DVD Konseling Kristen TELAGA

TELAGA -- Pengembangan Diri



Kategori ini berisi 76 artikel yang mengupas mengenai hal-hal terkait pengembangan diri, membentuk kebiasaan baik, belajar bijak, dan mengelola waktu. (Total Durasi: 38 Jam)<<Lihat Direktori>>

No.JudulFile MP3
1Kepercayaan DiriT014B
2Rasa Malu dan Rendah DiriT081A
3Rasa Malu dan Rasa BersalahT081B
4Hikmat dalam Pengambilan KeputusanT090A
5KedewasaanT090B
6Membentuk Kebiasaan BaikT091A
7Menang dari Kebiasaan BurukT091B
8Mengenal Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13T093B
9Kecerdasan dan Test KecerdasanT095A
10Meningkatkan KecerdasanT095B
11Mengalahkan Pikiran NegatifT097A
12Mengalahkan Sikap EgoisT097B
13Menerima Kelebihan dan Kekurangan DiriT101A
14Melawan KeputusasaanT101B
15Sedia BelajarT108A
16Hidup FleksibelT108B
17Melawan KekhawatiranT125A
18Mengendalikan Sifat PemarahT125B
19Memelihara HatiT136A
20Tes PujianT136B
21Belajar BijakT137A
22Pulih Setahap demi SetahapT137B
23Rasa BersalahT148A
24Dari Kejatuhan Menuju KemenanganT148B
25Pembelaan Diri dan Pengembangan DiriT164B
26Hidup BersukacitaT167A
27Hidup TabahT167B
28Mengampuni DiriT170A
29Jika Kita BerselingkuhT170B
30Bersukacita dalam TuhanT181A
31Menikmati HobbyT185A
32Mengelola WaktuT185B
33Pribadi yang CemasT203A
34Mengambil KeputusanT203B
35Iri HatiT210A
36Melawan KebosananT210B
37Manusia BaruT215A
38Bayang Bayang Masa LaluT215B
39Dari Mana Datangnya PencobaanT234A
40Sikap Kita Terhadap PencobaanT234B
41Menjadi Orang BenarT263A
42Perasaan Tidak PekaT265B
43Mengakhiri Dengan Baik ( I )T280A
44Mengakhiri Dengan Baik ( II )T280B
45Sabat dan Kesehatan JiwaT283A
46Sabat dan Kesehatan RohaniT283B
47Tenggelam dalam Diri SendiriT298B
48Menebus Kesalahan Masa LaluT306A
49Bekerja dan BerhikmatT311A
50Hidup SederhanaT311B
51Hikmat Dalam Bersahabat IT330A
52Hikmat Dalam Bersahabat IIT330B
53Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan IT337A
54Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan IIT337B
55Teladan Hidup IT342A
56Teladan Hidup IIT342B
57Apa adanyaT346B
58Jiwa Memberi IT349A
59Jiwa Memberi IIT349B
60Keterampilan Untuk MengampuniT354A
61Keterampilan Untuk MemahamiT354B
62Gaya Hidup Sehat 1T362A
63Gaya Hidup Sehat 2T362B
64Menunda-nunda 1T374A
65Menunda-nunda 2T374B
66Menunda-nunda 3T374C
67Menunda-nunda 4T374D
68Seni Menegur 1T375A
69Seni Menegur 2T375B
70Seni Menegur 3T375C
71Menerima Teguran 1T376A
72Menerima Teguran 2T376B
73Melampaui EfisiensiT380A
74Tatkala Tuhan Berkata TidakT380B
75Peran Iman dalam Pengambilan Keputusan 1T384A
76Peran Iman dalam Pengambilan Keputusan 2T384B


1. Kepercayaan Diri


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T014B (File MP3 T014B)


Abstrak:

Kepercayaan diri akan muncul pada diri anak apabila ada bekal atau bahan-bahan yang positif yang dia terima dari orangtuanya atau lingkungan di mana dia ada, di gereja misalnya. Dan mengenai bahan apa saja yang diperlukan topik ini akan membahasnya.


Ringkasan:

Ada 2 aspek besar di dalam kepercayaan diri, sbb:

  1. Aspek diri itu sendiri, yang dimaksud diri bukan hanya tubuh jasmani namun yang lebih penting lagi adalah substansi dari diri kita. Yaitu siapa kita menurut pandangan kita dan juga yang terpenting adalah mempunyai suatu kekuatan dari dalam diri kita sehingga waktu kita mengarungi hidup, kita tidak merasa sebagai orang yang tersesat, terkatung-katung tanpa arah, sebab kita mempunyai substansi atau suatu isi dari dalam diri kita.

  2. Aspek mempercayai diri. Jadi mempercayai pertimbangan kita, mempercayai kemampuan, kebiasaan yang bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif.

Diri sebenarnya berasal dari bahan, bahan yang kita serap dari lingkungan kita dan terutama adalah dari keluarga kita. Jadi yang dimaksud dengan bahan adalah interaksi, pergaulan antara kita dengan orangtua kita. Yang dimaksud interaksi atau pergaulan adalah hidup bersama-sama dengan orangtua, melihat perilaku mereka, dididik oleh mereka, dinasihati oleh mereka, mengisi diri kita sehingga diri kita itu tidak kosong. Misalkan anak sudah berjanji kepada orangtua akan ada di rumah jam 09.00 malam, ternyata dia pulang jam 11.00 malam. Orangtua marah, waktu marah orangtua kemudian mengatakan satu kalimat: "Engkau harus belajar menepati janjimu, sebab orang hanya akan percaya kepada engkau kalau engkau bertanggung jawab dengan janjimu," itu adalah bahan. Bahan yang akhirnya membentuk diri dia, sebab si anak-anak tiba-tiba saat itu disadarkan akan satu hal yang mungkin dulunya dia sepelekan yaitu bahwa perkataannya atau janjinya itu adalah sesuatu yang akan dipegang oleh orang dan menjadi bahan penilaian orang terhadap dirinya.

Bahan di sini bisa positif maupun negatif. Bahan yang positif dapat menambah kekuatannya, bahan yang negatif justru akan menghancurkan dirinya.

Jadi di sini ada 2 aspek:

Pertama adalah kekurangan bahan yang positif misalnya orangtua jarang bergaul dengan anak, dua-dua sibuk, pulang malam, jarang mengungkapkan cinta, ngobrol, berdiskusi dengan anak hal ini menjadikan defisit, kekurangan dalam diri anak.

Kedua, banyak negatifnya artinya anak dikritik, anak dituntut secara berlebihan, dimarahi semau-maunya dsb itu adalah interaksi atau bahan-bahan negatif yang diserap oleh si anak sehingga si anak akhirnya memiliki diri yang penuh dengan perasaan-perasaan negatif.

Aspek mempercayai diri bersumber dari satu hal yaitu kita mesti memiliki penilaian tentang diri yang lumayan positif, apakah kita bisa mempercayai keputusan yang diambil oleh diri kita ini. Ada orang yang senantiasa ragu-ragu mengambil keputusan. Kerapuhan penilaian diri sangat tampak pada keputusan yang telah diambil yaitu seringkali keputusan itu diambil bukan berdasarkan pada apa yang kita pikir, apa yang telah kita timbang dengan baik-baik namun kita sangat dipengaruhi oleh faktor akibat. Kepercayaan diri yang lemah seringkali muncul atau terlihat dalam kasus seperti ini, jadi terlalu memikirkan pandangan orang, penilaian orang nanti akibatnya bagaimana, nanti orang lihat saya bagaimana, sehingga akhirnya keinginan diri, ide dari diri sendiri tertindih dan tidak muncul.

Yang perlu dilakukan untuk mengatasi / membangun kepercayaan diri adalah:

Pertama-tama, tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan.

  1. Kita mesti bereskan dulu relasi kita dengan Tuhan, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah anak Tuhan, dilihat Tuhan secara khusus dan spesial. Dengan kata lain kita mesti melihat bahwa kita ini diciptakan Tuhan bukan karena kebetulan, memang kita muncul dari orangtua tapi kehadiran kita di dunia ini ditetapkan oleh Tuhan, Tuhan menghendaki kita ada. Itu berarti Tuhan mempunyai rencana dengan kehadiran kita ini dan kita sebaiknya hidup sesuai dengan rencana Tuhan.

  2. Mulai mengisi diri kita dengan pergaulan yang positif, kita mencari teman yang positif yang membangun, kita mencari lingkungan yang positif dan membangun relasi dengan baik.

Kedua, mempercayai diri. Di sini kita memang perlu pengalaman sukses, pengalaman keberhasilan dan juga perlu tanggapan dari orang lain bahwa kita berhasil. Nah dari kedua hal inilah kita akhirnya perlahan-lahan mulai membangun kepercayaan diri.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Dan kali ini kami akan mengajak saudara sekalian untuk berbincang-bincang tentang sebuah topik yaitu "Kepercayaan Diri". Kita percaya bahwa acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul berbicara tentang kepercayaan diri, suatu bagian yang penting di dalam kehidupan kita ini. Tetapi pada dasarnya aspek-aspek apa saja yang ada dalam kepercayaan diri itu?

PG : OK! Sebetulnya ada 2 aspek besar Pak Gunawan, yang pertama adalah aspek diri itu sendiri dan yang kedua adalah aspek mempercayai diri.

GS : Yang Pak Paul maksudkan dengan aspek diri itu apa Pak Paul?

PG : Sebelum kita bisa mempunyai kepercayaan diri alias sebelum kita bisa mempercayai diri kita, mempercayai diri maksudnya mempercayai pertimbangan kita, mempercayai kemampuan kita. Kita meti mempunyai diri terlebih dahulu, nah mungkin konsep ini sedikit membingungkan sebab mungkin ada yang berkata kami semua mempunyai diri jadi apa maksudnya dengan memiliki diri terlebih dahulu.

GS : Tapi yang dimaksud 'kan bukan tubuh jasmani?

PG : Bukan, jadi tepat sekali yang dimaksud dengan diri bukan hanya tubuh jasmani namun yang lebih penting lagi adalah substansi dari diri kita ini. Yaitu siapa kita menurut pandangan kita dn juga yang terpenting adalah mempunyai suatu kekuatan dalam diri kita sehingga waktu kita mengarungi hidup kita tidak merasa sebagai orang yang tersesat, terkatung-katung tanpa arah, sebab kita mempunyai suatu substansi atau suatu isi dalam diri kita itu.

Nah mungkin yang langsung timbul dalam benak kita semua adalah dari mana asalnya diri itu, apakah semua orang otomatis lahir dengan diri yang seperti yang saya gambarkan, ternyata tidak Pak Gunawan. Itulah sebabnya dalam dunia ini kita bisa menyaksikan berbagai problem yang berkaitan dengan diri manusia, kita bisa melihat misalnya ada orang-orang yang mantap, ada orang-orang yang tidak mantap. Nah mungkin di antara para pendengar juga ada yang mengalami masalah seperti ini yaitu merasa diri kosong, hampa tidak tahu arah hidup dan sebagainya. Nah diri itu sebetulnya berasal dari bahan kalau boleh saya gunakan istilah bahan, bahan yang kita serap dari lingkungan kita dan terutama adalah dari keluarga kita Pak Gunawan. Jadi yang dimaksud dengan bahan adalah interaksi, pergaulan antara kita dengan orang tua kita. Yang saya maksud dengan interaksi atau pergaulan adalah hidup bersama-sama dengan orang tua, melihat perilaku mereka, dididik oleh mereka, dinasihati oleh mereka, tertawa dengan mereka jadi semua itu adalah masukan-masukan yang akhirnya mengisi kita, mengisi diri kita sehingga diri kita itu tidak kosong, kira-kira begitu.
IR : Nah Pak Paul, mungkin Pak Paul bisa memberikan contoh yang konkret apa tadi yang dikatakan bahan?

PG : OK! Misalkan kita terlambat pulang, kita sudah berjanji kepada orang tua akan ada di rumah jam 09.00 malam ternyata kita lambat pulang jam 11.00 malam, orang tua marah. Nah waktu orang ua marah kemudian mengatakan satu kalimat, "Engkau harus belajar menepati janjimu, sebab orang hanya akan percaya kepada engkau kalau engkau bertanggung jawab dengan janjimu," nah itu adalah bahan Bu Ida.

Bahan yang akhirnya membentuk dirinya, sebab si anak tiba-tiba saat itu disadarkan akan satu hal yang mungkin dulunya dia sepelekan yaitu bahwa perkataannya atau janjinya itu adalah sesuatu yang akan dipegang oleh orang dan menjadi bahan penilaian orang terhadap dirinya. Kalau orang tuanya tidak pernah berkata apa-apa misalkan dia hidup dalam rumah tangga yang kacau, orang tua tidak peduli dengan dia pulang jam 11.00, pulang jam 12.00 tidak ada yang menegur dia sama sekali dia akan kehilangan pelajaran berharga tersebut, nah ini yang saya maksud dengan bahan. Nah anak yang kurang sekali bahan-bahan seperti ini juga akan memiliki kekosongan, tapi anak yang banyak menerima bahan-bahan seperti ini dia akan menerima banyak bekal, isian untuk dirinya itu.
GS : Setelah bahan-bahan itu dimiliki oleh seorang anak pemuda atau remaja itu, bagaimana dia itu mengolah bahan-bahan itu Pak Paul supaya bisa menambah kepercayaan dirinya. Tentunya itu yang diharapkan.

PG : Nah bahan-bahan itu sebetulnya tidak perlu diolah secara sadar karena bahan-bahan itu juga ditanamkan secara tak sadar maksudnya tak sadar itu tak terencana Pak Gunawan (GS : tidak ada istem tertentu untuk itu ya) betul tidak diberikan secara formal.

Nah pengolahan itu akan berlangsung juga secara alamiah yakni sewaktu anak itu bergaul di luar, sewaktu dia itu hidup dengan teman-temannya di sekolah atau terlibat dalam pelayanan di gereja, melalui pergaulan, interaksi, persahabatan mungkin juga konflik dengan teman dan sebagainya bahan-bahan yang dia terima itu akan mengalami pengolahan. Nah otomatis nanti bahan yang kuat akan menolong dia untuk bisa terjun ke masyarakat dengan lebih kuat. Saya berikan contoh yang lain mengenai bahan, yakni bahan cinta, bahan kasih, mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa kita ini mengasihi diri kita karena kita terlebih dahulu dikasihi, nah ini memang firman Tuhan, Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita. Nah sebetulnya kita menyukai diri kita atau tidak pada awalnya sangat bergantung dari perlakuan orang tua. Anak itu lahir ke dunia benar-benar tidak memiliki konsep apapun tentang dirinya, tidak tahu dirinya itu positif atau negatif, dia tidak bisa berkata dia suka atau tidak suka tentang dirinya, tidak tahu. Nah bagaimanakah anak itu sampai bisa menyukai atau tidak menyukai dirinya, sebetulnya ada 2 faktor besar faktor yang umum yang sering kita pikirkan atau sering kita lihat terutama di kalangan anak remaja adalah anak itu menyukai dirinya. Kalau dia mencapai standar yang ditetapkan oleh lingkungannya terutama lingkungan remaja. Misalkan remaja sekarang menekankan tubuh yang langsing, nah otomatis kalau tubuhnya tidak langsing dia akan merasa tidak begitu sreg, tidak begitu menyukai dirinya atau penampilannya. Tapi itu adalah salah satu bagian saja, salah satu bagian yang memang berpengaruh dalam pertumbuhan diri si anak. Bagian yang lebih penting yang lebih awal juga adalah pandangan atau tanggapan orang tua terhadap dirinya itu. Kalau sejak kecil dia dicintai, dikasihi, dia disukai, dia dinikmati oleh orang tuanya dia akan belajar menyukai dan menikmati dirinya. Jadi anak belajar mengasihi diri dari kasih orang tua terhadap dirinya, kalau yang dia terima justru sering kali kemarahan, kebencian, orang tua rasanya sebel melihat dia dan sebagainya, orang tua tidak meluangkan waktu baginya, nah hal-hal itu menjadi isyarat bahwa dia itu tidak dikasihi, bahwa dia itu tidak penting dalam kehidupan orang tuanya, bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sesuatu yang sangat berharga bagi orang tuanya. Nah akibatnya dia itu mulai merasa tidak begitu nyaman dengan dirinya, tidak mempunyai pandangan yang baik terhadap dirinya, nah ini adalah salah satu bahan. Jadi kalau anak itu dicintai dia menerima bahan yang banyak, bahan yang kuat, dia terjun ke sekolah ke masyarakat yang lebih luas, di sekolah temannya meledek dia misalnya e...kamu anak baru tidak bisa apa-apa, anak-anak 'kan biasa suka iseng. Kalau bahannya kuat, bahan yang dia terima sudah cukup banyak dan positif dari rumah, ejekan seperti itu sudah pasti mengganggu dia. Tapi tidak menghancurkan, tidak membuat dia menjadi anak yang bingung, tidak mau sekolah dan sebagainya, karena dia tahu diri dia, dia mempunyai suatu kekuatan untuk melawan tekanan dari luar. Nah anak yang kosong, yang hampa bahan waktu mendapatkan tantangan atau tekanan di luar akan mengalami kesukaran untuk melawan karena kekuatannya itu tidak ada.
IR : Jadi bahan itu bisa mengakibatkan hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif Pak Paul?

PG : Betul Bu Ida, jadi bahan yang positif menambah kekuatannya, bahan yang negatif justru akan menghancurkan dirinya. Jadi memang ada 2 aspek di situ, aspek yang pertama adalah kekurangan bhan yang positif.

Nah ada rumah tangga yang hampa sekali bahan positif karena misalnya orang tua jarang bergaul dengan anak, dua-dua sibuk pulang malam, jarang memarahi anak, jarang mengungkapkan cinta, menghabiskan waktu dengan anak, ngobrol, ketawa dengan anak, berdiskusi dengan anak, nah jarang sekali kesempatan itu ada karena orang tua sibuk. Yang negatif juga tidak ada namun itu juga menjadikan defisit, kekurangan dalam diri anak. Ada tipe yang kedua yaitu banyak negatifnya artinya apa, anak dikritik, anak dituntut secara berlebihan, dimarahi semau-maunya dan sebagainya, nah itu adalah interaksi atau bahan-bahan negatif yang diserap oleh si anak. Sehingga si anak akhirnya memiliki diri yang penuh dengan perasaan-perasaan negatif.
GS : Jadi dalam diri anak itu tadi yang sudah mendapatkan bahan yang baik tentunya dari rumah dia lebih tahan menghadapi tantangan-tantangan di luar begitu maksudnya Pak Paul. Dan itu menjadi bekal dia untuk melanjutkan kehidupannya. Nah ada orang yang mengatakan bahwa pengalaman hidup itu menjadi suatu yang penting bagi kehidupan seseorang, tetapi bagaimana kalau orang tadi tidak terlalu menghiraukan pengaruh-pengaruh dari luar itu Pak Paul, 'kan ada orang yang agak acuh, tidak peduli dikata-katai apa ya dia acuh saja, jalan terus, itu 'kan dampaknya tidak terlalu terasa?

PG : Memang akan ada orang yang seperti itu Pak Gunawan, jadi mereka mempunyai ketahanan yang kuat, tahan untuk menderita, tahan untuk tidak diperhatikan dan sebagainya. Dan secara sekilas aau penampilan luar, kita akan melihat orang ini OK! Bisa berfungsi di masyarakat dengan relatif baik.

Namun sesungguhnya kalau kita amati dan hidup serumah dengan dia kita akan melihat titik-titik rawan Pak Gunawan. Titik rawan seperti apa misalnya, misalkan ada orang yang kosong, anak yang dibesarkan dalam rumah di mana tidak dapat bahan-bahan dari orang tua. Tapi karena ketabahannya dia bisa bekerja dengan mati-matian dan misalnya berhasil dalam hidup, akhirnya dia mengalami musibah dalam masa krisis moneter ini misalkan dia bangkrut nah karena dalam dirinya itu sebetulnya ada kehampaan yang akhirnya ditutupi dan diisi oleh keberhasilannya di luar seolah-olah memang selama dia berhasil semuanya baik-baik saja tapi waktu usahanya jatuh dia benar-benar collapse, dia benar-benar hancur. Sebab bagi dia pekerjaan menjadi begitu penting, sedangkan bagi orang lain yang mendapatkan banyak dari lingkungan dari keluarganya dan dia tahu siapa dirinya bahwa dia berharga bukan karena pekerjaan atau uangnya tetapi karena siapa dia dalam Tuhan Yesus dan dia tahu banyak saudara-saudara seiman yang dekat dengan dia, orang tua yang mendukung dia, saudara yang mengasihi dia. Nah dia memang akan pasti goncang juga kehilangan pekerjaan tapi kita akan melihat ketabahannya itu bisa berbeda, dia tidak akan terlalu bereaksi, dia itu lebih bisa menerima dirinya bahwa diri dia OK, meskipun tidak ada pekerjaan.
GS : Jadi tetap rawan ya Pak Paul, jadi kepercayaan dirinya juga semu, sehingga kalau dia mengalami kegoncangan yang hebat dia hancur.

PG : Betul, dan ini sering kali nampak Pak Gunawan dalam hubungan suami-istri, misalkan dia mendapatkan kritikan dari istrinya wah dia tidak tahan, dia bisa marah sekali.

GS : Tadi Pak Paul katakan bahwa untuk membangun kepercayaan diri ada 2 aspek besar Pak Paul, yang satu adalah aspek diri yang baru saja kita bicarakan, lalu aspek yang kedua tadi apa Pak Paul?

PG : Itu aspek mempercayai diri, jadi mempercayai kemampuan, kebisaan, nah ini bersumber dari satu hal yaitu kita mesti miliki yaitu penilaian tentang diri yang lumayan positif. Nah sekarangadalah penilaian kitanya, apakah kita sekarang bisa mempercayai keputusan yang diambil oleh diri kita ini.

Nah ada orang yang senantiasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan A susah sekali beripikir berhari-hari, nah setelah mengambil keputusan berpikir lagi berhari-hari. Saya ini benar atau tidak, tepat atau tidak tepat dan sering kali ditandai oleh pemikiran tentang pandangan orang lain, nanti orang menilai saya bagaimana, nanti akibatnya bagaimana dan sebagainya. Jadi kerapuhan penilaian diri ini sangat tampak pada keputusan yang telah diambil yaitu sering kali keputusan itu diambil bukan berdasarkan apa yang kita pikir, apa yang telah kita timbang dengan baik-baik namun kita sangat dipengaruhi oleh faktor akibat. Nah saya bukan berkata dalam mengambil keputusan kita tidak mempertimbangkan akibat, kita harus mempertimbangkan segala faktor. Nah tapi kepercayaan diri yang lemah sering kali muncul atau terlihat dalam kasus seperti ini jadinya, terlalu memikirkan pandangan orang, penilaian orang, nanti akibatnya bagaimana, nanti orang melihat saya bagaimana, nanti ini bagaimana sehingga akhirnya keinginan diri, ide dari diri sendiri tertindih dan tidak muncul begitu.
(2) IR : Pak Paul tentunya ada saran bagaimana mengatasi orang yang mempunyai tipe seperti ini?

PG : OK! Jadi kalau memungkinkan memang kita ini mesti mengisi diri kita dulu. Nah sebelumnya kita bisa mengisi diri kita, memang kita harus pertama-tama jelas dulu siapa diri kita di hadapa Tuhan.

Sebab sebelum kita tahu siapa kita di hadapan Tuhan saya kira kita akan mengalami kesulitan untuk membangun diri kita yang sudah terlanjur kosong itu, jadi nomor 1 kita mesti bereskan dulu relasi kita dengan Tuhan. Nah Alkitab penuh dengan firman Tuhan yang menyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan, kita ini disebut sebagai teman Tuhan, kita ini juga disebut sebagai pewaris kerajaan Tuhan. Kita ini benar-benar dilihat Tuhan secara khusus dan spesial. Nah dengan kata lain bahwa kita mesti melihat bahwa kita ini diciptakan Tuhan bukan karena kebetulan, memang kita muncul dari orang tua, memang kita dilahirkan oleh mereka tapi kehadiran kita di dunia ini ditetapkan oleh Tuhan, bahwa Tuhan memang menghendaki kita ada. Dan kalau Tuhan menghendaki kita ada berarti Tuhan mempunyai rencana dengan kehadiran kita ini dan kita sebaiknyalah hidup sesuai dengan rencana Tuhan itu, nah itu memang adalah dasarnya Bu Ida. Dan yang kedua adalah kita mulai mengisi diri kita dengan pergaulan yang positif, kita mencari teman yang positif yang membangun, kita mencari lingkungan yang positif, dan mulai membangun relasi dengan baik dan dalam. Sehingga kita akan mengisi kembali diri kita yang sudah terlanjur kurang itu atau kosong itu, nah itu langkah pertamanya Bu Ida.
GS : Kalau disebut itu langkah pertama yang berikutnya apa Pak Paul?

PG : Yang berikutnya adalah menyangkut aspek tadi, yaitu mempercayai diri. Nah untuk bisa mempercayai diri atau mempertimbangkan keputusan diri kita memang perlu pengalaman sukses, pengalama keberhasilan dan juga perlu tanggapan dari orang lain bahwa kita itu berhasil, sebab tidak cukup hanya kita saja berkata o.......saya

bisa, orang lain harus memberikan pengakuan yang sama. Nah dari dua sumber inilah kita akhirnya perlahan-lahan mulai membangun kepercayaan diri.
GS : Jadi sama seperti tadi pembentukan aspek diri itu juga tergantung dari bahan yang kita terima banyak atau sedikitnya, nah masalahnya sekarang untuk aspek mempercayai kemampuan diri Pak Paul, kalau terlalu banyak atau sering kita mendapatkan yang positif ada orang-orang tertentu yang dikatakan terlalu percaya diri. Nah itu sesuatu yang konotasinya juga negatif, nah itu bagaimana untuk menghindari kita tetap percaya diri tapi tidak terlalu percaya diri Pak Paul, artinya tidak sampai berlebihan sehingga mengabaikan Tuhan bahkan merasa semua bisa diatasi.

PG : Saya senang sekali dengan satu ayat di Firman Tuhan yang berkata: "Pengetahuan mengangkuhkan diri, menyombongkan diri, cinta kasih membangun." Dalam bahasa Inggrisnya itu knowledge pop ff love edifies.

Pop off itu artinya adalah menggelembung, jadi pengetahuan cenderung membuat kita itu menggelembung saya tahu yang benar, saya tahu saya benar tapi yang Tuhan selalu tekankan bukanlah pengetahuan yang benar tapi cinta yang benar, sebab cinta itu akhirnya menjadi penyeimbang. Saya boleh tahu yang benar, saya boleh yakin bahwa saya benar tapi tatkala saya memaksakan kehendak saya dan mengabaikan sisi cinta sehingga orang lain terinjak oleh saya nah saya telah gagal di mata Tuhan. Jadi orang Kristen harus hidup dalam keseimbangan ini. Nah orang Kristen yang peka dengan suara Tuhan dan mau hidup di dalam Tuhan, sukar untuk bisa menggelembung karena sewaktu dia mulai menggelembung Roh Tuhan mulai berbicara kepada dia mengingatkan dia engkau keliru, engkau kehilangan cinta kasih. Waktu engkau membela argumenmu sampai begitu ngotot engkau itu akhirnya melukai hati orang dan waktu engkau melukai hati orang karena membela pandanganmu saja ya engkau telah kehilangan maknanya.
GS : Jadi yang paling tepat kita melihat sosok diri Tuhan Yesus sendiri Pak Paul, seorang yang betul-betul mempunyai percaya diri tapi juga memiliki kasih terhadap sesamanya, sehingga dia tidak terjatuh dalam dosa. Nah masalahnya sekarang Pak Paul, kalau seseorang itu mempunyai aspek diri yang baik dan mempunyai kemampuan untuk percaya pada dirinya sendiri yang tentu kita harapkan. Bagaimana ciri-ciri orang itu Pak Paul di dalam kehidupannya sehari-hari?

PG : Orang ini mantap, tidak mudah ragu-ragu, dia tahu arah hidupnya, dia tahu ke mana langkah hidupnya. Ini tidak berarti dia tahu pasti hari depannya tidak, namun hidupnya itu memang memilki sasaran yang jelas Pak Gunawan (GS : Ada ketenangan, ada bijaksana dalam mengambil keputusan).

Betul, dan kalau kita melihat waktu dia mengambil keputusan dan dia berhubungan dengan dunia luar, kita melihat adanya suatu kekonsistenan Pak Gunawan dalam cara berpikirnya. Waktu dia mengambil keputusan kita bisa melihat dia menggunakan prinsip-prinsip tertentu dan prinsip itulah yang akan memandu hidupnya. Dia tidak menjadi orang yang terbelah-belah dalam situasi tertentu dia tidak berubah warna seperti bunglon. Jadi kita akan melihat ada sesuatu yang kokoh dalam dirinya, yang menghantar dia melewati suatu peristiwa demi peristiwa yang lainnya.
GS : Saya percaya sekali bahwa Tuhan pun menghendaki kita bertumbuh, sering kali kita membaca di dalam Alkitab menjadi orang-orang yang betul-betul percaya diri tapi yang mempunyai kasih. Tapi itu juga merupakan suatu proses 'kan tidak bisa jadi dalam satu atau dua tahun tapi masalahnya apakah kita ada di dalam proses itu Pak Paul ya.

PG : Betul, dan kadang kala Pak Gunawan harus kita sadari dan harus saya akui juga adakalanya kita ini memasuki suatu tahap dalam hidup di mana kita tiba-tiba rasanya bingung. Ada fase bingug, fase tidak mengerti kenapa ini terjadi, kenapa saya juga begini dan saya pikir itu juga baik, dalam tangan Tuhan ini semua baik, mengajar kita untuk rendah hati lagi, bersandar lagi pada Tuhan, sebab bukankah FirmanNya berkata janganlah bersandar pada pengertian atau kemampuan kita sendiri.

GS : Baik terima kasih banyak Pak Paul, demikianlah tadi telah kami persembahkan sebuah perbincangan tentang kepercayaan diri bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada anda yang sudah berkirim surat kepada kami untuk memberikan tanggapan, tetapi kami tetap menantikan saran-saran, pertanyaan dari anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



2. Rasa Malu dan Rendah Diri


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T081A (File MP3 T081A)


Abstrak:

Rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan, kalau ditelusuri ada cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. Rasa malu digambarkan semacam perasaan yang tidak nyaman sementara orang yang menderita rendah diri adalah kalau orang tersebut merasa kurang berharga dibandingkan dengan orang lain.


Ringkasan:

Rasa malu dapat digambarkan seperti semacam perasaan tidak nyaman. Biasanya berkaitan dengan membuka diri kepada orang lain, jadi rasa malu timbul seolah-olah kita sedang disoroti dan seolah-olah dinilai rendah oleh orang lain.

Perbedaan rasa takut dan rasa malu:

  1. Rasa takut, kita melarikan diri karena kita takut pada sesuatu, kita ingin menghindari sesuatu.
  2. Rasa malu, biasanya terjadi dalam relasi sosial; lebih berkaitan bagaimana saya dilihat oleh orang lain.

Orang dikatakan menderita rendah diri adalah kalau orang tersebut merasa kurang berharga, dibandingkan dengan orang lain, kita kelihatannya kalah terus. Antara rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan, kalau ditelusuri ada cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. Rasa malu juga diperlukan bagi kita terutama untuk mengendalikan diri kita hal ini berkaitan dengan etiket pergaulan dan sopan santun dan juga rasa malu untuk berdosa itu perlu kita miliki. Amsal 7:13, mencontohkan perilaku seorang wanita yang tidak tahu malu. Jadi di sini memang rasa malu perlu juga untuk mengendalikan tingkah laku. Rasa malu akan sedikit demi sedikit mencair kalau orang itu kemudian merasa lebih aman, lebih diterima dan dia merasa orang lain sebetulnya tidak memandang rendah dirinya.

Dalam batas tertentu rasa malu diperlukan namun jika kelebihan pun hal ini justru akan menyiksa. Dalam pengertian orang menjadi tidak berani untuk bertemu dengan orang lain, lebih cenderung menarik diri, tidak merasa nyaman kalau bersama-sama dengan orang lain, akibatnya akan dirasakan dalam pergaulan. Lingkungan sering kali yang menciptakan rasa malu yang berlebihan, lingkungan juga yang menyebabkan asal mulanya seseorang kurang bisa menghargai dirinya sendiri atau merasa rendah diri. Dan lingkungan berperan besar untuk seseorang mulai mengurangi rasa malunya.

Cara berpikir kita kadang-kadang juga mengakibatkan kita merasa rendah diri atau rasa malu. Biasanya cara-cara berpikir seperti ini cara berpikir yang mengevaluasi diri secara negatif. Cara berpikir orang yang merasa malu itu kadang-kadang membesarkan hal yang negatif dari dirinya. Misalnya saja kita sekali waktu gagal kemudian kita mengatakan : "Saya orang yang gagal, saya tidak mungkin berhasil ya sudah saya tidak perlu tampil deh".

Perbedaan rendah hati dengan rendah diri:

  1. Orang yang rendah diri, selalu tidak nyaman menerima kelebihan dirinya dan selalu membesarkan hal yang negatif dari dirinya.

  2. Orang yang rendah hati, cukup merasa nyaman meskipun dia tidak berusaha menonjol-nonjolkan kelebihan dirinya, tapi kalau dipuji orang ya terima kasih tanpa berusaha membangga-banggakan berlebihan dirinya dan merendahkan orang lain.

Dalam kisah pribadi Yesus, Yesus sangat mengenali diri-Nya sebagai Anak Allah, sebagai Allah sendiri yang mempunyai kemuliaan yang luar biasa dan Dia tidak terpengaruh oleh evaluasi dari orang lain. Dia sama sekali tidak merasa direndahkan oleh orang lain bahwa Dia bisa mengampuni orang-orang yang telah mengolok-olok Dia. Nah inilah yang harus kita teladani bahwa kita sebagai manusia itu seharusnya menjadi manusia-manusia yang berharga di hadapan Allah. Kita sesungguhnya manusia yang berharga dan apapun yang dikatakan orang lain itu tidak harus menjadikan kita malu untuk merasa rendah.

Mazmur 22:5,6, "Kepada-Mu nenek moyang kami percaya, mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka. kepada-Mu mereka berseru-seru dan mereka terluput, kepada-Mu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu." Ini penghiburan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. kali ini akan berbincang-bincang dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dan beliau adalah pakar di bidang konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat yaitu tentang "Rasa Malu dan Rendah Diri" dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, terima kasih untuk kehadirannya di tengah-tengah kami dalam perbincangan ini karena dalam kesempatan ini Pak Paul Gunadi rupanya ada kesibukan atau kesehatannya kurang baik, kami senang sekali Pak Heman bersama kami pada saat ini. Kita akan memperbincangkan tentang rasa malu, sebenarnya apa yang disebut rasa malu itu?

HE : Rasa malu bisa digambarkan seperti ini, semacam perasaan tidak nyaman. Biasanya berkaitan dengan membuka diri kepada orang lain, jadi rasa malu timbul seolah-olah kita ini sedang disoroi dan seolah-olah dinilai rendah oleh orang lain dan karena itu kita cenderung menarik atau menutup diri.

GS : Apakah bisa dibedakan dengan rasa takut?

HE : Ya, ada bedanya, kalau rasa takut berarti kita melarikan diri karena takut pada sesuatu, kita ingin menghindari sesuatu. Tetapi rasa malu biasanya lebih banyak terjadi di dalam relasi ssial.

Lebih terjadi dalam kaitan bagaimana saya dilihat oleh orang lain.
(2) GS : Tadi Pak Heman mengatakan tentang rendah diri, bagaimana tanda-tanda atau gejala-gejalanya?

HE : Disebut rendah diri kalau kita merasa kurang berharga, dibandingkan dengan orang lain kita kelihatannya kalah terus dan sebagainya, itu kita katakan bahwa kita sedang menderita rasa renah diri.

ET : Tapi antara rasa malu dengan rendah diri ini kadang-kadang susah dibedakan Pak Heman, karena tadi ada kata seolah-olah walaupun belum berarti orang sedang menyoroti. Tapi kalau orang yang rendah diri bukankah mempunyai pikiran begitu juga ya?

HE : Ya di sinilah adanya keterkaitan antara rasa rendah diri dengan rasa malu. Kalau ditelusuri cukup banyak orang yang merasa malu, latar belakangnya adalah karena dia merasa rendah diri. adi seolah-olah dia merasa dipandang rendah oleh orang lain atau dia merasa dirinya rendah dibandingkan dengan orang lain.

ET : Mungkin atau tidak, orang pemalu tetapi sesungguhnya tidak rendah diri?

HE : Ya ada, itu berkaitan dengan perasaan yang lain. Sebetulnya rasa malu juga sebagian didasari oleh sifat dasar kita, jadi ada orang yang lebih peka, lebih mudah untuk merasa malu. Tetapiada juga yang didasari oleh rasa bersalah, nah di sini memang yang saya lihat lebih banyak didominasi oleh rasa rendah diri.

GS : Tapi pada tahap-tahap tertentu Pak Heman, rasa malu juga penting bagi seseorang. Bayangkan seseorang tidak mempunyai rasa malu di tengah-tengah masyarakat, ini akan menjadi apa?

HE : Betul, betul, Pak Gunawan, memang rasa malu penting bagi kita. Kita perlu memiliki rasa malu untuk mengendalikan diri kita terutama kaitannya dengan etiket, pergaulan dan sopan santun dn juga rasa malu untuk berdosa itu perlu kita miliki.

Jadi seperti Alkitab juga mengatakan bahwa ada seorang perempuan yang tidak baik yang memegang remaja kemudian menciumnya tanpa rasa malu, misalnya di Amsal 7:13 itu menggambarkan wanita yang tidak baik. Jadi orang yang seperti itu dikatakan orang yang tidak tahu malu, jadi di sini memang rasa malu perlu juga untuk mengendalikan tingkah laku kita.

ET : Jadi seolah-olah di dalam tahap tertentu itu diperlukan, tetapi kalau kebablasan tidak punya malu juga salah, terlalu pemalu juga menyiksa, itu Pak Heman ya..?

HE : Tepat sekali Ibu Esther.

GS : Tersiksanya bagaimana Pak, seseorang yang memiliki rasa malu karena rendah diri.

HE : Tersiksa, di dalam arti dia menjadi tidak berani untuk bertemu dengan orang lain, lebih cenderung menarik diri, tidak merasa nyaman kalau bersama-sama dengan orang lain, Nah, itu nanti kibatnya juga banyak dirasakan terutama di dalam pergaulan.

GS : Berarti penyebab utamanya rasa rendah diri itu sendiri, Pak.

HE : Betul.

(3) GS : Kalau begitu bagaimana orang ini bisa mengatasi rasa rendah dirinya?

HE : Tentang rasa rendah diri prinsipnya adalah bagaimana kita perlu mengubah diri kita supaya kita lebih bisa menghargai diri kita sendiri. Nah itu memang tidak mudah, prinsipnya adalah seprti itu.

ET : Banyak yang tadi Pak Heman sempat singgung soal pergaulan. Seringkali kita menemukan orang-orang yang cenderung menyendiri terus, bukannya tidak bisa, tapi tidak berani untuk memulai. Jdi mungkin kalau situasinya memang sudah cukup enak bisa sebenarnya untuk bergaul, cuma untuk memulainya itu Pak Heman yang rasanya menjadi penghambat untuk seseorang dalam bergaul, jadi bukannya dia tidak bisa tetapi memulainya itu yang sulit.

HE : Betul, nah ini analisa yang baik Bu Esther. Mungkin dapat dijelaskan seperti ini, rasa rendah diri kemudian ada rasa malu yang diakibatkannya. Nah rasa malu akan sedikit demi sedikit mecair kalau orang itu merasa lebih aman, merasa lebih diterima dan merasa orang lain sebetulnya tidak memandang rendah dirinya.

Jadi perlu waktu untuk orang ini mengurangi rasa malunya atau rasa takutnya untuk tidak dipandang rendah oleh orang lain.

ET : Waktunya itu yang kadang-kadang sulit dipahami, rasanya kita sudah men-cap kamu ini terlalu malu, ayo bergaul, seperti dipaksakan begitu. Sebenarnya ini tidak membuat dia lebih baik ya,harus dalam sekejap mengubah rasa malunya.

GS : Rasanya memang sulit seseorang itu dalam sekejap mengubah rasa malunya menjadi pemberani, tetapi memang lingkungan itu yang harus mendukung dia untuk berani tampil sesuai dengan dirinya sendiri, Pak Heman?

HE : Justru lingkungan yang seringkali menciptakan rasa malu secara berlebihan, lingkungan juga yang menyebabkan atau asal mulanya seseorang kurang bisa menghargai dirinya sendiri atau meras rendah diri.

Dan lingkungan berperan besar untuk seseorang mulai mengurangi rasa malunya.
GS : Nah orang yang mempunyai sifat pemalu seperti ini, apakah bisa dikenali sedini mungkin. Artinya waktu masih kecil sudah kelihatan atau apakah waktu dewasa menjadi rendah diri atau bagaimana?

HE : Bisa beberapa macam, bisa dari kecil memang orang ini lebih sensitif, bisa juga sebetulnya dia cenderung tidak begitu peduli dengan dirinya sendiri. Tetapi karena dia terus-menerus dipemalukan, sengaja dipandang rendah, entah itu dalam bentuk hukuman dan sebagainya, lama-lama dia belajar merasa bahwa saya ini orang yang tidak berharga jadi dia malu waktu bertemu dengan orang lain.

Jadi ada 2 macam, memang ada yang dari kecil sudah sensitif. Hanya saja kalau dari kecil lebih sensitif terhadap rasa malu, itu bisa diperbaiki kalau lingkungan banyak mendukung, banyak memberikan penghargaan kepadanya, sehingga dia tampil lebih percaya diri.

ET : Namun kadang-kadang ada peristiwa-peristiwa tertentu yang bisa membuat seseorang rasanya menjadi malu sekali, misalnya anak yang tidak naik kelas, dia mungkin dulunya pemberani sekarang menjadi enggan bertemu dengan teman-temannya atau juga orang-orang yang mungkin berada di tempat yang rasanya semua pintar-pintar, dan saya tidak mempunyai keahlian apa-apa, kalau seperti itu bagaimana, Pak Heman?

HE : Kalau kita sebagai orang dewasa atau orang tua mempunyai anak seperti ini, maka kita harus mencoba menerima anak ini, dan berusaha mengenali apa kelebihan anak ini dibandingkan anak-ana lain.

Jadi biasanya meskipun seseorang tidak terlalu pandai di sekolah misalnya pasti dia mempunyai satu keterampilan, suatu bakat yang bisa dilatih atau sesuatu yang bisa menjadi spesialisasi dia, dia lebih dari orang lain dalam hal itu. Nah, hal ini yang bisa dilatih supaya dia mempunyai suatu pegangan tertentu. Saya berikan contoh, misalnya ada orang yang mungkin berbakat dalam hal musik, nah mungkin dia dengan berlatih musik dia melebihi orang-orang lain, dia bisa mempunyai satu pegangan atau penghargaan terhadap diri sendiri dan sebagainya.
GS : Berarti orang yang pemalu ini perlu mengubah sikap terhadap dirinya sendiri begitu Pak?

HE : Betul.

GS : Hanya kita di lingkungan ini berperan membantu bagaimana dia segera menemukan dirinya untuk keluar dari siksaan menjadi pemalu itu Pak?

HE : Betul, Pak Gunawan.

GS : Tetapi masalahnya bagaimana kalau kekurangan itu melekat dalam dirinya, misalnya cacat fisik dan sebagainya, nah itu bagaimana mengatasinya?

HE : Memang agak sulit, kalau misalnya kita hidup di dalam lingkungan yang mau tidak mau memandang rendah seseorang karena cacat fisik atau cacat lainnya. Tetapi dari kekurangan ini kita tetp harus berusaha untuk belajar mengenal diri, dalam hal ini kita harus percaya bahwa kita ini dikasihi oleh Allah, kita dipilih oleh Allah dan kita yang percaya itu ditebus oleh Allah dan Allah tidak memandang muka, Allah tidak membeda-bedakan.

Cacat atau tidak cacat, semua kita berharga di mata Allah. Nah dengan keyakinan seperti ini seseorang akan mulai keluar dari dirinya sendiri. Kita bisa mengambil banyak contoh di mana orang yang cacat tetapi menjadi sangat terkenal, bukan saja terkenal, tapi bermanfaat bagi orang lain. Banyak membantu orang lain justru karena dia cacat. Saya kira penekanannya bukan pada fisik tetapi pada sifat-sifat baik, selain juga spesialisasi keterampilan yang saya jelaskan tadi.

ET : Tetapi kadang-kadang ada orang-orang yang sepertinya terbalik, ada orang yang cacat tapi bisa begitu percaya diri karena mengenali kemampuan-kemampuan dirinya, sebaliknya ada orang yangsebenarnya secara fisik normal dan juga lingkungannya mendukung, tetapi tetap saja seperti itu.

Mungkin memang cara berpikirnya itu sudah menganggap dirinya orang yang gagal, orang yang nasibnya jelek, yang tidak pernah bisa berhasil. Jadi kalau seperti ini, mungkin lingkungan memberikan dorongan seperti apapun tidak akan terlalu menolong karena ia memiliki cara berpikir yang sepertinya merusakkan dirinya sendiri.

HE : Ya ini pertanyaan yang baik sekali tentang cara berpikir. Setiap kita memang suka berbicara dengan diri sendiri dalam bentuk memikirkan tentang diri sendiri. Ya kita bisa membantu diri ita untuk keluar dari rasa rendah diri dan yang berakibat rasa malu ini.

Tepat sekali tadi dikatakan tentang cara berpikir yang kadang-kadang mengakibatkan kita merasa rendah diri atau rasa malu. Biasanya cara-cara berpikir begini cara berpikir yang mengevaluasi diri secara negatif.
GS : Dan itu harus diubah ya Pak Heman (HE : Ya betul) merubahnya itu seperti apa Pak? Dia harus dirubah seperti bagaimana?

HE : Coba kita melihat dahulu cara berpikir yang umumnya menyebabkan rasa rendah diri atau rasa malu. Cara berpikir orang yang merasa malu kadang-kadang membesarkan hal yang negatif dari dirnya.

Jadi sebetulnya, bagi orang lain kecil tetapi bagi dia itu besar sekali, dan sebaliknya mengecilkan hal-hal yang sebetulnya bagi dia merupakan hal yang baik atau hal yang positif. Saya berikan contoh, ada orang kalau berbicara selalu menutup hidungnya, lalu mengatakan bahwa, "ya habis hidung saya besar", nah ini dia malu terhadap hidungnya yang besar. Padahal bagi orang lain meskipun hidungnya agak besar tapi cukup harmonis di wajahnya. Nah, ini terlalu membesarkan sesuatu yang negatif dan ini mengalahkan diri sendiri atau mengecilkan diri sendiri. Kemudian kalau misalnya saya mempunyai sesuatu yang membanggakan, suatu prestasi kemudian orang lain memuji, cenderung saya yang pemalu ini akan mengatakan: "Ah.... seperti itu saja dipuji, bukankah saya tidak mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan." Nah cara-cara berpikir seperti ini yang menyebabkan saya merasa malu. Atau misalnya berpikir yang ekstrim, kalau saya tidak bisa segala-galanya atau meraih semuanya, ya saya bukan apa-apa. Misalnya saja saya sekali waktu gagal untuk hal tertentu, baru gagal sekali kemudian saya mengatakan: "Ya.....saya orang yang gagal, saya tidak mungkin berhasil ya sudah saya tidak usah tampil," dan sebagainya.

ET : Sudah meramal nasibnya sendiri ya Pak?

HE : Betul, betul.

GS : Tetapi ada faktor kebiasaan keluarga dan adat istiadat setempat yang kadang-kadang memang membuat seseorang seperti itu, kalau secara jujur dia mengakui kelebihannya nanti dikatakan sombong, sehingga dia terbiasa ah...itu bukan apa-apa dan sebagainya walaupun pada dasarnya dia senang dengan pujian itu.

HE : Ini tepat sekali, Pak Gunawan, jadi tadi saya juga sempat menyinggung bahwa lingkungan ini penting dalam seseorang mengevaluasi diri. Dalam hal demikian seseorang harus mengubah cara bepikirnya untuk lebih nyaman terhadap dirinya sendiri, untuk menerima kekurangannya maupun kelebihannya.

(4) GS : Bagi sebagian orang memang agak kacau, pemikiran antara rendah diri dan rendah hati. Dia sendiri agak bingung sebenarnya yang mana yang harus dijalani Pak?

HE : Perbedaannya antara rendah diri dengan rendah hati saya kira di dalam hal seperti ini, orang yang rendah diri selalu tidak nyaman menerima kelebihan dirinya dan selalu membesarkan hal yng negatif dari dirinya.

Nah ini terbalik dengan orang yang rendah hati, orang yang rendah hati cukup merasa nyaman meskipun dia tidak berusaha menonjol-nonjolkan kelebihan dirinya, tapi kalau dipuji orang ya terima kasih tanpa berusaha membangga-banggakan kelebihan dirinya dan merendahkan orang lain, ini orang yang rendah hati.
GS : Secara fisik Pak, saya pernah mempunyai teman sampai sekarang masih teman baik, karena dia pemalu, kalau dia merasa malu itu nampak sekali jadi merah padam karena kulitnya putih. Dan itu menjadi bahan tertawaan atau olok-olokan buat kita semua, nah ini mulai merah mukanya lalu malah dia malu, itu bagaimana Pak..?

HE : Ya kalau hal itu memang agak sulit, tapi saya kira kalau misalnya seseorang menerima olok-olokan dan dia tidak merasa bahwa dirinya itu diserang atau direndahkan dan tetap berpikir bahw itu hanya bergurau saja, maka orang akan lebih bisa mengatasi rasa malunya.

GS : Padahal sebenarnya sudah akrab, sudah puluhan tahun berteman, tapi ya tetap dia tidak bisa mengatasi masalah ini, sulit mengatasinya.

ET : Mungkin masalahnya pada warna kulitnya ya, terlalu putih jadi begitu malu langsung kelihatan merah.

GS : Langsung kelihatan Bu Esther, tapi memang kelihatan juga kalau diminta untuk bercerita atau apa kalau sudah mulai malu, berkata-kata pun menjadi sulit, Pak. Seolah-olah kehilangan kata-kata.

HE : Ada orang yang memang sudah sedemikian mendarah daging akan kebiasaannya. Memang bagi orang-orang tertentu tidak terlalu mudah, dibutuhkan waktu dan usaha terus-menerus untuk bisa menghrgai diri sendiri.

Biasanya kalau dihina orang kita mestinya masih bisa lebih tahan, sebetulnya yang menjadi kendala yang paling besar itu bukan orang lain menghina kita, tetapi diri kita sendiri yang menghina diri kita sendiri. Nah, ini repotnya pada orang-orang yang merasa sangat pemalu, orang ini sering memandang rendah dirinya, ini yang harus diubah perlahan-lahan.

ET : Tampaknya semakin bertambah usia lebih sulit ya Pak, karena sudah terbentuk sekian puluh tahun, katakanlah untuk mempunyai nilai diri yang seperti itu, untuk merubahnya menjadi tidak mau pasti lebih sulit.

Tapi bagaimana dengan banyak orang tua yang menyuruh anaknya menyanyi di depan umum, menyuruh ikut perlombaan, katanya supaya anaknya tidak jadi pemalu lagi. Sebenarnya apakah memang ada manfaatnya, Pak Heman, dengan cara seperti itu bagi anak-anak yang pada dasarnya memang pemalu?

HE : Kalau untuk anak-anak yang memang pemalu, saya lebih cenderung diperkenalkan secara bertahap untuk tampil di depan umum. Kalau misalnya dipaksakan, khawatirnya justru sebaliknya dia makn takut dan sangat takut menghadapi orang banyak.

ET : Jadi terlalu ekstrim begitu ya, dari pemalu harus langsung tampil.

HE : Dan dia tidak merasa ada orang yang memberikan perlindungan kepadanya atau memberikan penghiburan kepadanya, jadi lebih baik bertahap.

ET : Berarti sebenarnya untuk tampil di muka umum itu cukup memakai cara bertahap.

GS : Nah dalam hal ini Pak Heman bagaimana sikap Tuhan Yesus sendiri ketika diolok-olok oleh orang banyak, itu kita pernah membaca dalam kitab Injil bahwa Tuhan Yesus sendiri dipermalukan sebenarnya.

HE : Ini hal yang sangat menarik dalam kisah atau pribadi Yesus, Yesus sangat mengenali diriNya sebagai Anak Allah, sebagai Allah sendiri yang mempunyai kemuliaan yang luar biasa dan Dia tidk terpengaruh oleh evaluasi dari orang lain.

Dia sama sekali tidak merasa direndahkan oleh orang lain dan Dia bisa mengampuni orang-orang yang telah mengolok-olok Dia. Nah inilah yang harus kita teladani bahwa kita sebagai manusia-manusia yang berharga di hadapan Allah. Karena kondisi, karena status kita sebagai manusia, kita sesungguhnya orang yang berharga dan apapun yang dikatakan orang lain itu tidak harus menjadikan kita malu atau merasa rendah.
GS : Jadi di dalam hal ini Pak Heman sebagai kesimpulan dari pembicaraan kita saat ini, apakah ada bimbingan dari firman Tuhan yang bisa dijadikan pedoman oleh para pendengar acara Telaga supaya masing-masing bisa mengatasi rasa malunya, karena kita di dalam dunia ini mengemban suatu misi dan itu tentu saja dibutuhkan pribadi-pribadi yang bisa mengalahkan rasa malunya itu.

HE : Ya tadi saya sudah menguraikan banyak tentang rasa malu dan cara berpikir dibalik itu dan kemudian cara-cara kita berusaha mengatasinya. Dan kalau kita melihat dari Alkitab, maka Alkita juga memberikan ayat-ayat yang baik yang menceritakan bagaimana kalau kita mencari pertolongan dari Tuhan maka kita tidak akan mendapatkan malu.

Saya akan bacakan Mazmur 22:5-6, "KepadaMu nenek moyang kami percaya, mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka. KepadaMu mereka berseru-seru dan mereka terluput, kepadaMu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu." Ini penghiburan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan.

GS : Jadi saya rasa ayat-ayat itu akan menghiburkan dan menguatkan karena yang berfirman adalah Tuhan Allah sendiri yang menciptakan kita. Nah saudara-saudara pendengar demikian tadi kami telah persembahkan sebuah perbincangan dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami telah berbincang-bincang tentang rasa malu dan rendah diri. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan dari studio kami mengucapkan terima kasih.



3. Rasa Malu dan Rasa Bersalah


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T081B (File MP3 T081B)


Abstrak:

Tindakan yang bisa dilakukan oleh orang yang sudah bersalah dan merasa malu yaitu berusaha menutup-nutupi akan apa yang telah mereka lakukan dan ada banyak contoh di peristiwa di Alkitab yang memperjelas tentang hal ini.


Ringkasan:

Tindakan yang biasa dilakukan oleh orang yang sudah bersalah dan merasa malu, yaitu berusaha menutup-nutupi.

Contoh-contoh peristiwa yang dicatat di dalam Alkitab adalah:

  1. Pada saat manusia pertama jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa setelah makan buah yang dilarang mereka merasa malu karena mereka segera melihat bahwa dirinya telanjang. Mereka berusaha menutupi ketelanjangannya dengan berbagai cara meskipun usaha itu tidak efektif, bagaimana kita bisa menutupi ketelanjangan kita di hadapan Allah. Inilah yang dilakukan manusia tatkala mereka berdosa dan merasa malu.

  2. Raja Daud berdosa karena berzinah dengan Batsyeba. Waktu Daud berdosa dia berusaha menghilangkan jejak, karena kalau ketahuan dia akan merasa malu. Lalu dia berusaha membunuh Uria lewat tangan musuh. Dan kemudian Daud berusaha untuk menikahi Batsyeba, berarti aman kehamilan Batsyeba bisa ditutupi. Jadi ini betul-betul usaha yang bertahap untuk menutupi rasa malu.

Waktu kita berbuat dosa, kita sebetulnya merasa bersalah dan ada juga rasa malu di hadapan Tuhan. Hanya saja kita manusia sering kali berusaha menutupi rasa bersalah ini dengan cara macam-macam, dengan cara berpikir yang macam-macam. Ada berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk menutupi rasa malunya, contoh ada orang yang setelah berdosa atau waktu akan melakukan dosa dia berdoa dulu. Ini usaha-usaha untuk menenangkan hati nurani sebetulnya dan ini cara yang salah dan memang yang lebih besar itu adalah rasa malu yang ditimbulkan karena takut ketahuan orang lain. Tetapi dua-duanya sebetulnya di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia kita juga merasa malu sebetulnya, tapi memang sering kali lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan.

Cara mengatasi rasa malu dan rasa bersalah adalah:

  1. Kita bisa menyelesaikan rasa berdosa dan perasaan malu itu dengan memohon ampun segera kepada Tuhan. Ini memerlukan keberanian kita untuk percaya bahwa penebusan Tuhan di atas kayu salib ini sempurna. Setelah kita percaya, kita meyakini waktu kita memohon ampun kita juga perlu mengampuni diri sendiri. Ini yang tidak mudah, karena nantinya kalau kita tidak bisa mengampuni diri sendiri, meskipun Tuhan sudah mengampuni kita, maka rasa malu itu akan terus timbul di dalam hati kita.

I Korintus 15:34, "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi, ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah hal ini kukatakan supaya kamu merasa malu." Dan kemudian

Filipi 1:20, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku, Paulus dalam segala hal tidak akan beroleh malu melainkan seperti sedia kala demikian pun sekarang Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku baik oleh hidupku maupun oleh matiku." Jadi Kristus yang dimuliakan di dalam diri kita itu akan menyebabkan kita tidak beroleh malu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi., dan kali ini akan berbincang-bincang dengan Bapak Heman Elia, M.Psi., dan beliau adalah pakar di bidang konseling keluarga dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang menarik dan bermanfaat yaitu tentang hubungan rasa malu dengan rasa bersalah. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas tentang rasa malu dan rasa rendah diri, tetapi rupanya kali ini kita mau memperbincangkan hubungan antara rasa malu dan rasa bersalah. Waktu itu kita sudah membicarakan bahwa rasa malu itu sendiri menyiksa seseorang, lalu kalau ditambah dengan rasa bersalah, betapa menderitanya orang seperti ini, bagaimana itu Pak?

HE : Ya, saya kira ini sangat menyiksa terutama pada waktu seseorang bersalah di dalam arti melakukan dosa, apalagi yang bisa tampak oleh semua orang. Saya berikan contoh misalnya wanita yan hamil di luar nikah, nah selain merasa bersalah, merasa berdosa, dia juga merasa malu luar biasa.

Sekali lagi seperti yang telah dibicarakan sehubungan dengan rasa rendah diri, rasa malu ini juga karena orang ini di bawah evaluasi orang lain, di bawah penilaian orang lain yang dinilai sebagai merendahkan dirinya, nah ini sangat menyiksa.
GS : Tapi Pak Heman, pada waktu tadi Pak Heman menyinggung contoh tentang wanita yang hamil di luar nikah atau karena mencuri tertangkap, contoh-contoh lain banyak. Pada waktu mereka melakukan dosa itu tadi, tidak ada rasa malu sebenarnya Pak?

HE : Pertama kali rasa bersalah, tetapi kemudian ada rasa takut diketahui oleh orang lain, nah rasa takut diketahui oleh orang lain itu berkaitan takut bahwa orang lain memandang rendah diriya karena dia melakukan dosa yang seperti itu, yang menurut anggapan masyarakat "dosa yang seharusnya tidak boleh dilakukan", sehingga membuat orang itu merasa malu.

GS : Lalu apakah biasanya tindakan seseorang kalau sudah bersalah dan merasa malu seperti itu, apakah dia pasti akan berusaha melindungi dirinya?

HE : Ya inilah yang biasanya manusia lakukan, sebagai contoh saja, ini contoh Alkitab yang baik sekali yaitu pada saat manusia pertama jatuh di dalam dosa. Adam dan Hawa setelah mereka maka buah yang dilarang, mereka merasa malu karena mereka melihat bahwa dirinya telanjang.

Sebetulnya kalau kita berdosa, hubungannya tidak hanya dengan sesama kita manusia tetapi terutama di hadapan Allah yang membuat hati nurani kita tidak tenang dan kita merasa telanjang. Meskipun telanjang, orang yang merasa berdosa akan berusaha menutupi ketelanjangannya dengan berbagai cara. Meskipun kita mengetahui bahwa usaha Adam dan Hawa ini tidak efektif, bagaimana kita bisa menutupi ketelanjangan kita di hadapan Allah, tapi Adam dan Hawa berusaha menyemat daun pohon-pohonan dan kemudian lari bersembunyi dari hadirat Allah, itu yang dilakukan oleh manusia tatkala mereka berdosa dan merasa malu. Ada satu contoh lagi yang lebih dari pada itu, yang lebih gamblang dari pada itu yaitu ketika raja Daud berdosa karena berzinah dengan Batsyeba; II Samuel banyak bercerita tentang hal ini. Dan waktu Daud berdosa dia berusaha menghilangkan jejak, hal ini ada kaitannya kalau misalnya ketahuan, Daud akan merasa malu. Lalu dia berusaha membunuh Uria lewat tangan musuh, nah ini usaha yang cerdik sekali kelihatannya, sudah terhapus dan tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kemudian Daud juga berusaha menikahi Batsyeba, berarti aman ini, kehamilan Batsyeba bisa ditutupi dan kemudian dia berlindung di balik kesalahan orang lain, jadi dia menyuruh orang lain untuk membunuh Uria, suami dari Batsyeba. Jadi ini betul-betul usaha yang bertahap untuk menutupi rasa malu.

ET : Pak Heman, saya mengamati bahwa rasa malu biasanya baru muncul kalau ada konsekuensi diketahui oleh orang lain, sepertinya begitu. Jadi kalau memang berbuat kesalahan ada perasaan berdosa, tetapi kalau tidak ada orang yang tahu mungkin sepertinya seolah-olah selamat dari muka orang-orang ya, jadi rasa malunya itu tidak sebesar kalau ketahuan, sebenarnya bagaimana itu, Pak Heman?

HE : Ya waktu kita berbuat dosa kita merasa bersalah, sebetulnya ada juga rasa malu di hadapan Tuhan. Hanya saja kita ini manusia, sering kali berusaha menutupi rasa bersalah ini dengan caramacam-macam, dengan cara berpikir yang macam-macam.

Saya juga melihat ada orang yang bahkan setelah berdosa atau waktu akan melakukan dosa berdoa dulu. Nah ini usaha-usaha untuk menenangkan hati nurani dan ini cara yang salah sebetulnya dan memang yang lebih besar itu adalah rasa malu yang ditimbulkan karena takut ketahuan orang lain; nah rasa malu yang lebih besar membangkitkan usaha yang lebih besar pula dari orang tersebut untuk menutupi kesalahan atau keberdosaannya. Tetapi dua-duanya sebetulnya di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia merasa malu, tapi memang sering kali lebih takut kepada manusia dari pada kepada Tuhan.

ET : Jadi mungkin kalau tidak ketahuan rasa malunya berdua begitu ya, akan lebih besar malunya kalau diketahui manusia. Jadi mungkin itu akhirnya di Indonesia ini diterapkan budaya malu supaya kalau ketahuan orang lain menjadi malu begitu, Pak Heman?

HE : Nah ini saya kira pertanyaan yang baik sekali, dan saya berpikir bahwa saya kurang begitu setuju dengan menciptakan budaya malu ini. Apakah kita tidak lebih baik menciptakan rasa bersalh kalau berbuat salah, karena akhirnya orang berpikir begini yang saya sangat ingat waktu saya bersekolah dulu di SMP atau SMA; orang-orang mengatakan bahwa nyontek itu tidak salah atau bukan dosa, nyontek baru salah atau menjadi dosa kalau ketahuan.

Nah ini pandangan yang tidak benar, bahwa kita berdosa, ketahuan atau tidak ketahuan ya tetap saja berdosa, maling atau mencuri kalau dia mencuri ya tetap saja namanya mencuri, tidak bisa kalau ketahuan baru namanya mencuri.

ET : Bahkan mungkin berdoa mengucap syukur kalau tidak ketahuan.

GS : Ya, tapi di hadapan Tuhan tidak bisa lari (ET : Salah konsep) tapi sebaliknya kadang-kadang masyarakat atau bahkan jemaat itu begitu kejamnya, mengungkapkan kesalahan seseorang sehingga rasa malu yang bersangkutan itu malah bertambah-tambah.

HE : Ya itu sebetulnya juga kurang tepat, jadi seperti yang Paulus katakan seharusnya orang yang setelah ditegur lalu dia mengakui dosanya dan bertobat itu harus diterima kembali sebagai sesma saudara, dan itu juga ajaran Kristus.

GS : Itu yang jarang sekali bisa dilakukan apalagi mereka yang menjadi korban, korban dari kesalahan orang. Itu tidak akan mudah untuk diterima kembali, biasanya dikucilkan dan sebagainya.

HE : Ya betul dan itu harus menjadi introspeksi diri kita bersama.

(1) GS : Nah, jadi bagaimana seseorang yang sudah bersalah dan merasa malu itu mengatasi dua masalah ini Pak, mengatasi rasa bersalahnya dan mengatasi rasa malunya itu?

HE : Yang pertama-tama kita harus ingat bahwa kita bisa menyelesaikan rasa berdosa dan perasaan malu itu dengan memohon ampun segera kepada Tuhan. Nah ini juga memerlukan keberanian kita untk percaya bahwa penebusan Tuhan di atas kayu salib ini sempurna.

Setelah kita percaya kita meyakini hal tersebut, waktu kita memohon ampun kita juga perlu mengampuni diri sendiri. Nah ini yang tidak mudah, karena nantinya kalau kita tidak bisa mengampuni diri sendiri, meskipun Tuhan sudah mengampuni kita, maka rasa malu itu akan terus timbul di dalam hati kita dan seperti juga Tuhan Yesus mengatakan kepada perempuan berzinah yang tertangkap basah, Yesus melepaskan perempuan itu dengan mengatakan kalau begitu saya juga tidak akan menghukum kamu dan jangan berbuat dosa lagi. Demikian juga kita yang berbuat dosa kita bertobat dan setelah itu tidak melakukan dosa lagi, nah kalau misalnya kita masih melakukan dosa itu lagi sekalipun sudah ketahuan, sekalipun sudah ditegur dan sebagainya perlu kita pertanyakan betul-betul bagaimana permohonan ampun kita, bagaimana evaluasi atau bagaimana iman atau kepercayaan kita.
GS : Itu ada kecenderungan Pak, saya rasa orang yang sudah melakukan kesalahan dan merasa malu walaupun sudah minta ampun dan mengampuni dirinya sendiri tapi dia tidak berani mencoba sesuatu yang baru lagi. Dia khawatir salah lagi mungkin kalau dalam hal dosa-dosa tertentu itu tidak bisa diulang lagi, tetapi kesalahan-kesalahan yang sehari-hari kita bisa lakukan katakan menyebut nama orang salah, mengetuk pintu keliru dan sebagainya, menyerahkan apa salah. Nah sebenarnya orang sudah mengampuni akan kesalahannya, sudah bisa dipahami tetapi dia yang tidak berani mencoba lagi untuk menyelesaikannya masalahnya.

HE : Ini baik sekali jadi sekarang kita membicarakan tentang kesalahan yang umum terjadi jadi bukan kesalahan karena dosa. Ini juga kembali lagi seperti yang pernah kita bicarakan sehubungandengan cara berpikir dibalik rasa malu ini.

Kita ini tidak ada yang sempurna, tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Jadi kalau seseorang itu bisa menghargai dan kemudian menerima kekurangannya dan dia bisa menerima kesalahan-kesalahan dirinya, mengampuni dirinya, kesalahan yang bersifat "manusiawi", maka rasa malu akan bisa diatasi dengan lebih mudah. Masalahnya di sini adalah orang sering kalau melakukan suatu kesalahan lalu dia berpikir: seperti ini harus diubah.

ET : Tapi ada benarnya juga Pak Heman, maksudnya masyarakat ini katakanlah kita sebagai jemaat di gereja yang lebih sempit, juga tidak semudah itu dalam melupakan kesalahan orang, khususnya isalnya seperti perbuatan dosa yang tampaknya besar sekalipun orangnya bertobat tetap mungkin ketika dia ke gereja lalu dia menemukan orang yang menatap dengan pandangan yang seperti menyelidik apakah orang ini sudah sungguh-sungguh bertobat atau belum.

Nah situasi yang seperti ini juga rasanya tidak menolong untuk orang yang memang sungguh-sungguh ingin bertobat dari rasa malu karena rasa berdosanya ini.

HE : Betul dan mau tidak mau saya kira kita semua harus belajar merendahkan hati di hadapan Tuhan. Tuhan pernah mengatakan seperti ini, selumbar di mata saudaramu kamu lihat tetapi balok dimatamu sendiri kamu tidak lihat.

Artinya bahwa kita sering kali melakukan kesalahan atau dosa-dosa yang lebih besar, bahwa kita pun pernah melakukan dosa-dosa. Kenapa kita yang melakukan dosa kemudian diampuni oleh Tuhan, kita tidak bersedia mengampuni dan menerima orang lain yang berdosa dan kemudian bertobat.
GS : Memang kita harus belajar banyak dari sikap Tuhan Yesus dan para rasul. Memang sulit Pak Heman untuk bisa mengampuni seseorang seperti itu, tapi kita percaya bahwa Roh Kudus akan menolong kita untuk melakukan pengampunan, menerima, bukan cuma mengampuni tapi juga menerima dia kembali. Nah masalahnya adalah bagaimana kalau kita yang melakukan kesalahan, yang berdosa tadi diperlakukan seperti itu, apakah bijaksana kalau kita keluar dari lingkungan itu, jadi artinya meninggalkan lingkungan yang lama.

HE : Apapun yang dilakukan, kita lihat situasi, apakah kita akan keluar dari lingkungan itu, hidup di lingkungan yang baru atau tidak, yang jelas jangan sampai meninggalkan Tuhan, jangan samai meninggalkan persekutuan, karena di dalam persekutuan kita akan sama-sama mendukung, menghibur dan sebagainya.

GS : Itu juga bisa terjadi di dalam sebuah keluarga Pak, dimana mungkin ayah atau ibu melakukan kesalahan yang cukup fatal, lalu mereka memutuskan untuk pindah dari lingkungan itu, lingkungan tempat tinggal mereka dan pindah ke kota lain. Maksudnya adalah supaya sedikit mungkin orang yang tahu tentang kesalahan-kesalahan itu. Misalnya si suami itu baru dibebaskan dari tahanan atau lembaga pemasyarakatan, masyarakat sulit menerima dia lagi dan dia memutuskan untuk pindah saja.

HE : Kalau itu lebih baik, jadi memang masyarakat itu sering memberikan stigma tertentu dan itu sebetulnya merugikan dan kalau misalnya pindah dari lingkungan itu ke lingkungan yang lain, meulai hidup yang baru, itu lebih baik, saya kira tidak ada salahnya untuk dilakukan.

Hanya saja kalau itu dilakukan hanya untuk menghindari bahwa orang mengetahui tentang latar belakangnya dan sebagainya saya kira juga tidak bijaksana. Karena pindah kemana pun, mungkin saja di tempat yang baru juga ada orang yang akhirnya tahu. Jadi yang penting adalah bagaimana kita menghadapi stigma atau menghadapi pandangan masyarakat yang tidak bersahabat seperti itu.
GS : Ya memang ada yang tahu tapi jumlahnya tidak sebanyak waktu dia masih di pemukiman yang lama, begitu Pak.

HE : Mungkin itu memang jalan yang lebih baik.

ET : Seperti membuka lembaran baru begitu Pak.

GS : Ya bersama-sama tapi dalam hal ini saya rasa harus ada kesepakatan dari semua keluarga, karena dia akan membawa semua keluarganya.

HE : Ya betul, saya setuju.

GS : Jadi kesalahan yang dibuatnya, rasa malu yang dialaminya itu ternyata juga dialami oleh seluruh keluarganya. Misalnya anaknya, di sekolah teman-temannya selalu mengatakan ayahmu orang tahanan, ayahmu seorang narapidana, nah seperti itu 'kan membuat malu anaknya. Jadi bukan kesalahan si anak ini sebenarnya, kesalahan orang tua tapi anaknya ikut menderita.

HE : Ya, saya setuju kalau misalnya seluruh keluarga ikut diajak berunding begitu.

ET : Tapi mungkin dalam kasus ekstrim lainnya, waktu tadi Pak Gunawan mencontohkan anaknya misalnya dipermalukan seperti itu kadang-kadang saya melihat ada reaksi yang sebetulnya manusiawi jga, Pak Heman.

Ada pendapat yang mengatakan, kalau diserang jangan diam saja, tapi perlu melakukan penyerangan, jadi ketika mungkin dosa masa lalunya dibongkar atau dipermalukan lagi, ia cenderung berusaha untuk mencari-cari juga kesalahan orang yang mencela dia, supaya kita dalam posisi yang sama-sama juga, kira-kira bagaimana cara yang seperti itu, Pak Heman?

HE : Ini cara yang saya pikir kurang bijaksana, karena dengan membongkar kesalahan orang lain ya kedudukannya sama-sama saja, orang yang dipermalukan kemudian membongkar kesalahan orang lain.

ET : Saya sama-sama malu, begitu katanya.

HE : Tetapi tidak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin bisa dipandang rendah, lebih rendah lagi oleh orang lain karena dengan demikian dia tidak mempunyai suatu nilai diri atau harga diri yng cukup baik, karena dia juga turut terpengaruh untuk menjelek-jelekan orang lain.

ET : Jadi sebaiknya bagaimana kalau memang ternyata misalnya kasusnya Pak Gunawan sekeluarga itu sudah pindah, tapi tetap ada yang mengetahui masa lalunya dan mungkin berusaha dipermalukan lagi di tempat yang baru; sebaiknya sikap yang bersangkutan bagaimana, Pak Heman?

HE : Saya kira dalam hal ini tetap saja berlaku tenang menunjukkan diri bahwa saya sekarang sudah berubah, tidak perlu menyerang balik karena itu akan percuma saja.

ET : Tapi bisa berkaitan dengan kepercayaan juga biasanya, jadi mungkin belum dipercaya lagi untuk diberi suatu kewenangan tertentu misalnya untuk dipilih menjadi pengurus ataupun majelis kaena masa lalunya, ini bagaimana Pak..?

HE : Akhirnya kita harus membiarkan waktu yang menguji, artinya perlu jangka waktu orang ini membuktikan diri bahwa dia memang sungguh-sungguh berbeda dengan dia di masa lalu. Dengan demikia orang akan pulih kepercayaannya bahkan mungkin akan lebih percaya kepadanya daripada di masa lalu.

Suatu kesaksian yang hidup bukan saja kesaksian dari kata-kata, tetapi dari kehidupan orang itu.

ET : Sepertinya memang kadang-kadang kita yang mempunyai masalah mengampuni baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Mungkin Tuhan sudah mengampuni tapi kita masih merasa malu ataupun Than sudah mengampuni orang tersebut, tetapi kita masih mengungkit-ungkit kesalahannya.

GS : Tetap menjadi hakim, menghakimi dan sebagainya. Tapi faktanya kalau dia sudah berubah itu akan banyak menolong, orang tidak akan mengungkit masa lalunya lagi kalau memang orang yang bersalah tadi menyatakan secara positif dia berubah. Hanya celakanya, Pak Heman, sering kali dosa-dosa tertentu itu terulang, maksudnya dia seorang pencuri dan setelah sekian lama pindah ke tempat lain eh... di sana dia mencuri lagi. Ada orang yang berzinah nanti pindah di tempat lain, dia berzinah lagi, nah ini yang menjadi sulit.

HE : Ya tapi mungkin tidak terlalu berkaitan lagi dengan rasa malu, saya kira karena dia misalnya sudah tidak bisa berbuat hal yang serupa karena semua orang sudah tahu di kota tertentu, lal dia pindah ke kota lain dan sebagainya.

Ya saya kira adakalanya memang orang-orang tertentu atau kita pun bisa lemah dan jatuh pada hal yang sama dan kita terus bergumul dengan kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Dan kita sungguh-sungguh memerlukan pengampunan yang sempurna dan juga perjuangan di dalam memenangkan diri dari dosa.
GS : Berarti ada rasa malu, rasa malu di dalam diri seseorang itu lama-lama bisa terkikis Pak?

HE : Ya betul bisa terkikis lama-lama, bisa tidak tahu malu lagi.

GS : Nah itu bagaimana memelihara sampai kadar tertentu yang kita butuhkan sebagai orang-orang normal Pak, supaya kita tidak kehilangan sesuatu yang cukup penting sebenarnya untuk kehidupan kita sehari-hari.

HE : Beberapa orang kenapa bisa kehilangan rasa malu karena dia sudah putus asa, sebagian merasa dia menyerah saja karena terlalu berat mengatasi kebiasaannya itu dan menyerah begitu saja. Nh, dalam hal ini saya meminta orang-orang yang seperti ini untuk meneruskan perjuangannya karena kemenangan terhadap dosa itu kemuliaannya jauh lebih besar dan lebih nikmat dari pada terus terpuruk di dalam dosa.

GS : Nah, tentu para pendengar kita juga memperhatikan apa yang Pak Heman sampaikan atau serukan, tetapi mungkin penting juga untuk mereka, dasar kita semua melanjutkan perjuangan hidup ini melalui Firman Tuhan Pak, jadi apakah mungkin Pak Heman ada Firman Tuhan yang akan dibagikan.

HE : Saya bacakan dari I Korintus 15:34, "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi, ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah hal ini kukatakan supaya kam merasa malu."

Dan kemudian satu ayat penghiburan dari Filipi 1:20, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku, Paulus, dalam segala hal tidak akan beroleh malu melainkan seperti sedia kala demikian pun sekarang Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku baik oleh hidupku maupun oleh matiku." Jadi Kristus yang dimuliakan di dalam diri kita itu akan menyebabkan kita tidak beroleh malu.

GS : Saya percaya kedua ayat tadi yang sudah dibacakan oleh Pak Heman akan meneguhkan iman dan sekaligus memberikan semangat yang baru khususnya buat para pendengar kita yang mungkin saat-saat ini sedang diliputi oleh rasa bersalah dan rasa malunya. Terima kasih Pak Heman. Dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia M.Psi. dalam sebuah perbincangan tentang hubungan rasa malu dan rasa bersalah, dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran serta pertanyaan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



4. Hikmat dalam Pengambilan Keputusan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T090A (File MP3 T090A)


Abstrak:

Pengambilan keputusan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dikerjakan, ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan agar keputusan yang kita ambil nantinya benar-benar bisa bermanfaat. Karena itulah sangat diperlukannya hikmat di dalam kita mengambil suatu keputusan.


Ringkasan:

Prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan dan kita timba dari Firman Tuhan untuk menolong kita mengambil keputusan. Yang mendasarinya diambil dari cerita kisah Raja Rehabeam. Yaitu di 1Raja-raja 12:3-11. Ada beberapa prinsip pengambilan keputusan yang bisa kita petik yaitu:

  1. Keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita lihat Rehabeam ingin menunjukkan kekuasaannya dan keinginannya untuk dipandang berkuasa telah membuatnya mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya keputusan kita itu menjadi sangat salah, karena yang memotivasi kita mengambil keputusan itu bukanlah kita mempertimbangkan keputusan yang benar, namun kita lebih mempedulikan bagaimanakah orang lain melihat kita. Kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang lain. Yang penting adalah kita ini memfokuskan mata kita pada permasalahannya.

  2. Keputusan yang benar didasari atas masukan dari sumber yang memahami duduk masalahnya. Kadang-kadang kita mempunyai pandangan dalam mengambil keputusan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, saya kira itu tidak tepat, bukan kumpulkan data sebanyak-banyaknya, melainkan kumpulkan data setepat-tepatnya. Tepat dalam pengertian kita mencari sumber yang memang kompeten atau memahami duduk masalahnya, jangan sampai kita kumpulkan terlalu banyak pandangan dari orang-orang yang tidak kompeten.

  3. Keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal, yaitu harus adil, harus ada kasihnya, dan juga harus baik. Jadi dalam pengambilan keputusan kita mesti tanya juga aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan kita itu baik, apakah juga adil. Kadang-kadang baik, baik untuk kita tidak baik untuk orang lain. Adil, apakah adil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam yang juga mesti harus kita miliki. Tuhan pernah mengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu perbuatlah kepada orang sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisa gunakan prinsip ini juga dalam pengambilan keputusan.

  4. Keputusan yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orang yang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan saya ini pada saya, pada relasi saya dengan orang lain dan pada orang-orang lain juga.

  5. Keputusan yang benar muncul dari pergumulan dalam doa. Rehabeam tidak mencari Tuhan. Kita ingat sebelum Salomo menunaikan, mengemban tugasnya sebagai seorang raja, dia berdoa, dia meminta Tuhan memberikan dia hikmat dan itu yang Tuhan karuniakan kepada dia. Jadi dalam kita mengambil keputusan jangan lupa untuk bergumul dalam doa, meminta Tuhan memimpin kita dan kita harus yakin setelah kita berdoa meminta pimpinan Tuhan, mulai detik itu Tuhan akan memimpin kita.

  6. Keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita hidup dalam masyarakat yang instan kita ingin segala sesuatu muncul dengan seketika. Tapi keputusan yang baik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusan yang baik yang kita bisa ambil. Jadi perlu adanya waktu untuk mendinginkan kita dan membuktikan motivasi kita yang sebenarnya.

  7. Keputusan yang benar tidak menutup kemugkinan muncul dari keputusan yang salah. Jadi adakalanya kita keliru mengambil keputusan yang salah kita belajar kesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa. Nah justru keputusan yang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan membawa kita masuk ke dalam keputusan yang benar. Jadi intinya adalah bersedialah untuk meminta maaf jika menyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Dan kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Hikmat dalam Pengambilan Keputusan". Kami percaya acara ini pasti akan sangat membantu kita sekalian dalam menjalani kehidupan ini. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, sebagai suatu realita setiap hari rasanya kita itu diperhadapkan untuk menentukan sikap dalam mengambil suatu keputusan. Tetapi rasanya sejak kecil kita tidak pernah diajar secara khusus, secara sistematis untuk mengambil keputusan. Dan kita belajar secara alamiah saja dengan begitu ada banyak kesalahan di dalam mengambil keputusan. Nah sebenarnya bagaimana kita harus bersikap, khususnya kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus di dalam mengambil keputusan itu, Pak Paul?

PG : Saya akan menggarisbawahi apa yang tadi Pak Gunawan katakan. Sungguh benar Pak Gunawan, bahwa kita ini belajar untuk menjadi seorang pilot. Kita ini bisa bersekolah untuk menjadi seorang asitek tapi tidak ada pelatihan atau sekolah yang mempersiapkan kita menjadi seorang pengambil keputusan.

Nah masalahnya adalah hidup ini penuh dengan keputusan yang harus kita ambil, namun kita tidak menerima persiapan untuk itu. Jadi sering kali yang terjadi adalah kita jatuh bangun agar sampai pada keputusan yang baik. Ada sebagian kita yang sering kali membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan, maka saya kira tepatlah saat ini kita gunakan untuk membahas sebetulnya apa itu prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan dan kita timba dari firman Tuhan untuk menolong kita dalam mengambil keputusan. Yang mendasarinya adalah saya ambil cerita kisah Raja Rehabeam, Pak Gunawan, ini diambil dari 1 Raja-raja 12:3-11 saya akan bacakan sebagian saja. Lalu datanglah Yerobeam dengan segenap jemaah Israel dan berkata kepada Rehabeam: "Ayahmu telah memberikan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sulit yang dibebankan ayahmu dan tanggungan berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu". Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup mendampingi Salomo ayahnya katanya: "Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?" Mereka berkata: "Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu. Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan tua-tua itu lalu dia meminta nasihat kepada orang-orang yang muda, yang sebaya dengan dia. Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: Beginilah harus kau katakan kepada rakyat: "Kelingkingku lebih besar daripada pinggang ayahku maka sekarang ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat tetapi aku akan menambah tanggungan kamu. Ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi." Nah kisah ini memberikan kita suatu gambaran tentang seseorang yang gagal dalam pengambilan keputusan secara bijaksana. Sebagai akibatnya bukan kemakmuran, kesejahteraan yang dia cicipi sebagai seorang raja namun kebalikannya yang justru dia alami adalah kekacauan dan perpecahan dalam negaranya. Ada beberapa prinsip, Pak Gunawan, yang bisa kita petik dalam pengambilan keputusan. Yang pertama adalah keputusan yang benar tidak harus dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita melihat Rehabeam ingin menunjukkan kekuasaannya dan keinginannya untuk dipandang berkuasa telah membuatnya mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya keputusan kita itu menjadi sangat salah, karena yang memotivasi kita mengambil keputusan itu bukanlah kita mempertimbangkan keputusan yang benar itu, namun kita lebih mempedulikan bagaimanakah orang lain melihat kita. Dan kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang lain. Ini hal yang fatal, justru kebalikannyalah yang sering terjadi, tidak bijaksana keputusan yang kita ambil. Sebab benar-benar keputusan kita buat hanya untuk mendapatkan pujian atau gambaran yang kita inginkan dari orang lain.
GS : Tetapi memang setiap keputusan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya itu, pendapat orang dan sebagainya lalu kita mencoba menimbang-nimbang dan seterusnya. Sebenarnya kalau kita tidak menghiraukan itu semua juga akan dikatakan tidak bijaksana, Pak Paul.

PG : Yang penting adalah kita ini memfokuskan mata kita pada permasalahannya. Nah adakalanya mata kita bergeser dari permasalahan ke citra, bagaimana orang melihat saya. Nah saya kira dalam uruan prioritas, tetap yang nomor 1 kita harus fokuskan adalah permasalahannya, apapun citra kita di mata mereka tetap permasalahannya yang kita fokuskan.

Saya berikan contoh, di kehidupan Tuhan Yesus ada satu kali Dia mengobrak-abrik Bait Allah. Dia membalikkan meja orang-orang yang berdagang di dalam pelataran Bait Allah. Secara manusiawi tindakan Tuhan Yesus itu tindakan yang sangat mengagetkan orang dan dapat dinilai kasar. Kenapa seseorang yang dianggap guru agama saat itu bertindak sekasar itu, memecuti hewan-hewan yang sedang diperdagangkan di Bait Allah. Sudah tentu image atau citra yang dibentuk oleh tindakan Tuhan adalah citra yang tidak enak, sebagai seorang guru agama kenapa bertindak sekasar itu. Tapi sekali lagi Tuhan Yesus tetap mengambil keputusan untuk mengusir hewan-hewan dan para pedagang dari Bait Allah. Sebab bagi Dia, Bait Allah adalah rumah Allah dan tidak boleh dikotori dengan hal-hal seperti itu. Nah ini contoh yang baik sekali yang dapat kita terapkan. Adakalanya keputusan yang kita ambil membuat kita menjadi orang yang tidak populer, justru orang yang tidak lagi dianggap atau dianggap sangat aneh, namun justru itu keputusan yang benar yang kita harus ambil. Jadi tetap kita nomorduakan penampilan kita, yang kita fokuskan adalah permasalahannya.
GS : Itu memang dibutuhkan suatu kepribadian yang kuat, Pak Paul? Karena kalau tidak orang tidak akan tahan, dikatakan aneh, dikatakan menentang arus dan sebagainya dia lebih baik mengikuti atau memenuhi apa yang orang lain kehendaki tentang dia menampilkan dirinya.

PG : Betul, saya berikan contoh yang riil Pak Gunawan, kadang-kadang ada orang yang memilih jurusan tertentu bukan karena kehendaknya, tapi kehendak orang tuanya. Misalkan dia diminta untuk menadi seorang dokter, dia tidak mau menjadi dokter meskipun dia mampu, dia maunya misalkan masuk ke sekolah yang lain.

Namun karena itulah yang dituntut oleh orang tuanya dan itulah yang diharapkan, akhirnya dia menempuh sekolah kedokteran. Setelah bersekolah 6, 7 tahun dia lulus tidak dipakai, dia akhirnya menjadi seseorang yang dia inginkan. Namun sekali lagi 6, 7 tahun sudah terlewati jadi keputusan yang salah telah diambil karena apa? Karena ingin mendapatkan image atau gambaran sebagaimana yang diproyeksikan.
GS : Tetapi saya memang pernah menghadapi kasus nyata seperti yang Pak Paul katakan itu dan teman saya itu terpaksa mengikuti kuliah yang sebenarnya tidak disukainya. Dia katakan saya cuma mau menyenangkan hati orang tua saya yang usianya juga tidak akan lama begitu. Setelah itu memang dia sekolah lagi Pak Paul, setelah orang tuanya meninggal.

PG : Nah kalau memang itu keputusannya ya dia berani bayar harga, ya silakan berarti memang dia menyadari keputusan itu dia ambil untuk menyenangkan hati orang tuanya. Dan tidak harus salah kalu memang itu merupakan kerelaan hatinya sendiri.

Yang saya takuti adalah adakalanya kita tidak menyadari hal itu, karena kita ingin orang melihat kita seperti gambaran yang kita inginkan akhirnya permasalahan yang harus kita putuskan menjadi tidak jelas lagi.
GS : Pelajaran lain apa Pak Paul, yang kita bisa petik dari sikap raja Rehabeam ini?

PG : Yang kedua adalah keputusan yang benar didasari atas masukan dari sumber yang memahami duduk masalahnya. Rehabeam pertama-tama bertanya kepada para konselornya ya, penasihatnya yang tua-tu, orang-orang yang mengerti kebijakan yang ditetapkan raja Salomo, ayah Rehabeam.

Mereka juga mengerti dampak keputusan Salomo terhadap rakyat, yaitu rakyat terlalu dibebani, mereka yang mengerti. Kesalahan Rehabeam adalah setelah mendengarkan nasihat dari para penasihat yang tua-tua itu, dia lari kepada teman-temannya yang sebaya, yang tidak begitu mengerti duduk masalahnya. Karena mereka masih muda, mereka belum bisa melihat ke belakang seperti para penasihat yang tua itu. Akhirnya Rehabeam mengambil keputusan yang salah karena mendapatkan masukan dari orang-orang yang tidak kompeten. Jadi kadang-kadang kita mempunyai pandangan, Pak Gunawan, dalam mengambil keputusan kumpulkan data sebanyak-banyaknya, saya kira itu tidak tepat. Bukan kumpulkan data sebanyaknya-banyaknya, melainkan kumpulkan data setepat-tepatnya, dua hal yang tidak sama. Nah, tepat dalam pengertian kita mencari sumber yang memang kompeten atau memahami duduk masalahnya, jangan sampai kita kumpulkan terlalu banyak pandangan dari orang-orang yang tidak kompeten. Akhirnya masukan menjadi simpang siur, kita ini makin tambah bingung begitu.
GS : Apakah sikap Rehabeam itu bukan menunjukkan arogansinya dia dengan lebih menekan rakyat dan sebagainya?

PG : Itu mungkin juga arogansinya dia, tapi bisa jadi mereka atau teman-temannya itu yang mempengaruhi dia. Sebab awalnya dia telah melakukan hal yang benar yakni meminta nasihat para penasihatpenasihat tua itu namun setelah dia pikirkan, dia mungkin mencari masukan dari yang lebih muda.

Yang lebih muda ini seolah-olah mengompor-ngompori dia. Engkau harus katakan seperti ini kepada rakyat "Kelingkingku lebih besar daripada pinggang ayahku." Jadi mereka memberikan nasihat yang sangat jahat, sangat keliru, sangat fatal. Dan masalahnya Rehabeam itu tidak matang sehingga terpengaruh oleh nasihat teman-temannya itu.
GS : Tapi mungkin usulan dari teman-temannya yang muda itu bertujuan juga untuk menguntungkan diri mereka sendiri, Pak Paul?

PG : Bisa jadi, mungkin sekali karena nasihatnya dituruti mereka menjadi penasihat-penasihat yang penting dan bisa menggeser para penasihat yang tua itu.

GS : Memang yang sulit itu justru pada saat kita mau mengambil keputusan, biasanya banyak masukan-masukan yang datang ke kita baik diminta ataupun tanpa diminta Pak Paul. Sehingga kita harus memilah-milah yang tadi Pak Paul katakan, mencari yang tepat itu sulit, membedakan mana nasihat yang memang perlu dan yang tidak perlu.

PG : Betul, dan jangan sampai kita keliru dengan berkata kita harus terbuka terhadap semua nasihat, saya kira itu tidak tepat. Kita harus mendengarkan nasihat dari orang yang tepat.

GS : Hal lain apa Pak Paul, yang kira-kira bisa kita pelajari?

PG : Yang ketiga adalah keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal. Misalnya apa, apakah itu adil, apakah itu kasih, apakah itu baik, nah di sini kita melihat Rehabeam mnindas rakyat dengan menambahkan beban, tuntutan, tanggung jawab kepada rakyatnya.

Dan hal itu tidak dapat dibenarkan oleh alasan apapun, penindasan tidak dibenarkan oleh alasan apapun. Jadi keputusan Rehabeam apapun alasannya, tidak benar, karena apa? Melanggar prinsip kebajikan yang memang kita percayai sebagai orang Kristen yaitu harus adil, harus ada kasihnya, dan juga harus baik. Nah penindasan tidak termasuk ketiga-tiganya itu. Jadi dalam pengambilan keputusan kita harus bertanya juga aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan kita itu baik, apakah juga adil. Kadang-kadang baik untuk kita, tidak baik untuk orang lain, otomatis kita mencoba untuk baik bagi semuanya. Adil, apakah adil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam yang juga harus kita miliki, jadi itu adalah aspek moral dalam keputusan yang harus kita pertimbangkan.
GS : Yang sulit atau yang jarang dimiliki itu justru konsepnya, Pak Paul. Kadang-kadang ditanyakan tentang keadilan saja kita masih kebingungan. Adil menurut siapa, lalu standarnya apa, buat yang tadi Pak Paul katakan buat saya adil tapi itu merugikan orang lain jadi konsep itu yang sulit, Pak Paul.

PG : Tuhan pernah mengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu perbuatlah kepada orang sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisa gunakan prinsi itu juga dalam pengambilan keputusan.

Adil memang bisa direlatifkan berdasarkan standar siapa tapi kalau kita tempatkan pada diri orang lain, kira-kira apa itu yang kita harapkan, nah itu yang kita gunakan juga. Sebab perintah Tuhan adalah seperti itu perbuatlah kepada orang seperti yang kita inginkan orang perbuat kepada kita.
GS : Apakah kita itu bisa bersikap obyektif, Pak Paul, dengan menempatkan diri kita pada diri orang lain?

PG : Sudah tentu sangat terpengaruh pula oleh berapa bersih dan kotornya hati kita ini. Kalau hati kita kotor, kita akan berkata saya digitukan orang juga tidak apa-apa akhirnya semuanya menjad sangat kotor.

Dari hati yang kotor akan muncul timbangan yang juga kotor, tidak bersih.
GS : Nah, Pak Paul biasanya kalau kita mengambil suatu keputusan apapun keputusan itu, itu pasti membawa dampak. Membawa akibat kepada lingkungan atau bahkan kepada diri kita sendiri. Nah dalam hal ini dampak-dampak apa yang perlu kita cermati, Pak Paul?

PG : Itu masuk ke prinsip yang keempat dan memang itu yang juga gagal untuk dilihat oleh Rehabeam. Jika Rehabeam mengabulkan permintaan rakyatnya, dia akan dicintai dan ditaati, sebaliknya penoakannya memang membuat rakyat takut kepadanya namun lebih dari itu penolakannya membuat rakyat membencinya dan tidak menaatinya.

Jadi dalam pengambilan keputusan, prinsip keempat kita harus juga ingat yaitu keputusan yang benar harus mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orang yang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan saya ini pada saya, pada relasi saya dengan orang lain dan pada orang-orang lain juga. Nah Rehabeam gagal melihat hal ini.
GS : Dia rupanya memfokuskan perhatiannya untuk dirinya sendiri ya, Pak Paul?

PG : Tepat, dia hanya melihat dirinya dan dia gagal melihat rakyatnya bahwa rakyatnya itu sudah menderita. Dengan menambah penderitaan itu, dia hanya akan menambah kemarahan rakyat kepada dirina.

GS : Nah apakah ada hal lain Pak Paul yang kita bisa pelajari, prinsip lain yang penting untuk pengambilan keputusan?

PG : Yang kelima adalah keputusan yang benar muncul dari pergumulan dalam doa. Rehabeam tidak mencari Tuhan di sini, Pak Gunawan. Kita bisa ingat bahwa sebelum Salomo menunaikan atau mengemban ugasnya sebagai seorang raja, dia berdoa, dia meminta Tuhan memberikan dia hikmat dan itu yang Tuhan karuniakan kepada dia.

Dan kata Tuhan karena Salomo tidak meminta kekayaan dan sebagainya, maka Tuhan juga akan menambahkan kekayaan itu kepada Salomo. Di sini kita melihat Salomo mencari Tuhan pada awal pemerintahannya. Tidak demikian dengan Rehabeam putranya, begitu dia memerintah diajukan suatu kasus seperti itu dia tidak mencari Tuhan malah dia menggunakan nasihat teman-temannya yang salah itu. Artinya apa? Dia terlalu bersandar pada dirinya. Jadi dalam kita mengambil keputusan jangan lupa untuk bergumul dalam doa, meminta Tuhan memimpin kita dan kita harus yakin setelah kita berdoa meminta pimpinan Tuhan, mulai detik itu Tuhan akan memimpin kita. Hal yang kita alami, peristiwa yang kita saksikan, pembicaraan dengan orang, firman Tuhan yang kita baca, firman Tuhan yang kita dengar, itu semua akan Tuhan pakai untuk menggiring kita masuk ke dalam jalurNya atau ke dalam kehendakNya, itu adalah proses pimpinan Tuhan dalam mengambil keputusan. Tapi intinya perlu kita gumulkan.
GS : Tetapi saya melihat ada suatu sikap yang kurang tepat Pak Paul, dengan seseorang menyerahkan masalahnya kepada Tuhan, lalu dia bilang pokoknya yang terjadi pasti kehendak Tuhan. Lalu saya melihatnya sebagai suatu sikap yang pasif bukan seperti yang Pak Paul tadi katakan, dia selalu beralasan kalau Tuhan tidak kehendaki ya pasti tidak terjadi, bagaimana sikap yang demikian itu Pak?

PG : Sangat keliru, saya berikan contoh yang juga mendukung yang Pak Gunawan katakan yaitu bukankah kita pernah mendengar kisah dua orang yang berkata: "Aduh ini pasti jalan Tuhan, kalau tdak kita tidak akan ketemu."

Karena kita bertemu maka sekarang kami berpacaran, tunggu waktu 3 bulan kemudian sudah bubar. Waktu ditanya kenapa? Bukan kehendak Tuhan. Di situ kita melihat bahwa mereka berdua memang kurang dewasa, Tuhan akan mempertemukan kita dengan banyak orang, dengan banyak situasi. Tugas kita jugalah untuk memilah, untuk juga melihat apakah memang orang itu cocok atau tidak dengan kita. Jadi dalam pengambilan keputusan kita perlu berdoa, meminta Tuhan memimpin kita tapi kita sudah diberikan hikmat oleh Tuhan untuk menimbang, melihat dampaknya pada orang dan sebagainya, jadi itu kita gunakan.
GS : Nah kalau begitu suatu keputusan yang kita ambil itu masih membutuhkan waktu lagi ya, Pak Paul?

PG : Betul sekali, Pak Gunawan, ini prinsip yang keenam ternyata keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita ini hidup dalam masyarakat yang instan, kita ingin segala sesuatu mucul dengan seketika.

Tapi keputusan yang baik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusan yang baik yang kita bisa ambil. Nah untuk itu perlu waktu, waktu berguna untuk membuktikan motivasi kita, kadang kala karena terlalu berapi-api emosional dan sebagainya, kita gagal melihat masalah dengan lebih menyeluruh. Jadi perlu adanya waktu untuk mendinginkan kita dan membuktikan motivasi kita yang sebenarnya. Dan waktu itu berguna untuk menjernihkan perspektif kita agar kita bisa melihat dengan lebih jelas, intinya adalah jangan tergesa-gesa. Rehabeam langsung menuruti nasihat rekan-rekannya dan tidak menunggu lagi, begitu dia mendengar nasihat teman-temannya dia langsung jawab pada rakyat dan dia jatuhkan vonis yang begitu fatal. Dia tidak lagi menunggu waktu untuk berpikir dengan jernih.
GS : Nah, Pak Paul dari awal tadi kita sudah memikirkan bahwa pengambilan keputusan bukan sesuatu yang mudah untuk kita coba dan kemungkinan salah. Kalau seandainya kita mengambil suatu keputusan dan keputusan itu memang salah, apa dampaknya selalu negatif, Pak?

PG : Tidak selalu, Pak Gunawan, dan ini membawa kita kepada prinsip yang ketujuh yaitu keputusan yang benar tidak menutup kemungkinan muncul dari keputusan yang salah. Jadi adakalanya karena kia keliru mengambil keputusan yang salah, kita belajar kesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa.

Justru keputusan yang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan membawa kita masuk ke dalam keputusan yang benar. Jadi intinya di sini adalah bersedialah untuk meminta maaf jika menyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah. Dalam kasus Rehabeam dia telah membuat keputusan yang salah, rakyat berontak bukannya dia itu sadar malah dia tetap bersikukuh pada keputusan yang salah itu, memberikan beban kepada rakyatnya sehingga benar-benar terjadi pemberontakan dan pemisahan dari 12 suku Israel itu terpecah menjadi 2. Dia hanya mendapatkan dua suku, yang memberontak mendapatkan 10 suku, dia menjadi yang paling kecil bukan menjadi yang besar. Jadi sekali lagi dia gagal untuk meminta maaf, adakalanya itu juga yang kita alami, Pak Gunawan. Kita salah mengambil keputusan tapi kita sadari itu setelah faktanya, setelah kita membuat keputusan itu. Jangan gengsi untuk berkata wah setelah saya mengambil keputusan baru saya sadar saya salah, rubah, ubahlah keputusan yang salah itu, meminta maaflah dan benarkanlah. Kadang-kadang yang menghentikan kita justru adalah gengsi kita itu.
GS : Atau kadang-kadang kekhawatiran Pak Paul, kalau dia berulangkali keliru, berulang kali minta maaf, dia malu. Akhirnya dia tidak berani mengambil keputusan, menyerahkannya kepada orang lain. Tentunya kalau suami serahkan ke istrinya, berkali-kali memutuskan untuk memulai sesuatu bisnis baru ternyata gagal, lalu dia akhirnya bilang kamu sajalah yang memutuskan, saya sudah tidak bisa mengambil keputusan dengan benar.

PG : Kalau kita memang menyadari bahwa seseorang misalnya pasangan kita mempunyai ketajaman dalam melihat, dalam mempertimbangkan sesuatu, mungkin kita dengan hati terbuka lebih berani mempercaakan pengambilan keputusan itu kepada dia.

Dan tidak perlu merasa defensif karena semua orang tidak sama, mempunyai karunianya masing-masing. Dan ada orang yang karena cepat emosi cenderung mengambil keputusan dengan seketika tanpa berpikir panjang, nah dia juga harus menyadari keterbatasannya itu dan lebih mempercayakan kepada yang lebih berpikir panjang dan sabar.
GS : Tetapi bagaimanapun memang dalam pengambilan keputusan itu dibutuhkan hikmat dari Tuhan itu sendiri ya, Pak Paul?

PG : Betul sekali, Pak Gunawan.

GS : Oleh karena tanpa hikmat saya rasa sulit pikiran kita ini, karena sudah cenderungnya salah terus.

PG : Dan kita harus menyadari bahwa meskipun Tuhan bisa menggunakan segalanya, bahkan yang keliru itu tetap untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28) tapi tidak bisa disangkal bahwa ekeliruan dalam pengambilan keputusan kadang kala membawa dampak yang sangat besar.

Rehabeam berpikir mungkin pada saat itu masalahnya hanyalah rakyat ingin mendapatkan keringanan kerja, saya tidak kasih mau apa engkau. Mungkin dia hanya berpikir inilah duduk masalahnya, dia mungkin sekali tidak sadar bahwa karena keputusannya itu kerajaan Israel terbelah dua. Bukankah ini suatu dampak yang sangat besar, sangat parah, adakalanya kita harus mengingatkan diri kita berhati-hati dalam pengambilan keputusan, gunakan semua prinsip yang benar agar sampai pada keputusan yang benar. Sebab kadang kala dampaknya bisa berkepanjangan.

GS : Kita bersyukur sekali kepada Tuhan bahwa peristiwa-peristiwa seperti itu direkam dengan baik sekali di dalam Kitab Suci sehingga kita bisa belajar, terima kasih Pak Paul untuk ini dan saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami bersama Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hikmat dalam Pengambilan Keputusan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, Anda dapat menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



5. Kedewasaan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T090B (File MP3 T090B)


Abstrak:

Kadang kedewasaan itu bisa semakin matang karena adanya suatu pengalaman di dalam hidup kita, tempaan, kesusahan, penderitaan dsb yang dapat mempercepat seseorang mencapai kedewasaan yang matang.


Ringkasan:

Yang lebih mencerminkan kedewasaan seseorang adalah sikap. Pdt. Charles Swindoll berkata semakin hari semakin dia menyadari pentingnya sesuatu yang disebut sikap. Jadi sikap itu mewarnai cara berpikir kita dan tindakan kita dalam menghadapi hidup ini. Kedewasaan dapat diukur dengan berapa matangnya sikap kita ini dalam menghadapi hudup.

Sudah tentu kedewasaan sangat dipengaruhi oleh :

  1. Pengalaman hidup, jadi orang yang mau belajar dari hidup ini, dari apa yang dialaminya akan lebih mudah dewasa.

  2. Hal yang berikutnya yang bisa menambah kedewasaan kita adalah kita tidak bisa sangkali bahwa tempaan hidup, kesusahan, penderitaan itu akan sangat mempercepat atau mematangkan seseorang menjadi lebih dewasa. Jadi saya dapat katakan bahwa kedewasaan bertunas dari jiwa yang telah mengalami tempaan.

Kita dapat belajar dari kisah Yusuf yang dicatat dalam Kejadian 50:15-21. Kita bisa memetik beberapa pelajaran atau ciri kedewasaan seseorang yaitu:

  1. Orang yang dewasa ialah orang yang menghadapi tantangan hidup dan tidak lari menghindarinya. Yusuf itu dibuang pada usia yang relatif muda sebagai seorang remaja dijadikan budak, difitnah oleh istri majikannya dan dia dipenjarakan, namun ia menghadapi semuanya itu.

  2. Orang yang dewasa adalah orang yang tidak cepat menyalahkan orang lain termasuk Tuhan atas kemalangan yang dideritanya. Saya kira kemalangan atau penderitaan menjadi ukuran yang sangat baik untuk menilai kedewasaan kita. Kalau kita semuanya cukup, tidak ada masalah, kita hidup dalam kemakmuran, sukar untuk mengukur kedewasaan kita. Yusuf tidak menyalahkan Tuhan sewaktu dia menderita dan setelah bebas dari penjara ia pun tidak menyalahkan saudara-saudaranya.

  3. Orang yang dewasa adalah orang yang tabah dan sabar karena tahu bahwa Tuhan mengatur segalanya untuk kebaikan. Yusuf tidak membatasi matanya hanya pada apa yang dilihat dan dirasakannya, ia memandang hidupnya dari perspektif Tuhan. Kalau Yusuf membatasi matanya hanya pada apa yang dilihat dan dirasakannya dia akan hanya melihat penderitaannya, betapa malangnya hidup yang harus dilewatinya. Tapi Yusuf berhasil melebarkan perspektifnya dan dia melihat semua permasalahan hidupnya dari kaca mata Tuhan bahwa Tuhan mempunyai rencana dan bahwa dia adalah bagian kecil dari rencana Tuhan yang besar nah itulah tanda orang yang dewasa sabar dan tabah.

  4. Orang yang dewasa ialah orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup ini. Dengan kata lain orang yang dewasa tidak menyimpan dendam dan tidak mengingat-ingat kekurangan orang. Kita lihat contoh Yusuf, Yusuf tidak mendendam, dia malah memilih melihat hidup dari sisi baiknya yakni ia dapat bersama lagi dengan keluarganya. Kenapa Yusuf bisa begitu baik membalas kejahatan dengan kebaikan, sekali lagi adalah dia orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup. Kalau orang terus memelihara kepahitan hidup dia tidak mungkin dewasa, karena kepahitan itu akan mewarnai sikapnya dalam mengambil tindakan atau dalam mengeluarkan reaksi sehingga sikapnya itu akan sangat mengotori apa yang dia lakukan.

  5. Orang yang dewasa adalah orang yang tidak menempatkan diri di posisi Tuhan, jadi ada orang yang menempatkan diri pada tempat Tuhan. Dia menganggap dirinya tahu segala hal dan dia mempunyai hak untuk berbuat semaunya. Jadi orang yang dewasa orang yang tahu batasnya, tahu dirinya. Orang yang juga mengerti batas antara benar dan tidak benar, kehendak Tuhan dan dosa, sehingga dia tidak memasuki daerah yang berdosa yang Tuhan larang.

  6. Orang yang dewasa ialah orang yang melihat fakta apa adanya.

  7. Orang yang dewasa adalah orang yang memikul tanggung jawab atas tindakannya. Yusuf bisa menjadi orang yang sinis dan jahat karena hidup telah begitu menyakitkan dan tidak adil untuknya. Namun Yusuf memilih menjadi pekerja yang baik sewaktu di rumah Potifar, dia menjadi tahanan yang baik tatkala di penjara karena difitnah.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dan beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kali ini kami beri judul "Kedewasaan". Kami percaya Anda akan mengikuti perbincangan ini dengan sukacita, kita akan sama-sama memikirkan sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan kita. Maka dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Di dalam kehidupan ini Pak Paul, sering kali kita mendengar ada orang yang sudah berusia malah mungkin 30-40 tahun lalu dikatakan orang itu kekanak-kanakan. Tetapi sebaliknya kita kadang-kadang juga menjumpai anak-anak remaja atau apa itu yang pola berpikirnya seperti orang dewasa Pak Paul, sehingga kadang-kadang kita sulit menentukan kedewasaan seseorang. Sebenarnya kedewasaan seseorang itu diukur dari usianya, penampilannya atau dari cara bicaranya, Pak Paul?

PG : Saya kira yang lebih mencerminkan kedewasaan seseorang adalah sikap, saya hendak mengutip perkataan Pdt. Charles Swindoll yang berkata: Semakin hari semakin dia menyadari pentingnya sesatu yang disebut sikap.

Jadi sikap itu mewarnai cara berpikir dan tindakan kita dalam menghadapi hidup ini. Saya kira kedewasaan dapat diukur dengan berapa matangnya sikap kita ini dalam menghadapi hidup. Sudah tentu kedewasaan sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, jadi orang yang mau belajar dari hidup ini, dari apa yang dialaminya akan lebih mudah dewasa. Orang yang menutup telinga, menutup mata tidak mau belajar, tidak mau diberitahu, orang itu akan berhenti bertumbuh dewasa. Hal berikutnya yang tidak bisa kita sangkali akan menambah kedewasaan kita adalah dalam tempaan hidup ini ada kesusahan, penderitaan. Itu akan sangat mempercepat atau mematangkan seseorang menjadi lebih dewasa. Jadi dapat saya katakan bahwa kedewasaan bertunas dari jiwa yang telah mengalami tempaan.
GS : Tetapi itu tidak secara otomatis, artinya tidak setiap orang yang mengalami penderitaan dan sebagainya otomatis dewasa, Pak Paul?

PG : Betul sekali tidak otomatis. Sebab semua tergantung pada faktor yang tadi kita sudah bicarakan yaitu faktor sikap. Apakah mau belajar dari kehidupan ini kalau ditempa oleh penderitaan, alau tidak mau belajar tidak akan dewasa.

GS : Apakah ada contoh konkret dari Alkitab, Pak?

PG : Kita akan melihat kisah seseorang yang bernama Yusuf di Kejadian 50:15-21, saya cuplik saja sebagian. "Ketika saudara-saudara Yusuf melihat bahwa ayah mereka telah meningga, berkatalah mereka, "Boleh jadi Yusuf akan mendendam dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."

Saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." Tapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Dari cerita ini Pak Gunawan, kita bisa memetik beberapa pelajaran atau ciri kedewasaan seseorang. Yang pertama, orang yang dewasa ialah orang yang menghadapi tantangan hidup dan tidak lari untuk menghindarinya. Kita tahu Yusuf itu dibuang pada usia yang relatif masih muda, sebagai seorang remaja yang dijadikan budak, difitnah oleh istri majikannya dan dia dipenjarakan namun ia menghadapi semuanya itu. Misalkan kalau dia tidak mau menghadapinya, dia bisa mencoba melarikan diri, dia bisa mencoba membunuh dirinya. Tapi kita tahu Yusuf menghadapi setiap hantaman atau tempaan itu, meskipun sebelumnya dia hidup sebagai seorang anak yang dimanja oleh ayahnya. Hidup dalam kemewahan karena kita tahu ayahnya Yakub adalah seorang yang berada, tapi dia tetap menghadapinya. Kita tidak bisa menghindarkan diri dari tantangan hidup ini. Kadang kala tantangan memang muncul begitu saja, kita tidak bisa mengelakkannya. Daripada kita mencoba melarikan diri, yang lebih dewasa adalah menghadapinya.
GS : Memang saya rasa tepat sekali pengambilan contoh tentang Yusuf yang merupakan anak yang kecil, yang muda, tetapi kakak-kakaknya justru kurang dewasa dalam hal menyikapi Yusuf ini ya, Pak Paul?

PG : Betul, justru mereka yang tidak bisa menghadapi tantangan hidup itu. Mereka mengambil jalan pintas daripada merasa iri kepada Yusuf, kenapa ayahnya begitu sayang kepada dia. Mereka memiih untuk pertama-tama membunuh Yusuf tapi karena bujukan dari Ruben kakak tertua, maka Yusuf tidak jadi dibunuh dan akhirnya hanya dijual sebagai seorang budak.

GS : Tetapi ada orang yang memberikan alasan kenapa dia lari, dia katakan daripada saya mati konyol di sana, ada kesempatan lari maka saya lari.

PG : OK! Dalam kasus-kasus tertentu misalkan kita dirampok, saya kira tindakan yang lebih bijaksana kalau kita bisa lari. Namun kalau misalkan kita menghadapi penyakit seperti penyakit kanke, memang kita harus hadapi, kita tidak boleh lari dari kenyataan itu.

GS : Tetapi sering kali memang tidak lari Pak Paul, hanya saja kita itu menggerutu, kenapa saya harus diperhadapkan pada kondisi seperti ini.

PG : Itu saya kira respons alamiah dari manusia, Pak Gunawan, sering kali waktu menghadapi kesusahan kita ini menunjukkan sikap kita yang asli yaitu menyalahkan orang. Ini merupakan prinsip ang kedua yaitu orang yang dewasa adalah orang yang tidak cepat menyalahkan orang lain termasuk Tuhan, atas kemalangan yang dideritanya.

Saya kira kemalangan atau penderitaan menjadi ukuran yang sangat baik untuk menilai kedewasaan kita. Kalau kita semuanya cukup, tidak ada masalah, kita hidup dalam kemakmuran, sukar untuk mengukur kedewasaan kita. Tapi penderitaan saya kira mempunyai goncangan untuk bisa memperlihatkan kedewasaan kita yang sesungguhnya. Kita mungkin bisa berkata-kata dengan indah, namun hidup kita relatif aman-aman saja, tapi ada orang yang telah mengalami penderitaan cenderung akan bisa memetik kedewasaan darinya. Yusuf tidak menyalahkan Tuhan sewaktu dia menderita dan setelah bebas dari penjara iapun tidak menyalahkan saudara-saudaranya. Dia berkata kepada saudara-saudaranya bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah dengan engkau melakukan semuanya itu, memang ya tidak benar tapi Tuhan mempunyai rencana yang indah. Jadi kita bisa melihat ciri orang dewasa, yang indah di sini adalah tidak cepat menyalahkan orang. Orang yang tidak dewasa beranggapan semua orang bertanggung jawab atas hidupnya, semua orang seharusnya mengerti dirinya, semua orang seharusnya bisa menoleransi perbuatannya, bisa memahami bahwa dia adalah seperti ini. Itu adalah bukti nyata ketidakdewasaan seseorang.
GS : Ya tetapi memang pada saat-saat yang seperti itu kita memang butuh perhatian orang Pak, kita butuh dikasihani orang untuk tetap bisa bertahan di dalam goncangan kehidupan ini.

PG : Betul kita membutuhkan bantuan orang, uluran tangan orang untuk menolong kita, saya kira itu natural dalam kesusahan kita. Namun kita tidak buru-buru menyalahkan orang, bisa jadi memangorang lain yang salah, tapi kita mau melihat juga andil kita apakah ada andil kita.

Nah misalkan ini kita kaitkan dalam pertengkaran rumah tangga, bukankah yang lebih alamiah adalah seorang suami menyalahkan istrinya, istri menyalahkan suaminya. Karena engkau berkata begini, maka saya tadi marah dan berkata seperti itu kepadamu. Jadi seolah-olah kalau engkau tidak berkata begitu, saya tidak akan mengeluarkan kata-kata tadi, nah itu suatu ucapan yang menurut saya kurang tepat. Sebab mulut adalah mulut kita, pikiran adalah pikiran kita, kita mempunyai pilihan untuk tidak mengatakannya jadi kita tidak bisa melempar tanggung jawab kepada orang lain.
GS : Saya rasa dalam hal ini sangat dibutuhkan rasa sabar yang luar biasa Pak Paul, kalau tidak orang tidak akan tahan menghadapi godaan. Tapi tidak menyalahkan orang dan sebagainya itu sangat sulit, Pak?

PG : Betul, sejak dari awalnya Adam juga menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular, jadi itu memang sifat manusia yang sudah tercemar oleh dosa.

