-anak lagi. Apa yang akan kami lakukan nanti, apa yang menjadi ketakutannya, apa yang menjadi kebutuhannya, nah itu mulai kami bicarakan. Sehingga terjalinlah komunikasi yang lebih terbuka antara suami-istri. Sehingga pada waktu perubahan itu harus terjadi, kita sudah terbiasa terbuka. Betapa susahnya dan malangnya pasangan yang tidak bisa terbuka, sehingga waktu perubahan terjadi masing-masing mengunci pintu, malah merenung susah, sendirian. Kadang-kadang kalau tidak tahan lagi menyalahkan, melemparkan tanggung jawab pada pasangannya. Jadi malah merusakkan, bukannya berpadu menghadapi perubahan itu malahan makin mengoyak-ngoyakkan satu sama lain.
GS : Ya, memang perubahan ini sulit dihindari dan tidak mungkin dihindari karena akan terus terjadi di dalam kehidupan ini. Nah dalam hal ini apakah firman Tuhan yang bisa membimbing kita?

PG : Saya bacakan Amsal 10:5, "Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu." Memang ini perumpamaan atau tamsil yang beraitan dengan kehidupan agraris, di masa itu memang masa agraris di Israel.

Nah, siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi. Artinya pada musim dingin dia sudah mempunyai cadangan makanan. Tapi orang yang malas-malas tidak mau bekerja pada musim panas, pada musim dingin akan kelaparan. Jadi begitu jugalah dengan kita dalam rumah tangga. Jangan tunggu sampai ada krisis baru mencoba mengharmoniskan relasi kita, selama masih ada umur belum ada apa-apapun, harmoniskan terus, suburkan keterbukaan, kepedulian, saling menolong, suburkan semua itu, sebab itu adalah cadangan. Waktu nanti musim dingin datang kita mempunyai cukup stock untuk bisa bertahan.

GS : Jadi kita tidak perlu lari dan tidak mungkin lari dari perubahan ini, hanya kita perlu mengantisipasinya dengan kebijaksanaan yang firman Tuhan sudah sampaikan. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Perubahan dalam Pernikahan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami juga menantikan kunjungan Anda ke situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda akan meningkatkan mutu dari rekaman kami. Dan dari studio kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



33. Filipi 2 untuk Pernikahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T166A (File MP3 T166A)


Abstrak:

Ada beberapa hal yang bisa kita timba dari ayat ini dalam relasi suami-istri, yang antara lain satu jiwa yang berarti satu pikiran, satu tujuan, tidak mencari pujian yang sia-sia, rendah hati.


Ringkasan:

Filipi 2:2 dan 3, "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri." Ini bagian yang akan kita coba terapkan dalam relasi usami-istri.

Ada beberapa hal yang bisa kita timba dari ayat ini, yaitu: Pertama, dari kata hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, tujuannya adalah supaya kita sehati sepikir, dalam satu kasih. Kesatuan hanya dapat dimungkinkan bila kita saling mengasihi. Artinya kita tidak akan bosa menjaga kerukunan kalau kasih itu tidak ada di antara kita dan pasangan kita. Salah satu hal yang penting yang perlu kita lakukan untuk kasih itu tetap bertumbuh dalam relasi suami-istri adalah kita harus sering-sering melakukan hal yang menyenangkan hati pasangan. Ini adalah suatu nasihat yang sederhana, yang tradisional tapi tetap mempunyai kebenaran sampai sekarang.

Kedua, satu jiwa yang berarti satu pikiran. Artinya satu cara pikir dan cara pola pikir. Kesatuan hanya dimungkinkan bila kita mempunyai pola pikir serupa. Kalau pola pikir kita berbeda dengan pasangan, itu susah sekali untuk disatukan.

Ketiga, satu tujuan yang artinya mempunyai nilai kehidupan yang sama. Kesatuan suami-istri hanya dimungkinkan bila kita mempunyai nilai kehidupan yang sama. Kalau di dalam firman Tuhan ditekankan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk Tuhan, karena kita sudah dibeli oleh Tuhan; kita bukanlah pemilik hidup ini melainkah Tuhanlah yang memiliki hidup kita. Jadi kita mesti memiliki nilai-nilai yang Tuhan juga miliki. Misalnya prinsip genggamlah yang kekal dan lepaskan yang fana. Artinya kita menggenggam yang kekal itu adalah Tuhan dan manusia, kita mengutamakan Tuhan dan manusia di atas yang fana yakni benda. Jadi kalau suami-istri mempunyai nilai hidup yang sama, prinsip hidup yang sama; setidak-tidaknya mereka sudah dipersatukan oleh satu tujuan yang sama bahwa hidup ini untuk Tuhan.

Keempat, tidak mencari pujian yang sia-sia. Artinya kita itu jangan mencari kesempatan untuk berbangga-bangga dan menuntut pasangan kita memberikan pengakuan kepada kita. Kita ingin tatkala kita benar, pasangan kita mengakui, kita ingin dihormati, kita ingin pasangan kita tunduk kepada kita, dan kita ingin menonjolkan diri kita di hadapan pasangan. Firman Tuhan berkata: "Jangan mencari pujian yang sia-sia." Yang penting bukanlah pengakuan bahwa kita benar, yang penting adalah kita melakukan hal yang benar.

Kelima, rendah hati; rendah hati diwujudkan dengan satu tindakan yaitu memperlakukan orang lebih baik daripada kita. Kita menganggap orang lain lebih utama, lebih baik daripada kita dan kita harus memperlakukannya sebagai orang yang lebih baik dari kita.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Filipi 2 untuk Pernikahan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, dari judulnya Pak Paul mau membahas tentang Filipi pasal 2 tapi bukankah itu sebuah pasal yang cukup panjang. Bagian yang mana yang Pak Paul maksudkan Filipi 2 untuk pernikahan?

PG : Filipi 2:2 dan 3, yang berbunyi demikian, "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa,satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pjian yang sia-sia.

Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." Ini adalah bagian yang akan coba kita terapkan dalam relasi suami-istri. Sebab ternyata ayat ini penuh dengan hikmat, penuh dengan masukan-masukan yang berguna bagi relasi suami-istri.
GS : Memang kalau ayat yang tadi Pak Paul bacakan dari Filipi 2:2 dan 3 itu diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga sangat baik. Tetapi kenyataannya kita itu sebagai suami-istri acap kali terjadi selisih paham, pertengkaran yang memuncak. Nah ini relevensinya bagaimana?

PG : Ada beberapa yang akan saya timba atau saya petik dari firman Tuhan ini, Pak Gunawan. Yang pertama yang akan kita angkat adalah kata hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, tujunnya adalah supaya kita itu sehati sepikir, nah firman Tuhan langsung berkata dalam satu kasih.

Apa yang bisa kita terapkan dari istilah satu kasih ini? Kesatuan hanya dapat dimungkinkan bila kita saling mengasihi, jadi kita mesti memelihara kasih di antara kita. Artinya kita tidak akan bisa menjaga kerukunan kalau kasih itu tidak ada lagi di antara kita dan pasangan kita. Masalahnya adalah apa yang harus kita lakukan agar kasih itu tetap ada dan bahkan bisa bertumbuh dalam relasi suami-istri. Nah saya kira salah satu hal yang penting yang mesti kita lakukan adalah kita sering-sering melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Ini saya kira nasihat tradisional yang tetap benar sampai sekarang. Kasih cenderung bertumbuh dalam relasi yang menyenangkan, dan relasi yang menyenangkan adalah relasi di mana pasangan kita mencoba dengan jelas menyenangkan hati kita, melakukan hal-hal yang membuat kita senang. Sekali lagi ini adalah suatu atau sebuah nasihat yang sederhana, yang tradisional tapi tetap mempunyai kebenaran sampai sekarang.
WL : Kalau kita harus melakukan hal-hal yang menyenangkan pasangan kita terkadang bahkan sering juga hal itu belum tentu menyenangkan buat diri kita, hanya demi pasangan. Ada pengaruhnya atau tidak Pak Paul dari faktor yang dari sebelum menikah keduanya memang mempunyai kesamaan minat dalam banyak hal. Tapi akhir-akhir ini sepertinya ada beberapa buku yang justru mencetuskan bahwa persamaan minat tidak terlalu penting, menurut Pak Paul bagaimana?

PG : Saya mengutip dari Norman Wright seorang pakar pernikahan di Amerika, dia berkata bahwa makin banyak ketidaksamaan di antara suami dan istri makin besar usaha yang harus dikeluarkan untk mencocokkan keduanya.

Jadi sudah tentu aplikasinya adalah makin banyak kesamaan makin sedikit usaha yang harus kita keluarkan untuk mencocokkan diri. Jadi saya kira yang tadi Ibu Wulan katakan itu betul sekali, kalau kita mempunyai kesamaan minat atau hoby dan kita bisa melakukannya bersama-sama (sebab ini menyenangkan hati satu sama lain), sudah tentu ya sekali tepuk dua lalat mati. Benar-benar langsung pasangan kita senang kita pun senang. Namun jangan sampai kita membatasi diri hanya pada hal-hal yang menyenangkan kita berdua, kita juga mesti memikirkan apa yang disenangi oleh pasangan kita. Dan bukan saja mencoba memikirkan namun memberikan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan itu. Simpel sekali misalkan istri kita senang kalau kita meneleponnya sebelum kita pulang, kalau kita akan terlambat, nah lakukanlah. Kenapa kita susah melakukan hal yang sederhana seperti itu, misalkan suami kita senang kalau misalnya dia pulang ke rumah kita bisa menyediakan teh, kita bisa memberikan dia handuk supaya dia bisa mandi. Hal kecil seperti itu, hal-hal kecil yang ternyata sangatlah berguna.Saya jadi teringat inilah hal-hal kecil yang sering kali dilakukan oleh orangtua, atau kakek-nenek kita di zaman dahulu. Namun sekali lagi hal-hal kecil yang ternyata membawa dampak positif. Karena cinta bertumbuh di dalam relasi yang menyenangkan dan relasi yang menyenangkan adalah relasi di mana masing-masing mencoba menyenangkan hati satu sama lain.
GS : Saya masih kurang jelas Pak Paul, mana yang lebih dahulu; kita memiliki kasih sehingga kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan pasangan kita atau karena kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan lalu timbul kasih, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira titik berangkatnya atau penggerak utama dan pertamanya adalah kasih. Jadi kita mempunyai kasih kepada pasangan kita, oleh karena adanya kasih itulah kita ingin melakukan hal-hl yang menyenangkan hati pasangan kita.

Nah kenapa harus saya munculkan karena yang lebih sering terjadi adalah begitu kita memasuki pernikahan seakan-akan kita juga tidak lagi terdorong untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati pasangan kita. Kita merasa seolah-olah ya sudahlah tugas sudah selesai sekarang masuk dalam kenyataan hidup yaitu pernikahan dan tugas kita selanjutnya adalah bekerja mengurus anak dan sebagainya. Akhirnya kita lalai memelihara kasih atau relasi kasih dalam pernikahan kita. Ini yang sering kali terjadi dan relasi yang tak disirami oleh perbuatan-perbuatan yang menyenangkan seperti itu lama-lama menjadi relasi yang kering alias kasih itu tak lagi ada dalam relasi, tidak lagi kuat. Dampaknya apa yang sering kali muncul? Konflik; konflik itu benar-benar ibarat api yang menyambar ranting-ranting yang kering. Kalau rantingnya basah api itu susah sekali membakar, nah demikian pulalah relasi; kalau kering, kurang kasih mudah sekali terbakar oleh api konflik.
GS : Ada hal lain yang disebut dalam firman Tuhan tadi tentang satu jiwa, apakah itu Pak Paul?

PG : Satu jiwa berarti satu pikiran, ini artinya adalah satu cara pikir, cara pola pikir. Saya menyimpulkan kesatuan hanya dimungkinkan bila kita mempunyai pola pikir serupa; kalau pola piki kita dan pasangan kita berbeda sekali itu susah sekali untuk disatukan.

Misalkan yang satu cara berpikirnya loncat-loncat, susah sekali untuk sistematik; yang satunya sistematik, berurut nah untuk disatukan sangatlah sulit. Yang satu praktis luar biasa, tidak usah persiapan yang penting lihat saja nanti bagaimana, nanti bisa terpikirkan jalan keluarnya sementara yang satu tidak; dia harus benar-benar mempersiapkan segalanya. Itu akan mudah sekali terjadi pertengkaran. Jadi perlu juga kesatuan berpikir, pola pikir akan makin serupa bila kita sering berkomunikasi. Sudah tentu meskipun kita sebelum menikah sudah berusaha mencari pasangan yang pola pikirnya serupa dengan kita, tapi tetap setelah kita menemukan pasangan kita dan akhirnya menikah dengan dia kita menyadari ternyata pola pikirnya tidak terlalu sama. Dan tidak jarang justru kita menyukai orang yang pola pikirnya berkebalikan dari kita; jadi bukannya alasan untuk kita tidak bisa menyatu. Yang perlu kita lakukan adalah sering-sering berkomunikasi karena ini yang sering kali terjadi makin kita berkomunikasi makin kita itu bisa belajar dari pasangan kita. Dan pasangan kita pun demikian terhadap kita, belajar tentang pola pikir kita sehingga lama-kelamaan pola pikirnya makin menyerupai pola pikir kita dan sebaliknya pola pikir kita pun makin menyerupai pola pikir pasangan kita.
WL : Pak Paul, mungkin ada pasangan-pasangan yang sepertinya mengartikan pola pikir serupa ini secara ekstrim. Sebab saya sering menemukan kalau acara diskusi, misalkan ditanyakan ke bapak A si suami kemudian misalkan dia menjelaskan tentang sesuatu; langsung istrinya kalau ditanya ya sama dah dan hampir semua begitu. Itu jadinya si istri tidak mempunyai identitas dirinya, pola pikirnya sendiri, bukankah kita juga perlu berkembang juga Pak Paul.

PG : Kesimpulannya ada dua, mungkin si istri sungkan berseberangan pendapat dengan si suami; jadi daripada dia melontarkan kata-kata yang nanti berseberangan ya lebih baik dia tidak bicara. tau yang kedua dia memang malas berpikir, jadi daripada berpikir susah-susah ya lebih baik berkata sama dengan suamnya.

Jadi saya tidak tahu yang mana di antara dua itu.
GS : Di dalam menyatukan jiwa, satu pola pikir tadi, sering kali kita tetap bertahan pada pola kita sendiri sebenarnya tetapi kita mencoba memahami pola pikir pasangan kita, jadi kita masing-masing mempunyai identitas. Dan benturan atau gesekan itu agak jarang terjadi dengan banyaknya kita berkomunikasi.

PG : Awalnya selalu begitu Pak gunawan, jadi upaya memahami meskipun awalnya yang tercetus adalah tidak memahami. Kenapa engkau bisa berpikir seperti ini, sering kali itu yang terjadi. Namunkarena kita itu mau menjaga dan memelihara persatuan kita berusaha memahami kenapa dia sampai berpikir seperti ini.

