DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Karakter/Kepribadian


TELAGA -- Karakter/Kepribadian

Kategori ini memiliki 24 judul artikel yang mengupas tentang hal-hal seputar karakter/kepribadian manusia, seperti pribadi egois, pribadi lemah, mengikis ketamakan, kepribadian dominan, dan banyak lainnya. (Total Durasi: 12 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1Pola Pikir Hitam PutihT010A
2KepribadianT021A
3Bagaimana Menghadapi StresT088A
4Mengenal DepresiT094A
5Transformasi KarakterT134A
6Lima Faktor Kepribadian SehatT165B
7Pribadi EgoisT190A
8Pribadi LemahT190B
9Pengakuan Akan Kelemahan DiriT219A
10Seni MemberiT219B
11Belajar Rendah HatiT250A
12Mengikis KetamakanT250B
13Berhati-hati dengan LidahT261A
14Hidup BerbedaT261B
15Menghadapi Pribadi yang BerbedaT265A
16Adakah Sifat Dasar?T272A
17Dapatkah Mengubah Sifat DasarT272B
18Kesengsaraan dan Karakter IT284A
19Kesengsaraan dan Karakter IIT284B
20Kepribadian DominanT305A
21Ketika Anak Terkena Skizofrenia 1T356A
22Ketika Anak Terkena Skizofrenia 2T356B
23Kata HatiT367A
24Nurani : Terhilang Atau Tercemar?T367B


1. Pola Pikir Hitam Putih


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T010A (File MP3 T010A)


Abstrak:

Pola pikir tidak sehat yang mencenderungkan seseorang untuk mengalami problem kejiwaan misalnya depresi. Pola pikir ini disebut pola pikir hitam putih yang membagi pola dalam 2 kutub hitam putih, baik jelek.


Ringkasan:

Pola pikir hitam putih ungkapan dari seorang pakar psikologi bernama David Burn dalam bukunya New Mood Therapy. Dia menyebutnya Either or atau All or Nothing. Pola pikir hitam putih adalah pola pikir yang cenderung membagi dunia ini dalam 2 kutub hitam atau putih, benar atau salah, jelek atau baik, suka atau tidak suka. Sedangkan hidup ini tidak bisa kita bagi dalam 2 kutub sejelas itu. Hidup ini seperti pelangi di mana banyak warna yang terdapat di antara hitam dan putih. Pola pikir ini juga disebut pola pikir yang tidak sehat yang mencenderungkan seseorang untuk mengalami problem kejiwaan. Pola pikir ini bersumber dari pengalaman-pengalaman masa lampau juga bisa muncul secara genetik.

Seorang anak yang memiliki pola pikir hitam putih ini cenderung mempunyai sikap yang ekstrim, teman itu harus dekat dengan dia, harus mengerti dan setuju dengan dia. Tatkala teman berbeda pandang dengannya dia menganggap teman itu tidak mau mengerti dia, menjauhkan diri dari dia, tidak lagi menyukainya sedangkan bukan itu yang terjadi.

Seseorang yang mempunyai pola pikir ini akan mulai terganggu pada saat dia ingin membangun hubungan yang akrab dengan lawan jenisnya. Sebab akhirnya pasangan itu dituntut untuk mengikuti jejak dia, harus mengikuti pikirannya.

Biasanya ada 2 reaksi yang akan timbul apabila pasangan merasa tidak sanggup atau terlalu letih menghadapi pasangannya yang menuntut sesuatu sempurna:

  1. Dia akan mencoba merasionalisasi, misalnya yang muncul adalah menyalahkan diri, seolah-olah karena sayalah, suami atau istri saya tidak bahagia.

  2. Dia/istri ini akan menyerah, dia akan masa bodoh, dia akan menjaga jarak dengan si suami, bersikap apatis.

Yang sering kali menjadi korban orang yang berpikiran pola hitam putih adalah:

  1. Pasangannya
  2. Anak-anaknya, jadi anak-anak sering kali menjadi korban yang besar sekali karena anak ini benar-benar hidup dalam kungkungan yang kaku yang tidak memberikan dia ruang gerak, dia tidak bisa lagi menjadi dirinya. Sewaktu dia ingin mencoba sesuatu dia akan merasa takut, takut kalau gagal, sebab dia harus memenuhi standar tertentu, kalau tidak ayah akan marah sekali. Jadi ketakutan ini akan menghalangi dia mencoba, sedangkan salah satu unsur yang penting dalam pertumbuhan anak adalah keberanian untuk mencoba.

Dalam bukunya David Burn menuliskan bahwa pola pikir hitam putih adalah benih munculnya gangguan depresi, jadi orang-orang yang mengalami gangguan depresi cenderung memiliki pola pikir hitam putih. Jadi orang seperti ini kalau berhasil dia akan senang, akan tetapi kalau dia gagal sedikit, langsung dia pukuli dirinya secara emosional, dan membuat dia akhirnya:

  1. Benar-benar menabrak tembok dalam hidup, waktu dia menabrak dia jatuh, dia mengalami depresi.

  2. Tidak sampai dia depresi, kalau dia mau percaya pada teman atau konselor atau pendeta yang bisa memberitahu dia. Memberi masukan-masukan bahwa cara pikir tersebut membahayakannya.

Ayub 1:21, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Kemudian Ayub menyambung: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." Dan ayat 22 disambung: "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." Ayub tidak memiliki pola pikir hitam putih, seolah-olah di sini Tuhan menarik berkatNya dari Ayub, tapi dia tidak berkata Tuhan jahat. Ayub justru berkata kita harus terima bahwa kita diberkati tapi kita juga terima pada waktu kita tidak merasa dan melihat berkat Tuhan itu. Dan bahkan dia kembalikan hal yang sangat bersifat eksistensial, "Aku datang telanjang, aku datang tidak membawa apa-apa dari kandungan ibuku, makanya dia putuskan Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan. Nah ini benar-benar pola pikir yang di tengah-tengah, tidak hitam putih sama sekali.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dan Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling yang kini juga aktif mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan mengemukakan perbincangan tentang salah satu pola pikir yang bisa menimbulkan depresi. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi Anda sekalian. Jadi ikutilah acara Telaga kali ini dengan sebaik-baiknya.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita mengenal ada banyak pola pikir di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi saya pernah mendengar ada satu bentuk pola pikir yang bisa mengganggu kestabilan jiwa seseorang dan itu tentunya tidak akan terlepas pasti akan mengganggu kehidupan berkeluarga baik dalam hubungan suami-istri, demikian juga hubungan antara orang tua dengan anak. Apakah Pak Paul bisa menjelaskan masalah itu lebih jauh Pak Paul?

PG : Ya Pak Gunawan, ada salah satu pola pikir yang tidak sehat yang mencenderungkan seseorang untuk mengalami problem kejiwaan, salah satunya yang mungkin bisa diidap olehnya adalah misalnya poblem depresi, ada juga masalah yang berkaitan dengan relasinya dengan orang lain.

Pola pikir itu disebut pola pikir hitam putih, sebetulnya ini berasal dari ungkapan yang saya petik dari seorang pakar psikologi bernama David Burn dalam bukunya "New Mood Therapy". Dia menyebut pola pikir "Either or" atau "All or Nothing" jadi saya singkatkan pola pikir hitam putih. Maksudnya begini Pak Gunawan, pola pikir hitam putih adalah pola pikir yang cenderung membagi dunia ini dalam 2 kutub, hitam atau putih, benar atau salah, jelek atau baik, suka atau tidak suka. Sedangkan hidup ini tidak bisa kita bagi dalam 2 kutub sejelas itu. Hidup ini seperti pelangi di mana banyak warna yang terdapat di antara hitam dan putih itu abu-abu misalnya. Nah jadi orang-orang yang berpola pikir hitam putih cenderung memang akan bertabrakan dengan peristiwa-peristiwa hidup yang dialaminya Pak Gunawan. Jadi memang tadi yang Pak Gunawan katakan betul, pola pikir ini bisa mengganggu kehidupan pribadinya tapi juga bisa mengganggu hubungannya dengan orang lain.
(2) GS : Pak Paul kalau boleh tahu bagaimana itu terbentuknya sehingga seseorang itu punya pola pikir seperti itu Pak Paul?

PG : Ini biasanya bersumber dari pengalaman-pengalaman masa lampau Pak Gunawan. Ada juga yang berteori bahwa pola pikir seperti ini bisa juga muncul secara genetik artinya diteruskan, kalau memng salah satu orang tuanya berpola pikir sangat kaku seperti itu maka ia pun akan mewarisi pola pikir yang serupa.

Jadi orang itu cenderung sangat kaku sekali baginya disukai atau tidak disukainya atau orang lain menyukainya atau tidak menyukainya. Sedangkan di dunia ini ada orang yang tidak termasuk dalam 2 kategori itu ya orang bisa berperasaan biasa-biasa saja/netral terhadap kita, tidak menyukai kita tapi juga tidak membenci kita. Nah, kalau misalkan dia dibesarkan di rumah tangga di mana dia mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan, pikiran ini bisa muncul. Nah, peristiwa seperti apakah yang mudah mencenderungkan seseorang untuk membentuk pola pikir hitam putih. Sudah pasti keluarga yang kita sebut disfungsional, keluarga yang bermasalah Pak Gunawan. Bermasalah seperti apa? Begini, jadi coraknya banyak, peristiwanya banyak, situasinya juga beragam sekali. Saya akan memberikan satu contoh yang praktis, misalkan seorang anak dibesarkan oleh seorang ayah yang sangat keras sekali. Di mana dia dituntut harus memenuhi syarat si ayah sehingga dia tidak bisa berkelit, kalau berkelit dianggap dia tidak benar, dianggap salah jadi benar-benar tuntutan itu sangat tinggi sekali. Kalau seseorang dibesarkan dalam sistem keluarga yang mempunyai tuntutan tinggi dan kaku seperti itu si anak akhirnya bisa tertular. Jadi dia juga akhirnya membentuk tuntutan yang sama, yang dia letakkan baik pada dirinya maupun pada orang lain, jadi dia menuntut orang juga harus memenuhi permintaannya atau syaratnya. Kalau orang tidak memenuhi syaratnya, berarti orang itu orang yang berniat untuk mengecewakannya, sebab itulah yang dialaminya waktu dia masih kecil atau waktu dalam masa pertumbuhannya. Tatkala dia gagal memenuhi permintaan si ayah, si ayah marah sekali dan menuduh dia dengan sengaja ingin mengecewakannya. Nah akhirnya pola pikir itu atau perlakuan seperti itu membentuk pola pikir dia dan dia terapkan pada dirinya dan pada orang lain juga, bahwa orang itu harus memenuhi tuntutan kalau tidak memenuhi tuntutan berarti memang sengaja ingin mengecewakannya. Nah akhirnya makin menjadi bagian dari hidup dia Pak Gunawan, itu salah satu contohnya.
IR : Nah bagaimana kalau tuntutan itu tidak bisa dipenuhi karena ketidakmampuan si anak itu Pak Paul?

PG : Si anak akan mengalami frustrasi Ibu Ida, karena akhirnya dia mengidentikkan memenuhi tuntutan dengan diterima atau dikasihi. Kalau gagal memenuhi tuntutan, berarti dia akan kehilangan kesmpatan diterima atau dikasihi.

Nah akhirnya si anak menggantungkan penerimaan dirinya pada dasar atau di atas dasar keberhasilannya itu untuk memenuhi tuntutan si ayah. Waktu dia merasa gagal atau si ayah marah karena dia tidak berhasil memenuhi tuntutan tersebut, dia akan merasa frustrasi. Frustrasi yang akhirnya memukul dia karena frustrasi itu akan membuahkan perasaan aku tidak dikasihi, aku tidak diterima oleh ayahku, nah itu akan benar-benar berpengaruh negatif terhadap konsep dirinya.
GS : Tapi seorang anak juga belajar di sekolah Pak Paul, di mana dia mulai belajar bersosialisasi sehingga sekalipun dulunya mungkin di rumah orang tuanya begitu keras menerapkan pola hitam putih itu, apakah pendidikan itu tidak memberikan pengaruh untuk berubah sikap terhadap seseorang itu?

PG : Maksudnya Pak Gunawan apakah sekolah bersumbangsih menetralisir atau memperburuk?

GS : Ya menetralisir atau mungkin malah memperburuk Pak Paul?

PG : Sekolah memang berdampak terhadap diri si anak, namun dampak sekolah tidaklah sebesar dampak perlakuan orang tuanya. Karena orang tua memiliki ikatan batiniah dengan si anak dan si anak meggantungkan sekali penerimaan orang tua terhadap dirinya itu.

Sedangkan anak di sekolah tidak mengharapkan sekolah mencintainya atau mengasihinya, jadi memang ada perbedaan tuntutan batiniah di situ. Di rumah anak mengharapkan orang tua mencintainya, di sekolah anak tidak mengharapkan sekolah atau guru mencintainya, itu dua hal berbeda jadi pukulannya tidak sama. Memang sekolah juga memiliki sistem yang sama yaitu sekolah menuntut kalau tidak memenuhi tuntutan tersebut, dianggap anak yang kurang pandai atau ya dia akan merasa gagal. Namun kegagalan di sekolah biasanya tidaklah separah kegagalan di rumah.
GS : Berarti anak atau orang itu akan menemui kesulitan menghadapi teman-temannya di sekolah.

PG : Betul Pak Gunawan, jadi dengan pola pikir hitam putih ini dia cenderung mempunyai sikap yang ekstrim, teman itu harus dekat dengan dia, harus mengerti dan setuju dengan dia. Tatkala teman erbeda pandang dengannya dia menganggap teman itu tidak mau mengerti dia, menjauhkan diri dari dia, tidak lagi menyukainya sedangkan bukan itu yang terjadi.

Sebab kita sadar bahwa kita bisa berbeda pandang dengan seseorang namun ya memelihara persahabatan, nah bagi dia tidak bisa. Persahabatan berarti kesepakatan dalam segala hal secara tuntas. Terjadi perbedaan pandangan berarti keretakan, jadi dia susah sekali menoleransi hal-hal seperti ini Pak Gunawan.
GS : Bagaimana dia bisa merintis untuk mempersiapkan diri memasuki jenjang pernikahan Pak Paul?

PG : Ya gejala seperti ini memang bukan gejala yang sangat menonjol Pak Gunawan, jadi orang-orang yang mempunyai pola pikir hitam putih ini berfungsi cukup normal dalam hidup ini, mereka bisa bkerja, bisa bersekolah, menyelesaikan sekolah dan sebagainya.

Dan memang gangguan itu tidak terlalu terasa pada masa dia belum mempunyai hubungan yang intim atau akrab dengan orang lain. Mungkin dia akan sedikit terisolasi, teman dekatnya tidak ada, namun dia merasa OK saja, dia tidak merasa apa-apa. Tapi waktu dia ingin membangun hubungan yang akrab dengan lawan jenisnya, nah ini biasanya mulai mengganggunya, akan timbul masalah sebab akhirnya pasangan itu dituntut untuk mengikuti jejak dia, harus mengikuti pikirannya. Nah ada yang sukses Pak Gunawan, jadi apakah mereka sudah pasti memiliki pernikahan yang gagal atau pernikahan mereka akan kandas di tengah jalan, belum tentu. Sebab akan ada pasangan yang rela untuk diperlakukan seperti itu juga oleh pasangan hidupnya, dituntut harus ke kiri ya ke kiri, ke kanan ya ke kanan, ya ikuti saja. Sebab ada orang-orang yang memang merasa tidak aman atau menganggap memang demikianlah pernikahan, jadi terus berlangsung berpuluhan tahun.
IR : Tapi Pak Paul ada kejadian karena masa kecilnya sudah terbentuk konsep pola pikir seperti itu, waktu dia menikah dia menuntut sesuatu yang sempurna pada pasangannya, sehingga pasangannya itu sangat depresi sekali.

PG : Ini bisa saja menimbulkan masalah seperti itu Ibu Ida, jadi akhirnya pasangannya tidak sanggup. Selama pasangannya sanggup ya tidak ada masalah. Tapi sewaktu dia merasa terlalu letih bisa da dua reaksi.

Reaksi pertama adalah dia akan mencoba merasionalisasi o....jadi ini dari pihak pasangannya, yaitu misalkan suaminya yang menuntut, suaminya yang mempunyai pola pikir hitam putih, istrinya yang harus mengikuti. Nah misalkan si istri akhirnya berpikir: "Ya ini salah saya, kenapa saya ini tidak bisa memenuhi tuntutan suami saya, saya gagal." Nah perasaan yang timbul frustrasi tapi yang lebih kuat lagi adalah mempersalahkan diri Bu Ida, jadi seolah-olah karena sayalah suami saya tidak bahagia, ada orang yang seperti itu Ibu Ida. Nah reaksi yang ekstrim yang satunya lagi adalah kalau seseorang atau si istri ini tidak lagi merasa sanggup untuk menoleransi perasaan gagalnya, memenuhi permintaan si suami, dia akhirnya akan menyerah, dia akan masa bodoh, dia akan menjaga jarak dengan si suami dan dia sudah memutuskan: "Udah saya tidak akan mampu memenuhi permintaanmu dan sebodoh amat engkau mau marah, engkau mau tinggalkan saya, engkau mau memukul saya tak peduli." (GS : Jadi bersifat apatis gitu Pak Paul?) Apatis sekali dan itu juga bisa terjadi, jadi sangat tidak sehat sekali. Nah yang sering kali menjadi korban orang yang berpikiran pola hitam putih, nomor satu pasangannya, yang kedua adalah anak-anaknya. Jadi anak-anak sering kali menjadi korban yang besar sekali di sini (GS: Misalnya bagaimana Pak Paul korban itu?) Ya karena anak ini benar-benar hidup dalam kungkungan yang kaku, yang tidak memberikan dia ruang gerak, dia tidak bisa lagi menjadi dirinya. Sewaktu dia ingin mencoba sesuatu dia akan merasa takut, takut kalau dia gagal sebab dia gagal ayah akan marah besar, sebab dia harus memenuhi standar tertentu. Jadi ketakutannya akan menghalangi dia mencoba, sedangkan kita tahu bahwa salah satu unsur yang penting dalam pertumbuhan anak adalah keberanian untuk mencoba. Anak yang tidak berani untuk mencoba menjadi anak yang memang akan terbatas, tidak berani untuk ini melangkah lebih jauh dalam hubungannya dengan orang lain atau bereksperimen sedikit banyak, nah itu soalnya akan berpengaruh terhadap konsep dirinya dan memberikan dia kekuatan. Anak yang nggak berani coba akan menjadi anak yang lemah sekali, tidak berani, tidak ada kekuatan untuk melangkah melawan tantangan hidup, sebab dia akan ambil jalan amannya terus-menerus. Nah jadi korban yang utama adalah anak-anak ini tertekan sekali dan depresi. Tapi korban yang kedua yang sangat berlawanan, Pak Gun dan Ibu Ida, yaitu ada anak yang akan berinteraksi mendobrak kerangka atau kurungan dari si ayah ini atau dari orang yang berpola pikir hitam putih ini. Sebab dia merasa tidak merdeka dan terikat sekali jadi akhirnya dia memutuskan untuk membangkang, melawan segala sesuatu yang dituntut oleh orang tuanya.
GS : Nah itu menarik sekali Pak Paul, sebenarnya faktor apa yang membuat anak itu tiba-tiba bisa berpikir bahwa dia harus melawan sehingga mata rantai itu putus Pak Paul ya. Tadinya 'kan orang yang berpola pikir hitam putih itu akibat pendidikan dari orang tuanya mungkin begitu. Nah sekarang anaknya ternyata bisa mendobrak dan dia berontak tidak mau berpola pikir seperti itu, nah itu ada faktor apa Pak Paul?