GS : Apakah kesabaran seseorang itu bisa menjadi suatu ukuran tentang kedewasaannya?

PG : Bisa sekali Pak Gunawan, jadi ciri ketiga orang yang dewasa adalah orang yang tabah dan sabar karena tahu bahwa Tuhan mengatur segalanya untuk kebaikan. Yusuf tidak membatasi matanya haya pada apa yang dilihat dan dirasakannya, ia memandang hidupnya dari perspektif Tuhan.

Kalau Yusuf membatasi matanya hanya pada apa yang dilihat dan dirasakannya dia akan hanya melihat penderitaannya, betapa malangnya hidup yang harus dilewatinya. Tapi Yusuf berhasil melebarkan perspektifnya dan dia melihat semua permasalahan hidupnya dari kacamata Tuhan, bahwa Tuhan mempunyai rencana dan dia adalah bagian kecil dari rencana Tuhan yang besar. Kenapa sabar, kenapa tabah karena melihat masalah dan melihat hidup dari kacamata Tuhan. Orang yang tidak sabar harus terjadi seperti yang dia inginkan, tergesa-gesa membuat semuanya seperti yang dia mau, orang yang memang tidak lagi melibatkan Tuhan dalam kehidupannya. Tidak sadar bahwa Tuhan itu mengatur segalanya dan bahwa yang Tuhan atur adalah untuk kebaikan. Orang yang dewasa lebih tenang, tenang bukannya karena pasif tapi dia tahu ada Tuhan yang mengatur segalanya.
GS : Mungkin itu juga semacam ketekunan dari seseorang untuk tetap bisa bertahan, untuk tetap bisa melihat perspektif yang Tuhan rencanakan bagi dirinya. Nah apakah ada pelajaran yang lain yang bisa kita tarik dari kisah Yusuf tadi?

PG : Yang keempat adalah orang yang dewasa ialah orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup ini. Dengan kata lain orang yang dewasa tidak menyimpan dendam dan tidak mengingat-ingt kekurangan orang.

Kita melihat dari contoh Yusuf, Yusuf tidak mendendam, dia malah memilih melihat hidup dari sisi baiknya yakni ia dapat bersama lagi dengan keluarganya. Tidak heran ia membalas kejahatan saudaranya dengan kebaikan, kita tadi membaca di firman Tuhan, dia berjanji untuk menanggung kehidupan mereka. "Aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Kenapa Yusuf bisa begitu baik membalas kejahatan dengan kebaikan, sekali lagi dia adalah orang yang mampu membebaskan diri dari kepahitan hidup. Kalau orang terus memelihara kepahitan hidup dia tidak mungkin dewasa Pak Gunawan, karena kepahitan itu akan mewarnai sikapnya dalam mengambil tindakan atau dalam mengeluarkan reaksi sehingga sikapnya itu akan sangat mengotori apa yang dia lakukan.
GS : Dalam hal mengambil keputusan atau bersikap tadi sangat ditentukan oleh dia itu memposisikan dirinya seperti apa atau di mana. Nah kekeliruannya sering kali apa yang dialami atau dikerjakan oleh seseorang di dalam memposisikan dirinya itu, Pak Paul?

PG : Saya kira kalau kita melihat diri kita sebagai korban, hidup ini tidak adil, Tuhan jahat kepada saya. Jadi benar-benar kita memposisikan diri sebagai korban dari ketidakadilan hidup, dai Tuhan yang semena-mena.

Kita cenderung akan menyuburkan kepahitan ini, nah kita justru harus mempunyai pandangan yang benar. Tuhan menyayangi kita, kalau Tuhan tidak menyayangi kita Dia tidak akan mati untuk dosa kita. Karena Dia mati untuk dosa kita, kita tahu Tuhan sangat mencintai kita, kita bukanlah korban yang memang sengaja Tuhan jatuhkan secara semena-mena. Tidak ada hal-hal yang tidak kita mengerti kenapa harus terjadi pada kita, tapi itu tidak berarti Tuhan membenci kita atau tidak menyayangi kita.
GS : Tapi ada orang yang justru menganggap dia mengerti semua, Pak Paul?

PG : Nah kadang kala ini yang terjadi Pak Gunawan, yang membawa kita pada prinsip yang kelima. Orang yang dewasa ini adalah orang yang tidak menempatkan diri di posisi Tuhan, jadi ada orang ang memang menempatkan diri pada tempat Tuhan.

Dia menganggap dirinya tahu segala hal dan dia mempunyai hak untuk berbuat semaunya, ini keliru sekali. Dalam contoh Yusuf meskipun dia berada pada posisi yang menguntungkan, Yusuf tidak memanfaatkan posisinya untuk membalas saudaranya. Ia dengan jelas berkata bahwa ia bukanlah Tuhan, dia berkata: "Akukah pengganti Allah? dengan kata lain dia berkata saya bukan Allah, jadi dia menyadari ada hal-hal yang boleh ia lakukan namun ada hal-hal yang memang tidak boleh ia lakukan, Yusuf seseorang yang tahu diri. Jadi orang yang dewasa tidak melihat dirinya itu tidak terbatas bisa berbuat apa saja seperti Tuhan, orang yang dewasa adalah orang yang tahu batasnya. Orang yang juga mengerti batas antara benar dan tidak benar, kehendak Tuhan dan dosa, sehingga dia tidak memasuki daerah berdosa yang Tuhan larang. Adakalanya orang beranggapan dia bisa berbuat semaunya sehingga akhirnya dia memasuki daerah terlarang itu, daerah yang Tuhan katakan jangan dimasuki. Jadi orang yang dewasa menyadari posisinya dia terbatas, dia tidak boleh menempatkan diri sebagai Tuhan dalam hidupnya.
(2) GS : Kalau memang dia mampu bertindak seperti itu atau mengambil sikap seperti itu, bagaimana seorang yang dewasa itu bersikap terhadap kenyataan yang ada, yang dia alami, yang menyakitkan, yang tidak enak dan sebagainya itu, Pak Paul?

PG : Yang keenam prinsip yang perlu kita camkan di sini adalah orang yang dewasa ialah orang yang melihat fakta apa adanya. Yusuf tidak memutihkan perbuatan saudara-saudaranya, apa yang jaha tetaplah jahat, maka dia berkata: "Engkau mereka-rekakan yang jahat terhadap aku," Yusuf tidak menetralisir dan berkata o...engkau

itu bermaksud baik tapi engkau keliru sedikit di sini, tidak. Yusuf tahu saudara-saudaranya saat itu mempunyai niat jahat, mau membunuhnya dan akhirnya membuang dia, menjual dia menjadi seorang budak. Nah orang yang dewasa mau melihat fakta apa adanya. Kadang kala kita karena ingin tampil baik atau tampil rohani, kita ini sepertinya tidak hidup dalam kenyataan. Misalkan sesuatu yang orang lakukan yang tidak benar, kita hanya katakan o....itu tidak begitu maksudnya, adakalanya memang ada orang yang bermaksud tidak baik dan kita katakan apa adanya, nah jadi orang yang dewasa adalah orang yang bisa melihat kenyataan dengan pas.
GS : Bagaimana dengan tindakannya atau tanggung jawabnya terhadap segala sesuatu yang dia kerjakan, dia mengerjakan sesuatu itu untuk menampilkan kedewasaannya. Nah bagaimana dalam hal tanggung jawab?

PG : Ini membawa kita pada prinsip yang ketujuh, yang terakhir yaitu orang yang dewasa adalah orang yang memikul tanggung jawab atas tindakannya. Kita melihat contoh Yusuf lagi, Yusuf bisa mnjadi orang yang sinis, negatif dan jahat karena hidup telah begitu menyakitkan dan tidak adil untuknya.

Namun Yusuf memilih menjadi pekerja yang baik sewaktu di rumah Potifar, dia menjadi tahanan yang baik tatkala di penjara karena difitnah. Dan dia menjadi teman yang baik bagi kedua rekan sepenjaranya, waktu dia melihat kedua rekannya menampakkan wajah yang muram, dia menanyakan ada apa...? Waktu dia menceritakan mimpi dia berusaha menolong menceritakan mimpinya atau makna mimpi itu. Kita melihat Yusuf berhasil mempertahankan hidup yang positif. Dia tidak dipahitkan oleh kehidupan, meskipun hidup itu pahit, jadi sekali lagi di sini kita bisa melihat yang dari dalam berhasil menangkal yang datang dari luar. Kita tidak bisa sangkali bahwa yang menimpa kita cenderung mewarnai kita, mempengaruhi kita. Tapi seharusnya orang yang dewasa adalah justru yang dari dalam mewarnai yang di luar, yang menangkal dari luar. Sekali lagi peristiwa kehidupan boleh pahit, tetapi tidak harus membuat kita menjadi orang yang pahit, itu yang ditunjukkan oleh Yusuf dalam kehidupannya. Jadi artinya sosok orang yang dewasa harus bertanggung jawab atas tindakannya. Meskipun keadaan bisa tidak menyenangkan tapi sikapnya atau tindakannya itu tanggung jawab dia. Dia bisa memilih menjadi pahit atau dia bisa memilih menjadi manis. Saya pernah waktu saya dulu di AS menangani sebuah kasus penganiayaan anak yang masih saya ingat sekali, karena ini menjadi berita surat kabar jadi saya bisa bicarakan dengan lebih terbuka. Waktu saya mewawancarai si ayah yang membunuh si anak umur 2 tahun, dia langsung berkata saya adalah korban masyarakat, dia pemakai obat terlarang, dalam gelap matanya dia membunuh anaknya sendiri. Nah yang dia katakan kepada saya adalah saya adalah korban masyarakat, dia tidak bisa melihat dirinya bahwa dia mungkin orang miskin tapi dia tidak harus menyalahgunakan narkoba, dia tidak harus memukuli anaknya seperti itu, nah itu tanda orang yang tidak dewasa, karena tidak melihat bahwa dirinya itu mempunyai tanggung jawab untuk memilih tindakan yang sesuai.
GS : Ya mungkin kesulitannya memang melihat dirinya sebagaimana apa adanya, seperti tadi Pak Paul katakan di penjara pun Yusuf menjadi tahanan yang baik, lalu menjadi pembantunya Potifar yang baik. Jadi di manapun Tuhan tempatkan dia sebagai apapun itu tanggung jawabnya, tetap dilakukan dengan baik.

PG : Dan hal ini sudah dimiliki Yusuf sejak awal, kita tahu bahwa Yusuf ditangkap oleh saudara-saudaranya karena dia ingin menghantarkan makanan. Dan kita tahu juga waktu ayahnya Yakub menyuuh dia mengantarkan makanan, sebetulnya Yusuf sudah melakukan tugasnya.

Namun tidak menemukan saudara-saudaranya, mereka rupanya sudah berkata akan berada di mana saya lupa nama kotanya, tapi ternyata waktu Yusuf ke sana mereka sudah pindah pergi jauh. Seharusnya Yusuf bisa pulang dan berkata: "Ayah, saya tidak temukan saudara-saudara, mereka sudah pergi" dan tidak akan diapa-apakan oleh Yakub. Namun dia orang yang bertanggung jawab dia tahu kakaknya membutuhkan makanan ini, sehingga dia terus telusuri di mana kakak-kakaknya berada, membawa makanan kepada mereka dan pada akhirnya justru dia diperlakukan sangat jahat oleh mereka. Sekali lagi kalau kita melihat sebagai anak, dia anak yang baik dan bertanggung jawab.
GS : Ya, makanya firman Tuhan selalu meminta kita untuk tumbuh menjadi dewasa bukan cuma dalam hal bersikap, tetapi juga dalam hal kerohanian kita.

PG : Betul Pak Gunawan, tapi bertumbuh dalam Tuhan tidak berarti kita ini melepas tanggung jawab, tidak mau memilih sikap semuanya tergantung Tuhan, tidak mau melihat fakta sebenarnya itu jutru menandakan ketidakdewasaan kita.

Tuhan menyelamatkan kita dari dosa, tapi Tuhan juga dalam proses mendewasakan kita supaya kita menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Waktu Tuhan Yesus di kayu salib, Dia tidak marah-marah, Dia justru berkata kepada Tuhan, kepada Allah Bapa meminta Allah Bapa untuk mengampuni orang yang menganiayaNya. Jadi sekali lagi Tuhan juga memilih untuk bersikap secara positif di dalam keadaan yang begitu pahit.
GS : Banyaknya masalah yang timbul di keluarga, di pekerjaan, di negara sekalipun itu sering kali karena orang-orang yang terlibat di dalamnya, tingkat kedewasaannya mungkin masih belum memadai ya, Pak Paul?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi 2 hal yang sering kali memang bisa menipu kita atau mengelabui kita. Yang pertama adalah usia, kita menganggap orang yang lebih tua pasti lebih dewasa. Yag kedua adalah tingkat kepandaian, kita beranggapan semakin pandai seseorang semakin dewasa.

Sebab kepandaian atau latar belakang pendidikan hanyalah menandakan kita ini cerdas, kita ini orang yang berpengetahuan, namun tidak berkaitan dengan kedewasaan seseorang. Sekali lagi saya tegaskan kedewasaan itu bertunas dari jiwa yang telah melewati tempaan dan ini yang penting harus ada sikap yang terus-menerus mau belajar dari apa yang dialaminya. Nah itulah yang akan mendewasakan dia, tempaan dari hidup itu sendiri tidak akan mendewasakan kita, sikap yang mau belajar atau dalam bahasa Inggrisnya "teachable" yang akan mendewasakan dia.
GS : Kadang-kadang ada yang agak terkait dengan jabatan itu Pak Paul, kita menganggap bahwa jabatan seseorang di tingkat yang tinggi secara otomatis itu adalah orang yang dewasa. Padahal kenyataannya banyak pemimpin yang bersifat kekanak-kanakan.

PG : Betul, baik dalam perusahaan ataupun dalam konteks organisasi yang lainnya. (GS : Juga dalam hal rumah tangga) dalam rumah tangga juga begitu.

GS : Jadi ini memang sesuatu hal yang sangat penting untuk kita cermati bersama dan kita percaya bahwa Tuhan menghendaki kita makin hari makin dewasa dalam bersikap dan di dalam berhubungan dengan Tuhan dan sesama kita.

Jadi saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kedewasaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan banyak terima kasih atas perhatian Anda, yang sudah berkirim surat kepada kami namun saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda masih sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



6. Membentuk Kebiasaan Baik


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T091A (File MP3 T091A)


Abstrak:

Kalau berbicara tentang kebiasaan, kita harus mengakui bahwa faktor belajar atau latihan atau seringnya kita melakukan sesuatu, itu lebih banyak berperan.


Ringkasan:

Pembentukan kebiasaan bisa dilakukan melalui beberapa cara misalnya:

  1. Melakukan trial and error atau coba-coba, lalu suatu ketika karena dari eksperimen-eksperimen, terjadi suatu pembentukan tingkah laku dalam hal ini kebiasaan tertentu.

  2. Kebiasaan juga terbentuk melalui contoh yang dikagumi atau diidolakan.

  3. Kebiasaan terbentuk melalui dukungan, pujian dan penghargaan dari orang lain.

  4. Kebiasaan terbentuk melalui latihan terus-menerus.

Menilik contoh-contoh berikut, tampaknya kebiasaan adalah sesuatu yang dipelajari. Lalu adakah peran faktor bawaan di sini?

  1. Ada, dalam arti faktor bawaan dapat mempercepat, memperkuat atau justru menyulitkan terbentuknya suatu kebiasaan tertentu. Contoh: melatih diri untuk tekun sulit dilakukan oleh orang yang tidak mudah berkonsentrasi, melatih diri untuk bertindak dengan cepat dan efisien tidak mudah bagi orang yang energinya terbatas atau lemah fisiknya.

  2. Faktor bawaan sering menyebabkan kita terpatok pada batasan-batasan yang menyulitkan atau mempermudah kita memperoleh kebiasaan baru.

  3. Tetapi kabar baik bagi kita adalah bahwa faktor belajar atau latihan lebih banyak berperan dalam pembentukan kebiasaan seseorang.

  4. Karena itu kuranglah bijaksana apabila kita tidak berusaha mendisiplin diri dalam membentuk kebiasaan baik dengan mengatakan, ya saya memang sudah begini dari sononya.

Kebiasaan baik yang perlu kita perhatikan dalam hidup:

  1. Dalam hal pikiran. Contoh dalam hal pikiran :

    1. Kita perlu melatih diri supaya kita bisa berpikir sehat dan rasional.

    2. Kita lebih mengutamakan kekekalan dari pada yang sementara

    3. Kita melatih diri bagaimana membantu orang lain daripada memikirkan secara egois tentang diri sendiri dan menimbun harta bagi diri kita.

  2. Dari segi perasaan, biasakan untuk memiliki berbagai perasaan yang positif, rendah hati, sabar, penuh kasih, damai.

  3. Dari segi tindakan, biarlah kita bertindak dengan melatih diri dengan penguasaan diri, kemudian perbanyak perkataan yang menyejukkan, mendatangkan damai sejahtera serta mendidik orang lain.

  4. Biasakan untuk hidup disiplin, hidup jujur dan adil terhadap orang lain dan rela mengaku salah dan memperbaiki kesalahan sendiri.

Hambatan-hambatan untuk memperoleh kebiasaan baik:

  1. Adakalanya kita terlambat untuk belajar kebiasaan baik tertentu sejak kecil.

  2. Sering kali kita mempunyai cara berpikir yang kurang baik.

Saran praktis untuk kita memperoleh kebiasaan baik:

  1. Biasakan untuk berdoa dan membaca Alkitab tiap hari dan mohon bantuan Roh Kudus.

  2. Usahakan untuk mengarahkan diri selalu kepada hadiah yang akan diberikan oleh Allah untuk setiap orang yang menang dalam pertandingan.

  3. Jangan mudah patah semangat karena kritik atau cemooh ketika kita berbuat baik.

  4. Ingat bahwa adakalanya kebiasaan baik itu adalah juga suatu perjuangan seumur hidup, jadi terus berlatih tanpa putus asa.

"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna kata Paulus, melainkan aku mengejarnya kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya tetapi ini yang kulakukan, aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." Filipi 3:12-14


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dan beliau berdua adalah para pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan menemani Anda berbincang-bincang dalam satu tema "Membentuk Kebiasaan Baik", kami percaya perbincangan ini akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, bagaimana seseorang itu bisa mempunyai suatu kebiasaan tertentu?

HE : Kalau kita ingin memperoleh suatu kebiasaan, biasanya atau umumnya kebiasaan itu bisa terbentuk melalui beberapa cara, misalnya ada kebiasaan yang terjadi lewat seseorang itu melakukan trial and error' atau coba-coba.

Lalu suatu ketika karena dari eksperimen-eksperimen percobaan dia, terjadi suatu pembentukan tingkah laku dalam hal ini kebiasaan tertentu. Dan kemudian kebiasaan juga mulanya bisa terbentuk dari seseorang itu melihat contoh di lingkungannya, dia melihat ada orang yang dikagumi atau dia idolakan lalu dia tiru sehingga itu menjadi suatu kebiasaannya. Kemudian hal lain yang bisa menjadi kebiasaan kalau misalnya terus-menerus suatu tingkah laku itu memperoleh dukungan, pujian dan penghargaan dari orang lain. Misalnya seorang anak yang menjadi rajin belajar musik, karena dia selalu dalam belajar musik mendapat penghargaan dari orang lain, sehingga akhirnya dia menjadikan latihan musik sebagai suatu kebiasaan. Dan kemudian juga ada satu hal lagi yaitu kalau kita melatih terus-menerus suatu tingkah laku tertentu, maka itu akan menjadi suatu kebiasaan.
GS : Hal itu disadari oleh yang bersangkutan atau di luar kesadarannya?

HE : Ada yang dalam kesadaran, dalam arti dia sengaja melakukan dan menjadikannya suatu kebiasaan, tetapi ada juga yang tidak sengaja seperti tadi "trial and error", bisa terjadi dan pada muanya itu tidak disengaja.

GS : Ya kalau di dalam rumah tangga itu kadang-kadang ada anak yang gaya bicaranya atau gaya jalannya meniru orang tuanya, biasanya meniru ayahnya atau meniru ibunya. Itu termasuk yang mana Pak?

HE : Bisa jadi karena dia mencontoh, mencontoh tingkah laku orang tuanya.

ET : Dalam hal ini rasanya memang umpan balik itu penting sekali Pak Heman, saya cuma membayangkan kalau misalnya tidak ada contoh seperti yang Pak Heman katakan tadi tidak ada contoh yang bsa dikagumi, ada contoh tapi mungkin contoh yang salah, lalu juga tidak ada satu umpan balik bahwa yang dia tiru itu sudah pas atau belum.

Pasti proses pembentukan kebiasaan baik ini lebih terhambat atau masih akan ada cara lain yang akan menyelamatkan keadaan ini, Pak Heman?

HE : Ya ada beberapa, tentu saja kita tidak bisa menggeneralisir begitu saja. Kalau misalnya seseorang itu tidak mempunyai contoh dan sebagainya, adakalanya pujian, dukungan ataupun dia pernh mendengar atau melihat sesuatu dan dia menirunya lalu menjadikan itu suatu kebiasaan.

Itu sebabnya ada misalnya orang tua yang kehidupannya kurang baik atau misalnya dia melihat orang tuanya bertengkar terus-menerus, nah sang anak kemudian belajar suatu kebiasaan untuk tidak menggunakan kata-kata yang menyerang orang lain. Tetapi menggunakan itu sebagai suatu kebiasaan yang baik untuk menggunakan kata-kata yang baik juga.

ET : Tapi kalau memang misalnya tidak pernah ada yang memberitahu kalau bertengkar dengan cara seperti ini sebenarnya tidak baik, lebih baik dengan cara yang lain. Tapi yang setiap hari dia lihat adalah seperti itu, apakah memang tidak akan mempengaruhi anak-anak tersebut?

HE : Ya tentu saja akan mempengaruhi anak tersebut sehingga kebiasaan baik dalam kondisi seperti ini akan sangat sulit terbentuk.

GS : Ada anak yang kalau marah mainannya dibanting, jengkel lalu mainannya itu dibanting-banting. Padahal siapa yang dicontoh, kita tidak melihat ada contoh yang membuat anak ini seperti itu. Lalu orang berkata memang dari lahir keras hatinya seperti orang tuanya, lalu apakah memang ada pengaruh dari faktor lahir, Pak Heman?

HE : Faktor lahir itu ada, jadi misalnya ada kecenderungan pemarah dan sebagainya tetapi waktu dia mengekspresikan itu misalnya dengan membanting dan sebagainya, kadang-kadang ini yang disebt dengan "trial and error".

Dia tidak tahu bahwa itu salah dan dia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Dalam hal ini yang dikatakan oleh Ibu Esther tadi sangat relevan yaitu umpan balik. Kalau misalnya dia mendapatkan umpan balik waktu dia membanting barang dan keinginannya dituruti, nah ini bisa menjadikan dia suatu kebiasaan dalam hal kebiasaan buruk. Tetapi kalau dia tidak dipedulikan dan tidak memperoleh keinginannya pada saat dia marah, itu bisa mulai melatih suatu kebiasaan yang baik untuk dia, bagaimana seorang anak mengungkapkan perasaan marahnya.
(2) GS : Tadi Pak Heman katakan memang ada faktor bawaan atau faktor yang dibawa sejak lahir itu yang mempengaruhi kebiasaan seorang anak, nah seberapa jauh itu Pak Heman?

HE : Faktor bawaan ini bisa mendukung, mempercepat atau memperkuat suatu pembentukan kebiasaan atau sebaliknya juga bisa faktor bawaan itu menyebabkan seseorang sulit membentuk suatu kebiasan tertentu.

Saya berikan contoh di sini kita yang susah untuk berkonsentrasi terhadap sesuatu itu biasanya lebih susah untuk melatih diri agar tekun di dalam melakukan sesuatu. Contoh lain misalnya kalau orang yang lemah fisiknya sering sakit kemudian energinya terbatas akan lebih sulit bertindak dengan cepat, efisien karena keterbatasan energinya itu. Nah dalam hal keterbatasan energi, kemudian juga faktor kecerdasan, faktor kurang bisa konsentrasi ini sering kali membuat seseorang itu dihambat atau kalau dia sesuai, misalnya dia orangnya energik tetapi sekaligus orang yang konsentrasinya baik maka dia akan didorong atau diperkuat keinginannya melatih diri untuk bekerja cepat dan efisien.
GS : Berarti kalau memang ada faktor bawaan, itu sebenarnya masih bisa dilatih untuk yang buruk dihilangkan dan yang baik ditumbuhkan.

HE : Betul, meskipun ada keterbatasan.

ET : Justru kadang-kadang khawatirnya malah sebenarnya bawaannya baik tapi lingkungan justru tidak mendukung untuk pembentukan yang baik. (GS : Yang buruk malah yang terbentuk) Ya, yang terbntuk justru yang buruk.

Tapi saya jadi berpikir kalau memang faktor bawaan ini justru yang kadang-kadang membuat orang seperti menjadi sebuah alasan untuk membela diri, Pak Heman. Misalnya saya memang bawaannya seperti ini, jangan harap saya untuk berubah karena sudah melihat unsur ini tidak bisa dikutak-katik. Bagaimana menghadapi orang-orang yang punya pendapat seperti itu, Pak Heman?

HE : Dalam hal ini kalau kita sedang bicara tentang kebiasaan kita harus mengakui bahwa faktor belajar atau latihan atau seringnya kita melakukan sesuatu, tingkah laku itu lebih banyak berpean.

Jadi porsinya lebih besar di dalam pembentukan kebiasaan seseorang. Karena itu saya kurang setuju bahwa dengan alasan saya memang orangnya pemarah dan sebagainya lalu tidak melatih diri untuk lebih menguasai kemarahannya. Misalnya lagi orang yang memang kurang energi lalu dia kurang bertanggung jawab di dalam melakukan pekerjaannya. Nah ini saya kurang setuju karena sebetulnya kita bisa dalam tingkat tertentu melatih diri sehingga menjadi lebih baik, bahkan kita bisa mengatasi faktor bawaan kita. Sebagai contoh ada orang yang sebetulnya sedikit cacat di kakinya, tetapi akhirnya dia melatih diri sedemikian rupa menjadi pelari yang hebat. Contoh-contoh seperti itu justru yang harus kita tiru.

ET : Jadi tidak terpatok bahwa sudah bawaan berarti akan seperti itu seumur hidupnya, yang orang-orang perlu perhatikan belajarnya itu atau proses latihannya.

(3) GS : Nah itu ada banyak sebenarnya hal-hal positif yang harus dikembangkan, mungkin Pak Heman bisa sampaikan beberapa hal itu yang sebenarnya dalam bidang apa kita harus mengembangkan kebiasaan yang baik itu?

HE : Dalam hal pikiran, perasaan dan tindakan. Saya berikan contoh dalam hal pikiran, kita perlu melatih diri supaya kita bisa berpikir sehat dan rasional. Misalnya saja di dalam khotbah Yess di atas bukit tentang kekhawatiran.

Di dalam hal ini sering kali kita memperoleh kebiasaan untuk berpikir dengan khawatir akan apa yang kita pakai dan kita makan. Yesus dalam hal ini memberikan cara berpikir yang lain untuk tidak mengkhawatirkan itu, karena misalnya burung di udara pun yang biasa ditangkap dan dijual dengan murah itu dipelihara oleh Allah Bapa di Sorga. Nah cara-cara berpikir ini perlu kita biasakan di dalam kita melihat hidup ini. Contoh lain adalah di dalam pikiran kita banyak-banyak bersyukur dan memandang sisi positif hidup ini. Jadi juga hendaknya kita banyak mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan, kemudian juga kita lebih mengutamakan kekekalan daripada yang sementara, di dalam Alkitab banyak contoh-contoh seperti ini. Orang yang mementingkan yang kekal itu biasanya lebih diberkati oleh Allah dan kemudian juga biarlah kita sering berpikir, melatih diri untuk bagaimana membantu orang lain daripada memikirkan secara egois tentang diri sendiri dan menimbun harta bagi diri kita. Hal yang lain misalnya dari segi perasaan biasakan untuk memiliki berbagai perasaan yang positif, rendah hati, sabar, penuh kasih, damai, dan seterusnya. Dari segi tindakan biarlah kita bertindak dengan melatih diri dengan penguasaan diri, latih untuk menahan perkataan yang tidak berguna, yang sia-sia, yang tidak membangun, fitnah dan sebagainya itu jauhkan. Kemudian perbanyak perkataan yang menyejukkan, mendatangkan damai sejahtera serta mendidik orang lain. Biasakan juga untuk hidup disiplin, untuk bisa diandalkan misalnya kalau hutang cepat melunasi kembali, kemudian juga belajar atau biasakan untuk hidup jujur, adil terhadap orang lain dan rela mengaku salah dan memperbaiki kesalahan sendiri. Jadikan ini sebagai kebiasaan sehari-hari.
GS : Nah itu berarti seluruh aspek kepribadian seseorang itu bisa dibentuk untuk mempunyai kebiasaan yang baik, Pak Heman?

HE : Ya idealnya begitu.

ET : Ya tampaknya hal-hal yang sudah kita ketahui secara teori, tetapi untuk menjadikan kebiasaan baik ini rasanya tidak mudah juga dalam prakteknya.

GS : Saya pikir memang melatih pikiran itu sulit sekali karena tidak nampak, yang nampak seperti tadi Pak Heman katakan adalah perbuatan, kita masih bisa mengekspresikan itu kepada orang lain dan itu bisa membantu kita. Wah kelihatan begitu 'kan tidak baik lalu kita pelan-pelan berubah, perasaan juga akan terwujud seperti itu tapi kalau pikiran orang lain tidak bisa mengetahuinya.

HE : Betul, jadi memang di sini yang di dalam pikiran itu memang tidak kelihatan tetapi kalau seseorang itu hidupnya terbiasa dengan kehidupan rohani yang baik, dia banyak membaca Alkitab, mngisi dirinya dengan firman Tuhan, dia bisa dengan sendirinya akan mempunyai pikiran-pikiran yang baik.

GS : Ya itu diajarkan supaya pikiran kita itu sejalan dengan pikiran Kristus di dalam Alkitab dikatakan seperti itu. Tetapi menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran Kristus, saya rasa apapun usaha kita untuk membentuk suatu kebiasaan baik itu pasti ada tantangannya Pak Heman, pasti ada hambatan-hambatannya. Mungkin Pak Heman bisa sampaikan supaya kita bisa lebih waspada terhadap hambatan-hambatan itu?

HE : Hambatan pertama adalah dari segi natur kita sebagai orang berdosa. Jadi sejak lahir, Daud juga mengatakan bahwa kita dikandung di dalam dosa dan ini akan terus mempengaruhi kehidupan kta.

Sekalipun kita sudah lahir baru, tetapi kehidupan lama kita kadang-kadang menarik diri kita sehingga adanya konflik seperti ini. Ini perlu disadari dan hidup kita hendaknya berdasarkan kepada Roh Kudus, pada kuasa dari Roh. Jadi kita perlu sekali pertolongan dan minta tolong kepada Roh Kudus, biar hidup kita tunduk di bawah hukum Roh, kata Alkitab. Kemudian hambatan yang lain dari pembentukan kebiasaan baik adalah adakalanya kita terlambat untuk belajar kebiasaan baik tertentu sejak kecil. Jadi mungkin sudah remaja atau sudah dewasa bahkan, baru sadar saya mempunyai kebiasaan yang tidak efektif. Di dalam hal itu, hambatan yang cukup mempengaruhi diri seseorang yang harus dilawan, dan karena misalnya pembentukannya bertahun-tahun kita perlu juga bertahun-tahun untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik itu. Nah hambatan yang lain lagi adalah sering kali kita mempunyai cara berpikir yang kurang baik, maksudnya sering kali mengalahkan diri sendiri sewaktu kita berusaha melatih kebiasaan yang baik. Di dalam hal keberdosaan kita mengambil bagian di situ, nah saya kira untuk ini kita harus minta pertolongan dari Tuhan sendiri.

ET : Soal terlambat untuk mempelajari kebiasaan baik rasanya ini juga biasanya menjadi hambatan antara orang tua dengan anak. Karena kadang-kadang misalnya tidak jarang dialog yang terjadi aalah orang tua yang menegur anak karena kebiasaan buruknya, sementara ketika anak mengatakan lho papa atau mama juga seperti ini, itu kadang-kadang menjadi sebuah alasan juga ya buat orang tua.

Wah......ya kalau kami sudah tua sudah terlambat untuk memperbaikinya, sementara kalian masih lebih muda. Rasanya berarti kalau dalam penjelasan Pak Heman tadi hal ini tidak kena, setua apapun tetap sebenarnya bisa untuk membangun kebiasaan yang baik?

HE : Betul, sebaiknya orang tua dengan rendah hati mengaku kelemahannya dan bersama-sama dengan anak mengatakan saya punya kelemahan itu, mari kita sama-sama belajar.

GS : Mungkin justru itu sulitnya Pak Heman, menyadari dan mengakui tentang kebiasaan yang buruk itu tadi untuk menggantikannya dengan kebiasaan yang baik.

ET : Memang sadar tapi untuk mengakuinya itu yang susah.

HE : Ya mengakuinya dan rela mengubahnya, biasanya orang kalau sudah punya satu kebiasaan menjadi malas untuk mengubahnya.

GS : Ya tapi kalau kita menyadari bahwa kita punya misi khusus di dunia ini, di tengah-tengah masyarakat pasti kita akan berusaha untuk menampilkan suatu perbuatan yang baik. Tuhan Yesus mengatakan supaya kita bercahaya di depan orang dan orang melihat perbuatan baik kita. Mungkin dalam hal ini ada saran-saran praktis yang Pak Heman mau sampaikan?

HE : Yang pertama, biasakan untuk berdoa dan membaca Alkitab tiap hari dan mohon bantuan Roh Kudus. Yang kedua, usahakan untuk mengarahkan diri selalu kepada hadiah yang akan diberikan olehAllah untuk setiap orang yang menang di dalam pertandingan.

Ini digambarkan oleh Paulus sebagai suatu pertandingan sehingga Paulus itu melatih diri sedemikian rupa. Kemudian yang ketiga, jangan mudah patah semangat karena kritik dan cemooh ketika kita berbuat baik. Dan yang keempat ingat bahwa adakalanya kebiasaan baik itu adalah suatu perjuangan seumur hidup, jadi teruslah berlatih tanpa putus asa.
GS : Artinya ada orang yang walaupun sudah berusaha untuk berbuat baik tetap tidak bisa meninggalkan begitu Pak?

HE : Adakalanya jatuh bangun, tetapi juga bisa jadi kebiasaan baik itu selalu akan tarik-menarik dengan sesuatu yang kurang baik dari diri kita sendiri. Meskipun misalnya kebiasaan baik itu ang terus-menerus menang, tetapi kita perlu waspada jangan sampai suatu ketika yang menang adalah yang buruk.

GS : Ya kadang-kadang kemalasan itu juga menjadi penghambat Pak Heman? Kita tahu bahwa bangun pagi itu baik, olah raga pagi itu baik tapi kita condongnya lebih enak di tempat tidur saja dulu.

HE : Ya itu masalahnya, (GS : Jadi harus ada suatu kedisiplinan yang kuat terhadap dirinya sendiri) dan kita harus sering kali mendorong diri sendiri. Dorongan kita apa? Nanti agar hadiah yag disediakan Allah untuk kita yang menang.

GS : Dan wujud hadiahnya itu mungkin bermacam-macam untuk tiap-tiap orang berbeda-beda ya, Pak?

HE : Ya itu harapan kita, harapan orang percaya.

ET : Dan situasi, rasanya situasi-situasi tertentu juga bisa menguji seberapa jauh kita mempunyai kebiasaan tersebut. Maksudnya begini, kadang-kadang mungkin kita mengkritik seseorang yang mmpunyai kebiasaan seperti ini tetapi ketika kita ada dalam situasi yang sama juga mungkin kita melakukan hal yang sama.

Misalnya mungkin ketika saya belum menjadi orang tua saya mengatakan wah kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan orang tua, kebiasaan yang tidak baik terhadap anak. Tapi mungkin ketika saya menjadi orang tua bisa jadi saya melakukan hal yang sama.
GS : Nah dalam hal ini Pak Heman, pasti ada firman Tuhan yang memberikan bimbingan dan pengarahan kepada kita, Pak Heman mungkin bisa bacakan?

HE : Baik saya akan bacakan dari Filipi 3:12-14 "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna kata Paulus, melainkan aku mengejarnya kalau-kalau aku dapat uga menangkapnya karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Saudara-saudara aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya tetapi ini yang kulakukan, aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."
GS : Jadi jelas sekali mungkin di situ Paulus melihat ada suatu tujuan, ada suatu sasaran yang jelas dia akan menampilkan kebiasaan-kebiasaan baiknya. Dan itu membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh.

HE : Ya tepat sekali.

GS : Ya saya rasa ini suatu perbincangan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat bagi kita sekalian Pak Heman, sekali lagi banyak terima kasih juga Ibu Esther.

Saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. di dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Membentuk Kebiasaan Baik". Bagi Anda berminat untuk melanjutkan acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



7. Menang dari Kebiasaan Buruk


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T091B (File MP3 T091B)


Abstrak:

Seperti halnya kebiasaan baik bisa dilakukan melalui latihan dan belajar, kebiasaan buruk pun dapat kita hilangkan melalui usaha-usaha keras kita.


Ringkasan:

Bagaimana suatu kebiasaan buruk terbentuk?

  1. Hampir sama seperti kebiasaan baik, kebiasaan buruk kita terbentuk oleh pengalaman belajar, yakni melalui triol and error, melalui contoh dari orang lain yang kita kagumi, lewat pujian, dan dukungan orang lain, dan lewat latihan terus-menerus.

  2. Sering kali mulanya kebiasaan buruk berawal dari suatu tindakan yang iseng atau tidak sengaja. Jadi pada mulanya adalah tindakan triol and error. Ketika tindakan itu menyebabkan yang melakukannya memperoleh kenikmatan tertentu, tindakan itu akhirnya cenderung diulang. Pengulangan ini akan menciptakan keinginan demi keinginan untuk melakukannya lagi, sehingga terbentuklah kebiasaan.

Dampak kebiasaan buruk dalam hidup kita:

  1. Hidup menjadi tidak produktif, termasuk kehidupan rohani kita, banyak kesempatan untuk maju menjadi tersia-sia.

  2. Beberapa gangguan jiwa diakibatkan oleh kebiasaan yang mendarah daging disertai dengan konflik emosional yang berat.

Mengapa kita sulit menghilangkan kebiasaan buruk?

  1. Kebiasaan buruk sering kali telah tertanam sejak lama di dalam diri kita, sehingga untuk melatih kembali butuh waktu yang jauh lebih lama.

  2. Ada tarik-menarik yang terjadi antara kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Kebiasaan buruk sering berasosiasi dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggairahkan, sehingga cenderung berulang, dan ini sesuai dengan natur kita selaku orang berdosa.

  3. Ketika suatu kali kita tergoda kembali untuk melakukan suatu kebiasaan lama, kita sering menghibur diri dengan mengatakan bahwa ini adalah yang terakhir, tetapi sering kali yang terakhir ini justru menjadi awal dari kejatuhan kita yang berikutnya.

Kiat-kiat untuk menghilangkan kebiasaan buruk yaitu:

  1. Pikirkan dampak buruknya lebih sering daripada kenikmatan sesaat dari kebiasaan kita

  2. Ketika suatu kebiasaan buruk berulang, cepatlah berbalik kembali dengan mengakuinya, dan memaafkan diri. Jangan menghukum diri dengan semakin menceburkan diri ke dalamnya.

  3. Mohon bantuan Roh Kudus lewat doa, dan lewat perenungan firman Tuhan.

  4. Alihkan kebiasaan buruk kita ke kebiasaan yang lebih baik. Contoh: ke nightclub gantikan ke sport hall, makan tidak sehat digantikan dengan makan yang mementingkan keseimbangan gizi dst.

  5. Minta bantuan teman baik untuk mengingatkan kita.

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya tetapi sekarang buanglah semuanya ini yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu." Kolose 3:5-11


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bapak Heman Elia, M.Psi. Beliau berdua adalah para pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Menang dari Kebiasaan Buruk". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, adakalanya orang menyadari bahwa dia memiliki suatu kebiasaan buruk di dalam dirinya dan dia mencoba untuk meninggalkan, tetapi kurang tekun sehingga tidak lama kemudian terulang lagi kebiasaannya itu. Kebiasaan buruk yang sukar atau tidak bisa diterima oleh masyarakat itu seperti apa contohnya?

HE : Kalau bicara contoh mungkin lebih baik saya ambil misalnya di dalam relasi. Di dalam relasi sering kali ada kebiasaan-kebiasaan buruk, misalnya suka gosip atau suka mengatakan keburukanorang lain.

Ini menyebabkan hubungan relasi yang pada mulanya baik akhirnya pecah, kemudian di dalam ungkapan perasaan, ungkapan emosi baik itu kesedihan atau kemarahan dan sebagainya. Ada orang yang punya kebiasaan kalau marah dia lempar barang, memukul meja dan kurang bisa menguasai diri di dalam ekspresi kemarahannya. Tapi juga bisa terjadi orang mengungkapkan perasaan-perasaan iri hati dan sebagainya untuk menyikut sana, menyikut sini dan sebagainya. Nah ada juga kebiasaan-kebiasaan di dalam hal pikiran yang sering kali menjadikan itu sesuatu yang kurang baik, membuat kita tidak bisa hidup dengan lebih sehat dan efektif. Sebagai contoh, misalnya orang yang terus-menerus memikirkan atau mengkhawatirkan hal yang kecil-kecil, orang yang sedikit-sedikit mengomel karena hidupnya tidak puas terus-menerus. Selalu melihat yang negatif dari diri orang lain dan ini dipikir terus sehingga menjadikan suatu kebiasaan yang kurang sehat. Itu kira-kira beberapa contohnya.
GS : Ya memang tepat dalam hubungan relasi itu saya rasa paling nyata, paling jelas contohnya. Ada teman kami di kantor yang punya kebiasaan kalau pinjam barang tidak dikembalikan, entah disadari atau tidak diletakkan di mejanya tapi dia tidak berusaha untuk mengembalikan sehingga kami teman-temannya yang suka dipinjami barang itu sudah ingat kebiasaannya. Jadi kalau barang kami tiba-tiba tidak ada, dicari di mejanya orang itu pasti ada dan pasti ketemu. Kami menyebutkannya itu sebagai suatu kebiasaan pinjam tapi tidak cepat-cepat dikembalikan atau tidak berusaha untuk dikembalikan. Cuma yang kami sulit ketahui adalah kenapa bisa ada orang yang seperti itu?

HE : Bisa jadi satu kebiasaan itu terbentuk karena orang itu menerima konsekuensi positif dari satu tingkah laku yang ia lakukan. Jadi pertama kali waktu tingkah laku itu dilakukan mendapatkn konsekuensi yang positif dan ada lagi, ada lagi peristiwa yang sama dan dia lebih sering mendapat umpan balik atau hasil yang menyenangkan bagi dia, sehingga menjadikan itu suatu kebiasaan.

Saya ambil contoh misalnya waktu dia pertama kali meminjam dan dia lupa mengembalikan, tidak ada orang yang berani menegur dia dan akhirnya lama-lama menjadi milik dia, sehingga lama-lama menjadi suatu kebiasaan yang sulit dihilangkan.
GS : Ya memang bukan tidak berani menegur cuma karena kesibukan kami sendiri lupa bahwa barangnya itu dipinjam. Nah pada saat membutuhkan baru dicari e....ternyata tadi kalau ditanya kenapa tidak dikembalikan? O, ya saya masih repot. Ada saja alasannya yang dikatakannya, kalau kami lupa maka barang itu akan hilang tidak tahu ke mana, Pak.

HE : Dan alasannya selalu bisa menghindarkan dia dari tanggung jawab dan konsekuensi yang kurang menyenangkan bagi dia.

GS : Itu sebagai sesuatu yang dianggap oleh dia positif ya, Pak Heman?

HE : Tidak dianggap positif, tetapi karena dia mendapatkan hasil yang menyenangkan lebih daripada konsekuensi negatifnya.

ET : Jadi kolektor barang ya. Dan rasanya itu juga mungkin proses-proses kebiasaan buruk yang terjadi pada anak-anak yang saya amati, Pak Heman. Kadang-kadang misalnya tanpa kita sadari sebaai seorang dewasa mungkin menertawakan atau tidak langsung menegur ketika seorang anak melakukan satu kesalahan.

Misalnya saya ingat pernah kejadian ada anak tetangga saya yang mengatakan sesuatu hal yang sebenarnya tidak sopan, tetapi karena kami sebagai seorang dewasa melihat lucu dia bisa mengatakan seperti itu tanpa disadari kami menertawakan dan benar akhirnya dia senang mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak sopan itu.

HE : Ya betul, jadi memang suatu perilaku akan lebih mudah dipadamkan segera kalau misalnya begitu muncul lalu memperoleh konsekuensi yang negatif.

GS : Tapi apakah dalam hal ini sebenarnya orang yang tadi terbiasa dengan perbuatan-perbuatan buruknya itu sebenarnya dia menikmati atau tidak, Pak?

HE : Setidaknya bukan dibilang menikmati, dia pernah memperoleh konsekuensi positif jadi konsekuensi yang menyenangkan dia. Bisa saja terjadi misalnya kita punya kebiasaan yang kita tidak suai tetapi kita tetap tidak atau sulit melepaskan diri karena ada konflik di situ.

GS : Konflik macam apa Pak?

HE : Jadi saya misalnya sudah mengetahui ini tidak baik, tapi di dalam diri saya ada satu dorongan, satu keinginan, keinginan yang sebetulnya ingin memuaskan diri saya, ingin cepatnya saja dn ingin satu kenikmatan tertentu sehingga menyebabkan saya sulit menghindar dari itu.

Apalagi kalau ada pikiran-pikiran seperti ini, o......ya sudah terlanjur sekalian saja. Nah kalau orang sudah melakukannya sekali lalu keterusan, maka makin lama pasti makin buruk.
GS : Pencuri misalnya, sudah masuk penjara keluar mencuri lagi.

HE : Ya karena dia merasa ini konsekuensi positifnya masih memenangkan konsekuensi negatifnya, seperti itu.

ET : Biasanya itu mungkin melalui proses yang sebelumnya ya, ada orang yang mungkin meminjam barang lupa tidak mengembalikan lama-lama jadinya seperti mengambil sekali tidak ketahuan lalu amil lagi, ambil lagi.

Jadi mungkin selamat dari situasi-situasi yang sebenarnya bisa menjadi resiko, itu juga membuat orang lebih berani lagi untuk melakukan yang berikutnya.

HE : Betul dan akhirnya konflik-konflik itu dimenangkan oleh kebiasaan buruknya.

ET : Dan keuntungan-keuntungan yang didapatkannya.

GS : Apakah orang itu bisa ketagihan untuk melakukan perbuatan buruk lagi, Pak Heman?

HE : O.....ya sangat bisa, saya ambil contoh misalnya merokok atau banyak juga zat-zat lain yang kita konsumsi yang akhirnya menjadi kebiasaan. Dalam hal merokok itu jelas sekali bahwa tadina sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi karena dapat dukungan, tepuk tangan dari teman-teman dan sebagainya menyebabkan merokok itu menjadi suatu kebiasaan.

GS : Mungkin ada suatu kebanggaan yang dia peroleh di situ atau tadinya dia khawatir dikatakan banci ya?

HE : Dan saya tambahkan satu hal lagi yaitu terutama di dalam hal makan, dalam hal konsumsi tubuh ini sering kali yang terjadi adalah adanya suatu proses toleransi yang semakin tinggi terhadp suatu zat tertentu seperti merokok.

Kalau orang berhenti mendadak yang tadinya merokok kemudian tidak merokok lagi, rasanya tidak enak sekali. Dan kecenderungannya adalah menambah terus, menambah terus. Ini karena tubuh kita terbiasa dan menjadi toleran, ini sangat merepotkan.

ET : Kalau sudah begitu rasanya memang peringatan pemerintah seperti di iklan-iklan itu juga sudah tidak ada artinya.

GS : Apalagi seperti obat-obatan, obat bius dan sebagainya seolah-olah menjerat seseorang.

HE : Ya karena sudah menyatu di fisiknya dan ada juga yang sampai di otak.

GS : Tetapi apakah dengan begitu, lalu seseorang itu tidak menyadari lagi bahwa itu adalah sesuatu kebiasaan yang buruk.

HE : Sering kali yang saya lihat itu kebanyakan orang menyadari tetapi masalahnya dia tidak bisa lepas, kompleks dari segi pikiran dan dari segi biologis yang seperti tadi saya katakan. Karea kalau dia sudah mengkonsumsi atau melakukan kebiasaan itu, dia dapat relief suatu kelegaan sementara dari segi fisiknya atau pikirannya.

Tetapi masalahnya setelah itu terjadi akhirnya rasa bersalah ini mendorong seseorang juga untuk seperti yang tadi saya katakan sudah terlanjur sekalian saja, sehingga tidak bisa lepas.
GS : Kalau dia sudah keterusan seperti itu, akibatnya apa Pak?

HE : Yang kalau dalam hal zat-zat psikoaktif yang kita katakan tadi itu bisa kanker, bisa seperti merokok bisa sampai mematikan kalau over-dosis. Juga di dalam relasi kita itu semuanya bisa erganggu.

ET : Jadi walaupun orang-orang yang seperti itu tampak dari luarnya sepertinya bisa menikmati apa yang menjadi ketergantungan, sebenarnya di dalamnya mereka banyak mengalami konflik emosiona antara mau berhenti tapi juga ada ketagihan.

HE : Sangat tepat dan sebetulnya mereka adalah orang-orang yang menderita.

ET : Lalu bagaimana kalau memang orang sudah menyadari begitu, sebaiknya langkah-langkah berikutnya bagaimana, Pak Heman?

HE : Saya kira tergantung kebiasaannya, ada kebiasaan yang kita bisa atasi dengan kemauan kuat dari diri sendiri, ada yang perlu pertolongan orang lain. Misalnya dokter atau psikolog dan sebgainya.

Nah, kalau misalnya sudah seperti "drug abuse" itu saya kira perlu penanganan gabungan dari berbagai ahli termasuk rohaniwan, dokter, psikiater, psikolog dan sebagainya.
GS : Tapi peran dirinya sendiri untuk mau meninggalkan kebiasaan buruk itu cukup besar juga, Pak?

HE : Betul itu harus besar juga.

(2) GS : Sebenarnya apa yang membuat seseorang itu sulit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk?

HE : Selain dari cara berpikir yang tadi saya katakan juga, sering kali lingkungan. Saya melihat situasi misalnya di dalam keluarga sangat membuat seseorang itu tertanam kebiasaan buruknya aau tidak.

Saya ambil contoh misalnya di dalam pergaulan seks bebas atau misalnya kecanduan narkotik, putauw dan sebagainya itu banyak peran dari keluarga. Keluarga yang kurang harmonis menyebabkan orang terbiasa untuk lari ke obat, terbiasa lari ke pergaulan bebas dan seterusnya. Nah ini yang menyebabkan suatu kebiasaan buruk susah hilang. Dan kemudian juga misalnya ada lingkungan-lingkungan tertentu yang menerima orang-orang seperti ini, dengan segala kebiasaan buruknya karena menguntungkan bagi mereka, nah ini yang susah.
GS : Menguntungkan bagaimana maksudnya?

HE : Misalnya bagi penjual obat (GS : mencari keuntungan dari penderitaan orang lain) ya.

GS : Kalau sudah begitu serius, apakah ada semacam usaha atau semacam cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini karena saya yakin sebagian besar orang itu tidak menyukai kebiasaan buruknya. Mungkin dalam perbincangan ini Pak Heman bisa memberikan beberapa saran?

HE : Baik saya akan mencoba memberikan beberapa saran selain yang tadi saya telah kemukakan. Yang pertama, usahakan untuk berpikir lebih banyak tentang dampak buruk suatu kebiasaan daripada emikirkan tentang kenikmatan sesaat dari kebiasaan kita tersebut.

Yang kedua, kalau misalnya ada satu kebiasaan buruk berulang padahal kita sudah mencoba berusaha untuk tidak lagi melakukan hal itu, cepat-cepat berbalik kembali dengan mengakuinya, mengakui di hadapan Tuhan dan kita sendiri mengakui dan memohon ampun dari Tuhan, tetapi juga kita tidak boleh lupa memaafkan diri sendiri. Kadang-kadang Tuhan sudah mengampuni tetapi kita justru sengaja menghukum diri kita dengan semakin menceburkan diri ke dalam kebiasaan-kebiasaan buruk atau akibat-akibat yang lain yang buruk juga. Kemudian yang ketiga adalah kita perlu mohon bantuan Roh Kudus lewat doa, lewat permohonan dan juga banyak memikirkan, merenungkan firman Tuhan. Yang keempat, alihkan kebiasaan buruk kita ke kebiasaan lain sebagai pengganti, dan kebiasaan itu seyogyanya kebiasaan yang baik. Satu contoh misalnya kalau kita terbiasa ke night-club gantikan kebiasaan untuk ke sport hall untuk berolah raga, makan yang tidak sehat gantikan makan yang mementingkan keseimbangan gizi dan seterusnya. Dan kemudian saya juga melihat yang kelima, kita sebaiknya bisa minta bantuan teman baik kita untuk mengingatkan kita. Supaya ketika kita akan melakukan suatu kebiasaan buruk kita, ada teman yang bisa mengingatkan sehingga membatalkan kebiasaan kita itu.

ET : Mungkin kalau untuk kebiasaan yang nampak, orang sepertinya lebih menaruh perhatian yang besar misalnya seperti tadi untuk memakai obat-obatan atau kebiasaan-kebiasaan yang marah, yang emukuli orang atau membanting sesuatu.

Tapi rasanya memang mungkin yang lebih sulit orang lain tidak melihat seperti pikiran tentang kekuatiran, tentang ketakutan-ketakutan ataupun berpikiran negatif tentang orang lain. Rasanya memang hal-hal seperti itu kita minta orang lain untuk mengingatkan agak sulit juga ya, Pak Heman?

HE : Kadang-kadang bisa juga karena mau tidak mau kalau ada pikiran seperti itu keluar juga diomongan. Kalau temannya diberitahu bahwa kadang-kadang saya suka berpikir yang seperti ini tolon ingatkan saya, nah ini akan membantu.

ET : Jadi memang ada kerelaan, harus ada kerelaan untuk ditegur, diingatkan oleh orang-orang di sekitarnya.

HE : Betul, ada kemauannya untuk mengubah kebiasaan buruk kita.

ET : Itu kalau sudah terjadi, kalau pencegahannya bagaimana supaya kita tidak sampai menciptakan satu kebiasaan buruk yang lain lagi dalam hidup kita, yang sudah ada saja hilangnya susah, Pak Heman?

GS : Lebih baik mencegahnya supaya jangan terpola di dalam kehidupan kita.

HE : Ya kalau masalah pikiran memang sulit tetapi coba kita akan ambil beberapa prinsip. Kalau misalnya kita melihat di Alkitab Amsal, Salomo pernah memberikan suatu nasihat yang baik dalam al seksual.

Prinsipnya adalah jangan pernah menyentuh hal yang dapat menjadikan kita memiliki kebiasaan buruk. Sudah tahu misalnya putauw atau merokok itu tidak baik, sudah tahu berhubungan seks dengan seorang pelacur itu tidak baik maka jangan sentuh satu kalipun. Dalam Amsal 5:8 dikatakan demikian tentang seorang pemuda yang mendekati seorang pelacur "Jauhkanlah jalanmu daripada dia dan janganlah menghampiri pintu rumahnya, jauhkan diri sendiri." Kemudian yang kedua untuk mencegah itu sebaiknya kita mengisi diri sebanyak mungkin dengan hal yang positif dan dengan kebiasaan yang sehat di dalam hidup ini.
GS : Tapi sering kali memang ada orang yang merasa dirinya kuat, tidak apa-apa saya coba sekali, tidak apa-apa, cuma sekali "trial and error" mungkin.

HE : Ya dan itulah biasanya orang jatuh ke dalam kebiasaaan buruk.

GS : Tapi kalau cuma sekali sebenarnya tidak menjadi kebiasaan, Pak?

HE : Ya itu ada, tetap ada resiko dan resiko saya kira yang jauh lebih banyak dan terbukti itu adalah resiko yang menjadikan diri kebiasaan buruk.

GS : Jadi rupanya pembentukan kebiasaan yang buruk itu lebih mudah di dalam diri seseorang daripada kalau kita mau membentuk sesuatu kebiasaan yang sebaliknya, yang baik itu.

HE : Betul, karena kebiasaan buruk biasanya lebih sesuai dengan natur kita sebagai orang berdosa.

GS : Jadi ada unsur pendorongnya, sehingga lebih mudah terbentuk daripada menghilangkannya. Ibu Esther sudah minta kiatnya untuk mencegah saja. Dan memang menjauhkannya itu cuma masalahnya mata kita ini sering tergoda, Pak. Kalau malah jauh kelihatannya kurang jelas, dekat saja biar jelas. Saya yakin ada firman Tuhan yang bisa mengarahkan kita lebih jelas di dalam hal ini, mungkin Pak Heman bisa sampaikan.

HE : Kali ini saya akan bacakan agak panjang dari Kolose 3:5-11. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jhat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.

Semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup didalamnya tetapi sekarang buanglah semuanya ini yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu."
GS : Itu suatu bagian Alkitab yang sangat jelas mendidik, mengarahkan kita untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik dan membuang kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Terima kasih, Pak Heman dan saudara-saudara pendengar demikianlah Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang menang dari kebiasaan buruk. Kalau Anda berminat untuk melanjutkan acara tegur sapa ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



8. Mengenal Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T093B (File MP3 T093B)


Abstrak:

Kasih adalah karakteristik Allah yang paling utama, karena itulah Alkitab penuh dengan kata kasih. Begitu dalam dan luasnya kasih sehingga tidak ada kata-kata yang cukup untuk bisa menjadi wadah mengungkapkan secara tepat apa itu makna kasih.


Ringkasan:

Alkitab penuh kata kasih, sebab kasih adalah karakteristik Allah yang paling utama. Saya memberikan dua gagasan tentang kasih:

  1. Memang kasih itu harus diwujudnyatakan, yang penting adalah tindakannya bukan perkataannya.

  2. Kasih itu terlalu luas untuk bisa ditangkap dengan kata-kata manusia yang sederhana. Jadi dapat saya katakan bahwa kasih itu lebih luas dari pada perbendaharaan dan kemampuan nalar manusia itu sendiri, begitu dalam dan luasnya cinta sehingga tidak ada kata-kata atau nalar yang cukup untuk bisa menjadi wadah mengungkapkan secara tepat apa itu makna kasih.

1Korintus 13, "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku."

Kasih dapat kita kelompokkan dalam 2 golongan yaitu:

  1. Kasih itu mempunyai aspek mengekang diri. Mengekang diri maka kita mendengar kata-kata dari firman Tuhan. Kasih itu sabar, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan atau tidak kasar, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, tidak menyimpan kesalahan orang lain, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih pada intinya mempunyai kerelaan untuk melepaskan hak itu yang Tuhan minta, hak untuk marah, hak untuk kenikmatan, hak untuk diakui, hak untuk membalas.

  2. Kasih itu memberikan diri. Firman Tuhan berkata kasih itu murah hati, kasih itu menutupi segala sesuatu atau terjemahan yang lainnya adalah kasih itu melindungi segala sesuatu, protect segala sesuatu. Kasih itu percaya segala sesuatu, kasih itu mengharapkan segala sesuatu, jadi penuh pengharapan.

Kasih yang memberi diri maupun kasih yang mengekang diri adalah kasih agape, kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakukan kepada kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini akan dilandaskan pada suatu bagian Alkitab yang cukup terkenal dan penting yaitu dari 1 Korintus 13 dan topik pembicaraan kami, kami beri judul "Mengenal Kasih berdasarkan 1 Korintus 13". Kami percaya perbincangan ini akan sangat menarik. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Banyak orang yang bertanya apakah kasih itu dan banyak juga orang yang telah berupaya untuk mendefinisikan kasih. Yang menarik, Pak Gunawan dan Ibu Esther, Alkitab penuh dengan kata kash, sebab kasih adalah karakteristik Allah yang paling utama dan ternyata tidak memberikan definisi kasih secara formal atau secara teoritis melalui kata-kata.

Yang ada di Alkitab adalah ungkapan kasih, wujud nyata kasih dan terutama kasih Allah kepada manusia. Kesimpulan ini menurut saya setidak-tidaknya ada dua gagasan, yang pertama adalah memang kasih itu harus diwujudnyatakan, yang penting adalah tindakannya bukan perkataannya. Tapi yang kedua yang juga sama pentingnya bahwa kasih itu terlalu luas untuk bisa ditangkap dengan kata-kata manusia yang sederhana. Jadi dapat saya katakan bahwa kasih itu lebih luas daripada perbendaharaan dan kemampuan nalar manusia itu sendiri, begitu dalam dan luasnya cinta, sehingga tidak ada kata-kata atau nalar yang cukup untuk bisa menjadi wadah mengungkapkan secara tepat apa makna kasih itu.
GS : Sesuatu yang sangat menarik memang dari 1 Korintus 13 ini yang bicara tentang kasih, tetapi pasti ada alasan tertentu kenapa rasul Paulus ketika menulis surat kepada jemaat di Korintus ini justru menuliskan tentang kasih ini, Pak Paul?

PG : Alasan yang paling penting adalah rasul Paulus sedang memberikan teguran kepada jemaat di Korintus. Mereka adalah jemaat yang menerima karunia besar dari Tuhan, karunia-karunia Roh Kudu, mereka gereja yang dinamis sekali.

Tapi Korintus adalah jemaat yang paling bermasalah, baik itu masalah doktrinal, masalah kurangnya moralitas, hubungan seksual di antara anggota keluarga dan sebagainya. Di tengah-tengah situasi yang kacau itu, rasul Paulus memberikan pengajarannya tentang penggunaan karunia dan pentingnya karunia Roh Kudus sehingga tidak disalahgunakan oleh mereka. Setelah dia memberikan pengajarannya barulah dia menekankan yang terpenting dari semua tetap adalah kasih, maka dia mengawali 1 Korintus 13 itu dengan pengantar "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." Jadi di sinilah maksud pengajarannya yang begitu agung tentang kasih. Pak Gunawan dan Bu Esther, pada saat ini kita ingin menerapkan konsep kasih seperti yang ditulis oleh rasul Paulus ke dalam relasi pernikahan kita ini.
(1) GS : Tetapi di situ dengan panjang lebar rasul Paulus menguraikan tentang kasih. Tadi Pak Paul katakan, itu adalah sesuatu yang praktis bukan teoritis. Bagaimana itu bisa dikelompokkan supaya lebih sederhana untuk kita memahaminya?

PG : Kasih dapat kita kelompokkan dalam 2 golongan atau 2 kategori. Yang pertama adalah ternyata kasih itu mempunyai aspek mengekang diri, maka kita mendengar kata-kata seperti itu dari firmn Tuhan.

Kasih itu sabar, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan atau tidak kasar, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, tidak menyimpan kesalahan orang lain, sabar menanggung segala sesuatu. Semua kata-kata yang digunakan bagi saya mengacu pada satu konsep yang serupa akarnya yaitu mengekang diri. Jadi kasih membuat manusia membatasi dirinya, sabar artinya apa? Sabar artinya kita ini tidak senang dengan sesuatu, reaksi yang alamiah adalah ingin menegur, ingin memarahi dan sebagainya. Tapi kasih membatasi tindakan kita yang seharusnya agresif menjadi tidak agresif. Tidak cemburu sama juga, tidak cemburu artinya seolah-olah kita mau menuntut sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita, kita mau menguasai sesuatu yang baik, yang indah, yang menyenangkan buat kita. Tapi kasih berhasil membatasi diri sehingga kita tidak menguasai orang, jadi kasih mempunyai unsur mengekang diri.
GS : Mungkin Pak Paul bisa membantu saya karena agak terlintas di pikiran saya tentang cemburu ini tadi. Kita tahu bahwa Allah itu kasih dan Allah itu juga cemburu, nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Allah cemburu selalu harus dikaitkan dalam konteks penyembahan, bahwa hanya ada satu yang boleh kita sembah dalam hidup ini, yakni Allah. Dan Allah tidak akan menoleransi kalau kita menembah dewa-dewa atau illah-illah yang lainnya, nah dalam pengertian itulah Allah menuntut sepenuhnya penyembahan dari pihak kita sebagai manusia.

Jadi sangat berbeda sekali dengan konsep cemburu yang kita miliki.

ET : Pak Paul tadi mengatakan kalau kasih itu artinya mengekang diri kita, sepertinya merasa boleh marah tapi kita tidak marah, tapi bagaimana hal ini mau dikaitkan dengan katakanlah seperti dengan proses penegakan kebenaran? Misalkan jelas-jelas kita melihat orang yang kita kasihi jalannya tidak tepat, apa yang seharusnya kita lakukan kaitannya dengan kasih yang mengekang ini?

PG : Saya kira secara alamiah marah itu bisa timbul dan marah itu kita ungkapkan pula, namun saya kira ada perbedaan antara reaksi marah dan reaksi memarah-marahi untuk menekan atau melindasseseorang, menghukum seseorang, menghancurkan seseorang.

Jadi yang dimaksud oleh firman Tuhan bukannya manusia itu sama sekali tidak bisa marah, Tuhan pun pernah berkata silakan marah asal jangan membiarkan kemarahan itu tinggal di hati kita sampai matahari terbenam. Jadi reaksi marah secara natural itu tidak apa-apa, yang Tuhan minta di sini adalah jangan sampai kemarahan itu menggebu-gebu menghancurkan orang, kasihilah yang mengekang kita untuk melakukan hal seperti itu. Coba kita terapkan misalkan dalam kondisi rumah tangga kita, bukankah itu yang kadang-kadang terjadi, kita marah melihat istri kita atau suami kita melakukan ini lagi, mengulang lagi. Kita pasti marah, tapi kasih seharusnya menolong kita untuk mengekang diri, mau mengatakan yang kasar tidak jadi sehingga kita tidak menggunakan kata-kata yang kasar. Makanya kasih tidak melakukan hal yang tidak sopan atau tidak kasar, jadi kasih mengekang manusia untuk bertindak.
GS : Mungkin itulah yang dikatakan Paulus bahwa kasih itu juga tidak bersukacita karena ketidakadilan, jadi kalau melihat suatu ketidakadilan kita pun dengan kasih itu akan menegur ya Pak Paul?

PG : Tepat, jadi karena kita kasih justru waktu melihat ketidakadilan kita bereaksi, sudah tentu reaksinya bukan reaksi tenang-tenang tapi kita pasti marah. Sebab kita mau melihat kebenaranlh yang ditegakkan, keadilanlah yang akhirnya dijunjung.

Tapi sekali lagi sebagai contoh yang konkret karena melihat ketidakbenaran terjadi, bukannya berarti kita mempunyai hak untuk membalas misalnya kita akhirnya bertindak sendiri, menghabisi orang karena kita menganggap dia tidak lagi benar. Kasih mengekang itu semuanya, jadi dapat saya simpulkan di sini, Pak Gunawan dan Ibu Esther, kasih pada intinya mempunyai kerelaan untuk melepaskkan hak, itu yang Tuhan minta yaitu hak untuk marah, hak untuk kenikmatan, hak untuk diakui, hak untuk membalas. Kenapa saya simpulkan atau saya gunakan kata hak, sebab tidak bisa disangkal dalam rumah tangga, istilah hak adalah hal yang penting apalagi zaman sekarang. Di mana hubungan suami-istri lebih merupakan hubungan setara, egalitarian benar-benar hak itu menjadi hal yang penting bagi kita. Saya takut pernikahan Kristen dewasa ini sudah kehilangan makna ini, Pak Gunawan dan Ibu Esther, kehilangan makna kasih yang Tuhan ajarkan yaitu sebetulnya kasih yang melepaskan hak, tidak menggenggam hak keras-keras, ini hak saya untuk begini kamu jangan ganggu, ini hak saya untuk begitu jangan kamu halangi, hak saya untuk mengembangkan diri, kenapa saya harus berkorban demi kamu. Inilah hal-hal yang menghancurkan pernikahan dewasa ini sebab unsur kasih yang Tuhan minta sudah terhilang, tidak ada lagi pengekangan diri, tidak ada lagi kerelaan untuk melepaskan hak.
(2) GS : Tapi juga pada bagian yang lain di surat Korintus itu Paulus pernah mengatakan bahwa mengekang diri, mengendalikan diri, mendisiplin diri sendiri itu adalah suatu proses latihan seperti seorang atlet, jadi bagaimana kita melatih diri agar kita mampu mengekang diri?

PG : Susah sekali Pak Gunawan, sebab memang ini berlawanan dengan kodrat kita sebagai manusia. Kodrat kita sebagai manusia ingin mengekspresikan seoptimal mungkin diri kita, kita marah inginekspresikan secara optimal, kita punya barang ini kita ingin miliki sepenuhnya begitu.

Waktu kita tidak bisa melakukannya rasanya frustrasi, jadi memang sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Jadi kalau Pak Gunawan bertanya bagaimana caranya, saya kira terus-meneruslah belajar, contoh yang paling mudah adalah melalui suatu perumpamaan. Ada orang berdoa, Tuhan berilah saya kesabaran sekarang, sekarangnya itu dibesarkan jadi dia sudah gagal meminta kesabaran. Dan Tuhan menjawab doa kita memberikan kesabaran dengan cara yang sangat menusiawi dan praktis, yaitu Tuhan tidak menurunkan kado dari sorga dibungkus dan diberikan nama kesabaran. Tuhan menjawab kita yang meminta kesabaran dengan menghadirkan situasi-situasi dalam hidup kita yang membuat kita cepat naik darah. Sebab dalam keadaan cepat naik darahlah yang sangat menjengkelkan kita, maka kita diberikan kesempatan untuk sabar. Bagaimana dengan yang lain juga sama, sabar menanggung segala sesuatu, tidak menyimpan kesalahan orang lain. Saya berani berkata Tuhan akan hadirkan kesalahan di sekitar kita, membuat kita sangat jengkel mau menyimpan kesalahan dan di situlah Tuhan menyuruh kita bergumul untuk melupakannya, jangan ingat-ingat kesalahan orang.

ET : Dan umumnya kita cenderung baru mampu melepaskan hak itu ketika memang sudah tidak ada pilihan, memang sudah berusaha tidak bisa mendapatkannya.

PG : Dan tidak terlalu salah, Bu Esther, sebab sering kali situasi seperti itulah yang diperlukan untuk benar-benar menelanjangi kita sehingga kita tidak berdaya. Dan dari situ mulailah kitaberangkat, mengembangkan aspek kesabaran dalam hidup kita.

Bukankah kita mungkin pernah mendengarkan kesaksian seseorang yang kaya raya, berkuasa luar biasa, kemudian musibah menghampirinya semua hilang habis dan dia bersaksi misalnya dulu saya sombong dan sebagainya sekarang tidak. Nah yang mengubah dia memang yang menjadi pemicunya adalah hilangnya semua kekuasaan itu, jadi dalam keadaan tidak berdaya, akhirnya dia harus berserah kepada Tuhan dan belajar lebih bersabar.
GS : Tadi Pak Paul mengatakan dikelompokkan dalam 2 kelompok dan kita baru membicarakan satu kelompok yaitu pengekangan diri, kelompok yang lain itu apa Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah kebalikan dari mengekang diri yaitu memberikan diri. Jadi ayat-ayat yang bisa kita kaitkan dengan aspek memberikan diri adalah firman Tuhan berkata kasih itu murah hti, kasih itu menutupi segala sesuatu atau terjemahan yang lainnya adalah kasih itu melindungi segala sesuatu, kasih itu percaya segala sesuatu, kasih itu mengharapkan segala sesuatu, jadi penuh pengharapan.

Satu hal mengekang diri, hal yang lain memberikan diri kepada orang lain. Saya kira semua orang dapat memberikan dirinya, tapi pertanyaannya adalah kepada siapa dan untuk siapa. Dengan kata lain kita memberikan diri secara selektif, bahkan dalam hubungan suami-istri kita juga harus memberikan diri kita. Kita murah hati kalau dia murah hati, kalau dia tidak murah hati kita juga tidak murah hati, dulu kita diizinkan sekarang tidak diizinkan, kita balas dia juga sekarang tidak kita izinkan, misalkan seperti itu hal-hal yang tidak boleh kita lakukan. Jadi murah hati adalah benar-benar kita harus keluar dari diri kita, melampaui diri kita yang sempit ini sehingga kita melebarkan, memperluas diri kita, sehingga akhirnya bisa memberikan diri kepada orang lain meskipun rasanya tidak ada keinginan.

ET : Dan berat, maksudnya saya juga membayangkan rasanya memang manusia mengasihi secara selektif. Karena rasanya di mata kita ada orang-orang yang katakanlah seperti tidak layak untuk dikashi.

Padahal kalau memang mau dipikir-pikir juga siapa kita bisa memilih yang layak dan tidak layak, tapi nyatanya itu yang berulang juga Pak Paul?

PG : Betul sekali, kecenderungan manusia mengasihi dengan selektif, karena cinta kita yang sangat berkondisi. Kondisinya adalah engkau menyenangkan hati saya, maka saya akan menyenangkan hatmu.

Engkau mengasihi saya engkau berbuat baik kepada saya, maka aku akan baik kepadamu dan mengasihimu, jadi kondisi. Tapi di sini Tuhan meminta kita keluar dari diri kita melampaui kemanusiawian kita sehingga bisa memberikan kepada orang, meskipun tidak mendapatkan yang kita inginkan.
GS : Beberapa waktu yang lalu kita bicara tentang macam-macam kasih di dalam bahasa Yunani, nah kalau kasih seperti ini apakah itu sudah sampai ke tingkat kasih agape, Pak Paul?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, jadi kasih yang memberikan diri bahkan tadi kasih yang mengekang diri adalah kasih agape, kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakuka kepada kita.

Sekali lagi saya mau masukkan ini ke dalam konteks pernikahan. Saya melihat gejala di tengah-tengah kita makin banyak pernikahan Kristen yang bercerai atau berakhir dengan perceraian. Dan saya harus berkata bahwa saya tidak akan memahami semua penyebabnya dan saya tidak terburu-buru atau tergesa-gesa menghakimi orang yang bercerai, banyak hal yang saya tidak mengerti. Tapi kalau saya boleh berikan pengamatan saya, yang mulai terhilang dari pernikahan Kristen dewasa ini adalah unsur kasih agape. Yaitu unsur yang berkata bahwa aku senang bersamamu, apapun kondisimu sekarang ini. Apapun yang engkau lakukan yang tidak bisa memberiku kepuasan ya sudah, aku bisa terima. Nah itu yang saya kira terhilang secara nyata di dalam pernikahan Kristen.
GS : Padahal di dalam Kekristenan kasih itu sangat mendapatkan tekanan seperti yang Tuhan Yesus ditanyai hukum, jawabNya hukum kasih. Jadi itu bagaimana maksudnya Pak Paul?

PG : Sejak dari dulu kasih adalah "trade mark" atau merk orang-orang Kristen. Orang Kristen dari dulu dikenal sebagai orang yang penuh dengan kasih. Nah "trade mark" ini diwariskan dari satugenerasi ke generasi lainnya, sebab ini adalah perintah Tuhan.

Bagaimanakah orang tahu kita murid Tuhan yaitu dengan saling mengasihi. Tuhan adalah kasih, bahkan Tuhan berkata kasihilah musuhmu jangan kita membalasnya, kita diminta Tuhan mendoakan dan memberkati musuh kita. Hal-hal yang memang melawan akal manusia dan melawan kodrat kita sebagai manusia yang ingin membalas. Bagaimanakah mungkin bermurah hati kepada orang yang tidak baik atau tidak bermurah hati kepada kita. Tapi sekali lagi inilah ciri Tuhan yang paling utama.
GS : Tapi itu sering kali disalahgunakan bahkan oleh sebagian orang yang menganggap Kekristenan ini menjadi lemah.

PG : Dan ini kadang kala yang kita takuti dalam rumah tangga kita pula, bukan saja terhadap orang lain tapi terhadap istri atau suami kita juga sama. Kalau kita penuh kasih nanti kita dianggpnya pihak yang lemah, jadi kita akhirnya menggunakan sistem transaksi dalam pernikahan kita, kau beri satu aku berikan satu, istilahnya gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa, begitu.

GS : Kalau kita menampilkan kasih, bisa atau tidak orang terkesan kita itu kuat, Pak Paul?

PG : Bisa, jadi orang yang pertama-tama sabar dan tabah menanggung penderitaan tidak akan dikatakan dia lemah tapi akan dikatakan orang yang kuat. Contoh kasus, suami yang tidak setia kepadaistrinya, menyalahgunakan kepercayaan istrinya, menyia-nyiakan keluarganya tapi istrinya terus bertahan, membesarkan anak-anak juga mau menerima si suami.

Saya kira yang ada dalam hati si suami meskipun dia tidak kemukakan secara langsung pada si istri ialah rasa kagum, kagum bahwa istri saya begitu kuat. Dia tidak akan berkata istri saya begitu lemah, dia akan berkata istri saya begitu kuat sehingga meskipun saya sia-siakan dia tetap berdiri dengan teguh, nah itu adalah lambang kekuatan. Jadi justru sebetulnya meskipun tidak diakui, itulah kesan orang terhadap sesamanya yang berhasil tegar menghadapi penderitaan.

ET : Jadi sepertinya walaupun di mata manusia kelihatannya dia lemah karena melepaskan hak-hak itu tadi, tapi kalau mau dilihat mungkin sebenarnya dia akan kembali mendapatkan hak-hak yang dia lepaskan itu, Pak Paul?

PG : Tepat sekali, saya berikan contoh yang mudah sekali, kita mungkin masih bisa mengingat beberapa nama milioner. Misalkan kita masih bisa mengingat siapa nama Onassis tapi bukankah nama Oassis itu nama yang makin hari makin pudar.

Nama seperti John Paul Gheatty, kita mungkin masih ingat nama-nama seperti Howard Huge tapi nama-nama itu makin hari makin pudar. Tapi bukankah kita tetap sampai sekarang mengingat nama misalnya Ibunda Theresa yang memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sudut-sudut kota yang kumuh di Calcuta, India. Bukankah yang kita sebut dengan hati bergetar dan bulu kuduk berdiri adalah orang-orang yang menunjukkan kasih yang luar biasa seperti ini. Dan kita tidak akan berkata Ibunda Theresa orang yang lemah, meskipun dia orang yang melepaskan haknya dan hidup di tengah-tengah orang yang miskin. Kita juga mungkin pernah membaca kisah seorang pastur Katolik yang ke Hawai melayani orang-orang yang menderita lepra atau kusta, yang akhirnya mati karena penyakit kusta juga. Kita tidak akan berkata orang-orang seperti ini orang yang lemah, orang yang melepaskan hak dan memberikan diri dengan begitu luar biasa, kita akan katakan mereka orang-orang yang sangat kuat. Justru dari sinilah muncul respek dan kekaguman, saya kira rumah tangga perlu dibangun di atas respek yang seperti ini. Respek bukannya karena pasangan kita menuntut hak dan bukan karena kita menuntut hak, bukan karena kita ini tegas dengan hak dan kewajiban kita. Rumah tangga yang didirikan seperti itu akan menjadi seperti rumah tangga yang kaku sekali, tidak ada lagi unsur-unsur kemanusiawian tapi kita akan bisa mendirikan keluarga yang kuat jika kita memiliki kekaguman terhadap hal-hal yang seperti ini. Kekuatan batiniah, kekuatan mengekang, melepaskan hak dan kekuatan memberikan diri melampaui yang diminta dan dipikirkan oleh manusia.

GS : Saya yakin sekali bahwa pada saat-saat seperti ini, sekarang ini orang-orang di sekeliling kita bahkan di dalam rumah tangga kita itu membutuhkan kasih yang nyata yang bukan cuma dibicarakan, didiskusikan tetapi dipraktekkan di dalam kehidupan nyata sehari-hari. Jadi terima kasih sekali, Pak Paul dan Ibu Esther, untuk perbincangan kali ini yang tentu akan menjadi berkat bagi semua pendengar kita. Saudara-saudara pendengar kami baru saja memperbincangkan bersama Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengenal Kasih berdasarkan 1 Korintus 13". Dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



9. Kecerdasan dan Test Kecerdasan


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T095A (File MP3 T095A)


Abstrak:

Kecerdasan adalah suatu kemampuan umum dari seseorang dalam hal bagaimana dia memecahkan masalah hidupnya sehari-hari. Dan setiap anak mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Dan kecerdasan itu sendiri tidak hanya menyangkut hal-hal belajar di sekolah yang lebih bersifat akademis dan intelektual.


Ringkasan:

Kecerdasan itu adalah suatu kemampuan umum dari seseorang dalam hal bagaimana dia memecahkan masalah hidupnya sehari-hari. Dan kemampuan ini dapat tercermin dari kecepatan, ketepatan dan kedalaman berpikir seseorang itu di dalam mencari jalan keluar dari masalah hidupnya sehari-hari. Sementara kepandaian sebetulnya tetap diperlukan kecerdasan tetapi kepandaian lebih dikaitkan dengan masalah belajar.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak itu berbeda:

  1. Faktor bawaan, jadi meskipun mereka lahir dari orang tua yang sama, faktor bawaan ini bisa berbeda karena masalah genetik dan juga fungsi otak dan fungsi syaraf.

  2. Masalah gizi, masalah kebiasaan-kebiasaan dari kecil, masalah rangsangan atau stimulasi dari lingkungan.

  3. Latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan seorang anak dari kecil.

Secara konsep kecerdasan tidak hanya menyangkut hal-hal belajar di sekolah yang lebih bersifat akademis, dan bersifat intelektual. Sebetulnya jenis kecerdasan ini banyak diantaranya kecerdasan emosi, kecerdasan sosial di mana seseorang bisa berelasi dengan baik, kecerdasan kreatifitas, kecerdasan spiritual bahkan kecerdasan di bidang seni dan sebagainya. Kenapa terjadi kesalahpahaman bahwa kecerdasan itu hanya menyangkut hal-hal yang bersifat sekolah yaitu:

  1. Karena adanya test kecerdasan yang sejak dulu hanya mengukur hal-hal yang bersifat akademis.

  2. Kecerdasan itu sering kali bisa dilihat orang atau dihargai orang.

Ada beberapa macam test kecerdasan:

  1. Test bine untuk anak-anak, biasanya dikenal dengan Stanford Bine karena dikembangkan oleh Terman dari Stanford University.

  2. WPPSI untuk anak-anak pra-sekolah, test yang dibuat oleh Westler

  3. WISC untuk anak-anak, ini test yang bersifat individual.

  4. Ada test kecerdasan lagi yang bersifat kelompok, jadi test ini yang biasanya dipakai untuk mengetahui secara cepat kira-kira tingkat-tingkat kecerdasan seorang anak dan bagaimana kemampuan dia dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Bentuk test di atas umumnya adalah:

  1. Ada subtest-subtest yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang informasi secara umum yang harus diketahui anak.

  2. Pertanyaan yang menyangkut hal-hal sosial yang dia harus tahu

  3. Menyangkut bahasa, menyangkut ketelitian dia di dalam melihat figur-figur atau gambar-gambar, logika, aritmatika, kemudian matematika dsb.

Amsal 3:11-18, "Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya karena Tuhan memberikan ajaran kepada yang dikasihiNya seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian karena keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga daripada permata, apapun yang kau inginkan tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan, jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang kepadanya akan disebut berbahagia." Dari sini dikatakan dari ayat-ayat yang kita bacakan dikatakan bahwa didikan Tuhan itu akan memberikan ajaran supaya kita mempunyai hikmat dan beroleh kepandaian.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan juga Bp. Heman Elia dan beliau adalah seorang magister Psikologi akan menemani Anda berbincang-bincang pada acara Telaga kali ini. Perlu Anda ketahui bahwa Ibu Esther Tjahja maupun Bp. Heman Elia adalah dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Kecerdasan dan Test Kecerdasan", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, kali ini kita akan membicarakan topik tentang kecerdasan. Kadang-kadang membingungkan kami karena ada kecerdasan, ada kepandaian, ada kecerdikan, nah sebenarnya kecerdasan itu apa?

HE : Kalau boleh diartikan kecerdasan adalah suatu kemampuan umum dari seseorang dalam hal bagaimana dia memecahkan masalah hidupnya sehari-hari. Dan kemampuan ini dapat tercermin dari kecepata, ketepatan dan kedalaman berpikir seseorang itu di dalam mencari jalan keluar masalahnya dalam kehidupan sehari-hari.

GS : Jadi agak berbeda dengan kepandaian?

HE : Ya kalau kepandaian boleh dikatakan kepandaian itu sebetulnya tetap diperlukan dasar kecerdasan tetapi kepandaian sering kali lebih dikaitkan dengan masalah belajar (GS: prestasi di sekolh dan sebagainya) betul.

(2) GS : Anak yang dilahirkan di dalam satu keluarga misalnya punya 2 atau 3 anak, kenapa kecerdasannya bisa berbeda-beda Pak?

HE : Ini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya misalnya saja faktor bawaan, jadi meskipun mereka lahir dari orang tua yang sama, faktor bawaan ini bisa berbeda karena masalah genetik dan jug fungsi otak dan syarafnya.

Syaraf setiap orang itu bisa berbeda-beda, tapi selain itu masalah gizi, masalah kebiasaan-kebiasaan dari kecil, masalah rangsangan atau stimulasi dari lingkungan. Misalnya kalau anak pertama dia lebih banyak mendapat stimulasi daripada anak kedua umumnya, tapi tidak selalu begitu, itu akan membuat anak-anak yang pertama sering kali lebih cerdas meskipun tidak selalu berarti demikian. Ini tergantung dari masing-masing lingkungan yang berbeda dan juga latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan seorang anak itu akan berbeda-beda yang menyebabkan apakah seseorang bisa mengembangkan kecerdasannya atau tidak.

ET : Dengan kata lain maksud Pak Heman kecerdasan itu masih dapat dikembangkan lagi?

HE : Ya, saya percaya bahwa tingkat kecerdasan seseorang masih bisa ditingkatkan sampai pada batas tertentu. Maksud saya batas tertentu itu adalah potensi yang disediakan oleh faktor genetik, jdi tergantung potensi dia.

Sering kali masalahnya adalah potensi seseorang itu tidak dikembangkan secara maksimal, jadi kita seharusnya bisa mengembangkan kecerdasan itu secara maksimal. Tetapi ini juga harus dilakukan sedini mungkin, jadi sebaiknya sejak anak masih sangat muda kecerdasannya mulai dikembangkan.

ET : Masyarakat umum kadang-kadang menilai seseorang cerdas atau tidak, kalau saya melihat misalnya matematikanya bagus atau memorinya baik sehingga orang lebih mudah mengatakan anak ini cerdas. Sebenarnya apakah memang kecerdasan ini hanya dalam bidang-bidang tertentu saja, Pak Heman?

HE : Sebetulnya kalau secara konsep, kecerdasan tidak hanya menyangkut hal-hal belajar di sekolah atau hal-hal yang diajarkan di sekolah. Kecerdasan yang diajarkan di sekolah dan sebagainya itulebih bersifat akademis, lebih bersifat intelektual, tapi sebetulnya jenis kecerdasan ini banyak.

Jadi misalnya kita sekarang mengenal kecerdasan emosi, kecerdasan sosial di mana seseorang bisa berelasi dengan baik, kecerdasan kreatifitas, kecerdasan spiritual bahkan, kecerdasan di bidang seni dan sebagainya. Kenapa terjadi kesalahkaprahan bahwa kecerdasan itu hanya menyangkut hal-hal yang bersifat sekolah itu, pertama karena adanya test kecerdasan yang sejak dulu hanya mengukur hal-hal yang bersifat akademis. Dan yang kedua karena kecerdasan itu sering kali bisa dilihat orang atau dihargai orang itu dari sekolah yang memang dari sejak dulu sekolah ini sangat mendominasi kehidupan anak. Padahal sebetulnya kalau dilihat, diperhatikan bahwa kesuksesan hidup seseorang tidak tergantung semata-mata pada kesuksesan di masa dia sekolah. Jadi ada anak yang kurang begitu berprestasi di sekolah, tapi ternyata sangat berprestasi dalam kehidupannya sehari-hari. Dan itu banyak sekali contohnya, salah satunya misalnya Thomas Alfa Edison kemudian juga Albert Einstein yang kita semua tahu bahwa mereka adalah orang-orang genius tetapi gagal di sekolah.
GS : Dalam hal itu apakah bukan dari faktor bawaan Pak Heman, jadi memang bawaannya itu sebenarnya dia sudah cerdas?

HE : Betul, ada faktor bawaan di situ dan memang bagi saya faktor yang paling berperan di dalam kecerdasan itu memang faktor bawaan.

GS : Ya tadi Pak Heman katakan juga kita bisa meningkatkan itu lewat gizi, nah mungkin ini yang lebih mudah dilakukan oleh orang tua, misalnya apa saja?

HE : Saya beri contoh misalnya sejak anak di dalam kandungan begitu sang ibu sudah tahu bahwa dia hamil, seharusnya ibu ini lebih banyak makan makanan yang berprotein tinggi misalnya ikan, minu susu daripada makan bakso atau makan rujak dan sebagainya.

Dan kemudian pada waktu anak lahir, anak juga perlu diberikan gizi yang cukup. Nah ini dapat meningkatkan kecerdasan anak sampai dengan keoptimalan dari potensi kecerdasannya.
GS : Dari beberapa anak saya melihat (memang karena dekat dengan saya, itu masih keluarga) anak-anak yang disusui oleh ibunya sampai cukup agak besar misalnya sampai 2 tahun atau 1,5 tahun ternyata lebih pandai atau lebih cerdas dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang tidak mendapat kesempatan seperti itu Pak Heman, apakah hal itu ada pengaruhnya?

HE : Saya kira ya, tapi kita juga harus pikirkan bahwa kalau misalnya anak tidak cukup mendapat gizi, maksudnya tidak cukup minum dari ASI, jadi ASI dari ibunya tidak mencukupi untuk kebutuhan naknya ya perlu juga diberikan makanan-makanan tambahan atau susu yang lain.

GS : Tadi Pak Heman mengatakan bahwa kercerdasan seseorang itu bisa diukur lewat test dan sebagainya, Pak Heman bisa ceritakan sedikit tentang itu?

HE : Tentang test kecerdasan ini ada beberapa macam test yang di Indonesia yang banyak sekali beredar adalah test bine untuk anak-anak biasanya dikenal dengan Stanford Bine karena dikembangkan leh Terman dari Stanford University dan Bine ini sudah meninggal lama.

Nah test itu untuk anak-anak selain itu juga ada ejaannya WPPSI, test itu yang dibuat oleh Westler kemudian ada WISC itu untuk anak-anak, WPPSI itu untuk anak prasekolah sedangkan WISC itu untuk anak-anak, test yang bersifat individual. Kemudian ada beberapa test kecerdasan lagi yang bersifat kelompok, jadi test ini yang biasanya dipakai untuk mengetahui secara cepat kira-kira tingkat-tingkat kecerdasan seorang anak dan bagaimana kemampuan dia di dalam mengikuti pelajaran di sekolah.
GS : Itu bentuk testnya seperti apa kira-kira yang umum digunakan, Pak?

HE : Ada subtest-subtest misalnya ada pertanyaan-pertanyaan tentang informasi yang secara umum harus diketahui anak, misalnya bagaimana caranya memasak air atau misalnya juga siapa Presiden Indnesia dan sebagainya, itu pengetahuan umum yang harus dikuasai.

Kemudian ada pertanyaan yang menyangkut hal-hal sosial yang dia harus tahu misalnya apa yang kamu lakukan kalau kamu menemukan amplop berperangko cukup beralamat di tepi jalan dan seterusnya, kemudian ada hal yang menyangkut bahasa, menyangkut ketelitian dia di dalam melihat figur-figur atau gambar-gambar, logika, aritmatika, kemudian matematika dan seterusnya. Jadi ada banyak dan ini semua setelah dihitung secara total akan menggambarkan tingkat kecerdasan seseorang.

ET : Lalu katakanlah angka hasil test itu bisa dipercaya, dalam arti sejauh mana hal ini bisa mengukur kecerdasan yang tadi kata Pak Heman sesungguhnya luas sekali?

HE : Test kecerdasan itu biasanya kita kenal dengan istilah IQ atau Intelligence Quotient, jadi sering kali orang salah kaprah mengatakan bahwa test kecerdasan itu test IQ. Sebetulnya bukan, IQitu adalah hasil dari test kecerdasan yang selalu di dalam bentuk skor.

Kemudian tadi pertanyaannya sejauh mana test kecerdasan itu bisa dipercaya? Sampai sekarang test yang ada menurut penelitian ± bisa memperkirakan keberhasilan belajar seorang anak hingga 25%. Jadi ini angka yang sudah cukup baik atau sangat baik bahkan bisa memperkirakan tingkat keberhasilan 25%. Tapi memang pada saat ini ada begitu banyak kritik terhadap test kecerdasan karena salah satunya misalnya tadi seperti yang kita bicarakan kecerdasan itu pengertiannya sangat luas, tetapi test kecerdasan hanya bisa mengukur sebagian kecil dari kecerdasan yaitu yang menyangkut prestasi belajar di sekolah. Sehingga sering kali orang mengatakan bahwa test kecerdasan itu sebetulnya test bakat sekolah, kira-kira seperti itu.

ET : Mungkin itu jugakah sebabnya kita bisa temukan anak-anak yang sepertinya memang hasil testnya, test kecerdasan atau nilai IQ nya bagus di atas rata-rata atau cukup tinggi, tapi ternyata dalam sehari-hari prestasi di sekolahnya tidak sejalan dengan hasil test kecerdasannya?

HE : Itu ada beberapa masalah memang di dalam test kecerdasan, seperti tadi dikatakan bahwa paling maksimal 25% kemungkinan untuk memperkirakan keberhasilan belajar. Jadi yang 75% itu apa? 75% tu adakalanya sifat-sifat dari seorang anak itu mempengaruhi di dalam hal belajar.

Misalnya ada anak cerdas tapi dia terlalu malas atau terlalu ceroboh di dalam belajar, kemungkinan lain misalnya anak cerdas tetapi dia merasa bosan, suka-suka anak cerdas itu tidak tertantang dengan pelajaran di sekolah karena dia menganggap cara guru mengajar itu kurang menarik. Kemudian juga misalnya sifat-sifat anak yang lemah di dalam mendisiplin diri, konsentrasi, mengorganisir diri sendiri, dan itu menyebabkan prestasinya tidak seperti yang dicerminkan di dalam test kecerdasan. Kemudian juga masalah-masalah di dalam keluarga yang menghambat konsentrasi dia belajar, misalnya ada anak yang hidup dalam keluarga yang tidak harmonis sehingga dia selalu berpikir atau dia stres memikirkan keadaan keluarganya. Kemudian jangan lupa juga sebetulnya orang tua mempunyai peran di dalam prestasi belajar anak, sering kali orang tua yang kurang peduli atau kurang memahami bagaimana seharusnya mendisiplin dan mengajar anak di rumah, itu akan menyebabkan anak akhirnya prestasi belajarnya menurun atau rendah.

ET : Jadi memang hal ini rasanya perlu dipahami lebih baik, karena saya amati banyak juga orang tua yang rasanya sudah bangga dengan anak-anak yang katakanlah dianggap cerdas sepertinya sudah pnya modal sehingga tidak dikembangkan seperti yang Pak Heman katakan tadi.

Akhirnya potensi sudah ada tetapi hasil tidak sejalan dengan hal itu.

HE : Betul, Ibu Esther.

GS : Sebaiknya anak yang mau masuk sekolah kelas berapa itu dilakukan test kecerdasan ini.

HE : Kalau bagi saya test kecerdasan sebetulnya tidak terlalu perlu dilakukan kecuali kalau ada masalah, misalnya anak tampak kurang bisa menangkap suatu pelajaran dan kita ingin tahu lebih jels ini penyebabnya apa? Apakah karena suasana di rumah atau adanya kelainan syaraf atau masalah-masalah yang lain, misalnya dia menderita stres di sekolah dan sebagainya.

Kalau memang ada masalah dan kita ingin tahu saya pikir baru perlu diberikan test inteligensi atau kalau kita curiga waktu berbicara anak ini tidak bisa menangkap pembicaraan orang lain dan sebagainya, nah di sana barulah kita berikan test inteligensi.
GS : Tapi ada beberapa sekolah itu melakukannya secara masal Pak, jadi mau tidak mau anak ini pasti ikut.

HE : Ya saya kira itu tidak perlu dan itu agak berlebihan. Masalahnya begini, kalau misalnya seorang anak di test dan ternyata tingkat kecerdasan katakan IQ-nya itu ketahuan 90. Kadang-kadang blum pasti benar, itu merupakan label bagi anak tersebut sehingga anak itu menjadi malas belajar karena dia pikir saya pasti tidak mampu.

Hal-hal itu yang harus kita hindarkan, efek-efek samping seperti itu karena sering kali terbukti bahwa justru usaha keras itu yang lebih mendukung prestasi belajar daripada kecerdasan.

ET : Padahal banyak orang menganggap sama halnya seperti pemeriksaan fisik yang sepertinya secara rutin harus dilakukan, mungkin jangan-jangan secara kecerdasan juga harus di cek untuk mengetahi ada kenaikan atau tidak, sehingga sepertinya perlu secara berkala.

Sebenarnya sejauh mana hal ini diperlukan, Pak Heman?

HE : Saya kira itu juga kekeliruan pandangan di masyarakat, karena sebetulnya test kecerdasan itu dibuat dengan suatu standarisasi atau norma berdasarkan membandingkan seseorang dengan kelompokusia sebaya.

Jadi misalnya kalau kita itu memberikan test kepada anak usia 7 tahun, anak 7 tahun itu tidak dibandingkan dengan anak-anak usia yang lebih muda atau lebih tua. Dia akan dibandingkan dengan anak-anak usia sebaya karena itu kalau di test ulang pun kemungkinannya akan sama saja hasilnya atau kalau misalnya ada perbedaan skor biasanya perbedaan skor 7 sampai 10 point adalah masih wajar dan normal. Yang akan kita kuatirkan justru kalau menjalani test kecerdasan beberapa kali si anak sudah ada faktor belajar dan latihan-latihan test kecerdasan sehingga skornya itu meningkat. Tetapi sebetulnya tingkat kecerdasan yang sesungguhnya dari anak itu tidak meningkat, sehingga nantinya salah memberikan gambaran atau salah memperkirakan kecerdasan anak justru akan berakibat lebih buruk dalam hal ini.
GS : Secara normal Pak, berapa nilai seseorang anak itu dianggap sudah cukup?

HE : Tingkat inteligensi yang normal bagi anak itu adalah antara 90-109 atau 110 itu tingkat inteligensi rata-rata. Pada tingkat inteligensi ini anak tergolong rata-rata di kelas, tentu saja leih tinggi tingkatannya dia akan lebih cepat menguasai pelajaran dan seterusnya.

Tetapi saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa test inteligensi tidak perlu dilakukan apalagi dilakukan berkali-kali dan terus-menerus, karena itu suatu tindakan yang berlebihan.
GS : Nah katakanlah yang diketahui itu hasilnya pas seperti tadi Pak Heman katakan 90-110, kalau hasilnya 90 orang tua bisa berharap apa dari anak yang seperti ini?

HE : Sebagai orang tua kita harus benar-benar menahan diri agar tidak memacu anak di luar kemampuannya, terus terang untuk anak yang dengan tingkat IQ 90 misalnya kalau katakan untuk masalah di akhirnya kita terpaksa memberikan test inteligensi kepada dia, maka anak demikian biasanya akan bersusah payah di dalam pelajarannya.

Usahakan supaya dia tidak diberikan sekolah misalnya bersekolah di sekolah favorit yang begitu sulit pelajarannya dan usahakan untuk memuji dia bukan berdasarkan prestasinya, tetapi atas dasar usaha keras yang dilakukannya. Dan kalau memungkinkan, sediakan lebih banyak alternatif supaya anak mendasarkan diri kepada usaha kerasnya dan bukan hasil prestasinya. Selain itu seperti tadi yang digambarkan bahwa kecerdasan ini menyangkut selain faktor-faktor intelektual maka kita perlu juga mengembangkan kecerdasan emosi dia, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan kreatifitas, kecerdasan seni dan sebagainya. Jadi tidak sesempit seperti hanya kecerdasan akademis saja yang dikembangkan, Pak?
GS : Dalam hal ini tentu semua orang tua menginginkan anaknya cerdas tetapi tadi ada faktor bawaan, ada banyak faktor yang mempengaruhi. Tentunya anak yang dipercayakan oleh Tuhan ke tengah-tengah kita itu pasti Tuhan punya maksud tertentu, nah mungkin Pak Heman bisa mengutip sebagian ayat dari Alkitab yang bisa mendukung upaya ini.

HE : Saya akan kutipkan dari Amsal 3:11-18 di sini dikatakan demikian "Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya karena uhan memberikan ajaran kepada yang dikasihiNya seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian karena keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga daripada permata, apapun yang kau inginkan tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan, jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang kepadanya akan disebut berbahagia." Dari sini dikatakan dari ayat-ayat yang kita bacakan bahwa didikan Tuhan itu akan memberikan ajaran supaya kita mempunyai hikmat dan beroleh kepandaian.
GS : Ya berarti Tuhan menghendaki semua anak-anakNya juga berupaya agar kecerdasan yang dikaruniakan itu terus dikembangkan. Semaksimal mungkin bagi kemuliaan nama Tuhan, tetapi bagi mereka yang katakan kecerdasannya pas-pasan Tuhan masih membuka peluang-peluang yang lain, sehingga Dia tetap bisa berkarya sesuai dengan apa yang Tuhan rencanakan bagi dirinya. Jadi tidak ada alasan untuk rendah diri dan sebagainya di dalam hal ini.

Jadi terima kasih sekali, Pak Heman untuk kesempatan perbincangan ini dan pada perbincangan yang akan datang kita pasti juga akan masih membicarakan tentang kecerdasan anak-anak ini. Juga terima kasih Ibu Esther untuk bersama dengan kami pada acara rekaman Telaga kali ini. Saudara-saudara pendengar demikianlah tadi Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Kecerdasan dan Test Kecerdasan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



10. Meningkatkan Kecerdasan


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T095B (File MP3 T095B)


Abstrak:

Kecerdasan itu sebenarnya dapat ditingkatkan, bisa melelui stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat.


Ringkasan:

Kecerdasan anak sebenarnya bisa ditingkatkan, dengan cara sebagai berikut:

  1. Melalui stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat.

  2. Kecerdasan bisa ditingkatkan lewat pemberian gizi yang cukup sejak mereka atau anak dalam kandungan

  3. Dengan menciptakan suasana lingkungan yang baik bagi anak, yang sehat.

Stimulasi dapat diberikan sejak bayi masih di dalam kandungan. Kecerdasan berfungsi dalam otak kita, jadi kalau ingin mengembangkan kecerdasan berarti kita berusaha mengembangkan otak semaksimal mungkin. Sehubungan dengan otak, otak berkembang maksimal hingga anak usia 2 tahun dengan demikian kita harus segera menstimulasi anak sebelum usia ini. Anak yang dalam proses perkembangan kecerdasan akan mudah berkembang hingga usia 5 atau 6 tahun dan puncak perkembangan kecerdasan ini adalah sampai usia 20 - 22 tahun.

Untuk mengembangkan kecerdasan bayi, sejak di dalam kandungan seorang ibu perlu memberikan lingkungan, suasana hati yang baik bagi anaknya. Misalnya tugas seorang bapak mengasihi istrinya sehingga bayinya berkembang dengan baik. Ada musik yang baik di rumah, ibu yang bersukacita sering berdoa, sering menyanyi, bersyukur kepada Tuhan dan hubungan antar ibu dengan bapak baik, ini akan mengembangkan kecerdasan anak. Di samping itu adanya gizi yang baik bagi anak. Dan juga bagi ibu hamil sebaiknya menjaga agar tidak kekurangan kadar Hb (Haemoglobin).

Stimulan yang dapat kita berikan pada anak untuk meningkatkan kecerdasan adalah:

  1. Berikan musik klasik yang lembut dan indah.

  2. Sering mengajak anak bicara supaya anak terstimulasi bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.

  3. Jaga kesehatan fisiknya karena kesehatan fisik sangat berpengaruh terhadap perkembangan otaknya.

  4. Berikan mainan yang sesuai dengan usia anak, dan usahakan meluangkan waktu yang banyak bersama dengan anak.

I Korintus 1:27-31, "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi himat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." Nah ini penghiburan bagi kita yang dianggap bodoh oleh dunia.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau berdua adalah para pakar di bidang konseling dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Meningkatkan Kecerdasan", perbincangan ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami beberapa waktu yang lalu, juga bersama bapak Heman Elia. Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Heman, beberapa waktu yang lalu kita berbincang-bincang tentang kecerdasan anak dan salah satu pokok yang disinggung waktu itu bahwa kecerdasan sebenarnya bisa ditingkatkan, kecerdasan seseorang itu lewat suatu stimulasi dini atau rangsangan-rangsangan dini yang memungkinkan kecerdasan seseorang itu bisa meningkat. Mungkin Pak Heman bisa menyampaikan secara umum tentang kecerdasan yang bisa ditingkatkan itu?

HE : Yang pernah saya kemukakan, kecerdasan dan hikmat itu bisa dikembangkan kalau kita taat kepada didikan Tuhan. Di sini saya ingin menambahkan juga bahwa kecerdasan itu bisa ditingkatkan ewat pemberian gizi yang cukup sejak mereka dalam kandungan, kemudian juga dengan menciptakan suasana lingkungan yang baik bagi anak, yang sehat dan melalui stimulasi atau rangsangan yang tepat dari orang tua atau pengasuh.

ET : Dalam hal ini apa ada batasan waktu, misalnya kapan waktu yang tepat untuk bisa diberikan stimulasi untuk pengembangan ini, Pak Heman?

HE : Kalau bisa stimulasi ini seharusnya dilakukan sejak bayi di dalam kandungan. Nah bagaimana mengembangkan atau menstimulasi anak di dalam kandungan, pada hakekatnya begini: kecerdasan it adalah berfungsinya secara baik otak kita, jadi kalau kita ingin mengembangkan kecerdasan berarti kita berusaha mengembangkan otak itu semaksimal mungkin.

Di sini terutama yang penting adalah kecerdasan yang bersifat intelektual. Nah sehubungan dengan otak, kita juga tahu bahwa otak itu berkembang maksimal hingga anak usia 2 tahun, dengan demikian kita harus segera menstimulasi anak sebelum usia ini. Anak yang masih dalam proses perkembangan kecerdasannya itu akan mudah dikembangkan itu hingga usia 5 atau 6 tahun dan setelah itu peningkatan kecerdasan akan semakin melambat dan puncaknya perkembangan kecerdasan itu adalah sekitar usia 20 sampai 22 tahun. Untuk tadi pertanyaan bagaimana kita mengembangkan kecerdasan bayi sejak di dalam kandungan, seorang ibu perlu memberikan lingkungan, suasana hati yang baik bagi anaknya. Jadi misalnya saja itu juga tugas seorang bapak ya mengasihi istrinya sehingga bayinya berkembang dengan baik. Misalnya ada suasana musik yang baik di rumah, ibu yang bersukacita sering berdoa, sering menyanyi, bersyukur kepada Tuhan dan hubungan antar ibu dengan bapak ini baik, ini akan mengembangkan kecerdasan anak. Di samping juga adanya gizi yang baik bagi anak itu untuk mengembangkan otak dari anak dan jangan lupa juga ibu hamil sebaiknya menjaga agar dirinya tidak kekurangan kadar Hb (Haemoglobin) karena kalau ibu kekurangan Hb dia akan menderita anemia. Padahal kita tahu bahwa otak itu berkembang sangat memerlukan oksigen, selain juga gula dan oksigen yang diikat oleh Hb di dalam darah. Jadi ibu hamil harus men-check tingkat kesehatannya, dalam hal ini tingkat Hb-nya di dalam darah.
GS : Mungkin tadi Pak Heman katakan, bahwa ada hubungan emosional antara ibu dan anak, bagaimana itu terjadinya?

HE : Ibu yang mempunyai suasana emosi yang baik, dia akan menghasilkan hormon-hormon yang sifatnya juga akan menenangkan seorang anak sehingga anak itu tidak dalam keadaan stres. Kita tahu klau ibu hamil itu dalam keadaan kebingungan, gelisah, cemas maka bayinya juga akan ikut bergolak di dalam rahim.

Karena bayi itu juga merasakan suasana hati dari ibunya, antara lain dari hormon yang dikeluarkan ibunya kemudian juga aliran darah dan sebagainya.
GS : Dengan kata lain kalau ibunya sering bersedih karena hubungan dengan suami atau dengan anak-anak yang lain, itu akan sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya, Pak?

HE : Penelitian mengatakan demikian, jadi misalnya penelitian itu dilakukan pada anak-anak remaja yang dibandingkan antara waktu anak-anak ini sedang di dalam kandungan ibunya, ibunya menderta kecemasan atau ibunya dalam suasana yang baik.

Ibu-ibu yang menderita kecemasan waktu hamil, waktu anaknya remaja lebih mudah menderita stres, cemas, gelisah dan lebih banyak masalah di dalam kehidupannya dan ini tentu saja menghambat tingkat kecerdasannya.
GS : Bagaimana dengan mereka, anak-anak hasil hubungan perkosaan atau di luar nikah dan sebagainya, Pak?

HE : Ya tentu ada hambatan dan saya kira itu tidak bisa dihindarkan dan kita pun tidak perlu menolaknya, tetapi kita kembangkan hal-hal yang masih bisa kita kembangkan. Seperti misalnya kala anak-anak hasil dari hubungan yang seperti itu tetapi kalau dia tetap mendapatkan pengasuhan yang penuh kasih sayang, dia akan berkembang dengan semaksimal mungkin.

Satu contoh gambaran ada penelitian yang cukup banyak membandingkan Panti Asuhan yang memberikan asuhan yang baik dengan seorang pengasuh yang tidak mengasuh lebih dari 10 anak, dibandingkan dengan misalnya seorang pengasuh mengasuh 50-an anak. Yang tingkat kecerdasannya berkembang jauh lebih baik adalah pada Panti Asuhan dengan pengasuhan yang lebih intensif dan lebih baik. Itu menunjukkan bahwa lingkungan dan pola asuh yang baik, penuh kasih sayang itu membantu anak meningkatkan kecerdasannya.
(2) GS : Kalau anak itu sudah dilahirkan Pak, stimulan apa yang bisa diberikan kepada si anak supaya kecerdasannya meningkat?

HE : Ada beberapa hal di sini, kalau mulai bayi anak bisa dilatih untuk menerima stimulasi bagi kelima indranya, terutama indra penglihatan dan pendengaran. Cara-cara yang bisa kita lakukan,misalnya berikan musik klasik yang lembut dan indah.

Sering mengajak anak bicara supaya anak terstimulasi bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun pada saat anak-anak belum bisa berbahasa sekali pun suasana di mana anak itu diajak bicara akan menstimulasi otak dia, kemudian jaga kesehatan fisiknya kalau bisa waktu dia demam dan sebagainya, jangan sampai dia mengalami kejang. Dan kemudian juga kesehatan fisik ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan otaknya. Kalau anak yang sakit-sakitan terus, maka gizi yang menuju otak itu akan berkurang, jadi sangat perlu untuk dijaga kesehatannya. Kalau bisa memberikan mainan-mainan yang sesuai dengan usia mereka, tidak harus mahal tetapi yang penting Anda sebagai orang tua bisa sering bermain bersama mereka. Jadi kalau mereka sudah bisa belajar menggenggam dan mulai menggunakan jari tangan mereka, boleh berikan botol-botol plastik bekas, botol-botol plastik bekas shampoo, botol minum plastik bekas dan sebagainya yang tidak mudah pecah, robek atau tertelan. Semakin besar mungkin mereka bisa diberikan bermain pasir, bermain air dengan sumpit dan sebagainya. Dengan demikian mereka bebas bermain dan melakukan berbagai eksperimen dan melatih mereka untuk menggunakan tubuh dan motorik mereka, lompat, lari, berjalan, memanjat dan sebagainya. Banyaklah mengajak mereka untuk bercerita kalau anak sudah bisa berbahasa dan dengarkan cerita mereka tanpa berusaha mengkritik. Usahakan agar Anda meluangkan waktu yang banyak bersama mereka.

ET : Saya yakin setiap orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi anak yang cerdas, apalagi mungkin dengan informasi bahwa dengan distimulasi lebih dini saya yakin lebih bear keinginan orang tua untuk bisa membesarkan anak-anaknya menjadi cerdas, Pak Heman.

Cuma kadang-kadang mungkin kuatirnya kebablasan, dalam arti akhirnya ambisi orang tua yang lebih maju supaya anaknya pintar, biasanya orang tua kena pujian "Anak siapa itu". Kira-kira mungkin hal apa yang orang tua perlu perhatikan dalam hal pengembangan kecerdasan ini supaya tidak sampai akhirnya malah menekan anak sehingga anak tidak berkembang dengan bebas?

HE : Ya point ini baik sekali Ibu Esther, jadi orang tua hendaknya sabar dan menanti proses perkembangan tahap demi tahap. Sering kali kita memang tidak bisa terburu-buru dengan perkembangananak dan setiap anak berbeda-beda di dalam tahap perkembangannya.

Kalau misalnya ada keterlambatan di salah satu aspek asal tidak terlambat terlalu lama dan pola itu masih kurang lebih sama dengan pola perkembangan anak-anak pada umumnya, berikan kesempatan, kesabaran Anda untuk menjalani proses ini. Yang penting Anda sudah melakukan apa yang harus Anda lakukan selaku orang tua sebaik mungkin. Juga ada hal-hal yang penting, misalnya orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak kalau mereka melakukan kesalahan. Jadi kalau mereka melakukan kesalahan dan selalu dimarahi karena mereka ingin cepat-cepat bisa, itu justru akan menyebabkan anak merasa dirinya gagal, tidak mampu berbuat apa-apa, nah ini tentu akan menghambat pengembangan kecerdasan mereka. Kecuali kalau anak sudah tahu bahwa dia pasti dapat bertanggung jawab dan dia melakukan kesalahan secara sengaja untuk menjengkelkan orang tua misalnya, maka di sana kita perlu memberikan disiplin. Kemudian kita juga perlu menjaga suasana yang konsisten dan disiplin, mempunyai suasana yang baik, rasa aman di rumah. Demikian juga kita perlu memberikan pujian setiap kali anak mencapai suatu kemajuan tertentu, pujian-pujian ini akan menyebabkan anak bersemangat untuk setiap kali belajar. Kalau misalnya kita selalu menyatakan kekecewaan kita ketika anak tidak berhasil, maka anak justru akan tidak berani mencoba lagi. Dan yang harus diingat oleh orang tua adalah tidak menaruh perhatian terutama kepada prestasi, jadi kalau bisa orang tua memfokuskan pada perhatiannya, karakter baiknya. Banyak orang tua yang memarahi anaknya habis-habisan ketika anaknya ulangannya jelek, tetapi kalau anaknya itu ulangannya baik tidak peduli dia nyontek atau dari hasil mana maka orang tua diam saja, nah ini saya kira kurang baik. Jadi kita harus memfokuskan kepada usaha anak, itu yang lebih penting. Dan berikan keseimbangan stimulasi, jadi jangan hanya satu aspek saja misalnya pelajaran saja tetapi harus seimbang antara rangsangan indrawi, intelektual, musik atau seni yang lain, motorik dan bahasa. Berikan juga mainan-mainan yang bisa dibongkar pasang, jadi jangan memberikan mainan-mainan yang sudah jadi. Kemudian boleh berikan mainan yang sudah jadi, maksud saya jangan itu saja, tapi yang bisa lebih mengembangkan kecerdasan anak dalam mainan yang bisa dibongkar pasang. Dan kemudian supaya kita tidak kebablasan, kita perlu sering sejak kecil mengajarkan anak-anak ini berdoa dan mengenal firman Tuhan, karena sumber kecerdasan dan hikmat adalah Allah sendiri.

ET : Saya tertarik dengan yang tadi Pak Heman katakan, kemungkinan keterlambatan perkembangan anak. Saat ini memang dengan gizi yang lebih baik, kemudian stimulasi yang juga lebih macam-maca bentuknya dibandingkan dengan katakanlah 10, 20 tahun yang lalu akhirnya memang anak-anak kelihatannya memang lebih pintar.

Dalam arti misalnya dalam 4 tahun sudah bisa melakukan hal-hal yang mungkin beberapa tahun yang lalu anak usia seperti itu belum bisa lakukan. Akibatnya saya melihat anak-anak yang sebenarnya normal tetapi karena tidak seunggul anak-anak yang memang lebih unggul tadi untuk ukuran zaman sekarang, orang tua menjadi kuatir dan merasa anak saya lambat, anak saya kurang. Dalam hal ini sesungguhnya ukurannya sampai di mana, kapan orang tua bisa mulai, katakanlah layak untuk mulai curiga akan perkembangan anaknya memang lebih lambat, jadi memang sungguh-sungguh lebih lambat atau hanya kekuatiran orang tua saja dibandingkan dengan anak-anak yang unggul?

HE : Agak susah memang menentukan kapan kita harus menaruh perhatian ekstra kalau anak-anak ini terlambat. Tapi ukuran secara umum adalah kalau misalnya kita bandingkan anak kita tingkat perembangannya itu masih tergolong 50% dari anak-anak seusianya, itu berarti anak ini berkembang normal.