Kalau kita cukup mengenal pasangan kita dan pola pikirnya seharusnya kita bisa menyimpulkan kenapa dia sampai berpikir seperti ini. Karena kita mencoba menempatkan diri dalam pola pikirnya, o......OK! dengan pola pikirnya seperti itu tidak heran dia sampai pada kesimpulan seperti itu. Jadi langkah pertama selalu mencoba memahami. Tapi memahami belum tentu menerima, itu adalah dua hal yang berbeda. Nah, kapankah kita menerima? Nah ini sebetulnya rahasianya kita baru bisa menerima tatkala kita pun mulai berubah. Berubahnya karena kita terus-menerus berinteraksi dengannya. Maka pernikahan yang memang ditandai dengan kefakuman interaksi, jarang suami-istri itu berbicara, bertukar pikiran, akibatnya sangat-sangat jelas itu nanti bukannya sekarang. Bertahun-tahun kemudian akan terlihat jelas bahwa mereka tak pernah berusaha menyatukan keduanya sehingga beberapa tahun kemudian kita melihat mereka tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa berbicara, tidak bisa menyatukan pikiran. Karena dua-duanya terlalu berseberangan, nah kita bertanya berbelasan tahun menikah apa yang mereka lakukan. Jawabannya adalah ya tidak berkomunikasi. Mungkin sekali awalnya mereka mencoba tapi terus berbenturan dan jera, tidak mau lagi nanti berbenturan lagi. Keliru, justru biarkan berbenturan, biarkan mencoba terus dengan sekuat tenaga terus mencoba untuk berkomunikasi meskipun sulit, maka lama-kelamaan kita mulai terpengaruh oleh pola pikir pasangan kita tanpa kita sadari karena kita terus bergaul dengannya. Kita mulai berubah, kita mulai bisa menerimanya. Nah inilah akhirnya pada usia-usia yang sudah agak paro baya kalau memang kita telah berusaha keras seperti itu, pada usia paro bayalah kita akhirnya mulai memetik buah-buah kerja keras kita itu.
WL : Pak Paul, tapi kalau misalkan keduanya itu memang jenis pola pikirnya sangat kontras seperti yang tadi Pak Paul sebutkan sebelumnya; yang satu misalnya berpikiran global, yang satunya sangat mendetail, berarti itu sering terjadi konflik. Apakah tetap bisa mengaplikasikan bagian ini untuk serupa, karena banyak kasus saya temukan misalnya teman-teman kalau cerita, saya bisa lebih enak ngobrol dengan papa atau yang satu dengan mamanya, karena enak diajak berpikir, diajak berdiskusi; sedangkan dengan mama tidak nyambung. Nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira kita tidak berubah secara total, tapi kita makin mendekati satu sama lain sehingga nantinya dalam pengambilan keputusan karena kita makin dekat maka makin dekat dalam mengambi keputusan.

Nah dalam payung inilah kita itu disebut satu pikir, bukannya benar-benar seperti duplikat, seperti kembar, namun makin menyerupai sehingga dalam pengambilan keputusan kita lebih bisa untuk sepikiran.
GS : Pak Paul, selain satu kasih dan satu jiwa, ada juga yang disebut satu tujuan, apakah itu Pak Paul?

PG : Satu tujuan artinya mempunyai nilai kehidupan yang sama. Apakah tujuan hidup kita, apakah tujuannya kita ada di dunia ini. Saya menyimpulkan kesatuan antara suami-istri hanya dimungkinkn bila kita mempunyai nilai kehidupan yang sama.

Nah yang kita tahu dari firman Tuhan adalah hidup untuk Tuhan, kita ini sudah dibeli oleh Tuhan, kita bukanlah pemilik hidup kita ini, Tuhanlah yang memiliki hidup kita. Jadi kita mesti memiliki nilai-nilai yang Tuhan miliki pula, misalnya prinsip yang ingin saya bagikan adalah genggamlah yang kekal sedangkan lepaskan yang fana. Artinya kita menggenggam yang kekal itu adalah menggenggam Tuhan dan juga manusia, kita utamakan Tuhan dan manusia di atas yang fana yakni benda. Kita tahu manusia juga kekal, kita nanti akan hidup bersama Tuhan tapi kalau sekarang kita hidup di luar Tuhan nantinya pun setelah meninggalkan dunia ini kita akan hidup di luar Tuhan. Jadi kalau suami-istri mempunyai nilai hidup yang sama, prinsip hidup yang sama; yaitu menggenggam yang kekal dan berani melepaskan yang fana, setidak-tidaknya mereka sudah dipersatukan oleh satu tujuan yang sama bahwa hidup ini untuk Tuhan; yang penting bagi Tuhan barulah penting buat saya; yang tidak penting buat Tuhan tidak penting buat saya. Mereka akan lebih mudah hidup harmonis, sebaliknya kalau tujuan ini sudah berbeda, misalnya menggenggam yang fana melepaskan yang kekal, tidak mungkin bisa bersatu.
WL : Pak Paul, berarti prinsip ini tidak bisa bagi orang yang menikah dengan yang tidak seiman. Misalnya yang satunya sangat memfokuskan diri pada materialisme, misalnya mengurus toko dan sebagainya, mungkin akan sulit Pak?

PG : Betul sekali, mungkin itulah prasyarat yang Tuhan berikan di I Korintus 7:39 dikatakan kita bebas menikah dengan siapa saja asalkan sesama orang percaya. Yang tujuannya adaah agar kita memiliki nilai-nilai hidup yang serupa.

GS : Salah satu wujudnya mungkin ini Pak Paul, yang tidak mencari kesenangan sendiri.

PG : Betul sekali, firman Tuhan dengan jelas berkata tidak mencari kepentingan sendiri. Nah ini syarat kesatuan dalam pernikahan juga, sebetulnya dalam pernikahan hanya ada satu kepentingan ang boleh ada yaitu kepentingan bersama.

Kepentingan bersama artinya kita mengakomodasi kepentingan pasangan kita dan juga kepentingan kita pribadi. Nah saya ini mendefinisikan kepentingan sebagai kebutuhan pula dan saya percaya kebutuhan adalah suatu bagian yang penting dalam pernikahan. Jadi kita mesti berusaha memenuhi kebutuhan dasar pasangan kita, meskipun pada waktu kita memenuhi kebutuhannya kita sendiri tidak terlalu puas, tidak terlalu bahagia namun kita harus juga memenuhi kebutuhannya. Contohnya, kebutuhan akan kasih sayang, kita berkata: "Aduh besar benar kebutuhan kasih sayangnya." Tapi itulah yang dibutuhkannya kita coba berikan. Dia butuh penghargaan, nah kita tahu dia memang butuh penghargaan itu ya kita berikan meskipun kita tidak terlalu senang tapi kita tahu itu penting bagi pasangan kita, sudah kita berikan. Jadi apa yang merupakan kebutuhan dasar nah itulah yang akan kita coba penuhi.
WL : Kalau kepentingan bersama lebih banyak diwarnai kepentingan pribadi salah satu pasangan, tapi dia mengatasnamakan kepentingan bersama, bagaimana Pak Paul?

PG : Memang adakalanya kita itu akhirnya mengatasnamakan kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama, misalnya kita itu maunya tinggal di derah yang terpisah dari mertua kita. Sebetulnya ni demi kepentingan pribadi, tapi kita bagaimana membujuk pasangan kita ya kita katakan, "Anak-anak perlu sekolah yang ini dan sekolah ini dekat dengan rumah yang akan kita beli," meskipun kita mempunyai kepentingan pribadi.

Nah dalam kenyataannya atau konkretnya adalah kadang-kadang hal-hal seperti itu terjadi. Tapi saya kira sampai titik tertentu itu adalah hal yang wajar, kita mempunyai kepentingan, kita tahu ini juga baik ini ada kepentingan untuk pasangan kita, kita akomodasikan keduanya sebab apa salahnya kalau dua-duanya bisa memperoleh kepentingannya. Namun jangan sampai kita menjadi orang yang egois yang hanya memusingkan kepentingan diri tidak memikirkan kepentingan orang lain. Kalau kita bermental seperti itu sebetulnya kita sedang meretakkan hubungan keluarga sendiri.
GS : Ada yang mengkhawatirkan kalau dituruti terus keinginannya, dia akan menjadi manja.

PG : Ada juga yang begitu, kalau sampai itu yang terjadi berarti kita harus mengerem dan berkata: "Mengapa saya sendiri yang terus-menerus memikirkan dan melakukan kepentinganmu, sedangan yang saya butuhkan tidak pernah engkau berikan."Berarti

kita harus berani mengemukakan kepentingan kita kepada pasangan kita pula.
GS : Kalau yang tidak mencari pujian yang sia-sia itu bagaimana Pak Paul?

PG : Artinya kita itu jangan mencari kesempatan untuk berbangga-bangga dan menuntut pasangan kita memberikan pengakuan itu kepada kita. Kita ingin tatkala kita benar, pasangan kita mengakui,nah kita ingin juga dia itu hormat kepada kita, tunduk kepada kita, dan kita ingin menonjolkan diri kita di hadapan pasangan.

Hati-hati, firman Tuhan berkata: "Jangan mencari pujian yang sia-sia." Yang penting bukanlah pengakuan bahwa kita benar, sering kali kita itu ingin menunjukkan bahwa kita benar dan kita tuntut pasangan kita mengakui bahwa kita benar. Jangan, yang penting bukan pengakuannya, yang penting adalah kita melakukan hal yang benar. Ada juga orang yang mencari-cari sukses, dia berpikir semakin saya sukses semakin pasangan saya harus menghormati saya. Ini pujian yang sia-sia, saya meminta kepada semua biarlah pasangan kita memuji kita karena kita takut akan Tuhan dan mengasihi keluarga serta bertanggung jawab. Kalau kita bisa dipuji pasangan kita karena itu saja, saya kira itu sudah cukup yang lain-lainnya tidak seperti ini.
WL : Berbicara tentang pujian, saya jadi teringat Amsal 31:10 sampai 30-an khusus berbicara memuji terhadap istri yang cakap. Apakah itu berarti memang lebih banyak perempuan atau istri yang butuh dipuji, atau sebetulnya kalau di Filipi 2 ini berlaku untuk semua bukan hanya untuk istri, bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira dua-duanya baik perempuan maupun pria membutuhkan pujian. Tapi yang firman Tuhan ingin tekankan adalah jangan kita itu mengejar-ngejar pujian, mengejar-ngejar pengakuan dari psangan kita.

Karena seharusnyalah bisa dikatakan oleh pasangan kita tentang kita dan kita pun bisa mengatakan tentang hal yang sama pada pasangan kita.
GS : Ayat tadi juga mengatakan yang sebaliknya, hendaknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri. Ini wujud rendah hatinya seperti apa, Pak Paul?

PG : Wujud rendah hati benar-benar dikonkretkan dengan satu tindakan yaitu memperlakukan orang lebih baik daripada kita. Benar-benar kita menganggap orang lain itu lebih utama, lebih baik daipada kita, dan kita harus memperlakukannya sebagai orang yang lebih baik daripada kita.

Nah, kenyataannya apakah selalu pasangan kita lebih baik daripada kita? Kenyataannya bukankah tidak, dalam hal-hal tertentu dia lebih baik dan dalam hal tertentu kita lebih baik. Nah firman Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi orang yang ilusional, yaitu hidup dalam khayalan, seolah-olah dalam semuanya dia itu lebih baik. Jangan, Tuhan meminta kita melihat orang dengan jelas, dengan jernih tapi Tuhan meminta kita mempunyai sikap memperlakukan orang seakan-akan dia orang yang lebih baik daripada kita seperti itu. Jadi itu benar-benar wujud dari rendah hati, rendah hati tidak diwujudkan dalam jalan bongkok-bongkok, ngomong merendah-rendah, sama sekali bukan itu. Rendah hati diwujudkan secara konkretnya melalui tindakan, yaitu memperlakukan orang seakan-akan dia lebih baik daripada kita. Meskipun kita tahu kita lebih baik daripada dia dalam hal ini, tapi tetap kita memperlakukan dia seakan-akan dia lebih baik daripada kita. Nah sikap seperti inilah kalau kita pelihara, kita bisa menikmati kesatuan dalam rumah tangga kita.
WL : Mungkin teladan yang paling ideal pada Tuhan Yesus sendiri. konteks ini Paulus menulis Filipi 2 di bagian berikutnya tentang kerendahan hati Tuhan yang merendahkan diri, mengosongkan diri sampai mati di kayu salib. Sampai Tuhan Allah meninggikan Dia. Tuhan Yesus sendiri tahu Dia pasti lebih sempurna, lebih baik daripada manusia. Tetapi Tuhan memperlakukan kita begitu istimewa.

PG : Betul sekali, contoh yang baik dan itulah yang menjadi dasar contoh Paulus atau tolok ukurnya seperti Kristus.

GS : Tetapi kalau itu diterapkan di dalam hubungan suami-istri, apakah itu tidak membuat pasangan kita itu menjadi tidak tahu kelemahannya.

PG : Nah sudah tentu kita itu dipanggil Tuhan untuk saling membangun, membangun artinya kita melihat di mana kekurangan pasangan kita. Tapi kalau kita sudah bersikap bahwa dia itu lebih baikdaripada kita, waktu kita menyampaikan kekurangannya kita menyampaikannya dengan cara yang lebih baik, dengan penuh hormat.

Tapi kalau kita sudah bersikap saya lebih baik, kamu memang tidak mengerti apa-apa dalam hal ini, wah kita mencoba memberitahukan dia bukannya membangun tapi malah menghancurkan dia. Dan ini yang saya kira kita semua lakukan termasuk saya, jadi kita perlu belajar untuk benar-benar memperlakukan pasangan kita seakan-akan dia lebih baik daripada kita.

GS : Jadi ada cukup banyak ayat-ayat di dalam Alkitab itu yang memberikan pedoman bagi kita di dalam kehidupan berkeluarga khususnya dalam hubungan suami-istri. Jadi terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini di mana Pak Paul sudah menguraikan dengan begitu jelas Filipi 2:2 dan 3 dan juga Ibu Wulan terima kasih untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Filipi 2 untuk Pernikahan." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamt telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sekalian sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



34. Kompromi


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T166B (File MP3 T166B)


Abstrak:

Kompromi adalah sesuatu yang mutlak dalam pernikahan, kalau tidak ada kompromi akan banyak masalah yang tidak akan selesai. Ada orang-orang di dalam pergaulan bisa berkompromi dengan baik, tapi tatkala menikah tidak terlalu mampu untuk berkompromi dengan pasangannya sendiri.


Ringkasan:

Kompromi adalah sesuatu yang mutlak dalam pernikahan, kalau tidak ada kompromi akan banyak masalah yang tidak akan selesai. Ada orang-orang di dalam pergaulan bisa berkompromi dengan baik, tapi tatkala menikah tidak terlalu mampu untuk berkompromi dengan pasangannya sendiri.

Salah satu penyebab kenapa kita sulit untuk berkompromi adalah karena waktu kita harus berkompromi, tidak bisa tidak kita harus mengorbankan ego kita. Dan mengorbankan ego dalam rumah tangga itu ternyata lebih berat daripada mengorbankan ego di luar rumah. Di luar rumah mengorbankan ego dipandang sebagai sesuatu yang bagus, yang mulia dan dipuji. Sementara di dalam rumah tidak mendapatkan pujian. Jadi karena tidak ada imbalan itulah maka lebih susah untuk berkompromi

Batasan-batasan tertentu di mana kita bisa kompromi dalam kehidupan rumah tangga, yaitu:

Langkah yang harus kita lakukan di dalam tindakan kompromi adalah membelah-belah keputusan dalam kepingan-kepingan yang lebih kecil. Oleh karena itu diperlukan:

Mazmur 105:5, "Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya." Kompromi berarti memberi ruangan pada Tuhan untuk bekerja di dalam ketidaksempurnaan. Artinya waktu kita kompromi dalam diri kita, kita berkata keputusan yang paling baik ini tidak terjadi karena kita harus mengalah.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kompromi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, mendengar istilah kompromi sering kali orang berkonotosi negatif. Nah kalau ini diterapkan di dalam kehidupan suami-istri bagaimana Pak Paul?

PG : Pada dasarnya kompromi itu sesuatu yang mutlak dalam pernikahan Pak Gunawan, kalau tidak ada kompromi saya kira banyak masalah yang tidak akan selesai. Nah kadang-kadang kita beranggapa bahwa dengan dewasanya kita, dengan matangnya kita, itu akan memudahkan kita untuk berkompromi.