PG : Anak-anak memang tidak sama, ada yang lahir cenderung penurut, ada yang lahir cenderung keras, nah anak-anak yang mendobrak ini adalah anak yang memang sudah memiliki kekerasan pada waktu ahir.

Waktu dia melihat bagaimana dia diperlakukan dan dia tidak menyenanginya, dia tidak langsung menerima, jadi dia malah mau melawannya. Dan kemungkinan dia melihat contoh di luar, peristiwa-peristiwa yang dia juga alami di luar di mana dia melihat dunia di luar tidak sama dengan dunia di rumah ini. Bahwa di luar warnanya banyak, tidak hanya hitam dan putih, jadi dia mulai melihat yang di rumah itu tidak betul dan karena dia mempunyai kekerasan hati, dia akhirnya lebih mempunyai keberanian dan menanggung resiko untuk melawan orang tuanya. Dan anak-anak seperti ini akhirnya bisa keluar dari pola pikir hitam putih ini.
GS : Itu suatu anugerah Allah tersendiri.

PG : Ya itu anugerah Allah tersendiri, misalkan dia diajak ke gereja dan dia mendengar tentang Tuhan yang menerima kita apa adanya. Nah pengajaran rohani seperti itu akhirnya menyadarkan dia o.......bahwa saya tidak harus menjadi orang yang memenuhi syarat untuk datang kepada Tuhan, sebab Tuhan menerima saya apa adanya. Ini sebetulnya sebagai tambahan saja, Bu Ida dan Pak Gunawan, ini sebetulnya dialami oleh pengarang lagu 'Sebagaimana Adanya Aku Datang' itu "Just as I am" bahasa Inggrisnya. Itu adalah memang sungguh-sungguh kisah nyata dari penulis lagu ini seorang wanita yang berpenyakitan dan sakit untuk jangka waktu yang panjang sekali. Dan suatu waktu dia sangat frustrasi sekali, karena dia merasa dia harus berperforma untuk datang di hadapan Tuhan dan akhirnya dia disadarkan, tidak! Tuhan menerima engkau apa adanya, jadi akhirnya dia disejukkan oleh berita keselamatan itu dan itulah dia awalnya menulis lagu "Just as I am" atau 'Sebagaimana Adanya Aku Datang' kepada Tuhan.

GS : Suatu lagu yang syair-syairnya indah sekali. Pak Paul seorang yang mempunyai konsep pola pikir hitam putih, sebenarnya dia sendiri 'kan sadar bahwa dia sedang melakukan itu.

PG : Dia sadari tapi masalahnya adalah dia menganggap itu pola pikir yang betul.

(3) GS : Lalu bagaimana kita bisa menolong orang yang seperti itu Pak Paul?

PG : Ada dua kemungkinan yang sekarang saya bisa pikirkan Pak Gunawan, yaitu yang pertama kemungkinan akibat peristiwa yang dialaminya. Nah dalam buku yang ditulis oleh David Burn, pola pikir htam putih ini adalah benih munculnya gangguan depresi, jadi orang-orang yang mengalami gangguan depresi rupanya cenderung memiliki pola pikir hitam putih.

Jadi misalnya kalau dia bisa berhasil dalam melakukan sesuatu dia merasa senang, begitu dia gagal sedikit langsung dia pukuli dirinya secara emosional, saya orang gagal, saya orang yang tidak bisa apa-apa nah itu memang pola pikir yang sering muncul dalam kasus depresi Pak Gunawan. Jadi kemungkinan yang pertama adalah akhirnya dia benar-benar menabrak tembok dalam hidup, waktu dia menabrak tembok dalam hidup dia jatuh, dia mengalami depresi. Meskipun dalam depresinya dia tetap akan mengeluarkan pola pikir hitam putih, tapi karena dia tertabrak dan jatuh dalam hidup ini dia akan lebih lentur, dia akan lebih bersedia untuk mendengar masukan dari orang lain bahwa pola pikirnya ini salah dan inilah yang membuat dia akhirnya depresi. Yang kedua adalah tidak usah sampai dia depresi, yaitu kalau dia memang percaya pada kita sebagai teman atau sebagai konselor atau sebagai pendeta dia yang akhirnya bisa memberitahu dia. Masukan-masukan bahwa cara pikirmu ini membahayakanmu, bahwa ada orang-orang yang memang dekat denganmu tapi tidak berarti harus setuju denganmu selalu. Nah akhirnya dia bisa menerima masukan-masukan ini sebab dia percaya pada kita, nah mulailah dia berubah. Namun perubahan ini memang tidak gampang Pak Gunawan, tidak gampangnya karena nomor satu dia sudah sangat terbiasa dengan pola pikir seperti ini. Dan yang kedua tidak gampangnya adalah ada rasa ketakutan melepaskan pola pikir ini. Dia sudah merasa sangat aman dengan pola pikir hitam putih, sehingga dunianya menjadi dunia yang aman, yang dia bisa atur, dia bisa kendalikan, jadi orang seperti ini sangat hati-hati. Memang orang yang baik dengan dia o...teman, orang mulai sedikit berubah o..........bukan teman saya harus jauhkan nah dengan cara itu dunia menjadi dunia yang aman buat dia, dia tidak mengambil resiko lagi Pak Gunawan. Waktu kita berkata dan menganjurkan untuk dia melepaskan pola pikir ini, yang mungkin timbul adalah rasa khawatir, rasa cemas, takut; takut kalau-kalau dia kecolongan Pak Gunawan. (GS : Karena dia harus keluar dari kungkungan itu dia merasa takut) betul (GS : Dia akan masuk ke dunia yang lain) dan yang dia takutkan dia akan kecolongan, dia akan dirugikan oleh orang lain. Sebab pola pikir ini sedikit banyak telah berhasil melindungi dia dari kekecewaan kecuali dalam kasus tadi Pak Gunawan ya dia benar-benar akhirnya menabrak tembok jatuh depresi. Nah dia baru akan mendengarkan nasihat orang lain.
IR : Bagaimana saran Pak Paul untuk menolong orang seperti ini ataukah ada Firman Tuhan yang mungkin bisa menolong orang yang mempunyai pola pikir seperti itu Pak Paul?

PG : Saya teringat Ayub, Ayub itu menderita depresi yang sangat berat setelah dia mendapatkan musibah yang bertubi-tubi. Di Alkitab memang ditulis dia kehilangan harta bendanya dan bahkan kehilngan nyawa anak-anaknya.

Dan sewaktu istrinya dalam keadaan frustrasi, justru meminta Ayub untuk mengutuk Tuhan, dia tidak mau dan inilah yang dia katakan ayat yang sangat dikenal yaitu diambil dari kitab Ayub 1 mulai dari ayat 21 katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Kemudian Ayub menyambung: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." Dan ayat 22 disambung: "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." Di sini kita melihat Ayub tidak memiliki pola pikir hitam putih Bu Ida, seolah-olah di sini Tuhan menarik berkatNya dari Ayub, tapi dia tidak berkata Tuhan jahat, Dia tidak berkata: Tuhan itu kok menghukum dia, tidak! Jadi Ayub justru berkata kita harus terima bahwa kita diberkati tapi kita juga terima pada waktu kita tidak merasa dan melihat berkat Tuhan. Dan bahkan dia kembalikan hal yang sangat bersifat eksistensial, "Aku datang telanjang," aku datang tidak membawa apa-apa dari kandungan ibuku, makanya dia putuskan Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan. Nah ini benar-benar pola pikir yang di tengah-tengah, tidak hitam putih sama sekali.
IR : Juga Ayub waktu istrinya menuntut Ayub mengutuk Tuhan, Ayub berkata ya Pak Paul bahwa kita kok hanya mau menerima yang baik dari Tuhan sedangkan kita tidak mau menerima yang buruk.

PG : Betul, betul.

IR : Itu suatu kisah bahwa Ayub itu memang orang yang mau menerima apa yang Tuhan mau.

PG : Betul, dan bahwa bagi Ayub Tuhan menyertai dia dalam kondisi apapun dan penyertaan Tuhan itu tidak dibuktikan oleh pemberian Tuhan, meski Tuhan tidak memberi pun Tuhan bersama dengan dia iu keyakinan dia, dan itu yang akhirnya bisa mendorong dia bertahan dalam penderitaannya.

GS : Memang pola pikir yang sudah terbentuk sejak dia kecil itu akan sangat-sangat sulit untuk bisa dilepaskan begitu saja Pak Paul, kecuali memang ada kuasa yaitu kuasa dari Tuhan Yesus sendiri yang memerdekakan dia. Jadi ini sesuatu hal yang sangat serius yang perlu dibantu dan tidak perlu ragu bahwa seseorang yang menyadari akan keadaannya itu datang ke konselor Pak Paul?

PG : Ya, sebab benar-benar Pak Gunawan kerangka atau tulang belakang dari iman kristiani adalah anugerah dan anugerah itu sebetulnya adalah lawan dari hitam putih atau pola pikir seperti ini. Than benar-benar memberikan kita suatu ruang gerak yang sangat lapang dia menerima kita apa adanya, Tuhan tidak menoleransi dosa tapi Tuhan menerima orang yang berdosa.

Jadi memang ini sesuatu yang kadang kala susah untuk kita cerna, tapi memang itulah anugerah, anugerah benar-benar menerima kita apa adanya.
IR : Jadi satu-satunya jalan untuk penyembuhan orang yang punya pola pikir seperti itu kalau mungkin mereka itu sudah hidup baru ya Pak Paul?

PG : Ya itu langkah pertamanya Ibu Ida, meskipun saya harus mengakui bahwa ada orang Kristen yang sudah hidup baru pun masih membawa masalah ini Bu Ida. Karena pengaruh latar belakang kita itu uat, terhadap diri kita sekarang ini.

IR : Dan orang sulit untuk berubah ya Pak Paul?

PG : Orang sulit untuk berubah meskipun akhirnya dia menyadari, tapi susah untuk berubah, apalagi seperti tadi saya katakan kalau pola pikir ini telah menjadi pelindung dan sukses untuk hidup da itu.

GS : Ya, jadi ini tentu suatu perbincangan yang menarik dan sangat berguna bagi para pendengar kita dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan ke hadapan Anda sekalian sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga, khususnya mengenai pola pikir yang dapat menimbulkan depresi yang tadi disebut dengan pola pikir hitam putih. Perbincangan kami tadi bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga) dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan dukungan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



2. Kepribadian


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T021A (File MP3 T021A)


Abstrak:

Dalam topik ini kita akan mengetahui tentang cirri-ciri, sifat, karakteristik, gaya yang khas dikaitkan dengan diri kita. Dan kepribadian ini bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan dan bawaan sejak lahir.


Ringkasan:

Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.

Kepribadian di bagi dalam 4 golongan yaitu:

  1. Sanguin, sanguin adalah orang yang gembira, yang senang hatinya, mudah untuk membuat orang tertawa, dan bisa memberi semangat pada orang lain. Tapi kelemahannya adalah dia cenderung impulsive, yaitu orang yang bertindak sesuai emosi atau keinginannya.
  2. Plegmatik, tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak beremosi, tidak menampakkan perasaan sedih atau senang. Naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik, ia intorspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kelemahan orang plegmatik adalah ia cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah, sehingga suka mengambil jalan pintas yang paling mudah dan gampang.
  3. Melankolik, Tipe melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna dan dia memang adalah seseorang yang mengerti estetika keindahan hidup ini. Perasaannya sangat kuat, sangat sensitif maka kita bisa menyimpulkan bahwa cukup banyak seniman yang memang berdarah melankolik. Kelemahan orang melankolik, ia mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan murung.
  4. Dan kolerik. Seseorang yang kolerik adalah seseorang yang dikatakan berorientasi pada pekerjaan dan tugas, dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan akan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kelemahan orang yang berciri kolerik adalah kurangnya kemampuan untuk bisa merasakan perasaan orang lain, belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim, karena perasaannya kurang bermain

Setiap orang yang diciptakan Tuhan sudah dilengkapi dengan kepribadian. Kepribadian itu sebetulnya adalah sumbangsih atau pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita.

Sebetulnya setiap kepribadian mempunyai kelemahan dan kekuatannya. Salah seorang teolog Kristen yaitu Tim La Haye pernah menulis buku "Temperamen Yang Diubahkan" ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut pada intinya Tim La Haye menegaskan bahwa setiap kepribadian itu akhirnya akan bisa dipakai Tuhan dan kelemahan yang ada di setiap kepribadian itu bisa diminimalkan atau dikurangi. Ia juga menegaskan bahwa kita ini diubahkan oleh Roh Kudus Tuhan.

Mazmur 139:23 berkata: "Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal." Disini kita melihat pemazmur mengundang Tuhan untuk melihat apakah jalannya serong. Nah, setiap orang harus mengundang Tuhan untuk melihat, menilik, dan memeriksa jalannya. Dan juga harus mengundang Tuhan untuk menuntunnya ke jalan yang benar.

Yehezkiel 11:19 mengatakan: "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan Roh yang baru dalam batin mereka. Juga Aku akan menjauhkan mereka dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan hati yang taat."

Jadi antara kepribadian dan hati itu terkait erat. Apapun kepribadian kita, Tuhan Yesus mau menerima kita dalam keberadaan kita masing-masing. Karena Dia tahu persis karakter atau watak kepribadian kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Kepribadian". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, saya menyadari bahwa seseorang itu mempunyai kepribadian. Saya sering mendengar istilah itu, tapi terus terang sebenarnya saya kurang paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan kepribadian?

PG : Kepribadian sebetulnya adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Jadi dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bntukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan-bawaan yang kita bawa sejak lahir.

Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
GS : Jadi kalau begitu, kepribadian itu banyak sekali ragamnya Pak Paul?

PG : Betul, ada beberapa teori tentang penggolongan hal-hal ini, salah satunya yang paling dikenal adalah pembagian dalam 4 golongan yaitu sanguin, plegmatik, melankolik, dan kolerik. Sebetunya pembagian ini bukan saja diperkenalkan oleh para tokoh psikologi pada abad ke 20 ini, sebetulnya sudah diperkenalkan jauh pada masa ahli-ahli filsafat Yunani kuno.

Jadi misalnya teori-teori ini sudah ada pada zaman seperti Galland dan sebagainya, kira-kira hampir 2000 tahun yang lalu. Jadi mereka itupun sebenarnya sudah membicarakan tentang kepribadian-kepribadian manusia Pak Gunawan.
GS : Setiap orang yang diciptakan oleh Tuhan itu sudah dilengkapi dengan kepribadian, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, jadi kepribadian itu sebetulnya adalah sumbangsih atau pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita. Yan saya maksud dengan pemberian Tuhan adalah kepribadian itu sebetulnya sangat berkaitan dengan komposisi fisik kita.

Misalnya seseorang yang kolerik adalah seseorang yang dikatakan berorientasi pada pekerjaan, tugas. Dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan akan bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya. Kelemahan orang yang berciri kolerik adalah kemampuannya untuk bisa merasakan perasaan orang lain agak kurang, belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim. Karena apa? Karena perasaannya kurang bermain. Orang-orang yang kolerik ini menjadi kolerik bukan saja karena pengaruh lingkungan, misalkan dia dibesarkan dengan disiplin yang tinggi dan sebagainya, bukan hanya itu. Tapi secara fisikpun dia mempunyai kekuatan atau kecenderungan untuk tidak terlalu merasakan perasaannya. Hal ini lebih bersifat organik, secara ilmiahnya kita sebut organik itu sesuatu yang berkaitan dengan fisik kita. Jadi misalnya kimia senyawa atau senyawa kimiawi dalam otak kita itu, akhirnya membawa bawaan-bawaan tertentu pada waktu kita lahir. Misalnya ada orang yang mudah cemas. Kita tidak bisa langsung berkata orang ini memang beriman lemah, tapi memang sejak lahir jantungnya itu peka, mudah sekali untuk merasakan getaran-getaran yang bersumber dari luar dirinya. Oleh karena jantungnya itu peka, sensitif, maka juga lebih gampang berdenyut. Akibatnya dia juga lebih mudah dikejutkan, merasa tegang dan lebih rawan terhadap kecemasan. Nah sehingga kepribadiannya pun nantinya tidak terlalu akan ke arah kolerik misalnya, tapi ke arah melankolik. Jadi itulah sebabnya kita katakan bahwa kepribadian itu adalah juga pemberian Tuhan karena fisik kita, keberadaan fisik kita itu juga datangnya dari Tuhan, begitu kira-kira maksudnya.
GS : Tapi Pak Paul, di dalam hal tadi misalnya kolerik. Apakah kalau ayahnya kolerik dan ibunya juga kolerik lalu anaknya bisa kolerik, jadi seperti golongan darah begitu Pak Paul?

PG : Tidak bisa dipastikan secara matematis bahwa anaknya itu akan menjadi kolerik, tapi saya bisa berkata anaknya lebih berkemungkinan kolerik. Namun berkemungkinannya itu sebetulnya juga dkaitkan dengan dua sumber tadi Pak Gunawan, yaitu memang secara fisik dia mewarisi ciri-ciri fisik ayah dan ibunya yang kebetulan kolerik.

Dan juga karena dia dibesarkan di rumah tangga yang berkolerik dia juga akhirnya lebih dibentuk untuk menjadi anak yang kolerik.
GS : Punya kecenderungan besar ke arah itu, Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Apakah kalau satu keluarga yang sudah berkumpul jadi satu dan terbentuk pribadi-pribadi yang kolerik, itu banyak di positifnya atau negatifnya Pak Paul?

PG : Nah sebetulnya setiap kepribadian itu mempunyai kelemahan dan kekuatannya. Salah seorang theolog Kristen yang bernama Tim La Haye pernah menulis buku yang diterjemahkan, kalau tidak salh dalam terjemahannya berjudul karakter atau "Temperamen Yang Diubahkan Tuhan" atau yang dikuasai Tuhan.

Nah intinya dalam buku tersebut Tim La Haye menegaskan bahwa setiap kepribadian itu akhirnya akan bisa di pakai Tuhan dan kelemahan yang ada di setiap kepribadian itu bisa diminimalkan atau dikurangi. Nah siapa yang mengurangi, dengan cara apa dikuranginya, dalam buku itu Tim La Haye menegaskan yaitu dengan kita ini diubah oleh Roh Kudus Tuhan. Jadi misalnya, tadi kita bicara tentang orang yang kolerik. Dia perlu buah Roh Kudus kesabaran karena orang yang kolerik cenderung tidak sabar, tergesa-gesa, mau segalanya berjalan sesuai rencana, harus sesuai jadwal. Nah akhirnya dia mudah sekali marah, tidak bisa sabar. Jadi Tim La Haye menegaskan bahwa orang yang kolerik ini perlu sekali dengan buah Roh Kudus kesabaran tadi.
(2) IR : Apa mungkin setiap orang kepribadiannya itu ganda, Pak Paul?

PG : Maksudnya mempunyai campuran dari dua tipe itu, bisa jadi waktu kita berkata saya misalnya sanguin, saya ini lebih banyak sanguinnya. Saya tidak murni sanguin tapi saya juga punya kolerk sebagian, ada sedikit melankolik, ada juga sedikit plegmatiknya.