Saya ambil contoh misalnya usia 2 tahun belum lancar bicara itu normal, tetapi kalau sudah usia 3 tahun belum ada satu patah katapun kecuali mama dan papa yang bisa diucapkan anak, berarti anak ini ada masalah dan harus dilatih secara khusus di dalam hal komunikasi itu salah satu contoh. Jadi secara umum kalau misalnya anak itu masih masuk di dalam 50% atau 50 atau 60%, maka anak itu tergolong baik masih tergolong sehat dan normal.
GS : Mungkin di tengah persaingan ini memang kekuatiran yang berlebihan dari orang tua itu bisa menilai anaknya itu secara keliru Pak Heman. Sebenarnya normal lalu dinilai abnormal, padahal yang harusnya abnormal, yang terlalu cepat atau dipaksa lebih cepat itu yang membuat orang-orang normal ini menjadi tidak normal.

HE : Ya bisa ada kemungkinan itu terjadi.

GS : Cuma ini Pak Heman, tadi Pak Heman katakan mengenai mainan atau apa, memang lebih mudah bagi orang tua untuk membeli mainan, tetapi memilihkan yang tepat itu yang agak sulit karena memang tidak semua toko mainan itu mengerti. Yang jualan itu sendiri tidak mengerti ini cocok atau tidak untuk anak usia sekarang, penjaganya sendiri juga mungkin belum mempunyai anak. Nah itu bagaimana Pak Heman pedomannya, tadi yang Pak Heman katakan bisa dilepas atau dibongkar pasang, yang dilepas itu kadang-kadang terlalu kecil sehingga kekuatiran orang tua nanti ditelan lalu kena mata.

HE : Ya memang agak sulit karena pembuat mainan juga maunya untung. Kalau bisa hal-hal yang membahayakan anak, jangan diberikan kepada anak. Salah satu contoh misalnya pistol-pistolan yang bsa menembakkan sesuatu.

Beberapa waktu lalu ini benar banyak terjadi di Indonesia, banyak anak yang menjadi buta seumur hidup karena ketembak temannya. Kemudian juga seperti tadi dikatakan pecahan-pecahan atau komponen dari mainan yang terlalu kecil terutama untuk anak usia di bawah 4 tahun, 5 tahun itu jangan diberikan. Biasanya memang ada petunjuk di kotak setiap mainan tentang batasan usia, tetapi orang tua sebaiknya juga berhati-hati, lebih baik membelikan mainan yang bisa mengembangkan kecerdasan anak. Mengenal warna, mengenal bentuk, mengembangkan keterampilan motorik dan sebagainya, itu yang lebih baik dibelikan buat anak. Dan terutama kalau misalnya komponen-komponen yang kecil itu berbahaya bagi anak-anak yang masih banyak menggunakan mulutnya, segala macam dimasukkan ke mulutnya atau bahkan ke hidungnya, nah itu cukup berbahaya dan sebaiknya tidak diberikan kepada anak.

ET : Kalau tadi Pak Gunawan berbicara soal toko penjual mainannya ya Pak, kalau saya sering melihat justru susternya, maksudnya kalau orang tua yang mempunyai uang pasti membelikan mainan yag paling modern, paling canggih tapi orang tua tidak pernah menemani main, suster atau pengasuh anak juga tidak mengerti.

Akhirnya yang sebenarnya bisa menstimulasi jadinya cuma sekadar dimainkan secara asal-asalan, tidak optimal.

HE : Ya dan ada satu tambahan dari saya tidak harus kita belikan mainan, jadi misalnya anak-anak yang bisa berkembang kecerdasannya dia bisa bermain pura-pura. Dia menggunakan seketemunya pealatan di samping dia untuk dijadikan mainan, kain kemudian kursi, kalau digabung bisa menjadi mainan kereta-keretaan dan sebagainya.

Dan kadang-kadang sabuk itu bisa dijadikan alat pancing bagi anak-anak yang kreatif dan sebagainya, jadi tidak harus dibelikan. Tadi saya berikan contoh misalnya botol shampoo plastik bekas dan sebagainya, nah itu hal-hal yang murah yang biasanya kita buang tapi tidak membahayakan anak. Jadi anak main buka tutup shampoo di sambung-sambung dan sebagainya sudah merupakan latihan bagi anak.
GS : Tingkat kecerdasan seorang anak apa ada kaitannya dengan pertumbuhan rohaninya, Pak?

HE : Ya dalam arti perkembangan kalau seorang anak itu cerdas ditambah dengan kerohaniannya baik, maka dia akan lebih berkembang lagi kecerdasannya. Nah masalahnya di sini adalah bahwa sebagi anak Tuhan yang takut kepada Tuhan, diajarkan untuk taat pada firman Tuhan.

Jadi ada konsep di sini bahwa anak yang cerdas itu tidak sebagaimana, tidak selalu identik dengan kecerdasan yang dihargai oleh dunia ini. Karena sering kali kalau kita berhikmat di hadapan Tuhan itu menjadi kebodohan di pandangan manusia. Sebagai contoh rasul Paulus, rasul Paulus itu menjadikan hikmat dari dunia ini menjadi sampah baginya, meskipun dia sangat cerdas dan dia belajar pada Gamaliel. Dan dia orang yang sangat berhikmat, terbukti dari ucapan Raja Agripa misalnya ketika Paulus diadili dan dia harus membela diri di hadapannya. Agripa mengatakan demikian "Engkau gila Paulus, ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila", Paulus mengatakan: "Aku tidak gila Festus yang mulia, aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat" maka jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen". Jadi di sini menunjukkan kita diberi petunjuk bahwa Paulus ini orang yang sangat cerdas. Tetapi Paulus tidak atau kurang dihargai oleh dunia ini.
GS : Jadi kecerdasan yang dihargai oleh Allah itu adalah kecerdasan yang membuat seseorang itu makin dekat atau mengenal kehendak Allah di dalam kehidupannya. Yang terutama sekalipun oleh orang-orang lain yang terpandang, pandai dan sebagainya pun bisa dianggap sebagai orang yang tidak berhikmat, (HE : Ya dianggap bodoh) dianggap bodoh ya, Pak Heman? Memang kadang tingkah laku orang Kristen ini kadang-kadang dianggap bodoh oleh dunia, orang-orang yang tidak mengenal hikmat yang sebenarnya. Padahal sumber hikmat itu dari Allah sendiri, ada satu bagian Alkitab yang lain yang mungkin Bapak mau sampaikan kepada para pendengar sebagai kesimpulan pada pembicaraan pada kali ini.

HE : Saya ambilkan dari 1 Korintus 1:27-31, ini adalah yang ditulis oleh Paulus "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan pa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: 'Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan'." Nah ini penghiburan bagi kita yang dianggap bodoh oleh dunia ini.

GS : Tetapi itu bukan berarti kita membiarkan diri kita hidup di dalam kebodohan. Karena konsep seperti ini memang sulit untuk diterima oleh masyarakat pada umumnya, tapi inilah firman Tuhan yang tadi Pak Heman katakan untuk menghibur kita. Jadi kita sebagai orang tua juga bertanggung jawab atas anak-anak yang dipercayakan kepada kita. Dan kita berharap tentunya melalui perbincangan ini orang tua lebih banyak menaruh perhatian, meluangkan waktu dan sebagainya untuk menstimulasi kecerdasan anak. Karena itu saya rasa membutuhkan banyak waktu, banyak perhatian dan segala macam pengorbanan dan sebagainya itu saya rasa harus ada. Jadi Pak Heman, banyak terima kasih untuk kesempatan kali ini dan saya percaya perbincangan meningkatkan kecerdasan ini akan menjadi bermanfaat bagi banyak pendengar kita. Saudara-saudara pendengar demikian tadi Anda baru saja mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Heman Elia, M. Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Meningkatkan Kecerdasan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



11. Mengalahkan Pikiran Negatif


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T097A (File MP3 T097A)


Abstrak:

Berpikir negatif sudah menjadi suatu kecenderungan kita di dalam menghadapi suatu masalah atau cenderung melihat yang negatif. Dan ini merupakan upaya untuk mengurangi sakitnya kekalahan atau kegagalan yang akan diterima.


Ringkasan:

Yang dimaksud dengan pikiran negatif:

  1. Berpikir negatif yang saya maksud di sini bukanlah berpikir negatif yang realistik. Kita harus melihat kenyataan yang memang buruk. Nah yang saya maksud adalah sebuah pola artinya adalah suatu kecenderungan, kalau menghadapi suatu masalah atau suatu hal yang dilihat adalah yang negatifnya. Berpola pikir negatif sesungguhnya upaya untuk mengurangi sakitnya kekalahan atau kegagalan atau upaya untuk menghindar dari sakitnya kekalahan atau kegagalan.

Yang menjadi penyebab kenapa orang mempunyai pola pikir negatif :

  1. Kemungkinan seseorang pernah atau cukup mengalami kegagalan atau kekalahan.

  2. Kurang percaya diri.

Salah satu ciri kepribadian yang mudah sekali berpikir negatif adalah orang yang perfeksionis, orang yang bergebu-gebu dan tersedot untuk melakukan sesuatu sesempurna mungkin. Karena mereka melihat secara mendetail, akhirnya orang perfeksionis ini sukar menoleransi yang namanya kekurangan. Jadi orang yang perfeksionis mudah sekali untuk melihat dan menitikberatkan pada yang negatif dan gagal akhirnya melihat yang positif.

Bagaimana menangani pola pikir negatif ini?

  1. Kita harus memfokuskan pada apa yang ada atau yang telah terjadi, bukan pada yang tidak ada dan yang belum terjadi. Misalnya melamar pekerjaan, kalau belum terjadi karena kita belum melamar yang ke - 9 ini, kita jangan berkata saya pasti gagal karena memang belum terjadi meskipun yang 1 - 8 sudah terjadi, yang ke - 9 tetap kita harus berkata belum terjadi.

  2. Berkonsultasilah dengan orang lain guna mendapatkan wawasan yang lebih luas atau dorongan. Sebab memang dari diri kita sendiri kemungkinan tenaga itu sudah hampir habis.
    Kecenderungan orang yang berpola pikir negatif:

    1. Mudah menutup diri terhadap masukan orang lain. Seolah-olah dia senantiasa mengkonfirmasikan ramalannya bahwa dia akan gagal, jadi waktu orang lain mencoba mendorongnya susah untuk dia terima.

    2. Mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, dan ini juga menghalangi dia untuk mendengarkan masukan dari orang. Karena orang yang mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, susah untuk menerima tanggapan orang, dia takut orang melihat dirinya yang kurang itu, dia takut ditolak atau dihina.

Jadi pada prinsipnya cobalah dengan perhitungan dan iman. Jadi waktu kita menghadapi tantangan, hitung kekuatan kita, kemampuan kita, kebiasaan kita, lihat apa yang ada di depan kita. Tapi juga majulah dengan iman, artinya serahkanlah sisanya kepada Tuhan, kita lakukan bagian kita, setelah itu sisanya kembalikan kepada Tuhan.

Amsal 3:5,6, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu." Tugas kita lakukan bagian kita, perhitungan harus jalan tapi iman juga harus jalan, Tuhan akan meluruskan sisanya.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat dan kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Mengalahkan Pikiran Negatif". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, tentang berpikiran negatif pasti pengertian orang bisa bermacam-macam tetapi di dalam pembicaraan kita kali ini apa yang dimaksudkan dengan pikiran negatif itu?

PG : Yang pertama, berpikir negatif yang saya maksud di sini bukanlah berpikir negatif yang realistik. Jadi saya kira ada batas-batas di mana kita bisa berkata tidak bisa lagi berpikir positif tau optimistis.

Kita harus melihat kenyataan yang memang buruk. Yang saya maksud adalah sebuah pola, artinya adalah suatu kecenderungan, kalau menghadapi suatu masalah atau suatu hal yang dilihat adalah yang negatifnya. Dan bukan hanya hal tertentu, tapi boleh dikata menghadapi segala macam hal selalu yang disoroti adalah aspek-aspek negatifnya. Seolah-olah yang positif itu luput dari pandangannya.
GS : Contoh konkretnya bagaimana Pak Paul?

PG : Misalnya seseorang akan menempuh ujian, dia langsung berpikir bahwa dia akan gagal dalam ujiannya, dia adalah orang yang banyak memiliki kekurangan sehingga dia tidak mungkin belajar denga baik, dia itu orang yang memang tidak bisa berpikir cepat, teman-temannya berpikir dengan cepat, dia tahu nanti dia akan tertinggal.

Dengan kata lain dia sudah mengantisipasi bahwa dia akan mengalami kegagalan. Nah ini saya kira yang sering kali terjadi pada kita sewaktu kita takut bahwa kita akan mengalami suatu kegagalan atau kekalahan. Saya boleh artikan bahwa pola pikir negatif sebetulnya merupakan reaksi kalah terhadap tantangan, kita belum menghadapi tantangan itu namun kita sudah beranggapan akan kalah. Jadi pikiran negatif sebetulnya berfungsi untuk menghindari kekalahan tersebut, dengan kita mengisi pikiran-pikiran yang negatif akhirnya kita tidak akan melakukannya. Nah dengan kita tidak melakukannya berarti kita terbebaskan dari kekalahan itu atau kalaupun kita melakukannya misalkan ujian kita ambil, kemudian hasilnya benar-benar jelek kita tidak akan terkejut, kita mudah berkata memang saya sudah mengantisipasi siapa tahu dapat jelek, saya memang tidak seberuntung teman-teman saya yang bisa berpikir dengan cepat, saya belajar perlu waktu yang lama. Dengan kata lain dia tidak perlu menghadapi realitas kekalahan sepahit itu dengan cara mengisi pikiran-pikiran yang negatif.

ET : Tapi kalau ada orang yang mengatakan memang karena pengalaman menunjukkan seperti itu bagaimana, Pak Paul?

PG : Nah ini yang sering kali menjadi alasan orang-orang yang berpikir negatif bahwa bukankah di masa yang lampau saya sudah mengalami kegagalan, kekalahan maka saya pasti akan mengalami kegagaan juga.

Pertanyaannya adalah apakah satu kegagalan pasti membawa kita kepada kegagalan berikutnya, sebetulnya belum tentu. Jadi nanti kita akan mencoba melihat cara-cara untuk menanganinya tapi memang saya bisa memahami akan ada orang yang berkata memang saya pernah gagal, saya pernah tidak bisa, jadi pasti saya juga tidak bisa. Namun saya mau tekankan bahwa satu kegagalan belum tentu membawa kita kepada kegagalan berikutnya.
GS : Apakah itu sehubungan dengan seseorang yang kurang percaya diri?

(2) PG : Saya kira berkaitan dengan itu Pak Gunawan, jadi adakalanya karena kita kurang percaya diri dan kita mengantisipasi pasti gagal maka kita terburu-buru mengisi benak kita dengan pikiranpikiran negatif itu.

Tapi yang menarik Pak Gunawan, salah satu ciri kepribadian yang mudah sekali berpikir negatif adalah orang yang perfeksionis, orang yang bergebu-gebu dan tersedot untuk melakukan sesuatu sesempurna mungkin. Pola ini mudah sekali melahirkan pola pikir negatif. Saya kira ada beberapa penyebab seseorang yang perfeksionis itu melihat secara mendetail, nah karena mendetail dia melihat banyak, melihat terlalu banyak yang kecil-kecil sekali dan orang yang perfeksionis itu sukar menoleransi kekurangan. Jadi memang orang yang perfeksionis mudah sekali untuk melihat, menitikberatkan pada yang negatif dan gagal akhirnya melihat yang positif.

ET : Ada orang yang mengatakan seperti ini Pak Paul, apakah dia tergolong perfeksionis atau tidak? Dia bilang pokoknya kalau kita sudah berpikir yang jelek-jelek, kalau misalnya sungguh-sungguhjelek tidak mau sampai jatuh dan kalau memang ternyata baik ya itu anugerah.

PG : Mungkin bukan, bukan dalam perfeksionis kalau dalam hal seperti itu tapi merupakan gambar mental yang menyeluruh dari orang yang berpola pikir negatif. Jadi senantiasa mengalasi sesuatu degan yang negatif sehingga kalaupun dia harus jatuh dia tidak akan merasa terlalu sakit, karena dia sudah siapkan dirinya dengan yang negatif itu.

Maka saya tekankan tadi pada awalnya bahwa berpola pikir negatif sesungguhnya upaya untuk mengurangi sakitnya kekalahan atau kegagalan. Atau upaya untuk menghindar dari sakitnya kekalahan atau kegagalan.

ET: Sedangkan orang perfeksionis mungkin kalau dia sudah antisipasi tapi gagal, dia cenderung tidak melakukan apa-apa.

PG : Betul, karena bagi dia sesuatu itu harus sempurna atau tidak sama sekali, jadi begitu dia melihat banyak yang negatif dia akan berkata tidak. Namun memang orang yang perfeksionis sebetulny karena terlalu tinggi dalam standarnya, sehingga yang di bawah standar itu dia anggap negatif.

Jadi memang mudah berpikir negatif karena dia itu standarnya yang terlalu tinggi, semua harus sesuai dengan standar.

ET: Yang menurut orang lain sebenarnya sudah baik, bisa jadi buat dia tetap sebagai suatu kegagalan.

PG : Betul.

GS : Tapi dalam hal itu merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri Pak Paul, orang yang berpikir negatif atau lari dari kenyataan itu?

PG : Saya kira betul Pak Gunawan, bahwa itu adalah upaya untuk melindungi diri dalam pengertian melindungi citra diri yang selama ini dimilikinya. Dia melihat dirinya sebagai orang yang berkwaltas tinggi jadi dia mencoba mempertahankannya, nah saya tidak berkata hiduplah sembarangan dan tidak perlu menghasilkan karya yang indah atau yang bermutu.

Namun saya kira bedanya, orang yang perfeksionis dikuasai sehingga tidak bisa fleksibel untuk menerima sesuatu yang di bawah standarnya. Saya kira yang lebih sehat adalah kemampuan untuk fleksibel sehingga bisa mengurangi standar kalau memang itu yang terjadi dan itulah keadaannya. Nah orang yang perfeksionis memang tidak mempunyai kefleksibelan itu, dia sangat dikuasai terobsesi dengan keinginannya untuk mencapai kesempurnaan.

(3) ET : Apakah pikiran negatif pada orang perfeksionis ini juga akan mempengaruhi di dalam dia berpikir tentang orang lain Pak Paul, selain kepada diri sendiri.

PG : Saya kira akan berpengaruh, Bu Esther, jadi orang-orang perfeksionis biasanya mengharapkan orang melakukan sesuatu yang dia minta, sesempurna mungkin. Dan sulit menerima karya kerja orang ang dianggapnya tidak mencapai standarnya.

Jadi dia bukan saja melihat kekurangan pada karyanya, tapi mudah sekali melihat kekurangan karya orang lain. Kalau tidak hati-hati dia akan menyalahkan orang seolah-olah orang itu sengaja tidak memberikan karya terbaiknya, meskipun sesungguhnya orang itu memang terbatas dalam karyanya atau kemampuannya.

ET : Mungkin akhirnya saya membayangkan bisa jadi menimbulkan prasangka-prasangka yang lain, dalam arti memang dia tidak suka sama saya, dia tidak mendukung saya.

PG : Bagus sekali Bu Esther, saya kira itu sekali terbentuk karena dia langsung mempribadikan hal-hal itu, beranggapan bahwa orang-orang ini memang sengaja tidak mau menghargai dia, tidak mau mmberikan dukungan kepada gagasannya atau kerjanya, langsung ke pribadi.

GS : Orang-orang semacam itu pasti terpengaruh oleh latar belakangnya, Pak Paul?

PG : Saya kira ya Pak Gunawan, jadi saya harus akui bahwa salah satu penyebab yang lainnya dari pola pikir negatif adalah kemungkinan seseorang pernah atau cukup sering mengalami kegagalan ataukekalahan.

Jadi tadi ini kembali lagi kepada yang tadi Ibu Esther sudah katakan, akhirnya dia gamang dengan tantangan karena terlalu sering tantangan itu tidak bisa dilewatinya. Justru waktu ada tantangan dia jatuh, dia gagal dan dia pernah berusaha sebaik-baiknya. Namun kalau sudah beberapa kali gagal kecenderungannya memang orang akan takut gagal lagi. Saya berikan contoh yang mudah sekali, misalkan kita melamar pekerjaan, kita lamar sekali ditolak, kita masih bersemangat, lamar kedua kali masih bersemangat meskipun sudah ditolak. Tapi saya kira kalau kita sudah melamar pekerjaan misalnya 7, 8 kali untuk ke 9 kalinya tidak bisa tidak kita sudah mengisi pikiran kita dengan (GS : ditolak lagi) betul dan antisipasi kita bakal ditolak. Sebab sekali lagi sebagai manusia kita mau melindungi diri, kita tidak bisa merasakan sakitnya penolakan yang ke 9 kali. Jadi untuk mengurangi rasa sakit itu kita langsung berkata saya pasti akan ditolak. Nah jadi adakalanya memang pola pikir negatif muncul dari pengalaman hidup yang sarat dengan kekalahan atau kegagalan.

ET : Kalau dari lingkungan keluarga pada masa kecil, pada masa remaja itu mempunyai pengaruh atau tidak, Pak?

PG : Saya kira berpengaruh pula Bu Esther, jadi saya kira ini adalah penyebab yang lainnya dari pola pikir negatif yaitu pada masa pertumbuhannya, dia hidup dengan figur-figur penting yang kera melecehkannya, atau justru meragukan kesanggupannya.

Saya pernah mendengar suatu kesaksian dari orang yang selalu mengalami kegagalan dalam ulangan waktu masa kecil. Kemudian suatu hari dia berhasil mendapatkan nilai yang baik, nah ironisnya pada waktu si guru mendapati nilainya baik, komentar pertama yang dilontarkan kepada si anak tersebut adalah kamu nyontek dari siapa. Si guru rupanya beranggapan anak ini tidak mungkin meraih nilai yang baik, padahal saat itu si anak berusaha sekeras mungkin dan berhasil mendapatkan nilai yang baik. Jadi memang orang lain pun kalau sudah mempunyai prasangka itu akan tetap berperan dalam penilaiannya terhadap orang lain, si anak ini yang menjadi korban. Hal-hal seperti tadi pelecehan, orang meragukan kemampuan, tidak bisa tidak akan tertanam. Akhirnya pola pikir dia bahwa kenapa orang selalu meragukan kemampuan saya, selalu menghina saya orang yang tidak mampu, jangan-jangan itu benar, bahwa memang saya orang yang tidak bisa apa-apa. Dan karena sudah berpikir dia bakal tidak bisa, akhirnya sungguh-sungguh dia membuktikan dia tidak bisa.
GS : Ya, memang baru beberapa hari yang lalu waktu saya bertemu dengan seorang ibu yang mengatakan pada saya bahwa dia menyesal, karena dulu ketika anaknya itu masih kecil dalam pengertian SD, Pak Paul, selalu dikatakan kamu bodoh, kamu tidak mampu dan itu memang terjadi. Sampai dia katakan, wah apa yang saya katakan itu menjadi kenyataan sekarang dan dia menyesali itu, tapi bagaimana sekarang menumbuhkan rasa percaya diri pada anak itu bahwa dia sebenarnya bisa?

PG : Saya kira perlakuan kita kalau kita orang tuanya harus memberikan lebih banyak dukungan dan mengurangi celaan-celaan. Saya mau memberikan suatu gambaran melalui kisah yang sungguh-sungguh erjadi, ini adalah sebuah riset.

Di sebuah sekolah diadakan riset seperti ini, siswa yang masuk menjalani test masuk, nah guru yang pertama sebut saja guru A diberitahukan bahwa test masuk anak-anak ini tinggi-tinggi, nah di kelas yang lain guru yang satunya diberitahukan bahwa sebut saja guru B misalkan test masuk siswa-siswa itu buruk, nah guru A dan guru B menghadapi siswa yang baru. Apa yang terjadi? Ternyata pada akhir tahun ajaran siswa dari guru A menghasilkan nilai yang tinggi-tinggi, sedang hasil dari guru B siswanya itu nilainya buruk-buruk. Ternyata apa yang terjadi dalam studi itu diselidiki bahwa si guru A karena beranggapan bahwa siswanya ini test masuknya tinggi-tinggi mereka adalah siswa yang pandai, si guru B karena melihat siswanya ini nilainya buruk beranggapan yang masuk ke kelas dia adalah anak-anak yang kurang pandai. Si guru A memperlakukan siswanya sebagai siswa yang pandai, memberikan pujian, memberikan tantangan yang tinggi. Si guru B karena menganggap siswanya ini kurang pandai memperlakukan siswanya sebagai orang yang kurang pandai tantangannya dikurangi, pujian-pujian dikurangi dan hasil akhirnya memang beda. Jadi saya kira kalau kita orang tua harus berhati-hati dalam memberikan komentar, jangan sampai kita melecehkan anak, yang mereka perlukan adalah dorongan-dorongan dari kita.
GS : Tapi dalam contoh yang Pak Paul tadi sebutkan, yang terakhir ini dipengaruhi gurunya bukan siswanya. Tetapi kenapa dia tiba-tiba menjadi punya pikiran negatif terhadap anak didiknya?

PG : Ya memang itu suatu percobaan dan ternyata waktu seorang guru melihat bahwa test masuk siswanya itu buruk, dia sudah langsung beranggapaan bahwa siswanya itu memang orang-orang yang tidakpandai, nah itu adalah suatu percobaan.

Sebetulnya siswa-siswa itu tidak mengalami test apapun, itu adalah test yang dibuat saja dan hasilnya untuk si guru dan untuk diuji apakah memang akan membuahkan perbedaaan. Nah ternyata ada bedanya.
GS : Jadi pengaruh dari luar, stimulan dari luar itu akan berpengaruh pada seseorang, pola pikir seseorang negatif atau positifnya ya Pak?

PG : Saya kira ya, jadi kalau kita memang terlalu sering menerima pelecehan dan penghinaan kita cenderung akan mengembangkan pola pikir yang negatif.

(4) GS : Jadi penanganannya bagaimana, Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah kita harus memfokuskan pada apa yang ada atau yang telah terjadi, bukan pada yang tidak ada dan yang belum terjadi. Jadi sekali lagi contoh misalnya melamar pekerjaan, alau belum terjadi karena kita belum melamar yang ke-9, kita jangan berkata saya pasti gagal karena memang belum terjadi, meskipun yang 1-8 sudah terjadi, yang ke-9 tetap kita harus berkata belum terjadi.

Ini yang terjadi pada Thomas Alfa Edison sewaktu menemukan listrik, saya tidak ingat ke seribu berapa kalinya eksperimen itu dilakukan baru dia menemukan listrik. Nah mungkin sekali pada waktu dia ke-900 dia tetap berkata yang ke-900 belum saya lakukan, jadi belum bisa saya katakan saya pasti gagal. Jadi fokuskan pada apa yang ada atau apa yang telah terjadi, bukan yang tidak ada dan yang belum terjadi.
GS : Memang menarik pernyataan Thomas Alfa Edison yang mengatakan saya sudah mencoba sekian ratus kali, kenapa saya tidak mau mencoba sekali lagi dan yang terakhir itu ternyata berhasil, Pak Paul. Itu yang bagus.

PG : Betul.

ET : Cuma saya membayangkan kalau misalnya pola ini sudah dimiliki seseorang sampai sekian tahun namanya juga sudah pola begitu, Pak Paul. Dia harus berpikir menemukan pemikiran ini sendirian, pasti sulit ya?

PG : Sangat sulit, jadi memang kita ini kalau tahu teman kita mempunyai masalah dengan pola pikir negatif kita harus mendorongnya, nah kalau kita sendiri yang berpola pikir negatif dan kita sadri itu, saya rasa kita harus masuk ke langkah berikutnya yaitu yang tadi Ibu Esther sudah paparkan yakni berkonsultasilah dengan orang lain guna mendapatkan wawasan yang lebih luas atau dorongan.

Sebab memang dari diri kita sendiri kemungkinan tenaga itu sudah hampir habis.

ET : Ya apalagi misalnya memang pengalamannya juga buruk, gagal berkali-kali, lalu memang belum pernah dapat dukungan dari orang lain, dia harus berjuang sendirian.

PG : Betul, jadi masuk akal kalau dia harus berjuang sendirian rasanya sudah kalah duluan, maka mintalah bantuan, konsultasilah dengan orang lain, tukar pikiranlah dengan orang lain sehingga orng lain pun bisa memberikan masukan apa yang perlu diperbaiki dan kira-kira apa kemungkinan keberhasilannya dan sebagainya.

Jadi dia memang perlu meminta bantuan kepada orang lain.
GS : Ya tapi ada kesulitan yang harus dihadapi, saya rasa itu untuk memilah-milah mana yang kira-kira dia bisa lakukan dan mana yang tidak bisa dia lakukan. Karena tidak mungkin dia akan lakukan semuanya.

PG : Dengan kata lain, seseorang memang pada akhirnya harus menginventarisasi kemampuannya dengan tepat, jadi jangan sampai dianya juga bermasalah dalam pengertian tidak memiliki gambar diri yag tepat, itu penting sekali untuk bisa juga merealisasikan pikiran negatif kita.

Kalau memang kita tidak bisa, kita akui tidak bisa, kita bisa kita akui kita bisa. Namun bukanlah dalam kategori bisa atau tidak bisa, ada tingkatannya pula. Jadi kita bisa katakan saya bisa dalam batas seperti apa, saya tidak bisa, tidak bisanya seperti apa. Sebaiknya memang kita juga memiliki gambar yang tepat dalam bidang-bidang itu.

ET : Rasanya juga mungkin keinginan membuka diri itu Pak Paul, maksudnya hal-hal seperti itu juga perlu input dari orang lain. Kamu bisa sebenarnya, tapi kadang-kadang ada orang yang memang sudh tidak bisa ya tidak bisa, rasanya mungkin mau fleksibel untuk mendengar bahwa ada benarnya pandangan orang lain tidak selalu yang dia pikir tidak bisa selamanya juga tidak bisa.

PG : Dan ini akan menjadi tantangan orang yang berpola pikir negatif, Bu Esther, sebab ada kecenderungan orang yang berpola pikir negatif mudah menutup diri terhadap masukan orang lain. Seolah-lah dia senantiasa berusaha mengkonfirmasikan ramalannya bahwa dia akan gagal, kalau ada orang ingin menggugat dan memberikan dia harapan seolah-olah dia tepis, dia justru berikhtiar untuk senantiasa mengkonfirmasikan nubuatannya itulah bahwa dia akan gagal.

Jadi waktu orang lain mencoba untuk mendorongnya susah untuk dia terima, itu pertama. Kedua ada kecenderungan juga tadi Pak Gunawan sudah singgung, yaitu memang mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. Jadi masalah itu sendiri juga menghalangi dia untuk mendengarkan masukan dari orang. Karena orang yang menerima diri dengan nyaman mempunyai kepercayaan diri yang baik, justru lebih terbuka mendengarkan masukan orang lain. Justru orang-orang yang memang mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, susah untuk menerima tanggapan orang, dia takut orang melihat dirinya yang kurang itu, dia takut ditolak atau dihina.

ET : Berarti untuk menginventarisasi diri itu benar-benar dia harus keluar dari kungkungannya ya?

PG : Betul, dan dia harus menemukan orang yang bagi dia aman, bisa menerimanya meskipun menunjukkan kekurangannya itu. Dia takut sekali orang tahu kekurangannya, sebab dia tahu orang akan menghna dia kalau tahu kekurangannya.

ET: Padahal dia sendiri juga menghina dirinya ya?

PG : Betul.

GS : Bagaimana halnya itu kalau menyangkut orang yang percaya kepada Tuhan, orang yang beriman, Pak Paul?

PG : Maka prinsip akhirnya adalah ini Pak Gunawan, cobalah dengan perhitungan dan iman itu prinsipnya. Jadi waktu kita menghadapi tantangan hitung kekuatan kita, kemampuan kita, kebiasaan kita,lihat apa yang ada di depan kita.

Tapi juga majulah dengan iman, artinya serahkanlah sisanya kepada Tuhan, kita lakukan bagian kita, kita sudah menghitung setelah itu sisanya kembalikan kepada Tuhan. Mungkin firman Tuhan ini cocok untuk kita bisa berikan kepada saudara-saudara kita yang mungkin mempunyai masalah seperti ini, Pak Gunawan. Diambil dari Amsal 3:5-6, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu." Tugas kita lakukan bagian kita, perhitungan harus jalan tapi iman juga harus jalan mengetahui Tuhan akan meluruskan sisanya, begitu.
GS : Memang sulit juga untuk menyerahkan itu Pak Paul, kadang-kadang walaupun di dalam doanya atau dia dalam kerinduannya, keinginannya menyerahkan itu pada Tuhan tapi ternyata sebagian besar masih tetap di genggamannya sehingga tetap ada rasa negatif. Berpikiran negatif itu terus menghantui dirinya terus, Pak Paul.

PG : Saya kira ya, jadi iman memang bukannya sesuatu yang langsung bisa kita nikmati kemenangannya pada saat itu. Sebab kalau kita sudah nikmati kemenangannya bukan iman lagi. Justru belum meliatnya, nah dalam kegalauan itulah seseorang bisa beriman yaitu belum melihat tapi sudah berserah.

GS : Jadi pergumulannya dalam menyerahkan itu pada yang memang hak Tuhan, bagian Tuhan itu Pak Paul. Jadi diapun harus punya keyakinan bahwa Tuhan akan menolong dia untuk makin hari makin bisa mengurangi pikiran-pikiran negatifnya dan menjadi positif.

PG : Betul, sebab pada akhirnya orang yang beriman adalah orang yang sangat positif.

GS : Terima kasih sekali, Pak Paul dan juga Ibu Esther. Saudara-saudara pendengar kami baru saja berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru membicarakan suatu pokok yaitu "Mengalahkan Pikiran Negatif". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



12. Mengalahkan Sikap Egois


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T097B (File MP3 T097B)


Abstrak:

Pada dasarnya sikap egois atau orang yang egois memiliki sifat serakah meskipun tidak selalu nampak bahwa itu serakah. Orang yang egois sebetulnya menyimpan ketakutan dan kekhawatiran akan kehilangan apa yang menjadi miliknya atau haknya. Dan sebetulnya orang tersebut memiliki kebutuhan yang besar akan ketenteraman atau keamanan.


Ringkasan:

Egois berasal dari kata ego, ego itu adalah aku dalam bahasa Yunani, jadi orang yang disebut egois orang yang memang mementingkan dirinya, mementingkan akunya. Jadi yang saya maksud egois adalah sikap mementingkan diri di atas kepentingan orang lain tanpa batas. Artinya tidak mengenal kondisi, dalam pengertian dengan siapakah kita bersama, pokoknya kita yang harus mendapatkan prioritas yang utama. Pada dasarnya orang yang egois memiliki sifat serakah meskipun tidak selalu nampak serakah. Orang egois sebetulnya menyimpan ketakutan, kekhawatiran. Apa yang dia khawatirkan, dia takut kehilangan apa yang menjadi miliknya atau haknya maka itulah dia tidak rela kehilangan sedikitpun yang sudah menjadi miliknya. Dia takut sekali, maka dikatakan orang yang egois sebetulnya mempunyai kebutuhan yang besar akan ketenteraman atau keamanan.

Penyebab orang memiliki sikap egois yang besar adalah:

  1. Sikap egois ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah diterimanya selama ini. Misalnya sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia tidak pernah disalahkan dan senantiasa dibenarkan, orang seperti ini sewaktu dia dewasa, dia menuntut perlakuan yang sama dari semua orang. Dan dia akan gagal mengembangkan satu keterampilan yang sangat penting, yakni berempati yang artinya adalah menempatkan diri pada posisi orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, merasakan sesuatu dari perasaan orang lain. Dalam hal ini anak tunggal cenderung juga untuk egois, karena anak tunggal tidak harus mengalah.

  2. Sikap egois timbul dari kelaparan, kelaparan emosional, kelaparan finansial atau kelaparan jasmaniah. Artinya anak-anak ini bertumbuh dalam lingkungan yang minus, kurang mendapatkan gizi-gizi emosional, perhatian, kasih sayang dari orangtuanya atau hidupnya susah sekali secara finansial atau jasmaniah. Meskipun tidak selalu, anak-anak yang dibesarkan dalam kekurangan yang begitu besar kalau nggak hati-hati akan menjadi orang dewasa yang sangat haus atau lapar akan pemenuhan. Sehingga waktu dia menerima, waktu dia mencicipi dia tidak bisa melepaskan, tapi ini tidak semua.

Memerangi sikap egois yang memang sudah mendarah daging:

  1. Kita mesti memahami sumber sikap egois kita, apakah sumbernya adalah karena kelebihan, kita terlalu banyak menerima sehingga kita menuntut orang memberikan yang sama.

  2. Bertanya, jika orang berada pada posisi saya, apa yang akan mereka lakukan. Saya nggak berkata jika saya berada pada posisi orang, sebab orang yang egois akan berkata kalau saya berada pada posisi orang, saya akan begini dirinya lagi yang muncul, jadi harus dibalik. Pertanyaan ini bertujuan untuk menempatkan diri pada posisi orang, melihat dari kaca mata orang, merasakan dari perasaan orang, sebab itulah yang telah mati dalam hidupnya.

  3. Berimanlah pada Tuhan yang memelihara hidup kita, selalu saya mau tekankan bahwa masih ada Tuhan dalam hidup ini dan Tuhan yang memelihara kehidupan kita, Dia nggak meninggalkan kita. Jadi jangan takut kehilangan, waktu kita melepaskan hak jangan takut rugi waktu kita berkorban, ada Tuhan yang melihat, ada Tuhan yang memberi berkat, ada Tuhan yang mencatat perbuatan manusia.

  4. Ambillah secukupnya, ambil yang menjadi milik kita, ambil secukupnya jangan berlebihan dan langkah yang kedua bagilah meskipun sedikit. Jadi orang yang egois perlu belajar mengambil tapi secukupnya, perlu belajar membagi meskipun sedikit, itu awalnya.

Amsal 3:27, "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Ayat ini memang sulit dikerjakan oleh orang yang egois, tapi Tuhan meminta kita jangan menahan kebaikan, jangan menahan kebaikan padahal kita mampu memberikan kebaikan itu.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dan beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan yang kali ini kami beri judul "Mengalahkan Sikap Egois". Dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, kebanyakan orang itu menuduh orang lain, jarang menuduh dirinya sendiri. Dia katakan orang itu egois, menangnya sendiri, maunya sendiri saja. Tapi sebenarnya sikap egois itu apa, sampai sebatas mana Pak Paul?

PG : Egois berasal dari kata ego, ego itu adalah aku dalam bahasa Yunani, jadi orang yang disebut egois adalah orang yang memang mementingkan dirinya, mementingkan akunya. Saya menyadari baha adakalanya kita memang harus memikirkan diri kita sendiri, adakalanya kita dipanggil Tuhan misalnya untuk menegakkan kebenaran.

Kita harus melakukan itu meskipun orang lain berkata kamu menegakkan kebenaran menurut pandanganmu, tapi kalau kita tahu ini jelas dari Tuhan kita terpaksa harus melakukan meskipun orang mengatakan kita egois. Atau yang juga saya harus akui, kita ini bisa dilihat egois waktu kita mementingkan kebutuhan mendasar kita, makan, minum nah kita memang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita itu. Jarang sekali di antara kita ada yang bisa berkata saya kerja kemudian semuanya saya berikan kepada orang lain dan saya tidak perlu makan atau minum lagi. Jadi dalam hal-hal tertentu memang kita akan disebut egois, meskipun bukan egois yang saya maksud. Yang saya maksud egois adalah sikap mementingkan diri di atas kepentingan orang lain tanpa batas. Artinya tidak mengenal kondisi, tidak mengenal kondisi dalam situasi seperti apakah, tidak mengenal kondisi dalam pengertian dengan siapakah kita bersama. Yang penting kita yang harus mendapatkan prioritas utama, itulah kira-kira yang saya maksud dengan sikap egois di sini.
GS : Kadang-kadang di dalam pergaulan itu ada orang yang minta diperhatikan atau yang kemauannya harus dituruti, tetapi dia tidak mau mengerti kebutuhan orang lain Pak Paul, apakah dalam hal itu juga bisa disebut egois?

PG : Kalau itu menjadi pola, caranya berelasi dengan orang-orang itu muncul secara insidentil, saya kira bukan. Jadi yang muncul secara konsisten, konstan dengan orang-orang di sekelilingnya Nah orang ini memang sukar sekali mengesampingkan dirinya, karena apa? Karena dia melihat dirinya terlalu penting untuk dikesampingkan.

Jadi dia akan berkata secara tidak sadar saya tidak harus dikesampingkan, yang harus dikesampingkan engkau atau mereka, bukannya saya. Kenapa? Sebab ujung-ujungnya dia beranggapan diri saya terlalu penting, terlalu berharga untuk saya kesampingkan atau kalau kita mau terapkan langsung pada orang lain, orang ini sesungguhnya berkata bahwa orang lain itu tidak sepenting saya, orang lain itu tidak seberharga saya, jadi mereka itu seharusnyalah berkorban demi saya, begitu.
GS : Tetapi dia sendiri biasanya tidak mau berkorban untuk orang lain, Pak Paul?

PG : Betul, kalaupun dia berkorban Pak Gunawan, itu pengorbanan yang penuh perhitungan artinya dia akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dengan pengorbanannya itu. Misalkan waktu dia muli mencintai seseorang, dia mungkin akan berani berkorban, pergi, menjemput dan sebagainya, namun dia melakukan semua itu dengan perhitungan yang sangat jelas yaitu dia harus mendapatkan gadis itu.

Kalau dengan adanya keraguan dia tidak mungkin mendapatkannya, maka dia tidak mungkin melakukannya. Jadi dia soroti dari segi transaksi dan transaksi yang menguntungkan dirinya, kalau dia tahu tidak akan menguntungkan dirinya maka tidak dilakukannya.
GS : Kalau kita membaca kasus di dalam Injil Pak Paul, anak-anak Zebedeus itu minta yang satu di sebelah kanan Tuhan Yesus dan kiri Tuhan Yesus itu bisa dikategorikan egois atau tidak?

PG : Saya kira pada saat itu kedua anak Zebedeus yang diwakili oleh ibunya belum tentu bersifat egois, yang sudah jelas adalah dia itu hanya melihat bahwa Yesus itu dekat dengan kedua anakny, itu memang betul.

Dari ke-12 murid ada 3 murid yang dekat dengan Tuhan, 2 anak-anak Zebedeus, yang satu Petrus. Jadi si ibu ini mempunyai keyakinan kalau kedua anaknya ini begitu dekat dengan Tuhan. Nanti dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali untuk memerintah, anak-anaknya ini akan berada di samping kiri dan samping kanannya Tuhan. Dia sendiri tidak mempunyai gambaran bahwa Yesus itu akan meninggal, Yesus adalah Juruselamat yang harus menderita terlebih dahulu sebagai orang Yahudi. Dia berpikir Yesus itu akan menjadi raja, menjadi Mesias tanpa harus menderita terlebih dahulu. Saya kira belum bisa dikategorikan egois.
GS : Pak Paul, kadang-kadang atau sering kali bahkan nampak orang-orang yang egois kelihatannya terkesan serakah ya?

PG : Pada dasarnya orang yang egois memang serakah meskipun tidak selalu nampak serakah. Sebab definisinya serakah buat kita, misalnya orang yang merampas milik orang lain, orang yang benarbenar buat kita itu melewati batas kesopansantunan.

Namun orang yang egois belum tentu sevulgar itu, tapi kita bisa katakan pada dasarnya dia serakah, kenapa? Sebab orang yang egois itu tidak bisa membagi apa yang menjadi milik atau haknya. Kalau sesuatu dianggapnya milik dia, dia akan susah sekali membagikan untuk orang lain, sebab celakanya dia dulu harus dipenuhi itu sering kali tidak ada batasnya, harus dia lagi besok dan harus dia lagi keesokan harinya. Nah dalam pengertian seperti inilah saya memanggil orang yang egois adalah orang yang serakah.
GS : Berarti ada semacam kekhawatiran di dalam diri orang yang egois, Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi orang egois sebetulnya menyimpan ketakutan, kekhawatiran. Apa yang dia khawatirkan? Takut kehilangan apa yang menjadi miliknya atau haknya, maka itulah dia tidakrela kehilangan sedikitpun yang sudah menjadi miliknya.

Dia takut sekali, maka kita katakan orang yang egois sebetulnya mempunyai kebutuhan yang besar akan ketenteraman atau keamanan. Dia tidak bisa merasa aman, sebab dia merasa aman dengan misalnya 1 juta. Dia akan mempunyai keinginan besok saya harus lebih merasa aman dengan 1,1 juta dan nanti saya harus menjadi aman juga dengan 1,5 juta. Jadi sekali lagi ada kebutuhan yang besar untuk merasa aman, itu yang membuat dia susah sekali untuk melepaskan yang dianggap miliknya atau haknya.
GS : Tetapi pada dasarnya semua orang itu mempunyai sikap egois atau memang ada orang-orang tertentu yang tidak punya sikap egois, Pak Paul?

PG : Saya kira sampai titik tertentu kita ini dilahirkan bersifat egois, kita menyebutnya egosentrik, mementingkan diri. Namun waktu kita bertumbuh besar melalui bentukan-bentukan dari lingkngan, kita dipaksa untuk menyerahkan yang kita anggap milik kita.

Contoh waktu kita bermain-main sewaktu anak-anak, kita menganggap kita seharusnya menang, jelas-jelas kita kalah tapi di mata kita, kita seharusnya menang. Begitu kita tetap pada pendirian dan berkata saya harus menang, teman-teman berkata silakan, engkau anggap dirimu menang silakan main sendiri besok. Nah kita kerepotan besok main sendirian dan besoknya lagi main sendirian akhirnya kita menyerah, kita bermain dengan teman-teman lagi dan tidak bisa memaksakan diri bahwa kita menang. Akhirnya lingkunganlah yang membentuk kita menjadi orang-orang yang tidak terlalu egois, meskipun pada dasarnya kita semua lahir dengan kecenderungan egois.
(2) GS : Jadi kalau ada orang yang sifat egoisnya itu besar, penyebabnya apa Pak Paul?

PG : Ada beberapa, Pak Gunawan, yang pertama adalah sikap egois ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah diterimanya selama ini. Misalnya sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia tida pernah disalahkan dan senantiasa dibenarkan, nah orang seperti ini sewaktu dia dewasa dia menuntut perlakuan yang sama dari semua orang.

Dan dia akan gagal mengembangkan satu keterampilan yang sangat penting, yakni berempati yang artinya adalah menempatkan diri pada posisi orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, merasakan sesuatu dari perasaan orang lain. Nah dia tidak bisa mengembangkan keterampilan yang begitu penting, karena apa? Semua dia soroti dari dirinya. Sebab dirinyalah yang merupakan pusat dalam kehidupan keluarganya waktu dia masih kecil, semua orang menuruti kehendaknya, semua akan mengiakan permintaannya, tidak ada yang berani untuk melawannya karena misalkan dia anak yang terlalu dijunjung oleh orang tuanya. Orang-orang yang seperti ini akan menuntut perlakuan yang sama dari orang lain, maka tadi saya katakan sikap egoisnya ini merupakan kelanjutan dari perlakuan yang telah diterimanya selama ini.
GS : Apakah itu yang menjadi penyebab anak tunggal, misalnya mempunyai kecenderungan memiliki sikap egois, Pak Paul?

PG : Betul, ada kecenderungan anak-anak tunggal untuk egois, sebab anak tunggal tidak harus mengalah. Kepada siapakah dia harus mengalah tidak ada adik, tidak ada kakak yang akan meminjam manannya, yang akan memainkan barangnya tanpa seizin dia, tidak ada, semua dia dapatkan dengan begitu mudahnya.

Maka bagi orang tua yang beranak tunggal harus menyadari kecenderungan ini dan benar-benar memantau apakah sikap egois anak bertumbuh dengan besar. Kalau memang ada kecenderungan itu orang tua harus benar-benar bekerja keras membatasi si anak sehingga tidak mengembangkan sikap egois.
GS : Ya, atau kadang juga ini Pak Paul, anak itu sejak kecil sakit-sakitan sehingga oleh orang tuanya diberikan perlindungan yang sangat ekstra bahkan orang bicara ramai sedikit di dekat kamarnya itu sudah tidak boleh, Pak Paul.

PG : Itu sering terjadi Pak Gunawan, jadi ada sebagian anak-anak yang mengembangkan sikap egois, awalnya karena kondisi fisiknya yang lemah.

GS : Jadi walaupun dia sudah besar, sehat, tidak sakit-sakitan dia masih menuntut itu Pak Paul?

PG : Tepat, tepat itu sering terjadi.

GS : Nah apakah ada penyebab yang lain Pak Paul?

PG : Penyebab yang lainnya justru kebalikan dari yang pertama Pak Gunawan, jadi ini adalah sikap egois yang timbul dari kelaparan emosional, kelaparan finansial atau kelaparan jasmaniah. Artnya anak-anak ini memang bertumbuh dalam lingkungan yang minus, kurang mendapatkan gizi-gizi emosional, perhatian, kasih sayang dari orang tuanya atau hidupnya susah sekali secara finansial atau secara jasmaniah dia kekurangan makanan pada masa kecilnya.

Nah ada kecenderungan meskipun tidak selalu, anak-anak yang dibesarkan dalam kekurangan yang sebegitu besarnya kalau tidak hati-hati akan menjadi orang dewasa yang sangat haus atau lapar akan pemenuhan-pemenuhan itu. Sehingga waktu dia menerima, dia mencicipi dia tidak bisa melepaskan, tapi ini tidak semua. Saya tahu ada banyak anak-anak yang dalam kekurangan bertumbuh besar menjadi orang-orang yang sangat matang, justru bisa membagi, karena pernah mengalami kekurangan. Tapi entah mengapa ada sebagian yang justru tidak seperti itu, justru sangat tamak, kikir, justru sangat egois sekali benar-benar dirinya itu tidak boleh berkorban, tidak boleh dikurangi, yang menjadi hak porsinya harus didapatkan, dia tidak boleh berkorban bagi yang lainnya.
GS : Ya, atau mungkin Pak Paul, lingkungannya yang tidak kondusif itu membuat dia makin bersikap egoistis?

PG : Saya kira demikian Pak Gunawan, jadi kalau dia itu harus bekerja terus dan seolah-olah tidak mendapatkan belas kasihan orang, tidak pernah mencicipi karunia, anugerah dari orang atau dai Tuhan, kemungkinan dia akan mengembangkan sikap egois.

Tapi anak-anak yang besar dalam kekurangan kemudian mencicipi anugerah, baik anugerah manusia lainnya ataupun anugerah Tuhan yang berlimpah kepadanya. Dia melihat Tuhan itu baik, orangpun bisa baik kepadanya, nah saya percaya orang-orang seperti ini justru orang yang beranugerah besar, tidak egois.
GS : Tapi orang yang egois itu tidak bisa menyadari dirinya sendiri bahwa dia itu memang egoistis ya, Pak?

PG : Sering kali orang itu akan berkata saya itu hanyalah mempertahankan hak saya, tapi kalau dia senantiasa mempertahankan hak dan tidak pernah sekalipun melepaskan hak apa namanya. Bukanka seharusnya dia memanggil dirinya egois.

Jadi orang yang mempertahankan hak terus-menerus, tidak pernah sekejap pun melepaskan hak artinya orang yang egois.
(3) GS : Ya, itu berarti sesuatu sikap hidup yang sebenarnya harus dikalahkan, harus diperangi. Bagaimana memerangi sikap egoistis yang katakan sudah mendarah daging, Pak Paul?

PG : Ada beberapa saran yang bisa ditawarkan, yang pertama adalah kita harus memahami sumber sikap egois kita, apakah sumbernya karena kelebihan, kita terlalu banyak menerima sehingga kita mnuntut orang memberikan yang sama.

Nah kalau itu sumbernya memang agak susah untuk memaksa diri menerima kurang, sebab kita mungkin berkata sebab kalau saya bisa menerima lebih kenapa saya harus menerima yang kurang dari yang lebih itu. Tapi kita harus berpikir bahwa semakin kita bersikap egois semakin kita menjauhkan diri dari orang lain, semakin kita menjadi orang yang sengsara karena kita akan sendirian. Ataukah sumbernya kekurangan, defisit-defisit yang kita alami, yang membuat kita akhirnya egois tidak rela melepaskan hak kita dan berkorban bagi orang lain. Nah kalau misalnya sumbernya adalah kekurangan pertanyaan kita adalah apakah selalu orang itu tidak pernah memberikan kepada kita. Bukankah kita kalau bercermin melihat ke belakang, kita akan bisa berkata bahwa orang pernah memberi kepada kita, Tuhan pernah memberi kepada kita, kita tidak pernah bisa berkata saya orang yang bebas hutang, jadi itu yang pertama bisa saya sarankan.
GS : Tetapi orang itu juga yang tadi Pak Paul katakan, masalahnya dia tidak punya empati untuk bisa merasakan orang lain?

PG : Nah itu betul, jadi saran yang kedua adalah bertanya begini jika orang berada pada posisi saya, apa yang akan mereka lakukan. Saya tidak berkata jika saya berada pada posisi orang, seba orang yang egois akan berkata kalau saya berada pada posisi orang saya akan begini ya dirinya lagi yang muncul, jadi harus dibalik.

Kalau orang lain panutannya dia yang dia hormati berada dalam posisinya apa yang dia akan lakukan. Kalau Tuhan Yesus berada pada posisi dia, apa yang Tuhan Yesus akan lakukan, nah hal seperti itu yang dia juga pasti tanyakan senantiasa.
GS : Tujuan dari pertanyaan itu sebenarnya apa, Pak Paul?

PG : Belajar untuk menempatkan diri pada posisi orang, melihat dari kacamata orang, merasakan dari perasaan orang, sebab itulah yang telah mati dalam hidupnya.

GS : Tapi kalau orang ini memang betul-betul egois dan sulit mengerti orang lain, dia akan berkata kalau kamu pada tempatku kamu akan melakukan hal yang sama seperti aku.

PG : Nah kalau bisa makanya dia langsung bertanya, dia langsung bertanya kepada orang yang dekat dengan dia, kalau engkau ada dalam posisiku apa yang engkau akan lakukan. Jadi dia belajar dai orang bagaimana harus bersikap.

GS : Dan dia harus mendengarkan atau menerima apa yang orang lain katakan itu ya, Pak Paul?

PG : Betul, jangan dia membenarkan dirinya kembali.

GS : Nanti tidak selesai, selesai (PG : Tidak selesai, selesai betul) lalu apakah ada hal yang lain?

PG : Yang ketiga adalah berimanlah pada Tuhan yang memelihara hidup kita, selalu saya mau tekankan bahwa masih ada Tuhan dalam hidup ini dan Tuhan yang memelihara kehidupan kita, Dia tidak mninggalkan.

Jadi jangan takut kehilangan, waktu kita melepaskan hak, jangan takut rugi waktu kita berkorban, ada Tuhan yang melihat, ada Tuhan yang memberi berkat, ada Tuhan yang mencatat perbuatan manusia.
GS : Bagaimana dengan hal yang lain, misalnya dia merasakan khawatir, tidak cukup dan sebagainya itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saran terakhir saya adalah ambillah secukupnya, saya tidak berkata jangan ambil, ambil yang menjadi milik kita, ambil secukupnya jangan berlebihan dan langkah kedua bagilah meskipun sedkit.

Jadi orang yang egois perlu belajar mengambil tapi secukupnya, perlu belajar membagi meskipun sedikit, itu awalnya.
GS : Dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah cukup banyak memberikan tuntutan atau pedoman bahkan sekaligus kepada kita ya, Pak Paul?

PG : Ada satu ayat yang bisa saya bagikan dari Amsal 3:27, "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Nah inimemang sulit dikerjakan oleh orang yang egois, tapi Tuhan meminta kita jangan menahan kebaikan, padahal kita mampu memberikan kebaikan itu.

Ini perintah Tuhan, jadi saya harap bisa kita ingat baik-baik.
GS : Jadi sebenarnya walaupun orang itu egois, tetapi masih ada unsur yang baik di dalam dirinya yang bisa dibagikan kepada orang lain.

PG : Betul, meskipun dia menganggap sedikitlah atau apa, tetap dia masih bisa memberikan kebaikan.

GS : Ya sering kali yang dipertanyakan adalah apakah artinya pemberian yang sedikit, biar orang lain yang bisa memberi banyak padahal sebenarnya alasan utamanya dia khawatir kehilangan itu ya Pak? (PG :betul sekali). Jadi saya percaya bahwa apa yang Pak Paul sampaikan, khususnya melalui Amsal 3 tadi akan lebih memotivasi kita semua yang tentunya punya sifat egois untuk mengalahkan sikap ini, karena bagaimanapun juga ini sesuatu yang tidak baik dan saya percaya bahwa Roh Kudus itu akan menolong kita untuk mengalahkan sikap ini. Terima kasih sekali Pak Paul, dan saudara-saudara pendengar kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengalahkan Sikap Egois". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



13. Menerima Kelebihan dan Kekurangan Diri


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T101A (File MP3 T101A)


Abstrak:

Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tetapi seringkali yang menjadi kecenderungan kita adalah kita ingin menjadi orang di luar dari diri kita.


Ringkasan:

Setiap orang pasti ada kekurangan dan kelebihannya tetapi seringkali kita cenderung ingin menjadi orang di luar dari diri kita.

Ada beberapa hal yang menyebabkannya, yaitu:

  1. Kita lihat terlebih dahulu tentang kelebihan. Kelebihan adalah suatu kemampuan karakteristik atau ciri tentang diri kita yang kita anggap lebih baik dari pada kemampuan-kemampuan atau aspek-aspek lain dalam diri kita. Jadi salah satu penyebab kenapa kita sulit menerima kelebihan kita, kadang kala karena memang kita nggak mau kita lebih dalam hal itu, maunya lebih dalam hal yang lain.

  2. Kekurangan adalah kemampuan yang sebenarnya kita harapkan untuk lebih baik dari kondisi sesungguhnya namun ternyata tidak. Jadi yang kita anggap kurang, biasanya adalah hal yang kita inginkan lebih baik. Kekurangan ini biasanya melahirkan rasa malu dan rasa minder.

Salah satu pasal yang menjelaskan dengan mendetail tentang penerimaan terhadap satu sama lain yaitu 1 Korintus 12:21-25, "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan : "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan."

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik di sini:

  1. Kita jelas bisa melihat bahwa kita tidak diciptakan sama, ada mata, kaki, telinga dsb. Tidak sama dalam 2 hal.

    1. Dalam hal jenis kemampuan, nggak semua orang bisa filsafat, tidak semua orang bisa matematika dsb.

    2. Dalam hal segi tingkat kemampuan.

  2. Ternyata Tuhan menuntut yang lebih berbakat atau lebih berkarunia untuk memperhatikan yang lebih lemah. Tuhan berkata bukan saja kita perlu menoleransi keberadaan atau kehadiran seseorang yang lebih lemah dari kita, Tuhan menuntut kita memberi penghormatan yang khusus. Tuhan menginginkan kita memandang manusia bukan dari segi kegunaannya tapi dari segi bahwa dia adalah orang yang Tuhan sudah ciptakan dan tempatkan di samping kita dan siapapun yang Tuhan sudah tempatkan dan ciptakan di samping kita itu adalah ciptaan Tuhan yang kita mesti juga hormati.

  3. Tuhan meminta kita untuk bisa sebaiknya memberikan bantuan kita juga kepada orang yang kita anggap lebih lemah, jangan kita malah melecehkannya atau membuangnya.

  4. Tuhan berkata justru yang lebih lemah itu yang lebih dibutuhkan. Tiada kesimpulan lain yang dapat ditemukan kecuali satu, yaitu yang lemah akan Tuhan pakai untuk membentik kita agar kita lebih menyerupai Tuhan sebab tujuan Tuhan adalah membentuk kita menjadi serupa dengan Dia.

Ada pepatah Inggris yang bagus: "be yourself but be the best of you" artinya jadilah dirimu jangan jadi diri orang lain, jadilah dirimu tapi jadilah dirimu yang terbaik.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan juga Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau berdua adalah pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan dan pasti sangat menarik dan bermanfaat, yang kami beri judul "Menerima Kelebihan dan Kekurangan kita." Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, semua orang menyadari bahwa dirinya itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya, tetapi kenapa sering kali kita (saya sendiri juga sering kali merasakan) rasanya lebih enak menjadi orang lain di luar diri kita sendiri. Padahal masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya, tetapi kita merasa tidak puas dengan keberadaan kita, kenapa saya tidak seperti orang itu, sebenarnya perasaan semacam itu apa, Pak Paul?

PG : Ada beberapa penyebabnya Pak Gunawan, yang pertama mari kita melihat tentang kelebihan. Saya memberi definisi kelebihan adalah suatu kemampuan atau karakteristik atau ciri tentang diri ita yang kita anggap lebih baik daripada kemampuan-kemampuan atau aspek-aspek lain dalam diri kita.

Artinya begini, misalkan kita pandai sekali dengan matematika namun kita lemah dalam misalnya bahasa atau sejarah, nah kita katakan itu kelebihan kita. Sebab dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan kita yang lain, kemampuan kita dalam matematika-lah yang paling tinggi. Nah, masalahnya adalah adakalanya kita sendiri tidak menghargai kemampuan kita itu di mana, kita lebih dalam hal matematika misalnya atau yang lainnya. Kenapa kita tidak menghargai kelebihan kita itu, sebab kita menginginkan kita mampu dalam bidang yang lain. Saya berikan contoh: ada orang yang sangat cekatan dengan tangannya, begitu cekatan sehingga dia banyak mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kerajinan tangan. Namun dia tidak suka, dia hanya cekatan dengan tangannya, dia ingin misalnya bisa menghafal banyak karena dia mau terpandang sebagai seorang dokter. Nah, memang dia tidak mempunyai kemampuan menghafal, tapi itulah yang menjadi fokus utamanya sehingga kelebihannya dalam bidang kecekatan tangan dia abaikan. Jadi salah satu penyebab kenapa kita ini sulit menerima kelebihan kita, kadang kala karena memang kita tidak mau kita lebih dalam hal itu, maunya lebih dalam hal yang lain.

ET : Kadang kala juga ada orang yang sulit mengakui kelebihannya, karena dia selalu melihat orang lain yang lebih hebat dalam bidang yang dia rasa sebenarnya lebih.

PG : Betul, jadi yang kita sebut kekurangan maupun kelebihan sebetulnya relatif. Kelebihan relatif, karena kita mungkin merasa lebih dibandingkan dengan 5 orang, kita mungkin di kelas dari 2 anak kita lebih dalam hal tertentu misalnya dalam hal sejarah.

Kemudian kita kuliah, kita bertemu dengan teman-teman yang lain yang ternyata lebih pandai dari kita dalam hal-hal yang kita dulu sangat baik. Akhirnya yang kita anggap kelebihan berhenti menjadi kelebihan, sebab dibanding dengan teman-teman yang lain mereka lebih tinggi lagi.
GS : Bagaimana halnya dengan kekurangan atau segi negatifnya, Pak Paul?

PG : Nah kekurangan adalah kemampuan yang sebenarnya kita harapkan untuk lebih baik dari kondisi sesungguhnya, namun ternyata tidak. Jadi yang kita anggap kurang, biasanya adalah hal yang kia inginkan lebih baik.

Misalkan kita tidak begitu peduli tentang kemampuan mereparasi mobil, kita tidak pusing kita ini bisa atau tidak dengan mesin-mesin mobil. Orang lain mungkin bisa montir, tapi kita tidak merasa terganggu, namun mungkin kita terganggu sekali karena kita tidak bisa bermain musik, teman-teman kita misalnya bisa bermain musik. Nah, kenapa kita terganggu tidak bisa bermain musik, namun tidak terganggu tidak bisa membetulkan mobil, alasannya sederhana yaitu kita menganggap seharusnya kita ini bisa bermain musik, kita mengharapkan kita ini mampu bermain musik, tapi kita tidak mengharapkan kita mampu membetulkan mobil, makanya kita tidak dipusingkan waktu kita tahu kita tidak bisa membetulkan mobil. Jadi sekali lagi kekurangan adalah kemampuan yang sebenarnya kita harapkan untuk lebih baik dari kondisi sebelumnya, namun ternyata tidak. Nah, kekurangan ini biasanya melahirkan rasa malu dan rasa minder. Kenapa, sebab kita akhirnya menganggap karena saya tidak bisa bermain musik misalnya saya tidak dihargai oleh orang. Jadi membuat kita akhirnya merasa malu atau merasa minder karena anggapan pada diri kita bahwa orang memandang tinggi orang yang bermain musik, yang tidak bermain musik orang anggap rendah, nah otomatis kita merasa rendah.
GS : Nah, dalam hal itu dia tidak membandingkan lagi dengan kelebihan-kelebihan yang dia miliki, Pak Paul?

PG : Nah sering kali inilah anehnya kita, kita ini kalau sudah terpaku pada kekurangan kita, kita akhirnya luput melihat kelebihan kita. Kita hanya menyoroti di mana kita kurang dan sekali lgi yang namanya kurang adalah waktu kita melihat seharusnya kita memiliki kemampuan itu.

Tadi saya sudah singgung bahwa kelebihan dan kekurangan itu relatif dibandingkan dengan orang-orang di sekitar kita. Di tengah orang yang lebih berbakat, kelebihan kita biasa-biasa saja dan di tengah orang yang berbakat, kekurangan kita semakin terasakan. Aduh rasanya kita benar-benar kurang karena kita di tengah-tengah orang yang kemampuannya tinggi. Tapi kalau misalkan kita di tengah-tengah orang yang kemampuannya di bawah kita, kemungkinan kita tidak akan merasa begitu, kita akan merasa OK saja.
GS : Dalam hal ini memang kadang-kadang ada kesalahpahaman antara kerendahan hati dan kerendahan diri itu. Jadi karena khawatir dikatakan sombong dan sebagainya, dia menganggap saya ini bukan apa-apa, saya ini tidak bisa apa-apa, tidak ada sesuatu kontribusi yang bisa saya berikan dan sebagainya.

PG : Kalau hanya sebatas retorika atau perkataan-perkataan, saya kira bisa diterima. Untuk sopannya kita berkata: "Ya, saya tidak bisa kok," asal dalam hati kita memang percaya kita tahu kemmpuan kita.

Nah yang jangan sampai terjadi adalah bukannya retorika, benar-benar mempercayai kita tidak mampu.
GS : Jadi karena khawatir dikatakan sombong, khawatir dikatakan mau menguasai segala sesuatu.

PG : Jadi akhirnya kita mengundurkan diri.

ET : Atau justru seperti mencari dukungan, maksudnya ada orang-orang yang melihat dirinya begitu kurang. Akhirnya mungkin sebagai pelampiasannya mencari orang-orang yang lebih kurang lagi dai dia, yang akhirnya justru dia tidak terpacu untuk mencapai atau mengembangkan sisi-sisi kelebihan yang lain.

Jadi sebenarnya kalau dia mau belajar masih bisa mengembangkan kemampuan yang dia miliki, tapi akhirnya dia bandingkan dengan orang lain untuk memuaskan pokoknya saya bisalah sehingga dia tidak terpacu untuk menjadi lebih.

PG : Banyak hal yang kita lakukan untuk menyangkali keberadaan diri kita, itu anehnya kita Ibu Esther. Jadi salah satunya yang kita lakukan adalah karena kita mau menyangkali bahwa kemampuankita terbatas dan kita tidak mau orang lain melihatnya, kita akhirnya berteman dengan yang lebih kurang dari kita.

Atau kita menyembunyikan kebisaan kita karena kebisaan itu pun terbatas. Nah masalahnya bukannya kita ini terlalu rendah hati atau apa, bukan! Persoalannya kita malu, kita hanya mampu sampai sebegitu. Sekali lagi intinya adalah kita tidak mau menerima, kita menyangkali itu, bahwa kita hanya bisa sebegini, kita tidak terima sebab kita beranggapan seharusnya lebih. Nah ini salah satu sumber konflik batiniah dalam diri kebanyakan kita.
(2) GS : Konflik itu yang membuat seseorang tidak bisa menerima diri apa adanya. Nah dalam hal ini apakah Alkitab memberikan prinsip-prinsip atau pedoman bagi kita, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kelebihan dan kekurangan diri kita itu?

PG : Salah satu pasal yang menjelaskan dengan mendetail tentang penerimaan terhadap satu sama lain adalah I Korintus 12:21-25, "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Akutidak membutuhkan engkau".

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan". Nah ini dalam perumpamaan tubuh, yang Tuhan ingin katakan adalah bahwa kita sesama anggota tubuh Kristus seharusnya saling mendukung, saling menopang dalam perbedaan-perbedaan kita. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik di sini, yang pertama adalah kita bisa melihat jelas bahwa kita tidak diciptakan sama, ada yang menjadi mata, kaki, telinga dan sebagainya. Nah tidak sama dalam 2 hal, yang pertama adalah dalam hal jenis kemampuan, tidak semua orang itu bisa filsafat, tidak semua orang bisa matematika, tidak semua orang bisa cekatan dengan tangan, jadi itu memang adalah desain Tuhan untuk kehidupan manusia di bumi ini. Berikutnya, manusia itu tidak sama juga dalam segi tingkat kemampuan, misalnya teman kita mempunyai jenis kemampuan yang serupa, sama-sama misalnya bisa Fisika tapi tidak berarti kita ini mempunyai tingkat kemampuan yang sama. Jadi point pertama, Tuhan memang sudah menjelaskan kita tidak diciptakan sama. Dan dalam kehendak Tuhan Dia menetapkan siapa mempunyai apa dan berapa banyaknya dipunyai oleh orang itu. Dan kita sebagai anak-Nya, ciptaan-Nya menerima hal itu.
GS : Nah yang sulit adalah menemukan jati diri Pak Paul, misalnya tadi dalam Korintus dikatakan sebagai mata, sebagai telinga dan sebagainya, menyadari fungsinya dia sebagai apa. Jadi selama dia tidak menemukan fungsinya, saya rasa akan sulit menerima keberadaan dirinya itu, Pak Paul.

PG : Salah satu pemikiran yang saya kira sering kali membuat kita itu bingung dengan diri kita waktu memikirkan kita bisanya apa adalah kita memikirkan sesuatu yang belum pernah terjadi dala hidup kita.

Nah saya kira Tuhan itu realistik, Tuhan tidak mengharapkan kita bisa melakukan sesuatu yang kita tidak pernah tahu itu apa. Yang saya ingin katakan adalah temuilah kebisaan kita dari hal-hal yang telah terjadi pada diri kita, kalau memangnya belum terjadi kita tidak tahu apa itu, kita tidak usah mencari-cari. Nah kadang-kadang saya melihat ini salah satu sumber masalah, orang itu sepertinya membuka-buka lemari, mencari-cari saya bisanya apa, dia tidak melihat yang sudah dia lewati, yang sudah pernah dia hadapi dalam hidup ini. Yang dia lihat adalah yang belum terjadi, yang belum pernah dia temukan, seolah-olah nun jauh di sana terdapatlah bakatnya yang masih tersembunyi, tidak. Tuhan menempatkan kita di dalam situasi-situasi kehidupan, kita ini tidak kebetulan melewati situasi kehidupan kita, Tuhan yang memang menempatkan dan dari situasi yang Tuhan telah tempatkan itulah kita perlu mengacak dan mengeksplorasi di manakah kira-kira saya itu telah masuk dengan baik, di manakah saya bisa bersumbangsih, di manakah saya bisa menyumbangkan kemampuan saya, apa kemampuan yang telah saya temui dalam hal-hal yang telah saya lewati itu. Jadi mulailah dari hal-hal yang sudah kita lewati.

ET : Katakanlah jenis kemampuan itu sudah mulai kita temukan Pak Paul, tapi untuk mengetahui batasan tingkat kemampuan ini yang kadang-kadang susah. Maksudnya ada orang yang masih bisa terusberkembang lagi, tapi ada orang yang juga terus dipacu sesuai tingkat kemampuannya.

Tapi untuk kita bisa mengetahui OK-lah saya memang hanya sampai sebegini, ini yang sulit.

PG : Saya kira memang tidak bisa dengan cepat kita pastikan o.....ini batasnya saya, jadi akan selalu ada tarik-menarik sampai seberapa jauhnya kita masih bisa mengembangkan diri. Tapi saya ira kita akan mengetahui kalau kita sudah mencobanya beberapa kali dan sudah mentok, kemungkinan memang kemampuan kita di sini.

Jadi kalau terlalu kita paksakan, kita sendiri juga akan mengetahui bahwa ini bukan diri saya lagi, saya sudah tidak lagi normal, ini mulai terlalu tertekan atau apa berarti sudah kita sabar dulu sampai di situ.
GS : Selain prinsip bahwa kita harus menyadari bahwa kita memang berbeda dengan yang lain, apakah ada prinsip yang lain di dalam pembacaan Korintus tadi Pak?

PG : Yang berikutnya adalah ternyata Tuhan menuntut yang lebih berbakat atau lebih berkarunia untuk memperhatikan yang lebih lemah. Tuhan berkata bukan saja kita ini perlu menoleransi keberaaan atau kehadiran seseorang yang lebih lemah dari kita, Tuhan menuntut kita memberi penghormatan yang khusus.

Nah ini sesuatu hal yang memang bertentangan dengan jiwa atau sistem hidup di dunia ini. Di dalam dunia yang kompetitif, kita tidak akan berkata o.....ini prinsip yang betul, dalam dunia kompetitif kita akan berkata: siapa yang tidak bisa mengikuti, biarlah dia terpental, dan siapa yang tidak bisa berlari secepat kita hendaklah dia tinggal di belakang. Itulah falsafah dunia yang kompetitif. Tapi Tuhan menghendaki kita berbeda dari dunia, Tuhan justru berkata kepada yang lebih lemah, "perhatikan dan toleransilah kehadirannya, berilah dia penghormatan yang lebih khusus," jadi bukannya menginjak, membuang, tapi Tuhan ingin kita menyayangi, menghormati, jangan sampai kita itu akhirnya tidak lagi menghargai dan menghormatinya. Nah dari sini kita bisa belajar sekurang-kurangnya satu point, Pak Gunawan dan Ibu Esther, yaitu Tuhan menginginkan kita melihat manusia bukan dari kegunaannya, itu salah satu prinsip yang ditekankan sekali dalam Alkitab. Tuhan menginginkan kita memandang manusia bukan dari segi kegunaannya tapi dari segi bahwa dia adalah orang yang Tuhan sudah ciptakan dan tempatkan di samping kita, dan siapapun yang Tuhan sudah tempatkan dan ciptakan di samping kita, itu adalah ciptaan Tuhan yang kita mesti juga hormati.
GS : Nah di dalam kaitannya menerima kelebihan dan kekurangan, Apakah prinsip tersebut yang mesti kita gunakan Pak Paul?

PG : Begini, kalau kita memang mempunyai kekuatan dalam bidang-bidang tertentu dan dia memang kurang, Tuhan meminta kita untuk sebaiknya memberikan bantuan kepada orang yang kita anggap lebi lemah itu.

Jangan malah kita melecehkannya atau membuangnya; sumbangkanlah, bagilah, tolonglah yang lebih lemah itu. Dalam hal inilah kita menghormati, memperlakukan dia dengan khusus seperti itu.
GS : Dan mungkin sekaligus mensyukuri bahwa kita mempunyai kelebihan itu Pak Paul dibanding yang lain, prinsip yang lain apa Pak Paul?

PG : Yang lainnya lagi adalah Tuhan berkata justru yang lebih lemah itu yang lebih dibutuhkan. Jadi ini suatu hal yang memang ganjil, firman Tuhan berkata justru anggota-anggota tubuh yang nmpaknya paling lemah yang paling dibutuhkan atau justru penting.

Wah kita ini bisa dibuat pusing dengan firman Tuhan ini, sebab bukankah dalam hidup kita, kita berkata yang lemah, yang tidak bisa apa-apa itu menyusahkan kita, mengganggu, bukannya penting, tapi Tuhan berkata itu penting. Nah ini membuat kita bertanya-tanya, kok Tuhan berkata yang lemah itu penting, pentingnya untuk apa? Saya tidak bisa menemukan kesimpulan yang lain kecuali satu. Saya kira tema yang mengalir secara deras di Alkitab yaitu yang lemah akan Tuhan pakai untuk membentuk kita agar kita lebih menyerupai Tuhan, sebab tujuan Tuhan adalah membentuk kita menjadi serupa dengan Dia. Sebab firman Tuhan berkata kita dibentuk untuk serupa seperti Kristus, waktu saya bersabar dengan yang lebih lemah saya lebih menyerupai Tuhan, waktu saya menolong yang lebih lemah bukan menekan atau membuangnya, saya lebih menyerupai Tuhan, waktu saya menahan mulut saya daripada mencaci maki yang lebih lemah saya lebih menyerupai Tuhan.

ET : Tampaknya memang konsep ini untuk diterapkan dalam nilai dunia yang begitu kompetitif, berat ya Pak Paul? (PG : Sangat berat) karena selama ini orang dibesarkan selalu berusaha untuk leih baik, lebih baik dan belajar dari orang yang lebih baik.

Dan dengan pandangan ini kita cenderung mengabaikan yang lebih lemah dan akhirnya seperti yang Pak Paul katakan, kita dalam bergaul atau bahkan melihat diri kita selalu dari nilai guna.

PG : Betul, jadi salah satu pelajaran yang penting yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita adalah ingatlah bahwa kemampuan yang engkau miliki pemberian Tuhan. Misalkan kita mempunyai 10 teman da punya 1, jangan kita berbangga sebab kita punya 10 dia punya 1, sebab Tuhan sudah menetapkan dalam kemurahan-Nya kita memiliki 10 dan dia hanya memiliki 1, bukannya karena kita lebih hebat.

Kalau Tuhan memutuskan kita diberikan IQ 50, kita harus terima 50 dan kita tidak mungkin mengembangkannya seperti apapun. Di dalam kemurahan Tuhan misalkan Tuhan memberikan kita IQ 135, sehingga kita belajar lebih cepat dan belajar lebih banyak, bisa meraih prestasi yang lebih tinggi, tapi itu bukan karena kita yang menentukan IQ kita dari awalnya, itu pemberian Tuhan, jadi itu yang Tuhan ingin kita sadari bahwa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Jadi waktu Tuhan memberikan yang lebih kecil pada orang lain, jangan kita memandangnya rendah, sebab sebetulnya Tuhan bisa membalik, kita menerima yang kecil. Satu hal yang saya simpulkan adalah, Tuhan tidak terlalu berminat mengubah lingkungan luar, Tuhan lebih berminat mengubah diri kita. Betapa indahnya kalau tidak ada lagi orang yang minder di dunia ini, karena tidak bisa menerima dirinya dan sebagainya. Memang Alkitab tidak pernah membahas hal itu, yang Tuhan minta adalah kita menoleransi orang yang lebih lemah. Kenapa? Sebab waktu kita bisa menoleransi, membangun, memperlakukan orang yang lebih lemah dengan hormat, kita menjadi lebih seperti Tuhan, lebih sabar. Nah orang yang lebih sabar terhadap orang yang lemah, lebih bisa menerima orang yang lemah dan orang yang lemah kalau dia diterima dia tidak minder lagi, itu intinya. Sebab sebetulnya kita ini minder atau tidak minder, menghargai atau tidak, kebiasaan kita itu bergantung pada respons yang kita terima dari orang lain. Kita ini sebetulnya sesama orang yang berhutang, kita semua ini pemberi hutang sekaligus penerima hutang dari satu sama lain. Kita tahu kita bisa menyanyi karena orang mengatakan suara kita baik, kita tahu kita bisa Fisika, guru kita memberikan angka yang baik. Jadi kita tahu siapa kita, kemampuan kita dari pemberian orang, orang menerima kita, memuji kita itu akan membangun harga diri kita, orang mencela kita, kita akan lebih mempunyai harga diri yang lebih rendah. Jadi yang Tuhan ubah, sekali lagi bukannya tiba-tiba tidak ada orang lagi yang minder bukan, yang Tuhan ubah adalah yang mempunyai banyak apakah bisa mengasihani dan menolong yang lebih lemah, menerima yang lebih lemah. Sebab waktu kita lakukan itu yang lebih lemah nggak minder lagi.
GS : Berarti kepada seseorang yang diberikan lebih banyak itu ada tuntutan lebih banyak pula Pak Paul?

PG : Betul, dan ini memang susah karena yang lebih banyak sering kali tidak berpikir begitu.

GS : Tapi di samping itu kita juga tidak diminta bersikap pasif karena menganggap bahwa memang diri saya cuma seperti itu pada hal sebenarnya tadi ibu Esther katakan bisa dikembangkan Pak?

PG : Ya jadi selama masih ada ruang, berkembanglah, bergeraklah. Ada suatu pepatah Inggris ya yang bagus sekali yang berkata : "Be your self but be the best of you" artinya jadilah dirimu jngan jadi diri orang lain, jadilah dirimu tapi jadilah dirimu yang terbaik.

GS : Terima kasih, Pak Paul untuk perbincangan kali ini yang pasti akan memberikan rangsangan, memberikan semangat kepada para pendengar dan kita semua untuk mensyukuri segala kelebihan yang Tuhan sudah berikan kepada kita, sekaligus menerima kekurangan-kekurangan yang ada di dalam diri kita.

Saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi kami telah menyampaikan ke hadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga).

Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menerima Kelebihan dan Kekurangan Kita". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



14. Melawan Keputusasaan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T101B (File MP3 T101B)


Abstrak:

Keputusasaan adalah lenyapnya pengharapan akan terjadinya sesuatu yang kita dambakan. Penderitaan yang tak kunjung berakhir dan harapan yang tidak terwujud bisa juga mengakibatkan munculnya keputusasaan.


Ringkasan:

Keputusasaan adalah lenyapnya pengharapan akan terjadinya sesuatu yang kita dambakan. Ada beberapa ciri orang yang sedang berputus asa:

  1. Kita merasakan kesedihan yang dalam, keputusasaan sebetulnya adalah rasa kehilangan. Waktu pengharapan lenyap yang kita dambakan itu tidak lagi bisa menjadi kenyataan yang terjadi adalah kita memasuki proses kehilangan.

  2. Rasa kecewa, jadi rasa kecewa muncul tatkala pengharapan tidak bisa kita realisasikan, yang kita nantikan tak mungkin kembali lagi. Kekecewaan itu bisa terjadi terhadap orang yang kita anggap bertanggung jawab untuk merealisasikan dambaan kita, bisa juga kepada organisasi yang kita anggap atau kita tuntut bertanggung jawab menyediakan yang kita dambakan, bisa kepada sesama kita orang-orang lain yang kita dekat atau kita kasihi dan dalam kasus tertentu kita kecewa kepada Tuhan, sebab kita beranggapan Tuhan tidak seharusnya melakukan ini kepada kita.

  3. Rasa apatis, rasa tidak peduli lagi. Jadi orang yang putus asa cenderung bersikap masa bodoh sebab mereka tidak lagi mempunyai pengharapan pada orang di sekitar mereka, mereka sudah memvonis bahwa tidak ada yang bisa dikerjakan atau dilakukan oleh orang lain. Jadi mereka hanya pasrah menerima nasib.

  4. Rasa ingin mengakhiri hidup, jadi lenyapnya pengharapan apa yang kita dambakan itu apalagi yang didambakan itu bermakna buat kita biasanya akan membuat kita berpikir buat apa hidup, kita akan kehilangan makna hidup atau tujuan hidup kita, buat apa lagi kita hidup.

Salah satu penyebab keputusasaan yang paling umum adalah:

  1. Penderitaan yang tak kunjung berakhir.

  2. Penantian akan yang lebih baik tidak terwujud. Jadi waktu kita akhirnya sadar bahwa yang kita dambakan itu lenyap, biasanya ada satu harapan tersirat yaitu OK-lah yang itu tidak saya dapatkan, namun mungkin saya akan dapatkan yang lainnya. Sesuatu yang tidak seideal yang kita dambakan tapi ya satu tingkat di bawahnya.

Mazmur 10:1, "Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh ya Tuhan, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan."

Ayat 12, "Bangkitlah Tuhan ya Allah, ulurkanlah tangan-MU, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas." Jadi dalam keadaan sesak, tertekan, putus asa kita cenderung menuduh Tuhan seolah-olah sengaja bersembuyi dan sengaja tidak mau menolong kita yang tertindas.

Ayat 14, "Engkau memang melihatnya sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri, untuk anak yatim Engkau menjadi penolong." Ditutup ayat 17 berkata: "Keinginan orang-orang tertindas telah Kau dengarkan ya Tuhan, Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak, supaya tidak ada lagi seorang manusia di bumi yang berani menakut-nakuti." Terakhirnya pemazmur berkata "Tuhan bertindak."

Yang perlu kita lakukan sewaktu kita mulai merasakan keputusasaan adalah:

  1. Melawannya dengan Firman Tuhan dan berdoa, mengingatkan lagi bahwa Tuhan tidak seperti yang kita rasakan.

  2. Biarkan pikiran kitalah yang memandu langkah hidup kita bukan perasaan kita lagi.

  3. Yang praktis adalah bersekutu dengan orang sesama kita, cari orang lain, bicara dengan orang lain, izinkan orang untuk menguatkan kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar konseling keluarga dan juga dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, kami akan menemani Anda dalam sebuah perbincangan sekitar 30 menit ke depan yang pasti sangat menarik dan bermanfaat. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Melawan keputusasaan". Dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, hampir setiap kita pernah merasakan rasa putus asa, tapi kadang-kadang kita sulit untuk menjelaskan keputusasaan itu. Apa sebenarnya hanya ada suatu perasaan atau pikiran yang kacau dan tidak ada gairah. Tapi sebenarnya keputusasaan itu apa Pak Paul?

PG : Keputusasaan adalah lenyapnya pengharapan akan terjadinya sesuatu yang kita dambakan. Sebetulnya kita pernah mengalami keputuasaan, tapi mungkin yang membedakan adalah derajatnya atau brapa parahnya.

Namun saya kira kita pernah kehilangan pengharapan akan terjadinya sesuatu yang sudah kita rindukan, yang kita pikirkan akan kita peroleh, akhirnya kita tidak bisa menikmati. Nah lenyapnya pengharapan itulah yang menimbulkan keputusasaan.
GS : Kalau Pak Paul katakan lenyap, itu berarti sudah tidak bisa diharapkan lagi Pak Paul?

PG : Betul, jadi selama masih ada pengharapan, tidak ada keputusasaan. Keputusasaan hanyalah muncul tatkala kita sudah benar-benar merasakan ini final, tidak ada lagi yang bisa kita harapkan yang kita dambakan itu tidak mungkin lagi untuk datang kepada kita.

(2) GS : Kalau begitu bagaimana saya bisa tahu bahwa saya sedang berputus asa?

PG : Ada beberapa cirinya Pak Gunawan, yang pertama adalah kita merasakan kesedihan yang dalam, keputusasaan sebetulnya adalah rasa kehilangan. Waktu pengharapan lenyap yang kita dambakan it tidak bisa menjadi kenyataan, sebetulnya yang terjadi adalah kita memasuki proses kehilangan.

Proses kehilangan melahirkan reaksi dukacita, jadi reaksi dukacita adalah reaksi kesedihan atas hilangnya sesuatu atau seseorang yang sangat bermakna bagi kita. Jadi ciri pertama biasanya adalah kita mengalami kesedihan yang dalam.
GS : Bukankah kesedihan itu sifatnya sementara Pak Paul?

PG : Biasanya kesedihan itu bersifat sementara, namun kalau situasi tidak berubah dan kita terpaksa harus hidup dalam kondisi kehilangan itu, bisa jadi kesedihan itu tidak pernah benar-benarberangkat meninggalkan kita.

Mungkin intensitasnya tidak sama hari perhari, tapi rasa sedih itu sebetulnya terus-menerus menggenangi hati kita.
GS : Selain hal itu, ada tanda yang lain Pak Paul?

PG : Yang lain adalah rasa kecewa, rasa kecewa muncul tatkala pengharapan tidak bisa kita realisasikan, yang kita nantikan tak mungkin kembali lagi. Sebelum kita lanjutkan Pak Gunawan, saya ngin memberikan sebuah kisah kehidupan nyata yang pernah terjadi, dan ini akhirnya dibukukan.

Nama orang tersebut adalah Dr. Victor Frankle beliau seorang psikiater berkebangsaan Austria. Karena berketurunan Yahudi, dia dimasukkan ke dalam tempat penahanan yang disebut camp konsentrasi oleh Hitler pada Perang Dunia ke II. Nah dia menuliskan pengalamannya itu dalam sebuah bukunya yaitu "Pencarian Makna Hidup". Dia berkata bahwa pertama-tama, dia melihat rekan-rekan sesama tawanan mempunyai spirit yang kuat karena mereka berharap mereka akan segera dibebaskan. Setiap hari pembicaraan itu tidak lepas dari o...nanti tentara sekutu akan datang menyerang Jerman dan kita akan dibebaskan, terus-menerus itu yang mereka utarakan. Tapi hari lewat hari, bulan lewat bulan tidak ada pembebasan, akhirnya yang disaksikan oleh Dr. Frankle adalah para tawanan ini kehilangan harapan, putus asa. Waktu terjadi keputusasaan, yang muncul adalah kemurungan dan juga kekecewaan yang dalam karena yang mereka nantikan tidak menjadi kenyataan, dampaknya sangat-sangat tragis. Dr. Frankle menulis sebagian dari mereka mati bukan karena dibuang atau ditaruh dalam kamar gas, tapi mati dalam tidur mereka akibat depresi yang begitu dalam. Sebagian dari mereka memang mati di kamar gas, karena tentara Jerman mewajibkan mereka untuk tiap pagi berjalan ke sebuah tempat membangun jalan kereta api, pada musim panas atau pada musim dingin, sama. Nah Jerman akan melihat siapa yang berjalan dengan gagah dan siapa yang berjalan dengan kepala tertunduk karena tubuhnya sudah lemah. Yang mengalami keputusasaan akan berjalan dengan tubuh yang lemah dan mereka itulah yang langsung dipanggil keluar dari barisan dan langsung dimasukkan ke dalam kamar gas. Jadi dari cerita ini kita bisa melihat bahwa keputusasaan itu melahirkan ciri atau gejala yang bisa diamati, salah satunya adalah rasa kecewa yang dalam.
GS : Pak Paul kalau kita mengalami kekecewaan biasanya ada kita ini sedang kecewa terhadap siapa, nah dalam hal ini siapa sebenarnya atau terhadap siapa sebenarnya orang ini kecewa?

PG : Misalkan kita kecewa terhadap orang yang kita anggap bertanggung jawab untuk merealisasikan dambaan kita itu. Bisa juga kepada organisasi yang kita anggap atau kita tuntut bertanggung jwab menyediakan yang kita dambakan.

Bisa kepada sesama kita orang-orang lain yang dekat dengan kita atau kita kasihi, misalnya pasangan hidup kita atau anak-anak kita dan bahkan dalam kasus-kasus yang tertentu kekecewaan terhadap Tuhan, sebab kita beranggapan Tuhan tidak seharusnya melakukan ini kepada kita kenapa kok Dia melakukannya.
GS : Kalau dalam kasus yang tadi Pak Paul ceritakan, orang yang ditawan itu sebenarnya dia kecewa terhadap siapa, Pak Paul?

PG : Banyak ya, jadi saya pernah membaca cuplikan kisah-kisah yang lain, sebagian dari mereka memang kecewa berat terhadap Tuhan. Jadi saya pernah membaca satu cuplikan yang lain di mana sema tawanan akhirnya bertanya: "Dimanakah Tuhan?" Karena mereka tidak melihat pertolongan Tuhan, tahun demi tahun mereka melihat betapa banyaknya rekan-rekan mereka sesama orang Yahudi yang dibunuh di kamar gas, kok Tuhan tidak menolong mereka.

GS : Selain kekecewaan dan kesedihan yang tadi Pak Paul sudah bahas, apakah ada ciri yang lain, Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah rasa apatis, rasa tidak peduli lagi. Jadi orang yang putus asa cenderung bersikap masa bodoh. Kenapa bersikap masa bodoh? Sebab mereka tidak lagi mempunyai pengharapn pada orang di sekitar mereka, mereka sudah memvonis bahwa tidak ada yang bisa dikerjakan atau dilakukan oleh orang lain.

Jadi mereka hanya bisa pasrah menerima nasib mereka, maka salah satu respons yang biasanya muncul adalah rasa tidak peduli, apatis sekali. Itu sebabnya kalau kita ingin menolong orang yang sedang berada dalam kondisi putus asa tidak mudah, tidak mudah karena kita harus pertama-tama membangkitkan kembali motivasi yang sudah terhilang, karena mereka sudah tidak lagi mau peduli apapun yang kita katakan, jalan apapun yang kita tawarkan sebab mereka sudah putus asa.
GS : Tetapi rasa atau apatisme seperti ini bisa juga merugikan dia sebenarnya, merugikan orang yang sedang putus asa itu Pak Paul?

PG : Bisa, karena dengan apatis sebetulnya dia sudah menutup pintu terhadap bantuan orang, tapi itulah perasaan yang kuat, yang mendominasi keputusasaan. Benar-benar kita itu seolah-olah sudh menggunting tali hubungan kita dengan orang atau dengan lingkungan di sekitar kita, benar-benar kita itu sudah beranggapan bahwa saya dan mereka atau saya dan engkau tidak lagi berhubungan.

Jadi apapun yang engkau lakukan atau yang engkau katakan tidaklah membawa dampak kepadaku atau mengubah situasiku.
GS : Itu berbeda dengan orang yang tidak peduli, Pak Paul?

PG : Saya kira ada bedanya, ada orang-orang yang memang mempunyai bawaan sikap tidak peduli dengan orang, hanya mengurus dirinya sendiri, tapi tidak putus asa, orang-orang seperti ini hanyalh orang yang memang mungkin sangat privat sekali, tidak mau mengganggu orang dan tidak suka diganggu orang, jadi akhirnya rasa kepedulian terhadap sesama juga berkurang.

Kalau ini tidak, bisa jadi orang yang tadinya sangat mempedulikan sesamanya, mau membantu orang lain akhirnya waktu keputusasaan menimpanya dia tidak lagi mempunyai keinginan tersebut.
GS : Ciri yang lain selain rasa sedih, kecewa dan apatis, apalagi Pak Paul?

PG : Yang lainnya lagi adalah rasa ingin mengakhiri hidup, jadi lenyapnya pengharapan yang kita dambakan (apalagi yang didambakan itu bermakna buat kita) biasanya akan membuat kita berpikir uat apa hidup, kita akan kehilangan makna hidup atau tujuan hidup kita, buat apa lagi kita hidup.

Ini bisa saya kaitkan dengan seseorang yang misalkan kehilangan suami atau istri yang sangat dikasihi atau anak yang dikasihi atau orang tua yang sangat dikasihi. Saya kira yang terberat adalah tatkala kita berpikir sepeninggalnya orang tersebut, tidak akan ada orang lain yang bisa menggantikannya, tidak akan ada lagi yang bisa menduduki posisi itu. Misalnya kita terbiasa hidup dengan pasangan kita tahun demi tahun dan sekarang sudah berlangsung selama 30 tahun dan kita harus kehilangan dia. Nah yang sangat memukul sebetulnya bukan kehilangan itu sendiri, meskipun tadi saya katakan kehilangan itu memang berat, tapi yang lebih memukul lagi adalah pemikiran bahwa setelah dia pergi tidak akan ada lagi seseorang di sampingku yang bisa menemaniku, yang bisa mencintaiku dan dicintai olehku seperti ini, yang bisa bercengkrama denganku. Nah kehilangan pengharapan akan adanya moment-moment yang spesial seperti itulah yang bisa membuat kita akhirnya putus asa.
GS : Pak Paul, orang yang tadi Pak Paul katakan rasa ingin mengakhiri hidup itu sungguh-sungguh mau mengakhiri hidup atau cuma sekadar luapan emosinya saja Pak?

PG : Pada awalnya semuanya memang bersumber dari luapan emosi, tapi riset memperlihatkan orang yang membunuh diri adalah orang yang pernah mencoba membunuh diri. Saya jelaskan artinya, orangyang berhasil mati karena membunuh diri adalah orang yang sebelumnya pernah mencoba, bisa sekali atau bisa berkali-kali membunuh diri tapi tidak berhasil.

Misalkan memakan atau menelan pil, tapi keburu diselamatkan atau hal-hal yang lainnya. Nah yang berikutnya lagi adalah orang yang pernah mencoba membunuh diri adalah orang yang pernah berkata-kata bahwa dia akan membunuh diri, meskipun belum ada tindakannya tapi sudah pernah berkata-kata. Dan yang terakhir adalah kaitannya dengan ini, orang yang pernah berkata-kata bahwa dia ingin membunuh diri adalah orang yang awalnya berpikir tentang kematian dan mau mati, jadi kaitannya atau urutannya memang seperti itu Pak Gunawan.
GS : Tetapi memang ada pula orang yang langsung bunuh diri dan berhasil Pak Paul?

PG : Ada, dan biasanya yang cenderung berhasil adalah pria, karena biasanya pria menggunakan cara membunuh diri yang lebih keras yang lebih 'violent', sehingga akhirnya waktu dia bunuh diri enar-benar meninggal.

GS : Pak Paul, tadi Pak Paul sudah katakan ada 4 ciri, apakah mungkin itu merupakan suatu campuran dari keempatnya atau dari ketiganya atau berdiri sendiri-sendiri atau bagaimana Pak Paul?

PG : Biasanya keempatnya memang ada, tapi sekali lagi kita ini bisa membedakan dari sudut derajatnya berapa besar, berapa kecilnya. Sudah tentu rasa ingin mengakhiri hidup itu adalah puncak egalanya.

Kalau sudah rasa murung yang dalam, kecewa yang dalam, tidak peduli yang dalam, biasanya langkah terakhir atau respons terakhir adalah buat apa hidup.
(3) GS : Nah perasaan-perasaan itu muncul pasti ada penyebab atau sumbernya Pak Paul, apa yang menyebabkannya?

PG : Salah satu penyebab keputusasaan yang paling umum adalah penderitaan yang tak kunjung berakhir. Tapi kalau kita menderita, sebetulnya tanpa disadari kita memberikan jadwal atau memberikn batas waktu, seolah-olah kita ini mempunyai jam dalam hati kita atau jiwa kita atau penanggalanlah, kapan seharusnya penderitaan itu berakhir.

Nah sewaktu penderitaan itu tak kunjung berakhir meskipun sudah jatuh tempo menurut penanggalan jiwa kita, reaksi yang muncul adalah keputusasaan. Jadi sesuai dengan contoh tadi tentang orang-orang yang ditahan di camp konsentrasi.
GS : Tetapi sebenarnya kalau dipikir jadwal itu bisa mundur, Pak Paul?

PG : Makanya ada orang-orang yang berhasil melewati tanpa putus asa, yaitu orang-orang yang berhasil menarik jadwal itu atau batas temponya dan dia akan berkata memang ini porsi hidupku, dandia akan lewati hari lepas hari.

Nah orang yang tidak berhasil mengundurkan batas temponya itulah orang yang akan akhirnya melewati keputusasaan.
GS : Penyebab yang lain apa, Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah penantian akan yang lebih baik ternyata tidak terwujud. Jadi waktu kita akhirnya sadar bahwa yang kita dambakan itu lenyap, biasanya ada satu harapan tersirat yaituOK-lah yang itu tidak saya dapatkan, namun mungkin saya akan mendapatkan yang lainnya.

Sesuatu yang tidak seideal yang kita dambakan tapi satu tingkat di bawahnya, nah ini yang saya maksud. Karena secara alamiah kita berpikir atau mempunyai pengharapan seperti itu, maka kita akan menginvestasikan penantian kita. Waktu yang kita nantikan itu tidak terwujud kita putus asa, sebab yang ideal tidak kita dapatkan, yang di bawah ideal yang kita juga harapkan itupun tidak datang, akhirnya kita terpaksa memakan yang paling buruk, menelan yang paling pahit, itu yang sering kali memukul kita.
GS : Apakah ada contoh konkret di dalam Alkitab Pak Paul, sehubungan dengan keputusasaan?

PG : Saya akan membacakan dari Mazmur 10 sekaligus kita melihat jawaban-jawaban dari Firman Tuhan. Mazmur 10:1 "Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh ya Tuhan, dan menyebunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan."

Jadi teriakan kenapa Tuhan Engkau menyembunyikan diri, bahasa yang sangat kuat sekali seolah-olah Tuhan memang tidak mau menolong. Ayat ke-12 disambung lagi "Bangkitlah Tuhan ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas." Jadi dalam keadaan sesak, tertekan, putus asa, kita cenderung menuduh Tuhan seolah-olah sengaja bersembunyi dan sengaja tidak mau menolong kita yang tertindas itu, nah itu yang pertama kondisi kita ini dalam keadaan putus asa. Tapi pemazmur tidak berhenti di situ dia melanjutkan di Mazmur 10:14 "Engkau memang melihatnya sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. KepadaMulah orang lemah menyerahkan diri, untuk anak yatim Engkau menjadi penolong." Jadi langsung pemazmur menjawab, Tuhan melihat penderitaan manusia, pemazmur tidak berhenti pada teriakan, tidak berhenti kenapa Tuhan bersembunyi, tapi dia langsung berkata Tuhan melihat, ini adalah penyataan imannya dan ditutup dengan Mazmur 10:17 yang berkata: "Keinginan orang-orang tertindas telah Kau dengarkan ya Tuhan, Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telingaMu untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak, supaya tidak ada lagi seorang manusia di bumi yang berani menakut-nakuti." Jadi terakhirnya pemazmur berkata: "Tuhan bertindak". Jadi masa keputusasaan, hati harus diimbangi dengan kepala, itu nasihatnya. Artinya meskipun hati berteriak, hati mengeluh, meraung-raung, jangan sampai kepala tidak bersuara. Kepala adalah ingatan akan Firman Tuhan, ingatan akan siapa Tuhan, Tuhan bukanlah Tuhan yang kejam, yang jahat, yang senang melihat anak-anakNya kesusahan dan menderita. Kalau Dia Tuhan yang jahat, Dia tidak akan mati di kayu salib untuk dosa kita. Jadi bukti bahwa Tuhan mengasihi kita dan Tuhan adalah Tuhan yang baik adalah bukti sejarah, Dia telah mati untuk dosa kita, nah jangan sampai kesusahan hidup kita akhirnya menutupi fakta yang sudah sangat jelas itu.
GS : Tapi biasanya hal-hal seperti itu tidak teringat lagi oleh seseorang yang sedang putus asa Pak Paul, jadi perasaannya itu menutupi pikirannya, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Sering kali demikian, maka pada awalnya sewaktu kita sudah mulai merasakan keputusasaan, kita harus langsung melawannya, melawannya dengan Firman Tuhan, dengan berdoa mengingatkan lagi ahwa Tuhan tidak seperti yang kita rasakan.

Biarkan pikiran kitalah yang memandu langkah hidup kita bukan perasaan kita lagi. Langkah yang lainnya lagi, yang praktis yang bisa kita lakukan lagi adalah bersekutu dengan sesama kita, cari orang lain, bicara dengan orang lain, ijinkan orang untuk menguatkan kita. Saya ingin tutup dengan sebuah kisah Pak Gunawan, tentang seorang wanita yang bernama Vivian Felix, dia adalah istri seorang rektor yang tinggal di Amerika Serikat, dia terkena kanker dan dalam keadaan sangat parah beliau dikunjungi oleh seorang hamba Tuhan bernama Pdt. Jack Hayford. Pdt. Jack Hayford memberikan nasihat yang sangat bagus yaitu: "Vivian, pada saat seperti ini engkau harus mengijinkan orang lain untuk memikulmu, mendukungmu." Nah nasihatnya terus diikuti oleh Vivian, sehingga begitu banyak orang yang mengasihi Vivian Felix ini dan memberikan dukungan, doa dan sebagainya sampai akhirnya tahun 2000 Tuhan memanggil dia pulang. Nah sekali lagi persekutuan, buka diri dan ijinkan orang masuk dan mengasihi kita dan mendukung kita.

GS : Ya Pak Paul, saya percaya perbincangan ini akan menguatkan hati banyak orang khususnya para pendengar yang mungkin pada saat ini pada tahap-tahap awal dalam keputusasaan, namun saya percaya bahwa perbincangan kita ini akan menjadi berkat buat kita semua yang sudah mendengarkannya. Terima kasih Pak Paul, dan saudara-saudara pendengar, demikianlah tadi kami telah menyampaikan ke hadapan Anda sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga).

Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melawan Keputusasaan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat, alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami ucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



15. Sedia Belajar


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T108A (File MP3 T108A)


Abstrak:

Belajar mempunyai arti luas, namun bisa kita katakan sebetulnya belajar itu adalah penambahan pengetahuan. Suatu yang belum kita ketahui kemudian kita ketahui setelah melewati proses yang disebut belajar.


Ringkasan:

Belajar sebetulnya mempunyai arti luas namun bisa kita katakan belajar itu sendiri sebetulnya adalah penambahan pengetahuan. Sesuatu yang belum kita ketahui kemudian kita ketahui setelah melewati proses yang disebut belajar. Belajar di sini yang dimaksud bukan belajar dalam lingkup akademik di sekolah tapi belajar dalam pengalaman hidup, apa yang harus kita timba dari peristiwa-peristiwa yang kita hadapi, apa yang Tuhan ajarkan yang mesti kita lihat dan kita terima. Kalau kita bisa mengembangkan sikap bersedia belajar dalam hidup ini kita akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan lebih baik. Dibandingkan dengan orang yang tidak bersedia belajar dalam hidup ini karena menganggap yang dia ketahui sudah paling benar dan tidak ada lagi tempat buat dia bertumbuh atau belajar dengan orang lain.

Ada dua sifat dalam belajar yang perlu kita ketahui yaitu:

  1. Belajar itu mengisi rasa ingin tahu kita. Kita adalah makhluk rasional dan sebagai makhluk rasional ingin tahu hal-hal yang belum kita ketahui. Belajar dalam pengetahuan ini memang memenuhi keingintahuan kita itu dan belajar dalam hal ini sesuai dengan kodrat kita, sesuai dengan sifat kita.

  2. Belajar itu sebetulnya menuntut perubahan pada diri kita maka dikatakan bahwa belajar belum terjadi jika perubahan belum terjadi. Dengan kata lain tujuan belajar adalah perubahan baik itu perubahan dalam pemikiran kita, perasaan kita atau dalam hal perilaku.

Ada beberapa hal yang memudahkan terjadinya proses belajar dalam pengertian kita berani terbuka adalah:

  1. Lingkungan di mana kita belajar mesti kondusif, dalam pengertian lingkungan itu mengembalikan tanggung jawab belajar pada si indiviidu. Kita perlu menciptakan situasi yang bebas sehingga orang bisa merdeka untuk berpikir dan untuk bertanya.

  2. Dalam diri kita sendiri harus ada kesadaran bahwa kita perlu dan harus berubah. Kalau kitanya sudah mempunyai sikap saya tak perlu dan saya nggak usah berubah atau belajar, tidak mungkin kita belajar maka dapat dikatakan bahwa orang yang belajar adalah orang yang rendah hati.

  3. Belajar adalah kebutuhan, kalau memang kita mempunyai kebutuhan untuk hal tersebut kita lebih terbuka untuk mempelajarinya kalau kita nggak merasakan kebutuhan itu kita nggak terbuka untuk belajar.

  4. Adanya inspirasi. Untuk kita berubah kita mesti melihat yang mendidik kita atau yang mengajar kita itu yang telah memberikan contoh hidup. Nah contoh hidup yang langsung itu bisa menjadi inspirasi buat kita. Contoh mendiang Ibu Theresa tidak akan sukses pergi ke mana-mana untuk mengajak orang-orang terlibat pelayanan terhadap kaum papa dan kaum miskin di India, kalau dianya sendiri tidak terlibat di situ. Jadi diperlukan contoh, contoh di mana orang itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya, inspirasi seperti itulah yang akan membakar orang untuk bertindak sesuai dengan si pengajar.

Filipi 2:6-10, "Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib......bagi kemuliaan Allah Bapa!"

Tuhan harus menjadi manusia, sebab Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menyangkal diri dan memikul salib kalau hendak mengikut Dia. Menyangkal diri artinya mengatakan kepada diri bahwa yang kita minta, yang kita inginkan kita kesampingkan demi Tuhan. Memikul salib artinya bersedia menderita waktu kita mengikut Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini akan kami beri judul "Sedia Belajar". Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, berbicara tentang belajar sebenarnya itu suatu sikap hidup atau pola hidup atau kemauan atau apa Pak Paul?

PG : Belajar sebetulnya mempunyai arti yang luas Pak Gunawan, namun bisa kita katakan belajar itu sendiri sebetulnya adalah penambahan pengetahuan. Jadi sesuatu yang belum kita ketahui kemudiankita ketahui setelah melewati proses yang kita sebut belajar.

GS : Jadi tidak harus di sekolah Pak?

PG : Tidak, jadi belajar itu bisa terjadi di mana pun.

GS : Dan sejak dini rupanya seseorang itu harus mulai belajar Pak.

PG : Betul, jadi sikap yang baik adalah sikap yang mau belajar, dan kali ini yang akan kita ungkit adalah untuk bisa hidup sehat kita perlu mempunyai kesediaan untuk belajar. Nah, otomatis yangsaya maksud di sini bukan belajar dalam lingkup akademik di sekolah, tapi belajar dalam pengalaman hidup, apa yang harus kita timba dari peristiwa-peristiwa yang kita hadapi, apa yang Tuhan ajarkan yang mesti kita lihat dan kita terima, hal-hal seperti itulah yang akan kita fokuskan Pak Gunawan.

GS : Kalau begitu pengertian sehat bukan hanya terbatas pada sehat secara fisik ya Pak?

PG : Betul sekali, sehat di sini adalah sehat secara jiwani, sehat secara rohani. Saya kira kalau kita bisa mengembangkan sikap bersedia belajar dalam hidup ini kita akan bisa mengarungi kehiduan ini dengan lebih baik.

Dibandingkan dengan orang yang tidak bersedia belajar dalam hidup ini, karena menganggap yang dia ketahui sudah paling benar dan tidak ada lagi tempat buat dia bertumbuh atau belajar dari orang lain. Itu sikap yang saya kira akan membenturkan dia dengan tembok-tembok kehidupan ini.
GS : Terus terang sebagian besar kita sebenarnya mau saja belajar Pak Paul, kadang-kadang timbul hasrat yang kuat untuk belajar. Tetapi faktanya dengan berjalannya waktu, itu cuma sekadar cita-cita saja, kok bisa begitu kenapa Pak?

(2) PG : Ada dua sifat dalam belajar yang perlu kita ketahui Pak Gunawan, dua sifat ini sebetulnya saling bertentangan nah inilah yang jarang kita perhatikan. Sifat pertama adalah belajar itu mngisi rasa ingin tahu kita, kita adalah makhluk rasional dan sebagai makhluk rasional ingin tahu hal-hal yang belum kita ketahui.

Belajar dalam pengetahuan ini memang memenuhi keingintahuan kita dan belajar dalam hal ini sesuai dengan kodrat kita, sesuai dengan sifat kita. Tapi belajar mempunyai suatu sisi yang lain, nah ini yang mesti kita pahami. Sisi yang lainnya adalah belajar itu sebetulnya menuntut perubahan pada diri kita, maka dikatakan bahwa belajar belum terjadi jika perubahan belum terjadi. Jadi sekali lagi saya ulang, belajar belum terjadi jikalau perubahan belum terjadi. Dengan kata lain tujuan belajar ialah perubahan, baik itu perubahan dalam pemikiran kita, perasaan kita atau dalam hal perilaku. Jadi misalnya gara-gara kita belajar, maka sekarang kita tahu bagaimana berelasi dengan orang dengan lebih santun misalnya atau gara-gara kita belajar kita tahu bahwa angin itu bergerak dari tekanan udara, gara-gara kita belajar kita tahu bahwa matahari itu sebetulnya adalah berdaya sangat besar sekali dan kita itu di bumi tempat yang kecil sekali. Nah jadi perubahan-perubahan itu menyangkut perubahan cara pandang juga menyangkut perubahan perilaku. Kenapa ini saya katakan, ini adalah sesuatu yang sukar karena begini Pak Gunawan, belajar menuntut perubahan dan perubahan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan karena perubahan itu mempunyai satu tuntutan yaitu kita mengubah sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diri kita, sesuatu yang kita telah terbiasa dan untuk mengubah itu biasanya tidak mudah.
GS : Tidak mudahnya itu sering kali menyakitkan kita Pak Paul, saya merasa sakit untuk berubah atau kita berpikiran, tidak apa-apa kenapa harus berubah.

PG : Tepat sekali, seorang kawan saya seorang ahli manajemen berkata: di dunia manajemen ada suatu motto yaitu sukses adalah guru yang buruk. Dalam pengertian, kita cenderung bersandar pada sukes di masa lampau dan menganggap karena saya sukses dengan cara itu di masa lampau, maka sekarang saya bisa menggunakan cara yang sama dan di kemudian hari pasti berhasil.

Maka kesuksesan itu bisa menjebak kita, karena cara kita yang dulu belum tentu cocok untuk sekarang atau pun nanti. Maka saya kira kalau kita terbiasa dengan diri kita dan kita anggap ini sesuatu yang sangat-sangat baik untuk kita meskipun dampaknya juga baik, kita lebih susah untuk berubah. Nah, salah satu hal kenapa berubah itu susah Pak Gunawan, karena berubah menuntut kita untuk mengakui bahwa cara kita yang dulu itu kurang efektif, kurang tepat, kurang pas, kurang baik alias kita mesti memperbaikinya. Nah, kita adalah makhluk yang tidak senang dipersalahkan, kita tidak senang mengakui bahwa cara kita itu keliru kita ingin membenarkan diri, itulah yang kita warisi dari Adam dan Hawa. Sejak pertama Adam dan Hawa sudah berkelit dari tanggung jawab mereka, Adam kepada Hawa, Hawa kepada ular. Jadi kita memang makhluk yang ingin benar, karena kita ingin benar jadi perubahan menjadi sesuatu yang sulit kita lakukan.
(3) GS : Nah, apakah ada suatu pola atau cara supaya kita bisa atau mau dengan sungguh-sungguh berubah Pak Paul?

PG : Ada beberapa hal Pak Gunawan, untuk memudahkan terjadinya proses belajar dalam pengertian kita berani berubah. Yang pertama adalah lingkungan di mana kita belajar mesti kondusif, dalam penertian lingkungan itu mengembalikan tanggung jawab belajar pada si individu.

Kadang kala dalam suasana belajar yang kita jalani, kita tidak mempunyai kebebasan, karena kita tidak mempunyai kebebasan, maka kita cenderung mengikuti apa yang telah digariskan. Mengikuti apa yang telah digariskan sebetulnya bukan belajar, itu hanyalah tranfer informasi dari satu orang kepada orang yang lainnya. Sedangkan tujuan belajar itu sendiri tidak tercapai, prosesnya memang terjalin yaitu proses penambahan ilmu atau pengetahuan. Tapi tujuan akhir belajar yaitu perubahan tidak terjadi, karena apa, seseorang tidak diberikan kebebasan untuk berpikir, untuk bertanya. Saya berikan contoh Pak Gunawan yaitu tentang Ayub dan ini sebetulnya juga dialami oleh para hamba Tuhan yang lainnya yang kita tahu di Alkitab. Tuhan memberikan kesempatan kepada Ayub untuk bertanya kenapa kemalangan menimpa saya, apa salah saya, berapa besar dosa saya, itu semua adalah kata-kata Ayub kepada Tuhan. Jadi kalau kita diberikan kesempatan untuk berpikir, untuk bertanya, belajar menjadi tanggung jawab kita. Kalau kita tidak diberikan kesempatan untuk berpikir atau pun bertanya, kita tidak lagi belajar sebab tanggung jawab belajar itu tidak ada pada diri kita yaitu tanggung jawab belajar ada pada si pendidiknya itu sendiri. Jadi penting sekali kita mengalihkan tanggung jawab itu kepada si anak didik bahwa ini yang engkau harus cari atau engkau temukan. Dan saya kira ini yang penting supaya kita bisa belajar dengan wajar, sehingga kita lebih mudah berubah. Saya berikan contoh yang lain yang sering kali terjadi Pak Gunawan, yaitu banyak anak-anak yang susah dewasa karena keputusan-keputusan sudah diambilkan oleh orang tuanya, sudah digariskan oleh orang tuanya. Hidup itu benar-benar tidak lagi mempunyai tuntutan untuk memilih, untuk berpikir, untuk memutuskan karena hidup itu sudah ditetapkan oleh orang tua. Nah, si anak tidak bisa berubah atau susah sekali untuk berubah karena apa? Dia tidak pernah memikul tanggung jawab itu untuk belajar. Jadi sekali lagi untuk bisa kita menciptakan suasana belajar, kita perlu menciptakan situasi yang bebas sehingga orang bisa merdeka untuk berpikir dan untuk bertanya.
GS : Kadang-kadang waktu dan kesempatan itu sebenarnya ada Pak Paul, hanya kita juga punya kecenderungan untuk mengambil jalan pintasnya supaya cepat. Seperti tadi Pak Paul katakan, anak itu tadinya kita beri kesempatan tapi lama sekali memutuskan. Lalu kita sebagai orang tua atau anak pun juga berkata mengambil jalan pintas, terserah papa atau sebaliknya kita sebagai orang tua mengikuti saya sajalah pasti betul. Itu 'kan jalan pintas Pak Paul?

PG : Betul, jalan pintas itu memang memberikan kita solusi, tapi kita lupa bahwa solusi itu sementara bukan permanen. Yang lebih baik adalah melimpahkan tanggung jawab itu pada si anak. Nah, in bisa kita terapkan dalam segala relasi sebetulnya.

