DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Masalah Hidup


Kategori ini mencakup 119 judul artikel yang membahas tentang masalah hidup yang dialami manusia, mulai dari permasalahan diri hingga masalah dengan orang lain dan masalah rohani hingga masalah mental. (Total Durasi: 60 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1KecemasanT005B
2Penghiburan bagi Janda 1T007A
3Penghiburan bagi Janda 2T007B
4Gangguan Stress Pasca TraumaT010B
5Penderitaan Manusia 1T022A
6Penderitaan Manusia 2T022B
7KemarahanT027A
8Kekerasan di Tengah KitaT029A
9Pengaruh Kekerasan terhadap Kehidupan KitaT029B
10Bagaimana Merawat Orang SakitT035A
11Bagaimana Mendampingi Orang Sakit yang Menjelang AjalT035B
12Makna HidupT037A
13Harapan yang HilangT037B
14Memahami Perilaku HomoseksualT043A
15Bagaimana Memahami dan Menolong Kaum HomoseksualT043B
16Menjahit Masa Laluku 1T045A
17Menjahit Masa Laluku 2T045B
18Okultisme Masalah dan PenanggulangannyaT047A
19Pengaruh Okultisme Terhadap KeluargaT047B
20Pencobaan Ditengah KejayaanT050A
21Kehidupan yang HancurT059A
22Ketika Tuhan Terasa JauhT059B
23Bagaimana Menghadapi MalapetakaT065A
24Menghadapi Kepahitan HidupT065B
25Sikap Mengalah Ditengah Dunia yang Mementingkan KemenanganT073A
26Sikap Lemah dan Pasif Didalam KekristenanT073B
27Kuasa Yesus yang MembebaskanT082A
28Bahaya NarkobaT082B
29Menghadapi BencanaT096A
30Memelihara Relasi KerjaT096B
31Tatkala Anak MeninggalT117A
32Saat Saat PemulihanT117B
33Mengapa Sukar BerimanT131A
34Menghadapi KekecewaanT131B
35Menghadapi KrisisT134B
36Melewati Masa yang SulitT140B
37Tatkala Badai MenerpaT153A
38Batsyeba Dimata TuhanT153B
39PengampunanT157A
40Kefanaan HidupT157B
41Buta DiriT158A
42Tidak dapat Bekerja SamaT158B
43Tanda Awas Hidup LajangT161A
44KesepianT161B
45Letih MentalT162A
46Mengatasi Keletihan MentalT162B
47Memahami KleptomaniaT165A
48Tentang Menghadapi KrisisT168A
49Menyalahkan OrangT168B
50KepanikanT174A
51Tatkala Anak Terlibat NarkobaT180A
52Merangkul Penderita NarkobaT180B
53Melawan Iri HatiT181B
54Trauma Karena SiksaT182A
55Hidup Bersama Penderita TraumaT182B
56Dari Jaya Ke JatuhT184A
57Menang Melawan PencobaanT184B
58Menghadapi Orang yang MenjengkelkanT193A
59Menghargai Orang LainT193B
60Bencana Alam 1T205A
61Bencana Alam 2T205B
62Pertolongan dan Bimbingan Rohani Bagi Korban Bencana 1T206A
63Pertolongan dan Bimbingan Rohani Bagi Korban Bencana 2T206B
64Menangani Gangguan AdhdT212A
65Memahami AutismeT212B
66Menolong Penderita DepresiT216A
67Stroke Dan Gangguan Otak LainnyaT216B
68Sulitnya Mengampuni Orang LainT220A
69Sulitnya Mengampuni Diri SendiriT220B
70Pelaku Tindak KekerasanT221A
71Korban Tindak KekerasanT221B
72Kehidupan Seorang DudaT231A
73Penghiburan Bagi DudaT231B
74Apakah PornografiT247A
75Bahaya PornografiT247B
76Gangguan SkizofreniaT248A
77Gangguan ParanoiaT248B
78Lahir dan Tumbuhnya Kepribadian BorderlineT253A
79Menikah dengan Pribadi BorderlineT253B
80Tatkala Tuhan MemukulT263B
81Bahaya NarkobaT266A
82Narkoba dan KeluargaT266B
83Hidup Bergoncang IT267A
84Hidup Bergoncang IIT267B
85Bukan Barang RongsokanT271B
86Bertahan dalam Bencana EkonomiT276A
87Bersiaga dalam Badai EkonomiT276B
88Hidup Dalam KekecewaanT278A
89Hidup dengan Orang yang KecewaT278B
90Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( I )T279A
91Kekerasan Dalam Rumah Tangga (II)T279B
92Krisis Dalam Keluarga KristenT281A
93Iman Dalam Krisis KeluargaT281B
94Ketika Pasangan Terlibat KriminalT288A
95Ketika Pasangan Menjauh Dari TuhanT288B
96Hamil Di Luar NikahT292A
97Bila Orang Tua Masuk PenjaraT292B
98Kecanduan PornografiT305B
99Hidup yang Dikuasai Nafsu (I)T308A
100Hidup yang Dikuasai Nafsu (II)T308B
101Melayani Pelaku AborsiT317B
102Ketika Kematian MembayangT343B
103Ketika Tuhan Terlambat 1T355A
104Ketika Tuhan Terlambat 2T355B
105Depresi dan Bunuh Diri 1T361A
106Depresi dan Bunuh Diri 2T361B
107Sumber dan Dampak KecemasanT365A
108Langkah Pemulihan Dari KecemasanT365B
109Menghadapi Hidup Tak BermaknaT366A
110Depresi : Bawaan atau Lingkungan?T366B
111Distorsi Seks 1T377A
112Distorsi Seks 2T377B
113Kecanduan Seksual 1T378A
114Kecanduan Seksual 2T378B
115Kecanduan Seksual 3T378C
116Kecanduan Seksual 4T378D
117Tatkala Hidup Berhenti dengan Tiba-TibaT381B
118Profil Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga 1T385A
119Profil Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga 2T385B


1. Kecemasan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T005B (File MP3 T005B)


Abstrak:

Kecemasan adalah rasa takut yang tidak memiliki objek yang jelas dan hal ini seringkali menjadi bagian hidup kita. Dalam materi ini dijelaskan sebab dan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi kecemasan.


Ringkasan:

Yang membedakan ketakutan dan kecemasan adalah sebagai berikut: dilihat dari segi objeknya

  1. Ketakutan? Memiliki objek yang tertentu atau yang jelas, yang membuat kita takut.

  2. Kecemasan? Rasa takut yang tidak memiliki objek yang jelas.

Dan kedua hal ini seringkali menjadi bagian kehidupan kita yakni adakalanya kita cemas akan banyak hal sebab kita juga tidak jelas apa yang sedang kita takutkan.

Kecemasan mempunyai beberapa sumber yaitu :

  1. Tidak memiliki informasi yang cukup atau kekurangtahuan.

  2. Kekurangpercayaan diri kita. Contoh : kegagalan di masa lalu yang merontokkan atau menggoncangkan keyakinan diri kita.

Reaksi atau dampak dari kecemasan adalah sebagai berikut:

  1. Mengakibatkan timbulnya keresahan di dalam diri kita. Keresahan memang reaksi langsung dari kecemasan. Maksudnya seseorang yang dikuasai oleh kecemasan akan mengalami kesulitan untuk berpijak pada suatu keadaan untuk kurun waktu yang lama. Dia akan berusaha mendapatkan ketenangan dalam dirinya dengan cara menguasai keadaan supaya keadaan itu berjalan sesuai dengan skenarionya.

  2. Kelumpuhan.
    Kelumpuhan merupakan tahap berikutnya setelah dampak keresahan. Kecemasan melumpuhkan penderitanya karena pada hakekatnya kecemasan itu menguras energi yang dibuang untuk menguasai kecemasan, yang dikeluarkan sebagai usaha untuk mengontrol kecemasan. Dan pada akhirnya dia merasa lumpuh, dalam pengertian dia merasa lemah tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah keadaan hidupnya bahkan tidak bergairah lagi untuk mencoba.

  3. Selain dari keresahan dan kelumpuhan, kecemasan mengakibatkan keputusasaan.

Ini adalah tahap di mana akhirnya seseorang merasa dia sudah kalah artinya hidup menjadi terlalu berat baginya, terlalu banyak yang membuat kepalanya pening, terlalu banyak yang membuat hatinya gundah-gulana, terlalu banyak yang merobek-robek kalbunya dan dia tidak tahu lagi apa yang dilakukan sehingga dia mulai tergoda untuk menyerah.

Hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kecemasan yaitu:

  1. Mencari informasi selengkap-lengkapnya.
    Percaya pada Tuhan, bersandar pada Tuhan tidaklah berarti kita membutakan mata terhadap informasi, sebab Tuhan pun menghargai hikmat dan hikmat itu sering kali diperoleh dengan data yang lengkap.

  2. Mengakui adanya keterbatasan.
    Sebanyak-banyaknya informasi tidak menjamin bahwa peristiwanya akan terjadi seperti yang telah diduga. Di sinilah diperlukan iman, kita bukan menggantungkan diri pada situasi tapi kita menggantungkan pada Tuhan yang menguasai situasi.

Makna 1 Petrus 5:7, "Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu."

  1. Secara rasional menyerahkan kepada Tuhan, mengakui keterbatasan kita dan meminta bantuanNya.

  2. Berkata pada diri sendiri: "Tidak mau lagi memikirkan problem itu," dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, ini sekarang adalah problem Tuhan." Dan memang itulah yang Tuhan minta. Serahkanlah, dalam 1 Petrus 5:7 sebetulnya digunakan kata lemparkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan. Namun bukan berarti kita lari dari tanggung jawab, tetap kita hadapi persoalannya namun kita tidak lagi memikulnya sendirian.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Kecemasan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, akhir-akhir ini kita mendengar dan melihat sendiri banyak orang yang mengatakan dia merasa sangat cemas melihat situasi, melihat masa depan yang tidak pasti. Tapi dia sendiri kalau ditanya alasannya sebenarnya apa atau yang kamu cemaskan itu apa dia sangat sulit untuk mengungkapkan kecemasan. Dia hanya berkata saya itu khawatir, saya itu takut dan sebagainya, sebenarnya kecemasan itu apa Pak Paul?

PG : Ilmu Psikologi membagi atau membedakan kecemasan dan ketakutan. Ketakutan itu didefinisikan atau dibedakan dari kecemasan dalam hal objeknya. Ketakutan memiliki objek yang jelas sedangkn kecemasan mempunyai objek yang umum sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas, ditunjuk apa sumbernya.

Misalkan kita berkata saya takut, takut apa? Takut gagal, gagal apa? Ya ulangan saya. Kenapa kamu takut? Karena kemarin saya tidak belajar sehingga hari ini saya ulangan, saya tidak bisa. Dengan kata lain itulah ketakutan, ketakutan mempunyai sumbernya, sangat jelas sekali. Atau kita terkena penyakit ganas, terminal seperti kanker, kita takut, takut apa? Takut mati. Nah itu takut karena memang mempunyai sumbernya yang jelas, tapi kebalikannya kita baru saja ujian, dan dalam ujian itu sebetulnya kita bisa, jawaban-jawabannya bisa kita pikirkan dengan baik. Namun setelah ujian kita cemas sekali, takut sekali, nah kita tanyakan apa yang kamu takuti? Ya tidak tahu, tadi bisa atau tidak? Bisa, jadi apa yang kamu takuti? Ya tidak tahu, cuma rasanya takut saja. Nah kita katakan itu cemas, sebab tidak ada lagi objeknya, tidak ada lagi sumber kenapa kita takut. Kita tidak sakit berat hanya pilek saja, tiba-tiba kita ketakutan nanti sakit berat, sakit ini, sakit itu. Ditanya kamu sakit apa? Tidak ada, dokter bilang apa? Sehat, tapi tetap takut. Nah itu kita katakan cemas, cemas artinya perasaan takut yang umum yang menyeluruh, tapi tidak mempunyai objek yang tertentu.
GS : Kitab Suci sering kali berbicara tentang kekhawatiran, misalnya saja yang mengatakan serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, nah kekhawatiran di sini sebenarnya ketakutan atau kecemasan?

PG : Kecemasan, jadi begini Pak Gunawan, kita itu boleh takut karena kita manusia. Kalau kita menghadapi peristiwa yang begitu menakutkan dan mengerikan, dan kita berkata saya tidak takut jutru saya kira kita ini tidak realistik, tidak manusiawi.

Orang yang masih manusiawi akan berkata takut mengalami peristiwa-peristiwa yang terlalu mengerikan. Misalkan kita berada di bawah gunung berapi yang sedang menyemburkan apinya dan memuntahkan lavanya, apakah kita tidak takut? Takut dan itu manusiawi. Kita terkena kanker yang ganas sekali, stadium 4, dan kita takut sekali, itu manusiawi jadi Tuhan menerima ketakutan kita. Namun Tuhan juga ingin mengingatkan kita bahwa Dia akan bersama kita jadi jangan sampai ketakutan itu mengalahkan kita, karena kita harus yakin bahwa Tuhan selalu bersama dengan kita. Tapi yang Tuhan selalu tekankan juga adalah kita jangan sampai cemas, sebab cemas tidak mempunyai objeknya atau sumbernya, jadi terus ketakutan. Hidup yang penuh kecemasan adalah hidup yang memang seolah-olah tidak ada Tuhan, seolah-olah tidak ada Tuhan yang bisa membantu, menolong kita sehingga semua hal dianggap oleh kita hal yang bisa membahayakan kita terus-menerus, kita tidak bisa lagi hidup optimal. Nah kalau itu kualitas hidup kita, Tuhan pun tidak akan suka.
GS : Tetapi kecemasan itu pasti ada penyebabnya walaupun itu tidak real, nah faktor-faktor apa yang menyebabkan seseoang itu bisa dikuasai oleh rasa cemas, Pak Paul?

PG : Biasanya ada dua Pak Gunawan, yang pertama adalah kita ini cemas kalau kita tidak mempunyai informasi yang lengkap, jadi kita hanya tahu sedikit tapi tidak tahu dengan cukup. Nah biasana kalau kita tidak mengetahui dengan cukup kita takut, misalkan dokter berkata kepada kita ada yang salah, ada yang tidak benar dengan tubuhmu ini, apa ya, tidak tahu, tapi ada yang tidak benar ini, wah itu bisa membuat kita tiga hari tiga malam tidam tidur memikirkan apa yang terjadi dengan tubuh saya ini.

Kenapa, sebab kita tidak memiliki informasi yang lengkap. Anak kita pergi dan kita katakan jangan lupa menghubungi kita, telepon, anak kita sudah remaja. Kemudian dia pergi ke gunung hiking, tapi sudah dua hari anak kita pergi dan tidak menelepon kita tidak bisa tahu dia berada di mana karena bilangnya hanya ke gunung apa, nah kita tidak mempunyai informasi yang lengkap. Suami kita berkata jam 8 saya pulang, jam 08.30 belum pulang tidak ada kabar darinya, kita tidak tahu lengkap apa yang terjadi dengan suami kita, kita cemas, jadi itu sumber pertama yaitu tidak memiliki informasi yang cukup. Yang kedua yang membuat kita cemas adalah kekurangpercayaan diri kita. Misalkan kita pernah gagal waktu kita mencoba untuk ujian misalkan ujian kedokteran kita gagal sekali, kedua kali kita juga mau mengambil ujian itu kita rasanya cemas, meskipun kita sudah belajar dengan baik tapi rasanya tidak enak, cemas, karena pengalaman yang lampau. Jadi kalau kita merasa kurang yakin dengan diri kita, dengan kemampuan kita, kita memang akan lebih mudah dilanda oleh kecemasan pula.
WL : Pak Paul, selain dari dua sumber tadi apakah ada pengaruh lain misalnya dari masa kanak-kanak. Saya teringat dua tokoh Psikologi yang terkenal Sigmund Freud dan Karen Horney, dalam teorinya mengatakan kalau anak-anak pernah mengalami entah diabaikan oleh orang tuanya atau keterpisahan, itu anak menjadi cemas. Itu ada pengaruhnya atau tidak Pak Paul?

PG : Betul sekali, itu memang faktor-faktor yang lebih bersifat internal, itu yang lebih spesifik sekali. Kalau dua tadi itu bersifat umum, dan ini memang secara spesifik yaitu ada orang-orag tertentu yang memang membawa modal kecemasan, karena apa, masa kecilnya dipenuhi dengan ketegangan.

Ketegangan karena berbagai sebab misalkan orang tua yang terlalu sering bertengkar, ribut keras-keras banting pintu dan sebagainya. Atau dia sering dicela, dimarahi, dikritik oleh orang tuanya tidak pernah ada yang baik tentang dirinya. Jadi dia tidak merasakan keamanan itu, hidup penuh dengan ketegangan, dia selalu was-was. Nah anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga seperti ini, tatkala besar cenderung membawa modal kecemasan sehingga sedikit-sedikit dia sudah tegang sekali. Tidak bisa berpikir lagi, kacau sekali karena seolah-olah bahaya mengancam, bahaya yang besar sedang mau menerkamnya.
GS : Pak Paul tadi mengatakan bahwa minimnya informasi itu membuat seseorang bisa cemas, tetapi ada orang yang kalau diberitahu lebih banyak dia malah cemas, Pak Paul?

PG : Bisa, betul, jadi ada orang-orang tertentu yang memang membawa modal kecemasan bukan karena peristiwa spesifik yang tadi baru saja saya kemukakan tapi ada orang-orang tertentu yang memag daya tahan menampung stresnya lemah.

Nah ini memang lebih bersifat organik, organik artinya sesuatu yang lebih berkaitan dengan fungsi kerja otak kita, syaraf-syaraf di otak kita. Nah kita tahu otak kita itu ada syaraf-syaraf yang mengontrol misalkan agresifitas kita dan salah satunya mengontrol ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan, ketegangan-ketegangan. Nah ada orang-orang tertentu memang yang secara organik, secara biologis, kemampuannya, daya tahannya untuk menahan stres itu lemah sehingga waktu dia tahu justru dia ambruk. Karena apa, dia tidak bisa menahan stres itu sendiri jadi sebetulnya yang menjatuhkan dia itu bukannya informasi itu secara langsung, tapi informasi itu akhirnya menimbulkan ketegangan, ketegangan itu yang akhirnya membuat dia ambruk.
GS : Pasti ada akibat lain yang dialami oleh seseorang kalau dia cemas?

PG : Ada Pak Gunawan, sekurang-kurangnya ada 3 yang bisa kita bicarakan. Yang pertama adalah dampak kecemasan yaitu keresahan, ini tahap yang paling rendah, tahap terbawah. Apa itu keresahan keresahan itu kita dikuasai kecemasan, kita itu mengalami kesulitan untuk bisa berkonsentrasi, untuk bisa berpikir dengan jernih, kita mulai gugup.

Kenapa, kita resah, kita ini sedang bergolak, kita tidak bisa duduk dengan baik, dengan tenang memikirkan, tidak bisa. Kita jalan sini-sana, kita telepon sana-sini, kita mencoba bicara dengan siapa, keresahan ya. Nah keresahan itu menuntut adanya ketenangan, nah usaha kita untuk mencari ini-itu, bertanya pada ini-itu, bicara dengan ini-itu, itu sebetulnya upaya-upaya untuk mendatangkan ketenangan agar ketenangan ini akhirnya bisa mengurangi keresahan kita. Namun celakanya yang sering terjadi justru usaha-usaha kita itu tidak berhasil, malah bukannya tambah tenang tapi tambah resah.
GS : Yang lain lagi apa Pak Paul?

PG : Yang berikutnya lagi adalah kelumpuhan, kalau kita sudah resah-resah, mencari bantuan ke sana, ke sini, bicara dengan siapa, siapa kok tidak mendapatkan jawaban yang kita butuhkan, keteangan tidak kunjung datang, keresahan makin bertambah, nah level kedua kita mengalami kelumpuhan secara emosional, secara Psikologis.

Yaitu energi kita benar-benar terkuras habis, kenapa terkuras habis karena kita berusaha untuk menenangkan diri melawan kecemasan. Nah reaksi untuk melawan kecemasan itulah lama-lama akhirnya membuat kita sangat letih. Sangat letih sekali sehingga kita tidak lagi dapat berbuat apa-apa, pada titik itulah kita merasakan diri kita seperti lumpuh. Kita hanya bisa diam, tidak bisa apa-apa tapi dalam diri kita sebetulnya bergolak cemas tapi di luarnya kita hanya bisa diam, tidak bisa berbuat apa-apa benar-benar secara Psikologis kita ini lumpuh.
WL : Orang yang mengalami dampak seperti ini, tidak mudah Pak Paul kalau kita misalnya berbicara baik-baik. "Sudah kamu jangan khawatir, jangan gelisah ya ini belum tentu terjadi," itu ya tidak mudah menenangkan tetap saja gelisah.

PG : Betul dan bahkan menurut orang-orang yang sering dilanda kecemasan, nasihat seperti itu yang sering mengganggu mereka sebab mereka berkata sesungguhnya saya juga tidak ingin begini, say inginnya tenang tapi tidak bisa tenang, terus dilanda kecemasan.

Maka sebetulnya reaksi yang paling baik dari orang lain yang hidup dengan orang yang mudah cemas ini adalah mendengarkan, nah kalau kita bisa memunculkan bukti konkret kita munculkan. Kita berikan sesuatu, kita beri tanggal sehingga kita bisa menenangkan hati dia dengan konkret. Tapi biasanya memang mereka ini tidak bisa ditenangkan dengan pembicaraan atau dengan mencoba meyakinkan dia. Mungkin Pak Gunawan dan Ibu Wulan pernah megunjungi rumah sakit jiwa, melihat pasien yang duduk diam, tidak berbuat apa-apa, bengong tapi wajahnya tegang sekali. Nah ini contoh dari kelumpuhan emosional atau Psikologis. Sebenarnya di dalam dirinya dia menyimpan begitu banyak ketegangan, tapi dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa, sehingga semua energinya difokuskan untuk menekan, menghilangkan, ketegangannya itu, ketakutannya, kecemasannya nah akhirnya wajahnya menjadi sangat kaku tapi tubuhnya pun juga ikut-ikutan diam, tidak berbuat apa-apa, benar-benar lumpuh secara psikologis.
GS : Ada orang itu yang karena kecemasan itu sampai nekat mau bunuh diri itu bagaimana Pak?

PG : Biasanya kalau orang sampai mau bunuh diri itu adalah akibat dari gangguan yang lain Pak Gunawan bukan gangguan kecemasan tapi gangguan depresi. Gangguan depresi yang terlalu berat membat orang akhirnya memasuki tahap berikutnya yaitu putus asa.

Jadi dalam perjalanannya kita mulainya dari cemas kemudian resah akhirnya kecemasan kita membuat kita lumpuh. Nah kita berusaha berbuat sesuatu, berbuat sesuatu tapi terus gagal, tidak bisa dan tidak bisa akhirnya kita memasuki depresi berat. Sebab semua usaha kita tidak membuahkan hasil, kita tetap ditimpa, dirundung, ditekan oleh ketegangan kita, oleh stres ini, kita mengalami depresi. Depresi adalah suatu kondisi terhimpit tertekan yang sangat berat, akhirnya kita putus asa dan berpikir untuk mengakhiri hidup.
GS : Ada orang yang bisa menguasai kecemasannya itu terhadap orang lain jadi tidak terlalu nampak kalau dia cemas, tapi ada pula orang yang langsung kelihatan Pak Paul misalnya berkeringat atau berbicaranya menjadi gagap, apakah bisa begitu Pak Paul?

PG : Bisa Pak Gunawan, memang masing-masing bisa lain-lain. Ada orang yang memang sangat transparan sekali, dalam dan luarnya sama, begitu dalamnya resah langsung tampah di luar. Ada orang yng lebih bisa menguasai dirinya tapi memang ukurannya bukan tampak yang di luar tapi yang bergejolak di dalamnya.

WL : Pak Paul, kalau dari tiga yang Pak Paul jelaskan itu dampak negatif kalau saya mengerti. Ada atau tidak kemungkinan cemas ini ada pengertian positifnya juga. Saya pernah membaca buku dari Freud itu bahwa cemas itu adalah sama dengan sirene akan datangnya bahaya, berarti itu membuat kita waspada dan sebagainya, Pak Paul?

PG : Saya kira dalam moment-moment tertentu kecemasan itu memang sehat, untuk ukuran atau takaran tertentu kecemasan itu diperlukan. Misalkan anak kita berkata dia pulang jam 09:00 malam sudh jam 10:00 belum pulang, nah seyogyanyalah kita cemas.

Kenapa, karena kita memikirkan apakah ada bahaya, apakah ada sesuatu yang terjadi sehingga kita itu akhirnya cemas. Jadi cemas itu bisa merupakan sirene untuk kita melindungi diri, mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang buruk itu. Jadi dalam pengertian ini kecemasan memang bersifat positif.
GS : Ada orang yang cemas kemudian tidak bisa bekerja Pak Paul, jadi kalau dia sudah cemas dan itu sering kali terjadi. Orang ini merasa cemas sehingga otomatis prestasinya sangat rendah, tidak produktif dan sebagainya.

PG : Ini bisa jadi berpulang pada pertumbuhannya di rumah waktu dia masih berada pada tahap-tahap yang lebih muda atau lebih kecil. Kemungkinan dibesarkan dalam keluarga yang memang banyak ktegangan, sehingga ketegangan yang dialaminya pada masa-masa dulu itu membuat dia lumpuh secara psikologis.

Waktu orang tuanya bertengkar misalnya dia harus diam di kamar, dia mengurung diri, waktu mamanya atau papanya marah, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menutupi dirinya dengan selimut di dalam kamar. Nah akhirnya pola-pola seperti itu dibawa sampai usia dewasa meskipun misalkan dia sudah dewasa dia tidak lagi mengurung diri atau menyelimuti tubuhnya dengan selimut tapi secara fisik dia langsung lemas, dia langsung diam tidak bisa berbuat apa-apa.
GS : Sering kali dia menyendiri di sudut atau ke ruangan tertutup lainnya, kemudian dia bilang tidak mau diganggu untuk waktu 1 atau 2 jam.

PG : Betul, nah kemungkinan besar itu memang sisa-sisa pengalaman masa kecilnya. Sebab itulah yang menjadi reaksi dia dulu dan sekarang setelah dewasa reaksi masa kecil tetap dipelihara dan ibawanya.

Meskipun dia sendiri sebetulnya berharap dia tidak lagi dikuasai oleh kecemasan seperti itu, namun daya tahannya sudah rontok. Karena anak-anak akan justru bisa mengembangkan ketahanannya yang kuat itu di dalam rumah tangga yang tenteram. Memang ada orang yang berkata bukankah anak-anak kalau terlalu sering mendengar orang tuanya bertengkar dia akan menjadi anak yang kuat sekali. Sebetulnya tidak, kalau kita melihat ada anak yang keluar dari rumah yang banyak konflik terus menjadi anak yang berandalan suka berkelahi dan sebagainya, itu tidak menandakan dalam jiwanya dia tenang justru kebalikannya. Jiwanya sangat rapuh, karena rapuh itulah dia harus melindungi kerapuhannya dengan kekerasan-kekerasan itu, dengan mengancam orang, dengan melukai orang, sebab dengan dia menundukkan orang dia tenang, dia mendapatkan kedamaian itu. Waktu dia merasa tidak bisa menundukkan orang dan dia di bawah itu justru menghidupkan ketegangan dan ketakutannya. Maka sebetulnya perilaku berandalannya itu sedikit banyak merupakan tameng untuk melindungi diri dari kecemasannya.
WL : Pak Paul, bisa atau tidak kalau ada orang yang mengalami moment seperti ini terutama sampai lumpuh secara psikologis tidak bisa bekerja dan sebagainya, kita anjurkan atau kita pasangkan lagu-lagu klasik, lagu-lagu tenang, itu ada pengaruhnya atau tidak bagi jiwanya supaya kecemasannya itu lebih reda?

PG : Ada, jadi suasana luar itu akan mempengaruhi suasana hati, itu sudah tentu. Jadi misalkan lagu, selain dari lagu adalah orang. Ada orang-orang yang memang bagi dia itu mencerminkan kedaaian sehingga waktu dia bersama dengan orang-orang ini meskipun situasinya belum berubah dia merasa lebih damai, jadi bisa lagu dan bisa juga orang.

Makanya kita sebagai penolong bagi sesama kita, ini penting untuk bisa hadir dalam kehidupan orang yang sedang mengalami kecemasan seperti ini.
GS : Tapi mungkin yang lebih baik adalah bagaimana orang ini dibekali dengan kemampuan untuk bisa mengantisipasi dia mengalami kecemasan. Apakah mungkin kecemasan itu bisa diantisipasi?

PG : Bisa Pak Gunawan, ada dua saran yang bisa saya berikan untuk mengantisipasi dan melindungi diri dalam kecemasan ini. Yang pertama adalah lawan dari kecemasan adalah tahu, semakin tahu sbetulnya kita semakin bisa mengurangi kecemasan.

Misalkan kita menderita penyakit yang memang berat, tapi kita tidak terlalu tahu banyak tentang penyakit ini dan kita cemas sekali. Saran saya adalah carilah informasi lebih banyak, bacalah buku-buku kedokteran, masuk ke internet apakah ada penyakit ini, cari komentar orang-orang yang mempunyai penyakit ini. Makin banyak masukan-masukan seperti itu meskipun bisa menakutkan kita tapi sebetulnya kita lebih jelas, kita lebih bisa menghadapinya. Karena kejelasan menolong kita menyusun strategi, mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jadi informasi yang kita ketahui itu bisa menolong kita melawan kecemasan. Dan yang kedua adalah selalu sadari keterbatasan kita, keterbatasan dalam pengertian memang kita ini tidak selalu tahu, tidak selalu bisa menguasai keadaan, tidak selalu bisa mengubah sesuatu, tidak selalu bisa menangkal datangnya musibah, akui keterbatasan kita ada yang bisa kita lakukan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan. Nah dalam pengakuan inilah kita datang kepada Tuhan sebab di sinilah iman barulah bekerja. "Tuhan, saya terbatas, saya bisa berhenti di sini, tidak bisa maju lagi, Tuhanlah yang maju setelah ini."
WL : Pak Paul, saya mau bertanya tentang penjelasan Pak Paul yang pertama yaitu mencari informasi selengkap-lengkapnya. Misalnya ada kasus seorang istri cemas dengan suaminya yang sering pulang malam, rapat dan sebagainya intinya dia mencurigai ada seseorang atau wanita yang lain. Tapi tetap suaminya tidak mau mengakui, nah kita sebagai orang luar sebenarnya mengetahui beberapa kali pernah ketemu suaminya pernah pergi dengan orang lain, dengan wanita. Apakah pengertian supaya dia tidak cemas (berkaitan dengan penjelasan tadi) ya diberikan informasi selengkap-lengkapnya sehingga meredakan kecemasan dia atau justru tambah membuat dia semakin panik, Pak Paul?

PG : Saya kira dalam kasus seperti itu kalau dia tahu, kecemasannya berkurang yang bertambah adalah kemarahannya. Kecemasannya berkurang karena dia tahu suaminya berselingkuh dengan orang lan, tapi dia akan marah.

Ini menjadi awal perubahan dalam rumah tangga ini, nah mudah-mudahan suaminya bersedia untuk bertobat meninggalkan pasangan selingkuhnya. Atau mungkin saja rumah tangganya pun ada masalah dan masalah itu perlu dilihat oleh mereka berdua. Jadi memang kecemasan langsung berkurang yang muncul memang kemarahan.
GS : Pak Paul, Rasul Petrus itu pernah mengatakan di dalam suratnya di 1 Petrus 5:7 bahwa: "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kamu." Itu maksudnya apa Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah kita secara rasional menyerahkan masalah ini kepada Tuhan, kita berkata kepada Tuhan: "Tuhan, saya mengakui keterbatasan diri kita, saya tidak bisa lagi Tuhan, ini yng bisa saya lakukan tapi selebihnya tidak bisa lagi."

Jadi kita datang mengakui keterbatasan kita dan kita secara harafiah benar-benar menyerahkannya kepada Tuhan: "Tuhan, kalau begitu saya tidak lagi bisa, Tuhan tolong saya hanya bisa sampai di sini." Nah kadang-kadang ini yang susah kita lakukan Pak Gunawan, ada orang-orang tertentu yang seolah-olah itu terus berkelahi, tidak mau menyerah, harus bisa ini dan harus bisa ini, ya sebanyak-banyaknya kita perbuat, itu betul. Tapi kalau sudah mencapai ujungnya kita harus berkata: "Sudah sampai ujungnya, Tuhan." Misalkan tentang kehidupan manusia, kita tahu ini rancangan Tuhan jadi sampai pada satu titik kita harus berkata: "Tuhan, tidak bisa lagi, ini memang dalam wewenang Tuhan."
GS : Tapi ada juga orang yang menggampangkan Pak Paul, terserah Tuhan apapun, tapi dia sendiri tidak bertindak banyak.

PG : Nah, itu juga memang keliru, maka tadi saya tekankan berbuatlah, sebisanya kita mencari tahu, kita menolong diri kita silakan, namun sampai titik tertentu kita harus akui kita terbatas ita tidak bisa lagi, maka kita serahkan kepada Tuhan.

Nah langkah berikutnya adalah ini maksudnya serahkan kekhawatiranmu kepada Tuhan, yaitu kita berkata secara harafiah saya tidak lagi mau memikirkan masalah itu, dia harus benar-benar berkata: "Tuhan, sekarang Tuhan yang pikul, saya tidak lagi bisa memikulnya, sebab saya pikirkan seperti apapun saya tidak lagi dapat menemukan jalan keluarnya." Nah kalau begitu buat apa dipikirkan lagi memang tidak bisa berbuat apa-apa, kalau memang sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, benar-benar secara rendah hati kita berkata: "Tuhan, Engkau sekarang yang pikul."
WL : Pak Paul, di Matius 6, Tuhan Yesus juga pernah berbicara tentang kekhawatiran yaitu "Jangan engkau khawatir tentang hari esok, karena setiap hari ada kesusahannya sendiri." Kekhawatiran memang berkaitan dengan hari esok bukan yang lalu-lalu yang sudah terjadi. Justru yang belum terjadi itu yang kita khawatirkan, dan Tuhan Yesus juga katakan memang setiap hari memang ada kesusahannya bukan semua lancar. Berarti yang ditegaskan adalah tidak usah mengkhawatirkan yang di depan itu sehari-sehari dilewati.

PG : Betul, kata Tuhan kekhawatiran itu tidak menambahkan sehasta, artinya kekhawatiran itu tidak mengubah apa-apa. Yang mengubah apa-apa sebetulnya ada dua, pertama Tuhan yang kedua usaha mnusia juga.

Kita berbuat sesuatu, makanya di dalam cara Tuhan bekerja, Tuhan sering kali melibatkan manusia. Manusia juga berusaha, berbuatlah sebanyak-banyaknya namun kita juga tahu terakhir selalu kita harus katakan: "Tuhan, kehendakMulah yang jadi."

GS : Dalam situasi yang sulit seperti saat ini memang kita mesti belajar banyak untuk bagaimana hidup berserah kepada Tuhan Pak Paul. (PG : Betul). Terima kasih banyak Pak Paul dan Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kecemasan." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



2. Penghiburan bagi Janda 1


Info:

Nara Sumber: Dra.Indrawati T. & Ibu Aymee Ibrahim
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T007A (File MP3 T007A)


Abstrak:

Kisah nyata dua orang ibu yang beberapa tahun di tinggal suami karena dipanggil Tuhan.


Ringkasan:

Yakobus 1:27, Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan.

Kisah nyata dua ibu yang ditinggal suami, karena dipanggil Tuhan.

  1. Kesaksian Ibu Indrawati:

    Mereka sekeluarga berlibur di Bali, pergi ke sebuah benua untuk berekreasi di tepi pantai. Suaminya naik zet cycle ke tengah laut untuk bermain dengan keponakannya, tiba-tiba sebuah speedboat datang dengan kencang sekali menabrak suaminya Bp. Daniel Tambayong di tengah laut. Ibu Indrawati sendiri tidak melihatnya karena dia berada di tepi pantai sedang menunggu.

    Namun teman yang ada disampingnya dapat melihat bahwa ada sebuat zet cycle ditabrak oleh speedboat. Dia sangat berharap bahwa itu bukan Bp. Daniel, tetapi sesudah menanti beberapa saat ternyata itu memang suaminya. Dalam keadaan seperti itu, dia sangat terkejut dan shock sekali, di antara percaya dan tidak.

    Saat tiba di pantai dia mengira bahwa suaminya hanya pingsan saja karena muka suaminya tidak banyak darah, hanya terlihat sedikit di sudut bibirnya. Tapi pada saat dia membuka mulut suaminya, mulut itu sudah hancur dan kepalanya agak miring sedikit ke kiri. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa suaminya sudah meninggal. Dan ketika di bawa ke rumah sakit terdekat, seorang dokter mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada lagi, yang dimaksud adalah meninggal. Ibu Indrawati tidak dapat menyadari bahwa suaminya sudah meninggal, sampai malam tiba pun Ibu belum dapat menyadarinya. Hingga menjelang subuh, anak bungsunya datang dan mengatakan: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga." Baru di situlah Ibu Indrawati benar-benar dapat menyadari kalau suaminya sudah meninggal.

  2. Kesaksian Ibu Aymee:

    Tepatnya 24 Desember 1992 suaminya dipanggil Tuhan diduga akibat serangan jantung. Pada awalnya terjadi pada Rabu 23 Desember, suaminya mengalami capek, ingin istirahat dan mengeluarkan keringat dingin. Saat itu suaminya hanya ingin istirahat karena kira-kira terlalu capek dalam pelayanan, karena suaminya seorang hamba Tuhan yang aktif melayani. Dan juga sekaligus seorang gembala sidang di GISI (Gereja Injil Seutuh di Indonesia) Malang. Suami ibu Aymee mendapat perawatan di rumah sakit, beberapa waktu berlalu dengan setia ibu Aymee menunggui suaminya. Waktu pagi jam 09.00 di saat ibu Aymee mau istirahat setelah sepanjang malam menunggu suaminya, dia melihat suaminya menghadap ke tembok, kemudian ibu Aymee bangun dan ber tanya kepada suaminya "Kenapa kok menghadap ke tembok?" Waktu ditanyadan dipanggil tidak menjawab dia mengira suaminya sedang pingsan, dia berteriak-teriak minta tolong ke perawat. Dalam keadaan panik dan gelisah ada seorang dokter yang masuk dan mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada. Suaminya sudah meninggal.

Dalam situasi seperti ini ada perasaan berontak yang timbul, lebih-lebih di akhir kehidupannya suami Ibu Aymee sedang dipakai Tuhan dalam pelayanan untuk menyatakan kuasa mujizatNya. Orang sakit kanker, stroke, serangan jantung dalam 5 peristiwa semuanya dijamah Tuhan. Ibu Aymee melihat kuasa Tuhan nyata tapi yang menjadi pertanyaan "kenapa kok suami saya dipanggil Tuhan." Ibu Aymee benar-benar berharap kuasa Tuhan dinyatakan dan memberikan suatu kehidupan yang baru. Dan pada akhirnya Ibu Aymee boleh disadarkan dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku, yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik."

Demikian juga dengan ibu Indrawati dia pun berontak. Pertanyaan mengapa dan mengapa itu terus-menerus muncul dalam kehidupannya. Tapi sebagai orang percaya dia pun akhirnya berserah kepada Tuhan, dia percaya Tuhan pasti menolong. Karena pada saat itu ibu Indrawati dan suami terlibat dalam hutang yang besar dengan Bank. Jadi dia hanya berharap pada pertolongan Tuhan, dan dia percaya seperti ditulis dalam Alkitab "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali."

Kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya.

Bagaimana ibu-ibu ini waktu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa yang ibu-ibu ini harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu benar-benar terjawab secara pribadi.

Tepatnya Kamis tanggal 24 suami ibu Aymee dipanggil Tuhan, rasa tidak percaya bahwa suaminya benar-benar dipanggil Tuhan itulah yang dirasakannya.

Pertanyaan mengapa dan mengapa Tuhan panggil suami saya akhirnya mendapatkan jawaban dari Tuhan secara khusus. Ketika Ibu Aymee mngungkapkan rasa percayanya kepada Tuhan, "Tuhan, saya percaya FirmanMu Ya dan Amin kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya." Dan Tuhan memberikan jawaban yang manis kepadanya: "Kalau memang engkau percaya FirmanKu Ya dan Amin, saat ini engkau mengetahui di mana tempat suamimu." Kemudian dia bertanya mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil? Dan Tuhan memberikan pengertian tentang bunga. Saat kapan engkau memotong bunga? (Dan dia bilang: Saat bagus-bagusnya). Demikian juga Aku memanggil setiap anakKu yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya. Ibu Indrawati pun mengalami hal yang sama, pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa itu senantiasa muncul dalam kehidupannya. Setelah waktu 2 bulan berlalu, dalam hati Tuhan mengetuk dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah, kalau Tuhan mau panggil keputusanNya itu tidak salah. Dia tidak berani mengatakan baik atau tidak baik baginya tetapi itu keputusan yang tidak salah datang daripada Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan.

Doa itu mengandung kuasa yang besar, dan melalui kuasa doa itu juga yang memberikan kekuatan kepadanya. Dalam waktu dua bulan itu dia mengalami mujizat Tuhan. Yaitu ketika suaminya meninggal dia dan suami sedang mempunyai hutang yang besar dengan bank, dan dia pun tidak tahu apa yang harus dia perbuat tanpa suami dengan 2 orang anak, dia harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang, itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi dalam hatinya yakin bahwa Tuhan pasti menolong, perasaan itu begitu kuat sehingga kalau anak-anaknya bertanya dia bisa berkata: "Tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong." Dengan peristiwa kematian suaminya Tuhan mempersatukan keluarga suami dan keluarga ibu Indrawati. Dan tanpa sepengetahuan ibu Indrawati antara kedua belah pihak keluarga bisa rembuk/musyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank. Kedua keluarga bersatu, mereka berpatungan dan dalam satu bulan semua hutang dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah yang menjadi jaminan. Puji Tuhan itu suatu mujizat Tuhan yang terjadi, akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.

Bagaimana mengatasi saat-saat kesepian:
Meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik. Melalui Mazmur 68:6, bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen selama ± 30 menit akan menemani saudara dalam acara perbincangan seputar kehidupan keluarga. Sebagaimana biasa telah hadir bersama kami Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Idajanti Raharjo. Kali ini acaranya agak istimewa karena telah hadir pula bersama-sama dengan kami Ibu Indrawati Tambayong dan Ibu Aymee yang akan berbagi pengalaman mereka dengan Anda semua. Jadi ikutilah perbincangan kami karena kami percaya acara Telaga ini pasti sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua. Pak Paul silakan.

Lengkap

PG : Terima kasih Pak Gunawan dan Ibu Ida, hari ini adalah hari yang memang istimewa, karena di tengah-tengah kita hadir 2 orang ibu, ibu Indrawati dan ibu Aymee dan saat ini saya ingin mengucakan selamat datang kepada ibu Aymee dan ibu Indrawati.

Ibu Indrawati dan ibu Aymee adalah dua orang ibu yang menjanda karena beberapa tahun yang lalu Tuhan telah memanggil suami mereka. Dan kami mengundang mereka hadir di tengah-tengah kami pada hari ini agar kami dapat bercakap-cakap dengan mereka. Dan kami berharap apa yang kami percakapkan pada hari ini bisa membawa berkat pada banyak orang yang mungkin juga hidup menjanda. Dan kami hanya berharap bahwa ibu-ibu yang mendengarkan bisa juga mendapatkan kekuatan dari kesaksian mereka. Ibu Aymee dan Ibu Indrawati, Tuhan itu adalah Tuhan yang sangat menyayangi dan memperhatikan para janda, sebab Alkitab mencatat cukup banyak perkataan Tuhan yang sangat-sangat simpatik, sangat-sangat memperhatikan para janda, misalkan saya bisa membaca di kitab Yakobus 1:27 di sana Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini dengan jelas Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap para janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan. Saya ingin bertanya Ibu Indrawati, dapatkah Ibu menceritakan sedikit peristiwa seputar kematian suami Ibu yakni kapan itu terjadi dan apa yang terjadi pada saat itu?

IT : Baik, terima kasih untuk kesempatan ini. Suami saya dipanggil oleh Tuhan sekitar 2 tahun yang lalu dan pada waktu itu kami sekeluarga berlibur di Bali dan kami pergi ke benua untuk berekresi di tepi pantai.

Kemudian suami saya naik jet cycle ke tengah laut untuk bermain-main dengan keponakan saya dan memboncengnya. Dan kami sendiri juga bermain jet cycle

PG : Ibu dengan kedua anak Ibu ya?

IT : Ya tetapi ada sebuah speedboat yang datang kencang sekali, cepat sekali dan menabrak suami saya di tengah laut. Saya sendiri tidak melihatnya tapi teman saya yang bersama-sama dengan kami elihat kejadian itu.

PG : Di mana Ibu pada saat itu?

IT : Saya di tepi pantai menunggu dia karena sudah waktunya dia kembali, dan sudah dipanggil nomor dari jet cycle itu. Dan ketika mereka membawa dia kembali ke pantai saya baru percaya kalau it suami saya.

PG : Siapa yang memberi tahu Ibu bahwa terjadi kecelakaan di tengah laut itu?

IT : Teman saya yang ada di sebelah saya dia melihat sendiri bahwa ada sebuah jet cycle ditabrak oleh speedboat. Jadi dia bilang mudah-mudahan bukan Daniel yaitu suami saya. Tapi saya sudah kagt sekali, saya sudah menanti-nanti siapa ini yang diangkut ke pantai ternyata itu suami saya.

PG : Ibu masih ingat apa yang Ibu pikirkan atau rasakan tatkala teman Ibu berkata bahwa itu Daniel yang ditabrak oleh speedboat.

IT : Ya tentu saja saya terkejut, shock sekali dan badan saya mulai gemetar dan dingin, saking kagetnya.

PG : Percaya dan tidak percaya Bu ya?

IT : Ya percaya dan tidak percaya dan saya menunggu-nunggu siapa yang muncul nanti dan ternyata itu yang dibawa adalah suami saya yang ditidurkan tertelungkup. Jet ski yang membawa dia kembali.

PG : Ibu masih ingat apa yang Ibu lakukan tatkala tubuh Pak Daniel dibawa ke pantai?

IT : Ya saya masih ingat sekali waktu dia dibawa ke pantai, saya kira dia itu pingsan saja karena di mukanya juga tidak banyak berdarah mungkin sudah dihapus oleh air laut dan yang terlihat hana sedikit di pinggir bibirnya tetapi waktu saya membuka mulutnya saya melihat bahwa memang mulutnya itu hancur di dalamnya dan kepalanya agak miring sedikit, ke kiri sedikit berarti dia itu ditabrak dari sebelah kanan.

Tetapi dia itu memejamkan matanya terus dan seperti orang pingsan saja, jadi saya sama sekali tidak ada perasaan bahwa dia itu meninggal.

PG : Apakah Ibu berusaha memanggil Pak Daniel saat itu?

IT : Ya kami semua sekeluarga teriak-teriak, semua bilang tahan, tahan ya, tahan, tahan begitu dan kami tidak percaya sama sekali kalau dia itu meninggal seketika.

PG : Setelah itu apa yang dilakukan?

IT : Langsung dibawa ke rumah sakit yang terdekat. Saya ikut bersama-sama dengan mereka. Dan diberi pertolongan pertama tetapi saya melihat dadanya itu datar tidak ada nafas, tetapi saya masih idak percaya kalau dia itu meninggal sampai akhirnya dokter mengatakan ini orangnya sudah tidak ada lagi.

Tetapi saya tetap berpendapat bahwa dia itu masih hidup jadi saya berteriak-teriak terus kepada dokternya dan perawatnya di sana agar diberi oksigen terus dan ditekan dadanya dan kami semua melakukan hal yang sama untuk menolong dia. Dan akhirnya mereka sudah tidak mau, tidak mau menolong lagi berhenti untuk berusaha, saya masih berteriak-teriak sampai saya dibawa ke seperti kamar begitu untuk istirahat untuk dibaringkan, dan mereka bertanya kepada saya apakah perlu tubuh itu diotopsi, saya bilang jangan! Karena dia masih hidup, jadi jangan diapa-apakan dia masih hidup, usahakan terus sampai dia bangun, dia itu hanya pingsan saja.

PG : Jadi sampai kapan Ibu akhirnya menerima berita bahwa suami Ibu benar-benar telah tiada?

IT : Waktu di kamar darurat itu, dokter mengatakan ini orangnya sudah tidak ada.

PG : Kapan akhirnya Ibu bisa menerima dan mengakui bahwa suami Ibu telah tiada?

IR : Saya seperti orang yang shock dan kehilangan akal, jadi saya terus merasa dia itu masih hidup, sampai malam pun sampai malam sekali masih belum percaya kalau dia itu tidak ada. Dan Nyoman, Nyoman yaitu siswa SAAT pendeta di GKA Zion itu datang. Dia berkata: "Ibu, bapak sudah kami mandikan, sudah bersih, sudah rapi, apakah Ibu mau melihat atau apa?" Saya tidak tahu perasaan saya waktu itu, seperti orang yang tidak bisa berpikir lagi, jadi saya sendiri di antara hidup dan mati. Jadi saya tidak tahu perasaan saya waktu itu bagaimana dan waktu mereka meminta saya, "Maukah ke sana untuk melihat bapak sudah rapi," saya katakan ada apa dilihat 'kan dia cuma pingsan saja, saya disuruh berdiri juga tidak kuat, pada waktu itu saya berkata usahakan terus dan dia tidak mungkin meninggal, jangan diapa-apakan. Mungkin saya berharap dia itu masih bisa bangun lagi.

PG : Jadi apakah baru keesokan harinya Ibu benar-benar menyadari bahwa Pak Daniel sudah tidak ada?

IT : Ya dan menjelang hari subuh, saya mulai merasa karena anak saya yang paling kecil datang pada saya dia bilang: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga" (dia bilang bgitu) terus saya kaget sekali, apa benar? Berarti dia di sorga, berarti dia mati.

Terus saya berhenti menangis tapi kemudian saya sadar bahwa dia itu betul-betul mati dan saya menangis terus sepanjang malam itu.

PG : Semua ini masih terbayang dengan jelas ya Bu Indra?

IT : Masih, sewaktu-waktu bisa terbayang kembali di mana dan kapan saja

PG : Seperti baru terjadi kemarin ya Ibu Indrawati (IT : Ya, begitu mengejutkan). Bagi para pendengar saya perlu juga memberi data sedikit tentang ibu Indrawati, ibu Indrawati pada saat itu adaah dosen bahasa Inggris di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang dan suami ibu, Pak Daniel adalah seorang usahawan.

Ibu dan suami dua-dua adalah aktifis gereja (IT : anggota GKI ) di GKI Bromo Malang. Dan Ibu dengan suami juga melayani di Lembaga Bina Keluarga Kristen. Ya saya masih ingat sekali suami Ibu seorang yang sangat gagah, dulu kami pergi makan sama-sama ya Bu ya.

IT : Dia orang yang sangat mencintai Tuhan, orang yang baik dan benar, terhadap siapapun dia tidak takut, hanya takut pada Tuhan saja di dunia ini.

PG : Puji Tuhan, puji Tuhan terima kasih Ibu Indrawati, dan sekarang saya juga menanyakan hal yang sama kepada Ibu Aymee dan sedikit data, mungkin Ibu Aymee bisa menceritakan siapa Ibu Aymee dan juga siapa suami Ibu?

AY : Saya adalah seorang pelayan Tuhan juga yang melayani di bidang konseling, tapi saya mempunyai 5 orang anak. Sampai sekarang saya masih melayani Tuhan dan saya mau menceritakan tentang keadan suami saya yaitu di saat tahun '92 bulan Desember tepatnya tanggal 24 itu saat itu saya tidak menyangka kalau suami saya benar-benar dipanggil Tuhan, karena tanda-tandanya itu di saat tanggal 23 Desember, saya ingat sekali hari Rabu dia cuma mengalami capek ingin istirahat dan dia mengeluarkan keringat dingin.

Saat itu saya hanya mau dia istirahat kira-kira dia terlalu capek dalam hal pelayanan, suami saya juga seorang hamba Tuhan dan dia juga aktif melayani.

PG : Beliau juga seorang gembala sidang ya Bu ya?

AY : Ya gembala sidang di GISI saat itu.

PG : Gereja Injil Seutuhnya Bu ya (AY : Seutuh Indonesia di Malang). Itu terjadi secara tiba-tiba sekali Bu ya? (AY : Secara tibat-iba) dan diduga penyebabnya sakit apa Bu ya?

AY : Waktu itu dia merasa lemah badannya dan keluar keringat dingin, saya telepon ke kakak ipar saya untuk memberitahu bahwa Daniel, (nama suami saya juga Daniel, Daniel Ibrahim) sedang sakit aya minta supaya dia memanggilkan dokter.

Setelah dokter datang untuk memeriksa karena tidak biasanya seperti itu, di saat dokter datang, dokter cuma menyarankan untuk mencoba diperiksa, dibawa ke rumah sakit. Kemungkinan kena serangan jantung menurut Dr. Riadi.

PG : Saat itu dia sadar Bu ya?

AY : Sadar, sadar sepenuhnya cuma malam harinya itu dia tidak tidur, karena selama 2 bulan itu dia banyak pelayanan memang, banyak pelayanan di luar kota. Dan satu bulan penuh kita pelayanan dirumah sakit yaitu 3 rumah sakit pagi sore dan kita sebagai hamba Tuhan, pelayan Tuhan malam pun kita bawakan dalam doa.

Memang dia seorang pendoa ya, jadi setiap harinya dia minim berdoa 6 jam (PG : Waow....luar biasa Bu, luar biasa, bener-bener seorang yang berdoa Bu ya?) ya. Waktu kejadian itu yaitu tanggal 23 pagi itu karena saya setiap bangun pagi menanyakan dia "Apakah kamu bisa istirahat dengan baik? Apa kamu bisa tidur dengan enak malam harinya?" karena memang dia ini adalah suami yang baik ya, sehari-harinya itu dia memperhatikan istri dan anak, seringnya dia itu menunggui saya sampai saya tidur dulu, baru dia itu tidur. Jadi tiap bangun pagi saya menanyakan dengan keadaan dia ya, apakah tadi malam kamu tidur dengan nyenyak dan enak? Dan dia mengatakan: "Semalamam saya tidak tidur." Saya menanyakan kenapa? Dan dia bilang bahwa dia sedang doa, terus keterusan sampai pagi, saat itu saya bilang coba kamu saat ini istirahat ya. Saya suruh dia istirahat, saya pergi mandi tapi setelah saya masuk ke kamar saya, saya melihat dia itu duduk dan dia mengatakan: "Saya tidak tidur ah saya mau ke sekolahan untuk mengambil raport anak-anak." Jadi tanda itu di saat dia pulang dari sekolah mengambil raport anak-anak, dia memang berangkat naik becak ya dia bilang badan saya kok agak lemas, terus keluar keringat dingin. Nah saat itu dia bilang: "saya mau istirahat ya dan saya mengatakan coba periksa saja ke dokter kemudian saya telepon kakak ipar saya untuk memanggilkan dokter. Dokter datang menganjurkan supaya dia dibawa ke rumah sakit, kemungkinan terkena serangan jantung. Tapi setelah itu ± jam 10.00, jam 10.00 pagi saya bawa ke RKZ, di sana suster bertanya mau pakai dokter siapa, tapi saya tidak mengerti mesti pakai dokter siapa cuma saat itu mereka menyarankan pakai dokter jantung yaitu dr. Janggan. Waktu itu dokter lagi rapat tapi dia disarankan untuk periksa ICG, ternyata dari hasil pemeriksaan itu tidak ada masalah.

PG : Jadi hasil ICG-nya baik (AY : Tidak ada masalah, baik, pemeriksaan dari dokter juga baik) OK! Jadi bener-bener tidak dideteksi sama sekali ya?

AY : Tidak, dan dia memang merasa cuma kurang tidur, dia merasa lemas, dia merasakan saya bukan sakit jantung. Tetapi waktu dokter datang jam 03.00 sore untuk memeriksa hasil dia mengatakan baha tidak ada masalah dengan jantungnya, tapi coba difoto.

Hasil fotonya memang jantungnya agak bengkak karena dia ada flu dan batuk. Tidak ada penanganan khusus, cuma dia mau saya memuji Tuhan. Dia berkata doakan saya, kamu memuji Tuhan, saya memuji Tuhan dan dia doa. Di tengah malamnya saya melihat dia cuma sebentar-sebentar bangun minta minum (GS : Ini di rumah sakit Bu?) di rumah sakit, jam 10.00 masuk rumah sakit, tengah malam dia sebentar-sebentar bangun minta minum dan saya menanyakan kepada suster : "Suster kenapa kok suami saya sepertinya gelisah?" Dan dia datang untuk melihat ternyata obat yang diberikan itu belum diminum. Saya mengatakan kepada suami saya supaya obat yang diberikan dokter itu diminum, tapi dia mengatakan sebetulnya saya tidak sakit tapi saya ini kurang istirahat. Kalau saya tidur, besok saya bangun saya akan mendapatkan tubuh yang lebih sehat, nah itu kejadiannya, keesokan paginya kira-kira ± pagi jam 03.30 (setengah empat) itu saya mempunyai perasaan yang tidak enak, saya gelisah, saya suruh anak saya (saya dan anak saya menunggu di rumah sakit, saya suruh telepon ke kakak ipar saya untuk memanggilkan dokter, tapi suster mengatakan bahwa suami saya tidak apa-apa, "suami Ibu tidak apa-apa dia bisa tidur dengan enak, Ibu jangan gelisah, Ibu tidur saja." Saat itu saya memang menelepon kakak ipar saya, dia mengatakan bahwa tidak ada masalah biar pagi saja, kalau memang suamimu ada masalah pasti ada penanganan secara khusus.

PG : Dan Tuhan panggil dia saat itu ya Bu?

AY : Bukan, ± jam 09.00 pagi di saat saya mau istirahat, jadi semalaman saya memang tidak istirahat, saya menunggui dia, saya melihat dia tidur, cuma dia mengatakan kepada saya kamu istiraat saja, kamu nanti capek, saya tidak apa-apa.

Di saat pagi di waktu saya mau istirahat baru saya duduk, dia ini menghadap ke tembok, saya bangun saya tanya: "lho kamu kok menghadap ke sana ke tembok situ," waktu saya panggil dia kok diam saja, saya kira dia pingsan, tidak tahunya saat itu dia tidak ada. Waktu saya panggil dia, dia tidak menjawab, saya memang teriak kebetulan kamar dari suami saya itu sebelah dari kamar suster/juru rawat, mereka semua datang. Saya teriak-teriak minta tolong karena saya pikir suami saya ini pingsan, saya panggil kok diam saja. Dalam keadaan gelisah, panik, ada dokter yang masuk tapi bukan dokter yang menangani dia saya lupa dokter siapa, dokter itu mengatakan bahwa suami saya tidak ada, dan saya tidak percaya langsung saya teriak.

PG : Terus apa yang terjadi Bu setelah itu?

AY : Saat itu saya memang teriak ya, saya panggil Yesus tolong tapi rasanya Tuhan di mana Engkau, Tuhan kenapa tidak menjawab. Nah saat itu saya sangat terpukul, mungkin ya saya ditenangkan, tapa saya sadar menurut saudara-saudara saya saat itu karena saya terus teriak-teriak saya panik, maka suster memberi saya suatu injeksi supaya saya tenang.

IR : Ibu Aymee dan Ibu Indrawati, saat musibah itu datang menimpa ibu-ibu apakah di dalam hati ibu ada perasaan berontak kepada Tuhan dan apakah juga banyak pertanyaan-pertanyaan misalnya mengapa ini harus terjadi, mengapa Tuhan meninggalkan saya dan bagaimanakah kehidupan saya apakah memang keadaan demikian?

AY : Ya, itu yang saya alami, saya sangat berontak sekali karena dalam pelayanan saya, pengalaman pelayanan saya banyak mujizat terjadi khususnya pada akhir dari kehidupan suami saya pada 1 buln kita mendapatkan 5 mujizat.

Yaitu dokter yang mengatakan orang sakit kanker yang sudah parah, stroke, serangan jantung juga, itu dari 5 itu semuanya dijamah oleh Tuhan. Jadi saya melihat akan kuasa Tuhan nyata tapi kenapa kok suami saya dipanggil apalagi khususnya pada tahun itu juga tanggal 27 Maret di rumah Jl. Mentawai itu sekitar dekat Angkatan Laut mereka pun tahu itu terjadi yaitu tukang bangunan di rumah saya itu kena setrum dan betul-betul mati, tapi pada saat itu saya benar-benar berharap kepada Tuhan, saya percaya kuasa Tuhan itu sampai sekarang nyata, jadi saya minta kepada Tuhan, bahwa Tuhan sanggup memberikan kehidupan yang baru. Memang saya berontak di situ, tapi saat itu ada seorang hamba Tuhan yang menghibur saya entah kenapa yaitu Ibu Linda Bernard dia mengatakan bahwa rencana Tuhan itu yang terbaik bagi Ibu Aymee maupun bagi Daniel, tapi saat itu saya bilang "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik." Dia juga menjawab dan dia mendoakan bahwa supaya Tuhan sendiri yang memberikan jawaban kepada saya supaya saya bisa menerima keadaan ini.
IR : Bagaimana Bu Ing?

IT : Saya mempunyai perasaan yang sama yaitu berontak, dalam hati saya mengapa, mengapa, mengapa pertanyaan itu terus muncul tetapi kemudian setelah beberapa saat ya beberapa minggu telah berlau saya mulai berserah.

Dan dalam pikiran saya itu, saya hanya tahu dan percaya satu hal bahwa Tuhan pasti menolong. Dan pada waktu itu saya dan suami saya memang dalam hutang yang besar sekali dengan bank, anak saya selalu tanya terus tanya: "Mam, bagaimana ini hutang-hutang kami di bank?" Saya bilang: "Saya tidak tahu, tanya Tuhan." Tapi dalam hati saya, saya yakin satu hal dan keyakinan saya itu begitu besar, saya tahu kalau Tuhan memanggil Daniel pergi pasti Dia yang menggantikan tempatnya dan pasti Dia tolong. Karena di dalam Alkitab tertulis, "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali". Dan saya yakin dan percaya bahwa kalau memang saya dijadikan janda pasti Tuhan akan menolong.

GS : Terima kasih Ibu Indrawati dan Ibu Aymee. Demikianlah tadi saudara pendengar yang kami kasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, kami telah persembahkan sebuah perbincangan yang sangat istimewa sekali pada saat ini. Kami percaya Anda tentu ingin mendengar kelanjutan dari siaran kami ini, karenanya apabila Anda berniat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami juga ucapkan banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



3. Penghiburan bagi Janda 2


Info:

Nara Sumber: Dra.Indrawati T. & Ibu Aymee Ibrahim
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T007B (File MP3 T007B)


Abstrak:

Satu jawaban Tuhan yang diberikan kepada setiap anakNya yang dikasihi itu masing-masing berbeda.


Ringkasan:

Yakobus 1:27, Firman Tuhan berkata: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Jadi di sini Tuhan mengaitkan ibadah atau hidup yang menyenangkan Tuhan dengan perhatian yang besar terhadap janda, jadi janda adalah orang yang dekat dengan hati Tuhan.

Kisah nyata dua ibu yang ditinggal suami, karena dipanggil Tuhan.

  1. Kesaksian Ibu Indrawati:

    Mereka sekeluarga berlibur di Bali, pergi ke sebuah benua untuk berekreasi di tepi pantai. Suaminya naik zet cycle ke tengah laut untuk bermain dengan keponakannya, tiba-tiba sebuah speedboat datang dengan kencang sekali menabrak suaminya Bp. Daniel Tambayong di tengah laut. Ibu Indrawati sendiri tidak melihatnya karena dia berada di tepi pantai sedang menunggu.

    Namun teman yang ada disampingnya dapat melihat bahwa ada sebuat zet cycle ditabrak oleh speedboat. Dia sangat berharap bahwa itu bukan Bp. Daniel, tetapi sesudah menanti beberapa saat ternyata itu memang suaminya. Dalam keadaan seperti itu, dia sangat terkejut dan shock sekali, di antara percaya dan tidak.

    Saat tiba di pantai dia mengira bahwa suaminya hanya pingsan saja karena muka suaminya tidak banyak darah, hanya terlihat sedikit di sudut bibirnya. Tapi pada saat dia membuka mulut suaminya, mulut itu sudah hancur dan kepalanya agak miring sedikit ke kiri. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa suaminya sudah meninggal. Dan ketika di bawa ke rumah sakit terdekat, seorang dokter mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada lagi, yang dimaksud adalah meninggal. Ibu Indrawati tidak dapat menyadari bahwa suaminya sudah meninggal, sampai malam tiba pun Ibu belum dapat menyadarinya. Hingga menjelang subuh, anak bungsunya datang dan mengatakan: "Ma, jangan menangis, papa sekarang sudah ada di sorga." Baru di situlah Ibu Indrawati benar-benar dapat menyadari kalau suaminya sudah meninggal.

  2. Kesaksian Ibu Aymee:

    Tepatnya 24 Desember 1992 suaminya dipanggil Tuhan diduga akibat serangan jantung. Pada awalnya terjadi pada Rabu 23 Desember, suaminya mengalami capek, ingin istirahat dan mengeluarkan keringat dingin. Saat itu suaminya hanya ingin istirahat karena kira-kira terlalu capek dalam pelayanan, karena suaminya seorang hamba Tuhan yang aktif melayani. Dan juga sekaligus seorang gembala sidang di GISI (Gereja Injil Seutuh di Indonesia) Malang. Suami ibu Aymee mendapat perawatan di rumah sakit, beberapa waktu berlalu dengan setia ibu Aymee menunggui suaminya. Waktu pagi jam 09.00 di saat ibu Aymee mau istirahat setelah sepanjang malam menunggu suaminya, dia melihat suaminya menghadap ke tembok, kemudian ibu Aymee bangun dan ber tanya kepada suaminya "Kenapa kok menghadap ke tembok?" Waktu ditanyadan dipanggil tidak menjawab dia mengira suaminya sedang pingsan, dia berteriak-teriak minta tolong ke perawat. Dalam keadaan panik dan gelisah ada seorang dokter yang masuk dan mengatakan bahwa suaminya sudah tidak ada. Suaminya sudah meninggal.

Dalam situasi seperti ini ada perasaan berontak yang timbul, lebih-lebih di akhir kehidupannya suami Ibu Aymee sedang dipakai Tuhan dalam pelayanan untuk menyatakan kuasa mujizatNya. Orang sakit kanker, stroke, serangan jantung dalam 5 peristiwa semuanya dijamah Tuhan. Ibu Aymee melihat kuasa Tuhan nyata tapi yang menjadi pertanyaan "kenapa kok suami saya dipanggil Tuhan." Ibu Aymee benar-benar berharap kuasa Tuhan dinyatakan dan memberikan suatu kehidupan yang baru. Dan pada akhirnya Ibu Aymee boleh disadarkan dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan aku minta ampun, aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku, yang aku tahu saat ini aku mengalami satu yang tidak baik."

Demikian juga dengan ibu Indrawati dia pun berontak. Pertanyaan mengapa dan mengapa itu terus-menerus muncul dalam kehidupannya. Tapi sebagai orang percaya dia pun akhirnya berserah kepada Tuhan, dia percaya Tuhan pasti menolong. Karena pada saat itu ibu Indrawati dan suami terlibat dalam hutang yang besar dengan Bank. Jadi dia hanya berharap pada pertolongan Tuhan, dan dia percaya seperti ditulis dalam Alkitab "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali."

Kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya.

Bagaimana ibu-ibu ini waktu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa yang ibu-ibu ini harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu benar-benar terjawab secara pribadi.

Tepatnya Kamis tanggal 24 suami ibu Aymee dipanggil Tuhan, rasa tidak percaya bahwa suaminya benar-benar dipanggil Tuhan itulah yang dirasakannya.

Pertanyaan mengapa dan mengapa Tuhan panggil suami saya akhirnya mendapatkan jawaban dari Tuhan secara khusus. Ketika Ibu Aymee mngungkapkan rasa percayanya kepada Tuhan, "Tuhan, saya percaya FirmanMu Ya dan Amin kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya." Dan Tuhan memberikan jawaban yang manis kepadanya: "Kalau memang engkau percaya FirmanKu Ya dan Amin, saat ini engkau mengetahui di mana tempat suamimu." Kemudian dia bertanya mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil? Dan Tuhan memberikan pengertian tentang bunga. Saat kapan engkau memotong bunga? (Dan dia bilang: Saat bagus-bagusnya). Demikian juga Aku memanggil setiap anakKu yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya. Ibu Indrawati pun mengalami hal yang sama, pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa itu senantiasa muncul dalam kehidupannya. Setelah waktu 2 bulan berlalu, dalam hati Tuhan mengetuk dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah, kalau Tuhan mau panggil keputusanNya itu tidak salah. Dia tidak berani mengatakan baik atau tidak baik baginya tetapi itu keputusan yang tidak salah datang daripada Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan.

Doa itu mengandung kuasa yang besar, dan melalui kuasa doa itu juga yang memberikan kekuatan kepadanya. Dalam waktu dua bulan itu dia mengalami mujizat Tuhan. Yaitu ketika suaminya meninggal dia dan suami sedang mempunyai hutang yang besar dengan bank, dan dia pun tidak tahu apa yang harus dia perbuat tanpa suami dengan 2 orang anak, dia harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang, itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi dalam hatinya yakin bahwa Tuhan pasti menolong, perasaan itu begitu kuat sehingga kalau anak-anaknya bertanya dia bisa berkata: "Tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong." Dengan peristiwa kematian suaminya Tuhan mempersatukan keluarga suami dan keluarga ibu Indrawati. Dan tanpa sepengetahuan ibu Indrawati antara kedua belah pihak keluarga bisa rembuk/musyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank. Kedua keluarga bersatu, mereka berpatungan dan dalam satu bulan semua hutang dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah yang menjadi jaminan. Puji Tuhan itu suatu mujizat Tuhan yang terjadi, akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.

Bagaimana mengatasi saat-saat kesepian:
Meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik. Melalui Mazmur 68:6, bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, saya Gunawan Santosa bersama Ibu Idayanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan seputar kehidupan keluarga. Kembali telah hadir bersama kami Bp. Dr. Paul Gunadi, Ibu Idajanti Raharjo, Ibu Indrawati Tambayong dan Ibu Aymee yang akan berbincang-bincang dengan kami seputar kehidupan-kehidupan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya. Baiklah ikutilah perbincangan kami ini karena kami percaya acara Telaga ini pasti akan sangat menarik dan bermanfaat bagi kita semua. Bp. Dr. Paul Gunadi akan mengawali perbincangan kita malam hari ini, silakan.

Lengkap

PG : Terima kasih Pak Gunawan dan Ibu Ida, sekarang memang adalah waktu yang sangat khusus sekali karena di tengah kita telah hadir 2 orang ibu yaitu ibu Indrawati dan Ibu Aymee. Dan bagi yang elah mengikuti acara Telaga pada kali yang terakhir mungkin masih mengingat bahwa kami telah mengundang ibu Indrawati dan ibu Aymee untuk mengisahkan musibah yang menimpa mereka tatkala mereka kehilangan suami yang mereka cintai.

Dan kami akan melanjutkan perbincangan dengan mereka pada hari ini, Ibu Indrawati dan Ibu Aymee sekali lagi selamat datang dan terima kasih sekali atas kesediaan Ibu-ibu untuk menuturkan kisah yang memang sangat dekat di hati tapi juga kami yakin kalau dipikir-pikir mungkin masih menimbulkan luka sebab bagaimanapun kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Sedikit data bagi para pendengar yang belum sempat mengikuti acara kami pada kali yang terakhir, ibu Indrawati adalah pada saat suaminya dipanggil Tuhan adalah seorang dosen bahasa Inggris di Seminari Alkitab Asia Tenggara dan ibu Aymee adalah istri dari Pdt. Daniel Ibrahim. Dan secara kebetulan suami ibu Indrawati juga bernama Daniel yaitu pak Daniel Tambayong, jadi kedua suami ibu-ibu ini bernama Daniel. Seperti yang di Alkitab Daniel adalah Daniel yang berani dan demikianlah suami para ibu, mereka berdua adalah hamba-hamba Tuhan seperti Daniel yang di Alkitab yang berani membela yang benar dan tidak mundur meskipun mendapatkan tekanan apapun. Suami ibu Indrawati pak Daniel Tambayong meninggal pada waktu sedang berekreasi di sebuah pantai di pulau Bali bersama dengan keluarga tatkala jet cycle yang dia kendarai ditabrak oleh sebuah speedboat dan Tuhan memanggilnya pada saat itu juga. Sedangkan suami dari ibu Aymee yakni Pdt. Daniel Ibrahim dipanggil Tuhan secara mendadak juga dan diduga akibat serangan jantung dan usia dari pak Daniel Tambayong 49 tahun, dan usia dari pak Daniel Ibrahim adalah 44 tahun, jadi saudara pendengar bisa meręka kedua ibu yang ada dihadapan kami adalah ibu yang masih muda. Dan waktu Tuhan memanggil suami mereka, mereka juga masih muda dan mempunyai anak-anak yang belum dewasa semuanya. Sekarang saya akan kembali lagi menanyakan pertanyaan yang ditanyakan oleh ibu Ida pada kali yang terakhir yakni tentang bagaimana ibu-ibu menjawab pertanyaan mengapa, mengapa Tuhan memanggil suami saya, jadi apa itu yang ibu-ibu harus lakukan sehingga akhirnya pertanyaan itu sungguh-sungguh terjawab secara pribadi. Dan apakah ada jawaban yang umum, universal bagi semua orang yang mengalami peristiwa seperti ini.

AY : Saat itu saya mendapatkan jawaban dari Tuhan, karena saya berontak, saya bertanya terus kepada Tuhan, karena saya merasa bahwa dalam pelayanan saya waktu tanggal 27 Maret yaitu tentang tukng yang mati kena setrum dan ternyata dia bangkit kembali itu disaksikan oleh orang-orang di sekitar rumah yaitu saudara sepupu kita, juga masih banyak ada 15 tukang yang ada di rumah saya menyaksikan itu, tukang-tukang becak dan itu mujizat Tuhan terjadi dan pak Buari ini bener-bener dipulihkan.

Saat itu saya bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa Tuhan memanggil suami saya" sedangkan saat itu secara manusia dia sedang bagus-bagusnya melayani Tuhan, banyak mujizat terjadi karena itu kebesaran Tuhan juga, saya juga melihat dalam pelayanan, saya selalu menyertai dia untuk pelayanan ini, saya selalu bertanya kepada Tuhan: "Tuhan bahwa FirmanMu YA dan AMIN, kalau Engkau sanggup membangkitkan pak Buari saat itu saya juga menuntut supaya Tuhan bisa membangkitkan suami saya." Saat itu hari Jumat saya ingat suami saya dipanggil Tuhan hari Kamis tanggal 24, Jumatnya saya mengurung diri di kamar. Memang saya saat itu bingung apa betul suami saya ini benar-benar dipanggil Tuhan atau saya ini mimpi, saya bingung tadi yang di peti jenazah itu apa betul suami saya, saya mencoba mengulang untuk menyadarkan diri saya ternyata memang betul. Dan saya bertanya: "Tuhan, mengapa Tuhan memanggil suami saya", sedangkan dalam kehidupan kami, jemaat itu mengatakan bahwa kita itu bisa sebagai contoh, memang kehidupan kami ini saling mengasihi dan ada satu keharmonisan, kesehatian dalam melayani, dia juga suami yang baik mengasihi anak-anak&. Tapi waktu itu saya bener-bener mendapatkan jawaban dari Tuhan di saat saya bertanya Tuhan, saya masih membutuhkan suami saya. Nah FirmanMu YA dan AMIN kalau Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dalam waktu 4 hari saya percaya Tuhan juga sanggup membangkitkan suami saya. Tapi saat itu jawaban yang diberikan Tuhan kepada saya, kalau memang engkau percaya FirmanKu YA dan AMIN, saat ini engkau mengetahui di mana tempat dari suamimu. Saat itu juga saya mengatakan: "Tuhan, mengapa di saat bagus-bagusnya dia melayani, Tuhan panggil", Tuhan memberikan pengertian kepada saya yaitu tentang bunga, karena saya senang bunga. Dulu kalau saya menanam bunga, di saat bagus-bagusnya memang saya potong, saya taruh di vas bunga. Tuhan bertanya, pengertian itu bertanya kepada saya, saat kapan engkau memotong bunga, saya katakan saat bagus-bagusnya, demikian juga Aku memanggil setiap anak-Ku yang Kukasihi justru di saat bagus-bagusnya Aku memanggil dia. Waktu itu akhir tahun Desember, dan itu mestinya ulang tahun dari ibu saya, biasanya yang menyiapkan semua adalah Daniel suami saya, dan dia berencana untuk membagikan Firman bagi saudara kita yang masih belum kenal Tuhan, saat itu saya masih bertanya pada Tuhan: "Tuhan, dalam hal ini saya masih belum mengerti," tapi Tuhan juga memberikan satu pengertian dan Tuhan bertanya: "Bila engkau berpesta, mau mengadakan satu pesta siapa yang kamu undang terlebih dahulu?" Ya memang saat itu saya ingat saudara yang terdekat, kita memberikan undangan dulu supaya mereka ada persiapan untuk hadir. Tetangga masih belum, jadi saya katakan tentu orang yang terdekat saya undang dulu, demikian juga halnya Tuhan, akan memanggil orang yang dekat dulu, bukan berarti yang lain itu tidak dekat kepada Tuhan, itu penghiburan dan satu kekuatan yang diberikan kepada saya saat itu.

PG : OK! Jadi pada kasus Ibu benar-benar Ibu harus bergumul mendapatkan jawaban pribadi dari Tuhan, tidak ada jawaban yang universal ya Bu di mana semua orang pasti sama jawabannya?

AY : Tidak

PG : Jadi setiap orang masing-masing berbeda, bagaimana dengan Ibu Indrawati?

IT : Saya tentu mengalami perasaan yang hampir sama dengan ibu Aymee yaitu saya berontak sekali dan setiap hari saya menangis. Dan sebenarnya saya itu sudah menangis dua bulan setiap hari nonstp.

Dan dalam hati saya pertanyaannya sama, mengapa, karena saya belum siap, mengapa Tuhan karena saya belum siap. Tetapi setelah dua bulan berlalu, Tuhan mengetuk hati saya dan memberi jawaban bahwa keputusan Tuhan itu tidak bisa salah. Kalau memang Tuhan mau panggil itu adalah keputusanNya dan itu tidak salah. Saya tidak berani mengatakan baik atau tidak bagi saya tetapi keputusan itu tidak salah dan itu datang dari Tuhan. Dan kalau memang keputusan itu sudah diambil oleh Tuhan pasti Tuhan juga akan memelihara yang ditinggalkan. Jadi saya juga dalam kesempatan ini ingin bersaksi bahwa doa itu mengandung kuasa yang besar. Nah pada saat-saat saya berdukacita yang sedalam-dalamnya, teman-teman khususnya saudara-saudara seiman itu memberi saya dukungan yang luar biasa melalui doa. Dan saat itu saya juga bisa menyaksikan kuasa doa itu, jadi membuat saya makin hari semakin kuat. Dan jawaban itu jelas sekali diberikan kepada saya setelah 2 bulan, maka itu setelah 2 bulan saya berhenti menangis, bukan berarti saya tidak menangis lagi tetapi saya tidak menangis seperti sebelumnya. Dan satu hal yang saya yakini karena dalam dua bulan itu mujizat sudah terjadi yaitu seperti yang saya ceritakan pada kesempatan yang lalu, waktu suami saya meninggal, kami mempunyai hutang yang besar dengan bank dan saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, tanpa suami dengan dua anak dan saya harus berjuang sendiri untuk melunasi hutang-hutang itu, sesuatu hal yang impossible bagi saya, tidak mungkin bisa. Tetapi dalam hati saya, saya yakin satu hal bahwa Tuhan pasti menolong, aneh sekali, perasaan itu begitu besar dan begitu meyakinkan sehingga anak-anak saya kalau bertanya kepada saya, saya bilang tanya Tuhan, jawabannya ada dalam Tuhan dan Tuhan pasti menolong, saya tahu pasti menolong. Nah saya ingin bersaksi, dengan kematiannya itu Tuhan memakai untuk mempersatukan keluarga dari suami saya, juga dari keluarga saya. Tanpa sepengetahuan saya, mereka dua keluarga itu bisa rembuk bersama-sama dan mengambil keputusan untuk membayar semua hutang yang ada di bank bagi saya. Jadi pada saat itu memang ekonomi Indonesia sudah sulit, untuk mendapatkan uang segitu banyak memang sulit sekali, tidak mudah. Tapi kedua keluarga itu bisa bersatu, mereka berpatungan dan dalam 1 bulan persis saya dibawa ke bank, hutang itu semua dilunasi dan dikeluarkan sertifikat rumah saya sebagai jaminan, jadi puji Tuhan, itu kelihatan sekali mujizat sudah terjadi dalam 1 bulan, hanya dalam 1 bulan. Itu akal manusia tidak akan bisa sampai ke sana.
IR : Bu Ing dan Bu Aymee, mungkin bisa menceritakan lagi pergumulan hidup sendiri bagaimana mengatasi saat-saat kesepian, saat-saat yang paling sulit mungkin Ibu bisa share pada saat ini.

AY : Ya saya dikuatkan melalui Firman Tuhan, saya merenungkan dengan apa yang diberikan kepada saya yaitu tentang saudara seiman yang mengingatkan bahwa rencana Tuhan yang terbaik. Itu saya renngkan, saya pelajari dan memang itu suatu perjuangan, saya harus meyakinkan diri bahwa rencana Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya, khususnya dalam Firman Tuhan juga di Mazmur 68:6, bahwa Dia akan memelihara para yatim dan melindungi janda itu saya merasa terlindung, saya tetap mempercayai bahwa Firman Tuhan itu Ya dan Amin.

Saya berusaha, memang untuk saya memulihkan rasa kepercayaan saya, apa yang terbaik bagi saya itu adalah suatu perjuangan. Saya harus benar-benar mempercayai itu dan juga Firman Tuhan khususnya menghibur saya yaitu saya seolah-olah kehilangan suami ya, kalau memang itu benar kehilangan suami rasanya untuk melewati satu hari saya tidak mampu. Karena apa yang saya dapat itu memang yang diberikan suami saya, itu dalam pandangan saya itu lebih daripada orang lain, jadi betul-betul saya merasa kehilangan. Tapi janji Firman Tuhan yang tercatat di Yesaya 54:5 Dia menjadi suami bagi kita (PG: Maksudnya Tuhan ya) Tuhan itu 'kan dijanjikan jadi Tuhan yang menjadi suami bagi kita para janda. Sekalipun itu dijanjikan kepada bangsa Israel untuk pemulihan Sion itu juga berlaku dari para janda, nah di situ saya mempunyai satu ketenangan. Jadi saya percaya bahwa pengganti dari suami saya itu adalah Bapa di sorga yang memelihara anak-anak saya. Saya merasa itu lebih terjamin dalam kehidupan keluarga kita.

PG : OK! Terima kasih bagaimana dengan Ibu Indrawati?

IN : Ya untuk mengatasi kesepian, saya selalu kembali ke Firman Tuhan, selalu yang saya pikirkan itu adalah Firman Tuhan bahwa Tuhan Yesus adalah bujangan dan Dia bisa menjalankan kehidupanNya egitu murni dan begitu benar di hadapan orang, jadi Tuhan Yesus itu adalah contoh bagi saya, jadi saya terus memandang ke Tuhan Yesus itu yang memberi saya kekuatan yang lauar biasa.

Dan selalu kalau saya merasa kesepian, saya berlutut saya mengatakan kepada Tuhan terus-terang saya kesepian sekali dan sebagai seorang perempuan yang sudah menikah selama 22 tahun tentu juga ada kebutuhan badaniah dan pada saat-saat itu saya selalu bertekuk lutut saya berdoa kepada Tuhan, saya terus-terang mengatakan Tuhan saya kesepian, kesepian sekali dan saya susah dan saya merindukan suami saya. Nah kemudian saya nangis dan Tuhan menolong, selalu.

PG : Jadi tangisan itu adalah hal yang positif Bu ya untuk melepaskan ketegangan dan kesepian kita, apalagi waktu kita berdiam juga ya?

IN : Jadi saya membiarkan perasaan saya keluar dengan demikian setelah berdoa dan berserah itu saya merasa ada damai, ada sejahtera lagi.

GS : Ya saya merasakan tidak gampang juga Bu Indrawati dan Bu Aymee, tadi Bu Aymee katakan ketika suami meninggal ada 5 anak yang harus diasuh dan Bu Indrawati ada 2 anak putra remaja yang juga butuh pengasuhan. Yang kami ingin Bu Aymee dan Ibu Indrawati bagikan pada kami semua adalah bagaimana kesulitan atau suka dukanya mengasuh anak sendirian karena tidak ada lagi figur ayah di sana. Bagaimana Bu Aymee?

AY : Untuk mendidik anak, saya bersandar kepada Tuhan ya, karena dalam keterbatasan sebagai orang tua sekalipun masih ada ayah dan ibu, yang terbaik itu adalah pengawasan dari Bapa di sorga. Jai memang saya untuk membimbing anak-anak tidak mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun juga, bukan berarti saya lepas, lepas dari tanggung jawab tapi memang saya mau mereka beriman kepada Tuhan.

Saya mengucap syukur bahwa apa yang tidak pernah kita pikirkan itu terjadi, apa yang tertulis di 1 Korintus 2:9 itu benar-benar kita alami. Jadi Tuhan membimbing anak-anak saya, setiap anak diberikan satu keahlian, memang saya tidak membiasakan memberi uang saku bagi anak-anak saya, tapi anak-anak saya tanpa saya didik untuk bekerja tapi mereka bisa. Jadi dengan pemberian Tuhan yaitu mereka diberikan satu keahlian, anak saya yang paling besar mempunyai bakat untuk membuat kue demikian juga anak saya yang paling kecil, sedangkan anak saya yang nomor 2, 4 dan 3 itu kurang senang di bidang kue tapi mereka bisa dagang. Dan apa yang mereka kerjakan itu bukan mereka yang cari tapi ada saja yang memberi seperti jual arloji, pakaian, ada yang menawarkan.
GS : Jadi secara finansial bisa teratasi dengan itu, karena Tuhan membuka jalan.

AY : Bisa teratasi karena memang saya memberi waktu untuk Tuhan dan Tuhan pun melimpahkan berkat ya, jadi saya memang lebih banyak memberikan waktu dalam hal pelayanan, tapi dengan waktu saya yng sedikit masih menerima pesanan kue puding memang tidak seperti dulu.

Saya dulu menerima pesanan seperti wedding cake sekarang saya cuma terima lapis malang dan puding, tapi itu cukup bagi saya dengan pesanan-pesanan itu.
GS : Bagaimana dengan Bu Indrawati yang anaknya dua menjelang remaja yang tadi dikatakan ada yang masih kuliah dan sebagainya.

IN : Ya memang membesarkan anak itu tidak mudah apalagi sebagai seorang tua tunggal, jadi orang tua yang tunggal itu membutuhkan sebenarnya seorang partner untuk sharing khususnya di dalam mengsuh anak-anak.

Dan anak-anak saya dua-duanya sudah menginjak dewasa, jadi mereka itu mempunyai masalah juga dan pergumulan yang sebenarnya saya sendiri tidak bisa mengatasi. Tetapi saya hanya yakin dan percaya satu hal, kalau kami berdua saya dan suami saya sudah mendidik anak-anak sejak kecil di dalam Tuhan, maka waktu mereka menginjak dewasa kami tidak usah begitu khawatir lagi dan tetap saya meminta anak-anak saya pegang Firman Tuhan, memegang Firman Tuhan di dalam hidup mereka. Itu sebagai jaminan hidup, dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena kedua anak saya setelah ditinggal oleh ayahnya, justru mereka lebih dewasa di dalam iman dan saya mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan kalau Tuhan itu memang Tuhan yang hidup. Jadi saya berani menyaksikan bahwa Tuhan itu ikut bekerja di dalam setiap bidang kehidupan kami. Dan Tuhan begitu setia tidak pernah meninggalkan, bila Tuhan telah menunjukkan mujizat yang begitu besar dalam satu bulan setelah suami saya meninggal, pasti dalam hal-hal yang kecil itu Tuhan bisa mendukung dan memberi.
IR : Bu Ing dan Bu Aymee, mungkin bisa memberikan pesan untuk para janda-janda yang lain

AY : Yaitu kembali lagi sebagai seorang janda kita memang harus menanggulangi tentang alone yaitu kesepian. Kebutuhan biologi memang tidak bisa dihindari, tapi kembali bahwa kita mempunyai Alla yang Maha Kuasa dan itu dari pribadi kita sendiri apa yang harus kita mau ya saya serahkan semuanya itu kepada Tuhan dan ternyata saya tidak pernah, saya jujur kata setelah melalui ˝ tahun dalam pergumulan, Tuhan berikan satu kekuatan khusus.

Ya saya selalu ingat dengan suami saya tapi saya tidak pernah kesepian, dan saya tidak merasakan kebutuhan dalam mendapatkan kasih dari suami, karena saya cukup mendapat kasih dari Allah Bapa yang menghibur dan memberikan kekuatan khusus baik bagi saya maupun bagi anak-anak saya yang sering saya tinggal.

PG : Jadi maksud Ibu meskipun sepi, tapi kesepian itu tidak menguasai Ibu ya, karena Tuhan yang mengisi kesepian itu.

AY : Betul, dan benar-benar memang tidak merasa kesepian

PG : Puji Tuhan.

GS : Bagaimana kalau Bu Indrawati?

IN : Sebagai seorang janda yang sudah ditinggalkan suami saya 2 tahun, sekarang ini saya berpendapat bahwa bujangan atau kesendirian atau menikah itu tidak lebih baik satu daripada yang lain, dn saya yakin hal itu.

Yang penting adalah hidup di dalam rencana Tuhan, jika rencana Tuhan terhadap saya memang saya harus hidup sendirian saya menerima hal itu dengan rela. Karena mungkin dengan kesendirian saya, saya diberikan keleluasaan untuk melayani Tuhan untuk bekerja lebih leluasa, dan lebih luas lagi memancarkan kasih saya kepada sesama saya.

PG : OK! Terima kasih Bu Indrawati dan Ibu Aymee, saya teringat Firman Tuhan yang dicatat di kitab Ayub 3:25, "Karena yang kutakutkan itulah yang menimpa aku dan yang kucemaska itulah yang mendatangi aku."

Namun kesimpulannya adalah tidak ada yang lebih besar dari Tuhan meskipun yang ditakutkan terjadi tapi toh bisa lewat karena Tuhan yang menyertai dan menolong kita semua. Tuhan memberkati Ibu Aymee dan Ibu Indrawati.

GS : Dan sekali lagi banyak terima kasih Bu Indrawati dan Ibu Aymee. Demikianlah tadi saudara pendengar yang kami kasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, kami telah persembahkan sebuah perbincangan yang sungguh sangat menarik dan istimewa sekali bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, bersama Ibu Indrawati Tambayong, Ibu Aymee, ibu Idajanti raharjo dan saya sendiri Gunawan Santoso. Apabila Anda berniat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami juga ucapkan banyak terima kasih kepada Anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



4. Gangguan Stress Pasca Trauma


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T010B (File MP3 T010B)


Abstrak:

Stress yang muncul akibat pengalaman yang mengerikan yang terjadi di masa lampau. Dan mempengaruhi dia dalam waktu yang sangat lama.


Ringkasan:

Trauma berarti peristiwa yang mengerikan yang sangat menakutkan. Di dalam salah satu diagnosis ilmu gangguan jiwa ada yang disebut dalam bahasa Inggrisnya PTSD yaitu Post Traumatic Stress Disorder artinya adalah gangguan stres pasca trauma, stres yang muncul dan berkelanjutan namun stres ini sebetulnya timbul sebagai akibat pengalaman yang mengerikan yang kita alami pada masa lampau.

Salah satu tanda penderita PTSD adalah sering diserang oleh mimpi buruk, malam hari terbangun dengan keringat dingin, ketakutan karena mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan. Dan mimpi buruk itu sangat unik, unik dalam pengertian mempunyai tema yang sama, jadi temanya adalah tema yang mengerikan.

Cara menghilangkannya:

  1. Mengenali dulu apa yang menjadi penyebab gangguan itu, sebab tidak sama dalam setiap kasus.

  2. Kembali lagi pada peristiwa saat itu, dan mengeluarkan emosi yang seharusnya dia keluarkan saat itu. Tentunya dengan bantuan seorang ahli terapi dia mengunjungi kembali saat itu dan mengeluarkan perasaannya yaitu perasaan takut, marah, diekspresikan semua.

  3. Setelah itu baru masuk ke yang disebut di dalam ilmu terapi ke arah yang bersifat kognitif. Yaitu penyembuhan kognitif artinya dia akan diajar atau mulai belajar melihat hidup ini atau situasi ini dengan kaca mata yang berbeda.

Orang yang mengalami gangguan stres pasca trauma ini biasanya menempatkan dirinya sebagai orang yang tak berdaya, nah ini yang perlu disampaikan kepada mereka "TIDAK!" engkau sekarang berdaya, engkau tidaklah setidak berdaya pada waktu engkau masih kecil. Jadi harus dilawan dan diberikan prespektif yang lebih luas.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang bimbingan dan konseling yang kini juga aktif mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan membicarakan suatu topik "Gangguan Stres Pasca Trauma".

Lengkap
GS : Pak Paul, makin hari makin banyak orang yang menyadari akan suatu pengaruh keluarga di dalam pertumbuhan kejiwaan. Nah masalahnya banyak masalah yang timbul dalam suatu pernikahan yang sebenarnya awal-awalnya itu berasal dari suatu trauma atau suatu masalah yang dialami sebelum mereka itu menikah. Nah apa yang bisa Pak Paul sampaikan atau uraikan tentang masalah-masalah seperti itu Pak Paul?

(1) PG : Baik Pak Gunawan, yang pertama adalah saya ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah trauma. Trauma itu berarti peristiwa yang mengerikan yang sangat menakutkan, jadi di dalamsalah satu diagnosis ilmu gangguan jiwa ada yang disebut dalam bahasa Inggrisnya PTSD yaitu "Post Traumatic Stress Disorder" jadi artinya adalah gangguan stres pasca trauma.

Jadi stres yang muncul dan berkelanjutan namun stres itu sebetulnya timbul setelah atau sebagai akibat pengalaman mengerikan yang kita alami di masa yang lampau.
GS : Contoh-contoh konkret dari masalah yang mengerikan itu apa Pak Paul?

PG : Misalnya salah satu yang langsung saya ingat adalah masalah perkosaan Pak Gunawan, misalnya seseorang atau seorang gadis disergap pada waktu malam dan kemudian diperkosa atau dia waktu peri dengan teman-temannya tiba-tiba dicegat dan kemudian diperkosa, nah peristiwa itu akan menjadi trauma, peristiwa yang sangat mengerikan bagi dirinya.

Dan itu akan menyertai dia untuk waktu yang sangat lama.
GS : Atau dia melihat suatu pembunuhan dan hal itu akhirnya juga bisa mengganggu dia. Ini adalah gangguan yang sering dialami juga oleh para tentara Pak Gunawan, jadi saya ingat sekali bahwa cukup banyak veteran perang Vietnam di Amerika Serikat yang setelah pulang perang dari Vietnam menderita gangguan PTSD. Jadi salah satu tandanya adalah mereka sering diserang oleh mimpi buruk, malam hari terbangun dengan keringat dingin, ketakutan karena mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan. Dan mimpi buruk ini memang sangat unik sekali, unik dalam pengertian mimpinya mempunyai tema yang sama jadi temanya adalah tema yang mengerikan itu. Tidak harus dia memimpikan peristiwa yang dialaminya namun mempunyai tema yang serupa misalnya tema dia dikejar-kejar, tema dia akan dibunuh, tema dia akan disergap, nah peristiwanya bisa berbeda-beda dalam mimpi itu, namun dia akan sering mengalami mimpi buruk seperti ini.
GS : Bagaimana dengan orang tua yang suka menakut-nakuti anaknya pada masa kecil Pak Paul, apakah itu bisa juga menimbulkan suatu trauma pada anak dengan cerita-cerita tentang hantu atau apa?

PG : Bisa meskipun perkiraan saya tidak seberat kasus PTSD itu, soalnya benar-benar dia menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa yang mengerikan. Tapi saya kira ada dampaknya ya. Saya tahu dimasyarakat yang lebih tradisional cerita-cerita setan itu cukup merakyat dan itu memang bisa menimbulkan ketakutan pada diri anak yang saat itu belum siap untuk menerima kisah-kisah yang terlalu mengerikan.

(2) IR : Nah, orang yang mengalami itu apa mempunyai pola tingkah laku yang lain Pak Paul daripada orang-orang biasa?

PG : Memang biasanya lain ya Bu meskipun tidak selalu nampak, sebagai contoh yang cukup umum terjadi, anak yang dibesarkan dalam rumah di mana dia harus menyaksikan orang tua berkelahi. Nah perelahian orang tua bisa menjadi trauma bagi anak, meskipun mungkin tidak sama dengan dia melihat suatu pembunuhan, tapi bisa menjadi trauma yang membekas pada diri anak.

Misalkan dia menyaksikan ayah memukul ibu dengan sadis atau dia melihat ibunya berteriak-teriak histeris kemudian melempar barang, memecahkan barang, bagi anak umur 4 tahun menyaksikan peristiwa seperti ini adalah suatu trauma, sebab jiwa si anak belum siap untuk bisa memahami dan menahan beratnya beban peristiwa tersebut. Jadi anak itu benar-benar tidak berdaya, tidak memiliki perlindungan yang cukup untuk bisa menjaga jiwanya. Nah, akibatnya peristiwa itu benar-benar tertanam dalam benaknya dengan begitu kuat, sehingga waktu dia sudah besar kalau dia cukup sering menyaksikan itu, misalkan sebulan sekali dia menyaksikan orang tuanya berkelahi seperti itu. Kalau dimulai dari umur 5 tahun menyaksikan itu dan dia tinggal misalnya sampai umur 15 tahun saja, 10 tahun dia menyaksikan ayah ibunya bertengkar dan berkelahi. Berarti 10 tahun x 12 kali berarti sekitar 120 kali dia menyaksikan peristiwa seperti itu. Memang akan terbentuk toleransi dari dalam dirinya yaitu kemampuan untuk menerima ya jadi bertahan dalam situasi seperti itu karena terpaksa dan dia akan bisa bertahan. Namun dalam keberhasilannya bertahan itu tidak berarti dia lepas dari dampak trauma itu. Dia akan menjadi orang yang misalnya saja peka sekali dengan ketegangan, begitu ada orang yang menaikkan nada suara agak sedikit tegang, dia tegang dia akan merasa sepertinya ada sesuatu yang buruk akan menimpanya. Jantungnya mulai dag-dig-dug, dag-dig-dug dan tubuhnya mulai menegang dan keluar keringat dingin. Nah itu ciri-ciri atau gejala-gejala yang lebih ringan daripada mimpi buruknya pada waktu malam.
(3) GS : Sebenarnya seorang anak itu rentan terhadap pengaruh-pengaruh luar, itu antara umur berapa Pak Paul? Kalau kecil sekali dia 'kan tidak mengerti apa yang terjadi itu.

PG : Dia tidak mengerti tapi itu tetap mempengaruhi dia, sebab kalau kita perhatikan anak-anak kecil yang berumur 2, 3 bulan pun kalau sedang menangis kita marahi dia akan makin menangis. Dan mnangisnya itu bukan menangis marah tapi menangis ketakutan sebetulnya (GS : Itu reaksi yang dia tunjukkan kepada kita) betul, jadi meskipun anak itu belum bisa menjelaskan dengan bahasa verbal tapi sebetulnya dia sudah mengalami rasa takut itu.

Jadi trauma itu tetap membekas pada dirinya. Saya tahu ada suatu kasus di mana seseorang hamil, hamilnya itu hamil tua sudah di atas 5 bulan kalau tidak salah, kemudian rumahnya dirampok nah ini saya bukannya mau membicarakan klien saya, saya tidak membicarakan kasus konseling saya, tapi ini saya mendengar cerita. Bagaimana dia takut sekali sewaktu dirampok dan akhirnya dia melarikan diri ngumpet/bersembunyi di kamar dan berteriak-teriak histeris, karena rumahnya sedang dijarah di luar. Anak yang dikandungnya mati, gugur langsung sedangkan dia sudah hamil tua saat itu, jadi pertanyaan yang timbul 'kan anak itu tidak mengerti sebetulnya dirampok itu apa, tapi si anak yang masih dikandung itu sangat merasakan ketakutan si mama yang mengalami shock yang sangat besar. Sehingga akhirnya menggoncangkan diri anak, anak itu mati, gugur, nah ini kisah nyata.
IR : Jadi jiwanya terpengaruh oleh jiwa orang tuanya Pak Paul?

PG : Sangat terpengaruh, jadi meskipun belum bisa berpikir seperti kita tapi sudah bisa merasakan Pak Gunawan dan Ibu Ida.

(4) IR : Nah Pak Paul kalau orang sudah mengalami seperti itu, mengalami traumatik ya, itu 'kan menyimpan suatu ketakutan ya. Nah bagaimana cara menghilangkan itu Pak Paul?

PG : Pertama-tama dia harus mengenali dulu apa yang menjadi penyebab gangguan itu, sebab tidak sama dalam setiap kasus. Setelah dia bisa mengingatnya dengan bantuan seorang ahli terapi, seyogyaya dia kembali lagi ke saat itu, jadi dia menghidupkan kembali memorinya, mengunjungi kembali masa di mana dia mengalami peristiwa tersebut.

Dan mengeluarkan emosi yang seharusnya dia keluarkan saat itu, tapi mungkin karena ketakutannya atau apa dia tidak bisa mengeluarkan emosi itu. Atau dia sudah mengeluarkan emosinya, mengekspresikan perasaannya, namun belum cukup. Rupanya harus berlanjut pengekspresian emosi dan ketakutannya itu, nah karena tidak dilakukan sekaranglah saatnya. Jadi dia perlu kembali ke masa tersebut dan mengeluarkan emosi-emosi yang terpendam dan setelah itu dia mulai akan merasa lebih lega. Nah setelah itu berlalu baru dia masuk ke yang disebut (ini di dalam ilmu terapi) ke arah yang bersifat kognitif. Yaitu penyembuhan kognitif, artinya dia akan diajar atau mulai belajar melihat hidup ini atau situasi ini dengan kaca mata yang berbeda. Dulu dia itu dalam keadaan tidak berdaya, tapi sekarang dia dalam keadaan yang lebih berdaya. Dulu misalkan sewaktu orang tuanya berkelahi dia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi sekarang dia sudah besar, nah adakalanya orang-orang yang mengalami gangguan stres pasca trauma ini tetap menempatkan dirinya sebagai orang yang tak berdaya, nah ini yang perlu kita sampaikan kepada mereka bahwa "Tidak! Engkau sekarang berdaya, engkau tidaklah setidak berdaya pada waktu engkau masih kecil." Jadi akhirnya harus dilawan dan diberikan perspektif yang lebih luas. Namun saya sadari ini memang berat sekali.
GS : Kalau kita mengambil contoh konkret tentang seorang anak gadis yang sudah diperkosa, lalu dia membangun kehidupan berumah tangga, nah itu bagaimana apakah dia harus kembali untuk ke tempat dulu diperkosa lalu mengingat-ingat orang yang memperkosa atau bagaimana Pak Paul?

PG : Yang saya maksud dengan kembali bukannya kembali mengunjungi tempat kejadiannnya bukan secara fisik, tapi secara emosional. Jadi dengan bantuan seorang ahli terapi dia mengunjungi kembali aat itu dan mengeluarkan perasaannya yaitu perasaan takutnya, perasaan marahnya biar diekspresikan semuanya.

Dia mungkin akan menangis, dia akan berteriak tapi setelah dia mengeluarkan emosi itu dia akan lebih lega. Namun tetap perasaan was-was akan muncul dan misalkan dia sudah menikah tidak bisa tidak ini menimbulkan dampak Pak Gunawan dan Ibu Ida, karena peristiwa yang serupa kalau dialami meskipun dalam konteksnya berbeda akan memicu kembali keluarnya peristiwa traumatis yang dialami dulu itu. Dan kita sadar bahwa perkosaan adalah suatu tindakan kekerasan yang melibatkan seks. Jadi sewaktu dia menikah dan melakukan hubungan intim dengan suami dia akan merasa takut juga, karena adanya kesamaan. Jadi kita yang pernah mengalami suatu peristiwa traumatis, kita akan berhati-hati, akan sangat was-was dengan hal-hal yang mirip dengan peristiwa traumatis itu, dengan bahaya yang pernah kita alami itu.
GS : Masalah yang timbul Pak Paul kalau si suami itu tidak pernah tahu tentang latar belakang istrinya, bahwa istrinya pernah mengalami diperkosa sampai trauma seperti itu.

PG : Ya kalau si suami tidak mengerti memang ini menimbulkan masalah karena pertolongan justru harus muncul dari suaminya. Jadi suami yang dengan pengertian dan kelemahlembutan, mulai mengajak i istri untuk percaya bahwa tidak saya ini lain dari orang lain, bahwa saya ini mengasihi engkau dan dia akan bisa menjadi penolong yang berpotensi untuk memulihkan si wanita ini.

GS : Dan mungkin mengajaknya ke konselor Pak Paul? Bersama-sama mengikuti bimbingan yang harus diberikan kepada suami maupun istri. Bentuk trauma yang lain yang dapat menimbulkan stres, itu seberapa jauh dampaknya pada anak-anak mereka Pak Paul. Jadi misalnya ibu yang sudah diperkosa tadi, apakah itu juga berpengaruh kepada anak-anak mereka?

PG : Biasanya ya Pak Gunawan, jadi kita yang pernah mengalami peristiwa traumatis tertentu cenderung berusaha menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mirip dengan peristiwa itu. Nah dalam kasu ibu ini dia akan ekstra hati-hati menjaga anak-anaknya terutama yang putri, jadi dia akan misalnya berkata: "Jangan dekat dengan pria! Hati-hati dengan pria! Jangan jalan sendirian!" Jadi dia akan menanamkan sebetulnya rasa takut pada diri si anak.

GS : Nah dalam hal itu apakah ibu itu perlu cerita kepada anaknya, Pak Paul?

PG : Tidak perlu, tidak perlu sampai anak itu dewasa, kalau dia mau menceritakan ya silakan tapi juga tidak harus. Namun yang perlu dia ceritakan adalah kepada suaminya, suaminya harus tahu halitu dan bisa memaklumi dia.

IR : Jadi mau tidak mau si ibu ini masih tetap terpengaruh Pak Paul dalam pola untuk mendidik anaknya dalam situasi yang pernah dia alami itu Pak Paul?

PG : Biasanya ya Ibu Ida, karena begini ya, saya berikan contoh misalkan kita malam hari keluar terus ditodong, jam kita diambil misalnya. Saya kira setelah peristiwa tersebut mungkin selama 2,3 bulan kita agak enggan keluar malam karena peristiwa tersebut membayang, jangan-jangan sekarang waktunya saya ditodong lagi.

Dan waktu kita jalan malam hari misalnya, ada orang yang berjalan di belakang kita, kita akan merasa takut sekali. Jadi segala sesuatu yang mirip dengan peristiwa traumatis tersebut akan membangkitkan rasa takut kita. Saya pikir ini memang adalah reaksi yang normal ya, manusia senantiasa berusaha untuk melindungi diri atau menjaga diri jangan sampai mengalami ancaman bahaya. Sekali dia gagal, sekali dalam pengertian gagal, kecolongan ya setelah dicuri, ditodong atau apa dia akan benar-benar berusaha dua kali lipat lebih keras untuk melindungi dirinya untuk menjaga dirinya, jangan sampai hal ini terulang lagi. Nah caranya adalah dengan ekstra hati-hati Bu Ida, jadi waktu dia jalan begitu mendengar ada suara kaki di belakangnya dia akan langsung secara otomatis bersiap-siap untuk lari atau untuk apa karena dalam dirinya sudah ada perintah naluriah yang memerintah dia untuk berjaga-jaga jangan sampai terjadi lagi. Kita tidak mau mengalami sakit dua kali soalnya Ibu Ida.
GS : Ya itu merupakan suatu sisi yang positif Pak Paul dari pengalaman itu, tapi juga bisa menimbulkan sisi yang negatif ya, yaitu curiga pada orang yang lain yang ada di sekelilingnya.

PG : Betul, ini banyak dialami juga dalam kasus yang lebih ringan Pak Gunawan misalnya seseorang mengalami patah cinta tiga kali berturut-turut dalam waktu 3 tahun misalnya. Sebelum dia berani emulai dengan yang keempat, saya kira dia akan berpikir 1000 kali untuk mencintai seseorang, karena luka yang dialaminya itu tetap membekas.

GS : Menurut pengalaman Pak Paul selama ini, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menolong seseorang yang mengalami PTSD itu?

PG : Tergantung parahnya dan kekuatan orang itu, jadi semakin parah semakin lama dan semakin lemah diri orang tersebut semakin juga lama. Tapi kalau orang itu berani dan memiliki kekuatan biasaya prosesnya bisa lebih cepat dalam waktu beberapa bulan bisa keluar dari masalahnya.

Maksud saya begini, yang biasanya jadi penghalang terbesar pada akhirnya adalah diri orang tersebut. Waktu misalkan dalam terapi saya mengajak orang tersebut untuk kembali ke peristiwa-peristiwa traumatis yang dialaminya. Cukup banyak orang yang tidak berani kembali, karena begitu takutnya. Jadi dalam dirinya ada suatu konflik, konflik di mana pada satu sisi peristiwa yang menakutkan itu ingin keluar kembali tapi di pihak lain ada tangan dalam dirinya yang mencoba menekan agar peristiwa tersebut tidak muncul. Nah, waktu konselor berusaha untuk membawa dia kembali, otomatis reaksi dalam dirinya adalah melawan, tidak mau kembali ke peristiwa tersebut, justru dia ingin melupakannya. Namun masalahnya dia tidak bisa melupakannya, justru dia itu datang kepada konselor karena dia diganggu oleh perasaan-perasaan tegang ini, namun untuk bisa lepas dari perasaan tegang ini dia harus kembali ke sana. Nah saya temukan ada orang yang berani, nekad kembali dan orang yang seperti itu akhirnya lebih cepat sembuh.
GS : Bagaimana dengan kalau kita membacakan ayat-ayat Alkitab yang memberikan kekuatan, penghiburan jangan kamu takut, jangan kamu khawatir, damai sejahtera Tuhan diberikan kepadamu, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya harus akui Pak Gunawan adakalanya ayat-ayat ini memang menjadi kekuatan bagi diri mereka, tapi adakalanya ketakutan mereka terlalu besar. Dan akhirnya malah mengalahkan firman Tuhan, alam pengertian mereka tidak bisa lagi mengamini dan menerima ayat atau menerima Firman Tuhan ini, janji Tuhan ini, sebab mereka terlalu takut.

IR : Pak Paul, kalau memori ketakutan itu terlalu disimpan, apakah itu bisa menimbulkan gila atau tidak Pak Paul?

PG : Untuk sampai gila ya, gila itu istilah yang memang sangat umum misalkan kalau secara klinisnya kita sebut dia menderita schizofrenia, ya tidak sampai sejauh itu ya tidak. Namun yang lebih ering terjadi adalah dia dirundung oleh kecemasan yang tinggi, mudah takut, mudah tegang dan emosinya labil.

Mudah turun naik kalau misalnya marah tidak bisa menguasai rasa marah, misalnya sedih benar-benar dirundung kesedihan yang dalam. Jadi kehidupan emosinya sangat labil sekali.
GS : Tapi kita percaya bahwa Tuhan Yesus sangat mengerti akan perasaan kita mengalami hal ini karena Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami peristiwa traumatis yang luar biasa, pergumulannya di taman Getsemani dan waktu di disalibkan Pak Paul.

PG : Betul.

GS : Jadi mungkin itu yang bisa kita sampaikan untuk menolong seseorang, bagaimana Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi dikatakan di firman Tuhan di kitab Ibrani bahwa kita mempunyai Imam Besar yang mengerti kelemahan kita, sebab Diapun dicobai namun tidak berdosa. Jadi Tuhan engerti penderitaan kita sebab Dia mengenal penderitaan, tapi Dia tidak jatuh ke dalam dosa.

Jadi waktu kita berdoa dalam kesakitan kita, ketakutan kita, ketegangan kita, Tuhan mengerti.
GS : Karena Tuhan pun pernah mengalami Pak Paul?

PG : Betul, dan Tuhan tidak akan memarahi kita Pak Gunawan, adakalanya kita berpikir Tuhan pasti kesal melihat kita anak-anakNya kok tidak berani menghadapi fakta hidup dan malah ketakutan, tap Tuhan mengerti, Tuhan mengerti bahwa yang kita alami ini bukannya masalah takut atau berani, tapi ini adalah masalah gangguan yang kita alami pada masa-masa lampau terutama pada masa kecil yang terlalu berat untuk kita tanggung.

GS : Ya tentunya di dalam kita membangun rumah tangga yang bahagia kita mau menyelesaikan masalah-masalah masa lampau yang terus mengganggu di dalam kehidupan pernikahan itu, Pak Paul.

PG : Betul, salah satu dampak yang kadang muncul dalam kasus perkosaan, wanita merasa tidak lagi berharga Pak Gunawan, mereka merasa sudah cacat. Nah saya ingin membagikan satu ayat kepada merea yang mungkin pernah mengalami peristiwa yang serupa.

Di sini di 1 Korintus 15:40 berkata: "Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain daripada kemuliaan tubuh duniawi." Jadi ada tubuh sorgawi, mungkin tubuh duniawi kita telah dinodai tanpa kita bisa berkata tidak, kita tidak mau tapi dipaksa dan sebagainya. Tapi ingat Firman Tuhan berkata ada tubuh sorgawi, tubuh duniawi fana ya, akan hilang dan sewaktu-waktu akan dikubur, tapi ingat ada tubuh sorgawi dan bahwa yang menjadikan tubuh itu mulia adalah kenyataan bahwa kita dihuni oleh Tuhan Yesus, kita dihuni oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus Tuhan mendiami tubuh kita ini dan itulah yang menjadikan tubuh kita mulia. Tatkala kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menaati Firman Tuhan, hidup kudus di hadapanNya, itulah yang membuat tubuh kita mulia, menjadi tubuh sorgawi.
IR : Juga hati kita Pak Paul seperti di Yehezkiel 11:19 berkata: "Aku akan memberikan hati yang lain dan Roh yang baru di dalam batin mereka, itu juga janji Tuhan yang bisa menyembuhkan hati yang telah terluka Pak Paul.

PG : Betul, betul Ibu Ida.

GS : Jadi Firman Tuhan itu memberikan pengharapan-pengharapan yang baru bahwa tidak ada sesuatu yang bisa dihancurkan total oleh kuasa kegelapan, tapi Tuhan sendiri yang akan memulihkan semuanya itu. Karena Tuhan juga menghendaki kehidupan rumah tangga kita berbahagia.

PG : Betul.

GS : Baik demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan tentang Gangguan Stres Pasca Trauma atau 'Post Traumatic Stress Disorder' bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga) dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami melalui surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan dukungan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



5. Penderitaan Manusia 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T022A (File MP3 T022A)


Abstrak:

Orang yang menderita adalah orang yang mengalami peristiwa yang menyakitkan dan tidak diduganya. Ciri dan karakteristik penderitaan itu datang pada saat kita tidak siap. Dalam materi ini disajikan delapan jenis penderitaan yang sesuai dengan firman Allah.


Ringkasan:

Orang yang menderita adalah orang yang mengalami suatu peristiwa yang sangat menyakitkan yang tidak diharapkannya atau tidak diduganya. Dan memang itulah salah satu ciri atau karakteristik dari penderitaan yaitu penderitaan datang menimpa kita di saat kita tidak siap. Jadi kalau orang bertanya bagaimanakah mempersiapkan diri untuk menderita, saya kira jawabannya adalah kita tidak bisa benar-benar mempersiapkan diri, sebab kalau kita pikir memang kita tidak akan pernah siap untuk menderita. Sigmund Freud menelorkan suatu teorinya yang berkata bahwa manusia itu bergerak menjauhkan diri dari penderitaan atau rasa sakit dan mendekati atau mendekatkan diri pada yang nikmat, maka prinsipnya itu disebut prinsip kenikmatan. Jadi memang pada dasarnya kita makhluk yang tidak suka dengan penderitaan.

Ada 8 jenis penderitaan yang dipaparkan oleh Firman Tuhan yaitu:

  1. Penderitaan yang muncul akibat pembelaan Firman Tuhan. Jadi adakalanya kita menderita karena kita membela kebenaran Tuhan atau atau mentaati kehendak Tuhan.

  2. Tuhan mengizinkan kita menderita untuk kpentingan kita sendiri, contohnya Paulus dalam II Korintus 12:7-9 di mana Tuhan mengizinkan dia mendapatkan duri dalam dagingnya.
    Ada beberapa tahapan yang biasa terjadi sewaktu kita mengalami musibah:

    1. Kita marah sekali, tidak terima kenapa kita harus mengalami ini.

    2. Kita tawar-menawar dengan Tuhan.

    3. Menyadari bahwa penderitaan itu tidak bisa kita elakkan dan tidak bisa lagi kita tawar-menawar jadi harus kita hadapi.

    4. Depresi, kita akhirnya dirundung oleh kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba hidup kita ini tidak lagi ada artinya.

    5. Penerimaan, tahap ini adalah tahap di mana kita akhirnya berhasil mengatakan ya saya menerima.

  3. Kita menderita karena gangguan/perbuatan iblis, contoh Ayub orang yang memang luar biasa diganggu oleh iblis.

  4. Kita menderita karena perbuatan orang lain, kelalaian maupun kejahatan orang lain. Misalnya kita tertabrak, kita dirampok dsb.

  5. Menderita karena hukuman Tuhan atas perbuatan dosa. Contoh Tuhan menghukum raja herodes, seorang raja yang kejam.

  6. Kita menderita karena kita dalam perjuangan melawan atau sedang mengatasi pencobaan.

  7. Kita menderita karena alam di mana kita tinggal sudah tercemar tidak lagi berimbang. Misalnya karena bencana alam, banjir. Roma 8 : 19 - 22, seluruh alam semesta ini sedang mengerang dalam kesakitan dan menantikan hari penggenapan kedatangan Tuhan.

  8. Kita menderita karena kemanusiaan kita misalnya kematian. Kematian adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Matius 5 : 4, mengatakan: "Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihiburkan." Jadi dalam khotbahnya di atas bukit Tuhan Yesus memberikan kita suatu kebenaran yang memang dirindukan oleh manusia yaitu bahwa :

  1. Tuhan mengatakan kita akan berdukacita, berdukacita sebetulnya adalah kita kehilangan orang yang berharga, yang penting, yang dekat dengan kita. Tapi berdukacita bisa juga karena kita kehilangan sesuatu yang kita senangi, yang kita hormati, kita mau jadikan itu sebagai hidup kita. Tuhan tekankan ada penderitaan yang mengakibatkan kita berdukacita. Dukacita itu bagian dari kehidupan.

  2. Memang akan ada penderitaan, memang akan ada dukacita tapi Tuhan berkata akan dihiburkan.

  3. Roma 8: 28, bahwa Tuhan akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yang terpanggil atau dipanggil dan yang mengasihi Tuhan. Artinya adalah meskipun penderitaan itu tidak semuanya langsung dikaitkan dengan Tuhan, tapi seburuk apapun yang kita alami tetap Tuhan akan bisa pakai itu untuk mendatangkan kebaikan. I Petrus 1 atau Yakobus menuliskan waktu kita mengalami penderitaan yang nomor satu akan terjadi adalah iman kita dimurnikan.

Yang perlu kita lakukan untuk menyikapi penderitaan yang menimpa kita sbb:

  1. Tidak tergesa-gesa mencari tahu siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab dalam penderitaan kita. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Kita mempunyai 3 sikap ekstrim :

    1. Menyalahkan Tuhan.
    2. Menyalahkan orang lain.
    3. Menyalahkan diri sendiri
  2. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Misalnya adanya gempa bumi rumah kita runtuh, dalam keadaan seperti ini kita tidak usah menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan diri sendiri.

  3. Kalau kita tahu ini bukan hal yang berkaitan dengan hukuman Tuhan jelas kita mencari Tuhan untuk mendapatkan penghiburan dariNya. Jadi kita berdoa agar Dia memberikan kekuatan yang sepadan dengan beban penderitaan yang sedang kita tanggung.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Penderitaan Manusia". Kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, rupanya sudah menjadi bagian kita sejak manusia jatuh di dalam dosa, bahwa setiap manusia di dunia ini pernah mengalami penderitaan. Cuma yang kita lihat bahwa akhir-akhir ini tentu lebih banyak orang yang menderita akibat berbagai krisis yang melanda di negara ini. Berbicara tentang penderitaan Pak Paul, apa sih sebenarnya atau siapa sih yang layak kita sebut sebagai orang yang sedang menderita itu Pak Paul?