Jadi kebanyakan kita ini terdiri dari campuran keempat tipe tersebut, namun dari keempat tipe itu ada yang dominan begitu.
GS : Itu mengenai campuran Pak Paul, tapi mungkin juga sering kali digunakan dengan kepribadian ganda adalah split personality, kepribadian yang terpecah begitu Pak Paul?

PG : Betul, itu memang adalah sesuatu yang berbeda dari yang kita bicarakan, jadi kepribadian yang terpecah itu merupakan suatu gangguan jiwa.

GS : Jadi secara garis besar itu dibagi dalam 4 kategori besar Pak Paul, apakah itu mempengaruhi di dalam kita bekerja, bermasyarakat atau bahkan dalam pernikahan Pak Paul?

PG : Sebetulnya tidak ada rumus yang paling tepat di dalam relasi, hubungan dekat atau misalnya pernikahan. Misalkan kolerik paling cocok menikah dengan melankolik misalnya, plegmatik denganyang sanguin.

Seolah-olah memang itu rumusan karena dua-duanya mencerminkan 2 kutub yang berbeda jadi seolah-olah digabung saling melengkapi. Namun sesungguhnya relasi yang akrab atau dalam konteks pernikahan, tipe apapun bisa cocok jika digabungkan dengan tipe yang lainnya. Tidak harus yang melankolik dengan yang kolerik dan sebagainya, setiap tipe bisa cocok dengan yang lainnya. Asalkan memang kita bisa mengendalikan kelemahan kita, inilah yang ditekankan oleh Tim La Haye dalam bukunya itu, yakni kita sebagai orang Kristen harus menyandarkan diri pada Tuhan dan membiarkan Roh Tuhan bekerja dalam hati kita, mengikis jiwa kita sehingga kelemahan yang sudah kita bawa di dalam kepribadian kita itu akhirnya bisa kita kurangi. Jadi orang yang kolerik misalnya bergaul dengan siapapun tapi kalau dia tidak bisa menguasai amarahnya akan menjadi orang yang dijauhi oleh orang lain, karena tidak ada yang suka bergaul dengan orang yang suka marah misalnya.
IR : Jadi tipe-tipe kepribadian seseorang itu bisa berubah ya Pak Paul?

PG : Sebetulnya yang dominannya itu akan tetap ada, tapi kalau Ibu Ida berkata bahwa lingkungan akhirnya bisa mempengaruhi kepribadian kita. Bisa misalnya kita ini adalah seseorang yang sangin, sanguin adalah orang yang gembira, senang hatinya, mudah untuk membuat orang tertawa, bisa memberi semangat pada yang lainnya.

Terus dia mengalami musibah, misalkan diputuskan oleh pacarnya, akhirnya tidak ada yang dekat dengan dia, kemudian di PHK dari pekerjaannya dan misalkan selang beberapa tahun orang tuanya dipanggil Tuhan. Nah mungkin sekali karena melewati begitu banyak kesengsaraan akhirnya dia menjadi orang yang murung. Nah dalam kemurungannya itu, sifat melankolik mulai menjadi dominan dalam dirinya, sehingga dia menjadi orang yang mudah untuk merasa sedih, merasa tidak ada semangat hidup dan sebagainya. Jadi bisa saja ada perubahan, itu biasanya tidak permanen. Kalau keadaannya berubah, kondisinya berubah, maka kemungkinan besar dia akan kembali lagi ke tipe asalnya.
GS : Mungkin Pak Paul bisa jelaskan secara sederhana ya Pak Paul. Kalau seseorang, saya misalnya ingin tahu saya itu berkepribadian apa. Ya memang kalau kita ke psikolog bisa, tapi apakah ada jalan yang sederhana supaya kita bisa tahu kira-kira saya itu berkepribadian apa Pak Paul?

PG : Mungkin saya jelaskan dulu keempat penggolongan itu Pak Gunawan dan kita bisa mencocokkan diri yang termaktub dalam kategori itu. Tipe yang tadi saya sudah sebut adalah sanguin dan koleik, saya lengkapi lagi tentang tipe sanguin itu.

Sanguin mempunyai banyak kekuatan, tadi saya sudah sebut misalkan dia orang yang bersemangat, orang yang mempunyai gairah hidup, bisa membuat lingkungannya gembira senang. Tapi kelemahannya adalah dia itu cenderung kita katakan impulsive adalah orang yang bertindak sesuai emosinya atau keinginannya. Jadi dia itu mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungannya, kalau lingkungan itu mendorong dia untuk rajin dia rajin, kalau lingkungan misalnya membuat rasanya dia enggan, malas, tidak ada gairah dari luar dia juga tiba-tiba seperti orang yang kehabisan bensin. Jadi seperti mobil yang akhirnya mogok harus didorong-dorong. Jadi orang-orang sanguin itu mudah sekali dipengaruhi oleh rangsangan-rangsangan dari luar dirinya. Dan juga kelemahan yang lainnya adalah kurang bisa menguasai diri, jadi penguasaan dirinya lemah. Nah dalam bukunya Tim La Haye hal ini juga ditonjolkan, bahwa orang-orang sanguin itu cenderung akhirnya mudah jatuh ke dalam pencobaan, karena godaan dari luar bisa begitu memikatnya, dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya. Nah itu tipe sanguin.

Tipe yang lainnya adalah tipe plegmatik. Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang dan dari luar cenderung tidak beremosi, tidak menampakkan emosi misalnya sedih, senang. Jadi naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini cenderung memang bisa menguasai dirinya dengan cukup baik dan orang ini introspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi disekitarnya. Jadi dia adalah seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan bisa juga menjadi seorang pengkritik yang memang berbobot. Kelemahannya adalah orang yang plegmatik ini cenderung mau mengambil mudahnya, tidak mau susah, sehingga ambil sajalah jalan pintas yang paling mudah. Nah kelemahannya ini bisa membuat dia jadi orang yang kurang mau berkorban bagi yang orang lain. Maka salah satu buah Roh Kudus memang perlu ditingkatkan dalam dirinya adalah kemurahan atau murah hati. Karena dia cenderung atau bisa menjadi orang yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri, jadi saya suka menggunakan istilah orang yang plegmatik ini cenderung tidak mau mengotori tangannya. Biar orang lain susah, orang lain kerja dia hanya duduk saja tidak mau susah payah menolong yang lainnya. Jadi buah Roh Kudus yang kurang dalam dirinya adalah murah hati. Orang yang melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna dan dia itu memang adalah seseorang yang mengerti estetika keindahan hidup ini. Dan perasaannya sangat kuat, sangat sensitif maka kita bisa menyimpulkan bahwa cukup banyak seniman yang memang berdarah melankolik. Kenapa?Sebab untuk bisa menciptakan karya seni yang tinggi, perasaan kita itu harus luar biasa pekanya, dengan alam, getaran hidup ini dan sebagainya. Kelemahannya orang melankolik adalah mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Jadi orang yang melankolik itu memang seringnya berada di dalam perasaan-perasaan yang agak di bawah yaitu perasaan yang murung. Tidak mudah bagi orang melankolik itu untuk terangkat, untuk senang, atau tertawa terbahak-bahak, agak sulit bagi dia untuk begitu. Nah itu kira-kira secara umum.

GS : Jadi mungkin kita perlu tahu, kita berada di kelompok yang mana ya Pak Paul, untuk memudahkan pergaulan kita atau mengerti dengan pasangan kita?

PG : Dan terutama mengerti dengan diri kita Pak Gunawan, kekuatan dan kelemahan kita.

GS : Nah sampai sejauh mana dosa itu yang ada dalam diri kita berperan untuk mempengaruhi kepribadian kita. Tadi Pak Paul katakan Roh Kudus itu akan mendorong kita, memberikan buah-buah untuk menutupi kelemahan dari salah satu sifat itu. Tapi saya lihat dosa pasti berperan, Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, setiap tipe itu unik. Jadi pada dasarnya setiap tipe kepribadian itu netral tidak lebih berdosa dari yang lainnya. Namun setiap tipe kepribadian itu mengundangmasuknya keberdosaan kita, masuknya diri kita yang memang sudah tercemar oleh dosa.

Misalnya orang yang plegmatik kalau tidak hati-hati dan tidak mau bertumbuh, bisa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab atau kurang bertanggung jawab. Karena dia akan mencoba mengelak dari tugas dan dia akan berusaha membuat orang lain yang bertanggung jawab mengerjakan tugas serta kewajiban yang seharusnya dikerjakannya. Nah akhirnya apa yang terjadi, saya kira di sanalah dosa akhirnya masuk ke dalam tipe kepribadian tersebut, karena apa? Karena sewaktu kita tidak bermurah hati untuk menolong orang lain, saya kira kita berdosa di situ. Ada yang harus kita tolong, tapi kita lebih mau mencuci tangan, masa bodoh dengan dia, disitulah akhirnya berdosa. Misalkan tipe sanguin, memang dia adalah orang yang bisa memberikan keceriaan dalam lingkungannya, tapi karena dia mudah sekali dikuasai oleh rangsangan dari luar, dia menjadi orang yang bisa mudah jatuh ke dalam pencobaan, godaan-godaan dari luar dirinya. Nah disinilah dia bisa terjebak ke dalam dosa, jadi keberdosaan yang memang sudah mencemari dirinya itu terus bisa muncul dan akhirnya membuat dia jatuh ke dalam dosa. Sama juga dengan orang yang melankolik, karena orang yang melankolik itu cenderung mau yang sempurna, yang terbaik dalam segala hal sehingga akhirnya dia bisa kasar, misalnya bisa memarahi orang yang tidak menghargai karya orang lain dan sebagainya. Atau bisa sombong karena dia merasa karyanyalah yang paling indah, paling hebat akhirnya dia berdosa, dalam relasi dengan orang lain dia tidak bisa memahami, tidak bisa menghargai orang lain. Sama juga dengan orang yang kolerik keberdosaan itu bisa masuk, menyelusup dan akhirnya menjatuhkan dia. Misalnya orang yang kolerik itu cenderung yang akhirnya memperhatikan yang berguna baginya, orang yang bisa bermanfaat itulah orang yang akan didekatinya. Orang yang tidak ada manfaatnya bagi dia tidak akan dia dekati. Nah akhirnya apa yang terjadi dia kehilangan prespektif untuk hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Mengasihi musuh kita, yang lemah, sebab dia hanya mau bergaul dengan yang sebanding dengannya, yang bisa menguntungkan dirinya. Nah di situ akhirnya dia bisa jatuh ke dalam dosa.
GS : Pak Paul, apakah kepribadian itu sama dengan watak?

PG : Ya.

GS : Dan orang mengatakan ya itu sudah watak saya, saya tidak bisa mengubah itu. Nah itu dipakai sebagai katakan sesuatu alasan membenarkan diri sendiri, bahwa dia boleh melakukan dosa itu karena memang wataknya seperti itu.

PG : Ya kita bisa memahami bahwa tipe tertentu rawan terhadap dosa tertentu, tapi saya kira tidak bisa kita ini berkata atau menyalahkan watak atau kepribadian kita yang memang kita sudah beini.

Jadi misalkan saya sendiri, saya tahu saya ini seorang sanguin. Saya tahu saya mudah sekali mengambil keputusan jadi artinya apa? Saya mendisiplin diri saya untuk tidak mengambil keputusan seketika. Seberapa bagusnyapun ide itu saya akan cenderung menahan diri untuk menggumulinya lagi, untuk menunggu tanda-tanda lain dari Tuhan, menunggu juga apakah Tuhan menggerakkan orang lain untuk mencetuskan ide yang sama dan sebagainya. Sebab bawaan saya adalah kalau misalnya saya inginkan A, saya benar-benar mau supaya orang lain juga melihat bahwa A itu penting dan A itu harus dilakukan. Jadi lakukanlah semuanya, jadi akhirnya saya harus menahan diri saya, dan setiap orang saya pikir dipanggil Tuhan untuk menahan diri.
IR : Mungkin Pak Paul bisa menunjukkan ayat di mana watak seseorang itu bisa dikendalikan atau bisa diubah dengan pertolongan dari Firman Tuhan.

PG : Firman Tuhan di Mazmur 139:23 berkata, "Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunla aku di jalan yang kekal."

Di sini kita melihat pemazmur mengundang Tuhan, jadi syaratnya yang kita lakukan adalah mengundang Tuhan. Pemazmur di sini mengundang Tuhan, lihatlah apakah jalanku serong, nah setiap orang harus mengundang Tuhan, melihat, menilik, memeriksa jalannya. Dan harus juga mengundang Tuhan untuk menuntunnya ke jalan yang benar. Jadi kalau boleh saya simpulkan karakteristik yang paling penting adalah kita bersedia apa tidak kita mengundang Tuhan untuk masuk menilik hati kita, mau tidak kita ini berubah itu saya kira kuncinya.
IR : Jadi sebagai anak-anak Tuhan tidak ada alasan Pak Paul untuk mengatakan bahwa, watakku ya memang begini, saya juga ingat ayat dalam Yehezkiel 11:19, "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan Roh yang baru dalam batin mereka. Juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan hati yang taat."

PG : Bagus sekali, Bu Ida.

GS : Jadi itu terkait erat antara kepribadian dengan hati dan saya percaya sekali apapun kepribadian kita, Tuhan Yesus mau menerima kita dalam keberadaan kita masing-masing karena dia yang tahu persis karakter atau watak, kepribadian kita itu. Jadi saya rasa ini suatu perbincangan yang sangat menarik karena kita perlu mengenal akan diri kita sendiri terlebih dahulu, dan juga mengenal orang-orang lain yang ada di sekeliling kita. Jadi para pendengar yang kami kasihi demikianlah tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan seputar kehidupan kepribadian khususnya, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



3. Bagaimana Menghadapi Stres


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T088A (File MP3 T088A)


Abstrak:

Stress merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa terdesak atau tercekam yang disebabkan oleh tekanan dari luar maupun dari dalam atau dari kedua-duanya. Dan masing-masing orang memiliki ketahanan yang berbeda dalam menghadapi stres, ada yang lebih kuat dan ada juga yang mudah sekali untuk mengalami stres.


Ringkasan:

Stres itu adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa terdesak atau tercekam dan ini disebabkan oleh tekanan baik dari luar, atau juga bisa dari dalam atau kedua-duanya. Contoh misalnya kalau saya harus menunggu lama angkutan umum waktu pulang kerja. Padahal banyak angkutan yang ramai sekali dan saya harus menunggu cukup lama, itu akan menimbulkan stres karena saya merasa terdesak, karena saya merasa kurang nyaman di situ.

Antara stres dan depresi. Depresi itu adalah gejalanya, maksudnya stres itu suatu kondisi yang kita alami dan kondisi yang kita alami bisa membuat kita itu mengalami gangguan yang namanya depresi atau juga misalnya bukan hanya depresi yang bisa timbul, misalnya gangguan-gangguan yang lain. Dalam stres yang berat orang bisa menderita schizophrenia.

Masing-masing orang memiliki ketahanan yang berbeda dalam menghadapi stres. Ada yang lebih kuat dan ada juga yang mudah sekali untuk mengalami stres. Seorang pria dan wanita pun berbeda, pada pria misalnya tampak gejala stres yang lebih dirasakan berat adalah di dalam dunia kerja. Bila dibandingkan dengan wanita yang lebih rentan terhadap stres karena buruknya hubungan sosial.

Beberapa cara untuk menghindarkan diri dari stres adalah:

  1. Dengan memperbaiki hubungan sosial dengan rekan-rekan sekantor. Kalau memang stres yang dialami berhubungan dengan teman-teman kerja di kantor.

  2. Memperbaiki hubungan keluarga sehingga hubungan bisa lebih terasa harmonis dan manis. Kalau misalnya ada masalah di dalam keluarga.

  3. Kalau misalnya stres ternyata tidak bisa dihindarkan, yang perlu kita lakukan adalah memperkuat daya tahan kita atau mengubah cara kita memandang stres dan memperbesar toleransi kita terhadap stres. Dengan demikian stres itu tidak lagi dirasakan terlalu berat tetapi kita justru menyesuaikan diri menghadapi stres. Misalnya dengan cara kita memandang dunia ini, cara kita berpikir dan juga salah satunya yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana mempertebal iman kita.

Frustrasi, adalah misalnya kita mempunyai suatu tujuan yang ingin kita capai, kita mempunyai harapan tertentu tapi karena waktu kita ingin mencapai itu ternyata mengalami hambatan. Kondisi ini yang dikatakan sebagai frustrasi.

Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

Jadi apapun yang kita lakukan ingatlah bahwa kita melakukannya di dalam Tuhan dan kalau kita melakukan segala sesuatu di dalam Tuhan, Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan kali ini juga bersama Bapak Heman Elia, M.Psi., akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perlu Anda ketahui bahwa Ibu Esther dan Pak Heman pada saat ini adalah dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara dan mereka adalah pakar-pakar di bidang konseling keluarga. Karenanya kami percaya perbincangan kami kali ini pasti akan sangat bermanfaat bagi Anda sekalian. Dan dari studio kami semua mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Heman, kali ini kita akan membicarakan tentang bagaimana menghadapi stres, suatu tema atau topik pembicaraan yang tentunya sangat menarik karena banyak dibicarakan orang. Tetapi sebelum kita bicara lebih lanjut, mungkin Pak Heman bisa menjelaskan kepada kita stres itu sebenarnya apa?

HE : Baik Pak Gunawan, stres itu adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa terdesak atau tercekam dan ini disebabkan oleh tekanan bisa dari luar, bisa dari dalam atau kedua-duanya. Sebagi contoh misalnya kalau saya harus menunggu lama angkutan umum waktu pulang kerja.

Padahal banyak angkutan yang ramai sekali dan saya harus menunggu cukup lama, itu akan menimbulkan stres karena saya merasa terdesak, saya merasa kurang nyaman di situ. Dan banyak hal lagi misalnya suasana kerja yang kurang nyaman atau misalnya kalau kita mengalami banyak masalah yang harus diselesaikan, banyak persoalan yang bertumpuk bahkan juga misalnya perubahan-perubahan cuaca yang drastis itu juga akan menimbulkan stres bagi kita. Demikian juga kalau di rumah biasanya suasana rumah yang kurang nyaman itu akan menimbulkan stres bagi kita. Stres yang dari dalam itu bisa dicontohkan misalnya ada kelainan hormonal di dalam diri saya yang menyebabkan saya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit-penyakit yang lain, juga cacat fisik misalnya itu semua potensial sekali memberikan suatu kondisi tertekan atau kondisi stres.
GS : Jadi kalau katakan kami orang awam, saya sedang tertekan itu tidak salah ya, Pak?

HE : Itu tidak salah dan itu yang dikatakan sebagai stres.

(2) GS : Istilah ilmiahnya itu stres, tapi ada yang menyebutkan depresi Pak?

HE : Nah kalau depresi itu adalah gejalanya, maksud saya begini stres itu suatu kondisi yang kita alami dan kondisi yang kita alami bisa membuat kita itu mengalami gangguan yang namanya deprsi atau juga misalnya bukan hanya depresi yang bisa timbul, misalnya gangguan-gangguan yang lain.

Kalau dalam stres yang berat misalnya sampai orang itu bisa menderita schizophrenia.
(3) GS : Nah tadi Pak Heman juga sudah menyebutkan apa penyebab-penyebab stres itu, jadi apakah semua orang itu bisa mengalami stres, Pak Heman?

HE : Semua orang bisa mengalami stres dan sekali lagi stres itu bukan penyakit, yang perlu saya tekankan stres itu suatu kondisi yang dialami, yang menuntut seseorang itu harus menyesuaikan iri secara tepat.