Tanggung jawab itu diberikan kembali kepada orang-orangnya, sehingga terjadilah perubahan yang diinginkan. Salah satu contoh yang saya juga sering lihat pada perusahaan-perusahaan yang besar, yang profesional yang dilakukan adalah saham dijual kepada para karyawan sehingga mereka tidak lagi menjadi karyawan meskipun status tetap karyawan, tapi mereka adalah pemilik karena mereka adalah pemegang saham. Dengan kata lain ini bukan perusahaan engkau, ini perusahaan kita bersama. Nah waktu seseorang menyadari ini adalah perusahaan kita bersama, maka dia akan lebih termotivasi berubah artinya memberikan semaksimal mungkin. Jadi dalam segala hal ini kita bisa terapkan, contoh yang lebih klasik adalah di gereja, kadang-kadang kita tidak begitu nyaman dengan perdebatan atau pertanyaan, kita kadang-kadang cenderung untuk menggariskan dengan kaku inilah jalurnya, di luar jalur ini berarti engkau sesat, di luar jalur ini berarti engkau memberontak kepada Tuhan dan sebagainya. Nah, orang-orang itu tidak akan belajar, tidak akan melakukan perubahan-perubahan yang diminta oleh Tuhan juga karena memang tidak pernah mempunyai tanggung jawab untuk itu.
GS : Selain itu Pak Paul, selain hal yang tadi kita katakan bahwa lingkungan itu harus mendukung itu 'kan di luar diri kita. Apakah ada sesuatu yang harus terjadi di dalam diri kita sendiri kalau kita mau belajar?

PG : Saya kira kalau kita sendiri mau belajar memang harus ada kesadaran bahwa kita perlu dan harus berubah. Jadi dalam diri sendiri memang harus ada kesadaran itu Pak Gunawan. Kalau kita sudahmempunyai sikap saya tak perlu dan saya tidak usah berubah atau belajar, tidak mungkin kita belajar maka dapat dikatakan bahwa orang yang belajar orang yang rendah hati.

Kadang-kadang ini yang kita temukan juga Pak Gunawan, ada orang seolah-olah belajar, tapi sesungguhnya dia hanyalah mengumpulkan data untuk mengkonfermasikan pendiriannya. Dia tidak bersedia belajar hal yang berlawanan dengan pendiriannya atau keyakinannya, dia selalu hanya mengumpulkan informasi-informasi yang hanya mendukung keyakinannya itu. Nah, orang ini hanya akan berkembang secara sempit, tapi tidak akan luas. Orang yang luas adalah orang yang bersedia belajar dari segala pihak. Kalau saya terapkan dalam konteks keluarga misalnya, bukankah kalau kita sudah mengembangkan praduga atau konsep bahwa pasangan kita ini orangnya tidak sensitif misalnya kita cenderung mencari data-data tambahan untuk mengkonfermasi bahwa dia orangnya tidak sensitif. Dengan kata lain hal-hal lain yang bisa mendukung bahwa dia itu sebetulnya bisa baik, bisa sensitif itu cenderung kita sampaikan, yang kita fokuskan adalah dia ini orangnya kurang sensitif. Data-data yang mendukung itulah yang kita lebih perhatikan.
GS : Yang saya alami Pak Paul, kalau saya memang membutuhkan sesuatu, semangat saya untuk berubah itu besar, saya mau belajar, ingin tahunya itu lebih besar. Tapi kalau sesuatu yang diajarkan atau sesuatu yang terjadi di lingkungan kita itu tidak terlalu saya butuhkan untuk diri saya, mungkin orang lain membutuhkan tapi saya tidak. Saya tidak bersemangat, atau memang begitu?

PG : Ya Pak Gunawan, jadi belajar itu berkaitan dengan kebutuhan kita, yang tadi Pak Gunawan sudah singgung. Kalau memang kita mempunyai kebutuhan untuk hal tersebut kita lebih terbuka untuk mepelajarinya, kalau kita tidak merasakan kebutuhan itu kita tidak terbuka untuk belajar.

Ini yang terjadi dalam gereja juga Pak Gunawan yaitu saya kira hampir semua gembala sidang atau hamba Tuhan berharap bahwa jemaat itu bertumbuh, bertumbuh dalam pengetahuannya akan Tuhan, cintanya akan Tuhan dan sebagainya. Nah, bagaimana membuat jemaat itu bertumbuh dalam pengetahuannya akan Tuhan, cintanya akan Tuhan kadang-kadang sulit, sulitnya adalah sebab ada orang-orang yang tidak merasakan hal tersebut sebagai kebutuhannya. Dia tidak merasa dia harus bertumbuh dalam pengetahuan akan Tuhan, yang dia tahu cukup. Ada orang yang berkata saya tahu isi Alkitab depan sampai belakang, yang dia maksud adalah dia tahu cerita-cerita yang umum yang tercatat di dalam Alkitab itu sebetulnya yang dia maksud, tapi saya yakin dia tidak tahu Alkitab dengan mendetail, belum tentu sebetulnya. Atau cinta kepada Tuhan, banyak orang beranggapan yang penting saya hidup baik cukuplah, apa gunanya cinta kepada Tuhan, tidak merasakan kebutuhan itu maka untuk seseorang mencintai Tuhan, bergumul akan pengetahuannya akan Tuhan dia mesti melihat akan kebutuhan itu dulu, baru dia akan bertindak ke sana.
GS : Jadi memang masalahnya buat saya di situ Pak Paul, bagaimana menumbuhkan rasa kebutuhan di dalam diri saya. Kadang-kadang membutuhkan stimuler dari orang lain yang menunjukkan kamu butuh ini, baru saya tersadar o.....ya saya butuh ini, baru begitu Pak Paul.

PG : Nah, ini kita masuk ke hal yang berikutnya Pak Gunawan, yaitu selain kebutuhan ada satu faktor yang juga bisa menstimulasi kita untuk belajar, yakni kita bukannya digerakkan oleh kebutuhantapi digerakkan oleh inspirasi.

Untuk kita berubah kita mesti melihat yang mendidik kita atau yang mengajar kita itu telah memberikan contoh hidup. Nah, contoh hidup yang langsung itu bisa menjadi inspirasi buat kita. Misalnya saya kira ibu Theresa atau mendiang ibu Theresa tidak akan sukses pergi ke mana-mana untuk mengajak orang-orang terlibat pelayanan terhadap kaum papa dan kaum miskin di India, kalau dia sendiri tidak terlibat di situ. Jadi seorang ibu Theresalah yang baru bisa mendorong orang-orang untuk terlibat dalam pelayanan kaum miskin. Kalau dia hidup dalam kekayaan, tidak pernah bersentuhan dengan orang miskin kemudian terus mendorong orang-orang terlibat dalam pelayanan seperti itu, tidak akan berhasil. Jadi diperlukan contoh, contoh di mana orang itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya, inspirasi seperti itulah yang akan membakar orang untuk bertindak sesuai dengan si pengajar itu.
GS : Dalam hal ini saya pikir Tuhan Yesus itu menjadi inspirator kita yang terbesar Pak ya?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, nah ini yang akan saya kutib Pak Gunawan sebagai akhir dari apa yang kita bahas ini. Firman Tuhan di Filipi 2 :6-10, "Kristus Yesus yang walaupu dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah Bapa!" Tuhan harus menjadi manusia Pak Gunawan, ini adalah doktrin kristiani yang sangat pokok sekali. Pertanyaannya kenapa Tuhan harus menjadi manusia, sebab Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menyangkal diri dan memikul salib kalau hendak mengikut Dia. Menyangkal diri artinya mengatakan kepada diri bahwa yang kita minta, yang kita inginkan, yang kita anggap baik dan penting kita kesampingkan demi Tuhan. Memikul salib artinya bersedia menderita waktu kita mengikut Tuhan. Nah, Tuhan sukar sekali meyakinkan kita untuk menyangkal diri dan memikul salib kalau Tuhan tetap di Surga yang penuh dengan kemuliaan, tapi waktu Dia mengatakan: "Barangsiapa hendak mengikut Aku, hendaklah dia menyangkal dirinya dan memikul salibnya." Dia mengatakan itu bukan di Surga, Dia mengatakan itu sebagai seorang manusia dan akhirnya Tuhan mencontohkan langsung, Dia sendiri menyangkal diri. Bahkan dikatakan di Alkitab Dia menganggap bahwa kesetaraan dengan Allah bukan sesuatu yang harus dipertahankan, Dia kesampingkan, Dia berani meninggalkan Surga yang begitu mulia. Menjadi seorang manusia, menjadi seorang hamba bahkan akhirnya Dia mati di kayu salib. Jadi Dia memberikan contoh langsung bahwa Dia sebagai Allah menyangkal diriNya dan dia memikul salibNya, ini menjadi inspirasi bagi kita. Maka kita waktu belajar tidak memperoleh pengetahuan secara intelektual, tapi kita melihat kehidupan langsung Allah menjadi manusia mati buat kita, menderita buat kita, nah kita pun akhirnya terdorong mau berbuat yang sama buat Tuhan.
GS : Apakah itu mempunyai dampak langsung terhadap para rasul itu Pak?

PG : Ya Pak Gunawan, dan pada banyak orang lainnya juga, contohnya para murid, kita tahu mereka itu bukanlah orang-orang yang pemberani, sama dengan kita para murid Tuhan itu penakut. Tahunya dri mana, sebelum Tuhan disalibkan mereka berkata mereka bersedia mati dengan Tuhan, tatkala Tuhan ditangkap di taman Getsemani mereka lari kocar-kacir.

Saya kira itulah, kita juga dalam keadaan tenang dan tenteram kita berani, tapi dalam keadaan krisis di mana bahaya mengancam, nyawa kita mungkin harus kita pertaruhkan, tetapi apa yang terjadi dengan para murid ini setelah Tuhan naik ke Surga kecuali satu Yohanes, semua mati sahid. Dan dicatat dalam tradisi-tradisi adalah tulisan-tulisan yang di luar Alkitab, contoh tentang Petrus yaitu waktu dia hendak disalib oleh raja Nero, dia menolak untuk disalib berdiri, dia berkata : "Saya tidak layak disalib berdiri seperti Tuhanku dan dia minta disalib terbalik kepalanya di bawah, kakinya di atas. Untuk apa, untuk menunjukkan dia adalah hamba dia tidak layak mati seperti Tuhan. Nah, ini yang kita lihat Petrus telah belajar, tapi tidak mungkin Petrus belajar seperti ini kalau Tuhan di Surga dan menyuruh dia berkorban seperti itu. Dia melihat Tuhannya mati di salib dan itulah menjadi inspirasi dia belajar.
GS : Memang kita sejak kecil terbiasa belajar dengan melihat, itu jauh lebih gampang Pak Paul daripada cuma dengar kata-kata.

PG : Betul, kita melihat sehingga kita lebih tahu, lebih jelas dan kita tahu ini bisa dilakukan, namun yang penting juga adalah inspirasi itu. Maka siapa yang hendak menjadi pendidik harus menjdi pelaku dari ajarannya itu, maka firman Tuhan berkata juga, kalau orang hanya mendengarkan tidak melakukan dia seperti orang yang bercermin kemudian dia tinggalkan cerminnya dia lupa wajahnya bagaimana.

Harus menjadi pelaku firman, jadi itu yang Tuhan inginkan dari kita pula. Maka sebagai catatan saja Pak Gunawan, saya bisa katakan: kita sedikit banyak bisa menilai gereja ini seperti apa, jemaatnya seperti apa dari hamba Tuhannya. Sebab saya melihat kalau hamba Tuhannya hidup benar, sungguh-sungguh kudus di hadapan Tuhan jemaatnya akan ikut, kalau hamba Tuhannya tidak pusing dengan Tuhan, hidup sembarangan jemaatnya ikut-ikutan. Jadi benar-benar kita melihat gembala seperti apa, dombanya seperti apa. Jadi gembala akan percuma, akan kesusahan juga mengajarkan kebenaran Tuhan kalau dia sendiri tidak hidup seperti itu. Nah, kita semua juga adalah gembala-gembala, dalam pengertian kita menjadi saksi Tuhan di dunia ini, maka pengajaran kita, kesaksian kita hanya akan jelas dan dilihat orang kalau memang hidup kita sesuai, barulah orang akan belajar dari kita.

GS : Terutama di dalam rumah sendiri Pak Paul, di mana anak-anak kita itu melihat kita sehari-hari jadi untuk mendorong mereka belajar saya pikir bukan cuma menciptakan kondisi yang kondisif di rumah, tapi juga mereka butuh keteladanan kita sebagai orang tua. Jadi terima kasih sekali Pak Paul ini suatu perbincangan yang pasti menarik dan sangat bermanfaat bagi kita sekalian. Dan para pendengar yang setia kami mengucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Sedia Belajar" sebagai suatu sikap hidup yang sehat. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda dapat juga menggunakan fasilitas e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara yang akan datang.



16. Hidup Fleksibel


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T108B (File MP3 T108B)


Abstrak:

Kita harus menyadari hidup itu tidak bisa kita kendalikan, supaya kita fleksibel dalam hidup kita harus mulai dengan suatu perspektif, sebetulnya hidup itu tidak dalam kuasa kita.


Ringkasan:

Di Amerika Serikat orang sering kali mengucapkan peribahasa yaitu 'don't take life to seriously' janganlah terlalu serius menghadapi hidup. Saya kira peribahasa ini mempunyai banyak kebenarannya terutama pada dewasa ini, saya melihat salah satu sumber penyakit adalah ketegangan, kita terlalu tegang karena kita menjalani hidup serius. Saya juga tidak berkata anggaplah hidup ini sebuah permainan, tidak! Tetapi yang saya maksud adalah kita hidup tidak terlalu tegang sehingga menjalani hidup dengan santai dan rileks, sikap-sikap inilah yang akan membentuk sikap hidup yang sehat.

Ciri-ciri orang fleksibel adalah:

  1. Fleksibel adalah menyadari bahwa hidup di tangan Tuhan, jadi kita menyadari Tuhan bekerja sesuai rencana-Nya dan kita hanyalah bagian dari rencana Tuhan, tidak semua hal bergantung pada kita. Yang saya ingin tekankan, sadarilah bahwa ada Tuhan dalam hidup ini dan bahwa semua hal dalam hidup ini sebetulnya berada pada tangan Dia juga. Kita bekerja, kita melakukan bagian kita tapi berikan bagian Tuhan kepada Tuhan, jangan kita mengambil alih bagian Tuhan bahwa itu juga harus kita kerjakan.

  2. Fleksibel adalah berani berubah sebab dia berani mengintrospeksi diri. Orang yang fleksibel itu orang yang berani melihat apa hal-hal dalam dirinya itu yang perlu diperbaiki, yang perlu ditambah sehingga akhirnya dia berani berubah. Orang yang tidak fleksibel orang yang sulit sekali melihat dirinya, kalaupun melihat dirinya hanyalah melihat secara selektif hanya hal-hal yang ingin dia lihat, yang baik untuk dirinya, yang dia memang yakini sebagai dirinya.

  3. Orang Fleksibel adalah orang yang berani menerima yang tak diduga karena menyadari bahwa jika Tuhan yang memberi, Dia pula yang akan memampukan kita untuk menerimanya. Contoh, tokoh Ayub seorang yang kaya raya tapi mengalami musibah kehilangan anak-anaknya mati semua, hartanya habis, bahkan terakhir dia menderita penyakit. Teman-temannya menjauh darinya, sahabat karibnya meninggalkan dia, anak induk semangnya bahkan kanak-kanak mengejek Ayub.Tapi dia masih bisa berkata: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan." Dan dia mendasarinya atas satu hal yang sangat sederhana, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya." Suatu sikap hidup yang luar biasa, inilah yang saya maksud dengan fleksibel, dia tahu bahwa Tuhan yang memberi semua yang dia miliki termasuk keluarganya, kesehatannya dan harta bendanya.

Seharusnya kita juga sebagaimana halnya Ayub, menyadari bahwa memang hidup itu tidak bisa kita kendalikan, nah bagaimanakah kita bisa fleksibel dalam hidup, kita mulai dengan suatu perspektif, sebetulnya hidup itu tidak dalam kuasa kita. Kita berpikir kita yang menentukan hidup ini, ada hal-hal yang memang kita bisa tentukan sampai titik tertentulah kita ini turut berperan dalam menentukan hidup tapi sebetulnya selain atau setelah titik itu benar-benar di tangan Tuhan bukan di tangan kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Fleksibel". Kami percaya acara ini pasti sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Di Amerika Pak Gunawan, orang-orang sering kali mengucapkan mungkin disebut peribahasa yaitu don't take life to seriously, janganlah terlalu serius menghadapi hidup. Saya kira peribahasa ii mempunyai banyak kebenarannya terutama pada dewasa ini, saya melihat salah satu sumber penyakit adalah ketegangan, kita ini terlalu tegang dan kenapa tegang sebab kita menjalani hidup serius.

Saya juga tidak berkata anggaplah hidup ini sebuah permainan jadi kita sembarangan hidup bukan itu yang saya maksud, tapi yang saya maksud adalah kita hidup tidak terlalu tegang, sehingga menjalani hidup ini dengan lebih santai dan rileks, saya kira sikap-sikap inilah yang akan membentuk sikap hidup yang sehat.
GS : Sering kali kalau kita tidak serius, cenderung orang itu mengatakan bahwa kita tidak mempunyai pendirian, tidak tegas di dalam kehidupan kita, kurang mempunyai prinsip, nah itu bagaimana Pak Paul?

(1) PG : Saya kira yang dimaksud dengan fleksibel bukannya berarti tidak berpendirian. Fleksibel itu bukanlah berarti kita selalu seperti bunglon berubah-ubah sesuai dengan situasi yang menguntngkan kita, adakalanya tidak fleksibel dalam pengertian dia tidak mengubah pendiriannya, dia akan berdiri dengan tegak dan berkata inilah pendirian saya dan saya akan terus pertahankan ini.

Jadi yang saya maksud dengan fleksibel bukan itu, jadi pertanyaan berikutnya lagi adalah kalau begitu apa yang dimaksud dengan fleksibel di sini. Yang pertama fleksibel adalah menyadari bahwa hidup di tangan Tuhan, jadi kita menyadari Tuhan bekerja sesuai rencanaNya dan kita hanyalah bagian dari rencana Tuhan, tidak semua hal bergantung pada kita. Nah, kadang-kadang kita ini hidup seakan-akan semua hal bergantung pada kita kalau kita tidak ada, semuanya berantakan, jadi kita ini merasakan tanggung jawab yang terlalu besar pada pundak kita. Orang yang memikul tanggung jawab seperti itu akan susah fleksibel, sebab dia merasa bahwa semua itu berpulang pada dia, jadi dialah yang harus memutuskan segalanya. Yang ingin saya katakan adalah sadarilah bahwa ada Tuhan dalam hidup ini dan bahwa semua hal dalam hidup ini sebetulnya berada pada tangan Dia juga. Saya juga tidak berkata jadilah orang yang fatalis, yaitu ya sudah terserah Tuhan, semuanya terserah Tuhan tidak usah berusaha, tidak usah berbuat apa-apa, bukan itu yang saya maksud. Kita bekerja kita melakukan bagian kita, tapi berikan bagian Tuhan kepada Tuhan jangan kita mengambil alih bagian Tuhan bahwa itu juga harus kita kerjakan.
GS : Ya mungkin yang sulit itu justru o...ini bagian saya, o.......ini bagian Tuhan begitu Pak.

PG : Saya pernah mendengar atau membaca sebuah pepatah yaitu jadilah dirimu, namun jadilah dirimu yang paling baik, saya kira itu hasil yang baik. Artinya jangan kita itu cepat puas dan berkatasaya hanya bisanya sampai di sini ya sudah, saya kira kita harus mencoba memaksimalkan, namun setelah maksimal kita harus berhenti dan berkata tidak ada lagi yang bisa saya lakukan dan saya harus serahkan kepada Tuhan.

Jadi orang yang fleksibel menjadi orang yang lebih tenang, tidak terlalu diburu-buru bahwa semuanya itu harus sesuai dengan rencana dan kehendak dia, bahwa masih ada Tuhan yang mengatur segalanya dan bahwa Tuhan berkuasa, berkuasa lebih dari kuasa kita sendiri, sehingga yang mustahil bisa akan terjadi. Yang kita anggap tidak mungkin akhirnya bisa karena Tuhan tetap berkarya.
GS : Dalam hal ini Pak Paul apakah itu tidak menyangkut temperamen seseorang, memang ada orang yang serius, segala sesuatu dipikirkan dengan sangat detail, tapi ada orang yang memang santai.

PG : Saya kira ada pengaruhnya Pak Gunawan, ada orang-orang yang memang bawaannya serius dan menganggap semua hal itu serius dan sikapnya cenderung lebih tegang, juga kebalikannya dengan orang ang lebih santai.

Jadi kalau memang ada pengaruh dari kepribadian masing-masing harus disadari, mungkin yang terlalu santai itu perlu belajar untuk sedikit lebih menuntut diri, berdisiplin diri, sedangkan yang lebih serius untuk belajar lebih mundur sehingga lebih kendor sedikit, misalkan seperti itu.
GS : Berarti harus ada perubahan dalam diri orang itu Pak?

PG : Saya kira demikian, jadi mesti ada perubahan. Ini membawa kita ke point berikutnya Pak Gunawan, sebetulnya apa fleksibel. Tadi saya katakan fleksibel orang yang menyadari ada Tuhan dan baha hidup ini di tangan Tuhan, bahwa semua ini tidak bergantung pada dirinya.

Yang kedua, rang yang fleksibel adalah berani berubah sebab dia berani mengintrospeksi diri. Orang yang fleksibel itu orang yang berani melihat hal-hal apa dalam dirinya itu yang perlu diperbaiki, yang perlu ditambah, sehingga akhirnya dia berani berubah. Orang yang tidak fleksibel, orang yang sulit sekali melihat dirinya, kalaupun melihat dirinya hanyalah melihat secara selektif hanya hal-hal yang ingin dia lihat, yang baik untuk dirinya, yang dia memang yakini sebagai dirinya. Tapi hal-hal yang dia lihat berlawanan dengan hal-hal yang dia pikir tentang siapa dirinya, itu dia abaikan, dia tidak mau melihatnya. Jadi orang yang seperti ini orang yang luar biasa kakunya, hanya satu arah melihat dari kacamata dia, masukan orang tidak akan dia serap.
GS : Apakah ada ciri yang lain di dalam diri seseorang yang fleksibel, Pak Paul?

PG : Yang lain lagi orang yang fleksibel adalah berani menerima yang tak diduga, karena menyadari bahwa jika Tuhan yang memberi, Dia pula yang akan memampukan kita untuk menerimanya. Kadang kal kita ini mengatur hidup sedemikian rupa, sehingga kita ini sudah bisa memproyeksikan hidup kita misalnya 25 tahun di muka, semua harus terantisipasi, tidak ada yang tak terduga, orang yang seperti ini saya kira akan cukup sengsara dalam hidup kalau hidupnya ini tidak berkembang seperti yang dia inginkan.

Tapi orang yang fleksibel orang yang bisa berkata: saya membuat rencana, Tuhan juga tidak melarang kita membuat rencana, tapi seperti dalam Yakobus dikatakan, selalulah berkata jika Tuhan kehendaki, ini bukan hanya basa-basi di mulut tapi suatu keyakinan bahwa memang segalanya ditentukan oleh kehendak Tuhan. Nah, orang yang fleksibel akan bisa berkata: jika Tuhan kehendaki, rencanaku ini begini kalau Tuhan tidak kehendaki ya tidak apa-apa. Jadi orang yang fleksibel orang yang bisa menerima apapun porsi yang Tuhan berikan kepadanya, sehingga dia lebih bisa untuk juga melewatinya. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang terkena serangan jantung, akhirnya menderita stroke untuk waktu yang cukup lama namun bisa sembuh kembali. Saya tanya pada dia, apa kiatmu kok bisa melewati masa stroke itu sedangkan dia orang yang sangat produktif sekali. Dia berkata: pada akhirnya kuncinya adalah bisa menerima bahwa inilah bagiannya dia, porsinya dia, bahwa sekarang dia tidak bisa selincah dulu lagi. Orang yang bisa menerima kondisinya inilah porsi yang Tuhan berikan itu adalah orang yang lebih bisa fleksibel, orang yang bisa jalan lagi dalam hidup.
GS : Sering kali justru kita itu menyesali yang terjadi dalam diri kita itu Pak Paul, kenapa saya sampai seperti ini dan itu yang membuat makin tegang.

PG : Ya saya kira sebagai reaksi awal itu hal yang normal, apalagi kalau itu musibah yang berat misalnya ini kok terjadi pada diri kita, tidak seharusnya ini terjadi, itu reaksi yang alamiah. Nmun setelah itu kita harus melanjutkan perjalanan hidup kita, kita tidak bisa lagi hidup di masa lampau kok ini terjadi, tidak bisa kita harus berkata inilah yang terjadi, inilah porsi saya, saya akan terima, saya akan jalan lagi.

Jadi saya akan coba hidup produktif seperti yang Tuhan telah berikan pada saya.
GS : Jadi orang yang fleksibel bukan orang yang tidak mempunyai pendirian Pak Paul, apakah ada contoh konkret di dalam Alkitab?

PG : Sebelum kita ke Alkitab Pak Gunawan, saya akan menunjukkan orang yang fleksibel yang saya tahu. Misalkan Jonny Ericson Tada, Jonny Ericson Tada itu tidak bisa berjalan, leher ke bawah dia umpuh.

Umur 17 tahun dia terjun ke danau dia sangka danaunya dalam ternyata tidak dalam, sehingga kepalanya menumbuk dasar danau, lumpuh dari leher ke bawah. Seorang gadis yang cantik, energik tiba-tiba lumpuh. Dia bergumul keras sekali, sehingga mau mati dan sebagainya tapi akhirnya dia bisa terima kondisinya dan Tuhan memakai dia di Amerika Serikat. Pelayanannya Jonny and friend itu pelayanan yang Tuhan berkati, menolong dan memberikan bantuan kepada para penyandang cacat di sana. Nah, artinya Jonny menerima porsinya, tentu tidak mudah, sudah tentu penuh perjuangan, tapi akhirnya sewaktu dia menerima, dia melihat Tuhan memakainya, dia menjadi berkat buat penyandang cacat. Sebelum Jonny belum ada lembaga Kristen yang khusus menangani orang-orang yang menyandang cacat, jadi setelah Jonny cacat barulah dimulai dan dikembangkan kesadaran kepada para penyandang cacat ini. Jadi sekali lagi kita melihat orang yang berhasil menerima porsinya, itu salah satu ciri kefleksibelan. Kalau di Alkitab yang saya langsung teringat adalah Ayub Pak Gunawan, Ayub ini seorang yang kaya raya, dikatakan dombanya 7000-an, 3000-an, anaknya pesta bersenang-senang, hidup yang rohani, Ayub mempersembahkan korban kalau-kalau anaknya telah berdosa jadi dia minta ampun kepada Tuhan, ayah teladan, cinta Tuhan, cinta keluarga. Tapi mengalami musibah kehilangan, anak-anaknya mati semua, hartanya habis, dan bahkan terakhir dia menderita penyakit, penyakit yang membuat dia menggaruk-nggaruk kulitnya dengan beling karena begitu sakit dan gatalnya. Jadi menjadi begitu menjijikkan, sehingga dia sendiri berkata: "teman-temannya menjauhkan diri darinya, sahabat karibnya meninggalkan dia, anak induk semangnya dan bahkan kanak-kanak mengejek aku," kata Ayub. Dan bahkan nafasku pun kata Ayub memancing kemarahan atau kebencian dari istrinya sendiri, berarti dia sudah begitu terlempar jauh dalam hidup dan sudah tentu susah menerima hal-hal seperti itu, susah sekali, maka Ayub sering kali datang kepada Tuhan dan berteriak, berseru menggugat Tuhan dan tidak apa-apa Tuhan menerima, Tuhan mendengarkan, Tuhan tidak memarahi Ayub karena Ayub kesakitan. Tapi ada perkataan Ayub yang ingin saya munculkan di sini, Ayub berkata : "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan." Dan dia mendasarinya atas satu hal yang sangat sederhana, "dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan." Suatu sikap hidup yang luar biasa, inilah yang saya maksud dengan fleksibel, dia tahu bahwa Tuhan yang memberi semua yang dia miliki termasuk keluarganya, kesehatannya dan harta bendanya. Dan dia mempunyai satu konsep yang jelas bahwa Tuhanlah pemilik, jadi sebagai pemilik Tuhan mempunyai hak untuk mengambil kembali sesuatu yang telah dipinjamkannya kepada Ayub. Nah, saya boleh katakan Ayub itu tidak menggenggam hidup Pak Gunawan, kalau saya umpamakan seseorang yang memegang gelas, dia itu tidak bisa menggenggam gelas keras-keras bisa-bisa gelasnya pecah, dia hanya cukup menggenggamnya supaya gelas itu tidak jatuh. Saya kira itulah sikap orang yang fleksibel dalam hidup ini, dia tidak memegang kehidupan ini keras-keras, sehingga tidak bisa keluar dari tangannya, yang dia miliki itu lepas dari genggamannya tidak bisa, jadi sebaiknya peganglah hidup ini. Yang Tuhan berikan kita pegang, kita terima, kita syukuri, tapi kita tidak menggenggamnya keras-keras. Karena nanti suatu hari kalau Tuhan menghendaki untuk mengambilnya dia harus memaksa kita membuka tangan dan itu akan sakit, akan sakit sekali waktu dia paksa tangan kita untuk mengambil yang ada dalam genggaman kita itu.
GS : Itu karena sikap kita sering kali menganggap bahwa apa yang kita miliki itu menjadi hak kita Pak Paul.

PG : Sering kali begitu Pak Gunawan, apalagi bagi kita ini yang telah bekerja keras dan berkata jerih payahkulah yang telah membuat aku memiliki semua ini, siapa Tuhan yang memberikan, saya kokyang bekerja, keringat sayalah yang membuat saya memikili semua ini.

Kita lupa bahwa nafas kita pun diberikan Tuhan, kalau Tuhan tidak berikan kita nafas, tidak mungkin kita bekerja dan memiliki semua itu. Jadi benar-benar yang kita miliki ini sangat-sangatlah sementara dan Tuhan bisa mengambilnya kapan saja dan saya sudah bertemu dengan orang yang dalam hidupnya kehilangan banyak Pak Gunawan. Orang yang kehilangan harta benda, pada waktu dulu saya masih di Amerika saya masih ingat Pak Gunawan, di Amerika itu sering terjadi orang mempunyai misalnya mall yang besar tahu-tahu bangkrut habis, habis tidak ada lagi sisanya. Jadi dalam waktu sekejab yang dia miliki itu tiba-tiba habis tidak ada lagi, nah itu sering terjadi di sana. Kadang-kadang buka toko besar sekali di beberapa tempat tidak bertahan beberapa tahun habis, tutup semuanya. Nah, benar-benar semuanya itu bisa melayang pergi, nah orang yang fleksibel orang yang mengerti bahwa semua yang dia dapat pemberian Tuhan dan syukuri, terimalah, tapi jangan genggam keras-keras. Kadang kala juga yang kita tidak bisa hindari adalah kita lekat dengan semua itu Pak Gunawan, apalagi kalau itu anak, istri, suami, kita menjadi lekat sekali maka waktu Tuhan ambil, beratnya luar biasa. Itu bisa dipahami oleh Tuhan juga, sebab waktu orang-orang yang kita kasihi itu pergi atau meninggalkan kita hati kita turut terobek, turut tercabik dengan kepergiannya itu sangat melukai. Saya kira itu memang tidak ada jalan pintas kita harus berduka, sedih namun kita ingatkan lagi itupun Tuhan berikan.
(2) GS : Nah, untuk mempersiapkan diri atau mengubah diri menjadi orang yang fleksibel itu bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira Ayub di sini mempunyai suatu sikap yang sudah jelas dari awalnya Pak Gunawan, Ayub pernah berkata begini: "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tapi tidak mau meneima yang buruk, dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya."

Yang saya ingin tekankan di sini adalah Ayub tahu bahwa hidup itu di luar kendalinya, bahwa hidup itu sebetulnya bukan berada dalam genggamannya maka dia berkata hidup bisa baik, hidup bisa buruk dan dia sadari Tuhanlah yang memegang kendali atas hidup ini maka dia juga yakin waktu dia menerima yang baik, Tuhan yang memberikan, waktu dia menerima yang buruk sebetulnya Tuhan pun terlibat memberikan dia yang buruk itu. Kita mungkin tidak bisa mengerti kenapa Tuhan menetapkan agar kita menerima yang buruk itu. Tapi Ayub dan seharusnya kita juga menyadari bahwa memang hidup itu tidak bisa kita kendalikan, nah bagaimanakah kita bisa fleksibel dalam hidup, kita mulai dengan suatu perspektif, sebetulnya hidup itu tidak dalam kuasa kita, kadang-kadang kita lupa. Kita berpikir kita yang menentukan hidup ini, ada hal-hal yang memang bisa kita tentukan sampai titik tertentu, kita ini turut berperan dalam menentukan hidup, tapi sebetulnya selain atau setelah titik itu benar-benar itu di tangan Tuhan bukan di tangan kita.
GS : Tapi perencanaan itu mesti tetap dikerjakan Pak Paul?

PG : Tetap dikerjakan, tapi memang dengan suatu kesadaran bahwa ada hal-hal yang bisa terjadi dan itu memang di tangan Tuhan. Saya berikan contoh Pak Gunawan, ada anak-anak Tuhan yang pernah megalami musibah atau pukulan-pukulan yang sangat hebat, contohnya adalah Jesus pengarang lagu "Mana Ada Sobat lagi seperti Yesus Tuhanku".

Sehari sebelum dia menikah tunangannya mati tenggelam, nah itu memukul dia sekali tapi dia bangkit dan dia menuliskan lagu "Mana Ada Sobat Lagi seperti Yesus Tuhanku" setelah kematian tunanganya itu. Tapi memang kita tahu setelah itu hidupnya tidak pernah sama, dia itu menjadi pengembara menolong orang, tapi dia sendiri diketahui tidak pernah menikah atau berkeluarga lagi setelah itu. Apa yang dapat kita lihat, hidup memang di luar jangkauan, ada orang yang sudah merencanakan sesuatu kemudian sesuatu terjadi, anaknya meninggal, istrinya meninggal atau suaminya meninggal atau terjadi musibah yang lain nah itu semua adalah bagian hidup, kita tidak bisa mengontrolnya. Kita yang terjun dalam bisnis, misalnya kita yakin sekali kerja sama ini akan menguntungkan, tapi ternyata kerja samanya ambruk, pecah semuanya, kepercayaan tiba-tiba tidak ada lagi, terjadi konflik, berantakan. Banyak hal yang sebetulnya di luar tangan kita, nah orang yang fleksibel orang yang mengerti prinsip itu.
GS : Jadi sebenarnya setiap kita mempunyai kemampuan menjadi orang yang fleksibel Pak Paul?

PG : Betul, jadi sebetulnya kalau saya boleh katakan orang yang fleksibel adalah orang yang beriman, nah sekali lagi ini bukannya orang yang tidak peduli, bukan. Yang saya maksud orang yang pedli dengan hidup berbuat semaksimal mungkin, tapi dia tahu batasnya, dan dia tahu ada bagian Tuhan dan dia menghormati bagian Tuhan itu.

Itulah orang yang beriman, orang yang berkata saya bagian ini, bagian ini saya kerjakan, di luar itu biar Tuhan yang kerjakan, dan masih ada Tuhan dalam hidup ini bahwa Dia masih bekerja itulah maksudnya orang itu beriman.
GS : Dan sebagai orang yang beriman, prinsip hidup itu tidak hilang karena kita menjadi fleksibel Pak Paul?

PG : Ya kita tetap mempunyai prinsip, kita tahu apa yang kita yakini namun dalam kenyataan hidup ini kita juga berdampingan dengan Tuhan bahwa Tuhan ada bagiannya, dan kita pun ada bagian tersediri.

GS : Di tengah-tengah perubahan yang begitu cepat di sekeliling kita dan kadang-kadang kita mau tidak mau harus menyesuaikan diri Pak Paul.

PG : Betul, an susah sekali orang yang tidak bersedia menyesuaikan diri. Sekali lagi di sini bukannya menyesuaikan diri dengan dosa, dengan yang salah, tapi dengan porsi kehidupan yang kita terma itu.

GS : Dan itu memang seperti tadi yang Pak Paul singgung itu sesuatu yang Tuhan perkenankan dan bahkan Tuhan ajarkan kepada kita untuk tetap hidup secara fleksibel di tengah-tengah masyarakat.

PG : Itulah yang Paulus katakan Pak Gunawan, aku telah belajar hidup dalam segala kondisi, dan dia akhirnya simpulkan dia bisa menanggung segalanya karena Kristus memberikan dia kekuatan. Tapi pa artinya dia berkata: saya belajar dalam kecukupan dan juga dalam kekurangan, yaitu dia menerima porsinya.

GS : Jadi itu sesuatu yang saya percaya sangat berguna bagi para pendengar dan bagi kita sekalian untuk hidup bijaksana dan hidup luwes di tengah-tengah zaman yang semakin keras ini. Terima kasih sekali Pak Paul.

Para pendengar sekalian yang setia mengikuti acara Telaga ini kami ucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Kami baru saja berbincang-bincang tentang fleksibel sebagai suatu sikap hidup yang sehat, dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda dapat juga menggunakan fasilitas e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



17. Melawan Kekhawatiran


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T125A (File MP3 T125A)


Abstrak:

Kekhawatiran itu bukanlah sesutu hal untuk dihilangkan, tetapi untuk dilawan. Di dalam materi ini dijelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk melawan kekhawatiran.


Ringkasan:

Mengapa ada orang yang begitu mudah khawatir? Ternyata jawabannya tidaklah sesederhana, "Dia kurang beriman!" Ada beberapa penyebab yang membuat orang mudah khawatir.

  1. Ada orang yang secara fisik lebih mudah khawatir, misalnya jantungnya lemah dan cepat berdebar atau susah berkonsentrasi.

  2. Ada orang yang secara emosional terkondisi untuk khawatir akibat pengalaman masa lalunya, misalnya ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang penuh dengan ketegangan atau ia pernah mengalami trauma yang membuatnya merasa tidak aman lagi, misalnya tragedi atau musibah.

  3. Ada orang yang memiliki kepekaan yang tinggi dan ini membuatnya merasakan segalanya dengan lebih kuat, termasuk kekhawatiran.

  4. Ada orang yang sukar mempercayakan hidupnya kepada Tuhan dan memiliki konsep bahwa Tuhan tidak memelihara hidupnya.

Sebetulnya, apakah kekhawatiran itu?

  1. Kekhawatiran adalah upaya untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam.

  2. Kekhawatiran adalah alarm untuk memberi peringatan bahwa ada bahaya yang sedang mendatangi kita.

  3. Kekhawatiran adalah tindakan untuk mengantisipasi ketidakberdayaan kita mengatasi ancaman yang datang.

  4. Dengan kata lain, kekhawatiran timbul oleh karena dua unsur:

    1. Bahaya yang mengancam
    2. Ketidakberdayaan kita

Cara Mengatasinya:

  1. Kehawatiran tidak untuk dihilangkan melainkan untuk dilawan.

  2. Alkitab menawarkan solusi yang berbeda dengan cara yang manusia kenal: Bukannya mengendalikan situasi, melainkan menyerahkan situasi kepada Tuhan (bukan berserah kepada situasi). "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya sebab Ia yang memelihara kamu." 1 Petrus 5:7


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Melawan Kekhawatiran", kami percaya acara ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, sekalipun setiap orang itu punya rasa khawatir tetapi rupa-rupanya ada beberapa orang yang rasa kekhawatirannya berkelebihan, apa memang betul begitu?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi ada orang-orang tertentu yang lebih rentan terhadap kekhawatiran. Dan itu bukanlah sesuatu yang langsung bisa kita kaitkan dengan kurang berimannya dia. Nah,kadang-kadang kita terlalu cepat melabelkan orang yang khawatir adalah orang yang kurang beriman.

Ternyata memang hal kekhawatiran ini hal yang cukup kompleks.
GS : Pak Paul, sebenarnya batasannya antara khawatir dan takut itu apa Pak Paul?

PG : Biasanya kami-kami ini di Psikologi membedakan, kekhawatiran dari ketakutan melalui satu objek, melalui satu faktor yaitu objeknya. Ketakutan memiliki objek, kekhawatiran tidak memiliki obek.

Jadi kalau saya misalkan didiagnosis menderita kanker dan saya takut sekali kanker ini akan mengganas dan akhirnya akan merenggut nyawa saya, nah itu takut karena saya memiliki objek yang jelas. Kekhawatiran tidak mempunyai objek yang jelas, jadi kita bisa khawatir anak kita nanti besar bagaimana, nanti situasi bagaimana, keuangan kita bagaimana; jadi orang yang khawatir itu seolah-olah tidak pernah habis-habisnya mengkhawatirkan hampir setiap hal dalam hidup berpotensi memberikan dia tambahan rasa khawatir.
GS : Tapi kekhawatiran itu tetap mempunyai dasar Pak Paul, bagi orang-orang itu?

PG : Bagi orang-orang itu punya, cuma masalahnya adalah kekhawatiran itu tidak pernah bisa berhenti, selalu akan ada saja yang baru. Dan kalau kita coba menjelaskan tentang kekhawatiran itu seniri dia akan bisa berargumentasi dengan kita dan membenarkan rasa khawatirnya itu.

WL : Faktor-faktor penyebab dari rasa khawatir itu sebenarnya apa, Pak Paul?

PG : Ada beberapa Bu Wulan, yang pertama adalah ada orang yang memang secara fisik lebih mudah khawatir. Nah saya ini memang bukan seorang dokter medis jadi saya akan hanya menggambarkannya secra umum.

Yaitu misalkan orang yang jantungnya lebih mudah berdegup, orang yang memang peka sekali sehingga kalau ada ketegangan apa-apa jantung itu berdegupnya sangat keras dan sangat cepat. Tapi sebaliknya ada orang yang memang degup jantungnya itu lebih perlahan dan degup jantungnya itu juga lebih kuat, benar-benar mempunyai power. Nah orang yang degup jantungnya mudah untuk diaktifkan, tidak bisa tidak akan lebih merasakan dan lebih rentan.
WL : Mungkin tidak sebaliknya Pak Paul, justru kalau tadi karena kelemahan fisik menimbulkan dia rentan. Tapi kalau misalnya justru karena rasa khawatir itu menyebabkan kita sakit perut, sering sakit kepala, orang menyebutnya psikosomatis Pak Paul.

PG : Ya itu sangat mungkin Bu Wulan, jadi kekhawatiran atau ketegangan itu bisa menyebabkan gangguan-gangguan fisik yang aneh-aneh. Contohnya yang aneh-aneh seperti apa, tadi bu Wulan sudah katkan misalnya yang paling umum sakit maag atau sakit perut, nah tadi yang saya sudah sebut juga adalah jantung deg-deg-an, atau ke luar keringat dingin, badan sering lemas.

Nah gangguan-gangguan yang lain yang sering dialami oleh orang yang memiliki ketegangan yang tinggi adalah dia itu misalkan sulit tidur. Nah kalau orang sulit tidur selama satu, dua hari mungkin mengganggunya secara umum tidak terlalu parah, tapi kalau dia tidak bisa tidur dengan pulas selama dua bulan wah itu gangguannya lebih parah. Ada orang yang bisa sampai berbulan-bulan karena ketegangan begitu tinggi bisa memunculkan masalah-masalah fisik yang lainnya, karena kurang tidur itu. Ada juga yang tubuhnya sampai timbul gatal-gatal jadi seperti mempunyai rush, kulitnya seperti korengan. Nah kalau khawatirnya lenyap, sakit kulitnya juga ikut lenyap, tapi kalau lagi khawatir atau ada ketegangan tertentu sekujur tubuh gatal-gatal dan merah-merah, bentol-bentol dan sebagainya. Ada lagi orang-orang yang merasakan lidahnya kering terus-menerus, jadi perlu minum karena lidahnya kering sekali. Nah benar-benar begitu banyak gangguan yang bisa ditimbulkan oleh masalah yang sangat sederhana ini, kekhawatiran. Tapi memang tadi saya sudah tekankan juga kekhawatiran itu sendiri bisa ditimbulkan oleh kerentanan fisik kita, jadi ada faktor-faktor bawaan yang membuat kita lebih rentan terhadap kecemasan ini.
GS : Jadi sebenarnya kekhawatiran itu adalah suatu masalah di fisik kita atau di emosi kita Pak Paul?

PG : Nah kalau kita katakan karena masalah fisik, kekhawatiran itu lebih gampang kita terima. OK! Jantung saya agak lemah jadi saya lebih mudah untuk khawatir. Yang lebih susah adalah ini meman adakalanya dan sering kali kekhawatiran itu disebabkan oleh pengalaman-pengalaman emosional yang kita pernah lewati pada masa yang lebih muda atau lebih kecil.

Dan rupanya kita itu terkondisi untuk lebih mudah khawatir atau lebih mudah tegang karena hal-hal yang pernah kita alami itu. Contoh misalnya kalau kita dibesarkan di rumah tangga yang penuh dengan ketegangan, orang tua sering kali bertengkar, kita lebih terkondisi untuk rentan terhadap kekhawatiran atau ketegangan. Kalau misalnya lagi rumah tangga kita itu saking tidak harmonisnya akhirnya kita hidup di dalam ketidakpastian. Sering pindah karena ayah kehilangan pekerjaanlah atau apa hidup kita susah lagi secara ekonomi, nah hal-hal seperti itu merentankan kita juga terhadap kekhawatiran.
GS : Dan itu biasanya pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan itu Pak?

PG : Ya, misalnya ini yang sangat umum Pak Gunawan, ini dialami oleh cukup banyak orang yaitu kalau misalkan kita pernah mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawa kita. Ada orang-orang yag pernah mengalami kecelakaan, ada orang yang pernah mengalami misalnya rumahnya kebakaran, ada orang yang pernah mengalami situasi di mana dia hampir kehilangan nyawanya itu biasanya menimbulkan bekas.

Sehingga dia menjadi orang yang lebih khawatir dan ini tidak usah terjadi di masa kecil kita. Kalau ini terjadi di masa lampau, meskipun tidak masa kecil namun peristiwa itu sangat traumatis, cukup kuat untuk membuat kita akhirnya rentan sekali terhadap kekhawatiran. Saya masih ingat sekali dulu waktu saya masih bermukim di Amerika, ada seorang wanita yang terus-menerus dilanda oleh kekhawatiran. Ceritanya sangat sederhana sekali, cerita ini memang cerita yang sangat umum sekali jadi saya tidak membuka yang terlalu pribadi. Dia kehilangan salah seorang dari orang tuanya, meninggal dunia. Dan dalam masa berkabung, dia lagi mengendarai mobil tiba-tiba polisi naik mobil juga, mengejar penjahat, dan penjahat serta polisi menjepit mobil dia di tengah-tengah. Dan dua-dua ke luar, polisi ke luar, penjahatnya ke luar saling tembak-menembak jadi dia di tengah-tengah. Begitu takutnya, tegang sekali karena adanya tembak-menembak di sekitar dia, apa yang terjadi setelah itu, dia terserang oleh masalah kecemasan, tegang terus-menerus, khawatir ini, khawatir itu. Nah, jadi secara umum orang-orang yang pernah mengalami masalah atau hal-hal yang traumatis ini berkemungkinan besar akhirnya memang mudah sekali cemas, hal-hal kecil mengagetkan dia sekali dan dia akan benar-benar bingung karena hal yang kita anggap kecil itu, tapi itulah salah satu penyebabnya.
GS : Kadang-kadang dia merasa bukan sebagai sesuatu kekhawatiran, dia menganggap itu sebagai suatu kehati-hatian jadi ada salah seorang teman saya itu yang kecurian Pak Paul, akibatnya sekarang setiap malam dia itu sebelum tidur semua pintu itu diperiksa lagi setiap kali seperti itu. Lalu dia katakan: "Tidak, saya tidak khawatir, cuma saya lebih hati-hati saja."

PG : Betul, ya dia mungkin tidak menyadarinya, dan dia menganggap itu suatu tindakan yang normal-normal saja. Dan untuk situasinya, untuk konteksnya itu kita memang harus akui tindakannya tindaan yang masuk akal karena dia pernah mengalami perampokan misalnya, jadi dia harus berhati-hati.

Meskipun kita tahu tindakannya itu sudah melebihi takaran. Jadi salah satu penyebab yang memang memungkinkan orang untuk rentan sekali terhadap kekhawatiran adalah pengalaman masa lampau itu. Yang lainnya ini, Pak Gunawan dan Ibu Wulan, ada orang yang memiliki kepekaan yang tinggi artinya apa, orang ini memang perasaan ya, sangat-sangat halus, tajam sekali, peka sekali. Akibatnya apa? Dia akan mengalami perasaan-perasaannya dalam derajat yang sangat tinggi. Jadi bukan hanya takut, perasaan sedih kalau dia lagi mengalami kesedihan, sungguh-sungguh bisa hanyut, kalau lagi marah, sungguh-sungguh marahnya itu keluar dengan keras. Nah, orang yang perasaannya sepeka ini, sehalus ini tidak bisa tidak waktu dia khawatir benar-benar kekhawatiran itu melanda seluruh tubuhnya dan hidupnya. (WL : Lebih dari orang yang normal lainnya ya Pak Paul?) lebih dari orang yang lainnya karena kepekaannya itu. Jadi adakalanya ini yang terjadi, dia memang peka untuk segala hal, ya tidak bisa tidak termasuk perasaan khawatir juga dia akan lebih peka.
GS : Apa karena itu lalu wanita pada umumnya memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dibandingkan pria?

PG : Nah, memang kita harus akui di kalangan wanita masalah ini biasanya lebih tinggi namun tetap saya katakan meskipun secara umum di kalangan wanita lebih tinggi ada juga kasus-kasus karena pngalaman traumatis di masa lampau sebagian pria juga mengalami masalah seperti ini pula.

WL : Pak Paul, kalau pengalaman traumatis tadi itu efeknya menjadi besar pada si orang itu. Yang jadi pertanyaannya, bisa atau tidak disembuhkan Pak Paul, misalnya lewat konseling, terapi atau selamanya dia akan menderita seperti itu?

PG : Penyembuhan untuk orang yang terserang kekhawatiran ini sangat bergantung pada penyebabnya apa ya. Misalkan tadi Ibu Wulan sudah katakan pengalaman traumatis, kalau itu penyebabnya dalam trapi kita harus kembali kepada peristiwa semula itu.

Dia mungkin tidak pernah membicarakan lagi, biarkan dia membicarakannya atau yang kedua dia mungkin membicarakannya tapi tidak benar-benar mengekspresikan perasaan-perasaan yang saat itu dia rasakan. Nah penting sekali dalam terapi kita memintanya dan menciptakan suatu kondisi di mana dia bisa dengan aman mengekspresikan perasaan-perasaan yang dulu itu dia rasakan. Nah perasaan-perasaan yang dulu itu, yang sudah banyak tertumpuk dalam hidupnya, tatkala mulai ke luar sedikit banyak akan mulai meredakan ketegangannya. Nah, ketegangan seperti ini kalau sudah terlalu tinggi, khawatirnya terlalu tinggi bukan saja mempengaruhi fungsi sehari-harinya tatkala dia melek mata, tapi bisa mempengaruhi dia tatkala dia sedang tidur. Jadi muncul dalam mimpi, mimpinya tentu bukan mimpi manis tapi mimpi yang menegangkan. (WL: Jadi tidur pun tidak nyenyak Pak Paul ya). Nah ini yang membuat orang itu kadang-kadang seperti tambah takut tidur karena dia takut nanti harus berhadapan dengan mimpi-mimpi yang mengerikan itu, jadi akhirnya memang terus berputar dalam terapi, kita akan kembali ke situ. Sebelum saya mengatakan bahwa semuanya itu karena akibat-akibat fisik dan emosional, saya rasa cukup adil juga dan pada tempatnya kalau kita katakan juga adakalanya penyebab kekhawatiran memang adalah masalah rohani. Saya kira ini tetap harus kita akui bisa terjadi, meskipun tadi saya sudah jelaskan bahwa masalah ini masalah yang kompleks tidak adil kalau langsung kita kategorikan masalah kekhawatiran adalah masalah kurang beriman, ini tujuannya saya menjelaskan faktor-faktor yang lainnya. Namun adakalanya memang karena kurang beriman, karena kurang bisa berserah kepada Tuhan sehingga terlalu mengawatirkan banyak hal.
GS : Tapi kalau memang masalahnya kurang beriman, itu sebenarnya apa yang bisa dia lakukan?

PG : Nah kalau memang masalahnya kurang beriman, dia pertama-tama harus mendekatkan diri hidup dengan Tuhan, maksud saya adalah dia benar-benar harus bersandar kepada firman Tuhan itu. Dia tida lagi mendasarkan hidupnya atas perasaannya, nanti kalau muncul pemikiran-pemikiran yang mengkhawatirkan nah dia harus lawan dengan firman Tuhan, firman Tuhan berkata apa.

Dia khawatir tentang anak-anaknya nah dia bisa berkata firman Tuhan katakan apa, jadi dia selalu harus menggunakan fakta jangan menggunakan perasaannya, nah itu kira-kira yang dia harus lakukan.
WL : Pak Paul, dari tadi kita sudah panjang lebar membicarakan tentang kekhawatiran. Di benak saya bertanya-tanya penasaran begitu jadi yang dimaksudkan kekhawatiran itu apa, batas-batasnya sampai di mana, kalau Pak Paul bisa jelaskan definisinya?

PG : Sebetulnya kekhawatiran adalah upaya untuk melindungi diri, aneh sekali tapi sebetulnya itulah kekhawatiran. Kekhawatiran benar-benar sebuah selimut untuk melindungi diri kita, dengan kitakhawatir seolah-olah kita ini berjaga-jaga.

Maka saya katakan kekhawatiran adalah alarm, sinyal, peringatan bahwa ada bahaya.
WL : Berarti dari Tuhan, Pak?

PG : Awalnya dalam kadar yang tidak berlebihan ini adalah peralatan yang Tuhan berikan kepada manusia untuk melindungi, menjaga dirinya dari bahaya yang mengancamnya. Namun dalam kadar yang berebihan nah kita tahu sekarang ada yang keliru di dalam sistem itu.

Jadi sistem khawatir itu memang adalah suatu peralatan yang sudah ahli dalam hidup kita. Saya berikan satu contoh yang sangat lucu tapi saya mau bagikan, maaf bukan menyamakan manusia yang khawatir dengan hewan, tapi ini cerita tentang anjing saya. Saya mempunyai seorang pengurus anjing, nah anjing saya ini setiap sore saya bawa ke luar untuk jalan, nah suatu hari saya bawa dia keluar apa mau dikata ada motor lewat, saya memang tidak pakaikan dia rantai, motor itu menabrak dia, dia mau lari nyeberang motornya pas lewat dia ditabrak kepalanya tapi tidak apa-apa. Saya mengalami suatu masalah dengan anjing saya setelah peristiwa itu, peristiwanya terjadi hanya satu kali tapi sampai hari ini sudah hampir setahunan setiap kali saya mau suruh anjing saya ke luar susah sekali karena dia itu takut sekali ke luar, trauma, dan saya baru bujuk-bujuk dia dengan rantai anjing baru dia mau ke luar. Kalau saya tidak membawa rantai anjing dia tidak akan mau ke luar. Rupanya rantai anjing membuat dia merasa aman sebab dia tahu saya memegang, melindungi dia. Kalau saya tidak membawa rantai anjing dan saya panggil ke luar dia tidak mau ke luar. Nah apa yang terjadi, insting, dalam anjing itu ada insting, insting untuk melindungi dirinya. Dalam diri manusia juga ada insting untuk melindungi diri kita; nah sinyalnya, alarmnya itu adalah kekhawatiran. Kekhawatiranlah bel yang berkata kepada kita ada bahaya, ada ancaman.
GS : Ya mungkin juga kalau kita berada di kerumunan orang banyak yang membuat kita tidak aman di sana kita juga akan merasa khawatir Pak Paul, dengan wajah-wajah yang seram, mungkin mencurigakan itu akan menimbulkan kekhawatiran dalam hati kita.

PG : Betul, jadi banyak hal yang bisa membuat kita khawatir. Nah salah satu lagi cirinya adalah tadi saya sudah katakan kekhawatiran adalah sinyal, namun satu hal yang juga merupakan tema utamadari khawatir adalah kita merasa tidak berdaya.

Jadi kekhawatiran dikaitkan dengan ketidakberdayaan, ketidakmampuan mengatasi bahaya yang mengancam itu. Kalau justru kita merasakan kita berdaya, kita bisa melakukan sesuatu, kekhawatiran itu akan berkurang. Jadi kekhawatiran berkaitan erat dengan perasaan tidak berdaya itu. Bahaya mengancam dan kita rasanya ragu-ragu, rasanya justru lebih ke arah tidak berdaya untuk mengatasi bahaya yang mengancam itu.
GS : Saya juga melihat ini Pak, informasi yang keliru itu juga membuat orang khawatir. Jadi penjelasan atau berita-berita yang sering kali akhir-akhir ini kita dengar. Berita-berita yang sebenarnya tidak seperti itu tetapi karena kita mendengar berkali-kali itu membuat kita khawatir.

PG : Ya karena berita-berita itu mungkin sekali pada masa lampau terbukti benar, akhirnya kita mengantisipasi yang telah terjadi mungkin terjadi lagi. Nah jadi sekali lagi kita melihat suatu poa di sini, khawatir sebetulnya sinyal, sinyal bahwa akan datang bahaya dan tidak berdaya untuk melawan bahaya itu.

WL : Berarti ada sisi positifnya juga Pak Paul. Saya pikir begini misalnya orang tua yang tidak pernah khawatir akan anaknya nanti bagaimana, pasti dia tidak akan membuat planning atau rencana anaknya nanti sekolah di mana. Terus misalnya saya mau ujian tidak khawatir nilai saya jelek atau buruk, saya tidak akan bersiap-siap diri dengan baik, betul begitu Pak Paul?

PG : Betul, ada orang-orang yang memang justru ditolong oleh rasa khawatir itu, karena dengan khawatir itu dia lebih bersiap-siap. Namun pertanyaan ibu Wulan memunculkan juga satu fakta yaitu slain tadi kita bicara ada orang yang memang lebih rentan terhadap kekhawatiran ada orang yang memang tidak rentan, dan susah khawatir (WL : Maksudnya cuek begitu) cuek, kita juga tidak bisa buru-buru berkata dia beriman besar sebab bisa jadi tidak punya iman.

Tapi kenapa misalnya sangat cuek karena misalnya pertama jantungnya terlalu kuat jadi susah berdebar-debar, dia tidak pernah mengalami hal-hal yang traumatis, dan yang ketiga memang kepribadiannya acuh tak acuh, tidak peduli dengan orang di luar. Perasaannya agak tebal, susah menangis, susah sedih, susah marah, susah segala macam termasuk susah khawatir, nah ada orang yang seperti itu juga.
GS : Pak Paul, kalau kita sedang mengalami kekhawatiran sebenarnya apa yang kita lakukan?

PG : Pada prinsipnya kita harus menyadari bahwa kekhawatiran itu bukan untuk dihilangkan tapi untuk dilawan. Saya menggunakan dua kata itu untuk menekankan upayanya. Kalau upaya kita menghilangan kita akan makin terjerat di dalam roda kekhawatiran itu.

Kita berkata saya tidak boleh khawatir, saya harus begini, saya harus begini. Waktu kita mengatakan hal-hal itu, mencoba menghilangkan kekhawatiran itu, kita makin terjerumus, makin tegang. Karena kita repot sekali berkelahi mencoba menghilangkannya, semakin kita lelah berkelahi dengan rasa khawatir itu, semakin letih. Makin letih semakin kurang kuat pertahanan kita, jadi itu prinsip yang pertama, kita memang tidak mencoba untuk menghilangkan. Nah, tapi saya katakan kita mesti melawannya, ada beberapa cara tadi telah saya singgung. Pertama adalah selalu kedepankan fakta. Ada yang takut akan masa depan, Tuhan berjanji memelihara hidup kita, burung di udara Tuhan pelihara masakan kita tidak Tuhan pelihara. Sampai sekarang pun kita Tuhan pelihara masakan dari sekarang sampai nanti Tuhan tidak pelihara. Jadi selalu kita gunakan fakta itu. Ada orang yang mengkhawatirkan misalnya Pak Gunawan keselamatannya, saya sudah selamat belum ya. Apalagi kalau orang ini sangat mempercayai doktrin pemilihan, saya dipilih Tuhan tidak ya, terus bertanya-tanya saya dipilih Tuhan atau tidak akhirnya keragu-raguan itu membuat dia tambah khawatir. Nah faktanya apa? Faktanya adalah dia sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, Tuhan berjanji akan memberikan hidup yang kekal, itu yang Tuhan akan genapi. Jadi hiduplah berdasarkan fakta firman Tuhan, nah itu caranya kita melawan dengan mengedepankan fakta. Dan yang kedua adalah menarik yaitu kita melawan kekhawatiran dengan tidak memberikan perlawanan, maksudnya apa. Kita justru berserah kalau terjadi, terjadilah, apapun yang terjadi tidak apa-apa, berserah. Sebab waktu kita berkelahi kekhawatiran itu makin menggila, waktu kita melepaskan terjadilah apapun yang harus terjadi, justru lama-kelamaan ketegangan itu akan berkurang. Jadi itu yang perlu kita selalu ingat kita tidak menghilangkan tapi kita melawan. Melawan dengan mengedepankan fakta dan yang kedua melawan dengan tidak memberikan perlawanan justru membiarkan.
GS : Saya tahu ada banyak ayat di dalam Alkitab yang berbicara tentang kekhawatiran ini Pak Paul, nah apakah ada satu saja yang bisa digunakan untuk merangkumkan pembicaraan ini.

PG : 1 Petrus 5:7 berkata: "Serahkan kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Jadi Tuhan menginginkan kita menyajikan, menyebut kekhawatiran kita jangantakut Tuhan marah.

Justru katakan: Tuhan, saya khawatir ini, ini, ini sebutkan kepada Tuhan dan serahkan kepada-Nya sebab Dia yang memelihara kita dan Dia yang berdaya. Waktu kita melepaskan, membiarkan kita berkata: "Ya, memang saya tidak berdaya, tapi Tuhan berdaya dan tangan Tuhan yang perkasa itulah yang akan menjaga saya."
GS : Ya itu memang mesti belajar menyerahkan itu Pak Paul, karena ada ilustrasi yang mengatakan doanya memang seperti yang tadi Pak Paul katakan, tapi begitu amin kekhawatirannya diminta lagi oleh dia, menjadi bagian dalam kehidupannya lagi. Berulang kali dia melakukan itu lagi.

PG : Betul sekali, itu memang suatu siklus jadi memang tidak bisa selesai satu hari, hari ini dia berhasil mengalahkannya, besok dia harus memang mengalahkannya lagi.

GS : Tetapi kekhawatiran itu akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia Pak Paul?

PG : Betul. Nah bagi orang-orang yang memang lebih rawan atau lebih rentan itu harus menjadi pokok doanya dengan lebih serius lagi.

GS : Ya namun ada janji-janji Tuhan yang begitu pasti yang bisa dijadikan pegangan bagi kita untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Terima kasih Pak Paul, terima kasih juga Ibu Wulan. Para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melawan Kekhawatiran". Bagi Anda yang berminat untuk mengikuti lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) JL. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



18. Mengendalikan Sifat Pemarah


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T125B (File MP3 T125B)


Abstrak:

Seringkali kita melabelkan sifat pemarah sebagai suatu kelemahan karakter, tapi pada kenyataannya sifat pemarah tidak sesederhana itu, ada banyak faktor yang bisa terlibat dalam sifat pemarah.


Ringkasan:

Pada umumnya sifat pemarah dikaitkan dengan masalah karakter. Namun sesungguhnya problem marah tidaklah sesederhana itu. Ada beberapa penyebabnya.

  1. Orang yang berenergi tinggi mudah marah. Orang ini mudah bereaksi karena metabolismenya cepat dan sulit mengendalikan desakan emosinya.

  2. Orang yang hatinya digenangi oleh kemarahan oleh karena pengalaman masa lalu yang penuh kepahitan dan ketidakadilan. Orang ini mudah tersinggung karena perasaannya peka.

  3. Orang yang karakternya bermasalah, misalnya tidak suka mengalah, mengharapkan orang untuk senantiasa mengikuti kehendaknya, atau egois.

Kadang sifat pemarah dikaitkan dengan sikap tidak mengampuni. Memang sebagian kemarahan muncul akibat kesulitan kita untuk memberi pengampunan. Namun sebagian kemarahan tidak berhubungan dengan pengampunan.

Saran bagi yang mempunyai masalah dengan kemarahan:

  1. Kenalilah kondisi yang mudah mencetuskan kemarahan, misalnya tubuh yang letih, udara yang panas, ketidaksukaan yang terpendam.

  2. Kenalilah sikap orang yang mudah memancing kemarahan, misalnya sikap tidak peduli, meremehkan, dsb.

  3. Kenalilah reaksi marah sebelum muncul dan akuilah itu sebagai kemarahan.

  4. Berilah jeda, jangan terpancing untuk menyelesaikannya pada saat itu juga.

  5. Latih penguasaan diri melalui pernapasan dan berdoa.

  6. Tempatkan diri pada diri orang tersebut dan lihatlah masalah dari kacamatanya.

  7. Bicaralah setelah diri tenang dan rileks, jangan menenangkan diri melalui kemarahan.

  8. Setiap hari kita harus mengisi kalbu dengan Firman melalui persekutuan dengan Tuhan.

Firman Tuhan: "Karena itu kuasailah dirimu (self-controlled) dan jadilah tenang (clear minded) supaya kamu dapat berdoa." (1 Petrus 4:7)


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di manapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen kali ini bersama Ibu Wulan, S.Th, akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kami akan berbincang-bincang tentang "Mengendalikan Sifat Pemarah", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap

PG : Hal yang akan kita bahas pada kesempatan ini yaitu sifat pemarah adalah suatu sifat yang sering kali keliru kita pahami. Kita sering kali melabelkan sifat pemarah sebagai suatu kelemahan krakter.

Ternyata sifat pemarah itu tidak sesederhana itu, ada banyak faktor-faktor yang bisa terlibat di dalam sifat pemarah. Nah penting sekali bagi kita untuk memahaminya itulah tujuan pembicaraan kita pada saat ini Pak Gunawan.
GS : Ya, faktor-faktor apa saja yang Pak Paul katakan tadi?

PG : Yang pertama adalah memang ada orang-orang yang secara fisik mudah untuk marah, mengapa demikian misalkan ini yang sangat umum. Orang yang berenergi tinggi, jadi orang-orang yang mempunyaimobilitas yang tinggi, energinya sangat banyak, tenaganya sangat penuh, metabolismenya sangat cepat, nah orang-orang ini memang sangat sulit sekali mengendalikan emosinya termasuk emosi marah.

Karena apa? Karena tubuhnya atau fisiknya memang reaktif jadi dia mudah sekali reaktif terhadap stimuli yang ada di luarnya. Baik itu hal-hal yang misalnya mencemaskannya atau juga hal-hal yang memang membuat dia marah, jadi orang-orang seperti ini kalau marah kekuatan amarahnya sangat kuat sebab sekali lagi dia berenergi tinggi jadi bisa sekali mengeluarkan ledakan emosi yang kuat.
GS : Ada yang mengatakan orang yang sakit darah tinggi, hipertensi itu gampang marah katanya Pak?

PG : Sebetulnya kebalikannya setahu saya, justru gara-gara kita itu sifatnya pemarah, sering marah maka darah tinggi kita cepat naik, seharusnya begitu.

WL : Pak Paul, kalau tadi 'kan penjelasan Pak Paul kaitkan antara emosi marah dengan faktor fisik kita. Sekarang saya mau tanya apakah ada kaitan antara emosi marah dengan temperamen kita. Misalnya yang kolerik bisa kasar, sedangkan kalau plegmatik diapa-apakan juga agak lamban, ada kaitannya tidak Pak Paul?

PG : Sangat ada, jadi temperamen manusia itu sebetulnya bersumber dari dua faktor yaitu faktor yang berasal dari tubuh kita dan faktor yang berasal dari pembentukan yang kita alami sejak kita kcil.

Nah orang yang plegmatik misalkan secara tubuh memang dia itu lebih lamban, metabolismenya lebih perlahan sehingga dia lebih susah untuk mengeluarkan kemarahannya. Tapi orang plegmatik juga susah untuk mengekspresikan perasaan-perasaan yang lainnya karena memang dia tidak mudah bereaksi. Tapi temperamen sanguin atau temperamen kolerik itu mudah sekali bereaksi karena memang mereka itu rentan terhadap stimulus dari luar. Atau orang yang memang melankolik, kalau lagi anjlok ya anjlok sekali, kalau lagi naik ya naik sekali. Kalau pas dia lagi anjlok ada orang yang membuat dia marah mungkin sekali emosi marah itu tidak keluar karena dia sedang sedih, namun kalau kebetulan dia lagi pas naik, terus ada orang yang membuat dia marah, marahnya bisa cepat keluar. Jadi temperamen juga berpengaruh itu betul sekali.
GS : Ada yang mengaitkannya juga dengan suku atau bangsa tertentu Pak Paul, kita mengatakan o.....suku ini memang orangnya mudah marah, apakah itu betul?

PG : Saya kira ada dua faktor di situ, secara genetik mungkin sekali ada pengaruhnya, karena tadi saya sudah singgung bahwa tubuh kita juga berpengaruh terhadap reaksi marah. Namun yang kedua yng juga berpengaruh adalah budaya, karena budaya menuntut kita untuk bereaksi atau budaya kita memberi kebebasan kepada kita mengekspresikan perasaan.

Jadi orang-orang yang memang dari budaya yang memberi kebebasan untuk orang mengekspresikan perasaan, otomatis juga akan lebih sering mendengar emosi marah, tapi bukan hanya emosi marah yang akan terdengar dalam budaya tersebut juga kita akan sering mendengar emosi senang, tertawa dsb. Jadi memang faktor budaya bisa berpengaruh juga.
GS : Itu sangat terkait juga dengan keadaan hati seseorang, perasaan seseorang.

PG : Betul, jadi perasaan memang bisa digenangi oleh rasa marah sehingga dia menjadi pemarah. Apa yang membuatnya tergenangi oleh perasaan marah, nah ini kita kembali kepada peristiwa masa lampu.

Ada orang-orang yang mengalami banyak sekali kemarahan dalam hidupnya, melihat papanya marah, melihat mamanya marah atau melihat tetangga-tetangganya suka marah, suka berkelahi, suka membenci. Nah orang yang hidup di dalam lingkup seperti itu susah sekali untuk bisa menangkal rasa permusuhan atau rasa marah, sehingga perlahan-lahan rasa marah itu menyelinap masuk dan menggenangi hatinya. Atau dia marah karena melihat orang tuanya sering bertengkar atau dia melihat orang tuanya diperlakukan tidak adil, mamanya diperlakukan tidak baik oleh ayahnya atau dan sebagainya. Nah hal-hal itu akhirnya membuat endapan-endapan dalam hatinya, emosi marah itu sudah tersedia, tinggal nanti tersulut oleh peristiwa-peristiwa yang kecil. Jadi masalah yang tidak seharusnya membuat dia marah besar dia akan keluarkan kemarahan yang besar seperti kawah tinggal tunggu untuk meletus. Sebab dia memang sudah mempunyai banyak kemarahan itu dan tanpa disadari seolah-olah dia memang menantikan adanya pemicu, sebab dia menyimpan begitu banyak kemarahan dan kemarahan itu memang membuat kita terbebani, emosi marah itu seperti tenaga. Jadi kadang-kadang dia sepertinya itu menantikan adanya pemicu jadi dengan adanya pemicu dia bisa menyalurkan kemarahan itu. Nah sering kali orang yang seperti ini, setelah marah besar akan menyesal besar. Dia akan melihat ke belakang dan berkata kenapa saya seperti itu, saya tidak mau menjadi orang seperti itu. Apalagi kalau dia melihat dulu orang tuanya seperti itu, dia tidak mau seperti orang tuanya tapi emosi marah itu sudah terlanjur terserap olehnya, sehingga mudah meledak, waktu meledak dia teringat akan imajinasi atau akan citra orang tuanya yang dia tidak suka karena suka marah itu, sekarang dia menjadi seperti orang tuanya juga.
GS : Tetapi faktor pemicu itu sering kali juga karena dirinya sendiri Pak Paul. Misalnya di satu kelompok ada orang yang kadang marah-marah karena teman-temannya tidak senang dengan dia, persoalannya adalah dia itu selalu mau menang terus.

PG : Bisa Pak Gunawan, jadi memang harus saya akui ada faktor berikutnya yang membuat orang itu mudah marah, yaitu karakternya. Misalkan dia terbentuk dalam keluarga untuk menjadi orang yang egis.

Karena apa? Dia di dimanja, keinginannya selalu dituruti, dia adalah pusat perhatian, nah akibatnya yang dia katakan selalu harus diikuti oleh orang. Kalau orang tidak ikuti dia akan marah, jadi semua harus berjalan sesuai dengan rencana atau keinginannya, nah ini saya kira masalah karakter. Dan ada orang yang seperti ini berkarakter mau menang sendiri, mementingkan diri sendiri, tidak mau peduli dengan orang, segalanya harus seturut dengan kehendaknya. Nah orang yang seperti ini memang akan sangat mudah marah.
GS : Kalau beberapa waktu yang lalu kita membicarakan bahwa kekhawatiran itu sering kali dikaitkan dengan iman Pak Paul, katakan kurang iman, ada orang yang mengaitkan kemarahan ini dengan buah roh. Dia katakan tidak ada Roh Kudus dalam dirimu, karena kalau ada mesti kamu sabar, tidak seperti ini. Itu seperti apa Pak Paul?

PG : Ya memang tidak bisa tidak kita mengaitkannya dengan buah Roh Kudus, sebab Roh Kudus mempunyai buah penguasaan diri, mempunyai buah kasih; nah otomatis kita katakan mana kasihmu kalau engku marah, mana penguasaan dirimu kalau engkau marah.

Kelemahlembutan sudah langsung dilanggar, kesabaran sudah langsung dilanggar juga, jadi orang akan mengaitkannya dengan semuanya itu. Atau ada orang yang mengaitkan sifat pemarah dengan tidak bisa mengampuni orang jadi seolah-olah mendendam. Kenyataannya adalah tidak selalu begitu, memang ada yang begitu tapi kita harus teliti, harus jeli sewaktu mencoba memahami orang yang bersifat pemarah ini. Sebab bisa jadi memang latar belakangnya seperti itu, sehingga membuat dia selalu mudah meletup. Nah belum tentu dia tidak mengampuni, mungkin sekali itu tidak berkaitan dengan mengampuni, dia sudah mengampuni tapi karena hatinya tergenang oleh kemarahan dia mudah marah kembali. Nah kita tidak boleh terlalu cepat menuduhnya seolah-olah dia kurang dipenuhi oleh Roh Tuhan sehingga dia mudah marah, saya kira belum tentu begitu. Yang penting adalah kita mau melihat dalam dirinya adanya upaya untuk bergumul dengan masalahnya itu, sehingga dia tidak menjadi orang yang apatis dan berkata biarlah saya menjadi saya atau dia menyuburkan sifat pemarahnya itu sehingga menjadi suatu karakter yang melekat pada dirinya yaitu dengan cara berkata semua orang memang salah, dia yang benar, semua orang memang tidak bisa mengerti dirinya. Nah orang yang memang seperti itu akhirnya membentuk karakter yang sangat egois sekali dan itu memang lebih membuat dia mudah marah.
WL : Pak Paul, mungkin bisa memberikan saran-saran buat pendengar, buat orang yang mempunyai masalah dengan kemarahan, mungkin bisa tertolong dengan saran-saran Pak Paul?

PG : Pertama yang praktis dulu Bu Wulan yaitu kita mesti mengenali kondisi yang mudah mencetuskan kemarahan. Nah setiap orang kondisinya lain, tapi yang saya bisa berikan misalkan daftarkan: petama tubuh yang letih, mudah sekali kita marah kalau tubuh kita letih.

Nah kalau kita kenali memang tubuh kita ini sedang letih, dan kita tahu kita mudah marah kalau lagi letih mungkin kita bisa berjaga-jaga mengantisipasi sebelumnya misalnya istirahat dulu begitu atau kita rentan terhadap udara yang panas, nah kita mesti juga mengantisipasi wah....ini sudah mulai siang, hawa mulai panas saya harus bisa menjaga diri. Misalnya bawalah air es, minumlah lebih banyak air es. Hal yang sangat simpel tapi sebetulnya ampuh sekali karena air es itu akan menurunkan suhu kita. Kita akan lebih tenang misalnya atau kita ini tahu kita suka menyimpan perasaan, kalau tidak suka, tidak setuju kita simpan. Nah sekarang kita sudah kenali bahwa kalau perasaan ini kita tumpuk terus meledak dan meledaknya kuat sekali karena kita sudah kenali sekarang ya kita ubah, jangan menyimpan-nyimpan perasaan seperti itu. Tidak suka ya langsung ngomong saja, tidak setuju ya langsung ceritakan saja. Jadi pintar-pintarlah mengenali kondisi-kondisi yang mudah memicu kemarahan kita dan antisipasilah.
GS : Saya merasakan sekali peran pasangan kita dalam hal ini istri saya, itu sangat mendukung Pak Paul dalam hal ini, karena dia tahu kapan saya bisa menjadi marah karena hal-hal seperti itu. Misalnya saja lapar itu bisa memicu kemarahan saya. Jadi kalau jam makannya terlewatkan agak lama, makanya kalau dia bepergian dia akan taat pada jam makan ini, sudah waktunya kita makan, berhenti dulu karena kalau sampai lewat saya gampang sekali marah jadinya Pak Paul.

PG : Dan kita tidak bisa tergesa-gesa melabelkan bahwa aduh ini Pak Gunawan sangat kedagingan sekali sehingga lapar bisa memicu marah, bukan. Karena memang entah mengapa yang saya juga tidak akn bisa mengerti, lapar dalam diri Pak Gunawan itu langsung berkaitan dengan emosi.

Mungkin untuk orang lain tidak begitu, lapar tidak akan membuat dia mudah marah. Misalkan dalam diri saya pribadi, saya rentan sekali dengan tubuh yang letih dan istri saya juga tahu itu. Saya pulang dari kerja saya mesti ada waktu sekitar setengah jam untuk sendirian, saya tidak bisa waktu pulang langsung tiba-tiba masuk lagi ke roda aktifitas yang baru. Saya harus benar-benar lepas selama setengah jam dari hiruk-pikuknya hidup, setelah setengah jam itu tiba-tiba saya menjadi orang yang normal lagi. Dalam waktu setengah jam itu kalau saya harus masuk lagi dalam kancah hiruk-pikuk tiba-tiba saya mudah sekali kehilangan kesabaran saya. Nah anak-anak saya pun juga menyadari hal itu. Jadi yang kita sudah kenali kita mungkin bisa beritahukan misalkan kita sudah berkeluarga kita bisa beritahukan, waktu saya pulang mohon berikan saya waktu setengah jam saja. Nah mereka lakukan itu, kita mendapatkannya juga, tiba-tiba masalah yang besar jadi kecil sekarang.
WL : Kaitannya rupanya erat sekali Pak Paul antara fisik dan emosi kita dari beberapa penjelasan Pak Paul ini?

PG : Sangat erat sekali dan suhu juga, saya pernah membaca di sebuah studi di Amerika Serikat. Perkara pembunuhan atau tindak kriminal lebih sering terjadi di musim panas daripada musim dingin.Jadi rupanya memang ada kaitan sekali, suhu membuat tubuh kita bereaksi juga.

Yang lainnya lagi adalah kenalilah sikap orang yang mudah memancing kemarahan. Tidak semua sikap orang memancing kemarahan kita dan setiap kita mempunyai sikap-sikap tertentu yang mudah sekali membuat kita marah, nah kita mesti kenali itu. (WL : Maksudnya kita jauhi orang itu begitu, Pak Paul?) Kita bisa jauhkan atau kita bisa antisipasi, maka mungkin kita bisa menghindar. Atau waktu dia mengatakan atau berbuat sesuatu kita sudah ada lagi pilihan reaksi yang lain karena kita sudah menyadari reaksi kita. Misalnya kita suka sekali marah dengan orang yang tidak peduli, waduh kita langsung tiba-tiba terbakar oleh emosi kalau orang memberikan sikap tidak peduli. Yang lainnya sikap meremehkan, ada orang yang sangat mudah marah dengan sikap orang yang meremehkannya. Tapi bagi sebagian orang lain tidak apa-apa, nah kita mesti kenali sikap seperti apakah yang mudah membuat kita marah. Nah dalam konteks suami-istri atau dengan anak-anak kita sekeluarga, hal-hal ini memang perlu kita komunikasikan, sikap seperti inilah yang membuat saya marah. Sebetulnya masalahnya tidak membuat saya marah, tapi waktu engkau menyampaikannya dengan sikap ini maka saya marah, nah hal-hal seperti itu perlu kita jelaskan.
GS : Orang yang tidak tepat waktu itu sering kali memicu kemarahan saya kadang-kadang Pak Paul, janji-janji walaupun bedanya cuma 5 menit, 10 menit atau apa, tapi itu menjengkelkan Pak Paul.

PG : Betul, macam-macam, ada orang yang karena pengalamannya dia diperlakukan tidak adil mudah sekali bereaksi dengan sikap tidak adil.

GS : Dan itu kadang-kadang orang lain sulit menerima kita Pak Paul, masa cuma beda segitu saja kamu sudah marah-marahnya seperti itu. Tapi bagaimana lagi?

PG : Dan memang itu adalah diri kita. Misalkan Pak Gunawan dicaci maki, mungkin Pak Gunawan bisa lebih menahan diri dan tidak apa-apa, ya sudahlah dia tidak suka sama saya ya sudah saya terima,tapi gara-gara orang terlambat 10 menit itu menjadi masalah.

Jadi memang kadang-kadang karena pengalaman hidup kitalah ada hal-hal tertentu yang mudah memicu kemarahan kita. Sudah tentu tugas kita atau tujuan kita pada akhirnya kita bisa mengendalikannya, namun tidak ada salahnya mengenali pemicu-pemicunya ini. Yang lain lagi adalah kenalilah reaksi marah sebelum muncul dan akuilah itu sebagai kemarahan. Kenalilah reaksi marah sebelum muncul dan akuilah itu sebagai kemarahan maksudnya begini, salah satu hal yang sering kali dikatakan oleh orang yang mudah marah yaitu : "O......saya tidak marah, saya tidak marah kok", pasangannya berkata: "Kamu sudah marah ini, kenapa kamu marah-marah?"; "Tidak.......saya tidak marah kok!" Nah itu yang perlu disadari. Jadi orang yang tahu dirinya mudah marah, perlu peka dengan reaksi marah sehingga sebelum dia meledakkan kemarahan itu keluar dia langsung sudah berkata: "Saya sedang marah, nah dia langsung harus katakan saya sedang marah dan karena apakah saya marah." Dia langsung buru-buru harus berdialog dengan dirinya nah ini penting sekali.
GS : Tapi biasanya pada saat marah itu sulit Pak Paul, untuk berpikiran jernih seperti itu.

PG : Kalau sudah meledak tidak ada waktu lagi untuk berdialog makanya tadi saya katakan sebelum. Kalau sudah ya sudah terlambat, tidak ada lagi yang bisa memutar jarum jam untuk kembali. Maka da hanya bisa mengontrol kalau dia kenali sebelum kemarahannya keluar.

Nah tadi saya tekankan kecenderungan orang yang sifatnya pemarah tidak terlalu cepat mengakui dirinya sedang marah. Sering kali berkata: "Tidak, saya tidak apa-apa, saya tidak marah tapi tiba-tiba meledaknya besar.
GS : Tapi tujuannya kita mengatakan tidak marah itu sebenarnya hanya untuk supaya keadaan tidak lebih buruk lagi Pak Paul, karena kalau kita berkata saya marah, dia malah marah lagi nanti.

PG : Nah yang kita perlu lakukan adalah kita jangan mengeluarkannya dengan kata-kata. Sering kali waktu marah, kita katakan dengan keras: "Saya sedang marah!" Nah kalau itu terjadi suah terlambat.

Justru waktu dia marah, sebaiknya dia tidak mengeluarkan kata-kata marah itu, kata-kata marah semakin memberikan bobot pada kemarahannya. Hal yang lain yang sangat sederhana yang bisa dilakukan adalah ini Bu Wulan dan Pak Gunawan, yaitu melatih pernafasan kita, mengontrol pernafasan kita. Jadi pernafasan itu cenderung menjadi lebih cepat pada waktu kita marah, nah penting sekali kita menarik nafas panjang, tahan, keluarkan perlahan-lahan. Dan pada waktu kita keluarkan benar-benar tubuh kita itu kita lemaskan sekali. Nah pada waktu kita bisa melatih pernafasan kita itu dan tidak berpikir apa-apa hanya pikirkan pernafasan kita. Kita sudah mulai tenang baru kita berdoa, terus kita berdoa dan bernafas dengan perlahan, nah itu sendiri juga bisa menolong.
GS : Itu bukan dalam rangka mengingkari rasa marah itu, Pak Paul?

PG : Sebetulnya tidak, kita sadari kita marah dan itulah cara kita mengontrolnya, jadi kita melatih menguasai pernafasan kita dan berdoa. Kalau sudah bisa kita lakukan barulah kita tempatkan dii pada diri orang lain, mulai kita melihat masalahnya dari kacamata dia.

Dia melihatnya begini, mungkin itu yang tadi terjadi, o.....ya......ya.....saya tadi tidak melihat begitu, o........OK...!. Nah waktu kita bisa berdialog dan menempatkan diri pada posisi lawan bicara kita, itu sangat menolong. Nah setelah itu baru kita bicara dengan diri kita sendiri, o........ya tadi dia begitu karena dia merasa begini-begini, saya bereaksi begini. Kita mulailah berbicara dengan diri kita, nah itu cara kita menenangkan diri. Sekali lagi saya tegaskan jangan kita menenangkan diri melalui kemarahan. Adakalanya orang yang terbiasa dengan marah menggunakan kemarahan untuk mengurangi kemarahannya. (WL : Maksudnya Pak Paul, bagaimana?) Setelah dia meledak dia merasa lebih baik.
GS : Ya memang mungkin buat dia lebih ringan, tapi buat orang yang dimarahi itu yang tidak enak.

PG : Betul sekali, jadi jangan sampai menggunakan kemarahan untuk melepaskan kemarahan.

GS : Apakah ada yang lain Pak Paul, kalau ada orang yang sering kali marah-marah, bagaimana Pak Paul?

PG : Saya anjurkan setiap hari dia mesti berdoa, pagi-pagi bangun benar-benar ambil waktu yang sangat tenang untuk dia bersaat teduh. Dia perlu mengisi kalbunya dengan firman Tuhan, kalau hatina tidak dikuasai oleh firman Tuhan kemarahan itu akan mudah muncul.

Tapi hati yang dikuasai oleh firman Tuhan akan menjadi hati yang terjaga.
GS : Ada orang yang bilang, Tuhan Yesus juga pernah marah, dia menggunakan alasan itu.

PG : Tapi Tuhan Yesus bukan pemarah, Tuhan bisa marah, manusia pun diizinkan Tuhan untuk marah tapi bukan menjadi pemarah. Kalau pemarah itu sudah menjadi sifat, jadi itu yang kita mau kendalikn.

Nah firman Tuhan memang sangat jelas dalam hal ini Pak Gunawan, di 1 Petrus 4:7 dikatakan: "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa." Kuasailah dirimu bahasa Inggrisnya 'self-controlled', jadilah tenang 'clear minded' berpikir dengan jernih supaya dapat berdoa, jadi itu permintaan Tuhan.
GS : Jadi memang sering kali kita sulit berdoa pada saat marah itu Pak Paul?

PG : Betul sekali, kita tidak bisa lagi berpikir dengan tenang jadi memang firman Tuhan berkata: kendalikan diri, kuasai diri dan berpikirlah jernih. Orang yang bersifat pemarah susah sekali bepikir jernih.

GS : Dia sering mengatakan saya sudah mata gelap.

PG : Betul, dan itu harus dijaga, dan dijaganya sebelum kemarahan itu keluar, justru itu yang penting dilakukan.

GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini dan juga Ibu Wulan banyak terima kasih untuk kesempatan kali ini. Para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengendalikan Sifat Pemarah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) JL. Cimanuk 58 Malang, Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang



19. Memelihara Hati


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T136A (File MP3 T136A)


Abstrak:

Hati dapat diibaratkan seperti kaca: makin bening, makin tepat di dalam kita melihat realitas. Dalam bagian ini kita akan mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat mengotori hati dan bagaimana seharusnya kita menjaga hati itu.


Ringkasan:

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan." Amsal 4:23

Hati dapat diibaratkan seperti kaca: makin bening, makin tepat kita melihat realitas. Di bawah ini dipaparkan hal-hal yang dapat mengotori hati.

  1. Ketakutan: Kita melihat dunia sebagai tempat yang tidak aman dan manusia lain sebagai ancaman yang sewaktu-waktu dapat membahayakan kita. Kita menjadi terlalu berhati-hati dan tidak mudah percaya pada maksud baik sesama. Terhadap Tuhan pun kita bersikap sama.

  2. Kemarahan: Kita sakit hati dan ingin melampiaskan kemarahan kita pada siapa dan apa pun yang datang menghampiri kita. Kita melihat tindakan orang sebagai upaya untuk membuat kita marah dan akhirnya kita akan senantiasa menemukan alasan untk marah.

  3. Kecemasan: Kita melihat ketidakpastian dalam setiap aspek kehidupan; kita cenderung menyoroti sisi negatif dari segalanya. Kita gagal melihat yang baik karena hanya melihat sisi buruk.

  4. Kekuasaan: Kita haus akan kuasa dan melihat segala hal dari ukuran kuasa; kita memandang sesama sebagai pesaing yang harus kita taklukkan. Hidup akhirnya menjadi ajang pertarungan.

  5. Kenikmatan: Kita dikuasai oleh segala jenis kenikmatan yang memberi kelegaan sementara, misalnya seks, narkoba, harta.

  6. Ketamakan: Kita ingin memiliki lebih dan tidak pernah merasa cukup; kita cenderung mengeksploitasi orang demi keuntungan pribadi.

Prinsip Penjagaan Hati

  1. Tuhan meminta kita menjaga-karena jika tidak, unsur pencemaran akan mudah muncul. Akui, bila memang ada keinginan atau kebutuhan tertentu, namun perhatikan cara pemenuhannya. Jangan gunakan cara yang keliru.

  2. Hati yang bersih akan memancarkan air kehidupan; sebaliknya, hati yang kotor akan memancarkan air yang kotor. Firman Tuhan adalah air yang bersih, jadi isilah hati kita dengan Firman Tuhan. "Jawab Yesus kepadanya "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamanya, Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:13-14)


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan saya bersama Ibu wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini kami beri judul "Memelihara Hati", kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, tatkala saya membaca bagian-bagian dari Alkitab sering kali saya menjumpai kata hati, nah tentunya ini yang dimaksud bukan hati secara jasmaniah lever ini tetapi ada maksud yang lain di situ. Nah salah satu ayat yang saya baca dari kitab Amsal itu mengatakan: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Nah sekali lagi di sana dari Amsal 4:23 ini dikatakan "Jagalah hatimu", sebenarnya kata hati yang dimaksud di dalam Alkitab itu apa Pak Paul?

PG : Nah kata hati dalam bahasa atau terjemahan aslinya memang mengacu kepada jantung, tapi terjemahan kita pada hati. Nah jantung itu merupakan pusat manusia, jadi seolah-olah sepertinya semuatindakan kita, semua pikiran-pikiran kita itu diatur oleh hati atau oleh jantung.

Nah dengan kata lain firman Tuhan ingin mengajak kita untuk memperhatikan pusatnya kita itu agar jangan sampai yang keluar dari pusat itu hal-hal yang kotor, hal-hal yang bukan membawa kepada kehidupan. Nah sebaliknya kalau kita menjaga hati kita, firman Tuhan menekankan bahwa itu penting sekali sebab hati itu akan mengeluarkan sumber air hidup, nah ini yang akan menjadi pokok bahasan kita Pak Gunawan.
GS : Jadi meskipun hati itu bukan sesuatu yang kasat mata yang bisa kita lihat dengan mata kita, tetapi orang sering kali berkata o.....hatinya kotor, o......hatinya baik begitu Pak Paul, nah itu apa maksudnya?

PG : Saya kira yang dimaksud dengan hati kotor adalah hati yang mempunyai kecenderungan-kecenderungan, pola-pola yang justru tidak membangun, tidak menyehatkan malah bisa merusakkan. Hati yang ersih, hati yang bening itu artinya hati yang bisa melihat realitas dengan tepat.

Seperti kacamata atau seperti kaca, kalau bening kita bisa melihat realitas dengan tepat, tapi kalau kotor kita tidak bisa melihat realitas itu dengan tepat. Maka saya kira sama di sini hati yang bersih membuat kita bisa melihat dan bersentuhan dengan realitas secara tepat, tapi hati yang sudah kotor akan menyulitkan kita melihat dan bersentuhan dengan realitas.
GS : Sering kali dikatakan bahwa anak yang dilahirkan itu hatinya bersih, anak yang kecil itu hatinya masih bersih, tapi ketika dia menjadi dewasa dia mulai terpengaruh atau apa sehingga lama-lama dikatakan hatinya menjadi kotor. Sebenarnya faktor-faktor apa Pak Paul yang bisa mengotori suatu hati manusia itu?

PG : Ada beberapa Pak Gunawan, yang pertama adalah ketakutan. Nah ini memang jarang kita pikirkan bahwa ketakutan itu bisa mempengaruhi hati secara buruk, tidak positif. Ketakutan yang terlalu enguasai hati kita akan membuat kita melihat dunia sebagia tempat yang tidak aman dan akhirnya kita melihat manusia lain sebagai ancaman yang sewaktu-waktu dapat membahayakan kita.

Jadi kalau hati kita penuh dengan ketakutan, kita menjadi orang yang terlalu berhati-hati sampai-sampai kita tidak mudah percaya pada maksud baik sesama. Nah kadang-kadang ini kita bawa juga ke dalam hubungan dengan Tuhan Pak Gunawan, kita menjadi penuh curiga dengan Tuhan. Tuhan itu belum tentu berniat baik kepada kita, akhirnya yang paling baik pun Tuhan berikan kepada kita, kita susah menerima dengan penuh pengucapan syukur. Karena kita bertanya-tanya nah di belakang ini ada apa, jadi hati yang penuh ketakutan akhirnya akan mendistorsi pandangan kita tentang realitas yang sebenarnya dan malah menuduh orang seakan-akan ingin melukai, mengancam kita.
WL : Pak Paul, saya jadi teringat baru beberapa hari yang lalu membaca sebuah tabloid, diceritakan sebuah kisah nyata ada seorang wanita diperkosa hampir setiap hari, tidak setiap hari tetapi sering sekali selama bertahun-tahun sampai bahkan hamil dua kali begitu. Jadi dia itu hampir setiap malam hidup dengan ketakutan Pak Paul, nah seberapa besar, ini 'kan faktor luar dari diri dia, dia mungkin berusaha menjaga hati dia untuk bersih tapi faktor ini secara tidak langsung dan tidak sadar mempengaruhi dia dan memang sampai besar hidup dengan ketakutan, bagaimana itu bukankah dia akan megalami kesulitan berelasi dengan Tuhan, Pak Paul?

PG : Betul, adakalanya kita tidak memiliki banyak pilihan Bu Wulan, kita menjadi korban situasi, menjadi korban perbuatan orang yang jahat kepada kita dan tidak bisa tidak reaksi kita adalah taut, kita tidak mau masalah atau trauma yang sama terulang lagi pada kita.

Nah memang tadi saya katakan ini akan mempengaruhi hati kita, jadi ada orang yang mempunyai alasan untuk bersikap seperti itu, ada orang yang tidak terlalu mempunyai alasan untuk bersikap seperti itu. Nah apapun kondisinya, beralasan atau tidak kita sebaiknya atau sebisanya berusaha untuk bertumbuh tidak diam dalam ketakutan kita, tapi kita bertumbuh membangun relasi dan mulai mempercayai orang kembali bahwa tidak semua orang itu berhati jahat dan ada yang tidak jahat. Nah tugas kita adalah memilah-milah mana yang baik, mana yang jahat dan tidak menyamaratakan semua orang sebagai orang-orang yang tidak bisa kita percayai. Jadi intinya adalah itulah kondisi sebagian dari kita yang mengalami peristiwa yang buruk tapi tetap kita jalan lagi, kita jangan menyerah dan berdiam diri dalam kondisi seperti itu, karena akhirnya akan mempengaruhi relasi dengan orang lain dan juga dengan Tuhan.
GS : Pak Paul, kalau Alkitab berkali-kali mengatakan jangan takut, itu adalah firman Tuhan apakah itu juga dalam rangka menolong manusia, menolong kita supaya hati kita itu makin lama makin bersih itu Pak?

PG : Saya kira ya, Tuhan ingin mengingatkan manusia bahwa masih ada Tuhan dalam dunia ini, dalam hidup ini masih ada Tuhan. Dan bahwa segalanya itu berada dalam kendali-Nya, seburuk apapun peritiwa yang kita alami tetap terjadi dalam perizinan yang Tuhan berikan.

Jadi Tuhan ingin mengingatkan: "Percaya kepadaKu, percaya kepada-Ku, jangan takut masih ada Aku. Nah ini janji yang kita akan terus pegang.
GS : Apakah ada hal lain Pak Paul yang bisa membuat hati seseorang itu menjadi kotor?

PG : Berikutnya adalah kemarahan. Nah ini mungkin bisa berkaitan juga dengan tadi yang dikatakan Ibu Wulan tentang seseorang yang mengalami perkosaan sampai begitu berkepanjangan. Sudah tentu slain dari takut, depresi, putus asa, salah satu yang akan juga dialami olehnya adalah kemarahan, marah kepada orang yang begitu jahat kepadanya.

Nah dengan kata lain, kalau kita mempunyai hati yang dipenuhi dengan kemarahan, sebetulnya kita ini sakit hati ingin melampiaskan kemarahan kita pada siapa atau apapun yang datang menghampiri kita. Kita cenderung melihat tindakan orang sebagai upaya untuk membuat kita marah, meskipun kita tahu sebetulnya bukan itu tujuannya, tapi kalau hati kita penuh dengan kemarahan kita cenderung menyangka orang memang sengaja membuat kita marah. Dan akhirnya kita akan senantiasa menemukan alasan untuk marah, ada orang yang seperti ini. Nah orang yang seperti ini akhirnya tidak bisa melihat realitas dengan tepat, tidak bisa melihat niat baik orang untuk menolongnya, membantunya, dia mungkin akan meledak, akan marah, merasa tersinggung, jadi benar-benar sedikit-sedikit dia marah karena sudah menganggap orang memang sengaja ingin membuatnya marah.
WL : Pak Paul, kalau dalam peristiwa yang berkaitan seperti tadi antara ketakutan dan kemarahan apakah kita bisa dengan mudah mengatakan misalnya jangan sering marah-marah, jangan gampang marah begitu. Terus misalnya yang takut itu, percayalah Tuhan itu menjaga kamu, padahal dia mengalami trauma itu bertahun-tahun Pak Paul, dia berusaha percaya Tuhan jaga, tapi terjadi lagi, terjadi lagi begitu. Terus kita bilang jangan cepat marah, bagaimana bisa mengatakan semudah itu, padahal orang ini 'kan trauma Pak Paul?

PG : Ada waktunya kita marah, sudah tentu dalam kasus seperti tadi itu akan sangat bermanfaat kalau dia bisa mengutarakan kemarahan-kemarahannya. Nah mudah-mudahan dalam pembimbingan yang ditermanya di situlah dia menemukan kebebasan untuk mengungkapkan kemarahan-kemarahannya, nah silakan lakukan itu.

Ketakutannya juga akan menyertai dia sebab memang untuk jangka yang panjang dia akan sangat takut sekali percaya kepada orang, sebab mungkin yang memperkosanya seseorang yang dia kenal yang dia anggap seharusnya bisa melindungi dia, tapi kok malah merugikannya seperti itu. Jadi memang untuk waktu yang panjang dia akan terpengaruh, dan tidak realistik bila kita berkata sekarang juga engkau harus lepaskan dan engkau harus berubah, betul itu. Namun sekali lagi yang saya tekankan adalah jadikan ini sebagai pokok pertumbuhan kita bukan sebagai sesuatu yang akan kita terima untuk seumur hidup kita, bahwa sama seumur hidup saya akan membenci manusia, saya akan tidak mempercayai manusia, nah saya kira kalau kita sampai ke titik itu ya tidak sehat juga.
WL : Berarti sehat juga ya Pak Paul, kalau kita harus lampiaskan "kemarahan" itu pada jangka waktu tertentu, ketakutan kita, dan kita tidak bisa definisikan itu sebagai luapan dari hati yang kotor.

PG : Ya tidak, karena memang adanya kotoran yang masuk ke dalam diri kita yang dilakukan oleh orang-orang, nah itu yang perlu kita bersihkan kembali, dalam pengertian kita mengungkapkan, mengelarkannya sehingga akhirnya tekanan emosi marah dan takut itu akhirnya bisa mulai lepas dari diri kita.

GS : Kemarahan seperti itu Pak Paul, tentu berbeda dengan kemarahan yang juga kita baca dalam Alkitab, Tuhan itu marah, Tuhan Yesus pun marah di Bait Allah. Nah itu sebenarnya bedanya di mana Pak?

PG : Ada alasan yang jelas, jadi yang saya coba tekankan adalah hati yang bersih bisa melihat dan bersikap kepada realitas secara tepat. Kalau memang kita harus marah kepada realitas yang membut kita itu marah, silakan marah.

Tuhan bersikap marah kepada orang Israel karena tidak patuh, karena menyembah illah lain dan sebagainya. Jadi ada waktunya kita marah tapi tepat sasaran. Yang saya tadi coba ungkapkan adalah hati yang dipenuhi kemarahan terus-menerus sehingga membabi buta, tidak tepat sasaran. Tidak ada orang yang ingin membuatnya marah, dia anggap sengaja membuatnya marah dan sebagainya.
GS : Jadi kalau kita marah kepada anak yang tidak disiplin segala itu masih bisa (PG : Wajar dam seharusnyalah kita marah). Kalau kita tidak marah mereka malah menjadi-jadi. Selain itu apa ada lagi Pak Paul?

PG : Yang lain adalah kecemasan. Kecemasan ini artinya kita melihat ketidakpastian dalam setiap aspek kehidupan. Saya mengerti memang tidak ada yang pasti dalam hidup ini, tapi juga jangan sampi kita senantiasa hanya melihat ketidakpastian dalam hidup.

Kita menjadi orang yang hanya menyoroti sisi negatif dari segalanya atau istilah yang lebih populer sekarang ini negatif thinking, kita akhirnya juga gagal melihat yang baik karena hanya melihat sisi yang buruk. Nah hidup seperti ini hidup yang mencemaskan dan hati kita penuh dengan ketakutan atau kecemasan-kecemasan kecil seperti ini, sehingga melihatnya yang negatif, melihatnya yang buruk nah orang yang seperti ini saya kira tidak juga bisa melihat realitas dengan tepat.
GS : Pak Paul, mengenai kecemasan, kadang-kadang kita itu cemas terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak tahu, tetapi hati ini risau Pak Paul, kecemasan macam apa itu Pak?

PG : Yang tadi Pak Gunawan ungkapkan adalah bisa jadi memang kita ini sedang mencemaskan sesuatu yang kita tidak ingat atau sadari, tapi kita bawa kecemasan itu, sehingga akhirnya kita terus measakan adanya riak-riak, gelombang-gelombang dalam jiwa kita yang membuat kita tidak bisa tenang.

Tapi juga bisa kita memang orang yang mempunyai banyak kecemasan dalam hidup, sehingga kita tidak bisa melihat keindahan hidup ini, kita hanya menyoroti keburukan hidup ini. Nah ada orang yang juga seperti itu sehingga jarang bisa mengucap syukur, jarang bisa berterima kasih, yang lebih sering keluar dari mulutnya adalah misalnya keluhan atau bahkan umpatan.
GS : Tetapi kejadian yang berikutnya itu memang membuktikan kecemasannya itu Pak Paul. Saya punya teman seperti itu lalu betul anaknya misalnya tertabrak, betul suaminya telepon dipecat.

PG : Ok, kalau misalkan memang dia mempunyai naluri yang kuat seperti itu dan hanya terjadi kadang-kadang saya kira itu wajar. Kalau setiap hari dia cemas nah itu menjadi tidak wajar, berarti pkirannya terlalu dikuasai oleh hal-hal yang negatif, seolah-olah hal yang negatif itu selalu siap untuk menerkamnya.

WL : Maksud Pak Paul kalau kita cemas sedikit saja tidak apa-apa, Pak Paul?

PG : Maksud saya begini, jangan sampai segala hal kita pandang dari sisi negatif bahwa seolah-olah hidup itu penuh dengan hal-hal yang negatif yang selalu siap untuk menghadang kita. Nah ada orng yang selalu menyoroti hidup dari sisi negatif seperti itu.

WL : Ya maksud saya kalau yang cemas sedikit-sedikit, khawatir sedikit-sedikit kan tidak apa-apa, karena saya pikir sehat juga. Karena kalau kita tidak pernah khawatir tentang apapun juga, kita tidak pernah planning apapun. Misalnya mempunyai anak karena kita khawatir nanti masa depannya bagamana, itu sebabnya kita merencanakan dia harus sekolah di mana yang lebih baik, harus bagaimana-bagaimana, bisa begitu Pak Paul maksudnya?

PG : Baik sekali, tidak apa-apa ya, jadi yang penting seimbang. Kita bisa melihat yang positif dan negatif, nah orang yang hatinya dipenuhi kecemasan hanya melihat yang negatif dia gagal meliha ada sisi positifnya juga.

GS : Ada juga orang itu yang selalu hidup di dalam persaingan yang rasanya tidak ada akhirnya Pak Paul. Setelah dia mencapai sesuatu dia berusaha lagi, berusaha lagi, orang mengatakan seperti dia itu berambisi Pak.

PG : Ya itu masuk dalam kategori kekuasaan Pak Gunawan, jadi orang ini memang haus akan kuasa dan melihat segala hal dari ukuran kuasa. Dengan kata lain yang tadi Pak Gunawan katakan, dia memanang sesama sebagai pesaing yang harus dia taklukkan dan akhirnya hidup tidak bisa damai dengan realitas, dia selalu melihat realitas seolah-olah sedang menantang, dia harus taklukkan.

Susah sekali orang seperti ini hidup rukun dengan sesama tanpa prasangka apa-apa, selalu ingin maju, ingin di depan dan harus nomor satu orang lain harus dia kalahkan.
WL : Tapi Pak Paul, kalau saya amati pria lebih rentan dibandingkan dengan wanita tentang topik kekuasaan ini, mengejar kekuasaan. Saya pikir waktu iblis mencobai Tuhan Yesus juga bidang ini yang dikejar, ayo tunjukkan kuasa-Mu.

PG : Saya kira itu betul karena memang nomor satu pria lebih mengandalkan otot dan otot itu identik dengan kuasa juga. Pada masa kecil waktu dia diejek dia harus misalkan berkelahi menunjukkan totnya, nah waktu dia menang dia menjadi orang yang lebih berkuasa daripada orang yang dikalahkan, jadi saya setuju pria lebih rentan terhadap hal ini.

GS : Sebenarnya ada suatu kenikmatan tersendiri Pak Paul pada waktu kita bisa katakan mengalahkan orang lain atau mencapai sesuatu yang kita idam-idamkan Pak, apakah itu sesuatu yang salah?

PG : Saya kira tidak selalu salah, jadi intinya adalah hal ini jangan sampai menguasai kita. Adakalanya kita ingin menang dan itu adalah hal yang positif, kita mempunyai daya kompetitif, tapi jngan sampai itulah yang mengisi hidup kita atau hati kita sehingga akhirnya kita melihat orang di sekeliling kita sebagai orang-orang yang sedang mencoba bersaing dengan kita.

GS : Berarti unsur kenikmatan itu bisa mengganggu hati kita juga Pak Paul?

PG : Bisa Pak Gunawan, jadi salah satu faktor lain yang bisa mengotori hati kita ialah kenikmatan. Kita dikuasai oleh segala jenis kenikmatan yang memberi kelegaan sementara misalnya seks, narkba, harta, jadi yang kita pikirkan hanya itu, bagaimana bisa mendapatkan hal-hal ini.

Akhirnya kita tidak bisa berhubungan dengan lawan jenis kita dengan murni, tidak berani menghadapi stres dalam hidup karena kita lari ke narkoba dan sebagainya.
WL : Berarti Pak Paul, kalau seorang anak Tuhan yang menjaga hatinya bersih berarti tidak boleh menikmati, di sini 'kan katanya kenikmatan jadi harus hidup yang puritan, benar-benar "suci banget", apakah seperti itu maksudnya Pak Paul?

PG : Bukan, karena memang kenikmatan adalah bagian dari pemberian Tuhan, nah misalkan dalam hal hubungan seksual antara istri dan suami kita, itu bagian yang memang Tuhan berikan kepada kita. Nmun jangan sampai kita menjadi orang yang dikuasai oleh pikiran-pikiran ini sehingga yang kita cari adalah kenikmatan, tidak ada hal lain yang kita cari.

Dan segala hal kita hanya ukur dari sudut itu saja.
GS : Padahal tuntutan kenikmatan itu selalu bertambah terus Pak Paul?

PG : Ya maka kita harus menjaga juga, jangan sampai akhirnya terlalu tinggi dan menguasai kita. Ada orang yang hidupnya itu benar-benar dari satu kenikmatan kepada kenikmatan lainnya, dia tidakbisa hidup benar-benar lepas dari kenikmatan.

WL : Pak Paul, saya cuma mau tanya, tadi 'kan Pak Paul menyebut bahwa kenikmatan ini memberikan kelegaan tapi hanya sementara maksudnya bagaimana Pak Paul?

PG : Tidak ada yang permanen, kita misalkan mencari-cari harta, baju, kita membeli satu baju hanya akan memberikan kenikmatan misalnya selama sebulan, dua bulan, setelah itu baju yang sama tida lagi memberikan kenikmatan seperti pertama kali kita memakainya.

Ada orang yang terus mencari itu dan itulah yang menjadi pemenuhan kebutuhannya. Saya kira kalau hati diisi oleh keinginan seperti ini tidak bersih lagi, tidak bisa melihat realitas kehidupan.
WL : Padahal kodrat manusia memang tidak pernah puas Pak Paul?

PG : Betul, jadi kita harus bisa menjaganya.

GS : Nah sehubungan dengan yang Bu Wulan katakan tidak pernah puas Pak Paul, itu suatu ketamakan atau keserakahan ya?

PG : Ya dan itu salah satu hal yang mengotori hati kita Pak Gunawan, yaitu kita ingin memiliki lebih dan tidak pernah merasa cukup akhirnya kita cenderung mengesploitasi orang demi keuntungan pibadi.

Jadi orang yang tamak hanya memikirkan apa yang bisa aku sedot lagi, apa yang bisa aku peroleh lagi, jarang atau tidak bisa memikirkan apa yang aku bisa berikan kepada orang, sekali lagi dia gagal melihat hidup dengan benar.
GS : Kalau begitu bagaimana kita harus memelihara hati ini supaya jangan dikuasai oleh hal-hal yang seperti itu, Pak Paul?

PG : Tuhan meminta kita untuk menjaga hati kita Pak Gunawan, karena kalau tidak unsur pencemaran akan mudah muncul. Jadi langkahnya adalah, karena Tuhan meminta kita menjaga kita harus akui kalu memang ada keinginan atau kebutuhan tertentu itu.

Nah keinginannya atau kebutuhannya mungkin sekali tidak apa-apa, tapi kita harus perhatikan cara pemenuhannya, caranya itu jangan sampai cara yang tidak berkenan kepada Tuhan.
GS : Artinya tidak berkenan itu yang melampaui batas-batas kewajaran itu Pak?

PG : Betul, misalkan gara-gara kita menginginkan harta misalnya kita menginginkan satu televisi, akhirnya kita melakukan hal yang salah. Kita mengambil uang yang bukan milik kita, kita memeras rang dan sebagainya nah cara salah itulah yang Tuhan tidak perkenankan, keinginannya itu sendiri saya kira manusiawi.

WL : Berarti sangat berlawanan dengan apa yang orang-orang dunia percaya, dengan tujuan menghalalkan cara Pak Paul, sedangkan buat kekristenan tidak seperti itu Pak Paul.

PG : Betul, karena Tuhan melihat dua-duanya tujuannya dan juga caranya.

GS : Pak Paul, apakah ada ayat firman Tuhan yang mendukung ini semua?

PG : Yang lain adalah firman Tuhan berkata bahwa hati yang bersih itu akan memancarkan air kehidupan, dengan kata lain hati yang kotor juga akan memancarkan air yang kotor. Firman Tuhan adalah ir yang bersih itu jadi kita mesti mengisi hati kita dengan firman Tuhan.

Nah ini yang Tuhan Yesus katakan kepada perempuan Samaria : "Barangsiapa minum air ini ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Ini saya ambil dari Yohanes 4:13,14. Jadi intinya adalah kadang-kadang memang kita tidak bisa menguasai, menjaga hati kita dengan seksama, dengan kekuatan kita sendiri kita memerlukan kekuatan Tuhan. Dan firman Tuhanlah yang akan terus membasuh hati kita, meluruskan motivasi kita, yang menegur cara kita yang mungkin tidak tepat, nah firman Tuhan itulah yang harus kita isi. Maka saya tidak akan terkejut kalau orang mudah sekali akhirnya melenceng kalau dia tidak dengan konsisten setia mengisi hatinya dengan firman Tuhan, tapi orang yang terus haus dan dahaga akan kebenaran dia akan dipuaskan oleh firman Tuhan.
GS : Tapi bagaimana dia memiliki kehausan itu kalau dia tidak menyadari akan kebutuhan itu Pak Paul?

PG : Dia mesti memang melakukannya dengan kesadaran yaitu saya perlu, saya ini tidak bisa hidup tanpa firman Tuhan, jadi saya mau membiasakan diri membaca firman Tuhan dengan teratur kalau bisasetiap hari agar firman Tuhan menjadi bagian dari pikiran kita yang alamiah.

WL : Pak Paul, tadi firman Tuhan dari Yohanes 4 itu mengatakan mata air yang ada dalam diri kita yang kita terima dari Tuhan, yang tadi analoginya pada perempuan Samaria itu akan terus-menerus memancar. Saya berpikir kita masih manusia berdosa termasuk perempuan itu tadi, apakah akan terus tidak pernah gagal, terus-menerus memancarkan maksudnya hati yang bersih itu, saya pikir tidak juga Pak Paul?

PG : Saya kira realistik untuk kita menyadari tidak selalu kita akan dapat memancarkan air kehidupan itu, adakalanya yang muncul mungkin kata-kata kasarlah atau kemarahan yang tidak semestinya an sebagainya, saya kira itu bagian dari kehidupan kita sebagai manusia.

Tapi yang penting kita menyadari ya sudah kita perbaiki, kita meminta Tuhan menolong kita untuk lain kali tidak mengulanginya lagi.
GS : Itu yang terpenting adalah sumbernya itu harus dibetulkan dulu oleh Tuhan Pak Paul, bahwa kadang-kadang airnya itu kotor karena pengaruh-pengaruh dari luar hal itu bisa terjadi dalam semua sumber, tetapi dari sumber yang bersih itu tidak mungkin keluar yang kotor kata firman Tuhan.

Terima kasih sekali Pak Paul juga Ibu Wulan untuk perbincangan ini juga para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Memelihara Hati". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



20. Tes Pujian


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T136B (File MP3 T136B)


Abstrak:

Pujian dapat merangsang kita untuk meraih yang lebih tinggi dan juga membuat kita bergantung pada penilaian orang, sehingga kadangkala kegagalan yang kita terima karena kita kehilangan apa yang dikehendaki Tuhan dan diri kita sendiri. Pertanyaannya bagaimana caranya agar kita lulus tes pujian ini? Bagian ini akan menjawab pertanyaan tersebut.


Ringkasan:

"Kui untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas dan orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya." Amsal 17:3

Tes akan mengakibatkan kita lulus atau gagal. Bagaimanakah pujian membuat kita gagal?

  1. Pujian merangsang kita untuk meraih lebih tinggi, begitu tinggi hingga kita kehilangan perspektif akan siapa kita sesungguhnya. Jika pujian mengena sesuatu yang memang kita impikan, kita mudah tekebur. Sebaliknya, bila pujian mengena bagian hidup kita yang tengah kita gumulkan, kita dapat terkelabui dan menganggap kita telah sepenuhnya terbebas dari problem atau kelemahan itu.

  2. Pujian membuat kita bergantung pada penilaian orang; akhirnya kita tidak lagi menghiraukan apa yang sebenarnya Tuhan atau kita kehendaki. Seperti hewan sirkus, kita bereaksi sesuai dengan imbalan/pujian yang diberikan. Kita tidak tahu apakah memang kita sesungguhnya seperti itu.

  3. Pujian menciptakan ketakutan untuk memikul tanggung jawab; kita takut kalau-kalau kita gagal memenuhi harapan orang. Kita pun takut melihat fakta bahwa kita tidak seperti yang dipujikan. Akhirnya kita pun berhenti mencoba dan hanya bersembunyi.

Kesimpulan: Kita gagal karena kita kehilangan (apa yang dikehendaki) Tuhan dan diri sendiri.

Bagaimana caranya kita lulus tes pujian?

  1. Mengenal diri. "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga." (Yohanes 3:27)

    1. Terimalah yang memang bukan diri kita (Yohanes bukan Mesias)

    2. Hargailah yang memang diri kita (Yohanes sebagai pembuka jalan)

  2. Lupakan diri. "Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30) Orang yang kerap tersinggung adalah orang yang kurang berbakti kepada Tuhan. Matanya hanya tertuju pada diri sendiri, bukan pada Tuhan.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Test Pujian", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi Anda sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, terus terang saya kadang-kadagng merasa nyaman dipuji orang, sampai kadang-kadang bisa ketagihan dan segalanya. Tapi baru sekali ini kita mau berbincang-bincang bahwa ada ujian di dalam pujian itu, apa memang seperti itu Pak Paul?