Ternyata tidak selalu demikian, ada orang-orang dalam pergaulan, dalam kehidupan bisa berkompromi dengan lumayan baik, tatkala menikah tidak terlalu mampu untuk berkompromi dengan pasangannya sendiri. Jadi kompromi di dalam rumah tangga ternyata sesuatu yang lumayan sulit. Tidak berarti kalau kita mudah berkompromi di luar, maka dalam rumah kita akan lebih mudah berkompromi.
GS : Timbulnya kesulitan itu karena faktor apa Pak?

PG : Banyak penyebabnya Pak Gunawan, salah satunya adalah waktu kita harus berkompromi kita tidak bisa tidak harus mengorbankan ego kita. Nah kalau kita dilihat oleh orang bahwa kita itu kurng konsisten, itu mungkin sesuatu yang lebih mudah.

Tapi dalam rumah tangga tekanan itu jauh lebih intens. Jadi waktu kita harus mengalah, waktu kita itu rasanya malu untuk mengorbankan ego kita, itu sesuatu yang lebih berat dalam rumah tangga kita sendiri. Karena pasangan kita itu terlalu dekat, terlalu intens, maka tadi saya katakan kendati kita di luar bisa berkompromi dengan baik belum tentu di dalam rumah tangga sendiri kita lebih mudah berkompromi.

ET : Mungkin atau tidak Pak Paul, ketakutan orang itu karena kurang konsisten, jadi takut kalau saya kompromi besok sepertinya diinjak-injak?

PG : Sering kali itu ketakutannya, jadi daripada nanti saya dinjak-injak, tidak dipandang, tidak dihargai, maka lebih baik sekarang saya bertahan; mempertahankan prinsip. Tapi itulah yang haus kita lakukan, kalau tidak kita tidak mungkin menyelamatkan pernikahan kita.

Tapi saya ingin garis bawahi bahwa kadang-kadang orang berkata: "Si ini orangnya baik di tempat pekerjaan atau di gereja, sabar, dalam rapat mudah kompromi." Tapi di rumah pasangannya berkata: "O...di rumah lain lagi, di rumah tidak bisa kompromi, harus menuruti kehendaknya." Nah kenapa bisa ada dua sikap yang berbeda seperti itu? Sekali lagi karena mengorbankan ego dalam rumah tangga ternyata lebih berat daripada mengorbankan ego di luar. Dan juga kalau di luar kita mengorbankan ego itu dilihat sebagai sesuatu yang bagus, sesuatu yang mulia; dipuji dan sebagainya. Sedangkan di rumah kita tidak perlu puji-pujian seperti itu, di rumah tidak dipuji, nah karena tidak dipuji dan tidak ada imbalannya kita lebih susah untuk berkompromi. Jadi memang perlu sekali keberanian untuk mengorbankan ego.

ET : Kalau begitu apakah ada batasan-batasan tertentu, dalam hal apa yang memang kita benar-benar harus pertahankan, dalam hal apa yang memang harus dikompromikan dalam kehidupan keluarga, Pak Paul?

PG : Saya kira batasannya yang pertama adalah jikalau berkaitan dengan dosa kita tidak akan berkompromi. Jadi misalkan pasangan kita melakukan sesuatu yang salah, berdosa, misalkan dia menipu. Kita tidak akan berkata kepada orang dia tidak berkompromi, dia tidak menipu dan kita menoleransi perbuatannya. Kita berkata tidak apa-apalah kamu menipu dan kita turut menikmati hasil tipuannya. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan dosa seorang suami atau istri harus berkata kepada pasangannya: "Tidak, saya tidak mau mengambil bagian dalam perbuatan dosamu itu." Nah di luar dosa barulah kita akan berkompromi. Nah yang saya maksud sekarang adalah dalam hal perbedaan pendapat yang berkaitan dengan hikmat. Artinya satu pihak memang lebih berhikmat daripada pihak lainnya. Kadang-kadang situasinya seperti ini, tidak selalu dua-dua itu sama-sama berhikmat. Di dalam kehidupan rumah tangga, kadang-kadang yang satu lebih berhikmat daripada pasangannya, tapi untuk mempertahankan kesatuan nikah kita tetap harus melakukan kompromi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak kerusakan bila keputusan yang kurang bijak itu dilaksanakan. Tujuannya bukanlah bagaimana mencapai keputusan yang paling ideal. Jadi kita mengerti memang keputusannya tidak ideal, karena kita tahu kita benar dan kita tahu dampaknya ini akan ada. Jadi bagaimana kita bisa berbicara dengan pasangan kita sehingga kita bisa mengurangi dampak buruk itu, meskipun kita tahu ide kita kalau dilaksanakan akan jauh lebih baik, namun kadang-kadang guna menjaga kesatuan pernikahan ya kita berkompromi, kita mengalah.

GS : Mungkin Pak Paul bisa memberikan contoh yang konkret?

PG : Misalkan kita tahu bahwa kalau kita pindah rumah, ini akan sangat-sangat berisiko tinggi, karena rumah yang akan kita tinggali itu biayanya, renovasinya, harga belinya, cukup mahal. Tap pasangan kita berkata pasti bisa, tanpa memperhitungkan kalau tidak bisa ini benar-benar bisa merusakkan ekonomi keluarga.

Nah kita mencoba berbicara dengan pasangan kita tapi dia tetap bersikeras bisa, jangan khawatirlah dan sebagainya, mesti bisa. Meskipun kita sudah beritahukan nanti ini hitung-hitungannya seperti ini, ya tetap bersikeras. Nah daripada kita ribut terus-menerus, kita berkata: "OK dah silakan kita pindah, namun boleh atau tidak minta beberapa hal atau satu, dua syarat." Misalnya bisa atau tidak setelah pindah nanti kita tidak boleh merenovasi rumah sampai kita bisa mengumpulkan uang sedemikian besarnya. Setelah kita mengumpulkan sedemikian besarnya barulah nanti kita renovasi. Dan kita prioritaskan dari rumah itu apa yang perlu diganti atau perlu direnovasi. Satu persatu, setelah kumpul uang segini barulah kita kerjakan ini, setelah kumpul uang segini baru kita mengerjakan yang ini, nah bisa atau tidak kamu setuju." Kalau dia bilang, "OK, tidak apa-apa," nah dengan kata lain kita tetap mengikuti kehendaknya, kita tetap memang mengalah meskipun kita tahu nanti kita akan cukup berat, tapi dia bersedia berkompromi, nah akhirnya kita beli rumah itu dan memang cukup berat. Karena memang pas-pasan gaji kita tapi dia senang sekali, dia menikmati rumah yang baru ini, ya sudah kita mengalah. Dan dengan cara yang tadi telah kita setujui, terselamatkan bencana yang akan menimpa keluarga kita.
GS : Tapi sering kali yang terjadi dalam kasus seperti itu, yang satu tidak puas karena tidak langsung rumah itu direnovasi, dan pihak yang lain juga merasa kalah. Jadi di sini tidak tercapai suatu kesepakatan di mana mereka saling menikmati tapi malah merasa kehilangan sesuatu atau merasa dirugikan.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi yang kita bilang ´win-win solution´ jalan keluar yang memuaskan kedua belah pihak itu sering kali pada awalnya tidak memberikan perasaan seperi itu.

Justru dalam kompromi yang kita rasakan pada awalnya adalah ´lose-lose solution´ artinya jalan keluar yang membuat kita rugi dan dia juga merasa rugi, tapi ya itulah yang memang dibutuhkan. Dengan kata lain kompromi dapat terjadi jika kita bersedia kalah. Kalau kita dari awalnya tidak bersedia kalah sedikit pun tidak mungkin ada kompromi. Jadi kesediaan untuk mengalah ini harus ada di dalam diri kita masing-masing.

ET : Masalahnya kadang-kadang dalam hubungan suami-istri itu suka saling menunggu. Kalau kamu mengalah saya mau mengalah, jadi sepertinya siapa duluan, nah kalau begitu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu memang sifat berdosa kita, jadi kita ini hanya rela untuk mengalah kalau kita melihat pasangan kita sudah mengalah dulu. Jadi memang siapa yang harus mengalah dulu, kebanyakan yang arus mengalah dulu adalah kita, nah kita yang sekarang mendengarkan siaran ini.

Siapapun yang mendengarkan ini kalau saudara memang tahu saudara yang benar, tapi saudara yang mendengar ini ya mengalahlah dulu, relakanlah untuk mengalah. Sebab sikap mengalah kita ini nantinya akan memancing atau mengundang pasangan kita untuk turut mengalah. Dengan kata lain kalau kita bersikeras, kemungkinan pasangan kita juga bersikeras, tapi kalau kitanya sudah mengalah dan dia melihat kita mengalah dia akan lebih mudah untuk mengalah. Dengan kata lain kita ini sebetulnya merintis, pertama-tama berjalan di depan dan karena dia sudah melihat karena kita ini berjalan di depan dan mengalah, akhirnya dia juga lebih rela untuk mengalah. Tapi saya mau berbicara lebih realistik tentang hal ini. Pernikahan bagaimanapun dan seberapa dewasanya kita, seberapa rohaninya kita, pernikahan itu sebetulnya didirikan dan dipertahankan di atas landasan hitung-hitungan. Maksudnya adalah kalau sekarang kita melihat bahwa kita yang mengalah, lain kali waktu terjadi lagi konflik kita itu akan lebih susah mengalah. Sebab kita menantikan pasangan kita dulu mengalah, sebab kita berkata ini giliranmu untuk mengalah, bulan lalu atau minggu lalu giliran saya mengalah kenapa sekarang kamu tidak mengalah. Dan pasangan kita juga akan mengingat, "Iya..ya bulan lalu dia yang mengalah, iya dah sekarang saya yang mengalah." Jadi kalau kita berkata kita sudah dewasa tapi masih seperti kanak-kanak; ya dalam soal ego saya kira manusia itu semuanya kanak-kanak tidak bisa sedewasa yang kita harapkan. Kadang-kadang kita akan bersikap dewasa tapi sering kita akan bersikap tidak dewasa. Jadi kalau kita merasa ini bukan giliran saya untuk mengalah sebab saya sudah mengalah dua kali berturut-turut nah itu membuat kita lebih susah mengalah. Tapi kalau kita melihat pasangan kita mengalah juga, kita akan lebih rela untuk mengalah. Maka ini memang harus timbal balik, kalau kompromi itu tidak ada timbal baliknya akan macet dan berhenti.
GS : Selain hitung-hitungan sering kali yang saya alami adalah hasil daripada sikap mengalah itu. Jadi kalau saya mengalah dan ternyata pendapat awal saya benar, saya lain kali untuk mengalah susah. Saya dulu sudah mengalah dan ternyata pendapat saya itu benar.

PG : Betul sekali, jadi kita cenderung sebetulnya menuntut pasangan untuk mengakui kesalahan. Kalau saja dia itu sadar, "Ya.....ya....gara-gara kita membeli rumah, sekarang ini menjadi usah sekali."

Dan pasangan kita berkata: "Wah...kamu yang betul, kalau saja dulu saya dengarkan kamu." Sebetulnya kalau kita dengarkan itu saja, semua kekerasan hati itu langsung lenyap, kita berkata, "Ya......tidak apa-apa kita semua manusia, kita bisa salah dan sebagainya." Jadi memang firman Tuhan yang berkata akuilah dosamu kepada satu sama lain, itu memang resep mujarab sebab pengakuan dosa itu benar-benar melunakkan hati orang yang ingin meberikan pengampunan itu. Jadi sebaiknya bersikaplah dewasa, kalau memang tahu bahwa ya.....ya.....pasangan kita yang betul, kita yang keliru menilai; akui dan katakan, jangan takut lain kali dia akan menginjak-injak kita. Kalau memang ini bagian kita, keharusan kita untuk mengakui kita salah, akui, jangan kita bertahan.

ET : Namun adakalanya kembali lagi soal ego itu, pihak yang sudah mengaku salah, memang sudah minta maaf, ya saya salah, kemudian yang satunya egonya justru menjadi membumbung sehingga untukberikutnya sudah percayalah saya.

Jadi dia merasa dia yang selalu tepat dalam pengambilan keputusan.

PG : Kalau itu sampai terjadi pihak yang sudah mengaku salah, setelah itu bisa berkata kepada pasangannya, "Saya mengaku salah dengan rela, namun dengan berat; karena saya tahu atau say sudah menduga kamu akan berkata-kata seperti ini, kamu akan melecehkan saya, menyalahkan saya lagi.

Nah saya tahu saya salah, tolong beritahu saya hanya sekali saja itu sudah cukup, kalau kamu mengulang-ulang perkataan yang sama, menekan-nekan saya seperti ini; ini membuat saya lain kali susah untuk mengaku salah dan relasi kita makin hari makin menjauh. Jadi kalau kita berdua serius mau menyelamatkan pernikahan kita, mohon lain kali kalau kamu sudah berkata sekali saja bahwa memang ´kan saya bilang apa, sudah cukup sebab saya sudah mengerti. Kenyataan saya datang minta maaf dan emngakui itu ´kan suatu pertanda bahwa saya sudah tahu saya yang salah, nah kalau bisa jangan diulang-ulang lagi." Jadi kita memang harus memberikan salah satu sikap ketegasan sehingga pasangan kita tidak senak-enaknya menginjak-injak kita.
GS : Berarti ada langkah-langkah tertentu yang harus kita ambil di dalam kompromi itu Pak Paul, apakah itu?

PG : Ada Pak Gunawan, nah yang harus kita lakukan adalah membelah-belah keputusan dalam kepingan-kepingan yang lebih kecil. Kadang-kadang kita terjerat dalam harga mati yakini kita meminta psangan untuk menyetujui keputusan yang final dan menyeluruh.

Nah inilah yang sering kali menyumbat kompromi sebab kita tidak siap dengan keputusan akhir yang berat itu yang besar itu, kita jauh lebih siap menyepakati langkah kecil daripada langkah besar. Saya berikan contoh, misalkan pasangan kita meminta kita untuk pindah kota karena ada tawaran kerja yang lebih baik. Nah kita tidak siap dengan keputusan sebesar itu, kalau begitu apa yang bisa kita lakukan. Nah pasangan kita bisa berkata, bagaimana kalau kita itu melakukannya setahap-demi setahap. Saya kira kita tidak perlu pindah sekarang ini, namun bagaimana selama setahun ini kita rencanakan misalkan dua, tiga kali kita ke kota itu; kita jalan-jalan, kita lihat, kita temui sekolah di sana, kita datang berbakti di sebuah gereja, kita mempunyai keanggotaan di gereja itu, kita mengenal dengan orang-orang di sana. Nah terus hal-hal seperti itu dilakukan. Atau pasangan kita berkata saya juga akan datang ke sana sendiri, saya akan memulai usaha saya, melihat-lihat pekerjaannya seperti apa, nanti saya akan pulang akan cerita juga. Nah dengan kata lain pasangan itu meminta kita melakukan hal-hal yang kecil dan kita jauh lebih siap untuk menyetujui hal-hal kecil itu. Sebab kita berkata dalam hati kita, kalau hal-hal kecil ini kita lakukan dan tidak berhasil, kita masih bisa menarik diri kita kembali. Kalau langsung terjun ke keputusan yang besar kita tidak bisa lagi tarik diri, karena ini sudah menjai keputusan final. Itu sebabnya kalau yang final itu terlalu besar, yang mengusulkan perubahan harus memikirkan bagaimana membelah-belah keputusan besar itu menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil.

ET : Jadi dalam hal ini memang dibutuhkan kreatifitas juga, Pak?

PG : Sangat dibutuhkan kreatifitas. Atau kalau kita tidak tahu kepingan kecil itu seperti apa kita bisa bertanya kepada pasangan kita, "Apa yang kamu siap kalau kamu tidak siap dengan yng ini, ada atau tidak yang kamu siap yang sedikit apapun tapi kamu siap untuk melakukan?" Misalkan dia bilang: "Ya saya siap untuk datang melihat kota itu, setidak-tidaknya untuk itu saya siap."