Jadi kalau misalnya orang mengalami stres dan itu sampai melampaui daya tahannya, maka barulah akan timbul gejala-gejala yang berupa penyakit. Tetapi penyakit itu tidak dialami oleh semua orang, kalau gejala stresnya itu memang akan dialami atau kondisi stres itu akan dialami oleh semua orang.

ET : Kalau tadi Pak Heman mengatakan stres bisa dialami semua orang, saya juga jadi ingat kadang-kadang anak-anak kecil juga sudah bilang ya, masih TK, SD, sudah bisa mengeluh aduh aku ini sres begitu ya.

Jadi rasanya orang ini mudah melabelkan hal-hal yang pokoknya ada masalah sedikit, itu stres Pak Heman. Tapi di sisi lain di ujung satunya lagi kadang-kadang ada orang yang mengatakan aduh saya ini stres dan bisa gila begitu, ya mungkin karena memang tekanan hidupnya begitu rupa, begitu berat yang dihadapi. Jadi sebenarnya kalau yang kira-kira masih bisa ditolerir, yang masih OK stres yang dalam arti masih normal sepertinya memang ada tingkatannya supaya kita bisa menguji memang saya stres. Tapi stres saya ini masih termasuk normal belum menuju kepada suatu gangguan yang lebih membawa kepada sesuatu yang lebih lagi, misalnya sampai harus dirawat ke dokter kira-kira itu bagaimana bisa mengujinya, bisa melihat dalam batas-batas yang bagaimana, Pak Heman?

HE : Ya kita biasanya melihat gejalanya, kalau misalnya gejala itu sampai mengganggu sekali aktifitas kita sehari-hari berarti stres yang kita alami itu dalam tingkatan yang sudah lebih berat. Saya berikan contoh misalnya kalau orang stres kemudian tidak bisa tidur dan itu hanya berlangsung satu, dua hari itu tarafnya lebih ringan. Tetapi kalau sampai misalnya setengah tahun atau satu tahun tidak bisa tidur, nah berarti tingkat stresnya sudah lebih berat dan biasanya kalau sudah berkepanjangan seperti itu, itu lebih sulit diatasi daripada kalau misalnya hanya tidak bisa tidur 1, 2 hari, itu salah satu contohnya. Gejala-gejala yang lain kita bisa melihat kadang-kadang adanya tekanan membuat daya tahan fisik kita menjadi lemah dan itu salah satu indikasi. Misalnya ada orang yang lalu alergi, asmanya kumat atau misalnya tekanan darahnya naik, diabetesnya kumat biasanya juga orang yang di dalam kondisi stres itu akan terganggu organ-organ tubuhnya. Terutama organ-organ tubuh yang agak lemah dari sistem tubuhnya juga pengaruh ke hormonal dan sebagainya. Ada orang yang menderita sakit kepala berkepanjangan dan adakalanya gejala-gejala ini atau sering kali gejala ini tidak ditemukan di dalam gangguan atau penyakit fisik yang sesungguhnya, tapi dapat dirasakan oleh orangnya sendiri, wah....ini kenapa ya saya menderita gejala fisik seperti ini kadang susah dijelaskan dan kemungkinan ini karena stres.

ET : Tadi Pak Heman katakan juga setiap orang bisa mengalami stres, kira-kira ada tidak bedanya mungkin maksudnya di setiap orang ini ada orang-orang yang memang lebih mudah kena stres, ada orang yang lebih kuat maksudnya tidak mudah stres, sebenarnya perbedaannya ada atau tidak, Pak Heman?

HE : Ya beda, ada orang yang betul sekali seperti yang Ibu Esther katakan ada yang mudah mengalami stres, ada yang tidak ada yang lebih kuat, ada yang lebih lemah. Dan bukan hanya tingkatan aya tahan tetapi juga jenisnya, jadi ada orang yang mengalami masalah misalnya putus pacar dia langsung stres dan mengalami berbagai gejala gangguan tingkah laku.

Tapi sebaliknya ada orang yang kalau putus pacar, dia tidak merasa apa-apa tetapi pada waktu ayahnya meninggal nah di situ gejalanya muncul begitu. Jadi memang tiap orang daya tahan dan jenis ketahanan terhadap stres itu beda-beda.
GS : Kalau dari segi pria-wanitanya sama apa tidak?

HE : Pria-wanita juga bisa berbeda, jadi pada pria misalnya tampaknya gejala stres yang lebih dirasakan berat adalah di dalam, stres di dalam dunia kerja. Bila dibandingkan dengan wanita yan lebih mementingkan relasi, jadi biasanya bagi wanita lebih rentan terhadap stres karena buruknya hubungan sosial.

(4) GS : Nah Pak Heman, kalau dikatakan semua orang memang bisa menderita stres, mengalami stres, mengalami tekanan seperti ini maka sebaiknya kita ini melakukan suatu antisipasi atau apa, supaya tidak perlu terlalu berat menghadapi itu. Apa sebenarnya yang bisa kita lakukan, Pak Heman?

HE : Ada beberapa hal kalau misalnya stres itu sebetulnya bisa kita hindarkan, jadi kita bisa melakukan beberapa cara untuk menghindarkan diri dari stres yang tidak harus selalu kita hadapi ila ada pilihan.

Saya berikan contoh misalnya adakalanya kita sulit, sulit sekali menyesuaikan diri di dalam suatu situasi kerja tertentu karena adanya hambatan-hambatan di kantor misalnya. Dalam hal ini mungkin kita sulit mencari pekerjaan baru, yang dapat kita lakukan untuk menghindari stres yang lebih besar misalnya dengan kita melakukan atau memperbaiki hubungan sosial dengan rekan-rekan sekantor, dengan demikian stres itu akan menjadi berkurang. Kecuali misalnya kalau kita bisa mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat dan juga kemampuan kita, nah kita boleh mencari pekerjaan yang lain. Tetapi misalnya lagi kalau kita di dalam rumah mempunyai beberapa masalah, tidak mungkin pindah demikian saja dari rumah kita, kita tidak bisa keluar dari rumah kita, nah kita perlu melakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki hubungan keluarga, sehingga hubungan ini bisa lebih terasa harmonis dan manis begitu. Kalau misalnya stres itu ternyata tidak bisa dihindarkan, apa yang bisa kita lakukan adalah dengan memperkuat daya tahan kita dan memperbesar toleransi kita terhadap stres. Dan ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk itu, misalnya dengan memperbaiki cara kita memandang dunia ini, cara kita berpikir dan juga salah satunya yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana memperbesar, mempertebal iman kita.
GS : Tetapi kalau masalahnya sendiri tidak pernah dihadapi Pak, dan tidak pernah terselesaikan itu pasti akan muncul terus.

HE : Ya ada hal-hal yang memang tidak pernah bisa selesai, kalau hal itu tidak bisa selesai maka itu merupakan sumber stres bagi kita. Yang kita bisa lakukan adalah mengubah diri kita yaitu emperbesar daya tahan kita atau mengubah cara kita memandang stres itu.

Dengan demikian stres tidak lagi dirasakan terlalu berat tetapi kita justru bisa menyesuaikan diri menghadapi stres itu.
GS : Saya memang punya seorang teman yang mengatakan saya ini stres karena tiap hari menghadapi orang stres. Ya itu yang dia katakan, jadi orang stres menimbulkan teman saya itu menjadi stres juga akhirnya. Lalu itu bisa terus berkembang biak karena orang sekelilingnya juga merasa stres.

HE : Baik mungkin bisa lebih jelas, waktu dia menghadapi orang stres itu seperti apa Pak Gunawan, maksudnya orang-orang yang stres di sekeliling dia itu stresnya dalam bentuk apa?

GS : Tadinya begini Pak Heman, istrinya itu menghadapi suatu masalah di rumah, istrinya menjadi stres entah itu karena anaknya yang nakal, dia tidak mau ceritakan tetapi yang pasti istrinya itu sedang stres. Si suami ini karena menghadapi istri yang stres itu tadi dia menjadi stres juga, melihat setiap kali pulang ke rumah menghadapi istri yang tingkah lakunya seperti itu lalu dia ikut-ikutan stres, nah stres ini dibawa ke kantor. Dia setiap kali datang ke kantor wajahnya itu sudah murung, kelihatan sekali itu perbedaannya. Anak buahnya, orang-orang atau rekan kerja yang di sebelahnya itu yang dekat-dekat dengan dia menjadi tidak enak, Pak Heman. Mau bertanya sesuatu juga sulit, nah ini tidak bisa disingkirkan, dia mau menyingkirkan istrinya ya tidak bisa, dia mau pindah pekerjaan yang sulit pada saat itu tidak bisa, rekan kerjanya juga tidak bisa mengusir dia dari situ. Ya sering kali dihibur-dihibur tapi tidak selesai masalahnya sampai berkelanjutan lama sekali.

HE : Saya kira ini suatu hal yang sering kita alami dan sangat biasa kita hadapi. Dalam hal ini adakalanya kita perlu untuk minta bantuan pihak ketiga, misalnya bisa lewat konseling pribadi tau konseling keluarga.

Adakalanya kita tidak kuat atau tidak bisa menghadapi stres itu sendirian dan kita perlu bantuan dari orang lain. Nah itu sebabnya juga di Alkitab misalnya dikatakan bahwa persekutuan itu penting, dengan kita sering bersekutu berarti ada saling berbagi beban dan itu memperbesar daya tahan kita dan juga memperingan stres yang kita alami. Jadi perlu ada waktu tenggang, maksudnya ada waktu di mana si suami ini bisa rileks sejenak atau bersama-sama dengan orang lain sharing kemudian saling berbagi beban dan juga mungkin perlu minta pertolongan seorang ahli.
GS : Tetapi masalahnya mulai dari mana, dari si suami itu atau dari istrinya atau dari orang yang menyebabkan istrinya stres?

HE : Saya kira bisa dilakukan mulai dari sang suami, tapi kalau lebih baik lagi kalau bisa sekaligus. Misalnya suami-istri datang bersama untuk konseling.

GS : Ya mungkin yang paling sulit itu kalau ada pihak yang merasa bahwa dirinya tidak stres. (ET : Padahal buat orang lain stres), buat orang lain stres itu terjadi, si suami ini pernah mengatakan kepada istrinya untuk hal itu. Tapi istrinya bilang saya ini tidak apa-apa, tetapi dengan nada marah dan sebagainya, jadi dia tidak terlalu sadar bahwa dia sedang stres, tapi suaminya mengindikasikan melihat istrinya ini stres.

HE : Tampaknya yang Pak Gunawan sebutkan ini mungkin sudah merupakan gangguan tingkah laku, (GS : Asal usulnya dari situ Pak, jadi berawal dari situ, mungkin tingkah lakunya memang sudah berbah sekarang).

Dan untuk ini memang harus ada bantuan ahli (GS : Berdua) ya berdua, memang tidak bisa dilakukan sendiri karena ada kemungkinan untuk hal-hal seperti ini perlu suatu keahlian khusus untuk penanganannya.

ET : Sebaliknya saya justru melihat kalau tadi kasusnya Pak Gunawan, sepertinya orang itu mudah stres. Sebaliknya ada orang yang pernah saya amati sungguh-sungguh tenang saja hidupnya, seperi tidak pernah susah, tidak pernah mengalami yang orang lain katakan stres ini.

Tapi kalau saya mengamati lebih jauh itu ada kesan kurang tantangan karena dia tidak pernah menghadapi, mungkin sebenarnya menghadapi tapi karena dia tidak menganggap itu sebagai kesulitan dan juga tidak menganggap itu sebagai tantangan rasanya juga ada yang kurang. Jadi sebenarnya stres itu rasanya ada unsur sampai titik tertentu kita butuhkan juga, betul atau tidak, Pak Heman?

HE : Betul, jadi stres itu sebetulnya mempunyai manfaat untuk melatih kita, sehingga kita juga sewaktu belajar menghadapi dan kemudian bisa mengatasinya, membuat hidup kita satu tahap lebih aju, kita bisa lebih matang, lebih dewasa.

ET : Kira-kira untuk orang yang seperti itu bagaimana supaya dia bisa tertantang juga, nyatanya benar-benar atau sungguh-sungguh menganggap segala sesuatunya begitu mudah.

HE : Ya adakalanya ada orang-orang yang mempunyai sifat dasar tertentu, yang memang agak kurang peduli dengan rangsangan dari sosialnya atau kurang begitu peka dengan lingkungan sosialnya. Y masing-masing kita punya potensi yang ada batasnya, ada orang yang kalau misalnya dia potensinya tidak terlalu besar untuk menanggapi situasi sosialnya, kita hanya bisa melatih sampai kepada batas potensinya itu.

Misalnya dengan lebih banyak melibatkan dia di dalam interaksi sosial sehingga dia juga mengenal berbagai jenis variasi di dalam hubungan sosial, tingkat kedalaman dan tingkat keintiman dari suatu hubungan sosial. Saya kira itu yang kita bisa lakukan.

ET : Latihan, soalnya memang rasanya semua masalah itu dianggap enteng setiap teman-teman yang punya masalah juga selalu begitu: "Begitu saja dipusingkan, kenapa harus dibuat stres, ayo kitahappy-happy saja begitu."

Jadi rasanya memang tidak bisa melihat kesulitan orang lain.

HE : Ya, tapi kadang-kadang juga ada orang yang suatu ketika ketemu batunya, suatu ketika misalnya karena kekurangpekaannya dia bisa menemui masalah. Misalnya dia tidak bisa memahami orang lin dan akhirnya orang lain juga jengkel kepada dia, suatu ketika dia mungkin juga frustrasi dan dia harus hadapi rasa frustrasinya itu.

GS : Pak Heman, berbicara tentang frustrasi, sebenarnya bagaimana seseorang disebut frustrasi?

HE : Ya kalau kita misalnya mempunyai suatu tujuan yang ingin kita capai, kita ingin mempunyai harapan tertentu tapi karena waktu kita menghadapi harapan itu, kita ingin mencapai itu ternyat mengalami hambatan, nah kondisi itu dikatakan sebagai frustrasi (GS : Semacam putus asa begitu ya) ya (GS : Belum sampai ke sana) katakan seperti contoh tadi dia ingin supaya hubungan dengan teman-temannya semua baik begitu.

Tetapi ternyata suatu ketika teman-temannya menjauh dari dia karena dia tidak bisa mengerti orang lain, nah dalam hal itu kita katakan frustrasi. Hambatan itu sendiri bisa kita katakan suatu kondisi stres dan menyebabkan adanya frustrasi, memang itu istilah yang berdekatan.
GS : Apakah seseorang yang sudah mengalami stres seperti tadi bisa menyembunyikan rasa stresnya itu di hadapan orang lain, Pak Heman?

HE : Ya adakalanya bisa, dia berusaha menampilkan dirinya yang lain, dia menutup dirinya rapat-rapat. Tapi saya kira untuk stres yang tingkat berat lama-lama orang lain juga akan tahu, akan erasakan bahwa dia sedang mengalami sesuatu.

GS : Ya karena tadi Pak Heman juga sudah singgung, stres bukan hanya karena masalah tetapi juga ada suatu kejutan yang bisa menimbulkan stres. Misalnya dia dapat hadiah itu, bonus yang besar di perusahaan lalu dia juga akan stres itu ya Pak?

HE : Itu yang dikatakannya sebagai U-stress. U-stress ini artinya bentuk stres yang menyenangkan dan tidak selalu hal-hal yang menyenangkan itu berarti tidak stres. Hal yang menyenangkan danterjadi secara mendadak itu bisa menyebabkan stres yang cukup besar juga, yang menyebabkan orang tidak bisa menyesuaikan diri lalu menimbulkan gangguan tingkah laku.

Ada contoh misalnya orang yang dipromosikan, dinaikkan pangkatnya, lalu dijadikan pimpinan di suatu perusahaan. Dia juga bisa stres karena dia harus menyesuaikan diri dengan jabatan yang barunya dan tentu itu dengan resiko-resiko yang lain.

(5) ET : Saya teringat tadi Pak Heman katakan tentang meningkatkan daya tahan, seumpama kalau masalah fisik dengan vitamin. Tadi Pak Heman sempat singgung soal cara berpikir saya kurang ini, mungkin Pak Heman bisa tolong menjelaskan lebih jauh tentang cara berpikir bagaimana yang bisa meningkatkan daya tahan kita terhadap stres?

HE : Baik, Ibu Esther, saya memberi contoh misalnya kalau kita mengalami suatu kegagalan pasti kita stres, tapi kita bisa berpikir dengan cara begini, wah kalau begitu saya ini orang yang gaal total, saya orang yang sudah hancur hidupnya dan tidak ada pengharapan lagi, lebih baik sekalian saja saya hancurkan hidup saya.

Nah ini adalah cara berpikir yang akan menimbulkan stres yang berkelanjutan dan mungkin bertumpuk, bertambah banyak, berakumulasi. Karena pada saat dia berusaha menghancurkan hidupnya lalu timbul masalah-masalah yang lain. Lebih baik dia berpikir seperti ini, orang yang gagal sekali itu misalnya adalah hanya merupakan sukses yang tertunda, nah yang penting bukan gagalnya itu tetapi yang penting adalah bagaimana mengatasi kegagalan itu, sehingga saya lebih maju dan lain kali lebih baik. Itu yang saya sebutkan cara-cara berpikir rasional dan lebih sehat untuk menghadapi stres dan sebetulnya masih banyak lagi cara berpikir.
GS : Tapi tentunya yang sangat dibutuhkan itu adalah penghiburan dan petunjuk dari firman Tuhan, bagaimana menghadapi stres khususnya pada saat-saat di sekeliling itu sebenarnya ada banyak alasan yang bisa menimbulkan kita stres. Pak Heman mungkin bisa membacakan sebagian firman Tuhan yang berkaitan dengan itu.

HE : Saya akan membacakan sebuah ayat yang ditulis oleh rasul Paulus, yang waktu itu berada di penjara. Rasul Paulus menulis untuk jemaat Filipi seperti ini, kita tahu bahwa rasul Paulus banak sekali mengalami stres karena pekerjaannya yang giat untuk memberitakan Injil dan firman Tuhan.

Diambil dari Filipi 4:13 "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Jadi apapun yang kita lakukan ingatlah bahwa kita melakukannya di dalam Tuhan dan kalau kita melakukan segala sesuatu di dalam Tuhan, Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita.
GS : Terima kasih sekali, Pak Heman, untuk penghiburan dari firman Tuhan itu dan saya rasa itu pasti akan sangat mendukung, menghiburkan saudara-saudara kita yang saat ini mungkin dalam keadaan stres.

Saudara-saudara pendengar demikianlah tadi telah Anda ikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dan juga Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bagaimana Menghadapi Stres". Pada kesempatan yang lain, kita akan melanjutkan perbicangan ini dengan sesuatu yang lebih spesifik lagi. Karenanya bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran serta pertanyaan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



4. Mengenal Depresi


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T094A (File MP3 T094A)


Abstrak:

Langkah orang ditentukan oleh Tuhan, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita, demikian juga depresi bisa menghantam siapapun termasuk kita anak-anak Tuhan.


Ringkasan:

Amsal 21:24, "Langkah orang ditentukan oleh Tuhan, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya." Kita ini sebetulnya tidak begitu tahu tentang masa depan atau langkah-langkah ke depan kita maka benar sekali firman Tuhan berkata bagaimanakah manusia bisa mengerti jalan hidupnya, sesungguhnya memang tidak mengerti, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Dan sesungguhnya depresi itu bisa menghantam siapapun termasuk kita. Kenapa orang atau kita bisa terkena depresi atau orang-orang yamg memang rentan terhadap depresi?