PG : Memang seperti itu Pak Gunawan, jadi firman Tuhan berkata di Amsal 27:21 "Kui untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, dan orang dinilai menurut pujian yang dberikan kepadanya."

Sebetulnya kata dinilai itu berasal dari kata diuji, ditest oleh pujian yang diberikan kepadanya. Jadi pujian memang mengandung ujian.
GS : Ya, Pak Paul, kalau kita sebut ujian itu tentu sesuatu yang positif jadi berbeda dengan pencobaan yang memang tujuannya untuk menjatuhkan seseorang. Tetapi bagaimanapun juga kita was-was juga, kita bisa lulus tidak di dalam ujian itu tadi. Nah bagaimana Pak Paul supaya kita, tentunya kita tidak menghendaki gagal dalam ujian, siapapun menghendaki kita bisa melewati ujian itu dengan baik. Tetapi apakah ada hal-hal tertentu yang Pak Paul bisa sampaikan, bagaimana kita harus menanggapi suatu pujian yang disampaikan oleh orang kepada kita?

PG : Pertama-tama kita harus menyadari bahwa pujian-pujian itu memang bisa menggagalkan kita, nah nanti akan saya jelaskan dalam pengertian apakah kita gagal. Tapi ada sekurang-kurangnya tiga hl yang bisa terjadi tatkala kita menerima pujian.

Pertama pujian merangsang kita untuk meraih lebih tinggi, begitu tingginya hingga kita kehilangan perspektif akan siapa kita sesungguhnya. Nah jika kita memang mempunyai sesuatu yang kita impikan, terus kita akhirnya memperoleh pujian seolah-olah kita sudah mendapatkan impian itu, kita mudah takabur, kita mudah berpikir wah saya sudah sehebat itu. Nah waktu kita berpikir kita sehebat itu, jatuhlah kita, gagallah kita. Atau sebaliknya Pak Gunawan, misalkan pujian itu berkaitan dengan sesuatu yang tengah kita gumulkan, problem kita, kita belum bisa selesaikan terus akhirnya orang memuji kita. Nah ini juga kalau kita tidak hati-hati bisa membuat kita beranggapan kita sudah sepenuhnya terbebas dari problem atau kelemahan itu, meskipun sesungguhnya belum kita masih mempunyai kelemahan tersebut. Nah pujian membutakan mata kita o....bahwa kita masih punya kelemahan itu.
WL : Pak Paul, penjelasan Pak Paul ini rasanya suatu hal yang baru, suatu hal yang menyentakkan. Saya pikir selama ini justru pujian dipakai oleh banyak hamba Tuhan termasuk saya sebagai standar untuk menilai apakah khotbah kita, ceramah kita diterima, mendarat, jadi berkat buat orang lewat pujian itu yang kita nanti-nantikan. Tapi justru penjelasan Pak Paul ini menyentakkan sekali begitu.

PG : Kita harus berhati-hati, saya teringat sekali dengan nasihat yang diberikan oleh seorang hamba Tuhan bernama Max Lucado dia ditanya mana yang lebih berbahaya kesuksesan atau kegagalan, dandengan cepat dia menjawab kesuksesan.

Ditanya kenapa, dan dia menjawab kesuksesan membuat orang berpikir bahwa dia sudah sehebat itu. Jadi misalkan dalam hal berkhotbah, kalau kita berkhotbah dengan baik dan orang terus memuji kita nah kita benar-benar misalkan dari dulu kita bermimpi kita bisa berkhotbah dengan baik, waktu orang memberikan pujian itu waduh kita benar-benar merasa diri hebat, melayang. Nah waktu kita melayang kita lepaslah dari diri kita yang sesungguhnya bahwa itu sebetulnya sesuatu yang masih kita harus raih dengan susah payah. Tapi karena kita telah mendapatkannya kita takabur, kita sudah sehebat itu nah celakanya pada moment kita menganggap kita sehebat itu, kita menuntut orang memperlakukan kita sehebat itu pula, setara itu pula, sekelas itu pula. Kita tidak akan menerima orang memperlakukan kita di bawah taraf itu.
GS : Berarti yang rentan terhadap pujian itu bukan cuma anak-anak yang bisa menggelembung karena dipuji berlebihan, tetapi kita juga sebagai orang dewasa bisa seperti itu Pak Paul?

PG : Bisa sekali, itulah yang sering terjadi pada hampir semua pemimpin, akhirnya jatuh, dan jatuh awalnya karena keberhasilan, karena keberhasilan dia mendapatkan banyak pujian dia akhirnya bepikir sehebat itu dan dia menuntut orang memperlakukannya sehebat itu pula.

Atau tadi yang keduanya yang saya sebut yaitu dia sebetulnya lemah dalam hal itu. Misalkan ada orang yang suka marah, nah akhirnya dia mulai belajar untuk menguasai kemarahannya dan banyak orang memuji-muji dia sekarang dia sabar, dia sabar. Karena terlalu sering mendapat pujian seperti itu dia terlena, dia lupa, dia masih mempunyai masalah dengan kemarahannya karena itu dia lepas pengawasan terhadap dirinya. Suatu hari waktu ada sesuatu terjadi, dia meledak, dia misalnya memukul orang dan sebagainya. Atau dosa yang umum yang sering terjadi dalam hal misalkan kejatuhan seksual. Kita gagal menyadari kita mudah atau bisa jatuh ini adalah problem kita semua, kita menganggap saya kuat tidak akan jatuh, akhirnya karena kita lengah sungguh-sungguh kita jatuh. Nah sekali lagi orang bisa buta karena pujian, jadi itulah caranya pujian menggagalkan kita.
WL : Apakah itu berarti kita lebih baik jangan menerima pujian, Pak Paul?

PG : Saya kira ada waktu dan tempatnya kita mendengarkan pujian, tapi jangan sampai kita jatuh seperti tadi itu.

GS : Tapi kadang-kadang pujian itu memang seperti sesuatu yang membuat kita itu ketagihan terus-menerus Pak Paul. Kalau tidak ada orang yang memuji itu lalu kita bertanya-tanya apa yang salah.

PG : Itu betul sekali Pak Gunawan, jadi pujian itu bisa membuat kita bergantung pada penilaian orang, akhirnya kita tidak lagi menghiraukan apa yang sebenarnya Tuhan atau kita sendiri kehendaki Kita ini akhirnya seperti hewan sirkus Pak Gunawan, kita bereaksi sesuai dengan imbalan atau pujian yang diberikan.

Hewan sirkus diberikan ikan misalnya, diberikan daging dia akan berakting seperti yang kita inginkan. Nah kita akhirnya tidak tahu lagi apakah memang kita sesungguhnya seperti itu, tidak tahu. Karena yang penting adalah apa yang orang harapkan, apa yang orang nanti akan puji dan itu yang akan kita lakukan. Contoh yang umum adalah kita seharusnya berani untuk menegur rekan kita yang salah, tapi kita tidak berani karena apa, karena rekan ini sering kali memuji kita jadi kita tidak bisa efektif menjadi manusia. Tidak bisa efektif juga menjadi alat Tuhan, tidak bisa juga mendengarkan apa yang Tuhan inginkan. Contoh yang lainnya adalah waktu Yohanes Pembaptis menegur Herodes, dia benar-benar bisa memisahkan dirinya dari pujian-pujian dan apa yang orang harapkan pada dirinya makanya dia langsung datang ke Herodes dia tegur dosa Herodes walaupun untuk hal itu akhirnya dia harus kehilangan nyawanya. Dengan kata lain kalau kita terlalu bergantung pada pujian dan penilaian orang, kita tidak peduli lagi apa yang Tuhan kehendaki, apa yang sebetulnya saya harus lakukan, tidak peduli yang penting orang senang.
WL : Pak Paul, berarti letak permasalahannya bukan pada orang yang memberi pujian berarti pada kita yang menerima pujian. Karena 'kan tetap benar teori yang berbicara tentang reward and fanisment 'kan tetap ada faedahnya, cuma yang harus berhati-hati yang menerima pujian itu Pak Paul.

PG : Jangan sampai kita bergantung pada penilaian-penilaian orang, kita mesti sadar selalu penilaian Tuhan akan diri kita dan penilaian diri kita sendiri terhadap kita ini.

WL : Cuma Tuhan tidak pernah berbicara langsung Pak Paul, kita menilai penilaian Tuhan lewat penilaian orang-orang apalagi misalnya penatua, majelis yang kita anggap itu perwakilannya Tuhan.

PG : Sudah tentu silakan kita dengarkan, harus kita dengarkan masukan orang, tapi di samping itu kita mesti sadar juga apa yang misalkan firman Tuhan katakan, apa yang menjadi standar.

GS : Pak Paul, pujian itu kadang-kadang membuat kita itu supaya tidak terlalu dipuji-puji terus saya katakan sudah cukup sampai di sini saja, artinya saya tidak mau mengambil resiko yang lebih besar, tanggung jawab yang lebih besar dari pujian yang diberikan karena makin banyak pujian itu makin banyak ujiannya Pak Paul.

PG : Pujian memang bisa memberi kita beban mental dan ada sebagian orang yang tidak tahan memikul beban mental itu, jadi daripada dia memikul beban mental, dia mengelak dari tanggung jawab. Nahada orang yang menjadi seperti itu jadi pujian menyebabkan ketakutan untuk memikul tanggung jawab.

Takut apa, takut kalau-kalau kita gagal memenuhi harapan orang atau kita takut kalau kita harus melihat fakta bahwa kita ini tidak seperti yang dipujikan orang. Nah daripada kita melihat diri sendiri gagal, kita berhenti mencoba. Nah ada orang yang benar-benar keok atau sudah KO oleh pujian yang diberikan oleh orang, dia tidak akan berani mencoba, dia tidak berani lagi mengeluarkan kemampuannya karena sudah terlalu takut. Nah jadi dengan kata lain dalam hal itu juga pujian telah menggagalkan orang tersebut.
GS : Ya tadi seperti yang ibu Wulan katakan, itu 'kan tergantung kita yang dipuji Pak Paul, jadi tingkat kematangan kita, kedewasaan kita sangat menentukan bagaimana kita menyikapi pujian yang diberikan kepada kita?

PG : Betul, jadi pada akhirnya, sekali lagi yang salah bukannya pujian atau orang yang memberi pujian pada kita, tapi kita, kita harus mempunyai sikap yang benar terhadap pujian itu. Tadi awalna saya berkata bahwa pujian itu bisa menggagalkan kita, sebetulnya apa artinya menggagalkan kita.

Saya kira kita gagal karena kita gagal atau kehilangan Tuhan, kehilangan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita dan kita juga gagal karena kita kehilangan diri sendiri. Orang yang termakan dan dikuasai oleh pujian akan kehilangan dua hal itu, dia kehilangan Tuhan dan kehilangan diri sendiri. Dia tidak bisa menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dan dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri juga, dia menjadi hamba atau budak dari pujian itu.
GS : Ya jadi kita tidak mungkin melarang orang itu memuji kita atau memberikan pujiannya Pak Paul, apapun motivasi orang itu yang penting adalah bagaimana kita menyikapi orang yang memberikan pujian. Nah hal-hal apakah yang harus kita perhatikan Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah meminjam perkataannya Socrates kita harus mengenali diri sendiri. Saya akan mengambil satu perikop dari firman Tuhan yaitu dari kitab Yohanes 3:27-30. Nah i sana terjadilah dialog antara Yohanes Pembaptis dan para muridnya, dimulai dengan keluhan para murid, mereka melihat Tuhan Yesus membaptiskan orang seolah-olah muncul pesaing baru yang lebih populer daripada guru mereka Yohanes Pembaptis.

Tapi Yohanes dengan sangat terbuka dan rendah hati berkata: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga." Atau dalam terjemahan lain, tidak ada seorang pun yang dapat memiliki apa pun untuk dirinya kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Jadi yang kita miliki harus kita sadari memang berasal dari Tuhan, itu intinya. Yohanes sadar bahwa yang pertama adalah dia tahu bahwa dia bukan siapa-siapa. Jadi kita mesti menerima, ya memang bukannya saya, ya memang bukan diri kita. Dan Yohanes sadar dia memang bukan Mesias waktu orang-orang datang dan bertanya: "Engkaukah Mesias?" Dia bilang: "Bukan." "Apakah engkau nabi itu yang dijanjikan?' Juga bukan, jadi kalau begitu engkau siapa? Dengan kata lain dia berani berkata: "Saya bukan, saya bukan Mesias," tapi dia berani menghargai siapa dia yaitu dia adalah seorang pembuka jalan, dia berkata: "Sayalah orang yang berseru-seru di padang gurun, luruskanlah jalan Tuhan." Dialah pembuka jalan buat Tuhan Yesus. Jadi mengenali diri mempunyai dua aspek, pertama menerima yang memang bukan diri kita, dan yang kedua menghargai yang memang diri kita.
GS : Memang lebih mudah sebenarnya kita itu mengenal orang lain yang ada di luar diri kita daripada kita mengenal diri kita sendiri Pak Paul. Kadang-kadang kita juga tidak mengerti siapa diri kita ini, nah bagaimana caranya supaya kita itu mengenali diri dengan tepat, Pak Paul?

PG : Ini sebuah proses yang panjang Pak Gunawan, dan biasanya atau seharusnyalah diawalinya itu dari rumah. Dari tanggapan yang orang tua berikan kepada kita perlahan-lahan kita makin mengenal iapa kita dan siapa yang bukan kita itu.

Ke sekolah kita mendapatkan masukan baik dari teman, maupun dari guru, dari pelajaran, dari kebisaan-kebisaan kita, nanti setelah kita lebih besar lagi masuk ke dunia pekerjaan itu pun akan menolong kita melihat siapa kita dan siapa bukan kita. Nah orang yang berbahagia adalah orang yang mengenal dirinya, dia tahu dia bisa apa, dan dia juga bisa menerima dia tidak bisa apa. Nah yang dia bisa itulah yang dia hargai, ada orang misalkan yang hanya bisa melakukan pekerjaan seni, ada orang yang tidak menghargai itu meskipun itu karunia yang begitu besar. Dia mau menjadi seorang ahli komputer, selalu akhirnya mengejar-ngejar bagaimana menjadi ahli komputer akhirnya dua-duanya tidak dia peroleh. Kita mesti mengenali, menerima kita memang bukan siapa dan menghargai kita itu siapa.
WL : Pak Paul, saya beberapa kali mendengar ada kasus ajaran sesat begitu, lalu ada tokoh agama yang mengaku-ngaku diri sebagai Mesias di jaman ini bukan jaman Perjanjian Baru. Nah apakah orang seperti ini berarti memang dia tidak mengenal dirinya dengan tepat, ada masalah dari keluarga sejak kecil atau terus ada kaitan dengan pujian, atau apakah dia karena haus pujian atau bagaimana Pak Paul?

PG : Semuanya itu bisa terjadi, jadi kita tidak bisa memastikan, bisa jadi memang dia mendapatkan terlalu banyak pujian-pujian dari orang sehingga dia akhirnya menobatkan dirinya sebagai Mesias Waktu saya di Amerika hal-hal ini kadang-kadang saya dengar ada orang yang mengklaim dirinya sebagai Mesias nah bisa jadi juga dia terlalu tenggelam di dalam kesubyektifitas persepsinya mengenai Alkitab atau mengenai kerohanian sehingga akhirnya dia sungguh-sungguh beranggapan dia mendengarkan panggilan Tuhan dan perkataan Tuhan bahwa dia Mesias itu sendiri.

Jadi itu pun bisa terjadi.
GS : Ada orang yang sebenarnya itu kepengin dipuji, tapi selalu dia mengatakan kepada orang-orang lain, ah jangan puji saya seperti itu, saya ini tidak tahan dipuji-puji seperti itu, tapi sebenarnya dia itu mencari, kepengin itu orang lain memuji dia karena dia membutuhkan itu Pak Paul?

PG : Saya kira pujian akan menyenangkan hati kita, maka di situlah letak bahayanya. Kadang-kadang kita akhirnya mengutamakan kesenangan hati itu sendiri dan gagal melihat faktanya memangkah kit layak menerima pujian itu, dan akhirnya itu tidak kita lihat, kita abaikan dan kita lebih memperhatikan kesenangan hati kita waktu menerima pujian itu.

GS : Ketika Yohanes Pembaptis menempatkan dirinya bahwa dia bukan Mesias, dia mengatakan membuka tali kasutnya Tuhan Yesus pun dia tidak layak. Banyak orang yang mengatakan itu 'kan membuktikan kerendahan hatinya artinya bukan dia pada posisi yang sebenarnya Pak Paul?

PG : Ok, dengan kata lain ini prinsip yang kedua yang ingin saya munculkan adalah kita mesti berani melupakan diri kita, seolah-olah ini kontradiksi dengan prinsip yang pertama yaitu mengenali iri.

Bukankah mengenali diri berarti kita memfokuskan mata pada diri sendiri, jadi kita harus sadari siapa diri kita, tapi setelah menyadari siapa kita lebih seringlah kita tidak terlalu memusingkan diri. Makanya masukan atau nasihat kedua yang akan saya bagikan adalah lupakan diri. Ada orang yang terlalu terbungkus oleh dirinya dan terikat oleh dirinya, sedikit-sedikit dia marah, sedikit-sedikit merasa dirinya tidak dihargai, sedikit-sedikit mengutamakan kebutuhannya jadi terus-menerus kepentingannyalah yang dipikirkan, dirinyalah yang selalu disoroti ini juga tidak sehat. Jadi kita mesti mengikuti apa yang Yohanes katakan, dia pernah akhirnya menyimpulkan di Yohanes 3:30, Ia (yakni Tuhan Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Dengan kata lain kita hanya bisa mengecilkan diri kalau kita membesarkan Tuhan dalam hidup kita, makin kita bersujud menyembah Tuhan makin diri kita kecil dan Tuhan besar, nah itulah prinsip yang harus kita pegang. Jadi jangan sampai terlalu memikirkan diri, orang yang terlalu memikirkan diri, saya setuju tadi Pak Gunawan katakan dia akan haus pujian dan mencari-cari pujian karena memang terlalu memikirkan dirinya. Tapi kalau dia tidak memikirkan dirinya, dia hanya bertindak biasa waktu dia mendengar orang memberikan pujian, sebab itu adalah seperti cermin saja yang dia lihat, sudah begitu saja.
WL : Pak Paul, ada kaitannya atau tidak melupakan diri kita dengan penyangkalan diri yang Tuhan tuntut dari setiap orang Kristen?

PG : Sangat erat kaitannya, jadi kita tidak mendahulukan kepentingan kita, tapi demi Tuhan kita mendahulukan kepentingan Tuhan dan kepentingan orang lain.

GS : Jadi perbandingannya dengan Tuhan Pak Paul, jadi kita terhadap sesama kita masih mempertahankan kamu harus tahu saya ini seperti ini.

PG : Ya jadi begini Pak Gunawan, intinya kita hanya bisa mengecilkan diri kalau kita membesarkan Tuhan. Orang yang mencoba mengecil-ngecilkan diri tanpa membesarkan Tuhan memang orang menjadi mnder, tapi orang yang membesarkan Tuhan otomatis akan tanpa disadarinya akan mengecilkan diri, itu efek langsung.

Makin melihat Tuhan yang bekerja, Tuhan yang berbuat, saya hanyalah alat, yang saya miliki semua dari Tuhan kita makin memang tidak ada alasan dan ruangan untuk memfokuskan diri, tapi kita tahu ini semua karya Tuhan. Jadi pada akhirnya jangan sampai kita itu terlalu dimakan oleh pujian. Ada satu cerita yang saya ingin bagikan Pak Gunawan sebagai akhir dari perbincangan kita. Ada seorang hamba Tuhan dibawa mengunjungi sebuah tambang batu bara, dan kita tahu tambang batu bara itu pasti kotor, hitam. Tiba-tiba dia terkejut melihat setangkai tanaman dengan bunga berwarna putih mengkilap tanpa satu pun debu kotor pada helaian daunnya, dia kaget sekali. Kemudian dia bertanya kepada pemandu yang membawanya kenapa bunga tersebut bisa begitu bersih di tengah-tengah debu dan tanah yang hitam ini. Si pemandu berkata coba lemparkan debu kotor ke bunga tersebut, dilemparkan debu-debu kotor di sana yang dia lihat sangat mengejutkan yaitu debu-debu itu hanya sempat hinggap sebentar kemudian melorot turun jatuh, tidak bisa tinggal pada daun-daun itu atau pada bunga itu. Nah si pemandu menceritakan atau menjelaskan bahwa bunga itu mempunyai permukaan yang sangat halus, begitu halusnya sehingga tidak bisa menahan satu butir debu pun maka bunga tersebut tetap bersih dan putih di tengah-tengah debu dan tanah yang hitam. Saya kira itu contoh yang baik untuk kita, kita haruslah menjadi seperti bunga itu, kita mendapat pujian pasti nempel sedikit tapi setelah itu biarkan pujian itu turun. Sama dengan kritikan, kita juga menerima biarkanlah kena kita mesti belajar dari masukan yang orang berikan, tapi setelah itu biarkan turun. Jangan terlalu seperti lem di mana semua hal melekat pada diri kita, pujian orang melekat pada diri kita, kritikan orang melekat pada diri kita, biarkan semuanya jatuh kita dengarkan setelah itu kita tanggalkan kembali.

GS : Ya menarik sekali untuk satu ilustrasi yang tadi Pak Paul sudah sampaikan dan terima kasih Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian kami juga berterima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Test Pujian." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



21. Belajar Bijak


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T137A (File MP3 T137A)


Abstrak:

Dapatkah hikmat dipelajari? Apakah orang dilahirkan bijak ataukah ia dibentuk menjadi bijak? Kitab Amsal menyediakan banyak contoh perilaku orang yang bijak dan ternyata hikmat dapat dipelajari. Nah melalui materi ini kita akan belajar, faktor-faktor apa sajakah yang dapat membuat orang bijak.


Ringkasan:

Dapatkah hikmat dipelajari? Apakah orang dilahirkan bijak ataukah ia dibentuk menjadi bijak? Kitab Amsal menyediakan banyak contoh perilaku orang yang bijak dan ternyata hikmat dapat dipelajari. Di bawah ini dipaparkan beberapa faktor yang membuat orang bijak.

  1. Takut akan Tuhan. "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan; tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat; dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 1:7; 3:6) Ada dua implikasinya. Pertama, kita mengakui bahwa Tuhan adalah sumber hikmat dan kepada-Nya kita datang meminta hikmat. Kedua, jauhkanlah dosa, kejahatan, dan ketidakbenaran dari hidup kita.

  2. Memiliki nilai hidup yang benar. "Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamanu, 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu." (Amsal 3:27, 28) Mengasihi orang dan memanfaatkan benda, bukan sebaliknya, mengasihi benda dan memanfaatkan orang.

  3. Mengenal dan menerima diri. "Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya." (Amsal 14:8) Memahami apa yang bisa dan tidak bisa dikerjakannya.

  4. Membaca situasi dengan tepat. "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat. Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak." (Amsal 20:18; 25:11)

  5. Mengendalikan dan memanfaatkan emosi dengan efektif. "Orang yang sabar besar pengertiannya tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohoan. Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." (Amsal 14:29; 18:13)

  6. Berintrospeksi dan tidak senantiasa yakin diri. "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan." (Amsal 3:7) Reaksi harus diapit oleh pertimbangan: sebelum memberi reaksi kita mempertimbangkannya baik-baik; setelah memberi reaksi, kita mempertimbangkannya lagi. Biarkan perasaan tidak enak atau rasa bersalah timbul agar kita tidak kehilangan kepekaan terhadap perasaan orang. Orang yang tidak memberi pertimbangan sebelum bertindak adalah orang bodoh, orang yang tidak memberi pertimbangan setelah bertindak, adalah orang yang menganggap diri benar.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Belajar Bijak", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, berbicara tentang orang bijak, sebenarnya orang itu belajar untuk menjadi bijak atau memang dilahirkan sebagai orang bijak Pak Paul?

PG : Ini pertanyaan yang menarik Pak Gunawan, kalau kita berasumsi bahwa orang dilahirkan bijak, berarti ada sebagian orang memang tidak dilahirkan bijak dan sampai kapan pun dia tidak berkesematan menjadi bijak.

Kalau itu yang terjadi berarti kita bisa berkata Tuhan tidak berhak menuntut kita menjadi bijak sebab kita dilahirkan tidak bijak. Jadi jawaban yang betul adalah kebijakan itu bisa dipelajari itu sebabnya Tuhan menyisakan satu buku di Alkitab hanya khusus membahas tentang hikmat dan itu adalah buku Amsal.
GS : Ya Pak Paul, sebenarnya yang disebut bijak itu adalah orang yang seperti apa Pak Paul?

PG : Saya membedakan bijak dengan cerdas Pak Gunawan, cerdas itu memang sesuatu yang kita bawa sejak lahir yaitu kepandaian kita, tingkat intelegensia kita dan tidak semua orang mempunyai tingkt intelegensia yang tinggi atau sama tingginya.

Bijak bukan intelegensia, bijak adalah pertama kesanggupan untuk tahu apa yang harus dilakukan dan dia bisa melakukannya dengan cara yang begitu pas sehingga efektif dan bisa diterima.
GS : Tadi Pak Paul katakan ada satu buku di dalam Alkitab yaitu kitab Amsal dan kita semua tahu bahwa yang menulis itu adalah Salomo putra Daud, nah Salomo pernah meminta kebijaksanaan itu kepada Tuhan. Dia tidak minta umur panjang, tidak minta kekayaan yang dia minta kebijaksanaan dari Tuhan, berarti tadinya dia tidak bijak?

PG : Saya kira itu merupakan ungkapan kerendahan hatinya., dia berkata: "Tuhan, saya tidak akan sanggup untuk memerintah rakyat yang begitu besar dan banyak ini, jadi saya memerlukan tuntuan Tuhan."

Jadi permintaannya agar Tuhan memberikan kepadanya hikmat merupakan pengakuan akan ketidakkemampuannya itu, dan karena itu yang Salomo minta Tuhan melimpahkannya.
WL : Faktor-faktor apa saja Pak Paul, yang membuat diri seseorang itu bisa disebut sebagai orang yang bijak?

PG : Amsal memulai dengan satu pernyataan, yang saya ambil dari Amsal 1:7 juga Amsal 3:6, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, atau dapat juga diterjemhkan takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat tetapi orang bodoh alias orang yang tidak berhikmat menghina hikmat dan didikan, karena Tuhanlah yang memberikan hikmat.

Dari mulutnya datang pengetahuan dan kepandaian." Sebetulnya kata pengetahuan dan kepandaian ini mempunyai makna yang sama yaitu hikmat. Jadi ada dua implikasi di sini Bu Wulan, yang pertama adalah kita mengakui bahwa Tuhan adalah sumber hikmat dan kepada-Nya kita datang meminta hikmat. Kita dengan kata lain berkata, dunia tidak akan menawarkan hikmat yang sempurna, hikmat yang paling puncak tapi Tuhan bisa memberikan kepada kita hikmat yang sempurna itu. Jadi kepada-Nyalah kita datang memohon hikmat. Kedua, ayat-ayat ini juga menegaskan kepada kita agar kita menjauhkan diri dari dosa atau dari kejahatan, dari ketidakbenaran sehingga hidup kita benar-benar lurus. Nah inilah tema yang berulang kali ditekankan dalam kitab Amsal. Dengan kata lain kalau boleh saya simpulkan dengan satu kalimat, ciri pertama orang bijak adalah atau kalau kita ingin belajar bijak kita mesti takut akan Tuhan, itu syaratnya.
WL : Bagaimana dengan orang yang belum mengenal Tuhan Pak Paul, atau belum di dalam Tuhan, terus pertanyaan berikutnya adalah sering kali saya menemui ada orang-orang yang memang "belum dalam Tuhan" tapi secara umum boleh dibilang menurut kategori umum orangnya cukup berhikmat, cukup bijaksana dalam pemikirannya, tindakannya, segala sesuatunya Pak Paul?

PG : Saya setuju dan memang akan ada banyak orang yang seperti itu, itu sebabnya sebagaimana kita akan lihat dalam buku Amsal nanti ternyata memang bukan hanya itu yang menjadikan kita bijak, iu salah satunya dan itu sudah tentu hal yang penting.

Saya berikan beberapa contoh Ibu Wulan, misalkan kita tahu Hitler itu sangat-sangat berkuasa pada Perang Dunia ke - II bisa menaklukkan begitu banyak negara. Nah ada satu negara yang ingin dia taklukkan tapi sebetulnya dia diberikan nasihat-nasihat untuk tidak pergi ke sana dan itu adalah negara Uni Soviet. Karena apa, karena Uni Soviet negara yang begitu luas dan begitu ganas hawa dinginnya, tapi dia tidak mendengarkan nasihat teman-temannya. Dia tetap ke sana, dia menyerbu Uni Soviet dan benar saja memang banyak yang mati juga karena tertembak di kota Stalingrad ada sekitar 250.000 orang Jerman yang mati di sana, tapi sebagian dari serdadu Jerman mati karena kelaparan dan kedinginan. Sebab tentara atau orang-orang Soviet sudah sangat bijak sekali mereka membakar gudang-gudang makanan sehingga waktu Jerman datang mereka tidak mendapatkan makanan. Dikepung dengan salju yang dingin itu akhirnya banyak di antara mereka yang mati. Itu adalah pertempuran atau penyerangan yang sebetulnya tidak begitu didukung oleh para penasihat Hitler, tapi dia tidak bijak, dia sangat dikuasai oleh nafsunya dan kita tahu Hitler orang yang tidak takut akan Tuhan, semua yang dia lakukan dia ukur dengan dirinya sendiri. Contoh kedua yang bisa saya pikirkan adalah pada tahun 80-an ada seseorang yang cukup dikenal di dunia Kristen namanya adalah Harold Morris dia itu seorang mantan narapidana di Amerika dituduh membunuh. Kenapa, nah dalam pengakuannya dan kesaksiannya adalah pada masa dia berusia muda dia bergaul dengan teman-temannya yang brengsek. Kemudian suatu kali teman-temannya mengajak dia merampok dan dia sendiri tidak tahu dalam perampokan itu seorang penjaga gudang tertembak mati, akhirnya apa yang terjadi, teman-temannya semua bersekongkol dia yang membunuh padahal dia tidak membunuh, akhirnya di masuk ke penjara dijatuhi hukuman mati, di situlah dia bertobat mengenal Tuhan Yesus. Dan melalui anugerah Tuhan akhirnya dia diberikan pengampunan oleh presiden dan dilepaskan dari penjara, tapi dia harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya dalam penjara dan itulah kesaksiannya yang sering dia berikan kepada kawula muda di sana, takut akan Tuhan, hidup lurus, jauhkan diri dari kejahatan. Sebab begitu kita tidak takut Tuhan, kita main dengan kejahatan kita akhirnya terperosok ke dalam jerat kejahatan itu sendiri.
GS : Apakah ada faktor lain Pak Paul?

PG : Yang lainnya adalah kita perlu memiliki nilai hidup yang benar, ini tema yang juga berulang kali ditegaskan di Amsal. Saya bacakan dari Amsal 3:27,28, Janganlah menahan kebaikn dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.

Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu. Nah prinsip apa yang bisa kita petik di sini, sudah tentu prinsip yang Tuhan Yesus juga tekankan yaitu kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Nah dengan kata lain prinsip mengasihi orang dan memanfaatkan benda, bukan sebaliknya, mengasihi benda dan memanfaatkan orang. Nah nilai hidup yang benar harus kita miliki, ini yang menjadi pondasi munculnya hikmat dalam hidup kita.
WL : Kalau kita berusaha memiliki nilai hidup yang benar Pak Paul, tapi justru sebaliknya diri kita yang dimanfaatkan oleh orang lain bagaimana Pak Paul?

PG : Di sini juga perlu kebijakan untuk melihat apakah memang orang itu sengaja memanfaatkan kita untuk kepentingannya saja dan apakah itu hal yang baik bagi dia untuk dia terima. Kadang kala oang memanfaatkan kita karena memang dia perlu bantuan kita, misalnya orang yang miskin yang datang ke rumah kita dua bulan sekali dan memang dia sangat miskin, tidak punya apa-apa lagi jadi dia terpaksa harus meminta dan dia datang ke rumah kita karena dia tahu kita akan memberikan, dan kalau ke rumah orang lain, orang lain tidak akan berikan apakah ada unsur pemanfaatan? Ada, tapi apakah itu memang juga baik buat dia, dia perlu makan, dia perlu hidup, ya benar juga baik buat dia.

Jadi adakalanya kita dengan rela membiarkan diri dimanfaatkan karena kita memang mau menolong orang. Tapi kalau kita tahu kita dimanfaatkan untuk hal yang tidak perlu, dan orang itu tidak begitu membutuhkan bantuan kita tapi dia sengaja mau memanfaatkan kita demi kepentingannya nah kita bisa melihat itu dan berkata saya tidak mau. Jadi prinsipnya adalah mengasihi manusia, memakai benda atau memanfaatkan benda jangan terbalik, banyak orang terbalik memanfaatkan manusia dan mengasihi benda-benda.
GS : Sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang yang membutuhkan pertolongan itu tadi sebenarnya bukan cuma benda Pak Paul, diri kita juga dibutuhkan oleh dia.

PG : Ya kita misalkan memberikan bantuan yang lebih kalau misalkan

(GS : Waktu kita, perhatian kita) betul itu kita berikan juga.

GS : Nah Pak Paul, bagaimana kita tahu kalau seseorang itu meminta dalam batas-batas yang wajar Pak Paul, artinya bukan mau memanfaatkan kita, kalau kita tidak terlalu mengenal dia lalu kita memberikan pertolongan asal itu tidak ada maksudnya Pak?

PG : Memang kita perlu dengan jelas mengetahui siapa dia itu. Sebab kadang kala orang itu memang menyalahgunakan sekali, kalau kita sudah melihat memang kita disalahgunakan ya sudah kita berheni.

Kita juga tidak mau mendorong orang untuk menjadi tidak benar dengan perbuatan kita itu.
GS : Ya kadang-kadang di situ daripada kita dikatakan tidak menolong lalu kita menggunakan benda itu tadi Pak Paul, misalnya sejumlah uang atau barang atau apa kita berikan, kita berkata saya sudah menolong kamu tapi nilainya saya rasa tidak terlalu berarti.

PG : Namun dari pada tidak sama sekali saya pikir kita boleh memulai dengan memberikan benda, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

GS : Bagaimana dengan faktor yang ketiga Pak Paul?

PG : Yang ketiga adalah mengenal dan menerima diri, nah ini faktor yang juga diulang-ulang di kitab Amsal. Saya bacakan Amsal 14:8, Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cedik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.

Saya akan ulang lagi bagian pertamanya, mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik. Penting sekali kita ini mengenal siapa kita, keterbatasan kita, kekuatan kita, dan setelah mengenal menerima, jangan sampai kita itu tidak tahu diri dalam arti yang sebenarnya. Nah orang yang bijak orang yang tahu siapa dirinya, dia tahu apa yang dia bisa lakukan, dan dia juga bisa mengatakan: "Tidak, ini tidak bisa saya lakukan," itu adalah salah satu ciri orang yang bijak.
GS : Sering kali kita ini disalah mengerti Pak Paul, seolah-olah tidak mau atau menolak tanggung jawab yang diberikan apalagi kalau hubungan ini hubungan atasan-bawahan Pak Paul.

PG : Ya sudah tentu ada ruang untuk kita berusaha, mencoba, kita tidak bisa selalu berkata ini bukan bidang saya, saya sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Nah ada waktunya bagi kita untuk mecoba, tapi setelah kita mencoba dan memang kita tidak mampu kita katakan tidak mampu.

Atau kepada atasan kita bisa berkata: "Saya akan mencoba Pak, ini memang bukan keahlian saya tapi saya akan coba, mohon jangan kecewa kalau hasilnya tidak seperti yang Bapak harapkan." Misalkan itu kita katakan.
GS : Tetapi kalau sejak awal kita sudah tahu bahwa kita tidak akan mampu melakukan itu, kalau kita berkata saya coba itu 'kan merugikan baik pihak atasan kita maupun diri kita sendiri Pak Paul?

PG : Bagi saya kalau kita sudah mengatakan bahwa ini memang bukan bidang keahlian kita tapi dia tetap meminta kita melakukannya terus kemudian kita sampaikan juga bahwa mungkin hasilnya tidak sperti yang Bapak harapkan, tapi saya akan coba sebisa saya, saya kira biarkan dia memutuskan.

Kalau dia putuskan silakan kerjakan saya akan terima apapun hasilnya, berarti ya sudah kalau pun hasilnya tidak maksimal yaitu memang konsekuensinya.
GS : Ya kadang-kadang memang orang mencari gampangnya Pak Paul, di dalam mendelegasikan atau di dalam memberikan tugas. Ada orang yang memang mau saja disuruh apa-apa, tapi ada orang yang hampir dikatakan menolak kalau disuruh. Jadi orang yang selalu mau untuk diberi tugas itu biasanya lalu ditimpa atau dilimpahi dengan banyak pekerjaan yang sebenarnya dia sendiri tidak mampu melakukan itu.

PG : Betul, dan salah satunya misalnya yang paling umum adalah menjadi pemimpin. Banyak orang yang merindukan atau mendambakan menjadi pemimpin, sedikit orang yang sebetulnya bisa memimpin. Banak orang bisa menguasai betul, tapi tidak banyak orang yang bisa memimpin di dunia ini.

Nah makanya yang sering kali kita lihat bukannya pemimpin, penguasa, sekali lagi kenapa, sebab banyak orang tidak mengenal dirinya, tidak tahu diri akhirnya, menjadi sesuatu atau seseorang yang memang bukanlah bidangnya atau panggilannya, jadi itu adalah ketidakberhikmatan alias kebodohan yang Alkitab katakan. Orang berhikmat orang yang tahu diri.
WL : Pak Paul, mungkin atau tidak ya kalau tadi 'kan orang yang berhikmat orang yang cerdik, mengerti jalannya sendiri. Saya cuma berpikir alternatif lain mungkin atau tidak ada orang yang misalnya saya, saya sudah tahu kriteria saya bisa sampai sekian, tapi ternyata ada orang di luar diri saya yang cukup berhikmat sudah makan asam garam, istilahnya. Dia bisa melihat hal-hal yang saya tidak bisa lihat selama ini. Wulan, kamu sepertinya ada kelebihan di sini, yang kamu mungkin belum sadari, tapi kalau saya langsung bilang tidak, saya yakin saya tidak mampu karena saya tahu siapa diri saya, itu berarti 'kan saya menutup. Mungkin tidak begitu ada orang lain yang memang lebih berhikmat dan bisa memberitahu itu Pak Paul?

PG : Sangat mungkin sekali Bu Wulan, dan dengan cara itulah Tuhan membukakan wawasan kita pula. Jadi selalu harus ada keseimbangan antara mendengarkan masukan dari orang lain dan mempercayai peilaian pribadi kita terhadap diri kita juga, nah keduanya harus berjalan bersama-sama pula.

Orang yang hanya mempercayai penilaian dirinya sendiri dan menutup telinga terhadap masukan orang dia juga masuk dalam kategori orang yang tidak berhikmat. Sebaliknya orang yang hanya mendengarkan masukan orang, disuruh apa pun mau, disuruh lompat; lompat, terjun; terjun, dia tidak mempercayai penilaian pribadinya dia juga masuk dalam kategori orang yang tidak berhikmat. Jadi kita perlu memberikan kesempatan kepada diri kita mencoba yang memang belum pernah kita lakukan, siapa tahu memang itu betul.
GS : Membedakan itu memang butuh hikmat tersendiri Pak Paul?

PG : Dan kadang kala kita langsung mencoba kalau memang kita belum pernah melakukannya.

GS : Dan dari situ kita bisa tahu sebenarnya kita bisa atau tidak. Apakah ada faktor yang lain Pak Paul?

PG : Yang lain adalah membaca situasi dengan tepat, firman Tuhan berkata di Amsal 20:18 dan Amsal 25:11, Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglahdengan siasat.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. Dengan kata lain memang kita perlu bisa membaca situasi dengan tepat dan mempertimbangkan apa itu yang kita harus lakukan. Orang yang bijak, orang yang bisa membaca situasi, dia bisa melihat reaksi orang, dia bisa tahu sebetulnya apa yang orang rasakan, dia peka dengan lingkungan dan karena dia peka serta tepat dengan realitas dia bisa memberikan reaksi atau respons yang juga tepat. Nah kebalikannya orang yang tidak bijak, buta terhadap realitas, buta terhadap respons orang asal tabrak saja, tidak bisa membaca apa yang orang lain sedang rasakan.
WL : Pak Paul, sekarang 'kan lagi maraknya, bukan sekarang sudah beberapa tahun terakhir ini dipakainya strategi perang Tiongkok untuk management bisnis. Pertanyaan saya apakah memang itu berhikmat dia pakai strategi, cerdik begitu atau sebenarnya ada unsur lain, ada intuisi begitu, maksudnya seperti Tuhan berikan pada orang-orang tertentu Pak Paul, ada kaitannya atau tidak?

PG : Saya kira orang-orang tertentu memang Tuhan karuniakan kelebihan-kelebihan dalam membaca situasi, nah itu adalah hal-hal yang tidak bisa kita jelaskan. Bisa jadi karena pengalamannya tapi isa jadi juga memang dia mempunyai intuisi yang lebih kuat.

Tapi saya kira ini bisa juga dipelajari, pelajarilah reaksi orang, wajah orang waktu bereaksi, pelajarilah nada suara orang, pekalah dengan perasaan orang, sering-seringlah berpikir. Kalau saya yang diperlakukan seperti itu rasanya saya apa, kalau orang lain menerima perkataan seperti itu dari saya jadinya dia kira-kira merasa apa, dia akan berpikir apa, menafsirkan apa. Nah sering-seringlah kita berpikir dengan lebih luas dan melihat dari perspektif yang berbeda, nah dengan cara itu kita lebih bisa membaca suasana.
GS : Mungkin kita kesulitannya justru di situ Pak Paul, jadi kita lebih senang atau lebih gampang buat kita menyuruh orang lain mempelajari kita daripada kita mempelajari orang lain.

PG : Ya betul sekali, karena itu jauh lebih gampang kita tidak usah berubah dan menyesuaikan diri dengan orang lain.

PG : Tapi orang bijak orang yang berani membayar harga, menyesuaikan diri dengan orang itu harus membayar harganya juga.

GS : Bagaimana dengan pengendalian diri, Pak Paul?

PG : Itu juga saya kira bagian yang penting dalam membangun hikmat, kita perlu bisa mengendalikan dan memanfaatkan emosi kita dengan efektif. Firman Tuhan berkata di Amsal 14:29 dan Amsal 18:13, Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya. Saya kira memang benar sekali, saya belum pernah sekali melihat orang yang berhikmat terus orang itu dengan mudah mengumbar kemarahannya, justru orang yang berhikmat adalah orang yang berhati-hati. Jarang sekali dia marah, tapi bukan berarti dia tidak bisa marah. Dia bisa marah tapi kalau dia marah memang itu tepat sasaran dan itu memang harus dia keluarkan tapi itu jarang-jarang terjadi, nah ini saya kira penting sekali kita juga perhatikan.
WL : Itu sebabnya mungkin Pak Paul, Tuhan memberikan satu mulut dan dua telinga dan yang Yakobus sebutkan lambatlah untuk berbicara tetapi cepat tanggap ketika kita mendengarkan orang lain.

PG : Betul, betul sekali.

GS : Pak Paul, pada saat seseorang itu menjadi marah, kehilangan kendali, apakah pada waktu itu hikmatnya hilang dalam dirinya?

PG : Ya, betul pada saat itu yang memang sedang bekerja adalah emosinya dan emosi itu susah sekali untuk kita kontrol saat-saat itu. Jadi orang yang bisa menahan emosi berarti memberi ruang yan lebih besar kepada rasionya untuk berpikir, sehingga dia lebih tahu apa yang harus dan tidak harus dia lakukan.

GS : Berarti hikmat itu akan nampak dengan jelas ketika seseorang itu tenang.

PG : Betul, jadi penting sekali meskipun tidak berarti kita ini tidak boleh mendengarkan emosi kita, justru silakan dengarkan emosi kita sebab kadang-kadang kita harus ekspresikan tapi kita tidk dikuasai olehnya.

Sebagai penutup saja Pak Gunawan, saya langsung ke point terakhir yaitu kita mesti introspektif dan tidak senantiasa yakin diri, ini artinya apa? Saya bacakan dari Amsal 3:7, Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan. Ada orang yang bertanya kepada saya begini Pak Gunawan, setiap kali setelah mengambil keputusan saya dihantui oleh rasa bersalah saya benar atau tidak ya,. Saya katakan kepada dia, jangan engkau menghilangkan pertanyaan itu, biarkan pertanyaan itu menyertaimu. Jadi dengan kata lain sebelum bereaksi kita pertimbangkan baik-baik apa yang kita akan katakan atau kita akan perbuat. Setelah bereaksi biarkan diri kita mengevaluasi kembali, biarkan kita mempertimbangkan kembali yang telah kita lakukan itu. Jadi orang yang tidak mempertimbangkan sebelum bertindak kita katakan dia orang bodoh, dia langsung tabrak, langsung bertindak tanpa berpikir, kita katakan dia orang bodoh. Tapi orang yang setelah bertindak namun tidak mempertimbangkannya lagi, tidak mempertanyakan saya benar atau tidak, dia orang yang menganggap diri benar, nah ini adalah awal dari kejatuhan orang, menganggap diri benar. Jadi dengan kata lain tindakan kita harus diapit dari dua sisi pertimbangan dan pertimbangan, sebelum bertindak kita pertimbangkan, setelah bertindak kita pertimbangkan. Dan biarkan pertanyaan-pertanyaan saya benar atau tidak ya, orang itu merasakan bagaimana ya, biarkan pertanyaan itu ada di hati kita setelah kita berbuat sesuatu. Nah pertanyaan seperti itulah yang akan memandu kita agar tidak menganggap diri selalu bijak.
GS : Pak Paul, setelah sekian banyak faktor yang Pak Paul sampaikan, kita sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya kebijaksanaan bisa dipelajari.

PG : Betul sekali, kalau saja kita mau membayar harga untuk belajar kita bisa belajar dengan baik.

GS : Tapi modalnya itu diberikan oleh Tuhan, kita membaca bahwa hikmat yang sejati itu datang dari Tuhan.

PG : Betul, kita mencari Tuhan, memohon dariNya dan belajar rendah hati, belajar untuk menahan emosi, belajar untuk mendengarkan masukan dari orang dan sebagainya.

GS : Memang menggunakan hikmat ini yang membutuhkan latihan-latihan terus-menerus sehingga kita makin hari makin terampil di dalam mewujudkan hikmat itu melalui kehidupan sehari-hari kita Pak Paul.

PG : Betul Pak Gunawan.

GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini juga Ibu Wulan untuk perbincangan ini juga para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Belajar Bijak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



22. Pulih Setahap demi Setahap


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T137B (File MP3 T137B)


Abstrak:

Sebagian kita berjuang untuk menjadi manusia baru; dipulihkan atau diperbarui; namun kita lebih sering menjumpai kegagalan. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah kesalahpahaman akan makna pulih itu sendiri.


Ringkasan:

Firman Tuhan berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) Sebagian kita berjuang untuk menjadi manusia baru-dipulihkan atau diperbarui-namun kita lebih sering menjumpai kegagalan. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah kesalahpahaman akan makna pulih itu sendiri. Sebenarnya, apakah makna pulih itu?"

  1. Pulih tidak berarti hilang; sering kali pulih hanyalah berarti dapat mengatasi dan tidak lagi dikuasai (kecuali dalam kasus kecanduan). Misalnya, masalah dengan ketakutan. Kita takut dengan penilaian orang dan mudah tersinggung tatkala mendengar komentar orang tentang diri kita. Pulih berarti kita menyadari bahwa ketersinggungan kita adalah karena kita takut dinilai negatif oleh orang namun kita tidak membiarkan ketakutan itu menghambat kita untuk berinisiatif.

  2. Pulih berarti mempunyai reaksi kedua, tidak hanya reaksi pertama. Reaksi pertama adalah reaksi yang pertama kita berikan tatkala kita menghadapi peristiwa tersebut untuk pertama kalinya. Misalkan, ketegangan tatkala mendengar kemarahan dan keinginan untuk lari dari situasi itu. Reaksi kedua adalah reaksi yang kita pilih untuk kita berikan sekarang, misalkan tidak lari sebab kita tahu bahwa kita tidak dalam keadaan bahaya. Kita tidak selalu berhasil menghilangkan reaksi pertama, biarkan, namun sebelum bertindak, pikirkan reaksi keduanya.

  3. Pulih berarti dapat mengalami kemunduran namun bisa bangkit kembali. Kemunduran adalah penggunaan cara menghadapi stres yang kita pakai sewaktu dulu atau pada masa kecil. Misalkan, tatkala tidak berani menghadapi ulangan, kita sakit. Sekarang kita tidak lagi seperti itu namun suatu ketika tatkala daya tahan kita sedang lemah, kita jatuh sakit sewaktu harus menghadapi peristiwa yang menekan.

Paulus berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7)

Tahap Menuju Pemulihan:

  1. Mengakui permasalahan yang ada; jangan mengecilkan masalah.

  2. Mengakui andil kita sendiri dalam permasalahan itu.

  3. Jika tidak bisa mengambil langkah besar, ambillah langkah kecil.

  4. Bila hari ini mundur, besok maju lagi.

  5. Jangan meninggalkan Tuhan, bersabarlah!


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Pulih Setahap Demi Setahap", kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, saya pernah membaca salah satu bagian dari surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang mengatakan: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Nah yang ingin saya tanyakan Pak Paul perubahan itu terjadi secara drastis atau bertahap Pak Paul?

PG : Secara bertahap Pak Gunawan, jadi firman Tuhan mengatakan secara status kita adalah ciptaan yang baru, kita adalah anak Allah sekarang, kita sudah dikeluarkan dari maut dan masuk ke dalam ehidupan.

Namun untuk kita menjadi serupa dengan Tuhan, itu memerlukan waktu dan kita dituntut dari pihak kita untuk berusaha, bekerja keras bersama dengan kuasa Roh Kudus untuk memperbaharui hidup kita ini.
GS : Ya berarti ada suatu perjuangan di dalam proses itu yang harus kita lewati.

PG : Betul sekali, dan perjuangan ini memang tidak mudah, namun kadang kala Pak Gunawan perjuangan ini dipersulit oleh kesalahapahaman-kesalahpahaman kita akan konsep mengenai pulih, konsep menenai sembuh, kita ingin sembuh, kita ingin pulih dengan cepat.

Nah konsep inilah yang saya kira kadang kala menyusahkan kita.
GS : Jadi perjuangan itu yang pertama-tama adalah melawan diri kita sendiri.

PG : Betul, ini semuanya memang kembali kepada diri, kepada apa yang telah menjadi bagian dalam hidup kita sebelum kita mengenal Tuhan.

GS : Tetapi faktor di luar kita sering kali menghambat proses pemulihan itu Pak Paul?

PG : Sudah tentu ada pengaruhnya dari luar, kalau lingkungan mendukung kita otomatis kita akan bisa lebih mudah bertumbuh tapi kalau memang lingkungan tidak mendukung kita ya kita akan lebih labat untuk berubah.

GS : Sebenarnya pulih itu dalam arti apa Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah pulih itu tidak berarti hilang, kita kadang kala mengkonsepkan pulih itu sama dengan menghilangkan bagian diri kita yang tidak kita inginkan lagi, kita seolah-olah tida akan lagi harus berurusan dengan problem kita yang terdahulu itu, tidak ya.

Pulih itu sering kali hanyalah berarti kita dapat mengatasi dan tidak lagi dikuasai oleh problem itu. Nah ini saya gunakan untuk semua kasus kecuali dalam kasus kecanduan. Misalkan kita ini alkoholik, waktu kita pulih kita itu memang harus lepas 100% dari alkohol itu atau kita pengguna narkoba kita harus lepas 100% dari narkoba itu, kita tidak bisa berkata ya saya boleh pakai sekali-sekali asal saya bisa menguasainya, tidak bisa. Khusus untuk kecanduan kita harus putuskan hubungan dan menghilangkan kecanduan itu sendiri, tapi untuk hal-hal yang lain saya kira tidak ya, pulih itu tidak berarti menghilangkan, pulih hanyalah berarti mengatasi, kita tidak lagi dikuasai.
WL : Tapi Pak Paul di 2 Korintus 5:17 yang tadi dibacakan oleh Pak Gunawan, jelas-jelas disebutkan ciptaan baru begitu ya new creation terus ditambah lagi penjelasan bahwa kalau ciptaan baru itu yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang. Tapi kalau misalnya tadi Pak Paul mengatakan tidak hilang, berarti yang lama itu masih ada, berarti belum berlalu Pak Paul?

PG : Dalam proses, memang ayat ini harus kita soroti dari kacamata proses. Kalau boleh saya gunakan tafsiran saya, jadi yang lama sedang berlalu, yang baru juga sudah datang tapi dalam pengertin datang untuk menguasai kita itu juga akan perlu proses, yang lama berlalu tapi tidak semuanya berlalu secara seketika, yang baru sudah datang tapi yang baru itu belum menguasai kita secara keseluruhan dan akan memerlukan waktu untuk menguasai kita secara keseluruhan, itu cara pertama untuk melihatnya.

Cara kedua adalah untuk melihat bahwa yang dimaksud di sini adalah kita telah menjadi manusia baru dalam pengertian kita mempunyai nilai hidup yang baru, cara pandang yang baru sehingga kita tidak sama lagi karena cara pandang kita sudah berbeda. Kita bisa berkata ini dosa, ini tidak akan saya lakukan, ini benar, ini salah, nah itu yang berubah dan itu yang langsung ada dalam diri kita.
WL : Pak Paul, ilustrasi yang sering digunakan berkaitan dengan ayat ini yang saya sering dengar dan saya pernah gunakan metamorfosanya ulat, dari kepompong ulat menjadi kupu-kupu. Yang lama itu sepertinya ulat itu, kepompong itu terus yang baru itu kupu-kupu. Nah ditekankan bahwa ketika sudah menjadi kupu-kupu, tidak ada 'kan seekor kupu-kupu yang mau balik lagi menjadi seekor cacing yang lingkup hidupnya berbeda sekali, kupu-kupu bisa terbang ke mana-mana dan sebagainya begitu yang kontras sekali. Nah disebutkan kalau kita sudah menjadi ciptaan baru itu seperti kupu-kupu itu, mau tidak kita ditantang untuk balik ke situ begitu. Berarti salah kalau ilustrasi yang sering digunakan ini Pak Paul, 'kan kalau ini berarti sama sekali tidak ada cacingnya lagi, benar-benar kupu-kupu baru begitu?

PG : Boleh saja menggunakan ilustrasi itu tapi dalam pengertian kepompong atau kupu-kupu itu merujuk pada cara pandang kita, cara pandang yang lama itu kepompong, cara pandang yang baru itu kup-kupu, yaitu sekejap memang berubah.

Karena setelah kita menjadi anak Tuhan kita mengadopsi nilai-nilai yang Tuhan ajarkan.
GS : Tetapi orang yang sudah mempunyai cara pandang baru pun masih bisa kembali ke cara pandang yang lama Pak Paul.

PG : Betul, jadi secara keseluruhan perubahan itu akan memakan waktu tapi sentranya atau pusatnya itu langsung berubah. Kita mulai menyadari bahwa kita orang berdosa nah itu perubahan yang baru dulu kita berbuat dosa tidak menyadari kita orang berdosa, sekarang kita tahu kita orang berdosa kita mengaku kepada Tuhan, nah itu perubahan yang drastis.

Jadi pusatnya, sentranya berubah dengan drastis, pinggiran-pinggirannya akan memakan waktu yang lebih panjang.
GS : Apa ada pengertian yang lain tentang pulih itu Pak?

PG : Pulih juga berarti kita ini sekarang mempunyai pilihan reaksi yaitu yang saya sebut reaksi kedua dan tidak hanya reaksi pertama. Saya jelaskan yang saya maksud reaksi pertama, reaksi pertaa adalah reaksi yang pertama kita berikan tatkala kita menghadapi peristiwa tersebut untuk pertama kalinya.

Nah misalkan ketegangan tatkala mendengar kemarahan dan keinginan untuk lari dari situasi itu. Ini mungkin reaksi yang kita berikan waktu kita masih kecil, mendengar orang tua kita bertengkar kita tegang sekali dan kita ingin keluar dari rumah. Nah setelah kita dewasa, setiap kali kita mendengar orang misalkan marah atau suaranya meninggi, kita tegang sekali nah itu yang saya panggil reaksi pertama. Namun kita sekarang memiliki reaksi kedua, reaksi kedua adalah reaksi yang kita pilih untuk kita berikan sekarang. Jadi kita berpikir ini reaksi saya yang pertama saya takut, saya lari, saya tidak tahan dengan ketegangan ini namun kita berhenti dan kita berkata sekarang saya tidak dalam keadaan berbahaya seperti dulu lagi, jadi berarti saya tidak perlu lari, nah saya bisa diam, saya bisa tetap tidak mengacuhkan, tidak mempedulikan apa yang sedang terjadi, saya bisa mengerjakan hal-hal yang lain. Nah itu pilihan, itu adalah reaksi kedua dengan kata lain kita pulih sekarang karena kita mempunyai reaksi kedua. Dalam praktek saya, saya kadang-kadang bertemu dengan orang yang pernah mengalami trauma masa kecil, macam-macam traumanya. Dan adakalanya harapan mereka setelah melewati konseling adalah mereka tidak akan pernah lagi memberikan reaksi-reaksi ketakutan itu. Saya tekankan tidak, reaksi ketakutan itu reaksi pertama dan akan selalu ada. Ada yang misalnya mengatakan perutnya tiba-tiba mules, atau tiba-tiba jantungnya degup-degup, nah itu reaksi pertama dan reaksi pertama tidak bisa kita kontrol, akan muncul dengan alamiah, dengan sendirinya meskipun kita tidak menginginkannya, tapi akan ada. Namun pengharapan kita setelah kita melewati proses pemulihan, kita sekarang mempunyai reaksi kedua, dulu tidak punya. Sekarang reaksi keduanya adalah kita bisa berkata pada diri sendiri tenang, engkau dalam keadaan aman, engkau tidak dalam keadaan bahaya, engkau tidak usah merasa begitu, nah itu reaksi kedua. Nah inilah yang saya maksud dengan pulih memiliki reaksi kedua.
WL : Apakah reaksi kedua itu bisa dilatih Pak Paul, saya beberapa kali mendengar hal-hal yang praktis itu, misalnya saja ketika menghadapi kemarahan diri kita waktu mendengar sesuatu yang sangat tidak enak buat kita wah langsung pengin nyembur reaksi pertamanya, lalu ada hal-hal praktis disarankan coba tarik nafas dalam-dalam atau minum air terus didiamkan di mulut beberapa detik nah itu bisa menolong lebih reda, seperti itu Pak Paul?

PG : Betul, dengan cara-cara praktis seperti itu kita memang melatih diri untuk tidak langsung dikuasai oleh reaksi pertama.

GS : Dan itu berarti yang Pak Paul sebutkan reaksi kedua bukan tunggal Pak Paul, berarti bisa macam-macam reaksi kedua itu.

PG : Betul, ini yang penting, orang yang tidak punya reaksi kedua dikuasai oleh reaksi pertamanya. Orang berbuat sesuatu dia marah langsung dia pukul, nah dia tidak memiliki reaksi kedua, yang arus kita kembangkan adalah reaksi kedua ini.

GS : Tapi biasanya reaksi pertama itu merupakan suatu pertahanan tubuh atau pertahanan diri itu Pak Paul?

PG : Sangat alamiah karena kita terbiasa berbelasan tahun bahkan berpuluhan tahun memiliki reaksi itu.

GS : Dan terbiasa dengan kehidupan yang seperti itu, sudah terpola. Kalau menghadapi ini jawabannya ini, menghadapi ini sikap kita begini.

PG : Betul, namun sekali lagi karena kita di dalam Tuhan, kita mengerti sekarang apa yang Tuhan inginkan, kita sekarang memiliki pilihan kedua ini nah tergantung kita mau atau tidak menaati pilhan kedua ini.

Tuhan berkata : jangan, nah kita stop, kita paksa diri kita untuk berkata jangan.
WL : Pak Paul, kalau untuk pria-pria yang suka memukul istrinya, bukankah itu terkadang seolah-olah tidak bisa mengontrol reaksi pertama ini, begitu reaksi kedua juga tidak bisa kontrol. (PG : Tidak ada reaksi kedua sebetulnya) tidak ada ya, bisa atau tidak ditolong, maksudnya orang-orang seperti ini bisa sembuh atau tidak Pak?

PG : Bisa, dan kalau dianya sendiri juga mengakui problem dia dan dia ingin sembuh. Tidak semua orang ingin sembuh, kita harus sadari itu, sebagian dari mereka tidak ingin sembuh, kenapa? Sebabenak kok, menikmati, dia dapatkan yang dia inginkan.

Dia berteriak, dia maki, dia jambak istrinya, istrinya lakukan yang dia inginkan kenapa dia susah-susah harus merendahkan diri berbicara baik-baik dan sebagainya. Atau ada orang yang mempunyai ketakutan, kalau dia baik istrinya akan misalnya menginjak-injak dia, tidak menghormati dia nah ketakutan itu reaksi pertamanya. Mungkin dia dulu melihat ayahnya diinjak-injak oleh mamanya sehingga reaksi pertamanya selalu adalah takut dikuasai oleh istri, nah ini yang harus berubah. Dan kenapa kita mau berubah, sekali lagi motivasi kita adalah karena kita mau menaati Tuhan, dialah yang memberikan kita kesempatan memiliki reaksi kedua ini.
GS : Berarti orang yang hidup dalam ciptaan sebagai ciptaan baru itu ketika dia hidup pada pilihan-pilihan yang kedua itu tadi Pak.

PG : Betul, dia tidak lagi hidup dalam pilihan pertama.

GS : Tetapi apakah kalau seseorang sudah masuk kepada pilihan yang kedua artinya dia sudah ciptaan baru itu tidak bisa set back atau mundur kembali ke yang awal lagi itu Pak?

PG : Saya kira bisa, ini bagian dari pertumbuhan kita. Seorang pendeta di Amerika yang bernama Charles Swindoll pernah menulis satu buku judulnya "Dua Langkah Maju Satu Langkah Mundur,&quo; kalau tidak salah begitu.

Dalam pengertian kita ini kadang kala setelah maju kita akhirnya mundur, kita mengalami kejatuhan dan itu saya kira bukannya hal yang bagus, tapi itu saya kira bagian dari pertumbuhan itu sendiri. Yang penting adalah kita bangkit kembali, Petrus pernah jatuh menyangkal Tuhan sampai tiga kali, tapi dia bangkit kembali dia tidak diam di dalam kejatuhannya. Nah Yudas diam dalam kejatuhannya maka akhirnya sampai membunuh diri. Kemunduran itu sebetulnya adalah penggunaan cara menghadapi stres yang kita pakai sewaktu dulu masih kecil. Saya berikan contoh yang klasik Pak Gunawan dan Ibu Wulan, yaitu misalnya sakit, waktu kita kecil kita itu takut ulangan terus kita sakit tidak masuk sekolah, akhirnya setelah dewasa kita lebih sadar jangan begitu akhirnya kita tidak begitu lagi. Namun kita sudah berumur misalnya 40 tahun kita menghadapi suatu situasi yang benar-benar berat dan kita harus menghadapi seseorang, nah pada hari kita mau menghadapi orang tersebut kita jatuh sakit, nah itu salah satu contoh kemunduran. Nah dalam bahasa psikologisnya istilah yang Fruid gunakan adalah regresi kita akan mundur ke cara penanganan yang lebih awal, yang lebih primitif.
WL : Pak Paul, kalau dalam istilah theologi saya sering mendengar istilah progressive sanctification begitu, mungkin seperti itu yang Pak Paul maksudkan jadi walaupun kita ada kadang-kadang lemah, jatuh tapi harus terus progresif ada kemajuan-kemajuan tidak boleh terus stagnan di situ, atau bahkan mundur amat sangat jauh dan tidak balik lagi begitu. (PG : Betul).
GS : Tapi apakah seseorang itu sebenarnya bisa menyadari kemundurannya itu Pak Paul?

PG : Ya mudah-mudahan dia sadar memang tidak selalu kita menyadari, tapi mudah-mudahan dia sadar. Nah seberapa jauhnyakah orang bisa misalnya sampai sebegitu mundurnya. Contohnya adalah dalam kmarahan seseorang bisa lepas kendali dan misalnya memukul orang lain, nah kemunduran itu hal yang mungkin dia lakukan waktu dia terakhir kali lakukan itu misalnya 6, 7 tahun dia berantem dengan siapa dan tidak pernah lagi berkelahi sampai usia misalnya 35 tahun.

Jadi kita bisa mundur seperti itu, kita menggunakan cara yang lebih primitif untuk menghadapi stres tapi itu adalah bagian dari pertumbuhan manusia juga. Nah pulih berarti kadang kala kita bisa mundur, jangan waktu kita mundur berkata sudah semua sia-sia dan saya akan terus di sini, jangan. Yang Tuhan minta adalah coba lagi, bangkit lagi.
GS : Sebenarnya apakah Pak Paul tujuan Tuhan meminta kita supaya kita itu pulih, dipulihkan oleh Tuhan itu apakah sebenarnya tujuannya?

PG : Nomor satu itu Tuhan menginginkan kita serupa dengan Dia. Jadi tujuan kita berubah agar kita makin sama seperti Bapa kita yang di sorga. Dia ingin kita itu mengalami perubahan-perubahan inernal secara batiniah.

Dan juga yang kedua dalam proses ini yang memang jatuh bangun Tuhan menginginkan kita bergantung kepadaNya, bahwa kekuatanNyalah yang akan menolong kita bukan kekuatan kita sendiri. Maka firman Tuhan di 2 Korintus 4:7 berkata: Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Jadi Paulus mengibaratkan dirinya itu bejana tanah liat, dan kita tahu bejana tanah liat itu mudah sekali retak dan pecah. Kita itu bejana tanah liat, jadi kekuatan kita dari Tuhan sendiri.
GS : Tadi Pak Paul sampaikan bahwa pemulihan itu tidak sekaligus artinya bertahap, nah tahapan-tahapan itu apa saja Pak?

PG : Yang pertama adalah mengakui permasalahan yang ada, jangan menyangkal, jangan mengecilkan masalah. Perlu keberanian, perlu keberanian yang sangat besar mengakui, inilah masalahnya. Sering ali kita lari kanan-kiri mengecilkan masalah, melemparkan masalah, jangan, akui apa adanya masalah itu.

WL : Pak Paul, bagaimana kita mengakui permasalahan itu, padahal ini titik point pertama. Karena permasalahannya justru kita sering kali tidak menyadari bahwa kita punya masalah, seperti tadi Pak Gunawan sudah singgung.

PG : Saya kira waktu orang berbicara, reaksi dari lingkungan kita juga mendukung dan kita itu cukup beranilah berdiam diri dan mengaca. Kalau kita berani berdiam diri dan mengaca, seharusnya kia sadar kita salah.

Jangan sampai seperti contoh-contoh yang kadang-kadang saya dengar dari suami yang memukuli istri, nah sebagian dari mereka berkata o......kami tidak ada masalah, baik-baik saja; hubungan kami normal-normal, ya bertengkar itu 'kan bumbu pernikahan, tapi itu bukannya bumbu, istri bengep-bengep. Dia tidak mau mengakui ada masalah, nah ini berkaitan dengan langkah berikutnya Pak Gunawan yaitu kita mesti mengakui andil kita dalam permasalahan itu. Kembali kepada contoh yang tadi, sebagian dari mereka akan berkata begini Bu Wulan: "O.......saya sebetulnya tidak ingin marah, tapi istri saya membuat saya marah makanya saya pukul dia. Kalau saja dia tidak membuat saya marah, saya tidak akan memukul dia." Sekarang pertanyaannya begini, banyak orang membuat kita marah atau membuat orang lain marah tapi orang lain itu tidak pukuli dia, kenapa mesti pukuli istrinya, dengan kata lain memang tidak mau mengakui andil. Jadi langkah kedua harus kembali ke diri sendiri apa andil saya dan kalau ada andil akui.
GS : Banyak orang yang mengatakan bukan tidak mau berubah Pak Paul, tetapi untuk berubah dengan drastis itu yang dia merasa tidak mampu.

PG : Dan itu saya kira salah satu pemikiran yang membuat kita akhirnya lumpuh tidak berjalan. Karena kita membayangkan kita harus secara serentak dan mengambil langkah yang drastis untuk berubah. Jadi langkah berikutnya yang ingin saya bagikan adalah mulailah dengan langkah yang kecil, kalau memang tidak bisa mengambil langkah yang besar. Misalkan biasanya kita langsung marah, nah ini dari semua hal-hal yang membuat kita marah, kita marah semuanya kecuali satu kali kita tidak marah. Jadi jangan berkata hari ini saya tidak mau marah misalnya, jangan, katakanlah saya akan kurangi satu saja kemarahan saya, jadi misalnya biasanya dia lima kali marah sehari nah sekarang empat kali dan ada satu kali dia sadar dia harus marah karena memang dia maunya marah, tapi dia berkata: tidak, saya tidak mau marah saya diam, nah yang berikutnya dia tidak tahan dia marah lagi. Jadi kuranginya satu, ambillah langkah kecil. Yang membuat kita mau maju adalah keberhasilan akan langkah kecil itu, yang membuat kita tidak mau maju adalah kita melihat ke belakang dan tidak melihat keberhasilan sama sekali.

WL : Pak Paul, tapi mungkin ada kategori tertentu yang mesti dibedakan Pak Paul. Maksud saya misalnya saya pernah mendengar kesaksian seorang mantan narapidana, memberikan kesaksian di depan: "Saya sekarang sudah bertobat, saya menjadi orang yang baru, kalau dulu saya bunuh 10 orang sekarang saya hanya bunuh 5 orang begitu Pak Paul.

PG : Otomatis dalam hal-hal yang drastis seperti itu tidak ya, kita akan menghilangkan.

GS : Langkah kecil itu kadang-kadang kalau terlalu kecil dia tidak merasa bahwa dia sudah maju.

PG : Kadang-kadang orang ingin pulih itu terlalu berpikir besar, jadi akhirnya kemajuan yang kecil itu tidak diakui sebagai kemajuan karena dia terlalu berpikir di awan-awan, nah ini penting seali untuk dia sadari.

Bahkan kembali kepada point yang semula tadi, kemajuan itu berarti dia bisa mundur dan dia harus terima hal itu. Jadi langkah berikutnya kita harus berkata pada diri kita, bila hari ini mundur besok maju, jangan besok mundur lagi tambah mundur. Waktu kita mundur akui kita mundur dan terima ini andil kita jangan kita menyalahkan kiri-kanan, tapi besok kita berkata saya mau maju lagi.
WL : Tapi Pak Paul, lingkungan justru sering kali menuntut lebih daripada yang tadi Pak Paul sudah ajarkan. Misalnya seseorang tiba-tiba lahir baru di tengah-tengah keluarga yang semuanya belum Kristen. Keluarga ini menuntut harus ada perbedaan, misalnya seseorang yang biasa marah terus dia tidak berubah. Sering kali nada sinis muncul: "Apa bedanya kamu, sebelum Kristen sama sudah Kristen tidak ada bedanya, buat apa saya juga menjadi Kristen," mereka maunya melihat suatu perubahan yang drastis, yang bisa dilihat nyata begitu Pak Paul.

PG : Saya kira kita ini memang secara manusia kadang-kadang terbuai oleh impian-impian hidup tidak dalam realitas, kita mengharapkan orang bisa berubah dengan seketika, melupakan bahwa kita seniri pun tidak begitu, kita sendiri pun tidak berubah dengan seketika.

GS : Mungkin itu pengaruh mode instan Pak, kita maunya cepat-cepat semua. Minum kopi cepat, makan mie cepat begitu Pak.

PG : Dan kadang kita mengharapkan orang lain yang berubah dengan seketika, sementara kita akan sangat bersabar dengan diri sendiri, tidak apa-apa tidak berubah.

GS : Dalam kaitan sabar itu Pak Paul, sebenarnya kalau majunya terlalu sedikit, itu merasa jengkel dengan diri kita sendiri Pak Paul?

PG : Itu saya kira reaksi yang wajar, kadang-kadang kita marah dengan diri sendiri kenapa masih begini saja, kenapa belum maju, tidak apa-apa. Saya rasa itu reaksi yang normal tapi jangan sampa kejengkelan kita memadamkan api untuk mau terus berkobar dan untuk maju.

Jadi point terakhir yang ingin saya bagikan adalah jangan menyerah, jangan meninggalkan Tuhan, tetap pegang kaki Tuhan, apapun yang terjadi kita melihat diri kita mundur, kita melihat diri kita terjungkal jangan lepaskan kaki Tuhan, terus pegang kaki Tuhan. Sebab yang akan memberikan kita kesempatan lagi adalah Dia, yang akan memberikan kita kekuatan adalah Dia juga, kalau kita lepaskan kaki Tuhan kita terlepas, benar-benar terlepas dan tidak lagi ada pengharapan.
GS : Memang ini membutuhkan ketekunan yang luar biasa Pak Paul?

PG : Ya betul, tekun dan misalkan kita ini tidak malu berdoa walaupun ada rasa malu kenapa masih begini terus tapi jangan berhenti berdoa. Bahkan dalam doa katakan: "Tuhan, saya malu datan kepada Engkau, karena saya masih seperti ini."

Jadi jangan karena malu tidak berdoa, justru berdoalah dan katakanlah Tuhan saya malu justru begitu.
GS : Berarti proses itu yang Tuhan hargai Pak Paul?

PG : Betul, betul, dan Dia inginkan kita berbagi susah dan duka dengan Dia.

GS : Jadi pemulihan setahap demi setahap ini pasti akan mencapai sasarannya, pada akhirnya nanti dengan bantuan dan pertolongan dari Tuhan itu sendiri.

Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini juga Bu Wulan terima kasih, para pendengar sekalian kami berterima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pulih Setahap Demi Setahap". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda dapat juga menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



23. Rasa Bersalah


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T148A (File MP3 T148A)


Abstrak:

Sering kali banyak orang mencampuradukkan antara penyesalan, ketakutan, rasa bersalah. Memang kita tidak bisa hidup tanpa rasa bersalah. Penting sekali kita belajar mengenai rasa bersalah ini dan bagaimana menghadapinya, agar jangan sampai kita pada akhirnya dikuasai oleh rasa bersalah.


Ringkasan:

Di masa lampau kita pernah melakukan kesalahan dan jatuh ke dalam dosa. Tidak tertutup kemungkinan kita pun akan melakukan kesalahan di masa yang akan datang. Sebagian kita hanya akan melakukan kesalahan kecil, namun sebagian lainnya mungkin akan melakukan kesalahan besar. Rasa bersalah merupakan bagian hidup yang harus kita hadapi; itu sebabnya kita perlu memahami dan menyelesaikannya dengan benar. Sebagai bahan acuan, kita akan melihat kehidupan Daud.

Definisi

  1. Rasa bersalah tidak sama dengan rasa malu. Rasa malu merupakan reaksi terhadap perbuatan yang dianggap tidak lazim untuk dilakukan oleh budaya atau kebiasaan setempat. Misalnya, sebagai pria kita merasa malu kepada istri bila kita tidak dapat menafkahi kebutuhan ekonomi keluarga. Atau, sebagai istri kita merasa malu sebab kita tidak mampu membuahi keturunan bagi suami.

  2. Rasa bersalah tidak sama dengan penyesalan. Penyesalan adalah perasaan sedih dan tertekan yang bercampur dengan rasa malu atas perbuatan yang telah kita lakukan. Penyesalan lebih terfokus pada dampak perbuatan kita terhadap orang atau lebih merupakan reaksi terhadap penilaian orang. Penyesalan tidak selalu dicetuskan oleh rasa bersalah; sebaliknya, rasa bersalah selalu membuahkan penyesalan.

  3. Jadi, apa itu rasa bersalah? Rasa bersalah adalah kesadaran bahwa kita telah melakukan kesalahan dan apabila kesalahan ini berkaitan dengan hukum Tuhan, rasa bersalah merupakan pengakuan bahwa kita telah melanggar kehendak Tuhan.

Untuk dapat menyikapi rasa bersalah dengan tepat, kita mesti dapat membedakan antara rasa bersalah semu dan rasa bersalah sejati.

  1. Rasa bersalah semu sangat dipengaruhi oleh situasi, sedangkan rasa bersalah sejati tidak terlalu dipengaruhi oleh situasi. Setelah berzinah dengan Batsyeba, Daud tidak menunjukkan rasa bersalah (karena belum diketahui). Setelah Batsyeba mengandung, Daud berupaya menutupi perbuatannya dengan cara mengundang Uria pulang dan setelah ini pun tidak berhasil, Daud mengenyahkan nyawa Uria secara licik. Di sini kita dapat melihat bahwa Daud menunjukkan rasa bersalah namun ini merupakan rasa bersalah semu (diakibatkan oleh situasi yakni Batsyeba mengandung).

  2. Rasa bersalah semu terbatasi oleh waktu sedangkan rasa bersalah sejati tidak terbatasi oleh waktu. C. S. Lewis mengatakan biasanya kita merasa bersalah pada waktu melakukan perbuatan dosa namun setelah selang beberapa waktu, kita tidak lagi merasa bersalah-seakan-akan waktu telah mencuci bersih dosa kita. Lewis menekankan bahwa dosa tetap dosa-kapan pun dosa itu dilakukan. Sekurangnya ada setahun rentang waktu antara perbuatan zinah Daud dan kedatangan Nabi Natan. Ternyata Daud tidak meminta ampun kepada Tuhan dalam selang waktu itu dan tampaknya Daud pun telah melupakan dosanya, itu sebabnya ia tidak merasa ialah yang sedang dibicarakan Nabi Natan dalam ilustrasi yang disampaikannya.

  3. Rasa bersalah semu lebih berorientasi pada penilaian orang sedangkan rasa bersalah sejati lebih berorientasi pada penilaian Tuhan dan Firman-Nya.

  4. Rasa bersalah semu cenderung berlebihan dan memenjarakan sedangkan rasa bersalah sejati menjanjikan pengharapan. Rasa bersalah semu berkubang di masa lampau dan menimbulkan penyesalan tanpa akhir. Rasa bersalah sejati berani melihat dan mengakui masa lampau namun tidak berkubang di masa lampau. Rasa bersalah sejati memandang masa depan karena rasa bersalah sejati tidak terfokus pada penyesalan, melainkan pengharapan. Firman Tuhan menjanjikan, "Sebab dukacita menurut kehendak Allah (godly sorrow) menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak disesalkan (no regret), tetapi dukacita yang dari dunia ini (worldly sorrow) menghasilkan kematian." (2 Korintus 7:10)


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan, S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Rasa Bersalah", kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, ada banyak orang saya sendiri juga sering kali mengalami itu ada perasaan yang kurang enak di dalam diri kita Pak Paul, bercampur aduk antara penyesalan, ketakutan, rasa bersalah, dan sebagainya, tapi kita tidak bisa mengidentifikasi secara jelas sebenarnya yang sedang saya alami atau yang sedang saya rasakan itu apa, nah ini bagaimana Pak Paul dengan rasa bersalah?

PG : Rasa bersalah adalah bagian yang integral dalam kehidupan kita Pak Gunawan. Mudah-mudahan kita bisa hidup tanpa rasa bersalah, tapi memang tidak bisa. Kadang-kadang kita melakukan kesalaha kecil, kadang-kadang kita melakukan kesalahan besar, kadang melakukan dosa kecil, kadang melakukan dosa yang besar.

Jadi penting sekali kita belajar mengenai rasa bersalah ini dan bagaimana menghadapinya. Agar jangan sampai kita pada akhirnya ditindihi atau dikuasai oleh rasa bersalah.
WL : Pak Paul, kalau melanjutkan pertanyaan Pak Gunawan yang baru lalu bagaimana jadinya kita bisa membedakan perasaan yang ini sebenarnya perasaan bersalah atau perasaan-perasaan yang lain?

PG : Kadang-kadang kita agak sulit membedakan antara rasa bersalah dan rasa malu. Rasa malu merupakan reaksi terhadap perbuatan yang dianggap tidak lazim untuk dilakukan oleh budaya atau kebiasan setempat.

Saya berikan contoh misalnya sebagai pria kita merasa malu kepada istri bila kita tidak dapat menafkahi kebutuhan ekonomi keluarga. Atau misalnya sebagai istri kita merasa malu sebab kita tidak mampu membuahi keturunan bagi suami. Dari dua contoh ini saya kira kita tidak akan dapat menemukan kesalahannya melanggar hukum Allah atau hukum lainnya, namun yang muncul adalah rasa malu. Kalau kita tidak hati-hati kita mencampuradukkan kedua-duanya. Tidak bisa mempunyai keturunan, kita anggap itu kesalahan sehingga kita merasa bersalah terhadap pasangan kita. Kita tidak bisa menafkahi karena baru di PHK sehingga kita merasa bersalah padahal tidak ada yang salah dalam hal ini. Yang seharusnya muncul adalah rasa prihatin dengan keluarga kita. Ini adalah contoh rasa malu dan bukan rasa bersalah.
GS : Ya, yang rasa malu itu Pak Paul terkait juga dengan dia yang menyesali kesalahannya mengapa dulu dia tidak bekerja di perusahaan tertentu yang sekarang itu bisa maju dan sebagainya sampai di PHK karena dia merasa salah pilih Pak Paul?

PG : Adakalanya kita salah pilih, adakalanya itu adalah pilihan yang kita anggap paling baik. Jadi yang harus kita introspeksi adalah apakah berdasarkan data yang kita miliki saat itu memang itlah pilihan yang terbaik.

Kalau kita sudah mengumpulkan data sebaik mungkin mempertimbangkannya seteliti mungkin dan mencari masukan dari beberapa pihak lain dan akhirnya keputusan itulah yang kita ambil. Itu keputusan yang memang benar untuk kondisi saat itu. Kalau kemudian kita di PHK ini sungguh-sungguh sesuatu yang terjadi di luar kendali kita.
GS : Jadi tidak perlu merasa bersalah begitu Pak Paul?

PG : Betul. Jadi ini adalah peristiwa yang memang harus kita hadapi, mungkin kita merasa malu. Tapi bukannya rasa bersalah yang harus kita tanggung di sini.

WL : Tapi terkadang rasa bersalah juga bercampur dengan rasa menyesal seperti yang Pak Gunawan katakan Pak.

PG : Betul Bu Wulan, jadi rasa bersalah memang sering kali bercampuraduk dengan penyesalan. Namun saya ingin membedakan keduanya. Penyesalan adalah perasaan sedih dan tertekan yang bercampur degan rasa malu atas perbuatan yang telah kita lakukan.

Penyesalan lebih terfokus pada dampak perbuatan kita terhadap orang atau lebih merupakan reaksi terhadap penilaian orang. Penyesalan tidak selalu dicetuskan oleh rasa bersalah. Ini kita harus perhatikan. Sebaliknya rasa bersalah selalu membuahkan penyesalan. Adakalanya orang menyesali perbuatannya tapi sebetulnya dia tidak menganggap itu suatu kesalahan. Tapi karena orang yang lainnya bereaksi keras atau memojokkan dia, dia menyesali karena reaksi dari pihak luar. Tapi dia sendiri tidak menganggap itu adalah suatu kesalahan yang harus dia koreksi. Jadi kadang-kadang kita ini menyamarkan penyesalan dengan rasa bersalah. Sebetulnya memang tidak sama. Sekali lagi penekanan pada penyesalan adalah perasaan. Nah jadi sekarang apa itu rasa bersalah. Tadi saya katakan penyesalan itu penekanannya pada perasaan. Rasa bersalah sebetulnya adalah suatu kesadaran, suatu pemahaman, suatu pengetahuan, suatu pengakuan secara rasional bahwa kita telah melakukan kesalahan. Dan apabila kesalahan ini berkaitan dengan hukum Tuhan rasa bersalah merupakan pengakuan bahwa kita telah melanggar kehendak atau perintah Tuhan. Jadi tidak harus diikuti oleh perasaan. Tapi suatu pengakuan secara rasional. Saya telah melakukan kesalahan.
WL : Pak Paul, penjelasan Pak Paul ini menimbulkan dua pertanyaan dalam diri saya, yang pertama bagaimana dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Ini apakah Pak Paul menyorotinya dari sudut Kristiani atau berlaku untuk semua orang secara general. Untuk mereka di luar Tuhan apa itu standarnya untuk rasa bersalah. Yang kedua kalau berkaitan dengan Tuhan atau konsep agama ada orang yang punya konsep agama yang mungkin agak berbeda katakan dengan kita atau dengan masyarakat secara umum misalnya saya kaitkan dengan isu yang masih hangat-hangatnya soal bom antara bom bali, Amrozi. Di media Australia dia disebut the smiling bomber. Dia melakukan itu seolah-olah tanpa rasa bersalah. Dia punya konsep agama yang justru membenarkan itu istilahnya jihad. Tapi bagi semua orang itu 'kan bukan hanya Kristen saja dan melihat itu memang salah membunuh orang dan sebagainya. Nah bagaimana itu Pak?

PG : Rasa bersalah tidak bisa dilepaskan dari nilai moral yang dianut oleh kita. Jadi betul sekali kita memang akhirnya membahas rasa bersalah dalam lingkup nilai moral tertentu. Tidak bisa hama nilai moral, sebab harus selalu ada rujukannya, acuannya apa.

Bisa jadi buat seseorang ini sangat salah. Buat orang lain ini sangat benar. Nah bergantung pada rujukannya, acuannya. Dalam pembahasan kita saat ini memang kita akan merujukkannya kepada Alkitab kepada firman Tuhan. Secara garis besar sudah tentu dalam detail-detailnya bisa juga ada perbedaan antara kelompok-kelompok Kristiani, tapi secara umum saja. Memang harus ada standar acuannya.
GS : Pak Paul, kadang-kadang orang itu tadinya tidak merasa apa yang dilakukan itu sebagai suatu kesalahan batasnya hanya penyesalan mungkin. Tapi karena orang-orang di sekelilingnya memberitahukan kepadanya berulang kali bahwa kamu salah kamu salah, akhirnya dia termakan dengan omongan itu. Dia merasa dirinya bersalah.

PG : Ya, adakalanya memang rasa bersalah itu dirangsang atau ditimbulkan oleh reaksi-reaksi orang. Maka sebagai seorang Kristen kita harus jelas mengenal Tuhan kita, mengenal isi hatiNya. Bukanhanya perkataanNya yang tertuang dalam Alkitab tapi juga isi hatinya, sehingga kita bisa lebih mengerti apakah ini memang sesuai dengan kehendakNya meskipun tak tersurat secara langsung di firman Tuhan itu.

Kalau kita bisa mempunyai patokan yang jelas nantinya meskipun ada orang yang tidak setuju dengan kita atau apa kita masih bisa berkata: "Tidak, memang inilah firman Tuhan." Jadi kita bisa memegangnya dengan jelas.
GS : Berarti di situ ada rasa bersalah yang memang betul-betul merasa bersalah tetapi ada rasa bersalah yang sifatnya semu, yang sebenarnya bukan rasa bersalah itu?

PG : Saya kira memang ada perbedaannya dan kadang kala kita ini justru dikuasainya oleh rasa bersalah yang semu. Jadi kita perlu membedakan keduanya. Yang pertama kita melihat bedanya rasa berslah semu sangat dipengaruhi oleh situasi sedangkan rasa bersalah sejati tidak terlalu dipengaruhi oleh situasi.

Nah, saya akan berikan contoh dari kehidupan raja Daud setelah dia berzinah dengan Batsyeba. Yang menarik adalah setelah berzinah itu Daud tidak menunjukkan rasa bersalah, sebab belum diketahui, dosanya itu masih tertutup. Setelah Batsyeba mengandung, Daud berupaya menutupi perbuatannya dengan cara mengundang suaminya Batsyeba Uria untuk pulang. Nah, dia mengharapkan dengan pulangnya Uria, Uria akan tidur bersama istrinya sehingga istrinya bisa berkata ini adalah anak saya dengan Uria. Tapi Uria seorang perwira yang setia tidak mau pulang ke rumah karena dia berkata anak buahnya, serdadunya masih tidur di bawah langit masa dia enak-enakan tidur dengan istrinya. Akhirnya Daud tidak bisa melaksanakan rencananya itu. Akhirnya Daud mengenyahkan nyawa Uria secara licik. Nah, di sini kita dapat melihat bahwa Daud menunjukkan rasa bersalah. Dia berusaha menutupinya dengan berbuat sesuatu memanggil Uria pulang dan sebagainya. Tapi ini yang saya panggil rasa bersalah semu. Karena dimunculkan oleh situasi yakni Batsyeba mengandung. Dengan kata lain kalau Batsyeba tidak mengandung atau kalau mengandung kemudian bisa ditutupi dengan kehadiran suaminya mungkin Daud akan tidur dengan pulas. Nah, ini salah satu contoh yang membedakan rasa bersalah semu dan rasa bersalah sejati.
WL : Pak Paul, ini ada kaitannya atau tidak dengan latar belakang mungkin kehidupan Daud waktu kecil atau siapa saja kita dengan rasa bersalah ini. Saya pikir-pikir asal-usul di mana kita tahu mana yang benar mana yang salah itu 'kan dari orang tua waktu kita kecil. Orang tua memberi tahu ini yang benar ini yang salah. Tapi kalau ada keluarga-keluarga tertentu yang agak membedakan anak yang ini mungkin lebih disayang sedangkan anak yang kedua mungkin dia yang justru selalu jadi sumber yang disalah-salahkan walaupun dia waktu itu tidak salah tetapi disalahkan, yang kakaknya dibenarkan. Sampai besar dia akan tumbuh menjadi anak yang terus merasa bersalah kalau ada peristiwa apa-apa di kantor atau dimanapun, jadi disalah-salahkan. Itu termasuk semu atau bagaimana?

PG : Sebetulnya juga semu karena itu bukannya sesuatu yang salah dia tidak melakukan apa-apa, tetapi senantiasa dikuasai oleh rasa bersalah, karena terlalu sering disalahkan pada masa-masa pertmbuhannya.

Nah, kalau kita seperti itu kita memang mesti dengan berani melawan rasa bersalah kita itu dan berkata saya salah di mana? Kalau kita tidak bisa menunjukkan saya salah di mana atau apa kesalahan saya, nah kita tidak bisa mengatakan saya salah. Meskipun itu adalah tuduhan-tuduhan orang tua kita. Tetap kita berkata tidak, saya tidak salah. Memang kita sebagai orang Kristen, kita percaya kepada firman Tuhan kita bisa selalu merujuk ke sana apa yang harus kita katakan.
GS : Tetapi dalam kasusnya Raja Daud tadi yang Pak Paul katakan dan ambil sebagai contoh apa tidak mungkin dia merasa saya adalah raja. Jadi saya berhak untuk melakukan hal ini.

PG : Rupanya rasionalisasi itu yang terjadi dalam diri Daud dan mungkin sekali itu salah satunya yang dia gunakan dengan mengatakan saya ini seorang raja atau mungkin saja dia bisa berkata semu manusia bisa jatuh ke dalam dosa dan sebagainya.

Namun sebetulnya dia seharusnya merasa bersalah karena dia mengambil istri orang. Daud seorang yang dekat dengan Tuhan, dia mengenal firman Tuhan. Jadi dia tahu dia salah. Tapi inilah kita bisa melihat kekuatan rasio yang sudah tercemar oleh dosa. Begitu kuatnya rasio itu sehingga bisa mematikan rasa bersalah yang seharusnya ada. Dan hanya memunculkan rasa bersalah semu sampai seperti itu.
GS : Ya, sampai sekarangpun orang sering berkata orang juga melakukan hal yang seperti itu dan tidak apa-apa.

PG : Betul. Jadi akhirnya kita mendapatkan pembenaran ya sama-sama kita orang yang berdosa.

GS : Nah kalau begitu bagaimana Pak Paul dengan rasa bersalah semu itu tadi?

PG : Kita bisa membedakan ini juga dari soal waktu Pak Gunawan. Rasa bersalah semu terbatasi oleh waktu. Sedangkan rasa bersalah sejati tidak terbatasi oleh waktu. Seorang penulis Kristen bernaa See As Louis (16:20) mengatakan ini bahwa kita biasanya merasa bersalah pada waktu melakukan perbuatan dosa.

Namun setelah selang beberapa waktu kita tidak lagi merasa bersalah. Mengapa? Sebab kita seakan-akan berpikir bahwa waktu itu mencuci bersih dosa kita. Karena ingatan kita akan perbuatan kita sudah mulai menipis, mulai memudar, jadi rasa bersalah kita juga akhirnya luntur. Ini yang saya sebut rasa bersalah semu. Besok kita sudah merasa lebih baik lagi, besoknya lagi sudah merasa lebih baik lagi, nah ini yang terjadi pada Daud. Melewati waktu yang agak panjang dia merasa dia sudah tidak lagi berdosa. Louis mengatakan bahwa dosa tetap dosa kapanpun dosa itu dilakukan. Dalam kasus Daud sekurangnya ada setahun rentang waktu antara perbuatan zinah Daud dan kedatangan nabi Natan yang menegurnya. Ternyata Daud tidak meminta ampun kepada Tuhan dalam selang waktu itu yaitu setahun. Dan tampaknya Daud juga telah melupakan dosanya. Itu sebabnya dia tidak merasa dialah yang sedang dibicarakan nabi Natan dalam ilustrasi yang disampaikan nabi Natan itu. Jadi dengan kata lain dalam selang waktu setahun dalam kasus Daud dia bisa melupakan perbuatannya itu. Makanya dia merasa berani begitu benar waktu Natan menceritakan tentang kasus orang kaya dan orang miskin, orang kaya mengambil anak domba betina dari si orang miskin itu. Daud marah dan mau menghukum orang itu, sampai Natan berkata kamulah orangnya. Jadi apa yang terjadi, dosanya, perasaan bersalahnya hilang dengan berjalannya waktu, itu menandakan rasa bersalah yang semu. Sebab rasa bersalah sejati tidak mengenal waktu. Kalau kita telah berdosa kita tahu itu dosa kapanpun kita sebut itu tetap kita panggil itu dosa.
WL : Pak Paul, ada kaitannya atau tidak dengan hukuman yang Tuhan berikan kalau maksudnya tadi dengan berlalunya waktu kita akhirnya lama-lama makin hilang makin hilang rasa bersalahnya. Saya bandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang sering dikemukakan di Alkitab terutama di Perjanjian Lama. Di Perjanjian Baru masih ada tapi tidak sekental di Perjanjian Lama. Kalau Perjanjian Lama seolah-olah salah sedikit langsung dapat hukuman Tuhan. Sedangkan makin lama makin ke sini jaman sekarang tidak, kita melakukan apapun pada saat itu tidak langsung mendapat hukuman Tuhan mungkin itu yang menyebabkan akhirnya makin luntur, makin luntur terus akhirnya lupa juga dengan rasa bersalah terhadap dosa itu.

PG : Saya kira bisa begitu. Maka itu yang diangkat oleh See As Louis bahwa kita ini sangat terpengaruh oleh waktu sehingga setelah kita melakukan dosa dan waktu sudah berjalan kita tidak lagi mngingat-ingat dan tidak lagi merasa bersalah sehingga meskipun itu dosa lama-lama jadi hilang dari ingatan dan perasaan kita.

WL : Kok tidak terjadi apa-apa ya Pak Paul?

PG : Sebab tidak terjadi apa-apa, sebab Tuhan tidak langsung bertindak dan menghukum kita. Bisa jadi itu.

GS : Ya, lagipula kita cenderung untuk mengulang dosa itu lagi Pak Paul dan untuk ulangan yang kedua ini rasa bersalahnya itu luntur lagi apalagi kalau sudah berkali-kali kita lakukan.

PG : Betul hati nurani kita makin hari menjadi makin tebal.

GS : Apakah ada hal lain yang membedakan antara rasa bersalah yang semu dan yang sejati begitu Pak Paul?

PG : Rasa bersalah semu lebih berorientasi pada penilaian orang sedangkan rasa bersalah sejati lebih berorientasi pada penilaian Tuhan dan firmanNya. Kehamilan Batsyebalah bukan firman Tuhan yag membuat Daud panik.

Itu kita harus ingat. Dia panik bukan karena dia tertegur oleh firman Tuhan, dia sudah mengeraskan hatinya. Kehamilan Batsyebalah yang membuat dia panik dan berusaha menutupi perbuatannya. Itu sebabnya kita bisa melihat tindakan Daud menyelesaikan rasa bersalahnya itu sangat tidak rohani, yakni akhirnya membunuh suami Batsyeba.
GS : Itu sudah dosa yang beranakkan dosa lagi?

PG : Dosa yang beranakkan dosa dan anak dosa ini ternyata lebih besar daripada bapaknya dosa yang pertama.

WL : Pak Paul, ketika Pak Paul ceritakan tentang penilaian orang dibandingkan dengan penilaian Tuhan, saya teringat pada tokoh Alkitab Yusuf waktu dia digoda, dia katakan jelas-jelas bahwa dia berdosa kepada Tuhan, dia katakan dengan sangat-sangat jelas. Itu yang membuat saya kagum sekali Pak Paul.

PG : Tidak ada penilaian manusia pada saat itu.

WL : Ya, tidak ada siapa-siapa.

PG : Betul, istrinya Potifar malah mengundang dia, dan dalam kasus Daud kita dengan jelas melihat Daud sangat terpengaruh oleh penilaian orang di sini. Makanya dia berusaha menutupi dosanya. Di kehilangan perspektif akan Tuhan bahwa dia telah berdosa terhadap Tuhan.

Terakhir waktu nabi Natan mengkonfrontasi dia menegur dosanya barulah dia berkata aku telah berdosa terhadap Tuhan. Terakhirnya baru dia mengakui itu.
GS : Pak Paul, di dalam hal ini perbedaan antara rasa bersalah yang semu dan yang sejati ini, apakah ada pengaruhnya dengan masa depan seseorang?

PG : Saya kira ada, orang yang dipengaruhi oleh rasa bersalah semu itu akhirnya menjadi orang yang terpenjarakan. Sehingga tidak bisa lagi memikirkan masa depan dan tidak lagi melihat pengharapn.

Sedangkan kalau rasa bersalah sejati dengan Kristus Tuhan kita itu yang menjanjikan pengharapan. Rasa bersalah semu berkubang di masa lampau menimbulkan penyesalan tanpa akhir. Sedangkan rasa bersalah sejati berani melihat dan mengakui masa lampau namun tidak berkubang di masa lampau. Jadi kita katakan rasa bersalah sejati memandang masa depan karena rasa bersalah sejati tidak terfokus pada penyesalan melainkan pada pengharapan. Ini yang membedakannya yang paling hakiki.
WL : Pak Paul, saya bisa mengerti penjelasan Pak Paul yang terakhir, mestinya kita tidak terpenjara dengan perasaan itu kita bisa segera bangkit, tapi ada situasi-situasi tertentu yang saya dengar dari kesaksian beberapa orang yang benar-benar orang itu sulit sekali untuk keluar dari situ karena trauma. Saya pernah mendengar satu kesaksian yang benar-benar terjadi di Jawa Tengah, seorang bapak mempunyai kebiasaan memanaskan mobil atau menghidupkan mobil pada waktu pagi. Suatu kali dia tidak sadar bahwa anaknya yang kecil yang baru belajar berjalan mengikutinya dari belakang, jadi dia tiba-tiba lagi mundurkan mobil, anaknya tergencet di belakang dan benar-benar meninggal dunia. Membutuhkan waktu yang benar-benar lama untuk bisa menjadikan dia survive lagi. Dia benar-benar trauma dan tidak berani mengendarai mobil. Apa itu yang disebut dia terpenjara di situ atau juga apa kita tidak bisa mengerti dengan situasi seperti itu Pak Paul?

PG : Saya kira akan selalu ada reaksi setiap kali kita mengingat perbuatan salah kita. Yang saya maksud di sini adalah bukannya sama sekali tidak mengingat atau merasakan apa-apa. Tetap ada tap kita tidak lagi dipenjarakan olehnya, kita belajar berkata bahwa ada Tuhan yang sudah mengampuni saya.

Ada Tuhan yang sudah menerima anak saya itu. Jadi dengan kata lain meskipun kita tetap merasakan luka itu dan tertusuk kenapa saya bisa begitu lalai seperti itu, tapi itu tidak berlangsung berlarut-larut sampai kita itu lumpuh tidak bisa memikirkan masa depan.
GS : Tetapi ada orang juga yang walaupun sudah mengakui dosanya di hadapan Tuhan dia masih merasa belum yakin bahwa dirinya itu sudah diampuni dosanya. Jadi setiap kali teringat itu ya dia terus menaikkan pengakuan dosa lagi untuk itu.

PG : Kalau menaikkan dan mengingatkan diri supaya sekali lagi ingat Tuhan mengampuni. Saya kira tidak apa-apa berdoa seperti itu. Meskipun secara fakta Tuhan sudah mengampuni. Tapi sebagai manuia kadang kala kita perlu berdoa seperti itu lagi.

Meminta ampun lagi sebetulnya untuk kepentingan kita. Untuk supaya kita merasakan damai, tenteram walaupun sebenarnya Tuhan sudah mengampuni sejak pertama kita mengakui dosa kita.
GS : Ya, Pak Paul apakah ada ayat firman Tuhan yang mendukung perbincangan kita ini Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan 2 Korintus 7:10, "Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak disesalkan, tetapi dukacita yangdari dunia ini menghasilkan kematian."

Kalau saya boleh simpulkan ini rasa bersalah dengan Tuhan memberikan kita pengharapan, rasa bersalah tanpa Tuhan membawa kita kepada kematian. Sebab kita akan masuk terpenjara berkubang terus di dalam penyesalan masa lampau. tapi dengan Tuhan rasa bersalah itu akhirnya melahirkan suatu karakter yang lebih baik dan akhirnya kita menjadi orang yang juga lebih bijak, lebih matang, lebih rohani nah itu karena faktor Tuhan. Belum lagi kita bisa terus bersandar bahwa kita belum selesai Tuhan masih memelihara memimpin hidup kita. Dan Dia menjanjikan pengampunan.
GS : Ya, saya jadi teringat akan penyesalannya Petrus dan penyesalannya Yudas Iskariot, itu berbeda sekali?

PG : Betul sekali. Yudas akhirnya membunuh diri karena dia mempunyai rasa bersalah tanpa Tuhan. Petrus juga merasa bersalah tapi dengan Tuhan dan akhirnya justru Petrus yang direstorasi dipakaiTuhan menjadi rasul Tuhan.

GS : Ya, jadi saya rasa setiap kita semua orang bisa saja melakukan kesalahan Pak Paul?

PG : Betul sekali. Kita tidak sempurna kita akan melakukan kesalahan baik kesalahan kecil maupun kesalahan besar tapi kita tetap meyakinkan diri Tuhan lebih besar daripada kesalahan kita yang pling besar.

GS : Ya, terima kasih sekali Pak Paul, terima kasih juga Ibu Wulan untuk perbincangan kali ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih bahwa Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Rasa Bersalah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK JL. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



24. Dari Kejatuhan Menuju Kemenangan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T148B (File MP3 T148B)


Abstrak:

Ada orang yang justru karena kejatuhan berubah menjadi manusia yang lebih baik tetapi ada juga yang menjadi semakin buruk. Salah satu penyebabnya adalah karena cara menghadapi kejatuhan atau dosa yang tidak sama. Untuk itu kita perlu tahu bagaimana menghadapi semua itu dengan benar.


Ringkasan:

Yang harus kita perbuat pada saat kita mengalami kejatuhan:

  1. Akui perbuatan kita apa adanya; jangan mencoba membenarkan diri atau mengurangi kadar kesalahannya.

  2. Lihatlah apakah ada firman Tuhan yang tersurat maupun tersirat yang telah kita langgar. Bedakan antara rasa malu, penyesalan, dan rasa bersalah.

  3. Datanglah kepada Tuhan yang menjanjikan pengampunan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. " (1 Yohanes 1:9)

  4. Ingatlah, rasa bersalah tanpa Tuhan membuahkan kematian namun rasa bersalah dengan Tuhan, menghasilkan keselamatan.

  5. Rasa bersalah sejati membuahkan pertobatan; pertobatan sejati menghapuskan rasa bersalah. Pertobatan berarti mengubah arah, berusaha berhenti melakukan perbuatan yang salah.

  6. Ingatlah, perkataan Ralph Waldo Emerson, "Keagungan kita bukanlah dikarenakan kita tidak pernah jatuh melainkan kita selalu bangkit setiap kali kita jatuh."

  7. Camkan nasihat Pdt. Gordon McDonald, "Orang yang paling merdeka di dunia ini adalah orang yang memiki hati yang terbuka, jiwa yang hancur, dan arah yang baru." Hati yang terbuka artinya, terbuka mau menerima teguran Tuhan. Berani dan sanggup berkata: "Tuhan, saya salah," terbuka tidak menutup-nutupi, tidak berkelit. Orang yang memiliki jiwa yang hancur, artinya bukan saja berani melihat tetapi berani menangisi perbuatan atau kesalahan kita.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Wulan S.Th. akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Dari Kejatuhan Menuju Kemenangan", kami percaya acara ini pasti akan bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, beberapa waktu yang lalu kita memperbincangkan tentang rasa bersalah dan kita tahu semua orang memiliki rasa bersalah karena semua orang juga pernah salah. Tetapi masalahnya bagaimana kita menyikapi kesalahan yang sudah kita lakukan. Nah, ini kadang-kadang kita menemui banyak kesulitan. Langkah awal apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa bersalah itu?

PG : Pak Gunawan, bahasan kita kali ini memang saya tujukan secara khusus kepada anak-anak Tuhan yang terlibat dalam pelayanan. Dengan kata lain ini adalah untuk orang-orang Kristen yang memng sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan, ingin melayani Tuhan, dan terlibat dalam pelayanan, dan sebagainya.

Kita tidak sempurna adakalanya kita salah, kita jatuh, kita berdosa. Nah, apa yang harus kita perbuat pada waktu kita mengalami kejatuhan. Saya melihat seperti ini Pak Gunawan justru dalam kejatuhan akan muncul dua perubahan atau muncul dua reaksi yang saling bertentangan atau justru berlawanan. Maksud saya begini ada orang yang justru karena kejatuhan berubah menjadi manusia yang lebih baik. Tapi sebaliknya ada orang setelah kejatuhan atau gara-gara mengalami kejatuhan menjadi orang yang lebih buruk daripada sebelumnya. Nah, mengapa ada yang seperti itu? Mengapa ada sebagian orang justru bertambah baik, mengapa ada sebagian orang justru bertambah buruk. Saya kira salah satu penyebabnya adalah karena cara menghadapi kejatuhan atau dosa yang tidak sama. Justru itulah yang akan kita bicarakan pada kesempatan ini Pak Gunawan.
GS : Jadi langkah awalnya apa Pak Paul?

PG : Yang pertama adalah kita mesti mengakui perbuatan kita apa adanya. Saya mau menggaris bawahi kata mengakui. Mengakui berarti kita ini berkata jelas bahwa ini salah, bahwa ini dosa. Kitamempunyai kekuatan rasionalisasi di mana kita bisa mengubah hal sekotor apapun menjadi sebersih yang kita inginkan.

Berhati-hatilah dengan kemampuan kita untuk berasionalisai yang kita juga harus tekankan di sini adalah apa adanya. Jangan kita ini mengurangi kadarnya, keseriusannya, jangan melabelkannya dengan cara yang lain, dan sebagainya. Misalkan sekarang ini kata zinah hampir kita tidak gunakan. Yang lebih sering kita gunakan adalah kata selingkuh. Celakanya kata selingkuh itu terdiri dari dua kata yang bila dipisah dari kata kuh berarti seling nah seling itu berarti suatu selingan dan kata selingan itu tidak berkonotasi buruk. Selingan sesuatu yang kita lakukan di tengah-tengah kegiatan kita yang lain. Seolah-olah hanya sebatas itulah perselingkuhan. Jadi kita tidak bisa memanggilnya hanyalah oh ini selingkuh, ini ya saya lagi kilaf, tidak. Dosa adalah dosa, apa adanya kita harus akui inilah prasyarat yang pertama Tuhan meminta kita datang kepadaNya mengakui apa adanya tidak merasionalisasi, tidak mengurangi kadarnya. Jangan belum apa-apa sudah menyalahkan orang. Oh orang ini membuat saya begini, begitu, tidak itu bukanlah yang Tuhan inginkan.
WL : Pak Paul, bagaimana kalau orang-orang tertentu atau hamba Tuhan yang memang sudah terbentuk kuat sekali yaitu pola defence sering-sering menyalahkan orang lain atas berbagai kesalahan. Lalu kita bilang (seperti yang diajarkan ini, point pertama) mengapa kamu sulit benar mengakui kesalahan? Lalu dia jawab: "Saya mau mengakui, cuma masalahnya bukan saya yang salah, tetapi orang itu yang salah." Berulang-ulang dia mengucapkannya, terus bagaimana itu Pak Paul?

PG : Ya, ada orang yang memang seperti yang Ibu Wulan katakan, begitu susah untuk bisa mengakui kekurangannya. Dia mungkin mempunyai anggapan ya dia benar, dia selalu harus benar dan orang hrus mengakui bahwa dia benar.

Jadi karena dia sudah beranggapan bahwa dia harus benar berarti yang salah adalah orang lain. yang juga sering kita dengar misalkan seperti ini ada orang marah dan kalau marah memukul pasangannya. Nah, orang seperti ini sering kali waktu ditanya mengapa memukul dia justru berkata: "Pasangan saya yang membuat saya itu jadi lepas kendali, maka saya memukul dia." Jadi seolah-olah sekali lagi kontrolnya itu tidak ada pada dirinya tapi pada diri orang lain. Orang yang seperti ini memang ingin jalan pintas bebas dari sangsi, bebas dari tanggung jawab terhadap konsekuensi perbuatannya. Dan dia akan menggunakan segala cara untuk bisa melepaskan diri dari lilitan sangsi yang seharusnya ditanggungnya itu.
GS : Ya, Pak Paul kalau kita mau menilai kesalahan kita, dosa kita itu sesuai apa adanya mesti ada tolak ukurnya, ada alat untuk mengukurnya, ada standarnya, nah ini apa Pak Paul?

PG : Standarnya adalah firman Tuhan Pak Gunawan. Jadi langkah berikutnya adalah kita mesti melihatnya apakah ada firman Tuhan baik yang tersurat maupun yang tersirat yang telah kita langgar.Kita harus mengukurnya kembali ke sana.

Sekali lagi saya mau tekankan kita mesti mengenal Tuhan kita, sehingga bukan perintahnya saja yang tersurat yang kita bisa kenali tapi kita juga bisa mengenali perintahnya yang tersirat. Karena tidak semua hal yang ada dalam hidup ini sekarang ini tersuratkan di dalam Alkitab. Beda budaya dan sebagainya. Maka kita harus bisa menangkap isi hati Tuhan yang mungkin tidak terlalu jelas terlihat dari cerita-cerita yang kita baca pada firman Tuhan. Kita penting melihat firman Tuhan sebagai tolak ukur kita agar kita tidak terjebak ke dalam campuran-campuran perasaan yang sesungguhnya bukanlah rasa bersalah. Misalnya rasa malu, malu kita tahu adalah reaksi yang sebetulnya lebih dipicu oleh tuntutan masyarakat atau budaya atau kelompok di mana kita hidup. Belum tentu itu berkaitan dengan suatu pelanggran firman Tuhan dan juga kita harus bedakan dengan penyesalan belaka. Penyesalan sering kali dipicu oleh kita melihat dampak perbuatan kita pada orang jadi kita menyesalinya. Atau kita tertangkap basah orang-orang melihat kita, kita merasa mengapa saya berbuat hal seperti itu? Kita menyesali. Namun dalam hati tidak sungguh-sungguh merasakan itu adalah suatu kesalahan. Jadi penting tolak ukur kita itu jelas firman Tuhan. Kalau firman sudah katakan ini tidak benar ya ini tidak benar.
GS : Ya, tapi sering kali orang justru menghindar dari itu Pak Paul karena dia katakan makin saya baca firman Tuhan makin saya itu jadi orang rewel, ini tidak boleh, itu tidak boleh, ini salah, itu salah begitu Pak Paul.

PG : Sebetulnya dalam rel Tuhan justru kita merasakan kemerdekaan, di luar rel Tuhan benar kita akan banyak tidak bolehnya. Jadi saya umpamakan seperti ini orang tua yang melarang anaknya keuar dari pagar rumah, mengapa, sebab di luar pagar itu kebetulan jalan besar, banyak kendaraan bermotor lalu lalang.

Sudah tentu si anak berkata mengapa saya tidak bebas? Tapi orang tua mengerti kalau engkau dibebaskan masuk ke jalan raya itu akan membahayakan jiwamu. Maka nikmati kebebasan dalam pagar ini karena dalam pagar inilah engkau justru tenteram tidak ada bahaya di sini.
WL : Pak Paul kalau kita bicara tentang firman Tuhan sebagai tolak ukur, berarti berkaitan dengan seberapa dalam atau seberapa besar kita tahu atau kita kenal firman Tuhan itu Pak Paul?

PG : Tepat sekali Bu Wulan, kalau memang pengenalan kita sangat sedikit sudah tentu konsep kita akan dosa itu bisa dan sebagainya itu bisa samar dan tidak tepat sasaran. Saya pernah misalkanbercanda dengan beberapa teman kemudian ada teman saya yang baru bertobat.

Langsung tiba-tiba dia menegur saya dengan keras, dia berkata kamu bicara sia-sia tidak boleh bicara sia-sia. Padahal bercanda itu adalah bagian dari kehidupan tapi memang dia baru bertobat. Dan dia baru belajar tentang jangan bicara sia-sia. Dia tidak mengerti secara jelas maksud Tuhan itu apa dengan yang namanya bicara sia-sia. Bercanda dalam batas tertentu memang bukanlah bicara sia-sia itu bagian dalam percakapan manusia untuk bisa menghibur diri. Jadi memang perlu kenal Tuhan. Firman Tuhan memberikan kita janji pengampunan Bu Wulan. Nah ini yang kita harus ingat 1 Yohanes 1:9 berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Dia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Ini firman Tuhan bukan firman manusia dan Tuhan tidak berbohong. Jadi kalau Dia berjanji kalau kita mengaku dosa, maka Ia akan mengampuni, nah kita pegang janji Tuhan itu, Dia tidak berbohong. Yang sering kali kita lakukan adalah kita tidak merasa diampuni sebab kita tidak melihat apa-apa atau kita tidak merasakan apa-apa setelah berdoa meminta pengampunan. Kalau kita tiba-tiba melihat Tuhan menampakkan diri dan berkata Aku ampuni engkau Paul, nah kita mungkin bisa terima itu. Masalahnya bukan dengan cara itulah Tuhan bekerja. Tuhan menginginkan kita beriman. Kita percaya pada firmanNya, meskipun kita tidak melihat wujudnya, itulah yang Tuhan inginkan. Maka kita berkata Tuhan engkau berjanji saya sudah diampuni berarti saya sudah diampuni berdasarkan imanlah kita mengatakan itu.
WL : Pak Paul, kalau frman Tuhan ini rasanya saya membayangkan sambil mendengar yang Pak Paul katakan, itu Tuhan Allah seperti seorang bapak yang hangat kalau kita salah kita berdosa kita datang lalu dia peluk kita dielus kepala kita. OK saya mengampuni kamu dan saya mengerti mengapa kamu begini dan begitu. Tapi saya membayangkan ada orang-orang tertentu dan banyak yang lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat keras tidak memiliki seorang ayah yang seperti itu. Justru kalau si A ini mengaku kesalahannya di hadapan papanya justru konsekuensinya dia semakin dimaki tidak bisa ditolerir kesalahan apapun. Jadi dia mengembangkan pola lain, lebih baik berbohong demi rasa aman. Dan papanya memang lebih terima pola yang seperti ini. Jadi ada gap antara papa yang asli di dunia ini dengan ketika misalnya dia bertobat dan kenal Allah yang begitu welcome, hangat seperti firman Tuhan ini Pak Paul.

PG : Saya kira akan ada pengaruhnya latar belakang kita itu. Kalau memang kita dibesarkan oleh ayah yang seperti Ibu Wulan katakan bisa jadi dalam berelasi dengan Tuhan kita membawa pola-pol tersebut.

Sehingga kita tidak mudah mengaku meminta ampun, ada juga orang yang susah minta ampun karena gengsi akhirnya dengan Tuhanpun dia gengsi minta ampun, misalkan ada yang seperti itu. Saya kira bisa jadi. Jadi pengaruh-pengaruh itu masih mewarnai sikap kita tapi mari kita membaca lagi firman, kita kenal Tuhan berdasarkan firmanNya. Jangan sampai kita terjebak dalam teropong kehidupan kita. Jadi kita meneropong Tuhan melalui kacamata pengalaman kita dengan keluarga kita. Nah, itu yang harus kita tanggalkan teropongnya yang kita pakai dulu itu. Teropong kita adalah firman Tuhan sendiri. Kita kenal Tuhan seperti yang Alkitab sudah katakan. Memang di Alkitab Dia adalah Allah yang panjang sabar, penuh kemurahan seperti itu.
GS : Ya, ada orang yang merasa baru lega atau merasa yakin bahwa dosanya diampuni setelah dia berbicara dengan orang lain misalnya dengan pendetanya atau dengan rekan seimannya dan sebagainya. Setelah dibacakan firman Tuhan dan sebagainya dia merasa lebih nyaman dia memang merasa seperti itu, dia sebenarnya bisa baca sendiri kan Pak paul?

PG : Karena kita memang membutuhkan peneguhan-peneguhan Pak Gunawan sebagai manusia. Adakalanya kita sudah tahu tapi kita mau mendengarkan peneguhan kembali bahwa engkau sudah diampuni Tuhan Nah, sudah jangan persoalkan lagi.