PG : Orang yang menderita adalah orang yang mengalami suatu peristiwa yang sangat menyakitkan, tidak diharapkannya atau tidak diduganya. Dan memang itulah salah satu ciri atau karakteristik dar penderitaan Pak Gunawan.

Yaitu seringkali penderitaan datang menimpa kita di saat kita tidak siap, jadi kalau orang bertanya bagaimanakah mempersiapkan diri untuk menderita? Saya kira jawabannya adalah kita tidak bisa benar-benar mempersiapkan diri, sebab kalau kita pikir memang kita tidak akan pernah siap untuk menderita. Secara naluriah dan alami kita adalah manusia yang menjauhkan diri dari rasa sakit, itulah sebabnya Sigmund Freud menelorkan suatu teorinya yang berkata bahwa manusia itu bergerak menjauhkan diri dari penderitaan atau rasa sakit dan mendekatkan diri pada yang nikmat. Maka prinsipnya itu disebut kenikmatan. Jadi memang pada dasarnya kita makhluk yang tidak suka dengan penderitaan.
GS : Kalau begitu Pak Paul, penderitaan itu bukan hanya penderitaan fisik bisa jauh lebih dari itu ya Pak Paul? Jadi mungkin secara fisik kita tidak melihat bahwa orang itu sedang menderita, maksud saya secara jiwa mungkin sedang menderita berat.

PG : Betul, jadi ada yang bisa dilihat secara kasat mata, misalkan orang yang sedang sakit dan menderita tapi ada juga yang tidak bisa dilihat secara kasat mata yakni penderitaan batiniah yang da dalam diri kita.

Nah waktu kita menderita seringkali kita ini mencari jawaban atas pertanyaan mengapa harus saya yang menderita seperti ini. Nah sewaktu kita bertanya seperti itu yang sebetulnya sedang kita cari adalah tujuannya, jadi waktu kita bicara tentang alasan kita sebetulnya sedang mencari tujuan. Apakah penderitaan saya ini membawa saya kepada suatu tujuan tertentu. Nah jadi kalau kita bisa menemukan jawabannya itu akan sedikit banyak memberikan kita alasan yang menguatkan kita untuk bertahan. Kalau kita menderita dan kita tidak bisa menemukan jawabannya atau alasan mengapa kita harus menderita, seringkali kita lebih merasakan lemah dan rasanya tidak kuat lagi menanggung itu semua.
(2) GS : Yang saya lihat itu memang ada beberapa macam bentuk penderitaan Pak Paul, cuma yang terus terang membuat saya sulit untuk mengelompok-ngelompokkannya begitu Pak Paul, itu pasti ada yang kategori-kategori tertentu. Pak Paul mungkin bisa bantu menjelaskan ini?

PG : Saya sekurang-kurangnya mendapatkan ada 8 jenis penderitaan yang dipaparkan oleh Firman Tuhan di Alkitab. Yang pertama adalah suatu penderitaan yang muncul akibat pembelaan Firman Tuhan. Jdi adakalanya kita menderita karena kita menegakkan kebenaran Tuhan atau menyebarkan Injil Tuhan kepada orang yang tidak mau menerimanya, sehingga akhirnya kita mendapatkan penderitaan.

Nah itu banyak dialami oleh banyak tokoh Alkitab para martir. Misalkan Paulus mengalami banyak sekali penderitaan karena orang tidak selalu siap menerima apa yang dia katakan tentang Firman Tuhan. Yohanes Pembabtis akhirnya mati dipancung karena mengatakan kebenaran Firman Tuhan, jadi banyak sekali contoh-contoh. Yakobus salah satu rasul Tuhan juga akhirnya harus tewas di tangan raja Herodes. Jadi mereka semua adalah contoh orang-orang yang menderita karena memberitakan kebenaran Tuhan.
GS : Atau memang mungkin setiap orang yang betul-betul melaksanakan Firman Tuhan secara konsekuen Pak Paul pasti akan ditentang oleh orang-orang lain, pasti dia akan mengalami penderitaan seperti yang Tuhan katakan bahwa dunia ini memang membenci kamu.

PG : Betul, jadi ada waktu tertentu di mana kita membela kebenaran Tuhan, kita menderita. Dan Firman Tuhan sendiri pun pernah berkata bahwa ia yang ingin hidup kudus akan menderita, jadi seringali kita harus menghadapi orang yang tidak menyenangi kebenaran Firman Tuhan.

IR : Apakah itu yang dikatakan salib Pak Paul? Karena menderita untuk kebenaran itu.

PG : Tepat sekali, kategori ini adalah kategori yang dapat disimpulkan memikul salib, jadi benar-benar kita menderita karena membela kebenaran Tuhan. Itu yang dikatakan di Matius pasal 5 sewakt Tuhan sedang mengajarkan tentang bagaimana seharusnya kita ini hidup sebagai orang Kristen, khotbahnya yang dikenal sebagai khotbah di atas bukit.

Yang terakhir adalah berbahagialah jikalau orang menganiaya kamu oleh karenaKu.
GS : Tapi saya melihat bahwa justru melalui penderitaan itulah orang kristen itu juga bisa menjadi dewasa Pak Paul, memahami imannya itu maksud saya dia makin mengerti bahwa melalui penderitaan itu sebenarnya gereja itu bertumbuh.

PG : Betul, dan seringkali itu yang terjadi Pak Gunawan dan Ibu Ida, misalkan kita lihat kasus seperti di RRC (Cina). Sebelum komunis mengambil alih sebelum tahun '49 orang Kristen saya tidak igat jumlahnya tapi berjumlah tidak terlalu banyak, namun setelah komunis mengambil alih dan mereka menganiaya orang-orang Kristen justru orang Kristen bertambah.

Jadi rupanya memang tatkala orang Kristen mengalami penderitaan mereka akhirnya terpaksa atau dipaksa untuk lebih bersandar kepada Tuhan. Dan dalam kesusahan itu Tuhan bekerja dengan lebih nyata pula sehingga akhirnya lebih banyak orang yang datang kepada Tuhan. Justru adakalanya kita melihat dalam zaman kemakmuran kita terlena dan akhirnya justru banyak kemunduran iman terjadi di zaman kemakmuran.
GS : Itu salah satu bentuk penderitaan yang diakibatkan kalau seseorang itu mentaati Firman Tuhan, apakah ada bentuk penderitaan yang lain Pak Paul?

PG : Yang berikutnya adalah kita menderita untuk kepentingan kita sendiri, ini dipaparkan oleh rasul Paulus di 2 Korintus. Di sana beliau menceritakan penderitaannya yaitu Tuhan meberikan duri dalam dagingnya.

Duri itu tidak ada yang tahu secara pasti, tapi yang jelas adalah dia menderita karena adanya duri dalam dagingnya itu. Dan dalam 2 Korintus 12:7-9, Paulus dengan gamblang mengungkapkan, bahwa duri itu Tuhan berikan supaya dia tidak sombong, tetap rendah hati. Jadi memang adakalanya Tuhan mengizinkan kita menderita supaya kita tetap rendah hati.
GS : Duri itu bentuknya macam-macam ya Pak Paul? Tapi di dalam hal rasul Paulus yang dia katakan mungkin bersifat fisik ya Pak Paul?

PG : Bisa, jadi bersifat fisik diduga dia mengalami dua kemungkinan juga mungkin fisiknya sedang sakit, lemah atau mungkin mentalnya yang lemah tapi tidak dapat dipastikan.

GS : Dalam hal seperti itu Pak Paul, jadi penderitaan karena dia tahu bahwa itu diberikan Tuhan kepadanya supaya dia tidak jadi sombong, apakah betul rasul Paulus itu menderita sebenarnya? Menurut pengamatan orang lain mungkin dia menderita tetapi apa memang betul itu suatu penderitaan?

PG : Rupanya ya, sebab dalam ayat-ayat tersebut Paulus dengan jelas dia mengatakan dia memohon kepada Tuhan agar Tuhan menyingkirkan atau melepaskan dia. (GS : Tetapi Tuhan berkata cukup anugerhKu bagimu ya) betul.

GS : Yang saya tanyakan memang begini Pak Paul, ada seorang yang sudah lama menderita sakit yang menurut teman-temannya, kami orang luar yang melihat memang ini menderita. Tapi setiap kali kami datang menjenguk dia, coba menghibur dia tapi nyatanya bisa terbalik, dia yang sakit itu menghibur kita karena dia mengatakan: "Wah saya justru bersukacita, saya justru merasa bahagia di tempat ini karena merasakan perlindungan Tuhan dan hiburan dari Tuhan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya Pak Paul. Dalam hal ini ada beberapa orang yang mengatakan itu menghibur dirinya sendiri.

PG : Mungkin dalam kasus itu justru kita melihat suatu penggenapan dari janji Tuhan, seperti yang tadi Pak Gunawan sudah singgung, memang Tuhan akhirnya menjawab Paulus : Anugerah-Ku cukup bagiu! Dalam kasus tadi saya bisa katakan bahwa orang itu mengalami kepenuhan anugerah Tuhan bahwa anugerah Tuhan cukup baginya sehingga walaupun dia menderita, dia bisa melaluinya dengan kekuatan Tuhan.

Tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa mungkin saja ada waktu-waktu tertentu dia menderita, rasa sakit. Saya belum lama ini menyaksikan seorang anak Tuhan meninggal dunia. Mungkin hampir setahun menderita kanker, dan karena penderitaannya itu dia tidak bisa lagi berjalan, dia harus terbaring di tempat tidur. Dan saya menyaksikan sakitnya itu, dia sampai kadang-kadang harus pingsan karena menahan sakit yang sangat luar biasa. Dalam penderitaannya itu adakalanya dia menceritakan pengalamannya dengan Tuhan, bagaimana dia akhirnya mendapatkan mimpi melihat sorga. Jadi ada waktu di mana dia sangat dikuatkan dan bagikan itu kepada saya, saya merasa dikuatkan. Tapi tidak bisa saya sangkal, banyak sekali waktu di mana dia menderita.
(3) IR : Pada awalnya, penderitaan itu kalau baru datang orang itu shock karena harus mengalami proses seperti apa yang dikatakan Pak Gunawan yang akhirnya dia merasakan sukacita, ada kekuatan itu apakah proses Pak Paul?

PG : Betul sekali Ibu Ida, jadi sebetulnya memang ada tahapannya, tahapan yang kita lalui sewaktu kita mengalami musibah atau penderitaan. Sebetulnya ini bukan ide saya, jadi saya meminjam pandngan dari seseorang yang bernama Elisabeth Kubler Ross.

Dia memaparkan tahapan pertama sewaktu kita mengalami musibah adalah kita ini marah sekali, tidak kita terima kenapa kita harus mengalami ini dan berikutnya adalah kita mengalami kemarahan, kenapa kita harus mengalami hal seperti ini, tidak selayaknya hal ini menimpa saya. Tidak bisa kita sangkali Bu Ida, saya kira setiap orang mempunyai suatu anggapan bahwa penderitaan akan menimpa orang lain bukan saya, jadi waktu penderitaan menimpa kita tidak bisa kaget, kita ini tidak menyangka hal ini akan menimpa kita, jadi reaksi marah biasanya reaksi yang umum muncul. Setelah reaksi marah dan menyangkali bahwa kita ini tidak bisa lagi mengelak dari musibah tersebut, mulailah kita ini tawar-menawar dengan Tuhan. Kalau saya sembuh saya akan melayani Tuhan, kalau saya sembuh apapun yang Kau minta akan saya berikan kepadaMu Tuhan. Tahap ketiga adalah kita akhirnya menyadari bahwa penderitaan itu tidak bisa kita hindari dan tidak bisa lagi kita tawar-menawar jadi harus kita hadapi. Nah tahap keempat adalah tahap depresi, kita akhirnya dirundung oleh kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba hidup kita ini tidak ada lagi artinya, semua harapan punah. Nah mudah-mudahan setelah tahap keempat itu kita bisa masuk ke tahap yang kelima yaitu tahap penerimaan. Tahap ini adalah tahap di mana kita akhirnya berhasil mengatakan ya saya menerima, saya mengakui inilah problem saya, penderitaan saya, saya tidak bisa mengelakkan diri, menghindari diri dari problem ini jadi saya akan harus hadapi, nah itu mudah-mudahan tahap yang kelima itu bisa kita semua lalui. Namun tidak bisa disangkal ada orang yang berhasil tahap kelima terakhir itu.
GS : Apa akibatnya kalau tidak berhasil?

PG : Penuh dengan kemarahan dan depresi akhirnya (GS : Jadi kembali ke proses yang ketiga lagi) ke depan lagi. Dan tawar-menawar lagi, tidak berhasil marah lagi ke tahap yang kedua.

GS : Atau mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.

PG : Betul.

IR : Pak Paul kalau dikatakan jalan pintas itu ya, mungkinkah itu menimpa bagi anak-anak Tuhan karena di dalam janji Tuhan dikatakan bahwa hidup di dalam Tuhan segala perkara dapat ditanggungnya, jadi apakah bunuh diri itu bisa dilakukan oleh anak-anak Tuhan?

PG : Kalau ditanyakan apakah bisa jawabannya pasti adalah bisa dalam pengertian orang bisa memilih untuk bunuh diri. Tapi kalau ditanya apakah boleh jawabannya tidak boleh, jadi Tuhan tidak meninginkan kita bunuh diri.

Jelas alasannya yaitu nomor satu waktu kita bunuh diri kita membunuh seseorang, meskipun kita berkata saya sendiri yang saya bunuh tapi tetap kita membunuh seseorang. Kedua adalah kita membunuh makhluk ciptaan Tuhan sendiri dan hanya Tuhan yang berhak untuk mengambil nyawa seseorang sebab kita tidak memiliki hak itu.
IR : Tuhan juga berkata bahwa Tuhan mengizinkan penderitaan itu tidak melampaui dari kekuatan seseorang. Maksudnya seseorang itu yang percaya Pak Paul, jadi rasanya tidak bisa, tidak ada alasan sebagai anak Tuhan kalau sampai mengambil jalan pintas.

PG : Meskipun harus saya akui Bu Ida saya percaya Tuhan memang berkata bahwa Dia tidak akan memberikan pencobaan yang melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya, bahkan di dalam saat itupun Diaakan memberikan kita jalan keluar.

Saya melihat jalan keluar itu Bu Ida dalam kasus yang pernah saya hadapi, tapi harus saya akui bahwa rasanya penderitaan yang dialami oleh orang-orang ini melampaui kekuatannya. Seperti dalam kasus yang tadi saya sebut itu, baru saja dia meninggal kira-kira tiga minggu yang lalu. Tapi sebelum itu saya melihat dia menderita luar biasa, itu benar-benar penderitaan yang luar biasa beratnya sampai bisa pingsan karena kesakitan, begitu sakitnya sampai pingsan luar biasa.
GS : Dari dua bentuk penderitaan yang tadi Pak Paul katakan, sebenarnya dia tidak inginkan, yang pertama tadi karena dia taat pada Firman Tuhan. Konsekuensi logisnya dia akan menderita karena disalah mengerti orang. Yang kedua itu Tuhan yang memberikan dia seperti Paulus tadi, Tuhan yang memberikan duri dalam dagingnya supaya dia tidak menjadi sombong dan merasakan anugerah Tuhan. Tetapi ada bentuk yang lain Pak Paul selain kedua bentuk yang itu?

PG : Ada, ya ini berkaitan juga dengan yang tadi Paulus katakan 2 Korintus 12:7-9. Yang menarik adalah meskipun Paulus mengakui bahwa itu adalah duri, duri dari Tuhan tapi Paulus dngan jelas mengatakan bahwa yang melakukannya adalah iblis.

Jadi dikaitkan dengan campur tangan iblis di situ, jadi dengan kata lain jenis yang ketiga dari yang sedang kita diskusikan adalah kita menderita karena gangguan dari iblis. Jadi ada orang-orang yang dirusakkan oleh iblis, misalkan juga Ayub atau orang-orang yang diganggu oleh iblis. Dan saya memang pernah menyaksikan ada anak Tuhan yang dalam pergumulan berat sekali, jadi dia memang belum benar-benar bisa mendapatkan kekuatan, kemantapan dalam imannya pada Tuhan. Dia diganggu oleh iblis, saya lihat dengan mata kepala saya orang yang dibanting oleh iblis.
GS : Itu sama dengan kerasukan setan?

PG : Itu yang dimaksud dengan kerasukan setan, jadi adakalanya kita bisa diganggu seperti itu, tapi saya kira iblis tidak hanya mengganggu kita dengan cara yang begitu vulgar tetapi bisa juga dngan membanting-banting, merasuk dalam diri kita.

Adakalanya iblis memang mengganggu dan menyerang kita dengan cara yang lebih halus dan akhirnya kita pun bisa dibuat susah olehnya.
GS : Tapi pada akhirnya juga menimbulkan penderitaan, baik halus maupun vulgar tetap menimbulkan penderitaan. Apakah itu berkaitan dengan pemahaman bahwa segala sesuatu yang jahat itu tidak mungkin berasal dari Allah, lalu tadi yang dialami oleh rasul Paulus karena suatu duri, Paulus melihatnya. Memang ini perbuatan iblis yang diizinkan oleh Allah.

PG : Betul, jadi itu adalah perbuatan iblis tapi memang diizinkan demi kebaikan Paulus.

GS : Dari Tuhan sendiri tidak mungkin melakukan hal itu Pak Paul?

PG : Tidak, karena Tuhan bukan Tuhan yang jahat.

GS : Kalau dalam kasus ini, jadi memang Tuhan itu mengizinkan anak-anakNya, orang-orang pilihannya mengalami penderitaan yang dilakukan oleh iblis, sampai sejauh mana Tuhan Allah itu melindungi anak-anakNya?

PG : Saya ingat sekali Firman Tuhan di Mazmur yang berkata: "Dia jatuh tapi tidak akan tergeletak." Jadi anak Tuhan bisa bongkok sedikit ya karena serangan-serangan itu tapi tidak akan ergeletak.

Jadi akan ada kekuatan Tuhan, campur tangan Tuhan yang akan terus menopangnya sehingga tidak sampai dia itu tergeletak.
GS : Jadi mungkin tadi yang Ibu Ida katakan, mungkin seseorang itu sampai bunuh diri.

PG : Kalau ditanya apakah anak Tuhan, orang Kristen yang akhirnya mengambil jalan pintas ada, apakah seharusnya tidak, apakah Tuhan berkenan, pasti tidak juga. Tapi kita harus akui kita ini mansia lemah, adakalanya mengambil keputusan tanpa pemikiran yang panjang karena kita terlalu menderita.

GS : Ya lagi pula kita tidak tahu pergumulan seseorang itu sampai sejauh mana ya Pak Paul, itu yang kita lihat 'kan hanya dari permukaannya saja.
IR : Dan mungkin itu juga tergantung dengan imannya Pak Paul, (PG : Betul) misalnya di Roma dikatakan bahwa segala sesuatu itu Tuhan ikut bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan itu (PG : Itu Roma 8:28)
GS : Yang saya tahu itu bahwa kalau penderitaan yang dari iblis, yang diizinkan oleh Tuhan, itu Tuhan tidak akan pernah mengizinkan iblis itu mencabut nyawa seseorang karena penderitaan itu. Dia boleh merusakkan fisiknya seperti Ayub yang kita lihat tidak akan dizinkan oleh Tuhan untuk mencabut nyawa orang itu karena nyawa tetap hal Tuhan. Nah di sana kedaulatan Tuhan itu masih jelas ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi iblis hanya akan merusak batin, jiwa seseorang, tubuh seseorang tapi tidak akan mungkin dia mencabut nyawa tanpa seizin Tuhan sebab Tuhanlah yang memang mempunyai hak Tuggal.

GS : Mungkin ada bentuk penderitaan yang lain Pak Paul?

PG : Ada, yang seringkali menjadi topik pembicaraan kita. Yaitu adakalanya kita menderita karena perbuatan orang lain jadi dengan kata lain kita menjadi korban kelalaian atau kejahatan orang lan.

Saya sebut kelalaian sebab adakalanya orang tidak bermaksud jahat atau dengan sengaja mencelakakan kita tapi bisa akhirnya mencelakakan kita. Jadi misalnya kita lagi jalan kemudian ditabrak oleh mobil. Mobil itu tidak sengaja menabrak kita, dia menghindarkan diri dari tabrakan yang lain, akhirnya kita yang kena, jadi itu karena kelalaian. Tapi bisa juga karena kejahatan orang lain, misalkan kita dirampok, ditusuk dan berbagai macam kejahatan yang lain-lainnya.
GS : Itu yang lebih terencana ya Pak Paul, tapi masih tetap dalam kelompok itu Pak Paul?

PG : Masih dalam kelompok yang sama akhirnya memang kita menderita karena perbuatan orang lain dan itu sering terjadi.

GS : Yang Pak Paul katakan perbuatan itu sebatas yang melukai fisik seseorang atau juga dengan kata-kata Pak Paul? atau bahasa tubuhnya itu yang orang bisa menderita kadang-kadang ya diperlakukan, tidak ada kata-kata, tidak ada bahasa cuma tubuhnya yang membuktikan bahwa dia tidak suka, misalnya begitu.
GS : Betul, bisa jadi kita bisa menderita batiniah karena perlakuan orang lain. Ini terjadi dalam kasus rumah tangga ya Pak Gunawan, misalnya ada istri yang sangat tersiksa karena perlakuan atau kehidupan si suami yang tidak menyayangi, yang tidak memperhatikan dia dan sebagainya. Jadi selama kita ingin hidup di dunia kita juga harus siap menerima fakta ini adakalanya kita menjadi korban perbuatan orang lain, tadinya memang menyakitkan sekali.
GS : Tapi memang saya rasa kita memang perlu sekali betul-betul memahami bentuk-bentuk penderitaan yang Pak Paul tadi dikatakan ada sampai delapan itu berarti kita baru bicara empat Pak Paul. Mungkin dalam kesempatan yang akan datang kita akan lanjutkan lagi pembicaraan ini supaya kita mempunyai gambaran yang lebih jelas lagi tentang penderitaan dan kita tidak salah mengantisipasinya atau menganggapnya.

PG : Betul.

GS : Baiklah demikian tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan ke hadapan anda sekalian sebuah perbincangan seputar penderitaan yang kita alami masing-masing bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini kami persilakan anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dari studio kami mengucapkan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



6. Penderitaan Manusia 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T022B (File MP3 T022B)


Abstrak:

Lanjutan dari T22A


Ringkasan:

Orang yang menderita adalah orang yang mengalami suatu peristiwa yang sangat menyakitkan yang tidak diharapkannya atau tidak diduganya. Dan memang itulah salah satu ciri atau karakteristik dari penderitaan yaitu penderitaan datang menimpa kita di saat kita tidak siap. Jadi kalau orang bertanya bagaimanakah mempersiapkan diri untuk menderita, saya kira jawabannya adalah kita tidak bisa benar-benar mempersiapkan diri, sebab kalau kita pikir memang kita tidak akan pernah siap untuk menderita. Sigmund Freud menelorkan suatu teorinya yang berkata bahwa manusia itu bergerak menjauhkan diri dari penderitaan atau rasa sakit dan mendekati atau mendekatkan diri pada yang nikmat, maka prinsipnya itu disebut prinsip kenikmatan. Jadi memang pada dasarnya kita makhluk yang tidak suka dengan penderitaan.

Ada 8 jenis penderitaan yang dipaparkan oleh Firman Tuhan yaitu:

  1. Penderitaan yang muncul akibat pembelaan Firman Tuhan. Jadi adakalanya kita menderita karena kita membela kebenaran Tuhan atau atau mentaati kehendak Tuhan.

  2. Tuhan mengizinkan kita menderita untuk kepentingan kita sendiri, contohnya Paulus dalam 2Korintus 12:7-9 di mana Tuhan mengizinkan dia mendapatkan duri dalam dagingnya. Ada beberapa tahapan yang biasa terjadi sewaktu kita mengalami musibah:

    1. Kita marah sekali, tidak terima kenapa kita harus mengalami ini.

    2. Kita tawar-menawar dengan Tuhan.

    3. Menyadari bahwa penderitaan itu tidak bisa kita elakkan dan tidak bisa lagi kita tawar-menawar jadi harus kita hadapi.

    4. Depresi, kita akhirnya dirundung oleh kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba hidup kita ini tidak lagi ada artinya.

    5. Penerimaan, tahap ini adalah tahap di mana kita akhirnya berhasil mengatakan ya saya menerima.

  3. Kita menderita karena gangguan/perbuatan iblis, contoh Ayub orang yang memang luar biasa diganggu oleh iblis.

  4. Kita menderita karena perbuatan orang lain, kelalaian maupun kejahatan orang lain. Misalnya kita tertabrak, kita dirampok dsb.

  5. Menderita karena hukuman Tuhan atas perbuatan dosa. Contoh Tuhan menghukum raja herodes, seorang raja yang kejam.

  6. Kita menderita karena kita dalam perjuangan melawan atau sedang mengatasi pencobaan.

  7. Kita menderita karena alam di mana kita tinggal sudah tercemar tidak lagi berimbang. Misalnya karena bencana alam, banjir. Roma 8:19-22, seluruh alam semesta ini sedang mengerang dalam kesakitan dan menantikan hari penggenapan kedatangan Tuhan.

  8. Kita menderita karena kemanusiaan kita misalnya kematian. Kematian adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Matius 5:4, mengatakan: "Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihiburkan." Jadi dalam khotbahnya di atas bukit Tuhan Yesus memberikan kita suatu kebenaran yang memang dirindukan oleh manusia yaitu bahwa :

  1. Tuhan mengatakan kita akan berdukacita, berdukacita sebetulnya adalah kita kehilangan orang yang berharga, yang penting, yang dekat dengan kita. Tapi berdukacita bisa juga karena kita kehilangan sesuatu yang kita senangi, yang kita hormati, kita mau jadikan itu sebagai hidup kita. Tuhan tekankan ada penderitaan yang mengakibatkan kita berdukacita. Dukacita itu bagian dari kehidupan.

  2. Memang akan ada penderitaan, memang akan ada dukacita tapi Tuhan berkata akan dihiburkan.

  3. Roma 8:28, bahwa Tuhan akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yang terpanggil atau dipanggil dan yang mengasihi Tuhan. Artinya adalah meskipun penderitaan itu tidak semuanya langsung dikaitkan dengan Tuhan, tapi seburuk apapun yang kita alami tetap Tuhan akan bisa pakai itu untuk mendatangkan kebaikan. I Petrus 1 atau Yakobus menuliskan waktu kita mengalami penderitaan yang nomor satu akan terjadi adalah iman kita dimurnikan.

Yang perlu kita lakukan untuk menyikapi penderitaan yang menimpa kita sbb:

  1. Tidak tergesa-gesa mencari tahu siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab dalam penderitaan kita. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya.
    Kita mempunyai 3 sikap ekstrim :

    1. Menyalahkan Tuhan.
    2. Menyalahkan orang lain.
    3. Menyalahkan diri sendiri
  2. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Misalnya adanya gempa bumi rumah kita runtuh, dalam keadaan seperti ini kita tidak usah menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan diri sendiri.

  3. Kalau kita tahu ini bukan hal yang berkaitan dengan hukuman Tuhan jelas kita mencari Tuhan untuk mendapatkan penghiburan dariNya. Jadi kita berdoa agar Dia memberikan kekuatan yang sepadan dengan beban penderitaan yang sedang kita tanggung.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan pada beberapa waktu yang lalu tentang "Penderitaan Manusia". Kami percaya bahwa perbincangan ini pasti akan sangat bermanfaat bagi akan kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa saat yang lalu kita membicarakan tentang penderitaan, itu sesuatu yang menyatu di dalam kehidupan kita. Juga sering kali kita salah menanggapinya dengan begitu mudah menyalahkan bahwa ini pasti Tuhan tidak mencintai saya dsb, ini pasti Tuhan yang menjadikan semua penderitaan. Dan beberapa waktu yang lalu kita sudah coba bahas bentuk-bentuk penderitaan dan sebelum kita lebih lanjut memperbincangkan tentang penderitaan manusia, mungkin Pak Paul akan mengingatkan kita dengan apa yang sudah kita bicarakan beberapa waktu yang lalu.

PG : Baik Pak Gunawan, pada dasarnya ada 8 jenis penderitaan yang saya bisa ambil atau petik dari Alkitab dan yang terakhir kita sudah bahas 4 di antaranya. Yang pertama adalah adakalanya kita enderita karena membela kebenaran Tuhan atau mentaati kehendak Tuhan.

Yang kedua adalah karena memang Tuhan mengizinkan kita menderita untuk kepentingan kita, misalnya dalam contoh rasul Paulus agar dia tidak sombong, jadi Tuhan mengizinkan dia mendapatkan duri dalam dagingnnya. Suatu bahasa ilustratif yang menunjukkan pada satu hal yaitu ia mengalami penderitaan. Yang ketiga adalah adakalanya kita menderita karena perbuatan iblis, dalam kasus rasul Paulus meskipun dia mengakui bahwa duri itu diberikan oleh Tuhan namun dia menunjuk bahwa itu adalah perbuatan si iblis, utusan iblis. Jadi adakalanya kita bisa menderita karena serangan-serangan dari iblis itu sendiri. Dan yang keempat adalah kita menderita karena perbuatan orang lain, kelalaian maupun kejahatan orang lain, misalkan kita tertabrak, dirampok dan sebagainya. Itu kira-kira empat jenis yang telah kita bahas, Pak Gunawan.
GS : Jadi kalau kita akan melanjutkan perbincangan ini, mungkin Pak Paul bisa langsung sebutkan bentuk penderitaan yang kelima.

PG : Yang kelima adalah kita menderita karena memang Tuhan menghukum kita, jadi atas perbuatan dosa adakalanyaTuhan menghukum kita. Kita bisa melihat contohnya di dalam Alkitab dan cukup banyakmisalkan Daud menderita, dia harus lari dari Yerusalem karena Absalom memberontak terhadapnya dan itu memang karena bagian dari penghukuman Tuhan, orang-orang Israel juga akhirnya menderita karena mereka tidak taat kepada Tuhan dan tidak ada satupun di antara mereka yang memasuki tanah Kanaan kecuali Yosua dan Kaleb.

Memang adakalanya Tuhan menghukum kita dan hukuman Tuhan atau ganjaran Tuhan itu sakit. Sebab itulah yang dikatakan Tuhan juga di kitab Ibrani dia akan mengganjar atau mendisiplin orang-orang yang dikasihiNya.
GS : Tadi Pak Paul singgung suatu istilah itu mendisiplin, jadi ini di dalam rangka Allah itu mendisiplin kita tapi wujudnya yang kita rasakan sebagai suatu penderitaan.

PG : Betul, karena memang sewaktu Tuhan mendisiplin kita itu menyakitkan dan adakalanya itu yang terjadi.

GS : Mungkin kalau tidak sampai sakit, kita juga tidak akan menjadi orang disiplin Pak Paul, kalau hanya sekadar seperti orang tua memukul tetapi memukulnya tidak terlalu keras atau kurang keras pasti tidak membawa dampak apa-apo?

PG : Betul, saya baru saja membaca bukunya Pdt. Charles Swindoll, The Grace Wekening. Dalam buku itu beliau menceritakan tentang kenalannya yang hidupnya luar biasa dalam daging yang tidak mengndahkan perintah Tuhan, akhirnya mendapatkan kecelakaan yang berat sekali dan dia berjanji, "Tuhan, kalau Tuhan sembuhkan saya, saya akan masuk sekolah Theologi menjadi hamba Tuhan."

Tuhan sembuhkan dia lepas dari malapetaka itu, tapi setelah dia sembuh dia lupa, hidup lagi seperti dulu dalam daging, tidak mengindahkan firman Tuhan sama sekali. Akhirnya dia kena sakit berat, dalam sakit beratnya itu akhirnya dia berkata: "Tuhan, kali ini kalau Tuhan sembuhkan saya, saya akan masuk sekolah Theologi menjadi hambaMu." Dan Tuhan lepaskan dia, akhirnya dengan tubuh yang cacat dia sekolah Theologi dan akhirnya menjadi hamba Tuhan sampai akhir hayatnya. Jadi dia menerima ganjaran yang begitu hebat tapi toh mesti dua kali diganjar benar-benar sadar.
IR : Jadi orang yang dihajar Tuhan itu berarti Tuhan itu sayang Pak Paul, untuk mendatangkan kebaikan baginya.

PG : Yang menakutkan adalah kalau Tuhan mendiamkan kita Bu Ida, itu berarti memang Tuhan tidak lagi menghiraukan kita karena kita tidak lagi bisa ditegur, nah itu menakutkan.

GS : Berarti dalam hal ini Pak Paul, sekalipun wujudnya sama yaitu penderitaan dari Tuhan bagi orang-orang yang memang menjadi milik Tuhan ini menjadi suatu disiplin, tetapi bagi mereka yang bukan menjadi milik Tuhan yang belum mengenal Tuhan Yesus dsb memang ini menjadi suatu hukuman, betul-betul suatu hukuman. (PG : Betul, sebagai pembalasan atas perbuatan dosanya) tapi satu hal yang pasti bahwa Tuhan menghukum orang berdosa.

PG : Betul, dan itu misalkan bisa kita lihat dalam kasus raja Herodes, seorang raja yang begitu kejam dan begitu congkaknya akhirnya Tuhan membiarkan dia dihukum dengan begitu dasyatnya. Sehinga dikatakan bahwa tubuhnya itu akhirnya dimakan oleh seperti cacing.

Ahab Tuhan hukum dengan begitu luar biasa hebatnya, Izebel istrinya juga Tuhan hukum secara luar biasa dan bahkan dikatakan darahnya, tubuhnya itu dimakan oleh anjing. Jadi adakalanya Tuhan menghukum orang-orang yang memang sudah begitu berdosa, itu bukan lagi bentuk ganjaran atau pendisiplinan itu memenuhi penghukuman Tuhan.
GS : Tapi dari sisi itu orang lalu melihat bahwa Allah itu kejam Pak Paul, seolah-olah karena Dia Maha Kuasa lalu Dia melakukan hal-hal yang seperti itu.

PG : Dalam contoh seperti Ahab orang yang begitu luar biasa kejamnya, Alkitab mencatat pada suatu kali Ahab itu bertobat, Ahab bertobat karena ditegur oleh nabi Tuhan dan dia menangis dan dia kmudian mencabik-cabik pakaiannya sebagai tanda pertobatan.

Dan Alkitab dengan tegas mencatat Tuhan mengasihani Ahab, bahkan Tuhan berkata kepada nabiNya: "Tidakkah engkau lihat Ahab yang sudah menyesali dosanya itu." Saya sendiri membaca itu berkata dalam hati kenapa Tuhan ampuni, kenapa Tuhan tidak langsung hukum dia, malah dia itu diizinkan untuk bertobat. Tapi memang namanya juga Ahab, dia bertobat sekali kembali lagi kepada kehidupannya yang berdosa. Maka pada akhirnya pada titik terakhir Tuhan tidak lagi menyelamatkan dia, dia pergi berperang, dia mencoba menyaru dengan memakai pakaian raja dari Yehuda raja Israel bagian Selatan akhirnya dia terkena panah dan mati dan tubuhnya akhirnya dibawa dan darahnya itu dimakan oleh anjing, itu menandakan Tuhan memang akhirnya mendiamkan dia, sudah begitu kejinya dia.
IR : Nah kalau seperti itu berarti Ahab itu tidak termasuk sebagai orang pilihan Tuhan ya Pak Paul?

PG : Saya ingin berkata sudah pasti, tapi saya tidak berani karena apa? Karena tetap untuk hal-hal seperti ini saya beranggapan hanya Tuhan yang mempunyai hak untuk mengetahui dan menetapkan sipa yang akan diterima Tuhan di sorga dan siapa yang tidak Tuhan terima di sorga.

GS : Tapi satu hal yang kita lihat sebenarnya Tuhan Allah itu memberikan kesempatan.

PG : Betul sekali.

IR : Hanya Ahab ini mengeraskan hati ya Pak Paul?

PG : Betul, dan Alkitab mencatat dia menjual dirinya kepada Iblis, digunakan istilah itu. Dia sudah menyerahkan hidupnya dirinya kepada Iblis, tapi toh waktu dia bertobat Tuhan terima pertobatanya.

Maka firman Tuhan berkata: Kasih setiaNya luar biasa panjangnya.
GS : Itu adalah bentuk penderitaan yang kelima yang tadi Pak Paul katakan, selanjutnya bentuk penderitaan yang lainnya, Pak Paul?

PG : Kita ini menderita juga karena kita ini melawan atau sedang mengatasi pencobaan. Jadi adakalanya kita tidak mau jatuh ke dalam pencobaan, kita melawannya nah dalam perjuangan itu kita mendrita.

Jadi misalkan salah satu godaan yang besar sekali bagi seseorang adalah uang misalnya dan karena dia melawan penderitaan itu dia menderita. Nah ayatnya saya ambil dari kitab Ibrani 2:18 yaitu Tuhan Yesus dikatakan menderita karena Dia dicobai, jadi kita pun bisa mengharapkan kita akan sedikit sakit dan susah tatkala kita melawan pencobaan itu. Dan adakalanya sewaktu kita justru menyerah kepada pencobaan malah enak.
GS : Pak Paul, itu berkaitan erat dengan yang pertama tadi ya Pak Paul, kalau seseorang itu taat kepada firman Tuhan dia menderita, nah ini tadi kalau dia melawan pencobaan 'kan juga seturut dengan firman Tuhan yaitu menghadapi cobaan.

PG : Betul, saya hanya bedakan dari sumbernya atau obyeknya, kalau dalam kasus yang pertama obyeknya itu tidak senantiasa atau harus sedang menggoda kita. Kita sedang mau menyebarkan firman Tuhn misalnya mengabarkan kebenaran Tuhan tapi dalam kasus yang kedua ini memang godaan, godaan yang sangat nikmat untuk daging kita tapi kita melawan mati-matian dan kita akan menderita.

Ini sering kali dialami oleh misalkan orang-orang yang dulunya terlibat dalam narkotika atau alkohol, kecanduan. Kalau tatkala ingin melepaskan diri dari kecanduannya dia menderita luar biasa karena godaan itu begitu besar untuk dia itu minum lagi, untuk dia pakai obat-obatan lagi.
IR : Kemudian bentuk yang lain Pak Paul?

PG : Bentuk yang ketujuh adalah kita menderita karena alam di mana kita tinggal sudah tercemar tidak lagi berimbang, jadi kita menderita misalkan karena bencana alam, banjir. Dan sekarang kita edang menantikan datangnya lanina yang akan membawa hujan yang begitu banyak dan derasnya dan ada orang-orang yang menderita karena alam kita ini sudah tercemar.

Dikatakan di kitab Roma 8:19-22 bahwa seluruh alam ini semesta ini sedang mengerang dalam kesakitan dan menantikan hari penggenapan kedatangan Tuhan. Jadi sejak dosa memasuki dunia ini, dosa juga akhirnya mencemari sistem alam dan akhirnya kita melihat alam itu di luar kendali, benar-benar di luar kontrol dan bisa dengan ganasnya menghabiskan manusia, melukai dan membuat manusia menderita.
GS : Dalam hal ini sudah tidak pilih bulu lagi ya Pak Paul orang percaya atau ndak percaya tetap akan mengalami itu.

PG : Tepat sekali, siapapun akan kena. Dan kalau orang berkata kenapa orang Kristen tetap juga menjadi bagian dari penderitaan karena alam ini? Betul, karena kita hidup di dalam dunia yang samadengan semua orang.

Dan kalau kita ikut Tuhan dan terus kita mengharapkan terbebas dari bencana alam saya kira motivasi kita mengikut Tuhan pun tidak lagi bersih.
GS : Dan keliru mengerti tentang pemahaman itu saya rasa. (PG : Betul). Mungkin yang kedelapan Pak Paul, yang lain bentuk itu?

PG : Ini juga sering terjadi yaitu kita menderita karena kemanusiaan kita misalnya kematian, kematian adalah bagian dari kemanusiaan kita setiap orang akan meninggal dunia. Nah adakalanya kita akit, tersiksa melihat orang yang kita kasihi itu akan meninggal dunia atau telah meninggal dunia dan kita menderita.

Nah ini bagian dari hidup pula, atau kita ini sakit misalkan kena penyakit yang berat, sakit jantung dsb itu juga bagian dari kemanusiaan kita bahwa kita akan sakit pula. Dan rasa sakit itu juga akan membawa kita ke dalam suatu penderitaan pula.
IR : Nah Pak Paul, mungkin ada firman Tuhan yang mungkin bisa menjadi pegangan bagi siapapun yang mengalami penderitaan.

PG : Ada Ibu Ida saya akan bacakan dari Matius 5:4, di situ dikatakan bahwa: "Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihiburkan." Jadi dalam khotbahNya di atas bukt, Tuhan Yesus memberikan kita suatu kebenaran yang memang dirindukan oleh manusia yaitu bahwa nomor satu Tuhan mengatakan kita akan berdukacita.

Nah berdukacita itu sebetulnya kita ini kehilangan orang yang berharga, yang penting, yang dekat dengan kita. Tapi berdukacita juga bisa karena kita kehilangan sesuatu yang kita senangi, yang kita hormati, kita mau jadikan itu sebagai hidup kita. Misalkan kita bisa berdukacita karena kita kena stroke, tidak bisa lagi berjalan, tidak lagi bisa berfungsi nah kita berdukacita karena kehilangan fungsi tubuh kita itu. Nah jadi pertama Tuhan tekankan ada penderitaan dan karena adanya penderitaan kita juga berdukacita. Jadi dukacita adalah bagian dari kehidupan, Tuhan tidak sangkali itu, Tuhan tidak pernah berkata karena engkau ikut aku engkau akan bebas dari dukacita, hidupmu penuh dengan sukacita, itu tak pernah dijanjikan Tuhan. Dan paling menggembirakan adalah bagian keduanya memang akan ada penderitaan, memang akan ada dukacita tapi Tuhan berkata akan dihiburkan. Dan kita mengenal tema ini di Alkitab, bahwa Tuhan yang kita percayai adalah Tuhan yang menghibur manusia, Tuhan yang senantiasa sewaktu menampakkan diri kepada anak-anaknya selalu berkata: "Janganlah takut!" Malaikat-malaikat Tuhan yang mewakili Tuhan dalam penampakan diri kepada manusia selalu membawa ucapan berbahagia seperti itu janganlah takut, jadi Tuhan akan menghibur kita dalam segala penderitaan kita. CaraNya jangan kita mencoba mencerna secara pikiran manusia, tidak bisa! Cara Tuhan yang khusus, yang serius Dia bisa menghibur kita, itu nasihat yang pertama yang bisa saya bagikan.
GS : Yang lain Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah yang disinggung oleh bu Ida pada kesempatan yang lalu yaitu di Roma 8:28 bahwa Tuhan akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yan terpanggil atau dipanggil dan yang mengasihi Tuhan.

Artinya adalah meskipun penderitaan itu tidak semuanya langsung dikaitkan dengan Tuhan seperti yang telah kita bahas, tapi toh seburuk apapun yang kita alami tetap Tuhan akan bisa memakai itu untuk mendatangkan kebaikan. Nah ini perlu kita cermati dengan baik. Adakalanya kita berkata misalkan kita baru saja ditabrak, "wah....tidak apa-apa puji Tuhan, tabrakan ini pasti baik buat saya." Nah Tuhan tidak berkata bahwa yang tidak baik itu adalah baik, tidak! kita tidak salah apa-apa terus kemudian ditabrak orang itu sudah tentu tidak baik bukan pengalaman yang baik. Tapi yang Tuhan maksud adalah meskipun itu tidak baik, nanti pada akhirnya ada yang Tuhan akan lakukan untuk mendapatkan kebaikan kepada kita. Nah apakah adakalanya kita ini berpikir kebaikannya adalah sesuatu yang eksternal, yang di luar kita. Misalkan kita rugi wah......tidak apa-apa nanti Tuhan 'kan tambahkan, itu belum tentu terjadi yang Tuhan janjikan bukanlah Tuhan akan gantikan dengan bentuk yang tepat, yang sama. Yang Tuhan maksud adalah yang pasti adalah seperti juga yang dikatakan di I Petrus 1 atau di Yakobus yaitu waktu kita mengalami penderitaan yang nomor satu akan terjadi adalah iman kita akan dimurnikan, itu yang nomor satu akan terjadi. Jadi sudah pasti kebaikan yang akan datang kepada kita, yang Tuhan sudah katakan dengan jelas adalah kebaikannya berkaitan dengan iman kita, kita akan menjadi orang yang lebih dewasa di dalam Tuhan.
GS : Sebenarnya memang saya percaya ada banyak ayat-ayat di dalam Alkitab bisa menghiburkan kita, menguatkan kita, menyadarkan kita akan penderitaan itu. Tapi masalahnya adalah pada saat kita mengalami penderitaan itu seolah-olah itu hilang semua Pak Paul, kita menjadi bingung menghadapi penderitaan itu. Nah sebenarnya secara garis besar Pak Paul, bagaimana kita itu menyikapi suatu penderitaan yang kita alami?

PG : Nomor satu adalah kita tidak tergesa-gesa mencari tahu siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab dalam penderitaan kita. Kita mempunyai ekstrim atau tiga sikap ekstrim, pertama adaah menyalahkan Tuhan, kedua menyalahkan orang lain dan yang ketiga menyalahkan diri sendiri.

Nah adakalanya kita harus tempatkan secara proporsional dengan tepat, jangan sampai yang memang salah kita, kita katakan salah orang lain atau salah Tuhan begitu. Jangan sampai juga orang lainlah yang berbuat, orang lain yang bertanggung jawab kita katakan kitalah yang bertanggung jawab, Tuhanlah yang memberikannya kepada kita jadi kita mesti jelas hal itu. Dalam pembahasan kita tentang delapan jenis ini yang saya kaitkan langsung dengan Tuhan adalah misalkan waktu kita menderita karena kita membela kebenaran Tuhan, yang berikutnya adalah tatkala Tuhan sedang mengganjar kita itu langsung tangan Tuhan yang berkaitan yang berhubungan dengan kita. Tapi yang lain-lainnya sebetulnya adalah bukan tangan Tuhan secara langsung yang berhubungan dengan kita. Jadi jangan terlalu cepat kita ini mengaitkan dengan Tuhan bahwa seolah-olah Tuhanlah yang bersalah. Kita juga tidak bisa terlalu cepat menyalahkan orang lain atau ada orang yang sedikit-sedikit salah sendiri, semua salah saya itu juga tidak benar. Jadi langkah pertama jangan tergesa-gesa menyalahkan siapa-siapa, kita melihat dulu apa yang sedang kita derita maksud saya jenis apa, dan setelah kita tahu jenisnya baru kita bisa menyikapinya. Misalkan karena adanya gempa bumi rumah kita runtuh, nah dalam hal seperti ini saya kira kita tidak usah menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan siapa, apakah alam semesta ya tidak juga karena kita sudah tahu bahwa alam ini memang tidak lagi berimbang, tidak lagi berada pada titik keseimbangan karena hadirnya dosa dalam alam semesta ini, jadi itu akan menjadi bagian dari hidup kita. Misalkan kematian anak kita, istri kita, suami kita, orang tua kita akhirnya sakit kemudian meninggal. Nah sakit juga adalah bagian dari kemanusiaan kita dan kalau itu terjadi itu adalah bagian dari kemanusiaan kita yang kita juga harus terima.
GS : Kalau kita sudah menyadari hal itu lalu bagaimana Pak Paul?

PG : Yang nomor tiga adalah misalkan kita tahu ini bukan hal yang berkaitan dengan hukuman Tuhan jelas kita mendapatkan atau mencari Tuhan untuk mendapatkan penghiburan dariNya. Jadi kita berdo agar Dia memberikan kita kekuatan yang sepadan dengan beban penderitaan yang sedang kita tanggung, itu yang mungkin bisa kita minta dariNya hanya itu saja.

GS : Kadang-kadang memang Tuhan itu mengijinkan kita atau memberikan teman yang bisa menolong kita mendengarkan keluhan-keluhan kita dsb.

PG : Betul sekali, itu usulan yang baik sekali Pak Gunawan. Jadi dalam penderitaan sebaiknya kita bisa membagi duka atau beban kita ini dengan teman atau saudara kita, itu sangat menolong. Sayakira kita yang sehat kadang kala lupa bahwa orang sakit paling senang dikunjungi.

Salah satu hal yang paling menyiksa orang yang sakit di rumah sakit adalah kesendiriannya atau kesepiannya.
GS : Seolah-olah tidak ada lagi orang yang memperhatikan dia, jadi penderitaannya ganda Pak Paul ya.

PG : Betul, betul sekali.

GS : Tapi memang harus kita akui sulit sekali Pak Paul, untuk mengkategorikan suatu bentuk penderitaan, karena kadang-kadang itu campuran dari beberapa bentuk penderitaan yang terjadi sekaligus.

PG : Dan sangat manusiawi juga saya harus akui kita ini sering kali menyalahkan Tuhan, karena dalam diri kita tersirat suatu asumsi bahwa nomor satu kalau saya hidup baik seyogyanyalah saya menrima imbalan yang baik pula.

Kalau saya sudah hidup menyenangkan hati Tuhan, tidak macam-macam tapi kenapa saya harus menderita seperti ini. Jadi kita tidak bisa tidak dipengaruhi oleh konsep ini. Dan yang kedua adalah konsep yang kita bawa sejak kecil, kalau kita sakit orang tualah yang repot untuk mengurus kita, mengurangi penderitaan kita dan melindungi kita dari penderitaan yang lebih lanjut, kita bawa konsep ini juga dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita berkata: "Tuhan, saya sakit ini, saya menderita kok Engkau tidak datang mengunjungi dan mengurangi penderitaan saya. Dan kalau ini akan terjadi dan Engkau mampu untuk mengelakkannya kenapa tidak?" Jadi saya tidak ingin kedengaran tidak sensitif sebab saya menyadari bahwa dalam penderitaan acapkali pengetahuan kita akan yang benar bisa tiba-tiba lenyap sebab apa, sebab penderitaan itu merobek hati manusia yang terdalam.
GS : Memang penderitaan itu sudah menjadi bagian kita dan setiap kita pasti pernah mengalaminya bentuknya bermacam-macam dan kadarnya pun bermacam-macam tetapi kita pasti bisa melihat bahwa penderitaan yang paling berat adalah penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus Pak Paul ya.

PG : Dan dari situ kita bisa simpulkan bahwa memang Allah tidaklah begitu anti dengan penderitaan. Sebab bahkan diriNya sendiri sewaktu menjelma menjadi manusia harus melalui proses penderitaanyang begitu hebat untuk mati.

GS : Dan dari situ kita tahu bahwa kalau kita sedang berdoa dan mengeluh tentang penderitaan yang kita alami Dia mengerti dengan pasti apa yang kita keluhkan karena Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami itu.

PG : Betul, itu yang dikatakan di kitab Ibrani, Dia juga menderita karena dicobai oleh karena itulah Dia bisa mengerti penderitaan kita.

IR : Dan Dia juga mendoakan kita Pak Paul ya.

PG : Betul sekali, satu hal yang kita mesti harus ingat adalah sewaktu kita menderita, Tuhan pun menangis kalaupun Dia diam bukan karena Dia bersenang-senang, Dia diam karena ada satu hal yang ia lakukan yang tidak kita mengerti sekarang.

Tapi yang sudah pasti adalah Allah pun menangis tatkala kita menderita.

GS : Jadi sekalipun penderitaan ini akan terus berlanjut di dalam kehidupan kita, kita bersyukur bahwa kita mengenal Allah yang begitu mengerti dan mengasihi kita masing-masing. Jadi saya percaya bahwa Tuhan sendirilah yang akan memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita pada masa-masa yang semakin sulit ini Pak Paul. Dan demikianlah tadi para pendengar kami telah persembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang penderitaan manusia. Bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Dan kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegus sapa ini kami persilakan anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih untuk tanggapan dan surat-surat yang sudah ditujukan kepada kami. Namun kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sekalian, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



7. Kemarahan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T027A (File MP3 T027A)


Abstrak:

Kemarahan itu sendiri adalah suatu reaksi emosional dan tidak harus identik dengan dosa. Cara kita melampiaskan itulah yang akhirnya membuahkan dosa.


Ringkasan:

Pandangan kita seharusnya sebagai seorang kristen tentang kemarahan:

  1. Kita mesti menyadari bahwa kemarahan itu sendiri adalah suatu reaksi emosional dan tidak harus identik dengan dosa. Cara kita melampiaskan kemarahan itulah yang bisa akhirnya membuahkan dosa.

    Efesus 4:26, Firman Tuhan berkata: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." Jadi dosa adalah sewaktu kemarahan kita yang kita ekspresikan itu benar-benar akhirnya menghina orang, menjatuhkan, merusakkan orang. Jadi batasnya adalah di situ, kemarahan yang kita ekspresikan itu reaksi yang natural, tapi kemarahan yang kita ekspresikan akhirnya bertujuan untuk mencabik-cabik orang atau menghina orang itu melewati batas dan akhirnya membuahkan dosa.

    Kemarahan diidentikkan dengan tingkat kematangan rohani, kita beranggapan bahwa orang yang mudah marah adalah orang yang tidak dewasa secara rohani. Tapi sebetulnya tidak sesederhana itu. Kita akan melihat masalah marah dari berbagai sudut dan melihatnya sebagai fenomena yang kompleks.

  2. Kita mesti mengerti kenapa sebagian orang lebih mudah marah dibandingkan yang lainnya atau kenapa sebagian orang lebih susah marah dibandingkan orang yang lainnya. Hal ini karena:

    1. Adanya pengaruh dari faktor biologis atau faktor fisik kita. Seseorang yang reaktif akan mudah bereaksi termasuk dalam hal kemarahan.

    2. Faktor bentukan lingkungan, jadi kalau kita melihat orangtua kita menyatakan ketidaksetujuannya melalui kemarahan dan kita menyaksikan ini berulang-ulang kali kemungkinan besar metode penyampaian ketidaksetujuan dengan kemarahan itu akan terekam dalam benak kita dan akan menjadi satu dengan sistem kita.

    3. Pengaruh kehidupan masa kecil kita atau masa lampau kita, misalnya yang dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan pertengkaran atau dia adalah korban penganiayaan baik secara emosional maupun secara fisik atau pun seksual dll. Akhirnya anak bertumbuh besar dengan menyimpan banyak dengki, kemarahan dan akhirnya mudah meledak pada saat sudah besar. Sebab hatinya sudah tergenangi oleh emosi marah, sehingga apapun yang terjadi yang menyinggung perasaan dia, reaksinya adalah langsung meledak dan tak bisa dia kuasai dengan mudah.

    4. Situasi kehidupan kita sekarang ini, jadi lepas dari yang dulu dan yang hormonal, yang sekarang ini pun bisa membuat kita menjadi seorang yang pemarah. Contoh: keadaan yang kita alami sekarang ini krisis ekonomi, keadaan politik yang tidak menentu ini sangat menekan kita

Waktu kita bekerja di sekeliling orang yang mudah marah pun bisa mempengaruhi kita yaitu:

  1. Mempengaruhi sekali cara kita bereaksi, jadi tanpa disadari cara bereaksi yang mudah marah itu akhirnya menjadi metode kita juga menyatakan diri.

  2. Menaikkan suhu atau temperatur emosi kita sendiri.

Apa yang bisa kita lakukan, pada saat kita marah supaya tidak menyakiti orang lain:

  1. Metode assertive, bahasa Inggrisnya to assert. Menyatakan diri atau menyatakan sikap.

  2. To be assertive adalah bagaimana kita menyampaikan pikiran atau isi hati kita dengan jelas tapi tidak dengan agresif.

  3. Peristiwanya. Contoh menghadapi sikap seseorang terhadap tugasnya. Ada 3 pilihan pertama, mengumbar amarah kita dan kita maki-maki dia, kedua adalah pasif-egresif artinya sebetulnya marah tapi kita menggunakan cara yang tidak langsung untuk menekan atau menyerang dia. Ketiga idealnya adalah assertive yaitu kita hampiri dia dan berkata kita mulai dengan saya, kemudian perasaan saya.

Efesus 4:26 berkata: "Apabila kamu menjadi marah, jadi dengan langsung Alkitab atau Tuhan mengakui bahwa kita akan marah, dan marah adalah bagian kehidupan manusiawi kita yang tidak perlu kita ingkari. Tapi memberikan 3 pedoman yaitu: jangan berdosa, jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu, terakhir jangan berikan kesempatan kepada iblis.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana mengatasi kemarahan. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul rupa-rupanya kemarahan itu sudah menjadi bagian di dalam kehidupan kita dan saya percaya baik kita maupun saudara-saudara yang sedang mendengarkan acara ini pasti pernah marah. Ada yang marahnya disimpan atau diungkapkan secara meledak-ledak tetapi satu hal yang kita tahu dia sedang marah atau kita sedang marah. Di dalam Alkitab kita pernah membaca bagian yang mengatakan bahwaTuhan Yesus juga pernah marah. Tetapi kita juga tahu bahwa kemarahan itu suatu dosa yang Tuhan tidak kehendaki. Menghadapi hal ini Pak Paul, bagaimana sebenarnya pandangan kita sebagai orang Kristen tentang kemarahan itu?

PG : Yang pertama adalah kita mesti menyadari bahwa kemarahan itu adalah suatu reaksi emosional dan tidak harus identik dengan dosa. Cara kita melampiaskan kemarahan bisa membuahkan dosa, jai sekali lagi kemarahan itu sendiri belum tentu mengandung unsur dosa, namun pelampiasannya atau pengekspresiannya yang bisa membuahkan dosa.

GS : Bagaimana contohnya ekspresi kemarahan yang bisa disebut dosa dan kemarahan yang tidak bisa disebut dosa, Pak Paul?

PG : Di Efesus 4:26, firman Tuhan berkata: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." Jadi dosa adalah sewaktu marah yang kita ekspresikan itu benar-benar menghna orang, menjatuhkan, merusakkan orang.

Jadi kita ini mengekspresikan kemarahan kita, hal yang lain kita ini menghancurkan orang dengan kemarahan kita. Jadi saya kira batasnya adalah di situ, kemarahan yang kita ekspresikan itu adalah reaksi yang natural, tapi kemarahan yang kita ekspresikan akhirnya bertujuan untuk menghina orang, saya kira itu melewati batas dan akhirnya membuahkan dosa.
GS : Jadi itu yang kita lihat adalah akibat dari kemarahan kita?

PG : Betul, jadi penyampaian dari kemarahan tersebut.

GS : Itu justru yang kadang-kadang sering terjadi, pada saat kita marah kita tidak bisa mengontrol diri, Pak Paul.

(2) PG : Betul, seringkali Pak Gunawan dan Ibu Ida, kemarahan ini diidentikkan dengan tingkat kematangan rohani, seolah-olah kita beranggapan bahwa orang yang mudah marah adalah orangyang tidak dewasa secara rohani.

Tapi sebetulnya hal ini tidaklah sesederhana itu, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat masalah marah ini dari berbagai sudut dan melihatnya sebagai suatu fenomena yang kompleks. Yang pertama adalah kita harus mengerti mengapa sebagian orang lebih mudah marah dibandingkan yang lainnya atau kenapa sebagian orang lebih susah marah dibandingkan orang yang lainnya dan ini tidak selalu ditentukan oleh tingkat kedewasaan rohani seseorang. Yang pertama adalah ada pengaruh dari faktor biologis atau faktor fisik kita. Ada orang-orang tertentu yang memang mempunyai daya reaksi yang sangat cepat, peka. Orang-orang yang reaktif, yang mudah bereaksi otomatis juga mudah untuk memberikan reaksi emosionalnya termasuk di dalamnya adalah kemarahan. Jadi tidak mungkin orang yang misalnya mudah bereaksi dengan tangisan menjadi orang yang susah sekali untuk bereaksi dengan kemarahan. Kebanyakan orang yang mudah bereaksi dengan kesedihan, orang yang juga mudah bereaksi dengan kemarahan tapi mungkin sekali kemarahannya itu tidak dia nyatakan secara terbuka. Tapi intinya adalah seseorang yang reaktif akan mudah bereaksi termasuk dalam hal kemarahan pula, itu memang sudah dia bawa sejak dari lahir. Orang-orang yang misalnya kita sebut high strong ini, orang-orang yang mudah marah ini adalah memang secara biologis kelihatannya hangat, jadi temperamen mereka temperamen yang memang sepertinya bergelora. Ada orang yang lebih menyerupai tipe plegmatik yaitu tipe yang memang santai, tidak terlalu terlibat di dalam dunia atau dalam kontak dengan orang lain. Orang yang bertipe plegmatik ini akan lebih mudah menguasai kemarahannya, karena dia memang tidak terlalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Kebalikan dengan orang yang misalnya kolerik atau yang sanguin atau yang melankolik, mereka ini adalah tipe-tipe orang yang tiba-tiba bereaksi, jadi itu adalah faktor yang pertama yang menentukan kita ini menjadi orang yang lebih mudah marah atau lebih sukar marah. Faktor kedua adalah faktor bentukan lingkungan, jadi kalau kita melihat orang tua kita menyatakan ketidaksetujuannya melalui kemarahan dan kita menyaksikan ini berulang-ulang kali kemungkinan besar metode penyampaian ketidaksetujuan itu yakni dengan kemarahan akan terekam dalam benak kita dan akan menjadi satu dengan sistem kita akhirnya. Karena kita terus-menerus menyaksikan orang tua kita mengumbar kemarahan tatkala mereka tidak setuju dengan apa yang sedang dikerjakan dan akhirnya berbekas pada benak kita. Setelah dewasa, kita cenderung untuk marah sewaktu kita misalnya tidak setuju atau tidak sepakat atau merasa tidak nyaman. Jadi pelajaran yang kita terima melalui pengalaman yang kita lihat itu juga akan mengkondisikan kita menjadi orang yang lebih mudah marah. Yang lainnya lagi adalah tentang masa kecil kita atau masa lampau kita adalah kalau kita ini menyimpan banyak kepahitan, jadi ada di antara kita yang dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan pertengkaran atau dia adalah korban penganiayaan baik secara emosional maupun secara fisik ataupun seksual dan yang lain-lainnya. Akhirnya si anak ini bertumbuh besar menyimpan banyak dengki, kemarahan yang tersumbat sewaktu dia kecil, dia tidak bisa mengutarakan kemarahannya karena orang tua lebih besar dan lebih pemarah daripada dia, sehingga dia simpan terus kemarahan tersebut. Waktu dia sudah mulai besar, kemarahannya akhirnya mudah meledak sebab hatinya itu sudah tergenangi oleh emosi marah, sehingga apapun yang terjadi yang menyinggung perasaan dia atau membuat dia merasa tidak nyaman reaksinya langsung meledak dan tidak bisa dia kuasai dengan mudah lagi.
GS : Itu faktor-faktor yang dari dalam ya Pak Paul, jadi ada hormon, lalu ada pengalaman masa kecil dan sebagainya, apakah juga seseorang itu bisa menjadi pemarah karena faktor-faktor ekstern, jadi dari luar dirinya, Pak Paul?

PG : Bisa, jadi yang ketiga adalah situasi kehidupan kita sekarang ini, jadi lepas dari yang dulu dan yang hormonal. Yang sekarang ini bisa membuat kita menjadi seorang yang pemarah, contohna adalah keadaan yang sekarang sedang kita alami yaitu krisis ekonomi, keadaan politik yang begitu tidak menentu dan ini sangat menekan kita.

Dan kebanyakan kita bisa menanggung tekanan atau stres untuk suatu jangka waktu tertentu, tatkala melewati batas itu hidup kita mulai tergoncang, keseimbangan kita mulai terganggu.
IR : Juga faktor alam ya Pak Paul, misalnya cuaca yang panas itu mungkin juga bisa menimbulkan orang mudah marah ya?

PG : Betul, jadi saya teringat suatu hasil studi, di kota Phoenix, Arizona di Amerika Serikat pada waktu musim panas orang-orang di jalanan yang mengemudikan kendaraan lebih sering membunyian klakson.

Jadi mereka ternyata kurang sabar dengan cuaca yang begitu panas dan di salah satu studi yang lain saya megetahui bahwa di Amerika Serikat, pembunuhan paling sering terjadi di musim panas dibandingkan di musim dingin.
IR : Juga faktor penyakit seperti orang yang hipertensi itu juga mudah marah, apakah itu betul Pak Paul?

PG : Ya, karena ada pengaruhnya dari struktur tubuh yaitu pengaruh biologis yang tadi telah kita bahas. Orang-orang yang hipertensi menjadi orang-orang yang reaktif, yang mudah sekali bereaki.

GS : Kadang-kadang saya mengalami yang tadinya tidak berniat untuk marah, tetapi karena lawan bicara kita mulai dulu dengan marah, maka kita terpancing juga untuk marah atau kalau melihat orang di sekeliling kita semua marah lalu kita ikut marah, faktor apa itu sebenarnya, Pak Paul?

PG : Ada satu penelitian yang menggunakan metode peniruan, jadi ada anak-anak yang ditempatkan di satu ruangan dan di dalam ruangan itu si anak bisa melihat seseorang yang sudah dewasa membating-banting mainan.

Si anak melihat terus si orang dewasa membanting-banting mainan, kemudian si orang dewasanya dikeluarkan dari ruangan tersebut dan si anak dibiarkan bersama mainannya. Yang menarik adalah anak-anak itu langsung mengikuti tindakan si orang dewasa itu, membanting-banting mainan, membuang-buangnya persis seperti yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut. Jadi yang terjadi adalah waktu kita bekerja misalkan hidup di sekeliling orang yang mudah marah dan sedikit-sedikit marah, nomor 1 yang kita saksikan itu mempengaruhi sekali cara kita akhirnya bereaksi, jadi tanpa kita sadari cara bereaksi yang mudah marah itu menjadi akhirnya metode kita menyatakan diri. Misalkan kita tidak setuju, kita mau menyatakan pendapat kita dan sebagainya, otomatis yang telah kita rekam itu mempengaruhi sehingga akhirnya yang muncul juga sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yaitu marah. Yang kedua adalah pengaruh kemarahan di sekeliling kita menaikkan suhu atau temperatur emosi kita sendiri. Jadi kita ini adalah orang yang tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan itu, otomatis kalau di lingkungan kita kemarahan yang terus kita temui, tidak bisa tidak, kita seperti juga sedang dimasak di air yang panas. Akhirnya kita turut terpengaruh temperatur emosi sehingga emosi kita juga turut naik. Kebalikannya kalau kita berhadapan atau tinggal bersama orang yang sabar kita melihat cara dia mengatasi konflik dengan sabar, itu bisa mempengaruhi kita akhirnya kita cenderung untuk belajar sabar karena 2 faktor tersebut, yaitu faktor peniruan, imitasi. Kita melihat cara dia mengatasinya seperti ini, seperti itu dan tanpa disadari kita belajar. Dan yang kedua orang yang sabar akan menurunkan suhu, itu sebabnya di Amsal dikatakan, janganlah engkau dekat-dekat dengan orang yang pemarah (GS : Ketularan) nanti tertular.
(3) GS : Pak Paul, kalau kita tahu bahwa kita sedang marah, kita itu tidak bisa berpikir secara obyektif. Apakah pada saat marah itu kalau mengeluarkan kata-kata lalu bagaimana mengontrolnya supaya tidak menyakiti hati orang lain?

PG : Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan Pak Gunawan, yang pertama adalah metode yang disebut ini metode 'assertive'. Assertive dalam bahasa Inggris disebut to assert, to assert itu artiya menyatakan diri atau menyatakan sikap.

Jadi 'to be assertive' adalah bagaimana kita menyampaikan pikiran atau isi hati kita dengan jelas tapi tidak dengan agresif. Biasanya kalimat-kalimat yang assertive dimulai dengan aku atau saya disusul dengan perasaan saya, yang ketiga adalah peristiwanya. Jadi misalkan saya berikan contoh misalkan teman kerja kita, hari pertama mengatakan: "Tolong kamu yang kerjakan bagian ini, soalnya saya harus pergi." Dengan senang hati kita bantu dia, 3 hari kemudian dia minta hal yang sama, kita dengan senang hati melakukannya untuk dia kemudian tanpa disadari 4, 5 kali dia minta yang sama dan dia cenderung mau pulang lebih pagi dan meminta kita yang mengerjakannya. Dan kita mulai jengkel, dalam keadaan seperti ini kita punya dua pilihan atau 3 pilihan. Pilihan pertama adalah kita mengumbar amarah kita dan kita memaki-maki dia, "Kamu orang yang tidak tahu diri, mengambil kesempatan dan memanfaatkan saya," jadi yang pertama kita langsung marah, agresif. Cara kedua adalah atau pilihan kedua kita pasif-agresif, pasif-agresif artinya kita sebetulnya marah tapi kita menggunakan cara yang tidak langsung untuk menekan dia atau menyerang dia. Misalkan kita tidak bilang apa-apa tentang perbuatannya itu, tapi misalkan kita menyindir pada waktu berbicara kita berkata: "Ada orang yang kurang tahu diri, ada orang yang tahu diri, yang kurang tahu diri itu sedikit-sedikit menyuruh temannya untuk bekerja bagi dia," itu kata-kata yang sinis dan tajam. Biasanya itu keluar dari hati yang marah tapi diungkapkannya secara pasif, secara tidak langsung menyerang, itu tindakan kedua pasif-agresif. Tindakan yang ketiga adalah ini yang ideal yaitu assertive, yaitu kita hampiri dia dan berkata kita mulai dengan saya, kemudian perasaan saya. "Saya merasa jengkel, karena apa? (nah kita sebut perbuatannya) karena saya ini, karena engkau sudah beberapa kali meminta saya mengerjakan bagianmu sedangkan saya juga repot. Dan kamu sebetulnya tidak ada alasan yang terlalu penting pulang lebih pagi, saya tidak menyukai hal itu."
GS : Tapi itu diucapkan tanpa nada marah, Pak Paul?

PG : Betul, tanpa kita mengumbar kemarahan kita, jadi dia bisa tahu kita marah, karena kita mengutarakannya, kita bisa berkata saya merasa jengkel atau saya marah karena (nah kita sebut) kit paparkan adalah peristiwanya jadi kita tidak membuat suatu penilaiaan subjektif atau penghakiman.

Misalnya kita tidak berkata: "Saya marah karena engkau tidak tahu diri," waktu kita berkata engkau tidak tahu diri kita memang menyerang orang dan orang cenderung membela diri dan menyerang balik.
IR : Pak Paul ini ada kesaksian seseorang yang mengatakan bahwa sejak dia terima Kristus, frekwensi kemarahannya sangat menurun. Jadi kematangan rohani seseorang itu mempengaruhi sifat pemarah seseorang, Pak Paul?

PG : Betul, tadi di awal program ini saya katakan bahwa kemarahan harus dilihat secara kompleks dari sudut-sudut yang berbeda. Dan saya berkata bahwa kemarahan tidak senantiasa mencerminkan ingkat kedewasaan rohani seseorang, tapi tadi Ibu Ida sudah singgung kerohanian seseorang tetap berpengaruh terhadap kemarahannya itu betul sekali, Ibu Ida.

Dengan kata lain begini, kalau kita sudah di dalam Tuhan kita tidak lagi sendirian mengatasi problem kita. Meskipun kemarahan itu dipengaruhi oleh pelbagai faktor dan tidak baik buat kita terburu-buru menghakimi orang dengan berkata orang yang pemarah adalah orang yang tidak dewasa secara rohani namun kita tahu bahwa Tuhan tidak memberikan kita 'excuse' atau dalih, "Ya karena itu kelemahanmu, ya silakanlah engkau menjadi seorang pemarah, aku akan menoleransi," tidak. Setiap kita sebetulnya mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu akibat bawaan genetik dan juga akibat pengalaman masa lampau kita, namun kita dituntut Tuhan untuk bertumbuh. Jadi seorang pemarah tidak boleh sekali pun berkata: "Ya saya terima kodrat saya memang saya orangnya begini," atau misalkan dia itu membenarkan diri dengan berkata: "Ya maksud saya baik, ya orang salah tanggap saja tapi maksud saya baik," tidak bisa! Tuhan menuntut dia untuk bertumbuh. Jadi artinya dia harus menggumulkannya, di luar Tuhan dia menggumulkannya sendiri, sekarang di dalam Tuhan kita tahu bahwa Tuhan hidup di dalam hidup kita dan Dia akan mengingatkan kita akan kemarahan kita dan Dia akan memberikan kita kekuatan untuk mengontrol kemarahan kita itu. Jadi memang sangat benar yang tadi Ibu Ida katakan bahwa Tuhan menolong kita mengatasi kemarahan.
GS : Bagaimana dengan orang yang coba mengalihkan kemarahannya Pak Paul, jadi dia tahu dia sedang marah lalu coba mengingkari kemarahannya atau malah merusak suatu barang tetapi tidak kepada orang lain. Untuk menghindari itu tadi, orang lain bisa sakit hati tapi kalau barang dibanting misalnya sudah pecah ya sudah, tapi dia merasa lega Pak Paul, bagaimana kalau menyalurkannya lewat itu?

PG : Ini juga didukung oleh suatu riset ya Pak Gunawan, ternyata kemarahan yang dinyatakan atau diekspresikan melalui kekerasan, itu cenderung malah menyuburkan perilaku yang sama. Jadi akhinya di waktu yang lain pun kalau dia lagi marah, dia cenderung merusak atau membanting barang atau memukul tembok.

Jadi sebaiknya kita tidak menggunakan cara penyampaian seperti itu, cara kekerasan bukannya meredam atau menghilangkan kemarahan malah menyuburkan. Lain kali kita cenderung melakukan hal yang sama.
GS : Kalau orang yang mengingkari kemarahannya jadi ditahan-tahan lalu dia pura-pura tidak marah, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau memang dia bisa menahan dan menguasainya kemudian membereskannya tidak apa-apa tapi yang saya khawatirkan adalah sebetulnya tidak menyelesaikan, jadi kemarahan itu terus tersimpan Atau muncul dalam situasi yang lain, sesuatu terjadi tiba-tiba dia bisa marah atau sangat sinis dan tajam sekali perkataannya.

GS : Tanggapan Pak Paul mengenai bagian Alkitab yang menyatakan Tuhan Yesus marah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Itu marah yang lain lagi Pak Gunawan, jadi marah itu dapat kita bagi dalam 2 golongan ya. Marah yang pertama adalah marah yang personal, marah yang melibatkan kita dan kita itu menjadi asaran orang yang menyakiti kita.

Marah yang kedua adalah marah yang bukannya personal tapi marah karena keadilan, marah karena masalah kerohanian. Jadi adakalanya kita marah misalnya melihat ketidakadilan di dalam masyarakat di sekitar kita atau kita marah karena melihat orang yang jahat, hidup di luar Tuhan. Akhirnya kita marah, kemarahan itu bukannya personal karena tidak menyangkut kita secara pribadi, namun berkaitan dengan faktor keadilan atau kerohanian. Nabi-nabi Tuhan seringkali marah misalnya Yunus pun marah, Tuhan Yesus juga marah, Nehemia juga marah waktu dia melihat orang-orang Israel akhirnya menikah dengan orang-orang kafir dan meninggalkan Tuhan. Dia sangat marah, menjambak rambut orang Israel itu.
GS : Jadi memang ada bagian-bagian seperti itu di mana memang marah itu bukan menjadi suatu dosa ya Pak Paul?

PG : Betul, jadi marah memang ada basis kebenarannya atau keadilannya.

IR : Ya mungkin ada bagian Alkitab Pak Paul yang mengingatkan kita supaya kita itu tidak mudah marah?

PG : Ini di Efesus 4:26 Bu Ida, firman Tuhan berkata: "Apabila kamu menjadi marah, jadi dengan langsung Alkitab atau Tuhan mengakui bahwa kita akan marah, dan marah adalah bagia kehidupan manusiawi kita, tidak perlu kita ingkari, kita akui tidak apa-apa.

Tapi memberikan kita 3 pedoman Bu Ida, jangan berdosa artinya jangan kita merobek-robek orang karena kemarahan kita dan yang kedua adalah jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu. Artinya jangan menyimpan dendam, bereskan masalahnya secepat mungkin, tidak berarti kita juga meminimalkan dampaknya, kalau masalah serius ya serius. Perlu seminggu untuk mengatasinya, silakan! Perlu 2 minggu, silakan! Tapi yang penting ambillah langkah untuk menyelesaikannya meskipun belum tentu akan segera selesai. Dan yang terakhir adalah jangan berikan kesempatan kepada iblis, jadi jangan sampai kita akhirnya dibisiki oleh iblis untuk melakukan hal-hal yang sangat salah. Misalkan kalau kita seorang pria, kita merasa ditolak oleh istri kita dalam hubungan kita dengan istri, akhirnya kita tersinggung dan kita berkata: "Saya bisa cari perempuan lain, jangan pikir kau saja wanita bagiku!" Itu bisikan iblis, akhirnya kita menuruti bisikan iblis dan berdosa terhadap Tuhan, juga terhadap pasangan kita.
GS : Jadi memang sekalipun kemarahan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita tetapi Tuhan tentu mau mengajarkan kepada kita untuk bisa mengendalikan diri dalam kemarahan itu ya Pak Paul. Jadi kita memang belajar dan bersyukur bahwa Alkitab juga cukup banyak memberikan pedoman bagi kita untuk mengatasi kemarahan.

Dan demikianlah saudara-saudara pendengar kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang bagaimana mengatasi kemarahan bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



8. Kekerasan di Tengah Kita


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T029A (File MP3 T029A)


Abstrak:

Kekerasan dapat timbul, disebabkan oleh dua faktor baik internal maupun eksternal. Dan kekerasan ini akan sangat berpengaruh bagi kita juga. Meski hal ini sebenarnya dialami sejak kecil.


Ringkasan:

Ada dua kategori yang dapat digunakan untuk meneropong tentang perilaku kekerasan yaitu:

  1. Faktor tekanan, yang sama dengan faktor eksternal merupakan himpitan dari luar yang membuat kita akhirnya merasa bukan saja tertekan tapi sakit, karena kita itu merasa ada sesuatu atau tindakan seseorang yang melukai kita, bisa secara fisik maupun secara mental. Jadi segala bentuk serangan atau tekanan dari luar yang akhirnya memberikan ancaman kepada kita atau membuat kita sangat terhimpit dan terdesak cenderung melahirkan reaksi yang keras dari pihak kita.

  2. Faktor rintangan adalah sewaktu kita merasa bahwa yang kita inginkan tak dapat kita peroleh, kita cenderung melahirkan reaksi marah yang bisa berubah bentuk menjadi suatu reaksi kekerasan. Rintangan ini bisa bersumber dari luar karena seseorang yang menghalangi kita, tapi rintangan juga bisa bersumber dari dalam diri kita. Misalnya: kita sendiri yang kurang mampu, kitanya yang memang merasa kurang sanggup untuk mendapatkannya.

Kekerasan yang timbul secara bersama akan lebih berani, hal ini disebabkan:

  1. Dalam jumlah yang banyak memberikan kekuatan ekstra kepada anggota-anggotanya.

  2. Dalam jumlah massa yang besar kita ini hilang dari kerumunan. Maksudnya identitas kita tak dapat dikenali dengan jelas tatkala kita di tengah-tengah kerumunan banyak orang. Akhirnya kita lebih berani berbuat hal-hal yang tidak akan kita lakukan kalau kita dikenali oleh orang.

Seandainya kita berada di tengah-tengah kerumunan orang yang mencoba mempengaruhi kita untuk ikut dalam kekerasan itu apa yang perlu kita lakukan?

  1. Kita mesti menghentikan gerakan kita, jangan langsung lari atau jangan langsung ikut tapi kita harus stop dan langsung kita mengingat siapa kita. Kita adalah ciptaan Tuhan bahwa kita adalah orang yang ditebus oleh darah Tuhan, kita harus mengikuti apa yang Tuhan kehendaki bukan yang manusia kehendaki.

  2. (Hal ini dimulai bukanlah pada saat kekacauan itu tapi sebelumnya) kita harus dekat dengan Tuhan, kita harus tahu bahwa kita sebagai seorang kristen tidak boleh melakukan semua itu.

Matius 5:43, "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Jadi kita perlu mengingat Firman Tuhan yang meminta kita bukan saja tidak membalas musuh kita tapi langkah yang lebih lagi adalah mengasihi musuh kita. Jadi intinya adalah bagi seorang kristen sebetulnya tidak boleh ada musuh karena kita kalau mengaishi musuh berarti dia berhenti menjadi musuh kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang kekerasan di tengah kita. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, hari-hari belakangan ini memang semakin nampak secara nyata di hadapan kita bahwa kekerasan itu menjadi pengalaman sehari-hari. Maksudnya kekerasan itu menyebabkan ada banyak orang yang mudah marah, mudah merusak dan sebagainya. Yang sebenarnya ingin kami ketahui, bagaimana proses seseorang itu tiba-tiba bisa menjadi begitu menakutkan, keras, mudah merusak dan sebagainya, itu sebenarnya bagaimana Pak Paul?

PG : Ada dua kategori yang dapat kita gunakan untuk meneropong tentang perilaku kekerasan, Pak Gunawan. Yang pertama adalah faktor tekanan, yang kedua adalah faktor rintangan. Faktor tekananyang sama merupakan himpitan dari luar yang membuat kita akhirnya merasa bukan saja tertekan dengan faktor eksternal, tapi sakit karena kita merasa ada sesuatu atau tindakan seseorang yang melukai kita.

Melukai di sini tidak harus senantiasa berarti secara fisik, tapi dapat juga secara mental. Contohnya tekanan yang akhirnya membuat harga diri kita terinjak atau membuat nasib dan masa depan kita rasanya terancam. Jadi segala bentuk serangan atau tekanan dari luar yang akhirnya memberikan ancaman kepada kita atau membuat kita sangat terhimpit dan terdesak, cenderung melahirkan reaksi yang keras dari pihak kita. Sebetulnya ini bersumber dari satu faktor yaitu manusia yang ingin hidup, dengan kata lain kecuali dalam kasus-kasus yang khusus pada umumnya manusia ingin menjamin kelangsungan hidupnya. Tatkala sesuatu datang dari luar menghimpit dan mendesaknya sampai-sampai dia akan merasa bahwa kelangsungan hidupnya terganggu, reaksi yang utama dan biasanya terjadi adalah timbulnya kekerasan itu.
GS : Juga karena tekanan ekonomi ya, Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi tekanan ekonomi akan membuat kita tidak lagi bisa menentukan atau memastikan masa depan kita, itu juga suatu bentuk tekanan yang sangat-sangat menghimpit dan biasanyamemancing reaksi kekerasan.

GS : Tadi selain faktor eksternal yang berbentuk tekanan dari luar, ada satu yang lain yaitu internal yang merupakan faktor rintangan, apa itu maksudnya Pak Paul?

PG : Faktor rintangan adalah sewaktu kita merasa bahwa yang kita inginkan tidak dapat kita peroleh, itu cenderung melahirkan juga reaksi marah yang bisa berubah bentuk menjadi suatu reaksi kkerasan.

Jadi artinya, kalau kita merasakan bahwa selayaknyalah kita memperoleh sesuatu yang kita dambakan kemudian kita tidak mendapatkannya. Lalu kita berpikir bahwa kita tidak mendapatkannya karena ada rintangan. Maka biasanya reaksi yang muncul dari diri kita adalah reaksi kekerasan pula.
GS : Rintangan yang merintangi keinginan kita untuk mencapainya apa bisa dari luar, Pak Paul?

PG : Betul, rintangan ini memang bisa dari luar karena tindakan seseorang yang menghalangi kita, tapi rintangan juga bisa bersumber dari dalam diri kita. Misalkan kita merasa bahwa kita sendrilah yang memang kurang mampu, kurang sanggup untuk mendapatkannya.

Misalnya kita ingin sekali mendapatkan nilai A, kemudian kita menyadari bahwa kita tidak mempunyai kemampuan mencapai nilai A, nilai yang dapat kita capai adalah C. Tapi kita tahu bahwa yang dihargai oleh orang adalah nilai A. Sewaktu kita tahu bahwa kita tidak bisa mendapatkan nilai A, maka reaksi yang muncul bisa juga kemarahan dan kalau tidak terjaga bisa juga melakukan tindakan kekerasan.
GS : Tapi kedua faktor itu sebenarnya sudah kita alami sejak kecil Pak Paul, artinya kita sudah terbiasa hidup dengan tekanan, rintangan, tapi kenapa yang seringkali kita lihat khususnya pada anak-anak remaja atau pemuda, mereka justru mudah sekali untuk menampakkan kekerasan itu secara fisik?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, memang manusia ini sebetulnya mempunyai potensi untuk keras tapi sejak kecil kita dididik untuk tidak melampiaskannya. Struktur atau kerangka sosial lumayan kut untuk mengekang tindakan kita.

Yang terjadi sekarang ini saya kira adalah pertama, kemungkinan ada sejumlah orang tua yang tidak lagi terlalu menekankan kepada anak-anak untuk tidak bertindak keras. Jadi akhirnya tanpa disadari mungkin ada sebagian orang tua kita yang menyuburkan pandangan bahwa "Ya selayaknyalah kita ini bertindak keras," akhirnya pesan-pesan yang diterima oleh si anak dari orang tua itu seolah-olah memberikannya izin untuk melakukan hal yang seperti itu. Kedua adalah, faktor sosial atau kerangka yang seharusnya bisa mengekang kita. Contoh seseorang yang melakukan tindak kekerasan misalnya akan mendapatkan reputasi yang sangat buruk atau kalau dia melakukan suatu tindakan kekerasan dia akan mendapatkan hukuman yang langsung dan setimpal. Tapi kalau dia tidak mendapatkan respons seperti itu, hukuman tidak dia peroleh, reputasi tidak semakin buruk, tapi makin bertambah bagus, itu makin menyuburkan perilaku kekerasannya.
(2) IR : Bagaimana pengaruhnya bagi kita dengan kekerasan-kekerasan yang sering kita dengar pada saat-saat ini?

PG : Ada beberapa ya Ibu Ida, yang pertama adalah kita akan kehilangan kepekaan kita terhadap penderitaan orang atau kepekaan terhadap kesusahan itu semakin menipis. Kita akhirnya beranggapa memang sudah selayaknyalah hidup ini penuh dengan penderitaan, tapi kita melupakan satu hal yaitu bahwa sebetulnya hidup ini tidak harus penuh dengan penderitaan seperti ini.

Adakalanya kita mengalami penderitaan misalnya karena bencana alam, tapi yang kita lihat sekarang ini sebetulnya kita tidak harus mengalami penderitaan seperti ini karena tindakan-tindakan yang berlebihanlah atau reaksi-reaksi yang berlebihanlah yang akhirnya membuat munculnya tindakan yang begitu keras. Kalau kita perhatikan, saya kira makin banyak orang di antara kita ini yang menganggap memang hidup seharusnya begini, harusnya keras, penuh penderitaan. Jadi akhirnya kita kurang sensitif dengan penderitaan itu sendiri, bahwa penderitaan itu sesuatu yang seharusnya kita kurangi, bukannya kita terima sebagai bagian yang integral. Memang harus ada penderitaan dalam hidup, saya mengerti itu, tapi yang memang harus ya harus, yang tidak harus ya tidak harus, dan yang saya takuti adalah kita makin kehilangan kepekaan.
IR : Padahal sebenarnya ya Pak Paul, harus kita akui bahwa kita membutuhkan satu kenyamanan di dalam hidup, tapi nyatanya kenapa banyak orang menyukai kekerasan?

PG : Ya saya kira pada dasarnya kita bukanlah makhluk yang gemar dengan kekerasan, itu bukanlah kesenangan kita. Ada yang kurang sehat secara rohani dan jiwa, sehingga akhirnya menyukai kekeasan, tapi pada umumnya kita ingin menikmati kenyamanan, kedamaian.

Jadi kebanyakan akhirnya yang menggunakan kekerasan adalah orang-orang yang tadi sudah saya katakan terhimpit dalam hidup, terhimpit baik itu dari luar, dari tekanan-tekanan yang dihadapinya atau tekanan atau rintangan yang mereka sadari datang dari diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa mengubah hidup mereka, mereka tidak bisa menaikkan taraf kehidupan mereka, jadi rintangan yang dari dalam diri itu juga membuat mereka marah dan kemarahan itu akhirnya berbuahkan kekerasan yang dilampiaskan pada orang lain.
GS : Tetapi kekerasan yang tadi timbul, biasanya seseorang itu kalau sendirian tidak sekeras itu Pak Paul. Tapi begitu dia bergabung dengan orang-orang lain yang keras dia jadi berani, mengapa bisa begitu, Pak Paul?

PG : Itulah yang kita katakan massa, massa artinya jumlah orang banyak itu memberikan kekuatan ekstra kepada anggota-anggotanya. Jadi kalau kita sendirian kita memikirkan resiko, kalau kita ilawan mungkin kita belum bisa menghadapinya, kalau kita dihadapkan satu per satu mungkin kita kalah.

Tapi begitu kita sadar bahwa kita ini dalam jumlah yang besar, kita tahu kita bisa menang dan kecenderungan kita adalah kalau kita tahu kita akan menang kita lebih berani dan lebih semena-mena. Karena tidak ada resiko lagi, jadi dengan kata lain faktor resiko berperan tinggi di situ. Semakin kita tahu resiko yang mungkin membahayakan kita, maka makin kita mengekang tindakan kekerasan kita, namun kebalikannya makin tidak ada resiko atau dengan kata lain kita tahu kita akan menang karena jumlah kita lebih besar, maka kita makin berani dan makin semena-mena. Jadi itu adalah pengaruh dari kekuatan massal, yang tadi Pak Gunawan katakan itu betul, dalam jumlah yang besar orang cenderung lebih semena-mena dan berani. Yang kedua adalah dalam soal jumlah, ya Pak Gunawan, dalam kaitan dengan massa, kita ini terhilang dalam kerumunan massa sehingga identitas kita tidak dapat dikenali dengan jelas tatkala kita di tengah-tengah kerumunan banyak orang. (GS : Larut begitu Pak Paul jadi satu?) larut ya, akhirnya kita lebih berani berbuat hal-hal yang tidak akan kita lakukan kalau kita dikenali oleh orang. Pernah saya baca suatu eksperimen atau suatu pengamatan sosial yang dilakukan pada suku tertentu, saya lupa di mana, ternyata waktu mereka berperang, mereka akan bersikap jauh lebih ganas kalau wajah mereka dicat dibandingkan kalau wajah mereka tidak dicat. Kesimpulan dari studi itu adalah bahwa sewaktu orang kehilangan identitasnya/tidak lagi dapat dikenali, tiba-tiba sifat yang binal, yang buas itu lebih mudah untuk ke luar.
GS : Artinya dia bukan lagi dirinya sendiri itu, Pak Paul?

PG : Betul, jadi sebetulnya yang menjadikan dia bisa begitu beringas adalah kurangnya unsur pertanggungjawaban, karena tidak dikenali, siapa yang bisa mengenali dia dalam kerumunan massa yan begitu besar, akibatnya apa? Ya lebih berani karena tidak akan ada konsekuensi, tidak ada yang bisa mengenali mereka.

Jadi faktor pertanggungjawaban itu sangat-sangat berperan besar.
IR : Orang yang sudah melakukan kekerasan itu bagaimana hati nuraninya dan dia tidak mempunyai belas kasihan ya, Pak Paul?

PG : Tepat sekali yang Ibu Ida katakan tadi, manusia itu pada dasarnya lebih senang dengan kedamaian, cinta kasih, kebaikan daripada kesadisan, kebrutalan. Tapi pertanyaannya kenapa bisa smpai begitu? Yang terjadi adalah manusia itu akhirnya harus merasionalisasi, akibat rasionalisasi itu belas kasihan luntur.

Saya berikan contoh tadi misalnya sewaktu Amerika Serikat sedang menghadapi Uni Soviet dalam perang dingin yang akhirnya sudah berakhir sekarang ini. Saya masih ingat sekali Amerika menggambarkan Uni Soviet itu sebagai setan besar, itu adalah perkataan mantan Presiden Ronald Reagen. Kenapa digambarkan sebagai setan besar? Supaya rakyat Amerika mendukung kebijakan negara Amerika untuk bermusuhan dengan Uni Soviet. Misalkan dalam perang dunia ke II rakyat Amerika sangat mendukung negara Amerika dalam perang itu. Sebab jelas sekali bahwa yang jahat saat itu adalah Hitler, Musolini dari Italia dan Jepang. Negara-negara sekutu di pihak yang baik karena mereka itu membela diri. Memang yang menyerang terlebih dahulu adalah negara Jepang, Jerman dan Itali, oleh karena itulah para serdadu dapat berperang dengan suatu keyakinan bahwa mereka itu sedang membela yang benar. Bandingkan misalnya perang antara Amerika dan Vietnam pada tahun 60-an sampai akhirnya tentara Amerika kalah. Mengapa? Sebab Amerika tidak mendapat dukungan dari rakyatnya. Rakyat Amerika melihat Amerika sedang melakukan sesuatu yang salah, ini bukan negaranya tetapi mereka campuri akhirnya mereka tidak lagi mendapatkan dukungan. Tentara Amerika pulang ke Amerika malahan dicerca, dihina oleh rakyat Amerika. Jadi sekali lagi kita bisa melihat bahwa kita memang harus melabelkan ini yang jahat, dan seharusnyalah yang jahat itu menerima tindakan atau pembalasan yang sebanding, itu rasionalisasi. Itu yang terjadi waktu masyarakat atau manusia bertindak keras, mereka harus merasionalisasi dan berkata bahwa orang-orang ini selayaknyalah menerima pembalasan yang begini keras, sebab mereka pun orang-orang yang jahat, tidak sepatutnya lagi menerima belas kasihan, nah rasionalisasi seperti ini yang menghilangkan belas kasihan. Sebab sewaktu belas kasihan muncul atau tetap ada, tindakan kekerasan tidak bisa ada, jadi dua-dua itu tidak bisa hidup serumah dalam hati kita, yang satu harus dienyahkan, nah pengenyahannya itulah dengan cara rasionalisasi.
GS : Pak Paul, selain dalam bentuk kelompok, ada lagi yang saya lihat orang itu menjadi keras, menjadi beringas setelah dia minum minuman keras atau obat-obatan, itu sebenarnya apa yang terpengaruh di dalam dirinya?

PG : Langsung saja misalnya alkohol ya Pak Gunawan, alkohol itu mempunyai kandungan unsur yang akan mengebalkan reaksi syaraf di otak kita. Dengan kata lain, alkohol membuat syaraf kita tida bereaksi dengan cepat, sigap, lambat, makanya orang yang dalam pengaruh alkohol terus melihat ada seseorang melewati jalan dia tidak sempat mengerem, dia akan menabrak orang tersebut, setelah dia menabrak baru dia sadar.

Kenapa demikian? Karena reaksi syaraf itu seolah-olah ditumpulkan, dilambankan, itu sebabnya orang dalam pengaruh alkohol tidak lagi merasakan bahaya yang mengancam. Mereka akan merasakan bahaya itu setelah selang waktu tertentu, jadi dengan kata lain kepekaan mereka akan hal-hal yang menakutkan, yang mengancam berkurang sekali. Itu sebabnya orang setelah minum alkohol seolah-olah lebih berani melakukan hal-hal yang beringas, karena kepekaannya sedang terganggu, tidak lagi sensitif dengan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.
GS : Dan mungkin itu juga dipakai semacam alasan ya Pak Paul, sehingga penderita atau korbannya itu merasakan orang ini mabuk karena baru minum minuman keras dan sebagainya sehingga dia bertambah takut menghadapi ini. Tapi kalau massa yang seringkali kita lihat sekarang itu adalah suatu massa yang keras lalu ditandingi lagi dengan sejumlah besar massa yang keras juga, Pak Paul. Jadi dua kelompok itu yang bertikai sehingga lebih besar lagi korbannya, Pak Paul.

PG : Betul dan kenapa dua massa akhirnya bisa berkelahi seperti itu, sekali lagi saya kira ada faktor, bahwa kami ini seimbang, sebab kalau ada satu yang merasa jauh tidak seimbang dan dia psti akan kalah, biasanya tidak bereaksi.

(GS : Atau melarikan diri) atau melarikan diri, jadi pada umumnya dua kelompok akan benar-benar beradu otot kalau ada kemungkinan mereka menang.
GS : Bagaimana Pak Paul seandainya kita ada dalam kerumunan, lalu ada orang-orang yang mencoba mempengaruhi kita untuk ikut di dalam kelompok yang keras atau yang merusak, bagaimana sikap kita, Pak Paul?

PG : Nomor satu, kita memang harus menghentikan gerakan kita, jangan langsung lari atau jangan langsung ikut, tapi kita harus stop dan langsung kita mengingatkan siapa kita. Maksudnya begini ada satu penelitian yang memperlihatkan bahwa orang cenderung akhirnya ikut beringas kalau dalam keadaan yang kacau, tegang, penuh dengan teriakan dan sebagainya.

Mengapa? Sebab tatkala rakyat ribut dan orang-orang kacau tiba-tiba kita pun juga terbawa, kita tidak lagi menyadari diri kita dengan penuh, kita akhirnya memfokuskan pada yang di luar kita. Itulah titik awalnya sewaktu kita tidak lagi memfokuskan pada diri kita, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat nilai-nilai hidup kita, nilai-nilai moral kita. Banyak orang yang setelah berbuat hal-hal yang merusak seperti itu, waktu diam dan memikirkan apa yang telah dilakukannya bisa merasa menyesal. "Kenapa saya bisa begitu ya?" Pada saat kekacauan yang terjadi adalah kepekaan terhadap siapa dirinya sangat berkurang. Maka saya juga menganjurkan dalam suasana seperti itu, meskipun kita di pihak yang seolah-olah menang dan bisa berbuat semau kita, kita harus berhenti, kita harus langsung melihat diri kita, apakah saya orang seperti itu, saya adalah ciptaan Tuhan, bahwa saya adalah orang yang ditebus oleh darah Tuhan, saya harus mengikuti apa yang Tuhan kehendaki bukan yang manusia kehendaki. Akhirnya kita bisa menghentikan diri kita sewaktu kita berdiam diri dan melihat kembali siapa kita.
GS : Langkah selanjutnya Pak Paul? Kalau mungkin ada setelah kita misalnya mengetahui ya, kita kembali akan berhadapan dengan dorongan dari luar, diejek atau yang seringkali terjadi disingkirkan dari pergaulan dan sebagainya karena kita tidak mau mengikuti arus mereka.

PG : Di sini memang persiapannya bukanlah dimulai pada saat kekacauan itu, sebelumnya kita harus dekat dengan Tuhan, kita harus tahu bahwa kita sebagai seorang Kristen tidak boleh melakukan emua itu.

Dan kedekatan dengan Tuhan inilah yang harus kita pelihara hari lepas hari sehingga tatkala peristiwanya terjadi, kita pun lebih bisa untuk mengerem diri.
GS : Pak Paul, mungkin ada firman Tuhan yang Pak Paul bisa sampaikan untuk ini?

PG : Saya ini ingin membacakan dari Matius 5:43 dan seterusnya "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihiah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Jadi kita perlu mengingat firman Tuhan, yang meminta kita bukan saja tidak membalas musuh tapi langkah yang lebih jauh lagi yaitu mengasihi musuh kita.
GS : Ada suatu tindakan aktif ya Pak Paul?

PG : Betul dan intinya bagi orang Kristen sebetulnya tidak boleh ada musuh karena kalau kita mengasihi musuh berarti dia berhenti menjadi musuh kita, itu intinya.

GS : Tapi itu harus dihayati sejak awal bukan pada saat kekacauan terjadi, sehingga bisa lupa semua, Pak Paul.

PG : Betul.

GS : Dan sebenarnya sifat-sifat mengasihi dan sebagainya itu harus ditanamkan sejak sedini mungkin, maksudnya kepada anak-anak kita dan sebagainya, supaya mereka tidak terbiasa karena selain peran sosial yang nyata itu visual pun seringkali mempengaruhi anak, Pak Paul. Jadi kekerasan-kekerasan itu banyak dicontoh misalnya dari film, dari televisi, bacaan.

PG : Betul, waktu saya masih kecil kami hanya menonton "Popeye the Sailor" itu adalah film kartun yang paling keras di mana Popeye berkelahi dengan Pluto, tapi sekarang yang namanya "MortalCombat" itu kepala orang dipotong, dipenggal.

IR : Bagaimana Pak Paul untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi kekerasan dari sekitar mereka, di dalam pergaulan bagaimana?

PG : Kalau misalkan kita melihat anak kita mulai ikut-ikutan karena menonton film atau video, saya kira kita harus memberitahukan kepadanya bahwa ini telah berdampak buruk dan kita anjurkandia untuk berhenti menonton film, video seperti itu.

GS : Tapi keteladanan orang tua memang sangat penting, kalau kita seringkali berbuat keras terhadap mereka, maka membentuk mereka untuk jadi keras juga.

PG : Tepat sekali.

GS : Jadi demikianlah para pendengar kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan seputar kekerasan yang ada di tengah-tengah kita. Pada saat ini bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas perhatian Anda dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



9. Pengaruh Kekerasan terhadap Kehidupan Kita


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T029B (File MP3 T029B)


Abstrak:

Kekerasan dapat merupakan penyataan atau wujud atau juga ekspresi dari tekad membela kepentingan. Dan hal ini juga akan sangat berpengaruh khususnya terhadap anak-anak.


Ringkasan:

Dampak kekerasan yang terjadi di masyarakat bisa mengakibatkan anak-anak kita menjadi:

  1. Orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Kekerasan sebetulnya merupakan pernyataan atau wujud dari tekad membela kepentingan, jadi kalau kita dihadapkan atau hidup di tengah-tengah masyarakat yang makin hari makin keras ada suatu kemungkinan si anak yang kita besarkan ini bisa bertumbuh besar menjadi anak-anak yang egois yang hanya memikirkan kepentingan sendiri dan akhirnya mempunyai sifat yang keras.

  2. Menjadi anak yang akhirnya mengekspresikan kemarahannya dengan kekerasan.

Bagi anak-anak yang dalam keadaan terdesak dengan kekerasan, apa yang seharusnya kita sarankan sebagai orangtua:

  1. Kita perlu menekankan kepada anak bahwa kita boleh melindungi diri, dalam pengertian kita bisa bersikap tegas, kita tidak usah agresif, kasar menghantam orang, memukul orang, tidak usah ketus dengan kata-kata kita tidak perlu, tapi kita mengajarkan anak kita untuk bersikap tegas. Jadi tidak perlu keras tapi tegas itu yang kita ajarkan.

  2. Untuk anak-anak yang berjiwa keras, kita perlu lebih waspada yaitu kita tegaskan kepada dia bahwa waktu engkau pukul anak lain engkau berdosa kepada Tuhan. Yang perlu engkau lakukan adalah engkau bersikap tegas kepada temanmu, engkau tidak menginjak dia.

  3. Untuk anak-anak yang jiwanya lemah lembut dalam menghadapi kekerasan. Yang perlu kita lakukan adalah kita harus membela, memberikan perlindungandan kita memastikan bahwa dia itu aman. Jadi kita perlu memberikan perlindungan ekstra kepadanya sehingga dia akan merasa lebih aman.

Sebagai seorang kristen dalam menghadapi kekerasan, yang perlu kita lakukan adalah:

  1. Terhadap kehilangan harta, kita bisa mengingat reaksi Ayub sewaktu hartanya semua habis dan dia akhirnya jatuh miskin, tidak punya apa-apa. Ucapan yang keluar dari mulutnya adalah Tuhan yang memberi, maka Tuhan bisa mengambil dengan kata lain kita menyadari seperti Ayub, kita datang ke dunia tanpa membawa apapun jadi kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apapun. Jadi sikap atau perspektif yang benar tentang harta menolong kita menghadapi kehilangan, kalau tidak memang akan menimbulkan pukulan yang berat, stres yang sangat berat.

  2. Terhadap kerugian pada tubuh, mengalami luka. Kita harus menekankan bahwa yang paling penting dalam hidup adalah bukan tubuh tapi roh kita, jiwa kita. Kita perlu mengerti tentang kemenangan di dalam Tuhan, kemenangan ini bukan berarti kita akan menjadi orang yang selalu kaya, selalu berhasil, selalu dilindungi dari segala mara bahaya, yang dimaksud adalah sewaktu semua atau segala hal terjadi pada diri kita, kita bisa merespons dengan sikap yang Kristus kehendaki yaitu kita merespons seperti Kristus merespons terhadap apa yang dialami. Sewaktu Dia disalib, disiksa, dipukul Dia terima. Jadi reaksi itulah yang perlu kita miliki dan sewaktu itu kita miliki kita bisa berkata menang, kita menang. jadi kemenangan bukan berarti kemenangan fisik, jadi meski tubuh kita terluka atau cidera kita harus berkata tidak apa-apa, ini sementara yang penting adalah roh saya, apakah roh saya cacat juga ataukah roh saya dapat menang melawan semuanya.

Matius 5 : 38, "Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."

Ayat 46, "Apabila engkau mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso beserta Ibu Idajanti Rahardjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang pengaruh kekerasan terhadap kehidupan kita maupun kehidupan keluarga kita. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu belakangan ini kita selalu melihat, mendengar bahkan mungkin mengalami bagaimana kekerasan itu makin lama makin menjadi-jadi. Seolah-olah orang sudah tidak mampu lagi untuk meredam kekerasan, di mana-mana terjadi, mungkin juga di lingkungan kita. Korbannya juga banyak selain bangunan-bangunan yang dirobohkan, orang-orang yang meninggal, cacat dan sebagainya. Kalau itu sebatas bangunan-bangunan fisik, dalam beberapa waktu bisa dibangun kembali, tapi yang ingin kami perbincangkan pada kesempatan ini adalah selain membawa dampak kerusakan fisik seperti pada gedung, mobil, harta benda itu saya percaya sekali ada dampaknya terhadap jiwa seseorang. Bukan dalam arti kata meninggal tetapi berpengaruh di dalam kehidupannya itu, kira-kira apa ada pengaruhnya dan seberapa jauh pengaruh itu, Pak Paul?

PG : Saya akan menjawab dengan menceritakan sebuah kisah, seseorang bernama Jim Elliot bersama dengan empat rekannya berniat untuk membawa Injil Tuhan kepada suatu suku Indian di Ekuador. Begit mereka tiba, mereka dibantai, dibunuh dengan tombak oleh suku Indian tersebut.

Pada waktu itu Jim Elliot mempunyai seorang putri, dan istrinya Elizabeth Elliot mengambil suatu tindakan yang sangat luar biasa. Pada saat itu istri Jim Elliot, Elizabeth bersama dengan istri-istri rekannya itu mereka sedang berada di suatu kota yang lain, tidak bersama dengan suami-suami mereka di tempat peristiwa itu. Sewaktu Elizabeth mendengar suaminya terbunuh, dia memutuskan untuk pergi kembali ke sana, ke tempat di mana suaminya itu terbunuh. Yang paling menakjubkan adalah Elizabeth Elliot membawa anaknya dan tinggal bersama-sama suku Indian yang membunuh suaminya itu. Anak itu akhirnya dibesarkan bersama dengan anak orang yang membunuh Jim Elliot, suaminya itu dan kita tahu ceritanya mengapa Elizabeth terus tinggal di sana, karena dia terpanggil untuk membawa Injil Tuhan kepada orang-orang Indian itu. Dan memang si pembunuh yang membunuh suaminya itu akhirnya juga menjadi orang yang percaya dalam Tuhan Yesus. Dari cerita ini kita bisa melihat suatu pelajaran yang sangat indah yaitu Elizabeth Elliot sebetulnya mempunyai dua pilihan saat itu, menanamkan kebencian pada si anak atau justru menanamkan cinta kasih pada si anak. Dia bisa berkata kepada anaknya: "Orang-orang Indian itu biadab, mereka membunuh papamu dengan begitu saja tanpa salah" atau dia bisa melakukan yang dia lakukan yaitu justru mengajak si anak untuk membawa Injil atau cinta kasih Tuhan Yesus kepada orang-orang yang memang belum mengenal Tuhan. Sebab asumsinya adalah kalau mereka sudah mengenal cinta kasih Tuhan Yesus mereka tidak akan mau berbuat jahat, itulah yang dilakukan oleh Elizabeth Elliot. Saya kira dampak kekerasan yang kita lihat sekarang pada masyarakat bisa membawa anak-anak kita menjadi nomor satu, orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Kekerasan sebetulnya merupakan pernyataan atau wujud dan ekspresi dari tekad membela kepentingan. Jadi kalau kita dihadapkan atau hidup di tengah-tengah masyarakat yang makin hari makin keras, ada suatu kemungkinan si anak yang kita besarkan ini bisa bertumbuh besar dan menjadi anak-anak yang egois, hanya memikirkan kepentingan sendiri dan akhirnya mempunyai sifat yang keras. Dalam pengertian kalau teritori saya diganggu, kalau hak saya diinjak, maka saya harus melawan dengan keras pula. Ini yang saya takuti bisa mulai tertanam dalam diri anak-anak kita. Sudah tentu hidup dalam kekerasan juga memaksa kita untuk bersifat keras. Karena adakalanya kita merasa sangat tertekan kalau kita membiarkan diri kita lemah, anak-anak pun demikian, tatkala mereka dikelilingi dengan kekerasan mereka pun akhirnya terpaksa membangun suatu sistem pertahanan yang keras, supaya mereka tidak mudah jadi korban atau terluka.
GS : Yang Pak Paul katakan anak-anak itu kira-kira seusia berapa Pak Paul? Yang mudah terpengaruh maksud saya.

PG : Saya kira anak-anak usia mulai 9 tahun ke atas sudah bisa, jadi mulai kira-kira batas 9 tahun. Kita tahu tahap yang paling rawan adalah usia remaja, tapi sudah diawali sejak usia 9, 10 tahn itu.

GS : Kalau yang menjadi korban kekerasan itu adalah keluarganya, tadi seperti yang Pak Paul ceritakan, ayahnya dan sebagainya; memang peran ibu itu besar sekali. Tadi Elizabeth itu begitu memberikan bimbingan. Kepada anaknya ia menanamkan cinta kasih. Tetapi sebenarnya terhadap ibu itu sendiri, jadi kita yang sudah dewasa ini Pak Paul, apakah tidak terpengaruh dengan kekerasan yang terjadi di sekeliling kita atau yang kita baca di koran atau yang kita lihat di TV itu.

PG : Saya kira kita terpengaruh untuk bertindak sama seperti orang lain bertindak kepada kita, kita akan terpancing melakukan hal yang sama. Karena kita manusia mempunyai sikap atau sifat keadian, sebetulnya sifat keadilan sudah kita sadari adalah suatu sifat yang baik.

Tapi dari sifat keadilan ini bisa muncul reaksi atau respons yang lain yaitu menuntut pembalasan yang dilarang oleh Tuhan. Tuhan berkali-kali berkata di Alkitab bahwa pembalasan milikKu, ditanganKu, jadi hak membalas bukan hak manusia.
GS : Itu yang memang harus dihayati betul, lalu terhadap diri anak itu selain di dalam dirinya itu bisa berkembang sikap yang mementingkan diri sendiri, dampak yang lain apa Pak Paul?

PG : Tadi saya sudah singgung yaitu anak bisa menjadi anak yang akhirnya mengekspresikan kemarahannya misalnya dengan kekerasan. Semua anak di mana pun pasti akan hidup dalam suasana yang tidaknyaman, adakalanya kehendaknya tidak terjadi, adakalanya dia dibuat marah dan sebagainya.

Tapi dalam lingkungan yang relatif damai, menghindari kekerasan, dia juga tidak terbiasa atau tidak melihat contoh untuk mengekspresikan rasa tidak sukanya atau marahnya melalui tindak kekerasan. Tapi dalam suasana kekerasan mulai menggejala, mulai memasyarakat, si anak akhirnya bisa tertular, akhirnya bagi dia kalau marah ekspresikanlah dengan kekerasan, itu tidak apa-apa sebab itu yang dilakukan oleh orang lain pula. Jadi bukan saja dia menjadi anak yang peka dengan kepentingannya atau jangan mengganggu kepentingan saya, engkau tidak mengganggu saya tidak apa-apa, kalau engkau mengganggu saya habisi engkau. Anak-anak bisa mempunyai sikap seperti itu, tapi selain dari itu anak-anak juga bisa mengembangkan sikap kalau saya marah saya harus keras, sebab itulah yang dilakukan oleh orang-orang lain.
GS : Tapi begini Pak Paul, ada orang tua yang tidak mau membalas kekerasan dengan kekerasan, dia katakan "Saya itu cuma jaga-jaga saja," lalu di dalam mobilnya dia bawa senjata-senjata tertentu Pak Paul, pentungan dan sebagainya. Tapi anak itu asosiasinya bahwa ayahnya mau memukuli orang, nah bagaimana menjelaskan kepada anak itu, bahwa ini sebenarnya cuma alat untuk mempertahankan diri, kalau diganggu misalnya?

PG : Saya kira dalam contoh itu tidak apa-apa, sebab si ayah bisa menjelaskan bahwa saya hanyalah melindungi diri, saya bukan menggunakan ini untuk menyerang orang. Yang lebih penting adalah siat atau sikap orang tua di rumah.

Kalau memang di rumah penuh dengan percakapan yang menebarkan kebencian, tindakan si ayah membawa pentungan misalnya di mobil, tepat mengkonfirmasi bahwa inilah yang seharusnya dilakukan dalam hidup yaitu kita dipukul sekali, kita pukul orang dua kali misalnya seperti itu. Tapi kalau di rumah si ayah dan ibu, memang mencerminkan kelemahlembutan dan damai, anak juga akan tahu ini hanya untuk membela diri. Jadi interaksi di rumah itulah yang lebih penting.
IR : Sebaliknya Pak Paul kalau anak-anak itu mengatakan bila sudah dalam keadaan terjepit, lalu apa yang harus ia lakukan dengan kekerasan itu. Kalau dia membiarkan dia jadi korban, tapi kalau dia membalas sebenarnya bukan ajaran Tuhan karena kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.

PG : Ini hal yang penting sekali karena bagaimanapun kita harus menyadari anak kita hidup dalam realitas dan dalam dunia yang realistik, adakalanya ada orang-orang jahat yang mau membuat anak ita terluka sehingga jadi korban.

Saya kira kita perlu menekankan pula bahwa kita ini boleh melindungi diri. Melindungi diri dalam pengertian kita bisa bersikap tegas, kita tidak usah agresif, kasar seperti menghantam orang, memukul orang, tapi kita bisa mengajarkan anak kita untuk bersikap tegas. Misalkan anak kita diganggu, didorong-dorong kadang-kadang dipukul kepalanya oleh temannya, kita bisa berkata kepada anak kita "Kau hampiri temanmu dan katakan jangan pukul kepala saya lagi, saya tidak suka!". Dan setelah itu kita berkata: "Kalau dia pukul lagi, engkau laporkan kepada gurumu atau saya datang ke sekolah untuk bertemu dengan anak itu." Jadi kita yang membela anak itu, dengan tindakan itu si anak memang diperlengkapi dengan suatu kekuatan yaitu kekuatan guru atau kita orang tua yang akan membela dia. Tapi dia tidak harus akhirnya membalas. Kecenderungannya adalah dalam masyarakat yang makin keras ini, anak-anak memang terpancing untuk keras, sebab kalau tidak keras dia akan jadi korban dan dianggap lemah. Jadi saya kira tidak perlu keras tapi bisa tegas, itu yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak.
GS : Sebenarnya si anak ada yang memang dari kecilnya bahkan mungkin dari bayinya itu sudah punya jiwa yang keras, bagaimana kalau terpengaruh dengan kondisi yang keras seperti itu sehingga cepat berkembang dengan subur, Pak Paul?

PG : Anak-anak yang berjiwa keras itu saya ibaratkan minyak yang memang mudah sekali mengobarkan api. Nah, untuk anak-anak seperti ini kita memang perlu lebih waspada yaitu kita tegaskan kepadadia, bahwa waktu engkau pukul anak lain engkau berdosa kepada Tuhan, kita harus tekankan hal itu kepadanya.

Yang perlu dan engkau harus lakukan adalah engkau bersikap tegas kepada temanmu, engkau tidak menginjak dia, tapi waktu dia menginjak engkau, engkau katakan: "Aku tidak suka engkau melakukan itu kepadaku!" Jadi kita batasi anak itu sampai pada garis bertindak keras saja. Sebab kalau tidak, kita memang akan melihat suatu generasi yang penuh dengan tindak kekerasan, kita akan melihat anak-anak ini menjadi besar dengan suatu sikap yang sangat keras, diganggu sedikit langsung harus balas. Saya mau mengajak kita melihat secara historis misalkan saya suka melihat-lihat, mengamati para ayah kita yang usianya sekarang mungkin 60 tahunan atau 70 tahunan ke atas yang bertumbuh besar pada masa penjajahan. Pada masa itu saya kira jelas sekali siapa yang berada di pihak yang benar, siapa yang berada di pihak yang salah yaitu bahwa penjajah itu di pihak yang salah dan kita ini menginginkan kemerdekaan. Cukup banyak masyarakat kita hidup dalam kesusahan di dalam masa penjajahan, tapi saya melihat ada satu karakteristik dari generasi yang tua-tua ini yaitu generasi mereka adalah orang-orang yang tabah, tahan banting. Saya kira mereka tabah dan tahan banting karena dipersiapkan oleh situasi hidup pada saat itu. Dan mereka tidak mengalami konflik nilai karena jelas sekali siapa yang berada di pihak yang salah dan pihak yang benar. Sekarang saya khawatir kita memang akan menumbuhkembangkan suatu generasi yang bertindak keras, yang mempunyai falsafah kehidupan "Engkau mengganggu aku, engkau akan habis." Kenapa begitu? Karena generasi ini menyaksikan begitu banyak kekacauan dan ketidakadilan yang benar-benar kacau, di mana ada serangan dari kiri, dari kanan, jadi orang akhirnya harus selalu was-was terhadap semua orang, ini yang saya takuti, jadi saya takut kita mulai memetik buahnya 20 tachun mendatang atau mungkin 15 tahun mendatang di waktu anak-anak remaja yang sekarang menyaksikan semua ini bertumbuh besar menjadi orang dewasa. Sebab saya melihat memang ada suatu karakteristik untuk suatu zaman, untuk suatu era tertentu di mana misalkan saya mengambil contoh yang lain lagi generasi tahun 60-an misalnya di Amerika Serikat yang disebut generasi Hippies, mereka memang terkenal sebagai orang-orang atau generasi yang mencintai sekali kesenangan. Mereka itu lepas dari peperangan, tahun 45-an itu mereka belum lahir mereka lahir di atas tahun 50-an, 60-an mereka hidup dalam kemakmuran semua tersedia dengan baik, sehingga mereka adalah memang generasi yang mencintai sekali kesenangan, kenikmatan. Beda dengan generasi 40-an di mana mereka menjadi generasi yang tabah, yang kuat, tahan banting.
IR : Kalau menghadapi anak-anak yang jiwanya lemah lembut, dalam menghadapi kekerasan itu mereka hidup dalam ketakutan ya Pak Paul. Bagaimana mereka harus mengatasi hal itu, Pak Paul?

PG : Kita harus membela, harus memberikan perlindungan, jadi rasa takut itu tidak cukup hanya dihilangkan dengan perkataan "Ya, engkau tidak akan apa-apa, semuanya akan baik". Akhirnya yang peru kita lakukan adalah kita memastikan bahwa dia itu merasa aman, misalkan kita akan menjemput dia, kita akan bersama dia sehingga sedikit banyak membuat dia merasa aman.

Jadi sekali lagi harus ada campur tangan langsung dari orang tua memberikan perlindungan ekstra kepadanya sehingga dia akan merasa lebih aman.
GS : Apa tidak dikhawatirkan timbulnya suatu generasi, Pak Paul, yang menaruh dendam terhadap orang-orang yang misalnya melukai orang tuanya, menghancurkan rumahnya, Pak Paul?

PG : Bisa, dan itu yang saya kira lebih mungkin terjadi pada masyarakat kita. Terluka akibat tindak kekerasan dari orang lain itu tidak mudah disembuhkan, membutuhkan waktu yang lama dan yang sya takutkan adalah belum cukup waktu untuk sembuh sudah terjadi lagi yang baru dan terus begitu.

(2) GS : Sebenarnya sebagai keluarga Kristen menghadapi kekerasan yang terjadi di sekeliling kita dan bahkan mungkin juga menimpa kita, suatu saat kita juga tidak tahu, bagaimana kita harus bersikap, Pak Paul?

PG : Ada beberapa sikap ya Pak Gunawan, misalkan yang pertama, terhadap kehilangan harta, kita bisa mengingat reaksi Ayub sewaktu hartanya itu semua habis dan dia akhirnya jatuh miskin, tidak unya apa-apa.

Ucapan yang keluar dari mulutnya adalah Tuhan yang memberi, ya Tuhan bisa mengambil, dengan kata lain kita menyadari seperti Ayub, kita datang ke dunia tanpa membawa apapun jadi kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apapun, yang kita miliki adalah pemberian Tuhan dan memang bisa diambil. Diambil dapat dengan berbagai cara dan bentuk dalam kedaulatan Tuhan, dia mengizinkan harta kita diambil secara tidak benar. Namun akhirnya kita harus berkata yang berkuasa atas harta itu adalah Tuhan, dan yang saya miliki itu dulu itu sebetulnya pemberian Tuhan. Jadi sikap atau perspektif yang benar tentang harta menolong kita juga menghadapi kehilangan itu, kalau tidak memang bisa menimbulkan pukulan yang berat, stress yang sangat berat.
GS : Jadi kita harus belajar supaya hati kita tidak melekat pada benda-benda yang Tuhan berikan kepada kita atau sikap yang lain, Pak Paul?