  1. Faktor fisik, adakalanya depresi disebabkan oleh hal-hal yang bersifat jasmaniah atau biologis. Yaitu lebih mengacu pada fungsi kerja sel-sel di otak kita atau kita sebut senyawa kimiawi. Contoh orang-orang yang menderita depresi ditemukan kekurangan senyawa kimiawi yang disebut sorotonin.
    Tanda orang terkena depresi yang paling jelas adalah
    1. Kehilangan minat pada hampir semua aspek kehidupannya, hal-hal yang biasanya dia lakukan tiba-tiba tidak menarik hatinya lagi dan tidak ingin dilakukannya lagi.

    2. Keresahan yang luar biasa, tegang terus bawaannya. Dan pada depresi yang sudah berat kita akan bisa lihat penampakan wajahnya yang kaku sekali.

  2. Selain faktor fisik di atas, depresi bisa muncul dari akibat fungsi otak kita.

  3. Depresi disebabkan oleh kondisi kehidupan kita, ini bisa menyerang siapapun, yaitu pada waktu tekanan hidup terlalu berat dan kita tak sanggup lagi untuk memikulnya. Di sini juga ada 2 tipe orang yaitu:

    1. Ada orang yang memang daya tahannya lemah sehingga waktu menanggung beban yang sedikit terlalu berat dia ambruk, dia mengalami depresi.

    2. Namun ada orang-orang yang normal yang biasa mempunyai daya tahan yang kuat namun terpukul terus-menerus oleh hempasan-hempasan dalam hidup sehingga akhirnya dia ambruk.

Jadi dapat saya simpulkan bahwa pada umumnya depresi disebabkan oleh karena ketidakseimbangan, ketidakseimbangan antara tekanan hidup dan daya tahan untuk menanggungnya.

Ada 2 jenis depresi yaitu:

  1. Depresi berat atau major depression. Orang secara tuntas dan total kehilangan kemampuan memaksa dirinya untuk mengerjakan hal-hal yang dia harus kerjakan.
  2. Depresi yang lebih ringan yang disebut destimia. Dalam hal ini orang masih bisa berfungsi pada umumnya meskipun depresinya berkepanjangan bulan demi bulan, tahun demi tahun namun dia masih bisa mengerjakan tugasnya.

Saran saya bagi yang sedang menderita depresi:

  1. Jangan berpikir bahwa Anda hanyalah menambahkan beban pada orang, sebab orang di sekitar kita justru ingin kita sembuh, ingin kita kembali seperti semula.

  2. Meskipun sulit untuk percaya pada orang, pada nasihat-nasihat tapi dengarkanlah nasihat-nasihat orang, pergilah ke dokter kalau memang itu yang diperlukan, makan obat secara teratur dan carilah orang yang bisa membantu memberikan petunjuk-petunjuk.

  3. Selalu berharap pada Tuhan sebab Tuhan tidak meninggalkan orang yang dalam kesusahan.

Firman Tuhan berkali-kali berkata : "Dia adalah penolong dalam kesesakan," orang yang depresi adalah orang yang sesak, nafas pun tidak enak, Dia berjanji Dialah penolong bagi orang yang dalam kesesakan. Amsal 21:18, "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat." Hiduplah dengan keseimbangan, pertimbangkan semuanya, rencanakan hidup ini jangan hidup sepertinya tidak ada aturan tidak ada pertimbangan. Hiduplah dengan penuh pertimbangan, hidup yang penuh pertimbangan, bisa menghindarkan diri kita dari depresi.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dan beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini kami beri judul "Mengenal Depresi". Kami percaya acara ini pasti menarik dan berguna bagi Anda sekalian. Maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, sekarang ini banyak orang membicarakan tentang depresi tapi saya rasa tidak banyak pula yang mengetahui secara utuh atau secara lengkap apa sebenarnya depresi itu, bagaimana timbulnya, bagaimana menanggulanginya dan seterusnya. Mungkin Pak Paul bisa menjelaskannya kepada kita semua?

PG : Saya akan mencoba lakukan itu Pak Gunawan, namun sebelum kita masuk ke sana saya ingin mengawali dengan membaca sebuah ayat dari Amsal 21:24 "Langkah orang ditentukan oleh uhan, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya."

Bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya, Pak Gunawan dan Ibu Esther. Akhir-akhir ini saya makin menyadari bahwa sedikit sekali tentang hidup ini, hidup yang ada dalam genggaman kita. Kita ini sebetulnya tidak begitu tahu tentang masa depan atau langkah-langkah ke depan kita, maka benar sekali firman Tuhan berkata bagaimanakah manusia bisa mengerti jalan hidupnya, sesungguhnya memang tidak mengerti, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Nah salah satu yang sering saya lihat juga adalah serangan depresi pada kita semua. Jangan sampai kita berkata bahwa o...depresi itu untuk orang-orang tertentu, memang nanti kita akan bahas ada tipe atau latar belakang tertentu yang bisa lebih merentankan kita terhadap depresi. Tapi sesungguhnya depresi itu bisa menghantam siapapun termasuk kita ini. Saya masih ingat sewaktu saya berkuliah, guru saya pernah berkata begini, "Jangan sampai kalian beranggapan bahwa kalian tidak pernah terkena gangguan jiwa atau tekanan hidup." Sebab dia bercerita ada klien saya yang datang kepada saya masih baik-baik saja, namun setelah melewati satu masa tertentu akhirnya kehilangan kewarasannya. Nah ada orang-orang yang juga seperti itu Pak Gunawan, dari kecil, remaja, dewasa hidup baik-baik namun tiba-tiba suatu ketika dihantam oleh depresi dan langsung roboh, tidak mau bekerja, tidak berani keluar rumah, ketakutan, cemas, berpikir yang tidak-tidak, murung, nah itu semua adalah bagian dari depresi. Untuk mulai menjawab yang tadi Pak Gunawan tanyakan, kenapa kita bisa terkena depresi, jawaban yang pertama adalah memang adakalanya depresi itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat jasmaniah atau biologis. Ini bukannya sesuatu yang terjadi pada jantung atau ginjal kita, tapi lebih mengacu pada fungsi kerja sel-sel di otak kita atau kita sebut senyawa kimiawi. Saya berikan satu contoh ada satu senyawa kimiawi yang disebut serotonin, entah mengapa serotonin ditemukan berkurang pada orang-orang yang menderita depresi. Maka salah satu obat antidepresan yang digunakan adalah obat untuk menambahkan kadar serotonin di otak penderitanya. Jadi sekali lagi kenapa pada orang tertentu bisa berkurang level serotoninnya kita tidak ketahui dengan pasti. Itu salah satu penyebabnya, Pak Gunawan.
(2) GS : Tetapi apa sebenarnya tanda-tanda orang yang terkena depresi, Pak Paul?

PG : Tanda yang paling jelas adalah kehilangan minat pada hampir semua aspek kehidupannya. Hal-hal yang biasanya dia lakukan, tiba-tiba tidak menarik lagi dan tidak ingin dilakukannya lagi. tu salah satu gejala yang ada pada semua penderita depresi, benar-benar kehilangan minat melakukan hal-hal yang biasanya dia lakukan.

Hal-hal yang dia suka lakukan tiba-tiba kehilangan daya tariknya dan tidak ada semangat sama sekali untuk mengerjakan apa-apa, inginnya berdiam diri. Tapi berdiam diripun serba salah karena waktu dia berdiam diri, dia dihantam juga oleh kecemasan yang begitu tinggi sehingga resah sekali. Jadi suatu perasaan yang menderita sebetulnya, sangat menyesakkan. Di satu pihak tidak berminat, maunya berdiam diri tapi waktu berdiam diri juga tidak menikmatinya sebab resah dan cemas luar biasa, jadi benar-benar suatu keadaan terhimpit.

ET : Dalam keadaan yang seperti itu, apakah ada perbedaan antara orang-orang yang misalnya memang tidak berminat tetapi akhirnya dia tetap bisa memaksa diri?

PG : Ada 2 jenis depresi yang biasanya kita pilah, pertama disebutnya depresi berat atau dalam bahasa Inggrisnya "major depression" atau kedua, depresi yang lebih ringan yang disebutnya destmia.

Dalam kasus depresi berat, orang itu secara tuntas dan total kehilangan kemampuan memaksa dirinya untuk mengerjakan hal-hal yang harus dia kerjakan. Dalam kasus destimia, orang ini masih bisa berfungsi pada umumnya meskipun depresinya berkepanjangan bulan demi bulan, tahun demi tahun namun dia masih bisa mengerjakan tugasnya, meskipun tadi Ibu Esther sudah singgung tidak ada lagi minat atau kenikmatan dalam mengerjakan semua itu.

ET : Mungkin berarti orang-orang yang seperti ini sepertinya masih berfungsi, tetapi mungkin sebenarnya bensinnya sudah tidak ada.

PG : Betul, jadi mereka seperti robot mengerjakan tugas sehari-hari, namun tidak ada lagi sukacita, sukacita itu benar-benar sudah terhilang dalam hidupnya. Mood orang-orang yang depresi, bak yang berat maupun yang lebih ringan biasanya di bawah murung, berat perasaannya.

Tanda-tanda lainnya misalnya adalah keresahan yang luar biasa, bawaannya tegang. Dan pada depresi yang sudah berat kita akan bisa lihat penampakan wajahnya yang kaku sekali, nah ini mungkin susah saya jelaskan. Tapi wajah kita ini wajah yang sebetulnya fleksibel, lentur, bisa senyum, tertawa, cemberut atau apa. Tapi orang yang terkena depresi berat wajahnya itu tidak lagi lentur, tidak lagi mempunyai ekspresi. Penampakannya hanya satu, benar-benar seperti kulit saja yang begitu keras menempel di wajah orang itu, kaku sekali, biasanya juga sorot matanya kosong dan hanya menatap pada satu arah meskipun tidak ada yang ditatapnya. Bisa orang ini tidur terus-menerus, tapi bisa juga jalan mondar-mandir namun kalau tidur tidak pernah merasa pulas. Jadi tidak pernah dia bangun tidur berkata saya senang karena telah tidur dengan nyenyak, dia tidak bisa berkata seperti itu. Sebab meskipun ia tidur, di dalam dirinya itu terjadi gejolak-gejolak yang membuat dia sangat tegang.
(3) GS : Tadi Pak Paul katakan ada orang-orang yang memang rentan terhadap depresi, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Selain dari faktor fisik yang tadi telah kita singgung, memang ada gangguan depresi yang muncul akibat fungsi di otak kita. Yang lebih umum juga adalah depresi itu disebabkan oleh kondii kehidupan kita, nah ini bisa menyerang siapapun yaitu pada waktu tekanan hidup terlalu berat dan kita tidak sanggup lagi untuk memikulnya.

Di sini saya perlu perjelas ada 2 tipe orang, yang pertama adalah ada orang yang memang daya tahannya lemah sehingga waktu menanggung beban yang sedikit terlalu berat dia roboh, dia mengalami depresi. Ada orang-orang normal yang biasa mempunyai daya tahan yang kuat, namun terpukul terus-menerus oleh hempasan-hempasan dalam hidup ini sehingga akhirnya dia roboh. Jadi dapat saya simpulkan bahwa pada umumnya depresi itu disebabkan oleh karena ketidakseimbangan, ketidakseimbangan antara tekanan hidup dan daya tahan untuk menanggungnya. Sewaktu terjadi kepincangan hasil akhirnya adalah depresi.
GS : Tetapi itu kalau kita bicara tentang daya tahan Pak Paul, sebenarnya seseorang bisa melatih dirinya atau mempersiapkan dirinya, nah apakah itu juga dimungkinkan?

PG : Sangat dimungkinkan, jadi ada orang-orang yang terlatih Pak Gunawan, menahan pukulan hidup bertubi-tubi namun tetap bisa berlangsung dan bertahan. Tapi ada orang yang memang kurang terltih, contohnya misalnya dia hidup dalam kecukupan, ketersediaan semua diberikan tidak perlu berjuang dan semuanya itu begitu mudah buat dia.

Bisa jadi orang seperti ini, tatkala mengalami misalnya kegagalan yang dia tidak harapkan bisa roboh, langsung roboh dan kita bertanya-tanya kenapa bisa seperti ini? Ya karena daya tahannya itu lemah, orang itu memang tidak terlatih.

ET : Sebaliknya saya menjadi tertarik dengan yang Pak Paul katakan, masalah fisik tentang senyawa kimia serotonin, apakah pasti orang-orang yang punya masalah dengan senyawa tersebut artinya akan selalu menjadi orang yang daya tahannya lemah?

PG : Betul Bu Esther, jadi ada orang-orang yang memang kita katakan dicenderungkan secara fisik untuk lebih rentan terhadap depresi, yaitu memang orang-orang yang level serotoninnya itu kurag atau lemah.

ET : Maksud saya kalau memang kita mengetahui punya kecenderungan seperti itu apakah memungkinkan misalnya dengan mengubah, ada sesuatu yang diubah dalam hidup yang membuat secara fisik memang punya kekurangan tetapi tetap mempunyai daya tahan, Pak Paul?

PG : Saya kira sangat dimungkinkan. Jadi pengalaman hidup, pelatihan, dukungan-dukungan orang untuk kita terus berjuang, tidak mudah menyerah itu akan berpengaruh secara positif terhadap perumbuhan diri kita, sehingga kita lebih bisa menanggung tekanan hidup ini.

Memang depresi itu dapat dikatakan karena faktor keturunan meskipun tidak semua kasus. Dan yang namanya faktor keturunan harus saya perjelas di sini yaitu bukan seperti penyakit darah tinggi yang diturunkan secara langsung, depresi itu kalau diturunkan faktornya itu sangat kecil dibandingkan dengan penyakit-penyakit fisik lainnya, nah jadi itu yang harus kita perhatikan. Tapi memang kalau orang itu rentan karena misalnya salah satu orang tuanya pernah terserang depresi yang berat, nah dia juga harus berhati-hati. Dia harus bisa mendeteksi kalau tekanan hidup itu mulai tidak tertanggungkan, dia harus bisa mengenali kemampuannya untuk menahan daya tekanan dari luar itu. Kalau dia tidak bisa mengenali kemampuannya atau keterbatasannya, takutnya waktu dia harus menanggung kehidupan yang seperti itu akhirnya benar-benar bisa roboh.

ET : Jadi kuncinya pengenalan terhadap kondisi, latar belakang keluarga dan diri sendiri ya, Pak Paul?

PG : Betul, jadi semakin kita bisa mengenal daya tahan kita, kita semakin bisa mempertahankan keseimbangan hidup ini. Jadi yang ingin saya garis bawahi di sini adalah keseimbangan hidup. Baha yang keluar itu harus sesuai dengan yang masuk, kalau kita terlalu banyak menerima tekanan-tekanan dan tidak ada yang bisa kita bagikan keluar akhirnya terjadilah ketidakseimbangan.

GS : Di dalam Alkitab ada suatu kisah, kisah Elia yang mungkin kalau sekarang kita sebut saja mengalami depresi ya, nah sebenarnya penyebabnya itu apa Pak Paul?

PG : Elia pada saat itu merasa sendirian, dia belum pernah merasa sendirian seperti itu maka tatkala dia sadari tidak ada lagi orang Israel yang masih menyembah Allah dia merasa sangat sendiian.

Lalu Izebel, istri Ahab mengeluarkan ancaman untuk membunuhnya. Yang menarik adalah dia sendiri berani menghadapi Ahab, rajanya dengan menghadapi lebih dari 400 nabi-nabi Baal dan Asyera. Tapi waktu menerima ancaman dari Izebel dia sangat ketakutan, kenapa dia bisa ketakutan diancam untuk dibunuh oleh Izebel itu, pada intinya adalah pada saat itu Elia merasa tidak ada lagi yang menopang dia, dia sangat sendirian, dia berjuang sendirian. Akhirnya dia terkena depresi dan rupanya dalam keadaan tegang sekali dia harus melarikan diri karena fisiknya melemah. Dalam keadaan fisik yang begitu melemah, pikiran itu bukan makin jernih malah makin tercemar, malah makin tidak rasional dia makin lari ketakutan. Maka waktu Tuhan mengunjungi Elia, yang pertama dia lakukan bukannya memarahi Elia atau memberi khotbah kepada Elia, Tuhan mengirimkan malaikat untuk memberikan makan pada Elia. Jadi di situ kita bisa melihat Tuhan memang mau menyeimbangkan hidup Elia lagi, setelah itu dia melarikan diri ke Gunung Horeb dan di sana Tuhan seolah-olah membiarkan dia beristirahat.
GS : Kemenangan yang dirasakan sebelum itu pasti dibanggakan, apakah itu tidak berdampak apa-apa di dalam dirinya?

PG : Yang menarik adalah rupanya tidak, jadi sewaktu kita mengalami depresi sungguh-sungguh kita ini tidak bisa mengingat hal-hal positif yang telah terjadi dalam hidup kita. Kecenderungan kta menegatifkan semua yang pernah kita alami secara positif.

Sungguh-sungguh, misalnya kita mencoba untuk meyakinkan orang yang depresi bahwa kita semua masih mencintai dia, dia akan tetap memfokuskan pada satu, dua orang yang mungkin tidak menunjukkan rasa simpatik kepadanya. Meskipun kita katakan kami mencintaimu, dia tetap akan berkata tidak, ada yang tidak menyukai saya. Jadi salah satu gejala yang umum atau pola pikir yang sering kali terdapat pada orang-orang yang depresi adalah pola pikir yang cenderung menegatifkan semua pengalaman, jadi dipukul rata dan kemudian dinegatifkan.

ET : Dan tentang pola pikir ini rasanya memang juga sudah terbentuk sejak kecil Pak Paul, dalam arti memang orangnya cenderung pesimis atau cenderung melihat yang negatif daripada positif, cara seperti ini yang terbawa sampai besar sehingga membuat dia menjadi lebih mudah depresi ya?

PG : Nah ini yang saya terus terang, Bu Esther, belum bisa pastikan apakah pola ini dapat ditemukan pada semua penderita depresi. Sebab saya juga pernah bertemu dengan para penderita depresiyang menurut pengakuan mereka waktu belum terkena depresi mereka orang-orang yang justru sangat positif, bersemangat, optimistis dalam hidup ini.

Namun memang tatkala terkena depresi, semua hal tiba-tiba menjadi sangat buruk, tidak ada lagi yang positif yang bisa diingatnya.
GS : Tapi mungkin juga lingkungan Pak Paul, tempat dia berada entah itu lingkungan pekerjaan atau keluarga yang mengitarinya memang bisa mengubah seseorang seperti itu.

PG : Apa maksud Pak Gunawan?

GS : Tadinya dia memang seseorang yang tabah, tapi masuk di suatu lingkungan yang tidak mendukung dia atau tidak membuat dia merasa aman dan sebagainya, apakah mungkin itu juga melemahkan daya tahannya terhadap tekanan-tekanan kehidupan itu?

PG : Sangat mungkin Pak Gunawan, jadi waktu seseorang merasa dipenjara oleh lingkungannya yang sangat buruk, reaksi depresi itu sangat umum. Jadi ini yang sering kali ditemui pada para tahann perang, mereka itu salah satu cara yang digunakan oleh para tentara untuk bisa mematahkan semangat tahanannya adalah dengan cara memisahkan para tahanan itu dari teman-temannya.