Kadang-kadang itulah yang kita butuhkan. Tapi yang tetap kita mau ingatkan diri kita adalah ini Pak Gunawan bahwa rasa bersalah dengan Tuhan itu akan menghasilkan keselamatan. Ini perlu kita garis bawahi sebagai seorang Kristen. Rasa bersalah dengan Tuhan menghasilkan keselamatan. Karena kita tahu kesalahan kita, dosa kita Tuhan ampuni. Dan karena Tuhan ampuni kita menerima pengampunan, kita menerima keselamatan itu. Tapi rasa bersalah di luar Tuhan tidak melibatkan Tuhan itu memang benar-benar membawa kepada kematian. Masalah dosa bukanlah masalah yang manusia bisa selesaikan. Kalau kita berdosa kepada sesama kita bisa minta maaf. Tapi kalau kita berdosa kepada Tuhan tentu hanya Tuhan yang bisa memberikan maaf atau ampunan. Maka kepadaNyalah kita harus datang. Kalau ada orang yang mengalami persoalan dengan dosa dia tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri, itu memang wewenang Tuhan, dosa dilakukan terhadap Tuhan. Jadi wewenang Tuhanlah mengampuninya. Dan waktu dia mengampuni keselamatanlah yang dia berikan. Itulah janji Tuhan.
WL : Pak Paul, saya pernah membaca otobiografinya Martin Luther. Saya menjulukinya sangat peka, sangat murni seolah-olah di hadapan Tuhan. Jadi kalau dia berbuat kesalahan sedikit saja sampai dia mengaku dosa sampai berlutut dan naik tangga setiap tangga dia berlutut lagi, dia nangis dan lain sebagainya. Seolah-olah terus belum terpuaskan. Seolah-olah menganggap Tuhan belum mengampuni. Apakah seperti itu terlalu kemurnian, terlalu putih, sehat atau tidak seperti itu Pak Paul?

PG : Saya kira tidak sehat. Kalau tidak salah pada akhirnyalah Martin Luther itu meyakini Tuhan sudah mati untuknya, menebus dosanya. Waktu dia merenungkan tentang pengorbanan Tuhan Yesus dikayu salib dan di saat itulah waktu dia membaca merenungkan kisah penyaliban Tuhan tiba-tiba dia disadarkan bahwa dosanya sudah diampuni Tuhan.

Itu katanya pertama kali Luther sungguh-sungguh mengalami pengampunan Tuhan. Dan bahwa dia tidak harus lagi bekerja, berbuat untuk mendapatkan pengampunan Tuhan ini. Jadi memang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghapus dosa kita, tidak ada. Kita hanya perlu datang kepadaNya mengakui dosa kita, meminta Tuhan mengampuni kita dan kita yakini bahwa Dia yang sudah berjanji akan mengampuni.
GS : Ya, apakah penjahat yang ada di samping Tuhan Yesus itu yang dijanjikan engkau hari ini juga bersama-sama dengan Aku di Firdaus, apakah itu bentuk pengakuan dosa dari penjahat itu Pak Paul?

PG : Nah di sana kita bisa melihat Pak Gunawan, bahwa Tuhan itu lebih besar daripada pengakuan-pengakuan verbal. Meskipun si orang jahat itu tidak pernah berkata Tuhan Yesus ampuni saya, tidk pernah berkata begitu.

Tapi Tuhan sudah tahu dia memang mengakui dosanya. Dari manakah kita bisa meręka itu, menebak bahwa Tuhan memang melihat bahwa dia sudah mengakui dosanya. Sebab waktu kawannya meledek Tuhan, dia menegur kawannya. Dan dia berkata kita selayaknya menerima ini, tapi orang ini yaitu Yesus tidak selayaknya menerima ini. Dengan kata lain dia memang sudah berdamai dengan dirinya. Dia sudah melihat bahwa ini memang perbuatan dosanya dan selayaknyalah dia menerima hukuman salib ini. Nah, dengan kata lain ya itulah pengakuan dia dan Tuhan sudah mendengar pengakuannya. Makanya waktu dia berkata ingatlah aku pada waktu Engkau turun di Firdaus, Tuhan berkata: "Hari ini juga engkau sudah bersama-sama denganKu di Firdaus." Jadi Tuhan sudah langsung menjanjikan keselamatan itu.
GS : Berarti pengakuan dosa itu membawa perubahan di dalam kehidupan seseorang?

PG : Seyogyanyalah Pak Gunawan, rasa bersalah itu membuahkan pertobatan. Pertobatan adalah suatu perubahan arah, kita berhenti melakukan perbuatan yang salah, nah itulah pertobatan. Rumusnyaadalah ini Pak Gunawan, rasa bersalah sejati akan membuahkan pertobatan sedangkan rasa bersalah semu tidak membuahkan pertobatan, hanya jera sebentar saja terus melakukan lagi.

Tapi rasa bersalah sejati membuahkan pertobatan. Dan pertobatan sejati menghapuskan rasa bersalah. Justru kalau kita sudah bertobat kita tidak lagi dikuasai oleh rasa bersalah. Kita bisa langsung mengklaim kalau kita digoda, dituduh lagi oleh rasa bersalah kita langsung mengklaim darah Tuhan Yesus sudah dicucurkan untuk semua dosaku, Tuhan sudah mengampuni dosaku. Nah, aku tidak lagi bersalah. Yang mesti kita ingat adalah juga perkataannya Ralph Waldo Amerson dia berkata begini: "Keagungan kita bukanlah dikarenakan kita tidak pernah jatuh, melainkan kita selalu bangkit setiap kali kita jatuh." Ini bagus sekali Pak Gunawan dan Ibu Wulan. Kita ini bukan orang yang sempurna, kadang kita jatuh, nah keagungan kita terletak pada fakta ini. Waktu kita jatuh kita bangun. Itu yang membuat kita sebagai manusia agung.
GS : Ya, kadang-kadang ada perasaan enggan untuk bangun lagi Pak Paul karena berpikir kok jatuh di tempat yang sama itu berkali-kali Pak Paul?

PG : Meskipun kita belum bisa sempurna selesai dengan kesalahan kita, tapi kita mesti membuat atau mengambil langkah kecil. Langkah-langkah kecil yang berubah yang berbeda dari perbuatan kit yang sebelumnya.

Saya teringat perumpamaan yang dipaparkan oleh C.S.Lewis dia berkata: "Kalau kita membuat ujian dan mengosongkannya kita dapat nilai 0. Tapi kalau kita mencoba menyelesaikan ujian itu meskipun salah semua, guru akan memberikan kita nilai walaupun hanya 1 atau 2." Dia berkata Tuhan seperti itu. Tuhan tentu senang kalau bisa melihat hasil akhirnya. Kita benar-benar berbeda tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Tapi meskipun itu belum bisa kita capai kalau saja kita sudah mengambil langkah-langkah kecil, usaha-usaha itu kita sudah keluarkan, itulah yang Tuhan catat. Jadi ini yang harus kita ingat Tuhan mencatat usaha-usaha kita untuk memperbaiki dosa kita.
WL : Dengan kata lain Tuhan sangat memperhatikan dan menghargai prosesnya ya Pak Paul dan bukan hasilnya?

PG : Tepat sekali Bu Wulan. Memang kita ini manusia sering kali lebih kurang sabar dibandingkan Tuhan. Tuhan jauh lebih sabar dengan kita. Meskipun belum mencapai puncaknya tapi kenyataan kia sudah mulai mendaki meskipun setelah mendaki 2 atau 3 meter merosot lagi turun ke bawah, tetap itu yang Tuhan catat.

WL : Tapi yang lebih sering kita down ya, aduh mengapa saya sejelek itu, mengapa tidak berhasil-berhasil untuk bangkit?

PG : Ya, saya kira perasaan itu alamiah, manusiawi kita merasa mengapa saya tidak ada perubahan, mengapa saya masih sama. Tapi jangan sampai suara-suara itu memadamkan semangat kita untuk beubah.

Itulah yang diinginkan oleh iblis. Sudah jangan berbuat lagi kamu percuma tidak perlu lagi berusaha, terimalah kondisi kamu. Oh tidak. Kita tetap mau berusaha meskipun kita belum selalu berhasil. Yang terakhir Pak Gunawan dan Ibu Wulan yang saya ingin sampaikan adalah nasihat dari Pdt. Gordon McDonald, dia berkata begini: "Orang yang paling merdeka di dunia ini adalah orang yang memiliki hati yang terbuka, jiwa yang hancur, dan arah yang baru." Gordon McDonald seorang yang mengerti apa yang dia katakan. Dia pernah jatuh ke dalam dosa dan Tuhan tetap memeliharanya. Dia melewati proses pembimbingan, pemulihan secara bertahun-tahun, gereja asalnya memanggilnya kembali menggembalakan gerejanya. Tuhan memberikan kesempatan kepada dia melayani Tuhan kembali. Nah inilah yang dia katakan. Orang yang paling merdeka di dunia ini adalah orang yang memiliki hati yang terbuka artinya apa, terbuka mau menerima teguran Tuhan. Berani dan sanggup berkata Tuhan saya salah terbuka tidak menutup-nutupi, tidak berkelit dan dia katakan berikutnya orang yang memiliki jiwa yang hancur. Artinya bukan saja berani melihat tetapi berani menangisi perbuatan kita, kesalahan kita. Rupanya inilah yang Pdt. Mc Donald juga harus hadapi adalah kehancuran hidupnya, kehancuran jiwanya, karena dosa yang dilakukannya. Tapi orang yang paling merdeka di dunia ini adalah orang yang memiliki arah yang baru. Inilah yang membedakan kita dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Kita mempunyai arah yang baru, sebab Tuhan tidak meninggalkan kita. Tuhan tetap memberi kita lembar yang baru untuk kita tulisi, arah yang baru. Dia akan pimpin lagi meskipun mungkin saja pimpinannya itu tidak seperti yang kita duga atau kita pikirkan sebelumnya.
GS : Jadi mungkin ada himbauan atau saran dari Pak Paul khususnya kepada para pendengar kita yang saat-saat ini mungkin lagi jatuh dan merasa bersalah dan mencoba untuk bangkit kembali Pak Paul?

PG : Saran saya adalah ini dengarkan Tuhan, nomor satu dengarkan Tuhan. Orang boleh didengarkan tetapi nomor duakan. Perasaan sendiri boleh didengarkan tetapi nomor duakan juga. Nomor satu dngarkan Tuhan, apa yang Tuhan katakan pegang itu sebagai fondasi kita.

Mungkin rumah kita itu sudah hancur tapi fondasi kita masih ada dan di situlah kita tetap berdiri. Fondasinya adalah janji Tuhan. Kita tahu Tuhan penuh kasih, Dia tidak begitu saja melepaskan kita.

GS : Ya, terima kasih Pak Paul itu suatu penghiburan dan kekuatan sekaligus motivasi bagi para pendengar kita yang mungkin saat-saat ini sangat membutuhkannya, juga terima kasih Ibu Wulan untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Dari Kejatuhan Menuju Kemenangan" dan bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda. Sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



25. Pembelaan Diri dan Pengembangan Diri


Info:

Nara Sumber: Heman Elia, M.Psi.
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T164B (File MP3 T164B)


Abstrak:

Membela diri adalah suatu sifat yang manusiawi, sering kali timbul secara otomatis meskipun kita tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Untuk mengubah pola itu ada langkah-langkah yang perlu kita ketahui, khususnya dalam kaitan dengan pengembangan diri kita.


Ringkasan:

Membela diri adalah suatu sifat yang manusiawi dan cukup sering kita memang perlu menjelaskan posisi kita, yakni mengapa kita mengambil tindakan tertentu dan bukan tindakan lainnya. Namun tidak setiap tindakan manusiawi adalah tindakan yang dapat dibenarkan atau dapat diterima.

Dalam kaitan dengan pengembangan diri, ada pembelaan diri yang justru menghambat pengembangan diri itu, yaitu kalau kita menutupi kesalahan kita atau kalau motivasi kita tidak mau disalahkan. Pembelaan diri bila dilakukan terus-menerus menunjukkan adanya bagian dari diri kita yang sedang mengalami masalah. Salah satunya kita tidak ingin dilihat buruk, karena kita tidak merasa aman dengan diri kita sendiri. Kita sengaja menutup diri, melindungi diri dari masukan orang lain, dengan demikian tidak bisa mengembangkan diri secara optimal.

Sebaliknya ada orang yang tidak pernah membela diri. Ia tampak selalu merendah dan meminta maaf, sering kali juga untuk kesalahan yang dilakukan orang lain. Orang seperti ini tergolong orang yang kurang mampu mengembangkan dirinya, takut dengan hukuman sosial dan cenderung menolak untuk bertanggungjawab.

Ketika kita terdorong untuk membela diri maka perlu dipertimbangkan beberapa hal. Kita perlu peka dan rela melihat kelemahan diri kita. Kalau kita salah, kita belajar mengakui kesalahan itu. Kalau kita benar, namun dipersalahkan, kita juga tidak perlu dengan berbagai cara menjatuhkan orang yang mempersalahkan kita.

Pembelaan diri awalnya muncul dalam bentuk pikiran-pikiran yang saling membela atau menuduh dalam diri kita. Pikiran-pikiran yang menghalangi pertumbuhan diri memiliki ciri-ciri ingin terus mempertahankan pola lama, tidak terbuka terhadap kritik dan masukan serta menaruh tanggungjawab dan kesalahan pada hal yang di luar dirinya.

Pikiran yang lebih sehat adalah pikiran yang lebih meletakkan persoalan dan tanggungjawab pada diri kita, lebih terbuka terhadap kritik yang positif dan mempunyai kesediaan memperbaiki diri.

Sering kali kita otomatis membela diri kita meskipun kita tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Untuk mengubah pola itu, pertama kita perlu menyadari apa yang sedang kita lakukan dan mengapa kita melakukannya. Kedua, kita selalu mengingatkan diri kita dan mengambil komitmen untuk mengembangkan diri, betapa pun itu menyakitkan. Ketiga, kita perlu mengganti pikiran-pikiran yang kurang berani bertanggungjawab dengan pikiran yang lebih baik, lebih terbuka terhadap perbaikan diri. Itu perlu dilakukan terus-menerus, terutama ketika pikiran-pikiran yang kurang mengembangkan diri muncul dalam diri kita.

Firman Tuhan diambil dari Mazmur 51:1-8.


Transkrip:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun Anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) dan kali ini saya ditemani Ibu Wulan, S.Th., kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pembelaan Diri dan Pengembangan Diri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Heman, siapa pun orangnya tentu akan membela dirinya sendiri karena memang sulit mengharapkan orang lain membela diri kita kalau kita sendiri tidak mampu membela diri sendiri, tapi sejauh mana hal itu bisa kita lakukan, Pak Heman?

HE : Membela diri memang adalah suatu sifat yang manusiawi. Kalau membela diri itu sudah kelebihan apalagi kalau kita sudah jelas-jelas melakukan kesalahan, tetap kita tidak mau disalahkan dan da dorongan yang kuat dalam diri kita untuk bertahan, nah itu berarti sudah tidak wajar.

GS : Tapi memang kita itu dibekali oleh Tuhan dengan pertahanan diri yang secara otomatis keluar kalau misalnya ada bahaya, maka kita lari atau kalau disalahkan kita membela diri dulu, begitu Pak.

HE : Memang itu manusiawi sekali ya, kita membela diri juga dalam hal-hal yang bersifat psikologis, tetapi yang manusiawi itu belum tentu adalah tindakan yang dapat dibenarkan atau secara otomais dapat diterima.

Sebagai contoh yang saya kira sangat menarik adalah waktu manusia yang pertama, Adam dan Hawa, jatuh di dalam dosa maka mereka berusaha membela dirinya, jadi tidak mau langsung mengaku salah dan ini sebenarnya bagian dari dosa, bukan lagi sekadar tindakan alamiah tetapi ada bagian dalam dosa manusia.
WL : Kalau begitu pembelaan diri itu bisa menghambat pengembangan diri kita, ya Pak?

HE : Ya, tepat sekali. Pembelaan diri yang berlebihan terutama dan apalagi tanpa alasan-alasan yang rasional, itu adalah tindakan yang bisa menghambat pengembangan diri kita.

GS : Contohnya bagaimana itu Pak?

HE : Kalau misalnya kita terus-menerus melakukan pembelaan diri bahkan sebelum tahu benar masalahnya atau sudah jelas-jelas salah kita masih bertahan, maka itu antara lain karena kita tidak ma dilihat sebagai sesuatu yang buruk.

Jadi itu yang membuat kita senantiasa membela diri kita. Nah, kenapa kita tidak suka dilihat sisi buruk kita? Karena kita tidak merasa aman dengan diri kita sendiri, mungkin dilatarbelakangi karena kita tidak percaya diri atau merasa akan ditolak orang kalau kita tampak lemah, kalau kita kelihatan melakukan kesalahan. Jadi kelihatannya seolah-olah kita menutup atau membutakan diri terhadap kesalahan kita, padahal sebetulnya orang lain sudah tahu dan sudah bisa melihat kesalahan-kesalahan atau kelemahan kita.
GS : Ini 'kan dua-duanya kita inginkan. Kita mau membela diri kita supaya tidak dilecehkan orang, tetapi di satu sisi kita juga ingin mengembangkan diri kita semaksimal mungkin. Dalam hal ini, Pak Heman, kalau kita disalahkan terus-menerus, ya kita tentu akan membela diri, tetapi apa dampaknya terhadap pengembangan diri kita?

HE : Kalau kita misalnya terus-menerus tidak mau melihat bahwa sebetulnya ada juga masukan-masukan atau kritikan yang berguna dari orang lain bagi diri kita, maka kita langsung menghentikan kesmpatan untuk memperbaiki diri kita.

Nah di sini berarti kita sudah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri kita, ini yang menghambat.
WL : Pak Heman, ada orang yang dalam pergaulan kelihatannya dikatakan apa saja ya diam saja. Nampaknya terima saja, apakah karena ada faktor dari kecil sering dipersalahkan, di rumah selalu dikambinghitamkan atau bagaimana, apakah itu lebih baik dari yang tadi telah kita bahas, Pak Heman?

HE : Ya, ini pertanyaan yang baik sekali. Tentu saja orang yang selalu terima disalahkan dan sebagainya, belum tentu lebih sehat bahkan sama saja kemungkinan juga tidak sehat, karena orang-oran demikian kemungkinan kurang mampu mengembangkan dirinya.

Orang yang selalu tampak merendah dan juga meminta maaf, bahkan untuk kesalahan yang sebetulnya dilakukan oleh orang lain, itu tidak bisa berkembang karena mereka takut dengan hukuman sosial dan sering kali juga cenderung menolak untuk bertanggungjawab, jadi hubungannya adalah karena mereka takut dengan hukuman sosial, mereka meminta maaf. Karena dengan meminta maaf mereka tidak perlu lagi dituding atau dimintai pertanggungjawaban yang lain-lain.
WL : Ada kaitan atau tidak, Pak, dengan orang-orang tertentu dengan tipe yang sangat butuh penerimaan atau takut akan penolakan ('fear of rejection'), apakah ada kaitannya dengan hal ini, Pak?

HE : Sering kali memang ada kaitannya, jadi dua contoh yang kita sebutkan tadi, yang satu terus-menerus membela diri tidak ingin dipersalahkan dan yang satu lagi selalu menyalahkan diri, nah it adalah kemungkinan didasari oleh rasa takut untuk ditolak dan itu tentunya kurang sehat karena didasari juga oleh karena orang tersebut belum menerima dirinya secara penuh, belum merasa aman dengan dirinya.

GS : Ada yang secara jujur tidak mau mula-mula mengakui bahwa ia salah kalau ada orang yang menyalahkan dia, tapi diam-diam di belakang orang yang menyalahkan itu dia mengakui bahwa "memang sebetulnya saya itu salah, tapi caranya dia menegur saya itu yang saya tidak bisa terima". Itu yang selalu dikemukakan dan itu yang terjadi beberapa kali, sebenarnya orang ini sedang membela diri atau seperti apa itu, Pak?

HE : Ini bagian dari proses menuju kematangan tetapi belum betul-betul sangat matang sehingga meskipun ia terima tetapi masih ada rasa sakit di dalam hati yang dia ingin tutupi, yang ingin dia indungi.

Jadi dengan membuat alasan seperti itu dia ingin menutupi lukanya itu.
WL : Waktu kita mau membela diri dalam kasus kita dipersalahkan, itu sering kali refleks yang terjadi dalam diri kita 'kan, langsung kita melindungi diri, membela diri. Apakah ada saran-saran dari Pak Heman, faktor-faktor apa yang bisa kita pertimbangkan supaya lebih menolong, supaya kita belajar tidak langsung nyemprot orang lain atau bagaimana itu Pak.

HE : Ya mungkin ini perlu latihan juga yaitu kita lebih peka dan senantiasa mengecek dulu apa yang sebetulnya mendorong kita untuk cenderung membela diri dan tidak mendengar dulu dari pihak lain. Apakah mungkin kita mempunyai ketakutan-ketakutan yang tidak sehat atau gambaran diri yang buruk yang harus kita perbaiki. Nah kalau kita memang salah, kita perlu belajar. Tadi dikatakan bahwa secara otomatis kita cenderung langsung membela diri, maka kita sekarang belajar untuk mengakui kesalahan itu dan kita memperbaikinya. Kalau kita benar namun dipersalahkan, sikap kita juga tidak perlu dengan berbagai cara berusaha menjatuhkan orang yang mempersalahkan kita. Itu saya kira lebih sehat, kita melihat misalnya di dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab pun waktu mereka dipersalahkan, mereka tidak dengan serta-merta menjelaskan dan membela diri karena mereka yakin satu saat semuanya juga akan dibukakan atau diketahui.

GS : Memang faktor siapa menyalahkan kita itu akan sangat berperan, Pak, maksudnya kalau yang menyalahkan kita itu orang yang lebih senior dari kita atau apalagi atasan kita atau yang lebih berkuasa dari kita itu biasanya kita menerima saja, tapi kalau yang menyalahkan kita itu di bawah kita, lebih muda dari kita, langsung kita akan menolaknya.

HE : Ya, itu kebiasaan kita memang dan sebetulnya itu menunjukkan juga tingkat kematangan atau kedewasaan kita. Pada orang-orang yang sungguh dewasa bahkan untuk kritikan dari orang-orang yang erbawah pun, dari strata sosial masyarakat, dia tetap bisa terima dengan lapang dada dan saya kira ada beberapa pemimpin-pemimpin dunia yang sampai pada tingkat kematangan seperti itu.

Nah, kita baik kalau bisa mengarahkan diri ke arah yang seperti itu.
GS : Ada orang yang memang senang untuk dikritik bahkan minta dikritik dalam rangka pengembangan dirinya, katanya. Apakah hal itu wajar atau umum dilakukan, Pak? Jadi setiap kali dia ketemu temannya, minta supaya dirinya dikritik, dicari kesalahannya, kelemahannya, maksudnya supaya dia bisa berkembang, bertumbuh.

HE : Ya, tergantung motivasinya dan juga tergantung nanti reaksi berikutnya apakah memang betul ada perkembangan yang nyata dari dirinya, dia mau sungguh-sungguh belajar dari kritikan-kritikan tu ataukah sebaliknya justru setelah itu, setelah dikritik itu dia justru membela dirinya.

GS : Ya itu justru yang terjadi, malah terjadi suatu perdebatan yang tidak ada habisnya, berkepanjangan. Saya ingat temannya tadi mengatakan, "Lho tadi kamu minta dikritik sekarang sudah saya sampaikan malah jadi perdebatan" itu yang membuat temannya ini susah.

HE : Ya jadi akhirnya dorongan apa yang ada di balik itu menjadi lebih nyata.

WL : Pak Heman, tapi ada orang yang sebaliknya, jadi ada orang yang saya perhatikan misalnya menerima realita yang dia tidak suka, misalnya mendapat nilai yang tidak sesuai atau ada hal-hal yang disalahkan tapi bukan itu begitu, tapi di depan orang itu ya dia biasa-biasa saja, OK, nanti setelah pulang dia ngomel-ngomel. Di depan saya ngomel-ngomel, "Tidak seharusnya saya begini, begini, begini; orang itu kenapa begini, begini, begini". "Lho kok kamu tadi tidak ngomong atau memberikan respons apa atau kamu jelaskan posisi kamu begini, begini". "Ah ya sudahlah tidak apa-apa", tapi nanti begitu lagi berkali-kali sampai saya telinganya tuli juga. Saya yang ingin bicara ya nanti lain kali saya saja yang jelaskan. "Tidak usah, tidak usah", "Ya tapi kamu ngomel terus", sebenarnya apa yang terjadi, Pak Heman?

HE : Ya ini contoh yang baik sekali dari orang yang mempunyai ketakutan. Jadi kalau misalnya dia terus terang, dia tidak puas dan sebagainya, dia takut dengan konsekwensinya misalnya dengan hukman sosial dengan pandangan orang terhadap dirinya dan terutama itu tadi dengan penolakan.

GS : Memang seperti yang tadi Pak Heman katakan, motivasi yang ada dalam diri orang itu menentukan apakah dia akan bertumbuh atau tidak, berkembang atau tidak, Pak Heman. Dalam hal ini apakah ada contoh-contoh konkret, apa sebenarnya yang terlintas dalam benak seseorang itu sehingga ia sulit untuk bertumbuh?

HE : Ya ada beberapa contoh yang bisa kita simak di sini misalnya pikiran seperti ini, "Semua orang juga berbuat begitu, termasuk yang mengkritik saya" atau misalnya contoh lain, "Dia tidak menerti apa yang saya alami, coba kalau dia di posisi saya pasti dia juga melakukan hal yang sama", yang lain lagi, "Dia seharusnya tidak mengajak saya ke tempat itu, kalau saya tidak diajak tentunya saya tidak akan melakukan dosa itu", yang lain lagi, "Karena situasi dan lingkungan saya yang beginilah yang membuat saya sampai seperti ini".

Atau misalnya, "Kalau dia ngomong baik-baik saya masih bisa terima, tetapi karena dia ngomongnya kasar ya saya terpaksa harus berbuat seperti itu", seperti contoh Pak Gunawan tadi. Nah kesimpulannya di sini adalah pikiran-pikiran yang menghalangi pertumbuhan diri ini memiliki ciri-ciri ingin terus mempertahankan pola yang lama. Jadi dia membela diri supaya dia bisa berpegang pada pola yang lama, tidak terbuka terhadap kritikan dan masukan serta menaruh tanggungjawab dan kesalahan pada hal yang di luar dirinya. Nah ini beberapa ciri cara berpikir yang melumpuhkan dan tidak menyebabkan perkembangan diri.
WL : Pak Heman, boleh atau tidak kalimat-kalimat atau pikiran-pikiran pada contoh yang Pak Heman kemukakan tadi itu pertama-tama terlintas secara refleks, tapi waktu kita mencoba menerima, memahami situasinya, "Iya ya sulit kalau saya ada di posisi kamu juga mungkin saya belum tentu bisa mengatasinya dengan lebih baik dari kamu", itu 'kan dia bisa langsung reda dan kemudian ada pikiran-pikiran positif lain yang bisa muncul. Apakah itu juga bagus seperti itu, maksudnya pikiran ini cukup wajar muncul, Pak Heman.

HE : Ya, betul ini cukup wajar, jadi memang kebanyakan dari kita atau mungkin semua orang pada awal perkembangan dirinya memunculkan pikiran-pikiran seperti ini. Kalau seseorang ingin mengembankan diri menjadi lebih dewasa, lebih matang baik secara sosial maupun untuk kedewasaan dirinya, maka dia akan melalui tahapan-tahapan seperti ini.

Dia akan berusaha untuk menenangkan diri dan kemudian dia akan mengisi pikiran-pikirannya dengan yang lebih baik dan lebih sehat.
WL : Berarti ada pikiran-pikiran yang memang lebih positif, begitu Pak Heman? (HE : Ya ) Apakah Pak Heman bisa memberikan contoh-contohnya?

HE : Ada beberapa contoh yang kita bisa simak di sini misalnya pikiran seperti ini, "Meskipun kebanyakan orang lain berbuat seperti itu, saya tidak karena saya tahu Tuhan tidak suka saya melakuan hal itu".

Contoh yang lain lagi, "Peristiwa yang saya alami memang kurang menguntungkan, namun saya tahu justru dalam keadaan kurang menguntungkanlah seseorang itu bisa diketahui kualitasnya yaitu kalau dia lolos dari ujian itu", misalnya lagi, "Orang boleh ngomong apa saja tetapi kalau saya berbuat benar dengan motivasi yang tulus, mereka pun tidak bisa apa-apa", "Saya mempunyai kelemahan dan ini salah satu kelemahan saya yang akhirnya diketahui orang lain, saat ini yang saya perlukan adalah memperbaiki diri dan tidak perlu terus meratapi kesalahan itu". Ini beberapa contoh yang kesimpulannya adalah pikiran-pikiran ini lebih meletakkan persoalan dan tanggungjawab pada diri kita sendiri, lebih terbuka terhadap kritik yang positif dan mempunyai kesediaan untuk memperbaiki diri.
GS : Dalam hal ini, supaya kalau kita menghadapi kritikan atau menghadapi masalah dapat berpikir seperti ini, apa yang harus kita lakukan, Pak Heman?

HE : Ada beberapa hal, yaitu yang pertama kita perlu menyadari dulu apa yang sedang kita lakukan dan mengapa kita melakukannya, misalnya apakah kita mempunyai konsep diri yang buruk? Kalau ya,nah ini yang harus kita perbaiki lebih dulu.

Yang kedua, kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri dan mengambil komitmen untuk mengembangkan diri betapa pun itu menyakitkan. Memang kalau kita ingin mengembangkan diri, ingin menjadi lebih dewasa ada proses menyakitkan yang harus kita lewati. Dan yang ketiga kita perlu menggantikan pikiran-pikiran yang kurang berani bertanggungjawab dengan pikiran yang lebih baik, yang lebih terbuka terhadap perbaikan diri. Itu perlu dilakukan terus-menerus, terutama ketika pikiran-pikiran yang kurang mengembangkan diri itu muncul di dalam diri kita, jadi kita gantikan pikiran-pikiran yang kurang sehat itu.
WL : Pak Heman, apakah langkah-langkah tadi sama dengan represi, jadi ada pikiran yang salah langsung kita timpa, "Oh tidak, seharusnya saya tidak boleh begini, begini, begini", tapi ternyata suatu hari tertentu eh meledak, begitu Pak.

HE : Ya, kalau yang namanya represi berarti kita sedang menekan perasaan-perasaan kita supaya itu tidak muncul, tetapi yang kita lakukan ini berbeda. Perbedaannya adalah yang kita lakukan ini ita mengakuinya, kalau kita merasa sakit kita mengakuinya, kalau kita mempunyai gambaran diri yang buruk, kita takut ditolak orang, kita akui, lalu kita juga mengakui bahwa kita mempunyai kelemahan-kelemahan dan kelemahan-kelemahan yang masih bisa kita perbaiki, kita akan usahakan untuk perbaiki.

Jadi itu bedanya, kalau represi berarti menyangkali bahwa kita mempunyai masalah, sedangkan sebaliknya yang lebih sehat kita mengakuinya, menerimanya dan kita mengembangkan diri.
GS : Ada orang-orang yang memang dihinggapi perasaan rendah diri, nah ini membuat dia sulit untuk mengembangkan dirinya sendiri (HE : Ya ), nah dalam hal ini apakah karena orang ini terlalu sering disalahkan atau apa yang menyebabkan dia menjadi orang yang rendah diri seperti itu?

HE : Ada beberapa sebab memang, antara lain itu dia terlalu sering disalahkan. Penyebab lain juga banyak terjadi dalam keluarga-keluarga yang tidak harmonis, waktu ayah-ibunya bertengkar misalna lalu berkeluh-kesah kepada anaknya ini, sehingga dari kecil dia harus menanggung beban yang terlalu berat.

Anak-anak yang baik biasanya menyimpan lalu sepertinya dia harus menanggung beban-beban seperti itu. Dia menyimpan kemarahan-kemarahan tetapi dia tidak menyatakannya dan lebih baik dia simpan sendiri, seperti itu. Ya ini bisa menjadikan anak rendah diri atau mempunyai konsep diri yang buruk.
GS : Memang sulit untuk menyeimbangkan antara bagaimana kita membela diri dari serangan-serangan yang tidak seharusnya kita terima dan di satu sisi kita mau mengembangkan diri kita semaksimal mungkin, begitu Pak. Dalam hal ini apakah ada ayat Firman Tuhan yang Pak Heman ingin sampaikan untuk mempertegas pembicaraan kita pada saat ini.

HE : Ini adalah sebagian dari Alkitab yaitu pengakuan dosa dari Daud dalam Mazmur 51:1-8. Ayat-ayat ini cukup panjang tetapi bisa menggambarkan bagaimana seorang hambaNya yang bak ini dan rendah hati, dia bisa mengakui kesalahannya dan dia ingin memperbaiki dirinya, "Untuk pemimpin biduan.

Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku."
WL : Pak Heman, tapi doa ini atau penyesalan ini tidak terjadi begitu saja. Pada awalnya Daud tidak mengaku salah, terus ada proses dan akhirnya dia benar-benar merasa hancur begitu. Menurut Pak Heman, Tuhan lebih suka yang mana?

HE : Sebetulnya ini contoh yang baik sekali, yang tadi baru disebutkan. Tuhan lebih suka yang mana? Tentu saja Tuhan lebih suka mereka yang langsung mengaku dosanya dengan hati yang hancur danlangsung bertobat, tetapi tetap Daud ini adalah orang yang sangat dewasa di dalam kerohanian dan kita bisa melihat kisah selanjutnya dimana ketika dia dilecehkan orang dan sebagainya, dia terima.

Jadi dia tidak membela dirinya, tidak membenarkan dirinya, biarlah Tuhan yang menjadi Hakim bagi dirinya.
GS : Ya memang pada kasus-kasus tertentu kita melihat orang-orang yang sungguh mengasihi Tuhan seperti Ayub dan sebagainya yang kelihatannya dia membela dirinya ketika mengalami banyak penderitaan, tetapi akhirnya dia harus mengakui bahwa apa yang Tuhan lakukan bagi dirinya itu yang terbaik.

HE : Betul, Pak Gunawan, tepat sekali dan pada akhirnya seperti pada ayat 8 yang tadi sudah dibacakan. "Sesungguhnya Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin dan dengan diam-diam Engkau membeitahukan hikmat kepadaku".

Memang di sini diperlukan hikmat supaya kita bisa memilah, mana yang bisa mengembangkan diri kita, mana yang justru melumpuhkan.

GS : Terima kasih banyak Pak Heman untuk perbincangan ini, juga Ibu Wulan terima kasih. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih, Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Heman Elia, M.Psi. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pembelaan Diri dan Pengembangan Diri". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id. Kami mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



26. Hidup Bersukacita


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T167A (File MP3 T167A)


Abstrak:

Semua orang ingin hidup bersukacita dan bergembira tapi sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Dan pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita?


Ringkasan:

Semua orang ingin hidup bersukacita dan bergembira. Dan Alkitab pun kerap kali mengingatkan kita untuk hidup dengan bersukacita. Tapi pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sukar sekali mewujudkan sukacita di dalam diri kita. Hidup yang sehat adalah hidup yang bersukacita. Tapi masalahnya adalah kita harus benar-benar berjuang keras untuk menjadi sukacita. Karena sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Nah hal-hal seperti itulah yang akhirnya menurunkan kadar sukacita dalam hidup kita.

Filipi 4:4-7, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Yang pertama, Paulus meminta kita untuk bersukacita. Salah satu ciri khas kehidupan kristiani adalah kehidupan yang penuh sukacita. Nah pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita. Yang saya ingin tekankan adalah sukacita kristiani bukanlah bersumber dari situasi yang kita hadapi melainkan dari Kristus sendiri.
Sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, yang berarti bahwa kita tidak sendirian. Kristus mendampingi dan akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Setiap saat kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pilihan tetap memandang Kristus atau pilihan tidak lagi memandang Kristus. Sukacita itu perlu dipelihara. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memelihara sukacita itu. Paulus menegaskan bahwa kita membawa segala kekhawatiran kita dalam doa dan pengucapan syukur. Ini merupakan kata yang luar biasa pentingnya yaitu bersyukur. Paulus menekankan bahwa kita bisa memelihara sukacita dengan cara hidup bersyukur. Bersyukur berarti melihat apa yang telah Tuhan berikan atau lakukan. Masalahnya adalah kita hanya ingin melihat apa yang seharusnya Tuhan berikan atau lakukan. Kita menjadi gagal melihat apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita, kita hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan lakukan dalam hidup kita.
Salah satu cara yang jelas untuk merefleksikan bahwa kita ini hidup bersyukur adalah kita mempunyai wawasan hidup yang positif. Jadi orang yang bersyukur itu cenderung positif, dia tidak melihat hidup itu gelap atau suram. Dia menantikan hari esok, dia tahu bahwa ada berkat Tuhan untuk hari esok, dia bersedia membantu orang, dia bersedia mempercayai orang karena dia tahu bahwa masih ada kesempatan untuk orang itu bisa berubah dengan dia menolongnya. Dengan kata lain dia positif; dia berpandangan positif. Hatinya penuh sukacita karena hatinya penuh sukacita maka dia melihat hidup itu dengan lebih cerah. Dengan kata lain kita bisa melihat siklus, makin seseorang bersyukur, makin dia bersukacita. Dan makin dia bersukacita makinlah dia positif melihat hidup ini. Dan yang kita tahu pasti adalah Tuhan pun akan bersukacita, melihat anak-anakNya hidup bersyukur.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Bersukacita". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, semua orang ingin hidup bersukacita, bergembira dan sebagainya. Dan Alkitab pun kerapkali mengingatkan kita untuk hidup dengan bersukacita. Tapi pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari ini sukar sekali mewujudkan sukacita di dalam diri kita, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Betul sekali yang Pak Gunawan katakan, kita ini tahu bahwa hidup yang sehat adalah hidup yang bersukacita. Tapi masalahnya adalah kita harus benar-benar berjuang keras untuk menjadi sukcita.

Karena sering kali kita harus menjumpai situasi dalam hidup yang tidak membawa sukacita. Nah hal-hal seperti itulah yang akhirnya menurunkan kadar sukacita dalam hidup kita. Nah sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Tuhan juga menyuruh kita untuk bersukacita, tapi waktu kita mencoba untuk hidup sesuai dengan yang firman Tuhan katakan itu kita tidak selalu berhasil. Itu sebabnya kita perlu mengambil waktu ini dan kita sekali lagi melihat apa yang firman Tuhan katakan. Yang akan saya gunakan sebagai teks kita adalah Filipi 4:4-7, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Yang pertama bisa kita lihat di sini adalah Paulus meminta kita untuk bersukacita. Seperti tadi saya sudah katakan memang salah satu ciri khas kehidupan kristiani adalah kehidupan yang penuh sukacita. Nah pertanyaannya adalah bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita. Mungkin kita bisa mengingat hal-hal yang telah menimpa kita adalah hal-hal yang tidak mengenakkan, tidak menggembirakan, bagaimanakah kita tetap mempertahankan sukacita di tengah-tengah situasi kehidupan yang tidak membawa sukacita. Yang saya ingin tekankan adalah sukacita kristiani bukanlah bersumber dari situasi yang kita hadapi melainkan dari Kristus sendiri.
GS : Berarti yang mau diajarkan kepada kita oleh firman Tuhan itu bahwa sukacita itu bukan sekadar emosi atau menyangkut seluruh kehidupan kita?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, sudah tentu sukacita memang berkaitan dengan emosi tapi yang Alkitab ingin tekankan kepada kita adalah bahwa sumber sukacita bukanlah emosi itu sendiri. Sebetunya emosi hanyalah kendaraan yang kita gunakan untuk menggetarkan diri kita dan untuk menyalurkan sukacita itu keluar sehingga dapat kita rasakan.

Sering kali yang kita katakan sumber sukacita adalah situasi, situasi yang menggembirakan. Nah yang justru Alkitab ingin tekankan di sini adalah sukacita itu bukanlah bersumber pada situasi, situasi bisa berubah-ubah. Sumber dari sukacita adalah Kristus sendiri, jadi sekarang pertanyaan yang ingin kita ajukan adalah bagaimanakah Kristus menyalurkan sukacita kepada kita. Kendati situasi yang kita hadapi tidaklah menggembirakan. Ini sekarang yang menjadi pertanyaannya. Saya akan menjawab begini sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, itu maksudnya waktu kita berkata bahwa sukacita berasal dari Kristus. Sekali lagi saya ulang, artinya bahwa sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, yang berarti sebetulnya adalah kita tidak sendirian. Kristus mendampingi dan akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala tantangan hidup.
GS : Berarti sumbernya bukan emosi tetapi pribadi yaitu Tuhan Yesus sendiri yang Pak Paul katakan, ini yang harus kita terima sebagai pribadi yang selalu beserta dengan kita. Jadi alasan ini harus kokoh seperti itu.

PG : Betul sekali, saya berikan contoh yang mungkin lebih mudah untuk kita cerna. Misalkan kita itu harus melewati perjalanan yang panjang dan kita harus mungkin bersama dengan seseorang selma berhari-hari.

Saya kira faktor yang paling menentukan untuk membuat kita gembira atau tidak gembira adalah dengan siapakah kita melakukan perjalanan yang panjang ini. Kalau kita bersama dengan seseorang yang nyaman, yang membuat kita bahagia, yang mendorong, yang menguatkan kita, nah perjalanan yang panjang itu menjadi sebuah perjalan yang membawa sukacita. Tapi kebalikannya kita melewati perjalanan yang singkat yaitu hanya satu jam, tapi bersama dengan seseorang yang menyusahkan kita, memarahi kita, mengkritik kita, mengahakimi kita; satu jam itu menjadi perjalanan yang benar-benar tidak membuahkan sukacita, justru menambahkan kesusahan hati kita. Jadi faktor yang penting adalah pada dengan siapakah kita itu melakukan perjalanan itu. Jadi kita terapkan contoh itu ke dalam kehidupan kita juga dengan Kristus. Bahwa situasi itu kadang-kadang memang akan berubah, tidak selalu situasi yang kita hadapi situasi yang menyenangkan. Tapi yang Alkitab tekankan adalah kita harus mengingat dengan siapakah kita itu akan melewati situasi tersebut. Kalau kita tahu kita bersama dengan Kristus Tuhan kita Juru selamat kita, yang mengasihi kita, Dia yang perkasa, Dia yang bisa menolong kita, menghibur hati kita; seyogyanyalah itu cukup untuk membuat kita bersukacita.
GS : Kita ini sering kali dengan kawan seperjalanan kita yang dalam hal ini Pak Paul katakan Tuhan Yesus Kristus sendiri, dari kitanya sendiri yang kadang-kadang menimbulkan rasa bosan, rasa ingin mencari yang lain. Seperti dengan teman perjalanan tadi, mungkin kita pergi dengan istri kita, pada awalnya menyenangkan, lama-lama kita merasa jenuh, kita ingin jalan sendiri akibatnya kita kehilangan sukacita itu.

PG : Kalau mata kita lepas dari memandang Kristus, saya kira ya, kita akan bisa menjadi bosan atau jenuh. Tapi kalau kita tidak melepaskan pandangan dari Kristus, kita terus membaca firmanNy, kita datang kepadanya dalam persekutuan, kita tidak akan bosan.

Maka Paulus langsung setelah menyuruh kita untuk bersukacita, Paulus menambahkan bahwa kita harus membawa kekhawatiran kita dalam doa. Artinya kita mesti terus-menerus bercakap-cakap mengeluarkan isi hati kita kepada Tuhan. nah saya ingin tekankan di sini, kenapa Paulus meminta kita untuk berdoa, membawa kekhawatiran kita ini kepada Tuhan, sebab sesungguhnyalah kita bisa mengetahui bahwa kekhawatiran merupakan pembunuh sukacita. Dan kita tahu bahwa kekhawatiran itu juga berhulu dari ketidakpastian. Memang saya akui kehidupan syarat dengan ketidakpastian namun justru di sinilah seorang Kristen dapat hidup dengan bersukacita. Ia tahu bahwa dalam hidup hanya satu yang pasti yaitu Kristus dan firmanNya, jadi sekali lagi kita datang kepada Tuhan di dalam doa membawa kekhawatiran kita kepadaNya. Kita tahu kekhawatiran bersumber dari ketidakpastian, namun Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang pasti. Maka Dia akan memberikan kita ketenangan. Jadi jangan sampai kita berhenti atau luput melihat Kristus dan memelihara persekutuan denganNya.
GS : Itu berarti dari kita itu juga dituntut kesungguhan untuk mau hidup di dalam sukacita itu sendiri, sekalipun pribadi Kristus itu terus beserta kita tapi kalau kita sendiri yang menolak untuk hidup di dalam sukacita itu seperti yang Pak Paul katakan melepaskan pandangan kita, kita tidak akan mengalami sukacita itu.

PG : Betul, setiap saat kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pilihan tetap memandang Kristus atau pilihan tidak lagi memandang Kristus. Saya kira kalau kita memilih tidak memandang Kristusdengan cepat sekali kita akan merasa jenuh datang kepaNya, berdoa kepadaNya, berbakti kepadaNya; kita merasakan ini tidak ada gunanya, membuang waktu dan sebagainya.

Tapi waktu kita tetapdatang kepadaNya, bergumul kepadaNya dalam doa kita; maka kita tidak akan merasa jenuh, kita makin lekat dengan Dia. Yang juga ingin saya tekankan adalah sukacita itu perlu dipelihara, Pak Gunawan. Sering kali kita beranggapan, sekali kita sukacita selama-lamanya kita akan bersukacita, tidaklah demikian kita harus memeliharanya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memelihara sukacita itu. Paulus di sini menegaskan bahwa kita membawa segala kekhawatiran kita dalam doa dan pengucapkan syukur. Nah kata ini merupakan kata yang luar biasa pentingnya yaitu bersyukur. Paulus menekankan bahwa kita bisa memelihara sukacita dengan cara hidup bersyukur. Pertanyaan berikutnya yang kita ajukan adalah apa artinya bersyukur. Bersyukur berarti melihat apa yang telah Tuhan berikan atau lakukan, ini adalah hal yang sangat-sangat penting namun masalahnya adalah kita hanya ingin melihat apa yang seharusnya Tuhan berikan atau lakukan. Kita menjadi gagal melihat apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita, kita hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan lakukan dalam hidup kita.
GS : Memang biasanya kita bersyukur itu kalau ada hal-hal yang cocok untuk kita, kadang-kadang Tuhan mengajak kita atau memberikan kepada kita sesuatu yang kita sebenarnya tidak suka, jadi sulit sekali untuk bersyukur pada saat-saat seperti itu.

PG : Betul sekali, kita cenderung memang melihat yang belum kita miliki dan kita mendasari hidup kita atas apa yang belum kita miliki. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk melihat apa yang teah kita miliki, apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.

Orang yang bersyukur adalah orang yang dapat melihat ini Pak Gunawan, lawan dari hidup bersyukur adalah hidup bersungut. Dan hidup bersungut adalah hidup menghitung apa yang belum terjadi, sebaliknya hidup bersyukur adalah hidup menghitung apa yang telah terjadi. Saya berikan contoh, misalkan kita ini bertahun-tahun kita hidup susah sekali kemudian akhirnya kita mulai menikmati perbaikan dalam hidup kita, Tuhan memberkati kita, kita akhirnya bertambah makmur. Ada orang yang bukannya bersyukur dia tambah makmur karena Tuhan tambahkan semua ini kepadanya, malahan marah kepada Tuhan. dan berkata: "Kenapa baru sekarang saya makmur, sekarang saya sudah berumur 50 tahun, saya dari umur 10 tahun hidup susah sampai 50 tahun." Nah dia tidak bsia bersyukur bahwa 40 tahun saya hidup susah dan sekarang saya hidup makmur. Dia memfokuskan pada kenapa Tuhan dulu tidak berbuat lebih dini, lebih cepat menolong saya, itu hal-hal yang memang cukup sering kita lakukan. Waktu kita sudah menikmati sesuatu untuk waktu yang lama kita merasa ini kurang, kita bersungut-sungut kepada Tuhan, kita minta Tuhan menambahkannya lagi, ini merupakan ciri khas sebagian manusia. Terlalu sering kita hanya memfokuskan pada apa yang belum kita miliki, kita gagal menghitung apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.
GS : Atau kadang-kadang kita juga bersungut-sungut tatkala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada kita lalu hilang dari kita. Padahal awalnya kita juga tidak punya.

PG : Betul sekali, dan kita tidak melihat fakta itu bahwa sebelumnya pun kita tidak punya. Inilah sikap yang dimiliki oleh Ayub sewaktu dia kehilangan segalanya termasuk kesehatannya. Dia maih bisa berkata: "Ya saya datang ke dunia ini telanjang, tidak membawa apa-apa maka saya akan kembali maksudnya saya akan meninggalkan dunia ini juga dengan tidak membawa apa-apa."

Nah itu hidup bersyukur, tapi saya mengerti tidak mudah untuk kita mempunyai sikap seperti itu, tapi kalau kita bisa memilih untuk melihat apa yang Tuhan telah berikan dan bukannya melihat pada apa yang seharusnya Tuhan berikan, kita akan lebih mampu mempertahankan sukacita itu. Sebab sukacita dan sungut-sungut tidak bisa bercampur, tidak bisa menempati ruangan yang sama dalam hidup kita.
GS : Sebenarnya kalau kita hidup sendirian itu kita mungkin cepat bisa mensyukuri Pak Paul, tapi karena dengan banyak orang di sekeliling kita lalu kita menengok sana, menengok sini dan melihat sana kok lebih enak dan sebagainya.

PG; Betul sekali, akhirnya kita tidak melihat apa yang Tuhan telah berikan kepada kita; kita melihat pada apa yang Tuhan telah berikan kepada orang lain. Kita bertanya-tanya mengapakah Tuhan tidak memberikan hal yang sama itu kepada kita. Nah sekali lagi Tuhan itu tidak memberikan kepada semua orang hal yang sama, karena kalau semua mendapatkan yang sama kita itu tidak akan pernah belajar bermurah hati, berlapang dada; tidak pernah belajar untuk bisa bersukacita dengan orang yang bersukacita, sebab semuanya sama. Justru Tuhan membiarkan ketidaksamaan ini, agar kita semua bisa bertumbuh lebih mirip lebih serupa dengan Kristus. Misalkan kita menjadi lebih murah hati, kita bisa lebih bersyukur akan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.

GS : Jadi masalahnya bagaimana kita mengubah pandangan kita, supaya kita bisa mensyukuri atas segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita?

PG : Ini memang masalah pilihan Pak Gunawan, jadi saya sendiri kalau ada orang bertanya bagaimanakah hidup bersyukur, pada dasarnya kita harus memilih untuk hidup bersyukur. Pilihan kita hana dua yaitu hidup bersyukur atau hidup bersungut.

Hidup bersyukur berarti memfokuskan apa yang Tuhan telah berikan, nah hidup bersungut hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan berikan kepada kita. Kita tidak bisa memaksa orang untuk memilih yang seharusnya dia pilih. Pertanyaan yang memang akan muncul juga adalah kenapa kita harus bersyukur, sebab kenyataannya memang Tuhan telah memberikan ktia banyak berkat. Ada orang yang berkata: "Kok saya dari dulu harus terus bekerja keras," tapi dia lupa dia punya sepatu, dia punya tempat tidur, dia punya piring makan, dia masih punya atap, jadi banyak hal yang telah kita terima. Dan atas hal-hal itulah kita masih bisa bersyukur kepada Tuhan. Tuhan tidak meminta kita untuk hidup berbohong Pak Gunawan, artinya mensyukuri apa yang tidak pernah kita terima. Tuhan meminta kita riil, dan memang kalau kita melihat apa yang telah kita terima, kita akan harus bersyukur dan Tuhan menyenangi orang yang bersyukur. Karena sebetulnya orang yang bersyukur adalah orang yang melihat bahwa Tuhan itu baik dan sesungguhnya Dia itu baik. Kenapa Tuhan tidak senang dengan orang yang bersungut-sungut, sebab sesungguhnya orang yang bersungut-sungut tidak mempunyai penilaian yang tepat akan Allah. Dia itu melihat Allah sebagai Allah yang jahat, orang yang bersungut sebetulnya mempunyai anggapan atau konsep bahwa Tuhan itu jahat, karena Tuhan jahat maka Tuhan tidak memberikan kepadanya seperti yang dimintanya. Tapi orang yang bersyukur dia berkata Tuhan baik, meskipun saya mendapatkan hanya segini tidak apa-apa karena saya tahu Tuhan baik, Dia pasti tahu apa yang paling buat untuk saya juga.
GS : Sebenarnya keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita itu ´kan merupakan alasan yang paling kuat untuk kita bersyukur. Katakan kita tidak diberikan yang lain pun dengan keselamatan itu kita sudah punya alasan yang kuat untuk bersyukur.

PG : Itu point yang bagus sekali Pak Gunawan, sebab keselamatan yang kita terima itu identik dengan sorga yang akan nanti boleh kita tempati. Hidup ini tidak bisa dibandingkan dengan sorga yng nanti akan menjadi rumah kita yang abadi.

Jadi meskipun di dunia kita tidak memiliki banyak tapi janji kepastian, jaminan bahwa nanti kita akan bersama Tuhan di sorga itu benar-benar alasan yang paling kuat untuk berkata saya bersyukur, saya berterima kasih kepada Tuhan karena Dia sudah menjanjikan sorga untuk saya. Jadi sebetulnya meskipun tidak ada lagi yang lain yang kita miliki, itu saja memang yaitu keselamatan, hidup bersama dengan Tuhan itu sudah merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk kita bersyukur kepadaNya.
GS : Yang sering kali dipertanyakan adalah bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur itu, apakah kalau kita berkali-kali mengucapkan Puji Tuhan, Tuhan baik, apakah itu sudah merupakan ungkapan rasa syukur orang yang bersyukur atau ada orang yang tanpa bicara terlalu sering seperti itu pun tapi kita melihat hidupnya penuh syukur Pak Paul?

PG : Saya kira salah satu cara yan terjelas untuk merefleksikan bahwa kita ini hidup bersyukur, kita mempunyai wawasan hidup yang positif. Jadi orang yang bersyukur itu cenderung positif, di tidak melihat hidup itu sepertinya gelap, suram.

Dia menantikan hari esok, dia tahu bahwa ada berkat Tuhan untuk hari esok, dia bersedia membantu orang, dia bersedia mempercayai orang karena dia tahu bahwa masih ada kesempatan untuk orang itu bisa berubah dengan dia menolongnya. Dengan kata lain dia positif, dia tidak berkata percuma-percuma, tidak usah-tidak usah; dia berpandangan positif. Nah ini saya kira wujud nyata dari orang yang hidup bersyukur. Hatinya penuh sukacita karena hatinya penuh sukacita maka dia melihat hidup itu dengan lebih cerah. Dengan kata lain kita bisa melihat siklus, makin seseorang bersyukur, makin dia bersukacita. Dan makin dia bersukacita makinlah dia positif melihat hidup ini. Dan yang kita tahu pasti adalah Tuhan pun akan bersukacita, melihat anak-anakNya hidup bersyukur.
GS : Walaupun kadang-kadang di tengah-tengah sukacita itu orang bisa saja kehilangan sukacitanya ya Pak Paul?

PG : Sekali-sekali saya kira itu wajar, sudah tentu kalau misalkan kita ditimpa musibah, kemalangan yang berat, kita akan terpukul, sedih, menangis; tidak apa-apa karena Tuhan tidak anti airmata.

Itu bagian dari kehidupan yang wajar selama kita masih menjejakkan kaki di bumi ini. Namun orang yang bersyukur adalah orang yang tidak ditelan oleh musibah, orang yang tidak mengubah pandangannya terhadap Tuhan gara-gara musibah itu, dia tetap akan berkata: "Tuhan, meskipun saya harus kehilangan untuk sekarang ini tapi saya bersyukur saya pernah memilikinya, saya pernah mencicipi berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada saya. Nah dia kembali bisa bersyukur karena dia tetap bisa melihat apa yang Tuhan telah lakukan. Jadi saya percaya juga orang yang bisa melihat apa yang Tuhan telah lakukan nantinya juga akan lebih berharap dan beriman pada apa yang akan Tuhan berikan kepadanya. Dan Tuhan akan lebih memberkati lagi orang yang bersyukur, Dia akan memberikan lebih banyak lagi kepada orang yang bersyukur.
GS : Kesaksian hidup pada jemaat mula-mula yang dicatat di Kisah Para Rasul itu membuktikan bagaimana jemaat Tuhan yang bersyukur itu selalu ditambahi jumlahnya oleh Tuhan.

PG : Betul sekali, maka ironis sekali kalau kita bertemu dengan seseorang yang kaya raya tapi luar biasa negatifnya, bersungutnya, tidak pernah mengucapkan syukur akan apa yang Tuhan telah brikan kepadanya.

Sebaliknya ktiab isa bertemu dengan seseorang yang mungkin sekali sederhana, rumahnya pun sederhana tapi penuh dengan sukacita. Kenapa, sebab orang ini hidup bersyukur; dia menghitung berkat, dia menghitung apa yang Tuhan telah berikan kepadanya. Dan itu menjadi pondasi kehidupannya.

GS : Memang akan ada banyak alasan kalau kita mau bersungut-sungut, tetapi tadi Pak Paul katakan ini merupakan suatu pilihan. Jadi sekalipun banyak alasan untuk bersungut-sungut tapi kita bisa memilih untuk bersyukur terhadap semua itu. Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan kali ini dan saudara-saudara sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga. Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Bersukacita". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



27. Hidup Tabah


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T167B (File MP3 T167B)


Abstrak:

Ketabahan bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dengan hanya berdoa, kemudian tiba-tiba dari sorga Tuhan menurunkan sesuatu yang bernama ketabahan. Ketabahan sebenarnya hasil dari penggemblengan karakter lewat proses waktu dan tekanan hidup. Yang antara lain lewat gesekan, keputusan kita untuk tidak terikat oleh waktu dll.


Ringkasan:

Ketabahan bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dengan hanya berdoa, terus tiba-tiba dari sorga Tuhan turunkan sesuatu yang bernama ketabahan. Ketabahan sebenarnya hasil dari penggemblengan karakter lewat proses waktu dan tekanan hidup. Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa ketabahan bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dari luar diri kita. Tuhan akan menerjunkan kita ke dalam situasi-situasi yang berat atau keras sebab melalui penggemblengan itulah akhirnya akan keluar ketabahan dari dalam diri kita.

Di dalam II Korintus 11:23 dst, Paulus memaparkan penderitaan yang pernah dilewatinya. Pelajaran yang bisa kita ambil bahwa ketabahan bisa muncul melalui beberapa hal, yaitu:
Ketabahan muncul dari gesekan. Dalam menghadapi kesulitan biasanya reaksi awal kita adalah melarikan diri atau mencari jalan keluar secepat mungkin. Kadang memang kita berhasil, tapi adakalanya kita gagal mendapatkan solusi yang kita inginkan, pada akhirnya kita harus menghadapi kesulitan itu dan menanggung derita. Apa yang harus kita lakukan jika kita berhadapan dengan situasi seperti ini; kita harus diam, kita harus berdiri tegak, kita harus menahan derita dan sakit. Kalau kita mau belajar untuk bertahan sehingga bisa melahirkan ketabahan dalam diri kita, kita tidak boleh mencari jalan pintas yang salah atau membentengi diri agar tidak terjerumus dalam penyelesaian masalah yang berdosa.
Orang yang akhirnya jatuh atau remuk adalah orang yang tidak lagi melihat Tuhan dalam menghadapi gesekan dengan kesulitan itu. Kalau kita tetap menatap Tuhan, tetap berpegangan padaNya, tidak meninggalkan dan melepaskan genggaman tangan Tuhan, maka kita tidak akan jatuh, kita tidak akan remuk karena tangan Tuhan akan terus menuntun kita. Dan buktinya adalah Paulus, dia menderita seperti itu tapi dia tidak kehilangan Kristus dalam hidupnya, dia terus-menerus memegang tangan Kristus.

Ketabahan muncul dari keputusan kita untuk tidak terikat oleh waktu. Sering kali kita menetapkan batas waktu dalam penderitaan bahwa kita hanya akan menderita sampai batas waktu tertentu. Misalkan kita berkata sampai bulan depan atau sampai dua bulan lagi atau sampai tahun depan, seolah-olah kita itu mempunyai kuasa menetapkan kapan penderitaan itu akan berakhir. Masalahnya adalah kita tidak selalu tahu sampai kapan kita akan menderita. Jadi kita harus berkata kepada diri sendiri bahwa kita tidak tahu kapan semua ini akan berakhir dan kita mesti berhenti menduga-duga. Sebab setiap dugaan yang meleset akan memperburuk kekecewaan kita dan malah memperlemah daya tahan kita.

Ketabahan adalah buah dari pengharapan pada kebenaran janji Tuhan. II Korintus 12:9 dan 10, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." Kasih karuniaKu cukup bagimu, ini janji Tuhan. kita tidak tahu bagaimana cara Tuhan menyelesaikan penderitaan kita atau kesusahan kita. Yang kita tahu adalah bahwa Ia akan menyelesaikannya tapi bagaimana caranya kita tidak tahu.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Hidup Tabah". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak orang termasuk orang Kristen sekalipun, berputus asa di dalam menghadapi tantangan kehidupan yang makin lama makin berat. Tidak jarang mereka mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri atau pun lari ke hal-hal yang sebenarnya Tuhan tidak kehendaki. Nah di tengah-tengah tantangan yang berat seperti ini bagaimana seseorang itu bisa bertahan atau bisa tabah menghadapi semua itu, Pak Paul?

PG : Pertama-tama kita ingin melihat dulu tentang ketabahan itu sendiri. ketabahan bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dengan hanya berdoa, terus tiba-tiba dari sorga Tuhan turunkan sesatu yang bernama ketabahan.

Ketabahan sebenarnya hasil dari penggemblengan karakter lewat proses waktu dan tekanan hidup. Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa ketabahan bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dari luar diri kita. Tuhan akan menerjunkan kita ke dalam situasi-situasi yang berat atau keras sebab melalui penggemblengan itulah akhirnya akan keluar ketabahan dari dalam diri kita. Untuk kita bisa belajar bertahan di dalam penggemblengan itu sehingga akhirnya bisa membuahkan karakter yang tabah, kita perlu melihat firman Tuhan. Saya akan melihat kehidupan Paulus dan tekanan-tekanan yang harus dihadapinya. II Korintus 11:23 dst, Paulus memaparkan penderitaan yang pernah dilewatinya. Dia berkata: "Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam pernjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?" Maka kemudian Paulus menyimpulkan, "Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta." Kalau kita ingin membanggakan diri, kita akan menyebut-nyebut keberhasilan kita Pak Gunawan, tapi Paulus ini bukannya menyebut-nyebut keberhasilannya tapi dia menyebut-nyebut penderitaannya. Dan ini adalah cuplikan dari penderitaannya bukannya seluruh dari penderitaan yang dialaminya. Tapi yang ingin dia tekankan adalah bahwa dia berhasil melewati semua itu, dan kenapa dia berhasil sebab dia berkata memang dia menyebut-nyebut Allah, yaitu Bapa dari Yesus Tuhan kita yang terouji sampai selama-lamanya. Dan dia katakan jika aku harus bermegah, aku akan bermegah atas kelemahanku. Nah ketabahan muncul dari gesekan, itu pelajaran pertama yang kita bisa timba. Dalam menghadapi kesulitan biasanya reaksi awal kita adalah melarikan diri atau mencari jalan keluar secepat mungkin. Kadang memang kita berhasil, tapi adakalanya kita gagal mendapatkan solusi yang kita inginkan, pada akhirnya kita harus menghadapi kesulitan itu dan menanggung derita. Apa yang harus kita lakukan jika kita berhadapan dengan situasi seperti ini; kita harus diam, kita harus berdiri tegak, kita harus menahan derita dan sakit. Kalau kita mau belajar untuk bertahan sehinga bisa melahirkan ketabahan dalam diri kita, kita tidak boleh mencari jalan pintas yang salah atau membentengi diri agar tidak terjerumus dalam penyelesaian masalah yang berdosa.

GS : Memang gesekan dengan kesulitan itu bisa menimbulkan ketabahan, tapi kalau gesekan itu terlalu keras, sehingga orang itu tidak siap menghadapi gesekan yang sedemikian keras lalu dia menjadi orang yang tidak tabah lagi menghadapi itu, itu bagaimana Pak Paul?

PG : Adakalanya dalam menghadapi gesekan dengan kesulitan, kita akhirnya lepas perspektif, kita luput melihat Tuhan. Saya kira orang yang akhirnya jatuh atau remuk adalah orang yang tidak lai melihat Tuhan dalam menghadapi gesekan dengan kesulitan itu.

Kalau kita tetap menatap Tuhan, tetap berpegangan padaNya, tidak meninggalkan dan melepaskan genggaman tangan Tuhan, maka kita tidak akan jatuh, kita tidak akan remuk karena tangan Tuhan akan terus menuntut kita. Dan buktinya adalah Paulus, dia menderita seperti itu tapi dia tidak kehilangan Kristus dalam hidupnya, dia terus-menerus memegang tangan Kristus. Nah waktu dia tetap berpegangan dengan tangan Kristus, ketabahanlah yang mulai muncul dalam dirinya dan karakter tabah itulah yang akhirnya menjadi karakter yang sangat cemerlang dalam kehidupan Rasul Paulus.
GS : Berarti seperti beberapa waktu yang lalu kita membicarakan tentang hidup bersukacita bahwa itu dasarnya adalah Kristus sendiri, di sini juga hal yang sama harus terjadi Pak Paul, yang menjadi dasar kekuatan kita itu adalah Kristus sendiri.

PG : Betul sekali, sebab sungguh-sungguh kalau kita pikir-pikir, di luar Kristus siapakah yang bisa menjadi sumber kekuatan kita seperti itu? Tidak ada, orang yang paling kita andalkan sekalpun bisa mengecewakan kita.

Orang yang kita gantungi, sandarkan tapi akhirnya bisa mengecewakan hati kita, memang tidak ada yang lain selain dari Kristus. Selain ketabahan itu muncul dari gesekan dan kesulitan, kita juga harus belajar bahwa ketabahan muncul dari keputusan kita untuk tidak terikat oleh waktu. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud di sini. Sering kali kita menetapkan batas waktu dalam penderitaan bahwa kita hanya akan menderita sampai batas waktu tertentu. Misalkan kita berkata sampai bulan depan atau sampai dua bulan lagi atau sampai tahun depan, seolah-olah kita itu mempunyai kuasa menetapkan kapan penderitaan itu akan berakhir. Masalahnya adalah kita tidak selalu tahu sampai kapan kita akan menderita. Jadi kita harus berkata kepada diri sendiri bahwa kita tidak tahu kapan semua ini akan berakhir dan kita mesti berhenti menduga-duga. Kenapa, sebab setiap dugaan yang meleset akan memperburuk kekecewaan kita dan malah memperlemah daya tahan kita.
GS : Tapi orang itu berharap besok pasti sudah lewat masalah ini atau besok juga sudah bisa terselesaikan, bukankah itu suatu harapan, Pak Paul?

PG : Harapan tidak apa-apa tapi jangan kita menjadikan harapan itu sebagai sesuatu yang pasti bahwa besok saya akan lepas dari penderitaan ini. Ketabahan muncul bukan dari harapan-harapan seerti itu, ketabahan muncul tatkala memang kita memutuskan kita harus tinggal bersama penderitaan ini, kita harus menerimanya bahwa ini adalah bagian dari hidup kita dan kita tidak lagi menetapkan batas waktu kapan derita ini harus berakhir.

Sekali lagi ini saya perlu angkat karena memang kecenderungan kita adalah menetapkan batas waktu, seolah-olah kita tahu kapan penderitaan akan berakhir atau seolah-olah kita mempunyai kuasa untuk mengakhirinya. Tidak, kita tidak tahu dan kita tidak mempunyai kuasa. Jadi kita harus berkata: "OK, saya akan hidup hari lepas hari; hari ini saya hidup dengan penderitaan saya minta kepada Tuhan untuk memberi kekuatan kepada saya untuk melewati hari ini, besok Tuhan juga akan memberikan kekuatan yang sama." Dan itulah caranya kita menghadapi penderitaan.
GS : Dan itu akan menumbuhkan ketabahan dalam diri seseorang, Pak Paul?

PG : Betul sekali, nah tadi Pak Gunawan sudah menyinggung tentang pengharapan, dan saya mengatakan bahwa kita boleh berharap bahwa besok kita akan lebih baik lagi tapi kita mesti belajar hidp dengan penderitaan itu hari lepas hari.

Namun saya juga ingin menekankan satu hal yang lain bahwa kita juga harus tetap berharap pada kebenaran janji Tuhan. kita bukannya berharap bahwa besok saya pasti lepas, besok penderitaan ini akan berakhir, tidak. Itu belum tentu merupakan janji Tuhan atau rencana Tuhan atas hidup kita. Jadi saya ingin menekankan bahwa ketabahan adalah buah dari pengharapan pada kebenaran janji Tuhan. Janji Tuhan yang mana yang kita harus pegang, dan jangan sampai kita keliru menafsir janji Tuhan. saya akan bacakan dari II Korintus 12:9 dan 10, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." Apa janji Tuhan? Di mana kita boleh menyandarkan harapan kita pada janjinya. Bahwa kasih karuniaKu cukup bagimu, ini janji Tuhan. kita tidak tahu bagaimana cara Tuhan menyelesaikan penderitaan kita atau kesusahan kita. Yang kita tahu adalah bahwa Ia akan menyelesaikannya tapi bagaimana caranya kita tidak tahu.
GS : Berarti kalau seseorang itu memiliki ketabahan, dia akan bersikap aktif khususnya menanggapi apa yang Tuhan kerjakan dalam dirinya. Karena ada orang yang berkata tabah tapi sebenarnya bukan tabah, hanya memendam perasaan.

PG : Saya kira itu tepat sekali, jadi orang yang tabah itu memang dia harus berdiam, tidak lari dari penderitaan tap bukannya berarti dia pasif tidak berbuat apa-apa. Dia juga akan terus memeri tanggapan kepada Tuhan, apa yang Tuhan lakukan, jalan keluar apa itu yang mungkin Tuhan sedang bisikan kepadanya.

Nah dia juga terbuka, sebab memang dia tidak tahu pasti sesungguhnya dengan cara apakah Tuhan akan menolongnya. Jadi apa yang Tuhan sedang kerjakan dia akan tanggapi, dia akan lakukan karena dia tahu bahwa Tuhan bisa memkai cara-cara yang belum terpikirkan olehnya.
GS : Ada orang yang mengartikan ketabahan itu sebagai kekuatan dirinya, apakah itu betul?

PG : Ketabahan tidak berarti selalu merasa kuat, ini adalah kesalahanpahaman yang kita harus luruskan. Misalkan sering kali kita beranggapan bahwa orang yang tabah itu selalu kuat atau kita arus merasa diri kuat baru kita menganggap diri kita tabah.

Tidak, berkali-kali Paulus berkata di dalam kelemahanku aku merasa lemah, dengan kata lain Paulus pun mengenal paham dengan perasaan lemah ini. Tapi yang dia ingin tekankan adalah pada waktu dia lemah kekuatan Kristus dinyatakan, artinya waktu dia benar-benar tergeletak di dalam kelemahan Tuhan akan mengangkatnya, Tuhan memberikan kekuatan dengan cara yang tak pernah terpikirkan olehnya. Jadi yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa tabah dan lemah bergandengan tangan. Bukannya kalau kita tabah, kita tidak boleh sekalipun merasa lemah. Perjalanannya jadi seperti ini, dari kelemahan kita beralih pada pengharapan akan janji Tuhan bahwa kasih karuniaNya cukup untuk kita. Nah dari pengharapan kita akan menerima kekuatan, karena janji Kristus tadi itu kasih karuniaKu cukup bagimu.
GS : Sebenarnya Tuhan Yesus memperagakan dengan bagus sekali ketika menghadapi salib, Dia menunjukkan ketabahannya tetapi sekaligus kita melihat pergumulannya sampai menangis, sampai berpeluh seperti itu. Itu ´kan menunjukkan ketabahan yang betul.

PG : Betul sekali, dan waktu Dia memasuki taman Getsemani, Dia tidak besorak-sorai dan berkata saya kuat, saya tidak akan berpengaruh oleh penderitaan ini. Dia justru meminta murid-muridNya erdoa untuk Dia.

Kenapa, sebab sebagai Anak Allah namun juga sebagai manusia sama seperti kita, Dia bisa merasa lemah, Dia merasa takut sebab kata yang Dia gunakan hatiku itu susah. Kata yang memang sarat dengan muatan emosi, ketegangan, ketakutan, kelemahan, ini semua bercampur menjadi satu. Dan Dia mengakui itulah yang Dia rasakannya tatkala dia harus berhadapan dengan salib, maka Dia perlu berdoa. Dan kita melihat kuasa Tuhan dinyatakan, Dia mendapatkan kekuatan secara supernatural. Ini juga janji buat kita bahwa waktu kita menghadapi kesusahan, penderitaan, Tuhan akan menyatakan kekuatanNya untuk kita. Prinsip yang saya juga akan angkat di sini adalah Tuhan menyatakan kekuatanNya untuk kita hari ini. Ini acap kali kita barharap kekuatan ini akan berlangsung terus-menerus; besok, besoknya lagi terus akan kuat. Tidak demikian, kekuatan Tuhan diberikan kepada kita hari lepas hari, setiap hari kita merasa lemah, setiap hari kita datang kepadaNya untuk berserah dan berharap kembali dan setiap hari kita akan dikuatkan. Jadi jangan sampai kita berputus asa dan berkata: "Kemarin saya kuat tapi sekarang saya lemah." Betul, anugerah Tuhan cukup untuk kita hari ini dan besok minta lagi kekuatan Tuhan untuk menghadapi hari esok.
GS : Tadi Pak Paul mengemukakan tentang Tuhan Yesus yang meminta murid-muridNya berdoa buat Dia di Taman Getsemani, nah di sini apakah memang begitu besar peran orang-orang di sekeliling kita yang seiman dengan kita mendukung kita untuk tetap tabah dalam situasi yang berat seperti itu?

PG : Sangat besar sekali Pak Gunawan, dalam penderitaan kita itu sangat membutuhkan uluran tangan teman-teman. Kita tidak membutuhkan penghakiman dari teman-teman karena itu akan makin mempelemah daya tahan kita, kita membutuhkan uluran tangan mereka.

Perhatian mereka itu sangat-sangat menghibur kita, apalagi kepedulian mereka yang dinyatakan secara konkret yaitu mereka mau membantu kita; nah itu akan sangat memberikan kita semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Jadi dengan kata lain sering kali ketabahan itu kita terima, kita pinjam dari orang lain, kita tidak bisa mendapatkannya dengan sendirian, kita perlu mendapatkan dukungan-dukungan. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa tetap sumbernya atau fondasinya bukan orang lain, jangan kita terlalu menggantungkan diri pada pertolongan orang karena belum tentu datang. Yang harus kita gantungi dan sadari adalah kekuatan Kristus sendiri, sebab janjiNya adalah kasih karuniaKu cukup bagimu.
GS : Jadi itu juga terjadi di Getsemani, di mana para murid itu tertidur, sampak Tuhan Yesus berkata tidak bisakah kamu berjaga-jaga.

PG : Betul dan waktu tentara datang menangkap Tuhan, mereka bahkan melarikan diri dan Tuhan harus menjalani Via Dolorosa perjalanan kesengsaraan itu sampai ke kayu salib.

GS : Itu menggambarkan kalau kita menggantungkan diri pada orang lain, berapa pun besarnya itu akan menimbulkan kekecewaan, Pak Paul?

PG : Dan ketabahan yang murni memang bukanlah ketabahan yang dipinjamkan oleh orang. Kadang-kadang kita merasa lebih kuat karena ada orang-orang yang mendukung kita. Namun kalau kita hanya kat kalau ada orang berarti kita tetap belum memproduksi ketabahan itu.

Ketabahan yang murni hanya akan muncul tatkala kita memang tidak lagi bergantung pada yang lain tapi hanya pada Kristus. Nah di situlah ketabahan akan bertunas.
GS : Tetapi mengapa ada beberapa orang sudah pada puncaknya itu putus asa, kemudian orang ini mengambil jalan pintas untuk bunuh diri, kenapa Pak Paul?

PG : Sering kali orang yang berputus asa adalah orang yang tidak lagi memiliki pengharapan sebagaimana yang telah kita bahas dalam siaran yang lampau, bahwa kita mesti bersyukur. Bersyukur brarti menghitung apa yang Tuhan telah berikan kepada kita dan bersyukur berarti kita berharap, berpengharapan bahwa Tuhan tetap menyertai kita dan Dia akan menolong kita.

Orang yang berputus asa sebenarnya orang yang telah berhenti berharap bahwa Tuhan itu masih ada dan akan menolongnya. Tuhan masih ada dan Tuhan akan menolong, waktuNya Tuhan bukanlah waktunya kita, itu yang mesti kita sadari tapi pada waktunya Tuhan akan bertindak melepaskan kita dengan cara Tuhan yang paling sempurna itu.
GS : Berarti ada kaitan yang sangat erat antara ketabahan, ketahanan, pengharapan dan sebagainya Pak Paul?
GS : Sangat-sangat berkaitan semuanya dan memang menjadi sebuah kesatuan. Orang yang tabah adalah orang yang mempunyai pengharapan. Kenapa dia mempunyai pengharapan karena dia tahu kebenaran janji Tuhan yang telah berjanji bahwa anugerahKu, kasih karuniaKia, cukup bagimu. Jadi dia percaya bahwa janji Tuhan itu benar, kasih karunia Tuhan cukup untukku maka berarti saya masih bisa melewati ini. Nah akhirnya dia berjalan lagi, semakin dia berjalan semakin dia tabah. Karena keluarlah ketabahan dari dalam dirinya; dia tidak lagi mudah mundur, jatuh, dia terus bertahan dan terus bertahan. Kenapa dia terus bertahan, karena dia bisa melihat melampaui penderitaannya. Nah orang yang berputus asa tenggelam di dalam penderitaan, dia tidak mampu melihat apa yang masih ada di balik atau di luar dari penderitaannya itu.
GS : Atau orang yang hanya bertahan tanpa pengharapan itu pada suatu saat tertentu akan kehabisan tenaga untuk bertahan dan dia pasti jatuh.

PG : Betul sekali, kita memang tidak bisa terus-menerus bertahan tanpa memiliki pengharapan. Jadi memang perlu adanya pengharapan bahwa di luar penderitaan ini, setelah melewati penderitaan ni akan ada hari yang lain; akan ada anugerah Tuhan yang lain untuk kita.

GS : Kalau contoh seperti Jusuf di Perjanjian Lama yang begitu mengalami banyak penderitaan dan dia bisa bertahan, ini seorang contoh dari seorang yang hidupnya tabah Pak Paul?

PG : Betul sekali, dan kita bisa kontroversikan dia dengan Yudas. Yudas memang membuat kesalahan yang besar sekali, dia menjual gurunya, Tuhannya, kepada orang-orang Farisi. Nah dalam penyeslannya dia tahu dia salah, dia tenggelam dalam penderitaan itu.

Dia tidak bisa melihat apa itu yang ada dibalik penderitaannya. Pandangan matanya tidak bisa melampaui penderitaannya, dia stop di penderitaan, tidak adanya harapan, maka akhirnya dia membunuh dirinya. Tapi lain dengan Jusuf, dia tahu Tuhan tidak meninggalkan dia meskipun saat-saat itu dia masih dalam penjara. Dan berbelasan tahu dia harus menjadi seorang budak dan tahanan, namun matanya bisa melihat melampaui penderitaan itu. Jadi orang yang bisa melewati penderitaan adalah orang yang bisa memandang melampaui penderitaan itu.

GS : Di saat-saat seperti sekarang ini memang perbincangan seperti ini memang sangat penting sekali. Di mana kita berharap ada banyak orang yang bisa memiliki ketabahan dalam hidup ini. jadi Pak Paul banyak terima kasih untuk perbincangan pada kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga. Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Hidup Tabah". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id Kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



28. Mengampuni Diri


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T170A (File MP3 T170A)


Abstrak:

Sebagai manusia kita tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Kita seringkali menghukum diri atas kesalahan yang kita lakukan dan kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita.


Ringkasan:

Sebagai manusia kita tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Adakalanya kita melakukan kesalahan besar yang sukar kita lupakan; kita terus merasa berdosa meski kita tahu bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Bagaimanakah kita menyikapinya?

Mengapakah Kita Terus Merasa Bersalah?

  1. Kita masih merasa perlu menghukum diri sendiri. Perasaan bersalah yang terus bersarang merupakan bentuk penghukuman diri.
  2. Acap kali perasaan bersalah terus mengikuti kita sebab perasaan memang lebih sulit berubah dibanding persepsi. Kita dapat memahami bahwa seharusnya kita tidak perlu lagi merasa bersalah karena Tuhan telah mengampuni kita namun pemahaman ini tidak serta merta mengubah perasaan kita.
  3. Kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Kita berkeyakinan bahwa sekali cacat selamanya kita akan cacat di mata Tuhan.
  4. Namun demikian, perasaan bersalah sampai titik tertentu memang diperlukan dan baik. Pertobatan diawali oleh rasa bersalah akibat dosa yang telah kita lakukan. Tanpa rasa bersalah, kita cenderung mengulang kesalahan yang sama. Perasaan bersalah dapat menjadi lampu peringatan untuk mencegah jatuhnya kita ke dalam dosa yang serupa.

Bagaimanakah Kita dapat Mengampuni Diri?

  1. Kita harus melihat dan mengaku dosa atau kesalahan yang telah kita perbuat-apa adanya. Jangan mengecilkan atau membesarkan dosa. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." I Yohanes 1:9
  2. Kita mesti percaya bahwa Tuhan sungguh-sungguh telah mengampuni dosa kita. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika masih berdosa." Roma 5:8
  3. Kita hanya dapat mengampuni diri bila kita berhasil mengintegrasikan ketidaksempurnaan kita itu ke dalam gambar diri kita. Sebelum perbuatan dosa itu kita lakukan, kita telah mempunyai gambar tentang siapa kita. Kesalahan tersebut memaksa kita untuk mengubah gambar diri itu-dari sempurna menjadi tidak sempurna. Keberhasilan kita memasukkan ketidaksempurnaan itu ke dalam gambar diri kita sekarang berperan besar dalam proses pengampunan diri. "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. " 1 Yohanes 1:8
  4. Kita mesti berubah. Semakin nyata kita melihat perubahan pada diri kita, makin mudah bagi kita mengampuni diri. "...bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus meninggalkan manusia lama supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah...." Efesus 4:22-24


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Esther Tjahja, kami akan bersama-sama berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengampuni Diri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, mengenai mengampuni diri ternyata banyak orang kesulitan untuk melakukannya. Mengampuni orang lain sulit, mengampuni diri sendiri juga tidak mudah. Padahal kita kadang-kadang merasa bersalah dan merasa dihantui terus menerus dengan kesalahan itu, Pak Paul.

PG : Betul Pak Gunawan, jadi ada orang yang susah mengampuni orang lain tapi terlalu mudah mengampuni diri sendiri, sebaliknya ada orang yang sangat-sangat susah mengampuni diri sendiri tetai sangat mudah mengampuni orang lain.

Pada kesempatan ini yang kita akan lihat adalah orang yang mengalami kesukaran mengampuni dirinya sendiri.
GS : Kesalahan-kesalahan macam apakah, yang sebenarnya sulit untuk bisa diampuni Pak Paul?

PG : Biasanya memang kesalahan-kesalahan itu relatif Pak Gunawan. Karena memang setiap orang mempunyai standar nilainya masing-masing. Jadi mana yang kita anggap serius, mana yang kita angga tidak serius kadang-kadang berbeda-beda, tapi kita bisa merangkumkan beberapa karakteristik atau penyebab mengapa kita susah mengampuni diri atau dengan kata lain mengapakah kita terus merasa bersalah.

Nah sekurang-kurangnya ada 4 yang akan saya bagikan. Yang pertama adalah sering kali kita itu susah sekali mengampuni diri sendiri karena kita masih merasa perlu menghukum diri kita, perasaan bersalah yang kita rasakan itu sebetulnya merupakan bentuk penghukuman diri. Nah sampai kapankah kita akan berhenti merasa bersalah, ya sampai kita itu merasa kita telah menghukum diri kita dengan pas, cukuplah menghukum diri, barulah kita akan berhenti. Jadi saya ulang lagi adakalanya kesulitan kita mengampuni diri sebab kita menganggap kiat masih perlu menghukum diri dan kita menghukum diri sendiri lewat perasaan bersalah itu.

ET : Jadi merasa bahwa yang sudah dilakukan ini begitu besarnya, sehingga saya harus menghukum diri saya, begitu Pak Paul?

PG : Betul, sebab ini memang sesuatu yang tertanam dalam diri kita Bu Esther, sejak kecil orangtua kita mendisiplin kita atau menghukum kita tatkala kita melakukan kesalahan. Jadi sejak keci sudah tertanam konsep dalam diri kita bahwa kesalahan itu harus dibayar dengan penghukuman.

Tatkala kesalahan itu tak terbayarkan lunas oleh hukuman, kita merasa seharusnyalah kesalahan itu terus bersarang, tidak lepas dengan mudahnya. Nah itu sebabnya konsep ini akhirnya terus menghantui kita jadi kita menganggap kita masih perlu menghukum diri sendiri dan tidak boleh dengan mudah bebas dari rasa bersalah ini. Nah sebetulnya konsep ini sendiri bagian dari kodrat keadilan yang kita miliki sebagai makhluk yang diciptakan berdasarkan gambar Allah. Memang keadilan adalah kesalahan perlu dibayar dengan hukuman inilah keadilan. Saya kira inilah yang juga tertanam dalam diri kita dan akhirnya menyebabkan kita tidak mudah mengampuni diri sendiri.
GS : Bentuk menghukum diri sendiri itu, contohnya seperti apa Pak Paul?

PG : Dalam kasus yang kita bicarakan ini perasaan jijik dengan diri, perasaan benci dengan diri, memaki, mengkritik diri sendiri, menuding-nuding, menuduh-nuduh diri sendiri, menghina-hina dri sendiri, nah itu kira-kira yang biasanya kita lakukan.

GS : Itu menyangkut emosinya, Pak Paul? Misalnya ada seseorang yang bersalah terhadap anaknya sampai anaknya sakit atau bahkan meninggal Pak Paul. Nah orang ini menghukum dirinya dengan tidak mau bermasyarakat Pak Paul. Jadi dia tinggal di rumah, dia tidak mau lagi tahu dengan lingkungannya, jadinya dia bukan cuma menghukum dirinya, tapi juga menghukum orang yang ada di sekelilingnya Pak Paul.

PG : Dengan kata lain dalam upaya kita menghukum diri, tanpa sengaja atau mungkin kita sadari atau tidak kita sadari, kita itu membawa dampak negatif bagi orang-orang yang dekat dengan kita.Itu betul sekali, jadi upaya-upaya itu sering kali berdampak, dan dampaknya sering kali buruk.

Misalkan gara-gara kita terus merasa menghukum diri, kita menjadi mudah marah, mudah meledak dengan orang-orang di sekitar kita, atau kita depresi berat sehingga akhirnya kita itu tidak bisa berfungsi, lumpuh dalam kehidupan ini. Nah sudah tentu yang akhirnya menderita adalah orang-orang di sekitar kita. Yang saya juga ingin lanjutkan yang tadi Pak Gunawan katakan adalah tentang bahwa ini sebetulnya merupakan perasaan meskipun tuduhan itu dilakukan oleh pikiran kita namun yang menggerogoti adalah perasaan. Nah ini membawa kita kepada point yang berikutnya Pak Gunawan yaitu perasaan bersalah itu mengikuti kita sebab perasaan memang lebih sulit berubah dibanding pikiran atau persepsi kita. Maksudnya begini, kita sebetulnya sudah dapat memahami bahwa seharusnya kita tidak perlu lagi merasa bersalah karena Tuhan telah mengampuni kita namun pemahaman ini tidak serta merta mengubah perasaan kita. Kita tahu apa yang benar, kita tahu apa yang Tuhan sudah katakan, dan janjikan untuk kita yang telah berdosa bahwa dia akan mengampuni tetapi pemahaman atau pengetahuan ini tidak serta merta mengubah perasaan bersalah kita. Dan memang begitulah kodratnya atau yang harusnya terjadi. Sering kali perasaan itu datangnya belakangan, berubahnya belakangan; pikiran boleh berubah tapi perasaan masih di belakangnya kita, masih harus menyusul sebelum akhirnya berubah.

ET : Jadi apakah artinya kalau memang misalnya ada orang yang seperti itu Pak Paul? "Iya, saya tahu Tuhan sudah mengampuni saya tapi........."(masih ada tapinya), jadi kita dorong dia untuk terus dengan pikirannya itu dulu untuk lama-lama menghidupi perasaannya?

PG : Betul, jadi dengan kata lain meskipun perasaannya itu membuntuti datangnya belakangan, berubahnya belakangan. Namun harus dilawan dengan pikiran, pikiran yaitu bahwa Tuhan sungguh-sunggh telah mengampuni kita.

Ini membawa kita ke penyebab berikutnya Ibu Esther yaitu kenapa kita terus menerus dihantui oleh rasa bersalah, sebab saya kira salah satu penyebabnya ialah kita tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan telah mengampuni kita. Jadi sering kali kita meragukan janji Tuhan itu, benarkah Tuhan mengampuni kita, benarkah Tuhan sama sekali tidak akan membalaskan perbuatan kita, benarkah Tuhan tidak lagi menghitung-hitung perbuatan dosa kita. Nah itu yang sering kali menggerogoti kita. Jadi kita tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan telah mengampuni kita. Itu sebabnya pikiran atau pemahaman bahwa Tuhan telah mengampuni kita kalau tidak kokoh atau tidak kuat akhirnya memang tidak bisa melawan perasaan bersalah itu karena kurang kuat. Jadi akhirnya yang menang adalah perasaan bersalah lagi. Maka kalau kita ingin memenangkan perkelahian atau pertempuran melawan rasa bersalah, kita memang mesti mempunyai keyakinan yang kokoh, yang didasari bukan atas perasaan, tapi atas fakta. Faktanya adalah firman Tuhan sudah mengatakan bahwa kalau kita mengaku dosa kita, maka Tuhan akan mengampuni kita. Nah itu fakta yang tidak bisa kita gugat, sudah pasti benar karena itu adalah janji Tuhan.
GS : Biasanya seseorang yang sudah meragukan pengampunan Tuhan itu mengalami suatu musibah yang lain Pak Paul, entah karena tingkah lakunya dan itu makin menguatkan dia bahwa Tuhan tidak mengampuni dia, Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi terulangnya perbuatan dosa atau kesalahan yang sama makin membuat kita meyakini bahwa kita memang sejelek itulah, kita seburuk itulah dan Tuhan pun akan etih mendengarkan doa-doa, permintaan maaf kita itu.

Tuhan mungkin sudah muak mendengarkan suara kita yang berseru-seru meminta pengampunan. Jadi betul sekali Pak Gunawan apa yang telah kita lakukan kalau kita lakukan lagi memang akan makin membuat kita terpuruk. Jadi sebetulnya kita bisa katakan bahwa sampai titik tertentu sebetulnya perasaan bersalah itu mesti ada, diperlukan dan sehat, tidak benar kalau kita itu berkata o... saya tidak mau merasa bersalah dan tidak perlu merasa bersalah, apapun yang saya lakukan Tuhan sudah ampuni dan akhirnya masuk lagi ke dalam lubang dosa yang sama. Itu tidak sehat, jadi saya juga tidak setuju kalau orang berkata kita harus 100% bersih dari rasa bersalah. Tidak, kalau kita memang melakukan kesalahan atau perbuatan dosa seyogyanyalah kita merasa bersalah sebab merasa bersalah ini bisa menjadi lampu peringatan yang mencegah kita jatuh ke dalam lubang dosa yang sama.

ET : Kalau begitu kira-kira batasannya bagaimana Pak Paul, antara rasa bersalah yang memang semestinya dengan yang sudah seharusnya tidak kita miliki?

PG : Rasa bersalah harus ada sebagai reaksi atas perbuatan kita, namun rasa bersalah itu tidak semestinya menjauhkan kita dari Tuhan. Rasa bersalah seyogyanya membawa kita lebih dekat pada thta anugerah Tuhan karena kita tahu kita bersalah, kita berdosa dan kita memerlukan anugerah Tuhan untuk mengampuni kita.

Jadi rasa bersalah seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Kalau rasa bersalah membuat kita lari dari Tuhan; seperti yang dilakukan oleh Yudas setelah dia menjual Tuhan, dia merasa bersalah dan dia menyesali perbuatannya akhirnya dia menggantung diri, dia menjauhkan diri dari Tuhan bukannya malah mendekatkan diri kepada Tuhan. Berbeda dengan Petrus, dia tahu dia salah bahwa dia menyangkal Tuhan, tapi dia terus mengikuti Tuhan sampai ke rumah imam besar pun dia ikuti. Tuhan sudah katakan bahwa dia akan lari, memang dia lari ketakutan tapi dia terus mengikuti Tuhan, dia memang jatuh ke dalam dosa. Tapi waktu Tuhan menatap dia, dia menangis, dia menyesali perbuatannya, dia tahu dia salah; namun kita tahu bahwa dia tetap mencoba mendekati Tuhan kembali. Jadi saya kira batasnya itu, jangan sampai rasa bersalah itu justru menjauhkan kita dari Tuhan.
GS : Memang secara naluri kalau kita bersalah itu mencoba menghindar dengan orang yang kepadanya kita berbuat salah.

PG : Mungkin untuk sejenak atau waktu sementara, kita malu bertemu dengan Tuhan karena kita telah berdosa, saya kira itu bisa dimaklumi. Namun seyogyanyalah hanya sementara, sebab kalau teru-menerus alias permanen; yang menang adalah iblis.

Iblis akan bersorak-sorai dan berkata: "O.....saya berhasil, mematahkan relasi antara kita dengan Tuhan."
GS : Mungkin ada alasan yang keempat seperti tadi Pak Paul katakan?

PG : Yang saya maksud alasan keempat adalah bahwa memang rasa bersalah itu diperlukan. Jadi sampai titik tertentu rasa bersalah itu selayaknyalah ada dan selayaknya memang kita itu tidak mersa baik dengan terlalu cepat.

Itu sebabnya kadang-kadang kita masih terus merasa bersalah. Sekarang kita akan masuk ke point berikutnya yaitu bagaimanakah kita dapat mengampuni diri. Nah kita telah membahas mengapakah kita terus merasa bersalah, sekarang kita melihat bagaimana kita dapat mengampuni diri. Ada empat hal yang saya akan bagikan, yang pertama adalah kita harus melihat dan mengaku dosa atau kesalahan yang telah kita perbuat apa adanya. Maksud saya adalah janganlah kita mengecilkan atau membesarkan dosa. Firman Tuhan di I Yohanes 1:9 berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Nah yang ingin saya garis bawahi di sini adalah mengaku dosa. Bagaimanakah mengampuni dosa? Langkah pertama adalah mengampuni diri sendiri itu dimulai dengan melihat jelas apa yang kita lakukan. Kecenderungan kita adalah mendistorsi, mengecilkan atau membesarkan perbuatan kita. Tidak demikian tapi lihatlah apa adanya, apa yang telah kita lakukan; apakah kita telah berbohong, menipu orang, apakah kita telah mengambil yang bukan milik kita, apakah kita telah merugikan orang, apa yang telah kita lakukan, kerugian apakah yang ditimbulkan oleh karena perbuatan kita. Apa yang kita katakan sewaktu kita menipu orang, apa yang kita lakukan sewaktu kita berkhianat; jangan kita menggunakan bahasa-bahasa atau istilah-istilah yang berbeda untuk mengurangi kadar perbuatan kita. Nah kalau mau mengampuni diri, lihatlah perbuatan kita apa adanya.

ET : Rasanya ini memang berkaitan erat dengan bagaimana penanaman nilai-nilai itu dalam keluarga Pak Paul? Selain itu juga norma masyarakat sekitar begitu?

PG : Betul sekali ada pengaruhnya. Jadi kalau memang kita itu dibesarkan dalam rumah yang jelas mempunyai nilai-nilai rohani yang sehat, yang baik; kita memang lebih bisa melihat perbuatan kta dengan jelas.

Sebaliknya kalau kita dibesarkan dalam lingkungan di mana nilai-nilai rohani itu tidak jelas, mungkin sekali kita akan juga mengalami kesulitan melihat kadar dosa kita dengan tepat. Jadi betul sekali lingkungan atau keluarga di mana kita dibesarkan akan mempengaruhi kejelian dan ketepatan kita melihat perbuatan dosa kita itu. Bagi orang-orang tertentu menipu adalah hal yang sangat biasa dan tidak usah merasa bersalah. Bagi orang-orang tertentu menyikut orang lain demi kepentingan pribadi adalah hal yang sangat dibenarkan, karena memang mereka tidak mempunyai standar nilai yang tepat. Jadi memang kita perlu memiliki standar nilai yang tepat. Namun adakalanya meskipun kita telah memiliki standar nilai yang tepat, namun kita itu tidak nyaman melihat perbuatan kita yang salah itu. Jadi kita mengotak-atik atau mengecilkan atau membesar-besarkannya sehingga tidak melihat dengan tepat. Mengampuni diri harus diawali dengan mengakui dan melihat perbuatan kita apa adanya.
GS : Itu dibutuhkan kejujuran, sering kali kita sulit untuk jujur terhadap diri sendiri.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, ini memang perjuangan untuk bisa jujur dengan diri sendiri. Kita itu susah jujur dengan orang lain, susah jujur dengan Tuhan, namun salah satu masalah kita adaah susah jujur dengan diri sendiri.

Perlu kedewasaan untuk bisa jujur dengan diri sendiri.
GS : Kalau sudah begitu kita sudah berupaya untuk jujur dengan diri sendiri, tapi lingkungan itu tidak mendukung. Entah dia bisa mengatakan tidak apa-apa atau sebaliknya memberatkan, itu mempersulit kita untuk mengampuni diri kita sendiri.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, maka dalam kondisi seperti itu kita harus maju ke langkah yang kedua yaitu kita harus melihat apa yang Firman Tuhan katakan, itu standar dan tolok ukur kita. Kta mesti percaya bahwa Tuhan sungguh-sungguh telah mengampuni dosa kita.

Firman Tuhan di Roma 5:8 berkata: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa." Jadi jelas Tuhan telah mati untuk dosa-dosa kita, Tuhan telah mencucurkan darahNya untuk membayar segala perbuatan dosa kita itu. Jadi kita harus percaya Tuhan sudah megnampuni. Nah ini jangan sampai kita kompromikan. Adakalanya lingkungan akan berkata: "Tidak, kamu tidak diampuni, dosa kamu tidak terampuni karena melebihi batas." Ada lingkungan yang akan membesarkan dosa tapi ada juga lingkungan yang mengecilkan dosa. "O.......itu hal kecil, semua orang melakukannya." Tidak demikian, kita kembali kepada Firman Tuhan, dosa itu apa dan yang kedua apa yang Tuhan lakukan kepada kita yang berdosa sewaktu kita mengaku dosa kita kepada Tuhan; Dia berkata Dia akan ampuni. Kalau begitu kita terima standar itu, Tuhan mengampuni dosa sewaktu kita mengaku dosa kita itu.

ET : Kadang-kadang memang ada kalangan rohani yang begitu sangat menekankan bahkan pada anak-anak kecil, bahwa karena kamu melakukan itu kamu akan dihukum Tuhan. Karena ketidaksempurnaan kam ini, kamu akan dihukum Tuhan; harus yang terbaik, kalau tidak sempurna ya dikaitkan dengan penghukuman.

Ini bagaimana Pak Paul?

PG : Seperti tadi sudah saya singgung, sejak kecil memang kita dibesarkan dengan konsep bahwa kesalahan harus dibayar dengan penghukuman. Pada akhirnya konsep itu tertanam dalam diri kita, nmun setelah kita makin dewasa kita itu membentuk sebuah gambar diri, konsep diri tentang siapa kita.

Kita itu mengetahui kita punya kelemahan tertentu tapi kita tahu juga bahwa kita mempunyai kebaikan tertentu. Ini menjadi sebuah keseimbangan, sebuah gambar diri dalam hidup kita yang seimbang. Dan misalkan kita melihat diri kita lumayan positif, meskipun tidak sempurna. Waktu kita melakukan perbuatan yang benar-benar besar, melanggar hati nurani kita, melanggar norma-norma yang telah kita yakini biasanya kita itu akan merasa diri kita itu begitu jelek, begitu buruk. Dengan kata lain ketidaksempurnaan yang telah kita sadari sekarang harus kita definisi ulang. Sebab ketidaksempurnaan itu ternyata lebih berat lagi, lebih besar lagi daripada yang sebelumnya kita ketahui. Inilah yang berat dan inilah yang menyebabkan mengapa sebagian kita sulit untuk mengampuni diri. Kita hanya bisa mengampuni diri bila kita berhasil mengintegrasikan ketidaksempurnaan kita itu ke dalam gambar diri kita. Kita harus mengakui bahwa "Ya, saya telah berbuat sejahat ini dan yang berbuat itu adalah saya dan sekarang saya tidak seperti yang dulu saya pikirkan, gambaran saya itu sekarang harus berubah. Sekarang saya harus integrasikan, saya harus masukkan catatan kejelekan saya itu ke dalam konsep diri saya yang baru ini." Nah sekali lagi ini yang akhirnya menyulitkan kita untuk mengampuni diri. Sebab kita sering kali melawan, kita resisten terhadap gambar diri yang baru yang lebih buruk ini; kita tidak bisa menerimanya. Saya kira itulah sebabnya kita mencoba untuk menghukum diri, seolah-olah kita ingin membayar perbuatan dosa kita dengan hukuman itu. Dengan harapan tersirat bahwa setelah kita bayar hukuman dosa itu, diri kita yang semula akan kembali atau muncul lagi atau akan baik seperti dulu lagi. Ternyata tidak demikian, sebab kita tidak bisa membayar atau menebusnya. Jadi kita harus menerima bahwa diri kita tidaklah seperti dulu; ada kecacatan yang baru yang sekarang melekat pada diri kita. Firman Tuhan mengingatkan kita di I Yohanes 1:8, "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita". Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita orang berdosa dan meskipun kita berusaha tidak berdosa karena itu yang Tuhan minta, tapi kadang-kadang kita jatuh lagi, nah waktu kita jatuh kita harus terima bagian kejatuhan itu dan masukkan itu ke dalam diri kita sekarang ini apa adanya.
GS : Berarti harus ada perubahan di dalam diri orang itu mengenai pola pikirnya dan sebagainya, Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, dan ini memang langkah yang berikutnya dan terakhir bagaimana mengampuni diri yaitu kita harus berubah. Apapun yang kita katakan kalau kita tidak berubah, kitaakan tetap sulit untuk mengampuni diri.

Sebab kita masih melihat yang sama pada diri kita yaitu yang jelek itu masih tetap kita lakukan, maka susah untuk mengampuni diri. Saya akan kutib dari Efesus 4:22-24, "Bahwa kamu berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus meninggalkan manusia lama, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah." Semakin berubah semakin akhirnya mudah bagi kita untuk mengampuni diri, sebab kita pun melihat bahwa kita telah berubah. Tapi kalau kita tidak berubah terus kita buru-buru mengampuni diri, itu adalah tipuan berikutnya terhadap diri sendiri yang akhirnya melestarikan rasa bersalah itu.
GS : Mungkin orang yang sudah menjalani hukuman karena kesalahannya, misalkan dipenjara, dia akan lebih mudah mengampuni dirinya karena dia merasa bahwa dia sudah membayar kesalahannya, Pak Paul?

PG : Dan ini memang adalah bagian dari konsep keadilan yang memang tertanam dalam diri kita. Kita telah berbuat salah, kita telah membayarnya dan kita merasa lebih lega. Tapi sekali lagi kit kembali lagi pada Firman Tuhan, masalah rasa bersalah di satu pihak memang masalah manusia, namun di pihak lain ini masalah rohani.

Karena yang hanya dapat benar-benar menghapus bersih rasa bersalah adalah Tuhan. Karena kita tahu bahwa kita itu berdosa terhadap Tuhan, pada akhirnya atau ujung-ujungnya kita berdosa kepada Tuhan. Memang dalam tindakan nyatanya kita merugikan atau melukai orang, namun ujungnya adalah kita berdosa terhadap Tuhan. Maka pada akhirnya kita harus berdamai dengan Tuhan dan Dialah yang telah berjanji bahwa Dia akan mengampuni dosa kita, maka kepadaNyalah kita datang.
GS : Kadang-kadang itu timbul perasaan-perasaan, ingatan-ingatan yang seolah-olah menuduh kita, nah ini kadang-kadang kita sulit mengatasinya?

PG : Kita terima, kita katakan: "Tuhan, waktu saya mengingat perbuatan saya, saya merasa malu, saya merasa bersalah lagi." Tapi setelah kita akui kita kembali kepada Firman Tuhan yng sudah menjanjikan pengampunan itu.

Dia adalah setia dan adil dan akan mengampuni segala dosa kita. Kita percaya itu, itu fakta dan itu adalah janji dari mulut Tuhan sendiri dan Tuhan tidak pernah memberikan janji yang bohong.
GS : Apakah menceritakan kesalahan itu kepada orang lain yang dekat, itu akan menolong dia untuk bisa mengampuni dirinya sendiri?

PG : Akan menolong Pak Gunawan, jadi ada baiknya kita juga memberanikan diri mengaku kepada sesama kita, kepada seseorang yang kita anggap rohani dan dapat memahami kita. Nah kepadanyalah kia datang mengaku perbuatan kita, itu akan juga menolong kita melihat masalah atau perbuatan kita dengan lebih jernih, sekaligus menanamkan rasa pertanggungjawaban.

Sehingga lain kali kalau kita berbuat dosa yang sama kita akan merasa jauh lebih malu karena kita tahu sudah ada orang yang kita ceritakan.
GS : Beberapa orang sampai memutuskan untuk bunuh diri, karena dia tidak bisa lagi menanggung rasa bersalah pada dirinya sendiri.

PG : Jangan sampai membunuh diri, dan dia harus berkata betul saya tidak bisa melakukan ini yaitu mengampuni diri tapi Tuhan sudah mengampuni saya. Maka yang saya harus lakukan adalah memint Tuhan mengampuni diri saya melalui diri saya juga.

Jadi terus meminta Tuhan menolong diri kita agar kita bisa mengampuni, sebab Tuhan sudah mengampuni dan itu adalah yang terpenting.

GS : Terima kasih sekali Pak Paul, untuk penghiburan dan penjelasan ini, juga Ibu Esther terima kasih. Saya percaya ini menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi para pendengar kita. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengampuni Diri." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk menghubungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



29. Jika Kita Berselingkuh


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T170B (File MP3 T170B)


Abstrak:

Sering kita menipu diri sendiri dan berkata, "Ah, ini kan hanya persahabatan." Fakta: Perselingkuhan berawal dari persahabatan dan berlangsung dalam kedok persahabatan. Atau kita berkata, "Main-main, iseng-iseng, jajan, intermezzo." Fakta: Perselingkuhan adalah dosa perzinahan yang dilarang Tuhan dan menghancurkan pernikahan.


Ringkasan:
  1. Jangan menipu diri sendiri dan berkata, "Ah, ini kan hanya persahabatan." Fakta: Perselingkuhan berawal dari persahabatan dan berlangsung dalam kedok persahabatan. Ini sekadar dalih untuk mengizinkan diri melanjutkan relasi.

  2. Jangan bersandar pada kemauan keras kita dan berkata, "Manakala saya ingin mengakhirinya, saya pasti bisa." Fakta: Banyak pelaku selingkuh yang berjanji untuk tidak melakukannya tetapi terus melakukannya.

  3. Jangan memberi nama lain untuk mengurangi makna pelanggarannya, misalnya, "Main-main, iseng-iseng, jajan, intermezzo." Fakta: Perselingkuhan adalah dosa perzinahan yang dilarang Tuhan dan menghancurkan pernikahan.

  4. Jangan bersandar pada perasaan melainkan pada kebenaran. Fakta: Perasaan cenderung membenarkan perbuatan karena selingkuh cenderung membuat kita merasa hidup dan senang. Lakukanlah yang benar, bukan terasa benar.

  5. Jangan mengasihani diri atau rekan selingkuh; kasihanilah pasangan dan anak kita. Fakta: Yang terluka bukanlah rekan selingkuh melainkan keluarga kita.

  6. Jangan menyalahkan orang lain atau pasangan sebagai penyebab selingkuh. Fakta: Keputusan selingkuh merupakan keputusan pribadi.

  7. Bersabarlah untuk membangun ulang relasi dengan pasangan. Relasi nikah tidak dengan otomatis membaik setelah selingkuh berakhir. Fakta: Perlu waktu dan usaha keras untuk membangun relasi dengan pasangan kembali.

  8. Ambillah langkah pertama yaitu mengaku dosa kepada pasangan; jangan bersembunyi atau menyangkal. Fakta: Hidup dalam kebohongan berujung pada kehancuran.

  9. Mintalah maaf bukan sekali melainkan berulang kali sebab tidak cukup sekali kita meminta ampun kepada pasangan. Fakta: Perasaan terluka memerlukan permintaan maaf-berulang kali-agar dapat sembuh.

  10. Berhentilah selingkuh demi Tuhan, bukan demi orang lain. Fakta: Kita berdosa pertama dan terutama kepada Tuhan. "Sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu." Ibrani 10:26


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Esther Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Jika Kita Berselingkuh". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, dengan judul ini kita bukan mengajari para pendengar kita untuk berselingkuh, tapi ada orang-orang yang terjerumus di dalam perselingkuhan tetapi tidak menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Apa sebenarnya yang bisa dia lakukan ketika dia sadar bahwa perbuatannya itu keliru Pak Paul?

PG : Yang akan kita bahas bukan saja untuk orang yang merasa bersalah, tapi untuk orang yang belum merasa bersalah. Jadi memang kita mau mengalamatkan diskusi kita ini kepada semua yang memag terlibat dalam selingkuh.

Ada sepuluh hal yang ingin kita bagikan kepada para pendengar kita. Yang pertama, jangan menipu diri sendiri dan berkata: "Ah....ini hanya persahabatan." Ini adalah salah satu ungkapan yang sering diungkapkan atau dikatakan oleh orang yang berselingkuh atau memulai sebuah relasi di luar nikah dengan orang lain. Perselingkuhan berawal dari persahabatan dan berlangsung dalam kedok persahabatan. Kita sering berkata bahwa ini teman, tidak demikian, itu adalah kedok untuk mengijinkan kita akhirnya melanggengkan relasi selingkuh ini. Ada orang yang bahkan mengangkat adik, sampai-sampai istrinya itu gila dan terluka. Karena si istri tahu si suami ini bukannya mengangkat adik, tetapi mau mempunyai relasi dengan perempuan itu, maka terus dekat sehingga akhirnya diangkat adik. Supaya seolah-olah memberi dia temasi 03:00 buat si pria itu melanggengkan relasi dengan perempuan tersebut. Tapi si istri tahu bahwa suaminya ini bukannya angkat adik tanpa motivasi yang tersembunyi, jelas dia mempunyai ketertarikan kepada perempuan itu. Sebab kenyataannya adalah sering kali itu yang terjadi, jadi point pertama atau peringatan pertama jika kita berselingkuh adalah jangan menipu diri sendiri dan berkata ah.....ini hanyalah teman biasa.

ET : Yang sering kali terjadi awalnya adalah curhat, rasanya ada orang yang mendengarkan, ada orang yang mengerti kemudian itu menjadi pintu masuk.

PG : Sering kali begitu, memang masuk akal Bu Esther, masakan orang berselingkuh gara-gara berkelahi, sudah tentu biasanya adalah dari persahabatan, perkenalan akhirnya makin banyak hal-hal eribadi yang diceritakan kepada rekan selingkuhnya itu, termasuk problem-problem rumah tangga.

Dan yang satunya itu sudah tentu menjadi pendengar yang baik, yang sungguh-sungguh mengerti dengan penderitaan orang ini, dan dia akan ebrkata: "Aduh......pasanganku sendiri tidak bisa mengerti dan orang ini bisa mengerti," ya sudah makin hari makin dekat. Jadi kita mesti berhati-hati, jangan sembarangan menjalin persahabatan dengan lawan jenis.
GS : Dalam kerangka itu biasanya mereka pada awal-awalnya selalu mengajak orang lain supaya ini dilihat sebagai suatu persahabatan biasa.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, jadi kita itu memang harus mengakui bahwa diri kita penuh tipu muslihat. Kitap unya potensi besar untuk menipu, jadi harus berani, harus jujur dan berkata, &qut;Saya tertarik dengan dia, dan karena saya tertarik dengan dia justru saya harus batasi persahabatan saya."

Jangan sampai kita itu menyangkal diri dan berkata, "O.....saya tidak tertarik, jadi tidak apa-apa bersahabat terus." Tidak demikian, justru harus mengakui ya saya tertarik dengan dia, oleh karena itu terus jaga. Jangan sampai makin mendekat, justru harus dijaga.
GS : Masalahnya itu malah dinikmati, jadi untuk menghindar malah sulit.

PG : Malah sulit karena memang harus melawan keinginan diri sendiri.

GS : Point yang kedua apa Pak Paul?

PG : Jangan bersandar pada kemauan keras kita dan berkata manakala saya ingin mengakhirinya, saya pasti bisa mengakhirinya. Saya kira ini adalah salah satu bentuk penipuan terhadap diri sendri juga.

O......pasti bisa ini, o......tidak ada apa-apa, kapan waktu saya mau hentikan pasti bisa." Seolah-olah kita itu yang masih menguasai keadaan, mengendalikan perasaan kita. Tidak demikian, begitu kita terjerumus ke dalam kancah perselingkuhan, susah sekali keluar. Meskipun mau keluar tetap tidak bisa keluar, karena kita sendiri menginginkan menikmati relasi itu. Jadi untuk melawan atau menyangkal diri sendiri sangatlah susah.

ET : Masalahnya kadang-kadang ada orang yang tidak menganggap itu sebagai suatu perselingkuhan. Jadi seperti hidup itu kalau dijalani begitu saja bosan, kurang selingan; jadi ini bukan perseingkuhan tapi hanya selingan, jajan, istilah-istilah ringan yang digunakan.

PG : Nah ini adalah salah satu bentuk penipuan diri sendiri juga. Dan ini membawa kita ke point ketiga juga yaitu jangan memberi nama lain untuk mengurangi makna pelanggaran itu. Yang tadi Iu Esther katakan, daripada kita memanggil perzinahan, kita memanggilnya main-main, iseng-iseng, jajan, internet show, selingan.

Jangan memberi nama lain untuk suatu dosa yang serius di mata Tuhan. Ini perbuatan yang menghancurkan pernikahan, menghancurkan bukan hanya satu orang yaitu istri atau suami kita tapi menghancurkan anak-anak kita. Anak-anak bertumbuh besar dalam benaknya selalu mengingat bahwa ayah atau ibu itu berselingkuh, tidur dengan perempuan atau laki-laki lain, berzinah dengan orang lain dan sampai tua pun dia akan selalu mengingat bahwa orangtuanya itu pernah berzinah. Itu ingatan yang menghancurkan diri orang, jadi jangan menganggap ringan. Dengan cara memanggilnya dengan nama-nama lain yang lebih ringan; panggilan perselingkuhan sebagai perzinahan sebagai perbuatan yang menghancurkan baik istri maupun suami dan anak-anak kita. Dan kalau kita masih ada keluarga dekat, mereka pun turut terhancurkan oleh perbuatan kita.
GS : Dalam hal ini kadang-kadang yang terlibat tidak merasa bahwa itu sebagai perselingkuhan, tetapi orang yang di sekelilingnya mengamati mereka. Mereka sudah berselingkuh, tetapi setiap kali ditegur mereka berkata tidak bahwa ini hanya persahabatan, Pak Paul?

PG : Ini membawa kita ke point yang keempat, yaitu jangan bersandar pada perasaan melainkan pada kebenaran. Ini sering kali memang kita lakukan, kita tidak merasa apa-apa, orang sudah melihanya, kita tetap saja seolah-olah melangsungkan relasi ini tanpa rasa bersalah dan seolah-olah orang pun tidak melihat hal itu.

Faktanya adalah perasaan cenderung membenarkan perbuatan, sebab selingkuh memang membuat kita merasa lebih hidup, lebih senang, lebih terpenuhi dan kita yang misalkan mengalami konflik dalam keluarga kita, kita sering kali susah, menderita. Waktu akhirnya bertemu dengan orang lain yang bisa mengerti kita, menjalin hubungan cinta dengannya, sudah tentu perasaan kita akan senang dan enak. Perasaan kita yang tadinya gundah gulana, kacau, sekarang tiba-tiba tenang tadinya tidak mengharapkan hari esok sekarang mengharapkan hari esok, esoknya dan esoknya lagi. Kenapa, sebab perasaan kita memang makin membaik, makin enak. Namun saya mau ingatkan jangan bersandar pada perasaan, jangan mengambil keputusan atas dasar perasaan, tapi atas dasar kebenaran. Dan kebenaran adalah firman Tuhan. Dan Firman Tuhan berkata ini perzinahan, meskipun rasanya enak, rasanya benar, tetap salah. Jadi nasihat saya adalah lakukan apa yang benar, jangan hanya yang terasa benar; lakukan apa yang benar dan itu firman Tuhan yaitu perselingkuhan adalah dosa. Lakukan apa yang benar, stop berhenti, jangan melakukan yang terasa benar.
GS : Tapi biasanya orang yang sedang dalam perselingkuhan tidak bisa objektif seperti yang tadi Pak Paul katakan.

PG : Itu makanya orang sering berkata suami saya kok seperti jadi orang lain, saya tidak kenal dia lagi; dulu sama sekali berbeda sekarang setelah berselingkuh menjadi manusia yang seperti ii.