"OK, terima kasih." Jadi kita bisa bertanya juga kalau kita memang kehabisan ide, apakah itu kepingan-kepingan kecil yang harus kita lakukan.
GS : Tapi itu biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama dan kadang-kadang suatu keputusan itu tidak bisa diambil dalam waktu yang cukup lama seperti itu.

PG : Kadang-kadang kita memang bisa melakukan nasihat ini, kepingan-kepingan kecil itu kita urai kemudian kita lakukan bersama. Tapi saya setuju adakalanya ada keputusan yang tidak bisa menuggu terlalu lama, nah dalam kondisi seperti itu memang diperlukan diskusi yang intens, benar-benar dua-dua mengajukan sisi baik dan buruk dari semuanya.

Nah salah satu cara yang harus atau salah satu hal yang harus dilakukan dalam diskusi intens adalah kita mencoba untuk mengulang apa yang pasangan kita tadi katakan. Jadi maksudnya adalah sering kali yang terjadi waktu pasangan kita bicara, kita memikirkan ini jawabannya apa, terus kita melontarkan jawaban untuk membantah yang dia katakan. Dia juga berpikir apa ini yang bisa dia lakukan atau katakan untuk membantah yang kita katakan, terus begitu. Nah saya meminta kita melakukan sesuatu yang sangat sederhana yaitu waktu pasangan kita berbicara misalkan tentang pindah kerja, kita tidak langsung berkata: "Tidak, karena nanti akan begini, begini." Kita langsung mengulang kembali atau memantulkan apa yang pasangan kita katakan. "O......OK, jadi menurut kamu kalau kita pindah ini akan lebih baik untuk kita semua, udara lebih baik, juga anak-anak lingkungannya lebih baik dan kita berdua lebih bisa menghabiskan waktu bersama dan sebagainya, itu yang kamu katakan tadi." "Ya." "Nah, kalau begitu boleh atau tidak saya kemukakan pandangan saya, saya mendengar pandangan kamu." Pasangan kita akan berkata: "Boleh." Terus kita katakan pandangan kita, "Nah menurut saya yang tadi kamu katakan itu semuanya benar namun ada sisi lain, sisi lainnya adalah tentang uang; nah uang kita hanya segini sedangkan keperluannya segini, segini, apa yan kamu pikirkan, ide apa yang kamu miliki untuk mengatasi masalah uang ini." Nah dia akan berkata: "Menurut saya kita bisa begini, begini," nah apa yang harus kita lakukan; kita itu seolah-olah mengerti apa yang sedang dia kemukakan. Dengan hanya memantulkan, dengan hanya mengulang apa yang dia katakan, pasangan kita sudah merasa didengarkan oleh kita dan dimengerti. Nah ini sendiri sudah mengurangi 50% letupan, tadinya ingin marah, defensif karena takut, sudah menduga bakal diserang, dibantah, ternyata tidak malahan diiakan, dipantulkan, ya akan menjadi lebih lega, lebih tidak defensif. Kalau dia lebih tidak defensif, dia lebih siap juga mendengarkan masukan kita. Nah dengan kita terus begitu, lama-lama bisa terjadi atau kita bisa bertemu di tengah.

ET : Tampaknya kompromi ini bukan sebuah tindakan, tapi ada unsur seni di dalamnya, membutuhkan keterampilan-keterampilan tertentu sebelum kita bisa mencapai sebuah kompromi ini.

PG : Betul, dan selain keterampilan yang diperlukan juga adalah kedewasaan. Kedewasaan yaitu bukan lagi yang penting saya menang, yang penting bukan lagi saya benar, yang penting adalah bahw keputusan yang baik itu diambil.

Nah kalau kita masih memusingkan siapa yang benar dan siapa yang salah, dan saya harus benar tidak boleh salah; ya tidak akan terjadi kompromi. Maka kedewasaan seseorang diukur dari apakah dia mampu mengesampingkan dirinya dan hanya memfokuskan pada faktanya atau pada bahan yang sedang didiskusikan itu, dan pada keputusan yang terbaik untuk kita bersama-sama. Nah begitu orang berkata saya yang harus benar dan pendapat saya yang harus diikuti tidak akan ada kompromi, tapi kalau dua-duanya berkata yang penting adalah keputusan yang terbaik untuk kita bersama, it akan memudahkan. Jadi kalau sudah terlalu subjektif memang sudah tidak bisa ke mana-mana.
GS : Dalam hal kompromi ini apakah ada firman Tuhan yang mendukung, Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 105:5, "Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukanNya, mujizat-mujizatNya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkanNya." Komromi berarti memberi ruangan pada Tuhan untuk bekerja di dalam ketidaksempurnaan.

Artinya waktu kita kompromi dalam diri kita, kita berkata keputusan yang paling baik ini tidak terjadi karena kita harus mengalah, betul itu yang kita rasakan. Tapi percayakanlah sisa ruangan ini, yang kita pikir tadinya bakal menjadi yang paling baik kepada Tuhan, kita percayakan bagian ini kepada Tuhan bahwa Ia sanggup berkarya dalam setiap kondisi. Meskipun tidak sempurna, dengan kata lain kesimpulannya adalah kehendak Tuhan tidak pernah terhalang oleh kebodohan kita. Jadi meskipun kurang ideal tapi toh ada Tuhan dan Tuhan tetap berkarya di dalam ketidaksempurnaan itu.
GS : Berarti di dalam hal kompromi itu katakan suatu saat belum tercapai kompromi terhadap pasangan kita, kita bisa hentikan itu dan masing-masing berdoa mencari pimpinan Tuhan.

PG : Sangat betul, jadi dalam pengambilan keputusan dua-dua memang mesti juga menarik diri, bersujud kembali kepada Tuhan meminta Tuhan membisikkan kehendakNya kepada kita. Dan sering kali dlam situasi seperti itu Tuhan memang akan membisikkan kehendakNya.

GS : Dan terutama memberikan pertolongan kepada kita untuk bisa mengalah. Jadi banyak hal yang akan mendatangkan sesuaut yang positif kalau kita bisa berkompromi dengan pasangan kita. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini juga Ibu Esther, para pendengar sekalian terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga. Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kompromi". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



35. Tangguh Ditengah Badai


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T192A (File MP3 T192A)


Abstrak:

Badai dapat menerpa siapa pun, termasuk pengikut Kristus! Badai datang sekonyong-konyong, silih berganti! Ada 5 tuntunan untuk menghadapi badai yang dibahas dalam bagian ini.


Ringkasan:

Matius 8:23-27

Badai adalah segala jenis KEHILANGAN:

Badai datang:

Badai datang, namun Tuhan telah datang terlebih dahulu!

Tuntunan 1

Tuntunan 2

Tuntunan 3

Tuntunan 4

Tuntunan 5
Kekuatan Tuhan mengalir turun melalui:


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersma Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tangguh di Tengah Badai". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, kalau kita bicara tentang badai ingatan kita itu langsung tentang kehancuran, tentang kerusakan yang parah bahkan tentang kematian. Sehingga orang itu kalau bisa akan coba menghindari atau menjauhkan diri dari badai ini supaya selamat. Tetapi kadang-kadang kita melihat juga berbagai upaya manusia ini ada batasnya, jadi tetap terjebak di dalam badai itu sehingga mau tidak mau harus bertahan. Ini kalau kita melihat kenyataan badai yang sehari-hati, tetapi dalam kehidupan kita sendiri itu juga ada badai-badai yang melanda hidup kita yang kita kenal dengan badai kehidupan. Ini sebenarnya apa Pak Paul?

PG : Badai kehidupan sebetulnya adalah hal-hal yang terjadi dalam hidup kita yang menimbulkan dampak kehilangan yang besar. Jadi hal-hal itu bisa merupakan kematian, bisa merupakan kerugian, bia merupakan hilangnya keseimbangan hidup ini, peristiwa-peristiwa yang menimpa kita apapun itu.

Tapi yang jelas adalah dampaknya, dampaknya adalah kehilangan yang sangat besar, itu sebabnya kita tidak siap untuk menghadapi badai. Karena pada akhirnya yang kita akan harus tanggung adalah sebuah kehilangan yang besar. Persis sama dengan peristiwa-peristiwa yang baru saja kita dengar yaitu badai Katrina, badai Rita yang menerpa di Amerika atau pun kita juga mendengar tsunami yang juga menerpa Sumatera Utara dan tempat-tempat lainnya. Efek akhirnya adalah kehilangan yang sangat besar.
GS : Tetapi badai kehidupan itu untuk setiap orang tidak sama, buat seseorang itu merupakan badai tapi buat yang lain ini mungkin cuma angin-angin sepoi saja Pak Paul.

PG : Memang tidak sama Pak Gunawan, jadi tergantung juga pada daya tahan kita, daya tampung kita untuk menahan terpaaan badai atau stres itu. Pada dasarnya kita itu bisa memfokuskan dampak kehiangan itu pada sekurang-kurangnya 4 kategori.

Yang pertama adalah kehilangan kesayangan, kedua kehilangan kepercayaan dan yang ketiga kehilangan keamanan dan yang terakhir adalah kehilangan kekuatan. Yang saya maksud kehilangan kesayangan adalah kita kehilangan orang yang kita sayangi, kematian adalah badai yang bisa merenggut orang yang kita sayangi. Bisa juga memang ini menyangkut harta miliki kita yang kita sayangi, rumah kita tiba-tiba terbakar habis nah itu bagian dari kehilangan benda atau harta yang kita sayangi pula. Ini adalah jenis pertama dari badai kehidupan.

ET : Kalau yang pertama tadi Pak Paul katakan ada kepercayaan, kehilangan seperti apa Pak?

PG : Kehilangan kepercayaan adalah misalnya suami atau istri yang harus menanggung rasa dikhianati karena apa yang tadinya dipercaya bahwa dia selalu akan setia kepada kita, tiba-tiba tidak seta.

Apa yang kita anggap dia akan selalu menepati janjinya, tiba-tiba dia tidak menepati janjinya. Misalkan kasus yang paling klasik dalam hal ini adalah perselingkuhan. Perselingkuhan adalah badai yang langsung merenggut kepercayaan kita, sehingga setelah badai itu lewat, yang terhilang dalam relasi kita dengan pasangan adalah kepercayaan itu.

ET : Berarti sebenarnya termasuk kehilangan kesayangan dalam hal ini ya Pak?

PG : Betul, ini point yang baik memang jadinya bukan hanya aspek kepercayaan yang hilang tapi juga kesayangan. Seseoang yang disayangi kok sanggup melakukan hal itu dan melukai kita, jadi kita eolah-olah kehilangan orang yang kita sayangi itu.

GS : Bagaimana dengan keamanan tadi yang Pak Paul singgung?

PG : Kita itu kadang-kadang beranggapan kita hidup dalam dunia yang aman tapi waktu sesuatu terjadi di luar dugaan kita dan di luar kemampuan kita, tiba-tiba kita baru disadarkan bahwa kita tidk hidup di dunia yang terlalu aman.

Misalnya perampokan atau terjadi kebarakaran atau terjadi musibah-musibah yang bersifat alami. Hal-hal itu tiba-tiba menggoncangkan rasa keamanan kita, kita anggap bahwa semuanya dapat kita kontrol, kita dapat menjaga, kita membangun rumah yang lebih tinggi, temboknya dan sebagainya, kita menggembok pintu rumah kita dengan lebih kuat, eh...tiba-tiba kita mengalami perampokan atau pencurian atau ada orang jahat yang berbuat jahat kepada kita. Semuanya itu adalah badai yang mengusik dan menghancurkan rasa aman dalam hidup kita.
GS : Termasuk itu kegoncangan ekonomi dalam keluarga itu Pak Paul?

PG : Salah satunya itu Pak Gunawan, jadi kalau kita sudah terbiasa hidup dengan gaji yang tetap setiap bulan, tiba-tiba di-PHK, kita kehilangan pekerjaan kita itu benar-benar akan menggoncangka rasa aman kita.

Nah ini badai yang langsung merenggut rasa aman dalam kehidupan kita.

ET : Termasuk yang psikologis itu Pak Paul, misalnya pelecehan bukankah ini juga berkaitan dengan keamanan?

PG : Betul, ada orang-orang yang memang hidup dalam rumah berharap bahwa kakek atau neneknya, misalnya kakeknya yang akan melindungi dia tapi malah si kakek yang melecehkan dia secara seksual. ah hal ini akan menimbulkan dampak yang sangat berat yaitu hilangnya kepercayaan dia kepada orang-orang yang seharusnya dekat dengan dia.

Justru kalau ada orang yang mau dekat dengan dia yang timbul bukannya percaya tapi malah curiga. Jangan-jangan orang ini juga akan melakukan sesuatu yang buruk kepada saya.

ET : Jadi di keluarga yang seharusnya aman, tapi justru keamanan itu sudah hilang.

PG : Betul sekali, dan bagi orang seperti ini kalau di rumahnya sendiri tidak ada lagi rasa aman apalagi di luar, maka kita bisa melihat pada kasus-kasus korban pelecehan; sampai mereka dewasa un mereka hidup dibayang-bayangi oleh ketakutan.

Sebab betul sekali, bahaya itu masuk di tengah-tengah keluarga, di tengah-tengah rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman buat dia.
GS : Tapi kadang-kadang memang ada beberapa kasus seolah-olah sekelompok orang itu mengundang badai di rumahnya sendiri. Jadi sebenarnya dia tahu kalau itu akan menimbulkan bencana kalau dia lakukan tapi tetap dia lakukan itu.

PG : Ada orang-orang yang memang senang berjudi, senang mengambil risiko, sehingga akhirnya mengorbankan orang lain. kalau saja dia yang dikorbankan dampaknya tidak akan begitu meluas, tapi kadng-kadang memang dia mengundang bencana.

Misalkan, sudah tahu bahwa orang ini tidak bisa dipercaya, tetap diajak terlibat dalam kehidupan bisnisnya atau apa, benar-benar orang itu akhirnya berbalik dan merugikan kita. Jadi akhirnya kita marah karena kita merasakan kita kehilangan kepercayaan. Tapi sesungguhnya badai itu memang kita undang sendiri.
GS : Tapi itu sebenarnya seperti apa yang kita ilustrasikan di depan tadi, ada orang-orang yang sudah diperingatkan bahwa badai akan datang, dia tetap bersikeras mau tinggal di situ sehingga akhirnya menghadapi banyak masalah.

PG : Betul, maka kita memang perlu bijak Pak Gunawan. Kadang-kadang kenapa orang begitu, sudah tahu badai akan datang tetap saja berpikir dia bisa menghadapi badai. Orang ini memang mengandalka kekuatannya sendiri.

Nah memang di dalam hidup kita mesti emmpunyai keyakinan bahwa kita mempunyai kekuatan sampai batas tertentu, kita tidak boleh sampai meninggikan kekuatan kita di atas kekuatan Tuhan. Sampai titik tertentu kita mesti meyakini kita punya kekuatan untuk menghadapi hidup ini. Biasanya waktu badai menerpa yang terjadi adalah kekuatan itu tiba-tiba tidak sanggup untuk mengatasi bencana itu. Misalkan kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita berpikir saya itu sering menolong orang yang sedang berduka, saya pasti bisa mengatasi kehilangan orang yang saya kasihi ini. Ternyata waktu hal itu terjadi pada diri kita, kita tidak sanggup. Misalkan kita sering mengatakan kepada orang-orang, "Jangan putus asa sewaktu kamu kehilangan pekerjaan, Tuhan akan sediakan pekerjaanmu." Kita bisa memberikan dorongan itu kepada orang-orang, eh....pas kita mengalami PHK kita benar-benar jatuh, kita tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit kembali. Nah disitulah kita baru sadari kekuatan kita terhilang, itu kadang-kadang terjadi. Badai masuk merenggut kekuatan yang tadinya kita anggap kita miliki, ternyata kita tidaklah sekuat itu.