Sebab mereka tahu bahwa kalau disatukan dengan teman-teman, ini saling menguatkan sehingga resistensi mereka tambah kuat. Waktu misalnya diinterogasi atau apa mereka masih bisa bertahan, namun waktu mereka dipisahkan dan harus sendirian tiba-tiba yang terlihat adalah daya tahan mulai berkurang atau melemah. Jadi lingkungan memang sangat berperan besar di sini Pak Gunawan, ada orang-orang yang misalnya sebelum menikah hidup sangat kuat, positif, bekerja dengan baik kemudian memasuki pernikahan dan akhirnya pernikahan itu berubah menjadi sangat buruk. Tapi dia tidak bisa lepas dari penderitaan itu, dia harus hadapi hari lepas hari, akhirnya yang muncul adalah depresi.
GS : Ya saya rasa memang tepat sekali apa yang kita baca di dalam Alkitab, misalnya yang mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan persekutuan karena kita saling membutuhkan.

PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Jadi kalau orang itu dibawa oleh emosinya atau dorongannya untuk mengucilkan diri dan menolak untuk berkumpul dengan orang, keadaannya makin memburuk. Atau adkalanya justru memang lingkungan yang menolak karena dia biasanya dikenal sebagai orang yang kuat tiba-tiba sekarang roboh, lingkungan tidak bisa menerima dan membiarkannya sendirian, nah itu bahaya sekali.

Bahaya karena salah satu hal yang akan muncul dalam penderita depresi adalah keinginan mengakhiri hidup, jadi sekali lagi penting lingkungan itu bisa menjaga dengan baik-baik, mengawasi terus-menerus sehingga kesempatan untuk mengakhiri hidup itu bisa dihilangkan.

ET : Pak Paul, apakah pernah ditemukan sejauh mana hubungan antara orang yang cenderung introvert dengan kecenderungan depresi ini?

PG : Saya sudah melihat kasus yang dua-duanya Bu Esther, jadi ada orang yang introvert terkena depresi tapi juga ada orang yang ekstrovert terkena depresi, dua-duanya ada. Waktu sembuh dari epresi yang introvert ya tetap introvert, yang ekstrovert keluar ekstrovertnya.

ET : Jadi tidak berarti hanya orang-orang yang introvert punya kecenderungan mempunyai depresi ya?

PG : Tidak, jadi memang faktor introvert atau ekstrovert sebetulnya tidak begitu berpengaruh dalam hal depresi. Yang lebih berpengaruh sebetulnya adalah bagaimana seseorang melihat dirinya, enghargaan dirinya kalau negatif dari awalnya ya dia akan lebih rentan terhadap depresi.

Atau tadi Pak Gunawan sudah singgung, kalau dia terlalu menikmati kemudahan dalam hidup sehingga tidak terlatih untuk kuat menahan gempuran hidup ini, nah dia lebih mudah roboh. Yang lainnya adalah anak-anak yang dalam rumah tangganya dulu diperhadapkan dengan begitu banyak konflik antara orang tua, penuh ketegangan terus-menerus, nah dia akan membawa ketegangan yang besar dalam dirinya. Nah itu adalah benih depresi, sebab depresi itu sebetulnya kalau saya boleh umpamakan buah ketegangan yang sudah masak. Jadi ketegangan itu buahnya sedangkan kalau sudah masak itulah depresi.
GS : Memang ada banyak hal di dalam kehidupan seperti Pak Paul tadi bacakan di dalam Alkitab, yang kurang kita mengerti dan tidak bisa kita ketahui semuanya. Tetapi saya percaya bahwa masih ada harapan orang-orang yang mengalami depresi itu untuk bangkit dan meninggalkan kedepresiannya. Mungkin secara singkat Pak Paul bisa uraikan bagaimana itu?

PG : Saya tahu bahwa pada waktu kita mengalami depresi, Pak Gunawan, orang itu tidak lagi melihat cahaya, tidak melihat bahwa ada pengharapan. Jadi benar-benar yang dipikirkan adalah hidup ii sudah tidak ada lagi gunanya dan akan lebih baik kalau saya menyingkir dari hidup.

Sebab saya sudah menjadi beban buat lingkungan keluarga saya, buat orang-orang yang saya kasihi, nah buat apa saya menambah beban hidup mereka. Jadi saya mau menyampaikan pesan kepada para pendengar kita yang mungkin sedang menderita depresi pada saat ini. Pertama saya minta untuk Anda, jangan berpikir bahwa Anda hanyalah menambahkan beban pada orang, sebab orang di sekitar Anda justru ingin Anda sembuh, ingin kembali seperti semula. Mereka ingin menolong Anda jadi jangan menambah kesulitan mereka dalam menolong Anda. Dan yang kedua meskipun Anda sulit untuk percaya pada orang, pada nasihat-nasihat tapi dengarkanlah nasihat-nasihat orang, pergilah ke dokter kalau memang itu yang diperlukan, makanlah obat secara teratur dan carilah orang yang bisa membantu memberikan petunjuk-petunjuk dan yang ketiga adalah selalu berharap pada Tuhan, sebab Tuhan tidak meninggalkan orang yang dalam kesusahan. Firman Tuhan berkali-kali berkata: "Dia adalah penolong dalam kesesakan," orang yang depresi adalah orang yang sesak, nafaspun tidak enak, nah Dia berjanji Dialah penolong bagi orang yang dalam kesesakan. Nah ini dikatakan oleh firman Tuhan di Amsal 21:18 "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat." Kalau saya boleh terjemahkan dengan sederhana, hiduplah dengan keseimbangan, pertimbangkan semuanya, rencanakan hidup ini jangan hidup sepertinya tidak ada aturan dan tidak ada pertimbangan. Hiduplah dengan penuh pertimbangan bisa menghindarkan diri kita dari depresi.

GS : Saya percaya memang masih ada banyak segi yang perlu kita bicarakan mengenai depresi ini, mungkin kita bisa siapkan ini untuk pembicaraan yang mendatang. Jadi kita menghimbau para pendengar kita agar bisa mengikuti terus acara Telaga ini, sehingga mendapat gambaran yang lebih jelas lagi tentang depresi ini. Dan saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengenal Depresi". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



5. Transformasi Karakter


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T134A (File MP3 T134A)


Abstrak:

Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Yang merupakan hasil dari penyerahan hidup kepada Tuhan.


Ringkasan:

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) Pertanyaannya ialah, mengapakah "ciptaan yang lama" masih ada pada diri kita? Dengan kata lain, mengapakah sukar buat kita berubah?

Ada dua penyebab mengapa kita tidak mudah berubah meski telah menjadi orang percaya.

  1. Penyebab I: Kesalahpahaman pengertian akan firman Tuhan. Kita menganggap perubahan itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Roh Kudus. Kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah diri kita, bukan Roh Kudus. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

    Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Firman Tuhan berkata, " Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1) Transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup: makin berserah atau taat, makin berubahlah karakter kita.

  2. Penyebab II: Karakter sukar berubah sebab terkait erat dengan diri kita. Sebagian besar problem kejiwaan bersumber dari karakter manusia. Misalnya, ketergantungan pada narkoba dan gangguan relasi berhubungan dengan karakter. Itu sebabnya masalah-masalah ini tidak mudah hilang.

Kalau begitu, apakah dan seberapa besarnyakah peran Roh Kudus dalam pembentukan karakter kita?

  1. Pertama, Roh Kudus menunjukkan kepada kita kehendak Allah: apa yang baik dan sempurna, apa yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:2)

  2. Kedua, Roh Kudus menyediakan kekuatan kepada kita yang menaati-Nya. Firman Tuhan berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7)

Langkah Awal Menuju Pemulihan

  1. Mengakui bahwa kita bermasalah.
  2. Menerima pertolongan baik dari Tuhan maupun sesama.
  3. Menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini berjudul "Transformasi Karakter", kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan kali ini kita beri judul yang mungkin agak asing bagi sebagian pendengar dan kita sendiri, transformasi karakter sebenarnya apa itu Pak Paul?

PG : Begini Pak Gunawan, yang melatarbelakangi topik ini adalah sebuah pertanyaan yaitu mengapakah kita ini sukar berubah. Bukankah kita sebagai orang percaya kita sudah menerima Yesus sebagai uhan kita, kita mengundangnya masuk menjadi Tuhan dalam hidup kita dan kita meyakini firman Tuhan yang diambil dalam 2 Korintus 5:17 yang berbunyi: jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Nah pertanyaannya adalah kenapa ciptaan yang baru itu lama datangnya. Kita yang lama masih terus bercokol, jadi itu sebabnyalah pada saat ini kita mengangkat topik bagaimanakah caranya mengubah atau menstranformasi karakter kita sewaktu kita sudah menjadi percaya.
GS : Pengertian karakter itu sama atau tidak dengan sifat itu Pak?

PG : Sama, jadi memang ada beberapa istilah yang digunakan untuk makna yang sama ya bisa itu sifat, bisa itu kepribadian dan bisa itu karakter.

WL : Pak Paul waktu menyebutkan di II Korintus 5:17 itu saya ingat masa ketika saya baru lahir baru ya itu salah satu ayat hafalan saya yang benar-benar wah saya ingat sekali, tapi sekaligus membuat saya frustrasi. Di rumah saya masih sering marah-marah Pak Paul. Di rumah misalnya sedang menghadapi apa yang tidak menyenangkan saya misalnya konflik dengan orang tua atau apa begitu terus saya jadi berpikir kenapa saya kok tidak berubah, katanya kita sudah ciptaan baru dan itu juga suka disindir di rumah atau teman atau siapa, pusing kepala juga Pak Paul, jadi kaitannya bagaimana Pak Paul, bisa tolong jelaskan?

PG : Yang pertama ini Bu Wulan, kita mesti jelas dulu waktu kita membicarakan tentang perubahan. Sebetulnya perubahan apakah yang memang sewajarnya terjadi dalam diri kita setelah kita menjadi rang percaya.

Ayat yang akan saya ambil adalah ayat di Roma 12:2 ini menjadi dasar diskusi kita. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Firman Tuhan berkata berubahlah oleh pembaharuan budimu. Nah kata budi sebetulnya berasal dari kata pikiran, dengan kata lain perubahan seharusnya terjadi di daerah rasional atau di daerah sudut pAndang, cara melihat situasi atau cara bersikap, cara memberikan reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Nah pola pikir itulah yang seharusnya berubah, jadi waktu tadi ibu Wulan berkata pada masa-masa awal setelah pertobatan ibu juga tetap bergumul dengan sifat yang sama dan sebagainya, nah sebetulnya dalam pengertian ini Ibu Wulan, reaksi-reaksi marah itu, emosi-emosi tersebut sesungguhnya adalah efek atau buah dari cara pAndang. Karena asumsinya, begitu cara pAndang berubah maka emosi yang menyertai cara pAndang tersebut juga akan berubah. Kita misalkan tidak lagi melihat bahwa orang tua kita atau keluarga kita sengaja menjengkelkan kita, kita akan mengubah cara pAndang kita dan berkata bahwa o.......mereka bukannya sengaja menjengkelkan kita, tapi itulah kelemahan mereka. Nah waktu kita mengubah cara pAndang itu, maka akan berubah pulalah reaksi emosional yang sebelumnya menyertai cara pikir kita.
GS : Padahal cara pAndang itu bukankah sudah terpola sedemikian lama di dalam diri kita itu Pak Paul?

PG : Betul sekali, cara pAndang sudah tercetak dalam benak kita, nah untuk mengubahnya akan memerlukan waktu. Sudah tentu akan ada hal-hal yang lebih mudah berubah, yang mudah mengelupas saya gnakan istilah itu ya, tapi ada hal-hal yang sukar mengelupas, nah mungkin ini nanti yang akan lebih kita fokuskan Pak Gunawan, yang sukar kok tidak mudah untuk mengelupas.

WL : Waktu disebut ada yang butuh waktu, ada yang lebih gampang begitu berarti ada proses. Ada kaitannya atau tidak Pak Paul kalau saya kaitkan dengan "pola kerjanya" Tuhan lebih ke arah proses bukan yang instan. Misalnya setiap bayi yang lahir saya belum pernah mendengar begitu lahir langsung dewasa, pasti melewati masa kanak-kanak, remaja, pemuda sampai dewasa, ada tahapan selalu ada proses. Apakah seperti itu, terus waktu bangsa Israel keluar dari Mesir ke tanah Kanaan juga ada maksud lain untuk membentuk bangsa Israel yaitu diputar dulu. Sebenarnya Tuhan 'kan Maha Kuasa kalau mau merubah memakai jalan pintas, tapi tidak, selalu ada proses apakah ada kaitannya dengan itu Pak Paul?

PG : Tepat sekali, kadang-kadang Tuhan bekerja dengan cara supernatural, cepat sekali, tapi kebanyakan Tuhan akan bekerja melalui proses yang lebih alamiah. Saya berikan contoh, saya teringat aa teman saya sewaktu bertobat dia langsung berdoa meminta Tuhan memutuskan keterikatannya pada rokok dan seketika rokok itu lepas, dia tidak pernah lagi merokok sama sekali.

Tapi juga ada orang-orang dan ini yang lebih banyak, setelah bertobat meminta Tuhan melepaskannya dari rokok tapi tidak langsung lepas nah yang lebih sering terjadi adalah mereka harus bergumul melewati proses yang panjang, jatuh bangun untuk supaya bisa berhenti merokok.
GS : Ya tadi yang Pak Paul kutib dari rasul Paulus, pengalaman rasul Paulus sendiri bagaimana Pak Paul?

PG : Begini Pak Gunawan, rasul Paulus juga membagikan pergumulannya, dia tidak membagikan kemenangan yang seketika. Misalkan kalau kita membaca Roma 6-7, rasul Paulus membagikan pegumulannya dengan hal-hal yang tetap mengganggunya.

Dia tidak selalu bisa mengerjakan hal yang dia tahu baik, dia tidak selalu bisa menahan diri tidak melakukan hal yang tidak baik, dengan kata lain Paulus dengan jujur mengatakan diapun harus melewati proses pertumbuhan jatuh bangun, bergumul untuk bisa melepaskan bagian-bagian tertentu dalam hidupnya. Jadi transformasi karakter dalam diri Paulus pun harus berjalan melewati proses waktu.
GS : Ya mungkin di situ ada salah pengertian Pak Paul, ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang harus lahir baru, bukankah kelahiran itu terjadi seketika, tidak sedikit lalu lain waktu sedikit, itu gimana Pak Paul?

PG : Setuju sekali Pak Gunawan, saya kira kesalahpahaman pemahaman akan firman Tuhan saya kira salah satu penyebab mengapa transformasi karakter tidak terjadi. Nah firman Tuhan yang telah kita aca tadi di Roma 12:2 menegaskan bahwa tanggung jawab berubah ada pada pundak kita bukan pada pundak Roh Kudus.

Sering kali kita beranggapan karena kita adalah Bait Allah, tubuh kita adalah tempat di mana Allah sekarang tinggal, maka Allahlah yang akan mengerjakan semua perubahan itu pada diri kita, tidak demikian. Justru firman Tuhan berkata berubahlah, jadi firman Tuhan meminta kita berubah. Jadi sekali lagi saya ingin tegaskan tanggung jawab mengubah diri terletak pada kita sendiri. Yang berikutnya yang berkaitan dengan ini juga adalah kita sering kali menganggap bahwa Tuhan akan mengirimkan kuasa-Nya dari luar diri kita yanG akan langsung memasuki kita, mengobrak-abrik sistem hidup kita, menciptakan sesuatu yang baru dalam diri kita, tidak demikian juga. Tuhan tidak mengirimkan sesuatu dari luar diri kita untuk langsung mendobrak dan menciptakan sesuatu yang baru. Tuhan akan menggunakan sesuatu yang berasal dari dalam diri kita sendiri yang nantinya akan menyebabkan perubahan karakter, dengan kata lain transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar, melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Nah firman Tuhan berkata: "Karena itu saudara-saudara demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati." Nah firman Tuhan meminta kita untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan sebagai persembahan yang kudus dan yang hidup itu. Dengan kata lain prinsip ini yang akan terjadi Pak Gunawan yaitu transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup. Makin berserah atau taat makin berubahlah karakter kita, jadi dengan kata lain kita berandil sangat besar dalam proses perubahan karakter kita ini, sangat besar sekali peranan kita yaitu peranan menyerahkan, menaati lagi, menaati lagi, menaati lagi. Nah ternyata firman Tuhan memang meminta kita begitu mempersembahkan, mempersembahkan, menyerahkan, menyerahkan. Dan ternyata waktu kita menyerahkan hidup, menaati Tuhan nah hasil dari penyerahan itu barulah perubahan karakter.
WL : Pak Paul, kalau ada orang yang akhirnya berhasil walaupun tidak sempurna melewati tahapan itu, bisa berhasil berubah apakah dia bisa berkata ini karena hasil kerja saya, hasil kerja keras saya, saya merubah semua yang ada dalam saya, saya melaksanakan tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan, nah apakah bisa seperti itu begitu. Terus porsinya Roh Kudus bagaimana kalau dikatakan secara kasar?

PG : OK, kadang-kadang memang kita ini terlempar ke satu kubu, satu ekstrim sehingga kehilangan keseimbangan. Nah di satu pihak memang Tuhan meminta kita berperan dalam proses perubahan karakte kita ini, kita diperbaharui menjadi seperti Kristus.

Nah kitanya berandil, jangan sampai kita mempunyai konsep Tuhanlah yang melakukan segalanya, jadi kalau saya masih belum berubah yang salah Tuhan, tidak, Tuhan meminta kitanya yang mengerjakan tugas itu. Namun kita harus menyadari bahwa kadang kala justru Tuhan itu secara tidak nyata bekerja dan memberikan kuasaNya kepada kita. Nah kita memang tidak melihatnya seperti halilintar yang turun atas kita, tapi sebetulnya di tengah-tengah pergumulan kita itu juga Tuhan bekerja. Nah tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pekerjaan Tuhan, jadi waktu manusianya menaati Tuhan di situ juga Tuhan bekerja.
GS : Pak Paul, apakah ada penyebab yang lain selain karena kita salah mengartikan firman Tuhan, bagian tertentu dari firman Tuhan itu tentang perubahan atau transformasi karakter ini?

PG : Kadang kala ini Pak Gunawan, kenapa kita susah berubah selain dari kesalahpahaman tadi, saya kira karena karakter itu sesuatu yang melekat erat pada diri kita, karakter itu sesuatu yang meupakan bagian diri kita, siapa kita apa adanya.

Nah apakah mudah mengubah siapa diri kita apa adanya itu, saya kira memang sukar sekali. Jadi saya berikan contoh tentang misalkan tadi merokok, kenapa kok sukar melepaskan rokok memang adanya keterikatan, kecanduan pada rokok itu sendiri, namun di luar dari soal kecanduan secara fisik itu, kecanduan yang terbesar adalah kecanduan psikologisnya. Memang tubuh akhirnya menuntut adanya nikotin yang masuk, tapi sebetulnya yang paling berat adalah dalam kasus kecanduan adalah kecanduan secara psikologis. Waktu dia bingung mengerjakan sesuatu dia memerlukan rokok, waktu dia lagi rasanya tertekan, terhimpit dia memerlukan rokok, waktu dia tidak bisa berpikir dan konsentrasi dia memerlukan rokok, dengan kata lain rokok menjadi penopang hidupnya secara psikologis. Nah ini yang susah berubah sebab ini sudah menjadi bagian dari kepribadiannya, jadi kita mesti memang memaklumi bahwa transformasi karakter memerlukan waktu panjang dan usaha keras. Ini adalah siapa diri kita dan kita sudah begitu terkait dengan semuanya.
WL : Pak Paul, kalau seperti itu berarti respons gereja seharusnya menolong ya orang-orang seperti ini yang bergumul terus untuk hidup berkemenangan dan bukan mengucilkan. Tapi realitanya di dalam banyak gereja tidak seperti itu, justru yang lebih diterima, lebih maksudnya dalam pergaulan lebih "diagungkan" orang-orang yang tingkah laku agamanya bagus, itu bukan yang inside out kalau kita pinjam istilahnya Larry Crap atau siapa, bagaimana Pak Paul?