Betul, mereka benar-benar menjadi manusia yang berbeda; semua nilai norma yang pernah mereka anut itu tiba-tiba tidak ada lagi bekasnya dalam diri dia. Jadi manusia yang sangat berlainan karena memang kehilangan objektifitas.

ET : Dan juga akhirnya pengakuan merasa kehilangan perasaan cinta pada pasangannya, Pak?

PG : Jadi akhirnya kita berkata ya tidak ada lagi cinta, dan di sini cinta bertumbuh dengan subur, dengan sehat. Karena perasaan itu makin membenarkan perbuatan kita dan berkata ini pasti bear sebab cinta makin bertumbuh.

Tinggal tunggu waktu, dua atau tiga tahun kemudian perasaan cinta yang bergebu-gebu itu pun nanti akan turun. Dan apalagi kalau mengalami konflik dengan rekan selingkuh itu, relasi itu akan menjadi sama dengan relasi yang sebelumnya. Dan terus begitu tidak ada akhirnya, jadi memang konflik atau masalah yang terjadi dalam keluarga kita mesti kita hadapi dan bereskan. Jangan lari kepada orang lain.
GS : Biasanya orang juga beralasan, karena seperti tadi Ibu Esther katakan ada curhat, kemudian kita merasa kasihan, jadi kita itu sebenarnya mengasihi sesama.

PG : Betul, sering kali ini yang dikeluhkan oleh orang yang menjadi korban selingkuh yang biasanya adalah istri. "Suami saya itu lebih mengasihani perempuan itu daripada diri saya sendii."

Maka ini nasihat yang kelima kepada orang yang berselingkuh. Jangan mengasihani diri atau rekan selingkuh, justru kasihanilah pasangan dan anak kita. Ada orang yang justru mengasihani dirinya; saya memang orang malang, saya orang yang memang begini lemahnya tapi tidak mau lepas-lepas dengan rekan selingkuhnya. Atau kasihan dia kalau saya lepaskan, hidupnya hancur; sementara ini istri sudah babak belur, tidak dikasihi, dicampakkan dan dikhianati kenapa tidak ada rasa kasihan. Jadi bisa begitu keliru perspektif kita, maka saya mau mengingatkan kembalilah pada perspektif yang benar. Jangan mengasihani diri atau rekan selingkuh tapi kasihanilah pasangan dan anak kita. Merekalah yang terluka, merekalah yang sekarang benar-benar perlu perhatian kita.

ET : Kadang-kadang mereka merasa sulit mengasihani pasangan karena pasangan itulah penyebab mereka berselingkuh. Nah itu bagaimana Pak Paul?

PG : Ini adalah salah satu alasan klasik yang sering kali saya dengar. Maka saya ingin memberikan masukan sebagai point yang keenam, yaitu jangan menyalahkan orang lain atau pasangan sebagaipenyebab selingkuh.

Saya tidak berkata bahwa relasi yang buruk itu tidak bersumbangsih terhadap kemungkinannya atau kerentanan kita berselingkuh, sudah tentu bersumbangsih. Tapi yang ingin saya tekankan adalah keputusan selingkuh merupakan keputusan pribadi. Tidak ada orang yang menjorokkan kita sehingga akhirnya kita masuk ke kolam selingkuh. Kita yang memutuskan untuk terjun ke kolam selingkuh, itu adalah keputusan pribadi kita dan untuk keputusan itu kita harus memikul tanggung jawab. Jangan menyalahkan atau ada orang yang menyalahkan orangtuanya, "Mereka terlalu keras sehingga hidup saya tidak pernah bebas, saya akhirnya hidup tertekan, menikah pun tertekan, maka saya sekarang merasa baru bebas, saya baru bersama dengan orang yang saya sungguh-sungguh cintai." Tidaklah demikian, keputusan itu tetap keputusan pribadi dan kita harus pikul, jangan menyalahkan orang lain. Kecenderungan kita adalah menyalahkan orang lain, orang lain mungkin salah, pasangan kita mungkin salah, dan ini memang memberikan sumbangsih, tapi tetap keputusan itu keputusan pribadi dan itu yang harus kita pikul.
GS : Ada yang memberikan alasan, dia dulu salah pilih dan sekarang ini baru pilihan yang tepat.

PG : Kadang-kadang itu betul, kita memang salah pilih namun resepnya terhadap salah pilih adalah cocokkan, bekerja keraslah untuk bisa mencocokkan, untuk bisa menyelamatkan pernikahan yang kta akui kita memang salah pilih.

Jangan lari, jangan akhirnya mencari jalan pintas yang mudah. Jadi usahakan sedapat-dapatnya untuk membereskan masalah. Yang ketujuh adalah bersabarlah untuk membangun ulang relasi dengan pasangan. Tadi memang sudah disinggung tentang relasi nikah yang memang bermasalah. Jadi waktu kita itu hendak putus hubungan dengan rekan selingkuh, kita mesti mempunyai kesadaran bahwa putusnya saya dengan rekan selingkuh tidak berarti secara otomatis akan membuat pernikahan saya membaik. Ada orang yang mengharapkan itu dengan otomatis, dengan segera, dengan cepat; karena saya sudah putus dengan rekan selingkuh saya maka relasi nikah saya ini harusnya baik, pasangan saya harus bisa mengerti, tidak lagi menuntut dan sebagainya. Tidaklah demikian, itu adalah dua hal yang terpisah. Relasi selingkuh putus, tapi masalah dalam pernikahan tetap ada dan harus kita bereskan. Dan ini akan memakan waktu dan usaha keras. Ada orang yang seolah-olah beranggapan, saya sudah putuskan hubungan relasi selingkuh saya berarti harus dapat imbalannya, yaitu pasangan saya harus baik dan mengerti saya. Kalau tidak, buat apa saya dulu putus dengan relasi selingkuh saya. Tetap dia harus mencucurkan keringat untuk membereskan masalah pernikahan ini.

ET : Memang harus ada step atau langkah-langkah yang harus diambil untuk menjalani proses pemulihan ini.

PG : Betul Ibu Esther, tidak serta merta langsung beres begitu saja. Apalagi pasangan kita sudah dikhianati dan sangat terluka, itu pun memerlukan waktu bagi dia untuk sembuh, dia mungkin maih perlu marah, masih perlu untuk mengungkapkan kemarahannya itu kepada kita untuk waktu yang lama, dan kita mesti berani menanggung resiko untuk mendengarkan dan menerima ungkapan marahnya itu.

Jadi tidak cepat pemulihan atas luka yang disebabkan oleh selingkuh memakan waktu bertahun-tahun.

ET : Ada kasus yang pernah saya dengar, suami ini setelah berselingkuh kemudian mengakui perbuatannya kepada istri, jadi rencananya mau mengadakan pemuliha. Tapi setelah melihat suaminya berni berbesar hati untuk mengaku, istri pun akhirnya mengakui kalau ada masa dalam hidupnya ini dia juga pernah mengkhianati suami.

Jadi pihak suaminya itu merasa pengakuan saya seolah-olah sia-sia karena saya sudah ditipu juga. Jadi prosesnya lebih sulit lagi.

PG : Memang akan lebih rumit kalau begitu, kedua orang pernah berselingkuh tidak memudahkan proses pemulihan, justru sering kali lebih memperumit. Ada orang yang beranggapan saya pernah ditiu, saya dikhianati, sekarang saya mau balas mengkhianati.

Nah dengan dia membalas itu makin memperparah masalah, tidak mengecilkan masalah tapi malah membengkakan masalah dan lebih berat lagi. Tapi yang Ibu Esther tadi katakan tentang pengakuan dosa itu penting. Nah ini membawa kita pada point berikutnya yaitu point ke delapan, ambillah langkah pertama jika kita berselingkuh yaitu mengaku dosa kepada pasangan, jangan bersembunyi atau menyangkal. Hidup dalam kebohongan berujung pada kehancuran, tinggal tunggu waktu akan hancur. Jadi kita mesti membuang jauh-jauh kebohongan itu. Dengan cara, langkah pertama adalah akui dosa kita kepada pasangan kita.
GS : Pengakuan itu muncul karena diketahui oleh pasangannya atau memang dengan sukarela dia mengakui?

PG : Kalau belum diketahui dia harus dengan sukarela mengakuinya.

GS : Tapi apakah itu tidak akan menimbulkan masalah?

PG : Akan menimbulkan goncangan, tapi itulah langkah-langkah untuk menuju pemulihan yaitu pengakuan dosa. Sebab sering kali selingkuh itu merupakan sistem atau manifestasi problem. Problemny itu sendiri tersembunyi di dalam relasi nikah dan perlu dibereskan.

Jadi setelah diungkapkan, diangkat masalah selingkuh itu mereka harus mendapatkan pertolongan untuk bisa menggali masalah yang tersembunyi di dalamnya.
GS : Dikhawatirkan itu seperti membangunkan macan tidur, dia tidak tahu kemudian kita tiba-tiba mengaku dan timbul masalah. Seandainya tidak diberitahu pun, ada kekhawatiran nanti orang lain yang memberi tahu maka lebih runyam lagi.

PG : Betul, maka langkah pertama adalah kita datang, kita akui, kita minta ampun, naik kepada Tuhan maupun kepada pasangan yang telah kita lukai itu. Ini susah sekali, kita sering kali berkaa sudah berdamai dengan Tuhan, saya minta ampun dan Tuhan ampuni saya berarti sudah beres sementara dengan pasangan kita tidak.

Nah masalahnya adalah sering kali kalau kita tidak mengakui kepada pasangan kita, kita akan tergoda melakukannya lagi. Sebab harga yang kita bayar untuk menebus kesalahan kita itu terlalu kecil sehingga kita tidak mudah kapok. Lain kali kesempatan terbuka, kita akan lakukan lagi. Dan kita katakan dalam hati kecil kita nanti ´kan bisa kita akui di hadapan Tuhan dan Tuhan pasti mengampuni kita, jadi ya sudah. Dan pola itu akhirnya terus berputar.
GS : Tapi juga kemungkinan orang itu merasa bersalah terus, karena tidak bisa mengampuni dirinya sendiri yang telah berselingkuh itu?

PG : Nah itu bisa terjadi dan mungkin saja merasa bersalah terus, tidak bisa mengampuni; nah dia harus belajar mengampuni sebab dia tahu Tuhan sudah mengampuni. Ini berkaitan dengan point kesembilan yaitu mintalah maaf bukan sekali melainkan berulang kali, sebab tidak cukup sekali kita meminta ampun kepada pasangan.

Kenapa saya menganjurkan hal ini yaitu berkali-kali meminta maaf, karena perasaan terluka memerlukan permintaan maaf berulang kali untuk dapat sembuh. Terlalu dalam luka yang ditimbulkan akibat perselingkuhan jadi untuk sembuh perlu minta maaf yang disampaikan berulang kali dan dilakukannya itu dengan tulus. Jangan sampai kita menyampaikan, ya, saya minta maaf tapi dengan nada marah seolah-olah kita lebih galak dari orang yang kia lukai. Itu tidak bisa tidak akan membuat pasangan kita beranggapan bahwa ktia tidak sungguh-sungguh menyesali perbuatan kita. Jadi kalau salah ya minta ampun, sampai berapa kali kita harus minta ampun; mungkin ratusan kali karena mungkin sampai bertahun-tahun kemudian pasangan kita masih menyimpan terus sakit hati ini dan sampai bertahun-tahun kemudian setiap kali sakit hati itu muncul kita minta ampun, kita minta maaf. Kita katakan, saya minta maaf, saya dulu bodoh, saya dulu buta, saya melakukan sesuatu yang sangat memalukan Tuhan dan memalukan kamu; terus katakan begitu. Jangan sebaliknya, ada orang yang waktu pasangannya mengungkit kembali dia berkata jangan ungkit-ungkit yang lama, jangan sebut-sebut lagi. Perbuatan seburuk itu memang memerlukan permintaan maaf sebanyak itu.
GS : Tapi ada juga yang sepakat suami-istri mengatakan kita akhiri ini sampai di sini, artinya kita tidak akan pernah mengungkit ini lagi.

PG : Kalau memang dua-duanya bisa berkata begitu, dan yang dilukai bisa menerima itu ya tidak apa-apa. Kalau tidak bisa, pelaku selingkuh itu harus menerima konsekuensinya. Perlu kebesaran hti dan kerendahan hati untuk hal ini.

Sering kali orang yang sudah berdosa itu keangkuhannya makin membengkak, makin susah merendahkan diri.

ET : Sepertinya sudah minta maaf lalu mengatakan, pokoknya saya sudah minta maaf terserah kamu.

PG : Seolah-olah begitu, menjadi lebih galak. Karena keangkuhan, tapi tidaklah demikian dia harus bayar dengan kerendahan hati.

GS : Ya mungkin bukan cuma keangkuhan tpi menutupi kelemahannya juga supaya dia masih disegani.

Pak Paul, ada orang yang mengatakan terhadap istrinya dia bilang, "Dulu saya ini juga kenalan biasa dengan istri saya, sekarang pun hanya kenalan-kenalan biasa." Jadi relasi nikahnya itu sudah begitu buruknya sehingga tidak dianggap sebagai pasangan tetapi kenalan. Kemudian dia mulai berselingkuh dengan orang lain.

PG : Dalam semua kasus perselingkuhan nasihat kesepuluh ini harus dicamkan baik-baik Pak Gunawan, apapun alasannya. Yaitu berhentilah selingkuh demi Tuhan bukan demi orang lain. Karena orangbisa berkata lihat relasi nikah saya ini sudah hambar, tidak ada lagi kasih, dia tidak lagi seperti pasangan saya, dia seperti teman biasa saja atau alasan lainnya.

Dan mungkin sekali alasan-alasan itu benar, ada dasarnya namun ingat Tuhan. jadi berhentilah selingkuh demi Tuhan karena kita berdosa terutama dan pertama adalah kepada Tuhan. Meskipun pasangan kita tidak tahu tetapi Tuhan tahu, dan kita telah berdosa kepada Tuhan. Saya akan kutib Ibrani 10:26, "Sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesuah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu." Jadi firman Tuhan tegas sekali dalam hal dosa firman Tuhan tidak kompromi. Jangan sengaja berbuat dosa, tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Kalau sudah tahu salah, sudah tahu dosa jangan lakukan Tuhan tidak suka. Jadi demi Tuhan jangan lakukan, demi Tuhan berhenti, meskipun kita kehilangan alasan untuk berhenti, hanya satu alasan yang tertinggal yaitu demi Tuhan jangan berdosa kepada Tuhan.

GS : Terima kasih Pak Paul, semoga perbincangan ini bisa menegur dan mengarahkan banyak pendengar kita atau yang sedang mempunyai masalah dalam perselingkuhan ini. Terima kasih Pak Paul juga Ibu Esther. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Jika Kita Berselingkuh." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, kami persilakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk menghubungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



30. Bersukacita dalam Tuhan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T181A (File MP3 T181A)


Abstrak:

Bagaimanakah caranya agar kita dapat senantiasa bersukacita? Kata kunci di sini adalah "dalam Tuhan." Di luar Tuhan mustahil kita dapat senantiasa bersukacita. Dan sukacita seperti apa yang ada di dalam Tuhan?


Ringkasan:

"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" Filipi 4:4

Bagaimanakah caranya agar kita dapat senantiasa bersukacita? Kata kunci di sini adalah "dalam Tuhan." Di luar Tuhan mustahil kita dapat senantiasa bersukacita.

Definisi
Bersukacita merupakan sebuah sikap dan pilihan, tidak selalu berarti perasaan yang terus menerus kita rasakan. Mustahil dan tidaklah sehat bila kita selalu bersukacita apa pun kondisi yang kita hadapi. Itu sebabnya Firman Tuhan menegaskan, "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari." (Pengkhotbah 3:4) Orang yang bersukacita dalam Tuhan tetap bisa bersedih, namun ia tidak terbebani atau ditindih oleh apa pun yang dialaminya.

Sekurang-kurangnya ada empat cara untuk bersukacita dalam Tuhan:


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bersukacita dalam Tuhan." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, judul dari perbincangan kita ini mengingatkan saya akan sebuah ayat di dalam Alkitab yang cukup terkenal yang mengatakan, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah." Filipi 4:4. Kesan saya waktu membaca ayat ini bahwa ini adalah suatu perintah dari Tuhan untuk kita semua. Apakah memang seperti itu atau bagaimana Pak Paul?

PG : Itu adalah perintah, jadi memang itu adalah kalimat yang dikeluarkan oleh rasul Paulus. Menariknya adalah waktu rasul Paulus menulis ayat ini, dia sendiri dalam posisi yang sebetulnya tida begitu menggembirakan karena dia berada dalam penjara.

GS : Ya, justru itu Pak Paul, yang ingin saya tanyakan adalah sementara dia di dalam penjara dia memerintahkan orang lain untuk bersukacita senantiasa. Dan perintah ini terasa sulit untuk dilaksanakan.

PG : Sudah tentu itu sulit dilaksanakan, namun kalau sampai rasul Paulus mengeluarkan perintah ini atas suruhan Tuhan, saya yakin dia sendiri menghidupi perintah ini bahkan dalam situasinya yan tidak menguntungkan, dia dalam penjara karena iman kristennya namun dia tetap bisa mempertahankan sukacita dalam hatinya.

Memang kita harus juga mengerti sebetulnya apa yang dimaksud dengan sukacita.
GS : Mungkin kita salah mengartikan tentang sukacita, karena seperti yang kita lihat dalam kondisi seperti sekarang ini, orang lebih banyak menangis daripada bersukacita.

PG : Betul, apalagi kalau banyak problem yang harus dihadapi. Jadi apa definisi sukacita, saya kira kita langsung harus kembali pada firman Tuhan, sebab Paulus berkata, "Bersukacitalah senantiaa dalam Tuhan."

Dengan kata lain memang harus ada kondisinya yaitu harus di dalam Tuhan. Asumsinya adalah kita tidak bisa mempertahankan sukacita di luar Tuhan. Apa yang dimaksud dengan sukacita di sini, sukacita merupakan sebuah sikap dan pilihan; sukacita tidak selalu berarti perasaan yang terus menerus kita rasakan. Jadi saya tidak menyamakan dengan perasaan gembira, kadang-kadang ada hal-hal yang terjadi yang membuat kita senang sehingga kita akhirnya gembira. Tapi ini bukanlah yang dimaksudkan oleh Paulus, yang Paulus maksudkan adalah kita memilih sebuah sikap dan sikap kita adalah sikap sukacita. Tapi sekali lagi ini bukanlah berarti kita menjadi orang yang tidak peka, bukankah kita misalkan mengunjungi orang yang sedang berduka karena kematian orang yang dikasihinya, kita juga turut larut dalam kesedihan. Dan saya kira tidaklah benar kalau dalam suasana yang sedang sedih itu kita tertawa-tertawa, gembira dan berkata, "Saya mempunyai sukacita dalam Tuhan." Bukan itu yang Tuhan maksud, sebab waktu Tuhan harus menerima fakta bahwa Lazarus telah meninggal dan Dia berdiri di depan kubur Lazarus, Dia menangis. Kenapa Dia menangis, karena memang Dia sedih, Lazarus adalah sahabatnya dan dalam suasana yang sedang berduka, teman-teman, saudara dan semua sedang berduka, Tuhan sedang berada di sana dan Dia pun turut bersedih hati. Di Pengkhotbah 3:4, firman Tuhan mengatakan, "Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari." Jadi bukan itu yang dimaksud, setiap kali, setiap menit, setiap detik kita tertawa gembira. Orang yang bersukacita di dalam Tuhan tetap bisa bersedih namun dia tidak terbebani atau ditindih oleh apapun yang dialaminya, nah ini yang dimaksud dengan sukacita.
GS : Memang kita cenderung untuk menampilkan diri sebagai orang yang bersukacita dalam bentuk tertawa, bergembira supaya menimbulkan kesan kepada orang lain bahwa saya ini sedang bersukacita. Bahkan ada kecenderungan beberapa kali saya hadir di rumah duka itu pihak keluarganya sendiri mengajak supaya kita itu tidak usah susah. Bahkan saya pernah membaca sebuah karangan bunga yang biasanya tulisannya "ikut berdukacita", nah ini "ikut bersukacita." Ini sebenarnya bagaimana Pak Paul?

PG : Mungkin saya bisa mengerti maksud yang terkandung di dalamnya yaitu kematian bukanlah akhir dari perjalanan kita sebagai manusia, karena kita adalah orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhn dan dijanjikan kehidupan yang kekal.

Jadi kita tahu bahwa kematian adalah jembatan yang menghantar kita pulang ke rumah Bapa di sorga dan untuk itulah kita bersukacita. Tapi saya kira yang lebih manusiawi adalah dalam suasana kedukaan seharusnyalah kita kehilangan dan karena dia adalah orang yang kita kasihi, kita akan merasakan kesedihan yang dalam. Jadi seyogianyalah kita bersedih dan tidak apa-apa. Perintah Tuhan, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan bukan berarti kita tak boleh bersedih. Namun artinya kita memilih sebuah sikap dan sikap kita adalah sikap bersukacita, tidak terbebani atau ditindih oleh apapun yang kita alami.
GS : Mungkin yang penting kita mengetahui bagaimana caranya kita bersukacita dalam Tuhan, Pak Paul.

PG : Betul sekali Pak Gunawan dan ini yang kita akan bahas. Ada empat hal yang ingin saya bagikan. Yang pertama adalah kita mesti beriman, apa yang firman Tuhan katakan Filipi 4:6 an 7, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Orang yang bersukacita dalam Tuhan adalah orang yang menyandarkan hidupnya pada Tuhan, dia tahu bahwa Tuhan berkuasa dan mengasihinya. Jadi Tuhan mampu melakukan segalanya dan akan memberi yang terbaik kepadanya. Orang yang bersukacita karena dia beriman, menjadi orang yang damai, yang tenteram, sebab dia tahu siapakah yang memelihara hidupnya.
GS : Masalahnya itu kadang-kadang menghadapi kesukaran, menghadapi problem dan sebagainya, iman itu rasanya tiba-tiba hilang Pak Paul. Gejala seperti itu wajar atau tidak?

PG : Saya kira wajar dalam pengertian, pada waktu kita menghadapi sebuah masalah yang mengancam kita dan masalah itu di depan mata, kita harus hadapi. Saya kira reaksi awal adalah cemas, tapi kta harus selalu mengingatkan diri kita, "Jangan cemas, jangan kuatir, tapi kita harus datang kembali kepada Tuhan.

Membawa segala kecemasan kita, kekuatiran kita di dalam doa." Dengan cara inilah kita menyerahkan penanganan masalah itu kepada Tuhan, sebab Tuhan berjanji Dia akan memberikan kepada kita damai sejahtera. Namun sekali lagi damai sejahtera hanya dapat diberikan dan dapat kita terima kalau kita memang sepenuhnya menyerahkan penanganan masalah itu kepada Tuhan. Benar-benar kita berkata, "Tuhan, saya tak sanggup lagi, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan, ini di luar kemampuan saya, saya serahkan kembali kepadaMu, biarlah Engkau yang tangani dengan cara Tuhan." Cara-cara yang mungkin kita belum ketahui sekarang, tapi kita percaya Tuhan akan menolong kita dengan caraNya. Orang yang bisa berserah, orang yang bisa beriman kepada Tuhan, menjadi orang yang bisa bersukacita, dia tidak terbebani. Sudah tentu dia tidak tertawa-tertawa di tengah problem yang sedang dihadapinya, tapi problem itu tidak lagi menindihnya, tidak lagi membuatnya murung dan cemas sepanjang waktu. Dia mungkin akan sedikit banyak terganggu untuk waktu yang sementara, tapi setelah itu dia akan bangkit kembali dan dia akan berkata, "Saya tahu ini akan beres karena Tuhan akan menolong saya, Tuhan tidak akan meninggalkan saya." Nah iman yang bersandar seperti inilah yang kita butuhkan untuk dapat tetap hidup bersukacita dalam Tuhan.
GS : Ada orang yang tadinya kita anggap tidak ber-Tuhan, dia tidak ada kegiatan agama yang kita bisa lihat tapi menghadapi kenyataan seperti rumahnya terbakar, dia bisa menghadapinya dengan tenang.

PG : Itu memang adalah kemungkinan besar bentukan, tempaan dari pengalaman hidup sehingga dia menjadi orang yang tenang, sebab dia tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa dia perbuat, ini sesuatu yng memang harus dihadapinya.

Dan dia tahu bahwa dengan usaha, dia akan bisa melewati semua ini. Nah kalau orang saja yang tidak dekat dengan Tuhan bisa berkata begitu apalagi kita sebagai orang beriman, sebagai orang yang memang mempunyai Tuhan dalam hidup kita. Bukankah sudah seharusnyalah kita bisa lebih tenang lagi dan bisa lebih bersukacita di tengah-tengah masalah yang kita hadapi.
GS : Itu berarti sebenarnya tiap-tiap hari atau tiap-tiap saat kita harus tahu bahwa hubungan kita ini beres dengan Tuhan.

PG : Betul, dan memang perlu latihan Pak Gunawan, hubungan kita ini beres dengan Tuhan dan latihan untuk hal-hal yang kecil, berserahlah kepada Tuhan. Sehingga suatu hari kelak jika kita menghaapi masalah yang lebih besar, kita lebih mampu untuk berserah kepada Tuhan.

GS : Di dalam hal berserah kepada Tuhan, bukankah itu tidak mengurangi tanggung jawab kita untuk menyelesaikan masalah?

PG : Sudah tentu, Tuhan tidak menginginkan kita menjadi penonton yang pasif dan tidak berbuat apa-apa. Tuhan juga menginginkan agar kita mencoba, berusaha, berpikir, mencari tahu, mendapatkan iformasi, meminta pertolongan, itu adalah bagian manusiawi yang perlu kita kerjakan.

Tapi dalam proses kita mengerjakan semua itu, kita selalu berkata, "Saya hanya melakukan bagian saya sebagai manusia dan bagian saya ini sangat terbatas. Namun saya tahu, di luar dari bagian saya ada Tuhan yang akan meneruskan yang saya kerjakan dan menyempurnakan yang saya kerjakan dan mungkin nanti akan membelokkan saya ke arah yang tidak saya pikirkan sebelumnya sehingga saya menemukan jalan keluar itu. Dengan kata lain saya menggunakan prinsip bersepeda, kita tak bisa berkata, "Saya mau ke sana", tapi tidak mengayuh sepeda itu. Kita mesti mengayuh sepeda itu, kita mesti mendayung sepeda itu barulah sepeda itu berjalan. Setelah sepeda itu berjalan, Tuhan nanti akan memberi petunjuk kepada kita kemanakah kita harus pergi. Jadi keliru kalau orang berkata, "Saya diam saja, pokoknya Tuhan bereskan semuanya"; seolah-olah kita tidak mau bertanggung jawab, saya kira itu tindakan yang keliru.
GS : Mungkin ada cara yang lain di dalam kita bersukacita dalam Tuhan ini?

PG : Yang kedua adalah bersyukur. Firman Tuhan di Filipi 4:12-13 berkata, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tiak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Orang yang bersukacita menerima porsi kehidupannya sebab dia tahu bahwa Tuhan memberi tepat dan sesuai dengan rencanaNya yang terbaik. Orang yang bersukacita belajar menerima rencana Tuhan dalam hidupnya dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk memampukannya menerima. Ini kuncinya.
GS : Sering kali justru di dalam menghadapi kesulitan kita sulit untuk bersyukur seperti itu, kadang-kadang kita malah menyalahkan Tuhan atau meragukan Tuhan, "kenapa Tuhan itu membiarkan saya mengalami hal seperti ini."

PG : Ada seorang sanak saudara saya yang memberikan kepada saya resep hidup yang saya kira baik untuk saya bagikan. Dia berkata begini kepada saya, "Saya itu bisa makan di kaki lima tapi saya jga bisa makan di bintang lima."

Saya suka dengan perumpamaan itu. Artinya adalah dia bisa menikmati hidup di tingkatan yang paling sederhana, dia pun bisa menikmati hidup di tingkatan yang lebih mewah atau yang paling mewah. Saya kira kita haruslah memiliki kemampuan itu, kita bisa hidup di kaki lima, kita bisa hidup di bintang lima. Firman Tuhan berkata: "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Jadi kuncinya memang adalah kekuatan Tuhan, kekuatan Tuhan menolong kita menerima porsi. Kita adalah orang yang sering kali tidak puas, mengeluh dengan porsi yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kita tak bisa menerima porsi kita dan meminta Tuhan untuk mengubah porsi kita. Pada waktu Tuhan memberikan kepada kita porsi untuk kita, Tuhan tahu ini yang terbaik untuk kita maka kita harus belajar menerimanya. Orang yang tidak bisa menerima porsi yang Tuhan berikan tidak akan bisa bersukacita, dia akan senantiasa bersungut-sungut. Ini yang kita lihat pada umat Israel dalam perjalanan dari Mesir menuju ke Kanaan. Apapun yang Tuhan berikan, tak pernah cukup dan memuaskan hati mereka, selalu mengeluh dan bersungut-sungut, dan berkali-kali menuntut Musa mengembalikan mereka ke tanah Mesir, ke tanah di mana mareka hanyalah akan menjadi budak. Malahan dalam perjalanan itu mereka memuji-muji kondisi di Mesir, seolah-olah mereka itu menjadi orang-orang merdeka dan sangat menikmati hidup di Mesir. Kenyataannya tidak seperti itu tapi mereka seolah-olah membandingkan perjalanan dengan Tuhan di padang gurun menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk daripada tinggal di Mesir menjadi seorang budak. Nah orang yang hanya melihat hal-hal yang seperti itu tidak akan bisa bersukacita, malahan hidupnya akan terus-menerus dirundung oleh kemalangan.
GS : Sering kali kita memang kehilangan saat bersyukur itu tatkala kita mulai membanding-bandingkan, Pak Paul.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, ketidakpuasan sering kali muncul tatkala kita melihat orang lain lebih beruntung daripada kita. Kalau kita melihat orang lain lebih malang dari kita, kita sedikitlebih terhibur.

GS : Sering kali kita bukan melihat apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita harapkan sehingga kita kehilangan kesempatan untuk bersyukur.

PG : Betul, makanya saya tidak begitu setuju dengan wejangan orang yang berkata: "Ya..., kalau dalam kesusahan, lihatlah orang yang lebih susah daripadamu, nah kamu seharusnya bersyukur kamu tiak sesusah mereka."

Saya pikir wejangan ini mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah kalau kita bisa membandingkan diri dalam keadaan susah, kita bisa membandingkan diri dalam keadaan senang juga, indikasinya seperti itu. Kalau kita senang dan melihat orang lain lebih senang, bagaimana kita bisa senang kita menjadi susah karena orang lain lebih senang daripada kita. Saya kira yang lebih tepat dan lebih alkitabiah adalah kita mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita, tanpa kita menoleh ke kiri atau ke kanan. Jadi dasar syukur kita bukan kita lebih baik daripada orang lain yang susah, dasar syukur kita adalah iman bahwa Tuhan telah memberi kepada kita porsi yang paling tepat, paling sesuai dengan rencanaNya yang terbaik dalam hidup kita. Kita mesti percaya itu dan atas dasar itu kita bersyukur.
GS : Cara yang lain apa, Pak Paul?

PG : Yang ketiga adalah baik hati atau berbudi. Filipi 4:5 berkata: "Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!" Orang yang bersukacita adalah orang yang bik, dia murah hati sebab dia tahu bahwa apapun yang ada padanya merupakan pemberian Tuhan.

Dia memberi sebab dia yakin pada pemeliharaan Tuhan atas hidupnya. Bagi orang ini memberi, tidak akan membuatnya kekurangan sebaliknya memberi membuatnya menerima lebih banyak dari Tuhan.
GS : Ini saya rasa salah satu wujud nyata dari bersyukur Pak Paul.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, karena kita tahu ini pemberian Tuhan dan kita mensyukurinya, kita ingin membagikannya dengan orang lain.

GS : Jadi walaupun dia sendiri kekurangan dia masih bisa berbagi, misalnya janda yang memberi mata uang yang terakhir, saya rasa itu dia menunjukkan bahwa dia mensyukuri kehidupannya.

PG : Betul sekali Pak Gunawan, memang Tuhan adil ada orang yang kaya tapi tidak sukacita, ada orang yang miskin tapi bersukacita. Mengapa? Karena adakalanya orang yang miskin mensyukuri pemberin Tuhan, porsi Tuhan atas hidupnya dan dia tidak melihat dirinya miskin karena dia tahu apa yang dia terima dia bisa bagikan, nanti Tuhan akan tambahkan dan kembalikan kepadanya.

Jadi orang yang bersukacita memang orang yang baik, artinya orang yang murah hati, orang yang mau menolong, orang yang mau memberi. Nah orang yang senang memberi kebanyakan menjadi orang yang bersukacita kebalikannya orang yang tidak senang memberi tidak penuh dengan sukacita. Pandangannya hanya terpusat pada dirinya saja, dia tak bisa melihat orang lain, tapi orang yang memberi bersukacita. Bukankah kalau kita menolong, memberi kepada orang kita akan mengalami sukacita sebab kita melihat apa yang kita lakukan melihat orang lain juga bersukacita.
GS : Jadi sukacita yang kita berikan itu membuahkan sukacita yang lain lagi sehingga ini terus merupakan suatu kesinambungan yang tidak ada putusnya.

PG : Betul sekali.

GS : Pak Paul, ada bagian yang lain dalam mewujudkan sukacita ini di dalam Tuhan?

PG : Yang terakhir Pak Gunawan, kita mesti bersih. Kita telah membahas, beriman, bersyukur, baik hati dan yang terakhir adalah bersih. Firman Tuhan di Filipi 4:8 berbunyi, "Jadi akirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua uang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."

Orang yang bersukacita adalah orang yang berpikiran dan berhati bersih, dia tidak mengisi benaknya dengan hal-hal yang najis sebaliknya dia mengisi pikirannya dengan muatan yang indah dan yang bersih. Orang yang diisi terus-menerus dengan hal-hal yang bersih; benaknya bersih, hatinya bersih, pikirannya bersih, orang ini akan jauh lebih bisa bersukacita. Tapi orang yang mengisi pikirannya dengan yang najis-najis, yang penuh dengan dosa akhirnya tidak ada lagi sukacita dalam hidupnya. Jadi saya sangat meyakini ada kaitan antara kebersihan batiniah dengan sukacita.
GS : Orang yang tidak jujur Pak Paul, memang sulit sekali untuk bersukacita.

PG : Betul sekali, sebab dia akan melihat orang lain pun tidak jujur, dia sendiri pun ketakutan nanti ditipu orang lain sebab dia sering menipu orang.

GS : Dan kita hanya bisa mendapatkan pikiran dan perasaan yang bersih itu kalau mengisinya dengan Firman Tuhan.

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, itu adalah santapan pertama dan utama. Firman Tuhan adalah hal yang paling kudus, yang dapat kita masukkan dalam kehidupan kita dan sudah tentu yang kita masukkanadalah hal-hal yang kudus, nanti yang keluar dari diri kita juga adalah hal-hal yang kudus.

GS : Sebenarnya Pak Paul, kalau kita bersyukur, kalau kita bersukacita, orang-orang di sekeliling kita itu juga akan bisa ikut menikmati sukacita itu.

PG : Betul, dan orang senang bersama dengan atau berada dengan orang-orang yang bersukacita. Sebaliknya kalau orang ini bawaannya menggerutu, mengeluh, saya kira dia akan justru menghalau orangpergi menjauh darinya.

Dan bukankah semakin orang menjauh darinya semakin dia tidak bersukacita. Makanya seperti siklus, semakin dia bersukacita, semakin orang tertarik untuk dekat dengan dia dan semakin dia bersukacita karena di kelilingi orang-orang yang mengasihinya. Dan kebalikannya juga betul, orang yang sungut-sungut, tidak pernah senang, tidak pernah bersukacita, menghalau orang pergi. Dan semakin dia sendirian semakin dia nanti menggerutu dan bersungut-sungut.
GS : Sebenarnya kehidupan gereja yang mula-mula, bukankah itu adalah suatu kesaksian melalui kehidupan yang penuh sukacita itu?

PG : Betul sekali, mereka seolah-olah menjadi sinar yang begitu terang di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, di tengah-tengah masyarakat yang menjadi jajahan koloni dari kerajan Romawi.

Mereka menjadi orang-orang yang bersinar dan ini mempengaruhi sekeliling mereka untuk akhirnya bertanya dan mau mengenal apa itu yang membuat mereka berbeda dari orang lain, dan itu adalah iman mereka di dalam Kristus Yesus. Seperti Paulus, dalam penjara justru berkata, "Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan." Dia tidak menggerutu, justru dia berkata penahanan ini justru adalah hal yang positif, dia bisa membawa Injil Tuhan ke dalam penjara dan kita tahu itulah yang terjadi pada akhirnya.
GS : Berarti perintah Tuhan dari Filipi 4:4, bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan di tengah-tengah keluarga kita, Pak?

PG : Betul sekali, kalau tak mustahil dilakukan Paulus didalam penjara, apalagi dilakukan oleh kita di dalam keluarga sendiri.

GS : Terima kasih banyak Pak Paul, untuk perbincangan ini semoga kita menjadi orang-orang yang selalu bersukacita dalam Tuhan. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Bersukacita dalam Tuhan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



31. Menikmati Hobby


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T185A (File MP3 T185A)


Abstrak:

Banyak manfaat yang terkandung dalam hobby kita. Dan Prinsip yang harus kita perhatikan di dalam melakukan hobby ialah yang cocok untuk jiwa kita, bijak memilih hobby, jangan merugikan dan membahayakan keluarga. Hobby tidak boleh berdosa, jangan menjadi pemisah antara kita dengan orang-orang yang kita kasihi.


Ringkasan:

Semua orang membutuhkan hobby. Sekurang-kurangnya ada dua manfaat hobby, yaitu:

  1. Hobby berfungsi sebagai penyegar atau sebagai pengisi baterai. Hobby itu melakukan sesuatu yang kita sukai dan sesuatu itu yang berbeda dari kerutinan kita hari lepas hari, sehingga waktu kita melakukan hal tersebut, jiwa kita sungguh-sungguh disegarkan. Dapat dikatakan pula bahwa Hobby itu menjadi penyeimbang hidup.
  2. Hobby merupakan kepanjangan dari diri kita. Kita dianugerahkan Tuhan kemampuan, kreatifitas, menciptakan, melakukan sesuatu. Apa yang kita lakukan membuat kita senang karena kita bisa menciptakan sesuatu, kreatifitas kita tersalurkan dan ini akan sangat menyegarkan.

Prinsip yang harus kita perhatikan di dalam melakukan hobby, yaitu:

  1. Hobby itu seyogianya yang cocok untuk jiwa kita, sehingga benar-benar dampak menyegarkan dan menjadi saluran kreatifitas itu terjadi, sehingga benar-benar hobby menjadi sesuatu yang positif bagi diri kita.
  2. Harus bijak memilih hobby, artinya hobby tidak harus mahal, ada hobby yang menggembirakan namun murah. Contoh, ada orang yang senang mengumpulkan barang-barang agak tua, memang tidak harus barang antik, hobby jalan kaki, naik gunung, memelihara ikan, itu semua bisa dilakukan dengan biaya yang relatif murah.
  3. Jangan sampai hobby merugikan dan membahayakan keluarga.
  4. Hobby tidak boleh berdosa. Misalkan: berjudi, bagi sebagian orang itu hobby tapi itu adalah sebuah dosa.
  5. Jangan sampai hobby menjauhkan atau menjadi pemisah antara kita dengan orang-orang yang kita kasihi.

Saran-saran untuk kita bisa memulai melakukan hobby kita, yaitu:

  1. Mulai dengan bertanya, sewaktu kita kecil apakah yang kita sukai.
  2. Memulai hobby dengan kita melihat apa yang disukai oleh istri atau suami atau anak-anak kita.
  3. Dengan melihat ke depan yaitu ke masa yang akan datang dan kita memikirkan kira-kira nanti kalau sudah pensiun, apa yang ingin saya lakukan.
Roma 14:17, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Bisa diimprovisasi, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal hobby, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus. Jangan sampai dengan hobby, kita malah melanggar kebenaran Tuhan, jangan sampai karena hobby, bukannya damai sejahtera yang kita cicipi, malah ketegangan, kekisruhan, kekacauan, dan jangan sampai gara-gara hobby, sukacita oleh Roh Kudus itu menghilang.


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya akan ditemani oleh Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Menikmati Hobby." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, hampir semua orang itu mempunyai hobby atau kesenangan, sejauh mana kebutuhan seseorang akan hobby ini?

PG : Sebetulnya kenyataannya adalah kita ini semua membutuhkan hobby, tapi masalahnya adalah kita ini melayang dari satu pendulum ke pendulum yang lainnya, dari ekstrim satu ke ekstrim yang lainya.

Ada orang sama sekali tidak mengenali kebutuhannya untuk hobby, jadi akhirnya hidup itu diisi dengan hal-hal yang serius terus-menerus, kerja dan sebagainya. Tapi ada orang lain yang begitu dikuasai oleh hobby, jadi tidak bisa bekerja, tidak membagi waktu, semuanya dihabiskan untuk memuaskan hasratnya dan hobbynya itu. Jadi memang sering kali kita ini diayun-ayun antara ekstrim yang satu dengan ekstrim yang satunya. Namun menjawab pertanyaan Pak Gunawan, sebetulnya kita semua membutuhkan hobby.
GS : Nah orang yang tidak melakukan hobbynya, apakah mungkin dia kurang merasakan bahwa hobby itu sesuatu yang bermanfaat?

PG : Banyak orang yang tidak menyukai hobby berkata bahwa hobby itu identik dengan membuang waktu, itu sebabnya mereka sama sekali tidak mau mempertimbangkan hobby. Kenapa sampai begitu? Misanya ada orang-orang yang memang dibesarkan dalam keluarga di mana melakukan hal-hal yang kita sukai itu dianggap membuang waktu dan nilai hidup yang ditekankan oleh keluarga itu adalah bekerja dan bekerja.

Di luar bekerja, semua itu membuang waktu. Jadi orang-orang ini tidak pernah menemukan hobbynya, tidak pernah tahu juga dia membutuhkan hobby, ini menjadi masalah nantinya dalam kehidupannya.

ET : Jadi dari apa yang Pak Paul jelaskan, hobby itu ada manfaatnya, begitu Pak?

PG : Betul.

ET : Kira-kira sejauh apa manfaatnya?

PG : Sekurang-kurangnya ada dua, yang pertama adalah hobby itu berfungsi sebagai penyegar, sebagai pengisi baterai. Hobby itu melakukan sesuatu yang kita sukai dan sesuatu itu yang berbeda dar kerutinan tugas kita hari lepas hari, sehingga waktu kita melakukan hal tersebut, jiwa kita itu sungguh-sungguh disegarkan.

Mungkin kita akan letih, capek, tapi rasanya itu segar sekali, senang sekali, hati itu rasanya ringan sekali. Nah itu akibat dari melakukan hobby, sesuatu yang memang bisa menyegarkan jiwa kita kembali. Dan dalam pengertian ini kita katakan, hobby itu menjadi penyeimbang hidup. Bukankah hidup ini memikul beban, banyak tanggung jawab, memikirkan hal-hal yang serius, problem yang harus kita pecahkan, itu semua sebetulnya adalah hal-hal yang menguras energi mental kita, bukan saja energi fisik. Nah dengan kata lain sebetulnya kita perlu penyeimbang sehingga, jangan sampai cadangan kita habis untuk menyelesaikan masalah, memilihkan jalan keluar dan sebagainya. Apa yang menjadi penyegar atau penyeimbang yaitu hobby. Yang kedua adalah hobby itu juga merupakan kepanjangan dari diri kita, kita itu sebetulnya dianugerahkan Tuhan kemampuan kreatifitas, menciptakan, melakukan sesuatu. Sering kali ada orang-orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk menciptakan atau melakukan sesuatu, karena tuntutan tugasnya dan sebagainya. Nah hobby itu sebagai kepanjangan dirinya, sehingga dirinya itu tidak pendek, tapi bisa menjadi lebih panjang karena dia bisa menciptakan, kreatifitas itu terisalurkan. Jadi apa yang dia lakukan membuat dia merasa senang, karena dia bisa menciptakan sesuatu, kreatifitasnya itu dapat disaksikannya. Dan ini memang akan sangat menyegarkan juga dampaknya karena kreatifitas sering kali berfungsi juga sebagai penyegar.
GS : Tapi kalau tadi Pak Paul katakan hobby itu kebanyakan orang berpikir itu menghabiskan waktu, ternyata bukan hanya waktu, uang juga bisa habis di sana.

PG : Sering kali uang itu akan terpakai untuk hobby-hobby kita, makanya kita juga harus berhati-hati. Kita mesti selalu mengingat bahwa hobby memang penting tapi hobby itu juga mesti dijaga janan sampai akhirnya menguras keuangan kita.

GS : Pada tahap sosial ekonomi tertentu seseorang itu melakukan hobbynya hanya seolah-olah nampak seperti hobby tapi sebenarnya dia hanya menyontoh orang lain pada strata yang sama itu melakukan apa yang disebutnya sebagai hobby. Itu bagaimana Pak?

PG : Itu memang gejala latah Pak Gunawan, dan kadang-kadang kita melihat itu di kalangan orang-orang tertentu. Misalnya orang mulai hobby main mobil-mobilan yang mahal-mahal itu, sebetulnya diatidak begitu senang, tapi karena teman-temannya main dan itu adalah club mereka untuk bisa diterima, jadi dia ikut-ikutan main mobil-mobilan, mengeluarkan uang yang mahal, ada lagi main tembak-tembakan seperti perang-perangan, peralatan perangnya itu sangat mahal semua.

Tapi karena teman-temannya ikut main, dia juga ikut main namun sebetulnya dia belum tentu menyukainya. Jadi ini prinsip yang kita harus juga perhatikan. Hobby seharusnya merupakan kepanjangan dari kepribadian kita dan sungguh-sungguh menyegarkan kita. Karena kalau hobby itu tidak menyegarkan jiwa kita, buat apa dilakukan. Nah saya membicarakan di sini, sudah tentu hobby yang memang sehat, tapi intinya adalah lakukan hobby yang memang cocok untuk jiwa kita sehingga efek menyegarkan untuk jiwa kita itu ada.

ET : Tapi misalnya yang menyegarkan dan memang sungguh-sungguh disukai itu memang mahal, misalnya mengkoleksi sesuatu yang antik, itu membelinya juga membutuhkan biaya yang besar. Bagaimana menyikapinya supaya tetap ada keseimbangan dalam ekonomi rumah tangga?

PG : Nomor satu kita memang harus mendengarkan masukan dari pasangan kita, istri atau suami kita. Kalau mereka berkata ini terlalu mahal, terlalu sering membelinya dan sebagainya, kita harus dngarkan itu.

Kita harus melihat kondisi keuangan kita, sebab memang kalau kita tidak hati-hati hobby itu bisa menguras kantong kita dengan sangat cepat, tanpa terasa. Namun masalahnya adalah kebanyakan orang mempunyai pendapat, 'namanya juga hobby, hobby tidak bisa dihargai atau ditetapkan harganya. Kalau hobby seolah-olah ya boleh mengeluarkan uang sebesar-besarnya.' Nah ini pendapat yang menurut saya keliru, walaupun kita menyukai sesuatu itu namun kita harus selalu melihat kondisi keuangan kita dan hidup itu tidak hanya diisi oleh hobby, hidup itu diisi oleh banyak hal lain yang namanya kewajiban yang juga harus kita penuhi. Jadi selalu harus ada keseimbangan, meskipun kita mempunyai hobby untuk menyeimbangkan hidup kita, jangan kita terjungkal karena justru mendewa-dewakan hobby, sehingga kewajiban kita yang lain malah kita abaikan.
GS : Pak Paul, di dalam melakukan hobby, bukankah tidak semua hobby itu harus mahal, jadi artinya ada juga hobby yang tidak terlalu menuntut pengeluaran banyak uang atau biaya.

PG : Betul sekali, jadi selain prinsip pertama yang tadi saya sebutkan, kita mesti memang melakukan sesuatu yang juga sesuai dengan jiwa kita, yang benar-benar menyegarkan jiwa kita, nah itu peting sekali.

Yang kedua adalah kita mesti bijak dalam memilih hobby yaitu ada hobby yang tidak harus mahal, ada hobby yang bisa menggembirakan, namun murah. Contoh misalnya, ada orang yang senang mengumpulkan barang-barang yang agak tua, tapi memang tidak harus barang antik. Ada orang yang hobbynya jalan kaki, dia bisa naik gunung. Ada orang yang hobbynya memelihara ikan, semuanya itu bisa kita lakukan dengan biaya yang relatif murah. Misalnya ikan, kita memang senang ikan, tapi kita mesti batasi. Ini yang harus selalu kita tekankan, sesuka-sukanya kita tetap mesti ada pembatasan. Ikan kita suka, tidak berarti kita membeli 100 ikan Louhan, kita bisa mempunyai beberapa saja dan kita senang melihatnya, itupun sudah cukup. Jadi selalu kita ini mesti membatasi hobby kita. Jangan sampai akhirnya hobby itu yang menguasai kita.
GS : Itu menyangkut biaya atau dana, tapi yang pasti apapun hobby itu menyita waktu, nah ini sering kali keluarga yang merasa terganggu kalau kita sedang asyik dengan hobby yang kita sukai itu tadi.

PG : Betul, itu sebabnya semua hobby harus ada pembatasannya, baik dalam hal pengeluaran uang maupun dalam hal pengeluaran waktu. Jangan sampai akhirnya kita melupakan tanggung jawab kita, kala kita melupakan tanggung jawab kita itu memang menunjukkan kita kurang bertanggung jawab, sehingga akhirnya susah untuk kita meyakinkan anggota keluarga kita bahwa ini adalah sesuatu yang positif untuk kita.

Sebab bagi mereka dampaknya negatif, jadi bangunlah suasana yang positif di rumah kita, sehingga keluarga kita pun juga turut senang melihat kita mempunyai hobby tertentu. Jiwa kita lebih disegarkan namun sebaliknya kita tidak mengambil atau menyita waktu dari mereka.

ET : Saya menjadi ingat dengan seorang teman yang suaminya ini hobbynya otomotif. Dari Senin-Jumat bekerja sampai malam, lalu satu-satunya hari untuk dia bisa mengotak-atik mobilnya ini di hariSabtu pagi sampai siang.

Sehingga keluarganya ini kalau hari Sabtu dari pagi sampai siang tidak akan bisa ke mana-mana karena mobilnya sedang diotak-atik oleh si suami ini. Padahal mobilnya tidak ada masalah, hanya ditambah aksesoris ini, sehingga mereka khususnya si istri suka mengeluh karena rasanya suami lebih cinta mobil daripada istri dan anak-anaknya.

PG : Nah dalam kasus seperti itu, jalan keluarnya adalah ini, Ibu Ester. Dia memang membutuhkan Sabtu siang ini untuk bisa mengotak-atik mobilnya. Dan tidak apa-apa istri dan anak-anak bisa menerti, sebab dia mengambil waktu pagi sampai siang, beberapa jam per-Minggu itu untuk dirinya.

Namun si suami ini juga secara sukarela, merelakan sekali-sekali salah satu Sabtunya itu untuk keluarganya dan saya duga kalau misalnya secara berkala sekali-sekali, si suami berkata: "Eh......besok kita jalan-jalan yuk," itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan buat istri dan anak-anaknya. "O......ternyata papa juga memikirkan kami," meskipun mungkin setelah itu empat Sabtu berturut-turut dia pakai untuk hobby otomotifnya lagi, tapi tetap satu kali sudah bisa membayar 4, 5, minggu di mana dia tidak bisa memberikan Sabtu paginya untuk keluarga itu. Jadi sebetulnya hal-hal ini bisa disesuaikan asalkan yang menjadi penikmat hobby itu bersedia mengalah, memikirkan kepentingan anggota keluarga yang lain.
GS : Itu memang kadang-kadang sulit melibatkan keluarga untuk merasa senang dengan hoby yang kita lakukan, Pak Paul. Tetapi ada orang yang mencoba mempengaruhi keluarganya supaya mengerti dengan hobbynya, supaya dia juga ikut senang dengan hobby yang ia tekuni itu.

PG : Kalau hal ini memang saya harus katakan, usahanya si penikmat hobby mengajak keluarganya, menikmati hobbynya bersama; itu suatu usaha yang perlu disambut, ada baiknya seperti itu. Berarti ia tidak ingin merugikan keluarganya, dia ingin keluarganya bisa bersama-sama dengan dia menikmati hobby itu, saya kira ini itikad baik.

Kalau yang lainnya melihat ada itikad baik seperti ini, seyogyanyalah mereka memberi penghargaan, "Terima kasih, kamu kok memikirkan kami, kami kok di ajak-ajak juga." Dan seyogianyalah anggota keluarga yang lain menyambut, setidak-tidaknya mencobanya namun kalau tidak pas untuk mereka, juga jangan dipaksakan. Sebab prinsip yang sudah kita pelajari, benar-benar hobby itu seyogianya cocok untuk jiwa kita, sehingga benar-benar dampak menyegarkannya dan menjadi saluran kreatifitasnya itu terjadi, sehingga benar-benar hobby menjadi sesuatu yang positif bagi diri kita.

ET : Jadi mungkin kesediaan pasangan suami-istri untuk saling mau mengerti hobby pasangannya itu akan sangat indah juga Pak Paul.

PG : Betul, dan sering kali begini Ibu Ester, orang itu tidak keberatan dengan hobby. Yang menjadikan pasangan atau anggota keluarga lain itu berkeberatan adalah sewaktu hobby itu merugikan ata membahayakan anggota keluarga lainnya.

Misalkan kalau waktu akhirnya tersita terus, sehingga tidak bisa diberikan kepada anggota keluarga yang lain. Atau uang yang jor-joran dihabiskan untuk hobby itu. Tadi saya sudah tekankan, mesti ada pembatasan, mesti ada tenggang rasa, sehingga akhirnya hobby tidak menjadi pengganggu dalam rumah tangga. Sebab pada dasarnya semua anggota keluarga senang melihat wah......kita senang mempunyai hobby ini, namun ya kita tekankan prinsip itu, jangan sampai merugikan atau membahayakan keluarga kita. Ada orang yang jor-joran sama uang akhirnya benar-benar bisa bangkrut. Dia gadaikan semuanya. Prinsip yang satunya lagi yang ingin saya bagikan adalah hobby itu tidak boleh berdosa. Misalkan berjudi, bagi sebagian orang itu hobby tapi jelas itu adalah sebuah dosa. Kita dikuasai oleh judi, sehingga kita tunduk dan menjadi hamba dosa, pikiran kita senantiasa diisi oleh kemenangan-kemenangan atau kekalahan, mesti menang lagi, judi lagi. Nah itu benar-benar roh yang mengikat kita. Nah dalam kasus seperti itu ini bukan lagi sebuah hobby, ini adalah sebuah setan dalam hidupnya, nah ini menjadi sebuah dosa. Jadi jangan sampai hobby itu menjadi kendaraan yang nantinya itu diisi oleh iblis yang akhirnya menguasai kita dan menghancurkan diri kita.

ET : Memang tipis sekali pemisahnya, kadang-kadang ada orang yang mengatakan saya hanya sesekali bersama teman-teman menikmati katakanlah taruhan sepak bola, taruhan-taruhan pertandingan olahraa tertentu.

Tapi memang tipis sekali untuk akhirnya jatuh dalam perjudian itu.

PG : Betul, dan awal-awalnya memang bisa jadi untuk senang-senang saja, tidak ada maksud apa-apa, tapi judi itu tidak pernah netral. Selalu ada daya tariknya yang memanggil-manggil kita kembalike situ.

Kalau kita menang, kita mau menang lagi; kita kalah, kita mau membayar kekalahan kita, jadi berputar-putar di sana terus. Lain lagi adalah yang saya juga tekankan hobby bukan saja jangan sampai berdosa, tapi jangan sampai membawa kita jauh dari Tuhan, nah ini kadang-kadang yang terjadi. Biasanya kita Minggu rajin ke gereja, sekarang dua jam di gereja kita itu sudah resah mau buru-buru pulang, karena mau mengejar hobby kita. Dulu kita biasa melayani Tuhan, ikut koor dan sebaginya, sekarang buru-buru mau pergi karena mau mengejar hobby kita, jadi jangan sampai hobby kita itu akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan. Dan sudah tentu prinsip yang satunya, jangan sampai hobby itu menjauhkan kita dari orang yang kita kasihi. Buat apa kita melakuka hal yang kita sukai tapi akhirnya dijauhkan dari orang-orang yang kita kasihi dan mengasihi kita, jangan sampai hobby menjadi pemisah antara kita dengan orang-orang yang kita kasihi.
GS : Pak Paul, sebenarnya hobby itu ada pada seseorang itu mulai orang itu kecil atau setelah sampai pada batas waktu tertentu lalu timbul kebutuhan akan hobby atau bagaimana?

PG : Tergantung Pak Gunawan, memang ada orang-orang yang memang sejak kecil itu memelihara hobbynya dan terus dipelihara sampai usia dewasa. Ada orang-orang yang memang baru lebih terbuka dengn hobby di usia dewasanya sehingga barulah menemukan hobby tertentu di usia dewasa.

Jadi memang pengenalan dan pengetahuan tentang hobby ini bisa datang pada usia berapa saja, Pak Gunawan.
GS : Biasanya orang dengan hobby-hobby tertentu itu mengelompok, mempunyai club, mempunyai kumpulan tersendiri. Nah ini sebenarnya bisa menimbulkan dampak yang positif dan bisa juga menimbulkan dampak yang negatif. Nah bagaimana kita menghindari supaya melalui kelompok ini kita tidak terpengaruh atau tidak terbawa pola kehidupan yang salah?

PG : Kita melihat juga apa itu yang dilakukan oleh kelompok kita, apakah hanya misalkan club mobil pergi-pergi dan sebagainya, hanya itukah ataukah dari club yang sama ini, dari teman-teman kit itu mulai terbawa melakukan hal-hal yang kita tahu berdosa, yang Tuhan tidak kehendaki, kalau itu yang terjadi berarti ini bukan tempat kita.

Jadi kita harus selalu menggunakan prinsip yang tadi itu. Apakah ini berdosa, apakah ini menjauhkan saya dari Tuhan, apakah ini menjauhkan saya dari orang-orang yang saya kasihi dalam hidup saya. Jadi jangan sampai perkumpulan atau apa justru mempengaruhi hal-hal tadi yang baru saja saya singgung.
GS : Jadi hobby itu bisa menjadi berhala dalam diri seseorang itu, Pak Paul?

PG : Bisa sekali Pak Gunawan, dan ada orang-orang tertentu yang sangat rawan untuk mencandu hobby. Ada orang-orang tertentu yang memang tidak mudah terikat oleh hobby karena hidupnya lebih bermbang, sehingga dirinya itu dibagi untuk banyak hal.

Tapi ada orang-orang tertentu memang tidak bisa membagi dirinya, maka kalau sudah dapat satu seperti nomplok dan diterkam dan tidak bisa lepas-lepas, harus itu saja, nah ada orang yang seperti itu. Dan kalau dia sudah senang, senang habis-habisan untuk hobby itu. Namun kadang-kadang berhenti setelah setengah tahun, nanti vakum lagi. Nanti ketemu hobby baru dia terkam lagi, dan kalau sudah ketemu satu sudah, tidak bisa berpikir, tidak bisa membagi hidup, tidak bisa memikirkan orang lain, nah itu yang bahaya. Jadi memang sebaiknya kita membagi hidup kita ini dengan lebih berimbang, untuk keluarga, untuk Tuhan, untuk pekerjaan kita, untuk hobby kita dan sebagainya dan dalam keseimbangan inilah kecenderungan hobby menelan kita menjadi lebih kecil.

ET : Berkaitan dengan yang Pak Paul sampaikan di awal tadi tentang ekstrim satunya tadi, yaitu yang benar-benar tidak mempunyai hobby sama sekali. Tapi mungkin pendengar kita juga seperti itu an mulai menikmati hobby.

Apakah ada saran-saran tertentu untuk memulainya?

PG : Bisa juga kita memulainya dengan bertanya, sewaktu kita kecil apakah yang kita sukai. Sering kali hobby itu munculnya pada masa kecil terus kita lupakan karena kerja dan sebagainya. Ataumemulai hobby dengan kita bisa melihat apa yang disukai oleh istri kita atau suami kita atau anak kita.

Apa salahnya kita nimbrung dengan hobby anak atau pasangan kita sehingga kita tidak usah terpisah mengembangkan hobby yang lain. Kita bisa bersama-sama menikmati hobby dengan anggota keluarga kita. Yang lainnya lagi adalah kita bisa melihat ke depan yaitu ke masa yang akan datang dan kita memikirkan kira-kira nanti kalau sudah pensiun, apa yang ingin saya lakukan. Mulailah dari sekarang kita meniti perjalanan ke sana, melakukan sesuatu yang kita bayangkan setelah pensiun akan kita lakukan. Ini beberapa masukan kecil untuk menolong kita memulai hobby.
GS : Memang saya melihat ada keterkaitan yang erat antara sifat seseorang dengan hobby yang ditekuninya. Ada orang yang teliti dengan hal-hal yang kecil, nah dia koleksi dengan barang-barang tertentu yang orang lain merasa, begitu kok dikumpulkan. Tapi dia teliti sekali, apakah memang ada keterkaitannya Pak Paul?

PG : Sangat, dan sebetulnya tadi saya sudah singgung memang seharusnyalah hobby itu konsisten dengan siapa kita, kepribadian kita. Misalkan orang yang senang dengan alam, biasanya orang itu tebuka, bebas dan makanya hobbynya adalah alam terbuka, gunung, laut atau memelihara hewan, pokoknya yang berkaitan dengan alam terbuka, sebab memang jiwanya pun bisa lebih terbuka.

Ada lagi yang senang dengan manusia sehingga hobbynya adalah ngobrol, menelepon, kalau tidak menelepon sehari rasanya resah, mesti ada yang dia telepon, diajak ngomong, memang bermacam-macam.
GS : Pak Paul, dengan keterkaitan ini apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Saya bacakan Roma 14:17, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Kalau saya boleh sedikitimprovisasi firman Tuhan, sebab bisa juga kita terapkan dalam hobby, bisa saya katakan begini, sebab kerajaan Allah bukanlah soal hobby tetapi soal kebenaran, soal damai sejahtera, dan soal sukacita oleh Roh Kudus.

Jadi jangan sampai dengan hobby, kita malah melanggar kebenaran Tuhan; jangan sampai karena hobby, bukannya damai sejahtera yang kita cicipi, malah ketegangan, kekisruhan, kekacauan dan jangan sampai gara-gara hobby, sukacita oleh Roh Kudus itu menghilang, bahkan yang lebih sering muncul adalah kemarahan-kemarahan. Jadi tekankanlah pada kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, itu yang memandu hobby kita-jangan kebalikannya hobby yang menguasai diri kita semuanya.

GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, Ibu Ester juga terima kasih. Para pendengar sekalian, kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menikmati Hobby". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



32. Mengelola Waktu


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T185B (File MP3 T185B)


Abstrak:

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mengelola waktu, yaitu: 1. Menentukan prioritas dalam menetapkan waktu. 2. Kita mesti mempunyai tujuan akhir


Ringkasan:

Berbicara tentang penggunaan waktu, kita tidak bisa tidak harus kembali pada prioritas, sesungguhnya apa yang penting bagi kita. Apakah yang penting bagi kita sesungguhnya memandu pengelolaan waktu kita, untuk apakah waktu itu kita gunakan.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mengelola waktu, yaitu:
  1. Menentukan prioritas dalam menetapkan waktu. Di dalam menentukan prioritas tentu tiap-tiap orang berbeda, namun kita sebagai anak-anak Tuhan harus mempunyai perspektif yang tepat dalam penggunaan waktu. Jadi apapun proritas kita, dasar atau kerangka pikirnya harus sama, yaitu sebagai anak-anak Tuhan. Yang terpenting adalah kita melakukan kehendak Tuhan, saat di mana Tuhan kehendaki apa yang Dia minta kita lakukan, itulah yang kita lakukan, dan di saat itulah kita menjadi efektif. Jadi dalam penggunaan waktu dari kacamata Tuhan, yang terpenting adalah efektif. Dan efektif adalah melakukan yang Tuhan kehendaki pada saat itu juga.
  2. Kita mesti mempunyai tujuan akhir. Penggunaan waktu seharusnya diikat dan dipandu oleh tujuan akhirnya. Kalau dalam satu kurun kehidupan kita menghasilkan satu saja hal yang bermakna, itupun sudah berharga dan tidak sia-sia. Ini menolong kita untuk melihat sebenarnya apa tujuan hidup kita, ini yang akan menentukan waktu yang akan kita gunakan. Tujuan hidup kita adalah; pertama, untuk mengenal Tuhan. Kedua, setelah kita mengenal-Nya, kita benar-benar mencoba untuk melakukan kehendak-Nya. Ketiga, muliakanlah Dia melalui apa pun yang kita kerjakan. Kalau kita sadari itulah tujuan hidup kita, maka waktu yang akan kita gunakan bisa kita sesuaikan.
Prinsip penggunaan waktu Kita harus bedakan antara yang mendesak dan yang penting. Yang mendesak belum tentu penting, yang penting belum tentu mendesak, namun selalu yang harus kita utamakan adalah yang penting. Nilai-nilai yang perlu kita tanamkan pada anak mengenai penggunaan waktu, yaitu:
  1. Kita perlu tegaskan kepada anak-anak bertanggung jawab atas kewajiban atau tugas yang mereka emban.
  2. Menggunakan waktu dengan seimbang.
  3. Waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup kita.

Efesus 5:15-17, "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya akan ditemani oleh Ibu Ester Tjahja, kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengelola Waktu." Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, semua orang sebenarnya oleh Tuhan diberikan waktu yang sama, sehari 24 jam, seminggu 7 hari. Tapi kita sering mendengar sebagian orang yang mengatakan saya tidak mempunyai waktu, tapi ada juga sebagian kecil orang yang berkata saya mempunyai cukup banyak waktu. Sebenarnya faktor apa yang membedakan?

PG : Memang ada beberapa kemungkinan Pak Gunawan, yang pertama memang ada orang yang sangat sibuk. Artinya setelah satu selesai, ada satu tugas lain yang menunggu, terus berderet seperti itu shingga dia merasa tidak ada lagi waktu untuk mengerjakan hal-hal yang lain, tapi ada juga orang yang berkata tidak mempunyai waktu, bukan karena banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjakan, melainkan dia memang tidak bisa mengatur waktu.

Sehingga ada hal-hal yang seharusnya tidak dikerjakan sekarang eh....dikerjakan sekarang. Ada hal-hal yang seharusnya memakan waktu sedikit, dia ulur-ulur sehingga memakan waktu yang panjang. Jadi saya kira ada orang-orang yang memang tidak bisa mengelola waktu dengan baik sehingga selalu mengeluh kekurangan waktu.
GS : Kalau ada orang yang berkata waktu saya banyak, apakah memang betul begitu?

PG : Ada kemungkinan juga Pak Gunawan, yang pertama memang dia pengangguran, sehingga waktunya banyak sekali karena tidak ada kegiatannya. Tapi ada juga orang yang bisa mengatur waktu dengan bik, bisa mendelegasikan tugasnya sehingga dia lebih banyak waktu yang dapat dia sumbangsihkan.

Memang tidak banyak orang seperti ini juga yang benar-benar dengan tepat bisa mengatur waktunya, pekerjaannya, sehingga akhirnya dia bisa mendapatkan ekstra-ekstra waktu.

ET : Kadang-kadang tuntutan di zaman sekarang ini yang memang tuntutan yang serba cepat, sehingga mungkin sepertinya bisa mempunyai waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi ada aspek yang lan yang terabaikan.

Jadi mempunyai waktu untuk pekerjaan, tapi tidak mempunyai waktu untuk keluarga, tidak mempunyai waktu untuk pelayanan, nah ini bagaimana?

PG : Memang semuanya terpulang pada satu hal, Ibu Ester yaitu prioritas. Sebenarnya kalau berbicara prioritas, kita membicarakan apakah yang penting bagi kita, itu sebabnya ada orang-orang yan tidak ada waktu untuk satu hal, punya waktu untuk hal lain, dan ini menjadi bahan pertengkaran di rumah tangga.

Karena pasangan kita bisa berkata, untuk ini tidak ada waktu, untuk yang kamu sukai ada waktu, memang itu yang terjadi Ibu Ester. Jadi sebetulnya kalau kita membicarakan penggunaan waktu, kita tidak bisa tidak harus kembali pada prioritas, sesungguhnya apa yang penting bagi kita. Sebab sistem nilai kita ini, apakah yang penting bagi kita sesungguhnya memandu pengelolaan waktu kita, untuk apakah akhirnya waktu itu kita gunakan.
GS : Nah dalam hal menentukan prioritas, bukankah tiap-tiap orang berbeda, Pak Paul?

PG : Betul sekali, nah sekarang kita sebagai anak-anak Tuhan kita pertama-tama harus mempunyai perspektif yang tepat dulu tentang waktu, ini yang seharusnya mendasari prioritas kita nanti. Jad apapun prioritas kita, saya kira dasarnya atau kerangka pikirnya harus sama, sebagai anak-anak Tuhan.

Kita sering kali berpikir bahwa yang terpenting adalah produktif, banyak, menghasilkan, tapi sebetulnya kalau kita perhatikan di dalam firman Tuhan, yang menjadi penekanan utama sesungguhnya bukanlah banyak, produktif atau menghasilkan. Sebab kalau kita perhatikan secara ukuran manusia Tuhan itu kurang produktif, dalam pengertian manusia Tuhan itu kadang-kadang seakan-akan membuang-buang waktu. Misalnya, Tuhan membiarkan Musa 40 tahun berada di Mesir, setelah itu 40 tahun lagi di Median sebagai seorang gembala, barulah sisa hidupnya yang 40 tahun terakhir itu Tuhan gunakan untuk mengeluarkan orang Israel dari Mesir masuk ke tanah Kanaan. Dengan kata lain kalau kita berkata, sebetulnya usia prima Musa itu usia 40-80, 80-120 itu usia orang sudah uzur meskipun Musa sehat. Tapi bukankah keefektifannya, puncak-puncaknya, prima-primanya dia justru di usia pertengahan 40-80, tapi justru di usia pertengahan itu Tuhan menyuruh Musa menyepi, berdiam diri, di Median. Dengan kata lain, secara ukuran manusia Tuhan tidak produktif. Jadi waktu kita membicarakan mengenai waktu, kita mesti pertama-tama melihat dari kacamata Tuhan, apakah yang penting bagi Tuhan dan bagaimanakah cara Tuhan bekerja. Ternyata dalam kamus Tuhan, cara Tuhan bekerja itu sering kali berlainan dengan manusia. Bagi manusia yang penting produktif, menghasilkan dan waktu kita melihat bahwa kita menghasilkan dan produktif kita puas, dan berkata tidak sia-sia. Tapi ternyata di mata Tuhan belum tentu yang produktif dan menghasilkan itu yang dianggap tepat sasaran atau itu yang dianggap sesuai dengan kehendak Tuhan. Justru kita melihat berkali-kali dalam contoh-contoh di Alkitab yang penting adalah melakukan kehendak Tuhan. Saat di mana Tuhan kehendaki apa yang Dia minta kita lakukan, itulah yang kita lakukan, di saat itulah kita menjadi efektif. Jadi akhirnya saya simpulkan, dalam hal penggunaan waktu dari kacamata Tuhan yang terpenting adalah efektif. Dan definisinya efektif adalah melakukan yang Tuhan kehendaki pada saat itu juga. Nah bisa jadi di ukuran manusia justru tidak produktif. Contoh-contoh lain yang misalnya bisa kita munculkan, seseorang yang cerdas, yang bisa mempunyai gelar-gelar yang tinggi-tinggi kemudian menjadi hamba Tuhan. Orang berkata, "Aduh...buang waktu, ngapain kerjakan beginian, hidup kamu 'kan bisa lebih produktif di tempat lain, menjadi ini, menjadi itu." Sekali lagi dalam kacamata Tuhan, penggunaan waktu yang Tuhan inginkan adalah melakukan kehendak Tuhan, itu yang namanya efektif. Jadi bukan hanya produktif semata.

ET : Mungkin karena terjebak dengan kata menggunakan waktu itu, jadi seolah-olah harus ada hasil. Belum lagi falsafah dunia ini mengatakan waktu adalah uang, jadi memang seolah-olah semua kaitnnya dengan apa yang kita hasilkan.

PG : Dan ini yang harus kita ubah sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak bisa berkata, "Waktu adalah uang." Waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan mengerjakan kehendakNya. Kita mendefinisikanya sebagai kesempatan, jadi kita tidak mendefinisikannya sebagai hitungan satuan, menit, detik dan sebagainya.

Bukan demikian, tapi kita membicarakannya sebagai sebuah blok, sebuah kesempatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Ini yang seharusnya menjadi prioritas kita, cara pikir kita memandang soal penggunaan waktu.
GS : Dan itu berarti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, Pak Paul?

PG : Tepat sekali Pak Gunawan, karena ini adalah kesempatan yang Ia berikan kepada kita, kita harus gunakan sesuai kehendak-Nya, agar rencana-Nya tergenapi.

GS : Jadi kalau kita melihat produktif atau tidak, mungkin menjaga anak atau bermain-main dengan anak itu kelihatannya tidak produktif tapi bukankah nilainya bisa tinggi di mata Tuhan.

PG : Point yang bagus sekali Pak Gunawan, ini sering kali menjadi keluhan bagi sebagian ibu-ibu muda yang terpaksa harus diam di rumah karena ada anak dan sebagainya. Mereka berkata, "Saya memuang-buang waktu, karier saya bunuh, gara-gara sekarang ada anak dan keluarga," tapi (itu cara pandang dunia, marilah kita melihatnya dari cara pandang Tuhan).

Waktu bukan satuan menit lagi, dan kita harus menggunakan satuan menit itu dengan semaksimal mungkin, jangan sampai ada satupun terbuang tanpa terhitung. Waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk melakukan kehendakNya. Kalau kehendak-Nya sekarang adalah kita menjaga anak-anak, biarkan. Sama seperti misalkan gara-gara kita sakit, kita sekarang harus berdiam diri di rumah, "Aduh buang waktu ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa." O......tidak, dalam rencana Tuhan, tidak ada yang namanya buang waktu, itu adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan kehendak-Nya. Dan mungkin saja kehendak-Nya adalah berdiam di rumah saat ini, beristirahatlah, sebab ada hal lain yang lebih penting yang engkau harus kerjakan untuk-Ku. Seperti Paulus di penjara, bertahun-tahun di penjara, tapi bagi Paulus itu bukan pembuangan waktu, sebab di penjaralah dia menjadi berkat buat orang lain, dia menjadi berkat buat kepala penjara, dia bisa memenangkan penjaganya. Jadi sekali lagi kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya, dan tidak ada lagi istilah membuang waktu, kalau kita melihatnya dari kacamata itu.

ET : Ya karena memang di kalangan orang-orang Kristen sendiri juga tidak ada konsep layanilah Tuhan, sehingga akhirnya memang menggunakan setiap kesempatan untuk melayani Tuhan terlibat dalam playanan, namun kembali lagi soal prioritas, keluarga yang terabaikan.

PG : Betul sekali, jadi akhirnya yang disoroti adalah aktifitasnya, sehingga kalau kita tidak mempunyai aktifitas sama sekali, rasanya kita tidak hidup dalam kehendak Tuhan. Sama sekali tidak epat.

Seperti tadi saya singgung tentang Musa, secara ukuran manusia prima-primanya Musa pada umur 40-80, Tuhan tidak memakai Musa umur segitu. Tuhan memakai Musa umur 80-120, sudah uzur tapi buat Tuhan itulah kesempatan. Usia 40-80 kesempatan Musa untuk diam dan untuk belajar bersabar, beriman, mengendalikan diri dalam Tuhan. Itu ternyata hal yang lebih penting daripada buru-buru ke Mesir membebaskan Israel dari penindasan Mesir saat itu. Ada yang lebih penting lagi, dan kita tahu memang tugas memimpin umat Israel selama 40 tahun di padang gurun memang tugas yang berat, tanpa persiapan yang Tuhan berikan kepada Musa, tidak mungkin Musa dapat melaksanakan tugasnya itu. Tanpa Musa di tanah Median 40 tahun, tidak mungkin Musa mengerti maksud Tuhan dalam hidupnya. Jadi sering kali itu yang terjadi, kita menerima sesuatu dari Tuhan, kita tidak melihatnya sebagai suatu kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menggenapi pekerjaan atau rencana-Nya. Kita melihatnya, "Aduh.....saya ini membuang-buang waktu." Tidak demikian, jadi sekali lagi kita harus menggunakan kacamata Tuhan sewaktu kita memandang masalah waktu.
GS : Tapi sebaliknya ada sebagian orang yang sengaja bermalas-malasan dan itupun kitab suci dengan tegas mencela sikap seperti itu.

PG : Betul, Paulus memang dengan tegas mengatakan kita jangan "idle", artinya buang-buang waktu yang tidak ada juntrungannya, Tuhan tidak senang. Tuhan juga berkata kalau tidak bekerja, tidak akan artinya bertanggung jawablah atas hidup ini.

Jangan akhirnya kita menjadi tidak bertanggung jawab dan malah mencoreng nama Tuhan. Jadi memang mesti ada keseimbangan dalam hal ini, Pak Gunawan.
GS : Saat-saat seperti sekarang ini sering kali orang mengatakan, waktu itu begitu cepat berlalu, walaupun ada sebagian orang yang mengatakan rasanya tidak maju-maju hari ini. Sebenarnya faktor apa yang bisa menyebabkan orang merasakan cepat berlalu, kadang-kadang lama sekali, Pak Paul?

PG : Biasanya memang berapa banyak yang harus kita kerjakan, itu akan mempengaruhi perasaan kita dalam mengukur cepat lambatnya waktu. Makin banyak hal yang harus kita kerjakan, secara psikolois kita tiba-tiba merasa diburu.

Waktu kita merasa diburu, berarti secara mental kita seolah-olah sedang berlari dan seolah-olah kita sedang berlari melewati saluran waktu dengan sangat cepat sekali. Makanya kita berkata waktu kok cepat sekali habis, karena memang banyak hal yang harus kita kerjakan dan se mua itu seolah-olah memburu kita. Dan karena kita diburu, kita berlari berarti kita menjalani saluran waktu atau terowongan waktu ini dengan sangat cepat sekali. Tapi ada orang yang berkata waktu ini sangat lambat, bisa jadi karena memang tidak banyak yang dikerjakannya atau dia memang mempunyai konsep yang sangat jelas bahwa satu dulu selesai, nanti yang lain bisa tunggu. Tidak apa-apa, saya tidak harus buru-buru menyelesaikan yang lain, nah ada orang yang seperti itu juga. Orang yang seperti ini cenderung akan berkata, "saya ada waktu". Sebab dia akan fokuskan yang satu dulu sampai selesai, baru dia kerjakan yang lain. Dan kapan selesainya? Ya kapannya selesai ya baru selesai tidak harus memberikan tenggang waktu.
GS : Selain kita menetapkan prioritas di dalam menetapkan waktu, apakah ada hal lain yang perlu kita pikirkan di dalam mengelola waktu ini?

PG : Ada Pak Gunawan, tadi saya sudah singgung tentang konsep waktu dari kacamata Allah. Yang berikutnya lagi adalah tentang kita mesti mempunyai tujuan akhir, Pak Gunawan. Sebab penggunaan wktu sekarang ini seharusnya diikat dan dipandu oleh tujuan akhirnya.

Saya mau mengutip perkataan dari seorang psikiater Kristen yang bernama Scott Pack, dia berkata: "terpenting bukanlah menghasilkan banyak dalam satu hari atau dalam satu jam, yang terpenting adalah bagaimana menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam satu kurun hidup kita". Jadi menarik sekali konsepnya, dia tidak melihat atau meneropong waktu dari sudut jam atau hari, berapa banyak yang bisa dihasilkan dalam satu kurun yaitu hari atau jam. Dia mengatakan dalam satu masa kehidupan, apa yang bisa kita perbuat yang bermakna dan berguna. Dengan kata lain, kalau dalam satu kurun kehidupan kita menghasilkan satu saja hal yang bermakna, itupun sudah berharga dan tidak sia-sia. Saya kira ini menolong kita untuk melihat sebenarnya apa tujuan hidup kita, nah ini akan menentukan waktu yang akan kita gunakan. Sebab semua ini waktu seolah-olah seperti kendaraan yang sedang kita naiki untuk sampai ke tujuan itu. Kalau kita kembali kepada firman Tuhan, tujuan hidup memang pada akhirnya untuk mengenal Tuhan, melakukan kehendak-Nya dan memuliakan-Nya. Jadi pertama kita harus mengenal Tuhan dulu, itu tujuan hidup kita. Dan yang kedua, setelah kita mengenalnya kita benar-benar mencoba untuk melakukan kehendak-Nya, apa itu yang dititipkan untuk kita kerjakan. Dan yang terakhir, muliakanlah Dia melalui apa pun yang kita kerjakan itu. Kalau kita sadari itulah tujuan hidup kita, maka waktu yang akan kita gunakan bisa kita sesuaikan. Kita sesuaikan untuk apa ini, apakah sesuai dengan tujuan akhir; untuk apa ini, apakah memang menolong kita mencapai tujuan akhir itu. Yang tidak, kita mulai pangkas, yang seharusnya ada tapi belum, itu kita pikirkan untuk nanti kita masukkan ke dalam jadwal kehidupan kita.

ET : Pada kenyataannya ketika kita sudah menjalaninya, melewati lorong waktu ini, mudah sekali buat kita terjebak dengan tuntutan-tuntutan yang lain, yang sepertinya juga baik, yang memang haru kita lakukan.

Nah untuk menjaga agar tidak mudah terombang-ambing menengok ke kiri-kanan ini bagaimana, Pak Paul?

PG : Ada prinsip yang sering kali diajarkan oleh para pakar mengenai pembagian waktu, penggunaan waktu yaitu harus selalu kita bedakan antara yang mendesak dan yang penting. Yang mendesak belu tentu penting, yang penting belum tentu mendesak, namun selalu yang harus kita utamakan yang penting.

Tapi definisi penting ini juga relatif, sebab tadi prinsip sebelumnya yang baru saja saya ungkapkan harus selalu kita ketahui, tujuannya apa, ke mana. Kita sebetulnya menjalani hidup, sebetulnya menjalani waktu tapi waktu itu seperti kendaraan, yang penting bukannya kendaraannya, yang penting adalah tujuannya. Nah kalau kita sudah jelas dengan tujuannya, kita akan tahu apa yang penting, dan kita harus memang sering kali mengecewakan orang, melukai hati orang, karena tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Tapi kita harus kembali lagi memang kepada apa yang penting, sehingga kita tidak terjebak dan dihisap oleh apa yang mendesak. Sebab lingkungan kita itu karena masing-masing mempunyai kepentingan atas diri kita, kemungkinan akan menyedot, supaya apa yang penting buat mereka, apa yang baik buat mereka dapat kita berikan kepada mereka. Tidak selalu harus kita turuti, kita harus melihat juga apa yang penting dan itu yang nantinya kita utamakan.
GS : Sulitnya itu kalau memang seperti tadi Pak Paul katakan itu menolak undangan orang atau menolak permintaan orang. Itu kita secara tidak sengaja menyakiti hatinya atau paling tidak mengecewakan, nah ini bagaimana Pak Paul?

PG : Betul sekali Pak Gunawan, karena kita juga tidak enak mengecewakan orang. Dan adakalanya apa yang penting buat kita, adakalanya memang bisa kita korbankan, kita jangan sampai kaku. Kita embali pada prinsip yang pertama tadi, waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan agar kita melakukan kehendak-Nya.

Adakalanya kesempatan itu berlawanan dengan yang kita anggap penting, sehingga pada waktu kita melakukannya kita berkata: "Ah....ini tidak penting buat kita, buat tujuannya dan sebagainya." Namun siapa tahu ini adalah kesempatan yang memang dari Tuhan. Contoh, waktu Abraham dikunjungi oleh Malaikat. Malaikat mengunjunginya dalam penampakan seorang manusia, awalnya Abraham tidak tahu bahwa dia adalah Malaikat tapi karena dia baik hati, ramah, Abraham mengundang, "Ayo datang.........makan dulu, istirahat, ngobrol-ngobrol." Abraham memang seorang yang sangat baik, tidak kenal sama mereka tapi tetap diundang masuk diajak makan. Nah setelah itu semua terjadi, ngobrol, makan, dan sebagainya barulah Malaikat itu mengatakan siapa dirinya bahwa mereka adalah utusan Tuhan. Dan membawa kabar yang sangat dinantikan oleh Abraham, bahwa dia akan mempunyai keturunan yaitu anak perjanjian yakni Ishak yang nanti akan menjadi saluran atau garis keselamatan untuk manusia. Jadi intinya adalah itu terjadi setelah Abraham "buang-buang waktu" melakukan hal-hal yang tidak terlalu penting, mengundang orang makan dan sebagainya. Tapi itulah kesempatan yang Tuhan berikan, menjadi hal yang sangat luar biasa penting. Sekali-sekali kita harus berani mengorbankan diri, jangan diikat oleh ini tidak penting, saya hanya mau melakukan hal yang penting buat tujuan akhir saya. Makanya prinsip pertama dan kedua harus selalu kita seimbangkan. Di satu pihak, lihatlah ini adalah hal penting atau tidak penting, sesuai dengan tujuan kita atau tidak, akhirnya apa. Di pihak yang lain jangan lupa kesempatan, waktu itu bukannya menit tapi kesempatan, siapa tahu ini adalah kesempatan yang memang Tuhan anugerahkan kepada kita.

ET : Jadi kadang-kadang perlu mengijinkan interupsi-interupsi terjadi dalam diri kita, Pak?

PG : Sebab bisa jadi interupsi adalah kesempatan yang Tuhan sedang berikan pada kita agar melakukan kehendak-Nya.

ET : Tetap berkaitan dengan pedoman tadi bagaimana menerapkan hal itu dalam penggunaan waktu luang kita Pak Paul?

PG : Nah menurut saya waktu luang bisa kita gunakan secara santai untuk kepentingan diri yaitu untuk merawat diri, untuk menyenangkan hati, selama dalam koridor kekudusan Tuhan, kebenaran Tuhan tidak dalam koridor dosa.

Jadi waktu luang gunakanlah untuk merawat diri. Kita ini perlu perawatan, bukan saja kita perlu merawat orang di sekitar kita, kita pun perlu perawatan, syukur-syukur kalau orang lain merawat kita, juga mengingat kita dan sebagainya. Namun jangan 100% bergantung pada uluran tangan orang untuk merawat kita. Kita harus bergantung pada diri kita sendiri juga untuk merawat diri. Apa misalnya yang senang kita lakukan pada hari senggang, waktu ada, misalnya membaca; membaca itu sangat produktif, sangat baik sekali untuk jiwa kita, lakukanlah hal seperti itu untuk benar-benar merawat diri kita sendiri.
GS : Mengelola waktu atau menggunakan waktu itu sendiri secara bertanggung jawab, itu bukan sesuatu yang mudah setelah perbincangan ini kita lakukan. Nah bagaimana kita menanamkan nilai-nilai ini kepada anak-anak kita?

PG : Saya kira pada masa anak-anak, kita itu hanya tegaskan kepada anak-anak, lakukanlah kewajiban, jadi kita melatih mereka bertanggung jawab atas kewajiban atau tugas yang mereka emban. Hany itu saja, karena ini adalah cikal bakalnya.

Kalau kita sudah bisa bertanggung jawab dengan tugas yang telah diberikan kepada kita, kita mempunyai disiplin, disiplin untuk menggerakkan diri kita mencapai target-target yang memang kita harus capai. Jadi untuk anak-anak saya kira nomor satu itu. Kedua, kita juga mau melatih anak-anak untuk bisa merawat diri, melakukan hal-hal yang menyegarkan dirinya, menggunakan waktunya untuk bisa kembali memberi makan kepada jiwanya. Nah jangan sampai anak kita menjalani hidup yang tidak berimbang, bisanya hanya belajar saja. Tidak ada yang namanya sosialisasi, ngobrol dengan teman, pergi dengan teman, tidak ada yang namanya baca, main sendiri; kalau itu kehidupan anak-anak kita, kita seharusnya khawatir karena kita melihat ini tidak lagi seimbang. Maka kita mau mengajak anak kita untuk menggunakan waktu juga secara seimbang. Jadi point pertama adalah bertanggung jawab, tugas-kerjakan sebaik-baiknya. Kedua, memang gunakan waktu seimbang, sehingga diri kita bertumbuhnya juga seimbang. Nah kalau dua hal ini bisa kita tanamkan pada anak-anak, ini sudah sangat penting sekali. Sudah remaja, kita baru masukkan konsep yang berikutnya, tentang kesempatan yang Tuhan berikan. Bahwa waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup kita, sehingga mereka mulai memikirkan apa itu yang Tuhan kehendaki dalam hidup mereka. Dan kalau mereka sudah mulai remaja lebih besar lagi, kita mulai membahas tentang apa tujuan akhir hidup mereka. Dan susunlah hidup ini sesuai dengan tujuan akhir itu, sehingga nanti mencapai tujuan akhir tersebut.
GS : Di samping kita sendiri harus bertanggung jawab di dalam menggunakan waktu kita, sebenarnya kita juga terpanggil untuk menghargai waktu orang lain.

PG : Ini point yang bagus sekali Pak Gunawan, sehingga kita tidak hidup egois, pokoknya yang penting orang mengerjakannya untuk kita, orang harus selalu mengerti kita; kita pun perlu menghargaiwaktu orang.

GS : Nah di dalam kaitan ini apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Saya akan bacakan dari Efesus 5:15-17, "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakalah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." Jadi sekali lagi penekanannya pada memahami waktu ialah kesempatan yang Tuhan berikan, untuk kita melakukan kehendak Tuhan. Jangan sampai kita akhirnya ditelan oleh waktu, waktu adalah kendaraan untuk mencapai tujuannya itu, tujuan akhir kehidupan kita yaitu untuk memuliakan Tuhan, untuk mengenal Tuhan, untuk melakukan kehendak Tuhan. Justru waktu itu yang akhirnya memakan kita dan kita kehilangan target dan tujuan hidup itu. Orang yang kehilangan adalah orang yang bodoh, mereka akan dimakan oleh waktu, tapi orang yang arif adalah orang yang menggunakan waktu untuk sampai pada tujuan.

GS : Terima kasih Pak Paul juga Ibu Ester terima kasih, para pendengar sekalian, kami juga mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengelola Waktu". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda untuk mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara Telaga yang akan datang.



33. Pribadi yang Cemas


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T203A (File MP3 T203A)


Abstrak:

Ada orang yang sukar mengambil keputusan. Mereka terus menimbang-nimbang dan tidak dapat menentukan pilihannya. Disini akan dijelaskan mengenai ciri dan penyebab dari pribadi yang cemas.


Ringkasan:

Ada orang yang sukar mengambil keputusan. Mereka terus menimbang-nimbang dan tidak dapat menentukan pilihannya. Biasanya mereka mencemaskan segala sesuatu dan akhirnya sukar bertumbuh dalam iman. Berikut kita akan melihat ciri-ciri kepribadian cemas dan penyebabnya.

Ciri Kepribadian Cemas

Penyebab

Firman Tuhan Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. Amsal 12:25

Khusus bagi orang yang mudah cemas, pengambilan keputusan dapat menjadi saat yang menegangkan. Ia takut salah dan tidak berani menanggung akibatnya; acap kali ia berlindung di balik orang lain agar tidak usah mengambil keputusan. Namun ia tidak dapat menghindar terus menerus; ia pun harus belajar membuat keputusan sendiri. Di bawah ini diberikan beberapa masukan untuk menolong orang yang mudah cemas mengambil keputusan.

Firman Tuhan Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu. (Mazmur 103:13-14)


Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Pribadi yang Cemas". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Semua orang pasti pernah cemas, tetapi ada sebagian orang rasa kecemasannya itu agak di atas kewajaran, dan itu kelihatan sekali khususnya kalau mereka harus mengambil sebuah keputusan atau suatu tindakan yang cepat. Mereka tidak bisa dengan segera melakukannya, apakah memang betul seperti itu Pak Paul?

PG : Betul Pak Gunawan, jadi memang kita secara umum pasti bisa cemas, pasti ada moment-moment di mana kita mencemaskan sesuatu; ada saat-saat di mana kecemasan kita meninggi. Tapi khusus untu sebagian orang kecemasan menjadi problem mereka, karena dalam hal apa pun mereka mudah cemas; sedikit saja ada ketegangan mereka sudah bisa langsung bereaksi.

Jadi memang ada sebagian orang yang mudah sekali dilanda kecemasan.
GS : Apakah itu bisa kita lihat atau kita bisa kenali Pak Paul?

PG : Bisa Pak Gunawan, sekurang-kurangnya ada 3 ciri yang umum. Yang pertama adalah orang yang memiliki kecemasan yang tinggi sukar sekali untuk mengambil keputusan, karena biasanya mereka menkuatirkan banyak hal.

Biasanya fokus perhatian pada kegagalan, sehingga semua tindakan mereka ditujukan untuk menghindar dari kemungkinan kegagalan itu. Belum mengambil keputusan, sudah memikirkan, "wah nanti saya akan gagal, kuatir nanti risikonya buruk." Sehingga pikiran diisi terus-menerus oleh antisipasi akan hal-hal yang buruk itu; pada akhirnya mereka sukar sekali mengambil keputusan.

ET : Bahkan akhirnya tidak ada keputusan ya Pak?

PG : Betul sekali, jadi kadang-kadang kita yang dekat dengan dia agak frustrasi karena kita menunggu-nunggu dia mengambil keputusan. Kalau kita desak dia, dia juga tidak suka tapi kalau tidak idesak dia tidak segera mengambil keputusan, jadi agak sedikit repot.

ET : Tapi kadang-kadang ada yang beralasan, "Wah kita harus memperhitungkan yang terburuk," jadi buat mereka itu sudah menjadi kewajiban untuk mempertimbangkan kegagalan dan juga risiko-risikona.

PG : Masalahnya dengan mereka adalah mereka tidak bisa melihat yang positif dengan mata yang sama. Jadi meskipun mereka bisa mengakui, ya memang benar kalau jalan begini-begini, namun....(namunya itu kembali kepada yang negatif).

Jadi dengan kata lain waktu mereka melihat ke depan mata mereka melihat yang buruk itu dengan sangat jelas. Sedangkan melihat yang positif, meskipun mata bisa melihat dan mengakui tapi seolah-olah tidak memberikan dampak atau rasa tenang dalam diri mereka.
GS : Tapi kalau kita mencoba memberikan masukan atau usulan kepadanya dan orang lain juga memberikan masukan, dia akan tambah bingung.

PG : Betul sekali, memang orang ini mudah sekali tegang. Jadi kalau orang mulai memberikan komentar, masukan; dua orang atau tiga orang dia akan langsung kacau, bukannya mereka itu justru tenag dengan masukan-masukan itu tapi justru tambah bingung.

Kenapa? Sebab memang mudah sekali tegang, terlalu mudah tegang sehingga waktu mau mengambil keputusan, pikiran yang diperlukan untuk berkonsentrasi-tidak bisa berkonsentrasi justru semakin dia berusaha berkonsentrasi pikirannya makin buyar. Makin kita beritahukan caranya begini, dia tambah kacau dan tidak bisa berkonsentrasi. Jadi tetap berkubang di dalam pikiran yang kacau karena tingkat ketegangan yang memang sangat tinggi.

ET : Tampaknya hal ini sudah bisa kelihatan dari usia yang lebih muda atau lebih dini Pak Paul. Kadang-kadang ada anak yang sudah membawa kecemasan seperti ini.

PG : Betul Bu Ester, memang ini tidak bisa kita katakan bahwa ini hanyalah masalah orang dewasa, sebab ada sebagian anak-anak yang juga mengalami masalah yang sama. Misalkan salah satu ciri lan orang-orang yang mudah cemas ini adalah mereka sukar sekali untuk memikul tanggung jawab.

Jadi kalau kita memintanya untuk melakukan sesuatu dan bertanggung jawab atas hal itu, langsung dia itu bingung dan takut. Ini bisa kita lihat jelas pada anak-anak, misalnya kita memintanya untuk bertanggung jawab melakukan sesuatu tapi tidak bisa dan tidak mau. Ada anak-anak yang bahkan kalau diberitahukan oleh gurunya bahwa besok kamu bertanggung jawab melakukan apa, datang membawa apa-besok tidak datang ke sekolah dan malah ketakutan atau malah menghindar dari gurunya. Sehingga kadang-kadang orangtua yang datang memberitahukan, "Pak atau Bu maaf, anak saya diberitahukan dia harus membawa ini dan bertanggung jawab atas hal ini, dia malah semalaman tidak tidur, dia nangis, dia ketakutan makanya hari ini tidak masuk ke sekolah karena takut nanti ditanya mana tanggung jawabnya itu." Jadi betul Ibu Ester, ada sebagian anak-anak sudah memunculkan gejala yang memang mudah dilanda oleh kecemasan ini.
GS : Mungkin itu terkait dengan dia kuatir gagal itu Pak Paul?

PG : Betul, jadi memang ada beberapa penyebab kenapa ada gangguan seperti ini, memang salah satunya adalah itu Pak Gunawan. Sebagian anak-anak atau sebagian orang-orang ini tatkala masih kecildituntut untuk tidak boleh gagal.

Mereka harus selalu mampu mengerjakan sesuai dengan permintaan atau standar orangtua, sehingga kalau gagal akan mendapatkan risiko yang buruk. Mungkin tidak akan mendapatkan pemukulan atau kemarahan, tapi akan terasa dirinya kurang berharga sebab itulah yang dituntut oleh orangtuanya. Kalau kita sebagai orangtua memperlakukan anak dengan standar yang sekaku dan setinggi ini, besar kemungkinan kalau anak kita tidak mempunyai bekal atau potensi yang sesuai atau yang cukup dia akan mudah sekali dilanda kecemasan. Begitu kita meminta dia melakukan sesuatu, tanggung jawab diberikan, langsung goyang sekali. Karena dia sudah membayangkan dia mungkin gagal dan risikonya gagal itu berat yaitu kemarahan orangtua atau mungkin omelannya, tidak dianggap, tidak dinilai berharga. Jadi benar-benar takut sekali, pada akhirnya bukannya malah bisa mengerjakan tugas atau tanggung jawabnya tapi tambah tidak bisa.

ET : Yang pernah saya lihat ada beberapa kasus, kegagalan itu sebenarnya bukan kegagalan yang fatal tapi hanya tidak bisa mencapai standar yang diinginkan orangtua, tapi sudah dilihat sebagai kgagalan karena standar yang tinggi.

Kalau misalnya diukur secara normal misalnya pelajaran di sekolah juga bukannya gagal yang nilainya sampai merah sampai tidak naik kelas seperti itu.

PG : Betul, jadi awalnya anak-anak ini takut dengan risikonya kalau gagal. Misalkan dimarahi, dikata-katai, dianggap bodoh dan sebagainya, jadi awalnya anak-anak itu takut dan mencoba menghindr dari risiko kegagalan itu.

Namun lama-kelamaan si anak tidak lagi sebetulnya memfokuskan pada risikonya saja tapi juga kepada kegagalan itu. Persepsinya atau pandangannya terhadap kegagalan mulai berubah atau terdistorsi, tidak lagi proporsional. Jadi seperti yang tadi Ibu Ester katakan, seharusnya kegagalan ini kecil bukan besar, tidak fatal, mereka tidak sampai mendapat nilai buruk hanya turun satu nilai misalkan dari 9 ke 8, tapi buat mereka karena persepsi atau pandangan mereka sudah terdistorsi, melihat penurunan satu angka dari 9 ke 8, seolah-olah penurunan yang drastik dari 9 ke 4. Jadi akhirnya pandangan mereka pun terhadap kegagalan berubah-sangat membesarkan kegagalan, jadi awalnya adalah dari takut risiko kegagalan konsekuensinya dimarahi dan sebagainya tapi lama-kelamaan menyebar atau menular sampai mempengaruhi cara pandangnya terhadap kegagalan itu sendiri. Maka orang-orang ini begitu melihat ada potensi atau ada kemungkinan kegagalan, sekecil apa pun di mata mereka menjadi besar, karena memang sudah terjadi distorsi itu. Benar-benar kalau melihat kegagalan dia seolah-olah memakai atau menggunakan kaca pembesar. Jadi melihat dengan kaca pembesar maka semuanya menjadi besar, sebaliknya kalau melihat keberhasilan kemungkinan akan berjalan dengan baik, seolah-olah dia memakai kacamata yang mengecilkan, dari jarak jauh dan dirinya tidak kelihatan.
GS : Atau mereka kebanyakan ingin menyenangkan orang lain secara berlebihan?

PG : Bisa jadi Pak Gunawan, jadi anak-anak yang dituntut untuk sempurna, supaya jangan gagal dan sebagainya; bisa jadi secara langsung orangtua sebetulnya tidak menerapkan standar itu tapi si aak mempunyai keinginan yang sangat kuat menyenangkan orangtuanya.

Kadang-kadang kita sebagai orangtua tidak menyadari bahwa tanpa kita berkata-kata, tanpa kita menyampaikannya secara langsung, kita sudah mengkomunikasikan sebuah standar atau sebuah permintaan, ini yang ditangkap oleh si anak. Bisa jadi anak keliru menangkapnya, kita tidak menghiraukan standar yang tinggi itu, kita justru ingin mereka hidup dengan lebih apa adanya, dengan lebih bisa menikmatinya tapi adakalanya justru anak-anak menangkapnya berbeda sehingga keinginan menyenangkan hati orangtua besar sekali. Ini bisa terjadi dalam kasus-kasus yang lebih spesifik. Misalkan orangtua itu menderita, jadi si anak mempunyai dorongan yang lebih kuat, bergebu-gebu sekali untuk menyenangkan hati orangtuanya meskipun orangtua tidak pernah memintanya untuk melakukan hal seperti itu.
GS : Apakah orang-orang seperti ini juga kurang berani untuk bersaing dengan teman-temannya Pak Paul?

PG : Sering kali ya, karena takut gagal itu Pak Gunawan. Tapi kalau dia tahu dia pasti bisa, dan dia tahu level kompetitornya itu jauh di bawah dia, dia berani. Tapi kalau dia melihat kompetiornya itu mungkin setara atau sedikit di bawah dia, wah ketegangannya itu akan langsung meninggi.

Karena dia sudah membayangkan dia pasti akan kalah. Jadi yang dia lihat bukan prosesnya bahwa dia harus melawan atau dia harus bersaing tetapi yang dia fokuskan adalah pada hasil akhir, yaitu pasti kalah dan kalau kalah saya pasti malu; kalau saya merasa malu saya tidak bisa lagi ketemu dengan orang, saya harus menyembunyikan diri. Dunia hancur runtuh semuanya, itu pemikiran-pemikiran pribadi yang mudah cemas.
GS : Mungkin ada sesuatu yang ditakutkan pada pengalaman masa kecilnya Pak Paul?

PG : Bisa jadi Pak Gunawan, jadi ada orang-orang yang memang pada masa kecil mengalami trauma-trauma tertentu; misalkan ketakutan itu muncul karena orangtua sering bertengkar, karena sering berengkar si anak akhirnya menyimpan trauma.

Jangan sampai hari ini orangtua bertengkar, jangan sampai malam ini orangtua bertengkar, tapi seringnya bertengkar. Jadi akhirnya setiap hari begitu si anak di rumah dan melihat ada papa dan mamanya-mungkin orangtuanya belum bertengkar tapi dia sudah langsung dilanda kecemasan. Karena apa? Kemarin-kemarin itu yang terjadi yaitu orangtua bertengkar lagi dan bertengkar lagi jadi sekarang meskipun orangtua belum bertengkar, si anak sudah langsung mengantisipasi bahwa tidak lama lagi orangtua pasti bertengkar. Jadi kita bisa bayangkan akhirnya si anak hari lepas hari hidup dalam penantian akan pertengkaran orangtua. Dan perasaan apakah yang muncul kalau kita dalam penantian pertengkaran orangtua? Sudah tentu perasaan cemas. Inilah yang akan menjadi muatan atau isi jiwa si anak, dan bayangkan kalau dia tinggal bersama dengan orangtua itu berbelasan tahun, hari lepas hari jiwanya diisi oleh ketakutan atau kecemasan ini. Tidak heran setelah dewasa dia akan mudah sekali cemas, bukan hanya dia mendengar orang mau bertengkar dia cemas tapi apa pun yang mengganggu ketenangan atau kestabilan atau equilibriumnya atau apa pun yang membuat dia sedikit lebih tegang itu benar-benar sudah menjungkirbalikkan dia.

ET : Karena memang begitu banyak hal yang susah dia ramalkan, apakah hari ini akan berjalan baik atau tidak, benar-benar tidak bisa diperkirakan sebelumnya.

GS : Dan dia bawa sampai sekarang, jadi meskipun dia tidak tinggal dengan orangtua kalau kita ajak ngomong dia mengerti. "Saya tahu papa-mama tidak ada di sini, saya tahu papa-mama kalau bertengkar saya tidak tahu karena jauh di luar kota, tapi karena sudah terbiasa mengantisipasi adanya masalah, ketegangan atau pertengkaran; jadi dia pun sekarang hari lepas hari itu selalu dalam siaga I. Dirinya selalu siaga I kalau-kalau nanti akan ada yang tidak beres, akan ada yang berantakan, jadi dia selalu berjaga-jaga. Otomatis kalau orang selalu berjaga-jaga, bereaktif sekali, mudah sekali tegang dan cemas. Itulah salah satu penyebabnya kenapa orang-orang ini begitu mudah dilanda oleh kecemasan.
GS : Mungkin ada faktor lain Pak Paul yang menjadi penyebabnya?

PG : Ada juga yang dari lahiriah, artinya kita harus mengakui ada orang-orang tertentu yang dilahirkan dengan perasaan yang sangat sensitif, peka sekali. Kalau kita adalah orangtua dan mempunyi anak yang memang peka, kita akan tahu.

Sebab kalau kita naikkan nada suara kita sedikit saja, anak itu akan menangis, akan ketakutan. Pada hal kakaknya, mungkin kita harus berteriak-teriak, itu pun tidak takut tapi si adik baru kita naikkan suara kita dia langsung menangis ketakutan. Jadi apa yang bisa kita simpulkan, memang orang tidak sama. Ada anak yang lahir dengan perasaan yang lebih kuat, tidak mudah cemas; ada anak-anak yang perasaannya halus, sensitif sekali sehingga anak-anak yang perasaannya halus ini memang akan mudah merasakan segala jenis perasaan termasuk di dalamnya kecemasan. Jadi kalau orang lain merasakan kecemasan misalnya 5 kilo, dia akan merasakan kecemasannya 15 kilo, karena perasaannya itulah yang memang sudah sensitif.

ET : Jadi saya bayangkan kalau anak-anak memang pada dasarnya sudah sensitif, kemudian ditambah lagi mengalami pengalaman-pengalaman buruk di masa kecilnya, kecemasannya itu berlapis ya Pak?

PG : Dan memang itu satu paket, maksudnya kalau anak itu perasaannya tidak terlalu sensitif, waktu dihadapkan dengan orangtua yang terus bertengkar mungkin ada rasa takut tapi biasanya anak-ana ini mengembangkan perasaan yang sebaliknya.

Bukannya akhirnya tertindih oleh ketakutan namun dia akan dikuasai oleh kemarahan. Itu sebabnya dalam rumah yang sama kalau orangtua bermasalah sering bertengkar, akan ada reaksi-reaksi yang berbeda dari anak-anak. Ada anak yang malahan menjadi beringasan, sering berkelahi, sering marah, kalau marah banting barang, penuh dengan kekerasan; tapi ada lagi dalam rumah yang sama ada anak yang justru menjadi depresi sekali, mudah sekali cemas, sering kali dihantui oleh ketakutan. Apa yang terjadi, bukankah kedua-duanya diperhadapkan dengan pertengkaran orangtua yang sama. Yang membedakan sebetulnya adalah modal perasaan itu. Anak-anak yang perasaannya halus sewaktu diperhadapkan dengan rumah tangga yang penuh dengan konflik benar-benar makin tertusuk-tusuk, perasaannya makin terobek-robek. Sehingga alat pertahanannya untuk menjaga diri jangan sampai cemas runtuh. Kalau yang perasaannya tidak sensitif, dia lebih bisa melindungi dirinya; dia lebih bisa cuek tidak terganggu oleh ketegangan itu. Malah karena dia sering merasa orangtuanya bertengkar terus, reaksinya yang muncul adalah kemarahan.

ET : Tapi mungkin di dalam keluarganya tidak ada pertengkaran tapi sering berpindah-pindah atau misalnya pengasuhnya sering berganti-ganti, ini berpengaruh juga atau tidak pada kecemasan anak?

PG : Bisa Ibu Ester, jadi perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi, perpisahan dengan tempat yang kita sudah merasa nyaman dan kenal; kalau terjadi terlalu sering, di masa pertumbuhan si nak memang bisa akhirnya menimbulkan kecemasan.

Kenapa? Sebab perpisahan ini seperti dua hal atau dua benda yang telah bersatu kemudian dipisahkan. Jadi adanya perobekan, sudah tentu ini bukan perobekan secara fisik tapi perobekan secara emosional. Jadi ada dalam dirinya yang tercabik keluar atau yang diputuskan, ini menimbulkan luka, kesedihan. Sehingga kalau ini terjadi terlalu sering, maka akan terjadi perobekan yang makin hari makin banyak. Sebab belum sembuh terjadi lagi perpisahan, perobekan lagi. Lama-kelamaan si anak bisa juga mengembangkan sikap takut kalau-kalau ini terjadi lagi, jadi akhirnya dia penuh dengan kecemasan karena sudah membayangkan nanti akan terjadi perpisahan lagi dengan orang yang dikasihinya. Tapi ada juga yang lain tentang perpisahan, misalkan orangtua meninggal dunia atau bercerai dan sebagainya; kalau ini terjadi pada anak sewaktu masih kecil biasanya ini memang akan menimbulkan dampak kecemasan pada si anak. Sebab kenapa? Sebab figur orangtua itu figur pengasuh, figur yang memberikan rasa aman; nah waktu orang itu tidak ada lagi rasa amannya ikut terbawa pergi. Jadi dia kehilangan rasa aman tersebut; yang akan muncul dalam hatinya ketika rasa aman turut pergi dengan orang yang dikasihinya adalah dia merasa takut, dia merasa cemas. Ini yang sering kali terjadi, jadi kalau ini terjadi pada anak pada usia kecil memang cenderung dampaknya bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama.

ET : Sekali pun pada dasarnya anak itu bukan anak yang sensitif Pak Paul?

PG : Meskipun anak itu bukan anak yang sensitif, sebab memang seyogianya anak kecil itu mendapatkan asuhan dari figur pengasuh yang akan bersamanya. Ini benar-benar sebuah pelindung, pemberi rsa aman dan sebaiknya permanen.

Sewaktu orangtua ada; rasa aman itu sudah terbentuk, nah sewaktu orangtua pergi atau meninggal dunia; dia pergi membawa rasa aman tersebut. Nah si anak kehilangan rasa aman. Dan dampaknya yang lain adalah orang ini adalah orang yang mengasihi dia misalkan mamanya atau papanya mengasihi dia sekali; terus sekarang orang yang mengasihi pergi nah waktu kita kehilangan orang yang mengasihi kita, itu akan menggoncangkan sistem kehidupan kita. Tiba-tiba kita merasa takut kehilangan orang yang kita kasihi, hidup kita tidak lagi komplit atau tidak lagi utuh seperti ada yang terhilang, ini menimbulkan gejolak dan akhirnya kecemasanlah yang menjadi perasaannya.
GS : Ini tentu sesuatu yang tidak enak buat seseorang yang menderita kecemasan seperti ini, bagaimana dia bisa mengatasi rasa cemasnya itu?

PG : Pertama, memang dia harus mengakui bahwa dia memiliki masalah ini, kedua dia mesti melihat ke belakang mengetahui kenapa dia bisa menjadi cemas seperti ini. Yang ketiga, dia mesti melawandan berkata sekarang pilihan saya dua, saya terus tunduk pada masa lalu saya yaitu penyebab-penyebab ini atau saya melawannya.

Kalau saya memang terlalu sensitif, mudah peka, sekarang pilihan saya dua; saya akan membiarkan diri saya terus-menerus peka atau saya mau belajar menguatkan perasaan saya sehingga saya bisa tidak terlalu terganggu oleh perasaan cemas ini. Jadi mesti ada sebuah keputusan untuk melawannya, sudah tentu bantuan orang atau teman akan sangat berfaedah. Kita bisa minta teman berbicara dengan kita, itu akan menguatkan kita melewati masa kecemasan. Sebab kecemasan yang disimpan sendiri, makin mengguncangkan; kecemasan yang dibagikan, diceritakan atau dibicarakan akan lebih tidak terlalu memberatkan hati kita.
GS : Padahal tadi dikatakan bahwa orang-orang seperti ini akan sulit sekali membuat keputusan, kalau dia harus memutuskan meninggalkan kecemasan ini, apakah itu tidak sulit?

PG : Sudah tentu merupakan sebuah pergumulan, jadi melihatnya hari lepas hari. Kalau hari ini harus mengambil keputusan, hari inilah mengambil keputusan, kalau hari ini dia merasa cemas, hari ni pula dia melawannya.

Nanti bagaimana, mungkin besok dia gagal; jadi hari per harilah dia lawan, dia kuatkan hidupnya, dia kuatkan dirinya. Sudah tentu pada akhirnya dia harus mempunyai pegangan yang kuat di dalam Tuhan, kalau tidak dia akan mudah goyah.
GS : Bagaimana kalau pasangan kita mempunyai kecemasan yang belebihan ini?

PG : Kita mungkin bisa berkata, "Kalau ada apa-apa coba ngomong, coba ceritakan." Nah waktu dia berbicara kita misalnya bisa memberikan dia masukan atau petunjuk. "OK........., sekarang coba amu mengambil nafas yang panjang kemudian keluarkan perlahan-lahan.

Ok, sudah tenang kalau sudah tenang coba kita lihat lagi masalahnya, atau kita lihat lagi pilihannya. Yang pertama ini, coba kita lihat yang pertama ini masalahnya ini dan risikonya ini. Coba yang kedua dan seterusnya. Jadi kita membimbing dia langkah demi langkah sehingga itu menolong mereka kalau lain waktu kita tidak ada disebelahnya untuk juga menenangkan diri seperti kita waktu menenangkan diri.
GS : Itu kita memberikan peran perlindungan tadi Pak Paul?

PG : Dan menolong dia untuk memilah, sebab orang yang cemas mencampur adukkan semuanya. Jadi dengan tenang dia lebih bisa memilah. Pertama kita memang membimbingnya untuk tenang, kedua menolog untuk berpikir dengan lebih tenang.

Sehingga bisa memilah-milah; kalau sudah dipilah dan dia melihat lebih jelas dia akan lebih tenang kembali.
GS : Orang-orang seperti itu mungkin membutuhkan rasa aman di mana pun dia berada. Kadang-kadang orang seperti ini kalau tinggal di lingkungan yang tidak dia kenal, hampir semua dia tidak kenal dia akan merasa gelisah sekali.

PG : Betul, meskipun belum ada apa-apa yang terjadi, orang-orang itu mungkin tidak melakukan apa-apa. Dia perlu waktu yang agak panjang untuk merasa tenang kembali. Biasanya kalau rumah tangg kita baik-baik saja dan anak-anak kita seperti itu, besar kemungkinan inilah yang dia bawa sejak lahir.

GS : Dalam hal ini adakah firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Firman Tuhan saya ambil dari Amsal 12:25, "Kekuatiran dalam hati, membungkukkan orang tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia." Jadi firman Tuhan berkata dengan jelas bahwa kekuatirn membuat orang bungkuk, artinya terhimpit oleh beban sehingga berat sekali hidupnya.

Apa yang dia butuhkan? Perkataan yang baik menggembirakan dia, maka kalau ada teman atau pasangannya; maka teman atau pasangannya itulah yang memberikan kata-kata yang baik, yang positif, yang menenangkan. Itu akan memberikan dia sukacita sehingga akhirnya beban itu tidak lagi berat menindihnya.

GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, kami percaya akan ada banyak orang yang tertolong dengan mendengarkan atau melakukan apa yang Pak Paul sudah sampaikan juga Ibu Ester terima kasih telah bergabung dalam perbincangan kami kali ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Pribadi yang Cemas". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



34. Mengambil Keputusan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T203B (File MP3 T203B)


Abstrak:

Khusus bagi orang yang mudah cemas, pengambilan keputusan dapat menjadi saat yang menegangkan. Ia takut salah dan tidak berani menanggung akibatnya; acap kali ia berlindung di balik orang lain agar tidak usah mengambil keputusan. Bagian ini memberikan beberapa masukan untuk menolong orang yang mudah cemas mengambil keputusan.


Ringkasan:

Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama dengan ibu Ester Tjahja. Kami akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengambil Keputusan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, walaupun hampir tiap hari kita itu harus memutuskan sesuatu tetapi ternyata mengambil keputusan itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan; apalagi untuk keputusan-keputusan yang cukup berarti, misalnya pindah pekerjaan, pindah rumah, memutuskan untuk menikah atau tidak, itu kadang-kadang merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Ini bagaimana Pak?

PG : Buat semua orang mengambil keputusan tergantung ya, ada yang keputusannya berat yang berarti perlu waktu pergumulan yang lebih berat, kalau lebih ringan pergumulannya juga akan jauh lebih ingan.