PG : Misalkan sekarang mengenai kerugian terhadap tubuh kita, kalau kita mengalami luka dan sebagainya. Kita harus menekankan bahwa yang paling penting dalam hidup ini adalah bukan tubuh, tapi oh dan jiwa kita.

Akhir-akhir ini saya makin menyadari apa artinya kemenangan dalam Tuhan. Kemenangan dalam Tuhan bukan berarti kita akan menjadi orang yang selalu kaya, berhasil, dilindungi dari segala marabahaya. Yang dimaksud adalah sewaktu semua atau segala hal terjadi pada diri kita, kita bisa merespons dengan sikap yang Kristus kehendaki yaitu kita akhirnya merespons seperti Kristus merespons terhadap apa yang dialami. Sewaktu Dia dipukuli, disiksa, ditampar, Dia terima, dan akhirnya Dia disalib, Dia juga terima. Jadi reaksi seperti itulah yang perlu kita miliki dan sewaktu kita miliki kita bisa berkata kita menang. Jadi kemenangan bukan berarti kemenangan fisik, jadi tubuh kita pun waktu terluka atau cedera, kita harus berkata tidak apa-apa memang itu sementara, yang penting adalah roh saya, apakah roh saya akan cacat, cedera juga, ataukah roh saya akan dapat menang melawan semuanya ini.
IR : Juga seperti pernyataan Paulus, menekankan bahwa hidup di dalam Kristus, mati itu suatu keuntungan ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi akhirnya Paulus memberikan kita suatu nilai hidup yang penting, yaitu bahwa mati bukanlah yang terburuk, bahwa mati adalah suatu keuntungan, karena Dia akan bersama dengn Tuhan.

GS : Jadi sebenarnya pada saat-saat seperti sekarang di mana kekerasan itu bisa saja terjadi sewaktu-waktu, kita perlu betul-betul mempersiapkan diri kita dalam bentuk pembinaan rohani ya, Pak Paul?

PG : Betul, misalkan kalau saya baca dari Matius 5:38, "Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi". Tetapi Aku berkata kepadamu: "Janganlah kamu elawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."

Dan juga saya bacakan ayat 46, "Apabila engkau mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga." Itu yang dialami juga oleh Corry ten Boom, Pak Gunawan (GS : Di negeri Belanda itu) seorang wanita Belanda bukan Yahudi tapi akhirnya dia menyembunyikan orang Yahudi dari tentara Jerman tapi akhirnya ketahuan. Dia, kakaknya, ayahnya ditangkap semua dan akhirnya mati dalam penjara kecuali dia dan dia dilepaskan secara mujizat. Tapi dia keluar dari penjara tidak menjadi orang yang pendendam kepada Jerman sebab dia melihat semua ini dari kaca mata Tuhan, yaitu waktu manusia berdosa tidak lagi mengingat akan Tuhan, manusia memang bisa melakukan hal yang salah dan jahat.
GS : Kita patut bersyukur bahwa Roh Kudus Allah sendiri yang diam di dalam diri kita, itu memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan. Seperti Elizabeth tadi, seperti Corry Ten Boom sendiri dan banyak kesaksian yang lain saya rasa Pak Paul.

Demikian tadi para pendengar kami telah mempersembahkan sebuah perbincangan tentang pengaruh kekerasan yang terjadi di sekeliling kita terhadap keluarga kita, khususnya anak-anak juga kita. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Melalui kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih atas surat-surat yang disampaikan pada kami. Namun tetap saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami sampaikan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



10. Bagaimana Merawat Orang Sakit


Info:

Nara Sumber: Dr. Yanti & Dr. Vivian Andriani Soesilo
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T035A (File MP3 T035A)


Abstrak:

Kasih adalah suatu hal yang utama dan sangat penting yang harus dimiliki bagi setiap orang yang sedang merawat orang sakit.


Ringkasan:

Berikut ini adalah pengalaman merawat orang sakit yang diceritakan oleh Dokter Yanti:

Pada waktu saya masih SMA, ayah saya mengalami stroke. Mula-mula stroke itu mengakibatkan ayah lumpuh separuh badan, dia masih bisa bicara dan bisa merawat dirinya sendiri. Papa orangnya sibuk dan karakternya keras, sehingga sulit baginya untuk pulih maka penyakitnya pun makin progresif. Ia terkena stroke berulang kali sehingga akhirnya lumpuh kiri kanan atau pseudobulber. Makan pun jadi susah, seperti dipaksa masuk karena otot lidahnya sudah kaku. Jalan pun harus dipapah, lama-lama lumpuhnya bukan lemas tapi kaku, bagi orang yang memapahnya ini menjadi berat sekali. Mama sendirilah yang sehari-hari merawatnya, karena papa justru tidak mau sama orang lain. Mula-mula makan masih bisa, tapi lama-lama tidak bisa makan. Buang air besar harus dikorek karena saraf pengontrol pembuangannya sudah lumpuh. Kadang-kadang tidurnya juga tidak teratur, saat kita mau tidur dia malah terjaga. Waktu kita sudah tidur dan dia mau buang air atau apa panggil-panggil dan kita harus bangun.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merawat orang sakit:

  1. Yang paling tepat dan seharusnya merawat orang yang sakit seperti itu adalah pihak keluarga dan perawat.

    Pengalaman Ibu Vivian:

    Mama saya sakit kanker lama sekali, setelah 13 tahun menderita sakit akhirnya ia meninggal. Jadi saya melihat sendiri bagaimana perjuangan mama dan saya sempat merawat juga. Jadi ada waktunya merawat dengan sungguh-sungguh, tapi ada juga waktunya istirahat. Biasanya orang sakit minta dirawat orang yang dicintai, seperti ibu saya dulu, tidak mau dengan perawat, ia minta anaknya yang membantu di RS termasuk urusan buang air segala. Dalam hal ini saya rasa kekompakan di antara saudara itu penting sekali, karena ini 'kan tanggung jawab seluruh keluarga. Kalau tidak itu menjadi beban lagi bagi saudara-saudara yang lain. Kami sebagai anak-anak bergantian merawat mama di situ, jadi disana sering-sering ada suster dan ada anak.
    Kalau kita bersama orang yang sakit harus sungguh-sungguh 100% merawat, tapi juga ada waktunya keluar sebentar, ya...untuk bernafas sedikitlah. Bila si sakit itu emosi seharusnya kita yang merawat tidak boleh emosi, keluar dulu dari kamarnya dan kalau emosi sudah reda baru kita masuk lagi. Jika kita selalu memikirkan apa yang dia lakukan, kok tidak tahu terima kasih, marah-marah. Dan kita ladeni pasti akan terjadi "perang", karena sama-sama emosi sehingga terjadi gesekan yang keras.
  2. Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus tahu apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.

  3. Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang sakit.

  4. Untuk bisa menumbuhkan kasih dalam merawat orang sakit, kita harus merawat bukan sekedar melakukan tugas. Jadi dalam merawat itu harus ada kasih.

  5. Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Untuk mereka yang bisa berkomunikasi persiapannya bisa dua belah pihak, jadi kita mempersiapkan yang meninggal, yang meninggal juga mempersiapkan yang ditinggal. Satu hal penting yang bisa kita lihat dari pengalaman merawat orang sakit ini, adalah kasih. Kasih yang sering kita alami perlu dibagikan kepada orang sakit. Dan juga kepada orang-orang yang disekelilingnya, karena dalam keadaan demikian semua pasti menjadi lebih peka. Kita harus menyadari bahwa yang sakit ini perlu mendapat prioritas yang lebih untuk merasakan kasih Tuhan melalui kita.

Dan saya sangat percaya bahwa segala sesuatu akan bekerja sama mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan kali ini dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami berbahagia sekali didampingi juga oleh Dr. Yanti yang juga akan menjadi nara sumber. Di dalam perbincangan kami yang kali ini akan mengambil tema bagaimana merawat orang yang sakit. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Bu Yanti, kami senang sekali Ibu bersama-sama dengan kami pada acara TELAGA pada kali ini, dan kami mendengar bahwa Ibu walaupun secara tidak langsung, tetapi pernah mengalami bagaimana suka dukanya, mungkin banyak dukanya di dalam merawat orang tua yang sedang sakit, dalam hal ini ayah dari Ibu Yanti sendiri. Mungkin Bu Yanti bisa secara umum terlebih dahulu menjelaskan kepada kami tentang hal ini.

YT : Ya pengalaman saya pada waktu itu, saya masih belum menjadi dokter, masih SMA. Ayah saya sakit stroke. Mula-mula strokenya itu cuma lumpuh separuh, masih bisa bicara, merawat dirinya sediri.

Tapi waktu terus berlanjut sampai bertahun-tahun kira-kira 12 tahun. Jadi penyakitnya makin progresif, mula-mula cuma lumpuh sebelah, masih bisa makan sendiri, jalan, masih bisa semuanya. Tapi lama-lama kena serangan ulang akhirnya lumpuh kiri kanan, jadi dia makan susah ya seperti dipaksa masuk, karena otot lidahnya itu sudah kaku. Itu pseudobulber, jadi kiri kanan lumpuhnya. Jalan harus dipapah, mula-mula mungkin bisa, lama-lama lumpuhnya itu bukan lemas tapi kaku. Itu berat sekali, harus yang sudah mengerti betul.
GS : Sehari-hari siapa yang merawat?

YT : Mama saya.

GS : Ada perawat yang mendampingi?

YT : Papa saya tidak mau dengan orang lain kecuali dengan mama saya. Mula-mula makan masih bisa, lama-lama tidak bisa makan sendiri. Buang air besar harus dikorek, karena sudah lumpuh saraf semakin hari semakin begitu.

Jadi mungkin mama saya itu sulit sekali, belum lagi ditambah emosinya, orang yang sakit stroke itu terganggu keseimbangan emosinya lalu otaknya. Pikirannya tidak logis seperti orang yang normal, jadi waktu mengalaminya berat sekali.
GS : Dan mungkin dalam hal ini apakah Bu Yanti pernah mendengar keluhan dari mama yang terus-menerus mendampingi itu?

YT : Pasti, kalau setiap datang ke sana terus mama mengeluh, sudah dirawat sekian lama tapi marah-marah, membanting-banting, sepertinya tidak berterimakasih. Jadi pengorbanannya itu sia-sia egitu kata mama.

Padahal saya juga mengerti, karena papa saya itu tidak bisa seperti orang normal karena dia sudah terganggu otaknya, secara emosinya dia juga merasa terbatas. Kalau misalnya mau sesuatu, dalam 1, 2 menit harus sudah ada. Sedangkan mama masih mengerjakan hal yang lain, jadi itulah yang menjadi pertentangan.

(1) VS : Kalau menurut pengalaman Bu Yanti melihat mama, apa yang membuat mama bisa bertahan, kalau tidak salah papa 12 tahun sakitnya?

YT : Ya dia bilang katanya kalau bukan Tuhan yang menguatkan, saya mungkin tidak sanggup. Apalagi mungkin dulu dilatarbelakangi keluarga mama yang mungkin sedikit kurang harmonis, jadi kadan-kadang suka muncul kenapa saya harus menanggungnya begitu.

Ya saya memberikan kekuatan, mungkin Tuhan mempunyai suatu rencana untuk dia, supaya dia belajar lebih banyak, jadi itu yang menguatkan dia. Kalau bukan itu mungkin dia sudah putus asa, menggunakan suster saja, padahal papa saya tidak mau sama sekali sama suster. Jadi walaupun sudah marah-marah begitu, misalnya lempar-lempar, saya yang menenangkan lagi, agar dia mau kembali merawat papa.

VS : Waktu Bu Yanti kuliah, apakah satu kota dengan papa?

YT : Tidak, tapi saya sering ke sana.

VS : Sering ke situ, jadi pernahkah mama merasa marah terhadap papa?

YT : Sering, kalau misalnya papa sedang marah-marah, mama juga emosi, sudah dirawat baik-baik kok dia masih marah-marah sama mama. Saya mengatakan, sudah ya jangan dibalas, tinggal pergi duu supaya emosinya agak reda.

Karena biar bagaimanapun dia sakit secara otaknya, emosinya itu sakit, tidak bisa seimbang lagi untuk mengerem. Misalnya untuk mengambil apapun motoriknya, sensoriknya semuanya sudah tidak seimbang. Ya saya mengingatkan mama, kalau sudah begitu, menjauh dulu nanti emosi papa reda bisa kembali diajak bicara lagi.

VS : Jadi kalau mama sadar bahwa ini orang sakit, ia bisa merawat dengan baik, walaupun kadang-kadang emosinya juga terpancing sendiri.

IR : Tapi Ibu dari Ibu Yanti ini juga mungkin mendapat dukungan dari keluarga, anak-anak atau orang yang serumah?

YT : Ya kebetulan semua ada di luar kota, ada cuma satu kakak saya yang juga sibuk.

IR : Jadi mama merawatnya sendiri?

YT : Ya sendiri.

GS : Sebenarnya dalam hal ini, Bu Yanti sekarang yang sudah bergelar dokter ya, sebenarnya yang paling tepat untuk merawat orang yang sakit dan membutuhkan waktu lama, itu dari pihak keluarga atau kita serahkan pada perawat?

YT : Harus dua-duanya ya, karena biar bagaimanapun yang merawat harus terlibat jauh, sudah lelah fisik, emosi. Jadi mungkin tidak bisa bertahan. Tapi kalau misalnya pekerjaan yang bisa dikerakan oleh perawat, dikerjakan perawat apa salahnya, jadi ada yang membantu.

GS : Tapi ikatan emosional itu masih lebih dekat misalnya dengan istri tadi atau dengan anak-anaknya daripada dengan perawatnya. Atau mungkin ada alasan yang lain kenapa papanya Bu Yanti ini menolak untuk dirawat oleh seorang perawat?

YT : Ya karena, mungkin orang tua saya tinggalnya bukan di kota besar, dan dia mungkin sungkan juga dirawat misalnya dimandikan. Padahal seharusnya tidak harus begitu, perawat bisa membantu al yang lain.

Mungkin lebih baik perawatnya laki-laki. Jadi kalau berdua mungkin lebih enak walaupun tidak sepenuhnya diserahkan ke perawat tetapi tetap didampingi.
GS : Bu Yanti orang yang mendampingi itu harus tahu sedikit banyak apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya dan sebagainya, mungkin Bu Yanti bisa jelaskan tentang hal itu.

YT : Kalau mama saya sudah lama, sudah belasan tahun jadi sudah tahu. Dokter yang merawat papa itu sudah memberitahu misalnya kalau gejalanya ini obatnya ini, sudah bertahun-tahun obatnya saa, jadi sudah hafal.

GS : Mengenai makanannya bagaimana?

YT : Waktu pertama serangan stroke, oleh dokter diberi selang. Selang yang masuk ke hidung itu sonde tapi dilatih. Papa saya sebetulnya tidak bisa mengunyah, tapi dia bisa menelan. Jadi makaannya harus masuk ke ujung-ujung, mama yang memasukkan, saya juga tidak bisa.

Dia sudah terlatih karena itu dilakukan setiap hari. Seperti orang yang tenggelam begitu tersedak, kalau orang lain mungkin bisa masuk ke saluran pernafasan. Saya tidak tega kalau melihatnya sementara ia makan.
GS : Ya memang saya dengar banyak keluhan seperti itu, keluarga yang tadi ikatan emosionalnya dekat malah tidak tega, makanya diserahkan ke perawat atau bagaimana. Tapi dalam hal makan itu tidak ada pantangan-pantangan tertentu atau menurut petunjuk dokter bagaimana?

YT : Dulu waktu masih serangan pertama dipantang ini tidak boleh, tapi sesudah lanjut terus dokter memberi saran, menurut prognosa dokter. Dokter memberikan prognosa akhirnya prognosanya berpa lama dia hidup ya sudah biasa saja, boleh makan apa saja.

Tapi waktu pertama-tama dia diet, dia marah-marah karena menginginkan yang dia mau sehingga tekanan darahnya naik. Jadi harus kita beri sedikit, asal mencoba saja.
GS : Tadi Bu Yanti katakan bahwa saudara-saudaranya Bu Yanti banyak di luar kota dan sibuk. Kalau mereka datang, biasanya apa yang mereka lakukan?

YT : Ya berbincang-bincang juga sama mama, memberi kekuatan. Papa juga cerita, mengaduh tentang keluh kesahnya. Ya papa cerita macam-macam.

GS : Papa masih bisa cerita?

YT : Waktu pertama-tama dia bisa, lama-lama dia lumpuh, saya pikir bagaimana cara komunikasinya. Saya membuatkan abjad a, b, c, d, biar tangan yang satu masih bisa bergerak, jadi bisa komuniasi.

Kalau tidak bisa komunikasi membingungkan juga.
GS : Jadi bisa menunjuk huruf-huruf itu lalu yang mendengarkan itu mengeja dari situ ya. Dan mungkin komunikasi seperti itu, bisa menolong untuk si sakit itu, Bu Vivian?

VS : Saya kira menolong sekali.

GS : Menolong sekali, dia bisa menyampaikan keluhan, biasanya apa yang disampaikan, Bu Yanti?

YT : Ya karena dia usianya sudah makin lanjut, untuk miring saja harus dimiringkan, mama tidak bisa berada terlalu jauh. Sebentar jauh dipanggil lagi. "Thek, thek" itu cara memanggilnya.

(2) GS : Mengenai pasien yang stroke dan sebagainya ya Bu Yanti, itu memang membutuhkan waktu yang lama untuk dia, walaupun tidak sembuh total, tapi agak membaik itu bagaimana?

YT : Ya kalau itu stroke waktu awalnya cuma ringan, misalkan tekanan darahnya dijaga kemudian makannya diet, dia tidak stress, seharusnya bisa. Itu tergantung si pasien sendiri punya kedisilinan, kalau dia tidak disiplin sulit atau pola hidupnya yang sibuk, seperti papa saya sibuk, susah apalagi karakternya keras.

(3) GS : Biasanya aktif lalu tiba-tiba dia harus meninggalkan aktifitasnya itu. Kalau saya tidak keliru orang tua Bu Yanti juga seorang beriman kepada Tuhan Yesus ya. Pengaruhnya terhadap imannya bagaimana sementara dia sakit?

YT : Sebetulnya sebelum dia kena stroke, orang tua saya sama sekali bukan Kristen, dia tidak suka kalau anak-anaknya ke gereja. Saya dulu waktu kecil tidak boleh ke gereja tapi kita sembuny-sembunyi ke gereja.

Dengan pengalaman sakitnya membawa orang tua saya ini justru lebih dekat dengan Tuhan, dia bisa kenal Tuhan Yesus waktu mengalami sakit, mengalami kesulitan dalam keluarga.
GS : Ya, tentu ada orang yang memberitakan.

YT : Dulu saya waktu kecil polos, saya beritakan Injil, malah dimarahi, diusir-usir. Tapi keluarga dari pihak papa saya sebetulnya yang lain sudah Kristen, diulang-ulang tapi keputusannya teap dia pribadi, karena itu diberitakan Injil, sudah lama waktu dia belum stroke.

Tapi waktu dia mengalami bagaimana dia membutuhkan Tuhan, bagaimana dia cuma butuh pertolongan yang satu-satunya itu dari Tuhan, itu yang membawa dia kenal Kristus sampai meninggalnya.

VS : Ya, orang yang sakit kalau saya ingat sendiri mama saya sendiri sakit kanker lama sekali, akhirnya meninggal setelah 13 tahun menderita sakit kanker. Jadi saya melihat sendiri bagaimanaperjuangan mama saya, saya sempat merawatnya.

Waktu itu kalau Bu Yanti mengatakan bagaimana untuk merawat orang sakit, bagaimana kita yang merawat ini bisa mempunyai kesabaran yang luar biasa, bagaimana kita bisa menumbuhkan kesabaran dalam merawat orang sakit. Saya kira waktu saya bayangkan sendiri ketika mama saya sakit, kesabaran itu berperan sangat penting.
GS : Kesabaran yang betul-betul teruji, bagaimana Bu Yanti?

YT : Ya menurut saya sebetulnya kalau si sakit itu emosi, harusnya kita tidak boleh emosi kita harus di atas dia. Kalau kita memikirkan apa yang dia lakukan pasti perang ya. Emosi sama, kenaa dia tidak tahu berterima kasih, marah-marah.

Tapi kalau kita melihat dia emosi, kita keluar dulu saja, begitu reda kita baru masuk lagi, tapi kalau kita di situ meladeni terus, akan terjadi gesekan yang keras.

VS : Jadi ada waktunya merawat dengan sungguh-sungguh, tapi ada waktunya istirahat juga. Itu saya melihat waktu saya merawat ibu saya, jadi kita bergantian antara anak, ibu juga dirawat di rmah sakit.

Sering-sering di rumah sakit jadi ada suster, ada anak, jadi kalau kita bersama orang yang sakit itu sungguh-sungguh 100% untuk merawat. Tapi juga ada waktunya keluar sebentar untuk "bernafas" sedikit misalnya.
GS : Ya memang kalau terus-menerus saya rasa tidak ada orang yang tahan ya Bu Vivian, karena yang saya rasakan dulu itu bukan cuma lelah secara fisik, tapi lebih-lebih ketegangan, batinnya yang tegang, apalagi kalau dirawat di rumah sakit atau tidak serumah dengan kita. Setiap kali ada telepon malam-malam itu pikirannya sudah yang tidak-tidak. Kita memikirkan tambah parah sakitnya atau bahkan mungkin meninggal atau apa begitu. Itu yang membuat kita tegang, bisa bertahun-tahun. Tapi saya tahu seseorang itu bisa beradaptasi dengan kondisi seperti itu, kalau kita sudah menjalanii mungkin satu tahun kita sudah lebih kuat, apa begitu Bu Vivian?

VS : Setelah lebih lama kita melakukan, saya kira itu sebagai suatu rutinitas. Jadi seperti dulu saya rutinitas pulang sekolah, langsung yang saya lakukan makan siang, sepanjang hari di ruma sakit, terus mulai pulang sekolah itu sampai malam.

GS : Pola hidup kita terbentuk seperti itu.

VS : Terpola di situ, saya belajar di situ. Kadang-kadang kita bergantian menginap di rumah sakit untuk menjaga mama. Paginya berangkat dari rumah sakit, jadi rumah sakit itu rumah kedua waku itu.

YT : Masalahnya kalau menunggu saja masih bisa, tapi kalau dia tidak bisa melakukan segalanya sendiri misalnya buang air besar. Itu yang sulit ya, bertahun-tahun orang lain tidak mungkin melkukannya kecuali istrinya sendiri.

Apalagi kalau misalnya, saraf untuk buang air besarnya kurang baik, jadi harus tiap kali bukan di tahun pertama justru tidak apa-apa, justru makin tahun makin terasa beratnya. Kalau orang tua saya pada tahun pertama masih ringan, lama-lama makin berat, makin berat, tambah berat.

VS : Dan biasanya orang sakit minta dirawat orang yang dicintai, seperti ibu saya dulu tidak mau dengan perawat, minta anaknya yang membantu, untuk urusan buang air besar itu segala.

(4) GS : Ya makanya, dalam hal ini kalau ada beberapa orang saudara, saya rasa kekompakan di antara saudara itu penting sekali. Karena kalau tidak, maka akan menjadi beban lagi buat saudara-saudara yang lain. Tapi Bu Yanti bagaimana menghadapi orang luar yang memberikan saran-saran pengobatan, yang menurut kita tidak cocok?

YT : Maksudnya saran-saran yang seperti apa?

GS : Misalnya disuruh pengobatan alternatiflah atau lainnya, yang kita rasa tidak cocok.

YT : Pengobatan alternatif itu boleh-boleh saja, misalnya tusuk jarum, mungkin karena ilmu di RRC lebih maju.

GS : Tidak berbau mistik misalnya.

YT : Itu kembali ke imannya, saya memberikan pengertian pada orang tua saya bahwa, kalau misalnya sakit, kadang-kadang bukan semua sakit. Ya kalau yang kharismatik dengan mujizatnya bisa semuh.

Kadang-kadang Tuhan mengizinkan ini terjadi, walaupun tidak harus sembuh sempurna, jadi diingatkan pada iman saja. Untuk apa kesembuhan kalau menggadaikan iman.

(5) VS : Bagaimana Bu Yanti bisa menumbuhkan kasih dalam merawat, merawat bukan sekedar melakukan tugas tapi dalam merawat itu ada kasihnya. Orang sakit butuh dikasihi, kita bisa mengsihi dalam melakukan, dan dengan kasih kita dia tentu bisa meringankan beban sakitnya.

YT : Ya itu kembali persekutuan kita dengan Tuhan, kalau kita sendiri kosong, kita tidak bisa mengasihi orang lain. Kalau kita senantiasa diisi kasih, kita bisa mengasihi, jadi dukungan dariorang luar mungkin yang penting karena iman memberikan kekuatan supaya senantiasa penuh.

Kalau sendiri mungkin tidak akan bisa, jadi didukung orang-orang luar. Di lingkungan orang tua saya juga ada yang mendoakan setiap berapa hari sekali, belajar Alkitab supaya imannya tumbuh.
GS : Tanggapan papanya Bu Yanti bagaimana kalau dikunjungi?

YT : Ya dia senang, kadang-kadang kita berikan kaset-kaset rohani yang menghibur, yang memberi kekuatan. Jadi papa ada kegiatan, mendengarkan kaset itu.

GS : Karena ada beberapa orang yang sakit, yang saya tahu Bu Vivian tidak senang kalau dikunjungi, kenapa itu Ibu Vivian?

VS : Ya mungkin dia dalam taraf marah waktu itu, mungkin tidak bisa menerima keadaannya yang sakit.

GS : Jadi dia malah merasa terganggu kalau orang-orang menjenguknya. Ya tapi pada umumnya orang sakit senang dikunjungi.

VS : Saya kira biasanya, terutama orang yang mengerti keadaannya dan yang mendukung.

GS : Bu Yanti, tadi dikatakan papa sakit selama 12 tahun, tapi akhirnya Tuhan mempunyai kehendak yang lebih baik dengan memanggil pulang papa dari Bu Yanti. Setelah peristiwa itu bagaimana suasana keluarga Ibu?

YT : Sebetulnya sudah lama saya mengingatkan kepada orang tua saya, supaya dipersiapkan karena suatu saat pasti papa dipanggil, jadi kita mempersiapkan papa juga. Kalau Tuhan panggil, jadi dpersiapkan juga, diingatkan mungkin mama yang lebih dekat yang tiap hari selalu mengingatkan.

Jadi waktu dipanggilnya juga waktu tidur, kaget juga padahal kita sudah berdoa, tapi waktu dipanggil ya kaget juga. Tapi sesudah itu, juga ada segi baiknya, mama sudah punya waktu untuk dirinya sendiri, kalau dulu seluruh waktu untuk papa, misalnya waktu untuk pelayanan, untuk apapun harus lihat waktu, harus cepat pulang. Tapi sekarang dia sudah konsentrasi penuh dengan pelayanan; namanya suami ya tetap sedih karena kadang-kadang masih mengingatnya. Karena sudah lama dipersiapkan untuk itu, jadi tidak terlalu berat, kemudian ada kesibukan lain.

VS : Kalau untuk orang yang bisa berkomunikasi, persiapannya bisa dua belah pihak ya, jadi kita mempersiapkan yang akan meninggal, yang akan meninggal juga mempersiapkan yang ditinggal. Jadiitu maksudnya seperti ibu saya yang sakit lama sekali dia mempersiapkan anak-anaknya, satu-satu kamu harus begini, begini.

Karena dia masih bisa berkomunikasi meskipun sakit parah, jadi yang ditinggal juga bisa siap bagaimana kita menghadapi kenyataan ini, jadi ada komunikasi dari dua belah pihak.
(6) GS : Ya memang persiapan-persiapan seperti itu penting sekali Bu. Tapi kadang-kadang orang itu terpaku dengan masalahnya yaitu menghadapi si sakit yang kadang-kadang permintaannya aneh-aneh ya Bu. Di dalam menghadapi orang yang stroke, kalau tadi Ibu katakan pikirannya juga sudah mulai tidak normal seperti ketika dia sehat, bagaimana kita membedakan permintaannya itu normal dan di luar normal?

YT : Misalnya dia baru minta supermi, belum berapa menit dia sudah minta yang lain. Dia kerjanya cuma duduk, berpikir, ingin apa dia menyuruh lagi, itu tidak mungkin. Baru keluar pintu sebetar sudah disuruh lagi.

GS : Mana yang lebih dulu dipenuhi permintaannya?

YT : Diberi pengertian ya walaupun nanti ada gesekan, ini satu dulu dikerjakan. Tetap ada gesekan juga karena itu dikerjakan sendiri, makanya sebetulnya kalau ada perawat mungkin lebih enak.

GS : Dan juga kadang-kadang orang yang sakit itu jam tidurnya tidak teratur, di saat kita mau tidur, dia malah minta dijaga.

YT : Misalnya dia mau buang air kecil atau apa, panggil-panggil, kita harus bangun.

GS : Ya mungkin kalau anak-anak agak sulit untuk mendampingi terus-menerus, karena masing-masing bekerja dan sebagainya, kalau ada istri atau sebaliknya ada suami mungkin masih ada yang merawat. Tapi bagaimana kalau seandainya cuma sendirian, Bu Vivian?

VS : Seperti tadi sudah dikatakan harus ada perawat, itu dilakukan perawat. Juga anak-anak ini harus bergantian, jadi meskipun semua ada kesibukan, seperti saya dulu masih sekolah tiap hari tpi semua anak itu bergantian, jadi termasuk juga suami atau istrinya, jadi semua ikut campur.

Karena ini adalah tanggung jawab seluruh keluarga.
GS : Satu hal yang mungkin bisa kita lihat di sana bahwa menghadapi orang yang sakit seperti ini, kasih yang sering kita bicarakan, yang kita sering alami itu perlu dibagikan kepada orang yang sakit. Dan juga kepada orang-orang yang disekelilingnya karena semua itu pasti peka semua kalau sudah begitu. Anak-anak juga seperti itu, tapi kita harus menyadari bahwa yang sakit ini harus lebih mendapat prioritas untuk merasakan kasih Tuhan itu melalui kita. Dan saya sangat percaya bahwa segala sesuatu akan bekerja bersama-sama mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan tentang bagaimana merawat anggota keluarga yang sedang sakit di dalam sebuah acara yang kami beri nama TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami di studio dengan Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo, Ibu Dr. Yanti dan saya sendiri Gunawan Santoso dan Ibu Idayanti Raharjo mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian Anda sekalian dan apabila Anda mempunyai saran-saran serta pertanyaan-pertanyaan tentang masalah ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Kami percaya acara ini bisa menjadi berkat bagi kita sekalian. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami berempat mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T 35A

  1. Apakah yang membuat seorang istri bisa bertahan selama 12 tahun dalam menghadapi atau merawat orang yang sedang sakit stroke?
  2. Bagaimana memungkinkan keadaan yang lebih baik, meski tidak sembuh secara total?
  3. Dalam menghadapi sakit yang seperti ini, apakah berpengaruh terhadap imannya?
  4. Bagaimana menyikapi saran pengobatan yang tidak cocok dengan kita misalnya pengobatan alternatif?
  5. Bagaimana cara agar bisa menumbuhkan kasih ketika merawat orang yang sedang sakit?
  6. Dengan cara apa kita bisa mengetahui bahwa permintaan seorang yang sakit itu normal atau tidak normal?


11. Bagaimana Mendampingi Orang Sakit yang Menjelang Ajal


Info:

Nara Sumber: Dr. Yanti & Dr. Vivian Andriani Soesilo
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T035B (File MP3 T035B)


Abstrak:

Bagi orang yang akan meninggal dunia itu saat yang paling sulit karena dia akan meninggalkan dunia ini sendirian, jadi dia sebenarnya membutuhkan orang-orang yang paling berarti yang dapat mendampinginya.


Ringkasan:

Tujuan dokter memberitahukan pihak keluarga bahwa pasien sudah tidak ada harapan, adalah untuk mempersiapkan keluarga dan pasien itu. Karena kalau tidak diberitahu dan tiba-tiba meninggal, nanti dokter bisa disalahkan oleh keluarga. Dokter tidak perlu menutupi, kalau memang keadaan pasiennya sudah tidak bisa ditolong. Biasanya kalau saya mendiagnosa dan kelihatannya tidak ada harapan, saya tetap beri tahu.

Reaksi keluarga yang pertama biasanya bingung dan mungkin tidak percaya kepada saya. Mereka akan tanya lagi kepada dokter lain atau mungkin berobat ke yang lain. Tapi ya kita berusaha menjelaskan hasil pemeriksaan sedetail mungkin, dengan bahasa awam supaya ia dapat mengerti.

Tapi di satu sisi ada keluarga-keluarga yang memang tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu, mereka berpikir masa suami saya atau isteri saya itu harus pergi secepat itu? Tapi kalau kenyataannya seperti itu, kita harus bisa memberikan penjelasan secara kedokteran atau secara ilmiah. Menurut saya pasien juga harus diberi tahu juga, karena dia yang mempunyai tubuhnya. Dalam kode etik di Indonesia seharusnya pasien dulu yang berhak tahu, tapi pada kenyataan atau prakteknya keluarga yang minta agar si pasien jangan diberi tahu. Dalam kondisi seperti ini saya menyarankan agar pasien tetap harus diberitahu karena dialah yang memiliki tubuhnya sendiri. Tentu saja dengan memilih waktu yang tepat, setelah hati si pasien disiapkan, dan dengan pendekatan yang baik.

  1. Sebagai keluarga yang dekat dengan pasien, entah sebagai suami, isteri atau anak, kita terlebih dahulu harus bisa menerima keadaan.

  2. Mengenai obat, biasanya kalau untuk meringankan rasa sakit (penstillen) si pasien pasti mau.

  3. Untuk penyakit yang tergolong berat, kalau bisa pihak keluarga mendampingi sepanjang waktu. Si sakit membutuhkan pendampingan terutama dari orang yang dia kasihi dan orang yang paling berarti, terutama pada saat-saat terakhir.

  4. Beberapa cara untuk menolong orang yang menderita penyakit yang makin lama makin parah. Kalau dia orang Kristen, kita tetap bisa mendoakan dengan buka suara, bisa pegang tangannya, kita menyanyi untuk dia, dan membacakan firman Tuhan untuknya. Jadi dia masih merasakan bahwa kita ini masih memperhatikan, dengan begitu dia akan dibangkitkan kembali.

  5. Kalau ada anggota keluarga yang koma, mungkin kita sulit menghadapinya. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang yang koma? Sebetulnya kalau dia belum berendit, kita bisa bisikan dan bicara sesuatu mungkin dia masih dengar dan masih bereaksi. Biasanya kalau koma pasien tidak bergerak, hanya reaksi pupil cahayanya masih bagus. Tapi kalau sudah berendit, dipasang alat bantu pun percuma. Kalau keadaan pasien sudah makin kritis, biasanya keluarga akan dipanggil untuk hadir, ini sangat berpengaruh pada dirinya. Karena si pasien akan merasakan dia tidak sendiri, bagi orang yang akan meninggal yang paling sulit itu dia akan meninggalkan dunia ini sendirian. Kalau menurut saya (Bu Vivian) kita harus mengingat, Tuhan ini Tuhan yang hidup, meskipun dokter mengatakan tidak ada harapan, kita tetap bersandar penuh pada Tuhan. Jadi mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan meskipun membutuhkan biaya yang banyak untuk merawat orang yang kita kasihi. Saya juga pernah melihat pasien yang oleh dokter dikatakan tidak ada harapan, tapi sembuh karena Tuhan menyatakan mujizat.

  6. Kita bisa tahu bahwa pasien itu benar-benar sudah meninggal, misalnya dengan memeriksa nadinya sudah tidak ada, atau dari pupil matanya biasanya kalau sudah meninggal pasti melebar.

Biasanya kalau pasien akan meninggal dunia, saya (Dokter Yanti) akan mengingatkan kembali tentang Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa. Juga berita Injil tentang rumah Bapa di sorga.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Dan telah hadir juga di studio bersama kami Dr. Yanti, Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang bagaimana mendampingi atau merawat anggota keluarga kita yang sakit parah dan bahkan menjelang ajal. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Dr. Yanti, ada beberapa pasien yang mungkin menjadi anggota dari keluarga kita, orang yang kita kasihi, kemudian dokter menyatakan sudah tidak ada harapan. Yang ingin saya tanyakan bagaimana seorang dokter itu bisa tahu bahwa pasien itu harapannya tipis atau tidak ada harapan, Bu?

YT : Ya misalnya kanker, kanker ada yang menyebut harapannya cuma 5 tahun hidup, kalau tidak ada harapan berarti sebelum 5 tahun dia akan meninggal. Karena dilihat dari penyebarannya sudah smpai ke paru-paru, atau mungkin sudah sampai ke pencernaan akan mengganggu seluruh fungsi tubuh, tidak ada harapan lagi kalau sampai batas akhir stadiumnya.

(1) GS : Sebenarnya apa tujuannya, dokter mengatakan kepada keluarga bahwa pasien itu tidak ada harapan?

YT : Misalnya sakit ginjal, menurut saya kalau dia harus cuci darah terus-menerus, tetapi tetap tidak menyembuhkan. Sebetulnya cuci darah itu untuk menunggu transplantasi, kalau cuma dicuci,dicuci sampai kapan, seluruh kekayaan habis tidak akan sembuh.

Jadi kita memberitahu kepada keluarga bahwa sebetulnya harapannya itu tipis untuk sembuh karena harus tranplantasi atau mungkin karena kanker ini mungkin sudah stadium terakhir sudah tidak bisa ke mana-mana. Jadi sudah tidak bisa dioperasi, sudah tidak ada harapan. Jadi mempersiapkan keluarga dan orang yang sakit itu mungkin karena nanti kalau tidak diberitahu tiba-tiba meninggal, pasien dan keluarganya bertanya ke pada dokter kenapa dokter tidak memberitahu, mungkin ada hal-hal yang harus dibereskan atau yang lainnya.
IR : Jadi sebenarnya dokter tidak perlu menutupi, kalau keadaan pasiennya itu memang sudah tidak dapat ditolong.

YT : Ya biasanya begitu. Saya biasanya kalau mendiagnosa kelihatannya tidak ada harapan, saya tetap memberitahu.

GS : Lalu apa biasanya reaksi keluarganya?

YT : Ya mungkin pertama bingung, dia bingung mungkin tidak percaya pada saya, dia akan bertanya lagi pada dokter lain atau mungkin berobat ke yang lain. Tapi kita berusaha menjelaskan sedetal mungkin dari hasil pemeriksaan, ini dengan bahasa yang awam supaya ia mengerti.

GS : Tapi di satu sisi ada keluarga-keluarga yang memang tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu, masa suami saya atau istri saya itu harus pergi secepat itu.

YT : Ya memang siapa yang merasa kuat kalau misalnya tiba-tiba serangan jantung atau apa, tapi kalau kenyataannya seperti itu kita harus bisa memberikan penjelasan secara kedokteran, secara lmiahnya, yang terjadi itu seperti ini.

VS : Waktu Ibu Yanti menjelaskan, pada pasien sendiri atau pada keluarganya?

YT : Pada keluarga biasanya, kadang-kadang keluarganya ada yang tidak mau saya memberi tahu pasien dulu.

VS : Kalau menurut Ibu Yanti sendiri bagaimana, apakah pasiennya harus tahu?

YT : Harusnya ya, karena dia yang mempunyai tubuh, tapi kode etik di Indonesia itu seharusnya pasien dulu yang tahu. Tapi di sini kebanyakan keluarganya yang minta agar tidak memberitahu pad pasien.

VS : Apa betul pasien tidak diberitahu tapi bisa merasakan, karena tubuhnya makin lama makin lemah?

YT : Mungkin ya, tapi tidak mungkin menduga secepat itu misalnya sakit kanker, kadang-kadang dipikir sakit biasa, tidak terasa tahu-tahu sudah menyebar sampai ke mana-mana. Kalau sakitnya seerti jantung, dia sudah bertahap mengalaminya, jadi dia sudah tahu.

Tapi kalau tiba-tiba diagnosa misalnya leukimia, ini bisa mengagetkannya.

VS : Kalau keluarga menolak memberi tahu pada pasien, apa saran Bu Yanti sebagai seorang dokter?

YT : Saya menyarankan supaya diberitahu, waktunya kapan tapi tetap harus diberitahu karena yang mempunyai tubuh adalah pasien. Dengan pendekatan yang baik, kita persiapkan, setelah dia siap,baru diberitahu.

(2) GS : Kalau pasien itu marah setelah mendengarnya, karena tidak siap dan tidak disiapkan, tanggapan dokter biasanya apa?

YT : Marah terhadap siapa?

GS : Marah terhadap dokter yang memberitahu, dia biasanya menyatakan dokter tidak mampu dan lain-lain.

YT : Itu biasa tidak apa-apa, kalau merasa lebih baik cross-check pada dokter lain ya saya persilakan, tapi dari pemeriksaan tidak bisa dikelabui. Misalnya saya dokter umum, saya anjurkan taya kepada dokter yang lebih ahli.

Nanti dokter ahlinya mengembalikan kepada saya, tinggal saya memberitahu hasilnya dari ahli-ahli yang sudah memeriksa itu kepada pasiennya.
GS : Bu Vivian, menghadapi pasien yang sudah dinyatakan tidak ada harapan oleh dokter. Sebagai keluarga dekat misalnya anak, suami atau istri, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan?

VS : Yang terpenting, kalau bisa kita menerima keadaan itu. Kalau kita menerima keadaan itu lalu sikap kita akan berubah.

GS : Jadi tidak menambah permasalahan, ya Bu?

YT : Sikap menerimanya memang yang sulit.

GS : Tadi sudah disepakati itu sulit ya, tetapi harus ditumbuhkan, menumbuhkannya bagaimana Bu Vivian?

VS : Ya mungkin harus sungguh-sungguh yakin dulu hasil pemeriksaan itu, memang betul mungkin dia akan cross-check ke dokter lain, kalau sudah betul harus mau menerima kenyataannya.

GS : Tapi memang kita itu agak sulit di sini, seperti tadi harus cuci darah, padahal sudah pasti tidak bisa tranplantasi. Kalau kita sebagai keluarga tidak mengupayakan cuci darah, nanti orang luar mengatakan, kita itu tidak mau mengobati orang sakit. Bagaimana menghadapi ini, seperti dilematis?

YT : Ya memang dilematis sebetulnya, kalau cuci darah cuma untuk memperpanjang hidup dan orangnya menderita sekali sebetulnya. Kalau pendapat saya, siapkan saja pasiennya dan keluarganya, jagan terlalu mendengar orang lain bicara.

Tapi kalau misalnya si pasien dan keluarganya sudah bisa ada komunikasi, bisa siapkan baik-baik, mungkin bisa menghadapinya ya. Kita tidak bisa, ya sudahlah tidak perlu cuci darah, itu keputusan keluarga tetap untuk memberitahu. Sebetulnya dengan ini pun tidak akan menyelamatkan, cuma untuk memperpanjang.
GS : Ada juga pasien yang sebaliknya, setelah tahu dia tidak ada harapan, dia juga melarang keluarganya untuk membawa dia ke dokter atau berobat, buat apa mengobati itu sia-sia, bagaimana Bu kalau ada tanggapan pasien seperti itu?

YT : Kalau saya misalnya ada pasien yang menolak untuk di operasi itu hak pasien, kita tidak boleh memaksa, karena dia yang mempunyai tubuh. Kita tidak boleh memaksakan suatu tindakan di lua persetujuan pasien.

Jadi kalau memang dia tidak mau kita tidak berhak memaksa, keluarganya pun seharusnya tidak boleh, itu hak pribadi dia. Itu menurut saya.
GS : Apakah Bu Vivian ada tanggapan?

VS : Ya memang itu pilihan dia, tapi saya kira obat itu untuk meringankan sedikit rasa sakit terutama kalau kanker.

YT : Kalau itu pasiennya pasti mau, karena sakit. Tapi sebetulnya, obat itu tidak meringankan tapi harus di makan, kadang-kadang pasien suka menolak. Tidak ada gunanya kalau obat yang untuk enstillen/menahan sakit pasti itu pasien mau, tidak mungkin tidak mau, tapi kalau cuma supplemen itu kadang-kadang ya tetap tidak mau.

Tapi kadang-kadang ada juga yang memang harus diberi pasiennya tidak mau juga. Ya kalau begitu, seharusnya diberi tapi pasiennya tidak mau.

Kalau misalnya pasien tidak mau itu haknya pasien, dan keluarganya, kecuali keluarga bisa membujuk misalnya pemberian transfusi, kadang-kadang ada yang tidak boleh masuk darah atau apa. Padahal gawat harus masuk transfusi, kalau tidak dia meninggal, terserah kalau misalnya tidak mau, kita tidak bisa memaksakan itu sulit. Itu kadang-kadang tidak logis, tapi menurut kepercayaan transfusi itu tidak boleh.

GS : Untuk penyakit-penyakit yang tergolong berat ya Bu Vivian, apakah kita dari pihak keluarga mendampingi pasien ini untuk sepanjang waktu?

VS : Saya kira, kalau kita bisa mendampingi, kalau 24 jam sehari mungkin sulit ya, tapi paling tidak ada orang yang di sekitar situ, jadi dia tidak merasa sendiri. Justru orang yang sakit teminal seperti itu, dia merasakan harus ada orang yang mendampingi, pendampingan itu yang penting.

Dulu saya mengingat mama saya sendiri, kalau kami pulang sekolah itu agak terlambat, kok lama sekali. Dia membutuhkan pendampingan dari orang yang terutama dia kasihi, orang yang paling berarti, jadi tidak membutuhkan orang-orang lain yang tidak begitu berarti bagi hidupnya. Tapi dia membutuhkan orang yang paling berarti yaitu keluarga yang mendampingi terutama pada saat-saat terakhir.
(3) GS : Biasanya penyakit seperti itu makin lama makin parah, itu yang secara fisik bisa kita lihat. Dalam hal ini tadinya pasien itu masih bisa bicara, bisa berkomunikasi, lama-lama dia tidak mau berkomunikasi, bukan tidak bisa tapi enggan berkomunikasi, merasa sudah tidak ada gunanya lagi. Bagaimana kita bisa menolong orang-orang yang selain fisiknya memang sakit, mentalnya juga jatuh?

VS : Orang yang seperti itu, kalau dia ini orang Kristen kita tetap bisa mendoakan dengan buka suara, tetap bisa pegang tangannya, kita menyanyi untuk dia, membacakan firman Tuhan. Jadi dia asih merasakan bahwa kita ini masih memperhatikan, mungkin dengan begitu dia akan dibangkitkan kembali.

YT : Mungkin juga konsep dia ya, pemahamannya misalnya, tidak ada gunanya hidup, mati saja. Tapi kalau konsep tentang kematian itu jelas mungkin dia tidak akan merasa seperti itu, karena say punya pengalaman, teman saya sendiri sama-sama kedokteran, diagnosa kanker nasofaring ya dia tahu prognosanya berapa lama.

Apa yang dia lakukan, dia marah walaupun dia sebetulnya orang Kristen yang baik, rajin, aktifis segala macam, cuma itu konsep yang salah, dia tidak bisa menerima, kenapa ini terjadi pada saya. Akhirnya dia apatis.
GS : Memang dalam kondisi seperti itu seseorang bisa melupakan segala sesuatu yang dia pelajari, dia ketahui, Bu Vivian.

VS : Tapi justru akhir-akhir kehidupannya, justru dia lebih sadar ke mana tujuannya. Jadi waktu itulah kita bisa bicara dengan baik-baik, bukan berkhotbah tapi berkomunikasi, cerita-cerita utuk mempersiapkan dia mau ke mana setelah ini.

GS : Mungkin yang dibutuhkan adalah perhatian yang besar.

VS : Dan juga mungkin disiapkan, sebetulnya ini waktunya sudah singkat jadi bagaimana kamu mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Pencipta. Tadi saya ceritakan mama saya sudah sakit 13 tahun api dia sungguh-sungguh mempersiapkan diri 2 minggu sebelum meninggal.

Dia masih mempunyai harapan akan hidup, masih semangat hidup meskipun stadiumnya sudah sangat lanjut. Tapi 2 minggu sebelumnya itu ada orang yang mengingatkan, Bu kamu harus siap untuk mengakhiri kehidupan ini, barulah dia sungguh-sungguh sadar, ternyata saya tidak bisa lagi untuk hidup, jadi dipersiapkan. Dia orang Kristen yang baik, bagaimana kita ini mau bertemu Tuhan.
GS : Ya, apa itu yang dilakukan mamanya Bu Vivian?

VS : Tentunya sebagai orang Kristen dia mengakui segala kesalahan yang pernah diperbuat, baik sengaja maupun tidak sengaja, membereskan kehidupannya dengan Tuhan, membereskan dengan sesama trutama membereskan ke semua anaknya.

Jadi satu-satu anaknya dipanggil, diberi pesan-pesan. Jadi ketika pesan-pesan terakhir itu diberi kesempatan. Dan kesempatan dia juga untuk menangis, saya ini tidak bisa berjumpa lagi dengan kamu semua. Keluarga di situ menangis bersama dia. Jadi itulah satu kesempatan untuk dia, ada orang yang memperhatikan dia.
GS : Berarti dia sadar terus sampai meninggalnya?

VS : Ya, hanya beberapa jam sebelum meninggal baru tidak sadar.

GS : Mungkin yang sulit lagi menghadapi keluarga yang koma, mungkin Bu Yanti bisa bantu. Kita maunya berkomunikasi dengan dia tapi komanya itu lama sekali. Ada orang yang koma bisa sampai setahun, itu bagaimana Bu?

YT : Sebetulnya kalau dia belum meninggal ya, mungkin kita bisa membisikkan, berbicara mungkin dia dengar.

GS : Masih bereaksi, dari kelopak matanya itu kelihatan masih bergerak dan sebagainya.

YT : Biasanya kalau koma tidak bergerak, cuma reaksi pupil cahayanya masih bagus, itu belum meninggal. Tapi kalau sudah meninggal berarti percuma dipasang alat bantu karena dulu pengalaman sya waktu masih baru-baru lulus itu saya kerja di ICU menolong orang.

Ceritanya kecelakaan kemudian saya pasang alat-alat bantu semua di resussitasi semua jalan tapi ternyata meninggal, saya kena marah, kamu ini meninggal di tolong. Seharusnya kematian otak walaupun jantung dipacu, diberi obat, semuanya jalan karena dia masih 18 tahun. Tapi sekarang bingung bagaimana, mau sampai kapan seperti itu. Padahal itu sudah meninggal harusnya, jadi kalau misalnya diagnosa dokternya sudah meninggal ya seharusnya sudah. Kecuali kalau belum begitu, ada dokter ahlinya nanti konsultasi bagaimana begitu.
(4) GS : Ada satu hal lagi yang masih kontroversi, orang yang sudah dinyatakan tidak ada harapan, lalu ada keluarganya yang memutuskan tidak perlu ditolong atau yang lainnya, kalau perlu diberikan suntikan supaya cepat meninggal. Bagaimana kalau ada yang begitu?

YT : Itu euthanasia, tidak boleh itu.

GS : Itu yang sulit ya Bu?

YT : Ya itu tidak mau, euthanasia kalau di sini banyak yang begitu.

GS : Di sini itu di Indonesia maksudnya?

YT : Ya, soalnya hukumnya belum jelas, pernah satu kali ada pasien, nyata-nyata dia itu, Dr. Sara mendiagnosa paralyses yaitu pernafasan tapi mungkin karena firal dia itu dalam dua minggu hausnya sudah bagus, jadi pakai resusitasi diberi kantilator.

Tapi kalau itu dicabut dia tidak bisa nafas. Lalu keluarganya minta dicabut saja. Saya katakan, Bu ini harus ditunggu dua minggu, tidak mau, cabut sekarang, ya itu dilema ya, seharusnya tidak boleh tapi di Indonesia belum tahu. Jadi kita tidak bisa melarang, kalau saya yang jadi dokter jaga, saya tidak mau. Saya menyuruh ibu itu mencabutnya sendiri jangan perawatnya, tapi itu pergantian jaga terus, akhirnya dia cabut.
GS : Ya memang biasanya kalau di sini, itu alasan-alasan ekonomi yang dijadikan dasar, biayanya besar, tanggungannya masih banyak, jadi lalu diputuskan seperti itu. Tapi itu tetap bertentangan dengan hukum Tuhan saya rasa. Kita tidak berhak mencabut nyawa seseorang. Tapi memang serba dilematik ya, Bu Vivian, yang saya katakan di tengah-tengah kita banyak membutuhkan biaya untuk yang hidup, nah ini menghadapi orang yang kita kasihi sedang menderita sakit yang parah sekali, yang sudah dinyatakan tidak ada harapan Bu, itu bagaimana?

VS : Kalau saya masih mengingat, Tuhan ini Tuhan yang hidup meskipun dokter mengatakan tidak ada harapan, kita bersandar pada Tuhan, jadi mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipu membutuhkan biaya yang banyak untuk orang yang kita kasihi.

Jadi menurut dokter yang terbaik dan kita bersandar penuh pada Tuhan. Karena saya juga pernah melihat dokter mengatakan ini tidak ada harapan, tapi Tuhan menyatakan mujizat.
GS : Mujizat itu masih tetap ada sampai sekarang, itu yang kita percayai. Tetapi ada juga masalah lain Bu, yang seringkali dihadapi oleh keluarga-keluarga pasien yang berat seperti ini, di mana tentu ada kebosanan ya Bu, mendampingi pasien yang tidak bisa diajak komunikasi, sakitnya makin lama makin parah. Sehingga kalau tadinya kita bisa tiap hari melawat, kalau ini kebetulan dirawat di rumah sakit, lama-lama dua hari sekali, tiga hari sekali itu bagaimana Bu, mengatasi kejenuhan, kebosanan?

VS : Itu saya kira tergantung hubungannya dengan si pasien, kalau hubungannya dekat saya kira tidak akan kebosanan, tidak akan jenuh. Justru pasien tambah sakit, kita ingin mendampingi, itu ang saya alami sendiri dengan ibu saya, dia tambah sakit saya tambah ingin lama di rumah sakit itu.

Dulu kalau menjenguk berapa jam, sekarang menjadi sepanjang siang, sepanjang malam. Jadi kalau kita mempunyai hubungan dekat tentu tidak akan jenuh.
IR : Bu Vivian kalau si penderita sakit ya, seringkali tidak mau dikunjungi oleh teman atau yang lain, mengapa Bu? Apa ada teknik-teknik tertentu bagaimana kita menghibur orang sakit?

VS : Teman yang menghibur orang sakit?

IR : Ya.

VS : Saya kira kalau kita sebagai orang yang mengunjungi itu harus tahu dirilah, tahu diri terutama dalam hal waktu. Jangan terlalu lama dan juga kalau kita di sana sebagai pengganti keluarga. Sering saya lakukan itu dulu, menggantikan anggota keluarga lain yang sudah lelah, supaya tidak jenuh yaitu,"coba Ibu pergi ke mana saya jagakan di sini berapa jam". Kalau semacam itu saya kira akan diterima.

GS : Tapi biasanya keluarga tidak mau digantikan oleh orang luar.

VS : Kalau orangnya dikenal baik, pasti mau.

GS : Seharusnya itu bentuk pelayanan yang baik sekali, apalagi kalau keluarganya itu keluarga kecil ya Bu, cuma punya anak dua atau satu mungkin. Untuk pasangan berat sekali.

VS : Malah keluarganya itu berterima kasih.

GS : Selama menggantikan, Bu Vivian biasanya melakukan apa terhadap pasien itu?

VS : Apa saja yang diminta, jadi kalau waktu itu harus disuap ya menyuap, kalau waktu itu saya pernah mendampingi, menggantikan orang itu dimana perlu membersihkan tubuhnya, waktu itu tubuhna kotor semua dengan kotorannya itu, saya ya harus melakukannya juga.

Jadi apa saja yang bisa dilakukan, ya mau siap segala macam.
GS : Apakah itu terbawa pengalaman Ibu mendampingi mamanya Bu Vivian?

VS : Ya saya kira itu karena dulu saya sejak kecil itu merawat mama saya jadi saya mau saja melakukan apa saja yang katanya orang jijik, saya mau.

GS : Sudah terlatih.

VS : Sudah terlatih dan karena saya menawarkan diri, jadi saya tahu apa resikonya saya mau.

GS : Menghadapi tadi ya kita kembali lagi ke pokok pembicaraan, kalau pasien sudah makin kritis keadaannya, biasanya keluarga akan dipanggil untuk hadir di sana. Sebenarnya apa pengaruhnya terhadap si pasien?

VS : Si pasien akan merasakan dia tidak sendiri, bagi orang yang akan meninggal itu yang paling sulit, dia akan meninggalkan dunia ini sendirian. Jadi kalau didampingi oleh orang-orang yang aling berarti dia akan mendapat dukungan, jadi dia tidak sendirian untuk menghadap Tuhan.

GS : Tapi sebaliknya ada orang yang sehat itu merasa takut, atau merasa tidak enak mendampingi orang yang akan meninggal, ia justru menjauh, apakah ini perlu dipaksakan atau bagaimana?

VS : Kalau dia takut, sebaiknya dengan anggota keluarga lain, jadi tidak sendirian.

GS : Supaya tidak sendirian ya.

VS : Tidak sendirian, mungkin kita panggil pendeta.

IR : Menghadapi saat-saat terakhir, kira-kira kata-kata apa yang tepat untuk kita katakan kepada pasien?

VS : Mungkin kata-kata yang tepat untuk pasien ialah dia akan meninggalkan dunia yang penuh kesengsaraan dan dia ini akan terlepas dari semua penderitaan, terutama pasien yang sudah sekian lma sakit dan juga jangan khawatir dengan keluarga-keluarga yang ditinggalkan, Tuhan akan mengatur.

GS : Apakah mungkin pasien yang sangat parah sakitnya itu masih mempunyai rasa khawatir terhadap keluarga yang akan ditinggalkan?

VS : Saya kira, dulu karena pengalaman saya dengan ibu saya sendiri sebelum dia meninggal itu, khawatir dengan anak-anaknya terutama anak-anaknya yang masih kecil. Saya itu anak bungsu, jadipaling khawatir tentang saya.

Ini siapa yang merawat, nanti siapa yang bisa membesarkan kamu.
GS : Jadi sebenarnya selain seorang dokter yang terus mendampingi perawat, saya rasa seorang psikolog juga penting untuk mendampingi orang-orang seperti ini.

VS : Kalau yang terutama saya kira adalah keluarga dan pendeta. Karena ini perjumpaan dengan Tuhan, orang yang bersama-sama berjalan bersama-sama melewati lembah ini supaya tidak sendirian.

(5) GS : Bu Yanti, sebenarnya bagaimana kita tahu bahwa pasien itu benar-benar sudah meninggal, kalau ini di rumah?

YT : Misalnya nadinya sudah tidak ada, atau pupilnya melebar biasanya, jadi kalau kita senter cahaya pupilnya akan mengecil. Tapi kalau sudah melebar berarti sudah meninggal, tidak ada refles cahaya lagi pupilnya.

GS : Dalam waktu yang singkat ini mungkin Bu Yanti bisa memberikan saran, apa yang bisa kita lakukan sebagai keluarga kalau ternyata pasien itu, anggota keluarga kita itu dinyatakan meninggal. Apa kita harus menghubungi dokter, atau yang lainnya?

YT : Ya kalau misalnya orang awam biasanya, belum yakin ia ini sudah meninggal atau belum. Biasanya diminta menghubungi dokter supaya diagnosa pastinya dia meninggal. Tapi kalau kita sudah ykin sekali ya sudah tidak perlu menghubungi dokter.

Seperti papa, saya itu tidak tahu meninggalnya karena waktu tidur, sudah jelas kalau meninggal jadi tidak perlu menghubungi dokter lagi.
GS : Tahunya itu kenapa tidak bangun-bangun.

YT : Sudah lembam, mayat sudah biru, tapi kalau baru kadang-kadang belum pasti ya, siapa tahu masihhidup atau bagaimana atau koma, ini cuma berhenti jantung sebentar. Tapi kalau refleks cahaanya, pupilnya sudah melebar berarti sudah meninggal.

GS : Mungkin di pihak keluarga harus bisa menerima kenyataan itu juga, ya Bu Vivian?

VS : Tapi membutuhkan waktu, itu proses.

GS : Memang ada waktu yang dibutuhkan, itu biasanya berapa lama Bu Vivian?

VS : Tergantung kedekatan orang itu dengan sang pasien, kalau orang itu lebih dekat, lebih lama itu untuk menerima kepergian orang yang dikasihi. Kalau dia itu hanya biasa-biasa saja, lebih ela, lebih cepat.

IR : Mungkin Bu Yanti pernah membisikkan kata-kata untuk pasien yang akan meninggal yang berkaitan dengan firman Tuhan. Mungkin ada firman Tuhan yang disampaikan ke pasien pada saat terakhir itu?

YT : Ya, biasanya kalau pasien itu Kristen saya ingatkan kembali tentang Kristus yang mati disalib yang menebus dosa, supaya ingat. Ya tentang berita Injil, tentang Rumah Bapa, biasanya sayaingatkan itu.

Tapi sulit kalau bukan Kristen ya.
GS : Ya mungkin sebagai dokter yang dihadapi tidak yang Kristen saja. Tapi kalau ada keluarga yang mendampingi atau rohaniwan yang ada di sana bisa menolong itu. Jadi saya rasa kita semua juga suatu saat harus menghadapi kenyataan seperti itu, tapi bagi kita orang-orang yang beriman kita tahu ke mana kita pergi setelah kita meninggalkan dunia ini.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan tentang bagaimana mendampingi orang sakit yang menjelang ajal bersama Ibu Dr. Vivian Andriani Soesilo dan juga Ibu Dr. Yanti di dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian Anda sekalian dan apabila Anda mempunyai saran-saran serta pertanyaan-pertanyaan tentang masalah ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Kami percaya acara ini bisa menjadi berkat bagi kita sekalian. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran- saran, pertanyaan dan tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami berempat mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

PERTANYAAN KASET T35 B

  1. Apa tujuan seorang dokter memberitahukan kepada keluarga pasien, bahwa pasiennya tidak ada harapan untuk sembuh?
  2. Bagaimana sikap seorang dokter ketika menghadapi pasien yang marah karena suatu hasil diagnosa atau memberitahu kenyataan yang tidak bisa diterima oleh pasien?
  3. Pertolongan apa yang dapat diberikan bagi pasien yang tidak hanya sakit secara fisik tapi mental juga?
  4. Apa tanggapan terhadap keluarga yang meminta agar diberikan suntikan kepada pasien supaya cepat meninggal, dengan alasan sudah tidak ada harapan, tidak tega melihat orang yang dikasihi menderita sakit?
  5. Bagaimana mengetahui bahwa pasien benar-benar sudah meninggal?


12. Makna Hidup


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T037A (File MP3 T037A)


Abstrak:

Makna hidup adalah suatu tujuan kenapa manusia ada dan kenapa saya ada di dunia ini. Dan Tuhan bukan dengan tidak sengaja menciptakan manusia, penciptaanNya telah direncanakan.


Ringkasan:

Makna hidup didefinisikan dalam 2 kategori, yaitu:

  1. Kategori umum adalah apa sebenarnya tujuan manusia ini ada di dunia, jadi kita membicarakan apa sebetulnya makna kehidupan manusia secara umum.

  2. Kategori pribadi adalah apa makna hidup saya. Jadi kita bertanya apa sih tujuan saya ini ada atau hadir dalam kehidupan ini.

Jadi makna hidup adalah suatu tujuan kenapa manusia ada dan kenapa saya ada. Sebab asumsinya adalah manusia tidak selalu ada dan pernah tidak ada. Jadi kehadirannya dianggap membawa suatu makna tertentu.

Kejadian 1:26-29, berfirmanlah Allah :"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Berfirmanlah Allah : "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah yang akan menjadi makananmu."

Secara umum Allah menciptakan manusia dengan tujuan:

  1. Untuk menjadi wakil Allah di bumi.
  2. Memerintah segala isi bumi ini atau alam semesta, juga menunjukkan manusia itu diciptakan Tuhan untuk menikmati semua karya ciptaan Tuhan.

Tujuan utama atau tujuan puncak manusia diciptakan Tuhan adalah untuk menikmati Tuhan, untuk dirinya bersekutu dengan Tuhan, dan menikmatiNya.

Standar atau kriteria penciptaan manusia adalah hal yang sangat-sangat khusus, yang juga menandakan betapa spesialnya dan berharganya manusia itu. Semua ciptaan, diciptakan Tuhan melalui perkataanNya, tapi hanya satu ciptaan yang diciptakan dengan tangan Tuhan yaitu manusia. Alkitab mencatat hal itu untuk menunjukkan betapa khususnya manusia, sehingga Tuhan perlu mendisainnya dengan tanganNya sendiri dan Tuhan yang menghembuskan nafas kehidupan ke dalam manusia itulah yang menghidupkan manusia.

Dr. Victor Frankle adalah seorang terapi yang menekankan bahwa manusia itu harus mempunyai makna hidup, tanpa makna hidup manusia sebetulnya kehilangan hidup itu sendiri. Jadi makna hidup secara pribadi adalah pengertian kenapa saya ada di sini, ke mana saya akan pergi, apa tujuannya hidup saya di dunia ini.

Sewaktu seseorang kehilangan makna hidup yang akan terjadi adalah:

  1. Akan terhantam kesehatan jiwanya, dia tidak lagi mempunyai keseimbangan hidup, hidupnya akan seperti daun yang tertiup oleh angin.

Lukas 8:39 mengatakan : "Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kataNya: "Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang diperbuat Allah atasmu." Setelah penebusan Tuhan meminta kita untuk menjadi wakil Tuhan di bumi ini guna membawa berita baik ini, bahwa dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan. Jadi makna hidup kita sebagai orang Kristen atau tujuan hidup kita adalah sebagai utusan-utusan Tuhan yang menceritakan segala apa yang Tuhan sudah perbuat di dalam hidup kita kepada orang lain supaya akhirnya mereka pun dapat mempercayai bahwa Yesus telah mati untuk dosa-dosa mereka dan mereka pun bisa menikmati suatu kehidupan yang kekal dengan Tuhan nanti.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sebuah topik yang penting yaitu makna hidup. Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, setiap kita tentu berharap agar kehadiran kita mempunyai makna di dunia ini. Seringkali ada orang yang menanyakan untuk apa kamu hidup, apa tujuan kamu hidup. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali terlontar walaupun kita tahu bahwa kita masing-masing mau berperan di dunia ini, mempunyai arti di dunia ini. Tetapi pertanyaan itu sering mengganggu, karena sulit mengungkapkan apa sebenarnya makna hidup itu, Pak Paul. Kalau seseorang menanyakan kepada kita, menurut kamu apa makna hidup itu sebenarnya, bagaimana kita harus menanggapinya, Pak Paul?

PG : Saya akan definisikan makna hidup itu dari dua kategori, Pak Gunawan. Yang pertama adalah dari kategori umum dan yang kedua dari kategori pribadi. Kategori umum adalah apa sebenarnya tuuan manusia ini ada dalam dunia, jadi kita membicarakan mengenai apa sebetulnya makna kehidupan manusia secara umum.

Secara pribadi adalah apa makna hidup saya, jadi saya bertanya apa tujuan saya ada atau hadir dalam kehidupan ini. Jadi makna hidup adalah suatu arti atau tujuan mengapa manusia ada dan mengapa saya ada. Sebab asumsinya adalah manusia tidak selalu ada dan pernah tidak ada. Jadi kehadirannya dianggap membawa suatu makna tertentu. Saya pernah tidak ada dan bisa tidak ada, di suatu hari nanti akan tidak ada, jadi kalau saya ada sekarang apa gunanya, apa tujuannya, mengapa saya harus ada, begitu Pak Gunawan.
(2) GS : Kita coba bicara secara umum dulu ya Pak Paul. Tuhan Allah menciptakan manusia pasti ada tujuannya termasuk kita-kita ini. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Berfirmanlah Allah : "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah yang akan menjadi makananmu."

PG : Dari firman Tuhan yang telah kita baca ini Pak Gunawan, secara umum manusia itu ada di bumi untuk memerintah atau menguasai segala isi alam semesta ini, yaitu ciptaan Tuhan dan yang lainya.

Jadi dengan kata lain, kehadiran manusia adalah suatu kehadiran yang disengaja, direncanakan oleh Tuhan. Tuhan tidak dengan tidak sengaja menciptakan manusia atau terciptalah manusia, tidak. Penciptaannya itu direncanakan, maka dikatakan di sini, baiklah Kita menciptakan manusia menurut peta dan teladan Kita. Artinya memang ada suatu unsur pertimbangan, perencanaan. Rencananya adalah Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini dan Tuhan mau manusia menjadi wakil atau duta-Nya yang mengelola dan memerintah apa yang ada di alam semesta ini, jadi tujuan umum manusia ada di bumi ini, Pak Gunawan.
GS : Karena itu bukan suatu kebetulan, kalau manusia diciptakan pada hari terakhir, setelah semuanya itu tercipta ya Pak Paul?

PG : Betul sekali dan standar atau kriteria penciptaan manusia adalah hal yang sangat khusus, yang juga menandakan betapa spesialnya dan berharganya manusia itu. Kita tahu bahwa semua ciptaa, diciptakan Tuhan melalui perkataan-Nya, tapi hanya satu ciptaan yang diciptakan oleh tangan Tuhan yaitu manusia.

Kita baca di Kejadian 1-2 berfirmanlah Tuhan, misalnya terjadilah terang, atau terjadilah bentangan, terjadilah hewan, terjadilah tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan dan bintang semua diciptakan hanya dengan firman Tuhan. Tapi manusia diciptakan dengan tangan Tuhan, nah apakah tangan yang benar-benar secara fisik yang kita lihat itu tidak penting, tapi Alkitab mencatat hal itu untuk menunjukkan betapa khususnya manusia, sehingga Tuhan perlu mendesainnya dengan tangan-Nya sendiri. Dan dikatakan di Alkitab Tuhan menghembuskan nafas kehidupan ke dalam manusia, itulah yang menghidupkan manusia. Jadi benar-benar nafas itu merefleksikan Roh Allah, Tuhan memberikan Roh-Nya yang menghidupkan manusia. Jadi benar-benar suatu kriteria yang sangat mulia, sangat khusus. Dan saya percaya makna pertama mengapa manusia ada adalah untuk menjadi wakil Allah di bumi ini. Yang kedua, sebetulnya untuk memerintah segala isi bumi atau alam semesta ini, juga menunjukkan manusia itu diciptakan Tuhan untuk menikmati semua karya ciptaan Tuhan. Menikmati hewan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hawa udara, pegunungan, pemandangan, semua itu adalah untuk manusia supaya manusia dapat menikmatinya. Jadi Tuhan memang menciptakan manusia agar manusia menikmati karya ciptaan Tuhan, yang lain-lainnya adalah tujuan yang langsung tertera di Alkitab. Meskipun dari penelitian Alkitab secara keseluruhan ada juga yang bisa berkesimpulan bahwa tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan mempunyai suatu persekutuan dengan Tuhan. Maka ada salah satu pengakuan iman Kristiani yang mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan atau tujuan utama atau tujuan puncak manusia diciptakan Tuhan adalah untuk menikmati Tuhan, untuk dirinya bersekutu dengan Tuhan. Jadi itu adalah tujuan yang paling utama dari penciptaan manusia di bumi ini.
IR : Kalau definisinya secara personal, mengapa saya ada, itu apa tujuannya Pak Paul?

PG : Sebelum saya masuk ke tujuannya, saya mau memaparkan hal yang sangat penting, Bu Ida. Manusia itu secara pribadi perlu menyadari mengapa saya ada di dunia ini. Saya mau mengisahkan suat cerita yang sungguh-sungguh terjadi yaitu tentang psikiater berkebangsaan Yahudi, seorang keturunan Yahudi tapi sebetulnya dia tinggal kalau tidak salah di Austria, namanya adalah Dr.

Victor Frankle. Pada waktu perang dunia kedua dia ditangkap, karena berdarah Yahudi dan dimasukkan ke dalam penjara yang disebut camp-camp konsentrasi, di suatu tempat yang bernama Auswich itu di Eropa Timur. Di dalam penjara itulah berjuta-juta orang Yahudi dibunuh dengan cara dimasukkan ke dalam kamar gas. Dr. Frankle menuliskan pengalamannya di dalam penjara itu di bukunya yang sangat terkenal, yaitu "The Search of the Meaning of Life" atau "Man Search of the Meaning of Life". Di dalam buku tersebut Dr. Frankle menceritakan bahwa sebetulnya ada sebagian tahanan Yahudi yang mati, tidak secara langsung dibunuh oleh Jerman, Nazi. Dia bercerita bahwa pertama orang masuk ke dalam penjara, mereka sebetulnya masih bersemangat, mempunyai harapan yang tinggi, menantikan pembebasan. Mulailah mereka membuat skenario-skenario bahwa nanti akan ada pembebasan tentara sekutu, mereka hanya perlu menunggu beberapa hari lagi. Hari lepas hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tentara sekutu tidak datang membebaskan mereka. Akhirnya harapan mereka pupus, tatkala harapan pupus, hilanglah makna hidup. Itulah yang membuat mereka kuat menanggung penderitaan, setiap pagi mereka harus bangun di dalam cuaca yang sangat dingin, harus berjalan kaki, dibawa oleh truk membangun jalanan kereta api. Ada yang tidak punya sepatu lagi, makanan sangat kurang, tapi mereka masih sanggup menanggung derita yang begitu besar. Waktu mereka kehilangan harapan hidup, tiba-tiba tidak ada lagi tujuan untuk hidup ini, karena yang dinanti-nantikan tidak kunjung tiba, mereka mengalami depresi yang sangat berat. Dr. Frankle menulis, ada orang-orang berjalan dengan tubuh yang layu, lemah, waktu pagi-pagi berbaris menuju ke truk, tentara Jerman akan mengawasi mereka. Yang bertubuh lemah tidak ada semangat lagi, akan ditarik keluar dari barisan dan langsung dimasukkan ke dalam kamar gas, lalu dibunuh. Itu adalah gelombang yang pertama yang mati. Kategori yang kedua yang mati adalah kata Frankle, orang-orang yang masih sanggup bekerja, tapi begitu pulang waktu dia dalam kamar, mereka benar- benar menjadi orang yang kehilangan harapan, mengalami depresi yang begitu berat, dan kata Frankle ada di antara mereka yang akhirnya mati di atas ranjang mereka sendiri, bukan di kamar gas, tidak dibunuh oleh Jerman tapi mati karena kehilangan tujuan hidup. Tiba-tiba hidup tidak ada lagi maknanya, karena mereka berpikir bahwa mereka harus menghabiskan sisa hidup di dalam penderitaan yang tidak kunjung padam. Kita melihat di situ bahwa tujuan hidup bagi seseorang sangat penting. Itu yang disadari oleh Dr. Frankle, oleh karena itulah, dia bertekad untuk hidup terus dengan cara memelihara tujuan hidupnya. Dia seorang Atheis meskipun dia seorang Yahudi, dia tidak percaya Tuhan. Jadi yang dia gunakan sebagai tujuan hidupnya adalah karya-karya tulisnya, sebelum ia ditangkap, dia seorang penulis dan banyak hal yang dia ingin terbitkan tapi belum berkesempatan karena dimasukkan ke penjara. Itulah tujuan hidupnya, dia berjanji tidak boleh mati sampai berhasil menerbitkan karya tulisnya itu. Itulah yang akhirnya mempertahankan kehidupannya sampai ia dibebaskan oleh tentara sekutu, dan dia mulai suatu mashab atau bagian yang baru dalam psikoterapi yang disebut logo terapi. Yaitu terapi yang menekankan tujuan hidup, jadi terapi yang diajarkan oleh Victor Frankle adalah terapi yang menekankan bahwa manusia itu harus mempunyai makna hidup. Tanpa makna hidup, manusia sebetulnya kehilangan hidup itu sendiri. Jadi makna hidup secara pribadi adalah pengertian mengapa saya ada di sini, ke mana saya akan pergi, apa tujuannya hidup saya di dunia ini. Sewaktu seseorang kehilangan itu, yang nomor satu akan terhantam adalah kesehatan jiwanya, dia tidak lagi mempunyai suatu keseimbangan hidup, hidupnya akan seperti daun yang tertiup oleh angin.
IR : Dan disebut pula orang yang putus asa, Pak Paul?

PG : Betul sekali. Jadi tidak ada lagi harapan, tidak mengerti mengapa saya harus hidup dan senantiasa bertanya-tanya buat apa saya hidup.

GS : Tapi secara normal ya Pak Paul, seseorang itu pasti tahu tujuan hidupnya.

PG : Masalahnya adalah kita tidak selalu pasti dengan tujuan hidup kita, karena hidup ini memang tidaklah dalam kendali kita, Pak Gunawan. Adakalanya kita bisa melihat dengan jelas apa yang da di depan mata kita, adakalanya kita tidak dapat melihat dengan jelas.

Dan di waktu kita tidak dapat melihat dengan jelas, kita mulai bertanya-tanya ke manakah arahnya perjalanan hidup kita ini, akankah kita tiba pada yang kita ingin capai itu. Saya kadang-kadang mengibaratkan perjalanan hidup manusia seperti perjalanan melalui siang dan malam. Tatkala siang kita dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depan mata kita, jarak jauh pun kita bisa melihatnya. Pada waktu malam mungkin kita hanya bisa melihat 2 meter, 3 meter di depan kita. Pada waktu malam itulah Pak Gunawan, akhirnya manusia seringkali merasakan bahwa tidak ada lagi makna hidup ini karena tidak bisa melihatnya.
GS : Jadi sekalipun Alkitab itu dengan jelas mengungkapkan ya Pak Paul, tentang tujuan hidup seseorang atau maksud Tuhan Allah itu menciptakan manusia, tetapi bagaimana diterjemahkan dalam kehidupan sekarang ini, Pak Paul? Satu hal yang tadi dibacakan di sana mengenai beranakcuculah dan sebagainya ya Pak Paul, kita sekarang itu mulai membatasi, kalau mau dituruti tanpa pengertian kebijaksanaan yang jelas makin penuh bumi ini, makin tidak karuan kehidupan kita ini. Tapi satu hal yang tadi kita pahami bersama, tujuan Tuhan Allah supaya kita itu menguasai bumi ini, itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari seperti apa, Pak Paul?

PG : Secara konkretnya untuk kita pribadi adalah menguasai artinya kita mendayagunakan ciptaan-ciptaan Tuhan ini untuk kesejahteraan hidup kita sebagai manusia. Misalnya salah satunya bekerj, kemajuan teknologi adalah salah satu wujudnya pula.

Karena dengan kemajuan teknolagi kita makin bisa mengatur, mendayagunakan hasil alam semesta ini atau apa yang ada dalam alam semesta ini. Dulu manusia belum mengerti apa gunanya misalnya hasil tambang, minyak dan sebagainya. Nah sekarang dengan kemajuan teknologi kita lebih bisa menikmati hidup dan ini sejalan dengan yang Tuhan inginkan dan yang telah Dia gariskan. Sudah tentu yang tidak Dia inginkan adalah kita merusak ciptaan-Nya, sebaliknya kita mendayagunakan untuk kesejahteraan hidup manusia, itu yang Tuhan inginkan secara umum. Jadi silakan eksplorasi, silakan majukan pengetahuan demi kesejahteraan hidup manusia. Jadi secara umum itulah yang memang Tuhan gariskan.
GS : Perintah Tuhan disampaikan sebelum manusia jatuh dalam dosa ya Pak Paul, setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, apakah perintah itu tetap sama Pak Paul?

PG : Saya percaya, perintah itu sebetulnya tetap sama, yang sudah bergeser adalah pelaksanaannya, manusia tidak lagi memerintah alam semesta ini dan hasilnya atau isinya. Manusia mengeksploiasi karena keserakahannya itu dan akhirnya terselewengkanlah makna hidup yang Tuhan telah tetapkan pada awalnya.

Nah otomatis setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kita ketahui bahwa Tuhan merencanakan rencananya itu untuk menyelamatkan manusia. Kita sadari bahwa Dia akhirnya turun ke bumi menjadi seorang Anak Manusia yang kita panggil Yesus Kristus, dan kematian-Nya itulah yang telah membayar semua hukuman dosa yang harus kita tanggung. Jadi saya memang membagi tujuan hidup manusia sebelum kejatuhan dan setelah kejatuhan atau sebelum karya penebusan Tuhan dan setelah karya penebusan Tuhan. Setelah Tuhan Yesus menebus dosa-dosa kita saya percaya bahwa ada tujuan hidup yang lain, yang Tuhan embankan pada kita. Yang saya ambil dari Lukas 8 : 39 di sini dikatakan: Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kata-Nya : "Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu." Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. Dengan kata lain setelah penebusan Tuhan meminta kita untuk menjadi wakil Tuhan di bumi ini untuk membawa berita baik, bahwa dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan. Berita baik ini harus kita sampaikan kepada orang-orang lain, jadi saya percaya makna hidup kita sebagai orang Kristen adalah atau tujuan hidup kita adalah sebagai utusan- utusan Tuhan yang menceritakan segala apa yang Tuhan sudah perbuat di dalam hidup kita kepada orang lain supaya akhirnya mereka pun dapat mempercayai bahwa Yesus telah mati untuk dosa-dosa mereka dan mereka pun bisa menikmati suatu kehidupan yang kekal dengan Tuhan nanti. Jadi saya percaya itulah tujuannya kita ada di dunia ini.
GS : Berarti ada suatu nilai tambah lagi di dalam kehidupan orang-orang yang sudah percaya dan ditebus oleh Tuhan Yesus, kerena ada tujuan yang lebih mulia daripada yang umum tadi, ya Pak Paul?

PG : Betul dan tujuan ini sebetulnya sangatlah berfaedah, Pak Gunawan. Saya masih ingat waktu saya lulus SMA, saya ini tidak jelas entah mau jadi apa ya, lalu saya mengikuti pemahaman Alkita dan saya belajar bahwa kita ini ditebus oleh Tuhan agar kita memuliakan Tuhan melalui hidup kita.

Akhirnya saya mempunyai suatu pengertian mengapa saya ada di dunia ini, pada saat itu saya berkata pada diri saya bahkan kalau saya ini harus misalnya menjadi tukang sapu atau apa tetap tidak apa-apa, karena tujuan hidup saya bukanlah bergantung pada pekerjaan saya, tapi bergantung pada untuk apa saya melakukan pekerjaan itu. Saya temukan jawabannya, saya ingin dan harus memuliakan Tuhan. Seperti yang memang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri, bahwa "biarlah orang memuliakan Allah karena melihat perbuatan baikmu." Jadi sejak saat itu saya merasakan ada suatu kedamaian, jadi sekali lagi tujuan hidup yang seperti dipaparkan oleh Alkitab memberikan kepada kita pegangan untuk bisa melalui hidup ini dengan lebih mantap.
GS : Berarti tujuan hidup itu perlu diajarkan, seperti tadi Pak Paul telah katakan, setelah mengikuti PA dan sebagainya, jadi terbuka wawasannya Pak Paul, bahwa ada tujuan yang Allah kehendaki untuk kehidupan kita itu.

PG : Saya percaya, memang tujuan hidup ini bisa kita sampaikan kepada orang lain sehingga akhirnya mereka tidak hanya hidup untuk sekedar melewati hidup. Tetapi mereka hidup dengan suatu tujan yang jelas, nah saya kira tujuannya yang dipaparkan oleh Alkitab adalah memuliakan Tuhan dan menggenapi karya keselamatan Tuhan bagi orang-orang lain pula, kita adalah duta-duta atau wakil-wakil Tuhan di bumi ini.

Itu memang memberikan ketenangan, kita bisa ajarkan ini kepada anak-anak kita sejak kecil sehingga pada waktu mereka mulai menginjak dewasa, mereka sudah mempunyai kejelasan juga mengapa mereka ada dalam hidup ini.
IR : Itu sama saja dengan yang Tuhan katakan, kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, berarti kita itu aktif, ya Pak Paul?

PG : Ya, kita tidak hanya pasif, tapi kita juga melakukan tanggung jawab kita dalam karya keselamatan Tuhan ini.

GS : Ada seseorang yang suka bertanya Pak Paul, sebenarnya kita ini hidup untuk makan atau makan untuk hidup. Jawabannya akan mencerminkan apakah orang itu tahu atau tidak makna hidupnya, Pak Paul.

PG : Betul sama dengan kita ini.

GS : Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja.

PG : Betul, jadi yang jelas adalah sarana dan tujuan itu tidak boleh terbalik ya Pak Gunawan. Kalau kita makan untuk hidup itu jelas ya. Bahwa makan menjadi sarana, hidup itu sendiri menjaditujuannya.

Tapi kalau hidup untuk makan berarti makan tujuannya, hidup itu menjadi sarananya dan itu yang keliru. Sebab hidup itu sendirilah yang menjadi tujuannya. Tapi Alkitab memberikan suatu pengertian yang sedikit berbeda lagi sebetulnya, setahap lebih tinggi dari itu. Di Mazmur pernah tertera atau pernah tercetus, kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup, jadi ada lagi yang lebih tinggi, lebih mulia daripada hidup itu sendiri, yakni kasih setia Tuhan. Akhirnya saya sadari Pak Gunawan, bahwa betul bagi kita sebagai orang Kristen, sebetulnya ada yang lebih mulia daripada hidup, yaitu si pemberi hidup itu sendiri yakni Allah sendiri, Tuhan sendiri. Bahwa hidup kita ini memang tidak menentu, Pak Gunawan dan Ibu Ida, adakalanya kita bisa kehilangan, sedih, kecewa, dan itulah bagian dari kehidupan manusia. Tapi yang tidak pernah berubah adalah kasih setia Tuhan, maka itu lebih indah daripada hidup.
GS : Itu harus betul-betul dihayati Pak Paul, supaya memberikan semangat terus kepada kita untuk tahu tujuan hidup kita ini.

PG : Betul, Pak Gunawan.

GS : Mengenai makna hidup ini, apakah itu mempengaruhi gairah kehidupan seseorang?

PG : Sangat mempengaruhi Pak Gunawan, jadi orang yang tidak ada tujuan hidup seringkali tidak ada lagi semangat untuk hidup.

GS : Seperti cerita orang-orang Yahudi tadi, Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi salah satu depresi adalah kehilangan makna hidup, artinya apa, tidak ada lagi gairah. Ini kadangkala saya harus temui dalam praktek saya sebagai konselor, ada orang-oang yang memang tidak ada lagi gairah hidup sehingga benar-benar berkeinginan meninggalkan hidup ini.

GS : Memang kadang-kadang ada orang yang berkata berani mati, seolah-olah bukti kepahlawanan, padahal sebenarnya lebih sulit untuk berani hidup daripada berani mati.

PG : Betul, adakalanya berani hidup itu lebih sulit daripada berani mati, karena hidup itu menjadi tantangan tersendiri yang sangat besar dan kita tidak berani menghadapinya. Daripada kita mnghadapinya, kita ingin melarikan diri.

GS : Jadi yang penting untuk kita hayati bahwa selama Tuhan itu memberi kehidupan kepada kita, akan kita gunakan dengan sebaik-baiknya bagi kemuliaan namaNya.

PG : Betul.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan seputar makna hidup baik secara umum maupun secara pribadi. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA. Bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengharapkan saran- saran, pertanyaan dan tanggapan Anda berkaitan dengan pembicaraan atau percakapan kami melalui acara TELAGA ini. Dan kami bertiga dari studio kami mengucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



13. Harapan yang Hilang


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T037B (File MP3 T037B)


Abstrak:

Harapan hilang terjadi ketika seseorang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan merasakan buat apa hidup ini dan biasanya dampak akhirnya adalah keputusasaan atau depresi yang sangat kuat.


Ringkasan:

Kisah seorang penulis lagu 'Nyamanlah Jiwaku' atau 'It is Well With My Soul' yaitu H. G. Spafford. Dia bersama istri dan keempat putrinya merencanakan mengunjungi Eropa dari benua Amerika Serikat. Tetapi tepat sehari sebelum dia berangkat dia harus menyelesaikan urusan dagang sehingga ia membatalkan perjalanannya dan meminta istri dan keempat putrinya untuk pergi ke Eropa. Dalam perjalanan, kapal yang mereka tumpangi mengalami musibah dan singkatnya keempat putri meninggal dan hanya istri yang selamat. Istri menulis sebuah telegram mengatakan: "Semua meninggal kecuali saya." dalam perjalanan menyusul istrinya itulah dia menuangkan deritanya dan keyakinannya pada penjagaan Tuhan lewat lagu 'Nyamanlah Jiwaku'. Beberapa tahun kemudian putranya meninggal dunia, karena putranya akhirnya meninggal dunia, gereja tempat di mana dia berbakti menganggap bahwa keluarga ini pasti bermain dengan kuasa gelap, akhir kata gereja mengucilkan Spafford dan istrinya. Dan diketahui di hari tuanya spafford menderita sakit jiwa dan akhirnya meninggal dunia. Dari contoh atau kisah yang sangat nyata dan tragis tsb, kita bisa melihat bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia itu memerlukan dukungan sosial, teman-teman, kerabat. Kehilangan keempat anaknya masih bisa dihadapi dengan tegar, namun pada akhirnya sewaktu dia harus dikucilkan, dia akhirnya menderita sakit jiwa.

Sewaktu teman-teman tidak ada lagi, sewaktu tujuan hidup pun tidak lagi jelas, buat apa kita hidup, kita akan kehilangan harapan dan biasanya dampak akhirnya adalah keputusasaan atau depresi yang sangat kuat. Orang yang mempunyai tujuan hidup atau makna hidup yang jelas, kesehatan jiwanya cenderung lebih baik.

Yang perlu kita lakukan dalam menghadapi orang-orang yang kehilangan makna hidupnya sbb:

  1. Kita harus bersama dengan dia dalam kesedihannya
  2. Kita mau menemani dia melalui perjalanan itu sampai ia bisa menerima kenyataan itu. (Contoh kisah yang dihadapi oleh Johnny Ericsson Tada yang menggunakan mulutnya untuk melukis)
Yang seharusnya menjadi fondasi atau dasar tujuan hidup kita adalah saya berharga dan sebegitu berharganya sehingga Tuhan rela mati bagi hukuman dosa saya dan saya tahu bahwa pada akhirnya saya akan pulang ke Tuhan kembali. Fanny Crosby seorang penulis lagu-lagu Kristen, sejak dia berusia beberapa minggu dia sudah buta karena dokter salah memberikan obat mata padanya. Suatu kali ditanya, "Pernahkah engkau merasa menyesali perbuatan dokter tsb?" Dia berkata: "Tidak pernah, karena justru ketika saya tidak mempunyai mata jasmani, mata rohani saya bisa begitu celik." Dan dia melihat ini sebagai bagian atau porsi yang Tuhan telah tetapkan untuk kehidupannya. Saya pernah membaca suatu tulisan yang berkata : "Di dalam kamus Tuhan tidak ada kegagalan, yang ada adalah pertumbuhan yang dipaksakan oleh Tuhan, artinya Tuhan memaksa kita bertumbuh melalui peristiwa yang kita anggap sebagai kegagalan.

Ayub 14:7-10 mencatat : "Karena bagi pohon masih ada harapan : apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?" Nah inilah yang dikatakan Ayub dalam penderitaannya, begitu dia terpukul sekali, kok Tuhan membiarkan dia mengalami musibah yang begitu besar. Dia menyambung di sini, "Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya." Benar- benar dia sangat menderita, dia akhirnya berkata: "Ah kiranya Engkau yaitu Tuhan menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati. Jadi kadangkala memang meskipun kita orang yang kenal Tuhan Yesus kita percaya pada-Nya tapi toh adakalanya waktu badai terlalu keras menerpa kita, kita bisa goyang, tapi yang menjadi penghiburan kita adalah dalam keadaan seperti itu pun Tuhan tidak menolak kita, Tuhan menerima, mengerti bahwa kita ini manusia yang rapuh dan bisa goyang, dan Dia dengan cara Dia yang ajaib menyadarkan kita akan makna hidup ini kalau kita terus cari Dia dekat kepadanya. Dia akan membisikkan kepada kita tujuan hidup ini.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang harapan yang hilang. Kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, semua orang pasti mempunyai pengharapan di dalam kehidupannya, tentu berharap menjadi lebih baik dalam kehidupannya ini, baik di dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga dan seterusnya. Tetapi fakta nyatanya yang kita hadapi adalah kadang-kadang kita kehilangan arah hidup itu sendiri, harapan untuk melanjutkan hidup itu sehingga ada banyak orang yang mengatakan buat apa saya ini hidup. Dan sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang yang seperti itu, Pak Paul?

PG : Kita perlu menyadari Pak Gunawan, bahwa kita adalah orang yang rapuh, kita seringkali tidak menyadari kerapuhan kita itu. Saya teringat akan kisah tentang seseorang yang menulis lagu "Nyamanlah Jiwaku" atau dalam bahasa Inggrisnya "It is well with my soul", lagu tersebut ditulis oleh H.

G. Spafford. Spafford ini bersama istri dan keempat putrinya merencanakan untuk mengunjungi Eropa dari benua Amerika Serikat. Tepat sehari sebelum dia berangkat, dia harus menyelesaikan urusan dagang sehingga ia membatalkan perjalanannya. Ia meminta si istri dan keempat putrinya untuk pergi dulu ke Eropa. Dalam perjalanan melewati lautan Atlantik, si istri dan keempat putrinya mengalami musibah, kapal mereka karam. Keempat putri tersebut meninggal dunia, si istri yang selamat. Dia pun selamat sebetulnya karena benar-benar karya yang ajaib dari Tuhan. Dia sudah terapung-apung dan dianggap mati. Tapi kemudian ditemukan oleh perahu sekoci yang turun untuk menyelamatkan para penumpang kapal itu, dia diselamatkan, lalu mengirimkan telegram kepada suaminya, mengatakan : "Semua meninggal, kecuali saya". Konon menurut cerita dalam perjalanan menyusul si istri ke Eropa itulah si suami, H. G. Spafford, kemudian menuangkan deritanya itu dan keyakinannya pada penjagaan Tuhan melalui lagu yang sangat terkenal tersebut, "Nyamanlah Jiwaku". Tapi kita ketahui pula bahwa hidup Spafford tidak seperti yang kita bayangkan, selalu kuat, Pak Gunawan. Beberapa tahun kemudian putranya meninggal dunia, karena putranya akhirnya meninggal dunia, gereja tempat di mana dia dulu berbakti menganggap bahwa keluarga ini pasti bermain dengan kuasa gelap, bermain dengan iblis, maka kelima anak-anaknya harus mati. Gereja mengucilkan Spafford dan istrinya, sehingga mereka harus pindah ke tempat yang lain. Akhirnya kita ketahui bahwa di hari tuanya Spafford menderita sakit jiwa dan akhirnya meninggal dunia. Dari contoh itu atau kisah yang sangat nyata dan tragis tersebut, kita bisa melihat bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia memerlukan dukungan sosial, teman-teman, kerabat, itu yang terhilang dalam hidup Spafford. Kehilangan keempat anaknya masih bisa dihadapi dengan tegar, kehilangan putranya yang terakhir itu dia masih bisa hadapi dengan tegar, namun pada akhirnya sewaktu dia harus dikucilkan, seolah-olah dibuang oleh umat Kristen di tempatnya, akhirnya dia menderita sakit jiwa dan di hari tua terus menderita seperti itu. Jadi kita harus menyadari, bahwa kita ini sebetulnya tidak berdiri sendiri, kita ini bisa ada karena ada faktor-faktor yang mendukung kita. Salah satunya adalah teman-teman dan kerabat, yang lainnya lagi adalah tujuannya kita hidup, Pak Gunawan. Sewaktu teman-teman tidak ada lagi, sewaktu tujuan hidup tidak jelas lagi, buat apa kita hidup, kita akan kehilangan harapan dan biasanya dampaknya adalah keputusasaan atau depresi yang sangat kuat.
GS : Berarti kalau seseorang itu terganggu atau kehilangan arah hidupnya atau tidak lagi menyadari dengan jelas apa sebenarnya tujuan hidupnya itu Pak Paul, itu bisa mengganggu kesehatan jiwanya, seperti tadi yang Pak Paul ceritakan?

PG : Sangat bisa sekali Pak Gunawan, kebetulan dulu saya menulis thesis saya dalam hal ini Pak Gunawan, jadi kaitannya antara kesehatan jiwa dan makna hidup. Dan thesis saya itu mengkonfirmasi iset-riset yang telah diadakan sebelumnya oleh banyak orang, yakni bahwa makna hidup itu sangat mempengaruhi makna jiwa.

Orang yang mempunyai tujuan hidup atau makna hidup yang jelas, kesehatan jiwanya cenderung lebih baik, dibandingkan dengan orang yang tidak lagi mempunyai tujuan hidup, kesehatan jiwanya akan merosot sekali, dia tidak lagi berfungsi dengan baik. Hal lain yang perlu kita sadari adalah tujuan hidup atau makna hidup kita secara pribadi, acapkali terkait erat dengan konsep siapa saya ini. Misalnya kita adalah seorang pianis yang piawai, pandai bermain piano, tiba-tiba kita mengalami musibah misalkan tabrakan, sehingga kedua tangan kita tidak dapat kita gunakan bermain piano lagi, karena patah. Mungkin sekali dalam titik itu kita mengalami goncangan hidup, karena tiba-tiba kita tidak mengenal diri kita lagi, yang sebelumnya telah kita kenal, kita selalu mengenal diri kita sebagai seorang pianis dan itu menjadi bagian hidup serta tujuan hidup kita. Yaitu bermain piano, jadi tujuan hidup yang personal ya. Tapi kecelakaan tersebut tiba-tiba membuyarkan tujuan hidup kita serta identitas diri kita, waktu kita tidak lagi mengenal diri kita, kita mengalami stress yang berkepanjangan. Kalau kita bisa fleksible dan mengkompensasikannya dengan hal-hal yang lain, barulah kita akan keluar dari keputusasaan tersebut.
(1) IR : Pak Paul, untuk menghadapi orang-orang yang seperti itu apa yang harus kita lakukan?

PG : Yang pertama, kita harus bersama dengan dia di dalam kesedihannya, sebab sebetulnya yang dialaminya adalah dia sedang berdukacita, dia kehilangan hidupnya, seperti yang dia bayangkan dahulu. Dia perlu berdukacita dan menangisi kehilangannya itu, kita jangan berkata kepada dia, kamu tidak seharusnya meratapi kehilangan ini, Tuhan bisa menggantikannya dengan yang lain. Itu mudah untuk kita ucapkan tapi sangat tidak mudah untuk kita jalani. Setelah kita bersama dengan dia yang kedua adalah pada akhirnya kita mau menemani dia melalui perjalanan itu sampai ia bisa menerima kenyataan itu. Kita tidak bisa mempercepat proses itu, kecenderungan kita adalah mempercepatnya, meminta dia untuk menerima fakta apa adanya. Sangat tidak mudah untuk menerima fakta seperti itu, saya teringat pembicaraan saya dengan seseorang yang di puncak hidupnya sudah siap untuk memberikan kontribusi, sumbangsih-sumbangsih yang bermakna. Kemudian dia mengalami suatu penyakit yaitu dia mengalami serangan stroke, dia lumpuh untuk sementara waktu sampai ya puji Tuhan, dia akhirnya bisa keluar dan sembuh. Dan saya pernah bertanya kepada beliau, apa kiat supaya bisa melewati masa itu, dan beliau berkata satu hal yang saya ingat sekali, kita harus menerimanya tidak mempertanyakannya lagi, tapi menerimanya. Saya teringat juga kisah Johnny Ericsson Tada seorang pelukis yang menggunakan mulutnya untuk melukis. Pada usia 17 tahun dia mengalami musibah yang luar biasa, dia terjun ke danau dan kepalanya tertumbuk pada dasar danau, dipikirnya air danau itu dalam padahal airnya surut. Dia koma untuk waktu yang cukup lama, akhirnya setelah sembuh dari koma, keadaannya sangat menyedihkan, mulai dari leher sampai ke bawah lumpuh tidak bisa digerakkan sama sekali. Dia bergumul dan memarahi Tuhan luar biasa pada saat itu. Mungkin selama berbulan-bulan dia tidak bisa menerima fakta itu, sampai dia akhirnya berdamai dengan Tuhan dan menerima fakta tersebut. Sekarang di Amerika Serikat, Johnny Ericsson Tada dipakai Tuhan luar biasa untuk menolong para penyandang cacat. Sebelum Johnny Ericsson Tada memulai pelayanannya memang belum ada yang memperhatikan masalah ini sebegitu besarnya sampai dimulai oleh Johnny Ericsson Tada. Jadi kalau kita lihat itulah hidup yang memuliakan Tuhan, sudah tentu kalau tidak ada kejadian itu, Johnny Ericsson Tada akan senang, bisa berjalan, bisa naik kuda seperti yang pernah dia saksikan, yang saya pernah dengar sendiri. Tapi kita melihat hidupnya sekarang ini membawa kemuliaan yang begitu besar bagi Tuhan. Begitu banyak penyandang cacat yang menerima perhatian yang sangat besar dari gereja-gereja Tuhan di Amerika Serikat dan itu karena satu orang yang akhirnya telah menerima fakta hidup itu dari Tuhan. Ya memang tidak enak, tapi akhirnya membawa kemuliaan yang besar bagi Tuhan.

(2) GS : Tadi Pak Paul katakan kita itu begitu rapuhnya, sehingga membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar kita. Bagi kita yang berkeluarga, mungkin dukungan dari suami atau istri itu besar sekali maknanya untuk memulihkan atau mengembalikan rasa percaya diri. Masalahnya adalah apakah pasangan kita mengetahui tujuan hidup kita itu?

PG : Itu pertanyaan yang bagus, Pak Gunawan. Adakalanya kita lalai untuk mengutarakan hal-hal seperti ini, tapi saya kira meskipun kita utarakan tujuan hidup kita ini apa, adakalanya kita tidakbisa melepaskan diri dari tujuan hidup yang lebih konkret atau yang bersifat material, Pak Gunawan.

Jadi kalau saya kaitkan tujuan hidup ini dengan misalnya yang membangun keluarga, mempunyai penghasilan yang baik, terus membesarkan anak-anak, menyekolahkan mereka di sekolah yang baik, seringkali itu yang menjadi tujuan yang terdekat bagi kita dan kita menumpukan diri kita atau harga diri kita pada hal-hal seperti itu. Nah bisa jadi sesuatu hal menimpa kita sehingga yang kita harapkan tidak terwujud. Anak-anak tidak bisa bersekolah di sekolah yang kita inginkan, karena faktor keuangan misalnya, pekerjaan kita tidak menanjak secepat yang kita inginkan, hal-hal seperti itu akhirnya bisa juga memukul kita, Pak Gunawan, apalagi kalau ini adalah seorang suami, memukul si suami sehingga ia merasakan kehilangan tujuan hidupnya, bukannya hilang sebetulnya tapi dia merasa dia tidak bisa lagi mencapainya. Sebelum-sebelumnya dia berusaha keras untuk mencapai target tersebut, tapi setelah berusaha bertahun-tahun dan akhirnya dia harus menerima fakta bahwa keadaannya akan begini terus. Tiba-tiba dia kehilangan makna hidup itu, dia kehilangan pegangan/arah hidup itu, sehingga dia merasa tidak ada lagi harganya dan dia merasakan bahwa istrinya tidak menghargai dia lagi dan dia pun tidak bisa menghargai dirinya lagi, ini menjadi suatu situasi yang tidak sehat bagi keluarga itu sendiri. Tapi saya pahami, Ibu Ida dan Pak Gunawan, bahwa kita memang seringkali mengaitkan penghargaan diri kita dengan hal-hal yang lebih konkret dan nyata ini, yang bersifat material.
GS : Padahal sebenarnya ada tujuan hidup yang tidak nampak dengan jelas, yang tidak material, tapi lebih penting ya Pak Paul, seperti tadi kita singgung sedikit mengenai kehidupan yang memuliakan Tuhan. Seperti contoh yang tadi Pak Paul sampaikan, walaupun lumpuh, katakan kepalanya saja yang masih berfungsi dengan baik, tapi dia masih melakukan sesuatu.

PG : Betul, tapi saya harus mengakui Pak Gunawan, bahwa sulit sekali untuk kita ini mempunyai tujuan hidup yang semulia itu. Kita biasanya hanya sampai pada tujuan hidup yang mulia itu, kalau kta kehilangan kemampuan yang bersifat material.

Jadi dalam contohnya Johnny Ericsson Tada itu, saya kira kalau dia tidak kehilangan fungsi tubuhnya kemungkinan besar dia tidak menjadi orang yang seperti sekarang ini, yang memperhatikan para penyandang cacat. Tapi karena dia kehilangan fungsi tubuhnya, barulah dia memperhatikan para penyandang cacat.
GS : Mungkin kesadaran bahwa seseorang atau kita itu ditebus oleh Tuhan Yesus dengan harga yang begitu tinggi itu akan menumbuhkan rasa berarti di dalam kehidupan ini, Pak Paul, bahwa Tuhan rela mati untuk saya yang berdosa.

PG : Betul, seharusnya inilah yang menjadi dasar tujuan hidup kita, fondasi kita bahwa saya berharga dan sebegitu berharganya sehingga Tuhan rela mati bagi hukuman dosa saya dan saya tahu bahwapada akhirnya saya akan pulang ke Tuhan kembali.

Jadi sebagai orang Kristen, kita tidak hidup seperti perahu yang diombang-ambingkan oleh angin topan, gelombang yang besar, karena kita tahu ke mana kita pergi, kita tahu jelas itu, bukannya suatu dugaan tapi suatu kepastian.
GS : Mungkin itu yang perlu terus-menerus dibangun di dalam kehidupan kita ini.

PG : Betul dan waktu kita membangun hal itu memang pada kenyataannya kita melawan arus, kita harus mengakui Pak Gunawan, sebab dalam hidup ini tetap yang dinilai tinggi sebagai tujuan hidup adaah kemapanan material.

GS : Yaitu sistem kehidupan di sekitar kita seperti itu, ya Pak Paul?

PG : Betul dan kita akhirnya tergiring pula untuk mempunyai pandangan yang sama, sehingga sewaktu kita tidak berhasil mencapai status tersebut, kecenderungannya adalah kita merasa telah gagal utuk mencapai tujuan hidup itu, kita tidak lagi bisa memiliki tujuan hidup seperti itu.

(3) GS : Yang cukup realistis, yang seringkali kita hadapi, kenyataan sekarang ini banyaknya orang kehilangan pekerjaannya secara mendadak. Bahkan ada pasangan suami istri yang suaminya baru saja di PHK dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Sebenarnya apa yang bisa dilakukan?

PG : Si istri kalau misalkan si suami yang kehilangan pekerjaan, si istri harus dengan sensitif mengungkapkan penerimaannya dan cintanya, komitmennya bahwa kehilangan pekerjaan tidak berarti sisuami tidak ada lagi harganya di mata istri, jadi itu terus yang harus dikomunikasikan.

Berikan waktu kepada si suami untuk berdukacita karena kehilangan itu, namun disamping itu si istri bisa mulai memberikan bantuannya yaitu dengan cara misalnya menggunting iklan lowongan pekerjaan yang ditemukan di surat kabar, kemudian mendiskusikannya dengan si suami, atau pada malam hari berdua bersujud di hadapan Tuhan dan berdoa minta bantuan Tuhan. Saya kira dengan sentuhan-sentuhan yang penuh penerimaan seperti ini, si suami tidak akan merasa terhina dan dia merasa masih berfungsi dalam rumah tangga ini. Yang paling keliru adalah kita langsung memarahi si suami karena melihat dia tidak bangun-bangun, kelihatan sedih sekali. Jadi biarkan misalnya waktu seminggu atau dua minggu si suami itu mengalami pukulan dan seolah-olah dia diam di rumah, malu, itu hal wajar, tapi setelah itu doronglah si suami untuk maju lagi.
GS : Bagaimana halnya kalau bukan kehilangan pekerjaan, tapi kehilangan kesehatannya Pak Paul, yang tadi kita katakan misalnya tiba-tiba kena serangan jantung atau stroke, orang bisa putus asa?

PG : Bisa sekali, Pak Gunawan. Saya mengambil pengalaman ini sebagai pengalaman di tengah-tengah, Pak Gunawan. Pengalaman di tengah-tengah artinya di tengah antara masa lalu dan masa yang akan atang.

Masalahnya adalah kita tidak bisa lagi kembali ke masa lalu, kita tidak bisa lagi berkata kalau saja saya sehat, ya kita tidak bisa. Tapi di pihak lain masa depan kita sangat tidak jelas, dan yang paling menakutkan adalah kita akhirnya berkata bahwa kemungkinan besar saya akan hidup seperti ini di akhir hayat saya. Itulah pengalaman hidup di tengah-tengah yang saya maksud, Pak Gunawan. Dan ini menjadi pengalaman yang sangat menakutkan, tapi saya kira sekali lagi perlu suatu kesadaran bahwa pengalaman di tengah-tengah ini bukanlah suatu pengalaman yang luput dari perhatian Tuhan, yang tetap disengaja dan di luar rencana Tuhan, tidak, semua dalam rencana Tuhan. Contohnya adalah yang dialami oleh Fanny Crosby, seorang penulis lagu-lagu Kristen, yang menggubah lebih dari 1000 lagu-lagu rohani, sejak dia berusia beberapa minggu dia sudah buta karena dokter salah memberikan obat mata padanya. Pernah suatu kali dia ditanya oleh seseorang, pernahkah engkau merasa menyesali perbuatan dokter tersebut? Dia berkata tidak pernah, sebab ia berkata justru karena saya tidak mempunyai mata jasmani, mata rohani saya bisa begitu celik dan dia melihat ini sebagai bagian atau porsi yang Tuhan telah tetapkan untuk kehidupannya. Dia hidup dengan usia yang cukup panjang, kalau tidak salah 80-an lebih dan hidup yang sangat produktif sekali, menjadi kekuatan bagi banyak orang. Lagu-lagunya penuh dengan pengucapan syukur dan kalau kita tidak tahu bahwa dia seorang yang buta, kita akan berpikir bahwa dia adalah seorang yang celik mata. Jadi sekali lagi dia menerima pengalaman di tengah-tengah, sehingga hidupnya bisa dibelokkan Tuhan dan menjadi kemuliaan Tuhan. Saya pernah membaca suatu tulisan yang berkata, di dalam kamus Tuhan tidak ada kegagalan, yang ada adalah pertumbuhan yang dipaksakan oleh Tuhan, artinya Tuhan memaksa kita bertumbuh melalui peristiwa yang kita anggap sebagai kegagalan tersebut. Jadi pengalaman di tengah-tengah adalah pengalaman yang memang tidak kita duga, memang tidak kita harapkan, tapi itu adalah suatu belokan, tikungan yang memang Tuhan sengaja berikan kepada kita, agar Dia bisa memakai kita untuk kemuliaanNya. Bahkan di dalam keadaan kita yang seolah-olah tidak ada lagi gunanya, tidak ada lagi fungsinya.
IR : Itu dibutuhkan orang yang harus dekat dengan Tuhan, ya Pak Paul, sehingga kita punya pegangan, apapun yang Tuhan izinkan dalam hidup ini, Tuhan itu mempunyai rencana ya?

PG : Tepat sekali Bu Ida, memang yang lebih mudah adalah mengatakan kalau Tuhan baik dan berencana atas hidupku. Tapi bila kita mengatakan Dia memberikan saya rencana yang begitu buruk, kita suah sekali menerima hal ini dan kita bisa tergoda, terjebak untuk berkata Tuhan ini tidak baik, sebab Tuhan yang baik tidak mungkin memberikan saya peristiwa yang tidak enak.

Atau kebalikannya kita bisa berkata Tuhan baik, karena Tuhan baik itulah saya harus beranggapan bahwa Dia tidak berkuasa menolong saya waktu saya ditimpa oleh masalah itu, dua-duanya salah. Tuhan baik dan Tuhan berkuasa, tapi memberikan kita pukulan atau musibah yang begitu besar, kita harus berkata kita tidak mengerti sepenuhnya, tapi itu tetap dalam rencana Allah dan tetap memuliakan Tuhan. Entah bagaimana yang tidak kita sadari.
GS : Justru biasanya kita terjebak di sana dengan pertanyaan apa sebenarnya rencana Tuhan itu, kenapa Dia membiarkan kita mengalami hal-hal yang tidak enak itu?

PG : Betul, dan jawabannya memang tidak bisa kita ketahui dengan cepat, bahkan sampai mati pun adakalanya tidak kita ketahui. Saya teringat akan seseorang yang ditulis oleh Alkitab yang bernamaAyub.

Kita tahu dia seorang yang kaya raya, kehidupan keluarganya begitu baik dan dia seorang yang sangat takut akan Tuhan, tapi akhirnya Tuhan membiarkan dia mengalami musibah demi musibah yang begitu berat. Kehilangan anaknya, kehilangan hartanya, dan pada akhirnya kehilangan kesehatannya. Di dalam Ayub 14:7-10 dicatat : Karena bagi pohon masih ada harapan : apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Inilah yang dikatakan Ayub dalam penderitaannya, begitu dia terpukul sekali, Tuhan membiarkan dia mengalami musibah yang begitu besar. Dia menyambung di sini, seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut lalu menjadi kering. Demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya. Benar-benar dia sangat menderita, dia akhirnya berkata kiranya Engkau yaitu Tuhan menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati. Jadi memang dalam penderitaannya dia berharap seolah-olah Ayub tidak pernah hidup yaitu seolah-olah dia berharap lebih baik dia mati. Ini cetusan yang juga dikeluarkan oleh Yeremia seorang nabi Tuhan yang lain, jadi kadangkala memang meskipun kita orang yang kenal Tuhan Yesus, kita percaya padaNya sama seperti H. G. Spafford yang tadi saya sebut, tapi adakalanya waktu badai terlalu keras menerpa kita, kita bisa goyang, tapi yang menjadi penghiburan kita adalah dalam keadaan seperti itu pun Tuhan tidak menolak kita, Tuhan menerima, mengerti bahwa kita ini manusia yang rapuh dan bisa goyang. Dan Dia dengan caraNya yang ajaib menyadarkan kita akan makna hidup ini kalau kita terus mencari Dia seperti yang Ibu Ida katakan, terus mencari Tuhan dan dekat kepadaNya. Dia akan membisikkan kepada kita tujuan hidup ini.
IR : Sehingga mengalami kemenangan iman, ya Pak Paul?

PG : Betul, sehingga kata Paulus meskipun tubuhnya makin hari makin habis, tapi manusia rohaniah atau batiniahnya terus diperbaharui oleh Tuhan.

GS : Dengan kata lain, bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, tidak ada istilah hilang harapan sama sekali dalam arti kata yang sebenar-benarnya, ya Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Karena harapan itu tetap ada, sebagaimana Tuhan Yesus itu ada, sehingga harapan kita pada diri Tuhan Yesus itu sendiri ya?

PG : Betul, jadi adakalanya kita tidak melihat dengan jelas harapan itu namun tidak berarti terhilang, sebab harapan kita ada pada Tuhan sendiri dan Tuhan tidak mungkin akan membiarkan kita senirian.

GS : Itu yang patut kita camkan dan patut kita syukuri bersama, selama kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan ke hadapan Anda, sebuah perbincangan tentang harapan yang hilang, tetapi bagi kita yang beriman kepada Tuhan, tidak ada harapan yang betul-betul hilang karena di dalam Tuhanlah kita mendapatkan pengharapan yang sejati itu. Perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Sekali lagi bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda untuk menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan, saran-saran, dan tanggapan. Dan dari studio kami ucapkan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



14. Memahami Perilaku Homoseksual


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T043A (File MP3 T043A)


Abstrak:

Kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam artian mereka tidak mempunyai kelainan jiwa yang tertentu. Mereka adalah orang-orang yang sama dengan kita perbedaannya adalah dalam hal orientasi seksualnya.


Ringkasan:

Kata homoseksual berasal dari 2 kata, yang pertama adalah dari kata 'homo', yang kedua 'seksual' dan seksual berarti mengacu pada hubungan kelamin, hubungan seksual, sedangkan homo mengacu pada kata sama. Hubungan seseorang dengan yang sejenis kelamin dengan kita. Istilah ini adalah istilah yang mengacu pada perilaku dan juga orientasi yang dimiliki oleh seseorang, kalau itu seorang pria biasanya disebut kaum gay dari bahasa Inggris sedangkan kalau pada wanita disebut lesbion atau lesbian, dua-duanya itu masuk dalam kelompok homoseksual.

Kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam pengertian mereka tidak mempunyai disfungsi tertentu atau kelainan jiwa yang tertentu. Mereka adalah orang-orang yang sama seperti kita namun perbedaannya adalah dalam hal orientasi seksualnya. Mereka tidak tertarik kepada lawan jenis, tetapi mereka tertarik kepada sesama jenis.

Penyebab atau asal mula orang bisa berperilaku homoseksual:

  1. Adalah dari segi keluarga atau bentukan keluarga.
    Pria dan wanita yang homoseksual mempunyai latar belakang atau penyebab yang sering kali berbeda. Untuk pria ada beberapa kemungkinan:

    1. Karena ayahnya absen sedangkan ibunya dominan. Ini adalah kasus di mana ayahnya itu misalkan sudah meninggal dunia atau meninggalkan keluarga, sehingga yang tertinggal di rumah adalah seorang ibu. Menurut teori Sigmund Freud: seorang anak (khususnya anak laki-laki) itu pada usia sekitar 3, 4 tahun akan mulai mengalihkan atau memerlukan seseorang yang adalah pria juga, untuk menjadi modelnya atau contoh perilakunya dalam hal ini adalah identitas seksualnya.

    2. Karena suatu situasi keluarga di mana ayah menjadi tokoh yang negatif atau tokoh yang menyakitkan dalam kehidupan si anak pria. Misalnya dia adalah seorang ayah yang bengis memukuli mamanya, memukuli anak-anak yang lainnya. Si anak pria ini akhirnya bertumbuh besar dengan suatu konsep bahwa pria itu jahat, apalagi ditambah dengan misalnya kakak-kakak prianya juga sama jahatnya, nakal, berontak, menyakiti hati mamanya, dan kebetulan dia juga sangat dekat dengan mamanya. Jika ayah itu absen tidak ada di rumah atau si ayah menjadi figur yang menyakitkan si anak, akibatnya akan ada kehilangan interaksi antara si anak dengan orang tua prianya. Si anak pria ini akhirnya hanya berinteraksi dengan mamanya, dengan figur wanita ini, inilah yang akan diserap oleh anak itu. Ia bisa menyerap tingkah laku kewanitaan tapi tidak harus langsung menyerap luarnya atau gaya-gaya kewanitaan. Namun yang sering kali akan diserap adalah dalamnya si ibu itu, misalnya cara si ibu mengekspresikan perasaannya, cara si ibu sedih waktu dimarahi oleh ayahnya, cara si ibu itu menanyakan sesuatu kepada ayahnya kenapa begini, kenapa begitu dan sebagainya. Cara-cara inilah yang akhirnya diserap oleh si anak menjadi bagian dalam kehidupannya, maka itulah dia akhirnya mengidentifikasi diri dengan si mama. Dan sewaktu dia bertumbuh besar dia menempatkan dirinya tanpa dia sadari di pihak atau di diri seorang wanita.

  2. Adalah adanya kemungkinan kelainan genetik.
    Hasil-hasil riset yang bersifat genetik memang memperlihatkan adanya dukungan terhadap argumen ini. Bahwa memang ada kemungkinan yang sangat besar mereka yang homoseksual itu dilahirkan dengan memiliki kecenderungan itu. Biar dibesarkan oleh rumah tangga seperti apapun tetap dia akan mengarah ke situ, sebab dari kecil atau dari lahir memang sudah diberikan kecenderungan tersebut secara genetik.

Roma 1:26, berkata: "Karena itu Allah menyerahkan mereka (orang-orang Roma ini) kepada hawa nafsu yang memalukan sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar jadi akhirnya ditulis di sini, sehingga mereka melakukan kemesuman laki-laki dengan laki-laki dan sebagainya." Jadi memang Tuhan melarang hubungan itu sendiri.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Memahami Perilaku Homoseksual". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita sering kali mendengar istilah homoseksual, sebenarnya apa itu Pak Paul?

PG : Kata homoseksual berasal dari 2 kata, yang pertama adalah dari kata 'homo', yang kedua 'seksual' dan seksual berarti mengacu pada hubungan kelamin, hubungan seksual, sedangkan homo mengacupada kata sama.

Jadi hubungan seseorang dengan yang sejenis dengan kita, sejenis kelamin dengan kita. Istilah ini adalah istilah yang mengacu pada perilaku dan juga orientasi yang dimiliki oleh seseorang, kalau itu seorang pria biasanya disebut kaum gay dari Bahasa Inggris sedangkan kalau pada wanita disebut lesbion atau lesbian. Nah, dua-duanya itu masuk dalam kelompok yang tadi kita telah bahas yaitu homoseksual.
(2) GS : Sebagian masyarakat menganggap mereka itu sebagai orang yang punya kelainan atau cacat mental, apa itu benar Pak?

PG : Sebetulnya tidak, jadi kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam pengertian mereka tidak mempunyai disfungsi tertentu atau kelainan jiwa yang tertentu. Jdi mereka adalah orang-orang yang sama seperti kita namun perbedaannya adalah dalam hal orientasi seksualnya, mereka tidak tertarik kepada lawan jenis, tetapi mereka tertarik kepada sesama jenis.