PG : Ya saya kira kecenderungannya kita di gereja memang memfokuskan pada penampilan, dan kita mau melihat yang bersih, yang indah-indah. Jadi sedikit sekali perhatian yang diberikan kepada faka yang sebetulnya menjadi isi dari penampilan itu dan isinya sebetulnya adalah dosa, pergumulan hidup ini.

Tugas kitalah sebagai hamba-hamba Tuhan berani mengangkat isi yang melatarbelakangi penampilan-penampilan yang bersih-bersih di luar itu, sehingga jemaat pun atau orang-orang Kristen lebih berani juga untuk apa adanya.
GS : Ya itu karena tadi Pak Paul katakan bahwa karakter itu memang menyatu dalam diri seseorang, menjadi bagian dalam hidupnya selama orang itu tidak menyadari bahwa itu adalah suatu karakter yang Tuhan tidak berkenan, dia akan tetap bertahan hidup di dalam karakter itu Pak Paul.

PG : Betul sekali, itu sebabnya kita selalu tetap berkata Roh Kudus berperan, kita tidak bisa melihatnya secara langsung tapi Roh Kudus berperan dalam perubahan karakter kita ini. Peranan seperi apakah yang Roh Kudus akan lakukan, yang tadi Pak Gunawan munculkan yaitu Roh Kudus memberitahukan kita apa yang benar, yang baik, yang Tuhan inginkan nah itulah yang perlu kita ketahui.

Sebab tepat sekali tadi Pak Gunawan sudah singgung, sebab adakalanya kita tidak tahu bahwa itu tidak boleh, dan itu tidak baik dan kita menganggapnya tidak apa-apa. Misalkan: o....tidak apa-apa berbohong asal tidak merugikan siapa-siapa, nah pertanyaannya nomor satu apakah tidak merugikan siapa-siapa, saya kira berbohong akan merugikan seseorang itu salah satu argumennya. Tapi yang kedua adalah bahwa memang Tuhan tidak menyetujui perilaku berbohong itu, nah Roh Kuduslah yang akan memberitahukan kita, melalui apa? Melalui firman Tuhan yang kita baca, di dalam perenungan kita akan firman Tuhanlah Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita, ini yang Tuhan minta, ini yang merupakan stAndar Tuhan. Nah jadi peranan pertama Roh Kudus dalam perubahan karakter kita adalah memberitahukan stAndar Tuhan, apa yang Tuhan inginkan jadi kita tahu arahnya dalam perubahan karakter kita ini.
WL : Tapi Alkitab tidak memberikan semua penjelasan sampai detail Pak Paul, tidak boleh A, tidak boleh B, tidak boleh C begitu. Pak Paul, bisa atau tidak memberikan rambu-rambu untuk pendengar mengerti yang kira-kira tidak mendukakan Tuhan?

PG : Bisa kita langsung gunakan atribut Tuhan yang hakiki yaitu kekudusanNya dan kasihNya. Jadi apakah yang kita lakukan ini merupakan wujud dari kasih kepada sesama kita dan kepada Tuhan, sebak apapun yang kita lakukan tanpa kasih itu kita tahu sebetulnya Tuhan tidak berkenan, itu prinsip pertama.

Prinsip kedua adalah kekudusan Tuhan, kita selalu bisa mengecek apakah ini berdosa kalau Alkitab memang jelas katakan berdosa, sebaik apapun terdengar di telinga kita, kita tetap tidak lakukan jadi mungkin secara garis besar itu saja.
GS : Ya kalaupun Roh Kudus itu sudah memberitahukan kepada kita ini dosa, Tuhan tidak berkenan, tetapi kita itu sudah berusaha namun tetap gagal Pak Paul. Nah tetap jatuh bangun, jatuh bangun lama-lama bosa, timbul kejenuhan wah memang saya tidak bisa lepas dari satu ini, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Sekali lagi saya ingin ingatkan bahwa memang jatuh bangun merupakan prosesnya, namun pada akhirnya kita akan lebih bisa mengatasinya. Bagaimanakah kita lebih bisa mengatasinya? Kita harus erjuang untuk menaati Tuhan, tidak selalu berhasil tapi kita harus berjuang menaati Tuhan.

Firman Tuhan di 2 Korintus 4:7 berkata: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, (nah Paulus menggunakan metafora diri atau tubuh kita ini sebagai bejana tanah liat) supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami". Dengan kata lain kekuatan untuk hidup seperti yang Tuhan kehendaki berasal dari Tuhan sendiri. Nah tapi jangan salah sangka dan berkata waktu kita menjadi orang percaya kita mendapatkan transfer kekuatan itu langsung dari Tuhan, tidak. Harus ada kuncinya, dengan kata lain kita ini hendak memasuki rumah kita mesti ada kuncinya, kita ingin menjalankan mobil yang mempunyai kekuatan itu untuk berjalan perlu ada kuncinya, nah kuncinya adalah ketaatan. Kalau kita taat mobil itu berjalan, kekuatan itu bisa didayagunakan, kalau kita taat kekuatan Roh Kudus itu baru berfungsi, kalau kita tidak taat kekuatan dari Roh Kudus itu tidak berfungsi juga. Nah dua-duanya ini berjalan pada saat yang sama, waktu manusia berkata saya mau taat, di titik itu, di detik itu jugalah kekuatan dari Roh Kudus masuk dan menolong. Tapi waktu manusia berkata ah saya tidak mau, saya tidak bisa ah, di situ jugalah kekuatan dari Roh Kudus berhenti berfungsi. Jadi keduanya bekerja pada detik yang sama.
GS : Pak Paul, orang yang sudah lahir baru, orang yang sudah mulai mengalami transformasi karakter, apakah dia bisa menyadari bahwa sedang terjadi sesuatu dalam dirinya.

PG : Saya kira kalau dia terus berusaha mencari Tuhan, membaca firman Tuhan, dia makin menyadari problem-problem yang masih tersisa dalam hidupnya karena sekali lagi Roh Kudus akan memberitahuknnya, Roh Kudus akan berkata kepada kita: "O...o...kamu

tadi tidak jujur, o....o....kamu tadi tidak tulus, o........o.....kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, Roh Kudus akan memberitahukan kepada kita, itu kerja Roh Kudus. Nah apa yang harus kita lakukan waktu Roh Kudus memberitahu kita, mengakuinya. Maka langkah pertama selalu waktu menghadapi hal-hal seperti ini kita harus mengakui ya saya salah, ya saya punya problem, ya memang saya kurang bisa mengasihi, ya memang saya masih dengki, masih suka iri dan sebagainya, kita mesti mengakui problem kita itu.
WL : Pak Paul, kalau kita sudah mengakui bahwa kita memang bermasalah tetapi ada masalah-masalah tertentu yang misalnya ada kaitannya dengan latar belakang keluarga kita. Misalnya ada moment tertentu di masa kecil yang menyebabkan kita agak sulit melepaskan sifat jelek ini. Nah Pak Paul kira-kira memberikan pedoman bagaimana?

PG : Kalau kita sudah bisa mengakui saja bahwa saya mempunyai masalah ini, yang kedua memang kita harus merendahkan hati untuk meminta pertolongan. Nah seberat apapun problem kita terkait denga masa lalu kita atau apa kita mesti memberanikan diri meminta pertolongan baik itu dari Tuhan maupun dari sesama.

Saya sering kali melihat, yang menghalangi kita mendapatkan kesembuhan salah satunya adalah kita angkuh, kita gengsi, kita malu cerita, kita malu membuka diri karena misalkan masalah ini terkait dengan keluarga kita dulu. Jadi prinsipnya adalah bersedialah meminta bantuan, jangan sampai kita mengeraskan hati berkata saya bisa lakukan ini semuanya, tidak. Minta Tuhan menolong kita dan terbuka dengan cara Tuhan menolong kita. Yang sering kali Tuhan lakukan memakai orang-orang lain menolong kita pula.
GS : Langkah berikutnya apalagi Pak Paul?

PG : Prinsip yang terakhir ini Pak Gunawan, tadi saya sudah singgung sedikit yaitu menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari. Yaitu kalau kita belum bisa mengampuni pebuatan misalnya seseorang yang sangat keterlaluan, ok hari ini minta Tuhan menolong kita mengampuni perbuatannya yang lain yang menyakiti kita, tapi kadarnya lebih ringan.

Jadi selalu maju meskipun langkah kita sedikit, kecil, tidak apa-apa. Kadang kala kita duduk terdiam tidak bisa maju karena memikirkan langkah besar yang harus kita ambil dan kita merasa tidak mampu, jangan. Lakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa mengampuni perbuatan yang sangat buruk kepada kita, mulailah mengampuni hal-hal yang buruk, yang tidak terlalu besar yang pernah menimpa kita itu. Jadi prinsipnya lakukan meskipun hanya sedikit. Kita belum bisa memberikan misalkan persembahan satu juta, Tuhan tidak minta kita memberikan persembahan 1 juta, mulai dengan seribu perak, mulai dengan seperti itu. Jadi menaati Tuhan sedikit demi sedikit dan hari lepas hari, artinya hari ini kita taati, sudah, jangan pikirkan besok bisa atau tidak ya, saya harus konsekuen besok-besok juga harus begini, tidak, hitung saja hari ini cukup.
GS : Yang penting itu ada langkah awal yang harus dilakukan.

PG : Betul sekali Pak Gunawan.

GS : Jadi saya rasa menarik sekali perbincangan kita kali ini Pak Paul, dan terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada kita juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian yang telah setia mengikuti acara ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Transformasi Karakter". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



6. Lima Faktor Kepribadian Sehat


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T165B (File MP3 T165B)


Abstrak:

Ada lima karakteristik kepribadian sehat yang dibahas, yaitu neurotisisme, ekstraversi, keterbukaan terhadap pengalaman hidup, "agreeableness" dan hidup penuh tanggungjawab.


Ringkasan:

Ada banyak cara mengukur berapa sehat tidaknya kepribadian seseorang, salah satunya adalah melalui lima karakteristik berikut ini:

  1. Neurotisisme: Faktor ini merujuk kepada kesanggupan orang menanggung tekanan hidup. Orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki tuntutan yang tidak realistik sehingga rawan terhadap stres bila keinginannya tidak tercapai. Akibatnya ia rentan terhadap depresi dan kemarahan. Kerap kali ia dibuat lumpuh oleh masalahnya atau, ia akan menyalurkan stres itu ke tubuhnya yang membuatnya sakit-sakitan. Sebaliknya, orang yang sehat adalah orang yang mampu menahan stres tanpa harus dikuasai oleh kecemasan yang berlebihan.

  2. Ekstraversi: Faktor ini merujuk kepada keterbukaan orang dengan dirinya termasuk pikiran dan perasaannya. Ia sanggup mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan tepat dan bebas sehingga mampu membangun relasi yang dalam dengan sesama. Ia memiliki energi yang tinggi dan mudah bersukacita, ia hangat dan menyenangkan.

  3. Openness to Experience: Faktor ini merujuk kepada semangat untuk hidup dan keterbukaan terhadap pengalaman hidup. Ia tidak takut pada pengalaman baru, bersedia mencoba pengalaman yang baru, dan mengizinkan diri untuk menghayati pengalaman hidup sepenuhnya. Ia terbuka terhadap reaksi perasaannya dan cenderung imajinatif.

  4. Agreeableness: Faktor ini merujuk kepada karakteristik yang lembut, baik hati, mudah percaya, ringan tangan, dan pemaaf. Lawan dari karakteristik ini adalah antagonistik-sinis, kasar, penuh curiga, sukar kerja sama, mudah marah, dan manipulatif.

  5. Conscientiousness (Tanggung jawab): Faktor ini merujuk kepada orang yang mampu menjalankan hidupnya dengan penuh tanggung jawab. Ia memiliki komitmen pada kewajibannya dan sanggup memenuhinya. Ia mempunyai tujuan hidup yang jelas dan target yang dapat dicapainya. Orang ini tidak mudah menyerah dan berdisiplin diri.

Firman Tuhan: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1Korintus 13:13)

Kesimpulan: Orang yang sehat adalah orang yang beriman, berpengharapan, dan mengasihi.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun Anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Lima Faktor Kepribadian Sehat". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, banyak orang menaruh perhatian besar terhadap kesehatan tubuhnya, tetapi tentang kepribadiannya sendiri sebenarnya juga dibutuhkan sehat supaya menjadi orang yang utuh, begitu ya, Pak Paul. Apakah ada cara bagaimana kita bisa mengetahui kepribadian saya ini sehat atau tidak, begitu Pak Paul. Kalau kita sedang sakit jasmani terasa, sedang flu atau apa, kalau kepribadian ini bagaimana mengukurnya, Pak Paul?

PG : Nah untungnya ada, Pak Gunawan, sebagaimana kesehatan fisik atau jasmani itu dapat ditentukan berdasarkan tolok ukur tertentu, misalkan suhu badan sampai titik berapa itu sehat, terlalu paas atau terlalu dingin berapa, itu tidak sehat.

Nah kesehatan jiwa juga masih bisa diukur meskipun standardnya itu lebih relatif tidak selugas seperti ilmu medis. Ada beberapa hal yang bisa dilihat, dijadikan tolok ukur. Dalam sejarahnya, kepribadian manusia itu diteliti dan diteliti terus oleh para ahli jiwa, misalkan dulu sekali dikatakan ada tiga point besar, ada tiga tolok ukur besar terus belakangan berkembang menjadi 16 tolok ukurnya. Itu menjadi sifat atau karakter yang dilihat dalam sebuah kepribadian. Yang saya akan ungkap pada saat ini adalah lima yang mencakup hampir semua ciri-ciri kepribadian manusia. Dari lima ini kita bisa menimbang-nimbang berapa sehat atau tidak sehatnya kita. Yang pertama adalah yang disebut neurotisme dari kata neurotis, ini sebetulnya kata yang berarti kesanggupan orang untuk menanggung tekanan hidup. Artinya berapa rentannya dia terhadap stres, misalkan orang yang neurotisismenya tinggi adalah orang yang memiliki tuntutan yang tidak terlalu realistik sehingga dia rawan terhadap stres bila keinginannya tidak tercapai. Dia juga rentan terhadap depresi dan kemarahan karena yang diinginkannya tidak terjadi. Kerap kali ia dibuat lumpuh oleh masalahnya ini atau ia mungkin saja menyalurkan stresnya itu ke tubuhnya yang membuat dia sering sakit-sakitan. Orang yang sehat adalah orang yang mampu menahan stres tanpa harus dikuasai oleh kecemasan yang berlebihan. Jadi memang istilah neurotisisme mengacu kepada semua ini ciri-cirinya. Semakin tinggi neurotisismenya berarti semakin rentan dia terhadap stres, semakin mudah kacau, semakin mudah tidak bisa terfokus lagi menghadapi masalah, mungkin emosinya turun naik, mudah marah meletup-letup atau ambruk, depresi. Itulah kalau kita mau melihat sehat atau tidaknya orang dari salah satu faktor ini.
WL : Sulit juga ya menentukan seseorang itu sanggup menahan tekanan hidup atau tidak, karena secara umumnya kelihatannya OK waktu dapat masalah tertentu, tapi sebenarnya dia telan, dia tekan di-represi, dan tahunya beberapa tahun kemudian ada masalah tidak sebesar itu tapi benar-benar tiba-tiba seperti memukul dia dan "bleg" tiba-tiba depresi berat. Yang saya tahu dari beberapa masalah orang yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, banyak di antara mereka yang ini, Pak Paul, hanya karena (bagi saya) masalahnya tidak terlalu besar, jadi misalnya sudah kuliah di Universitas terkenal terus sampai semester ke berapa saya lupa dianggap tidak bisa lanjut, pada saat itu tiba-tiba depresi berat. Secara umum orang akan melihat, masa masalah begitu saja kamu tidak kuat/sanggup. Cukup menarik, Pak Paul.

PG : OK, itu point yang bagus sekali, Bu Wulan, maka yang nanti kita harus lihat adalah sejarahnya, jadi kita harus melihat bukan saja pada kurun itu, tapi kita mau melihat ke belakang, berapa eringnya dia mengidap stres, berapa parahnya juga waktu dia mengidap stres dan apakah masalahnya memang masalah-masalah yang sah, misalkan orang terkena bencana, belum pulih terkena lagi bencana yang besar berkali-kali, seperti jatuh tertimpa tangga, maka kita akan berkata siapa pun dalam kondisi dia akan stres berat.

Kita tidak melabelkan dia mempunyai tingkat neurotisisme yang terlalu tinggi, tidak! Tapi misalkan kita melihat ya memang masalah-masalahnya relatif kecil-kecil namun berkepanjangan, teman tidak mau diajak pergi, langsung marah tidak mau ketemu orang 2 sampai 3 hari misalnya seperti itu, atau meminta bantuan tapi tidak didapatkan terus dia marah, dia menawarkan bantuan, orang tidak mau menerima bantuannya, dia juga marah, tersinggung. Kalau kita melihat pola seperti itu, maka kita katakan tingkat neurotisismenya tinggi dan ini bukanlah ciri kepribadian yang sehat.
GS : Ada orang yang memang kalau mendapat dukungan dari teman-temannya, dia masih tabah masih bisa menahan, tapi kalau sendirian dia goyah dan dalam hal ini dia harus dinilai ketika dia sendirian, begitu Pak Paul?

PG : Ketika sendirian, betul sekali. Nah meskipun kita bisa katakan juga, apakah pengaruhnya teman-teman itu besar? Besar sekali ya, kalau kita mendapatkan banyak dukungan, itu sangat menolongkita, maka ada kalanya masalah ini tidak nampak karena selama ini dukungan sangat kuat, keluarga sangat mengayomi sehingga tidak kelihatan, kemudian lepas dari keluarga tiba-tiba ada masalah kecil muncul langsung ambruk.

Barulah kita tahu bahwa pada dasarnya daya tahan dia lemah, tapi tidak nampak karena selalu ditutupi oleh campur tangan dan pertolongan pihak lain.
GS : Tolok ukur yang lain apa, Pak Paul?

PG : Yang lain adalah yang disebut ekstraversi, ini dari kata extrovert. Faktor ini merujuk pada keterbukaan orang dengan dirinya termasuk pikiran dan perasaannya. Artinya dia sanggup mengeksprsikan pikiran dan perasaannya dengan tepat dan bebas sehingga pada akhirnya dia mampu membangun relasi yang dalam dengan sesama.