Tapi ada sebagian orang yang akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Pada pembicaraan yang lampau kita telah membahas orang yang mudah cemas. Orang yang mudah cemas ini akan mengalami kesukaran di dalam mengambil keputusan. Jadi kita mau mencoba menolong pribadi yang mudah cemas ini dalam mengambil keputusan. Karena apa? Karena pada umumnya mereka takut mengambil keputusan karena takut salah, takut nanti harus membayar risiko yang mereka tidak sanggup membayar, jadi mereka menunda-nunda mengambil keputusan. Atau bersembunyi dibalik orang lain, tidak berani menghadapi fakta kenyataan, jadi minta orang lain yang maju ke depan. Bukankah ini gaya hidup yang tidak sehat, jadi kita mau memberikan masukan kepada para pribadi yang mudah dilanda kecemasan agar dapat hidup lebih sehat, hidup lebih efektif. Salah satunya hidup efektif adalah mampu mengambil keputusan dengan lebih cepat.
GS : Misalnya mengambil keputusan dalam hal apa Pak Paul yang sebenarnya bisa dilakukan dengan cepat, tapi karena orang ini dilanda kecemasan sehingga keputusannya tertunda-tunda?

PG : Ada banyak contoh misalkan, membeli rumah. Kita tahu membeli rumah itu memerlukan waktu untuk melihat beberapa contoh, tapi orang-orang yang mudah dilanda kecemasan, sering bingung di dalm mengambil keputusan sudah melihat misalkan 10 rumah, masih belum sanggup mengambil keputusan dan akan meminta untuk melihat lagi dan melihat lagi.

Jadi orang capek, sampai kapan bisa menemukan rumah yang disukainya. Atau dalam hal memilih pasangan hidup (memang ini lebih berat), sudah berjalan bersama-sama, sudah saling mengenal dan memang sudah melihat banyak kecocokan tapi terus bingung, tidak bisa mengambil keputusan apakah orang ini yang harus saya nikahi. Jadi contoh-contoh seperti inilah yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, ada orang-orang yang tidak mudah untuk mengambil keputusan.
GS : Jadi apa yang harus dia lakukan?

PG : Langkah pertama adalah karena kita adalah anak-anak Tuhan, kita mesti berdoa; berdoa sampai kita berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Maksud saya adalah jangan asal berdoa misalnya "Tuhan, tlong saya."

Tapi sungguh-sungguh berdoa hingga kita dapat berkata apapun yang terjadi akan ada Tuhan yang mengatur segalanya. Jadi benar-benar tahap pertama adalah tahap pergumulan, dan kita bergumulnya dalam doa dengan Tuhan. Kita benar-benar mesti bisa berkata, "Tuhan, kalau misalkan ini tidak beres, kalau ini misalkan tidak sesuai masih ada Engkau; Engkau dapat mengaturnya." Kalau kita bisa sampai ke titik itu baru kita melangkah ke tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan.
GS : Tapi disamping berdoa mungkin juga perlu membaca Alkitab sebagai jawaban Tuhan kepada dia.

PG : Betul, jadi kita meminta orang ini untuk benar-benar terjun, masuk ke dalam Firman Tuhan, masuk ke dalam hadirat Tuhan dalam doa sampai dia mencapai sebuah titik di mana dia bisa berkata, Apa pun Tuhan, apa pun saya terima, apa pun nanti kalau yang terjadi tidak sesuai masih ada Engkau dan Engkau akan dapat mengatur dan menolong saya."

ET : Kadang-kadang untuk mencapai titik ini tidak gampang Pak Paul, atau misalkan kita datang kepada Tuhan sudah dengan, "Tuhan, saya maunya yang ini (jadi sudah dengan permintaan yang spesifik, kalau bisa jangan digantikan dengan yang lain."

PG : Memang waktu kita berkata "APA PUN", kita harus bersedia melepaskan, selama kita masih menggenggam akan susah untuk kita melepaskan dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Jadi harus sampaipada titik di mana kita melepaskan dan berkata "Apa pun Tuhan saya akan terima, saya akan jalani dan apa pun hasilnya masih ada Engkau, Engkau akan menolong, Engkau akan bisa mengatur segalanya."

GS : Tetapi berserah itu sesuatu yang aktif, harus ada yang dia lakukan; apa yang bisa dia lakukan?

PG : Justru setelah dia berserah dalam doanya baru dia melakukan hal lainnya yang lebih konkret, yang lebih manusiawi. Tetapi tetap saya mau tegaskan langkah pertamanya itu dia harus sampai ketitik ini dulu yaitu penyerahan total.

Setelah itu dia barulah berkonsultasi dengan orang lain, menanyakan masukan-masukan orang dan sebagainya. Tapi saya minta jangan lakukan kebalikannya, jangan berbicara dulu dengan orang, bertanya kiri-kanan baru berdoa, maka tidak akan ada damai sentosa. Itu tidak bisa, karena kalau belum sampai tahap penyerahan kita sudah kalang kabut tanya ke kiri-ke kanan; kita makin kacau, kita makin bingung. Si A berkata apa, si B berkata apa, kita makin bingung. Tapi kalau kita bertanya atau berkonsultasi setelah kita berserah, semua jawaban atau masukan yang kita terima itu akan kita bingkai dalam satu bingkai yaitu Tuhan mengatur, Tuhan berkuasa. Dan saya sudah berkata apa pun nanti Tuhan akan bisa atur, maka berkonsultasi ini kita harus letakkan sebagai langkah kedua, bukan langkah pertama. Langkah pertama adalah datang kepada Tuhan sampai bisa berserah sepenuhnya kepada Dia.
GS : Berarti kalau dia masih merasakan belum menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, lebih baik dia tidak berkonsultasi dengan sesama?

PG : Saya berpikir begitu, sebab kalau tidak akan tambah bingung. Dia berbicara dengan si A, si A bilang kiri; dia berbicara dengan si B, si B bilang kanan. Kalau semuanya bilang kiri mungkindia akan lebih tenang, tapi kalau yang satu bilang kiri dan yang satu bilang kanan, dia akan bingung karena dia belum mempunyai penyerahan itu.

Kalau dia sudah mempunyai penyerahan meskipun yang satu bilang kiri dan yang satu bilang kanan, dia tidak terlalu bingung. Karena tidak lagi bersandar sepenuhnya pada masukan-masukan orang lain, dia tahu ada Tuhan yang mengatur segalanya.
GS : Lalu peran konsultasi itu sendiri apa Pak?

PG : Membuat orang itu berpikir lebih jernih, ada hal-hal yang mungkin tidak dilihatnya, jadi konsultasi itu membukakan pemikirannya sehingga bisa berpikir dengan lebih jernih. Atau menolong mlihat dari perspektif yang berbeda.

Kadang-kadang karena kita itu sepertinya berkubang dalam lumpur jadi kita tidak bisa melihat lagi. Kita mesti keluar dan melihat dari sudut yang lain baru kita bisa memandang masalah. Kadang-kadang konsultasilah yang membuat orang bisa melihat dari kacamata yang berbeda.

ET : Misalnya seperti tadi Pak Paul katakan setelah konsultasi ada yang bilang ke kiri, ada yang bilang ke kanan, berarti ada dua pilihan ke kiri atau ke kanan. Nah bagaimana memutuskan untuk langkah berikutnya?

PG : Kita memang harus menyadari bahwa itulah sesungguhnya proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan sebetulnya adalah proses menentukan pilihan dari beberapa alternatif yang ersedia.

Dengan kata lain kita memang mesti melihat apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan pada setiap alternatif itu. Namun kita mesti mengingat satu kebenaran ini, apa pun keputusannya Tuhan tetap dapat bekerja melaluinya. Jadi kadang-kadang kita takut sekali, kalau kita sudah pertimbangkan kelebihan dan kekurangan pada setiap alternatif dan perbedaannya sedikit sekali, itu yang membuat kita bingung. Jangan sampai kita itu menjadi takut untuk membuat kesalahan, ya karena jaraknya sedikit-sedikit dan bedanya juga tidak banyak, kita seolah-olah harus teliti dan teliti lagi. Sudah tentu harus berhati-hati tapi sampai titik tertentu setelah kita berhati-hati kita harus mengambil keputusan. Kita harus berkata, "Tuhan, apa pun keputusannya, pilihan apa pun yang saya buat, dalam keterbatasan saya ini saya harus membuatnya dan Engkau akan dapat bekerja lewat alternatif itu." Sebab Tuhan jauh lebih berkuasa daripada yang kita bayangkan. Mungkin buat kita kalau kita mengambil keputusan ini, wah tidak ada lagi jalan keluar atau tidak ada lagi jalan untuk putar balik. Tuhan lebih berkuasa, cara-Nya tidak bisa kita selalu cerna jadi akan ada cara Tuhan kalau misalkan itu kurang tepat atau keliru, akan ada cara Tuhan untuk bisa mengarahkan kita kembali. Sehingga pengetahuan ini memberikan kepada kita rasa damai.

ET : Mungkin kalau misalnya berkaitan dengan hal-hal yang tidak bersifat jangka panjang, masih bisa lebih mudah untuk memutuskan tapi kalau tadi misalnya berkaitan dengan pasangan hidup memang anyak sekali pertimbangan, kekuatiran kalau ternyata mungkin bukan salah pilih tetapi mungkin ini bukan yang terbaik.

Mungkin ini untuk komitmen seumur hidup yang menakutkan untuk orang-orang tertentu.

PG : Ibu Ester mengangkat satu topik yang memang penting yaitu sering kali dalam mengambil keputusan menjadi susah sekali. Kenapa? Karena kita terobsesi mengambil keputusan yang terbaik. Masaahnya adalah keputusan yang kita anggap terbaik atau yang paling ideal itu tidak ada atau jarang sekali, jadi yang lebih realistik adalah waktu kita menimbang-nimbang antara beberapa alternatif, pada akhirnya yang kita temukan adalah alternatif ini sedikit lebih baik dari alternatif yang lain.

Kalau alternatif ini jauh berbeda, sangat baik-ini sangat buruk, itu akan lebih gampang dan tidak membingungkan. Bukankah yang membingungkan itu justru yang bedanya sedikit; ini sedikit lebih baik dalam hal ini tapi dalam hal yang lain yang satunya ini lebih baik sedikit dari yang lainnya lagi. Ini situasi yang sering kali kita hadapi yang membuat kita bingung. Jadi saya katakan, kita mesti percaya bahwa Tuhan bisa memakai baik yang kiri maupun yang kanan. Selama kita dalam koridor tidak di dalam dosa, koridor kebenaran, koridor jalan Tuhan bukan jalan dosa; perbedaan-perbedaan seperti itu kita tidak terlalu pikirkan sebab Tuhan bisa bekerja baik melalui pintu yang kiri maupun melalui pintu yang kanan. Jadi pikiran kita tidak lagi terobsesi dengan mana yang terbaik, yang di atas sana yang paling ideal; kita hanya melihat ok-lah ini memang sedikit lebih baik dan ok-lah yang sedikit lebih baik ini nanti yang akan saya pilih sebagai keputusan saya.
GS : Itu berarti tidak ada keputusan yang sempurna atau yang mutlak?

PG : Tidak ada, jangan-jangan kita menunggu-nunggu. Kadang-kadang kita terus menunggu-nunggu yang ideal, yang terbaik datang, ya sampai kapan pun tidak akan datang.

GS : Karena yang ideal pun akan berkembang terus, kita melihat yang lain kita akan tingkatkan lagi kebutuhan itu.

PG : Dan kita akan melihat yang lebih baik lagi.

GS : Mungkin ada yang lain Pak Paul?

PG : Yang lain saya akan tawarkan adalah gunakan kriteria prioritas terbatas. Yang saya maksud dengan prioritas terbatas adalah untuk saat ini lihatlah apakah yang lebih baik bagi kita. Selai pernikahan, jarang sekali kita harus mengambil keputusan untuk jangka waktu yang sangat panjang.

Kebanyakan pilihan dalam hidup ini terbatasi oleh waktu dan kondisi, tidak ada yang selama-lamanya. Jarang kita memilih sesuatu yang akan bertahan selama-lamanya, baju yang kita pilih hanya bertahan untuk beberapa tahun; sepatu yang kita pilih hanya bertahan untuk beberapa tahun. Ada orang yang mau membeli sepatu pun dia bisa pergi ke 10 mall dan satu mall ada 5 toko sepatu, berarti dia kunjungi 50 toko sepatu. Kenapa, sebab dia pikir-pikir seakan-akan dia akan memakai sepatu itu sampai dia meninggal dunia padahal tidak, dia hanya akan memakai sepatu itu untuk beberapa tahun. Yang saya maksud dengan prioritas terbatas adalah untuk saat ini, untuk penggalan hidup kita sekarang ini, untuk fase kehidupan kita sekarang ini, yang memang tidak berlangsung selama-lamanya. Nah apakah pilihan yang lebih baik itu, itulah yang kita ambil. Jadi mungkin kita misalnya pertimbangkan kegunaannya dan kepentingannya untuk saat ini. Tapi tadi saya sudah katakan kalau pernikahan tidak boleh kita gunakan kriteria ini, sebab pernikahan bukan untuk 5 tahun kemudian kita ganti lagi, pernikahan adalah untuk seumur hidup. Jadi selain dari keselamatan kita percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan pernikahan, akan lebih banyak hal yang lainnya itu bersifat sementara, temporer. Kita tidak hidup dengan keputusan itu selama-lamanya.
GS : Yang sulit dalam mengambil keputusan selain menggunakan akal sehat kita pikiran kita, perasaan juga berperan di sana; dan kadang-kadang ini tidak singkrun. Pikiran kita sudah mengatakan mestinya ini tapi perasaan kita lain lagi, tidak mendukung.

PG : Apakah kita langsung mengabaikan perasaan? Jangan juga, sebab kadang-kadang waktu kita menghadapi sesuatu sebetulnya ada dua aparatus, atau indra yang bekerja pada diri kita. Yang pertam itu yang lebih bersifat rasional, kita bisa lihat, kita bisa pastikan ada dasar-dasarnya, landasan dasar atau bukti-buktinya.

Tapi kadang-kadang ada sesuatu itu yang kita tidak bisa pikirkan secara rasional tapi ada reaksi yang lebih bersifat instingtif. Kita perlu dengarkan, jadi saya tidak mau mengabaikan faktor firasat, pertimbangkan firasat itu. Kenapa kita merasa tidak damai, kok kita merasa tidak aman kenapa ya? Nah apakah ini dari Tuhan, kalau misalkan, oh......ya mungkin dari Tuhan. "Yang lain-lain saya pilih tidak begini, tapi kali ini begini." Nah ada baiknya kalau firasat itu begitu kuat dalam pengambilan keputusan, mungkin sebaiknya kita tunda dulu sampai beberapa waktu sampai kita melihat dengan lebih jelas tentang alternatif tersebut. Dan setelah kita lihat memang tidak ada apa-apa, kita berani melewati firasat kita yang telah muncul itu.

ET : Tapi seberapa jauh kita bisa memercayai atau tidak memercayai semua ini Pak, sebab kadang-kadang ada yang bilang itu hanya insting sesaat atau firasat sesaat.

PG : Kalau memang hanya sesaat otomatis kita bisa lebih tenangkan diri kita, kita akhirnya tidak terlalu dikuasai oleh firasat itu. Namun kalau misalnya firasat itu makin hari makin menguat, kta harus dengarkan dengan lebih berhati-hati, mungkin ada apa-apanya.

Namun sekecil apa pun firasat, tidak ada salahnya kita mengecek ulang, tidak ada salahnya kita mengkaji ulang. Sekali lagi saya mau kita menjadi manusia yang utuh, kadang-kadang ada hal-hal yang tidak bisa kita cerna tapi firasat kita mengatakan sesuatu, kita tidak bisa jelaskan tapi rasanya ada sesuatu. Dan setiap kali kita tidak begini, kalau kita mau makan pun pikir-pikir ada firasat apa, kalau kita orangnya seperti itu berarti kita ada masalah. Tapi kalau kita tidak biasanya begitu namun kali ini firasatnya kok begitu kuat, mungkin kita harus kaji ulang apakah kita memang telah mengambil keputusan yang benar. Kenapa, sebab saya yakin kita ini diisi dan dikuasai oleh Roh Tuhan, dan itulah salah satu cara Roh Tuhan berbicara kepada kita pula. Jadi kalau memang ada firasat-firasat atau suara-suara seperti itu jangan langsung tabrak dan kita tidak hiraukan.

ET : Masih berkaitan dengan perasaan Pak Paul, misalnya ini ada dua pilihan; yang satu mungkin perhitungan logikanya sudah OK, tapi rasanya secara kesenangan hati kurang. Sedangkan satunya lag menurut hati rasanya senang untuk pilihan itu tapi secara logika rasanya perhitungannya kurang pas.

Nah kalau dalam kedua hal ini bagaimana Pak Paul?

PG : Saya kira kita harus mengambil keputusan yang kecil kemungkinan kita akan sesali. Jadi kalau kita ambil keputusan dan kita tahu tidak akan sesali, lebih baik jangan. Berarti belum tentu tu sebuah keputusan yang salah atau yang buruk, tapi yang pasti adalah kita belum siap mengambilnya.

Belum siap mengambilnya tidak berarti keputusan itu salah atau tidak seharusnya kita ambil. Tapi kalau kita belum siap ya kita belum siap dan kalau kita belum siap meskipun itu keputusan yang tidak salah dan benar tetap kita akan dirundung oleh penyesalan itu, karena kita belum siap dan kita belum mau. Saya berikan contoh, misalkan orangtua meminta anak pergi studi ke luar kota, dan memang belum siap jiwanya masih rapuh, jadi dia bilang jangan dia belum siap. Ini baik buat kamu, kamu sekolah di sekolah yang baik dan sebagainya, tapi anak ini belum siap dipaksa juga pergi. Sebetulnya secara logika keputusan ini tidak salah, pergi ke sekolah yang baik, tapi memang dia belum siap. Jadi keputusan sebaik apa pun, kalau hatinya belum siap biasanya nanti akan berantakan, kita biasanya akan dirundung rasa penyesalan dan tidak bahagia. Jadi sebenar apa pun keputusannya tetap itu tidak membuat kita jadi benar juga, hidup kita tidak efektif. Jadi menjawab pertanyaan Ibu Ester, saya memang akan mempertimbangkan faktor hati itu, apakah hati kita bisa senang dan menerimanya. Kalau tidak, lebih baik jangan dulu sampai hati kita bisa siap dan menerimanya.
GS : Tapi setelah kita mengambil keputusan kadang-kadang juga masih timbul kebimbangan dalam diri kita; betul atau tidak yang saya putuskan tadi.

PG : Dan itu adalah sebuah reaksi yang wajar Pak Gunawan, jadi jangan takut untuk bimbang setelah mengambil keputusan. Ini wajar, dan saya kira justru seharusnya kita merasakan kebimbangan itu Kenapa kita bimbang, sebab kita itu mau sekali lagi memastikan kita telah mengambil keputusan yang benar.

Jadi kita mau mulai mencari-cari apakah ada data tambahan, itu sebabnya kalau memungkinkan-misalkan kita harus mengambil keputusan pada hari Sabtu, cobalah secara mental kita telah mengambil keputusannya pada hari Selasa sehingga ada jedah 3 hari sebelum hari Sabtu. Misalkan selama 3 hari itu kita mulai bingung, kita mulai ragu-ragu; coba cari lagi data tambahan, cari informasi lagi apakah mungkin ada yang keliru dalam keputusan ini. Tapi kalau kita sudah berikan waktu 3 hari itu kita bingung kemudian kita mencari lagi konfirmasi dan ternyata semuanya benar, tidak ada lagi yang keliru, tidak ada lagi yang bisa ditambahkan, tidak ada lagi yang bisa diubah, berarti setelah kita ragu melewati jedah 3 hari itu dan kita mencari lagi apakah ada informasi lain yang memang bisa mematahkan keputusan pertama kita, justru kita makin mantap. Jadi dengan kata lain jangan takut untuk merasa bimbang, yang perlu kita lakukan adalah setelah mengambil keputusan yang penting itu, kita berikan jedah sampai keputusan itu kita serahkan kepada orang lain atau kita jawab kepada orang lain atau kita tindak lanjuti. Jadi antara keputusan dan tindak lanjut atau pelaksanaan sebaiknya kita berikan jedah, sehingga rasa bingung atau bimbang muncul, kita masih bisa bergumul lagi apakah itu mengkonfirmasi atau justru mendiskonfirmasi apa yang telah kita putuskan. Misalkan kita bisa mengkonfirmasi, kita akan lebih tenang lagi melaksanakan keputusan tersebut.
GS : Berkaitan dengan orang yang memang mempunyai perasaan bimbang, selain dia bisa terlalu lama mengambil keputusan, tapi kadang-kadang bisa terlalu cepat mengambil keputusan. Karena dia kuatir kalau tidak saya putuskan sekarang nanti diambil orang sehingga kesempatannya hilang jadi cepat-cepat diputuskan. Ini bagaimana Pak Paul?

PG : Kalau memang dia mempunyai kecenderungan seperti itu, dia bisa berkata, "Berapa besar kemungkinannya saya keliru meskipun dia harus cepat, kalau dia bisa berpikir dengan cepat pula bahwa kmungkinan besar dia benar ya tidak apa-apa.

Jadi memang nantinya itu yang dia harus lakukan adalah secara rasional melihat presentasinya, berapa besar presentasinya dia benar. Kalau misalkan presentasinya itu hampir setengah-setengah lebih baik jangan. Karena apa, kemungkinan dia salah juga bisa setengah, tapi kalau memang kemungkinannya lebih besar dia benar ya tidak apa-apa, silakan saja. Sebab kadang-kadang memang logika atau pemikiran seperti itu benar juga. Kalau kita lambat nanti itu diambil orang ya sudah kita kehilangan kesempatan, namun kita tahu bahwa kita tidak selalu begini, kalau selalu begitu berarti kita memang terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Setiap hal kita putuskan dengan pemikiran kalau tidak diambil sekarang nanti diambil orang, berarti kita kurang bijaksana.

ET : Atau kalau tidak mengambil keputusan sekarang maksudnya kalau tidak cepat-cepat nanti berubah lagi; sebelum berubah cepat-cepat diputuskan.

PG : Ada orang yang seperti itu.

GS : Ya, sebab dia sendiri cemas, ingin cepat-cepat melepaskan kecemasannya dengan mengambil keputusan.

PG : Betul, dan tidak tahan hidup dalam kecemasan sehingga buru-buru diputuskan akan lebih tenang. Ini berbahaya, sebetulnya kalau orang mempunyai masalah seperti itu agak bahaya, dia perlu seali orang disampingnya untuk bisa menjadi pembimbing.

Mengatakan kepada dia, "OK, ini keputusanmu beri saya waktu beberapa hari untuk memikirkannya, sudah kamu tidak usah pikir lagi, ini keputusanmu saya sudah terima saya akan pikirkan lagi." Nah itu caranya untuk menolong dia dari cemas, jadi dia tidak usah lagi putuskan, bebanmu sudah turunkan ke saya, sekarang saya yang akan memikirkan keputusanmu tadi itu. Beri saya 3 hari, setelah 3 hari saya akan beritahukan kamu, bagaimana hasil pemikiran saya. Mungkin itu cara kita bekerja sama kalau kita hidup dengan orang yang mudah dilanda kecemasan.
GS : Ya memang ini sesuatu yang sulit di dalam mengambil keputusan, tentu firman Tuhan ada yang membimbing kita.

PG : Saya akan bacakan dari Mazmur 103:13-14, "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu."

Kita adalah anak dan Allah adalah Bapa kita, dan alkitab mengatakan Tuhan sayang kepada kita orang-orang yang takut akan Dia. Ini ayat yang sangat-sangat memberikan kesejukan, Tuhan sendiri tahu siapa kita, dia ingat kita ini debu. Artinya Tuhan tahu kita ini tak sempurna, jauh dari sempurna, sangat terbatas. Jadi Bapa di sorga itu tidak akan membiarkan kita salah dan tersesat, yang penting kita takut akan Dia, mencari kehendak-Nya, berdoa meminta pimpinan-Nya, setelah itu ambillah keputusan; Bapa di sorga akan terus mengiringi kita. Jangan sampai kita takut seolah-olah nanti akan berantakan, hidup ini akan hancur; ada Tuhan, yang penting kita gunakan hikmat, takut akan Dia sudah jalani saja. Ada Bapa di sorga yang dapat memelihara kita.

GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini, juga Ibu Ester terima. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengambil Keputusan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



35. Iri Hati


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T210A (File MP3 T210A)


Abstrak:

Iri hati adalah salah satu dosa tertua. Akibat iri hati, Kain membunuh adik kandungnya sendiri. Ada orang yang rentan terhadap iri hati sehingga mudah sekali dikuasai perasaan iri. Bagian ini akan memaparkan penyebab dan penanganan iri hati.


Ringkasan:

T 210 A "Iri Hati" oleh Pdt. Paul Gunadi

Iri hati adalah salah satu dosa tertua. Kain membunuh Habil karena iri hati-persembahan adiknya Habil diterima Tuhan sedangkan persembahannya tidak diterima Tuhan. Akibat iri hati, Kain membunuh adik kandungnya sendiri. Ada orang yang rentan terhadap iri hati sehingga mudah sekali dikuasai perasaan iri. Berikut ini akan dipaparkan penyebab dan penanganan iri hati.

  1. Iri hati bersumber dari ketidakpuasan dengan apa yang telah dimiliki. Kita terus menyoroti apa yang terhilang pada diri kita dan luput melihat apa yang kita miliki.
  2. Iri hati berawal dari mata yang lebih sering tertuju pada orang lain bukan pada diri sendiri. Kita senantiasa membandingkan diri dengan orang dan menyimpulkan bahwa kita tidak seberuntung mereka.
  3. Iri hati berhulu pada pandangan negatif terhadap hidup dan Tuhan yakni bahwa hidup dan Tuhan tidak adil terhadap kita. Kita beranggapan bahwa Tuhan memang sengaja merugikan kita; itu sebabnya kita tidak mendapatkan apa yang seharusnya kita peroleh.
  4. Itu sebabnya tatkala kita melihat orang lain "lebih" dari kita-memiliki sesuatu yang tidak kita miliki-respons kita adalah marah. Kita marah terhadapnya namun terutama kita marah terhadap Tuhan dan hidup ini. Di dalam kemarahan, niat yang muncul adalah menghancurkan orang yang memiliki kelebihan itu. Kita tidak ingin ia hidup bahagia dan menikmati apa yang dimilikinya. Kalaupun kita tidak dapat memilikinya, kita bertekad ia pun tidak boleh menikmatinya.

Jadi, berdasarkan pengamatan di atas ini, dapat kita simpulkan bahwa orang yang iri hati adalah orang yang:

Ada tiga hal yang harus kita kembangkan agar dapat melawan iri hati:


Transkrip:

T 210 A

Lengkap

"IRI HATI" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Iri Hati". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Iri hati ini suatu perasaan yang hampir setiap orang pernah mengalaminya. Muncul secara tiba-tiba tanpa kita rencanakan tapi kita sudah dikuasai oleh iri hati. Dan kita tahu dengan jelas bahwa Alkitab menyebutnya sebagai suatu dosa, bagaimana kita bisa mengenali sekaligus mengatasinya?

PG : Meskipun kita rentan dengan iri hati, tapi ada orang-orang tertentu yang memang sangat mudah iri hati, dengan kata lain mereka dikuasai oleh iri hati. Pada kesempatan ini kita memang mau elajar mengenali penyebab-penyebabnya, dan juga belajar bagaimana menanganinya.

Sebagai pembukaan saya ingin mengingatkan para pendengar kita akan suatu peristiwa yang terjadi dalam dunia ini ribuan tahun yang lalu, yaitu peristiwa yang menyangkut Kain dan Habel. Kita tahu Kain si kakak mempersembahkan korban bakaran kepada Allah dan adiknya juga melakukan hal yang sama, tapi Tuhan menolak persembahan si kakak dan menerima persembahan si adik. Karena kemungkinan besar Kain tidak memberikan persembahan itu dengan hati yang tulus. Nah begitu si kakak melihat si adik bersukacita karena persembahannya diterima oleh Tuhan, si kakak marah sekali dan membunuh si adik. Itu adalah dosa yang dicatat oleh Alkitab yang memang menunjukkan betapa beratnya konsekuensi dosa itu, sehingga setelah Kejadian pasal 3 mencatat kejatuhan manusia ke dalam dosa, dosa berikut yang dicatat di Alkitab adalah pembunuhan seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Namun sebelum terjadi pembunuhan itu, sebetulnya telah terjadi sebuah dosa yang lain yang tersembunyi yaitu dosa iri hati. Nah kita melihat di sini betapa seriusnya dosa iri hati, karena iri hati ini sampai mampu melahirkan niat yang begitu jahat; bukan membunuh musuh, bukan membunuh orang yang tidak dikenal tapi membunuh adik kandung sendiri. Itu sebabnya kita mau melihatnya dengan seksama pada saat ini. Yang pertama yang bisa kita katakan tentang iri hati adalah iri hati bersumber dari ketidakpuasan dengan apa yang telah dimiliki. Artinya kita terus menyoroti apa yang tidak ada pada diri kita atau yang terhilang dari diri kita, dan kita itu luput melihat apa yang ada pada diri kita. Dengan kata lain, orang yang iri hati senantiasa melihat yang tidak ada ditangannya. Misalkan dia mempunyai kelereng, nah dia bukannya melihat kelereng itu tapi dia akan melihat kenapakah temannya itu mempunyai gangsing atau permainan yang lain. Dia bukannya berkata, "O, ya saya sudah mempunyai kelereng, jadi tidak apa-apa ada yang mempunyai kelereng atau ada yang mempunyai gangsing. Tidak demikian, dia akan menanyakan pada dirinya mengapakah saya tidak punya gangsing dan melupakan bahwa dia punya kelereng dan mungkin saja orang lain hanya punya gangsing dan tidak punya kelereng.
GS : Jadi iri hati ini sangat berkaitan dengan perasaan serakah dari seseorang, Pak Paul?

PG : Memang pada dasarnya ada unsur serakahnya, meskipun sering kali kita mengaitkan serakah dengan kwantitas. Iri hati memang tidak harus berjumlah banyak atau bervolume besar, tapi pada dasanya iri hati itu mengandung unsur keserakahan.

Yaitu tidak puas dengan apa yang dimiliki, jadi apa pun yang dimilikinya itu tidak akan bisa menyenangkan hatinya karena dia akan selalu fokuskan pada apa yang ada pada orang lain, dan bertanya, "kenapakah saya tidak bisa memiliki itu?" Jadi kita bisa melihat di sini, ketidakpuasan itu bisa menggurita, menguasai dirinya dan membuat dia selalu mengeluh; membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya.
GS : Padahal kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang tentu mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan dengan diri kita. Nah bagaimana kita harus menyikapinya?

PG : Yang pasti kita harus melihat apa yang kita miliki, kita harus berkata, "Apa yang Tuhan telah berikan ini adalah pemberian Tuhan untuk saya; nah orang lain menerima yang lain dari Tuhan yabiarkan itu adalah pemberian Tuhan untuknya, ada maksud Tuhan kalau Tuhan memberikan itu kepadanya, ada maksud Tuhan kalau Tuhan memberikan ini kepada saya."

Perspektif seperti inilah yang mesti kita kembangkan.
GS : Sebenarnya kita juga sadari bahwa perasaan iri ini lebih merugikan diri sendiri daripada merugikan orang lain, betul begitu Pak Paul?

PG : Seyogianya kita menyadarinya Pak Gunawan, tapi masalahnya adalah orang yang rentan terhadap iri hati ini tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari bahwa dia itu sedang menggerogoti dirinya endiri, sebab bukankah dia jarang sekali bisa bersukacita atau berbahagia, tapi dia buta; dia tidak menyadari hal itu, dia tetap fokuskan pada orang lain.

Kenapa punya ini, kenapa punya itu; tidak bisa melihat apa yang telah dimilikinya.
GS : Memang ada orang-orang tertentu yang memicu keirihatian kita, yaitu dengan menceritakan secara berkelebihan apa yang dia miliki atau memamerkan segala sesuatu kelebihannya. Nah ini membuat orang lain mau tidak mau menjadi iri.

PG : Itu memang kadang-kadang terjadi juga karena adanya orang-orang tertentu yang memamerkan, memancing-mancing, akhirnya kita tidak bisa tidak membanding-bandingkan diri dengan orang itu dan ulailah merasakan, "Ah...kita

kok tidak punya yang dia punya." Muncullah perasaan iri, ingin memiliki apa yang dimiliki oleh teman-teman itu. Di sini kita mesti menjaga hati kita, kita mesti menjaga bukan saja kita melihat apa yang telah kita miliki, kita juga tidak membanding-bandingkan apa yang kita miliki itu dengan orang lain. Kecenderungan kita, meskipun kita mempunyai sesuatu yang sama dengan orang lain tetap kita banding-bandingkan. Misalkan kita mempunyai anak, dia juga mempunyai anak. Dua-dua baik, dua-dua juga mempunyai prestasi yang baik di sekolah tapi biasanya tetap saja kita banding-bandingkan. Jadi orang yang memang rentan terhadap iri hati, meskipun punya yang dimiliki oleh orang lain tetap membanding-bandingkan. Tadi saya mengatakan yang pertama itu kasusnya adalah tidak memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga terus ingin memilikinya. Kasus yang kedua atau penyebab yang kedua ini adalah dia memiliki, apa yang dia punya itu sama seperti yang dimiliki oleh orang lain tapi tetap membanding-bandingkan diri, "punyaku kok tidak lebih baik dari yang orang lain punya," sampai seperti itu. Tidak punya membandingkan diri dengan orang yang punya, sudah punya pun tetap membanding-bandingkan diri dengan orang yang mempunyai benda yang sama dengan dia.
GS : Dan itu akan timbul perasaan bahwa Allah itu tidak adil terhadap diri seseorang itu, Pak Paul?

PG : Sering kali akhirnya itulah yang menjadi akarnya dan sekaligus menjadi buahnya juga, yaitu orang-orang yang rentan terhadap iri hati itu senantiasa berkata, "Saya tidak seberuntung orang lin," dan langsung menunjukkan telunjuknya pada Tuhan atau hidup ini.

"Kok...tidak adil, kenapa saya tidak mendapatkan yang baik-baik." Sama sekali tidak dapat menghitung berkat apa yang Tuhan telah lakukan, apa yang Tuhan telah bagikan kepadanya. Itu sama sekali tidak dilihatnya sehingga akhirnya selalu mengeluh, "Kok..Tuhan tidak adil, kok Tuhan berbuat ini kepada saya." Sehingga akhirnya dia mempunyai pandangan seolah-olah Tuhan itu sengaja ingin merugikannya, Tuhan itu seolah-olah mempunyai proyek pribadi yaitu mengikutinya, mengejarnya untuk nanti merugikannya. Ini adalah sebuah konsep yang keliru tapi sebagian orang-orang yang mudah iri hati memiliki perspektif seperti ini tentang Tuhan dan hidup.
GS : Dengan terus menyalahkan Tuhan, kadang-kadang juga menyalahkan orangtuanya atau orang-orang disekelilingnya yang seolah-olah membuat dia sampai menjadi sedemikian rupa, Pak Paul?

PG : Itu poin yang betul sekali, jadi orang-orang yang rentan terhadap iri hati mudah menyalahkan lingkungan. Dia tidak bisa memikul tanggung jawab, tidak bisa berkata, "Ya, saya mempunyai andlnya, saya mempunyai bagian dalam masalah ini sehingga saya tidak memiliki ini dan itu."

Biasanya orang-orang yang rentan terhadap iri hati menyalahkan sekelilingnya. "Coba kalau saja dibesarkan oleh orangtua ini, coba kalau saja orangtua saya tidak berbuat ini, coba kalau saja orangtua saya berbuat ini, coba kalau sekolah saya teman saya..." dan selalu menyalahkan lingkungan seolah-olah lingkunganlah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas hidupnya. Saya tidak mengatakan lingkungan tidak berandil dalam hidup kita, ada di antara kita yang mengalami kerugian karena lingkungan hidup di mana kita dibesarkan. Itu adalah kenyataan hidup karena orangtua tidak bertanggung jawab, ada anak-anak yang ingin sekolah dan bisa bersekolah tapi tidak bersekolah. Kenapa, karena tidak ada yang membiayai, tidak ada yang mengurus; itu bisa kita lihat bahwa si anak menjadi korban kelalaian orangtuanya. Betul, ada kasus di mana kita menjadi korban lingkungan dan orang lain, namun pertanyaannya apakah semua ketidakberuntungan kita disebabkan oleh orang lain. Belum tentu, kadang-kadang oleh kita juga. Dan yang kedua, kalau pun kita adalah korban perlakuan lingkungan atau orang lain, bukankah akhirnya kita bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu, untuk mengubah apa yang telah kita terima itu untuk melakukan yang terbaik dalam situasi yang tidak baik itu. Nah itu adalah bagian kita, itu adalah tanggung jawab kita, tapi orang yang mudah iri hati tidak bisa melihat itu, sepenuhnya dia limpahkan kepada orang dan orang lainlah yang memang bersalah dan seolah-olah orang itu yang menebus kesalahannya untuk dia.
GS : Sering kali orang mengekspresikan iri hatinya itu bukan hanya sekadar dengan keluhan-keluhan seperti itu tapi kadang juga dengan kemarahannya. Seperti tadi yang Pak Paul sebutkan tentang Kain dan Habel. Kain marah sekali kepada Habel, padahal itu bukan salahnya Habel.

PG : Iri hati akhirnya mempunyai reaksi yang sangat buruk, begitu buruknya sehingga bisa menjadi jahat. Orang yang iri hati akhirnya akan berkata, "Kalau saya tidak mendapatkannya, orang lain un tidak boleh mendapatkannya; kalau saya tidak menikmatinya, orang lain pun tidak boleh menikmatinya."

Jadi waktu dia melihat orang lain menikmatinya sementara dia tidak bisa menikmatinya, hatinya langsung penuh amarah, dan begitu hatinya diisi oleh marah timbullah niat jahat. Dia juga harus menghancurkan orang lain yang hidupnya begitu baik yang bisa menikmati semua itu. Dalam kondisi seperti itu, kalau dia tidak dikuasai oleh Tuhan dia akan bisa mata gelap, dia bisa berbuat hal-hal yang sangat salah untuk merugikan orang lain, atau misalkan menyebarkan gosip yang tidak benar tentang orang-orang yang dia iri kepadanya supaya orang-orang mempunyai pandangan yang negatif terhadap orang-orang yang menjadi objek iri hatinya.
GS : Bagaimana kita bersikap kalau kita sedang dikuasai oleh perasaan iri hati?

PG : Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa sebetulnya apa yang terjadi tatkala kita iri hati. Dari sini kita berangkat melihat penanganannya. Waktu kita iri hati sebetulnya sekurang-kurangya ada 3 hal yang terjadi, yang pertama adalah kita tidak mensyukuri apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.

Kita harus kaitkan hal ini dengan Tuhan, kita tidak bisa melepaskan iri hati dari Tuhan, ada kaitan langsung dengan Tuhan sebab bukankah apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Jadi orang yang iri hati mesti menyadari bahwa tatkala dia iri hati, dia sedang tidak mensyukuri apa yang Tuhan telah berikan. Kedua, tatkala dia iri hati sesungguhnya dia sedang tidak dapat menikmati apa yang Tuhan telah berikan kepadanya. Dan yang ketiga, tatkala dia iri hati dia pun tidak ingin orang lain menikmati apa yang Tuhan telah berikan kepada orang tersebut. Waktu dia melihat orang bahagia, senang, menikmati sesuatu, hatinya penuh dengan kemarahan, timbul niat pokoknya orang itu tidak boleh menikmatinya juga. Kalau kita mudah terkena iri hati, kita mesti menyadari inilah ketiga hal yang sebetulnya berkecamuk dalam hati kita. Tidak bersyukur, tidak bisa menikmati dan melarang orang menikmati apa yang menjadi milik mereka.
GS : Biasanya orang yang iri hati juga mengajak orang lain supaya iri juga terhadap apa yang dia iri itu.

PG : Dengan satu tujuan supaya dia tidak merasa bahwa dia jelek sendiri. Dia tidak merasa bahwa saya ini yang bermasalah sendirian, sebab dia akan bisa berkata, "O........lihat teman saya jugamempunyai perasaan yang sama, yang satu ini juga mempunyai pandangan yang sama jadi berarti bukan saya sendirian, orang lain juga mempunyai perspektif atau pandangan yang sama.

Nah dengan cara itu dia melestarikan iri hatinya, dengan berkata, "Ya...ini wajar, tidak apa-apa." Iri hati bukanlah sesuatu yang kita mesti sambut dan ijinkan untuk bersarang dalam hati kita, iri hati harus kita lawan, iri hati bertentangan sekali dengan sifat Tuhan yang murah hati.
GS : Jadi kalau kita mesti melawannya, bagaimana kita melawannya?

PG : Saya akan bacakan dari I Tesalonika 5:18, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." Ini perintah Tuhan, Dia meminta kitamengucap syukur dalam segala hal, jadi kita melatih, mengkondisi diri kita; apa pun porsi yang Tuhan telah tetapkan untuk kita bersyukurlah.

Dengan berkata terima kasih Tuhan. Kenapa kita berkata terima kasih, karena kita percaya bahwa Tuhan tahu apa yang paling baik untuk kita. Kalau Tuhan berikan porsi kecil ini, berarti Tuhan tahu porsi kecil inilah yang paling baik untuk kita. Kalau kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, yakinlah Tuhan tahu apa yang baik untuk kita bahwa yang kita inginkan itu belum tentu baik untuk kita, jadi terimalah apa pun yang Tuhan telah tetapkan untuk kita dan berterima kasihlah. Belajarlah berterima kasih sebab bukankah berkat Tuhan itu begitu banyak, bukan saja berkat-berkat tertentu yang kita inginkan, yang lain pun seperti udara, cuaca, hujan, tanaman, begitu banyak berkat yang Tuhan berikan kepada kita, lihatlah dan berterima kasihlah.
GS : Justru itulah yang sangat sulit dilakukan oleh orang yang rentan terhadap iri hati itu Pak Paul, dia membutuhkan orang lain untuk membukakan matanya untuk melihat bahwa ada banyak hal sebenarnya yang bisa dia syukuri.

PG : Sudah tentu kalau ada orang yang akan mengingatkannya itu sangat baik sekali, mudah-mudahan waktu dia mendengarkan khotbah, membaca firman Tuhan dia tergerak kembali, dia diingatkan. Tapisebetulnya intinya adalah orang yang iri hati mesti sering-sering melihat Tuhan, itu kuncinya.

Jangan sering-sering melihat manusia, sering-seringlah melihat Tuhan, waktu kita sering-sering melihat Tuhan kita lebih bisa berterima kasih, lebih bisa melihat kebaikan Tuhan, melihat rencana Tuhan. "O...saya mengerti kenapa dulu tidak menerima ini, tidak menerima itu sekarang saya sadari Tuhan tahu apa yang paling baik." Nah orang yang sering melihat Tuhan dan melihat Tuhan bekerja dalam hidupnya, orang itu akan lebih mudah bersyukur kepada Tuhan.
GS : Sebenarnya perasaan iri hati itu bisa dipakai untuk menjadi sesuatu yang positif di dalam diri kita?

PG : Dengan kata lain kita bisa membalikkannya dan menyerahkannya kepada Tuhan, kemudian melihat hal-hal yang telah Tuhan berikan. "OK, saya tidak mendapatkan ini tapi saya telah menerima ini,menerima itu.

Tuhan telah memberikan saya kesehatan, Tuhan memberikan keluarga yang begitu hangat, saling mengasihi, itu semua berkat Tuhan." Jadi waktu kita melihat yang tidak kita miliki justru kita melihat Tuhan, kita diingatkan akan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita dan disitulah kita bersyukur kepada-Nya.
GS : Jadi sebenarnya peran teman yang dekat atau peran keluarga untuk menolong orang ini keluar atau terlepas dari perasaan iri hati itu besar sekali, Pak Paul.

PG : Besar, tapi dia sendiri harus berusaha, dia harus memaksa matanya memandang Tuhan dan memandang Tuhan kembali.

GS : Apakah ada yang lain, Pak Paul?

PG : Kitab Pengkhotbah 2:25 dan 26 berkata, "Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukan.."

Firman Tuhan di sini dengan jelas mengatakan kita tidak akan bisa menikmati pemberian Tuhan, kalau Tuhan sendiri tidak memampukan kita menikmati pemberian-Nya itu. Jadi apa pun yang Tuhan telah berikan, pertama minta Tuhan menolong agar kita bisa menikmatinya, minta Tuhan memampukan kita menikmatinya. Kalau hati kita sudah dipenuhi dengan rasa syukur, kita tidak mengeluhkan yang kita tidak miliki, kita mensyukuri, berterima kasih pada Tuhan atas apa yang diberikan-Nya, kita akan lebih mampu menikmati yang Tuhan telah berikan itu. Meskipun misalkan rumah kita kecil, kita lebih bisa menikmatinya; meskipun kita tidak mempunyai kendaraan yang baik tapi yang sederhana pun kita bisa menikmatinya. Ini memang benar-benar memerlukan suatu kesungguhan, suatu kerendahan hati tetapi pertama dibutuhkan hati yang penuh syukur agar dapat menikmati apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.
GS : Ada orang yang mengatakan kalau kita sudah menikmati semua itu, berarti kita tidak mempunyai gairah untuk mencapai yang lebih tinggi daripada apa yang telah kita terima itu.

PG : Saya kira sebaiknya meskipun kita telah memiliki apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, kalau kita memang masih mempunyai kebutuhan yang lain, jangan ragu untuk bawakan itu ke dalam doa Tidak salah kita berdoa agar Tuhan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang lain.

Kalau Tuhan bukakan pintu sehingga kita bisa mengembangkan usaha kita, silakan kembangkan jangan ragu asalkan serahkan usaha itu juga kepada Tuhan.
GS : Tapi dasarnya bukan karena iri hati, Pak Paul?

PG : Betul.

GS : Hal yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan?

PG : Firman Tuhan di kitab Pengkhotbah 4:4 dan 6 berkata, "Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Segenggamketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin."

Pengkhotbah mau mengatakan kepada kita bahwa hidup dalam dunia ini begitu tidak sempurnanya sehingga usaha orang memperbaiki diri sering kali dimotivasi oleh iri hati. Segenggam ketenangan, artinya meskipun kita mempunyai sedikit tapi kita damai tenteram, hidup lebih baik dari pada berusaha lebih keras lagi tapi itu sebetulnya dimotivasi oleh iri hati. Kalau saya boleh memakai ayat ini untuk menambahkan satu point lagi adalah belajarlah bersukacita bagi orang lain. Meskipun kita mempunyai satu genggam orang lain mempunyai dua genggam, bersyukurlah bagi mereka. Tuhan telah memberkati mereka, kita bersukacita untuk mereka. Waktu hati kita diisi dengan sukacita untuk orang lain, maka iri hati itu makin hari akan makin menipis dan akhirnya hilang.
GS : Sebenarnya Alkitab sudah cukup banyak mengingatkan kita untuk tidak menumbuhkan atau mengembangkan perasaan iri hati, tetapi ini memang membutuhkan latihan terus-menerus dan kedisiplinan yang kuat agar walaupun tidak hilang 100% tetapi makin lama dia akan makin menyusut dalam kehidupan kita.

PG : Tepat sekali, Pak Gunawan.

GS : Pak Paul, terima kasih untuk perbincangan ini dan saya percaya ini akan menolong banyak saudara yang dengan tekun telah mengikuti acara Telaga. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "IRI HATI". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



36. Melawan Kebosanan


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T210B (File MP3 T210B)


Abstrak:

Hidup tidak selalu penuh gairah. Bagaimana kita menghadapi hidup yang kadang membosankan? Salah satunya ialah belajarlah hal yang baru; tingkatkanlah keterampilan yang telah kita miliki. Otak didesain Tuhan untuk digunakan memikirkan hal-hal yang kompleks. Otak yang tidak dipakai untuk hal yang kompleks akan mengalami kelesuan dan ini menimbulkan kebosanan. Jadi, belajarlah dan asahlah kemampuan.


Ringkasan:

T 210 B "Melawan Kebosanan" oleh Pdt. Paul Gunadi

Hidup tidak selalu penuh gairah. Adakalanya hidup lebih mirip dengan roda yang berputar-tidak ada beda antara kemarin, hari ini, dan esok. Bagaimana seharusnya kita bersikap menghadapi hidup yang kadang membosankan?

  1. Kebosanan berhubungan erat dengan tujuan hidup. Makin jelas dan bermakna tujuan hidup, makin mudah kita mengatasi kebosanan. Sebaliknya tanpa tujuan hidup yang jelas dan bermakna, makin sukar kita melawan kebosanan. Kita harus menjalankan roda kehidupan sesuai dengan arah tujuan hidup; kita mesti mengatur dan merencanakan aktivitas dalam hidup untuk mencapai tujuannya. Firman Tuhan berkata, "Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." (Mazmur 146:2)
  2. Relasi yang hangat dan positif adalah salah satu obat penawar kebosanan sebab relasi mengisi kebutuhan hidup yang dalam. Jadi, pertahankanlah relasi yang telah ada dan bangunlah relasi dengan teman yang baru.
  3. Acap kali kebosanan muncul karena kurangnya rekreasi. Istilah rekreasi berarti menciptakan ulang; jadi, rekreasi adalah waktu untuk memulihkan diri yang telah terkikis oleh kerutinan. Jadwalkanlah rekreasi sehingga secara berkala kita berkesempatan menyegarkan jiwa. Jika memungkinkan, dalam berekreasi, lakukan kegiatan yang bersifat permainan sebab permainan mengusir kebosanan.
  4. Belajarlah hal yang baru; tingkatkanlah keterampilan yang telah kita miliki. Otak didesain Tuhan untuk digunakan memikirkan hal-hal yang kompleks. Otak yang tidak dipakai untuk hal yang kompleks akan mengalami kelesuan dan ini menimbulkan kebosanan. Jadi, belajarlah dan asahlah kemampuan.
  5. Nikmati dan rayakanlah cinta; orang yang mencintai tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri dan makin banyak mengasihi makin terisi hati ini oleh kasih.
  6. Hargailah hidup serta pemberian Tuhan. Hitunglah berkat dan ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Lihatlah sekeliling dan pandanglah semua pemberian Tuhan yang begitu indah dan berlimpah. Makin jeli kita melihat Tuhan di dalam ciptaan-Nya, makin berlimpah hati ini dengan sukacita dan sukacita akan menghalau kebosanan.

Firman Tuhan: Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kenyangkanlah kami diwaktu pagi dengan kasih setia-Mu; supaya kami bersorak sorai dan bersuka cita semasa hari-hari kami. (Mazmur 90:12,14)


Transkrip:

T 210 B

Lengkap

"Melawan Kebosanan" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Melawan Kebosanan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Kadang-kadang kita merasakan ada suatu kejenuhan, ada suatu rasa bosan yang menguasai diri kita sehingga bisa melumpuhkan kita, hidup ini begini-begini saja, hanya rutin terulang-ulang seperti itu dan lama-lama menjadi jenuh. Kita tidak bisa mengambil suatu manfaat dari apa yang kita kerjakan atau yang kita alami pada saat itu. Apakah ini menjadi gejala dari semua orang atau beberapa orang atau bagaimana?

PG : Saya mengerti adakalanya kita akan mengalami kebosanan akibat kondisi kehidupan yang sangat susah. Jadi dalam kondisi kehidupan yang sangat susah memang kita mudah bosan. Sebagai contoh eseorang yang di penjara, hari ini dan hari esok dan minggu depan akan sama kegiatannya, dan kita tahu itu bukanlah suatu masa yang indah.

Jadi dalam keadaan susah terus kerutinan itu sama hari lepas hari kita akan mudah sekali merasakan kebosanan. Tapi saat ini kita mau berbicara dengan kebosanan yang dialami oleh orang-orang yang sebetulnya memiliki kehidupan yang relatif stabil, tidak sedang mengalami kesusahan seperti yang saya gambarkan orang yang di penjara. Kenapa bisa sampai merasa bosan, sudah tentu saya tidak akan mengecap orang yang mengalami kebosanan itu sebagai orang yang bermasalah. Kebosanan itu secara berkala memang akan datang dalam hidup kita, waktu datang kita harus melawannya. Nah apa yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Yang pertama adalah kita mesti selalu mengingat tujuan hidup kita, karena tanpa tujuan hidup yang jelas kita mudah sekali terperangkap ke dalam kebosanan. Apalagi misalkan kita mempunyai proyek-proyek dalam hidup, kita mau melakukan ini atau itu misalnya kita mau membesarkan anak-anak, kita mau melihat mereka nanti lulus kuliah akhirnya mendapatkan pekerjaan yang baik, mempunyai keluarga. Adakalanya kita menyusun hidup itu dengan target-target seperti tadi itu, akhirnya tatkala itu semua telah terjadi sesuai harapan kita, kita bingung mesti berbuat apa. Kita mesti jelas dengan tujuan hidup kita sebagai orang Kristen. Mazmur 146:2 berkata, "Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." Kenapa Daud begitu bergebu-gebu berkata, "Aku ingin memuliakan Tuhan selama aku hidup?" Kita ini memuliakan Tuhan nomor satu karena Tuhan itu mulia, Dia pencipta, Dia pemelihara hidup ini. Tapi Tuhan itu bukan hanya mulia, Dia baik begitu baiknya Dia menyayangi kita; Dia rela mati untuk menebus dosa-dosa kita sehingga kita tidak usah menanggung dosa itu, kematian-Nya membayar lunas semua dosa kita dan kita diterima menjadi anak-anak Tuhan. Kesadaran akan betapa mulia dan betapa baiknya Tuhan, harusnya membuat kita tergugah, "selama aku hidup aku ingin memuliakan Tuhan," artinya aku mau menceritakan kepada orang tentang kemuliaan dan kebaikan Tuhan. Biarlah orang melihat kebaikan dan kemuliaan Tuhan, biarlah orang pun mencicipi kemuliaan dan kebaikan Tuhan, itu yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan.
GS : Itu memang tujuan kekal atau tujuan jangka panjang, tapi kadang-kadang kita kehilangan tujuan itu atau karena bosan kita tidak melihat tujuan itu dengan lebih jelas lagi atau bagaimana?

PG : Sering kali kerutinan hidup menindih tujuan hidup yang Tuhan telah tetapkan ini, dan saya kira itu alamiah, itu manusiawi. Jadi waktu kita tertindih cobalah kita ingatkan diri kita, bacalh kembali Firman dan mintalah Tuhan berbicara dan terutama terbukalah untuk dipakai Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya.

Selama kita hidup kita tidak akan berhenti dipakai Tuhan, jadi terbukalah apa yang Tuhan inginkan dari kita, kita sediakan diri kita untuk melakukannya. Dengan cara itu, meskipun kadang-kadang kita seperti terseret arus, kita bisa kembali diseret masuk ke dalam perahu rencana Tuhan.
GS : Itulah sebabnya kita perlu membaca Alkitab itu secara teratur tiap-tiap hari Pak Paul, sehingga ada sesuatu yang baru yang bisa kita baca, kita pahami dan kita lakukan.

PG : Betul, dan merupakan cara Tuhan juga untuk mengingatkan kita akan sebetulnya apa itu kehendakNya buat kita.

GS : Yang menjadi masalah itu membaca Alkitab menimbulkan kebosanan, Pak Paul.

PG : Itu susahnya manusia, Pak Gunawan, membaca Alkitab sendiri akhirnya menjadi bosan. Kalau bosan bagaimana? Tetap membaca Alkitab. Jangan berkata, "saya bosan tidak mau baca lagi." Tetap aca, sebab hari ini bosan besok belum tentu bosan, siapa tahu besok waktu kita tidak bosan kita justru menerima berkat dari pembacaan firman Tuhan itu.

GS : Kebosanan ini memang sangat terkait erat dengan relasi atau hubungan kita dengan Tuhan.

PG : Betul sekali, tapi dalam kehidupan ini untuk melawan kebosanan saya juga harus mengakui tidak hanya cukup melandasinya dengan alasan-alasan rohani sebab kita ini bukan hanya manusia rohani kita juga adalah manusia relasional.

Tuhan menciptakan kita sebagai manusia sosial. Jadi hal kedua yang mesti kita lakukan untuk melawan kebosanan adalah pertahankanlah kalau bisa kembangkanlah relasi dengan sesama kita. Karena relasi yang hangat dan positif benar-benar merupakan obat penawar bagi kebosanan. Saya berikan contoh, mungkin suatu hari kita pernah mengalami kebosanan; terus datang mungkin saudara, kerabat atau mungkin teman kemudian ngobrol, cerita, kita tertawa, tiba-tiba kita melupakan kebosanan itu. Jadi benar-benar kita bisa menyaksikan relasi yang hangat, yang positif itu berdaya besar mengusir kebosanan. Orang yang dikelilingi dengan teman, sahabat, saudara, kerabat, susah sekali untuk mengalami kebosanan. Jadi selama hidup coba kembangkan aspek pertemanan.
GS : Tapi di sisi lain kebosanan itu kadang-kadang menular, jadi kalau misalnya kita sama-sama bekerja di satu pekerjaan yang kebetulan mengerjakan pekerjaan yang sama. Ada orang yang mengatakan, "wah, pekerjaan ini memang membosankan," kita kemudian terbawa dan mulai berpikir, "ya, memang membosankan," dan menjadi bosan sekali.

PG : Pada waktu itu terjadi, berkatalah kepada diri sendiri bahwa memang pekerjaan yang sama yang kita lakukan hari lepas hari akan menimbulkan kebosanan dan itu wajar, tidak apa-apa. Tidak ad yang salah dengan reaksi bosan terhadap sesuatu yang kita kerjakan hari lepas hari sama.

Yang penting kita tahu bahwa selesai kita mengerjakan pekerjaan yang membosankan ini akan ada hal-hal yang tidak membosankan yang akan kita lewati, yang nanti kita akan cicipi atau yang akan kita lakukan. Ini yang penting Pak Gunawan, sehingga kita tidak diikat oleh hal-hal yang membosankan itu. Jadi sekali lagi saya mau mengatakan saya mengerti akan ada pekerjaan atau aktifitas yang membosankan, karena sama hari lepas hari. Jangan kita menganggap itu sebagai relasi yang keliru, tidak seharusnya kita bosan; terimalah kalau memang membosankan ya membosankan, tidak apa-apa namun yang penting setelah mengerjakan hal-hal itu kita menyadari akan ada hal-hal lain yang akan kita kerjakan yang tidak membosankan kita.
GS : Tapi memang perlu disadari akan tujuan dari apa yang kita kerjakan itu sekalipun itu membosankan, kalau kita larut dalam kebosanan kadang-kadang akan membahayakan orang lain. Jadi seperti orang yang menjaga pintu kereta api, itu banyak yang mengeluh dengan pekerjaan itu, tapi kalau dia lengah akan ada bahaya yang timbul.

PG : Itu baik sekali jadi dengan kata lain ini masuk ke aspek relasi yaitu bahwa apa yang kita kerjakan bisa berdampak pada orang lain atau bahkan akan berdampak pada rencana Tuhan. Meskipun hl-hal itu membosankan tapi kita tahu yang kita kerjakan ini berdampak pada pekerjaan Tuhan dan berdampak pada sesama kita.

Belum lama ini saya membaca sebuah cerita tentang seorang tua yang sudah pensiun, setiap kali dia mendengar ada serdadu-serdadu Amerika yang baru pulang dari perang di kotanya, dia akan datang ke bandara. Dengan membawa beberapa sahabatnya menyambut mereka, menyalami mereka dan berkata, selamat datang kembali di rumah. Nah itu suatu pekerjaan yang mungkin orang pikir sangat sederhana sekali, tapi bagi para serdadu yang baru pulang, sambutan hangat seperti itu benar-benar menghangatkan hati mereka. Para serdadu itu sangat senang sekali dan si orang tua ini dengan jujur berkata, "Terus terang adakalanya saya capek sebab terlalu sering dan saya sudah tua, saya harus ke bandara tapi saya selalu berjanji kepada mereka, kalau kamu pergi nanti dua tahun lagi kamu pulang saya akan berada di sini menyambut kamu kembali dan saya tahu mereka menghargai apa yang saya lakukan, jadi akan terus saya lakukan." Jadi semua terkait dengan tujuan untuk apakah kita hidup, kalau kita bisa sesuaikan aktifitas kita sesuai tujuan hidup itu kita akan melihat dampaknya. Apa dampaknya bagi pekerjaan Tuhan, apa dampaknya bagi sesama kita.
GS : Kebosanan ini timbul karena kejenuhan di dalam diri kita yang tidak bisa mencair lagi, apakah ada hal yang bisa kita lakukan untuk mencairkan ini supaya mengurangi atau bahkan menghilangkan kejenuhan ini?

PG : Obatnya yang paling gampang adalah rekreasi, terutama rekreasi yang mengandung permainan. Kita makin tua makin jarang bermain, bahkan adakalanya waktu kita ber-rekreasi pun itu merupakan ekreasi yang serius.

Saya berikan contoh, misalnya "sight-seeing" ke mana, untuk melihat pemandangan baru dan sebagainya. Itu sudah tentu hal yang indah, hal yang bagus sekali. Kita bisa menikmati sesuatu yang baru, itu bisa menyegarkan jiwa kita, meneduhkan hati kita; itu semua sangat penting dan kalau kita lakukan secara berkala hal itu akan menolong kita juga untuk menghalau kebosanan. Tapi ada hal kecil lain yang sebetulnya bisa kita lakukan kapan saja yaitu bermainlah. Kita kadang-kadang makin tua makin jarang bermain, misalnya bermain kartu "forty-one", empat puluh satu, bermain kartu cangkul, bermain catur atau bermain sepeda atau di laut bermain air. Begitu banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang mengandung unsur bermain. Bermain itu benar-benar antithesis atau lawan dari kebosanan. Itu sebabnya anak kecil kalau banyak teman dan mainan tidak pernah bosan, tapi begitu tidak ada teman dan mainan dia merasa bosan. Anak-anak kecil bermain-main dengan teman-temannya, kita tidak akan melihat wajah yang bosan, wajah yang luar biasa senang. Ini yang mesti kita kembalikan pada diri kita, lebih sering-seringlah bermain dalam pengertian bermainlah yang sehat jangan bermain yang tidak sehat. Sering-seringlah bermain dalam batas-batas yang wajar, permainan itu dapat menolong kita, memulihkan diri kita kembali. Kata rekreasi berasal dari kata re-create jadi menciptakan ulang. Apa yang mau kita ciptakan ulang, yaitu energi kita, antusiasme kita untuk hidup; lewat rekreasi, lewat permainan antusiasme kita itu bisa dibakar kembali.
GS : Itu sebenarnya bisa dilakukan kalau kita sudah mulai merasa bosan terhadap kehidupan yang rutin. Karena kalau sudah terjebak dalam kebosanan kita diajak untuk rekreasi pun malas.

PG : Itu betul sekali Pak Gunawan, jadi jangan tunggu sampai benar-benar energi kita sudah habis sehingga tidak ada lagi yang kita gunakan untuk pergi ke luar bermain. Jadi jangan tunggu sampa kebosanan itu benar-benar menjadi sangat parah.

GS : Karena kalau kita sudah dikuasai oleh kebosanan kemudian kita diajak main atau diajak ke luar kota, kita mengatakan dulu sudah pernah ke sana. Jadi membosankan lagi sehingga rekreasi ini tidak jalan.

PG : Betul, itu point yang bagus sekali Pak Gunawan, namun kalau kita sudah sampai ke kondisi itu mungkin kita bisa berkata begitu, "Ok-lah saya memang bosan saya tidak mau, tapi demi pasangan ita atau teman-teman kita yang ingin pergi, ya sudah pergilah."

Justru waktu kita pergi, meskipun demi orang lain di saat itulah energi kita itu akan diisi kembali, kita akan menikmati bahwa senang juga pergi bersama-sama teman seperti ini. Dia diingatkan kembali pentingnya rekreasi sehingga lain kali dia lebih termotivasi untuk menikmati permainan atau rekreasi.
GS : Yang sering kali saya lakukan kalau ber-rekreasi ke luar kota, saya tidak lagi melihat tempat sebagai tujuan tetapi perjalanan itu sendiri menjadi suatu rekreasi bagi saya.

PG : Ini perspektif yang sangat baik sekali Pak Gunawan, betapa seringnya waktu kita itu mau ber-rekreasi mata hanya tertuju pada tempat yang kita akan kunjungi. Padahal perjalanan itu lumayanpanjang sedangkan kita mengendarai mobil berbelasan jam.

Jadi kita merasa perjalanannya yang panjang, itu menjadi beban; betapa baiknya kalau kita melihat perjalanan itu sendiri sebagai bagian dari rekreasi. Misalkan jangan terlalu tergesa-gesa, berhentilah, menikmati makan-minum, waktu istirahat melihat-lihat apa yang di perjalanan. Sehingga waktu kita mulai keluar rumah sampai kita kembali ke rumah itu semuanya secara utuh merupakan rekreasi.
GS : Bagaimana kalau kita jenuh kemudian mencoba untuk mempelajari sesuatu yang baru atau sesuatu yang belum kita ketahui?

PG : Itu baik sekali, sebab kita harus menyadari otak kita memang didisain oleh Tuhan untuk memikirkan hal-hal yang kompleks, otak itu tidak didisain untuk memikirkan hal yang gampang, sederhan-sederhana; otak memang begitu rumit didisain untuk memikirkan hal-hal yang kompleks.

Itu sebabnya kalau kita tidak memakai otak memikirkan hal-hal yang kompleks, lama-lama otak kita lesu, terbuai oleh hal-hal yang mudah, gampang dan sederhana. Nah otak kalau makin hari makin lesu akibatnya kita jadi jenuh, bosan, jadi silakan belajarlah hal yang baru, bacalah buku yang baru, kalau ada keterampilan yang bisa dipelajari dan kita ada waktu pelajarilah, carilah pengetahuan yang baru yang dulu kita tidak pernah kuasai, itu akan kembali merangsang kehidupan kita dan kita tidak mudah lagi dikuasai oleh kebosanan.
GS : Mungkin ada hal lain yang Pak Paul ingin sampaikan untuk kita mengatasi kebosanan?

PG : Berikutnya adalah mencintai. Saya ingin mengajak kita semua menikmati dan merayakan cinta. Orang yang mencintai tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri dan makin banyak mengasihi makin teisi hatinya oleh kasih.

Sudah tentu kita harus membatasi mencintai dalam koridor keputusan Tuhan, jangan berdosa mencintai orang yang tidak seharusnya kita cintai. Cintailah pasangan kita, kasihilah anak-anak kita, kasihilah keluarga kita, kasihilah sesama kita. Jadi mengasihilah, orang yang banyak mengasihi berarti memikirkan banyak orang; hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Nah waktu dia mulai keluar dari dirinya dan mulai hidup bagi orang lain, tidak bisa tidak kebosanan itu akan menurun atau akan berkurang. Karena kebosanan dapat dikaitkan juga dengan hidup yang terlalu terbatas, hidup yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Nah waktu kita mulai bagikan hidup ini dengan orang lain kebosanan itu akhirnya juga akan mulai berkurang.
GS : Tapi kenapa ada orang yang bosan dengan pasangannya sendiri?

PG : Biasanya kalau itu terjadi sebelum muncul kebosanan memang sudah ada masalah. Akhirnya kebosanan menimbulkan kepahitan, kepahitan menimbulkan keengganan untuk dekat sehingga kasih pun akhrnya makin hari makin memudar.

Tatkala kasih memudar, tidak bisa tidak kebosananlah yang akan muncul. Maka obatnya, kalau ada masalah dari awal jangan tunda bereskan dan bereskan. Usahakan bereskan jangan diamkan masalah itu terus bercokol. Nah, waktu masalah selesai, kepahitan pun berkurang cinta makin bisa bertumbuh, nah nikmatilah dan rayakanlah cinta itu dengan pasangan sendiri. Orang yang hidup saling mencintai dan merayakan cinta itu akan lebih kuat melawan kebosanan.
GS : Apakah ada orangtua itu merasa bosan dengan anaknya?

PG : Seharusnya tidak Pak Gunawan, karena orangtua itu seharusnya mengasihi anak-anaknya, senang melihat anak-anaknya, jadi seharusnya tidak bosan. Kalau sampai orangtua merasa bosan terhadap nak-anaknya, kemungkinan karena relasi mereka tidak begitu hangat atau intim lagi.

GS : Itu memang didasari oleh relasi tadi Pak Paul, jadi ada rasa kasih, ada rasa menyayangi dan itu yang mengalahkan kebosanan itu. Sekali pun tiap malam dia harus bangun untuk menolong anaknya, mengganti baju anaknya dan sebagainya tapi itu bisa dilakukan dengan sukacita.

PG : Betul, sebab dia juga tahu dampak apa yang dilakukannya itu pada pekerjaan Tuhan dan pada sesamanya.

GS : Ada hal lain lagi yang ingin Pak Paul sampaikan?

PG : Yang terakhir adalah hargailah hidup serta pemberian Tuhan, hitunglah berkat, ucapkanlah syukur atas kebaikan-Nya, lihatlah sekeliling pandanglah semua pemberian Tuhan yang begitu indah da berlimpah.

Makin jeli kita melihat Tuhan di dalam ciptaan-Nya makin berlimpah hati ini dengan sukacita. Dan sukacita akan menghalau kebosanan. Jadi coba kita ingat sebagai panduan kita Firman Tuhan di Mazmur 90:12 dan 14, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami." Ini adalah doa Musa kepada Tuhan agar Tuhan menganugerahkan kepadanya hati yang bijaksana yang memungkinkannya dan menolongnya menghitung hari. Artinya menggunakan harinya dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi kita hanya bisa melakukan itu semua kalau kita melihat waktu yang Tuhan berikan sebagai pemberian Tuhan, waktu bukannya hadir begitu saja, waktu adalah pemberian Tuhan untuk kita, kita pakai dengan bijaksana. Dengan perspektif seperti itu kita akan lebih dimampukan melawan kebosanan pula.
GS : Memang diperlukan suatu kreatifitas di dalam diri seseorang itu untuk bisa menanggulangi kebosanan itu Pak. Jadi bagaimana dia kreatif mengatasi kebosanan itu dengan belajar, dengan melihat tujuannya kembali, dengan menata ulang hal-hal yang rutin di rumah sehingga dia bisa mengatasi kebosanannya dengan baik.

PG : Betul sekali, jadi sekali lagi kita mau mengingatkan para pendengar kita bahwa kita semua rentan terhadap kebosanan, nah tugas kitalah melawannya. Tadi kita sudah membahas cara-cara kita elawannya, mudah-mudahan dapat menolong kita semua untuk melawan kebosanan ini.

GS : Karena ada sebagian orang yang mungkin merasa bosan dengan mengikuti acara Telaga ini, tetapi dengan perbincangan ini saya percaya ini akan menolong orang walau pun bosan tetapi ada sesuatu yang penting yang selalu kami usahakan untuk bisa diperbincangkan melalui acara Telaga ini. Jadi terima kasih sekali untuk perbincangan kali ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti perbincangan kami dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Melawan Kebosanan". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



37. Manusia Baru


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T215A (File MP3 T215A)


Abstrak:

Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Seperti bergumul dengan dosa berbohong, kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa seksual, kita ingin lepas tetapi terus melakukannya. Dan apa yang harus kita lakukan?


Ringkasan:

T 215 A "Manusia Baru" oleh Pdt. Paul Gunadi

Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Ada yang terus bergumul dengan emosi marah; tidak mau marah namun toh marah. Ada yang bergumul dengan dosa berbohong; kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa seksual; kita ingin lepas tetapi terus melakukannya. Kita merana dan ingin bebas tetapi masih terbelenggu oleh dosa yang sama. Kadang kita bertanya-tanya, di manakah kebenaran ayat yang berbunyi, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) Apakah artinya ayat ini?

  1. Roma 12:2 berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Efesus 4:23-24, "supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." Kata, "budi" di Roma 12 berarti pikiran; jadi, dari dua ayat ini dapat kita simpulkan bahwa perubahan mesti terjadi pertama-tama pada pemikiran. Dengan kata lain, manusia baru di dalam Kristus adalah manusia yang berpikir seperti Kristus.
  2. Bagian berikutnya dalam pertumbuhan rohani setelah, "berpikir seperti Kristus" adalah "berbuat seperti Kristus." Inilah bagian tersulit karena meski kita tahu apa yang baik dan seharusnya namun tidak selalu kita melakukannya. Paulus membagikan pergumulannya ini di Roma 7:21-23, "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." Sebagai contoh, kita tahu tahu bahwa mengkhianati pasangan itu salah namun tetap kita melakukannya. Mengapakah demikian?
  3. Pada dasarnya pikiran dan perbuatan yang berdosa telah menjadi bagian hidup dan kepribadian kita. Pikiran dan perbuatan yang berdosa merupakan sarana untuk mendapatkan yang kita inginkan. Setelah kita mengenal Kristus, kita mesti menanggalkan pikiran dan perbuatan yang berdosa itu dan sebaliknya, mengandalkan Kristus untuk mendapatkan yang kita inginkan itu.
  4. Kita perlu menyeimbangkan kedua hal ini: di satu pihak kita adalah manusia baru dengan pemikiran yang baru namun di pihak lain kita adalah manusia lama yang dalam proses pembaharuan. Pertumbuhan yang sehat menuntut kesadaran akan keduanya.
  5. Pada akhirnya untuk bertumbuh dituntut usaha untuk melawan manusia lama. Kendati tidak mudah, kita harus melawannya. Roma 6:12 berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."


Transkrip:

T 215 A

Lengkap

"Manusia Baru" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Sekolah Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Manusia Baru". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, istilah manusia baru ini rupanya sangat populer di kekristenan. Tetapi sebenarnya tentang apakah manusia baru itu konsepnya berbeda-beda. Bagaimana Alkitab mengatakan hal ini?

PG : Kita dapat membaca II Korintus 5:17, "Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Nah dari sinilah kita jug memang mengambil konsep itu, bahwa kita adalah manusia atau ciptaan yang baru.

Kita sudah dilahir barukan oleh Roh Kudus dan sekarang kita menjadi anak Tuhan. Tapi kenyataanya adalah meskipun kita sudah menjadi anak Tuhan secara status kita adalah lahir baru, manusia baru. Namun kita masih terus bergumul dengan manusia lama kita. Misalkan ada orang yang terus bergumul dengan emosi marah, tidak ingin marah tapi akhirnya tetap marah. Ada yang bergumul dengan dosa berbohong, kita tahu itu salah tapi tetap saja kita mengulanginya. Ada juga yang bergumul dengan dosa seksual, kita ingin lepas tapi tetap melakukannya. Kita merana sekali karena kita tahu tidak seharusnya kita hidup seperti ini, kita ingin bebas tapi terus terbelenggu oleh dosa yang sama. Jadi saya kira inilah hal yang kita mau angkat pada kesempatan ini agar para pendengar kita juga memiliki pemahaman tentang "Apa artinya menjadi manusia yang baru."
GS : Nah, kalau begitu apa bedanya dengan mereka yang belum dilahir barukan? Kalau memang dari segi pergumulan dosa dan sebagainya tetap sama, hanya statusnya saja sebagai manusia baru, ini bagaimana Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan pertama-tama dari Roma 12:2 "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Alah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Kata pembaharuan budi: kata budi ini berarti pikiran, jadi Tuhan memang mengatakan atau meminta kita untuk berubah pertama-tama di dalam pikiran kita. Efesus 4:23,24 berkata "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." Jadi dari Firman Tuhan di Efesus 4 ini kita juga bisa melihat Tuhan memperbaharui kita di dalam roh dan pikiran kita. Jadi yang pertama-tama berubah atau mengalami perubahan adalah pemikiran kita, cara pandang kita, cara kita melihat apa yang terjadi di dalam hidup ini. Jadi misalkan, dulu kita menekankan uang, pokoknya terpenting adalah uang segala sesuatu kita ukur lewat uang. Nah sekarang setelah kita menjadi anak Tuhan, kita mengadopsi pemikiran Tuhan. Pemikiran Tuhan adalah bukan uang yang menjadi segalanya, tetapi Tuhan, bahwa manusia diukur bukan lewat uang tetapi oleh apa yang ada di dalam dirinya yakni karakter itu sendiri. Pemikiran yang baru ini yang kita peroleh dari nilai-nilai yang tercantum di firman Tuhan, ini yang nanti akan mulai menstransformasi diri kita, karena kita mulai melihat dengan cara yang berbeda. Di sinilah terjadi perubahan, tapi apakah kita telah mengalami atau telah berubah secara tuntas di dalam segala hal? Belum. Cara pikir kita mungkin berubah di dalam satu aspek, aspek lainnya masih kurang. Misalkan dalam soal uang, kita belajar uang bukan segalanya, kita diminta untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya maka segalanya akan ditambahkan kepadamu, kata firman Tuhan. Kita berhasil menomor sepuluhkan uang, sekarang kita lebih menomorsatukan Tuhan dan kebenarannya, kita lebih mementingkan relasi dengan orang dari pada uang dan sebagainya. Tapi di dalam hal yang lain misalkan, di dalam hal kejujuran, kita masih belum bisa berubah. Kita misalkan masih sering berbohong, untuk kepentingan pribadi, pokoknya kita siap saja berbohong, kita masih belum menerapkan pikiran Kristus di sini, Pak Gunawan. Sehingga tetap terlibat dan terikat di dalam dosa berbohong itu. Jadi di sini kita melihat juga bahwa perubahan atau transformasi di dalam pikiran itu berjalan setahap demi setahap, satu areal demi satu areal tidak secara serentak, seketika semua areal mengalami transformasi sehingga kita menjadi manusia baru yang berpikir dengan cara pandang yang baru.
GS : Dan pola pikir kita berubah karena kita membaca Alkitab itu sebagai firman Allah, Pak Paul.

PG : Betul, jadi kita mendapatkan informasi tentang pikiran Kristus lewat firman-Nya. Itu sebabnya kalau kita mengaku, kita adalah orang Kristen tapi tidak membaca firman Tuhan, kita sebetulnyatidak memiliki pikiran Kristus.

Pengakuan iman kita memang ada, kita mengaku kita adalah pengikut Kristus, kita percaya Dia telah mati untuk dosa kita. Tapi kita tidak memiliki pikiran Kristus. Ini menjelaskan kenapa ada orang-orang Kristen yang sudah lama bergereja, ikut Kristus tapi tetap luar biasa berdosa. Tidak mempunyai kehidupan yang berbeda dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Kenapa? Sebab yang terjadi dia tetap memiliki pemikirannya sendiri atau 90% lebih pikirannya itu adalah pikirannya sendiri, belum diisi dan dibaharui dengan pemikiran Kristus.
GS : Tapi ada orang yang mengatakan waktu dia terima Tuhan Yesus dan dia yakin itu kelahiran barunya terjadi, dia langsung berubah. Artinya dia yang tadinya pemabuk dia tidak lagi pemabuk, dia yang tadinya suka melakukan hubungan seks diluar nikah menjadi berubah sama sekali, begitu Pak Paul.

PG : Biasanya dosa yang menonjol, itu yang akan mengalami perubahan tercepat Pak Gunawan. Jadi di areal dimana kita itu memiliki dosa yang menonjol, maka di situlah kita mengalami perubahan atu transformasi.

Sebab perjumpaan dengan Kristus benar-benar menghancurkan dosa yang menonjol itu. Jadi misalkan tadi yang Pak Gunawan sudah sebut, kita misalkan sering berzinah, kita sering berjudi, kita sering misalkan mengambil milik orang lain; dosa yang menonjol itu yang langsung terkonfrontasi oleh kebenaran Kristus tatkala kita menerimanya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Namun, akan ada areal tertentu dalam hidup kita yang lebih tersembunyi, akan ada dosa-dosa yang lebih tersembunyi yang tidak mudah untuk kita ubah. Inilah yang menyebabkan kita akhirnya terus bergumul dengan dosa-dosa yang lain itu. Rasul Paulus di Roma 7:21-23 berkata "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." Jadi Rasul Paulus disini terbuka mengakui pergumulannya. Dia tahu apa yang seharusnya dilakukan tetapi dia masih belum bisa melakukannya. Ternyata di dalam kehidupannya pun masih ada dosa-dosa tertentu yang terus menyelinap masuk ke dalam hidupnya dan masih terus mencoba untuk menguasainya. Jadi, sekarang kita berkesimpulan selain kita harus mempunyai pikiran Kristus atau kita berpikir seperti Kristus, kita pun harus berbuat seperti Kristus, tidak cukup hanya mengetahui, kita juga harus melakukannya. Nah sering kali Pak Gunawan, di sinilah terjadi kemacetan, kita tahu apa yang Kristus inginkan, apa yang Tuhan perintahkan tapi kita tidak bisa melakukannya. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi kemacetan? Kenapa di areal-areal tertentu kita sudah tahu seharusnya bagaimana berbuat, tapi tetap saja kita gagal. Sudah tahu seharusnya tahan diri tidak marah tetap kita marah. Seharusnya tahu kita harus jujur berkata apa adanya tetap saja kita berbohong, kita sudah tahu jangan dekat-dekat dengan dosa perzinahan tetap saja kita pergi ke tempat-tempat mesum dan melakukan dosa itu. Mengapa? Biasanya ini penyebabnya Pak Gunawan, dosa yang sudah lama kita lakukan menjadi bagian hidup kita. Menjadi bagian dari kepribadian kita, sehingga untuk melepaskannya menjadi sangat susah. Menjadi bagian dari hidup kita artinya apa? Hal-hal ini yang berdosa tadi sudah menjadi sebuah jalan keluar bagi kita, jalan keluar atau sarana untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Sebagai contoh, kita ingin agar pasangan kita menghormati kita, kita terbiasa untuk berteriak dan marah, pasangan kita akan lebih takut dan akhirnya meninggalkan kita. Kita mau mendapatkan sesuatu kita berbohong supaya mendapatkan yang kita inginkan itu atau kita frustrasi hubungan dengan istri tidak begitu positif, nah kita keluar dan berzinah dengan orang lain. Sekali lagi kita melihat di situ dosa perbuatan-perbuatan tersebut adalah alat untuk memenuhi keinginan kita, itu sebabnya untuk melepaskan dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan tersebut sulit. Sebab selama ini hal-hal itulah yang telah berfungsi untuk memenuhi yang kita inginkan.
GS : Ada orang yang mengatakan bahwa kalau saya mau tidak melakukan hal itu maka saya tidak akan melakukannya. Tapi kalau kita melihat kenyataannya tanpa pertolongan Roh Kudus seseorang itu tidak akan dengan mudahnya bisa melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan atau kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu, Pak Paul.

PG : Dia memang harus bergantung atau kita semua harus bergantung sepenuhnya pada kuasa Tuhan. Karena hal-hal tersebut sudah mendarah daging dalam diri kita. Untuk melepaskannya akan sangat-sagat sulit sekali, maka setiap hari akan menjadi hari-hari untuk bergantung pada kuasa Tuhan.

Secara spesifiknya sebetulnya inilah yang harus terjadi, yaitu kita harus mempercayai Kristus. Dalam pengertian, kita harus mempercayai bahwa Dia dapat memberikan kepada kita hal yang kita inginkan itu, tapi lewat cara-Nya. Dulu kita menginginkan penghormatan cara yang kita gunakan marah. Dulu kalau kita dirugikan, kita ingin kita tidak dirugikan lagi dan cara yang kita gunakan kita menakut-nakuti orang, mengancam orang. Dulu kalau kita terjepit, kita akan berbohong, supaya menerima sesuatu yang kita ingin dapatkan. Nah cara-cara itu untuk mendapatkan yang kita inginkan, hal itulah yang berdosa. Kalau kita ingin berbuat seperti Kristus, bukan hanya berpikir seperti Kristus, Kristus harus berada di antara kita dan keinginan itu. Sebelumnya, di antara kita dan keinginan ada cara, kita menginginkan keuntungan maka cara apakah yang kita gunakan. Misalkan kita berbohong. Nah sekarang karena kita sudah memiliki pikiran Kristus dan mau berbuat seperti Kristus, kita berkata: "Antara saya dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan sekarang ada Kristus, bukan lagi caraku tapi cara Kristus." Cara Kristus adalah apa? "Saya harus jujur, saya harus taat kepada-Nya, saya harus percaya bahwa dengan kejujuran ini, Dia akan tetap bisa memberikan kepada saya apa yang saya butuhkan."
GS : Tapi ada orang yang merasakan sudah terlepas dari suatu kebiasaan buruk tertentu. Misalnya saja berzinah, sudah lama dia tidak melakukan perzinahan tetapi tiba-tiba di suatu kesempatan itu dia jatuh lagi didalam dosa perzinahan. Nah ini bagaimana menurut Pak Paul?

PG : Sudah tentu kita harus menyadari satu kebenaran, yaitu sampai kapan pun sebetulnya manusia lama kita itu mempunyai kedudukan di dalam hidup kita. Artinya meskipun kita sudah diperbaharui dn makin banyak areal dalam diri kita yang mengalami transformasi, tapi akan tetap ada bagian-bagian hidup kita yang diduduki oleh manusia lama.

Kalau tidak hati-hati dan kita lengah, kita beranggapan saya tidak akan lagi mungkin dikuasai oleh dosa itu. Nah di saat itulah si manusia lama muncul dan menguasai kita. Sebagai contoh, di dalam keadaan frustrasi otomatis kendali atas diri itu berkurang. Kalau kita tahu bahwa kita itu mempunyai masalah dengan emosi dan saat itu kita justru harus lebih berhati-hati karena kita tahu kalau tidak hati-hati, justru manusia lama yang mudah beremosi akan kembali datang. Kapan datangnya? Dia akan datang tatkala kendali kita sedang melemah, saat kita mengalami frustrasi. Maka Tuhan selalu mengingatkan kita berdoa dan berjaga-jagalah. Tuhan selalu mengingatkan kita "roh penurut tetapi daging itu lemah." Pikiran kita tahu apa yang kita lakukan, tapi daging kita atau perbuatan kita tidak mengikutinya, kita perlu menyadari semua itu. Berbahagialah orang yang senantiasa berdoa dan berjaga-jaga, Pak Gunawan.
GS : Hal itu yang membuat orang kemudian merasa bahwa dia sebetulnya belum lahir baru, dia belum menjadi manusia baru. Karena dia melakukan perbuatan dosa itu lagi.

PG : Nah orang atau kita semua harus mempunyai perspektif yang berimbang, Pak Gunawan. Bahwa kita adalah manusia baru yang masih mempunyai manusia lama. Kita jangan berkata saya adalah manusialama dan belum ada manusia barunya.

Bukan, kita sudah menjadi manusia baru, kita sudah ditebus oleh Kristus, kita sudah bertobat dan kita menjadi pengikut-Nya. Tapi di dalam manusia baru ada manusia lama dan ini adalah perspektif yang benar yang mesti kita miliki. Jadi kita menyadari karena dalam manusia baru kita masih ada manusia lama yang tersisa, masih ada areal-areal dalam diri kita yang masih memberikan kedudukan kepada manusia lama. Kita senantiasa harus berjaga-jaga dan kita harus memfokuskan perhatian kita pada areal-areal itu agar kita bisa menumbuhkannya, kita bisa mengembangkan manusia baru di sana, sehingga akhirnya lebih banyak daerah atau teritori dalam diri kita yang dikuasai oleh Roh Kudus dan ini akan memerlukan waktu, proses. Bersabarlah, jangan kita bersenang-senang jatuh ke dalam dosa, jangan. Waktu jatuh kita mesti melihat ke atas yaitu kepada Tuhan meminta pengampunan, kita sadar kita jatuh lagi, kita mendukakan hati Tuhan. Namun setelah itu kita fokuskan lagi ke depan. Kita berkata saya akan melawan percobaan tatkala ia datang kembali.
GS : Memang dalam mengembangkan area yang dikuasai oleh Roh Kudus dan mempersempit area yang dikuasai oleh dosa. Sesuatu yang tadinya tidak kita anggap sebagai dosa, firman Tuhan dengan Roh Kudus itu akan mencerahkan pada kita ternyata itu dosa dan kita harus perangi itu lagi, apakah begitu Pak Paul?

PG : Betul, jadi kita juga akan bertumbuh terus-menerus di dalam pikiran, pikiran yang dimiliki oleh Kristus. Tadinya kita anggap, berbohong seperti ini tidak apa-apa. Namun Tuhan menegur kita itu tetap berbohong.

Kita dicerahkan, berarti kita mulai menambah pikiran Kristus dan memasukkannya ke dalam pikiran kita. Sehingga semakin hari pikiran kita semakin mengecil tapi pikiran Kristus yang semakin menguat, menjadi penentu dalam hidup kita. Jadi itu adalah perubahan yang baik yang seharusnya dan yang kita senantiasa harus kejar. Satu hal yang lain Pak Gunawan yang saya juga mau ingatkan kepada pendengar kita adalah kenapa saya selalu menekankan pada, fokuskan pada yang selanjutnya. Saat kita jatuh kita minta pengampunan pada Tuhan, kita jalan lagi dan kita fokus kembali ke depan. Sebab ada orang yang seperti ini Pak Gunawan, terlalu terfokus pada dosanya, terlalu memukuli diri, menyesali diri akibat dosanya. Makin dia memukuli diri, menyesali diri makin melemah bukan makin menguat sehingga pada akhirnya waktu pencobaan datang bukannya dia kuat tetapi semakin melemah. Maka fokus perhatian kita bukan ke belakang tetapi selalu ke depan. Kalau kita sudah jatuh kita meminta pengampunan Tuhan majulah ke depan, jangan biarkan diri kita terus dikuasai oleh rasa bersalah. Sebab rasa bersalah yang berlebihan akan melemahkan kita dan yakinlah bahwa iblis juga turut bekerja di situ dengan cara menambah-nambah rasa bersalah kita, meniupkan isu, "kamu tidak layak menjadi anak Tuhan, berhentilah, sudah jangan pikirkan Tuhan lagi." Nah, hati-hatilah dengan bisikan-bisikan iblis karena makin kita terpuruk, makin senanglah dia.
GS : Memang hal-hal seperti itu sering kali kita alami, Pak Paul. Sebagai pergumulan orang yang menjadi manusia baru. Jadi manusia baru ini suatu proses yang rasanya tidak ada habis-habisnya sampai kita meninggal.

PG : Proses yang tak habis-habisnya dan menuntut usaha dari diri kita, Pak Gunawan. Kadang-kadang kita ini mempunyai pandangan keliru kita berkata: "Wah saya sudah memilih menjadi orang Kristen Tuhan adalah hidup saya dan Tuhan yang akan memerangi dosa."

Tidak demikian, yang harus memerangi dosa adalah kita bukan Tuhan sebab yang berdosa kita, bukan Tuhan. Jadi Tuhan tidak memerangi dosa di dalam hidup kita, kita yang harus memerangi dosa. Sebab bukankah juga keinginan dan usaha kita memerangi dosa, itu menunjukkan pula keseriusan kita mengikut Tuhan. Kalau kita berkata: "Biarkan Tuhan nanti yang memerangi," sampai kapan pun tidak akan ada pertumbuhan rohani di dalam hidup kita. Pertumbuhan terjadi tatkala kita mengambil tanggung jawab memerangi dosa. Artinya apa? Kita harus melawan dosa, kita tidak bisa pasif dan hanya berharap Tuhan yang akan menghilangkan dosa itu dari diri kita. Kita harus melawannya, maka firman Tuhan di Roma 6:12 berkata: "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." Nah siapa yang diminta untuk tidak menuruti keinginan dosa? Kita, berarti kita yang harus melawan keinginan untuk berdosa itu; kalau kita tidak ada keinginan, tidak ada perlawanan. Sebetulnya ini yang terjadi, waktu kita melawan, di saat itulah Roh Tuhan memberikan kekuatan bagi kita untuk melawan. Kalau kita tidak melawan, Roh Tuhan tidak bekerja untuk memberikan kekuatan melawan dosa. Jadi kita harus melawannya terlebih dahulu. Di dalam perlawanan muncul kekuatan Tuhan untuk melawan dan mengalahkan dosa itu.
GS : Jadi itulah yang membedakan manusia baru dan manusia yang belum mengenal Tuhan Yesus, Pak Paul. Orang yang sudah dilahirkan baru punya kemampuan untuk melawan dosa itu sendiri. Sedang orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus tidak punya kemampuan atau tidak punya niatan untuk melawan dosa itu sendiri.

PG : Betul, jadi ini yang membedakan kita. Karena sekarang kita sudah punya keinginan karena kita tahu apa yang benar dan kita sekarang memiliki kekuatan karena ada Tuhan di dalam hidup kita yng memberi kepada kita kuasa.

Tapi sekarang langkah berikutnya, kita yang harus berjalan; kalau kita duduk terus sampai kapan pun kita tidak akan sampai tujuan. Kita harus melangkahkan kaki dan nanti Tuhan akan menuntun kita ke tempat tujuan. Jadi orang Kristen harus berjalan, di dalam perjalanan itulah Tuhan menunjukkan jalan-Nya memberikan kekuatan kepada kita untuk berjalan. Bukankah orang yang tidak berjalan, duduk terus kakinya menjadi lemah. Semakin dia memakai kakinya untuk berjalan, semakin kuatlah kakinya. Semakin sering kita melawan dosa semakin kuatlah kita. Makin mudah menyerah makin melemah dan tidak ada kekuatan lagi. Maka Tuhan meminta kita untuk melawan dosa bukan menyerah. Dalam perlawanan itulah terletak kekuatan Tuhan.
GS : Jadi kalau ada seseorang atau bahkan kita sendiri Pak Paul, yang sudah yakin bahwa kita sudah dilahirkan baru tapi kemudian kita jatuh di dalam dosa, sebenarnya apa yang harus kita lakukan?

PG : Pertama kita datang kepada Tuhan, kita mengakui dosa itu, jangan bersembunyi, jangan merasionalisasi dan mengatakan, "biasalah manusia itu lemah." Dosa adalah dosa dan semua dosa itu seris di hadapan Tuhan, itu sebabnya Dia mengorbankan nyawa-Nya sendiri untuk menebus kita dari dosa.

Jadi dosa itu serius di mata Tuhan. Yang kedua, kita akan berkata: "Tuhan, saya ingin berubah saya ingin bertobat, saya tidak mau melakukan itu lagi." Berjanjilah untuk tidak melakukannya dan lawanlah. Bagaimana cara melawan, sedapatnya menghindarlah dari dosa. Kalau tidak perlu kita melawannya, menghindarlah; cara yang paling tepat dan paling aman adalah menghindar dari dosa

GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Manusia Baru". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.



38. Bayang Bayang Masa Lalu


Info:

Nara Sumber: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Kategori: Pengembangan Diri
Kode MP3: T215B (File MP3 T215B)


Abstrak:

Masa lalu berperan penting dalam pembentukan kepribadian. Biasanya masa lalu yang tidak manis membuahkan perilaku pahit. Dalam Alkitab, Musa dan Yefta adalah dua pelayan Tuhan yang memiliki pergumulan pribadi karena masa lalu yang tidak menyenangkan. Disini kita akan menimba banyak pelajaran berharga dari kedua tokoh ini.


Ringkasan:

T 215 B "Bayang-bayang Masa Lalu" oleh Pdt. Paul Gunadi

Masa lalu berperan penting dalam pembentukan kepribadian. Biasanya masa lalu yang tidak manis membuahkan perilaku pahit. Dalam Alkitab, Musa dan Yefta adalah dua pelayan Tuhan yang memiliki pergumulan pribadi karena masa lalu yang tidak menyenangkan. Dari kehidupan dua tokoh ini kita dapat menimba banyak pelajaran berharga.

Beberapa persamaan antara kedua tokoh yang bisa kita petik adalah:

  1. Musa dan Yefta adalah orang-orang yang tidak diterima di dalam lingkungannya. Musa adalah seorang Ibrani yang hidup di keluarga istana Mesir-bangsa yang menjajah bani Israel. Sedangkan Yefta dikucilkan karena statusnya sebagai anak yang lahir dari relasi haram, karena ayahnya mempunyai hubungan dengan ibunya di luar pernikahan.
  2. Musa dan Yefta, pada akhirnya bertumbuh menjadi pemuda yang bermasalah dengan kemarahan. Musa membunuh seorang Mesir yang berkelahi dengan seorang Ibrani-sesuatu yang tidak harus dilakukannya, karena sebagai seorang bangsawan dia dapat memerintahkan agar orang Mesir tersebut ditangkap tanpa harus membunuhnya. Yefta menjalani profesi sebagai prampok yang tentu meresahkan dan merugikan orang lain.
  3. Musa dan Yefta tetap dipakai dan dipanggil oleh Tuhan.
  4. Musa dan Yefta terus membawa masalah yang serupa yaitu kurangnya pengendalian diri yang pada akhirnya jatuh ke dalam lubang yang sama. Musa marah, waktu Tuhan meminta dia untuk memerintahkan batu karang mengeluarkan air. Akhirnya Tuhan menghukum Musa dengan tidak mengijinkannya masuk ke tanah perjanjian yakni Kanaan. Yefta bernazar terlalu cepat dan tergesa-gesa sehingga pada akhirnya ia harus mengorbankan putri tunggalnya.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kehidupan mereka, yaitu:

  1. Masa lalu kita yang buruk tidak menghalangi Tuhan untuk memanggil dan memakai kita.
  2. Masa lalu yang buruk menciptakan lubang pada kehidupan kita sekarang. Keinginan yang belum terwujud. Jika lubang kita adalah ketidakberdayaan, maka keinginan kita adalah kuasa. Bila lubang kita adalah penolakan, maka keinginan kita adalah disukai dan diterima.
  3. Masa lalu yang buruk menciptakan lubang lain yang bernama 'kelemahan' yaitu kemarahan, seks, uang, dan kuasa.

II Korintus 12:8-10, rasul Paulus membagikan pergumulannya, dia manusia seperti kita, ada kelemahan yang juga harus ditanggungnya, dan dia berkata: Aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur daripadaku. Tapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Transkrip:

T 215 B

Lengkap

"Bayang-bayang Masa Lalu" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Bayang-bayang Masa Lalu". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, sebenarnya ada banyak orang yang saat ini masih dibayang-bayangi oleh masa lalunya, masa lalu itu justru bukan masa lalu yang menyenangkan tapi masa lalu yang kurang menyenangkan. Tapi ada juga orang-orang yang bisa bangkit dari masa lalunya dan sekarang bisa hidup dengan baik, berprestasi dengan baik. Ini bagaimana, Pak Paul?

PG : Yang Pak Gunawan katakan memang tepat, sebenarnya kita ini terus dibayang-bayangi oleh masa lalu kita, namun pada akhirnya terserah pada kita apa yang akan kita lakukan dengan masa lalu itu. Ada orang yang berhasil melewati masa lalunya karena bersedia menatap masa lalunya. Yang saya maksud dengan menatap adalah sungguh-sungguh melihat sebenarnya apakah yang telah terjadi dan apakah dampak dari masa lalu terhadap dirinya sekarang ini. Setelah pengakuan itu dilakukan, maka orang ini berketetapan hati untuk mengadakan perubahan. Malangnya, ada sebagian orang yang tidak bersedia melihat masa lalunya, mungkin baginya terlalu menyakitkan atau terlalu memalukan, sehingga dia lebih suka menggunting masa lalu dari kehidupannya. Persoalannya adalah masa lalu yang digunting itu tidak "terbang" meninggalkannya, tetap ada di dalam dirinya dan (ini yang berbahaya) terus memberi pengaruh terhadap perbuatannya, tingkah lakunya, sikapnya, cara pikirnya dan perasaan-perasaannya. Namun karena dia tidak mau melihatnya, kaitan itu dengan masa lalunya maka pada akhirnya dia terus-menerus dikuasai oleh bayang-bayang masa lalunya.

GS : Jadi usaha-usaha untuk melupakan masa lalu atau menghilangkan jejak masa lalu, itu sebenarnya usaha yang sia-sia, Pak Paul?

PG : Betul, karena memang tidak bisa kita hapus, Pak Gunawan. Jadi yang perlu kita lakukan adalah melihatnya, apa sebenarnya yang terjadi, apa dampaknya pada diri kita sekarang ini, kemudian kta mengakuinya-kita menjadi seperti ini, kita mempunyai masalah ini dan itu gara-gara masa lalu kita, kemudian mencoba untuk mengubahnya.

GS : Tapi ada sebagian orang yang tidak mau masa lalunya itu diungkit-ungkit, jadi kalau ada orang mulai bercerita atau menanyakan masa kecilnya dan sebagainya, dia selalu menghindar atau bahkan ada yang marah kalau masa lalunya itu dipersoalkan.

PG : Betul, namun kalau dia terus begitu, masa lalu tersebut akan mengikuti dan bahkan menguasainya. Sebagai contoh, kalau kita mengalami kepahitan sebagai anak akibat orangtua bercerai, tapi ebetulnya kita tidak lagi mau melihat apa yang terjadi saat itu dan apa dampaknya pada diri kita.

Kita mau menggunting masa lalu itu dari hidup kita. Saya khawatir, di masa dewasa kita menjadi orang yang sangat susah percaya pada orang lain, tapi kita menyalahkan orang bukannya melihat diri sendiri. Kita berkata: "Mana bisa saya percaya, sebab dia begini, begini." Memang betul, bahwa orang tidak sempurna pasti ada kekurangan, tapi inilah hidup dan kita membangun kepercayaan bukan di atas kesempurnaan; kita membangun kepercayaan di atas ketidaksempurnaan. Tapi orang ini selalu menyoroti kekurangan-kekurangan dan menjadikan kekurangan ini sebagai alasan tidak bisa percaya pada orang. Berarti, dia tetap diikat oleh masa lalunya.
GS : Apakah itu yang disebut masalah relasional?

PG : Ya, sebab akhirnya mengganggu relasinya dengan sesama, akhirnya dia tidak bisa membangun sebuah relasi yang sungguh dalam dan bermakna, bebas dan nyaman. Selalu nantinya berujung pada konlik atau masalah lainnya.

GS : Tetapi kalau pun kita percaya kepada orang lain, kadang-kadang itu malah mengecewakan kita?

PG : Nah, sebagian kita yang telah dikecewakan bangkit, belajar mempercayai orang lagi. Kita bisa berkata, "Ya, dia memang mempunyai kelemahan di sini, OK-lah saya memang terluka, tapi tidak brarti semua orang seperti dia."

Kita tidak menyamaratakan satu orang sama dengan semua manusia di dunia, tapi bagi kita yang masih dibayang-bayangi masa lalu, karena kekurangpercayaannya ini akan menyamaratakan semua orang, meskipun kita hanya dilukai oleh satu orang saja. Atau kita dikecewakan oleh seseorang, tapi kita masih bisa berkata dia itu terdiri dari banyak hal, satu memang telah mengecewakan tapi ada banyak hal dalam dirinya yang positif. Kita bisa melihat seperti itu, tidak langsung mengecap bahwa orang itu pasti orang yang tidak bisa dipercaya, orang yang memang berkarakter buruk dan sebagainya. Bukankah belum tentu, kita mempunyai kelemahan di satu aspek, belum tentu mempunyai kelemahan di semua aspek. Tapi kalau orang diikat oleh masa lalu, cenderung menyamaratakan-"Sudah, pasti dia itu bermasalah dan saya tidak bisa percaya dengan dia seumur hidup." Seolah-olah semua perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh orang tersebut, tidak bisa lagi dilihat apalagi diingatnya."
GS : Pak Paul, untuk lebih jelasnya apakah ada di dalam Alkitab contoh-contoh konkret?

PG : Ada Pak Gunawan, yang coba saya angkat adalah dua contoh anak Tuhan, yaitu Yefta dan Musa. Ada beberapa kesamaan antara kedua hamba Tuhan ini, dan keduanya memperlihatkan pada akhirnya beapa masa lalu membayang-bayangi masa lalu mereka.

Kesamaan antara Yefta dan Musa yang bisa kita petik adalah keduanya orang yang tidak diterima oleh lingkungannya. Musa orang Ibrani, keluarga budak, dibesarkan di istana Firaun-bangsa yang menjajah bani Israel. Itu sebabnya pada akhirnya dia memang terus melihat dirinya sebagai seorang Ibrani. Maka waktu ada kejadian dimana ada seorang Mesir berkelahi dengan seorang Ibrani, dia marah, dia malah membunuh orang Mesir itu, dan raja begitu marah dan ingin langsung membunuhnya. Kenapa raja Firaun begitu marah, bukankah kalau cucunya yang asli yang melakukan hal seperti itu, mungkin sekali dia tidak akan ingin membunuh Musa, tapi mungkin dia merasa bahwa Musa bukan orangnya, Musa adalah orang lain, jadi reaksinya marah bahkan mau membunuh Musa. Jadi Musa memang tidak pernah pas di lingkungannya, demikian juga Yefta. Dia anak dari relasi yang haram, ayahnya mempunyai hubungan dengan ibunya di luar pernikahan. Maka dia ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sebab dianggap anak yang tidak sah dari ayahnya. Jadi kita melihat keduanya itu anak-anak yang memang ditolak oleh lingkungannya. Dan tampaknya penolakan ini membuat mereka bertumbuh besar dengan kemarahan yang tinggi, ini kesamaan yang berikutnya. Musa penuh dengan kemarahan, melihat bangsanya atau orangnya berkelahi dengan orang Mesir, dia marah dan langsung dia bunuh. Padahal sebagai keluarga istana, dia bisa memerintahkan agar orang Mesir itu ditangkap saja. Tapi itu tidak dilakukannya, dia harus membunuh; itu menunjukkan kemarahan yang sangat besar. Kita juga melihat adanya masalah dengan Yefta, akhirnya masa lalu itu melahirkan masalah-masalah yang menjadi problem dalam kehidupannya. Dikatakan di kitab Hakim-Hakim 11:3, Yefta itu menjadi perampok. Merampok orang, bukankah itu meresahkan dan merugikan orang? Kita melihat di sini, masa kecil berpengaruh ke masa dewasa; Yefta dan Musa ditolak lingkungan, penuh kemarahan. Sudah dewasa menjadi pemuda yang pemarah, Musa membunuh orang dengan gampang, Yefta menjadi perampok. Kita melihat betapa eratnya kaitan antara masa lalu dan masa dewasa seseorang.
GS : Pada hal seperti Musa maupun Yefta dilahirkan di tengah-tengah kondisi seperti itu bukan atas kemauannya sendiri. Mungkin Musa tidak ingin lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga Firaun dan Yefta pun tidak ingin lahir sebagai anak haram seperti itu. Sebagai orang yang ada di sekitarnya, sebenarnya apa yang bisa dilakukan supaya tidak terjadi seperti itu?

PG : Dari dua kesamaan ini, memang kita harus berani melihat masa lalu kita itu, dan mengakui bahwa itu yang terjadi, bahwa saya ditolak oleh lingkungan saya, bahwa memang saya itu sebetulnya tdak pernah memilih lahir dalam situasi seperti itu.

Tapi dalam kehendak Tuhan saya dilahirkan di situ, harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Kita harus menerima porsi itu, kita bisa berkata bahwa porsi itulah nanti yang akan digunakan oleh Tuhan, namun porsi itu sendiri kita harus terima. Jangan kita terus-menerus marah. Dalam kasus Yefta dan Musa, perkembangan berikutnya memang menunjukkan kemarahan itu tetap ada dalam dirinya. Tapi Tuhan baik, (ini kesamaan berikutnya) Tuhan tetap memakai kedua hamba-Nya ini. Yefta dipakai untuk melepaskan bangsa Israel dari bangsa Amon sedangkan Musa, Tuhan pakai membawa Israel keluar dari tanah Mesir untuk memasuki tanah perjanjian yaitu Kanaan. Di sini kita melihat Tuhan tetap bersedia memakai mereka, asalkan kita bersedia dipakai oleh-Nya, tapi yang pertama kita memang harus menerima porsi kita itu. Tapi sayangnya Pak Gunawan, meskipun Tuhan sudah memberikan kesempatan kepada keduanya, pada akhirnya kekurangan mereka yang sama itu tetap menjadi kekurangan dalam kehidupan mereka. Contohnya Musa, waktu Tuhan meminta dia untuk memerintahkan batu karang mengeluarkan air, dia marah. Dia pukul batu karang itu, akhirnya Tuhan menghukum Musa, "Kamu tak bisa memasuki tanah perjanjian, karena engkau tidak menghormati-Ku di hadapan umat-Ku, engkau tidak menjaga kekudusan-Ku." Kenapa Musa seperti itu, karena marah dia tidak bisa menguasai dirinya. Ironis sekali, berpuluhan tahun rentang waktu antara peristiwa membunuh seorang Mesir dan peristiwa yang kedua (baru saja saya uraikan), tapi di dalam masa Tuhan memakainya, emosi Musa sering kali menjadi titik kelemahannya. Demikian juga dengan Yefta, belum apa-apa dia sudah bernazar, "Pokoknya yang keluar dari rumah, yang pertama-tama menyambut saya setelah saya menang melawan bani Amon akan saya persembahkan kepada Tuhan." Ternyata putrinya yang menyambut dia. Apa yang bisa kita simpulkan? Yaitu impulsif, kurangnya pengendalian diri, gegabah. Kegegabahan inilah yang akhirnya menjadi titik kejatuhan mereka ke dalam lubang-lubang masalah itu.
GS : Berarti dalam kondisi seperti itu setiap orang akan mengalami lubang dalam kehidupannya, bagaimana menutup lubang itu, Pak Paul?

PG : Lubang itu pertama-tama harus kita kenali, lubang apakah itu. Dalam diri Musa, pengendalian diri demikian juga dalam diri Yefta, harus diakui sebagai masalahnya. Dan orang itu harus menjdikan ini proyek pertumbuhannya.

Tadi di awal sudah saya singgung, kecenderungan kita bukan mengakui bahwa ini masalah kita tapi menyalahkan orang lain. Sebagai contoh, kalau kita mempunyai masalah dengan pengendalian diri, tidak bisa menahan emosi, mudah meledak dan marah, sering kali kita menyalahkan orang. "Kamu sih yang membuat saya marah, kalau kamu tidak melakukan ini bukankah saya tidak marah?" Jadi yang salah adalah orang lain, orang yang membuat saya marah. Langkah pertama kita harus kenali lubang itu apa, dalam hal ini misalnya pengendalian diri. Langkah kedua, kita harus bertekad kita menjadikan ini proyek seumur hidup kita, bahwa saya akan berusaha keras melawannya, mengatasinya dengan pertolongan Tuhan, dengan datang lagi kepada Tuhan melalui pertobatan demi pertobatan dan tidak jemu-jemunya datang kepada Tuhan dengan penyesalan dan pertobatan daripada kita menyalahkan lingkungan. Selama kita menyalahkan lingkungan, kita tidak akan pernah mengalami pembaharuan sebab kita tidak pernah meletakkan masalah pada diri kita. Jadi penting kita menyadari lubang itu apa dan menjadikan lubang itu sebagai proyek yang harus kita tutup.
GS : Selain pengendalian diri, apakah ada lubang-lubang lain yang biasanya berasal dari masa lalu?

PG : Misalnya, kekurangpercayaan. Sebagian anak-anak memang harus mengalami kekecewaan yang dalam akibat perceraian orangtuanya, ketidaksetiaan orangtuanya. Sewaktu salah seorang dari ayah kia atau ibu kita meninggalkan kita, itu akan meninggalkan lubang kekurangpercayaan.

"Kalau orang yang melahirkan saya, yang mengasihi saya tega meninggalkan saya, tega mengkhianati saya, apalagi orang lain." Sesuatu yang tadinya telah menjadi bagian hidupnya yang aman akhirnya terkoyak, robek. Ternyata robekan itu berdampak panjang, sampai di usia dewasa. Kita takut dekat dengan orang, kalau-kalau nanti kita akan mengalami kekecewaan yang serupa. Kita takut percaya pada orang, nanti takut kepercayaan itu disalahgunakan dan kita akan dilukai lagi. Akhirnya kita selalu berjaga-jaga, tidak berani membangun keintiman dengan sesama kita.
GS : Kalau yang tadi contoh-contohnya adalah masa lalu yang kelam atau kurang menyenangkan, bagaimana kalau masa lalunya itu justru sesuatu yang menyenangkan dia atau dia dimanja, dicukupi segala kebutuhannya, tapi tidak memperoleh kasih sayang yang betul?

PG : Sudah tentu kalau masa lalu kita itu masa lalu yang positif, itu akan berdampak positif dalam hidup kita. Sehingga meskipun kita mengalami pengalaman yang buruk di masa sekarang, kita cenerung nomor satu melihat masalah atau pengalaman yang buruk itu secara proporsional, tepat sasaran, tepat ukuran.

Kita tidak melebihkannya atau mengurangkannya, dan bahkan ada kecenderungan kita itu tetap mau melihat aspek positifnya, kita tidak terpaku pada aspek negatifnya. Tapi sebaliknya kalau masa lalu kita buruk, bukan saja kita gagal melihat masalah secara proporsional, cenderungnya melebih-lebihkan yang negatif, kita juga cenderung tidak bisa melihat yang baik atau apa pun yang positif, terus terpaku pada yang negatifnya saja. Itu sebabnya kita sekali lagi harus berani melihat ke belakang, lubang apa yang kita miliki. Tentang lubang ini satu hal yang juga saya munculkan adalah tentang keinginan, sebab lubang itu melahirkan keinginan. Misalnya kalau lubang kita ketidakberdayaan, kita sering mengalami pemukulan, penyiksaan, dan kita tidak berdaya maka besar kemungkinan kita itu mempunyai keinginan untuk berkuasa. Kita tidak mau lagi mengalami peristiwa dimana kita diinjak-injak dengan semena-mena, atau kita disakiti maka keinginan kita setelah dewasa adalah membalas menyakiti. Maka kalau seseorang berbuat sesuatu kepada kita yang sedikit saja, kita sudah marah, kita langsung balas. Atau kalau lubang kita penolakan, dulu kita sering ditolak maka sekarang itu kita inginnya disukai dan diterima. Kita mesti hati-hati karena keinginan-keinginan itu bisa digunakan sebagai tempat masuknya serangan iblis. Iblis tahu itu yang menjadi kelemahan-kelemahan kita, maka dia akan bisa langsung memasukinya. Karena kita ingin diterima, ingin dikasihi karena dulu sering mengalami penolakan, akhirnya kita lemah. Pokoknya kalau orang menyodorkan sedikit cinta, kita sudah rela ikut dia, menikah dengan dia tanpa pertimbangan langsung bisa mengambil keputusan menikah dengan seketika, akhirnya membuahkan masalah yang berkepanjangan. Jadi berhati-hati dengan keinginan itu. Namun saya juga ingin mengingatkan para pendengar kita tentang peranan Tuhan dalam hal semuanya ini. Sebab kita bisa melihat dalam kasusnya Yefta dan Musa, Tuhan tetap memakai mereka. Ternyata masa lalu kita yang buruk tidak menghalangi Tuhan untuk memanggil dan memakai kita. Dengan kata lain kalau sampai kita dipakai Tuhan, dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya, kita jangan juga mencari-cari alasan, "O....pasti karena saya itu fasih lidah maka Tuhan memakai saya, o....karena saya cerdas makanya saya dipakai Tuhan untuk menolong orang lain yang juga kaum intelektual." Hati-hati, jangan kita mulai mendasari panggilan kita atau alasan Tuhan memanggil kita pada diri kita bahwa ada sesuatu yang baik yang kita bisa tawarkan kepada Tuhan. Tentang Yefta, apa yang bisa Yefta banggakan? Tidak ada, memang Tuhan memilihnya. Jadi benar-benar panggilan Tuhan, menyelamatkan kita dan memakai kita, itu sepenuhnya anugerah, kita tidak boleh mencari-cari penyebabnya pada diri sendiri.
GS : Tapi memang kita melihat para rasul yang dipilih oleh Tuhan Yesus juga mempunyai latar belakang yang tidak semuanya baik.

PG : Betul sekali, masing-masing memang mempunyai masa lalunya atau perangai-perangai yang tidak positif.

GS : Dan itu masih tetap ada sekali pun mereka sudah mengikut Tuhan Yesus selama 3 tahun, itu masih tetap kelihatan ya, Pak Paul?

PG : Jelas, seperti Yohanes penuh dengan kemarahan itu masih tetap ada, Petrus sangat impulsif.

GS : Bagaimana dengan Maria Magdalena itu Pak Paul, sebagai tokoh perempuan yang juga punya latar belakang yang kurang baik?

PG : Di situ kita sekali lagi melihat Tuhan memang tidak memanggil kita atas dasar kebaikan pada diri kita. Apa adanya Tuhan pakai dan Tuhan panggil. Apa yang bisa dibanggakan oleh Maria Magdlena? Tidak ada, tapi yang jelas dia mencintai Tuhan.

Kenapa dia mencintai Tuhan, karena dia tahu Tuhan mencintainya, Tuhan mengasihinya apa adanya, dengan segala kelemahan, dengan segala masa lalunya yang kurang baik itu. Namun dalam perjalanannya kita tetap harus waspada. Tadi saya sudah singgung tentang lubang yang melahirkan keinginan-keinginan supaya kita yang dulu misalkan tidak berdaya sekarang menjadi berdaya, kita menekankan kuasa dan sebagainya. Lubang itu juga bisa melahirkan kelemahan, ibaratnya kalau bagian tubuh kita pernah patah kaki, bagian itu menjadi bagian yang rawan untuk patah kembali, bagian itu lemah. Kita mesti menyadari dimana terdapat lubang dalam hidup kita, di situlah kita akan bisa dijatuhkan oleh iblis karena di situlah daya tahan kita paling lemah. Misalnya, kelemahan dalam hal seks, kemarahan, uang, kuasa; dalam hal-hal seperti itu kita seolah-olah lumpuh, tidak memiliki daya tahan atau daya juang untuk mengalahkan godaan di situ. Jadi kita mesti berhati-hati, kalau kita mempunyai masa lalu tertentu yang memang tidak baik, tidak positif; jagalah, jauhkan diri dari pencobaan jangan mendekati pencobaan. Karena di situlah kita sangat lemah, kita mudah sekali jatuh lagi.
GS : Pak Paul, apakah ada orang yang tidak menyadari masa lalunya, jadi bukan berarti dia tidak mau mengakuinya tet