Mereka atau kita ini yang tertarik kepada lawan jenis, orientasi seksual kita di sebut heteroseksual sedangkan mereka karena sama disebut homoseksual.
(3) IR : Itu asal mulanya bagaimana Pak Paul kok bisa orang itu berperilaku seperti itu?

PG : Yang pertama yang akan saya bahas adalah dari segi keluarga atau bentukan keluarga, kemudian saya juga akan membahas sedikit tentang temuan-temuan akhir-akhir ini yang juga menunjuk kepadakemungkinan adanya kelainan genetik.

Yang pertama adalah bentukan-bentukan dari keluarga ternyata pria dan wanita yang homoseksual mempunyai latar belakang atau penyebab yang sering kali berbeda. Untuk pria ada beberapa kemungkinan; yang pertama adalah kasus di mana ayahnya absen sedangkan ibunya dominan, nah ini adalah kasus di mana ayahnya itu misalkan sudah meninggal dunia atau meninggalkan keluarga sehingga yang tertinggal di rumah adalah seorang ibu. Nah, kalau ibu ini yang terpaksa harus merawat anak-anak dan ibu ini lumayan dominan dalam pengaruhnya kepada anak-anak dan misalkan juga anak-anak tidak terlalu banyak kesempatan untuk bergaul dengan kaum pria yang dewasa atau yang lebih tua darinya tatkala masih kecil. Ada kemungkinan bahwa anak ini akhirnya akan kehilangan kesempatan mencontoh perilaku pria dalam kehidupannya. Saya akan memaparkan teori yang memang berasal dari Sigmund Freud yang saya juga percaya ini adalah salah satu hal yang betul yang benar. Menurut Freud seorang anak itu pada usia sekitar 3, 4 tahun, anak laki akan mulai mengalihkan atau memerlukan seseorang yang adalah pria juga untuk menjadi modelnya atau contoh perilakunya dalam hal ini adalah identitas seksualnya. Anak dilahirkan oleh wanita dan biasanya juga dirawat oleh wanita, anak laki-laki harus mengalami peralihan, anak wanita tidak perlu karena anak wanita dirawat oleh wanita dan dia perlu mengidentifikasi dirinya dengan wanita itu. Anak pria perlu untuk memiliki figur yang lain, sekitar usia 3, 4 tahun dia menyadari bahwa dia itu berjenis kelamin berbeda dengan ibunya, ini pria oleh karena itu dia harus memiliki figur pria itu agar bisa menempelkan dirinya. Kalau istilah yang lebih formal menempelkan dirinya dengan figur pria tersebut. Kalau figur pria itu absen berarti tidak ada model yang dapat dia tempelkan atau dia lekatkan sehingga akibatnya identitas prianya agak sukar terbentuk. Nah apalagi kalau misalnya faktor-faktor yang tadi saya sebut juga tidak ada, misalnya saudara laki-laki kurang, terus kurang adanya interaksi dengan figur-figur pria yang lebih dewasa. Nah, itu kira-kira salah satu latar belakang yang pertama, yang mencenderungkan seorang pria yang akhirnya berkembang menjadi seorang homoseksual.
GS : Nah, dalam hal ini yang Pak Paul berikan contohnya tadi, dia akan berkembang sebagai pria tetapi akan bersifat kewanita-wanitaan atau pria yang menyenangi pria?

PG : Ada suatu konsep yang keliru yang biasa dimiliki oleh kita semua, kita beranggapan bahwa seorang homoseksual misalnya seorang pria, sudah pasti akan berperilaku seperti wanita sebetulnya tdak harus.

Jadi ada kasus-kasus yang memang mereka berlaku feminim seperti wanita tapi ada juga kasus-kasus di mana mereka berlaku seperti pria yang lainnya. Jadi kalau kita melihat dari luar tidak akan terlihat jelas perbedaannya kita melihat figur pria yang sama seperti kita, tidak ada bedanya, cuma memang ada kecenderungan mereka lebih halus dibandingkan pria-pria lain yang mungkin lebih kasar darinya.
GS : Lalu faktor penyebab yang lain apa?

PG : Yang lain adalah suatu situasi keluarga di mana ayah menjadi tokoh yang negatif dalam kehidupan si anak pria ini, tokoh yang menyakitkan. Misalnya dia adalah seorang ayah yang bengis memukli mamanya, memukuli anak-anak yang lainnya.

Nah si anak pria ini akhirnya bertumbuh besar dengan suatu konsep bahwa pria itu jahat, apalagi ditambah dengan kakak-kakak prianya juga sama jahatnya, nakal, berontak, menyakiti hati mamanya. Nah kebetulan dia juga sangat dekat dengan mamanya. Dia melihat mama sebagai pihak yang dirugikan dan menjadi korban, mama sangat memperhatikan dia, menyayangi dia. Papa tokoh yang jahat, kakak-kakak pria adalah figur yang jahat pula, mama seorang figur wanita yang sangat baik. Nah dalam kasus seperti ini si anak juga memperoleh kemungkinan yang lebih besar untuk akhirnya bertumbuh menjadi seorang homoseksual karena dia akan menolak peran kepriaan, identitas diri yang pria karena pria itu diidentikkan dengan sesuatu yang menyakitkan yang jahat akhirnya dia akan lebih mau dekat dengan wanita. Nah, apa yang terjadi sehingga akhirnya kok bisa berkembang menjadi seorang homoseksual. Pada kasus yang pertama dan yang kedua yang terjadi adalah sebetulnya si anak pria ini menyerap sifat-sifat keibuan itu atau menyerap segalanya yang berkaitan dengan ibunya dengan figur wanita tersebut. Kita ini sebetulnya adalah orang yang belajar banyak sekali dari apa yang kita lihat, apa yang kita amati, atau dari interaksi kita dengan seseorang. Misalkan tidak heran ada anak-anak yang misalkan kita katakan jalannya persis seperti papanya misalnya seperti itu, atau cara ngomongnya persis seperti mamanya. Nah, dari manakah anak-anak ini mempelajari cara bicara seperti mama atau mempelajari bicara atau jalan seperti papa; tidak ada yang mengajarkan secara formal tapi hal ini diserap melalui ribuan interaksi antara si anak dengan orang tersebut, sehingga akhirnya cara bicara, cara jalan diadopsi menjadi cara bicara dan cara jalannya. Namun sebetulnya anak-anak bukan hanya menyerap hal-hal fisik seperti itu yang nampak, anakpun menyerap yang kita sebut hal-hal yang internal, hal-hal yang lebih bersifat karakteristik dari seseorang atau dalam hal ini dari ayah atau dari ibunya sendiri. Yaitu apa misalnya cara berpikir, sering kali kita ini tanpa disadari mengadopsi cara berpikir orang tua kita ayah kita seseorang yang sangat praktis memutuskan sesuatu dari segi praktisnya dan tidak mau bertele-tele dengan nilai-nilai atau filosofisnya. Tanpa kita sadari waktu kita sudah besar kita menjadi seperti ayah kita, kita cenderung berpikir dengan praktis. Kapan itu dipelajari, nah itu dipelajari melalui interaksi antara si anak dengan si ayah. Nah dalam kasus-kasus yang tadi, yang sudah saya sebut di mana ayah itu absen tidak ada di rumah atau si ayah menjadi figur yang menyakitkan si anak akan adanya kehilangan interaksi antara si anak dengan orang tua prianya. Si anak pria ini akhirnya hanya berinteraksi dengan mamanya, dengan figur wanita ini, nah inilah yang akan diserap bukan saja anak itu bisa menyerap tingkah laku kewanitaan tapi tidak harus dia langsung menyerap itu namun yang sering kali akan diserap adalah dalamnya si ibu itu jadi luarnya tidak harus langsung diserap, gaya-gaya kewanitaan tidak harus diserap. Tapi yang biasanya diserap adalah dalamnya yaitu misalnya cara si ibu mengekspresikan perasaannya, cara si ibu sedih waktu dimarahi oleh ayahnya, cara si ibu itu menanyakan sesuatu kepada ayahnya kenapa begini, kenapa begitu dan sebagainya. Nah cara-cara inilah yang akhirnya diserap oleh si anak menjadi bagian dalam kehidupannya, maka itulah dia akhirnya mengidentifikasi diri dengan si mama. Dan sewaktu dia bertumbuh besar tanpa dia sadari dia menempatkan dirinya di pihak atau di diri seorang wanita.
GS : Dalam hal itu Pak Paul sebenarnya yang dilakukan adalah untuk mempertahankan dirinya supaya dia bisa diterima oleh lingkungannya Pak Paul?

PG : Dia mempertahankan diri untuk diterima atau boleh tidak saya katakan pada masa-masa pertumbuhannya, pada masa-masa kecilnya memang dia harus mendapatkan perlindungan dari figur si mama sebb mamalah yang melindungi dia, mamalah yang merawat dia.

GS : Karena ayahnya terlalu keras?

PG : Betul.

GS : Dia harus melindungi dirinya dengan sikap-sikap seperti itu.

PG : Betul, nah mungkin timbul pertanyaan di sini, kalau begitu kenapa ada kaum homoseksual, pria yang dari luarnya penampilannya tampak jantan kok katanya tadi menyerap kewanitaan, kok sekaran bersifat atau berpenampilan jantan seperti laki-laki lainnya.

Karena manusia itu lentur, jadi manusia itu fleksibel bisa beradaptasi, waktu dia mulai besar dia mulai sekolah SMP/SMA dia akhirnya mulai mencontoh perilaku teman-teman prianya dan tanpa disadari itupun mempengaruhi dia. Namun ini yang penting, interaksi mendasar yakni interaksi di usia dini dari umur 0 tahun sampai 6, 7 tahun sampai dia benar-benar terjun ke masyarakat yakni sekolah, yang hanya dia terima dari mama; nah itu adalah pembentukan internalnya. Pembentukan internalnya memang biasa sekali tidak berbeda dengan anak lelaki lainnya karena dia bisa mencontoh teman-teman lakinya namun dalamnya dia sudah terlanjur menyerap nilai-nilai ibunya.
GS : Kalau ayah itu tetap hadir, tadi yang Pak Paul katakan kalau ayah itu tidak hadir atau hadir tapi keras sekali. Tapi bagaimana ayah yang hadir di tengah-tengah keluarga itu, namun dia selalu tunduk kepada istrinya dan sebagainya apakah itu akan berpengaruh?

PG : Tidak langsung berpengaruh, nah saya akan menjabarkan semua ini, memang ada kesan menggampangkan karena interaksi manusia itu kompleks sekali. Tapi kira-kira garis besarnya begini, kalau aahnya ada namun pasif atau kurang berperan, sedangkan mama yang terpaksa harus lebih aktif tidak otomatis si anak dicenderungkan menjadi seorang homoseksual.

Tapi kecenderungan itu akan membesar jika misalnya kebetulan di rumah itu mayoritas anak-anak perempuan misalnya si anak pria ini benar-benar lebih dikelilingi oleh kaum wanita, mamanya, kakak-kakak atau adik-adiknya yang wanita. Dan misalkan dia itu mempunyai kakek-nenek, kebetulan kakeknya jarang ketemu atau apa sehingga neneknya yang sering ketemu, nah faktor-faktor itu akhirnya akan lebih mencenderungkan.
GS : Ada kasus yang pernah saya jumpai dengan teman saya di sekolah dulu, karena orang tuanya kepingin punya anak perempuan padahal yang lahir laki-laki maka anak laki-laki ini dibuat seperti anak perempuan.

PG : Itu kadang kala terjadi, jadi yang Pak Gunawan katakan itu saya harap tidak umum tapi memang juga terjadi. Nah, harapan ini pada akhirnya sangat mencelakakan si anak karena orang tua saya ahu ada yang mendandani anak lakinya seperti anak perempuan.

GS : Dipupuri segala Pak Paul.

PG : Dipakaikan baju wanita.

GS : Warnanya itu warna baju-baju yang biasanya dipakai oleh wanita.

PG : Betul, ini bisa berdampak buruk sekali atau ada juga kasus di mana ibu mendandani anak laki sebagai anak perempuan karena anak-anaknya semua laki dan anak-anak laki itu semua jahat-jahat, emuanya berontak jadi si ibu ini merindukan anak perempuan supaya menjadi teman dia, waktu dapat lagi anak laki yang kecil ini dia tidak bisa terima, dia kemudian mendandaninya seperti anak perempuan dan akhirnya dia diperlakukan sebagai anak perempuan pula.

Nah, bahaya sekali sebab memang sudah pasti waktu anak itu sekolah umur 6, 7 tahunan dia harus berpakaian pria lagi.
GS : Tapi dari awalnya itu sudah diperlakukan seperti perempuan.

PG : Betul, jadi proses transfer, proses pemindahan karakteristik sudah terjadi pada usia-usia 0-6 tahun itu. Nah, apa yang terjadi pada saat itu, yang terjadi adalah yang kita sebut pengkondisan, semua manusia waktu masih kecil sebetulnya belajar dan dibentuk melalui pengkondisian.

Misalnya kita tahu orang-orang sering berkata pada anak lakinya jangan nangis, anak laki jangan cengeng terus kuat sedangkan kalau anak perempuan duduk kakinya diangkat jangan tidak sopan kamu anak perempuan, atau anak perempuan tertawa terbahak-bahak kamu anak perempuan kalau tertawa mulutnya harus ditutup. Jadi banyak sekali tanggapan-tanggapan yang kita berikan kepada anak-anak berdasarkan jenis kelaminnya. Nah, inilah yang akan memberikan dia gambaran tentang siapa dia, jadi sebetulnya anak itu mengenal diri dan membentuk jati dirinya atau identitas dirinya itu dari tanggapan-tanggapan yang ia terima, terutama yang ia terima dari orang tuanya sendiri. Nah, kalau pada masa awal yang sangat kritis itu, 0-5 tahun si anak justru mendapatkan tanggapan bahwa dia itu wanita, dia tidak bisa mengenal yang lain, dia akan mempercayai dirinya sebagai wanita dan pada waktu dia mulai besar dia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang seperti ibunya itu.
IR : Tapi sebaliknya Pak Paul, ada anak yang memang harus laki-laki tapi dia bertumbuh seperti wanita, padahal mamanya, orang tuanya juga selalu mendandani dia seperti pria cuma kelakuannya itu seperti wanita.

PG : Nah, dalam kasus di mana tadi kasus-kasus yang saya sebut itu tidak ada. Mungkin ibu Ida berkata ini ada kasus di mana penjelasan-penjelasan yang tadi saya berikan sebagai kemungkinan-kemugkinan tidak termasuk dalam kasus ini, orang tuanya normal-normal saja, papanya lumayan dominan, tidak ada yang keliru, anaknya yang lain juga biasa saja kok ada satu seperti wanita.

Begini, memang riset yang akhir-akhir ini menunjukkan adanya perbedaan atau kelainan genetik jadi ini adalah hal yang sering diargumentasikan juga oleh kaum homoseksual. Bahwa mereka menjadi homoseksual bukan akibat bentukan-bentukan, bukan akibat pengkondisian dari keluarganya atau lingkungannya atau karena kekurangan ayah, ibunya dominan dan sebagainya. Tapi mereka sudah dilahirkan sebagai homoseksual, nah kemungkinan ini memang makin hari menjadi lebih benar sebab hasil-hasil riset yang bersifat genetik memperlihatkan adanya dukungan terhadap argumen ini, bahwa memang ada kemungkinan yang sangat besar mereka yang homoseksual itu dilahirkan sudah memiliki kecenderungan itu. Jadi dibesarkan oleh rumah tangga seperti apapun tetap dia akan mengarah ke situ, sebab dari kecil atau dari lahir memang sudah diberikan kecenderungan tersebut secara genetik. Jadi memang hasil riset yang akhir-akhir ini mendukung argumen itu.
GS : Tapi secara prosentase rupanya yang pertama tadi yang kita bicarakan karena faktor orang tua itu prosentasenya rasanya lebih besar Pak Paul.

PG : Saya kira demikian, saya kira faktor bentukan atau pengaruh lingkungan, pengaruh keluarga sangat besar. Dalam beberapa kasus saya tidak terlalu banyak menangani kasus-kasus homoseksual, tai dalam beberapa yang pernah saya tangani memang ada persamaan dari beberapa yang saya sebut yaitu memang kebanyakan adanya kasus di mana peran ayah lemah atau tidak ada, sedangkan peran ibu terpaksa dominan.

GS : Ada yang berpendapat juga bahwa di dalam diri tiap-tiap orang itu sebenarnya ada faktor kecenderungan untuk homoseksual; apa betul seperti itu?

PG : Kalau orang berkata bukankah kita semua memiliki potensi untuk menjadi seorang homoseksual, nah saya akan berargumen begini bukannya setiap orang mempunyai potensi menjadi seorang homoseksal atau bisa berorientasi homoseksual tapi saya percaya memang melalui pengkondisian seseorang itu bisa berperilaku atau melakukan tindakan homoseksual.

Misalnya mungkin pernah mendengar kasus di mana orang-orang ditangkap atau ditahan di dalam satu situasi penjara atau apa di mana tidak ada kontak dengan lawan jenis. Nah, dalam kasus seperti itu perilaku homoseksual itu muncul, kita dapat mengatakan dia adalah seorang homoseksual, sama sekali saya kira itu 2 hal yang berbeda, sebab orang yang sama misalkan, yang melakukan homoseksual tatkala dalam situasi seperti itu tidak ada kawan lawan jenisnya, saya percaya waktu dia keluar dari lingkungan tersebut dan bertemu dengan lawan jenisnya dia akan kembali menjadi seorang yang heteroseksual, dan dia hanya akan tertarik pada lawan jenisnya. Tapi seseorang yang memang orientasinya homoseksual, tidak akan tertarik kepada lawan jenisnya jadi setelah dibentuk diapakan pun kecenderungannya akan tetap ke arah itu.
GS : Ada juga yang berperilaku ganda Pak Paul, jadi punya istri atau suami seperti orang normal tapi dia juga seorang homoseksual.

PG : Betul, jadi batas antara biseksual tadi Pak Gunawan, berperilaku seksual ganda dan homoseksual sebenarnya batasnya itu tipis dan tidak bisa dikatakan langsung yang mana biseksual, yang man homoseksual.

Sebab yang juga cukup sering terjadi adalah sebetulnya orientasinya dia homoseksual, namun karena dia tahu bahwa masyarakat tidak menerimanya dia akhirnya menikah dan dia akhirnya melakukan kewajibannya sebagai seorang suami berhubungan dengan istrinya. Namun dalam dirinya tetap ada dorongan untuk berhubungan dengan yang sesama jenis, jadi dalam kasus seperti yang kita katakan atau biseksual atau homoseksual, saya kira jarang kalaupun ada ya seorang yang mempunyai ketertarikan yang persis sama dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Saya kira seseorang itu pasti mempunyai suatu preferensi yang sebetulnya dia itu sukai, saya kira pasti ada orientasi yang utamanya.
IR : Nah apakah itu sudah digolongkan sebagai orang yang sakit Pak Paul, untuk penyembuhannya bagaimana?

PG : OK! saya akan berhati-hati dengan istilah sakit di sini karena memang istilah sakit itu mengacu kepada disfungsi, kepada ketidakmampuan untuk berfungsi dalam hidup. Nah, kalau kita mengguakan dalam definisi ini saya kira homoseksual tidak dapat dikategorikan sakit.

Memang beberapa puluh tahun yang lalu di dalam penggolongan penyakit jiwa homoseksualitas dimasukkan ke dalam salah satu gangguan disorder. Tapi sebetulnya sejak beberapa mungkin belasan tahun yang lalu atau mungkin 20 tahun yang lalu istilah tersebut sudah ditiadakan dari penggolongan jenis penyakit jiwa. Jadi kalau saya pribadi lepas dari itu juga tidak melihat homoseksual sebagai orang yang sakit jiwa, sama sekali tidak. Saya melihat mereka sama seperti manusia lainnya jadi mereka bisa berfungsi, bisa berkontribusi dalam hidup ini, dalam masyarakat mempunyai kemampuan yang sama dalam menghadapi stres dan sebagainya. Namun perbedaannya hanya orientasi seksualnya ini. Tapi tadi yang bu Ida ingin tekankan adalah penyembuhan, nah waktu kita berkata penyembuhan kita ini berangkat dari sudut pandang kristiani bahwa ini adalah sesuatu yang Tuhan kehendaki nah justru inilah yang harus menjadi titik berangkat kita, kita mau menolak mereka untuk kembali berorientasi seperti kita heteroseksual, bukan supaya kita senang, bukan supaya dia sama seperti kita, tapi supaya dia kembali kepada natur yang memang Tuhan sudah gariskan.
GS : Tentu itu sesuatu yang penting dan harus kita bahas pada kesempatan yang akan datang Pak Paul. Tetapi di dalam Alkitab itu ada satu bagian yang mengatakan bahwa homoseksual sebagai suatu dosa Pak Paul?

PG : Jadi yang nanti akan kita bahas pada pertemuan berikutnya Pak Gunawan adalah saya mau membedakan antara suatu orientasi dan akhirnya suatu perilaku seksual. Nah, saya kira orientasinya bis disembuhkan namun memang sulit sekali untuk bisa berubah tapi bisa karena ada yang akhirnya berubah.

Tapi yang Tuhan pasti larang adalah perilakunya yaitu melakukan hubungan homoseksual, melakukan hubungan seks dengan yang sesama jenis, itu yang Tuhan larang.
GS : Nah, sebelum kita mengakhiri bagian ini mungkin ada firman Tuhan yang sesuai dengan topik pembicaraan kita pada saat ini....

PG : Di dalam surat Roma 1:26 firman Tuhan berkata : "Karena itu Allah menyerahkan mereka (orang-orang Roma ini) kepada hawa nafsu yang memalukan sebab istri-istri mereka menggntikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar jadi akhirnya ditulis di sini, sehingga mereka melakukan kemesuman laki-laki dengan laki-laki dan sebagainya."

Jadi memang Tuhan melarang hubungan itu sendiri. Jadi ini bukannya pendapat saya pribadi atau pendapat hamba Tuhan yang lain secara pribadi tapi memang firman Tuhan mengatakan hal itu.
GS : Tetapi itu suatu kenyataan yang ada di tengah-tengah kita dan ini suatu topik bahasan yang saya rasa sangat menarik untuk kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Bagaimana kita sebagai orang-orang Kristen ini bersikap terhadap hal ini. Namun kita harus menyudahi pembicaraan kita ini dan kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan mengenai mengenal tingkah laku atau perilaku homoseksual, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 43 A

  1. Apakah sebenarnya istilah homoseksual....?
  2. Sebagian masyarakat menganggap itu adalah seorang yang punya kelainan atau cacat mental, apakah itu benar....?
  3. Apa yang melatarbelakangi orang berperilaku seperti itu....?


15. Bagaimana Memahami dan Menolong Kaum Homoseksual


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T043B (File MP3 T043B)


Abstrak:

Sikap simpatik kita sangatlah diperlukan bagi seorang homoseksual dan kesadaran kita bahwa seseorang yang akhirnya menjadi homoseksual biasanya setelah melalui pergumulan yang luar biasa beratnya. Jadi kita mesti memahami sisi penderitaan ini.


Ringkasan:

Feminitas adalah segala sesuatu yang membentuk dia menjadi seorang yang feminin atau wanita. Penyebab seorang wanita menjadi homoseksual adalah:

  1. Lingkungan yang menolak nilai-nilai atau hal-hal yang bersifat feminin itu, misalkan ia dibesarkan di rumah atau di keluarga dan di lingkungan di mana harus bersikap seperti laki-laki karena mungkin tuntutan hidup yang sangat keras sejak kecilnya sehingga dia harus benar-benar bertingkah laku seperti pria.

  2. Mengalami kepahitan atau trauma dalam kehidupan

Seseorang tidak secara tiba-tiba menjadi homoseks, ada fase atau tahapannya.

  1. Waktu dia menyadari itu, mulailah dia masuk pada fase kebingungan. Kebingungan dalam pengertian, mereka bertanya-tanya kenapa saya begini, kenapa saya berbeda dan dia tidak merasakan bisa pas masuk ke dalam kelompok yang sejenis. Jadi dia mulai merasa bahwa dia berbeda dengan teman-temannya, ini suatu fase yang sangat membingungkan.

  2. Fase penyangkalan, saya tidak mau seperti ini, saya normal, saya sama seperti orang lain, saya heteroseksual, saya tidak ada bedanya dengan teman-teman saya.

  3. Fase mencari, karena ada suatu kerinduan mereka bertemu dengan orang yang sama seperti dirinya, senasib.

  4. Fase penerimaan.

  5. Fase pergumulan. Kalau yang pertama tadi fase pergumulan tidak bisa menerima bahwa dia beda dengan orang lain. Sekarang pergumulannya lebih dalam lagi yaitu mereka menyadari, ini bukan saja punya keinginan tapi malahan sudah melakukan. Jadi ada keinginan untuk tidak seperti itu, saya ingin kembali lagi sama, saya ingin coba lagi jadi orang yang sama.

Tetapi jelas Tuhan tidak menghendaki kita melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, jadi seyogyanyalah kita tidak memasuki fase penerimaan itu, seyogyanyalah kita terus berjalan di dalam fase pergumulan. Sebagai teman sepersekutuan atau teman segereja yang menghadapi kenyataan seperti itu sebaiknya bersikap dengan baik. Kita harus menekankan dan mengadopsi cara Tuhan menghadapi manusia, sebagaimana Tuhan Yesus pernah berkata : "Aku datang bukan untuk menghakimi tapi menyelamatkan manusia dari dosa." Jadi Tuhan selalu menggunakan cara, pendekatan cinta kasih, Tuhan melihat kita berdosa dan memanggil kita, Tuhan terus menantikan kita. Maka yang paling praktis yang bisa kita lakukan adalah membentuk suatu kelompok, di mana kalau memang memungkinkan mengumpulkan orang-orang yang mempunyai pergumulan yang sama dengan homoseksualitas. Dan di sana kita adakan kelompok tumbuh bersama, berdoa bersama, menguatkan satu sama lain.

Tujuannya ada 2 alternatif:

  1. Bertujuan untuk mengubah orientasi sehingga mereka menjadi heteroseksual.

  2. Selama belum menjadi heteroseksual, hiduplah kudus dihadapan Tuhan sebagai seorang yang single yang tidak menikah. Sebab Tuhan juga melarang kita yang heteroseksual berhubungan seksual dengan orang lain yang bukanlah istri atau suami kita.

Roma 1:18, "Sebab murka Allah nyata atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman."

Kata menindas kebenaran akhirnya berarti mensukresi kebenaran, memendam kebenaran. Lebih baik sebagai seorang homoseksual kita terus bergumul daripada kita mendistorsi kebenaran, memendam kebenaran itu, sebab kebenaran tetaplah kebenaran.

Sebagai orang tua Kristen, kita perlu terus menerus membina hubungan yang baik sebagai suami istri agar anak-anak tidak menjadi korban. Dan sedini mungkin memberi pengarahan kepada anak-anak. Itulah yang menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tapi kalau itu menimpa beberapa orang di antara kita, ketahuilah bahwa Tuhan tetap mengasihi saudara dan selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu. Pilihlah jalan yang lebih susah, pergumulan memang jalan yang lebih susah tapi lebih diperkenankan Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Pada kesempatan ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana memahami dan menolong orang dalam perilaku homoseksual, topik ini merupakan lanjutan dari pembicaraan kami beberapa waktu yang lalu. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita bicara untuk mencoba memahami orang yang berperilaku homoseksual, memang waktu itu kita banyak bicara tentang pria yang berperilaku seperti itu. Tapi kita juga mengenal istilah lesbi, apakah itu prosesnya sama Pak Paul?

PG : Tidak sama Pak Gunawan, jadi kalau kita membicarakan dari sudut bentukan keluarga ternyata memang ada perbedaan. Dalam kasus wanita yang akhirnya menjadi homoseksual, yang umumnya terjai adalah penolakan terhadap kefemininannya atau feminitasnya.

Feminitas adalah segala sesuatu yang membentuk dia menjadi seorang yang feminin atau wanita, nah apa yang terjadi, misalkan lingkunganlah yang menolak nilai-nilai feminin itu atau hal-hal yang bersifat feminin itu, ia dibesarkan di rumah atau di keluarga dan di lingkungan di mana harus bersikap seperti laki-laki karena mungkin tuntutan hidup yang sangat keras sejak kecilnya sehingga dia harus benar-benar bertingkah laku seperti pria. Nah pada saat-saat seperti itu yang terjadi adalah hilangnya atau kurangnya hal-hal yang feminin ke dalam dirinya itu, hal ini tidak terlalu dipengaruhi oleh faktor yang tadi kita bahas tentang hubungan antara anak laki dan ibu. Waktu kita membahas masalah itu kita mempelajari bahwa anak laki itu harus mengalihkan identifikasi dirinya yang sebelumnya kepada mama sebagai perawatnya sekarang pada usia 4, 5 tahun kepada ayahnya, nah wanita tak perlu melakukan hal itu, sebab dia telah mengidentifikasi diri dengan mamanya, ia dirawat oleh mama. Namun tatkala dia mulai besar di mana lingkungan menolak sifat-sifat feminin dia terpaksa akhirnya mengembangkan perilaku-perilaku maskulin dalam dirinya. Sehingga yang terjadi adalah akhirnya dia melepaskan diri dari feminitasnya itu dan mengadopsi sifat-sifat yang maskulin, itu kemungkinan yang pertama.
GS : Kalau kita melihat anak yang tomboi, rambutnya pendek, lalu lebih sering memakai celana panjang daripada rok dan sebagainya apakah kecenderungan seperti itu bisa disebut sebagai tanda-tandanya?

PG : Kalau perilaku tersebut bertahan sampai usia dewasa kemungkinan sekali ya, dia akhirnya akan bertumbuh menjadi seorang homoseksual. Saya mempunyai pengamatan bahwa kalau wanita menjadi omoseksual pada umumnya tidaklah separah pria, jadi lebih mudah untuk membawa wanita kembali ke perilaku atau orientasi heteroseksual dibandingkan membawa pria kembali ke orientasi heteroseksual.

Sebabnya adalah karena penolakan atau pengidentifikasian proses tadi yang akhirnya mencenderungkan pria menjadi homoseksual. Sedangkan wanita kalaupun dia mulai mengembangkan perilaku homoseksualnya, biasanya itu terjadi pada usia yang lebih lanjut. Misalkan yang lain juga tentang lingkungan di mana tadi saya katakan lingkungan seolah-olah menolak feminitasnya. Misalkan dia adalah seorang wanita yang normal seperti biasanya heteroseksual dia berkeluarga mempunyai anak, kemudian pada usia dewasanya dia mengalami kepahitan akibat suaminya yang jahat akhirnya dia hidup sendirian. Nah, mungkin sekali pada masa dia sedang sengsara, dibuat susah oleh suaminya ini dia berkenalan dengan sesama wanita yang memang sudah punya kecenderungan homoseksual, karena mendapatkan kasih sayang yang begitu berbeda dari seorang wanita, dia akhirnya masuk ke dalam perilaku homoseksual dan menjadi seorang homoseksual itu yang juga bisa terjadi pada kaum wanita.
GS : Berarti itu tahapan-tahapan atau suatu perkembangan yang terjadi baik pada pria maupun pada wanita Pak Paul?

PG : Ya jadi kalau pria biasanya berawal lebih dini, wanita pada umumnya berawal lebih besar dan kalau boleh saya gunakan istilah internal/eksternal, yang pria lebih internal, lebih ke dalam yang wanita itu pengaruhnya lebih eksternal.

Meskipun bisa juga akibat hubungan antara dia dan ibunya, nah ini juga lebih mengarah ke internal tapi meskipun demikian menurut saya tidaklah seinternal hubungan yang tadi yang dalam kasus anak pria. Maksud saya dengan ibu adalah begini, dia itu juga mengalami penolakan feminitas dari pihak ibu, misalkan ibunya tidak dekat dengan dia, ibunya agak jauh dari dia dan di rumah itu misalkan banyak anak-anak lakinya, dan yang dihargai di rumah itu adalah sifat laki-laki itu. Nah, si ibu memang tidak menghargai sifat-sifat kewanitaan sebab ada ibu-ibu yang memang tidak suka menjadi wanita, melihat dirinya menjadi korban pria dan dirugikan oleh pria sehingga dia lebih menghargai yang namanya laki-laki dibandingkan dengan wanita. Nah, penolakan yang memang tidak langsung ini bisa dialami dan dirasakan oleh si anak sejak kecil, karena dia tidak mendapatkan yang feminin itu dari mamanya akhirnya dia lebih mendapatkan atau lebih menyerap yang maskulin atau sifat-sifat yang pria dari orang-orang lain di rumahnya. Itu bisa juga menjadi faktor pencenderung.
IR : Nah, kalau mereka itu dikatakan lesbian Pak Paul, mereka itu bisa juga punya anak, punya keluarga, itu bagaimana hubungan dengan partnernya sendiri. Apakah mereka itu bisa harmonis menikmati hubungan sebagaimana adanya?

PG : Pada umumnya tidak, pada umumnya kaum homoseksual yang terpaksa harus menikah tidak menikmati hubungan dengan suami atau istrinya. Namun ada kemungkinan mereka masih bisa menunaikan kewjiban seksual mereka dengan melakukan hubungan itu.

Tapi saya kira dalam pengertian menikmati sekali saya rasa ya tidak itu yang saya dengar dari pengakuan orang yang akhirnya melakukan hubungan dengan lawan jenis dalam pernikahan.
IR : Juga perhatiannya pasti juga kurang dengan pasangannya sendiri Pak Paul?

PG : Betul, sebab ada kecenderungan mereka tetap mencari-cari kemungkinan, supaya bisa berhubungan dengan sesama jenis. Otomatis karena terus mencari-cari kemungkinan tersebut sehingga tidaklagi memberikan perhatian yang seharusnya kepada pasangan hidupnya itu, kepada suami atau istrinya.

(2) GS : Tapi orang itu 'kan tidak tiba-tiba menjadi seorang yang homoseks Pak Paul, pasti ada tahapan-tahapannya, Pak Paul mungkin bisa menguraikanya?

PG : Biasanya seseorang menyadari identitas seksualnya itu memang pada masa kecil 3, 4 tahun anak-anak sudah mulai tahu dia itu seorang pria atau dia itu seorang wanita. Namun seseorang untu menyadari seksualitasnya, ketertarikannya dan sebagainya itu biasanya disadari pada masa remaja.

Khusus untuk anak laki-laki pada umumnya anak laki-laki itu mengalami fase-fase kebingungan di mana adakalanya mereka itu bertanya-tanya, saya ini homoseksual ataukah heteroseksual, saya tertarik kepada siapa ya? Nah kebingungan adalah hal yang normal sebab itu tidak menjadikan mereka homoseksual kesukaan mereka bersama dengan pria dan sebagainya tidak menjadikan seseorang itu homoseksual. Kesukaan seorang wanita dengan wanita lain juga tidak secara otomatis membuat dia homoseksual. Jadi biasanya memang usia remaja usia yang bisa membingungkan seseorang akan identitas seksualnya tapi yang paling penting adalah usia remaja anak-anak ini mulai menyadari ketertarikannya, gairah, dorongan-dorongan seksualnya. Nah, pada masa inilah seseorang yang memang orientasinya homoseksual menyadari bahwa dia tidak tertarik kepada lawan jenisnya, dia jauh lebih tertarik secara seksual dengan sesama jenis. Nah, waktu dia menyadari itu mulailah dia masuk ke dalam fase kebingungan. Kebingungan dalam pengertian apa, mereka bertanya-tanya kenapa saya begini, kenapa saya berbeda dan dia tidak merasakan bisa pas masuk ke dalam kelompoknya. Teman-teman pada masa remaja 'kan pasti membicarakan tentang lawan jenisnya dia cantiklah, saya naksir dengan dia dan sebagainya, dia tidak bisa bicara seperti itu. Jadi dia mulai merasa bahwa dia berbeda dengan teman-temannya, nah ini suatu fase yang sangat membingungkan sekali. Nah biasanya ini akan membawa dia ke fase penyangkalan, tidak mau saya jadi seperti ini, saya normal, saya sama seperti orang lain, saya heteroseksual, saya tidak ada bedanya dengan teman-teman saya. Dan dia akan terus mau menggumuli mau melawan kodrat ini nah itulah sebabnya nanti waktu kita membahas sikap kristiani, kita perlu berempati, memang kita perlu menyadari bahwa saya percaya tidak ada satu anakpun pada usia remaja yang akan dengan senang hati menyambut bahwa dia itu seorang homoseksual. Kebanyakan atau saya percaya semua anak-anak remaja waktu mereka menyadari tertarik kepada sesama jenis akan merasa ketakutan, merasa bingung, merasa tertekan sekali sebab mereka tidak mau menjadi orang yang berbeda dengan orang lain, mereka ingin menjadi sama seperti teman-temannya, ini adalah suatu penderitaan tersendiri bagi mereka.
GS : Tapi apakah dengan menyangkal itu dia lalu selesai masalahnya, 'kan tidak Pak Paul, itu sudah menjadi bagian di dalam kehidupannya.

PG : Justru itu Pak Gunawan, mereka terus manyangkali, mereka mencoba melawan dorongan-dorongan ini, tapi akhirnya mereka menyadari, bahwa mereka memang tidak bisa berbeda dan mereka tidak bsa mengatasinya, dorongan itu tetap ada dalam dirinya tidak bisa dihilangkan.

Nah masuklah dia ke dalam fase mencari, mencari apa, sebetulnya ada suatu kerinduan mereka bertemu dengan orang yang sama seperti dirinya atau orang yang senasib. Ini belum masuk ke dalam hubungan seksual, jadi ini adalah kerinduan untuk dimengerti untuk mendapatkan teman yang sama yang bisa memahami dilemanya. Tanpa disadari mulailah dia mencari, maka pada tahap ini kecenderungan remaja ini akhirnya mereka bertemu dengan yang sama sebab memang akan ada yang sama dalam lingkungan mereka. Nah waktu bertemu mulailah terjalin suatu hubungan yang akrab karena mungkin sekali temannya itu menghadapi dilema yang sama dan sedang mencari-cari juga teman-teman yang sama sepertinya.
GS : Tapi sebenarnya pergaulan seperti itu 'kan makin memperkuat kondisi dia sebagai seorang yang homoseksual Pak?

PG : Sering kali begitu, akhirnya mereka bercerita bahwa inilah yang mereka alami ketertarikan-ketertarikan kepada sesama jenis. Nah, setelah itu kemungkinan besar yang terjadi adalah ekspermen seksual, anak-anak remaja cenderung melakukan eksperimen seksual, pegang-pegang alat kelamin sesama pria dan sebagainya.

Tapi itu tidak menjadikan mereka homoseksual, namun kalau memang orientasi ini berlangsung terus kemudian bereksperimen secara seksual, maksudnya berhubungan seksual dengan sesama jenis, nah hubungan ini sering kali menjadi suatu titik berangkat, suatu rel yang akan mereka jalani yaitu mereka sekarang akan lebih dicenderungkan untuk akhirnya mengembangkan bukan saja orientasi homoseksual namun juga perilaku seksual yaitu ingin akhirnya terus berhubungan seksual dengan sesama jenisnya.
GS : Pada tahap seperti itu dia 'kan sudah tidak lagi mencari identitas dirinya itu Pak Paul, dia sudah tahu bahwa dia seorang homoseksual?

PG : Betul, meskipun sudah tahu dan mereka menyadari, mereka tidak bisa lagi menghilangkannya tapi biasanya setelah eksperimen seksual itu terjadi tetap akan ada pergumulan, maka saya sebut ni fase pergumulan.

Kalau yang pertama itu fase pergumulan, tidak bisa menerima bahwa dia beda dengan orang lain. Sekarang pergumulannya lebih dalam lagi yaitu mereka menyadari, bahwa ini bukan saja keinginan tapi malah sudah melakukan. Jadi ada keinginan untuk tidak seperti itu, saya ingin kembali lagi sama, saya ingin mencoba lagi menjadi orang yang sama, maka tidak jarang pada masa-masa ini dan biasanya masa-masa ini masa sudah dewasa, yang tadi itu masa-masa dewasa ini sudah masuk ke masa dewasa. Tidak jarang ada homoseksual yang akhirnya bertekad menikah, bukan untuk menipu pasangannya, bukan untuk mengelabui orang lain. Sebab itulah mereka bergumul, mereka ingin mengalahkan dorongan itu dan mereka berpikir bahwa dengan menikah mereka berharap mudah-mudahan dorongan seksual ini akhirnya bisa hilang.
GS : Tapi apakah bisa Pak Paul?

PG : Nah pertanyaan bisa atau tidak memang tergantung dengan siapa kita bicara, seseorang yang memang ingin membela keyakinan bahwa saya ini dilahirkan homoseksual, dan tidak ada salahnya degan diri seorang homoseksual akan berkata terimalah kodrat itu, kenapa mesti memikirkan berubah.

Tapi kita tadi sudah membahas bahwa kita ini memiliki suatu titik berangkat yaitu suatu titik berangkat dari firman Tuhan, dari Alkitab dan memang titik berangkat Alkitab adalah tidak mengizinkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya. Jadi memang ada orang yang memasuki fase penerimaan yang sudah terima apa adanya tidak usah lagi saya melawan kodrat saya, nikmati hidup sebagai seorang homoseksual. Tapi saya kira yang Tuhan kehendaki, yang saya pelajari dari firman Tuhan adalah jelas Tuhan tidak menghendaki kita melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, jadi seyogyanyalah kita tidak memasuki fase penerimaan itu, seyogyanyalah kita terus berjalan di dalam fase pergumulan.
(3) GS : Lalu sebagai teman sepersekutuan atau teman segereja dan sebagainya itu sebenarnya bagaimana sikap kita itu Pak Paul menghadapi kenyataan seperti itu?

PG : Yang pertama adalah kita mesti menekankan cara Tuhan menghadapi manusia, kita mesti mengadopsi itu yaitu Tuhan sebagaimana Tuhan Yesus pernah berkata : "Aku datang bukan untuk menghakim tapi menyelamatkan manusia dari dosa."

Jadi Tuhan selalu menggunakan cara pendekatan cinta kasih, Tuhan melihat kita berdosa, Tuhan terus memanggil kita, Tuhan terus menantikan kita. Nah, menghadapi teman kita yang homoseksual respon kita haruslah pertama-tama tidak menjauhkannya, tidak mengejeknya, tidak menghinanya, tidak melabelkannya dengan label-label tertentu, tapi justru kita bersimpati dengan dia, kita tetap mau menjadi teman dia. Dan kita mesti menyadari bahwa seseorang akhirnya menjadi seorang homoseksual biasanya setelah melalui pergumulan yang luar biasa beratnya, bahwa sekali lagi saya tekankan pada awalnya saya kira mereka semua ini ingin sama seperti orang lain. Inilah pergumulan yang saya pernah dengar dari orang-orang yang menjadi homoseksual, bahwa ini adalah suatu penderitaan awalnya buat mereka. Jadi kita mesti memahami sisi penderitaan itu, kita juga mesti memahami bahwa mungkin sekali ada pengaruh genetik di dalam orientasi itu sehingga mereka lebih dicenderungkan seperti itu. Kalaupun misalkan faktor genetiknya tidak sekuat dengan faktor lingkungan yang tadi kita telah bahas, tetap kita harus mengakui bahwa kalau kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu kita mempunyai kecenderungan yang sama dengan dia. Jadi janganlah kita ini mempunyai sikap benar sendiri, mempunyai sikap sombong, saya ini suci, engkau ini tidak suci atau saya ini bersih engkau ini kotor, kita tidak bisa mempunyai sikap seperti itu. Kita mesti menyadari bahwa dia mengalami suatu penderitaan yang berat dan kita mau menolongnya, itu yang harus kita lakukan, kita mau menolongnya. Sebab saya kira kalau kita datang dengan sikap mau menolong, mau membantu, dia akan lebih terbuka untuk membuka diri dan membiarkan dirinya ditolong oleh kita.
GS : Ya mungkin tahapan yang itu penting sekali karena justru lebih banyak orang yang tidak memahami kondisinya Pak Paul. Dan kalau kita pun mendekati untuk memahami, salah-salah memang kita sendiri dikira orang yang homoseksual juga Pak Paul?

PG : Betul, sebab memang pada umumnya masyarakat sudah mengembangkan sikap homophobia, homophobia itu ketakutan terhadap orang-orang homoseksual. Saya kira tidak perlu mempunyai sikap homophbia seperti itu, tidak perlu kita ketakutan dengan seorang homoseks, kita bisa berteman dengan dia sama seperti kita berteman dengan orang lain.

Namun yang paling penting adalah kita mengerti jelas posisi kita sebagai orang Kristen, memang ada orang-orang yang memanggil diri Kristen dan mungkin sekali Kristen, saya tidak berani menghakimi mereka dan mereka berkata tidak apa-apa di mata Tuhan, karena Tuhanlah yang menciptakan saya apa adanya. Jadi kalau Tuhan menciptakan saya homoseks ya saya menerima kodrat ini sebagai pemberian Tuhan. Masalahnya adalah kalau saya membuka dan mempelajari firman Tuhan dengan jelas misalnya di Perjanjian Lama, di Kejadian jelas waktu Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, salah satu dosa yang Tuhan sebut adalah yaitu perilaku homoseksual di mana orang-orang di sana berhubungan seksual dengan sesama jenisnya. Maka waktu malaikat-malaikat datang ke rumah Lot ingin memberitahukan Lot untuk pergi dari Sodom dan Gomora, orang di Sodom dan Gomora mau berhubungan seksual dengan para malaikat itu, sebab mereka melihat para malaikat itu adalah pria-pria yang ganteng. Jadi Tuhan menghukum mereka karena perbuatan itu dan di Korintuspun ditekankan kembali, tidak bisa masuk ke Surga karena salah satunya disebut homoseksual juga. Dan di Roma pasal 1 yang nanti mungkin saya akan baca lagi ditegaskan bahwa tidak, ini adalah orang-orang yang telah meninggalkan naluri naturalnya dan berhubungan dengan sesama jenis yang Tuhan tidak kehendaki pula. Di kitab Imamat dikatakan perilaku seksual yang tidak boleh adalah misalnya berhubungan dengan binatang atau mempunyai hubungan seksual dengan wanita yang sedang menstruasi dan sebagainya. Salah satunya yang juga disebut oleh Alkitab di kitab Imamat adalah hubungan seksual dengan sesama jenis. Jadi kalau orang berkata Alkitab membolehkan, saya kira ya terpaksa orang itu mendistorsi Alkitab, sebab saya kira terlalu jelas untuk kita itu mendistorsikannya. Tapi di pihak lain saya juga secara pribadi mau mengatakan saya mengerti ya penderitaan ini meskipun tidak bisa mengerti sepenuhnya, tapi saya kira orang Kristen perlu dengan cinta kasih menghadapi mereka. Tuhan menentang perilakunya tetapi Tuhan menerima orangnya.
GS : Jadi kita perlu mengembangkan sikap seperti itu Tuhan menerima mereka, mengampuni mereka, bisa memahami pergumulannya, tetapi tidak mentolerir perbuatannya. Nah itu yang harus dibedakan Pak Paul ya? Tahap-tahap seperti itu selain kita bisa menerima mereka, mendekati mereka 'kan kita itu tidak mempunyai kemampuan untuk menolong mereka sampai tuntas, itu apa yang bisa dilakukan?

PG : Yang paling praktis adalah membentuk suatu kelompok di mana kalau bisa ya kita mengumpulkan orang-orang yang mempunyai pergumulan yang sama dengan homoseksualitas dan di sana kita adaka kelompok tumbuh bersama, berdoa bersama, menguatkan satu sama lain.

Jadi tujuannya adalah saya kira 2 alternatif, yang pertama bertujuan untuk mengubah orientasi sehingga mereka menjadi heteroseksual. Yang kedua selama belum menjadi heteroseksual hiduplah kudus dihadapan Tuhan sebagai seorang yang single yang tidak menikah. Sebab Tuhan juga melarang kita yang heteroseksual berhubungan seksual dengan orang lain yang bukan istri atau suami kita. Jadi sama, kaum homoseksual juga bisa hidup selibat mempersembahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan dan itu saya kira akan menjadi persembahan yang Tuhan akan terima asalkan dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Jadi orientasi itu mungkin tetap ada dalam dirinya dan masih dalam pergumulan untuk hilang dari dalam dirinya, tapi dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Dia menjaga dirinya kudus, nah untuk ini mungkin perlu kelompok seperti ini saling mendukung, saling menguatkan dan saling berdoa.
GS : Tadi Pak Paul menyinggung akan membacakan dari kitab Roma apa itu Pak Paul?

PG : Di sini dikatakan di Roma 1:18, "Sebab murka Allah nyata atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman." Saya mau tegaskan kata meninas kebenaran atau akhirnya mensukresi kebenaran, memendam kebenaran.

Lebih baik sebagai seorang homoseksual kita terus bergumul daripada kita mendistorsi kebenaran, memendam kebenaran itu, sebab kebenaran tetaplah kebenaran. Yang natural adalah hubungan pria dan wanita, sebab firman Tuhan juga berkata demikian karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar, yang natural dengan yang tak wajar, dengan yang tak natural. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan menyala-nyala birahi mereka seorang terhadap yang lain. Jadi itulah yang merupakan kebenaran Tuhan hubungan antara pria dan wanita.
GS : Jadi sebagai orang tua Kristen saya rasa kita perlu terus menerus membina hubungan yang baik sebagai suami-istri agar anak-anak tidak menjadi korban.

PG : Betul sekali.

IR : Dan juga memberi pengarahan, memberitahu kepada anak ya Pak Paul?
GS : Sedini mungkin saya rasa.

PG : Ya sedini mungkin.

GS : Jadi itulah, menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua, tapi kalau itu menimpa kita, atau menimpa sebagian dari pendengar ini ketahuilah bahwa Tuhan tetap mengasihi saudara dan selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu.

PG : Dan pilihlah jalan yang lebih susah, memang pergumulan jalan yang lebih susah tapi itu lebih diperkenan oleh Tuhan.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang bagaimana dan memahami orang yang berperilaku homoseksual, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 43 B

  1. Bagaimana proses yang muncul pada seorang wanita yang homoseksual...?
  2. Apakah fase-fase atau tahapan-tahapan seseorang menjadi homoseks....?
  3. Bagaimanakah sikap kita sebagai teman segereja atau sepersekutuan dalam menghadapi kenyataan seperti itu...?


16. Menjahit Masa Laluku 1


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T045A (File MP3 T045A)


Abstrak:

Kita perlu menempelkan masa lalu kembali dalam hidup kita dengan cara menjahitnya. Dalam artian kita harus dapat menghadapi masa lalu tersebut baik masa lalu yang manis maupun masa lalu yang pahit, yang dapat berpengaruh kuat dalam kehidupan kita sekarang ini. Dan penyembuhannya pun akan memerlukan proses satu hal demi satu hal, satu hari lepas satu hari.


Ringkasan:

Ada beberapa pendapat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh psikologi tentang pengaruh masa lalu pada kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang, diantaranya yaitu:

  1. Sigmund Freud, beliau berpendapat bahwa masa lalu itu sangat menentukan masa sekarang.

  2. Golden Aphort dan Rogers, tokoh-tokoh psikologi humanistik ini berkata bahwa masa lalu mempengaruhi kita, namun untuk orang sehat masa lalunya tidak menentukan kehidupan mereka. Dalam pengertian masa lalu itu tetap ada pengaruhnya namun tidaklah menguasai atau menentukan kehidupan mereka di masa sekarang.

Saya kategorikan masa lalu dalam dua jenis besar, yaitu:

  1. Yang menyenangkan, yaitu hal-hal yang manis akan membuat kita bangga tentang diri kita dan akhirnya membuat kita berani membuka diri kepada orang lain.

  2. Yang menyakitkan, yaitu hal-hal yang pahit akan membuat kita malu mengenangnya dan kita mencoba menutupinya, sehingga kita tidak mau orang lain mengetahui pengalaman itu

Jadi dalam hidup dan diri kita seringkali memang terdapat dua sisi, yaitu diri yang terbuka yang kita buka dan sajikan kepada orang lain, dan diri yang kita tutup agar tidak bisa dilihat oleh orang lain, bahkan sebisa mungkin kita pun tidak mau melihatnya.

Dalam menghadapi suatu pengalaman yang tidak mungkin kita ingkari dan lepaskan, kita harus menyadari bahwa masa lalu merupakan fakta yang tak dapat diubah, dan ini seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih bijaksana dan berhati-hati dalam hidup ini. Jadi masa lalu itu benar-benar merupakan rangkaian hidup kita yang memang berkaitan erat dengan kehidupan kita sekarang.

Ada sebagian orang yang mencoba melupakan masa lalunya, akibat dari sikap ini bisa positif dan negatif tergantung pada apa yang terjadi dan apa motivasi orang tersebut melupakannya. Sebab melupakan bisa muncul dari motivasi yang positif dan negatif. Yang positif misalnya, kita sudah selesaikan dan kita sudah bisa menerima kenyataan maka sekarang kita lupakan. Yang negatif misalnya, kita ingin menyangkali keberadaan peristiwa tersebut, menyangkali bahwa itu pernah terjadi dalam hidup kita maka kita mencoba untuk melupakannya.

Sejauh mana seseorang bisa mengingat masa lalunya, ini tergantung pada apa yang dialaminya dan pada usia berapa ia mengalaminya. Pada umumnya kita sulit sekali mengingat peristiwa yang terjadi di bawah usia 3 tahun. Di atas usia 3 tahun ada peristiwa-peristiwa yang masih bisa kita ingat. Kita bisa lebih mengingat peristiwa yang terjadi sekitar usia 5 tahun keatas. Seringkali orang bertanya kepada saya, apa peranan Roh Kudus atau Tuhan dalam proses kesembuhan atas peristiwa-peristiwa traumatis yang kita alami di masa lampau? Asumsinya adalah Tuhan berkuasa dan dengan kuasaNya yang besar itu IA mampu membebaskan kita dari kungkungan masa lalu kita. Tapi mengapa begitu banyak orang Kristen yang tetap dipengaruhi sekali oleh masa lalu mereka.

Jawaban saya demikian:

  1. Tuhan memang mampu dan berkuasa tapi cara Tuhan bekerja tidak selalu supernatural. Tuhan bisa saja menghilangkan pengaruh masa lalu itu secara mendadak dan supranatural tapi cara kerja Tuhan bukanlah demikian. IA lebih sering bekerja secara natural, apalagi yang berkaitan dengan masalah psikologis.

  2. Kesembuhan kita atas masa lalu menuntut pergumulan. Dan pergumulan kalau diistilahkan dalam bahasa kristiani adalah pertumbuhan.

Mazmur 40:2-4, Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.

Saya kira ada dua unsur penting di sini:

  1. Adalah pengakuan bahwa kita ini pernah berada di lumpur rawa, hampir dalam kebinasaan. Jadi adanya suatu pengakuan tentang masa lalu kita.

  2. Adalah adanya faktor pertolongan Tuhan setelah kita menanti-nantikan pertolonganNya. Maka pemazmur berkata saya akan menyanyikan lagu atau nyanyian baru. Lagunya mungkin sama, tapi dinyanyikan dengan jiwa yang baru. Hidup kita tetap sama tapi jiwa yang sudah menerima pertolongan Tuhan akan bisa melihat hidup ini dengan mata yang berbeda. Jadi bagi siapa yang menderita karena masa lalunya, tetaplah menanti-nantikan Tuhan, itulah yang diminta oleh Tuhan.

Langkah-langkah yang diperlukan untuk menjahit masa lalu:

  1. Kita perlu mengakui keberadaan bagian hidup yang memalukan itu, mengakui berarti tidak menyangkalinya lagi.

  2. Kita harus memeriksa pelaku atau penyebab utama peristiwa itu. Artinya kita harus melihat dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang bertanggung jawab, ini bisa menyangkut diri kita sendiri atau orang lain. Kita seringkali berat di kiri atau di kanan, tidak bisa berada di tengah-tengah.

    1. Yang pertama, kecenderungan kita adalah menyalahkan orang lain. Semua orang salah, semua salah papa mama, keadaan salah, semua salah teman, semua salah gereja, atau semuanya salah Tuhan. Kita tidak mau memikul tanggung jawab.

    2. Yang berikutnya, kita cenderung menyalahkan diri sendiri, semua salah saya, kalau saja saya lebih pintar, lebih tanggap, lebih ngerti, lebih dewasa, atau saya bertindak seperti ini dan itu, tentu masalah ini tidak akan terjadi. Sayalah yang menyebabkan semua ini terjadi.

  3. Kita mengizinkan diri untuk mengekspresikan perasaan yang muncul saat itu. Jadi kita harus berani beremosi baik itu sedih,ataupun marah terhadap orang yang memang telah menyakiti kita.

  4. Kita perlu menerima kenyataan akan adanya suatu yang terhilang akibat peristiwa itu.

  5. Menangisi kehilangan atau goresan luka itu

  6. Memahami mengapa peristiwa itu terjadi. Ini mengandung unsur mengerti secara menyeluruh, jadi mengerti sungguh-sungguh kaitan-kaitannya dan motivasi pada masing-masing orang yang terlibat

  7. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita, baik itu orang lain maupun diri sendiri.

  8. Yang terakhir, kita harus menjahit atau menyatukan masa lalu yang memalukan itu dengan diri yang kita banggakan.

Filipi 1:6 "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai kada akhirnya pada hari Kristus Yesus."

Ayat ini merupakan penghiburan yang besar sekali untuk kita semua, Tuhan sudah memulai pekerjaan yang baik dan Dia berjanji akan meneruskannya sampai pada akhirnya. Jadi kita harus selalu yakin bahwa yang Tuhan sudah lakukan ini akan berlanjut, bukan dengan tenaga atau kuasa kita sendiri tetapi dengan kuasa dan cara Tuhan, dan akhirnya semuanya bisa kita lewati.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sebuah topik yang menarik Menjahit Masa Laluku. Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kita tentu tidak tiba-tiba menjadi orang dewasa, itu karenanya masing- masing kita mempunyai masa lalu yang unik dan spesifik. Nah yang saya ingin tanyakan, berapa besar pengaruh masa lalu pada kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang?

PG : Kalau menjawab pertanyaan itu kita harus mengacu pada, berdasarkan teori siapa atau berdasarkan pandangan siapa Pak Gunawan.

GS : Pak Paul pilihkan salah satu.

PG : Misalkan salah satu pendapat yang ada, yang memang dimiliki oleh tokoh-tokoh psikologi seperti Sigmund Freud, beliau berpendapat bahwa masa lalu itu sangat menentukan masa sekarang kita tapi kalau kita mengacu pada pandangan para tokoh-tokoh psikologi humanistik misalnya seperti Golden Aphort dan juga Rogers mereka ini lebih berkata bahwa masa lalu kita mempengaruhi kita, namun untuk orang yang sehat masa lalunya tidak menentukan mereka.

Dalam pengertian masa lalu itu tetap ada pengaruhnya namun tidaklah menguasai atau menentukan kehidupan mereka di masa sekarang ini.
GS : Tapi itu juga tergantung seberapa kuatnya pengalaman pada masa lalu itu Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi hal-hal yang positif dan yang dengan kuat berakar dalam hidup kita, akan sangat menopang kehidupan kita di masa sekarang ini. Sebaliknya hal-hal yang sangat buruk dantertanam sangat dalam pada hidup kita akan juga membawa dampak yang lebih besar dalam kehidupan kita ini.

GS : Jadi kalau itu sesuatu yang tidak mungkin kita ingkari, tak mungkin kita lepaskan, apa sikap kita untuk menghadapi hal ini Pak Paul?

PG : Pertama-tama saya kira kita perlu menyadari beberapa faktor atau fakta. Yang pertama adalah kita perlu menyadari bahwa masa lalu merupakan fakta yang tak dapat diubah. Nah, keterangan ii atau fakta ini baik untuk dicamkan sekarang ini, dalam pengertian kita hidup di masa sekarang, tapi masa sekarang dalam waktu sedetik dan sekejap akan berubah menjadi masa lalu.

Oleh karena itu kita harus baik-baik menjaga hidup ini, baik-baiklah memilih dalam hidup ini sehingga waktu sekarang ini menjadi masa lalu buat kita, kita tidak perlu melihat ke belakang dan menyesalinya. Apalagi kalau masa lalu itu akhirnya mempengaruhi hidup kita secara negatif. Jadi fakta pertama bahwa kenyataannya adalah masa lalu adalah fakta yang tak dapat diubah seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih bijaksana dan berhati-hati dalam hidup ini.
IR : Jadi selalu berkesinambungan Pak Paul?

PG : Betul sekali Ibu Ida, jadi masa lalu itu benar-benar adalah rangkaian hidup kita yang memang berkaitan erat sekali dengan hidup kita sekarang. Itu sebabnya Bu Ida kalau seorang mengalai amnesia yaitu misalnya karena cidera otaknya dan tidak bisa mengingat lagi tentang masa lalunya dia bukan saja kehilangan memori, namun dia kehilangan jati dirinya, siapa dirinya itu tiba-tiba menjadi hal yang tidak jelas baginya.

Nah sekali lagi kenapa kita kok kehilangan jati diri, kehilangan konsep siapa kita ini karena kita ini dibuat, di jahit dari semua masa lalu kita, sehingga sewaktu masa lalu itu diputuskan dari hidup kita, kita benar-benar kehilangan bahan tentang siapa saya ini.
GS : Tapi ada sebagian orang yang mencoba meski berhasil atau tidak itu mungkin kita tidak tahu mencoba melupakan masa lalunya. Sebenarnya sikap itu positif atau negatif Pak Paul?

PG : Saya kira tergantung apa yang terjadi dan apa motivasi kita melupakannya. Sebab melupakan itu bisa muncul dari motivasi yang positif namun bisa juga muncul dari motivasi yang negatif. Msalnya yang positif adalah kita sudah selesaikan dan kita sudah menerima maka sekarang kita lupakan.

Yang negatif adalah kita ingin menyangkali keberadaan peristiwa tersebut, kita menyangkali bahwa itu pernah terjadi dalam hidup kita maka kita mencoba untuk melupakannya.
GS : Masalahnya itu sering kali yang tidak mengenakkan, yang menyakitkan di masa lalu itu menghantui dirinya. Setiap kali dia mengingat peristiwa kecelakaan itu dia menjadi seorang yang traumatis terhadap masa lalunya.

PG : Betul, jadi masa lalu itu memang kembali kepada kita dalam bentuk ingatan Pak Gunawan. Ingatan-ingatan itu mau atau tidak mau akan selalu hadir dalam pikiran kita, nah waktu ingatan-ingtan itu dimunculkan dalam benak kita biasanya akan memberikan dampak pada kehidupan kita.

Sebab kita manusia adalah sebetulnya sangat dipengaruhi oleh pikiran, nah kalau saya boleh rangkaikan perilaku manusia, saya dapat berkata bahwa yang menjadi motor perilaku manusia sebetulnya adalah pikirannya. Pikiran akan mempengaruhi perasaan dan perasaan akan mempengaruhi tindakan, maka itulah di Roma 12 : 1 Tuhan meminta kita berubahlah dalam akal budimu, pembaharuan akal budi. Nah akal budi sebetulnya pikiran, jadi Tuhan mengerti bahwa yang perlu diubah nomor satu adalah pikiran, nah masa lalu hidup dalam diri kita melalui memori atau ingatan-ingatan itu dan sering kali ingatan itu langsung akan mempengaruhi perasaan kita. Tadi Pak Gunawan menyebutkan akhirnya kita takut dengan masa lalu, seolah-olah itu akhirnya menghantui hidup kita.
(2) GS : Sebenarnya sejauh mana seseorang itu bisa mengingat masa lalunya itu Pak Paul?

PG : Sebetulnya tergantung pada apa yang dialaminya dan pada usia berapa. Pada umumnya kita sulit sekali mengingat peristiwa yang terjadi si bawah usia 3 tahun. Di atas usia 3 tahun ada peritiwa-peristiwa yang masih kita bisa ingat.

Umumnya kita lebih bisa mengingat peristiwa yang terjadi sekitar usia 5 tahun ke atas. Sebelum itu samar-samar dan kadang-kadang tidak bisa kita ingat dengan jelas. Tapi khusus untuk peristiwa-peristiwa yang memang membekas dengan berat, dengan tajam, cenderung kita ingat untuk waktu yang lama. Saya masih ingat suatu kali saya berkata pada mama saya, saya masih ingat saya jatuh ke got, ke selokan waktu sedang belanja di pasar, mama saya kaget sekali, dia bilang kamu masih ingat itu? Ingat saya bilang. Dia berkata kamu masih kecil saat itu, kamu mungkin baru berusia sekitar 2 tahunan lebih. Nah kenapa bisa saya ingat, karena sangat traumatis, saya masih ingat saya masih begitu kecil dan tiba-tiba terjun masuk ke dalam got di dalam pasar itu.
GS : Nah, Pak Paul di dalam kita bermasyarakat atau bahkan bergaul di dalam membangun rumah tangga, masa lalu itu 'kan tidak bisa dilepaskan, bahkan tidak bisa diingkari, nah itu pengaruhnya sejauh mana Pak Paul?

PG : Masa lalu kita itu akan memberikan suatu cetak biru Pak Gunawan, cetak biru atau pola di mana kita sering kali mengacu pada yang saya saksikan dulu, apa yang kita lihat pada orang tua kta, pola hubungan yang seperti apa itu dan kita mencoba untuk menerapkannya kalau itu positif.

Kalau itu negatif kita cenderung mencoba untuk membalikkannya, justru cenderung melakukan yang tidak dilakukan oleh orang tua kita, jadi sering kali memang mempengaruhi kita seperti itu. Atau yang lain adalah dalam hal harapan kita cenderung mengharapkan pasangan kita memberikan yang kita butuhkan. Nah, yang kita butuhkan ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang sebetulnya bersumber dari masa lalu kita.
IR : Pak Paul, masa lalu yang negatif yang mempengaruhi kehidupan seseorang itu apakah bisa menimbulkan suatu penyakit, dan kalau itu tidak bisa dilupakan penyakit itu akan terus menimpa korban tersebut Pak Paul?

PG : OK! Mungkin tidak selalu harus menimbulkan penyakit, namun memang bisa menimbulkan penyakit, penyakit dalam pengertian gangguan psikologis misalnya seperti depresi adalah masalah penilaan diri yang buruk.

Penilaian yang buruk adalah anggapan bahwa diri kita itu kurang atau istilah yang lebih populernya adalah minder. Nah, keminderan itu tidak bisa tidak merupakan produk dari apa yang kita alami di masa lalu. Entah mengapa dalam kehidupan kita pada masa-masa pertumbuhan, kita akhirnya dikondisikan untuk percaya bahwa kita ini tidaklah sebaik orang lain, bahwa kita memiliki banyak hal-hal yang memalukan, banyak kekurangan yang masih ada pada diri kita. Nah ini bisa timbul dari berbagai sebab misalnya anak yang sering mendapatkan penghinaan, anak yang dilecehkan baik orang tuanya maupun teman-temannya yang akhirnya bisa bertumbuh pesat dengan pemikiran bahwa saya seseorang yang tidak baik atau tidak cukup baik.
GS : Yang sering kali kita saksikan itu adalah akibat Pak Paul dari masa lalu seseorang yang kurang baik dan sebagainya. Tapi bagaimana sebenarnya prosesnya itu kok sampai mempengaruhi tingkah laku seseorang pada saat itu Pak Paul?

PG : Masa lalu itu akhirnya memberikan kita suatu kepercayaan atau suatu keyakinan tentang hidup ini atau tentang kita ini. Contoh kalau misalkan kita ini dibesarkan di rumah di mana ayah kia bermain serong dengan wanita lain, kita sangat-sangat dekat dengan ayah kita dan sangat percaya padanya namun tiba-tiba seperti halilintar di tengah hari kita mendengar kabar dari ibu bahwa ayah kita mempunyai seorang wanita lain di luar.

Nah, tiba-tiba keyakinan kita bahwa ayah adalah figur yang bisa dipercaya, setidak-tidaknya akan hancur, runtuh, nah yang terjadi adalah keyakinan itu akhirnya absen tidak ada lagi. Akibatnya sekarang kita benar-benar melihat pria yang mendekati kita, kalau kita ini wanita dengan rasa was-was kalau ayah saya saja yang mengasihi saya dan berjanji setia untuk keluarganya bisa bermain serong apalagi orang lain yang bukan ayah saya. Jadi dengan kata lain peristiwa-peristiwa yang traumatis sering kali mengubah keyakinan kita tentang hidup ini, baik yang berkaitan dengan diri kita atau pun oleh orang lain. Jadi banyak contohnya tapi sebetulnya intinya ke situ, mengubah keyakinan kita sehingga hidup kita tidak lagi sama seperti dulu. Yang lebih umum lagi misalnya, kalau kita hidup sangat susah, sejak kecil kita harus bekerja keras, sejak kecil kita harus mengatur uang, hati-hati sekali karena orang tua kita tidak berkecukupan. Apa yang terjadi pada diri kita, tiba-tiba tanpa disadari membentuk suatu keyakinan bahwa hidup ini sangat sulit. Nah dampaknya apa pada diri kita, waktu kita bertemu dengan teman yang seenaknya saja mengeluarkan uang kita menjadi sangat tidak suka, dan kita akan melabelkan dia boros, tidak bertanggung jawab, atau nanti kalau kita menikah kita akan mencoba mengatur pasangan kita untuk sangat berhati-hati dalam pemakaian uang. Karena apa, keyakinan bahwa kita hidup ini susah dan kapan saja kita akhirnya bisa mengalami musibah, jadi kita harus baik-baik mengatur uang kita.
(3) GS : Jadi pengaruhnya sangat luas, juga terhadap pendidikan anak, saya rasa nantinya dia akan mendidik anak-anaknya supaya sangat-sangat hemat, bahkan cenderung kikir. Nah dalam hal itu Pak Paul, masa lalu yang sangat membekas di pikiran kita, 'kan Tuhan itu juga tidak menghendaki kita itu terus-menerus hidup dalam masa lalu kita, khususnya yang tidak enak. Tuhan memberikan suatu pengharapan dalam hidup ini, nah itu bagaimana kita menyikapinya?

PG : Sering kali ini memang diajukan kepada saya, pertanyaannya adalah apa peranan Roh Kudus atau peranan Tuhan dalam proses kesembuhan atas peristiwa-peristiwa traumatis yang kita alami di asa lampau.

Asumsinya adalah Tuhan berkuasa dan dengan kuasa Tuhan yang besar itu Tuhan mampu membebaskan kita dari kungkungan masa lalu kita itu. Pertanyaannya adalah tapi kok begitu banyak orang-orang Kristen yang tetap sebetulnya dipengaruhi sekali oleh masa lalu, nah jawaban saya adalah yang pertama Tuhan memang mampu dan Tuhan berkuasa tapi cara Tuhan bekerja tidak selalu supernatural. Tuhan bisa menghilangkan pengaruh masa lalu itu secara mendadak, supernatural, tapi cara kerja Tuhan bukanlah demikian yang lebih sering adalah secara natural, apalagi yang berkaitan dengan masalah psikologis, kita tidak perlu bicara yang psikologis dulu misalkan kita bicara yang fisik, gangguan medis. Obat diberikan tapi toh penyembuhannya itu berlangsung secara natural, abat diberikan tidak dalam waktu 1 hari kita langsung sembuh, bahkan penyakit yang sederhana seperti panas atau flu memakan waktu 3, 4 hari. Jadi dengan kata lain memang campur tangan luar itu sering kali melalui jalur yang natural dan Tuhan pun bekerja sering kali pada jalur yang natural bukan supernatural. Itu cara kerja Tuhan secara umum, nah termasuk masalah- masalah psikologis. Yang kedua adalah kesembuhan kita dari masa lalu ini menuntut pergumulan dan pergumulan kalau diistilahkan dalam bahasa kristiani adalah pertumbuhan. Nah pertumbuhan tidak bisa diberikan secara mendadak seperti tiba- tiba kita ini dijadikan manusia yang lain tidak, pertumbuhan rohani itu berlangsung tahap demi tahap, harus melalui proses waktu, termasuk cara kita menghadapi masa lalu itu, akhirnya menjadi sarana atau wadah yang Tuhan gunakan untuk menumbuhkan iman kita pada Tuhan, cinta kita pada sesama kita, kemampuan kita memaafkan orang lain itu semua menjadi bahan-bahan yang Tuhan gunakan untuk menumbuhkan manusia rohani kita.
GS : Sebaliknya Pak Paul, kalau pengalaman masa lalu itu adalah suatu pengalaman yang menyenangkan, kita akan cenderung untuk mengenangnya, mengingatnya terus. Itu akan berpengaruh juga untuk masa sekarang dan masa yang akan datang atau bagaimana?

PG : Sangat besar pengaruhnya Pak Gunawan, jadi saya boleh kategorikan masa lalu itu dalam 2 jenis yang besar, pertama adalah yang menyenangkan, yang kedua adalah yang menyakitkan. Yang menynangkan akan menimbulkan perasaan bangga dan kita akan senang sekali mengingatnya, dan kita mengakui kehadiran pengalaman tersebut.

Yang menyakitkan biasanya akan menimbulkan rasa malu dan kita berusaha untuk melupakannya. Nah, masalahnya adalah yang menyenangkan itu bisa terus hadir dan kita ingat dan membuat kita jadi manusia yang terbuka karena kita rela membicarakannya. Sedangkan yang memalukan membuat kita menjadi orang yang tertutup karena bagian dari hidup kita itu, kita akan mencoba untuk menyembunyikan. Nah, akhirnya sering kali terdapat 2 sisi dalam diri kita ini yaitu diri yang terbuka yang kita sajikan kepada orang lain, yang kita buka kepada orang lain dan ada bagian yang kita tutup, ada diri yang kita tutup agar tidak bisa dilihat oleh orang lain sebisanya kita pun tidak mau melihatnya, kalau memang memungkinkan.
GS : Ya kalau terjadi seperti itu apakah pribadi yang satu itu tadi tidak menjadi bingung sendiri Pak Paul, karena ada 2 hal yang bertentangan dalam dirinya sebenarnya?

PG : Bisa membingungkan bisa tidak, bisa membingungkan kalau akhirnya dia kehilangan kendali atau hidupnya sehingga yang mana yang dia harus tampilkan menjadi sesuatu yang sangat membingungkn.

Atau misalnya yang membingungkan karena sisi gelapnya atau sisi yang tersembunyi itu mulai menampakkan diri karena masalahnya itu benar- benar terlalu berat, sehingga muncul dipermukaan. Dia tidak kuasa lagi menyembunyikannya, nah akhirnya terjadilah kebingungan di sini. Namun sering kali pada umumnya kita ini bisa mengendalikannya, kita membuka diri yang memang kita banggakan dan kita tidak berkeberatan dilihat oleh orang lain dan kita mengunci pintu kamar rumah kita yang kita ingin tutupi.
GS : Pak Paul, saya teringat akan suatu peristiwa di Alkitab itu tentang Yakub yang bergumul dengan Tuhan, nah kita tahu bahwa masa lalu Yakub itu 'kan begitu kelamnya, lalu Tuhan bilang mulai saat ini kamu tidak lagi Yakub tapi Israel. Dan pada banyak tokoh yang lain Tuhan itu mengubah nama seseorang, sebenarnya apa itu tujuannya Pak Paul....?

PG : Tuhan memberikan suatu misi ya, perubahan nama itu seringkali memang merupakan perubahan jati diri, identitas diri, siapa orang tersebut. Dan siapa orang tersebut tak bisa dilepaskan dai misi yang Tuhan berikan.

Misalkan dari Saulus kepada Paulus, Paulus berarti 'kan bergantung kepada Tuhan jadi ini adalah suatu misi yang Paulus akan laksanakan, dia menjadi seorang utusan Tuhan dan dia akan sangat tergantung pada Tuhan misalnya seperti itu.
GS : Nah apakah dengan begitu Tuhan mau atau menghendaki Saulus itu yang kemudian menjadi Paulus melupakan masa lalunya?

PG : Saya kira kita ini susah melupakan masa lalu kita, karena kita mempunyai aparatus otak yang mengingat semua yang pernah kita rekam kecuali memang terlupakan secara natural. Yang pentingbukan melupakan tapi menyelesaikannya sehingga meskipun ingatan itu tetap ada tapi tidak lagi menguasai kita.

Tapi tetap saya harus akui bahwa seberapa baiknya pun kita bisa menyelesaikan masa lalu kita yang kelam itu, setiap kali kita mengingatnya tetap akan menimbulkan goresan kepedihan kembali. Tetap akan ada rasa tidak enak, ada rasa susah, ada rasa sedih dan sebagainya, sebab peristiwa itu memang pada dasarnya sudah menorehkan luka pada hati kita.
IR : Nah bagaimana Pak Paul, kalau ada seseorang yang selalu mengingat-ingat masa lalu yang negatif, sehingga dia selalu hidup murung, selalu tertutup, itu bagaimana kita harus mengatasinya Pak Paul?

PG : OK! Ada beberapa langkah yang harus kita lalui Ibu Ida, namun prinsip yang mendasari proses-proses ini yang nanti kita akan bahas adalah bahwa masa sekarang ini seharusnya cukup baik atu cukup menjanjikan, sehingga masa lalu itu bisa kita belakangkan.

Maksud saya begini kalau masa sekarang ini juga tidak menyenangkan dan pahit, cenderung masa lalu itu muncul dan menjadi sangat berkuasa atas hidup kita. Namun kalau masa sekarang ini kita sudah baik, kita lebih mampu untuk mengatasi masa lalu kita; nah ini asumsi dasarnya. Ini sebabnya ada orang-orang yang meskipun dia sadar, dia harus bisa menguasai masa lalunya, dia tahu Tuhan sudah menebusnya, tapi tetap hidup dalam masa lalunya, karena masa sekarangnya tetap tidak baik, tetap tidak manis buat dia.
IR : Jadi keadaan sekarang juga menunjang ya Pak Paul?

PG : Penting sekali Ibu Ida. Kalau masa sekarang tidak menunjang, usaha dia itu seolah-olah tak bertenaga untuk menguasai masa lalunya.

GS : Pak Paul, sehubungan dengan masa lalu yang tak bisa kita lupakan, padahal kita juga harus hidup dengan melaksanakan suatu misi yang Tuhan berikan kepada kita, mungkin Pak Paul akan sampaikan sebagian dari firman Tuhan yang bisa menolong kita semua yang bisa hidup untuk masa kini, tetapi juga tidak mengingkari bahwa kita mau melupakan masa lalu kita yang Tuhan juga sudah izinkan terjadi dalam hidup kita.

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 40:1-4 atau mulai dari Mazmur 40:2, "Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tlong.

Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita." Saya kira ada dua unsur di sini yang penting, yang pertama adalah pengakuan bahwa kita ini pernah berada di lumpur rawa, hampir dalam kebinasaan. Jadi adanya suatu pengakuan tentang masa lalu kita. Dan yang kedua adanya faktor pertolongan Tuhan setelah kita menanti-nantikan pertolongan Tuhan, nah makanya pemazmur berkata saya sekarang akan menyanyikan lagu atau nyanyian yang baru. Lagunya mungkin sama, tapi jiwa yang baru akan membuat lagu itu baru, hidup kita tetap sama tapi jiwa yang sudah menerima pertolongan Tuhan akan bisa melihat hidup ini dengan mata yang berbeda. Jadi tetap bagi siapa yang menderita karena masa lalunya tetap nanti-nantikan Tuhan, itu adalah yang diminta oleh Tuhan. Dan ada waktunya nanti Tuhan akan mengulurkan tangan, mengangkat kita dari lumpur rawa dengan cara Tuhan yang ajaib. Dan biasanya memang melalui anak-anak Tuhan, melalui orang-orang yang Tuhan utus.
GS : Ya memang kalau mendengar dari pembacaan Mazmur tadi kita bisa tahu bahwa Tuhan pun tidak menghendaki kita begitu saja melupakan masa lalu. Karena masa lalu sendiri pun dalam rencana Tuhan atas hidup kita.

PG : Dalam kedaulatan Tuhan, semuanya terjadi.

GS : Jadi tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi dan sebagainya, itu semua direncanakan untuk kebaikan kita sebagai orang-orang yang beriman. Hanya masalahnya berharap itu terus-menerus Pak Paul yang harus kita lakukan.

PG : Betul.

GS : Saya rasa memang ini akan kita bahas lebih lanjut, khususnya dalam hal bagaimana mengatasi masalah ini dan sebagainya, namun karena keterbatasan waktu tentunya kali ini harus kita sudahi terlebih dahulu perbincangan kita ini.

Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan seputar kehidupan kita tentang "Menjahit masa laluku", bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Pokok bahasan ini masih akan kami bahas lebih jauh pada kesempatan yang akan datang. Dan bagi Anda yang berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 45 A

  1. Seberapa besar pengaruh masa lalu pada kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang..?
  2. Sejauh mana seseorang dapat mengingat masa lalunya...?
  3. Apakah peranan Tuhan dalam proses kesembuhan atas peristiwa traumatis yang terjadi di masa lalu...?


17. Menjahit Masa Laluku 2


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T045B (File MP3 T045B)


Abstrak:

Lanjutan dari T45A


Ringkasan:

Ada beberapa pendapat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh psikologi tentang pengaruh masa lalu pada kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang, diantaranya yaitu:

  1. Sigmund Freud, beliau berpendapat bahwa masa lalu itu sangat menentukan masa sekarang.

  2. Golden Aphort dan Rogers, tokoh-tokoh psikologi humanistik ini berkata bahwa masa lalu mempengaruhi kita, namun untuk orang sehat masa lalunya tidak menentukan kehidupan mereka. Dalam pengertian masa lalu itu tetap ada pengaruhnya namun tidaklah menguasai atau menentukan kehidupan mereka di masa sekarang.

Saya kategorikan masa lalu dalam dua jenis besar, yaitu:

  1. Yang menyenangkan, yaitu hal-hal yang manis akan membuat kita bangga tentang diri kita dan akhirnya membuat kita berani membuka diri kepada orang lain.

  2. Yang menyakitkan, yaitu hal-hal yang pahit akan membuat kita malu mengenangnya dan kita mencoba menutupinya, sehingga kita tidak mau orang lain mengetahui pengalaman itu

Jadi dalam hidup dan diri kita seringkali memang terdapat dua sisi, yaitu diri yang terbuka yang kita buka dan sajikan kepada orang lain, dan diri yang kita tutup agar tidak bisa dilihat oleh orang lain, bahkan sebisa mungkin kita pun tidak mau melihatnya.

Dalam menghadapi suatu pengalaman yang tidak mungkin kita ingkari dan lepaskan, kita harus menyadari bahwa masa lalu merupakan fakta yang tak dapat diubah, dan ini seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih bijaksana dan berhati-hati dalam hidup ini. Jadi masa lalu itu benar-benar merupakan rangkaian hidup kita yang memang berkaitan erat dengan kehidupan kita sekarang.

Ada sebagian orang yang mencoba melupakan masa lalunya, akibat dari sikap ini bisa positif dan negatif tergantung pada apa yang terjadi dan apa motivasi orang tersebut melupakannya. Sebab melupakan bisa muncul dari motivasi yang positif dan negatif. Yang positif misalnya, kita sudah selesaikan dan kita sudah bisa menerima kenyataan maka sekarang kita lupakan. Yang negatif misalnya, kita ingin menyangkali keberadaan peristiwa tersebut, menyangkali bahwa itu pernah terjadi dalam hidup kita maka kita mencoba untuk melupakannya.

Sejauh mana seseorang bisa mengingat masa lalunya, ini tergantung pada apa yang dialaminya dan pada usia berapa ia mengalaminya. Pada umumnya kita sulit sekali mengingat peristiwa yang terjadi di bawah usia 3 tahun. Di atas usia 3 tahun ada peristiwa-peristiwa yang masih bisa kita ingat. Kita bisa lebih mengingat peristiwa yang terjadi sekitar usia 5 tahun keatas. Seringkali orang bertanya kepada saya, apa peranan Roh Kudus atau Tuhan dalam proses kesembuhan atas peristiwa-peristiwa traumatis yang kita alami di masa lampau? Asumsinya adalah Tuhan berkuasa dan dengan kuasaNya yang besar itu IA mampu membebaskan kita dari kungkungan masa lalu kita. Tapi mengapa begitu banyak orang Kristen yang tetap dipengaruhi sekali oleh masa lalu mereka.

Jawaban saya demikian:

  1. Tuhan memang mampu dan berkuasa tapi cara Tuhan bekerja tidak selalu supernatural. Tuhan bisa saja menghilangkan pengaruh masa lalu itu secara mendadak dan supranatural tapi cara kerja Tuhan bukanlah demikian. IA lebih sering bekerja secara natural, apalagi yang berkaitan dengan masalah psikologis.

  2. Kesembuhan kita atas masa lalu menuntut pergumulan. Dan pergumulan kalau diistilahkan dalam bahasa kristiani adalah pertumbuhan.

Mazmur 40:2-4, Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.

Saya kira ada dua unsur penting di sini:

  1. Adalah pengakuan bahwa kita ini pernah berada di lumpur rawa, hampir dalam kebinasaan. Jadi adanya suatu pengakuan tentang masa lalu kita.

  2. Adalah adanya faktor pertolongan Tuhan setelah kita menanti-nantikan pertolonganNya. Maka pemazmur berkata saya akan menyanyikan lagu atau nyanyian baru. Lagunya mungkin sama, tapi dinyanyikan dengan jiwa yang baru. Hidup kita tetap sama tapi jiwa yang sudah menerima pertolongan Tuhan akan bisa melihat hidup ini dengan mata yang berbeda. Jadi bagi siapa yang menderita karena masa lalunya, tetaplah menanti-nantikan Tuhan, itulah yang diminta oleh Tuhan.

Langkah-langkah yang diperlukan untuk menjahit masa lalu:

  1. Kita perlu mengakui keberadaan bagian hidup yang memalukan itu, mengakui berarti tidak menyangkalinya lagi.

  2. Kita harus memeriksa pelaku atau penyebab utama peristiwa itu. Artinya kita harus melihat dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang bertanggung jawab, ini bisa menyangkut diri kita sendiri atau orang lain. Kita seringkali berat di kiri atau di kanan, tidak bisa berada di tengah-tengah.

    1. Yang pertama, kecenderungan kita adalah menyalahkan orang lain. Semua orang salah, semua salah papa mama, keadaan salah, semua salah teman, semua salah gereja, atau semuanya salah Tuhan. Kita tidak mau memikul tanggung jawab.

    2. Yang berikutnya, kita cenderung menyalahkan diri sendiri, semua salah saya, kalau saja saya lebih pintar, lebih tanggap, lebih ngerti, lebih dewasa, atau saya bertindak seperti ini dan itu, tentu masalah ini tidak akan terjadi. Sayalah yang menyebabkan semua ini terjadi.

  3. Kita mengizinkan diri untuk mengekspresikan perasaan yang muncul saat itu. Jadi kita harus berani beremosi baik itu sedih,ataupun marah terhadap orang yang memang telah menyakiti kita.

  4. Kita perlu menerima kenyataan akan adanya suatu yang terhilang akibat peristiwa itu.

  5. Menangisi kehilangan atau goresan luka itu

  6. Memahami mengapa peristiwa itu terjadi. Ini mengandung unsur mengerti secara menyeluruh, jadi mengerti sungguh-sungguh kaitan-kaitannya dan motivasi pada masing-masing orang yang terlibat

  7. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita, baik itu orang lain maupun diri sendiri.

  8. Yang terakhir, kita harus menjahit atau menyatukan masa lalu yang memalukan itu dengan diri yang kita banggakan.

Filipi 1:6 "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai kada akhirnya pada hari Kristus Yesus."

Ayat ini merupakan penghiburan yang besar sekali untuk kita semua, Tuhan sudah memulai pekerjaan yang baik dan Dia berjanji akan meneruskannya sampai pada akhirnya. Jadi kita harus selalu yakin bahwa yang Tuhan sudah lakukan ini akan berlanjut, bukan dengan tenaga atau kuasa kita sendiri tetapi dengan kuasa dan cara Tuhan, dan akhirnya semuanya bisa kita lewati.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan daripada perbincangan kami beberapa waktu yang lalu, tentang "Menjahit masa laluku", karena masih ada banyak hal yang masih perlu kami perbincangkan pada kesempatan ini. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu, kita sudah membicarakan tentang masa lalu yang dimiliki oleh setiap orang yang merupakan bagian dalam kehidupan kita ini, dan kita akan melanjutkan perbincangan ini. Namun sebelumnya mungkin Pak Paul bisa mengulas sedikit apa yang sudah pernah kita bicarakan.

PG : Pada dasarnya kita mengakui bahwa masa lalu itu memang acapkali berdampak pada kehidupan kita sekarang ini. Nah, dampaknya itu bergantung pada berapa manisnya atau berapa pahitnya hal yng kita alami itu.

Hal-hal yang manis akan membuat kita bangga tentang diri kita dan akhirnya membuat kita berani untuk membuka diri kepada orang lain. Kebalikannya hal-hal yang pahit akan membuat kita malu mengenangnya dan kita mencoba untuk menutupinya dari kehidupan kita sehingga kita tidak mau orang lain mengetahui kehidupan kita itu. Nah masa lalu ini tidak bisa kita lepaskan dari hidup kita, nah sering kali yang kita lakukan adalah untuk yang memang pahit itu akan mencoba untuk merobeknya dari kehidupan kita ibarat baju yang kita sobek. Nah makanya topik pada hari ini adalah "Menjahit masa laluku," dalam pengertian memang kita perlu menempelkannya kembali ke dalam hidup kita dengan cara menjahitnya. Nah jahitan di sini berarti satu lubang demi satu lubang, kita tidak menjahit sekaligus, kita menjahit satu lubang demi satu lubang. Jadi proses penyembuhannya juga akan memerlukan proses satu hal demi satu hal, satu hari lepas satu hari seperti itulah.
GS : Tapi kebanyakan kita itu mencoba untuk justru melupakan masa lalu yang kurang menyenangkan bukan malah menjahitnya, justru kalau bisa itu membuangnya jauh-jauh Pak Paul?

PG : Kalau memang tidak mengganggu kita, silakan kita singkirkan dari benak kita tidak apa-apa, namun kalau memang mengganggu pandangan kita tentang kita, mengganggu emosi kita, dan juga menganggu kita dalam hubungan dengan orang lain, nah kalau sudah sampai ke taraf seperti itu, saya kira kita harus hadapi.

(1) GS : Tapi Pak Paul mengumpamakannya dengan menjahit, itu tentunya tidak menjahit dengan mesin yang canggih, yang bisa cepat, tapi justru menjahit dengan tangan yang tadi Pak Paul katakan satu lubang demi satu lubang. Nah tentu ada suatu teknik tertentu atau cara tertentu yang Pak Paul bisa sampaikan kepada kami dan juga para pendengar, bagaimana sebenarnya langkah-langkah yang diperlukan untuk menjahit masa lalu itu?

PG : Saya membaginya dalam 8 tahapan Pak Gunawan, tahap pertama adalah kita perlu mengakui keberadaan bagian hidup yang memalukan itu, mengakui berarti tidak lagi menyangkalinya. Nah, ini mugkin tampaknya sepele, namun sebetulnya untuk peristiwa yang memalukan kecenderungan kita yang pertama adalah menyangkalinya atau kita mencoba mendistorsinya bahwa o...tidak

begitu kok peristiwanya, o... bukan itu yang terjadi, jadi dengan kata lain kita mencoba untuk mengubah peristiwanya, sehingga tidak lagi persis sama seperti yang kita alami. Nah langkah yang pertama harus kita akui itu benar-benar terjadi seperti itu.
GS : Kalau yang terjadi rasionalisasi Pak Paul?

PG : Rasionalisasi akan penting dan ada tempatnya, namun bukan pada tahap pertama. Jadi tahap pertama tetap harus kita akui apa adanya.

GS : Terus langkah berikutnya Pak?

PG : Kita harus memeriksa pelaku atau penyebab utama peristiwa itu, artinya kita harus melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang bertanggung jawab. Nah, ini bisa menyangku diri kita sendiri yang bertanggung jawab atau orang lain.

Kecenderungan kita sering kali berat di kiri atau berat di kanan tidak bisa berada di tengah-tengah, kecenderungan kita yang pertama misalnya adalah menyalahkan orang lain. Semua salah orang, semua salah papa mama, salah keadaan, semua salah teman, semua salah gereja, ah semuanya salah Tuhan, jadi kita tidak mau memikul tanggung jawab. Nah, kecenderungan yang berikutnya adalah menyalahkan diri sendiri, semua salah saya, kalau saja saya lebih pintar, saya lebih tanggap, saya lebih mengerti, saya lebih dewasa, saya bertindak seperti ini dan itu, tidak akan terjadi, sayalah yang menyebabkan semua ini terjadi. Jadi pada akhirnya semua kesalahan saya. Nah, pada tahap memeriksa kita harus melihat jelas, sebetulnya siapa yang bertanggung jawab, siapa yang melakukannya, apakah saya mempunyai pilihan saat itu. Kalau saya tidak punya pilihan, mengapa pilihan itu tidak bisa saya ambil, kalau misalnya ada pilihan tapi saya tidak bisa mengambilnya, mengapa kok saya tidak bisa memikirkannya dan bertindak seperti itu. Nah, kita harus melihat dengan jelas kesalahan siapa, mungkin sebagian kita sebagian yang lainnya.
GS : Tapi justru untuk obyektif seperti itu, itu yang sulit Pak Paul?

PG : Sangat sulit sekali karena harus kita ingat kalau ini sudah terjadi misalnya 20 tahun yang lampau, berarti masa lalu itu kita akui atau tidak sudah membantu atau membentuk konsep diri kta atau pandangan kita tentang hidup ini, dan sulit sekali untuk kita bisa mengubahnya.

Saya berikan contoh yang gampang, misalnya seperti tadi, atau pada waktu yang terakhir kita membahasnya, sebagai suatu contoh pula. Kalau ada seorang wanita yang kesulitan untuk mempercayai pria karena ayahnya bermain serong dengan wanita lain, dan dia misalkan sudah hidup dengan konsep seperti ini selama 20 tahun. Misalkan ayahnya bermain serong pada saat dia berusia 10 tahun, sekarang dia usia sudah 30 tahun, sudah 20 tahun mempunyai anggapan bahwa laki-laki itu tidak bisa dipercaya, sebab 10 tahun pertama hidupnya sangat mempercayai pria, dalam hal ini ayahnya. Setelah dikhianati dan dikecewakan, dia terpaksa mengubah keyakinannya tentang hidup ini. Nah, ini sudah menjadi bagian dari hidup dia dan menjadi suatu yang integral dalam konsep pemikirannya, bahwa hidup ini perlu berhati-hati terutama terhadap pria, dan saya tidak akan sembarangan dengan pria dan saya harus berhati-hati dengan pria. Jadi sudah membentuk siapa dia, dan cara dia bersikap terhadap hidup ini. Kalau sekarang ini dia mau berubah, dia harus mengubah bukan saja satu keping dari kehidupannya namun seluruh kehidupannya akan berubah. Nah, ini yang kadang kala susah dia lakukan karena berarti dia harus mulai mempercayai pria lagi dan dia itu sudah terbiasa untuk tidak mempercayai pria dan hidupnya sudah relatif aman. Waktu dia harus mempercayai pria lagi wah....resikonya ini jangan-jangan nanti saya ditipu, akhirnya kebanyakan tidak begitu mudah mengubah konsep-konsep ini.
GS : Masalahnya itu memang terkait dengan orang lain Pak Paul, kalau itu cuma menjadi bagian dalam kehidupan kita, mungkin kita bisa lebih mudah untuk mengakuinya secara obyektif. Tapi ini karena menyangkut orang lain dan kita tidak tahu motivasinya pada waktu itu apa sebenarnya Pak Paul.

PG : Betul, jadi dalam kaitan dengan orang lain sebetulnya adakalanya kita ini tidak merasa aman, sewaktu kita harus mengubah pandangan kita itu. Sebab ancaman tiba-tiba muncul kembali, seba masa lalu yang pahit itu sebetulnya hal yang menakutkan, hal yang merugikan kita misalnya.

Jadi kita tidak mau dirugikan untuk kedua kalinya, jadi kita berusaha untuk menjauhkan diri dari ancaman ini.
GS : Maksud saya seperti tadi yang Pak Paul contohkan tentang seseorang yang takut pada laki-laki itu tadi, karena ayahnya sendiri berbuat serong. Padahal dia tidak tahu atau tidak memahami dengan persis kenapa ayahnya serong, mungkin juga ada bagian kesalahan dari ibunya. Apakah itu juga harus diakui Pak Paul?

PG : Perlu sekali, jadi dalam tahap memeriksa ini, dia melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ayahnya bermain serong dia harus akui, nah mungkin bisa jadi dia memarahi ayahnya, semua kesalahn ayahnya, atau ada orang yang justru kebalikannya, mengatakan ayah tidak salah, gara-gara ibu seperti ini maka ayah bermain serong.

Jadi memang ada kesimpulan-kesimpulan yang telah terdistorsi yang akhirnya kita miliki. Dalam tahap memeriksa kita harus melihat siapa yang menyebabkan, ataukah memang ada faktor sebab akibat di sini, apakah faktor dua-duanya saling berperan.
IR : Nah Pak Paul, untuk penyelesaian yang lain tadi ada 8 mungkin ada yang lain?

PG : Yang ketiga adalah kita mengizinkan Bu Ida, mengizinkan diri untuk mengekspresikan perasaan yang muncul saat itu, jadi kita mesti berani beremosi baik itu kesedihan kita atau pun kemaraan kita terhadap orang yang memang telah menyakiti kita itu, terhadap orang yang telah merugikan kita itu.

Misalkan orang tua kita bercerai dan misalkan kita bisa berkata OK! Saya mengertilah kenapa mereka bercerai, tapi sebagai seorang anak apa yang kita rasakan tatkala orang tua kita bercerai. Misalnya kita merasa marah, kenapa mereka itu akhirnya meninggalkan saya, sehingga tidak punya lagi kedua orang tua yang utuh. Saya marah kenapa mereka kok tidak bisa menyelesaikan persoalannya, nah perasaan yang awal ini sebaiknya kita kenali kembali dan kita ekspresikan apa adanya. Kadang kala kita takut mengekspresikannya karena berbagai sebab, misalnya kedua orang tua sekarang sudah sangat baik kepada kita, atau suatu hari salah satu orang tua kita sudah tidak ada, sudah meninggal masa kita begitu jahatnya mau marah-marah pada orang yang sudah meninggal. Dan yang harus kita yakinkan diri kita adalah waktu kita mengekspresikan emosi kita bukannya sedang memaki atau menghukum arang tua kita, tapi kita semata-mata mau memberitahukan mereka bahwa saat itu inilah perasaan saya, inilah yang terjadi saya marah, atau saya sedih, saya kecewa atau saya frustrasi dan sebagainya.
GS : Itu harus diungkapkan di depan yang bersangkutan Pak Paul?

PG : Tidak perlu, jadi kita bisa melakukannya sendiri, jadi misalkan waktu kita merenungkannya kita membiarkan diri kita merasakan kembali perasaan itu. Kalau bisa kita bicara langsung kepad yang bersangkutan.

GS : Mungkin jauh lebih baik, supaya ada teman bicara dan sebagainya.

PG : Betul.

GS : Langkah berikutnya apa Pak Paul?

PG : Kita perlu menerima kenyataan akan adanya suatu yang terhilang akibat peristiwa itu. Contoh misalnya setelah perceraian orang tua kita, ada kebutuhan yang akan terhilang atau sudah terhlang misalnya papa kita yang meninggalkan rumah, karena perceraian ini, kita kehilangan figur papa, belaian kasih sayang papa yang seharusnya kita bisa terima setiap hari.

Sekarang kita hanya bisa nikmati sebulan sekali atau sebulan dua kali. Kita akan kehilangan waktu untuk bercengkerama dengan papa kita, karena sudah tidak ada lagi di rumah, kita kehilangan model di mana kita bisa mencontohnya secara langsung, jadi kita harus akui apa yang terhilang setelah peristiwa itu. Misalnya ada lagi peristiwa yang lain, kita dilecehkan, dihina, nah apa yang terhilang dalam hidup kita setelah itu, keberanian, penghargaan diri, konsep diri yang positif tentang hidup kita ini, nah itulah hal-hal yang terhilang dan kita harus akui.
GS : Dengan mengakui hal-hal yang terhilang itu Pak Paul, apakah kita itu diajak untuk berharap bahwa yang terhilang itu bisa kita penuhi pada saat ini Pak Paul?

PG : Bagus sekali Pak Gunawan, jadi waktu kita menyadari apa yang terhilang, kita juga lebih bisa mengerti, apa yang harus kita lakukan untuk memenuhinya lagi sekarang, meskipun caranya mungin berbeda.

Atau karena mengakui adanya yang terhilang itu kita juga lebih bisa memahami tindakan-tindakan kita sekarang. Misalnya karena kita dulu sering dihina kita menjadi orang yang begitu menggebu-gebu membuktikan diri bahwa saya ini mampu, bahwa orang lain tidak bisa seenaknya saja menghina kita. Nah, kita akhirnya lebih bisa mengerti kenapa saya berperilaku seperti ini, o....saya tidak mau lagi dihina, karena itulah yang terhilang dalam hidup saya.
GS : Jadi Pak Paul setelah mungkin yang kita sudah bicarakan sebagian yang tadi Pak Paul katakan 8, mungkin saya rasa yang terberat itu justru langkah yang pertama itu Pak Paul, untuk betul-betul mau mengakui tentang masa lalu yang memalukan, itu suatu langkah yang cukup berat Pak Paul. Dan di situ sebenarnya peran konselor itu besar sekali, kalau dia tidak bisa menyelesaikannya sendiri.

PG : Sebab begini Pak Gunawan, biasanya kita harus meminjam penerimaan orang lain, sebelum kita bisa menerima diri sendiri. Di hadapan konselor atau orang lain yang bisa kita percayai, waktukita mengakuinya, terus dia memberikan respons bahwa dia menerima kita, nah responsnya itu yang menerima kita seolah-olah menjadi kekuatan untuk kita menerima masa lalu itu.

Sebab dengan kekuatan sendiri, kita seakan-akan tak berdaya untuk menerimanya, tidak bisa lagi kita terima, tapi waktu konselor kita atau sahabat kita ini atau hamba Tuhan kita ini menerima kita apa adanya itu seolah- olah memberikan kita kemampuan untuk memeluk kembali masa lalu yang kita tidak bisa terima itu.
IR : Tapi sebaliknya Pak Paul, kalau orang ini berada dalam kondisi yang justru menekan dia, apa yang harus dia lakukan?

PG : Kondisi yang menekan dia pada masa sekarang akan menyulitkan dia menerima masa lalu itu Ibu Ida, karena apa, karena masa lalu itu akan menambah penderitaannya, meskipun sering kali memag harus dibahas, harus diungkit, dan harus diselesaikan.

Tapi karena dia sudah begitu dalam kesakitan, orang tersebut tidak bisa membayangkan menambah lagi rasa sakitnya. Dia sudah begitu merasa hidup tidak ada gunanya lagi sekarang. Nah, kalau dia harus menambah lagi dengan masa lalunya itu, dia merasa sudah tidak ada lagi kekuatan untuk menanggungnya. Itu sering kali menjadi alasan kenapa orang tidak mau melihat masa lalu tersebut.
GS : Selanjutnya Pak Paul, setelah kita ini mengakui adanya hal-hal yang hilang di masa lalu itu, dan kita mencoba untuk mengisinya pada saat ini langkah berikutnya apa Pak Paul?

PG : Langkah berikutnya adalah menangisi akan kehilangan atau goresan luka itu, jadi kita mengakui sebetulnya apa yang terhilang dari kehidupan kita, dan yang sebetulnya kita sangat rindukandalam hal ini misalnya kerinduan belaian kasih sayang dari seorang ayah.

Silakan kita tangisi, silakan berdukacita karena berdukacita atau proses berdukacita sebetulnya adalah proses menangisi kehilangan sesuatu yang berharga, yang tidak lagi kita dapat nikmati. Jadi silakan kita keluarkan perasaan kita yang sedih itu.
GS : Tapi ada sebagian orang yang memang menganggap bahwa tangisan itu menunjukkan kelemahan dia. Dan ada yang malah bertindak ekstrim, di tengah-tengah justru sebenarnya dia menangis atau pada umumnya orang menangis dia malah bertindak sebaliknya Pak Paul, apakah tindakan seperti itu bisa dibenarkan artinya baik untuk dirinya atau justru merugikan untuk dirinya?

PG : Mungkin untuk waktu tertentu, baik untuk dirinya dalam pengertian mungkin dia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kesedihan. Karena itulah dia membangkitkan semangatnya, dan menjadi serang yang mudah marah dan tidak bisa lagi merasakan kesedihan.

Namun dengan dia menjadi orang yang marah dia menjadi orang yang akhirnya kuat dan tabah menghadapi kekerasan hidup ini. Nah, tapi dalam proses penyembuhan ini memang yang lebih ideal adalah dia kembali kepada sesungguhnya yang terjadi itu yakni ada yang hilang dan dia menangisi yang hilang itu. Kita memang cenderung berkiblat dari satu ekstrim ke ekstrim yang satunya, ada orang yang perlu menangis tapi dia tutupi sehingga yang muncul kemarahan. Ada yang perlu marah tapi dia tidak bisa marah sehingga semua ditutupi dengan tangisannya.
GS : Nah, setelah seseorang itu bisa mengerti atau memahami mengapa semua itu terjadi pada dirinya, apa sebenarnya yang harus dia lakukan Pak Paul?

PG : Berikutnya adalah memahami mengapa peristiwa itu terjadi, jadi ini mengandung unsur mengerti secara menyeluruh, jadi mengerti sungguh-sungguh kaitan-kaitannya dan motivasi pada masing-msing orang yang terlibat, kenapa kok dia sampai begini.

Apa sebabnya o....dia pun dibesarkan seperti ini, o....ayah dulu melihat kakek itu seperti itu, o....ibu juga begini karena itulah keluarga ibu yang membesarkan ibu saat itu, o....saya mengerti kenapa ayah dan ibu sering bertengkar karena mereka hidup dalam kesusahan, tekanan ekonomi begitu berat, sehingga mereka tidak bisa menghadapi stres dengan baik. Sehingga akhirnya kemarahan diluapkan pada anak-anak, o....saya sekarang mengerti. Nah, di sinilah kita merasionalisasi dengan benar, karena sudah melihat faktanya dengan tepat pula.
GS : Jadi ada unsur analisa di sana, menganalisa keadaan pada waktu itu.

PG : Betul sekali. Analisa yang tepat ini akan memberi kita juga pengertian yang jelas, inilah duduk masalahnya.

GS : Berarti masa menangis dan sebagainya, menerima itu tidak bisa dibiarkan berlarut- larut Pak Paul. Jadi ada masanya dia harus berhenti dan mulai secara rasional menganalisa.

PG : Betul, karena kalau hanya emosi saja yang diubahkan itu biasanya tidak permanen, harus ada perubahan secara rasional.

GS : Tapi justru pada saat kita secara rasional bisa menerima itu, entah disadari atau tidak ada perasaan tidak senang dengan orang-orang yang menyebabkan kita mengalami, katakan penderitaan itu, masa lalu yang kurang baik itu Pak Paul.

PG : Betul Pak Gunawan, jadi ini membawa kita ke langkah berikutnya yang ketujuh yakni mengampuni. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita, baik itu orang lain maupun diri sendiri, Pak Guawan.

Jadi mengampuni ini terus-menerus maka saya simpulkan bahwa pengampunan rasional mendahului pengampunan emosional. Artinya apa, kita sudah mengampuni secara rasional tapi setelah itu emosi kita masih ada, kita masih marah, nah memang itulah yang biasanya terjadi, urutannya memang begitu; pengampunan rasional itu dulu perlahan-lahan, pengampunan emosional itu baru muncul. Jadi harus kita ulang lagi, ulang lagi, hari ini marah hari ini kita ampuni, besok mendingan lusa marah lagi, lusa kita ampuni lagi terus begitu.
GS : Mungkin dalam hal itu juga Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa untuk bisa mengampuni orang lain.

PG : Betul, dan Tuhan sendiri memang mengaitkan niat untuk mengampuni itu dengan pengampunan dari Allah Bapa. Sebagaimana yang ditulis dalam Matius 6 : 14, 15 "Jikalau kamu tida mengampuni orang yang bersalah kepada kamu, maka BapaKu yang di surga pun tidak akan mengampuni kamu."

Jadi Tuhan memang mengaitkan niat itu, proses pengampunannya memang akan memakan waktu, tapi Tuhan menuntut kita memberikan langkah pertama itu yaitu pengampunan rasional. Sebab sering kali kita ini orang yang enggan memberikan pengampunan.
GS : Tapi Pak Paul berdasarkan pengalaman Pak Paul, atau di dalam konseling orang lain dan sebagainya, mengampuni orang lain dan mengampuni diri sendiri mana yang mudah dilakukan, bukankah itu 2 hal yang sama beratnya?

PG : Kadang-kadang memang tergantung pada apa dampaknya persoalan itu pada dirinya. Ada orang yang mudah mengampuni diri sendiri, ada orang yang lebih sulit mengampuni diri sendiri.

IR : Kemudian langkah yang berikutnya Pak Paul?

PG : Nah, yang terakhir adalah kita mesti akhirnya menjahit atau menyatukan masa lalu yang memalukan itu dengan diri kita yang kita banggakan. Saya sengaja mendampingkan tentang 2 hal ini maa lalu yang memalukan dan diri yang kita banggakan.

Sebab kecenderungan kita adalah mau sempurna Bu Ida yaitu kita menampilkan yang bagus, yang kita banggakan, sementara yang memalukan kita tidak mau lagi. Kalau kita ada baju yang bagus dan kita terbiasa memakai baju yang bagus kita tidak suka memakai baju yang jelek karena sudah menjadi image kita, citra diri kita. Nah, orang yang berani hanyalah orang yang bisa menyatukan keduanya ini di dalam dirinya yaitu berani mengakui bahwa saya ini tidak sebaik yang engkau pikir, ada hal yang memalukan yang pernah saya alami, nah ini saya akan berani memberitahukan kepada saudara sekalian, kepada kita semuanya, nah itu adalah orang yang berani. Sebab kecenderungan kita begitu, makanya ada orang yang kebalikannya berani menonjolkan semua yang jelek karena memang tidak ada yang bagus. Karena memang dia merasa dirinya tidak ada yang bagus makanya dia berani terus menerus memberikan yang jelek-jelek dan terus-menerus melakukan yang jelek-jelek. Manusia sering kali jatuh ke dalam dua kutub yang sangat berbeda ini, akhirnya yang jelek ini semua ditunjukkan tapi dia merasa aman, nah sebaliknya orang yang maunya bagus, dia akan tunjukkan yang bagus. Nah, yang bisa berdiri di tengah-tengah dan merangkul keduanya saya kira itu yang paling sehat, namun justru yang paling susah.
IR : Dan mungkin ada firman Tuhan Pak Paul, yang bisa Pak Paul sampaikan?

PG : Saya akan bacakan dari surat Filipi 1 : 6, "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya, sampai pada akhrnya pada hari Kristus Yesus."

Ayat ini merupakan penghiburan yang besar sekali Ibu Ida untuk kita semuanya, Tuhan sudah memulai pekerjaan yang baik dan Dia berjanji akan meneruskannya sampai pada akhirnya. Jadi kita harus selalu yakin bahwa yang Tuhan sudah lakukan ini akan berlanjut, bukan dengan kuasa dan tenaga kita sendiri, tapi dengan kuasa Tuhan, dengan cara Tuhan dan akhirnya ini bisa kita lewati. Janji Tuhan tidak bohong, jadi bagi siapa yang memang mengalami masa lalu yang buruk dan kita mencoba menyobeknya dari kehidupan kita ini jangan ragu untuk menjahitnya, dan langkah pertama itu Tuhan akan lanjutkan dengan langkah berikutnya.
GS : Saya percaya bahwa Tuhan menghendaki kehidupan kita juga utuh tidak terobek-robek juga dengan masa lalu. Karena itu kita masih punya PR, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan menjahit masa lalu itu Pak Paul.

PG : Betul.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah mempersembahkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang kelanjutan dari pokok pembicaraan kita yang lalu yaitu "Menjahit Masa Laluku" bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 45 B

  1. Langkah-langkah apakah yang diperlukan untuk menjahit masa lalu?


18. Okultisme Masalah dan Penanggulangannya


Info:

Nara Sumber: Pdt. J.H. Soplantila, M.Div. & Pdt. Dr. Paul Gunad
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T047A (File MP3 T047A)


Abstrak:

Okultisme adalah suatu ilmu yang bersifat supernatural, yaitu ilmu tentang roh di mana orang mempelajari tentang roh-roh yang bukan Roh Allah.


Ringkasan:

Okultisme itu suatu ilmu yang bersifat supernatural. Ilmu tentang roh di mana orang mempelajari tentang roh-roh yang bukan Roh Allah tetapi roh-roh di luar Roh Allah. Ilmu ini tujuannya untuk melindungi diri dari serangan orang lain, dari serangan roh-roh yang di luar roh Tuhan dan juga dari alam ini. Kita harus membedakan roh terang dan roh gelap, jadi Roh Allah di pihak roh yang terang sedangkan roh setan atau iblis itu di pihak roh gelap. Berarti dalam hal ini ada kekuatan yang besar, ada kekuatan dari Allah dan ada kekuatan dari roh iblis.

Dalam dunia ini ada 2 roh yang kita kenal, yaitu Roh Tuhan dan roh iblis atau setan. Alkitab menjelaskan asal-usulnya iblis dengan jelas.

Yehezkiel 28:12-17, "Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga:......Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kau musnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya."

Iblis adalah salah satu malaikat Tuhan yang memang menempati posisi yang khusus, dan dia adalah lambang keindahan dan kecantikan tapi karena dia berbuat curang bahwa iblis itu ingin menjadi Allah maka Tuhan melempar dia ke bumi. Jadi memang salah satu ciri iblis yaitu memberikan yang indah, yang mewah, yang bagus, yang wah kepada manusia agar manusia bisa terpikat kepadanya, dan iblis akan berusaha keras mengelabui manusia bahwa dialah sebetulnya Allah.

Dua unsur menarik yang biasanya ditawarkan iblis:

  1. Agar kita menjadi kuat, menjadi hebat, menjadi super, kita mampu melakukan hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh manusia biasa.

  2. Agar kita bisa mengerti atau tahu masa depan kita, dan masa depan orang lain juga.

Sebagai contoh, kita ambil saja horoskop walau itu penipuan. Ada satu gangguan kejiwaan yang memang menyerupai kerasukan setan yaitu gangguan schizofrenia. Gangguan schizofrenia adalah gangguan di mana seorang kehilangan pikiran yang waras, akhirnya mendapatkan gangguan hingga dia tidak bisa berpikir secara rasional dan tidak bisa lagi melihat realitas seperti yang dilihat oleh orang-orang pada umumnya.

Cara yang baik untuk membedakan keduanya adalah:

  1. Kalau orang itu kerasukan setan biasanya ada kaitan dengan setan sebelum terjadinya kerasukan setan tersebut. Sedangkan gangguan schizofrenia biasanya tidak ada kaitan dengan hal itu, dan pada gangguan schizofrenia biasanya dapat ditelusuri sejarahnya.

  2. Waktu kita mengusir setan dan kita meminta orang tersebut untuk mengundang Tuhan Yesus menjadi Tuhannya biasanya dia akan kesulitan menyebut nama Tuhan Yesus. Sedangkan pada gangguan schizofrenia biasanya itu tidak menjadi masalah, orang tersebut bisa saja mengucapkan nama Tuhan Yesus dengan mudahnya.

I Yohanes 4:2-4, "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia,berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengakui Yesus, tidak berasal dari Allah....Kamu berasal dari Allah anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia."

Ada 2 pelajaran yang bisa kita timba dari firman Tuhan ini:

  1. Yang pertama adalah kita mesti mawas diri untuk mengenal bahwa roh tidak semuanya berasal dari roh Allah, jadi jangan sampai kita tertipu.

  2. Yang kedua adalah kita harus mengingat bahwa Roh Tuhan yang ada pada diri kita lebih berkuasa dari roh-roh lain atau roh iblis, sehingga dengan kuasa Tuhan yang ada pada diri kita. Kita bisa mengusir setan dan setan pun tidak berani untuk mengganggu kita, karena pada diri kita sudah ada Roh Allah.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan juga Bp. Pdt. Hendrik Soplantila. Sebuah perbincangan kali ini kami akan berbincang-bincang tentang okultisme. Kami percaya Anda semua ingin tahu apa yang akan kami bicarakan pada saat ini, karenanya dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Hendrik, kami senang sekali kalau pada kesempatan ini Pak Hendrik bisa bersama-sama kami dan bertepatan pada hari ini ibu Idajanti yang biasanya bersama-sama dengan kami berhalangan, jadi saya rasa ini waktu yang tepat untuk perbincangan kita karena kami tahu Pak Hendrik banyak pengalaman maupun pengetahuan tentang okultisme. Nah, kami mencoba ingin memahami lebih jauh karena istilah ini sering kali kami dengar, kami baca dan seterusnya tetapi tidak terlalu jelas benar, apa sebenarnya okultisme itu Pak Hendrik?

HS : Ya, terima kasih Pak Gunawan, perlu saya jelaskan bahwa okultisme itu suatu ilmu yang bersifat supernatural. Jadi ilmu tentang roh di mana orang mempelajari tentang roh-roh yang bukan Roh llah tetapi roh-roh di luar Roh Allah.

Jadi mereka mempelajari untuk mendapatkan kekuatan dan rindu ingin mengetahui masa depan mereka atau masa depan dari orang lain. Jadi kita melihat di sini ilmu ini memang tujuannya untuk melindungi diri dari serangan orang lain, dari serangan roh-roh yang di luar roh Tuhan dan juga dari alam ini. Nah, mengapa ini saya katakan demikian karena sering kali kalau seseorang tidak senang terhadap seseorang yang lain dan dia mau melakukan tindakan-tindakan yang tidak diketahui oleh orang itu, dia menggunakan okultisme untuk menyerang.
(2) GS : Tadi Pak Hendrik katakan ini adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang roh-roh yang bukan Roh Allah. Sebenarnya berapa macam roh yang bisa kita kenal, Malaikat itu juga roh ya Pak, kami ingin mungkin Pak Hendrik bisa menjelaskan.

HS : Memang kita tahu Allah itu roh adanya tapi Allah itu roh yang kudus adanya, sedangkan di luar Allah ada roh-roh lain, memang para Malaikat juga roh dalam satu pihak; kita harus membedakan oh terang dan roh gelap jadi Roh Allah di pihak roh yang terang sedangkan roh setan, roh Iblis itu di pihak roh gelap.

GS : Berarti ada kekuatan yang besar dalam hal ini, ada kekuatan dari Allah dan ada kekuatan dari roh Iblis itu yang tadi mau dikatakan.

HS : Ya betul, ada kekuatan tetapi kita harus menyadari bahwa kekuatan yang satu, kekuatan yang gelap ini sudah kalah, jelas sudah kalah jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa ada kekuatan yang ama kuatnya dengan kuasa Allah, tidak bisa, karena kuasa yang satu sudah kalah.

GS : Okultisme itu sendiri, kalau itu dikatakan seperti tadi, itu 'kan tentunya suatu ilmu yang sudah tua sekali, mungkin setua umur manusia Pak?

HS : Ya benar, karena Iblis sudah ada sebelum manusia diciptakan.

GS : Ini memang sengaja diajarkan atau dipublikasikan oleh kuasa-kuasa kegelapan supaya pengikutnya bertambah.

HS : Ya saya pikir demikian Pak Gunawan, karena seperti contoh kalau kita lihat di dalam orang mencari kekuatan-kekuatan, pergi bertapa, mereka kemudian pergi untuk belajar ilmu kanuragan atau apa, nah itu semuanya mau tidak mau mereka belajar. Dan ada tingkatan-tingkatan tertentu di mana mereka mendapatkan itu.

GS : Apakah itu tidak bisa kita dapatkan dari Allah, dari Roh Allah Pak?

HS : Saya pikir kuasa Roh Kudus itu lain tujuannya, karena hanya Allah yang Mahatahu dan manusia tidak mahatahu. Memang ada karunia-karunia yang Allah berikan, tetapi karunia-karunia itu juga trbatas supaya manusia tidak terikat kepada pemberian itu tetapi terikat kepada yang memberi.

GS : Sedang kalau okultisme biasanya orang terikat kepada yang memberinya.

HS : Memang kepada si setannya itu.

GS : Sehingga dia secara langsung atau tidak menjadi budaknya, yang bisa diperalat. Nah, tetapi okultisme bisa tumbuh dengan begitu suburnya, dengan begitu cepatnya Pak?

HS : Memang benar Pak Gunawan, saya melihat bahwa ada hal yang sangat menarik yang ditawarkan oleh kuasa kegelapan, yaitu dengan kita memiliki itu kita bisa tahu masa depan, dengan memiliki itukita memiliki satu kekuatan yang luar biasa, kesaktian, atau kemampuan-kemampuan yang supra.

GS : Nah, kalau Pak Hendrik berbicara tentang okultisme sebenarnya ada sesuatu keingintahuan saya, apakah Pak Hendrik ini mempelajari begitu saja ilmu ini atau memang pernah terlibat langsung Pak?