ET : Mungkin kadang-kadang karena pengalaman hidup yang selama ini lancar itu juga bisa membuat orang sepertinya kebal. Ada rasa kebal terhadap badai, pasti terlindungi, tidak akan sampai mengaami kejatuhan.

Jadi merasa kalau ada jam waterproof, jadi seolah-olah itu tidak akan menimpa saya, entah karena keyakinan iman atau hal-hal yang lain.

PG : Dan konsep ini sering kali dimiliki oleh kita sebagai orang beriman, sebagai orang percaya pada Kristus, kita tahu Tuhan akan melindungi kita. Dan benar, dalam banyak hal Tuhan melindungi ita namun kadang-kadang Tuhan membiarkan badai menerpa dan masuk dalam kehidupan kita.

Tuhan tidak selalu menjadikan kita itu orang yang Tuhan lindungi terus-menerus dan akan mencegah badai masuk di dalam kehidupan kita. Adakalanya Tuhan membiarkan, nah maka kita akhirnya harus mengakui bahwa badai dapat menerpa siapa saja termasuk pengikut Kristus. Tidak ada perkecualian, yang Tuhan janjikan bukannya kita tak pernah diserang badai, yang Tuhan janjikan adalah penyertaan-Nya. Waktu kita menghadapi pencobaan, Dia akan menyediakan jalan keluar dan Dia janjikan pencobaan itu tidak akan melebihi kekuatan kita. Namun Dia tidak pernah menjanjikan Dia akan terus-menerus menghindarkan kita dari badai, jadi memang sebagai pengikut Kristus kita juga harus menyadari bahwa badai dapat menyerang kita.
GS : Walaupun ada banyak persamaan dengan badai yang kita hadapi sehari-hari secara nyata, tetapi badai kehidupan itu sulit diprediksi sebagaimana badai yang sehari-hari kita hadapi, Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, badai yang terjadi di Amerika baik Katrina maupun Rita, beberapa hari sebelumnya bahkan beberapa minggu sebelumnya sudah dapat diprediksi. Tapi badai kehidupan tidak dapt diprediksi, maka kita harus menyadari dua sifat badai kehidupan.

Yang pertama, datangnya sekonyong-konyong, tidak dapat kita duga. Artinya kita tidak bisa menyiapkan diri sesiap-siapnya untuk menghadapi badai kehidupan. Ada orang yangmempunyai anggapan bahwa dia bisa menyangkal badai dengan cara menyiapkan hidup sesiap-siapnya. Semua hal dia kontrol, dia harus jaga, dia harus lindungi, nah itu adalah anggapannya. Tapi faktanya adalah tidak ada yang bisa menahan badai sewaktu badai itu datang dan tidak dapat dia prediksikan kapan badai itu akan muncul dalam kehidupannya. Sifat yang kedua tentang badai kehidupan adalah sering kali badai datang silih berganti, ini mirip dengan peristiwa yang terjadi di Amerika, baru saja badai Katrina melanda New Orleans di Lousiana kemudian datang lagi badai Rita. Sering kali badai kehidupan datangnya silih berganti membuat kita pada akhirnya merasa sungguh-sungguh tidak bisa bernafas dan kita benar-benar tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menghadapinya.
GS : Kalau silih berganti itu mungkin orang masih bisa tahan, tapi kadang-kadang beruntun Pak Paul. Jadi seperti kisah yang kita baca di kitab Ayub itu beruntun sekali, dalam waktu yang singkat beberapa badai menerpa keluarga itu.

PG : Dan banyak orang mengalami hal itu Pak Gunawan, kalau kita ngomong-ngomong dengan orang yang pernah mengalami badai kehidupan yang parah umumnya mereka akan berkata badai itu datangnya bukn hanya satu kali tapi benar-benar beruntun.

Silih berganti, satu belum selesai satu lagi datang; satu belum selesai satu lagi datang, kita benar-benar dibuatnya tak bisa bernafas.

ET : Tapi yang menarik adalah reaksi yang berbeda-beda, tadi Pak Gunawan menggunakan istilah buat seseorang itu badai tapi buat orang lain seolah-olah angin sepoi-sepoi. Jadi yang seorang walauun mengalami badai beruntun tapi tetap bertahan, tapi ada orang lain lagi yang mengalami dengan beruntun bisa sampai gila dan mengalami stres yang luar biasa.

Sesungguhnya apakah memang ada tuntunan-tuntunan, kalau memang tidak bisa persiapan tapi paling tidak ketika badai datang, apa yang mesti kita lakukan Pak Paul?

PG : Ada beberapa Ibu Ester, yang pertama kita mesti menyadari bahwa hidup tidak berada dalam kendali kita. Ini sesuatu yang tampaknya sederhana tapi kadang-kadang kita lupa bahwa hidup tidak brada dalam kendali kita.

Contoh: ada orang-orang yang anaknya dijaga luar biasa, sudah besar-besar disuruh tinggal di dekat-dekat rumah tidak boleh tinggal jauh-jauh, dia mau jaga semuanya; seolah-olah hidup itu berada dalam kendali kita. Faktanya tidaklah demikian, faktanya adalah banyak masalah bisa muncul dan kadang-kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Benar-benar sebuah ilusi bahwa kitalah yang mengontrol hidup. Maka kita harus berkata pada akhirnya datanglah kepada Tuhan yang memegang kendali atas hidup ini. benar-benar bukan kita tapi Tuhan; datanglah kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan bukan dengan sikap ketakutan, "Tuhan, jangan sampai Tuhan kirim badai." Datang kepada Tuhan yang memegang kendali atas kehidupan artinya adalah datang kepada Dia dengan rasa aman, bahwa apapun yang terjadi kalaupun badai harus menerpa, Tuhan ada bersama dengan kita dan Dia sudah berjalan di depan kita sebelum badai itu datang. Kita harus yakin, orang-orang yang telah berhasil melewati badai, sering kali ketika melihat ke belakang mereka berkata: "Entah mengapa Tuhan sudah persiapkan kami, ada hal-hal yang terjadi sebelumnya yang membuat kami sadar, o......bukannya kebetulan hal-hal itu terjadi untuk mempersiapkan kami menyambut badai itu." Dengan kata lain kesimpulannya adalah Tuhan sudah berjalan di depan kita sebelum badai datang, nah ini ada penghiburan dan kekuatan kita, Dia adalah yang memegang kendali hidup dan kita dapat datang kepada-Nya dengan rasa aman.
GS : Memang kekhawatiran yang sering kali timbul adalah keadaan itu tidak terkendalikan lagi, jadi seolah-olah Tuhan pun tidak mampu mengendalikan badai menerpa hidup kita.

PG : Sering kali memang karena terlalu bertubi-tubi, kita akhirnya berkata Tuhan pun tidak bisa menolong kita. Sebetulnya yang harus kita katakan adalah "Tuhan, saya tidak sanggup lagi," namun angan smapai kita akhirnya mengatakan Tuhan yang tidak sanggup lagi.

Tuhan sanggup, tapi kalau ini tetap terjadi kesimpulannya adalah memang dalam takaran Tuhan inilah badai yang memang Dia telah tetapkan untuk kita. Berarti kekuatan Tuhan akan cukup sesuai takaran badai yang Tuhan tetapkan untuk kita itu.
GS : Tuntunan yang lain apa Pak Paul?

PG : Yang lain adalah kita mesti menyadari bahwa kita tidak selalu kuat. Kadang-kadang kita terlena Pak Gunawan, kita beranggapan kita sekarang sudah kuat, kita bisa menghadapi hidup apapun maslah yang akan datang dalam hidup kita, kita bisa atasi, tapi tidak demikian.

Faktanya adalah hari ini kita kuat, besok kita lemah. Kita tidak selalu kuat, kekuatan kita tidak selalu sama hari lepas hari, ada hari-hari kita kuat, ada hari-hari kita lemah. Kenapa, sebab hidup kita pun tidak selalu sama dan monoton, kadang-kadang ada hal yang mengguncangkan kita dan membuat kita kehilangan keseimbangan. Dalam kondisi seperti itu kita akan lebih lemah, kita harus sadari itu. Maka yang harus kita lakukan adalah datanglah dan dekatlah selalu dengan Tuhan yang perkasa, selalu kita harus sadari meskipun saat ini kita sedang tidak ada apa-apa. Kita harus ingatkan diri kita bahwa yang kuat adalah Tuhan bukan saya, nah Tuhan baik, secara berkala Tuhan akan ingatkan kita dengan menghadirkan situasi yang menyadarkan kita bahwa kita tidak kuat. Dan karena itu kita akhirnya disadarkan kita dipaksa untuk kembali bergantung kepada Tuhan yang adalah sumber kekuatan kita itu.

ET : Saya setuju dengan apa yang Pak Paul katakan tentang terlena, kadang-kadang karena kita merasa di masa lalu kita pernah mengalami badai tapi bisa melampauinya. Jadi kalau mengalami lagi pati akan sama kuatnya dengan yang lalu, tapi ternyata ambruk sehingga langsung merasa ada yang salah.

Seolah-olah terkena apa begitu sehingga tidak bisa sekuat dulu lagi.

PG : Memang kita cenderung berpikir bahwa cara yang telah kita gunakan yang berhasil itu akan selalu berhasil. Faktanya tidaklah demikian, sebab situasi itu mengandung unsur-unsur atau faktor-fktor yang lain yang membuat situasi itu unik dan tidak sama dan kitanya sendiri tidak selalu ada dalam kondisi yang selalu prima.

Ini yang mesti kita sadari. Sedikit saja kita kehilangan fokus kita langsung tenggelam, itu yang terjadi pada Petrus, pada waktu Tuhan meminta dia datang kepada-Nya berjalan di atas air. Dia mendengar badai, dia merasakan badai dan dia mulai takut langsung dia tenggelam. Itulah kita, tapi ingat Petrus sudah berjalan, Petrus bukannya merasakan itu di atas perahu, Petrus sudah berjalan berarti dia pernah mempunyai iman yang kuat. Seharusnya dia berkata, "Saya sudah berjalan sedemikian jauh, saya pasti bisa jalan terus menyelesaikan perjalanan saya mencapai Tuhan Yesus. " Tapi toh di tengah jalan meskipun metodenya tetap sama, tapi imannya tidak sama. Ini sering kali terjadi pada kita, di awal kita mempunyai iman yang besar, di tengah-tengah waktu menghadapi terpaan badai iman kita luntur. Kini saatnyalah kita datang kepada Tuhan, Dialah yang perkasa, mata kita harus tetap tertuju kepada-Nya, tidak boleh akhirnya mata kita itu kehilangan fokus.
GS : Selain kedua hal itu apakah ada tuntunan yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan?

PG : Yang ketiga adalah hiduplah dengan problem, ini harus kita sadari. Hidup dengan problem bukan di luar problem, artinya kadang-kadang ada hal-hal yang tidak bisa kita lenyapkan atau hindari Misalkan badai penyakit kanker, kita kadang-kadang tidak bisa hilangkan itu dan kita harus hidup dengan penyakit itu bukan di luar penyakit itu.

Terimalah dan sesuaikan hidup seperti apa adanya, misalnya kita kehilangan suami kita, hiduplah sebagai seseorang yang tanpa suami. Kita kehilangan istri, hiduplah sebagai seseorang yang kehilangan istri. Kita tidak lagi mempunyai kesehatan yang prima, hiduplah dengan kesehatan yang tidak prima; kita mesti hidup sesuai dengan kondisi kita.
GS : Tetapi ada orang yang ingin cepat-cepat keluar dari problem itu sendiri, dengan cara apapun dia ingin keluar.

PG : Memang dalam keadaan yang sangat menyakitkan, penuh penderitaan, kita ingin bebas Pak Gunawan. Makanya kita masuk pada tuntunan keempat dan yang terakhir, yakni belajarlah menghadapi tekann hidup.

Kalau kita mempunyai pasangan hidup, kita mempunyai keluarga, hadapilah bersama-sama, janganlah kita melarikan diri dengan menggunakan cara-cara pintas yang tidak memuliakan Tuhan atau memisahkan diri, tidak mau berbicara dengan sanak keluarga, tidak mau berbicara dengan istri atau suami kita, tidak mau berbicara dengan orangtua kita; jangan, problem akan lebih bisa dihadapi bersama-sama daripada sendiri. Dan juga jangan lari, karena problem akan mengejar kita kalau kita lari, maka mesti kita hadapi. Ini tuntunan terakhir yang mesti kita camkan.
GS : Kebersamaan itu sering kali rusak karena satu menyalahkan yang lainnya, seolah-olah badai itu terjadi karena salahnya dia.

PG : Adakalanya itu kita lakukan, kita mencari kambing hitam, salahnya adalah pada waktu kita mencari kambing hitam, kita memisahkan diri dan kekuatan kita terpecah sedangkan yang diperlukan adlah kebersamaan.

Jadi kuncinya menghadapi ini adalah bersama, bersama dengan Tuhan dan bersama orang-orang yang dekat dan mengasihi kita.
GS : Pak Paul, kita merasakan pimpinan Tuhan itu lewati apa Pak?

PG : Saya kira Firman Tuhan Pak Gunawan, tidak ada lagi yang lain. Hari lepas hari tatkala kita sedang menderita kita datang dan datang kembali pada firman-Nya. Firman-Nya berkuasa memberikan kta pengharapan untuk maju kembali.

GS : Mungkin Pak Paul akan bacakan sebagian firman Tuhan untuk hal ini?

PG : Saya akan bacakan Matius 8:25, setelah datangnya gelombang dan angin ribut; murid-murid berkata: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang krang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Inilah penghiburan kita, Dia yang perkasa, Dia bisa menghardik angin ribut dan datanglah kepada Dia.

GS : Itu janji untuk kita semua ya, terima kasih Pak Paul juga Ibu Esther untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Tangguh Di Tengah Badai". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristesn (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



36. Dipanggil untuk Memberkati


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T192B (File MP3 T192B)


Abstrak:

Apakah Saudara ingin mempunyai pernikahan yang bahagia? Bagaimanakah caranya membangun pernikahan yang bahagia? Dan apa hubungannya dengan memberkati?


Ringkasan:
1 Petrus 3:9-12 Pertanyaan: Konsep yang Keliru Bagaimana Memberkati Ciri-Ciri Orang yang Diberkati
  1. "Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun" (ayat 6)
    Rumah yang damai: Tidak mudah tersulut pertengkaran
  2. "Kamu akan mengejar musuhmu dan mereka akan tewas di hadapanmu" (ayat 7)
    Pribadi yang tangguh: Tidak mudah dikalahkan Iblis, musuh utama kita
  3. "Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru" (ayat 10)
    Hidup yang berlimpah: Siap membagi
  4. "Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu" (ayat 11)
    Kemuliaan Tuhan nyata: Ada Roh Allah di keluarga kita
Ciri Orang yang Tidak Diberkati
  1. "Kamu akan sia-sia menabur benihmu karena hasilnya akan habis dimakan musuhmu" (ayat 16)
    Apa pun yang dilakukannya sia-sia
  2. "Aku sendiri akan menentang kamu sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu" (ayat 17)
    Daya tahan yang keropos: Mudah dikalahkan pencobaan
  3. "Dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kau banggakan" (ayat 19)
    Tuhan akan mempermalukan kita: Ia menghancurkan keangkuhan kita
  4. "Maka tenagamu akan habis dengan sia-sia, tanahmu tidak akan memberi hasilnya dan pohon-pohon di tanah itu tidak akan memberi buahnya" (ayat 20)
    Hidup yang kering kerontang: Tidak ada yang dapat dibagikan

Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dipanggil untuk Memberkati". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, judul perbincangan kita pada saat ini adalah "Dipanggil untuk Memberkati." Padahal sering kali orang berharap, dipanggil untuk diberkati, nah ini bagaimana?