Dia juga memiliki energi yang tinggi, yang dapat membuat dia beraktifitas dan orang ini kalau ekstraversinya tinggi berarti dia mudah bersukacita, periang dan biasanya tampaknya orang ini hangat, menyenangkan tidaklah tertutup. Ini bukan berarti orang yang introvert, kebalikannya dari orang itu tidak sehat. Bukan itu maksudnya. Orang yang introvert pun kalau bisa menjalin hubungan, bisa mengeluarkan perasaannya dengan bebas, pikirannya juga dengan bebas, nah itu lebih membuat dia sehat. Semakin menutup, semakin menyimpan, diasumsikan tidak sehat. Semakin bisa kita mengeluarkannya dengan tepat, bukan dengan semau-maunya dan tepat sasaran juga nah itu akan menolong kita untuk hidup lebih sehat.
WL : Pak Paul tadi menyebutkan salah satu ciri yang extrovert ini mempunyai kemampuan membangun relasi secara mendalam ya Pak Paul, bukannya yang saya tahu mempunyai banyak teman tapi tidak bisa mendalam, begitu Pak Paul?

PG : OK yang dimaksud di sini jadinya begini, karena dia itu memang mempunyai energi yang tinggi jadi dia banyak bergaul, temannya banyak, banyak aktifitasnya, tapi dia bebas dalam berekspresi erasaan dengan pikirannya juga bebas.

Nah orang-orang yang seperti ini lebih berpeluang menjalin sebuah relasi dan memperdalamnya juga. Memang orang yang introvert bisa menjalin relasi dengan sedikit orang dan mendalam, itu juga baik, namun orang yang extrovert seperti ini pun bisa membangun sebuah relasi yang dalam karena kemampuannya untuk bisa mengeluarkan perasaan dan pikirannya dengan lebih bebas.
GS : Biasanya 'kan itu tergantung dengan siapa dia berhubungan, ya Pak Paul, ada orang kalau dengan keluarganya dia bisa bebas tetapi begitu masuk ke lingkungan yang lain, di tempat kerja misalnya, dia menjadi orang yang tertutup lagi.

PG : Bisa jadi ya orang yang seperti itu mungkin ada masalah dengan kepercayaan diri, dia perlu tahu dulu dia diterima baru dia bisa lebih apa adanya, lebih terbuka. Sampai titik tertentu saya ira itu wajar, Pak Gunawan.

Kita dalam lingkungan yang baru cenderung mau mengetes dulu, apakah orang-orang ini menerima kita atau tidak. Kalau kita tahu kita aman, kita diterima barulah kita lebih ekspresif dengan diri kita. Bukan hanya wajar, tapi saya kira ini baik, berhikmat, jangan sampai masuk ke lingkungan baru langsung kita semau-maunya itu juga menimbulkan kesan yang tidak baik kepada orang.
WL : Pak Paul, dua tanda yang Pak Paul sebut tadi, neurotisme dan ekstrovert, itu bawaan seseorang dari lahir atau bentukan dari lingkungan, keluarga atau bagaimana, karena kalau bawaan dari lahir berarti seperti tidak bisa diapa-apakan, Pak Paul.

PG : Sudah tentu apakah ada pengaruh-pengaruh dari lahir, saya kira ada, tidak semua orang dari lahir lebih extrovert, tidak ya! Apakah ada orang-orang yang dari lahir sudah membawa kerentaan terhadap stres, ada juga saya yakin, namun saya kira hasil penelitian ini juga mendorong kita untuk mencapai standar ini atau mencapai kehidupan yang seperti ini, meskipun kita mungkin saja dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lahiriah tapi tidak ada salahnya kita mencoba misalkan yang lebih introvert, lebih tertutup ya belajarlah lebih terbuka, sebab ternyata memang terbuka itu lebih menyehatkan jiwa daripada tertutup.

Paksa diri untuk lebih terbuka, jadi saya kira ini bisa dipelajari.
GS : Ada faktor yang lain Pak Paul, yang bisa dilihat?

PG : Faktor yang lain adalah keterbukaan untuk mengalami sesuatu yang baru. Ini ternyata salah satu indikator sehat tidaknya jiwa kita. Orang yang sehat adalah orang yang mempunyai semangat untk hidup dan mempunyai keterbukaan terhadap pengalaman hidup.

Mungkin Pak Gunawan dan Ibu Wulan pernah bertemu dengan Ibu-Ibu atau Bapak-Bapak yang sudah berusia lanjut, 70 tahun lebih tapi semangat sekali, masih mau pergi, travel ke mana, mengunjungi apa, mencari tahu, mau belajar ini itu. Nah kita perhatikan orang yang seperti itu bukan saja jiwanya sehat, cenderungnya tubuhnya pun sehat. Kecenderungannya justru benar-benar berjiwa muda dan enak diajak bergaul. Rupanya ini mempunyai keterbukaan terhadap pengalaman hidup, dia tidak takut pada pengalaman yang baru, justru senang mau berpapasan dengan pengalaman yang baru, bersedia untuk mencoba sesuatu yang baru dan mengijinkan diri untuk menghayati pengalaman hidup sepenuhnya. Artinya dia terbuka terhadap reaksi perasaannya, meskipun dia harus sedih dia tidak takut dengan kesedihan, meskipun dia harus marah dia tidak takut dengan rasa marah itu, meskipun dia harus kecewa dia tidak takut dengan rasa kecewa itu, dia mengijinkan dirinya mengeluarkan reaksi-reaksi itu dengan bebas. Orang-orang ini juga cenderung imajinatif, kreatif, bisa membayangkan dan sebagainya. Ternyata ini suatu indikator atau ciri yang sehat dan kalau kita bisa memupuk diri kita lebih seperti ini saya kira akan sangat menolong kita pula.
WL : Pak Paul, dari penjelasan Pak Paul seolah-olah orang yang termasuk ciri ini cukup "kebal" terhadap pengalaman apa pun. Kalau pernah mengalami pengalaman yang buruk pun, pada masa yang akan datang dia tetap berani mengalami pengalaman yang baru lagi, tidak ada pengalaman apa pun yang membuatnya stop dibandingkan dengan misalnya orang yang takut beresiko, orang yang cukup kaku, apakah seperti itu Pak Paul?

PG : Betul sekali Ibu Wulan. Memang orang yang banyak takutnya, lumpuh dan akhirnya hidupnya makin hari makin sempit, pikirannya makin sempit bukan saja pergaulannya makin sempit tapi pikiranny pun makin menyempit, sebaliknya orang yang seperti ini yang lebih berani untuk keluar untuk mencoba, bergaul dengan teman baru dan sebagainya, akhirnya jiwanya juga lebih lapang dan ini rupanya berpengaruh terhadap kesehatan jiwa kita.

GS : Di dalam hal ini Pak Paul, kelihatannya kalau dia sudah agak lanjut usia, apakah bisa kelihatan sejak dia masih muda?

PG : Biasanya ya, biasanya mereka memang sudah begitu pada usia yang lebih muda, jadi tidak pada usia tua tiba-tiba dia berubah. Kebanyakan memang dari dulunya mempunyai semangat hidup yang tingi, nah ini ternyata sesuatu yang sangat baik sekali kalau bisa kita miliki, sebab saya juga pernah bertemu dengan orang yang baru berusia tiga puluhan, selalu menyebut dirinya sudah tua.

Waktu saya masih lebih muda dari dia, saya masih usia dua puluhan, dia usia tiga puluhan selalu menyebut dirinya, "Saya sudah tua, yang muda-mudalah". Jadi kapan dia pernah muda, kalau saya pikir-pikir sekarang! Sebab tiga puluhan pun sudah tua, jadi memang semangat hidup, mau mencoba menghayati yang baru, itu ternyata hal yang positif sekali.
WL : Pak Paul, 'kan banyak kasus di gereja, orang-orang yang kecewa terhadap gereja, entah terhadap hamba Tuhan, entah sistimnya, entah apa pun pokoknya kecewa lalu telah bertahun-tahun tidak mau ke gereja lagi. Apakah itu termasuk kategori seperti ini, tapi kalau ya apakah dengan mudahnya kita mengatakan "Wah berarti Oom ini atau Tante ini atau siapa, jiwanya sempit".

PG : Ya memang ada benarnya juga sempit karena dikecewakan oleh satu orang atau satu kelompok tidak mau ke gereja seumur hidup, apalagi harus saya katakan kalau bukan sempit, jadi orang yang lbih terbuka akan berkata, "Ya ini manusia memang bisa bersalah bisa berdosa, saya datang ke rumah Tuhan untuk menyembah Tuhan bukan menyembah manusianya, ya sudah biarkan saja atau saya pindah ke gereja lain sebab Tuhan pun ada di sana, kenapa saya harus hanya ke gereja saya ini."

Tidak apa-apa, ya saya kira itu lebih sehat.
GS : Jadi lebih terbuka pikirannya, ya Pak Paul (PG : Betul ). Itu biasanya diperoleh karena pergaulannya yang luas atau dia senang membaca dan sebagainya.

PG : Ya itu berpengaruh sekali, Pak Gunawan. Jadi orang yang memang tidak suka bergaul, sendiri saja, otomatis saya kira terpengaruh sehingga tidak begitu berani untuk menerjunkan diri pada kanah kehidupan yang berbeda dari kehidupannya.

GS : Mungkin Pak Paul mau sampaikan faktor yang lain atau indikator yang lain?

PG : Yang lain adalah ini, dalam bahasa Inggris disebut "agreeableness" artinya dapat setuju, lembut hati, bisa menolong orang, mudah percaya, ringan tangan, pemaaf, murah hati. Inilah ciri-cir yang disebut juga sebagai ciri yang positif, ternyata kalau jiwa kita seperti ini cenderung lebih sehat.

Lawan dari karakteristik yang baru saya sebut adalah yang disebut antagonistik, yaitu sinis, kasar, penuh curiga, sukar kerja sama, mudah marah dan bahkan manipulatif. Nah itu lawannya, antagonistik, tapi yang baik adalah yang "agreeable", yang lembut hati, yang pemurah, yang ceria, yang ramah, yang mau bergaul, yang mau menolong, yang berhati besar. Ternyata orang yang mempunyai ciri seperti ini jiwanya cenderung lebih sehat.
WL : Pak Paul, apakah orang seperti ini tetap punya ketegasan pada saat dia harus berkata "Tidak" atau oleh karena "agreeable" pada setiap kasus dia setuju saja, begitu Pak Paul.

PG : Saya kira ini satu point yang bagus, otomatis ini memang tanda awas bagi orang-orang yang kuat di sini karena mudah sekali dia terperosok pada ekstrim yang satunya, tidak mempunyai kendaliatas hidupnya, orang lain yang mengendalikan hidupnya sehingga akhirnya dia dikuasai oleh permintaan dan tuntutan orang lain.

Dia mesti jaga di sini, betul itu point yang baik sekali.
GS : Di dalam hal orang yang mudah memaafkan memang kadang-kadang dianggap orang yang lemah, yang selalu dikalahkan, Pak Paul, atau orang yang cari muka, ini menjadi masalah tersendiri buat dia. Jadi bukan yang positifnya, tapi dianggap orang yang mencari muka, mencari teman hanya untuk supaya dia diterima atau apa itu.

PG : Makanya karakter ini nanti diimbangi dengan karakter yang berikutnya, Pak Gunawan. Karena kalau hanya ini, betul, orang ini bisa-bisa justru akhirnya tertekan hidupnya, karena ditolak olehlingkungan, dianggap dia memang mencari muka, tidak mempunyai pendirian, hanya mencari kesempatan.

Justru nanti karakter yang berikutnya menegaskan bahwa orang yang sehat meskipun dia pemurah, bisa kerja sama, lembut dan sebagainya tapi dia bisa tegas juga, tidak sampai hidupnya dikuasai oleh orang di luar dirinya.
GS : Apa itu Pak Paul, yang kelima?

PG : Yang kelima adalah yang disebut "conscientiousness", jadi sebetulnya mengacu kepada hidup yang penuh tanggungjawab, mempunyai target, mempunyai disiplin, mempunyai pendirian, tahu tujuan hdupnya.

Ini justru faktor penyeimbang yang tadi itu. Kalau hanya "agreeable" mudah ikut, murah hati, tidak mempunyai yang berikutnya ini, dia seperti perahu yang diombang-ambingkan oleh angin. Justru yang terakhir adalah hidup dengan bertanggungjawab, mempunyai target, mempunyai tujuan, memiliki komitmen pada kewajibannya, sanggup untuk memenuhinya dan orang ini tidak mudah menyerah. Dia tahu apa yang harus dia lakukan meskipun ada tantangan, dia akan terus bisa menerobos sampai dia mendapatkan yang harus dia dapatkan itu. Ini justru juga adalah faktor yang positif.
WL : Pak Paul, kalau dari istilahnya seperti agak mirip dengan "conscience"(= hati nurani), apakah ada hubungannya, Pak Paul?

PG : Memang istilahnya dari kata "conscience" sebetulnya. Jadi "conscientious" adalah orang yang mempunyai hati nurani sebetulnya. Orang yang mempunyai nurani, jadi memang tidak terlalu dibahasdari segi moral di sini, bukan tapi lebih ditekankan pada orang yang memang bisa hidup dengan baik, mempunyai tanggungjawab, mempunyai target dan dia bisa penuhi.

Tidak mudah putus asa memang lebih ke arah itu, Ibu Wulan.
GS : Nah faktor-faktor tadi saling berkaitan tentunya. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari satu atau dua faktor saja.

PG : Betul sekali, jadi kalau hanya satu faktor saja yang kuat, yang lainnya lemah, ya kita tidak bisa mengatakan dia sehat, sebab tadi kita sudah singgung contoh yang klasik, lembut hati, pemuah, pemaaf tapi tidak mempunyai target nah itu tidak bisa kita katakan dia sehat.

Atau dia orang yang pemurah tapi sedikit-sedikit stres, sedikit-sedikit stres, ya kita tidak katakan dia sehat juga. Jadi memang harus lima-limanya ini berkembang, semuanya dengan merata dan itulah yang kita katakan orang yang sehat.
GS : Seperti layaknya tubuh jasmani kita, Pak Paul, kesehatan itu harus dipelihara dan bisa dilatih supaya tahan terhadap serangan-serangan penyakit dan sebagainya. Nah ini kepribadian sehat apakah bisa dilatih dan bisa dipelihara, Pak Paul?

PG : Saya percaya demikian, Pak Gunawan. Jadi apakah gunanya penelitian seperti ini? Gunanya adalah agar kita berusaha mencapainya. Kita mudah stres, sedikit-sedikit stres, melempar tanggungjaab kepada orang.

Nah kita belajar, paksa diri kita, tidak saya mau atasi, saya tidak mau lempar tanggungjawab kepada orang lain, sayalah yang harus bertanggungjawab. Kita paksa diri kita untuk hidup seperti itu. Kita tidak biasa untuk membagi perasaan kita, kita simpan semuanya, tutup semuanya. Tidak, kita paksa diri kita untuk lebih berani, untuk berbicara dengan orang, mengeluarkan pikiran kita dan perasaan kita, atau kita takut-takut dengan pengalaman hidup yang baru. Kita katakan tidak apa-apa, silakan coba nanti pengalaman itu akan memperkaya kita, kita harus paksa diri kita. Yang berikutnya adalah misalkan kita orang yang pelit, tidak mau membantu orang, hati kita sempit. Kita paksa diri kita untuk lebih murah hati, membagi, menolong orang, jangan hanya pikirkan diri sendiri. Yang terakhir misalkan kita ikut orang saja, orang yang tolong kita, oh tidak kita yang mau tetapkan target sekarang, kita mau mencapai target itu, jadi hidup tidak hanya mengalir saja. Tidak, sekali-sekali tetapkan target dan saya kira ini bisa dilatih, bisa dikondisikan pada kita. Rupanya kalau kita berhasil ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa.
WL : Sekarang ini sedang hangat-hangatnya, seluruh bangsa Indonesia mempersiapkan diri untuk pesta demokrasi, Pemilu, Pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden, betapa idealnya kalau pemimpin-pemimpin bangsa kita tidak cuma Presiden, Wapres dan seluruh staf jajarannya bisa punya kriteria seperti ini, ya Pak Paul. Sepengetahuan saya dibahas melulu adalah kesehatan secara fisik, sedangkan kriteria-kriteria seperti ini tidak pernah disinggung, begitu Pak Paul.

PG : Sudah tentu indah sekali bukan saja negara tetapi dalam setiap bentuk organisasi, kalau memang ada orang-orang yang sehat itu akan berpengaruh besar, sebab kesehatan jiwa benar-benar hartakarun yang tak ternilai dan orang yang sehat menyehatkan lingkungan (WL : Betul), sebaliknya orang yang tidak sehat mengotori lingkungan juga.

Orang yang dekat dengan orang yang sehat, akhirnya terbawa lebih sehat. Kebalikannya juga orang kalau bergaul dengan orang yang tidak sehat, lama-lama terbawa ikut sakit, seperti itu.
GS : Pak Paul dalam hal ini apakah Firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Saya akan bacakan dari 1Korintus 13:13, "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih". Nah ini Firma Tuhan indah sekali, Pak Gunawan.

Meskipun kita tidak usah belajar psikologi, melihat ini saja sebetulnya kalau bisa kita terapkan, kita akan sangat sehat, yaitu ternyata kalau kita beriman, benar-benar hidup beriman, berserah pada Tuhan, kita tidak akan takut sebetulnya. Jadi kecemasan atau tekanan itu tidak lagi mengganggu, karena kita tahu Tuhan yang menguasai segalanya. Terus kalau kita berpengharapan kita tahu selalu ada pengharapan karena Tuhan tidak pernah kehabisan akal, kuasaNya tak terbatas jadi pasti ada pengharapan, nah ini memberi kita semangat untuk hidup terus dan terakhir kasih. Kalau kita memiliki kasih kepada Tuhan dan sesama kita, kita lebih rela menolong, kita lebih rela terbuka dengan orang, lebih rela percaya pada orang. Bukankah ini juga akan sangat memperkaya kesehatan jiwa kita. Jadi benar-benar, iman, pengharapan dan kasih namun yang paling besar di antaranya ialah kasih. Ini Firman Tuhan bukan saja untuk kehidupan rohani tapi juga untuk kehidupan jiwani sangat berkhasiat.
GS : Dan ini harus dimulai dari diri kita sendiri saya percaya, Pak Paul ya? (PG : Betul) Sebelum kita mengharapkan orang lain sehat, seperti tadi Pak Paul katakan, kesehatan kepribadian kita akan menular kepada orang lain dan menjadikan lingkungan ini lebih baik.

GS : Terima kasih banyak Pak Paul, juga Ibu Wulan untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Lima Faktor Kepribadian Sehat". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



7. Pribadi Egois


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Karakter/Kepribadian
Kode MP3: T190A (File MP3 T190A)


Abstrak:

Salah satu pribadi yang sukar untuk menyatu dengan lingkungan adalah pribadi yang egois. Disini, kita akan menemukan ciri-ciri, dampak, penyebab dan langkah menuju perubahan.


Ringkasan:

Salah satu pribadi yang sukar untuk menyatu dengan lingkungan adalah pribadi yang egois. Berikut ini akan dipaparkan ciri dan langkah untuk mengubahnya.

Ciri-Ciri Pribadi yang Egois

Dampak Pribadi Egois

Penyebab

Langkah Menuju Perubahan


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pribadi Egois" Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Memang ada bermacam-macam orang tetapi ada sebagian orang yang dalam pergaulan rasanya mau menang sendiri. Sebenarnya apa saja yang menjadi ciri-ciri dan mengapa orang itu bisa seperti itu?

PG : Jadi memang Pak Gunawan, kadang-kadang kita bertemu dan harus bertemu dengan orang-orang yang seperti ini, orang-orang yang kita pa