HS : Ya pernah terlibat langsung Pak Gunawan, karena masalahnya begini saya dulu seorang Maluku. Saya memiliki sesuatu dari tante saya, jadi mama sendiri tidak tapi menerima dari tante saya. Keudian saya menerima juga dari om saya, opa saya, saya menerima semua itu, dan itu saya gunakan untuk berkelahi dan untuk menjaga diri.

GS : Yang diterima itu dalam bentuk apa, Pak?

HS : Dalam bentuk mantera, ada juga dalam bentuk benda yang dibungkus dengan kain merah, yang harus dibawa.

GS : Nah setelah Pak Hendrik menerima itu, perubahan apa yang terjadi dalam diri Pak Hendrik?

HS : Rasanya berani, mau jalan ke mana-mana itu rasanya tidak takut.

GS : Jadi percaya diri.

HS : Ya percaya diri, rasanya itu tidak ada orang yang berani melawan saya, pokoknya saya jalan tenang-tenang saja di dalam gelap, atau dalam kondisi apa saja saya tidak takut.

PG : Kita sekarang hidup di dalam alam rasional Pak Hendrik, sehingga kebanyakan kita kurang begitu peka dengan suatu fakta bahwa sebetulnya dunia kita ini bukan saja dunia fisik yang dapat kit observasi dan kita telaah, tapi ada juga dunia spiritual atau dunia roh.

Dan dalam dunia roh ini ada 2 roh yang kita kenal yaitu Roh Tuhan dan roh Iblis ya, roh setan. Alkitab memang menjelaskan Pak Gunawan, asal-usulnya Iblis dengan jelas sekali. Kalau saya boleh bacakan di Yehezkiel pasal 28 mulai dari ayat 12 "Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kau musnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya." Jadi dari firman Tuhan kita belajar bahwa Iblis adalah salah satu malaikat Tuhan yang memang menempati posisi yang khusus, dan dia adalah lambang keindahan dan kecantikan tapi karena dia berbuat curang yakni dijelaskan juga dalam firman Tuhan bahwa Iblis itu ingin menjadi Allah maka Tuhan melempar dia ke bumi. Jadi memang salah satu ciri Iblis yaitu memberikan yang indah, yang mewah, yang bagus, yang wah kepada manusia agar manusia bisa terpikat kepadanya dan Iblis akan berusaha keras mengelabui manusia bahwa dialah sebetulnya Allah. Jadi waktu manusia menyembah kepadanya, manusia tidak menyadari bahwa mereka sebetulnya sedang menyembah kepada Iblis, karena Iblis memang bisa menipu atau memperdayakan manusia. Mungkin itu yang Pak Hendrik juga temukan bahwa akhirnya cukup banyak orang yang bisa terpikat karena apa yang ditawarkan oleh Iblis atau kasus yang kedua adalah orang-orang yang tertipu ya Pak Hendrik mengira bahwa ini dari Allah padahal bukan dari Allah.

HS : Seperti di dalam Korintus surat Rasul Paulus dikatakan bahwa tidak heran Iblis dapat datang seperti malaikat yang suci, malaikat terang. Jadi tidaklah salah atau tidaklah mengherankan kala pengikut-pengikutnya pun menunjukkan diri seperti orang-orang suci.

Memang di satu pihak Rasul Petrus mengatakan Iblis mengaum-aum seperti halnya singa yang mengaum-aum tapi di pihak lain kita harus berhati-hati bahwa Iblis juga bisa datang seperti malaikat. Jadi dia datang dalam dua wajah dalam hal ini saya lihat, jadi kalau memang seperti singa yang mengaum-aum kita mengerti cepat, kita tahu, tapi kalau seperti malaikat, nah ini kita harus betul-betul dengan firman Allah untuk membandingkan apakah benar ini dari Allah atau dari si Iblis.
GS : Tapi biasanya yang terpikat itu justru orang-orang yang katakan memang namanya terpikat atau tertipu tadi, tidak mengenal betul siapa yang menipu dia.

HS : Itu karena kurang keakraban dalam hubungan dengan Allah.

GS : Ya memang mungkin belum akrab, sehingga dia terpikat, namanya orang yang tertipu karena kita tidak mengenal dengan penipunya, tapi kalau tahu penipunya pasti akan menghindar. Nah masalahnya adalah bagaimana khususnya kita melalui acara perbincangan TELAGA ini kita bisa mengenal bahwa orang yang menawarkan kepada kita itu adalah sesuatu upaya penipuan supaya kita terjerat pada okultisme.

HS : Yang saya lihat Pak Gunawan, bahwa biasanya semua yang bukan dari Allah itu biasanya menggunakan atau semua tindakan-tindakan itu bersifat rahasia sepertinya misterius. Suatu contoh merekatidak pernah mau menyebutkan atau mengucapkan mantera itu dengan jelas, mereka tidak mau, jadi mereka itu hanya berbisik-bisik saja tidak mau mereka menyebutkan dengan jelas bagaimana.

GS : Dan unsur menarik apa biasanya yang mereka tawarkan Pak?

HS : Dari Iblis maksud saya, kalau Iblis menawarkan ada 2 hal Pak Gunawan, yaitu pertama supaya kita itu menjadi kuat, kita menjadi hebat, kita menjadi super, kita mampu melakukan hal-hal yang idak mampu dilakukan oleh manusia biasa.

Kedua, kita juga bisa mengerti atau tahu masa depan, masa depan kita, masa depan orang lain juga. Misalnya suatu contoh kita ambil saja horoskop walau itu penipuan, ini satu contoh saja.
GS : Banyak orang yang tahu sebenarnya itu penipuan, atau rekayasa atau apapun juga karya manusia, tapi mengapa orang justru tertarik dengan hal-hal seperti itu?

HS : Karena manusia ingin tahu Pak, memang sudah ada di dasar hatinya, supaya dia itu tahu masa depannya bagaimana supaya dengan begitu mereka merasa aman pada waktu jalan ke depan atau jalan mnatap masa depan mereka.

(3) GS : Nah, biasanya orang yang terlibat dalam okultisme itu menjadi semacam perantara saja antara Iblis dengan dunia nyata ini, apa yang dia katakan bukan suaranya sendiri, apa yang dilakukan juga bukan kemauannya sendiri. Nah, bagaimana kita mengenalinya Pak bahwa ini memang dari Iblis dan bukan pura-pura dan sebagainya seperti itu?

HS : Seperti tadi saya sudah ungkapkan kalau dia datang sebagai singa yang mengaum-aum mudah kita mengerti, mudah kita tahu, tapi kalau dia datang seperti malaikat, mau tidak mau kita juga haru mengerti kebenaran firman Allah supaya kita bisa memahami bahwa ini bukan dari Allah.

Ini suatu contoh dari ajaran-ajaran di dalam agama Kristen yang tidak sesuai, kalau kita tidak mengerti firman Allah atau tidak mengerti Alkitab kita akan tertipu.
GS : Saya rasa memang sering kali dikemukakan pada kita ada yang asli dan ada yang palsu. Yang palsu itu biasanya lebih menarik dan seterusnya, tapi di samping orang-orang yang memang belajar tentang okultisme kita 'kan melihat kenyataan ada orang-orang yang dirasuk oleh setan, Alkitab pun sering kali bicara tentang itu. Sebenarnya bagaimana kita bisa mengenal hal ini Pak? Bahwa orang itu sedang dirasuk setan.

HS : Menurut pengalaman yang saya lakukan, biasanya orang yang dirasuk setan itu tidak bisa berpikir secara cerah, dia tidak bisa berpikir, dipanggil juga dia tidak mendengar. Pernah waktu sayamelayani seseorang, saya berkata demikian, dalam nama Yesus (misalkan dia namanya Abdul atau apa) hai....!

Abdul dalam nama Yesus saya panggil namamu, itu dia rasa jauh sekali suara saya, doa terasa jauh. Jadi sepertinya Iblis itu menutup telinganya, menutup pikirannya juga sehingga walaupun kita sebutkan, kita berbicara dalam nama Yesus itu juga lama sekali, tidak spontan jadi. Tapi kita harus berjuang dan dalam pengalaman ini membutuhkan kesatuan hati dari team yang melayani. Jadi dalam pelayanan itu memang kami selalu ingin supaya kami melayani dalam satu team, supaya dari kita ada yang berdoa, ada yang memuji Tuhan, kemudian ada yang melayani. Jadi kita sehati sepikir, se-roh. Di sini kami biasanya kalau kami sudah melayani semacam itu terus orang itu sepertinya dia panas-panas berteriak keras-keras, panas saya tidak mau dengar suara itu, saya tidak mau dengar, bila kita menyanyikan tentang Yesus itu dia tutup telinganya.
(4) GS : Pak Paul ini pertanyaan yang ingin saya tujukan kepada Pak Paul, apakah ada gejala-gejala yang mirip seperti orang yang kerasukan setan, padahal sebenarnya orang ini tidak kerasukan setan; jadi ada gangguan kejiwaan begitu Pak Paul maksud saya.

PG : Ada satu gangguan kejiwaan yang memang menyerupai kerasukan setan yaitu gangguan schizofrenia, gangguan schizofrenia adalah gangguan di mana seorang kehilangan pikiran yang waras atau pikian yang waras itu akhirnya mendapatkan gangguan hingga dia tidak bisa berpikir secara rasional dan tidak bisa lagi melihat realitas seperti yang dilihat oleh orang-orang pada umumnya.

Pada gangguan ini memang ada tingkah laku yang tidak umum, tingkah laku-tingkah laku yang biasanya tidak dia lakukan. Namun perbedaan utamanya adalah pada gangguan schizofrenia, orang ini tidak tiba-tiba mempunyai kekuatan supranatural, misalnya bisa meramalkan hari depan, bisa mempunyai kekuatan yang luar biasa, biasanya tidak. Jadi kadang kala ada suatu mitos yang menganggap bahwa orang-orang yang sakit jiwa itu orang-orang yang beringasan atau agresif, sebetulnya justru tidak, justru orang yang menderita gangguan seperti schizofrenia pada umumnya tidak beringasan, tidak menjadi ganas, mereka kebanyakan menjadi diam atau ngomong sendiri atau berkhayal. Tapi memang ada tingkah laku-tingkah lakunya yang bisa disalah mengerti sebagai kerasukan setan. Nah, cara yang baik untuk membedakan keduanya adalah pertama, kalau orang itu kerasukan setan biasanya ada kaitan dengan setan sebelum terjadinya kerasukan setan tersebut. Jadi misalkan orang itu memang berhubungan dengan kuasa setan, pernah mengundang kuasa setan masuk dalam hidupnya, nah itu menjadi suatu pencetus. Sedangkan gangguan schizofrenia biasanya tidak ada kaitan dengan hal itu dan pada gangguan schizofrenia biasanya dapat ditelusuri sejarahnya yakni awalnya biasanya itu pada usia belasan tahun di mana muncullah gangguan tersebut dan biasanya juga didahului oleh misalnya waktu dia anak-anak dia tidak suka bergaul dengan orang, menyendiri di kamar dan sebagainya. Sehingga kita melihat suatu perkembangan gejala dari usia belasan tahun sampai usia sekarang ini. Sedangkan gangguan kerasukan setan bisa muncul secara tiba-tiba, tanpa ada sejarahnya tiba-tiba orang itu dirasuk oleh setan, namun sejarah belakangnya adalah memang pernah ada kaitan misalnya dengan kuasa-kuasa Iblis, nah itu adalah suatu perbedaan yang pertama. Dan yang kedua adalah waktu kita mengusir setan dan kita meminta orang tersebut untuk mengundang Tuhan Yesus menjadi Tuhannya biasanya dia akan kesulitan menyebut nama Tuhan Yesus, tidak bisa menyebut Yesus Kristus meminta agar Tuhan masuk dalam hidupnya, sangat sulit sekali. Sedangkan pada gangguan schizofrenia biasanya itu tidak menjadi masalah, orang tersebut bisa saja mengucapkan nama Tuhan Yesus dengan mudahnya. Dan tetap saja mungkin orang ini adalah orang Kristen tapi kebetulan menderita gangguan schizofrenia.
GS : Maksud saya, kalau kita sejak awal tahu, bisa membedakan seperti itu Pak Paul, 'kan penanganannya itu jauh lebih tepat. Jadi kalau orang memang terganggu jiwanya tentu tidak akan dipanggilkan team untuk mengusir setan, tapi kalau memang dia kerasukan setan pasti yang kita butuhkan satu team yang tadi Pak Hendrik katakan itu. Tetapi bagaimana Pak Hendrik menangani orang-orang yang betul-betul kerasukan setan khususnya kalau pemuda atau apa itu 'kan sering kali terjadi. Nah itu biasanya langkah-langkah apa yang Pak Hendrik lakukan?

HS : Biasanya kami, seperti tadi diungkapkan oleh Pak Paul, ada kaitan itu memang kami teliti dulu biasanya, kami teliti apakah memang ada ikatan dengan masa lalu, bagaimana keluarganya, nah mugkin juga di rumahnya, di rumahnya mungkin ditanamkan sesuatu atau ada jimat yang ditanam di dalam kamarnya, atau di dalam tanah dan sebagainya.

Itu membawa akibat, nah satu contoh saja ketika kami melayani baru-baru ini di Lawang, ada seorang pemuda yang sebetulnya dia rajin, rajin mengikuti kegiatan gereja tetapi entah bagaimana kok tiba-tiba dia itu seperti perut sakit. Dia langsung down dikuasai oleh kuasa ini, diajak bicara tidak mau, disuruh makan tidak mau, kondisinya tegang ya, waktu diangkat mau ke kamar mandi atau apa itu kakinya tidak mau berjalan, kakinya seperti tidak ada lagi saraf, sarafnya tidak mempengaruhi dia sehingga anak ini kemudian kami layani. Ibu pendeta di sana berkata: "Pak, kami tidak mampu lagi, ini tolong Pak bagaimana?" Saya bilang, saya mau lihat dulu, jadi begitu saya datang saya lihat wah ini saya katakan saya perlu memanggil team kami. Sebab di dalam team kami itu ada seorang yang Tuhan berikan karunia nubuatan itu, nah ini memang dia pelihara dan memang kami pelihara, di dalam setiap berdoa bersama dengan dia dan sebagainya sehingga kalau dia melihat, kalau dia meminta kepada Tuhan supaya Tuhan menunjukkan itu langsung o.....orang ini begini-begini, jadi seperti tadi Pak, kalau saya sendiri langsung memang seperti yang saya layani di sekolah itu, kami terus tahu, karena dia tiba-tiba berteriak menantang kami, saya ini misalnya singo sapa itu nah dia katakan saya ini Braja Musti, saya tidak senang dengan kamu, kamu harus keluar dari tempat ini, begitu. Nah, jadi saya melihat o...ini bukan dari Tuhan.
GS : Dan juga bukan dari diri orang itu.

HS : Dan juga bukan dari diri orang itu sendiri karena dia lakukan dalam keadaan mata tertutup, dia bukan dalam keadaan sadar.

GS : Menurut Pak Hendrik, apakah memang setiap orang Kristen itu mempunyai kemampuan untuk mengusir setan dalam diri seseorang ataukah memang orang-orang tertentu yang mendapat karunia untuk itu Pak?

HS : Kalau menurut saya Pak, untuk hal ini semua orang Kristen sebetulnya yang hidup dengan Tuhan mampu mengusir, bukan hanya orang-orang tertentu. Kalau menurut pendapat saya, mengapa saya katkan begitu karena saya melihat sendiri dulu saya bukan apa-apa saya punya teman-teman juga bisa, itu sebabnya di sekolah saya kembangkan.

Jadi setiap orang Kristen sebenarnya mampu sebab dia sudah diberikan, dibawa oleh Allah sendiri.
GS : Saya rasa itu jelas di Amanat Agung itu Pak Paul, Tuhan Yesus mengatakan, bisa mengusir setan. Tapi kenapa tidak semua orang berani melakukan itu?

HS : Ya karena mereka takut, tidak yakin dan juga belum mengerti. Kalau mereka sudah mengerti akan kebenaran firman Allah, mereka tahu kekuatan firman Allah sendiri, mereka pasti.

PG : Saya kira kita terlalu ditakuti oleh film-film horor Pak Gunawan, sehingga kita itu membentuk suatu opini bahwa setan sangat mengerikan, sehingga kita sangat takut sekali berhadapan denganya.

Dalam pengalaman saya sendiri mengusir setan justru pengalaman aktual, mengusir setan itu sebetulnya bukanlah suatu peristiwa yang mengerikan atau menakutkan, sama sekali tidak. Sebab tadi Pak Hendrik sudah tegaskan juga adanya kelompok, team yang saling berdoa justru kami merasakan adanya suatu kekuatan dari Tuhan untuk mengusir kuasa Iblis ini. Saya akan bacakan bagian firman Tuhan dari 1 Yohanes 4:2 "Demikianlah kita mengenal Roh Allah setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia berasal dari Allah dan setiap roh yang tidak mengakui Yesus, tidak berasal dari Allah. Dan di ayat 4 dikatakan kamu berasal dari Allah anak-anakKU dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu sebab roh yang ada di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia." Jadi ada 2 pelajaran yang bisa kita timba dari firman Tuhan ini; yang pertama adalah kita mesti mawas diri untuk mengenal bahwa roh tidak semuanya berasal dari roh Allah, jadi jangan sampai kita tertipu. Dan yang kedua adalah kita mesti mengingat bahwa Roh Tuhan yang ada pada diri kita lebih berkuasa dari roh-roh lain atau dari roh Iblis, sehingga dengan kuasa Tuhan yang ada pada diri kita, kita memang bisa mengusir setan dan setan pun tidak berani untuk mengganggu kita. Karena pada diri kita sudah ada Roh Allah, nah itu saya kira penghiburan yang luar biasa menguatkan kita semua sebagai orang Kristen.
GS : Saya rasa itu memang sangat tepat Pak Paul, khususnya pada saat-saat seperti ini di mana pengaruh okultisme itu luar biasa sekali sehingga banyak orang-orang Kristen pun merasa khawatir dirinya dikuasai oleh kuasa kejahatan. Tapi sekali lagi mungkin kita lebih condong untuk kita menganjurkan agar orang-orang tidak mencoba-coba dengan kuasa-kuasa kegelapan itu ya Pak. Jadi rasa ingin tahu tidak perlu disalurkan dengan mencoba-coba. Apakah memang ada banyak korban hanya dari coba-coba itu?

HS : Ya, sebab Iblis itu tidak akan membiarkan orang menggunakan jasanya secara gratis, dia akan pasti menuntut bayarannya dan itu akan terus berlangsung, dia akan kejar.

PG : Prinsipnya jangan membuka pintu sedikit pun, sebab dia akan menyelinap masuk.

HS : Betul.

GS : Ya mungkin jelas sekali Alkitab mengatakan jangan berikan kesempatan kepada Iblis untuk masuk dan menguasai kita. Masih ada satu sisi yang lain yang perlu kita bicarakan Pak Hendrik tentang okultisme ini, khususnya di dalam pengaruhnya terhadap keluarga, kehidupan rumah tangga, saya rasa kita akan bicarakan hal itu pada kesempatan yang akan datang. Namun demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah hadirkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang okultisme, bersama Bp. Pdt. Hendrik Soplantila dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 47 A

  1. Apakah okultisme itu....?
  2. Ada berapa macamkah roh itu...?
  3. Bagaimana mengenali bahwa seseorang telah dirasuki roh jahat...?
  4. Bagaimana membedakan bahwa itu hanya gangguan jiwa dan bukan kerasukan setan...?


19. Pengaruh Okultisme Terhadap Keluarga


Info:

Nara Sumber: Pdt. J.H. Soplantila, M.Div. & Pdt. Dr. Paul Gunad
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T047B (File MP3 T047B)


Abstrak:

Kuasa iblis tidak hanya menghancurkan salah satu anggota keluarga saja tetapi berusaha mendapatkan seluruh anggota keluarga. Terutama menghancurkan keluarga Kristen. Baik dalam bentuk mengobarkan konflik, kemarahan dan pertikaian.


Ringkasan:

Dampaknya okultisme terhadap keluarga.

  1. Saya melihat dari segi kehidupan sehari-hari. Biasanya mereka itu sepertinya selalu dalam keadaan murung walaupun mereka senyum, walaupun mereka tertawa, tapi seperti ada sesuatu yang menekan mereka, seperti ada sesuatu yang lain yang menekan mereka.

  2. Saya lihat dari segi rohaninya. Kalau dari segi rohani saya melihat pada satu hal, mereka tidak senang pada firman Allah, kalau mereka mendengar firman Allah kadang-kadang ngantuk bukan ngantuk karena kecapean atau karena tadi malam tidak tidur dan sebagainya. Tetapi memang iblis tidak mau orang ini mendengar firman Allah, itu satu keluarga mengalami hal yang sama.

Ada 2 cara yang biasa digunakan oleh iblis untuk mengacau keluarga:

  1. Kita harus mengerti cara kerja iblis, yaitu iblis tidak menggarap manusia pribadi lepas pribadi, tapi keluarga lepas keluarga. Jadi dari pengertian ini, kita bisa menyimpulkan dan memang sudah dicontohkan juga dalam kasus yang nyata. Iblis tidak akan berhenti menggarap satu orang anggota keluarga, tapi iblis akan berusaha mendapatkan semua anggota keluarga tersebut. Film yang bertemakan horor punya dampak di dalam keluarga. Yang utama adalah menciptakan rasa takut yang berlebihan atau yang tidak perlu.

  2. Saya melihat cara iblis juga mengacaukan dan merusak keluarga Kristen. Iblis juga mencoba berbagai cara untuk memenangkan pergumulannya dengan Tuhan, yakni menghancurkan keluarga Kristen. Jadi keluarga Kristen senantiasa harus mendekatkan diri dengan Tuhan.

Salah satu penyebab adakalanya orang yang sudah dibebaskan dari kuasa iblis bisa kembali dikuasai, dirasuk oleh setan adalah karena iblis sangat pandai dan iblis itu adalah roh. Dia bisa mengerti isi hati kita bahkan kadangkala lebih cepat menyadari isi hati kita.

Efesus 6:10,11, "Akhirnya hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis." Ini adalah firman yang bisa kita pegang sebagai janji Tuhan dan juga mengingatkan kita bahwa dalam merespon terhadap iblis, kita perlu merespon dengan tepat, jangan ekstrim satu atau ekstrim yang lainnya yakni ketakutan yang histeris pada iblis. Atau justru meringankan atau meremehkan iblis, seolah-olah iblis itu gampang kita kalahkan karena kita punya kekuatan dan sebagainya. Iblis memang berkuasa, tapi Tuhan lebih berkuasa dan kalau kita kenakan senjata perlengkapan Allah yakni firman Tuhan, hidup di dalam iman kepada Tuhan maka tidak ada yang perlu kita takuti, iblis bisa ditaklukkan dengan kuasa Tuhan, bukan dengan kuasa kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan kali ini juga bersama Bp. Pdt. Hendrik Soplantila. Kami bertiga dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan tentang pengaruh okultisme bagi keluarga. Kami percaya ini akan bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Kami senang sekali Pak Hendrik kembali bisa bersama-sama dengan kami dan kita akan melanjutkan perbincangan kita beberapa waktu yang lalu tentang okultisme. Tapi supaya para pendengar yang mungkin baru pada kesempatan ini mendengarkan acara TELAGA ini secara sepintas, mungkin Pak Hendrik bisa mengulas atau menyampaikan ulang apa yang pernah kita bicarakan, khususnya tentang okultisme itu sendiri.

HS : Ya pada waktu yang lalu kita berbicara mengenai apa itu okultisme jadi ketertarikan orang terhadap okultisme dan juga kita membedakan adanya roh yang baik atau roh terang dan roh gelap. Seingga demikian jelas bagi kita bahwa memang ada kuasa kegelapan tetapi juga ada kuasa Allah.

Walaupun dua kuasa ini bertentangan, tapi yang jelas bahwa kuasa kegelapan sudah kalah, itu yang dahulu pernah kita bicarakan dan kita perbincangkan.
(1) GS : Jadi yang kali ini kita mau perbincangkan adalah lebih terfokus pada kehidupan rumah tangga. Karena pemerannya adalah orang-orang yang tentunya juga sebagai makhluk sosial lalu berkeluarga dan sebagainya itu pasti ada dampaknya terhadap keluarga. Nah menurut pengalaman Pak Hendrik seberapa jauh pengaruh okultisme itu terhadap keluarga, khususnya keluarga Kristen itu?

HS : Yang saya lihat dalam pengalaman terhadap orang-orang atau keluarga yang dikuasai oleh okultisme, pertama saya melihat dari segi kehidupan sehari-hari dan kemudian yang kedua yang saya liht dari segi rohaninya.

Kalau dari segi kehidupan sehari-hari biasanya mereka itu sepertinya selalu dalam keadaan murung walaupun mereka tersenyum, walaupun mereka tertawa, tapi seperti ada sesuatu seperti ada sesuatu yang lain yang menekan mereka. Tapi kalau dari segi rohani saya melihat pada satu hal, mereka tidak senang pada firman Allah, kalau mereka mendengar firman Allah kadang-kadang mengantuk, bukan mengantuk karena capek, bukan mengantuk karena kecapean atau karena tadi malam tidak tidur dan sebagainya bukan. Tetapi memang Iblis tidak mau orang ini mendengar firman Allah, nah itu satu keluarga mengalami hal yang sama. Kecuali kalau ada seorang anak yang memang dia itu sudah tidak mau tahu tentang itu dan dia dekat dengan Tuhan terus misalnya begitu, itu lain.
GS : Tetapi ada orang yang menggunakan okultisme dengan tujuan agar keluarganya harmonis, itu mungkin tidak Pak?

HS : Menurut pengertian saya, Iblis itu memang pengacau, jadi kalau dikatakan itu untuk harmonis saya pikir ada batasannya, harmonis macam apa, versinya versi apa. Apa harmonis dalam arti yang esuai, dalam arti harmonis damai dengan Allah ataukah harmonis dalam versi mereka di mana di dalam itu masih tetap tertekan atau terpaksa.

(2) GS : Pak Paul, bagaimana hubungan okultisme ini yang Pak Paul lihat di dalam kehidupan rumah tangga?

PG : Ada 2 cara yang biasa digunakan oleh Iblis untuk mengacau keluarga. Yang pertama kita harus mengerti cara kerja Iblis yaitu Iblis tidak menggarap manusia pribadi lepas pribadi, tapi keluara lepas keluarga.

Jadi dari pengertian ini, kita bisa menyimpulkan dan memang sudah dicontohkan juga dalam kasus yang nyata Iblis tidak akan berhenti menggarap satu orang atau satu keluarga, tapi Iblis akan berusaha mendapatkan semua anggota keluarga tersebut. Itu sebabnya kalau ada satu anggota keluarga yang berbalik kepada Tuhan dan meninggalkan Iblis, dan yang lainnya misalkan masih dalam kuasa Iblis, Iblis tidak akan tinggal diam, Iblis akan mengganggu orang yang baru saja meninggalkan dia itu berusaha menguasainya karena Iblis tidak rela bahwa warganya atau orang yang ditaklukkannya sekarang meninggalkan dia. Itu sebabnya juga kalau misalkan orang tua terlibat dalam kuasa kegelapan, Iblis sering kali dan pada umumnya menuntut jiwa atau kehidupan anak dan cucunya, sebab itulah yang Iblis minta, bukan satu pribadi tapi satu keluarga, ini satu hal yang perlu kita pahami. Yang kedua, saya melihat cara Iblis juga mengacaukan keluarga Kristen ini yang jelas-jelas Kristen adalah dengan merusak keluarga Kristen; jadi cara Iblis juga mencoba untuk memenangkan pergumulannya dengan Tuhan yakni menghancurkan keluarga Kristen. Jadi keluarga Kristen senantiasa harus mendekatkan diri dengan Tuhan. Saya teringat akan tulisan dari Pdt. Charles W. dalam bukunya Musa, beliau berkata bahwa siapa yang ingin bekerja untuk Tuhan dan ingin dipakai Tuhan, haruslah dia menyadari bahwa dia akan menjadi target atau sasaran penyerangan Iblis. Nah, saya harus mengakui bahwa Iblis akan benar-benar bersenang hati masuk melalui pintu keluarga kita meskipun dia tidak menguasai kita dalam pengertian merasuk kita karena kita sudah di tangan Tuhan Yesus. Tapi dia akan mencoba mengacaukan, misalnya dengan mengobar-ngobarkan konflik atau kemarahan dalam hati kita, sehingga kita tidak mudah menyelesaikan pertikaian kita. Sebab yang paling bahagia kalau keluarga kita berantakan adalah Iblis, kita tidak bisa melayani Tuhan dengan sepenuh hati, dengan hati yang damai, karena keluarga kita saling bertarung misalnya. Jadi itulah saya kira 2 cara Iblis yang langsung berkenaan dengan keluarga.
GS : Tapi kenapa Pak Paul ada orang yang mau mengorbankan, katakan anaknya demi mendapatkan harta yang sifatnya sementara?

PG : Saya kira manusia memang acapkali berpikir pendek dan untuk kepuasan seketika dan serta kepuasan pribadi. Jadi sering kali manusia tidak memikirkan dampak panjangnya, yang penting kami menkmati, kami memperoleh keuntungan-keuntungan yang dijanjikan.

Dan itu yang ditawarkan oleh Iblis dan mereka terima dengan senang hati, mereka tidak memusingkan tentang gangguan-gangguan yang mungkin dialami nanti. Dan memang kalau mereka terus bersekutu dengan Iblis dan tidak mengganggu gugat masalah ini, keluarga mereka tetap tenteram dalam pengertian tidak dikacaukan oleh Iblis, sebab mereka sudah menjadi warga Iblis.
GS : Apakah memang begitu Pak Hendrik, apakah setiap apa yang kita inginkan supaya Iblis lakukan untuk kita kemudian ada imbalan yang harus kita berikan atau ini sifatnya untuk jangka panjang.

HS : Memang ada imbalannya, saya beri contoh saja beberapa orang yang saya tahu yang mencari kekayaan. Imbalannya adalah anak, anak mereka menjadi kelainan, ada kelainan. Ada juga yang boleh diatakan membayar dengan giginya sehingga giginya habis semuanya, keluarganya juga begitu anaknya, istrinya giginya habis.

Sebab setiap sekian bulan tanggal satu, tanggal satu. Nah, ada juga imbalan yang lain yaitu jiwa orang, jadi orang dalam rumah itu. Nah, satu contoh misalnya kalau seseorang itu ingin mendapat kekayaan, itu sudah membuat semacam perjanjian dengan Iblis, jadi apa yang harus diberi, jiwa OK! Jiwa. Nah, kalau jiwa yang diberikan maka setiap tahun dia harus memberi tumbal, ada yang meninggal dalam rumah itu. Ini tidak selalu anggota keluarga, tapi bisa juga pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah itu yang sudah merasa menjadi satu dengan keluarga itu.
GS : Nah kalau sudah satu keluarga seperti itu Pak Hendrik, kemudian ada yang menyadari ini keliru, tindakannya keliru, apa cukup satu orang ini saja yang bertobat meninggalkan itu atau memang seluruh anggota keluarga atau bagaimana?

HS : Ya saya pikir semuanya Pak sekaligus, memang yang menjadi kuncinya adalah kepala keluarga, istri mereka berdua yang kemungkinan sudah seia sekata untuk mencari kekayaan itu. Nah, mereka bedua yang harus bertobat, harus kembali kepada jalan Tuhan, nah nanti kalau seandainya 2 orang ini sudah kembali, baru sekeluarga itu dibawa kepada Tuhan semuanya oleh orang tuanya jadi dibawa seluruhnya, sehingga seluruh keluarga menjadi milik Allah lagi, bukan lagi milik si Iblis, sehingga dia bisa sewenang-wenang melakukan...

GS : Nah itu penanganannya bagaimana Pak, kalau beberapa waktu yang lalu atau tadi kita bicarakan kalau ada seorang yang sudah kerasukan setan perlu penanganan oleh satu team, nah kalau satu keluarga itu bagaimana Pak?

HS : Pananganannya itu biasa kami layani pribadi lepas pribadi Pak, satu-satu, jadi kami lihat dulu siapa, o....tentu orang tuanya, sang suami sebagai kepala keluarga kemudian sang istri. Nah, emudian dua-duanya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kemudian baru semua anak kami ajak untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.

Dengan begitu kemudian nanti kita tutup dengan doa memohon supaya Tuhan menjadi segala sesuatu dalam rumah ini sehingga menjadi pelindung utama, membentengi, melindungi, menjaga mereka.
GS : Pernah atau tidak Pak Hendrik alami bahwa seorang yang sudah dilepaskan seperti itu seseorang atau keluarga, lalu kemudian suatu saat kambuh lagi?

HS : Memang ada Pak, kadang-kadang kejadian seperti itu karena dia itu kembali ingin mencoba lagi, karena dia merasa saya tidak tahu, saya merasa tidak puas atau mungkin karena dikecewakan wakt di gereja, dia dikecewakan oleh anggota jemaat yang lain atau bagaimana, nah atau dia kurang mengerti akan kebenaran firman Allah sehingga dia itu masih tertarik ke sana.

O.....ini kok sepertinya Tuhan mengizinkan OK saja, tapi sekarang dalam versi baru misalnya.
GS : Pak Paul saya melihat bahwa pengaruh-pengaruh film yang bertemakan horor dan sebagainya, itu punya dampak Pak Paul di dalam keluarga; sebenarnya dampak itu sejauh mana dalam hubungan dengan okultisme itu?

PG : Saya kira dampak utama adalah menciptakan rasa takut yang berlebihan atau yang tidak perlu. Rasa takut ini akhirnya menguasai kita dan sewaktu rasa takut menguasai kita akibatnya adalah kia lumpuh.

Nah saya kira jangan sampai kita sebagai orang Kristen lumpuh menghadapi kuasa-kuasa jahat ini, justru kita harus berani, sebab kita tahu bahwa Roh Tuhan yang ada dalam kita lebih kuat daripada roh-roh jahat. Jadi saya kira kalau kita sudah lumpuh kita tidak begitu berani untuk melawannya, mungkin itu. Saya mau memberikan komentar yang tadi Pak Gunawan tanyakan kepada Pak Hendrik pula, saya kira salah satu penyebab adakalanya orang yang sudah dibebaskan dari kuasa Iblis bisa kembali dikuasai, dirasuk oleh setan. Iblis sangat pandai dan Iblis itu adalah roh, jadi dia bisa mengerti isi hati kita bahkan kadang kala lebih cepat menyadari isi hati kita. Yang saya maksud adalah ini, misalkan tadi ada orang yang ingin sekali kekayaan yang luar biasa dan akhirnya membuat perjanjian dengan kuasa Iblis. Nah misalkan dia sudah dibebaskan tapi dalam hatinya masih tersedia keinginan untuk menimbun kekayaan dan merasa sayang sekali sekarang tidak lagi mempunyai kesempatan itu, nah bagi saya itu adalah pintu, pintu yang pada awalnya membuka kemungkinan masuknya Iblis. Sekarang kalau pintu itu belum dikunci meskipun dia sudah dibebaskan, pintu yang sama itu akan memasukkan Iblis itu kembali dalam hidupnya. Atau contoh yang lain yang saya pernah saksikan adalah kalau dalam keluarga memang ada masalah yang belum terselesaikan, sehingga dalam keluarga itu terus-menerus muncul luka, luka dan luka. Dan kebetulan memang keluarga tersebut pernah pada suatu ketika dikuasai oleh Iblis. Nah Iblis bisa memasuki pintu tersebut yaitu pintu konflik keluarga sehingga akhirnya anak-anak atau keluarga itu diganggu lagi oleh kuasa Iblis.
GS : Sebenarnya ada sebuah pertanyaan, sebuah pertanyaan yang diajukan pada saya oleh seorang anak kami, itu ditanyakan setelah melihat film horor, ini fantasi atau betul-betul terjadi Pa? Nah itu menjelaskannya bagaimana Pak?

PG : Saya tidak bisa pastikan film yang mana.

GS : Ya bertema horor, ada setan-setan, cerita itu 'kan menarik buat anak-anak.

PG : Secara umum apakah setan menampakkan dirinya dengan cara yang mengerikan, saya kira tidak. Justru pada umumnya setan tidak menampakkan diri dengan wajah yang mengerikan, sebab kalau itulahwajah yang ditampilkan dia akan kehilangan pengikut, sudah pasti.

Maka wajah yang ditampilkan adalah justru yang menyenangkan kita, yang bisa membawa kita kepadanya, terpikat kepadanya. Bahkan dalam satu kasus yang pernah saya tangani saya melihat bagaimana Iblis membanting-banting orang, tapi bukan dengan cara yang mengerikan seperti yang ditayangkan dalam film-film horor itu. Meskipun memang ada bukti fisik orang itu di depan mata saya memang dibanting oleh kuasa Iblis tapi kesan mengerikannya tidak ada. Jadi saya kira film horor melambangkan atau mencerminkan sifat Iblis yang kalau menurut saya berlebihan sebab dalam kenyataannya dia tidak akan menampilkan wajah yang mengerikan seperti itu.
GS : Tapi sejauh mana Pak Paul, orang boleh menyaksikan film seperti itu, artinya itu 'kan ada pembatasan tertentu, kalau terlalu banyak 'kan lebih banyak merugikannya daripada manfaatnya.

PG : Betul sekali, jadi kalau sampai anak itu mengembangkan fantasi akibat melihat film horor, dan akibat dari perkembangan fantasi dia menjadi orang yang terlalu memikirkan hal-hal yang mengerkan dan menakutkan, saya kira jelas itu sudah melewati batas.

Jadi anak itu dilarang untuk menonton film horor, secara umum saya juga akan melarang sebetulnya anak kecil menonton film horor sebab dunia khayal anak sangat kuat dan anak belum bisa mengerti secara rasional dan obyektif, bahwa ini adalah film yang dibuat oleh manusia. Anak-anak kecil belum bisa membedakan, jadi kalau dia sudah remaja sudah mengerti silakan, tapi kalau masih misalnya dibawah umur 12, 13 tahun saya menyarankan jangan.
GS : Ya saya rasa itu penting Pak Paul, untuk semacam pedoman karena terlalu banyak disajikan di hadapan kita, di hadapan keluarga, kalau itu tidak membangun kehidupan rumah tangga, nah buat apa harus dibiarkan. Tapi Pak Hendrik yang ingin saya tanyakan, kita hidup di era yang modern, pikiran orang sudah begitu maju kenapa okultisme masih bisa berkembang dengan cukup pesat?

HS : Iblis itu pandai sekali dan dia bisa masuk ke dalam segala macam situasi, situasi maju, situasi modern, dia datang dengan cara modern juga.

GS : Menyesuaikan diri.

HS : Ya menyesuaikan diri, seperti yang Pak Paul sudah ungkapkan dan Pak Gunawan tanyakan tentang film horor itu. Itu ada suatu pengalaman, seorang ayah bertanya kepada anaknya ketika bersama-sma (ini ayahnya seorang hamba Tuhan juga) dia tanya pada anaknya waktu itu sedang mendung.

Dik....ini siapa yang memberikan hujan, dia berhenti sebentar, anak itu berpikir sebentar lalu dia bilang setan. Lalu saya berkata (waktu itu diceritakan pada saya) saya katakan, kemungkinan dia berkata begitu karena dia tidak bisa bermain, jadi dia mempunyai pendapat bahwa ini itu dari setan. Tapi anak ini sering nonton film horor jadi kemungkinan tadi yang Pak Paul katakan itu khayalan yang dikembangkan, sehingga mengakibatkan dia berpikir segala sesuatu datang dari setan. Karena Setan mempunyai kekuatan, kemampuan-kemampuan yang super, jadi dia berpikir o....ini juga bisa dari setan. Padahal dia ikut Sekolah Minggu, tapi dia anak kecil, seberapa jauh dia mengerti tentang firman Allah yang diceritakan secara sederhana. Dan apa yang dia lihat dengan matanya, apa yang dia dengar, apa yang dia rasakan itu lebih banyak dari TV, nah itu bahayanya di situ untuk anak-anak.
GS : Sepertinya itu tadi Pak Paul yang ingin saya ungkapkan itu, di tengah-tengah orang itu sudah berpikir demikian rasional bahkan pendidikannya pun cukup tinggi, tidak jarang kita membaca di surat kabar misalnya para eksekutif yang mau melibatkan dirinya pada hal-hal yang kalau kita sadar itu sesuatu yang tidak masuk akal. Kenapa sebenarnya, kebutuhan apa sebenarnya yang mendorong dia?

PG : Seorang tokoh gereja di zaman dahulu bernama Agustinus pernah berkata bahwa dalam setiap manusia ada ruangan yang hanya bisa diisi dengan Tuhan. Jadi dalam diri manusia itu ada ruangan yan boleh saya sebut ruangan spiritual, ruangan rohani.

Dan kalau waktu ruangan itu kosong, ruangan itu akan meminta untuk diisi jadi saya kira orang-orang yang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan memang pandai tapi kalau ruangan rohaninya kosong dia akan selalu mencari hal-hal yang bersifat nonfisik, yaitu yang bersifat roh agar bisa mendapatkan kepuasan. Nah, kalau dia tidak mengerti jalan yang benar dia akan menempuh jalan yang salah dan dia akan melakukannya dengan cara yang salah, itu yang pertama. Yang kedua adalah saya kira salah satu manifestasi dosa ialah keserakahan manusia, dan bersumber dari keserakahan atau ketamakan inilah manusia merasa tidak puas dengan yang telah dimilikinya sehingga mau memiliki lagi, mau untuk lebih dilindungi lagi, mau lebih berkuasa dan sebagainya. Akhirnya memasuki areal yang memang dikuasai oleh Iblis jadi jangan sampai yang seperti dikatakan dalam Alkitab manusia menjual dirinya kepada Iblis, itu dikatakan kepada dua orang di Alkitab yaitu kepada raja Ahab, raja Israel dulu dan juga kepada Yudas yang benar-benar menjual diri mereka kepada Iblis. Jadi manusia harus berhati-hati di situ.
GS : Licik sekali, Iblis itu yang jelas licik dengan segala cara-caranya ya Pak.

HS : Mungkin ada satu hal lagi yang saya bisa katakan sesuai dengan yang Pak Paul ungkapkan tadi, yaitu biasanya kalau kita di dalam doa, berdoa kepada Tuhan 'kan tidak secepatnya Tuhan jawab, api kalau Iblis dia langsung bisa memberi cepat, nah ini yang menarik, sangat menarik.

Sehingga otomatis misalnya orang mau mencari kuasa ya cepat dapat, mau mencari kekayaan ya cepat dapat, mau mencari pangkat cepat dapat.
GS : Dan orang punya kecenderungan untuk memilih yang paling cepat.

HS : Memilih yang paling cepat, karena mereka itu seperti tadi Pak Paul katakan ada ruang yang kosong yang selalu perlu diisi, sebenarnya ketidakpuasan hanya puas kalau diisi oleh Tuhan, oleh frman Tuhan, tapi mereka justru mencari di luar Tuhan.

GS : Pak Hendrik, saya teringat karena tadi Pak Paul bicara tentang ruang, pernah Tuhan Yesus itu mengatakan kalau Iblis itu sudah dikeluarkan dari seseorang tapi itu membiarkan ruangan hatinya kosong Iblis itu akan kembali dengan teman-temannya, sehingga orang itu menjadi lebih jahat dari sebelumnya. Nah, itu bagaimana Pak Hendrik?

HS : Pernah suatu kali seorang pemuda kami layani, ayahnya seorang dosen, ayahnya orang Kristen, istrinya saya tidak tahu orang apa. Jadi dia terpengaruh oleh teman-temannya sehingga dia juga iut narkotik, dia juga ikut okultis, dia bahkan pernah bertapa di satu tempat yaitu di antara cabang sungai untuk mendapatkan kekuatan sesuai dengan perintah gurunya.

Dan dia memang mendapat itu semua, mendapat semuanya. Nah, waktu kami layani untuk pelepasan memang hatinya itu ingin dilepaskan dan dia menyerahkan beberapa bagian, tidak semua tapi sebagian. Namun setelah itu kecenderungan ketertarikan kepada roh atau kuasa gelap ini bukannya hilang. Nah, pada saat itu saya melihat bahwa dia lebih lagi dari yang lalu. Tidak lagi seperti pada waktu kita berteman tapi dia lebih jahat lagi dan dia meninggalkan kami dan dia pergi, dan kami tidak tahu sekarang di mana. Tapi dia lebih jahat lagi menurut berita yang saya terima, jadi kami berpikir bahwa memang orang itu akan menjadi lebih jahat lagi kalau dia itu tidak full dilepaskan dan tidak diisi lagi, kekosongan itu tidak diisi oleh Tuhan. Nah, itu pernah terjadi suatu kali ketika kebangunan rohani di Bandung yaitu pernah di umpamakan dengan satu gelas air yang bersih, kalau sudah ada air di situ tentu diisi yang lain air itu akan tumpah. Jadi mau tidak mau air itu harus dikeluarkan dulu semuanya baru isi yang lain atau tidak usah isi yang lain tapi tetap air itu saja, nah ini sama dengan itu. Jadi tetap harus diisi dan Iblis itu roh dan ia bisa mengisi seperti yang kita lihat ya namanya legion itu lebih dari satu, lebih dari 100, dia menguasai satu orang saja dan saya tidak tahu bagaimana dia menguasai seluruh tangan, seluruh kaki, seluruh kepala, seluruh badan. Sehingga orang ini tidak merasa sakit apa-apa tidak merasa kedinginan dan seterusnya.
GS : Memang saya percaya itu, kalau seseorang sudah bertobat dan mau meninggalkan itu dan sudah dilepaskan, ya harus menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan untuk mengisi ruang Ilahi tadi yang ada dalam diri kita. Nah Pak Paul mungkin ada bagian ayat kitab suci yang mau dibacakan?

PG : Saya akan bacakan dari Efesus 6:10-11 "Akhirnya hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya, kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu apat bertahan melawan tipu muslihat Iblis."

Saya kira itu adalah firman yang bisa kita pegang sebagai janji Tuhan dan juga mengingatkan kita bahwa dalam merespons terhadap Iblis, kita perlu merespons dengan tepat, jangan ekstrim satu atau ekstrim yang lainnya yakni ketakutan yang histeris pada Iblis atau justru meringankan atau meremehkan Iblis, seolah-olah Iblis itu gampang karena kita punya kekuatan dan sebagainya. Iblis memang berkuasa, tapi Tuhan lebih berkuasa dan kalau kita kenakan senjata perlengkapan Allah yakni firman Tuhan, hidup di dalam iman kepada Tuhan maka tidak ada yang perlu kita takuti, Iblis bisa ditaklukkan dengan kuasa Tuhan, bukan dengan kuasa kita.
GS : Jadi itu memang tepat sekali saya rasa Pak Paul bahwa Allah itu sebenarnya menyediakan perlengkapan senjata untuk kita bisa melawan Iblis. Jadi kita sudah dilindungi, tapi masalahnya adalah bagaimana menggunakan perlengkapan itu. Yang sudah disediakan bagi kita, memang kita harus terlatih untuk menggunakannya. Jadi baiklah saya rasa kita harus sudahi walaupun tentunya masih banyak aspek yang bisa kita bicarakan dengan okultisme ini, tetapi karena keterbatasan waktu saya rasa kita harus akhiri dahulu. Dan demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah hadirkan ke hadapan Anda sebuah perbincangan tentang pengaruh okultisme di dalam kehidupan keluarga khususnya keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Hendrik Soplantila dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 47 B

  1. Seberapa jauh pengaruh okultisme terhadap keluarga Kristen..?
  2. Apa hubungan okultisme dengan kehidupan rumah tangga...?


20. Pencobaan Ditengah Kejayaan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T050A (File MP3 T050A)


Abstrak:

Cinta kasih sangat memerlukan pemeliharaan, baik itu cinta kasih di antara suami-istri, orangtua-anak, antar rekan, teman dsb. Kita perlu mengenal hal-hal apa yang dapat menyuburkan cinta kasih, tanpa hal-hal tersebut cinta kasih cenderung akhirnya pudar.


Ringkasan:

Penyebab seseorang mengalami masalah di dalam masa kejayaan:

  1. Keangkuhan, waktu kita jaya kita cenderung berpikir bahwa memang kita itu hebat, nah waktu kita berpikir memang kita sehebat itu keangkuhan mulai masuk dan waktu keangkuhan mulai masuk, kita mulai berpikir bahwa kita ini bisa berbuat apa saja melewati batas.

  2. Pengaruh lingkungan di sekitarnya. Orang yang jaya apalagi pria cenderung menjadi target atau sasaran, godaan atau undangan. Sebab orang yang jaya adalah orang yang bisa memberikan banyak kepada orang lain secara material, dalam hal inilah dia menjadi sasaran karena dia menjadi orang yang sangat menarik, sangat berpengaruh bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Contoh peristiwa di Alkitab seperti yang dituturkan dalam Kejadian 39:6-7 yaitu kisah Yusuf. Yusuf menjadi sasaran dari istri majikannya setelah dia menjadi orang yang berhasil. Pencobaan atau tawaran untuk berselingkuh dengan istri Potifar tidak terjadi pada tahap awal sewaktu Yusuf masih menjadi budak, yang belum berhasil dan tidak terpandang. Yusuf makin berhasil, dia seorang pemuda yang berhikmat dan pandai, kebetulan juga didukung oleh wajah yang bagus. Nah kejayaan itulah akhirnya seolah-olah menyadarkan istri majikannya bahwa yang berada di hadapannya hari lepas hari bukanlah seorang budak belaka, tapi seorang pria yang mempunyai kwalitas tertentu.

Ada dua hal yang mencegah Yusuf berbuat dosa yaitu:

  1. Yusuf takut kepada Tuhan Allah. Dan Yusuf tahu, waktu dia berzinah dia bukannya hanya melakukan hubungan intim secara badani dengan seseorang tapi saat itu juga dia sedang berdosa terhadap Tuhan. Jadi dia mengaitkan semua perilaku atau semua tindakannya dengan Tuhan, apakah diperkenan Tuhan apa tidak.

  2. Yusuf adalah seseorang yang menghargai orang lain, dia tahu dia adalah orang yang diberikan kepercayaan yang sangat besar oleh majikannya yakni Potifar dan dia tahu semua dipercayakan dan diberikan kepadanya kecuali istri majikannya. Dan dia menghargai Potifar dan pada saat itulah dia juga berhasil mengekang dirinya karena penghargaannya pada si suami wanita tsb dan tidak mau merusak rumah tangga orang.

Dalam 2Samuel 11 dikisahkan tentang Daud. Daud juga mengalami hal yang sama yaitu pencobaan datang kepada Daud tatkala dia menjadi raja yang jaya. Bedanya dengan Yusuf, di sini adalah dua hal yang mengekang Yusuf tidak ada dalam pikiran Daud yaitu mengaitkan dengan Tuhan dan menghargai orang lain, akibatnya Daud meluncur masuk dalam jerumusan dosa.

Daud dan Yusuf adalah orang-orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, tapi mengapa pencobaan itu Tuhan izinkan terjadi dalam hidup mereka? Tuhan tidak menghendaki manusia jatuh dalam dosa, Tuhan tidak memimpin orang untuk berdosa, tidak. tapi Tuhan mengizinkan pencobaan datang dan mencobai orang Kristen, alasannya satu. Kejayaan dan pencobaan berdampingan, dan Tuhan izinkan hal ini karena

  1. Tuhan menguji kita, apakah kualitas rohani kita seturut dengan kualitas eksternal atau jasmani kita. Apakah kerohanian kita sejaya kemenangan jasmani kita, apakah kekuatan internal atau rohani kita sama besarnya dengan kekuatan jasmani kita.

  2. Supaya melalui itu Tuhan membentuk kita, supaya kita akhirnya makin mirip dan makin serupa dengan Tuhan kita.

Yang perlu kita lakukan untuk mempersiapkan diri menyongsong keberhasilan yang Tuhan berikan kepada kita atau kejayaan yang Tuhan berikan adalah:

  1. Kita harus ikuti apa yang telah dilakukan Yusuf, yaitu senantiasa mengaitkan semua hal yang terjadi padanya dengan Tuhan. Dia tidak melepaskan Tuhan dari segala tindakan dan kehidupannya.

  2. Yang Yusuf juga lakukan adalah menghargai orang.

  3. Kita harus berhati-hati dengan kejayaan, sebab pada waktu jaya kita akan menjadi target serangan. Jadi kita mesti menjaga jarak, membuat pagar dalam hubungan kita dengan lawan jenis, setelah kita jaya atau sebelum kita jaya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sebuah tema yaitu "Pencobaan di Tengah Kejayaan". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, rasanya semua orang itu menginginkan atau mendambakan keberhasilan atau kesuksesan di dalam kehidupannya, maksudnya secara jasmani ini tentunya ingin kaya, ingin lebih dari yang lain. Tetapi kita pun menyadari bahwa banyak orang yang justru mengalami banyak masalah di dalam hidupnya pada saat dia mengalami kejayaan. Yang tadinya waktu dia masih biasa-biasa saja itu tidak terjadi masalah-masalah seperti itu, nah sebenarnya apa yang melatarbelakangi atau menjadi alasannya, Pak Paul?

PG : Saya kira ada beberapa penyebab Pak Gunawan, yang pertama saya kira adalah keangkuhan. Nah saya akan mengutip perkataan pendeta yang bernama Max Lucado beliau pernah ditanya yang mana lebi berbahaya, kejayaan atau kesusahan, dia menjawab dengan tegas kejayaan.

Sebab waktu kita jaya, kita cenderung berpikir bahwa memang kita itu hebat, nah waktu kita berpikir memang sehebat itu keangkuhan mulai masuk, waktu keangkuhan mulai masuk, kita mulai berpikir bahwa kita ini bisa berbuat apa saja melewati batas. Waktu kita dalam keadaan susah kita cenderung lebih melihat diri kita sebagai orang yang terbatas, tidak bisa ini, tidak bisa itu dan sebagainya. Waktu kita makin jaya seolah-olah kita berpikir batas-batas itu mulai hilang, kita menjadi orang yang bisa melakukan banyak hal yang tadinya tidak bisa kita lakukan, nah pada saat itulah kalau tidak hati-hati dalam keangkuhan kita bisa melakukan banyak hal, kita melewati batas, akhirnya kita malah masuk ke dalam pencobaan.
GS : Tapi sering kali juga lebih banyak faktor internalnya Pak Paul, jadi pribadinya, tapi ada faktor-faktor eksternal, seperti pengaruh orang-orang disekitarnya yang memuji-muji dia, merangsang dia untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji, apakah hal itu juga menjadi salah satu faktor penyebab kehancuran seseorang?

PG : Saya setuju Pak Gunawan, jadi orang yang jaya apalagi seorang pria cenderung menjadi target atau sasaran, godaan atau undangan. Sebab orang yang jaya adalah orang yang bisa memberikan banyk kepada orang-orang lain secara material, nah dalam hal inilah dia menjadi sasaran karena dia menjadi orang yang sangat menarik, sangat berpengaruh bagi kehidupan orang-orang disekitarnya.

Saya kira sudah merupakan kenyataan Pak Gunawan, bahwa banyak orang-orang Kristen yang berniat untuk tidak mengkhianati istri mereka tapi akhirnya dalam tugas pekerjaannya dan pergaulannya masuk dalam perangkap dan jatuh dalam dosa perzinahan. Dan saya kira yang tadi Pak Gunawan katakan memang betul sekali, pada masa kejayaan ada orang-orang yang rela memberikan dan menyediakan tubuh mereka bagi orang-orang yang sedang jaya ini.
GS : Mungkin supaya kita bicara lebih konkret Pak Paul, Pak Paul bisa memberikan contoh atau salah satu contoh yang ada dalam Alkitab?

PG : Saya akan membacakan Kejadian 39:6 dan 7, "Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yag di ladang, segala miliknya diserahkan pada kekuasaan Yusuf.

Dan dengan bantuan Yusuf dia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri. Ayat 7, adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya, selang beberapa waktu istri tuannya memandang Yusuf dengan birahi lalu katanya : "Marilah tidur dengan aku" tapi ya puji Tuhan disini dikatakan ayat 8 tetapi Yusuf menolak. Yang saya tekankan di sini adalah Yusuf mulai menjadi sasaran dari majikannya atau istri majikannya setelah dia menjadi orang yang berhasil, Pak Gunawan. Menarik sekali bahwa pencobaan ini atau tawaran atau berselingkuh dengan istri Potifar tidak terjadi pada tahap awal sewaktu Yusuf masih menjadi budak, yang masih tidak berhasil dan tidak terpandang. Tapi lama kelamaan tatkala Yusuf makin berhasil dan mungkin sekali disaksikan oleh orang sekitarnya bahwa dia adalah seorang pemuda yang berhikmat dan pandai dan kebetulan didukung oleh wajah yang baik, yang bagus. Nah kejayaan itulah yang akhirnya seolah-olah menyadarkan istri Potifar bahwa yang berada di hadapannya hari lepas hari bukanlah seorang budak belaka, tapi seorang pria yang mempunyai kualitas tertentu. Nah pada saat inilah Yusuf menjadi seseorang yang sangat menarik dan kalau dia tidak hati-hati dia sudah jatuh kedalam dosa perzinahan, tapi puji Tuhan Yusuf memang berhasil menolaknya.
IR : Jadi bagi orang-orang yang berhasil Pak Paul, tantangan dari luar itu semakin banyak dan itu juga dipengaruhi faktor kedagingan dari orang itu?

PG : Betul, kalau dia memang orang yang tidak bisa menguasai dirinya dia akan masuk ke dalam perangkap tersebut. Saya kira hidup pada masa sekarang ini lebih sulit daripada dulu-dulu, karena kia memang harus mengakui tekanan sosial untuk perilaku-perilaku yang menyimpang ini makin hari makin berkurang.

Pada zaman-zaman 50-an, 60-an, bahkan 70-an tekanan sosial untuk meredam perilaku menyimpang ini cukup besar, sehingga orang takut karena tahu ada sanksi sosial yang besar. Namun di masa sekarang saya kira orang makin merasa kebal dengan perilaku menyimpang ini dan menganggap ini sesuatu yang menyenangkan, bukan yang mengerikan, apalagi didukung dengan film-film atau sinetron-sinetron yang seolah-olah tampak sengaja atau disengaja saya tidak tahu menggambarkan betapa menggairahkannya dan menantangnya kehidupan ganda seperti itu atau kehidupan menyimpang seperti itu. Kalau mempunyai simpanan, jatuh cinta dengan orang yang lain selain dari istri kita, atau jatuh cinta dengan pria yang lain selain dari suami kita, itu merupakan suatu pengalaman yang benar-benar menggairahkan, suatu petualangan yang menarik. Nah, saya kira akhirnya seperti ini, karena melonggarnya tekanan sosial dan saya yakin juga memang kerohanian yang tidak begitu kuat akan menjerumuskan seorang yang sedang jaya masuk ke dalam perangkap perzinahan.
(2) GS : Tapi mungkin yang menarik adalah apa yang menyebabkan Yusuf itu bisa bertahan terhadap godaan itu, Pak Paul?

PG : Itu adalah hal yang memang sangat indah sekali Pak Gunawan, perkataan Yusuf waktu digoda adalah seperti ini, "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini,dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku.

Bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya daripadaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain daripada engkau, sebab engkau istrinya, bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah." Dari jawaban Yusuf, Pak Gunawan, sekurang-kurangnya ada dua hal yang mencegah Yusuf berbuat dosa, pertama yang ditulis dengan jelas, Yusuf takut kepada Tuhan Allah. Dan Yusuf tahu waktu dia berzinah dia bukannya hanya melakukan hubungan intim secara badani dengan seseorang tapi saat itu juga dia sedang berdosa terhadap Tuhan. Jadi dia mengaitkan semua perilaku atau semua tindakannya dengan Tuhan, apakah diperkenan Tuhan atau tidak, jadi rasa takut yang besar kepada Tuhan inilah faktor pertama yang mencegahnya berdosa. Yang kedua yang memang tidak tertulis dengan nyata tapi tersirat adalah Yusuf seseorang yang menghargai orang lain, dia tahu dia adalah orang yang diberikan kepercayaan yang sangat besar oleh majikannya yakni Potifar dan dia tahu semua dipercayakan dan diberikan kepadanya kecuali nyonyanya, istri majikannya. Dan dia menghargai Potifar dan pada saat itulah dia juga berhasil mengekang dirinya, karena penghargaannya pada si suami wanita tersebut. Kalau dia tidak lagi memandang si suami, tidak lagi menghargai si suami, saya kira kekangan tersebut akan makin longgar. Jadi dua hal itu memang saling menguatkan, dia takut kepada Tuhan dan dia menghargai suami orang dan dia tidak mau merusak rumah tangga orang, maka dia tidak jatuh ke dalam dosa.
GS : Kalau kita melihat pada kasus yang hampir mirip dengan itu Pak Paul, godaan orang yang mengalami kejayaan yaitu menghadapi perempuan, kita tentu ingat kasusnya raja Daud, tetapi 'kan hasilnya berbeda.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, saya akan bacakan dari II Samuel 11, "Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang maka Daud menyuruh Yoab yaitu panglimanya maju besera orang-orangnya dan seluruh orang Israel, mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba.

Sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. Sekali peristiwa pada waktu petang ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana. Tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi, perempuan itu sangat elok rupanya. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu,dan orang berkata itu adalah Batsyeba binti Eliam istri Uria orang Het itu. Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia, perempuan itu datang kepadanya lalu Daud tidur dengan dia." Di sini memang kita melihat kesamaan, Pak Gunawan, pencobaan datang kepada Daud tatkala menjadi raja yang jaya, dia sudah memenangkan banyak pertempuran sehingga pada akhirnya dia tidak usah lagi ikut berperang, dia tinggal menyuruh panglimanya Yoab maju berperang, itu menandakan dia sudah mencapai kemapanan. Sebab pada masa sebelumnya Daud selalu ikut berperang, nah pada masa jaya inilah pencobaan datang. Nah bedanya dengan Yusuf adalah di sini Daud sama sekali tidak mengaitkan tindakannya atau pikirannya dengan Tuhan. Tidak ada sebutan sedikitpun tentang Tuhan sebagaimana Yusuf menyebut tentang Tuhan, Yusuf berkata bagaimana mungkin saya berdosa kepada Tuhan, Daud tidak mengaitkan perbuatannya dengan Tuhan. Dan yang kedua meskipun orang yang disuruh Daud berkata wanita yang kau lihat adalah Batsyeba istri Uria, jadi dengan kata lain sudah bersuami, namun Daud tidak menghiraukan perkataan tersebut. Nah dengan kata lain, Daud memang tidak lagi memberi penghargaan kepada orang atau kepada suaminya, Daud tidak lagi memikirkan bahwa tindakannya akan merusak rumah tangga orang. Nah dua hal yang mengekang Yusuf tidak ada dalam pikiran Daud, maka Daud meluncur masuk dalam jerumusan dosa.
IR : Memang perbandingan antara Daud dan Yusuf tadi ya Pak Paul, kalau Yusuf tadi 'kan mapannya belum menanjak betul jadi kecenderungan untuk jatuh bagi orang yang memang sudah menanjak itu mungkin lebih mudah jatuh.

PG : Bagus sekali pengamatan Bu Ida, memang Daud tidak bisa dibandingkan dengan Yusuf, Daud adalah seorang raja yang sudah sangat jaya, sedangkan Yusuf pada saat itu masihlah seorang budak. Namn kalau kita melihat ukuran atau perbandingan dengan lingkungan mereka sebetulnya mirip.

Daud saat itu adalah seorang raja, dibandingkan dengan raja lain dia raja yang berhasil. Yusuf adalah seorang budak, jadi memang Yusuf tidak akan membandingkan dirinya dengan orang yang merdeka. Budak tidak lagi mempunyai hak, tidak lagi mempunyai kehendak, dia sudah dibeli menjadi suatu benda kepunyaan majikannya. Tapi dalam kedudukan yang begitu rendah Yusuf menempati posisi yang sangat tinggi sebagai seorang budak. Jadi kalau dibandingkan dengan rekan sejawatnya, Yusuf adalah seseorang yang sangat berhasil, jadi memang dua-duanya menikmati kejayaan, dalam kejayaan itu pencobaan datang.
GS : Tapi yang saya lihat Pak Paul, justru perbedaannya itu di kasusnya Yusuf, itu yang aktif 'kan istri Potifar, yang mencoba merayu Yusuf. Tetapi Daud itu justru yang aktif, yang berinisiatif Pak Paul, apakah itu juga membuat berbeda hasilnya, artinya Yusuf lebih bisa bertahan karena justru dia di pihak yang pasif, tapi Daud di pihak yang aktif karena dia yang berinisiatif, sehingga dia yang jatuh.

PG : Betul, jadi dari dua kasus ini kita melihat bahwa Yusuf seseorang yang luar biasa kuat, sebab dia itu benar-benar digoda di depan mata. Peristiwanya memang menceritakan istri Potifar berad di kamar dengan dia, tidak dijelaskan apa yang terjadi sebab mungkin saja yang terjadi istri Potifar sengaja memanggilnya.

Kemudian menyuruh yang lainnya keluar sehingga mereka tertinggal berdua di kamar. Dan dia sampai berhasil mengambil jubahnya Yusuf berarti apa, dia benar-benar dengan agresif mencoba untuk membuka baju Yusuf. Namun dalam keadaan yang begitu agresif, Yusuf dengan kuat menolak, nah Daud sama sekali tidak mengalami godaan sebetulnya, Batsyeba memang kebetulan sedang mandi dan dia kebetulan melihat dari jauh. Namun karena hati sudah ingin berzinah meskipun tangan tidak bisa menggapai masih saja dia mampu memanggil perempuan tersebut. Jadi memang kita melihat di sini perbedaan karakter yang sangat jauh antara raja Daud dan Yusuf dalam hal menghadapi pencobaan ini.
(3) GS : Padahal kalau kita lihat mereka berdua adalah orang-orang yang mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan, nah mengapa hal itu katakan Tuhan itu mengizinkan hal itu Pak Paul?

PG : Itu pertanyaan yang bagus Pak Gunawan, adakalanya seseorang yang jatuh ke dalam pencobaan ya mencoba merunut-runut ke belakang kenapa saya jatuh ke dalam pencobaan. Celakanya Pak Gunawan stelah merunut ke belakang akhirnya berkesimpulan Tuhanlah yang menyebabkan saya jatuh.

Nah kenapa orang sampai berkesimpulan seperti itu karena orang itu berkata atau orang-orang ini berkata, kalau Tuhan tidak membuka jalan saya tidak akan ketemu dengan orang tersebut. Kalau Tuhan tidak mempertemukan kami tidak mungkin kami akan bisa bertemu, kalau dia tidak menunjukkan itikad tertarik kepada saya, saya juga tidak akan memberikan inisiatif, menyambutnya dan sebagainya. Jadi segalanya memang di lihat dari sudut Tuhan tapi setelah jatuh ke dalam pencobaan seperti Daud. Yusuf mengaitkan segalanya dengan Tuhan sebelum datang pencobaan, nah pertanyaannya apakah Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Saya percaya ya Pak Gunawan Tuhan tidak merancang, Tuhan tidak menghendaki manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak merencanakan hal itu terjadi, Tuhan tidak memimpin orang untuk berdosa, tidak. Tapi Tuhan mengizinkan pencobaan datang dan mencobai orang Kristen, alasannya satu dan yang saya mau tekankan di sini adalah dalam konteks kejayaan. Ayat-ayat yang tadi telah saya baca baik Yusuf maupun Daud merupakan ayat-ayat yang ditulis begitu dekat di pasal 39 kitab Kejadian waktu saya membacakan kisah Yusuf, Yusuf diberkati (ayat 6) Yusuf dicobai (ayat 7). Tentang Daud, Daud tidak lagi perang, Yoab yang perang, menunjukkan Daud sudah mapan, pasal 11 dari kitab II Samuel ayat pertama, Daud melihat Batsyeba mandi (ayat ke-2). Jadi kita melihat bahwa kejayaan dan pencobaan berdampingan, nah kenapa Tuhan mengizinkan. Saya berkeyakinan Tuhan mengizinkan pencobaan mendatangi orang Kristen, nomor satu supaya Tuhan bisa menguji kita, apakah kualitas rohani kita seturut dengan kualitas eksternal atau jasmani kita. Apakah kerohanian kita sejaya kemenangan jasmani kita, nah apakah kekuatan internal atau rohani kita sama besarnya dengan kekuatan jasmani kita, itu saya kira yang pertama. Dan yang kedua saya kira Tuhan membiarkan atau mengizinkan pencobaan datang, supaya melalui itu Tuhan membentuk kita, supaya kita akhirnya makin mirip dan makin serupa dengan Tuhan kita, saya kira itu intinya.
IR : Itu kalau mereka sadar Pak Paul, kalau mereka keterusan bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau orang keterusan berarti memang dia menolak untuk mendengarkan teguran Tuhan dan ini yang terjadi pada raja Daud. Setelah Daud berzinah dengan Batsyeba, Daud bahkan mengambil langkah-angkah untuk menutupi dosanya, tidak berhasil untuk membujuk suami Batsyeba untuk kembali pulang dan bersetubuh dengan istrinya, Daud akhirnya merancang pembunuhan secara tidak langsung.

Bahkan setelah itu terjadi, Alkitab tidak mencatat raja Daud menyesali perbuatannya sampai Tuhan harus mengutus nabiNya Natan untuk memberikan teguran kepada raja Daud, baru ia mengakui dosanya. Jadi kita baru bisa menyimpulkan ada selang waktu berbulan-bulan Daud itu tidak mengakui dosanya. Nah kita tahu bahwa pada akhirnya melalui catatan sendiri di Mazmur, Daud mengakui bahwa dalam keadaan dia tidak mengakui dosa dia sebetulnya menderita, sebab dia merasakan dosanya itu seperti meremukkan tulang-tulangnya, hidupnya sangat menderita. Tapi toh yang saya ingin tekankan meskipun dia begitu menderita tetap tidak mengakui dosanya, nah itu kebablasan atau keterusan. Nah orang Kristen juga yang bermain-main dengan api akhirnya jatuh ke dalam dosa seperti ini, tidak akan menikmati, dia merasa seperti ada bara dalam dagingnya, seperti ada yang meremukkan tulang-tulangnya. Tapi di satu pihak dia menikmati, karena di satu pihak ini peristiwa yang menegangkan dan menggairahkan ya perzinahan itu, tapi di pihak lain dia akan merasakan suatu pukulan, siksaan, karena Roh Tuhan akan terus menerus menegurnya.
(4) GS : Jadi apa saran Pak Paul untuk kita semua, supaya kita itu mempersiapkan diri untuk menyongsong keberhasilan yang Tuhan berikan kepada kita, atau kejayaan yang Tuhan berikan?

PG : Yang pertama, kita harus ikuti apa yang telah dilakukan oleh Yusuf, Yusuf senantiasa mengaitkan semua hal yang terjadi padanya dengan Tuhan. Dia tidak melepaskan Tuhan dari segala tindakandan kehidupannya, waktu dia digoda, waktu dia diajak untuk bersetubuh dengan istri majikannya dia melihat itu sebagai suatu dosa, jadi dia mengaitkan itu dengan Tuhan.

Dan yang kedua yang Yusuf juga lakukan adalah Yusuf menghargai orang, misalkan orang itu yang mengajak kita berzinah misalkan yang tidak bersuami, atau tidak beristri, tetap kita harus menghargai dia. Karena apa, waktu kita berzinah kita sebetulnya merusak hidup orang tersebut untuk waktu yang lama, belum lagi kita akan merusak suami atau istri kita atau anak-anak kita. Jadi orang harus menghargai manusia lain dan waktu dia melakukan tindakan seperti itu dia justru akan membawa kehancuran kepada banyak hidup, jadi dua hal itu saya kira kita bisa camkan. Nah, selain dari dua hal itu yang tadi Pak Gunawan sudah singgung adalah kita harus berhati-hati dengan kejayaan, sebab pada waktu jaya kita akan menjadi target serangan. Jadi kita mesti menjaga jarak, membuat pagar dalam hubungan kita dengan lawan jenis, setelah kita jaya atau sebelum kita jaya. Yusuf berhasil menjaga diri dengan baik pada masa muda, malahan pada masa dia masih menjadi budak dan kita bisa melihat hasilnya. Waktu dia menjadi perdana menteri di tanah Mesir tidak ada kejadian seperti yang terjadi pada raja Daud, tidak ada kejadian Yusuf jatuh ke dalam dosa perzinahan atau apa, tidak pernah, karena dari awalnya sewaktu dia hanya menjadi budak dia berhasil menjaga diri dengan baik dan itu dia bawa terus sampai dia jaya, benar-benar jaya. Daud, sebelumnya dia menjadi seorang raja memang Daud itu sudah terlihat kelemahannya terhadap wanita, misalnya dia memilih untuk menikahi Abigail waktu suaminya meninggal dunia. Jadi memang Daud sudah menunjukkan kelemahannya di situ, meskipun dia menikahinya secara sah tapi memang terlihat dia sudah mempunyai bibit kelemahan itu dan tidak dijaga, tidak dipeliharanya sehingga pada waktu dia jaya menjadi raja dan pencobaan datang, dia langsung tergelincir.
IR : Jadi itu juga cenderung dipengaruhi oleh bakat ya Pak Paul?

PG : Kelemahan masing-masing dan kita harus menyadari kelemahan kita kalau kita sadari itulah kelemahan kita. Kita harus memagari diri kita dengan baik. Dan kita harus selalu sadari bahwa memag Tuhan mengizinkan, tapi Tuhan mengizinkan pencobaan datang bukan bersenang-senang supaya kita jatuh, tidak sama sekali, Tuhan ingin membentuk kita.

Waktu Daud jatuh memang Daud jatuh, Tuhan akhirnya menghukum Daud juga tapi Daud menerima bentukan Tuhan, sehingga dia menjadi lebih mirip, lebih serupa dengan Tuhan. Sebab itulah tujuannya Tuhan menyelamatkan kita yaitu untuk menjadikan kita anak-anakNya yang serupa dengannya.
GS : Saya rasa itulah yang Yakobus katakan bahwa Allah itu tidak mencobai, tapi memberikan ujian, Pak Paul ya?

PG : Betul.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan tentang bahaya dari sebuah kejayaan yang selalu menggoda kita untuk jatuh ke dalam dosa. Dan perbincangan ini kami lakukan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 50 A

  1. Apa yang melatarbelakangi masalah-masalah itu muncul, justru ketika seseorang mengalami kejayaan dalam hidupnya...?
  2. Melalui contoh Yusuf, apa yang menyebabkan dia bertahan terhadap godaan yang muncul....?
  3. Mengapa Tuhan mengizinkan pencobaan itu menimpa orang-orang yang mengasihi dan dikasihiNya...?
  4. Apa yang perlu kita persiapkan untuk menyongsong keberhasilan atau kejayaan yang Tuhan berikan....?


21. Kehidupan yang Hancur


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T059A (File MP3 T059A)


Abstrak:

Hidup yang hancur disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena perbuatan diri sendiri, bisa juga karena lingkungan.


Ringkasan:

Saya mau mengilustrasikan hidup seperti ikan yang menggelepar. Yang menjadi penghiburan kita sebagai orang Kristen adalah bagi kita hidup itu seperti ikan yang menggelepar dan tidak bisa kita pegang, namun di mata Tuhan sebetulnya hidup itu sangat terkontrol karena di bawah pengetahuan dan penguasaan Tuhan. Tidak ada yang terjadi yang tidak diketahui oleh Tuhan sendiri, jadi itulah penghiburan kita sebagai orang Kristen.

Kecenderungan kita waktu mengalami peristiwa ini adalah

  1. Yang pertama, kita menyalahkan orang lain sepenuhnya atas kehancuran hidup kita, seolah-olah semua orang yang di dunia inilah yang bertanggung jawab atas kehidupan atau kehancuran hidup kita itu.

  2. Yang kedua ada kecenderungan sebagian kita menyalahkan diri secara berlebihan, kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kehancuran hidup kita, tangan kitalah yang telah menghancurkan hidup kita ini.

Tanda-tanda utama seseorang itu sudah hancur atau sedang menuju pada kehancuran adalah:

  1. Tidak ada lagi yang menerima dia. Dia mulai merasakan bahwa dia telah menjadi orang asing di lingkungannya sendiri, dia merasakan penolakan yang merata dari banyak orang, dia juga merasakan tidak layak lagi berkumpul dengan orang-orang yang dulu biasa berkumpul dengan dia.

  2. Yang berikutnya yang umum juga adalah dia merasakan bahwa orang-orang yang dulu mencintainya dan yang dia cintai sekarang menjadi orang-orang yang sangat asing bagi dirinya.

  3. Tanda yang lainnya lagi adalah biasanya diikuti dengan kehancuran karier atau masa depan seseorang

  4. Tanda yang terakhir, seseorang akhirnya merasa sudah terlambat dan apapun yang saya lakukan tidak akan lagi memperbaiki keadaan saya.

Di dalam masa-masa yang sulit yang dialami seseorang, seringkali muncul dalam benak orang kenapa Tuhan itu jauh, seolah-olah menyalahkan Tuhan. Termasuk yang tadi saya katakan ada orang yang sepenuhnya menyalahkan diri, ada orang sepenuhnya menyalahkan orang lain. Dalam kategori sepenuhnya menyalahkan orang lain, ada orang yang menyalahkan Tuhan, seolah-olah Tuhanlah yang bertanggung jawab atas kehidupan ini mengapa sampai begini, mengapa Tuhan membiarkan.

Sebagian besar kehancuran hidup seseorang itu diakibatkan oleh dirinya sendiri. Ada beberapa penyebab yang bisa membuat tindakan-tindakan seseorang itu menghancurkan kehidupan atau masa depannya sendiri. Yang cukup umum adalah adanya penyebab-penyebab di luar diri kita misalkan kita dilahirkan dalam keluarga yang kebetulan tidak rukun.

Hal adalah kita harus tetap mempercayai bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang baik. Bahwa Dia yang perlu kita lakukan untuk mempersiapkan diri :

  1. Pertama bukanlah Tuhan yang akan merancangkan yang buruk bagi anak-anak yang dikasihiNya.

  2. Selain menyadari Tuhan baik, kita harus percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menguasai hidup kita. Roma 8:28, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
    Di sini kita bisa belajar beberapa hal:

    1. Yang pertama adalah firman Tuhan menegaskan bahwa Allah turut bekerja.

    2. Kedua, ini adalah berita pengharapan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu artunya Tuhan tidak membedakan sesuatu itu karena kita terima dari luar atau sesuatu itu akibat dari perbuatan kita sendiri.

    3. Yang ketiga, adalah suatu berita kemuliaan, yaitu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi seburuk apapun yang telah terjadi, seburuk apapun perbuatan kita yang telah menghancurkan hidup kita ini, yakinlah bahwa kalau Allah turut campur tangan Allah sanggup mengubahnya sehingga mendatangkan kebaikan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Kehidupan yang Hancur". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, ada orang-orang yang mengatakan kehidupannya itu sudah begitu kelam, begitu rusak; sebenarnya yang ingin kami ketahui adalah faktor-faktor apa Pak Paul yang bisa membuat kehidupan seseorang itu rusak?

PG : Pak Gunawan, saya akan mengawali dengan sebuah ilustrasi, saya ini tidak hobby memancing tapi pernah memancing, nah satu pengalaman saya tentang memancing adalah waktu kita mendapatkan kan dan mencoba memegangnya di tangan barulah kita menyadari betapa sulitnya memegang ikan yang masih hidup.

Biasanya kita membeli ikan di pasar, mudah sekali memilih ikan yang sudah mati atau setengah mati. Saya masih ingat betapa sulitnya memegang ikan yang hidup dan melepaskan kail dari mulutnya. Pernah suatu kali saya ingin melepaskan ikan itu kembali ke air dan mencoba melepaskan kail itu dari mulutnya, ternyata sangat sulit dan kesulitannya adalah ikan itu terus menggelepar-gelepar. Nah saya ini mau mengilustrasikan hidup seperti ikan yang menggelepar, adakalanya kita berpikir kita sudah bisa dan mampu memegang hidup, ibarat mau membeli ikan di pasar, dan kita mengira ikan itu sudah mati atau setengah mati. Ternyata waktu kita memegang hidup itu, barulah kita sadari benar-benar hidup itu bisa menggelepar, dan waktu menggelepar bisa lepas dari tangan kita. Yang menjadi penghiburan kita sebagai orang Kristen adalah bagi kita hidup itu seperti ikan yang menggelepar dan tidak bisa kita pegang, namun di mata Tuhan sebetulnya hidup itu sangat terkontrol karena di bawah pengetahuan dan penguasaan Tuhan. Tidak ada yang terjadi yang tidak di ketahui oleh Tuhan sendiri, jadi itulah penghiburan kita sebagai orang Kristen. Namun kalau kita melihatnya dari sisi manusia, kita akan terpaksa mengakui adanya hidup ibarat ikan yang menggelepar terlepas dari tangan kita. Ada sebagian kita yang terpaksa menerima geleparan ikan atau hidup ini dan kehilangan segalanya. Nah bagi orang yang mengalami peristiwa ini saya ingin mengajak para pendengar sekalian untuk menelusuri sebetulnya apa yang menyebabkan hidup kita itu hancur. Saya kira kecenderungan kita adalah ada dua, yang pertama kita menyalahkan orang lain sepenuhnya atas kehancuran hidup kita, seolah-olah semua orang yang di dunia inilah yang bertanggung jawab atas kehidupan atau kehancuran hidup kita itu. Yang kedua ada kecenderungan sebagian kita menyalahkan diri secara berlebihan, kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kehancuran hidup kita, tangan kitalah yang telah menghancurkan hidup kita ini. Nah sebelum kita sampai pada 2 keputusan yang ekstrim itu, saya mau mengajak kita semua untuk melihat mungkin situasinya atau masalahnya tidaklah seekstrim yang kita pikir. Mungkin adakalanya yang terjadi bukanlah tangan kita sendiri, memang ada campur tangan kondisi atau keadaan yang di luar kendali kita, tapi adakalanya memang tangan kita sendiri pula. Nah inilah kira-kira yang menjadi 2 penyebab utama Pak Gunawan, kenapa hidup kita akhirnya berakhir dengan kehancuran.
GS : Dalam hal itu Pak Paul, apakah seseorang itu tahu atau sadar bahwa hidupnya itu sudah hancur atau sedang menuju pada kehancuran?

PG : Biasanya dia ketahui, misalnya tanda-tanda yang utama adalah tidak ada lagi yang menerima dia, dia mulai merasakan bahwa dia telah menjadi orang asing dilingkungannya sendiri, dia meraskan penolakan yang merata dari banyak orang, dia juga merasakan dia tidak layak lagi berkumpul dengan orang-orang yang dulu biasa berkumpul dengan dia.

Yang berikutnya yang umum juga adalah dia merasakan bahwa orang-orang yang dulu mencintainya dan dia cinta sekarang menjadi orang-orang yang sangat asing bagi dirinya. Di mana mereka lebih baik tidak hidup dengan mereka atau mengenal dia. Tanda yang lainnya lagi adalah biasanya diikuti dengan kehancuran karier atau masa depan seseorang, tidak ada lagi pekerjaan, tidak ada kemampuan untuk bekerja dan rasanya kita tidak ada lagi jalan untuk kembali membangun hidup kita, nah ini tanda yang terakhir saya kira yang sangat-sangat berpengaruh besar. Di mana seseorang akhirnya merasa sudah terlambat dan apapun yang saya lakukan tidak akan lagi memperbaiki keadaan saya.
IR : Di dalam masa-masa yang sulit seperti yang dialami seseorang Pak Paul, apakah ada yang berpikiran kenapa Tuhan itu jauh, seolah-olah menyalahkan Tuhan?

PG : Sering kali itu muncul dalam benak orang, nah ini termasuk yang tadi saya katakan ada orang yang sepenuhnya menyalahkan diri, ada orang yang sepenuhnya menyalahkan orang lain. Nah dalamkategori sepenuhnya menyalahkan orang lain, ada orang yang menyalahkan Tuhan, seolah-olah Tuhanlah yang bertanggung jawab atas kehidupan ini kenapa sampai begini, kenapa Tuhan membiarkan.

Walaupun saya yang berbuat salah kenapa Tuhan tidak menghentikan berbuat salah atau waktu saya meminta pertolongan Tuhan kenapa Tuhan tidak menjawab misalnya seperti itu. Contoh yang paling klasik adalah seseorang yang terlibat dalam narkoba, obat-obatan terlarang, dia berdoa kepada Tuhan untuk melepaskannya dari belenggu narkoba ini, hari ini dia berdoa besok pakai lagi. Nah waktu dia pakai lagi dia sangat merasa bersalah, dia melihat dirinya begitu buruk tapi dia juga mulai berkata kenapa Tuhan tidak mendengarkan doa saya, kemarin saya sudah minta dengan tulus kok esok harinya saya membeli lagi obat, saya memakai lagi obat. Jadi di sinilah kita melihat suatu lingkaran yang berputar-putar dan orang dengan mudah akhirnya bisa mempersalahkan Tuhan, kenapa Tuhan tidak menolong saya seperti yang saya minta.
(2) GS : Sebagian besar Pak Paul, kehancuran hidup seseorang atau dia merasakan kehancuran itu diakibatkan oleh dirinya sendiri, nah itu hal-hal apa Pak Paul yang bisa membuat tindakan-tindakan seseorang itu yang bisa menghancurkan akan kehidupannya sendiri atau masa depannya?

PG : Ada beberapa penyebab yang umum Pak Gunawan, yang cukup umum adalah memang ada penyebab-penyebab di luar diri kita misalkan kita dilahirkan dalam keluarga yang kebetulan tidak rukun. Keetulan orang tua kita sering bertengkar sehingga sejak kecil kita menjadi orang yang penuh kemarahan, nah karena kita orang yang penuh kemarahan.

Waktu kita mulai besar kecenderungan kita adalah mengambil keputusan tidak dengan pertimbangan yang matang. Karena emosi kita yang tinggi itu adakalanya kita membuat kesalahan-kesalahan, nah waktu kita masih kecil kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin ya, masih dalam skala yang kecil. Misalnya kita menonjok teman, membalas teman yang mengejek kita akhirnya di skorsing oleh sekolah. Nah dengan bertambahnya usia, kesalahan yang kita perbuat juga bertambah besar, misalnya bukan saja kita menonjok seseorang tapi kita memukuli seseorang sampai dia harus dibawa ke rumah sakit dan kita menjadi berurusan dengan polisi misalnya seperti itu. Atau karena emosi kita yang begitu tinggi dan jiwa kita begitu resahnya sehingga waktu teman kita menantang kita untuk memakai obat-obatan terlarang: putau, sabu-sabu, masa begitu saja kamu tidak beranilah apa, karena jiwa kita yang begitu marah penuh pemberontakan pada keluarga kita, mulailah kita memakai obat-obatan terlarang itu. Jadi adakalanya kita menghancurkan hidup kita karena kita tidak bijaksana dalam mengambil keputusan, tapi saya harus akui ketidakbijaksanaan kita itu sebetulnya merupakan akibat dari keadaan yang membesarkan kita itu. Nah akhirnya karena kita menjadi orang yang penuh dengan kemarahan, penuh dengan ketidakstabilan kita mudah jatuh pada keputusan yang salah. Atau yang lainnya lagi adalah sebetulnya tidak ada kondisi yang di luar seperti itu, namun masalahnya adalah sepenuhnya dari diri kita misalnya kita orang yang mau mencoba yang tidak lazim, kita orang yang mau barmain-main dengan api, kita tidak suka dengan yang sama, kita cenderung menolak yang diajarkan oleh orang karena kita mau memunculkan ide kita sendiri misalnya dalam kasus memilih jodoh kita melakukan hal seperti itu. Orang tua sudah berkata jangan menikah dengan dia, teman-teman segereja, pendeta kita berkata jangan menikah dengan dia, kita tidak pusing, kita berkata saya tahu apa yang saya pilih dan yang menikah juga saya kenapa orang lain pusing dengan saya. Nah karena adanya perasaan-perasaan yang sangat angkuh itu, kita akhirnya menikah, apa yang terjadi benar-benar kita menikah dengan orang yang keliru akhirnya hidup kita merana luar biasa. Akhirnya setelah bertahun-tahun karena frustrasi, kita bercerai urusan rumah tangga kita berantakan, anak-anak kita berantakan, nah di situlah kita merasa hidup kita hancur, nah dalam hal ini memang tangan kitalah yang melakukan sepenuhnya.
GS : Saya melihat suatu contoh yang baik di dalam Alkitab ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan anak yang bungsu lari dari rumah orang tuanya. Apakah itu salah satu bentuk penghancuran terhadap dirinya sendiri?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi dalam contoh tersebut si anak bungsu ini sengaja meminta harta orang tuanya, meminta harta warisannya bukan dipakai untuk berdagang, bukan untuk hal yang erguna bagi kehidupannya.

Dia sengaja meminta hak warisnya untuk dihabiskan, untuk berfoya-foya, nah itu adalah jelas-jelas contoh di mana seseorang memiliki hati yang keras, dia menganggap dirinya tahu apa yang dia lakukan dan tidak mau peduli dengan nasihat orang lain dan akhirnya menghancurkan hidupnya. Tapi puji Tuhan, kita tahu dari cerita itu akhirnya berakhir dengan bahagia karena dia sadar akan dosanya dan kembali pulang ke rumah orang tuanya.
GS : Saya rasa kita berharap hal demikian juga terjadi pada banyak orang yang merasa hancur hidupnya. Tapi tadi Pak Paul katakan selain faktor dirinya sendiri yang menghancurkan masa depan ada faktor lingkungan, itu seperti apa Pak Paul?

PG : Adakalanya peristiwa terjadi di luar kendali kita misalnya kita telah berpikir matang-matang, merencanakan sebaik mungkin untuk misalnya ekspansi usaha kita. Tapi tiba-tiba terjadi sesutu di luar jangkauan kita, kita ditipu oleh rekan bisnis kita misalnya atau sesuatu terjadi sehingga perusahaan kita terbakar habis sehingga kita benar-benar kehilangan harta milik kita.

Nah hal-hal seperti itu bisa terjadi dan bisa menimpa siapa juga, nah dalam kasus seperti ini kalau kita tidak hati-hati kita akan cenderung menyalahkan Tuhan sebab kita berkata kenapa engkau membiarkan hal ini menimpa saya. Nah yang perlu kita lakukan nomor satu adalah menerima fakta bahwa selama kita berjalan di bumi ini hal-hal seperti itu bisa menimpa kita. Contoh yang lain yang sering terjadi juga adalah misalkan perampokan, seorang sedang berjalan uangnya diambil dan kalau misalnya lebih malang lagi dia misalnya ditusuk, dilukai sehingga dia cacat dan sebagainya. Jadi hal-hal tersebut memang menimpa atau bisa menimpa setiap insan yang masih hidup di dunia ini, dan kita sebagai orang Kristen tidak diperkecualikan.
IR : Nah, apakah setiap penderitaan seseorang itu semestinya seizin Tuhan, Pak Paul?

PG : Saya mempunyai keyakinan bahwa apapun yang menimpa kita itu terjadi dalam izin Tuhan, jadi ini yang sulit kita terima, kalau Tuhan baik kenapa mengizinkan itu terjadi, ini yang sulit kia terima.

Makanya ada orang yang berprinsip tapi tidak berkuasa sepenuhnya sehingga hal-hal tersebut bisa menimpa orang-orang yang dikasihinya. Tidak, Tuhan baik dan Tuhan mengizinkan, adakalanya hal yang buruk menimpa anak-anak Tuhan, ini dua hal yang sulit kita kompromikan. Tapi dua-duanya mencerminkan 2 sifat Tuhan yang sangat hakiki yaitu Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih, tapi yang kedua Tuhan yang berdaulat penuh, Tuhan yang memerintah segenap kehidupan ini, bahkan tidak ada sehelai rambutnya yang jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan. Jadi benar-benar Tuhan yang mengetahui dan berkuasa atas semuanya, ini yang sulit kita terima.
IR : Tapi kalau karena ulahnya sendiri apakah itu seizin Tuhan, Pak Paul?

PG : Nah kalau penderitaan akibat ulah kita sendiri, kita tidak mengatakan izin tapi Tuhan membiarkan, Tuhan menghendaki tidak seseorang pun melawannya. Tuhan menghendaki tidak seseorang mentup telinga tidak mau mendengarkan yang Tuhan kehendaki, tentu jawabnya tidak, tentu Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya melawan dia.

Tapi kalau sampai anak-Nya tetap melawan dia kok Tuhan izinkan, o....bukan Tuhan bukan izinkan di situ tapi Tuhan membiarkan itu terjadi, kadang kala untuk mengganjar dia agar dia bisa bertobat.
(3) GS : Kalau kita melihat tadi Pak Paul, faktornya adalah bagaimana seseorang itu menyikapi masalah yang dihadapinya baik mengenai dirinya sendiri maupun faktor yang dari luar. Nah yang ingin saya tanyakan adalah sementara kita itu masih atau belum mengalami hal-hal seperti itu 'kan ada baiknya kita mempersiapkan diri Pak Paul. Karena hal-hal seperti itu bisa terjadi pada semua orang, lebih-lebih faktor lingkungan karena perampokan, entah karena kerusuhan, entah karena bencana alam, dan sebagainya. Nah bagaimana kita itu mempersiapkan diri supaya kalau itu terjadi kita tidak merasa bahwa hidup itu sudah tidak berguna lagi, Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah kita mesti tetap mempercayai bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang baik, bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang akan merancangkan yang buruk bagi anak-anak yang dikasihi-Nya.Kalau Dia bukanlah Tuhan yang baik, Dia tidak akan turun menjadi manusia dan mati buat dosa-dosa kita, jadi hanya Tuhan yang baik yang akan rela menyerahkan nyawanya untuk manusia yang dikasihi-Nya.

Nah pertanyaannya kenapa hal yang buruk itu terjadi, ada hal-hal yang bisa kita ketahui, ada hal-hal yang tidak akan kita ketahui jawabannya. Nah tentang mengapa hal-hal buruk itu terjadi, lho kenapa Tuhan membiarkan saya melakukan hal-hal itu sehingga hidup saya hancur. Adakalanya kita tidak menemukan jawabannya dengan mudah, jadi untuk hal-hal yang memang sulit untuk kita temukan jawabannya ya sudah, kita tidak usah berusaha menemukan jawabannya. Yang terpenting adalah kita menerimanya, sebagai persiapan apa yang bisa kita lakukan, nah selain dari kita menyadari Tuhan baik kita harus percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menguasai hidup kita. Bahwa Tuhan tidak akan kecolongan, sesuatu tidak akan menyelinap masuk dan merenggut kita dari sisi-Nya, tidak akan. Nah saya akan mendasari argumen saya atas firman Tuhan yang tercantum di Roma 8:28, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Nah, di sini kita mau belajar beberapa hal; yang pertama adalah firman Tuhan menegaskan bahwa Allah turut bekerja, nah ini sekali lagi menyatakan kedaulatan Allah, Allahlah yang memerintah hidup ini sehingga Allah mengetahui semuanya, Allah menguasai sepenuhnya apa yang terjadi dalam hidup kita. Yang kedua, ini adalah berita pengharapan, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu artinya Tuhan tidak membedakan sesuatu itu karena kita terima dari luar atau sesuatu itu akibat dari perbuatan kita sendiri. Nah jangan sampai kita berkata kalau saya yang menghancurkan hidup saya sendiri, Tuhan pasti tidak mau lagi mengampuni saya, Tuhan hanya akan menolong saya kalau kemalangan ini ditimpakan pada saya dari luar. O...tidak, Alkitab tidak membedakan kedua hal ini, Alkitab berkata Allah turut bekerja dalam segala sesuatu berarti, dalam segala hal bahkan dalam hal-hal yang memang dalam tanggung jawab kita sepenuhnya. Allah tetap akan turut campur tangan, kadang kala kita merasa sayalah yang bersalah, sayalah yang berbuat Allah tidak akan turut mau campur tangan, Allah akan melepaskan kita, nah berita pengharapan adalah tidak, Allah tetap akan turut campur tangan. Nah ini yang ketiga adalah suatu berita kemuliaan, yaitu atau mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, mendatangkan kebaikan jadi seburuk apapun yang telah terjadi seburuk apapun perbuatan kita yang telah menghancurkan hidup kita ini yakinlah bahwa kalau Allah turut campur tangan Allah sanggup mengubahnya. Mengubahnya sedemikian rupa bukan saja membuat itu normal, netral tapi Allah berjanji mengubahnya menjadi yang baik bagi kita. Nah di sinilah kita bisa mengenal sifat Allah yang sangat hakiki yaitu Allah yang penuh kebaikan, sehingga bukan saja dia merestorasi kembali seperti suasana sebelumnya atau situasi sebelumnya, tidak. Tidak akan Dia memberikan kita yang netral Dia akan justru memberikan kita yang baik, jadi baik itu perbuatan tangan kita sendiri atau yang ditimpakan kepada kita lalu kita serahkan kembali kepada Tuhan, kita mau bertobat, kita mesti dengar janji Tuhan ini bahwa Dia akan mengubahnya untuk mendatangkan yang baik bagi kita.
IR : Yang baik bagi kita itu kalau sering kali dari sudut pandang manusia ada yang mengatakan itu tidak baik Pak Paul, kalau sudah hancur misalnya sampai bercerai itu 'kan rasanya bagi manusia 'kan tidak baik, tapi bagi Tuhan baik.

PG : Betul sekali, Bu Ida, jadi yang baik bagi kita sudah tentu adalah yang baik bagi Tuhan dan yang baik bagi Tuhan sudah tentu paling baik buat kita. Tapi saya setuju dengan Ibu Ida, adakaanya kita akan berkata yang paling baik buat saya kok Tuhan rasanya bukan yang paling baik.

Nah sering kali kita mengukurnya dari hal-hal yang nampak yang kasat mata, tapi tidak selalu begitu. Yang pertama adalah sering kali Tuhan mendatangkan kebaikan melalui yang di dalam yakni misalnya perombakan karakter kita. Tapi yang kedua adakalanya kita memang tidak mampu melihat yang baik itu dengan mata telanjang kita, adakalanya yang baik itu akan terlihat bertahun-tahun kemudian atau pada masa di mana kita justru sudah meninggal dunia. Baru akan terlihat jelas kenapa itu baik atau pada waktu-waktu di mana yang baik itu tidak akan terlihat sama sekali di mata manusia karena cara Tuhan bekerja memang sangat luar biasa.
GS : Saya rasa Alkitab memberikan banyak contoh pada kita bagaimana seseorang yang tadinya diperkirakan hidupnya hancur tapi kemudian bangkit kembali seperti Ayub, Yusuf, Zakeus yang disingkirkan orang, Nikodemus, dan banyak lagi saya rasa Pak Paul. Masalahnya bagaimana kita orang awam ini kalau melihat seseorang atau teman kita atau yang kita kenal, yang merasa dirinya hancur apa yang bisa kita lakukan untuk mereka itu?

PG : Saya teringat cerita Petrus setelah menyangkal Yesus, dia malu, dia sangat malu sekali, tapi yang indah dari Petrus adalah dia tidak meninggalkan persekutuan dengan teman-temannya. Nah ecenderungan orang yang sudah menghancurkan hidupnya, atau yang telah berbuat salah dia akan meninggalkan persekutuan dengan teman-teman seiman, itu kesalahan fatal, nah Petrus tidak melakukan hal itu, Petrus tetap tinggal di dalam persekutuan.

Waktu Tuhan memunculkan diri di telaga sewaktu Petrus dan teman-teman sedang menjala ikan, di sini kita melihat sesuatu yang sangat indah, Tuhan memanggil Petrus dan bertanya 3 kali apakah Petrus tetap mencintai Dia. Nah pertama yang bisa kita lihat adalah Tuhan mengulurkan tangan kepada Petrus, yang kedua Tuhan tidak hanya mengulurkan tangan, Tuhan juga ingin melihat Petrus mengulurkan tangannya kembali kepada Tuhan, makanya Tuhan bertanya apakah engkau mengasihi Aku lebih dari yang lainnya ini. Jadi apa yang bisa kita lakukan, kita harus menjangkau orang yang hancur sebab orang yang hancur memang cenderung mau membenamkan kepalanya di bawah pasir, tidak mau terlihat oleh teman-teman yang lain, meninggalkan persekutuan. Tadi saya sudah katakan bagi yang sudah hancur jangan sampai lupa kembali pada persekutuan dengan anak-anak Tuhan, bagi kita yang harus kita lakukan adalah menjangkau mereka. Kita mengulurkan tangan kepada mereka namun setelah itu kita juga mau melihat dia mengulurkan tangan kembali, tidak, karena itu penting. Tuhan juga meminta Petrus mengulurkan tangannya kembali, kalau Petrus berkata misalnya aku tidak mencintai engkau Tuhan, mungkin Tuhan akan berdiam membiarkan Petrus menyadari dirinya dan dosanya.
GS : Jadi faktor lingkungan akan mempengaruhi seseorang untuk cepat pulih lagi Pak Paul, dari kehancurannnya itu. Dari kita, kita percaya kebenaran firman Tuhan tadi mengatakan bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang merasa dirinya hancur untuk kembali kepada Tuhan dan Tuhan akan memberikan yang lebih baik. Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang kehidupan yang hancur. Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.

PERTANYAAN KASET T 59 A

  1. Faktor-faktor apakah yang membuat kehidupan seseorang itu rusak...?
  2. Apakah penyebab tindakan seseorang itu dapat menghancurkan hidupnya sendiri bahkan masa depannya...?
  3. Bagaimana mempersiapkan diri supaya nggak merasa hidup ini tidak berguna lagi...?


22. Ketika Tuhan Terasa Jauh


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T059B (File MP3 T059B)


Abstrak:

Tuhan dengan sengaja membawa kita ke padang gurun, di mana kita sendirian tiada orang-orang seiman yang menguatkan kita, tiada pembimbing rohani yang mengingatkan kita dan nggak ada lagi perbuatan Tuhan yang dapat kita dengar, kita benar-benar merasakan kesunyian yang luar biasa. Dan Tuhan menghendaki agar kita melewati masa yang sunyi itu, masa yang gersang itu, seperti di gurun pasir agar kita melihat Tuhan dengan mata yang lain yaitu bahwa Dia mengasihi kita di mana kita dapat sandarkan diri kita sepenuhnya kepada Dia.


Ringkasan:

Richard Foster dikenal dengan bukunya Money and Power mengisahkan perjalanan kehidupan rohaninya. Ketika dia merasakan Tuhan meminta dia untuk selama waktu yang tak ditentukan meninggalkan pelayanannya, sementara saat itu dia adalah seorang dosen di sebuah sekolah dan terlibat dalam banyak pelayanan. Jadi yang Tuhan minta untuk dia lakukan adalah sesuatu yang sangat-sangat mencemaskan. Dia memanggil pengalaman ini sebagai pengalaman gurun pasir. Yang dikatakan Foster bahwa di dalam hidup kerohanian itu tidak selalu Tuhan akan menyatakan diri-Nya seperti seorang ayah yang langsung menyelamatkan anaknya sewaktu anak berseru minta tolong kepada dia. Justru pada masa di gurun pasir inilah kita akan merasakan kesendirian, tidak berarti Tuhan meninggalkan kita, namun Tuhan itu sunyi. Inilah yang dia saksikan setelah dia melewati masa gurun pasir, yakni dia merasakan bahwa dia sekarang bergantung kepada Tuhan dengan cara yang sangat berbeda. Yang ditekankan Foster, untuk kita bisa semakin dewasa, kita perlu melewati masa gurun pasir. Dan dalam pengalaman gurun pasir itulah dia mengatakan kita akan bergantung kepada Tuhan dengan cara yang sangat berbeda, karena tidak ada lagi yang bisa kita gantungkan, buatan tidak kita lihat, pemberian tidak juga kita terima, jadi kita hanya bisa bergantung sepenuhnya pada individu Tuhan.

Matius 4:1, "Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis." Yesus dibawa Roh Allah ke padang gurun, dengan kata lain bahwa Allahlah yang menghendaki untuk masuk ke dalam gurun pasir, memang tujuannya adalah Allah menuntut Yesus ke padang gurun supaya dicobai Iblis. Kadangkala ini akan terjadi pada diri kita pula, Tuhan akan dengan sengaja dalam rencana Tuhan membawa kita ke padang gurun, di mana kita akan sendirian tidak ada lagi orang-orang seiman yang bisa menguatkan kita, tidak ada lagi pembimbing rohani kita yang bisa mengingatkan kita untuk terus datang kepada Tuhan dan kuat dalam Tuhan. Dan nggak ada lagi perbuatan Tuhan yang bisa kita saksikan dan tidak ada lagi suara Tuhan yang bisa kita dengar dan benar-benar kita merasakan kesunyian yang luar biasa. Hal ini supaya kita melihat Tuhan bukan si pemberi berkat, sebagai Tuhan yang sepertinya murah hati, melimpahkan kepada kita pemberian-pemberian-Nya tapi kita akan menatap Tuhan dengan mata yang lain bahwa Dia adalah Tuhan yang mengasihi kita yang agung dan yang mulia yang tidak bisa kita mengerti, tapi kita bisa sandarkan diri kita sepenuhnya kepada Dia.

Dan dalam masa ini pula, kita bisa melihat apa yang memotivasi seseorang mengikut Tuhan, di sini benar-benar motivasi manusia dimurnikan. Foster akhirnya benar-benar mengalami kemenangan, suatu pembaharuan, melihat Tuhan dan berhubungan dengan Tuhan dengan cara yang sangat lain, dengan cara yang sangat berbeda. Karena di situlah dia mengenal Tuhan dengan matang sekali.

Corrie ten Bom seorang berkebangsaan Belanda, yang terpanggil menyembunyikan orang Yahudi yang sedang dikejar-kejar oleh tentara Jerman, yang akhirnya tertangkap basah oleh Jerman dan dimasukkan ke penjara. Kakak, ayah, kakak iparnya pun masuk penjara dan mati dalam penjara. Suatu hari dia harus melihat kakaknya disiksa dan sengsara luar biasa dan itu sangat menusuk hatinya. Corrie ten Bom tetap memegang Tuhan walaupun pada saat itu benar-benar tidak bisa melihat Tuhan hadir di penjara-penjara yang disebut 'Consentration Camp' di mana orang Yahudi dimasukkan di kamar gas dan dimatikan oleh tentara Jerman. Corrie ten Bom tetap berpegang pada Tuhan, dia tetap tidak melepaskan Tuhan meskipun fakta seolah-olah justru menentang adanya Tuhan pada saat itu.

Apa yang perlu kita lakukan untuk menyiapkan diri masuk dalam padang gurun?

  1. Yang paling penting adalah kita dekat dengan Tuhan, membaca Firman-Nya, menekuninya, mencoba mentaati Tuhan dan kita tidak usah memikirkan kapan Tuhan akan menempatkan kita di pengalaman gurun pasir. Sebab itu adalah kehendak Tuhan dan hak Tuhan, biarkan Tuhan yang tentukan.

Matius 4:11, "Lalu Iblis meninggalkan Dia." Jadi yang saya tekankan bahwa peristiwa itu akan lewat apapun yang menimpa kita akan lewat, dalam hal Tuhan Yesus memang pencobaan Iblis dan lihat Malaikat-malaikat datang melayani Yesus. Jadi kalau kita melewatinya maka Tuhan akan datang kepada kita benar-benar melimpahkan pelayanan-Nya kepada kita kembali, sebab di situlah kita bersukacita merayakan kemenangan itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Ketika Tuhan terasa Jauh". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Pak Gunawan, saya akan mengawali dengan sebuah cerita yang nyata-nyata terjadi, ini dikisahkan oleh seorang Kristen yang bernama Richard Foster. Dia itu dikenal dengan bukunya misalnya tenang disiplin rohani, tentang seks, "money and power", nah dia mengisahkan perjalanan kehidupan rohaninya.

Pada suatu ketika dia merasakan Tuhan meminta dia untuk selama waktu yang tak ditentukan meninggalkan pelayanannya, nah saat itu dia adalah seorang dosen di sebuah sekolah dan terlibat dalam banyak pelayanan rohani, jadi apa yang Tuhan minta untuk dia lakukan adalah sesuatu yang sangat-sangat mencemaskan. Apalagi dia tidak tahu berapa lamakah Tuhan minta dia untuk meninggalkan aktivitas sehari-harinya itu. Namun karena dia ingin taat kepada Tuhan itulah yang dia lakukan, nah dia menuliskan pengalamannya ini dan saya mendapatkan begitu banyak berkat dari apa yang dia tuliskan. Dia memanggil pengalaman ini pengalaman gurun pasir, sebetulnya pengalaman ini dialami oleh Richard Foster, sebab saya kira penulis yang lain pun adakalanya juga pernah mengalami masalah yang sama dan menuliskannya dalam buku-buku mereka. Yang dikatakan oleh Foster adalah bahwa di dalam hidup kerohanian itu tidak selalu Tuhan akan menyatakan diri-Nya seperti seorang ayah yang langsung menyelamatkan anaknya sewaktu anak berseru minta tolong kepada dia. Justru pada masa-masa di gurun pasir inilah kita akan merasakan kesendirian, tidak berarti Tuhan meninggalkan kita, namun Tuhan itu sunyi. Nah Foster menulis betapa dia ingin mendapatkan petunjuk Tuhan, suara Tuhan yang bisa membimbing dia kembali tapi dia merasakan saat-saat itu Tuhan sangat-sangat sunyi. Pada awalnya dia masih bisa menghadapinya dengan baik, tetapi lama-kelamaan itu menjadi suatu saat yang cukup mencemaskan dia, waktu dia harus melalui masa-masa tersebut. Dan terutama dia tidak tahu kapan ini akan selesai, namun inilah yang dia saksikan setelah dia melewati masa di gurun pasir itu, yakni dia merasakan bahwa dia sekarang bergantung kepada Tuhan dengan cara yang sangat berbeda. Nah pada awal-awal hidup rohani kita, apalagi waktu kita masih bayi dalam Tuhan kita akan melihat bahwa Tuhan itu begitu sigap membantu kita, begitu sigap memberikan petunjuk kepada kita, namun menurut Foster akan ada masa di mana Tuhan tidak bertindak sesigap itu. Dengan tujuan agar kita menggantungkan diri kita kepada Dia, bukan kepada perbuatan-Nya, bukan kepada apa yang Tuhan berikan kepada kita. Nah pada masa awal-awal rohani kita, kita cenderung bergantung sekali pada pemberian-pemberian Tuhan, pada perbuatan-perbuatan Tuhan, kita meninggikan perbuatan Tuhan yang menolong kita, yang menyelamatkan kita, kita bersyukur atas pemberian Tuhan, di waktu-waktu kita dalam keadaan yang sangat butuh. Tapi untuk kita ini dewasa kita perlu melewati masa gurun pasir itu kira-kira yang ditekankan oleh Foster. Dan dalam pengalaman gurun pasir itulah dia mengatakan kita akan bergantung kepada Tuhan dengan cara yang sangat berbeda, karena tidak ada lagi yang bisa kita gantungkan, buatan tidak kita lihat, pemberian tidak juga kita terima, jadi kita hanya bisa bergantung sepenuhnya pada individu Tuhan, itu kata Foster itulah pengalaman yang benar-benar mendewasakan dia dalam kehidupannya dengan Tuhan.
GS : Apakah hal itu juga terjadi dalam diri Tuhan Yesus, kalau Foster mengatakan di padang gurun, kita langsung teringat dengan kisah Tuhan Yesus yang dicobai di padang gurun itu, Pak Paul.

PG : Ayatnya adalah di Matius 4:1 "Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis," sebetulnya kalimat ini sangatlah pendek tapi benar-benar suatu kalimatyang bermakna sangat dalam.

Yang pertama-tama adalah kita melihat jelas bahwa Tuhan Yesus dibawa oleh Roh, nah Roh ini Roh siapa, Roh Allah sudah tentu, jadi dalam wujudnya sebagai manusia, Yesus dibawa oleh Roh Allah ke padang gurun. Dengan kata lain kita simpulkan bahwa Allahlah yang menghendaki untuk masuk ke dalam gurun pasir itu, dan kita tahu dia selama 40 hari 40 malam berpuasa tidak makan tidak minum dan pada saat itulah Dia dicobai oleh hidup. Nah Iblis datang ke situ bukanlah sebagai sesuatu yang kebetulan tapi dikatakan jelas di bawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis, memang tujuannya adalah Allah menuntun Yesus ke padang gurun supaya dicobai oleh Iblis. Nah kadang kala akan terjadi pada diri kita pula, Tuhan akan dengan sengaja dan dalam rencana Tuhan membawa kita ke padang gurun, di mana kita akan sendirian tidak ada lagi orang-orang seiman yang bisa menguatkan kita, tidak ada lagi pembimbing rohani kita yang bisa mengingatkan kita untuk terus datang kepada Tuhan dan kuat dalam Tuhan. Dan tidak ada lagi perbuatan Tuhan yang bisa kita saksikan dan tidak ada lagi suara Tuhan yang bisa kita dengar dan benar-benar kita merasakan kesunyian yang luar biasa.
GS : Pada saat-saat seperti itu justru yang sering terjadi adalah orang mengatakan ada dosa di dalam diri kita, itu juga terjadi pada sahabat-sahabat Ayub terhadap Ayub. Sebenarnya kesimpulan seperti itu bagaimana Pak?

PG : Adakalanya memang kita berdosa, dan untuk sementara waktu Tuhan membiarkan kita melewati masa yang sulit itu sendirian agar kita bisa menyadari dosa kita, adakalanya itu yang terjadi. Namu yang saya maksud di sini adalah bukan karena dosa, jadi benar-benar ini adalah dalam rencana Tuhan dan Tuhan menghendaki kita melewati masa yang sunyi ini, masa yang gersang itu, seperti kita di gurun pasir agar kita melihat Tuhan dengan mata yang lain.

Kita bukan melihat Tuhan sebagai si pemberi berkat, sebagai Tuhan yang sepertinya murah hati, melimpahkan kepada kita pemberian-pemberianNya bukan, tapi kita akan menatap Tuhan dengan mata yang lain bahwa Dia adalah Tuhan yang mengasihi kita yang agung dan yang mulia yang tidak bisa kita mengerti, tapi kita bisa sandarkan diri kita sepenuhnya kepada Dia.
IR : Itu juga dirasakan oleh hamba-hamba Tuhan yang justru ingin menegakkan kebenaran Tuhan tapi rasanya mereka itu tidak mendapat pertolongan dan di dalam kesesakannya itu kira-kira apa yang diperbuat, Pak Paul?

PG : Betul sekali kata Bu Ida, adakalanya itu dialami oleh hamba-hamba Tuhan yang ingin menegakkan kebenaran Tuhan, contohnya Elia. Dia berani melawan nabi-nabi Baal tapi kemudian dia harus lar karena dia ketakutan, nah dia berpikir saat itu bahwa tidak ada lagi nabi-nabi Tuhan, ternyata dia keliru, masih ada yang Tuhan sisakan.

Namun pengalamannya itu dapat kita kategorikan seperti yang tadi Ibu Ida singgung yakni karena dia ingin menegakkan kebenaran Tuhan, dia akhirnya sendirian dan tidak lagi tempat bisa mengadu dan sebagainya. Nah apa yang bisa dilakukan saat itu, Elia melakukan kesalahan yang cukup besar, Elia bukan saja hanya melarikan diri dari ratu Izebel yang ingin membunuhnya, seolah-olah Elia pun melarikan diri dari Tuhan. Seolah-olah Elia merasa Tuhan itu meninggalkan dia dan dia harus sendirian, nah yang selalu harus kita ingat adalah kalau kita tahu kita tidak berbuat dosa, kita memang lagi dalam perjalanan dengan Tuhan kalau itu harus kita alami itu berarti memang dalam rencana Tuhan. Dan ada yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita dan bukan berarti waktu Tuhan sunyi, Tuhan meninggalkan kita, Dia tetap berada di samping kita.
GS : Sering juga yang dipakai itu ketika di atas kayu salib itu seolah-olah Allah Bapa itu tidak menjawab apa yang Tuhan Yesus teriakkan di sana, orang mengatakan itu karena ada dosa yang ditimpakan pada diri Tuhan Yesus waktu itu, jadi dosa itu yang memisahkan Tuhan Yesus dengan Allah sebenarnya.

PG : Sekali lagi saya singgung, memang kita terpisah dari Tuhan karena dosa, dalam contoh tadi Tuhan Yesus tidak berdosa tapi Dia menanggung dosa manusia. Dan pada saat itu Allah seolah-olah mealingkan muka, membiarkan AnakNya mati di kayu salib menanggung dosa-dosa kita.

Sudah tentu saat itu bukannya Allah Bapa menolak Tuhan Yesus atau Allah Anak, tidak sama sekali, nah di dalam keberdosaan kita adakalanya memang kita akan melihat Tuhan tidak dekat dengan kita. Dalam kasus itu memang dosalah yang menjauhkan kita dari Tuhan. Maka itu Tuhan berkata Aku menolak Saul karena memang Saul sebagai raja pertama Israel sudah menolak Tuhan, tapi satu hal yang tetap saya yakini sejahat-jahatnya manusia dan seberdosanya manusia, kalau dia kembali kepada Tuhan, Tuhan akan menerima dia. Ini yang selalu mencengangkan saya, sebagai contohnya salah seorang raja di Israel Selatan yang paling jahat adalah raja Manasye dan yang celakanya bukan saja dia memerintah paling jahat tapi juga paling lama di Selatan itu. Lima puluh lima tahun paling lama dan dia begitu kurang ajarnya sehingga bukan saja dia itu menyembah dewa-dewa lain, dia membawa patung dewa-dewa itu ke dalam bait Allah Tuhan, nah itu luar biasa kurang ajarnya. Raja-raja yang lain memang menyembah allah-allah lain, dewa-dewa lain, tapi tidak membawa patung-patung mereka ke dalam rumah Tuhan, Manasye bahkan membawa patung-patung mereka ke dalam bait Allah. Dikatakan di dalam Alkitab mengorbankan putra-putranya bukan hanya satu, jadi Alkitab jelas menulis dalam bentuk yang jamak, jadi bukan satu anak dia korbankan kepada dewanya, beberapa anaknya, begitu jahatnya. Tapi Alkitab menulis suatu hari dia bertobat, menyesali dosanya dan Tuhan langsung dikatakan dalam Alkitab memulihkannya kembali. Jadi kita bisa melihat Tuhan yang kita percaya Tuhan yang luar biasa penuh kasihNya sehingga sejahat-jahatnya Manasye memerintah paling lama dan yang palin kurang ajar, waktu dia bertobat Tuhan langsung ampuni, seolah-olah dia itu tidak pernah berbuat jahat sebelumnya. Bukankah kita akan berkata, kalau orang telah berbuat jahat kepada kita ya kamu bayar dulu dosa kamu, tapi Tuhan tidak mengatakan itu, Tuhan langsung menerima Manasye.
GS : Nah Pak Paul, seseorang yang yakin bahwa dia sedang berada di padang gurun Tuhan apakah orang itu tetap bisa berdoa dan membaca Alkitab itu Pak?

PG : Justru itu yang dilakukan oleh Foster dalam pengalamannya, jadi tetap dia memegang Tuhan. Nah sering kali kita memegang Tuhan karena berkat-Nya, pemberian-Nya, perbuatanNya, nah tapi kalaukita mau bertumbuh dewasa dalam Tuhan akan ada waktu-waktu di mana kita benar-benar tidak bisa memegang Tuhan dengan cara memegang berkat-berkatNya atau pemberianNya.

Di saat itulah kita hanya bisa memegang firman Tuhan yang lainnya tidak bisa, nah saya khawatir Pak Gunawan dan Ibu Ida, sebetulnya cukup banyak orang-orang Kristen yang tidak bertumbuh dewasa, karena kita melihat bahwa banyak orang-orang Kristen sangat bergantung pada berkat dan pemberian Tuhan. Nah akibatnya mereka akan terus berkubang dalam berkat dan pemberian Tuhan dan tidak pernah bertumbuh ke luar dari kubangan itu. Tapi orang-orang Kristen yang dewasa akan melewati masa-masa gurun pasir itu, di mana dia tidak bisa menyentuh berkat Tuhan, di mana dia tidak bisa menyaksikan perbuatan Tuhan yang ajaib, tapi di situlah dia dipaksa hanya berhadapan dan memegang firman Tuhan, ini kita melihat berulang kali Pak Gunawan dan Ibu Ida. Kita melihat misalnya Musa selama 40 tahun berada di gurun pasir, di Midian dan di situlah Tuhan membentuk dia, mempersiapkan dia untuk memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir menuju Kanaan. Empat puluh tahun perjalanan umat Israel keluar dari tanah Mesir ke tanah Kanaan yang seharusnya mungkin sekali bisa ditempuh dalam waktu berbulan-bulan harus melewati perjalanan yang panjang ± sekitar 40 tahun supaya apa, supaya mereka juga didewasakan oleh Tuhan dan disaring oleh Tuhan dan kita tahu yang akhirnya masuk ke tanah Kanaan hanyalah Yosua dan Kaleb. Di mana yang lainnya memberontak kepada Tuhan, Tuhan saring, Tuhan murnikan sehingga yang masuk tanah Israel adalah yang Tuhan sudah pisahkan, Tuhan sudah murnikan. Kita melihat Elia yang harus berdiam di padang gurun sendirian, kita melihat bahkan Paulus sebelum dia memulai pelayanannya dikatakan dia juga diam di gurun pasir Arabia. Jadi kita melihat ada pola yang sama di sini, di mana Tuhan menempatkan anak yang Dia ingin pakai secara luar biasa di tempat yang sangat sendirian. Dan di situlah anak Tuhan bertumbuh dengan luar biasa, karena dia benar-benar akan mengenal Tuhan secara tepat, bukan saja melalui pemberian dan berkat-Nya tapi firmanNya, itulah tempat bergantungnya anak Tuhan.
GS : Tapi ada tidak Pak Paul, kasus di mana seseorang itu mungkin merasa bahwa dia ditinggalkan oleh Tuhan atau merasa jauh dari Tuhan. Dia justru makin menjauhkan dirinya dari Tuhan, bisa terjadi seperti itu atau tidak Pak?