PG : Pada akhirnya memang prinsip ini harus kita pahami, bahwa Tuhan ingin memberkati kita tapi kita juga harus memberkati orang lain. Ini prinsip mengalir di dalam firman Tuhan. Waktu kita memerkati orang, curahan berkat Tuhan atas kita tak pernah berhenti, kita berhenti memberkati orang lain, curahan berkat Tuhan atas kita pun akan berhenti.

Benar-benar berkat Tuhan itu harusnya mengalir, dari surga turun ke kita, dari kita turun ke orang lain. Begitu kita berhenti memberkati orang maka Tuhan pun berhenti memberkati kita. maka firman Tuhan yang akan kita baca menjelaskan bahwa kita dipanggil untuk memberkati orang lain. Saya akan bacakan dari I Petrus 3:8, "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dianggil, yaitu untuk memperoleh berkat." Nah terakhir Tuhan tambahkan lagi yaitu untuk memperoleh berkat. Jadi yang pertama adalah hendaklah kamu memberkati baru memperoleh berkat. Urutannya sangat jelas, kita memberkati terlebih dahulu barulah kita memperoleh berkat.
GS : Kalau kita kaitkan dalam kehidupan berkeluarga, semua orang ingin hidup pernikahannya bisa menjadi berkat, bisa dinikmati oleh orang lain juga, nah ini bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau kita memang mempunyai konsep bahwa kita ingin menjadi berkat buat orang lain, apalagi buat pasangan kita; ini adalah satu konsep yang sangat benar; masalahnya adalah kita sering kalimasuk ke dalam pernikahan dengan konsep yang keliru.

Yaitu misalkan yang pertama kita berkonsep bahwa pernikahan yang baik itu, kita langsung akan dapatkan. Ini salah, pernikahan yang baik harus kita usahakan, kita harus berusaha sekeras mungkin, hasilnya barulah pernikahan yang baik itu. Kita tidak langsung gara-gara menikah dengan orang yang cocok, pasti mendapatkan pernikahan yang harmonis dan indah. Tidak demikian, kita harus bekerja. Nah di sinilah saya kira konsepnya kita harus rubah, kita tidak langsung menerima berkat, kita harus kerja keras memberkati atau menjadi berkat buat pasangan kita. Dan yang kedua konsep yang juga keliru yang sering kali kita miliki adalah pastilah Tuhan akan menciptakan pernikahan yang indah. Ini memang terdengar rohani tapi kurang tepat, kenapa kurang tepat sebab tugas kita atau bagian kita mengusahakan pernikahan yang indah dan tugas atau bagian Tuhan yang memberkati usaha kita. Jadi Tuhan dari atas atau dari sorga langsung memberikan kita pernikahan yang indah, tidak demikian, tugas kitalah menciptakannya. Nah waktu kita bekerja keras menciptakannya Tuhan memberkati usaha itu sehingga akhirnya kita bisa menikmati pernikahan yang indah. Nah konsep inilah yang harus kita bawa memasuki pernikahan.

ET : Lupa pada bagian upayanya atau kerja kerasnya, jadi memang paket bayangannya selama ini adalah kita sudah sama-sama anak Tuhan, kita sama-sama saling mencintai, menikah diberkati di gereja jadi seolah-olah paket berikutnya adalah kebahagiaan itu yang mengikuti dengan otomatis.

PG : Memang tidak sepenuhnya salah konsep bahwa Tuhan itu memberkati kita, apalagi kita yang datang kepada Tuhan meminta pimpinannya selama kita berpacaran. Tuhan sudah tentu ingin memberkati kta, namun Tuhan ingin melihat usaha kita pula, kita tidak akan dibiarkan Tuhan menjadi orang-orang yang kerdil dan tidak dewasa.

Enak-enak, diam-diam, tiba-tiba mendapatkan pernikahan yang indah, tidak demikian, kita pun harus bekerja. Konsep ini memang kita bawa, kita beranggapan karena kita sudah bersanding di gereja, sudah dinikahkan di gereja maka nanti setelah itu kita akan tetap menikmati pernikahan yang juga indah. Berkat Tuhan datang kepada kita hari lepas hari, sesuai dengan usaha kita untuk memperindah pernikahan kita.
GS : Pak Paul katakan bahwa kita harus upayakan, kita harus kerjakan, apakah itu yang kita upayakan dan kita kerjakan?

PG : Yang harus kita kerjakan ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama tadi firman Tuhan berkata, "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Artinya kita mesti mempunyai hati yang mengampuni, ni bagian kita dan tugas kita.

dalam pernikahan mesti ada hati yang mengampuni. Kadang-kadang saya terkejut mendengar atau melihat orang yang benar-benar tidak ada lagi hati mengampuni, samaistrinya, sama suaminya atau sama anaknya tidak hati mengampuni. Bahkan berusaha untuk membalas, ini kadang-kadang yang saya perhatikan. Suaminya berbicara, didengarkan baik-baik bukan untuk diterima tapi dicari peluang untuk membalas. Istrinya berbicara, didengarkan bukan untuk diterima tapi untuk bisa ditangkap dan diserang kembali, benar-benar tidak ada hati mengampuni. Nah tugas kita adalah mengampuni, apa artinya mengampuni? Dalam hal ini langkah pertama mengampuni adalah membiarkan. Membiarkan artinya "OK, saya terkena pukulanmu, saya terkena perbuatanmu, tapi saya biarkan saya tidak membalasnya." Jangan kita berkata gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. Biarkan, sebab ada Tuhan yang melihat, ada Tuhan yang dapat bertindak juga, biarkan orang itu berurusan dengan Tuhan. Tugas kita mengampuni dia, ini yang diperlukan dalam pernikahan, ini wujud nyata dari kita memberkati pasangan kita yaitu kita tidak lagi membalas malah mengampuni dia.
GS : Dan juga mau menerima pengampunan dari pasangan kita. Bukankah setiap kita bisa salah.

PG : Itu kadang-kadang susah Pak Gunawan, untuk orang-orang yang memang egonya agak besar, tidak mau meminta pengampunan dan tidak mau menerima pengampunan. Jadi memang hati yang mengampuni diiingi oleh hati yang mau meminta ampun, jadi dua-duanya harus ada.

ET : Berbicara tentang pengampunan, kita ini kadang-kadang bisa mempunyai penggolongan-penggolongan, kesalahan yang mana yang gampang untuk diampuni dan kesalahan yang mana yang rasanya sulit, ungkin pasangan kita tuntut untuk bisa membuktikan banyak hal untuk saya bisa mengampuni.

Ini bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira hal-hal ini wajar Ibu Ester, sebab tidak semua perbuatan itu sama, secara universal pun tidak semua perbuatan itu sama. Ada perbuatan yang memang sangat-sangat susah untuk diteria dan ada yang lebih mudah untuk diterima.

Secara pribadi pun kita mempunyai daftar kriteria pula, jadi saya kira masuk akal kenapa kita tidak bisa menerima semua perbuatan dengan sama rata. Sudah tentu yang lebih gampang kita terima akan lebih gampang kita ampuni, yang susah diterima akan lebih susah juga kita ampuni. Artinya kita perlu kerja yang lebih keras untuk mengampuni perbuatan-perbuatan yang memang sangat berat itu. Yang benar-benar menusuk kita sangat dalam, sudah tentu perlu kekuatan ekstra. Dan kadang-kadang kita tidak mempunyai kekuatan itu jadi kita datang kepada Tuhan dan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya sungguh-sungguh tidak lagi mempunyai kekuatan mengampuni, beri saya kekuatan untuk mengampuni." Jadi yang Tuhan butuhkan keinginan itu, mau atau tidak datang kepada Tuhan meminta Tuhan memberi kita kekuatan untuk mengampuni. Nah kadang yang kita lihat adalah orang tidak mau datang kepada Tuhan meminta kekuatan itu, karena ujung-ujungnya adalah memang tidak mau mengampuni. Jadi terus memelihara kemarahan dan dendam itu.

ET : Seolah-olah buat dia itu adalah kesalahan yang tak terampuni, begitu Pak?

PG : Dan orang yang tidak mau mengampuni sebetulnya adalah orang yang sedang menghukum, meskipun kita tidak secara langsung menghukumnya tapi orang yang tidak mau mengampuni sebetulnya orang yag belum berhenti menghukum orang itu.

GS : Selain upaya untuk mau mengampuni dan mau diampuni, apakah ada hal lain yang harus diupayakan dalam kehidupan pernikahan ini?

PG : Saya bacakan dari I Petrus 3:10, "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus mejaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu." Apa cara kita menjadi berkat buat pasangan kita dan memberkati pasangan kita? kita harus memiliki lidah yang tulus, lidah yang tidak jahat, lidah yang tidak menipu. Artinya pertama, kita mengatakan yang benar; jangan sampai kita tidak mengatakan yang benar. Kita harus mengatakan yang benar dengan baik, ini penting. Kita harus mengatakan yang benar dengan baik sebab kadang-kadang mulut kita mengatakan yang benar tapi caranya kasar, menghina orang. Dan kita berkata, "Memang dia tolol, dibilangi tidak ngerti-ngerti." Kata tolol itu tidak baik, meskipun perkataan kita benar, mau mengoreksi orang yang melakukan kesalahan, tapi dengan kita membubuhkan kata tolol, itu merusakkan yang benar karena caranya tidak baik. Jadi lidah harus benar-benar baik jangan lidah kita masuk ke dalam yang jahat. Berikutnya tentang lidah, kita harus mengatakan yang baik dengan benar, ini penting. Jangan sampai kita mengatakan yang baik tapi akhirnya isinya kebohongan, manis di mulut, kadang-kadang ini yang kita saksikan, orang-orang manis di mulut tapi sesungguhnya tidak ada kebenaran. Jadi bukan hanya caranya harus benar, isinya pun harus benar; caranya harus baik, isinya pun harus mengandung kebenaran. Ini yang Tuhan minta dari kita, dengan kata lain lidah kita ini harus penuh dengan anugerah dan kebenaran.

GS : Maka Yakobus mengatakan sangat sulit menguasai lidah.

PG : Sangat sulit, sebab apalagi kalau kita sedang dibawa emosi, kita mau mengatakan yang benar dan kita anggap kita benar wah keluarnya bisa sangat kasar seperti terpedo. Atau kita dalam keadan terdesak kita mau menyembunyikan perbuatan kita yang salah, kita bisa sangat manis.

Tapi sebetulnya di dalam kemanisan itu terkandung penipuan, makanya Tuhan meminta kita menyeimbangkannya. Lidah harus menyampaikannya dengan benar namun isinya pun harus benar.
GS : Bagian tubuh yang lain yang bisa kita gunakan atau upayakan untuk melakukan suatu tindakan yang mendatangkan kebahagian dalam hidup pernikahan ini apa Pak?

PG : Saya bacakan ayat 11, "Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya." Saya umpamakan kita mesti mempunyai tangan yang rajinberbuat baik, sebab ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik.

Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak menawarkan kebaikan kepada pasangan kita, apalagi tidak mau menolong pasangan kita. Saya berikan masukan yang sederhana, pertama kita harus melihat pasangan kita, apa yang dia butuhkan, jangan kita buta. Ada orang-orang yang tidak melihat pasangannya butuh apa, tidak bisa membaca pasangannya sedang merasakan apa. Kedua, setelah melihat tawarkanlah bantuan, jangan bersikap masa bodoh. Ada orang yang melihat pasangannya sedang bekerja keras diam-diam saja, dia membaca koran, menonton televisi padahalnya pasangannya sedang bekerja keras di rumah, tawarkanlah bantuan. Dan yang ketiga, lakukanlah sesuatu, sebisanya, sedapatnya berbuatlah sesuatu, ini namanya melakukan kebaikan. Sebenarnya hal ini sangat sederhana, tapi dalam pernikahan sering kali ini tidak dilakukan. Orang-orang itu menikah kadang-kadang lupa melakukan hal-hal yang baik untuk pasangannya, hanya melakukan yang baik untuk dirinya sendiri.

ET : Mungkin kadang-kadang ada penggolongan-penggolongan peran jenis kelamin itu Pak yang menghambat, memang tahu pasangannya capek tapi itu bukan porsi saya, atau saya tidak biasa melakukan ha itu jadi bagaimana saya bisa membantu.

Jadi seperti sudah ada pemisahan antara peran atau bagian-bagian itu.

PG : Sering kali itu menghalangi kita, tapi bukankah akhirnya kita sadari bahwa yang kita kategorikan perbuatan baik adalah perbuatan yang memang tidak seharusnya dia lakukan tetapi dia tawarka untuk dia lakukan karena melihat kita sedang membutuhkannya.

Jadi kita katakan baik karena melewati batas kepatutan atau kewajaran. Dia tidak harus mencuci piring, karena kita maisng-masing sudah mendapat bagian kerja, tapi waktu dia melihat kita sedang sibuk mengurus anak-anak makan dan piring masih menumpuk dan dia berkata: "Saya cucikan." Nah ini baru menjadi sesuatu yang baik, kalau memang tugasnya dia dan dia lakukan, kita katakan itu bukannya baik tapi dia bertanggung jawab. Jadi orang yang baik dan yang bertanggung jawab kita bedakan. Orang yang bertanggung jawab-orang yang melakukan bagiannya, orang yang baik-orang yang melakukan di luar bagiannya tapi dia tetap mau dan setia demi kita.
GS : Ada nilai lebihnya di sana, nah itu kalau yang dilakukan oleh tangan, bukankah itu sangat berkaitan dengan kaki kita. Nah apakah kaki juga bisa kita gunakan?

PG : Firman Tuhan di ayat 11 ini berkata, "...ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya." Saya boleh umpamakan kakinya orang ini selalu berusaha menempuh jalan damai. Dia bukannyamencari jalan-jalan yang penuh dengan api permusuhan, kakinya berusaha menapaki jalan damai.

Artinya kalau kita mau menjadi berkat dan memberkati pasangan kita? Kita harus berfokus pada penyelesaian bukan pembenaran diri. Kadang-kadang dalam perbedaan, dalam konflik, kita langsung tertindih oleh keinginan untuk membela diri. Yang penting bukannya diri kita benar tapi yang penting adalah kita mendapatkan solusi. Jadi selalu pikirkan dari sudut itu, kerangka pikir kita harus selalu mencari solusinya apa, jangan kita terburu-buru pokoknya yang penting kita tidak salah, kita benar nah ini urusan kamu. Yang berikutnya adalah kita berusaha memahami daripada dipahami. Ini selalu yang ditekankan oleh firman Tuhan. Lebih diberkati orang yang memberi daripada orang yang menerima. Memahamilah jangan menuntut untuk dipahami. Dan yang terakhir tentang mencari perdamaian adalah berupayalah melakukan perbubahan pada diri sendiri, jangan fokus pada mengubah pasangan. Jangan kita berpangku tangan dan berkata, "Kamu yang berubah, saya mau melihat kamu berubah dulu baru nanti saya pikirkan diri saya berubah." Kita harus melihat bahwa kita pun mempunyai kekurangan, firman Tuhan katakan, "Selumbar di mata orang kita lihat, balok di mata sendiri kita luput melihatnya."
GS : Ada janji Tuhan kalau kita melakukan itu semua, di awal perbincangan kita katakan ini sebagai upaya yang sungguh-sungguh yang dikehendaki Tuhan, ini pasti akan diberkati Tuhan juga. Nah apakah ada tanda-tanda yang nyata yang bisa kita lihat dalam kehidupan seseorang atau keluarga di mana berkat Tuhan mengalir di sana?