PG : Bisa terjadi, karena pengalaman gurun pasir pengalaman yang mencemaskan, tadi saya sudah singgung. Bahkan Richard Foster sendiri merasakan itu pengalaman yang tidak mudah dilewatinya, dia erasakan desakan untuk kembali kepada aktifitas semulanya.

Dengan kata lain, memang kita akan jauh lebih nyaman mengenal Tuhan melalui cara-cara yang telah kita kenal itu, melalui berkatNya, melalui pemberianNya jadi ada kecenderungan kita akan mengalami kesulitan bertahan dalam pengalaman gurun pasir itu dan kalau kita tidak tahan bisa-bisa memang malah menjauhkan diri karena kita menuduh Tuhan telah meninggalkan kita. Tetapi saya percaya satu hal, Pak Gunawan, kalau kita memang tulus mau mengikut Tuhan dan Tuhan menempatkan kita dalam pengalaman gurun pasir itu, Tuhan tidak akan membiarkan kita meninggalkan dia di waktu-waktu kritis itu saya percaya Tuhan akan kembali menyentuh kita dan mengingatkan bahwa dia di samping kita. Bahwa dia sengaja sunyi bukan untuk mendiamkan kita, tapi mengajar kita berdiam diri, berdiam diri dihadapan Dia itu yang Dia akan ajarkan kepada kita.
IR : Dan mungkin juga tergantung pada orangnya Pak Paul, di dalam masa-masa yang sunyi itu dia mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh atau tidak.

PG : Betul, di sini kita bisa melihat juga apa itu yang memotivasi orang mengikut Tuhan, di sini benar-benar motivasi manusia dimurnikan; banyak orang yang mau mengikut Tuhan Yesus karena TuhanYesus banyak melakukan mujizat.

Orang yang sakit sembuh, orang yang mati dibangkitkan, yang lapar diberikan makan, siapa yang tidak mau ikut Tuhan Yesus tapi waktu Tuhan membicarakan hal-hal yang serius tentang kematian-Nya dan bahwa orang harus memikul salibNya mulailah orang meninggalkan Dia dan terjadilah penyaringan, penyaringan motivasi ini. Nah saya kira orang yang tulus mau ikut Tuhan Yesus akan harus mengalami penyaringan seperti ini.
IR : Dan itu akibatnya mendapatkan kemenangan rohani, Pak Paul?

PG : Kemenangan rohani karena benar-benar dia akan melihat bahwa tidak ada lagi kebutuhan sebab kebenarannya tidak perlu lagi dipenuhi karena semua sudah cukup dalam Tuhan.

GS : Dalam kasusnya Richard Foster itu, apa yang dialami setelah melewati gurun pasir Tuhan?

PG : Saya kira tadi Bu Ida sudah katakan yakni kemenangan benar-benar, suatu pembaharuan, melihat Tuhan, berhubungan dengan Tuhan dengan cara yang sangat lain, dengan cara yang sangat berbeda. arena di situlah dia mengenal Tuhan dengan matang sekali.

Saya teringat pengalaman seorang anak Tuhan bernama Corrie ten Bom, dia seorang kebangsaan Belanda, tapi terpanggil menyembunyikan orang Yahudi yang sedang dikejar-kejar oleh tentara Jerman, akhirnya tertangkap basah oleh Jerman dan dimasukkan penjara. Dia masuk penjara, kakak perempuannya masuk penjara, ayahnya masuk penjara, kakak iparnya masuk penjara dan mati dalam penjara. Dan suatu hari dia harus melihat kakaknya disiksa dan sengsara luar biasa dan itu sangat menusuk hatinya, nah dalam kesaksiannya yang difilmkan itu, "The hiding place", Corrie ten Bom tetap memegang Tuhan walaupun pada saat itu benar-benar tidak bisa melihat Tuhan hadir di penjara-penjara yang disebut 'Consentration Camp' di mana orang Yahudi dimasukkan di kamar gas dan dimatikan oleh tentara Jerman hari lepas hari seperti itu. Tidak bisa melihat adanya Tuhan, sebab kalau ada Tuhan kenapa Tuhan membiarkan peristiwa yang mengenaskan itu terjadi. Namun Corrie ten Bom tetap berpegang pada Tuhan, dia tetap tidak melepaskan Tuhan meskipun fakta seolah-olah justru menentang adanya Tuhan pada saat itu, nah saya yakin melewati masa itu membuat seseorang menjadi seorang yang sangat lain, menjadi orang yang sangat dewasa yang sangat mengenal Tuhan dan Tuhan menjadi seseorang yang sangat-sangat pribadi dan dekat dengan Dia.
GS : Mungkin masalahnya bagaimana kita bersiap-siap untuk masuk di dalam padang gurun itu Pak Paul?

PG : Saya kira dalam hal ini yang paling penting kita dekat dengan Tuhan, membaca firmanNya, menekuninya, mencoba menaati Tuhan dan kita tidak usah memikirkan kapan Tuhan akan menempatkan kita i pengalaman gurun pasir itu.

Sebab itu adalah kehendak Tuhan dan hak Tuhan, kapan waktunya biar Tuhan yang tentukan.
GS : Dalam rencana Tuhan juga ya?

PG : Dan kita ini bukan untuk yang jahat, ini untuk yang baik

GS : Dan satu hal yang pasti mungkin Tuhan tidak pernah betul-betul menjauh dari kita itu 'kan hanya perasaan kita saja.

PG : Betul, perasaan kita, karena kita terlalu terbiasa dengan yang kita sebut suara-suara Tuhan, kita membaca Alkitab kita merasakan ada berkat Tuhan, kita ngobrol dengan teman, teman kita memerikan dorongan rohani kita dikuatkan, kita ke Gereja mendapatkan makanan rohani, kita disegarkan kembali, nah kita terbiasa dengan sentuhan-sentuhan itu.

Nah tiba-tiba Tuhan menempatkan kita di situasi di mana kita merasa sangat sunyi, yang biasa-biasa itu tiba-tiba hilang. Nah sering kali di sinilah kita panik. Tuhan, apakah Engkau marah kepadaku, apakah aku telah berbuat dosa, nah kita boleh dan seharusnyalah memeriksa diri, tapi kalau kita sadar kita tidak sedang melawan Tuhan, tidak ada niat memberontak kepada Tuhan dan saya mau dekat dengan Dia tapi kok sepi, tapi kok saya sendirian. Nah itulah saat di mana Tuhan memang menghendaki kita sendirian alias Tuhan hendak mengajar kita berdiam diri sepenuhnya bergantung hanya pada firman Tuhan. Bukan pada perbuatan atau berkat-berkat yang Dia limpahkan kepada kita.
IR : Dan akhirnya kemenangan itu diberikan ya Pak Paul oleh firman Tuhan?

PG : Tepat sekali dan akhirnya diberikan kemenangan oleh firman Tuhan itu, sehingga firman Tuhanlah yang menguatkan kita hari lepas hari, firman Tuhanlah sandaran kita hari lepas hari, jadi benr-benar kita berjalan melalui iman bukan melalui penglihatan, sebab tidak ada yang kita lihat saat itu.

GS : Kita tidak tahu apakah ada para pendengar yang sedang berada dalam gurun pasir Tuhan tetapi firman Tuhan saya rasa akan menguatkan kita semua, mungkin Pak Paul akan kutib dari Alkitab.

PG : Saya akan bacakan dari apa yang tadi saya sudah baca di Matius 4, diakhir pencobaan Tuhan Yesus telah menang melawan godaan-godaan Iblis, dikatakan di ayat 11 "lalu Iblismeninggalkan Dia."

Jadi yang saya tekankan bahwa peristiwa itu akan lewat, apapun yang menimpa kita akan lewat, dalam hal Tuhan Yesus memang pencobaan Iblis dan lihatlah Malaikat-Malaikat datang melayani Yesus. Jadi kabar-kabar gembiranya adalah bahwa kalau kita melewatinya maka Tuhan akan datang kepada kita benar-benar melimpahkan pelayanan-Nya kepada kita kembali, sebab di situlah kita bersukacita merayakan kemenangan itu.

GS : Jadi itu suatu pengharapan yang pasti karena diucapkan oleh firman Tuhan dan itu bisa kita pegang sebagai kebenaran. Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi kami telah persembahkan kehadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Ketika Tuhan terasa Jauh". Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami harapkan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



23. Bagaimana Menghadapi Malapetaka


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T065A (File MP3 T065A)


Abstrak:

Malapetaka atau musibah atau kecelakaan dapat menimpa semua orang tak terkecuali orang Kristen. Akan tetapi di sini kita diajarkan bagaimana sebagai orang Kristen menyikapi hal itu. Dan bagaimana kita memposisikan Tuhan ketika kita menghadapi hal tersebut.


Ringkasan:

Ada 3 pandangan tentang bagaimana menghadapi malapetaka. Dan 3 pandangan ini belum tentu merupakan suatu pandangan yang tepat, justru adakalanya menurut saya pandangan-pandangan ini keliru.

  1. Yang pertama adalah orang beranggapan bahwa malapetaka merupakan suatu kebetulan. Kebetulan maksudnya adalah seolah-olah malapetaka ialah sesuatu yang terjadi karena melesetnya rencana atau kendali Tuhan dalam hidup kita.

  2. Yang kedua adalah kita berkata bahwa malapetaka itu merupakan suatu kemalangan. Artinya ialah, malapetaka merupakan bagian dari hukum alam di dalam kehidupan manusia sehingga kemalangan merupakan sesuatu yang harus terjadi dalam hidup kita. Penjelasan ini seolah-olah benar namun saya takut di belakang penjelasan ini sebetulnya tersirat suatu anggapan bahwa Tuhan itu berada di luar hukum alam.

  3. Yang ketiga, yang cukup populer di kalangan orang Kristen yakni adanya anggapan bahwa malapetaka merupakan hukuman Allah atas dosa kita.

Jadi ketiga penjelasan itu mempunyai suatu kelemahan, yakni kita mengeluarkan Tuhan dari permasalahan kita.

Sebagai orang Kristen kemalangan atau malapetaka itu harus kita hadapi dengan cara sebagai berikut:

  1. Kita harus siap untuk menggabungkan 2 atribut Tuhan yang tampaknya berseberangan atau tampaknya justru berkonflik. Yang pertama adalah atribut Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa, Tuhan adalah Maha Kuasa itu berarti tidak ada 1 hal pun yang terjadi di luar kendali Tuhan, di dalam kuasa Tuhanlah semua itu terjadi. Yang kedua atribut Tuhan yang kita kenal Maha Pengasih, sebagai Tuhan yang Maha Pengasih Dia mencintai kita dengan sangat-sangat besar. Kesimpulannya, waktu kita menghadapi malapetaka tidak bisa tidak, kita tetap harus berkata, betapa pun itu pahit dan menyakitkan kita, itu terjadi dalam rencana dan kehendak Tuhan.

  2. Prinsip yang kedua ialah kita harus meyakini bahwa kita tidak mempunyai jawaban. Dengan kata lain waktu kita berkata cawan pahit ini datangnya dari Tuhan tidak berarti kita sudah menemukan jawaban yang spesifik.

  3. Yang ketiga adalah jangan sampai kita mendistorsi persepsi sendiri dengan mengatakan cawan yang pahit ini adalah cawan yang manis. Misalnya kita ditabrak atau kita dirampok jangan berkata puji Tuhan saya dirampok. Dirampok tetap dirampok itu berarti pengalaman pahit. Artinya, akui ini pengalaman memang menyakitkan kita, tapi tetap ingat satu hal meskipun cawannya pahit tapi tangan yang menghantarkan cawan itu kepada kita adalah tangan yang penuh kasih.

Yohanes 18:11, "Sarungkan pedangmu itu, bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu."

Saya mau menggarisbawahi kata diberikan Bapa, sepahit apapun malapetaka itu terimalah dan percayalah bahwa itu diberikan oleh Bapa kita sendiri. Bapa yang penuh kasih, yang menyerahkan putra tunggalNya disalibkan demi kasihNya kepada kita. Terus pandang tangan yang menghantarkan cawan yang pahit itu dan terimalah. Jangan kita mengangkat pedang mau memberontak atau jangan kita mengangkat kaki melarikan diri atau mengelak, namun terimalah. Waktu kita menerima kita akan lebih mengenal Tuhan dan dikuatkan oleh Tuhan sendiri.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana "Menghadapi Malapetaka". Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, sesuai dengan apa yang akan kita bicarakan dalam kesempatan ini yang namanya malapetaka atau musibah atau kecelakaan dan sebagainya itu bisa menimpa semua orang termasuk orang Kristen juga, Pak Paul. Nah ada beberapa pandangan tentunya yang masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang malapetaka ini, tapi secara umum bagaimana Pak Paul pandangan kita ini sebagai orang Kristen menghadapi malapetaka yang selalu siap menimpa kita?

PG : Pak Gunawan, memang malapetaka itu sesuatu yang bisa menimpa siapa saja seperti yang tadi Pak Gunawan katakan, termasuk orang Kristen. Nah saya mengamati sebetulnya kira-kira ada 3 pandngan tentang bagaimana menghadapi malapetaka ini.

Dan 3 pandangan yang akan saya tuturkan ini belum tentu merupakan suatu pandangan yang tepat, justru adakalanya menurut saya pandangan-pandangan ini keliru. Yang pertama adalah orang beranggapan bahwa malapetaka merupakan suatu kebetulan, maksud saya kebetulan adalah seolah-olah malapetaka ialah sesuatu yang terjadi karena melesetnya rencana atau kendali Tuhan dalam hidup kita. Jadi sewaktu misalkan kita mengalami kecelakaan di perjalanan, kita mencoba merasionalisasinya dengan berkata bahwa ah....saya kecelakaan oleh karena kebetulan memang harus terjadi. Dan kita tidak langsung mengaitkan hal itu dengan Tuhan, nah waktu kita berkata ini adalah suatu kebetulan seolah-olah sesuatu telah meleset dari rencana Tuhan. Sesungguhnya kita telah mengurangi peranan Tuhan atau kekuasaan Tuhan dalam kehidupan kita, jadi pandangan ini menurut saya tidak tepat. Yang berikutnya adakalanya kita berkata bahwa malapetaka itu merupakan suatu kemalangan artinya ialah melapetaka merupakan bagian dari hukum Allah bagian dari kehidupan manusia. Jadi kemalangan sesuatu yang harus terjadi pula dalam hidup kita, nah penjelasan ini seolah-olah benar namun saya takut di belakang penjelasan ini sebetulnya tersirat suatu anggapan bahwa Tuhan itu berada di luar hukum alam. Jadi semua orang bisa mengalami malapetaka dan kalau mengalaminya itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang alamiah. Nah sekali lagi penjelasan ini tampaknya benar tapi saya takut di balik penjelasan ini kita telah mengeluarkan campur tangan Tuhan sehingga seolah-olah Tuhan tidak terlibat di dalam hukum alam, di dalam kehidupan yang kita lalui hari lepas hari. Pandangan yang ketiga yang saya kira ini cukup populer di kalangan orang Kristen yakni adanya anggapan bahwa malapetaka merupakan hukuman Allah atas dosa kita. Nah penjelasan ini memang memudahkan kita untuk memahami malapetaka dalam kaitannya dengan Tuhan, waktu kita berkata malapetaka menimpa kita karena dosa yang kita perbuat, jelaslah sudah mampulah kita menjelaskan malapetaka yang menimpa kita itu. Tapi saya takut kita telah menggampangkan masalah sebab sesungguhnya belum tentu malapetaka itu merupakan hukuman Tuhan atas dosa kita. Jadi ketiga penjelasan yang telah saya paparkan itu mempunyai suatu kelemahan, yakni kita ini mengeluarkan Tuhan dari permasalahan kita. Tujuannya saya kira adalah kita ingin melindungi konsep kita tentang Tuhan, nah daripada kita harus bergumul dengan kenyataan-kenyataan ini kita seolah-olah membungkusnya dengan bungkusan-bungkusan sebagaimana yang telah saya paparkan tadi.
GS : Ada yang menganggap yang sudah terjadi terjadilah Pak Paul, jadi tidak dikaitkan dengan kebetulan, tidak dikaitkan dengan hukuman, tapi dia katakan ya memang saya harus mengalami ini sekarang.

PG : Nah waktu kita berkata, ya memang saya harus mengalaminya, sebetulnya kita itu menggunakan penjelasan yang kedua yaitu kemalangan merupakan bagian dari kehidupan, memang betul kemalanga adalah bagian dari kehidupan manusia.

Namun kita telah gagal mengaitkannya itu dengan Tuhan, sebetulnya apa peranan Tuhan dalam malapetaka itu, nah yang saya ingin munculkan di sini adalah kita sesungguhnya enggan melibatkan Tuhan dalam persoalan malapetaka ini. Atau kita melakukan yang ekstrim kebalikannya menyalahkan Tuhan sepenuhnya atas malapetaka yang menimpa kita. Nah kita kadang kala sebagai orang Kristen karena tidak mau menyalahkan Tuhan, kita mengeluarkan Tuhan dari permasalahan kita, seolah-olah Tuhan tidak terlibat. Jadi dengan kata lain, kita tidak menyalahkan Tuhan.
(2) GS : Nah kalau begitu apa pandangan kita sebagai orang Kristen atau pandangan menurut Alkitab, kemalangan itu harus ditanggapi sebagai apa?

PG : Saya kira yang pertama adalah kita mesti siap untuk menggabungkan 2 atribut sifat Tuhan yang dalam hal malapetaka ini tampaknya berseberangan atau tampaknya justru berkonflik. Yang pertma adalah sifat Tuhan yang kita sebut Maha Kuasa dan yang kedua Maha Pengasih.

Tuhan adalah Maha Kuasa itu berarti tidak ada 1 hal pun yang terjadi di luar kendali Tuhan, di dalam kuasa Tuhanlah semua itu terjadi. Jadi hujan turun itu dalam kuasa Tuhan dan dalam kehendak Tuhan, nah misalkan yang lebih ekstrim lagi kematian seseorang yang kita kasihi secara mendadak itu pun dalam kuasa dan kehendak Tuhan karena Tuhan Maha Kuasa. Jadi kalau kita berkata kekuasaan Tuhan tak terbatas dan Tuhan berdaulat penuh, semua yang terjadi harus kita akui berada dalam kuasa dan kehendak Tuhan. Atribut yang kedua atau sifat yang kedua dari Tuhan yang kita kenal adalah Ia Tuhan yang Maha Pengasih, nah sebagai Tuhan yang Maha Pengasih Dia mencintai kita dengan sangat-sangat besar. Nah kita sudah terlanjur mengaitkan dan memang tidak salah mengaitkan kasih dengan kebaikan, tanda kasih ialah kebaikan atau perbuatan baik. Tuhan mengasihi kita itu menandakan Tuhan melakukan hal yang baik untuk kita, nah jadi bagaimana kita menggabungkan kedua konsep tentang Tuhan ini dalam konteks malapetaka. Masalah muncul seperti ini jadinya Pak Gunawan dan Ibu Ida, kalau kita berkata Tuhan Maha Kuasa dan mampu mencegah terjadinya malapetaka dalam hidup kita, mengapa Ia tidak mencegahnya, nah itu pertanyaannya. Kalau kita berkata Tuhan tidak mampu mencegahnya maka dia membiarkan malapetaka itu jatuh pada kita, kita mengurangi bobot kuasa Tuhan. Nah adakalanya kesulitan muncul karena kita berkata Tuhan berkuasa penuh dan Tuhan mengasihi kita. Pertanyaannya kalau Dia mengasihi kita, bukankah Dia akan hanya memberikan kita yang baik dan akan mencegah terjadinya hal yang buruk pada diri kita. Nah pertanyaan berikutnya adalah mengapa Dia membiarkan kita mengalami malapetaka, diri kita tak mampu mencegahnya supaya jangan menimpa kita. Nah di sinilah dilema kita, memaknai malapetaka dalam kehidupan kita dengan kaitannya dengan Tuhan. Itu sebabnya tadi saya katakan kecenderungan kita akhirnya ekstrim yang kanan atau ekstrim yang kiri, kita menyalahkan Tuhan sepenuhnya karena kita berkata Engkau Maha Kuasa tapi Engkau membiarkan ini terjadi. Kesimpulan berikutnya adalah Kau kurang mengasihi saya, nah waktu kita berkata Engkau kurang mengasihi saya Tuhan, kita menyalahkan Tuhan. Atau karena kita tidak mau menyalahkan Tuhan, kita mengeluarkan Tuhan dari permasalahan kita dengan berkata ya ini memang kemalangan, memang bagian dari kehidupan manusialah kita mengalami malapetaka, kebetulanlah, sesuatu melesetlah dari Tuhan atau hukuman Tuhan dari dosa kita. Nah, tapi kesimpulan saya ketiga penjelasan ini tidak cukup untuk menerangkan mengapa Tuhan membiarkan malapetaka datang kepada kita. Jadi yang penting adalah kita mesti tetap menggantungkan 2 sifat Tuhan ini bahwa Dia Maha Kuasa, bahwa Dia Maha Pengasih. Kesimpulannya apa, waktu kita menghadapi malapetaka tidak bisa tidak betapa pun menyakitkan kita, kita tetap harus berkata itu pun, itu pun dalam kehendak Tuhan seperti itu.
IR : Dan mungkin di tambah ya Pak Paul, bahwa sekalipun pahit, itu dalam rencana Tuhan Pak Paul?

PG : Betul, jadi betapa pun pahitnya pengalaman itu tetap dalam rancangannya Tuhan, nah di sini kita harus bergumul, tidak bisa tidak karena kalau Tuhan mengasihi kita mengapa Ia memberikan engalaman yang pahit itu, dan ini memang kesulitan kita.

Dan sekarang memang pada waktu kita merekam ini dalam rangka menyambut Paskah kematian Tuhan, kita melihat bahwa itu yang dilakukan Tuhan kita Yesus Kristus. Di taman Getsemani Dia berdoa kalau bisa biarkan cawan ini lalu dari padaku, namun bukan kehendakKu kehendakMulah yang jadi, itu doaNya. Nah kita melihat di taman Getsemani Tuhan bergumul, bergumul dengan sangat berat karena sebagai manusia dan Dia juga sebagai Tuhan yang penuh, manusia yang penuh. Sebagai manusia yang penuh dan manusiawi Dia bergumul dengan kematian, betapa berat penderitaan yang harus Dia lalui dan Dia tahu itu. Maka di dalam mengantisipasinya mengalami kesengsaraan Dia sangat gelisah, sangat gundah gulana maka Dia berdoa seperti itu. Jadi saya kira sebagai orang Kristen waktu kita berkata cawan pahit ini dalam kehendak Tuhan saya kira tidak berarti kita dengan mudah menerimanya. Tetap saya kira kita akan bergumul menerima cawan yang pahit itu, malapetaka yang harus kita alami itu.
GS : Nah dalam pergumulan itu Pak Paul, kadang-kadang orang mengingkari Tuhan, jadi dia karena tidak tahan lagi menghadapi kesulitan, malapetaka yang dihadapinya, dia lari dari Tuhan. Tidak lagi mau ke gereja, tidak lagi mau berdoa, dan sebagainya, jadi sulit buat saya memahami bahwa itu adalah sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan.

PG : Itu kadang kala terjadi Pak Gunawan, kalau saya membawa kita kembali pada peristiwa penangkapan Tuhan di Getsemani sewaktu para serdadu dan pembantu imam datang menangkap Tuhan. Petrus enghunus pedang dan menetakkan pedang pada seseorang yang bernama Malkhus sehingga telinganya terputus, Tuhan menempelkan telinganya yang putus itu kembali.

Dan inilah yang Tuhan katakan kepada Petrus diambil dari Yohanes 18:11 "Sarungkan pedangmu itu bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu." Tuhan meminta Petrus menyarungkan pedang, izinkan saya menggunakan perumpamaan atau alegori ini. Para murid bersiap untuk berperang itu sebabnya mereka mengangkat pedang, tapi Tuhan melarang Petrus mengangkat pedang. Nah mengangkat pedang di sini saya umpamakan atau saya memberikan makna sebagai upaya manusia memberontak terhadap rencana Tuhan dalam hal ini meminum cawan yang pahit itu. Atau waktu dia tidak sanggup lagi untuk melawan, dia angkat kaki, dia melarikan diri, itu yang tadi Pak Gunawan singgung. Sering kali kita tergoda untuk melarikan diri dan adakalanya itu yang kita lakukan, namun saya percaya Pak Gunawan dan Ibu Ida, Tuhan sabar dengan kita sehingga kita tetap akan dipanggilnya kembali. Dia akan sabar menanti kita dan itu yang terjadi dengan Petrus, kita tahu di rumah mahkamah agama sewaktu dia dikonfrontasi oleh seorang pelayan wanita bahwa dia pengikut Tuhan Yesus, dia menyangkal 3 kali. Dia tidak mengetahui bahwa dia pengikut Tuhan Yesus dengan kata lain dia melarikan diri, dia mengelak dari malapetaka itu. Sebab memang saat itu orang-orang sudah mengucilkan para pengikut Tuhan Yesus, jadi menjadi pengikut Tuhan benar-benar membahayakan jiwa mereka. Petrus melarikan diri namun kita tahu Tuhan memberi kesempatan kembali kepada Petrus. Jadi untuk menjawab pertanyaan Pak Gunawan, orang melarikan diri saya kira itu manusiawi dan kita harus mengakui kita pun kalau bisa melarikan diri karena kita takut meminum cawan yang pahit. Tapi saya percaya Tuhan akan sabar menanti kita.
IR : Jadi kita kadang-kadang diproses Pak Paul ya?

PG : Tepat sekali Ibu Ida, nah berbicara tentang proses ini Ibu Ida saya harus menambahkan bahwa, sering kali saya melihat Tuhan akan kembali dengan cawan yang pahit itu dan cawan yang sama.Dengan kata lain kalau kita belum berhasil meminum cawan yang pahit itu Dia akan datang kembali dengan cawan yang sama itu.

Saya berikan contoh misalkan Abraham, kita tahu Abraham 2 kali mengatakan baik kepada raja Firaun maupun kepada raja Abimelekh bahwa Sarah bukanlah istrinya. Kenapa dia begitu, karena dia takut sekali dia atau istrinya itu akan dibunuh, dengan kata lain Abraham meragukan pemeliharaan Tuhan dan dia mengambil langkahnya sendiri, melindungi diri karena takut Tuhan tidak bisa memelihara dia. Intinya adalah Abraham kurang beriman, kurang mempercayakan Tuhan untuk memelihara hidupnya. Nah kita tahu hal yang ketiga yang terjadi dalam hidup Abraham yang sangat-sangat penting ialah Tuhan meminta Abraham mengurbankan putra tunggalnya Ishak untuk menjadi kurban bakaran bagi Tuhan. Nah itu adalah suatu pergumulan yang sangat luar biasa, 25 tahun dia menantikan Ishak dan setelah Ishak mulai besar Tuhan memintanya. Nah Abraham sebetulnya di sini sungguh mengalami ujian yang luar biasa besarnya, tapi di kitab Ibrani dicatat bahwa Abraham percaya bahwa Tuhan yang mengambil Ishak mampu membangkitkannya kembali; dengan iman itu dia berjalan memenuhi panggilan Tuhan yakni mengurbankan Ishak. Nah kita tahu cerita ini akhirnya Tuhan tidak meminta Ishak, Tuhan hanya menguji keimanan Abraham. Kita bisa melihat di sini Tuhan memberikan cawan yang sama kepada Abraham dengan istrinya 2 kali dia tidak beriman ketiga kali Tuhan memberikan ujian yang langsung berkaitan dengan iman dia, bisakah dia mempercayai Tuhan. Nah saya melihat pola ini sering dialami oleh anak-anak Tuhan yang ingin mengikuti Tuhan dengan serius, kalau kita gagal sekali Tuhan akan dengan sabar menanti, tapi yang saya lihat Tuhan akan kembali dengan cawan yang sama sampai kita berhasil dengan tuntas meminum cawan itu. Barulah kita melewati proses pembentukan tersebut dan memasuki fase yang lain di dalam kehidupan rohani kita.
(3) GS : Nah kalau malapetaka itu tidak terhindarkan dalam kehidupan kita ini Pak Paul, apa yang selayaknya atau seharusnya kita lakukan pada saat kita itu tidak mengalami musibah atau malapetaka seperti saat-saat ini?

PG : Yang pertama adalah janganlah kita hidup menantikan malapetaka, nah adakalanya karena kita takut sekali setiap hari malapetaka menimpa hidup kita, kita memikirkan malapetaka yang belum atang itu.

Kita hidup dalam perasaan was-was berikutnya ada kecenderungan karena kita takut malapetaka akan menimpa kita, kita senantiasa mempertanyakan tindakan Tuhan, sewaktu Tuhan memberkati kita atau melakukan hal yang baik bagi kita. Kita bertanya apa yang terkandung di balik kebaikan Tuhan ini, seolah-olah kita takut kita terjebak kita menanggapi kebaikan Tuhan tahu-tahu dibelakangnya tersimpanlah rencana Tuhan yakni cawan yang pahit itu. Kalau harus datang ia akan datang dan kalaupun datang kita tahu Tuhan akan menolong kita, jadi hiduplah dengan normal, dengan penuh sukacita, dengan apa yang Tuhan telah berikan jangan pikirkan tentang malapetaka, jangan hidup seolah-olah kita dalam bayang-bayang malapetaka, karena yang terjadi akhirnya sebelum kita ditimpa malapetaka kita sudah menimpakan malapetaka itu pada diri kita sendiri. Jadi itu prinsip yang penting.
IR : Dan biasanya yang dikhawatirkan itu terjadi Pak Paul, sehingga Tuhan sendiri juga mengatakan bahwa kita tidak boleh khawatir.

PG : Betul, Pak Steven Tong pernah mengatakan kalimat seperti ini ada orang yang takut mati, takut mati akhirnya mati jadi berani, maksudnya mati berani masuk mendatangi kita. Tapi orang yan tidak takut mati, akhirnya mati itu menjadi takut dengan dia sehingga akhirnya dia susah mati.

Justru orang yang terlalu takut mati akhirnya mati jadi berani, itu saya setuju. Jadi hiduplah dengan bebas syukuri apa yang Tuhan telah berikan, jangan pikirkan malapetaka itu, jangan sampai kita hidup dibayang-bayangi oleh malapetaka, itu yang paling penting.
GS : Mungkin yang menjadi kesulitan kita adalah memahami atau menggabungkan 2 atribut Tuhan yang tadi Pak Paul katakan, kita sebagai orang awam kadang-kadang kesulitan untuk memahami bahwa Tuhan yang Maha Kuasa itu juga Maha Pengasih, secara sederhana itu mau diterapkan bagaimana Pak Paul?

PG : Jadi prinsip yang kedua adalah menjawab pertanyaan Pak Gunawan, bagaimana menghadapi malapetaka ini sebelum kita benar-benar menghadapinya, kita harus meyakini bahwa kita tidak mempunya jawaban.

Dengan kata lain waktu kita berkata cawan pahit ini datangnya dari Tuhan tidak berarti kita sudah menemukan jawaban yang spesifik. Untuk apa atau rencana Tuhan yang mana yang sedang Tuhan jalankan dalam hidup kita, kita belum tentu tahu itu. Dan bahkan di kitab Ibrani 11 Tuhan pun memang mengetahui bahwa ada banyak anak-anak Tuhan yang menderita dan tidak pernah melihat janji atau penggenapan rencana Tuhan dalam hidup mereka. Dengan kata lain ada anak-anak yang mengalami kemalangan, malapetaka meminum cawan yang pahit dan sampai akhir hayatnya tidak mengerti mengapa semua itu harus terjadi atau apakah rencana Tuhan itu atas dirinya, dia tidak mengerti. Jadi dengan kata lain, siaplah untuk tidak mengerti dan tidak apa-apa untuk tidak mengerti, yang paling penting adalah kita mengakui ini datangnya dari Tuhan dan tidak apa-apa. Dan yang ketiga adalah saya bisa berikan saran yang pahit panggillah pahit misalnya kita ditabrak atau kita dirampok nah jangan berkata puji Tuhan saya dirampok, dirampok tetap dirampok itu berarti pengalaman yang pahit, yang pahit panggillah pahit, yang manis panggillah manis. Jangan sampai kita mendistorsi persepsi sendiri dengan mengatakan cawan yang pahit ini adalah cawan yang manis, tidak, itu bukanlah yang Tuhan maksud, panggillah cawan yang pahit, pahit. Nah artinya apa, kita akui ini pengalaman memang menyakitkan kita tapi tetap kita mau ingat satu hal meskipun cawannya pahit tapi tangan yang menghantarkan cawan itu kepada kita adalah tangan yang penuh kasih, tangan yang membawa cawan itu kepada kita adalah tangan yang pernah dipakukan oleh karena cintaNya kepada kita. Jadi waktu kita mengalami malapetaka ingatlah baik dan tataplah tangan yang menghantarkan malapetaka itu. Tangan itu tangan yang baik meskipun cawan yang dibawanya adalah cawan yang pahit, itu yang Tuhan Yesus harus lakukan. Dia menerima cawan pahit yakni penderitaan dan penyalibanNya sampai kematianNya, tapi Dia tahu tangan BapakNyalah yang menghantarkan cawan pahit itu kepadaNya. Nah saya kira ini akan sangat menguatkan kita dalam menghadapi malapetaka.
GS : Dan mungkin dari antara para pendengar kita saat-saat ini sedang bergumul dalam malapetaka yang dialaminya dan dalam hal ini apakah firman Tuhan yang Pak Paul ingin sampaikan?

PG : Saya akan ulang lagi Injil Yohanes 18:11 "Sarungkan pedangmu itu, bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu." Saya mau menggarisbawahi kata diberikan Bapa sepahit apapun malapetaka itu terimalah dan percayalah bahwa itu diberikan oleh Bapa kita sendiri.

Bapa yang penuh kasih, Bapa yang sudah pernah disalibkan demi kasihNya kepada kita, jadi terus pandang tangan yang menghantarkan cawan yang pahit itu, terimalah jangan kita mengangkat pedang mau memberontak atau jangan kita mengangkat kaki melarikan diri atau mengelak, jangan, terimalah. Waktu kita menerima kita akan lebih mengenal Tuhan dan dikuatkan oleh Tuhan sendiri. Sudah tentu saya menyadari mudah bagi saya untuk mengatakannya, tetapi bagi saudara yang sedang mengalaminya saya percaya berat untuk menerima cawan yang pahit dan Tuhan menguatkannya setahap demi setahap, kita pun juga akan menerima penguatan Tuhan.
IR : Kalau tadi dikatakan bahwa kita harus selalu bersukacita, tapi di saat malapetaka itu datang kita bukankah tidak apa-apa kalau kita itu bersedih atau pun menangis, Pak Paul?

PG : Silakan, itu yang Tuhan contohkan di taman Getsemani, Dia berkata jiwaKu sangat tertekan seperti mau mati rasanya, dengan jujur Dia mengakui hal seperti itu, tidak apa-apa kita menangis.

GS : Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang bagaimana menghadapi malapetaka. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



24. Menghadapi Kepahitan Hidup


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T065B (File MP3 T065B)


Abstrak:

Kepahitan hidup seringkali dialami oleh kita manusia, baik yang disebabkan oleh orang yang kita cintai maupun oleh sebab lain. Namun melalui topik ini kita belajar menghadapi kepahitan hidup itu dengan menyikapinya sesuai dengan firman Tuhan.


Ringkasan:

Setiap orang pasti pernah mengalami kepahitan hidup. Baik di rumah, di masyarakat, di tempat kerja, bahkan di gereja pun kita bisa mengalami kepahitan hidup.

  1. Pada dasarnya kita harus menentukan pilihan kita, apakah kita akan terus menjadi korban kepahitan tsb ataukah melepaskan diri dari kepahitan itu.

  2. Pilihan yang lebih baik dan yang juga Tuhan kehendaki ialah kita melepaskan diri, kita tidak mau lagi berada di bawah kepahitan itu.

  3. Pada akhirnya yang harus kita lakukan ialah memberi pengampunan kepada orang yang telah menimbulkan kepahitan pada diri kita. Dan pada saat kita berhasil memberi pengampunan pada saat itulah kita lepas menjadi korban dari kepahitan itu.

Seringkali yang membuat kita pahit adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, orang yang kita percaya, orang yang kita kasihi. Contoh dalam Alkitab kisah seorang Yusuf.

Ada beberapa prinsip yang dapat kita pegang untuk menyembuhkan kepahitan:

  1. Untuk sembuh dari kepahitan diperlukan waktu. Dan waktu tidak sama untuk setiap orang, bagi orang tertentu mungkin beberapa hari cukup, sehari cukup, bagi orang-orang tertentu mungkin berminggu-minggu sebelum kepahitan itu akhirnya bisa sembuh.

  2. Selain perlu waktu untuk bisa sembuh, penyembuhan hanya terjadi tatkala ada rasa aman untuk tidak dilukai kembali. Dengan kata lain kalau kita harus menghadapi orang yang telah melukakan kita dan kita tetap merasa tidak aman atau merasa bahwa ada kemungkinan dia akan melukai kita lagi, maka kita akan sulit sekali mengalami penyembuhan yang sesungguhnya.

  3. Adakalanya menghindar merupakan langkah yang lebih baik. Jadi kita menciptakan jarak supaya kita tidak terlukai lagi dari pada terus-menerus kita menjadi korbannya. Tapi ini akan sulit kalau terjadi pada suami-istri, pasangan hidup kita atau terhadap anak-anak kita. Yang bisa kita lakukan adalah:

    1. Mencoba mengurangi kemungkinan kita dilukai. Misalkan kita tahu tindakan kita atau perkataan kita yang tertentu memicu kemarahannya itu yang kita hindarkan, jangan kita lakukan.
    2. Kita tetap harus hidup, artinya yang perlu kita lakukan, lakukanlah. Misalnya kita terlibat dalam kegiatan gerejawi tetaplah kita terlibat. Jangan sampai hidup kita akhirnya nonaktif, sebab pada saat kita nonaktif kita sungguh-sungguh menjadi korban yang tak berdaya.

Prinsip berikutnya dalam penyembuhan ini, kita akhirnya akan melihat bahwa ada penggenapan rencana Allah melalui apa yang kita alami. Kepahitan yang kita alami seringkali merupakan setitik alat atau bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar lagi, yang tidak mungkin kita pahami dengan kemampuan berpikir manusia.

Kejadian 50:19-21, "Janganlah takut sebab aku inikah pengganti Allah, memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya." Firman Tuhan menjelaskan dan menegaskan bahwa Dia berkuasa, bahkan waktu manusia merencanakan dan melakukan yang jahat dia bisa menggunakan yang jahat itu tetap untuk yang baik. Itulah yang ingin ditekankan Yusuf, tidak ada yang lepas dari kendali Tuhan bahkan yang jahatpun dapat Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan. Jadi kita seharusnya merasa sangat aman kita bisa bersandar kepada Tuhan yang begitu berkuasa. Jadi saya rasa tidak ada alasan bagi setiap kita itu untuk cepat-cepat putus asa dan mengingkari kehidupan yang kadang-kadang pahit.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idayanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang bagaimana menghadapi kepahitan hidup. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, saya rasa pernah mengalami kepahitan hidup baik di rumah, masyarakat, tempat kerja bahkan di gereja pun kita bisa mengalami kepahitan hidup itu.

PG : Pada dasarnya Pak Gunawan, kita ini harus menentukan pilihan kita. Apakah kita akan terus menjadi korban kepahitan tersebut ataukah kita melepaskan diri dari kepahitan itu. Artinya kitabisa terus-menerus dikuasai, diperhamba oleh kepahitan itu sehingga hati kita penuh kepahitan dan kita sangat tidak berdaya dibawah kendali kepahitan itu.

Namun saya kira pilihan yang lebih baik dan yang juga Tuhan kehendaki ialah kita melepaskan diri, kita tidak mau lagi berada di bawah kepahitan itu. Pada akhirnya yang harus kita lakukan ialah memberi pengampunan kepada orang yang telah menimbulkan kepahitan pada diri kita. Nah, pada saat kita berhasil memberi pengampunan, pada saat itulah kita terlepas dari menjadi korban kepahitan itu.
GS : Tetapi masalahnya adalah bagaimana kalau orang yang menimbulkan kepahitan hidup itu justru orang yang kita cintai?

PG : Seringkali memang justru yang membuat kita pahit adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, orang yang kita percaya, yang kita kasihi. Karena kalau orang itu jauh dari kita dan tidakbegitu berdampak pada kita, diapun tidak begitu mampu atau sanggup membuat kita pahit sampai sedemikian pahitnya.

Justru seringkali orang yang terdekatlah yang membuat kita pahit, misalnya kita mengalami kekecewaan, kita mengalami penolakan, atau kita merasa ditipu oleh orang-orang yang kita kasihi atau yang mengklaim mengasihi kita, itu biasanya menimbulkan kepahitan yang dalam pada diri kita.
GS : Apakah ada contoh yang konkret di dalam Alkitab, Pak Paul?

PG : Di kitab Kejadian dicatat kisah Yusuf. Yusuf seorang anak yang menikmati hidup dengan sangat baik pada masa kecilnya. Ayahnya, Yakub sangat mencintai dia, karena begitu mencintainya sehngga memanjakannya, memberikan dia kemewahan-kemewahan yang tidak diberikan pada kakak-kakaknya.

Akibatnya para kakaknya itu membenci dia. Nah suatu hari waktu Yusuf mengantarkan makanan pada kakaknya, mereka menangkapnya. Tujuan mereka adalah membunuh Yusuf, tapi atas bujukan kakaknya yang paling tua yaitu Ruben akhirnya Yusuf tidak jadi dibunuh namun Yusuf dijual. Kita tahu ceritanya Yusuf mula-mula dijual pada pedagang Ismael dan setelah itu dia dibuang, dijual lagi pada seorang Mesir yang bernama Potifar. Dia di situ menjadi budak, dia bekerja sangat baik sehingga dia mendapatkan kepercayaan yang bagus dari majikannya. Namun istri majikannya ingin mengajaknya berselingkuh tetapi Yusuf menolak, istri majikannya marah sehingga memfitnah Yusuf, lalu Yusuf dijebloskannya ke dalam penjara. Tapi kita tahu ceritanya, akhirnya Yusuf menginterpretasi mimpi juru minuman dan juru roti dari Firaun dan waktu juru roti itu dihukum mati, juru minuman ini dibebaskan kembali. Nah juru minuman inilah yang mengingat Yusuf dan akhirnya Yusuf dipanggil sewaktu Firaun mempunyai mimpi yang tidak dapat dijelaskannya. Kita tahu Yusuf menjadi tangan kanan Firaun, jadi mangkubumi atau perdana menteri pada saat itu. Yusuf menolak menjadi kurban meskipun dia dibuang dan menjadi seorang budak, Yusuf menolak menjadi kurban apa bisa saya katakan sehingga saya menyimpulkan seperti itu. Yusuf menjadi pekerja yang baik sewaktu dia menjadi budak di rumah Potifar, dia bekerja dengan sebaik-baiknya. Sewaktu dia menjadi tahanan, dia menjadi tahanan yang baik pula kepada sesama tahanan lainnya. Nah, di sini kita melihat Yusuf tidak membenamkan dirinya dalam kepahitan terus-menerus, dia tidak menyesali dirinya dan menjadi depresi sehingga tidak ada lagi kemauan untuk hidup. Dengan kata lain, dia menolak menjadi korban kakak-kakaknya, yang memang telah berbuat jahat kepadanya. Kalau kita terus hidup dalam kepahitan, sebetulnya kita ini membiarkan diri menjadi kurban.
GS : Sikap Yusuf yang tidak mau menjadi korban itu Pak Paul, seharusnya itu yang kita contoh. Tetapi bagaimana kita bisa melakukannya, bukankah Yusuf memiliki seperti kekuatan ekstra sesuai dengan panggilannya, misinya tetapi bagaimana dengan kita pada umumnya?

PG : Sebetulnya Pak Gunawan, Yusuf itupun manusia dan menjalani proses penyembuhan secara natural. Mungkin Pak Gunawan dan Ibu Ida masih ingat setelah Yusuf dinobatkan menjadi perdana menter di Mesir, Yusuf tidak langsung memanggil ayah dan kakak-kakaknya datang ke Mesir.

Kita tidak tahu tenggang waktu antara Yusuf dinobatkan menjadi perdana menteri dan kedatangan kakaknya. Namun yang pasti adalah Yusuf tidak ke rumah ayahnya dan memanggil ayah serta kakaknya. Di sini memang Alkitab tidak memberi keterangan apapun, namun dari tindakan Yusuf terhadap kakaknya sewaktu kakaknya datang membeli gandum kepadanya, saya menyimpulkan bahwa memang Yusuf merasa belum siap berjumpa kembali dengan keluarganya. Dia sangat rindu dengan ayahnya, kita tahu dia sangat mencintai ayahnya, namun kalau dia pulang ke rumah dia harus bertemu dengan kakaknya dan tidak bisa tidak akan menimbulkan persoalan tersendiri karena ayahnya akan kaget, Yusuf ternyata belum mati seperti yang diberitakan oleh kakak-kakaknya. Ayahnya mungkin marah kepada kakak-kakaknya, ayahnya sangat kecewa sekali karena telah dibohongi oleh kakak-kakaknya. Itu semua mungkin sekali terbersit dalam pikiran Yusuf kalau dia langsung menjenguk keluarganya. Dengan kata lain, prinsip di sini adalah untuk sembuh dari kepahitan diperlukan waktu dan waktunya tidak sama untuk setiap orang. Bagi orang tertentu mungkin beberapa hari cukup, sehari cukup, bagi orang-orang tertentu mungkin berminggu-minggu sebelum kepahitan itu akhirnya bisa sembuh. Yusuf pun tidak tergesa-gesa, karena dia mungkin sekali menyadari belum siap, akan menimbulkan gejolak dalam keluarganya kalau dia langsung pulang saat itu. Namun kita tahu waktu kakak-kakaknya pulang belakangan Yusuf masih hidup, justru reaksi orang tuanya Yusuf yaitu Yakub adalah sukacita. Dengan kata lain waktunya telah tiba dan semua siap, saya kira kalau Yusuf datang lebih dulu, Yusuf sendiri belum siap.
IR : Tapi ada seorang anak Tuhan, dia terluka hatinya dan dia sulit mengampuni, bagaimana menurut, Pak Paul?

PG : Luka yang terlalu dalam otomatis akan perlu waktu yang lebih panjang untuk bisa sembuh. Namun prinsip berikutnya, selain perlu waktu untuk bisa sembuh, penyembuhan hanya terjadi tatkalaada rasa aman untuk tidak dilukai kembali.

Dengan kata lain, kalau kita harus menghadapi orang yang telah melukai kita dan kita tetap merasa tidak aman bahwa ada kemungkinan dia akan melukai kita lagi, rasanya sulit sekali untuk kita mengalami penyembuhan yang sesungguhnya. Yusuf harus menguji kakak-kakaknya, kita tahu ceritanya waktu mereka datang membeli gandum, Yusuf mengenali mereka tetapi mereka tidak mengenali Yusuf. Di sini bisa kita simpulkan bahwa jarak antara dijualnya Yusuf sampai mereka bertemu lagi itu mungkin belasan atau 20 tahunan lebih. Itu sebabnya banyak perubahan pada wajah Yusuf dan mereka tidak mengenali Yusuf kembali. Yusuf menuduh mereka menjadi mata-mata, mereka sangat kacau dan mencoba membela diri, kemudian Yusuf berkata kalian boleh pulang tapi salah satu daripadamu harus tinggal di sini sebagai bukti bahwa yang kau ceritakan itu betul semua. Nah, Simeon ditahan oleh Yusuf, tujuannya supaya mereka kembali dengan Benyamin adiknya yang paling kecil. Kemudian mereka kembali lagi dengan Benyamin, nah sewaktu mereka selesai makan Yusuf meminta mereka pulang, Yusuf mengisi piala pada kantongnya Benyamin. Kemudian tentara Yusuf datang meminta mereka kembali lagi dan Yusuf mengancam untuk menangkap Benyamin, kakak-kakaknya semua membela Benyamin, mempertaruhkan hidup mereka demi Benyamin. Di saat itulah Yusuf sangat yakin bahwa kakak-kakaknya telah berubah. Mereka yang dulu membenci Yusuf dan mungkin sekali juga membenci Benyamin, ternyata sangat mencintai Benyamin. Kita tahu Benyamin adalah anak dari Rahel, Rahel adalah istri Yakub yang paling dikasihinya. Jadi memang besar kemungkinan yang dibenci bukan saja Yusuf tetapi juga Benyamin. Namun waktu Yusuf melihat mereka mencintai dan membela Benyamin dengan mempertaruhkan hidup mereka, Yusuf tahu bahwa mereka berubah. Seringkali, Bu Ida, kita mudah atau lebih mudah sembuh kalau kita merasa terlindungi, aman bahwa yang melukai kita tidak akan melukai kita lagi. Kalau kita tetap merasa dia masih belum berubah dan masih bisa melukai kita, kita rasanya masih tetap susah sembuh karena kita akan terus was-was dan berjaga-jaga terhadapnya.
IR : Dan apakah lebih baik menghindar, Pak Paul?

PG : Adakalanya itu langkah yang lebih baik, jadi kita menciptakan jarak supaya kita tidak terlukai lagi, daripada terus-menerus kita menjadi korbannya.

GS : Tapi itu akan sulit kalau terjadi pada suami dan istri, Pak Paul, bagaimana mungkin akan dihindari karena itu pasangan hidup kita atau terhadap anak-anak?

PG : Caranya adalah seperti Yusuf tadi, dia menolak menjadi korban. Artinya apa, artinya dia tetap menjalankan apa yang harus dia kerjakan. Jadi misalkan kita sebagai istri atau suami terus-enerus mengalami luka yang diakibatkan perlakuan pasangan kita.

Yang bisa kita lakukan sudah tentu adalah mencoba mengurangi kemungkinan kita dilukai, misalkan kita tahu tindakan kita atau perkataan kita yang tertentu ini memicu kemarahannya, itu kita hindarkan. Jadi memang kita harus mencoba melindungi diri. Yang kedua adalah kita tetap harus hidup artinya yang perlu kita lakukan, kita lakukan. Misalnya kita memang ingin terlibat dalam kegiatan gerejawi tetaplah kita terlibat, jadi jangan sampai orang yang berbuat jahat atau yang telah menimbulkan luka itu mengontrol, menguasai hidup kita sehingga kita terus terbelenggu olehnya, kita harus tetap hidup. Jangan sampai hidup kita akhirnya nonaktif, nah pada saat kita nonaktif kita sungguh-sungguh menjadi korbannya yang tak berdaya.
(1) GS : Dalam hal mengatasi pulihnya seseorang yang sedang pahit hidupnya, maka peranan orang-orang di sekelilingnya itu sangat besar, sehingga dia merasa aman untuk tinggal lagi di tengah-tengah itu. Nah, menumbuhkan rasa percaya kepada lingkungan itu bagaimana, Pak Paul?

(2) PG : Dalam cerita Yusuf, Yusuf sendiri harus menguji kakak-kakaknya beberapa kali jadi kala u saya hitung dapat dikatakan 3 kali. Dengan perkataan lain, kita memang perlu juga menuji apakah memang orang tersebut telah berubah; jadi orang yang bijaksana tidak langsung menyalahkan dirinya begitu saja.

Kalau memang kita mempunyai indikasi orang tersebut belum berubah, sebaiknya kita memang tetap menjaga diri untuk tidak mempercayakan diri kita kepadanya daripada kita menjadi korbannya lagi, ditipu, dikecewakan, dilukai atau bahkan dijahati. Jadi kita harus melihat perubahan itu. Mungkin saudara-saudara kita yang mendengarkan sekarang bertanya-tanya apakah pada saat itu kita belum memaafkan. Saya kira 2 hal berbeda antara memaafkan dan mempercayakan hidup kita kepada orang-orang tersebut. Kita perlu memaafkan, karena tidak dikehendaki Tuhan memelihara dendam di dalam hati kita, Tuhan menghendaki kita memaafkan. Namun yang lain saya kira mempercayakan diri kita kepada mereka lagi, misalkan kita berkali-kali ditipu, dikecewakan, dijanjikan, ditipu lagi, dijanjikan, ditipu lagi, nah bagi saya sudah waktunya kita berkata saya tidak siap mempercayai kata-katamu lagi. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa kita melindungi diri dan apakah orang tersebut telah berubah, selama belum berubah saya kira kita masih mempunyai rasa tidak aman dan hubungan kita tidak bisa sama seperti dahulu kala.
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita pernah membicarakan tentang malapetaka, dan kita tahu bahwa semua itu dalam kontrol Tuhan. Juga kepahitan yang kita alami itupun dalam kontrol Tuhan, lalu orang berkata "ini memang salib saya", itu bagaimana pengertiannya?

PG : Ya, kalau dia mengatakan salib saya dalam pengertian porsi kepahitan yang harus saya tanggung, ya tidak apa-apa. Dengan kata lain, saya ingin memberikan prinsip berikutnya dalam penyembhan ini, kita harus akhirnya melihat bahwa ada penggenapan rencana Allah melalui apa yang kita alami.

Misalnya waktu saudara-saudara Yusuf datang menyembahnya, membeli gandum. Waktu masih kecil Yusuf pernah bermimpi, dalam mimpi itu dia melihat ada berkas gandumnya, sebelas berkas gandum kakak-kakaknya dan sebelas berkas gandum itu menyembah pada berkas gandum dia. Mimpinya yang kedua adalah dia melihat matahari, bulan dan sebelas bintang dan semua itu menyembah pada dia. Waktu dia melihat kakaknya menyembah untuk membeli gandum, dia mengingat kembali mimpinya itu, dengan kata lain Yusuf melihat penggenapan rencana Allah. Saya kira akan lebih memudahkan kita untuk memaafkan, mengampuni orang kalau kita melihat bahwa rencana Tuhan sudah digenapi. Pada akhirnya Yusuf menghadapi kakak-kakaknya yang meminta maaf kepadanya, sebab mereka takut sekali Yusuf akan membalas dendam setelah ayahnya, Yakub meninggal dunia. Dan perkataan Yusuf sangat bagus sekali, "Engkau memaksudkannya untuk kejahatan, tapi Tuhan memaksudkannya untuk kebaikan". Dengan kata lain, Yusuf melihat rencana Tuhan digenapi, bahwa sepahit apapun yang dialami ternyata itu memang dalam rencana Tuhan. Nah, rencana Tuhan ini untuk siapa, jelas untuk menyelamatkan saudara-saudaranya bersama orang Israel dari bahaya kematian karena kelaparan. Dengan kata lain, adakalanya rencana Tuhan itu bukannya untuk kita secara langsung, tapi justru untuk orang yang melukai kita, justru untuk orang yang telah mengecewakan kita, justru untuk merekalah Tuhan mempunyai rencana yang spesifik dan menggunakan kita sebagai bagian dari rencanaNya. Dan dalam rencana Tuhan kita memang menjadi orang yang dilukai oleh mereka, namun rencana Tuhan adalah sebetulnya untuk mereka, dalam kisah Yusuf itulah yang terjadi. Rencana Tuhan yang langsung sebetulnya bukan untuk Yusuf, tapi untuk umat Israel, keluarga Yusuf, kakak-kakaknya. Namun memang seolah-olah Yusuf menjadi kurban, tapi bukannya Yusuf menolak menjadi kurban, Tuhan memang memakai dia. Jadi yang dia lihat adalah saya bukan kurban manusia, saya alat yang Tuhan pakai, ini persepsi yang berbeda. Kalau kita melihatnya dari perspektif, dia adalah kurban manusia, maka tidak ada habis-habisnya luka atau kepahitan itu. Tapi kalau kita melihatnya dari perspektif Tuhan, bahwa saya adalah alat yang Tuhan pakai untuk mereka. Saya kira kita juga akan melihat kepahitan dengan mata yang berbeda.
GS : Saya rasa yang mengenyam kebaikan dalam peristiwa Yusuf ini, bukan saja saudara-saudaranya dan umat Israel, tapi juga orang Mesir itu sendiri terselamatkan dari 7 tahun kelaparan itu, Pak Paul.

PG : Tepat sekali, jadi kita melihat rencana Tuhan sangat besar dan tidak pernah terbayangkan oleh manusia. Maka kepahitan yang kita alami seringkali merupakan setitik alat atau bagian dari encana Tuhan yang lebih besar lagi yang tidak mungkin kita pahami dengan kemampuan kita berpikir ini.

Bagus sekali tadi Pak Gunawan memunculkan tentang orang Mesir yang saya juga tidak pikirkan, sebab memang itu untuk kebaikan orang Mesir pula. Jadi sekali lagi Yusuf bukanlah kurban manusia, Yusuf adalah alat Tuhan yang Tuhan gunakan untuk rencana penyelamatannya bagi umat manusia.
GS : Tetapi memang yang mengagumkan itu sejak muda sekali ketika Yusuf itu dijual, dia sudah mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang-orang lain, Pak Paul. Dia tidak mudah putus asa dan sebagainya. Nah itu suatu kelebihan atau anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya.

PG : Anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya dan saya kira juga pilihan Yusuf untuk tidak menyerah pada nasib atau kondisi. Dia bisa menyerah pada suatu kondisi dengan menjadi budak yang sagat jahat, buruk.

Dia bisa menjadi tahanan yang sangat egois, tidak mau menolong teman-teman sesama tahanannya, tetapi ia tidak melakukan semua itu.
IR : Itu rasanya sudah pilihan Tuhan untuk memilih orang-orang yang tepat bagi rencana Tuhan itu.

PG : Tepat, jadi Tuhan memang memilih anak-anaknya yang mampu, taat, rela, dan siap untuk dipakai Tuhan.

IR : Jadi kalau mengalami kepahitan, kita juga harus berpikir, bahwa mungkin Tuhan memakai kita untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain?

PG : Betul, jadi kita adalah alat yang Tuhan sedang pakai untuk orang itu atau untuk situasinya atau untuk orang lain yang kita belum mengerti.

(3) GS : Nah orang yang mengalami kepahitan berkali-kali di dalam kehidupannya itu, berdampak apa sebenarnya?

PG : Dia akan kehilangan kepercayaan pada orang lain, sebab dia melihat dunia ini tidak aman. Dia harus selalu berhati-hati, sebab dia tidak bisa lagi terjebak untuk kesekian kalinya. Jadi basanya orang yang terlukai berkali-kali akan mengalami kesulitan membina hubungan yang intim dengan orang lain, dia memiliki rasa was-was yang sangat tinggi.

IR : Nah Pak Paul, orang yang mengalami kepahitan yang amat sangat, kadang-kadang dia merasa lemah kemudian bunuh diri, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Ya dia pada saat itu kemungkinan merasa hidup sudah begitu buruk, jahat, manusia tidak dapat lagi dipercayainya dan mungkin sekali dia meragukan Tuhan mengasihinya sehingga membiarkan da mengalami kekecewaan dan kepahitan berulang kali.

Jadi pada detik itu keputusasaan menguasai dirinya, lebih kuat dari akal sehatnya, lebih kuat dari pengetahuannya akan janji Tuhan, sehingga dia mengambil jalan pintas seperti itu. Bagi yang sudah di ujung tanduk dan yang mendengarkan kita pada saat ini, saya sangat menghimbau agar jangan mengambil jalan pintas, pasti ada jalan lain sebab Tuhan mampu membuka jalan lain yang belum kita pikirkan sekarang. Carilah orang lain untuk bicara pasti akan ada jalan keluar lain.
IR : Karena janji Tuhan ya Pak Paul, bahwa di dalam Tuhan segala perkara dapat kutanggung.

PG : Tepat sekali, jadi dengan kekuatan Tuhan dia bisa memberikan jalan dan kekuatan untuk menanggungnya.

GS : Penghiburan yang terbaik tentu datang dari firman Tuhan sendiri dan apakah firman Tuhan yang mau disampaikan Pak Paul?

PG : Saya akan kutip perkataan Yusuf yang diambil dari Kejadian 50:19-21, "Janganlah takut sebab aku inikah pengganti Allah, memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadapaku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Jadi janganlah takut aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya." Firman Tuhan menjelaskan dan menegaskan bahwa Dia berkuasa bahkan waktu manusia merencanakan dan melakukan yang jahat, Dia bisa menggunakan yang jahat itu tetap untuk berbuat baik. Itulah yang ingin ditekankan Yusuf, tidak ada yang lepas dari kendali Tuhan bahkan yang jahatpun dapat Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan. Jadi kita seharusnya merasa sangat aman bahwa kita bisa bersandar kepada Tuhan yang begitu berkuasa.
GS : Sebenarnya kalau kita menghayati benar tentang pengampunan yang Tuhan berikan kepada kita, tentu kita akan lebih mudah mengampuni orang-orang yang menyakiti hati kita, Pak Paul. Tetapi masalahnya kadang-kadang kita lupa bagaimana Tuhan itu mengampuni segala dosa-dosa kita.

PG : Betul.

GS : Jadi saya rasa tidak ada alasan bagi setiap kita untuk cepat-cepat putus asa dan mengingkari kehidupan yang kadang-kadang pahit. Jadi demikianlah tadi para pendengar yang kami kasihi, kami telah persembahkan sebuah perbincangan bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang bagaimana menghadapi kepahitan hidup. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



25. Sikap Mengalah Ditengah Dunia yang Mementingkan Kemenangan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T073A (File MP3 T073A)


Abstrak:

Mengalah adalah sikap yang sangat diperlukan untuk saat ini, tanpa mengalah ada banyak perpecahan akan terjadi baik di gereja, pekerjaan dan sebagainya. Dan dalam hal ini kita akan belajar sikap mengalah menurut pandangan Alkitab.


Ringkasan:

Sikap mengalah memang bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita ini. Justru orang yang mengalah sering kali orang yang diinjak, orang yang dirugikan, jadi akhirnya kita cenderung mengembangkan sikap tidak mau mengalah. Masalahnya sikap ini sering kali kita bawa ke dalam aspek-aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bergereja atau bersekutu dengan sesama saudara kita. Bahkan dalam kehidupan berumah tangga pun sikap ini kita bawa.

Dua penyebab umum munculnya sikap sukar mengalah.

  1. 1Korintus 8:1-3, kita merasa kita lebih tahu, kita menganggap kitalah yang mengetahui kebenaran dan mengharapkan pihak yang satunya mengiakan pandangan kita. Paulus memberi keterangan yang penting yakni, sifat dasar pengetahuan adalah sombong artinya kalau tidak hati-hati pengetahuan mudah sekali membuat orang sombong. Paulus menekankan bahwa pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif yakni dalam pikiran kita. Kita dianggap berpengetahuan jika kita mempunyai kasih.

  2. Kita merasa diri berhak, 1Korintus 9:14,15, "Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu, aku tidak menulis semuanya itu supaya akupun..............sungguh kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga." Hak mempunyai kecenderungan membuat seseorang merasa layak menuntut pihak yang satunya. Paulus mengemukakan hal yang penting yaitu hak yang paling agung bukannya hak untuk memperoleh tapi untuk melepaskan hak yang seharusnya kita peroleh. Filipi 2:5-11, tentang Tuhan Yesus datang ke dunia, meskipun di sorga tapi tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu yang harus dipertahankan, dengan kata lain Tuhan Yesus tidak beranggapan hak sayalah untuk berada di sorga. Jadi dengan kata lain hak-hak yang paling agung adalah melepaskan hak untuk memperoleh itu.

1Korintus 9:23, "Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil supaya aku mendapat bagian dalamnya." Dengan kata lain kenapa Paulus melepaskan haknya sebab dia tahu pekerjaan Tuhan harus terlaksana. Pekerjaan Tuhan acapkali terhadang oleh kita-kita yang terlalu mementingkan hak untuk memperoleh sesuatu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sikap mengalah di tengah dunia yang mementingkan kemenangan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, rupanya perbincangan kali ini kita lakukan berdua karena Ibu Ida sedang berhalangan, tapi saya rasa tidak mengurangi manfaat dan makna dari perbincangan ini. Pak Paul, sering kali kalau kita bersikap mengalah, lemah lalu orang lain mengatai kita sebagai orang yang tidak punya pendirian, orang yang bodoh dan sebagainya. Sebenarnya bagaimana pandangan Alkitab terhadap sikap seperti itu, Pak Paul?

PG : Saya ingin menambahkan yang tadi Pak Gunawan sudah katakan, memang sikap mengalah bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita ini. Justru orang yang mengalah sering kali orang yang dinjak, orang yang akan dirugikan, jadi akhirnya kita cenderung untuk mengembangkan sikap tidak mau mengalah.

Nah, masalahnya adalah sikap tidak mau mengalah ini kita bawa ke dalam aspek-aspek kehidupan kita, termasuk dalam kehidupan bergereja atau bersekutu dengan sesama saudara kita.
GS : Bahkan berumah tangga kita tidak mau mengalah, dengan anak tidak mau mengalah, dengan istri juga tidak mau mengalah.

PG : Tepat sekali dan sekali lagi karena kita ini tidak mau dirugikan dan dianggap lemah, akhirnya kita mencoba untuk bersikeras. Kita bisa setuju, Pak Gunawan, bahwa salah satu bibit atau penybab perpecahan di dalam tubuh Kristus di gereja-gereja adalah sikap tidak mau mengalah ini.

Dan sering kali masalahnya bukan benar atau salah, kalau memang berkaitan dengan dosa kita bisa berkata ini salah. Masalah yang sering kali timbul tidak berkaitan langsung dengan dosa, misalnya karena perbedaan pendapat. Dan masing-masing berpikir saya benar, kenapa saya harus mengalah dan masing-masing berargumen kami memikirkan ini demi kepentingan bersama, dari dua belah pihak berkata demi kepentingan bersama, dua belah pihak berkata mereka melakukan hal yang benar. Di tengah-tengah masalah ini, saya kira sudah waktunya kita kembali melihat apa yang Alkitab ajarkan tentang sikap mengalah ini.
(2) GS : Apa yang Alkitab ajarkan kepada kita, Pak Paul?

PG : Pertama saya akan membahas dua penyebab umum munculnya sikap sukar mengalah. Yang pertama saya akan ambil dari 1 Korintus 8:1-3 di mana dikatakan tentang daging persembahan behala, kita tahu kita semua mempunyai pengetahuan.

Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Jika ada seseorang menyangka bahwa ia mempunyai sesuatu pengetahuan, maka ia belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya, tetapi orang yang mengasihi Allah ia dikenal oleh Allah. Yang melatarbelakangi pasal 8 ini adalah kontroversi yang terjadi di jemaat Korintus, Pak Gunawan. Saat itu jemaat Kristen adalah jemaat yang masih sangat muda, mereka berlatar belakang dari agama yang menyembah berhala, yang biasanya dilakukan adalah mereka membawa daging yang kemudian dipersembahkan kepada berhala mereka. Nah, sekarang timbul pertentangan di kalangan jemaat di Korintus ini, ada yang berkata tidak apa-apa memakan daging yang dipersembahkan untuk berhala, ada yang berkata jangan itu daging telah dipersembahkan untuk berhala kita tidak boleh memakannya, apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini? Rasul Paulus memberikan penjelasannya tentang apa yang benar. Nah mulai dari ayat yang ke-4 dia menguraikan bahwa sesungguhnya tidak apa-apa memakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, sebab dia berargumentasi bahwa tidak ada berhala itu, jadi tidak apa-apa. Makanan ya makanan, tapi sebelum dia memberitahukan jawaban yang benar itu, dia mengemukakan prinsipnya yang terpenting terlebih dahulu. Kita lihat waktu dia menutup argumentasi masalah ini di pasal 10, dia menggunakan prinsip yang sama yaitu prinsip mengalah. Sebelum dia mengemukakan tentang prinsip mengalah ini, dia memunculkan satu hal atau faktor yang menyebabkan munculnya pertikaian itu. Yakni masing-masing merasa tahu, jadi faktor pertama kenapa kita ini sukar mengalah dan akhirnya terlibat dalam pertentangan adalah kita merasa tahu, kita menganggap kitalah yang mengetahui kebenaran itu dan mengharapkan pihak yang satunya mengiyakan pandangan kita itu.
GS : Jadi sekalipun sebenarnya orang itu tahu sesuatu atau tahu lebih banyak, dia tidak perlu sombong, ya Pak Paul?

PG : Sesungguhnya tidak perlu, tapi Paulus di sini memberi kita satu keterangan yang penting, yakni sifat dasar pengetahuan adalah sombong. Artinya kalau tidak hati-hati, pengetahuan mudah sekai membuat orang sombong.

Kata yang digunakan untuk menjelaskan sombong adalah kata yang sebetulnya berarti berkembang menjadi besar atau menggelembung, membesar, membengkak. Jadi dengan kata lain pengetahuan cenderung membuat orang merasa besar, nah ini yang diidentikkan, diterjemahkan dengan kata sombong, sebab memang itu yang terjadi. Kalau kita merasa tahu kita merasa diri benar dan ini makin menyulitkan kita untuk mengalah, demikian pula waktu kita misalnya bertentangan dengan rekan-rekan sejawat di kantor atau di gereja atau dengan suami atau istri kita, kalau kita tahu yang benar kita rasanya tidak rela untuk mundur dan kita akan mempertahankan pandangan kita itu.
GS : Bagaimana sikap kita supaya pengetahuan yang kita miliki tidak membuat kita jadi sombong, Pak Paul?

PG : Paulus memberikan satu pelajaran yang sangat indah, dia menegaskan bahwa pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif, yakni daam pikiran kita.

Kita ini dianggap berpengetahuan jika kita mempunyai kasih, itu yang Paulus tekankan. Jadi seolah-olah Paulus sekarang berkata kepada kita semua, ada hal yang jauh lebih penting daripada tahu yaitu mengasihi. Maka dia berkata pengetahuan membuat orang sombong, tapi cinta kasih membangun orang lain artinya kalau kita datang atau berangkat dengan keyakinan kita tahu dan orang harus tunduk pada kita, tidak akan membuat orang itu dibangunkan, dihargai justru akan membuat orang dilecehkan dan diremehkan. Jadi Paulus berkata datanglah kepada orang dengan sikap mengasihi, karena waktu kita datang dengan sikap mengasihi, sikap kita itu akan membuat orang dibangunkan, disegarkan, dihargai. Nah Paulus memberi tekanannya di sini bukankah itu yang lebih penting daripada soal tahu itu. Kemudian Paulus memang di ayat-ayat berikutnya memberikan penjelasan tentang memakan daging. Akhirnya dia berkata daripada saya ini menjadi batu sandungan dan orang tersandung karena makan daging, dia berkata saya rela tidak makan daging atau kalau boleh saya terjemahkan dengan lebih bebas seakan-akan Paulus berkata karena soal makan daging kita menjadi ribut, saya rela berkorban tidak makan daging lagi. Meskipun makan daging tidak salah, yang sebetulnya kurang informasi adalah pihak yang satunya. Tapi di sini Paulus menekankan prinsip mengasihi yaitu bukankah kita dipanggil Tuhan justru untuk lebih toleransi pada orang yang lebih lemah, yang pengetahuannya kurang. Bukan justru kita memarahi, mengabaikan pandangannya, karena kita anggap dia tidak tahu apa-apa dan dia di pihak yang lemah, tapi Paulus menekankan sebagai orang Kristen bahwa Tuhan memanggil kita justru untuk mengangkat yang lemah bukan seolah-olah mencampakkan mereka.
GS : Mungkin itu sebabnya Amsal mengatakan takut akan Tuhan itu awal dari semua hikmat, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, jadi kalau kita takut kepada Tuhan kita mengerti inilah yang Dia minta dan kita melakukannya. Waktu kita melakukannya, itulah suatu tindakan yang penuh hikmat, inilah tindaka yang akan memelihara persatuan kita semua.

Jadi sekali lagi sikap mengalah sering kali susah muncul karena faktor yang pertama tadi, Pak Gunawan, kita merasa kita yang paling tahu. Jadi Paulus berkata meskipun engkau tahu, meskipun engkau benar, ada hal yang terlebih penting dan itu pengetahuan yang paling puncak, pengetahuan pada puncaknya adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita. Dan ia menegaskan mengapa itu penting. Pada ayat yang ke-3 dia berkata: karena orang yang mengasihi Allah ia dikenal oleh Allah. Ini ayat indah sekali, Pak Gunawan, seolah-olah Paulus mau menekankan bahwa kalau engkau berargumen, ribut dengan seseorang seolah-olah mewakili Allah dan engkau merasa diri yang paling tahu. Ingat yang membuat engkau dikenal Allah bukan pengetahuanmu, melainkan cinta kasihmu kepada Allah dan kepada sesamamu.
GS : Bagaimana mengekpresikan kepada seseorang atau sekelompok orang, Pak Paul, bahwa kita sebenarnya terpanggil untuk mengasihi mereka walaupun kita tahu ada sesuatu yang lain misalnya kalau mereka salah kita menegurnya, menegur dalam bentuk mengasihi mereka menurut kita, tapi mereka bisa salah mengerti. Bagaimana menurut Pak Paul?

PG : Saya kira kesalahpahaman tidak selalu bisa kita hindarkan, tapi kita bisa meminimalkan. Dengan cara waktu kita menghampiri dia untuk menegurnya, pertama-tama kita menceritakan dulu motivas kita bahwa kita datang kepada dia dengan pergumulan.

Kenapa harus bergumul? Karena kita mengasihi dia, kita tidak mau menyulitkan dia, tapi karena kita mau menaati Tuhan dan membangun dia, maka ini yang kita lakukan.
GS : Hal yang lain, yang menjadi penyebab sukarnya kita mengalah itu apa, Pak Paul?

PG : Ya berikutnya adalah kita merasa diri berhak, nah ini dibahas oleh Rasul Paulus di I Korintus 9:14 dan 15. "Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberiakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu, aku tidak menulis semuanya itu supaya akupun diperlakukan juga demikian, sebab aku lebih suka mati daripada sungguh kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga". Setelah Paulus membahas makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala dan menjelaskan sikap yang harus mereka miliki, Paulus di sini memberikan contoh pribadinya dan dia mengutarakan bahwa dia itu berhak menerima imbalan, bantuan keuangan dari jemaat di Korintus, karena bukankah dia yang memelihara kehidupan rohani mereka. Tapi Paulus di sini kemudian menegaskan bahwa dia memilih atau tidak menerima bantuan keuangan dari jemaat di Korintus. Di sini Paulus seolah-olah mau berkata: "Saya bukan hanya mengajarkan engkau untuk siap mengalah, saya pun melakukannya". Yang dia lakukan adalah dia tidak memberikan tuntutan kepada jemaat di Korintus. Jadi begini, Pak Gunawan, kalau pengetahuan mempunyai kecenderungan membuat orang merasa benar dan akhirnya sombong, hak mempunyai kecenderungan membuat seseorang merasa layak menuntut pihak yang lain, jadi dari hak lahirlah tuntutan. Paulus di sini sedang memfokuskan pada aspek ini dan saya kira kenapa kita akhirnya juga terlibat dalam pertikaian dengan orang lain, karena kita merasa kita berhak, misalnya dalam konteks jemaat dan sebagainya. Bukankah orang yang merasa lebih senior akan menuntut yang lainnya, yang lebih muda darinya menghormati dan mengedepankan dia. Atau misalnya seorang suami yang menganggap dia kepala keluarga menuntut istrinya mematuhi dia secara membabi buta, dalam segala hal. Dalam hal-hal seperti itulah, akhirnya merasa diri berhak membuat kita susah mengalah dan memperpanjang masalah.
GS : Tapi memang kadang-kadang kalau kita tidak memberitahukan hak kita, orang itu cenderung tidak menghargai, Pak Paul. Seolah-olah memang kita sudah seharusnya melakukan hal itu.

PG : Paulus memberitahukan jemaat di Korintus akan hak dia. Jadi Paulus di sini tidak langsung menghaluskan haknya, dia memberikan suatu keterangan yang memang benar kepada jemaat di Korintus. ku mempunyai hak untuk mendapatkan dukungan dari engkau, setelah dia mengatakan yang benar baru dia mengemukakan bagian berikutnya yang lebih penting yaitu hak yang paling agung ialah bukannya hak untuk memperoleh, tapi untuk melepaskan.

Dengan perkataan lain, hak melahirkan tuntutan untuk memperoleh sesuatu. Paulus di sini mengungkapkan sesuatu bahwa justru hak orang Kristen yang lebih agung lagi adalah melepaskan hak itu, justru rela melepaskan hak yang seharusnya kita peroleh. Nah, di sini penjelasan Paulus sejajar dengan yang dia kemukakan tentang Tuhan Yesus waktu datang ke dunia ini, yang ditulis di Filipi 2:5-11. Meskipun di sorga tapi tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, dengan perkataan lain, Tuhan Yesus tidak beranggapan hak sayalah untuk berada di sorga terus menerus jadi tidak mau turun ke bumi menjadi manusia, tidak. Dia meninggalkan haknya dan dicatat Dia menjadi seorang hamba, akhirnya sampai mati di kayu salib. Jadi dengan perkataan lain, justru mau menegaskan hak-hak yang paling agung adalah melepaskan hak untuk memperoleh itu.
GS : Tapi bagaimana orang bisa mempunyai konsep seperti Rasul Paulus yang tidak mementingkan haknya, malah melepaskan haknya untuk kepentingan orang lain dan untuk kemuliaan Tuhan, Pak Paul?

PG : Paulus di sini memberikan alasannya dan alasannya tercatat di 1 Korintus 9:23 di mana tertulis, "Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil supaya aku mendapat bagian daamnya."

Dengan perkataan lain, kenapa Paulus melepaskan haknya, sebab dia tahu pekerjaan Tuhan harus terlaksana. Karena hak, mempertahankan hak, menuntut untuk memperoleh yang kita rasa berhak, sehingga pekerjaan Tuhan terhadang. Nah kalau kita menilik keadaan kita misalkan di gereja, bukankah itu yang sering kali kita saksikan juga, Pak Gunawan. Bukankah pekerjaan Tuhan acap kali terhadang oleh kita yang terlalu mementingkan hak untuk memperoleh sesuatu. Contoh yang paling mudah pemilihan pengurus, sebetulnya seseorang tidak begitu cocok menduduki tempat tertentu, tapi kita tahu dia akan tersinggung kalau tidak kita berikan suatu jabatan, maka kita berikan jabatan tersebut. Dia bukan menjadi berkat, malah menjadi penyusah bagi pekerjaan Tuhan, sehingga akhirnya orang hendak melakukan sesuatu tidak bisa karena dia menghalangi. Atau ada hal-hal yang seperti itu juga, seseorang yang karena merasa ini haknya, dia harus mendapatkannya maka dia menuntut untuk memperolehnya dan akhirnya dia mendapatkan, tapi pekerjaan Tuhan yang seharusnya terlaksana dengan lebih lancar malah terhalangi. Jadi kita melihat contoh seperti ini dalam kehidupan kita dan saya kira cukup banyak, baik di jemaat atau di tempat pekerjaan atau bahkan di rumah tangga juga.
GS : Masalahnya adalah bagaimana melatih diri atau mempersiapkan diri menghadapi orang yang mempunyai persepsi terhadap kita kalau kita mau mencoba mengasihi, mau mencoba memberikan hak kita kepada mereka, Pak Paul?

PG : Kita bisa menunjukkan siapa kita, bahwa kita adalah orang yang mengerti hak kita bahwa kita adalah orang yang tahu apa yang bisa kita berikan dan apa yang seharusnya kita terima. Namun waku terjadi benturan kita berkata daripada menghalangi pekerjaan Tuhan, daripada akhirnya masalah berlarut-larut maka saya mengalah.

Saya kira waktu orang melihat sikap kita seperti itu, orang tidak bisa tidak menghargai kita. Berbeda dengan kalau dari awal kita ini ikut saja, kita berkata kepada rekan kita pokoknya yang engkau putuskan, aku ikut saja. Sikap seperti itu tidak akan membuahkan respek dari orang terhadap kita, karena kita tidak mengutarakan pendirian kita. Jadi saya kira ada tempatnya mengutarakan pendirian kita dan ini yang Paulus lakukan, dan waktu dia mengutarakan pendapatnya dia mengutarakannya dengan tegas dan jelas. Jadi kita juga bisa mencontoh apa yang Paulus lakukan, kita memberikan pandangan, prinsip kita dengan jelas. Jadi orang mengerti, kita bukanlah orang yang plin-plan, dan kalau misalnya perlu kita mencoba juga berusaha meyakinkan orang-orang akan apa yang sedang kita katakan ini. Jadi ada tempatnya meyakinkan orang, namun waktu kita melihat tidak bisa dan rasanya akan berakhir dengan pertikaian yang akan merugikan berbagai pihak dan kita tahu ini lebih banyak dampak negatifnya kalau sampai ini terjadi. Akhirnya kita berkata, demi menjaga keutuhan saya akan mengalah. Saya kira tindakan seperti itu biasanya akan mengundang respek orang terhadap kita, bukan malah orang mencibir kita bahwa kita orang yang tidak berprinsip.
GS : Tapi ketika kita mengutarakan pandangan-pandangan kita dan mulai dipahami oleh sebagian orang, lalu kita mengatakan mengalah. Orang-orang yang sudah mulai mengerti dan mengatakan kenapa kamu tidak mau terus menyerang, kenapa kamu memilih melarikan diri. Bagaimana kalau seperti itu, Pak Paul?

PG : Saya kira ada perbedaan antara melarikan diri dan mengalah. Waktu kita mengalah, kita tidak melarikan diri, kita diam di tempat, tapi kita tidak memaksa masuk, kita tidak menerobos masuk krena kita tahu akan melukai atau menginjak hati orang-orang tertentu.

Jadi demi pekerjaan Tuhan jangan sampai terhalangi, demi nama Tuhan supaya tetap dimuliakan akhirnya kita memutuskan untuk berdiam, tidak mundur, tidak maju. Mungkin pada kesempatan yang lain Tuhan akan berikan, jadi di sini kita perlu belajar menunggu waktu Tuhan. Belajar menunggu waktu Tuhan, saya tahu bahwa hal ini tidak selalu jelas, kita tidak selalu bisa dengan tepat membedakan apakah ini waktu Tuhan atau bukan. Sebab adakalanya Tuhan memanggil kita juga untuk berjalan meskipun tidak disetujui oleh orang lain. Dan saya kira kriteria yang paling jelas kenapa kita harus jalan adalah kalau berkaitan langsung dengan dosa. Kita perhatikan contoh-contoh di Alkitab waktu anak Tuhan berhadapan dengan dosa dan orang-orang yang berdosa, anak-anak Tuhan tidak mundur, anak-anak Tuhan maju terus meskipun membayar resiko yang tinggi. Contoh lainnya karena Yeremia mengumandangkan dan menyerukan perintah Tuhan, peringatan Tuhan, akhirnya dia menderita luar biasa, disiksa, dibuang ke sumur. Karena Yahya Pembaptis atau Yohanes Pembaptis menegur Herodes, akhirnya dia meninggal kehilangan kepalanya. Karena Tuhan Yesus mengritik orang-orang Farisi dan Saduki yang hidup dengan tidak konsisten, akhirnya dia juga kehilangan nyawaNya. Jadi untuk hal yang berkaitan dengan dosa dan hanya masalah perbedaan pendapat ternyata anak-anak Tuhan diminta untuk sabar menunggu waktunya Tuhan sampai nanti ada perubahan. Daripada memaksakan dan akhirnya memecahkan, sebab tubuh Kristus yang terpecah saya lihat tetap, meskipun alasan-alasan yang dikemukakan itu betul, pada akhirnya menimbulkan luka, dan lebih mencoreng nama Tuhan Yesus. Orang akan bisa berkata, "Lihat itu orang Kristen saling cakar mencakar, lihat itu para majelis saling berkelahi, lihat itu hamba-hamba Tuhan saling jotos menjotos". Akhirnya tetap menjadi buah bibir yang negatif dan tidak membawa kemuliaan Tuhan. Jadi sikap mengalah saya kira sikap yang memang lebih merefleksikan siapa Tuhan kita.
GS : Ada satu bagian di dalam perjalanan Paulus, di mana dia tidak mau mengalah dengan Barnabas, ya Pak Paul?

PG : Betul sekali, jadi pada saat itu Barnabas dan Paulus berselisih pandang tentang Yohanes Markus, apakah harus membawa Yohanes Markus dalam pelayanan berikutnya. Paulus menentang, Barnabas mminta tetap membawa Yohanes Markus.

Akhirnya mereka berpisah, tetapi tidak disebut mereka itu berselisih pandang sampai akhirnya ribut. Akhirnya berpisah, Paulus berjalan dengan Silas, Barnabas dengan Yohanes Markus. Jadi saya kira dalam perbedaan pandangan kita tidak harus selalu akhirnya tidak berbuat apa-apa. Saya kira ada waktunya juga akhirnya kita harus berkata kita harus melakukannya, namun karena tidak didukung di sini ya tidak apa-apa dengan baik-baik saya pamit, saya akan melakukannya dengan yang lain. Jadi akan ada waktunya itu pun kita lakukan, yang penting adalah kita ini tidak mencoreng nama Tuhan dengan kita berkelahi, ribut, memaksakan hak kita, menganggap diri kita tahu mana yang baik, mana yang kurang baik sehingga akhirnya lebih banyak kekacauan yang kita timbulkan.
GS : Ya, tentunya kita akan diajak oleh Tuhan untuk melihat suatu kepentingan yang lebih besar yaitu kemuliaan nama Tuhan sendiri, ya Pak Paul. Dan itu membutuhkan penyangkalan diri, pengorbanan, sikap mengalah yang mungkin orang lain menganggap kita kalah, tetapi di hadapan Tuhan saya rasa itu bukan sesuatu yang kalah dan salah.

PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.

GS : Jadi demikianlah tadi saudara-saudara pendengar Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang sikap mengalah di tengah dunia yang mementingkan kemenangan. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami sampaikan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



26. Sikap Lemah dan Pasif Didalam Kekristenan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T073B (File MP3 T073B)


Abstrak:

Sikap ini seringkali muncul di tengah-tengah kehidupan orang Kristen yaitu kegagalan mendayagunakan sepenuhnya karunia yang Tuhan berikan kepada kita.


Ringkasan:

Clark Sover mengemukakan pengamatannya bahwa ternyata telah berkembang sikap pasif di kalangan orang-orang Kristen. Sikap pasif yang akhirnya melumpuhkan orang Kristen dalam kehidupannya. Yang dimaksud sikap pasif adalah kegagalan kita mendayagunakan sepenuhnya karunia yang Tuhan berikan kepada kita atau kegagalan kita untuk hidup sepenuhnya seperti yang Tuhan kehendaki.
Penyebab munculnya sikap pasif ini, Clark Sover mengemukakan bahwa:

  1. Adakalanya kita takut akan penilaian orang. Akibatnya kita nggak melakukan hal yang bisa kita lakukan dan yang seharusnya dilakukan.

  2. Kita takut konsekuensi perbuatan kita, sehingga meskipun kita tahu ini yang Tuhan kehendaki dan kita bisa melakukannya kita memilih untuk tidak melakukannya.

Sikap-sikap di atas membuahkan masalah bukan saja pekerjaan Tuhan menjadi tidak terlaksana dengan baik, tapi orang-orang akhirnya mengembangkan sikap bergantung kepada orang lain secara tidak perlu.

Penyebab-penyebab kesalahpahaman:

  1. 2Korintus 12:9,10, "Cukuplah kasih karunia-Ku padamu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus, sebab jika aku lemah maka aku kuat. Yang pertama yang harus kita perhatikan dengan baik adalah orang yang lemah. sedang membicarakan dalam kondisi tersiksa dia lemah dan ini adalah hal yang sangat manusiawi sekali. Namun seringkali kita ini salah mengerti hal ini, seakan-akan Paulus ini sedang mengatakan saya senang menjadi orang yang lemah.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang sikap lemah dan pasif di dalam kekristenan. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Pak Gunawan, pada beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang bernama Clark Sower menulis tentang sikap pasif di dalam kekristenan. Dalam tulisannya itu, Clark Sower mengemukakan pengamatanya bahwa ternyata telah berkembang sikap pasif di kalangan orang-orang Kristen.

Sikap pasif yang akhirnya melumpuhkan orang Kristen dalam kehidupannya. Yang dimaksud dengan sikap pasif adalah kegagalan kita mendayagunakan sepenuhnya karunia yang Tuhan berikan kepada kita atau kegagalan kita untuk hidup sepenuhnya seperti yang Tuhan kehendaki. Nah pertanyaannya mengapa sampai muncul sikap-sikap pasif ini. Clark Sower mengemukakan bahwa adakalanya kita ini takut akan penilaian orang. Karena takut akan penilaian orang, kita tidak melakukan hal yang bisa kita lakukan dan seharusnya dilakukan. Adakalanya kita takut konsekuensi perbuatan kita, sehingga meskipun kita tahu ini yang Tuhan kehendaki dan kita bisa melakukannya, kita memilih untuk tidak melakukannya. Sikap-sikap seperti ini membuahkan masalah, bukan saja pekerjaan Tuhan menjadi tidak terlaksana dengan baik, tapi akhirnya orang mengembangkan sikap bergantung kepada orang lain secara tidak perlu. Mengidolakan yang lainnya secara berlebihan, membawa bobot dan beban-beban yang tidak perlu ke dalam persekutuan dan pekerjaan Tuhan. Jadi dengan perkataan lain, Clark Sower menggugah perhatian kita semua untuk meneliti apakah sikap-sikap ini sudah ada pada diri kita dan kalau sudah ada hendaknya kita belajar untuk mengesampingkannya.
(1) GS : Sikap takut yang salah itu timbulnya dari mana, Pak Paul? Sebenarnya seseorang itu sifat dasarnya adalah menonjolkan diri, menunjukkan kemampuannya, kenapa tiba-tiba dia bisa seperti itu?

PG : Adakalanya kita diminta untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan dan kita tahu akan menimbulkan penilaian-penilaian orang terhadap diri kita. Kita sering kali hanya mau melakukan hal yag populer, yang disenangi, yang diterima oleh orang.

Kalau kita tahu tidak membuat kita populer, kita cenderung akhirnya menyembunyikan diri. Nah di sinilah kita dituntut untuk menjadi orang yang aktif, bukan yang pasif.
GS : Apakah ada kekeliruan penafsiran atau pendapat bahwa seseorang Kristen atau orang yang menjadi rohani itu harus lemah lembut, Pak Paul?

PG : Saya kira tepat sekali, Pak Gunawan, jadi dasarnya adalah pemahaman yang keliru. Sering kali kita ini mengidentifikasikan lemah lembut dengan lemah, Tuhan memanggil orang Kristen untuk menadi orang yang lemah lembut.

Tapi saya kira, Alkitab jelas tidak mengatakan Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang lemah. Jadi kita perlu membedakan hal itu dengan jelas, pada awalnya lemah lembut tidak identik dengan lemah.
GS : Ada lagi yang bingung tentang rendah diri dan rendah hati. Tuhan memanggil kita untuk rendah hati, tetapi banyak orang Kristen yang nampaknya rendah diri.

PG : Betul sekali, jadi ini adalah salah satu dari sikap pasif tadi, Pak Gunawan, jadi orang berkata, "O.... saya tidak bisa, o... jangan sayalah, o.... saya tidak mempunyai kemampuan", seolah-olah rendah hati, tapi sebetulnya lebih muncul rendah diri karena tidak percaya bahwa dia itu bisa melakukannya.

Akibatnya apa yang seharusnya terjadi tidak terjadi karena kita ini terlalu rendah diri.
GS : Ada kekhawatiran juga yang timbul kalau dikatakan sombong atau mau menang sendiri atau menguasai itu, Pak Paul.

PG : Tepat sekali, kita adalah orang yang tidak nyaman dengan perkataan atau penilaian diri kuat, kita tidak nyaman dengan konsep bahwa kita ini kuat. Kita takut sekali dituduh orang sombong, klau kita merasakan bahwa kita kuat.

Dan memang seolah-olah di dunia kekristenan kita ini telah menebarkan konsep yang tidak alkitabiah, konsep bahwa orang itu seharusnyalah lemah. Waktu seseorang berkata saya rasa saya mampu melakukannya, ini lebih sering ditafsir engkau ingin menonjolkan diri. Jadi sikap yang lebih terpuji adalah "jangan... jangan saya, saya tidak bisa apa-apa", yang akhirnya hanyalah mengulur waktu dan menambah ketidakefisienan.
GS : Apa ada contoh konkret atau petunjuk konkret dari Alkitab, Pak Paul, tentang penyebab-penyebab dari kesalahpahaman?

PG : Yang pertama akan saya ambil dari 2 Korintus 12:9-10, di sini tercatat: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karuniaKu padamu, sebab justru dalam kelemahanlah kuaaKu menjadi sempurna."

Sebab itu terlebih suka aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat. Yang pertama yang harus kita perhatikan adalah orang yang lemah. Paulus dengan spesifik membicarakan situasi tertentu dalam kehidupannya, yaitu situasi yang menyiksanya, situasi yang sedang menganiayanya, dengan kata lain dia dalam keadaan menderita. Dia mengemukakan dalam keadaan menderita demi Kristus memang dia merasa lemah, sebab kita tahu dalam penderitaan yang menerpa dan menyiksa kita tidak bisa tidak kita akan merasa lemah. Jadi sekali lagi, lemah di sini bukan berarti secara keseluruhan Paulus itu menganggap dirinya orang yang lemah. Dia sedang membicarakan dalam kondisi tersiksa yang lemah dan ini adalah hal yang sangat manusiawi sekali. Namun sering kali kita salah mengerti dalam hal ini, seakan-akan Paulus sedang mengatakan saya senang menjadi orang yang lemah, bukan, Paulus sedang membicarakan secara spesifik kondisi tersebut, kondisi yang sedang menyiksanya itu. Yang dia maksud lemah bukannya dirinya secara keseluruhan, jangan sampai kita salah tafsir bahwa yang Tuhan inginkan adalah kita ini lemah, dan orang yang menganggap dirinya kuat sudah pasti itu adalah orang yang sombong dan salah.
GS : Memang beberapa kali kita baca kesaksian Paulus sendiri bahwa dia memegahkan diri seolah-olah kalau dibaca sepintas seperti orang yang sombong, Pak Paul. Tetapi ada juga pemahaman yang benar tentunya tentang sikap lemah itu sebenarnya, bagaimana itu Pak Paul?

PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Paulus memang berkata dalam kondisi tersiksa itu dia lemah karena pada saat itulah kuasa Tuhan dinyatakan dengan lebih jelas. Karena dalam keadaan dia terkuras, aktu kuasa Tuhan datang, kuasa Tuhan itu memberikan tenaga bangkit kembali, dengan perkataan lain, dia lebih melihat curahan kuasa Tuhan.

Saya berikan suatu pengibaratan kalau kendaraan kita ini kehabisan bensin tinggal sisanya itu ˝ liter dan kapasitas mobil kita adalah misalnya 40 liter, waktu diisi bisa masuk 40 liter. Tapi kalau misalkan kita mengisi 20 liter sebab sudah ada 20 liter dalam tangki kita, sudah tentu yang bisa masuk hanya 20 liter. Jadi Paulus sudah membicarakan hal yang sangat-sangat bersifat fakta. Pada waktu dia menderita kekuatannya habis, tetapi dia bisa menerima kekuatan Tuhan yang jauh lebih besar, karena itu Tuhan berkata: kekuatanKu dibuat sempurna artinya diberikan dengan begitu jelas. Berikutnya yang Paulus katakan adalah dia bukannya orang yang lemah, tapi yang dia mau katakan dibandingkan kekuatan Tuhan dia orang yang lemah. Dibandingkan dengan kekuatan Tuhan, kekuatannya jauh lebih kecil. Kita sebagai orang Kristen bisa berkata saya lemah dalam perbandingan dengan Tuhan, kekuatanku sangat kecil dibandingkan dengan kekuatan Tuhan, tapi tidak berarti saya orang yang lemah dalam hidup ini.
GS : Ada memang kelemahan yang dikatakan Rasul Paulus karena memang dia tidak bisa lagi mengatasinya, Pak Paul, seperti dia sudah minta kepada Tuhan untuk mencabut durinya dan Tuhan bilang cukup. Jadi dia menyadari kelemahan itu, tapi dia merasakan kuasa Tuhan. Apakah dalam hal ini seseorang harus menyadari kelemahannya seperti itu, Pak Paul?

PG : Saya kira ada baiknya dan selalu baik bagi orang Kristen atau bagi semua orang untuk menyadari kelemahannya, sehingga dia bisa terus membawa kelemahan itu dalam doa sehingga kelemahan itu idak menjatuhkan kita.

Kelemahan tidak identik dengan kejatuhan, orang yang tidak menyadari kelemahannya berpotensi besar untuk jatuh. Tapi orang yang menyadari kelemahannya memperkecil kemungkinan dia jatuh, karena dia selalu membawa dalam doanya dan ini yang terjadi pada Paulus. Dia terus meminta Tuhan, dia terus berdoa kepada Tuhan membawakan kelemahannya itu dalam doa dan Tuhan juga memberikan kata-kata penghiburan dan kekuatannya, sesuai dengan yang telah kita baca tadi, "cukuplah anugerahKu bagimu."
GS : Paulus sendiri menyadari bahwa kelemahan itu diizinkan oleh Tuhan ada di dalam dirinya supaya tidak sombong. Dalam hal ini apakah ada contoh lain dalam Alkitab, kita tadi sudah cukup banyak berbicara tentang Paulus, tetapi saya yakin sekali bukan satu-satunya Paulus itu di dalam Alkitab, karena saya merasa ini konsep umum.

PG : Jadi kita ini perlu sekali lagi kembali ke Alkitab, ada hal-hal yang terlalu terbiasa kita serap dan kita anggap itulah kebenaran. Ada baiknya sekali-sekali kita kembali melihat apa yang frman Tuhan katakan.

Mengenai orang-orang yang berkata lebih baik kita ini lemah, mari kita lihat contoh-contoh di Alkitab. Alkitab memberi kita beberapa tokoh yang menunjukkan mereka itu orang yang kuat, bukan orang yang lemah. Misalnya kita tahu Yusuf menderita luar biasa sejak usia mudanya dan dia akhirnya bertahan dalam Tuhan waktu dia menjadi seorang Perdana Menteri di Mesir, dia bukan orang yang lemah, dia mungkin saja depresi berat tapi dia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Contoh yang lain, Daniel meskipun ditentang sewaktu dia berdoa kepada Allah, dia tetap berdoa kepada Allah. Dia tidak mengompromikan kepercayaannya, kita melihat misalnya Musa juga harus menghadapi raja Firaun, tetap dia jalani, tetap dia tidak takut. Jadi contoh-contoh itu memberikan kita satu kejelasan bahwa anak-anak Tuhan justru adalah orang-orang yang kuat, yang tabah, yang tegar. Waktu mereka datang meminta kekuatan Tuhan tidak berarti mereka itu menjadi orang yang ketakutan, lemah, tidak, mereka akan diisi dan berani keluar. Pada waktunya memang kita ini lemah, ada waktunya kita takut, kita ini tidak sempurna. Contoh yang jelas adalah Elia, waktu Izebel hendak membunuhnya dia lari ketakutan, tapi setelah mendapat kekuatan Tuhan ia turun kembali dari gunung dan menghadapi raja Ahab. Jadi kita melihat contoh-contoh tersebut, bahwa anak-anak Tuhan adalah orang-orang yang kuat. Pertanyaannya kenapa mereka kuat, mereka adalah orang yang sudah menerima kuasa Tuhan sebagaimana kita pun seharusnya sudah menerima kuasa Tuhan. Sebagaimana tercatat dalam Kisah Para Rasul 1:8, bahwa kuasa Roh Kudus akan turun ke atas kamu. Kata kuasa yang digunakan sebetulnya berasal dari bahasa Yunani, yang sekarang digunakan untuk kata dinamit. Dunamos itu kekuatan besar yang bisa meledakkan, yang bisa mengubahkan, bisa meruntuhkan, jadi Tuhan memberikan kuasa dan bukan kuasa yang kecil melainkan kuasa yang besar. Kita harus hidup sesuai dengan kuasa yang Tuhan telah berikan. Jangan sampai kita tidak menyadari hal ini sehingga dalam hidup sehari-hari kita justru seringnya merengek-rengek kepada Tuhan, kita tidak pernah dewasa, terus menjadi kanak-kanak.
GS : Sikap seperti itu sebenarnya mempermalukan Tuhan secara tidak langsung ya, Pak Paul?

PG : Ya, betul sekali Pak Gunawan, bukankah dalam doa kita selalu mengulang-ulang kami lemah Tuhan, tolong dalam kelemahan kami. Saya kira ada waktunya kita berkata seperti itu dalam kondisi yag memang kita sedang lemah, silakan berdoa seperti itu.

Tapi kita tidak perlu berbasa-basi dengan Tuhan secara formal, Tuhan kami lemah sebab kata-kata itu dikhawatirkan malah mengindoktrinasi kita dan membuat kita percaya bahwa kita orang yang tidak berdaya. Nah, apa artinya kuasa yang telah Tuhan berikan kepada kita itu.
GS : Dan ada bagian Alkitab yang mengatakan bahwa kita diberi oleh Tuhan bukan roh penakut, tapi roh yang kuat, yang berkuasa sebenarnya, ya Pak Paul?

PG : Tepat sekali, jadi Tuhan di situ menjelaskan bahwa Roh yang Tuhan berikan itu bukannya roh yang akan membuat kita lari ketakutan, bersembunyi. Roh yang Tuhan berikan, Roh yang membuat kitaberani untuk maju ke depan.

Ada waktunya Tuhan melindungi kita, kita lari ke Tuhan meminta perlindungan, maka di Mazmur pun Daud menggunakan pengistilahan gunung batuku, Tuhan gunung batuku. Nah saya kebetulan pernah melewati gurun pasir, saya melihat batu yang begitu besar dan memang seperti bukit, bukit-bukit di padang pasir yang terbuat dari batu, batu cadas yang besar. Saya bisa membayangkan waktu orang-orang Israel berperang, waktu Daud berperang bukankah betul itu tempat perlindungan, mereka tidak bisa dipanah, ditombak atau disiram dengan api atau apa. Jadi Tuhan sekali waktu akan berbuat begitu dan silakan datang kepada Tuhan meminta perlindunganNya. Tapi tidak berarti kita ini melarikan diri, orang Israel adakalanya memang dibebaskan oleh Tuhan dalam tugas menghadapi musuh tapi jarang. Kebanyakan orang Israel tetap harus terjun perang, Tuhan menyertai mereka dalam medan pertempuran, tapi mereka harus menghadapinya. Nah saya khawatir, Pak Gunawan, kita mengembangkan sikap pasif sebetulnya dengan perencanaan bukan tanpa sengaja, bukannya o.... kebetulan saja kejadian seperti ini. Saya kira ada perencanaan tertentu, karena memang kita ini sebetulnya tidak mau bertanggung jawab, tidak mau menghadapi konsekuensi. Akhirnya lebih mau merengek dan bergantung kepada Tuhan. Dengan alasan kalau tidak bergantung salah, sebetulnya bukan itu yang Tuhan maksud dengan bergantung.
GS : Khawatirnya kalau kita sudah punya konsep seperti itu, lalu terjadi sesuatu yang negatif, kita lepas tangan dan menyalahkan Tuhan. Kita katakan saya sudah berserah pada Tuhan, faktanya seperti ini berarti Tuhan yang salah.

PG : Bahkan dalam kasus yang ekstrim, Pak Gunawan, akan ada orang yang berkata saya berdosa karena Tuhan menghadirkan dosa. Misalnya kenapa engkau akhirnya memakai obat atau narkoba? Ya, itu meang pencobaan yang Tuhan sudah atur harus terjadi dan saya mana bisa melawannya.

Sebab orang itu datang menawarkan obat buat saya, kalau Tuhan tidak izinkan orang itu tidak akan datang menawarkan obat buat saya. Atau yang lain yang juga klasik, Tuhan yang mempertemukan kami dalam pernikahan, kalau tidak ya kami tidak akan menikah. Sekarang tidak cocok, saya kembali berpikir pasti Tuhan keliru mempertemukan kami, kalau bukan kehendak Tuhan, Tuhan tidak akan mempertemukan kami. Saya kira itu konsep yang sangat mencerminkan sifat pasif kita dan membuat masalah, sebab sudah tentu Tuhan akan membiarkan kita bertemu dengan segala macam pencobaan, Tuhan akan membiarkan kita juga kadang-kadang berjalan sangat dekat dengan pencobaan dan dosa. Tapi di situlah Tuhan mau melihat, apakah kita bisa melawannya. Tentang pencarian jodoh dan sebagainya, Tuhan meminta kita bijaksana, menilai baik-baik, berteman dengan normal, bukan karena kita ini orang Kristen lalu dibebastugaskan, diperkecualikan oleh Tuhan dari kewajiban mengenai membangun hubungan yang baik sebelum akhirnya menikahi pasangan kita. Jadi saya kira sikap-sikap pasif itu membuat masalah yang tidak perlu sama sekali.
(2) GS : Kalau begitu Pak Paul, pengertian yang benar tentang berharap kepada Tuhan, berpegang kepada Tuhan, berlindung kepada Tuhan itu seperti apa, Pak Paul?

PG : Pertama-tama kita harus ingat yang tadi sudah dipaparkan oleh Rasul Paulus bahwa kekuatan kita tidak sebanding dengan kekuatan Tuhan. Oleh karena itu kita harus melihat Alkitab secara interal/keseluruhan.

Di Amsal 3:5-6, kita bisa membaca kita harus mengakui Tuhan dalam segala jalan kita, kita tidak seharusnya mengandalkan hanya pengertian kita. Artinya jangan sampai kita berpikir pengertianku yang paling utama, kita selalu harus mengetahui bahwa ada pengertian yang lebih tinggi yakni Tuhan. Ada jalan yang juga jauh lebih tinggi, jalan Tuhan, ada kuasa yang jauh lebih besar yakni kuasa Tuhan. Jadi manusia senantiasa harus menyadari batasnya, tapi setelah menyadari batasnya manusia boleh bertindak dan meminta Tuhan terus menuntun dalam tindakan-tindakan itu. Jangan sampai kita akhirnya hanya duduk berdiam diri dan berkata "Tuhan Engkau tidak melakukannya," ya akhirnya sampai pada akhirnya tidak ada apa-apa yang terjadi. Sebab kita tidak jalan, kita tidak bertindak, nah jadi tetap jalan kalau Tuhan tidak kehendaki dan kita sudah bawakan dalam doa Tuhan akan bisa menghentikannya. Tuhan akan bisa berkata jalannya keliru, contohnya Rasul Paulus dia ingin mengabarkan Injil ke Asia dan dia sudah merencanakannya. Berdoa tidak! Sudah berdoa, diutus tidak oleh jemaat! Diutus, didoakan dan sebagainya. Tapi sampai titik akhir sebelum dia berangkat dia mendapatkan mimpi dan dalam mimpi itu jelas Tuhan memanggil dia ke benua Eropa, karena benua Eropa pada saat itu belum mendengarkan Injil Tuhan. Jadi Paulus mengubah rencananya dan dengan perkataan lain kita melihat Paulus orang yang aktif, dia tidak hanya berlipat tangan dan menunggu-nunggu wahyu Tuhan, kapan dia harus berangkat atau tidak. Dia merencanakan untuk berangkat sampai titik akhir kalau memang bukan jalan Tuhan, ya dia ubah. Waktu perjalanan yang pertama dia pergi ke banyak tempat di Asia memang Tuhan mengizinkan dan akhirnya dia benar-benar pergi, seperti itu jadinya kita bersandar, Pak Gunawan. Kita minta Tuhan memimpin. Kita akui kita terbatas, kita minta kehendak Tuhan yang jadi tapi tidak berarti berpangku tangan. Silakan jalan dan Tuhan akan memimpin, Tuhan mengarahkan kembali atau Tuhan menghentikan, kalau memang itu bukan kehendak Tuhan.
GS : Jadi penting sekali untuk mengetahui batas-batasnya, Pak Paul, supaya seseorang tidak terlanjur melampaui kemampuan atau kehendak Tuhan tetapi juga tidak duduk bersikap pasif. Sehingga seperti pertanyaan Tuhan kepada Elia, "Kerjamu apa di sini cuma diam-diam saja," padahal sebenarnya ada banyak tugas yang harus dia kerjakan. Jadi saya yakin sekali Tuhan sedang membangunkan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang sudah disiapkan untuk kita.

Jadi demikianlah tadi saudara-saudara pendengar Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang sikap lemah dan pasif dalam kekristenan. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami sampaikan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



27. Kuasa Yesus yang Membebaskan


Info:

Nara Sumber: Rudi James Simanjuntak
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T082A (File MP3 T082A)


Abstrak:

Kuasa Tuhan membebaskan seseorang dari cengkeraman belenggu narkoba.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dan beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda untuk berbincang-bincang dengan Bp. Rudi James Simanjuntak yang juga seorang mahasiswa di sekolah Theologia di kota Malang, di STT Salem. Dan kami akan berbincang-bincang tentang kuasa Yesus yang membebaskan. Perbincangan kali ini akan membahas bagaimana Tuhan dengan kuasaNya membebaskan seseorang dari cengkeraman, dari belenggu narkoba. Dan kami percaya perbincangan ini tentu akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak James, kami senang sekali Bapak bisa bersama kami pada perbincangan Telaga kali ini. Dan kami mau belajar banyak tentunya dari pengalaman Pak James bagaimana kuasa Allah itu, Tuhan Yesus telah membebaskan Pak James dari belenggu yang secara manusia rasanya sulit untuk atau bahkan tidak mungkin seseorang bisa dibebaskan. Nah Pak James sebelum lebih lanjut bolehkah saya mengetahui apakah Pak James memang sejak kecil itu berada di lingkungan keluarga Kristen?

RJ : Betul Pak, kami sendiri dari keluarga etnis Batak, hijrah ke Jakarta tahun 1969, di situ saya berumur sekitar 2 tahun Pak. Kemudian sepanjang kehidupan saya dari mulai kecil sampai dengn remaja, sampai dengan SMP saya tinggal di Jakarta, di suatu perkampungan yang para ahli mengatakan itu penghunian kumuh Pak.

Jadi di situ tempat tinggal yang tidak idealis secara ekosistem dan kesehatan karena di situ banyak sekali penghuninya dan tingkat kompleksitas penghuninya sangat berbeda-beda. Di sini ada bermacam-macam profesi sampai dengan profesi-profesi yang tidak berkenan di hati Tuhan seperti pencuri, penjudi, pemabuk, di situlah saya tinggal dari pertama keluarga kami hijrah. Ya tentunya keluarga kami tidak mengharapkan kehidupan selamanya di situ, kemungkinan orang tua saya mempunyai suatu tujuan bahwa itu sebagai batu loncatan saja, tinggal pertama di daerah itu. Tapi dalam kenyataannya sampai sekarang keluarga saya masih tinggal di situ.
GS : Nah apakah di tempat itu pula Pak James berkenalan dengan narkoba?

RJ : Betul sekali Pak, kalau boleh saya mulai cerita tentang awal perkenalan saya dengan narkoba, diawali dengan perkenalan saya dengan rokok. Saya sudah berkenalan dengan rokok sejak berkisr kelas 4 SD Pak, kelas 4 SD saya waktu itu sudah mencoba rokok dengan teman-teman sekampung terutama di masa-masa libur sekolah, kami sering sekali pergi kesana kemari.

Ada satu hal lagi yang juga mendukung, daerah kami itu tidak sehat dan tidak baik secara jasmani dan rohani, daerah saya itu dekat sekali dengan pasar, terminal dan stasiun kereta api, yaitu di daerah Manggarai. Jadi seperti kita ketahui daerah-daerah seperti itu banyak premannya ya Pak, baik di terminalnya, di pasarnya maupun di stasiun Manggarai itu. Dan itu berimbas kepada kehidupan remaja penduduk di sekitarnya.

PG : Kalau saya boleh tahu lebih lanjut Pak James ya, apakah Pak James pada saat-saat bertumbuh itu juga mendapatkan arahan dan didikan dari orang tua tentang Tuhan Yesus dan sebagainya?

RJ : Memang dari kecil saya mengikuti sekolah minggu di gereja HKBP tetapi mengenai orang tua saya, mereka berangkat kerja itu dari jam 07.00 pagi dan pulang paling cepat itu jam 06.00 sore adang sampai jam 09.00

malam; jadi saya di rumah di tinggal bersama pembantu dan kakak. Jadi waktu itu ada kakak sepupu saya dari daerah datang ke Jakarta, selama di Jakarta tinggal di tempat saya. Itulah yang membimbing saya, ya boleh dikatakan bukan membimbing tetapi mengawasi saja karena kalau kita bicara soal pembimbingan itu ya lebih mengarah kepada pendidikan, tetapi ini cuma sekadar mengawasi kebutuhan-kebutuhan saya saja, untuk makan saya dan saudara-saudara saya. Saya sendiri sekeluarga ada 8 anak Pak, saya no.7, jadi ketika saya remaja kakak saya yang besar sudah ada yang kuliah di Malang, sudah ada yang kuliah di luar jadi saya cuma tinggal 4 orang di rumah. Empat orang yang tua itu kakak saya yang no.4, no.5, no.6, no.7 dan no. 8.

PG : Setelah rokok, Pak James, apalagi yang Pak James akhirnya pakai?

RJ : Kelas 5 SD saya mulai minum-minuman keras, minuman keras yang pertama saya minum waktu itu TKW, di Jakarta suatu merk TKW itu minuman untuk kalangan kelas bawah. Dan kalau saya membandigkan dengan kehidupan yang sekarang untuk mendapatkan minuman keras, dahulu kala zaman saya kelas 5 SD itu sangat mudah sekali dibanding dengan sekarang, karena memang sekarang ini sudah beberapa kali, penertiban tentang minuman keras.

Tetapi dahulu itu tidak ada sama sekali. Saya minum setiap hari Jum'at, sekolah kami SD itu ada kegiatan pramuka, jadi hari itu kami tidak sekolah. Secara akademis pagi masuk sekolah upacara pembukaan setelah upacara pembukaan jam 07.00 habis itu siswa bebas mengadakan kegiatan pramuka apa saja setelah itu jam 11.00 kumpul lagi untuk mengadakan upacara penutupan. Nah jadi pada kegiatan hari Jum'at itu tidak ada kegiatan akademis, di situlah kami mempunyai banyak waktu luang untuk keluar dari sekolah sebelum upacara penutupan, jadi kami jalan-jalan ke mana di sekitar sekolah. Nah di situ banyak hal yang kami lakukan, mulai dari merokok, mengkonsumsi minuman keras, itulah awalnya Pak.

PG : Dan setelah itu apa lagi yang Pak James gunakan?

RJ : Setelah itu kelas 6 SD saya lulus dari SD, ketika itu yang terjadi kelas 1 sampai kelas 5 masih melaksanakan pendidikan atau masih belajar, kami kelas 6 sudah selesai EBTA. Jadi ada janka waktu sekitar 2 bulan dari jarak EBTA sampai saya masuk ke SMP, saya libur terlebih dahulu daripada kelas 1 sampai kelas 5.

Nah waktu yang panjang itu kami atau saya banyak bermain dengan anak-anak di sekeliling kampung saya; nah di situ banyak yang kami lakukan dari mulai mencuri, merokok di rumah, karena terus terang kenakalan saya ini banyak saya awali di luar lingkungan rumah, karena saya merasa lebih aman dan tidak ada yang tahu. Nah waktu SD lulus saya mulai mencuri-curi melakukannya di sekeliling rumah dan di situ saya mulai diperkenalkan dengan ganja atau mariyuana dan kala itu saya masih ingat sekali bahwa satu amplopnya bisa saya konsumsi dengan membelinya seharga Rp. 500,-. Seharga Rp. 500,- itu untuk pemula seperti kami bisa dapat 3 linting, 3 linting itu kalau kita pakai bisa bertiga, berdua itu sudah dijamin mabuk semua untuk pemula. Jadi untuk Rp. 500,- dulu itu saya bisa pakai 5 orang, 6 orang.
GS : Nah sebenarnya pengalaman apa yang hendak Pak James cari dengan minum-minuman keras, lalu ganja dan sebagainya itu?

RJ : Memang kalau saya mengingat masa kecil saya waktu di SD saya ingin menguasai saja, rasanya di dalam pergaulan sesama teman di SD itu saya ingin lebih menonjol, lebih segalanya. Tetapi ntuk di lingkungan rumah ada satu hal yang saya catat dalam kehidupan saya bahwa dahulu kala itu saya dari daerah Sumatera adalah suatu etnis yang jarang atau minoritas di dalam kampung saya, nah di dalam hal ini saya perlu sekutu di dalam posisi saya ini waktu masih anak-anak kalau ada perselisihan antar anak kampung dengan saya, saya selalu menjadi musuh dan saya nggak punya sekutu.

Nah di dalam hal ini saya memerlukan sekutu, jadi saya bergaul dengan anak-anak yang nakal dengan suatu harapan kalau saya berselisih dengan anak yang lain mereka akan membantu saya, karena pada saat itu saya etnis yang tidak mayoritas, jadi saya betul-betul mencari pegangan untuk bisa hidup bebas bergaul, tanpa diganggu oleh orang lain. Dan itu salahnya saya, saya tidak mencari itu semua kepada keluarga, karena secara umum keluarga saya sendiri juga etnis minoritas di situ di sekeliling kampung saya, jadi saya berpikir saya tidak bisa bergantung sama mereka.

PG : Jadi Pak James menggunakan obat sebagai tiket untuk masuk ke dalam kelompok yang bisa melindungi Pak James.

RJ : Maksud saya Pak, bahwa pertamanya saya hanya ingin mencari sekutu saja, mencari sekutu supaya melindungi saya di dalam lingkungan saya karena saya minoritas. Tetapi di dalam pergaulan sya mencari sekutu ternyata sekutu saya pengguna narkoba, jadi bukan narkoba itu sendiri untuk melindungi saya tapi fokusnya pertama sekutu saya itu untuk bisa melindungi saya tapi ternyata kelanjutan dari langkah saya itu berefek bahwa teman-teman saya itu ternyata anak-anak yang nakal dan itu memang saya pilih karena saya pikir merekalah yang bisa nanti mengatasi masalah-masalah saya dengan teman-teman sebaya lainnya.

GS : Nah, apakah Pak James setelah menemukan ganja, menghisap ganja lalu hanya berhenti sampai di situ atau masih meningkat Pak James?

RJ : Terus terang untuk pertama kali saya menggunakan ganja, seperti saya katakan itu bukan karena faktor saya mau atau saya tahu menikmatinya. Tetapi setelah saya masuk di dalam sekutu saya ternyata mereka melakukan dan saya pun harus melakukannya.

Dan saya merasakan tahap pertama saya memakai tidak ada kenikmatan sedikitpun, yang ada adalah rasa takut. Takut diketahui hukum karena memang pada saat itu saya juga mendengar bahwa itu akan ditangkap polisi, takut diketahui keluarga, takut diketahui orang-orang yang bisa mengadu kepada keluarga saya. Jadi untuk pertama kali memakai, tidak ada kenikmatan dan sebetulnya secara hati nurani saya juga banyak ketakutan tetapi saya sudah katakan saya kecemplung/masuk dalam kelompok itu dan kelompok itu melakukan, jadi saya kebanyakan melakukannya hanya untuk toleransi kepada kelompok, bukan karena saya ingin pakai.
GS : Lama-lama bisa dinikmati, Pak James?

RJ : Memang pertama belum bisa menikmati, setelah memakai yang kedua kalinya rasa takut itu berkurang, pakai selanjutnya berkurang dan setelah kenyataannya saya makin tidak ditangkap polisi,saya terus memakai, keluarga saya tidak tahu, lama-lama rasa takutnya berkurang terus saya tidak berusaha menikmati tetapi rasa nikmat itu timbul sendiri.

Saya bisa berpikir, mengkhayal, saya bisa menangkap suatu kenikmatan, saya bisa berkhayal dari situ. Dan resikonya tidak ada, nah dari situ saya mulai menikmati tanpa resiko, saya bisa berkhayal. Ya terus terang sebelum kehidupan saya yang sekarang ini sebelum pertobatan, saya berkhayal itu suatu keindahan buat hidup saya dulu. Jadi di dalam setiap suasana kalau saya ingin merasakan indahnya hidup ini saya harus berkhayal, memakai terus berkhayal dan itu paling mudah dan paling menyenangkan.
GS : Apakah Pak James pernah mengkonsumsi misalnya mariyuana atau LSD?

RJ : LSD sendiri saya belum pernah pakai, tetapi saya pernah memakai sejenis jamur yang dikenal "magic mushroom". Dan saya waktu itu memakainya dengan seorang rekan dari Amerika. Ketika itu ia mensharingkan dia pernah memakai lexit atau reaksi lexit seperti itu cuma masalahnya lexit itu lebih kuat dari magic mushroom tapi inilah lexit ini rasanya seperti ini.