PG : Ada Pak Gunawan, saya ambil di kitab Imamat 26:3-13, (tidak saya bacakan semuanya) saya bacakan misalnya ayat ke 6, "Dan Aku akan memberi damai sehatera di dalam negeri itu, sehingga kamu kan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu."

Artinya, orang yang diberkati rumahnya itu damai, tidak mudah bertengkar. Ada rumah yang mudah sekali tersulut pertengkaran, hal kecil saja sudah bisa menyulut emosi. Orang yang rumahnya diberkati, susah sekali untuk memercikkan api, susah sekali marah karena rumah itu selalu digenangi oleh damai sejahtera. Yang berikutnya firman Tuhan dia ayat ke 7, "Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang." Ciri orang yang diberkati adalah pribadinya tangguh sehingga dia tidak mudah dikalahkan. Dalam hal ini misalkan pencobaan atau serangan dari iblis musuh utama kita dapat kita patahkan, tapi orang yang tidak diberkati, datang pencobaan, datang serangan iblis akan jatuh dan jatuh lagi. Yang ketiga, di ayat 10, "Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau, dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru." Artinya, orang yang diberkati hidupnya berlimpah, dia siap membagi. Kita melihat kalau orang tidak diberkati berbagi sedikit saja sudah perhitungan, dia tidak rela. Orang yang diberkati, siap untuk membagi. Dan yang keempat atau yang terakhir ayat ke 11, "Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu..." Artinya, orang yang diberkati akan melihat kemuliaan Tuhan nyata di dalam keluarganya. Benar-benar kita melihat dalam keluarga itu ada Roh Allah, benar-benar ada suasana rohani, masing-masing keluarga tunduk kepada Tuhan. Dan di situlah kita melihat ada Kemah Tuhan di dalam rumah tangga itu.
GS : Jadi sumbe2r berkat itu sendiri yang ada di tengah-tengah keluarga itu sehingga keluarga itu menikmati akan berkat Tuhan itu.

PG : Betul, karena dia menikmati, dia pun membaginya dengan orang-orang disekelilingnya. Tadi kita sudah membahas tentang hati yang mengampuni, kaki yang mencari damai dan sebagianya.

GS : Sebaliknya Pak Paul, kalau pasangan atau keluarga itu adalah tidak diberkati oleh Tuhan, apakah nampak jelas ciri-cirinya?

PG : Ada Pak Gunawan, Imamat 26:14-39, kita bisa melihatnya apa yang Tuhan lakukan waktu Tuhan mengutuk. Pertama, ayat 16, "...kamu akan sia-sia menabur benihmu, karena hasilnya akan habis dimaan musuhmu."

Artinya, orang yang tidak diberkati Tuhan, apa pun yang dilakukannya sia-sia, tidak membuahkan hasil, tidak menjadikan berkat bagi orang lain. Dia mungkin bisa berteriak-teriak berkata menjadi berkat, tapi hanya dia yang bisa mengklaim itu, orang lain tidak. Ayat 17, "Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu..." Orang yang tidak diberkati Tuhan daya tahannya keropos, mudah sekali dikalahkan pencobaan. Datang pencobaan, dia terjerembab jatuh. Dan yang ketiga adalah orang yang tidak diberkati Tuhan, firman Tuhan berkata di ayat 19, "dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan..." Artinya Tuhan akan mempermalukan kita, kalau Tuhan tidak memberkati kita Tuhan akan mempermalukan kita. Tuhan akan menghancurkan kesombongan kita, ini kedengarannya sangat keras sekali tapi ini yang Tuhan lakukan kepada anak-anak-Nya yang Tuhan sedang ganjar. Dan yang terakhir orang yang tidak diberkati, dikatakan di ayat 20, "Maka tenagamu akan habis dengan sia-sia, tanahmu tidak akan memberi hasilnya dan pohon-pohonan di tanah itu tidak akan memberi buahnya." Artinya, hidupnya kering kerontang dan tidak ada yang dapat dibagikan dengan orang lain, benar-benar suatu kehidupan yang tidak ada mata airnya, kering sekali. Tidak ada yang dia bisa bagikan dan menjadikan berkat buat orang lain.
GS : Jadi kita semua sebagai pengikut-pengikut Tuhan ini di dalam hidup pernikahan, kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain dan kita menjadi saluran berkat buat sesama.

PG : Itu tujuannya, jadi waktu kita masuk ke pernikahan kita harus memfokuskan diri pada tujuan itu. Kita dipanggil untuk memberkati jadi kita bertanya, "apa yang bisa saya lakukan untuk memberati pasangan kita."

Kata berkat itu sendiri artinya bahagia, sukacita; apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya sukacita. Jangan kita berkata, "Apa yang kamu bisa lakukan untuk membuat saya bersukacita."

ET : Atau sebaliknya menunggu Tuhan melakukan sesuatu, baru saya mau memberkati.

PG : Betul, sebab memang Tuhan akan mau melihat usaha kita, berbuat sesuatu. Di dalam usaha itulah Tuhan akan memberkati. Tuhan tidak akan jatuhkan berkat tanpa kita berbuat apa-apa, hidup seenk-enaknya, tidak demikian, pernikahan harus diupayakan.

Dalam upaya itulah Tuhan menjatuhkan berkat buat kita semua.

GS : Baik melalui kitab Imamat 26 maupun dari surat I Petrus 3 tadi, itu semua dengan jelas mengarahkan kita agar kita bisa menjadi berkat bagi sesama. Terima kasih pak Paul, terima kasih juga Ibu Esther. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dipanggil untuk Memberkati". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristesn (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



37. Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pranikah/Pernikahan
Kode MP3: T208A (File MP3 T208A)


Abstrak:

Pertama, pada umumnya kita beranggapan bahwa pasangan kitalah yang bermasalah dan harus berubah. Kedua, kita berasumsi bahwa berubah sama dengan mengakui kekalahan. Ketiga, kita beranggapan bahwa masalah yang timbul akan selesai dengan sendirinya asalkan kita bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Keempat, tabungan kasih cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah. Kelima, kebiasaan hidup merupakan campuran antara unsur kepribadian dan bentukan lingkungan yang menahun.


Ringkasan:

T 208 A "Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai?" oleh Pdt. Paul Gunadi

Pertama, pada umumnya kita beranggapan bahwa pasangan kitalah yang bermasalah dan harus berubah. Itu sebabnya kita enggan melakukan perubahan sebab kita beranggapan bahwa tidak ada yang salah dalam diri kita. Jadi, kalau kita tidak salah, mengapa mesti berubah? Paradigma seperti ini dapat dimengerti karena memang itulah yang terjadi dalam hal lainnya. Namun pernikahan bukanlah seperti hal lainnya; pernikahan adalah kehidupan bersama dan masalah yang timbul acap kali tidak berkaitan dengan salah-benar. Kebanyakan masalah pernikahan berhubungan dengan kebiasaan hidup yang berbeda. Itu sebabnya yang dibutuhkan adalah penyesuaian-dari kedua belah pihak.

Kedua, kita berasumsi bahwa berubah sama dengan mengakui kekalahan. Setelah terlibat dalam konflik yang berkepanjangan, pada akhirnya kita terjebak dalam perebutan kekuasaan. Kita makin mempertahankan diri dan enggan berkompromi sebab kita takut dianggap lemah atau takut kepada pasangan. Masalahnya adalah, kebanyakan problem dalam pernikahan menuntut kesediaan untuk mengalah dan berkompromi. Dasar dari konflik biasanya adalah perbedaan dan untuk menjembatani perbedaan dibutuhkan kesediaan mengalah dan berkompromi.

Ketiga, kita beranggapan bahwa masalah yang timbul akan selesai dengan sendirinya asalkan kita bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Kenyataannya adalah, masalah yang didiamkan bukan membaik malah memburuk dengan berjalannya waktu. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata karena masalah menjadi seperti benang kusut-kita tidak tahu dari mana kita harus memulai.

Keempat, tabungan kasih cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah. Dengan berkurangnya kasih, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan problem. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan kita pun makin menyesuaikan diri dengan kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain, kita menemukan cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah adalah dengan tidak menyelesaikannya. Ini adalah jalan salah yang sering ditempuh oleh banyak pasangan.

Kelima, kebiasaan hidup merupakan campuran antara unsur kepribadian dan bentukan lingkungan yang menahun. Itu sebabnya mengubahnya memerlukan waktu yang panjang dan kesabaran untuk saling mengingatkan dengan cara yang dapat diterima masing-masing. Kebanyakan kita tidak sabar dan cenderung berhenti mengingatkan setelah beberapa waktu.

Firman Tuhan: "Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka." (Amsal 28:14)


Transkrip:

T 208 A

Lengkap

"Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Persoalan konflik, timbulnya masalah dan sebagainya memang kita hadapi sehari-hari di mana pun kita berada, di tempat kerja, di masyarakat dan sebagainya. Tapi justru di dalam pernikahan kita sendiri atau di dalam rumah tangga kita sendiri kadang-kadang bisa berlarut-larut tidak bisa cepat terselesaikan. Sebenarnya faktor apa yang menyebabkan ini terjadi?

PG : Memang di dalam faktor keluarga masalah itu cenderung lebih susah untuk selesai jadi apa yang tadi Pak Gunawan katakan adalah satu hal yang tepat. Banyak masalah terjadi misalnya di tempa kerja, tapi pada umumnya bisa kita selesaikan, namun kalau itu menyangkut hubungan kita dengan pasangan ternyata sangat-sangat susah.

Saya akan mengajak kita semua untuk melihat mengapa begitu susahnya menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Sekurang-kurangnya ada 5 yang menyebabkannya, yang pertama adalah pada umumnya kita beranggapan bahwa pasangan kitalah yang bermasalah dan harus berubah. Saya kira ini konsep yang mendasari kita waktu berhadapan dengan konflik dengan pasangan. Kita sungguh-sungguh beranggapan bahwa apa yang kita minta itu wajar dan tidak berlebihan, tapi pasangan kita tidak bisa memenuhinya. Pada akhirnya kita beranggapan memang tidak ada yang salah dalam diri kita, dan kalau tidak ada yang salah dalam diri kita mengapakah kita mesti berubah. Pernikahan adalah sebuah kehidupan yang bersama dan masalah yang timbul acap kali tidak berkaitan dengan salah benar. Kebanyakan masalah pernikahan berhubungan dengan kebiasaan hidup yang berbeda, itu sebabnya yang dibutuhkan adalah penyesuaian dari kedua belah pihak bukan siapa salah atau siapa benar. Kalau kita tetap bersikukuh dengan anggapan saya benar kamu salah, tidak akan ketemu; masalahnya bukan salah benar, masalahnya adalah penyesuaian karena kita harus hidup bersama.
GS : Kebiasaan hidup yang berbeda itu bagaimana menurut Pak Paul?

PG : Sering kali itu yang menyebabkan perbedaan timbul, Pak Gunawan, karena memang kita tidak sama, kita dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda otomatis kita akan memiliki kebiasaan-kebiasaanyang unik.

Justru inilah yang harus diselesaikan dalam pernikahan.
GS : Tapi itu terjadi di awal pernikahan Pak Paul, kalau sudah lama bukankah kita lebih banyak penyesuaiannya daripada tidak?

PG : Itu poin yang betul sekali, tapi masalahnya adalah kebanyakan kita memang tidak dengan tuntas menyelesaikan masalah, kita sering kali lebih sering memadamkan api tetapi tidak benar-benar mlihat sumber masalah itu sendiri.

Asal tidak lagi bertengkar kita berpikir, ya sudah saya tidak usah lagi berbuat apa-apa. Masalahnya adalah akarnya tetap ada, akar inilah yang nanti terus-menerus menimbulkan masalah baru. Karena nanti di dalam konteks atau dalam situasi yang berbeda, akar yang sama akan muncul lagi.
GS : Itu sebabnya orang yang sudah berpuluhan tahun menikah, orang masih berkata, "saya tidak mengerti dengan pasangan saya."

PG : Betul, sering kali kita tetap berpikir bahwa seharusnya setelah menikah beberapa lama kita sudah bisa mencapai sebuah kesepakatan, penyesuaian tapi kenapa terus-menerus dilanda konflik, keapa engkau masih terus menerus berbeda dariku; saya duga penyebab pertamanya adalah memang di awal pernikahan kita tidak menyelesaikan masalah dengan tuntas.

GS : Selain menganggap bahwa diri kita sendiri benar dan pasangan kita harus berubah, apakah masih ada faktor lain, Pak Paul?

PG : Faktor lain yang membuat kita susah sekali menyelesaikan masalah pernikahan adalah kita berasumsi bahwa berubah sama dengan mengakui kekalahan atau kesalahan. Setelah terlibat dalam konflk yang berkepanjangan pada akhirnya kita terjebak dalam perebutan kekuasaan.

Maksudnya kita makin mempertahankan diri dan enggan berkompromi, sebab kita takut dianggap lemah atau kita khawatir dianggap takut terhadap pasangan. Jadi kita membentengi diri, mempertahankan, jangan sampai kita nanti dituduh kalah atau salah. Di dalam pernikahan, ego benar-benar mengalami ujian, sebab kita memang dituntut untuk berkompromi; untuk bersedia mengalah. Karena masalah-masalah dalam pernikahan sering kali bukan masalah salah atau benar tetapi masalah penyesuaian antara dua pribadi yang berbeda. Untuk dapat menyesuaikan diri diperlukan kesediaan untuk mengalah, kesediaan untuk berkompromi; "Ayo, mencari titik temu, ya saya tidak mendapatkan semuanya yang saya inginkan, engkau juga tidak mendapatkan semua yang engkau inginkan, kompromi itulah yang diperlukan. Kita tetap harus melihat pernikahan seperti ini, janganlah kita mulai melihat masalah pernikahan sebagai saya tidak mau kalah saya harus menang; kalau sudah memikirkannya dari sudut menang kalah, sampai kapan pun kita tidak dapat menyelesaikan masalah dalam pernikahan kita.
GS : Tetapi walaupun terjadi kompromi, mengalah dan sebagainya bukankah masalah itu sendiri harus diselesaikan, Pak Paul?

PG : Betul, jadi kompromi atau mengalah memang merupakan sebuah cara untuk mendinginkan hati yang sudah panas. Waktu sudah ada kompromi atau mengalah barulah kita dengan tenang dapat membicaraan mungkin ada masalah-masalah yang melatarbelakangi problem yang muncul itu; yang melatarbelakangi itulah juga yang dibicarakan.

Misalnya ternyata yang melatarbelakangi adalah harapan yang terpendam. Kita menginginkan seorang suami yang dapat memberikan perhatian lebih besar kepada anak-anak, yang dapat terlibat dalam kehidupan keluarga dengan lebih aktif, tapi suami kita tidak begitu. Akhirnya kita mempermasalahkan misalnya dia terlambat pulang, kenapa dia tidak telepon, jadi hal-hal yang seolah-olah di luar dari problem yang pertama tadi. Mungkin kita harus bicarakan kalau pulang terlambat telepon dulu, itu salah satu bagian dari komprominya. Namun pada akhirnya kita harus membicarakan yang mendasari itu dan yang mendasari adalah harapan kita bahwa suami akan lebih terlibat di dalam kehidupan keluarga.
GS : Di situ kita tidak boleh menyerang pasangan kita bahwa kita yang menang dan dia yang kalah, Pak Paul?

PG : Betul, jadi penting sekali untuk bisa berkonflik dengan santun, dengan tata krama yang baik. Karena kalau kita tidak berhati-hati, kita berkonflik dan memang kita merasakan kita lagi menag kita itu akhirnya menjatuhkan pasangan, kita menyudutkannya; seolah-olah kita mau dia bertekuk lutut atau benar-benar kalah baru kita puas.