Jadi saya pikir mungkin kandungannya sama dan itu bukan hanya satu teman saja, beberapa teman dari Perancis, Amerika, Inggris karena di Sumatra dulu tempat saya tinggal juga banyak sekali magic mushroom dan saya mengkonsumsinya bersama mereka dan mereka yang pernah memakai mensharingkan beginilah reaksinya penuh halusinasi.
GS : Apakah itu dilakukan tiap-tiap hari atau 2 hari sekali atau bagaimana Pak?

RJ : Ketika saya tinggal di Sumatra, saya lakukan dalam seminggu itu hampir setiap hari minimal 4 hari atau 5 hari. Sampai saya dipanggil Mr. Mushroom karena memang sangat murah sekali dan mdah untuk mendapatkannya.

PG : Pak James selain dari mushroom, mariyuana yang adalah ganja apakah ada obat-obat lain yang Pak James juga konsumsi?

RJ : Tahap kedua setelah mariyuana atau ganja saya mengkonsumsi obat, obat-obat daftar G. Jadi bagi saya pribadi, narkoba itu ada kelas-kelasnya, kalau di kampung mereka tidak mengenal obat-bat daftar G.

Mereka hanya mengenal ganja dengan minuman keras. Karena waktu itu obat-obatan daftar G termasuk permainan anak-anak 'the haves', di atas permainan anak-anak di kampung seperti saya. Jadi setelah di sekolah saya berjumpa dengan anak-anak, siapa saja yang lingkungannya lebih dari lingkungan saya di situ saya mulai mengenal obat-obatan daftar G. Saya pertama kenal namanya BK kemudian meningkat kelas 2 sampai kelas 3 SMP mulai kenal mogadon dari rogert dan selanjutnya setelah lepas dari SMP mulai kenal dengan rohipnol, lexotan, valium, etalium.

PG : Dan akhirnya apakah Pak James pernah menggunakan sabu-sabu, ekstasi dan sebagainya?

RJ : Mengenai obat Pak saya rasa belum selesai. Di kala saya memakai obat, saya lebih berani di dalam kehidupan saya, nah segi enaknya itu kalau kita memerlukan suatu kenekatan kita cenderun untuk memakai obat.

Tapi kalau kita ingin slow, berkhayal, ingin enjoy saya cenderung memilih pakai mariyuana atau ganja. Tapi misalnya kalau saya harus ke rumah cewek atau saya harus menghadapi kakak saya yang mau marah, saya harus menghadapi orang tua saya karena saya baru saja melakukan dosa, nah untuk mengaturnya saya minum tidak terlalu banyak. Tetapi untuk menaikkan mental saya dalam persidangan saya di depan keluarga saya pakai obat, sebab kalau pakai minuman baunya ketahuan, memang reaksinya sama-sama berani cuma obat itu tidak bau dan saya rasa lebih berani, terus perasaan kita diatur sedemikian rupa sehingga kita bisa bicara lebih meyakinkan terhadap diri sendiri.

PG : Apa dampak negatif dari obat pada kehidupan Pak James?

RJ : Pertama 'lost control' Pak, itu sering terjadi di dalam kehidupan saya ketika saya memakai obat. Saya dulu sering memakai ganja, saya ingin variasi karena kalau memakai ganja terlalu slw, seperti lama-lama saya ini mati lemas.

Saya ingin suatu variasi yang baru yang lebih bergairah hidup ini. Nah saya janji dalam diri saya, satu minggu ini saya mau memakai obat dulu untuk selingan hidup supaya jangan terlalu loyo, saya beli 3 plek istilah kita itu 3 plek, isinya 10, itu untuk satu minggu saya minum 2 setiap hari. Tapi dalam kenyataannya 2 sekarang saya minum saya bisa kontrol dan semuanya indah bagi saya, saya berbicara juga lancar perasaan enak. Besoknya 2 masih bisa tapi besoknya lagi hari ke 3, ke 4, 2 tidak bisa saya harus meningkatkannya untuk mendapatkan perasaan seperti yang kemarin, saya mulai minum 3, hari ini 3 feeling saya yang kemarin itu ketemu saya masih bisa kontrol dan saya bisa berbicara dengan asyik dan semuanya tidak ada masalah. Tapi hari berikutnya saya minum 3 feeling yang kemarin kok tidak saya temukan sepertinya kurang saya tambah lagi 5, 6, obat itu sudah mau habis, janji saya ini 3 plek habis saya sudah stop saya mau balik ke ganja, mau slow lagi. Tapi barang itu sudah mau habis tinggal 5 butir lagi e.....sudah mulai cari lagi. Jadi saya sudah lepas kontrol dan dari situ saya sudah tidak bisa lagi berhenti minum obat, nanti sampai suatu saat ada masalah karena memang setiap kali saya minum obat pasti ada masalah. Nah suatu saat ada masalah yang menghentikan saya dan nanti terulang lagi setelah stop saya sudah bertekad tidak mau pakai, obat-obat ini membuat lost control lebih baik 'cimeng' atau ganja ini yang bisa slow-slow saja. Memakai ganja, ganja, ganja terus nanti saya akan suntuk lagi dan tekad saya yang dulu sudah saya lupakan lagi. Memang ketika saya baru terkena masalah karena obat terus saya bertekad mau pakai ganja saja yang lebih slow lebih tidak ada masalah dan kita bisa enjoy. Ketika saya melihat teman-teman pakai obat saya betul-betul merendahkan dia, wah....kamu belum kena batunya nanti kalau sudah kena batunya minum obat kamu baru jera. Tapi kenyataannya setelah saya suntuk karena terus memakai ganja sepertinya darah kita ini tidak pernah bergolak lagi saya akan mencoba lagi dengan tekad lebih keras lagi kalau kali ini saya akan kontrol. Tapi dalam faktanya pasti terjadi seperti yang sudah-sudah dan itu sudah beberapa kali dalam hidup saya.
GS : Nah akhirnya bagaimana Pak James bisa melepaskan diri atau bagaimana pengalaman Pak James lepas dari ikatan seperti itu?

RJ : Saya memakai obat ketika saya remaja, setelah dewasa saya meningkat menjadi bandar ganja besar-besaran karena saya dari Jakarta pernah ke danau Toba, hidup di danau Toba di dunia pariwiata dan mempunyai relasi sampai dengan petani-petani yang digunungnya itu.

Jadi ketika saya tertangkap di danau Toba akhirnya saya ke Bali. Di Bali tekad saya sebetulnya mau mencari pekerjaan yang lain, tidak bandar narkoba lagi karena trauma di pukul aparat, tapi kenyataannya setelah Tuhan memberi berkat kehidupan di Bali, ada uang masuk lancar dan saya terseret lagi. Karena memang di sekeliling saya juga orang pemakai narkoba. Di Bali saya memakai ekstasi, sejak di danau Toba saya memakai ekstasi sabu-sabu dan hases, jadi di Bali saya betul-betul kalau istilah kami preman, nama saya itu sudah bau istilahnya nama saya sudah tercium semua lapisan aparat. Karena di Bali sendiri yang beroperasi yang mengurusi anak-anak narkoba, anak-anak jalanan itu bukan cuma polisi saja, tentara juga turut campur menertibkan. Jadi di polisi, di tentara saya sudah dicium dan dari situ saya keluar dari Bali ke Jawa. Tapi di Jawa ini saya membawa barang juga dari Bali, nah di Jawa ini akhirnya saya pulang ke Jakarta, pulang ke Jakarta saya mengenal obat lagi lexotan 12 dan akhirnya saya kacau di Jakarta. Suatu saat saya ingin enjoy di Malang karena dulu saya pernah SMA di Malang, saya berpikir bahwa saya dulu di Malang bisa menguasai medan karena memang dulu Malang sekitar tahun '84 masih belum besar. Image saya tentang Malang masih seperti dulu, saya berpikir kalau saya jadi preman terjun di Malang saya bisa menguasai medan, saya tahu Malang, saya tahu orang-orang yang sudah kompeten di dunia preman di Malang. Saya datang ke Malang dengan tujuan untuk bisa hidup sebagai preman yang lebih mapan dan lebih berkecukupan karena saya berpikir saya bisa menguasai medan di Malang. Tapi kenyataannya saya tinggal di suatu rumah, rumah ini adalah rumah tetangga saya di Jakarta dan saudara saya yang mempunyai rumah ini adalah jemaat dari satu gereja yaitu Gereja Eleos Malang dan dia di situ sering mengikuti kebaktian komisi pemuda di gereja Eleos Malang. Pada suatu hari dia mengajak saya untuk kebaktian di gereja bersamanya dan pada dasarnya saya memang Kristen, dari kecil saya juga sudah kenal Tuhan Yesus di sekolah minggu dan kalau selama ini saya tidak pernah ke gereja bukan berarti saya anti gereja. Akhirnya saya ikut kebaktian, sebelum saya mengikuti kebaktian, seperti saya katakan saya pergi ke Malang karena saya ada masalah dengan keluarga. Di situ setelah saya memakai obat lexotan 12 berlebihan saya mempunyai masalah dan masalah itu sampai ke masalah orang tua saya. Dan kalau saya ingat pada saat di Malang saya mengingat sekali bahwa saya itu sudah begitu merugikan keluarga khususnya orang tua saya, karena pada saat itu orang tua saya tinggal ibu saja, bapak sudah tidak ada. Jadi memang kalau dikatakan bertobat, belum, tetapi saya tidak seganas waktu masih di Jakarta terakhir waktu minum obat, saya di Malang berusaha menata diri untuk hidup lebih baik setelah reaksi obat yang sekian lama saya pakai secara kontinu itu reaksinya sudah agak menurun. Di Malang saya berusaha mengintrospeksi khususnya saya fokuskan ke orang tua saya dan ke keluarga saya yang begitu sudah saya rugikan selama ini. Nah hal ini ditunjang lagi dengan teman saya mengajak ke gereja, nah di situ saya seperti di dunia asing Pak, saya melihat pemuda-pemuda umur 20-21 paling tua itu umur 25 mereka melayani Tuhan ada yang mengambil kolekte, ada yang introitus, ada yang liturgi, ada yang terima tamu, ini pengalaman saya pribadi masuk gereja. Saya sepertinya dirangkul itu ya dari pertamanya saya sudah ada respek terhadap kebaktian ini; kedua, karena respek itu terus saya jadi terkesan dengan apa yang mereka perbuat, saya jadi peduli dengan apa yang mereka perbuat, saya perhatikan semua jadinya. Pada saat itu saya diberi kesempatan untuk bersaksi dan saya begitu tergerak untuk berdiri dan bersaksi. Saya bersaksi di situ bahwa saya betul-betul merasa orang yang tidak ada artinya sama sekali, selama hidup saya belum pernah mempunyai arti, mereka yang begitu muda sudah menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya berpikir, mereka tidak mengenal kepuasan dalam hidup mereka, mereka masih muda tapi mereka sudah bertekad mau menyerahkan diri pada Tuhan. Sementara saya yang sudah puas yang sudah merasakan semuanya belum juga mau untuk hidup buat Tuhan, saya berpikir saya harus merubah diri saya, saya mau hidup saya lebih berarti khususnya buat Tuhan. Pertamanya memang bukan firman Tuhan dasarnya, hanya saya berpikir hidup saya ini buat apa? Saya waktu itu belum mengenal firman Tuhan, hidup saya ini buat apa, terakhirnya buat apa hidup saya ini. Nah kemudian setelah kebaktian itu saya langsung datang ke hamba Tuhan yang membawakan firman, saya katakan, tolong saya, saya mau bertobat. Tapi di dalam kenyataannya sepanjang kehidupan saya berbuat dosa itu saya sering mau bertobat, sering mau bertobat dan bertobat itu paling lama 2 bulan, 1 bulan. Secara pelan-pelan, perlahan demi perlahan saya akan kembali ke dunia saya dan batasannya itu saya tidak tahu. Saya terseret secara perlahan-lahan itu akan kembali lagi, saya bertanya kepada hamba Tuhan itu, mengapa saya bisa begitu dan kali ini saya ingin bertobat tidak seperti yang sebelum-sebelumnya saya ingin bertobat, untuk betul-betul bertobat tidak bisa kembali lagi. Nah hamba Tuhan itu memberikan kepada saya Firman Tuhan yaitu tentang kembalinya roh jahat, di situ saya digambarkan kalau saya bertobat hanya untuk motivasinya untuk memperbaiki diri dengan sekeliling saya, untuk orang tua, untuk keluarga itu adalah bukan pertobatan yang sesungguhnya dan saya akan bisa kembali lagi, karena apa? Kalau saya betul-betul mau bertobat saya harus mengisi pertobatan saya dengan Firman Tuhan sehingga iblis tidak akan pernah kembali ke dalam diri saya dan itulah pertobatan, hanya boleh terjadi atas pertolongan Tuhan dan harus diisi setiap hari dengan Firman Tuhan.

GS : Tentu suatu pengalaman yang sangat menarik Pak James dan para pendengar kita pasti akan penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana Tuhan itu membebaskan Pak James. Dan tentunya kita mengharapkan Pak James bisa melanjutkan pembicaraan ini pada kesempatan yang akan datang. Dan kami tentu saja mengharapkan saudara-saudara pecinta acara Telaga ini bisa mengikuti terus acara Telaga pada kesempatan yang akan datang. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran dan pertanyaan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih.



28. Bahaya Narkoba


Info:

Nara Sumber: Rudi James Simanjuntak
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T082B (File MP3 T082B)


Abstrak:

Narkoba menjadi sesuatu yang sangat menguasai seseorang, narkoba menjadi makna atau arti hidupnya dan di luar narkoba benar-benar tidak ada lagi kebahagiaan atau makna hidup yang dicarinya. Dan yang mengatur hidupnya bukan lagi Tuhan, bukan lagi hati nurani, bukan lagi hukum dari Tuhan, tapi kehendak pribadi.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kali ini akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan tentang bahaya narkoba dan untuk itu telah hadir di studio bersama kami Bp. Rudi James Simanjuntak yang pada kesempatan yang lalu sudah menguraikan tentang pengalamannya bagaimana Tuhan membebaskan dia dari kuasa pengaruh narkoba ini. Perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang lalu dan kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak James, kami senang bisa melanjutkan perbincangan kita beberapa waktu yang lalu tentang bagaimana Tuhan membebaskan Pak James; tetapi supaya para pendengar kita yang baru kali ini mengikuti perbincangan ini bisa memahami latar belakang Pak James. Apakah Pak James secara singkat bisa menjelaskan kembali bagaimana Pak James bisa dibelenggu oleh kuasa narkoba itu.

RJ : Terima kasih Pak, seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya sebetulnya saya terbelenggu itu oleh karena saya memilih suatu kelompok anak-anak nakal untuk menjadi teman saya. Latar belakan saya memilih mereka karena saya perlu rasa aman di dalam saya bergaul dengan sesama sebaya saya, tetapi kelanjutan daripada itu setelah saya terjerumus di dalam kehidupan anak-anak nakal dan mencoba dengan memakai alat-alat narkoba atau mengkonsumsi narkoba.

Perkembangan selanjutnya bahwa saya mempunyai pemikiran yang sangat salah pada saat itu, bahwa saya punya persepsi kalau saya sudah memakai narkoba saya ini mempunyai kelebihan di antara teman-teman sebaya saya. Saya mungkin hidup saya lebih modern atau saya mungkin lebih "go international" dengan saya memakai narkoba. Ketika saya masih SMP saya mempunyai idola seperti Mike Jagger dan Genesis group-group band dari luar itu juga mempengaruhi saya bagaimana saya bisa sampai terjun untuk mengkonsumsi narkoba. Saya waktu itu berpersepsi bahwa kalau saya memakai narkoba saya itu sudah lebih dari teman-teman saya dan saya bisa menyombongkan diri dengan semua itu tapi sesungguhnya setelah saya menyadari sekarang, bahwa itu adalah suatu pikiran yang semu atau kebahagiaan yang semu atau kepuasan yang semu yang pada saat itu saya cari atau saya capai.

PG : Pak James menceritakan bahwa Pak James sudah memakai berjenis-jenis obat ya misalnya seperti mariyuana atau ganja juga bermacam-macam pil seperti BK dan sebagainya, memakai hases, memakai abu-sabu tapi dalam kehidupan Pak James yang dikuasai oleh narkoba itu selama bertahun-tahun memakai berjenis-jenis obat akhirnya Pak James bisa lepas.

Sesuatu yang secara manusiawi itu hampir mustahil, karena begitu sedikit orang yang berhasil lepas, banyak yang mencoba, banyak yang ingin lepas tetapi tidak bisa melepaskan diri. Pak James bisa tolong ceritakan pergumulan Pak James akhirnya bisa sungguh-sungguh lepas dari kuasa narkoba ini.

RJ : Betul sekali ya Pak, di kala saya masih menggunakan narkoba itu saya bukan tidak pernah berpikir untuk melepaskan diri. Kadang-kadang di saat saya tidak bisa tidur atau di saat saya jemu dngan kehidupan saya yang memang kotor, saya berpikir untuk bisa melepaskan diri dari semuanya ini.

Tetapi saya sendiri tidak bisa menemukan jalan cuma sebatas keinginan, kerinduan untuk bisa hidup normal seperti manusia-manusia lain. Karena pada saat itu saya sungguh-sungguh merasa hidup saya itu tidak normal lagi dan tidak layak seperti manusia-manusia biasanya. Dan saya merindukan untuk bisa hidup normal kembali tidak terikat dengan narkoba, tidak diperbudak narkoba dengan segala sesuatu kehidupan saya orientednya itu hanya pada narkoba. Baik itu materi hanya saya arahkan untuk narkoba, baik itu waktu saya, baik itu keinginan saya semua saya arahkan hanya untuk narkoba. Nah saya sesungguhnya ingin lepas dari semua itu karena walaupun bagaimana saya manusia pernah juga walaupun saya mengkonsumsi narkoba setiap hari saya pernah juga sadar, yang paling sering itu waktu bangun tidur. Ketika saya bangun tidur di situ kesuntukan menghinggapi saya, sebagai seorang yang diperbudak narkoba, yang diperbudak dengan kehidupan yang tidak teratur dan kacau ada kerinduan untuk hidup normal apalagi kalau kita melihat atau berhubungan dengan orang-orang lain yang mempunyai kehidupan lebih teratur. Seperti misalnya kalau kita melihat di TV ada orang-orang berhasil, atau di sekolah kita atau di lingkungan kita ada orang-orang yang berhasil atau keluarga teman kita kalau kita melihat hidup mereka normal. Di situ terselip walaupun cuma sedikit, kehidupan saya ini hancur sekali saya ingin normal kembali tapi jalannya saya tidak tahu bagaimana caranya. Dan selalu menjadi pertanyaan saya apakah saya bisa tidak memakai ganja? Apakah saya bisa hidup jujur, apakah saya bisa hidup teratur, itu selalu menghantui saya sampai suatu saat seperti yang sudah saya uraikan di depan pertemuan kita yang lalu. Bahwa saya ditangkap Tuhan di gereja setelah saya diberi contoh oleh Tuhan bagaimana sebagai manusia harus mengabdi kepada Tuhan dan melayani sesamanya atau beribadah kepada Tuhan. Di situ hati saya betul-betul tersentuh sampai saya menghampiri hamba Tuhan untuk minta pertolongan bagaimana supaya saya betul-betul, sungguh-sungguh bertobat dalam arti yang sesungguhnya. Dan akhirnya hamba Tuhan itu memberikan saya Firman Tuhan dan menerangkan Firman Tuhan itu secara gamblang bahwa pertobatan itu tidak boleh hanya di muka saja, tetapi pertobatan harus diikuti dengan pembacaan Firman Tuhan, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan melalui mengikuti Firman Tuhan. Dan dari situ pertobatan, di situ diberi suatu ayat di mana iblis yang sudah meninggalkan kita, yang sudah meninggalkan hati kita, ketika kita sudah commit mau bertobat tetapi ketika melihat lagi di dalam hati kita kosong tidak ada Yesus Kristusnya dan dia akan memanggil 7 iblis lagi untuk tinggal di dalam hati kita dan kita akan lebih jahat. Dan kesimpulan yang saya tangkap kalau saya mau bertobat saya harus betul-betul selamanya tidak boleh meninggalkan Tuhan, supaya iblis tidak bisa merenggut saya lagi. Dan kemudian dari situ saya bukannya langsung percaya atau langsung kuat iman saya, tapi tetap saya berpikir, saya meragukan apakah saya bisa seperti itu, bagaimana caranya saya bisa meninggalkan rokok, narkoba, minum-minuman keras dan kehidupan dunia lain yang tidak berkenan dengan Firman Tuhan, saya di situ masih ragu dan saya kembali konseling dengan hamba Tuhan itu saya pikir itu hanya idealisme bagi diri saya, saya tidak bisa melakukannya. Dan kembali hamba Tuhan itu memberikan Firman Tuhan kepada saya tentang bagaimana Tuhan memandang saya, Tuhan tidak memandang saya sebagai seseorang yang sudah kena narkoba. Tuhan tidak memandang saya sebagai orang yang sudah begitu kotor, sekotor-kotornya saya tapi Tuhan memandang saya sebagai hal yang berharga di mataNya dan Tuhan ingin saya kembali hidup sesuai dengan kehendakNya. Tuhan ingin mengangkat saya dari dosa yang sudah membelenggu saya sekian lama dan saya sendiri tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri. Hanya Tuhan yang bisa menolong, tidak ada lain, tidak dirimu, tidak lingkunganmu, tidak keluargamu, tidak orang tuamu, hanya Tuhan. Dan hamba Tuhan itu mengingatkan saya tentang Firman Tuhan itu. Tuhan juga menuntun saya, pada suatu hari ke suatu Sekolah Theologia di mana dalam acara ulang tahun gereja ada kegiatan pemuda melaksanakan olah raga dan olah raga itu dilaksanakan di suatu Sekolah Theologia, kita meminjam lapangan untuk acara-acara pemuda melaksanakan perlombaan dalam rangka ulang tahun gereja dan saya ikut di dalamnya. Kemudian dari situ Tuhan membuka hati saya, membuka jalan bagi saya bagaimana supaya saya sungguh-sungguh hidup setiap hari dengan Firman Tuhan, mengisi hidup saya dengan Firman Tuhan, mengisi hidup saya dengan melayani Tuhan, mengisi hidup saya setiap hari untuk berhubungan dengan Tuhan, bagaimana caranya saya bisa hidup sedemikian rupa dan saya berpikir ini Tuhan tunjukkan jalan bagi saya, dan dalam hati saya, saya bertekad saya ingin lebih mempertajam diri saya tentang Firman Tuhan, supaya saya boleh hidup melakukannya dan minta pertolongan dengan jalan saya dekat hidup dengan Tuhan. Dan pada saat itu saya pikir saya pribadi menganggap bahwa itu mungkin jalan Tuhan bagi saya.
GS : Nah, Pak James apakah Pak James serta merta atau seketika itu juga meninggalkan semua kebiasaan menggunakan narkoba itu?

RJ : Setelah saya mengikuti kegiatan gereja saya sudah melepas semua narkoba tetapi saya masih merokok. Tetapi satu hal yang menjadi ganjalan saya, sebelum saya bertobat saya membawa banyak ala-alat narkoba yaitu jenis obat lexotan 12 dan sejumlah ganja dan saya waktu itu mendropnya ke salah seorang teman saya di Sekolah Tinggi di Malang di Universitas Swasta di Malang dan dia harus setor ke saya.

Jadi ketika saya sudah bertobat setorannya itu belum lunas, jadi itu yang masih menjadi batu sandungan bagi saya bahwa memang saya sudah tidak menggunakan, tetapi saya masih punya barang itu. Dan dia mempunyai kewajiban untuk setor sejumlah uang kepada saya karena itu barang saya, dia mengedarkannya bagi saya. Tetapi kemudian setelah mengikuti acara di gereja itu, di Sekolah Tinggi Theologia dari situ saya tidak pernah menagih dia, dan dalam jangka waktu seminggu bisa berjumpa dua kali, tiga kali dia datang ke tempat saya tinggal, saya tidak pernah menagih lagi dan sampai sekarang juga saya tidak pernah menagih lagi dan barang itu juga tidak saya minta lagi. Jadi masih tinggal rokok saja waktu itu, merokok kemudian setelah saya bertekad saya mau melayani Tuhan, untuk itu saya harus membekali diri dan saya mau masuk ke Sekolah Tinggi Theologia dan saya memilih STT Salem, kebetulan memang Tuhan menunjukkan jalan ke situ. Setelah saya mengisi formulir, mengisi formulir tentang masuk STT Salem; di dalam formulir itu ada beberapa perjanjian dan terakhir dari perjanjian itu dikatakan bahwa semua perjanjian yang Anda lakukan di atas bukan perjanjian manusia dengan manusia, tetapi dengan Tuhan. Jadi setelah saya mengisi formulir itu saya melepaskan semua rokok, saya melepaskan semua yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan di situ baru total semuanya tidak dilakukan, rokok, narkoba tidak lagi.
GS : Setelah lepas dari semua itu apakah Pak James juga merasa gelisah atau lemas atau apa?

RJ : Ya inilah yang akan saya saksikan yang sebetulnya yang terutama sekali, ini beberapa kali saya saksikan di gereja maupun di perkumpulan-perkumpulan camp bahwa bagaimana saya bisa lepas, bgaimana karya Tuhan kepada saya.

Secara logika secara medis, sekian puluh tahun saya memakai narkoba dan selama ini kalau ada istilah barang putus kita tidak bisa dapat barang mungkin karena bandarnya yang digerebek polisi atau mungkin supply barang itu tidak ada atau mungkin juga uang kita yang tidak ada. Dalam kondisi barang putus kita tidak bisa untuk tidak memakai barang dalam jangka waktu 2 hari atau 1 hari saja, itu hidup akan kacau, saya tidak bisa berdamai dengan siapapun dan saya akan hidup meletup-letup dan saya tidak bisa mengerjakan apapun juga di dalam kehidupan saya. Dan saya hanya berpikir bagaimana untuk bisa menenangkan diri saya untuk menjangkau narkoba dan mengkonsumsinya. Tetapi secara nyata saya tidak terasa, setelah saya menjalani kehidupan di STT Salem saya merenungkan dan saya membandingkan bagaimana reaksi anak-anak yang kena putauw, yang lagi sakau, yang lagi stres, yang menjerit-jerit, yang memukul orang, yang biarpun tidak ada masalah asal orang berbunyi suara apapun langsung pukul itu reaksi semua yang dulu saya pernah lakukan dan saya pernah rasakan. Dan tidak bisa mengerjakan apapun, sekalipun hanya mencuci piring atau menyapu lantai ukuran 3x4, 4x4 itu tidak akan bisa saya lakukan. Tapi setelah saya membaca Firman Tuhan, mengikuti pelajaran-pelajaran tentang Firman Tuhan, mendekatkan diri dengan Tuhan, saat teduh setiap pagi, saya benar-benar merasakan inilah karya Tuhan kepada saya, saya tidak merasakan seperti yang dulu lagi, saya tidak sakau. Kalau saya melihat TV ada acara tentang sakau, tentang apa di koran tentang orang-orang narkoba yang sakau, yang paranoid atau apa itu semua sudah tidak ada lagi pada saya.

PG : Itu sebabnya Pak James selalu menekankan kuasa Tuhan, ya Pak James?

RJ : Ya dan itu memang nyata, nyata sekali saya juga sudah konsultasi dengan beberapa orang yang berkompeten seperti tenaga-tenaga medis itu bagaimana Pak tentang saya dan mereka juga jarang bia menerangkannya.

Karena memang reaksinya sebetulnya minimal itu di dalam emosional kita ada, tetapi dalam hidup saya, saya tidak pernah merasakan itu. Memang sebelum saya bertobat, seperti yang saya terangkan tadi saya pernah juga tidak memakai obat tapi reaksinya seperti yang saya terangkan itu, saya akan meletup-letup, saya akan memukul orang sembarangan, hidup saya akan kacau dan tidak bisa mengerjakan apa-apa. Dan fokus hidup saya hanya untuk satu masalah bagaimana saya bisa dapat, bagaimana caranya saya bisa menikmati.

PG : Mungkin saja Pak James di antara yang mendengarkan kita sekarang ini adalah orang yang sedang bergumul dengan narkoba. Orang yang seperti Pak James dulu, yakni ingin lepas tapi tak bisa lepas, tidak tahu jalan keluarnya apa nasihat Pak James bagi mereka?

RJ : Ya seperti saya katakan tadi bahwa saya juga mengalami seperti yang Pak Paul katakan tidak tahu jalan keluarnya, memang kita ini manusia selalu cenderung mengikuti keinginan kita. Saya tidk tahu jalan keluarnya bagaimana sampai Tuhan sendiri menunjukkan kepada kita.

Saya sudah mengatakan hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Jadi dengan perkataan saya, hanya Tuhan yang bisa menolong kita, kalau memang saudara-saudara yang kebetulan memang masih terbelenggu, saya pikir memang tidak ada jalan selain ke Tuhan. Mari kita menghadap kepada Tuhan, kita berdoa dengan sungguh-sungguh, kita mencari kehendakNya melalui FirmanNya karena Tuhan selalu menunjukkan jalanNya kepada kita melalui FirmanNya itu saya yakinkan dalam diri saya, saya aminkan. Saya selama ini berhubungan dengan Tuhan selain dengan doa, saya selalu membaca Firman Tuhan dari situ saya tahu kehendak Tuhan, apa yang Tuhan mau kita lakukan. Nah di sini juga kalau saudara-saudaraku yang masih terbelenggu di dalam belenggu narkoba, kalau saudara-saudara betul-betul sungguh-sungguh mempunyai kerinduan untuk dibebaskan dan untuk hidup normal, untuk hidup berguna bagi Tuhan, bagi bangsa dan bagi sekeliling saudara-saudara, saudara boleh memulainya dengan berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati menyerahkan diri dengan segala kerendahan hati dan saudara harus komitmen di dalam diri saudara, saudara mau menuruti apa yang Tuhan perintahkan bagi saudara, saudara boleh membuka Kitab Suci, saudara boleh mencari kehendak Tuhan apa yang Tuhan mau saudara lakukan di dalam hidup saudara selanjutnya.
GS : Saya rasa himbauan atau seruan yang disampaikan oleh Pak James ini sangat-sangat penting Pak Paul, karena saya percaya banyak orang yang terbelenggu seperti itu, nah Pak Paul masalahnya adalah bagaimana dampak yang diakibatkan oleh narkoba itu dalam diri seseorang untuk jangka panjang?

PG : Saya melihat dampaknya mempunyai beberapa dimensi. Yang pertama adalah narkoba akan menguasai jiwanya, sehingga dalam diri orang tersebut tidak ada lagi hal yang penting selain narkoba. Tuuan hidupnya hanyalah satu yakni memperoleh narkoba, narkoba menjadi jawaban hidupnya, problemnya.

Narkoba menjadi makna atau arti hidupnya dan di luar narkoba benar-benar tidak ada lagi kebahagiaan atau makna hidup yang dicarinya. Sampai sebegitu besarnya kuasa narkoba dalam jiwa seseorang. Ini berarti kalau dia mempunyai keluarga, keluarganya tidak akan lagi menempati posisi yang penting dalam kehidupannya. Kalau dia mempunyai anak, anak itu tidak akan menjadi orang yang disayangi atau penting bagi dirinya, semua adalah nomor 2, narkoba adalah nomor 1. Yang berikutnya secara sosial dia akan bergaul dengan orang, tapi dia akan sulit sekali mengembangkan suatu persahabatan yang dalam, yang tulus, yang sehat dengan orang lain. Persahabatan-persahabatan yang dijalinnya merupakan persahabatan dalam rangka memperoleh narkoba supaya supply narkoba tetap bisa terjamin dalam kehidupannya. Sehingga persahabatan itu tidak lagi di dapatinya, yang ada adalah suatu korporasi suatu usaha bersama untuk saling mensupply kebutuhan akan narkoba tersebut. Secara fisik, otak kita yang dimasuki oleh obat, tubuh kita yang dimasuki oleh obat dan obat-obat itu sendiripun bukanlah obat yang murni. Memang beberapa jenis obat yang kita tadi sudah dengarkan berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya seperti ganja ya adalah dari tumbuhan kanabis, seperti hases itu juga dari tumbuhan, seperti kokain juga dari tumbuhan, memang itu sebagian adalah tumbuh-tumbuhan. Obat-obatan, tranquilizer yang digunakan juga merupakan obat-obat yang berasal dari unsur-unsur kimia. Tapi dalam penggunaan obat yang kita tahu digunakan oleh para pemakai narkoba sebetulnya obat-obat tersebut sudah tercampur dengan unsur-unsur yang kita tidak tahu lagi apa isinya, bisa-bisa itu adalah unsur-unsur yang kotor yang sudah tercemar, yang tidak lagi steril dan itu semua memasuki tubuh seseorang, merusakkan sistem tubuhnya, mempengaruhi senyawa kimiawi di otaknya, itu sebabnya kadangkala muncullah reaksi-reaksi yang benar-benar menakutkan. Misalnya sebagai pengguna sabu-sabu yang begitu parah, seseorang bisa membayangkan, berhalusinasi, melihat hal-hal yang tidak dilihat, merasakan ancaman yang besar terhadap dirinya, dia harus membela dirinya dengan senjata tajam dan sebagainya supaya bayangan akan ancaman tersebut bisa hilang. Jadi benar-benar dia menjadi seseorang yang tidak lagi sehat secara tubuh, secara jasmani karena obat-obat tersebut sudah merusak tubuhnya. Dan secara keuangan, narkoba itu akan menguras keuangan seseorang, memang awalnya memakai yang murah-murah, tetapi seperti Pak James sudah tekankan lama-kelamaan terbentuklah yang disebut toleransi. Artinya sedikit tidak cukup harus lebih, dan harus lebih lagi dan harus lebih lagi guna mendapatkan efek yang pertama-tama diperolehnya. Dan itu berarti kwantitasnya bertambah, kwalitas juga harus bertambah, dari jenis yang ringan ke jenis-jenis yang lebih berat dan akhirnya uang harus lebih banyak dikeluarkan, itu sebabnya para pengguna narkoba akhirnya suka terjebak dalam pembelian dan penjualan narkoba. Supaya bisa mengongkosi kebiasaan memakai narkoba itu sendiri dan akhirnya makin meracuni lebih banyak orang, Karena mereka harus mencari pangsa yang lebih luas lagi karena masing-masing itu perlu pangsa untuk mengongkosi kebiasaan memakai obatnya. Pangsa diperluas berarti lebih banyak saudara kita, teman kita, sahabat kita yang akan juga dirasuk oleh narkoba karena akan lebih banyak orang yang ingin memasarkan narkoba-narkoba ini. Jadi memang dampaknya begitu luas sekali. Dan yang terakhir adalah dampak secara rohani, tidak ada lagi keinginan mau dekat dengan Tuhan, karena tahu ini salah Tuhan tidak menyetujui perbuatan ini, nah akhirnya makin jauh dari Tuhan dan waktu orang makin jauh dari Tuhan, dia makin dekat dengan yang kita sebut hasrat atau nafsu. Dengan perkataan lain yang mengatur hidupnya bukan lagi Tuhan, bukan lagi hati nurani, bukan lagi hukum dari Tuhan, tapi kehendak pribadi. Apa yang diri sendiri pikirkan baik itu yang akan dia lakukan, jadi benar-benar kita melihat begitu besar dampak narkoba yang bisa ditimbulkan.
GS : Nah, Pak Paul daripada seseorang itu terlanjur dikuasai oleh narkoba, apa yang Pak Paul ingin sampaikan kepada para pendengar kita yang belum, artinya keinginan untuk coba-coba itu ada, Pak Paul?

PG : Saya harus kembali ke pokok yang pertama yaitu pokok keluarga, Pak Gunawan. Sebagaimana telah disaksikan oleh saudara kita, Pak James, ternyata memang dalam keluarga yang tidak memberikan erhatian dan pengawasan yang cukup kepada anak, anak-anak lebih berpeluang untuk akhirnya melakukan eksperimentasi dengan narkoba.

Dalam keluarga yang lebih dekat memberikan perhatian yang lebih penuh terhadap anak-anak, pengawasan akan lebih terjamin sehingga perilaku yang akhirnya menyimpang tersebut bisa lebih dideteksi lebih awal, itu yang pertama. Yang kedua adalah keluarga yang erat yang penuh kasih sayang akan lebih menanamkan penghargaan diri yang sehat pada anak sehingga dia tidak perlu merasa tidak aman, dia tidak perlu merasa harus lari kepada orang lain guna mencari keamanan, dia bisa kembali kepada keluarga sendiri, kepada orang tua mendapatkan keamanan tersebut jadi itu faktor yang berikutnya. Selanjutnya adalah anak-anak memang pada masa remaja terutama menginginkan lingkungan yang bisa menerimanya, nah di sini orang tua penting sekali memberikan pengawasan yang ketat dengan siapakah anak-anaknya bergaul, jangan sampai si anak bergaul dengan orang-orang yang salah. Kalau mulai bergaul dengan orang-orang yang salah dan orang tua tahu, orang tua bisa langsung mencegahnya. Nah si anak perlu diberitahu kenapa teman yang seperti ini jangan menjadi temannya, bahayanya apa itu harus dijelaskan dan diberikan pengawasan. Dari kesaksian Pak James kita juga bisa ketahui bahwa dalam pertumbuhan Pak James memang Pak James hidup dalam lingkungan yang keras. Nah, bagaimanakah bisa keluar dari lingkungan yang keras itu, tidak bisa tidak memang Pak James harus misalkan waktu ke gereja terlibat dalam pelayanan di gereja, harus terlibat dalam lingkungan yang lain, tidak bisa kembali pada lingkungan yang sama. Pergaulan itu harus di luar dari lingkungan hidup yang keras dan memang penuh penyimpangan tersebut. Dengan cara itulah Pak James bisa atau kita semuanya bisa membangun kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita di dalam lingkungan itu. Nah mudah-mudahan dengan lingkungan yang baru, yang lebih sehat itulah kita bisa lebih membangun diri yang positif. Nah, kalau misalkan sudah terlibat sudah akhirnya susah melepaskan diri, langkah yang tadi sudah dikatakan Pak James adalah harus mengambil suatu sikap, meskipun sudah pernah gagal, meskipun sudah pernah bertobat tetapi kemudian jatuh kembali, jangan putus asa. Pak James bersaksi Pak James pernah berkali-kali bertobat minta ampun kepada Tuhan mau berubah, tapi kembali lagi, kembali lagi. Mungkin sekali belum cukup, mungkin dua kali belum cukup tapi bisa jadi yang ke tiga kali sudah cukup dan akan bertobat, jadi jangan putus asa terus kembali kepada Tuhan meminta pengampunan dan kekuatanNya.
GS : Tadi kita mendengar langsung dari Pak James bagaimana kuasa Firman Tuhan mengubah kehidupan seseorang, nah tentunya hal yang sama itu juga yang dibutuhkan oleh para pendengar kita, mungkin Pak Paul mau menyampaikan sesuatu dari Firman Tuhan.

PG : Kehidupan Pak James dan kehidupan orang yang telah dibelenggu oleh dosa narkoba ataupun dosa yang lainnya dapat diibaratkan Lazarus; Lazarus yang sudah mati, sudah dikuburkan, tetapi Yesusmempunyai kuasa yang bisa membangkitkan orang yang mati.

Dan di sini dikatakan oleh Firman Tuhan "Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." Bagi para pengguna narkoba mungkin menganggap diri mereka sudah mati, tetapi Yesus berkata: Akulah kebangkitan dan hidup, dia akan hidup walaupun sudah mati, ini pengharapan kita dan pengharapan kita pada Tuhan Yesus tidak sia-sia.

GS : Terima kasih, Pak Paul. Jadi demikian tadi saudara-saudara pendengar kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan Bp. Rudi J. Simanjuntak dari STT Salem dan Bp. Pdt. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami telah berbincang-bincang tentang bahaya narkoba. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



29. Menghadapi Bencana


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T096A (File MP3 T096A)


Abstrak:

Hidup ini tidak selalu bisa kita kuasai, ada hal-hal yang bisa kita kuasai, ada hal-hal yang sangat di luar kuasa kita, bencana adalah salah satunya. Dan biasanya setiap orang melewati tahap-tahap tertentu dalam menghadapi bencana.


Ringkasan:

Hidup ini tidak selalu bisa kita kuasai, ada hal-hal yang bisa kita kuasai, ada hal-hal yang sangat di luar kuasa kita, bencana adalah salah satunya.

Tahap-tahap menghadapi bencana adalah:

  1. Tahap penyangkalan. Kita sangat-sangat shock, terkejut waktu mendengar sesuatu yang menghantam diri kita atau keluarga kita. Jadi reaksi kita adalah reaksi tidak percaya. Waktu kita bereaksi tidak percaya sesungguhnya kita ini sedang dalam proses mencoba menyangkal bahwa itulah yang telah terjadi. Adakalanya memang diperlukan untuk orang itu berdiam dalam proses penyangkalan, sebab pada proses penyangkalan itulah seseorang sebetulnya sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang luar biasa pahitnya.

  2. Kemarahan, adalah reaksi yang juga sering kali dimunculkan pada waktu kita menyadari bencana benar-benar telah menimpa kita. Dalam tahap marah kita biasanya akan menunjuk siapa yang telah bersalah, kita ingin tahu siapa itu yang bertanggung jawab. Apakah itu orang lain, Tuhan atau siapapun yang telah bersalah, dan kadang kalau kita tidak bisa menunjuk orang lain atau Tuhan, akhirnya kita hanya bisa menunjuk kepada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri.

  3. Tahap bernegoisasi, misal dalam kasus seperti penyakit kita bisa bernegoisasi. Kita berkata kepada Tuhan, OK-lah Tuhan, saya mengaku saya pernah salah dulu, saya pernah berdosa dulu, nah sekarang ampuni saya. Saya berjanji kalau saya dibebaskan dari bencana ini, saya tidak jadi kena kanker saya akan menjadi hamba Tuhan, saya akan serahkan anak saya untuk melayani-Mu dsb, kita tawar-menawar. Harapan kita adalah kita akan berhasil membujuk Tuhan agar Tuhan mengurungkan niat-Nya, nah tawar-menawar ini biasanya kita lakukan dengan sungguh-sungguh, kita tadinya benar-benar marah kepada Tuhan sekarang berbalik.

  4. Tahap marah yang berat (depresi), marah di sini adalah marah yang benar-benar terlalu dalam dan tidak bisa lagi diekspresikan seperti pada tahap sebelumnya sehingga akhirnya muncul depresi. Salah satu yang membuat dia depresi berat adalah kenyataan yang dia harus terima bahwa tidak ada jalan lain, tawar-menawar tidak berhasil, tetap menderita penyakit yang sama, bencana benar-benar telah datang dan tidak bisa lagi mengelak.

  5. Tahap kita mengumpulkan kembali hidup kita, kita mengintegrasikan kembali yang telah terjadi baik kerugian atau pun yang tersisa. Jadi benar-benar secara nyata kita melihat kerugian yang harus kita tanggung tapi kita juga masih bisa menghitung yang tersisa pada diri kita atau kehidupan kita. Nah akhirnya kita satukan kembali kepingan-kepingan hidup itu dan memulai hidup yang baru.

Saya akan tutup dengan kesaksian seorang pendeta yang kehilangan anaknya karena kematian. Pendeta ini sering memberikan penghiburan kepada jemaatnya. Jadi jemaatnya ini ingin tahu apa yang dilakukan oleh si pendeta setelah kehilangan anak yang dikasihinya. Ternyata pendeta ini tabah, kuat melewati semuanya dan pada waktu anaknya dikubur, ia berkhotbah atau memberikan kata-kata seperti ini : "Satu besi kalau dilempar ke air akan tenggelam, tapi besi yang dipasang dan dibangun menjadi sebuah kapal akan bisa mengapung." Dia berkata: "Kematian anak saya ibarat satu besi itu, yang kalau dilempar ke laut akan tenggelam. Namun sebetulnya itu adalah satu besi yang Tuhan sedang pakai merancang sebuah kapal yang besar dan kapal itu memang tidak bisa saya lihat sekarang, tapi itu adalah rencana Tuhan."

Ini kesaksian memberikan kita satu penghiburan bahwa apapun yang kita alami, akan ditangani oleh Tuhan dan akan menjadi kebaikan. Kejadian 50:20 berkata: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan." Meskipun jahat, meskipun buruk, Tuhan bisa pakai itu untuk yang baik.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan selama ± 30 menit yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan perbincangan kami kali ini kami beri judul menghadapi bencana, dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kehidupan ini sekalipun kita sudah mencoba mengatur sedemikian baik, antisipasi dan sebagainya tapi yang namanya bencana tiba-tiba bisa saja melanda kehidupan ini. Umumnya reaksi apa saja yang bisa muncul, Pak Paul?

PG : Waktu kita menghadapi bencana tidak bisa tidak, Pak Gunawan, kita akan mengeluarkan beberapa reaksi. Ada seseorang yang bernama Elizabeth Ross, dia mencoba menjabarkan reaksi-reaksi kit terhadap krisis yang datang dengan tiba-tiba.

Memang yang memunculkan diskusi kita pada saat ini adalah yang telah terjadi di kota New York dan Washington, di mana ada sekitar 5000 orang baru saja kehilangan nyawanya akibat tabrakan atau usaha yang dilakukan oleh para teroris untuk menghancurkan kedua gedung World Trade Centre dan juga departemen pertahanan Amerika. Kita tahu akan ada lebih dari 5000 orang yang sedang meratapi karena mereka kehilangan orang-orang yang mereka kasihi, kalau ada 5000 orang yang meninggal berarti ada sekian banyak lagi orang yang sedang menangis kehilangan orang-orang itu, nah ini adalah bencana. Tadi Pak Gunawan sudah memulai dengan mengatakan bahwa hidup ini tidak selalu bisa kita kuasai, ada hal-hal yang bisa kita kuasai, ada hal-hal yang sangat di luar kuasa kita, bencana adalah salah satunya. Reaksi pertama yang biasanya kita keluarkan adalah kita sangat shock, terkejut waktu mendengar sesuatu yang menghantam diri kita atau keluarga kita. Bencana di sini tidak harus berbentuk bencana seperti serangan teroris itu ataupun bencana alam, namun ini bisa juga berupa kabar bahwa kita telah menderita penyakit yang terminal misalnya penyakit kanker atau apa. Nah pada saat pertama kali kita mendengar berita itu, biasanya kita berkata apakah benar, tidak mungkin ini menimpa saya, pasti ada kekeliruan. Jadi saya bisa bayangkan misalnya kita mendengar kabar bahwa pesawat telah jatuh dan mungkin ada salah seorang saudara kita yang ada di pesawat itu, reaksi yang alamiah adalah rasanya bukan dia, mungkin naik pesawat yang lain, atau nama itu bisa sama, orangnya belum tentu sama. Jadi sekali lagi reaksi kita adalah reaksi tidak percaya. Waktu kita bereaksi tidak percaya sesungguhnya kita ini sedang dalam proses mencoba menyangkal bahwa itulah yang telah terjadi. Sebelum kita buru-buru berkata bahwa penyangkalan adalah sesuatu yang tidak sehat, saya harus berkata bahwa adakalanya itulah yang dibutuhkan oleh seseorang. Sebelum dia sampai ke tahap menerima dan sebagainya, dia perlu masuk dulu dan berdiam dalam proses penyangkalan yaitu menyangkal bahwa bencana telah menimpanya. Kenapa saya katakan adakalanya memang diperlukan untuk orang itu berdiam dalam proses penyangkalan, sebab pada proses penyangkalan itulah seseorang sebetulnya sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang luar biasa pahitnya.
GS : Tetapi kadang-kadang itu betul-betul terjadi di depan matanya Pak Paul, jadi misalnya seorang ibu yang menyaksikan anaknya menyeberang dan kemudian tertabrak. Atau beberapa waktu yang lalu kita melihat orang tengah melihat challenger pesawat ulang-alik itu langsung meledak di depan matanya, nah pada kasus-kasus seperti itu apakah orang yang melihat itu masih sempat menyangkal lagi?

PG : Saya kira masih tetap secara mental, kita masih tetap bisa berkata ini adalah impian atau rasanya ini tidak mungkin terjadi. Beberapa waktu yang lalu sudah cukup lama kita pernah mewawacarai dua orang ibu yang kehilangan suami mereka secara mendadak.

Dan saya masih ingat salah seorang ibu itu berkata: bahkan setelah suaminya meninggal dunia, dia yang memeluk suaminya waktu meninggal dunia, dia yang ikut membawa suaminya ke kamar jenazah dan sebagainya. Bahkan pada saat itupun, dia masih tidak mempercayai bahwa suaminya itu telah sungguh-sungguh meninggal. Jadi ini memang proses mental yang bertahap, pada tahap pertama memang seseorang berkata saya tahu dia sudah meninggal, namun rasa saya tahu itu rupanya belum sungguh-sungguh mengendap jadi belum sungguh-sungguh turun ke dalam sanubarinya dan memerlukan waktu untuk benar-benar pengakuan bahwa dia sudah meninggal itu baru bisa dirasakan.

ET : Kadang-kadang juga ada orang yang masih mengharapkan terjadinya mujizat, misalnya berkata pasti akan sembuh, pasti akan selamat, apakah ini juga bagian dari pertama?

PG : Saya kira demikian Ibu Esther, jadi pada saat-saat itu orang masih berpikir kalaupun benar-benar terjadi, pasti akan ada jalan keluarnya, Tuhan tidak akan membiarkan kita melewati ini. isalkan kita didiagnosis menderita kanker, kita masih bisa berkata ini sementara saja nanti Tuhan pasti bisa menyembuhkan, itu salah satu reaksi.

Cuma yang lebih umum adalah kita mengatakan mungkin ada kekeliruan, sering kali itu yang kita katakan, dokter bisa salah, alat-alat medis itu bisa salah, belum tentu. Ya sama juga dengan berita bahwa seseorang telah meninggal dunia dalam perjalanan atau apa tidak mungkin itu saudara kita atau pasti itu orang lain. Jadi memang rupanya tahap tidak percaya itu pasti muncul, jarang ada orang yang langsung bisa mengakui apa adanya. Jadi meskipun secara kognitif, intelektual berkata itu telah terjadi, namun pengakuan tersebut belum sungguh-sungguh mengendap turun.
GS : Katakan tahapan itu sudah dilewati Pak Paul, jadi akhirnya mau tidak mau dia harus menerima kenyataan itu, apa reaksinya?

PG : Biasanya adalah kemarahan Pak Gunawan, nah pada saat kita merekam, kita sekarang sedang menantikan reaksi negara Amerika Serikat terhadap orang yang ditunjuk bertanggung jawab atas usah teroris itu.

Kita tahu bahwa negara atau orang-orang di sana dalam keadaan marah, ingin berbuat sesuatu. Jadi reaksi marah adalah reaksi yang sering kali dimunculkan pada waktu kita benar-benar menyadari bencana telah menimpa kita. Pertama-tama kita ingin menunjuk siapa yang bertanggung jawab atas bencana itu, nah kalau bencana alam sudah tentu kita tidak bisa menunjuk siapa-siapa selain Tuhan. Kita berkata Tuhan Engkau begitu jahat, kenapa Engkau membiarkan ini terjadi, Engkau bisa mencegahnya kenapa Engkau tidak mencegahnya. Kenapa Engkau menguji aku begitu beratnya, kesimpulannya adalah kenapa Engkau begitu kejam, sehingga Engkau menguji aku dengan begitu beratnya. Jadi kita ingin mengidentifikasi, menunjuk siapa yang bertanggung jawab, nah misalkan bencana itu lebih melibatkan manusia lainnya, orang yang kita kasihi ditabrak, kita akan mempunyai kemarahan yang luar biasa terhadap si pelakunya. Atau karena ada kesalahan alat-alat yang mati, alat-alat yang memang dioperasikan terus akhirnya rusak atau apa sehingga terjadi bencana, kita akan benci dan marah terhadap alat-alat tersebut dan tidak mempunyai kepercayaan lagi terhadap alat-alat tersebut. Jadi dalam tahap marah itu kita akan menunjuk siapa yang telah bersalah, kita ingin tahu siapa yang bertanggung jawab. Nah reaksi marah itu akhirnya diikuti dengan tekad, kita mau berbuat sesuatu, kita mau melampiaskan kemarahan kita, sebab kemarahan itu memang energi yang ingin kita keluarkan. Jadi kecenderungannya adalah setelah menunjuk kita ingin berbuat sesuatu untuk melampiaskan kemarahan. Seolah-olah kemarahan kalau sudah dilampiaskan, barulah dibayarkan kerugian akibat bencana tersebut.
GS : Apakah kemarahan itu bisa ditujukan kepada dirinya sendiri, Pak Paul?

PG : Point yang bagus sekali Pak Gunawan, jadi adakalanya sewaktu kita tidak bisa menunjuk orang-orang, Tuhan atau siapapun yang telah bersalah, dan kita hanya bisa menunjuk kepada diri sendri, kita sampai mati akan menyalahkan diri sendiri.

Biasanya terjadi pada orang-orang yang kehilangan orang yang dikasihi, lalu waktu terjadi peristiwa itu memang ada unsur pengabaian atau kelalaian dari pihaknya sendiri. Misalnya seorang yang tanpa sengaja menabrak anaknya sendiri misalnya begitu atau seseorang yang tanpa sengaja membiarkan anak itu di belakang motornya yang tidak begitu kuat memeluknya, sehingga waktu menikung misalnya agak miring akibatnya anak itu terpeleset jatuh, terlempar dari motor dan meninggal dunia atau apa. Nah itu kita tidak bisa salahkan siapa-siapa, kita hanya bisa salahkan diri sendiri. Bisa jadi sampai bertahun-tahun kemudian kita menyalahkan diri sendiri, marah dan benci dengan diri kita.

ET : Dan hal itu tampaknya juga bersifat konflik, Pak Paul. Dalam arti ada orang yang inginnya marah tetapi ketika dia sedang marah yaitu seperti pertentangan antara apa yang dia rasakan denan apa yang dia pikirkan.

Maksudnya secara kognitif dia sudah sepertinya bisa menerima ini memang sudah terjadi, tetapi dia juga ingin marah tapi dalam kemarahannya muncul lagi rasa bersalah, karena seolah-olah apalagi kalau kaitannya sudah menyalahkan Tuhan rasanya konflik sekali begitu apa yang dia alami.

PG : Jadi yang Ibu Esther ingin katakan adakalanya kita memang tidak bisa dengan bebas mengungkapkan kemarahan kita. Jadi kemarahan kita akhirnya tersumbat.

ET : Ya di satu sisi ingin marah, misalnya kalau bencana alam akhirnya harus marah kepada Tuhan, tetapi ketika marah dengan Tuhan akhirnya juga muncul perasaan lain yaitu merasa kenapa saya arah kepada Tuhan, tapi nyatanya saya memang harus mencari sesuatu untuk menjadi obyek kemarahan.

PG : Betul, adakalanya kita beranggapan bahwa kalau kita marah kepada Tuhan, Tuhan akan menghukum kita. Tapi kalau kita saja bisa mengerti sebagai manusia bahwa orang memang ingin mengungkapan kemarahannya akibat bencana yang dialaminya, apalagi Tuhan.

Tuhan pasti mengerti, Dia tidak kabur karena kita marah kepadanya. Jadi silakan misalkan kita mengalami bencana, kita mau marah karena kita mau lari ke mana lagi kalau bukan ke Tuhan ya, sebab bukankah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia, kenapa masih bisa terjadi kemalangan seperti ini, musibah seperti ini. Jadi reaksi yang normal bagi orang yang sangat bergantung kepada Tuhan untuk mempunyai pertanyaan kenapa Engkau membiarkan ini terjadi. Tidak apa-apa, keluarkan kemarahan itu kepada Tuhan, Tuhan akan mendengarkan, Tuhan tidak akan marah, menghukum kita karena kita menyatakan kemarahan kita kepada Dia daripada tersumbat-tersumbat akhirnya justru akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Jadi ada orang-orang yang justru tidak mau lagi bersama dengan Tuhan, menyembah Tuhan karena kekecewaan yang dalam itu.
GS : Tetapi kemarahan itu sifatnya tidak terus menerus Pak Paul, pada saatnya orang itu akan berhenti dari kemarahannya. Kalau proses itu terjadi berarti dia sudah mulai memahami, lalu reaksinya bagaimana?

PG : Untuk bencana yang sudah terjadi biasanya tahap ini akan dilewati, tapi untuk bencana yang terus terjadi misalkan kasus penyakit terminal atau anak yang kita kasihi didiagnosis menderit penyakit terminal, nah kita memasuki tahap yang ketiga yaitu tahap bernegosiasi.

Dalam kasus seperti bencana yang terjadi di New York tidak bisa lagi bernegosiasi, sudah terjadi. Nah dalam kasus seperti penyakit, kita bisa bernegosiasi. Kita berkata kepada Tuhan, Tuhan saya mengaku saya pernah salah dahulu, saya pernah berdosa, nah sekarang ampuni saya. Saya berjanji kalau saya bisa dibebaskan dari bencana ini, saya tidak jadi kena kanker saya akan menjadi hamba Tuhan, saya akan serahkan anak saya untuk melayaniMu dan sebagainya, nah kita tawar menawar. Harapan kita adalah kita akan berhasil membujuk Tuhan agar Tuhan mengurungkan niat-Nya, tawar-menawar itu biasanya kita lakukan dengan sungguh-sungguh, kita benar-benar tadinya marah kepada Tuhan sekarang berbalik. Tuhan, jangan sampai saya ini menderita seperti ini, anak-anak saya masih perlu saya jangan sampai saya meninggal dulu, nanti kalau Tuhan sembuhkan saya, saya akan begini, begitu untuk Tuhan, saya akan menjadi orang yang berbeda atau apa. Jadi kita mencoba bernegosiasi.
GS : Konsep seperti itu apakah bisa diterima Pak Paul, secara iman Kristen atau bagaimana?

PG : Saya kira bisa, sebab kita melihat contoh yang jelas adalah sewaktu Tuhan menyatakan niatnya menghukum Sodom dan Gomora. Abraham diajak untuk berkonsultasi oleh Tuhan dan Abraham diberian kesempatan untuk bernegosiasi meskipun ini tidak persis sama seperti yang kita bicarakan, tapi itu juga bencana yang akan menimpa Sodom dan Gomora.

Abraham bernegosiasi akhirnya Tuhan berkata kalau 10 orang yang masih menyembah Tuhan, Tuhan tidak akan menghukum Sodom dan Gomora. Tapi memang tidak ada 10 orang lalu Tuhan menghukum, menghancurkan kedua kota itu.
GS : Dalam negosiasi tidak selalu permintaannya itu dikabulkan oleh Tuhan, nah kalau tidak apakah dia tidak bertambah marah lagi kepada Tuhan?

PG : Nah kita masuk ke tahap berikutnya, Pak Gunawan, ini memang tahap marah juga sebetulnya. Memang marah tapi marahnya sudah benar-benar terlalu dalam dan tidak bisa lagi diekspresikan seprti pada tahap sebelumnya.

Marah di sini adalah marah yang sudah berat, berat sehingga tidak bisa lagi dikeluarkan sebagai kemarahan, munculnya sebagai depresi. Makanya tidak heran banyak pasien-pasien penyakit terminal misalnya seperti kanker juga akhirnya menderita depresi. Memang secara emosional, secara sosial dia terputus dari lingkungannya, dia sendirian, dia terisolasi, dia kehilangan orang atau pekerjaan yang disukainya. Memang itu adalah hal-hal yang akan mengurangi kekuatannya dia menghadapi tekanan hidup ini. Tapi salah satu yang memang membuat dia depresi berat adalah kenyataan menghadapi tekanan hidup ini, kenyataan yang dia harus terima bahwa tidak ada jalan lain. Tawar-menawar tidak berhasil saya tetap menderita penyakit yang sama, bencana benar-benar telah datang dan saya tidak bisa lagi mengelak. Konsekuensi akibat buruk itu semua harus saya tanggung dan melihat ke depan benar-benar kesuraman bagaimana membangun lagi, rumah sudah hancur misalkan ini bencana alam, benar-benar menyadari dampak sepenuhnya. Uang yang hilang, uang yang tersisa dan mungkin tidak ada yang tersisa, orang-orang yang dikasihi sekarang tidak ada lagi atau segala macam. Pada tahap depresi sungguh-sungguh semua itu nyata tidak lagi dalam bayang-bayang, pada tahap sebelumnya masih dalam tahap bayang-bayang, karena memang emosi begitu kuat sehingga belum sempat untuk menghitung kerugian. Pada tahap depresilah kita menghitung kerugian dan sadar betapa besar kerugian yang harus kita bayar.

ET : Mungkin atau tidak Pak Paul, orang-orang yang ada di tahap depresi ini tetap menyangkali sesuatu, dalam arti masih berharap kalau memang doanya atau negosiasinya ini tidak terjadi dia seperti bisa terima, tapi di sisi yang lain masih berharap terjadi perubahan lagi?

PG : Kalau masih ada harapan kemungkinan besar memang dia tidak melewati tahap depresinya. Jadi kalau dia kembali ke tahap penyangkalan berarti dia keluar dari depresi. Dan saya percaya akanada orang yang seperti itu, saya kira pernah saya menghadapi seseorang yang seperti itu menghadapi kematiannya.

Jadi tetap berkata kalau Tuhan kehendaki saya mau hidup sebab saya masih mau bekerja untuk Tuhan dan tidak pernah membicarakan tentang finalitas kehidupannya bahwa saya akan meninggal dunia. Tetap berkata saya masih mau sembuh, Tuhan akan menolong saya dan saya kira itu hal yang tidak apa-apa. Jadi saya pun sedang menghadapi hal seperti itu saya diamkan, saya biarkan. Saya hanya bertanya apakah dia siap, dia bilang sudah siap kalau harus meninggal. Namun dia tetap mau hidup dan itu yang menolong dia, sehingga dalam rasa sakit yang amat sangat dia tidak ambruk. Dia tetap berharap sampai akhirnya koma dan meninggal dunia, nah itu mungkin lebih sehat daripada harus melewati depresi. Jadi apakah ada unsur penyangkalan, sedikit banyak di situ juga ada, karena tidak mau melihat fakta dengan sangat jelas. Tapi siapapun yang kuat melihat fakta, memang kadang-kadang kita tidak kuat dan tidak apa-apa kembali lagi ke tahap pertama penyangkalan sampai akhirnya kita meninggal dunia.

ET : Tapi batasannya dengan iman tipis sekali, bagaimana Pak Paul?

PG : Ya kita bisa berkata di sini apakah ada unsur iman bahwa Tuhan akan menolong? Ada, adakah unsur melarikan diri? Ya juga ada. Tapi saya kira Tuhan kita Maha Besar, Tuhan akan menerima keua-duanya.

Tuhan akan berkata: "Datanglah kepadaKu hai kamu yang letih dan berbeban berat." Sebab Tuhan pun 'kan dikatakan di kitab Mazmur Dia adalah gunung batuku, Dia adalah menara keselamatanku, aku berlari, berlindung di dalam Tuhan. Jadi Tuhan adalah tempat pelarian kita pula, jadi tidak apa-apa.

ET : Tapi apakah maksudnya tipe kepribadian tertentu bisa mempunyai pengaruh ke tahap-tahap ini Pak Paul? Orang-orang yang bagaimana akan masuk ke depresi, yang biasanya tetap bertahan di poisi pertama yang Pak Paul katakan tadi.

PG : Saya kira yang lebih berpengaruh meskipun ada pengaruh tipe kepribadian, tapi saya kira yang lebih penting adalah kematangan kepribadian seseorang. Semakin matang seseorang dia semakin elewati ini dengan cepat sampai kita masuk ke tahap terakhir nanti.

Tapi semakin kurang matang dia akan lebih mudah terombang-ambingkan begitu, di tipe apapun saya kira bisa terpukul dengan sangat berat, tipe apapun meskipun pengekspresiannya mungkin berbeda. Contoh misalnya orang yang plegmatik kemungkinan tidak akan terlalu mengekspresikan dirinya, namun dia mungkin mempunyai pergumulan batiniah yang luar biasa tapi dia tidak keluarkan.
GS : Pak Paul, kalau seandainya tahap depresi itu sudah dia lalui dan dia mulai sadar, mulai memahami, apa yang terjadi pada diri orang itu?

PG : Tahap terakhir adalah tahap kita ini mengumpulkan kembali hidup kita, kita mengintegrasikan kembali yang telah terjadi, baik kerugian ataupun yang tersisa. Jadi benar-benar secara nyatakita melihat kerugian yang harus kita tanggung tapi kita juga masih bisa menghitung yang tersisa pada diri kita atau kehidupan kita.

Akhirnya kita satukan kembali kepingan-kepingan hidup itu dan memulai hidup yang baru. Saya mau garisbawahi kata 'baru' di sini, Pak Gunawan, sebab adakalanya orang berkata atau berprinsip saya mau kembali seperti hidup yang dulu dan tidak bisa, yang dulu itu sudah tidak ada, misalkan kehilangan orang yang kita kasihi, kehilangan rumah yang dulu tidak akan ada. Jadi kita memang harus membangun sesuatu yang baru, tanpa orang itu, tempat atau benda yang kita sayangi, berarti memang harus memulai yang baru. Jadi di sini sebetulnya sangat diperlukan peranan orang-orang di sekitar kita yang bisa memberikan dukungan, kekuatan sehingga kita bisa bangun kembali, sebab kalau tidak ada dukungan, kekuatan atau alternatif kita akan terus-menerus terpuruk.
GS : Tetapi memberikan dukungan itu juga tidak mudah, Pak Paul, kadang-kadang yang saya alami itu kita cuma memberikan harapan-harapan yang palsu sehingga membuat dia makin terpuruk.

PG : Betul, jadi yang harus kita waspadai adalah memberikan janji atau harapan palsu, tidak akan terjadi. Yang lebih penting pada saat-saat ini adalah tindakan nyata, tindakan nyata misalkantindakan yang sederhana seperti membelikan dia barang-barang keperluan, hal seperti itu justru sudah sangat bermakna.

Sebab pada masa orang menghadapi bencana, kemampuan berpikir dan merencanakannya akan sangat terhambat begitu.

ET : Tapi saya melihat di sisi lain kadang-kadang justru orang yang berminat untuk memberikan dukungan tapi tidak memikirkan, memberi waktu seperti yang Pak Paul katakan. Jadi rasanya, tahap-tahap ini sudah tidak perlu lama-lama dilewati seperti cepat sampai ke tahap yang kelima, padahal tiap orang kapasitasnya berbeda-beda ya?

PG : Tepat, tepat sekali kapasitasnya berbeda dan berapa bermaknanya dalam diri orang juga tidak sama.

GS : Artinya kita tidak bisa paksakan seseorang untuk cepat-cepat ke tahap integrasi, Pak Paul?

PG : Betul, tahap integrasi memang harus muncul secara alamiah tidak bisa dikarbit.

GS : Nah Pak Paul, sekalipun bencana ini rasanya sulit untuk dihindari dan lagi pula kita tidak siap untuk mengantisipasinya, tetapi saya percaya ada firman Tuhan yang bisa dijadikan pegangan bagi kita semua kalau ada suatu bencana yang menimpa kita.

PG : Ada sebuah kesaksian yang akan saya ceritakan sebelum mengutip firman Tuhan, yaitu dari seorang pendeta yang kehilangan anaknya karena kematian. Pendeta ini sering memberikan penghiburn kepada jemaatnya, jadi jemaatnya sekarang ingin tahu apa yang dilakukan oleh si pendeta setelah kehilangan anak yang dikasihinya.

Ternyata si pendeta itu tabah, kuat melewati semuanya dan pada waktu anaknya dikubur, ia berkhotbah atau memberikan kata-kata seperti ini. Satu besi kalau dilempar ke air akan tenggelam, tapi besi yang dipasang dan dibangun menjadi sebuah kapal akan bisa mengapung. Dia berkata kematian anak saya ibarat satu besi itu, yang kalau dilempar ke laut akan tenggelam. Namun sebetulnya itu adalah satu besi yang Tuhan sedang pakai merancang sebuah kapal yang besar dan kapal itu memang tidak bisa saya lihat sekarang, tapi itu adalah rencana Tuhan. Saya kira kesaksian ini memberikan kita satu penghiburan bahwa apapun yang kita alami, akan ditangani oleh Tuhan dan akan menjadi kebaikan. Firman Tuhan di Kejadian 50:20 berkata "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan." Meskipun jahat dan buruk, Tuhan bisa pakai itu untuk yang baik.
GS : Nah saya rasa ini kesaksian dari Yusuf yang mengalami banyak bencana, tetapi akhirnya Tuhan pimpin dia dengan begitu indah. Jadi itupun bisa terjadi pada setiap kita khususnya para pendengar yang pada saat ini mengikuti acara ini.

Terima kasih sekali Pak Paul dan juga Ibu Esther, saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menghadapi Bencana". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



30. Memelihara Relasi Kerja


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T096B (File MP3 T096B)


Abstrak:

Salah satu penyebab orang mudah pindah-pindah tempat kerja adalah lupa melihat bahwa pekerjaan sebagai suatu komunitas, komunitas yang mempunyai budaya tertentu dan cara-cara hidup yang berbeda-beda pula.


Ringkasan:

Untuk bisa menolong kita bertahan dalam tempat pekerjaan, kita harus mempunyai konsep yang tepat tentang apa itu relasi kerja. Relasi kerja sebetulnya adalah sebuah kontrak di mana masing-masing pihak diharapkan memenuhi tanggung jawabnya. Kontrak di mana dua belah pihak sebetulnya akan saling memberi dan saling menerima, yang bekerja akan menerima misalnya upah dan yang memberikan pekerjaan akan menerima jasa. Jadi yang perlu pertama-tama dilakukan ialah kejelasan apa itu yang akan dituntut dan apa itu yang akan diberikan, ini langkah pertama yang sering kali dilewati oleh banyak orang, tidak begitu mengerti apa yang dituntut.

Ada kontrak yang tertulis, ada kontrak yang tak tertulis, jadi yang perlu ditekankan adalah bagaimana kalau kita menghadapi pekerjaan di mana kontrak yang tersedia adalah kontrak yang tak tertulis. Artinya segala sesuatu bisa diminta tanpa peringatan terlebih dahulu, menurut saya itu juga merupakan suatu kontrak.

Jadi saya mau garis bawahi juga satu prinsip di sini, yaitu penerimaan kerja tidak sama dengan penerimaan rekan kerja, itu dua hal yang sangat berbeda. Kita bisa disambut, diberikan salam selamat datang, diberikan kursi dan meja, itu sama sekali tidak menandakan kita sudah diterima sebagai rekan kerja, kita baru diterima kerja. Untuk bisa diterima sebagai rekan kerja perlu waktu penyesuaian antara dua belah pihak sehingga akhirnya bisa klop.

Tempat kerja yang baik adalah yang akomodatif. Akomodatif dalam pengertian mereka yang lama-lama atau yang senior itu bisa menerima keunikan orang yang baru.

Salah satu cara yang saya tahu sering digunakan orang adalah melobi. Dan saya tahu dalam kasus-kasus tertentu melobi itu efektif, tidak selalu buruk. Namun saya pribadi memang tidak begitu nyaman melobi, alasan saya adalah:

  1. Yang pertama, karena bagi saya kalau kita melobi seseorang untuk mendukung usulan kita dalam rapat bersama, sebetulnya tanpa disadari sudah terjadi kontrak. Yaitu kontrak hutang, dimana kita berhutang kepada dia yang akan memberikan dukungan kepada kita.

  2. Yang kedua, melobi akan menciptakan koalisi dalam suatu organisasi dan itu tidak sehat.

Sampai batas mana kita bisa bertoleransi atau menentukan inilah saatnya untuk berhenti? Apalagi orang/pribadinya sudah diterima tapi ide terus tidak diterima. Saya kira ada dua pertimbangan:

  1. Kalau sesuatu yang dilakukan di tempat pekerjaan kita itu merupakan dosa. Jadi kita pakai standar Firman Tuhan, kita tidak mau ambil bagian dalam dosa. Pengertian dosa disini bukannya yang interpretasi-interpretasi tapi dosa yang sungguh-sungguh jelas hitam putih.

  2. Kalau kita tidak bisa lagi efektif memberikan sumbangsih. Alasannya misalnya di sana kita sudah terlalu terhambat, kita tidak bisa lagi memberikan diri kita dengan baik, kita ditindas, kita dibedakan dan sebagainya.

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Kolose 3:3,

Ayat ini merupakan suatu himbauan atau suatu permintaan Tuhan, apapun yang kita lakukan dalam hidup ini perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Meskipun kita bekerja untuk manusia tapi kita bersungguh-sungguh dan memberikan yang terbaik. Perlu dihayati bahwa pekerjaan yang kita terima itu diberikan oleh Tuhan sehingga kita tanggung jawabnya kepada Tuhan juga.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Memelihara Relasi Kerja". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak keluhan dari pekerja-pekerja muda yang baru masuk ke suatu tempat kerja yang baru dan selang beberapa bulan saja dia keluar, mereka mengatakan saya tidak kerasan di tempat itu. Lalu mencoba lagi mencari kerja di tempat yang lain, keluar lagi dengan alasan saya sebenarnya cocok dengan pekerjaannya, tapi saya tidak cocok dengan orang-orang yang ada di lingkungan kerja itu, sebenarnya ini gejala apa Pak Paul?

PG : Saya kira salah satu penyebabnya adalah kita ini lupa melihat tempat pekerjaan sebagai suatu komunitas, komunitas yang mempunyai budaya tertentu. Dan cara-cara hidup yang juga tertentu,akibatnya kalau kita tidak hati-hati kita akan merasa tidak cocok di sana, karena sekali lagi cara hidup yang berbeda dan budaya yang berbeda.

Jadi memasuki sebuah tempat pekerjaan bukan sembarang atau bukan hanya mengambil suatu pekerjaan, ada banyak unsur-unsur lain yang harus kita perhatikan. Yang pertama adalah untuk bisa menolong kita bertahan dalam tempat pekerjaan, kita harus mempunyai konsep yang tepat tentang sebetulnya apa itu relasi kerja. Relasi kerja adalah sebuah kontrak di mana masing-masing pihak diharapkan memenuhi tanggung jawabnya. Jadi kontrak di mana dua belah pihak sebetulnya akan saling memberi dan saling menerima, yang bekerja akan menerima misalnya upah dan yang memberikan pekerjaan akan menerima jasa. Jadi yang perlu pertama-tama dilakukan ialah kejelasan apa yang akan dituntut dan apa yang akan diberikan, nah ini langkah pertama yang sering kali juga dilewati oleh banyak orang, tidak begitu mengerti apa yang dituntut dan yang dituntut bisa-bisa yang tertulis juga yang tidak tertulis. Nah sebaiknya seseorang sebelum mengambil sebuah pekerjaan dia mengerti dengan jelas apa yang dituntut secara tertulis maupun secara tidak tertulis. Dan tempat pekerjaanpun memberikan kejelasan tentang apa yang akan diberikan kepada si pekerja dengan sangat jelas, kalau yang pelamar itu ingin lebih jelas sebetulnya juga lebih baik, dia bisa bertanya dengan lebih spesifik. Jadi sekali lagi kita harus melihat pekerjaan sebagai suatu kontrak di mana ada dua belah pihak yang terlibat, ada satu yang menerima, ada yang memberikan dan selalu begitu.
GS : Tetapi masalahnya Pak Paul, walaupun itu sudah awalnya jelas artinya sudah ditunjukkan tugas-tugasnya berapa haknya dia yang dia terima, tetapi yang menjadi masalah di lingkungan kerjanya itu dengan orang-orang lama yang sudah ada di sana. Dia sulit sekali untuk menyesuaikan diri, padahal yang lama juga merasa kamu sebagai pendatang baru maka kamu yang menyesuaikan diri di sini.

PG : Saya kira kita semua memang memiliki konsep senioritas, kita beranggapan bahwa yang lebih lama seharusnyalah yang lebih tahu dan yang lebih lama seharusnyalah menerima yang lebih banyak Jadi kalau ada orang baru datang kemudian mulai memberikan gagasan, ide-ide dan sebagainya, kecenderungan respons dari orang-orang lama biasanya tidak begitu positif.

Orang lama menginginkan darah segar, tapi orang lama juga tidak mau terjadi perubahan yang terlalu drastis. Jadi dalam hal ini saya mau tekankan satu prinsip yaitu sebelum ide kita diterima kita sendiri perlu diterima terlebih dahulu, jadi sebelum kita melontarkan gagasan-gagasan memang kita harus berbaur dan dalam perbauran itulah kita bergaul dan kita tahu kita diterima oleh mereka. Sebab sekali lagi orang menerima pribadi terlebih dahulu baru menerima gagasannya atau idenya, jarang terbalik menerima idenya belakangan baru menerima orangnya. Nah ini yang sering kali juga kita tidak perhatikan baik-baik, jadi kita belum terlalu diterima sudah mulai melontarkan gagasan-gagasan, berhati-hatilah dalam hal seperti ini.

ET : Saya masih tertarik dengan point Pak Paul yang pertama tadi tentang kontrak, mungkin tampaknya ideal buat perusahaan yang sudah berjalan lancar dengan sistem yang ada di dalamnya tentan deskripsi pekerjaan, kemudian apa yang dituntut dan apa yang bisa diberikan.

Tapi tidak sedikit perusahaan-perusahaan kecil katakanlah perusahaan-perusahaan keluarga yang kadang-kadang di dalam merekrut karyawannya sepertinya mana yang butuh pekerjaan, jadi sepertinya karena belas kasihan jadi anda diterima bekerja di sini sehingga kontrak ini tidak berjalan dengan seharusnya.

PG : Ada kontrak yang memang tertulis, ada kontrak yang tidak tertulis, jadi yang Ibu Esther tekankan bagaimana kalau kita menghadapi pekerjaan di mana kontrak yang tersedia adalah kontrak yng tidak tertulis.

Artinya segala sesuatu bisa diminta tanpa peringatan terlebih dahulu. Menurut saya itupun juga adalah suatu kontrak jadi seorang pelamar, seorang pekerja waktu dia memasuki dunia pekerjaan yang baru dia harus menilai apakah tempat pekerjaan ini sudah mapan, apakah sudah profesional, apakah sudah berjalan dengan sangat teratur. Sebaiknya dia sendiri sudah siap untuk menerima hal-hal yang tidak tertulis tersebut, sehingga waktu dia menerimanya dia akan lebih siap untuk menghadapinya. Bisa juga dia sendiri yang bertanya dalam wawancara hal-hal apa yang dilakukan di sini, nah misalkan dia tidak bertanya langsung apa tuntutan-tuntutannya sebab mungkin si atasan tidak bisa berpikir juga karena sekali lagi ini semua dilakukan dengan cara tambal sulam dan mendadak. Nah si pelamar bisa bertanya apa saja yang dikerjakan di sini, nah waktu dia mendengar apa-apa yang dikerjakan, dia sudah mulai memiliki gambaran apa-apa yang akan juga dituntut darinya. Meskipun itu juga harus dia siapkan bahwa tidak semuanya yang dikatakan adalah yang dia akan kerjakan, akan ada hal-hal lain yang tidak dikatakan yang harus dikerjakan pula. Jadi memang dia harus membedakan antara perusahaan yang sudah mapan dan perusahaan yang belum mapan.
GS : Mungkin saat yang baik bisa digunakan itu adalah saat yang diberikan untuk orientasi Pak Paul, jadi dia bisa berkeliling ke beberapa bagian terkait yang terkait dengan pekerjaannya dan bisa mulai bertanya-tanya. Tetapi sering kali justru di situ ada kesempatan bertanya malah dipakai untuk mengemukakan idenya dulu. Jadi kepalanya itu sudah penuh dengan ide ketika masuk Pak Paul, apakah itu karena dia memang khawatir dikatakan tidak mampu atau apa ada kekhawatiran itu jadi seolah-olah ingin menonjolkan saya mampu?

PG : Saya kira itu betul Pak Gunawan sebagai pemula, kita ini ingin meyakinkan orang, kita tahu apa yang kita lakukan. Jadi ada kecenderungan kita menonjolkan gagasan-gagasan kita, ingatlah ahwa kita perlu diterima terlebih dahulu barulah ide-ide kita bisa diterima.

Jadi saya mau garis bawahi juga satu prinsip di sini Pak Gunawan, yaitu penerimaan kerja tidak sama dengan penerimaan rekan kerja, itu dua hal yang sangat berbeda. Kita bisa disambut, diberikan salam selamat datang dan sebagainya, diberikan kursi dan meja itu sama sekali tidak menandakan kita sudah diterima sebagai rekan kerja, kita diterima kerja. Untuk bisa diterima sebagai rekan kerja perlu waktu penyesuaian antara dua belah pihak sehingga akhirnya bisa klop.
GS : Memang itu saya rasa suatu skill tersendiri Pak Paul, ada orang yang dengan cepat membawakan dirinya dan bisa diterima oleh lingkungannya tetapi ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.

PG : Betul, nah sekali lagi ini memang seni Pak Gunawan, kematangan dan percaya diri itu penting sekali. Saya masih ingat waktu dulu saya bekerja, ada orang baru saja diterima, dia itu duluna bekerja di bagian yang lain kemudian di transfer dia sudah lama minta transfer ke departemen kami.

Akhirnya dia diterima transfer ke departemen kami, entah mengapa dalam ketakutannya, hari pertama dia datang kerja dalam ruangan tertutup, kantor kami itu pakai AC, tidak ada sinar matahari yang masuk, dia masuk ke dalam ruangan kami dari pagi sampai sore pakai kacamata sunglasses, kacamata hitam dia petantang-petenteng jalan pakai kacamata hitam. Atasan saya melihat dia itu geleng-geleng kepala, kesal luar biasa, dan akhirnya hanya bisa ditahan beberapa hari, beberapa hari kemudian dia ditransfer kembali ke departemen yang dulu yaitu menjaga anak-anak yang kami pisahkan atau ambil dari rumah orang tuanya karena baru saja dianiaya atau apa. Akhirnya kembali lagi ke pekerjaannya yang dulu. Jadi sekali lagi penerimaan kerja tidak sama dengan penerimaan sebagai rekan kerja.

ET : Tapi kadang-kadang usaha ingin menyesuaikan diri ini juga bisa salah ditangkap, dalam arti ada orang yang rasanya perlu, ingin banyak tahu sebelum dia mulai bekerja. Dia bertanya-tanya api kadang-kadang belum tentu lingkungan ini lingkungan yang menerima orang yang suka banyak bertanya, jadi akhirnya seperti tidak nyambung usaha ini, tapi ditanggap dengan negatif oleh lingkungan kerjanya ini.

PG : Itu point yang bagus Bu Esther, jadi kita memang harus jeli melihat kira-kira budayanya apa. Sebab memang ada budaya tertentu yang mewajibkan para pemula itu tutup mulut dan jangan bertnya, hanya ikuti yang dilakukan, ada juga yang begitu.

Nah tapi tetap saya kira ada baiknya kita mengajukan beberapa pertanyaan, kita mungkin tidak bisa bertanya terlalu banyak. Namun setiap kali kita ingin mengajukan pertanyaan kita dengan sopan berkata maaf ya Pak atau Bu bolehkah saya bertanya lagi kalau saya ini terlalu banyak bertanya mohon diampuni, saya masih baru, jadi ingin bertanya. Mungkin sekali dengan cara seperti itu, atasan itu akan bisa menerima pertanyaan kita. Sebab dia belum apa-apa kita sudah meminta maaf terlebih dahulu, tapi saya kira untuk hari itu saja dia maafkan kalau besok-besok tanya lagi mungkin sekali dia akan kesal begitu.
GS : Nah seharusnya tempat kerja atau suasana kerja yang baik untuk menerima orang baru itu yang bagaimana, Pak?

PG : Saya melihat tempat kerja yang baik adalah yang akomodatif. Akomodatif dalam pengertian mereka atau yang lama-lama itu bisa menerima keunikan orang yang baru. Ada kecenderungan setelah eberapa orang berkumpul bersama untuk jangka waktu tertentu mereka ini akan membentuk suatu budaya yang seragam, maksudnya apa budaya yang seragam.

Misalnya kalau kebetulan satu kelompok ini suka bercanda, mereka akan senang sekali mempunyai teman baru yang suka bercanda dan lebih mendahulukan penerimaan pekerja yang suka bercanda itu. Nah bisa jadi ada orang lain yang masuk dan tidak suka bercanda dan tidak berbuat salah apa-apa, tapi karena dia tidak suka bercanda langsung ditolak oleh teman-temannya yang suka bercanda. Jadi penting sekali kita menerima keunikan orang bagaimanapun orang itu diterima bukan karena suka bercandanya, orang diterima karena sumbangsih yang dia bisa berikan untuk perusahaan atau tempat pekerjaannya. Jadi perlu akomodatif artinya memberikan kebebasan kepada orang untuk memiliki keunikannya, dia suka pergi, ada yang tidak suka pergi dengan teman-temannya tidak apa-apa. Yang penting dijaga, jangan sampai kita menjahit orang agar sesuai dengan selera kita. Jadi tempat pekerjaan yang baik memang ingin sekali melihat masing-masing anggotanya itu bisa bertumbuh dengan unik.
GS : Dalam hal itu Pak Paul, menerima orang baru yang masuk di dalam lingkungannya itu pasti mempengaruhi cara mereka atau pola mereka sehari-hari karena ada sesuatu yang baru.

PG : Ya biasanya waktu unsur yang baru masuk, sedikit banyak memang akan merubah yang lama, komposisi yang lamanya. Makanya kalau masuk dan mencoba membawa perubahan dengan mendadak, reaksi wal adalah menolak unsur asing itu.

Namun kalau unsur asing itu sudah diterima menjadi bagian dari yang lama dan menjadi suatu unsur yang sudah terkait dengan yang lama, lama-kelamaan waktu yang baru itu mulai memberikan usulan-usulan, tidak bisa tidak yang lama juga akan turut mendukung dan lebih siap untuk berubah.
GS : Jadi tentunya pimpinan itu merekrut orang baru dengan harapan supaya yang lama ini juga terpengaruh secara positif, Pak Paul. Nah sebagai orang baru ini di dalam membawakan, menyampaikan ide-idenya ini seharusnya bagaimana?

PG : Saya sarankan waktu kita menyampaikan ide atau gagasan, kita menyampaikan data secara obyektif. Jadi kita menghindarkan cara-cara yang terlalu subyektif atau terlalu pribadi misalkan saa berpikir begini, begini, nah lebih baik kita melihat saja, kita berkata mari kita lihat yang telah terjadi begini, begini, nah datanya begini, menurut saudara-saudara kira-kira apa yang bisa kita lakukan.

Jadi kita menyajikan sebuah problem bersama-sama dan apakah kita bersama mau melakukan sesuatu dengan masalah ini, jadi ini bukannya saya yang lagi mempunyai ide yang penting dan mohon saudara-saudara dengarkan. Jadi lebih baik kita sajikan dalam bentuk data yang obyektif. Kenapa demikian? Karena sekali lagi kalaupun kita sudah agak lama orang cenderung memang bereaksi dengan seseorang yang dianggap mau menonjolkan diri. Jadi meskipun ide kita baik, tapi kalau kita ini sudah dianggap mau menonjolkan diri, kita tidak bisa diterima, ide kita langsung męntal. Tapi waktu kita menyajikan sebagai problem bersama dan ini data-datanya, apa yang akan kita lakukan dengan problem ini nah itu menjadi suatu milik bersama, nah ini yang perlu kita pelajari waktu kita menyajikan sebuah usulan.

ET : Bagaimana kalau ternyata kita sudah berusaha untuk menyajikan secara obyektif, dukungan itu tetap belum kita dapatkan?

PG : Nah ini sering terjadi dan pasti membuat kita frustrasi, namun sekali lagi kita harus sadari bahwa gagasan yang baik itu belum tentu siap diterima. Adakalanya gagasan yang baik itu barusiap diterima beberapa tahun setelahnya, jadi akhirnya yang kita perlakukan adalah kita mengalah, kita tidak memaksakan kehendak.

Nah sudah tentu kompromi kita ini ada batasnya, ada waktu-waktu di mana kita memang tidak bisa lagi menoleransi yang telah kita alami dan kita berkata sudah saya harus berhenti misalnya, sebab ini tidak bisa lagi saya toleransi atau yang kita lihat sudah terlalu jauh menyimpang dan kita berkata maaf saya tidak bisa terima lagi ini. Jadi memang ada faktor-faktor yang kita harus pertimbangkan berapa jauhnya kita bisa mengalah atau menoleransi, kalau sudah keterlaluan dan mengganggu hati nurani kita, saya kira kita bisa berkata tidak lagi, saya akan berhenti.
GS : Dalam hal itu secara pribadi mungkin dia sudah diterima Pak Paul, tapi idenya tetap ditolak?

PG : Betul, bisa jadi dianya sudah diterima, bagus sekali point itu Pak Gunawan, tapi ternyata gagasannya belum siap untuk diimplementasikan.

GS : Nah apakah perlu mencoba gagasan yang lain sebelum dia menyerah untuk keluar dari situ?

PG : Bisa juga misalnya kita itu menurunkan target kita, misalnya memulai dengan langkah-langkah yang lebih kecil sebagai tangga menuju ke situ. Nah salah satu cara yang saya sering tahu dignakan orang adalah melobi, Pak Gunawan dan Ibu Esther.

Dan saya tahu dalam kasus-kasus tertentu melobi itu efektif, tidak selalu buruklah melobi. Namun saya pribadi memang tidak begitu nyaman melobi, karena bagi saya kalau kita melobi seseorang untuk mendukung usulan kita dalam rapat bersama sudah terjadi sebetulnya kontrak tanpa disadari, kontrak hutang di mana kita berhutang kepada dia yang akan memberikan dukungan kepada kita. Nah nanti dalam rapat dia akan mendukung kita, OK! Kita akhirnya misalkan, menang kita mendapatkan yang kita inginkan. Namun jangan sampai kita lupa dalam lain kesempatan misalkan dia mengajukan usulan yang kita sebetulnya tidak begitu setuju, namun karena adanya hutang itu kita terpaksa mengiakan dia atau kita terpaksa diam tidak berkata apa-apa, meskipun kita tahu dia keliru. Jadi akhirnya tujuan akhir, tujuan yang seharusnya dicapai tidak dicapai yaitu membuat keputusan yang baik, akhirnya tidak dicapai karena ada hutang budi itu. Itu alasan saya yang pertama kenapa saya tidak begitu nyaman dengan melobi-lobi orang. Yang kedua adalah melobi itu akan menciptakan koalisi dalam suatu organisasi dan itu tidak sehat sebetulnya. Sebab orang ingin melihat semua yang ada dalam forum kerja ini setara, kecuali memang secara jabatan di atasnya. Namun kalau dalam forum kerja di mana yang setara secara posisi itu sebagiannya mempunyai akses tertentu kepada atasan itu sudah menciptakan koalisi dan koalisi itu memecah. Memecah jiwa kebersamaan mungkin awal-awalnya tidak membuahkan problem, tapi di kemudian hari akan membuahkan problem. Karena mulai dari koalisi akan berakhir dengan ketidakadilan, ujung-ujungnya ke situ, akan dilihat orang-orang yang mempunyai koalisi itu adalah orang-orang yang banyak menerima keuntungan atau diuntungkan oleh koalisi itu dengan atasan dan sebagainya. Jadi sebaiknya memang kita tidak berlobi, itu pendapat saya, kalau mau lontarkan, lontarkan bersama begitu.

ET : Sampai batas mana kira-kira Pak Paul, maksudnya kita bisa menoleransi dalam arti memang inilah saatnya saya untuk berhenti dalam kaitannya dengan frustrasi tadi. Ide sudah dilontarkan, orang sudah diterima tapi ide terus tidak diterima, memang mungkin apakah ada batasan tertentu sampai kita bisa bilang saya pindah saja atau usaha yang lain begitu?

PG : Saya kira ada dua pertimbangan, yang pertama adalah kalau sesuatu yang dilakukan oleh tempat pekerjaan kita itu berdosa, kita memakai standar firman Tuhan. Kalau berdosa kita tidak mau mbil bagian di dalamnya.

Ini memang bukannya dosa yang interpretasi-interpretasi, tapi dosa yang sungguh-sungguh jelas hitam putih. Memang tidak banyak yang benar-benar hitam putih, tapi kalau misalnya kita tahu ini dosa jangan ambil bagian. Kedua adalah kalau kita melihat bahwa kita tidak bisa lagi efektif memberikan sumbang sih misalnya kita sudah terlalu terhambat di sini, kita sudah tidak bisa lagi memberikan diri kita dengan baik lalu kita ditindas, dibedakan dan sebagainya. Dan kita akhirnya merasa kitapun tidak efektif di sini, nah waktu kita tidak efektif lagi karena perasaan-perasaan kita itu sudah sangat terganggu, saya kira waktunya kita keluar begitu. Sebab apa, saya beranggapan memang kita ini didesain Tuhan untuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki, kita sebaiknya dan sebisanya menggunakan karunia-karunia yang telah dianugerahkan kepada kita. Namun kalau sampai kita tidak bisa lagi memakai berarti memang tempat itu tidak cocok lagi dan kita harus pindah.

ET : Karena saya melihat cukup banyak orang-orang yang khawatir dengan kata loyalitas, sepertinya tidak loyal begitu pindah, pindah, pindah padahal kalau mau dipertimbangkan dengan sungguh-sngguh dia punya alasan yang jelas.

PG : Loyalitas sesuatu yang sering kali ditanamkan oleh perusahaan atau atasan supaya berbuah positif untuk perusahaannya dan saya bisa mengerti kenapa? Tapi sekali lagi kita harus kembali kpada apakah kita efektif di situ, waktu kita melihat tidak efektif lagi dan kita lebih bisa efektif di tempat yang lain saya kira silakan pindah.

Meskipun faktor-faktor finansial dan sebagainya harus kita pertimbangkan pula, kita mungkin sudah mempunyai keluarga atau apa, jadi kadang-kadang tidak bisa langsung bertindak.
GS : Cuma kadang-kadang itu terlalu cepat Pak Paul, maksudnya orang terlalu cepat sampai pada kesimpulan memang ini tidak cocok, saya tidak bisa efektif di sini. Padahal sebenarnya kalau saja dia mau lebih tekun di situ, mau sungguh-sungguh memelihara relasi kerja sebenarnya dia bisa.

PG : Bagus sekali masukan Pak Gunawan, jadi sebelum kita sampai ke langkah terakhir tadi, memang kita harus menjalani langkah-langkah sebelumnya yang tadi telah kita bicarakan. Sudahkah dia encoba untuk diterima menjadi bagian dulu, sudahkah dia mencoba untuk mengalah, untuk melihat bahwa memang teman-temannya belum siap.

Jadi semua harus dilakukan, kalau memang semua sudah dilakukan untuk jangka waktu yang agak panjang dan memang sangat mengganggu dia, dia tidak bisa lagi terima baru dia pikirkan, jadi ini langkah terakhir bukanlah langkah pertama.
GS : Dalam hal ini Pak Paul, apakah firman Tuhan berbicara juga untuk melengkapi kita?

PG : Saya akan bacakan dari Kolose 3:23, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Jadi ini adalah suatu himauan, suatu permintaan Tuhan apapun yang kita lakukan dalam hidup ini perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Meskipun kita bekerja untuk manusia tapi kita bersungguh-sungguh dan memberikan yang terbaik. Memang ada orang berkata begini, jadilah dirimu tapi jadilah dirimu yang terbaik. Jadi saya kira kita bisa aplikasikan di sini, kita bekerja berikan yang terbaik karena kita tahu yang melihat adalah Tuhan. Kadang-kadang atasan kita pun tidak melihat yang kita lakukan, tapi Tuhan melihat dan Tuhan mencatat yang kita lakukan itu dengan sungguh-sungguh.
GS : Mungkin perlu dihayati bahwa pekerjaan yang kita terima itu diberikan oleh Tuhan sehingga tanggung jawab kita kepada Tuhan juga. Dan saya percaya bahwa pedoman inilah yang bisa kita bagikan kepada para pendengar sebagai suatu pegangan di dalam menempuh, membina suatu relasi kerja yang memang harus diakui tidak mudah khususnya pada saat-saat seperti ini.

Terima kasih Pak Paul dan juga Ibu Esther, saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memelihara Relasi Kerja". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



31. Tatkala Anak Meninggal


Info:

Nara Sumber: Bp.& Ibu Jimmy S.
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T117A (File MP3 T117A)


Abstrak:

Kematian anak yang kita kasihi secara mendadak seringkali hal itu diawali dengan ketidakpercayaan kita, benarkah ini terjadi?


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-daudara pendengar yang kami kasihi dimana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan pasangan yang kali ini hadir bersama kami pada acara Telaga ini yaitu Bp. Jimmy dan Ibu Yuniarti, kami ucapkan terima kasih atas kehadiran Anda berdua dan juga ditemani oleh Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Tatkala Anak Meninggal Dunia," kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Jimmy, sekali lagi terima kasih untuk kehadiran Pak Jimmy beserta istri yang kami berharap melalui acara ini akan menjadi berkat bagi banyak orang. Mungkin Pak Jimmy bisa menjelaskan sedikit tentang peristiwa meninggalnya putri yang tentunya Bapak dan Ibu kasihi. Itu peristiwanya terjadi kira-kira tahun berapa Pak Jimmy?

J : Peristiwanya terjadi tahun 1998.

GS : Dan waktu itu usia putri Bapak?

J : Pada waktu itu usianya 12 tahun kurang satu bulan, persisnya itu tanggal 10 Pebruari 1998.

GS : Dan putri atau anak ke berapa, Pak?

J : Itu anak saya yang pertama.

GS : Berarti adik-adiknya Pak?

J : Ya ada satu laki adiknya usianya berpaut dua tahun (GS : Itu putra atau putri?) Putra.

GS : Jadi putri dan putra, nah Ibu Jun peristiwa itu terjadi mendadak begitu atau bagaimana?

Y : Waktu pulang sekolah dia pusing, setelah itu saya kira flu biasa kemudian saya bawa ke dokter juga lab ternyata entah bagaimana, itu terjadinya hari Jumat kemudian hari Selasa dia dipanggi Tuhan.

PG : Apa yang menyebabkan dia meninggal dunia Bu?

Y : Dokter waktu itu belum memberitahu persisnya tetapi kalau dilihat dari hasil lab kemungkinan besar dia kena demam berdarah, soalnya dari trombositnya yang turun atau mungkin gejala-gejala anas, mual begitu.

PG : Waktu anak Ibu meninggal dunia apakah dia meninggal di rumah atau di rumah sakit Bu?

Y : Kemungkinan besar di rumah tapi karena saya tidak mengerti jadi waktu anak itu kelihatan aneh ya langsung dibawa ke rumah sakit. Padahal kemungkinan itu sudah meninggal di rumah.

GS : Nah apakah pada saat itu Pak Jimmy ada di samping ibu Jun dan anak itu?

J : Tidak, waktu itu saya masih bekerja, sore sebelum dia meninggal itu kita mengambil hasil lab, saya konsultasikan ke dokter, bagaimana ini hasilnya kok kadar gulanya tinggi. Anak kita gemuk gemuk sekali, lalu kami pikir apakah anak ini perlu diet.

Jadi dari hasil lab itu kita juga konsultasikan ke dokter nutrisi, bagaimana sarannya apakah anak ini perlu untuk diet dan dietnya pun dengan cara bagaimana. Hasilnya juga ditunjukkan kok begini, begini saja besok kita periksa lagi, kita cek ulang lagi begitu. Tidak tahunya kita kembali dia sudah....., waktu itu dia lagi berak terus tidak kuat berdiri kemudian dia diangkat cuma dia tidak mau: "ini 'kan belum diceboki nanti 'kan kotor," tapi mamanya memaksa dibawa ke tempat tidur nanti dibersihkan ditempat tidur.
GS : Apakah waktu itu memang Ibu Jun sudah tahu dengan gejala-gejala demam berdarah seperti itu, karena profesi Ibu Jun sebagai asisten apoteker sedikit banyak berkecimpung dengan obat-obatan ini Bu?

Y : Ya soalnya tidak ada gejala mimisan atau apa itu tidak ada, lalu bercak itu tidak ada dan dokternya juga tidak terlalu mengharuskan untuk masuk rumah sakit.

PG : Jadi panas pun juga tidak tinggi, benar-benar Ibu itu tidak menduga (Y : Tidak menduga sama sekali) bahwa ini penyakit yang serius ya, Bapak juga demikian mungkin ya?

J : Sama, saya rencananya habis mengambil hasil dari lab saya kembali bekerja, saya tidak mengerti kejadian ini jadi saya setelah selesai ke lab saya kembali kerja lagi. Saya melanjutkan pekeraan, tidak tahunya saya di telepon lagi oleh adiknya katanya Cicik pingsan, waduh.......saya

langsung deg tidak enak, saya langsung pulang, tidak tahunya saya lihat kok diam saja, langsung saya angkat saja ke rumah sakit.
GS : Ya tetapi yang memberikan kepastian bahwa anak ini sudah meninggal siapa Pak?

J : Di rumah sakit.

GS : O.....waktu itu para medis di sana sudah mengatakan anak itu sudah meninggal. Nah bagaimana pada waktu itu reaksi Ibu?

Y : Seperti orang kalau orang Jawa bilang ndomblong, (GS :Tertegun begitu ya) ya rasanya tidak tahu, pikiran saya tidak tahu ke mana.

GS : Pak Paul, apakah hal seperti itu memang terjadi kepada orang yang mendengar suatu kabar yang mengejutkan?

PG : Betul, jadi tahap yang sangat umum yang Bapak dan Ibu alami, Bapak juga mungkin merasakan yang sama ya? Jadi tidak percaya bahwa ini telah terjadi, kaget tapi yang paling umum juga adalah adi ibu sudah katakan yaitu tidak tahu merasakan apa, berpikir apa seolah-olah seperti orang lagi bingung, itu yang Bapak-Ibu alami juga.

Sampai kira-kira berapa lama itu Pak atau Ibu mengalami perasaan seperti itu?

Y : Pikiran tidak karu-karuan begitu sepertinya dan kemudian mau mengerjakan sesuatu itu malas sekali.

PG : Kapan Bapak-Ibu akhirnya menyadari bahwa anak Bapak-Ibu sudah tidak ada lagi, benar-benar sepertinya sadar begitu apakah dalam hitungan jam, dalam hitungan hari atau langsung?

Y : Kalau saya tidak tentu, kadang-kadang tidak percaya, kadang-kadang...'ya memang tidak ada.'

PG : Sampai kira-kira berapa lama Bu antara tidak percaya dan percaya itu?

Y : Ya sepertinya dua tahun, tiga tahun itu bisa (PG :Masih bisa muncul ya) ya, ya bisa muncul.

PG : Kalau Bapak?

J : Sama saja ya (PG : Sampai dua, tiga tahun masih tetap merasakan itu ya) sampai sekarangpun kadang-kadang juga.....(PG : Masih belum percaya kalau dia sudah tidak ada lagi ya, boleh tahu naanya siapa?) Dianita.

GS : Ketika Dian sudah tidak ada lagi pada saat itu, reaksi adiknya bagaimana Pak? Bukankah Dian sudah mempunya adik, reaksinya adiknya bagaimana Pak?

Y : Waktu itu dia sempat duduk di tempat tidur dan kebetulan dia mempunyai teman akrab, anak tetangga, menangis berdua laki-laki, jadi temannya yang laki-laki itu juga berdua menangis di kamar.

GS : Nah Pak Paul, kesedihan yang dialami si adik ini dan kesedihan yang dialami oleh orang tuanya itu apakah kadarnya sama atau bagaimana Pak?

PG : Pada waktu itu adiknya baru berusia sekitar 8 tahun? (Y : 9 tahun). OK....! pada saat itu biasanya anak-anak umur 8, 9 tahun sudah mulai mengerti konsep tentang kematian. Biasanya pada ana-anak usia lebih kecil lagi, konsep kematian itu masih lebih samar, biasanya mereka berpikir bahwa orang yang meninggal itu nanti akan kembali.

Maka pada anak-anak usia 4-6 tahun setelah melihat misalnya kakeknya meninggal, dia masih bertanya kapan kakeknya pulang kok tidak pulang, kapan kakek datang lagi ke rumah nah biasanya itu yang terjadi pada anak-anak yang usianya lebih muda. Usia 8, 9 tahun biasanya anak-anak sudah mulai mengerti bahwa kepergiannya tidak akan kembali lagi jadi pasti kesedihannya itu memang sudah mulai mirip sekali dengan kesedihan orang dewasa. Cuma memang perbedaannya adalah anak-anak kecil itu kadang-kadang kurang begitu tahu apa yang dia harus lakukan dengan perasaannya. Kalau orang-orang dewasa seperti kita lebih tahu yaitu kita menangis, kita bersedih dan sebagainya kita bercerita dengan pasangan kita, dengan pendeta dan sebagainya, nah anak kecil dia tidak tahu dia mesti berbuat apa, biasanya itu adalah perbedaannya.
GS : Nah pada saat-saat seperti itu, jadi pada saat-saat kematian itu dialami siapa yang saat itu yang mendekati memberikan penghiburan dan itu merupakan sesuatu yang sangat berarti buat Pak Jimmy dan Ibu Jun? Ibu Jun mungkin lebih dulu.

Y : Ya saya tidak memikirkan siapa yang menghibur saya, soalnya waktu pagi waktu saya di sebelah Nita saya membaca Alkitab di situ saya membaca Alkitab itu rasanya sejahtera sekali, senang seali waktu itu.

GS : Sementara anak itu masih sakit?

Y : Masih sakit, saya biasa membaca Alkitab itu berurutan tanggal tapi ini saya kepengin terus waktu itu kitab Roma mengenai keselamatan kok saya ingin membaca terus, tanggal ini sudah selesaisaya baca terusnya kebetulan itu pasal 8 terus seterusnya, seterusnya senang sekali waktu saya membaca itu.

Tuhan sendiri saya kira yang menghibur saya.
GS : Itu suatu hal yang pasti jadi Tuhan sendiri yang memberikan kekuatan dan penghiburan bagi ibu. Tetapi apakah sebelum peristiwa itu terjadi, Ibu merasakan sesuatu Bu atau menduga sesuatu akan terjadi seperti ini begitu?

Y : Sama sekali tidak cuma kalau saya melihat dari setelah kejadian, kata-kata dia waktu terakhir-terakhir itu o......berarti itu kata-kata terakhir mungkin, katanya dia kepengin boneka yang kcil tapi bisa bergerak, bisa hidup cuma tidak besar-besar tidak bisa tumbuh lagi, dia kepenginnya boneka itu.

Terus katanya besok kalau punya anak tidak mau yang namanya Lukito katanya begitu, aneh-aneh memang anak ini, kasihan istrinya Ma nanti katanya dipanggil buluk, bukit atau buto memang suka yang lucu-lucu dia.
GS : Pak Jimmy sendiri bagaimana penghiburan yang bapak peroleh pada waktu itu, 'kan banyak teman-teman atau keluarga yang datang apakah itu cukup berarti kehadiran mereka dan sebagainya?

J : Saya tidak merasakan itu ya, saya tidak menyangka sama sekali kalau itu terjadi, saya tidak sampai memikirkan itu saya pikir dia sakit, waduh....ini sakit mungkin dia terlalu gemuk, waduh ni mungkin dia bisa agak kurus sedikitlah kalau dia sakit ini supaya tidak gemuk-gemuk.

Cuma pikiran sampai di situ saja, tidak memikirkan dia itu akan sampai meninggal.
GS : Bagaimana dengan teman-temannya, tentunya dia sudah sekolah dan banyak teman-temannya dan gurunya, kesannya bagaimana dengan meninggalnya ini?

Y : Ya waktu itu dia mau kenaikan cawu II jadi cawu II itu dia mau ulangan cawu II. Dia tidak bisa masuk lalu dia telepon, tapi entah bagaimana telepon itu ditaruh di atas TV, TV-nya besar, TVitu bisa jatuh, tapi tidak pecah (GS : Yang jatuh TV-nya?) TV-nya, saya waktu itu di gereja jadi suami saya yang tahu kalau dia telepon temannya untuk menanyakan pelajaran besok.

GS : Sehubungan dengan peristiwa itu, apakah Pak Jimmy masih sempat mempersiapkan untuk petinya, untuk segala sesuatunya itu Pak Jimmy sendiri yang masih mengerjakan atau ada orang lain yang mengerjakan?

J : O....tidak itu yang mengerjakan kakak saya.

GS : Pak Jimmy sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa pada waktu itu ya?

J : Ya, sudah tidak bisa berbuat apa-apa, semua yang mengurus kakak saya.

(1) GS : Pak Paul, ini 'kan sesuatu peristiwa yang tak terduga, sakitnya pun saya kira tidak terlalu lama ya (Y : 5 hari). Nah itu biasanya sebagai orang tua itu akan sangat terkejut, setelah tadi Pak Paul katakan mungkin tadi Bu Jun sudah katakan termangu-mangu, tertegun tidak tahu apa yang dikerjakan itu. Nah kalau fase itu lewat biasanya apa yang terjadi di dalam diri orang tua Pak?

PG : Biasanya setelah fase pertama itu adalah kemarahan, setelah menyadari kehilangan tersebut. Nah ini marah tergantung pada misalkan apakah ada penyebab-penyebabnya misalnya seharusnya dokterlebih menyadari masalahnya, seharusnya dibawa lebih dini dan sebagainya jadi marah kepada manusia atau marah kepada kondisi tertentu.

Dan marah yang juga biasanya kita alami kalau kita ini adalah seorang yang percaya kepada Tuhan yang mengasihi kita, kita juga marah kepada Tuhan, apakah mungkin itu juga yang Bapak-Ibu lewati ya?
GS : Apakah ada fase itu fase rasa marah itu, Pak Jimmy?

J : Ada, saya juga merasakan itu saya pikir, Tuhan kenapa cepat sekali. Sebab saya pikir kalau bisa itu (kadang-kadang saya berdoa), kalau bisa itu saya sekeluarga sama-sama saja, saya tidak mu merasakan kesedihan begitu.

Tapi kenapa mendadak anak saya saja yang diambil.
GS : Dan fase kemarahan itu seperti yang Pak Paul katakan itu memang tahap yang berikutnya, jadi setelah yang ibu Jun tadi katakan tertegun itu, setelah sadar lalu seseorang itu marah. Kalau kemarahan itu sudah disadari bahwa kemarahan itu tidak akan mengubah keadaan Pak Paul apa yang terjadi?

PG : Sebenarnya setelah itu, nah ini tidak harus berurutan ya kadang-kadang ada tumpang tindihnya biasanya kita mulai melihat ke belakang dan mulai menyesali muncul penyesalan-penyesalan. Kalau saja kita dulu mengajak ini ke mana, melakukan ini untuk dia, kalau saja kami lebih memperhatikan ini kepada dia, jadi kadang kala muncul penyesalah-penyesalan seperti itu, Ibu menganggukkan kepala apakah Ibu juga mengalami hal itu?

Y : Ya, waktu itu dia ingin boneka jadi dia ini keinginannya selalu boneka, dia mau ulang tahun satu bulan kemudian. Kalau dia ingin sesuatu, memang tidak langsung saya berikan jadi dia sangatberharap sekali kalau dia ulang tahun nanti dia dapat hadiah boneka.

Tapi dia juga sudah menabung uang untuk membeli boneka tinggal mama menambah sedikit begitu, ternyata satu bulan sebelum anak ini ulang tahun dia sudah meninggal. Dia beritahu masih nutut atau tidak Ma begitu.
GS : Jadi ada perasaan seperti yang tadi Pak Paul katakan ya, kenapa tidak dibelikan saja dulu padahal itu mau dibuatkan surprise untuk hari ulang tahunnya itu. Nah Pak Paul ada juga keluarga, satu pasangan suami-istri yang anaknya itu sakitnya lama Pak Paul ya bukan hanya 5 hari atau sebulan bahkan bertahun-tahun. Nah sebenarnya reaksinya apa sama?

PG : Sebetulnya reaksinya tidak sama, jadi kita ini kalau misalkan sudah tahu bahwa nanti kita akan kehilangan orang yang kita kasihi ini kita lebih mempersiapkan diri, jadi kita mulai memasukifase kedukaan sebelum kepergiaannnya.

Nah itu sedikit banyak menolong, nah dalam kasus Bapak-Ibu kematian mendadak seperti ini, rasa dukacitanya itu datang belakangan jadi setelah kepergian anak. Nah biasanya fase tidak percaya memang akan lebih panjang dan bisa juga fase marah itu bisa lebih panjang karena sekali lagi belum ada persiapan sama sekali. Benar-benar suatu keterkejutan yang amat besar, nah setelah fase-fase itu umumnya kita akan memasuki fase yang disebut fase keputusasaan, fase kesedihan yang sangat dalam nah itu memang umumnya berlangsung sangat panjang. Nah sekali lagi ini terutama menimpa mereka yang kehilangan mendadak kalau kehilangannya sudah diantisipasi nah sedikit banyak rasa-rasa murung, putus asa itu sudah terjadi sebelumnya. Mungkin pada Bapak dan Ibu itu yang Bapak dan Ibu alami yaitu kesedihannya yang tambah panjang belakangan.
GS : Kadang-kadang pada saat dokter itu sudah mengatakan bahwa anak ini tidak ada harapan lagi Pak Paul, apakah itulah saatnya orang tua itu diliputi oleh kesedihan yang dalam?

PG : Betul, jadi pada saat itu dimulailah proses berdukacita, proses meratap, nah sekali lagi kalau sudah bisa diantisipasi proses peratapan itu sudah berjalan sebelum kepergian orang yang kitakasihi.

Nah dalam peristiwa yang menimpa Bapak-Ibu peratapannya memang terjadi belakangan dan umum sekali ya, jadi saya memang mau menekankan hal ini supaya kita memahami bahwa kalau terjadi mendadak proses berdukacita itu umumnya memang lebih panjang dan lebih berat karena keterkejutan itu terlalu memukul.
GS : Ada pula keluarga yang cuma mempunyai anak semata wayang, jadi hanya anak tunggal kemudian anak ini meninggal, apakah berbeda dengan kalau keluarga ini mempunyai anak dua atau lebih dari dua?

PG : Berbeda sekali, karena sekali lagi kalau hanya satu dampaknya itu benar-benar kehilangan total, kalau masih ada anak yang lain sedikit banyak masih ada penghiburan yaitu kami masih mempuny seorang anak lagi yang bisa kami kasihi dan kami bisa limpahkan kasih itu kepada si anak yang tertinggal ini.

GS : Pak Jimmy, ini kami kembali tadi Pak Jimmy katakan tadi 'kan ada adiknya, itu ada pengaruhnya terhadap Pak Jimmy atau tidak, kehadiran anak yang kedua dan sebagainya?

J : Ya ada ya, jadi saya lebih memperhatikan ke dia kalau dia sakit atau apa, selalu lebih hati-hati lagi.

GS : Bagaimana dengan Ibu Jun?

Y : Kalau saya melihat-lihat adiknya sekarang ini walaupun dia sudah besar kelas 2 SMP tapi selalu setiap hari selalu minta cium. Lalu kalau dia diam di kamar begitu mesti saya dipanggil, mest tepuk-tepuk tempat duduk di sebelahnya saya disuruh di sampingnya.

GS : Padahal itu pria, biasanya anak putri lebih condong ke situ Pak Paul ya?

PG : Sebetulnya reaksi anak ibu ini reaksi yang umum dan ini dialami baik oleh anak putra maupun anak putri. Anak kebanyakan mengalami trauma kehilangan yaitu kehilangan kakaknya dalam hal ini.Jadi dia takut kehilangan orang yang dia kasihi dalam hal ini dia takut kehilangan Bapak atau Ibu.

Maka cukup umum terjadi pada anak-anak yang kehilangan orang tua atau kehilangan kakak adiknya dia akan mengembangkan sikap takut yang berlebihan, takut ditinggal, takut kalau orang tuanya sakit, jadi intinya adalah dia tidak mau mengalami peristiwa yang sama untuk kedua kalinya.
GS : Pak Paul, dalam kondisi seperti ini saya rasa bisa dialami oleh siapapun juga yang punya anak, tapi ini bukan sesuatu yang kita harapkan. Namun kalau itu terjadi di dalam keluarga pendengar kita yang lain apakah ada firman Tuhan yang bisa memberikan bimbingan?

PG : Saya akan bacakan dari kitab 2 Timotius 4:7, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tesedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan."

Ayat ini sering kali kita gunakan untuk orang yang sudah tua, menyelesaikan hidupnya dan siap untuk menerima mahkota kehidupan. Tapi sebetulnya ini tidak harus diterapkan pada orang yang sudah berusia lanjut, pada semua anak-anak Tuhan di segala usia yaitu bahwa anak Bapak-Ibu pun telah menyelesaikan pertandingan dan dia itu sudah mengakhirinya dengan baik. Dia mencapai garis akhir dan dia sekarang sudah menerima mahkota kebenaran itu, jadi janji Tuhan ini juga untuk semua anak-anak bukan hanya untuk orang tua.

GS : Ya terima kasih Pak Paul, dan kepada Bapak Jimmy dan Ibu Yuniarti kami ucapkan banyak terima kasih untuk kesediaan Bapak-Ibu membagikan pengalaman yang tentu sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan khususnya bagi pecinta, pendengar setia acara Telaga ini. Kami tentu masih mengharapkan kedatangan Bapak dan Ibu untuk acara Telaga yang berikutnya di mana kami mengharapkan Bapak-Ibu bisa memberikan, berbagi pengalaman bagaimana proses pemulihannya itu sehingga sampai sekarang Bapak-Ibu bisa berbagi dengan kami. Jadi para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami tentang "Tatkala Anak Meninggal Dunia". Perbincangan kami kali ini bersama Bp. Jimmy dan juga Ibu Yuniarti juga beserta Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



32. Saat Saat Pemulihan


Info:

Nara Sumber: Bp.& Ibu Jimmy S.
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T117B (File MP3 T117B)


Abstrak:

Salah satu respons tatkala kita mengalami tragedi adalah kita ingin mengerti makna dibalik tragedi ini. Kita ingin tahu kenapakah hal ini sampai terjadi, kemengertian kita itulah yang akan menolong kita untuk membangun hidup kita.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-daudara pendengar yang kami kasihi dimana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan kali ini Bp. Jimmy dan Ibu Yuniarti yang sudah hadir bersama kami untuk berbagi pengalaman sehubungan dengan anak mereka yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Kami sudah melakukan perbincangan ini pada kesempatan yang lampau dan kali ini akan melanjutkan perbincangan kami bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Saat-saat Pemulihan", kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami ucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Jimmy dan Ibu Jun, sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih, Bapak-Ibu berkenan hadir pada acara Telaga kali ini. Sebagaimana Bapak-Ibu sudah bagikan kepada para pendengar tentang peristiwa kematian dari putri Bapak-Ibu pada tahun 1998 yang lalu, tentu itu sesuatu yang sangat membekas dan kami bersyukur kepada Tuhan bahwa hal itu sudah bisa Ibu atasi, Bapak-Ibu atasi dengan baik. Nah pada kesempatan kali ini kami ingin mendapatkan pengalaman atau berbagi perasaan dengan Bapak-Ibu sekalian mungkin, sebenarnya setelah peristiwa itu terjadi bagaimana Bapak-Ibu memulihkan rasa percaya diri kembali, memulihkan semangat untuk bekerja kembali dan seterusnya itu. Pak Jimmy setelah peristiwa kematian dari putri Bapak itu apa yang Bapak lakukan supaya Bapak bisa kembali pada kegiatan semula, Pak?

J : Ya setelah beberapa hari memang kita sedih cuma setelah itu kita juga berpikir bahwa ini semua adalah kehendak Tuhan, saya pikir ini semua adalah kehendak Tuhan, Tuhan memanggil dia. Saya erasakan ini adalah kehendak Tuhan, kalau dia masih ada mungkin ada kejadian apa lagi yang mungkin lebih menyedihkan.

Jadi saya merasa itu, kita sudah pasrah sekali bahwa ini semua kehendak Tuhan.
GS : Bagaimana dengan Ibu Jun, untuk mengatasi perasaan sedih, perasaan marah itu?

Y : Dari orang tua saya sendiri dari ibu saya, pada saat anak saya meninggal itu dia juga mendapatkan firman Tuhan yang menguatkan. Dari situ saya juga lebih kuat, kemudian kakak saya juga menuatkan saya, juga dengan firman Tuhan yang dia baca pada saat itu dan dari pengalaman-pengalaman saya, dari firman Tuhan juga.

Banyak juga orang yang memberitahu saya begini, anak dua saja kok tidak bisa jaga ada yang bilang begitu, jadi itu menyedihkan buat saya, tapi puji Tuhan....Tuhan itu tahu bahwa semua itu Tuhan saja yang bisa menghibur saya.
GS : Pak Paul, terbukti bahwa mereka keluarga yang begitu mengasihi Tuhan dan setia membaca firman Tuhan dan memang hal itu akan mempercepat proses pemulihan ini, apakah seperti itu Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi salah satu respons yang muncul tatkala kita mengalami tragedi adalah respons ingin mengerti makna dibalik tragedi ini. Kita ingin tahu kenapakah hal ini sampai terjdi, nah kemengertian itu akan menolong kita untuk membangun hidup kita kembali.