Jangan sampai kita mempunyai pemikiran seperti itu bahwa kita menang dan kita harus menunjukkan kemenangan kita. Tapi sama juga, kita jangan mempunyai pemikiran wah saya kalah; ini bukanlah soal menang kalah jadi jangan memikirkannya dari sudut menang atau kalah.
GS : Ada faktor lain Pak Paul, yang ingin disampaikan?

PG : Faktor ketiga kenapa masalah pernikahan sukar selesai adalah karena kita beranggapan bahwa masalah yang timbul akan selesai dengan sendirinya, asal kita bersabar dan menyediakan waktu yangpanjang.

Masalahnya adalah waktu kita mendiamkan masalah; masalah tidak selesai dengan sendirinya malah berkembang, malah mendalam dan makin mengakar, akhirnya meledaklah masalah itu. Misalnya kejengkelan kita simpan, kita simpan dan kita simpan, akhirnya kejengkelan makin menumpuk. Begitu menumpuknya kejengkelan, benar-benar perasaan kita itu sudah mendominasi diri kita ketika masalah atau konflik muncul. Kita tidak bisa lagi berpikir dengan jernih, akhirnya kita seperti senapan mesin yang langsung menembakkan peluru. Kita tidak lagi tepat sasaran dalam menyelesaikan konflik; kenapa tidak tepat sasaran karena memang di belakang konflik sekarang ini terdapat sejumlah konflik, sejumlah kemarahan yang kita telah benamkan dan sekarang tiba-tiba pada keluar. Akhirnya masalah kita benar-benar seperti benang kusut. Ada orang-orang yang karena terlalu banyak menyimpan masalah akhirnya berkata tidak usah lagi membicarakan penyelesaiannya seperti apa karena sudah seperti benang kusut, tidak mungkin lagi kami selesaikan; tidak tahu dari mana memulainya. Jadi jangan sampai kita mempunyai anggapan masalah akan selesai dengan sendirinya. Tidak, sering kali justru akan berkembang biak.
GS : Cara mendiamkan itu sebenarnya juga membingungkan pasangan kita. Pasangan kita mengira bahwa masalahnya sudah selesai karena tidak dibicarakan, tapi seperti tadi Pak Paul katakan suatu saat ketika kita marah dan mengungkit-ungkit yang lama itu dia akan terheran-heran dan berkata, "saya pikir itu sudah selesai kenapa sekarang dimunculkan lagi," sehingga timbul masalah baru lagi Pak Paul?

PG : Betul, jadi kita mesti sigap menanggapi masalah yang timbul. Tapi di pihak lain saya ingin mengatakan jangan sampai kita menjadi terlalu sensitif sehingga ada sedikit saja masalah harus dbicarakan dengan begitu tegang.

Ada waktunya kita juga menangani masalah sendiri, artinya kita yang berkata ya sudah saya tidak akan permasalahkan ini. Jadi kuncinya adalah kita yang tidak mempermasalahkannya, barulah selesai; jangan kita mempermasalahkannya tapi kita memilih untuk tidak membicarakannya, itu tidak menyelesaikan apa-apa. Sebab di mata kita itu sudah menjadi masalah tapi untuk sementara kita tidak mau membicarakannya berarti tinggal tunggu waktu masalah ini akan meledak.
GS : Tapi kalau kita sudah berkata saya tidak mempermasalahkan, kita harus konsekuen artinya jangan lain kali dipermasalahkan lagi.

PG : Betul sekali, ini memang perlu kekonsistenan; kalau kita sudah berkata tidak lagi saya permasalahkan ya tidak. Atau kalau kita sudah membereskan masalah ini, lain kali jangan ditimbulkan,jangan jadikan ini sebagai sebuah literatur yang kapan-kapan bisa ditimbulkan kembali seperti kita sedang menulis sebuah thesis.

Kalau kita sudah menyelesaikan berarti memang sudah harus kita kesampingkan dalam kehidupan kita. Berapa banyak orang yang akhirnya takut membahas masalah, karena dia sudah menduga kalau satu masalah dibicarakan berarti itu sepuluh akan menyusul. Akhirnya dia enggan untuk membicarakan satu masalah pun. Jadi sekali lagi pada prinsipnya jangan biarkan, orang yang membiarkan masalah; masalah itu akhirnya berkembang biak.
GS : Katakan itu sudah diselesaikan, kemudian salah satu pihak itu mengungkit kembali masalah yang telah diselesaikan itu, ini bagaimana?

PG : Saya kira kita pertama-tama harus bertanya, "Kenapa engkau memunculkannya lagi?" Misalnya dia bilang, "Ya, sebab ini sama dengan yang dulu." "OK, samanya apa?" Jadi kita meminta dia unuk spesifik, kadang-kadang orang itu menyamaratakan dua hal yang sebetulnya tidak persis sama.

Kita meminta dia untuk spesifik. Nah kalau dia beritahu samanya di mana dan memang kalau sama, "OK! Kita akui dalam hal itu memang sama tapi hal-hal lainnya tidak sama 'kan?" "Ya." Kalau begitu kita bicarakan bagaimana peristiwa ini bisa terjadi lagi, tidak samanya di mana kita bicarakan. Dengan kata lain, dalam penyelesaian konflik makin spesifik, makin konkret, makin cepat selesai. Kadang-kadang dalam penyelesaian konflik kita itu menjadi sangat samar, "Pokoknya kamu begini dari dulu." Nah ini tidak bisa selesai, kita mesti bicara dengan lebih spesifik. Jadi kalau dia ungkit-ungkit lagi, kita minta dia untuk memberikan penjelasan.
GS : Jadi anggapan kita tidak mau ramai-ramai dengan pasangan untuk membicarakan masalah yang sebenarnya; tidak dapat menyelesaikan masalah juga Pak Paul?

PG : Tapi saya harus akui, di dalam pernikahan adakalanya kita itu tidak bisa membicarakan masalah tertentu. Ada orang yang memang tidak bisa diajak berdialog, begitu diajak berdialog reaksiny sangat-sangat keras.

Misalnya malah melibatkan pemukulan atau dia akan histeris, sehingga akan menimbulkan dampak trauma yang berat pada anak-anak. Dalam kasus seperti itu memang tidak bisa tidak kita harus berhati-hati; kita tidak bisa sembarangan mengajaknya untuk membicarakan terus-menerus masalah, sebab efeknya akan lebih buruk daripada kita tidak membicarakannya.
GS : Faktor keempat yang mempengaruhi sehingga masalah dalam keluarga itu sulit untuk diselesaikan itu apa, Pak Paul?

PG : Biasanya tabungan kasih cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah. Masalah atau konflik yang terus-menerus terjadi dalam keluarga, pada akhirnya menguras tabungan cinta dala relasi kita.

Dengan berkurangnya kasih, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan problem. Saya kira kaitannya sangat jelas, begitu tidak ada lagi kasih karena makin menyusut-makin menyusut, kita tidak lagi memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah. Sebab kita tidak lagi mengasihi dia, kita tidak lagi mempedulikannya, perasaannya seperti apa pun kita tidak lagi pusingkan akibatnya ketidakpedulianlah yang menggantikan cinta, dan kita pun makin menyesuaikan diri dengan kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain kita menemukan cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah dan itu adalah dengan cara tidak menyelesaikannya. Kita mendiamkan, sebab kita sudah tidak peduli, biarkan sajalah lama-lama kasih kita sudah begitu habis ya sudah kita biarkan, diamkan; itu akhirnya menjadi cara kita untuk menyelesaikan konflik sehingga kita tidak membicarakannya lagi. Makin lama makin tidak membicarakan konflik, memang banyak konflik tapi tidak mau membicarakannya, tabungan kasih makin habis yang tertinggal memang hanyalah selembar surat nikah. Artinya relasi itu sebetulnya sudah tidak ada, yang ada hanyalah surat nikah yang menyatakan mereka adalah pasangan suami istri.
GS : Jadi di sini hubungan emosional itu sebenarnya menentukan bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan baik atau tidak.

PG : Makin kuat tabungan kasih, makin kuat hubungan relasional di antara kita makin besar kemungkinan kita menyelesaikan konflik di antara kita. Kita perhatikan dalam keluarga atau dalam perniahan tatkala kasih sudah begitu menyusut memang akhirnya konflik tidak terselesaikan lagi dan masing-masing tidak lagi memusingkan tentang masalah, selesai atau tidak selesai biarkan dan diamkan.

Itu menyedihkan sekali dan memang pada akhirnya masalah-masalah pernikahan itu tidak akan selesai.
GS : Tetapi hubungan suami-istri itu menjadi hambar sekali Pak Paul?

PG : Betul sekali, pulang ke rumah ada suami ada istri tetapi ya tidak ada relasi yang mendalam, omong-omong seperlunya setelah bicara seperlunya masing-masing sibuk dengan tugas masing-masing khirnya tidur.

Hari lepas hari sudah seperti itu, hambar luar biasa.
GS : Dan tabungan kasih itu tidak bisa tergantikan dengan hal-hal lain Pak Paul, misalnya dengan pemberian-pemberian?

PG : Sudah tentu kalau ada pihak yang bersedia mulai melakukan hal-hal yang baik, yang menyenangkan untuk pasangannya, itu akan menggelitik kasih yang sudah diam atau kasih yang sudah mati suriitu.

Mudah-mudahan perbuatan-perbuatan baik yang menyenangkan itu akan kembali memancing reaksi-reaksi kasih dari pasangan kita dan makin muncul reaksi-reaksi kasih dan kita menanggapinya maka bola kasih itu akan mulai menggelinding kembali.
GS : Tapi biasanya yang terjadi itu justru sebaliknya Pak Paul, makin kita tidak menyelesaikan masalah, makin sedikit tabungan kasih kita; makin timbul masalah baru makin sedikit lagi tabungan kasih kita, begitu terus Pak Paul.

PG : Itu dapat saya ilustrasikan seperti dahan, Pak Gunawan. Dahan kering itu mudah sekali terbakar, tapi dahan yang basah susah terbakar. Air itu seperti kasih, air itu membasahi dahan sehinga dahan-dahannya tidak mudah untuk terbakar.

Kasih itu membasahi pernikahan atau relasi nikah kita; dengan banyaknya kasih kalau pun nanti ada api yang menyulut, api itu mudah padam dan tidak mudah menyebar karena dahan itu sudah dibasahi oleh kasih. Tapi sebaliknya yang tadi Pak Gunawan sudah katakan, kalau tidak ada kasih sedikit masalah akan menjadi besar dan satu masalah muncul itu benar-benar seperti senapan mesin yang tak lama akan keluar menembak-nembak yang akhirnya makin memisahkan kedua orang ini.
GS : Padahal setiap orang itu butuh dikasihi dan butuh mengasihi, nah dalam kondisi seperti ini apakah tidak rentan atau gampang orang itu mencari uluran kasih dari pihak lain?

PG : Sudah tentu Pak Gunawan, dalam kasus seperti itu masing-masing pihak menjadi orang-orang yang sangat haus dan perlu untuk dipuaskan. Kalau kebetulan datang pihak ketiga yang memberi perhaian, memberikan air yang dibutuhkan olehnya, godaan untuk meminum air dari tangan orang lain itu sangatlah besar.

Maka kalau kita tahu itulah kondisi pernikahan kita, kita mesti lebih berhati-hati menjaga diri kita, jangan membuka peluang sedikit pun. Dan yang kedua, kita berusaha kembali lagi ke dalam pernikahan kita untuk membereskan masalah yang belum beres-beres ini.
GS : Faktor yang kelima dan mungkin yang terakhir dari perbincangan kita kali ini apa, Pak Paul?

PG : Kebiasaan hidup merupakan campuran antara unsur kepribadian dan bentukan lingkungan yang menahun. Itu sebabnya mengubah kebiasaan hidup memerlukan waktu yang panjang dan kesabaran untuk sling mengingatkan.

Dan dengan cara yang dapat diterima masing-masing. Kebanyakan kita tidak sabar dan cenderung berhenti mengingatkan setelah beberapa waktu. Ini sudah tentu menjengkelkan; sudah diingatkan masih berbuat tapi di pihak lain kita mesti menyadari memang kebiasaan itu sudah terkait dengan kepribadian bukan hanya bentukan lingkungan; bukan saja kamu dibesarkan seperti ini makanya kamu sekarang seperti ini, bukan hanya bentukan lingkungan tapi akhirnya sudah menjadi bagian kepribadiannya. Misalnya susah sekali untuk rapi, menaruh barang sembarangan; kita kesal luar biasa sudah berkali-kali kita beritahukan tetapi itu sudah menjadi bagian kepribadian dia yaitu kepribadian yang memang terlalu lepas, terlalu tidak memusingkan hal-hal kecil seperti itu. Tugas kita adalah terus mengingatkan dan pihak yang diingatkan benar-benar berusaha keras untuk tidak mengulangnya kembali.
GS : Kebiasaan-kebiasaan seperti itu yang memang rasanya sulit untuk dirubah tapi selalu menimbulkan masalah, bagaimana kita mau menyelesaikan. Atau perlu tidak diangkat lagi sebagai masalah atau bagaimana?

PG : Tetap saya kira kita mesti mengangkatnya tetapi jangan mengangkatnya setiap kali masalah itu muncul. Sebab kalau setiap kali kita munculkan benar-benar relasi itu akan kehilangan aspek poitifnya, sebab setiap hari kita akan terlibat dalam konflik.

Bukankah relasi kita tidak hanya terdiri dari satu kebiasaan yang tidak menyenangkan itu, bukankah sebetulnya relasi kita itu terdiri dari begitu banyak hal-hal lain yang menyenangkan dan positif, persamaan-persamaan yang mengikat kita berdua, jangan sampai kita kehilangan perspektif terus fokuskan kenapa pada pagi hari engkau tidak bisa menaruh baju dengan lebih rapi, menggantung baju di keranjang, sehingga tidak beraturan. Jadi jangan kita kehilangan perspektif; setiap hari yang dibicarakan itu saja. Tapi sekali-sekali kita berkata, "Tolong baju ini jangan ditaruh di sini, tolong taruh di tempatnya." Sekali-sekali kita ingatkan dia begitu, dengan cara itu pasangan kita pun tidak merasa dibombardir, untuk hal yang dianggap kecil, tapi engkau persoalkan dan permasalahkan sehingga satu hari sudah langsung rusak gara-gara satu hal kecil seperti ini saja.
GS : Ada istri memang yang mengalami hal itu terhadap suaminya, kemudian dia berinisiatif, dibuatkan semacam peringatan yang ditulis di situ. Kembalikan barang setelah digunakan dan sebagainya, tapi suaminya menjadi tersinggung Pak Paul?

PG : Saya mengerti kenapa si istri melakukan itu, dia mungkin benar-benar sudah frustrasi, putus asa tidak tahu lagi mesti berbuat apa. Nah waktu si suami tersinggung si istri bisa berkata, "O, saya minta maaf kalau saya sepertinya melecehkanmu, tapi memang saya itu meminta ini supaya diperhatikan.

Caranya bagaimana supaya saya bisa mengingatkanmu, karena kalau engkau berkata ya, ya, tapi engkau tidak melakukannya itu tidak adil. (kita berikan salah satu contoh kepada suami kita). Misalkan engkau berkata, 'saya ini suka dengan makanan tertentu dan engkau meminta saya memasaknya tapi saya tidak pernah memasaknya nah itu 'kan menjengkelkan kamu,' cobalah tolong apa yang bisa saya lakukan supaya bisa mengingatkan engkau tanpa membuatmu marah. Biar suami yang menentukan cara yang paling baik."
GS : Jadi sebenarnya sesulit apa pun penyelesaian masalah di dalam keluarga ini sebenarnya bisa diselesaikan dan harus diselesaikan, Pak Paul. Apakah ada firman Tuhan yang ingin Pak Paul bacakan?

PG : Saya bacakan Amsal 28:14, "B