Dalam kesaksian tadi yang Ibu-Bapak telah berikan saya bisa melihat hal itu bahwa Bapak-Ibu memilih untuk melihat tragedi ini dari kacamata Tuhan bahwa Tuhan mempunyai kehendakNya dan rencanaNya dan Bapak-Ibu menundukkan diri pada kehendak Tuhan, mempercayakan bahwa kehendak Tuhan adalah yang paling baik, meskipun Bapak-Ibu belum bisa melihat ke depan tapi Bapak-Ibu sudah mempercayakan. Tuhan tahu apa yang Dia lakukan dan rencana-Nya yang paling baik. Nah sekali lagi ini memberikan suatu pengertian meskipun belum mengerti detail tapi pengertian secara umum bahwa Tuhan memang menghendaki agar Nita pulang ke rumah-Nya.
GS : Sering kali memang seperti tadi Ibu Jun katakan, ada saja suara-suara yang membuat kita berkecil hati atau apa seperti tadi yang dikatakan anak dua saja tidak bisa jaga. Atau yang sering kali orang-orang datang berkunjung yang terlambat karena tidak bisa mengikuti proses pemakaman atau tidak tahu itu 'kan selalu menanyakan kembali ini peristiwanya bagaimana. Bapak-Ibu 'kan terpaksa mesti cerita lagi, apakah hal itu tidak merupakan sesuatu yang menimbulkan kesusahan baru bagi Pak Jimmy?

J : Memang itu menimbulkan kesusahan lagi, tapi kita juga sering mengatakan mau bagaimana ini sudah kehendak Tuhan, jadi saya tidak bisa apa-apa. Tuhan pasti mempunyai maksud dan rencana tersediri terhadap anak saya ini, terhadap keluarga kami juga.

Kita mengatakan cuma itu saja.
GS : Ya memang tadi seperti Ibu Jun katakan sering kali orang tua dipersalahkan dalam hal ini, kenapa anaknya sampai meninggal dan sebagainya. Nah ini bagaimana tanggapan Ibu Jun?

Y : Ya memang saya juga sangat menyesal untuk hal ini, tetapi setiap kali penyesalan itu timbul dalam diri saya, saya selalu mengingat cinta kasih Tuhan pada saya bahwa sebelum semuanya terjad, mengapa Tuhan sudah memberi penghiburan kepada saya, padahal semuanya 'kan belum terjadi.

Waktu saya membaca Alkitab, saya merasakan sejahtera begitu, betul Tuhan itu kasih.
GS : Ya pemeliharaan tangan Tuhan yang melampaui akal pikir kita, nah Pak Jimmy perlu waktu berapa lama saat itu tidak bekerja dan baru kemudian bekerja lagi?

J : Waktu itu 7 hari ya saya tidak masuk.

GS : Dan itu menolong proses pemulihan itu Pak? (J : Ya menolong begitu). Ibu Jun sendiri sebagai wanita karier juga mesti bekerja itu bagaimana bisa mendapatkan cuti atau dispensasi berapa hari waktu itu?

Y : Saya lupa waktu itu tapi teman-teman saya beritahu saya, lebih baik kamu masuk jadi tidak terlalu terpikir yang sedih-sedih lagi katanya teman-teman seperti itu.

GS : Nah apakah anjuran seperti itu betul, Pak Paul?

PG : Lihat timingnya ya, sebetulnya pada masa setelah kematian yang lebih baik adalah untuk kita benar-benar menangis mengekspresikan kesedihan kita. Dan mengizinkan diri untuk meratap karena ii kehilangan yang sangat dalam.

Kita tahu kita akan berjumpa lagi dengan dia tapi tetap dia adalah anak yang dekat dengan kita ya, jadi kehilangan itu sangat dalam. Tidak apa-apa untuk orang tua menangisi kepergian anaknya, kadang-kadang memang ada komentar-komentar yang justru seolah-olah kedengarannya baik yaitu jangan dipikirkan lagi, masuk kerja, sudah pikir ke depan sekarang dan sebagainya. Sudah tentu kita akan pikir ke depan, namun apa salahnya sekarang ini memang masih mengingat dan kita memikirkan diri kita untuk menangisi kepergiannya dan itu tidak apa-apa. Di Alkitab pun dicatat memang ini merupakan tradisi budaya bukannya permintaan Tuhan, tapi tradisi budaya yang baik. Sewaktu Samuel meninggal orang Israel meratapi untuk jangka waktu yang lama, sewaktu Yusuf meninggal orang-orang Israel meratap selama misalnya 40 hari, itu adalah masa yang memang diizinkan dan seolah-olah diwajibkan untuk menangis. Dan ternyata ditemukan bahwa menangis itu sesuatu yang sangat sehat, justru dengan menangis seseorang itu akan lebih siap untuk memulai hidupnya kembali.
GS : Nah itu sebagai pasangan tentunya Pak Jimmy melihat kesedihan Ibu Jun dan Ibu Jun melihat kesedihan Pak Jimmy, apa yang Pak Jimmy bisa lakukan atau mau mengatasinya sendiri-sendiri atau mengatasinya bersama-sama pada waktu itu?

J : Kita mengatasinya bersama-sama, kita juga sudah pasrah kepada Tuhan, dia juga ingatkan saya bahwa ini semua sudah kehendak Tuhan mau apa lagi. Tuhan mungkin punya rencana tersendiri.

GS : Tatkala Ibu Jun melihat Pak Jimmy dirundung kesedihan, apa yang Ibu Jun lakukan biasanya?

Y : Ya hanya mengingatkan dia akan firman Tuhan begitu saja, tidak ada lain.

GS : Dalam hal mengingatkan itu dibukakan Alkitab begitu atau hanya diingatkan. (Y : Hanya diingatkan saja) bahwa ada firman Tuhan yang mengingatkan kita, jadi itu ditanggung bersama-sama ya.

J : Pokoknya kita tetap kalau kita saat teduh selalu berdua, jadi bersama-sama kita membaca bergantian, kita doa bergantian juga.

GS : Tetapi apakah melalui peristiwa itu Pak Jimmy merasa lebih dekat dengan Ibu Jun dan sebaliknya begitu Pak Jimmy?

J : Ya

GS : Bagaimana dengan Ibu Jun?

Y : Ya lebih dekat.

GS : Merasa lebih dekat seperti itu karena apa Pak Paul?

PG : Karena hubungan Bapak dan Ibu memang baik, jadi saya mau tekankan hal ini. Karena sebetulnya krisis itu mempunyai dua sisi atau mempunyai dua dampak pada pasangan nikah. Dampak pertama adaah mendekatkan, kalau hubungan itu memang hubungan yang sehat, hubungan yang kuat karena justru melalui krisis inilah kedua orang ini saling memberikan bantuan kekuatan dan saling memikul beban.

Tapi krisis mempunyai dampak yang kedua pada pernikahan yaitu krisis ini akan makin menjauhkan pasangan nikah itu. Jadi sekali lagi krisis bisa mendekatkan tapi bisa juga memisahkan orang yang diserang oleh krisis tersebut.
GS : Ya memang kadang-kadang suami dengan gampangnya menyalahkan istrinya, "Kamu yang biasanya mengatur anak, masa' tidak tahu perubahannya dan seterusnya begitu Pak Paul?

PG : Itu reaksi yang juga sering dialami oleh pasangan nikah, jadi kecenderungannya adalah menyalahkan, tadi ini adalah bagian kemarahan. Maka tadi saya sebut kemarahan terhadap yang kita angga penyebab dari musibah ini.

Tapi memang saya melihat dalam kasus Bapak-Ibu, karena Bapak-Ibu dekat dengan satu sama lain dan dekat dengan Tuhan maka langsung menempatkan tragedi ini dalam rencana Tuhan dan tidak mempertanyakannya lagi. Nah kalau memang tidak berhasil menempatkannya dalam rencana Tuhan kecenderungannya adalah akan melihat ke kanan, ke kiri dan mencari siapa yang bisa disalahkan.
GS : Nah di sekeliling Bapak-Ibu mungkin sudah sampai sekarang tadi Ibu Jun menunjukkan kepada kami ini Alkitabnya, Alkitab yang dipakai Nita. Nah barang-barang yang biasa selalu dipakai oleh Nita apakah itu tidak selalu mengingatkan akan kehadirannya?

Y : Waktu itu kakak saya memang sudah memikirkan hal itu, jadi saat dia akan diberangkatkan ke perabuan, barang-barang seperti baju, seragam, tas sekolah itu semua sudah dibagi-bagi ini untuk iapa terserah.

Jadi untuk siapa yang memerlukan, dalam hal ini saya berterima kasih pada kakak saya supaya tidak terlalu membebani pikiran saya.
GS : Tapi toh tetap ada biasanya tempat tidur yang ditempati kemudian di sana sudah kosong dan sebagainya, Pak Jimmy kalau pulang kerja lalu masih melihat itu atau bagaimana pada awal-awalnya atau dibongkar sama sekali tempat tidur itu, dirubah susunannya atau bagaimana?

J : O....tidak, tetap saja begitu.

GS : Bagaimana kesan Pak Jimmy melihat bahwa tempat tidur itu sudah tidak lagi ditinggali?

J : Saya untuk itu jarang melihat, saya jarang sekali masuk ke kamarnya. (GS: Menghindari itu ya) menghindari.

GS : Apakah adiknya tidak tidur sekamar pada waktu itu?

Y : Tidur, tidur sekamar.

GS : Berarti kalau menengok adiknya pasti kelihatan tempat tidur itu, Pak Jimmy?

J : Untuk waktu itu adiknya tidur bersama-sama dengan kita jadi bertiga untuk jangka waktu beberapa hari itu kita selalu bertiga.

GS : Pak Paul, ini memang sesuatu yang agak sulit, banyak hal yang mengingatkan kita, banyak kenangan-kenangan tertentu dengan benda-benda di sekelilingnya atau malah rekaman suaranya atau benda-benda hasil buatannya sendiri, itu bagaimana Pak Paul. Mau dibuang sayang, tetapi kalau kita biarkan di sana terus mengingatkan begitu Pak Paul?

PG : Bagi yang memang sudah siap untuk menyingkirkan barang-barangnya tidak apa-apa, seperti tadi Ibu katakan memang Ibu dan Bapak langsung bagikan dan hanya menyimpan barang tertentu, itu jugatidak apa-apa.

Namun yang perlu disadari adalah kadang kala setelah kematian orang yang kita kasihi kita itu tergesa-gesa menyingkirkan sehingga ada yang kebablasan menyingkirkan hampir semuanya atau semuanya, tidak ada lagi peninggalannya dalam rumah itu. Nah sebaiknya tidak begitu, sebaiknya yang dianjurkan adalah seperti ini, kita membiarkannya dulu sampai memang kita sendiri sudah mulai siap untuk menyingkirkan. Dan menyingkirkannya pun secara bertahap misalnya kita tidak langsung menjual atau memberikannya kepada orang lain. Tapi kita menyingkirkan dari tempat yang dapat dilihat ke dalam tempat yang tidak bisa dilihat, misalkan seperti baju yang tadinya masih di dalam lemari pakaian, sekarang dikemasi dimasukkan ke dalam boxs dan disimpan ke gudang misalnya seperti itu. Tapi misalnya mainannya atau apa kita masih biarkan ada di dalam kamarnya dan nanti selama kita masih ingin melihat, silakan melihat dan memang waktu melihat kita akan sedih, kita akan menangis tapi tetap itu tidak apa-apa itu juga baik. Sampai kita siap lagi barang-barang yang masih ada itu kita masukkan lagi di boxs taruh lagi di gudang, nah kalau sudah begitu melewati jangka waktu misalkan barang-barang yang digudang itu barulah kita siap untuk berikan kepada orang lain atau kita singkirkan secara permanen keluar dari rumah kita. Namun akan ada barang-barang yang kita simpan untuk waktu yang lama atau mungkin selama-lamanya seperti dalam kasus bapak-Ibu. Tadi Bapak-Ibu sudah katakan kepada kami di luar rekaman ini bahwa Bapak-Ibu menyimpan Alkitabnya Nita. Nah saya kira itu juga sangat baik ya, jadi kita menyimpan satu atau dua barang yang mengingatkan kita dengan dia dan tidak apa-apa. Sebab memang dia adalah bagian hidup kita, dulu dan sekarang sampai selama-lamanya sebab kita tahu dia itu tidak lenyap ya, dia tidak kasat mata itu betul, dia tidak bisa kita lihat itu betul tapi dia tidak lenyap, dia sekarang bersama dengan Tuhan dan kita akan menyusulnya ke sana jadi kalau kita masih memiliki beberapa barang-barangnya itu tidak apa-apa meskipun kita akan teringat akan dia.
GS : Pak Paul, kalau salah satu dari pasangan ini tiba-tiba ingat akan peristiwa itu dan itu sering kali terjadi Pak Paul. Istri saya saja yang belum sampai anak itu lahir artinya keguguran pada usia kandungannya yang ketiga bulan, itu kadang-kadang sering mengatakan waduh sekarang ini misalnya waktu itu jadi anak, anak ini usianya sudah sekian tahun. Nah saya kadang-kadang tidak bisa berbicara apa-apa Pak Paul, mau menghibur berbicara apa, dia sedih sekali mengingat peristiwa itu apalagi yang dialami oleh Pak Jimmy dan Ibu Jun. Hal-hal seperti itu 'kan bisa terlintas Pak Paul, nah sebagai pasangan sebenarnya apa yang bisa kita lakukan?

PG : Sebaiknya adalah kita mengiyakan bahwa memang itu hal yang menyedihkan, jadi kita hanyalah memberikan ungkapan pengertian. Dan yang tidak boleh kita lakukan adalah memarahinya atau mengataan kenapa kamu masih mengingat-ingat, sebetulnya itu tidak baik ya.

Yang lebih baik justru berkata iya....ya kalau dia masih ada dia sekarang berusia berapa, kalau dia masih ada dia mungkin sudah bisa begini atau begitu nah itu adalah hal wajar dan tidak apa-apa untuk dikatakan.
GS : Ada pula pasangan yang berkata, di dalam mimpinya itu sering kali dia berjumpa dengan anaknya yang sudah meninggal itu Pak Paul, nah itu apa sebenarnya Pak Paul, gejala apa ini?

PG : Saya boleh tambahkan bukan hanya berjumpa dalam mimpi, tapi kadang kala seolah-olah melihat dia, seolah-olah dia itu masih hadir atau melihat penampakannya. Nah sebetulnya yang terjadi adaah bukannya kita melihat dia tapi kerinduan kita, kehilangan yang begitu besar membuat kadang-kadang memang kejernihan kita untuk berpikir sedikit banyak terpengaruhi.

Dan waktu itu terjadi persepsi kita atau panca indra kita juga turut terpengaruhi sehingga ada moment-moment sepertinya kita melihat penampakannya. Bisa juga ini dipicu oleh sesuatu yang kita tidak sadari tapi sebetulnya membangkitkan memori kita akan dia, misalkan ada suara tertentu yang biasanya kita dengar sewaktu dia masih ada dan kembali kita dengar, waktu kita dengar suara itu kita akan tiba-tiba merasakan dianya juga ada di sini bersama kita atau mencium bau tertentu yang mengingatkan kita dengan dia tapi saat itu sebetulnya tidak kita sadari bau apa itu namun tatkala kita menciumnya tiba-tiba memori kita hidup kembali dan kita seolah-olah merasakan kehadiran yang begitu riil. Nah sesungguhnya bukannya dia itu memunculkan diri bukan ya, kita tahu dia di tangan Tuhan dia tidak muncul lagi kepada kita. Tapi kerinduan kita, kehilangan kita, kesedihan kita yang begitu dalamlah yang memunculkan reaksi-reaksi seperti itu, baik dalam mimpi maupun dalam alam sadar.
GS : Nah apakah hal itu dialami oleh Pak Jimmy?

J : Kalau itu tidak, saya itu malah ingin kalau dia muncul begitu ya, sekarang saya juga belum pernah mimpi.

GS : Bagaimana dengan Ibu Jun?

Y : Kalau mimpi, "Lho kamu sudah lama tidak sekolah," mimpinya begitu. (GS : Secara tidak sadar ya Ibu mengatakan demikian) ya, kemudian kalau saya mau mengajak makan sama-sama begit, saya panggil dua-duanya o...ya

jadi sadar. Waktu saya pulang dari gereja saya pernah ikut mobil gereja lalu tanpa sadar lho...mana Nita? Langsung saya dicubit sama teman saya. dari situ saya sadar.
GS : Itu karena peristiwa itu dilakukan berulang-ulang begitu Pak Paul?

PG : Betul. Jadi itu adalah reaksi-reaksi yang sangat umum Bu ya, memanggil namanya, dan salah satu hal yang sulit dilalui oleh orang tua setelah kematian anak ini adalah hari ulang tahunnya, iu yang berat untuk dilewati sebab hari ulang tahun benar-benar merupakan perlambangan kehadirannya dalam hidup kita.

GS : Kalau hari meninggalnya dia Pak Paul?

PG : Sama, hari meninggalnya juga, pokoknya hari-hari peringatan yang memang sangat mengingatkan kita dengan dia.

GS : Nah kalau pas hari ulang tahunnya biasanya bagaimana Pak Jimmy dan Ibu Jun, mengatasi memori seperti itu, apakah itu menjadi masalah betul atau tidak saat ini khususnya?

Y : Saya tidak mengingat-ingat.

GS : Tidak mengingat-ingat ya, kalau Pak Jimmy?

J : Saya juga ingat, saya kadang-kadang mau kita makan-makan dulu pas di hari ulang tahunnya, tapi saya pikir-pikir jangan nanti tambah mengingatkan kita lagi, jadi kita batalkan. Saya sendiriyang membatalkan tidak usah kita biasa saja.

GS : Menurut Pak Jimmy, saat ini setelah berjalan sekitar 4 tahun apakah hal itu sudah bisa teratasi betul, begitu?

J : Bisa

GS : Bagaimana dengan Ibu Jun?

Y : Ya terutama Tuhan itu menghibur kami semua bukan dengan Alkitab saja tapi dengan penglihatan waktu kita meletakkan abu di laut itu, ada kelompok ikan yang loncat-loncat berkejar-kejaran. Dri situ saya tahu Tuhan itu betul-betul menghibur saya lewat berbagai macam cara.

GS : Dan hal itu bisa terjadi memang, Pak Paul?

Y : Jadi saya terpesona dengan ikan itu jadi saya tidak memikirkan abu tadi. Begitu cintanya Tuhan itu luar biasa untuk saya.

GS : Bagaimana Pak Paul apakah ada ayat Alkitab yang mendukung.

PG : Saya akan bacakan lagi dari 2 Timotius 4, kita tahu Timotius adalah kitab yang terakhir Paulus tulis sebelum dia dipanggil pulang oleh Tuhan. Dan ini yang dia catat di ayat 17 "Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya."

Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, Paulus mengatakan ini sebagai kesaksian atas pendampingan Tuhan melewati masa yang sulit dalam hidupnya. Dan ini saya yakin juga telah menjadi kekuatan bagi Bapak dan Ibu melewati masa yang sulit itu.

GS : Ya kami ucapkan terima kasih kepada Pak Jimmy dan Ibu Yuniarti yang sudah berkenan untuk hadir dalam perbincangan Telaga kali ini dan tentu saya percaya sekali apa yang kita perbincangkan kali ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Kita tidak tahu tetapi mungkin ada daripada pendengar kita yang sedang mengalami saat sulit seperti ini, tetapi kita percaya bahwa pendampingan Tuhan seperti tadi yang dibacakan di dalam Alkitab itu juga berlaku atas mereka. Jadi sekali lagi terima kasih Pak Jimmy, Ibu Yuniarti dan juga Pak Paul. Para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan ini dengan setia bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Saat-saat Pemulihan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



33. Mengapa Sukar Beriman


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T131A (File MP3 T131A)


Abstrak:

Harus disadari bahwa beriman bukanlah satu pilihan dalam hidup, beriman adalah kewajiban manusia. Oleh karena itu Tuhan menghendaki kita hidup dengan iman, namun ternyata hidup dengan iman tidaklah mudah. Dalam materi ini kita akan melihat mengapa Tuhan menuntut iman dari kita dan bagaimana kita harus beriman.


Ringkasan:

Kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita hidup dengan iman, Firman Tuhan berkata, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6) Namun ternyata hidup dengan iman tidaklah mudah.

Faktor-Faktor yang Menyulitkan untuk Beriman

  1. Kita menginginkan kepastian dan beriman tidak memberikan kepastian kasatmata. Kita tidak tahu apakah Tuhan akan mengabulkan permintaan kita dan kita tidak tahu kapan Ia akan bertindak. Kita tidak tahu apakah rencana kita sesuai dengan rencana Tuhan.

  2. Hidup menyajikan dua pilihan kepada kita: Bersandar kepada Tuhan atau diri sendiri. Tatkala Tuhan tidak menjawab doa sebagaimana yang kita harapkan, kita tergoda untuk bersandar pada diri sendiri. Kita tidak suka bersandar pada orang lain atau hal-hal di luar diri kita. Kita tidak suka menggantungkan hidup kita di tangan orang lain.

Mengapa Tuhan Menuntut Iman dari Kita?

  1. Iman adalah alat komunikasi atau sarana penghubung antara manusia dan Tuhan. Tuhan dan manusia berasal dari dua substansi yang berbeda: Tuhan roh dan manusia jasmani; Tuhan tidak terbatas, manusia terbatas; Tuhan kekal manusia fana. Iman adalah bahasa penghubung antara Tuhan dan manusia.

  2. Iman merupakan bukti kepatuhan kita kepada Tuhan. Iman adalah bukti pengakuan kita akan status kita sebagai ciptaan dan Ia sebagai pencipta.

Bagaimana Beriman?
Menyadari bahwa beriman bukanlah satu pilihan dalam hidup-boleh ada, boleh tidak ada-beriman adalah kewajiban manusia. Itu sebabnya Tuhan berkata, "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." Kata berkenan berarti menyenangkan. Jadi, kita kembali kepada tujuan hidup, apakah kita hidup untuk menyenangkan hati Tuhan? Beriman berarti percaya bahwa Allah ada, yang berarti:

  1. Ia mengatur hidup-rencana-Nya yang sedang terjadi dan digenapi.

  2. Ia menuntut pertanggungjawaban-bagaimana kita hidup dan apa yang kita perbuat.

  3. Ia terlibat dalam hidup kita-Ia mengasihi kita; Ia berinteraksi dengan kita; Ia menyelamatkan kita dari dosa.

Beriman berarti percaya bahwa Allah memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Inilah iman dalam penerapan praktisnya.

  1. Semua janji tunduk pada pemenuhan kondisi yang memunculkan janji itu. Dengan kata lain, kita harus memahami janji sesuai dengan konteks yang melingkupi janji itu. Janji Tuhan tunduk pada rencana dan kehendak Tuhan-inilah konteks yang mengelilingi janji Tuhan.

  2. Tuhan menepati janji-Nya dan jika Ia tidak memberi kita upah yang kita harapkan, Ia tidak melakukannya untuk menyakiti kita. Ia menahan upah itu karena rencana-Nya yang tidak ketahui sedang berjalan di atas situasi yang kita hadapi.

  3. Kesimpulannya, minta dan percayalah, seperti seorang anak kepada orang tuanya. Jangan berhenti percaya!


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya, Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan saat ini saya ditemani oleh Ibu Wulan, S.Th. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Sukar Beriman". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, apa atau bagaimana hubungan atau kehendak Tuhan kepada kita masing-masing di dalam hidup ini, dalam hubungannya dengan Tuhan itu sendiri Pak Paul?

PG : Ibrani 11:6 berkata: "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Alah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."

Dengan kata lain, Tuhan menghendaki kita hidup dengan iman Pak Gunawan. Nah, itulah yang Tuhan minta dari kita semua, tapi faktanya adalah ternyata tidak terlalu mudah bagi kita hidup dengan iman, bukankah demikian Pak Gunawan.
GS : Ya, tetapi hampir semua orang apalagi di negara kita ini selalu mengatakan dia beriman, dia percaya kepada Allah, apakah itu tidak cukup Pak Paul?

PG : Secara permukaan memang level atas iman atau level permukaan iman ialah percaya bahwa Allah itu ada, bahwa kita ini bukan saja manusia yang bertumbuh dari sesuatu yang non-organik kemudia kita ada, tentu saja tidak demikian.

Kita tahu dan yakin bahwa Tuhanlah yang menciptakan kita, namun iman jauh melebihi dari sekadar pengakuan bahwa Tuhan itu ada.
GS : Kalau tadi Pak Paul membacakan ayat dari Ibrani yang mengatakan dengan tegas bahwa tanpa iman tidak mungkin orang itu berkenan kepada Allah. Tetapi bagaimana seseorang itu bisa memperoleh iman itu Pak Paul?

PG : Iman itu memang bisa kita artikan sebuah respons dari manusia terhadap inisiatif Tuhan. Tuhan menyatakan diri-Nya kepada kita melalui alam semesta ciptaan-Nya, melalui karya-Nya menyelamatan manusia di atas kayu salib, cinta kasih Tuhan sudah dibagikan kepada kita, manusia.

Nah, apakah respons manusia kepada Tuhan? kita bisa menyimpulkan bahwa respons kita terhadap semua tindakan Tuhan itu adalah iman.
WL : Pak Paul, tadi Pak Paul mengatakan bahwa hidup beriman itu tidak mudah, maksudnya mungkin memelihara iman dalam kehidupan sehari-hari untuk tetap beriman kepada Tuhan. Menurut Pak Paul kira-kira faktor apa saja yang membuat kita sulit bertahan dalam iman pada Tuhan?

PG : Yang pertama adalah kita menginginkan kepastian Bu Wulan, dan beriman tidak memberikan kepastian kasat mata. Kita manusia sangat bergantung sekali pada yang kasat mata, sebab yang kasat mta membuat kita lebih memiliki kepastian.

Apa yang tidak bisa kita lihat, dapat membuat kita lebih cemas. Nah, masalahnya adalah kita tidak selalu dapat mengetahui apakah Tuhan akan mengabulkan permintaan kita dan kita tidak tahu kapan Dia akan bertindak. Jadi sebetulnya ada dua kesulitan yang berbeda, kita tidak tahu apakah Tuhan pasti akan memberikan apa yang kita minta. Terus terang, hal ini mengarah kepada ketidakpastian. Meskipun kita tahu Tuhan meminta kita untuk memohon kepada-Nya, tetapi kita tidak memiliki kepastian. Dan yang kedua adalah kita juga tidak tahu kapan Dia bertindak. Bisa hari ini, bisa minggu depan dan bisa tahun depan. Nah, secara alamiah sebagai manusia kita ingin kepastian itu, bahwa Dia akan memberikan sebagaimana yang kita minta dan kita ingin mengetahui waktunya. Boleh setahun lagi, tapi kita ingin mengetahui waktunya. Contohnya adalah Abraham, dari titik saat Tuhan memberitahukannya bahwa dia akan mempunyai keturunan yakni Ishak sampai dia benar-benar mempunyai keturunan. Dia harus menanti sekitar 25 tahun dan itu bukan waktu yang singkat. Nah, jadi hal-hal itulah yang pada akhirnya akan menyulitkan kita untuk bertahan dalam iman kita.
GS : Tapi Pak Paul, bukankah hidup ini akan menjadi lebih menarik, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi atau bukan merupakan suatu kepastian membuat hidup ini menarik Pak Paul?

PG : Menarik sekaligus menegangkan Pak Gunawan, betul sekali ya. Nah, hal ini yang menambah kesulitan kita untuk memelihara iman, yaitu pada akhirnya berhadapan dengan dua pilihan dalam hidup ni, bersandar kepada Tuhan atau bersandar kepada diri sendiri.

Nah, tatkala Tuhan tidak menjawab doa sebagaimana yang kita harapkan, kita tergoda untuk bersandar pada diri sendiri, sebab kita tidak suka bersandar pada orang lain atau hal-hal di luar diri kita. Kita tidak begitu senang bergantung atau menggantungkan hidup kita pada tangan orang lain yang tidak bisa kita kontrol. Sehingga godaan terbesar adalah pada akhirnya kita bersandar kepada diri sendiri. Sebab setidak-tidaknya, kita bisa mengerti dan mengetahui tentang diri kita. Jadi faktor-faktor inilah yang menambah kesulitan kita sebagai manusia untuk bertahan dalam iman.
WL : Pak Paul, apakah prinsip ini berlaku untuk semua orang atau kepada orang tertentu, misalnya orang-orang yang biasa mandiri, dari kecil sudah terdidik mandiri sampai dia sudah bekerja atau berkarier, segala macam dan segala sesuatu bisa dilakukan sendiri dan selalu bersandar pada diri sendiri begitu. Dan dia mempunyai rencana yang pasti dalam segala hal, jadi hal itu menyebabkan dia sulit bergantung pada Tuhan atau memang orang yang kebalikannya dependen, juga begitu kepada semua orang atau bagaimana maksud Pak Paul?

PG : Sudah tentu faktor-faktor latar belakang yang akan mempengaruhi mudah sukarnya kita ini bersandar kepada Tuhan. Contohnya adalah kalau dari dulu kita terbentuk untuk bersandar pada diri sndiri, otomatis menyerahkan tahta hidup kita kepada Tuhan itu akan lebih sulit.

Kebalikannya orang yang lebih berimbang, bisa percaya kepada orang, bisa bergantung kepada orang tapi tidak selalu dan terus-menerus bergantung kepada orang lain. Orang yang cukup berimbang, dalam hal ini akan lebih mudah bergantung kepada Tuhan. Namun kita juga mesti berhati-hati dengan orang yang memang tidak bisa hidup sendiri. Jadi terus bergantung kepada orang lain. Nah, orang seperti ini akan lebih mudah bergantung kepada Tuhan, sebab itu memang sudah merupakan kelemahannya. Maka seorang Psikolog yang bernama Newton Molloni pernah mengatakan bahwa sebetulnya ada dua jenis cara orang beriman atau bersandar kepada Tuhan. Ada orang yang menggunakan agamanya untuk melarikan diri dari kenyataan, Jadi secara harafiah, sebetulnya imannya adalah tempat persembunyiannya, sebab dia takut sekali menghadapi fakta dalam hidup ini. Sudah tentu kita percaya Tuhan tetap akan menerima orang yang seperti ini, dan Tuhan tidak akan menolaknya. Tapi seyogyanyalah kita bertumbuh, tidak selalu ketakutan seperti itu.
GS : Pak Paul, kalau memang seseorang itu pada umumnya sukar untuk bisa beriman, hidup di dalam iman kepada Tuhan, tapi kenapa Tuhan itu menuntut (seperti tadi dikatakan) seseorang untuk beriman, karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah?

PG : Alasannya adalah iman merupakan alat komunikasi atau sarana penghubung antara manusia dan Tuhan. Tuhan dan manusia itu berasal dari dua substansi yang berbeda, Tuhan itu Roh dan manusia it jasmani.

Tuhan itu tidak terbatas dan manusia itu terbatas. Tuhan kekal, sedangkan manusia itu fana. Nah, bahasa atau alat komunikasi yang bisa membuat manusia dan Tuhan itu bersatu atau saling berhubungan adalah iman. Imanlah yang bisa berkata: "Tuhan, saya melihat Engkau, bahasa yang bisa berkata: "Tuhan, saya tidak mengerti karena mata saya tidak bisa menemukan jalan keluarnya, tapi saya tetap bergantung dan bersandar kepada Engkau". Nah, pada waktu manusia berkata seperti itu kepada Tuhan, dia berkomunikasi dengan Tuhan. Sebaliknya kalau manusia berkata. "Mata saya tidak melihat jalan keluarnya dan berhenti sampai di sini saja, untuk bersandar kepada Tuhan", detik itu komunikasi dengan Tuhan terputus dan berhenti. Jadi sekali lagi, kenapa Tuhan menuntut iman, sebab Tuhan menginginkan bisa berelasi dengan kita, manusia dan relasi itu hanya bisa berlangsung jikalau kita bisa beriman dengan berkata: "Tuhan, saya tidak mengerti, tapi tetap percaya." Nah, itu salah satu alasannya kenapa Tuhan menuntut iman dari kita.
GS : Apakah ada alasan yang lain itu?

PG : Yang lainnya adalah ini Pak Gunawan, iman merupakan bukti kepatuhan kita kepada Tuhan. Iman adalah bukti pengakuan kita akan status kita sebagai ciptaan dan Dia sebagai Pencipta. Dengan kaa lain, tadi saya sudah singgung, iman adalah respons manusia terhadap tindakan-tindakan yang telah lakukan Tuhan dalam kehidupan kita.

Nah, iman adalah bukti bahwa kita ini tunduk kepada Tuhan, apapun kehendak-Mu meski tidak saya mengerti, saya akan percaya dan lakukan. Di situlah manusia menunjukkan kepatuhannya yang paling puncak. Kalau dia mengerti dan dia melakukannya alias dia mematuhi Tuhan yang adalah baik, itu tanda kepatuhan, tapi bukan pada puncaknya. Pada puncaknya adalah sewaktu dia tidak mengerti namun tetap berkata: "Saya percaya dan saya melakukannya." Nah, di situlah iman benar-benar muncul dalam bentuk yang paling indahnya, kepatuhan kepada Tuhan.
GS : Tetapi bagaimana seseorang bisa mempunyai iman seperti itu, itu masalahnya Pak Paul?

PG : Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan Pak Gunawan, yang pertama adalah kita mesti menyadari bahwa beriman bukanlah suatu pilihan dalam hidup. Kita bukannya berkata: "O.....iman bole ada, boleh tidak ada," o...tidak!

Beriman sebetulnya adalah kewajiban manusia. Itu sebabnya Tuhan berkata: "Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Nah, kata berkenan kita tahu berarti menyenangkan. Jadi dengan kata lain tanpa iman tidak mungkin kita menyenangkan hati Tuhan, kira-kira itu dasarnya. Akhirnya kita kembali kepada tujuan hidup kita, apakah kita hidup untuk menyenangkan hati Tuhan ataukah kita hidup untuk menyenangkan hati kita. Kalau kita memutuskan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Tuhan berarti kita harus belajar beriman, percayakan dan percayakan meskipun akal dan mata kita mengatakan yang sebaliknya.
WL : Maksudnya belajar beriman itu seperti apa Pak Paul?

PG : Benar-benar belajar berkata kepada diri sendiri, meskipun saya tidak mengerti dan cara kerja Tuhan tidak bisa saya ikuti, tetapi saya tetap percaya pada karakter Tuhan yang baik dan yan adil.

Belum lama ini saya menonton sebuah film yang bagus, ya Pak Gunawan dan Ibu Wulan, The Count of Montecristo, film itu menceritakan tentang seseorang yang difitnah dan akhirnya dipenjarakan dan harus mendekam selama 11 tahun di penjara. Dan di penjara itulah dia menemukan sebuah tulisan yang ditulis oleh tahanan yang sebelumnya, yakni Tuhan akan memberikan keadilan. Nah, pada akhirnya sampai ke titik ketidakpercayaan lagi kepada Tuhan. (WL : Pasti sulit)Betul, karena dia difitnah dan tidak lagi mungkin keluar. Namun akhirnya Tuhan mempertemukan dia dengan seorang pendeta tua yang memberikan kekuatan kepadanya, sehingga akhirnya bisa kembali beriman kepada Tuhan. Jadi beriman berarti percaya bahwa karakter Tuhan adalah seperti yang dikatakan-Nya bahwa Dia baik, meskipun yang kita terima tidak baik. Bahwa Dia adil, meskipun yang kita terima tidak adil. Bahwa Dia akan membela kita, walaupun saat ini kita sedang diinjak-injak. Bahwa Dia penuh kasih, meskipun yang kita alami sekarang sangat menyakitkan dan terasa sangat kejam. Jadi beriman berarti percaya perkataan Tuhan.
GS : Beriman seperti yang tadi Pak Paul uraikan itu ditujukan kepada satu pribadi, padahal seseorang ini kesulitan untuk bisa mempercayakan hidupnya kepada satu pribadi yang bagi dia itu sesuatu yang tidak riil, Pak Paul.

PG : Jadi langkah awalnya adalah ini Pak Gunawan, kita mesti percaya bahwa Allah atau Tuhan itu ada, meskipun kita tidak bisa melihat dengan mata kita. Dari manakah kita tahu Tuhan itu ada. Perama-tama, lihatlah alam ciptaan-Nya itu terlebih dahulu, bahwa terlalu sempurna untuk bisa muncul secara kebetulan.

Lebih susah percaya bahwa ini semua kebetulan daripada percaya bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta dan kita semua. Jadi percayalah Allah Pencipta memang ada. Kita juga mesti percaya Allah itu mengatur hidup kita. Bahwa yang sedang terjadi di dalam hidup kita dan dalam sejarah dunia ini adalah rencana-Nya, bukan sesuatu yang terjadi di luar rencana-Nya dalam kekacauan, tidak! Dia mengatur hidup. Kita juga percaya bahwa Tuhan menuntut pertanggungjawaban, artinya karena Dia ada, Dia meminta kita hidup dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan yang Dia inginkan. Bagaimanakah kita hidup dan apa yang sedang kita perbuat sekarang, pada akhirnya harus kita pertanggungjawabkan di mata Tuhan. Dan beriman juga berarti kita percaya Tuhan terlibat dalam hidup kita, Dia mengasihi kita, Dia berinteraksi dengan kita, Dia menyelamatkan kita dari dosa, seperti lagu yang berkata He lives, He Lives. Bagaimanakah kita tahu Tuhan itu hidup?, Kita tahu Tuhan itu hidup karena memang Tuhan bercakap-cakap dengan kita, memimpin hidup kita, menjawab doa kita, menyediakan kebutuhan kita. Tuhan secara nyata terlibat dalam hidup kita.
WL : Pak Paul, pada waktu disebut kata terlibat, langsung pikiran saya terusik. Kalau dalam kehidupan sehari-hari keterlibatan kita misalkan dengan orang tua, seringkali kita "menuntut" mereka terlibat dalam segala sesuatu, suka dan duka, membimbing dan sebagainya. Hal itu secara tidak sadar, kita juga menuntut Tuhan. Kalau memang Dia terlibat, Dia mengasihi, berinteraksi, sering kali Tuhan yang dalam bahasa manusia "silent", no respons. Seolah-olah ya sudah dibiarkan begitu saja. Nah, rasanya tidak mudah untuk tetap beriman pada saat-saat seperti itu. Tapi pada sisi lain di Alkitab ada tokoh-tokoh iman yang benar-benar besar sekali dalam moment-moment yang genting, yang sulit bisa melakukan seperti itu.

PG : Tapi kita akhirnya menyadari bahwa mereka pun tidak sampai kepada iman yang kuat dengan mudah. Mereka pun mengalami jatuh bangun. Dua kali Abraham harus berbohong dengan mengatakan bahwa strinya adalah saudaranya, supaya dia tidak dibunuh.

Dengan kata lain, dua kali Abraham memang tidak mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Nah, saat ketigakalinya sewaktu Tuhan meminta untuk mempersembahkan anaknya Ishak, barulah dia mampu melakukannya. Tapi dua kali dia jatuh bangun dalam imannya dan tidak selalu berhasil dalam imannya. Kita akan melihat tokoh-tokoh, anak-anak Tuhan yang jatuh bangun. Petrus tidak selalu mampu hidup kuat, berkhotbah kepada ribuan orang dan percaya. Petrus yang kita kenal adalah Petrus yang pernah menyangkal Tuhan, Petrus yang juga pernah hidup munafik, seharusnya berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, bergaul dengan orang-orang non-Yahudi, tapi begitu orang-orang non-Yahudi datang, dia cepat-cepat menyingkir. Jadi Petrus adalah Petrus yang manusiawi dan seperti itulah yang dapat kita lihat. Daud yang bisa beriman, bertahun-tahun dikejar Saul, di padang gurun, di hutan-hutan tetap percaya kepada Tuhan, tapi detik-detik tertentu dalam hidupnya dia gagal. Dia jatuh ke dalam dosa perzinahan, dia pernah menyuruh Yoab panglimanya menghitung tentaranya untuk melihat berapa kekuatannya dan gagal melihat kekuatan Tuhan. Jadi saya kira, kita ini bertumbuh dan dalam pertumbuhan itu kita bisa jatuh-bangun.
WL : Dari penjelasan Pak Paul, saya boleh merangkumkan bahwa Tuhan memahami dan menerima proses jatuh bangun seseorang dalam beriman begitu Pak Paul.

PG : Dan Tuhan tidak berkata, "Saya kecewa, sebab itu sudahlah kamu keluar", tidak demikian. Tuhan akan tetap memegang tangan kita, meskipun kita jatuh bangun dan jatuh bangun.

GS : Ada memang pengalaman-pengalaman yang jatuh bangun-jatuh bangun, barangkali sering jatuhnya. Tapi ada orang-orang tertentu yang bersungguh-sungguh berupaya untuk menjadi seorang beriman, di dalam sikap hidupnya sehari-hari menjadi stabil begitu. Dia berusaha dengan sungguh-sungguh. Nah, itu di pandangan dan di hadapan Tuhan bagaimana Pak?

PG : Orang stabil, yang memang bisa benar-benar bersungguh-sungguh sudah tentu akan menyenangkan hati Tuhan, ya Pak Gunawan. Orang-orang seperti ini tidak selalu melihat apa yang sedang Tuhan prbuat dalam hidupnya, tapi dia tetap percaya kepada Tuhan.

Sebab begini Pak Gunawan, pada akhirnya iman yang matang adalah iman yang berkata: "Tuhan, yang saya lihat berbeda", tapi sebetulnya, di saat itu rencana Tuhan sedang berjalan di atas apa yang sedang kita lihat. Jadi saya boleh mengumpamakan dengan seseorang yang sedang menyelam di dalam air yaitu di lautan. Dia pada waktu berada di dalam air melihat ikan, batu karang dan sebagainya. Tapi dia tidak mungkin melihat apa yang ada di atas air, bahwa sebetulnya di atas air, ada perahu yang sedang mengikuti dia dan menyertainya. Dia tidak menyelam sendirian. Mungkin dia berpikir, saya hanya dikelilingi oleh karang,ikan dan tidak ada siapa-siapa. Tapi di atas air ada sebuah perahu yang sedang mengikutinya. Nah, itulah pengibaratan tentang hidup kita dengan Tuhan, kita melihat peristiwa-peristiwa yang kita alami ini, kita mengatakan Tuhan di mana, Tuhan tidak ada di situ, sebab kita tidak melihat. Di atas permukaan rencana Tuhan sedang terjadi. Jadi orang yang beriman kuat adalah orang yang bisa berkata seperti itu: "Tuhan, rencana-Mu sedang berjalan di atas situasi yang sedang saya hadapi, meskipun aku tidak bisa memahami apa yang sedang aku lalui."
GS : Terhadap orang seperti itu Pak Paul, apakah Tuhan itu memberikan perhatian yang khusus Pak?

PG : Saya kira pada akhirnya Tuhan akan memberikan upah, ya Pak Gunawan, seperti yang tadi dikatakan Tuhan memberikan upah kepada orang yang bersungguh-sungguh mencarinya. Tuhan akan melimpahka berkat-Nya, mungkin pada detik ini tidak bisa kita lihat, tetapi kita tahu Tuhan sedang menantikan saatnya melimpahkan berkat kepada kita.

Nah, itu yang akan kita pegang dalam hidup kita.
GS : Ya contohnya bagaimana Pak Paul, contoh yang praktis itu?

PG : Praktisnya begini, misalkan kita ini sedang menantikan seorang anak, kita berdoa, berdoa, berdoa tetapi Tuhan tidak mengaruniakan kepada kita seorang anak. Nah, kita tetap percaya bahwa searang rencana Tuhan sedang berjalan, di dalam ketidakhadiran seorang anak, rencana Tuhan sedang berjalan.

Jadi kita harus tetap berjalan dalam hidup kita, melaksanakan yang Tuhan inginkan, benar-benar kita tidak berkata hidup kita berhenti gara-gara Tuhan belum memberikan anak. Kita tetap percaya bahwa rencana Tuhan sedang berjalan. Dan di tengah-tengah penantian ini, Tuhan terus memberikan upah-upah-Nya, berkat-berkat-Nya yang mungkin sekali bukan dalam bentuk anak seperti yang kita minta itu, tapi dalam bentuk-bentuk yang lainnya, Nah ini yang akan kita pegang. Seperti anak kecil percaya kepada ayah dan ibunya, demikian pulalah kita datang kepada Tuhan, kita percaya Tuhan tahu yang paling baik, Dia akan memberikan kepada kita yang paling baik pula.
GS : Kadang-kadang pemberian di antara itu Pak Paul, justru yang membuat seseorang itu kehilangan tujuannya yang semula. Jadi ketika permintaannya yang mula-mula tadi dikabulkan seperti tadi contohnya merindukan seorang anak, ketika anak itu diberikan akan sering kali orang kaget, lho kenapa baru sekian Tuhan mengabulkan doa saya, bagaimana itu prosesnya?

PG : Sudah tentu dia akan mungkin sekali kecewa, tidak bisa menerima hal itu. Tapi di situlah iman baru bisa bertumbuh. Iman hanya bisa bertumbuh di dalam situasi di mana kita tidak melihatnya apa yang kita minta tidak akan kita saksikan dan tidak akan terjadi.

Kalau kita saksikan terjadi, memang itu bukan namanya iman. Justru iman ada, sewaktu kita tidak melihat. Memang ini menjadi sesuatu yang sangat sulit tapi di situlah kita baru bertumbuh.
WL : Pak Paul, apa itu berarti ada seperti tingkatan-tingkatan iman pada waktu Pak Paul jelaskan tentang upah. Saya ingat waktu saya baru pertama kali percaya Tuhan, baru beriman rasanya hidup itu indah, setiap kali saya minta segala sesuatu, misalkan mau berangkat ke gereja ternyata hujan, Tuhan tolong agar hujan berhenti,saya mau ke gereja ini, eh....benar-benar berhenti dan memang benar begitu. Saya mengalami betul dan beberapa kali banyak peristiwa seperti itu. Tapi makin berjalannya waktu, setiap saat saya meminta selalu saya mendapat dan bahkan bukan begitu saja, melainkan "diizinkan" mengalami hal-hal yang sulit untuk dimengerti. Apakah seperti itu begitu ya.

PG : Dari satu sudut kita bisa melihatnya memang seperti itu ya Bu Wulan, yaitu Tuhan memberikan kepada kita hal-hal kecil yang kita minta pada tahap-tahap awal kita berjalan dengan Dia. Tatkal kita semakin dewasa seakan-akan Tuhan tidak langsung memberikan yang kita minta, dengan tujuan belajar bertumbuh dalam iman, percaya pada karakternya, percaya pada si pemberi berkat dan bukan bergantung pada berkat itu sendiri.

Jadi dari satu sudut kita bisa melihatnya seperti itu, tapi di sudut yang lain kita mesti berhati-hati jangan sampai kita akhirnya berpandangan bahwa Tuhan itu mempermainkan kita dari sejak awal, seolah-olah Tuhan memberikan yang manis-manis ya, promosi. Nah, sekarang sudah datang dan masuk dalam kerajaan Tuhan, barulah kita menemukan kesengsaraan, benar-benar diuji. Tujuannya adalah Tuhan ingin kita mengenalnya, mencintainya, bukan mencintai pemberian atau berkatNya. Sebagaimana kita manusia juga begitu, kita tidak ingin orang mencintai kita karena dia suka dengan pemberian-pemberian kita, kita ingin dia mencintai kita apa adanya diri kita ini. Nah, dalam relasi dengan Tuhan seperti itu juga. Jadi Tuhan mengundang kita datang untuk mencintai-Nya bukan untuk mencintai pemberian-Nya. Kenapa Dia dahulu memberi lebih gampang, karena kebetulan saja memang itu sesuai dengan rencana Tuhan untuk kita pada saat itu.
GS : Pak Paul, iman ini sangat terkait erat dengan apa yang Tuhan janjikan kepada kita. Seperti tadi, apa yang kita minta itu belum tentu langsung dikabulkan, walaupun ada yang langsung dikabulkan seperti saat Bu Wulan menyampaikan kesaksiannya. Nah, bagaimana hubungannya antara iman kita dengan janji yang Tuhan sampaikan kepada kita?

PG : Pertama-tama kita harus sadar bahwa janji Tuhan itu selalu masuk dalam bingkai yang lebih besar, yaitu bingkai rencana Tuhan. Tuhan menjanjikan misalnya, kita tahu "Aku akan membebasan engkau, melepaskan engkau dari bahaya".

Apakah selalu anak-anak Tuhan dilepaskan dari bahaya?, tidak. Tuhan berjanji kepada Paulus: "Aku akan melepaskan engkau dari bahaya." Tapi menurut tradisi, kita tahu Paulus mati dipenggal kepalanya pada masa kerajaan Nero. Apakah Tuhan selalu menepati janji-Nya dalam konteks itu, tidak, dalam pengertian pada umumnya Tuhan akan melepaskan kita dari bahaya. Namun janji Tuhan itu harus kita tempatkan dalam bingkai yang lebih besar, bingkai kehendak Tuhan dan rencana-Nya. Pada satu kali rencana-Nya yang lebih besar itulah yang akan Tuhan utamakan. Dan janji itu yang masuk dalam rencana itu Tuhan.
WL : Tetapi kenapa Pak Paul ya, Tuhan tidak memberitahukan saja, misalnya apa yang sudah menjadi rencanaNya, kehendak-Nya ABCD begitu. Sedangkan kita sering kali meraba-raba " Lho ini kenapa rasanya tidak bisa nyambung dengan ini, kenapa kejadiannya ini begini". Nanti sekian tahun kemudian misalkan kita baru mengerti o...maksud Tuhan begini, tapi belum tentu sampai meninggal pun kadang-kadang tidak mengerti. Seperti dalam Ibrani 11 itu terdapat tokoh-tokoh iman yang juga tidak mendapatkan apa yang Tuhan janjikan. Itu yang sering kali kita dambakan penjelasan dari Tuhan.

PG : Saya kira jawabannya yang paling sederhana adalah ini Ibu Wulan, kita tidak akan sanggup hidup kalau kita sudah mengetahui semua apa yang akan terjadi dalam hidup kita. (WL: Karena?) terlau berat, kita tahu kita tidak akan sangat kaya nanti misalnya, kita sekarang menjadi gemetaran tidak bisa hidup memikirkan kapan saya akan kaya, kapan saya akan kaya.

Kalau misalnya kita akan mati ditabrak mobil 5 tahun lagi, wah kita tidak bisa hidup juga sekarang. Jadi kita tidak bisa hidup, terlalu besar dan dahsyat apabila kita mengetahui apa yang terjadi dalam hidup kita.

GS : Berarti dalam hubungan iman kita ini harus tetap meminta kepada Tuhan dan tetap percaya kepada-Nya sekalipun itu belum terealisir dalam hidup kita ya Pak Paul. Ya banyak terima kasih Pak Paul dan juga Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Nah, para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Sukar Beriman". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



34. Menghadapi Kekecewaan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T131B (File MP3 T131B)


Abstrak:

Kekecewaan sebenarnya merupakan salah satu bentuk kehilangan akan apa yang kita harapkan terjadi namun tidak terjadi, dan juga apa yang kita pikirkan ternyata berubah. Melalui materi ini kita diajak untuk belajar dari prinsip-prinsip Yusuf dalam menghadapi kekecewaan.


Ringkasan:

Apa itu kekecewaan?

Kecewa sebenarnya merupakan salah satu bentuk kehilangan, misalnya:

  1. Harapan: Apa yang kita harapkan terjadi tidak terjadi.

  2. Konsep: Apa yang kita pikirkan ternyata berubah.

Sebagaimana kehilangan lainnya, kekecewaan biasanya mengakibatkan munculnya kesedihan dan kemarahan.

Bagaimanakah kita menghadapi kekecewaan? (Yusuf)

  1. Menerima fakta dan ini berarti membiarkan diri merasakan kesedihan dan kepahitan itu. Jangan mencoba mendistorsi fakta, tindakan ini hanyalah akan memperlama proses pemulihan. Akui perasaan kita apa adanya.

  2. Lihatlah dengan seksama apakah atau siapakah sumber kekecewaan kita. Kadang kita mengalihkan sasaran dan memfokuskan pada sumber yang lain. Jika memungkinkan, sampaikan kekecewaan itu kepadanya secara langsung. Tujuan utamanya adalah penyampaian, bukan hasil akhir. Jadi, siap terimalah bila kondisi tetap sama.

  3. Lihatlah dengan seksama mengapa kita kecewa dan bersedialah untuk berubah. Adakalanya konsep kitalah yang tidak tepat atau harapan kita yang tidak realistik.

  4. Jika ada hal yang tidak kita mengerti, terimalah ketidakmengertian itu; kita tidak perlu berspekulasi.

  5. Teruskan hidup di dalam kondisi yang tidak menyenangkan itu, hari lepas hari. Kita tidak bisa hidup di alam "andaikan," kita mesti hidup di alam "apa adanya."

Firman Tuhan

"Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik, Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan." Ibrani 11:39-40


Transkrip:

T 131 B

Lengkap

"Menghadapi Kekecewaan" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya ditemani Ibu Wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menghadapi Kekecewaan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, saya rasa hampir setiap orang atau semua orang pernah mengalami rasa kecewa, tetapi sulit bagi kita untuk menguraikan atau memahami apa sebenarnya perasaan kecewa itu Pak Paul?

PG : Sebetulnya kekecewaan merupakan salah satu bentuk kehilangan Pak Gunawan, jadi kecewa itu adalah kehilangan. Nah, masalahnya kehilangan apa? Setidak-tidaknya saya bisa mengaitkannya dengandua hal, pertama adalah kehilangan harapan, ini yang paling umum ya.

Kita mengharapkan sesuatu terjadi, kemudian yang kita harapkan tidak terjadi. Nah, respons atau reaksi terhadap situasi tersebut adalah kita kecewa. Dalam situasi seperti ini atau dalam definisi ini, kita bisa melihat bahwa yang sebetulnya terjadi ialah kita kehilangan. Kehilangan apakah itu? Kehilangan harapan yang kita nantikan tidak segera datang.
GS : Tetapi harapan itu tentunya masih ada. Dikatakan sekarang tidak terjadi, tapi nanti atau lain kali akan bisa terjadi Pak Paul.

PG : Betul, nah itu sebabnya kalau harapan itu masih bisa ditumbuhkan, kita masih bisa menghapuskan atau mengatasi kekecewaan.

GS : Selain harapan, apa lagi Pak Paul?

PG : Selain dari harapan adalah kehilangan konsep. Nah, ini sedikit aneh kedengarannya. Tapi maksudnya begini, apa yang kita pikirkan ternyata berubah, nah apa yang kita pikirkan itulah konsep.Orang bisa mengalami kekecewaan pada saat pemikirannya tentang sesuatu tidak terjadi, akan tetapi kebalikannyalah yang terjadi.

Nah, ini bisa membuat seseorang sangat-sangat kecewa. Misalkan pada waktu seseorang menikah, dia mempunyai konsep pasangannya adalah orang yang seperti apa. Setelah dia menikah, dia melihat ternyata pasangannya tidak seperti yang dulu dia pikirkan. Konsepnya ternyata tidak sepenuhnya betul, sebab fakta membuktikan pasangannya berbeda. Biasanya orang itu akan mengalami kekecewaan. Jadi kekecewaan terjadi akibat konsep kita yang terdahulu ternyata tidak sepenuhnya betul dan harus berubah. Nah, biasanya reaksi kita juga adalah kecewa.
WL : Pak Paul, kalau berbicara masalah kecewa begitu ya, pasti setiap orang yang mengalami kekecewaan itu pasti sedih dan tidak enak. Tapi apa boleh saya bertanya, kalau anak-anak yang terbiasa dibesarkan dalam keluarga yang sejak kecil dimanja, apa saja yang dia inginkan selalu dipenuhi bahkan sampai berlebihan begitu. Apakah anak-anak seperti ini kalau sudah besar (ya maksudnya bukan besar saja, dari kecil sampai remaja begitu) menjadi lebih rentan terhadap kekecewaan?

PG : Betul, saya kira itu pengamatan yang baik sekali Ibu Wulan. Jadi kalau seseorang tidak pernah kehilangan ya, dia akan rentan sekali terhadap kekecewaan. Karena dia hidup di dalam dunia yan tidak lagi realistik sedangkan dunia yang realistik adalah dunia yang akan menjanjikan kehilangan dalam hidup.

Kebanyakan ada yang pernah berkata satu peribahasa, orang yang siap untuk mengasihi, haruslah siap untuk kehilangan, itu adalah bagian dari kehidupan. Tapi ada orang-orang yang terlalu terlindungi dari kenyataan itu, dari kecil semua yang dia minta dia dapatkan. Nah, akhirnya waktu dia tidak mendapatkan waduh....dia bisa kehilangan kepercayaan, marah, sangat-sangat sedih sekali, tidak siap menghadapi kenyataan itu.
GS : Kadang-kadang agak kontradiksi Pak Paul, di satu sisi kita itu harus bersungguh-sungguh mengharapkan atau harus mempunyai suatu konsep yang jelas, supaya kita bisa berjalan dengan mantap, tetapi akibatnya kalau harapan maupun konsep itu meleset dari apa yang kita pikirkan, kecewa kita akan menjadi lebih berat begitu Pak Paul.

PG : Saya kira itu betul dan merupakan konsekuensi logis. Investasi yang besar, tatkala merasakan kehilangan akan merasakan sakit yang lebih berat; investasi sedikit, sewaktu merasa kehilangan kan merasakan sakit yang ringan juga.

Itu konsekuensi logis.
GS : Tapi kalau mengharapkan yang setengah-setengah atau konsep itu tidak terlalu muluk-muluk, lalu hidup ini akan menjadi seperti apa Pak Paul?

PG : Sangat-sangat abu-abu ya, (GS : Kurang menarik lah, tantangannya akan agak kurang) kurang menarik betul. Saya tidak berkata setiap kali kita harus menaruh pengharapan yang sebesar-besarny dalam segala hal, tidak begitu.

Pada waktu-waktu tertentu kita merasa terpukul karena kecewa, dalam keadaan terpukul itu, sulit bagi kita untuk bangkit maupun percaya agar bisa memiliki pengharapan lagi. Nah, pada masa-masa pemulihan itu otomatis kita lebih berhati-hati, lebih sedikit berhemat dalam memberikan kepercayaan sehingga kita tidak perlu kecewa berat, saya kira itu reaksi yang normal. Tapi sekali lagi hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang sepenuhnya hanya dimungkinkan kalau orang berani untuk mempercayai, mengharapkan, menantikan, menunggu. Kalau tidak ada unsur itu sama sekali, dia tidak benar-benar menjalani hidup yang sepenuhnya lagi.
GS : Apa reaksi nyata dari seseorang yang kecewa itu Pak Paul?

PG : Biasanya dua ya, yaitu sedih dan yang kedua adalah marah. Marah karena kita menganggap bahwa kita dipermainkan. Kita diperdaya, jadi kita marah sekali. Sedih, karena kita tidak mendapatka yang kita harapkan itu.

WL : Pak Paul, waktu kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan, atau yang kita butuhkan, hal ini terdapat dua hal yang begitu berbeda. Apakah reaksi kita atau tingkat kekecewaan kita sama, (karena masuk sama-sama kategori kehilangan atau tidak mendapatkan hal itu) atau berbeda.

PG : Seharusnya berbeda, meskipun pada orang-orang tertentu yang belum bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan bisa dianggap sama saja, tapi kalau bisa membedakan, hal tersebut ada perbeaannya.

Seharusnya tidak mendapatkan yang kita butuhkan akan lebih menyakitkan, karena kita memang membutuhkan dan ini bukannya untuk bermewah-mewahan, buat tambah-tambahan, aksesori, tetapi ini merupakan sesuatu yang hakiki atau inti, kenapa tidak mendapatkannya. Nah, ini biasanya lebih menusuk hati ya.
GS : Pak Paul, karena kekecewaan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, mungkin Pak Paul memiliki beberapa kiat atau beberapa petunjuk praktis Pak Paul, bagaimana kita harus menghadapi fakta nyata menghadapi kekecewaan apabila kita mengalaminya.

PG : Prinsip-prinsip yang akan kita bahas adalah prinsip-prinsip yang saya gali dari kehidupan atau respons dari Yusuf, Pak Gunawan. Yusuf adalah seorang anak muda yang dibuang oleh keluarganyayaitu oleh kakak-kakaknya dan telah dijual menjadi budak dan sebagainya kita tahu ya.

Dan pada akhirnya dia menjadi seorang yang berpengaruh sekali di Mesir. Nah, apakah prinsip-prinsipnya. Yang pertama adalah menerima fakta. Waktu Yusuf dibuang sebagai budak, dia hidup sebagai budak dan dia tidak tetap hidup sebagai seorang anak dari Yakub yang kaya dan dimanja, tidak, dia hidup sebagai budak. Waktu dia dibuang lagi setelah difitnah, dia menjalani hidupnya sebagai seorang narapidana. Jadi, kita melihat Yusuf memang menerima apa yang Tuhan sudah berikan. Artinya apa, salah satu artinya adalah kita bisa mengizinkan diri kita merasakan kesedihan dan kepahitan itu juga. Kita tidak mencoba mendistorsi fakta bahwa hal ini tidak akan terjadi atau bahwa seperti yang terlihat inilah kehidupan ini, tidak, apapun yang kita alami kita berdoa, supaya misalkan ibu kita disembuhkan tapi tidak disembuhkan malah meninggal dunia. Atau supaya kita tidak di-PHK, eh...ternyata kita juga ikut-ikut di-PHK. Apa yang kita alami sebagai reaksinya, kita sedih, kita kecewa, kita marah karena harus menerima perasaan-perasaan itu. Izinkan diri kita menangis, izinkan diri kita mungkin juga merasakan kemarahan. Tindakan mendistorsi fakta ya akan lebih memperlama proses pemulihan. Ada orang yang misalkan menderita sakit yang berat, tapi tidak mau mengakui dia terkena penyakit itu, dia terus berkata," o....sakit ini akan sembuh lagi, o....ini akan berubah, ah....tidak mau percaya, justru terkena penyakit itu sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa". Orang yang buta datang kepada Tuhan Yesus membawa kondisi butanya, tidak ada di antara mereka yang berkata, "saya melihat, saya melihat", ya tidak demikian. Penderita kusta datang kepada Tuhan Yesus mengakui saya ini perlu ditahirkan, saya ini terkena kusta. Jadi mengakui itu langkah pertamanya, Pak Gunawan.
WL : Pak Paul, kalau membaca atau mendengarkan pengalaman Yusuf suatu pelajaran yang sangat berharga dan begitu luar biasa, dia bisa menerima fakta dan menjalani kehidupan sebagai seorang budak dan sebagai apa adanya. Tapi pada sisi lain, Pak Paul katakan bahwa kita juga harus mengakui perasaan kita. Jadi seperti yang Pak Paul jelaskan tadi, saya membayangkan waktu itu Yusuf misalnya dia sedih juga di satu sisi. Tapi bagaimana dia bisa menampilkan diri sampai setiap kali Alkitab menyatakan, di manapun dia berada dia disayang. Waktu dia jadi budak disayang di rumah Potifar, di penjara juga dia disayang, di mana-mana dia begitu disayang. Tapi sebenarnya dia sedih, dia mengalami kekecewaan. Apa dia hidup dalam kemunafikan atau sebenarnya dia setulus-tulusnya atau bagaimana itu Pak Paul?

PG : Saya kira apa yang dia harus lakukan, dia harus lakukan ya, dia sebagai budak dia harus bekerja. Nah, itu semua dia lakukan. Dan karena dia melakukannya dengan kesungguhan hati, maka orangorang akan senang melihat hasil kerjanya dan di situ dia dihargai.

Tapi saya kira, dia tetap menginginkan kebebasan, dia ingin lepas dari semua itu. Buktinya adalah waktu dia menginterpretasikan mimpi juru minuman dan juru rotinya raja, dia begitu berharap bahwa dia akan dibebaskan, dia memesan dengan mengatakan, "tolong.....nanti setelah engkau dilepaskan, ingatlah saya", Itu menandakan dia rindu bisa lepas, tapi ya tidak bisa lepas. Jadi akhirnya, saya bisa menyimpulkan bahwa dia mengakui perasaan-perasaan dirinya sendiri maupun perasaan kakak-kakaknya, pada waktu kakak-kakaknya berbicara di antara mereka sendiri setelah mereka bertemu kembali dengan Yusuf. Mereka begitu menyesali perbuatan mereka, dan mereka berkata: "Tidakkah engkau ingat waktu anak ini kita jual, dia berteriak-teriak, memohon-mohon, memelas-melas supaya kita tidak membuangnya dan menjualnya". Jadi sekali lagi ya itu reaksi, reaksi yang sangat wajar dan itu yang Yusuf juga alami, jadi apapun yang kita alami, kita kecewa dan akuilah bahwa kita kecewa dan hal itu tidak apa-apa. Tuhan tidak akan lari gara-gara kita berkata: "Tuhan, saya kecewa kepada Tuhan."
GS : Tapi pengakuan itu baru terjadi kalau dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, artinya dia sudah berhenti sampai di sana, jadi mau tidak mau dia harus mau menerima itu Pak Paul.
WL : Pak Paul, berarti karakter Yusuf suatu karakter yang luar biasa sekali ya. Tapi waktu kita tahu ya di Alkitab, di awal kehidupannya pada waktu di rumah, dia adalah anak yang paling disayang oleh papanya lebih dari yang lain-lain, memiliki jubah segala macam dan itulah yang menyebabkan saudara-saudara yang lain jadi iri bukan? Apakah boleh saya mengatakan bahwa dia anak yang cukup dimanja juga oleh papanya ini. Sedangkan di awal tadi Pak Paul jelaskan bahwa anak yang dimanja itu lebih rentan terhadap kekecewaan, tapi kenapa dia bisa tampil sebagai tokoh yang luar biasa ya.

PG : Kita tidak tahu ya apa yang terjadi di dalam masa-masa awal pembuangannya itu, kita tidak tahu apakah dia hancur, apakah dia putus asa, jadi kemungkinan dia hancur juga, dia putus asa bisaterjadi ya, kita tidak tahu karena Alkitab tidak menceritakannya.

Namun yang kita tahu adalah hasil akhirnya dia menjadi seorang pemuda yang tangguh melalui proses itu. Yusuf memang bukan saja dimanja, Alkitab jelas mengatakan dia dimanja tapi saya bisa menyimpulkan Yusuf itu memiliki sifat yang ada sedikit angkuhnya juga, yaitu pada saat dia menceritakan mimpi-mimpinya yang semakin menyulut kemarahan dan keirihatian kakak-kakaknya. Kalau memang mau menceritakan mimpi, ya ceritakan saja berduaan dengan papanya, kenapa mesti di depan kakak-kakaknya seolah-olah kita ini 'memberi garam di luka yang menganga begitu' dan hal ini memang kurang bijaksana. Dan sekaligus menunjukkan sikap Yusuf sebagai anak yang dimanja sedikit terlalu berlebihan, tapi itulah akhirnya yang dikikis dan dibuang sehingga terciptalah seorang Yusuf yang luar biasa.
GS : Pak Paul, setiap kekecewaan itu pasti ada penyebabnya, ada sumbernya. Nah, bagaimana kita menyikapi sumber atau penyebab itu Pak Paul?

PG : Ini langkah keduanya ya Pak Gunawan, jadi memang kita mesti melihat dengan saksama apakah atau siapakah sumber kekecewaan kita itu. Kadang kita ini mengalihkan sasaran dan memfokuskan padasumber yang lain, misalnya seharusnya kita kecewa kepada orangtua kita, mereka mempunyai kesanggupan membiayai sekolah kita misalkan, tapi menolak untuk membiayai kita sekolah untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi misalnya.

Nah, kita kecewa. Tapi daripada mengakui orangtua kita ini mengecewakan kita, misalnya kita menjadi menyalahkan Tuhan. Tidak seharusnya demikian, kita mesti saksama melihat siapa sebetulnya yang menjadi sumber kekecewaan kita. Nah, kalau memungkinkan kita menyampaikan kekecewaan ini kepadanya secara langsung. Kita mungkin tidak mendapatkan yang kita inginkan dan memang itu bukan tujuannya, tapi setidak-tidaknya kita bisa sampaikan, jangan kita berpikir buat apa menyampaikan kalau tidak mendapatkan hasilnya, bukan. Tujuannya adalah kita mengatakan reaksi kita, "waktu engkau berbuat begini kepadaku, inilah reaksiku aku kecewa dan engkau perlu mendengar apa reaksiku". Nah, kita jangan bertambah marah kalau orang itu tidak mempedulikan reaksi kita, itu adalah hak dia, urusan dia, apapun yang dia ingin lakukan dengan dirinya itu memang hak dia. Tapi ini juga hak kita untuk menyuarakan isi hati kita apa yang telah kita alami akibat perbuatannya itu. Jadi langkah kedua adalah lihatlah dengan saksama apakah atau siapakah sumber kekecewaan kita, lihat dengan jelas dan akui ini dia, atau orang inilah atau siapa dan hal itu tidak menjadi masalah.
GS : Itu kalau menyangkut bukan orang, jadi keadaan atau yang lainnya itu tidak terlalu menjadi masalah Pak Paul. Tapi kalau hal ini menyangkut seseorang dan kita ungkapkan seperti itu menambah masalah baru Pak Paul.

PG : Jadi kita harus bijaksana juga melihat apakah memang tepat kita ngomong. Kadang-kadang menimbulkan masalah yang lebih besar. Nah, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar ya sudah diam. Kadang-kadang kita bisa mengerti apabila orang lain mengatakan "wah......bisa tambah runyam" ya sudah kita diam, tapi kalau memungkinkan kita sampaikan.

WL : Tadi kesulitan yang dihadapi Pak Gunawan, saya bisa mengerti juga, cuma sepertinya ada yang lebih sulit lagi kalau berhadapan dengan Tuhan, begitu Pak Paul ya, kalau ke manusia kita masih bisa ngomong, saya kecewa Pak Paul, Pak Paul saya kecewa begini, begini lalu Pak Paul bisa jelaskan walaupun mungkin ada konflik dan sebagainya, tapi sudah bisa diselesaikan. Tapi kalau dengan Tuhan akhirnya mau tidak mau harus menerima begitu saja.

PG : Sudah tentu Tuhan benar ya, jadi kita tidak bisa menyampaikan kekecewaan kita dan membuktikan Tuhan salah dalam bertindak itu tidak mungkin (WL : Selalu kita yang salah, pasti), jadi Tuhanpasti benar.

Nah, ini mungkin yang menyulitkan kita untuk bertindak, o.....percumalah Tuhan pasti benar, tapi tidak ada salahnya mengatakan kepada Tuhan: "Tuhan saya kecewa," karena itu ungkapan secara jujur, kita tidak mengatakan di mulut pun hati kita sudah mengatakan dan Tuhan pun sudah mendengar. Dan waktu kita mengatakannya kepada Tuhan, kita berkesempatan membagi beban kita dengan Tuhan sehingga kita tidak sendirian lagi di dalam penderitaan itu dan kita melibatkan Tuhan di dalam kekecewaan ini. Sebab kita berkata, "Tuhan, Engkau adalah sumbernya dan aku tidak mengerti apa yang Engkau lakukan, tapi walaupun aku tetap beriman, Engkau baik kepadaku tapi aku tetap kecewa." Nah, di dalam pergumulan inilah kita akhirnya juga akan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
GS : Ya seringkali kita lihat dalam contoh-contoh di Alkitab orang mengungkapkan kekecewaannya kepada Tuhan. Tetapi memang ada batas-batas tertentu seperti tadi Pak Paul katakan, Tuhan itu benar, dan yang salah pasti kita Pak Paul ya. Nah, apakah ada hal atau kiat lain Pak Paul menghadapi kekecewaan ini?

PG : Kita bisa melihat dengan saksama mengapa kita kecewa, mengapa kita kecewa dan bersedialah untuk berubah. Adakalanya konsep kitalah yang kurang tepat Pak Gunawan, atau harapan kita yang tidk realistik.

Nah, kalau itu yang terjadi ya kita harus juga mengubah konsep kita. Misalkan ini ya konsep bahwa Tuhan menjanjikan kemakmuran kepada setiap orang, apakah Tuhan menjanjikan kemakmuran untuk setiap orang, tidak. Apakah Tuhan ingin memberkati kita, ya. Apakah Tuhan memberkati kita, ya. Apakah Tuhan selalu memberkati kita dengan materi, jawabannya tidak. Kenapa kita bilang begitu, sebab jelas-jelas dalam Perjanjian Lama dikatakan, Tuhan memerintahkan orang-orang yang memiliki perkebunan pada waktu membawa hasil ladang, mereka harus menyisakan yang jatuh-jatuh untuk orang miskin dan Tuhan memberi perintah kepada orang-orang untuk memperhatikan orang miskin. Dengan kata lain, apakah ada orang miskin? Ada. Dan kita tahu nabi-nabi Tuhan juga pernah menolong orang-orang miskin. Elia, Elisa menolong orang miskin berarti ada orang miskin. Apakah Tuhan memberkati mereka dengan kekayaan, tidak, yang Tuhan janjikan Tuhan memelihara hidup mereka. Nah, jadi kita juga mesti benar dengan konsep kita, kadang-kadang kita kecewa karena konsep kita yang tidak tepat. Tuhan pasti menyembuhkan kita dengan bilur-bilurNya dan kita telah disembuhkan. Sebetulnya ayat itu lebih mengacu kepada keselamatan bukannya bilur Tuhan menyembuhkan penyakit fisik kita. Sebetulnya itu lebih mengacu kepada bilur Tuhan menyembuhkan penyakit dosa kita. Tuhan telah menebus dosa-dosa kita, tapi ada orang yang menafsirnya untuk kesehatan tubuh. Waktu sakit, kecewa luar biasa, nah, di sini Tuhan akan meminta kita mengubah konsep kita tentang siapa Tuhan. Tadi Ibu Wulan juga menceritakan pada awal-awal beriman dalam Tuhan, semua diberikan setelah itu tidak diberikan dan kita berkata Tuhan jahat. Tuhan ingin kita mengubah konsep hidup kita bahwa pada waktu Dia tidak memberikan yang kita inginkan, Dia tidak jahat, tapi Dia sedang menjalankan rencana-Nya yang belum kita lihat saat itu. Jadi mengapa kita kecewa perlu kita teliti dengan saksama. Namun adakalanya memang jelas-jelas kita kecewa bukan karena konsep kita yang salah, tapi karena yang kita dambakan ternyata tidak terjadi. Nah, itulah kekecewaan yang terbuka, yang jujur ya dan silakan membagikan kepada Tuhan.
GS : Kadang-kadang kita sudah berusaha untuk mencoba mengetahuinya begitu Pak Paul, siapa sumbernya lalu mengapa dan sebagainya, tapi tetap dalam keterbatasan kita itu tidak semua kita bisa mengerti itu Pak Paul.

PG : Maka pada akhirnya kita berkata, hiduplah dengan ketidakmengertian itu, jadikan ketidakmengertian menjadi bagian hidup kita. Adakalanya kita ini menjadi orang yang harus mengerti segalanya kalau ada yang tidak kita mengerti kita potong, keluarkan dari dalam hidup kita.

Tidak bisa ya, kita harus menyadari bahwa Tuhan terlalu besar, rencana-Nya terlalu besar juga untuk bisa kita pahami dan kita lihat dalam masa hidup kita ini. Jadi akhirnya kita harus berkata selamat datang, kita harus menyambut selamat datang kepada ketidakmengertian dan jadikan itu bagian dari kehidupan kita.
WL : Pak Paul, sepertinya pada waktu Pak Paul berbicara begini dan kami mendengarkan, kita dalam keadaan yang lancar-lancar saja, kita OK begitu ya. Tapi bagaimana kita bisa bicara seperti yang Pak Paul jelaskan, hiduplah dalam ketidakmengertianmu kepada orang. Misalnya, contoh ekstrim kepada orang-orang yang pernah mengalami kerusuhan waktu Mei 98 itu. Wanita-wanita yang polos misalnya tiba-tiba diperkosa. Itu suatu pukulan yang amat dasyat, terus keluarga-keluarga yang hidupnya tidak pernah terjadi apa-apa, tiba-tiba tokonya dijarah, dibakar habis semuanya sampai tidak mempunyai apa-apa lagi begitu. Nah, bisa tidak kita berbicara kepada orang-orang seperti itu Pak Paul?

PG : Kita akan mencoba ya, menemani, mendampingi orang tersebut. Saya kira, itu langkah yang paling dibutuhkan ya. Kata-kata tidak terlalu efektif, tidak terlalu dapat dimengerti juga bagi oran-orang pada kondisi saat itu.

Jadi dampingi saja dulu ya. Namun dalam pendampingan dan sewaktu orang-orang itu mulai bersedia untuk membicarakan pergumulannya, ketidakmengertian, kemarahan dan sebagainya, pada akhirnya kita akan mencoba membawa orang tersebut berjalan bersama kita menuju ke titik itu, ke titik apa, ke titik menerima ketidakmengertian sebagai bagian dari hidupnya. Karena memang tidak bisa kita mengerti dan apapun yang kita lakukan untuk memahami kenapa itu terjadi tidak akan mampu untuk membuat kita lebih jelas. Jadi sambut itu sebagai bagian dari kehidupan kita. Pada akhirnya apa yang kita lakukan sewaktu kita kecewa berat seperti itu, terus hidup. Memang kita hanya mempunyai dua pilihan, berhenti hidup atau terus hidup. Ada orang yang memilih berhenti hidup, tidak mau tahu lagi tentang hidup dan mungkin ya diam di rumah, mengalami depresi berat ya sudah menyerah. Atau kita bisa memilih yang kedua, kita melanjutkan hidup ini, melanjutkan hidup didalam kondisi yang tidak menyenangkan ini. Saya suka sekali dengan perkataan dari Jodie Foster dalam filmnya 'Anna and The King', dia diceritakan sebagai guru bahasa Inggris untuk raja Siam, anak-anak raja Siam, dia itu seorang janda karena suaminya telah meninggal dunia di usia muda karena penyakit. Nah, ketika ditanya oleh salah seorang istri raja Siam, bagaimanakah engkau melewati hari-harimu setelah suamimu meninggal, dia menjawab "one awful day at a time", artinya hari lepas hari dan hari yang dilewati itu adalah hari yang memang sangat-sangat berat. Jadi satu hari yang berat dilepas dan memulai satu hari yang berat lagi.
GS : Tuhan berkata, kesulitan sehari cukup untuk sehari ya Pak Paul.

PG : Betul, betul

GS : Nah, Pak Paul mengenai perbincangan menghadapi kekecewaan ini Pak Paul, apakah ada ayat firman Tuhan yang mendukung pembicaraan ini.

PG : Ibrani 11:39,40 berkata: "Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyeiakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan."

Artinya adalah para bapak-bapak iman di masa lampau, mereka pun tidak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Janji Tuhan tidak selalu dipenuhi dalam masa hidup mereka, namun di luar pengetahuan mereka, janji Tuhan itu dipenuhi di kemudian hari, sehingga sempurnalah kerja dan rencana Tuhan dalam hidup mereka dan hidup kita yang sekarang ini. Jadi terimalah kekecewaan itu, hiduplah di masa sekarang apa adanya, kita tidak bisa hidup dengan harapan atau andaikan-andaikan, hiduplah apa adanya dan kita tahu bahwa yang sedang terjadi tetap adalah bagian dari rencana Tuhan yang sempurna.

GS : Saya percaya sekali bahwa firman Tuhan dan perbincangan ini merupakan sesuatu yang bisa menguatkan, menyegarkan khususnya bagi para pendengar yang mungkin saat ini sedang bergumul menghadapi kekecewaan mereka. Terima kasih sekali Pak Paul juga untuk Ibu Wulan. Dan para pendengar sekalian kami juga mengucapkan banyak terima kasih, anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menghadapi Kekecewaan". Bagi anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id saran-saran, pertanyaan serta tanggapan anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



35. Menghadapi Krisis


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T134B (File MP3 T134B)


Abstrak:

Krisis adalah situasi genting yang mengguncangkan keseimbangan hidup dan memaksa kita untuk mengubah hidup kita secara drastis. Penyakit terminal, kecelakaan, musibah alam, atau tindak kejahatan adalah beberapa contoh krisis yang kadang menimpa kita. Dan bagaimana cara mengatasinya?


Ringkasan:

Krisis adalah situasi genting yang mengguncangkan keseimbangan hidup dan memaksa kita untuk mengubah hidup kita secara drastik. Penyakit terminal, kecelakaan, musibah alam, atau tindak kejahatan adalah beberapa contoh krisis yang kadang menimpa kita. Ada beberapa hal tentang krisis yang mesti kita ketahui.

1 Samuel 30: Daud dan Krisis di Ziklag

Situasi: Sewaktu Daud pergi, orang Amalek menyerang kota kediamannya, Ziklag, menawan semua penduduk di sana dan membakar habis kota itu.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) yang kali ini bersama Ibu Esther Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menghadapi Krisis". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, hidup ini rasanya tidak mungkin kita hindari dari suatu keadaan yang dikenal dengan krisis. Nah kalau kita tidak bisa menghindarinya, satu-satunya cara adalah kita harus menghadapinya. Tapi masalahnya apakah ada pedoman atau tuntunan dari firman Tuhan bagaimana kita itu harus menghadapi krisis itu? Karena kalau salah menghadapinya juga akan merugikan kita sendiri.

PG : Memang Pak Gunawan, kita ini tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, kadang kala yang terjadi itu sangat menyenangkan tapi kadang kala juga yang terjadi itu sangatmengejutkan.

Nah krisis saya definisikan sebagai situasi genting yang mengguncangkan keseimbangan hidup dan memaksa kita untuk mengubah hidup kita secara drastik. Jadi krisis adalah sebuah situasi genting, dan dampaknya itu mengguncangkan keseimbangan hidup kita. Misalkan kita biasa hidup dalam keseimbangan tertentu, dalam ketenteraman yang tertentu. Nah tiba-tiba semua itu hilang, kita kehilangan ketenteraman tersebut dan krisis memaksa kita untuk melakukan banyak sekali perubahan dalam hidup kita. Yang tadinya tidak kita lakukan, harus kita lakukan; yang tadinya tidak pernah kita pikirkan, sekarang harus kita pikirkan; semua itu adalah tuntutan krisis yang tidak bisa tidak harus kita hadapi. Apa saja krisi tersebut, misalnya seperti penyakit terminal, kita tahu ada orang yang misalkan dalam kondisi sehat walafiat, tiba-tiba mengecek dan dari hasil cek tubuh itu ternyata mempunyai penyakit yang terminal. Misalkan kanker atau seorang sehat walafiat, tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal dunia, sedangkan usianya masih muda dan seluruh keluarga bergantung kepadanya. Nah apa yang harus dilakukan keluarga dalam kasus seperti itu. Nah meskipun kita semua berharap supaya semua itu tidak pernah menimpa kita tapi kadang kala tetap krisis menimpa hidup kita. Pertama-tama sebelum kita menghadapi krisis tersebut, kita mesti memahami beberapa hal tentang krisis. Yang pertama kita tidak akan pernah dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis, maksudnya bukan kita sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa tapi maksudnya adalah sesiap apapun kita tapi tatkala krisis terjadi kita tetap akan terguncang. Sebab ya itulah krisis, krisis itu akan mengguncangkan hidup kita. Nah kadang kala ada orang yang mempunyai prinsip dalam hidupnya bahwa dia harus menyiapkan diri untuk yang terburuk terjadi. Sebetulnya boleh saja tapi jangan terlalu terobsesi dengan menyiapkan diri untuk yang terburuk. Karena waktu krisis menimpa dan yang terburuk itu terjadi kita tidak akan sanggup bisa melewatinya dengan lancar, dengan mulus. Kita akan terpukul, tergoncangkan dan mungkin untuk sementara tidak bisa berfungsi sebagaimana biasanya kita berfungsi.

ET : Jadi memang tidak ada kata siap untuk krisis ini ya Pak?

PG : Saya kira demikian, tidak ada kata siap untuk krisis. Yang kita pikirkan bahwa kita sudah siap ternyata waktu kita mengalaminya kita tidak siap. Misalkan apakah kita akan siap mendengarbahwa kita terkena kanker, dan sudah hampir stadium empat apakah kita akan siap.

Nah saya kira sesiap-siapnya kita waktu mendengar kabar seperti itu pasti akan sangat mengguncangkan kita.
GS : Biasanya apa reaksi seseorang kalau tiba-tiba dia harus menghadapi krisis?

PG : Biasanya dia akan sangat terkejut dan dalam keterkejutannya itu memang akan mungkin sekali dia menjadi sangat tertekan. Ini adalah hal kedua tentang krisis yang kita juga perlu ketahui.Kita akan sangat tertekan dan dalam keadaan tertekan acap kali kita melakukan hal-hal yang tidak lazim kita lakukan.

Misalnya kita itu biasanya tidak pernah marah-marah, jarang marah-marah, nah sekarang kita menjadi pemarah. Kita dulunya itu mudah sekali tertawa, sekarang tidak pernah tertawa sama sekali; dulu kita itu selalu mencoba untuk mengerti orang lain, sekarang kita menuntut orang untuk mengerti kita dan kita sangat tidak sabar kalau orang tidak mau mengerti kita. Dengan kata lain hal kedua dalam krisis yang mesti kita sadari adalah krisis itu sering kali mengubah diri kita, diri yang kita kenal itu tiba-tiba bisa hilang dan muncullah diri yang lain yang tidak kita kenali sebelumnya. Kita kehilangan kendali atas diri yang biasanya kita kenal, itu sebabnya orang yang tinggal dengan orang yang sedang mengalami krisis, acap kali dibuat bingung. Kenapa dia menjadi begini, kenapa dia sekarang berubah seperti ini, menjadi tambah tidak enak tinggal dengan dia dan sebagainya, nah itu bagian dari perubahan-perubahan yang memang biasanya sangat berbeda dengan diri orang itu sebelumnya. Dan itu sebetulnya adalah gejala dari kondisinya yang begitu tertekan.
GS : Bukankah yang bersangkutan menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, lalu apa yang dia harus lakukan?

PG : Seharusnya dia beradaptasi Pak Gunawan, tapi masalahnya adalah kita itu sebagai manusia tidak terlalu mudah beradaptasi. Maka dituntut fleksibelitas dalam diri kita, kalau kita itu orang yang kaku, susah sekali beradaptasi; waktu menghadapi krisis biasanya dampak krisis itu akan sangat berat sekali. Sebaliknya orang yang lebih fleksibel; waktu menghadapi krisis dia akan lebih mudah beradaptasi. Contoh, dia misalnya mengalami kecelakaan sehingga kakinya tidak lagi dapat digunakan dan dia harus menggunakan tongkat penyangga. Nah orang yang kaku tidak bisa terima, kenapa kaki saya tidak bisa saya gunakan, dia akan terus marah, dia akan terus berkubang di dalam penyesalannya, kenapa tidak punya kaki. Tapi orang yang fleksibel akan berkata ya sudah sekarang tidak ada kaki, ada tongkat penyangga ya saya akan berjalan dengan tongkat penyangga, yang penting saya sampai; tidak harus saya itu jalan untuk sampai ke tujuan; saya bisa menggunakan tongkat untuk sampai ke tujuan. Nah sekali lagi ciri kepribadian yang fleksibel menolong kita untuk melakukan perubahan-perubahan yang iperlukan di dalam krisis.

ET : Tadi waktu Pak Paul katakan akan terjadi perubahan, apakah itu sesuatu yang temporer atau akan untuk seterusnya?

PG : Nah ini sesuatu yang memang harus kita dapat pastikan atau kita mesti nilai dari awalnya, Ibu Esther. Ada krisis yang bersifat permanen, misalkan kematian. Kepala keluarga tidak ada lag, berarti ibu dan anak-anak sekarang harus memikirkan cara lain untuk bekerja, menghasilkan penghasilan untuk dapat digunakan mencukupi keluarga.

Tapi ada krisis yang lebih bersifat sementara, temporer. Misalkan terkena penyakit dan setelah diobati orang itu mengalami kesembuhan, sehingga akhirnya bisa berfungsi lagi seperti biasa. Nah ada krisis-krisis yang temporer dan ada yang permanen. Dan kita mesti memisahkan keduanya misalnya seperti yang saya sebut yang pertama adalah kematian. Orang akhirnya harus menerima itu adalah kematian dan permanen, dan selama-lamanya kita harus mengubah hidup kita. Betapa malangnya kalau ada orang yang tidak mau menerima bahwa suaminya sudah meninggal atau istrinya sudah meninggal, dan terus hidup seakan-akan pasangannya itu akan ada lagi nanti. Nah itu akan menyusahkan dia untuk beradaptasi, hendaknya memang terima bahwa ini sudah tidak akan lagi bisa berubah. Sebaliknya juga sama, yang bersifat temporer juga hadapilah sebagai sesuatu yang temporer. Jangan buru-buru mengetukkan palu sebagai fonis bahwa tidak akan pernah ada lagi perubahan, dia terkena penyakit dan selama-lamanya dia akan begini. Tidak, ada hal-hal yang memang dengan perawatan akan membuahkan kesembuhan dan akan mengembalikan hidup seperti semula. Dan dia harus siapkan juga untuk nantinya hidup seperti semula. Jadi penting bagi kita untuk bisa membedakan apakah ini sesuatu yang bersifat permanen ataukah temporer.

ET : Jadi ini mungkin penting diketahui oleh orang-orang terdekat dari orang yang mengalami krisis Pak Paul, misalnya keluarga atau teman-teman. Artinya apakah goncangan ini nanti akan ada msanya yang bersangkutan akan kembali atau memang harus melakukan perubahan itu.

PG : Betul sekali, jadi jangan sampai juga kita itu sudah memastikan orang ini tidak akan kembali lagi seperti semula. Jadi semua pintu ditutup, kesempatannya untuk kembali tidak ada lagi, jbatannya, pekerjaannya sudah diguntingi semua.

Waktu dia sehat dan mau kembali kerja tidak ada lagi sama sekali, nah itu bisa menjadi krisis yang kedua bahkan bisa lebih mematahkan semangatnya.
GS : Pak Paul, dalam kondisi seperti itu biasanya orang tdak berani mempersalahkan Tuhan tapi mempertanyakan kepada Tuhan. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi di dalam dirinya.

PG : Kita memang tidak mempunyai jawaban Pak Gunawan, kenapa harus terjadi. Tapi yang bisa kita katakan adalah Tuhan mengijinkan krisis itu terjadi dalam hidup kita. Nah pengijinan Tuhan inimembuat kita seharusnya tenteram, aman, sebab kita tahu bahwa seburuk apapun krisis ini, krisis ini tetap di dalam wilayah penguasaan Tuhan.

Tidak ada yang namanya menyelinap keluar dari tangan Tuhan, semua tetap berada dalam kendali tangan Tuhan.
GS : Dalam hal ini apakah ada contoh yang konkret itu di dalam Alkitab, Pak Paul?

PG : Saya akan mengangkat kisah Daud, kita tahu Daud itu untuk jangka waktu yang panjang hidup di dalam pengembaraan akibat dikejar-kejar oleh Saul. Pernah suatu kali Daud begitu frustrasiny akhirnya dia meminta perlindungan dari raja-raja Filistin, sehingga dia aman karena Saul tidak menyerang Filistin.

Pada masa inilah terjadi sebuah krisis yang besar yaitu sewaktu Daud pergi dari sebuah kota di mana mereka tinggal yaitu kota Ziklag datang bangsa Amalek menyerang kota di mana Daud tinggal beserta dengan rakyat dan keluarganya dan dikatakan oleh Alkitab, orang-orang Amalek ini menawan semua penduduk dan membakar habis kota itu. Waktu Daud kembali, kota ini sudah habis terbakar, anak-istri dan semua keluarga dari prajuritnya, rakyatnya sudah tidak ada lagi. Nah itu adalah sebuah krisis yang super besar, dan sebetulnya dapat kita katakan ini adalah krisis yang mungkin sekali terbesar dalam hidup Daud. Dia belum pernah mengalami satu kotanya itu habis dibakar oleh musuh dan satu kota di mana ada anak-istri semuanya ditawan, itu belum pernah terjadi. Jadi benar-benar ini krisis yang sangat besar sekali. Dan kita akan coba terapkan prinsip-prinsip yang tadi telah kita pelajari di dalam kisah Daud ini. Yang pertama adalah kita bisa melihat bahwa sekuat-kuatnya Daud, sesiap-siapnya Daud waktu menghadapi krisis ini tetap dia akan tergoncang. Meskipun kita tahu Daud telah terbiasa hidup dalam krisis yang berkepanjangan; dikejar Saul, mau dibunuh Saul, namun tetap dia tidak siap menghadapi krisis yang sangat-sangat besar ini. Apa yang Daud dan orang-orangnya lakukan, dikatakan di Alkitab, "Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis." Apa yang terjadi di sini, tidak siap, kaget, terkejut, tergoncang, tertekan. Tapi Daud melakukan sesuatu yang sangat baik secara theologis yaitu dia dan rakyatnya menangis dan dikatakan menangisnya bukan sembarang menangis tapi dengan suara yang sangat nyaring. Jadi satu prinsip yang kita mau angkat dari cerita Daud ini adalah tatkala mengalami krisis, berilah ijin pada diri sendiri untuk tergoncang, untuk sedih, untuk terluka, untuk menangis sekeras-kerasnya; ijinkan diri untuk mengalami goncangan. Kita tidak selalu kuat dan ijinkan diri untuk sekali-sekali lemah.

ET : Apakah ini prinsip yang berlaku untuk semua, karena kadang-kadang misalnya seperti kepala keluarga mengatakan kalau saya mengijinkan diri tergoncang, lalu bagaimana dengan yang lain, kehidupan ´kan harus berjalan?

PG : Sebisanya kita itu jujur dengan diri kita apa adanya, sewaktu kita lagi tergoncang kita bisa juga membagikan ketergoncangan kita, kita tidak usah menutupinya. Meskipun waktu tuntutan unuk kuat, untuk mengendalikan situasi itu muncul kita tetap harus lakukan tanggung jawab kita, kadang-kadang harus kita kedepankan dan perasaan harus kita belakangkan.

Tapi permintaan saya adalah jangan kebelakangkan kemudian ditanam atau dikubur. Ijinkanlah diri itu untuk tetap merasakan goncangan yang begitu berat dan tidak apa-apa. Daud seorang tentara yang gagah berani melawan Goliat yang besarnya beberapa kali lipat dari dia, tapi dia tidak takut, dia berani hadapi. Bahkan dikatakan dia berani melawan binatang-binatang buas yang memangsa dombanya, tapi dia berani menangis, dia berani membuka dirinya bahwa dia manusia dan dia bisa tergoncang.
GS : Sering kali dalam kondisi seperti itu orang-orang di sekeliling ini bukan malah mendukung tapi malah menyalahkan, malah mencari-cari penyebabnya bahwa dialah yang menjadi penyebab krisis ini terjadi dan seterusnya.

PG : Dan itu yan terjadi juga dengan rakyat Daud, menarik sekali awal-awalnya mereka bersama-sama dengan Daud menangis begitu nyaringnya. Tapi setelah itu waktu mereka sudah melepaskan emosimereka dan sudah mulai bisa berpikir, mereka itu berbalik arah.

Alkitab mencatat di I Samuel 30:6, "Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan." Meski mereka mengasihi Daud dan dengan rela mengikutinya namun dalam kondisi tertekan mereka tidak berpikir jernih dan malah menyalahkan Daud. Ini memang kodrat manusiawi kita yang telah tercemar oleh dosa, jadi dalam kondisi tertekan kita itu ingin keluar, tapi caranya keluar adalah dengan menyalahkan orang lain. Jadi saya mau membagikan satu prinsip di sini berhati-hatilah, jangan melakukan hal-hal yang kelak kita sesali seumur hidup. Dalam kondisi tertekan kita kadang-kadang kehilangan diri, melakukan hal-hal yang tidak lazimnya kita lakukan, kita bukannya diri kita lagi, jadi hati-hati jangan sampai kita melakukan hal-hal yang sangat salah. Ada orang dalam keadaan krisis yang besar malahan berjudi, sudah kehabisan uang misalnya bukannya berikhtiar dengan cara yang lebih sehat malah berjudi, beranggapan siapa tahu saya dapat kemenangan besar, saya bisa membayar semuanya. Malah tambah habis. Jadi kadang-kadang kita itu dalam kondisi krisis memang kehilangan kendali dan tergoda melakukan hal-hal yang sebetulnya bukanlah diri kita. Maka perlu berhati-hati, jangan melakukan hal-hal yang kelak kita sesali seumur hidup. Saya cukup sering bertemu Pak Gunawan dan Ibu Esther, dengan kasus-kasus yang seperti ini. Orang-orang yang dalam keadaan krisis, rumah tangga sedang tergoncang malah mencari perempuan lain. Akhirnya berselingkuh dan mempunyai anak dengan selingkuhnya itu, masalah menjadi sangat lebar. Ingin menyelesaikannya, ingin kembali ke rumah tapi tidak bisa karena sudah ada istri lain, sudah ada anak, semua munculnya gara-gara dia dalam kondisi tertekan. Jadi kita mesti berhati-hati dalam kondisi seperti ini.
GS : Nah di dalam hal itu sebenarnya orang-orang atau rakyat yang ada di sekeliling Daud ´kan menuntut suatu pertanggungjawaban Daud. Ini gara-gara Daud, mereka harus mengalami krisis.

PG : Dan sebenarnya itu disebabkan oleh karena mereka tidak fleksibel, mereka tidak bisa menerima perubahan itu, mereka tidak bisa menerima fakta bahwa hidup di dalam pengembaraan dari kota e kota dan hidup di tengah-tengah bangsa Filistin yang memang gemar berperang; Filistin memang gemar menyerang bangsa Israel, bangsa lain.

Dalam kondisi peran seperti itu seharusnya bisa dimaklumi bahwa mereka kadang-kadang menang perang, kadang-kadang mereka kalah perang. Kadang-kadang mereka menyerang, kadang-kadang mereka diserang, tapi tentara Israel ini tidak mau menerima fakta itu. Seolah-olah itu seharusnya sama, tidak pernah boleh kalah perang, tidak pernah boleh kami diserang; kami yang selalu harus menyerang. Jadi mereka tidak mau berubah dan ini memang merefleksikan sifat dasar kita sebagai manusia, tidak mudah berubah; kita itu mau orang lain yang berubah, situasi yang berubah sedangkan kita tidak. Itulah saya kira yang menjadi penyabab mengapa mereka akhirnya menuntut Daud untuk seolah-olah itu menghadirkan keluarga mereka dengan segera. Sekarang tidak ada keluarga, kamu harus hadirkan kamu harus tanggung jawab, siapa yang bisa. Jadi dalam keadaan krisis kita harus melihat ke dalam, perubahan apakah yang perlu kita lakukan di dalam diri kita.

ET : Nah rasanya kembali lagi, dengan cara pandang apakah ini masalah yang seterusnya atau masalah yang sementara.

PG : Betul sekali, salah satunya adalah memang kita harus membedakan apakah krisis ini akan berlangsung lama atau sementara, dan kita menyesuaikan respons yang akan kita berikan. Misalkan daam contoh Daud ini, dia menyadari bahwa ini adalah krisis sementara, dapat diselesaikan.

Kita dapat kejar kembali, kita dapat rebut kembali anak dan istri kita, itu sebabnya Daud menyusun kekuatan dan strategi untuk menjemput keluarganya kembali. Jadi dalam menghadapi krisis, kita mesti berjuang untuk menyelesaikannya kecuali bila ini memang krisis yang bersifat terminal. Misalnya kalau kita mendapat laporan bahwa kita terkena penyakit terminal misalnya kanker, saya kira respons yang harus kita lakukan adalah berobat. Sedapat-dapatnya, sejauh mungkin berobat, sampai titik darah penghabisan, sampai tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Kenapa, sebab kita tahu dalam penyakit kanker kita tahu bahwa sebagian kanker bisa diselesaikan, bisa diobati dan banyak orang yang hidup berpuluhan tahun setelah mendapatkan kanker untuk pertama kalinya, jadi kita coba lakukan sebisa kita, kita selesaikan. Lain perkaran kalau kematian, orang yang sudah meninggal ya sudah, tidak bisa lagi kita hidupkan. Tapi yang masih bisa, yang masih bersifat temporer, kita hadapi sebagai sesuatu yang bersifat temporer; dengan harapan nanti orang itu akan bisa kembali lagi pulih seperti dahulu kala.
GS : Makanya dalam kasus ini untuk Daud, mungkin ini temporer, tapi untuk sebagian rakyat menjadi krisis yang permanen karena anggota keluarganya meninggal.

PG : Betul, jadi dalam kasus Daud memang ini kasus yang temporer tapi dalam kasus-kasus yang lain bisa jadi memang itu permanen. Atau misalnya permanen bukannya kematian tapi kecelakaan sehigga orang itu cacat, kondisi cacatnya itu akan permanen.

Kita harus sesuaikan respons kita, hiduplah sesuai dengan kondisi yang ada sekarang, tidak bisa kita tetap menuntut seolah-olah kita tidak pernah cacat.
GS : Dalam hal ini bagaimana Daud menyelesaikan krisisnya?

PG : Yang indah adalah sewaktu orang-orang itu hendak membunuh Daud, Daud datang kepada Tuhan. Alkitab mencatat satu kalimat yang indah sekali, "Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya keada Tuhan Allahnya."

Itu dapat diterjemahkan bahwa Daud memperoleh kekuatannya dari Tuhan. Jadi dia datang kepada imam, dia meminta imam bertanya kepada Tuhan, Tuhan menjawab Daud silakan kejar dan kamu akan dapat memenangkan kembali anak dan istrimu. Jawaban itu memberikan Daud kekuatan, dia ajak rakyatnya pergi mengejar bani Amalek dan mereka berhasil mendapatkan kembali keluarga mereka. Jadi apa yang harus kita lakukan kalau kita menghadapi krisis, langkah pertama adalah selalu datang kepada Tuhan. Sebab dalam relasi dengan Tuhan, dalam keluh kesah dengan Tuhan, dalam permohonan doa dengan Tuhan, di situlah kita mendapatkan kekuatan. Dalam kita membaca firmanNya, merenungkan firmanNya, percaya kembali pada firmanNya, hari lepas hari di sanalah kita akan mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan dan akhirnya kita bisa melewati krisis itu.
GS : Sering kali justru orang pada waktu krisis itu menjauh dari Tuhan?

PG : Ya, seolah-olah kita itu marah kepada Tuhan dan menyalahkan Tuhan, jadi untuk sementara kita tidak mau terlalu dekat-dekat dengan Tuhan yang dianggap sebagai penyebab malapetaka ini.

ET : Mencari alternatif lain juga Pak, misalnya kekuatan yang lain yang di luar Tuhan.

PG : Ada juga orang yang seperti itu, mencari jalan keluar yang tidak Tuhan perkenan. Maka penting sekali kita kembali kepada Tuhan, kita tahu Tuhan mengijinkan tapi tidak berarti Tuhan jaha, ada maksud yang Tuhan sedang kerjakan yang memang belum bisa kita lihat sekarang.

GS : Terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan ini juga Ibu Esther terima kasih, ini suatu perbincangan yang sangat relevan yang kita hadapi sewaktu-waktu. Jadi ini akan menjadi bekal yang sangat penting bagi kita. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga. Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menghadapi Krisis". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



36. Melewati Masa yang Sulit


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Masalah Hidup
Kode MP3: T140B (File MP3 T140B)


Abstrak:

Tidak seorang pun dari antara kita yang tidak pernah mengalami masa-masa sulit. Pada masa sulit biasanya penuh dengan kekhawatiran, akhirnya kita tertelan oleh perspektif duniawi dan gagal menerapkan perspektif surgawi. Karena itu kita perlu tahu bagaimana cara mengatasinya.


Ringkasan:

Latar Belakang

Pada waktu problem datang kita khawatir. Kita tertelan perspektif duniawi dan gagal menerapkan perspektif sorgawi. Doa Kedamaian dari Reinhard Neibohr, "Tuhan berikanku kekuatan untuk mengubah hal-hal yang perlu aku ubah, kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku ubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya."

Tuhan Yesus pun berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada pakaian? Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:25,34)

Langkah-Langkah Menghadapi Masalah:

  1. Mempertahankan perspektif ukuran yang tepat: Dapat membedakan antara masalah besar dan kecil.
  2. Mempertahankan perspektif waktu yang tepat: Dapat membedakan antara masalah nanti, sekarang, dan yang lalu.
  3. Mempertahankan perspektif kesanggupan yang tepat: Dapat membedakan antara yang bisa dikerjakan dan yang ingin dikerjakan.
  4. Mempertahankan perspektif tentang problem yang tepat: Dapat membedakan antara problem yang bukan dosa dan dari dosa; antara akibat perbuatan sendiri dan perbuatan orang.
  5. Mempertahankan perspektif rohani yang tepat: Dapat membedakan antara ganjaran Tuhan dan latihan Tuhan.

Penutup

Kisah hidup Naomi memperlihatkan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang tidak mudah dipahami. Ia kehilangan suami dan kedua putranya setelah mengungsi ke Moab akibat bala kelaparan di Israel. Namun dari menantunya Rut lahir Obed yang adalah ayah Isai, ayah Daud.

Kita melihat hal yang sama tatkala Elia dipelihara oleh burung gagak pada masa kekeringan. Akhirnya sungai itu pun kering dan Elia harus pindah. Namun karena itulah seorang janda di Sarfat dapat terus hidup. Kesimpulannya adalah Tuhan menolong kita dengan cara-cara yang tidak terduga dan kadang membingungkan karena tampaknya cara yang pertama berkontradiksi dengan cara yang kedua.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Melewati Masa yang Sulit, " kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul rasanya tidak seorang pun dari antara kita yang tidak pernah mengalami masa-masa sulit Pak Paul, tapi memang yang paling berat itu adalah pada saat-saat kita itu menjalaninya kalau sudah lewat kita sudah bisa menengok ke belakang bahkan itu mungkin sesuatu hal yang baik buat kita Pak Paul. Perbincangan kita tentang melewati masa yang sulit ini bagaimana Pak Paul?

PG : Ada sebuah doa yang ditulis oleh seorang theolog Amerika Rain Hold. Doa ini diterjemahkannya sebagai doa kedamaian yaitu serenity prayer. Doa yang sangat indah sekali doa ini berkata: "Tuan, berikanku kekuatan untuk mengubah hal-hal yang perlu aku ubah, berikan kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku ubah dan hikmat untuk membedakan keduanya.

Saya kira doa ini mencerminkan kebutuhan kita Pak Gunawan dalam menghadapi masa yang sulit ini ada kalanya yang kita butuhkan adalah kekuatan mengubah, keberanian untuk bisa mengubah hal yang sedang kita alami itu, kadang tidak bisa kita mengubah jadi kita harus menerimanya. Nah kita meminta Tuhan memberikan kita kedamaian agar kita bisa menerimanya, tapi masalahnya sekarang adalah bagaimana kita membedakan keduanya kapan mengubah, kapan menerima dalam masa yang sulit itu. Maka doa ini ditutup dengan permintaan berikanlah aku hikmat untuk membedakan keduanya. Jadi dalam menghadapi problem di masa yang sulit memang kita perlu ketiga hal ini kekuatan untuk mengubah, kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah, dan hikmat untuk membedakan mana yang harus kita lakukan. Nah kira-kira inilah yang menjadi tekanan kita pada diskusi pada saat ini, salah satunya lagi yang bisa saya pikirkan adalah ini tentang masa yang sulit Pak Gunawan yaitu pada masa sulit kita sangat-sangat penuh dengan kekhawatiran, kita akhirnya tertelan oleh perspektif duniawi dan gagal menerapkan perspektif surgawi artinya bagaimana melihat masalah dari perspektif Tuhan bukan hanya melihatnya dari perspektif kita dalam menghadapi masa yang sulit nah dua perspektif ini akan berbenturan dan saling tarik-menarik.
GS : Tetapi kita itu biasanya sebagai reaksi awal menghadapi kesulitan itu biasanya menolak atau mencoba mengubah keadaan itu sebelum kita akhirnya tiba pada suatu titik yang berkata ini memang tidak bisa dirubah tetapi pada awalnya 'kan kita itu spontan saja mau merubah itu Pak Paul?

PG : Betul sering kali yang kita harapkan adalah situasinya berubah karena dengan berubahnya situasi maka problem kita akan selesai, tapi masalahnya adalah sebagian besar problem justru bersumbr dari situasi yang tidak bisa kita ubah.

Misalkan kita diberhentikan dari pekerjaan, nah itu situasi yang tidak bisa kita ubah kita tidak mempunyai banyak pilihan di situ. Kalau saja situasi berubah kita tidak dihentikan dari pekerjaan sudah tentu memang masalah akan sangat berbeda tapi sekali lagi sering kali justru masalah muncul karena situasi itu tidak bisa kita ubah lagi.
GS : Alkitab memang banyak sekali berbicara bagaimana kita harus menghadapi kekuatiran tetapi mungkin Pak Paul bisa menyebutkan salah satu ayatnya.

PG : Di Matius 6:25 dan 34 dikatakan Tuhan yesus berkata: "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang henda kamu pakai.

Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Nah ini perspektif surgawi yang tadi saya sudah singgung dan ini yang mesti kita terus-menerus kenakan pada waktu kita menghadapi masa yang sulit jangan sampai kita lepas kontak dengan perspektif surgawi ini sekali kita lepas kontak dari perspektif surgawi ini maka yang akan menguasai kita adalah perspektif duniawi yakni saya, saya bagaimana harus saya kerjakan, bagaimana saya harus begini begitu, saya harus akhirnya nah kita makin tenggelam makin tenggelam dan makin tenggelam.
GS : Ya itulah sebabnya mungkin kondisi kerohanian seseorang itu sangat menentukan bagaimana dia menanggapi suatu krisis atau suatu masa sulit ini Pak Paul?

PG : Saya kira demikian kalau kita memang matang secara rohani kita lebih dapat mengandalkan perspektif surgawi tapi kalau kita memang belum terlalu matang kita lebih mengandalkan perspektif duiawi, kita lebih memikirkan usaha-usaha manusia.

GS : Pak Paul mengingat pentingnya hal seperti itu apakah ada langkah-langkah tertentu yang harus kita ambil atau tindakan-tindakan tertentu yang harus kita lakukan supaya kita tetap memiliki perspektif surgawi itu Pak Paul?

PG : Ada beberapa, yang pertama adalah kita mesti mempertahankan perspektif ukuran yang tepat. Nah apa yang saya maksud dengan ukuran yang tepat ini, artinya kita bisa membedakan antara masalahbesar dan masalah kecil mungkin bagi sebagian pendengar rumus ini terlalu mudah tapi sebagian orang tidak bisa membedakan masalah besar dan masalah kecil.

Masalah kecil dianggap masalah besar, kebalikannya juga betul masalah besar dianggap masalah kecil, nah perlu memang ketepatan perspektif melihat berapa besar masalah yang kita hadapi itu sebab apa sebab respon kita nanti sangat bergantung pada persepsi kita berapa besar atau kecilnya masalah itu sudah tentu kepanikan tidak perlu untuk masalah yang memang kecil sedangkan untuk masalah yang sangat besar sudah tentu unsur kepanikan justru dibutuhkan sehingga ada urgensinya.
GS : Pak Paul, memang besar kecil ini kan sesuatu yang relatif kita selalu memandang masalah kita itu besar tetapi kalau masalah yang sama dialami oleh orang lain kita menganggap itu kecil. Nah bagaimana kita bisa memiliki suatu pandangan yang obyektif sehingga yang besar itu kita sebut besar dan yang kecil kita sebut kecil?

PG : Ok! Sudah tentu ada unsur subyektifitas di sini tidak bisa kita mematok ukuran yang sama untuk setiap orang, tapi saya kira secara konsensus kita bisa mengatakan hal-hal ini kecil, hal-halitu besar.

Misalnya kalau anak kita mendapatkan hasil ujian yang tidak begitu baik, nah saya kira kalau biasanya dia mendapatkan hasil yang lumayan baik kemudian satu kali hasilnya kurang baik kita mesti melihat itu sebagai hal yang kecil tapi misalkan suami kita sudah 6 bulan terakhir ini lima, enam hari seminggu pulang jam 12 malam dan selalu ada alasan bahwa dia itu urusan kantor atau apa nah itu bagi saya masalah besar jadi mesti bisa melihat, membedakan ini hal besar atau ini hal kecil.
GS : Ya itu sehubungan dengan nilainya mungkin Pak Paul bagaimana kita menilai itu jadi kalau memang itu bernilai buat kita seperti tadi mengenai hubungan suami-istri karena itu nilainya tinggi dan dia sering kali pulangnya tidak terlalu larut malam maka ini menjadi sesuatu yang besar buat kita begitu Pak Paul?

PG : Ya atau misalkan istri kita sudah cukup lama tidak mau lagi tersenyum, tidak lagi menanggapi kita; kita mesti bertanya apa yang terjadi, ini bukan masalah kecil kita tidak bisa menyepelekanya dan berkata oh biasalah nanti dia akan baik sendiri oh tidak kalau ini sudah berulang, berulang, berulang kita mesti akhirnya berkata tidak; ini masalah besar jadi saya mesti memberikan perhatian yang lebih besar pula untuk mengatasinya.

Pernah saya berbicara dengan seseorang yang akhirnya berpisah dalam pernikahannya dan dia berkata: "Saya tidak pernah tahu apa yang menjadi masalah dalam pernikahan saya", nah saya kira itu menyedihkan sekali sampai akhirnya mereka berpisah tapi si orang ini berkata saya tidak tahu apa yang menjadi masalah kita dulu itu nah berarti ada salah satu di antara mereka yang satunya tidak terbuka dan yang satunya mungkin agak buta sehingga tidak bisa melihat masalah.
GS : Katakan masalah itu kita sudah pandang secara obyektif Pak Paul seobyektif mungkin kita mencoba itu, lalu langkah berikutnya apa Pak Paul?

PG : Kita mesti mempertahankan perspektif waktu yang tepat, nah ini langkah kedua artinya apa kita dapat membedakan antara masalah nanti, sekarang dan yang lalu. Adakalanya ini masalah masa lamau hal terjadi di masa lampau jadi kita mesti lihat ini sebagai hal yang sudah terjadi di masa lampau atau ini adalah suatu kemungkinan di masa mendatang yang belum tentu terjadi, nah kita mesti bisa membedakan hal-hal yang belum tentu terjadi dan yang sudah pasti terjadi.

Atau adakalanya hal yang sekarang inilah yang mesti kita perhatikan tapi kita hilang perspektif kita menganggap seolah-olah tidak apa-apalah, oh tidak ini sudah menjadi masalah sekarang, maka mesti dihadapi juga sekarang. Nah ini seolah-olah sekali lagi suatu rumus yang sederhana tapi banyak problem menjadi sangat besar gara-gara kita kehilangan perspektif akan waktu yang tepat di dalam menghadapi problem, kesalahan menempatkan masalah waktu bisa berakibat fatal sekali
GS : Tapi sering kali terjadi begini Pak Paul, orang menganggap ini masalah masa lampau, masalah yang sudah lewat, tapi dampaknya itu kok masih terasa sampai sekarang Pak Paul?

PG : Dengan kata lain mungkin sekali itu masalah di masa lampau bisa jadi sudah selesai tapi bisa jadi juga belum selesai atau memang yang diperbuatnya dulu itu tidak diulanginya betul, tapi searang masih ada hal-hal yang dilakukan oleh pasangan kita yang tetap menggelitik kita, sehingga akhirnya kita tidak pernah bisa berkata masalah di waktu lampau itu sudah selesai karena masih ada, namun ini juga penting kadang-kadang kebalikannya yang terjadi seseorang pernah bersalah di masa lampau anak kita misalnya pernah berbohong di masa lampau berapa kali misalkanlah dua, tiga kali tapi sudah lama anak kita tidak berbohong nah saya kira tidak tepat kita langsung menuduh dia waktu ada sesuatu yang hilang bahwa dialah yang mencurinya.

Nah sekali lagi kita tidak tepat dalam masalah waktu ini sehingga hal yang lampau kita jadikan masalah sekarang sehingga masalah sekarang bertambah besar lagi.
GS : Pak Paul apakah itu ada kaitannya dengan kemampuan kita atau kesanggupan kita di dalam mengatasi suatu masalah?

PG : Ada sekali jadi kemampuan untuk bisa menghadapi masalah itu juga berperan dalam menghadapi situasi yang sulit, artinya apa kita bisa membedakan antara yang bisa dikerjakan dan yang ingin dkerjakan.

Kadang kala dalam menghadapi suatu problem kita berpikir seharusnya ini yang dikerjakan dan saya ingin ini yang bisa dilakukan tapi memang tidak bisa, nah daripada kita terus memikirkan apa yang ingin dilakukan yang seharusnya dilakukan tapi tidak pernah terwujud lebih baik kita fokuskan terhadap apa yang bisa dikerjakan sekarang. Nah yang bisa dikerjakan sekarang itulah yang kita lakukan. Sering kali saya menggunakan ilustrasi ini Pak Gunawan, kita membangun rumah satu bata demi satu bata kalau kita berkata oh saya hanya mempunyai 100 bata, buat apa bangun rumah nah memang di satu pihak bisa kita berkata demikian tapi bukankah 100 bata sudah bisa membangun satu dinding misalkan. Nah daripada tidak ada dinding sama sekali kita buat satu dinding jadi di dalam menghadapi problem yang sulit kerjakanlah hal yang bisa kita kerjakan meskipun kita belum bisa sampai pada solusinya, sebab ini yang sering kali terjadi waktu kita mulai mengerjakan entah bagaimana nanti akan terbuka jalan yang lain gara-gara kita mulai melakukan satu hal yang kita anggap itu sederhana.
GS : Tapi kalau kita kembali pada doa tadi Pak Paul itu kan juga antara lain dikatakan untuk membedakan mana yang tidak bisa kita lakukan kasarnya begitu, apakah cukup bijaksana kalau kita melihat memang ini tidak bisa kita lakukan ya sudah kita tinggalkan.

PG : Kadang-kadang itu yang harus kita lakukan memang seharusnya kita kerjakan tapi kita tidak bisa kerjakan, nah yang tidak bisa kita kerjakan sudah kita lewatkan, kita tinggalkan, kita terimaitu sebagai misalkan kerugian atau kehilangan dan ya tidak apa-apa.

GS : Karena kalau kita mencoba mengerjakan itu nanti akan menimbulkan kesulitan yang lain buat kita dan orang lain juga Pak Paul.

PG : Betul adakalanya karena kita mau berbuat sesuatu akhirnya berbuat sesuatu yang sangat keliru menambah rumitnya masalah.

GS : Apakah ada langkah-langkah yang lain Pak Paul?

PG : Kita mesti mempertahankan perspektif tentang problem yang tepat artinya kita dapat membedakan antara problem yang bukan dosa dan problem yang berasal atau berkaitan dengan dosa. Artinya ap, kalau memang akibat dosa kita akui itu dosa kita memang mesti minta ampun kepada Tuhan, tapi ada hal-hal yang terjadi dalam hidup bukan karena dosa secara langsung nah kita tidak usah langsung berkata ini akibat dosa dan Tuhan sedang menghukum saya, adakalanya kita dilumpuhkan oleh pikiran-pikiran wah Tuhan sudah menghukum saya makanya inilah yang terjadi usaha saya rugi atau apa, belum tentu jangan buru-buru berkata ini akibat dari dosa.

Atau yang lainnya juga tentang perspektif mengenai problem ini yakni membedakan antara akibat perbuatan sendiri dan akibat perbuatan orang. Adakalanya kita mengalami musibah atau kerugian bukan akibat perbuatan kita tapi akibat perbuatan orang artinya jangan langsung kita menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan pasangan kita sebab ini memang bukan akibat perbuatan kita ya bisa juga akibat dari situasi akibat dari perbuatan orang lain.
GS : Mulanya mungkin seseorang menganggap bahwa apa yang dialami sekarang ini bukan akibat dosa atau kesalahan masa lalu, tetapi karena ada orang-orang yang datang kepadanya lalu berbicara kamu ini pasti ada dosa tertentu coba pikir lagi pikir lagi lama-lama dia berpikir dan akhirnya menemukan ya ini karena dosa, tapi dia sendiri tidak terlalu yakin dengan itu.

PG : Maka kita mesti kenal Tuhan dengan baik, sehingga kita tahu jelas memang ini berkaitan dengan dosa atau tidak. Memang orang yang tidak terlalu dekat dengan tuhan mudah sekali dikelabui ole pikiran-pikiran seperti ini.

Misalkan kalau anak kita mengalami kecelakaan naik motor atau apa nah jangan buru-buru berkata ini Tuhan sedang menghukum kita belum tentu, karena apa, karena bisa jadi memang ini adalah bagian dari dan kita harus terima itu dan bukannya berarti ini ganjaran yang sedang kita hadapi.
GS : Berarti ada suatu perspektif lain yang harus kita luruskan di situ Pak Paul?

PG : Ya, yaitu perspektif rohani di sini Pak Gunawan, jangan terburu-buru memanggil atau melabelkan ini hukuman Tuhan atas hidup kita belum tentu, ada kalanya Tuhan membiarkan peristiwa yang suit menghadang hidup kita karena ia ingin melatih kita menjadikan kita lebih bersandar kepada-Nya tidak bersandar pada kekuatan kita tapi itu belum tentu hukuman ini hanyalah pelatihan yang Tuhan berikan pada kita.

GS : Pak Paul di dalam Alkitab sering kali kita mengutip Ayub Pak Paul sebagai contohnya tapi mungkin ada tokoh yang lain di dalam Alkitab Pak Paul yang bisa membantu kita memahami ini.

PG